KECUBUNG-03


kembali | lanjut

cover kecubung 03MALAM itu Sendang Arum telah dikejutkan oleh peristiwa yang sangat tidak diduga, Hari itu Raden Tumenggung Wreda Reksayuda dijemput oleh dua orang Tumenggung dan dua orang prajurit pengawal dari pengasingannya setelah mendapat pengampunan dari Kangjeng Adipati Wirakusuma. Namun demikian malam memasuki wayah sepi uwong, Raden Tumenggung Wreda itu telah terbunuh di rumahnya yang sudah sekitar tiga tahun ditinggalkannya.

Laporan tentang terbunuhnya Raden Tumenggung Wreda itupun segera telah sampai ke Kangjeng Adipati. Semula prajurit yang bertugas memang agak ragu untuk membangunkan Kangjeng Adipati. Tetapi agaknya Kangjeng Adipati telah mendengar suara kentongan dalam irama titir, sehingga Kangjeng Adipati itu telah keluar dari biliknya.

“Ada apa?”bertanya Kangjeng Adipati kepada prajurit yang bertugas di dalem Kadipaten itu.

“Ampun kangjeng. Ada seorang pang meronda yang ingin menyampaikan laporan tentang suara titir itu.”

“Bawa prajurit itu kemari.”

Prajurit yang bertugas itupun segera memanggil prajurit yang sedang meronda yang telah melihat sendiri apa yang telah terjadi di rumah Raden Tumenggung Wreda Reksayuda

“Apa yang telah terjadi ?”bertanya Kangjeng Adipati ketika prajurit itu menghadap.

Prajurit itu pun segera melaporkan apa yang telah dilihatnya di rumah Raden Tumenggung Wreda Reksayuda.

“Kangmas Tumenggung Wreda Reksayuda terbunuh?”nada suara Kangjeng Adipati meninggi.

“Hamba Kangjeng Adipati.”

Kepada prajurit yang bertugas Kangjeng Adipati pun memberika perintah, “siapkan kudaku. Siapkan pula pasukan pengawal. Aku akan pergi ke rumah Kangmas Tumenggung.”

Demikian prajurit itu keluar, maka Kangjeng Adipati pun segera berbenah diri di biliknya.

Namun demikian Kangjeng Adipati keluar dari biliknya, ia melihat Ririswari berdiri di ruang dalam.

“Aku mendengar apa yang telah terjadi, ayahanda.”

“Tidurlah. Belum tengah malam.”

“Ayahanda akan pergi?”

Aku akan melihat apa yang telah terjadi.”

Kangjeng Adipati pun segera beranjak ke pringgitan. Namun di pintu ia masih berpesan, “Tidurlah Riris. Kau tidak usah ikut memikirkan peristiwa yang terjadi ini.”

“Sesuatu itu telah terjadi ayahanda.”

Kangjeng Adipati tertegun sejenak. Namun kemudian Kangjeng Adipati itupun keluar lewat pintu pringgitan.

Seorang pelayan dalam telah menutup pintu itu kembali dan menyelaraknya dari dalam.

Sementara itu, kuda Kangjeng Adipati pun telah siap di depan pendapa. Sekelompok prajurit pengawal telah bersiap pula. Sementara itu para prajurit yang lain di dalem Kadipaten itu telah bersiaga sepenuhnya untuk menghadapi segala kemungkinan.

Sejenak kemudian, Kangjeng Adipati dan pengiringnya telah melarikan kuda mereka menuju ke rumah Raden Tumenggung Wreda Reksayuda yang sebenarnya tidak begitu jauh.

Demikian Kangjeng Adipati memasuki regol halaman rumah Raden Tumenggung, maka orang-orang yang berkerumun di halaman itu pun menyibak. Demikian pula mereka yang berada di pendapa dan di ruang dalam.

Demikian Kangjeng Adipati masuk ke ruang dalam, maka Kangjeng Adipati pun tertegun. Raden Ayu Reksayuda menyongsongnya dan langsung berlutut dihadapannya.

“Apa yang telah terjadi, kangmbok” bertanya Kangjeng Adipati.

“Kangmas Tumenggung Reksayuda, dimas”

“Apakah aku boleh melihatnya?”

Raden Ayu Reksayuda masih terisak.

Kangjeng Adipati pun kemudian telah melangkah ke bilik utama di rumah Raden Tumenggung Wreda Reksayuda itu.

Demikian Kangjeng Adipati masuk ke bilik itu, maka darahnya pun tersirap. Ia melihat tubuh Raden Tumenggung Reksayuda yang berlumuran darah. Ia melihat sebilah keris yang tertancap di dada Raden Tumenggung itu. Sedangkan yang membuat jantungnya bagaikan berhenti, keris yang tertancap di dada Raden Tumenggung Wreda Reksayuda itu adalah salah satu diantara pusaka-pusakanya yang banyak jumlahnya, yang tersimpan di Bangsal Pusaka.

“Kiai Puguh”desis Kangjeng Adipati.

