BdBK-01


BUNGA DI BATU KARANG

JILID 1

kembali | lanjut

BdBK-01MATAHARI sudah menjadi semakin tinggi. Sinarnya menusuk celah-celah dedaunan di pepohonan, membuat lukisan yang cerah di atas tanah yang lembab.

Sekali lagi Buntal berpaling. Dipandanginya sebuah rumah tua yang kecil, dan apalagi miring. Rumah yang untuk beberapa bulan didiaminya bersama paman dan bibinya.

Anak itu menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah memutuskan untuk meninggalkan rumah itu. Sejak ia menjadi yatim piatu, ia tinggal bersama paman dan bibinya. Tetapi paman dan bibinya ternyata mengalami banyak kesulitan. Untuk memberi makan dan pakaian saudara-saudara sepupunya, anak paman dan bibinya itu sendiri, mereka telah mengalami kekurangan. Apalagi ia berada di rumah itu pula.

Karena itu sekali lagi ia membulatkan niatnya. Meninggalkan rumah itu.

Pagi itu, selagi paman dan bibinya pergi ke ladangnya yang hanya secuwil kecil, dan saudara-saudara sepupunya bermain-main di kebun belakang, Buntal memutuskan untuk berangkat tanpa membawa bekal apapun.

Kadang-kadang ia menjadi ragu-ragu juga, akan kemana saja ia membawa langkahnya. Tetapi ia pun kemudian menengadah ke langit, dan tanpa disadarinya ia berdoa semoga Tuhan yang menurut ayahnya yang telah meninggal adalah Maha Pengasih, agar menuntun langkahnya.

Buntal pun kemudian berjalan cepat-cepat agar ia segera menjadi semakin jauh. Meskipun paman dan bibinya miskin, tetapi kepergiannya pasti tidak akan mereka kehendaki. Karena itu, maka ia pun telah meninggalkan keluarga miskin itu tanpa pamit.

“Keadaan menjadi semakin buruk” desis Buntal di dalam hati. Ia tidak mengerti, perubahan apakah yang telah terjadi dalam tata pemerintahan. Namun terasa baginya, dan bahkan bagi anak-anak yang lebih kecil dari dirinya, bahwa sesuatu telah terjadi.

Langkahnya semakin lama membawanya semakin jauh dari rumah paman dan bibinya. Ketika matahari berada di puncak langit ia mulai membayangkan, bahwa paman dan bibinya pada saat-saat yang demikian itu kembali sejenak dari sawah untuk beristirahat. Apabila kebetulan ada, mereka sekedar makan seadanya bersama-sama dengan anak-anak mereka.

“Paman dan bibi tentu mencari aku” desisnya. Tetapi Buntal berjalan terus. Ia mencoba untuk meneguhkan hatinya, agar ia tidak menjadi ragu-ragu atau bahkan melangkah kembali ke rumah itu, rumah paman dan bibinya yang miskin.

Namun ketika matahari menjadi condong ke Barat, terasalah sesuatu di perutnya. Lapar.

Buntal mulai menjadi gelisah. Sebelumnya ia tidak memikirkan, bagaimana ia mendapatkan makan di sepanjang perjalanannya. Dan kini baru ia sadar, bahwa ia menjadi sangat lapar.

Memang kadang-kadang sehari penuh ia tidak makan nasi di rumah paman dan bibinya yang miskin. Tetapi ada saja yang dapat diambilnya dari kebun, untuk sekedar mengisi perutnya. Kadang-kadang pohung, kadang-kadang nyidra atau garut atau apapun juga. Tetapi di perjalanan ini, ia tidak dapat menemukan apapun juga.

Keragu-raguan di hati Buntal mulai melonjak. Kadang-kadang timbul pula niatnya untuk kembali saja ke rumah paman dan bibinya. Tetapi ia tidak sampai hati melihat keadaan rumah dan keluarga itu sehari-hari.

Kadang-kadang Buntal harus menahan gejolak perasaannya, apabila ia mendengar adik sepupunya yang masih berumur setahun menangis karena lapar. Anaknya yang lebih tua duduk tepekur sambil menyeka air matanya. Yang lain tidur terlentang dengan lemahnya di amben bambu. Sedang yang sulung, yang tiga tahun lebih muda daripadanya, duduk tepekur sambil menganyam keranjang.

Buntal menarik nafas dalam-dalam. Umurnya sendiri belum mencapai limabelas tahun, sehingga adik sepupunya yang sulung itu belum mencapai duabelas tahun. Dan anak yang belum mencapai umur duabelas tahun itu harus sudah bekerja keras membantu ayah dan ibunya untuk mencari nafkahnya sehari-hari.

Tetapi kini perutnya sendiri merasa lapar. Sedang perjalanannya sama sekali tidak berketentuan. Ia tidak akan dapat menghitung sampai kapan ia harus berjalan. Dan kemanalah tujuan yang akan didatanginya. Ia tidak lagi mempunyai saudara yang agak jauh sekalipun.

Namun Buntal tidak berhenti. Ia melangkah terus dengan lemahnya. Semakin lama semakin lemah, sehingga akhirnya ia jatuh terduduk diatas sebuah batu di pinggir jalan.

Ketika tanpa disadarinya Buntal menengadahkan kepalanya ke langit, dilihatnya cahaya yang kemerah-merahan telah mulai membayang, sehingga sebentar lagi senja akan segera turun.

Buntal menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia mendengar gemericik air parit, maka terasa lehernya menjadi semakin kering. Karena Itu, maka perlahan-lahan ia beringsut mendekati parit itu. Apalagi ketika dilihatnya air yang bening mengalir diatas rerumputan yang hijau di dasar parit bercampur pasir yang keputih-putihan, maka ia pun segera berjongkok diatas tanggul. Dengan kedua belah telapak tangannya ia mengambil seteguk air untuk menghilangkan hausnya yang tidak tertahankan, meskipun ia sadar, bahwa air itu tidak bersih sama sekali dari kotoran, karena di parit itu pula para petani mencuci kaki, tangan dan alat-alatnya apabila mereka pulang dari sawah.

Tetapi lehernya terasa haus sekali.

