KECUBUNG-06


kembali | TAMAT

cover kecubung 06SEMENTARA itu Kangjeng Adipati, Ki Tumenggung Reksabawa dan Ki Ajar Anggara masih saja membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi kemudian, setelah mereka mulai bergerak.

“Sambil makan siang, kita berbicara dengan anak-anak muda itu” berkata Ki Tumenggung Reksabawa.

Sebenarnyalah ketika Ririswari dan Jalawaja sudah siap, maka mereka  pun telah membawa nasi, sayur serta lauknya ke ruang dalam. Selagi masih mengepul maka Ririswari  pun menyampaikannya kepada ayahandanya, Ki Tumenggung Reksabawa dan Ki Ajar Anggara, bahwa makan siang sudah tersedia.

Seisi rumah itu pun kemudian telah berkumpul. Semula anak-anak muda berniat untuk makan setelah yang tua-tua makan dahulu. Tetapi Ki Tumenggung Reksabawa pun berkata, “Marilah kita makan bersama. Selain makan, ada sesuatu yang penting yang akan di sampaikan oleh Kangjeng Adipati.”

Anak-anak muda itu tidak dapat mengelak. Meskipun dengan agak segan-segan, mereka duduk di amben yang agak besar itu untuk makan bersama Kangjeng Adipati, Ki Tumenggung Reksabawa dan Ki ajar Anggara.

Sebenarnyalah sambil makan, Kangjeng Adipati telah berbicara tentang langkah-langkah yang akan diambilnya untuk mengambil kembali kekuasaan yang telah dirampas oleh Raden Ayu Reksayuda.

“Yang penting “berkata Kangjeng Adipati “apakah rakyat kadipaten ini masih mendukung jika aku kembali berkuasa di bumi Sendang Arum.”

“Kangjeng” berkata Ki Ajar Anggara, “asal kita dapat menyakinkan, bahwa Kangjeng Adipati tidak bersalah atas kematian Raden Tumenggung Reksayuda, maka aku yakin bahwa rakyat masih akan tetap mendukung Kangjeng Adipati. Demikian pula para prajurit Sendang Arum.”

“Keberadaan Kangjeng Adipati Pucang Kembar di Sendang Arum tentu akan menimbulkan persoalan pula di hati para prajurit” sahut Ki Tumenggung Reksabawa.

“Nah, jika demikian, dari situlah kita akan mulai“ berkata Kangjeng Adipati, “Aku akan minta kalian, anak-anak muda untuk menjajagi persaan rakyat yang sebenarnya. Kalian juga harus meyakinkan mereka, bahwa pembunuh kangmas Tumenggung Reksayuda sedang dicari dan mudah-mudahan dalam waktu dekat akan dapat diketemukan.”

Anak-anak muda itu mengangkat wajah mereka. Sejenak mereka saling berpandangan. Rasa-rasanya mereka kurang yakin, bahwa merekalah yang akan mendapat tugas itu.

“Nah, bagaimana pendapat kalian? Apakah kalian bersedia?”

Sejenak anak-anak muda itu termangu-mangu. Namun Jalawajalah yang pertama-tama menyatakan diri, “Hamba bersedia Kangjeng. Tetapi tentu saja hamba memerlukan banyak sekali petunjuk. Hamba masih belum tahu apa yang harus hamba lakukan.”

“Bagus” sahut Kangjeng Adipati, “nanti kalian akan mendapat petunjuk dari Ki Tumenggung Reksabawa. Nah, bagaimana yang lain?”

Hampir berbareng anak-anak muda itu menjawab, “Hamba sanggup Kangjeng.”

“Terima kasih. Biarlah Ki Tumenggung Reksabawa memberikan petunjuk bagi kalian. Sementara itu, Ki Tumenggung Reksabawa akan mencari hubungan dengan para Senapati prajurit Sendang Arum yang masih belum terlalu jauh terlibat dalam pemberontakan ini.”

Setelah makan siang, maka anak-anak muda itu diminta untuk duduk di serambi depan rumah Ki Ajar Anggara. Sementara itu Ririswari sibuk menyingkirkan mangkuk-mangkuk yang telah menjadi kotor.

“Biarlah aku membantumu, Raden Ajeng” berkata Ki Ajar Anggara.

“Silahkan Ki ajar duduk di serambi. Biarlah aku mencuci mangkuk-mangkuk ini.”

“Di serambi Ki Tumenggung Reksabawa sedang memberikan petunjuk-petunjuk bagi anak-anak muda itu. Aku tidak mengerti persoalannya. Karena itu, biarlah aku disini saja membantu Raden Ajeng Ririswari.”

Ririswari tidak dapat menolak. Dibiarkannya saja Ki Ajar mengambil air untuk mengisi tempat air di dapur. Kemudian ikut mencuci mangkuk-mangkuk yang kotor. Bahkan dandang tembaga.

Sementara itu, Ki Tumenggung Reksabawa pun telah memberikan ancar-ancar apakah yang harus mereka lakukan dan masing-masing harus melakukan di lingkungan yang sudah disepakati Jalawaja akan bekerja sama dengan Suratama, sedangkan Ragajati akan bekerja bersama adiknya Ragajaya.

“Kita akan mempergunakan rumah ini sebagai landasan gerak kita. Kangjeng Adipati akan berada di sini bersama Ki Ajar Anggara dan Raden Ajeng Ririswari namun ingat. Tempat ini adalah tempat rahasia. Jika satu diantara kita tertangkap oleh para pengikut Raden Ayu Reksayuda, maka kita tidak akan pernah menyebut tempat ini apa pun yang terjadi atas diri kita. Apakah kalian bersedia?”

“Ya. Kami bersedia” jawab anak-anak muda itu hampir bersamaan.”

“Baik. Kita akan mulai dengan mengunjungi daerah-daerah yang paling tenang lebih dahulu. Kemudian kami akan sampai ke daerah-daerah yang bergejolak. Dari daerah-daerah yang paling tenang, kita akan mendapat petunjuk untuk memasuki daerah selanjutnya dan seterusnya.”

Mereka kemudian sepakat untuk mulai dengan tugas mereka di hari berikutnya. Mereka akan mondar-mandir naik ke lereng bukit itu. Para petugas itu hanya dibenarkan untuk pergi tidak lebih dari sepekan. Setelah sepekan mereka harus kembali untuk memberikan laporan dari hasil kerja mereka.

Sebenarnyalah, di hari berikutnya, Ki Tumenggung Reksabawa, serta keempat anak-anak muda yang tinggal bersama di rumah Ki Ajar Anggara itu meninggalkan rumah di lereng bukit itu. Kangjeng Adipati masih memberikan beberapa pesan sebelum mereka berangkat.

“Aku akan berdoa bagi keselamatan kalian” berkata Kangjeng Adipati selanjutnya.

Demikianlah, maka Ki Tumenggung Reksabawa serta anak-anak muda itu pun mulai menapak pada tugas-tugas mereka yang berat dan berbahaya. Namun Ki Tumenggung Reksabawa yakin, bahwa anak-anak muda itu akan dapat melakukannya dengan baik.

Demikian mereka menuruni lereng bukit, maka mereka pun mulai berpencar. Ki Tumenggung Reksabawa akan terus menuju ke pinggiran kota, sementara Jalawaja dan Suratama pergi ke Barat dan Ragajati dan Ragajaya pergi ke arah Timur.

Ketika langit menjadi semakin panas oleh sinar matahari yang memanjat semakin tinggi, maka Jalawaja dan Suratama pun berhenti di salah sebuah kedai yang berjajar di depan sebuah pasar yang ramai. Agaknya pasar itu tidak langsung terpengaruh oleh gejolak yang terjadi di pusat pemerintahan Sendang Arum.

Ketika Jalawaja dan Suratama masuk ke kedai itu, di-dalamnya sudah ada beberapa orang yang lebih dahulu masuk. Berdua mereka memilih tempat agak disudut kedai itu.

Sambil menghirup minuman hangat yang mereka pesan, keduanya mengamati keadaan di kedai itu.

“Agaknya di sini tidak terjadi gejolak sama sekali. Siapa pun yang memegang kekuasaan di Sendang Arum tidak akan menjadi masalah bagi mereka.”

Suratama mengangguk-angguk. Katanya, “Kita harus menuju ke padukuhan yang lebih dekat lagi dengan pusat pemerintahan sehingga persoalan yang terjadi di pusat pemerintahan itu mulai terdengar gemanya.”

Jalawaja mengangguk-angguk pula.

Sambil makan beberapa potong makanan, mereka mendengarkan pembicaraan beberapa orang yang berada di kedai itu. Ternyata yang mereka bicarakan adalah persoalan-persoalan yang berhubungan dengan kesibukan mereka masing-masing.

Namun tiba-tiba orang-orang yang berada di kedai itu terdiam. Mereka menundukkan kepala mereka akan memperhatikan makanan atau minuman yang dihidangkan di hadapan mereka.

Jalawaja dan Suratama pun termangu-mangu sejenak.

Namun kemudian mereka pun melihat ampat orang anak muda dengan pakaian yang bersih, rajin serta tergolong mahal, memasuki kedai itu.

“Sudah lama aku tidak datang kemari, kang” berkata seorang diantara mereka berempat.

“Ya, den” jawab pemilk kedai itu, “kemana saja Raden selama ini?”

“Aku berkeliling daerah Sendang Arum kang. Ternyata di pusat pemerintahan sedang terjadi gejolak.”

“Gejolak apa?”

Telah terjadi pemberontakan. Kangjeng Adipati telah terusir dari dalem kadipaten. Kadipaten telah diduduki oleh seorang perempuan, isteri Tumenggung yang terbunuh itu”.”

“Isteri Tumenggung yang terbunuh?”

“Ya. Namanya Raden Ayu Reksayuda.”

“Lalu bagaimana pula dengan kita di sini?”

“Persetan dengan pemberontakan itu. Bukankah padukuhan kita tetap tenang tanpa ada masalah yang meresahkan?”

Pemilik kedai itu pun mengangguk-angguk. Sementara itu seorang anak muda yang lain berkata, “Jangan hiraukan apa yang terjadi di pusat pemerintahan. Kita akan tetap memelihara cara hidup kita sebagaimana biasanya.”

Jalawaja dan Suratama saling berpandangan sejenak. Sementara itu, anak muda yang lain pun berkata, “Aku lapar, kang.”

“Baik, den.”

“Seperti biasanya kang.” berkata yang lain lagi.

Pelayan kedai itu dengan cekatan melayani mereka berempat. Minum dan makan.

Dalam pada itu, Jalawaja pun berdesis, “Kenapa mereka tidak mempedulikan apa yang terjadi di pusat pemerintahan?”

“Mereka lebih mementingkan diri mereka sendiri daripada kepedulian mereka terhadap tatanan kehidupan secara menyeluruh di Sendang Arum.”

“Asal mereka tidak berbuat sesuatu yang dapat menghalangi jalan kembali paman Adipati.”

Keduanya terdiam ketika tiba-tiba seorang diantara anak muda itu bangkit berdiri dan mendekati seorang yang sudah berada di kedai itu sejak sebelum Jalawaja dan Suratama masuk.

“Selamat siang paman “desis anak mua itu.

“Selamat siang Raden” jawab orang itu. Namun terdengar suaranya sendat.

“Kami agak lama meninggalkan padukuhan. Apa kabarnya dengan paman?”

“Baik, den. Baik.”

“Bagaimana hubungan paman dengan nenek? Masih tetap baik seperti saat aku pergi?”

“Ya, ya den.”

“Nenek telah berceritera tentang paman.”

“Tetapi, tetapi itu hanya karena keadaan saja, den. Aku tidak akan pernah ingkar akan janjiku.”

“Seharusnya paman bersikap baik pada nenek. Paman harus memenuhi kewajiban paman seperti saat paman memerlukannya.”

“Ya, ya, den. Aku juga bermaksud seperti itu. Tetapi keadaan saja yang memaksa aku harus menundanya barang satu dua pekan.”

“Paman. Sekarang kami sudah kembali. Mudah-mudahan keadaan paman sudah berubah, sehingga paman dapat memenuhi kewajiban paman kepada nenek.”

“Ya, ya. Den. Tetapi aku masih minta waktu barang sepekan.”

Anak muda itu tertawa. Katanya, “Jangan memaksa kami bertindak lebih jauh.”

“Den, persoalannya ada hubungannya dengan peristiwa yang terjadi di pusat pemerintahan.”

“Ada hubungannya dengan apa yang terjadi di pusat pemerintahan?”

“Ya”

“Hubungannya apa?”

“Sebagian dari barang daganganku aku lemparkan ke Sendang Arum. Karena peristiwa yang terjadi, maka uangnya menjadi sendat, sehingga akibatnya aku tidak dapat memenuhi sebagaimana aku janjikan. Tetapi sebelumnya, bukankah aku tidak pernah mengingkarinya.”

“Ya. Sebelumnya memang tidak. Kali ini adalah kali yang pertama. Tetapi jika pada kali yang pertama tidak terjadi apa-apa maka paman akan mengulanginya lagi pada kali yang kedua, ketiga dan akhirnya paman ingkari segala-galanya.”

“Tidak den, tidak.”

“Paman. Tentu bukan kebetulan, bahwa bukan hanya paman yang terlambat memenuh kewajibannya. Nah, lihat. Itu kakang Srana ada disini pula. Ia juga terlambat. Aku yakin alasannya tentu akan sama dengan alasan paman.”

Orang yang disebut Srana itu berpaling sejenak. Namun kemudian kepalanya pun menunduk dalam-dalam.

“Paman, kang Srana dan yang lain-lain yang mempunyai hubungan dengan nenek. Aku akan memberi batas waktu kepada kalian selama tiga hari. Dalam tiga hari, maka semua kewajiban kalian harus kalian penuhi.”

“Tetapi bagaimana dengan peristiwa yang terjadi di Sendang Arum, den. Bukankah itu merupakan satu kecelakaan yang berada di luar kemampuan kami untuk mengatasinya.”

“Kita tidak usah mempedulikan apa yang terjadi di. pusat pemerintahan itu. Biarlah Adipatinya terusir atau terbunuh atau siapa pun yang akan menggantikannya, apakah ia seorang pemberontak atau bukan. Tetapi kalian harus segera memenuhi kewajiban kalian.”

“Darimana kami dapatkan uang untuk memenuhi kewajiban itu, Raden?”

“Kenapa paman justru bertanya kepadaku? Kang Srana juga akan bertanya kepadaku, darimana ia mendapatkan uang. Demikian pula yang lain-lain. Lalu bagaimana aku harus menjawab?”

“Sungguh den. Aku mohon diberi kesempatan. Meskipun di Sendang Arum sedang terjadi kemelut, tetapi aku akan pergi ke sana, menemui langgananku. Mungkin ia dapat memberikan jalan keluar.”

“Bukankah aku sudah memberimu waktu tiga hari. Kalau malam nanti kau berangkat ke Sendang Arum, maka esok pagi kau sudah akan berada di Sendang Arum. Kau mempunyai waktu sehari. Di malam hari, kau kembali pulang, sehingga kau masih mempunyai waktu sehari sampai batas waktu yang aku berikan.”

