MAdBB-01


MATA AIR DI BAYANGAN BUKIT

JILID 1

kembali | lanjut

cover madbb-01TIDAK seorang pun tahu, sejak kapan kolam itu berada di dataran sempit di sebuah bukit. Dibawah sebatang pohon yang besar dan rimbun, berdaun tiga bentuk.

Sebenarnya bukan karena pohon itu pohon ajaib yang berdaun tiga bentuk dalam jenis yang berbeda. Tetapi pohon yang besar itu memang terdiri dari tiga batang pohon. Tiga batang pohon yang tumbuh berhimpitan. Ketika pohon itu menjadi semakin besar, maka ketiga batangnya seolah-olah luluh menjadi satu. Sedang cabang-cabangnya berhiaskan daunnya masing-masing yang berbeda.

Berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus tahun kolam itu tidak dijamah. Meskipun airnya bening dan bersumber dari mata air yang deras dibawah batang pohon raksasa yang berdaun tiga jenis itu. Namun sendang itu adalah sendang yang berada di lingkungan hutan kecil di bukit yang jarang disentuh kaki manusia. Airnya yang berlimpah menyusup di sela-sela batu-batu padas dan mengalir tidak terarah, sehingga akhirnya terjun kedalam sebuah lereng terjal dan hilang masuk kedalam luweng yang dalam, menyatu dengan aliran air dibawah batu-batu padas yang keras.

Dari musim ke musim, kolam itu tetap melimpahkan airnya yang bening. Meskipun langit bersih dan udara kering di musim kemarau, namun kolam itu seakan-akan tidak pernah susut.

Sekali-kali dari gerumbul-gerumbul yang lebat di seputar kolam itu, beberapa ekor binatang turun dengan ragu-ragu. Jika terdengar aum harimau, maka binatang-binatang yang lain pun segera berlari tunggang langgang, hilang dibalik rimbunnya dedaunan.

Binatang buas itu pulalah yang menyebabkan daerah itu jarang dikunjungi manusia. Meskipun dibawah bukit itu terdapat beberapa padukuhan, namun tidak seorang pun diantara mereka yang pernah bermimpi untuk menyadap air dari kolam itu bagi kepentingan padukuhan mereka.

Karena itulah, maka padukuhan-padukuhan dibawah bukit itu menggantungkan air bagi sawah dan ladang mereka dari hujan yang jatuh dari langit. Sehingga di musim kemarau, tidak ada diantara mereka yang dapat menanam jenis padi yang manapun selain satu dua orang mencoba juga menanam padi gaga dan palawija.

Meskipun demikian, orang-orang di padukuhan dibawah bukit itu tidak berusaha merubah keadaan mereka. Mereka hidup seperti nenek moyang mereka yang tinggal sejak lama di daerah itu. Bahkan mereka merasa wajib menghormati dengan segala tata cara dan kebiasaan yang mereka pertahankan. Seolah-olah apa yang ada dan berlaku di padukuhan mereka haruslah mutlak berlangsung terus dari tahun ke tahun.

Dan agaknya tidak seorang pun yang mengganggu mereka hidup dalam dunia yang telah mereka hayati dengan tenang untuk waktu yang lama.

Namun dalam pada itu, di jalan setapak yang panjang, dua orang sedang berjalan dalam terik panasnya matahari. Agaknya mereka adalah dua orang perantau yang datang dari tempat yang jauh dan telah menempuh jarak yang panjang.

Wajah-wajah mereka yang merah terbakar oleh panasnya matahari di siang hari, dan dinginnya embun dimalam hari, membuat mereka nampak letih dan lelah.

Tetapi keduanya sama sekali tidak mengeluh. Mereka melangkah terus menuruti jalan sempit itu menuju ke bukit.

“Ayah,” desis yang seorang. Seorang gadis yang meningkat dewasa, “ada beberapa padukuhan kecil yang tersebar di daerah yang luas.”

Yang seorang mengerutkan keningnya. Ia juga melihat padukuhan yang berpencar dibawah bukit. Tetapi ia menjawab, “Swasti, kita tidak akan menuju ke padukuhan itu. Di tanah berbatu padas sebelah, aku mendengar arus air dibawah tanah. Agaknya arus air itu berasal dari bukit yang nampak di belakang daerah yang dihuni oleh orang di beberapa padukuhan. Sedangkan di daerah ini aku sama sekali tidak melihat parit dan saluran air yang mengalir di musim kering ini.”

“Ayah,” jawab gadis itu, “sumber air yang mengalir dibawah tanah itu mungkin memang berasal dari bukit di belakang padukuhan yang tersebar itu. Tetapi mungkin pula tidak. Air itu sudah berada dibawah tanah sejak dari seberang bukit.”

Orang tua yang berjalan disamping anak gadisnya itu tersenyum. Jawabnya, “Marilah kita lihat Swasti. Naluriku mengatakan bahwa sumber air itu berada di bukit yang nampak itu. Tetapi jika aku salah, maka aku akan dapat menelusurinya sampai ke seberang bukit. Pendengaranku masih cukup kuat untuk menangkap suara arus dibawah tanah dan mengikuti arahnya.”

Gadis itu tidak menjawab. Tetapi ia percaya bahwa ayahnya memang dapat menangkap desir air dibawah tanah dan mengikuti arahnya, karena ayahnya memang seorang yang memiliki kelebihan dari orang kebanyakan.

Untuk beberapa saat keduanya terdiam. Mereka masih berjalan terus menyusuri jalan setapak. Mereka sengaja menghindari padukuhan yang berada dibawah bukit, untuk tidak menarik perhatian penghuni-penghuninya.

“Kau lelah?” terdengar orang tua itu bertanya kepada anak gadisnya.

Gadis itu tidak menjawab. Tetapi wajahnya yang kemerah-merahan menunduk dalam-dalam, seolah-olah ia ingin melihat sejenak ujung kakinya yang kecil melangkahi batu-batu di sepanjang jalan sempit.

Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Jika kau diam itu berarti bahwa kau memang lelah. Dan aku-pun mengerti bahwa kau memang sudah lelah.”

Swasti tidak menjawab.

“Kau adalah seorang gadis yang luar biasa Swasti,” berkata orang tua itu.

“Ayah selalu memuji aku, agar aku tetap berjalan terus mengikuti ayah,” desis gadis itu.

Orang tua itu tersenyum. Jawabnya, “Kau menangkap maksudku Swasti. Tetapi aku pun berkata sebenarnya. Tidak ada gadis yang akan dapat bertahan untuk berjalan-jalan berhari-hari seperti kau, sejak kita meninggalkan padepokan kita yang dilumatkan oleh gempa dan tanah longsor itu.”

Swasti tidak menjawab.

“Karena aku menyadari, bahwa perjalanan kita adalah perjalanan yang berat, maka aku tidak membawa para cantrik yang ada dipadepokan. Aku serahkan mereka kembali kepada orang tua mereka, dengan harapan, bahwa apabila kita sudah menemukan tempat untuk menetap, maka para cantrik yang lima orang itu akan aku panggil.”

Swasti masih tetap berdiam diri.

“Tetapi sudah tentu aku tidak dapat meninggalkan kau. Kau adalah anakku satu-satunya. Sepeninggal ibumu, kau adalah tumpuan hidupku, karena masa depanku ada padamu.”
Swasti masih tetap melangkah sambil menundukkan kepalanya.

“Swasti, jika kau memang lelah sekali, kita akan beristirahat dibawah pohon yang rimbun itu,” berkata ayahnya kemudian.

Swasti mengangkat wajahnya. Di pinggir jalan sempit itu dilihatnya sebatang pohon yang besar. Tetapi gadis itu bertanya, “Ayah, beberapa ratus tonggak lagi kita akan sampai ke bukit itu. Nampaknya di sekitar bukit itu masih terdapat hutan yang barangkali tidak begitu luas dan lebat. Jika kita berjalan terus, maka kita akan segera sampai. Dan kita akan dapat beristirahat di pinggir hutan itu.”

Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu bahwa anak gadisnya telah sangat lelah. Tetapi Swasti ingin segera sampai ketujuan agar ia dapat beristirahat cukup lama dan tidak terganggu.

Orang tua itu mengangguk-angguk. Kemudian katanya dalam nada yang dalam, “Baiklah Swasti. Kita berdoa, mudah-mudahan mata air dari aliran dibawah tanah itu berada di lereng bukit itu, meskipun aku juga meragukannya, bahwa di padukuhan ini tidak terdapat parit yang mengalir. Agaknya air di padukuhan ini sangat tergantung kepada air hujan tanpa memanfaatkan arus air yang terdengar mengalir dibawah tanah.”

“Tetapi air dibawah tanah itu cukup dalam ayah. Ketika aku menengok kedalam luweng yang terbuka itu, nampak arus itu berada jauh dibawah batu-batu padas.”

“Itulah sebabnya kita harus menemukan sumbernya. Mudah-mudahan. Tetapi jika tidak, maka kita akan membuat pertimbangan lain.”

Swasti hanya mengangguk-angguk saja. Ia mengikuti langkah ayahnya meskipun sekali-kali ia harus menyeka keringatnya di kening.

Demikianlah maka keduanya berjalan terus. Ketika mereka sampai dibawah sebatang pohon yang rimbun, mereka hanya berhenti sebentar karena Swasti mengajak ayahnya melanjutkan perjalanan.

Tetapi belum beberapa langkah, mereka tertegun. Dikejauhan mereka melihat beberapa orang petani berjalan mengikuti seseorang yang agak berbeda dalam sikap dan pakaian.

“Kau lihat yang seorang itu Swasti ?” bertanya ayahnya.

Swasti memandang kearah beberapa orang yang berjalan di sepanjang pematang, menyilang jalan sempat yang dilalui oleh kedua orang itu.

Sambil mengangguk Swasti menjawab, “Ya ayah.”

“Apakah kau juga melihat kelainan padanya ?”

“Ya. Pakaiannya dan barangkali juga sikapnya.”

Ayahnya mengangguk. Namun katanya kemudian, “Kita tidak mempunyai persoalan dengan mereka. Kita akan berjalan terus tanpa menarik perhatian mereka.”

Swasti tidak menjawab. Tetapi keduanya dengan sengaja memperlambat langkah mereka, agar para petani dan seorang yang agak asing itu mendahului menyilang jalan setapak itu.

Swasti dan ayahnya memang tidak banyak menarik perhatian. Orang itu hanya sekedar berpaling. Namun mereka pun segera berjalan terus tanpa menghiraukan kedua orang ayah dan anak perempuannya itu.

Namun dalam pada itu, ternyata Swasti dan ayahnyalah yang banyak memperhatikan orang itu meskipun dengan diam-diam. Nampaknya ia memang orang asing atau pendatang di padukuhan yang kering di musim kemarau itu.

“Agaknya ada juga orang-orang kota yang tertarik pada daerah kering ini ayah,” berkata Swasti.

Ayahnya mengangguk. Jawabnya, “Mungkin orang kota yang ingin berbuat sesuatu bagi kemajuan padukuhan yang lamban itu. Atau mungkin ia memang berasal dari salah satu padukuhan itu, kemudian pindah ke kota atau merantau, untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik. Setelah ia berhasil, ia pulang kembali menengok keluarganya dengan sikap dan pakaian yang lain.”

Swasti hanya mengangguk-angguk saja.

Keduanya pun kemudian melanjutkan perjalanan mereka meskipun sekali-sekali Swasti masih saja berpaling, memandang beberapa orang petani dan seorang yang asing itu berjalan semakin jauh.

“Bulak ini panjang Swasti,” berkata ayahnya, “nampaknya tanahnya kurang mendapat garapan.”

Swasti mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Tetapi tanda itu ayah?”

Ayahnya mengerutkan keningnya. Merekapun kemudian berhenti sejenak pada sebuah batu di pinggir jalan setapak itu.

“Sebuah tanda perbatasan antara dua padukuhan yang dipimpin oleh Buyut yang berbeda,” berkata ayahnya.

Swasti memperhatikan batu yang disusun seperti sebentuk candi kecil dengan beberapa huruf yang terpahat padanya.

Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Ya ayah. Dua kelompok padukuhan yang berbeda meskipun mula-mula mereka berada dalam satu lingkungan. Tetapi agaknya seorang Buyut yang mempunyai dua orang anak laki-laki kembar terpaksa membagi wilayahnya menjadi dua kelompok padukuhan dibawah pimpinan dua orang anak kembarnya.”

Ayah Swasti mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan kedua orang Buyut itu akan tetap rukun seperti dua orang saudara. Terlebih-lebih lagi keduanya adalah saudara kembar yang lahir pada saat yang hampir bersamaan dari seorang ibu yang sama.”

Swasti masih memandang sesusun batu yang merupakan sebuah candi kecil itu. Kemudian sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Pembagian itu sudah terjadi agak lama ayah, sehingga kedua orang Buyut itu sudah setua ayah atau bahkan lebih.”

“Ah,” ayah Swasti menyahut, “aku belum terlalu tua. Kedua Buyut itu tentu jauh lebih tua daripadaku.”

Swasti memandang ayahnya sejenak. Kemudian jawabnya, “Memang ayah belum terlalu tua. Jika ada uban yang tumbuh itu adalah karena musim kemarau yang terlalu panjang.”

Ayahnya tertawa. Sambil bergeser ia berkata, “Marilah. Kita berjalan lagi. Bukankah kau ingin beristirahat setelah kita sampai ke ujung hutan di lereng bukit itu.”

Swasti mengangguk. Iapun kemudian mengikuti ayahnya melanjutkan perjalanan menuju ke kakí bukit.

Ketika matahari turun di sebelah Barat, maka sinarnya yang terik mulai memudar. Awan yang putih terapung di langit dihembus angin ke Utara. Sekumpulan burung bangau yang putih seperti awan yang dihanyutkan angin itu, terbang ke arah yang berlawanan, dengan leher dan kaki yang terjulur panjang.

Swasti menarik nafas dalam-dalam. Mereka sudah semakin dekat dengan ujung hutan di kaki bukit. Meskipun agaknya hutan itu tidak terlalu besar, tetapi cukup padat oleh tetumbuhan liar.

“Tentu masih dihuni oleh binatang buas,” desis Swasti.

Ayahnya mengangguk. Katanya, “Nampaknya demikian Swasti. Tetapi mudah-mudahan binatang-binatang buas itu tidak mengganggu. Meskipun demikian kita memang harus berhati-hati. Bukankah kau pandai memanjat?”

Swasti mengangguk. Tetapi tatapan matanya bagaikan tertambat pada batang-batang pohon di ujung hutan di hadapan mereka.

Keduanya masih berjalan terus meskipun Swasti nampaknya menjadi semakin lelah. Tetapi hutan itu sudah dekat. Tanah yang basah dan getaran yang dapat ditangkap oleh ketajaman indera ayah gadis itu, memberikan harapan bahwa mata air itu akan dapat mereka ketemukan di hutan dihadapan mereka.

Swasti menarik nafas dalam-dalam ketika bayangan pepohonan hutan itu mulai menyentuh tubuhnya. Kemudian dilemparkannya seonggok bungkusan yang dibawanya. Dengan serta merta dijatuhkannya tubuhnya yang ramping diatas tanah di pinggir hutan itu tanpa menghiraukan kemungkinan binatang merayap yang dapat menyengat tubuhnya.

“Tanah ini memang basah ayah,” desis Swasti.

Ayahnya mengangguk-angguk. Dipandanginya padang perdu yang sempit di pinggir hutan itu, yang membatasi daerah persawahan. Keheranan nampak membayang di wajahnya.

“Apa yang ayah perhatikan ?” bertanya Swasti.

“Tanah ini basah Swasti. Tetapi sawah itu justru nampak kering di musim kemarau.” sahut ayahnya.

“Ada sesuatu yang kurang pada penghuni padukuhan yang tersebar ini ayah. Mereka kurang pengetahuan tentang bercocok tanam, atau mereka memang malas untuk mencari yang belum pernah mereka miliki.”

Ayahnya mengangguk-angguk. Sejenak ia masih memandang daerah yang luas dihadapannya. Namun ia pun kemudian duduk di sebelah anaknya yang masih saja berbaring. Bahkan oleh angin yang semilir, Swasti mulai dijalari oleh perasaan kantuk.

“Jangan tidur,” desis ayahnya.

Swasti menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun dengan malasnya bangkit dan duduk pula bersandar sebatang pohon.

“Aku letih sekali ayah. Bagaimana kalau aku tidur barang sekejap?”

“Sebentar lagi senja akan menjadi gelap. Jangan tidur disaat-saat seperti ini. Tunggulah sampai gelap. Kita akan membuat perapian dan tidur bergantian.”

Swasti menggeliat. Katanya, “Tetapi aku memerlukan air sekarang ayah.”

“Kau sudah minum bukan? Di padukuhan lewat ujung bulak ini kita sudah mendapatkan belas kasihan dari seseorang yang sedang memetik kelapa. Kita mendapat air kelapa secukupnya.” ayahnya berhenti sejenak, lalu. “tetapi jika kau sudah mulai haus lagi, marilah. Kita mencari batang merambat. Aku akan memotong pangkal dan ujungnya. Dan kita akan mendapatkan air untuk minum.”

“Ayah hanya memerlukan air untuk minum. Tetapi aku tidak.”

Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Lalu, “Baiklah. Kita akan segera mencari air. Naluriku mengatakan, bahwa kita sudah dekat dengan mata air.”

Swasti akan menjawab. Tetapi ia melihat ayahnya sedang memusatkan pendengarannya sambil menyentuh tanah dengan telapak tangannya. Karena itu Swasti tidak mengucapkan kata-katanya. Bahkan ia pun kemudian berdiri dan melangkah untuk melihat-lihat keadaan di sekitarnya.

Didalam hati Swasti masih juga selalu mengagumi ayahnya. Dengan melekatkan telapak tangannya di tanah, seolah-olah lewat jalur urat nadinya, getaran-getaran bumi terdengar oleh telinga batinnya. Sehingga dengan demikian ayahnya dapat mengetahui arah arus air dibawah batu-batu padas yang dalam.

Swasti berpaling ketika ayahnya memanggilnya.

“Swasti,” berkata ayahnya, “rasa-rasanya kita sudah tidak jauh lagi dari sebuah mata air. Tetapi apakah kau tidak ingin beristirahat barang sejenak? Atau mungkin semalam ini ? Besok pagi-pagi kita akan mencari mata air di daerah perbukitan ini.”

