BdBK-10


BUNGA DI BATU KARANG

JILID 10

kembali | lanjut

BdBK-10“O” MATA Raden Ayu Galih Warit mulai berkunang-kunang. Kini ia sadar, bahwa yang ditembak itu tentu Rudira, anaknya. Dan setelah anaknya itu terkapar di tengah jalan berbatu-batu, maka ia masih sempat tertawa meringkik seperti iblis betina di dalam pelukan orang asing berkulit putih itu.

“O” Tidak ada sepatah katapun yang dapat diucapkannya. Tetapi yang pernah dilakukan bagaikan terbayang kembali di dalam rongga matanya. Kemaksiatan yang pernah dilakukan. Dan akhirnya anaknya sendiri mati terbunuh selagi ia sedang menikmati nafsu yang gila.

Tiba-tiba nafasnya menjadi terhenti. Sekilas ia melihat Rudira yang terbujur itu. Tetapi semakin lama semakin kabur.

Raden Ayu Galih Warit masih sempat menjerit. Terlalu keras. Sambil berlari ia memanggil nama anaknya. Kemudian dijatuhkannya dirinya di atas mayat yang sudah membeku itu.

“Rudira, Rudira” suaranya melengking tinggi, “Tidak. Tidak”

Suara Raden Ayu Galih Warit tiba-tiba terhenti. Tubuhnya menjadi lemas dan ia tidak lagi dapat berpegangan ketika tubuh itu perlahan-lahan berguling dan jatuh di lantai. Pingsan.

Pangeran Ranakusuma sama sekali tidak berbuat apa-apa. Dipandanginya saja isterinya yang tergolek di lantai di bawah pembaringannya.

Dipanala menjadi termangu-mangu. Ia tahu, bahwa beberapa orang pelayan berkumpul di pintu belakang. Tetapi mereka tidak berani masuk ke dalam.

“Pangeran” desis Dipanala, “Apakah tidak sebaiknya Raden Ayu itu dibangunkan dari pingsannya”

Pangeran Ranakusuma memandanginya sejenak, lalu, “Biarkan saja ia terbaring di situ”

“Tetapi itu berbahaya bagi Raden Ayu”

“Kenapa?”

“Jika Raden Ayu terlampau lama pingsan, maka kesehatannya akan menjadi jelek sekali”

“Aku tidak peduli”

“Tetapi, tetapi, apakah hamba diperkenankan mencobanya bersama para pelayan?”

“Apa kepentinganmu? Bukankah kau pernah akan dibunuhnya? Rudira dan Mandra lah yang mengatur segala sesuatunya. Buat apa kau sekarang akan menolongnya”

“Hamba mengerti Pangeran. Tetapi hamba tidak sampai hati melihatnya, seperti pada saat hamba melihat Mandra sudah siap membunuh Raden Rudira”

Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Sambil melangkah meninggalkan ruangan itu ia berdesis, “Terserah kepadamu”

Ki Dipanala menjadi ragu-ragu sejenak. Dipandanginya saja Pangeran Ranakusuma yang melangkah keluar biliknya. Meskipun tampaknya Pangeran itu tetap tenang, namun tatapan matanya yang tunduk membayangkan, betapa sakitnya dera yang menyentuh perasaannya. Ia telah kehilangan anak laki-lakinya, dan sekaligus telah kehilangan semuanya. Isterinya yang dianggapnya paling sesuai itu ternyata sama sekali tidak setia kepadanya, sedang isterinya yang lain telah meninggal lebih dahulu dan yang seorang telah dikembalikan kepada orang tuanya. Demikian juga kedua anak laki-lakinya. Yang seorang meninggal, dan yang seorang bagaikan telah dibuangnya. Anak perempuannya hampir seperti orang lain saja baginya. Meskipun kadang-kadang anak itu dengan manjanya merengek minta sesuatu, namun ia lebih dekat dengan ibunya bahkan dengan kakeknya daripada dengan dirinya sendiri.

Ki Dipanala masih berdiri sambil termenung ketika ia melihat Pangeran Ranakusuma duduk di pendapa. Seakan-akan tidak terjadi sesuatu di dalam istananya yang besar. Seakan-akan tidak ada sesosok mayat yang terbujur di dalam bilik, dan tubuh yang terbaring pingsan di lantai di sisi mayat itu. Seakan-akan tidak pernah terjadi pengkhianatan dari abdi yang dianggapnya setia oleh anaknya itu, dan yang kemudian juga terbujur mati di ruang belakang.

Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba saja ia sadar bahwa Raden Ayu Galih Warit memerlukan pertolongan. Jika ia sama sekali tidak mendapat perawatan, maka akan ada tiga sosok mayat di dalam rumah ini.

Karena itu, maka Ki Dipanala mencoba melupakan Pangeran Ranakusuma yang duduk mematung di pendapa. Dengan tergesa-gesa ia pun kemudian pergi ke belakang.

Di depan pintu Ki Dipanala hampir tidak dapat melangkah keluar karena para pelayan yang berdiri berjejal-jejal.

“Apa yang terjadi?” seseorang bertanya.

“Ambillah minyak kelapa dan berambang. Raden Ayu Galih Warit sedang pingsan.

Tidak ada yang sempat bertanya lagi. Ki Dipanala segera kembali masuk ke dalam bilik. Dipapahnya Raden Ayu Galih Warit yang pingsan itu ke bilik Raden Rudira, dan dibaringkannya di pembaringan puteranya yang sudah dibersihkan.

Sejenak Ki Dipanala memandang wajah yang pucat itu. Wajah yang memang sangat cantik. Meskipun Raden Ayu Galih Warit sudah mempunyai seorang anak laki-laki dan seorang perempuan yang menginjak dewasa, namun ia masih tetap seorang perempuan yang cantik dengan tubuh yang mempesona.

“Sayang” desis Ki Dipanala di dalam hatinya, “kecantikannya hanyalah sekedar kulit. Sama sekali tidak meresap sampai ke dalam hati dan jantungnya”

Sejenak kemudian, maka seseorang yang membawa minyak kelapa memasuki bilik itu setelah ia mencarinya di bilik Raden Ayu Galih Warit, tetapi tidak menemukannya di sana.

“Bawa kemari”

Pelayan itu pun mendekat. Namun ia berbisik, “Apa yang terjadi dengan Raden Rudira itu? Apakah tabib yang pandai itu tidak berhasil?”

Ki Dipanala memandanginya sejenak, lalu katanya tanpa menjawab pertanyaan itu, “Bantu aku”

Orang itu tidak menjawab. Dibantunya Ki Dipanala mengusap kaki dan telinga Raden Ayu Galih Warit dengan minyak kelapa dan berambang merah.

