BdBK-13


BUNGA DI BATU KARANG

JILID 13

kembali | lanjut

BdBK-13KI DIPANALA yang berada di regol mengangguk dalam-dalam. Namun hampir di luar sadarnya ia berkata, “Hati-hatilah Pangeran”

Juwiring mendengar pesan itu lamat-lamat. Kecurigaan di hatinya tiba-tiba menjadi semakin mekar. Ayahandanya jarang sekali mengenakan pakaian kebesarannya sebagai seorang Senapati perang, apalagi membawa senjata rangkap. Sebilah pedang di lambung dan keris pusakanya di punggung.

“Apakah sesuatu akan terjadi?” Ia bertanya kepada diri sendiri. Tetapi ia tidak mau menyatakan kegelisahannya kepada adiknya. Tetapi sejenak kemudian, ia pun pergi keluar ruang dalam. Kepada adiknya ia mengatakan, bahwa masih ada sesuatu yang harus dikerjakan di kandang kuda.

Namun Raden Juwiring tidak pergi ke kandang kuda. Ia langsung menemui Ki Dipanala, dan memaksa agar Ki Dipanala mengatakan apa yang diketahui tentang ayahandanya.

Sejenak Ki Dipanala termangu-mangu. Namun katanya kemudian, “Aku percaya kepada Raden. Tetapi Raden pun harus melindungi kepercayaanku kepada Raden”

“Aku mengerti. Katakan”

Sejenak Ki Dipanala masih termangu-mangu. Namun kemudian dikatakannya pula rencana yang akan dilakukan oleh ayahandanya, Pangeran Ranakusuma.

“Jadi ayahanda akan melakukannya sekarang?”

“Ya Raden. Tetapi aku pun menjadi gelisah. Rasa-rasanya aku ingin menyaksikan apa yang akan terjadi”

“Aku pergi bersamamu paman”

“Ah jangan Raden. Raden belum mengenal keadaan kota ini sebaik-baiknya sejak orang-orang asing itu berkuasa”

“Aku pergi bersama paman”

“Mereka sangat curang dan licik”

“Justru karena itu”

Ki Dipanala menarik keningnya. Tetapi ia masih juga berusaha mencegah Raden Juwiring. Namun agaknya Juwiring tetap pada pendiriannya. Sehingga akhirnya Ki Dipanala berkata, “Terserah-lah kepada Raden. Tetapi kita harus berhati-hati”

Demikianlah maka keduanya pun segera mempersiapkan diri. Ki Dipanala mengerti, apa yang akan terjadi dan kemana mereka harus pergi.

Dalam pada itu, di tepi bengawan, beberapa orang telah berkumpul. Bahkan di bawah pepohonan yang berpencaran dengan liarnya terdapat beberapa buah kereta. Ketika orang-orang itu melihat lampu kereta di kejauhan dan kemudian mendengar derap kaki kuda, merupakan segera menyibak. Seorang yang berpakaian seorang Senapati pun kemudian menyongsong sambil berdesis, “Tentu kangmas Ranakusuma. Ia tidak pernah ingkar janji”

Ketika kereta itu mendekat, maka orang-orang yang sudah ada di tepi bengawan itu pun menjadi tegang. Beberapa orang kumpeni yang ada juga di tempat itu menjadi tegang pula.

Ternyata yang mereka duga adalah benar. Yang datang adalah Pangeran Ranakusuma.

Demikian Pangeran Ranakusuma turun dari keretanya, maka ia pun langsung mendekati orang-orang yang menunggunya sambil berkata, “Aku sudah siap. Bulan sudah berada di ujung pepohonan di seberang bengawan. Sudah waktunya kita mulai”

Orang-orang yang ada di tepian itu pun segera menyibak. Beberapa orang yang mendapat tugas pun segera tampil ke depan. Empat orang. Yang dua orang adalah orang asing dalam pakaian kebesarannya sedang yang dua orang adalah bangsawan tertinggi di Surakarta.

“Kalian akan menjadi saksi” geram Pangeran Ranakusuma, “Aku adalah laki-laki yang akan membela nama baikku. Aku minta perang tanding dengan pedang”

Seorang kumpeni maju sambil menjawab dengan bahasa yang patah-patah, “Baik. Kalian akan melakukan perang tanding. Memang kehormatan dapat diselesaikan dengan melakukan duel. Apakah peraturan yang Pangeran pilih”

“Tidak ada peraturan buat perang tanding, selain aku atau Dungkur yang harus mati”

“Ah, tidak begitu Pangeran. Ada peraturan yang lebih lunak dari itu”

“Aku atau Dungkur yang akan mati. Di arena perang tanding atau tidak. Aku tidak dapat menghirup udara di Surakarta ini bersama dengan Dungkur”

“Pangeran” kumpeni itu masih berusaha melunakkan hati Pangeran Ranakusuma, “Kita sudah lama bekerja sama di Surakarta ini untuk kepentingan kita bersama. Untuk kemajuan Surakarta, supaya Surakarta dapat mencapai tingkat kerajaan di luar pulau ini, dan menyamai daerah-daerah di daratan Barat. Karena itu, janganlah kita membuat jarak di antara kita”

“Aku tetap menghormati kalian sebagai bangsa asing yang membawa peradaban baru di tanah ini. Aku tidak akan menarik kerja sama yang sudah kita pupuk. Tetapi persoalanku dengan Dungkur bukan persoalan kerja sama antara kerajaan Surakarta dan kerajaan Belanda. Tetapi persoalan itu adalah persoalan dua orang laki-laki yang akan membela nama baiknya masing-masing”

“Aku dapat mengusulkan agar orang itu dipindahkan dari Surakarta dan ditarik ke Betawi”

“Terserah. Tetapi persoalanku harus selesai. Meskipun ia sudah pergi dari bumi Surakarta, tetapi jika ada kesempatan aku akan tetap menantangnya perang tanding. Laki-laki itu sudah menyentuh isteriku. Bagi seorang bangsawan, seorang isteri bernilai seperti dirinya sendiri, meskipun isteriku juga mempunyai noda-noda kelemahan”

Perwira kumpeni itu menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia memandang kepada Dungkur, maka dilihatnya wajah yang tegang dan tangan yang mengepal. Ternyata bahwa kumpeni yang bernama Dungkur itu pun telah siap melakukan perang tanding sampai mati.

“Aku adalah kesatria” berkata kumpeni itu, “Apalagi martabatku sebagai seorang kulit putih lebih tinggi dari martabatmu”

“Tutup mulutmu” potong Pangeran Ranakusuma, “Jangan mengungkat martabat kemanusiaan kita. Kita dilahirkan sama. Dan sekarang, salah seorang dari kita akan mati. Setelah mati pun tidak akan ada bedanya di antara kita. Jika mayat kita dikuburkan di bumi, maka yang akan tinggal adalah kerangka yang terdiri dari tulang-tulang melulu”

“Persetan” Dungkur hampir berteriak, “Marilah kita mulai. Bangsa kulit putih adalah bangsa yang ditakdirkan menguasai orang-orang kulit berwarna seperti kau. Dan sudah ditakdirkan pula bahwa kami dapat mengambil apa yang kami kehendaki. Termasuk isterimu”

Setiap orang terkejut ketika tiba-tiba saja Dungkur mengaduh. Tidak seorang pun tahu, bagaimana dapat terjadi. Tangan Pangeran Ranakusuma rasa-rasanya telah menampar pipi Dungkur. Padahal jarak keduanya lebih dari satu langkah.

Selagi orang yang mengitari mereka menjadi terheran-heran, maka Pangeran Ranakusuma pun maju setapak sambil menyingsingkan kain panjangnya dan menyangkutkannya pada ikat-pinggangnya. Diputarnya keris yang ada di punggung, sehingga berada di lambung.

Dungkur pun menjadi heran, bahkan tidak tahu apa yang telah terjadi. Tetapi pipinya benar-benar terasa sakit.

