BdBK-06


BUNGA DI BATU KARANG

JILID 6

kembali | lanjut

BdBK-06MENYERAHLAH” berkata orang yang semula mengaku petani dari Sukawati itu, “Kau memang mempunyai pandangan yang tajam. Kau tidak segera percaya bahwa aku adalah petani dari Sukawati itu”

Ki Dipanala sama sekali tidak menjawab.

“Nah, menyerahlah. Kami akan memperlakukan kau sebaik-baiknya” Berkata orang itu pula, “serahkan semua Barang-barang yang akan kau bawa ke Jati Aking”

Ki Dipanala masih tetap berdiam diri.

“Kau hanya seorang diri. Kau tidak akan dapat mengharapkan bantuan siapapun juga di sini. Aku memang masih melihat, seorang dua orang lewat sebelum kau, Jika sekarang masih ada juga yang melihat kita berdiri di sini, mereka tidak akan berani berbuat apapun juga”

“Aku tidak mengharap siapapun juga” desis Ki Dipanala, “Aku percaya kepada diriku sendiri”

“Omong kosong” Orang yang mengaku petani, dari Sukawati itu tertawa, “suaramu bergetar. Kau sedang ketakutan”

“Aku adalah lekas seorang prajurit. Adalah suatu anugerah bahwa aku masih tetap hidup setelah tugasku selesai. Dengan demikian maka mati bagiku bukan lagi bayangan yang menakutkan. Tetapi mungkin bagi kalian, karena selama hidup kalian, kalian selalu berbuat dosa, sehingga mati adalah akhir yang paling mengerikan bagi kalian, kalian akan sengsara di akhirat”

“Tutup mulut” bentak penyamun itu, “Jangan menakut-nakuti aku dengan kepercayaan takhayul semacam itu. Tidak seorang pun yang dapat berbicara tentang mati. Tidak ada kehidupan setelah mati itu”

“Jika benar demikian, kenapa aku takut mati?” potong Dipanala, “Apalagi aku percaya bahwa ada kehidupan akhirat yang abadi dan surga yang dijanjikan bagi mereka yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Suci dan tidak ada sekutu bagiNya, dan kepercayaan itulah yang membuat aku semakin tidak takut kepada mati”

“Persetan” sahut penyamun itu, “Jika kau tidak takut kepada mati, maka kau akan takut menjelang saat-saat matimu, karena kami berempat dapat berbuat apa saja atasmu sebelum kau mati”

“Aku tidak akan menyerahkan leherku untuk kau jerat”

“Tetapi kau tidak akan berdaya menghadapi kami berempat. Pilihlah. Menyerah, dan aku akan membunuhmu segera, atau kau akan melawan tetapi berakibat sangat buruk di saat menjelang mati”

“Yang kedua. Tetapi tidak seluruhnya. Aku akan melawan dan membuat kalian menyesal sebelum kalian mati”

“Omong kosong” salah seorang dari para penyamun yang selama itu mengikuti pembicaraan menjadi sangat marah. Lalu, “Kita terlalu banyak berbicara. Mari kita seret dan kita bunuh segera”

“Ya, sekarang” sahut yang lain.

Ki Dipanala tidak menyahut. Tetapi tiba-tiba kerisnya telah digenggam tangannya.

Hampir berbareng keempat orang itu menyerang. Namun Ki Dipanala sudah bersiap meskipun ia masih diatas punggung kudanya.

Tetapi ternyata bahwa kejutan-kejutan yang sengaja dilakukan oleh orang-orang itu, membuat kuda Ki Dipanala sukar dikendalikan sehingga kadang-kadang hampir saja ia kehilangan kesempatan untuk menghindar dan menangkis serangan-serangan yang mulai berdatangan.

Karena itu, tidak ada cara lain daripadanya adalah turun dari kudanya. Ia sudah tidak melihat lagi kemungkinan untuk menembus kepungan keempat orang itu, karena dua dari mereka berdiri di depan dan dua yang lain di belakang. sehingga kali ini ia harus benar-benar berkelahi.

“Tetapi tentu satu atau dua dari orang-orang ini akan melarikan kudaku” berkata Ki Dipanala itu di dalam hati.

Tetapi itu lebih baik bagi Ki Dipanala daripada dadanya ditembus ujung pedang. Katanya pula di dalam hati, “Jika aku berhasil menangkap seorang saja dari keempatnya, maka aku akan dapat mendengar keterangannya dan mencari kuda serta muatannya kembali.

Atas perhitungan itulah maka Ki Dipanala pun kemudian meloncat turun dari kudanya. Dengan demikian ia justru merasa menjadi lebih lincah untuk melawan keempat orang yang mengeroyoknya.

Ternyata bahwa dugaannya tentang kudanya adalah keliru. Tidak seorang pun dari keempat orang itu menghiraukan kuda yang kemudian menepi dan seakan-akan berdiri melihat apakah pemiliknya akan dapat mengatasi kesulitan yang sedang dihadapinya.

Memang tidak seorang pun dari keempat lawannya yang menghiraukan kuda itu. Tugas mereka tidak sekedar merampas Barang-barang yang dibawa oleh Ki Dipanala, tetapi membinasa-kannya. Itulah sebabnya maka yang penting bagi mereka justru kematian Dipanala. Baru mereka akan menghitung uang dan Barang-barang yang ada padanya, apakah sesuai atau tidak dengan pembicaraan yang telah diadakan.

Tetapi ternyata, meskipun Ki Dipanala sudah menjadi semakin tua, namun ia masih mampu bergerak secepat burung sikatan. Kakinya dengan ringan melontar-lontarkan tubuhnya dan kerisnya pun menyambar-nyambar dengan dahsyatnya di antara kilatan keempat ujung pedang lawannya. Meskipun pedang lawan-lawannya jauh lebih panjang dari keris Ki Dipanala. namun kecepatannya bergerak mampu mengimbangi kecepatan keempat ujung pedang yang lebih panjang itu.

Demikianlah mereka segera terlibat dalam perkelahian yang sengit. Keempat orang penyamun itu pun segera mengerahkan kemampuan mereka untuk mengatasi kecepatan bergerak lawannya.

Namun bagaimanapun juga, ternyata bahwa Ki Dipanala memang tidak dapat mengimbangi keempat lawan-lawannya yang juga cukup berpengalaman. Perlahan-lahan semakin jelas, bahwa tenaganya terpaksa harus diperasnya untuk mempertahankan diri. Tetapi dengan demikian maka tenaga itu pun menjadi cepat surut.

