KECUBUNG-01


kembali | lanjut

cover kecubung 01MATAHARI sudah memanjat semakin tinggi. Sinarnya yang mulai menggatalkan kulit menerpa tanah yang lembab di bawah pohon-pohon kembang yang tumbuh di taman yang asri.

Angin yang lembut serasa berbisik lamat-lamat tentang perawan yang sedang berduka, yang duduk diatas sebuah lincak panjang disebelah sebatang kembang soka yang berwarna ungu muda.

Seorang gadis, putera Kangjeng Adipati Wirakusuma, Adipati di Sendang Arum sedang merenungi luka di hatinya.

Biasanya ia duduk dan bercengkerama bersama ibundanya. Dan kadang-kadang bahkan bersama ayahandanya pula di taman. Kadang-kadang ibundanya sendiri merawat pohon-pohon bunga di taman itu. Bunga Soka, bunga ceplok piring, bunga arum dalu dan yang mendapat perawatan khusus adalah segerumbul kembang melati di sudut taman, yang diberi berpagar kayu serta terawat rapi.

Tetapi hari itu Ririswari duduk sendiri.

Meskipun jaraknya tidak lebih dari lima langkah, tetapi gadis itu seakan-akan tidak menyadari kehadiran seorang emban yang duduk mengamatinya.

“Puteri” emban itu bergeser mendekat.

Perawan yang sedang berduka itu tidak berpaling kepadanya.

“Raden Ajeng Ririswari”

Ririswari masih saja berdiam diri.

“Puteri masih nampak selalu berduka.”

Ririswari menarik nafas panjang. Perlahan-lahan iaberpaling. Namun kemudian tatapan matanya kembali menerawang, memandang ke kejauhan.

“Sudahlan Puteri. Puteri jangan memperpanjang duka. Biarlah Puteri berusaha menyembuhkan luka itu. Hamba tahu puteri, bahwa luka itu tentu terasa sangat pedih. Tetapi Puteri tidak seharusnya membiarkan dirinya tersiksa oleh duka.”

“Aku tidak dapat segera melupakannya, emban” sahut Ririswari tanpa berpaling, “ibunda pergi terlalu cepat.”

“Tidak seorang pun dapat mengelak, Puteri. Jika Yang Maha Agung memanggilnya menghadap, maka kita, titahnya harus menghadap. Kapan pun saat itu datang. Siang, malam, pagi dan senja hari pada saat candikala dipajang di langit.”

“Aku mengerti, emban. Nalarku dapat berkata seperti yang kau katakan itu. Tetapi perasaanku sulit aku kendalikan. Kenapa tiba-tiba saja ibunda pergi untuk selamanya.”

“Ampun Puteri, jika hamba mengatakan bahwa ibunda memang dikehendaki oleh Yang Maha Agung kembali kepadanya. Karena itu, sebaiknya kita menyerahkannya dengan ikhlas.”

“Apakah kau dapat berkata seperti itu jika biyung-mu yang dipanggil menghadap ? Emban. Aku masih ingat ketika dua tahun yang lalu, nenekmu meninggal. Ketika seorang keluargamu datang memberitahukannya kepergian nenekmu itu, maka kau langsung menangis, berguling-guling di tanah tanpa dapat ditenangkan, sehingga akhirnya kau jatuh pingsan. Bukankah saat itu, bahkan ibunda sendiri berusaha menenangkan hatimu. Ibunda juga mengatakan sebagaimana kau katakan kepadaku.”

“Hamba Puteri. Tetapi waktu itu, berita meninggalnya nenek hamba itu datang dengan tiba-tiba. Hamba tidak pernah mendengar kabar bahwa nenek sakit. Sepanjang pengetahuan hamba, nenek itu selalu sehat. Bahkan sebulan sebelumnya, ketika hamba mendapat kesempatan pulang selama tiga hari, nenek masih pergi ke sungai untuk mencuci pakaian. Kemudian, seperti biasanya setiap nenek pergi ke sungai, maka di saat nenek pulang, tentu membawa sebuah batu. Bahkan nenek menganjurkan setiap anggauta keluarganya yang pergi ke sungai, supaya juga membawa sebuah batu sebesar buah kelapa.”

“Batu?”

“Ya, Puteri.”

 “Untuk apa ?”

“Dalam setahun, nenek dapat membuat bebatur rumah dari batu yang telah kami kumpulkan. Sehari, tiga orang diantara keluarga kami pergi ke sungai, maka kami akan mengumpulkan tiga buah batu sebesar buah kelapa. Bahkan anak-anak pun telah dibiasakan melakukannya pula, yang tentu saja membawa bebatuan yang lebih kecil.”

“Ternyata nenekmu seorang yang cerdik, emban.”

“Ya. Puteri. Karena itu berita kematiannya sangat mengejutkan.”

“Setelah itu, lebih dari setengah tahun kau masih nampak murung.”

Emban itu terdiam.

“Emban. Ibunda baru seratus hari yang lalu meninggal.”

“Hamba Puteri.”

“Cintaku kepada ibunda tidak akan berakhir disaat ibunda pergi. Apalagi ibunda pergi terlalu cepat.”

“Puteri. Tetapi benar kata orang, bahwa kita jangan terlalu dalam terbenam ke dalam duka. Selain bagi ketenangan Puteri sendiri, jika Puteri kelihatan lebih ceria, akan sangat berpengaruh bagi ayahanda Puteri. Bagi Kangjeng Adipati Wirakusuma.”