Buntal menarik nafas dalam-dalam ketika terasa tenggorokan-nya telah menjadi basah. Perlahan-lahan ia berdiri dan memandang daerah di sekitarnya. Tetapi daerah itu adalah daerah yang asing baginya. Dan dengan demikian ia sadar, bahwa ia telah benar-benar terpisah dari paman dan bibinya. Ia tidak akan dapat menemukan jalan kembali, apabila ia tidak bertanya-tanya dengan susah payah.

Buntal menarik nafas dalam-dalam. Kecemasan semakin merayapi batinnya. Sebentar lagi malam akan tiba, dan sebentar lagi seluruh permukaan bumi ini akan menjadi gelap.

“Apakah aku akan tetap berada di bulak dan tidur diatas rerumputan?”

Tiba-tiba tengkuknya meremang. Di kejauhan dilihatnya seonggok pepohonan yang rimbun. Kalau itu sebuah ujung dari hutan yang membujur, meskipun hutan yang rindang, kadang-kadang masih ada juga seekor harimau yang tersesat keluar hutan dan mencari makan ke padukuhan. Mungkin seekor lembu, mungkin kambing dan apabila ia berada di bulak itu mungkin dirinya.

Dalam kecemasan itu, Buntal melihat sebuah gubug yang bertiang agak tinggi. Sebuah gubug yang di siang hari dipakai untuk menunggu dan menghalau burung.

“Mungkin tempat itu merupakan satu-satunya tempat yang paling baik buat bermalam. Tangga gubug itu cukup kecil, sehingga aku kira tidak, akan ada harimau yang dapat memanjat keatas.

Meskipun agak ragu, Buntal pun berjalan juga menyusur pematang ke gubug itu.

Besok pagi-pagi benar aku harus bangun dan meninggalkan gubug itu. Kalau aku kesiangan, dan ada seseorang yang menemukan aku masih tidur, maka aku akan mendapat seribu macam pertanyaan.

Ternyata gubug itu cukup panjang untuk menjelujurkan kakinya. Sambil menggeliat ia berbaring. Kepalanya diletakkan diatas kedua telapak tangannya.

Senja pun semakin lama menjadi semakin gelap. Seperti perut Buntal yang menjadi semakin lapar.

Sekali-kali Buntal menarik nafas dalam-dalam. Udara yang segar terhisap masuk ke dadanya. Namun dada itu masih juga tetap gelisah dan cemas.

Dengan demikian Buntal tidak segera dapat tertidur. Berbagai macam perasaan bergulat di dalam dirinya. Cemas, gelisah, takut dan juga lapar dan penat. Bahkan ia menjadi cemas pula apabila tiba-tiba saja pemilik gubug itu datang di malam hari untuk menengok sawahnya

“Mudah-mudahan tidak malam ini” desisnya, “mudah-mudahan ia tidak menengok sawahnya malam hari”

Namun kegelisahan itu membuatnya tidak segera dapat memejamkan matanya, apalagi karena perutnya terasa menjadi semakin lapar.

Namun oleh kepenatan yang sangat, kantuk yang tidak terlawan dan udara yang segar, akhirnya membuat Buntal terlena diatas gubug itu.

Anak itu tidak menyadari, berapa lamanya ia tertidur diatas gubug itu. Namun ia terkejut ketika terasa olehnya sinar matahari mulai menggigit kakinya.

Dengan tergesa-gesa Buntal bangkit.

“O, matahari telah tinggi”

Sejenak kemudian Buntal telah duduk di gubug itu sambil memperhatikan keadaan di sekitarnya. Beberapa orang dilihatnya telah bekerja di sawahnya. Beberapa yang lain sedang menyelusuri parit yang mengalirkan air yang bening.

“Aku harus segera pergi” desisnya, “kalau yang mempunyai gubug ini datang, aku akan mengejutkannya dan mungkin aku disangkanya telah berbuat sesuatu yang merugikannya”

Tetapi selagi Buntal membenahi dirinya, ia merasa gubug itu terguncang, sehingga karena itu maka dadanya segera menjadi berdebaran. Ia sadar, bahwa seseorang pasti sedang naik keatas gubug itu.

Belum lagi ia sempat berbuat sesuatu, tiba-tiba sebuah kepala telah menjenguk dari balik alas gubug itu. Seorang gadis kecil yang sama sekali tidak menyangka, bahwa ada seseorang diatas gubugnya, sedang memanjat naik untuk menyimpan bakulnya diatas gubug itu.

Tetapi tiba-tiba saja ia melihat seorang anak muda yang belum dikenalnya di dalam gubugnya itu.

Karena itu, betapa ia terperanjat. Sejenak ia membeku, namun kemudian ia pun segera meluncur turun. Tetapi karena ia terlampau tergesa-gesa, maka ia pun terperosok diantara mata tangga dan jatuh diatas tanah yang basah.

Tanpa sesadarnya gadis kecil itu menjerit. Kemudian tubuhnya terbanting ke dalam lumpur yang kotor.

Jerit gadis kecil itu ternyata telah mengejutkan beberapa orang yang berada di sekitar tempat itu. Bahkan Buntal pun terkejut pula. Dengan serta-merta ia menjengukkan kepalanya dan dilihatnya gadis itu sedang bergulat untuk bangkit dari lumpur yang licin.

Buntal tidak berpikir apapun lagi. Ia pun segera turun dengan tergesa-gesa dan berusaha menolong gadis yang berlumuran tanah yang kotor itu.

Sesaat kemudian beberapa orang pun datang berlari-lari ke gubug itu. Yang mereka lihat, Buntal sedang menarik gadis itu dan mencoba membantunya berdiri. Sedang tubuh gadis itu sendiri tiba-tiba menjadi lemas seperti tidak bertenaga. Karena terkejut yang amat sangat, maka gadis kecil itu menjadi pingsan karenanya.

“He, apakah yang kau lakukan atas anak itu?” bentak seorang yang bertubuh pendek, tetapi sekuat kerbau jantan, yang ternyata dari urat-uratnya yang menonjol di permukaan kulitnya.

“Aku tidak berbuat apa-apa” jawab Buntal ketakutan, “Lepaskan” teriak seorang anak muda.

