BdBK-27


BUNGA DI BATU KARANG

JILID 27

kembali | lanjut

BdBK-27SIAPAKAH sebenarnya yang telah bersalah dalam hal ini? Siapa yang telah memancing persoalan?” bertanya Mayor Bilman kemudian, “Aku akan mengambil tindakan yang pantas terhadap siapa saja yang menghinakan kita. Tetapi aku tidak dapat berbuat apa-apa untuk membela orang yang justru mencemarkan nama kita di kalangan para bangsawan di Surakarta” Mayor Bilman berhenti sejenak, lalu, “Aku adalah komandan pasukan khusus yang di tempatkan di Surakarta. Tetapi aku pun akan berbicara dengan perwira-perwira yang lain yang menangani masalah yang berhubungan dengan pemerintahan. Bagaimana pendapat mereka. Apakah sebaiknya yang aku lakukan”

Dalam pada itu, ketika Mayor Bilman bersiap untuk menemui perwira-perwira yang lain, maka Pangeran Yudakusuma pun telah siap meninggalkan istana Pangeran Sindurata. Ketika Pangeran itu akan meloncat ke punggung kudanya, ia masih sempat berpesan kepada Pangeran Sindurata, “Paman, persoalan ini untuk sementara dapat kita anggap selesai. Tetapi aku mohon pamanda juga menjaga diri”

“Aku bersiap menghadapi apapun juga” jawab Pangeran Sindurata, “Aku tidak mau noda yang sudah melekat di rumah ini akan bertambah-tambah parah. Aku tidak mau kehilangan Rara Warih”

“Aku mengerti pamanda” jawab Pangeran Yudakusuma, “mudah-mudahan persoalan ini tidak akan berkembang. Atau terjadi bahwa satu dua orang kawan kumpeni yang mati itu akan mengambil sikap sendiri-sendiri”

“Aku akan melayani, apa saja yang akan mereka lakukan” jawab Pangeran Sindurata.

Pangeran Yudakusuma pun mengangguk-angguk. Kemudian ia pun minta diri bersama para Senapati dan pengawalnya. Namun sebenarnyalah Pangeran Yudakusuma masih dipengaruhi oleh peristiwa yang baru saja terjadi itu.

Bahkan Pangeran Yudakusuma masih bimbang, apakah benar kumpeni menganggap bahwa persoalannya memang sudah selesai. Namun demikian ia berkata di dalam hatinya, “Betapapun juga besar jasa orang-orang asing itu, tetapi sudah tentu kami, orang-orang Surakarta tidak akan dapat membiarkan mereka menodai gadis-gadis kami”

Karena itulah, maka Pangeran Yudakusuma pun telah mengambil satu sikap yang pasti menghadapi masalah yang mungkin masih akan berkembang itu.

Dalam pada itu, sepeninggal Pangeran Yudakusuma, maka Pangeran Sindurata itu pun menyandarkan tombaknya pada dinding serambi. Dengan lemahnya ia terduduk di sebuah amben bambu. Ketegangan yang memuncak telah membuat kepalanya bagaikan dihimpit oleh Gunung Lawu.

Dalam pada itu, Raden Ayu Galihwarit pun bergegas mendapatkannya. Sambil berjongkok di hadapannya Raden Ayu itu berkata tersendat-sendat, “Aku mengucapkan terima kasih ayahanda. Semuanya berlangsung sebagaimana kita harapkan. Mudah-mudahan Mayor itu menganggap bahwa persoalan ini sebenarnyalah telah selesai”

“Pakaianku telah basah Galihwarit. Karena itu, aku akan menyeberang terus apapun yang akan terjadi. Tenangkan bati anakmu. Ia tentu mengalami ketegangan yang sangat oleh peristiwa ini” sahut Pangeran Sindurata.

Raden Ayu Galihwarit mencium tangan ayahandanya. Kemudian ia pun bangkit masuk ke dalam untuk menjumpai anak gadisnya yang kemudian berada di dalam biliknya. Seperti yang dikatakan oleh Pangeran Sindurata, maka Rara Warih benar-benar dicengkam oleh ketegangan yang sangat. Bahkan kemudian ternyata pada hari itu, Rara Warih sama sekali tidak mau makan. Kecuali ia sama sekali tidak menjadi lapar, namun kematian yang terjadi di longkangan belakang istananya itu membuatnya serasa sangat mual.

“Sudahlah” berkata Raden Ayu Galihwarit, “beristirahatlah. Aku yakin bahwa Mayor itu tidak akan berbuat apa-apa untuk selanjutnya. Bahkan ia tentu akan membuat peraturan yang lebih ketat bagi anak buahnya sehingga dengan demikian, maka gadis-gadis Surakarta akan menjadi lebih aman”

Warih memandang ibundanya sejenak. Terkilas di dalam angan-angannya, bahwa jika gadis-gadis Surakarta menjadi semakin aman, bagaimana dengan mereka yang dengan sengaja membiarkan diri mereka sendiri dihinakan kehormatannya.

Di luar sadarnya, terasa titik-titik air di pelupuk mata gadis itu pun meleleh ke pipinya.

“Sudahlah” desis Raden Ayu Galihwarit, “Jangan memikirkan peristiwa itu lagi. Jika kau dapat tidur, tidurlah. Kau akan mendapatkan ketenangan”

Tetapi bagaimana mungkin Rara Warih akan dapat tidur. Ia memang akan menjadi tenang jika ia dapat tidur barang sejenak. Tetapi kegelisahannya itulah yang membuatnya tidak akan dapat tidur sama sekali.

Meskipun demikian Rara Warih itu pun mencoba berbaring di pembaringannya Namun dengan demikian justru angan angan nya lah yang menerawang ke dunia angan-angannya.

Rara Warih kadang-kadang memang tidur di siang hari. Tetapi justru kekalutan hatinya membuatnya sama sekali tidak dapat memejamkan matanya. Bahkan ia pun kemudian teringat kepada Buntal dan Arum yang dengan tergesa-gesa meninggalkan istana itu.

“Mudah-mudahan mereka selamat” berkata Rara Warih di dalam hatinya.

Dalam pada itu, sebenarnyalah Buntal dan Arum telah mendekati padukuhannya di Gebang. Memang tidak ada rintangan apapun di perjalanan. Ketika mereka bertemu dengan orang-orang yang mencurigakan, ternyata orang-orang itu tidak berbuat apa-apa.

“Aku kira mereka akan menyamun seperti yang pernah aku alami” berkata Arum.