Namun Justru karena itu, maka Kangjeng Adipati tidak mau menyentuh keris itu, Jika Kangjeng Adipati mencabut keris itu, maka akan dapat timbul dugaan, bahwa Kangjeng Adipati sengaja ingin menghilangkan jejak pembunuhan itu.

Karena itu, maka Kangjeng Adipati pun segera keluar lagi dari bilik itu serta memerintahkan prajurit untuk memanggil Ki Tumenggung Jayataruna dan Ki Tumenggung Reksabawa.

“Panggil mereka sekarang” berkata Kangjeng Adipati.

Dalam pada itu, sejak malam turun, di rumahnya, Nyi Tumenggung Jayataruna duduk di ruang dalam seorang diri, Semakin malam, terasa suasana menjadi semakin sepi.  Bahkan Nyi Tumenggung itu pun mulai diganggu oleh matanya yang mulai mengantuk.

Sekali-sekali digosoknya matanya yang semakin redup itu. Namun kantuk itu masih saja terasa mengganggunya.

Suratama, anak Ki Tumenggung Jayataruna yang sudah beranjak dewasa itu mendekati ibunya. Sambil duduk disampingnya iapun berkata, “Sebaiknya ibu tidur saja sekarang. Agaknya ibu lelah setelah sehari-harian mengerjakan pekerjaan di rumah.”

“Tidak Suratama. Aku tidak lelah. Bukankah aku tidak mengerjakannya semuanya sendiri di rumah ini. Ada abdi yang membantu mengerjakan pekerjaan-pekerjaanku.

“Meskipun demikian, ibu masih juga selalu sibuk. Ibu masak sendiri. Ibu membersihkan sebagian besar ddari rumah dan perabotnya. Ibu masih juga mencuci pakaian ayah dan pakaian ibu sendiri meskipun ada orang lain yang dapat mencucinya.”

“Orang lain kadang-kadang cuciannya tidak bersih, ngger. Sedangkan sudah terbiasa bagi ayahmu, jika bukan aku sendiri yang masak, ayaahmu tidak berselera untuk makan.”

“Tetapi ibu tidak perlu menunggu ayah pulang. Ayah adalah seorang prajurit, yang tugasnya tidak dibatasi waktu. Kapan saja tugas itu memanggil, ayah harus siap melaksanakannya.”

“Aku mengerti, ngger. Tetapi rasa-rasanya aku tidak akan dapat tidur nyenyak, sementara ayahmu sedang menjalankan tugasnya. Sementara aku berada di pembaringan, berselimut kain panjang sambil tidur mendekur.”

“Menurut pendapatku, ibu. Tugas ayah kali ini tidak terlalu berat, meskipun mungkin akan makan waktu yang panjang. Bukankah ayah hari ini pergi ke kadipaten Pucang Kembar untuk menjemput Raden Tumenggung Wreda Reksayuda? Tugas itu bukan tugas yang dibanyangi oleh bahaya yang gawat. Tugas itu hanyalah tugas perjalanan yang panjang.”

“Tetapi ada perbedaan pendapat antara ayahmu dengan Ki Tumenggung Reksayuda”

“Mereka adalah orang-orang dewasa, ibu. Mereka tahu cara menempatkan diri mereka masing-masing”

“Suratama. Sebaiknya kau saja yang pergi ke bilikmu. Biarlah aku menunggu ayahmu pulang dari Pucang Kembar. Itu sudah menjadi kuwajiban seorang perempuan ngger. Menunggu suaminya pulang. Menyediakan minuman panas, menemani dan melayaninya makan.”

“Tetapi ibu juga harus menjaga kesegaran tubuh ibu sendiri. Ibu jangan menjadi terlalu letih setiap hari.”

“Bukankah ayahmu tidak selalu pulang terlalu malam?”

Suratama menarik nafas panjang. Namun kemudian ia pun berkata, “Ibu. Aku akan masuk ke bilikku.”

“Tidurlah ngger.”

“Tetapi jika ayah masih saja belum segera pulang, ibu harus segera pergi tidur. Mungkin ayah masih akan bermalam lagi. Jarak yang harus ditempuh cukup jauh ibu. Sementara itu, mungkin masih ada persoalan yang harus diselesaikan di Pucang Kembar”

“Persoalan apa lagi. Bukankah Kangjeng Adipati sudah memaafkannya, sehingga Raden Tumenggung Wreda Reksayuda itu sudah tidak memmpunyai persoalan lagi.”

“Mudah-mudahan Raden Tumenggung Reksayuda itu tidak membuat persoalan di Pucang Kembar.”

“Tentu tidak. Ia merasa orang asing disana. Lebih dari itu, ia adalah orang buangan”

Suratama mengangguk-angguk.

“Tidurlah”desis ibunya.

Suratama termangu-mangu sejenak. Ia merasa kasihan kepada ibunya yang memaksa diri sendiri untuk duduk tanpa memejamkan mata meskipun sudah sangat mengantuk.