“Ah, ini adalah semacam permainan yang tidak bermutu” katanya di dalam hati, “Jika pedangku menyentuh dadanya, maka dadanya itu tentu akan sobek dan darahnya akan mengucur di tanah kelahirannya yang sebentar lagi akan lepas dari tangannya ini”

Demikianlah, karena Pangeran Ranakusuma dan Dungkur telah tidak lagi dapat melunakkan hati mereka, maka perang tanding itu pun segera akan dimulai, dengan tekad, salah seorang dari mereka akan mati.

Kapitan Dungkur adalah seorang perwira yang memiliki pengalaman yang tiada taranya. Ia telah menjelajahi beberapa benua mengarungi lautan dan bahkan mengalami perang di banyak daratan. Dungkur tidak pernah gentar melihat kapal di tengah laut yang menaikkan panji-panji bergambar tengkorak dan pedang bersilang karena bajak laut yang betapapun ganasnya, tidak banyak dapat berbuat terhadap kapal-kapal Belanda yang di pertahankan oleh orang-orang terlatih di dalam peperangan di daratan maupun di lautan.

Kini yang dihadapinya tidak lebih dari seorang pribumi yang memakai kain panjang dan baju hitam berlengan panjang pula. Berikat pinggang sejengkal dan memakai tutup kepala.

“Uh.” Dungkur tiba-tiba meludah, “menggelikan sekali. Kau, orang yang hidup di dalam dunia yang lambat akan mencoba melawan aku? Barangkali kau belum pernah melihat betapa ganasnya lautan dan apalagi bajak laut. Kau belum pernah mengalami peperangan yang sebenarnya di benua lain. Kau sekarang sudah berani menantang aku berperang tanding. Malanglah nasib anakmu yang cantik itu. Sebenarnya jika kau berkeberatan memberikan isterimu, aku akan mengambil anakmu saja”

Pangeran Ranakusuma. memandang perwira kumpeni yang akan menjadi saksi dalam perang tanding itu sambil berkata, “Inikah gambaran dari keseluruhan bangsamu yang kau katakan mempunyai martabat yang tinggi?”

“Tidak, tidak Pangeran. Seperti bangsamu juga, kadang-kadang ada di antara kami yang mempunyai sifat dan watak yang lain” jawab seorang perwira kumpeni.

“Dan Dungkur adalah contoh dari kelainan itu?”

“Diam” bentak Dungkur, “Kita akan mulai”

Dungkur tidak menunggu jawaban Pangeran Ranakusuma. Dengan serta merta ditariknya pedangnya yang panjang, dengan sebuah pelindung bagi jari-jarinya yang menggenggam hulu. Kemudian sebuah rantai yang melingkar di tangannya, terikat pada hulu pedang itu, sehingga jika pedang itu terlepas, maka pedang itu akan tetap tersangkut di tangannya.

Pangeran Ranakusuma pun menarik pedangnya pula. Pedangnya jauh lebih sederhana. Tidak mengkilap seperti pedang Dungkur, bahkan agak kehitam-hitaman. Tetapi pedang Pangeran Ranakusuma adalah bukan sembarang pedang. Pedang itulah yang selama ini disebutnya Kiai Pagerwesi.

Dengan demikian keduanya sudah berdiri saling berhadapan. Beberapa orang saksi berdiri mengelilinginya. Beberapa orang perwira kumpeni dan beberapa orang bangsawan tertinggi di Surakarta.

Pangeran Ranakusuma membenahi kain panjangnya yang sudah tersangkut diikat pinggangnya yang besar. Setapak demi setapak ia maju mendekati lawannya.

Dungkur pun telah bersiap melayaninya. Ia berdiri agak condong. Badannya dimiringkannya, sedang pedangnya lurus terjulur ke depan. Satu tangannya terangkat di belakang seakan-akan merupakan pengatur keseimbangan dari badannya yang miring itu.

Tetapi Pangeran Ranakusuma bersikap lain. Ia menghadap lawannya. Pedangnya bersilang di muka dadanya. Setapak demi setapak ia masih saja melangkah mendekat

Dungkur menjadi heran melihat sikap itu. Tetapi kemudian ia tersenyum dan berkata di dalam hatinya, “Orang ini memang dungu. Ia sekedar dibakar oleh kemarahannya saja. Agaknya demikianlah Senapati Surakarta melakukan perang tanding. Tanpa memiliki pengetahuan sama sekali atas senjata yang dipergunakannya”

Dengan gerak yang bagaikan acuh tidak acuh saja, Dungkur menggerakkan ujung pedangnya. Berputar sedikit, dan kemudian terjulur lurus mengarah ke dada. Ia tidak ingin segera melukai lawannya. Ia hanya ingin mengganggunya saja.

Tetapi Dungkur terkejut ketika dengan sebuah gerakan kecil, Pangeran Ranakusuma meloncat ke samping, sambil mengangkat pedangnya. Pedang itu pun kemudian terayun deras sekali mengarah ke leher Dungkur.

Gerakan itu sama sekali tidak sulit. Dungkur segera menyilangkan pedangnya menangkis serangan itu dan memukulnya ke samping.

Namun sama sekali tidak diduganya. Pukulan itu ternyata didorong oleh kekuatan yang luar biasa, sehingga tangkisannya yang pertama itu telah mengejutkannya.

Yang terjadi adalah sebuah benturan yang dahsyat. Kekuatan yang sama sekali tidak diduganya telah menghantam pedangnya. Jauh lebih kuat dari ayunan pedang seorang bajak laut bertubuh raksasa yang pernah mencoba mengganggu kapalnya di lautan.

Karena Dungkur sama sekali tidak mempersiapkan diri menghadapi kekuatan yang tidak terduga-duga dari seseorang sekedar memakai kain panjang, celana setinggi lutut dan berikat kepala itu, maka pedangnya telah terlepas dari tangannya.

Untunglah bahwa rantai yang tersangkut dipergelangan tangannya tidak terlepas sehingga pedang itu masih tetap tersangkut di tubuhnya.

Pangeran Ranakusuma berdiri membeku sejenak, dengan sengaja ia memberikan kesempatan kepada lawannya untuk memperbaiki keadaannya.

Benturan yang pertama-tama itu benar telah mengejutkan beberapa orang yang menjadi saksi dari perang tanding itu, terutama para perwira kumpeni. Mereka tidak menyangka, bahwa hal itu dapat terjadi, karena mereka menganggap bahwa Dungkur adalah seorang yang memiliki ilmu pedang yang dikagumi oleh kawan-kawannya.

“Dungkur tidak bersiap” berkata para perwira itu di dalam hatinya, “Ia menganggap lawannya terlampau lemah, seperti orang-orang pribumi yang pernah ditemuinya selama penjelajahannya di beberapa benua”

Sejenak kemudian Dungkur telah menggenggam pedangnya kembali. Sejenak ia mempersiapkan diri. Kini ia benar-benar harus berhati-hati menghadapi orang pribumi yang oleh lingkungannya disebutnya seorang Pangeran.

Sejenak kemudian maka perkelahian itu pun telah meledak lagi. Dungkur berusaha menyerang dengan tangkasnya. Tetapi setiap kali ujung pedangnya bagaikan menghantam dinding. Ternyata Pangeran Ranakusuma adalah seorang yang sangat tangkas mempergunakan pedangnya, meskipun dengan cara yang tidak dimengerti. Bahkan setiap kali Dungkur menjadi bingung, karena lawannya selalu berloncatan melingkar-lingkar seperti seekor kijang.

Dungkur telah mengalami pertempuran pedang beberapa kali. Lawannya sering pula berloncatan jika terdesak. Tetapi Pangeran Ranakusuma tidak berbuat demikian. Ia selalu bergerak melingkar dan kemudian mengelilingnya sehingga ia harus berputar sambil menjulurkan pedangnya. Namun tiba-tiba lawannya itu menyerang sambil meloncat kearah yang tidak diduganya sama sekali.

Keringat Dungkur itu segera membasahi pakaiannya. Namun tangannya yang lincah itu setiap kali masih berhasil menangkis serangan pedang Pangeran Ranakusuma. Bahkan Dungkur masih dapat mengharap, bahwa bertempur dengan cara yang ditempuh oleh Pangeran Ranakusuma itu tentu akan segera menghabiskan tenaga.

