BdBK-08


BUNGA DI BATU KARANG

JILID 8

kembali | lanjut

BdBK-08BUNTAL mengerutkan keningnya. Dan ia pun bertanya perlahan, “Berburu atau sekedar untuk membela diri?”

“Berburu. Katakan bahwa kita akan berburu” bisik Juwiring, “kemudian jangan menolak apapun juga keputusan mereka. Kita berhadapan dengan prajurit-prajurit”

Buntal menganggukkan kepalanya. Tetapi terbayang bahwa ia akan menghadapi kesulitan.

“Cepat” bentak pemimpin peronda itu, “ikut aku”

Buntal pun kemudian melangkah mengikuti pemimpin peronda itu memasuki gardu induk penjagaan hutan perburuan itu.

Di ruang dalam, seorang prajurit yang bertubuh tinggi tegap duduk diatas sebuah amben kecil sambil bersandar tiang. Ia berpaling ketika ia melihat pemimpin peronda itu masuk bersama Buntal.

“Siapa itu?” bertanya prajurit yang tinggi tegap itu.

“Seorang pencuri binatang buruan” jawab prajurit yang membawa Buntal masuk.

Prajurit yang tinggi tegap, yang agaknya adalah pemimpin dari seluruh penjagaan hutan itu pun kemudian mengerutkan keningnya. Dipandanginya Buntal dengan tajamnya. Lalu katanya, “Bawa ia masuk. Suruh ia duduk di situ”

Prajurit itu pun berpaling kepada Buntal dan kemudian menyuruhnya duduk di sebuah dingklik kayu yang rendah, “Duduk”

Buntal menjadi berdebar-debar. Tetapi ia pun duduk di dingklik kayu itu.

Prajurit yang bertubuh tinggi tegap itu memandangnya dengan sorot mata yang mendebarkan jantung. Lalu katanya dengan nada yang datar, “Jadi inilah orangnya yang sering mencuri binatang buruan itu, sehingga semakin lama binatang buruan di hutan ini menjadi semakin tipis” Lalu tiba-tiba suaranya menyentak, “He, kau dari mana?”

“Aku anak padepokan Jati Aking tuan”

“Jati Aking, Jati Aking, “ Ia mengingat-ingat, “Aku pernah mendengar nama itu”

“Jati Aking terletak di padukuhan Jati Sari tuan”

“Jadi kau anak Jati Sari?”

“Ya tuan”

“Kenapa kau mencuri binatang di hutan ini he?”

“Aku tidak mengetahui tuan, bahwa hutan ini merupakan hutan tertutup, sehingga aku sama sekali tidak berniat untuk mencuri. Itulah sebabnya kami bertiga sama sekali tidak berusaha bersembunyi atau melarikan diri ketika para peronda lewat”

“Bertiga? Jadi kau bertiga?”

“Ya tuan”

“Kalian tidak tahu bahwa hutan ini hutan tertutup?”

“Sungguh tidak tuan”

“Bohong” sahut prajurit yang membawa Buntal itu masuk, “hutan itu telah diberi gawar dengan hampir segenggam lawe berwarna kuning”

Buntal mengerutkan keningnya. Jika benar hutan itu telah diberi tanda dengan gawar lawe berwarna kuning, maka pelanggaran yang dilakukan adalah pelanggaran yang cukup berat.

Tetapi justru di luar dugaannya, prajurit yang bertubuh tinggi tegap itulah yang bertanya kepada prajurit yang membawanya, “Apakah gawar itu mengelilingi seluruh hutan ini sehingga setiap lubang masuk telah ditandai”

Prajurit itu mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Tidak Ki Lurah. Tetapi jalan masuk yang biasa dilalui orang sudah kami tandai”

Prajurit yang tegap itu mengangguk-angguk. Lalu ia pun bertanya kepada Buntal, “Darimana kau masuk?”

“Kami semula berjalan menyusur pinggir hutan. Tiba-tiba saja kami ingin masuk untuk melihat-melihat. Seandainya kami digolongkan dengan pemburu-pemburu, maka niat kami untuk menangkap binatang buruan, hanyalah tiba-tiba saja tumbuh setelah kami berada di dalam hutan itu”

Pemimpin prajurit itu bergeser sejengkal, lalu, “Jadi apa niatmu sebenarnya?”

“Kami sekedar berjalan di pinggir hutan. Kami sedang dalam perjalanan ke rumah keluarga kami, kakek kami yang tinggal di Sukawati”

Pemimpin prajurit itu mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba saja ia bertanya, “Apakah orang ini membawa busur dan anak panah?”

Prajurit yang membawanya Buntal termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia menggeleng sambil menyahut, “Tidak. Mereka tidak membawa busur dan anak panah”

Pemimpinnya mengangguk-angguk. Lalu, “Apakah kau hanya membawa keris itu?”

Buntal lah yang menjadi termangu-mangu sejenak. Lalu, “Ya. Aku membawa keris ini, dan jenis senjata kecil untuk menangkap binatang. Maksud kami apabila di perjalanan kami, kami bertemu dengan binatang-binatang yang harus kami lawan. Dan mungkin juga ada seekor kijang di pinggir hutan. Namun sebenarnyalah kami tidak tahu bahwa hutan ini merupakan hutan tertutup”

Pemimpin prajurit itu bergeser lagi. Katanya, “Jawabanmu ternyata tidak lurus. Mungkin kau ingin mengatakan bahwa kau benar-benar tidak tahu bahwa hutan ini hutan tertutup. Tetapi apakah yang kau maksud dengan senjata-senjata kecil itu?”

Buntal menjadi semakin berdebar-debar.

“Apa?” desak pemimpin prajurit itu.

Sebenarnyalah Buntal menjadi bingung. Ternyata menjawab pertanyaan prajurit-prajurit itu tidak semudah yang diduganya. Apalagi ia memang tidak siap menghadapi keadaan serupa itu.

“Tunjukkanlah senjata kecil yang kau maksud”

Buntal tidak dapat berbuat lain. Dibukanya bagian dada bajunya, dan tampaklah beberapa buah belati kecil terselip diikat pinggangnya”

Tiba-tiba saja Lurah prajurit itu melonjak berdiri. Dengan wajah yang tegang ia berkata lantang, “Tidak. Kau bukan anak Jati Aking. Kau bukan anak seorang petani yang pergi ke rumah kakekmu”

Buntal terkejut sehingga ia pun berdiri di luar sadarnya. Tetapi tiba-tiba saja prajurit itu menghentakkan bajunya dan meraba bagian belakang ikat pinggangnya. Ternyata bahwa pisau kecil itu terdapat di selingkar perutnya.