Nyi Tumenggung memang sempat menjadi ragu-ragu. Jangan-jangan Ki Tumenggung masih akan bermalam lagi. Tetapi menurut Ki Tumenggung, hari ini Ki Tumenggung akan pulang.

Suratama pun kemudian beranjak dari tempatnya sambil berdesis, “Selamat malam ibu.“

Ibunya mencoba untuk tersenyum. Katanya, “Selamat malam ngger. Tidurlah. Semoga mimpimu indah.”

“Meskipun indah jika itu hanya sebuah mimpi, ibu.”

“Daripada bermimpi buruk. Kau akan terbangun dan mungkin tidak akan dapat tidur lagi.”

Suratama tersenyum.

“Demikianlah, maka Suratama pun kemudian meninggalkan ibunya sendirian duduk di ruang dalam. Namun meskipun Suratama kemudian berbaring di biliknya, tetapi ia tidak dapat segera tertidur, ia masih saja memikirkan ibunya yang menunggu ayahnya pulang.

Nyi Tumenggung Jayataruna memang seorang perempuan yang setia. Sejak hidup mereka masih terasa sangat berat, pada saat Ki Jayataruna masih belum berpangkat, Nyi Jayataruna selalu mendampinginya dalam suka dan duka. Nyi Jayataruna sendiri tidak pernah mengeluh bagi dirinya sendiri. Ia berusaha mengisi hidup keluarganya dengan pengharapan akan hari-hari yang baik dimasa mendatang.

“Hidup ini seperti cakra manggilingan. Sekali kita berada dibawah, tetapi sekali kita akan bergerak dan berputar sehingga kita berada diatas. Karena itu, jangan terlalu berduka jika kita sedang mengalami nasib yang muram. Tetapi jangan terlalu bersuka jika nasib kita lagi cerah. Segala sesuatunya harus kita terima dengan hati yang penuh dengan pernyataan syukur.”

Justru pada saat mata Suratama mulai terpejam, maka anak muda itu terkejut. Ia mendengar pintu depan di ketuk orang. Cukup keras.

“Nyi, Nyi”terdengar suara memanggil.

Suratama menarik nafas panjang. Ia mengenal suara itu dengan baik. Suara ayahnya.

“Ya, kakang. Sebentar.”

Suratama pun mendengar suara ibunya menyahut.

Dengan tergesa-gesa Nyi Tumenggung Jayataruna pun bangkit dan berlari-lari kecil menuju ke pintu pringgitan.

Sejenak kemudian, pintu pun terbuka. Ki Tumenggung Jayataruna berdiri di belakang pintu itu dengan wajah kusut. Demikian pintu terbuka, maka Ki Tumenggung itu pun segera melangkah masuk.

Nyi Tumenggung pulalah yang kemudian menutup pintu dan menyelaraknya kembali.

“Baru pulang kakang” sapa Nyi Tumenggung dengan suara lembut.

Tetapi jawab Ki Tumeng-gung dengaan wajah yang gelap, “Bukankah kau lihat, bahwa aku baru pulang.”

Nyi Tumenggung menarik nafas panjang. Katanya, “Maksudku, apakah kakang lelah setelah menjalankan tugas kakang sejak kemarin lusa.”

“Ya. Aku lelah sekali.”

“Duduklah kakang. Aku akan membuat minuman hangat. Makan juga sudah tersedia. Karena menurut kakang, hari ini kakang pulang, maka aku telah menunggu kakang. Aku juga belum makan.”

“Aku tidak makan. Aku masih kenyang.”

“Tetapi aku sudah menyediakan kesukaan kakang. Pepes udang, sayur asam sedikit pedas. Dendeng ragi.”

“Aku masih kenyang kau dengar.”

“Tetapi sebaiknya kakang makan meskipun sedikit. Aku menunggu untuk mengantar kakang makan”

“Kau kira aku tidak berani makan sendiri.”

“Maksudku, kita makan bersama. Aku akan melayani kakang makan.”

“Aku masih kenyang. Berapa kali aku harus mengatakannya. Jika kau belum makan, bukankah itu salahmu sendiri. Aku tidak minta kau hari ini menunggu aku malam malam.”

“Memang salahku sendiri, kakang. Tetapi sudah menjadi kebiasaanku menunggu kakang untuk makan malam. Apakah kakang lupa kebiasaan itu.”

“Cukup, Nyi. Aku letih sekali. Aku ingin segera beristirahat. Aku akan pergi ke pakiwan mencuci kaki dan tangan. Kemudian tidur.”

“Baiklah, kakang. Tetapi silahkan duduk. Aku ingin berbicara sedikit kakang”

“Berbicara apa. Aku letih sekali.”

“Aku tahu kakang memang letih. Tetapi aku terdorong untuk bertanya sedikit kakang. Nanti kakang segera mencuci kaki dan tangan. Kemudian tidur. Nanti aku akan memijit kaki kakang.”

“Tidak usah. Yang letih bukan kakiku. Hampir dua hari penuh aku duduk diatas punggung kuda.”