“Tetapi, tetapi….”

“Lepaskan” teriak yang lain.

Tetapi Buntal tidak segera melepaskannya.

“He, kenapa kau tidak mau melepaskan?”

“Ia lemas. Lemas sekali” suara Buntal tergagap, “kalau aku lepaskan ia akan terjatuh”

Sejenak orang-orang yang mengerumuninya saling berpandangan.

Kemudian dua orang anak muda meloncat maju dan merenggut tubuh gadis itu dari tangan Buntal. Ternyata bahwa gadis itu benar-benar telah lemas dan jatuh pingsan.

“Bawa dia menepi. Bersihkan tubuhnya dari lumpur”

Gadis itu pun kemudian dipapah oleh dua orang anak-anak muda yang kemudian meletakkannya di pematang. Dengan selendangnya, wajah gadis yang berlumuran lumpur itu pun kemudian dibersihkannya.

“Ayahnya belum datang?” bertanya seseorang.

“Belum, ia datang seorang diri”

Kini semua mata tertuju kepada Buntal. Orang yang bertubuh pendek dan berotot menonjol melangkah maju sambil menggeram, “Apa yang kau lakukan he?”

Buntal menjadi semakin ketakutan. Ia menyesal bahwa ia telah terbangun kesiangan, sehingga ia harus mengalami perlakuan yang mendebarkan itu.

“Kau apakan anak itu he?”

“Aku, aku tidak apa-apa. Aku tidak berbuat apa-apa”

“Bohong” sahut seorang anak muda yang bertubuh tinggi, “mungkin kau ingin berbuat jahat. Apapun yang akan kau lakukan. Mungkin kau melihat gadis itu memakai perhiasan. Atau kau memang akan berbuat jahat kepada gadis itu sendiri”

“Tidak, aku tidak berbuat apa. Aku semalam memang tidur di gubug itu. Mungkin ia terkejut melihat aku”

“Jangan mengada-ada. Dan kenapa kau berada di gubug itu? Siapa kau dan dimana rumahmu?”

Buntal menjadi semakin kebingungan. Ingin ia menyebut nama paman dan bibinya. Tetapi jika demikian, dan persoalan yang tidak diharapkannya ini menjadi persoalan yang berkepanjangan, maka paman dan bibinya akan tersangkut pula. Padahal mereka sudah selalu dalam kesulitan untuk hidup mereka sehari-hari. Kalau mereka harus berbuat sesuatu untuk dirinya, maka hidup mereka pun akan semakin terbengkelai.

“Siapa kau he?” seorang yang bertubuh tinggi membentak.

“Namaku Buntal” jawabnya. Suaranya sudah menjadi gemetar.

“Buntal, Buntal. Dimana rumahmu he?”

Buntal ragu-ragu sejenak.

“Dimana?” tiga orang berbareng membentak.

Suara Buntal menjadi semakin gemetar. Jawabnya, “Aku anak yatim piatu”

“He?”

“Aku yatim piatu”

“Bohong. Bohong. Dimana rumahmu. Meskipun seandainya kau yatim piatu, namun kau pasti mempunyai tempat tinggal”

Buntal menjadi semakin bingung. Tetapi ia sudah bertekad untuk tidak menyeret paman dan bibinya yang sudah terlampau sulit itu untuk mendapatkan kesulitan-kesulitan baru. Karena itu, maka ia ingin menunjukkan rumah yang sudah lama ditinggalkan, setelah ayahnya meninggal. Dan rumah itu sama sekali bukan rumahnya karena ia tinggal di pengengeran sekeluarga.

“Dimana, dimana he? Apakah kau menjadi bisu” bentak orang-orang yang marah itu.

“Aku, aku tidak mempunyai rumah karena ayahku hanya seorang pelayan. Seorang abdi”

“Dimana?

“Surakarta”

“Surakarta? Yang kau maksud kau tinggal di dalam kota Surakarta?”

“Ya”

“O, jadi kau anak orang kota? Tetapi kau sama sekali tidak tahu adat?”

“Bukan, aku bukan orang kota. Ayah sekedar seorang abdi dari seorang bangsawan. Ayah adalah seorang juru pengangsu yang dahulu datang dari padesan juga”

“Dimana ayahmu sekarang?”

“Meninggal. Ayah sudah meninggal”

“Dan kau?”

“Aku diusir dari rumah bangsawan itu”

“Pantas. Pantas. Kau pasti berbuat tidak senonoh di rumah bangsawan itu. Kau pasti berbuat jahat seperti yang baru saja kau lakukan”

“Tidak. Aku tidak berbuat apa-apa. Tetapi bangsawan-bangsawan memang terlampau kejam sekarang”

“Omong kosong. Kau pasti yang jahat”

“Tidak. Aku tidak jahat. Sejak rumah itu sering dikunjungi kumpeni, Raden Tumenggung Gagak Barong telah berubah”

“Kumpeni?”

“Ya”

“Omong kosong. Kau memang seorang yang pandai berbohong. Sekarang kau masih mencoba berbohong, meskipun kami dapat melihat sendiri apa yang sudah kau lakukan”

“Aku tidak! berbuat apa-apa”

Tiba-tiba seorang anak muda yang bermata setajam burung hantu maju kedepan. Dengan serta merta anak muda itu menerkam baju Buntal yang sudah kusut. Sambil menarik ia menggeram, “Berkatalah berterus terang. Siapa kau sebenarnya, dan kenapa kau berada disini?”

“Aku sudah mengatakan semuanya”

“Bohong. Bohong” anak muda itu mulai mengguncang-guncang baju Buntal.

Buntal menjadi semakin gemetar. Apalagi ketika dilihatnya beberapa orang maju mendekat dengan pandangan mata yang seakan-akan langsung menusuk jantung.

“Ayo, berkatalah sebenarnya” orang lain berteriak.

Dan Buntal menjadi semakin terkejut ketika tiba-tiba seseorang telah meloncat maju dan langsung menggenggam rambutnya.

“Kalau kau berbohong sekali lagi, aku pukul mulutmu”

Buntal benar-benar telah kehilangan akal. Tubuhnya menggigil seperti semalam suntuk terendam air. Wajahnya menjadi pucat seperti kapas.