Dengan nada yang berat prajurit itu berkata, “Kau bukan pencuri binatang buruan. Kau bukan sekedar ingin mengunjungi kakekmu di Sukawati. Tetapi kau benar-benar orang yang pantas dicurigai dalam saat-saat seperti ini”

“Kenapa?” bertanya Buntal.

“Jarang sekali aku menjumpai jenis-jenis senjata aneh seperti ini. Hanya orang-orang yang khusus, yang memiliki kemampuan lontar yang tinggi sajalah yang membawanya. Dan kau tentu salah seorang daripadanya. Sudah tentu kau adalah perusuh-perusuh yang harus ditangkap”

“Tidak tuan” Buntal mencoba menjelaskan. Seperti pesan Juwiring, maka ia harus mengaku bahwa senjata-senjata itu adalah senjata berburu, “Kami mempergunakannya untuk berburu tuan. Jika perlu kami dapat membuktikannya. Karena itulah maka kami tidak membawa busur dan anak panah, karena senjata ini adalah ganti daripada anak panah itu”

“Bohong. Apakah kau dapat mendekati binatang buruan sedekat jarak lontaran pisau?”

Buntal menjadi agak bingung. Tetapi ia sempat menjawab, “Kami harus nyanggong diatas pohon tuan. Jika binatang itu lewat di bawah kami, kami melontarkan pisau kami. Dua buah sekaligus mengarah ke pangkal paha, kemudian disusul dengan lontaran berikutnya kearah jantung atau di antara kedua matanya apabila kami berkesempatan menghadapinya”

Lurah prajurit itu mengerutkan keningnya. Ternyata Buntal dapat menyebutkan cara yang baik, meskipun Buntal pun hanya sekedar mendengar keterangan Arum.

Namun demikian, tiba-tiba Lurah prajurit itu memerintahkan kepada prajurit yang membawa Buntal masuk, “Bawa yang lain menghadap. Apakah mereka juga membawa senjata serupa ini”

Buntal menjadi berdebar-debar. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Bahkan Lurah prajurit itu kemudian memerintahkan, “Kau duduk saja di situ. Duduk. Jangan berbuat sesuatu yang dapat mencelakakan dirimu. Pisau-pisau itu memang dapat berbahaya bagi orang lain. Tetapi tidak bagiku”

Dada Buntal bagaikan menjadi pepat. Terlebih-lebih lagi ketika ia melihat beberapa orang prajurit yang lain membawa Juwiring dan Arum masuk ke ruang itu.

Dengan wajah yang tegang pemimpin prajurit itu memandang keduanya. Namun ia tidak dapat melihat wajah-wajah itu dengan jelas, karena keduanya menundukkan kepalanya.

“Anak ini juga membawa senjata serupa?” bertanya Lurah prajurit itu, “bawa ia maju”

Seorang prajurit mendorong Arum ke tengah-tengah ruangan. Dan pemimpin prajurit itu membentaknya, “Kau masih terlalu muda. Apakah kau ikut juga terlibat dalam kerusuhan-kerusuhan yang sering terjadi?”

Arum tidak menjawab. Tetapi keringat dingin telah membasahi seluruh tubuhnya.

“Kemarilah” berkata pemimpin prajurit itu. Arum berdiri membeku Di tempatnya.

“Kau tentu membawa senjata serupa itu” berkata lurah prajurit itu, “buka bajumu”

Perintah itu telah menggetarkan jantung Buntal dan Juwiring. Tentu tidak mungkin Arum harus membuka bajunya di hadapan beberapa orang prajurit itu.

“Buka bajumu, cepat” pemimpin prajurit itu berteriak. Namun Arum masih saja berdiri tegak. Sebagai seorang gadis yang jarang sekali keluar dari padepokannya, maka perintah itu telah membuatnya pucat.

“Cepat, apakah aku harus memaksamu?” prajurit itu menjadi semakin marah.

Meskipun demikian Arum masih tetap berdiri membeku. Ternyata pemimpin prajurit itu tidak sabar lagi. Ia pun meloncat maju sambil menjulurkan tangannya.

Namun selagi tangan itu belum menyentuh baju Arum, Buntal dan Juwiring meloncat hampir berbareng, dan berdiri tepat di muka Arum.

“Jangan tuan” hampir berbareng pula mereka mencegah.

Pemimpin prajurit itu menjadi semakin marah bukan kepalang. Dengan tangan kirinya ia menampar wajah Buntal dan Juwiring berganti-ganti. Namun kedua anak muda yang telah mengalami pembajaan diri itu, hampir tidak tergerak karenanya.

“Kau gila. Apakah kau sadar bahwa perbuatanmu ini dapat Menyeretmu ke lubang kubur?”

Juwiring dan Buntal tidak menyahut. Tetapi ketika mereka sempat melihat para prajurit di sekitarnya dengan sudut mata, maka mereka pun melihat ujung-ujung senjata yang telah terjulur kearah mereka.

“Kenapa kau menghalangi aku he?” bertanya lurah prajurit itu.

Juwiring lah yang kemudian membuka bajunya dan berkata, “Kami memang membawa senjata serupa ini”

Pemimpin prajurit itu memandangi ikat pinggang Juwiring. Seperti ikat pinggang Buntal, maka beberapa buah pisau kecil terdapat pada ikat pinggang itu.

“Aku ingin melihat yang seorang itu. Jika kalian berkeberatan, aku akan mempergunakan kekerasan”

“Tetapi, tetapi” suara Juwiring terputus-putus. Ia menjadi bingung, bagaimana mungkin ia mencegah lurah prajurit itu membuka baju Arum.

“Bawa kedua anak ini menepi” perintah pemimpin prajurit itu, “Aku akan melihat, apa yang tersimpan di bawah baju anak yang tampaknya paling muda ini”

Juwiring dan Buntal menjadi bingung. Terlebih-lebih lagi Arum. Wajahnya menjadi semakin pucat, dan tubuhnya gemetar. Namun demikian di dalam hati gadis itu, terbersit suatu tekat, jika mereka memaksa, maka ia akan melawan dengan sekuat-kuat tenaganya.