“Baik, kakang. Baik. Tetapi mumpung ada kesempatan, aku ingin bertanya sedikit saja.”

“Bertanya apa?”

“Tentang kakang.”

“Cepat. Katakan. Aku sudah sangat letih.”

“Kakang. Kenapa kakang berubah akhir-akhir ini.”

“Berubah? Apa yang berubah?”

“Kakang sekarang terlalu sering pergi. Pulang lambat dan bahkan kadang-kadang tidak pulang tanpa aku ketahui kemana kakang pergi.”

“Edan. Bukankah ketika aku berangkat kemarin lusa, aku sudah mengatakan, bahwa aku pergi menjemput Raden Tumenggung Reksoyuda. Aku akan bermalam semalam atau bahkan dua malam.“

“Bukan malam ini, kakang. Tetapi hari-hari sebelumnya. Kakang hampir tidak pernah berada di rumah.”

“Nyi. Aku adalah seorang prajurit. Tugasku tidak terbatas waktu. Siang, malam dan bahkan prajurit. Aku menjadi

“Kakang. Aku adalah seorang isteri prajurit. Aku menjadi isteri prajurit bukan baru kemarin sore. Sudah lebih dari dua puluh tahun kakang. Aku sudah mengenal tugas prajurit, karena suamiku sendiri seorang prajurit. Tetapi, setelah dua puluh tahun itu, tiba-tiba rasa-rasanya aku tidak mengenali lagi tugas-tugas kakang sebagai seorang prajurit.

“Tetapi akulah yang mengalaminya, Nyi. Akulah yang menjadi prajurit. Nukan kau”

“Aku adalah isteri kakang. Isteri seorang Tumenggung. Apakah kakang sekarang mendapat tugas-tugas baru yang sangat berat, melampaui masa-masa yang lalu? Atau mungkin kakang dianggap bersalah dan mendapat hukuman dengan tugas-tugas tambahan yang sangat berat sehingga kakang hampir tidak sempat pulang.”

“Nyi. Aku sekarang sedang letih sekali. Kau jangan membuat perkara. Jika hatiku tersinggung, dalam keadaan yang sangat letih ini, aku akan dapat menjadi sangat marah.”

“Baiklah, kakang. Jika kakang tidak berkenan dengan pertanyaanku, aku minta maaf. Tetapi jika hal ini aku sampaikan, sebenarnya aku ingin membantu kakang sesuai dengan kedudukanku sebagai seorang isteri.”

“Dengan, sikapmu itu kau sama sekali tidak membantu, Nyi. Kau justru membuat perasaanku semakin letih. Jika tubuhku letih karena dua hari berturutan aku duduk di punggung kuda, maka pertanyaanmu dan sikapmu membuat perasaanku sangat letih”

“Baik, kakang. Aku tidak akan bertanya lebih lanjut.”

“Sekarang aku akan pergi ke pakiwan untuk mencuci kaki dan tanganku.”

Tetapi sebelum Ki Tumenggung melangkah, terdengar derap kaki kuda memasuki halaman.

“Derap kaki kuda”desis Nyi Tumenggung

Ki Tumenggung itupun termanggu-manggu sejenak. Namun suara derap kaki kuda itu menjadi semakin jelas. Kemudian berhenti.

Ki Tumenggung Jayataruna menunggu sejenak. Didengarnya langkah menuju ke pintu pringgitan. Kemudian didengarnya pintu itu diketuk orang.

“Siapa?” bertanya Ki Tumenggung Jayataruna.

“Resa, Ki Tumenggung”

“Resa?”

“Ya, Ki Tumenggung.”

Ki Tumenggung Jayataruna masih belum begitu mengenali suara dan nama itu. Karena itu, maka Ki Tumenggung kemudian memutar kerisnya di lambung kiri sambil melangkah ke pintu.

Perlahan-lahan Ki Tumenggung membuka selarak pintu, sementara Nyi Tumenggung berdiri dengan tegang.

Demikian pintu terbuka, maka seseorang yang berdiri di luar pintu mengangguk dengan hormat.

“Kau?” Ki Tumenggung ternyata pernah mengenal orang itu.

“Ya, Ki Tumenggung.”

“Ada apa?”

“Aku diutus oleh Kangjeng Adipati, Ki Tumenggung diminta untuk menghadap”

“Sekarang?”

“Ya. Kangjeng Adipati sekarang berada di rumah Ki Tumenggung Wreda Reksayuda.”

“Kenapa malam-malam Kangjeng Adipati ada di rumah Raden Tumenggung Wreda Reksayuda?”

“Ki Tumenggung. Raden Tumenggung Wreda Reksayuda telah meninggal.”

“Meninggal?” wajah Ki Tumenggung menjadi tegang, “jangan asal bicara. Katakan sekali lagi.”

“Raden Tumenggung Wreda Reksayuda telah menninggal.”

Nyi Tumenggung pun mendekat pula sambil bertanya, “Bukankah Raden Tumenggung Reksayuda baru pulang malam ini”

“Ya, Nyi.”