“Apakah mungkin aku berjalan dua malam sehari terus-menerus tanpa beristirahat dan tidur? Wadagku tidak akan kuat, sehingga aku akan dapat menjadi sakit. Akibatnya akan menjadi lebih buruk lagi.”

 “Baiklah. Terserah kepada paman. Yang penting, dalam tiga hari, paman dapat memenuhi kewajiban paman kepada nenek. Nah, paman tahu, jika paman gagal memenuhi kewajiban paman, maka paman akan berurusan dengan kami.”

“Aku mohon pengertian Raden”

“Nenek pun minta pengertian paman, Srana dan yang lain. Jika kalian tidak memenuhi kewajiban kalian, maka nenek akan mengalami masa-masa suram yang tidak pernah diharapkannya”

“Tetapi ….”

“Sudahlah, paman“ potong anak muda itu, “tidak ada yang perlu dibicarakan. Aku percaya kepada paman. Selama ini paman tidak pernah ingkar akan janji paman. Hanya pada saat kami tidak ada, kebetulan paman mengalami kesulitan. Tetapi sekarang kami sudah kembali. Aku harapkan kesulitan paman sudah teratasi.”

Yang disebut paman itu menarik nafas panjang. Namun ia pun masih bergumam, “Terkutuklah pemberontakan yang telah mengacaukan perdaganganku.”

“Jangan menyalahkan siapa-siapa paman. Sudah aku katakan, bahwa nenek tidak peduli, apakah Adipatinya mati dan berganti lima kali. Yang penting uang nenek itu kembali.”

“Aku mengerti Raden. Jika aku mengutuk pemberontakan itu, karena pemberontakan itu telah menutup putaran uang yang aku jalankan itu”

Namun tiba-tiba saja Jalawaja bergumam seakan-akan kepada diri sendiri, “Memang. Terkutuklah pemberontakan itu.”

Semua orang berpaling kepadanya. Demikian pula anak-anak muda yang berpakaian rapi dari bahan yang mahal itu.

“Apa maksudmu dengan gumammu itu, Ki Sanak.” bertanya anak muda itu.

“Aku memandangnya dari sisi lain” jawab Jalawaja, “pemberontakan itu memang harus dikutuk. Pemberontak itu telah melawan pemerintahan yang sah, yang dipimpin oleh Kangjeng Adipati. Meskipun padukuhan ini terletak jauh dari pusat pemerintahan, tetapi rakyat di Sendang Arum harus menentukan sikap”

“Sikap apa?”

“Berpihak kepada Kangjeng Adipati yang memegang pemerintahan yang sah, atau berpihak kepada pemberontak. Meskipun getar dari suasana pemberontakan yang telah membunuh banyak orang di kedua belah pihak itu, tetapi rakyat Sendang Arum tidak dapat menjadi tidak peduli kepada peristiwa yang menyangkut pemerintahan di Sendang Arum.”

“Kalian itu siapa?”bertanya anak muda itu.

“Kami adalah bagian dari anak-anak muda di Sendang Arum. Kami tidak dapat melepaskan diri dari gejolak yang terjadi. Kami harus ikut menentukan, siapakah yang berhak untuk memerintah di Sendang Arum.”

“Kau persulit dirimu sendiri Ki Sanak. Jika kau mau melibatkan diri dalam gejolak yang terjadi di Sendang Arum, lakukanlah. Tetapi kau hanya butir-butir pasir lembut yang tidak berarti di luasnya pantai samodra. Sikap dan kepedulianmu tidak akan ada artinya apa-apa.”

“Aku seorang memang tidak akan ada artinya. Tetapi jika semua anak-anak muda dan bahkan seluruh rakyat Sendang Arum bersikap, maka sikap kita tentu akan mempunyai arti.”

“Kau tidak usah bermimpi. Kalau kau ingin melibatkan diri, lakukanlah. Jangan seret kami ke dalam gejolak yang tidak kami mengerti.”

“Bukankah pengaruhnya sudah terasa?”

“Tidak. Pengaruhnya tidak terasa.”

“Kaulah yang tidak peka menanggapi suasana. Bukankah orang yang kau sebut paman itu tidak dapat memenuhi kewajibannya karena ada gejolak di Sendang Arum. Seandainya yang kemudian berkuasa adalah para pemberontak, bukankah mereka dapat menyusun paugeran dan tatanan baru di Sendang Arum ini? Tatanan itu akan dapat menguntungkan bagi mereka yang menjalankan uangnya dengan menghisap sesamanya karena bunganya yang tinggi. Tetapi dapat juga sebaliknya karena pemerintahan yang baru itu membuat paugeran menghukum gantung semua orang yang membungakan uangnya.”

Anak muda itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya , “Sudahlah. Jangan mencampuri persoalan kami.”

“Aku memang tidak akan mencampuri urusanmu. Aku menangkap pembicaraanmu dan mengetahui bahwa nenekmu telah membungakan uang. Aku tidak peduli. Yang menarik perhatianku adalah justru ketidak pedulian kalian terhadap pergumulan yang gawat yang terjadi dalam pemerintahan di Sendang Arum. Jika terjadi pemberontakan, apalagi Sudah berhasil mengusir Kangjeng Adipati dari pusat pemerintahan, bukankah itu satu masalah yang gawat yang harus ditanggapi oleh seluruh rakyat Sendang Arum? Nah, sekarang aku ingin bertanya kepada kalian semuanya yang ada di ruang ini sebagai rakyat Sendang Arum, apakah ada kepedulian kalian terhadap pemberontakan yang telah mengusir Kangjeng Adipati?”

Apakah kalian mengira bahwa Kangjeng Adipati yang terusir itu akan membiarkan kedudukannya dipegang oleh orang lain dengan cara yang tidak sah? Nah, jika terjadi gejolak, benturan kekuatan atau katakanlah perang antara kekuatan yang mendukung Kangjeng Adipati dan kekuatan yang mendukung para pemberontak, apa yang akan kalian lakukan? Sibuk menghitung bunga uang yang dipinjamkan? Sibuk mengejar orang-orang yang berhutang tetapi belum dapat membayar kembali hutangnya bersama bunganya? Atau justru memanfaatkan kesempatan itu untuk tidak membayar hutang? Yang semuanya itu dilakukan tanpa menghiraukan siapakah yang akan menang dan siapakah yang akan kalah dalam perang antara Kangjeng Adipati dengan para pemberontak?”

Anak-anak muda itu termangu-mangu sejenak. Namun pernyataan Jalawaja itu telah menarik perhatian orang-orang yang berada di kedai itu. Apakah mereka akan bersandar pada keadaan lingkungan mereka yang tidak tersentuh oleh kegelisahan karena terjadi pemberontakan? Tetapi jika di Sendang Arum benar-benar ada penguasa baru, apakah kekuasaannya akan berpengaruh baik atau berpengaruh buruk? Namun bagaimanapun juga, Kangjeng Adipati adalah penguasa yang sah di Kadipaten Sendang Arum.

Tetapi ternyata anak-anak muda itu bersikap lain. Seorang diantara mereka yang masih duduk ditempatnya segera bangkit berdiri. Seorang anak muda yang bertubuh tinggi, berdada bidang dengan bahu dan lengan yang kekar.

“Ki Sanak. Jika kau menaruh kepedulian yang besar terhadap peristiwa di Sendang Arum, pergilah ke Sendang Arum. Kau tidak usah berusaha mempengaruhi ketenangan hidup di lingkungan ini.”

“Agar nenekmu dapat membungakan uang tanpa terganggu?”

“Antara lain memang demikian. Karena itu, diamlah. Jangan berbicara lagi tentang kekisruhan yang terjadi di Sendang Arum. Jangan berbicara lagi tentang pemberontakan yang sudah berhasil mengusir Kangjeng Adipati.”

“Tetapi bukankah kau yang mula-mula mengatakannya bahwa telah terjadi goncangan-goncangan yang berbahaya di pusat pemerintahan. Bukankah kau yang mengatakan bahwa dalem kadipaten telah diduduki oleh seorang perempuan yang bernama Raden Ayu Reksayuda?

“Ya.”

“Kemudian kau begitu saja mengharap kita semuanya yang ada di sini melupakan berita itu?”

“Ya.”

“Tidak. Kita harus menaruh perhatian yang besar pada berita itu. Peristiwa itu sudah menyebabkan arus perdagangan terhenti. Ketenangan hidup terganggu. Bahkan dimana-mana terjadi ancaman yang menggelisahkan. Bahkan kau tidak mengakui gangguan arus perdagangan dengan memaksa orang-orang yang meminjam kepada nenekmu untuk memenuhi janjinya tanpa menghiraukan apa yang sudah terjadi di pusat pemerintahan Sendang Arum.”

“Cukup“ bentak anak muda yang bertubuh tinggi besar dan kekar itu, “apa maumu sebenarnya?”

“Aku ingin semua orang Sendang Arum mempedulikan persoalan yang mendasar yang terjadi di tanah kelahirannya ini. Bukan semata-mata mementingkan diri sendiri.”

“Ki Sanak. Kau tidak dapat menggurui kami. Pergilah, sebelum kami menjadi marah.”

“Kau mengusir aku? Apakah hakmu mengusir aku dari kedai ini? Aku akan berada disini sampai esok, atau bahkan lusa. Aku akan berbicara kepada setiap orang, agar mereka mempedulikan apa yang terjadi di Sendang Arum. Aku akan mengajak mereka menegakkan paugeran dan tatanan yang berlaku. Bahkan aku akan mengajak seluruh rakyat Sendang Arum menghukum pemberon-takan ini.”

“Kau sudah gila. Kau siapa, he? Kau kira kau mempunyai kekuasaan untuk mengerahkan rakyat Sendang Arum?”

“Bukan soal kekuasaan. Tetapi jika kita menyadari apa yang terjadi serta akibat yang dapat timbul, maka kita akan bersiap untuk menegakkan tatanan dan paugeran di Sendang Arum.”

“Persetan kau orang gila. Pergi atau aku akan memaksa kalian berdua pergi”

“Kami tidak akan pergi.”

“Jika demikian, kami akan melempar kalian berdua keluar dari kedai ini.”

“Itu tidak perlu. Kami berdua dapat keluar sendiri. Tetapi seterusnya kami akan berbicara didepan pasar, bahwa kita harus menegakkan tatanan dan pangeran. Kita harus menumpas pemberontak yang timbul di Sendang Arum, sekaligus memberan-tas mereka yang membungakan uang dengan bunga yang justru mencekik leher. Dengan pura-pura membantu, namun akibatnya justru sebaliknya.”

“Setan kau. Kami akan membungkam mulutmu.“

“Kita selesaikan persoalan kita di luar. Jangan di dalam, karena kita akan merusakkan perabot kedai ini.”

Jalawaja pun bangkit sambil berdesis, “Marilah. Kita beri anak-anak bengal ini sedikit peringatan agar mereka tidak mementingkan diri sendiri saja justru pada saat Sendang Arum sedang bergejolak.“

Suratama pun bangkit. Keduanya berjalan dengan tenang kepintu kedai itu. Kemudian dengan tenang pula keduanya turun ke halaman.

Pemilik kedai itu menjadi berdebar-debar. Keempat orang anak muda yang berpakaian rapi dan terbuat dari bahan yang mahal itu adalah cucu seorang perempuan yang memiliki pengaruh yang besar di padukuhaan itu. Mereka adalah anak-anak muda yang ditakuti. Meskipun sikap mereka kadang-kadang baik, tetapi mereka adalah kepanjangan tangan nenek mereka untuk memungut pembayaran hutang dari orang-orang yang berhutang pada neneknya dengan bungan yang tinggi.

Tetapi pemilik kedai itu, bahkan pelayannya, tidak sempat memberi peringatan kepada kedua orang anak muda yang tidak mereka kenal itu. Apalagi mereka berdua. Bahkan seandainya mereka berjumlah sama dengan empat orang pemungut cicilan hutang itu, agaknya sulit bagi mereka untuk mengimbanginya.

Beberapa saat kemudian, maka Jalawaja dan Suratama sudah berada di halaman kedai itu. Dalam pada itu, keempat orang muda yang berpakaian rapi itu pun sudah keluar pula dari kedai itu.

Anak muda yang bertubuh tinggi, berbadan kekar itulah yang berdiri di paling depan. Dengan nada yang berat orang bertubuh raksasa itu pun berkata, “Masih ada waktu anak-anak. Pergilah. Jika kalian tidak mau pergi, maka kalian akan menyesal.”

“Tentu saja aku tidak dapat pergi begitu saja. Aku belum membayar harga minuman dan makanan yang aku minum dan aku makanu pergi, maka aku dapat dituduh berbuat curang”

“Pergilah. Aku yang akan membayarnya.”

“Tidak. Aku mempunyai uang cukup.”

“Jadi, apakah aku harus memaksamu pergi?”

“Tidak seorang pun dapat mememang belum ingin pergi.”

“Kau sangat menjengkelkan.”

“Sudahlah, Ki Sanak. Jangan hiraukan kami. Biarkan kami lakukan apa yang ingin kami lakukan. Bukankah yang kami lakukan justru akan berarti bagi Sendang Arum” berkata Suratama, “Ki Sanak jangan mempersulit diri sendiri. Lakukan apa yang akan kau lakukan.”

“Kalian mau pergi atau tidak” bentak ada yang bertubuh tinggi kekar itu.

Namun Suratama menjawab tegas, “Tidak.”

“Bagus. Jika kalian tidak mau pergi, maka aku akan memaksa kalian.”

Ketika ketiga orang anak muda yang lain bergeser mendekati Jalawaja dan Suratama, maka anak muda yang bertubuh tinggi besar itu pun berkata, “Serahkan mereka kepadaku. Aku akan mengusir mereka. Jika mereka tetap tidak mau pergi, maka mereka akan menyesal. Jika mereka akan menjadi kesakitan, bukan salahku.”

“Kau akan menyakiti kami?“ bertanya Jalawaja.

“Ya. Jika kalian berdua tidak mau pergi.”

“Bagaimana jika kami yang menyakiti kalian?”

“Iblis kau. Jika kalian memang akan memmberikan perlawanan, bersiaplah.”

Jalawaja dan Suratama pun bersiap. Mereka tidak tahu, seberapa tinggi ilmu anak muda yang bertubuh raksasa itu. Tetapi menurut pengamatan mereka, anak muda itu tentu akan lebih banyak mengandalkan kekuatannya saja daripada ilmu kanuragan, meskipun mungkin anak muda itujuga pernah berguru.

Jalawaja dan Suratama itu pun kemudian bergeser justru saling mendekat. Jalawaja masih juga sempat berbisik, “Kita buat anak ini jera”

Suratama pun mengangguk kecil.

Sejenak kemudian, maka anak muda bertubuh raksasa itu melangkah mendekati Jalawaja dan Suratama, sementara kedua orang anak muda itu telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya.

“Aku bukan orang yang licik yang mengambil kesempatan sebelum lawanku benar-benar siap”

“Kami sudah siap” sahut Jalawaja.

Anak muda bertubuh raksasa itu menggeram. Sementara itu ketiga orang kawannya berdiri termangu-mangu. Mereka tahu benar akan kekuatan dan kemampuan kawannya yang bertubuh tinggi, kekar dan sedikit angkuh itu.