“Mungkin mereka bukan penyamun, tetapi mereka adalah orang-orang yang dipasang oleh prajurit Surakarta sebagai petugas sandi” jawab Buntal, “karena itu mereka hanya mengawasi saja orang-orang yang lewat tanpa berbuat apa-apa”

Arum mengangguk-angguk. Jika benar yang dikatakan oleh Buntal, ia berharap bahwa orang itu tidak mencurigainya.

Demikianlah, maka ketika mereka sampai di tempat, maka mereka pun segera menceriterakan apa yang terjadi kepada Kiai Danatirta. Sejak awal sampai akhir.

Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya kemudian, “Tuhan masih melindungi kalian. Bersyukurlah. Tetapi untuk selanjutnya kalian harus menjadi sangat berhati-hati untuk berhubungan dengan Raden Ayu Galihwarit”

“Dimana kakang Juwiring?” bertanya Arum.

“Ia sedang berada di antara para prajurit yang telah menyatakan diri berpihak kepada Pangeran Mangkubumi. Pangeran Mangkubumi dengan resmi akan membentuk pasukan berkuda seperti yang pernah kau dengar sebelumnya”

“Hanya sekedar meresmikan. Pasukan itu sebelumnya memang sudah ada” berkata Buntal. Lalu, “Baiklah aku akan menemuinya dan bersama-sama menghadap Ki Wandawa”

“Aku akan bersamamu” berkata Arum.

Kedua anak muda itu pun kemudian mencari Juwiring. Ternyata pembicaraan mengenai diresmikannya satu pasukan berkuda telah selesai. Dalam waktu dekat pasukan itu akan disusun dan diresmikan, sebagai satu perkembangan dari kelompok-kelompok laskar berkuda yang memang sudah ada.

Karena itu, maka Buntal dan Arum pun kemudian dapat menemuinya dan menceriterakan apa yang telah terjadi di istana Pangeran Sindurata.

“Gila” geramnya, “jadi kumpeni itu telah berusaha menodai kehormatan diajeng Warih?”

“Ya” jawab Buntal

Juwiring menggeretakkan giginya. Kemudian katanya, “Untunglah bahwa kalian sedang berada di tempat itu dan berhasil menggagalkannya”

“Meskipun demikian, kami tidak mengetahui apakah yang terjadi kemudian. Apakah kumpeni akan mengambil langkah-langkah tertentu karena dua orang kawannya telah terbunuh” sahut Buntal.

Raden Juwiring menjadi gelisah. Mungkin kumpeni akan mengambil satu sikap yang keras.

“Mudah-mudahan rencana Raden Ayu dapat berhasil” berkata Buntal kemudian, “Pangeran Sindurata telah menyatakan kesediaannya untuk mengambil alih persoalan ini. Pangeran itulah yang akan bertanggung jawab seolah-olah Pangeran Sindurata lah yang telah melakukannya”

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Gumamnya, “Sebenar-nya Pangeran Sindurata telah terlalu tua untuk melibatkan diri dalam persoalan ini. Tetapi bahwa ia bersedia melindungi kalian adalah satu hal yang mendebarkan. Satu perkembangan sikap yang sebelumnya tidak pernah dapat dibayangkan. Namun aku tidak dapat membayangkan, bagaimanakah keadaannya jika penyakitnya itu sedang kambuh”

Buntal dan Arum mengangguk-angguk. Sementara itu Juwiring pun berkata, “Kita akan menghadap Ki Wandawa”

Ki Wandawa menggeleng-gelengkan kepalanya ketika ia mendengar laporan tentang peristiwa itu. Ia pun menjadi gelisah, bahwa persoalan itu akan dapat berkembang sehingga Raden Ayu Galihwarit akan mengalami kesulitan.

“Aku akan memerintahkan petugas sandi untuk mengamati. Mungkin akan dapat di ambil kesimpulan dari keadaan istana itu yang dapat dilihat dari luar. Adalah berbahaya jika salah seorang dari kalian akan langsung memasuki istana itu. Mungkin kumpeni akan memasang pengawas khusus yang akan dapat menjebak kalian yang memasuki regol itu. Agaknya kumpeni akan dapat mengambil cara yang paling lembut, tetapi juga yang paling kasar untuk mengetahui apa yang telah terjadi”

Juwiring, Buntal dan Arum memang hanya dapat menunggu. Seperti yang dikatakan oleh Ki Wandawa, maka akan sangat berbahaya jika salah seorang dari mereka memasuki istana Pangeran Sindurata.

Tetapi dalam pada itu, orang-orang yang kemudian dikirim oleh Ki Wandawa tidak melihat sesuatu yang lain pada istana itu. Mereka masih juga melihat Raden Ayu Galihwarit keluar dari pintu regol istananya. Merekapun melihat Rara Warih yang sedang menyiram bunga di halaman depan. Dan mereka pun dapat melihat Pangeran Sindurata yang sibuk dengan burung-burungnya.

Ketika hal itu dilaporkan kepada Raden Juwiring, maka anak muda itu pun bergumam, “Syukurlah. Ternyata bahwa mereka tidak mengalami bencana karena peristiwa itu”

Meskipun demikian Ki Wandawa masih belum mengijinkan salah seorang dari ketiga anak muda itu untuk mengunjungi Raden Ayu Galihwarit.

“Kumpeni dan para Senapati prajurit di Surakarta mempunyai penciuman yang sangat tajam” berkata Ki Wandawa, “Namun bukankah sampai saat ini keadaan keluarga itu masih utuh. Tetapi kita tidak tahu apakah yang ada di dalam istana itu. Mungkin ada sekelompok petugas sandi yang dipasang kumpeni, atau bahkan prajurit dengan senjata yang siap untuk menangkap orang-orang yang mereka curigai”

Juwiring dan adik-adik seperguruannya itu mengangguk-angguk. Merekapun menyadari bahaya yang tersembunyi di dalam istana itu, karena sulit untuk melihat keadaan langsung di balik dinding”.

Namun dalam pada itu, hubungan Raden Ayu Galihwarit dengan para perwira pun masih saja berlangsung. Mayor Bilman merasa bahwa saingannya yang paling kasar dan bahkan mengancam akan membunuhnya justru telah terbunuh. Meskipun perwira yang terbunuh itu pangkatnya masih dua lapis di bawahnya, namun seperti yang dikatakan oleh Raden Ayu Galihwarit, bahwa perwira itu akan dapat membunuhnya.

Sejalan dengan itu, keprihatinan Rara Warih pun masih tetap membuat hatinya setiap kali terasa pedih. Tetapi ia tidak dapat berbuat sesuatu. Apalagi ia menyadari, bahwa yang dilakukan oleh ibundanya itu telah memberikan banyak sekali keuntungan bagi perjuangan Pangeran Mangkubumi. Dengan sikap dan tingkah lakunya. Raden Ayu Galihwarit telah dapat menyadap berbagai keterangan penting dari mulut kumpeni yang berbau minuman keras.

