BdBK-07


BUNGA DI BATU KARANG

JILID 7

kembali | lanjut

BdBK-07KI DIPANALAmenarik nafas dalam-dalam.

Di perjalanan Ki Dipanala tidak terlalu sering beristirahat meskipun ia tidak berpacu terlalu cepat. Sekali-sekali ia berhenti sejenak untuk memberi kesempatan kudanya beristirahat.

Apalagi ketika ia sudah mendekati kota. Kudanya berjalan semakin lamban. Ia berharap bahwa apabila ia datang di istana Ranakusuman, Pangeran Ranakusuma sudah ada di istana, jika Pangeran itu pergi menghadap Susuhunan.

Karena itulah maka ketika ia mendekati regol Ranakusuman matahari sudah condong jauh ke Barat, meskipun panasnya masih terasa menyengat kulit

Meskipun sejak ia memasuki kota ia sudah berusaha mengatur perasaannya, namun ia masih merasa berdebar-debar juga ketika ia berdiri di depan regol yang terbuka. Dengan agak gemetar ia meloncat turun dari kudanya dan menuntunnya masuk halaman.

Para penjaga regol mengangguk sambil menyapanya. Salah seorang bertanya, “Kau bermalam di padepokan itu?”

“Ya” jawab Ki Dipanala.

Lalu yang lain, “Kau bawa ubi manis atau gembili?”

Ki Dipanala mencoba tersenyum. Jawabnya, “Sayang, aku tidak sempat. Aku datang lewat senja, dan pagi-pagi aku sudah berangkat lagi”

“Seharusnya kau membawa gembili ungu. Manisnya bukan main”

Ki Dipanala masih saja tersenyum, namun ia tidak menjawab. Debar jantungnya terasa justru menjadi semakin keras sehingga sejenak ia masih saja berdiri di regol sambil termangu-mangu.

Namun kemudian hatinya pun menjadi bulat. Apapun yang akan dihadapi. Karena itu, maka ia pun melangkah maju sambil menuntun kudanya.

Ki Dipanala terkejut ketika ia mendengar suara seorang perempuan menyapanya. Ketika ia berpaling dilihatnya Raden Ayu Galihwarit berdiri di pintu butulan.

“He, kau sudah pulang Dipanala?”

Ki Dipanala mengangguk dalam-dalam sambil menjawab, “Ya Raden Ayu. Baru saja hamba datang”

“Kemarilah” Panggil Raden Ayu Galihwarit.

“Apakah hamba diperkenankan menambatkan kuda ini?”

“Ikat saja pada pohon itu. Kemarilah”

Ki Dipanala menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi ia tidak dapat membantah. Diikatnya kudanya pada sebatang pohon soka putih yang tumbuh di halaman samping, dan dengan hormatnya ia mendekati Raden Ayu Galihwarit

Dadanya berdesir ketika ia melihat di belakang Raden Ayu itu berdiri anak laki-lakinya. Raden Rudira.

Ketika Ki Dipanala berjalan mendekat, maka Raden Ayu Galihwarit pun masuk ke ruang dalam dan duduk menghadap pintu, sementara Ki Dipanala merayap naik tangga dan kemudian duduk bersila di lantai di hadapan Raden Ayu Galihwarit.

Raden Rudira yang kemudian masuk ke ruang itu pula berdiri di sisi ibundanya. Dengan tajamnya. dipandanginya Ki Dipanala yang menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Bagaimana kabar kepergianmu ke padepokan Jati Aking?” bertanya Raden Ayu Galihwarit.

“Hamba telah melakukan tugas hamba sebaik-baiknya Raden Ayu. Hamba telah sampai ke padepokan Jati Aking”

“O” Raden Ayu Galihwarit mengangguk-angguk. Lalu, “Apakah kau sudah bertemu dengan Juwiring?”

Namun sebelum Ki Dipanala menjawab, ia mendengar suara dari ruang dalam, “Suruh Dipanala kemari”

Raden Ayu Galihwarit mengerutkan keningnya. Tetapi ia kenal betul, bahwa suara itu adalah suara Pangeran Ranakusuma sehingga ia tidak dapat lagi membantahnya.

“Menghadaplah” berkata Raden Ayu Galihwarit.

Ki Dipanala pun kemudian bergeser sambil berjongkok bagaikan merayap masuk ke ruang dalam menghadap Pangeran Ranakusuma yang duduk dengan wajah yang buram, sementara Raden Ayu Galihwarit mengikutinya di belakang, dan yang kemudian duduk di sisi Pangeran Ranakusuma.

Tetapi Rudira tidak ikut masuk ke ruang dalam. Bahkan dengan wajah bersungut-sungut ia berjalan keluar menemui Mandra di halaman belakang.

“Dipanala sudah datang” bisiknya di telinga Mandra.

“O. apakah yang dikatakannya kepada Pangeran”

“Aku tidak tahu. Ibunda duduk bersama ayahanda. Lebih baik aku menyingkir”

Mandra mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Kita menunggu perintah Raden Ayu”

Dalam pada itu, Dipanala yang menghadap Pangeran Ranakusuma duduk tepekur. Ia tidak berani mengangkat wajahnya sebelum Pangeran Ranakusuma bertanya sesuatu kepadanya.

Baru sejenak kemudian terdengar suara Pangeran Ranakusuma, “Apakah semua kiriman kami sudah kau sampaikan?”

“Sudah Pangeran. Hamba sudah sampai di padepokan Jati Aking. Hamba sudah bertemu dengan Kiai Danatirta dan Raden Juwiring”

“Baik. Mereka tentu senang menerima kiriman itu. Barangkali kali ini adalah kiriman kami yang paling banyak sejak ia berada di padepokan itu”

“Hamba Pangeran”

“Dan apakah kirimanku untuk Arum juga sudah kau sampaikan?” bertanya Raden Ayu Galihwarit.

“Sudah Raden Ayu. Hamba sudah menyampaikannya langsung kepada anak itu”

“Apa katanya?”

“Anak padepokan itu belum pernah melihat kain sebagus itu sehingga ia menjadi kagum karenanya. Bahkan hampir tidak dapat mengerti, bahwa ada kain yang sebagus itu”

Raden Ayu Galihwarit tersenyum sambil mengangguk-angguk. Tetapi hatinya mengumpat tidak habis-habisnya. Kain itu seharusnya tidak sampai ke tangan Arum. Kain itu seharusnya merupakan hadiah khusus bagi penyamun-penyamun yang berjanji akan membunuh Ki Dipanala

“Dan uang itu?” bertanya Pangeran Ranakusuma.

