BdBK-24


BUNGA DI BATU KARANG

JILID 24

kembali | lanjut

BdBK-24NAMPAKNYA lawannya menjadi marah. Karena itu, maka ia pun segera menghentikan kudanya dan meloncat turun.

Buntal yang memang lebih mantap bertempur di atas tanah, segera meloncati parit itu lagi dan dengan tegak ia berdiri menghadapi lawannya yang mendekatinya.

Pertempuran yang serupa telah terjadi pula Raden Juwiring dengan kemampuannya bertempur di atas kuda, telah mendesak lawannya. Namun nampaknya lawannya kurang cermat mengendalikan kudanya, sehingga tiba-tiba saja kudanya telah tergelincir dan jatuh terguling ke dalam parit.

Malang bagi prajurit itu. Di luar kuasanya mengendalikan diri, ternyata senjatanya telah melukainya sendiri. Lambungnya telah dikoyak tajam senjatanya sendiri.

Karena itu, ketika kudanya berusaha untuk bangun, justru prajurit itu dengan susah payah berusaha untuk bangkit. Tetapi Juwiring terkejut ketika melihat darah mengalir dari tubuh lawannya. Barulah Juwiring sadar, bahwa lawannya telah terluka karena senjatanya sendiri.

Yang masih memberikan perlawanan adalah lawan Buntal. Seorang yang bertubuh tinggi tegap berjambang panjang, tetapi ia tidak akan berdaya jika Juwiring pun ikut pula melawannya.

Karena itu, maka Juwiring yang masih duduk di punggung kudanya berkata, “Sudahlah. Menyerah sajalah. Tidak ada gunanya kau melawan. Kamipun sebenarnya tidak ingin melawan prajurit Surakarta. Jika kami terpaksa melakukannya, maka kami hanya sekedar menghindar. Mungkin kalian akan menangkap kami, karena kami adalah orang-orang dari padepokan di daerah Utara”

“Padepokan Rasa Tunggal” desis Buntal menyambung.

Lawan Buntal yang terluka di pinggir jalan yang mendengar jawaban itu menjadi heran. Yang diucapkan itu berbeda dengan pendengarannya terdahulu. Karena itu. tiba-tiba saja ia ingin meyakinkan. Betapa sakit mencengkam dadanya, namun ia masih bertanya, “Padepokan Rasa Tunggal atau Raga Tunggal?”

Buntal tergagap. Namun kemudian dijawabnya, “Raga Tunggal. Bukankah aku mengatakannya sejak semula Raga Tunggal? Nah, jika kalian ingin memburu kami pergilah ke padepokan Raga Tunggal”

Prajurit yang bertubuh tinggi tegap itu termangu-mangu. ia tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa tiga orang kawannya sudah tidak berdaya.

Meskipun demikian, ia masih bertanya, “Jika aku menyerah, apa yang akan kau lakukan?”

Sebagaimana pesan yang selalu didengar dari para pemimpin pasukan Pangeran Mangkubumi, maka Juwiring pun menjawab, “Aku tidak akan berbuat-apa-apa. Tetapi jangan berusaha menangkap kami”

Prajurit itu menjadi heran. Tetapi nampaknya kedua anak muda itu bersungguh-sungguh, karena Buntal pun berkata, “Jika kami ingin membunuh, kami sudah membunuh. Karena itu, jika kau memang masih ingin hidup, menyerah sajalah. Tetapi dengan syarat”

“Apa?” bertanya prajurit itu.

“Aku ambil kudamu, karena kudaku telah hilang” jawab Buntal.

Prajurit yang bertubuh tinggi tegap itu memang merasa, bahwa anak-anak muda itu sengaja menyinggung perasaannya dengan sikapnya. Tetapi ia tidak mempunyai pilihan lain, karena sebenarnyalah bahwa ia masih belum ingin mati.

Karena itu, maka para prajurit itu pun menyatakan tidak akan menangkap mereka dan memberikan kuda yang diminta oleh Buntal.

Sejenak kemudian, maka kedua anak muda itu pun telah meninggalkan medan. Namun Buntal mendapat seekor kuda tidak setegar kudanya sendiri.

Tetapi tiba-tiba saja bagaikan bersorak ia berkata, “He, lihat”

Ketika mereka berpacu sampai batas pategalan mereka melihat seekor kuda yang sedang dengan tenang makan rerumputan di pinggir jalan.

“Itu kudaku” desis Buntal.

“Kuda itu nampaknya masih menunggumu” sahut Juwiring.

Karena itu maka Buntal pun telah berganti kuda. Sementara itu kuda yang dipinjamnya itu pun dihadapkannya kearah pemiliknya. Kemudian dengan satu lecutan kuda itu berderap berlari tanpa penunggang.

Sementara itu, prajurit yang bertubuh tinggi tegap itu telah mengumpulkan kawan-kawannya yang terluka. Yang tinggal di tempat itu hanyalah dua ekor kuda. Karena itu. maka agar mereka tidak terlalu lama, diusahakannya agar setiap ekor kuda dapat membawa dua orang bersama-sama.

Tetapi mereka pun terkejut ketika mereka mendengar derap seekor kuda berlari kearah mereka. Ternyata kuda itu adalah kuda yang dipinjam oleh anak-anak muda yang mengaku dari padepokan Raga Tunggal.

“Siapakah sebenarnya mereka?” bertanya orang bertubuh tegap itu seolah-olah kepada diri sendiri.

Hampir di luar sadarnya, orang yang berkulit kehitam-hitaman, yang terluka di dada menyahut, “Mungkin mereka adalah para pengikut Pangeran Mangkubumi”

“Tandanya?” bertanya kawannya yang terluka oleh senjata sendiri.

“Mereka tidak membunuh kita” jawab arang yang berkulit kehitam-hitaman, “Aku merasa, bahwa anak muda itu sengaja membiarkan aku hidup, justru karena ia menggeser tikaman senjatanya”

Para prajurit itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian orang yang bertubuh tegap itu berkata, “Cepat, sebelum luka kalian itu menuntut lebih banyak lagi dari kalian”

Demikianlah maka dengan kuda yang ada, para prajurit itu kembali ke Jatimalang. Dengan pakaian yang di kotori oleh darah mereka sendiri, maka prajurit itu bagaikan merangkak kembali kepada kawan-kawannya.

Kedatangan, mereka telah mengejutkan. Seorang Senapati muda langsung bertanya, “Apakah kau bertemu dengan para pengikut Pangeran Mangkubumi?”