Bahkan terngiang di telinganya kata-kata ayahnya, “Bagi seorang anak muda, bahaya yang paling pahit adalah mati”

Dan kini Arum mengalami, bahwa sebelum ia sampai pada bahaya yang paling besar bagi seorang gadis, maka yang terjadi ini pun sudah hampir membuatnya pingsan.

“Aku akan memilih mati” waktu itu ia menjawab. Dan ayahnya berkata bahwa kadang-kadang yang terjadi bukannya yang dipilihnya.

Jika saat itu ia menjadi pingsan, maka ia tidak akan dapat memilih mati itu.

Ketika beberapa orang prajurit melangkah maju dan menekan ujung pedangnya ke tubuh Juwiring dan Buntal, maka tidak ada pilihan lain bagi Juwiring untuk melakukan usaha terakhirnya.

Karena itu, ketika ujung pedang itu menekannya semakin keras, maka tiba-tiba saja ia menarik ikat kepalanya yang kumal dan sama sekali membuka bajunya. Dengan suara yang bergetar ia memanggil, “Ki Lurah Bausasra”

Lurah prajurit itu terkejut. Dengan tajamnya ia mengamati Juwiring yang tidak menundukkan kepalanya lagi, dan apalagi kini kepalanya tidak tertutup lagi oleh ikat kepala yang sudah kumal itu sebagaimana kebiasaan seorang petani.

“Kau mengenal namaku?”

“Ya Ki Lurah. Aku mengharap Ki Lurah juga mengenal aku atau setidak-tidaknya salah seorang dari kalian”

Lurah prajurit yang bernama Bausasra itu menjadi terheran-heran. Dipandanginya anak muda yang menyebut namanya itu dengan saksama. Dengan suara yang ragu-ragu ia bertanya, “Siapa kau, siapa?”

“Pandanglah aku. Adalah kebetulan kita sudah pernah bertemu. Kebetulan sekali kau pernah datang ke rumahku, dan kita pernah bercakap-cakap. Tentu kau lupa kepadaku, karena kau adalah seorang prajurit yang menunaikan tugasmu tidak di satu tempat. Tetapi aku tidak lupa kepadamu”

“Siapa, siapa?” Bausasra bertanya semakin keras, “sebut namamu jika nama itu dapat mengingatkan aku kepadamu. Namun meskipun kau sudah mengenal aku, itu bukan berarti bahwa aku dapat melepaskan tanggung jawabku sebagai seorang prajurit yang menjaga hutan buruan ini”

Juwiring menarik keningnya. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Kau benar. Meskipun aku mengenal kau dan kau mengenal aku, itu bukan berarti bahwa kau dapat melepaskan tanggung jawabmu. Kau kini sedang bertugas mengawasi hutan buruan ini, dan melarang setiap orang berburu di sini. Bukankah itu tugasmu? Tugasmu sama sekali tidak untuk menangkap orang dalam tuduhan yang lain kecuali melarang peraturan hutan tutupan ini”

“Tidak. Aku adalah seorang prajurit. Jika aku menjumpai kesalahan yang lain, apalagi perusuh-perusuh, meskipun tidak-sedang berada di daerah tugasku, aku memang wajib menangkapnya. Dan sekarang kalian menimbulkan kecurigaanku karena sikapmu, senjatamu dan tentu ada suatu rahasia yang tersembunyi pada anak yang masih terlalu muda itu”

“Ki Lurah” berkata Juwiring kemudian, “Marilah kita batasi persoalan kita. Kau bertugas di hutan buruan ini. Dan menurut peraturan, para bangsawan diperkenankan berburu di hutan ini. Dan aku pernah melihat Raden Rudira berburu di sini”

“Tentu, apakah yang kau maksud adalah Raden Rudira putera Pangeran Ranakusuma?”

“Ya”

“Tentu. Raden Rudira boleh berburu, dan ia memang sering berburu kemari.

“Dan aku?”

Ki Lurah Bausasra menjadi termangu-mangu. Orang yang tinggi tegap itu memandang Juwiring dengan tajamnya. Kini diamatinya anak muda itu dari ujung kaki sampai ke ujung rambutnya.

“Siapa kau?” suaranya menjadi rendah.

Juwiring tersenyum. Katanya, “Apakah benar-benar tidak ada seorang pun yang mengenal aku di sini”

Ki Lurah memandang berkeliling. Beberapa orang prajurit menjadi termangu-mangu. Dan yang lain menggelengkan kepalanya. Tetapi dalam ruang yang tidak begitu luas itu seorang dari antara mereka tiba-tiba mendesak maju sambil berkata, “Maaf, apakah aku boleh berbicara?”

“Apa yang akan kau katakan?”

“Apakah aku boleh menyebut anak muda ini, meskipun barangkali tidak benar”

Pemimpin prajurit yang tegap itu mengangguk, “Sebut namanya”

“Apakah, apakah tuan berasal dari istana Ranakusuman juga seperti Raden Rudira?” prajurit itu justru bertanya.

Juwiring tersenyum mendengar pertanyaan itu. Hatinya menjadi agak dingin. Jika ada seorang saja dari antara mereka yang mengenal, maka keadaannya akan menjadi semakin baik.

Namun dalam pada itu, pemimpin prajurit yang tegap dan bernama Bausasra itu terkejut. Sambil mengerutkan keningnya ia bertanya, “Dari Ranakusuman maksudmu?”

Prajurit itu mengangguk. Jawabnya, “Ya. Aku pernah melihatnya dahulu. Sudah agak lama. Tetapi aku masih ingat”

“Jadi siapa anak muda ini, siapa?” Ki Lurah Bausasra menjadi tidak sabar”

“Kalau aku tidak salah, tetapi kalau tidak salah, bukankah anak muda ini Raden Juwiring”

“Raden Juwiring. He? Apakah anak muda ini Raden Juwiring?”

Juwiring menganggukkan kepalanya. Katanya, “Ya Ki Lurah Bausasra. Aku adalah Juwiring, Juwiring dari Ranakusuman. Karena itu aku mengenalmu meskipun kau tidak lagi dapat mengenali aku”

“O, jadi, jadi?” Ki Lurah Bausasra agak gugup.