Namun Raden Ayu Galih Warit masih tetap diam. Karena itu maka berkata Ki Dipanala, “Panggil seorang emban. Cepat”

Pelayan itu pun dengan tergesa-gesa pergi ke belakang. Ia sudah melupakan, bahwa ia pun telah ikut membenci Dipanala selama ini.

Sejenak kemudian seorang emban yang sudah agak lanjut umurnya datang tergopoh-gopoh ke dalam bilik itu, sementara pelayan yang memanggilnya mengikutinya dari belakang.

“Tunggulah di luar” berkata Ki Dipanala kepada pelayan itu kemudian.

Pelayan itu termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian pergi ke belakang.

Dengan demikian berita kematian Raden Rudira segera tersebar. Beberapa macam tanggapan telah dilontarkan oleh para pelayan dan para pengawal. Sebagian dari mereka telah menganggap, bahwa Ki Dipanala telah membunuh dua orang sekaligus.

“Tetapi kenapa Pangeran Ranakusuma seakan-akan tidak mengacuhkannya sama sekali?” bertanya seseorang.

“Kebingungan yang memuncak itu telah membuatnya seperti orang yang terganggu ingatannya”

“Tetapi kemarahannya tentu akan membakar jantungnya dan Dipanala akan dicincangnya. Bukankah Pangeran Ranakusuma seorang Senapati yang dibanggakan di Surakarta”

Yang lain mengerutkan keningnya. Seseorang berkata, “Kita memang tidak tahu apa-apa. Baiklah kita menunggu penjelasan yang dapat kita percaya”

Dalam pada itu, setelah pintu bilik ditutup rapat-rapat, maka Ki Dipanala dibantu oleh emban itu pun segera berusaha untuk menyadarkan Raden Ayu Galih Warit. Ikat pinggang yang terlalu keras itu pun telah dikendorkan, dan hampir seluruh tubuhnya telah diusap dengan minyak kelapa dan berambang merah. Tetapi Raden Ayu Galih Warit tidak segera sadarkan diri.

Semakin lama Ki Dipanala menjadi semakin gelisah. Karena itu maka apa saja yang dapat dilakukan, telah dilakukannya. Digerak-gerakkannya tangan Raden Ayu Galih Warit. Kemudian kakinya, kepalanya dan dengan cemas diguncang-guncangnya tubuh yang masih tetap diam itu.

Tetapi Raden Ayu Galih Warit tidak bergerak sama sekali.

Ki Dipanala dan emban yang membantunya itu semakin lama menjadi semakin cemas. Karena itu, maka Ki Dipanala pun kemudian berkata dengan gugup, “Aku akan menghadap Pangeran Ranakusuma. Aku akan memohon agar Pangeran sekali lagi memanggil tabib itu. Kali ini bagi Raden Ayu Galih Warit”

Emban itu hanya dapat mengangguk-angguk saja tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Ki Dipanala pun kemudian menghadap Pangeran Ranakusuma dengan ragu-ragu. Dengan ragu-ragu pula ia pun kemudian berkata, “Ampun Pangeran. Hamba tidak berhasil membangun-kan Raden Ayu”

Pangeran Ranakusuma masih saja memandang kekejauhan. Kekegelapan yang bagaikan memisahkan dunianya dengan dunia di balik tabir yang hitam itu.

Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak berani bertanya lagi. Ia tahu benar, betapa sakit dan pedihnya hati Pangeran Ranakusuma yang selama ini mendambakan kekuasaan yang berlebihan di Surakarta. Ia adalah salah seorang Pangeran yang merasa dirinya memiliki kemampuan yang tidak ada tandingnya diantara para Pangeran yang lain. Bahkan Pangeran Mangkubumi pun sebenarnya secara pribadi tidak menggetarkan selembar bulunya.

Namun karena di hati kecilnya Pangeran Ranakusuma sadar, bahwa sebenarnya sikap Pangeran Mangkubumi yang kadang-kadang aneh itu didorong oleh perasaan kecewa yang mendalam, maka kadang-kadang Pangeran Ranakusuma merasa dirinya lebih kecil. Ia sama sekali tidak berani mempergunakan kelebihannya untuk berdiri di atas sikap yang teguh seperti Pangeran Mangkubumi. Bukan sekedar tidak berani, tetapi juga karena didorong oleh nafsu duniawi yang berlebih-lebihan.

Namun akhirnya yang didapatinya adalah kekosongan. Kekosongan dan kesepian. Semuanya seakan-akan pergi menjauh daripadanya. Hilang tanpa dapat diketemukannya lagi.

Dalam kepahitan yang hampir tidak tertelan ia baru menyadari, bahwa ia telah memberikan korban terlalu banyak bagi ketamakannya. Ternyata bahwa anak laki-lakinya telah lepas dari kendali dan sukar untuk ditarik kembali. Akhirnya, ia adalah korban sifat-sifat yang memuakkan dari orang tuanya. Orang tua yang hampir tidak menghiraukan tentang anak-anaknya. Disangkanya bahwa menyuapi mulut anaknya sebanyak-banyaknya dengan kemewahan, uang dan kekuasaan akan dapat membentuk anak itu menjadi seorang yang baik. Ternyata bahwa yang terjadi adalah sebaliknya. Korban yang sia-sia.

Ki Dipanala masih duduk dengan gelisah. Ia melihat seakan-akan wajah Pangeran Ranakusuma itu memuat ceritera tentang dirinya sendiri sepenuhnya.

Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Terbayang kembali hubungannya yang gelap dengan adik kandung Galih Warit. Dan itu pun merupakan getar yang berpengaruh di dalam jiwa anak laki-lakinya meskipun secara wadag ia tidak melihatnya.

Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Ketika terlihat olehnya Ki Dipanala duduk tepekur, maka ia pun bertanya dengan nada yang datar, “Kau mau apa?”

Ki Dipanala termangu-mangu sejenak. Namun dipaksakannya juga mulutnya berkata, “Pangeran, agaknya Raden Ayu tidak segera dapat sadar”

“Aku tidak peduli” jawab Pangeran Ranakusuma acuh tidak acuh.

“Maksud hamba, apakah tidak sebaiknya tuan mengutus seorang untuk sekali lagi memanggil tabib itu?”

“Tidak ada gunanya”

“Mungkin ada Pangeran”

“Ia sudah gagal mengobati Rudira. Tentu ia akan gagal lagi jika ia mengobati siapapun juga hari ini”

“Tetapi Raden Ayu tidak perlu diobati”

“Jadi kenapa harus memanggil tabib itu?”

“Ia perlu dibangunkan. Tidak diobati Pangeran”

Sekali lagi Pangeran Ranakusuma terdiam. Dan sekali lagi ia menatap kekejauhan, ke dalam gelapnya malam. Satu-satu dilihatnya bintang yang bergayutan di langit yang hitam di atas atap rumah di hadapan istananya.