“Semuanya sudah hamba sampaikan. Raden Juwiring dan Kiai Danatirta beserta anak perempuannya mengucapkan beribu-ribu terima kasih atas kemurahan Pangeran”

Pangeran Ranakusuma mengangguk-angguk. Ia sama sekali tidak berprasangka apapun terhadap perjalanan Dipanala. Karena itu maka ia tidak bertanya lebih lanjut. Bahkan ia pun kemudian berkata, “Baiklah. Beristirahatlah. Kau sendiri tentu akan mendapat bagianmu juga”

“Hamba telah menerimanya sebelum hamba berangkat Pangeran”

“Itu masih belum cukup. Aku akan menambah besok”

“Terima kasih Pangeran. Hamba mengucapkan beribu-ribu terima kasih”

“Kau boleh pulang sekarang” berkata Pangeran Ranakusuma.

“Tetapi tuan, apakah hamba diperkenankan memberitahukan apa yang terjadi di perjalanan yang baru saja hamba jalani”

“He?”

“Maafkan hamba Pangeran, bahwa hamba akan sekedar berceritera.

“Tentang apa?” bertanya Pangeran Ranakusuma.

“Tentang perjalanan hamba yang baru saja hamba lakukan”

“Tentu perjalanan yang menarik sekali” potong Raden Ayu Galihwarit, namun diteruskannya, “sebenarnya Pangeran Ranakusuma sudah akan beristirahat. Karena itu aku tidak menghadapkan kau kepada Pangeran, jika Pangeran sendiri tidak memanggilmu karena aku tidak mau mengganggunya. Simpanlah ceriteramu itu untuk besok atau lusa apabila Pangeran tidak sedang sibuk atau akan beristirahat seperti sekarang ini”

“O” Ki Dipanala menjadi kecewa. Tetapi ia masih menunggu perintah Pangeran Ranakusuma.

Sejenak Pangeran Ranakusuma berpikir. Lalu katanya, “Sebenarnya aku memang ingin tidur sebentar. Tetapi baiklah, katakan apa yang kau alami”

Hati Raden Ayu Galihwarit menjadi berdebar-debar. Tetapi seperti yang dikatakan oleh Rudira, jika Dipanala menuduh Rudira telah membunuh perampok itu, maka Dipanala harus dapat membuktikannya. Jika tidak, maka ia justru dapat dianggap memfitnahnya.

Karena itu Raden Ayu Galihwarit tidak dapat mencegahnya lagi. Mau tidak mau ia harus mendengar apa yang akan dikatakannya. Tetapi jika Dipanala itu berceritera sampai kepada ceritera yang paling dirahasiakannya, maka semuanya pasti akan menjadi kacau.

“Pangeran” berkata Dipanala kemudian, “ternyata bahwa perjalanan hamba kali ini mengalami sebuah gangguan yang hampir saja menewaskan hamba”

“He” Pangeran Ranakusuma terkejut mendengar ceritera Dipanala itu, sehingga ia tergeser maju, “Apa yang kau katakan?”

“Empat orang penyamun telah menunggu hamba di bulak Jati Sari. Tidak jauh lagi dari padepokan Jati Aking”

“Penyamun?”

Ki Dipanala mengangguk sambil menjawab, “Hamba Pangeran”

Wajah Pangeran Ranakusuma menjadi tegang. Sementara itu Ki Dipanala mencoba untuk menilainya, apakah Pangeran Ranakusuma benar-benar tidak mengetahui apa yang terjadi. Namun menilik sikapnya, agaknya Pangeran Ranakusuma benar-benar tidak terlibat di dalamnya.

Ketika Ki Dipanala mencoba memandang wajah Raden Ayu Galihwarit, tampaklah wajah itu menjadi merah. Namun sejenak kemudian terdengar Raden Ayu itu bertanya, “Bagaimana mungkin penyamun itu menunggumu di bulak Jati Sari?”

“Hamba tidak mengerti Raden Ayu, tetapi sebenarnyalah hamba telah ditunggu oleh empat orang penyamun. Apakah penyamun itu sengaja menunggu hamba atau tidak, hamba sama sekali tidak tahu. Tetapi yang hamba heran, penyamun itu mengetahui bahwa hamba membawa barang-barang dan sekedar uang ke padepokan Jati Aking”

“Ah, aneh sekali” sahut Raden Ayu Galihwarit.

“Apakah di bulak itu memang sering terjadi hal serupa itu menurut ceritera orang-orang Jati Sari?” bertanya Pangeran Ranakusuma.

Ki Dipanala menggelengkan kepalanya, “Tidak Pangeran. Bulak itu adalah bulak yang aman. Bahkan seluruh daerah Jati Sari hampir tidak pernah lagi terdengar kerusuhan apapun yang terjadi”

Pangeran Ranakusuma merenung sejenak. Ceritera itu ternyata sangat menarik perhatiannya.

“Tetapi” Raden Ayu Galihwarit lah yang berkata kemudian, “sekarang kerusuhan memang mulai menjalar. Orang-orang yang tidak tahu diri berusaha menentang persahabatan antara orang-orang asing itu dengan bangsa sendiri. Mereka yang berjiwa kerdil menganggap bahwa persahabatan itu merugikan diri sendiri”

Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam.

“Tetapi hal itu masih belum terasa sampai ke padepokan Jati Aking Raden Ayu” Sahut Dipanala.

“Mungkin baru sekarang kerusuhan itu mulai, dan kau adalah korban yang pertama. Dengan alasan yang dibuat-buat, seolah-olah orang-orang itu mencoba menegakkan harga diri, namun sebenarnya mereka hanya sekedar menumbuhkan keributan dan akibatnya mereka dengan leluasa dapat melakukan kejahatan”

Terasa dada Ki Dipanala berdesir. Kata-kata itu sama sekali tidak dapat diterima oleh perasaannya. Namun ia tidak membantahnya, karena kata-kata itu diucapkan oleh Raden Ayu Galihwarit di hadapan Pangeran Ranakusuma yang berkuasa di lingkungan istana Ranakusuma ini.

Pangeran Ranakusuma sendiri tidak menyahut. Namun kemudian ia justru bertanya, “Tetapi bukankah kau berhasil melepaskan diri dari tangan para penyamun itu?”

“Ya Pangeran. Hamba terpaksa berkelahi melawan mereka. Tetapi karena hamba hanya seorang dan hamba tidak lebih hanya bersenjatakan sebilah keris yang pendek maka hamba hampir saja tidak dapat melihat sinar matahari yang terbit di pagi hari ini dan hamba tidak akan dapat menghadap Pangeran sekarang ini”

“Jadi? Kenapa kau masih hidup?”

“Seseorang telah menolong hamba”

“Siapa?” bertanya Raden Ayu Galihwarit dengan serta-merta. Seperti Raden Rudira, maka ia pun ingin sekali mendengar nama orang yang telah menolong Dipanala itu.