“Jawab. Apa yang sudah kau lakukan?”

Mulut Buntal bergerak-gerak, tetapi suaranya tidak terdengar.

“Jawab pertanyaanku”

Buntal masih belum dapat mengucapkan kata-kata, sehingga orang-orang itu menjadi semakin marah. Kepala Buntal terputar ketika sebuah telapak tangan menampar pipinya.

“Ayo bilang. Bilang bahwa kau telah mengganggu gadis, kecil itu diatas gubug. Untunglah bahwa ia justru terlempar dan sempat menjerit”

“Tidak. Tidak” hanya itulah yang dapat diucapkan oleh Buntal karena tangan yang lain telah memukul dagunya.

Alangkah sakitnya. Dan alangkah sakit hatinya. Ia sama sekali tidak dapat melawan. Ketika rambut dan bajunya dilepaskan dan sebuah tangan lagi memukul pipinya. Buntal benar-benar telah terlempar dan terbanting jatuh diatas pematang, namun ia pun kemudian terguling ke dalam lumpur.

Tertatih-tatih ia mencoba berdiri. Namun ia tidak sempat tegak karena sebuah tendangan mengenai lambungnya, dan mendorongnya sekali lagi jatuh ke dalam lumpur.

“Bawa saja kepada Ki Jagabaya” berkata salah seorang dari mereka.

“Pukuli saja disini. Di dalam keadaan seperti ini, orang-orang gila pantas dibunuh saja”

“O, jangan, jangan” teriak Buntal.

“Kau sudah berani berbuat gila, kau harus mempertanggung jawabkannya. Kenapa kau takut?”

“Aku tidak berbuat apa-apa. Aku tidak berbuat apa-apa” hanya kata-kata itulah yang dapat diucapkan oleh Buntal. Ia tidak dapat menemukan kalimat-kalimat yang lain di dalam keadaannya itu.

Tetapi orang-orang itu tidak menghiraukannya lagi. Beberapa orang segera menariknya ke pematang. Kemudian Buntal diseret seperti seonggok batang pisang ke jalan di tengah-tengah sawah itu.

Sejenak kemudian wajahnya telah dihujani dengan pukulan-pukulan dan bahkan beberapa orang telah meludahinya.

Kepala Buntal segera menjadi pening. Kepalanya serasa menjadi retak dan pandangannya berkunang-kunang. Tetapi ia masih mendengar setiap orang memaki-makinya.

“Gadis itu masih pingsan” terdengar seseorang berkata, “bunuh saja anak jahanam itu. Ia membuat pedukuhan ini ternoda”

“Ya bunuh, bunuh saja”

Buntal tidak berdaya sama sekali untuk melakukan pembelaan. Sekilas terlintas di kepalanya, kenangan atas perjalanannya yang panjang sehingga ia sampai ke tempat ini. Dan terlintas pula di kepalanya, perjalanan yang seakan-akan telah terbentang di hadapannya. Jalan yang jauh lebih panjang dari jalan yang baru saja dilaluinya itu.

“Aku akan menyeberangi langit” katanya di dalam hati.

Dan sesaat kemudian Buntal itu menjadi pingsan, ia tidak merasakan lagi pukulan-pukulan yang bertubi-tubi mengenainya. Dengan lemahnya ia terkapar di tanah tanpa dapat berbuat sesuatu.

Dalam pada itu, selagi Buntal masih mengalami hukuman yang sama sekali tidak diduganya, seorang tua berlari-lari diikuti oleh seorang anak muda yang sebaya dengan Buntal menuju ke pematang. Orang tua itu adalah ayah dari gadis yang pingsan itu. Seseorang telah memberitahukan kepadanya apa yang telah terjadi di sawah.

Ketika ia sampai di sisi anak gadisnya, segera ia berlutut. Diraba-rabanya tubuh anaknya, kemudian dipijit-pijitnya tengkuknya. Tetapi wajahnya tampak menjadi agak cerah ketika ia mendengar anaknya itu merengek seperti dimasa kanak-kanaknya.

“Arum” desis orang tua itu, “kenapa kau?”

Arum, gadis itu, membuka matanya. Dilihatnya ayahnya berjongkok di sampingnya.

“Apakah yang terjadi?”

Arum masih bingung sejenak. Namun kemudian ditolong oleh ayahnya ia mengangkat kepalanya.

Sejenak ia mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi. Perlahan-lahan, namun semakin lama menjadi semakin jelas. Dan tiba-tiba saja ia berkata kepada ayahnya, “Aku terjatuh ayah. Aku terkejut sekali”

Ayahnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan tiba-tiba pula anaknya itu memandang ke jalan yang membujur diantara tanah persawahan.

“Apa yang terjadi disana ayah?” ia bertanya sambil menunjuk orang-orang yang berkerumun sambil menyepak-nyepak.

“Anak itu. Anak yang barangkali sudah berbuat jahat kepadamu”

“Kenapa dengan anak itu?”

“Orang-orang telah menganggapnya bersalah. Mereka memukuli anak itu”

“Tidak ayah. Anak itu tidak berbuat apa-apa. Aku hanya terkejut dan aku terjatuh ketika aku meluncur turun, ia berada diatas gubug, sedang aku baru saja naik keatas. Dan aku masih berdiri di tangga”

“Aku sudah minta anak mas Juwiring untuk mencegahnya”

Arum kemudian duduk bersandar kedua tangannya. Kepalanya masih terasa pening. Namun ia menjadi cemas, apabila terjadi sesuatu atas anak yang dilihatnya duduk diatas gubugnya.

Dalam pada itu, Juwiring telah berdiri ditengah-tengah lingkaran orang-orang yang mengerumuni Buntal yang terbaring di tanah.

Sejenak ia masih melihat beberapa pasang kaki menyepak-nyepak tubuh yang sudah tidak berdaya itu. Namun ketika anak muda yang bernama Juwiring itu berdiri diantara mereka sambil memandang berkeliling, maka tiba-tiba saja orang-orang yang berkerumun itu bergeser surut.