Tetapi sebagai seorang gadis, maka hidupnya benar-benar telah tersiksa.

Namun dalam pada itu, yang tidak diketahui oleh Rara Warih, ibundanya pun telah dicengkam oleh satu perasaan ngeri jika ia mengingat jalan hidup yang ditempuhnya. Peristiwa yang terjadi di rumahnya merupakan satu peringatan yang paling berat baginya. Karena tingkah lakunya, maka orang menganggap, ia bertanggung jawab atas sikap kumpeni yang terbunuh itu terhadap anak gadisnya. Masih terngiang bahwa hampir setiap orang berkata kepadanya bahwa Rara Warih dianggap dapat diperlakukan apa saja seperti dirinya sendiri. Jika ibunya telah bersedia melakukan apa saja, bahkan menyerahkan harga dirinya, maka anaknya pun akan berbuat demikian pula.

Anggapan itulah yang terasa sangat menyakitkan. Terkilas di hati Raden Ayu untuk menghentikan tingkah lakunya, justru karena ia pun merasa menjadi semakin tua. Namun dalam keadaan yang semakin gawat ia merasa perlu untuk tetap mendengar rencana-rencana yang dibuat oleh kumpeni.

Ketika kematian dua orang kumpeni itu perlahan-lahan telah dilupakan, baik oleh para Senapati prajurit Surakarta, maupun kumpeni yang suasananya dengan sengaja telah dibuat oleh Mayor Bilman, maka mulailah kumpeni dan para prajurit Surakarta membuat rancangan-rancangan baru untuk mengamankan Surakarta dari para pemberontak. Namun disamping rencana yang akan disusun itu, mereka masih saja selalu sibuk mencari siapakah sebenarnya yang pantas dicurigai di antara mereka yang ikut duduk dalam meja perundingan dan perencanaan.

Namun nampaknya segalanya masih serba gelap. Tidak ada seorang pun yang pantas untuk dicurigai berkhianat di antara mereka.

Namun demikian, Surakarta memang tidak akan tinggal diam. Semakin lama pengaruh Pangeran Mangkubumi terasa menjadi semakin tersebar. Rencananya secara terpadu dengan gerakan Raden Mas Said membuat kumpeni semakin gelisah.

“Kita harus mengambil tindakan yang cepat dan tuntas” berkata seorang perwira kumpeni, “sebaiknya kita menusuk langsung ke jantung kekuatan Pangeran Mangkubumi. Pangeran itu telah menghina kita dengan menduduki kota ini selama setengah hari”

Persoalan yang dilontarkannya itu ternyata mendapat tanggapan yang baik. Kumpeni berniat untuk langsung mengepung Gebang, tempat kedudukan induk pasukan Pangeran Mangkubumi.

“Kita akan menghubungi Pangeran Yudakusuma” berkata perwira kumpeni itu, “Tetapi rahasia ini harus kita simpan sebaik-baiknya”

Dalam pertemuan terbatas, maka mereka telah merencanakan untuk melakukan satu gerakan yang tiba-tiba. Gebang akan dikepung pada saat matahari terbit. Kemudian tempat itu akan dihancur lumatkan.

“Kegagalan kita menghancurkan pasukan Raden Mas Said akan menjadi pengalaman” berkata perwira itu. Kemudian, “Perencanaan yang lebih terperinci akan kita serahkan kepada Mayor Bilman. Ia akan membawa pasukan khususnya ke Gebang dan dengan tandas melumatkan pasukan pemberontak itu”

“Jika demikian, aku memerlukan kekuasaan yang lebih besar. Aku akan membicarakan dengan Pangeran Yudakusuma” berkata Mayor Bilman.

“Segalanya harus direncanakan sebaik-baiknya” jawab perwira kumpeni yang mencemaskan tersebarnya pengaruh Pangeran Mangkubumi.

Para perwira itu pun kemudian mengadakan pertemuan dengan para Senapati di Surakarta yang dipimpin langsung oleh Pangeran Yudakusuma. Berbagai kemungkinan telah dibahas. Terutama hambatan yang mungkin terjadi.

“Tidak ada yang mengetahuinya selain kita yang berada di sini” berkata Mayor Bilman, “segalanya akan terjadi dengan tiba-tiba. Kita tidak perlu mengadakan persiapan-persiapan seperti pada saat kita akan mengepung kedudukan Raden Mas Said. Dengan demikian maka petugas sandi mereka akan mengetahui, apa yang akan kita lakukan. Berdasarkan atas perhitungan dan pertimbangan yang cermat, mereka ternyata mampu menduga, kemana kita akan pergi”

“Mungkin” jawab Pangeran Yudakusuma, “Tetapi mungkin pula, semakin banyak orang yang mengetahui rencana kita, maka di antara mereka adalah pengkhianat. Karena itu, maka dalam pertemuan yang terbatas ini kita dapat memperkecil kemungkinan itu. Aku yakin, tidak ada pengkhianat di antara kita sekarang ini”

“Bagus” sahut Mayor Bilman, “Kita akan menjatuhkan perintah untuk dilaksanakan pada hari itu juga. Tidak ada kesempatan untuk menyampaikan berita itu seandainya di antara para prajurit terdapat pengkhianat”

Tetapi Pangeran Yudakusuma memang ingin berhati-hati. Dalami gerakan yang besar, Surakarta telah pernah gagal sampai dua kali. Yang pertama mereka gagal menghancurkan pasukan Pangeran Mangkubumi yang sebagian besar karena pengkhianat-an dari dalam pasukannya sendiri. Pangeran Ranakusuma telah menyerang pasukan Surakarta dari sayap pasukan itu sendiri. Kemudian kegagalan pasukan Surakarta menghancurkan pasukan Raden Mas Said. Bahkan pasukannya menderita kerugian yang sangat besar, yang bersamaan dengan itu, justru pasukan Pangeran Mangkubumi telah menduduki kota.

Karena itu, maka seperti yang dikatakan oleh Bilman, maka persoalannya kemudian hanya diketahui oleh orang-orang yang, sangat terbatas. Pada saatnya perintah akan diberikan tanpa menyebut arah gerakan pasukan dalam keseluruhan. Baru kemudian pasukan itu akan mengerti dengan sendirinya setelah pasukan itu bergerak.