Sejenak Dipanala berpikir. Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Sayang Raden Ayu, hamba tidak mengenal orang itu. Hamba hanya melihatnya sepintas di dalam gelap, dan ia adalah seorang petani”

“Petani dari Sukawati itu?” bertanya Pangeran Ranakusuma dengan wajah tegang.

“Hamba tidak dapat mengatakan dengan pasti. Malam sudah terlampau gelap, dan hamba tidak mendapat kesempatan untuk berbicara terlampau lama, karena orang itu segera meninggalkan hamba”

“Kenapa ia segera pergi?”

Ki Dipanala pun lalu menceriterakan bahwa orang yang menolongnya itu berhasil menangkap seorang dari para penyamun itu, tetapi sayang, sebuah anak panah telah membunuh penyamun itu.

“Orang itu pun kemudian memburu orang yang melepaskan anak panah itu Pangeran” berkata Dipanala kemudian, “dan hamba tidak bertemu lagi sampai sekarang, sehingga hamba masih belum sempat mengucapkan terima kasih”

“Tidak mungkin” tiba-tiba saja Raden Ayu Galihwarit membantah, “Kau tentu tahu siapa orang itu”

Ki Dipanala menjadi terheran-heran. Dipandanginya Raden Ayu Galihwarit dan Pangeran Ranakusuma berganti-ganti.

“Kalau orang itu tidak mengenalmu dan sebaliknya, tentu ia tidak akan menolongmu. Dan di daerah yang jauh terpencil itu tentu tidak banyak orang yang mampu memberikan pertolongan kepadamu melawan para perampok itu”

Ki Dipanala masih juga terheran-heran. Lalu jawabnya, “Ampun Raden Ayu. Hamba benar-benar tidak tahu. Dan apakah salahnya jika hamba tahu siapakah yang menolong hamba itu mengatakan kepada Raden Ayu dan Pangeran Ranakusuma?”

Wajah Raden Ayu Galihwarit menjadi gelisah sejenak. Namun kemudian sambil mengangguk-angguk ia berkata lembut, “Sebenarnya aku ingin tahu siapakah orang itu. Ia sudah menyelamatkan kau dan barang-barang yang kami kirimkan ke padukuhan Jati Sari. Seharusnya kami pun mengucapkan terima kasih dan sekedar hadiah baginya dengan tulus”

“Ya” sahut Pangeran Ranakusuma, “Kami wajib mengucapkan terima kasih kepadanya”

Ki Dipanala mengumpat di dalam hati. Ada saja alasan yang dapat diberikan oleh Raden Ayu Galihwarit untuk membayangi sikapnya. Hampir saja ia berhasil memancing sikap Raden Ayu itu sehingga menimbulkan kecurigaan Pangeran Ranakusuma, tetapi ada juga cara untuk mengaburkannya.

Namun dalam pada itu, Ki Dipanala masih belum mengatakan semuanya yang telah dipersiapkannya. Masih ada satu persoalan lagi yang akan dikatakannya. Karena itu maka katanya kemudian, “Pangeran, hamba akan berusaha untuk menemukan orang itu. Memang Di tempat terpencil tidak banyak orang yang dapat membantu hamba berkelahi melawan empat orang perampok. Tentu tidak banyak petani yang memiliki kemampuan serupa itu di Jati Sari. Hanya petani-petani di Sukawati sajalah yang memiliki kemampuan demikian” Ki Dipanala berhenti sejenak, lalu, “ternyata bahwa petani dari Sukawati itu pulalah yang pernah ikut campur dalam persoalan putera-putera tuanku di bulak Jati Sari beberapa waktu yang lalu”

Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Tetapi Raden Ayu Galihwarit berkata, “Tidak semua petani di Sukawati. Tentu hanya satu dua orang yang kebetulan memiliki kemampuan serupa itu, seperti juga satu dua orang Jati Sari”

“Mungkin juga demikian Raden Ayu?” sahut Ki Dipanala, “dan karena itulah hamba akan mencarinya untuk mengucapkan terima kasih hamba sendiri dan pernyataan terima kasih dari Pangeran berdua”

“Kau harus segera menemukannya” berkata Raden Ayu Galihwarit, “supaya ia tidak sempat menganggap kami sebagai orang yang tidak mengenal terima kasih”

“Tetapi itu bukan salah kami” Pangeran Ranakusuma lah yang menjawab, “Ia sengaja merahasiakan dirinya”

“Belum tentu. Mungkin ia mengejar orang yang melepaskan anak panah itu sampai jarak yang jauh. Ketika ia kembali Dipanala sudah meninggalkan tempatnya”

“Seandainya demikian, itu pun bukan salah kami pula. Ia tentu tahu bahwa semuanya itu terjadi karena ketidak sengajaan”

Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar bahwa pembicaraan itu seakan-akan merupakan pembicaraan yang tidak mapan. Masing-masing mencari kelemahan dan mencoba menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya diketahuinya, kecuali Pangeran Ranakusuma yang kadang-kadang menjadi bingung mendengar pembicaraan itu.

Dalam pada itu Raden Ayu Galihwarit pun menjawab pula, “Tetapi bukankah lebih cepat akan menjadi lebih baik Pangeran?”

“Ya, memang lebih cepat lebih baik” lalu katanya kepada Dipanala, “Bukankah lebih cepat lebih baik Dipanala?”

“Ya Pangeran. Hamba akan mencarinya secepat-cepatnya. Lebih cepat memang lebih baik” Ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi hamba pun akan mencari perampok-perampok yang berhasil melarikan diri itu. Hamba pun akan mencari orang yang membunuh perampok yang telah tertangkap itu. Hamba tahu bahwa orang yang melepaskan anak panah itu tentu mempunyai sangkut paut dengan penyamun yang terbunuh itu”

“Ya. Itu dapat dimengerti. Orang itu tentu sekedar ingin menghilangkan jejak”

“Atau dengan tujuan lain yang tidak kita mengerti” Raden Ayu Galihwarit memotong, “Tetapi bagiku Dipanala, mencari orang yang telah menolongmu itu jauh lebih penting dari mencari pembunuh itu. Sebenarnya kita tidak bersangkut paut dengan pembunuh itu. Apalagi kau sudah dapat kembali dengan selamat”

“Tentu tidak” Pangeran Ranakusuma lah yang menjawab, “Ia masih tetap berbahaya bagi Dipanala. Lain kali, jika Dipanala pergi ke Jati Aking, ia akan mengalami keadaan yang serupa jika orang itu masih belum diketemukan”

Raden Ayu Galihwarit menarik nafas dalam-dalam. Dengan dada yang berdebar-debar ia mengikuti pembicaraan selanjutnya. Dan Ki Dipanala pun berkata, “Pangeran, sebenarnyalah hamba mempunyai bahan untuk memulainya, mencari orang yang melepaskan anak panah itu. Walaupun terlampau kecil dan barangkali kurang cukup untuk sampai pada orang yang aku cari itu”

Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya. Namun Raden Ayu Galihwarit lah yang menjadi sangat berdebar-debar dan cemas.