Sejenak kemudian, maka Ki Dipanala pun mulai terdesak. Ujung senjata lawannya seakan-akan telah mengurungnya, sehingga ia tidak mendapat kesempatan sama sekali untuk menyerang. Semakin lama semakin terasa olehnya, bahwa senjatanya memang terlampau pendek.

Namun demikian tidak terkilas pada Ki Dipanala untuk menyerah. Ia harus bertahan atau menyelamatkan diri. Bukan karena ia takut mati. Tetapi ia harus mendapat keterangan, apakah latar belakang dari penyamun ini. Sekedar Barang-barangnya, atau benar-benar suatu usaha pembunuhan atas dirinya. Jika sekedar perampokan, maka ia harus mendapat keterangan, siapakah yang sudah berkhianat dan memberitahu-kan kepada para penyamun tentang keberangkatannya dan tentang Barang-barang yang dibawanya. Tetapi menilik tingkah laku dan sikap keempat orang itu, maka perhatian pertama dari mereka adalah kematiannya.

Dengan demikian, maka Ki Dipanala kadang-kadang terpaksa mencari jalan untuk melepaskan diri dari kepungan itu. Namun ternyata ia bahwa kepungan itu cukup rapat, sehingga usahanya selalu sia-sia.

Akhirnya, tidak ada pilihan lain bagi Ki Dipanala selain berkelahi sejauh-jauh dapat dilakukan. Jika ia akhirnya harus mati, maka ia harus memberikan bekas pada perkelahian itu. Lawannya pun harus ada yang mati pula bersamanya.

Karena itu, maka perlawanan Ki Dipanala justru menjadi semakin sengit. Ia berkelahi dengan sepenuh tenaga yang ada padanya, meskipun tenaga itu sudah menjadi semakin susut.

Selagi Ki Dipanala tidak lagi dapat melepaskan diri dari kesulitan itu, maka tiba-tiba seseorang telah berlari-lari diatas pematang yang pendek. Dengan langkah yang ringan ia meloncati parit dan sejenak kemudian ia sudah berdiri di pinggir jalan, di sebelah dari arena perkelahian itu.

“Kenapa kalian berkelahi di sini?” tiba-tiba saja ia bertanya lantang.

Keempat perampok itu menjadi berdebar-debar. Salah seorang dari mereka menjawab, “Jangan hiraukan yang terjadi. Kami adalah penyamun yang sedang menyelesaikan korban kami. Jika kau ikut campur, maka kau pun akan menjadi korban pula meskipun kalian tidak mempunyai apa-apa”

“Aku memang tidak mempunyai apa-apa” berkata orang itu, “karena aku kebetulan saja melihat perkelahian ini selagi aku mengikuti arus air untuk mengairi sawah. Tetapi perkelahian yang tidak seimbang ini sangat menarik perhatianku”

“Pergilah, aku tidak memerlukan kau” berkata salah seorang perampok itu, “Atau kalau mau nonton, nontonlah, bagaimana kami membantai korban kami yang melawan kehendak kami. Kami tidak memerlukan kau, karena baju pun kau tidak mempunyai”

Orang itu tidak segera pergi. Bahkan selangkah ia maju mendekat. Katanya, “Sebenarnya aku tidak baru saja datang ke tempat ini. Aku sudah melihat kau sejak senja. Duduk diatas batu dan mengaku dirimu petani dari Sukawati. Itulah yang menarik perhatianku”

Keempat orang yang sedang berkelahi melawan Ki Dipanala itu tanpa mereka sadari telah menghentikan serangan-serangan mereka, meskipun mereka tetap berdiri melingkari korbannya. Dengan bertanya-tanya di dalam hati mereka memandang orang yang justru berjalan mendekat itu.

“Aku tertarik pada pakaian dan pengakuanmu kepada paman Dipanala” berkata orang itu kepada yang berpakaian seperti petani dari Sukawati, “semula aku menyangka, karena aku hanya melihat dari jarak yang agak jauh bahwa kau benar-benar petani dari Sukawati itu. Itulah sebabnya aku menunggu sejenak dan kemudian berusaha mendekat. Tetapi ketika aku melihat kau menyamun, maka aku memastikan bahwa kau sama sekali tidak ada hubungan dengan petani dari Sukawati itu”

“Persetan. Siapa kau?” bentak orang yang mengaku petani dari Sukawati itu.

Orang itu tidak menjawab. Tetapi ia melangkah semakin dekat.

Dalam keremangan malam, maka semakin dekat, Ki Dipanala pun menjadi semakin jelas, siapakah orang yang dalang itu. Meskipun ia belum begitu rapat mengenal anak muda itu serapat Raden Juwiring, namun akhirnya ia mengenal juga. Karena itu, maka katanya kemudian, “Buntal. Bukankah kau Buntal?”

“Ya paman. Aku tahu benar, bahwa paman sedang dalam bahaya, karena sudah agak lama aku berada di sini, justru karena orang yang berpakaian seperti petani dari Sukawati itu. Pakaian itu sangat menarik perhatianku, sehingga aku mendekatinya dengan diam-diam, karena aku masih meragukannya. Aku mulai curiga karena orang itu tidak mengetahui kedatanganku, sehingga orang itu pasti tidak mempunyai aji Sapta Pangrungu, atau jika bukan aji Sapta Pangrungu maka pendengarannya masih belum terlatih cukup baik untuk menangkap kehadiran seseorang di sekitarnya”

“Gila” potong orang itu, “Kau berada pada jarak yang terlampau jauh bagi pendengaran yang bagaimanapun juga tajamnya”

“O. Mungkin begitu. Tetapi akhirnya aku yakin, bahwa paman Dipanala telah dicegat oleh beberapa orang penyamun di bulak Jati Sari yang panjang ini”

“Ya. Aku tidak ingkar. Bukankah aku sudah mengatakan sejak kau datang”

“Tetapi tentu tidak mungkin bahwa aku harus begitu saja meninggalkan paman Dipanala yang sedang menghadapi bahaya maut”

“Siapa, kau sebenarnya, siapa?”

“Paman Dipanala sudah menyebut namaku, Buntal. Aku tinggal bersama-sama Raden Juwiring di padepokan Jati Aking”

Sejenak para penyamun itu termenung. Namun kemudian salah seorang berkata, “Ya, bukankah nama itu disebut-sebut juga oleh kawan kita itu?”

Yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka mengerti bahwa orang inilah yang dimaksud oleh Mandra, anak muda yang ada di padepokan yang harus diperhitungkan juga.