Sejenak kemudian maka katanya, “Aku tidak peduli Dipanala. Apa saja yang akan kau kerjakan dengan Galih Warit. Aku tidak memerlukannya lagi. Jika kau mau, ambillah dan bawa ia pulang”

“Ampun Pangeran, tentu hamba tidak akan berani berbuat demikian, karena derajat hamba. Namun hamba memang tidak sampai hati membiarkannya dalam keadaan yang demikian”

“Terserah kepadamu. Aku sudah berkata, terserah kepadamu”

Ki Dipanala tidak segera berani menangkap kata-kata itu secara pasti. Karena itu, maka ia pun masih saja tetapi duduk di tempatnya, sehingga Pangeran Ranakusuma menjawab, “He, kenapa kau masih tetap duduk saja? Pergilah, dan berbuat sekehendak hatimu”

Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk data m-dalam ia pun bergeser surut.

Ketika ia sampai di bilik Raden Rudira, maka Raden Ayu itu pun sudah menjadi terlalu pucat. Wajahnya bagaikan sudah tidak berdarah sama sekali.

“Emban” berkata Ki Dipanala kemudian, “Aku mohon agar Pangeran Ranakusuma memanggil seorang tabib yang pandai. Tetapi semuanya terserah saja kepadaku. Pangeran menjadi acuh tidak acuh”

“Aneh. Raden Ayu Galih Warit dalam keadaan ini, Pangeran Ranakusuma masih tetap berdiam diri saja. Apakah ia sama sekali tidak mengerti keadaan Raden Ayu, atau barangkali sedang marah atau ada persoalan-persoalan lain?”

Ki Dipanala hanya mengerutkan dahinya. Ada sesuatu yang mendorongnya untuk mengatakan keadaan Pangeran itu, tetapi ia masih berusaha untuk melindungi nama baik Raden Ayu Galih” Warit di hadapan para pelayan di Ranakusuman.

“Jadi, apakah yang sebaiknya kita lakukan?” bertanya emban itu.

Ki Dipanala termangu-mangu sejenak. Tetapi ketika terpandang olehnya wajah yang pucat itu ia berkata, “Baiklah kita memanggil tabib itu”

“Tetapi apakah Pangeran Ranakusuma memperkenankan?”

“Itu terserah kepadaku”

“Itulah kata-katanya. Tetapi apakah demikian juga yang dipikirkannya dan sikapnya yang sebenarnya?”

Ki Dipanala menjadi ragu-ragu pula.

“Tetapi apakah kita akan membiarkan Raden Ayu Galih Warit itu di dalam keadaannya?”

Emban itu tidak menjawab. Perlahan-lahan ia mengusap kening Raden Ayu Galih Warit. Dan tiba-tiba saja ia berdesis, “Ki Dipanala, lihatlah. Raden Ayu mulai bergerak”

Dipanala segera meloncat mendekatinya. Seperti yang dikatakan emban itu, maka ia melihat gerak yang lemah pada Raden Ayu Galih Warit. Terdengar tarikan nafas yang lamban. Namun kemudian diam lagi.

“Emban, panggillah seseorang, Biarlah ia menjemput tabib itu sekali lagi. Suruhlah ia mengatakan bahwa kali ini ia harus menyadarkan Raden Ayu yang pingsan”

Emban itu pun kemudian meninggalkan bilik itu dan menyuruh seorang pelayan memanggil tabib itu sekali lagi.

Sejenak kemudian seekor kuda berderap meninggalkan halaman istana Pangeran Ranakusuma. Sedang Pangeran Ranakusuma sendiri yang melihat kuda itu berlari keluar regol dari pendapa, sama sekali tidak berbuat apa-apa. Ia masih saja duduk sambil merenungi diri sendiri, keluarganya dan kemudian justru Surakarta.

“Kumpeni itu sudah membunuh anakku” katanya di dalam hati, “Apapula yang akan aku dapatkan dari mereka, ternyata harganya terlampau mahal. Aku harus mengorbankan Rudira dan bahkan aku harus menjual isteriku pula kepada mereka. Gila. Gila”

Pangeran Ranakusuma menggeretakkan giginya. Namun kemudian tubuhnya bagaikan terkulai lemah. Semuanya sudah terjadi. Bukan kesalahan orang lain, tetapi ia adalah orang yang justru paling bersalah. Juga atas kematian Rudira.

Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam.

Dalam pada itu, Ki Dipanala benar-benar mulai berpeng-harapan. Emban yang sudah ada kembali di dalam bilik itu pun mulai berpengharapan pula. Sekali-sekali mereka melihat Raden Ayu Galih Warit mulai bergerak meskipun sedikit sekali. Pernafasannya mulai teratur dan kadang-kadang sudah terdengar ia berdesah perlahan-lahan.

Ki Dipanala dan emban itu pun dengan gelisah menunggu tabib yang telah diundang. Seakan-akan mereka menunggu terlampau lama. Jika Raden Ayu Galih Warit mulai bergerak, keduanya berlutut di samping pembaringannya sambil meraba-raba tubuh yang terbaring itu, seakan-akan mendorongnya untuk segera bangun dan berbicara apa saja. Namun Raden Ayu Galih Warit belum sadarkan dirinya.

Sejenak kemudian mereka mendengar kuda berderap memasuki regol. Namun ketika mereka melihat Pangeran Ranakusuma duduk di pendapa, maka penunggangnya pun segera berloncatan turun sambil menghentikan kuda mereka.

Setelah mengikat kudanya di halaman sebelah, maka tabib itu pun telah dibawa masuk oleh seorang pelayan langsung ke dalam bilik.

“Bagaimana dengan Raden Ayu?” bertanya pelayan itu. Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam, lalu, “Sebagaimana kau lihat. Ia pingsan ketika ia melihat mayat puteranya”

Tabib itu menarik keningnya. Sambil berpaling ke pintu ia berkata, “Pangeran ada di pendapa”

“Ya. Pangeran memang ada di pendapa”

“Kenapa Pangeran tidak menunggui Raden Ayu”

Ki Dipanala tidak segera dapat menjawab. Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Mungkin Pangeran benar-benar telah dibingungkan oleh kematian puteranya, sehingga ia tidak dapat lagi berpikir bening”

Tabib itu mengangguk-angguk. Perlahan-lahan ia mendekati Raden Ayu Galih Warit yang pingsan. Dirabanya tubuh yang masih diam itu sambil berkata, “Apakah Raden Ayu sudah cukup lama pingsan?”

Tabib itu mengangguk-angguk. Perlahan-lahan ia mendekati Raden Ayu Galih Warit yang pingsan. Dirabanya tubuh yang masih diam itu sambil berkata, “Apakah Raden Ayu sudah cukup lama pingsan?

