BdBK-16


BUNGA DI BATU KARANG

JILID 16

kembali | lanjut

BDBK-16KITA sudah terlalu lama bergurau di sini” katanya, “perkelahian ini harus segera selesai”

Buntal menghindari serangan itu. Namun dadanya menjadi berdebar-debar.

Dan ternyata orang itu tidak hanya berbicara saja tentang perkelahian yang sudah terlalu lama. Dengan sigapnya ia menyerang terus. Ketika Buntal mencoba menangkis serangan orang itu dengan pedangnya, maka tiba-tiba saja orang itu telah memutar mata pedangnya yang sedang bersentuhan dengan senjata Buntal. Akibat dari sentuhan itu benar-benar tidak terduga. Pedang orang itu telah berhasil memutar senjata Buntal dan melemparkannya dari tangannya.

Sejenak Buntal menjadi termangu-mangu. Dengan mata terbelalak ia melihat ujung pedang yang mengarah ke dadanya.

Tetapi darah muda yang menggelegak di dalam dadanya telah memanasi seluruh tubuhnya. Tidak ada niat sama sekali padanya untuk menyerah dalam keadaan apapun. Karena itu, maka Buntal masih tetap mencari jalan, agar ia tidak harus pasrah diri di ujung pedang lawannya.

“Kau tidak mempunyai kesempatan lagi Buntal” berkata orang yang mengacukan pedang itu.

Buntal memandangnya dengan wajah yang tegang. Sejenak ia mencoba memperhitungkan keadaan. Sekali-sekali ia memandang Ki Dipanala dengan sudut matanya. Namun agaknya Ki Dipanala membiarkan saja kawannya menyelesaikan persoalannya.

“Nah, apakah yang akan kau lakukan sekarang?” bertanya orang itu.

Buntal tetap berdiam diri sambil menggeretakkan giginya. Sekali-sekali ia terpaksa melangkah surut jika ujung pedang lawannya menyentuh dadanya.

“Katakan apa yang akan kau lakukan sekarang. Menyerah, atau kau masih ingin bertempur atau kau mempunyai keputusan lain”

Buntal menggeram. Dan tiba-tiba saja di luar dugaan lawannya ia menjatuhkan dirinya sambil menendang pergelangan tangan lawannya. Gerak itu sama sekali tidak diduga, sehingga karena itu, maka tendangan kaki Buntal yang kuat itu berhasil menggeser ujung pedang lawannya meskipun ia tidak berhasil melontarkan pedang itu dari genggaman.

Kemudian dengan sigapnya Buntal melenting, disusul dengan sebuah tendang mendatar mengarah lambung lawannya.

Tetapi sekali lagi Buntal gagal. Dan keadaan yang tidak disangka-sangka itu, ternyata lawannya dapat berbuat lebih cepat daripadanya. Tendangan mendatar itu masih sempat dihindarinya. Dan bahkan yang juga tidak diduga oleh Buntal, kawannya masih sempat menyerangnya pula. Tidak dengan pedangnya, tetapi dengan kakinya.

Buntal yang tidak menyangka itu, tiba-tiba saja merasa dadanya bagaikan dihantam oleh kekuatan yang tidak terkirakan sehingga rasa-rasanya nafasnya terputus seketika. Matanya menjadi berkunang-kunang, dan kesadarannya pun perlahan-lahan menjadi kabur.

Sejenak kemudian Buntal tidak tahu lagi apa yang terjadi atas dirinya. Pingsan.

Tetapi agaknya Buntal tidak pingsan terlalu lama. Terasa silirnya angin, dan dinginnya air yang membasahi tubuhnya menyegarkan badannya. Perlahan-lahan kesadarannya mulai pulih kembali. Ia masih mendengar derap kaki kuda yang lamat-lamat menjauh. Dan ketika ia dengan tangan yang lemah meraba dirinya, terasa seluruh pakaiannya telah basah kuyup tersiram air.

Perlahan-lahan Buntal mencoba bangkit. Ia masih melihat nyala api yang semakin redup. Dan ia melihat senjatanya masih tergolek di tempatnya.

Tertatih-tatih Buntal mencoba berdiri. Berkali-kali ia meraba pakaiannya yang basah kuyup, seakan-akan ia baru saja ditimpa oleh hujan yang lebat.

Ketika ia mengedarkan pandangan matanya ke sekelilingnya, dilihatnya sebuah timba upih yang basah, sehingga karena itu ia mengerti, agaknya Ki Dipanala telah mengambil air dan menyiramnya sebelum ia ditinggalkannya.

Buntal termangu-mangu sejenak. Ia menjadi heran mengalami perlakuan Ki Dipanala dan kawannya.

“Aku akan menangkap mereka” berkata Buntal, “Tetapi mereka tidak berbuat apa-apa atasku”

Sambil terhuyung-huyung ia melangkah memungut pedang-nya. Sekali lagi ia bergumam, “Mungkin Ki Dipanala tidak sampai hati melihat aku pingsan dan ditinggalkannya begitu saja. Itulah agaknya yang mendorongnya ia menyiram aku dengan air, dan menunggu sampai aku hampir sadar” ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi kawannya itu”

Buntal benar-benar dicengkam oleh keheranan. Kawan Ki Dipanala ternyata memiliki kemampuan yang luar biasa. Jika ia ingin membunuhnya, maka Buntal sendiri tentu sudah mati terkapar di tempat itu. Tetapi ia tidak berbuat demikian.

“Aku tidak peduli” tiba-tiba Buntal yang muda itu menggeram, “Aku masih hidup dan sehat. Aku harus menghadap Kiai Sarpasrana dan menyampaikan laporanku kepadanya. Sudah barang tentu dengan peristiwa yang baru saja terjadi ini”

Perlahan-lahan Buntal pun kemudian melangkah meninggalkan tempat itu. Badannya masih terasa lemah dan dadanya masih pepat. Nafasnya kadang-kadang masih terasa terganggu oleh rasa sakit yang menyengat.

Tetapi Buntal dapat bertahan. Ia mendapat latihan yang berat di Jati Aking dan selama ia berada di Sukawati sehingga ketahanan tubuhnya pun cukup kuat untuk mengatasi perasaan sakitnya.

Akhirnya Buntal dapat mencapai kudanya yang disembunyi-kannya. Ia pun segera naik ke atas punggungnya dan kemudian berpacu kembali ke Sukawati. Tetapi Buntal tidak berani lagi melarikan kudanya terlampau cepat, karena perasaan sakit di dadanya.

Namun dengan demikian maka Buntal mengalami sedikit kelambatan, ia sampai di Sukawati setelah terang tanah.

Kedatangannya dengan langkah yang letih dan nafas yang terengah-engah telah mengejutkan Kiai Sarpasrana. Karena itu, setelah Buntal duduk sejenak. Kiai Sarpasrana ingin segera mengetahui apa yang sudah dialami Buntal di perjalanannya.

Dengan nafas yang berkejaran Buntal mulai menceriterakan perjalanannya. Mula-mula ia menceriterakan hasil kunjungannya ke Jati Aking. Keterangan yang didapatkannya dan yang tidak diduganya adalah bahwa Raden Juwiring kini tengah memimpin sepasukan prajurit berkuda dari Surakarta, mencari keempat orang yang hilang itu.

Ki Sarpasrana mendengarkan ceritera itu dengan saksama. Namun Buntal juga merasa heran, bahwa Kiai Sarpasrana tidak terkejut dan heran mendengar ceriteranya. Bahkan dengan tenangnya ia berkata, “Raden Juwiring tidak akan dapat ingkar. Ia adalah putera seorang Pangeran, sehingga ia tentu akan dibebani tugas keprajuritan. Apalagi ayahnya adalah seorang Senapati terpilih di Surakarta.

“Tetapi Kiai, menilik sikapnya selagi ia masih berada di Jati Aking, Raden Juwiring menunjukkan pendiriannya yang berlawanan dari yang dilakukannya sekarang”

“Kita memang harus berhati-hati menghadapi suasananya yang tidak menentu ini. Perubahan masih selalu akan terjadi”

Buntal menundukkan kepalanya, ia teringat kepada tanggapan Kiai Danatirta atas Raden Juwiring. Agaknya orang-orang tua itu terlampau banyak pertimbangan sehingga ragu-ragu menentukan sikap.

“Buntal” berkata Kiai Sarpasrana kemudian, “Tetapi kenapa kau tampak terlalu letih dan nafasmu bagaikan akan terputus. Apalagi kau datang agak lambat dari waktu yang sudah ditentukan?” bertanya Kiai Sarpasrana kemudian.

Buntal bergeser sedikit. Ketika semangkuk minuman hangat diletakkan di hadapannya, maka tanpa menunggu lagi ia pun segera meneguknya.

“Aku haus sekali Kiai” desisnya.

Kiai Sarpasrana tersenyum. Tetapi ia diam saja.

Buntal pun kemudian menceriterakan pertemuannya yang aneh dengan Ki Dipanala, sehingga ia terlibat di dalam perkelahian.

“O, kau bertempur melawan Ki Dipanala?”

“Tidak ada pilihan lain Kiai. Aku mencurigainya. Ia berada di tempat yang sedang mengalami kekisruhan. Aku yakin bahwa orang yang diupah oleh kumpeni sedang berusaha mempengaruhi sikap rakyat Surakarta terhadap pasukan Raden Mas Said”

“Kau tidak mengenal siapa kawannya itu?”

“Tidak Kiai, tetapi aku melihat ciri yang pernah aku lihat sebelumnya”

“Apa?”

Buntal pun menceriterakan sikap tangan kawan Ki Dipanala itu. Ia pernah melihat hal itu pada Raden Juwiring.

Kiai Sarpasrana mengangguk-angguk. Ceritera Buntal ternyata sangat menarik baginya.

“Kau sama sekali tidak dapat menduga, siapakah kawan Ki Dipanala itu?”

Pertanyaan Kiai Sarpasrana yang diulang itu memang menarik perhatian Buntal. Tetapi ia tetap menggelengkan kepalanya sambil menjawab, “Tidak Kiai. Aku tidak dapat menduganya”

Kiai Sarpasrana menarik nafas. Katanya, “Di malam hari memang sukar untuk mengenal seseorang yang belum dikenalnya baik-baik. Tetapi mungkin kau memang belum pernah melihatnya. Sudah barang tentu orang itu bukan Raden Juwiring, karena betapapun gelapnya kau tentu akan dapat mengenalnya”

“Bukan Raden Juwiring Kiai” jawab Buntal, “kecuali aku tentu dapat mengenalnya, maka ia tentu tidak akan berpakaian seperti seorang hamba atau pelayan”

“Baiklah” Kiai Sarpasrana menyahut, “beristirahatlah. Laporanmu akan aku teruskan. Ternyata bahwa keadaan sudah menjadi semakin gawat. Raden Mas Said sudah tidak dapat menahan hati lagi. Sudah terlalu lama ia mencoba mengendorkan perjuangannya. Tetapi agaknya kumpeni justru berbuat sebaliknya. Dan kini bukan saja Raden Mas Said, tetapi Pangeran Mangkubumi pun mengalami tekanan yang semakin berat justru oleh saudara-saudaranya sendiri yang dikendalikan oleh kumpeni itu. Karena itu. maka kita wajib mempersiapkan diri sebaik-baiknya Buntal”

Buntal mengangguk. Katanya, “Kita sudah lama menunggu perintah. Jika sekiranya Raden Mas Said dapat diajak berbicara dengan baik dan membagi pekerjaan yang berat ini. mungkin keadaan akan segera berubah”

“Tentu, kenapa tidak? Raden Mas Said dan Raden Mas Sujono yang bergelar Pangeran Mangkubumi itu mempunyai tujuan yang sama. Tetapi agaknya Pangeran Mangkubumi ingin menempuh jalan yang lebih lunak meskipun agak jauh. Setiap korban yang jatuh menjadi perhatian Pangeran Mangkubumi. Ia bersedih jika ia melihat seseorang bersedih. Juga jika ia melihat orang yang menangis karena kehilangan anak laki-lakinya, atau kehilangan suaminya. Tetapi jika tidak ada jalan lain. maka Pangeran Mangkubumi dapat berubah bagaikan seekor banteng yang terluka di medan perang. Jarang ada seorang Senapati yang dapat mengimbanginya. Mungkin ayahanda Raden Juwiring yang bergelar Pangeran Ranakusuma. Senapati yang pilih tanding itu dapat mengimbangi ilmu Pangeran Mangkubumi. tetapi ada perbedaan di antara keduanya. Pangeran Mangkubumi yakin akan perjuangannya, sedang Pangeran Ranakusuma tidak mengerti untuk apa sebenarnya ia berperang. Apalagi sepeninggal puteranya yang dimanjakannya Raden Rudira, dan sejak isterinya selalu dibayangi oleh gangguan jiwani”

Buntal mendengarkan keterangan itu dengan saksama. Bahkan kemudian ia seolah-olah tidak sabar lagi, kapan ia diperkenankan berada di medan perang melawan kumpeni dan orang-orang Surakarta sendiri yang berpihak kepada mereka.

Tetapi Kiai Sarpasrana kemudian berkata, “Kau tidak boleh tergesa-gesa Buntal. Kau harus menunggu perintah untuk itu. Karena itu, semua tindakanmu harus kau pikirkan masak-masak, “Kiai Sarpasrana berhenti sejenak, lalu, “Seperti yang baru saja kau lakukan Buntal, itu adalah hasil gejolak perasaanmu semata-mata”

Buntal mengerutkan keningnya. Sedang Kiai Sarpasrana tersenyum sambil berkata, “Untunglah, bahwa kedua orang itu tidak sampai hati mencelakaimu”

“Kiai” berkata Buntal sambil menundukkan kepalanya, “Jika sekiranya aku harus mati, itu sudah menjadi kesanggupan seorang laki-laki yang berbuat sesuatu atas keyakinannya”

Kiai Sarpasrana mengangguk-angguk. Katanya, “Benar Buntal. Kau memang seorang anak muda yang tabah. Tetapi ada persoalan lain yang harus kau perhatikan. Jika sekiranya kau berhasil membunuh salah seorang dari mereka, sedang yang lain sempat melarikan diri, tentu orang itu akan mengadu di istana Surakarta, bahwa seorang kawannya telah dibunuh oleh pengikut Pangeran Mangkubumi. Jika demikian, apakah kau dapat membayangkan, bagaimana perasaan Pangeran Mangkubumi apabila Pangeran ada di istana pula?”

Buntal mengerutkan keningnya. Dan kepalanya yang tunduk menjadi semakin tunduk.

Tetapi Kiai Sarpasrana masih saja tersenyum. Katanya, “Sudahlah. Kali ini kau dapat mempergunakannya sebagai pengalaman. Karena kedua orang itu selamat, aku kira mereka tidak akan mengadu justru karena Ki Dipanala mengenalmu dengan baik. Sekarang beristirahatlah. Ceriteramu dan hasil pengamatanmu di Jati Sari merupakan laporan yang penting bagi Pangeran Mangkubumi. Aku akan segera menyampaikannya”

“Tetapi Kiai” Buntal memotong, “Apakah Pangeran Mangkubumi kini berada di sini atau di istana?”

Kiai Sarpasrana justru tertawa. Katanya, “Pangeran Mangkubumi berada dimana saja yang dikehendaki. Ah pertanyaanmu aneh Buntal. Pangeran Mangkubumi dapat saja hadir di istana, setelah itu dengan tergesa-gesa memacu kudanya kemari”

Tetapi Buntal mempunyai tanggapan lain. Ia memang pernah mendengar bahwa Pangeran Mangkubumi memiliki ilmu yang luar biasa.

“Apakah benar Pangeran Mangkubumi memiliki ilmu Sepi Angin?” Buntal bertanya kepada diri sendiri. Bahkan Buntal dapat menyebut bermacam-macam ilmu yang lain yang menurut pendengarannya dimiliki oleh Raden Mas Sujono yang bergelar Pangeran Mangkubumi itu.

“Buntal” berkata Kiai Sarpasrana kemudian, “sekarang kau dapat beristirahat. Jika ada persoalan yang lain, kau akan dipanggil dan barangkali kau akan mendapat tugas-tugas baru yang lebih berat”

“Aku akan selalu bersedia melakukannya Kiai”

“Tetapi tidak dikuasai oleh perasaanmu melulu” Buntal menundukkan kepalanya

“Nah, pergilah ke belakang. Barangkali kau sudah lapar”

Buntal pun kemudian pergi ke belakang. Ia memang lelah dan ingin beristirahat. Tetapi ia sama sekali tidak merasa lapar.

Di biliknya Buntal berbaring sambil mengenang apa yang baru saja terjadi. Ia mencoba mengingat-ingat bentuk dan wajah kawan Ki Dipanala. Namun ia tidak dapat menemukan, siapakah orang itu sebenarnya. Dengan demikian, maka orang itu merupakan teka-teki yang tidak terpecahkan bagi Buntal. Bukan saja siapakah orang itu, tetapi juga sikapnya membuatnya tidak habis berpikir, kenapa ia masih tetap hidup setelah ia tidak berdaya lagi.

“Mungkin Ki Dipanala lah yang mencegah agar orang itu tidak membunuhku” berkata Buntal di dalam hati, “Tetapi bukankah dengan demikian aku tetap merupakan orang yang berbahaya bagi Ki Dipanala dimanapun kami akan bertemu?”

Buntal menggelengkan kepalanya, ia mencoba menyingkirkan angan-angan itu barang sejenak. Tetapi ia tidak mampu melakukannya.

Demikianlah maka Buntal selalu saja dibayangi oleh peristiwa itu. Bukan hanya hari itu, tetapi di hari-hari kemudian, di dalam kesibukannya sehari-hari ia kadang-kadang masih merenung di luar sadarnya.

Dalam pada itu, selagi di Sukawati rakyat dengan penuh gairah mempersiapkan diri menghadapi setiap kemungkinan, di istana Surakarta telah timbul persoalan-persoalan baru yang menyangkut kedudukan Tanah Sukawati.

Beberapa orang bangsawan benar-benar tidak dapat menahan perasaan iri melihat kebesaran Pangeran Mangkubumi dan penguasaannya atas Tanah Sukawati. Sebagian dari mereka mendapat hasutan dari kumpeni, agar mereka memohon kepada Susuhunan untuk meninjau kembali Tanah Palenggahan Pangeran Mangkubumi di Sukawati itu.

Ternyata sikap dan pendirian Susuhunan menjadi goncang. Beberapa orang bangsawan setiap saat memperbincangkan Tanah Sukawati. Bahkan di antara mereka ada yang dengan sengaja menumbuhkan kegelisahan hati Susuhunan.

“Banyak bangsawan yang tidak dapat menerima sikap yang tidak adil itu Kangjeng Susuhunan” seseorang telah menyampai-kan persoalan itu kepada Susuhunan dengan nada yang buram, “Jika Kangjeng Susuhunan tidak segera mengambil sikap, maka di dalam waktu yang dekat, tentu akan timbul persoalan di antara saudara-saudara kita sendiri”

Persoalan itu membuat Kangjeng Susuhunan menjadi bingung. Ia menyadari bahwa Pangeran Mangkubumi memiliki hak atas Tanah Sukawati sesuai dengan janji Susuhunan sendiri. Tetapi jika ia tidak mendengarkan pendapat para bangsawan dan para pemimpin pemerintahan, terutama pepatih di Surakarta, maka persoalannya pun akan menjadi gawat.

