BdBK-02


BUNGA DI BATU KARANG

JILID 2

kembali | lanjut

BdBK-02DAN anak muda itu berkata terus, “Aku tidak akan marah anak manis, meskipun kau telah melanggar adat. Meskipun kau tidak berjongkok ketika aku lewat. Setiap orang yang berada di jalan yang sama yang dilalui seorang bangsawan harus berjongkok. Tetapi kau tidak. Tetapi aku tidak marah”

Arum telah benar-benar kehilangan akal. Hampir saja ia meloncat berlari di sepanjang pematang, tetapi niatnya diurungkan. Bahkan mulutnya tampak bergerak-gerak, tetapi tidak sepatah katapun yang keluar

Dalam pada itu, selagi semua orang memandang Arum yang pucat, tiba-tiba anak muda bangsawan itu bersama pengiringnya terkejut ketika mereka mendengar suara di belakang mereka, “Hanya apabila seorang Raja yang lewat, maka setiap orang harus berjongkok. Tetapi tidak bagi kau. Tidak ada keharusan berjongkok bagi rakyat yang paling rendah derajadnya sekalipun”

Serentak orang-orang yang datang berkuda itu berpaling. Darah mereka tersirap ketika mereka melihat seorang anak muda yang kotor karena lumpur berdiri menjinjing sebuah cangkul. Namun dari sorot matanya, memancar wibawa yang tidak kalah tajamnya dari anak muda yang berkuda di paling depan.

Bahkan dengan suara gemetar terdengar anak muda yang bertanya kepada Arum itu berdesis, “Kangmas Juwiring”

“Ya adimas Rudira”

Sejenak kedua anak muda itu saling berpandangan. Dari sorot mata keduanya memancar pengaruh yang dalam. Namun sejenak kemudian anak muda yang bernama Rudira itu memalingkan wajahnya. Untuk melepaskan ketegangan di hatinya ia bertanya kepada seorang pengiringnya, “He, bukankah ia kangmas Juwiring”?

“Ya tuan. Ya, ia adalah Raden Juwiring”

“Kebetulan sekali kangmas” berkata Rudira, “Aku memang ingin menemui kangmas Juwiring. Sudah lama aku tidak bertemu dan aku merasa rindu karenanya. Aku hanya mendengar bahwa kangmas berada di padepokan Jati Aking. Apakah kita sudah berada dekat dengan padepokan Jati Aking?”

“Bertanyalah kepada pengikutmu. Mereka tahu dimana Jati? Aking dan dimana Jati Sari”

Rudira mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tersenyum, “Kangmas masih sekeras dahulu. Tetapi sekarang kangmas menjadi bertambah hitam. Apalagi pakaian dan tubuh kangmas kotor karena lumpur”

“Lumpur lah yang memberikan makan kepada kita. Kepadaku dan kepadamu. Kepada orang-orang kota. Dan lumpur ini pulalah yang telah menarik perhatian kumpeni itu, karena lumpur ini adalah lumpur yang sangat subur”

“O” sekali lagi Rudira mengerutkan keningnya, “benar. Tetapi tanpa menyentuh lumpur itu sendiri, aku dapat mengambil hasil dari kesuburannya, Seperti kangmas lihat, aku pun makan sehari tiga kali. Dan barangkali apa yang aku petik dari hasil lumpur yang subur itu jauh lebih banyak dari yang kangmas peroleh meskipun kangmas langsung bergulat dengan lumpur yang subur itu”

“Ya” Juwiring mengangguk, “Kau pun benar. Inilah yang aku sebut harga diri. Aku makan hasil keringatku sendiri meskipun sedikit. Tetapi kau tidak”

“Itu pun wajar sekali” sahut Rudira, “Tidak semua orang harus turun ke sawah. Tidak semua orang di dalam suatu negeri harus menjadi petani. Pasti harus ada pekerjaan lain. Pemimpin pemerintahan, prajurit, Adipati dan para Abdi Dalem. Tidak sewajarnya para bangsawan harus mencangkul sendiri” Rudira diam sejenak, lalu, “Seperti kau, kangmas. Kau tidak usah turun ke sawah. Meskipun kangmas berada di padepokan untuk mempelajari ilmu kajiwan dan kasampurnan, tetapi kangmas tidak perlu makan dari keringat sendiri. Kangmas seorang bangsawan. Kangmas dapat memerintahkan apa saja yang kangmas perlukan. Dengan mengotori diri sendiri kangmas akan merendahkan derajad kebangsawanan kangmas, dan mencemar-kan nama keluarga Ranakusuma”

“Adimas Rudira, manakah yang lebih cemar. Berdiri diatas lumpur yang kotor tetapi bersih atau berdiri diatas permadani yang bersih tetapi kotor”

Rudira mengerutkan keningnya.