Ririswari menundukkan wajahnya.

Kangjeng Adipati akan dapat kembali memusatkan perhatiannya kepada tugas-tugas yang diembannya. Tentu kadang-kadang terbersit pula kenangannya terhadap ibunda Puteri. Tetapi kecerahan wajah Puteri akan menjadi penghiburan yang sangat berarti bagi Kangjeng Adipati. Demikian pula sebaliknya, sehingga akan timbul pengaruh yang baik timbal balik.“

“Emban?”

“Hamba Puteri.”

“Kau pintar emban.”

“Ampun Puteri. Ketika nenekku meninggal, biyung hamba menjadi sangat bersedih sebagaimana hamba. Kami berdua selalu murung. Bahkan setelah hamba kembali ke taman ini. Jika biyung datang menengok hamba, maka kami masih saja menangis bersama-sama mengenang kematian nenek. Ayah hambalah yang menasehati hamba dan biyung hamba agar kami tidak tenggelam ke dalam duka. Jika wajahku cerah, biyung akan terhibur. Sebaliknya jika wajah biyung cerah, aku akan terhibur.”

“Apakah wajahmu tiba-tiba menjadi cerah?“

Emban itu terdiam. Bahkan ia menundukkan wajahnya dalam-dalam.

“Biyung emban. Aku sadari sepenuhnya bahwa apa yang kaukatakan itu benar. Tetapi seperti yang aku katakan, bahwa nalar dan perasaanku masih belum sejalan. Aku mengerti semua yang dikatakan oleh seseorang yang mencoba menenangkan hatiku. Menghiburkan agar hatiku menjadi tenang. Tetapi perasaanku ternyata bersikap lain.”

“Raden Ajeng. Itulah yang harus Raden Ajeng usahakan. Keseimbangan antara nalar dan perasaan.”

“Siapa yang mengatakan itu, emban.”

“Orang-orang tua yang mencoba menenangkan hati hamba pada waktu itu, Puteri.“

“Emban. Bukan maksudku bahwa aku tidak mau mencobanya. Aku sudah mencoba, emban. Tetapi ternyata hatiku tidak cukup tegar untuk mengimbangi nalarku.”

“Jika saja Puteri berusaha dengan tidak berkeputusan. Kembalikan persoalannya kepada Yang Maha Agung.”

Raden Ajeng Ririswari tidak sempat menjawab. Tiba-tiba saja perhatiannya tertarik kepada suara seruling yang seakan-akan menjerit tinggi. Mengalun bagaikan mengapung diatas angin yang semilir di taman yang asri itu.

“Kau dengar suara seruling, emban.”

“Saatnya anak-anak menggembalakan kambingnya.”

“Dimana mereka menggembala? Suara itu terlalu dekat. Agaknya suara itu bersumber dari bilik dinding keputren ini.”

“Apakah Raden Ajeng tertarik kepada suara seruling itu?”

“Suaranya menyentuh hati, emban. Aku ingin tahu, siapakah yang telah meniup seruling itu.”

“Tentu seorang anak yang sedang menggembala, Puteri.”

“Tentu tidak sedekat itu. Suara itu terdengar dekat sekali, seakan-akan aku dapat menjangkaunya dengan jari-jariku.”

“Suara itu dibawa oleh angin.”

“Emban.”

“Hamba Raden Ajeng.”

“Bukalah pintu butulan.”

“Pintu butulan ?”

“Ya.”

“Apakah itu diperkenankan ?”

“Atas perintahku.”

“Tetapi hanya dalam keadaan yang sangat penting saja pintu itu dibuka.”

“Bagiku, suara seruling itu sangat menarik hatiku. Aku merasa perlu untuk melihat. Seandainya yang meniup seruling itu seorang anak gembala, maka alangkah senangnya ayah dan ibunya mempunyai anak yang mampu meniup seruling seperti itu. Dengar emban. Suara seruling itu bagaikan terbang tinggi, melintasi mega yang sedang berarak, menggapai sap-sap langit yang lebih tinggi, sehingga menyentuh bulan yang sedang tersenyum manis.”

“Angan-angan Raden Ajeng, sebagai seorang perawan yang sedang tumbuh dewasa seperti kembang yang sedang mekar, melambung tinggi mengapung menggapai rembulan. Tetapi sekarang siang hari Puteri.”

“Apakah angan-anganmu tidak pernah melayang-layang bersama awan yang berarak di langit itu emban.?”

“Ah. Indahnya mimpi-mimpi perawan yang sedang menginjak dewasa. Karena itu, Puteri, lupakan duka yang sedang Puteri sandang.”

“Karena itu, bukalah pintu butulan itu, emban.“

Emban itu nampak menjadi ragu-ragu.

“Aku yang akan bertanggung jawab emban. Apalagi hanya sesaat. Aku hanya ingin melihat, siapakah yang membunyikan seruling dibalik dinding keputren ini.”

Emban itu tidak dapat mengelak lagi. Karena itu, maka emban itupun segera pergi ke pintu butulan. Diangkatnya selarak pintu itu, sehingga sejenak kemudian, maka pintu itupun telah terbuka.

Ketika Raden Ajeng Ririswari menjengkuk keluar dinding Keputren, maka Ririswari itu pun terkejut.

