BdBK-14


BUNGA DI BATU KARANG

JILID 14

kembali | lanjut

BdBK-14SEKALI lagi Warsi menyembunyikan wajahnya dan bergeser surut. Sedang kawan-kawannya mulai berani tertawa tertahan-tahan sambil mendorong tubuh Warsi yang pendek itu.

“Dan siapa namamu anak manis?” tiba-tiba yang lain bertanya sambil memandang Arum yang duduk bersandar batang pohon duwet.

Sebenarnya Arum mempunyai sikap yang lain daripada gadis-gadis kawannya bermain. Tetapi ia tidak mau menyatakan dirinya dan kematangan jiwanya. Itulah sebabnya, maka ia pun berpura-pura menunduk sambil bermain-main dengan ujung kainnya.

“Siapa?”

Arum tidak menjawab. Tetapi kawan-kawannyalah yang menyebut namanya.

“Arum. Namanya Arum”

“O, nama yang bagus sekali” desis anak muda itu.

Tetapi Arum sendiri tetap menundukkan kepalanya sambil mengumpat di dalam hati, “Memuakkan sekali”

Meskipun demikian Arum masih tetap menundukkan kepalanya, dan dibiarkannya kawan-kawannya menyebut namanya berulang kali dan yang lain mengguncang-guncang.

Anak-anak muda itu tertawa melihat sikap gadis-gadis desa yang masih diliputi oleh perasaan malu dan segan. Tetapi mereka dapat mengerti, karena lingkungan hidup yang membentuk mereka adalah demikian.

“Baiklah” berkata anak-anak muda itu, “Aku tidak akan memaksa kalian untuk bersikap lain. Tetapi kalian tentu memiliki selera seperti gadis-gadis yang lain. Gadis-gadis kota dan gadis-gadis di daerah yang lebih ramai dari padukuhan sepi ini. Apakah kalian pernah melihat permainan seperti ini?”

Gadis-gadis itu tertarik ketika salah seorang dari anak-anak muda itu mengambil seuntai kalung merjan yang bagus dari kantong yang dibawanya. Sambil mengguncang-guncang kalung itu, ia berkata, “Semua gadis senang memiliki kalung seperti ini. Meskipun kalung ini tidak semahal kalung emas, tetapi kalung ini tampaknya lebih cerah dan menyenangkan”

“Bagus sekali” hampir berbareng beberapa orang gadis memujinya.

“Tentu” sahut anak muda itu, “Aku membeli kalung ini di Semarang. Bagus sekali. Sebagus nama-nama Arum dan Warsi”

“Ah” gadis-gadis itu mulai saling mendorong lagi. Dan Arum pun tidak mau bersikap lain meskipun ia mengumpat-umpat di dalam hatinya.

“Baiklah. Tetapi, ada yang ingin aku tanyakan kepada kalian. Yang pertama, siapa yang senang akan kalung merjan ini. Dan yang kedua, apakah kalian sering melihat sesuatu yang menarik perhatian di daerah ini”

“Maksud tuan?” beberapa orang gadis bertanya bersama-sama

“Apakah kalian pernah melihat perampok yang berkeliaran di sini? Atau mendengar beritanya bahwa di sini ada perampok-perampok. Atau laskar yang lain”

Gadis-gadis itu saling berpandangan.

“Kami memang sedang mencari keterangan tentang perampok-perampok agar perjalanan kami tidak terganggu”

“Tetapi” tiba-tiba salah seorang gadis bertanya, “Bukankah perampok-perampok itu sudah ditangkap”

“Tentu belum semua” kawannya yang menyahut, “Tetapi berita tentang perampok itu memang bersimpang siur di sini”

“Maksudmu?” bertanya salah seorang anak muda itu, “Apakah di sini ada laskar yang bukan perampok?”

“Tidak ada. Semuanya tidak ada. Tetapi kami mendengar bertanya, bahwa sebenarnya perampok-perampok yang pernah disebut sebagai laskar Raden Mas Said itu sebenarnya salah. Mereka adalah orang-orang yang sengaja dibuat oleh kumpeni untuk mengelabui rakyat, agar membenci pasukan Raden Mas Said”

Anak-anak muda itu mengerutkan keningnya. Mereka memang pernah mendengar, bahwa sikap rakyat Jati Sari terhadap perampok-perampok itu memang agak lain. Ternyata bahwa rakyat Jati Sari tidak mudah dikelabui seperti rakyat di Padukuhan-padukuhan terpencil lainnya.

Dalam pada itu, dada Arum menjadi berdebar-debar. Tetapi ia tidak dapat mencegah kawan-kawannya mengatakan apa yang mereka ketahui.

“Jadi” berkata salah seorang dari kedua anak-anak muda itu, “Kalian tidak percaya bahwa yang merampok itu laskar Raden Mas Said, dan menganggap bahwa mereka justru orang-orang yang sengaja dibuat oleh kumpeni?”

“Ya” sahut seorang gadis kurus.

Anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Tetapi keduanya lalu tersenyum sambil mengayunkan kalung merjannya. Katanya, “Nah, siapakah yang senang memiliki kalung ini”

Hampir berbareng gadis-gadis itu berteriak, “Aku, aku”

Anak-anak muda itu tertawa. Katanya, “Baik, baik. Jangan berebut. Aku membawa banyak sekali kalung merjan. Kalung ini memang tidak terlalu mahal. Tetapi sangat menarik. Kawan-kawanmu yang kebetulan tidak ada di sini tentu akan iri hati. Nah, hitunglah, ada berapa orang gadis di sini?”

Gadis-gadis itu pun saling menghitung di antara mereka sendiri. Dan berebutan, mereka berteriak, “Tujuh, tujuh, “Tetapi yang lain berkata, “delapan, delapan orang”

“Salah” seorang anak muda itu berkata, “Delapan. Benar, ada delapan orang. Nah, aku akan memberikan delapan kalung merjan yang besar”

Anak muda itu pun kemudian bangkit dan mengambil kalung merjan. Sambil melangkah semakin dekat ia mengulurkan tangannya menyerahkan kalung itu.

Gadis-gadis itu pun kemudian berebutan berdiri untuk menerima kalung itu. Tetapi anak muda itu masih belum memberikan. Katanya, “Sebentar. Masih ada satu pertanyaan. Siapakah yang mula-mula mengatakan bahwa perampok-perampok itu adalah kaki tangan kumpeni? Bukan anak buah Raden Mas Said?”

Gadis-gadis itu terdiam. Sejenak mereka saling memandang. Tetapi akhirnya mereka berdesis, “Kami tidak tahu. Tetapi yang kami dengar adalah dari orang-orang tua kami. Mereka kadang-kadang berbicara tentang perampok-perampok itu jika mereka berada di sawah atau pategalan”

Anak muda itu mengangguk-angguk. Lalu, “Tetapi sebut salah seorang dari mereka yang berpendirian begitu. Aku ingin bertanya kepadanya karena aku akan menempuh perjalanan jauh, agar aku mengetahui persoalannya dengan pasti”

Arum menjadi berdebar-debar. Tetapi seperti gadis-gadis yang lain ia ikut mengerumuni merjan itu agar tidak menimbulkan kesan yang lain.

Namun demikian, ia sedang berpikir, bagaimanakah sebaiknya menjawab pertanyaan itu, Arum menjadi semakin cemas ketika ia melihat seorang kawannya yang berparas bulat telur dengan mata yang bulat berkata meskipun dengan kepala tunduk, “Barangkali aku tahu”

Arum tidak mau membiarkan kawannya itu menyebut nama seseorang. Sebab dengan demikian orang itu akan dapat menjadi rambatan untuk menemukan sumber yang sebenarnya. Dan sumber itu adalah dirinya sendiri.