“Ya. Sudah cukup lama”

Tabib itu mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Berilah aku air hangat”

Emban itu pun kemudian pergi ke belakang untuk mengambil air hangat. Dalam kesempatan itulah maka Ki Dipanala berkata, “Raden Ayu telah mengecewakan Pangeran Ranakusuma, justru pada saat puteranya meninggal”

“Kenapa?”

“Besok aku akan memberitahukan kepadamu”

Tabib itu mengangguk-angguk pula. Tetapi ia tidak bertanya lebih banyak lagi. Dan ketika emban yang membawa air hangat itu datang, maka ia pun segera mencoba membangunkan Raden Ayu Galih Warit yang pingsan itu.

Dalam pada itu Ki Dipanala pun berkata kepada emban yang masih ada di dalam bilik itu, “Sudahlah, beristirahatlah. Biarlah aku menunggui tabib ini, dan membantunya apabila diperlukan. Kau tentu lelah dan barangkali kantuk”

“Ah” desah emban itu.

“Tinggalkan saja kami. Jika perlu aku akan memanggilmu” Emban itu termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian meninggalkan bilik itu meskipun dengan ragu-ragu.

Sepeninggal emban itu, maka tabib itu pun mulai menyeka kaki dan tangan Raden Ayu Galih Warit dengan air hangat yang sudah dibubuhi dengan berbagai macam obat-obatan yang dapat menghangatkan urat-urat darahnya. Dengan selembar kain yang dibasahi dengan air hangat itu sedikit, diusapnya bagian-bagian tubuhnya sehingga hampir merata.

Sejenak kemudian Raden Ayu Galih Warit yang sudah mulai bergerak itu pun berdesah. Semakin lama semakin sering. Dan bahkan kemudian terdengar ia merintih.

“Raden Ayu” Ki Dipanala memanggilnya.

Tetapi agaknya suara Ki Dipanala itu masih belum didengarnya.

Tabib itu pun kemudian menggerakkan tangan Raden Ayu itu perlahan-lahan beberapa kali. Dan nafas Raden Ayu itu pun menjadi semakin teratur.

Ki Dipanala bergeser maju ketika ia melihat Raden Ayu Galih Warit itu membuka matanya sejenak. Hanya sejenak. Dan mata itu pun terpejam kembali.

“Raden Ayu” sekali lagi Ki Dipanala memanggil

Namun Ki Dipanala terkejut ketika ia melihat mulut Raden Ayu Galih Warit itu bergerak-gerak sejenak. Dan sebelum Ki Dipanala dan tabib yang merawatnya mengerti apa yang dikatakan, tiba-tiba saja Raden Ayu Galih Warit menjerit keras sekali. Keras dan panjang.

“Raden Ayu” desis Ki Dipanala.

Tetapi suaranya tidak didengar. Raden Ayu itu masih menjerit keras. Kepalanya digeleng-gelengkannya semakin lama semakin cepat, sedang kedua belah matanya tetap terbuka.

“Raden Ayu, Raden Ayu” Ki Dipanala menjadi cemas. Apalagi ketika dilihatnya dahi tabib yang masih muda itu berkerut-merut”

“Bagaimana Ki Sanak” bertanya Ki Dipanala.

Tabib itu tidak segera menjawab. Dirabanya dahi Raden Ayu Galih Warit. Tetapi dahi itu sama sekali tidak menjadi hangat.

“Raden Ayu” tabib itu pun memanggilnya.

Tetapi Raden Ayu Galih Warit sama sekali tidak menghiraukannya.

Tabib yang biasanya selalu tenang itu menjadi tampak agak cemas. Keringat dingin mengembun dikeningnya. Sekali-sekali diusapnya keringat itu dengan tangannya.

Tetapi Raden Ayu masih berteriak-teriak keras sekali. Disela-sela suaranya yang melengking, kadang-kadang terdengar ia memanggil nama puteranya.

“Rudira, Rudira”

Ki Dipanala menjadi tegang. Tanpa disadarinya ia menjenguk Pangeran Ranakusuma yang duduk di pendapa. Tetapi ternyata Pangeran itu masih duduk di tempatnya.

Ki Dipanala menjadi heran. Begitu besar kekecewaan yang mencengkam hatinya. sehingga seakan-akan teriakan Raden Ayu itu sama sekali tidak didengarnya.

Sebenarnyalah bahwa Pangeran Ranakusuma tidak mempedulikan suara itu. Kematian anak laki-lakinya. ketidak-setiaan isterinya, justru yang menyebabkan kematian Raden Rudira itu, bagaikan titik-titik embun yang tersimpan sewindu, yang menyiram dan telah membekukan hati dan jantungnya. Ada juga sentuhan suara isterinya yang menyayat itu. Bahkan ia sudah bergerak untuk berdiri. Namun kemudian Pangeran Ranakusuma itu duduk kembali di tempatnya. Hatinya telah benar-benar membeku seperti tubuh anak laki-lakinya yang sudah meninggal itu.

Dari dalam bilik masih terdengar jerit yang melengking-lengking. Ki Dipanala masih berdiri termangu-mangu. Tetapi Dipanala itu tidak berani mengatakan sesuatu. Tentu Pangeran Ranakusuma sudah mendengar. Jika ia ingin bangkit dan mendekati isterinya tentu sudah dilakukannya.

“Bukan main” desis Ki Dipanala kepada diri sendiri, “kekecewaan yang tiada taranya lelah membuatnya sama sekali tidak menghiraukan apa yang terjadi. Demikian parah kepedihan seorang suami yang sama sekali tidak menyangka bahwa ketidak setiaan itu sudah terjadi, dan sekaligus menyebabkan kematian anak laki-lakinya”

Dengan hati yang terpecah. Ki Dipanala kembali ke dalam bilik. Ia melihat beberapa orang pelayan berdiri di muka pintu butulan. Merekapun menjadi heran, bahwa Pangeran Rana-kusuma masih tetap duduk diam di pendapa.

“Rudira, Rudira” teriak Raden Ayu Galih Warit, “Maafkan aku. Aku tidak sengaja membunuhmu. Bukan salahku saja. Bukan salahku”

Tabib itu menjadi tegang. Dipandanginya Ki Dipanala sejenak, lalu, “Apakah yang sudah terjadi Ki Dipanala?”