“Kakang Jalawaja.”

Suara seruling itupun terhenti. Seorang anak muda yang duduk disebelah pintu butulan itu pun bangkit berdiri.

Hampir diluar sadarnya, maka Ririswari pun melangkah keluar.

“Puteri. Puteri akan pergi kemana?”

“Aku tidak akan kemana-mana, emban. Aku hanya akan berdiri di pintu.”

Emban itupun bergeser pula mendekati Ririswari yang berdiri di pintu. Namun emban itu terhenti ketika ia melihat seorang anak muda yang berdiri termangu-mangu diluar pintu.

“Kakang Jalawaja. Kenapa kakang berada disini ?”

“Sudah lama aku duduk disini, Riris. Aku tidak berani masuk lewat pintu gerbang.”

“Kenapa kakang. Jika kakang mohon ijin kepada ayahanda untuk menemui aku, ayahanda tentu mengijinkannya.”

“Aku sangsi, Riris. Seandainya aku mohon kepada Kangjeng Adipati, maka aku tentu hanya akan diusirnya.”

“Kau berprasangka buruk terhadap ayahanda.“

“Ayahandamu seorang Adipati.”

”Tetapi ayahanda kakang Jalawaja, saudara sepupu ayahandaku.”

“Kau tahu, apa yang terjadi dengan ayahku?“

“Kenapa dengan paman Reksayuda?”

“Oleh ayahandamu, ayahku telah disingkirkan jauh keluar kadipaten ini.”

“Persoalannya bukan persoalan pribadi, kakang. Aku yakin, bahwa ayahanda akan bersikap baik kepadamu.”

“Aku mengerti, Riris.”

“Tetapi kakang sekarang sudah berada di ambang pintu taman. Apakah keperluan kakang?“

“Jangan tambuh puteri. Jangan berpura-pura tidak tahu.”

Ririswari menundukkan wajahnya.

“Riris Aku perlukan datang menemuimu. Aku ingin mendengar jawabmu atas pernyataan yang pernah aku katakan kepadamu.”

“Kakang Jalawaja” suara Ririswari menjadi dalam sekali, “kau tahu, bahwa aku baru saja kehilangan ibundaku.

“Aku tahu Riris. Tetapi bukankah sudah ada jarak waktu sampai hari ini.”

“Tetapi aku masih belum dapat melupakan saat-saat kepergian ibundaku.”

“Kau harus menghadapi kenyataan Riris. Sepeninggal bibi, matahari masih tetap beredar di jalurnya. Matahari itu tidak dapat berhenti karena seorang gadis sedang berduka. Aku sudah menyatakan, bahwa aku ikut kehilangan sepeninggal bibi. Bibi sangat baik kepadaku, meskipun bibi tahu, bahwa ayahku adalah seorang yang tidak pantas tinggal di kadipaten ini. Tetapi hari-hari akan berlanjut. Hidupku dan hidupmu.“

 “Aku mengerti, kakang. Duka keluargaku memang tidak dapat menghentikan matahari yang berputar sesuai dengan iramanya sendiri. Tetapi aku dapat berlindung dibawah rimbunnya dedaunan untuk menghindari teriak sinarnya. Hanya untuk sementara di saat hatiku belum siap menerimanya.”

“Sudah berapa kali aku mendengar jawabmu seperti itu, Riris.”

“Maafkan aku, kakang Jalawaja. Aku tidak berniat melukai hatimu. Tetapi aku minta waktu.“

Wajah Jalawaja menjadi tegang. Tetapi ia pun melangkah surut sambil berdesis, “Aku adalah anak orang buangan, Riris. Aku tidak dapat berkata apa-apa lagi. aku minta diri.”

“Kakang. Jangan salah paham. Aku tidak pernah mempersoal-kan bahwa paman Tumenggung Wreda Reksayuda harus meninggalkan tanah ini. Kau tidak tersentuh oleh kesalahan yang pernah dilakukannya.”

“Aku minta diri.”

“Kakang.”

“Bukankah aku harus menunggu? Aku akan menunggu Riris. Sampai pada suatu saat hatimu tidak lagi disaput awan kelabu. Meskipun aku tidak tahu, sampai kapan aku harus menunggu.”

Jalawaja tidak menunggu jawaban Ririswari. Ia pun kemudian melangkah meninggalkan pintu butulan taman keputren yang jarang sekali dibuka itu.

Ririswari berdiri termangu-mangu. Wajahnya nampak muram. Sedangkan matanya berkaca-kaca. Dipandanginya langkah Jalawaja menjauh sehingga hilang dikelokan.

“Puteri.”

Ririswari bagaikan terbangun dari mimpinya yang gelisah.

“Hamba mohon Puteri segera masuk kembali ke taman keputren. Biarlah hamba menutup pintunya. Jika para prajurit yang nganglang melihat pintu ini terbuka, maka mereka tentu akan melaporkannya kepada ayahanda Puteri.”

Ririswari menarik nafas panjang. Sambil mengusap pelupuknya yang basah, Ririswari pun melangkahi tlundak pintu butulan. Tetapi langkahnya terhenti. Dipandanginya sebatang pohon bunga yang tidak terdapat didalam taman. Beberapa kuntum bunga bergelantungan didahannya yang kecil. Seakan-akan menunduk ikut bersedih.