“Mungkin pakaianku dan sikapku membuatmu semakin tidak mengenal aku”

Bausasra mengamati Raden Juwiring dengan saksama. Dan sejenak kemudian ia berteriak, “Pergi, semuanya pergi dari ruangan ini. Biarlah ketiga anak-anak muda ini tinggal bersama aku”

Para prajurit itu pun menjadi termangu-mangu. Pedang yang masih telanjang pun kemudian tertunduk lesu.

“Pergi” sekali lagi. Bausasra berteriak.

Beberapa orang prajurit yang ada di dalam ruangan itu pun kemudian melangkah surut dengan dada yang berdebar-debar. Dan ketika mereka sudah sampai di pintu, maka mereka pun berdesak-desakan meloncat keluar, seakan-akan ruangan itu menjadi terlampau panas bagi mereka.

Ketika mereka sudah ada di luar, maka seorang dari prajurit itu berdesah, “Kenapa kau tidak mengatakannya sejak tadi? Jika Raden Juwiring itu menjadi marah, maka kita semuanya akan kena akibatnya”

“Aku hampir tidak mengenalnya lagi. Baru ketika ia melepas ikat kepalanya sama sekali dan kemudian menyebut nama Raden Rudira. Bukankah Raden Rudira itu adiknya?”

“Aku kurang mengerti. Dan barangkali aku memang kurang mengenalnya karena aku hampir tidak pernah bertugas di dalam kota Surakarta sendiri. Apalagi aku belum lama menjadi seorang prajurit” Prajurit itu berhenti sejenak, lalu, “Tetapi yang aneh adalah Ki Lurah Bausasra. Kenapa ia tidak mengenal putera Pangeran Ranakusuma? Seharusnya ia mengenalinya”

“Bukan hanya Ki Lurah Bausasra. Sebagian terbesar dari kita harus sudah mengenalnya. Tetapi pakaiannya dan keadaan yang tampak pada lahiriahnya, ia seperti seorang petani biasa. Petani kecil yang sederhana”

Dan tiba-tiba seorang prajurit yang sudah beruban di kening menyahut, “Bukankah Raden Juwiring sudah beberapa saat tidak berada di istana Ranakusuman? Adalah benar kata anak muda yang pertama, bahwa mereka adalah anak-anak Jati Sari. Raden Juwiring itu tentu berada di padepokan yang disebutnya Padepokan Jati Aking itu”

Prajurit-prajurit itu terdiam sejenak. Tetapi mereka masih tetap berdebat. Pangeran Ranakusuma adalah seorang Pangeran yang berpengaruh di istana, apalagi di saat-saat terakhir ketika orang-orang asing menjadi semakin banyak di Surakarta.

Namun dalam pada itu di dalam ruang dalam, Juwiring berkata kepada Ki Lurah Bausasra sambil tersenyum, “Bukan salahmu Ki Lurah”

“Kami mohon maaf Raden. Kami benar-benar tidak mengenal Raden Juwiring. Tetapi tentu Raden Tidak percaya. Aku memang pernah berbicara dengan Raden ketika aku menghadap ayahanda Pangeran Ranakusuma, sebelum aku bertugas ke Timur untuk beberapa lamanya. Setelah aku kembali sampai sekarang, barulah kali ini aku bertemu lagi dengan Raden Juwiring, dan itu pun dalam keadaan yang tidak aku duga sama sekali”

Juwiring masih tersenyum. Katanya, “Tidak apa-apa. Aku tahu bahwa kau menjalankan tugas yang dibebankan kepadamu, meskipun barangkali kau tidak sesuai dengan tugas ini”

Ki Lurah Bausasra menarik nafas dalam-dalam. Dengan ragu-ragu ia berkata, “Memang Raden. Di dalam suasana yang panas ini, setiap prajurit ingin berbuat sesuatu yang besar. Yang bernilai bagi seorang anak Surakarta. Tetapi aku justru mendapat tugas mengawasi binatang buruan. Hanya mengawasi beberapa ekor kijang dan harimau kumbang”

Juwiring mengangguk-anggukkan. Katanya, “Itu adalah tugas yang dapat diberikan kepadamu sekarang. Mungkin para pemimpin di Surakarta masih belum yakin akan sikapmu, sehingga kau masih belum mendapatkan tugas yang lebih baik dari mengawasi sebuah hutan tertutup”

Ki Lurah Bausasra menarik nafas dalam-dalam. Sejenak dipandanginya anak-anak muda yang kemudian dipersilahkan duduk di amben bambu.

“Mungkin Raden benar” sahut Ki Lurah, “Aku memang sudah jauh ketinggalan dari keadaan yang berkembang. Karena itu pula aku tidak mengenal Raden lagi. Sekali lagi kami mohon maaf Raden”

Raden Juwiring tertawa. Katanya, “Jangan kau sebut lagi hal itu. Sebenarnya kami memang tidak bermaksud mengejutkan kalian. Sebenarnyalah kami tidak mengetahui bahwa hutan ini sekarang menjadi hutan tertutup. Jika kau tidak memaksa adikku ini untuk membuka bajunya, maka aku tidak akan menyatakan diriku. Kami masih berusaha untuk dapat membebaskan diri tanpa memperkenalkan diriku yang sebenarnya. Tetapi kecurigaan kalian beralasan. Senjata-senjata ini memang senjata yang aneh, yang tidak lazim dipakai oleh para pemburu. Tetapi kami dapat mempergunakannya dengan baik”

Ki Lurah mengangguk. Tetapi ia bertanya, “Siapakah yang Raden maksud dengan adik Raden?”

“Keduanya adalah adik seperguruanku di dalam olah kajiwan dan kanuragan. Seperti yang sudah dikatakan, kami kini tinggal bersama-sama di padepokan Jati Aking. Dan adikku yang bungsu ini adalah anak Kiai Danatirta dari Jati Aking”

“O, aku minta maaf. Aku tidak mengerti. Tetapi penolakan Raden terhadap permintaanku sangat menambah kecurigaanku”

“Kau benar. Tetapi bertanyalah, siapakah nama anak itu”

Arum termangu-mangu mendengar kata-kata Juwiring. Tetapi ia pun kemudian mengerti maksudnya. Karena itu ketika Bausasra memandang kepadanya, ia menjawab, “Namaku Arum”

“He” mata Bausasra terbelalak karenanya. Dengan suara gemetar ia bertanya, “Apakah kau seorang gadis, atau suaramu sajalah yang seperti suara seorang gadis”

“Ia memang seorang gadis, meskipun bentuknya seperti seorang anak laki-laki”

“O” keringat yang dingin mengembun di dahi Ki Lurah Bausasra, “Aku minta maaf yang sebesar-besarnya. Untunglah di sini ada Raden Juwiring”

Arum tertunduk dalam-dalam. Di pipinya membayang warna semburat merah. Tetapi ia pun tersenyum pula seperti Juwiring dan Buntal.