Karena itu dengan serta-merta ia menyahut, “Ya, aku juga tahu. Orang yang mula-mula mengatakannya adalah seorang yang bertubuh gemuk. Aku tahu benar karena aku melihatnya”

Kawan-kawannya kini berpaling kepada Arum. Kedua anak muda itu pun memperhatikan kata-katanya dengan saksama.

“Orang bertubuh gemuk dan naik seekor kuda berwarna coklat. Ia datang bersama seorang yang bertubuh sedang dengan kuda belang-belang. Merekalah yang mengatakan kepada orang-orang yang saat itu sedang berada di sawah, bahwa perampok-perampok itu bukan anak buah Raden Mas Said”

“Jadi kau mendengar sendiri ceritera orang itu?” bertanya anak muda itu dengan wajah yang tegang.

“Aku mendengar sendiri” jawab Arum.

Anak-anak muda itu mendekatinya. Lalu, “Katakan, katakan, apa yang kau dengar dari mereka”

Dan Arum pun mulai menyusun ceritera tentang dua orang berkuda yang pertama-tama mengatakan bahwa perampok-perampok itu bukan anak buah Raden Mas Said. Arum pun mengatakan bahwa perampok-perampok yang terbunuh itu pun hanyalah sekedar umpan untuk memancing kepercayaan rakyat dengan mengorbankan jiwa orang-orang tamak itu. Lalu akhirnya, “Tetapi orang itu mengancam agar kami tidak menyebutkan mereka berdua. Bahkan keduanya berkata bahwa semua kaki tangan kumpeni akhirnya akan dibunuh oleh kumpeni sendiri untuk menghapuskan jejak”

Kedua anak muda itu menjadi semakin tegang. Tetapi mereka tidak dapat berbuat banyak. Menilik sikap dan tatapan mata gadis-gadis Jati Sari, mereka telah berkata dengan jujur. Dan sudah, barang tentu bahwa mereka tidak akan dapat menyusun ceritera itu sendiri.

“Kenapa kau sekarang mengatakan tentang kedua orang itu?” bertanya salah seorang dari kedua anak muda itu, “Bukankah mereka telah mengancam bahwa kau tidak boleh menyebut mereka”

“Mereka sekarang sudah pergi jauh sekali. Dan mereka tentu tidak tahu bahwa sekarang aku mengatakannya kepada tuan”

Anak-anak muda itu tersenyum. Pikiran gadis desa memang terlampau sederhana. Namun jujur dan dapat dipercaya.

Itulah sebabnya maka kedua anak-anak muda itu pun mengangguk-angguk. Salah seorang dari mereka berkata, “Terima kasih. Nah, sekarang aku akan membagi kalung merjan ini”

Gadis-gadis itu pun semakin berdesakan maju. Tetapi anak muda yang memegang kalung merjan itu masih belum memberikannya. Dan bahkan ia masih bertanya, “Tunggu sebentar. Aku masih ingin bertanya kepada Arum”

Arum menjadi semakin berdebar-debar.

“Arum. Kenapa ceritera orang gemuk itu tersebar di Jati Sari? Apakah kau mengatakan kepada kawan-kawanmu, bahwa apa yang dikatakan oleh orang gemuk itu benar?”

Arum menjadi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian jawabnya, “Aku tidak mengatakan”

“Jadi siapa saja di antara kau dan orang-orang yang ada di sawah waktu itu yang menyebarkan pendapat orang gemuk berkuda coklat itu?”

Arum menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku tidak tahu”

Anak muda itu tersenyum. Katanya, “Sudahlah, jangan hiraukan lagi. Kau menjadi pucat Tetapi kau justru bertambah cantik”

“Ah” Arum menjadi tersipu-sipu.

“Nah, kau akan mendapat dua untai kalung merjan” berkata anak muda itu, “dan kau mendapat kehormatan memilih lebih dahulu”

Wajah Arum masih kemerah-merahan. Apalagi ketika tangan anak muda itu menyentuh dagunya sambil berkata, “Pilihlah”

Kawan-kawannya mendorong Arum semakin dekat. Dan Arum tidak melawan. Dengan ragu-ragu ia memilih dua untai kalung yang berwarna kebiru-biruan di antara warna kuning yang lembut.

“Kau pandai memilih warna. Kau tidak memilih warna yang tajam. Kau mempunyai kelainan dengan gadis-gadis yang lain” berkata anak muda itu, “caramu memilih warna sangat menarik”

Sekali lagi Arum menundukkan kepalanya. Tetapi kali ini ia benar-benar menjadi berdebar-debar. Ternyata kedua orang itu memiliki ketajaman perasaan yang tidak disangkanya. Caranya memilih warna memang tidak sejalan dengan sikapnya yang seperti gadis-gadis yang lain, bodoh, jujur, dan sederhana. Tetapi ia tidak menduga, bahwa orang-orang yang tidak dikenal itu memperhatikannya sampai pada caranya memilih warna.

Dan ternyata ketika anak muda itu memberi kesempatan kepada Warsi untuk memilih kalung merjan itu, ia memilih kalung yang berwarna merah, kuning tajam diseling oleh warna ungu yang tua. Sedang kawan-kawannya yang lain memilih warna-warna yang menyolok dan silau.

Setelah semuanya memiliki kalung itu, maka kedua anak muda itu pun kemudian berkata, “Nah, semuanya sudah memiliki kalung yang bagus. Sekarang aku akan pergi. Aku akan meneruskan perjalanan meskipun aku masih belum mendapat keterangan yang jelas mengenai perampok-perampok itu, sehingga aku masih ragu-ragu. Baiklah. Tetapi barangkali aku boleh singgah di rumahmu pada kesempatan lain Warsi, dimana rumahmu?”

“Ah rumahku hanya sekedar gubug miring yang jelek. Malu ah?” gadis itu menyembunyikan wajahnya di punggung kawannya.

Anak muda itu tersenyum. Lalu, “Kalau Arum. dimana rumahmu?”

Sebelum Arum menjawab, kawan-kawannya telah mendahului
“Itu, di padepokan itu. Rumahnya besar, halamannya luas”

“Ah” Arum pun menunduk dalam-dalam.

“O” anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu, “Baiklah. Jika kau tidak berkeberatan, aku akan singgah. Jika aku kelak lewat di daerah ini lagi, aku akan membawa kalung merjan yang berwarna lunak seperti kesenanganmu Arum”

Arum tidak menjawab. Hampir saja ia memukul tangan anak muda itu ketika tangan anak muda itu sekali lagi menyentuhnya. Untunglah bahwa ia menyadari keadaannya pada waktu itu sehingga ia hanya dapat melangkah surut, dan bersembunyi di antara kawan-kawannya.

“Sudahlah, kami akan mohon diri. Terima kasih atas sikap kalian yang ramah. Kalian adalah gadis-gadis yang cantik. Gadis-gadis desa adalah gadis-gadis yang cantik, justru karena kalian bekerja setiap hari”

Ketika gadis-gadis itu menjadi tersipu-sipu, maka kedua anak muda yang tampan itu pun melangkah meninggalkan mereka. Sekali mereka masih berpaling dan melambaikan tangannya. Gadis-gadis itu pun berebutan membalas lambaian tangan itu dengan melambaikan kalung-kalung mereka yang berwarna cerah.