Pada pertemuan berikutnya, Pangeran Yudakusuma dan Mayor Bilman telah menentukan waktunya, pula. Dua hari lagi mereka akan berangkat. Mereka akan meninggalkan Surakarta lewat senja, langsung mengepung Gebang. Mayor Bilman akan disertai dengan seorang kapten yang pilih tanding

Yang dikenal di antara kumpeni sebagai seekor harimau salju yang nggegirisi. Kapten Kenop. Bahkan tersiar berita di antara kawan-kawannya, bahwa ketika kapalnya disandera di cegat oleh kapal bajak laut yang ditakuti, maka justru Kapten Kenop lah yang meloncat memasuki kapal bajak laut itu dan menghancurkan isinya.

Demikianlah, para perwira kumpeni dan prajurit Surakarta yang sangat terbatas telah mengolah laporan-laporan dari para petugas sandi untuk mengetahui keadaan. Mereka mempelajari medan dan suasana tanpa minta keterangan khusus dari pihak manapun juga, agar rencana mereka tidak merembes sampai ke telinga Pangeran Mangkubumi.

Namun dalam pada itu. Mayor Bilman yang menganggap bahwa tugas mereka yang akan dilakukan itu merupakan tugas yang amat berat, maka ia masih juga menyisihkan kesempatan untuk memuaskan keinginannya. Pada malam sebelum pasukannya berangkat, Mayor itu telah tenggelam dalam satu pesta yang mewah. Sementara itu, Mayor Bilman merasa tidak ada lagi perwira kumpeni yang dengan kasar telah mencoba menyainginya. Mayor itu tidak berkeberatan jika ada satu dua orang perwira yang juga bergaul rapat dengan Raden Ayu Galihwarit. Namun tidak dengan sikap yang licik, dan bahkan berusaha untuk membunuhnya pula.

Dalam pada itu, ketika malam telah larut, maka Mayor Bilman sendiri telah mengantarkan Raden Ayu Galihwarit kembali ke istana Pangeran Sindurata.

Tetapi dalam hal yang demikian, penggraita Raden Ayu Galihwarit yang tajam, telah mencium satu hal yang mendebarkan hati. Meskipun pesta yang demikian itu sering diadakan oleh kumpeni, namun dalam pesta yang mewah dan berlebih-lebihan, kadang-kadang dikandung satu isyarat akan ada tugas yang berat.

Karena itu, ketika kereta itu memasuki halaman istana Pangeran Sindurata, Raden Ayu itu berkata, “Besok aku akan datang ke loji Mayor”

“Untuk apa?” bertanya Mayor Bilman.

“Kesempatan kita hanya sedikit sekali malam ini. Pesta itu sendiri terlalu lama, sehingga yang dapat kita lakukan sama Sekali tidak menarik” berkata Raden Ayu Galihwarit.

Mayor Bilman berpikir sejenak. Kemudian katanya, “Besok pagi aku terlalu sibuk”

“Besok malam maksudku” berkata Raden Ayu Galihwarit, “Tuan menjemput aku kemari. Aku akan datang ke loji. Perwira yang kasar itu tidak akan mengganggu lagi”

Tetapi Mayor Bilman menjadi gelisah. Katanya, “Jangan. Kau tidak perlu datang ke loji”

“Kenapa? Bukankah bukan untuk yang pertama kalinya aku datang ke loji? Apakah di dalam loji itu sudah terdapat perempuan-perempuan lain? Atau tuan telah memanggil isteri tuan dari negeri tuan?” bertanya Raden Ayu.

“Tidak. Tidak” jawab Mayor itu, “tidak ada perempuan. Tidak ada isteri di sini. Kau boleh datang ke loji seperti biasanya kau datang. Siang atau malam. Tetapi jangan besok”

Raden Ayu Galihwarit menjadi semakin tertarik kepada keterangan Mayor itu. Karena itu, meskipun kereta sudah berhenti, namun Raden Ayu itu masih belum turun dari kereta.

“Mayor” berkata Raden Ayu Galihwarit, “Aku telah banyak berhubungan dengan perwira-perwira kumpeni. Tetapi aku menganggap mereka sebagai orang yang berjalan lewat sekilas di serambi hatiku. Aku menerima mereka karena mereka memiliki sesuatu yang aku tidak mempunyainya. Mereka dapat menghias rumahku dengan barang-barang mewah yang tidak terdapat di negeri ini” Raden Ayu itu terdiam sejenak, lalu, “Tetapi bagiku Mayor adalah lain. Mayor memiliki sifat kebapaan sebagaimana dimiliki oleh Pangeran Ranakusuma. Kejantanan dan sifat kesatria sebagaimana dikagumi oleh orang-orang Surakarta. Karena itu, Mayor bagiku bukan sekedar pejalan kaki yang singgah sejenak di hatiku. Pertemuan yang mewah seperti malam ini hanya mengundang kerinduanku saja kepada Mayor jika malam nanti aku berbaring sendiri di pembaringan”

Terasa hati Mayor yang garang itu tersentuh. Sambil menepuk pundak Raden Ayu Galihwarit Mayor itu berkata, “Kau memang lembut Raden Ayu. Aku tahu, kau telah kehilangan suamimu. Karena itu kau merindukannya. Jika beberapa hal dari sifat suamimu terdapat padaku, adalah wajar sekali kau menganggap aku akan dapat menjadi gantinya, sementara aku yang jauh dari keluarga di seberang yang dibatasi oleh samodra dan benua, menemukan kelembutan hati di sini. Tetapi aku terpaksa tidak dapat menerimamu besok”

“Mayor akan pergi? Untuk satu tugas yang berat?” bertanya Raden Ayu Galihwarit

Mayor itu tidak menjawab. Namun tiba-tiba saja Raden Ayu itu memeluknya sambil menangis tertahan, “Mayor jangan pergi. Mayor tidak usah menghiraukan peperangan ini. Mayor dapat memerintahkan anak buah Mayor untuk menyerang Raden Mas Said dan menghancurkannya”

Hati Mayor Bilman itu menjadi semakin berdebar-debar. Air mata itu membuat hatinya yang sekeras baja menjadi luluh. Raden Ayu Galihwarit memang dapat mengisi kesepiannya selama ia bertugas di Surakarta, sehingga karena itu, ia memang mempunyai tanggapan yang lain terhadap Raden Ayu itu dari perempuan-perempuan lain yang pernah dikenalnya.

“Kau perintahkan kapten-kaptenmu untuk melakukan tugas itu Mayor” tangis Raden Ayu.