“Apakah yang kau punyai?” bertanya Pangeran Ranakusuma.

“Apakah hamba dapat mengambilnya tuan?” bertanya Ki Dipanala.

“Ambillah. Aku ingin melihatnya”

“Ki Dipanala pun kemudian bergeser surut dan turun ke halaman samping mengambil barang yang dikatakannya. Kemudian sambil menjinjing sebuah anak panah ia menghadap Pangeran Ranakusuma dan Raden Ayu Galihwarit kembali.

“Inilah yang dapat hamba bawa Pangeran. Anak panah inilah yang telah membunuh penyamun itu. Anak panah ini adalah satu-satunya landasan yang dapat hamba pakai untuk menemukan siapakah pembunuh penyamun itu yang seperti tuan katakan, bahwa pembunuh itu tentu tersangkut dalam usaha perampokan itu”

Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya, sedang wajah Raden Ayu Galihwarit menjadi tegang.

“Berikan anak panah itu” berkata Pangeran Ranakusuma. Ki Dipanala pun bergeser maju untuk menyerahkan anak panah itu. Anak panah yang masih dikotori dengan noda-noda darah yang sudah kering.

Ketika Pangeran Ranakusuma, melihat anak panah itu, tiba-tiba saja jantungnya serasa menghentak-hentak. Tangannya menjadi gemetar dan keringat dingin mengalir di seluruh tubuhnya. Sebagai seorang ayah yang sering ikut serta dalam kesenangan anaknya yang paling dimanjakannya, Pangeran Ranakusuma dapat mengenal anak panah itu meskipun belum pasti, karena pada umumnya setiap anak panah telah diberinya ciri tersendiri sebagai suatu kebanggaan. Anak panah yang kemudian dipegang oleh Pangeran Ranakusuma itu adalah anak panah yang pernah dikenalnya dengan ciri-ciri yang jelas pada warna dan garis-garis yang melingkar. Warna kuning emas di pangkal anak panah itu dan sebuah guratan pada bedornya. Guratan yang tidak terdapat pada anak panah yang lain selain jenis anak panah itu.

Bukan saja Pangeran Ranakusuma, tetapi Raden Ayu Galihwarit pun menjadi pucat. Jika Dipanala dapat mengenal ciri-ciri anak panah itu, maka ia akan mendapat rintisan jalan untuk menemukan pembunuh itu.

Raden Ayu Galihwarit tidak begitu mengerti akan ciri-ciri anak panah puteranya. Tetapi ia tahu bahwa ciri-ciri itu pasti ada karena puteranya dapat membedakan antara anak panahnya dengan anak panah pemburu-pemburu yang lain apabila kebetulan mereka berbareng pergi ke hutan perburuan.

Namun Raden Ayu Galihwarit tidak dapat mengatakan apapun juga. Ia hanya menunggu saja, apa yang akan diperbuat oleh Pangeran Ranakusuma.

Ki Dipanala yang memperhatikan wajah-wajah itu dapat meraba, bahwa sebenarnyalah Pangeran Ranakusuma dapat mengenali anak panah itu meskipun ia belum mengatakannya. Sedang kecemasan yang membayang di wajah Raden Ayu Galihwarit pun mempunyai kesan tersendiri pada Ki Dipanala, sehingga ia hampir pasti bahwa yang terjadi adalah seperti yang diduganya. Dan ia pun hampir pasti bahwa rencana pembunuhan itu hanya dibuat oleh Raden Ayu Galihwarit dan Raden Rudira di luar pengetahuan Pangeran Ranakusuma.

Pangeran Ranakusuma masih dengan tegang mengamat-amati anak panah yang kemudian sudah di tangannya. Namun ia tidak mengatakan sesuatu tentang anak panah itu.

“Pangeran” Ki Dipanala yang mula-mula berkata, “Apakah Pangeran dapat mengenal anak panah itu? Jika Pangeran dapat mengenalnya, maka pembunuh itu akan segera dapat diketemukan”

“Bodoh sekali” tiba-tiba Pangeran Ranakusuma membentak. Wajahnya menjadi merah padam. Dengan anak panah itu ia menunjuk hidung Ki Dipanala sambil berkata, “Kau sangka aku seorang cucuk yang melayani para bangsawan yang sedang berburu, sehingga dengan demikian aku dapat mengenal anak panah yang beratus-ratus jenisnya itu? Dan alangkah bodohnya jika kau berpikir bahwa pemilik anak panah inilah yang telah membunuh penyamun itu. Tentu siapapun juga dapat mempergunakan anak panah yang manapun. Mungkin satu dua anak panah jenis ini tertinggal di hutan perburuan. Orang yang menemukan anak panah itu dapat saja mempergunakan untuk berbuat apa saja. Hanya orang gila sajalah yang percaya dan pasti bahwa pembunuh itu adalah pemilik anak panah ini”

Ki Dipanala yang ditunjuk hidungnya bergeser sejengkal surut. Namun kemudian ia memberanikan diri berkata, “Pangeran. Memang demikianlah kemungkinan itu dapat terjadi. Tetapi kemungkinan seperti yang hamba katakan pun dapat pula terjadi. Karena itu, apakah salahnya jika anak panah itu hamba simpan dan hamba jadikan bukti dalam pengusutan. Seandainya tuduhan itu salah, maka bukankah tertuduh belum menjalani hukuman apapun juga”

“Tuduhan adalah hukuman yang paling keji bagi orang yang tidak bersalah. Karena itu, anak panah ini sama sekali tidak ada gunanya dan tidak ada harganya sebagai barang bukti”

Adalah di luar dugaan Dipanala bahwa dengan wajah yang seakan-akan terbakar Pangeran Ranakusuma pun kemudian mematahkan anak panah itu menjadi potongan-potongan yang kecil. Menghancurkan bulu-bulu dijuntainya dan melemparkannya ke sudut ruangan.

“Pangeran” desis Ki Dipanala.