Ternyata kalung itu sangat menyenangkan hati gadis-gadis itu, selain Arum. Ia menjadi gelisah dan cemas. Firasatnya mengatakan bahwa kedua anak-anak muda itu tidak melepaskan perhatian mereka kepadanya. Bukan sebagai seorang gadis yang menurut mereka adalah gadis yang cantik. Tetapi kelengahannya memilih warna dan barangkali dengan demikian kedua anak muda itu menghubungkan hal itu dengan sikapnya yang lain, telah membuatnya gelisah.

“Marilah kita pulang” gadis-gadis itu pun saling mengajak. Mereka ingin segera menunjukkan kalung masing-masing kepada orang tua mereka dan kepada kawan-kawannya yang kebetulan tidak bersama mereka.

“Marilah, marilah” Mereka saling menyahut.

“Sebentar lagi aku akan menyusul kalian” berkata Arum, “Aku masih akan memetik terung”

“Marilah aku bantu”

“Terima kasih. Silahkan berjalan dahulu”

Gadis-gadis itu pun kemudian meninggalkan Arum yang pergi ke pategalannya untuk mengambil beberapa buah terung.

Namun sebenarnya Arum ingin memisahkan diri dari kawan-kawannya. Ia ingin mendapat kesempatan merenungi apa yang baru saja terjadi.

Sambil memetik terung, Arum mencoba menilai lagi sikapnya, kata-katanya dan pilihannya.

“Hem” Arum menarik nafas dalam-dalam, “mudah-mudahan tidak menumbuhkan persoalan bagiku dan apalagi bagi padepokan Jati Aking”

Ketika Arum kemudian meninggalkan pategalannya, langkahnya tertegun ketika ia melihat dua orang lain lagi berjalan dengan tergesa-gesa. Ketika keduanya melihatnya maka mereka pun berhenti pula.

Tetapi kali ini orang itu sangat menarik perhatian Arum. Bahkan kemudian dengan tergesa-gesa ia mendekatinya sambil berdesis, “Paman”

Orang itu adalah seorang yang bertubuh raksasa. Sambil tersenyum ia berkata, “Bukankah kau Aram, saudara seperguruan Raden Juwiring”

“Ya paman. Darimana paman, atau akan kemana?” jawab Arum yang sudah mengetahui serba sedikit tentang perkembangan watak orang bertubuh raksasa itu.

Orang itu memandang kawannya sejenak, lalu katanya, “Ada sedikit kepentingan. Tetapi aku tidak akan mengganggumu, kecuali jika kau mengerti”

“Maksud paman?”

“Arum” berkata orang itu, “Aku telah bertemu dengan Buntal”

“He, dimana paman Sura bertemu dengan Buntal?”

Sura tersenyum sejenak, lalu diceriterakannya pertemuannya dengan Buntal.

“O, pada saat kakang Buntal berangkat ke Sukawati?” bertanya Arum, namun kemudian, “Tetapi apakah paman sekarang berada di dalam laskar Raden Mas Said”

“Ya. Aku tidak usah bersembunyi, karena aku tahu sikapmu dan sikap ayahmu. Aku sedang dalam perjalanan mengikuti dua orang anak muda yang aku kira pergi ke padukuhan ini. Menurut keterangan, mereka harus mendapatkan keterangan tentang sikap orang-orang Jati Sari yang aneh, yang menentang pendapat umum, bahwa kami, laskar Raden Mas Said adalah perampok-perampok”

“Tetapi apakah memang demikian?”

“Tentu tidak Arum. Memang mungkin ada satu dua orang yang menodai perjuangannya dengan ketamakan. Tetapi sikap kalian sudah benar. Aku sudah mendengar sikap orang-orang Jati Sari. Perampok-perampok itu memang dibuat oleh kumpeni, meskipun ada di antara mereka yang diupah untuk dibunuh. Dan upah itu tidak akan pernah mereka terima” Sura terdiam sejenak, lalu, “Apakah kau melihat dua orang yang tidak kalian kenal lewat di padukuhan ini?”

“Paman, kadang-kadang di daerah ini memang lewat orang-orang yang mencurigakan. Tetapi baru saja ada dua orang anak muda yang lewat membawa kalung-kalung merjan ini. Mereka memang bertanya tentang sikap kami”

“Nah itulah yang aku ikuti. Tetapi aku kehilangan jejaknya di bulak sebelah. Dimana mereka sekarang?”

Arum menjadi ragu-ragu. Sejenak dipandanginya wajah Sura, kemudian wajah kawannya yang tampaknya selalu bercuriga.

“Paman” berkata Arum, “Mereka mengaku sebagai pedagang. Mereka memang ingin mendapat keterangan tentang perampok-perampok itu, yang katanya agar mereka tidak menemui kesulitan di perjalanan”

Sura mengangguk-angguk sambil tersenyum, “Ya, merekalah yang kami ikuti”

Wajah Arum menjadi tegang. Hampir di luar sadarnya ia berdesis, “Apakah maksud paman?”

Sura mengerutkan keningnya. Tetapi ia pun kemudian tertawa sambil berkata, “Jangan takut Arum. Aku tidak akan merampoknya”

“O, tidak, tidak. Bukan maksudku paman, “Arum menjadi tergagap. Tetapi Sura justru tertawa.

“Tidak apa-apa. Memang di masa seperti ini, setiap orang pantas dicurigai. Tetapi aku minta kau percaya kepadaku. Jika kau bertemu dengan Buntal, bertanyalah tentang aku”

“Ya, ya paman. Aku percaya” Arum menarik nafas, lalu, “kedua orang itu lewat jalan ini”

“Apa saja, yang dilakukan menurut pengetahuanmu?”

Arum menjadi ragu-ragu. Tetapi ia pun kemudian menceriterakan apa yang dilihat dan didengar dari kedua anak-anak muda yang tampan dan mengaku pedagang itu. Dikatakannya pula niat keduanya untuk singgah, karena ia sudah menyebut orang gemuk berkuda coklat sebagai sumber berita tentang perampok-perampok yang sebenarnya adalah kaki tangan kumpeni”

Sura mengangguk-angguk pula. Katanya, “Kau sudah melakukan sesuatu yang berbahaya bagimu Arum. Tetapi siapakah sebenarnya sumber berita itu jika kau mengetahuinya”

Arum masih tetap ragu-ragu. Dan akhirnya ia menggelengkan kepalanya sambil menjawab, “Aku tidak tahu paman”

“Baiklah. Aku akan mencoba mengikutinya. Mungkin aku terpaksa menghentikan mereka dan membawanya kembali ke kota. Atau, menghadap Raden Mas Said atau orang-orang kepercayaannya”

Arum mengangguk kecil. Ia tahu apa yang dimaksudkan oleh Sura. Tetapi ia tidak menjawab.

“Sudahlah Arum. Berhati-hatilah. Jaga dirimu baik-baik Kau adalah anak Kiai Jati Aking, maksudku Kiai Danatirta dari Jati Aking. Kau tentu memiliki kelainan dari gadis-gadis sebayamu, kau akui atau tidak kau akui. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu atasmu”

Arum menundukkan kepala sambil menyahut, “Aku tidak lebih dari seorang gadis padesan paman”

“Ah, semua orang dari padepokan Jati Aking sangat berendah hati. Raden Juwiring adalah sebuah gambaran yang paling baik bagi anak-anak muda bangsawan. Buntal dan tentu juga kau”

Wajah Arum masih tetap menunduk. Tidak dibuat-buat seperti ketika dua orang anak-anak muda yang membawa merjan itu memuji kecantikannya.

“Pulang sajalah Arum. Dan ceriterakan semuanya kepada ayahmu. Semua yang kau dengar dan kau lihat. Ayahmu akan dapat mengambil kesimpulan”

Arum menganggukkan kepalanya.