“Sudahlah” berkata Juwiring, “Marilah kita lupakan saja peristiwa ini. Aku akan segera melanjutkan perjalananku ke Sukawati”

Ki Lurah Bausasra masih dicengkam oleh kegelisahan. Bahkan kemudian ia berkata, “Aku minta maaf kepada kalian semua. Aku benar-benar tidak mengerti, bahwa aku berhadapan dengan Raden Juwiring dan kedua adik seperguruannya. Apalagi seorang daripadanya adalah seorang gadis”

“Bukan salahmu Ki Lurah. Aku tahu, kau dan para prajurit itu sedang melakukan kuwajibannya. Aku pun minta maaf, bahwa aku telah membuat kau dan prajuritmu menjadi sibuk”

“Tidak. Tidak. Raden tidak bersalah Raden berhak berburu di hutan ini seperti juga Raden Rudira dan putera-putera Pangeran yang lain”

“Terima kasih. Kami tidak ingin berburu”

Ki Lurah Bausasra mengerutkan keningnya. Namun Juwiring tertawa dan berkata, “Mungkin keterangan kami berbelit-belit dan kadang-kadang saling bertentangan. Jika kalian tidak mengenal kami, maka kalian tentu akan menjadi semakin curiga. Tetapi sebenarnyalah bahwa kami memberikan keterangan yang tidak sebenarnya, karena semula kami tidak bermaksud mengatakan tentang diri kami masing-masing yang sebenarnya. Terutama aku sendiri, sehingga kami mencoba untuk mencari-cari alasan, sehingga dengan demikian keterangan kami menjadi berbelit-belit.

Ki Lurah Bausasra tidak menyahut. Dan Raden Juwiring berkata selanjutnya, “Tetapi sebenarnyalah kami hanya ingin lewat Kami akan pergi ke Sukawati”

Ki Lurah Bausasra mengangguk-angguk.

“Oleh guru kami, kami dibekali dengan senjata-senjata kecil ini. Justru karena keadaan semakin lama menjadi semakin kisruh dan tidak menentu”

Ki Lurah Bausasra masih mengangguk-angguk.

“Kami sengaja tidak membawa senjata yang menyolok selain keris dan pisau-pisau belati kecil ini. Senjata-senjata ini dapat sekedar melindungi diri kami apabila kami perlukan, namun tidak memancing perhatian dan persoalan, karena kami dapat menyembunyikannya di bawah baju kami”

“Kami mengerti” jawab Ki Lurah Bausasra, “kini aku percaya. Semula keterangan Raden dan adik-adik seperguruan Raden memang membingungkan dan mencurigakan. Tetapi kini kami dapat mengerti, kenapa Raden dan adik-adik Raden berusaha untuk menghindarkan diri dari pertanyaan-pertanyaan kami dan tidak menjawab sebenarnya seperti yang akan Raden lakukan”

“Ya. Terima kasih atas pengertian Ki Lurah. Dan sekarang kami akan minta diri”

“Tetapi tentu bukan untuk mengunjungi seorang kakek yang sudah lama tidak bertemu”

Raden Juwiring tersenyum.

“Sebenarnya aku juga menunggu kesempatan, kapan aku dapat menghadap Pangeran Mangkubumi” desis Bausasra.

“He?” Juwiring mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian menarik nafas dalam-dalam. Ia harus hati-hati menghadapi orang yang tidak begitu dikenalnya. Mungkin Bausasra hanya sekedar memancingnya, dan kemudian melaporkannya kepada pimpinan prajurit di Surakarta, yang mempunyai wewenang untuk melakukan penangkapan atas para bangsawan.

Namun tiba-tiba Ki Lurah Bausasra itu menjadi sangat gelisah. Dan dengan suara yang bergetar ia bertanya, “Tetapi Raden. Apakah Raden akan menghadap pamanda Pangeran Mangkubumi?”

Juwiring masih tetap berhati-hati, meskipun seakan-akan acuh tidak acuh saja ia menjawab, “Tidak Ki Lurah. Kami tidak akan menghadap pamanda Pangeran Mangkubumi. Kami akan pergi kepada seorang sahabat Kiai Danatirta”

“O” Ki Lurah Bausasra menjadi semakin gelisah. Namun seperti tidak terjadi apapun juga Raden Juwiring berkata, “Nah, sekarang kami akan minta diri. Sekali lagi kami minta maaf bahwa kami sudah mengganggu kalian. Tolong katakan kepada prajurit-prajuritmu, bahwa kita lupakan saja apa yang sudah terjadi dan apa yang sudah kita perbuat masing-masing”

“Baik, baik Raden. Terima kasih atas kesempatan ini. Mudah-mudahan lain kali kami tidak membuat kesalahan. Nanti aku akan memerintahkan agar gawar lawe yang berwarna kuning itu tidak hanya disangkutkan pada lorong-lorong masuk ke dalam hutan ini, tetapi direntangkan di sekitar hutan yang menghadap ke jalan yang Raden lalui, agar orang lain nanti tidak terjebak dalam kesalahan yang sama seperti Raden yang tidak mengetahui bahwa hutan ini adalah hutan tertutup. Untunglah bahwa Raden memang berhak melakukannya. Jika terjadi atas orang lain, akibatnya akan tidak menyenangkan bagi orang itu, meskipun sebenarnya ia memang tidak bersalah”

“Baiklah” berkata Raden Juwiring, “Aku minta diri”

Buntal dan Arum pun kemudian minta diri pula kepada Ki lurah Bausasra. Mereka pun kemudian diantar oleh Ki Lurah itu sampai ke halaman dan selanjutnya meninggalkan barak penjagaan prajurit Surakarta itu.

Beberapa langkah kemudian, Buntal bertanya kepada Juwiring, “Jadi, bukankah Ki Lurah Bausasra agaknya tidak berpihak kepada Kumpeni, atau setidak-tidaknya tidak terlalu menjilat mereka?”