“Kenapa dengan anak ini paman?” bertanya Juwiring, Meskipun umurnya belum sampai tujuh belas tahun, tetapi terasa wibawa yang besar memancar dari nada kata-katanya.

Tidak seorang pun yang segera menyahut. Beberapa orang saling berpandangan. Tetapi mulut mereka masih tetap terkatup rapat-rapat.

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia membungkukkan badannya dan meraba tubuh Buntal, ia berdesis, “Pingsan. Anak ini telah, pingsan”

Tiba-tiba mata Juwiring menjadi tajam memandang setiap wajah yang ada di sekelilingnya. Satu-satu wajah itu tertunduk lemah.

“Apakah salah anak ini?” sekali lagi ia bertanya.

Tetapi tidak ada yang segera menjawab, sehingga akhirnya Juwiring maju selangkah mendekati orang yang bertubuh pendek kekar dan berotot seperti jalur-jalur pohon merambat di seluruh tubuhnya.

“Paman” bertanya Juwiring, “apakah salah anak itu?”

Orang itu tergagap sejenak. Namun karena tatapan mata Juwiring bagaikan menusuk jantungnya, akhirnya ia menjawab, “Anak ini telah mengganggu Arum diatas gubugnya”

“O” Juwiring mengerutkan dahinya. Sekali ia berpaling, namun Buntal masih terbaring diam.

“Apakah yang sudah dilakukannya? Apakah ia merampas barang-barang milik Arum, ataukah ia berbuat lain?”

Orang bertubuh kekar itu menjadi semakin bingung. Namun kemudian ia menjawab, “Kami hanya mendengar Arum menjerit. Dan kami datang berlari-larian. Kami melihat kemudian anak itu sedang memeluk Arum yang lemah dan kotor”

“Diatas gubug?”

Orang itu menggeleng, “Tidak. Di dalam lumpur”

“Kalian yakin bahwa anak ini berbuat jahat?”

Tidak seorang pun yang menjawabnya.

“Kalian yakin bahwa anak ini akan berbuat jahat terhadap Arum? Ya? Begitu?”

Masih belum ada seorang pun yang menjawab.

“Bagaimana kalau Arum terpekik karena ia terjatuh, dan kemudian anak ini justru menolongnya dari lumpur?”

Orang-orang itu masih terdiam.

“Atau, apabila kalian yakin bahwa anak ini bersalah, aku pun tidak berkeberatan anak ini dihukum. Apalagi kalau ia langsung akan berbuat jahat kepada Arum itu sendiri” anak muda itu terdiam sejenak sambil memandang berkeliling, lalu selangkah ia bergeser mendekati orang yang tinggi, “Kau juga yakin ia bersalah?”

Orang tinggi itu menundukkan kepalanya, sementara Juwiring bergeser lagi. Seorang demi seorang didekatinya dan dengan nada datar bertanya kepadanya, apakah anak itu memang bersalah. Tetapi setiap kepala tertunduk karenanya.

“Baiklah. Kalian tidak ada yang menjawab dengan tegas, tetapi karena kalian telah bertindak, maka kalian pun pasti sudah meyakini kesalahannya. Karena itu, aku pun akan ikut serta memutuskan bahwa anak ini bersalah, karena ia telah berbuat jahat kepada Arum” Juwiring berhenti sejenak. Namun tiba-tiba ia melangkah mendekati seseorang yang berdiri di paling belakang. Tanpa berkata apapun juga, orang itu diputarnya. Kemudian diambilnya sebuah sabit yang terselip di punggungnya.

Semua mata memandang Juwiring dengan tegangnya. Apalagi ketika setapak demi setapak ia maju mendekati Buntal yang masih pingsan.

“Agaknya kalian telah berkeputusan untuk membunuhnya. Sekarang, biarlah aku yang melakukannya. Kalau kalian yakin anak ini bersalah, aku pun yakin pula, sehingga pantaslah apabila ia dihukum mati”

Sekali lagi Juwiring memandang berkeliling. Karena tidak seorang pun yang menyahut, maka ia pun melangkah maju. Dengan kaki renggang ia berdiri di sisi Buntal yang terbaring di tanah.

Setelah memandang wajah anak yang pingsan itu sejenak, maka katanya, “Aku akan membunuhnya. Aku akan membelah perutnya karena ia sudah berbuat jahat”

Tetapi ketika Juwiring berjongkok di samping tubuh Buntal yang pingsan, tiba-tiba seorang yang berkumis keputih-putihan berkata terbata-bata, “Tetapi, tetapi kami belum yakin bahwa ia memang bersalah”

Juwiring mengangkat wajahnya. Dipandanginya orang yang berkumis putih itu. Bahkan kemudian anak muda itu pun berdiri dan melangkah mendekatinya, “Kau paman Dipa. Sepengetahu-anku, membunuh tikus pun kau tidak mau. Tetapi agaknya kau ikut serta menyakiti anak ini?”

Orang berkumis putih dan bernama Dipa itu terdiam. Sekali ia menelan ludahnya. Namun tidak sepatah kata lagi yang meluncur dari mulutnya.

“Jadi bagaimana?” Juwiring bertanya.

Karena tidak ada yang menjawab, Juwiring menepuk pundak seseorang, “Apakah sebaiknya aku membunuhnya?”

Orang itu menjadi tegang. Namun kemudian ia berkala gemetar, “Tidak. Tidak. Aku pun tidak meyakini kesalahannya”

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia memandang seorang yang berwajah pucat, tanpa ditanya apapun orang itu berkata, “Ya. Kami belum pasti, bahwa ia pantas dihukum, apalagi dibunuh”

Juwiring mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika sekali lagi ia memandang setiap wajah, maka setiap wajah itu pun menjadi semakin tunduk ke tanah.

“Nah, ternyata kalian telah melakukan sesuatu dengan tergesa-gesa. Setelah anak ini pingsan, dan bahkan hampir mati, barulah kalian menyadari, bahwa kalian tidak berbuat atas dasar keyakinan. Seorang diantara kalian berteriak bahwa anak ini bersalah, maka kalian tidak sempat lagi berpikir. Seperti kehilangan diri, kalian berebutan menjatuhkan hukuman atas anak ini. Dipa, Naya, Angga yang aku kenal sebagai orang-orang yang ramah dan baik hati, di dalam keadaan tanpa sadar, telah melakukan perbuatan ini”

Kepala-kepala itu pun menjadi semakin tunduk lagi. Kalau saja mungkin, mereka akan berlari dan menyembunyikan wajah-wajah yang serasa menjadi panas.