Sura dan kawannya pun kemudian minta diri untuk melanjutkan perjalanannya. Mereka berdua masih mengharap untuk dapat menemukan kedua anak muda yang telah membagikan merjan kepada gadis-gadis Jati Sari

Sepeninggal Sura, maka Arum pun bergegas pulang sambil menjinjing bakul yang berisi beberapa buah terung. Di sepanjang jalan, angan-angannya selalu dibayangi oleh kedua anak-anak muda yang memang mencurigakan itu.

Ketika ia sampai padukuhan Jati Sari, ia melihat kawan-kawannya yang mendahuluinya, ternyata berdiri di depan gardu dikerumuni oleh kawan-kawannya yang lain. Mereka saling berebutan melihat kalung merjan yang berwarna cerah dan yang jarang dijumpai di padukuhan itu.

Arum yang mendekati mereka yang berada di depan gardu itu pun kemudian dikerumuni pula oleh kawan-kawannya. Mereka pun ingin melihat kalung yang dimiliki Arum. Bahkan dua untai.

“Ia memilih lebih dahulu daripada kami” berkata salah seorang temannya.

“Ia mendapat dua untai. Kami masing-masing satu” sahut yang lain.

“O, agaknya anak muda itu jatuh cinta kepadamu Arum” gurau seorang kawannya yang tidak mendapat kalung.

Wajah Arum menjadi merah.

“Ya. Anak muda yang kaya itu jatuh cinta kepadamu. Beruntunglah kau Arum. Ia tentu akan datang kembali dan membawa kalung lebih banyak lagi”

“Ah” Arum tidak menjawab. Jika ia menjawab sepatah saja maka kawan-kawannya akan mengganggunya semakin tajam. Karena itu maka Arum hanya dapat menundukkan kepalanya.

Tetapi agaknya kawan-kawannya tidak begitu tertarik pada kalung Arum yang berwarna lunak itu. Mereka lebih senang merjan yang berwarna tajam, sehingga seorang kawannya berkata, “He. Arum, kenapa kau memilih warna yang suram ini?”

Sejenak Arum termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Aku menjadi gemetar sehingga aku tidak dapat memilih. Aku mengambil saja di antara untaian kalung di tangannya”

Kawan-kawannya tertawa riuh Dan salah seorang berkata, “Ya, sekali-sekali anak muda itu menggamitnya”

Dan Warsi berteriak, “Di dagunya”

Meledaklah suara tertawa di sudut desa itu, sehingga beberapa orang laki-laki yang berada di sawah di pinggir desa itu berpaling sejenak. Dilihatnya gadis-gadis padesan sedang bergurau dengan riuhnya, sehingga mereka hanya dapat menarik nafas saja.

Seorang tua yang lewat di dekat mereka pun berhenti sejenak dan bertanya, “Apa yang menarik?”

“O, kakek” sahut Warsi, “kalung merjan yang bagus”

Kakek itu berhenti sejenak, lalu, “Darimana kau dapatkan kalung ini?”

“Dari dua orang pedagang yang lewat”

“He, kau sudah kenal?”

“Belum”

“Bagaimana mungkin ia memberi kalung merjan?”

“Kami tidak minta. Merekalah yang memberikan kepada kami”

Kakek itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Katanya, “Anak-anak gadis sekarang tidak lagi mengenal diri. Seharusnya kalian menolak menerima pemberian dari laki-laki yang belum kalian kenal. Kalian belum tahu pasti maksud dari laki-laki itu, siapapun mereka”

“Keduanya orang baik, kek?”

“Siapa tahu di dalam untaian kalung itu terdapat guna-guna. Kalian tentu akan tergila-gila kepada laki-laki itu, dan kalian akan diseret ke dalam cengkeramannya. Pada saatnya kalian akan dilemparkan setelah kalian tidak berharga lagi baginya”

Gadis-gadis itu mengerutkan keningnya. Namun salah seorang menjawab, “Tidak kek. Guna-guna itu tidak akan berpengaruh jika kalung ini sudah aku langkahi”

Kakek itu menggeleng-gelengkan kepalanya melihat gadis itu meletakkan kalungnya di tanah dan kemudian kalung itu dilompatinya tiga kali.

Kawan-kawannya pun menirukannya kecuali Arum.

“He, kau tidak Arum. Apakah benar-benar kau telah kena guna-guna itu”

Arum menggeleng, jawabnya, “Tidak. Aku sudah melakukan-nya lebih dahulu dari kalian. Ketika kalian mendahului aku, aku sebenarnya ingin melakukan hal itu, tetapi aku malu terhadap kalian. Karena itu, aku berpura-pura mengambil buah terung.

“O, jadi kau sudah mendahului kami?” Arum menganggukkan kepalanya.

Kakek tua itu masih saja menggeleng-gelengkan kepalanya. Dan sekali lagi ia bergumam sambil melangkah pergi, “Gadis-gadis sekarang tidak lagi membatasi dirinya. Siapa tahu kalian akan kehilangan kesadaran. Jika laki-laki itu lewat sekali lagi kalian akan kepelet dan mengikutinya tanpa sadar”

Gadis-gadis itu membiarkan laki-laki tua itu pergi. Ketika laki-laki tua itu telah hilang dikelokan, mereka pun tertawa berkepanjangan.

Seorang gadis yang berwajah panjang tertawa paling keras sambil berkata, “Jika kalung-kalung itu mengandung guna-guna, maka Arum lah yang pertama-tama akan mencari laki-laki itu, karena ia mendapat dua untai kalung sekaligus”

Dan yang lain menyahut, “Ya. Tentu Arum yang akan mencarinya lebih dahulu”

“Ah” Arum tersenyum. Tetapi di dalam hati ia berkata, “Aku memang ingin mencarinya. Tetapi seperti paman Sura, aku ingin menangkap mereka dan menyerahkan kepada Raden Mas Said. Tidak untuk kepentingan yang lain”

“Arum” Anak yang berwajah panjang yang belum mendapat kalung merjan itu masih berkata, “Marilah kita membagi nasib. Berikan kalung yang seuntai kepadaku. Biarlah aku saja yang kelak mencarinya, bukan kau”

Suara tertawa gadis-gadis itu bagaikan meledak. Arum pun tertawa pula sehingga air matanya mengambang di pelupuknya.

“Cepat, sebelum kau benar-benar dicengkam oleh guna-guna itu”

“Katakan saja, kau ingin mempunyai kalung merjan” berkata Arum kemudian.

Dan gadis berwajah panjang itu menyahut, “Baiklah. Agaknya memang begitu. Aku ingin memiliki kalung merjan”

“Pantas, kau memang pandai membujuk” teriak yang lain.

“Sst, jangan iri. Siapa tahu, Arum berbaik hati”

“Baiklah” berkata Arum. Dan sebelum Arum melanjutkan gadis itu sudah meloncat sambil berkata, “Nah, jangan iri”

“Tunggu” berkata Arum, “Aku belum selesai. Aku ingin mengatakan, bahwa aku akan mencoba minta beberapa lagi untuk kalian jika aku bertemu”

Sekali lagi gadis-gadis itu bersorak. Kali ini mereka mengejek kawannya yang berwajah panjang.

“Sayang, sayang manis” seorang gadis gemuk mendekati sambil membelai rambutnya.