Orang yang berkulit kehitam-hitaman itulah yang dengan serta merta menjawab, “Tidak Senapati. Kami bertemu dengan sekawanan perampok yang justru mempergunakan kesempatan pada saat-saat seperti ini”

“Perampok? Dan kalian tidak dapat menangkap mereka?” bertanya Senapati itu, “Menurut laporan yang aku dengar, mereka hanya berdua saja”

“Ya. Ketika kami melihat dari padukuhan sebelah, mereka memang hanya berdua. Kami mengejarnya berempat Tetapi ternyata ada tiga orang kawannya telah menunggu di ujung bulak sebelah. Selagi kami berempat bertempur melawan lima orang perampok, telah datang lagi dari arah yang berbeda, seorang yang ternyata adalah pemimpinnya”

“Enam orang perampok. Dan kalian adalah prajurit. Surakarta” geram Senapati itu.

“Ya. Kami berhasil bertahan. Mereka telah melarikan diri dengan membawa beberapa orang terluka. Tetapi kami sudah terlalu lemah, sehingga kami tidak akan mungkin mengejarnya lagi” jawab orang berkulit kehitam-hitaman itu.

Senapati itu agaknya kurang mempercayai keterangan itu. Dipandanginya wajah-wajah pucat dari ketiga orang lainnya. Namun orang bertubuh tegap itu pun mengangguk sambil menjawab, “Kami tidak mendapat kesempatan terlalu banyak. Para perampok itu ternyata memiliki kemampuan yang cukup untuk melawan kami selain jumlah mereka yang lebih banyak. Karena itu kami tidak dapat menangkap seorang pun di antara mereka, meskipun kami dapat melukai beberapa orang. Mungkin membunuhnya, karena mereka sempat dibawa oleh kawan-kawannya”

“Bodoh sekali” geram Senapati itu, “musnahkan mereka. Perampok-perampok memang berusaha untuk memanfaatkan keadaan”

Keempat orang itu tidak menjawab Namun Senapati itu pun kemudian berkata, “Obati lukamu”

Para prajurit yang terluka itu pun kemudian telah pergi ke belakang barak mereka untuk menemui tabib pasukan yang segera mengobatinya.

Dalam pada itu Raden Juwiring dan Buntal telah berpacu semakin cepat. Perkelahian itu telah merampas waktu mereka cukup panjang. Sehingga karena itu, maka mereka harus berpacu lebih cepat lagi, agar mereka tidak terlalu lama mencapai daerah pertahanan Pangeran Mangkubumi untuk memberikan surat jawaban Raden Mas Said yang sudah mereka mengerti isinya.

Namun dalam pada itu, perjalanan Arum ketika ia kembali itu pun tidak selancar ketika ia berangkat. Ketika ia sampai di bulak panjang yang sepi, tiba-tiba saja ia berpapasan dengan dua orang berwajah kasar. Seorang masih muda sedangkan yang lain mendekati pertengahan abad.

Semula Arum tidak menghiraukan mereka. Jarak yang ditempuh sudah menjadi tidak terlalu panjang lagi. Sebentar lagi ia akan memasuki daerah pengawasan pasukan Pangeran Mangkubumi.

Namun ternyata kedua orang itu telah menghentikannya. Anak muda itu berdiri di tengah jalan sambil bertolak pinggang, sementara orang yang separo baya itu berdiri termangu-mangu di pinggir jalan.

Arum menjadi berdebar-debar. Menilik bahwa kedua orang itu bersenjata, maka agaknya keduanya adalah bagian dari satu pasukan. Tetapi pasukan yang mana.

Arum mengenal kalimat-kalimat sandi apabila diperlukan. Karena itu apabila keduanya adalah orang-orang dari pasukan Pangeran Mangkubumi maka keduanya tidak akan berbahaya baginya.

Tetapi ternyata bahwa jantung Arum pun berdebar semakin cepat. Nampaknya keduanya memiliki sifat yang agak berbeda dari para pengikut Pangeran Mangkubumi. Karena itu, maka Arum pun menjadi semakin berhati-hati ketika ia mendekati kedua orang yang nampaknya sengaja menunggunya.

“Jika keduanya orang-orang yang dipasang kumpeni, aku akan menjadi sangat bingung. Jika aku melawan, maka ia akan dapat melihat bahwa aku memiliki kemampuan serba sedikit. Jika pada suatu saat aku bertemu lagi dengan mereka di kota apabila aku menghadapi Raden Galihwarit, maka mereka akan dapat berbahaya bagiku” berkata Arum di dalam hatinya.

Kedua orang itu tidak menegornya sampai Arum berada beberapa langkah saja di hadapan anak muda yang berdiri di tengah jalan itu. Tetapi ketika Arum melangkah menepi, barulah anak muda itu beringsut. Sambil tersenyum ia bertanya, “He, anak manis. Dari mana, he?”

Arum mengerutkan keningnya. Namun kemudian sambil melangkah surut ia menjawab, “Dari kota, Ki Sanak”

“Ada apa ke kota? Apakah kau mempunyai sanak kadang di kota? Bukankah di kota suasananya sedang kisruh setelah kumpeni ada di Surakarta ” desis anak muda itu.

“Tidak Ki Sanak, di kota tidak ada apa-apa. Aku berjualan jamu dan mangir serta lulur untuk perempuan-perempuan kota” jawab Arum.

“O, begitu” jawab anak muda itu, “agaknya karena itu maka kau cantik. He, apakah daganganmu itu laku?”

“Sebagian” jawab Arum.

Dalam pada itu, orang yang separo baya itu pun berdesis, “Ambil saja uangnya. Jangan terlalu lama”

Arum mengerutkan keningnya. Atas sikap, itu, ia sudah dapat menduga, bahwa keduanya tentu bukan para pengikut Pangeran Mangkubumi. Atau seandainya keduanya pengikut Pangeran Mangkubumi juga, maka keduanya sudah menyalahi paugeran bagi pasukan Pangeran Mangkubumi.

Anak muda yang berdiri di tengah jalan itu pun berdesis, “Tidak hanya uangnya paman, tetapi gadis, eh, perempuan ini terlalu cantik, apakah ia gadis atau bersuami atau janda muda”

Wajah Arum menjadi tegang.