“Mungkin sekali. Tetapi aku masih ragu-ragu. Kita tidak dapat berbuat tergesa-gesa terhadap orang yang belum kita kenal dengan baik. Mungkin Ki Lurah Bausasra sedang memancing kita. Tetapi menilik sikapnya, aku mempunyai dugaan, bahwa sebenarnya ia tidak berpura-pura. Ternyata ia justru menjadi gelisah”

“Kenapa justru gelisah?”

“Ki Lurah Bausasra mengerti kalau aku adalah Putera ayahanda Ranakusuma. Dan Ki Lurah Bausasra pun tahu, bagaimana sikap ayahanda terhadap perkembangan keadaan kini”

Buntal dan Arum mengangguk-anggukkan kepalanya. Agaknya Ki Lurah Bausasra menjadi gelisah, karena menurut dugaannya Raden Juwiring pasti mempunyai sikap seperti ayahandanya.

Tetapi mereka tidak mempersoalkannya lagi. Arum yang merasa tidak akan terganggu lagi di hutan tutupan itu mulai tertarik lagi pada gerumbul-gerumbul liar yang berserakan diantara pepohonan yang semakin lama semakin pepat.

“Dalam gerumbul itu tentu bersembunyi binatang buruan. Kijang atau rusa” desisnya.

“Atau harimau” sahut Buntal.

“Apa salahnya seekor harimau”

“Tentu bukan harimau. Di sekitar tempat ini tentu tidak ada seekor harimau pun saat ini” desis Juwiring.

“Kenapa kau tahu?” beritanya Arum.

“Lihat. Di sini banyak kera berkeliaran. Jika di daerah ini ada seekor harimau atau seekor ular yang besar, maka tentu tidak akan ada seekor kera pun yang tampak. Mereka akan menyisih jauh-jauh. Bahkan jika seekor ular besar sedang lapar dan mengikatkan ujung ekornya pada sebatang dahan yang besar, bukan saja tidak ada seekor kera pun yang tampak, tetapi juga burung-burung akan berterbangan pergi. Apabila arah angin tepat bertiup kearah kita, maka kita akan mencium bau yang langu”

“Kau mengetahui banyak tentang hutan dan perburuan”

“Aku dahulu sering ikut berburu seperti adinda Rudira. Tetapi kemampuan berburu adinda Rudira berkembang karena ia kemudian mendapat kesempatan untuk pergi berburu sendiri dengan beberapa orang pengiring. Tetapi aku kemudian mendapat kesempatan lain. Mempelajari olah kanuragan, kajiwan serta ilmu pergaulan dan tata pemerintahan dari Kiai Danatirta, meskipun adinda Rudira pasti juga mendapat dari orang lain”

Buntal dan Arum mengangguk-angguk. Tanpa mereka sedari mereka merasakan betapa pahitnya perasaan Raden Juwiring, karena ia telah tersisih dari lingkungan keluarganya, apapun alasannya.

Namun sejenak kemudian perhatian Arum telah tertuju kepada hutan di sekitarnya. Jika Juwiring dan Buntal setiap kali tidak mencegahnya, maka ia pasti sudah berlari-larian di antara semak-semak yang lebat.

“Ada beberapa kemungkinan Arum” berkata Juwiring, “Kau bukannya berburu, tetapi diburu oleh binatang liar atau tersesat”

“Mungkin aku dapat tersesat. Tetapi seandainya ada binatang liar, akulah yang akan menangkapnya. Bukankah yang ada hanyalah rusa atau kijang? Bukankah di sini tidak ada harimau. Bahkan seandainya ada harimau sekalipun aku tidak takut. Aku dapat memanjat dan membunuhnya dengan pisau-pisau ini”

“Bukan seekor harimau Arum. Tetapi yang paling berbahaya bagi pemburu adalah ular kecil yang berbisa. Hanya orang-orang tertentu sajalah yang dapat mengobati gigitan ular weling, welang atau bandotan. Tetapi tidak kalah bahayanya adalah serangga-serangga yang berbisa. Laba-laba biru atau lebah kendit, yang bergaris putih di pinggangnya yang ramping”

Arum mengerutkan keningnya. Namun kemudian sambil memberengut ia berkata, “Kau membohongi aku. Aku percaya kalau di hutan ini banyak ular berbisa. Tetapi tidak dengan serangga-serangga semacam itu”

“Sebaiknya kau mempercayainya Arum” berkata Buntal, “Kakang Juwiring mempunyai pengalaman dan pengenalan atas hutan ini dan barangkali di hutan-hutan yang lain”

Arum tidak menjawab. Tetapi wajahnya menjadi gelap. Dan tiba-tiba saja ia berkata, “Kita keluar dari hutan ini. Jika kita bertemu dengan peronda yang lain lagi, yang belum mengetahui tentang kita, maka kita harus berurusan lagi dengan mereka, dan Lurah itu akan memaksa lagi aku membuka baju”

Juwiring dan Buntal tersenyum.

“Kalian mentertawakan aku?”

“Mereka tidak tahu Arum. Justru karena itu membuktikan bahwa kau pantas berpakaian seperti seorang laki-laki” sahut Buntal.

Arum tidak menjawab. Tetapi ia berjalan lebih cepat. lagi mendahului kedua saudara seperguruannya.

Demikianlah akhirnya mereka pun keluar dari hutan tertutup itu. Mereka berjalan menyusur jalan sempit di pinggir hutan itu. Dan sebenarnyalah mereka di beberapa tempat melihat gawar lawe berwarna kuning sebagai pertanda bahwa hutan itu adalah hutan tertutup.

Perjalanan mereka pun tidak terganggu lagi oleh keinginan Arum mencari binatang buruan di hutan, setelah mereka menjadi semakin jauh dari hutan tertutup itu. Bahkan kemudian mereka sampai di daerah pategalan yang sudah ditanami dengan berbagai macam pohon buah-buahan. Dan sejenak kemudian mereka pun sampai di bulak persawahan yang panjang.

Ketika matahari menjadi semakin rendah di Barat, maka mereka pun beristirahat di bawah sebatang pohon yang rindang. Namun mereka sama sekali masih belum dapat duduk dengan tenang, karena Sukawati masih cukup jauh. Apalagi perjalanan mereka terganggu oleh prajurit-prajurit yang bertugas di hutan tutupan itu.

Dengan bekal yang hanya sedikit, mereka mengisi perut mereka sebelum melanjutkan perjalanan di bawah terik matahari menjelang sore.