Tiba-tiba saja anak muda itu meloncat menyerang. Kedua tangannya terjulur lurus ke depan. Tangan kanannya menggapai leher Jalawaja sedang tangan kirinya menggapai leher Suratama.

Tetapi anak muda bertubuh raksasa itu salah hitung. Yang mereka hadapi bukan anak-anak muda seperti yang setiap hari dijumpainya di padukuhannya atau di kademangannya. Bukan pula sebagaimana orang-orang yang berada di pasar. Bahkan orang-orang jahat yang berkeliaran di pasar itu. Yang dihadapinya adalah Jalawaja dan Suratama. Dua orang anak muda yang telah mendalami dasar-dasar olah kanuragan.

Karena itu, demikian tangannya terjulur, maka anak muda itu pun segera terpelanting. Jalawaja dan Suratama dengan tangkas menghindari tangan anak muda itu. Namun keduanya pun segera menangkap pergelangan tangannya. Jalawaja pun segera mengisyaratkan untuk melemparkan anak muda bertubuh raksasa itu, bahkan didorong oleh tenaga anak muda bertubuh raksasa itu sendiri.

Dengan demikian, maka anak muda bertubuh raksasa yang tidak menduga akan diperlakukan demikian, terkejut sekali. Tetapi ia terlambat menyadari, bahwa tubuhnya yang besar itu terlempar dengan derasnya.

Anak muda bertubuh raksasa itu pun jatuh terjerembab di halaman kedai itu. Wajahnya tersuruk di tanah berdebu, sehingga debu pun melekat di wajah yang basah oleh keringat itu.

Dengan cepat anak muda bertubuh raksasa itu bangkit. Tetapi demikian anak muda itu berdiri, maka dengan cepat Jalawaja dan Suratama telah menangkap lengannya. Sekali lagi anak muda bertubuh raksasa itu terlempar. Sekali lagi ia terjerembab dan debu diwajahnya menjadi semakin tebal. Pakaiannya yang rapi dan terbuat dari bahan yang mahal itu menjadi sangat kotor, sementara wiru kain panjangnya terlepas.

“Anak iblis” anak muda itu berteriak. Ketiga anak muda itu berusaha untuk bangkit, ketiga orang anak muda yang lain pun segera berlari untuk melindunginya.

Jalawaja dan Suratama berdiri termangu-mangu. Mereka berdua tidak berbuat apa-apa ketika anak muda bertubuh raksasa itu berusaha untuk bangkit, sementara ketiga orang kawannya berdiri di sebelah menyebelahnya.

Ketika seorang diantara mereka berniat menolong kawannya yang terjerembab itu, maka tangannya pun dikibaskan sambil berkata, “Aku dapat berdiri sendiri. Aku tidak apa-apa. Mereka licik dan menyerang sebelum aku bersiap.”

Suratama tertawa. Katanya, “Bukankah kau yang telah menyerang kami lebih dahulu? Bahkan kau sempat berbaik hati, memperingatkan agar aku berhati-hati.”

“Persetan kau” geram anak muda bertubuh raksasa itu, “kau telah menyakiti aku. Itu adalah satu tindakan yang sangat bodoh, karena aku tentu akan membalasmu. Seperti nenek yang membungakan uangnya, maka kau pun harus membayar bunga. Jika kau menyakiti aku dan mengotori pakaianku, maka aku melukaimu dan mengoyakkan pakaianmu.”

Suratama masih saja tertawa. Katanya, “Sudahlah. Jangan berkeras. Pulanglah. Kau dapat berganti pakaian. Bukankah pakaianmu masih ada beberapa pengadeg sehingga kau tidak akan mengalami kesulitan berganti pakaian sehari tujuh kali?”

“Kau semakin memuakkan, Jangan sesali nasimu yang buruk.”

“Kenapa aku harus menyesal. Aku bahkan ingin memperingatkan kau dan kawan-kawanmu, agar kalian pergi. Jangan ganggu kami. Kami akan berbicara tentang keadaan kadipaten Sendang Arum sebagaimana kalian katakan. Kami akan minta rakyat Sendang Arum menyadari keadaan yang mereka hadapi sekarang ini.”

Anak muda bertubuh raksasa itu pun kemudian tidak ingin maju sendiri. Dengan geram ia pun berkata, “Mereka adalah orang-orang licik. Karena itu, kita akan menghadapi mereka bersama-sama.”

Tetapi Jalawaja pun bertanya, “Apakah batasan tentang kelicikan seseorang?”

“Persetan. Jika kalian masih bersikap sangat memuakkan, maka kami akan menghentikannya dengan cara kami.”

Orang-orang yang ada di sekitar tempat itu pun menjadi riuh. Ada yang dengan serta-merta pergi meninggalkan tempat itu, tetapi ada juga orang-orang yang justru ingin melihat apa yang sedang terjadi di depan salah satu kedai di dekat pasar itu.

Pemilik kedai dan pelayaninya menjadi kebingungan. Jika empat orang anak muda bertindak bersama-sama, maka kedua orang lawan mereka benar-benar akan mengalami kesulitan.

Sementara itu, orang-orang yang berkerumun itu pun menjadi berdebar-debar. Kebanyakan diantara mereka mengenal keempat anak muda yang menjadi pemungut cicilan hutang dari nenek mereka. Mereka tidak saja berkawan, tetapi mereka masih mempunyai ikatan darah.

Beberapa orang di pasar itu memang mempunyai hutang kepada nenek keempat orang anak muda itu, hutang yang harus mereka bayar dengan cicilan disetiap hari pasaran.

Tetapi perlawanan kedua orang anak muda itu terhadap anak muda yang bertubuh raksasa itu telah membuat jantung mereka berdebaran. Sebelumnya tidak ada orang yang berani melawan mereka. Bahkan petugas yang harus menjaga keamanan dan ketenangan pasar itu pun tidak berani menegur keempat orang anak muda itu. Kecuali mereka memang segan karena kemampuan keempat orang anak muda itu, nenek anak muda itu adalah seorang yang sangat berpengaruh. Seorang yang kaya dan mempunyai beberapa cucu-cucunya itu.

Namun tiba-tiba saja ada dua orang anak muda yang tidak dikenal di tempat itu telah berani melawan keempat penagih hutang yang berbunga tinggi itu.

Dalam pada itu, keempat orang anak muda itu pun segera berpencar. Mereka akan menghadapi kedua orang lawan mereka dari arah yang berbeda.

“Tidak ada lagi kesempatan lagi kalian. Kalian harus menerima hukuman kami. Kalian akan kami bawa pulang. Di rumah, kalian akan dapat menjadi bahan permainan yang mengasikkan barang sepekan. Baru kemudian kami akan melepas kalian.“

“Ki Sanak” berkata Jalawaja kemudian, “sekarang aku ingin bersungguh-sungguh. Akulah yang masih memberi kesempatan kepada kalian. Jika kalian tidak mau ikut melibatkan diri dalam gejolak yang terjadi di Sendang Arum, terserah saja kepada kalian. Tetapi jangan halangi aku untuk berhubungan dengan rakyat Sendang Arum. Biarlah aku berbicara kepada mereka agar mereka tahu apa yang teradi di negerinya ini. Seperti yang kau katakan, bahwa Kangjeng Adipati telah terusir dari tahtanya oleh seorang perempuan yang bernama Raden Ayu Reksayuda?”

“Kau akan menjadi pahlawan?”

“Ya” jawab Jalawaja tegas, “aku tidak merasa malu meskipun kau ucapkan kata-kata itu dengan nada yang miring. Aku memang akan menjadi pahlawan. Semua orang harus menjadi pahlawan menghadapi pemberontakan ini. Yang penting bagi kami bukan sebutan pahlawan itu. Bukan untuk disanjung dan di beri tepuk tangan. Tetapi aku ingin melakukan apa yang ingin aku lakukan sebagai rakyat Sendang Arum.”

“Cukup” bentak seorang yang agaknya umurnya tertua diantara mereka, “Sesali apa yang harus kau sesali. Sudah aku katakan, kalian tidak akan mendapat kesempatan lagi. Seperti kata sadaraku, kalian berdua akan kami bawa pulang. Kami memang membutuhkan barang mainan. Sementara itu, agaknya kalian berdua memenuhi syarat yang kami inginkan.”

Wajah Jalawaja menjadi merah. Katanya, “Baik. Kita tidak akan saling memberi kesempatan. Sekarang akulah yang akan memperingatkan kalian. Bersiaplah.”

Jalawaja pun kemudian memberikan isyarat kepada Suratama. Mereka bergeser untuk membuat jarak diantara mereka.

Anak muda yang tertua itu pun segera memberikan isyarat pula. Dengan serentak maka keempat orang anak muda itu pun berloncatan menyerang.

Tetapi mereka memang salah menilai mampuan kedua orang anak muda itu. Ketika kedua orang anak muda itu berloncatan, maka dua diantara keempat orang itu pun telah terlempar dan terpelanting jatuh.

Ketika kedua orang yang lain masih mencoba menyerang, maka seorang diantaranya telah terlempar pula. Justru menimpa kawannya yang sedang berusaha untuk bangkit.

Sedangkan yang seorang lagi, yang mencoba menyerang Jalawaja dengan menjulurkan tangannya mengarah ke dada, justru harus mengaduh kesakitan. Jalawaja menangkap pergelangan tangan itu, sementara kakinya menyerang lambungnya. Tidak hanya sekali, tetapi serangan kaki Jalawaja itu dilakukan beberapa kali.

Ketika kemudian Jalawaja melepaskan tangan itu, maka anak muda itu justru terhuyung-huyung beberapa langkah surut. Kemudian jatuh terlentang sambil menyeringai menahan sakit.

Kawannya yang terlempar sebelumnya telah bangkit berdiri. Dengan tergesa-gesa anak muda yang bertubuh raksasa itu mendekati dan kemudian berjongkok di sebelah kawannya yang kesakitan.

“Jangan cengeng” berkata anak muda yang bertubuh raksasa, “Kita harus lebih berhati-hati.”

Anak muda yang kesakitan itu berusaha untuk bangkit, sementara Jalawaja berdiri sambil bertolah pinggang.

“Jika kalian masih akan melawan, keadaan kalian akan menjadi semakin parah” berkata Jalawaja.

Tetapi keduanya tidak menghiraukannya. Anak muda yang kesakitan itu pun berusaha untuk bangkit berdiri.

Sedangkan kedua orang yang bertempur melawan Suratama telah bersiap lebih dahulu. Meskipun punggung mereka terasa sakit ketika yang seorang menimpa yang lain yang sedang berusaha untuk bangkit, dengan derasnya, namun mereka pun segera mempersiapkan diri untuk segera bertempur kembali.

Sejenak kemudian, Jalawaja dan Suratama sudah harus melayani keempat orang anak muda itu lagi. Tetapi dalam waktu yang terhitung singkat, keempat orang itu sudah terpental. Seorang bahkan mengmengerang kesakitan. Dua giginya tanggal ketika tumit Suratama tepat mengenai mulutnya. Darah pun mengalir dari sela-sela bibirnya, meleleh ke dagunya.

“Gigiku” anak muda

“Jangan hiraukan gigimu.”

“Gigiku” ulangnya.

“Apaboleh buat. Jangan hiraukan gigimu, Kita harus membalasnya. Kau akan mematahkan semua giginya. Tidak hanya beberapa. Kau tidak perlu menangisi gigimu yang tanggal. Nanti akan tumbuh lagi.”

Suratama justru tertawa. Katanya, “Kau kira orang seumurnya giginya yang patah akan dapat tumbuh lagi?”

“Gigiku memang tidak akan-tumbuh lagi. Ada lubang di deretan gigiku.”

“Bangkit. Sekarang kita akan mmatahkan semua giginya“ Anak muda itu mengangguk.

“Relakan gigimu yang patah.”

“Tetapi gigi itu tertelan.”

Kawannya mengerutkan dahinya. Namun kemudian katanya, “Tidak apa-apa. Gigimu tidak akan dapat mengunyah isi perutmu.”

Kawannya yang giginya patah itu mengangguk lagi.

Ketika keduanya melangkah maju mendekati Suratama, maka anak muda yang bertubuh raksasa, yang bertempur melawan Jalawaja itu terpelanting lagi. Tubuhnya terbanting dengan kerasnya, sehingga tulang punggungnya serasa menjadi retak.

“Kalian tidak akan dapat menyakiti kami. Tetapi jika kalian berkeras untuk berkelahi terus, kami akan menyakiti kalian sekehendak hati kami. Bahkan lebih dari itu” berkata Suratama.

“Apa maksudmu menyakiti kami sekehendak hati kalian itu?”

“Aku akan mematahkan semua gigimu. Bahkan aku akan memotong telingamu. Jika kalianmasih tetap melawan, aku akan memotong lehermu. Kau tidak akan dapat hidup tanpa leher.”

“Setan kau. Aku akan membunuhmu.”

“Jangan berkata begitu. Kau menggelitik perasaanku. Jangan menimbulkan keinginan di hatiku untuk membunuh kalian berdua. Karena kesempatan untuk membunuh bagiku tentu lebih besar dari kesempatan kalian.”

Kedua orang anak muda itu termangu-mangu. Sementara itu, kedua orang lawan Jalawaja pun sudah tidak berdaya lagi. Seorang terduduk kesakitan, seorang yang lain justru duduk tersandar pada sebatang pohon.

“Kau lihat kawan-kawanmu?” bertanya Suratama.

Kedua orang anak muda itu termangu-mangu.

“Menyerahlah. Rawatlah saudara-saudaramu itu.”

Kedua orang lawan Suratama itu tidak dapat berbuat lain. Mereka menyadari, bahwa mereka tidak akan dapat melawan. Apalagi anak muda yang lain sudah dapat membuat kedua lawan mereka tidak berdaya.

Namun dalam pada itu, pemilik kedai, pelayannya dan beberapa orang yang berada di sekitar arena perkelahian itu menjadi berdebar-debar. Beberapa orang merasa senang bahwa keempat anak muda itu pada satu kali mendapat pelajaran sehingga mereka tidak akan menjadi semakin menyombongkan diri lagi. Atau setidaknya mereka menyadari, bahwa mereka bukan orang terkuat di dunia ini. Tetapi justru karena mereka tahu, siapakah keempat orang anak muda itu, maka mereka mencemaskan nasib kedua orang anak muda yang telah mengalahkan keempat orang anak muda itu. Jika kekalahan mereka didengar oleh orang-orang upahan neneknya, maka mereka tentu akan berdatangan. Sedangkan mereka adalah orang-orang upahan yang tidak berjantung, karena jantung mereka telah terbeli.

Kedua orang anak muda yang bertempur melawan Suratama itu pun kemudian mendekati kedua orang saudara mereka yang terbaring kesakitan. Dengan suara yang bergetar, anak muda yang bertubuh raksasa itu berkata, “Bunuh mereka.”

“Mana mungkin“ jawab anak muda yang giginya patah dua buah, “gigiku patah. Mulutku berdarah. Jika aku masih juga melawannya, maka bukan hanya gigiku yang tanggal, tetapi ia akan menanggalkan telingaku. Jika aku masih juga melawan, maka leherkulah yang akan ditanggalkannya.”