“Kau sudah kambuh” desis orang yang separo baya. Tetapi anak muda itu tertawa. Katanya, “Paman jangan berpura-pura. Jika aku bawa gadis ini, pamanlah yang akan lebih senang dari aku sendiri, karena paman memerlukannya lebih banyak”

Laki-laki separo baya itu mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Ambil uangnya. Kita segera pergi”

“Paman agaknya menjadi cemas, bahwa daerah ini menjadi daerah pengamatan pasukan Pangeran Mangkubumi. Jangan takut paman. Bulak ini terlalu panjang, sepi dan jarang dilalui orang. Jika perempuan ini berteriak, tidak akan ada seorang pun yang mendengar, di sawah di sekitar tempat ini, aku tidak melihat seorang pun yang sedang bekerja. Sementara jika pasukan Pangeran Mangkubumi nganglang lewat bulak ini, jauh-jauh kita sudah melihatnya” jawab anak muda itu.

“Anak setan” geram orang tua itu, “jika kau ingin berbuat sesuatu, lakukanlah. Aku hanya memerlukan uangnya. Bukankah ia baru saja menjual jamu, mangir dan lulur? He, perempuan yang malang, berikan uangmu. Aku hanya memerlukan uangmu”

Arum menjadi semakin tegang, ia tidak mendapat uang. Ia hanya membawa bekal seperlunya di perjalanan. Apalagi jika ia memperhatikan anak muda yang berdiri di tengah jalan itu. Hatinya menjadi berdebar-debar.

Tetapi dengan demikian Arum pun mengetahui, bahwa orang itu bukan kaki tangan kumpeni. Juga bukan orang-orang dari pasukan yang manapun juga. Kesimpulan Arum orang-orang itu adalah perampok atau penyamun yang mengambil kesempatan justru pada saat yang sedang gawat.

“Berikan uangmu, anak manis” desis anak muda itu, “dan berikan apa saja yang aku kehendaki”

Wajah Arum menjadi merah. Tetapi ia sudah dapat mengambil sikap tegas. Orang-orang itu harus dilawannya. Meskipun Arum belum mengetahui tataran kemampuannya, namun Arum tidak akan menyerahkan apapun yang diminta, oleh orang-orang itu. Sejenak Arum mengamati senjata orang-orang itu. Keduanya membawa parang yang tidak terlalu panjang, tetapi nampaknya besar dan berat. Sementara Arum sendiri tidak membawa senjata panjang, ia hanya menyembunyikan beberapa senjata pendek di bawah setagennya. Pisau-pisau belati kecil yang akan dapat membantunya jika terpaksa.

“Jangan mencoba menentang kehendak kami” berkata anak muda itu, “bulak ini terlampau panjang. Meskipun kau berteriak, suaramu akan hilang ditelan luasnya bulak ini, sementara seperti yang kau lihat, tidak ada seorang pun yang bekerja di sawahnya di saat seperti ini”

Arum mengumpat di dalam hati. Hambatan itu justru datang dari orang-orang gila seperti itu. Bukan dari prajurit Surakarta, dan bukan pula dari Kumpeni.

“Tetapi aku dapat bertindak tegas menghadapi mereka” berkata Arum di dalam hatinya.

Sementara itu, orang yang sudah separo baya itu berkata kepada kawannya dengan lantang, “Jika kau menjadi gila melihat gadis itu, terserah. Tetapi aku akan mengambil uangnya dan pergi. Lakukan apa yang kau lakukan seterusnya tanpa menghiraukan aku lagi”

Anak muda itu tertawa. Katanya, “Sejak kapan kau menjadi demikian lembut hati”

“Daerah ini adalah daerah pengawasan pasukan Pangeran Mangkubumi. Setiap saat orang-orangnya dapat saja muncul di bulak ini. Dan kata tidak akan mendapat kesempatan untuk lolos”

“Baiklah” berkata anak muda itu, “jika kau pergi, pergilah. Aku akan mengambil apa saja yang dapat aku ambil dari perempuan ini. Termasuk uangnya. Katakan, dimana kau akan menunggu aku”

Kawannya menggeram. Namun katanya, “Aku akan membawa uangnya lebih dahulu” Ia berhenti sejenak, lalu katanya kepada Arum, “He, anak malang. Berikan uang itu kepadaku. Kau tentu mendapat uang dari perempuan-perempuan yang sudah bersolek dengan mangir, lulur dan memelihara kemudaan mereka dengan reramuan jamu”

“Aku tidak membawa uang” jawab Arum, “Aku hanya menyerahkan barang-barang itu. Semuanya adalah urusan ibuku. Uangnya pun akan diterima oleh ibuku kelak”

“Jangan begitu” desis orang yang separo baya itu, “aku sudah berusaha untuk menghindarkan diri dari tindakan-tindakan yang lebih gawat bagimu. Karena itu, serahkan saja uangmu. Kemudian aku akan pergi”

“Aku tidak mempunyai uang. Aku tidak bohong” jawab Arum.

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Sementara anak muda itu tertawa, “Percayalah. Perempuan ini tidak mudah menyerahkan uangnya. Karena itu, jangan terlalu berbaik hati”

“Nampaknya perempuan ini memang keras kepala” sahut yang lain, “Apakah kau ingin kami berdua menyeretmu keluar dari daerah ini? di sebelah padesan itu terdapat sebuah sungai. Menelusuri sungai itu, kami akan dapat sampai ke sarang kami. Apakah kau ingin mengikuti kami?”

Wajah Arum terasa bagaikan tersentuh bara. Karena itu, maka ia pun menjawab, “Baiklah. Aku akan datang ke sarangmu kelak bersama Ki Jagabaya dari padukuhan ini. Kau akan diseret dan di pertontonkan kepada seluruh penghuni Kademangan ini”

“He” wajah kedua orang itu menegang. Sementara itu, anak muda itu pun menyahut, “Jangan lancang berbicara dengan aku. Aku dapat berbuat apa saja. Halus, kasar dan barangkali akan dapat membuat kau menyesal seumur hidupmu”

Arum pun menjadi semakin marah pula. Karena itu, maka ia pun menjawab, “Jangan mengancam dan menakut-nakuti aku. Ingat, daerah ini adalah daerah pengawasan pasukan Pangeran Mangkubumi seperti yang kau katakan sendiri. Setiap saat, pasukan peronda akan lewat. Sementara menunggu mereka, aku akan melawan kalian berdua”

Kata-kata itu benar-benar membingungkan kedua orang itu. sehingga untuk sejenak, keduanya justru berdiam diri sambil berpandangan.