“Ya” sahut yang lain, “anak ingusan ini memang suka mencampuri urusan orang lain” lalu katanya kepada Buntal, “Buntal, aku masih memberimu kesempatan. Aku akan merampok semua milik Ki Dipanala dan membunuhnya sekali karena sudah melawan kehendakku sejak pertama kali aku memberinya peringatan. Pergilah, atau kalau kau mau nonton, nontonlah. Kemudian katakan kepada Raden Juwiring, bahwa kiriman baginya sudah habis dirampok orang, sedang Ki Dipanala sudah terbunuh di tengah jalan sebagai seorang pahlawan yang mempertahankan tanggung jawabnya. Kau mengerti?”

“Sayang, bahwa aku tidak dapat berbuat begitu” jawab Buntal, “Aku mengenal Ki Dipanala dengan baik. Aku mengenal Raden Juwiring yang akan menerima barang-barang itu, dan bahkan aku tentu akan mendapat bagian pula apabila barang-barang yang akan kau rampok itu sampai ke padepokan”

“He, kau sekedar ingin mendapat bagian? Aku akan memberimu” sahut perampok itu.

“Itu tidak baik. Aku akan menerima barang-barang yang sudah bernoda darah meskipun jika Ki Dipanala terbunuh, tidak ada yang akan dapat mengatakan darimana aku mendapatkannya. Tetapi pada suatu saat orang-orang dari Ranakusuman akan mengenal barang-barang itu. Dan aku akan digantungnya pula. Tetapi jika aku menerimanya langsung dari Ki Dipanala, aku dapat memakainya dengan tenang”

“Diam” bentak orang yang berpakaian seperti petani dari Sukawati, “Kau mau pergi atau tidak?”

Buntal menggeleng, “Tidak”

“Jika tidak, aku akan membunuhmu”

“Silahkan. Aku akan membantu Ki Dipanala. Jika aku dapat mengurangi seorang saja dari keempat lawannya, maka paman Dipanala akan dapat bertempur dengan baik melawan tiga orang di antara kalian”

“Persetan” tiba-tiba orang yang berpakaian petani itu menggeram, “bunuh anak ini. Serahkan Dipanala kepadaku berdua, dan kalian berdua membunuh anak yang gila itu, supaya pekerjaan kita cepat selesai. Setelah anak itu mati dan kau lemparkan ke dalam parit, kita bunuh Dipanala pula”

“Ya” sahut yang lain, “ mencampuri persoalan orang lain.

Orang-orang itu tidak menunggu lebih lama lagi. Sejenak kemudian mereka sudah berloncatan menyerang. Yang dua orang menyerang Buntal, dan dua yang lain menyerang Ki Dipanala. Menurut perhitungan mereka, membunuh Buntal tidak memerlukan waktu sepanjang membunuh Ki Dipanala.

Namun baik Buntal, maupun Ki Dipanala sudah siap pula menghadapi segala kemungkinan, sehingga karena itu, maka mereka pun masih sempat mengelakkan serangan-serangan pertama itu, dan membalas dengan serangan-serangan yang tidak kalah cepatnya pula.

Dalam pada itu, Buntal yang tidak siap untuk bertempur, tidak membawa senjata yang memadai untuk melawan dua buah pedang di tangan dua orang penyamun yang garang. Yang ada padanya hanyalah sebuah parang pembelah kayu yang dibawanya bersama sebuah cangkul ke sawah. Dan parang itulah yang kemudian dipergunakannya untuk bertempur melawan sepasang pedang lawannya.

Orang yang menyebut dirinya petani dari Sukawati itu menyangka, bahwa dua orang kawannya akan segera membunuh Buntal. Dengan demikian maka mereka akan segera dapat menyelesaikan Dipanala yang sudah hampir kehabisan tenaga itu. Meskipun ia masih tetap lincah. Tetapi melawan empat orang, ternyata ia tidak dapat berbuat banyak.

Tetapi ternyata perhitungan itu tidak tepat. Meskipun hanya mempergunakan sebilah parang pembelah kayu, namun anak muda yang bernama Buntal itu ternyata memiliki kemampuan yang tinggi. Para penyamun itu tidak mengetahui, betapa tekunnya anak muda ini berlatih. Bagaimana Buntal setiap hari berusaha menambah kekuatan jasmaniah dan keprigelan bermain senjata. Karena itulah, maka melawan dua orang penyamun itu, ia tidak segera dapat mereka kuasai. Bahkan sebaliknya. Buntal sekali-sekali berhasil membuat lawannya menjadi bingung.

Dalam pada itu, meskipun tenaga Ki Dipanala sudah susut, tetapi kini seakan-akan ia hanya menghadapi separo dari lawan-lawannya yang terdahulu. Karena itu, maka ia pun masih juga sempat bernafas. Sekali-kali bahkan ia sempat menyaksikan bagaimana Buntal dengan kekuatannya yang luar biasa kadang-kadang berhasil mendesak lawannya.

Setiap benturan senjata, membuat tangan lawannya menjadi sakit dan pedih. Jika Buntal saat itu menggenggam pedang yang kuat, maka ia akan segera berhasil melemparkan senjata-senjata lawannya apabila lawan-lawannya tidak menghindari benturan langsung dengan senjatanya.

Kali ini lawan-lawannyalah yang berusaha melepaskan senjata Buntal. Mereka menyangka bahwa parang pembelah kayu itu akan segera terlepas dari tangan anak muda itu. Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Tangan kedua orang itulah yang menjadi pedih. Sehingga karena itu, selanjutnya mereka telah mencoba menghindari benturan-benturan langsung dengan parang itu.

Namun Buntal sendiri menyadari, bahwa parangnya sudah mulai pecah-pecah di bagian tajamnya, karena parang itu tidak terbuat dari besi baja yang baik. Tetapi dengan demikian maka tajam parang Buntal itu bahkan seakan-akan menjadi bergerigi mengerikan.

Demikian perkelahian di kedua lingkaran itu menjadi semakin seru. Ternyata Ki Dipanala yang hanya melawan dua orang lagi itu masih juga mampu bertahan. Bahkan kadang-kadang ia masih sempat mendesak lawannya pula. Sekali-sekali ia berhasil menyerang dengan garangnya sehingga hampir saja mengenai sasaran. Namun, kerja sama dari kedua lawannya benar-benar sangat rapi, sehingga setiap kali, Ki Dipanala harus menarik serangannya karena ia harus menghindari serangan dari lawannya yang lain. Meskipun demikian, setelah lawannya tinggal dua orang, perkelahian itu tidak lagi membahayakan jiwanya, jika ia tidak membuat suatu kesalahan di dalam perlawanannya.