“Jangan kau sebut lagi anak panah itu. Kau sudah cukup lama menghamba di istana ini setelah kau tidak lagi menjadi seorang prajurit. Menurut pendengaranku kau adalah prajurit yang cakap. Tetapi ternyata kau bodoh sekali seperti kerbau yang paling dungu”

Raden Ayu Galihwarit yang melihat Pangeran Ranakusuma menghancurkan satu-satunya bukti itu menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa seakan-akan dadanya yang terbakar itu tersiram oleh air yang sejuk. Dengan demikian maka tidak ada bukti lagi yang dapat dipergunakan unluk menuduh Rudira jika benar ciri-ciri panah itu adalah ciri-ciri anak panah puteranya.

Dalam pada itu Ki Dipanala yang masih duduk di lantai berkata, “Pangeran, apakah tindakan yang Pangeran lakukan itu cukup bijaksana?”

“Aku meyakini perbuatanku. Aku akan sangat merasa malu atas kebodohanmu jika orang lain mengetahuinya. Karena itu sekarang pergilah. Pulang ke rumahmu dan kalau kau ingin mencari orang yang telah menolongmu, carilah. Juga jika kau ingin menemukan pembunuh itu usahakanlah. Tetapi jangan mempergunakan cara yang paling bodoh dan memalukan itu”

Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Lalu ia pun bertanya, “Tetapi bagaimanakah cara yang paling baik dapat hamba tempuh Pangeran”

“Aku tidak sempat memikirkannya”

Ki Dipanala mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Memang banyak sekali kenyataan yang tidak dapat diungkapkan. Kenyataan yang paling buruk dan kenyataan yang paling baik. Mungkin hamba tidak dapat menemukan penolong hamba, tetapi hamba juga tidak dapat menemukan pembunuh penyamun itu. Kedua-duanya adalah kenyataan yang telah terjadi, tetapi kedua-duanya tetap tidak akan pernah dapat diketahui kebenarannya. Siapakah mereka itu”

“Cukup. Cukup. Kau tidak usah mengigau” bentak Pangeran Ranakusuma.

“Baiklah Pangeran” jawab Ki Dipanala, “Memang demikianlah agaknya. Seperti kenyataan yang berlaku atas diri hamba sendiri. Mungkin hamba pun pernah melakukan perbuatan-perbuatan yang terkutuk tanpa diketahui orang lain, sehingga perbuatan hamba itu akan tetap tersembunyi untuk selama-lamanya tanpa mendapat hukuman apapun”

Tiba-tiba saja wajah Pangeran Ranakusuma menjadi pucat. Dan hampir bersamaan itu pula keringat dingin mengalir di tubuh Raden Ayu Galihwarit. Kedua-duanya menjadi sangat cemas bahwa Ki Dipanala akan mengatakan rahasia yang selama ini telah disimpannya rapat-rapat. Rahasia yang ada pada kedua-duanya dan yang kedua-duanya diketahui oleh Ki Dipanala.

Tetapi Ki Dipanala kemudian menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Baiklah hamba mohon diri. Hamba melihat bahwa Pangeran dan Raden Ayu agaknya merasa terganggu oleh kehadiran hamba di sini. Hamba mohon maaf. Hamba sama sekali tidak bermaksud membuat Pangeran dan Raden Ayu menjadi gelisah. Hamba akan berusaha menemukan orang yang telah menolong hamba dan sekaligus pembunuh penyamun itu tanpa mengganggu ketenangan dan ketenteraman Pangeran berdua”

“Aku tidak peduli” sahut Pangeran Ranakusuma, “pergilah. Aku akan beristirahat. Aku akan mencoba melupakan kebodohan yang pernah kau perbuat”

Ki Dipanala mengangguk dalam-dalam. Tetapi katanya, “Namun perkenankanlah hamba sekali lagi menyampaikan terima kasih putera Pangeran, Raden Juwiring, Kiai Danatirta dan anak gadisnya Arum”

Pangeran Ranakusuma tidak menjawab. Wajahnya masih buram, serta tatapan matanya hinggap di sudut yang jauh.

Ki Dipanala pun kemudian bergeser surut. Raden Ayu Galihwarit lah yang kemudian berkata, “Beristirahatlah. Jika kau masih terlalu lelah, jangan kau hiraukan lagi apa yang sudah terjadi. Kau sudah diselamatkan sehingga kau wajib mengucap sukur kepada Tuhan. Dan kau tidak perlu mencari keributan lagi dimana-mana dengan mencari orang yang tidak jelas tanda-tandanya”

“Baiklah Raden Ayu. Hamba akan melepaskan persoalan ini seperti persoalan-persoalan yang telah pernah hamba jumpai sebelumnya. Sengaja atau tidak sengaja”

Sepercik warna merah membayang di wajah Raden Ayu Galihwarit, sedang Pangeran Ranakusuma membelalakkan matanya memandanginya. Tetapi Ki Dipanala menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil bergeser surut. Akhirnya ia turun dari tangga dan meninggalkan pintu ruang dalam.

Sejenak ia berdiri sambil menghela nafas dalam-dalam, serasa udara di halaman itu menjadi semakin segar. Ketika ia mengedarkan tatapan matanya di halaman samping itu, dilihatnya Raden Rudira dan Mandra berdiri agak jauh di kebun belakang.

Tetapi Ki Dipanala tidak menghiraukannya lagi. Kini ia sudah mendapat kepastian justru karena tingkah laku Pangeran Ranakusuma dan Raden Ayu Galihwarit. Karena itu, kemudian ia pun melepaskan kudanya dan menuntunnya ke belakang. Seperti yang diperintahkan oleh Pangeran Ranakusuma maka ia pun langsung lewat pintu butulan pulang ke rumahnya di belakang dinding halaman istana Ranakusuman.

Sepeninggal Ki Dipanala, maka Pangeran Ranakusuma pun masih duduk merenung di tempatnya. Raden Ayu Galihwarit yang duduk di sampingnya tidak berani menegurnya, sehingga dengan demikian keduanya duduk sambil berdiam diri untuk beberapa saat lamanya. Masing-masing dihanyutkan oleh angan-angan yang buram tentang peristiwa yang baru saja terjadi atas Dipanala, tentang anak panah dan tentang usaha Dipanala untuk menemukan orang yang menolongnya dan sekaligus orang yang telah membunuh penyamun itu dengan anak panah. Anak panah yang sebenarnya dapat dikenal langsung oleh Pangeran Ranakusuma.

Raden, Ayu Galihwarit menjadi berdebar-debar ketika ia melihat Pangeran Ranakusuma bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke sudut ruangan. Diambilnya anak panah yang telah dipatah-patahkannya dan sekali lagi diamat-amatinya.

“Apakah kau mengenal anak panah ini?” bertanya Pangeran Ranakusuma kepada isterinya.