Ketika Ririswari mendekati pohon bunga itu, embannya menahannya sambil berkata, “Jangan Puteri.”

Ririswari berpaling kepadanya. Sementara emban itupun berkata, “Itu kembang kecubung Puteri. Kembang yang menyimpan racun yang memabukkan.”

Ririswari melangkah mundur. Namun kemudian iapun segera berbalik, masuk ke dalam taman keputren.

Emban itupun segera menutup pintu butulan itu dan menyeleraknya dari dalam. Selarak yang terasa berat di tangan emban itu.

Sepeninggal Jalawaja, wajah Ririswari menjadi semakin murung. Dengan lembut emban itu pun berkata, “Sudahlah Puteri. Marilah, aku persilahkan Puteri pergi ke geladri. Mungkin ada sesuatu yang dapat Puteri kerjakan disana.”

Ririswari tidak menjawab. Tetapi gadis itu pun kemudian berjalan dengan langkah-langkah kecil menuju ke geladri.

“Raden Jalawaja tentu akan datang kembali Puteri. Esok atau lusa“ berkata emban yang berjalan disamping Ririswari.”

Tetapi Raden Ajeng Ririswari itu menggeleng. Katanya, “Tidak segera emban.”

“Aku berani bertaruh. Besok suara seruling itu tentu akan terdengar lagi”

“Kakang Jalawaja sekarang tidak lagi tinggal di rumahnya.”

“O”

“Kakang Jalawaja sudah beberapa lama tinggal bersama kakeknya di kaki bukit.”

“Jadi.”

“Jika ia datang kemari, emban, ia telah menempuh perjalanan yang panjang.”

“Puteri. Mumpung belum terlalu jauh. apakah hamba diperkenankan menyusulnya.”

“Jika kau berhasil menyusul kakang Jalawaja, apa yang akan kau katakan kepadanya?”

Emban itu terdiam. Namun kemudian emban itu berdesis, “Apa saja yang Puteri perintahkan.”

“Sudahlah emban. Akupun yakin, bahwa kakang Jalawaja akan kembali. Tetapi kapan?”

“Kenapa tadi Puteri mengusirnya?”

“Aku tidak mengusirnya, emban. Aku hanya mengatakan, bahwa aku belum dapat menjawab pernyataannya beberapa waktu yang lalu.”

“Pernyataan tentang apa, Puteri.”

“Kenapa kau masih menanyakannya?”

“Apakah hamba pernah bertanya sebelumnya.“

“Ah.”

Langkah Ririswari yang kecil-kecil itu menjadi semakin cepat. Berlari-lari kecil emban itu mengikutnya.

Ketika keduanya sampai ke geladri, geladri itu nampak sepi.

Ketika seorang abdi lewat, Ririswari pun bertanya, “Dimana ayahanda?”

“Di ruang depan, Puteri. Dihadap oleh Raden Ayu Rekasayuda. Ki Tumenggung Jayataruna dan Ki Tumenggung Reksabaya.”

“Bibi Reksayuda ada disini?”

“Ya, Puteri.”

“Ada apa?”

“Hamba tidak tahu, Puteri.”

Ketika abdi itu pergi, Ririswari pun berdesis, ”Aku tidak senang kepada perempuan itu.”

“Kenapa Puteri?” bertanya embannya.

“Tidak apa-apa.”

“Tetapi kenapa Puteri tidak senang kepada Raden Ayu.”

Ririswari termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berkata, “Aku tidak senang melihat sikapnya. Bibi tidak menunjukkan sikap sebagai seorang yang dituakan meskipun ia masih muda. Aku menjadi semakin benci melihat tingkahnya ketika ia menghadap ayahanda beberapa waktu yang lalu, justru pada saat ayahanda masih diliputi perasaan duka atas kepergian ibunda.”

“Hamba tidak melihatnya, Puteri.”

“Ia merasa dirinya perempuan yang paling cantik di dunia ini. Jika kau dengar, bagaimana perempuan itu tertawa. Bagaimana ia tersenyum dan bagaimana ia menangis di hadapan ayahanda. Tingkahnya yang berlebihan membuatnya menjadi semakin tidak pantas.”

“Kenapa ia menangis?”

“Perempuan itu berbicara tentang paman yang masih menjalani hukuman.”

“O”

“Tetapi aku tidak yakin bahwa ia bersikap jujur.” Emban itu mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun berkata, “Puteri. Sudah lama Puteri tidak menyentuh canting, gawangan dan kain yang sedang di batik itu. Jika Puteri sempat menyelesaikannya, kain itu akan sangat berarti bagi Puteri. Bukankah beberapa coretan pertama dilakukan oleh ibunda?”

Ririswari termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berkata “Ya, emban. Biarlah aku melanjutkannya. Kain itu akan dapat menjadi kenangan bagiku. Bekas tangan ibunda itu akan aku beri tanda agar aku dapat selalu mengingatnya. Kain itu akan aku persembahkan kepada ayahanda. Ayahanda menggemari kain batik parang. Bahkan ayahanda, yang pada waktu itu masih didampingi oleh ibunda, mempunyai kumpulan kain batik dari berbagai jenis parang. Sebagian adalah kain yang dibatik oleh ibunda sendiri.”

“Marilah Puteri. Biarlah aku mempersiapkannya.”