“Lalu tiba-tiba meninggal?”

“Seseorang telah membunuhnya.”

“Raden Tumenggung telah terbunuh?” bertanya Ki Tumenggung dengan nada tinggi.

“Ya, Ki Tumenggung.”

“Siapa yang telah membunuhnya?”

“Tidak seorang pun yang mengetahuinya.”

“Baik. Katakan kepada Kangjeng Adipati, bahwa aku akan segera menghadap.”

“Aku akan mendahului Ki Tumenggung.”

“Ya. Pergilah dahulu. Aku akan segera menyusul.”

Demikianlah, maka Resa pun segera turun ke halaman. Dituntunnya kudanya sampai ke regol. Kemudian ia pun segera meloncat naik. Sejenak kemudian terdengar derap kaki kuda itu berlari semakin lama semakin jauh.

“Kakang akan pergi” bertanya Nyi Tumenggung.

“Kau dengar sendiri perintah Kangjeng Adipati?”

“Ya, kakang.”

“Nah, itu adalah tugas seorang prajurit. Meskipun aku sangat letih lahir dan batin, tetapi aku harus berangkat.”

“Aku mengerti, kakang. Aku mampu menangkap suasana. Itulah sebabnya aku berkata, bahwa kakang telah berubah”

“Kau akan mulai lagi dengan celotehmu?”

“Tidak. Aku hanya menanggapi kata-kata kakang. Bukankah tidak baru kali ini kakang harus melakukan tugas meskipun kakang sangat letih? Tetapi sikap kakang tidak pernah membuat aku tertekan seperti saat-saat terakhir ini.”

“Persetan dengan tanggapanmu. Aku akan pergi. Tentu ada yang tidak wajar telah terjadi.”

Sejenak kemudian, maka Ki Tumenggung itu pun telah keluar lewat pintu pringgitan. Demikian ia berada di luar pintu, maka iapun berkata, “Selarak pintunya. Jika kau belum makan, makanlah. Jika kau mengantuk tidurlah. Jangan aku yang disalahkan jika kau lapar atau mengantuk esok pagi.”

Nyi Tumenggung tidak menjawab. Tetapi ia melangkah ke pintu. Menutup pintu dan menyelaraknya dari dalam.

Sejenak kemudian, terdengar kuda Tumenggung berlari melintasi halaman.

“Agaknya aku terlelap sekejap pada saat Ki Tumenggung datang, sehingga aku tidak mendengar derap kaki kudanya”berkata Nyi Tumenggung didalam hatinya. Ia memang sangat mengantuk. Matanya terpejam sesaat meskipun ia masih duduk di ruang dalam ketika Ki Tumenggung datang. Ketukan pintu yang agak keras telah membangunkannya.

Demikian suara derap kaki kuda itu hilang, maka Nyi Tumenggung kembali duduk di ruang tengah. Terasa getar jantungnya menjadi semakin cepat. Ia tidak mengerti, apa yang sebenarnya terjadi pada keluarganya. Apakah Ki Tumenggung yang berubah atau dirinya sendiri.

Suratama yang hampir tertidur dan terkejut karena pintu diketuk ayahnya, mendengar semua pembicaraan ayah dan ibunya. Tetapi Suranata tidak berani mencampurinya Ia tidak tahu pasti, persoalan apakah yang sedang terjadi antara ayah dan ibunya. Namun menurut pendapatnya, ayahnya memang berubah.

Nyi Tumenggung yang duduk di ruang tengah mengusap matanya yang basah. Tetapi Nyi Tumenggung tidak menangis. Jiwanya telah ditempa oleh jalan kehidupan yang berat sejak ia menikah dengan Ki Jayataruna. Dengan tabah ia ikut terombang-ambing arus kehidupan suaminya. Swarga, nunut nraka katut.

Sehingga akhirnya, Ki Jayataruna berhasil memanjat sampai kedudukan tertinggi yang dicapainya kini. Tumenggung.

Namun ketika kedudukannya semakin kokoh, serta kepercayaan Kangjeng Adipati kepadanya semakin meningkat, maka Ki Tumenggung Jayataruna itu justru mulai berubah.

Suratama bangkit dan duduk di bibir pembaringannya. Tetapi ia tidak keluar dari biliknya, meskipun rasa-rasanya ia ingin ikut memikul beban perasaan ibunya.

Tetapi Suratama yang sudah dewasa itu sempat membuat pertimbangan-pertimbangan yang mapan, sehingga ia masih belum merasa perlu mencampuri persoalan antara ayah dan. ibunya.

Dalam pada itu, ki Tumenggung Jayataruna yang melarikan kudanya menembus gelapnya malam. Sesekali kudanya melewati siraman sinar oncor di regol halaman rumah orang yang berada. Tetapi selebihnya gelap.

Demikian Ki Tumenggung sampai di regol halaman rumah Raden Tumenggung Wreda Reksayuda  segera meloncat dari punggung kudanya.