Juwiring mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia mendekati Buntal. Dan Buntal agaknya masih juga pingsan.

“Panggil Kiai Danatirta itu” berkata Juwiring kemudian.

Dipa yang paling gemetar, segera berdiri dan berjalan tertatih-tatih di pematang, pergi ke tempat Kiai Danatirta menunggui anaknya Arum.

“Kiai, Raden Juwiring memanggil Kiai”

“O, baiklah. Duduklah disini Arum”

“Aku ikut ayah”

“Kau masih terlampau lemah”

“Tidak. Aku sudah baik”

Kiai Danatirta memandang anaknya sejenak. Namun kemudian katanya, “Marilah”

Kiai Danatirta pun kemudian membimbing anaknya di sepanjang pematang pergi mendapatkan Juwiring yang masih berdiri ditengah-tengah kerumunan orang-orang yang kebingungan itu.

“Kiai” berkata Juwiring kemudian, “anak ini pingsan”

“O” Arum lah yang menyahut, “Kenapa? Kenapa ia pingsan, Raden?”

“Bertanyalah kepada orang-orang ini”

Arum memandang orang-orang yang berdiri membeku itu. Kemudian perlahan-lahan ia melangkah maju bersama ayahnya, Kiai Danatirta, mendekati Buntal yang pingsan.

“Ayah” Arum hampir memekik, “wajahnya merah biru”

Kiai Danatirta mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia berdesis, “Apakah anak ini pantas mendapat hukuman yang begini berat?”

“Ia tidak bersalah” berkata Arum kemudian.

Dan ternyata kata-kata Arum itu bagaikan menyengat setiap hati yang membeku di sekitar Buntal yang pingsan itu.

“Ambillah air” desis Kiai Danatirta.

Seseorang pun kemudian mengambil air dengan sehelai daun yang disobeknya pada sebatang pohon pisang yang tumbuh di pinggir parit.

Setitik demi setitik, Kiai Danatirta meneteskan air di mulut Buntal. Sambil memijit-mijit bagian tubuhnya yang lain, Kiai Danatirta berusaha membangunkan Buntal yang pingsan itu.

Sejenak kemudian terdengar anak itu merintih. Semakin lama semakin keras. Bahkan kemudian terdengar ia mengaduh.

“Ia telah sadar” desis Kiai Danatirta.

Juwiring pun kemudian berjongkok pula di sampingnya. Ditatapnya wajah yang biru pengab itu dengan dada yang berdebar-debar. Juwiring menyadari, betapa sakitnya wajah itu, dan bahkan seluruh tubuhnya.

“Terlalu” Juwiring berdesis, “mudah-mudahan anak ini berjiwa besar”

Ketika sebuah pedati lewat di jalan persawahan itu, maka Juwiring pun segera menghentikannya. Dengan sangat ia minta agar pemiliknya bersedia menolong membawa Buntal ke rumah. Ke rumah Kiai Danatirta.

Ternyata pemilik pedati itu tidak berkeberatan. Dengan senang hati ia memenuhi permintaan Juwiring dan Kiai Danatirta itu.

Perlahan-lahan tubuh Buntal itu diangkat dan dibaringkan di dalam pedati. Setiap kali terdengar ia mengaduh. Namun matanya masih terpejam, dan kesadarannya masih belum pulih sama sekali.

Ketika Buntal perlahan-lahan membuka matanya, tampaklah atap rumah yang samar-samar. Semakin lama menjadi semakin jelas. Kemudian dilihatnya wajah-wajah yang cemas di sisinya. Wajah yang belum pernah dilihatnya.

Namun ketika ia mencoba menggerakkan tubuhnya, terasa seakan-akan seluruh tulang belulangnya berpatahan. Alangkah sakitnya, sehingga tanpa sesadarnya ia pun mengaduh tertahan-tahan.

“Jangan bergerak dahulu. Tubuhmu masih terlampau lemah. Bahkan mungkin terlampau sakit.”

Buntal menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia masih harus selalu menyeringai apabila rasa sakit mulai menusuk kulitnya.

“Apakah kau haus?”

Buntal memandang orang yang bertanya kepadanya. Seorang yang sudah memanjat ke pertengahan abad. Sedang seorang lagi adalah seorang anak muda yang sebaya dengan dirinya. Seandainya ada selisih umur, maka selisih itu tidak lebih dari satu atau dua tahun.

“Dimanakah aku ini?” desis Buntal hampir tidak terdengar.

“Kau berada di rumahku, di rumah Kiai Danatirta. Dan anak muda ini adalah Raden Juwiring”

Buntal menarik nafas dalam-dalam, seakan-akan ia mencoba mengurangi perasaan sakit yang menusuk-nusuk.

“Tenangkan hatimu” berkata Juwiring, “Kau akan dirawat dengan baik disini”

Buntal memandang Juwiring dengan heran. Tetapi ia tidak segera bertanya apapun juga.

Namun sejenak kemudian Buntal terkejut ketika ia melihat seorang gadis yang memasuki bilik itu sambil membawa sebuah belanga kecil. Gadis itulah yang dilihatnya memanjat tangga gubug dan kemudian jatuh ke dalam lumpur.

Karena itu, hatinya menjadi berdebar-debar. Dipandanginya gadis itu seperti memandang hantu. Bahkan kemudian terloncat kata-katanya

“Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku tidak berbuat apa-apa terhadapnya”

Kiai Danatirta mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya lembut, ““Ya. kau memang tidak berbuat apa-apa”

Buntal heran mendengar jawaban itu. Karena itu ia pun justru terdiam sejenak.