Raden Ayu Galihwarit termangu-mangu sejenak. Kemudian jawabnya, “Apalagi aku Pangeran. Aku sama sekali tidak mengetahui ciri-ciri dari anak panah milik siapapun karena aku tidak pernah melihatnya”

“Bukan milik orang lain. Tetapi anak panah semacam ini?”

Raden Ayu Galihwarit menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku tidak tahu, kangmas”

Pangeran Ranakusuma memandang isterinya dengan tajamnya. Sebagai seorang Pangeran ia memiliki pandangan yang jauh dan luas, ia mampu mengurai persoalan yang dihadapinya dan kemudian mengambil kesimpulan. Pembicaraan yang singkat dengan Dipanala dan anak panah yang dikenalnya baik-baik itu memberikan gambaran kepadanya, siapakah yang telah merencanakan pembunuhan atas Ki Dipanala itu. Pangeran Ranakusuma pun masih dapat mengingat apa yang telah dilakukan oleh isterinya ketika Dipanala akan berangkat ke padepokan Jati Aking.

“Itulah sebabnya, ia berusaha memperlambat keberangkatan Ki Dipanala” berkata Pangeran Ranakusuma di dalam hati. Tetapi Pangeran Ranakusuma tidak tahu pasti, alasan apakah yang telah mendorong Raden Ayu Galihwarit untuk melakukan rencana pembunuhan itu.

Setelah merenungi anak panah yang telah patah-patah itu, Pangeran Ranakusuma pun berkata, “Baiklah. Aku akan beristirahat. Aku akan tidur”

“Silahkanlah Pangeran” sahut Raden Ayu Galihwarit.

Raden Ayu Galihwarit mengantarkan suaminya sampai ke pintu biliknya. Ketika Pangeran Ranakusuma masuk maka Raden Ayu itu pun berdiri sejenak di muka pintu. Kemudian pintu itu pun didorongnya dan tertutup rapat.

Dengan tergesa-gesa pergi ke ruang dalam. Disuruhnya seorang pelayannya memanggil puteranya Raden Rudira.

Dengan gelisah Raden Rudira mendapatkan ibunya yang tidak kalah gelisahnya. Dengan suara yang dalam dan lambat Raden Ayu Galihwarit berkata, “Ki Dipanala membawa anak panah yang bernoda darah. Anak panah yang telah membunuh penyamun itu”

“He” wajah Raden Rudira menjadi pucat. Lalu, “Di manakah anak panah itu sekarang?”

“Ada pada ayahandamu. Ketika ayahandamu menerima anak panah itu, ia menjadi marah dan anak panah itu dipatahkannya”

“Apakah ayahanda mengetahui bahwa anak panah itu anak panahku?”

“Mungkin”

“Dan ayahanda marah kepadaku?”

“Tidak” Raden Ayu Galihwarit menggeleng. Lalu diceritera-kannya apa yang dilakukan dan dikatakan oleh Pangeran Ranakusuma kepada Ki Dipanala.

Raden Rudira menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Jadi ayah justru marah kepada Dipanala?”

“Ya”

“Memang Dipanala bodoh sekali. Jika ada orang yang tahu bahwa anak panah itu anak panahku, tentu itu tidak dapat menjadi bukti yang kuat, bahwa aku telah melakukannya. Aku memang sering kehilangan anak panah selagi aku berburu seperti yang dikatakan oleh ayahanda itu”

Raden Ayu Galihwarit mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia pun menjadi agak tenang pula, bahwa anaknya tidak dapat langsung mendapat tuduhan. Tetapi ia masih tetap gelisah tentang dirinya sendiri. Apakah pada suatu saat Dipanala tidak akan membuka rahasianya?

Karena itu maka Raden Ayu Galihwarit pun berkata, “Tetapi Rudira, bagaimanapun juga Dipanala adalah orang yang paling berbahaya bagi kita sekarang. Tentu ia masih tetap menuduhmu, karena agaknya Dipanala pun mengenal anak panah itu”

“Ia akan segera terbunuh” geram Raden Rudira.

“Tetapi biarlah ia menemukan orang yang menolongnya lebih dahulu. Orang itu pun cukup berbahaya bagi kita”

“Mustahil kalau ia tidak mengetahui siapakah yang menolongnya itu”

“Mungkin petani dari Sukawati itu”

Raden Rudira menggeretakkan giginya. Katanya, “Seharusnya Sukawati pun dihancurkan pula. Kumpeni harus mengambil tindakan yang tegas terhadap Pangeran Mangkubumi”

“Ssst” desis ibunya, “itu bukan persoalanmu. Kangjeng Susuhunan dan Kumpeni tentu sudah membuat perhitungan sebaik-baiknya. Mereka menyadari sikap Pangeran Mangkubumi”

“Tetapi tidak boleh terlambat. Jika terlambat, maka semuanya akan menyesal, karena agaknya Sukawati sudah sampai pada persiapan untuk melakukan perang. Perang yang sebenarnya”

“Apakah yang dapat dilakukan oleh orang-orang Sukawati untuk melawan senjata kumpeni?”

“Ya” Raden Rudira mengangguk-angguk pula, “Mereka akan ditumpas. Tetapi lebih baik membunuh anak macan daripada menunggu ia menjadi besar dan buas”

Ibunya mengangguk-angguk. Tanpa sesadarnya ia berkata, “Aku akan berusaha meyakinkan Kumpeni”

Raden Rudira mengerutkan keningnya. Katanya, “Ibunda akan meyakinkan mereka?”

“Ya. Bukankah aku mengenal beberapa orang perwira yang sering berkunjung kemari”

Raden Rudira tidak segera menjawab. Kumpeni baginya adalah orang-orang yang aneh. Ia kadang-kadang merasa bahwa kehadiran kumpeni di Surakarta itu dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pribadinya. Tetapi kadang-kadang ia merasa bahwa kumpeni itu sangat menyinggung perasaannya. Ia tidak senang melihat ibunya bergaul terlampau rapat dengan mereka. Bahkan kadang-kadang Raden Rudira merasa cemas, bahwa ia akan kehilangan ibunya yang sangat mengasihinya dan memanjakannya.

Dan Raden Rudira tidak dapat mengerti kenapa ayahandanya tidak berbuat sesuatu melihat ibunya kadang-kadang hadir di dalam pertemuan-pertemuan tanpa dikawaninya. Betapapun sibuknya ayahandanya dalam keadaan yang gawat akhir-akhir ini, tetapi ia wajib memberikan sebagian waktunya bagi ibunya. Atau jika tidak, ayahandanya dapat melarangnya sama sekali.

Tetapi Raden Rudira yang sudah menginjak dewasa itu dapat mengerti juga bahwa ayahandanya memerlukan kumpeni. Untuk mendapatkan kekuasaan yang lebih besar di istana, ayahnya memerlukan dukungan. Kini kumpeni ternyata mempunyai pengaruh yang kuat di istana, sehingga dukungan dari kumpeni akan dapat menentukan.