“Kenapa tidak malam nanti ayah? Sekarang aku memang akan beristirahat. Mungkin aku memerlukan tidur sejenak, meskipun setelah malam menjadi gelap. Tengah malam kita melanjutkan perjalanan.”

“Hutan ini belum pernah kita kenal,” sahut ayahnya, “sebaiknya kita tidak memasukinya dimalam hari.”

Swasti termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Besok pagi-pagi kita melanjutkan perjalanan.”

Perlahan-lahan gelap malam mulai turun menyelubungi bukit. Dengan batu titikan dan segumpal emput gelugut aren, ayah Swasti membuat api. Dengan dedaunan kering dan ranting-ranting yang berserakan, ia membuat perapian. Kemudian beberapa potong kayu diletakkannya pula diatas api.

“Sekarang tidurlah,” berkata ayah Swasti.

Swasti yang memang sudah berbaring menguap. Kemudian jawabnya, “Ya ayah. Aku akan tidur.”

Ayahnya memandang anak gadisnya dengan tatapan kebapaan. Ia merasa iba melihat gadisnya yang letih berbaring diatas rerumputan kering. Meskipun Swasti sempat membersihkan tempat ia berbaring, namun rasa-rasanya bergejolak juga jantung ayahnya melihat anak gadisnya terbaring diatas tanah.

Tetapi orang tua itu berkata didalam hati, “Mudah-mudahan yang terjadi ini merupakan syarat keprihatinannya. Mudah-mudahan kelak Yang Maha Agung memberikan hari-hari yang lebih cerah kepadanya.”

Swasti yang lelah itu dengan tenang tertidur nyenyak. Gadis itu terlalu percaya kepada ayahnya, bahwa ayahnya akan dapat melindunginya dari segala bahaya.

Namun belum lagi tengah malam, Swasti terkejut. Tiba-tiba saja ayahnya membangunkannya dengan tangan menggigil.

“Swasti, Swasti.”

Swasti terkejut. Namun rasa-rasanya tubuhnya tertekan oleh himpitan kekuatan yang menahannya untuk meloncat bangkit. Bahkan kemudian rasa-rasanya tubuhnya menjadi sangat lemah.

Namun ia memaksa diri untuk bangkit dan duduk disebelah ayahnya yang ketakutan.

“Ada apa ayah ?” bertanya Swasti.

“Seekor harimau Swasti. Seekor harimau yang garang sekali.”

Swasti menjadi heran. Namun iapun mulai mendengar dengus binatang buas itu.

“Tetapi …,” suara Swasti terputus. Ia merasa tekanan pada urat nadi dipergelangan tangannya, sehingga ia tidak melanjutkan kata-katanya.

Dengan tegang Swasti memandang ayahnya yang ketakutan. Sementara dengus harimau yang garang, semakin lama semakin lama semakin mendekat.

“Ayah, apakah binatang buas tidak takut melihat api?” bertanya Swasti yang lemah.

“Aku tidak tahu Swasti. Tetapi binatang itu tentu akan menerkam kita.”

Ayah Swasti memalingkan wajahnya ketika tiba-tiba saja seekor harimau yang besar muncul dari balik gerumbul dan mulai merunduk mendekati kedua orang ayah dan anaknya itu.

Swasti menjadi heran melihat sikap ayahnya. Tentu ada sebabnya kenapa ayahnya tidak berdiri tegak menghadapi harimau yang sedang merunduk itu, dan justru merengek-rengek seperti anak-anak. Sedang dirinya sendiri seolah-olah menjadi lemah tidak bertenaga.

Sementara itu harimau yang garang itupun menjadi semakin dekat. Kemudian merendah di kaki depannya sehingga dadanya menyentuh tanah. Ekornya dikibas-kibaskannya perlahan, sedang kedua belah matanya bagaikan menyala.

Harimau yang garang itu siap untuk meloncat menerkam orang tua dan anak gadisnya yang nampaknya ketakutan.

Namun ketika harimau itu mengaum, tiba-tiba meloncatlah seorang anak muda di sebelah perapian. Wajahnya yang tegang menyala dengan penuh kemarahan.

“Jangan takut,” geram anak muda itu, “aku akan membunuh harimau yang buas itu.”

“O,” ayah Swasti menyahut dengan suara gemetar, “tetapi harimau itu sangat besar.”

Anak muda itu tidak menjawab. Ia berdiri dengan kaki renggang dan sebilah pisau belati di tangan, siap menghadapi harimau yang perhatiannya telah berpaling kepada anak muda itu.

Swasti termangu-mangu. Ternyata anak muda itu adalah anak muda yang dilihatnya berjalan beriring dengan para petani di pematang dengan pakaian dan sikap yang asing.

Ketika kemudian terdengar harimau itu mengaum keras, maka anak muda itupun merendah pada lututnya. Ia telah bersiap sepenuhnya ketika harimau itu kemudian meloncat menerkamnya.

Sejenak kemudian telah terjadi pertarungan yang dahsyat antara seekor harimau yang besar dan garang, melawan anak muda bersenjata pisau belati itu. Ternyata anak muda itu lincah sekali. Ia mampu mengelak, dan bahkan kemudian meloncat ke punggung harimau itu. Tangan kirinya memeluk leher harimau itu seperti melekat. Betapapun harimau itu berusaha, namun anak muda di punggungnya tidak dapat dilemparkannya.

Terdengar auman yang bagaikan menyobek sepinya hutan di lereng bukit itu, ketika anak muda itu mulai menghunjamkan pisau belatinya ke tubuh harimau yang melonjak-lonjak dan sekali-kali berguling-guling.

Tetapi harimau itu ternyata tidak berdaya. Semakin lama luka-luka di tubuhnya menjadi semakin banyak. Darah mengalir semakin deras. Tidak saja membasahi tubuhnya sendiri, tetapi anak muda itu pun mulai dilumuri oleh warna-warna merah. Bukan saja karena darah harimau yang menjadi semakin tidak berdaya. Tetapi ternyata tubuh anak muda itu sendiri telah terluka pula karenanya.

Swasti memandang perkelahian itu dengan tanpa berkedip. Ia menjadi kagum melihat kesigapan anak muda itu. Ia yakin bahwa sebentar lagi harimau yang garang itu tentu akan terbunuh.

Ayahnya yang gemetar pun nampaknya menjadi semakin tenang. Ia melihat anak muda itu benar-benar telah menguasai lawannya. Akhirnya, dengan auman yang dahsyat harimau itu berusaha melonjak dan melepaskan diri dengan sisa tenaganya. Tetapi tidak berhasil. Bahkan tusukan-tusukan berikutnya membuat harimau itu tidak berdaya.

Sesaat kemudian, maka pertempuran itupun selesai. Anak muda yang perkasa itu melepaskan tubuh harimau yang telah dibunuhnya. Sambil mengusap pisaunya yang berlumuran darah ia menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Jangan takut lagi kakek tua, Harimau itu sudah mati.”

“Terima kasih ngger. Terima kasih.” suara ayah Swasti masih bergetar.

Anak muda itu pun kemudian berdiri tegak memandang orang tua itu berganti-ganti dengan anak gadisnya. Setapak ia melangkah maju ke dekat perapian sambil berkata, “Jiwa kalian telah selamat.”

“Tetapi, tetapi angger sendiri nampaknya terluka,” berkata ayah Swasti.

Anak muda itu memandangi tubuhnya. Katanya sambil tersenyum, “Wajar sekali jika aku terluka. Kuku harimau itu lebih tajam dari duri. Kekuatannya melampaui kekuatan seekor kerbau gila.”

“Tetapi angger dapat mengalahkannya.”

Anak muda itu tersenyum.

“Lalu. bagaimana dengan luka-luka itu?” bertanya ayah Swasti.

“Aku mempunyai obatnya. Aku akan mandi, kemudian mengobati luka-lukaku.” ia berhenti sejenak, lalu, “tetapi siapakah kau berdua ini ? Dan kemanakah tujuan kalian ? Aku lihat kalian sebagai dua orang yang sedang bepergian jauh. Siang tadi, ketika kita bertemu, aku tidak begitu menghiraukan kalian. Tetapi ketika aku melihat perapian, aku jadi teringat. Aku sudah menduga bahwa kalianlah yang berada di pinggir hutan ini.”

“Ya ngger. Aku pun ingat, bahwa kita telah berjumpa. Sebenarnyalah bahwa aku tidak mempunyai tujuan tertentu. Kami berdua dalam perjalanan perantauan menuruti kehendak hati.”

Anak muda itu memandang Swasti sejenak. Gadis itu menundukkan kepalanya. Ia tidak berniat untuk bertanya lagi kepada ayahnya, karena ia sudah dapat menangkap, apakah yang sebenarnya terjadi.

Meskipun demikian, ia tetap mengagumi anak muda yang perkasa itu. Dalam usianya ia sudah memiliki ilmu kanuragan yang mantap, sehingga kekuatannya dapat mengimbangi kekuatan seekor harimau. Ketangkasannya pun melampaui ketangkasan orang kebanyakan.

“Perjalanan kalian hampir merenggut jiwa kalian,” berkata anak muda itu, “sayang sekali. Siapakah gadis itu?”

“Anakku,” jawab ayah Swasti.

“Bawalah kepadukuhan. Tentu ada tempat bagi kalian berdua.”

“Ah,” jawab ayah Swasti, “kami tidak pantas tinggal bersama angger. Kami adalah perantau yang tidak ada harganya. Beribu terima kasih. Tetapi biarlah kami melanjutkan perjalanan kami.”

“Jangan merajuk seperti anak-anak Kiai,” berkata anak muda itu, “sekali lagi kalian bertemu dengan seekor harimau, maka kalian akan mati.”

“Kami akan berhati-hati ngger. Adalah salah kami, bahwa kami tidak memanjat sebatang pohon. Biasanya kami tidur diatas pepohonan. Tetapi malam ini kami lengah, sehingga hampir saja maut menjemput kami.”

Anak muda itu mengerutkan keningnya, ia menjadi heran mendengar jawaban orang tua itu. Hampir diluar sadarnya ia bertanya, “Jadi anak gadismu itu juga pandai memanjat?”

Orang tua itu termangu-mangu, sedangkan Swasti menundukkan kepalanya. Wajahnya menjadi merah.

“Begitulah ngger,” jawab ayah Swasti, “karena kebiasaan kami merantau, maka kadang-kadang anak gadisku berbuat yang tidak biasa dilakukan oleh gadis-gadis yang lain. Ia memang dapat memanjat meskipun harus ditolong. Kami membuat anyaman tali pada dahan-dahan untuk menolong agar kami tidak terjatuh.”

“Kau tidak takut harimau kumbang yang juga pandai memanjat?”

“Tidak banyak terdapat harimau kumbang ngger. Tetapi seandainya kami bertemu juga dengan harimau kumbang, maka aku mungkin akan dapat melawannya dengan pedangku. Harimau pada umumnya lemah jika mereka berada diatas pepohonan.”

Anak muda itu tersenyum. Jawabnya, “Nampaknya kau memang seorang perantau yang berpengalaman menjelajahi hutan. Tetapi pada suatu saat kau dihadapkan pada bayangan maut seperti yang baru saja kau alami.” anak muda itu berhenti sejenak, lalu, “tetapi kau adalah orang yang aneh. Kau tidak jera karena peristiwa ini. Bahkan seolah-olah kau cepat melupakannya.”

Orang tua itu termangu-mangu. Jawabnya, “Bukan begitu ngger. Tetapi aku berharap bahwa aku tidak akan bertemu lagi dengan seekor harimau. Atau aku tidak membuat kelengahan lagi seperti yang terjadi.”

“Kau sangka bahwa harimau hanya dapat kau temui di malam hari? Bagaimana di siang hari?”

“Biasanya kami tidak menyelusuri hutan seperti ini. Kami berjalan di bulak-bulak panjang. Dari padukuhan yang satu kepadukuhan yang lain. Tetapi kami memang sering bermalam di pinggir-pinggir hutan agar kami tidak mengganggu penghuni padukuhan dengan kecurigaan dan mungkin tuduhan-tuduhan yang kurang baik.”

Anak muda itu mengangguk-angguk. Setiap kali diluar sadarnya tatapan matanya menyambar wajah Swasti yang tertunduk. Dalam keremangan cahaya api perapian, wajahnya nampak kemerah-merahan.

Ada sesuatu yang menarik pada gadis yang nampak kotor dan kumal itu.

Tetapi anak muda itupun kemudian berkata, “Terserahlah kepadamu kakek tua. Aku sudah mempersalahkan kau pergi kepadukuhan. Aku akan menanggungmu. Orang-orang padukuhan tidak akan berani berbuat sesuatu atas orang-orang yang ada dalam perlindunganku.”

“Terima kasih ngger. Terima kasih.”

“Baiklah. Aku akan pergi. Jika kau kemudian mengambil keputusan untuk datang ke padukuhanku, datanglah. Aku tinggal di padukuhan terbesar di sebelah batas. Di sudut padukuhan itu nampak sebatang pohon randu alas yang besar.”

“Baik, baik ngger. Tetapi kami belum mendengar nama angger. Mungkin pada suatu saat kami memang akan mencari angger.”

Anak muda itu tertawa. Katanya, “Namaku Daruwerdi.”

Ayah Swasti mengangguk-angguk. Desisnya, “Nama itu bagus sekali. Apakah angger juga berasal dari padukuhan itu?”

Anak muda yang bernama Daruwerdi itu tertawa semakin keras. Tanpa menjawab pertanyaan itu ia melangkah sambil berkata, “Aku akan pulang. Sekali lagi aku memberi kesempatan. Bawalah gadismu kepadukuhan itu. Jika kau mau, tinggallah disana. Barangkali itu lebih baik bagimu dan bagi masa depan anakmu. Pada suatu saat anakmu memerlukan sesuatu yang tidak dapat kau ketemukan di perantauanmu itu. Atau barangkali lebih baik kau titipkan gadismu kepada seseorang yang dapat kau percaya agar ia dapat menikmati kehidupan sewajarnya seperti gadis-gadis yang lain.”

“Ia satu-satunya anakku ngger.”

“Kau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau sama sekali tidak memikirkan nasib dan hari depan anakmu. Apalagi seorang gadis.”

Orang tua itu tidak menjawab. Sementara anak muda itu melangkah menjauh. Tetapi ia masih berhenti dan berpaling, “Siapa nama anakmu itu kakek?”

Orang tua itu memandang Daruwerdi sejenak. Kemudian jawabnya, “Swasti. Namanya Swasti ngger.”

“Nama itu pun bagus sekali. Jangan kau sia-siakan anakmu. Tatapan matanya mengandung kepahitan hidupnya. Dan kau masih mementingkan dirimu sendiri.”

Daruwerdi tidak menunggu jawaban orang tua itu. Ia pun kemudian melangkah semakin jauh dan hilang dalam kegelapan, di sela-sela pepohonan.

Ketika anak muda itu telah hilang, Swasti beringsut mendekati ayahnya sambil bergumam, “Ayah memijit pusat nadi tanganku.”

Orang tua itu tersenyum Jawabnya, “Anak muda yang luar biasa. Aku mendengar kedatangannya. Karena itu aku biarkan ia melawan harimau yang garang itu. Ternyata ia berhasil.”

“Ayah membiarkan ia melakukan pekerjaan yang sangat berbahaya itu,” desis Swasti.

“Jika ia tidak meyakini kemampuannya, ia tidak akan melakukannya.”

Swasti tidak menjawab. Tubuhnya terasa telah pulih kembali. Ia mengerti, bahwa ayahnya memaksanya untuk tidak berbuat sesuatu saat Daruwerdi berkelahi dengan seekor harimau yang garang itu.

Namun dalam pada itu, wajah ayah Swasti pun menegang pula. Tiba-tiba saja ia berbisik di telinga anaknya, “Ia datang kembali. Aku mendengar desir lembut. Berbuatlah seperti yang aku kehendaki.”

Swasti mengangguk. Meskipun badannya telah pulih kembali, tetapi ia tetap duduk dengan lemahnya seperti yang dikehendaki oleh ayahnya.

Beberapa saat mereka menunggu. Desir halus itu terdengar semakin dekat. Tetapi ayah Swasti tidak memalingkan wajahnya seolah-olah ia sama sekali tidak mendengarnya.

Baru kemudian ketika terdengar pepohonan yang dikuakkan, orang tua itu terkejut, sehingga ia tergeser beberapa jengkal. Dengan serta merta ia berpaling memandang kearah suara desir dedaunan yang tersibak.

Tetapi ternyata orang tua itu benar-benar terkejut. Wajahnya menjadi tegang. Ternyata yang datang bukannya Daruwerdi. Tetapi orang lain. Juga seorang anak muda. Tetapi anak muda itu nampaknya lebih sederhana dalam pakaian seorang petani biasa.

“O,” desis ayah Swasti, “siapakah kau anak muda?”

Anak muda itu mengangguk hormat. Dengan membungkuk-bungkuk ia melangkah mendekati sambil menjawab, “Kiai, jika berkenan di hati, aku akan memperkenalkan diriku. Aku adalah anak padukuhan disebelah hutan ini. Anak seorang janda miskin yang barangkali tidak berarti sama sekali bagi Kiai.”

Anak Swasti mengerutkan keningnya. Dengan heran ia bertanya, “Aku tidak mengerti maksud anak muda.”

Anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Kedatangan Kiai kedaerah terpencil ini menumbuhkan pertanyaan di hatiku. Ketika aku mendengar aum seekor harimau, aku telah tertarik untuk melihatnya, karena sebenarnyalah aku memang melihat menjelang senja dua orang yang memasuki hutan ini. Agaknya Kiai dan perempuan yang barangkali sanak kadang Kiai.”

“Ia adalah anakku,” jawab ayah Swasti, “memang seekor harimau telah merunduk kami. Tetapi untunglah, seorang anak muda yang bernama Daruwerdi telah menolong kami. Lihatlah ngger, harimau itu telah dibunuhnya.”

“Luar biasa,” desisnya. Tetapi wajahnya sama sekali tidak menunjukkan perubahan apapun. Apalagi keheranan. Katanya selanjutnya, “Daruwerdi memang seorang anak muda yang perkasa, ia tinggal di padukuhan di sebelah hutan ini pula. Tetapi berbeda dengan padukuhan-padukuhan yang ada sebelah tanda batas itu. Ia berada dibawah kekuasaan Buyut yang berbeda dengan kelompok padukuhanku.”

“O,” ayah Swasti mengangguk-angguk. “Ia berhasil membunuh harimau itu dengan hanya mempergunakan pisau belati?”