Keduanya pun kemudian pergi ke serambi samping di sebelah kiri. Emban itu masuk kedalam sebuah sentong yang sempit. Di dalam sentong itu disimpan berbagai peralatan batik serta lembar kain yang masih harus digarap.

Ketika gawangan dengan kain yang belum selesai dibatik bergayut di gawangan itu dibawa keluar dari bilik itu, maka Ririswaripun mengusap air matanya yang mengembun. Di luar sadarnya, Ririswari membayangkan ibundanya yang duduk di depan gawangan itu. Sekali-sekali ditiupnya canting yang berisi malam yang cair dan panas. Kemudian digoreskannya paruh canting itu pada kain yang tersangkut digawangan.

Embannya masih saja sibuk menyediakan anglo kecil, wajan yang sering dipakai oleh Ririswari serta ibundanya membatik. Kemudian menyalakan api, meletakkan wajah kecil diatasnya serta menaruh malam kedalamnya. Malam yang berwarna coklat diberi secuil malam yang berwarna putih.

Sejenak kemudian, Ririswari pun duduk di sebuah dingklik kayu yang rendah disamping wajannya yang berisi malam yang sudah mulai mencair diatas bara api arang kayu metir di anglo kecil.

Dicobanya untuk memusatkan perhatiannya pada kain yang sedang dibatiknya.

Dalam pada itu, di ruang depan, ayahandanya, Kangjeng Adipati Wirakusuma duduk dihadap oleh Raden Ayu Reksayuda, Ki Tumenggung Jayataruna serta Ki Tumenggung Reksabawa.

Terasa ruang depan dalem Kadipaten itu diliputi oleh suasana yang tegang.

Raden Ayu Reksayuda telah menghadap Kangjeng Adipati Wirakusuma untuk yang kesekian kalinya. Dengan menahan tangis. Raden Ayu Prawirayuda itu mohon agar diberikan pengampunan bagi suaminya, Raden Tumenggung Wreda Reksayuda yang mendapat hukuman, disingkirkan dan tidak boleh menginjak tlatah Kadipaten Sendang Arum untuk waktu lima tahun.

“Ampun dimas Adipati. Hamba mohon keringanan bagi kangmas Tumenggung Reksayuda.”

Kangjeng Adipati menarik nafas panjang.

“Hamba sudah menghadap beberapa kali. Dimas Adipati masih belum memberikan kepastian, meskipun dimas sudah berjanji akan mengusahakan keringanan itu.”

Kangjeng Adipati masih belum memberikan jawaban.

“Hamba mohon belas kasihan dimas Adipati. Dimas tentu tahu, bahwa ketika kangmas Tumenggung Wreda Reksayuda diusir dari Kadipaten Sendang Arum, kami belum lama hidup bersama sebagai suami isteri. Kami baru saja menikah pada waktu itu.”

“Kangmbok” jawab Kangjeng Adipati, “jika keputusan bahwa kangmas Tumenggung Wreda itu harus disingkirkan dari Sendang Arum dijatuhkan, adalah akibat dari sikap dan tindakan kangmas Tumenggung Reksayuda itu sendiri.”.

“Hamba tahu, dimas. Kangmas Reksayuda memang bersalah. Tetapi bukankah kangmas Reksayuda telah menjalani hukumannya?”

“Kangmas Reksayuda dihukum tidak boleh memasuki telalah Kadipaten Sendang Arum selama lima tahun.”

“Hukuman itu sangat berat bagi kangmas Reksayuda yang sudah lebih dari separo baya itu, dimas.”

“Semuanya itu bukan kehendakku pribadi, kangmbok. Tetapi paugeran dan tatanan di Sendang Arumlah yang menentukan. Jika kangmas Tumenggung yang sudah semakin tua itu tidak melakukan kesalahan, maka kangmas Tumenggung tentu tidak akan menanggung akibat yang mungkin dirasakan sangat berat itu.”

“Dimas, apalagi sekarang menurut berita yang hamba dengar, kangmas Tumenggung Wreda sering sakit-sakitan. Apakah mungkin terjadi, bahwa kangmas Tumenggung tidak lagi sempat melihat terbitnya matahari di Kadipaten Sendang Arum ini?”

Kangjeng Adipati Wirakusuma menarik nafas panjang.

“Dimas. Apapun yang harus hamba lakukan, akan hamba lakukan bagi pengampunan kangmas Tumenggung Reksayuda.”

“Baiklah, aku akan membicarakannya kangmbok.”

“Beberapa pekan yang lalu, dimas juga mengatakan akan membicarakannya.”

“Aku sudah membicarakannya. Tetapi masih ada beberapa silang pendapat diantara beberapa orang penanggung jawab negeri ini. Agar keputusan yang akan kami ambil tidak menimbulkan persoalan di masa depan, maka kami akan membicarakannya lebih dalam lagi.”

Raden Ayu Prawirayuda mengusap matanya yang basah. Dengan suara yang bergetar ia pun berkata, “Ampun dimas. Jika demikian, hamba akan menunggu. Namun hamba mohon dengan sungguh-sungguh belas kasihan dimas kepadaku dan kepada kangmas Reksayuda. Hamba mohon dimas Adipati memberi kesempatan kepada kami untuk memberikan arti bagi pernikahan kami.”

“Kami masih memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukan oleh kangmas Reksayuda seandainya ia benar-benar aku beri kesempatan untuk pulang.”