Dengan tergesa-gesa pula ia menuntun kudanya memasuki halaman.

Resa yang sudah lebih dahulu sampai di rumah itu, segera menerima kuda Ki Tumenggung sambil berkata, “Kangjeng Adipati telah menunggu”

Ki Tumenggung pun segera masuk ke ruang dalam. Ia tertegun sejenak di pintu. Ia melihat Kangjeng Adipati sudah berada di ruang dalam.

“Marilah, kakang Tumenggung” justru Kangjeng Adipati lah yang mempersilakannya masuk.

Ki Tumenggung Jayataruna itu pun kemudian masuk ke ruang dalam. Dengan nada berat, Ki Tumenggung itu pun bertanya, “Ampun Kangjeng Adipati. Apakah yang telah terjadi?”

“Duduklah, kakang.”

Ki Tumenggung Jayataruna itu pun kemudian duduk menghadap Kangjeng Adipati.

“Apakah utusanku belum mengatakan apa yang sudah terjadi disini?”

“Sudah Kangjeng. Tetapi Resa hanya mengatakan bahwa telah terjadi pembunuhan disini. Korbannya adalah Raden Tunenggung Wreda Reksayuda.”

“Ya.”

“Tetapi bagaimana hal itu dapat terjadi, Kangjeng.”

“Aku hanya dapat menirukan keterangan dari kangmbok Reksayuda” jawab Kangjeng Adipati yang kemudian mengulangi, menceriterakan peristiwa yang terjadi di Reksoyudan itu dengan singkat.

Ki Tumenggung Jayataruna mengangguk-angguk. Dahinya berkerut.

Namun tiba-tiba saja Ki Tumenggung itu bertanya, “Apakah Kangjeng tidak memanggil Kakang Tumenggung Reksabawa?”

“Ya. Aku telah memerintahkan seorang prajurit memanggil-nya.”

“Tetapi kakang Tumenggung itu belum datang menghadap, kangjeng.”

Pembicaraan itu teihenti. Seorang prajurit masuk ke ruang dalam, duduk menghadap Kangjeng Adipati.

“Ampun Kangjeng. Hamba sudah sampai ke rumah Ki Tumenggung Reksabawa. Tetapi Ki Tumenggung Reksabawa tidak ada di rumah.”

“Malam-malam begini, kakang Tumenggung Reksabawa itu pergi kemana?” bertanya Kangjeng Adipati.

“Adalah kebiasaan Ki Tumenggung untuk berada ditempat-tempat yang sepi dan sendiri pada saat-saat tertentu.”

“Tetapi tentu tidak malam ini. Kakang Tumenggung tentu masih letih. Jika tidak ada kepentingan yang sangat mendesak, kakang Tumenggung Reksabawa tentu ada di rumahnya untuk beristirahat”sahut Ki Tumenggung Jayataruna.

“Entahlah Ki Tumenggung. Tetapi Nyi Tumenggung Reksabawa juga tidak tahu, Ki Tumenggung Reksabawa itu pergi kemana”

“Baiklah. Mundurlah”

“Hamba Kangjeng”

Demikian prajurit itu keluar dari ruang dalam, maka ki Tumeggung Jayataruna itu pun berkata, “Ampun Kangjeng. Hamba ingin melihat keadaan Raden Tumenggung Wreda Reksayuda.”

“Silahkan, kakang. Keadaannya masih seperti saat terjadinya pembunuhan itu”

Ki Tumenggung Jayataruna itupun segera memasuki bilik tidur Raden Tumenggung Reksayuda.

Raden Ayu Reksayuda yang duduk di atas tikar yang dibentangkan di lantai, di sebelah pembaringan, beringsut. Dua perempuan menemaninya. Namun keduanya tidak mengangkat wajahnya, memandang ke tubuh Raden Tumenggung yang masih belum diusik. Keris itu masih menancap di dadanya.

“Apakah keris itu sudah dapat diambil, kakang Jayataruna?” bertanya Raden asyu Reksayuda.

Ki Tumenggung Jayataruna termangu-mangu sejenak. Tiba-tiba saja ia berdesis, “Bukankah keris itu salah satu dari pusaka Kangjeng Adipati sendiri?”

“Mungkin” sahut Raden Ayu.

“Kalau begitu, biar keadaannya tetap seperti itu. Biarlah keris itu tetap berada di tempatnya. Kita harus menunggu kakang Tumenggung Reksabawa, para sentana dan nayaka yang lain.”

Raden Ayu Reksayuda mengangguk. Tetapi kemudian katanya, “Sebaiknya secepatnya keris itu dicabut. Kemudian keadaan bilik ini segera dapat dibenahi. Perempuan-perempuan yang berdatangan tidak ada yang berani berada didalam bilik ini”

“Demikian kakang Reksabawa dan beberapa orang nayaka dan sentana datang, maka ruangan ini akan segera dibenahi. Tetapi biarlah para sentana dan nayaka melihat apa yang telah terjadi di bilik ini.”