Karena itu. Dungkur untuk sementara hanya bertahan saja sambil berputar. Kakinya yang merendah pada lututnya bergeser dengan cermat mengikuti arah pedangnya. Ia berharap, bahwa dalam waktu yang singkat, Pangeran Ranakusuma yang bertempur dengan cara yang aneh dan menurut pendapat Dungkur agak liar dan kasar itu akan segera kehabisan tenaga.

Tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Semakin lama Dungkur menjadi semakin bingung menghadapi cara yang aneh dari seorang bangsawan Surakarta ini, seorang Senapati perang dari kerjaan yang disangkanya jauh terbelakang dibanding dengan kerajaan di daratan Benua Barat.

Untuk beberapa lama Dungkur masih tetap mampu mempertahankan dirinya dengan kelincahan tangannya. Tetapi ia masih saja bergeser pada kedua kakinya setapak demi setapak. Kadang-kadang berputar dan sedikit meloncat. Sedang Pangeran Ranakusuma bertempur bagaikan burung sikatan. Menyambar-nyambar dengan garangnya. Sekali-sekali ujung pedangnya mematuk, kemudian terayun menyambar lawannya. Dan sesaat kemudian berputar seperti baling-baling.

Para perwira kumpeni menjadi bingung pula melihat cara itu. Cara yang hampir tidak pernah dilihatnya. Jika di dalam peperangan di daerah ini ia melihat pedang yang berputaran seperti itu, disangkanya bahwa prajurit-prajurit Surakarta memang prajurit-prajurit yang dungu. Namun di dalam perang tanding, barulah mereka menyadari bahwa tata gerak yang demikian dapat membuat lawannya menjadi bingung.

Yang kemudian lebih dahulu susut tenaganya adalah justru Dungkur sendiri. Meskipun ia sudah berusaha menghemat tenaganya, dan mengharap lawannya akan kehabisan nafas, namun ternyata bahwa tangannya merasa menjadi semakin lemah dan nafasnya sudah berangsur-angsur menjadi sendat.

Karena itulah, maka ia menjadi semakin terdesak oleh serangan-serangan Pangeran Ranakusuma yang semakin dahsyat. Dungkur menjadi bingung ketika tiba-tiba saja pedang Pangeran Ranakusuma mematuk dari samping. Namun ia masih berhasil menghindar dan berusaha menangkis serangan itu. Tetapi dengan cepat Pangeran Ranakusuma menarik pedangnya dan menyerang mendatar.

Dungkur tidak mempunyai kesempatan untuk menghindar lagi. Sekali lagi ia mempergunakan kelincahan tangannya untuk menangkis serangan itu. Tetapi ayunan pedang Pangeran Ranakusuma ternyata terlampau keras, sehingga benturan yang terjadi adalah benturan yang dahsyat. Seperti yang pernah terjadi, tangan Dungkur tidak mampu lagi bertahan. Karena itu, maka ketika perasaan sakit menyengat pergelangannya, maka pedangnya pun telah terlepas dari tangannya.

Tetapi pada saat itu, pedang Pangeran Ranakusuma terjulur lurus. Dungkur melihat ujung pedang itu. Tetapi ia tidak berdaya lagi. Ia hanya sempat mengelakkan diri bergeser setapak. Namun ujung pedang itu masih juga menyobek lengannya.

Terdengar ia mengeluh tertahan. Ujung pedang itu telah mendorongnya sehingga ia hampir saja kehilangan keseimbang-annya.

Tetapi Pangeran Ranakusuma tidak melepaskannya. Sekali lagi ia meloncat menyerang dan di dalam keadaan yang sulit itu, Dungkur hampir tidak dapat berbuat apa-apa. Ketika ia berusaha menggeliat, maka keseimbangannya pun tidak lagi dapat dikuasai, sehingga ia pun jatuh terbanting.

Namun agaknya justru memberinya kesempatan untuk menghindarkan diri dari tusukan pedang yang langsung menghunjam di jantungnya, karena justru ketika ia terjatuh, maka tusukan pedang Pangeran Ranakusuma tidak mengenai dadanya. Tetapi kali ini pundaknyalah yang sobek oleh pedang lawannya yang berwarna kehitam-hitaman itu.

Meskipun tusukan itu tidak langsung membunuhnya, namun ternyata Dungkur sudah tidak dapat berbuat apapun lagi. Badannya serasa menjadi lumpuh oleh perasaan sakit yang tidak terkira. Sekali ia berguling di pasir sambil mengerang kesakitan.

Agaknya Pangeran Ranakusuma masih belum puas. Ia sudah bertekad untuk berperang tanding sampai salah seorang dari mereka mati di arena. Karena itu, maka ia masih meloncat sekali lagi sambil mengangkat pedangnya.

Namun pada saat itu, seorang perwira kumpeni yang lain pun meloncat pula sambil berkata gugup, “Sudah cukup Pangeran. Sudah cukup”

“Aku sudah berkata, bahwa satu di antara kita harus mati”

“Tetapi itu tidak berperikemanusiaan”

“Ia juga tidak berperikemanusiaan, karena ia sudah menodai isteriku dan sekaligus membunuh anakku”

“Tetapi, ia sudah Pangeran kalahkan”

“Aku harus membunuhnya seperti ia membunuh anakku. Noda yang melekat pada keluargaku harus ditebus dengan nyawa”

“Tidak Pangeran. Itu tidak baik”

“Minggir, atau kau akan menggantikannya” bentak Pangeran Ranakusuma.

Tetapi tiba-tiba seorang perwira kumpeni yang lain menggeram, “Itu perbuatan gila. Kau benar-benar bangsa yang biadab”

Kemarahan Pangeran Ranakusuma menjadi semakin menyala di dadanya. Karena itu, maka ia pun segera meloncat menghadapi perwira kumpeni yang telah mengumpatinya itu.

Tetapi langkah Pangeran Ranakusuma tertegun. Ia melihat kumpeni itu membawa senjata api pendek di tangannya dan teracung kepadanya. Karena itu maka ia pun kemudian menggeram, “Licik. Marilah kita berperang tanding dengan senjata tajam”

“Kau gila. Kau memang harus dibunuh Pangeran. Kau melukai seorang perwira kumpeni sehingga parah”

“Persetan. Ia harus dibunuh”

“Kau yang harus dibunuh” bentak kumpeni itu.

“Tidak” perwira kumpeni yang tertua itulah yang kemudian mencoba mencegahnya.

Tetapi yang berdiri di tepian itu adalah prajurit-prajurit. Prajurit dari kerajaan Belanda yang terbiasa hidup di medan perang, di darat dan di lautan. Itulah sebabnya, maka darah mereka pun cepat mendidih melihat akibat dari perang tanding itu.

Namun demikian, Pangeran-Pangeran yang ada di tepian itu pun prajurit-prajurit pula. Mereka mempertaruhkan nyawanya bagi nama baik dan kehormatannya secara pribadi.

Karena itu, ketika perwira yang memegang senjata api pendek itu melangkah setapak demi setapak mendekati Pangeran Ranakusuma, maka hampir tidak dapat diketahui, apa yang telah terjadi, namun tiba-tiba seorang Pangeran yang masih jauh lebih muda dari Pangeran Ranakusuma telah menyekap

Perwira kumpeni itu dari belakang, dan ujung kerisnya telah melekat lambung.

“Jika kau berkeras kepala, aku akan mengingkari semua kerja sama yang pernah kita lakukan. Aku akan membunuhmu dengan kerisku” geram Pangeran itu.

Perwira itu tertegun. Tetapi ia tidak sempat berbuat sesuatu karena keris Pangeran itu benar-benar telah terasa di lambungnya.