“Jangan takut. Mereka hanya menggertak.”

“Tetapi bagaimana dengan kau sendiri?”

Anak muda bertubuh raksasa yang rasa-rasanya sudah tidak dapat bangkit lagi itu pun menggeram. Tetapi ia tidak berkata apa-apa lagi.

Kedua orang anak muda yang dilepaskan oleh Suratama itu pun mencoba membantu saudara-saudaranya bangkit berdiri dan berjalan ke tangga kedai itu.

Namun apa yang dicemaskan oleh beberapa orang yang menyaksikan perkelahian itu pun terjadi. Sebelum ada yang sempat memperingatkan agar kedua orang anak muda itu meninggalkan tempat itu, beberapa orang upahan nenek mereka pun telah berdatangan.

Tidak hanya ampat orang. Tetapi tujuh orang. Bahkan nenek tua yang membungakan uangnya itu pun ikut pula datang.

Nenek tua itu telah menyingsingkan kain panjangnya, berjalan setengah berlari menuju kedai itu diikuti oleh tujuh orang upahannya.

Agaknya seseorang telah melaporkan kepadanya, apa yang telah terjadi dengan cucu-cucunya di kedai itu.

Sebelum sampai di halaman kedai itu, telah terdengar suaranya lantang, “Mana demit-demit itu he?”

Jalawaja dan Suratama termangu-mangu sejenak. Kepada pemilik kedai yang berdiri dekat pintu kedainya Jalawaja bertanya, “Siapakah mereka?”

“Nenek mereka dan orang-orang upahannya.”

Jalawaja menggeram. Dengan nada berat Jalawaja bertanya, “Apa yang akan kita lakukan Suratama?“

Suratama itu pun menjawab, “Jika mereka tidak mau mendengarkan kata-kata kita, anggap saja mereka juga telah memberontak sebagaimana Raden Ayu Reksayuda.”

“Kita perlakukan mereka sebagai pemberontak?

“Kita akan memberi mereka peringatan. Jika mereka tidak mau mendengar, apaboleh buat.”

Jalawaja mengangguk-angguk

Dalam pada itu, nenek tua yang berlari-lari kecil sambil menyingsingkan kain panjangnya itu telah memasuki halaman kedai itu. Terdengar lagi suaranya lantang, “Mana demit-demit yang telah berani melawan kuasaku disini itu, he?”

Tidak ada yang menjawab. Namun ketika nenek tua itu melihat keempat cucu-cucunya duduk di tangga kedai itu dengan darah dimulut serta wajah yang pucat dan mulut yang menyeringai kesakitan, maka ia pun segera berlari mendekatinya, “Kalian-kenapa anak-anak manis? Demit itu sudah mengganggumu sehingga kalian menjadi demikian parah?”

“Ya. nek” jawab anak muda yang giginya tanggal, “mereka berdua adalah orang-orang gila yang sudah mengganggu kami berempat”

 “Kenapa kalian tidak membunuh saja mereka? Kalian tidak dianggap bersalah jika kalian membunuh keduanya dalam sebuah pertarungan.”

“Jangankan membunuh” jawab anak muda yang bertubuh raksasa, “untuk melindungi diri sendiri pun kami tidak mampu lagi.”

“Setan alas” nenek tua itu berteriak. Suaranya masih lantang, melengking seakan-akan berputar di sekitar pasar itu.

Orang-orang yang berada di pasar telah membenahi dagangan mereka. Jika terjadi sesuatu yang merembet ke pasar, maka mereka akan segera dapat mengambil langkah-langkah pengamanan.

“Kalian berdua, anak-anak gelandangan yang kelaparan, apakah kalian tidak tahu siapa aku?”

“Tidak, nek.”

“Jangan panggil aku nenek. Kapan aku menjadi isteri bergeser. Sementara perempuan tua itu pun berteriak lagi kepada keempat cucu-cucunya. “Bangkit. Kalian harus ikut menangkap mereka. Kalian akan dapat membawa mereka pulang. Ada kurungan besi di kebun belakang. Keduanya dapat dimasukkan kedalamnya. Kita akan dapat bermain harimau-harimauan.”

Tetapi keempat orang anak muda itu masih tetap duduk di tangga.

“Bangkit, pengecut. Selama ini aku bangga terhadap kalian yang mampu mendukung usahaku. Tiba-tiba kalian tidak berdaya menghadapi dua orang gelandangan yang kelaparan itu.”

Tetapi keempat orang cucunya itu tidak beranjak dari tempatnya.

Dengan demikian maka perempuan itu pun segera memberi aba-aba kepada orang-orag upahannya, “Lakukan sekarang. Tidak ada yang ditunggu lagi.”

Demikianlah, tujuh orang upahannya itu pun segera bergerak emndekati Jalawaja dan Suratama.

“Kita sudah terlalu lama bermain permainan yang menjemukan ini Suratama“ desis Jalawaja.

“Ya.”

“Sekarang, kita tidak perlu lagi menunjukkan permainan gaya apapun. Kita akan bekerja dengan cepat, secepat-cepatnya. Lawan kita menjadi semakin banyak. Mereka agaknya lebih berpengalaman dari keempat anak kucing itu.”

“Ya.”

“Karena itu, kita harus bekerja cepat. Semakin cepat semakin baik.”

Suratama mengangguk. Sementara itu, beberapa orang telah berhenti di hadapannya.

“Bersiaplah anak muda. Nasibmu kau perburuk dengan kesombonganmu.”

Suratama tidak menjawab. Tetapi ia sudah siap menghadapi segala kemungkinan.

Demikian pula Jalawaja yang telah bergeser mengambil jarak dari Suratama.

Dalam pada itu, baik Jalawaja maupun Suratama tidak menunggu lebih lama lagi. Mereka berdualah yang mendahului menyerang orang-orang yang mengerumuninya.

Ternyata Jalawaja harus berhadapan dengan empat orang, sedangkan Suratama akan menghadapi tiga orang yang menurut pengamatan mereka agaknya orang-orang itu memiliki pengalaman yang lebih banyak dari keempat orang cucu nenek tua itu.

Pertempuran pun segera membakar lagi halaman kedai itu. Orang-orang yang berkerumun agak jauh dari halaman kedai itu masih juga berdiri di tempatnya. Bahkan menjadi semakin banyak.

Petugas pasar, yang harus mengawasi dan mengamankan pasar itu pun ikut menonton dari kejauhan. Mereka tidak berani melerai pertempuran itu. .

Jalawaja dan Suratama tidak lagi menahan diri. Mereka menyadari, jika mereka tidak memanfaatkan kesempatan pertama, mungkin mereka akan mengalami kesulitan untuk selanjutnya.

Karena itu, maka baik Jalawaja maupun Suratama pun segera berloncatan menyerang lawan-lawan mereka.

Serangan Jalawaja dan Suratama agaknya telah mengejutkan ketujuh orang anak muda itu adalah anak-anak muda yang berilmu tinggi.

Tetapi mereka adalah orang-orang yang hidupnya memang berkubang dalam lingkungan kekerasan. Karena itu, maka mereka memiliki pengalaman yang cukup luas.

Namun yang mereka hadapi adalah anak-anak muda yang terlatih. Tidak hanya sekedar mengandalkan kewadagan mereka, tetapi mereka memiliki kemampuan utuh di dalam dirinya. Segala segi-segi kekuatan dan tenaga telah dilatih untuk dapat dipergunakan jika diperlukan.

Karena itu, maka sejenak kemudian, pertempuran di depan kedai itu pun semakin seru.

Orang-orang yang menyaksikan pertempuran itu pun menjadi berdebar-debar. Menurut anggapan mereka, jangankan tujuh orang. Seorang saja dari antara orang-orang upahan itu telah membuat orang sepasar ketakutan.

“Apa jadinya anak-anak muda itu” berkata seorang yang berdiri di sebelah sebatang pohon “darah muda mereka agaknya masih terlalu mudah mendidih, sehingga mereka tidak sempat menilai siapakah yang mereka hadapi.”

“Kasihan mereka” sahut yang lain, “mereka tentu akan menjadi debu. Nenek tua itu menginginkan keduanya tertangkap hidup untuk dibawa pulang. Aku tidak dapat membayangkan, apa jadinya mereka setelah mereka berada di rumah nenek tua yang cucu-cucunya telah dikalahkan itu.”

“Tidak seorang pun yang dapat menolong” berkata seorang yang lain.

Dalam pada itu, pertempuran pun telah menebar ketika Jalawaja dan Suratama sengaja mengambil jarak semakin panjang. Dengan demikian maka keduanya menjadi lebih leluasa. Mereka berloncatan seperti burung sikatan memburu belalang di padang rumput.

Orang-orang yang menyaksikannya hampir tidak percaya melihat apa yang telah terjadi. Sekali-sekali mereka melihat di-antara ketujuh orang itu terpelanting keluar arena. Bahkan seorang yang bertempur berempat, terlempar dengan derasnya. Tubuhnya itu pun telah membentur sebatang pohon yang ada di halaman kedai itu, sehingga untuk beberapa saat, orang itu harus menyeringai menahan sakit pada punggungnya.

Ketika orang itu memasuki kembali arena pertempuran dengan punggung yang masih nyeri, maka kawannya yang seorang lagi dengan kerasnya terbanting di tanah. Beberapa kali orang itu berguling. Namun ketika ia mencoba bangkit, tangannya harus menekan pinggangnya yang kesakitan.

Yang terjadi sama sekali tidak sebagaimana dicemaskan oleh banyak orang. Ketujuh orang itu satu-persatu mulai kehilangan tenaga dan kemampuan untuk melawan. Serangan-serangan Jalawaja dan Suratama telah menghancurkan kebanggaan mereka sebagai orang upahan yang sangat ditakuti. Tujuh orang yang bertempur bersama-sama ternyata tidak mampu mengalahkan dua orang anak muda yang tidak dikenal.

Jalawaja dan Suratama memang tidak menahan diri lagi. Keduanya telah mengerahkan kemampuan mereka untuk memaksa ketujuh orang lawan mereka itu menyerah.

Nenek tua itu pun berteriak-teriak marah ketika orang-orangnya kehilangan kemampuan mereka. Ketika satu persatu ketujuh orang itu tidak lagi mampu bangkit dan memasuki arena.

“Bangkit. Jika keduanya tidak dapat ditangkap hidup-hidup, bunuh mereka di tempat” teriak nenek tua itu.

Tetapi ketujuh orang itu menjadi semakin tidak berdaya.

Dengan marah perempuan itu itu pun membentak keempat cucunya, “Bangkit, lawan mereka.”

Tetapi keempat cucu-cucunya itu menggeleng. Bahkan seorang diantara mereka berkata, “Nenek lihat sendiri, ketujuh orang upahan nenek itu tidak mampu melawan kedua orang anak muda yang berilmu iblis itu.”

”Buat apa aku memberimu makan. Memberimu pakaian dari setiap kali uang menurut kebutuhan kalian. Aku pula yang memberi ayah dan ibumu makan, pakaian dan tempat tinggal. Tetapi ternyata kalian tidak dapat membantuku.”

“Bukankah wajar jika nenek memberi ayah makan, pakaian dan tempat tinggal, karena ayah adalah anak nenek?”

“Persetan kau” teriak nenek itu.

Sementara itu, ketujuh orang upahannya sudah tidak berdaya sama sekali. Ketiga lawan Suratama sudah tidak mampu lagi bangkit, apalagi melawan. Sedang seorang lawan Jalawaja bahkan menjadi pingsan. Seorang punggungnya serasa patah, sedang seorang lagi kepalanya terbentur bebatur kedai itu, sehingga semuanya seolah-olah menjadi berputar. Seorang lagi masih dapat bangkit berdiri. Tetapi ia tidak lagi berniat untuk melawan. Dengan putus-asa ia duduk sambil berkata memelas, “Aku minta ampun.”

Jalawaja dan Suratama pun kemudian melangkah mendekati nenek tua itu. Dengan suara yang bergetar oleh kemarahan Jalawaja berkata, “Dengar nenek tua yang tidak tahu diri. Apakah kau masih belum melihat kenyataan yang kau hadapi sekarang.”

“Kalian iblis laknat yang terkutuk. Kanapa kalian mencampuri urusanku?”

“Dengar. Ada pemberontakan di Sendang Arum. Kau masih tidak peduli.”

“Itu bukan urusanku.”

“Kau tidak mengakui bahwa kau rakyat Sendang Arum?”

“Apa peduliku?”

“Baik. Jika kau tidak peduli dengan kekuasaan di Sendang Arum, maka kau tidak akan mendapat perlindungan dari penguasa di Sendang Arum, siapa pun orangnya.”

“Aku dapat melindungi diriku sendiri.”

“Tidak. Sekarang kau tidak dapat melindungi dirimu sendiri. Orang-orangmu sudah tidak berdaya.”

“Mereka akan segera bangkit lagi”

“Tidak ada artinya. Aku sekarang akan pergi ke rumahmu. Aku akan mengambil semua harta bendamu. Aku akan memperguna-kannya untuk membiayai perjuangan kami melawan pemberontak yang sudah menduduki kadipaten.”

“Jangan.”

“Marilah” Jalawaja pun berpaling kepada Suratama, “kita bawa orang yang menyerah itu untuk menunjukkan, dimana rumah nenek itu. Jika ia menolak, kita akan membunuhnya. Nenek tua ini tidak akan mendapat perlindungan dari sia-papun.”

“Jangan. Jangan ambil hartaku” lalu katanya kepada cucu-cucunya, “cegah mereka, ngger. Cegah mereka.”

“Siapa yang akan mencoba mencegahku, akan aku bunuh.”

“ Tetapi. Tetapi……” nenek tua itu mulai menjadi cemas.

Suratama pun kemudian mendekati orang upahan yang menyerah itu sambil membentak, “Antar kami ke rumah nenek itu, atau kami bunuh kau disini.”

“Ampun. Jangan bunuh aku.”

“Jika demikian, bangkit. Antar kami.”

“Jangan, tolong jangan lakukan ngger. Jangan. Aku bekerja keras sejak aku masih perawan. Aku ingin kaya. Karena itu, jangan ambil hartaku”

Jalawaja pun termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku tidak akan mengambil hartamu, tetapi kau harus mengerti, apa arti pergolakan yang terjadi di Sendang Arum. Kau harus perduli agar kau mendapat perlindungan dari penguasa di Sendang Arum.”

“Apa yang harus aku lakukan”

“Sementara ini tidak apa-apa. Tetapi jangan peras sesamamu. Pada kesempatan lain, aku akan datang kepadamu dengan sekelompok prajurit”

“Prajurit. Kenapa kau akan datang dengan sekelompok prajurit?”

“Aku adalah bagian dari prajurit Sendang Arum itu”

“Jadi angger berdua ini prajurit?”

“Ya. Kami berdua adalah prajurit Sendang Arum.“

“Ampunkan aku ngger. Aku minta ampun.”