Ki Dipanala tidak menjawabnya. Sementara itu Raden Ayu itu masih saja berteriak, “O, bukan maksudku. Kumpeni itu bermaksud baik. Aku menyerahkan diriku karena aku mendapat imbalan yang tidak terkira. Aku bermaksud memberikan kepadamu Rudira. Kepadamu dan kepada Warih. Tetapi tidak untuk membunuhmu. Aku ingin mempengaruhi mereka untuk kepentingan ayahandamu. Ayahandamu harus menjadi Senopati Agung di Surakarta. Ayahandamu harus mendapat imbalan tanah yang jauh lebih banyak dari Tanah Sukawati. Tanah Sukawati itu memang harus diminta kembali dari Pangeran Mangkubumi, kemudian diserahkan kepada ayahandamu dan masih harus ditambah dengan daerah sekitarnya. Juga Jati Sari seisinya harus diserahkan, termasuk gadis itu Rudira, Arum dan juga kematian Juwiring”

“O” tabib itu berdiri gemetar. Dan Ki Dipanala pun bagaikan tidak dapat berpikir lagi mendengar isi hati Raden Ayu Galih Warit yang tidak sempat dikekangnya, karena ia masih belum sadar sepenuhnya.

Untunglah bahwa bilik itu tertutup rapat, sehingga para pelayan yang berdiri di pintu butulan di belakang tidak begitu jelas mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Raden Ayu Galih Warit itu. Mereka hanya mendengar lamat-lamat, Raden Ayu Galih Warit berteriak-teriak. Tetapi mereka sama sekali tidak mengerti maksudnya.

Dalam pada itu, Pangeran Ranakusuma yang sama sekali tidak berniat untuk menengok isterinya, mendengar juga serba sedikit teriakan Raden Ayu itu, sehingga hatinya tergelar karenanya. Bagaimanapun juga ia bertahan untuk tetap duduk Di tempatnya, namun ia pun kemudian bangkit dan bergegas masuk ke dalam bilik itu sambil membentak, “Suruh orang itu diam. Suruh orang itu diam”

Ki Dipanala dan tabib itu menjadi termangu-mangu. Sementara itu Raden Ayu Galih Warit masih berteriak, “Aku sama sekali tidak ingin berkhianat. Apa yang aku lakukan adalah suatu perjuangan. Aku telah berkorban dengan segala yang ada padaku untuk kepentingan keluargaku”

“Diam, diam” Pangeran Ranakusuma pun berteriak pula.

Tetapi Raden Ayu Galih Warit yang tidak sadar atas apa yang terjadi itu masih saja berteriak.

Betapa gelapnya hati Pangeran Ranakusuma. Pengakuan yang langsung dapat didengarnya itu bagaikan pisau yang mengiris jantungnya. Itulah sebabnya maka ia tidak dapat mendengar suara itu lebih lama lagi. Dengan garangnya ia meloncat dengan jari-jari berkembang menerkam leher Raden Ayu Galih Warit.

“Pangeran, Pangeran” hampir berbareng Ki Dipanala dan tabib yang masih muda itu meloncat pula. Sambil memegangi lengan Pangeran itu Ki Dipanala berkata, “Pangeran, hamba mengharap Pangeran mengerti. Raden Ayu sedang dalam keadaan tidak sadar”

“Justru karena itulah maka ia mengatakan yang sebenarnya, ia berkata apa yang pernah ia lakukan, dan apa yang pernah dilakukan itu sangat menyakitkan hati. Aku akan membunuhnya. Aku harus membunuhnya”

“Pangeran” berkata tabib itu, “terserahlah kepada Pangeran. Tetapi biarlah Raden Ayu sadar lebih dahulu dari pingsannya. Itu adalah kuwajiban hamba sebagai seorang tabib. Setelah Raden Ayu menyadari keadaannya maka semuanya adalah hak Pangeran untuk berbuat apapun dengan segala tanggung jawab Pangeran sendiri”

Pangeran Ranakusuma memandang tabib itu sejenak. Lalu, “Tetapi memalukan sekali. Aku tidak mau mendengar ia mengigau seperti itu”

“Pangeran” berkata tabib ini biarlah hamba mencoba untuk menenangkan Raden Ayu Galih Warit.

Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya. Tetapi hatinya bagaikan menyala ketika ia masih mendengar isterinya mengigau. Katanya, “Mudah-mudahan aku berhasil. Jika kumpeni dapat membantuku, maka kangmas Ranakusuma akan menjadi seorang Senapati Agung di Surakarta dan akan mendapat tanah kalenggahan yang mencukupi untuk tujuh turunan. Untuk anak cucuku, untuk anak cucu Rudira dan Warih”

“Diam, diam. Aku tidak mau mendapatkan kedudukan yang harus dibeli dengan noda pada kesetiaan seorang isteri. Aku membiarkan kau bergaul dengan mereka, tetapi tidak untuk mengotori keluarga ini”

Raden Ayu Galih Warit sama sekali tidak mendengar, sehingga karena itu ia masih saja berkata, “Dan usaha itu tampaknya akan segera berhasil dalam waktu singkat”

“Tidak, tidak” Pangeran Ranakusuma pun berteriak. Tetapi Raden Ayu Galih Warit sama sekali tidak mendengarnya.

Namun dalam pada itu, justru telinga hati Pangeran Ranakusuma lah yang telah mendengar suaranya sendiri. Sebenarnyalah bahwa ia memang telah memberikan waktu dan kesempatan terlalu banyak kepada isterinya. Dan sudah barang tentu dengan pamrih seperti yang dikatakan oleh Raden Ayu Galih Warit itu. Pangeran Ranakusuma memang tidak dapat ingkar kepada diri sendiri, bahwa sebenarnyalah ia telah bermain api. Ia ingin membiarkan isterinya berdiri di atas pagar ayu, tetapi tidak melampauinya. Namun batas yang tidak berjarak itu ternyata tidak dapat dipertahankannya, sehingga akhirnya Raden Ayu Galih Warit itu telah terjerumus ke dalam tindakan yang tidak dapat dibenarkan.

“O” Pangeran Ranakusuma melangkah surut. Tangannya yang sudah siap mencekik leher isterinya, ditariknya kembali. Dengan kepala tunduk ia melangkah menjauh. Dengan hati yang pedih dilihatnya isi hatinya sendiri. Pamrih yang terlampau besar, seperti yang disebut-sebut isterinya itu. Ia memang ingin menjadi seorang Senapati Besar dengan tanah kalenggahan seluas tujuh kali tanah kalenggahan seorang Pangeran biasa.

Karena itulah maka ia tidak berbuat apa-apa lagi. Sekali-sekali Raden Ayu Galih Warit masih juga mengigau, meskipun tidak sekeras sebelumnya.

Tabib itu berusaha untuk menitikkan obat yang dapat menenangkannya meskipun hanya sedikit Tetapi obat itu bukan untuk menghentikan sama sekali, karena tabib itu tidak berani menanggung akibat, bahwa Raden Ayu Galih Warit akan terdiam untuk selama-lamanya.

Meskipun suara Raden Ayu Galih Warit menurun, tetapi ia tidak juga berhenti mengigau. Ia masih saja berbicara tentang dirinya, tentang anak-anaknya dan tentang cita-citanya.