“Apakah kau tidak menyadari? Apakah arti kedatangan kumpeni setiap kali ke rumah kita. Ke istana Ranakusuman? Kenapa?”

“O. Kangmas memang benar-benar harus mempelajari ilmu kasampurnan. Kangmas masih membatasi diri dalam hubungan manusia. Apa salahnya kita bersahabat dengan setiap orang di muka bumi”

“Kita memang harus bersahabat dengan manusia di seluruh sudut bumi. Tetapi tanpa mengorbankan diri sendiri. Kalau kau bersedia bersahabat dengan setiap orang di muka bumi, kenapa justru kau terlampau jauh dari manusia yang hidup di sekitarmu. Manusia yang setiap hari bergulat dengan lumpur?”

Rudira terdiam sejenak. Namun wajahnya menjadi semburat merah.

Tetapi ternyata anak muda itu pandai bersamudana. Sejenak kemudian ia pun tersenyum sambil berkata, “Sudahlah. Kita tidak usah membicarakan masalah-masalah yang kurang sesuai bagi kita. Marilah kita berbicara tentang keadaan yang kita hadapi ini” Rudira berhenti sejenak, lalu, “Kangmas, aku sangat tertarik kepada gadis Jati Sari ini”

Tanpa disadari terasa darah Juwiring menggelepar. Tiba-tiba saja ia berpaling. Ketika terpandang wajah Buntal yang berdiri di sampingnya, Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Wajah itu pun menjadi tegang.

“Siapakah gadis ini kangmas? Kangmas yang sudah lama tinggal di Jati Sari, pasti mengenalnya. Agaknya aku pun pada suatu saat harus mempelajari ilmu kajiwan di Jati Aking seperti kangmas Juwiring”

Juwiring menarik nafas ,dalam-dalam. Katanya, “Gadis itu adalah gadis padepokan Jati Aking”

“He” Rudira terkejut.

“Ia adalah gadis padepokan kami. Ia adalah anak Kiai Danatirta”

“O” Rudira mengangguk-anggukkan kepalanya, “pantas. Pantas, bahwa gadis itu gadis padepokan. Bukan gadis padesan biasa”

Tiba-tiba saja dada Buntal menjadi pepat. Ia tidak mengerti, kenapa hatinya menjadi sangat gelisah ketika ia mendengar seorang anak muda yang memuji kecantikan Arum.

“Ia adalah adikku” berkata Buntal di dalam hatinya. Tetapi ada perasaan lain dari perasaan itu. Dari perasaan seorang kakak kandung terhadap adiknya

Dalam pada itu Juwiring berkata, “Sudahlah adimas Rudira. Jangan menjadi tontonan disini. Kalau kau akan pergi berburu, pergilah. Aku melihat kau membawa busur dan anak panah. Demikian juga pengiring-pengiringmu. Di hutan perburuan itu memang banyak sekali kijang”

“O” Rudira mengangguk-angguk, “Ya. Kami memang akan berburu. Tetapi buruanku ternyata sudah ada disini”

Darah Buntal tersirap mendengar kata-kata itu. Bukan saja Buntal tetapi juga Juwiring. Apalagi ketika ia melihat Rudira tertawa sambil berpaling kepada Arum yang berdiri ketakutan.

“Kangmas” berkata Rudira, “Marilah, antarkan aku ke padepokan Jati Aking. Sudah lama aku ingin mengenal padepokan itu. Aku juga mulai memikirkan tentang masa depanku. Dan agaknya aku ingin juga belajar ilmu kajiwan dan ilmu kasampurnan. Mungkin juga ilmu-ilmu yang lain yang berhubungan dengan pemerintahan. Aku dengar Kiai Danatirta juga seorang yang mumpuni di dalam ilmu kasusastran”

Tetapi Juwiring menggelengkan kepalanya. Katanya, “Pekerjaanku belum selesai”

“O. kalau begitu biarlah gadis itu mengantarkan aku ke padepokan ayahnya”