Karena itu, Susuhunan Paku Buwana benar-benar diliputi oleh kebingungan dan kegelisahan. Terlebih-lebih lagi Kangjeng Susuhunan mengetahui, bahwa kumpeni tidak tinggal diam melihat saja keadaan itu. Bahkan Kangjeng Susuhunan menyadari, bahwa kumpeni pun telah ikut serta mempergunakan kesempatan itu untuk keuntungannya.

Dalam kesempatan itu pula kumpeni mengadakan tekanan-tekanan atas Kangjeng Susuhunan. untuk memperluas hak-hak kumpeni.

Pangeran Mangkubumi yang sudah memiliki benih-benih perlawanan tidak dapat menahan hatinya lagi. Dan itulah sebabnya maka perselisihan tidak dapat dihindarkan. Pangeran Mangkubumi tidak lagi mengekang diri ketika ia harus berbantah dengan pimpinan tertinggi kumpeni yang datang dari Betawi di paseban.

Dan itulah yang membuat Pangeran Mangkubumi semakin terjepit. Sikap kumpeni tidak dapat dimaafkannya lagi. Sikap para pemimpin Surakarta yang justru berpihak kepada kumpeni pun tidak dapat dimaafkannya lagi. Dan sikap Patih Pringgalaya pun benar-benar tidak dapat dimengertinya.

Peristiwa itu membuat Kangjeng Susuhunan benar-benar menjadi prihatin. Ia tidak dapat menolak tuntutan kumpeni atas Tegal dan Pekalongan, serta pengawasan segala macam bea masuk dan keluar Kerajaan. Tetapi ia tidak akan dapat menahan Pangeran Mangkubumi untuk tetap bersabar menghadapi keadaan itu. Bahkan kemudian Kanjeng Susuhunan dengan desakan yang tidak terelakkan lagi dari para bangsawan dan kumpeni yang marah atas sikap Pangeran Mangkubumi telah memutuskan, betapapun berat di hati mengambil kembali Tanah Sukawati dari tangan Pangeran Mangkubumi.

“Sukawati menjadi neraka yang berbahaya” desak kumpeni, “Karena itu Sukawati harus dilepaskan dari tangan Pangeran Mangkubumi yang telah berani melawan dengan terbuka perintah Gubernur Jenderal”

Sedang para Pangeran dan bangsawan yang lain mendesak, “Jika tidak segera diambil tindakan maka iri hati akan dapat membakar Surakarta. Apakah yang ditakutkan pada Pangeran Mangkubumi. Surakarta adalah Kerajaan yang kuat. Apalagi kini kita berada di bawah perlindungan kumpeni”

Perintah penarikan kembali Tanah Sukawati yang memang sudah diduga itu sama sekali tidak mengejutkan Pangeran Mangkubumi. Tetapi hai itu benar-benar sangat menyinggung perasaan.

Bagi Pangeran Mangkubumi. Sukawati sebagai sebidang tanah yang luas dan subur, sebenarnya tidak begitu banyak menarik perhatiannya. Pangeran Mangkubumi adalah seorang Pangeran yang tidak terlampau cenderung kepada kekayaan lahiriah justru karena rakyat Surakarta semakin lama menjadi semakin melarat.

Tetapi yang menyakitkan hati adalah justru tanah itu ditarik setelah ia berhasil membina Sukawati menjadi alas yang kuat baginya, sehingga penarikan itu akan sangat menguntungkan kumpeni.

Tentang para Pangeran yang iri hati atas tanah kelenggahannya yang terlalu luas dibandingkan dengan saudara-saudaranya.

Pangeran Mangkubumi tidak akan menghiraukannya, seandainya Pangeran Mangkubumi tidak mengetahui bahwa sebagian besar dari para Pangeran pun sebenarnya telah dipengaruhi pula oleh kumpeni untuk memperkuat tuntutannya atas penarikan Tanah Sukawati itu.

Karena itu, ketika Kangjeng Susuhunan dengan resmi menarik tanah ini, dan diumumkannya di dalam sidang para pemimpin pemerintahan dan para bangsawan, rasa-rasanya jantung Pangeran Mangkubumi telah disentuh oleh bara api.

Tetapi Pangeran Mangkubumi tetap berhasil menahan perasaannya justru karena ia tahu, bahwa kakandanya, Kangjeng Susuhunan sama sekali tidak bermaksud berbuat demikian. Ia tidak bermaksud membuat Pangeran Mangkubumi malu dan sakit hati. Kelemahannya lah yang memaksanya untuk melakukan semua desakan kumpeni dan para Pangeran yang iri hati kepadanya, yang dengan tamak mengharap, bahwa Sukawati akan terbagi kepada para Pangeran itu.

“Kakanda Susuhunan” Pangeran Mangkubumi menanggapi penarikan atas tanah Sukawati itu, “adalah wewenang kakanda untuk berbuat apa saja atas Tanah Sukawati, karena sebenarnya hamba hanya sekedar memelihara selagi tanah itu dikuasakan kepada hamba. Sebenarnyalah bahwa tanah itu adalah milik Surakarta. Karena itu, hamba tidak akan berkeberatan apapun juga seandainya tanah itu benar-benar ditarik dengan jujur untuk kepentingan Surakarta ”

Kangjeng Susuhunan Paku Buwana itu termangu-mangu sejenak. Terasa hatinya ikut tersentuh melihat sikap Pangeran Mangkubumi. Karena sebenarnya, sebagai seorang kakak maka Pangeran Mangkubumi adalah adiknya yang dikasihinya. Bahkan Kangjeng Susuhunan pernah meletakkan harapan kepada adiknya ini untuk memperkuat kedudukan Surakarta.

Tetapi ternyata Surakarta menjadi semakin lemah karena kelemahannya sendiri. Kenapa ia tidak, berani bersikap seperti Pangeran Mangkubumi? Dan kenapa Pangeran-Pangeran yang lain pun bersikap lemah dan menjilat?”

Selagi Kangjeng Susuhunan itu termangu-mangu, maka Pepatih Surakarta menyela, “Ampun Kangjeng Susuhunan. Apakah hamba diperkenankan untuk berbicara?”

Kangjeng Susuhunan memandang Patihnya itu sejenak. Kemudian dengan ragu-ragu menganggukkan kepalanya. “Berbicaralah jika kau menganggap perlu”

“Ampun Kangjeng Susuhunan. Sebenarnyalah penarikan Tanah Sukawati sudah dipertimbangkan sebaik-baiknya oleh Kangjeng Susuhunan. Berdasarkan keadilan dan kepentingan Kerajaan Surakarta seluruhnya. Mengingat pendapat Kumpeni dan kegelisahan para Pangeran, maka tidak ada jalan lain kecuali mengambil kembali Tanah Sukawati yang diberikan sebagai hadiah jika seseorang berhasil memadamkan pemberontakan Raden Mas Said. Sedang yang terjadi adalah sekedar menghentikan kegiatan Raden Mas Said untuk sementara karena Raden Mas Said dan Martapura kini sudah mulai melakukan kegiatannya menentang pemerintahan Surakarta lagi. Bahkan mungkin hamba menjadi curiga, bahwa saat-saat Raden Mas Said dan Pangeran Martapura tidak lagi melakukan kegiatan itu hanya sekedar kesempatan baik bagi Pangeran Mangkubumi”

“Paman Patih” Pangeran Mangkubumi tidak dapat menahan hati lagi sehingga ia kehilangan suba sita. Namun sebelum berkepanjangan terdengar Kangjeng Susuhunan berkata, “Adimas Pangeran Mangkubumi. Kau berada di paseban. Selama ini aku masih duduk di atas tahta. Berbicaralah kepadaku”

“Ampun kangmas Susuhunan. Kata-kata Ki Patih terasa panas di telinga hamba”

“Yang menentukan adalah aku, Susuhunan Paku Buwana kedua di Surakarta. Jika ada persoalan atas keputusanku, hendaknya disampaikan kepadaku”

Pangeran Mangkubumi menggeram, la masih menghormati Kangjeng Susuhunan sebagai raja dan saudara tuanya. Itulah sebabnya dengan susah payah ia menahan perasaannya yang bergejolak.

“Jika kau segan menyampaikannya sekarang adimas Mangkubumi, senja nanti aku memberi waktu kepadamu untuk datang menghadap sendiri di luar sidang di paseban”

Pangeran Mangkubumi menyembah. Kemudian katanya, “Hamba mohon diri kakanda. Jika hamba tetap berada di antara orang-orang ini. mungkin hamba akan kehilangan adat, sopan santun. Karena itu, hamba mohon ijin untuk menghadap kakanda Susuhunan senja nanti”

“Aku tidak berkeberatan. Aku menyediakan waktu bagimu”

Pangeran Mangkubumi pun kemudian meninggalkan sidang dengan wajah yang merah padam. Ia sadar, bahwa ia tidak dapat lagi berbuat dengan lunak untuk menghindari benturan kekerasan. Apalagi apabila diingatnya, bahwa kumpeni lah yang sebenarnya berdiri di belakang mereka yang menghasut Susuhunan selama ini untuk memecah belah kekuatan Surakarta, sehingga dengan demikian Surakarta akan menjadi ringkih dan tidak berdaya menghadapi tekanan kumpeni yang semakin lama terasa semakin mencekik leher rakyat Surakarta dan kekuasaan Surakarta itu sendiri.

Sepeninggal Pangeran Mangkubumi. maka beberapa orang bangsawan mendapat kesempatan untuk mengemukakan pendapat mereka tentang Pangeran Mangkubumi. Sebagian besar dari mereka mengatakan bahwa Pangeran Mangkubumi tidak akan berani berbuat apa-apa. Jika ia ingin menyatukan diri dengan Raden Mas Said, maka tentu Raden Mas Said mencurigainya karena Pangeran Mangkubumi pernah berusaha memadamkan pemberontakannya untuk mendapatkan Sukawati.

“Sukawati kini menjadi ajang penempaan kekuatan bagi pengikut Pangeran Mangkubumi” berkata salah seorang bangsawan.

“Ampun Kangjeng Susuhunan” yang lain menyahut, “Tidak ada kekuatan yang berarti di Sukawati”

Namun demikian kumpeni tidak tinggal diam menanggapi sikap Pangeran Mangkubumi. Kumpeni yang mempunyai pengalaman perang yang dapat dibanggakan, dapat menangkap sikap dan pertimbangan yang tajam pada Pangeran Mangkubumi. Kecuali petugas-tugas sandinya sudah dapat mengetahui apa yang terjadi di Sukawati, juga karena kumpeni mengerti watak dan tabiat Pangeran Mangkubumi yang sebenarnya.

Karena itu, sebagai prajurit-prajurit yang pernah mengarungi samodra dan melintasi benua dari ujung bumi, maka kumpeni tidak ingin mengalami kegagalan di sebuah pulau yang jauh lebih kecil dari benua hitam yang pernah dilintasinya. Tetapi pulau yang kecil ini adalah pulau yang lebih besar dari negerinya sendiri.

Dengan demikian, maka kumpeni benar-benar mempersiap-kan diri menghadapi kemungkinan yang terjadi dengan sikap Pangeran Mangkubumi itu, meskipun dengan perhitungan, bahwa Surakarta harus merasa dirinya tidak mampu mengatasi dan minta bantuan kepada mereka. Dengan demikian maka kumpeni dapat memungut keuntungan dari permintaan bantuan itu. Bahkan dari pertentangan itu seluruhnya.

Ternyata bukan hanya kumpeni sajalah yang mempersiapkan diri dengan diam-diam. Para Senapati di Surakarta pun mendapat perintah agar bersiap-siap menghadapi kemungkinan yang bakal terjadi.

Tetapi sebagian dari mereka menganggap bahwa jika Pangeran Mangkubumi melakukan pemberontakan, maka yang terjadi tidak akan lebih dari menyalakan obor belarak. Obor daun kelapa kering. Mula-mulanya nyalanya melonjak sampai menggapai langit, namun beberapa saat kemudian, api itu akan padam dengan sendirinya karena belarak terlampau cepat dimakan api. Yang akan tersisa adalah sekedar abunya saja.

“Meskipun demikian, kita harus mengawasi mereka” berkata Ki Patih dalam pertemuan dengan para Pangeran dan para Senapati. Dan di antara mereka adalah Pangeran Ranakusuma.

“Bagaimana pendapat Pangeran?” bertanya Ki Patih kepada Pangeran Ranakusuma, “Pangeran adalah seorang Senapati yang disegani di Surakarta. Juga Pangeran Mangkubumi merasa segan kepada Pangeran. Pangeran adalah Senapati yang pilih tanding. Bahkan seorang perwira kumpeni yang pernah menjelajahi bumi pun dapat Pangeran kalahkan”

Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Pangeran Mangkubumi adalah seorang yang memiliki kemampuan yang luar biasa. Menurut pendengaranku ia memiliki beberapa ilmu yang tidak dapat digolongkan dalam ilmu kewadagan. Bukan saja prigel oleh senjata, tetapi juga ilmu yang tidak dapat dicapai dengan nalar”

“Misalnya?” bertanya seorang Pangeran yang masih sangat muda.

“Misalnya aji Pameling. Aji Welut Putih dan semacamnya”

“Ah” potong Ki Patih, “Pangeran Ranakusuma adalah gedung perbendaharaan ilmu. Jangankan Pangeran Ranakusuma, sedang puteranya, Raden Juwiring, kini sudah nampak, bahwa ia akan menjadi seorang Senapati yang mumpuni. Pada suatu saat maka Surakarta akan berani menghadapkan Raden Juwiring dengan Raden Mas Said”

“Ia bukan tandingnya” jawab Pangeran Ranakusuma.

“Sekarang belum. Tetapi kemajuan Raden Juwiring agaknya melampaui pesat lajunya seekor kuda yang paling tegar”

Pangeran Ranakusuma tidak menyahut lagi. Tetapi nampak bahwa ia sedang berpikir. Agaknya Pangeran Mangkubumi benar-benar orang yang harus diperhitungkannya.

“Pangeran” berkata Ki Patih, “menurut pendengaranku, Pangeran pun memiliki aji Lembu Sekilan yang lebih mantap dari aji Welut Putih. Aji Panggendam dan aji Tameng Waja. Bahkan masih banyak lagi yang belum aku sebutkan. Dengan demikian maka Pangeran Mangkubumi bukannya lawan yang berat bagi Pangeran. Apalagi di antara para Senapati yang lain masih ada yang dapat disebut namanya untuk mendampingi Pangeran di peperangan jika hal itu sungguh-sungguh akan terjadi”

“Ya” Pangeran Ranakusuma mengangguk, “sebagai seorang Senapati aku tidak boleh memilih lawan, meskipun lawan itu adalah saudaraku sendiri dan memiliki ilmu yang betapapun sempurnanya. Namun sudah barang tentu bahwa setiap perbuatan itu harus diperhitungkan sebaik-baiknya. Demikian juga untuk menghadapi Pangeran Mangkubumi. Aku kira kita harus membuat perhitungan yang secermat-cermatnya”

“Terserahlah kepada para Senapati. Dan tentu Kangjeng Susuhunan akan percaya kepada para Senapati”

“Senja nanti Pangeran Mangkubumi akan menghadap” desis Ki Patih.

Pangeran Ranakusuma merenung sejenak, lalu terdengar suaranya yang datar, “Apakah kira-kira yang akan dibicarakan?”

“Tentu Pangeran Mangkubumi akan mengadu, seolah-olah kami hanya sekedar didorong oleh perasaan iri. Tetapi sebenarnyalah bahwa kami mengetahui persiapan yang sudah dilakukan oleh Pangeran Mangkubumi di Sukawati” sahut seorang Pangeran yang lain.

Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya, lalu jawabnya, “Tentu Adimas akan berbuat demikian. Tetapi tentu tidak dengan Pangeran Mangkubumi. Pangeran Mangkubumi adalah seorang yang sudah dewasa cara berpikir dan bertindak”

“Jadi, apakah yang akan dilakukan menurut kakang-mas”

“Ia tidak akan sekedar mengadu. Tetapi ia akan menyatakan pendapatnya dan sikapnya”

Yang lain mendengarkan percakapan itu dengan dahi yang berkerut merut. Mereka sependapat bahwa Pangeran Mangkubumi tentu tidak hanya akan sekedar mengadu.

“Kenapa Kangjeng Susuhunan memberinya waktu untuk menghadap sendiri” desis Ki Patih kemudian.

“Itu adil” Pangeran Ranakusuma lah yang menjawab, “selama ini yang didengar oleh kakanda Susuhunan adalah ceritera tentang Pangeran Mangkubumi. Tentu harus datang giliran bahwa Pangeran Mangkubumi lah yang didengar ceriteranya”

“Tetapi sebenarnya tidak perlu” sahut Pangeran yang masih muda itu, “kakangmas tentu sudah mengerti, bahwa sikap Pangeran Mangkubumi selama ini berbeda dengan sikap kita semua, seolah-olah Pangeran Mangkubumi bukan saudara kita. Seolah-olah ia adalah orang lain. Dengan demikian kita semua dan juga kakanda Susuhunan dapat berbuat seperti itu”

“Itulah bedanya antara kau dan seorang raja yang bijaksana. Bagaimanapun juga ia harus berbuat seadil-adilnya meskipun ia tahu bahwa adiknya bersikap lain”

Yang lain pun kemudian terdiam. Beberapa orang di antara mereka hanya sekedar mengangguk-angguk saja. Namun kemudian Ki Patih berkata, “Terserahlah kepada para Senapati. di dalam hal ini para Senapati tentu lebih mengetahui karena persoalannya akan menyangkut segi keprajuritan. Namun di dalam hal ini kumpeni tentu tidak akan tinggal diam. Kita akan mendapat bantuannya apabila kita memerlukan. Dan kita percaya kepada mereka. Mereka adalah prajurit yang berpengalaman menjelajahi bumi dari ujung sampai ke ujung. Tentu bagi mereka Pangeran Mangkubumi tidak akan banyak artinya”

“Apa artinya pengalaman mereka itu bagi kita” tiba-tiba Pangeran Ranakusuma menyahut, “Mereka bukan dewa-dewa yang turun dari langit. Aku berhasil membunuh seorang perwira dalam perang tanding. Dan itu berarti bahwa Pangeran Mangkubumi akan dapat melakukannya pula. Juga di peperangan. Demikian pula setiap prajurit Surakarta dan orang-orang Sukawati akan dapat berbuat demikian pula atas prajurit-prajurit kumpeni itu”

Ki Patih menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti bahwa Pangeran Ranakusuma mempunyai dendam pribadi pada kumpeni. Bukan saja bahwa puteranya. menurut berita yang didengarnya ternyata terbunuh oleh kumpeni, tetapi juga isterinya yang cantik itu ternyata telah berhubungan dengan orang-orang asing itu apapun alasannya.

Karena itu Ki Patih tidak mempersoalkannya lagi. Ia sadar, bahwa jika hal itu berkepanjangan. Pangeran Ranakusuma akan menjadi marah dan bahkan mungkin akan mempengaruhi sikapnya terhadap Pangeran Mangkubumi.

Karena itu, Ki Patih tidak mencampurinya lagi. Ia menyerahkan sepenuhnya kepada para Pangeran dan para Senapati perang. Apapun yang akan mereka lakukan untuk menghadapi Pangeran Mangkubumi apabila karena kecewa dan sakit hati Pangeran Mangkubumi mengambil sikap yang keras dan bahkan mungkin sebuah pemberontakan.