Jalawaja dan Suratama tidak menghiraukannya lagi. Tetapi Jalawaja pun kemudian berkata lantang kepada orang-orang yang berkerumun, “Kalian adalah rakyat Sendang Arum. Terserah kepada kalian, apakah kalian akan berpihak kepada para pemberontak atau berpihak kepada Adipati yang memiliki kekuasaan yang sebenarnya di Sendang Arum. Jika kalian berpihak kepada para pemberontak, maka kalian akan di hancurkan.”

Orang-orang yang ada disekitarnya tidak ada yang menyahut. Meskipun demikian, ternyata jantung mereka mulai tersentuh

Jalawaja dan Suratama tidak menghiraukan mereka lagi. Kepada Suratama, Jalawaja pun berkata, “Marilah. Kita tinggalkan mereka. Biarlah mereka mencerna peristiwa ini. Aku yakin bahwa mereka akan memberikan pilihan yang benar.”

Suratama pun mengangguk.

Demikianlah, maka tanpa berkata apa-apa kepada nenek tua itu, Jalawaja dan Suratama pun meninggalkan kedai itu. Tetapi mereka masih menyempatkan diri untuk membayar kepada pemilik kedai itu.

“Tidak usah, ngger. Tidak usah.”

Tetapi Jalawaja berkata, “Terimalah Bukan apa-apa. Tetapi ini adalah kewajibanku.”

Pemilik kedai itu tidak dapat menolak. Sementara itu, Jalawaja dan Suratama pun kemudian meninggalkan tempat itu. melanjutkan perjalanannya menjelajahi daerah Sendang Arum untuk mengetahui sikap rakyatnya.

Sementara itu, Ragajaya dan Ragajati pun telah melakukan tugasnya dengan baik. Dalam perjalanannya dari padukuhan ke padukuhan, keduanya menangkap isyarat, bahwa sebenarnya rakyat Sendang Arum masih setia kepada kangjeng Adipati Wiranegara. Mereka tidak dapat menerima keberadaan Raden Ayu Reksayuda di dalem kadipaten.

“Tetapi apakah bukan Kangjeng Adipati yang telah memerintahkan membunuh Raden Tumenggung Wreda Reksayuda?”

“ Omong kosong” jawab Ragajaya, “Kangjeng Adipati bukan seorang yang terlalu bodoh mengorbankan namanya. Kita harus dapat menilai peristiwa itu dengan penalaran yang bening. Apa untungnya seandainya Kangjeng adipati benar-benar telah memerintahkan membunuh Raden Tumenggung Wreda Reksayuda? Orang tua itu sudah tidak mempunyai pengaruh apa-apa di Sendang Arum.”

“Tetapi kematiannya di tangisi oleh banyak orang.”

“Bukan karena peran Raden Tumenggung Reksayuda sendiri. Tetapi lebih banyak karena hasutan Raden Ayu Reksayuda yang menuntut keadilan. Dengan kasar Raden Ayu Reksayuda telah menghasut orang-orang Sendang Arum untuk mendapat keuntungan dari kematian suaminya.”

Orang-orang yang mendengarkannya mengangguk-angguk kecil. Namun mereka pun kemudian meyakini, bahwa ada yang tidak wajar telah terjadi di Sendang Arum. Pemberontakan itu terjadi bukan karena rakyat sejak semula meyakini bahwa Kangjeng Adipati telah memerintahkan membunuh Raden Tumenggung Wreda Reksayuda. Tetapi baru kemudian, setelah Raden Ayu Reksayuda menghasut mereka bersama Ki Tumenggung Jayataruna. Namun Ragajaya dan Ragajati meyakinkan rakyat Sendang Arum, bahwa Ki Tumenggung Jayataruna pada saat terakhir telah menghadap Kangjeng Adipati untuk menyatakan penyesalannya.

 “Nah, sekarang kekuatan asing telah berada di Sendang Arum” berkata Ragajaya.

“Kekuatan asing yang mana” bertanya seseorang.

“Kangjeng Adipati dari Pucang Kembar sudah berada di Sendang Arum bersama pasukannya.”

Orang itu mengangguk-angguk. Sementara Ragajaya pun berkata, “Segala sesuatunya terserah kepada kalian. Apakah kalian akan berdiri di pihak Kangjeng Adipati, atau akan berdiri di pihak para pemberontak.”

“Kami akan tetap berdiri dibelakang Kangjeng Adipati” sahut beberapa orang hampir bersamaan.

Dengan demikian, maka baik Jalawaja dan Suratama mendapat keyakinan bahwa sebenarnyalah bahwa Rakyat Sendang Arum masih tetap setia kepada Kangjeng Adipati Wirakusuma.

Sementara itu, Ki Tumenggung Reksabawa pun dengan diam-diam telah menemui beberapa orang senapati. Beberapa orang Senapati mengaku bahwa mereka telah terjebak kedalam perangkap Ki Tumenggung Jayataruna dan Raden Ayu Reksayuda.

“Pada saat terakhir, Ki Tumenggung Jayataruna telah menyatakan kesetiaannya kepada Kangjeng Adipati Wirakusuma,”

“Pada saat-saat terakhirnya“ sahut seorang senapati.

“Ya. Pada saat menjelang ajalnya. Ki Tumenggung Jayataruna menyesali segala perbuatannya. Ternyata ia telah dijadikan alat yang hidup oleh Raden Ayu Reksayuda.”

“Ya. Kami sudah menduga. Apalagi sekarang di Sendang Arum telah hadir kekuatan dari Pucang Kembar. Baru mata kami mulai terbuka.”

“Kenapa kalian tidak berbuat apa-apa?”

“Kami memerlukan seorang yang dapat mengikat kami menjadi satu kesatuan yang utuh. Selama ini kami masih ragu-ragu, apakah yang harus kami lakukan, karena kami masih saja saling mencurigai. Kami tidak tahu siapakah yang sejalan dengan kami, dan siapakah yang berdiri berseberangan dengan kami.”

“Baik. Aku akan menjadi perantara. Aku akan menghubungi beberapa orang Senapati. Aku akan mencari kesempatan untuk dapat mempertemukan kalian. Hanya mereka yang tidak meragukan. Jika kalian sudah menyatakan sikap, maka akan jelas, siapakah yang akan berpihak kepada kita dan siapakah yang akan memusuhi kita.”

“Baik, Ki Tumenggung. Kami akan mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Pasukanku hanya kecil saja. Tetapi jika beberapa kesatuan dapat bergabung, maka kami akan berani menyatakan diri dengan terbuka.”

“Baiklah. Aku memerlukan waktu satu dua hari.“

Ternyata Ki Tumenggung Reksabawa tidak mengenal lelah. Hari itu ia berhasil menghubungi tiga orang Senapati yang masing-masing memimpin satu kesatuan. Meskipun kesatuan mereka termasuk kesatuan kecil, tetapi jika sikap mereka meyakinkan, maka mereka akan dapat menjadi landasan perjuangan selanjutnya.

Dihari berikutnya Ki Tumenggung Reksabawa dapat menghubungi lagi dua orang Senapati, sehingga Ki Reksabawa telah memberanikan diri untuk menyelenggarakan satu pertemuan kecil diantara para Senapati itu.

Ternyata para senapati itu sepakat untuk mempersiapkan diri melawan kekuasaan yang untuk sementara berada di tangan Raden Ayu Reksayuda.

“Jika benturan kekerasan mulai terjadi, maka aku yakin akan banyak sekali prajurit yang terbuka matanya. Mereka akan segera mengambil sikap melawan Raden Ayu Reksayuda“ berkata seorang Senapati.

“Ya “jawab Senapati yang lain, “kami memang merasa terjebak ketika kami menyatakan dukungan kami terhadap Raden Ayu Reksayuda. Justru karena sikap Ki Tumenggung Jayataruna. Namun ternyata bahwa Tumenggung Jayataruna itu pun tidak lebih dari sekedar alat bagi Raden Ayu Reksayuda. Pada saat tidak diperlukan lagi, maka alat itu akan dimusnahkannya. Demikian pula dengan kita kelak.”

“Nah, jika demikian bersiaplah. Pada saatnya akan ada isyarat bahwa kita akan bertindak.”

“Tetapi lawan kita terlalu berat sekarang. Pasukan Pucang Kembar segelar-sepapan sudah berada di Sendang Arum.”

“Itu satu bukti bahwa telah telah terjadi pengkhianatan. Bukan sekedar pemberontakan. Pemberontakan masih mungkin didorong oleh cita-cita tinggi serta keyakinan, meskipun diletakkan pada cara yang tidak dapat dibenarkan. Tetapi pengkhianatan sama sekali tidak lagi mempunyai landasan selain pamrih pribadi” berkata Ki Tumenggung Reksabawa.

Para Senapati itu pun mengangguk-angguk.

Demikianlah, maka Ki Reksabawa pun kemudian meyakini, bahwa sebagian dari prajurit Sendang Arum masih tetap setiap kepada Kangjeng Adipati Wirakusuma, Mungkin masih ada yang lain, tetapi sulit untuk menghubungi mereka. Apalagi jika kesetiaan mereka itu masih terselubung, sehingga Ki Tumenggung Reksabawa tidak melihat.

Namun dalam pada itu, dalam perjalanannya menjelajahi daerah Sendang Arum, maka Jalawaja, Suratama, Ragajaya dan Ragajati telah mendapat pernyataan dari beberapa kademangan yang bersedia mendukung perjuangan Kangjeng Adipati. Mereka telah mempersiapkan anak-anak muda mereka untuk bergabung dengan pasukan yang setia kepada Kangjeng Adipati.

Dengan demikian, ketika semuanya itu telah dilaporkan kepada Kangjeng Adipati Wirakusuma oleh Ki Tumenggung Reksayuda serta keempat anak-anak muda yang telah menyatakan kesetiaannya kepada Kangjeng Adipati itu, maka Kangjeng Adipati pun segera mengadakan persiapan-persiapan.

Ki Tumenggung Reksabawa serta keempat anak muda itulah yang pertama-tama datang ke sebuah kademangan yang telah menyatakan dukungan sepenuhnya kepada Kangjeng Adipati. Ki Demang di Karanggayam itu mengaku pernah dihubungi oleh Ki Tumenggung Jayataruna untuk ikut serta mendukung Raden Ayu Reksayuda. Tetapi Ki Demang yang meragukan kebersihan niat Raden Ayu Reksayuda tidak pernah menanggapinya, meskipun pada waktu itu, Ki Demang tidak berani dengan terang-terangan menentangnya.

Baru kemudian, setelah segala persiapan di kademangan itu mapan, maka Kangjeng Adipati, Raden Ajeng Ririswari serta Ki Ajar Anggara telah berada di kademangan itu pula. Menyertai Kangjeng Adipati dan Ki Ajar adalah anak-anak muda padukuhan disekitar pondok Ki Ajar Anggara di lereng bukit yang berguru kepadanya, berlatih kanuragan serta mempelajari berbagai macam ilmu yang lain, termasuk meningkatkan tata pertanian di padukuhan mereka masing-masing.

Dalam pada itu, Ki Demang Karanggayam pun telah mempersiapkan anak-anak mudanya pula. Bukan hanya anak-anak muda, tetapi juga setiap laki-laki yang menyatakan diri dan bersedia ikut serta mendukung jalan kembali Kangjeng Adipati ke  dalem kadipaten di Sendang Arum.

Selain mereka, maka beberapa kesatuan prajurit pun telah berada di kademangan itu pula. Meskipun dibandingkan dengan kekuatan yang ada di kadipaten Sendang Arum masih belum memadai, tetapi sebagai landasan perjuangan untuk merebut kembali kadipaten Sendang Arum dari tangan Raden Ayu Reksayuda agaknya sudah cukup memadai.

Dengan landasan kekuatan yang ada itu, maka Kangjeng Adipati pun segera menyatakan diri akan keberadaannya di Karanggayam, serta menyatakan niatnya untuk dalam waktu dekat menyerang dan merebut kembali kekuasaan di Sendang Arum.

Pernyataan Kangjeng Adipati itu memang mengejutkan. Ketika pernyataan Kangjeng Adipati itu terdengar oleh Kangjeng Adipati Jayanegara dari Pucang Kembar yang sedang berada di Sendang Arum serta Raden Ayu Reksayuda, maka mereka pun segera memanggil para senapati dari Sendang Arum, maupun para Senapati dari Pucang Kembar.

“Mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa Raden Ayu” berkata seorang Senapati Sendang Arum yang telah menyatakan kesetiaannya kepada Raden Ayu Reksayuda.

“Bagaimanapun juga pernyataan mereka tentu akan membuat para prajurit gelisah“ sahut Raden Ayu Reksayuda.

“Jadi bagaimana menurut Raden Ayu? Apakah aku harus pergi ke Karanggayam untuk menyelesaikan mereka? Aku kira aku tidak akan memerlukan waktu yang lama.”

Raden Ayu Reksayuda itu pun termangu-mangu sejenak. Ketika ia berpaling kepada Kangjeng Adipati Jayanegara, maka Kangjeng Adipati pun berkata, “Jika kakangmbok sependapat, biarlah Ki Rangga Kertawira berangkat membawa prajuritnya untuk menghancurkan kekuatan yang masih mencoba mengembalikan kekuasaan Adipati Wirakusumai itu.”

“Baiklah. Biarlah kakang Rangga pergi ke Karanggayam. Mumpung api itu baru sepeletik. Jika api itu nanti menjadi semakin besar, maka seluruh negara ini akan terbakar.”

“Aku mohon restu Raden Ayu. Aku akan menghancurkan pasukan yang baru dihimpun oleh Kangjeng Adipati itu.”

“Bawa prajurit sebanyak dapat kau kumpulkan kakang Ranga. Jangan sampai gagal. Jika Kangjeng Adipati itu sempat lolos, maka pekerjaan kita akan menjadi semakin berkepanjangan.”

“Baik, Raden Ayu. Besok pagi-pagi kami akan berangkat.”

“Lakukan tugasmu baik-baik, Kakang Rangga. Kali ini tugasmu akan menentukan akhir dari perjuangan kita.”

“Sekarang kau minta diri. Aku akan membuat persiapan-persiapan seperlunya.”

Ki Rangga Kertawira pun segera mengundurkan diri untuk mempersiapkan pasukannya yang akan dibawanya ke Karanggayam.

Ki Rangga pun kemudian telah memberikan perintah kepada beberapa orang Lurah Prajurit untuk bersiaga. Mereka akan berangkat ke Karanggayam malam nanti, di dini hari. Mereka memperhitungkan bahwa mereka akan sampai ke Karanggayam menjelang fajar.

Mereka sempat beristirahat sejenak. Pada saat matahari terbit, mereka akan menyerang kademangan Karanggayam dari bebetapa arah. Mereka harus menjaga agar Kangjeng Adipati Wirakusuma tidak dapat lolos dari tangan mereka.

Demikian malam turun, maka para Lurah Prajurit itu pun segera memperingatkan para prajuritnya agar segera pergi tidur.

“Tengah malam kalian harus sudah bangun. Kemudian berjalan menuju ke kademangan Karanggayam yang menjadi landasan kekuatan Kangjeng Adipati Wiranegara dalam usahanya untuk merebut kembali kekuasaannya.”

Para prajurit itu pun kemudian pergi tidur. Namun ketika mereka sudah berbaring ada saja yang masih berbincang dengan kawan-kawannya.