Anak muda itu tersenyum. Katanya, “Tentu setiap orang ingin menolong Kiai dan anak gadis Kiai. Meskipun aku tidak berkemampuan kanuragan, aku pun berniat untuk menolong seandainya diperlukan. Tetapi, rasa-rasanya yang dilakukan oleh Daruwerdi adalah sia-sia.”

Swasti dan ayahnya terkejut mendengar kata-kata anak muda itu, sehingga dengan serta merta ayah Swasti bertanya, “Kenapa sia-sia ngger?”

Anak muda itu tertawa. Katanya, “Apakah artinya yang telah dilakukan oleh Daruwerdi itu bagi Kiai? Daruwerdi menyangka Kiai tidak mampu berbuat apa-apa dan benar-benar ketakutan melihat harimau itu datang merunduk Kiai dan anak gadis Kiai. Tetapi sentuhan jari-jari Kiai pada nadi anak gadis Kiai, menumbuhkan pertanyaan di hatiku. Dan kemudian aku pun yakin, bahwa seandainya Daruwerdi tidak menolong Kiai aku pun tidak akan melakukannya, karena Kiai akan dapat membunuh harimau itu dengan sekali hembus tanpa menitikkan keringat dan apalagi darah Kiai sendiri.”

Ayah Swasti menjadi tegang. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Anak muda melihat semuanya yang telah terjadi ?”

“Aku melihat semuanya yang terjadi. Aku tidak dapat menahan tertawa melihat tingkah laku Daruwerdi. Meskipun ia seorang anak muda yang berani dan memiliki kemampuan yang tinggi, tetapi ia tidak sempat melihat siapakah Kiai sebenarnya, sehingga ia dengan serta merta telah berusaha menolong Kiai,” jawab anak muda itu.

Ayah Swasti menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada dalam ia bertanya pula, “Apakah angger yakin bahwa tanpa pertolongan anak muda yang berani itu aku dapat menyelamatkan diriku sendiri?”

Anak muda itu tertawa. Namun kemudian sambil mengangguk hormat ia menjawab, “Kiai adalah seorang yang memiliki ilmu tiada taranya. Karena itu, seperti yang aku katakan, tingkah laku Daruwerdi adalah kesia-siaan dihadapan Kiai.”

Ayah Swasti memandang anak gadisnya yang mengerutkan kening. Sekilas Swasti memandang anak muda dalam pakaian dan sikap yang sederhana itu. Tetapi ketika tiba-tiba saja anak muda itu juga memandangnya, maka dilemparkannya tatapan matanya ke pepohonan yang kehitam-hitaman di dalam kelamnya malam.

“Angger,” berkata ayah Swasti kemudian, “di hari pertama kedatanganku di daerah ini, aku sudah dikejutkan oleh peristiwa-peristiwa yang semula diluar dugaanku. Ternyata di dua kelompok padukuhan yang dipimpin oleh dua orang buyut yang berbeda, meskipun mereka adalah saudara kembar, masing-masing dihuni anak muda yang memiliki ilmu yang tinggi. Meskipun kau tidak menunjukkan kemampuanmu seperti yang dilakukan oleh Daruwerdi, tetapi pengamatanmu atas keadaan kami telah menunjukkan bahwa angger adalah seorang anak muda yang luar biasa, yang tidak kalah tinggi ilmunya dari Daruwerdi.”

“Ah,” desis anak muda itu, “Kiai keliru. Aku hanya dapat melihat. Tetapi aku tidak dapat berbuat apa-apa.”

“Jangan ingkar anak muda. Seperti anak muda dapat melihat keadaanku, maka aku pun kini menyadari, siapakah yang ada dihadapanku.”

Anak muda itu tersenyum. Katanya kemudian, “Daruwerdi memang seorang anak muda yang terlalu baik. Ia terdorong oleh keinginannya yang tidak terkendali untuk menolong seseorang, sehingga ia tidak melihat siapakah yang akan ditolongnya. Sementara aku adalah, seorang gembala yang tidak berarti, yang selain menggembalakan kambing, aku selalu tenggelam di dalam lumpur.”

Ayah Swasti mengangguk-angguk. Sambil tersenyum ia pun menyahut, “Sungguh luar biasa. Daerah yang terpencil ini ternyata memiliki kemampuan yang mengagumkan. Angger apakah banyak anak-anak muda yang memiliki ilmu seperti angger Daruwerdi dan angger sendiri?”

Anak muda itu mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya, “Hanya seorang Kiai, Daruwerdi.”

Orang tua itu masih saja tersenyum. Katanya, “Angger memang senang bergurau. Baiklah. Angger tentu mengetahui apa yang sudah aku ketahui tentang angger, seperti aku tahu apa yang angger ketahui tentang aku.”

Ternyata bahwa anak muda itu memang banyak tertawa. Wajahnya nampak cerah, sedang jawabnya pun rancak. “Tepat Kiai. Dan karena itu pula aku tidak perlu bertanya, kemana Kiai akan pergi.”

Orang tua itu bertambah heran. Dengan nada dalam dan ragu-ragu ia bertanya, “Kenapa angger tidak perlu bertanya, kemana kami akan pergi ?”

Anak muda itu tertawa. Katanya, “Meskipun aku tidak pasti, tetapi aku dapat menduga. Bukankah Kiai berjalan menyusuri suara arus air dibawah tanah?”

“Ah,” orang itu menegang sejenak.

Tetapi anak muda itu masih tetap tertawa dan meneruskan. “Kiai tentu ingin menemukan mata air yang menurut dugaan Kiai tersembunyi di dalam hutan di bayangan bukit ini.”

Ayah Swasti mengangguk-angguk. Akhirnya ia menjawab, “Kami tidak ingkar ngger. Agaknya angger memiliki ketajaman penglihatan. Bukan saja penglihatan wadag yang telah melihat aku dengan sengaja menyentuh pusat nadi anakku agar tidak menumbuhkan kecurigaan pada angger Daruwerdi. tetapi juga penglihatan perhitungan.”

“Kiai tidak usah memuji. Aku kira itu bukannya suatu kelebihan. Bukankah wajar jika seorang perantau memerlukan tempat yang dapat dihuni? Salah satu syarat untuk sebuah padepokan adalah air.”

“Ya ngger. Kami memang sedang mencari sumber air yang aku ketahui mengalir dibawah tanah.”

“Baiklah Kiai. Aku dapat memberikan petunjuk serba sedikit karena aku adalah anak daerah ini.”

“Terima kasih ngger.”

“Kiai,” berkata anak muda itu, “pendengaran Kiai memang sangat tajam. Kiai telah menempuh jalan yang benar, tetapi pada suatu saat dapat kecewa karena arus air dibawah tanah itu sudah ada sejak dari seberang bukit.”

“O,” Swasti berdesis. Diluar sadarnya ia berkata, “Jadi kami harus mendaki dan menuruni bukit ini, atau mencari jalan melingkarnya ?”

Anak muda itu memandang Swasti sejenak. Namun seperti yang selalu dilakukan, ia menjawab sambil tersenyum, “Tidak. Kalian tidak perlu melakukannya meskipun kemungkinan itu dapat terjadi jika ayahmu salah pilih.” ia berhenti sejenak, lalu katanya kepada ayah Swasti, “Kiai, dibawah tanah ini memang sudah mengalir sebuah sungai yang deras. Sementara sumber yang terdapat di bayangan bukit ini hanya merupakan sebagian saja dari arus sungai itu. Karena itu, jika Kiai menyelusuri suara sungai dibawah tanah itu, mungkin sekali Kiai akan mengikuti arus yang lebih besar dari seberang bukit.”

Ayah Swasti mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih ngger. Terima kasih. Aku mengerti sekarang, bahwa ada tempuran dibawah tanah. Untunglah aku bertemu dengan angger di sini. Jika tidak, mungkin sekali aku salah memilih jalur air sehingga aku harus berjalan lebih jauh lagi.”

“Jika demikian Kiai, marilah. Aku akan mengantar. Kiai sampai ke mata air itu. Sebenarnyalah bahwa tempat itu adalah tempat yang sangat mapan untuk membuat sebuah padepokan.”

Ayah Swasti mengangguk-angguk. Tetapi ia benar-benar telah menjadi heran. Di hari yang pertama di daerah itu, ia telah bertemu dengan orang-orang yang tidak pernah diduganya.

Namun keheranan ayah Swasti bukan saja karena sikap anak muda itu, tetapi bahwa ia mengetahui tentang manfaat air dari mata air di bukit itu. Meskipun demikian, sawah-sawah tetap kering di musim kemarau.

“Anak muda,” akhirnya ayah Swasti tidak dapat menahan ingin tahunya, “menilik sikap dan keteranganmu tentang mata air itu, agaknya kau tahu benar guna manfaatnya.”

Anak muda itu tertawa. Katanya, “Aku sudah menyangka bahwa Kiai akan bertanya demikian. Jika di bukit ini ada mata air, dan aku mengetahuinya, kenapa aku tidak berbuat sesuatu bagi sawah kami yang kering.”

Ayah Swasti mengangguk kecil.

“Kiai,” berkata anak muda itu, “ada banyak sebabnya. Penghuni dari sekelompok padukuhan kami dan kelompok padukuhan yang lain, masih dikuasai oleh tata kehidupan yang sudah berpuluh tahun berlangsung. Mereka masih pula dibayangi oleh kepercayaan yang menghambat kemajuan cara berpikir mereka. Menurut pendapat mereka, daerah di lereng bukit ini merupakan daerah yang gawat. Tidak seorang pun yang akan berhasil memasuki hutan yang lebat dan apalagi menemukan mata air.”

“Tetapi angger pernah melakukannya,” potong orang tua itu.

“Mereka tidak percaya. Mereka menyangka bahwa aku sekedar bermimpi.” anak muda itu berhenti sejenak, lalu, “bahkan seandainya mereka percaya bahwa aku pernah menemukan sumber air itu, namun mereka tidak akan berani berbuat sesuatu.”

Ayah Swasti mengangguk-angguk. Tetapi iapun kemudian bertanya, “Bagaimana dengan Daruwerdi?”

“Ia seorang anak muda yang cakap. Ia melontarkan perhatiannya ke tempat yang jauh. Ia mempunyai kawan dan hubungan dengan orang-orang yang tidak dikenal di padukuhan kami, sehingga ia tidak mempedulikan lagi perkembangan padukuhan tempat ia tinggal.”

Ayah Swasti mengangguk-angguk. Namun kemudian sambil berpaling kepada Swasti ia berkata, “Kita ternyata telah mendapat anugerah dari Yang Maha Agung. Angger ini bersedia mengantarkan kita sampai ke mata air yang kita perlukan.”

Swasti tidak segera menjawab. Sekilas ditatapnya mata anak muda yang jernih itu. Namun ia pun hanya dapat menunduk dalam-dalam.

“Angger,” tiba-tiba saja ayah Swasti bertanya, “apakah angger sudah menyebut nama angger?”

Anak muda itu tertawa. Katanya, “Apakah itu perlu sekali Kiai?”

“Sebutlah, agar kami tidak canggung memanggil angger.”

Anak muda itu memandang orang tua itu sesaat. Namun kemudian senyumnya yang cerah menghiasi bibirnya yang bergerak menyebut namanya, “Namaku jelek Kiai. Tidak sebaik Daruwerdi.” ia nampak ragu-ragu. namun kemudian diucapkannya juga, “namaku Jlitheng.”

“Bohong,” diluar sadarnya Swasti tiba-tiba saja menjawab. Namun ketika terasa anak muda itu memandanginya, terasa wajahnya menjadi panas, sehingga iapun menunduk semakin dalam.

Ayah Swasti pun tertawa. Katanya, “Menurut pengamatanku, angger bukan seorang anak muda yang termasuk berkulit hitam.”

Anak muda itu tertawa. Katanya, “Menurut ibuku, saat aku lahir, kulitku hitam seperti arang. Kakekku lah yang memberi nama kepadaku Jlitheng.”

“Itu bukan nama ngger. Tetapi panggilan. Atau nama panggilan. Tetapi angger tentu mempunyai nama lain.”

Anak muda itu tertawa semakin keras. Katanya, “Panggil saja aku Jlitheng. Aku senang mendapat panggilanku.”

Ayah Swasti termangu-mangu. Namun katanya kemudian, “Baiklah angger Jlitheng. Untuk sementara aku akan mempergunakan nama panggilan itu.”

“Panggil saja namaku Kiai. Kiai tidak perlu memakai sebutan apapun. Bagiku terasa lebih akrab dan aku pun jauh lebih muda dari Kiai. Mungkin sebaya atau lebih tua sedikit dengan anak Kiai.”

Ayah Swasti pun tertawa semakin keras. Tetapi Swasti menunduk semakin dalam. Rasa-rasanya pipinya menjadi tebal dan lehernya tidak dapat diangkatnya. Sehingga untuk beberapa lamanya ia duduk bagaikan membeku.

“Tetapi Kiai, aku pun ingin mendengar Kiai menyebut sebuah nama. Aku tidak peduli apakah itu benar-benar nama Kiai, atau sekedar nama panggilan atau bahkan gelar Kiai.”

Orang tua itu tertawa. Jawabnya, “Aku ingin memberi gelar kepadaku sendiri. Mungkin aku dapat menyebut beberapa gelar kebesaran. Mungkin Gajah Limpad atau Garuda Yaksa atau gelar yang lebih dahsyat lagi. Tetapi aku tidak dapat mengingkari namaku sendiri yang sederhana. Anak muda, panggillah aku dengan namaku yang sebenarnya, Kiai Kanthi. Ya, namaku memang Kiai Kanthi.”

Anak muda itu mengerutkan keningnya. Sejenak ia seolah-olah sedang merenungi nama itu. Namun kemudian kepalanya terangguk-angguk kecil. Dengan nada datar ia bertanya, “Aku memang tidak bertanya, kemana Kiai akan pergi, tetapi aku sekarang bertanya, dari manakah Kiai datang.”

Orang tua yang menyebut namanya Kiai Kanthi itu pun menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya kemudian, “Aku berasal dari padepokan yang jauh ngger. Padepokan yang hancur dilanda gempa dan tanah longsor yang dahsyat. Untunglah bahwa kami sempat mengungsi. Ada beberapa orang penghuni padepokanku selain kami berdua. Merekapun sempat meninggalkan padepokan ketika hujan lebat dan angin prahara mulai melanda padepokan kami. Air yang mengalir dari lereng bukit bagaikan dituang dari langit. Ketika kemudian tanah bagaikan diguncang, maka runtuhlah tebing bukit diatas Padepokanku. Sementara banjir yang kemudian datang bagaikan menghanyutkan tanah garapan kami.”

“Kiai,” tiba-tiba anak muda itu memotong, “apakah Kiai datang dari daerah Pucang Sewu di sebelah Kali Buntung.”

Orang tua itu termangu-mangu.

“Sungai kecil itu memang seperti setan. Di musim kering airnya tidak lebih dari titik-titik embun. Tetapi jika hujan turun dengan lebatnya, maka airnya dapat meluap sampai beratus-ratus tonggak,” desis anak muda itu.

Orang tua yang menyebut dirinya bernama Kiai Kanthi itu masih termangu-mangu. Ditatapnya wajah anak muda itu dengan tajamnya. Namun kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Tentu berita tentang bencana alam itu sudah sampai kepadukuhan ini.”

Jlitheng mengangguk-angguk. Katanya, “Memang terdengar berita tentang bencana alam itu. Aku menghubungkan dengan ceritera Kiai. Jadi apakah Kiai benar datang dari daerah Pucang Sewu yang seakan-akan telah musnah itu ?”

Kiai Kanthi mengangguk. Jawabnya, “Benar ngger. Aku adalah salah seorang penghuni Pucang Sewu. Pucang Sewu di bagian Barat sampai saat ini masih tetap utuh. Tetapi agaknya daerah persawahannya tidak akan mencukupi lagi. Sedangkan padepokanku bagaikan hanyut oleh tanah yang longsor di lereng bukit, sedang sawah dan ladangku telah dihanyutkan oleh banjir Kali Buntung.”

“Dan sekarang Kiai mencari tempat untuk membuka padepokan baru,” sahut Jlitheng, “agaknya Kiai memang senang tempat di lereng bukit. Kali ini Kiai telah menuju ke lereng bukit pula.”

Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Kemudian sambil tersenyum ia menjawab, “Aku tidak pernah memikirkannya. Aku tidak pernah menganggap bahwa tinggal di lereng bukit adalah lebih baik daripada tinggal ditempat lain. Adalah kebetulan bahwa kali ini aku mengikuti arus air dibawah tanah sampai ke lereng bukit pula.”

Anak muda yang lebih senang dipanggil Jlitheng itu tertawa. Katanya, “Marilah Kai. Aku antarkan Kiai memasuki hutan ini. Sebelum pagi kita sudah akan sampai di tujuan.”

Kiai Kanthi memandang anak gadisnya sejenak, seolah-olah ia ingin bertanya, apakah ia sudah tidak terlalu lelah untuk melanjutkan perjalanan, meskipun sejak semula Swasti minta kepada ayahnya untuk melanjutkan perjalanan di malam hari.

Tetapi dalam pada itu, sebelum ayahnya bertanya, Swasti sudah mendahului, “Terserahlah kepada ayah. Aku sudah beristirahat meskipun sebentar. Tetapi ayah sama sekali belum.”

“Aku pun sudah,” jawab ayahnya, “ketika kau tertidur, aku sudah cukup beristirahat.”

Swasti tidak menjawab lagi. Dipandanginya saja anak muda yang wajahnya nampak cerah dan selalu tersenyum itu sejenak. Namun semakin lama wajah itu menjadi semakin kabur karena api di perapian semakin susut.

“Baiklah,” berkata ayah Swasti, “marilah kita pergi.”

Swasti pun kemudian bangkit sambil membenahi dirinya dan sebungkus kecil pakaiannya. sementara ayahnya memadamkan perapian agar apinya tidak menimbulkan bahaya kebakaran pada hutan di lereng bukit itu.

Sejenak kemudian, ketiga orang itupun telah melanjutkan perjalanan. Jlitheng berada di paling depan. Dibelakangnya berjalan Kiai Kanthi. Sedang di paling belakang adalah Swasti.

Bagaimanapun juga Kiai Kanthi masih juga harus berhati-hati. Ia sadar bahwa anak muda itu tentu anak muda yang memiliki ilmu yang tinggi, sedangkan ia masih belum mengenalnya dengan baik, sehingga kemungkinan yang tidak diharapkannya masih saja dapat terjadi.