“Ki Sanak” berkata Arum kemudian, “Aku masih memberi kesempatan kalian untuk menyingkir dari jalan ini sebelum pasukan peronda Pangeran Mangkubumi lewat dan menyeret kalian ke daerah pertahanannya untuk diadili”

Wajah anak muda itu pun masih nampak tegang. Namun kemudian ia tertawa sambil berkata, “Luar biasa. Kau adalah perempuan yang luar biasa. Kau tidak menjadi gemetar melihat kami dan rencana kami, bagaimana kami akan memperlakukan kau. Justru kau masih sempat berusaha untuk membebaskan dirimu dengan menggertak kami”

“Aku tidak menggertak. Aku akan melakukannya” desis Arum sambil melepaskan keba yang didukungnya dengan selendang di lambungnya, “Bagaimanapun juga, aku wajib melawan kalian, Cacing pun akan menggeliat jika terinjak kaki. Apalagi aku”

Sikap Arum benar-benar mengherankan kedua orang itu. Namun anak muda itu berkata, “Sikapmu semakin menarik anak manis. Perempuan yang demikian adalah perempuan yang sangat menarik perhatianku”

Namun anak muda itu terkejut bukan buatan. Sebelum ia sempat tertawa lagi, tiba-tiba terasa wajahnya bagaikan dibakar dengan api.

Ternyata Arum yang sudah melepaskan keba pandannya itu, telah meloncat pendek, mendekati anak muda itu dan langsung menampar pipinya. Demikian kerasnya, sehingga terasa pipi anak muda itu bagaikan terbakar. Sementara itu ketika ia meludah, ternyata giginya telah berdarah.

Yang dilakukan Arum itu memang sangat mengejutkan. Namun sekaligus Arum dapat menjajagi serba sedikit, kekuatan dan daya tahan lawannya. Ternyata anak muda itu tidak sempat mengelak, meskipun Arum pun sadar, bahwa hal itu disebabkan karena anak muda itu lengah dan tidak menduga sama sekai, bahwa hal itu akan terjadi

Namun dalam pada itu, apa yang dilakukan Arum itu benar-benar menggetarkan hati. Keduanya pun menyadari, bahwa ternyata perempuan yang mengaku penjual reramuan jamu, mangir dan luhur itu bukannya perempuan kebanyakan.

Karena itu, maka keduanya pun bergeser surut. Dengan suara lantang anak muda itu berkata, “Perempuan ini agaknya perempuan gila. Baiklah, kau akan menyesal karena kau sudah menghina kami. Kami dapat membuat kau malu dan menyesal sepanjang hidupmu. Tetapi kami pun dapat membunuhmu dan membiarkan mayatmu terkapar di jalan bulak ini”

“Kau kira aku menjadi gemetar mendengar ancamanmu itu?” jawab Arum, “Marilah. Aku terpaksa melakukannya untuk mempertahankan diri dan sedikit memberi peringatan kepada perampok dan penyamun yang memanfaatkan keadaan yang gawat ini”

Kedua orang berwajah kasar itu termangu-mangu. Namun anak muda itu pun berkata, “Baik. Kau memang sangat menarik anak manis. Kau menjadi semakin menarik bagiku”

Anak muda itu pun tiba-tiba saja telah bersiap. Sementara kawannya pun telah bergeser. Dengan suara berat ia berkata, “Kau sudah menyakiti hati kami”

Arum tidak melihat kemungkinan lain daripada berkelahi melawan kedua orang itu. Tetapi karena ia tidak memakai pakaian khususnya, maka rasa-rasanya memang agak canggung juga baginya. Namun demikian ia terpaksa menyingsingkan bukan saja lengan bajunya, tetapi juga kain panjangnya.

“Anak gila” geram anak muda yang mencegatnya.

Arum tidak menghiraukannya, ia tidak ingin mengalami bencana yang gawat menghadapi kedua orang itu. Karena itu, maka ia tidak menghiraukan apa saja yang dikatakan oleh kedua orang lawannya.

Ternyata kedua orang laki-laki berwajah kasar itu masih juga menganggap bahwa Arum adalah seorang perempuan yang meskipun memiliki kelebihan, tetapi tidak akan mengejutkan mereka. Sehingga karena itu, maka keduanya tidak segera mencabut senjatanya.

“Perempuan yang banyak tingkah” geram anak muda itu, “aku masih dapat bersabar saat ini. Tetapi jika kau keras kepala, maka kau akan mengalami perlakuan yang sangat buruk. Kami akan menyeretmu ke sarang kami. Dan kau akan dapat membayang-kan, apa yang dapat terjadi dengan beberapa orang kawan-kawanku jika mereka melihatmu”

Arum tidak menjawab. Tetapi ia sudah siap menghadapi segala kemungkinan.

“Nampaknya anak ini memang keras kepala” desis orang yang sudah separo baya, “Baiklah. Aku akan merampas uangnya. Dan aku kira karena kekerasan hatinya, ia wajib mendapat hukuman di sarang kita nanti”

Arum masih tetap berdiam diri. Tetapi ia sudah benar-benar siap.

Dalam pada itu, anak muda yang menganggap Arum hanyalah seorang perempuan yang keras kepala, telah melangkah mendekat. Dijulurkannya tangannya untuk menjajagi kesigapan lawannya, Namun agaknya Arum mengerti, sehingga ia sama sekali tidak berbuat sesuatu karena ia tahu, tangan itu tidak akan sampai menyentuhnya.

Sikap Arum itu justru mendebarkan. Ternyata perempuan itu memiliki pengamatan yang tajam atas gerak lawannya. Karena itu, maka orang yang sudah separo baya itu bergerak lebih jauh lagi. Ia mulai menyerang, meskipun belum bersungguh-sungguh. Tetapi tangannya benar-benar telah mengarah kening.

Arum bergeser selangkah surut. Tetapi ia masih belum berbuat yang lain.

Ketenangan sikap Arum membuat kedua orang itu semakin bersungguh-sungguh menghadapinya. Ketika orang yang lebih tua itu menarik tangannya, maka anak muda itu pun tidak sabar lagi. Ia mulai dengan serangan yang sebenarnya.

Sambil meloncat maju tangannya terjulur kearah pundak Arum.