“Apa yang dapat dilakukan oleh kangmas Reksayuda yang sudah menjadi semakin tua? Seandainya dimas mengijinkannya pulang, maka yang dapat dilakukannya tidak lebih dari satu kehangatan keluarga diusianya yang semakin tua.“

“Baiklah kangmbok. Beri kesempatan kepada kami untuk membicarakannya dengan beberapa orang pejabat di Kadipaten ini.”

“Hamba dimas. Segala harapan bergayut kepada kebijaksanaan dimas.”

“Aku bersandar kepada kesepakatan para pemimpin di Sendang Arum.”

“Tetapi dimas adalah penguasa tertinggi di Kadipaten ini.”

Kangjeng Adipati menarik nafas panjang Namun kemudian iapun berkata, “Baiklah, kangmbok. Apa yang kangmbok inginkan sudah kami ketahui. Karena itu, biarlah kami membicarakannya. Pada saatnya kami akan memberitahukan kepada kangmbok keputusan yang kami ambil.”

Raden Ayu Prawirayuda menundukkan wajahnya. Sekali-sekali tangannya masih mengusap matanya yang basah. Namun kemudian Raden Ayu Prawirayuda itupun mohon diri.

“Aku akan memberitahukan kepada kangmbok secepatnya.”

“Terima kasih, dimas. Hamba menunggu. Siang dan malam hamba berdoa, semoga kangmas Tumenggung Reksayuda segera diperkenankan pulang.”

Raden Ayu Reksayuda itupun kemudian, meninggalkan pertemuan itu. Wajahnya masih nampak muram. Matanya lembab oleh tangisnya yang tertahan-tahan. Namun yang kadang-kadang bendungan itu pecah juga, sehingga air matanya menghambur keluar.

Di ruang depan Kadipaten itu, Kangjeng Adipati, masih dihadap oleh Ki Tumenggung Reksabawa dan Ki Tumengung Jayataruna.

“Kakang Tumenggung berdua. Bagaimana menurut pertimbangan kalian tentang permohonan kangmbok Reksayuda? Kalian sudah mendengar sendiri. Bukan hanya permohonannya, tetapi juga tangisnya. Apakah kita dapat memaafkan kesalahan Kamas Tumenggung Wreda Reksayuda yang telah berniat untuk memberontak pada waktu itu. Meskipun pemberontakan itu belum nyata dan belum dilakukan, tetapi pemberontakan itu rasa-rasanya sudah disiapkannya”

“Ampun Kangjeng Adipati. Jika diperkenankan, hamba akan mengutarakan pendapat hamba” berkata Ki Tumenggung Jayataruna.

“Katakan, kakang.”

“Jika berkenan di hati Kangjeng Adipati, apakah sebaiknya Kangjeng Adipati menghubungi Kangjeng Adipati Jayanegara di Pucang Kembar. Bukankah Raden Tumenggung Wreda Reksayuda berada di Pucang-Kembar. Mungkin Kangjeng Adipati di Pucang Kembar dapat memberikan beberapa pertimbangan. Jika menurut pengamatan Kangjeng Adipati di Pucang Kembar, Raden Tumenggung Wreda Reksayuda bersikap baik dan tidak ada tanda-tandanya untuk melanjutkan niatnya menggeser kedudukan Kangjeng Adipati, maka permohonan Raden Ayu Reksayuda dapat dipertimbangkan.”

“Bagaimana pendapatmu kakang Reksabawa?”

“Kangjeng Adipati. Menurut pendapat hamba, paugeran harus ditegakkan di Sendang Arum. Raden Tumenggung Wreda Reksayuda telah melakukan kesalahan yang sangat berat. Raden Tumenggung telah merencanakan satu pemberontakan untuk menyingkirkan Kangjeng Adipati Wirakusuma. Bahkan tanpa alasan apa-apa selain perasaan iri, bahwa bukan Raden Tumenggung Reksayuda yang menduduki jabatan Adipati di Sendang Arum. Raden Tumenggung Reksayuda akan dapat menjadi Adipati menurut darah keturunan jika eyangnya tidak meninggal dalam usia yang masih terhitung muda, sebelum sempat menggantikan kedudukan ayahnya. Adipati di Sendang Arum sehingga akhirnya Kangjeng Adipati Wirakusuma lah yang sekarang memegang jabatan itu. Jika saja Raden Tumenggung Reksayuda itu mempunyai alasan yang mapan, mungkin banyak orang yang dapat mengerti, kenapa ia melakukannya meskipun ia tetap dianggap bersalah. Tetapi yang dilakukan oleh Raden Tumenggung semata-mata berpusar pada kepentingannya sendiri.”

“Jadi, maksud kakang ?”

“Ampun Kangjeng. Menurut pendapat hamba, perasaan iri di hati Raden Tumenggung Reksayuda itu tidak akan mudah hilang. Jika saja Raden Tumenggung Wreda itu mempunyai alasan tertentu, misalnya tentang ke tataprajaan atau tentang tatanan laku dagang atau tentang persoalan-persoalan mendasar lainnya, masih dapat diharapkan, bahwa perubahan-perubahan yang terjadi di Kadipaten ini akan dapat memberikan kesadaran baru bagi Kangjeng Raden Tumenggung Wreda. Tetapi jika persoalannya adalah karena iri hati, maka akan sulit dicari jalan pemecahannya”

“Bagaimana kesimpulan kakang?”