“Kenapa kita harus berpihak kepada Raden Ayu Reksayuda?” bertanya seorang prajurit, “keberadaan Kangjeng Adipati Jayanegara di Kadipaten Sendang Arum, mengganggu kemandirian kadipaten ini.”

“Nampaknya Raden Ayu Reksayuda kurang yakin akan kekuatannya sendiri.”

Seorang prajurit yang lain pun berdesis, “Nampaknya mereka memang meremehkan kita.”

Mereka terdiam ketika Ki Lurah datang untuk mengamati para prajurit. Apakah mereka benar-benar sudah tidur atau tidak.

Ketika Ki Lurah itu melihat masih banyak prajurit yang masih belum tidur, maka Ki Lurah itu pun berkata, “Sejak tengah malam nanti, kalian tidak akan mempunyai kesempatan untuk beristirahat. Jika kalian tidak memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, maka besok kalian akan kehabisan tenaga.”

Lurah Prajurit itu pun segera meninggalkan ruangan itu untuk pergi dan melihat ruang yang lain di barak itu.

Sebenarnyalah di tengah malam, para prajurit itu sudah bersiap. Mereka pun kemudian bergabung dengan kesatuan-kesatuan yang lain.

Sedikit lewat tengah malam, maka pasukan yang dipimpin oleh Ki Rangga Kertawira itu pun segera berangkat. Ternyata Raden Ayu Reksayuda memerlukan ikut melepas pasukan itu di alun-alun kadipaten Sendang Arum.

Di dini hari yang dingin, pasukan itu merayap mendekati kademangan Karanggayam.

Ketika terdengar ayam jantan berkokok untuk kedua kalinya, maka Ki Rangga Kertawira memerintahkan pasukannya untuk berhenti di sebuah pategalan yang luas.

“Masih agak jauh, Ki Rangga” berkata seorang Lurah Prajurit.

“Tidak. Bukankah melintasi dua bulak lagi kita akan sampai ke kademangan karanggayam?”

“Ya, Ki Rangga. Tetapi kita dapat maju lagi menyeberangi satu bulak panjang. Kita berhenti di padukuhan yang berseberangan dengan padukuhan pertama di Kademangan Karanggayam.

Ki Rangga termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berkata, “Aku ingin melihat keadaan medan. Kita belum tahu pasti, apakah pertahanan Kangjeng Adipati benar-benar hanya sebatas Kademangan Karanggayam. Jika pertahanan Kangjeng Adipati ada di luar kademangan, kita akan dapat terjebak di padukuhan sebelah.”

Ki Lurah mengangguk-angguk. Ia dapat mengerti jalan pikiran Ki Rangga Kertawira.

Ki Rangga itu pun kemudian bahkan telah memanggil lima orang Lurah Prajurit yang ikut dalam pasukannya.

“Marilah. Kita berenam melihat apa yang ada di padukuhan di depan kita”

“Kita sendiri yang pergi ke padukuhan itu, Ki Rangga?”

“Ya. Kita sendiri. Aku kurang yakin akan kemampuan prajurit sandi kita.”

Kelima orang Lurah prajurit itu tidak dapat mengelak. Ki Rangga sendiri juga pergi untuk lihat-lihat keadaan di padukuhan yang ada di depan mereka.

Enam orang pemimpin prajurit dari Sendang Arum yang telah berada di bawah penganih Ki Tumenggung Jayataruna itu pun segera menyeberang bulak panjang. Ketika mereka sampai di padukuhan di depan mereka, agaknya padukuhan itu masih tertidur lelap. Tidak ada seorang pun yang nampak berada di luar rumahnya.

Dengan hati-hati keenam orang itu memasuki lorong kecil menuju kejantung padukuhan.

“Tunggu di sini” berkata ki Rangga Kertawira, “aku akan melihat keadaan di banjar padukuhan”

Ke lima orang Lurah prajutit itu pun menunggu ketika Ki Rangga Kertawira menyelinap menyeberang jalan utama padukuhan itu, masuk lewat regol banjar yang terbuka.

Beberapa saat kemudian, Ki Rangga itu pun telah kembali ke lima lurah yang ditinggalkannya.

“Marilah. Kita pergi ke banjar.”

“Untuk apa?”

“Kita lihat, apakah padukuhan ini dapat kita pergunakan sebagai landasan untuk menyerang kademangan Karanggayam. Keputusan kita akan kita bawa kepada para prajurit yang kita tinggalkan.”

Kelima orang Lurah prajurit itu pun kemudian mengikuti Ki Rangga Kertawira menyeberangi jalan utama masuk ke halaman banjar yang sepi.

Banjar padukuhan itu adalah banjar yang termasuk besar dan berhalaman luas. Demikian mereka berada di .halaman, Ki Rangga pun berkata, “Apakah kita akan membawa pasukan kita kemari?”

“Ki Rangga“ berkata seorang lurah prajurit, “bukankah kita tidak memerlukan tempat seperti ini? Kita hanya akan berhenti untuk beristirahat sebentar. Saat matahari akan terbit, kita sudah harus memasuki kademangan Karanggayam.”

“Apakah kita yakin akan dapat menyelesaikan pertempuran itu dalam sehari?”

“Seberapa kekuatan Kangjeng Adipati yang ada di Karanggayam itu?”

“Kita tidak tahu pasti. Tetapi yang kita tahu, beberapa orang Senapati telah menyatakan kesetiaan mereka kepada Kangjeng Adipati. Mereka telah menemukan keseimbangan penalaran mereka kembali menghadapi keadaan di Sendang Arum”

“Apa maksud Ki Rangga?” bertanya seorang Lurah prajurit.

 “Kita telah tersuruk memasuki jalan sesat. Kita tidak akan pernah sampai ke tujuan. Kemuliaan dan kesejahteraan yang merata di Sendang Arum”

“Kenapa?” bertanya Lurah yang lain.

“Keberadaan Kangjeng Adipati Jayanegara di Sendang Arum telah membuat mata kita terbuka?”

“Apa yang kita lihat sekarang?”

“Kenapa Kangjeng Adipati Jayanegara berada di Sendang Arum bersama pasukan segelar-sepapan?”

“Bukankah itu pertanda bahwa Raden Ayu Reksayuda sudah membuka hubungan baik dengan kadipaten tetangga? Kangjeng Adipati Jayanegara telah datang untuk membantu menegakkan kewibawaannya.”

“Kenapa harus melibatkan campur tangan orang asing? Lalu kenapa Ki Tumenggung Jayataruna yang menjadi kaitan kita dengan kekuasaan di Sendang Arum terusir?”

Para Lurah itu pun terdiam.

“Nah, kita sekarang mempunyai kesempatan untuk menilai langkah-langkah kita selanjutnya. Kangjeng Adipati Wirakusuma telah menyatakan dirinya tetap memegang kekuasaan di Sendang Arum meskipun tidak berkedudukan di di pusat pemerintahan. Pernyataan itu akan segera tersebar dan rakyat pun akan segera bangkit. Sekarang, terserah kepada kita, apakah kita akan terus berjalan di jalan sesat atau kita mencari jalan kembali.”

Para Lurah prajurit itu terdiam. Mereka mulai memikirkan kemungkinan-kemunngkinan yang dapat terjadi di masa depan.

Sementara itu, Ki Rangga pun berkata, “Nah, kita harus memilih sekarang. Mendukung kembalinya Kangjeng Adipati atau membiarkan Kangjeng Adipati Jayanegara berkuasa di Sendang Arum. Karena aku yakin bahwa Raden Ayu Reksayuda akan segera dikendalikan oleh Kangjeng Adipati Jayanegara.”

Para Lurah itu masih tetap berdiam diri. Namun mereka pun terkejut ketika tiba-tiba saja muncul seseorang dari kegelapan. Seorang yang mereka kenal dengan baik. Kita Tumenggung Reksabawa.

“Ki Tumenggung Reksabawa” desis para lurah itu hampir berbarengan.

“Ya. Aku adalah Tumenggung Reksabawa.”

“Aku telah mengirim utusan sebelumnya untuk menghubungi Ki Tumenggung” berkata Ki Rangga, “karena itu aku ajak para lurah prajutit untuk datang ke banjar ini.”

“Aku berterima kasih atas kesediaan para Lurah Prajurit untuk datang. Tetapi aku pun merasakan getar keragu-raguan kalian. Tidak akan ada paksaan bagi kalian.  Kalian adalah orang-orang dewasa yang sudah mandiri lahir dan batin. Karena itu kalian dapat memilih.”

Kelima orang lurah prajurit itu masih saja termangu-mangu. Sementara itu, Ki Tumenggung pun berkata, “Sebaiknya kalian bertemu langsung dengan orang-orang yang sedang kita bicarakan sekarang”

Jantung para lurah prajurit Sendang Arumm itu menjadi berdebaran. Bahkan juga Ki Rangga Kertawira.

Ketika pintu pringgitan banjar itu terbuka, maka dari ruang dalam muncul seorang yang sudah mereka kenal dengan sangat baik. Kangjeng Adipati, diiringi oleh ampat orang anak muda yang telah bekerja keras untuk memantapkan kembali dukungan rakyat Sendang Arum kepada Kangjeng Adipati Wirakusuma.

Dengan lantang Ki Tumenggung Reksabawa pun berkata, “Seorang dari anak-anak muda itu adalah angger Jalawaja, putera Raden Tumenggung Wreda Reksayuda. Anak tiri Raden Ayu Reksayuda yang sekarang menduduki dalem kadipaten. Seorang adalah angger Suratama. Putera adi Tumenggung Jayataruna, yang atas pesan terakhir ayahnya, telah menyatakan setianya kepada Kangjeng Adipati. Sedangkan kedua orang yang lain adalah anak-anakku.”

Ki Rangga Kertawira dan kelima orang Lurah itu berdiri mematung ketiak mereka melihat Kangjeng Adipati dan keempat orang anak muda itu berjalan ke tangga pendapa.

Namun tiba-tiba saja Ki Rangga Kertawira pun berlari dan langsung berjongkok di hadapan Kangjeng Adipati.

“Hamba mohon ampun Kangjeng Adipati. Hampa telah ikut berkhianat sehingga Kangjeng Adipati harus menyingkir dari dalem kadipaten”

“Kita masih mempunyai waktu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang pernah kitia lakukan Ki Rangga.”

“Hamba Kangjeng. Hamba mengucapkan terima kasih jika hamba masih mendapat kesempatan untuk memperbaiki kesalahan hamba.”

“Belum terlambat, Ki Rangga.”

Kelima lurah prajurit itu pun telah berjongkok pula di hadapan Kangjeng Adipati. Mereka pun segera mohon ampun dan menyatakan kesetiaan mereka kepada Kangjeng Adipati. Wirakusuma.

“Baiklah. Bawa pasukanmu kemari. Biar mereka berada di padukuhan ini.”

“Tetapi bukankah padukuhan ini masih belum termasuk Kademangan Karanggayam?”

“Lingkungan para pendukung Kangjeng Adipati tidak hanya kademangan Karanggayam, Ki Rangga” sahut Ki Tumenggung Reksabawa, “tetapi seluruh wilayah Kadipaten Sendang Arum.”

“Ya, ya. Ki Tumenggung benar.”

“Nah. Sekarang kembalilah ke pasukanmu. Jelaskan kepada mereka apa yang kalian ketemukan disini. Kemudian bawa mereka kemari. Sekali lagi, tidak ada paksaan. Yang menolak untuk bergabung dengan kami, persilahkan untuk pergi dan kembali kepada Raden Ayu Reksayuda serta Kangjeng Adipati Jayanegara.

Ki Rangga Kertawira bersama kelima orang Lurah prajurit itu pun segera minta diri untuk kembali ke pasukan mereka.

Ki Rangga dan para Lurah prajurit itu berada kembali di pasukannya pada saat bayangan fajar telah membayang. Waktu mereka tinggal sedikit. Para prajurit itu masih berpegang pada tugas yang dibebankan kepada mereka pada saat mereka berangkat dari alun-alun kadipaten Sendang Arum.

Ki Rangga pun segera mengumpulkan para prajuritnya. Ki Rangga itu pun kemudian berdiri didepan pasukannya. Di belakangnya berdiri lima orang Lurah prajurit.

Dengan hati-hati Ki Rangga menjelaskan pertemuannya dengan Kangjeng Adipati. Dengan penuh tanggung jawab Ki Rangga pun telah menyatakan sikapnya dihadapan para prajuritnya.

Ki Rangga pun menjadi berdebar-debar menunggu tanggapan para prajuritnya. Jika mereka menolak, Ki Rangga dan para lurah itu akan dapat dibantai oleh para prajurit. Sedangkan jika sikap para prajurit itu terbelah, maka akan terjadi pertempuran diantara mereka yang berbeda sikap.

Karena itu, Ki Rangga pun berkata, “Kangjeng Adipati tidak akan memaksa. Siapa yang memihaknya akan diterima dengan senang hati. Sedangkan yang menolaknya, dipersilahkan untuk meninggalkan tempat ini. Kangjeng Adipati tidak menghendaki kita saling membantai pagi ini.”

Belum seorang pun menyatakan sikapnya. Sehingga Ki Rangga itu pun berkata, “Aku pun memberi kalian kesempatan untuk memilih. Siapa yang tidak ingin menyatakan kesetiaannya kepada Kangjeng Tumenggung Wirakusuma, aku persilahkan untuk berdiri di sebelah kiri, dibawah pohon yang besar itu, menghadap kemari. Tidak akan ada tindakan apa-apa hari ini. Tetapi kelak, kalian yang berkhianat akan dihadapkan ke pengadilan di Kadipaten Sendang Arum.”

Ternyata tidak seorang pun yang beranjak dari tempatnya. Bahkan ketika sekali lagi dan sekali lagi Ki Rangga meneriakkannya, tetap saja semua prajurit berdiri di tempatnya.

“Jika demikian, terima kasih“ berkata Ki Rangga Kertawira, “kita adalah prajurit-prajurit yang hilang, yang berada di jalan pulang.”

Dengan demikian, maka kedudukan Kangjeng Adipati Wirakusuma pun menjadi semakin kokoh. Sejak saat itu pasukan Ki Rangga Kertawira telah menjadi bagian dari kekuatan Kangjeng Adipati Wirakusuma.

Berita tentang sikap Ki Rangga Kertawira ditanggapi dengan kemarahan yang seakan-akan telah membakar jantung Raden Ayu Reksayuda dan Kangjeng Adipati Jayanegara. Mereka menganggap bahwa Ki Rangga Kertawira itu telah berkhianat.

Berita yang menyakitkan itu, kemudian dari hari ke hari telah disusul oleh berita-berita yang pahit pula. Pasukan Kangjeng Adipati Wirakusuma telah bergerak mendekati pusat pemerintahan Sendang Arum. Para prajurit yang semula berpihak kepada Raden Ayu Reksayuda semakin banyak yang berbalik, kembali kepada Kangjeng Adipati Wirakusuma.

Namun Kangjeng Adipati Judanegara pun berkata, “Jangan cemas, kangmbok. Pasukanku segelar sepapan ada disini. Pasukanku akan membantu menghancurkan kekuatan Adipati Wirakusuma.”