Arum menyadari, bahwa lawannya mulai menjadi marah dan bersungguh-sungguh. Karena itu, maka ia pun menjadi semakin berhati-hati. Ia dengan cermat mengelakkan serangan lawannya. Namun seperti yang diperhitungkannya, demikian ia bergeser, lawannya itu pun telah meloncat menyerang dengan kakinya mengarah lambung.

Tetapi Arum pun telah siap menghadapinya. Ia pun telah bertekad untuk melawan dengan bersungguh-sungguh. Bahkan Arum pun sadar, bahwa pada saatnya kedua orang itu tentu akan mempergunakan senjatanya apabila mereka terdesak.

Namun demikian Arum harus tetap berhati-hati, karena ia belum tahu tingkat kemampuan lawannya yang sebenarnya.

Dengan tangkas Arum pun meloncat menghindar. Tetapi ternyata bahwa kawannya yang lebih tua itu, tidak membiarkan gadis itu melepaskan diri. Karena itu, dengan serta merta ia pun telah menyerang juga.

Barulah keduanya menyadari, bahwa perempuan itu benar-benar tangkas. Ia mampu bergerak lebih cepat dari kedua orang itu. Kedua orang yang merasa dirinya sudah kenyang makan garam petualangan dalam benturan-benturan ilmu dan kekuatan.

Karena itu, maka orang yang lebih tua itu pun bergumam, “Ternyata perempuan ini merasa mempunyai bekal ilmu untuk melawan kita berdua. Itulah agaknya ia dengan sengaja menentang setiap keinginan kita. Mungkin dengan sengaja pula ia ingin menunjukkan kemampuannya”

“Tidak” jawab Arum, “Kau memaksa aku untuk mempergunakan ilmu kanuragan. Tetapi bahwa sikapmu telah menunjukkan siapakah kalian, maka telah timbul pula keinginanku untuk menangkap kalian”

“Huh. perempuan sombong” geram anak muda itu, “Kau kira kau dapat melakukannya. Kaulah yang akan menyesal”

Arum tidak menjawab. Tetapi ketika ia bergeser, tiba-tiba saja anak muda itu telah menyerangnya sekali lagi. la ingin bergerak cepat, sebelum Arum siap sepenuhnya. Dengan ayunan yang keras ia memukul kening Arum dengan sisi telapak tangannya.

Namun Arum mengelak. Bahkan dengan tangkas ia pun mulai menyerang. Tetapi karena ia tidak memakai pakaian khususnya, maka Arum tidak menyerang dengan kakinya. Sambil meloncat dan membungkukkan badannya Arum telah menyerang lambung.

Meskipun serangan Arum kurang mapan, tetapi kecepatannya bergerak telah memungkinkan tangannya mengenai lawannya. Arum sengaja menyerang dengan ujung-ujung jarinya yang terbuka dan merapat.

Perasaan sakit telah menyengat lambung anak muda itu. Sambil menyeringai dan mengumpat ia meloncat surut. Arum yang sudah siap untuk memburunya, ternyata harus mengurungkan niatnya karena orang yang lebih tua itu telah berusaha untuk melindungi kawannya. Dengan cepat orang itu menyerang Arum dengan kakinya langsung mengarah perut.

Arum bergeser selangkah. Ketika kaki lawannya gagal menggapai perutnya, maka dengan tangannya Arum memukul kaki itu menyamping.

Ternyata kekuatan Arum sama sekali tidak diduga oleh lawannya yang lebih tua itu. Pukulan pada kakinya telah mendorongnya dalam satu putaran. Hampir saja ia terjatuh, karena keseimbangannya yang goyah oleh putaran itu. Namun dengan susah payah ia berhasil menguasai keseimbangan kembali, sementara kawannya yang sudah berhasil menguasai dirinya itu pun telah berusaha untuk menolongnya pula dengan serangan yang cepat.

Namun betapapun juga, ternyata Arum mampu bergerak lebih cepat. Meskipun ia harus bertempur melawan dua orang, tetapi ia masih mampu membuat kedua lawannya itu menjadi bingung. Sementara lawannya hanya bertumpu pada kekuatan dan kekasarannya, Arum telah bertempur dengan dasar-dasar kemampuan, ilmu dan kecepatan gerak.

Meskipun demikian perkelahian itu semakin lama menjadi semakin seru. Kedua orang yang mencegat Arum itu nampak menjadi semakin kasar. Mereka tidak lagi berusaha untuk bertindak lebih baik menghadapi seorang perempuan, Justru karena perempuan itu ternyata memiliki kemampuan untuk melawan mereka, maka mereka merasa tersinggung karenanya. Mereka bukan saja sekedar ingin merampas uang atau apa saja dari perempuan itu, tetapi harga diri mereka benar-benar telah direndahkan.

Karena itu, maka keduanya pun berusaha untuk bertempur dengan segenap kemampuan mereka. Keduanya telah bertempur berpasangan dengan sebaik-baiknya. Namun ternyata bahwa keduanya tidak segera dapat menguasai perempuan itu hanya seorang diri.

Dalam pada itu, kedua orang itu tidak dapat bersabar lagi. Kemarahan dan harga diri mereka tidak lagi dapat dikendalikan. Meskipun keduanya semula ragu-ragu, apakah dua orang laki-laki yang berkelahi melawan seorang perempuan harus menarik senjata mereka.

Tetapi mereka tidak dapat mengingkari kenyataan. Keduanya tidak segera dapat mengalahkan perempuan itu. Karena itu, maka mereka tidak ingin membuang waktu lebih banyak lagi. Dengan senjata. mereka temu akan segera menguasainya. Bahkan jika perlu, kematian perempuan itu tidak akan membebani perasaan mereka, karena keduanya sudah terbiasa membunuh siapa saja yang tidak menuruti kemauan mereka tanpa menganut satu paugeran pun.

Dalam pada itu, Arum telah melihat gelagat itu. Karena itu ia harus berpikir untuk mengatasinya. Jika keduanya bersenjata, maka ia tentu akan mengalami kesulitan. Bagaimanapun juga, dua orang itu sudah terbiasa bermain dengan senjata.

Dengan demikian, maka Arum harus bertindak lebih cepat. Ia sadar, bahwa ia akan menghadapi kesulitan dengan senjata-senjata itu.

Namun Arum tidak kehabisan akal. Sesaat sebelum keduanya menarik senjatanya, Arum telah menyerang mereka dengan garangnya. Bagaikan angin pusaran ia berputar, meloncat dan menyerang dari arah yang tidak terduga. Dalam keadaan yang demikian Arum telah melupakan pakaiannya. Meskipun ia tidak berpakaian khusus Tetapi pertimbangan-pertimbangan lain telah mendorongnya untuk bertempur lebih garang.