“Aku akan menangis saja” berkata gadis berwajah panjang itu

“Silahkan” seorang kawannya tiba-tiba menyahut, “Kami memang sudah lama tidak melihat kau menangis”

“Tidak jadi”

Arum pun tertawa. Tetapi sebenarnyalah ia melihat kekecewaan di wajah kawannya. Bukan sekedar bergurau. Karena itu, maka ia pun mendekatinya sambil berkata, “Jangan merajuk. Aku akan memberikan kepadamu yang seuntai. Benar-benar akan aku berikan”

Gadis itu menjadi bingung sejenak. Tetapi ketika Arum benar-benar menyerahkan seuntai kepadanya, tiba-tiba saja ia meloncat sambil memeluk Arum.

“Terima kasih. Kau memang gadis yang paling cantik di Jati Sari. Kau memang pantas diguna-gunai oleh laki-laki lewat itu”

“Hus, aku tidak jadi memberimu”

“O, tidak, tidak. Akulah yang cantik, dan akulah yang pantas diguna-gunai oleh laki-laki”

Gadis-gadis itu masih saja bergurau. Bahkan di sepanjang jalan pulang ke rumah masing-masing pun, mereka masih saja berkelakar, sehingga orang-orang yang tinggal di sebelah-menyebelah jalan menjengukkan kepala mereka lewat pintu depan yang terbuka.

“Ah, anak-anak itu” desisnya.

Ketika gadis-gadis itu sampai ke rumah masing-masing, maka mereka pun segera menceriterakan tentang laki-laki yang tidak mereka kenal, dan memberikan kalung kepada mereka.

Beberapa orang tua memang menjadi cemas. Tetapi gadis-gadis itu berkata, “Mereka tidak akan berbuat apa-apa ayah. Mereka hanya sekedar lewat. Dan mereka telah kami beritahu tentang perampok-perampok sehingga mereka akan dapat menyesuaikan diri mereka selama perjalanan”

Orang-orang tua mereka pun hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja, karena mereka tidak begitu mengerti tentang perampok-perampok yang sedang menjadi bahan pembicaraan itu.

Berbeda dengan mereka, meskipun Arum pun menceriterakan peristiwa itu kepada ayahnya, namun arah pembicaraannya agak lain. Arum sama sekali tidak tertarik kepada kalung itu sendiri, tetapi ia tertarik kepada sikap dan pembicaraan kedua laki-laki muda itu.

Seperti Sura, maka Kiai Danatirta pun kemudian dapat menangkap apa yang menarik perhatian kedua anak-anak muda itu. Karena itu maka katanya, “Arum, memang ada kemungkinan bahwa keduanya akan datang ke rumah ini”

“Paman Sura juga mengatakan begitu”

“Sura” ulang ayahnya, “dimana kau bertemu pamanmu Sura?”

Arum pun menceriterakan serba sedikit pertemuannya dengan Sura, dan dikatakannya pula, bahwa ia telah menunjukkan kalungnya dan mengatakan tentang laki-laki muda itu.

Kiai Danatirta mengerutkan keningnya. Katanya, “Peristiwa ini bukan peristiwa yang akan berdiri sendiri. Jika Sura berhasil menemukan kedua orang itu, akan dapat terjadi persoalan-persoalan yang menyangkut kita semuanya”

Arum dapat mengerti persoalan yang dikatakan oleh ayahnya itu, sehingga karena itu, maka ia pun tidak akan dapat melepaskan tanggung jawabnya, jika sesuatu terjadi atas Jati Sari. Namun, di Jati Sari, seakan-akan ia berdiri sendiri di dalam sikap dan perbuatan. Orang-orang lain tidak banyak menghiraukan persoalan yang dapat timbul di masa-masa yang dekat. Ada beberapa anak muda yang dapat dipercaya di dalam sikap. Tetapi mereka tidak memiliki bekal untuk berbuat banyak. Jika terjadi sesuatu, maka mereka justru harus menyingkir, agar tidak menjadi korban yang sia-sia saja.

“Seharusnya ayah tidak selalu menyelimuti dirinya dengan sikap yang pura-pura ini” berkata Arum, “Seperti Kiai Sarpasrana, ayah dapat berbuat bagi anak-anak muda itu”

Tetapi Arum tidak berani mengatakannya kepada ayahnya. Ia hanya sekedar mengatakan hal itu di dalam hati. Namun ia berpengharapan bahwa dalam keadaan yang memaksa, ayahnya akan mengambil sikap yang lain.

Demikianlah, maka kedua orang yang membawa kalung merjan itu tetap merupakan persoalan bagi Arum. Sehari-harian ia tidak dapat tenang. Setiap kali dipandanginya kalung merjannya. Bahkan ketika ia keluar dari padepokannya di sore hari, kalung itu tetap dibawanya.

“He, kemana Arum?” bertanya seorang kawannya.

“O” Arum berhenti, lalu, “ke sawah sebentar mengambil bakul. Aku tadi minta seorang pembantu memetik lombok. Dan aku akan mengambilnya sendiri ke sawah”

“Ah, kau tidak dapat pisah dengan kalungmu”

Arum tersenyum. Tetapi ia tidak dapat menjawab.

Ketika langit menjadi suram, Arum baru kembali ke padepokannya. Ia sejenak terhenti di simpang empat karena bertemu dengan beberapa orang kawannya. Karena itulah maka ia sampai di padepokan ketika matahari sudah bersembunyi di bawah kaki langit.

“Darimana kau Arum” bertanya ayahnya.

“Mengambil lombok ini ayah”

“Yang kau susul sudah datang lebih dahulu”

“Aku berhenti di simpang empat sebentar ayah. Kawan-kawan ada di sana”

Kiai Danatirta tidak bertanya lagi. Dibiarkannya anaknya mandi dan berganti pakaian.

Namun Arum menjadi termangu-mangu di dalam biliknya. Ada sesuatu yang selalu mengganggu perasaannya. Kalung itu. Tetapi ia yakin bahwa hal itu bukan karena guna-guna. Tetapi justru karena kehadiran Sura dan pesan ayahnya.

Sejenak kemudian maka Arum pun makan malam bersama ayahnya. Kini tidak ada orang lain di antara mereka, karena Juwiring sama sekali tidak pernah menampakkan diri lagi, dan Buntal telah berada jauh dari Jati Sari, di antara anak-anak muda yang dipersiapkan oleh Kiai Sarpasrana di sekitar daerah Sukawati.

Tetapi mereka berdua terkejut ketika seorang pembantunya masuk ke ruang dalam sambil membungkuk, “Kiai, ada dua orang tamu”

“Siapa?”

“Aku belum pernah melihatnya Kiai”

“Masih muda” potong Arum.

“Ya. Masih muda dan agaknya orang-orang kota”

Arum menjadi berdebar-debar, dan ayahnya berdesis, “Apakah mereka datang?”

Arum tidak segera menjawab.

“Temuilah Arum. Kau buka saja anakku, tetapi kau adalah murid perguruan Jati Aking”

Arum memandang ayahnya sejenak. Dengan ragu-ragu ia pun kemudian bertanya, “Maksud ayah?”

“Arum. Kau tentu tahu, apa yang akan dilakukan. Tetapi kau pun tahu apa yang seharusnya kau lakukan. Tetapi ingat, kau harus berusaha agar kau tidak mengguncangkan ketenangan padepokan ini di saat-saat sekarang”

Arum tidak segera menjawab. Dipandanginya ayahnya sejenak, kemudian orang yang datang memberitahukan kehadiran tamu-tamu itu.

“Persilahkan mereka duduk di pendapa” berkata Arum kepada pembantunya itu, “Katakan bahwa kami sedang makan”

“Baiklah” sahut pembantunya sambil melangkah surut.

Ketika hal itu diberitahukan kepada tamu itu, mereka menjadi agak ragu-ragu. Salah seorang dari mereka berkata, “Dimanakah mereka makan?”