Buntal yang masih muda ternyata agak berbeda dengan Ki Dipanala. Bukan saja ia memiliki kekuatan yang sangat besar, tetapi keringat yang mulai membasahi tubuhnya, membuatnya semakin panas. Apalagi setiap kali kedua lawannya itu membuat gerakan-gerakan yang dapat membingungkannya dan bahkan kadang-kadang hampir membahayakan kedudukannya. Itulah sebabnya maka darah mudanya pun semakin lama menjadi semakin panas, dan akhirnya, ketika ujung pedang lawannya menyentuh kulitnya, ia tidak lagi dapat mengekang dirinya.

Ternyata bahwa ujung pedang lawannya itu telah menitikkan darahnya di antara titik-titik keringat. Meskipun tidak begitu dalam dan panjang, tetapi goresan itu benar-benar telah membakar jantungnya.

Meskipun demikian ia tetap sadar, bahwa kedua lawannya mempunyai keuntungan dengan senjata yang lebih panjang dan lebih baik daripadanya, apalagi lawannya bertempur berpasangan

Tetapi Buntal telah berlatih tidak mengenal waktu untuk memantapkan ilmunya. Karena itu, maka sejenak kemudian ketika ia sudah sampai pada puncak kemarahannya, maka tandangnya pun menjadi semakin garang. Serangan-serangannya tidak lagi terkendali. Tangannya yang terjulur tidak lagi ditariknya jika ia melihat lawannya menyeringai. Kini tangannya bagaikan bergerak bebas menurut kehendak sendiri, meskipun tidak lepas dari pusat kemauannya.

Demikianlah akhirnya Buntal semakin sering dapat menguasai lawannya. Semakin lama semakin nyata, sehingga kedua lawannya hampir tidak sempat melakukan perlawanan sebaik-baiknya selain meloncat-loncat surut.

Dalam pada itu, jika Ki Dipanala menghendaki, kesempatan untuk melepaskan diri kini sudah terbuka luas. Tetapi Ki Dipanala tidak mau melakukannya lagi, karena di antara perkelahian itu terdapat Buntal. Dengan demikian, maka ia pun telah mengambil keputusan untuk bertempur terus bersama-sama dengan anak muda yang telah menolongnya itu.

Tetapi keadaan Ki Dipanala sudah menjadi semakin baik. Ia dapat bertahan dari serangan-serangan kedua orang lawannya bagaimanapun juga mereka berusaha. Bahkan sekali-sekali ia masih sempat melihat di dalam keremangan malam, Buntal melontarkan diri dengan kecepatan yang mengagumkan, menyerang kedua lawannya berganti-ganti.

Ternyata bahwa kedua lawan Buntal itu tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Mereka benar-benar mendapat lawan yang tidak terduga-duga. Mereka yang menyangka bahwa untuk membunuh anak muda itu tidak diperlukan waktu yang lama, tetapi ternyata bahwa dua orang itu justru semakin lama menjadi semakin terdesak.

Dalam pada itu, orang yang mengaku dirinya petani dari Sukawati itu harus mengambil langkah untuk mengatasi kesulitan ini. Karena itu, maka dengan tergesa-gesa ia kemudian berkata kepada seorang kawannya yang berkelahi bersama-sama melawan Ki Dipanala, “Bantulah kedua kawan-kawanmu itu untuk mempercepat kerja mereka. Bunuh saja anak itu tanpa belas kasihan karena ia sudah mengganggu tugas kami. Serahkan Ki Dipanala kepadaku”

Seorang kawannya itu ragu-ragu sejenak. Namun kemudian dilepaskannya Ki Dipanala dan ia pun segera bergabung dengan kedua kawannya yang lain.

Dengan demikian maka orang yang menyebut dirinya Petani dari Sukawati itu harus bertempur melawan Ki Dipanala seorang lawan seorang. Betapapun, beratnya ia harus berusaha bertahan, meskipun hanya sekedar berloncat-loncatan. Ia berharap bahwa tiga orang kawannya itu akan segera dapat menyelesaikan anak muda yang bernama Buntal itu.

Namun kemarahan Buntal menjadi kian memuncak. Ia sama sekali tidak gentar menghadapi tiga orang lawan. Bahkan seakan-akan ia mendapat kesempatan untuk berlatih menghadapi bahaya yang sebenarnya. Bukan sekedar latihan-latihan di dalam sebuah bangsal yang tertutup rapat, bersama dengan orang-orang yang setiap hari sudah diketahui tingkat ilmunya dan yang berkembang bersama-sama.

Ternyata bahwa Buntal mampu bertahan melawan ketiga orang itu. Bahkan ketika ia mengerahkan segenap kemampuan-nya, masih tampak bahwa ia kadang-kadang memiliki kesempat-an untuk menguasai perkelahian itu meskipun dengan susah payah, karena lawan-lawannya pun telah memeras segenap kemampuan mereka untuk segera menghentikan perkelahian. Tetapi agaknya kedua belah pihak tidak segera berhasil. Kedua belah pihak seakan-akan memiliki kesempatan yang seimbang.

Tetapi petani yang menyebut dirinya berasal dari Sukawati itulah yang kemudian mengalami, kesulitan karena ia harus melawan Ki Dipanala seorang diri. Meskipun Ki Dipanala seorang diri. Meskipun Ki Dipanala sudah menjadi semakin tua, tetapi bahwa ia bekas seorang prajurit yang memiliki kemampuan yang tinggi masih tampak pada sikap dan tata geraknya.

Apalagi agaknya Ki Dipanala tidak mau melepaskan peluang itu, selagi ia mendapat kesempatan. Karena itulah maka ia justru berusaha segera mengalahkan lawannya, sebelum ketiga orang penyamun yang lain dapat mengalahkan Buntal.

Tetapi baik yang berkelahi melawan Ki Dipanala, maupun yang bertempur bertiga melawan Buntal, sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa mereka akan dapat memenangkan perkelahian itu.

Itulah sebabnya penyamun yang menyebut dirinya petani dari Sukawati itu harus menyadari keadaannya. Ia tidak boleh mengingkari kenyataan itu. Bahwa pada suatu saat, maka dirinya pasti akan dikalahkan oleh Ki Dipanala. Kemudian ketiga kawannya itu pun seorang demi seorang akan berjatuhan.