Tetapi agaknya anak muda itu benar-benar ingin menunjukkan mata air yang tersembunyi didalam hutan di bukit itu. Langkahnya tetap, seolah-olah tanpa berpaling. Sekali-kali mereka harus menyusuri celah-celah padas yang menanjak setinggi pepohonan. Namun sekali-kali mereka harus berloncatan dari batu-batu raksasa ke batu berikutnya.

“Apakah tidak ada jalan lain yang lebih baik ngger ?” bertanya Kiai Kanthi.

Jlitheng menyahut tanpa berhenti, “Ada Kiai. Tetapi jalan itu panjang sekali. Kita dapat menyusuri sela-sela pepohonan. Jalannya memang lebih baik diri jalan yang kita tempuh sekarang. Tetapi kita akan terlalu lama mencapai mata air itu.”

Kiai Kanthi tersenyum. Seakan-akan kepada diri sendiri ia berkata, “Kau cerdik anak muda. Bukankah kau ingin mengetahui, apakah anak gadisku mampu melakukan seperti yang kau lakukan sekarang.”

“He?” tiba-tiba saja Jlitheng tertegun. Sejenak ia termangu-mangu. Namun kemudian ia berpaling sambil tertawa. “Kiai mempunyai tangkapan yang tajam sekali. Dan sekarang ternyata bahwa Swasti adalah seorang gadis yang luar biasa. Ia tidak saja mempunyai ketahanan tubuh yang melampaui kebanyakan orang, bahkan laki-laki sekalipun, yang ternyata dengan perjalanannya yang berat. Tetap ia pun, mampu melewati jalan ini. Ia mampu berloncatan dari batu ke batu. Menanjak tebing dalam gelapnya malam. Mendaki batu-batu padas yang licin oleh lumut hijau dan keseimbangan yang mantap.”

“Ah,” Swasti berdesis, “jika aku tahu, aku tidak mau.”

Jlitheng tertawa semakin panjang. Katanya, “Tetapi semuanya sudah terjadi. Akulah yang akan dapat memanfaatkan pertemuan ini sebaik-baiknya. Jika Kiai bersedia, aku akan mencoba mempelajari ilmu yang tentu tersimpan tanpa batas di dalam diri Kiai.”

“Ah,” potong Kiai Kanthi, “jangan mengada-ada ngger. Aku sama sekali bukan orang yang kau maksud. Sekarang, marilah. Kita melanjutkan perjalanan.”

Jlitheng menarik nafas panjang, iapun kemudian mengangguk-angguk kecil. Tetapi tidak sepatah kata lagi keluar dari mulutnya.

Ketiga orang itupun kemudian melanjutkan perjalanan mereka. Kadang-kadang mereka mencuat dari hutan-hutan kecil lewat batu-batu padas. Namun kemudaan mereka kembali memasuki hutan, berjalan diantara pepohonan, dan kadang-kadang menyusup diantara sulur-sulur yang bergayutan.

Dalam gelap malam perjalanan mereka terasa tersendat-sendat. Langkah mereka menjadi lamban dan sempit. Meskipun mereka tetap maju menyusup semakin dalam.

Betapa tajamnya telinga Kiai Kanthi ketika ia berdiri diatas batu padas yang basah, maka ia pun berkata, “Jika kau menyebut tempuran itu ngger, agaknya kita sudah berada diatasnya.”

“Ya Kiai,” jawab Jlitheng, “karena itu kita sudah hampir sampai. Di sebelah kita akan menemukan air itu mengalir diatas batu-batu padas dan tumpah kedalam parit-parit di sela-sela batu yang membawa air itu masuk kebawah tanah dan mengalir menyatu dengan sungai yang memang sudah terdapat sejak seberang bukit.”

Kiai Kanthi menarik nafas panjang. Diluar sadarnya ia berpaling kepada anak gadisnya yang diketahuinya, tentu telah menjadi sangat letih. Hanya karena tempaan yang pernah diterimanya dari ayahnya sajalah, maka Swasti masih jalan di belakangnya betapapun berat perjalanan itu.

Yang dikatakan oleh Jlitheng hampir sampai itupun ternyata masih memerlukan waktu yang panjang. Mereka menyusup semakin dalam diantara pepohonan.

Semakin jauh mereka berjalan, maka semakin terasa pada kaki Kiai Kanthi, bahwa tanah memang menjadi semakin basah. Oleh ketajaman perasaannya, maka Kiai Kanthi pun mengetahui, bahwa perjalanan mereka memang sudah dekat.

Swasti menarik nafas dalam-dalam ketika ia mulai mendengar gemerisik air. Bahkan rasa-rasanya ia ingin meloncat berlari langsung menceburkan diri kedalamnya. Namun ia masih menahan diri. Apalagi ia menyadari bahwa ia belum pernah menginjak daerah itu. Daerah yang mungkin mempunyai rahasia yang dapat mencelakakannya.

Ternyata seperti yang diduganya, maka Jlitheng pun berkata, “Berhati-hatilah Kiai. Disini kita mendapatkan beberapa jalur parit yang curam dan dalam, yang menampung air yang meluap dari sebuah kolam.”

“O, semacam luweng maksudmu ngger ?”

“Ya. Luweng yang terbuka dan terbujur memanjang.”

Kiai Kanthi tidak menjawab. Tetapi pendengarannya yang semakin jelas, seolah-olah telah memberikan gambaran, betapa berbahayanya daerah yang belum pernah dikenalnya itu.

Namun akhirnya mereka pun sampai ke sebuah dataran yang agak luas. Hutan yang tumbuh pepat menunjukkan bahwa tanah dibawah kaki mereka adalah tanah yang basah dan subur.

“Kita sudah sampai Kiai,” desis Jlitheng, meskipun yang nampak di sekitar mereka hanyalah kelebatan hutan semata-mata.

Tetapi Kiai Kanthi pun menangkap maksud anak muda itu. Ia pun merasa bahwa ia telah sampai ke tujuan. Hanya kelebatan hutan dan kelamnya malam sajalah yang masih memberikan jarak antara mereka dengan kolam yang sudah tidak jauh lagi dari mereka.

“Kiai,” berkata Jlitheng. “tugasku sudah selesai. Aku kira tidak ada lagi yang perlu aku kerjakan buat Kiai, seandainya ada seekor bahkan dua ekor harimau datang bersama-sama sekalipun, aku tidak perlu mencemaskan nasib Kiai dan anak gadis Kiai yang luar biasa itu.”

“Kau memang aneh anak muda,” jawab Kiai Kanthi, “namun demikian, aku kira kita masih akan berhubungan terus, seperti aku pun ingin selalu berhubungan kelak dengan angger Daruwerdi. Bukankah angger kenal baik dan bahkan mungkin bersahabat dengan angger Daruwerdi ?”

“Tentu Kiai. Meskipun kelompok padukuhan kami dan kelompok padukuhan Daruwerdi diperintah oleh orang yang berbeda, tetapi kami tetap rukun seperti keluarga, karena pada dasarnya kami memang sekeluarga.”

“Tetapi aku melihat kelainan pada sikap angger Daruwerdi,” bertanya Kiai Kanthi.

Anak muda yang menyebut dirinya Jlitheng itu mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apakah yang berbeda Kiai ?”

“Menilik dari ujud lahiriahnya saja, ia berpakaian lain dari kawan-kawannya. Dan maaf, agak berbeda pula dengan pakaianmu ngger.”

“Ah. Kiai aneh sekali. Sudah barang tentu pakaian kami berbeda-beda menurut selera kami masing-masing. Apakah Kai dapat melihat perbedaan selera memilih pakaian sebagai sesuatu yang perlu mendapat perhatian? Jika Kiai memperhatikan, mungkin terdapat kelainan pula pada pakaianku dengan pakaian kawan-kawanku dan sebaliknya.”

Kai Kanthi pun mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin angger benar. Ya, agaknya aku memang sudah pikun.”

Jlitheng tertawa. Jawabnya, “Sudahlah Kiai. Aku mohon diri. Besok aku akan datang lagi ke tempat ini. Mungkin sendiri mungkin bersama Daruwerdi. Ia tentu ingin juga bertemu dengan Kiai setelah ia menolong Kiai dan anak gadis Kiai. Tetapi aku kira Kiai belum mengatakan bahwa Kiai akan datang kemari kepada Daruwerdi.”

“Apakah angger akan memberitahukan kepadanya ?” bertanya Kiai Kanthi, “dan apakah itu perlu?”

Jlitheng mengerutkan dahinya. Dengan suara datar ia bertanya, “Jadi bagaimana pesan Kiai?”

“Sebaiknya jangan tergesa-gesa memberitahukan kepada siapapun ngger. Aku kira aku lebih senang melihat daerah ini untuk dua tiga hari, untuk dapat mengambil keputusan. apakah aku akan menetap atau kemungkinan itu terpaksa aku lepaskan karena daerah ini kurang memadai.”

“Baiklah Kiai. Tetapi aku berharap Kiai akan kerasan tinggal di hutan ini. Disini ada air. Dataran yang cukup luas dan pohon buah-buahan yang dapat untuk sementara membantu Kiai. meskipun pepohonan yang memberikan buah-buahan yang dapat dimakan itu telah mengundang beberapa jenis binatang. Disini banyak kera Kiai. Tetapi kera itu bagaikan lenyap ditelan bukit, jika satu dua ekor harimau sampai ke tempat ini.”

“Terima kasih atas segala keterangan itu ngger. Aku akan melihat, apakah aku dapat berbuat sesuatu atas daerah ini.”

Anak muda yang menyebut dirinya Jlitheng itu pun sekali lagi minta diri dan meninggalkan Kiai Kanthi serta anak gadisnya di daerah yang asing bagi keduanya itu.

Sejenak Kiai Kanthi masih termangu-mangu. Ditebarkannya pandangan matanya ke sekelilingnya. Tetapi gelap sisa malam masih sangat membatasi jarak jangkau tatapan matanya. Namun tatapan mata batin orang tua itu sudah melihat bahwa didekat mereka terdapat sebuah kolam yang airnya melimpah mengalir bertebaran, menuju ke parit-parit di celah-celah batu-batu padas yang seakan-akan telah disediakan oleh alam, yang membawanya kedalam arus sungai dibawah tanah.

“Kita beristirahat Swasti,” berkata ayahnya, “tidak lama lagi, kita akan sampai ke ujung malam. Kita akan segera menemukan air dan mempertimbangkan apakah kita dapat mempergunakan tempat ini. Setelah terang, baru kita akan mengetahui keadaan di sekitar kita.”

Swasti mengangguk. Dikuakkannya rumput-rumput liar dibawah kakinya. Namun desisnya kemudian, “Tidak ada tempat untuk tidur ayah. Tanah ini terlalu basah.”

“Ya, tanahnya terlalu basah. Tetapi kau dapat beristirahat diatas dahan itu.”

Swasti mengangkat wajahnya. Dilihatnya beberapa batang pohon besar. Dahannya yang bersilang melintang, memberikan kemungkinan untuk beristirahat kepadanya.

“Tetapi apakah disini tidak ada laba-laba hijau yang beracun, atau sebangsa cicak berleher merah ?”

“Mungkin memang ada Swasti, kita belum mengenal daerah ini baik-baik. Karena itu berhati-hatilah.”

Swasti tidak menjawab. Tetapi ia pun kemudian mengumpulkan seonggok rerumputan liar dibawah sebatang pohon. Kemudian dijatuhkannya dirinya, duduk sambil bersandar. Perlahan-lahan angin yang silir terasa bagaikan membelai jantung, sehingga akhirnya, sambil duduk ia pun memejamkan matanya.

Ayahnya pun telah duduk didekatnya. Sejenak ia mengamati anak gadisnya. Dalam tidur nampak remang-remang di dalam kegelapan wajah gadis itu membayangkan beban yang berat menggantung di pundaknya.

“Kasihan,” desis ayahnya. Bagaimanapun juga sebagai seorang ayah ia dapat merasakan betapa berat perasaan anak gadisnya mengikuti cara hidup yang dipilihnya. Kadang-kadang terngiang kata-kata Daruwerdi tentang masa depan anaknya itu.

“Kakek mementingkan diri sendiri,” kata-kata itu bagaikan terdengar bergema di relung hatinya berulang-ulang. Kemudian, “Anak gadismu memerlukan masa depan sebagai seorang gadis sewajarnya.”

“Ah,” desah orang tua itu. Namun katanya kemudian di dalam hati, seolah-olah ia telah mengucapkan janji. “Disini aku akan membuka sebuah padepokan. Aku akan berusaha memberi kesempatan agar Swasti dapat hidup sebagai seorang gadis sewajarnya, berkawan dengan gadis-gadis yang lain dari kedua kelompok padukuhan itu.”

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Sekilas ia melihat wajah anaknya yang muram. Kemudian keningnya menegang, ketika ia mendengar Swasti didalam tidurnya berdesah panjang.

Ternyata bahwa malam segera sampai ke ujungnya. Langit menjadi merah. Sementara burung-burung liar berkicau bersahut-sahutan.

Swasti membuka matanya. Dilihatnya ayahnya masih duduk memeluk lutut.

“Ayah tidak beristirahat?” bertanya Swasti. Tetapi Swasti sendiri mengerti bahwa ayahnya tidak akan dapat tidur jika ia sendiri sedang tidur nyenyak.

Ayahnya justru bangkit sambil menggeliat. Katanya, “Aku sudah cukup beristirahat. Alangkah nyamannya pagi yang bakal datang. Kita akan melihat, apakah yang ada disekitar tempat ini.”

Swasti pun kemudan bangkit pula. Setelah membenahi rambutnya maka iapun berkata, “Kita akan mencari mata air itu ayah.”

Keduanya pun kemudian berjalan menyibak lebatnya gerumbul-gerumbul diantara batang-batang pohon besar yang tumbuh di hutan yang pepat itu. Namun seolah-olah Kiai Kanthi memiliki penglihatan jauh melampaui wadagnya, sehingga ia pun dengan tepat telah memilih arah yang benar menuju ke sebuah kolam yang airnya melimpah-limpah di segala musim.

Sejenak kedua orang itu termangu-mangu. Cahaya pagi sudah mulai menembus rimbunnya dedaunan hutan dan jatuh segumpal-segumpal diatas tanah yang lembab.

Dengan tegang keduanya memandang air yang jernih meskipun kotor oleh daun-daun kering yang berjatuhan, tertimbun didasar. Warna lumut yang hijau dan batang-batang kayu yang berpatahan silang melintang. Namun dengan mata wadag, keduanya dapat melihat betapa kelompok-kelompok ikan berenang dekat didasar kolam, menyusup diantara setimbun sampah dan dahan-dahan yang rontok kedalam kolam itu.

Di luar sadarnya Swasti berkata, “Tempat yang memungkinkan ayah. Kolam itu menyimpan ikan tidak terbilang banyaknya dari bermacam-macam jenis. Agaknya seperti yang dikatakan oleh Jlitheng. di hutan ini terdapat beberapa jenis pohon buah-buahan yang dapat dimakan.”

Ayahnya mengangguk. Katanya, “Nampaknya kita menemukan tempat yang kita cari. Meskipun demikian, kita akan melihat barang satu dua hari. Apakah kita akan dapat membuka sebuah padepokan disini. Kita akan melihat, apakah hujan yang lebat tidak akan meruntuhkan tebing bukit itu dan menghancurkan lereng dibawahnya.”

“Tetapi nampaknya kolam ini sudah berumur tua ayah. Jika tanah di tebing itu dapat diruntuhkan oleh air, maka kolam ini tentu sudah tertimbun, meskipun sedikit demi sedikit, tetapi itu terjadi setiap tahun di musim basah.”

Ayahnya mengangguk-angguk. Namun kemudan Swasti berkata, “Tetapi pohon besar itu ayah. Aku melihat kelainan dari pohon-pohon yang lain. Aku melihat di dahannya terdapat jenis daun yang berlainan.”

Ayahnya memperhatikan pohon besar itu. Iapun melihat jenis daun yang berbeda. Namun ia pun melihat serat-serat kayu yang berbeda pada batangnya yang besar, yang bagaikan anyaman sulur-sulur yang besar dan membelit tubuh batangnya.

“Memang pohon itu mempunyai kelainan,” berkata ayah Swasti. Namun kemudian, “kita akan mengetahui jika kita sudah berada disini.”

Swasti pun kemudian meletakkan sebungkus kecil pakaiannya. Katanya, “Aku akan membersihkan diri ayah. Aku memerlukan air itu.”

Ayahnya mengangguk. Namun pesannya. Berhati-hatilah. Mungkin ditempat ini terdapat banyak ular atau binatang berbisa.”

Swasti mengangguk sambil melangkah meninggalkan ayahnya memasuki gerumbul dan hilang di rimbunnya dedaunan. Ia mencari arus air yang melimpah dari telaga yang jernih tetapi kotor itu.

Rasa-rasanya Swasti sudah tidak tahan lagi. Dua hari ia tidak mandi. Ia hanya sempat mencuci wajahnya di parit yang kebetulan dijumpainya di perjalanan.

Tetapi Swasti terkejut ketika ia mendengar daun berdesir. Ketika ia menengadahkan wajahnya, ia bersungut-sungut karena dua ekor kera nampaknya sedang memperhatikannya.

“Pergi,” bentak Swasti. Tetapi kera itu tetap ditempatnya. Baru ketika Swasti melemparnya dengan batu kerikil kera itupun melompat dari dahan ke dahan yang lain.

Sementara Swasti sedang mandi di belakang gerumbul, dengan air yang melimpah dari kolam yang bagaikan disaring oleh bebatuan sehingga daun-daun kering dan lumut yang terdapat di telaga tidak mengotori arus air itu. Kiai Kanthi dengan saksama memperhatikan tempat disekitarnya. Ketika ia menengadahkan kepalanya, dilihat di sebelah lain dari kolam itu terdapat sebatang pohon gayam yang berbuah lebat.

“Ada juga pohon gayam di sini,” gumamnya. Namun bagi Kiai Kanthi hal itu merupakan isyarat yang baik. Untuk sementara pohon gayam itu akan dapat menjadi sandaran makan mereka sehari-hari disamping ikan yang berkeliaran di kolam dan binatang buruan di hutan. Bahkan dengan demikian ia yakin, bahwa ditempat itu tentu masih terdapat beberapa batang pohon gayam lainnya dan mungkin juga pohon yang lain yang dapat memberikan bahan makan baginya sebelum ia berhasil membuka sesobek ladang untuk menanam padi.