Raden Ayu Reksayuda pun terdiam.

Sejenak kemudian, Ki Tumenggung Jayataruna telah keluar dari bilik itu dan kembali menghadap Kangjeng Adipati.

“Kakang Tumenggung melihat dengan jelas keris yang tertancap di dada kakangmas Tumenggung?”

“Hamba Kangjeng.”

“Keris itu adalah salah satu dari pusakaku.”

“Hamba Kangjeng.”

“Keris itu akan dapat mencoreng namaku, meskipun orang yang dapat berpikir jernih, justru akan berpendapat bahwa namaku tidak akan terkait dengan peristiwa ini. Jika aku terkait, maka aku tidak akan begitu dungu, memmberikan kerisku sendiri untuk melakukan kejahatan ini.”

“Tetapi hamba mohon agar keris itu biarlah ada di tempatnya sampai kakang Tumenggung Reksabawa dan para sentana dan nayaka melihatnya.”

“Aku tidak berkeberatan, kakang. Meskipun tersirat di aantara kata-kata kakang Tumenggung itu kecurigaan.”

“Ampun Kangjeng. Bukan maksud hamba. Tetapi hamba hanya ingin menempatkan persoalannya pada keadaan yang sewajarnya.”

“Aku mengerti, kakang. Karena itu aku tidak berkeberatan”, Kangjeng Adipati itu berhenti sejenak. Lalu katanya pula, “Tetapi aku minta kakang Tumenggung dan kakang Tumenggung Reksabawa memeriksa petugas bangsal pusaka. Kakang harus mencari keterangan, kenapa pusakaku itu dapat berada di tangan orang yang telah membunuh kakangmas Tumenggung Reksayuda.”

“Hamba Kangjeng.”

“Aku memerintahkan kakang Tumenggung Jayataruna dan kakang Tumenggung Reksabawa untuk mengusut perkara ini sampai tuntas. Sampaikan perintahku kepada kakang Tumenggung Reksabawa nanti setelah ia datang kemari.”

“Hamba Kangjeng.”

“Sekarang aku akan minta diri.”

Ketika Kangjeng Adipati minta diri kepada raden Ayu Reksayuda, maka Raden Ayu Reksayuda itu pun berkata di-antara isak tangisnya yang tertahan, “Dimas. Segala sesuatunya tergantung kepada dimas Adipati. Aku hanya seorang perempuan yang tidak berdaya. Aku mohon keadilan.”

“Ya, kangmbok. Akulah yang memikul tanggung jawab. Aku sudah memerintahkan kakang Tumenggung Jayataruna serta kakang Tumenggung Reksabawa untuk mengusut perkara ini sampai tuntas.”

“Terima kasih dimas. Jika selama ini aku merindukan kakangmas Tumenggung Reksayuda pulang, maka demikian kakangmas Tumenggung menginjakkan kakinya di rumah, kakangmas Tumenggung justru terbunuh.”

“Aku mengerti, betapa pedihnya hati kangmbok Reksayuda. Karena itu, aku akan berusaha sejauh dapat aku lakukan, kangmbok.”

“Sebelumnya aku mengucapkan terima kasih, dimas. Mudah-mudahan segala sesuatunya segera dapat dipecahkan.”

Demikianlah, maka Kangjeng Adipati pun segera meninggalkan rumah Raden Tumenggung Reksayuda itu. Namun bahwa yang tertancap didada Raden Tumenggung itu adalah salah satu dari pusakanya, maka Kangjeng Adipati tidak dapat begitu saja mengkesampingkan persoalan itu. Tentu ada niat buruk dari orang yang telah menggunakan salah satu pusakanya itu.

Sepeninggal kangjeng Adipati, maka raden Ayu pun telah menemui Ki Tumenggung Jaya Taruna, ““Kakang. Apakah aku dapat minta tolong?”

“Apa Raden Ayu.:”

“Kakang yang sudah memahami jalan menuju ke pondok Ki Ajar Anggara”

“Raden Jalawaja maksud Raden Ayu ?”

“Ya. Bukankah Jalawaja harus ada di rumah esok sebelum ayahandanya di makamkan ?”

“Ya.”

“Aku minta tolong, kakang.”

Ki Tumenggung Jayataruna menarik nafas panjang. Sebenar-nya ia agak malas pergi menemui Jalawaja. Malam begitu gelap dan jalannya pun agak rumpil.

“Tetapi siapakah yang nanti akan menyelenggarakan jenazah Raden Tumenggung?”

“Bukankah sebentar lagi para nayaka dan sentana akan berdatangan?”

“Keris itu?”

“Apa yang harus dilakukan, kakang.”

“Tunggu kakang Tumenggung Reksabawa. Biarlah kakang Tumenggung melihat sendiri keris itu didada Raden Tumenggung. Biarlah kakang Tumenggung Reksabawa sendiri mencabut keris itu dengan tangannya.”

Wajah Raden Ayu Reksayuda menjadi tegang. Tetapi, ia tidak berkata apapun juga.