Dalam pada itu, perwira kumpeni yang tertua itu pun berteriak, “Aku memberikan perintah. Hentikan semuanya”

Perwira-perwira kumpeni yang lain, yang telah bersiap pun menjadi ragu-ragu. Dan perwira tertua itu berkata, “Kita tidak boleh mengorbankan hubungan baik selama ini karena persoalan pribadi. Persoalan negara adalah jauh lebih penting dari persoalan pribadi”

Mereka yang berdiri di pinggir bengawan itu menjadi termangu-mangu. Namun kemudian seorang perwira berkata, “Tetapi lukanya parah sekali”

“Bawalah kepada tabib supaya lukanya segera diobati” perintah perwira itu.

Kumpeni itu pun kemudian mengangkat Dungkur ke dalam sebuah kereta. Namun terasa, ketegangan yang semakin memun-cak. Dan sebelum kereta itu berderap Pangeran Ranakusuma menggeram, “Jika ia sembuh, aku tantang ia berkelahi sampai mati. Aku tidak puas dengan kelicikan kalian, orang-orang yang menyebut dirinya kesatria dari Barat”

“Cukup” bentak seorang perwira kumpeni yang lain.

“Licik” teriak seorang Pangeran, “Kalian memang licik. Perang tanding sampai mati, berarti yang kalah harus menandai diri dengan kematian. Dan perwira kumpeni adalah licik sekali. Kematian baginya lebih berharga dari kehormatan”

“Diam” bentak perwira kumpeni itu.

“Cukup” teriak perwira kumpeni yang paling tua di antara mereka, “Persoalan ini harus kita anggap sudah selesai. Marilah kita kembali dan melupakannya”

Tetapi Pangeran Ranakusuma tidak beranjak dari tempatnya. Ketika ia melihat kereta yang membawa Dungkur meninggalkan tepian itu ia menggeram, “Akan datang saatnya aku membunuh-nya”

“Kita akan melupakan semuanya” berkata perwira kumpeni yang tertua, “Kita sekarang akan kembali dan tidak seorang pun di antara kita yang akan menceriterakan peristiwa ini kepada siapapun juga”

Pangeran Ranakusuma tidak menjawab. Tetapi dendam masih tampak menyala di dadanya. Noda pada isterinya adalah noda terhadap kehormatannya. Dan kematian anaknya adalah hentakkan yang sangat berat pula baginya.

Ketika kereta yang membawa Dungkur dan kemudian perwira-perwira kumpeni yang lain itu meninggalkan tepi Bengawan, maka Pangeran Ranakusuma pun kemudian menarik nafas dalam-dalam.
“Tetapi hukuman itu sudah cukup baginya kangmas” berkata salah seorang Pangeran yang mendekatinya,

“Belum” sahut Pangeran Ranakusuma, “hanya kematian yang dapat menebus semua peristiwa yang pernah dilakukan”

Pangeran yang kemudian berdiri di sisinya itu tidak menjawab lagi. Ia sudah mengenal tabiat Pangeran Ranakusuma. Jika ia sudah bersikap demikian, maka tidak akan ada orang lain yang dapat melunakkannya kecuali dari dirinya sendiri.

Dalam pada itu, sebelum para Pangeran itu meninggalkan tepian, maka dua orang yang melihat semua peristiwa itu dari balik gerumbul-gerumbul liar, dengan hati-hati meninggalkan tempatnya. Mereka tidak berani berjalan dengan cepat, karena desir kakinya akan didengar oleh para Pangeran yang ada di tepian.

Kedua orang itu adalah Juwiring dan Dipanala. Mereka berdua melihat apa yang terjadi di tepian itu, meskipun kadang-kadang tidak begitu jelas. Namun mereka dapat menangkap kesan keseluruhan dari peristiwa itu.

Bukan saja kesan tentang peristiwa itu, tetapi bagi Juwiring persoalannya menjadi semakin jelas. Ia mengerti apa yang telah terjadi atas Raden Ayu Galihwarit. Dan anak muda itu dapat membayangkan, betapa pahitnya perasaan ayahandanya menghadapi peristiwa yang hitam itu.

Ketika keduanya sudah berada agak jauh dari tepian dan tidak lagi dapat dilihat oleh para Pangeran, maka keduanya pun kemudian menyusup ke dalam gerumbul mengambil kuda mereka yang memang ditambatkannya agak jauh.

Tetapi ketika mereka berdua sudah berada di punggung kuda, mereka terkejut bukan buatan ketika mereka mendengar seseorang bertanya, “Kau menyaksikan peristiwa itu?”

Keduanya serentak berpaling. Dilihatnya seorang anak muda yang bertolak pinggang di belakang mereka.

“O” Juwiring pun segera meloncat turun, diikuti oleh Ki Dipanala.

“Kalian tidak usah turun” cegahnya. Tetapi Juwiring dan Ki Dipanala sudah berdiri di atas tanah.

“Kangmas juga menyaksikan?” bertanya Juwiring.

“Ya. Aku melihat dari awal sampai akhir. Dan bukankah kau dapat melihat, bahwa sebenarnya pamanda Ranakusuma adalah seorang Senapati yang mumpuni? Bukan saja di dalam olah kanuragan secara pribadi di dalam perang tanding, tetapi ia adalah seorang Senapati yang sempurna di peperangan”

“Ya kangmas”

“Orang asing itu kini melihat, bahwa Surakarta bukannya sebuah Kerajaan yang diperintah oleh anak-anak cengeng. Tetapi bahwa ayahandamu telah dapat melepaskan dendamnya. Meskipun orang asing itu tidak terbunuh seketika, tetapi aku yakin, ia akan mati, karena pedang ayahandamu adalah pedang yang sesungguhnya. Bukan sekedar pedang mainan seperti milik kumpeni itu. Karena itu, meskipun tidak disaksikan oleh pamanda Ranakusuma, namun orang asing itu tentu tidak akan pernah dilihatnya lagi berada di Surakarta. Namun agaknya pamanda Ranakusuma tidak puas jika ia tidak melihat kumpeni itu mati di hadapannya”

Juwiring mengangguk. Katanya, “Tetapi di dalam sikapnya mengenai negeri ini, aku masih meragukannya. Apakah ayahanda dan para Pangeran itu akan berubah”

“Itu masih diperlukan waktu. Tetapi mudah-mudahan”

Raden Juwiring tidak menyahut lagi. Dan anak muda itu pun kemudian berkata, “Sudahlah. Bukankah kau akan mendahului pamanda Ranakusuma pulang ke istana Ranakusuman?”

Juwiring tersenyum dan menjawab, “Ya kangmas”

“Pergilah”

“Apakah kangmas akan tinggal di sini?”

“Aku berada di segala tempat”

Raden Juwiring pun kemudian meninggalkan tempat itu. Kudanya berpacu cepat sekali diikuti oleh Ki Dipanala. Mereka memang ingin mendahului ayahandanya yang agaknya masih berbincang beberapa lamanya di tepian dengan para Pangeran.

Tetapi Pangeran Ranakusuma pun tidak terlalu lama berada di antara mereka. Agaknya para Pangeran itu berusaha untuk menenangkannya. Namun Pangeran Ranakusuma masih tetap pada pendiriannya.

“Kangmas” berkata seorang Pangeran yang masih lebih muda daripadanya, yang ketika terjadi perang tanding, telah menyekap seorang perwira yang akan mempergunakan senjata api, “Memang kami dapat mengerti, betapa dendam telah membakar hati kangmas. Tetapi kangmas juga sudah mendapat kesempatan”

“Aku harus yakin, bahwa orang itu dapat aku bunuh. Jika oleh tabib yang menurut beritanya sangat pandai dan dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit itu, dapat diobatinya, maka aku akan mengulangi perang tanding ini”

Para Pangeran itu pun terdiam. Beberapa orang saling berpandangan. Tetapi tidak seorang pun yang berbicara lagi.

Pangeran Ranakusuma pun kemudian segera naik ke dalam keretanya dan sejenak kemudian kereta itu pun telah berderap menyusur jalan kota yang remang-remang. Beberapa buah pelita minyak terpancang di pinggir jalan berkeredipan disentuh angin.