“Tentu tidak menyenangkan digantung di alun-alun karena aku telah menyamun utusan Pangeran Ranakusuma” berkata penyamun itu di dalam hatinya, “dan terlampau sulit bagiku untuk mengkaitkan diriku dengan Raden Rudira. Dengan mudah ia akan dapat ingkar, dan justru menuduhku telah memfitnah-nya”

Berbagai pertimbangan di kepala penyamun itu, agaknya telah mendorongnya untuk mengambil suatu sikap. Daripada ia harus mengalami siksaan untuk mengaku siapakah yang telah memerintahkannya, jika tidak, dari siapa ia mengetahui bahwa Dipanala membawa barang-barang berharga, dan kemudian digantung di alun-alun, maka lebih baik bagi mereka untuk melarikan diri. Kemungkinan itulah satu-satunya yang dapat ditempuh dalam, keadaan seperti ini, selagi kekuatan mereka masih utuh, sehingga sambil melarikan diri, mereka masih dapat melawan sejauh-jauh dapat dilakukan apabila kedua lawannya mengejarnya.

Akhirnya, penyamun yang berpakaian seperti seorang petani itu mengambil keputusan, bahwa mereka harus lari. Karena itu, maka ia pun segera memberikan isyarat, dengan sebuah suitan yang nyaring, agar kawan-kawannya melepaskan lawannya.

Demikianlah, maka seperti berebut dahulu, para penyamun yang tidak dapat mengingkari kenyataan itu berloncatan menjauhi lawannya, dan kemudian bersama-sama melarikan diri meninggalkan calon korbannya yang gagal.

Tetapi ternyata bahwa Buntal tidak melepaskan mereka begitu saja. Dengan serta merta ia meloncat dan menerkam salah seorang penyamun itu, yang justru baru saja melepaskan Ki Dipanala dan berlari tidak jauh dari Buntal menyusul kawan-kawannya.

Sejenak mereka berguling-guling. Namun Buntal tidak mau melepaskannya.

Dengan sekuat tenaganya, penyamun yang mengaku dirinya sebagai petani dari Sukawati itu mencoba melepaskan diri. Tetapi kejutan-kejutan yang tiba-tiba, dan yang karena itu telah membantingnya ke tanah, telah melepaskan senjatanya dari tangannya. Karena itu yang dapat dilakukannya adalah melawan Buntal dengan tangannya.

Tetapi Buntal pun cukup tangkas. Sebuah pukulan mengenai tengkuk orang itu, sehingga pandangan matanya pun kemudian menjadi berkunang-kunang. Hampir saja ia menjadi pingsan.

Namun dengan demikian, maka kekuatannya pun bagaikan lenyap sama sekali. Selagi ia bertahan agar matanya tidak menjadi gelap sama sekali, Buntal telah berhasil memilin tangannya ke punggungnya dan menekan tubuhnya pada tanah berbatu-batu.

Dalam pada itu, kawan-kawannya yang sedang berlari sejenak berhenti termangu-mangu. Tetapi mereka melihat Ki Dipanala telah siap untuk melawan mereka. Apa lagi ketika mereka melihat kawannya itu sama sekali tidak berdaya.

Karena itulah maka mereka menganggap bahwa lebih baik lari menyelamatkan diri daripada ikut tertangkap seperti kawannya yang seorang itu.

Ki Dipanala yang sebenarnya sudah cukup payah tidak mengejar ketiga penyamun yang sedang berlari. Baginya cukup seorang saja yang dapat ditangkap. Yang seorang ini pasti akan dapat memberikan banyak, keterangan. Bahkan dari yang seorang ini pasti akan diketahui dimana persembunyian ketiga kawan-kawannya itu.

Karena itu, ketika Ki Dipanala melihat Buntal memilin tangan orang itu sehingga orang itu menyeringai kesakitan ia pun segera mendekatinya.

“Jangan, jangan kau patahkan tanganku” Orang itu hampir berteriak.

“Kau harus dibunuh karena kau sudah berniat membunuh paman Dipanala”

“Tidak. Aku tidak benar-benar akan membunuhnya. Aku hanya akan merampas Barang-barangnya”

“Aku tidak percaya. Kau sudah siap membunuhnya. Karena itu, kau pun harus mati.

Buntal yang marah itu pun segera menarik rambut orang yang sudah tidak berdaya itu. Sekali ia membenturkan kepala orang itu pada batu yang berserakan di sepanjang jalan.

“Jangan” Orang berteriak.

“Jangan” terdengar suara Ki Dipanala di belakang Buntal.

“Aku akan membunuhnya” berkata Buntal, “Aku akan membunuh dengan tanganku”

“Kau tidak dapat membunuhnya. Orang ini harus diserahkan kepada wewenang yang akan mengadilinya. Kita tidak dapat menghukumnya sendiri”

“Tetapi ia adalah seorang penyamun paman. Ia akan membunuh kita jika kita tidak membunuhnya”

“Ia tidak berhasil membunuh kita”

“Kita membela diri”

“Kita sudah menangkapnya. Ia sudah tidak akan dapat melawan lagi”

“Tidak ada orang yang tahu, apa yang telah terjadi sebenarnya”

“Kita masing-masing mengetahuinya”

Buntal menarik nafas dalam-dalam. Sekilas terbayang saat dirinya sendiri terbaring di jalan ini pula. Di bulak Jati Sari, pada saat ia diketemukan oleh Juwiring dan Kiai Danatirta. Orang-orang hampir saja membunuhnya pula karena ia disangka berbuat jahat atas Arum. Padahal ia tidak berbuat apa-apa pada waktu itu. Sedang orang ini adalah seorang penyamun.

Namun ia masih mendengar Ki Dipanala berkata, “Kita harus dapat menguasai diri kita sendiri. Sebagai seorang yang berperi-kemanusiaan, kita wajib menghidupinya. Selain itu kita masih mempunyai kepentingan dengan orang ini. Ia adalah sumber keterangan yang dapat kita pergunakan untuk mencari jejak perampokan ini”

Buntal mengangguk-angguk. Perlahan-lahan dilepaskannya orang yang sudah tidak berdaya itu.

Ketika Buntal sudah berdiri, maka Ki Dipanala pun berkata kepada penyamun itu, “Berdirilah. Aku memerlukan kau”

Dengan tubuh gemetar orang itu pun merangkak. Dari dahinya masih mengalir darah yang hangat, meskipun tidak begitu banyak.