Sebenarnyalah bahwa para Senapati sadar, dalam keadaan itu mereka akan mengalami pukulan yang berat jika Pangeran Mangkubumi benar-benar akan mengangkat senjata. Mereka memperhitungkan pula kemungkinan yang dapat ditimbulkan oleh Raden Mas Said dan Martapura. Namun sebagian besar dari mereka percaya bahwa Surakarta tetap besar dan kuat. Terlebih-lebih lagi dengan bantuan kumpeni yang mempunyai senjata petir. Hanya dengan menarik sebuah pelatuk senjatanya, maka sebuah peluru akan terbang dan menyambar dada lawannya.

“Aji Lembu Sekilan pun tidak akan dapat menahan laju peluru yang meluncur secepat tatit di langit” gumam seorang Pangeran yang sudah dicengkam oleh pengaruh orang-orang asing itu.

Yang kemudian ditunggu-tunggu oleh para Pangeran itu adalah hasil pembicaraan Pangeran Mangkubumi dan Kangjeng Susuhunan senja itu. Beberapa orang bangsawan dan Senapati berpendapat, bahwa Pangeran Mangkubumi memang akan menentukan sikapnya.

Ketika kemudian matahari menjadi semakin condong ke Barat, dan sinarnya menjadi semakin pudar, maka para bangsawan dan Senapati menjadi semakin berdebar-debar. Bahkan ada di antara mereka yang memerintahkan para abdi dan pelayannya untuk berhati-hati menjaga halaman istana masing-masing.

“Siapa tahu, dendam Pangeran Mangkubumi akan ditumpah-kan kepadaku” berkata mereka di dalam hati.

Dengan demikian maka para abdi dan pelayan menjadi terheran-heran. Tetapi mereka yang bertugas di regol pun mempersiapkan senjata masing-masing seakan-akan Surakarta telah benar-benar dibakar oleh api peperangan.

Dalam pada itu, selagi matahari tenggelam dan langit di atas Surakarta menjadi temaram, sebuah kereta berderap meninggalkan istana Pangeran Mangkubumi menuju ke istana Kangjeng Susuhunan di Surakarta.

Seperti yang sudah dikatakan, Pangeran Mangkubumi pergi menghadap kakandanya. Susuhunan Paku Buwana kedua di Surakarta untuk menumpahkan segala macam persoalan di dalam hatinya.

Namun sementara kereta itu berderap, maka yang tinggal di istana Mangkubumen pun telah sibuk berkemas. Pangeran Mangkubumi telah mengatakan kepada keluarganya, bahwa agaknya suasana akan memburuk. Dan mereka harus dengan ikhlas meninggalkan istana Mangkubumen. Jika perlu mereka akan tinggal di gubug-gubuk bambu, di antara rakyat banyak yang hidupnya semakin sulit karena penindasan kumpeni yang semakin terasa di bumi Surakarta.

Dengan gelisah Kangjeng Susuhunan menerima kedatangan Pangeran Mangkubumi di bangsal yang khusus. Tidak ada orang lain di dalam bangsal itu kecuali Kangjeng Susuhunan sendiri dan kemudian Pangeran Mangkubumi.

“Adimas Pangeran” berkata Kangjeng Susuhunan kemudian, “Aku menyesal sekali bahwa aku harus menjatuhkan keputusan untuk mengambil kembali Tanah Sukawati. Aku tahu bahwa hal itu akan menyakitkan hati adimas Pangeran. Namun aku tidak mempunyai pilihan lain. Para bangsawan, bahkan para Bupati dan Pringgalaya pun berpendapat bahwa aku harus berbuat demikian”

“Ampun kakanda. Bagaimana sikap kumpeni dalam hal ini?”

Kangjeng Susuhunan menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dengan nada yang datar dan terputus-putus ia menjawab, “Aku minta maaf kepadamu adinda. Aku tidak akan ingkar akan kelemahanku. Seharusnya aku tidak berbuat demikian. Tetapi aku tidak mempunyai keberanian untuk melakukannya”

“Apakah kakanda tidak percaya bahwa kita memiliki kemampuan untuk berdiri tegak melawan kumpeni?”

“Tetapi sikap saudara-saudaramu sangat meragukan. Dan baiklah aku mengucapkannya sendiri daripada kau yang mengatakan, bahwa aku tidak memiliki kepribadian yang kuat untuk berbuat seperti itu”

Pangeran Mangkubumi justru menjadi bimbang karena Susuhunan dengan jujur lelah mengakui kelemahannya. Sebenarnya ia ingin menjelaskan hal itu dan memohon agar Kangjeng Susuhunan kembali kepada sikap seorang Raja yang dihormati dan berwibawa. Namun agaknya Kangjeng Susuhunan akan terlampau sulit melakukannya.

Meskipun demikian Pangeran Mangkubumi bertanya pula, “Ampun kakanda. Hamba tidak berkeberatan atas Tanah Sukawati itu. Tetapi apakah kakanda dapat menunjukkan kepada hamba bahwa hal itu bukan karena kecemasan kumpeni melihat kesiagaan hamba di Sukawati?”

Kangjeng Susuhunan memandang Pangeran Mangkubumi dengan wajah yang sayu. Kemudian dengan sayu pula ia menjawab, “Adimas. Itulah sebabnya aku sengaja menerimamu tanpa ada orang lain. Aku tahu bahwa kau akan menelanjangiku. Kau akan menunjukkan semua cacat cela yang ada padaku”

“Ampun kakanda. Bukan maksud hamba. Hamba hanya sekedar didorong oleh perasaan muak terhadap kumpeni dan saudara-saudara hamba yang telah menjilat kepada mereka”

“Kau tidak bersalah adinda. Dan aku memang harus mengakui. Aku memang dapat menjawab, bahwa keputusan itu berdasarkan pendapat para Pangeran dan pemimpin pemerintah-an. Aku dapat menjawab bahwa keputusanku aku dasarkan kepada keadilan dan ketenteraman Surakarta, karena perasaan iri itu memang dapat menumbuhkan banyak akibat”

“Tetapi kakanda . . . . . “

“Nanti dulu adimas” potong Kangjeng Susuhunan, “Aku tahu apa yang akan kau katakan. Kau tentu akan menyebutkan bahwa itu hanya sebagian kecil dari persoalan yang sebenarnya, karena di belakang para Pangeran dan para Pemimpin pemerintahan itu pun berdiri kumpeni. Bukankah begitu?”

Pangeran Mangkubumi tidak menjawab. Tetapi kepalanya kemudian tertunduk dalam-dalam justru karena pengakuan yang jujur dari Susuhunan Paku Buwana itu.

“Aku tidak akan ingkar adimas. Dan aku pun tidak akan ingkar bahwa sebenarnyalah aku adalah orang yang kurang teguh pada pendirian dan sikap”

Pangeran Mangkubumi menarik nafas dalam-dalam, lalu dengan nada yang dalam ia berkata lambat, “Ampun kakangmas. Sebenarnyalah bahwa itulah yang telah membuat hati hamba kecewa. Hamba tidak akan mungkin untuk selalu menahan hati seperti sekarang. Jika pada suatu saat hamba melihat seorang perwira kumpeni berdiri di paseban dan apalagi bersikap seakan-akan ialah yang paling berkuasa, maka hamba tidak yakin bahwa hamba dapat menahan diri dan tidak membunuhnya di tempat itu juga” Pangeran Mangkubumi berhenti sejenak, lalu, “karena itu menurut pertimbangan hamba, lebih baik hamba tidak melakukannya. Jika terjadi demikian mungkin akibatnya akan sangat buruk bagi Surakarta ”

Kangjeng Susuhunan memandang Pangeran Mangkubumi dengan tatapan yang tanpa berkedip.

“Karena itu kakangmas, sebaiknya hamba menyingkir dari lingkungan hamba yang semakin lama menjadi semakin tidak sesuai lagi”

“Maksudmu?”

“Kakanda. Jika sekiranya hamba tidak menjauhkan diri dari suasana yang bagi hamba menjadi semakin memuakkan ini, hamba tidak tahu, apakah yang akan terjadi”

“Jika kau menjauhinya?”

Pangeran Mangkubumi tidak segera dapat menjawab. Ia pun sadar, meskipun ia menjauhi istana ini, namun hatinya yang bergejolak sudah tidak akan dapat dikekangnya lagi.

“Adimas Pangeran Mangkubumi” berkata Kangjeng Susuhunan, “Aku tahu perasaan yang tersimpan di dalam hatimu. Karena itu, aku pun dapat menduga, apakah yang sebenarnya akan kau lakukan. Kau tidak akan dapat lagi sejalan dengan saudara-saudaramu. Dengan aku dan apalagi dengan kumpeni. Apapun yang kita usahakan bersama, maka jalan kita memang bersimpangan”

“Ampun kakanda” kepala Pangeran Mangkubumi menjadi semakin tunduk. Ia menyadari sepenuhnya bahwa yang duduk di hadapannya itu adalah saudara tuanya.

Tetapi ia pun menyadari bahwa sebenarnyalah jalan mereka memang bersimpangan.

“Adinda Pangeran Mangkubumi” berkata Kangjeng Susuhunan seterusnya, “Baiklah aku kini berbicara sebagai saudaramu, saudara tuamu. Dan kau pun aku minta berkata dengan nuranimu. Aku berjanji bahwa aku akan menyingkirkan sebutanku Susuhunan Paku Buwana ke II di Surakarta”

Pangeran Mangkubumi mengangkat wajahnya. Dengan tatapan mata yang tajam ia bertanya, “Apakah sebenarnya maksud kakanda”

“Adinda, apakah sebenarnya yang akan kau lakukan jika kau sudah menjauhi istana ini. Kau tentu tidak akan dapat kembali ke Sukawati, karena dengan resmi Sukawati sudah aku ambil kembali

“Ampun kakanda” Pangeran Mangkubumi menjadi ragu-ragu. Namun kemudian dipaksakannya berkata, “Kakanda tentu dapat menebak gejolak di dalam dada hamba”

“Ya. Aku mengerti Kau akan mengangkat senjata”

Meskipun sebenarnyalah demikian, tetapi terasa juga dada Pangeran Mangkubumi bergetar.

“Bukankah begitu?”

“Kakanda” suara Pangeran Mangkubumi tersendat di kerongkongan, “hamba memang tidak akan dapat menghindarkan diri dari tindakan itu. Hamba memang akan mengangkat senjata. Karena itu, sekaligus hamba mohon diri. Tetapi jika kakanda berkeberatan, dan jika kakanda sekarang berdiri sebagai Raja di Surakarta yang bergelar Susuhunan Paku Buwana ke II tidak membenarkan hamba akan berjuang melawan kumpeni, maka hamba tidak akan melawan jika kakanda memerintahkan para prajurit untuk menangkap hamba. Hamba masih menghormati kakanda sebagai saudara tua, pengganti ibu bapa, dan sebagai Raja yang aku sembah di Surakarta”

Kangjeng Susuhunan Paku Buwana tidak segera dapat menjawab. Terasa tenggorokannya menjadi pepat, dan pelupuk matanya menjadi panas.

“Adinda” katanya kemudian, “Kau memang adikku yang aku kasihi. Aku kini benar-benar berdiri di simpang jalan. Aku berbangga bahwa di antara saudara-saudaraku masih ada yang berdiri tegak di atas kepribadian sendiri. Di atas kepentingan rakyat Surakarta dan dengan dada tengadah melawan kumpeni. Tetapi aku juga merasa bersalah karena aku menyalahi tugasku sebagai raja yang adil di Surakarta, bahwa setiap perlawanan harus ditindas”

Pangeran Mangkubumi menundukkan kepalanya pula.

“Karena itu adimas Pangeran. Jika adimas tidak ada lagi, maka aku tentu tidak akan merasa selalu dikejar oleh pertentangan di hatiku sendiri seperti ini”

Pangeran Mangkubumi terkejut mendengar kata-kata itu. Tetapi ia tidak tahu artinya dengan pasti.

“Adinda Pangeran” berkata Susuhunan selanjutnya, “karena itu, sebaiknya di istana Surakarta memang tidak ada lagi seorang Pangeran seperti adinda”

Pangeran Mangkubumi masih tetap termangu-mangu. Namun kemudian hatinya menjadi berdebar-debar. Bahkan sebuah gejolak yang dahsyat telah melanda dinding jantungnya.

Dengan hampir tidak berkedip ia melihat Susuhunan Paku Buwana ke II itu berdiri dari tempat duduknya. Perlahan-lahan ia melangkah ke tempat pusaka di sisi ruangan. Beberapa batang tombak berdiri tegak dengan megahnya di sisi sebuah songsong yang kuning keemasan.

Dengan tangan gemetar Susuhunan menggegam tangkai sebuah dari tombak-tombak yang terpancang itu. Perlahan-lahan ia mengangkat tombak itu dengan wajah yang tegang.

Sesaat kemudian ia berdiri menghadap tempat Pangeran Mangkubumi duduk bersila. Sejenak ia berdiri mematung. Namun kemudian selangkah demi selangkah Susuhunan Paku Buwana itu mendekati Pangeran Mangkubumi.

“Adinda Pangeran Mangkubumi” suara Susuhunan menjadi sangat dalam, “Kau tentu kenal tombak ini. Tombak pusaka yang tidak ada duanya di Surakarta”

Pangeran Mangkubumi termangu-mangu.

“Dengan tombak ini, leluhur kita Panembahan Senapati telah berhasil menyelesaikan tugasnya, ketika terjadi pertentangan antara Pajang dan Jipang”

Pangeran Mangkubumi masih belum menjawab. Tetapi di dalam hatinya terdengar ia berdesis, “Kangjeng Kiai Pleret”

“Adinda Pangeran” berkata Susuhunan kemudian, “tombak ini adalah Kangjeng Kiai Pleret. Tidak ada orang yang dapat menahan kesaktian tombak ini. Meskipun ia memiliki aji rangkap sembilan, namun tombak ini akan dapat menembus kulitnya. Biar ia merangkap ilmu Lembu Sekilan, Tameng Waja dan ilmu kekebalan yang lain, tetapi kekuatan aji itu tidak akan ada artinya untuk melawan tombak yang tiada duanya ini. Apakah kau mengerti?”

Wajah Pangeran Mangkubumi menjadi merah. Sejenak ia memandang ujung tombak yang masih berada di dalam wrangkanya dan ditutup oleh sebuah selongsong putih. Seuntai bunga melati yang sudah kekuning-kuningan tersangkut di bawah selongsongnya.

Dada Pangeran itu benar-benar terguncang ketika ia melihat Kangjeng Susuhunan mengangkat tangkai tombak itu di atas dahinya, dan kemudian memejamkan matanya sejenak. Kemudian perlahan-lahan tombak itu diturunkannya. Dengan tangannya yang semakin gemetar Kangjeng Susuhunan meraba selongsong tombaknya.

Pangeran Mangkubumi duduk mematung di tempatnya. Dan dengan nafas yang semakin cepat mengalir Pangeran itu mendengar kakandanya berkata, “Adinda Pangeran Mangkubumi. Apakah kau benar-benar bertekad untuk memberontak?”

Untuk sesaat Pangeran Mangkubumi termangu-mangu. Namun ia adalah seorang Pangeran yang berhati baja. Apapun yang dihadapinya tidak akan dapat menggeser pendiriannya. Juga seandainya ia harus mendapat hukuman mati sekalipun di ruang ini.

Karena itu maka ia pun kemudian menyahut, “Kakanda. Sebenarnyalah bahwa adinda tidak akan memberontak. Yang akan hamba lakukan adalah menegakkan harga diri kita sebagai bangsa dan melepaskan semua ikatan yang semakin lama terasa semakin menjerat leher rakyat Surakarta. Hamba akan berjuang melawan kumpeni”

“Bukankah itu sama artinya dengan melawan kekuasaan Surakarta. Jika aku sudah memberikan beberapa wewenang kepada kumpeni, maka penolakan atas wewenang itu sama artinya dengan tidak mengakui lagi kuasaku”

Pangeran Mangkubumi menjadi bimbang. Ia melihat perubahan sikap Kangjeng Susuhunan. Namun Pangeran Mangkubumi tidak melepaskan sikapnya. Jawabnya, “Kakanda. Hamba tidak dapat ingkar akan kekuasaan kakanda di Surakarta. Juga atas wewenang yang kakanda berikan. Tetapi bukankah kakanda mengakui bahwa semuanya itu lahir karena kelemahan hati kakanda, bukan karena pertimbangan dan perhitungan sehingga wewenang itu benar-benar merupakan hak yang kakanda berikan atas kuasa kakanda. Bukan justru karena kelemahan”

Kangjeng Susuhunan memandang Pangeran Mangkubumi dengan tajamnya. Kemudian perlahan-lahan tangannya yang sudah menggenggam selongsong tombak itu pun ditariknya. Disangkutkannya selongsong tombak yang tidak ada duanya itu di pundaknya. Dan kemudian tangannya telah membuka wrangka tombak itu sekaligus. Sekali lagi Kangjeng Susuhunan itu mengangkat tombak di atas keningnya.

Debar jantung Pangeran Mangkubumi serasa semakin cepat menghentak-hentak di dadanya. Ia sadar, bahwa tombak Kiai Pleret adalah tombak yang tiada duanya. Aji Lembu Sekilan, Tameng Waja, Gedong Maruta, dan segala macam ilmu tidak akan darat menyelamatkannya dari ujung tombak Kiai Pleret itu. Apalagi ternyata kemudian ia melihat, mata tombak itu bagaikan membara.

Pangeran Mangkubumi sudah mengenal tombak itu dengan baik. Jika tombak itu dimandikan di ujung tahun, maka ia selalu hadir. Karena itu, ia seakan-akan dapat mengenal segala tabiat dan sifat dari tombak itu. Di saat-saat tombak itu dimandikan, maka mata tombak itu tidak pernah menyala seperti bara seperti pada saat itu. Dan seperti yang pernah didengarnya, jika mata tombak itu sedang membara, maka itu adalah pertanda bahwa sesuatu akan terjadi dengan tombak itu.

Kangjeng Susuhunan pun mengerutkan keningnya. Sekali lagi ia mengangkat tangkai tombak itu di depan keningnya. Namun ujung mata tombak itu masih saja bercahaya kemerah-merahan.

“Adimas Pangeran” berkata Kangjeng Susuhunan, “hanya orang yang berhak atas Kangjeng Kiai Pleret sajalah yang berani memandi tombak ini di saat mata tombak ini membara”

Pangeran Mangkubumi menundukkan kepalanya. Tiba-tiba saja timbullah gejolak yang dahsyat di hatinya. Ia sadar bahwa tombak itu adalah tombak yang tiada taranya. Tetapi apakah jangkauannya itu hanya akan sampai sekian. Apakah sepeninggalnya Kangjeng Susuhunan akan berjuang membela rakyat Surakarta? Dan apakah Raden Mas Said dan Martapura akan dapat melanjutkannya dan menarik anak buahnya yang ditinggalkannya seperti sapu lidi kehilangan ikatannya.

Tiba-tiba saja Pangeran Mangkubumi menggeram di dalam dadanya, “Tidak. Aku bukan tikus clurut. Aku setia kepada kakanda Kangjeng Susuhunan sebagai raja dan saudara tua. Tetapi apakah aku harus setia sampai mati dengan mata yang buta?”

Terasa sesuatu bergetar di dadanya, di luar sadarnya Pangeran Mangkubumi meraba hulu kerisnya. Keris itu memang tidak memiliki kesaktian seperti Kiai Pleret. Tetapi kerisnya pun bukan keris kebanyakan. Keris pusaka yang ada di punggungnya, adalah keris yang jarang sekali dipakainya. Hanya dalam saat yang gawat sajalah keris itu keluar dari simpanan.