“Terima kasih dimas. Aku mohon pasukan dimas Jayanegara segera diturunkan di medan”

“Aku sudah memerintahkannya. Sejak hari ini, mereka akan berada di medan pertempuran.”

“Terima kasih, dimas.”

Sebenarnyalah bahwa Kangjeng Adipati Jayanegara telah menurunkan pasukannya ke medan pepertempuran bersama-sama pasukan Sendang Arum yang masih terikat kepada Raden Ayu Reksayuda. Beberapa orang Senapati sempat mendapat janji-janji yang membuat mereka berharap pada sebuah mimpi untuk dapat menjadi kenyataan.

Namun di setiap pertempuran, pasukan Raden Ayu Reksayuda dan pasukan Kangjeng Adipati Jayanegara selalu terdesak mundur.

Para prajurit dari Pucang Kembar agaknya di dalam setiap pertempuran tidak bertempur dengan sepenuh hati. Mereka lebih banyak menghindar dan mengedepankan pasukan Sendang Arum yang masih berada di bawah pengaruh Raden Ayu Reksayuda.

Sementara itu pasukan Kangjeng Adipati Wirakusuma semakin lama menjadi semakin kuat. Beberapa kesatuan telah bergabung untuk memperkokoh kedudukan Kangjeng Adipati Wirakusuma. Sementara itu, Rakyat dimana-mana telah menyatakan kesetiaan mereka. Bahkan mereka telah membantu perjuangan Kangjeng Adipati Wirakusuma untuk memulihkan kembali kewibawaannya.

Daerah demi daerah telah direbut oleh pasukan Kangjeng Adipati Wirakusuma, sehingga semakin lama menjadi semakin mendekati pusat pemerintahan Sendang Arum.

Laporan pun datang susul menyusul tentang kemajuan pasukan yang bergerak menuju ke kota.

Di luar pengetahuan Raden Ayu Reksayuda, Kangjeng Adipati Jayanegara pun telah berunding dengan para Senapatinya, apakah yang sebaiknya mereka lakukan selanjutnya.

“Raden Ayu Reksayuda tidak akan-mungkin dapat bertahan lagi, Kangjeng” berkata salah seorang Senapati dari Pucang Kembar.

“Ampun Kangjeng” berkata Senapatinya yang lain, “jika kita masih harus tetap bertahan, maka kedudukan kita akan menjadi semakin sulit.”

“Menurut pendapatku, Kangjeng. Tidak ada gunanya mempertahankan kedudukan Raden Ayu Reksayuda. Pasukan Raden Ayu Reksayuda semakin lama semakin menyusut. Bukan karena mereka gugur dipertempuran, tetapi mereka memilih meninggalkan Raden Ayu Reksayuda dan kembali kepada Kangjeng Adipati Wirakusuma.”

“Jadi, bagaimana menurut pertimbangan kalian?”

“Kita tinggalkan Sendang Arum. Kita kembali ke Pucang Kembar.”

“Baiklah. Aku akan mengajak kangmbok Reksayuda agar kangmbok bersedia pergi ke Pucang Kembar.”

“Kenapa harus dengan Raden Ayu Reksayuda?”

“Apakah aku harus meninggalkan kangmbok Reksayuda dalam keadaan yang sangat gawat ini?“

“Persoalannya adalah persoalan di dalam batas-batas kadipaten Sendang Arum. Biarlah Sendang Arum sendiri menyelesaikannya. Termasuk persoalan Raden Ayu Reksayuda.”

“Tetapi aku ikut bertanggung jawab terhadap gejolak yang. terjadi di Sendang Arum.”

“Kenapa Kangjeng ikut bertanggug jawab?”

Kangjeng Adipati Jayanegara justru terdiam. Di sorot matanya memancar gejolak yang terjadi didalam dadanya.

“Kangjeng“ berkata seorang Senapatinya, “jika Kangjeng membawa Raden Ayu Reksayuda, itu akan dapat menjadi alasan Kangjeng Adipati untuk memburunya dan memasuki tlatah Pucang Kembar. Sementara itu Rakyat Sendang Arum yang sedang dibakar oleh kemarahan karena sikap Raden Ayu Reksayuda yang telah memberontak melawan Kangjeng Adipati. Kangjeng. Seandainya Pucang Kembar mampu mempertahankan diri dan mendesak pasukan Sendang Arum keluar, namun mereka tentu meninggalkan korban yang banyak sekali. Prajurit maupun rakyat Pucang Kembar yang tidak bersalah. Karena itu, hamba mohon, Kangjeng jangan membawa Raden Ayu Reksayuda.“

“Jadi aku harus minta diri dan memaksa kangmbok Reksayuda tinggal?”

“Kenapa harus minta diri. Kangjeng dapat begitu saja keluar dari dalem kadipaten ini dan selanjutnya bersama seluruh pasukan meninggalkan Sendang Arum.”

“Aku akan memikirkannya” berkata Kangjeng Adipati Jayanegara kemudian.

Beberapa orang Senapatinya memang menjadi kecewa atas sikap Kangjeng Adipati Jayanegara. Mereka tahu, alasan apakah yang membuat Kangjeng Adipati Jayanegara bersedia membawa pasukannya ke Sendang Arum. Kangjeng Adipati sudah menyatakan kepada para pemimpin di Pucang Kembar, bahwa Pucang Kembar harus menanamkan pengaruhnya di Sendang Arum. Ia mendukung pemberontakan Raden Ayu Reksayuda karena ia berharap bahwa daerah subur di perbatasan serta tambang emas yang ada di bukit yang memagari kedua kadipaten itu akan menjadi imbalan bantuannya itu. Selanjutnya lalu lintas perdagangan dari Pucang Kembar akan mendapat perlakuan yang baik pada saat melintasi daerah Sendang Arum.

Tetapi para Senapati itu mempunyai pendapat lain. Mungkin alasan yang dikatakan oleh Kangjeng Adipati itu benar. Namun sebenarnyalah bahwa kecantikan Raden Ayu Reksayuda yang sudah menjadi janda itulah yang memberi dorongan terkuat kepada Kangjeng Adipati untuk membantu janda yang masiih muda dan cantik itu.

Tetapi pengorbanan yang diberikan oleh Kangjeng Adipati agak terlalu banyak. Beberapa orang prajuritnya gugur di Sendang Arum.

“Apakah nilai perempuan itu sebanding dengan beberapa nyawa kawan-kawan kita“ berkata seorang Senapati.

Dalam pada itu, pasukan Sendang Arum yang setia kepada Kangjeng Adipati mendesak semakin maju. Gerak mereka sudah tidak tertahankan lagi, sehingga pada suatu malam, pasukan Kangjeng Adipati telah mengepung kota.

Gerakan di malam hari itu, tidak terduga sebelumnya oleh pasukan Raden Ayu Reksayuda, sehingga dengan demikian, maka mereka tidak mampu menghambat pasukan yang bergerak melingkari kota itu.

Dua orang prajurit berlari-lari masuk dalem kadipaten memberikan laporan tentang gerakan pasukan Sendang Arum yang setia kepada Kangjeng Adipati itu.

Raden Ayu Reksayuda yang sedang tidur itu pun terkejut. Dengan tergesa-gesa Raden Ayu itu pun keluar dari ruang dalam.

“Ada apa?”

“Ampun Raden Ayu. Pasukan Kangjeng Adipati melakukan gerakan di malam hari. Mereka telah mengepung kota.”

“Bagaimana dengan pasukan kita?”

“Pasukan kita yang tidak mengira akan ada gerakan di malam hari telah menarik di ke dalam kota.”

“Pasukan Pucang Kembar?”

“Kami sudah tidak melihat lagi pasukan Pucang Kembar?”

“He, jangan mengigau.”

“Benar Raden Ayu. Tidak ada lagi pasukan Pucang Kembar. Sejak malam turun, pasukan Pucang Kembar sudah ditarik dan seakan-akan telah lenyap dari Sendang Arum”

“Kau tidak berceloteh?”

“Tidak Raden Ayu.”

Raden Ayu Reksayuda itu pun segera berlari ke bilik tidur yang dipergunakan oleh Kangjeng Adipati Pucang Kembar. Ternyata bahwa bilik itu kosong. Di dalem kadipaten itu tidak lagi terlihat seorang pun prajurit dari Pucang Kembar. Para senapatinya pun seakan-akan telah lenyap di telan bumi.

“Dimas, dimas” Raden Ayu Reksayuda pun berteriak-teriak seperti orang kehilangan akal. Tetapi Kangjeng Adipati Pucang Kembar tidak menjawab.

Seorang prajurit yang bertugas di pintu gerbang sebelah Timur pun kemudian menghadap Raden Ayu Reksayuda dan berkata, “Kangjeng Adipati dan para Senapatinya telah keluar lewat pintu gerbang sebelah Timur, Raden ayu.”

“Kemana? Apakah Kangjeng Adipati Pucang Kembar mengatakannya?”

“Menurut seorang senapati, mereka akan menghentikan gerak maju pasukan Kangjeng Adipati Wirakusuma.”

“Apakah kau tahu, kemana Kangjeng Adipati Pucang Kembar membawa pasukannya?”

“Aku tidak tahu, Raden Ayu.”

Namun dua orang prajurit yang lala untuk memberikan laporan.

“Apa yang ingin kau laporkan?”

“Ampun Raden Ayu. Kangjeng Adipati Pucang Kembar dan pasukannya telah meninggalkan kota, justru sebelum pasukan Kangjeng Adipati Wirakusuma mengepung kota ini”

“Kemana?”

“Kami tidak tahu Raden Ayu. Tetapi jalan yang ditempuh justru jalan yang semakin jauh dari kota.“

“Keparat. Keparat. Dalam keadaan yang gawat, dimas Adipati meninggalkan aku sendiri.”

Tubuh Raden Ayu Reksayuda tiba-tiba menjadi lemas. Tulang-tulangnya bagaikan terlepas dari sendi-sendinya.

“Prajurit. Apa yang harus aku lakukan“

“Masih ada sepasukan prajurit yang siap mempertahankan kota ini, Raden Ayu”

“Siapakah Senapatinya?”

“Ki Rangga Wira Sembada”

“Ki Rangga Wira Sembada?”

“Ya.”

Luka di hati Raden Ayu Reksayuda serasa menjadi semakin pedih. Ki Rangga Wira Sembada adalah seorang yang wajahnya cacat oleh beberapa bekas luka karena goresan senjata. Meskipun ia mempunyai kemampuan yang sangat tinggi, tetapi Ki Rangga sangat tidak menarik di mata Raden Ayu Reksayuda. Sementara itu, Raden Ayu Reksayuda menyadari, bahwa kesetiaan Ki Rangga tentu bukannya tanpa maksud, justru pada saat prajurit yang setiap kepada Raden Ayu Reksayuda menjadi semakin tercepit.

Dalam pada itu, pasukan Pucang Kembar telah meninggalkan kota. Mereka berusaha untuk secepat-cepatnya menjauhi Sendang Arum. Mereka berharap bahwa esok pagi-pagi mereka sudah berada di tempat yang tidak lagi terjangkau oleh pasukan Sendang Arum.

Tetapi Kangjeng Adipati Pucang Kembar tidak menyadari, bahwa pasukan Sendang Arum telah bergerak di malam hari. Dua orang petugas sandi sempat memberikan laporan, bahwa Kangjeng Adipati Pucang Kembar telah membawa pasukannya meninggalkan kota.

“Agaknya mereka akan kembali ke Pucang Kembar, Kangjeng” berkata petugas sandi itu.

Kangjeng Adipati Wirakusuma tertarik kepada laporan itu. Karena itu, maka ia pun bertanya “Jadi, tidak ada kekuatan lagi yang dapat mempertahankan kota.”

“Ki Rangga Wira Sembada masih berada di kota. Agaknya Ki Rangga Wira Sembada tetap setia kepada Raden Ayu Reksayuda.”

“Bagus” berkata Kangjeng Adipati Wirakusuma, “jangan kendorkan kepungan atas kota pusat pemerintahan Sendang Arum. Kita akan membagi kekuatan. Sebagian ikut aku. Kita akan memotong perjalanan Kangjeng Adipati Pucang Kembar.”

“Hamba Kangjeng. Hamba akan membagi tugas. Hamba akan membawa sepasukan prajurit untuk memotong pasukan Pucang Kembar.”

“Akulah yang akan memimpin pasukan itu.”

Ki Tumenggung Reksabawa tidak dapat mengelak ketika Kangjeng Adipati Wirakusuma memberikan perintah, “Kakang Tumenggung harus mengawasi pasukan yang mengepung kota. Janngan ada seekor lalat pun yang sempat terbang keluar.”

“Hamba Kangjeng” jawab Ki Tumenggung.

Dalam pada itu, maka Kangjeng Adipati Wirakusuma sendiri telah memimpin pasukan yang kuat untuk memotong perjalanan pasukan Pucang Kembar. Dengan menempuh jalan pintas, Kangjeng Adipati memperhitungkan bahwa pasukannya akan mampu menyergap pasukan Pucang Kembar.

Sebenarnyalah bahwa pasukan Sendang Arum telah sampai lebih dahulu di sebuah simpang ampat di tengah-tengah bulak. Dengan ketajaman penglihatan dua orang pencari jejak, mereka yakin bahwa pasukan Pucang Kembar masih belum lewat.

Pasukan Sendang Arum itu pun segera digelar di sepanjang jalan, diselimuti oleh bayangan pohon perdu di pinggir jalan.

Sebenarnyalah sejenak kemudian, maka pasukan Pucang Kembar yang berjalan dalam barisan yang teratur telah mendekati simpang ampat. Namun mereka sama sekali tidak mengira, bahwa pasukan Sendang Arum telah menunggunya.

Karena itu, ketika kemudian terdengar isyarat dari Kangjeng Adipati Wirakusuma kepada prajuritnya yang segera bangkit dan menyerang, pasukan Pucang Kembar terkejut karenanya.

Namun tidak ada kesempatan untuk memperbaiki kesalahan itu, Pasukan Sendang Arum dengan cepat berhasil menggulung pasukan Pucang Kembar.

Tetapi ketika pertempuran itu berakhir sebelum fajar, ternyata bahwa Kangjeng Adipati Jayanegara sempat luput dari tangan pasukan Sendang Arum.

Kemarahan telah membakar jantung Kangjeng Adipati Wirakusuma, bahwa Kangjeng Adipati Jayanegara sempat meloloskan diri.

Dalam hiruk-pikuk pertempuran, beberapa orang pengawal setia Kangjeng Adipati Jayanegara telah membawanya menyusup diantara semak-semak dan hilang dari medan.

Kemarahan Kangjeng Adipati Wirakusuma pun kemudian ditujukan kepada Raden Ayu Reksayuda. Karena itu, maka, Kangjeng Adipati Wirakusuma telah membawa pasukannya kembali menghadap ke dinding kota.

“Kita akan memasuki kota demikian matahari terbit“ berkata Kangjeng Adipati kepada Ki Tumenggung Reksabawa serta kepada para Senapati. Kemudian kepada keempat anak muda yang selalu menyertainya, Kangjeng Adipati berkata, “Kalian ikut aku. Kita harus segera masuk dalem kadipaten agar kita tidak kehilangan kangmbok Reksayuda.”