Ketika Pangeran Ranakusuma sampai di istananya, jauh malam, Juwiring sudah berada di dalam biliknya. Ketika ia berdiri dan melangkah keluar, ayahandanya lewat dan berkata, “Beristirahatlah. Kenapa kau belum tidur?”

Tetapi ayahandanya sama sekali tidak berhenti. Pangeran Ranakusuma itu langsung masuk ke dalam biliknya. Ia tidak ingin dilihat oleh Juwiring, bahwa pakaiannya kusut dan kotor, bahkan sepercik noda darah telah mengotori bajunya.

Dalam pada itu, kereta yang membawa Dungkur pun telah langsung mendapatkan tabib yang memang di tempatkan di Surakarta bagi para kumpeni yang ada di kota itu. Tetapi ternyata bahwa lukanya yang parah tidak memungkinkannya lagi untuk bertahan. Ketika ia memasuki pintu bilik tabib itu dengan dipapah oleh kawan-kawannya, maka perwira kumpeni itu menghembuskan nafasnya yang terakhir.

“Mati” desis kawannya.

Dungkur itu pun kemudian dibaringkan di atas sebuah pembaringan. Lukanya yang parah itulah yang telah mencabut nyawanya.

“Kematian ini harus ditebus oleh orang-orang pribumi yang liar itu” geram seorang perwira yang masih muda.

Tetapi perwira yang paling tua di antara mereka menggelengkan kepalanya. Katanya, “Kita adalah kesatria dari benua Eropa yang lebih beradab. Kita akan menghargai kejantanan, di dalam perang tanding ini, semuanya harus kita anggap sudah selesai. Bagi kita, Surakarta adalah suatu negeri, yang sangat penting. Pada saat terakhir, kita sudah berangsur-angsur dapat menguasai lebih banyak lagi jalur-jalur perdagangan dan bahkan pemerintahan. Jangan kalian merusak usaha yang kita buka dengan susah payah. Surakarta agak berbeda dengan daerah-daerah yang lain. Surakarta memiliki kekuatan dan lebih dari itu memiliki kesadaran kebangsaan yang tinggi. Karena itulah kita harus berhati-hati”

“Tetapi apakah kita harus membiarkan penghinaan ini?”

“Itu adalah kesalahannya sendiri” berkata perwira yang tua itu, “Jika ia tidak terlibat di dalam persoalan yang menyangkut kehormatan seorang kesatria di Surakarta, maka ia tidak akan sampai pada akhir hidupnya yang pedih. Tetapi perkelahian yang terjadi adalah adil. Kematiannya merupakan peringatan bagi kita semua, bahwa kita memang harus berhati-hati mengisi kesepian”

Perwira yang lebih muda itu terdiam. Tetapi tampaknya ia masih saja dibakar oleh dendam, seperti dendam yang menyala di hati Pangeran Ranakusuma sendiri.

Namun dalam pada itu, kumpeni tidak dapat lagi menyembunyikan kematian perwiranya itu. Meskipun demikian masih ada saja dalih yang dapat mengurangi hangatnya persoalan. Kumpeni berhasil menyebar berita, bahwa perwiranya, yang mati itu karena diserang oleh penyakitnya yang sebenarnya sudah-lama ditanggungkannya. Namun karena tugas-tugasnya, maka rasa sakit itu sama sekali tidak dihiraukannya.

“Dungkur meninggal karena sakit perut yang parah” berkata orang-orang di pinggir jalan.

“Ya, tiba-tiba saja semalam ia diserang oleh perasaan sakit, sehingga seakan-akan pernafasannya tersumbat. Akibatnya nyawanya tidak tertolong lagi meskipun mereka mempunyai seorang tabib yang sangat pandai dan dapat mengobati segala macam penyakit. Tetapi kepandaian seseorang memang terbatas jika maut memang telah menjemput”

Kematian perwira kumpeni itu ternyata telah menggemparkan semua pihak. Meskipun pada umumnya rakyat Surakarta percaya bahwa kematian perwira kumpeni itu karena sakit perut, tetapi kalangan yang lebih tinggi masih harus berpikir beberapa kali untuk mempercayainya. Terlebih-lebih lagi para perwira tinggi kumpeni di Jakarta. Pemimpin tertinggi kumpeni di Kota Intan itu segera mengirimkan utusan untuk mengetahui kebenaran peristiwa yang menimpa seorang perwiranya itu.

Pimpinan Kumpeni di Surakarta dan Semarang tidak dapat ingkar atas apa yang sebenarnya terjadi. Namun mereka membatasi persoalan itu pada persoalan pribadi semata.

Namun ternyata pimpinan kumpeni telah mendapat peringatan keras dari atasan mereka. Persoalan pribadi dengan seorang bangsawan tertinggi di Surakarta sangat tidak menguntungkan, apalagi seorang Pangeran yang selama ini bersikap baik terhadap kumpeni.

Ternyata kemudian menurut penyelidikan, bukan saja Dungkur yang terlibat di dalam persoalan harga diri Pangeran Ranakusuma. Apalagi ketika mereka mendengar bahwa Pangeran Ranakusuma sudah menyiapkan tantangan-tantangan berikutnya bagi beberapa orang perwira kumpeni yang lain.

Dengan tergesa-gesa pimpinan tertinggi di Surakarta dan Semarang, segera memerintahkan mereka yang terlibat itu untuk dipindahkan dari Surakarta.

Dengan demikian, maka terjadi beberapa perubahan jabatan di antara mereka. Beberapa orang baru tampak mulai berkeliaran di kota. Namun ternyata bahwa orang-orang baru yang belum mengenal Surakarta dengan baik itu mempunyai sikap yang lain. Mereka ternyata adalah prajurit yang kasar dan mementingkan pedang dan senjata daripada sikap yang ramah dan baik, sehingga dengan demikian, sikap kumpeni di Surakarta menjadi semakin gila. Ditambah lagi dengan perwira-perwira muda yang merasa tersinggung kehormatannya karena kematian seorang kawannya oleh seorang pribumi di dalam perang tanding, seakan-akan kesatria dari negeri Atas Angin itu tidak dapat mengimbangi kemampuan kesatria dari negeri yang liar ini.

Akibatnya, terasa sekali dalam kehidupan rakyat di Surakarta. Rasa-rasanya kumpeni menjadi semakin buas dan kasar. Sikapnya kepada rakyat kecil semakin semena-mena.

Namun karena itulah maka darah kesatria di Surakarta menjadi semakin mendidih karenanya.

Dengan demikian maka udara di atas Surakarta rasa-rasanya memang menjadi semakin panas. Ketegangan yang tersaput oleh sikap yang pura-pura semakin lama menjadi semakin nyata. Dan suasana itu telah dihayati oleh para pemimpin di Surakarta, terutama Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said yang menjadi semakin berprihatin.

“Kapan aku dapat mulai” kadang-kadang anak muda itu tidak dapat menahan hatinya lagi.

Tetapi bangsawan muda itu masih harus menyabarkan dirinya. Agaknya saatnya memang belum datang, meskipun sudah dekat. Namun demikian, bangsawan muda itu tidak terlampau ketat membatasi anak buahnya, jika terpaksa sekali terlibat di dalam benturan yang memang kadang-kadang terjadi dengan kumpeni. Memang terlampau sulit baginya untuk menghentikan sama sekali perlawanan yang sudah lama dilakukannya.

Namun dalam pada itu, selagi rakyat Surakarta bergejolak oleh tindakan-tindakan yang kasar dan keras dari kumpeni, maka dengan akal yang licik, kumpeni berhasil menusukkan jarum perpecahan yang lebih parah di dalam pimpinan pemerintahan. Beberapa orang bangsawan, para bupati, dan bahkan kemudian pepatih Susuhunan sendiri, mulai dijangkiti perasaan iri terhadap Pangeran Mangkubumi. Tanpa mereka sadari, racun yang dibiuskan di telinga mereka, berhasil membangunkan usaha, agar Susuhunan mencabut hak Pangeran Mangkubumi atas bumi kelenggahannya di Sukawati. Dengan demikian, maka Sukawati akan dapat dibagikan kepada beberapa orang bangsawan yang lain.