Namun Pangeran Mangkubumi terkejut ketika Susuhunan Paku Buwana bertanya, “Adimas. Apakah kau akan memperbandingkan kerismu dengan tombak Kangjeng Kiai Pleret?”

Kepala Pangeran Mangkubumi tertunduk kembali. dan terdengar suaranya lambat, “Tidak kakangmas. Tidak, sama sekali tidak. Karena hamba tahu, bahwa keris hamba memang tidak sebanding sama sekali dengan tombak Kangjeng Kiai Pleret”

“Jadi?”

Wibawa Kangjeng Kiai Pleret ternyata memang besar sekali. Rasa-rasanya dada Pangeran Mangkubumi tergetar karenanya. Namun imbangan kekuatan jiwanyalah yang mendorongnya untuk menjawab, “Kakanda, hamba merasa bersyukur bahwa hamba pun memiliki sebuah pusaka yang akan dapat hamba pergunakan untuk sipat kandel dalam perlawanan hamba terhadap kumpeni. Hamba sudah bertekad. Dan hamba akan mempertaruhkan nyawa hamba kapan pun hamba harus mulai dengan perjuangan hamba”

Tampak kerut menit di kening Kangjeng Susuhunan Paku Buwana. Setapak demi setapak ia semakin mendekati adiknya. Kemudian dengan suara yang bergetar ia bertanya, “Jadi kau sudah benar-benar mengambil keputusan adimas?”

“Hamba kakanda”

“Kau akan meninggalkan istanamu?”

“Hamba kakanda. Hamba memang akan mohon diri Hamba harus sudah mulai”

“Kapan?”

Dan tiba-tiba saja hampir di luar sadarnya Pangeran Mangkubumi menjawab, “Sekarang”

Kangjeng Susuhunan menundukkan kepalanya. Sesuatu rasa-rasanya menusuk hatinya. Wajahnya yang tegang menjadi buram. Dan dengan suara yang lemah ia berkata, “Aku mengerti Pangeran Mangkubumi yang perkasa. Aku tidak akan sakit hati. Aku menyadari kebesaran jiwa dan tekadmu. Terasa di dalam nada suaramu, bahwa kau mulai memisahkan sikap antara saudara tua dan kepentingan Surakarta ”

“Kakanda”

“Tidak adimas. Aku tidak apa-apa. Kesetiaan seseorang terhadap raja dan saudara tuanya memang terbatas sampai pada titik keyakinannya mulai tersentuh. Dan aku dapat mengerti. Karena itu aku sama sekali tidak berkeberatan jika kau akan meninggalkan Surakarta dan akan mulai dengan sebuah perjuangan yang panjang”

“Kakanda” desis Pangeran Mangkubumi yang tidak menyangka. Namun sekali-sekali ia masih memandang ujung tombak Kangjeng Kiai Pleret yang membara.

Aku mengerti adimas, bahwa kau setia kepadaku. Bahkan sampai mati sekalipun. Tetapi tidak untuk melindungi wewenang kumpeni yang pernah aku berikan kepadanya. Aku mengerti. Karena itu aku restui kepergianmu”

“Kakanda” suara Pangeran Mangkubumi terputus di kerongkongan.

“Adimas” suara Kangjeng Susuhunan menjadi semakin dalam dan gemetar, “Aku ingin memberimu bekal. Bekal sebagai tebusan kelemahanku. Terima tombak Kangjeng Kiai Pleret Pusaka terpercaya dari Surakarta ini. Pakailah selama dalam perjuanganmu melawan kumpeni dan para Pangeran yang menjilat kepadanya. Kaulah yang telah mengembalikan pusaka ini pada saat Kartasura dilanda api perlawanan yang tiba-tiba pada beberapa saat lampau”

Sesuatu bergejolak dengan dahsyatnya di hati Pangeran Mangkubumi. Ia tidak mengerti apa yang harus dilakukan. Bagaimanapun juga ia masih ragu-ragu. Apakah yang dikatakan oleh Kangjeng Susuhunan itu sebenarnya demikian, atau hanya sekedar sebuah ungkapan yang mempunyai arti yang lain

Tetapi ternyata Kangjeng Susuhunan Paku Buwana itu benar-benar menyerahkan tombak Kangjeng Kiai Pleret kepada Pangeran Mangkubumi

“Terimalah adikku”

Untuk beberapa saat Pangeran Mangkubumi masih termangu-mangu. Dipandanginya ujung tombak yang membara itu dan wajah kakandanya berganti-ganti.

Namun kemudian dilihatnya sebuah senyum yang pahit di bibir Kangjeng Susuhunan itu. Dari sela-sela bibir itu terdengar kata-katanya, “Adinda. Jangan ragu-ragu. Terimalah. Tombak Kangjeng Kiai Pleret adalah lambang perjuanganku melawan kekuasaan asing. Kedudukanku, wadagku dan kelemahanku telah mengikat aku di atas tahta Surakarta. Alangkah senangnya menjadi seorang yang berkuasa. Dan aku tidak mau kehilangan kekuasaan itu. Aku tidak mau pergi ke hutan-hutan dan tinggal di bawah gubug yang basah di musim hujan. Tidak. Dan itu adalah pengkhianatan atas diriku sendiri” Pangeran Mangkubumi melihat setitik air di pelupuk mata Kangjeng Susuhunan yang masih melanjutkan, “karena itu, adinda. Yang dapat aku lakukan adalah sekedar melakukan perjuangan dengan cara yang kerdil ini. Tetapi sebenarnyalah di hati nuraniku, aku menentang kekuasaan asing yang semakin menjerat leherku dan kekuasaan di Surakarta. Bukan saja aku, tetapi juga keturunanku yang akan datang”

“Kakanda” suara Pangeran Mangkubumi terputus di kerongkongan.

“Adinda Pangeran. Jika kau meraba tombak ini di peperangan, anggaplah aku besertamu. Anggaplah bahwa yang ada di atas tahta Surakarta adalah wadagku yang dibelenggu oleh nafsu ketamakan, nafsu keduniawian dan segala macam nafsu yang lain. Tetapi hatiku ada padamu”

Tubuh Pangeran Mangkubumi terasa gemetar. Betapa kuat hatinya, namun terasa jantungnya bagaikan tergores ujung duri. Pedih.

Ia melihat kakandanya sebagai lambang dari benturan pribadi yang parah di saat Surakarta dilanda oleh bahaya yang sebenarnya. Tetapi pengakuan yang jujur itu membuat Pangeran Mangkubumi tetap hormat kepadanya.

“Adimas” desis Kangjeng Susuhunan, “Terimalah Kangjeng Kiai Pleret ini”

Pangeran Mangkubumi bergeser setapak. Diacukannya tangannya untuk menerima tombak pusaka itu dengan dada yang berdebaran.

“Kau adalah seorang Pangeran yang pantas memiliki pusaka ini di seluruh Surakarta tidak ada orang yang berhati seteguh hatimu”

“Kakanda. Banyak yang tetap pada sikapnya apapun yang terjadi atas mereka. Justru di kalangan rakyat yang langsung mengalami kesulitan di dalam masa yang tidak ada kepastian ini. Dan hamba akan menerima tombak Kangjeng Kiai Pleret itu atas nama mereka yang berjuang untuk menentang penjajahan. Dan hamba pun akan berkata kepada mereka, bahwa tombak ini adalah lambang kehadiran kakanda di setiap medan perlawanan terhadap kumpeni”

Pangeran Mangkubumi melihat mata Susuhunan itu menjadi basah. Tetapi agaknya pantang bagi seorang laki-laki untuk menangis, sehingga karena itu, maka suara Susuhunan itu pun segera berubah menghentak, “Cepat. Terimalah tombak ini sebelum aku berubah pendirian”

Pangeran Mangkubumi pun bergeser lagi. Diterimanya tombak pusaka itu dengan tangan yang gemetar. Diangkatnya landean tombak itu ke depan dahinya, kemudian dengan suara gemetar pula ia berkata, “Terima kasih kakanda. Hamba merasa bahwa memang hamba harus menjalankan tugas ini sampai tuntas”

Kangjeng Susuhunan memandang mata tombak itu sejenak. Demikian juga Pangeran Mangkubumi yang dengan dada yang berdebar-debar memandang mata tombak itu.

Ternyata mata tombak itu masih tetap membara.

“Adimas” suara Kangjeng Susuhunan telah menurun lagi, “ternyata kau mampu dan kuat memiliki tombak Kangjeng Kiai Pleret dengan rencana perjuanganmu. Ujung tombak itu masih tetap membara, sehingga karena itu, perjuanganmu tentu akan berhasil”

“Kakanda, hamba selalu berdoa agar kita semua mendapat perlindungan dari Tuhan Yang Maha Esa. Dan kepada Tuhan lah aku berserah diri, karena Tuhan lah yang berkuasa atas segala sesuatu, termasuk diriku”

“Kita akan selalu berdoa bersama-sama di dalam hati kita masing-masing adinda. Pergilah. Aku tidak dapat memberimu bekal lebih daripada itu”

“Kakanda, anugerah kakanda adalah dorongan yang tiada taranya bagi hamba. Dan hamba kini mengerti, apakah sebenarnya yang terjadi di dalam diri kakanda”

“Memang sebuah medan perang yang dahsyat sekali. Tetapi biarlah aku tetap dalam keadaan ini, keadaan yang dibayangi oleh kepura-puraan dan nafsu duniawi. Pergilah. Hatimu yang teguh ternyata memberi keteguhan kepada Surakarta”

Pangeran Mangkubumi pun kemudian mohon diri. Diselubunginya mata tombak yang membara itu dengan wrangkanya, kemudian sebuah selongsong putih seputih kapas, dan seuntai rangkaian bunga melati yang sudah kekuning-kuningan.

Ketika Pangeran Mangkubumi bergeser surut sampai ke pintu, ia masih melihat Kangjeng Susuhunan mengusap pelupuknya dengan jarinya. Namun sekali lagi ia mendengar Susuhunan menghentakkan kakinya sambil berkata, “Pergilah, dan jangan kembali lagi” Namun kemudian, “Selamat jalan adinda. Mungkin kita tidak akan dapat bertemu lagi”

Pangeran Mangkubumi justru tertegun. Dengan suara parau ia bertanya, “Kenapa kakanda?”

Kangjeng Susuhunan menggelengkan kepalanya. Lalu, “Sudahlah. Pergilah. Kau benar-benar berangkat berperang. Kau pantas memakai tanda Senapati perang dengan seuntai bunga melati yang melingkar di lehermu”

Pangeran Mangkubumi hanya menundukkan kepalanya saja.

“Tetapi” tiba-tiba suara Kangjeng Susuhunan meninggi, “bersiaplah Pangeran Mangkubumi. Surakarta pun akan segera mengangkat seorang Senapati perang jika pemberontakan itu terjadi”

Pangeran Mangkubumi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab. Ia melihat pertentangan di dalam diri Kangjeng Susuhunan itu dan meledak-meledak pada sikap dan kata-katanya kecuali ia sengaja berusaha menahan matanya yang menjadi basah.

Demikianlah maka Pangeran Mangkubumi setelah sekali lagi menunduk hormat dan mohon diri, maka ia pun segera meninggalkan bangsal itu dengan membawa tombak pusaka Kangjeng Kiai Pleret.

Tetapi untunglah bahwa ketika Pangeran Mangkubumi turun ke longkangan dan menuju ke keretanya, malam sudah menjadi semakin gelap. Tidak banyak orang yang melihat, apakah yang dibawa oleh Pangeran Mangkubumi. Memang beberapa prajurit tahu pasti bahwa di tangan Pangeran Mangkubumi itu adalah sepucuk tombak. Tetapi tidak seorang pun yang mengetahui bahwa tombak itu justru tombak Kangjeng Kiai Pleret

Sejenak kemudian kereta Pangeran Mangkubumi itu pun telah berderap di halaman dan hampir tanpa memalingkan wajahnya dilaluinya para penjaga di regol samping.

Di sepanjang jalan wajah Pangeran Mangkubumi menjadi tegang. Terasa sekali betapa kasih kakandanya kepadanya. Namun juga terasa sekali betapa tersiksanya hati Kangjeng Susuhunan yang menyadari kelemahannya tetapi tidak memiliki kesempatan untuk berbuat sesuatu.

“Agaknya kakanda Kangjeng Susuhunan mengetahui dengan pasti” berkata Pangeran Mangkubumi di dalam hatinya, “jika ia berbuat sesuatu dan tersingkir dari tahta karena campur tangan kumpeni dengan bantuan beberapa orang Pangeran, maka Surakarta akan menjadi semakin parah. Penggantinya tentu orang yang jauh lebih buruk lagi daripadanya sendiri. Karena itu ia bertahan di atas tahtanya, sedang pengejawantahan pemberontakan yang meledak di dalam dirinya adalah diserahkannya tombak Kangjeng Kiai Pleret itu kepadaku”

Pangeran Mangkubumi menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dipandanginya ujung tombak Kangjeng Kiai Pleret yang tertutup oleh selongsong putihnya dengan dada yang berdebar-debar.

Demikianlah kereta itu pun segera berpacu menuju ke Mangkubumen. Seperti yang dipesankan sebelum ia berangkat maka seisi istana itu pun sudah mempersiapkan diri. Pangeran Mangkubumi benar-benar akan meninggalkan Surakarta. Ia tidak dapat menahan diri lagi mengalami perlakuan yang gila dari orang-orang asing itu. Dan apalagi kini ia memiliki sebuah tombak pusaka yang tiada duanya di Surakarta.

Kedatangan Pangeran Mangkubumi di istananya sambil membawa sebatang tombak telah mengejutkan keluarga dan pengikutnya yang ada di istana. Dengan singkat Pangeran Mangkubumi sempat menceriterakan. serba sedikit tentang tombak itu. Dengan demikian, maka para pengikutnya justru menjadi semakin mantap dan bertekad untuk melakukan perjuangan dengan sepenuh hati.

Pada malam itu juga, seisi istana Mangkubumen mengemasi Barang-barang yang dapat mereka bawa sebagai bekal perjuangan mereka. Jika Pangeran Mangkubumi kemudian memerintahkan untuk membawa segala macam perhiasan dan benda-benda berharga yang terbuat dari emas dan perak, semata-mata bukan karena ia tidak mau kehilangan sebuah pun dari miliknya. Tetapi Barang-barang itu akan dapat menjadi bekal untuk membeayai perjuangannya.

“Kita berangkat sebelum fajar” berkata Pangeran Mangkubumi kepada keluarga dan pengikutnya.

Tidak seorang pun yang mengeluh. Mereka melakukan kerja masing-masing dengan hati yang tulus. Mereka mengerti arti dari perjuangan yang bakal dilakukan oleh Pangeran Mangkubumi, sehingga mereka pun harus membantunya. Lahir dan batin.

Menjelang fajar, maka berangkatlah seisi istana Mangkubumen dengan diam-diam meninggalkan Surakarta. Beberapa buah kereta berderap diikuti oleh beberapa ekor kuda. Tidak banyak orang yang mengetahui. Satu-satu dua orang yang kebetulan berada di luar rumah, dan beberapa orang peronda yang berada di sepanjang jalan dengan heran melihat iring-iringan itu Mula-mula mereka tidak mengerti, apakah sebenarnya iring-iringan itu. Tetapi ketika di pagi harinya diketemukan istana Mangkubumen kosong, barulah orang-orang itu menghubungkan dengan iring-iringan yang dilihatnya semalam.

Namun di antara mereka yang menyaksikan iring-iringan itu adalah seorang bangsawan muda yang duduk di atas kudanya dikawani oleh seorang pengawal setianya.

Orang itu adalah Raden Juwiring dan Ki Dipanala.

“Aku sudah mengira” berkata Raden Juwiring, “bahwa pamanda Mangkubumi akhirnya akan meninggalkan Surakarta”

“Banyak yang memperhitungkan demikian Raden. Agaknya malam ini banyak Pangeran yang tidak dapat tidur menunggu akibat pembicaraan Pangeran Mangkubumi dan Kangjeng Susuhunan di senja kemarin. Dan agaknya kepergian Pangeran Mangkubumi tidak dapat dicegah lagi. Pendirian Pangeran Mangkubumi dan Kangjeng Susuhunan tidak akan dapat bertemu”

Raden Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kita dapat membayangkan, bahwa sebentar lagi, Surakarta akan dibakar oleh peperangan yang gawat. Pamanda Pangeran Mangkubumi tentu akan berhasil menyusun pasukan yang kuat di samping pasukan kangmas Raden Mas Said yang sudah mulai tersusun kembali bersama pamanda Martapura”

KI Dipanala menganggukkan kepalanya. Katanya dengan nada yang dalam, “Kenapa kita harus mengalami masa-masa seperti ini Raden?”

“Kita tidak dapat memilih paman” sahut Raden Juwiring, “kita seakan-akan telah dilemparkan saja di atas tungku. Dan kita harus berbuat sesuatu agar kita tidak hangus karenanya”

Ki Dipanala tidak menyahut. Tetapi tatapan matanya menembus bayangan fajar yang menjadi semakin terang. Dan dilihatnya dalam keremangan pagi, iring-iringan Pangeran Mangkubumi menjadi semakin jauh meninggalkan kota Surakarta. Meninggalkan hidup keduniawian. Sebagai seorang Pangeran, maka Pangeran Mangkubumi tidak kekurangan sesuatu. Namun ternyata ada juga yang tidak terpenuhi padanya. Keinginannya melihat Surakarta bebas dari kekuasaan asing yang rasa-rasanya semakin mencengkam. Dan bebas dari sifat-sifat tamak iri dan dengki.

Karena itulah maka Pangeran Mangkubumi meninggalkan istananya yang tidak kekurangan kebutuhan-kebutuhan duniawi dan pemuasan keinginan manusiawinya, untuk menemukan nilai-nilai yang lebih tinggi dari arti kemanusiaannya.

“Paman” berkata Raden Juwiring kemudian, “Aku dapat memastikan. Bahwa salah seorang Senapati terpenting dari Surakarta adalah ayahanda Ranakusuma”

Dengan tatapan mata yang buram Ki Dipanala mengangguk sambil menjawab, “Ya Raden. Setiap prajurit di Surakarta menganggap bahwa Senapati yang akan mampu mengimbangi keunggulan pamanda Pangeran Mangkubumi adalah ayahanda Raden Juwiring”

Juwiring menarik nafas dalam-dalam.

“Kita menghadap ayahanda paman. Ayahanda akan mendapat waktu untuk mempersiapkan diri apabila Kangjeng Susuhunan memanggilnya dan membicarakan masalah ini dengan para Senapati dan pimpinan pemerintahan”

“Tentu pagi ini Kangjeng Susuhunan akan memanggil para Pangeran, para Senapati dan pimpinan pemerintahan. Memang sebaiknya Pangeran Ranakusuma mendengarnya lebih dahulu”

Raden Juwiring mengangguk lemah. Sejenak ia masih memandang ke kejauhan. Kemudian ia berkata seakan-akan kepada diri sendiri, “Selamat jalan pamanda Pangeran Mangkubumi, “

Ki Dipanala menundukkan kepalanya. Sesuatu terasa bergetar di dadanya. Telah terbayang di dalam angan-angannya. di Surakarta akan pecah perang saudara yang dahsyat sekali. Dalam nyala api peperangan itulah kumpeni akan mendapatkan keuntungan yang besar jika para pemimpin pemerintahan di Surakarta tidak menyadari kedudukannya dan bahkan semakin tenggelam ke dalam pengaruh orang asing itu.