Buntal pun kemudian memungut pedang orang itu dan parangnya sendiri. Ia masih memerlukan parang itu untuk membelah kayu di padepokan atau untuk kepentingan yang serupa di sawah.

“Cepat berdiri” berkata Ki Dipanala, “Kita akan meneruskan perjalanan ini ke Jati Aking. Kau akan tinggal semalam di sana. Besok kau akan aku bawa ke Surakarta, dan aku serahkan kepada yang berwenang mengadilimu. Tetapi sebelumnya aku ingin tahu, siapa kau dan siapakah yang menunjukkan kepadamu tentang Barang-barang dan uang yang aku bawa”

Orang itu sama sekali tidak menyahut. Dengan lengan bajunya ia mengusap darah yang meleleh di dahinya.

“Cepat. Kita akan segera meneruskan perjalanan Jati Aking sudah dekat”

Tertatih-tatih orang itu berdiri. Badannya masih terasa lesu dan lemah. Tangannya terasa sakit bukan buatan karena Buntal benar-benar hampir mematahkannya.

“Kita berjalan” berkata Ki Dipanala, “Kita tidak akan berbicara di sini tetapi di Jati Aking”

Orang itu ragu-ragu sejenak. Namun Buntal mendorongnya sambil berkata, “Cepat, sebelum aku mendorongmu dengan ujung pedang Berterima kasihlah bahwa kau masih tetap hidup”

“Tetapi, tetapi aku tidak tahu apa-apa.

“Jangan berkata sekarang. Kita akan berbicara di padepokan Jati Aking”.

Orang itu terdiam. Ketika ujung pedangnya sendiri yang kini berada di tangan Buntal menyentuh punggungnya, maka ia pun. berjalan dengan langkah yang sangat berat.

“Ambil tudung kepalamu” berkata Buntal, kemudian, “supaya lengkap pakaianmu. Pakaian petani dari Sukawati”

“Bukan maksudku” sahut orang itu gemetar, “Aku hanya, ingin menakut-nakuti Ki Dipanala”

“Ambillah”

Orang itu pun segera membungkuk mengambil tudung kepalanya yang terjatuh di tengah-tengah jalan.

Adalah di luar dugaan siapapun, bahwa sesuatu yang mengejutkan telah terjadi. Ketika orang yang membungkukkan badannya mengambil tudung kepalanya itu berdiri tegak, maka tiba-tiba saja ia memekik tinggi. Sejenak tubuhnya terhuyung-huyung, sehingga Buntal dengan serta-merta menangkapnya.

“Kenapa?” bertanya Ki Dipanala.

Orang itu mengerang sekali. Namun kemudian tubuhnya menjadi tidak berdaya.

“Panah ini paman. Panah”

“He?”

Dan keduanya dengan mata terbelalak melihat sebuah anak panah menancap tepat di dada orang itu.

“Gila” teriak Ki Dipanala.

Buntal tidak berkata apapun juga. Diletakkannya orang itu, kemudian ia pun meloncat berlari ke arah anak panah itu dilepaskan.

“Buntal, Buntal, jangan” teriak Ki Dipanala, “berbahaya bagimu”

Tetapi Buntal tidak menghiraukannya. Ia berlari terus sambil berloncatan di tanggul parit, untuk menghindari bidikan anak panah atas dirinya.

Tetapi terlambat. Sebelum Buntar menemukan seseorang di dalam kegelapan, ia melihat dua sosok bayangan di kejauhan menghilang ke dalam gerumbul. Ia masih akan mengejar terus. Namun sejenak kemudian derap dua ekor kuda yang meluncur dari balik gerumbul itu telah memecah sepinya malam.

“Gila. Gila” teriak Buntal seorang diri. Di saat ia dapat mengerti betapa pentingnya orang yang ditangkapnya itu bagi keterangan seterusnya, maka seseorang telah membunuhnya dengan licik sekali.

Sambil mengumpat-umpat Buntal berlari-lari kembali mendapatkan orang yang telah terbaring di tanah. Diam. Meskipun masih terdengar nafasnya satu-satu, tetapi orang itu hampir sudah tidak memiliki kesadaran akan dirinya lagi.

Sambil menempelkan mulutnya di telinga orang itu Ki Dipanala berkata, “Sebutkan, siapakah yang telah menyuruhmu mencegat aku. Tentu orang yang membunuhmu itu. Aku berjanji akan mencarinya dan membalas dendam bagimu”

Yang terdengar hanyalah desah nafas yang semakin lambat dan tidak teratur.

“Apakah kau masih dapat mendengar suaraku” desak Ki Dipanala, “sebut saja namanya. Aku akan berbuat sesuatu untukmu dan untuk diriku sendiri”

Orang itu mencoba menggerakkan bibirnya. Tetapi ia hanya mampu menyeringai dan berdesah. Kemudian sebuah tarikan nafas yang panjang. Sesaat kemudian maka orang itu pun telah melepaskan nafasnya yang terakhir.

“Ia sudah mati” desis Ki Dipanala.

Buntal menggeretakkan giginya. Bukan saja ia ikut merasa kehilangan kemungkinan untuk mengetahui siapakah orang ini sebenarnya, tetapi ia juga merasa tersinggung oleh perbuatan pengecut itu.

Dengan wajah yang tegang Buntal menyaksikan Ki Dipanala menarik anak panah dari tubuh orang itu, dan kemudian memperhatikannya dengan saksama. Tetapi di dalam gelapnya malam ia tidak dapat menemukan. sesuatu pada anak panah itu. Karena itu maka katanya, “Aku akan membawa anak panah ini”

Buntal mengerutkan keningnya. Ia tidak begitu memperhatikan anak panah itu, karena perhatiannya tiba-tiba saja tertarik kepada kuda Ki Dipanala yang justru sedang mengunyah rumput yang segar.

Tetapi niatnya meminjam kuda itu untuk mengejar orang-orang yang lelah membunuh penyamun itu dengan licik diurungkannya karena ia menyadari bahwa pada kuda itu tersangkut Barang-barang yang bernilai dan uang.

Buntal tersandar ketika Ki Dipanala memanggilnya dan berkata, “Marilah kita bawa orang ini ke padepokanmu”

“Baik, baik paman”

“Marilah Kita sangkutkan saja tubuhnya pada kuda itu. Kita akan melaporkannya besok kepada Ki Demang di Jati Sari, agar ada kesaksian atas peristiwa yang baru saja terjadi”

Demikianlah mayat orang itu pun kemudian disangkutkannya pada Kuda Ki Dipanala, setelah Barang-barang yang akan diserahkan kepada orang-orang di Padepokan Jati Aking disisihkan, agar tidak bernoda darah.