Meskipun panasnya sudah mulai susut, namun rasa-rasanya masih juga menyengat kulit yang seakan-akan menjadi merah seperti tembaga. Pakaian mereka telah basah oleh keringat dan kotor oleh debu. Tetapi mereka berjalan terus.

“Kita harus sampai ke rumahnya” berkata Juwiring seakan-akan kepada diri sendiri.

Tetapi Buntal menyahut, “Ya. Kita harus langsung sampai ke rumah Kiai Sarpasrana meskipun lewat tengah malam”

Arum tidak berkata apapun. Tetapi ia tidak berkeberatan seandainya ia masih harus berjalan sampai lewat tengah malam. Meskipun ia seorang gadis, tetapi latihan-latihan yang teratur dan mapan, membuat ketahanan tubuhnya menjadi sangat tinggi, seperti juga Juwiring dan Buntal.

Dalam pada itu, matahari pun semakin lama menjadi semakin rendah. Langit menjadi kemerah-merahan oleh sinarnya yang lemah. Dan ujung mega di atas pegunungan bagaikan membara.

Arum yang seakan-akan telah mandi keringat, sempat memandang langit yang ditaburi oleh sisa-sisa sinar matahari menjelang senja. Angin yang lembut mengusap wajahnya yang basah. Sekali-sekali gadis itu mengusap keringat dikeningnya dengan lengan bajunya dengan acuh tidak acuh. Perhatiannya sedang dicengkam oleh warna-warna yang dengan cepatnya berubah-ubah di sore hari.

Juwiring yang berjalan agak di depan menundukkan kepalanya. Angan-angannya telah mendahuluinya menemui Kiai Sarpasrana. Berbagai macam gambaran telah bergerak di kepalanya. Mungkin orang itu akan menyambutnya dengan baik, tetapi mungkin sebaliknya.

Dalam pada itu, Buntal untuk beberapa saat terlempar ke dalam dunia kenangan. Di saat-saat ia berjalan tanpa tujuan. Ketika ia menengadahkan wajahnya, dilihatnya langit dengan warnanya, yang semakin gelap. Seperti warna yang pernah dilihatnya di bulak Jati Sari. Betapa warna itu bagaikan bayangan hantu yang akan menerkamnya saat itu.

Seakan-akan masih terasa tengkuknya bagaikan patah ketika orang-orang Jati Sari memukulinya. Masih juga terngiang pekik Arum yang terkejut melihatnya diatas gubug.

Buntal menarik nafas dalam-dalam. Di luar sadarnya dipandanginya wajah Arum sekilas. Hanya sekilas. Tetapi Buntal melihat ujung rambutnya yang bergerak-gerak ditiup angin yang lembut, bagaikan rumbai-rumbai yang menghiasi seraut wajah yang bulat cerah.

Buntal menarik nafas dalam-dalam. Setiap kali ia mencoba mengusir pikiran gila itu dari kepalanya. Namun setiap kali wajah itu terbayang juga meskipun ia sudah berusaha untuk mengenyahkannya.

“Kenapa aku harus membayangkan wajahnya” Buntal membentak dirinya sendiri di dalam hati, “anak itu ada di sini. Aku dapat memandanginya sepuas-puasnya. Bukan sekedar bayangan di dalam angan-angan”

Buntal terkejut ketika ia mendengar suara Juwiring, “Di malam hari, lebih sulit bagi kita untuk menemukan rumah Kiai Sarpasrana”

Sejenak Buntal tergagap. Namun ia pun kemudian menjawab, “Ya. Tidak ada tempat untuk bertanya”

“Mungkin di gardu-gardu parondan” sahut Arum.

Juwiring mengangguk-angguk. Katanya, “Ada dua kemungkinan. Di gardu-gardu peronda kita akan mendapat petunjuk, atau justru dicurigai dalam keadaan seperti sekarang ini”

“Ya” Buntal menyahut, “Kita dapat dicurigai seperti prajurit-prajurit itu mencurigai kita. Agaknya saat ini adalah saat saling curiga mencurigai di antara sesama orang Surakarta dan wilayahnya”

“Ya. Kedatangan orang-orang asing itulah yang telah mengguncangkan sendi-sendi kehidupan di Surakarta” Juwiring berhenti sejenak, lalu, “Apakah kalian sependapat, apabila kita teruskan perjalanan kita sampai ke Sukawati malam ini, meskipun sampai jauh dan bahkan lewat tengah malam? Tetapi baru besok pagi-pagi kita mencari rumah Kiai Sarpasrana?”

Tetapi Arum menggelengkan kepalanya, “Kita sampai ke rumahnya malam ini. Jika kita menunggu dimanapun juga, masih akan ada kemungkinan-kemungkinan lain yang dapat terjadi”

Buntal menganggukkan kepalanya, “Ya. Tentu di daerah Sukawati peronda-peronda selalu nganglang hampir setiap saat. Lebih baik kita berterus terang kepada mereka”

Juwiring mengangguk-angguk pula. Katanya, “Baiklah. Kita akan berusaha untuk menemukan rumah itu”

Ketiga anak muda itu pun kemudian terdiam sejenak. Sementara langit menjadi buram dan ujung pegunungan telah menjadi pudar.

Hampir tanpa mereka sadari, maka perlahan-lahan malam pun mulai turun. Cahaya matahari yang tersangkut di tepi langit telah padam sama sekali. Bintang-bintang satu demi satu mulai memancar di dalam kegelapan.

Ketiga anak-anak muda itu pun berhenti pula sejenak untuk melepaskan lelah. Meskipun mereka cukup terlatih menguasai diri, tenaga dan tubuh, namun mereka masih juga memerlukan beristirahat sejenak. Membasahi kaki mereka dengan air parit yang bening. Bahkan kemudian tangan dan wajah mereka yang bagaikan hangus dibakar sinar matahari.

“Kita duduk sejenak” berkata Arum kemudian, “Bukan karena lelah. Tetapi aku ingin menikmati segarnya udara”

Juwiring dan Buntal tersenyum, namun mereka tidak menjawab. Meskipun demikian Arum berkata, “Kalian tidak percaya?”

“Tentu kami percaya” jawab Juwiring, “Aku pun ingin duduk sebentar. Angin terasa sejuk sekali”

“Apakah perjalanan kita masih jauh?” bertanya Arum kemudian.