“Kau lihat bahwa ia baru datang? Ia membawa makan dan minumanku. Setiap hari ia pergi ke sawah apabila aku ada di sawah. Jangan kau ganggu anak itu. Biarlah ia melanjutkan pekerjaannya”

Rudira memandang Juwiring dengan tatapan mata yang mulai menyala. Tiba-tiba saja ia berkata, “Kangmas Juwiring. Kau tidak berhak menghalang-halangi aku. Aku dapat berbuat sesuka hatiku. Apalagi rakyat kecil seperti Arum dan ayahnya. Sedang kau pun tidak berhak mencegah aku”

“Aku tidak menghalang-halangi. Aku hanya minta, kau jangan mengganggu kerjaku dari kerja anak itu. Kalau kau akan pergi ke padepokan Jati Aking pergilah. Setiap orang tahu dimana tempatnya. Dan kau dapat bertanya kepada mereka. Bahkan kau dapat memaksa mereka dengan gelar kebangsawananmu untuk mengantarkan kau. Tetapi tidak aku dan tidak gadis itu”

Wajah Rudira menjadi merah semerah matanya. Selangkah ia maju sambil berkata, “Kangmas jangan menghina aku di hadapan rakyat Surakarta. Aku dapat bertindak tegas. Aku adalah seorang bangsawan penuh. Ayahku seorang bangsawan dan ibuku seorang bangsawan pula. Kau? Benar kau putera ayahanda Ranakusuma, tetapi ibumu adalah seorang gadis yang lahir di antara rakyat kecil”

“Tetapi aku mempunyai harga diri. Ibuku tidak pernah mimpi untuk menjadi seorang puteri bangsawan, seperti aku juga. Apalagi bermimpi untuk menjual harga diri kepada orang asing berapapun ia akan membelinya”

“Kangmas” potong Rudira, “Jangan menghina keluarga kita sendiri. Seandainya kau terasing dari keluarga kita karena pokalmu sendiri, namun jangan menjadi pengkhianat bagi keluarga Ranakusuma”

“Bukan aku yang berkhianat. Justru aku ingin mempertahankan martabat ayahanda Ranakusuma sebagai seorang bangsawan dari Surakarta. Kalianlah yang telah berkhianat, karena kalian telah menjual nama dan keagungan kebangsawanan kepada orang asing itu”

“Cukup” bentak Rudira, “sebenarnya aku tidak ingin bertengkar. Tetapi kau telah memancing persoalan. Jangan kau kira bahwa aku tidak dapat bertindak terhadapmu, kangmas. Meskipun kau lahir dahulu, sehingga kau menjadi saudara tuaku, tetapi derajatku lebih tinggi dari derajatmu”

“Derajat tidak ditentukan oleh darah keturunan. Tetapi ditentukan oleh perbuatan. Perbuatan kita sendiri”

Mata Rudira benar-benar telah menyala. Selangkah ia maju mendekati Juwiring. Namun Juwiring sama sekali tidak beranjak dari tempatnya. Bahkan cangkulnya pun kemudian diletakkannya di tanah.

“Kau mulai menentang keluarga Ranakusuma” geram Rudira.

“Mudah-mudahan ada orang yang dapat menilai apa yang telah terjadi”

Rudira menggeram. Tetapi sejenak ia masih berdiri diam di tempatnya.

Dalam pada itu, orang-orang yang ada di sawah, yang bergeser mendekati kedua anak-anak muda yang bertengkar itu, menjadi berdebar-debar. Tetapi tidak ada seorang pun yang berani berbuat apapun juga. Keduanya adalah putera Pangeran Ranakusuma. Sehingga tidak ada yang berani untuk berbuat sesuatu atas keduanya.

Orang-orang yang menyaksikan itu hanya berharap, mudah-mudahan para pengiring Raden Rudira dapat mencegah peristiwa yang tidak mereka harapkan. Tetapi ternyata para pengiringnya itu pun hanya berdiri saja dengan mulut ternganga.

“Kangmas” berkata Rudira, “Cepat, mintalah maaf. Aku masih memberi kesempatan, karena kau adalah saudara tua bagiku, meskipun derajatku lebih tinggi”

“Aku tidak merasa bersalah” berkata Juwiring, “Justru aku berdiri di pihak yang benar. Buat apa aku minta maaf. Kalau kau jantan, kaulah yang minta maaf kepadaku, kepada Arum dan kepada ayahnya”

“Persetan, aku adalah seorang bangsawan. Kalau aku memang menghendaki, aku dapat mengambilnya kapan saja”

Juwiring menggelengkan kepalanya. Katanya, “Selama aku masih ada di Jati Aking tidak ada seorang pun yang dapat berbuat demikian atasnya. Apalagi kau bukan seorang Pangeran”

Darah Rudira benar-benar telah mendidih. Karena itu, ia tidak dapat menahan diri lagi.