Ketika kemudian Swasti kembali ke tempat itu, maka hampir diluar sadarnya Kiai Kanthi berkata, “Aku sudah mendapat kepastian Swasti, bahwa kita akan tinggal disini.”

Swasti menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku senang ayah, bahwa aku tidak harus berjalan lagi menempuh jarak yang tidak pasti.”

Kiai Kanthi memandang anaknya sejenak. Terasa di hatinya, betapa letihnya anak gadis itu meskipun ia tidak pernah membantah untuk mengikutinya kemana ia pergi.

“Ya Swasti,” suara orang tua itu menjadi dalam, “aku mengerti bahwa kau sudah tidak ingin lagi menempuh perjalanan yang melelahkan. Tetapi kita akan mendapat pekerjaan baru. Kita akan membuka hutan ini.”

Swasti termangu-mangu. Dipandanginya beberapa jenis pohon yang besar yang tumbuh di sekitar kolam itu. Suatu pekerjaan yang mustahil dilakukan. Bagaimana mungkin ia berdua dengan ayahnya akan dapat menebang pohon-pohon raksasa dan gerumbul-gerumbul perdu yang lebat dan bahkan diantaranya berduri.

Kiai Kanthi agaknya melihat keragu-raguan anak gadisnya. Karena itu maka katanya, “Swasti. Sudah barang tentu kita tidak akan menebang pohon-pohon raksasa ini. Kita akan menebas pohon-pohon perdu dan membiarkan satu dua pohon besar yang tumbuh disana.”

“Jadi, kita tidak akan membangun padepokan di tepi telaga ini ayah? Jika demikian, kenapa kita bersusah payah mengikuti arus air dibawah tanah itu?”

“Swasti. Kita sudah menemukan tempat ini. Tempat ini akan menjadi sumber dari kehidupan di padepokan yang akan kita bangun. Kita akan mengalirkan air yang tidak terkendali ini ke tempat yang paling baik bagi sebuah padepokan. Tentu tidak jauh dari tempat ini.”

Swasti mengangguk-angguk kecil. Ia mengerti maksud ayahnya. Dengan demikian yang harus mereka kerjakan adalah menebang perdu dan mungkin ilalang di sekitar tempat itu yang kemudian harus menyiapkan sebuah parit untuk mengaliri daerah itu, agar dapat menjadi sawah yang subur, yang akan dapat menampung tebaran benih padi.

“Kita akan beristirahat hari ini Swasti,” berkata ayahnya, “alam telah menyediakan makanan bagi kita. Ikan di telaga itu, binatang buruan di hutan dan lihat, beberapa batang pohon gayam.”

Swasti mengangguk-angguk. Namun wajahnya membayang harapan yang cerah. Apalagi ketika ayahnya berkata seterusnya, “Selanjutnya Swasti. kita akan bertetangga dengan dua kelompok padukuhan yang diperintah oleh dua orang buyut yang bersaudara kembar. Kita akan hidup dalam lingkungan yang lebih luas dan bersahabat dengan banyak orang.”

Swasti menundukkan kepalanya. Terasa sesuatu menyekat kerongkongannya. Setelah menempuh perjalanan yang panjang. meninggalkan padepokan yang hanyut oleh banjir dan tanah longsor, maka ditemuinya tempat tinggal yang akan dapat menjadi daerah harapan bagi masa depannya.

Seperti yang dikatakan oleh ayahnya, maka pada hari itu keduanya benar-benar ingin beristirahat. Swasti memungut beberapa buah gayam terjatuh dan mengamat-amatinya. Namun dengan suara parau ia berkata, “Kita belum mempunyai belanga untuk merebusnya ayah.”

Ayahnya mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan menghubungi orang-orang padukuhan kelak. Di hari ini kita akan mencari binatang buruan dan memanggangnya diatas api.”

“Ada sebatang pohon jambu keluthuk ayah.”

“Tentu tidak hanya sebatang. Bijinya akan terhambur dan tumbuh pohon-pohon yang lain di sekitarnya.”

“Ya. Ya. Ada beberapa batang. Tetapi beberapa ekor kera tentu telah mendahului memetik buahnya yang masak.”

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Teringat olehnya kata-kata anak muda yang menyebut dirinya bernama Jlitheng. Anak muda itu akan kembali lagi untuk menengoknya, sehingga Kiai Kanthi itu pun berkata, “Swasti, jika benar anak muda itu akan datang lagi, aku akan minta tolong kepadanya untuk meminjamkan belanga kepada kita.”

Swasti memandang ayahnya sejenak. Tetapi ia tidak menyahut.

Yang dilakukan oleh Swasti kemudian adalah duduk bersandar sebatang pohon sambil merenungi keadaannya. Merenungi dirinya dan masa depannya, sementara ayahnya berusaha untuk menangkap beberapa ekor ikan di telaga itu dengan kail. Dicarinya sepotong ranting kayu untuk mengikat serat pengikat kailnya yang sudah diberinya umpan.

Ternyata Kai Kanthi tidak usah menunggu terlalu lama. Kailnya segera bergetar, dan seekor ikan telah menggelepar terkait oleh ujung kailnya.

Dalam pada itu. Jlitheng yang sudah tiba kembali di rumahnya, sama sekali tidak mengatakan kepada siapapun bahwa ia telah bertemu dengan dua orang laki-laki dan perempuan yang sedang mengembara dan memasuki hutan di perbukitan. Bahkan ia pun seperti yang dikatakannya, akan datang lagi dan mengajaknya bersama-sama mengunjungi hutan yang datar di pinggir telaga itu. Pertemuannya dengan kedua orang itu telah menimbulkan pertanyaan didalam dirinya mengapa mereka memilih milih bukit itu untuk membangun padepokan baru, apakah padepokan ditempatnya yang lama benar-benar sudah tidak memungkinkan bagi mereka untuk dapat hidup? Atau kedatangannya ke tempat ini didorong oleh maksud-maksud tertentu? (catatan: sebagian kalimat direka-reka karena kertasnya sobek)

Sambil membelah kayu di kebun Jlitheng selalu berangan-angan tentang dua orang ayah dan anak itu. Bagaimanapun juga, ia harus menerima kehadiran orang-orang baru dengan curiga. Apalagi Jlitheng mengetahui dengan pasti, bahwa orang yang menyebut dirinya Kiai Kanthi dan anak perempuannya yang bernama Swasti itu memiliki kelebihan dari orang-orang kebanyakan.

Jlitheng berpaling ketika ia mendengar seorang perempuan yang sudah separo baya memanggilnya. Dilihatnya ibunya berdiri di pintu sambil berkata, “Aku akan memetik daun ketela pohon sebentar Jlitheng. Kau tinggal di rumah saja. Jangan pergi.”

“Baiklah biyung. Aku akan menyelesaikan kayu bakar ini,” jawab Jlitheng. Namun tiba-tiba ia teringat kepada kedua ayah dan anak itu sehingga katanya kemudan, “tetapi nanti aku akan pergi sebentar biyung. Aku akan melihat apakah tanaman kita di pategalan dapat bersemi.”

“Tunggu sampai aku pulang.”

Jlitheng hanya mengangguk saja.

Ketika ibunya meninggalkannya sendiri, maka Jlitheng malah berangan-angan kembali.

Jlitheng terkejut ketika seorang anak muda sebayanya datang berlari-lari sambil memanggil namanya sejak di halaman depan rumahnya. Dengan serta merta iapun bangkit dan menyahut, “Aku disini.”

Anak muda itu pun segera melingkari rumahnya dan menemukannya di kebun belakang.

“Jlitheng,” katanya dengan nafas masih terengah-engah, “aku melihat Daruwerdi melintasi jalan kecil ke bukit batu yang gundul itu lagi. Bahkan ia telah berjalan tidak dengan kawan-kawannya dari padukuhan sebelah. Aku melihat dua orang yang sama sekali belum aku kenal.”

Jlitheng mengerutkan keningnya. Diluar sadarnya ia berdesis, “Apakah ada hubungannya dengan orang tua itu.”

“Orang tua yang mana?” bertanya kawannya.

Tetapi Jlitheng menggeleng. Jawabnya, “Tidak. Maksudku, apakah hubungannya dengan bukit batu yang gundul itu. Kita sudah melihat ia, dua tiga kali pergi ke bukit batu gundul itu.”

Kawannya mengangguk-angguk. Tetapi kemudian ia bertanya, “Sebenarnya apakah kepentinganmu dengan Daruwerdi sehingga kau menyuruh aku dan Jatra untuk memberikan kepadamu jika kami melihat Daruwerdi pergi ke bukit gundul itu?”

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Ia pun kemudian duduk lagi sambil memungut parang kecilnya. Sambil membelah kayu ia menjawab, “Tidak ada kepentingan apa-apa. Tetapi kau lihat, bahwa bukit batu yang gundul itu benar-benar bukit batu padas yang keras dan tidak memberi kemungkinan apapun juga. Tetapi Daruwerdi sering pergi ke bukit itu. Aku sudah pernah melihat dua kali. Kau juga pernah melihat dua kali, tiga kali dengan sekarang ini dan Jatra pernah melihatnya sekali. Nah, bukankah hal itu sangat menarik perhatian?”

“Kenapa kau tidak bertanya saja kepadanya, apa yang dicarinya.”

Jlitheng mengerutkan dahinya. Sambil tersenyum ia pun kemudian berkata, “Duduklah disini.”

Kawannya pun kemudian duduk disebelahnya. sementara Jlitheng pun berkata, “Tentu saja aku tidak dapat berbuat demikian. Bahkan aku berharap bahwa Daruwerdi tidak mengetahui bahwa kita sedang mengawasinya, ia menganggap bahwa kita semuanya sama sekali tidak menaruh perhatian atas tingkah lakunya. Atau katakan, kami anak-anak pedukuhan yang bodoh ini tidak sempat memikirkan apakah yang dilakukan olehnya di pegunungan batu yang gundul itu. Apalagi kadang-kadang ia datang dengan orang yang tidak kita kenal sama sekali.”

Kawannya mengangguk-angguk. Tetapi nampaknya ia tidak puas dengan jawaban Jlitheng. Sehingga Jlitheng perlu menjelaskan. “Dengarlah. Bukankah aku tidak minta kepada setiap orang untuk memperhatikan Daruwerdi? Aku hanya percaya kepada kau dan Jatra. Itu pun aku selalu berpesan, bahwa yang kita lakukan ini jangan diketahui oleh siapapun juga. Kawan-kawan kita yang lain pun jangan mengetahuinya. Baru kelak jika kita sudah pasti mengetahui apa yang dilakukannya, maka kita akan memberitahukan kepada kawan-kawan dan kepada Ki Buyut.”

“Kenapa dengan Ki Buyut?”

“Maksudku, jika yang dilakukan oleh Daruwerdi itu akan merugikan kita semuanya disini.”

“Apakah ruginya seandainya Daruwerdi akan menelan bukit batu yang gundul itu?”

Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Bukit batu yang gundul itu memang tidak berarti. Meskipun letaknya di perbatasan antara dua kelompok padukuhan, namun baik Ki Buyut yang muda maupun Ki Buyut yang tua sama sekali tidak memperhatikannya. Tetapi kini Daruwerdi lah yang menaruh perhatian besar terhadap bukit gundul itu.”

Anak muda yang duduk disebelah Jlitheng itu mengangguk-angguk. Sementara Jlitheng pun berkata terus, “Kita anak padukuhan ini. Kita wajib mengetahui apa saja yang terdapat di padukuhan kita.”

“Sebelum kau datang Jlitheng,” sahut temannya, “gunung batu yang gundul itu sama sekali tidak mendapat perhatian kami disini.”

“Agaknya memang demikian. Aku pun tidak akan memperhatikan, jika Daruwerdi tidak memperhatikan gunung itu berlebihan.”

“Coba sebutkan, siapakah yang datang lebih dahulu. Kau atau Daruwerdi.”

Jlitheng tertawa. Katanya, “Mungkin aku, tetapi mungkin Daruwerdi. Aku tidak tahu pasti kapan ia datang. Yang aku ingat, aku tinggal di rumah biyung setelah pengembaraanku gagal. Aku tidak mendapat apa-apa di pengembaraan. Maksudku, agar hidupku dapat bertambah baik.”

Anak muda di sebelah Jlitheng itupun berpikir sejenak. Namun Jlitheng berkata, “Jangan bersusah payah mengingat saat kedatanganku dan kedatangan Daruwerdi. Tidak ada gunanya lagi.”

Kawannya mengangguk-angguk.

“Nah, aku masih tetap minta tolong kepadamu untuk memberitahukan kepadaku jika kau melihat Daruwerdi datang ke bukit batu yang gundul itu. Hanya jika kebetulan kau melihat. Kau tidak perlu dengan bersusah payah mengawasinya.”

Kawan Jlitheng itu pun termangu-mangu. Namun ia pun kemudian mengangguk sambil berkata, “Karena kau sering menolong aku mengerjakan pekerjaanku di sawah, maka aku tidak dapat menolak permintaanmu itu Jlitheng.”

Jlitheng tertawa. Katanya, “Anggaplah ini sekedar suatu permintaan.”

“Tetapi permainan ini berbahaya bagiku. Setiap orang mengetahui bahwa Daruwerdi bukannya anak muda seperti kita. Ia mempunyai banyak kelebihan dan pengetahuannya pun sangat luas.”

Jlitheng mengangguk. Jawabnya, “Ya. Karena itu, lakukanlah dengan tidak menimbulkan kesan apapun padanya. Apalagi aku hanya ingin kau mengatakan kepadaku pada saat kau melihatnya tanpa membuang waktu khusus untuk mengawasinya. Adalah kebetulan bahwa sawahmu terletak di jalan menuju ke bukit padas yang gundul itu.”

“Bukan kebetulan. Tentu kau memilih aku dan Jatra karena sawah kami terletak di dekat bukit itu.”

Jlitheng tertawa. Jawabnya, “Tepat. Dan agaknya kau memang memiliki kecerdasan.”

Kawan Jlitheng itu pun kemudian berkata, “Baiklah. Aku akan kembali ke sawah. tetapi coba katakan, apakah hasilnya aku dengan terengah-engah memberitahukan kepadamu bahwa sekarang Daruwerdi pergi ke bukit padas itu. Kau, hanya mendengar berita sambil tersenyum, tertawa kemudian mengangguk-angguk. Sementara nafasku hampir putus dan jantungku berdebaran semakin keras.”

Jlitheng tersenyum. Katanya, “Untuk sementara aku hanya ingin meyakinkan, bahwa ia memang sering sekali pergi ke bukit gundul itu. Selebihnya masih perlu diselidiki. Dan kau tidak perlu berlari-lari begitu.”

Anak muda itu mengangguk-angguk. Ia pun kemudian minta diri untuk kembali ke sawahnya.

Sepeninggal kawannya, Jlitheng kembali duduk sambil membelah kayu. Beberapa potong ranting dan dahan-dahan kecil yang sudah terbelah dan terkelupas kulitnya, dijemurnya dibawah sinar matahari yang belum terlalu panas.

Namun dalam pada itu, ia mulai teringat lagi kepada dua orang ayah dan anak gadisnya yang berada di bukit yang diselubungi oleh hutan yang meskipun tidak terlalu luas, tetapi cukup lebat.

Tiba-tiba saja Jlitheng merasa bahwa ibunya telah terlalu lama pergi. Ia ingin segera melihat, apakah yang sudah dilakukan oleh Kiai Kanthi dan anak gadisnya yang bernama Swasti itu.

“Ibu tentu singgah di rumah tetangga,” katanya kepada diri sendiri, “masih sepagi ini biyung sudah sempat membicarakan buruk baik tetangga-tetangga yang lain.”

Tetapi ia tersenyum ketika melihat seorang perempuan berjalan-jalan perlahan-lahan sambil menjinjing seikat dedaunan.

“Sudah kau isi tempayan di dapur itu?” bertanya perempuan itu.

“Sudah biyung. Pakiwan pun telah penuh dan kayu sudah kering sebagian. Tetapi tentu sudah berlebihan untuk hari ini.”

Perempuan itu mengangguk-angguk. Ketika melangkahi pintu masuk kedalam rumah ia sempat berkata, “Apakah kau akan pergi sekarang ?”

“Ya biyung. Aku akan pergi ke pategalan.”

“Aku sudah pergi ke pategalan. Aku memetik lembayung, bukan daun ketela pohon. Tetapi kalau kau akan pergi, pergilah. Tetapi jangan terlalu lama.”

Jlitheng mengangguk sambil menjawab, “Aku hanya sebentar.”

Ketika perempuan itu masuk, Jlitheng pun menyelipkan parangnya di dinding. Sejenak ia membenahi pakaiannya, sebelum ia dengan tergesa-gesa meninggalkan rumahnya.

Namun demikian, Jlitheng masih sempat singgah di sawah sejenak. Dipandanginya bukit padas yang gundul di ujung bulak sebelum jalan menjadi semakin sempit dan menuju ke padang perdu di pinggir hutan yang menyelubungi bukit agak jauh dari padukuhan.

Bukit gundul itu memang menarik perhatiannya, karena Daruwerdi sering mengunjunginya. Tetapi ia tidak dapat langsung menyelidiki bukit padas itu, karena ia menduga, bahwa Daruwerdi mempunyai orang-orang yang dipercayainya mengawasi bukit gundul itu.

Namun sejenak kemudian Jlitheng pun meneruskan perjalanannya. Ia tidak mau menarik perhatian orang lain, sehingga karena itu, maka iapun telah mencari jalan yang paling sepi. Ia singgah sebentar di pategalan, agar orang lain tidak memperhatikannya. Namun Jlitheng berharap, seandainya ada orang yang melihatnya pergi ke hutan, mereka akan menganggapnya sedang mencari kayu bakar seperti yang sering dilakukannya untuk ditimbun di belakang rumah, sehingga apabila kayu itu sudah tertimbun banyak sekali, ia tidak perlu bersusah payah lagi untuk tiga empat pekan.

Kedatangannya di telaga di lorong bukit itu telah mengganggu Kiai Kanthi dan Swasti yang sedang beristirahat. Swasti tertidur sambil bersandar sebatang pohon besar, sementara Kiai Kanthi berbaring diatas sebuah batu meskipun ia tidak memejamkan matanya.

“Silahkan Kiai,” berkata Jlitheng ketika ia melihat Kiai Kanthi bangkit dan mempersilahkannya.