“Ampun Kangjeng. Menurut pendapat hamba, Raden Tumenggung Wreda Reksayuda harus menjalani hukumannya sesuai dengan keputusan yang sudah dijatuhkan. Lima tahun. Sedangkan hukuman itu sampai sekarang baru dijalani selama dua hampir tiga tahun.”

“Jadi menurut kakang, kesalahan yang pernah dilakukan oleh kakangmas Tumenggung Reksayuda itu tidak dapat dimaafkan?”

“Setelah waktu hukumannya diselesaikan.”

“Itu namanya bukan pengampunan, bukan pemaafan atas satu kesalahan. Setelah menjalani hukuman lima tahun, maka hutang kakangmas Reksayuda terhadap Kadipaten ini sudah sah. Sudah lunas Tidak ada lagi pengampunan yang diperlukan.”

“Kangjeng.Raden Tumenggung Reksayuda adalah masih berada dalam lingkaran keluarga Kangjeng Adipati sendiri. Apa kata orang, jika pengampunan itu Kangjeng Adipati berikan kepada keluarga Kangjeng Adipati sendiri yang terang-terangan telah melakukan kesalahan. Lalu bagaimana pula dengan beberapa orang yang mendukungnya, sehingga harus menjalani hukuman pula. Apakah mereka semua juga harus mendapatkan pengampunan ? Jika tidak, maka apakah hanya kerabat Kangjeng Adipati sendiri yang dapat diampuni kesalahannya ? Karena itu, Kangjeng, menurut pendapat hamba, keputusan yang sudah ditetapkan harus ditegakkan.”

“Kakang” tiba-tiba saja Ki Tumenggung Jayataruna menyela keputusan berdasarkan paugeran itu bukan kata-kata mati. Bukankah kangjeng Adipati mempunyai kebijaksanaan yang dapat ditrapkan untuk menentukan keputusan baru ?”

“Apakah yang adi maksud dengan kebijaksanaan? Kebijaksanaan seharusnya bukan berarti satu cara untuk menghindari paugeran yang seharusnya berlaku. Kebijaksanaan bukan cara untuk menembus celah-celah tatanan yang sudah ditetapkan. Memang banyak orang yang mengartikan bahwa kebijaksanaan itu adalah keputusan-keputusan yang diambil untuk melawan paugeran dan tatanan yang berlaku. Atau bahkan mempergunakan celah-celah paugeran untuk memutihkan tindakan-tindakan yang sebenarnya keliru.”

“Itu sudah terlalu jauh kakang. Tetapi agaknya kakang tidak percaya kepada kebijaksanaan yang dapat diambil oleh Kangjeng Adipati.”

“Tidak. Sama sekali tidak. Tetapi aku tidak sependapat dengan jalan pikiranmu adi.”

“Cukup. Aku memang belum mengambil keputusan, apakah aku akan memaafkan kakangmas Tumengung Wreda Reksayuda atau tidak. Tetapi aku setuju untuk mengumpulkan keterangan-keterangan yang dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan sebelum aku mengambil keputusan. Karena itu, aku perintahkan kakang Tumenggung berdua, Tumenggung Reksabawa dan Tumenggung kakangmas Adipati Jayanegara. Kakang Tumenggung berdua aku perintahkan untuk minta pertimbangan kakangmas Adipati tentang sikap dan tingkah laku kakangmas Reksayuda selama berada di Kadipaten Pucang Kembar.”

“Ampun Kangjeng” sahut Ki Tumenggung Reksabawa, “apakah Kangjeng Adipati Jayanegara akan bersikap jujur ? Mungkin Kangjeng Adipati hanya ingin segera menyingkirkan Raden Tumenggung Reksayuda dari daerahnya, agar Raden Tumenggung itu tidak mengotori Kadipaten Pucang Kembar.”

“Kenapa kau tidak percaya kepada semua orang, kakang?” justru Ki Tumenggung Jayataruna lah yang bertanya.

“Bukan begitu adi Tumenggung. Tetapi aku hanya memberikan pertimbangan-pertimbangan.”

“Sudah cukup” potong Kangjeng Adipati, “aku perintahkan kakang berdua esok pagi pergi ke Kadipaten Pucang Kembar. Mungkin kakang berdua harus bermalam di Pucang Kembar, karena selain perjalanan yang panjang, belum tentu kakangmas Adipati di Pucang Kembar dapat langsung menerima kalian.”

“Hamba Kangjeng” jawab keduanya hampir berbareng.

“Sekarang aku perkenankan kalian meninggalkan tempat ini.”

Kedua orang Tumenggung itu pun kemudian mohon diri. Mereka harus bersiap-siap, karena esok pagi mereka akan menempuh perjalanan jauh.

Ketika keduanya keluar dari gerbang dalem kadipaten, keduanya tidak banyak berbicara. Baru ketika keduanya akan berpisah, Ki Tumenggung Jayatarunapun bertanya, “Besok pagi-pagi kita bertemu dimana kakang”

“Menjelang keberangkatan kita ke Pucang Kembar?”

“Ya.”

“Bagaimana jika adi Jayataruna singgah di rumahku?”

Ki Tumenggung Jayataruna termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun menjawab, “Baik, kakang. Besok pagi-pagi, sebelum matahari terbit, aku sudah akan berada di rumah kakang.”