Namun setiap kali Raden Rudira memikirkan hal itu, terasa kulitnya meremang. Tetapi ia selalu berusaha menghindarkan diri dari perasaannya yang kadang-kadang dengan kuat mencengkamnya, “Apakah ayahanda telah mempergunakan ibunda untuk kepentingan dirinya dan apakah agaknya ibunda sendiri merasa bahwa hal itu justru suatu kesempatan baginya?”

Raden Rudira terkejut ketika ibunya berkata, “Apakah yang kau renungkan Rudira?”

“O” Rudira tergagap, “Tidak apa-apa ibu. Tetapi anak panah itu?”

“Anak panah itu sudah di tangan ayahandamu. Dan sudah tentu bahwa ayahandamu tidak akan berbuat apa-apa. terhadapmu”

“Apakah ibu yakin?”

“Ibu yakin. Mungkin ayahanda akan bertanya kepadamu. Tetapi sebaiknya kau menghindar untuk sementara”

Raden Rudira mengangguk-angguk. Memang masih belum terlintas di kepalanya, untuk mengucapkan pengakuan meskipun kepada ayahnya sendiri. Ia masih akan berusaha untuk melakukan tugasnya sampai berhasil. Dipanala harus mati.

Pada saat yang bersamaan, di dada ibunya pun menggeletar semacam keputusan yang pasti, “Dipanala harus mati”

Tetapi mereka tidak dapat mengerti, apakah yang sebenarnya dipikirkan oleh Pangeran Ranakusuma. Sambil berbaring ia mencoba untuk melihat kembali apa yang sudah dilakukan oleh isteri dan anak-anaknya, sehingga akhirnya ia sampai pada suatu kesimpulan, bahwa sebenarnyalah Rudira telah melakukannya bersama-sama dengan Raden Ayu Galihwarit.

“Aku harus meyakinkannya. Aku harus mendengar sendiri dari mereka pengakuan itu” katanya sambil menghentakkan tangannya.

Tetapi Pangeran Ranakusuma tidak bertindak tergesa-gesa. Ia tidak segera memanggil anaknya selagi ada ibunya.

Untuk mendapatkan waktu itu sebenarnya Pangeran Ranakusuma tidak terlampau sulit. Ketika Raden Ayu Galihwarit mengajaknya pergi atas undangan seorang Pangeran yang sedang menyambut kedatangan seorang perwira kumpeni setelah senja, Pangeran Ranakusuma berkata, “Aku sedang sibuk sekali. Keadaan menjadi semakin panas. Pergilah sendiri dan katakan, bahwa aku minta maaf karena aku tidak dapat hadir. Aku harus menghadap ke istana”

“Apakah kakanda tidak dapat menunda sampai esok pagi?”

“Tidak. Aku harus segera menghadap” Pangeran Ranakusuma berhenti sejenak, lalu, “Apakah pertemuan itu harus aku hadiri?”

“Bukankah Pangeran juga menerima undangan khusus”

“Terlalu mendadak. Seharusnya mereka mengundang aku sehari atau dua hari sebelumnya, sehingga aku sempat mengatur waktu”

“Pertemuan ini bukan pertemuan resmi kangmas. Sekedar pertemuan di antara beberapa orang terpenting di Surakarta”

“Tetapi aku lebih penting menghadap Susuhunan malam ini”

“Kangmas Pangeran selalu membiarkan aku pergi sendiri”

“Maaf, aku adalah seorang Pangeran yang selalu harus memberikan pertimbangan-pertimbangan yang penting bersama dengan beberapa orang penasehat Susuhunan. Itulah sebabnya aku harus hadir dalam pertemuan-pertemuan khusus”

“Baiklah Pangeran” Raden Ayu Galihwarit memberengut, “Aku terpaksa pergi sendiri. Tetapi aku akan kembali segera sebelum terlampau malam”

“Bawalah keretanya jika kau perlukan”

“Tidak Pangeran. Bukankah biasanya mereka datang menjemput?”

Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak berkata apapun lagi.

Namun demikian setiap kali Pangeran Ranakusuma harus menahan perasaannya melihat Raden Ayu Galihwarit itu merias dirinya agak berlebih-lebihan, seperti seorang gadis yang terlambat kawin menghadiri peralatan sambil mengharap untuk mendapatkan perhatian dari para jejaka.

Sebenarnya di dalam hati kecilnya, ada juga perasaan yang menggelitik hatinya. Namun karena Pangeran Ranakusuma mengharapkan kekuasaan yang terlalu besar di istana Kangjeng Susuhunan, maka kadang-kadang ia menghindarkan diri dari perasaan-perasaan di hatinya itu. Bahkan kadang-kadang ia bersikap tidak jujur kepada diri sendiri dan berkata, “Ia adalah seorang isteri yang setia. Aku memberikan apa yang dimintanya. Tentu ia tidak akan membiarkan orang lain melanggar pagar ayu”

Tetapi bagaimanapun juga, Pangeran Ranakusuma tidak dapat menghapus getar yang kadang-kadang mengguncangkan dadanya.

Derap kereta yang kemudian membawa Raden Ayu Galihwarit pergi meninggalkan halaman istana Ranakusuman terasa menggetarkan jantung Pangeran Ranakusuma. Meskipun hal itu bukan untuk yang pertama kalinya, namun ia tidak dapat mengingkari kata hatinya meskipun kadang-kadang ia berhasil berpura-pura dan acuh tidak acuh.

Ternyata bukan saja Pangeran. Ranakusuma yang memandang kereta itu sampai hilang ditelan pintu regol. Raden Rudira pun memandang dari kejauhan dengan hati yang berdebar-debar. Ibunya selalu pergi dengan atau tidak dengan ayahnya. Meskipun ibunya mengasihi dan memanjakannya, tetapi rasa-rasanya perhatian ibunya terhadap pertemuan-pertemuan, makan-makan dan kegembiraan di antara para bangsawan dan orang-orang asing itu telah merampas sebagian perhatian ibunya terhadap dirinya.

“Tetapi pada suatu saat ibunda memerlukan orang asing itu” berkata Raden Rudira di dalam hatinya. Tetapi Raden Rudira itu sekedar berpikir tentang dirinya sendiri. Jika orang asing itu dapat dimanfaatkan oleh ibunya, maka hal itu pun sekedar untuk kepentingannya sendiri. Raden Rudira hampir tidak pernah memikirkan pergolakan yang terjadi di Surakarta dari sumber persoalannya. Ia melihat Surakarta pada permukaannya saja. Dan ia berusaha untuk mendapatkan keuntungan bagi dirinya sendiri tanpa menghiraukan masalah lain yang akan bersangkut paut.