Mayor Bilman menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku memang dapat memerintahkan satu dua orang kapten dalam pasukan khusus itu untuk menyerang Raden Mas Said. Tetapi aku tidak dapat berbuat demikian jika kami harus berhadapan dengan Pangeran Mangkubumi sendiri”

Jantung Raden Ayu itu bagaikan berhenti berdenyut Namun ia masih harus bermain sebaik-baiknya. Karena itu, maka ia pun segera berusaha menahan perasaannya dan berkata, “Apalagi untuk melawan Pangeran Mangkubumi. Bukankah kau mempunyai kekuasaan di sini? Mayor, aku tidak mau kehilangan lagi. Meskipun aku belum pernah memiliki Mayor sepenuhnya, tetapi aku menjadi ketakutan, bahwa aku akan kehilangan yang belum aku miliki itu”

Mayor Bilman mengusap kening Raden Ayu yang basah sambil berkata, “Sudahlah Raden Ayu. Aku adalah seorang prajurit. Tugasku adalah menjaga dan melindungi orang-orang yang lemah. Saat ini, Surakarta benar-benar dalam keadaan gawat Aku mempunyai kewajiban sebagai seorang kesatria seperti yang kau katakan menurut tanggapan orang Surakarta. Aku harus melindungi rakyat Surakarta dari ancaman pemberontakan yang nafsu ketamakan bagi diri pribadi seperti yang dilakukan oleh Pangeran Mangkubumi”

“Tetapi kau harus kembali dengan selamat” desis Raden Ayu.

“Aku pergi untuk membinasakan pemberontak itu. Bukan untuk bunuh diri” jawab Mayor itu.

Sejenak keduanya terdiam. Terasa dada Mayor Bilman, dada Raden Ayu itu berdebaran. Meskipun Mayor itu tidak tahu sebab yang sebenarnya. Tetapi ia menganggap bahwa Raden Ayu itu benar-benar telah digelisahkan oleh kepergiannya.

“Sekarang, aku persilahkan Raden Ayu untuk beristirahat” berkata Mayor Bilman, “jika aku mengharap Raden Ayu besok malam tidak usah datang, sama sekali bukan karena aku tidak mau menerima Raden Ayu”

Raden Ayu Galihwarit mengusap air matanya. Mayor Bilman lah yang turun lebih dahulu. Kemudian melingkari kereta itu, ia membantu Raden Ayu turun dari keretanya.

“Selamat malam Raden Ayu” desis Mayor itu, “semoga Raden Ayu bermimpi indah”

“Selamat malam Mayor” suara Raden Ayu serak, “Aku tidak mau kehilangan lagi”

Mayor itu tersenyum. Namun kemudian ia pun naik ke keretanya dan sejenak kemudian kereta itu berderap pergi. Mayor Bilman masih melambaikan tangannya ketika ia keluar dari regol halaman istana Pangeran Sindurata.

Namun, demikian kereta itu lenyap, maka Raden Ayu Galihwarit itu bergegas pergi ke biliknya. Ia masih melihat penjaga regol menutup pintu. Namun ia tidak menghiraukannya lagi.

Sebelum Raden Ayu Galihwarit mengetuk pintu biliknya, ternyata Rara Warih telah membukanya. Agaknya gadis itu masih belum tidur.

Raden Ayu mengerutkan keningnya ketika ia melihat mata Rara Warih yang basah dan kemerah-merahan. Gadis itu tentu telah menangis untuk waktu yang lama.

Raden Ayu Galihwarit mencium kening anak gadisnya setelah ia menutup pintu kembali. Namun terasa pada Rara Warih pipi ibunya itu menjadi sangat kasar.

Raden Ayu Galihwarit mengerti, kenapa anak gadisnya menangis. Tetapi ia memang harus menahan hati. Ia sudah bertekad mengorbankan dirinya, kehormatannya dan apapun juga untuk menebus dosa-dosa yang pernah dilakukan. Meskipun kadang-kadang ia bertanya kepada diri sendiri, apakah ia memang harus menebus dosa-dosanya dengan dosa-dosa yang baru.

Namun dalam pada itu, sebuah kegelisahan telah bergejolak di dalam dadanya, mengatasi perasaannya yang lain. Karena itu, setelah ia duduk dan menenangkan hatinya, maka Raden Ayu itu pun kemudian berkata, “Warih. Kita menghadapi satu kesulitan”
Warih mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak bertanya.

“Aku kira saudara-saudara angkat Juwiring itu masih belum akan datang kemari untuk satu dua pekan ini. Namun ada sesuatu yang penting yang harus disampaikan kepada pasukan Pangeran Mangkubumi” berkata ibundanya lebih lanjut.

Rara Warih memandang ibundanya sekilas. Namun rasa-rasanya ia tidak tahan memandang wajah ibunya yang cantik. Ia membayangkan di luar sadar, apa saja yang telah terjadi dengan ibundanya itu selagi ia berada di antara para perwira kumpeni.

Namun ibundanya seakan-akan tidak menghiraukannya. Bahkan katanya kemudian, “Warih. Meskipun demikian, aku akan menunggu sampai esok pagi. Jika Arum dan Buntal tidak datang, maka kita harus mengambil sikap. Kita tidak boleh terlambat”

Warih mulai tertarik kepada kata-kata ibundanya itu, sehingga karena itu, maka ia pun telah mengangkat wajahnya pula. Bahkan ia mulai bertanya, “Apakah kumpeni akan menyerang Pangeran Mangkubumi?”

“Ya” jawab ibundanya, “Mayor Bilman telah mengatakan, bahwa ia sendiri akan memimpin pasukannya. Jika tidak langsung menghadapi pamandamu Pangeran Mangkubumi, maka ia akan dapat memerintahkan perwira-perwira bawahan-nya. Namun kali ini pasukan itu akan berhadapan langsung dengan Pangeran Mangkubumi”

“Apakah itu berarti bahwa kumpeni akan menyerang Gebang?” bertanya Rata Warih

Wajah Raden Ayu yang cantik itu menjadi tegang. Sambil mengangguk kecil ia menjawab, “Aku memang berkesimpulan demikian Warih”

Rara Warih menjadi termangu-mangu. Peristiwa yang telah terjadi di istana itu, dengan terbunuhnya dua orang kumpeni, memang telah membatasi kunjungan Buntal dan Arum.

Karena itu, maka hampir diluar sadarnya ia bergumam, “Tetapi bagaimana jika besok Buntal dan Arum itu tidak datang ibunda?”

Raden Ayu Galihwarit menarik nafas dalam. Wajahnya menjadi tegang. Dengan sungguh-sungguh ia berkata, “Tidak ada seorang pun yang dapat dipercaya untuk menyampaikan berita ini kepada pasukan Pangeran Mangkubumi” ia berhenti sejenak, kemudian, “Tetapi aku masih akan menunggu. Jika nasib pasukan itu baik, maka besok Buntal dan Arum, atau salah seorang dari keduanya akan datang ke rumah ini”

Rara Warih menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kegelisahan yang sangat telah menghentak-hentak di dalam dadanya. Apakah jadinya jika pasukan Pangeran Mangkubumi tidak mendapat keterangan tentang pasukan yang akan menyergapnya.