“Aku akan siap sebelum matahari terbit”

Keduanya pun kemudian berpisah. Ki Tumenggung Jayataruna berbelok ke kiri, sementara Ki Tumenggung Reksabawa mengambil jalan yang lurus.

Demikian keduanya berpisah, maka keduanya menjadi semakin dalam tenggelam kedalam angan-angan mereka masing-masing. Bagi Ki Tumenggung Reksabawa, maka Raden Tumenggung Wreda Reksayuda tidak sepantasnya di ampuni. Hanya berdasarkan atas perasaan iri, maka Raden Tumenggung Reksayuda telah mempersiapkan satu pemberontakan untuk menyingkirkan Kangjeng Adipati Wirakusuma. Mungkin, dalam pembuangan, terbersit penyesalan dan bahkan berjanji kepada diri sendiri untuk melupakan perasaan iri hati itu. Tetapi jika Raden Tumenggung Wreda itu sudah berada di rumahnya, maka perasaan iri itu akan dapat terungkit lagi.

“Raden Tumenggung Reksayuda adalah seorang yang keras hati. Ia seorang prajurit yang baik, yang mumpuni dan di Segani oleh banyak orang. Meskipun Raden Tumenggung itu sudah menjadi semakin tua, namun ia masih akan dapat bangkit lagi untuk memimpin sebuah pemberontakan. Raden Tumenggung itu dapat saja mencari kelemahan-kelemahan yang terdapat didalam diri Kangjeng Adipati Wirakusuma. Sebagai manusia biasa, memang cukup banyak kekurangan dan kelemahan Kangjeng Adipati” berkata Ki Tumenggung Reksabawa didalam hatinya.

Ki Tumenggung Reksabawa menarik nafas panjang.

Sementara itu, Ki Tumenggung Jayataruna yang mengambil jalan lain, telah berangan-angan pula disepanjang jalan pulang. Yang nampak jelas di angan-angannya justru bukan Raden Tumenggung Reksayuda yang sedang dipersoalkannya dengan Ki Tumenggung Reksabawa. Tetapi yang nampak jelas di angan-angannya adalah justru wajah Raden Ayu Reksayuda yang dimatanya nampak sangat cantik. Apalagi jika Raden Ayu Reksayuda itu tersenyum kepadanya.

 “Gila” desisnya, “kenapa perempuan secantik itu harus menikah dengan Raden Tumenggung Reksayuda yang sudah tua?”

Ki Tumenggung Jayataruna menarik nafas panjang.

Namun kadang-kadang Ki Tumenggung Jayataruna itu tersenyum sendiri.

Dalam pada itu, sepeninggal Ki Tumenggung Reksabawa dan Ki Tumenggung Jayataruna, Kangjeng Adipati Wirakusuma telah masuk ke ruang dalam. Ketika tercium olehnya bau malam yang dipanasi, maka Kangjeng Adipati itu telah pergi ke serambi.

Dipintu Kangjeng Adipati itu berdiri termangu-mangu. Ia melihat puterinya membatik dengan asyiknya.

Embannya yang juga membatik sehelai selendang untuk sekedar menemani Raden Ajeng Ririswari, melihat kehadiran Kangjeng Adipati. Karena itu, maka diletakannya cantingnya Kemudian emban itupun menyembah dengan hormatnya.

Raden Ajeng Ririswari yang melihat embannya menyembah, segera berpaling. Ketika dilihatnya ayahnya berdiri di pintu, maka Ririswari itu pun menyembah pula. Kemudian gadis itu bangkit berdiri sambil berkata, “Ayahanda. Aku akan menyelesaikan batik parang itu. Kelak aku ingin mempersembahkannya kepada ayahanda. Meskipun barangkali batikanku tidak terlalu halus, namun aku akan mohon sekali waktu ayahanda mengenakannya. Tentu saja tidak dalam pertemuan yang besar dan resmi. Tetapi mungkin pada saat-saat bibi Reksayuda menghadap.”

“Bibimu?”

“Ya. Bukankah sekarang bibi sering menghadap? Dengan tingkahnya yang dibuat-buat serta senyumnya yang berhamburan.”

“Ah, kau Riris. Bibimu datang untuk mohon keringanan hukuman bagi uwakmu, kakangmas Tumenggung Wreda Rek-sayuda.”

“Apakah ia berbuat dengan jujur, ayahanda?”

“Jangan berprasangka, Riris. Sekarang lanjutkan saja kerjamu. Aku akan menungguimu disini. Aku senang melihat kau mulai membatik lagi.”

“Ibunda yang mulai dengan beberapa coretan pada kain itu. Ibunda memang minta aku menyelesaikannya.”

“Kau akan menyelesaikannya, Riris.“

“Ayah benar akan menunggui aku disini?”

“Ya. Aku akan duduk di sebelahmu”

“Baik. Aku mohon ayahanda duduk disitu selama aku masih duduk membatik.”

Kangjeng Adipati tertawa.

Namun Kangjeng Adipati duduk pula menunggui Raden Ajeng Ririswari untuk beberapa lama.

Dalam pada itu, dikeesokan harinya, sebelum matahari terbit, Ki Tumenggung Jayataruna seperti yang direncanakan sudah berada di rumah Ki Tumenggung Reksabawa. Ki Tumenggung Reksabawapun telah siap pula untuk berangkat.

bersambung ke bagian 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s