Di dalam keremangan malam, Ki Dipanala dan Buntal berjalan menuntun kuda yang membawa mayat penyamun yang terbunuh itu. Beribu-ribu pertanyaan bergulat di dalam hati mereka. Dan adalah tiba-tiba saja Buntal itu bertanya, “Siapakah orang yang membunuh penyamun ini paman? Apakah ia ingin menolong kita, atau sebaliknya?”

“Sebaliknya Buntal” jawab Ki Dipanala, “Orang itu pasti berhubungan rapat dengan penyamun ini. Bahkan menurut dugaanku, orang itulah yang telah menyuruh penyamun ini merampok dan membunuhku”

“Jika demikian, kenapa ia tidak membunuh paman saja dengan anak panahnya?”

“Mungkin aku berdiri di balik orang yang terbunuh itu, sehingga seolah-olah aku telah dilindunginya tanpa sengaja. Tetapi mungkin atas dasar perhitungan yang lain. Jika ia membunuh aku, maka kau akan dapat bertindak cepat. Menyingkirkan orang itu dan berusaha mendapatkan orang yang telah melepaskan anak panah itu”

“Orang itu dapat menyerang aku selagi aku menghindari panah dari kawan mereka”

“Kau dapat melumpuhkannya dengan cepat, tanpa membunuhnya dan melemparkannya ke dalam parit atau di balik pematang. Dan orang yang bersembunyi itu tentu tidak yakin, apakah ia dapat membunuhmu, karena ia melihat bagaimana kau dengan tangkas berhasil melawan penyamun-penyamun itu” sahut Ki Dipanala, lalu, “Atau atas perhitungan yang lain lagi, aku tidak tahu. Tetapi yang paling pasti bagi mereka untuk menghilangkan jejak percobaan pembunuhan ini adalah membunuh orang yang dapat menjadi sumber keterangan”

Buntal mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia merenungi kata-kata Ki Dipanala itu.

Namun tiba-tiba langkah mereka tertegun ketika dari arah yang berlawanan mereka melihat sebuah bayangan hitam mendekat. Semakin lama semakin dekat.

Namun agaknya bayangan itupun menjadi ragu-ragu. Langkahnya diperlambat dan sikapnya menjadi sangat berhati-hati.

“Siapa?” Buntal lah yang bertanya pertama-tama.

“Buntal kah itu?” terdengar orang itu justru bertanya.

“Ya, aku”

“Aku mengenal suaramu”

“Kakang Juwiring. Aku juga mengenal suaramu. Aku datang bersama paman Dipanala”

“O” bayangan yang ternyata adalah Raden Juwiring itu pun kemudian menjadi semakin dekat, lalu, “Kami di padepokan menjadi cemas karena kau terlalu lambat pulang. Ternyata kau bertemu dengan paman Dipanala di bulak Jati Sari”

“Ya” sahut Buntal.

Namun ketika Juwiring menjadi kian dekat, maka dilihatnya sesosok tubuh yang tersangkut di kuda Ki Dipanala, sehingga dengan serta-merta ia bertanya, “Siapakah itu paman Dipanala?”

Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ceriteranya cukup panjang Raden. Tetapi pada pokoknya, ada usaha untuk membunuhku”

“Dan paman membunuhnya lebih dahulu?”

Ki Dipanala menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Bukan aku yang membunuhnya dan bukan Buntal”

“Jadi?”

Sebelum Ki Dipanala menjawab, Juwiring berseru dengan tegang, “Petani itu?”

“Bukan” sahut Juwiring, “Bukan petani itu. Justru ia berpakaian mirip sekali”

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Lalu, “Baiklah. Aku akan bertanya lebih banyak lagi di padepokan. Tadi ayah Danatirta menjadi sangat cemas, kenapa Buntal terlambat sekali kembali ke padepokan dari sawah. Ternyata ada sesuatu yang telah terjadi”

Demikianlah maka mereka pun berjalan semakin cepat kembali ke padepokan Jati Aking. Untunglah bahwa di sepanjang jalan mereka tidak bertemu lagi dengan seseorang. Bahkan ketika mereka memilih jalan sempit di padukuhan sebelum mereka sampai ke padepokan Jati Aking, mereka juga tidak menjumpai seorang pun. Apalagi dengan sengaja mereka menghindari jalan yang di tunggui oleh para peronda di gardu-gardu.

Ketika mereka sampai di padepokan, ternyata bahwa sosok mayat itu telah mengejutkan penghuni-penghuninya. Arum yang masih juga duduk di pendapa bersama ayahnya menunggu kedatangan Buntal dan Juwiring. menjadi termangu-mangu.

“Aku telah mengejutkan kakang Danatirta” berkata Ki Dipanala.

“Ya. Aku terkejut sekali. Tetapi marilah, naiklah”

Setelah mengikat kendali kudanya, maka Ki Dipanala pun segera naik ke pendapa. Sekali-sekali ia masih berpaling memandang mayat yang tersangkut di punggung kudanya. Namun ia masih juga membiarkannya.

“Kau benar-benar mengejutkan. aku. Siapakah yang kau bawa diatas punggung kuda itu?”

“Kita harus melaporkannya kepada Ki Demang, kakang. Agar ada kesaksian, bahwa aku tidak membunuh orang”

Ki Danatirta mengangguk-angguk. Katanya, “Tetapi kau belum mengatakan kepadaku, siapakah orang itu. Dan dimana kau berjumpa dengan Buntal dan Juwiring”

Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Raden Juwiring juga ingin mendengar tentang orang itu. Aku belum mengatakan kepadanya. Tetapi Buntal mengetahui sendiri, apa yang sudah terjadi di bulak Jati Sari”

Kiai Danatirta memandang Juwiring dan Buntal berganti-ganti. Namun kemudian kalanya kepada Ki Dipanala, “Katakanlah”

Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia pun mulai menceriterakan apa yang dialaminya di bulak Jati Sari yang panjang itu.