“Ibunda” bertanya Rara Warih kemudian, “Apakah ibunda dapat menyebut secara terperinci, waktu dan kekuatan pasukan yang akan pergi ke Gebang?”

Raden Ayu Galihwarit menggeleng. Jawabnya, “Aku hanya tahu bahwa besok malam Mayor Bilman tidak ada di loji, karena ia harus memimpin pasukan khususnya untuk menghadapi Pangeran Mangkubumi”

Rara Warih menjadi tegang. Dengan ragu-ragu ia berdesis, “Mudah-mudahan petugas sandi yang lain akan dapat mencium rencana itu”

“Tetapi agaknya rencana itu dirahasiakan sekali” berkata Raden Ayu Galihwarit, “Tidak ada persiapan apapun yang nampak. Tidak seorang perwira pun yang pernah menyebut meskipun secara samar-samar. Bahkan dalam pesta di antara mereka tidak ada yang memperbincangkannya. Biasanya, meskipun hanya satu dua kalimat, para perwira itu akan menyebut-nyebut rencana besar yang akan mereka lakukan. Agaknya kegagalan mereka di Penambangan membuat mereka menjadi semakin berhati-hati, dan bahkan mungkin telah mencurigai setiap orang yang pernah berhubungan dengan kumpeni. Nampaknya ada pihak yang kurang puas dengan sikap Mayor Bilman atas kematian dua orang perwira di halaman rumah ini”

Rara Warih menundukkan kepalanya, kepahitan yang menghimpit jantungnya terasa semakin pedih. Sikap ibundanya, namun ternyata banyak memberikan manfaat kepada pasukan Pangeran Mangkubumi yang sedang berjuang bagi kebebasan rakyat Surakarta, merupakan masalah yang tidak akan terpecahkan bagi perasaannya.

“Sudahlah Warih” berkata ibundanya, “sekarang beristirahatlah. Tidak ada yang dapat kita lakukan malam ini. Kita memang harus menunggu pagi, kesimpulan apapun yang akan kita ambil”

Rara Warih menarik nafas dalam-dalam. Ibundanya lah yang kemudian bangkit Mengenakan pakaian tidurnya. Dan kemudian berbaring di pembaringannya.

Namun dalam pada itu, bagaimanapun juga, kedua orang ibu dan gadisnya itu sulit sekali memejamkan matanya oleh kegelisahan. Mereka selalu di bayangi oleh peristiwa yang mengerikan karena sergapan yang tiba-tiba akan dilakukan. Meskipun mereka bukan prajurit, tetapi mereka dapat menduga, bahwa Bilman akan berangkat lewat senja. Mengepung Gebang di malam hari dan demikian fajar menyingsing, mereka menyergap dengan ledakan-ledakan senapan, didahului oleh dentuman meriam-meriam kecil yang akan mereka bawa, ditarik dengan kuda-kuda yang tegar.

Namun Raden Ayu Galihwarit itu pun kemudian berkata di dalam hatinya, “Tetapi pasukan Pangeran Mangkubumi tidak terdiri dari anak-anak. Mereka tentu mempunyai cara untuk menghindarinya. Kekuatan mereka cukup besar untuk melawan. Selebihnya, tentu ada petugas sandi lain yang akan dapat menyadap rencana ini”

Tetapi betapapun juga Raden Ayu itu berusaha memejamkan matanya, namun ia tidak berhasil tidur barang sekejappun. Raden Ayu itu tidak yakin bahwa rahasia yang disimpan terlalu rapat itu dapat didengar oleh seseorang yang akan dapat menyampaikannya kepada pasukan Pangeran Mangkubumi. Bahkan nampaknya beberapa orang perwira penting pun tidak tahu apa-apa tentang rencana itu.

Dalam pada itu, sebenarnyalah bahwa beberapa orang perwira dalam tugas sandi kumpeni di Surakarta, agak sulit menerima sikap Mayor Bilman atas kematian kedua orang perwira kumpeni. Bahkan dengan ketajaman penciuman tugas sandi, seorang perwira telah mengetahui hubungan yang erat sekali antara Mayor Bilman dengan Raden Ayu Galihwarit. Penyelidikan selanjutnya telah membawa mereka pada satu kesimpulan, bahwa ada persaingan antara Mayor itu dengan perwira yang telah terbunuh di istana Pangeran Sindurata.

Meskipun petugas sandi itu tidak menyangsikan kesetiaan Mayor Bilman kepada tugasnya, namun agaknya dalam pengusutan kedua orang perwira yang mati terbunuh itu terdapat sesuatu yang kurang wajar.

Namun demikian, petugas sandi itu tidak dapat berbuat sesuatu yang akan mengganggu rencana yang sudah tersusun. Bagi petugas sandi yang mengenal Mayor itu dengan baik menganggap bahwa Mayor Bilman yang juga atasannya itu adalah seorang prajurit yang luar biasa. Kemampuannya di medan dan kemampuannya berpikir memperhitungkan muslihat peperangan, telah diakui, sehingga ia mendapat tugas memimpin sepasukan yang dikenal sebagai pasukan khusus yang disegani.

Yang kemudian dilakukan oleh petugas sandi itu kemudian adalah menugaskan orang-orangnya, terutama yang pribumi untuk mengawasi istana Pangeran Sindurata. Mungkin terdapat sesuatu yang mencurigakan. Bahkan mungkin ada kesengajaan untuk membunuh kumpeni yang memasuki istana itu.

“Mayor Bilman juga sering datang ke istana itu” berkata salah seorang petugas, “bahkan malam hari. Tetapi ia selalu keluar dengan selamat”

“Awasi saja. Aku hanya menduga ada sesuatu yang patut diamati. Memang mungkin sekali, kesimpulan Mayor Bilman benar. Yang terjadipun benar seperti apa yang kita ketahui. Tetapi naluriku menuntut untuk mengawasinya” perintah perwira dalam tugas sandi itu.

Karena itulah, maka istana itu memang selalu diawasi oleh para petugas sandi yang justru orang-orang Surakarta sendiri.

Sementara itu, pada malam yang menegangkan itu, baik Raden Ayu Galihwarit, maupun Rara Warih memang tidak dapat tidur. Betapapun mereka berusaha untuk menyisihkan kegelisahan di hati. Mereka berbaring di pembaringan dengan angan-angan yang bergejolak. Hampir tidak sabar mereka me nunggu sampai hari esok.

Ketika matahari mulai mewarnai langit di sebelah Timur, maka Rara Warih pun segera pergi ke pakiwan. Air yang dingin membuat tubuhnya menjadi agak segar. Namun terasa betapa tubuhnya sangat letih oleh perasaan yang gelisah.