Demikianlah maka Raden Juwiring dan Ki Dipanala pun segera kembali dan menyampaikan pengamatannya atas Pangeran Mangkubumi itu kepada ayahandanya.

“Aku memang sudah menduga sebelumnya” berkata Pangeran Ranakusuma, “karena itu aku menyuruhmu, berdua untuk melihat-melihat keadaan”

“Ya ayahanda. Saat ini istana Mangkubumen tentu sudah kosong”

Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya. Terkilas diangan-angannya orang-orang yang tamak dan didorong oleh pamrih. Karenanya maka katanya, “Jika demikian istana itu perlu diselamatkan. Jika ada orang yang mengetahui dengan pasti bahwa istana itu kosong, maka mungkin sekali mereka akan memasukinya dan membawa barang-barang yang masih ada. Tentu Pangeran Mangkubumi tidak akan dapat membawa semua Barang-barangnya. Bahkan mungkin perhiasan-perhiasan yang tersangkut di dinding dan di dalam bilik-bilik istana itu tidak sempat dibawanya. Dan tidak semua pakaiannya dan pakaian putra puterinya dapat dibawa”

Raden Juwiring mengerutkan keningnya. Dan ia pun kemudian bertanya, “Jadi bagaimana sebaiknya ayahanda?”

“Masukilah istana itu dan kuasailah semua yang masih ada. Jagalah baik-baik agar tidak selembar kain pun yang bergeser dari tempatnya”

Raden Juwiring termangu-mangu sejenak, lalu ia pun berkata, “Tetapi ayahanda, jika aku yang datang ke istana itu, dan kebetulan sekali di halaman istana itu sudah ada orang lain, terlebih-lebih lagi jika yang datang lebih dahulu itu adalah salah seorang pamanda Pangeran, maka aku tidak akan dapat berbuat apa-apa”

Pangeran Ranakusuma berpikir sejenak. Lalu katanya, “Baiklah Juwiring. Kita akan pergi bersama-sama. Menurut perhitunganku sepagi ini tentu belum ada orang yang mengetahui bahwa rumah itu sudah kosong sama sekali”

“Ayahanda, ada beberapa orang yang melihat iring-iringan keluar dari halaman istana itu. Dan selain itu tentu para Pangeran, Senapati dan pimpinan pemerintahan sudah menduga seperti juga ayahanda, bahwa Pangeran Mangkubumi akan lolos dari Surakarta bersama keluarganya”

Pangeran Ranakusuma mengangguk-angguk. Lalu, “Kau benar Juwiring. Memang sebaiknya kita pergi bersama-sama”

Sejenak kemudian Pangeran Ranakusuma pun sudah selesai mengemasi diri. Sebagai seorang prajurit ia dapat bertindak dengan cepat dan tiba-tiba.

Dengan diiringi oleh beberapa orang pengawal Ranakusuman maka Pangeran Ranakusuma bersama Juwiring dan Ki Dipanala pun segera pergi ke istana Mangkubumen yang memang sudah kosong sama sekali. Tidak ada seorang pun yang masih tinggal menunggui istana yang besar dan penuh dengan barang-barang yang cukup berharga, tetapi sama sekali tidak diperlukan oleh Pangeran Mangkubumi di dalam perjuangannya menentang kekuasaan asing di Surakarta.

Namun ternyata pada saat Pangeran Ranakusuma bersama pengiringnya sampai di depan istana Pangeran Mangkubumi, maka istana itu sudah tidak kosong lagi. Beberapa orang telah berkerumun dan berjalan hilir mudik di dekat pintu gerbang halaman.

Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Katanya kepada Juwiring yang berkuda di sisinya, “Inilah gambaran Surakarta sekarang. Rakyat sudah kehilangan harga diri karena tekanan penghidupan mereka. Lihatlah. Mereka yang berkerumun itu tentu akan mencari kesempatan untuk masuk dan mengambil beramai-ramai apa saja yang ada di istana itu. Mereka tinggal meyakinkan saja, apakah istana itu benar-benar sudah kosong”

“Begitu cepat mereka mengetahui ayahanda” sahut Juwiring.

“Bukankah para peronda dan penjaga regol-regol padukuhan dan bahkan regol-regol istana para Pangeran mengetahui bahwa ada iring-iringan meninggalkan halaman istana itu”

Raden Juwiring mengangguk-angguk. Jawabnya, “Ya ayahanda”

“Dan sekarang mereka meyakinkan, jika istana itu memang kosong, maka mereka tentu akan mengambil segala isinya”

Raden Juwiring tidak menyahut lagi. Tetapi kepalanya tertunduk dalam-dalam. Inilah gambaran kekerdilan jiwa rakyat yang sudah hampir menjadi putus asa, sehingga jauh berbeda sekali dengan apa yang dilakukan oleh rakyat Surakarta yang lain, yang masih mempunyai kepercayaan kepada diri sendiri untuk berdiri tegak sebagai suatu bangsa, seperti yang nampak pada para pengikut Pangeran Mangkubumi.

“Marilah kita langsung masuk ke halaman melihat keadaannya” berkata Pangeran Ranakusuma.

Juwiring tidak menjawab. Diikutinya saja ayahandanya mendekati regol halaman istana yang kosong itu.

Beberapa orang yang melihat kehadiran Pangeran Ranakusuma itu pun segera menyibak. Bahkan ada di antara mereka yang dengan diam-diam menyingkir karena dengan demikian mereka tidak akan mendapatkan kesempatan lagi untuk berbuat apa-apa.

Namun Pangeran Ranakusuma pun terkejut ketika ia melihat dua ekor kuda tertambat di samping istana itu. Menilik pakaian yang tersangkut pada kuda itu. Pangeran Ranakusuma dan pengiringnya segera mengetahui bahwa kuda-kuda itu tentu milik para bangsawan pula.

“Kuda siapakah itu?” bertanya Pangeran Rana Kusuma.

Raden Juwiring menggelengkan kepalanya sambil menjawab, “Aku tidak tahu ayahanda”

“Marilah kita masuk ke dalam” desis Pangeran Ranakusuma.

Keduanya pun kemudian meloncat dari punggung kudanya dan menyerahkannya kepada para pengiringnya yang sudah berloncatan turun pula.

Dengan diiringi oleh Ki Dipanala maka keduanya pun segera naik ke tangga pintu butulan dan langsung masuk ke ruang dalam.

Istana yang besar itu memang sepi. Meskipun baru semalam ditinggalkan oleh penghuninya, namun agaknya pada saat matahari terbit itu rasa-rasanya rumah itu sudah bertahun-tahun tidak lagi disentuh tangan manusia.

Pangeran Ranakusuma termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia melangkah terus, menusuk langsung ke dalam bilik Pangeran Mangkubumi sendiri.

Namun langkah mereka terhenti ketika mereka mendengar suara di dalam bilik itu, “Kita tunggu saja. Mereka tentu akan masuk pula ke dalam bilik ini”

“Bagaimana jika bukan Kamas Prabanata”

“Bukankah kangmas sudah berjanji?”

“Lihatlah dari pintu samping”

Suara-suara itu terdiam. Namun agaknya seseorang dari orang-orang itu akan keluar dari dalam bilik.

Pangeran Ranakusuma pun segera menggamit Raden Juwiring dan Ki Dipanala. Keduanya pun segera bergeser masuk ke dalam bilik di sisi lorong di ruang dalam yang menghubungkan dengan ruang depan.

Ternyata dugaan mereka benar. Salah seorang dari keduanya pun melangkah keluar dan menyelusur lorong itu menuju ke pintu butulan.

Ketiganya terkejut karena mereka melihat seorang bangsawan muda yang berjalan lewat di depan pintu bilik yang terbuka sedikit sekali. Dari celah-celah pintu itu mereka sempat mengintip dan mengetahui siapakah yang sudah berada di dalam bilik Pangeran Mangkubumi itu.

Setelah bangsawan itu lampau, Pangeran Ranakusuma dan kedua pengikutnya itu pun dengan tergesa-gesa melangkah dan langsung masuk ke dalam bilik Pangeran Mangkubumi yang sudah ditinggalkannya itu.

Seorang bangsawan yang masih ada di dalamnya terkejut bukan buatan. Sejenak ia termangu-mangu melihat kehadiran Pangeran Ranakusuma yang tiba-tiba bersama Juwiring dan Ki Dipanala.

“Oh” desisnya, “Marilah, silahkan, silahkan”

Pangeran Ranakusuma tidak menghiraukannya. Ia langsung mendekati Pangeran itu dan membuka sebuah bungkusan yang terletak di pembaringan.

“Arya Lampita” berkata Pangeran Ranakusuma, “Siapakah yang telah mengumpulkan Barang-barang ini?”

Bangsawan itu tergagap. Kemudian jawabnya terputus-putus, “Aku, aku tidak tahu pamanda. Aku tidak tahu”

“Tentu Pangeran Mangkubumi sangat tergesa-gesa, sehingga ada juga perhiasannya yang tertinggal. Timang ini tentu sangat mahal. Jika Pangeran Mangkubumi sadar, barang ini tentu dibawanya karena akan sangat berguna baginya”

Bangsawan yang bernama Arya Lampita itu masih berdiri tegak dengan wajah yang tegang. Dipandanginya saja Pangeran Ranakusuma yang sedang melihat-melihat isi bungkusan yang sudah dibukanya.

“Bungkusan itu sudah ada di situ sejak aku masuk ruangan ini” Arya Lampita menjelaskan.

Pangeran Ranakusuma tidak menghiraukannya. Tetapi ia justru bertanya, “Kenapa kau ada di ruangan ini?”

Bangsawan itu menjadi semakin tegang. Namun kemudian dijawabnya asal saja, “Aku tidak sengaja datang kemari. Tetapi beberapa orang mengatakan bahwa istana ini sudah kosong”

Pangeran Ranakusuma terdiam sejenak. Ia berpaling ketika ia mendengar langkah seseorang masuk. Orang itu adalah Bangsawan yang masih muda yang pergi keluar.

“O” Bangsawan yang masih muda itu pun terkejut. Sejenak ia termangu-mangu di pintu.

“Kuncara” desis Pangeran Ranakusuma. Bangsawan yang bernama Kuncara itu tidak menjawab.

“Apakah adimas Prabajati akan datang juga kemari?”

“Arya Lampita menjadi bingung. Dipandanginya wajah Kuncara yang semakin menunduk.

“Apakah kalian telah bersepakat untuk datang kemari?”

Kedua Bangsawan itu menjadi bingung.

“Kalian berdua” berkata Pangeran Ranakusuma, “ini adalah gambaran dari pendapat sementara orang bahwa Sukawati harus ditarik dari Pangeran Mangkubumi. Jika istana ini dikosongkan, dan kalian pagi-pagi sudah berada di sini, maka agaknya akan demikian pula dengan Sukawati kelak. Jika pada batas waktunya Sukawati harus ditinggalkan oleh Pangeran Mangkubumi, maka pada saat itu juga, setiap orang yang merasa ikut sependapat mengusirnya akan segera menduduki padukuhan demi padukuhan.

Kedua Bangsawan itu menjadi gelisah. Namun terasa kuping mereka menjadi panas. Tetapi mereka tahu pasti siapakah Pangeran Ranakusuma sehingga mereka pun tidak berani membantahnya.

“Kalian berdua” berkata Pangeran Ranakusuma, “semua yang ada di istana ini masih tetap milik Pangeran Mangkubumi. Setiap benda tidak boleh bergeser dari tempatnya”

“Tetapi, kami tidak mengambil apa-apa” Kuncara menjelaskan.

“Meskipun demikian, kehadiran kalian sudah dapat menimbulkan kecurigaan”

“Tetapi pamanda juga datang kemari” Lampita mencoba membela diri.

“Ada perbedaannya” sahut Pangeran Ranakusuma, “Aku datang dengan beberapa orang pengawal yang dapat menjadi saksi bahwa aku tidak merubah meskipun sekedar letak dari Barang-barang yang ada. Perhiasan dinding yang miring sekalipun aku tidak akan meluruskannya”

“Kami juga tidak berbuat apa-apa”

“Jika demikian, bagus sekali. Sekarang, tinggalkan tempat ini”

Keduanya berpandangan sejenak. Dan hampir bersamaan keduanya memandang timang Pangeran Mangkubumi yang tertinggal. Timang yang bagus sekali dan tentu mahal harganya.

Pangeran Ranakusuma tidak menghiraukannya meskipun ia tahu, bahwa kedua Pangeran itu menginginkan timang yang tertinggal itu.

“Sudahlah. Silahkan” desis Pangeran Ranakusuma. Kedua bangsawan itu tidak dapat membantah lagi. Keduanya pun kemudian melangkah sambil menundukkan kepalanya keluar dari bilik itu.

Pangeran Ranakusuma memandang Ki Dipanala yang kemudian berdiri termangu-mangu di sudut ruangan, sambil mengangkat bahunya. Katanya, “ Surakarta benar-benar telah menjadi sarang anak-anak yang kehilangan pegangan”

Ki Dipanala tidak menyahut. Tetapi tiba-tiba saja di luar kehendaknya teringat olehnya Raden Rudira. Putera Pangeran Ranakusuma yang sudah tidak ada lagi. Anak muda itu pada masa hidupnya pun benar-benar telah kehilangan pegangan. Bahkan Pangeran Ranakusuma sendiri saat itu. Kematian anaknya dan peristiwa yang menimpa isterinya, kemudian disusul oleh perang tanding dengan seorang perwira kumpeni agaknya telah menempatkan Pangeran Ranakusuma pada sikapnya yang sekarang, meskipun masih juga tetap samar-samar.

Ki Dipanala terkejut ketika Pangeran Ranakusuma berkata selanjutnya kepada puteranya, “Juwiring, masukkan Barang-barang itu ke dalam geledeg kayu itu. Mungkin pada suatu saat masih ada gunanya”

Raden Juwiring pun segera membenahi bungkusan itu dan memasukkannya ke dalam sebuah geledeg kayu yang berukir bagus sekali.

“Ki Dipanala” berkata Pangeran Ranakusuma, “Aku harus segera menyampaikan persoalan ini kepada Kangjeng Susuhunan. Sementara itu, kau dan Juwiring tetap berada di sini menjaga semua barang yang masih ada atas perintahku, Senapati yang terpercaya di Surakarta. Aku akan menunggu perintah dari Kangjeng Susuhunan. Apakah yang harus aku lakukan atas semua Barang-barang milik Pangeran Mangkubumi”

Demikianlah, meskipun bukan waktunya. Pangeran Ranakusuma segera pergi ke istana. Agaknya ia datang masih terlampau pagi. Namun berbeda dengan saat-saat yang lain, pagi itu Kangjeng Susuhunan sudah duduk merenung di depan bangsalnya. Terlampau pagi bagi Kangjeng Susuhunan.

Ternyata sepeninggal Pangeran Mangkubumi, Kangjeng Susuhunan Paku Buwana sama sekali tidak dapat memejamkan matanya sekejappun. Karena itulah maka pagi-pagi benar ia sudah duduk merenung.

Beberapa orang prajurit pengawal menjadi bingung. Mereka tidak pernah melihat Kangjeng Susuhunan dalam keadaan seperti itu, Para pelayan dan hamba istana pun hampir tidak tahu apa yang harus mereka lakukan menghadapi sikap yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

Tetapi Kangjeng Susuhunan itu seolah-olah tidak menghiraukan apapun. Ia duduk saja merenungi cahaya matahari yang mulai bertebaran di halaman bangsal dalam.

Kedatangan Pangeran Ranakusuma tidak mengejutkan Kangjeng Susuhunan. Seolah-olah ia sudah tahu dan bahkan telah siap menerima kedatangannya.

“Panggil ia kemari” perintah Kangjeng Susuhunan kepada abdinya.

Pangeran Ranakusuma menghadap Kangjeng Susuhunan tidak di tempat yang seharusnya. Namun seakan-akan keadaan Surakarta yang tidak menentu itu pun menyebabkan perubahan sikap dan kebiasaan Kangjeng Susuhunan Paku Buwana.

“Ampun Kakangmas” berkata Pangeran Ranakusuma kemudian, “hamba datang untuk memberitahukan, bahwa Pangeran Mangkubumi sudah lolos dari istana Mangkubumen”

Kangjeng Susuhunan sama sekali tidak merubah arah pandangan matanya. Dengan suara berat ia berkata, “Ya. Aku sudah menduga. Dan tentu saudara-saudaranya pun telah menduganya termasuk kau”

“Hamba kakangmas. Karena itu hamba memasuki istana Mangkubumen sebelum orang lain, untuk menyelamatkan semua isinya, agar tidak ada Barang-barang yang bergeser dari tempatnya”

Kangjeng Susuhunan mengerutkan keningnya. Namun sebelum ia mengatakan sesuatu. Pangeran Ranakusuma sudah mendahuluinya, “Selanjutnya hamba menunggu perintah Kangjeng Susuhunan apakah yang harus hamba lakukan atas istana itu atau keputusan lain yang kakangmas ambil”

Kangjeng Susuhunan memandang wajah Pangeran Ranakusuma sejenak, lalu, “Baiklah. Jagalah istana itu baik-baik. Semua isinya tidak boleh bergeser, karena istana itu seisinya masih tetap milik adimas Pangeran Mangkubumi”

Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Ternyata pendapatnya sejalan dengan pendapat Kangjeng Susuhunan, bahwa istana Mangkubumen sama sekali tidak boleh berubah.

“Adimas Pangeran Ranakusuma” berkata Kangjeng Susuhunan kemudian, “seterusnya, aku sudah mengetahui dengan pasti, bahwa adimas Pangeran Mangkubumi telah meninggalkan Surakarta. Dan aku tahu pasti bahwa adimas Pangeran Mangkubumi akan mengangkat senjata dan berperang melawan kekuasaanku. Karena itu, aku akan segera mengadakan sidang pagi ini juga untuk menentukan sikap kita menghadapi sikap adimas Pangeran Mangkubumi itu”

Pangeran Ranakusuma memandang wajah Kangjeng Susuhunan sejenak, namun kemudian ia tertunduk pula. Sekilas ia melihat sesuatu yang aneh tersirat di wajah Kangjeng Susuhunan. Namun Pangeran Ranakusuma menganggap bahwa sewajarnyalah jika terjadi pergolakan di hati Kangjeng Susuhunan.

Pangeran Mangkubumi adalah adiknya. Justru sebenarnya adalah adiknya yang dikasihinya. Namun kini mereka berada di jalan simpang. Bahkan tidak mustahil bahwa pada suatu saat keduanya harus bertemu di peperangan, meskipun hanya pada saat-saat terakhir saja seorang raja terpaksa turun ke medan, jika tidak ada lagi Senapati yang pantas untuk memimpin pasukannya.