Ternyata bahwa perasaan yang membekali hati masing-masing pada pertemuan itu telah membuat jantung mereka semakin panas. Rudira yang ingin menjauhkan Juwiring dari keluarganya, dan Juwiring yang merasa dirinya telah di fitnah.

Dengan demikian maka persoalan yang tumbuh itu hanyalah sekedar bagaikan api yang menyentuh minyak. Hati anak-anak muda yang belum terkendali itupun segera berkobar membakar segenap urat darah.

Sejenak kemudian kedua anak muda itu telah berdiri berhadapan. Keduanya adalah putera Pangeran Ranakusuma. Tetapi ternyata bahwa nama Ranakusuma tidak mampu menjadi pengikat yang baik bagi keluarganya, sehingga kebencian, iri dan dengki telah mencengkam seisi Dalem Kepangeranan

“Kau benar-benar keras kepala kangmas” geram Rudira.

“Kita sama-sama keras kepala”

“Meskipun kau saudara tua, tetapi kau tidak pantas dihormati. Apalagi derajatmu yang tidak setingkat dengan derajatku”

“Memang. Tetapi darahku masih sepanas darahmu”

“Persetan. Aku akan membuktikan bahwa aku lebih baik darimu dalam segala hal”

“Dan hatimu lebih hitam dari hatiku”

Penghinaan di hadapan banyak orang itu benar-benar tidak dapat dimaafkan lagi. Tiba-tiba saja tangan Rudira terayun ke mulut Juwiring. Demikian cepatnya dan tidak terduga-duga, sehingga Juwiring terkejut karenanya. Tetapi gerak naluriahnya telah memutar leher dan menariknya mundur, sehingga tangan itu hanya menyentuh sedikit saja di pipinya.

Beberapa orang yang menyaksikan gerakan itu berdesah tertahan. Hanya suara Arum sajalah yang terdengar melengking. Namun ia pun kemudian menutup mulutnya dengan telapak tangannya.

Ternyata Juwiring tidak membiarkan dirinya diperlakukan demikian. Dengan marah pula ia mempersiapkan dirinya. Dan agaknya Rudira memang benar-benar ingin berkelahi, sehingga tiba-tiba saja ia telah menyerangnya.

Tetapi Juwiring telah siap pula. Karena itulah, maka sejenak kemudian keduanya telah terlibat dalam perkelahian yang seru. Rudira yang tinggi hati itu tidak lagi berusaha mengekang dirinya Ia ingin benar-benar mengalahkan saudara seayahnya dan membuatnya jera.

Namun agaknya Juwiring tidak membiarkan Rudira berlaku sesuka hatinya. Latihan-latihan yang diperolehnya, tiba-tiba saja telah membuatnya menjadi garang. Sejenak kemudian tanpa sesadarnya, ialah yang justru menyerang adiknya itu dengan serangan-serangan beruntun, sehingga Rudira menjadi bingung karenanya.

Untuk menghindarkan dirinya, Rudira meloncat surut, tetapi Juwiring mengejarnya terus. Berkali-kali tangannya berhasil mengenai tubuh Rudira. Bahkan kemudian terdengar Rudira mengaduh ketika kaki Juwiring berhasil menghantam lambung.

Para pengiring dan pengawal Rudira yang sebenarnya ingin pergi berburu itu pun menjadi berdebar-debar. Meskipun ketika mereka berangkat, ada juga pesan Rudira, bahwa mereka akan berusaha singgah di padepokan Jati Aking untuk menemui Juwiring, namun mereka tidak menyangka, bahwa pertengkaran akan begitu cepat berkobar.

Namun pada umumnya para pengiring itu pun mengetahui, bahwa sejak lama pada keduanya telah tersimpan perasaan yang buram. Sikap bermusuhan memang sudah mereka lihat sejak keduanya masih tinggal di istana Ranakusuman, sampai pada suatu saat Juwiring disingkirkan dan dengan banyak alasan dikirim ke Jati Aking atas saran Ki Dipanala.