Ketika Rara Warih telah selesai dengan membenahi diri, maka ibundanya dengan nada cemas berkata, “Mudah-mudahan salah seorang dari kedua saudara angkat Juwiring itu datang”

Rara Warih tidak menyahut. Tetapi agaknya mereka masih harus memperhitungkan keadaan.

Hampir di luar sadarnya, dalam kegelisahan Rara Warih itu pun kemudian berjalan-jalan di halaman. Rasa-rasanya ia memang menuggu kedatangan seseorang sebagaimana diharapkan oleh ibundanya. Bahkan Rara Warih hanya berjalan-jalan saja di halaman lingkungan halaman istananya, namun ia pun telah berada di pintu gerbang yang terbuka.

Dilihatnya orang-orang yang lewat. Satu dua dengan membawa barang-barang yang akan mereka perjual belikan di pasar. Ada yang membawa barang anyaman, tetapi ada juga yang membawa hasil sawah dan ladangnya, tetapi ada juga ada yang membawa hasil sawah dan ladang mereka. Sayur sayuran dan buah-buahan.

Namun dalam pada itu di luar kehendaknya, dan secara kebetulan Rara Warih melihat dua orang yang duduk agak jauh dari pintu gerbang itu. Keduanya agaknya memang sedang mengawasi pintu gerbangnya.

Rara Warih memang berpura-pura tidak menghiraukannya. Tetapi setiap kali ia melihat orang itu memandanginya. Bahkan kemudian salah seorang dari keduanya berbicara sambil memandang Rara Warih yang berusaha untuk memberikan kesan, bahwa ia tidak mengetahui kehadiran kedua orang itu.

Tanggapan Rara Warih atas dua orang itu sangat menggelisahkan. Keduanya tentu bukan kawan-kawan Buntal dan Arum. Menilik sikap mereka, kedua orang itu sedang mengawasi regol istananya.

Meskipun demikian Rara Warih memang menunggu sejenak. Jika keduanya adalah orang-orang baru yang akan menghubungi-nya, karena sesuatu hal telah menghalangi Arum dan Buntal, maka keduanya tentu akan datang kepadanya, atau salah seorang dari mereka.

Tetapi keduanya sama sekali tidak berusaha membuat hubungan dengan Rara Warih. Bahkan nampak keduanya mengawasinya dengan sungguh-sungguh.

Rara Warih pun kemudian masuk ke dalam. Kepada ibundanya ia mengatakan apa yang dilihatnya.

Raden Ayu Galihwarit menarik nafas dalam-dalam. Katanya kepada Rara Warih, “Agaknya keadaan memang menjadi semakin gawat. Aku kira ada pihak yang memang sudah mencurigai aku dalam keadaan seperti ini, apalagi karena kematian kedua orang kumpeni itu”

“Jadi seandainya Buntal dan Arum itu datang juga, apakah hal itu tidak akan berbahaya baginya” bertanya Warih.

Raden Ayu Galihwarit merenung sejenak. Lalu katanya, “Kita dalam kesulitan. Berita bahwa kumpeni akan menyerang Gebang harus segera disampaikan. Sementara pengawasan atas rumah ini menjadi semakin ketat”

“Apakah mungkin ada sumber lain yang akan dapat menyampaikan berita tentang rencana serangan itu ibunda?” bertanya Rara Warih.

“Mudah-mudahan petugas sandi Pangeran Mangkubumi dapat menangkap rencana itu lewat sumber lain” jawab Raden Ayu Galihwarit, “Tetapi rasa-rasanya rencana ini memang tertutup rapat-rapat. Sebenarnya aku agak cemas bahwa tidak ada sumber lain yang dapat menyampaikan rencana ini” desis ibundanya.

“Tetapi bukankah pasukan pamanda Pangeran Mangkubumi cukup kuat seandainya dengan tiba-tiba saja kumpeni menyerangnya?” Atau di sekitar daerah Gebang itu tentu sudah diawasi dengan ketat sehingga para pengawas itu akan melihat kedatangan satu pasukan yang besar mendekati Gebang” berkata Rara Warih.

“Meskipun demikian kesempatannya menjadi kecil sekali untuk dapat menyusun perlawanan atau jika mereka hendak meninggalkan daerah itu. Pasukan berkuda akan dengan cepat mengepungnya. Sementara senjata-senjata yang akan mampu menghancurkan Gebang sudah siap pula bersama pasukan berkuda itu Mereka tentu membawa meriam-meriam kecil yang dapat melontarkan peluru yang akan menghancurkan pertahanan Pangeran Mangkubumi, sebelum pasukannya menyerang memasuki daerah pertahanan itu” jawab ibundanya.

Rara Warih pun terdiam. Sebagaimana ibundanya, keduanya tidak pernah berada di medan, sehingga keduanya sebenarnya kurang dapat membayangkan apa yang dapat terjadi. Tetapi sebagai isteri seorang Senapati Agung. Raden Ayu Galihwarit pernah juga mendengar, bagaimana Pangeran Ranakusuma berada di peperangan. Pangeran Ranakusuma pada masanya, kadang-kadang menyatakan kebanggaannya juga kepada isterinya apa yang pernah dicapai dengan satu siasat yang matang di peperangan.

Karena itu, maka rasa-rasanya Raden Ayu itu pernah juga membayangkan apa yang dapat terjadi di satu medan.

Dalam kegelisahan itu, maka katanya, “Aku mengharapkan dua hal yang sangat bertentangan”

Rara Warih memandang ibundanya sejenak. Kemudian ia pun bertanya dengan ragu-ragu, “Apakah yang ibunda maksudkan?”

“Di satu pihak aku mengharap agar Buntal dan Arum tidak usah mendekati rumah ini lebih dahulu. Tetapi di lain pihak, aku mengharap kedatangannya agar berita tentang serangan ke Gebang itu dapat disampaikannya kepada pasukan Pangeran Mangkubumi” jawab Rara Warih.

Rara Warih menarik nafas dalam-dalam. Memang sesuatu yang rumit untuk dipecahkan.

Dalam pada itu. kedua orang itu pun kemudian telah berada di regol pula, karena Raden Ayu ingin melihat kedua orang yang disebut oleh Rara Warih. Ternyata kedua orang itu masih juga berada di tempatnya. Sementara Raden Ayu Galihwarit dan Rara Warih seakan-akan sedang menunggu seseorang yang membawa barang dagangan yang dikehendakinya.

Untuk melenyapkan prasangka orang-orang yang sedang mengamatinya, kadang-kadang Raden Ayu juga menghentikan seseorang yang membawa barang dagangannya. Tetapi ia sekedar bertanya, apakah yang dibawanya.