“Di ruang dalam” jawab pembantu itu.

“Katakan, bahwa aku hanya sebentar”

“Sudah aku katakan. Dan mereka pun sudah hampir selesai makan”

Kedua tamu itu saling berpandangan sejenak. Lalu yang seorang menjawab, “Baiklah aku tunggu di halaman saja. Udara terlampau panas”

Pembantu itu tidak dapat memaksa mereka. Dari kegelapan ia hanya dapat melihat kedua orang itu pun kemudian memencar. Yang seorang pergi ke regol halaman dan yang lain hilir mudik di sisi pendapa.

“Mencurigakan sekali” desis pembantu Kiai Danatirta itu. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain kecuali masuk lagi ke ruang dalam dan memberitahukannya kepada Kiai Danatirta dan Arum.

“Biar sajalah” berkata Arum, “awasi mereka dari kegelapan. Tetapi jangan kau ganggu mereka”

Sepeninggal pembantunya Arum bertanya, “Apa yang mereka lakukan itu ayah?”

“Mereka agaknya cemas bahwa kau akan melarikan diri. Mereka tentu mempunyai pertimbangan-pertimbangan yang rumit seperti yang mereka ketahui tentang tugas mereka yang penuh dengan rahasia itu, maka mereka menganggap bahwa orang lain pun selalu berprasangka terhadap mereka”

Arum mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia masih bertanya, “Apakah aku akan menemui mereka sendiri?”

Ayahnya menggelengkan kepalanya, “Tidak Arum, aku pun akan melihat tampang mereka itu”

Arum pun kemudian meninggalkan ruang dalam setelah ia membenahi mangkuk dan sisa-sisa makan mereka. di muka pintu Arum terhenti sejenak.

Ayahnya memandanginya dari kejauhan. Tetapi agaknya ia mengerti, apa yang diragukan oleh anaknya. Senjata.

Karena itu maka Kiai Danatirta pun menggelengkan kepala-nya, sehingga Arum dapat menangkap pula maksudnya, bahwa ia harus menemui tamunya tanpa mencurigakannya.

Perlahan-lahan Arum membuka pintu depan. Ditebarkannya tatapan matanya menyapu pendapa rumahnya, kemudian keremangan malam di halaman. Samar-samar ia melihat bayangan yang hilir mudik di halaman, sedang yang lain berdiri di bagian dalam regol yang tertutup.

“Silahkan” Arum mempersilahkan tamu-tamunya.

“O. Terima kasih” sahut yang seorang.

Arum segera mengenal. Suara itu memang suara orang-orang yang pernah memberinya merjan. Karena itu, maka rasa-rasanya jantungnya berdetak semakin cepat.

Ketika keduanya mendekati pendapa, dan sinar lampu minyak mulai meraba wajah-wajah mereka, Arum pun menjadi pasti bahwa keduanya itulah yang datang seperti yang pernah mereka katakan.

“Aku benar-benar singgah ke rumahmu anak manis” berkata salah seorang dari mereka sambil naik ke pendapa.

Arum tersenyum sambil menundukkan kepalanya. Tetapi ia pun kemudian berdesis, “Silahkan duduk”

Keduanya pun duduk di atas tikar yang putih di tengah-tengah pendapa di bawah lampu minyak yang menyala terang. Sambil tersenyum salah seorang dari mereka berkata, “Kemarilah. Kenapa kau masih berada di situ?”

“Aku akan mengatakannya kepada ayah, bahwa tuan-tuan datang kemari”

“Tidak perlu. Aku datang mengunjungimu. Bukan ayahmu”

“Tetapi sepantasnyalah bahwa ayah menemui tuan-tuan”

“Pantas atau tidak pantas, itu tidak penting. Tetapi aku tidak ingin mengganggu ayahmu yang barangkali baru beristirahat, atau bahkan sudah tidur”

“Belum, ayah baru saja makan”

“Sudahlah. Jangan ganggu ayahmu”

Tetapi sebelum Arum menjawab, pintu pringgitan itu pun terbuka lagi dan ayahnya telah berdiri sambil membe-nahi ikat kepalanya.

“Maaf tuan-tuan, agaknya aku terlambat menyambut tuan-tuan”

“Ah, kami sebenarnya tidak ingin mengganggu ketenangan Kiai. Barangkali bapak baru beristirahat atau bahkan sudah berbaring di pembaringan. Silahkan Kiai melanjutkannya. Aku hanya memerlukan Arum saja. Aku pernah bertemu siang tadi di pategalan. Dan aku tertarik melihat sikapnya yang agak lain dari kawan-kawannya”

“Apakah yang lain?” bertanya ayahnya, “Ia tidak ada bedanya dengan kawan-kawannya. Tetapi anakku memang agak lebih dungu dari mereka. Sedikit malas, dan banyak bergurau tanpa arti. Itulah yang tidak aku senangi” ayahnya berhenti sejenak. Lalu, “Silahkan. Barangkali aku dapat mengawani kalian sejenak”

“Tidak perlu. Tinggalkan kami bertiga” berkata salah seorang dari kedua tamu itu.

“Ah” Kiai Danatirta tertawa, “Tuan juga senang bergurau. Biarlah aku duduk bersama tuan”

“Aku tidak bergurau Kiai. Biarlah aku berbicara dengan Arum”

Kiai Danatirta mengerutkan keningnya. Lalu, “Apakah tuan tidak bergurau?”

“Tidak. Kami tidak sedang bergurau. Kami ingin berbicara dengan anakmu. Dan kami tidak ingin mengganggumu”

“Tuan” suara Kiai Danatirta pun merendah, “Jika demikian, maka aku semakin ingin duduk bersama tuan-tuan. Aku kira tidak pantas seorang gadis menerima tamu laki-laki tanpa orang tuanya”

Kedua anak muda itu mengerutkan keningnya. Namun agaknya ayah Arum berkeras untuk ikut menemuinya, sehingga karena itu maka kedua anak muda itu tidak dapat menolaknya lagi.

“Nah tuan, silahkan tuan berbicara dengan anakku. Aku tidak akan mengganggu. Seperti yang aku katakan, bahwa aku ada di sini sekedar agar anakku tidak menjadi buah pembicaraan orang Jati Sari. Apalagi anakku adalah seorang gadis padepokan yang menurut tetangga-tetangga kami di Jati Sari, padepokan ini merupakan daerah kecil terpencil yang menjadi arena untuk mempelajari olah kajiwan, meskipun sekedar ilmu kajiwan dari padepokan kecil yang tentu tidak akan banyak berarti”

Keduanya memandang orang itu dengan kerut-merut di kening. Dan salah seorang dari mereka pun berkata, “Baiklah. Duduk sajalah di situ. Tetapi jangan mengganggu pertanyaan-pertanyaanku kepada Arum”

Sejenak Kiai Danatirta terdiam. Namun kemudian ia mengangguk, “Baiklah tuan”

“Sebenarnya tidak ada persoalan yang penting yang aku bawa” berkata salah seorang dari mereka, lalu, “Tetapi sebelum aku bertanya yang lain, aku ingin menunjukkan sebuah kalung merjan yang paling bagus yang pernah aku punyai. Bukan saja warnanya yang cerah, tetapi untainya pun agak lain dengan yang pernah aku berikan kepadamu Arum”

“Ah” Arum berdesah.