“Arum” berkata Kiai Danatirta, “letakkan belanga itu disini”

Gadis itu pun kemudian meletakkan belanga kecil itu di lantai di dekat pembaringan Buntal. Sejenak ia memandang anak yang terbaring kesakitan itu dengan pandangan iba. Bahkan tanpa sesadarnya ia bertanya, “Kau sakit?”

Buntal menjadi bingung, bagaimana ia akan menjawab pertanyaan itu, sehingga karena itu, ia terdiam membeku.

Arum yang berdiri termangu-mangu itu pun kemudian menundukkan wajahnya. Sebelum ia mendengar jawaban Buntal, ia telah pergi meninggalkan bilik itu.

“Ia adalah anakku” berkata Kiai Danatirta.

“O” Buntal menjadi bertambah cemas, “Tetapi aku tidak berniat berbuat apa-apa”

“Ya, ya. Aku percaya kepadamu. Kau tidak berbuat apa-apa. Anakku, Arum, juga berkata bahwa kau tidak berbuat apa-apa”

“O” Buntal mengerutkan keningnya.

“Siapa namamu?” bertanya Juwiring kemudian.

Buntal memandang anak muda itu sejenak, lalu jawabnya, “Buntal. Namaku Buntal”

“Buntal” ulang Juwiring, “dimana rumahmu?”

Buntal menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Aku tidak mempunyai rumah. Aku tidak mempunyai ayah dan ibu lagi”

“Yatim piatu?”

“Ya”

“Tetapi kenapa kau berada di gubug itu. sehingga Arum terkejut karenanya?”

“Aku berjalan menuruti langkah kakiku. Ketika aku kemalaman, aku bermalam di gubug itu”

Kiai Danatirta yang ikut mendengar keterangan itu mengangguk-angguk. Sebagai seorang yang mempunyai pandangan yang luas tentang hidup dan kehidupan, ia melihat kejujuran di wajah Buntal. Karena itu maka ia sama sekali tidak berprasangka apapun kepada anak yang kesakitan itu.

“Aku akan mencoba mengobati badanmu yang merah biru” berkata Kiai Danatirta.

Buntal memandangnya dengan penuh keheranan. Ia melihat wajah kedua orang yang menungguinya itu bagaikan titik-titik embun di hatinya yang gersang.

“Bergeserlah sedikit menepi” berkata orang tua itu kemudian.

Buntal mencoba bergeser sedikit. Tetapi terasa seluruh tubuhnya menjadi sakit, seolah-olah tulang-tulangnya telah menusuk-nusuk kulit dan dagingnya. Namun ditahankannya perasaan itu sekuat-kuatnya. Meskipun ia menyeringai, tetapi ia kini tidak mengeluh lagi.

“Tolong anak mas” berkata Danatirta kepada Juwiring, “peganglah belanga ini”

Juwiring pun kemudian memegang belanga yang berisi cairan yang berwarna coklat kehitam-hitaman, sementara Kiai Danatirta mulai mengendorkan seluruh pakaian Buntal.

Dengan lembut Kiai Danatirta mulai mengusap seluruh bagian badan Buntal dengan cairan itu. Cairan yang terasa hangat di tubuh yang biru pengab.

“Dengan demikian tubuhmu tidak akan membengkak Buntal” desis Kiai Danatirta.

Buntal tidak menyahut. Namun tiba-tiba terasa getaran-getaran yang aneh mengusik hatinya. Sentuhan tangan yang lembut itu telah menumbuhkan sebuah kenangan di hati Buntal. Kenangan kepada ayah dan ibunya yang telah mendahuluinya. Ia masih teringat semasa kanak-kanak, apabila ia terjatuh dan terkilir, ibunya selalu mengusapnya dengan pipisan beras kencur. Di sore hari setelah mandi, menjelang tidur. Meskipun ayah dan ibunya orang yang miskin, tetapi mereka berusaha sejauh-jauh dapat mereka lakukan, untuk membuat Buntal menjadi seorang anak yang baik. Yang memeliharanya dengan penuh kasih sayang.

Dari ucapan tangan Kiai Danatirta itu ternyata telah mengungkat kenangan itu. Terbayang kembali di rongga matanya, ibunya duduk di bibir pembaringannya, sedang ayahnya berjalan mondar mandir dengan tangan bersilang di dadanya, apabila ia menjadi sakit. Bahkan kadang-kadang ia melihat titik air mata di sudut mata ibunya yang redup.

Tiba-tiba perasaan haru yang sangat melonjak di dasar hatinya. Bagaimanapun juga ia bertahan, namun setitik air mata telah mengembun di pelupuknya, bahkan kemudian mengalir di pipinya yang pengap.

Juwiring melihat air mata yang meleleh itu. Sehingga tanpa sesadarnya ia bertanya, “Apakah tubuhnya justru menjadi sakit sekali?”

Pertanyaan itu mengejutkan Buntal. Dengan sisa tenaganya ia mengangkat tangannya dan mengusap matanya.

“Tidak” jawabnya, “tubuhku merasa semakin baik”

“Tetapi kenapa kau justru menangis? Selagi kau dipukuli dan pingsan di pinggir jalan, aku tidak melihat matamu menjadi basah. Tetapi kini justru kau mulai menitikkan air mata”

Buntal mencoba menggelengkan kepalanya. Jawabnya perlahan-lahan, “Tidak. Aku tidak menangis”

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak bertanya lagi meskipun ia merasakan sesuatu yang menyentuh perasaan anak itu, meskipun anak itu tidak mau mengatakannya.

Apalagi ketika Kemudian Kiai Danatirta berkata, “Sudahlah Buntal. Tenangkan hatimu. Cobalah untuk tidur agar tubuhmu menjadi segar” Namun tiba-tiba, “Apakah kau sudah makan?”

Pertanyaan itu benar-benar telah mengetuk hati Buntal, sehingga betapa ia bertahan, tetapi titik air matanya menjadi semakin deras mengalir di pipinya.

Kiai Danatirta ternyata mampu membaca perasaan anak itu, sehingga ia berkata kepada Juwiring, “Tungguilah anak ini anak mas. Aku akan pergi ke belakang sebentar”

Juwiring menganggukkan kepalanya. Namun ia mengerti juga apa yang akan dilakukan oleh Kiai Danatirta. Agaknya anak ini memang belum makan.