Bagi Dipanala, Juwiring lebih baik berada di Jati Aking daripada di tempat lain yang masih belum diketahuinya. Kalau ia jatuh ke tangan orang yang tidak bertanggung jawab, maka nasibnya akan menjadi semakin buruk.

Dan kini, perasaan yang agaknya telah lama tersimpan di dalam hati kedua anak muda itu telah meledak.

Karena itulah maka para pengiringnya menjadi termangu-mangu sejenak. Baru setelah Rudira mulai terdesak, beberapa orang di antara mereka sadar, bahwa mereka dapat berusaha mencegah perkelahian yang semakin lama menjadi semakin sengit.

Namun demikian mereka masih ragu-ragu juga. Mereka mengenal Rudira baik-baik. Anak muda yang keras hati dan keras kepala itu, tidak akan mudah mendengarkan kata-kata mereka. Dan bahkan mungkin Rudira akan menjadi semakin marah. Sehingga dengan demikian, para pengawalnya itu hanya berdiri saja termangu-mangu.

Tetapi akhirnya salah seorang dari mereka tidak dapat menahan perasaannya lagi. Ia tidak sampai hati melihat kedua putera Pangeran Ranakusuma itu berkelahi. Karena itu, maka ia pun bergeser setapak maju.

Tetapi langkahnya segera terhenti ketika tangan yang kuat menggamitnya. Tangan kawannya sendiri. Seorang pengawal yang bertubuh tinggi kekar dan berkumis lebat.

“Biar saja. Juwiring memang perlu dihajar”

Kawannya yang ingin melerai perkelahian itu mengerutkan keningnya. Dan orang berkumis itu berkata seterusnya, “Kalau Raden Rudira tidak dapat menghajarnya, aku pasti akan mendapat kesempatan”

“Kenapa kita tidak mencegahnya, justru malahan akan ikut campur?”

Orang itu tersenyum. Katanya, “Tuan kita adalah Raden Rudira. Bukan Juwiring yang sudah dibuang ke padesan itu”

Kawannya tidak menyahut. Ia sadar, bahwa orang berkumis itu mempunyai beberapa kelebihan dari padanya dan kawan-kawannya yang lain. Karena itu, ia pun tidak berani lagi membantah. Namun dengan demikian hatinya menjadi semakin berdebar-debar. Kalau orang itu benar-benar mendapat perintah dari Rudira, maka nasib Juwiring akan menjadi kurang baik.

Dengan ragu-ragu orang-orang itu mencoba memandang wajah-wajah kawan-kawannya yang lain. Seperti orang yang baru sadar akan dirinya, ia terperanjat. Ternyata orang-orang yang ada di dalam iring-iringan untuk pergi berburu itu kebanyakan adalah orang-orang yang dikenalnya sebagai abdi yang paling setia kepada Raden Ayu Galihwarit. Satu dua di antara bahkan termasuk bukan saja abdi setia, tetapi penjilat-penjilat.

Orang-orang itu menarik nafas dalam-dalam. Ia sendiri sebenarnya juga seorang penjilat. Tetapi ia menyadari, bahwa yang dilakukan itu sekedar untuk mempertahankan sumber penghidupannya beserta isteri dan anaknya. Kalau ia dipecat dari Ranakusuman, maka akan sulit baginya untuk mendapatkan pekerjaan baru di Surakarta. Apalagi ia tidak mempunyai lagi sawah dan ladang di padesan.

Tetapi kawan-kawannya yang lain menjadi penjilat bukan saja karena penghidupannya, tetapi mereka memang ingin mendapatkan pujian, orang-orang yang tidak pernah mereka miliki sebelumnya dan uang yang lebih banyak lagi.

“Tidak banyak yang berani berbuat dan bersikap seperti Dipanala” katanya di dalam hati, “Tetapi aku yakin, sebentar lagi ia pun pasti akan tersisih dan bahkan mungkin, nasibnya lebih jelek lagi daripada itu”

Dan kini, ia menyaksikan perkelahian itu menjadi berat sebelah. Rudira ternyata benar-benar telah terdesak. Bagaimanapun juga Rudira berusaha, namun Juwiring tidak dapat dikalahkannya.

Rudira sama sekali tidak menyangka, bahwa Juwiring mampu juga berkelahi. Bahkan ternyata, Juwiring tidak dapat dikalahkannya.