“Ternyata bahwa kau adalah gadis yang paling cantik dari padukuhan ini. Karena itu maka aku lebih senang datang ke rumahmu daripada ke rumah orang lain. Terlebih-lebih lagi karena kau melihat dua orang berkuda. Yang seorang bertubuh gemuk dan berkuda coklat”

Dada Arum berdesir. Tentu ceriteranya itulah yang sangat menarik perhatian. Ceritera yang dikarangkannya dengan tiba-tiba saja untuk menghindari kecurigaan kedua orang itu. Namun akibatnya justru sebaliknya. Kedua orang itu benar-benar datang kepadanya. Agaknya mereka dengan sungguh-sungguh menganggap ceriteranya itu sebenarnya telah terjadi.

Karena Arum tidak segera menjawab maka orang itu pun berkata, “Jangan takut Arum. Aku tidak apa-apa. Aku hanya sekedar ingin mendengar ceritera tentang orang-orang berkuda itu”

“Bukankah aku sudah mengatakannya” sahut Arum.

“O, kau memang sudah mengatakannya. Tetapi barangkali kau mengetahui lebih banyak lagi?”

“Tidak”

“Baiklah. Jika demikian, selain kau siapa sajakah yang mendengar ceritera tentang perampok-perampok itu? Dan barangkali kau sudah mengenal mereka, karena mereka tentu berasal dari padepokan ini pula”

Arum termangu-mangu sejenak, namun kemudian katanya, “Aku sudah tidak ingat lagi, siapa saja yang waktu itu ada di sekitar tempat itu”

Laki-laki muda itu tersenyum. Katanya, “Kau dibayangi oleh ketakutan dan prasangka. Aku benar-benar sekedar mencari keterangan agar perjalananku selalu selamat. Jangan menduga yang bukan-bukan. Sebaiknya kau menceriterakannya kepadaku. Dengan demikian, jika kau memang ketakutan, aku dapat bertanya kepada orang lain itu. Bukan kepadamu. Jika aku datang kepadamu, semata-mata aku hanya ingin memberimu kalung merjan. Gelang dan perhiasan-perhiasan yang lain. Kau memang sangat cantik”

Kiai Danatirta yang ada di sisi Arum hanya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia sama sekali tidak ikut di dalam pembicaraan itu.

“Kenapa kau tidak mau menyebut salah seorang dari mereka Arum?”

Arum menggeleng sambil berkata, “Aku benar-benar tidak ingat lagi. Apakah yang ada di tempat itu waktu itu beberapa orang laki-laki atau beberapa orang perempuan”

“Tetapi kau ingat bahwa kau tidak sendiri?”

“Ya. Aku tidak sendiri. Tetapi aku tidak ingat lagi, dengan siapa aku berada di sawah waktu itu”

“Itu mustahil sekali Arum. Kau tentu ingat seorang dari mereka”

“Aku benar-benar tidak ingat”

Anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Baiklah Arum, jika kau tidak ingat, aku tentu tidak akan dapat memaksa. Tetapi seperti yang aku katakan, aku mempunyai seuntai kalung merjan yang jauh lebih bagus. Marilah, kita ambil sebentar kalung itu. Aku meninggalkannya di dalam kereta”

“Kau membawa kereta?”

“Ya. Aku membawa kereta”

“Tadi siang kau tidak membawa kereta. Darimana kau mendapatkan kereta itu?”

“Tadi siang aku juga membawa kereta. Tetapi aku tinggalkan di ujung bulak, karena aku sengaja ingin memasuki padukuhan kecil ini untuk mendapatkan keterangan.

Arum mengerutkan keningnya. Ia mencoba mengingat-ingat apakah Sura yang membayangi kedua orang itu pun tidak membawa kendaraan apapun. Juga tidak membawa kuda. Tetapi memang mungkin sekali mereka membawa kereta atau kuda yang ditinggalkannya di luar pedukuhan.

“Marilah Arum. Kalung itu jauh lebih bagus dari kalung yang aku bawa siang tadi. Hanya kepada gadis secantik kau saja yang aku akan memberikan kalung itu”

Arum menjadi termangu-mangu. Hanya gadis padesan yang paling bodoh sajalah yang tidak menaruh kecurigaan apa-apa terhadap kedua orang yang akan memberinya kalung yang tertinggal di kereta. Tetapi justru karena Arum bukan anak yang paling dungu di desanya, ia digelitik oleh perasaan ingin tahu apakah sebenarnya yang akan dilakukan oleh kedua orang itu.

“Kenapa kau termenung? Apakah kau takut?”

Arum menggelengkan kepala. Katanya, “Tidak. Aku tidak takut. Tetapi tentu tidak pantas aku mengikuti di malam begini. Sedangkan tuan bukan sanak dan bukan kadangku”

Kedua Laki-laki itu tertawa. Salah seorang berkata, “Gadis-gadis padesan memang banyak bertingkah. Tetapi aku tahu, itu bukan karena kau merajuk atau karena maksud-maksud buruk. Tetapi karena kau memang benar-benar anak padesan yang masih dicengkam oleh perasaan-perasaan yang sebenarnya tidak berarti lagi bagi jaman ini. di kota, peradaban orang-orang asing itu telah sama-sama kita miliki. Batas antara laki-laki dan perempuan semakin dekat dan akhirnya tentu akan hilang sama sekali”

“Ah” Arum berdesah, “Tentu tidak. Kita bukan orang-orang asing itu”

“Tetapi apa salahnya kita menyadap peradabannya. Bukankah dengan peradabannya mereka mampu menaklukkan lautan dan mengelilingi dunia ini? Sedang kita yang berpegang teguh pada peradaban kita yang picik ini, apakah yang dapat kita capai? Dunia pada suatu saat tentu akan terasa menjadi sempit, dan kita pun harus berada di tengah-tengah pergaulan yang sempit itu. Kenapa kita harus takut kepada peradaban asing itu?”

“Tuan” Kiai Danatirta lah yang menyahut, “kadang-kadang memang kita merasa bahwa kita menjadi bagian dari pergaulan dan peradaban yang semakin dekat dari isi bumi ini. Tetapi bagi orang-orang tua seperti aku ini, yang barangkali masih tetap terkebelakang, memang merasa bahwa kita harus terjun ke dalamnya. Tetapi jika kita berada di tengah-tengah dunia ini, maka kita adalah kita. Kita bukan orang yang terjun dan tenggelam. Tetapi kita terjun dan tetap berada di antara mereka sebagai kita-kita ini. Sebagai sebuah pribadi yang akan mereka kenal dan memang mempunyai kelainan seperti juga pribadi-pribadi yang lain, yang memiliki kediriannya masing-masing”

Kedua anak-anak muda mengerutkan keningnya, namun salah seorang daripadanya kemudian tertawa sambil berkata, “Kau tidak akan dapat hidup di dalam alam yang dibayangi oleh harga diri yang berlebih-lebihan itu terus menerus. Jika demikian, maka orang lain telah memiliki tujuh buah kereta yang ditarik oleh delapan ekor kuda karena ia tidak membatasi diri di dalam lingkungan dan hubungannya dengan orang asing, maka kau akan tetap berjalan kaki sampai ke segala penjuru pulau ini jika kau mempunyai keperluan. Tetapi itu adalah persoalanmu sendiri. Aku tidak akan berkeberatan” Orang itu berhenti sejenak, lalu, “Tetapi sebaiknya kau biarkan anak gadismu menikmati hidup di masa remajanya. Jika kau akan tetap di dalam dunia yang terkebelakang, itu terserah. Umurmu tinggal beberapa tahun lagi. Tetapi lepaskan anak gadismu menikmati hidup ini sepuas-puasnya. Jika ia mau, ia akan menjadi orang yang terhormat di kota”

“Ah, biarlah ia. tetap menjadi anak padesan” sahut Kiai Danatirta.