“Aku sudah cukup lama beristirahat. Badanku terasa segar sekali. Swasti pun sempat tidur setelah kita mencicipi ikan di telaga itu.”

Jlitheng mengangguk-angguk. Ia pun melihat perapian yang tampaknya baru saja dipadamkan.

Swasti yang terbangun pula, telah bergeser melingkari pohon tempat ia bersandar, seolah-olah ia dengan sengaja ingin menyembunyikan diri. Agaknya, kelelahan dan keletihan yang sangat, membuat ia menjadi malas dan masih ingin melanjutkan tidurnya barang sejenak.

“Aku sudah melihat beberapa puluh langkah di sekitar tempat ini ngger,” berkata Kiai Kanthi.

Jlitheng mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Jika Kiai sependapat, sebenarnya aku sejak lama sudah mempunyai rencana. Tetapi bukan maksudku untuk mengatakan kepada Kiai, bahwa aku mempunyai kesempatan pertama. Kiai tetap orang pertama yang akan membuka kemungkinan baru bagi daerah ini dengan menguasai air.”

“Apakah rencanamu ngger?”

Jlitheng termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Sebaiknya aku tidak mengatakannya.”

“Kenapa?” bertanya Kiai Kanthi.

“Seolah-olah aku merasa bahwa aku adalah seseorang yang memiliki kemampuan untuk melihat ke masa depan yang panjang. Dan seolah-olah aku tidak mau menerima kenyataan bahwa Kiai lah orang yang pertama-tama melihat manfaat air di telaga ini.”

Kiai Kanthi tersenyum. Katanya, “Aku bukan anak-anak ngger. Bukan pula orang yang ingin berada diatas nama orang lain. Apakah aku harus menutup penglihatanku tentang angger yang tentu sudah sejak lama memperhatikan air yang melimpah ini? Bukankah angger pernah berkata, bahwa hambatan yang paling besar datang dari sanak kadang dan tetangga angger sendiri yang menganggap bahwa setiap perubahan akan berarti pengingkaran terhadap peradaban yang telah ada?”

Jlitheng mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Terserahlah kepada Kiai. Tetapi jika Kiai mau mendengar, biarlah aku katakan serba sedikit tentang sebuah impian.”

“Katakan ngger?”

“Kiai, dibawah bukit ini telah memerintah dua orang Buyut yang sebenarnya adalah saudara kembar.”

“Aku sudah melihat tugu kecil bertulis yang merupakan batas dari dua kelompok padukuhan yang dipimpin oleh dua orang saudara kembar itu ngger.”

“Ya Kiai. Tugu itu dibuat dekat sebelum Ki Buyut yang lama, yang menjadi tetua daerah ini wafat.” Jlitheng berhenti sejenak, lalu, “Ternyata bahwa kedua anak kembarnya telah memenuhi harapannya. Mereka memimpin kedua kelompok padukuhan itu dengan rukun sampai saat ini. Nah, rencanaku itu adalah meyakinkan kedua orang Buyut itu bahwa air akan sangat berguna bagi sawah mereka yang kering di musim kemarau.”

“Kau sudah mencoba?”

Jlitheng menggelengkan kepalanya. Katanya, “Belum Kiai.”

“Kenapa? Apakah Ki Buyut menurut pertimbanganmu juga tidak ingin melihat kemungkinan yang baik bagi masa depan itu?”

“Bukan Kiai. Aku memang belum sempat.”

“Belum sempat? Apakah kerjamu selama ini?”

Jlitheng tersenyum. Katanya, “Aku juga belum lama kembali ke kampung halaman setelah aku pergi merantau, menjelajahi daerah yang luas.”

Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku sudah menduga. Angger tentu bukan sekedar anak padukuhan ini, tidak lebih dan tidak kurang, kedipan angger itulah yang membuat angger berbeda dengan kawan-kawan angger disini.”

“Aku pergi sejak aku masih kecil. Itulah sebabnya ketika aku kembali kepada ibuku, seorang yang telah menjadi janda, banyak orang yang tidak dapat mengenali aku lagi. Bahkan orang-orang tua di padukuhan ini pun telah banyak yang melupakan, bahwa dari biyungku itu pernah lahir seorang anak laki-laki yang kemudian menjadi besar di perantauan.”

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Namun dengan demikian ia mendapat sedikit gambaran tentang anak muda yang menyebut dirinya Jlitheng itu. Jlitheng tentu bertemu dengan seseorang di perantauannya yang kemudian membimbingnya dalam olah kanuragan. Setelah ia mempunyai bekal yang cukup, maka ia melanjutkan perantauannya dan kemudian kembali ke kampung halamannya.

Tetapi di samping Jlitheng masih ada seorang anak muda yang lain, yang bernama Daruwerdi. Mungkin anak muda itu mempunyai ceritera yang lain tentang dirinya.

Terbersit keinginannya untuk bertanya sesuatu tentang Daruwerdi. Tetapi seperti yang pernah dilakukan, agaknya Jlitheng tidak dapat atau tidak mau mengatakan tentang anak muda yang agak lain dari kawan-kawannya di padukuhan-padukuhan itu.

Kiai Kanthi menarik nafas ketika Jlitheng bertanya, “Apakah yang Kiai renungkan? Tentang perantauanku itu? Atau tentang hal lain yang bersangkut paut dengan air itu?”

“Ya, ya ngger,” Kiai Kanthi terbata-bata, “tentu tentang air yang melimpah itu. Tentang rencanamu untuk menguasai air dan memanfaatkannya bagi dua kelompok padukuhan itu. He, kau belum menyebut nama kedua padukuhan itu?”

“Di tugu itu telah tertulis,” jawab Jlitheng.

“Yang ditulis hanyalah satu nama. Ki Buyut telah memerintah daerah yang bernama Lumban, yang terdiri dari beberapa padukuhan besar dan kecil dan tunduk kepada Yang Dimuliakan Maharaja Majapahit yang atas kehendaknya dan disetujui oleh para bebahu, telah membagi daerahnya menjadi dua bagian yang akan dipimpin masing-masing oleh seorang dari kedua anak kembarnya.”

“Nah, itulah namanya. Lumban Kulon dan Lumban Wetan. Ki Buyut yang tua memerintah Lumban Kulon, sedang Ki Buyut yang muda memimpin kelompok-kelompok padukuhan di Lumban Wetan. Pembagian itu telah terjadi pada masa kedua anak kembar itu masih muda. Sejak daerah ini masih langsung tunduk dibawah kekuasaan Majapahit serta para Adipati dibawah kuasanya. Sekarang, setelah kekuasaan berpindah ke Demak, dengan sendirinya kami berada dibawah kekuasaan Sultan Demak. Dan kedua orang Buyut itu sudah menjadi kakek-kakek. Sebenarnya kini anak-anak merekalah yang mengambil alih pimpinan atas daerah Lumban Kulon dan Lumban Wetan.”

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Gambarannya mengenal daerah yang dihadapinya menjadi semakin jelas.

“Nah Kiai,” berkata Jlitheng kemudian, “Kiai lah orang yang pertama-tama akan melakukan pekerjaan yang tentu akan sangat bermanfaat bagi daerah Lumban seluruhnya. Aku akan mencoba menjadi penghubung kelak dengan kedua Buyut yang sudah tua itu, namun yang masih dengan tekun berusaha memimpin daerah masing-masing sebaik-baiknya.”

“Terima kasih ngger. Tetapi yang dapat aku lakukan dengan anak gadisku tentang merupakan pekerjaan yang sangat lamban dan mungkin tidak banyak manfaatnya.”

Jlitheng tertawa. Katanya, “Kiai, bukan maksudku untuk mengurangi kemungkinan yang dapat Kiai lakukan. Tetapi adalah benar-benar karena aku ingin melihat manfaat dari air seperti yang Kiai kehendaki.” anak muda itu berhenti sejenak, lalu, “apakah Kiai tidak berkeberatan jika aku membantu Kiai. Mungkin Kiai memerlukan tenaga seorang laki-laki untuk membantu Kiai bukan saja membuat parit untuk mengarahkan arus air itu, tetapi juga untuk membuat sebuah gubug kecil sebelum Kiai sempat membuat sebuah rumah yang pantas.”

Tiba-tiba saja sebelum Kiai Kanthi menjawab, terdengar suara Swasti dari balik pohon, “Itu tidak perlu ayah. Kita yang sudah menetapkan rencana sejak kita belum bertemu dengan siapapun, harus berani melaksanakan sampai selesai tanpa orang lain.”

Jlitheng mengerutkan keningnya. Namun Kiai Kanthi lah, yang menjawab, “Swasti. Hatimu memang keras. Tetapi kita jangan menyia-nyiakan setiap uluran tangan. Memang kita yang sudah terbiasa hidup terpisah karena kita tenggelam dalam kesibukan padepokan, kadang-kadang merasa bahwa kita akan dapat menyelesaikan semua persoalan kita tanpa orang lain. Di Pucang Sewu kita kurang rapat berhubungan dengan orang-orang padukuhan, sehingga kita terlalu yakin akan diri kita sendiri. Swasti, sebaiknya kita merubah cara hidup yang demikian. Setidak-tidaknya kita mulai mencoba menyesuaikan diri dengan daerah yang baru ini.”

Sejenak Kiai Kanthi menunggu. Tetapi ia tidak mendengar lagi jawaban anaknya. Orang tua itu sadar, bahwa kata-katanya tentu tidak memberikan kepuasan sepenuhnya pada anaknya. Tetapi ia akan mencoba untuk melakukannya. Mencoba untuk memperbaharui tata cara hidupnya diantara orang banyak.

“Angger,” berkata Kiai Kanthi kemudian, “sebelumnya kami mengucapkan terima kasih. Mungkin kami masih harus belajar menyesuaikan diri dengan kehidupan kami yang baru di daerah Lumban ini.”

Jlitheng tersenyum. Katanya, “Baiklah Kiai. Tentu aku pun akan mencoba menyesuaikan diri dengan cara hidup Kiai dan anak gadis Kiai. Tetapi Kiai jangan terlalu cemas. Aku telah melaksanakan pesan Kiai untuk sementara tidak berceritera tentang kedatangan Kiai dan rencana Kiai menetap disini. Tetapi jika Kiai mulai berbuat sesuatu disini, maka tanpa mengatakan kepada siapapun juga, orang-orang Lumban tentu akan mengetahuinya juga.”

Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Jawabnya, “Tentu ngger. Tetapi nampaknya orang-orang Lumban adalah orang yang ramah seperti angger.”

Jlitheng tertawa. Kemudian katanya, “Aku akan pulang dahulu Kiai. Besok aku akan datang sambil membawa alat-alat yang Kiai perlukan. Aku akan datang sebelum matahari terbit agar tidak menarik perhatian orang lain jika mereka melihat aku membawa kapak, cangkul dan alat-alat lain.”

“Terima kasih ngger. Aku juga sudah membawa satu dua macam alat seperti itu. Tetapi memang kurang mencukupi. Karena itu, kami berterima kasih jika angger bersedia membawa untuk kami,” Kiai Kanthi menjadi ragu-ragu sejenak. Baru kemudian ia melanjutkan, “tetapi selain alat-alat itu. sebenarnyalah kami memerlukan belanga dan tempayan.”

Jlitheng mengerutkan keningnya, namun iapun kemudian tertawa pendek. Katanya, “Baiklah Kiai. Aku akan membawa belanga, kelenting dan tempayan.”

Sesaat kemudian Jlitheng itupun telah meninggalkan Kiai Kanthi dan anak gadisnya yang bersungut-sungut. Dengan nada datar Swasti berkata, “Ayah sudah menyeret orang lain dalam kerja ini.”

Ayahnya tersenyum. Jawabnya, “Jangan marah Swasti. Pertolongan itu harus kita terima. Nampaknya Jlitheng bukan seorang yang mempunyai pamrih terlalu banyak. Apalagi ia memang sudah mempunyai rencana sebelumnya.”

“Tidak. Rencana itu baru timbul di kepalanya setelah ia bertemu dengan ayah.”

“Kau salah Swasti. Jlitheng tentu sudah memperhatikan air ini sejak lama. Jika tidak, ia tidak akan mengenal daerah ini demikian baiknya seperti mengenal halaman rumahnya sendiri.”

Swasti tidak menjawab. Agaknya yang dikatakan ayahnya itu memang benar.

Dalam pada itu, Jlitheng telah turun dengan tergesa-gesa agar ibunya tidak menunggunya terlalu lama. Ia masih harus mencari beberapa potong kayu untuk menghilangkan jejak pertemuannya dengan orang tua yang masih belum bersedia untuk dikenal oleh orang lain itu.

Tetapi Jlitheng tidak mengalami kesulitan untuk mendapatkan beberapa potong kayu. Bahkan dalam waktu yang singkat ia sudah memanggul seonggok kayu yang sudah agak kering.

Namun langkahnya terhenti ketika ia sampai di pinggiran hutan itu. Ia mendengar suara orang berbantah. Cukup keras, sehingga suaranya menembus pepohonan yang sudah mulai menipis.

Karena itu, maka Jlitheng pun kemudian sangat berhati-hati. Ia jarang mendengar orang-orang Lumban berbantah. Bahkan seandainya mereka orang Lumban pun. apakah yang mereka cari di pinggir hutan itu?

Debar jantung Jlitheng menjadi semakin keras ketika suara itu menjadi semakin dikenal. Diluar sadarnya ia berdesis, “Daruwerdi.”

Sebenarnyalah ketika ia dengan sangat berhati-hati berhasil mengintip dari balik gerumbul-gerumbul yang lebat di pinggiran hutan itu, ia melihat Daruwerdi sedang berbantah dengan dua orang yang berwajah kasar.

“Aku tidak akan berkata apa-apa tentang pusaka itu,” berkata Daruwerdi.

“Kau jangan membuat kami marah,” sahut salah seorang dari kedua orang berwajah kasar itu, “Kiai Pusparuri sudah memberikan wewenang kepadaku untuk mendapat keterangan tentang pusaka itu dari seorang anak muda dari Lumban yang bernama Daruwerdi. Apakah kau masih akan ingkar.”

“Sudah seribu kali aku katakan. Aku tidak ingkar. Aku adalah Daruwerdi yang mengerti serba sedikit tentang pusaka-pusaka itu. Tetapi aku hanya akan berbicara dengan Kiai Pusparuri sendiri atau kepada seekor Ular Sanca Bertanduk Genap.”

“Persetan, aku tidak mengerti kata-katamu. Jangan mengigau seperti orang gila. Katakan sesuatu tentang pusaka itu, atau berikan saja kepada kami jika memang sudah berhasil kau dapatkan.”

Daruwerdi menjadi semakin tegang. Dari balik gerumbul Jlitheng melihat, bagaimana anak muda itu berusaha mengendalikan diri.

“Ki Sanak,” berkata Daruwerdi, “jangan memaksa. Kecuali jika aku berhadapan dengan seekor Ular Sanca Bertanduk Genap.”

“Anak iblis. Kenapa kau mengigau tentang ular sanca. Kiai Pusparuri sudah memberikan wewenang kepada kami untuk melakukan apa saja. Aku harus kembali ke padepokan Pusparuri dengan keterangan yang jelas atau membawa pusaka itu langsung untuk kami serahkan kepada guru.”

Daruwerdi menggeleng. Jawabnya, “Ki Sanak. Jelas bahwa kalian bukannya utusan Kiai Pusparuri. Kalian sama sekali tidak membawa tanda-tanda atau ciri dari padepokan Pusparuri.”

“Aku adalah muridnya terpercaya. Aku memakai sabuk kulit ular. He, apakah sabuk semacam ini yang kau maksud dengan ular sanca, bertanduk genap?”

Daruwerdi tiba-tiba saja tertawa. Katanya, “Ikat pinggang semacam itu dapat dibuat oleh siapa saja. Setiap orang dapat menangkap seekor ular sanca, kemudian mengambil kulitnya.”

“Jadi apa yang kau maksud dengan tanda-tanda atau ciri dari padepokan Pusparuri. Dan apakah yang kau maksud dengan ular sanca bertanduk genap?”

“Itulah yang menunjukkan kepadaku, bahwa kalian sama sekali bukan utusan dari padepokan Pusparuri. Jika kau memang murid Kiai Pusparuri, kalian akan dapat mengatakan, ciri-ciri khusus dari padepokan itu atau kalian tahu pasti siapakah Ular Sanca Bertanduk Genap itu.”

Wajah kedua orang itu menjadi merah padam. Yang bertubuh tinggi besar menggeram, “Persetan. Menurut Kiai Pusparuri, hari ini aku harus menjumpaimu disini. Kau kira dari siapa kami mengetahui, bahwa aku harus datang menemuimu disini ?”

Daruwerdi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Mungkin kau dapat menyadap rahasia pertemuan itu. Tetapi aku tetap yakin, bahwa kalian bukan murid Kiai Pusparuri.”

“Jadi, kau tetap tidak mengakui kehadiran kami? Tempat ini hanya kami ketahui dari Kiai Pusparuri. Nama Daruwerdi pun kami dengar dari Kiai Pusparuri. Pesan untuk mengenakan ikat pinggang kulit ular sanca ini pun diucapkan oleh Kiai Pusparuri pula. Jika mungkin Kiai Pusparuri lupa memberikan pesan yang lain, itu bukan salah kami.”

Daruwerdi memandang kedua orang itu berganti-ganti. Namun akhirnya dengan ketetapan hati ia menggeleng dan menjawab tegas, “Tidak. Aku tidak percaya kepada kalian.”

Kedua orang itu benar-benar sudah kehilangan kesabaran Seperti Daruwerdi sendiri. Karena itu, maka ketika kedua orang itu bergeser merenggang, Daruwerdi justru meloncat surut sambil mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan.”

“Kau memang terlalu sombong anak Lumban. Setinggi-tinggi ilmu yang pernah kau capai, kau adalah anak padukuhan kecil dan miskin. Apalagi kau berhadapan dengan dua orang sekaligus. Jika kau masih mempunyai otak, pikirlah sepuluh kali lagi, sebelum kau menyesal.”

Daruwerdi menggeram. Dengan suara datar ia menjawab, “Jangan mengigau lagi. Sebut siapa sebenarnya kalian berdua sebelum kalian mati.”

“Gila. Kau, anak Lumban, akan membunuh kami berdua?”
“Kita akan melihat, siapakah yang akan terbunuh.”