Tetapi di luar sadar mereka, yang paling berkepentingan adalah kumpeni sendiri. Jika Sukawati terlepas dari tangan Pangeran Mangkubumi, maka keadaannya pasti akan berubah.

Menurut penyelidikan kumpeni, keadaan di Sukawati sebenarnya telah benar-benar parah. Rakyat Sukawati telah berhasil dibangunkan dari tidur mereka dan dari mimpi yang buruk selama ini.

Dengan demikian, maka di kalangan istana Kangjeng Susuhunan mulai terdengar bisik-bisik di antara para bangsawan, bahwa Sukawati memang harus ditarik. Adalah berlebih-lebihan bagi seorang Pangeran untuk menerima tanah kalenggahan seluas Sukawati.

Sebelum Kangjeng Susuhunan mengambil keputusan, ternyata usaha untuk memisahkan Pangeran Mangkubumi dari rakyatnya itu sudah diketahuinya, sehingga dengan demikian, maka Pangeran Mangkubumi pun dengan tergesa-gesa telah menyiapkan dirinya menghadapi setiap kemungkinan.

Dalam kalutnya udara di atas Surakarta itu, maka di padepokan Jati Aking, Buntal dan Arum selalu melatih diri, untuk mendapatkan tingkat kemampuan yang memadai di dalam suasana yang semakin panas itu.

Bahkan bukan saja Buntal dan Arum, tetapi Raden Juwiring masih juga kadang-kadang datang menemui gurunya.

Tetapi ternyata semakin lama menjadi semakin jarang. Bahkan kadang-kadang untuk waktu yang cukup panjang, Juwiring. sama sekali tidak menampakkan diri di padepokannya.

Buntal merasakan kelainan itu. Dan apalagi apabila setiap kali Arum selalu bertanya kepadanya, kenapa Juwiring sudah terlampau lama tidak mengunjungi padepokan.

Meskipun perasaan rindu kadang-kadang tersembul juga di hati Buntal, namun kerinduan Arum terhadap Juwiring itu kadang-kadang terasa menyentuh hatinya. Ia sendiri tidak berani mendengar apakah sebabnya, maka kadang-kadang ia tidak senang mendengar Arum selalu bertanya tentang Juwiring.

“Kita sama-sama tidak mengerti” jawabnya pada suatu kali ketika Arum bertanya kepadanya, kenapa Juwiring sudah lama tidak berkunjung.

“Barangkali Raden Juwiring pernah mengatakan sesuatu kepadamu, tetapi tidak kepadaku” sahut Arum.

“Tidak. Raden Juwiring tidak pernah mengatakan apapun kepadaku. Sebenarnyalah aku juga mengharap ia datang. Tetapi selebihnya aku tidak mengerti”

Arum tidak bertanya lagi. Ia dapat mengerti jawaban Buntal. Namun ia tidak dapat merasakan, bahwa di balik kata-kata anak muda itu terselip perasaan yang asing bagi Arum.

Demikianlah, Juwiring semakin lama menjadi semakin jarang datang kepada gurunya, sehingga pada suatu saat, rasa-rasanya Juwiring telah benar-benar melupakan, bahwa ia adalah anak yang diasuh di dalam olah kanuragan di padepokan Jati Aking.

Dalam pada itu, Juwiring sendiri ternyata telah tenggelam di dalam hidup keluarganya yang-mulai menjadi tenang. Rara Warih mulai menyadari, apakah arti Juwiring bagi keluarganya. Ia adalah seorang anak muda yang baik dan memiliki ilmu yang cukup, melampaui kakaknya Raden Rudira. Buka hanya di dalam olah kanuragan, tetapi di dalam segala hal. Warih tidak pernah mendengar Juwiring membentak-bentak, berteriak tidak ada artinya dan memerintahkan para pelayan dan pengawalnya untuk melakukan sesuatu yang aneh.

Hampir di dalam setiap tindakan, Juwiring melakukannya dengan penuh tanggung jawab, sehingga dengan demikian, maka para pelayan, abdi dan pengawal, yang semula tidak mau mengerti kenapa anak itu harus hadir di istana ayahandanya, mulai menyesal atas sikapnya.

Selain ketenangan yang berangsur-angsur pulih kembali, maka Juwiring pun ternyata telah menemukan seorang guru yang baru. Ayahandanya sendiri.

Ternyata ayahandanya juga memiliki kemampuan yang luar biasa. Ilmunya yang tinggi dan pengalamannya yang luas, membuat Pangeran Ranakusuma benar-benar seorang Panglima.

Dari ayahandanya itulah Juwiring menyadap ilmu kanuragan di samping ilmu yang telah dimilikinya. Ternyata ayahandanya pun tidak berbuat dengan tergesa-gesa. Ia mempelajari serba sedikit ilmu yang dimiliki Juwiring. Kemudian memberikan ilmunya tanpa menumbuhkan pertentangan di dalam diri anak laki-lakinya itu.

Dari hari ke hari nampak, bahwa Juwiring benar-benar seorang yang memiliki daya tangkap yang luar biasa atas ilmu kanuragan. Apalagi ia sudah mempunyai dasar pengetahuan secara umum bagi olah kanuragan itu, sehingga ia tidak banyak menemui kesulitan menerima ilmu dari ayahandanya.

Bahkan dari hari ke hari, ilmunya menjadi kian meningkat dengan pesatnya. Pangeran Ranakusuma sendiri merasa heran, bahwa Juwiring akan mampu menangkap ilmu yang diberikan itu begitu cepat.

Dengan demikian, maka perlahan-lahan istana Ranakusuman itu pun telah melupakan seorang perempuan bangsawan yang pernah berkuasa. Bahkan Warih sendiri perlahan-lahan melupakan ibunya yang berada di rumah kakeknya. Bukan melupakannya sebagai seorang ibu, tetapi melupakan kejutan yang mengguncangkan isi istana itu. Setiap kali Warih masih selalu bertanya tentang keadaan ibunya. Tetapi ia tidak mau datang menengoknya sebelum ia yakin bahwa ibunya tidak akan dipengaruhi lagi oleh kenangan yang sangat pahit itu.

Tetapi dalam pada itu, Pangeran Ranakusuma sendiri sama sekali tidak pernah menyebutnya lagi. Ia tidak ingin terlempar di dalam kenangan yang sangat pedih. Ia mencoba mengisi waktunya untuk kepentingan kedua anaknya. Juwiring dan Warih.

Dengan sepenuh perhatian, Pangeran Ranakusuma menempa Juwiring agar menjadi seorang Laki-laki yang mumpuni, di dalam olah kanuragan, di dalam olah kajiwan, dan ilmu pemerintahan. Pangeran Ranakusuma memanggil seorang yang ahli untuk menuntun Juwiring agar ia menjadi seorang bangsawan yang baik di segala bidang.

Sedang bagi Warih, Pangeran Ranakusuma menyerahkannya kepada seorang perempuan yang meskipun sudah agak lanjut usia, tetapi masih mempunyai kelincahan di dalam banyak hal. Memasak, menghias diri, memelihara dan mengatur rumah seisinya. Seperti cita-citanya bagi Juwiring, maka Pangeran Ranakusuma pun mengharap agar Warih menjadi seorang perempuan bangsawan yang sempurna. Bukan saja seorang bangsawan yang cantik dan pandai menghias diri, tetapi ia harus menjadi seorang perempuan bangsawan yang mampu menjadikan rumah tangganya kelak, sebuah rumah tangga yang tenang damai dan berwibawa.

Dengan demikian, dengan kesibukan yang semakin meningkat, Juwiring benar-benar tidak pernah lagi datang ke padepokan Jati Aking. Ia tenggelam dalam latihan-latihan olah kanuragan, belajar ilmu-ilmu yang lain yang harus dimilikinya dan sedikit waktu untuk beristirahat dan menyesuaikan diri dengan kedudukannya. Sekali-sekali Juwiring pernah mengikuti ayahnya di dalam himpunan para bangsawan dan mulai berkenalan dengan orang asing yang berkuasa di Surakarta.