“Adimas Ranakusuma” berkata Kangjeng Susuhunan kemudian, “sekarang kita tidak dapat tinggal diam. Kita harus berbuat sesuatu untuk mempertahankan hak kita atas Surakarta. Adimas. Tidak ada orang yang dapat mengimbangi kemampuan adimas Mangkubumi selain kau sendiri. Namun demikian, aku masih akan bertemu para Senapati dan Pringgalaya, untuk mendengarkan pendapat mereka. Barangkali Kumpeni pun dapat menyumbangkan pendapatnya menghadapi persoalan ini”

“Kakanda” sembah Pangeran Ranakusuma, “persoalan ini adalah persoalan kita sendiri. Sebaiknya kita tidak usah membicarakannya dengan kumpeni”

“Kita tidak dapat melepaskan pengaruh kumpeni atas Surakarta adimas”

“Kakanda, kita tidak akan dapat melupakan peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi. Sejak kekuasaan Mataram, kemudian bergeser ke Timur. Apabila pada setiap pertikaian kumpeni mendapat kesempatan ikut campur, maka yang paling beruntung pada pertikaian itu, siapapun yang akan menang dan siapapun yang akan kalah, adalah kumpeni lah”

“Tetapi adinda” berkata Kangjeng Susuhunan, “Kita tidak dapat menutup mata bahwa kumpeni mempunyai pengaruh yang nyata di sini. Jika kita tidak memintanya dengan terbuka, maka ia akan menyusun alasan-alasan yang bermacam-macam untuk melibatkan diri sesuai dengan selera mereka sendiri. Mungkin dengan alasan untuk melindungi kepentingan mereka di sini, hak mereka, dan perkebunan yang mereka perlukan, dan segala macam persoalan. Tetapi jika kita datang kepadanya, kita dapat minta sesuai dengan kepentingan kita saja”

Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya. Tersirat sesuatu yang lain pada pembicaraan Kangjeng Susuhunan. Ternyata selama ini penilaiannya atas Kangjeng Susuhunan agak keliru. Kangjeng Susuhunan bukan semata-mata orang yang pasrah pada pengaruh kumpeni. Tetapi ia pun mempunyai pertimbangan tersendiri untuk menghambat mekarnya pengaruh kumpeni. Meskipun nampak kelemahan yang mencengkamnya, namun Kangjeng Susuhunan bukan semata-mata seorang yang sekedar mendambakan kamukten semata-mata.

Apalagi ketika Kangjeng Susuhunan melanjutkan, “Adimas. Aku berniat menyerahkan pimpinan pasukan Surakarta kepada orang yang bertanggung jawab bukan saja terhadap keselamatan Surakarta sendiri, tetapi juga keselamatan perkembangan kepribadian kita. Pertikaian di antara kita sendiri memang harus disesalkan. Tetapi ternyata kali ini pun sulit dihindari. Jika bukan adimas Pangeran Mangkubumi yang lolos dari istananya, maka tentu akan timbul kekisruhan-kekisruhan yang lain yang justru didukung oleh kumpeni. Tentu hal itu akan lebih berbahaya bagi Surakarta. Seandainya kita tidak dapat menahan kekuasaan adimas Pangeran Mangkubumi dan terpaksa menyerah, maka yang akan memegang kekuasaan berikutnya telah kita ketahui dengan pasti, yaitu adimas Pangeran Mangkubumi. Tetapi jika yang mendesak kedudukan kita adalah orang lain yang mendapat dukungan kumpeni, maka Surakarta benar-benar akan padam kekuasaannya”

Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya. Kini perasaannya sendiri telah dijalari oleh tanggapan yang aneh.

“Adimas Ranakusuma” berkata Kangjeng Susuhunan, “Aku tidak pernah mengatakan hal ini kepada orang lain. Aku mengatakannya kepadamu, karena aku tahu, kau bukan orang yang semata-mata menggantungkan diri kepada orang-orang asing. Dahulu kau memang bersikap demikian, seperti saudara-saudaraku yang lain. Tetapi aku kira, sekarang kau bersikap lain. Aku tahu bahwa kau telah membunuh seorang perwira kumpeni pada suatu perang tanding. Kemudian sikapmu sesudah itu aku rasakan perlahan-lahan berubah”

Pangeran Ranakusuma hanya menundukkan kepalanya saja.

“Nah, sekarang kau dapat meninggalkan tempat ini. Tindakanmu yang pertama kali sudah benar. Kau harus menjaga rumah adimas Pangeran Mangkubumi. Orang-orangmu cukup banyak untuk melindungi rumah itu. Lakukanlah atas perintahku”

“Hamba akan melakukannya kakanda. Mudah-mudahan tidak ada orang lain yang tidak percaya bahwa yang hamba lakukan adalah perintah kakanda.

“Aku sertakan kau seorang Lurah prajurit dari pasukan pengawal. Ia merupakan pertanda perintahku, sedangkan orang itu ada di bawah perintahmu di dalam pelaksanaan tugas ini”

Demikianlah maka Pangeran Ranakusuma pun segera meninggalkan istana dengan mengemban tugas. Ia menyadari betapa berat beban yang akan dipikulnya jika ia harus berhadapan dengan Pangeran Mangkubumi di medan.

Dalam pada itu Pangeran Ranakusuma tidak segera kembali ke istananya. Ia masih harus singgah ke istana Pangeran Mangkubumi bersama prajurit pengawal itu, dan memerintahkan beberapa orangnya untuk tetap tinggal di halaman istana itu untuk mencegah agar tidak terjadi sesuatu yang tidak dikehendaki atas istana yang kosong itu.

Namun ketika Pangeran Ranakusuma mendekati regol istana itu, ia terkejut. Dilihatnya sebuah kereta dan beberapa ekor kuda sudah berada di halaman istana. Dan Pangeran itu pun segera mengenal bahwa kuda-kuda itu bukan kuda milik pengawalnya.

Karena itu dengan tergesa-gesa Pangeran Ranakusuma memasuki halaman. Sejenak ia tertegun. Namun kemudian ia menyadari bahwa kumpeni telah ikut campur pula di dalam persoalan ini.

Karena itu, maka Pangeran Ranakusuma pun segera meloncat dari punggung kudanya diikuti oleh seorang perwira prajurit pengawal itu. Dengan tergesa-gesa Pangeran Ranakusuma pun segera naik ke pendapa.

Beberapa orang kumpeni ternyata telah ada di rumah itu. Ketika mereka melihat kedatangan Pangeran Ranakusuma. mereka pun segera bergeser.

Tetapi Pangeran Ranakusuma tidak menghiraukannya. Ia langsung masuk ke ruang dalam.

Di ruang dalam itu ternyata seorang perwira kumpeni sedang marah-marah sehingga suaranya mengumandang memenuhi ruangan.

“Aku adalah perwira kumpeni yang mendapat kuasa di Surakarta ” teriak perwira kumpeni itu.

Dan terdengar Juwiring menjawab, “Maaf. Aku tidak peduli. Aku adalah putera Pangeran Ranakusuma. Aku mendapat perintah langsung dari ayahanda untuk melindungi rumah pamanda Mangkubumi”

“Ayahmu tidak berhak memerintahkan kau menjaga rumah ini”

“Dan apakah hakmu? Apakah hak kumpeni untuk melakukan penggeledahan di dalam rumah yang telah kosong ini”

“Aku harus menemukan barang-barang milik kumpeni yang tersembunyi di rumah ini”

“Kau harus minta ijin kepada Kangjeng Susuhunan lebih dahulu”

“Aku sudah mendapat ijinnya”

Juwiring termangu-mangu. Memang tidak mustahil bahwa kumpeni telah mendapat ijin dari Kangjeng Susuhunan yang menurut pendapat Juwiring sangat dipengaruhi oleh kekuasaan kumpeni. Namun demikian ia masih menjawab, “Aku ingin mendapat bukti pernyataan ijin dari Kangjeng Susuhunan”

“Gila” teriak perwira itu, “Aku tidak pernah mendapat bukti pernyataan. Aku dapat berbuat apa saja”

Pangeran Ranakusuma yang mendengar perbantahan itu justru berhenti sejenak. Ia ingin mendengar, apa saja yang dapat dikatakan dan bagaimana sikap Juwiring menghadapi kumpeni. Karena itu ia justru memberi isyarat kepada perwira prajurit pengawal itu untuk menunggu barang sejenak.

Dalam pada itu terdengar Juwiring menjawab, “Apapun yang pernah kau lakukan, tetapi aku memerlukan bukti. Aku adalah kemanakan Kangjeng Susuhunan itu”

Tetapi perwira kumpeni itu pun tidak mau mundur. Ia sudah terlanjur melangkah. Sebagai seorang yang merasa dirinya memiliki kelebihan dalam banyak hal. maka perwira itu pun kemudian berkata, “Aku tidak peduli siapa kau. Susuhunan sendiri tidak akan menolak keinginan kumpeni. apalagi kau. Kau hanya anak seorang Pangeran dari Surakarta. Kau sama sekali tidak dapat mencegah aku”

Wajah Raden Juwiring menjadi merah. Darah mudanya terasa mendidih sampai ke kepala. Sekilas teringat olehnya bahwa ayahandanya pun pernah berperang tanding melawan kumpeni. Kini ia memiliki ilmu yang cukup mantap seandainya ia harus berkelahi melawan kumpeni itu, apapun akibatnya. Karena itu maka katanya, “Aku tidak peduli siapa kau dan apa hakmu. Tetapi aku sudah mendapat perintah untuk menjaga rumah ini”

“Aku akan memeriksa rumah ini. Tentu ada perlengkapan Pangeran Mangkubumi yang disembunyikan di dalam rumah ini dan yang sekarang masih tertinggal”

“Tidak” jawab Juwiring tegas.

“Jadi, apakah kau berdiri di pihak Pangeran Mangkubumi?” bertanya perwira itu tiba-tiba.

Sejenak Raden Juwiring termangu-mangu. Bahkan Pangeran Ranakusuma yang masih belum menampakkan diri itu pun menjadi termangu-mangu. Namun ia masih juga menunggu, bagaimanakah jawab Raden Juwiring atas pertanyaan itu.

Baru sejenak kemudian Raden Juwiring berkata, “Aku berdiri di pihak ayahandaku, Pangeran Ranakusuma. Aku hanya menjalankan perintahnya. Dimanapun ia berdiri. Dan aku akan melakukan tugas ini sebaik-baiknya, apapun akibatnya”

Wajah perwira kumpeni itu pun menjadi tegang. Tetapi sebelum ia mengucapkan sepatah katapun, Raden Juwiring mendahuluinya, “Aku tahu kau membawa pengawal. Tetapi aku pun membawa pengawal yang cukup untuk menjalankan tugasku”

Kumpeni itu menjadi gemetar menahan marah. Dengan gigi gemeretak ia berkata, “Kalian akan mampus di sini. Aku akan mempertanggung jawabkan kepada Susuhunan”

Sebelum Juwiring menjawab, maka terdengar jawaban dari balik pintu yang didorong oleh Pangeran Ranakusuma, “Kau tidak usah bertanggung jawab terhadap siapapun. Aku perintahkan kau meninggalkan rumah ini”

“Gila” mata perwira itu menjadi merah, “Kau mau apa Pangeran Ranakusuma?”

“Kau tentu mengenal kelengkapan prajurit pengawal khusus. Dengarlah perwira yang membawa perintah Kangjeng Susuhunan ini berbicara, “

Perwira kumpeni itu menggeram. Ia memang mengenal pakaian dan kelengkapan prajurit pengawal khusus itu. Karena ia pun termangu-mangu sejenak. Dan sebelum ia sempat berbicara Lurah Prajurit pengawal itu sudah berkata, “Aku mengemban perintah Kangjeng Susuhunan Paku Buwana yang memerintah di  Surakarta, agar aku melindungi gedung istana Pangeran Mangkubumi ini seisinya. Tidak boleh ada selembar atas pembaringan atau sebuah tempat duduk pun yang bergeser dari tempatnya”

Wajah kumpeni yang merah itu menjadi semakin merah. Namun ia tidak dapat membantah lagi ketika Pangeran Ranakusuma berkata, “Semua wewenang atas gedung ini sudah diserahkan kepadaku dan perwira prajurit ini. Karena itu, aku persilahkan kalian meninggalkan tempat ini, karena gedung ini sudah berada di bawah perlindunganku berdua atas perintah Kangjeng Susuhunan”

“Tetapi, tetapi” perwira kumpeni itu masih mencoba untuk bertahan, “Aku memerlukan barang-barangku yang hilang, terutama senjata”

“Jika benar Pangeran Mangkubumi atau orang-orangnya telah mencuri senjata, mereka tentu tidak terlampau bodoh untuk menyimpan senjata itu di halaman rumah”

Kumpeni itu memandang Pangeran Ranakusuma dengan tegang. Tetapi ia pun menyadari, bahwa seorang kawannya tidak mampu melawan Pangeran itu di dalam perang tanding. Dalam keadaan demikian, jika ia memaksa untuk berbuat sesuatu, maka perselisihan akan segera timbul. Dan itu tidak akan menguntungkan bagi kumpeni maupun Surakarta dalam keadaan yang semakin gawat, karena Pangeran Mangkubumi telah meninggalkan Surakarta dengan diam-diam.

“Pangeran” berkata perwira kumpeni itu, “Jika Pangeran tidak mengijinkan aku mencari senjata di rumah ini, maka aku minta agar Pangeran membantu kumpeni. Jika Pangeran menemukan senjata kumpeni jenis apapun, kami harap Pangeran menyerahkannya kepada kami”

“Aku mengerti apa yang harus aku lakukan” desis Pangeran Ranakusuma.

Kumpeni itu termenung sejenak, namun kemudian katanya, “Baiklah aku minta diri. Aku akan menyampaikan laporan kepada atasanku yang akan membicarakannya dengan Kangjeng Susuhunan”

“Terserahlah kepadamu” sahut Pangeran Ranakusuma.

Kumpeni itu menggeretakkan giginya menahan gejolak perasaannya. Namun kemudian ia dengan tergesa-gesa meninggalkan tempat itu diikuti oleh anak buahnya. Agaknya kumpeni-kumpeni itu pun berusaha menahan perasaan mereka sedalam-dalamnya, karena mereka pun adalah prajurit-prajurit yang mempunyai harga diri yang merasa dirinya prajurit-prajurit pilihan yang telah mengarungi lautan dan melintasi benua. Tetapi menghadapi prajurit-prajurit Surakarta, mereka memang harus berpikir beberapa kali. Seperti yang ternyata dilakukan oleh pemimpin-pemimpin mereka, sebagian terbesar dari kemenangan yang pernah mereka capai dengan penguasaan daerah baru, bukan karena kejantanan mereka dan keunggulan di medan perang. Seandainya orang-orang asing itu dapat melakukannya demikian di benua yang pernah dijelajahinya dengan kekuatan senjata, namun di bumi Surakarta mereka lebih banyak mempergunakan akal yang licik.

Agaknya demikian jugalah yang harus mereka lakukan menghadapi perselisihan antara Pangeran Mangkubumi dengan Kangjeng Susuhunan Paku Buwana di  Surakarta.

Mereka harus berbuat licik dan licin sehingga akhirnya mereka akan mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya.

Demikianlah maka akhirnya perwira kumpeni itu telah memilih cara yang sering mereka pergunakan di bumi Surakarta. Mereka menyadari bahwa prajurit-prajurit Surakarta adalah prajurit-prajurit pilihan di bawah pimpinan Senapati-Senapati yang ternyata memiliki kemampuan, baik secara pribadi maupun di dalam kelompok pasukannya, memiliki kelebihan dan cara yang kadang-kadang di luar dugaan kumpeni.

Namun masih ada satu dinding tembus yang dapat dengan mudah diselusupi oleh kumpeni. Betapa kuat pertahanan lahiriah pasukan Surakarta, namun secara batiniah mereka memiliki kelemahan yang meyakinkan bagi kumpeni. Bujukan adu domba, benda-benda yang bagi mereka aneh dan menyenangkan, adalah senjata yang paling baik untuk melumpuhkan kekuatan Surakarta. Dan kelumpuhan itu ternyata sama sekali bukan kesalahan dari orang-orang asing itu. Orang-orang asing itu memang menghendaki Surakarta menjadi lumpuh. Yang bersalah dalam hal ini adalah para pemimpin Surakarta sendiri. Memang mereka menyediakan diri untuk menyerahkan harga diri mereka di bawah pameran Barang-barang yang bagi mereka sangat menarik. janji-janji dan yang lebih parah lagi, kenapa mereka menyediakan diri untuk dijadikan semacam domba yang diadu yang satu dengan yang lain.

Ada beberapa orang dari para pemimpin di Surakarta yang menyadari hal itu. Tetapi mereka tidak dapat banyak berbuat sesuatu karena mereka berada di dalam lingkaran yang seakan-akan telah membelenggu mereka.

Dalam pada itu, sepeninggal kumpeni, maka Pangeran Ranakusuman segera memanggil beberapa orang yang dipercayanya. Di bawah pimpinan Ki Dipanala dan Lurah prajurit pengawal, mereka harus tetap berada di halaman istana Pangeran Mangkubumi sampai ada perintah yang lain dari Kangjeng Susuhunan.

“Kita bergantian paman” berkata Juwiring kemudian, “dan tentu petugas dari istana itu pun akan bergiliran setiap hari”

“Tentu” jawab Lurah prajurit pengawal, “pada waktunya akan datang orang lain menggantikan aku, tetapi pada dasarnya istana ini seisinya memang harus diselamatkan”

Demikianlah setelah memberikan beberapa pesan kepada orang-orangnya yang akan ditinggal di istana Pangeran Mangkubumi itu, maka Pangeran Ranakusuma dan Juwiring pun segera kembali ke istananya.

Tetapi Pangeran Ranakusuma sadar, bahwa sebentar lagi ia tentu akan dipanggil untuk menghadiri pertemuan para Senapati yang akan mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan sehubungan dengan kepergian Pangeran Mangkubumi diam-diam dari Surakarta.

Di sepanjang jalan Pangeran Ranakusuma tidak banyak berbicara. Namun ketika mereka mendekati istananya sendiri, Pangeran itu memberi isyarat agar Raden Juwiring berada di sisinya.

“Juwiring” berkata Pangeran Ranakusuma, “Agaknya mendung yang membayangi Kerajaan Mataram ini menjadi semakin tebal. Kita memang tidak boleh berdiam diri saja dengan kesibukan-kesibukan kita sendiri. Pada suatu saat Surakarta tentu akan menyiapkan pasukannya untuk menghadapi pasukan Pangeran Mangkubumi. Dan kita harus sudah siap dengan rencana yang sebaik-baiknya”

“Ya ayahanda”

“Memang kita berdiri di tempat yang sulit. Tetapi kita tidak dapat mengingkarinya. Kita memang harus berdiri di sini. Dan itu sudah menjadi tekad kita”

“Aku mengerti ayahanda”

“Baiklah. Semuanya harus dipersiapkan baik-baik. Aku tentu harus segera menghadiri sidang para Senapati. Dan aku akan memikul tanggung jawab menghadapi Pangeran Mangkubumi. Orang-orang Surakarta percaya bahwa aku memiliki kemampuan seimbang dengan Pangeran Mangkubumi. Tetapi mereka tidak memperhitungkan bahwa karena sikapnya maka Pangeran Mangkubumi tentu akan mempunyai pengikut yang jauh lebih banyak dari prajurit yang akan diserahkan kepadaku sebagai Panglima yang akan memimpin seluruh perlawanan atas pasukan yang terlatih baik di Sukawati”

Raden Juwiring tidak menjawab.

“Kau dapat berbuat sesuatu di rumah Juwiring. Tentu bukan hanya prajurit Surakarta saja yang akan pergi ke medan bersama kita. Tetapi untuk kepentingan kita, maka para pengawal kita sendiri pun harus kita persiapkan dan yang terpilih di antara mereka akan pergi bersama kita ke medan. Aku kira beberapa orang di antara pengawal terpilih kita sendiri akan lebih baik dari para prajurit di Surakarta ”

“Ya ayah. Aku akan mempersiapkannya. Tentu bersama paman Dipanala. Tetapi paman Dipanala masih sibuk di istana Mangkubumen”

“Aku akan segera mohon prajurit-prajurit Surakarta dengan resmi menguasai istana itu agar tidak menjadi barang yang dapat dijarah rayah seperti istana raja yang kalah perang. Tetapi sudah barang tentu oleh prajurit-prajurit yang benar-benar dapat dipercaya”

Demikianlah ketika mereka sudah berada di istana, maka Raden Juwiring pun mulai menyusun rencana bagi para pengawal di istana Ranakusuman, sedang Pangeran Ranakusuma sendiri harus segera mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan dengan lolosnya Pangeran Mangkubumi dengan seluruh keluarganya.