Pangeran Ranakusuma yang tidak mau lagi mendengar igauannya itu pun kemudian meninggalkan bilik itu dan kembali duduk di pendapa. Bagaimana ia berusaha untuk mengusir angan-angannya, namun ternyata bahwa setiap kali ia pun dihadapkan kepada sikapnya yang tamak. Sehingga karena itulah, maka yang terjadi sekarang bagaikan telah meremukkan jantung dan hatinya.

Ki Dipanala dan tabib yang masih muda itu masih menunggui Raden Ayu Galih Warit. Setiap kali mereka harus menahan nafasnya jika Raden Ayu itu kadang-kadang menyebutkan rahasia dirinya yang paling dalam. Bahkan di dalam keadaannya yang semakin lemah karena obat yang dititikkan di mulutnya, ia masih dapat menyebut beberapa nama orang asing dengan kata-kata yang tidak jelas.

“Bagaimana mungkin hal itu dapat terjadi” desis tabib itu perlahan-lahan.

Terasa bulu kuduk Ki Dipanala pun meremang. Ia tidak pernah menduga, bahwa ia akan mendengar pengakuan yang mengerikan. Apalagi dari mulut seorang perempuan bangsawan.

“Apakah kau tidak dapat berusaha agar Raden Ayu itu terdiam?” desak Ki Dipanala.

“Aku tidak berani melakukannya. Aku tidak berani menanggung akibatnya jika ia akan terdiam untuk seterusnya. Dan hal itu akan mungkin terjadi, jika aku menitikkan agak terlalu banyak”

“Kau dapat memperhitungkannya. Kau sudah cukup ahli”

“Tetapi tidak ada jaminan yang pasti tentang kekuatan jasmaniah seseorang. Dan aku memang tidak biasa memberikan lebih dari yang sudah aku berikan”

Ki Dipanala hanya menahan nafasnya saja. Namun kegelisahan yang sangat telah mencengkam jiwanya.

Namun tiba-tiba Ki Dipanala itu terkejut. Dilihatnya Raden Ayu Galih Warit yang lemah itu tiba-tiba saja berhenti. Kemudian matanya terbelalak sejenak, hanya sejenak, karena ia pun kemudian memejamkan matanya.

“Bagaimana?” bertanya Ki Dipanala.

Tabib itu meraba tubuh Raden Ayu Galih Warit. Dipijit-pijitnya bagian belakang telinganya. Kemudian diusapnya dengan sejenis obat yang cair seperti minyak kelapa.

“Mudah-mudahan ia akan segera sadar” berkata tabib itu.

“Apakah itu gejalanya”

“Memang ada kelainan. Tetapi mudah-mudahan”

Sejenak Raden Ayu Galih Warit memejamkan matanya. Nafasnya dengan teratur lewat lubang hidungnya yang mancung.

Tabib itu menjadi berdebar-debar. Dicobanya untuk mengusap kening Raden Ayu Galih Warit. Kemudian bagian belakang telinganya dan pundaknya.

Perlahan-lahan Raden Ayu Galih Warit membuka matanya. Ki Dipanala dan tabib yang menungguinya menahan nafas dengan tegangnya. Sepercik harapan telah tumbuh di dalam hati mereka.

Ki Dipanala bergeser mendekat ketika ia melihat Raden Ayu Galih Warit itu kemudian bergerak. Diangkatnya kepalanya sedikit. Namun karena badannya yang masih sangat lemah, maka kepala Raden Ayu itu pun terkulai kembali di pembaringan.

Ki Dipanala memandang tabib itu sejenak sambil mengangguk sedang tabib itu pun mengangguk pula.

Namun keduanya mengerutkan keningnya ketika mereka melihat Raden Ayu Galih Warit itu tersenyum.

“Kenapa ia justru tersenyum” bertanya Ki Dipanala di dalam hatinya.

Dan keduanya terkejut ketika Raden Ayu itu justru tertawa perlahan-lahan.

“Raden Ayu” Panggil Ki Dipanala dengan cemas.

Raden Ayu Galih Warit berpaling memandanginya. Ternyata bahwa ia sudah mendengar suara itu. Namun yang mencemaskan justru ketika Raden Ayu itu tertawa sambil bertanya, “He, siapa kau?”

“Raden Ayu, apakah Raden Ayu tidak mengenal hamba lagi”

Raden Ayu Galih Warit mengerutkan keningnya. Kemudian perlahan-lahan ia bangkit. Ternyata tubuhnya masih terlampau lemah, meskipun ia pun kemudian berhasil duduk di pembaringan.

“O” katanya kemudian, “Kenapa kau ada di sini?”

“Raden Ayu baru saja pingsan” jawab Ki Dipanala.

Raden Ayu itu mengerutkan keningnya. Lalu sambil tertawa ia berkata, “He, kau mengigau. Dimanakah Kapitan Dungkur?”

“Siapa Raden Ayu?”

“Kapitan Dungkur. He, apakah ia sudah pergi?”

Ki Dipanala tertegun sejenak. Dipandanginya tabib yang sedang termangu-mangu, sementara Raden Ayu Galih Warit itu pun kemudian berdiri tertatih-tatih.

“Uh, Dungkur memang rakus. Ia begitu saja pergi dengan diam-diam” Raden Ayu itu pun kemudian tertawa, “Tetapi ia mempunyai barang-barang yang aneh. Dan ia mempunyai pengaruh yang besar di kalangan istana”

Ki Dipanala hanya dapat berpaling ketika kemudian Raden Ayu Galih Warit itu berdiri sambil dengan tangannya membenahi pakaiannya yang memang dikendorkan ketika ia pingsan.

“Dungkur yang rakus itu tidak mau menunggu aku berpakaian dengan rapi. Gila” Lalu tiba-tiba dipandanginya tabib itu, “He siapa kau?”

“Ampun Raden Ayu. Hamba berusaha mengobati Raden Ayu”

“Mengobati? Aku kenapa? O, bodoh sekali kau” Raden Ayu itu tertawa, “Apa yang kau obati padaku? Jika aku sakit kumpeni mempunyai obat yang tidak kau punyai. He, siapa kau?”

Ki Dipanala menjadi semakin cemas. Apalagi ketika ia kemudian mendengar Raden Ayu itu tertawa terbahak-bahak. Tanpa menghiraukan kedua orang yang ada di dalam biliknya Raden Ayu Galih Warit memperbaiki letak pakaiannya sambil tersenyum-senyum.

Ternyata senyum Raden Ayu itu telah menggetarkan hati Ki Dipanala dan tabib yang masih muda itu. Mereka menjadi cemas bahwa kejutan perasaan itu telah membuatnya berubah.

Dengan ragu-ragu Ki Dipanala masih mencoba memanggil, “Raden Ayu, apakah Raden Ayu tidak mengenal hamba lagi?”