Sejenak kedua orang berwajah kasar itu termangu-mangu. Namun salah seorang berkata, “Aku akan menyampaikan kepada Kiai Pusparuri, bahwa kami terpaksa membunuh anak Lumban yang bernama Daruwerdi, karena ia sudah menghina utusan yang mendapat wewenang sepenuhnya dari padepokan Pusparuri.”

Daruwerdi tidak menjawab. Tetapi ia sudah bersiap sepenuhnya untuk bertempur melawan kedua orang itu.

Namun dalam pada itu, ketiga orang yang sudah bersiap untuk berkelahi itu telah dikejutkan oleh suara derap seekor kuda. Ketika ketiganya berpaling, maka mereka melihat seekor kuda yang berpacu mendekat. Di punggung kuda itu nampak seorang penunggang yang nampaknya sudah terlalu lemah, sehingga seolah-olah tertelungkup memeluk leher kudanya.

Daruwerdi terkejut, Ia pun segera meloncat menyongsong penunggang kuda itu. Dengan serta merta ia berusaha meraih kendali dan menahan kuda itu sehingga berhenti, sementara orang yang duduk di punggungnya benar-benar telah menjadi terlalu lemah untuk menarik kendali.

“Gila,” tiba-tiba saja orang yang bertubuh tinggi dan besar itu menggeram, “aku binasakan monyet yang ternyata belum mati itu.”

Tetapi kawannya menahannya. Katanya, “Tidak ada gunanya. Biarlah ia berceritera apa yang terjadi. Anak Lumban itu memang keras kepala. Jika ia mengetahui keadaan yang sebenarnya, maka ia akan menyadari, dengan siapa ia berhadapan.”

Orang yang bertubuh tinggi besar itu tertegun. Ia hanya berdesis saja ketika Daruwerdi menolong penunggang kuda yang ternyata telah terluka parah itu. Di lambungnya tergantung sepasang sarung pedang, tetapi sudah kosong.

“Sapa kau?” Daruwerdi meyakinkan.“Ular sanca bertanduk genap?”

“Ya,” suaranya lemah, “bermata berlian dan bertaring baja.”

“Tepat. Tetapi kenapa kau?”

“Tandukku telah patah dan taringku telah lepas,” suaranya semakin lemah, “aku sudah menduga bahwa keduanya akan datang kemari. Mereka berhasil menyadap rahasia pertemuan ini. Mereka mencegat aku di perjalanan. Mereka mencoba membunuh dan melepas ikat pinggangku. Tetapi aku yakin, kau tidak akan mengatakan sesuatu kepada mereka.”

“Aku tahu bahwa mereka bukan utusan Kiai Pusparuri. Tetapi bagaimana dengan kau?”

Orang itu menjadi semakin lemah. Namun dalam pada itu terdengar kedua orang kasar itu hampir berbareng tertawa. Salah seorang dari mereka berkata, “Ia akan mati. Aku tidak peduli apakah ia akan mengatakan siapa sebenarnya kami berdua, karena anak Lumban itu pun akan segera mati pula. Biarlah kita tidak mendapatkan rahasia tentang pusaka itu. Tetapi jika anak itu mati, maka Pusparuri tentu tidak akan mendapatkannya pula. Kita akan mulai bersama-sama dari permulaan, karena kita sama-sama tidak mempunyai bahan apapun juga. Dalam berlomba dengan orang-orang Pusparuri, kita masih mempunyai harapan.”

Kawannya tidak menyahut. Tetapi ia hanya mengangguk-angguk kecil.

Sementara itu, Daruwerdi masih menekuni orang yang terluka parah. Terdengar ia mengucapkan sepatah dua patah kata yang tidak jelas. Namun tiba-tiba setelah meletakkan kepala orang itu diatas rerumputan. Daruwerdi berdiri tegak. Dengan suara bergetar ia berkata, “Jadi kalian adalah sepasang demit yang paling gila di pesisir Utara. Menurut utusan Kiai Pusparuri, kalian berdua adalah murid-murid dari perguruan Kendali Putih.”

Keduanya tertawa berbareng Orang yang bertubuh tinggi besar menyahut, “Ya. Kami datang dari perguruan Kendali Putih di pesisir Lor. Kami berdua telah mencegat tikus kecil yang ternyata kau sebut sebagai ular sanca bertanduk genap. Tetapi ia bukan seekor ular. Ia tidak lebih dari seekor tikus.”

“Gila. Kalianlah yang tidak malu. Kalian berdua telah berkelahi seperti perempuan. Kalian tidak berani berperang tanding menghadapi Ular Sanca bersenjata rangkap ini. Dan sekarang, kalian pun tentu akan berbuat serupa.”

Keduanya tertawa. Yang seorang menjawab, “Nasibmulah yang buruk. Kau akan mengalami luka parah dan akan mati. Aku kira tikus itu pun sudah mati ketika dengan tergesa-gesa aku datang ke tempat ini menggantikan kedudukannya. Tetapi, aku masih mempunyai pertimbangan. Jika kau mau mengatakan sedikit saja mengenai rahasia pusaka itu, maka kau akan tetap hidup.”

“Persetan. Tidak ada orang yang akan tetap tinggal hidup jika ia tidak berusaha melindungi hidupnya sendiri dihadapanmu. Setiap orang mengenal perguruan Kendali Putih yang sama sekali tidak memiliki warna putih seperti namanya walau sepeletik pun.”

“Jika demikian, kau pun akan mati seperti murid Pusparuri itu.”

Daruwerdi menggeram. Ia sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Namun ia masih sempat berkata kepada orang yang terluka parah itu, “Kuatkan. Aku akan membunuh keduanya, dan aku akan berusaha mengobati luka-lukamu. Di Lumban ada seorang dukun yang pandai.”

Yang terdengar adalah kedua orang murid dari Kendali Putih itu tertawa. Yang seorang berkata, “Puaskan dirimu dengan angan-angan gila itu. Baru kemudian kau akan mati.”

Daruwerdi tidak menjawab. Ia bergeser setapak. Kemudian berdiri dengan kaki renggang dan merendah diatas lututnya.

Orang yang bertubuh tinggi besar itulah yang tidak sabar lagi. Dengan garangnya ia segera menyerang lawannya. Ia tidak mau membuang banyak waktu, sehingga dengan serta merta ia sudah mempergunakan senjatanya yang mengerikan. Sebatang besi sepanjang pedang yang kasar dan di beberapa tempat nampak seolah-olah bergerigi tajam.

Sementara kawannya pun telah mencabut senjatanya pula. Benar-benar sebuah pedang yang besar.

“Sebutlah nama ayah bundamu untuk yang terakhir kali,” geram orang bertubuh tinggi dan besar itu.”

Daruwerdi meloncat mengelakkan serangan lawannya sambil berdesis, “Kita akan melihat, siapakah yang akan mati. Aku atau kalian berdua.”

Kedua lawan Daruwerdi tidak menjawab. Mereka serentak menyerang dengan garangnya. Senjata mereka terayun-ayun mengerikan, sementara orang yang bertubuh tinggi besar itu menggeram seperti seekor harimau yang merunduk mangsanya.

Daruwerdi tidak mau menjadi korban senjata-senjata lawan yang mengerikan itu. Ia pun kemudian mencabut pedangnya pula. Dengan lincahnya ia berloncatan melawan kedua lawannya yang ternyata sangat garang dan kekar.

Beberapa langkah dari arena itu, murid dari perguruan Pusparuri yang sudah menjadi semakin lemah, mencoba untuk melihat pertempuran yang sengit itu. Meskipun pandangan matanya mengabur, namun ia melihat, betapa kasarnya orang-orang dari perguruan Kendali Putih itu. Seperti yang telah terjadi, maka ia tidak dapat mengelakkan diri dari bencana melawan keduanya.

Meskipun keseimbangan perasaannya tidak secerah saat-saat ia belum terlukai, namun ia masih dapat melihat, bahwa kedua orang Kendali Pulih itu memang orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi, disamping sifat mereka yang kasar dan liar.

Tetapi Daruwerdi dengan segala kemampuannya, berusaha untuk dapat mengimbangi lawannya, ia tidak mau jatuh menjadi korban seperti murid Kiai Pusparuri yang diberi nama di Ular Sanca bertanduk genap itu.

Selain murid dari perguruan Pusparuri itu, dibelakang gerumbul masih ada orang lain yang memperhatikan perkelahian itu dengan saksama. Sekali-kali nampak keningnya berkerut. Namun kemudian anak muda dibelakang gerumbul itu menarik nafas lega.

Jlitheng pun mengikuti perkelahian itu dengan dada yang berdebar-debar. Ia melihat kegarangan dua orang dari perguruan Kendali Putih. Mereka bertempur bukan saja dengan ilmu yang mapan, tetapi mereka kadang-kadang juga berteriak-teriak dan membentak-bentak seperti orang-orang yang kerasukan setan.

Sejenak Jlitheng termangu-mangu. Tetapi ia tidak beranjak dari tempatnya. Kadang-kadang ia menjadi bingung, apakah ia akan tetap bersembunyi ditempatnya. Apakah ia akan tetap membiarkan tingkah laku yang tidak jujur dari orang-orang Kendali Putih. Setelah usahanya untuk menipu Daruwerdi tidak berhasil, maka ia mempergunakan kekerasan untuk membinasakannya sama sekali.

Tetapi Jlitheng pun merasa bimbang, karena dengan demikian, maka ia akan terlibat dalam persoalan yang tidak diketahuinya, dan yang bahkan justru ingin diketahuinya. Mungkin peristiwa itu ada hubungannya dengan tingkah laku Daruwerdi yang kadang-kadang menarik perhatiannya. Terutama karena Daruwerdi mempunyai perhatian yang khusus terhadap bukit padas yang gundul itu.

Selagi Jlitheng termangu-mangu, maka perkelahian itu pun menjadi semakin sengit. Ternyata bahwa Daruwerdi benar-benar seorang yang memiliki kemampuan yang sangat mengagumkan.

Karena itulah maka kedua orang dari Perguruan Kendali Putih itu menjadi heran. Mereka mengira bahwa anak muda dari Lumban itu tidak akan terlalu sulit diselesaikan. Menurut dugaan mereka, murid Pusparuri itu sama sekali tidak berdaya melawan mereka berdua. Apalagi anak padukuhan terpencil.

Tetapi ternyata bahwa Daruwerdi mampu mengimbangi kemampuan mereka berdua. Dengan tangkas Daruwerdi berloncatan menghindari serangan senjata lawan. Tetapi dengan tangkas pula ia berloncatan menyerang. Pedangnya berputar seperti baling-baling. Tetapi tiba-tiba saja terayun mendatar menyambar perut. Namun kadang-kadang terjulur mematuk seperti seekor ular bandotan.

Kedua lawannya menjadi bingung. Pedang di tangan Daruwerdi seolah-olah beterbangan di sekitar tengkuk dan lambung mereka.

Dengan demikian maka kedua orang dari Perguruan Kendali Putih itu bertempur semakin kasar. Mereka mencoba untuk menyerang Daruwerdi dari dua arah yang berbeda. Dengan demikian mereka mencoba untuk memecah perhatian anak muda dari Lumban itu.

Tetapi ternyata mereka tidak berhasil. Daruwerdi mampu menempatkan dirinya. Ia pun mengimbangi langkah-langkah lawannya yang panjang. Dengan tepat ia meloncat menempatkan diri pada sisi yang lepas dari garis serangan lawannya. Bahkan tiba-tiba saja ialah yang meloncat dan mengejutkan lawannya dengan serangan yang tidak terduga.

“Darimana anak Lumban ini mendapatkan ilmu iblis itu,” geram salah seorang dari kedua orang Kendali Putih itu.

Daruwerdi yang juga mendengarnya menjawab, “Aku tidak pernah mempelajari ilmu apapun. Tetapi karena kalian menempuh garis hidup yang salah, maka ada sajalah yang membantu aku untuk membunuh kalian berdua.”

“Persetan dengan takhayul itu,” geram orang yang tinggi besar, “kekuatan dan ilmu kanuragan akan menyelesaikan semua masalah. Kau pun akan segera mati dengan perut terbelah.”

Daruwerdi tidak menjawab. Ia memusatkan perhatiannya kepada serangan lawannya.

Ketiga orang itu pun kemudian berputaran Senjata mereka telah terayun menghantam dahan-dahan pepohonan. Gerumbul-gerumbul perdu di pinggir hutan itu bagaikan terbabat bersih, sementara batang besi orang bertubuh tinggi itu telah mematahkan pepohonan di arena perkelahian itu.
Jlitheng menjadi cemas. Jika arena itu menjadi semakin luas dan sempat ke tempatnya bersembunyi, maka ia tidak akan ingkar lagi. Ia harus terlibat kedalam persoalan yang belum dimengertinya itu.

Untunglah, bahwa berkisarnya arena pertempuran itu tidak menuju kearah tempat Jlitheng bersembunyi. Karena itu, ia tetap berada ditempatnya untuk melihat akhir dari pertempuran yang mendebarkan jantung itu. Yang semakin lama menjadi semakin seru. Langkah-langkah mereka menjadi semakin cepat, sedang ayunan senjata mereka pun menjadi semakin mengerikan. Angin yang terbersit dari ayunan senjata mereka yang bertempur itu telah dapat mengguncang dahan-dahan kayu dan menggugurkan dedaunan yang mulai menjadi kuning.

Namun semakin lama menjadi semakin nyata, bahwa Daruwerdi tidak dapat dikuasai oleh kedua orang Kendali Putih itu seperti murid perguruan Pusparuri yang berhasil mereka lukai. Bahkan semakin lama Daruwerdi menjadi semakin cepat bergerak. Senjatanya semakin garang menyambar-nyambar.

Dengan sebuah loncatan panjang Daruwerdi menyerang orang yang bertubuh tinggi besar itu dengan ayunan senjata mendatar. Namun tiba-tiba ia menggeliat dan kakinya yang menyentuh tanah telah melontarkannya tinggi-tinggi. Serangannya segera berubah. Pedangnya terayun menyambar kepala, seolah-olah Daruwerdi ingin membelah kepala itu pecah menjadi dua.

Dengan serta merta orang bertubuh tinggi besar itu menyilangkan senjatanya untuk menangkis serangan yang mengejutkan itu. Sambil bergeser setapak ia memiringkan kepalanya.

Ketika sebuah benturan terjadi, maka bunga api pun telah berloncatan di udara. Kedua senjata ditangan dua orang yang berilmu tinggi itu bergetar. Namun ternyata bahwa tangan murid dari Kendali Putih itu terasa bagaikan tersayat. Senjatanya hampir saja terlepas dari tangannya yang bagaikan terkelupas.

Dengan loncatan panjang orang itu menjauhi lawannya untuk memperbaiki keadaannya. Tetapi agaknya Daruwerdi menyadari, bahwa keadaan lawannya itu menjadi semakin lemah. Karena itu, ia tidak mau melepaskan kesempatan itu. Dengan cepat, ia pun meloncat menyusul.

Tetapi Daruwerdi terpaksa berputar ketika ia sadar, lawannya yang seorang lagi telah menyerangnya pula dengan pedang terjulur. Ternyata bahwa lawannya itu pun mampu bergerak cepat dan langsung memotong serangannya.

Daruwerdi berputar. Selangkah ia bergeser, sehingga pedang lawannya terjulur sejengkal dari lambung.

Dengan cepat Daruwerdi memperhitungkan keadaan. Ia sengaja melepaskan lawannya yang bertubuh tinggi besar itu. Kini ia melihat pedang yang terjulur lurus. Karena itulah, maka dengan serta merta ia memukul pedang itu dengan, sekuat-kuat tenaganya.

Getaran dari benturan pedang itu terasa menggigit telapak tangan lawannya. Betapapun ia berusaha, namun pedang itu telah meloncat dari genggaman.

Yang dihadapi oleh Daruwerdi adalah seorang yang tidak bersenjata. Karena itu, maka jika ia berhasil memutar pedangnya mendatar, maka ia akan dapat menyobek dada lawan menyilang.

Tetapi pada saat yang bersamaan, orang bertubuh tinggi kekar itu telah mencoba menyelamatkan kawannya. Ia pun menyerang dengan serta merta. Dengan senjata ia memukul punggung Daruwerdi sekuat-kuat tenaganya.

Daruwerdi menggeram. Ia terpaksa meloncat menghindari serangan itu. Namun demikian kerasnya ayunan senjatanya, maka orang itu justru terhuyung-huyung selangkah terseret oleh ayunan senjatanya sendiri.

Kawannya melihat suatu kemungkinan untuk memungut senjatanya yang terjatuh. Dengan satu loncatan ia berusaha meraih pedangnya. Namun yang satu loncatan itu ternyata telah menyeretnya kedalam pelukan maut, karena ujung pedang Daruwerdi seolah-olah telah menunggunya dan langsung menghunjam kedalam jantungnya.

Terdengar sebuah keluhan tertahan. Namun ketika Daruwerdi menarik pedangnya, maka orang itu langsung jatuh di tanah. Mati.

Saat-saat yang demikian itu telah mengguncangkan hati lawan Daruwerdi yang lain. Ia mencoba mempergunakan saat-saat Daruwerdi menarik pedangnya yang terhunjam ke tubuh lawannya. Sebuah ayunan yang keras menghantam tengkuknya.

Namun Daruwerdi masih sempat mengelak. Demikian pedangnya terlepas dari himpitan tubuh lawannya, iapun segera meloncat mundur. Namun lawannya yang bagaikan menjadi gila menyerangnya dengan serta merta. Sebuah sambaran mendatar telah mengarah ke lambung.

Daruwerdi terpaksa menghindarinya pula. karena ia belum siap untuk menangkis serangan itu. Namun ia terlambat sedikit sehingga ujung tongkat besinya masih juga menyambar lengannya.

Daruwerdi berdesis. Lengannya telah tersobek oleh gerigi yang terdapat pada tongkat besi yang mengerikan itu.

Namun dengan demikian hatinya serasa menjadi terbakar. Kemarahan anak muda itu telah memuncak, sehingga wajahnya menjadi merah padam semerah darahnya yang telah mengalir dari lukanya.

Tetapi Jlitheng yang melihat pertempuran itu dari permulaan segera dapat menilai, bahwa yang seorang itu tidak akan dapat bertahan terlalu lama. Luka dilengan Daruwerdi tidak akan banyak mempengaruhinya. Bahkan kemarahannya benar-benar telah memuncak, sehingga tandangnya pun menjadi semakin garang.