Kiai Danatirta, Arum dan Juwiring mendengarkan dengan penuh perhatian. Bahkan sekali-kali mereka mengangguk-angguk, dan kadang-kadang menggeleng-gelengkan kepalanya

“Aku memang hampir mati” berkata Ki Dipanala. Lalu, “Untunglah Buntal berhasil menolongku. Aku belum sempat mengucapkan terima kasih kepadanya”

“Aku hanya sekedar membantu” berkata Buntal, “Paman sendirilah yang sebenarnya telah menyelamatkan diri sendiri”

Seakan-akan tidak mendengar kata-kata Buntal, Ki Dipanala berkata selanjutnya, “Aku ikut berbangga, bahwa anak padepokan Jati Aking memiliki ketangkasan jasmaniah seperti Buntal, dan sudah barang tentu Raden Juwiring”

Mereka melatih diri mereka sendiri sahut Kiai Danatirta.

Ki Dipanala tidak membantah, tetapi senyum di bibirnya melontarkan suatu sikap hatinya terhadap anak-anak muda yang berada di padepokan Jati Aking.

Namun kemudian terdengar Kiai Danatirta bertanya, “Jadi kau sama sekali tidak mengetahui, siapakah yang sudah melepaskan anak panah itu?”

Dengan ragu-ragu Ki Dipanala menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Tidak kakang”

“Apakah peristiwa ini didahului dengan kejadian-kejadian yang dapat menarik suatu dugaan tentang peristiwa itu?”

Sekali lagi Ki Dipanala menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Juga tidak”

Kiai Danatirta mengangguk-anggukkan kepalanya. Desisnya, “Jika demikian persoalan ini akan tetap menjadi gelap. Apakah kau tidak mempunyai bahan sama sekali untuk mengurai peristiwa ini?”

Ki Dipanala masih menggelengkan kepalanya.

“Tidak kakang. Tidak ada apa-apa yang dapat aku pergunakan sebagai bahan” katanya kemudian.

“Baiklah” berkata Kiai Danatirta, “besok kita akan memperhatikan tempat itu. Mungkin kita dapat menemukan sesuatu” ia berhenti sejenak, lalu, “sekarang, bagaimana dengan mayat itu?”

“Aku akan membawanya kepada Ki Demang agar aku tidak mendapat tuduhan yang bukan-bukan” sahut Ki Dipanala.

“Baiklah. Buntal akan menyertaimu”

“Aku akan ikut serta dengan paman Dipanala” berkata Raden Juwiring.

Kiai Danatirta berpikir sejenak. Kemudian jawabnya, “Pergilah. Kalian dapat menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi”

Demikianlah maka mereka bertiga pun segera pergi ke Kademangan meskipun malam menjadi semakin malam. Mereka tidak ingin terlambat apabila kemudian timbul persoalan karena kematian penyamun itu.

Barulah ketika Ki Demang di Jati Sari mengerti akan persoalan yang sebenarnya terjadi, Ki Dipanala dapat bernafas lega, seakan-akan ia telah terbebas dari kemungkinan yang dapat menyeretnya ke dalam kesulitan.

“Biarlah anak-anak meletakkan mayat itu di banjar” berkata Ki Demang kemudian, “besok mereka akan menguburnya”

“Baiklah Ki Demang. Aku mengucapkan terima kasih atas pengertian Ki Demang tentang peristiwa ini”

Demikianlah, maka mayat itu pun kemudian diusung oleh anak-anak muda yang sedang meronda ke banjar Kademangan untuk mendapat perawatan sebagaimana seharusnya besok pagi.

Dalam pada itu, Ki Dipanala bersama Juwiring dan Buntal pun segera kembali ke Padepokan. Setelah mereka membersihkan diri masing-masing, maka mereka pun duduk kembali di pendapa. Tetapi Ki Dipanala tidak menambah keterangannya mengenai orang yang terbunuh itu.

“Orang itu akan tetap merupakan suatu teka-teki Ki Dipanala” berkata Kiai Danatirta, “Ia sudah membawa rahasia tentang dirinya ke dalam kubur”

Ki Dipanala hanya mengangguk-angguk saja. Namun ketika tiba-tiba ia teringat akan barang-barang dan uang yang dibawanya, maka ia pun segera berkata, “Aku akan menyerahkan Barang-barang itu kepada kakang Danatirta sekarang. Barang-barang itu membuat diriku diintai oleh bahaya maut”

“Aku mengucapkan banyak terima kasih” berkata Kiai Danatirta.

Ki Dipanala tidak menyahut. Ia pun segera pergi ke kudanya dan mengambil barang-barangnya serta uang di dalam kampil yang tersangkut di lambung kudanya pula.

“Bukan main” berkata Kiai Danatirta, “pemberian Pangeran Ranakusuma bagi Juwiring dan keluarga padepokan ini terlampau banyak sekali ini. Ditambah lagi dengan uang dan kain untuk Arum”

Raden Juwiring mengerutkan keningnya melihat Barang-barang itu. Ia belum pernah menerima kiriman sebanyak itu. Namun sejenak kemudian ia tersenyum, “Kita akan mengucapkan terima kasih kepada ayahanda Pangeran Ranakusuma dan ibunda Galihwarit”

Ki Dipanala tersenyum. Jawabnya, “Aku. akan menyampaikannya bersama laporan tentang diriku sendiri”

Demikianlah pemberian itu bukan hanya, untuk Juwiring saja, tetapi keluarga padepokan Jati Aking itu mendapat bagiannya masing-masing.

Namun demikian hal itu ternyata justru telah menim-bulkan berbagai pertanyaan di hati Kiai Danatirta meskipun tidak diucapkannya. Sekali-sekali dipandanginya wajah Ki Dipanala yang seolah-olah di saput oleh mendung yang membayangi sebuah rahasia. Tetapi Kiai Danatirta tidak bertanya apapun. Bahkan dengan sebuah senyum di bibir ia berkata, “Nah anak-anak, bawalah pemberian yang banyak sekali ini ke dalam. Simpanlah baik-baik dan kita akan mempergunakan dengan baik pula”

“Baiklah” sahut Raden Juwiring. Lalu diajaknya Buntal dan Arum membawa Barang-barang itu masuk ke dalam.

“Tetapi uang ini?” bertanya Juwiring kepada Kiai Danatirta.

“Bawalah masuk. Simpanlah. Kita akan memerlukannya”

Ketiga anak muda itu pun segera masuk ke dalam. Disimpannya barang-barang itu dengan baik. Namun sekali-sekali Arum masih juga melekatkan kain di badannya sambil berkata, “Bagus sekali. Aku kira aku pantas mempergunakan kain ini”

“Pantas sekali” berkata Juwiring, “kau akan bertambah cantik”

“Ah” wajah Arum menjadi kemerah-merahan. Diletakkannya kain itu sambil berkata, “Terlalu baik. Aku tidak pantas memakainya”

Bersambung ke bagian 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s