“Baiklah. Itu bukan persoalanku. Sekarang, biarlah aku menemui janjiku. Aku akan memberinya kalung merjan yang paling bagus”

Arum menjadi ragu-ragu. Tetapi keinginannya untuk mengetahui apa yang akan dilakukan oleh anak-anak muda itu menjadi semakin besar. Dan agaknya ayahnya pun mengetahui-nya pula, sehingga hampir di luar dugaan kedua anak-anak muda itu, Kiai Danatirta pun berkata, “Baiklah tuan. Jika tuan ingin memberinya kalung, biarlah aku mengantarkannya sampai ke kereta tuan”

Kedua anak muda itu saling berpandangan. Tetapi salah seorang dari mereka tertawa sambil berkata, “Baiklah. Baiklah. Marilah kita pergi”

Arum menarik nafas dalam-dalam. Ia menjadi semakin tenang, karena ayahnya ikut pula bersamanya.

Demikianlah maka Arum pun diantar oleh Kiai Danatirta turun ke halaman dan keluar dari regol. Beberapa saat lamanya mereka berjalan menyusuri jalan padukuhan di dalam gelapnya malam. Agaknya padukuhan itu menjadi lengang. Beberapa orang menjadi segan keluar dari rumahnya di malam hari setelah terjadi berita yang mendebarkan tentang perampok-perampok yang berkeliaran. Tetapi malam memang terlampau dingin sehingga malas juga berada di gardu-gardu.

Ketika mereka sampai di luar padukuhan, mereka sama sekali tidak melihat seekor kuda pun. Apalagi sebuah kereta sehingga Arum yang memang sudah bercuriga itu pun bertanya, “Dimanakah kereta tuan?”

“Di sana, di ujung bulak”

“Di ujung bulak?” ulang Arum.

“Ya, di ujung bulak di sebelah sudut padukuhan”

Arum tidak menjawab. Ia berjalan saja diiringi oleh ayahnya.

Namun ketika mereka sampai ke ujung bulak, maka mereka masih belum melihat sesuatu, sehingga sekali lagi Aram bertanya, “Tuan, dimanakah kereta tuan?”

Sejenak keduanya tidak menjawab. Tetapi mereka masih saja melangkah memasuki bulak yang gelap.

“Tuan” langkah Arum pun kemudian terhenti. Demikian juga Danatirta.

“Kenapa kau berhenti?” bertanya salah seorang dari kedua laki-laki muda itu.

“Kereta tuan tidak ada”

Laki-laki itu menarik nafas, lalu, “Ya, keretaku memang tidak ada”

“Jadi, apakah maksud tuan sebenarnya?”

“Marilah, kita ambil kalung itu di Surakarta. Kalung itu bukan hanya dari merjan, tetapi dari emas. Kita singgah sebentar di rumah kawanku. Sebenarnyalah bahwa aku meninggalkan keretaku di sana di daerah Losari”

“Losari?”

“Ya”

“Bukankah padukuhan Losari itu jauh dari sini?”

“Masih lebih jauh ke Surakarta”

“Ah, tidak tuan. Biarlah aku dan ayah kembali saja ke padepokan”

“Jangan Arum. Aku memerlukan kau. Memang aku tidak memerlukan ayahmu. Biarlah ayahmu kembali. Kau mempunyai keterangan yang berharga tentang orang gemuk berkuda coklat. Dan kau adalah gadis yang cukup cantik. Kau akan mendapat tempat yang baik di Surakarta. Orang-orang asing akan memberi apa saja yang kau minta. Dan jika mereka tidak mau, maka aku pun bersedia memeliharamu”

“Gila” Arum berteriak.

“Jangan berteriak di malam hari”

“Tuan” berkata Kiai Danatirta, “sebenarnya bukan caranya tuan berbuat begitu sebagai seorang laki-laki Surakarta. Tuan telah mengecewakan aku. Aku menganggap bahwa orang-orang Surakarta adalah orang-orang jantan dan bersifat kesatria”

“Hanya orang-orang yang bodoh sajalah yang berbuat demikian” orang itu tertawa, “Kami tidak lagi ingin dicengkam oleh kebodohan kami, seolah-olah dengan kejantanan dan sifat-sifat kesatria kita akan dapat mencukupi kebutuhan kita”

“Kebutuhan lahiriah”

“Itulah yang sangat menarik. Seperti kecantikan lahiriah anakmu”

“Tuan, tentu aku tidak akan membiarkan anakku tuan bawa”

“Persetan”

“Ijinkanlah aku membawa anakku pulang”

Kedua anak-anak muda itu termenung sejenak. Lalu salah seorang berkata, “Jangan cari perkara Kiai. Pulanglah sendiri”

Kiai Danatirta menjadi termangu-mangu. Ia masih ragu-ragu untuk berbuat sesuatu, karena dengan demikian akan dapat menimbulkan akibat yang berkepanjangan. Menurut penilaian-nya, kedua anak-anak muda itu tentu bukan orang kebanyakan. Keduanya pasti orang-orang yang mendapat kepercayaan dari kumpeni atau dari para bangsawan yang berpihak kepada kumpeni untuk mengumpulkan keterangan tentang sikap orang-orang Jati Sari.

“Jika salah seorang dari keduanya berhasil melarikan diri. atau barangkali ada kawan-kawannya yang ada di sekitar tempat ini dan melihat peristiwa ini terjadi, maka akibatnya akan menjadi sangat luas” berkata Kiai Danatirta di dalam hatinya, “Tetapi jika aku membiarkan Arum mereka bawa, maka banyak kemungkinan dapat terjadi. Jika Arum terjerumus ke dalam lingkungan mereka, maka ia akan mengalami nasib yang sangat malang. Dan bahkan tidak dapat dibayangkan sebelumnya”

Namun dalam pada itu kedua anak-anak muda itu pun telah memperhitungkan setiap kemungkinan. Mereka tidak kehilangan kewaspadaan. Menurut pengalaman mereka, para penghuni padepokan, bukan saja menguasai olah kajiwan, tetapi olah kanuragan pula. Karena itu, maka mereka tidak mau kehilangan kesempatan untuk membawa Arum pergi. Sebelum terjadi sesuatu yang akan dapat menyulitkan mereka, maka tiba-tiba saja, hampir di luar penglihatan mata, tangan salah seorang dari kedua anak muda itu telah melingkar di leher Arum. Sebuah pisau belati kecil tergenggam di tangan itu, sedang ujungnya telah menyentuh leher Arum yang menjadi tegang.

“Jangan berbuat sesuatu Kiai” berkata salah seorang anak muda itu, “Kau tentu masih sayang kepada anakmu. Jika kau mencoba untuk melakukan sesuatu yang mencurigakan, maka pisau ini akan menusuk leher anakmu” ia berhenti sejenak, lalu, “Arum, kenapa di lehermu tidak tersangkut kalung merjan itu?”

Arum mengumpat di dalam hati. Tetapi ia tidak bergerak sama sekali, karena ujung pisau itu terasa menekan lehernya.

“Pergilah Kiai” berkata anak muda itu, “pergilah. Atau kau ingin melihat leher anakmu ini sobek?”

“Jangan” suara Kiai Dana-tirta yang menjadi sangat cemas.

“Pergilah. Dan jangan mencoba membuat keributan dengan membangunkan tetangga-tetanggamu, apalagi mengejar kami. Karena dengan demikian kau akan mempercepat kematian anakmu”

Bersambung ke bagian 2

Satu Tanggapan

  1. Marilah kita mengharap semoga jilid selanjutnya kalo bisa dipercepat, amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s