Kedua lawannya terkejut melibat perubahan sikap gadis itu. Bahkan anak muda yang mencegatnya itu, tidak sempat mengelak ketika Arum menghantam lambungnya dengan kakinya. Demikian ia menarik kakinya, sambil berputar ia telah menyerang lawannya yang lain dengan tangan yang terjulur lurus kearah dada.

Arum memang memancing kekisruhan di saat keduanya berusaha untuk memperbaiki kedudukan mereka, sehingga kerja sama mereka dapat disusun kembali, maka Arum tiba-tiba saja telah melibat anak muda itu dalam perkelahian jarak pendek. Jangkauan tangan Arum telah menangkap pergelangan tangan anak muda itu dan memilinnya.

Yang terjadi itu demikian cepatnya, sehingga anak muda itu tidak sempat berbuat sesuatu. Apalagi ketika tiba-tiba Arum telah menghantam punggungnya dengan lutut, dan dengan serta merta mendorong anak muda itu sehingga jatuh tertelungkup.

Adalah di luar perhitungan mereka bahwa semuanya itu dapat terjadi begitu cepat. Anak muda itu baru menyadari, apakah yang telah terjadi, ketika tiba-tiba saja terasa wajahnya mencium debu.

Ternyata tangan perempuan itu tidak selembut yang diduganya ketika ia melihat Arum berjalan mendekatinya dari arah kota. Anak muda itu mengira, bahwa perempuan itu adalah sebagaimana kebanyakan perempuan cantik, berkulit lembut dan berhati lemah. Tetapi ternyata perempuan yang seorang ini, agak berbeda dengan perempuan kebanyakan.

Dalam pada itu, kawannya yang melihat sikap Arum, tidak menunggu lebih lama lagi. Tiba-tiba saja di tangannya telah tergenggam senjatanya tanpa memikirkan harga dirinya lagi, meskipun yang dilawannya hanya seorang perempuan.

Namun orang itu pun terkejut bukan kepalang. Selagi ia sudah siap untuk menyerang, juga dalam usahanya menyelamatkan kawannya yang sedang berusaha untuk bangkit, dilihatnya perempuan itu pun telah memegang senjata pula di tangannya.

Baru kedua orang itu sadar, bahwa dalam pergulatan berjarak pendek antara anak muda itu dengan Arum, maka Arum telah berhasil menarik senjata anak muda itu di luar sadar pemiliknya.

Dengan demikian, wajah kedua orang laki-laki kasar itu menjadi semakin tegang. Ketika anak muda itu berhasil berdiri dan menguasai keseimbangannya, ia pun menjadi bingung karena senjatanya sudah terlepas dari sarungnya.

“Licik” geram anak muda itu, “kau curi senjataku”

“Sudah adil” jawab Arum, “Kalian membawa sebilah senjata, aku pun membawanya. Aku tidak menghitung jumlah orangnya”

“Persetan” geram anak muda yang marah itu, “kembalikan senjataku”

“Jangan merengek seperti kanak-kanak kehilangan mainan. Yang sedang kita pertaruhkan sekarang adalah nyawa kita masing-masing” jawab Arum.

Kedua laki-laki itu menggeram. Tetapi mereka tidak dapat memaksa Arum menyerahkan senjatanya.

Namun dalam pada itu, laki-laki muda yang sudah tidak berpedang itu pun telah mengurai ikat pinggangnya. Sambil mengikatkan kain panjangnya pada pinggangnya, ia berkata, “Ikat pinggangku tidak kalah nilainya dengan parang itu. Jika kau tersentuh ikat pinggangku, maka kulitmu pun tentu akan terkelupas”

“Terserahlah” jawab Arum, “Tetapi agaknya aku lebih senang mempergunakan senjatamu”

Orang yang lebih tua itu tidak sabar lagi. Ia pun segera menggerakkan parangnya yang terjulur mendatar. Sekali-sekali ia bergeser, sementara ujung pedangnya masih tetap mengarah ke dada Arum.

Arum masih sempat mengelak dengan sebuah loncatan pendek. Namun dalam pada itu, lawannya yang muda telah meloncat sambil mengayunkan ikat pinggang kulitnya yang tebal.

Hampir saja ujung ikat pinggang itu menyambar Wajahnya. Untunglah bahwa Arum masih sempat mengelak. Dengan memiringkan kepalanya ia dapat membebaskan diri dari sambaran ujung ikat pinggang yang memang akan dapat mengoyakkan kulit di wajahnya.

“Kurang sedikit” geram anak muda itu, “jika kulit pipimu tersentuh, maka hilanglah kecantikanmu”

Arum tidak menanggapinya. Ia sudah bersiap dengan parangnya, meskipun parang itu agak terlalu berat dibandingkan dengan pedangnya sendiri.

Dalam pada itu, maka kedua orang lawannya itu pun telah berpencar. Nampaknya mereka menjadi semakin cermat menghadapi perempuan yang garang itu. Keduanya telah memilih arah dan keduanya berusaha untuk saling mengisi dalam serangan-serangan berikutnya.

Tetapi Arum tidak sekedar membiarkan dirinya terperangkap ke dalam serangan-serangan lawan yang dapat bekerja bersama dengan baik. Tetapi ternyata bahwa ia pun dapat menentukan jalannya perkelahian itu.

Karena itulah, maka justru Arum lah yang telah menyerang lebih dahulu. Ia memutar parangnya. Namun kemudian parangnya itu telah mematuk anak muda yang bersenjata ikat pinggangnya.

Anak muda itu terpaksa meloncat mengelak, karena senjata, tidak dapat dipergunakannya untuk menangkisnya. Namun sambil mengelak, anak muda itu telah siap mengayunkan senjatanya jika Arum memburunya. Bahkan dalam pada itu, kawannya yang lebih tua itu pun telah memburu Arum untuk mencegah Arum bertindak lebih jauh atas anak muda yang terdorong surut itu.

Tetapi adalah tidak terduga-duga, bahwa Arum justru menyongsong lawannya yang tua. Dengan tangkas Arum memukul senjata lawannya ke samping, kemudian dengan satu putaran maka senjata Arum justru telah mengarah ke dada lawannya.