Raden Rudira yang sedang merenung tingkah ibunya itu mengerutkan keningnya, ketika seorang pelayan datang kepadanya dan berkata, “Raden dipanggil oleh ayahanda”

“Ayahanda memanggil aku?” Rudira menjadi berdebar-debar.

“Ya. Ayahanda Raden ada di ruang dalam”

Raden Rudira mengerutkan keningnya. Namun ia harus datang menghadap.

Dengan dada yang berdebaran Raden Rudira masuk ke ruang dalam. Dilihatnya ayahandanya duduk dengan wajah yang berkerut merut.

“Kemarilah” suara Pangeran Ranakusuma datar.

Raden Rudira menjadi termangu-mangu sejenak. Dipandanginya wajah ayahnya yang dingin dan sama sekali tidak memandang kepadanya. Tetapi ia pun melangkah semakin dekat dan kemudian berdiri termangu-mangu. Sikap ayahnya itu bagi Raden Rudira adalah sikap yang agak lain dari sikapnya sehari-hari terhadapnya.

“Duduklah” desis ayahnya.

Raden Rudira pun kemudian duduk dengan gelisah menunggu apakah yang akan dikatakan oleh ayahnya.

Tetapi untuk beberapa saat lamanya Pangeran Ranakusuma masih berdiam diri, sehingga Raden Rudira pun menjadi semakin gelisah pula.

Akhirnya Raden Rudira tidak dapat menahan desakan di dalam hatinya yang meronta-ronta. Karena itulah maka ia pun memaksa dirinya untuk bertanya, “Apakah ayahanda memanggil aku?”

Ayahnya menganggukkan kepalanya. Jawabnya, “Ya. Aku ingin berbicara sedikit”

“Apakah yang akan ayahanda bicarakan?”

Raden Rudira memandanginya sejenak. Namun kemudian dilemparkannya pandangannya kembali kekejauhan.

“Rudira” berkata ayahanda kemudian, “apakah kau sudah mendengar ceritera yang terjadi atas Dipanala?”

Raden Rudira menjadi berdebar-debar. Namun ia pun menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Ya ayah. Aku sudah mendengar”

Ayahnya mengangguk. Tetapi pembicaraan itu pun terputus ketika seorang abdi menyalakan semua lampu di setiap ruangan di dalam istana Ranakusuman. Dari ruang yang paling belakang sampai pendapa dan bahkan regol halaman, melengkapi beberapa buah lampu yang sudah dinyalakan lebih dahulu.

Raden Rudira menundukkan kepalanya. Rasanya ia sedang menghadap untuk diadili karena kesalahan yang telah dilakukannya.

“Rudira” berkata ayahandanya lebih lanjut, “Apakah kau tidak tertarik oleh ceritera itu?”

Raden Rudira menarik nafas dalam-dalam untuk menenteramkan hatinya. Jawabnya, “Ceritera itu menarik sekali ayahanda. Ternyata di daerah Surakarta mulai terjadi kerusuhan-kerusuhan sejak beberapa orang bangsawan yang iri hati melihat perkembangan kekuasaan bangsawan yang lain, menarik diri dari pemerintahan di Surakarta”

Ayahandanya terkejut dan bertanya, “Siapa yang mengatakan kepadamu?”

“Bukankah ayahanda pernah mengatakan?”

“Bukan menarik diri. Tetapi ada beberapa orang putera Pangeran yang lolos dari kota. Karena itulah maka ayah mereka untuk sementara terpaksa membekukan diri dari pemerintahan karena tingkah anak mereka. Tetapi sekelompok anak-anak muda itu bukan pergi dari rumah mereka untuk merampok”

“Tetapi akibat dari kerusuhan yang mereka lakukan, maka ketenteraman menjadi semakin buruk di Surakarta”

“Memang hal itu mungkin sekali. Tetapi menurut pendengar-anku, mereka sama sekali tidak berbuat apa-apa. Salah seorang dari mereka telah bertapa di lereng pegunungan untuk mendapat pepadang, apakah yang sebaiknya dilakukannya”

“Tetapi jika mereka dibiarkan saja berkeliaran di luar kota Surakarta ayah, keadaan pasti akan bertambah buruk. Apalagi jika ayahanda mengetahui keadaan padukuhan Sukawati. Karena itu Kangjeng Susuhunan seharusnya mulai memperhatikan sikap Pangeran Mangkubumi”

“Rudira” berkata ayahandanya kemudian, “lepas dari setuju atau tidak setuju terhadap tujuan dan cara mereka mencapai tujuan, namun aku masih menaruh hormat kepada mereka, karena mereka adalah anak-anak muda yang bercita-cita. Mereka ikut memikirkan hari depan Surakarta menurut penilaian mereka”

“Ayah sependapat dengan mereka?”

Ayahnya menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Tidak. Aku tidak sependapat dengan mereka. Tetapi aku menghormati mereka dengan cita-citanya”

“Tetapi bukankah ayah berpihak kepada Kangjeng Susuhunan dan Kumpeni, sehingga jika terjadi sesuatu, ayah pasti akan berhadapan dengan siapapun yang melawan kekuasaan Kangjeng Susuhunan di Surakarta?”

Pangeran Ranakusuma menganggukkan kepalanya. Jawabnya, “Ya. Tetapi aku tetap hormat kepada mereka. Soalnya adalah perbedaan pendapat antara mereka dan aku. Aku tetap setia kepada kekuasaan Raja, dan mereka memerlukan perubahan”

Raden Rudira tidak menjawab lagi. Kepalanya terangguk-angguk kecil.

“Nah Rudira” berkata ayahandanya, “seharusnya kau pun mulai memperhatikan keadaan yang berkembang terus ini. Kau harus mulai menempatkan dirimu dalam sikap tertentu. Bukankah saudara-saudara sepupumu yang sebaya dengan kau sudah mulai bersikap pula?”

“Yang ayahanda maksud, mereka yang meninggalkan kota?”

“Ya, dan mereka yang setia. Kau tidak dapat berdiri sendiri di dalam keadaan yang gawat. Kau harus tergabung di dalam suatu kelompok bersama saudara-saudara sepupumu yang sesuai pendirian dan sikapnya”

Rudira mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kau termasuk anak muda yang memiliki kemampuan. Kau adalah pembidik yang baik. Jika kau masih saja menuruti kata hatimu sendiri, pada suatu saat yang paling gawat, kau akan mendapat kesulitan”

Bersambung ke bagian 2

Satu Tanggapan

  1. Bunga di batu karang 07

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s