“Kau harus bersikap baik terhadap mereka Juwiring” berkata ayahnya, “Apapun yang kau simpan di dalam hati, tetapi di hadapan mereka, kau harus menunjukkan sikap yang sopan dan beradab, agar kita tidak disebutnya sebagai bangsa yang tidak mengenal sopan santun dan tidak berperadaban”

Dan Juwiring tidak berusaha menentang pesan ayahandanya. Perlahan-lahan ia menyesuaikan dirinya dengan pergaulan yang semula terasa asing baginya. Namun lambat laun, ia pun menjadi terbiasa pula.

Demikian pulalah di dalam hidupnya sehari-hari. Meskipun ia tetap seorang anak muda yang rendah hati, tetapi kini Juwiring adalah benar-benar seorang putera Pangeran. Pakaiannya, sikapnya dan hubungan yang dilakukannya sehari-hari. Saudara-saudara sepupunya yang semula tidak mau mengenalnya lagi, satu dua sudah ada yang mulai bergaul meskipun tidak terlampau rapat

Sikap dan tingkah lakunya itu, menimbulkan kekecewaan yang sangat pada Buntal dan Arum. Meskipun mereka tidak sempat menyaksikan sikap dan tingkah laku itu, namun sekali. mereka pernah juga mendengarnya. Sumber yang paling dapat dipercayainya adalah Ki Dipanala sendiri.

Ki Dipanala ternyata sama sekali tidak ingin memutuskan hubungannya dengan Kiai Danatirta. Ia masih sering datang mengunjunginya. Daripadanya lah maka Buntal dan Arum mendengar, bahwa Raden Juwiring kini sudah berhasil menyesuaikan dirinya dengan kehidupan yang seharusnya bagi seorang putera Pangeran.

“Seharusnya ia tidak perlu belajar” berkata Arum sambil mengerutkan dahinya, “Ia memang putera Pangeran. Sebelum tinggal di sini, ia tentu sudah terbiasa dengan. hidup seperti yang dilakukannya sekarang ini”

“Ya” Ki Dipanala mengangguk-angguk, “Tetapi sudah lama ia terpisah dari pergaulan para bangsawan, sehingga ia harus berusaha menyesuaikan dirinya kembali”

“Apakah artinya ia berada di sini beberapa waktu yang lalu? Jika akhirnya ia melupakan padepokan ini, dan terlebih-lebih lagi segala cita-cita yang dengan berkobar-kobar pernah dikatakannya di sini?”

Ki Dipanala menarik nafas dalami. Dengan hati-hati ia berkata, “Ia sama sekali tidak melupakan padepokan ini. Tetapi ia kini sedang disibukkan oleh berbagai macam pekerjaan yang dibebankan kepadanya oleh ayahandanya”

“Tentu, itu adalah suatu usaha untuk memisahkannya dari padepokan ini” bantah Arum, lalu, “dan apakah gunanya ia mempelajari olah kanuragan, jika ia kemudian menjadi murid dari orang lain meskipun itu ayahandanya sendiri? Kenapa baru sekarang? Kenapa tidak dahulu? Ternyata Raden Juwiring kini benar-benar telah menjadi pengganti Raden Rudira”

Ki Dipanala tidak segera menyahut. Sekilas ditatapnya wajah Kiai Danatirta yang lembut.

“Arum” berkata Kiai Danatirta, “Apakah salahnya jika Raden Juwiring menyesuaikan diri dengan tata cara hidup keluarganya. Biarlah ia berada di dalam lingkungannya. Itu memang sudah haknya”

“Tetapi apakah artinya padepokan ini baginya? Seperti silirnya angin di pegunungan. Alangkah segarnya jika wajah yang gersang bagaikan dibuat oleh desir yang lembut. Tetapi angin itu sudah berlalu. Dan tidak akan pernah diingatnya kembali”

Kiai Danatirta justru tersenyum melihat wajah anaknya yang tegang. Katanya, “Tetapi kita tidak dapat merampas haknya. Dan apakah sebenarnya yang pernah dihayatinya di padepokan ini? Apa yang kita lakukan di sini, adalah semata-mata suatu kewajiban. Dan kita tidak akan pernah menuntut pamrih bagi diri sendiri, penghargaan atau pujian dan imbalan berupa apapun. Jika kita melepaskan seekor burung yang kita selamatkan dari mulut seekor kucing, maka kita tidak akan pernah mengharap burung itu datang kembali kepada kita dengan membawa butiran-butiran padi seperti di dalam dongeng anak-anak menjelang tidur”

Arum tidak menjawab lagi. Tetapi kepalanya menunduk dalam-dalam, Ki Dipanala yang menyaksikannya hanya dapat mengangkat bahu. Ia mengerti, bahwa pergaulan yang cukup lama itu telah menumbuhkan ikatan persaudaraan yang dalam. Keduanya memang sudah dinyatakan sebagai saudara angkat apalagi mereka pada dasarnya adalah saudara seperguruan bersama dengan Buntal.

Namun dalam pada itu. Buntal mempunyai tanggapan yang lain. Sebenarnya ia pun mempunyai perasaan seperti yang dikatakan oleh Arum. di antara kekecewaan dan kerinduan kepada saudara angkatnya. Tetapi mendengar keluhan Arum di hadapannya itu, rasa-rasanya ia mempunyai tanggapan yang lain. Seakan-akan ia mendengar keluhan rindu seorang gadis atas seorang laki-laki muda yang telah menarik hatinya.

Karena itu, maka Buntal justru tidak mengatakan sesuatu. Ia bahkan harus berjuang mengatasi kerisauan hatinya sendiri. Dengan susah payah ia mencoba untuk tidak berprasangka buruk, dan bahkan katanya kepada diri sendiri, “Alangkah hitamnya hati ini”

Demikianlah, maka di saat-saat tertentu, masih terasa, bahwa kepergian Juwiring dari padepokan Jati Aking, telah menumbuh-kan perubahan di dalam tata kehidupan di padepokan itu. Bahkan kemudian timbul di hati Buntal suatu keinginan, agar sebaiknya Juwiring tidak akan pernah menginjakkan kakinya lagi di padepokan itu.

“Gila” Ia mengumpati dirinya sendiri, “perasaan ini adalah suatu pengkhianatan. Aku agaknya telah mementingkan diriku sendiri. Aku sudah digulat oleh kedengkian karena aku ingin memisahkan Arum dari Juwiring”

Namun betapa ia menjadi sakit karena benturan dengan dirinya sendiri. Antara tata krama, unggah-ungguh dan tuntutan hatinya sebagai seorang laki-laki muda.

Tetapi betapapun sakitnya, ia harus menahan hati. Ia harus tetap seperti yang ada selama ini. Bahwa Buntal adalah saudara angkat Arum, dan keduanya adalah saudara seperguruan.

Dengan demikian maka Buntal pun selalu berusaha menekan perasaannya. Dialihkannya semua persoalan pada dirinya ke dalam mesu diri. Berlatih dengan tekun tanpa mengenal lelah. Siang dan malam, apabila kerja di sawah sudah selesai, maka ia selalu berada di dalam sanggar untuk menyempurnakan ilmu kanuragannya. Kadang-kadang ia berlatih sendiri, kadang-kadang dengan gurunya dan Arum.

Sebagai seorang tua, Kiai Danatirta mengetahui, bahwa ada sesuatu yang agaknya tersembunyi di dalam hati Buntal. Kemauannya melatih diri agak berlebih-lebihan. Meskipun dengan demikian kemajuannya di dalam olah kanuragan menjadi semakin pesat, tetapi Kiai Danatirta melihat kemundurannya di lain segi dari kehidupan Buntal.

“Anak muda itu sekarang sering menyendiri” berkata Kiai Danatirta di dalam hati. Tetapi orang tua itu tidak segera dapat menebak, perasaan apakah yang sebenarnya tersembunyi di dalam diri muridnya itu.