Tetapi ternyata bahwa Rudira bukan seorang bangsawan yang berhati satria. Setelah ia yakin bahwa ia tidak akan dapat memenangkan perkelahian itu, tiba-tiba saja ia berteriak, “Sura. Hajar orang ini. Aku tidak mau mengotori tanganku dengan menyentuh tubuhnya yang berlumpur ini”

“Juwiring berdesir mendengar nama itu. Ia tahu, bahwa Sura adalah seorang abdi Ranakusuman yang paling ditakuti oleh kawan-kawannya, tetapi juga dibenci. Ia memiliki beberapa kelebihan karena tubuhnya yang kokoh kuat, meskipun otaknya sedungu kerbau.

Sebenarnya Juwiring tidak gentar apabila ia harus berkelahi melawan Sura itu, setelah ia mempunyai dasar-dasar pengetahuan ilmu olah kanuragan. Karena ia yakin, bahwa bukan kekuatan tubuh semata-mata yang dapat diandalkan dalam perkelahian. Tetapi juga pikiran dan pengamatan yang tepat

Tetapi untuk berhadapan dengan dua orang, ia memang merasa ragu-ragu. Apakah ia akan mampu berkelahi melawan dua orang sekaligus.

Ketika orang berkumis yang ternyata bernama Sura itu beringsut maju, maka dada orang-orang yang menyaksikan perkelahian itu menjadi semakin berdebar-debar. Orang itu bertubuh tinggi, tegap dan kekar. Kumisnya menyilang di bawah hidungnya, membuat wajahnya yang kasar menjadi semakin mengerikan.

“Kemarilah” berkata Rudira masih sambil berkelahi, “Anak ini tidak seberapa Tetapi tubuhnya terlampau kotor untuk di sentuh. Karena itu, bantinglah dan benamkan sama sekali ke dalam lumpur. Biarlah ia menjadi semakin kotor, karena lumpur baginya adalah sumber penghidupannya”

Arum yang melihat kehadiran orang itu pun menjadi cemas juga. Menilik tubuhnya yang besar, maka ia pasti mempunyai kekuatan yang besar pula. Dengan demikian apakah Juwiring seorang diri mampu melawannya, apalagi apabila Rudira sendiri masih ikut serta berkelahi.

Dengan menahan nafas ia melihat Sura melangkah setapak demi setapak mendekati arena. Juwiring dan Rudira masih juga berkelahi dengan serunya. Sekali-sekali mereka berdua berpaling kearah orang berkumis yang mendekat perlahan-lahan, seperti seekor harimau yang sedang mengintai mangsanya.

Rudira perlahan-lahan berusaha menggeser perkelahian itu. Demikian Sura memasuki arena, maka ia akan dapat segera meloncat menepi.

Langkah Sura setapak demi setapak itu, terasa berdentangan di dada Arum. Wajahnya semakin lama menjadi semakin tegang. Dengan gelisah dipandanginya otot-otot yang merambat di segenap wajah kulit orang yang bernama Sura itu.

Dalam pada itu, Juwiring pun menjadi berdebar-debar. Dengan sekuat tenaga ia berusaha menjatuhkan Rudira sebelum Sura memasuki arena. Tetapi ia tidak segera berhasil, justru karena ia mulai gelisah melihat bentuk tubuh raksasa itu.

Namun adalah di luar dugaannya, dan di luar dugaan semua orang yang menyaksikan perkelahian itu sambil menahan nafas. Tiba-tiba saja tanpa berkata sepatah katapun, seorang anak muda melontarkan dirinya langsung menyerang Sura dari samping. Tubuhnya yang ringan dan sikapnya yang mapan, menunjukkan bahwa ia pernah mengenal ilmu olah kanuragan.

Kaki kanannya terjulur lurus menyamping. Tubuhnya bagaikan seorang yang sedang berbaring miring. Seperti halilintar, kakinya menyambar tengkuk Sura yang sedang berjalan perlahan-lahan maju. Benar-benar serangan yang tidak disangka-sangkanya dari arah yang tidak disangka-sangka pula.

Demikian kerasnya serangan itu dan langsung mengenai tengkuk, sehingga raksasa yang bernama Sura itu sama sekali tidak sempat berbuat apapun juga. Tumit yang menghantam tengkuknya serasa membuatnya kehilangan keseimbangan. Terhuyung-huyung ia terdorong beberapa langkah ke samping. Dengan susah payah ia mencoba menahan keseimbangan tubuhnya. Tetapi, kaki yang mengenai tengkuknya itu, begitu berjejak diatas tanah, langsung melontar kembali. Kali ini dengan sebuah putaran mendatar. Tumit itu pulalah yang kemudian menghantam perutnya, sehingga tanpa ampun lagi, Sura yang bertubuh raksasa itu pun terduduk perlahan-lahan setelah berjuang dengan sekuat tenaganya untuk menjaga keseimbangannya.