Dengan ragu-ragu Pangeran Ranakusuma berdiri termangu-mangu di hadapan geledeg kayu berukir di dalam biliknya. Namun kemudian perlahan-lahan ia membuka geledeg itu dengan tangan gemetar. Beberapa saat lamanya ia berdiri tegak memandang sebuah peti kayu yang berukir pula dan disungging dengan warna-warna yang cerah.

Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Di dalam peti itu tersimpan pusakanya yang paling baik. Pusaka yang hampir tidak pernah dikeluarkannya dari simpanan.

Pangeran Ranakusuma memandang peti itu dengan tiada berkedip. Kemudian perlahan-lahan diambilnya peti berukir dan bersungging dengan warna cerah itu. Diambilnya dari dalam peti itu sebilah keris yang masih berada di dalam wrangkanya. Sebilah keris yang disebutnya Kiai Tunggul.

Perlahan-lahan Pangeran Ranakusuma menarik keris itu dari wrangkanya, dan mengangkatnya di atas kepalanya. Dengan cermat Pangeran Ranakusuma mengamat-amatinya dari ujungnya sampai ke ukirannya.

Perlahan-lahan Pangeran itu berdesis, “Kau akan pergi bersamaku ke medan yang gawat. Surakarta sudah diselimuti oleh kabut perten-tangan yang tebal. Dan agaknya tidak ada seorang pun yang akan mampu menguakkannya”

Tiba-tiba saja tangan Pange-ran Ranakusuma menjadi gemetar. Keris itu sama sekali tidak menunjukkan perubahan apa-apa. Keris itu tetap saja seperti pada saat ditariknya dari wrangkanya”

Dengan tangan yang masih saja gemetar Pangeran Ranakusuma mengangkat keris itu sekali lagi di atas kepalanya, kemudian perlahan-lahan disarungkannya kembali ke dalam wrangkanya.

Ketika Pangeran Ranakusuma memasukkan keris itu ke dalam peti dan meletakkan ke dalam geledeg, tiba-tiba saja ia terkejut mendengar seseorang menyapanya dengan suara yang lembut datar, “Ayahanda”

Pangeran Ranakusuma berpaling. Dilihatnya anak gadisnya berdiri termangu-mangu di belakangnya.

“O” desis Pangeran Ranakusuma. Perlahan-lahan ia mendekati anaknya. Sambil memegang kedua pundaknya ia berkata, “Kau sudah nampak cantik sekali. He, apakah kau akan bepergian, Warih?”

“Ayahanda” berkata Rara Warih, “Sudah beberapa hari aku berada di sini. Aku ingin pergi menengok eyang”

Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Diguncangnya tubuh anak gadisnya itu sambil berkata, “Warih. Bukankah kau sendiri sudah mengatakannya. Jika kau pergi menengok eyangmu, maka kau selalu dibayangi oleh kekecewaan dan penyesalan. Kau tidak dapat melupakan apa yang telah terjadi dengan ibundamu dan apa yang terjadi atas kakakmu Rudira. Jika kau datang dari istana eyangmu, kau selalu menjadi pemurung. Baru setelah dua tiga hari kau berada di sini, kau mulai nampak hidup lagi. Karena itu, apakah kau tidak lebih baik menunda kepergianmu. Apalagi pada saat seperti ini”

“Maksud ayahanda?”

Pangeran Ranakusuma termenung sejenak. Lalu katanya, “Maksudku, masa-masa yang kurang mantap seperti sekarang. Tetapi sebenarnya tidak banyak berpengaruh. Baik atas kita sekeluarga maupun atas Surakarta. Namun demikian, sebaiknya kau tidak usah memperdalam luka di hatimu. Besok sajalah kau pergi kesana”

Rara Warih terdiam sejenak. Dipandanginya ayahnya dengan tajamnya seakan-akan ingin mengetahui perasaannya yang tersimpan di dasar hatinya.

Namun tiba-tiba Rara Warih itu bertanya, “Ayahanda, kenapa ayahanda mengambil pusaka itu?”

Wajah Pangeran Ranakusuma berubah sejenak. Rara Warih tahu pasti bahwa keris itu adalah kerisnya yang paling baik, karena pada saat-saat tertentu, sejak ibundanya masih ada di istana ini, ia selalu melihat keris itu ditaburi dengan bunga dan diasapi dengan dupa, lebih dari pusaka-pusakanya yang lain.

Namun Pangeran Ranakusuma pun kemudian tertawa. Katanya, “Warih, sudah lama aku tidak melihat pusakaku yang satu, yang justru selalu tersimpan itu. Tiba-tiba saja aku ingin melihatnya. Karena seperti kau ketahui, pusaka yang merasa dirinya tersia-sia dan tidak dihiraukan lagi, ia dapat musna dan mencari tempat tinggalnya yang baru”

Rara Warih memandang ayahnya semakin tajam. Katanya, “Tetapi ayahanda mengambil keris itu, menariknya dari wrangkanya dan rasa-rasanya ayah memang sedang memerlukan keris itu pada saat ini, saat yang ayahanda katakan saat-saat seperti ini?”

“Kau terlalu peka Warih. Perasaanmu terlampau mudah tersentuh. Tidak ada hubungannya apa-apa, Warih”

“Ayahanda. Aku mendapat firasat bahwa sesuatu memang akan terjadi di Surakarta”

Pangeran Ranakusuma merenung sejenak. Dipandanginya anak gadisnya yang nampaknya kini sudah benar-benar menjadi dewasa. Bukan saja bentuk jasmaniahnya, tetapi juga perkembangan nalar budinya.

Peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di dalam keluarga Ranakusuman, agaknya telah memacu jiwanya sehingga Rara Warih itu segera menjadi masak.

“Warih” berkata Pangeran Ranakusuma, “mungkin firasatmu benar. Tetapi seseorang dapat menangkap firasat dan menilainya berlebih-lebihan. Memang mungkin terjadi sesuatu di Surakarta. Tetapi tidak akan cukup menggelisahkan penduduknya. Jika aku harus mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan itu karena aku seorang Senapati. Seperti Senapati-Senapati yang lain, aku harus menjaga keamanan Surakarta sebaik-baiknya. Sampai pada kerusuhan-kerusuhan kecil sekalipun yang mungkin timbul”

Rara Warih tidak segera menyahut. Namun pada wajahnya nampak membayang kecemasan.

“Karena itu Warih” Ayahnya meneruskan, “Kau tetap berada di rumah untuk hari-hari ini. Di sini kau akan mendapat perlindungan jika kerusuhan-kerusuhan kecil itu memang terjadi. di sini ada beberapa orang pengawal yang siap menghadapi apapun juga karena aku seorang Senapati. Tetapi tentu tidak di rumah eyangmu, disana mungkin ada beberapa orang pelayan laki-laki yang menjaga istana. Tetapi tentu bukan sepasukan pengawal seperti pengawal-pengawal di rumah kita ini”

“Tetapi jika terjadi kerusuhan, istana eyang itu tidak akan menjadi sasaran seperti istana kita ini ayahanda, justru karena eyang sudah tua”

“Warih” berkata Pangeran Ranakusuma, “kerusuhan ini sama sekali tidak akan memilih sasaran. Dan sudah barang tentu kerusuhan-kerusuhan kecil tidak akan berani memasuki halaman istana ini. Perusuh-perusuh itu hanya sekedar membuat kekacauan-kekacauan kecil, kemudian mereka merampok apa saja yang dapat mereka rampas di dalam kekacauan itu. Hanya itu”

Rara Warih menganggukkan kepalanya. Tetapi nampak kesangsian memancar disorot matanya.

“Nah, begitulah Warih. Jika kau ingin pergi juga, biarlah besok atau lusa, beberapa orang pengawal mengantarkanmu jika keadaan semakin baik”

Warih nampak kecewa. Tetapi ia mengangguk sekali lagi.

“Baiklah ayahanda. Aku akan menunda satu dua hari. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa di kota ini. Dan mudah-mudahan ayahanda tidak usah pergi kemanapun juga untuk mengatasi kesulitan yang dapat timbul. Tetapi kepergian pamanda Pangeran Mangkubumi dengan diam-diam itu tidak akan dapat diabaikan begitu saja”

“Warih” Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya, “Kau sudah mendengar bahwa pamandamu Pangeran Mangkubumi meninggalkan kota?”

“Setiap orang membicarakannya”

Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Lalu, “Dan karena itu kau akan pergi ke istana eyangmu?”

Warih menundukkan kepalanya. Lalu katanya dengan nada yang dalam, “Ayahanda. Setiap orang di Surakarta, selalu meletakkan ayahanda dan pamanda Pangeran Mangkubumi pada dua ujung yang berlawanan. Agaknya di Surakarta tidak ada orang lain kecuali ayahanda dan pamanda Mangkubumi yang dipandang sebagai Senapati yang mumpuni. Ayahanda telah banyak menunjukkan pengabdian kepada Surakarta, dan Pangeran Mangkubumi ternyata telah berhasil menjinakkan perlawanan Raden Mas Said dan Martapura”

“Warih” desis Pangeran Ranakusuma, “Apakah hal semacam itu menarik perhatianmu? Selama ini kau tidak pernah memperhatikan dan menyebut masalah itu”

“Ya ayahanda. Selama ini aku tenggelam dalam kesibukanku sendiri. Tetapi sejak kangmas Juwiring ada di istana ini, aku mulai memperhatikan kesibukannya dan mendengarkan persoalan-persoalan yang dibicarakannya”

Pangeran Ranakusuma mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Tidak ada persoalan apa-apa antara aku dan pamandamu Pangeran Mangkubumi. Hubungan kami baik sekali. Dan bukankah pada saat kangmasmu meninggal, pamanmu datang sebagai orang yang pertama?”

“Memang tidak ada persoalan apa-apa antara ayahanda dan pamanda Pangeran Mangkubumi. Tetapi kedudukan ayahanda dan pamanda Mangkubumi, kelebihan-kelebihan yang ada pada ayahanda dan pamanda Mangkubumi lah yang menempatkan ayahanda dan paman pada kedua ujung yang berlawanan”

Pangeran Ranakusuma tersenyum. Ditepuknya bahu anak gadisnya sambil berkata, “Sudahlah Warih. Jangan terlampau banyak dipengaruhi oleh persoalan-persoalan serupa itu. Itu adalah persoalan para Senapati. Mungkin kangmasmu wajib ikut memperbincangkan. Tetapi kau tidak perlu”

Rara Warih mengangguk kecil.

“Warih” berkata ayahandanya, “sekarang pergilah ke belakang. Lihatlah para pelayan. Apakah mereka sudah melakukan tugas mereka sebaik-baiknya. Mungkin ayah akan dipanggil ke istana untuk mengadakan pembicaraan-pembicaraan. Sebaiknya kau sediakan makan pagi. Jangan membiasakan melepaskan para pelayan tanpa pengawasanmu. Dan lebih baik lagi jika kau sendiri ikut menanganinya”

“Aku selalu melakukannya sendiri untuk ayah dan kangmas Juwiring”

“Kau memang cantik sekali Warih. Nah, pergilah ke belakang. Besok atau lusa, jika keadaan di Surakarta tidak lagi sama-samar seperti ini, kau akan diantar menghadap eyangmu”

Sekali lagi Rara Warih menganggukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia bergeser meninggalkan ruangan itu. Namun sekali lagi ia berpaling, dan tanpa sesadarnya ia memandang geledeg yang sudah tertutup, tempat ayahnya menyimpan kerisnya.

Pangeran Ranakusuma menarik nafas. Ia menyadari arti tatapan mata anaknya yang kecemasan. Rara Warih seakan-akan mengetahui apa yang akan terjadi di Surakarta, dan kenapa ia telah melihat keris yang tersimpan itu.

Ketika Rara Warih kemudian hilang di balik pintu, Pangeran Ranakusuma melangkah perlahan-lahan ke pembaringan. Dengan lesu ia duduk di bibir pembaringannya. Diedarkannya tatapan matanya ke sekeliling biliknya, seakan-akan baru pertama kali dilihatnya, atau seolah-olah bilik itu akan ditinggalkannya untuk selama-lamanya.

Pangeran Ranakusuma tidak menyadari, berapa lamanya ia duduk merenung. Ia terkejut ketika ia mendengar suara Rara Warih, “Ayah, makan pagi bagi ayah dan kangmas Juwiring telah tersedia. Aku sendirilah yang menyediakannya, ayah”

“O” Pangeran Ranakusuma memaksa dirinya untuk tersenyum, “Apakah kau sendiri yang masak?”

Rara Warih tersipu-sipu. Jawabnya, “Hari ini kebetulan sekali bukan, ayah. Tetapi kadang-kadang aku pun sering memasak. Namun jika aku berada di dapur, para pelayan nampaknya selalu gugup. Kadang-kadang mereka kehilangan ketajaman lidah mereka, sehingga masakan menjadi tidak enak”

“Ah, kenapa?”

“Aku tidak tahu ayah. Karena itulah maka jika aku ingin masak, aku mengambil waktu yang lain. Jika saatnya para juru masak beristirahat, aku baru mulai, tanpa mengganggu mereka”

Pangeran Ranakusuma tertawa. Kemudian ditepuknya bahu anak gadisnya sambil berkata, “Kau menjadi semakin pandai dan cekatan. Demikianlah seharusnya seorang gadis. Bukan hanya sekedar duduk merias diri dan pergi ke peralatan atau bujana yang mewah dan berlebih-lebihan saja”

Rara Warih mengangguk. Tetapi kepalanya lalu tertunduk.

Pangeran Ranakusuma termangu-mangu. Namun ia pun segera menyesal. Ucapannya agaknya telah mengingatkan Rara Warih kepada ibunya. Sifat-sifatnya dan tingkah lakunya selagi ibunya itu masih berada di istananya.

“Warih” Pangeran Ranakusuma segera mencoba menarik perhatian puterinya, “Marilah. Kita makan bersama-sama”

“Aku sudah makan ayah. Aku kira ayah tidak akan segera kembali. Mungkin sampai petang. Apalagi aku akan pergi ke tempat eyang. Karena itu aku telah makan lebih dahulu”

“Jika demikian, panggil kangmasmu”

Rara Warih pun kemudian meninggalkan ayahnya yang segera pergi ke ruang belakang. Dicarinya Raden Juwiring untuk pergi ke ruang belakang pula dan makan bersama dengan ayahandanya.

Ternyata bahwa perhitungan Pangeran Ranakusuma tidak jauh menyimpang. Baru saja ia selesai makan bersama Juwiring, telah datang kepadanya dua orang utusan dari istana, untuk memanggilnya menghadap.

“Baru saja aku menghadap Kangjeng Susuhunan” jawab Pangeran Ranakusuma.

“Tetapi Kangjeng Susuhunan bukan saja memanggil Pangeran. Tetapi beberapa orang Panglima, Senapati dan beberapa orang pemimpin yang lain”

“Termasuk Ki Patih?”

“Ya Pangeran”

Pangeran Ranakusuma termenung sejenak. Namun ia menyadari bahwa ia memang harus menghadap. Tentu akan banyak persoalan yang akan dibicarakan. Terutama mengenai lolosnya Pangeran Mangkubumi. Namun tiba-tiba saja Pangeran Ranakusuma teringat sesuatu, lalu ia pun bertanya, “Apakah Kangjeng Susuhunan juga memanggil kumpeni?”

“Beberapa orang perwira telah ada di istana. Mereka sedang berbicara dengan Kangjeng Susuhunan”

Pangeran Ranakusuma merasakan sesuatu yang bergejolak di dalam hatinya. Namun ia tidak segera menjawab selain mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Baiklah” berkata Pangeran Ranakusuma kemudian, “Aku. akan berbenah diri sebentar. Pergilah lebih dahulu, dan sampaikan bahwa sebentar lagi aku akan menghadap”

“Baik Pangeran. Hamba mohon diri”

Pangeran Ranakusuma melepaskan utusan itu dengan denyut jantung yang semakin cepat. Ternyata semuanya akan mulai dengan cepat. Baik Pangeran Mangkubumi, maupun Kangjeng Susuhunan dan kumpeni tidak akan menunda lagi. Dan benturan itu pun akan segera mulai.

Setelah membenahi dirinya, maka Pangeran Ranakusuma pun segera berangkat, setelah ia memberikan beberapa pesan kepada Juwiring.

“Jangan kau takut-takuti adikmu dengan suasana yang berkembang di Surakarta ” pesannya.

“Baik ayahanda”

“Buatlah ceritera yang lain tentang Surakarta. Aku mengatakan kepadanya, bahwa gerombolan-gerombolan perampok agak mengganggu keamanan. Tetapi ia ternyata mengetahui bahwa Pangeran Mangkubumi telah meninggalkan Surakarta. Ia terlalu banyak memperhatikan keadaan yang berkembang di saat terakhir. Dan ternyata ia terlalu banyak mengendapkan ceritera yang didengarnya dari kau”

“O” Juwiring mengangguk-angguk, “Baiklah ayahanda. Aku akan lebih berhati-hati”

Pangeran Ranakusuma pun minta diri pula kepada Rara Warih. Tetapi ia sama sekali tidak memberikan kesan apa-apa.

Seakan-akan seperti biasanya ia pergi menghadap Kangjeng Susuhunan.

Ketika Pangeran Ranakusuma sampai di istana, ternyata yang telah mendahului hadir adalah beberapa orang Pangeran, Senapati dan Ki Patih.

Kehadirannya ternyata telah sangat menarik perhatian. Agaknya sebagian besar dari para Pangeran dan Senapati menganggap bahwa Pangeran Ranakusuma adalah Senapati yang paling baik untuk menghadapi Pangeran Mangkubumi. Sehingga karena itulah, maka sebagian besar dari mereka segera ingin mendengar pendapat Pangeran Ranakusuma.

“Tidak ada yang perlu mendapat perhatian khusus” sahut Pangeran Ranakusuma.

“Tetapi adimas Pangeran Mangkubumi adalah seorang yang pilih tanding” desis seorang Pangeran.

“Memang benar. Tetapi ia seorang diri. Jika ia kemudian mendapat pengikut, mereka adalah petani-petani yang selama ini hanya pandai memegang cangkul”

“Jangan lupa kangmas Pangeran Ranakusuma, bahwa Sukawati dan sekitarnya merupakan daerah pembajaan yang menggetarkan. Bahkan kumpeni pun mulai tergetar melihat kesiagaan daerah itu” Sahut Pangeran yang lain.

“Kumpeni memang pengecut”

Para Senapati yang ada di ruangan itu terperanjat. Tetapi mereka pun segera menyadari bahwa Pangeran Ranakusuma mempunyai dendam pribadi kepada kumpeni. Karena itu, maka mereka pun tidak bertanya lebih lanjut tentang kumpeni. Yang mereka tanyakan kemudian adalah kelebihan Pangeran Mangkubumi dari Raden Mas Said dan Martapura.