Lawannya, menjadi bingung, sementara senjatanya terpukul ke samping, dalam sekejap senjata lawannya telah memburunya.

Yang dapat dilakukan adalah berusaha untuk mengelak. Tetapi ketika Ia memiringkan tubuhnya, maka ujung parang Arum telah menyentuh pundaknya.

“Gila. Kau benar-benar betina liar dan buas” geram lawannya yang tua.

“Jangan mengumpat-umpat begitu kasar” sahut Arum. Lalu, “Kita akan bertempur dengan senjata. Bukan sekedar mengumpat dan mencaci maki”

“Persetan” geram lawannya yang tua, yang kemudian telah mengacukan senjatanya pula.

Sementara perhatian Arum tertuju kepada lawannya yang tua, maka yang muda itu pun telah dengan diam-diam meloncat menyerang leher Arum dengan ikat pinggangnya. Demikian kerasnya sehingga terdengar desir angin yang bersuit nyaring.

Namun sekali lagi serangan itu gagal. Ternyata Arum masih sempat mengelak. Sambil berputar dan merendah. Arum mengayunkan senjatanya mendatar, justru pada saat tangan anak muda itu terayun.

Yang terdengar adalah pekik kesakitan. Senjata Arum telah menyentuh sisi dada anak muda itu, sehingga dagingnya telah terkoyak karenanya.

Luka itu tidak terlalu dalam, seperti luka lawannya yang tua. Namun bahwa keduanya telah terluka, maka keduanya pun menjadi semakin gelisah. Betapapun juga luka itu terasa nyeri, sementara darah pun mengalir menghangati kulitnya.

Melihat kedua lawannya menjadi gelisah, Arum menjadi semakin garang. Ia mendesak kedua lawannya, sehingga keduanya hanya dapat meloncat-loncat menghindari serangan Arum yang menjadi semakin cepat.

Dalam pada itu, selagi kedua orang perampok itu kebingungan, terdengar derap kaki kuda di kejauhan. Ketika mereka yang bertempur itu berkesempatan berpaling sejenak, mereka melihat di kejauhan dua orang penunggang kuda memacu kudanya seperti angin.

Kedua perampok itu menjadi semakin gelisah. Mereka tidak tahu, siapakah yang berpacu itu. Namun tentu bukan kawan-kawan mereka. Karena itu, maka mereka harus segera mengambil sikap. Untuk melawan seorang perempuan pun ternyata mereka tidak mampu. Apalagi jika ternyata kedua orang itu adalah pengikut Pangeran Mangkubumi atau prajurit Surakarta yang tidak akan membenarkan tingkah laku mereka pula.

Dengan demikian, maka orang yang lebih tua itu pun segera memberikan isyarat untuk melarikan diri selagi luka mereka masih belum membuat mereka menjadi lumpuh.

Karena itu, maka dengan serta merta keduanya pun segera bergeser surut dan meloncat berlari meninggalkan Arum. Ada juga niat Arum untuk mengejar mereka. Tetapi ia tidak dapat bebas berlari, karena kain panjangnya. Sehingga dengan demikian, ia pun mengurungkan niatnya. Bahkan kemudian timbul pula kecemasannya atas dua orang berkuda itu.

“Aku harus berbohong” berkata Arum di dalam hatinya sambil membetulkan kain panjangnya dan melepaskan parangnya, “Aku harus mengatakan bahwa yang seorang telah mengganggu aku, sedangkan yang lain telah menolong aku. Ketika yang mengganggu aku lari, maka penolongku itu berusaha mengejarnya. Mudah-mudahan mereka tidak melihat jelas apa yang telah terjadi”

Arum pun kemudian mengambil kebanya yang diletakkan di saat ia harus menghadapi kedua orang itu dan membawanya dengan selendang di lambungnya.

Namun Arum justru bergeramang ketika kedua orang itu menjadi semakin dekat. Ternyata keduanya adalah Buntal dan Juwiring.

Sambil menarik kekang kudanya Juwiring bertanya, “Kau baru pulang dari kota Arum? Dan apakah yang telah terjadi?”

“Kalian juga baru pulang?” Arum bertanya pula.

“Ya. Kami baru pulang” jawab Juwiring.

“Kalian singgah dimana saja?” bertanya Arum pula.

“Kami tidak singgah dimanapun” jawab Buntal, kemudian, “Tetapi apa yang terjadi?”

“Tidak apa-apa” jawab Arum.

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Hampir berbareng dengan Buntal, ia meloncat turun dari kudanya.

“Aku melihat dua orang yang berlari meninggalkan tempat ini” desis Juwiring.

“Tidak apa-apa. Mereka tidak apa-apa” jawab Arum. Buntal memungut parang yang basah oleh darah. Dengan nada dalam ia berkata, “Katakan Arum. Tentu sesuatu telah terjadi? Kenapa kau tidak mau menyebutnya”

“Kalian juga tidak mau mengatakan, dimana kalian singgah” gumam Arum.

“Kami tidak singgah di mana-mana” Juwiring lah yang menyahut.

Arum termenung sejenak. Ketika ia melihat Buntal menimang parang yang dipergunakannya, maka ia pun menjawab, “Dua orang penyamun. Mereka sangka, aku membawa uang, karena aku menjawab bahwa aku baru saja dari kota menjual jamu, mangir dan lulur bagi perempuan-perempuan kota”

“Parang siapa?” bertanya Buntal, “nampaknya parang ini telah melukai seseorang?”

“Aku yang mempergunakannya, aku pinjam salah seorang dari kedua penyamun itu” jawab Arum.

Buntal menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa Arum telah melukai kedua atau salah seorang dari lawannya. Tetapi tidak terlalu parah, sehingga keduanya masih sempat melarikan diri.

Juwiring pun nampaknya mengerti juga. Karena itu, maka katanya, “Marilah kita kembali segera. Mungkin kita sudah ditunggu oleh Ki Wandawa. Barangkali kau ingin mempergunakan salah seekor kuda itu Arum. Biarlah aku dan Buntal memakai yang lain berdua”

“Tentu tidak mungkin. Aku berkain panjang Aku tidak terbiasa menunggang kuda dengan tubuh miring. Aku dapat jatuh terpelanting” jawab Arum. Kemudian, “Pergi sajalah dahulu. Aku akan berjalan kaki”

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah. Kita akan berjalan kaki”

“Jika kalian tergesa-gesa, kenapa kalian tidak berkuda saja?” bertanya Arum.