Dan Buntal pun memang tidak ingin menunjukkan gejolak hati yang sebenarnya.

Dengan sepenuh hati. Buntal memperdalam ilmunya hampir setiap saat. Ketika udara sedang gelap karena mendung yang menyaput langit di ujung malam. Buntal berdiri terengah-engah di belakang sanggar. Keringatnya bagaikan diperas dari dalam tubuhnya. Baru saja ia menyelesaikan sebuah latihan yang berat. Sengaja tidak di dalam sanggar, agar ia dapat bergerak dengan bebas, tidak dibatasi oleh dinding-dinding bangsal yang dirasanya terlampau sempit.

Apalagi halaman di belakang sanggar itu pun dibatasi oleh dinding batu hampir berkeliling, sehingga latihannya sama sekali tidak mengganggu orang lain atau terganggu karenanya.

Buntal menengadahkan wajahnya ketika dilihatnya lidah api meloncat di langit. Tetapi ia masih belum ingin beristirahat. Ia masih ingin melanjutkan latihannya.

Sekali lagi Buntal bersikap. Beberapa kali ia melakukan gerakan-gerakan yang sedang dipelajarinya sifat dan kemungkinannya. Berkali-kali gerak itu diulanginya. Sehingga akhirnya ia menganggukkan kepalanya.

Tetapi Buntal terkejut, ketika kilat menyambar di langit, dilihatnya sesuatu bergerak di balik gerumbul di sudut halaman. Sejenak ia membeku, namun kemudian ia masih saja berpura-pura tidak melihat sesuatu. Dilanjutkannya latihan-latihan yang dilakukannya itu, dari tata gerak yang satu, dihubungkan dengan tata gerak yang lain dalam rangkaian yang serasa.

Namun demikian, ia masih tetap memperhatikan bayangan yang sekilas dilihatnya.

Jika kilat menyambar lagi di langit, Buntal mengharap bahwa ia akan dapat melihatnya sekali lagi untuk meyakinkan, bahwa ia tidak sekedar diganggu oleh bayangan yang hanya sekedar mirip saja dengan bayangan seseorang.

Beberapa saat lamanya Buntal masih tetap melatih diri di dalam kegelapan. Meskipun perhatiannya kini terbagi antara latihan dan gerumbul di sudut, namun ia masih tetap bergerak terus agar seandainya di balik gerumbul itu benar-benar ada orang yang mengintainya, orang itu masih akan tetap berada ditempatnya.

Ternyata bahwa sejenak kemudian kilat benar-benar memancar di langit. Sepercik sinarnya menyambar seseorang yang bersembunyi di balik gerumbul. Meskipun Buntal tidak dapat melihat dengan jelas, tetapi ia kini yakin, bahwa yang berada di balik gerumbul itu memang seseorang. Bukan sekedar dedaunan yang bergerak disentuh angin.

Karena itu, Buntal pun mulai mencari jalan, bagaimana ia dapat mendekati gerumbul itu tanpa menumbuhkan kecurigaan.

Sejenak Buntal berpikir, sehingga tata geraknya menjadi sedikit kendor. Namun sejenak kemudian Buntal justru telah mengerahkan segenap kemampuan geraknya. Ia meloncat tinggi-tinggi sambil memutar tangannya di udara. Kemudian menyapu dengan kakinya rendah hampir melekat tanah. Sekali ia berguling, berputar dan melakukan gerakan-gerakan yang aneh. Bahkan ia meloncat dan berputar di udara.

Dengan demikian Buntal bergerak hampir di seluas halaman di belakang Sanggar itu, sehingga tanpa menimbulkan kecurigaan, sampai juga ia di sebelah gerumbul itu.

“Nah, aku kira aku sudah cukup dekat” katanya di dalam hati. Karena itu, sejenak ia mengumpulkan tenaganya, dan sesaat kemudian ia pun segera meloncat menerkam bayangan yang ada di balik gerumbul itu.

Tetapi ternyata Buntal keliru. Orang yang berada di balik gerumbul itu tidak tinggal diam dan membiarkan dirinya diterkamnya. Meskipun orang di balik gerumbul itu agak terkejut melihat Buntal yang tiba-tiba saja meloncat ke arahnya, namun sambil berjongkok ia sempat menghindar diri dengan meloncat melangkah ke samping.

Ketika Buntal yang gagal itu bersiap, maka orang itu pun telah bersiap pula menghadapi segala kemungkinan.

Tetapi Buntal tertegun sejenak. Bahkan kemudian ia berdiri termangu-mangu. Orang itu tidak lain adalah Arum.

“Kau berada di sini Arum?” suaranya tergagap.

Arum menundukkan kepalanya. Ia tidak lagi bersikap garang seperti jika ia hendak bertempur. Tetapi tiba-tiba saja Arum telah menjadi seorang gadis yang tersipu-sipu.

“Kenapa kau berada di sini?” sekali Buntal mendesak sambil mendekatinya.

“Tidak apa-apa. Aku memang ingin menyusulmu berlatih di sanggar. Tetapi ternyata kau tidak ada di dalam bangsal itu”

“Tetapi kau tidak memakai kelengkapan untuk berlatih”

Tanpa disadarinya Arum memandang pakaiannya dari ujung kaki sampai ke ujung tangannya. Ia memang tidak mengenakan kelengkapan untuk berlatih. Karena itu asal saja ia menjawab, “Aku memang tidak ingin berlatih. Aku hanya sekedar ingin melihat, karena badanku rasa-rasanya lelah sekali hari ini”

Buntal menarik nafas dalam-dalam. Tetapi jawaban itu dapat dimengertinya. Bahkan ia mencoba mengerti, karena Arum justru bersembunyi. Agaknya gadis itu ingin melihat perkembangan ilmunya tanpa mengganggunya atau membuatnya ragu-ragu justru karena ia sadar bahwa seseorang sedang memperhatikannya.

Namun yang tidak dimengerti oleh Buntal, justru sikap Arum yang agak berbeda dengan sikapnya sehari-hari. Tampak Arum saat itu agak letih dan ragu-ragu.

“Arum” berkata Buntal kemudian, “Apakah kau sedang sakit?”

Arum menggelengkan kepalanya. Perlahan-lahan ia menjawab, “Tidak Buntal. Aku tidak sakit. Tetapi rasa-rasanya hatiku tidak secerah saat-saat lampau”

Dada Buntal menjadi berdebar-debar. Yang pertama-tama diingatnya adalah Juwiring. Tentu gadis ini merindukan anak muda yang sudah cukup lama tidak menampakkan dirinya.

Dan hampir di luar sadarnya Buntal berkata, “Arum, sebaiknya kau tidak usah memikirkannya lagi. Ia sudah pergi, dan meskipun aku juga mengharap, tetapi ia tidak akan dapat kembali di antara kita seperti biasanya”

Tetapi Buntal menjadi terkejut ketika Arum menjadi tegang. Dan bahkan bertanya, “Apakah yang kau maksud?”

Buntal termangu-mangu sejenak. Namun kemudian dipaksanya menjawab, “Aku kira seperti aku kau mengharap kakang Juwiring datang dan berada lagi di antara kita”

Arum menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tidak memikirkannya lagi. Meskipun ia saudara angkatku dan aku menganggapnya sebagai kakak kandungku sendiri, tetapi ia sudah melupakan kita di padepokan yang terpencil ini”

“O” Buntal mengangguk-angguk, “Jadi, apakah yang kau pikirkan?”

Bersambung ke bagian 2

3 Tanggapan

  1. Terima kasih jilid 13 nya.
    Ennng….ing enggg….
    Langsung lembur sampai tuntas…tas……tas…..tas….

  2. Sumonggo kito sami andedonga, supadosa kitab Bunga di Batu Karang wiwit jilid 14 lan jilid salajengipun enggal kababaraken, kaliyan ugi kangmas ingkang ambabaraken kaparingan berkah ingkang ageng kaliyan kawarasan saking Gusti Allah ingkang moho kuaos, amin.

  3. Amin Yaa Robbal Alamin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s