Setelah murid Kendali Putih yang seorang terbunuh, maka orang bertubuh tinggi besar itu tidak akan banyak dapat memberikan perlawanan. Segera ia terdesak. Betapapun ia mencoba melindungi dirinya dari sambaran pedang Daruwerdi yang marah itu, namun ia tidak banyak berhasil. Rasa-rasanya, kejaran maut telah menjadi semakin dekat ketika ujung pedang Daruwerdi berkali-kali telah berdesing ditelinganya.

Dan waktu pun rasa-rasanya menjadi semakin pendek bagi orang bertubuh tinggi besar itu. Ia tidak dapat berteriak lagi karena nafasnya menjadi semakin pendek. Hidungnya justru seolah-olah telah tertutup oleh dengusnya sendiri, sementara dadanya menjadi sesak.

Daruwerdi tidak banyak memberinya kesempatan. Ia memburu dengan garangnya, ketika lawannya mencoba menghindarinya dengan loncatan-loncatan surut.

Jlitheng memalingkan wajahnya ketika tiba-tiba saja ia melihat pedang Daruwerdi menyambar perut lawannya. Justru singgungan pada ujung pedang yang tajam itu, perut lawannya bagaikan tersayat melintang.

Orang bertubuh tinggi besar itu masih sempat menggeram. Namun sekali lagi Daruwerdi yang marah itu meloncat dengan pedang terjulur.

Lawannya yang bertubuh tinggi besar itu tidak dapat mengeluh lagi. Senjatanya yang mengerikan itupun terlepas dari tangannya ketika ia mulai terhuyung-huyung dan jatuh tersungkur di tanah.

Daruwerdi berdiri termangu-mangu. Sejenak kemudian ia pun melangkah mendekati tubuh yang terbujur di tanah. Sekilas ia pun menatap mayat yang terbujur di sebelah lain dari arena itu pula. Dua orang lawannya telah dibunuhnya.

Jlitheng memandang wajah Daruwerdi yang kelam itu dengan hati yang berdebar-debar. Justru setelah kedua lawannya dibunuh, Jlitheng harus menjaga dirinya, agar tidak menimbulkan suara yang betapapun halusnya, karena ia yakin, pendengaran anak muda itu pun sangat tajamnya.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja Daruwerdi teringat kepada utusan dari Pusparuri yang telah terluka parah. Dengan tergesa-gesa iapun segera melompat mendekati tubuh yang terbaring diam itu.

“Ki Sanak,” desis Daruwerdi sambil berjongkok di samping tubuh itu, “he, ular sanca bertanduk genap.”

Wajah Daruwerdi menjadi tegang. Diguncang-guncangnya tubuh yang terbaring diam itu.

“He, Ki Sanak. Ki Sanak.”

Dengan serta merta Daruwerdi menempelkan telinganya di dada orang itu. Namun kemudian dengan suara gemetar ia bergumam, “Mati, ia pun telah mati.”

Tubuh itu masih hangat. Tetapi nafasnya lelah terputus sama sekali.

Daruwerdi kemudian berdiri termangu mangu. Ia tersadar ketika terasa tangannya menjadi pedih oleh luka di lengannya.

“Gila,” ia menggeram.

Diambilnya sebuah bungkusan kecil diikat pinggangnya. Kemudian ditaburkannya sebangsa serbuk pada lukanya.

Beberapa saat Jlitheng masih melihat Daruwerdi termangu-mangu. Sekali-kali ia masih mengamat-amati mayat yang terbaring di rerumputan dengan darah yang bagaikan tergenang.

“Aku harus mencari orang untuk menguburkan mereka,” gumam Daruwerdi sambil melangkah pergi.

Ketika Daruwerdi telah hilang dibalik gerumbul-gerumbul perdu untuk pergi kepadukuhan, maka Jlitheng pun telah keluar dari persembunyiannya. Didekatinya mayat-mayat itu satu demi satu. Pada murid padepokan Pusparuri ia melihat di pergelangannya membelit sebatang akar berwarna hitam dihiasi dengan kepala seekor ular yang terbuat dari perak.

“Ikat pinggang orang ini telah diambil oleh murid dari perguruan Kendali Putih itu,” desis Jlitheng.

Selebihnya anak muda itu tidak menemukan apapun juga. Namun bagi Daruwerdi agaknya yang penting adalah sebutan sandi dari ular sanca bertanduk genap itu, yang dijawabnya dengan mata berlian dan bertaring baja.

“Apakah ia orang pertama setelah Kiai Pusparuri sendiri?” bertanya Jlitheng didalam hatinya. “Tetapi siapa-pun ular sanca itu, namun ternyata Daruwerdi mengetahui sesuatu rahasia tentang sebuah pusaka.”

Diluar sadarnya Jlitheng melayangkan pandangan matanya kearah bukit padas yang gundul tidak terlalu jauh dari hutan itu. Bukit padas yang telah menarik perhatiannya.

Anak muda itu pun sadar, bahwa persoalan yang ingin diketahuinya itu agaknya telah menyangkut beberapa pihak diluar padukuhan-padukuhan kecil yang bertebaran di daerah yang tidak terlalu luas, di sebelah bukit. Bukit yang berhutan lebat dan bukit batu padas yang gundul.

Ketika ia memungut senjata orang dari perguruan Kendali Putih yang bertubuh tinggi besar itu, ia menarik nafas dalam-dalam. Orang itu tentu mempunyai kekuatan yang sangat besar. Senjatanya, sepotong besi yang diberikan semacam gerigi-gerigi kecil itu adalah termasuk sebatang tongkat yang berat. Sedangkan orang yang terbunuh itu mampu mengayunkannya seperti mengayunkan lidi.

Tetapi ia pun menjadi kagum akan kekuatan Daruwerdi. Anak muda itu mampu melawan dua kekuatan raksasa di perguruan Kendali Putih yang telah berhasil membunuh ular sanca dari perguruan Pusparuri itu.

Namun Jlitheng itu pun segera menyadari keadaannya. Ia pun segera dengan tergesa-gesa mengambil seonggok kayu yang akan dibawanya pulang. Ia tidak mau terlibat kedalam persoalan itu. Jika Daruwerdi melihatnya sedang mengamat-amati mayat-mayat itu, maka mungkin sekali anak muda itu akan mencurigainya pula.

Di sepanjang jalan kembali sambil membawa seonggok kayu diatas kepalanya, Jlitheng selalu memikirkan peristiwa yang baru dilihatnya. Namun dengan demikian, ia menganggap bahwa Kiai Kanthi agaknya tidak mempunyai hubungan langsung dengan Daruwerdi.

Meskipun demikian, ia mulai digelitik oleh kecurigaan, bahwa kedatangan Kiai Kanthi dan anaknya itu bukannya karena padepokannya yang lama tertimbun tanah longsor dan dihancurkan oleh badai dan banjir. Tetapi apakah tidak mungkin bahwa kedatangan Kiai Kanthi itu juga tertarik oleh berita yang sampai ke telinganya, bahwa anak muda yang bernama Daruwerdi dari padukuhan Lumban telah menyimpan satu rahasia tentang sebuah pusaka.

Ketika Jlitheng sampai di rumah, ibunya sedang sibuk berada di dapur. Sambil bersungut-sungut ibunya menyapanya, “Kau tentu bermain-main di kali.”

“Tidak biyung. Aku langsung pergi ke hutan mencari kayu.”

“Tetapi lama sekali. Dan bukankah kau masih mempunyai persediaan kayu yang cukup?”

“Langit sudah mulai kelabu. Jika sebentar lagi musim hujan tiba, maka kita akan selalu diganggu oleh kayu bakar yang basah, yang berasap dan yang menyakitkan mata.”

Ibunya memberengut. Katanya, “Kayumu itu pun masih basah. Mataku sampai merah meniupnya.”

Jlitheng tidak menjawab. Dilontarkannya onggokan kayu yang dibawanya itu di sebelah longkangan.

“Nanti sajalah aku masukkan ke belakang lumbung.”

“Jika kau mau makan, makanlah. Nasi sudah masak.”

Jlitheng membersihkan dirinya di pakiwan. Kemudian ia pun masuk ke dapur. Nasi dan lauknya telah tersedia di glodok bambu. Meskipun anak muda itu sibuk menyuapi mulutnya, namun dia masih saja memikirkan peristiwa yang baru saja dilihatnya.

Ketika matahari telah menyusup ke balik cakrawala di ujung Barat, Jlitheng yang seperti biasanya duduk di mulut lorong padukuhannya bersama beberapa orang kawannya, telah mendengar ceritera tentang peristiwa yang terjadi. Salah seorang kawannya berkata dengan sangat bernafsu, “Mereka akan merampok Daruwerdi. Tetapi ternyata Daruwerdi memang seorang yang luar biasa. Ia mempunyai kekuatan dan ilmu yang tidak dipunyai oleh orang lain. Ilmu yang mungkin langsung diterimanya dari langit.”

“Dari mana kau ketahui hal itu?” bertanya Jlitheng.

“Setiap orang mengatakannya. Beberapa orang dari Lumban Kulon ikut membantunya menguburkan orang-orang itu. Mereka membawa senjata yang mengerikan,” jawab anak muda yang berceritera itu.

“Apakah Daruwerdi juga bersenjata?” bertanya Jlitheng.

“Agaknya Daruwerdi dapat melihat apa yang bakal terjadi. Sebelum ia dirampok orang, ia selalu mempersiapkan senjata pula. Nampaknya ia memang selalu membawa sebilah pedang.”

“Tetapi ia mempunyai jimat,” desis anak muda yang lain, “Daruwerdi kebal dari segala macam senjata.”

“Tetapi ia terluka,” tiba-tiba saja diluar sadarnya Jlitheng menyahut.

Semua orang berpaling ke arahnya. Seorang anak muda yang duduk didekatnya bertanya, “Siapa yang mengatakan bahwa ia terluka?”

Jlitheng termangu-mangu sejenak. Lalu katanya, “Aku justru ingin bertanya, siapakah yang sore tadi mengatakan, bahwa Daruwerdi terluka.”

Tiba-tiba saja salah seorang dari mereka yang ingin dianggap paling tahu menjawab, “Ya. Daruwerdi memang terluka. Tetapi luka itu sama sekali tidak berarti. Justru lukanya itulah yang menunjukkan bahwa ia adalah seorang anak muda yang kebal. Jika kau melihat senjata lawannya, maka setidak-tidaknya tangan Daruwerdi seharusnya sudah patah. Tetapi tangan itu hanya lecet saja sedikit.”

Anak-anak muda yang mendengarkan ceritera itu mengangguk-angguk. Mereka masih duduk lebih lama lagi untuk mendengarkan ceritera-ceritera yang semakin lama menjadi semakin jauh dari kenyataan yang telah dilihat oleh Jlitheng. Anak-anak Lumban Kulon dan Lumban Wetan agaknya terlalu mengagumi Daruwerdi.

Tetapi Jlitheng tidak membantahnya. Ia membiarkan anak-anak muda Lumban itu membuat khayalan-khayalan tersendiri tentang Daruwerdi yang mereka kagumi.

Ketika kemudian malam menjadi gelap, dan anak-anak muda Lumban itu telah mulai merasa terganggu oleh nyamuk yang menggigit tengkuk dan lengan, maka mereka pun meninggalkan mulut lorong. Hanya mereka yang bertugas ronda sajalah yang kemudian pergi ke gardu di sudut padukuhan.

“Sayang, Daruwerdi tinggal di Lumban Kulon,” desis salah seorang dari mereka yang meronda, “beruntunglah anak-anak muda Lumban Kulon yang mendapat perlindungan dari anak muda seperti Daruwerdi.”

Jlitheng yang juga pergi ke gardu mengangguk-angguk, Katanya, “Jika saja ia bersedia mengajari kita semua.”

Kawan-kawannya yang masih tinggal mengerutkan keningnya. Yang seorang menyahut, “Tentu anak-anak Lumban Kulon dahulu yang mendapat kesempatan jika ia bersedia. Tetapi sampai saat ini, anak-anak Lumban Kulon pun belum ada yang diajarinya dalam olah kanuragan.”

“Apakah mereka pernah minta kepadanya?” bertanya Jlitheng.

“Entahlah,” jawab kawannya, “tetapi ketika aku singgah di Lumban Kulon tadi siang, nampaknya mereka pun ingin mendapat kesempatan itu. Apalagi ketika mereka menyadari, bahwa ada juga perampok yang sampai di padukuhan ini. Meskipun ,tidak banyak harta benda yang tersimpan di Lumban Kulon dan Wetan, namun sebaiknya kita harus berjaga-jaga. Jika kebetulan Daruwerdi ada, maka persoalannya akan tidak terlalu berat. Tetapi jika kebetulan ia pergi.”

Jlitheng tidak menyahut. Ia hanya mengangguk-angguk saja seperti beberapa kawannya yang lain.

Ketika malam menjadi semakin dalam, maka tiba-tiba saja Jlitheng berkata kepada kawan-kawannya, “Aku akan pergi ke sungai sebentar. Tetapi mungkin aku akan terus menengok sawah. Aku lupa, apakah aku sudah mengaliri air sore tadi.”

“Ah, kau. Kau terlalu ceroboh dengan sawahmu. Itulah sebabnya, kadang-kadang ibumu marah kepadamu. Air hanya setitik, dan kau tidak memanfaatkannya.”

Jlitheng tidak menyahut. Ia pun kemudian berlari menghambur kedalam gelapnya malam.

Tetapi Jlitheng tidak pergi ke sungai dan ke sawah. Ia pasti, bahwa sawahnya telah diselenggarakannya sebaik-baiknya.

Dalam gelapnya malam Jlitheng berjalan tergesa-gesa menuju ke bukit. Bahkan kadang-kadang ia berlari-lari kecil di sepanjang pematang. Namun bagaimanapun juga ia sadar, bahwa ia harus berhati-hati. Padukuhan Lumban tenyata tidak saja dijamah oleh Daruwerdi dan kawan-kawannya yang masih merupakan rahasia baginya, tetapi juga oleh orang-orang dari pihak lain yang saling bermusuhan.

Jlitheng tahu pasti, bahwa perguruan Pusparuri dan perguruan Kendali Putih tidak akan menghentikan usahanya sampai batas kematian satu dua orang-orangnya. Yang masih akan mereka lakukan tentu masih terlalu banyak. Bahkan mungkin perguruan-perguruan lain pun akan segera tersangkut pula.

“Bahkan mungkin orang tua dan anak gadisnya itu,” desis Jlitheng, “dan apakah dapat diyakini kebenarannya, bahwa gadis itu adalah benar-benar anaknya?”

Bagaimanapun juga, Jlitheng memang harus berhati-hati menghadapi keadaan yang masih samar-samar baginya.

Sejenak kemudian anak muda itu sudah memasuki hutan di kaki bukit. Tetapi daerah perbukitan itu telah dikenalnya dengan baik. Karena itulah maka iapun tidak mengalami kesulitan untuk menemukan sumber air yang dicari oleh Kiai Kanthi dan Swasti, betapapun gelapnya malam di hutan yang cukup pepat.

Langkah Jlitheng tertegun ketika ia teringat, bahwa ia belum membawa pesanan Kiai Kanthi untuk membawa belanga dan tempayan.

“Biarlah, besok saja aku bawa,” desisnya.

Kedatangan Jlitheng agak mengejutkan Swasti yang sedang duduk merenung dalam kegelapan. Gadis itu sedang menggantikan ayahnya berjaga-jaga. Ketika ia mendengar langkah mendekat, maka disentuhnya kaki ayahnya, sehingga orang tua itu pun telah terbangun.

Kiai Kanthi pun segera mendengar desir lembut mendekat. Namun untuk beberapa saat ia masih berdiam diri sambil menunggu.

Swasti menarik nafas dalam-dalam ketika ia mendengar seseorang berkata masih dalam kegelapan, “Aku Kiai. Jlitheng.”

Kiai Kanthi pun segera bangkit. Sambil menggeliat ia bergumam, “Kau mengejutkan aku ngger.”

Jlitheng yang kemudian menjadi semakin dekat menyahut, “Maaf Kiai. Aku datang terlalu malam.”

Swasti pun segera beringsut menjauh, seolah-olah ia sengaja duduk dibelakang sebatang pohon besar untuk memisahkan diri.

Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Namun ia tidak memanggil anaknya. Dibiarkannya Swasti yang seakan-akan berlindung dibalik sebatang pohon.

Jlitheng pun kemudian duduk bersama Kiai Kanthi. Betapa pun gelapnya malam namun seolah2 mereka saling dapat memandang wajah masing-masing.

“Aku maaf Kiai,” berkata Jlitheng kemudian, “aku lupa tidak membawa pesanan Kiai.”

Kiai Kanthi tertawa. Jawabnya, “Tidak apa ngger. Mungkin angger banyak yang sedang dilakukan, sehingga meskipun angger masih muda, tetapi sudah menjadi seorang pelupa.”

“Tidak banyak yang aku lakukan Kiai. Tetapi ada sesuatu yang sangat menarik perhatianku.”

Kiai Kanthi termangu-mangu sejenak, sementara Jlitheng-pun kemudian menceriterakan apa yang dilihatnya di pinggir hutan itu.

Swasti yang mendengar juga peristiwa yang diceriterakan oleh Jlitheng itu ternyata tertarik juga, sehingga ia pun telah beringsut setapak.

Kiai Kanthi mendengarkannya dengan penuh minat. Sekali-kali ia mengerutkan keningnya, sekali-kali menarik nafas dalam-dalam.

Jlitheng pun memperhatikan orang tua itu dengan saksama. Ia ingin melihat akibat dari ceriteranya untuk menjajagi apakah Kiai Kanthi mempunyai hubungan dengan peristiwa yang baru saja terjadi itu.

Namun agaknya Kiai Kanthi yang tua itu dapat mengetahui, apa yang tersirat pada tatapan mata Jlitheng, sehingga sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Apakah ada yang angger ingin ketahui tentang aku dalam hubungannya dengan peristiwa itu?”

 

Sumber DJVU http://gagakseta.wordpress.com/
Ebook oleh : Dewi KZ
http://kangzusi.com/ atau http://dewikz.byethost22.com/

Diedit, disesuaikan dengan buku aslinya untuk kepentingan blog https://serialshmintardja.wordpress.com
oleh Ki Arema

kembali | lanjut

2 Tanggapan

  1. luar biasa… terima kasih buat para punggawa yang mengungkapkan kembali cerita asli bumi pertiwi ini…..

    Sama-sama ki sanak
    Silahkan simak kisah yang lainnya

  2. Terima kasih Ki Sanak…..yg telah rela berlelah-lelah melestarikan cerita karya anak nusantara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s