“Tidak. Kami tidak tergesa-gesa” jawab Juwiring.

Arum tidak menjawab lagi. Ia pun kemudian melangkah melanjutkan perjalanan diikuti oleh Juwiring dan Buntal. Namun dalam pada itu Buntal masih bertanya, “Kau tinggalkan saja parang itu di situ?”

“Apakah aku harus membawanya?” Arum ganti bertanya.

Buntal tidak menyahut lagi. Tetapi ia masih sempat melemparkan parang itu menepi.

Dengan demikian, maka mereka bertiga pun telah berjalan kembali ke daerah pertahanan pasukan Pangeran Mangkubumi untuk melaporkan tugas masing-masing. Sementara itu, di sepanjang jalan Buntal pun masih sempat pula berceritera kepada Arum, bahwa pedangnya pun telah dibasahi oleh darah prajurit Surakarta yang mencurigai dan mengejarnya.

“Kau bunuh orang itu?” bertanya Arum.

“Tidak. Aku tidak membunuhnya” jawab Buntal, lalu, “kakang Juwiring pun tidak membunuh lawannya pula.

Demikianlah, meskipun agak lambat akhirnya mereka sampai ke barak mereka diantara pasukan Pangeran Mangkubumi. Setelah memberitahukan hasil perjalanannya kepada Kiai Danatirta, maka mereka pun minta diri untuk langsung menghadap Ki Wandawa.

“Syukurlah” berkata Ki Wandawa, “Kalian ternyata telah selamat sampai ke tempat ini. Agaknya perjalanan di daerah Surakarta saat ini menjadi semakin banyak hambatannya. Sementara Arum pun mengalami gangguan di perjalanan”

“Tetapi itu adalah suatu kebetulan saja Ki Wandawa” berkata Arum kemudian, “jalan itu biasanya sepi dan tidak dirambah oleh para penyamun, apalagi di siang hari. Nampaknya perjalananku kali ini mengalami nasib yang buruk, sehingga aku telah berjumpa dengan dua orang penyamun”

“Mungkin memang suatu kebetulan Arum. Tetapi mungkin kejahatan memang semakin meningkat dalam keadaan yang tidak menentu ini” berkata Ki Wandawa, “dan itu harus kau tangkap sebagai suatu isyarat, bahwa kalian harus berhati-hati menghadapi segala pihak”

Arum menundukkan kepalanya. Sementara Juwiring dan Buntal mengangguk-angguk kecil.

“Baiklah” berkata Ki Wandawa, “semua laporan kalian akan aku sampaikan kepada Pangeran Mangkubumi. Baik mengenai surat Raden Mas Said sebagai surat balasan Pangeran Mangkubumi, maupun keterangan Raden Ayu Galihwarit kepada Arum tentang kekuatan yang akan dipergunakan oleh kumpeni dan prajurit Surakarta untuk menggempur kekuatan Raden Mas Said”

“Kami menunggu perintah selanjutnya” berkata Raden Juwiring, “mungkin kami mendapat perintah untuk mengamati perang yang akan berkobar antara kumpeni dengan pasukan Raden Mas Said atau bagian dari pasukan Raden Mas Said yang akan menarik diri”

“Sebaiknya kalian menunggu” jawab Ki Wandawa, “jika ada perintah, maka kalian akan dipanggil menghadap”

Dengan bahan yang didapat dari Juwiring, Buntal dan Arum, maka Ki Wandawa pun segera menghadap. Setelah menyampaikan surat dari Raden Mas Said, maka Ki Wandawa pun melaporkan keterangan Raden Ayu Galihwarit yang disampaikan oleh Arum, tentang kekuatan yang sudah dipersiapkan untuk mengepung kekuatan Raden Mas Said.

“Jadi pasukan kumpeni dan prajurit Surakarta yang akan digerakkan adalah kekuatan langsung dari kota” desis Pangeran Mangkubumi.

“Ya, Pangeran” jawab Ki Wandawa.

“Aku sudah mengira. Justru karena pasukan kumpeni dan prajurit Surakarta yang berada di Jatimalang seolah-olah tidak mengalami perubahan. Tidak ada persiapan dan tidak ada penambahan pasukan” gumam Pangeran Mangkubumi kemu-dian. Lalu, “Jika demikian Ki Wandawa, kita harus menjajagi kekuatan kumpeni dan prajurit Surakarta di Jatimalang dengan cermat, agar kita dapat memperhitungkan langkah dengan tepat”

“Apakah Pangeran akan memukul Jatimalang pada saat kumpeni dan prajurit Surakarta mengepung pasukan Raden Mas Said?” bertanya Ki Wandawa.

bersambung ke bagian 2

8 Tanggapan

  1. Wah, ketiwasan, jilid 24 bagian ke 2 enggak bisa kebuka, yo uwis ngarang2 wae, idep2 sinau nelemu panggraito, hehehehe….

    • Sama dengan komen di jilid 23
      Ki Djoko tinggal klik nomer 2 di pojok kiri bawah, dimana ada tulisan Pages:1 2 3, nah… klik no 2 untuk halaman 2 dan 3 untuk halaman 3.
      Silahkan dicoba

  2. Pangapunten nggih kangmas Risang, menawi tulisan page Hape kulo mboten wonten, mbok menawi Hape jadul, inggih boten punopo2 kangmas, maturnuwun.

  3. Wah, maturnuwun sanget kangmas Risang, sapuniko sampun wonten pintu butulanipun, wah dadi semangat, mugi2 wonten pengaruhipun Pilpres nggih? Hehehehe…..

  4. Sepertinya ada kesalahan pada pemuatan pada Jilid 25, 26 mohon konfirmasi

    sepengetahuan saya tidak ki sanak
    sudah cek dan re cek
    tetapi, saya lihat nanti malam dari buku aslinya.

  5. Memang bener Paman Admin kalau di klik Jilid 25 dan 26 yang muncul 24 lagi

    saya benar-benar tidak mengerti, saya cek bolak-balik tidak ada masalah di jilid 24, 25 dan 26. Semuanya bisa dijalankan dengan baik, misalnya di jilid 24 mau kembali ke jilid 23 atau lanjut ke 25 tidak masalah, di jilid 25 saat akan kembali ke jilid 24 atau lanjut ke jilid 26 tidak maslah, demikian juga di jilid 26.

    • Kang Koesmartono coba buka bdbk-25 selanjutnya begitu selamat mencoba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s