“Tidak begitu jauh lagi” jawab Juwiring, “Aku kira tidak sampai tengah malam kita sudah akan mencapai daerah Sukawati”

Arum tidak bertanya lagi. Ia duduk diatas rerumputan sambil bersandar sebatang pohon. Namun kemudian sambil berpaling memandang ke dalam kegelapan bayangan pepohonan ia berkata, “Bukankah aku tidak bersandar sebatang pohon hutan tutupan?”

“Tidak Arum” Buntal lah yang menjawab, “Kita berada di daerah pategalan”

“O” Arum menyandarkan dirinya lagi sambil memandang ke kejauhan.

Namun tiba-tiba Arum terkejut. Hampir bersamaan Juwiring dan Buntal pun mengangkat kepala mereka memandang kekejauhan.

“Beberapa buah obor” desis Arum.

“Ya” Juwiring dan Buntal hampir bersamaan.

“Siapakah mereka?” bertanya Arum pula.

Juwiring menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Aku tidak tahu”

Arum pun kemudian berdiri. Dilihatnya beberapa buah obor itu berjalan beriringan. Tidak banyak. Ada tiga buah yang jaraknya agak kejauhan.

“Mereka menuju kemari” desis Buntal yang telah berdiri pula.

“Ya. Obor itu menuju kemari”

Ketiganya pun kemudian berdiri termangu-mangu. Mereka memandangi obor yang semakin lama menjadi semakin dekat itu dengan saksama.

“Mereka akan melewati jalan ini” berkata Arum, kemudian Juwiring merenung sejenak, lalu, “Kita bersembunyi”

“Menyingkir?” beritanya Arum.

“Tidak. Aku ingin melihat siapakah mereka”

Buntal menganggukkan kepalanya sambil bergumam, “Ya, kita bersembunyi di balik semak-semak untuk melihat, siapakah mereka itu”

Demikianlah ketiganya pun kemudian segera bersembunyi di balik semak-semak yang rimbun. Apalagi di dalam gelapnya malam.

“Hati-hatilah, jangan menimbulkan suara apapun yang dapat menarik perhatian mereka” berkata Juwiring.

Kedua adik-adik seperguruannya itu tidak menjawab. Tetapi mereka menyadari, bahwa apabila mereka membuat kesalahan, maka akibatnya tidak dapat dibayangkan karena mereka tidak mengetahui siapakah yang akan lewat itu.

Arum yang telah mendapat pengalaman dari kesulitan yang dialaminya di hutan tertutup itu pun menjadi agak berhati-hati. Apalagi apabila mereka berhadapan dengan orang-orang yang sama sekali tidak diketahuinya. Mungkin perampok-perampok, mungkin prajurit-prajurit yang sedang mengejar perampok atau mencari apapun, tetapi mungkin juga orang-orang asing yang kadang-kadang dapat menjadi buas menghadapi gadis-gadis, seperti cerita yang pernah didengarnya.

Bahkan ketika obor-obor itu menjadi semakin dekat, Arum telah menahan nafasnya, agar tidak terdengar oleh orang-orang yang kemudian lewat di jalan di pinggir pategalan itu.

Ketiga anak-anak muda itu pun kemudian memperhatikan sebuah iring-iringan yang mendebarkan jantung. Sebagian terbesar dari mereka adalah laki-laki bersenjata. Bahkan ada di antara mereka yang berpakaian seperti prajurit Surakarta. Sedang di bagian tengah dari iring-iringan itu, adalah beberapa orang perempuan dan bahkan anak-anak.

Hampir saja Arum membuka mulutnya untuk bertanya kepada Buntal yang ada di sebelahnya. Untunglah bahwa ia segera sadar sehingga niatnya itu pun diurungkannya.

Namun yang paling tegang dari ketiga anak-anak muda itu adalah Juwiring. Di bawah cahaya obor yang menerangi terutama di bagian perempuan dan anak-anak itu, dilihatnya seorang yang pernah dikenalnya.

Sejenak ketiganya seakan-akan telah membeku. Tetapi dengan demikian mereka berhasil tidak menarik perhatian orang-orang yang lewat beberapa langkah saja di hadapan mereka.

Baru ketika iring-iringan itu sudah lewat agak jauh, ketiga anak-anak muda itu bangkit dari persembunyiannya Per-lahan-lahan mereka bergeser maju. Dengan hati-hati mereka menyusup di antara semak-semak dan muncul di jalan yang baru saja dilalui oleh iring-iringan yang mendebarkan jantung itu.

“Siapakah mereka?” desis Arum,

Buntal menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku tidak tahu”

“Apakah belum ada orang yang kau kenal sama sekali?”

Sekali lagi Buntal menggeleng. Katanya, “Belum. Aku belum pernah mengenal mereka”

Arum menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ketika ia berpaling kepada Juwiring, dilihatnya di dalam kesuraman malam, anak muda itu merenung.

“Apakah ada yang kau kenal?” bertanya Arum kepada Juwiring.

Juwiring tidak segera menjawab. Ia masih memandang cahaya obor di kejauhan yang seakan-akan bagaikan seberkas bara yang berterbangan di dalam gelapnya malam. Bahkan Arum berdesis seperti kepada diri sendiri, “Seperti beberapa ekor burung kemamang”

Juwiring mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Seakan-akan aku pernah mengenainya salah seorang dari mereka”

“Siapa?” bertanya Buntal dan Arum hampir bersamaan.

“Yang berjalan di luar iring-iringan. Kebetulan saja ia melintas di sebelah obor yang ada di depan perempuan dan anak-anak itu”

“Ya siapa?” Arum tidak sabar.

“Juga seorang bangsawan”

“Bangsawan? Siapa? Raden Rudira? Atau siapa? Laki-laki atau perempuan?” bertanya Arum.

Juwiring masih belum menjawab, sehingga Arum mendesaknya lagi, “Yang. kau maksudkan seorang laki-laki atau seorang perempuan?”

“Seorang laki-laki” desis Juwiring.

“Namanya? Tentu ia mempunyai nama”

“Raden Mas Said”

“Raden Mas Said” Arum dan Buntal mengulang.

Bersambung ke bagian 2

2 Tanggapan

  1. Sampun selesai maosipun BdBK jilid 8, menunggu posting jilid berikutnya.

    walah…., ngebut nih…
    lusa nggih, he he he …

  2. Maturnuwun Ki Sanak, saya jadi pingin baca terus nih…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s