Sejenak kemudian seorang gadis masuk, ke dalam bilik itu. Tampaknya ia sudah menjadi sehat benar, seolah-olah tidak ada lagi bekasnya, bahwa ia baru saja terjatuh dan pingsan karenanya.

“Minuman hangat” desisnya sambil meletakkan sebuah mangkuk berisi air jahe yang panas dengan segumpal gula kelapa diatas sebuah nampan kayu. Sejenak ia berdiri memandang wajah Buntal yang biru pengab. Sepercik penyesalan membayang di wajah Arum.

“Kalau aku tidak berteriak” katanya di dalam hati, “orang-orang itu tidak akan berbuat apa-apa atasnya” namun lalu, “Tetapi aku sama sekali tidak sengaja. Aku terkejut sekali”

Tetapi Arum tidak mengucapkan kata-kata lagi. Ia pun melangkah keluar dari bilik itu. Seorang pembantu telah menyediakan makan nasi hangat buat Buntal setelah Kiai Danatirta memberitahukan bahwa anak itu perlu makan. Dan Arum lah yang membawa makanan itu masuk ke biliknya.

“Makanlah” berkata Juwiring selelah makanan itu tersedia. Buntal menarik nafas dalam-dalam. Ia bertahan sekuat-kuatnya agar perasaannya tidak meledak. Diusapnya air matanya yang membasah.

“Makanlah” ulang Juwiring, “Aku kira kau belum makan”

Buntal mengangguk-angguk perlahan.

“O” desis Juwiring, “Kau belum dapat bangkit sendiri? Marilah, aku tolong kau bangun”

Juwiring pun kemudian menolong Buntal untuk bangkit dan duduk di pembaringan. Tubuhnya yang sudah dilumuri dengan param oleh Kiai Danatirta kini merasa agak menjadi segar.

“Makanlah” sekali lagi Juwiring mempersilahkan.

Buntal merasa agak malu juga. Tetapi tiba-tiba terasa perutnya yang lapar meronta, justru ketika hidungnya mulai disentuh, oleh asap nasi hangat dan sepotong ikan air kering.

Buntal menelan ludahnya. Ia bukan saja belum makan pagi ini, tetapi kemarin sehari penuh ia juga belum makan.

Juwiring bergeser maju. Sambil tersenyum ia bertanya, “Kau dapat makan sendiri?”

“Ya, ya. Aku dapat makan sendiri” jawab Buntal terbata-bata.

“Tanganmu tidak sakit?”

Buntal menggerakkan tangannya. Sebenarnya lengannya juga merasa sakit. Tetapi ia menggeleng, “Tidak. Lenganku tidak sakit”

“Kalau begitu makanlah sendiri”

Buntal merasa agak malu-malu juga. Seandainya perutnya tidak terasa sangat lapar, ia akan berkeberatan makan sendiri di pembaringan, seperti seseorang yang kecukupan dan dilayani oleh pembantu-pembantunya.

Tetapi karena perutnya yang mendesak, akhirnya disenduknya juga nasi dari ceting bambu dengan entong tempurung. Dengan sayur dedaunan yang hijau dan sepotong ikan kering, maka ia mulai menyuapi mulutnya yang sakit.

Alangkah nikmatnya. Jarang sekali ia sempat makan nasi hangat dengan sepotong ikan air, meskipun ia dapat mencarinya sendiri di sungai. Apalagi apabila perutnya sedang sangat lapar seperti saat itu, setelah meneguk air jahe dengan gula kelapa.

“Tetapi harganya terlampau mahal” katanya di dalam hati, “wajahku harus menjadi biru pengab dan seluruh tubuhku terasa sakit. Untunglah bahwa aku belum mati diinjak-injak”

Demikianlah setelah makan dan minum, tubuh Buntal terasa menjadi semakin segar. Kini ia tinggal berjuang melawan rasa sakit. Tidak lagi melawan rasa lapar pula.

Bahkan sejenak kemudian tanpa disadari, Buntal berbaring sambil memejamkan matanya. Lambat laun semuanya tidak dapat diingatnya lagi. Tetapi kini ia tidak pingsan.

Ketika Buntal telah tertidur nyenyak maka Juwiring pun meninggalkannya sendiri di dalam bilik itu. Sekali Arum menengoknya juga dari ambang pintu, namun kemudian ia pun melangkah pergi sambil menutup pintu itu.

Bersambung ke bagian 2

10 Tanggapan

  1. Asyiiik…tiap dua hari sekali dapat suguhan bacaan menarik sekaligus berharga..alm SH Mintardja adalah seorang empu sastra yang tak ragu2 mengungkap gimana sebenarnya watak dan kepribadian bangsa di negeri tercinta ini..terimakasih..saya akan selalu setia menyimak semua suguhan..

    monggo ki sanak
    jika banyak yang berminat kami lebih bersemangat untuk menuntaskannya
    kalau tidak, jadi malas, he he he …. (mudah-mudahan tidak, kami sudah memulai dan akan menyelesaikannya dengan mengunggah semua karya Ki SHM yang tinggal beberapa judul saja)

  2. Wuah…, saya jadi bersemangat bahwa BdBK ini akan terus dilanjutkan, maturnuwun sanget kakangmas.

  3. matur nuwun sanget ki Arema sampun maringi koleksinipun empu SH Mintardja……!!!!

  4. Sy sdh lama sekali mencari naskah2 karya SH Mintardja…..baru kali ini sy menemukannya ada di sini……sungguh sy sangat senang sekali….trimakasih……!!!!!!!!!!!!!!!!

  5. matur nuwun ki sanak

  6. Lanjutannya belum ya kisanak..koq di klik lanjut jadi ke mata air bayangan bukit

    • Ups…
      Maaf, sepertinya salah link.
      Pada kesempatan lain diperbaiki.
      Selain melalui link tersebut, bisa dilihat di bilah sebelah kanan. Cari judul buku Bunga di Batu Karang, kemudian klik jilid berapa yang diinginkan.
      Semua karya SH Mintardja sudah diunggah semuanya di Web ini sampai tamat.

Tinggalkan Balasan ke pelangisingosari Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s