Ki Tumenggung Jayatarunalah yang kemudian berkata pula, “Baiklah, Raden Ayu. Aku akan pergi menemui Raden Jalawaja. Mudah-mudahan Raden Jalawaja bersedia turun.”

“Anak itu harus turun, kakang. Ayahandanya meninggal dengan cara yang tidak wajar. Biarlah Jalawaja menaruh peihatian pula atas perkara ini.”

Demikianlah, dengan mengajak dua orang prajurit untuk menemaninya, ki Tumengggung Jayataruna pergi menyusul Raden Jalawaja. Bukannya karena Ki Tumenggung itu menjadi ketakutan jalan sendiri. Tetapi di dinginnya malam ia memerlukan kawan untuk berbincang di perjalanan.

Sepeninggal Ki Tumenggung Jayataruna, maka Ki Tumenggung Reksabawa benar-benar telah datang dengan tergesa-gesa pula. Seperti yang dipesankan Ki Tumenggung Jayataruna, maka Raden Ayu Reksayuda telah menyerahkan segala sesuatunya kepada Ki Tumenggung Reksabawa.

Dihadapan beberapa orang saksi, maka Ki Tumenggung Reksabawa sendirilah yang telah mencabut keris di dada Raden Tumenggung Wreda Reksayuda.

“Keris itu adalah salah satu pusaka dari Kangjeng Adipati” berkata Raden Ayu setelah keris itu dibungkus dengan kain.

“He?” Ki Tumenggung terkejut, “siapakah yang mengatakannya?”

“Kangjeng Adipati sendiri mengakuinya.”

Ki Tumenggung Reksabawa menarik napas dalam-dalam. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu.

Sementara Ki Tumenggung Reksabawa serta beberapa orang sentana dan nayaka sibuk di rumah Raden Ayu Reksayuda, maka Ki Tumenggung Jayataruna bersama dua orang prajurit melarikan kuda mereka menuju ke sebelah pondok di lereng bukit

Kedatangan Ki Tumenggung sangat mengejutkan Ki Ajar Anggara serta Jalawaja sendiri.

Mereka bertiga pun kemudian dipersilakan masuk ke ruang dalam yang tidak begitu luas.

“Di luar dingin Ki Tumenggung”berkata Ki Ajar Anggara.

Jalawaja yang juga terbangun dari tidurnya, ikut menemui Ki Tumenggung Jayataruna beserta kedua orang prajurit yang menyertainya.

“Maaf Ki Tumenggung” berkata Ki Ajar Anggara, “kedatangan Ki Tumenggung telah mengejutkan kami. Karena itu, jika Ki Tumenggung berkenan, kami ingin segera mengetahui apakah ada titah yang harus kami lakukan?”

“Ki Ajar serta angger Raden Jalawaja. Kami minta maaf, bahwa kami telah mengejutkan Ki Ajar dan tentu juga Raden Jalawaja. Tetapi kami tidak dapat menundanya sampai matahari terbit esok pagi.”

“Apakah ada sesuatu yang sangat penting, Ki Tumenggung?”

“Ya, Ki Ajar. Sesuatu yang sama-sama tidak kita inginkan telah terjadi. Berita yang aku bawa adalah berita yang kurang menyenangkan.”

“Berita tentang apa, Ki Tumenggung.”

“Raden Tumenggung Wreda Reksayuda telah meninggal.”

“Ayah?” Raden Jalawaja terkejut seperti disengat lebah di tengkuknya, “ Apakah pendengaranku benar?”

“Ya, Raden. Raden Tumenggung Wreda Reksayuda “

“Bukankah ayah sudah diampuni dan hari ini kalau tidak salah telah dijemput dari pengasingan?”

“Ya. Aku dan kakang Tumenggung Reksabawa serta dua orang prajurit, telah menjemput Raden Tumenggung dari pengasingan.”

“Tetapi kenapa tiba-tiba saja ayah meninggal? Kelelahan? Sakit atau karena kejutan yang telah menghentikan denyut jantungnya?”

“Tidak, ngger. Ki Tumenggung Wreda Reksayuda telah terbunuh.”

“Terbunuh? Siapakah yang telah membunuhnya?”

“Demikian ayahanda Raden Jalawaja sampai di rumah, maka kami yang menjemputnya di pengasingan minta diri. Namun demikian malam turun, seorang utusan Kangjeng Adipati telah memanggil aku ketika aku baru beristirahat setelah menempuh perjalanan panjang. Kangjeng Adipati sendiri sudah berada di rumah Raden Tumenggung Wreda Reksayuda yang ternyata telah terbunuh. Tetapi kami belum tahu, siapakah yang telah membunuhnya.”

“Jadi pembunuh itu tidak tertangkap?”

“Kami memang belum dapat menuduh seseorang.”

“Tidak ada tanda-tanda atau petunjuk yang ditinggalkan oleh pembunuh itu?”

“Ada ngger.”

bersambung ke bagian 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s