Jantung Jalawaja terasa berdebaran. Ia sama sekali tidak ingin bertemu dengan perempuan itu. Tetapi ia tidak dapat mengelakkan perintah pamannya. Bahwa ia harus menyertainya masuk kedalam istana.

Sebelum matahari terbit, Kangjeng Adipati Wirakusuma telah berada di depan pintu gerbang kota. Sekelompok prajurit telah mempersiapkan sebatang kayu yane besar. Dengan diusung oleh sekelompok prajurit, balok kayu itu akan dibenturkan pintu gerbang berulang kali, sehingga pintu gerbang itu pecah.

Di dalam dinding kota, sepasukan prajurit dibawah pimpinan Ki Rangga Wira Sembada pun sudah siap pula. Sebagian besar dari mereka berada di depan pintu gerbang. Demikian pintu gerbang dipecahkan, maka mereka akan segera menyergap para prajurit yang akan memasuki gerbang itu.

Sebenarnyalah ketika cahaya langit di sebelah timur menjadi semakin terang, maka Kangjeng Adipati pun telah menjatuhkan perintah untuk menembus pintu gerbang. Perintahnya disahut oleh para Senapati sehingga perintah itu seakan-akan telah bergema di sekeliling dinding kota.

Seperti yang sudah direncanakan, maka sekelompok prajurit telah berusaha memecahkan pintu gerbang kota. Sementara yang lain mempergunakan tangga-tangga bambu yang juga sudah dipersiapkan, memanjat meloncati dinding.

Dengan empat kali hentakkan, maka pintu gerbang kota itu pun telah menjadi retak. Pada hentakkan kelima, kemudian keenam, pintu gerbang kota itu pun telah roboh.

Para prajurit yang berada di belakang pintu gerbang itu pun telah bersiap menyambut pasukan yang akan segera menyerbu masuk.

Namun bersamaan dengan itu, kelompok-kelompok prajurit Sendang Arum telah berhasil memanjat dinding dengan tangga-tangga bambu. Mereka pun segera berloncatan memasuki dinding kota.

Para prajurit yang mempertahankan kota itu dibawah pimpinan Ki Rangga Wira Sembada segera mengalami kesulitan. Pasukan yang memasuki pintu gerbang itu bagaikan arus banjir bandang. Sementara itu, pasukan yang lain pun telah berada di dalam dinding kota pula. Sehingga dengan demikian, maka dalam waktu yang terhitung singkat, pasukan yang bertahan itu segera terdesak mundur.

Satu-satunya kemungkinan terakhir bagi mereka adalah masuk ke dinding dalem kadipaten.

Dalam pada itu, Raden Ayu Reksayuda yang berada di dalem kadipaten menjadi semakin gelisah dan ketakutan. Tubuhnya menjadi gemetar dan wajahnya pun menjadi pucat. Lewat para penghubung, Raden Ayu Reksayuda selalu mengikuti perkembangan pertempuran yang terjadi di sekitar dalem kadipaten.

Pada saat-saat terakhir, rasa-rasanya nafas Raden Ayu Reksayuda itu seolah-olah tersumbat. Ia sudah membayangkan tali gantungan membelit di lehernya.

Namun Raden Ayu itu terkejut ketika tiba-tiba saja Ki Rangga Wira Sembada muncul. Nafasnya terengah-engah. Wajahnya yang cacat itu basah oleh keringat. Sementara bajunya yang terbuat dari bahan yang mahal, dengan perhiasan yang terbuat dari emas di bagian dadanya sebelah kiri, serta disulam dengan benang-benang yang juga berwarna emas, telah basah oleh darah.

“Raden Ayu” berkata Ki Rangga dengan suara parau, “maaf, aku tidak mampu mempertahankan kota. Pasukan Adipati Wira-kusuma terlalu banyak. Mereka mengamuk seperti kerasukan iblis. Sekarang, marilah. Kita meninggalkan tempat ini. Aku tahu jalan rahasia yang akan dapat membebaskan kita dari tangan pasukan Wirakusuma itu.”

“Kita akan pergi kemana?” bertanya Raden Ayu Reksayuda.

“Kemana saja asal terlepas dari tangan Wirakusuma.”

Raden Ayu Reksayuda termangu-mangu sejenak. Ketika ia memandang wajah Ki Rangga, tiba-tiba saja tengkuknya meremang. Di wajahnya yang cacat karena luka dan buruk itu memancar sorot matanya yang merah menyala seperti bara api. Bukan sorot mata seorang senapati, tetapi sorot mata seorang laki-laki kasar di-hadapan seorang perempuan cantik.

Karena itu, maka dengan serta-merta Raden Ayu itu pun menjawab, “Ki Rangga. Aku akan tetap berada disini. Seandainya hari ini aku dapat melepaskan diri, tetapi aku akan menjadi buruan sampai kapan pun, sehingga saatnya aku tertangkap.”

“Raden Ayu, tidak akan tertangkap. Kita dapat bersembunyi di tempat yang tidak akan terjangkau oleh Wirakusuma.”

“Tidak. Ki Rangga. Aku tetap disini.”

“Raden Ayu. Jangan sia-siakan kesetiaanku kepada Raden Ayu. Kita harus mempergunakan kesempatan terakhir ini untuk meloloskan diri. Kita harus terlepas dari tangan Adipati Wirakusuma”

“Tidak akan ada gunanya, Ki Rangga”

“Raden Ayu harus pergi.”

“Tidak. Jangan paksa aku.”

“Aku akan memaksa Raden Ayu.”

“Prajurit” teriak Raden Ayu Reksayuda.

Tetapi Ki Rangga berkata, “Prajurit-prajurit itu adalah pengawalku. Merekalah yang akan mengawal kita pergi melalui pintu rahasia”

“Tidak.”

Ki Rangga tidak sabar lagi. Tiba-tiba saja Ki Rangga menanglap tangan Raden Ayu Reksayuda dan menariknya untuk meninggalkan dalem kadipaten.

Tetapi pada saat yang bersamaan, Kangjeng Adipati Wirakusuma, Ki Tumenggung Reksabawa dan ampat orang anak-anak muda yang telah ikut bertempur bersama Kangjeng Adipati Wirakusuma telah memasuki ruangan itu. Sekelompok prajurit telah mengusir dan bahkan menangkap beberapa orang pengawal Ki Rangga Wira Sembada.

Tidak ada kesempatan lagi. Ternyata dihadapan Kangjeng Adipati Wirakusuma, Ki Rangga Wira Sembada itu seakan-akan tidak bertenaga lagi.

Ketika Raden Ayu Reksayuda bersimpuh di hadapan Kangjeng Adipati, maka Ki Rangga Wira Sembada pun telah berlutut pula.

“Ampun dimas” tangis Raden Ayu Reksayuda, “aku mohon ampun. Apa yang terjadi di Kadipaten Sendang Arum bukanlah gagasan hamba”

“Jadi gagasan siapa?”

“Dimas Adipati Jayanegara.”

“Kangmas Adipati Pucang Kembar?”

“Ya, Dimas.”

“Kangmbok sudah berhubungan dengan Kangmas Jayanegara sejak Kangmas Reksayuda masih berada di pengasingan?”

“Ya, dimas.”

“Jadi, bagaimana dengan kematian Kangmas Reksayuda?”

Raden Ayu Reksayuda itu menangis. Semakin ia mencoba menahan tangisnya, maka sedu-sedannya terasa semakin menyesakkan dadanya.

“Ketika pada suatu hari aku mengunjungi kangmas Reksayuda di pengasingan, maka aku telah diterima secara khusus oleh dimas Jayanegara. Ternyata aku telah terbujuk oleh gagasan dimas Adipati Pucang Kembar. “’

“Termasuk kematian kangmas Reksayuda.”

Raden Ayu Reksayuda mengangguk. Dengan lengan bajunya Raden Ayu Reksayuda mengusap air matanya yang mengalir dari pelupuknya tanpa dapat ditahannya lagi.”

Tiba-tiba saja Suranata pun menyela, “Raden Ayu melibatkan ayahku, bahkan memperalatnya. Aku tahu, bahwa ayahku pun bersalah. Tetapi apakah itu juga termasuk gagasan Kangjeng Adipati Jayanegara?”

Raden Ayu Reksayuda tidak menjawab. Tetapi, kepalanya pun menjadi semakin tertunduk.

“Kangmbok” berkata Kangjeng Adipati Wirakusuma kemudian, “Segala sesuatunya akan diajukan kepada sidang yang akan mengadili kangmbok Reksayuda. Aku minta kangmbok mengatakan segala-galanya. Jangan ada yang tersembunyi.”

“Hamba mohon ampun, Kangjeng.”

“Yang mempunyai kewajibanlah yang akan memutuskannya. Namun aku minta kangmbok mengetahuinya, bahwa apa yang telah terjadi di Sendang Arum, merupakan noda-noda hitam yang mengotori sejarah kadipaten ini.”

Raden Ayu Reksayuda semakin menunduk.

“Sementara itu, kangmas Jayanegara dengan ringannya mencuci tangannya. Hampir saja aku berhasil menangkapnya. Tetapi sayang sekali, bahwa aku telah gagal.”

“Hamba telah dikhianatinya dimas.. Hamba ditinggalkan sendiri dalam kesulitan seperti ini.”

“Kangmbok memang harus ngunduh wohing pakarti. Kangmbok telah menabur, sehingga kangmbok harus menuai.”

“Ya, dimas. Tetapi aku tidak sendiri.”

“Aku tahu. Jika kangmbok kelak sudah diajukan kehadapan sidang yang akan mengadili kangmbok, maka persoalanku dengan kangmbok telah selesai. Tetapi persoalanku dengan kangmas Jayanegara masih belum selesai. Persoalan antara Sendang Arum dan Pucang Kembar.”

Raden Ayu Reksayuda terdiam.

“Pucang Kembar telah bukan saja mencampuri persoalan rumah tangga Sendang Arum, tetapi kangmas Adipati Jayanegara telah merusak rumah tanggaku.”

“Hamba, dimas” suara Raden Ayu Reksayuda menjadi lirih. Namun Raden Ayu Reksayuda itu pun kemudian berkata, “Dimas, jika dimas berkenan, aku ingin berbicara dengan anakku, angger Jalawaja.”

“Jalawaja?” bertanya Kangjeng Adipati.

“Hamba Kangjeng.”

“Diantara kita, tidak ada yang perlu dibicarakan” sahut Jalawaja.

“Jalawaja. Sebelum aku kehilangan semua kesempatan, aku mempunyai satu permintaan kepadamu, ngger.”

Wajah Jalawaja menjadi gelap. Namun Kangjeng Adipati yang kemudian menjadi iba merasakan kepedihan di hati Raden Ayu Reksayuda itu pun berkata, “Dengarkan Jalawaja. Dengarkan permintaannya. Jika itu memang merupakan satu permintaan, maka kau dapat memenhi atau menolaknya.”

Jalawaja tidak menjawab. Sementara itu, Kangjeng Adipati pun berkata kepada Raden Ayu Reksayuda, “katakan kangmbok. Jalawaja akan mendengarkannya.”

“Jalawaja. Jika masih ada sisa belas kasihanmu, aku ingin mendengar kau memanggilku ibu. Ngger. Panggil aku ibu. Itu saja keinginanku yang masih tersisa di kesempatanku yang terakhir ini.”

Jalawaja termangu-mangu sejenak.

Dipandanginya pamannya, Kangjeng Adipati Wirakusuma. Kemudian Suratama, Ragajaya dan Ragapati yang berdiri termangu-mangu.

“Kau dengar permintaan ibumu itu, Jalawaja?” desis Kangjeng Adipati.

Jalawaja menarik nafas panjang.

“Panggil aku ibu, ngger. Panggil aku ibu. Aku ingin memperbaiki semua kesalahan yang pernah aku lakukan. Jika kau mau memanggil aku ibu, rasa-rasanya aku sudah memperbaiki lebih dari separo dari kesalahanku.”

Jalawaja masih saja berdiri termangu-mangu.

Ruangan itu pun untuk beberapa saat telah dicengkam oleh ketegangan. Semua mata rasa-rasanya sedang memandang kepada Jalawaja yang menjadi tegang.

Namun dalam keheningan itu, tiba-tiba terengar suara Jalawaja, “Ibu”

“Ngger.”

“Ya, ibu. Aku menerimamu sebagai ibuku.”

Tangis Raden Ayu Reksayuda yang tertahan itu bagaikan meledak. Air matanya mengalir seperti bendungan yang pecah. Isaknya pun menjadi semakin menyesakkan dadanya.

“Terima kasih ngger. Terima kasih. Ibumu minta maaf kepadamu ngger, bahwa ibumu telah mengkhianatimu. Aku juga minta kau sampaikan kepada angger Ririswari. Aku minta angger Ririswari memaafkan aku”

“Ya, ibu.

Yang berada diruang itu pun menahan nafasnya. Mereka membiarkan Raden Ayu Reksayuda menangis untuk melepaskan tekanan yang menghimpit dadanya.

Namun beberapa saat kemudian, Raden Ayu Reksayuda itu pun harus ikut bersama beberapa orang prajurit untuk dimasukkan kedalam bilik tahanannya. Sementara itu, beberapa orang prajurit yang lain telah membawa Ki Wira Sembada ke bilik tahanan yang lain.

Seorang prajurit yang telah mengenal Ki Rangga sebelumnya sempat bertanya kepadanya “Kenapa kau masih saja setia mengabdi kepada Raden Ayu Reksayuda?”

Ki Rangga mengerutkan dahinya, Namun ia tidak menjawab.

Hari-hari berikutnya adalah hari-hari yang bening bagi Sendang Arum. Kangjeng Adipati Wirakusuma mempunyai kesempatan yang luas untuk membangun kembali kadipaten Sendang Arum yang sempat menjadi porak-poranda.

Anak-anak muda yang telah berbuat banyak bagi kewibawaan-nya itu pun telah mendapat tempatnya masing-masing.

Ketika tembang Jalawaja terdengar di pintu gerbang taman, maka Ririswari tidak lagi membuatnya kecewa. Apalagi Kangjeng Adipati sendiri sudah merestui hubungan mereka. Bahkan hari-hari yang mereka tunggu pun telah ditetapkan pula

  TAMAT

Sumber djvu: Dimhad website

Ebook by Dewi KZ

http://kangzusi.com/

http://dewikz.byethost22.com/

diedit untuk kepentingan blog ini oleh Ki_Arema

kembali | TAMAT

4 Tanggapan

  1. selesai……

  2. dan sambil menunggu mbah keluar dari sanggarnya, tak terasa 1 kitab telah selesai…

    matur suwun Bu Lik
    sudah berkunjung ke kedai Risang yang satu ini

  3. carita kang endah, agawe atiku kumanthil-kanthil, pepindhane kadya priya kang lagi ketaman asmara… ooooonggggg.

  4. selalu menemani di setiap waktu,sukses terus buat admin,semoga karya2 sh mintardja dari yg pertama sampai yg terakhir,lengkap semua segera ada disini jg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s