“Tidak ada orang yang dapat meredakan perlawanan anakmas Said pada waktu itu selain Pangeran Mangkubumi” berkata seorang Senapati, “itu adalah pertanda kelebihan Pangeran Mangkubumi dari kita semua”

“Benar” jawab Pangeran Ranakusuma, “Kalian tentu mengira bahwa untuk menghentikan perlawanan Raden Mas Said saja kita tidak mampu selain Pangeran Mangkubumi. Apalagi kini Pangeran Mangkubumi sendirilah yang telah mengangkat senjata. Bukan begitu?”

“Ya” sahut beberapa orang berbareng.

“Pangeran Mangkubumi mempunyai pengaruh pribadi yang besar atas Said. Karena itu, dengan mudah ia menyuruh Said untuk sementara menghentikan perlawanannya”

“Tetapi bagaimana dengan kekuatan mereka dibandingkan dengan kekuatan kita sekarang”

“Tergantung tangan yang akan memegang. Tetapi Pangeran Mangkubumi adalah manusia biasa seperti kalian, seperti aku dan seperti kumpeni. Karena itu, semuanya akan dapat terjadi. Kita mempunyai kemungkinan yang paling jelek, sama dengan Pangeran Mangkubumi. Tetapi kita mempunyai beberapa kelebihan Kita dapat menjilat kumpeni” desis Pangeran Ranakusuma.

Kata-kata itu benar-benar telah menggetarkan setiap hati. Namun mereka pun sekali lagi mengendapkan perasaan karena mereka mengerti bahwa Pangeran Ranakusuma membenci orang-orang asing itu sampai ke ujung ubun-ubunnya karena persoalan pribadi.

“Tetapi hal itu tentu sangat tidak menguntungkan” berkata Ki Patih di dalam hatinya.

Tetapi mereka pun kemudian terdiam ketika Kangjeng Susuhunan memasuki ruangan. Mereka membenahi diri dan duduk sambil menundukkan kepala.

Namun demikian hati Pangeran Ranakusuma bagaikan tersentuh api. Ia melihat kehadiran Kangjeng Susuhunan bersama seorang perwira tinggi kumpeni.

“Gila” desis Pangeran Ranakusuma, “Orang asing itu sudah terlalu berkuasa di Surakarta Kenapa ia dapat duduk saja di bawah Kangjeng Susuhunan? Di negerinya ia adalah orang yang tidak berani mendekati pintu istana rajanya”

Tetapi karena itu sudah menjadi kehendak Kangjeng Susu-hunan maka Pangeran Ranakusuma tidak dapat mencegahnya lagi.

Demikianlah maka setelah dengan resmi Kangjeng Susuhunan membuka pertemuan itu dengan berbagai macam tanya jawab atas keselamatan dan tugas masing-masing, maka mulailah Kangjeng Susuhunan mempersoalkan laporan bahwa Pangeran Mangkubumi dengan diam-diam sudah meninggalkan kota.

“Pangeran Mangkubumi menjadi sakit hati karena keputusanku mengambil kembali tanah Sukawati. Dan ini adalah tanggung jawab kita bersama, karena aku telah melaksanakan pendapat kalian” berkata Susuhunan kemudian.

Para Pangeran, Senapati dan para pemimpin yang ada di ruang itu tidak segera menyahut. Mereka menyadari keadaan yang gawat sekali bakal mereka hadapi. Pada saat Raden Mas Said dan Martapura melakukan perlawanan, Surakarta hampir tidak mampu mengatasinya. Yang dapat meredakan perlawanan itu hanyalah Pangeran Mangkubumi.

Kini Pangeran Mangkubumi lah yang agaknya akan mengangkat senjata, justru pada saat Raden Mas Said mulai dengan perjuangannya kembali.

“Pringgalaya” berkata Susuhunan kemudian, “Apa katamu tentang masalah ini?”

“Ampun Kangjeng Susuhunan. Persoalannya sudah jelas bagi hamba, bahwa Pangeran Mangkubumi tidak mau memenuhi perintah Kangjeng Susuhunan. Pangeran Mangkubumi menjadi sakit hati dan meninggalkan istananya dengan diam-diam. Tujuannya tentu jelas bagi hamba. Mengadakan pemberontakan”

Kangjeng Susuhunan mengangguk-angguk.

“Kangjeng Susuhunan” Pringgalaya melanjutkan, “kebencian dan dendam telah membakar hati Pangeran Mangkubumi. Ia ternyata lebih berat mempertahankan secuwil tanah daripada kesetiaannya dan kepatuhannya kepada Kangjeng Susuhunan. Bukan saja sebagai seorang raja tetapi juga seorang saudara tua yang harus dihormati”

“Ya” jawab Kangjeng Susuhunan singkat.

“Dan itu adalah pengkhianatan yang harus dihukum. Seperti pengkhianatan yang telah dilakukan oleh Raden Mas Said dan beberapa orang lain”

Kangjeng Susuhunan mengerutkan keningnya. Tetapi ia masih menjawab singkat, “Ya”

“Kemudian terserah kepada Kangjeng Susuhunan, apakah yang harus hamba lakukan”

Kangjeng Susuhunan termenung sejenak, lalu ia bertanya kepada sidang, “Apakah yang patut kita lakukan atas adinda Pangeran Mangkubumi?”

Tidak seorang pun yang menjawab. Meskipun pada umumnya mereka berpendapat bahwa Pangeran Mangkubumi telah melakukan pemberontakan, namun mereka segan menyebut dan mengucapkan pendapat mereka itu.

Karena beberapa saat lamanya tidak ada seorang pun yang menyatakan pendapatnya, maka Kangjeng Susuhunan pun kemudian berkata, “Jika demikian, apakah kita dapat menganggap bahwa kepergian adinda Pangeran Mangkubumi itu sekedar seperti anak-anak yang sedang merajuk, dan karena itu sebaiknya kita biarkan saja? Nanti, pada suatu saat ia tentu akan kembali lagi ke rumahnya. Tentu ia sayang pula akan harta benda yang ditinggalkannya”

“Ampun Kangjeng Susuhunan” desis Pringgalaya, “Apakah memang demikian halnya? Hamba kira jauh daripada sekedar merajuk”

Kangjeng Susuhunan mengerutkan keningnya. Dipandanginya saudara-saudaranya yang menghadap, para Senapati dan para pemimpin yang lain. Ketika terpandang olehnya Pangeran Ranakusuma Kangjeng Susuhunan menarik nafas. Tetapi Pangeran Ranakusuma itu pun hanya menundukkan kepalanya saja.

Namun dalam pada itu, seorang Pangeran yang lain berkata, “Ampun kakanda Susuhunan. Hamba menjadi cemas mengikuti perkembangan keadaan di Surakarta. Kita sudah mempunyai banyak pengalaman. Bahwa keadaan yang tidak diduga-duga itulah yang selalu menyulitkan kita. Karena itulah kita tidak boleh lengah menghadapi keadaan kini”

“Maksudmu?” bertanya Kangjeng Susuhunan.

“Kita harus bersiap menghadapi segala kemungkinan”

“Kita siapkan prajurit?”

“Hamba kakanda”

Kangjeng Susuhunan mengangguk-angguk. Namun ia kemudian bertanya, “Bagaimana pendapat yang lain? Apakah tindakan adimas Mangkubumi sudah dapat disebut satu pemberontakan?”

Beberapa orang saling berpandangan. Namun hanya seorang yang menyahut, “Hamba Kangjeng Susuhunan. Menurut hemat hamba, Pangeran Mangkubumi sudah memberontak”

Kangjeng Susuhunan menarik nafas dalam-dalam. Keragu-raguan yang nampak pada para bangsawan, para Senapati dan para pemimpin pemerintahan, menunjukkan betapa besar perbawa Pangeran Mangkubumi atas mereka. Meskipun Pangeran Mangkubumi tidak hadir di dalam pertemuan itu namun mereka masih juga merasa segan untuk menyebutnya sebagai seorang pemberontak meskipun sebenarnya mereka berpendapat demikian.

“Baiklah” berkata Kangjeng Susuhunan kemudian, “meskipun kalian tidak mengatakan, namun aku mengerti bahwa kalian tidak dapat membiarkan tindakan adimas Pangeran Mangku-bumi. Karena itu. baiklah kita mencoba untuk memecahkan persoalan ini. Aku berpendapat bahwa kita wajib mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan. Penjagaan harus diperkuat dan setiap orang yang keluar masuk kota harus mendapat pengawasan”

Para bangsawan, Senapati dan para pemimpin menunggu kelanjutannya. Tetapi Kangjeng Susuhunan pun kemudian terdiam untuk beberapa saat sehingga orang-orang yang ada di ruang itu menjadi gelisah.

Karena Kangjeng Susuhunan tidak berkata apapun lagi, maka Ki Pringgalaya memberanikan diri untuk bertanya, “Ampun Kangjeng Susuhunan. Apakah cukup dengan memperketat penjagaan?”

Kangjeng Susuhunan mengerutkan keningnya. Lalu, “Jadi bagaimana sebaiknya?”

“Agaknya para Senapati dapat mengajukan pendapatnya”

“Aku sudah memberi kesempatan. Tetapi tidak seorang pun yang menyatakan pendapatnya”

Suasana menjadi hening sejenak. Baru kemudian seorang Senapati muda berkata, “Ampun Kangjeng Susuhunan. Mungkin para Senapati sependapat, bahwa untuk menghadapi keadaan yang gawat ini, kita tidak dapat sekedar memperketat pengawasan atas kota Surakarta”

“Jadi bagaimana?”

“Prajurit Surakarta harus turun ke medan”

“Medan yang mana? Tidak ada peperangan”

“Tetapi Pangeran Mangkubumi tentu sudah mempersiapkan sebuah peperangan”

Kangjeng Susuhunan mengangguk-angguk. Katanya, “Teruskan pendapatmu”

“Surakarta harus menyusun barisan. Kita harus melumpuhkan pusat kekuatan Pangeran Mangkubumi sebelum semuanya terjadi. Kelambatan pada kita akan berarti kesulitan yang berkepanjangan”

“Begitu” suara Kangjeng Susuhunan datar, sehingga menimbulkan kebimbangan bagi mereka yang mendengarnya.

Karena itu, beberapa saat mereka yang ada di dalam bilik itu pun terdiam. Mereka mencoba menilai sikap Kangjeng Susuhunan Paku Buwana itu.

“He” Kangjeng Susuhunan lah yang memulainya, “Kenapa kalian diam saja. Teruskan. Apakah pendapat kalian”

“Kami sudah mengajukan pendapat kami” jawab Pangeran yang baru saja berbicara.

“Baiklah. Jadi kalian berpendapat bahwa kita harus mengerahkan prajurit untuk menyerang adimas Pangeran Mangkubumi. Atau barangkali lebih tegas lagi, menduduki Sukawati yang telah aku tarik kembali daripadanya”

Para bangsawan dan Senapati yang ada di ruang itu termangu-mangu. Ketegasan sikap Kangjeng Susuhunan itu justru membuat mereka menjadi ragu-ragu.

Namun dalam pada itu, Ki Pringgalaya lah yang menjawab, “Hamba Kangjeng Susuhunan. Memang tidak ada jalan yang lebih baik daripada melumpuhkan kekuatan Pangeran Mangkubumi di sarangnya sendiri”

“Baiklah. Aku tidak berkeberatan. Aku akan segera mengangkat seorang Senapati yang akan memimpin pasukan Surakarta di dalam tugas ini. Orang yang tentu saja memiliki kemampuan yang setingkat dengan adimas Pangeran Mangkubumi”

Hampir di luar kesadaran mereka, maka para Senapati, para bangsawan dan para pemimpin di Surakarta itu serentak terpaling kepada Pangeran Ranakusuma yang duduk diam seolah-olah membeku. Satu kalimat pun tidak ada yang terlontar dari mulutnya sejak para bangsawan dan para Senapati membicarakan masalah Tanah Sukawati.

Agaknya Kangjeng Susuhunan mengerti maksud para Bangsawan dan Senapati itu. Karena itu maka ia pun berkata, “Apakah kalian sudah bersepakat untuk menunjuk adimas Pangeran Ranakusuma?”

“Kami belum membicarakannya” jawab salah seorang Pangeran, “Tetapi kami bersama-sama mengetahui bahwa kangmas Pangeran Ranakusuma adalah orang yang paling sesuai dengan tugas itu”

“Ya Kangjeng Susuhunan” sahut Pringgalaya, “tugas itu memang pantas bagi Pangeran Ranakusuma”

Kangjeng Susuhunan mengangguk-angguk. Agaknya ia memang sependapat dengan pendapat para Pangeran dan Senapati di Surakarta itu.

Tetapi sebelum Kangjeng Susuhunan memutuskan, maka perwira tinggi kumpeni yang hadir di dalam sidang itu pun tiba-tiba memotong pembicaraan, “Kangjeng Susuhunan. Aku tidak setuju jika Pangeran Ranakusuma memegang pimpinan prajurit Surakarta kali ini”

Semua orang yang hadir terkejut mendengar pendapat itu. Apalagi Pangeran Ranakusuma sendiri. Wajahnya menjadi merah oleh berbagai perasaan yang bercampur baur di dalam dadanya.

Perwira itu agaknya mengerti bahwa para bangsawan. Senapati dan pimpinan pemerintahan di Surakarta kecewa. Karena itu maka katanya, “Kumpeni ingin mengusulkan seorang Senapati yang lain. Terserah kepada Kangjeng Susuhunan. Tetapi jangan Pangeran Ranakusuma. Kumpeni menganggap Pangeran Ranakusuma sebagai seorang Pangeran yang cakap dan pandai. Tetapi tidak untuk perang kali ini”

“Apa alasanmu” bertanya Kangjeng Susuhunan.

“Masih ada orang lain yang dapat diangkat”

“Tetapi adimas Pangeran Mangkubumi adalah seorang prajurit yang pilih tanding”

“Kumpeni sanggup membunuhnya. Bagaimanapun juga kemampuannya, jika peluru menembus dadanya, maka ia akan mati”

“Tidak. Pangeran Mangkubumi tidak dapat ditembus oleh peluru kumpeni”

“Bohong. Tidak ada orang yang tidak dapat ditembus oleh peluru”

“Apakah kau ingin melihat” tiba-tiba saja Pangeran Ranakusuma bertanya.

“Ya” jawab Kumpeni itu.

“Baik. Kita bertaruh. Jika ada orang yang tidak dapat ditembus oleh peluru, maka kepalamu pun harus dicoba dengan sebutir peluru yang sama” geram Pangeran itu lebih lanjut

Wajah kumpeni itulah yang menjadi merah padam.

“Nah” Pangeran Ranakusuma bergeser, “Cobalah. Aku sama sekali tidak bermaksud menyombongkan diri. Tetapi aku hanya ingin menutup mulutmu”

Kumpeni itu menjadi semakin marah. Sementara itu Pangeran Ranakusuma berkata lebih lanjut, “Tembaklah aku. Dimanapun yang kau kehendaki. Jika pelurumu menembus kulitku, aku akan mati. Jika tidak, maka kaulah yang akan mati”

Tiba-tiba saja kumpeni itu menjadi ragu-ragu. Namun dalam pada itu Kangjeng Susuhunan segera menengahi, “Kita berbicara tentang Pangeran Mangkubumi. Baiklah. Aku akan segera menunjuk Senapati yang lain yang akan pergi ke medan bersama kumpeni. Tetapi aku tetap menunjuk adimas Pangeran Ranakusuma sebagai salah seorang Senapati pengapit dari gelar apapun yang akan dipasang.

“Kita akan berunding Kangjeng Susuhunan” berkata perwira kumpeni itu.

Darah Pangeran Ranakusuma serasa mendidih karenanya. Tetapi ia pun kemudian berdiam diri karena Kangjeng Susuhunan masih duduk di ruang itu. Ia tidak mau mengulangi sikap Pangeran Mangkubumi yang dengan berani melawan seorang pejabat tertinggi Kumpeni yang kata-katanya merupakan undang-undang. Jika demikian Surakarta hanya akan bertambah kalut, dan kumpeni justru akan semakin banyak menarik keuntungan.

“Jika demikian” berkata Kangjeng Susuhunan kemudian, “Kalian dapat meninggalkan tempat ini Bersiaplah dengan pasukan masing-masing. Sebentar lagi, Senapati yang memimpin pasukan akan aku umumkan”

Para bangsawan dan Senapati termangu-mangu sejenak. Mereka tidak menyangka bahwa kumpeni dengan terbuka telah menolak Pangeran Ranakusuma. Tentu mereka mempunyai pertimbangan tersendiri atas Pangeran yang telah pernah melakukan perang tanding dan membunuh seorang perwira kumpeni karena dendam pribadi. Karena kumpeni telah melangkahi pagar ayu, sehingga ia harus mempertahankan kehormatannya di arena perang tanding. Namun ternyata bahwa kemampuan Senapati dari Surakarta itu tidak kalah dari perwira kumpeni yang mengaku telah menjelajahi lautan dan benua dari ujung sampai ke ujung bumi.

Namun para bangsawan itu tidak dapat duduk membeku di tempatnya. Merekapun kemudian meninggalkan sidang itu dengan hati yang berdebaran. Kekecewaan Pangeran Ranakusuma tentu akan mempunyai akibat yang luas bagi Surakarta.

Tetapi para bangsawan dan Senapati itu pun menyadari bahwa Kangjeng Susuhunan tidak akan dapat mengabaikan kumpeni. Bantuan kumpeni dengan senjata apinya akan lebih banyak artinya dari seorang Pangeran Ranakusuma.

Hanya beberapa orang saja di antara mereka yang sempat mempertimbangkan dengan baik, bahwa jika kumpeni bersedia membantu Kangjeng Susuhunan memerangi Pangeran Mangkubumi, maka bukan berarti bahwa kumpeni telah berbaik hati. Kumpeni tentu mempunyai pamrih dan pertimbangan sebaik-baiknya.

Dalam pada itu. Pangeran Ranakusuma yang dengan wajah merah padam meninggalkan sidang, langsung berpacu kembali ke istananya. Roda keretanya berderap di atas jalan berbatu-batu.

Beberapa orang bangsawan yang melihat kereta Pangeran Ranakusuma itu berpacu hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Mereka menangkap getar perasaan Pangeran yang memiliki kemampuan yang luar biasa itu.

“Jika kumpeni tadi bersedia menembakkan senjatanya, maka Kumpeni itulah yang akan mati” desis seorang Senapati muda.

“Setidak-tidaknya ia akan mengalami goncangan perasaan dan akan menjadi malu sekali. Pangeran Ranakusuma tentu bukannya tidak beralasan bahwa ia sudah menantang kumpeni itu”

Yang lain menyambung, “Aku percaya, bahwa peluru kumpeni tidak akan dapat menembus kulitnya. Seperti juga peluru kumpeni tidak akan dapat menembus kulit Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said yang masih muda itu”

“Sebentar lagi, Raden Juwiring akan dapat berbuat seperti ayahnya pula. Sekarang sudah nampak gejala-gejalanya bahwa Raden Juwiring akan mampu mewarisi ilmu ayahandanya”

Para Senapati itu terdiam. Tetapi terasa desir yang tajam di dadanya. Melawan Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said sekaligus seakan-akan merupakan suatu kuwajiban yang tidak akan mungkin dilakukan oleh Surakarta meskipun dengan kumpeni sekalipun.

Bersambung ke jilid 17

 

Sumber DJVU http://gagakseta.wordpress.com/

Ebook oleh : Dewi KZ

http://kangzusi.com/ atau http://dewikz.byethost22.com/

kembali | lanjut

Satu Tanggapan

  1. Weh…weh…weh….
    Rejeki nomplok, jilid 16 dah hadir
    makasih mas brow….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s