“He?” Raden Ayu berpaling, “Dengan tajamnya ia memandang Ki Dipanala. Lalu katanya, “Kau tentu bukan Kapitan Dungkur. Kenapa kau di sini he? Apakah kau juga kumpeni? Tentu bukan. Kulitmu seperti kulit sawo”

Terasa kulit Dipanala yang dikatakan seperti kulit sawo itu meremang ketika Raden Ayu Galih Warit merabanya. Sambil tertawa Raden Ayu itu berkata, “Tentu bukan. Dungkur kulitnya putih kemerah-merahan seperti kulit babi. Tetapi tidak sekasar kulit Panderpol” Raden Ayu itu tertawa, lalu, “meskipun kulitmu tidak putih, tetapi ternyata lebih halus dari kulit orang-orang asing itu”

“Raden Ayu” suara Ki Dipanala bagaikan orang mengeluh, “hamba adalah seorang abdi kapangeranan. Apakah Raden Ayu belum menyadari apa yang terjadi”

Raden Ayu itu tertawa. Kemudian ia pun melangkah kembali ke pembaringan. Tanpa menghiraukan orang-orang yang ada di dalam bilik itu ia berbaring sambil berdendang perlahan-lahan.

“O Tuhan” desis Ki Dipanala. Ia menjadi semakin cemas melihat keadaan Raden Ayu Galih Warit itu.

Ternyata tabib yang menunggui Raden Ayu Galih Warit itu pun menjadi berdebar-debar pula. Bahkan kemudian ia berbisik kepada Ki Dipanala, “Sesuatu lelah terjadi pada diri Raden Ayu Galih Warit itu. Goncangan perasaan yang tidak tertanggungkan agaknya telah mengganggu keseimbangan jiwanya.

“Jadi bagaimanakah keadaannya itu?”

Tabib itu menarik nafas dalam-dalam sambil mengangkat pundaknya.

“Apakah Raden Ayu telah terganggu syarafnya?”

Tabib itu ragu-ragu sejenak. Namun katanya kemudian, “Agaknya memang demikian Ki Dipanala. Apakah Ki Dipanala dapat menyampaikannya kepada Pangeran Ranakusuma?”

Ki Dipanala tidak segera menjawab. Sejenak ia termangu-mangu.

“Lambat atau cepat, Pangeran Ranakusuma memang harus mengetahuinya. Selain persoalan Raden Ayu Galih Warit, bukankah masih harus dipikirkan apa yang sebaiknya dilakukan terhadap Raden Rudira yang terbaring di bilik sebelah dan tubuh Mandra yang disimpan di belakang?”

Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Sekilas dilihatnya Raden Ayu Ranakusuma yang berbaring sambil berdendang perlahan-lahan. Namun kemudian perempuan itu meloncat berdiri sambil bertanya, “He, dimana anakku? Dimana Rudira? Apakah kau lihat? Ia tidak boleh mengikuti aku. Ia tidak boleh tahu apa yang terjadi dan apa yang aku lakukan meskipun semuanya itu untuknya dan untuk suamiku. Ia akan menjadi Senapati Agung di Surakarta, dan kami akan menjadi pangeran yang paling berpengaruh dan paling kaya raya. Tentu melampaui pepatih Surakarta sendiri”

Ki Dipanala tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Karena itu untuk beberapa lamanya ia hanya berdiam diri saja.

“Dimana he” Raden Ayu Ranakusuma mendesak, “kau lihat anakku yang laki-laki?”

“Raden Ayu” berkata Dipanala kemudian, “hamba berharap Raden Ayu beristirahat. Cobalah Raden Ayu tidur sejenak. Mungkin dapat menenteramkan hati Raden Ayu”

“Tidur? Kau suruh aku tidur?” tiba-tiba Raden Ayu tertawa berkepanjangan.

Tabib itu menjadi tegang sejenak. Katanya kemudian, “Aku akan memberikan obat yang dapat memaksanya tidur sejenak. Ramuan kulit dalam buah pala dengan beberapa macam reramuan yang lain. Tetapi sebelumnya, beritahukanlah kepada Pangeran Ranakusuma, agar Pangeran dapat melihat akibat yang telah terjadi pada isterinya”

Ki Dipanala mengangguk sambil bergeser. Kemudian ia pun melangkah keluar pintu.

Ketika pintu bilik itu berderit, Raden Ayu Galih Warit pun melangkah ke pintu. Tetapi tabib muda itu mencoba menahannya, “Raden Ayu. Silahkan Raden Ayu tinggal saja di dalam bilik ini. Sebentar lagi Dipanala akan kembali”

“Apa?” dipandanginya tabib itu sejenak, lalu, “Kenapa kau melarang aku pergi?”

“Tinggallah di dalam bilik ini, saja Raden Ayu?”

“Apakah Rudira tidak akan melihat aku di sini?”

“Ya, ya Raden Ayu. Raden Rudira tidak akan melihat Raden Ayu tinggal di dalam”

“Apakah Dungkur, atau Panderpol atau Setepen akan datang”

“O” tabib itu mengusap dadanya. Ternyata Raden Ayu Itu sudah menyebut sedikit-sedikitnya tiga buah nama.

“Terlalu, terlalu” tabib itu mengeluh sendiri.

“He, kenapa kau diam saja?” bentak Raden Ayu.

“Di luar ada Raden Rudira” katanya begitu saja terloncat dari bibirnya, “karena itu silahkan Raden Ayu tinggal di dalam”

“O, apakah ia tidak akan datang kemari?”

“Tidak. Tidak”

Raden Ayu itu tertawa. Katanya, “Sekali-sekali ada juga baiknya menipu kanak-kanak. Tetapi niatku baik. Niatku bersih untuk anak dan suamiku”

Tabib itu menyahut, “Ya, memang niat Raden Ayu bersih, karena itu, silahkan Raden Ayu duduk saja di dalam”

Raden Ayu Galih Waru melangkah kembali ke pembaringan. Kemudian dibaringkannya dirinya seenaknya tanpa menghiraukan orang lain di dalam bilik itu.

Dalam pada itu, dengan sangat ragu-ragu Ki Dipanala bagaikan merayap mendekati Pangeran Ranakusuma yang masih duduk mematung di pendapa.

Dengan dada yang berdebar-debar Ki Dipanala kemudian berkata perlahan-lahan, “Ampun Pangeran. Hamba akan mohon kesempatan untuk mengatakan sesuatu tentang Raden Ayu”

“Apa yang akan kau katakan? Tentu kau akan mengatakan bahwa perempuan itu sudah mulai sadar” Pangeran Ranakusuma terdiam. Ia masih belum berani mengatakan dugaannya tentang Raden Ayu Galih Warit karena ia mendengar suara tertawa berkepanjangan. Jika isterinya itu masih dalam keadaan tidak sadar seperti pada saat m berteriak-teriak, maka ia harus menunggu isterinya itu bangun. Tetapi kalau perempuan itu sudah terbangun?”