Tetapi keduanya tidak lama berada di regol. Kegelisahan yang sangat. telah menyengat hati mereka. Keadaan memang benar-benar bertambah gawat. Seperti yang dikatakan oleh Raden Ayu Galihwarit. Jika mereka datang, mungkin mereka akan terjebak. Jika mereka tidak datang, maka berita penyergapan itu tidak dapat disampaikannya kepada pasukan Pangeran Mangkubumi.

Setiap kali Raden Ayu mencoba menghibur diri, bahwa mungkin sekali sumber lain akan dapat menyadap rencana itu. Tetapi usahanya itu tidak dapat menenangkan hatinya.

Dalam kegelisahan itu, tiba-tiba saja Rara Warih berkata, “Ibunda. Bagaimanakah pendapat ibunda, jika aku sajalah yang pergi ke Gebang”

“Warih” desis ibundanya, “Kau belum pernah pergi keluar istana ini. Seolah-olah kau baru mengenal lingkungan di dalam dinding halaman ini. Atau katakanlah, kau baru mengenal daerah kota raja. Jika kau akan pergi, maka kau akan mengalami kesulitan di perjalanan”

Tetapi pada saat-saat Buntal dan Arum datang kemari, mereka selalu berceritera tentang jalan yang mereka lalui. Meskipun aku belum pernah melihatnya, tetapi rasa-rasanya aku telah mengenalnya. Sehingga aku merasa bahwa jika aku menelusuri jalan itu, aku akan sampai juga di Gebang” jawab Rara Warih.

“Perjalanan yang sangat berbahaya bagimu Warih” berkata ibundanya, “selebihnya kau tidak tahu ucapan sandi pada saat terakhir. Jika terjadi salah paham, maka kau akan dapat mengalami bencana justru oleh para pengawal Pangeran Mangkubumi sendiri”

“Aku akan berusaha menjelaskan dengan jujur ibunda. Aku berharap mereka akan dapat mengerti” jawab Rara Warih.

“Tetapi setelah kau katakan segalanya menurut pengertian kita, ternyata orang itu bukan pengawal Pangeran Mangkubumi, tetapi petugas sandi dari Surakarta. Nah, apakah yang akan terjadi?” bertanya Raden Ayu.

“Setiap usaha memang ada dua kemungkinan ibunda. Berhasil atau tidak. Jika aku gagal, dan aku harus berhadapan dengan pasukan sandi Surakarta, apa boleh buat” berkata Rara Warih.

“Tetapi kau jangan pergi Warih” minta ibundanya.

Rara Warih memandang ibundanya sejenak. Namun kemudian katanya, “Ibunda. Dalam keadaan seperti sekarang ini, semua tenaga sangat di perlukan. Ibunda telah memberikan banyak, sumbangan kepada pasukan Pangeran Mangkubumi dengan cara yang ibunda pahami. Biarlah aku juga memberikan setitik manfaat bagi perjuangan ini. Karena itu, biarkan aku pergi mencari, dimanakah letak padukuhan Gebang itu. Sebenarnya-lah, aku telah mempunyai satu bayangan yang jelas tentang tempat itu. Tentang jalan-jalan yang harus aku lewati. Bahkan tentang tikungan dan jalan simpang, rasa-rasanya aku sudah dapat mengingatnya dengan pasti”

Raden Ayu Galihwarit kemudian telah dicengkam oleh keragu-raguan yang sangat Ia sadar, bahwa perjuangan Pangeran Mangkubumi memang memerlukan pengorbanan yang besar. Ia sendiri merasa sudah mengorbankan apa yang dimilikinya. Namun jika ia harus mengorbankan Rara Warih, agaknya pengorbanan itu akan menjadi terlalu besar. Perjuangan Pangeran Mangkubumi akan menjadi sangat mahal baginya.

Tetapi ia tidak mempunyai pilihan lain. Jika Buntal dan Arum datang, maka keduanyalah yang akan menjadi korban. Bahkan mungkin pengakuan yang keluar dari keduanya akan melibatkan dirinya sendiri dengan tuduhan yang akan dapat membawanya ke tiang gantungan.

Meskipun Raden Ayu Galihwarit tidak akan lebih menghargai dirinya sendiri daripada anak gadisnya, namun segalanya memang harus diperhitungkan sebaik-baiknya. Pasukan Pangeran Mangkubumi memang tidak boleh dihancurkan oleh kumpeni.

Keragu-raguan itulah yang kemudian membuat segalanya menjadi lambat. Sementara itu matahari merayap terus naik ke atas punggung pegunungan di sebelah Timur. Semakin lama menjadi semakin tinggi.

“Ibunda” berkata Rara Warih setelah makan pagi, “Aku menunggu keputusan ibunda. Seandainya Buntal atau Arum datang, biasanya mereka sudah datang lebih pagi dari saat ini Agaknya mereka meninggalkan Gebang lewat tengah malam, sehingga mereka akan memasuki kota menjelang matahari terbit, sebagaimana orang-orang padesan membawa hasil tanahnya ke pasar”

Betapapun juga Raden Ayu Galihwarit masih tetap bimbang. Tetapi ketika ia membayangkan kehancuran yang akan dialami oleh pasukan induk Pangeran Mangkubumi jika Gebang disergap dengan tiba-tiba. maka, “dengan sendat ia berkata, “Jika kau memang sudah siap untuk memberikan pengorbanan itu Warih, aku tidak dapat menghalangimu lagi”

“Aku sudah siap ibunda, apapun yang akan terjadi” berkata Rara Warih.

Raden Ayu Galihwarit menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Kau tidak usah minta diri kepada eyangmu. Kau tentu tidak akan diijinkannya”

“Tetapi bagaimanakah jawab ibunda jika eyang mencari aku?” bertanya Rara Warih.

“Mungkin aku harus berbohong. Aku akan menganggapmu lari, karena kau takut mengalami peristiwa seperti yang telah terjadi. Mungkin ada kumpeni lain yang akan menjadi gila seperti yang pernah terjadi. Sebenarnyalah tingkah laku mereka terpengaruh sekali oleh sikap ibumu ini Warih” jawab ibundanya.

“Tidak, bukan karena ibunda” sahut Warih.

Raden Ayu Galihwarit menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Jika kau merasa sanggup melakukannya, lakukan”

Rara Warih pun kemudian segera bersiap-siap. Seperti yang dikatakannya, maka ia benar-benar mampu membayangkan jalan manakah yang harus dilaluinya. Seolah-olah ia memang sudah pernah mengenali jalan menuju ke Gebang.

bersambung ke bagian 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s