“Hamba Pangeran” jawab Ki Dipanala, “sebenarnya Raden Ayu sudah sadar. Maksud hamba, Raden Ayu sudah bangun dari pingsan dan bayang-bayang yang menyelubunginya. Tetapi, tetapi…” Ki Dipanala tidak dapat meneruskan kata-katanya.

Namun karena justru kecemasan yang serupa itu sudah ada di dalam hati Pangeran Ranakusuma, maka tiba-tiba saja ia menyahut

“Gila maksudmu? Atau setengah gila atau apa?”

Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Hamba tidak dapat menyebutnya Pangeran. Tetapi memang ada gangguan pada syaraf kesadarannya. Raden Ayu tidak dapat mengenal hamba lagi”

“O” Pangeran Ranakusuma meletakkan dagunya pada kedua tangannya yang bertelekan pada pahanya dengan sikunya. Bahkan kemudian kepala itu menunduk dan bersembunyi di balik kedua telapak tangannya.

“Hancur, semuanya sudah hancur. Aku masih mengharap bahwa cemar yang melumuri keluargaku masih dapat disembunyikan, meskipun tidak bagi hatiku sendiri. Tetapi aku masih mengharap bahwa perempuan itu akan menyimpan rahasianya meskipun aku sudah mengambil keputusan untuk menyingkirkannya dari istana ini. Tetapi jika ia menjadi gila, maka ia akan berkicau apa saja tanpa menghiraukan noda yang tercoreng di kening”

“Perlahan-lahan tabib itu dapat Pangeran perintahkan untuk mengobati sejauh-jauh dapat dilakukan”

“Persetan” Pangeran Ranakusuma itu pun kemudian berdiri. Dengan tergesa-gesa ia melangkah ke bilik isterinya.

Ketika dengan keras ia mendorong daun pintu, Raden Ayu Ranakusuma terkejut. Dengan serta-merta ia meloncat bangun. Dipandanginya Pangeran Ranakusuma sejenak, lalu tiba-tiba saja ia berlari sambil berteriak, “Kakanda, kakanda”

Tetapi ketika Raden Ayu itu mencoba memeluk Pangeran Ranakusuma, maka perempuan itu pun telah didorongnya sehingga terjatuh di lantai.

Raden Ayu Ranakusuma itu masih sempat memekik. Namun kemudian ia terdiam sejenak. Dipandanginya suaminya dengan tajamnya. Perlahan-lahan ia bangkit. Dan tiba-tiba saja Raden Ayu itu tertawa sambil berkata, “He, aku belum mengenal caramu. Ternyata kau kasar seperti Setepen”

“Diam” teriak Pangeran Ranakusuma. Hampir saja tangannya menampar mulut Raden Ayu Galih Warit yang tertawa itu jika Ki Dipanala tidak cepat-cepat berkata, “Jangan Pangeran. Raden Ayu sedang dalam keadaan tidak sadar”

“O” Pangeran Ranakusuma melangkah menjauhi isterinya sambil berdesah, “memalukan sekali. Memalukan sekali. Aku sudah terjerumus ke dalam kehancuran mutlak”

Dan sambil menggeretakkan giginya Pangeran Ranakusuma menggeram, “Ia harus diam. Ia harus diam” Lalu tiba-tiba ia berbalik sambil berkata, “Aku akan membunuhnya. Aku akan membunuhnya”

“Pangeran” berkata Ki Dipanala, “ternyata Raden Ayu Galih Warit telah kehilangan kesadarannya. Hamba berharap bahwa tuanku akan tetap sadar menghadapi keadaan ini. Betapapun pahitnya empedu, jika itu memang harus ditelan, maka Pangeran tidak akan dapat memuntahkannya lagi”

Pangeran Ranakusuma menggigit bibirnya seakan-akan ia sedang menahan, sesuatu yang bergejolak di dalam hatinya.

“Dipanala” berkata Pangeran Ranakusuma sambil memandang isterinya, hanya sekilas, “Apa yang harus aku lakukan”

Terasa jantungnya seakan-akan berhenti berdenyut ketika tiba-tiba saja ia mendengar isterinya itu tertawa. Perlahan-lahan Raden Ayu Galih Warit pergi ke pembaringan dan seperti yang telah dilakukan, Raden Ayu itu berdendang perlahan-lahan sambil mempermainkan ujung jari-jarinya.

“Ia benar-benar sudah gila” gumam Pangeran Ranakusuma.

“Itulah sebabnya kita harus mengasihani”

“Jika ia tidak berlumuran dengan noda, aku tidak akan ingkar. Aku mengambilnya sebagai isteriku dalam keadaan seutuhnya. Ia aku terima dengan segala yang ada padanya. Gelak tertawanya, tetapi juga tangisnya. Dan seharusnya aku juga bertanggung jawab selama ia terganggu jiwanya” Pangeran Ranakusuma berhenti sejenak, “Tetapi sekarang aku tidak dapat melakukan-nya. Tidak dapat, justru karena Galih Warit tidak setia kepadaku, ia telah berkhianat apapun alasannya”

Tidak seorang pun yang menjawab.

“Aku akan mengantarnya pulang. Malam ini”

“Pangeran, jadi bagaimana dengan tubuh Raden Rudira dan bagaimana dengan Mandra yang ternyata telah berkhianat itu”

“Tidak ada gunanya Galih Warit ada di sini. Ia tidak akan tahu apa yang akan kita lakukan atas Rudira dan Mandra. Karena itu, siapkan kereta. Aku akan membawanya pulang kepada ayahanda dan ibundanya”

“Pangeran” Ki Dipanala berusaha untuk mencegah, “akan timbul berbagai akibat dari tindakan Pangeran itu. Sebaiknya Pangeran memikirkannya masak-masak”

Pangeran Ranakusuma memandang Ki Dipanala sejenak, lalu, “Aku tidak dapat membiarkan hatiku terbakar dan kemudian di luar sadarku, aku membunuhnya. Selagi kau dan tabib itu ada di sini, biarlah aku membawanya kepada ayahnya. Mungkin itu akan lebih baik baginya dan bagiku sendiri”

Bersambung ke bagian 2

2 Tanggapan

  1. Alhamdulillah……
    Ternyata jilid 10 sudah di sajikan, ada kesibukan di hari minggu yang ceria ini.
    Matur nuwun…..

  2. Selesai dibaca jilid 10, nunggu 2 hari lagi jilid 11 di posting…..
    Rasanya nggak sabar pengen ketemu dan pengen bersengketa sama kapitain Dungkur sang kumpeni Belanda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s