Ternyata serangan yang datang masih belum tuntas. Kini sisi telapak tangan anak muda itulah yang menghantam pelipisnya sehingga wajah itu tertengadah sejenak. Disusul oleh sebuah pukulan di bawah telinga kanan.

Sura yang bertubuh raksasa itu benar-benar tidak berdaya. Serangan yang datang beruntun itu benar-benar mengejutkannya dan mengejutkan semua orang yang menyaksikannya. Tidak seorang pun yang menyangka bahwa hal itu akan terjadi, sehingga Sura sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk berbuat apapun juga, karena yang terjadi itu berlangsung begitu cepatnya.

Sejenak kemudian Sura telah duduk bersimpuh. Kepalanya terkulai dengan lemahnya, sedang kedua belah tangannya memegang perutnya yang serasa berputar-putar. Matanya menjadi berkunang-kunang, sedang telinganya berdesing keras sekali, seperti seribu sendaren bersama-sama mengaum di dalam telinganya itu.

Anak muda itu agaknya masih belum puas. Tetapi ketika ia mengangkat tangannya sekali lagi terdengar suara Juwiring, “Buntal”

Anak muda itu tertegun. Ia pun kemudian berpaling sambil berkata, “Aku tidak akan dapat melawannya apabila ia sempat melakukan. Ia harus kehilangan kemampuannya itu, dan tidak berdaya untuk selanjutnya”

Juwiring berdiri termenung sejenak. Rudira pun menjadi bingung sesaat, sehingga perkelahian itu menjadi terhenti dengan sendirinya.

“Jangan Buntal” cegah Juwiring.

Buntal memandanginya dengan heran. Kenapa justru Juwiring lah yang mencegahnya. Karena itu, sejenak ia berdiri kebingungan. Sekali-sekali dipandanginya wajah Rudira, kemudian Juwiring dan bahkan beredar pada setiap wajah yang ada di sekitarnya.

Sejenak arena itu dicengkam oleh kediaman yang tegang. Semua mata kini tertuju kearah Buntal. Anak muda yang berdiri di samping seorang raksasa yang duduk bersimpuh menahan sakit di seluruh bagian tubuhnya.

Namun kediaman itu, segera dipecahkan oleh suara Rudira yang tiba-tiba menyadari keadaannya, “Hancurkan kedua anak gila ini. Tidak ada ampun lagi bagi mereka”

Juwiring terkejut mendengar perintah itu. Selama ini, selama ia berkelahi melawan Rudira, ia masih belum kehilangan pegangan. Ia masih tetap sadar, bahwa lawannya itu adalah adiknya. Tetapi agaknya Rudira benar-benar telah menjadi mata gelap. Sura bukannya orang yang dapat menahan diri dan menimbang perasaan. Kalau Sura sempat berbuat sesuatu, maka ia pasti akan menjadi marah. Ternyata Buntal mempunyai perhitungannya sendiri dan melumpuhkan raksasa itu sebelum berbuat sesuatu.

Tetapi kini Rudira telah memerintahkan orang-orangnya yang lain. Tidak kurang dari tujuh orang. Bahkan lebih.

Dalam pada itu, orang-orangnya menjadi termangu-mangu sejenak. Tetapi mereka tersentak ketika Rudira berteriak, “Cepat, sebelum mereka melarikan diri. Aku akan bertanggung jawab. Kalau ada orang lain yang ikut campur, mereka akan mengalami nasib serupa”

Seperti terbangun dari mimpi mereka pun kemudian bergerak hampir bersamaan. Kuda-kuda mereka, begitu saja mereka lepaskan. Empat orang dari mereka dengan tergesa-gesa mengepung kedua anak-anak muda itu, namun yang lain masih juga agak ragu-ragu.

“Siapa yang berkhianat, aku tidak tahu akibat yang akan menimpa dirinya di istana nanti”

Ancaman itu telah mendorong orang-orang yang mengiringi Rudira itu semakin maju. Apapun yang ada di dalam hati, namun mereka harus berbuat seperti yang dikehendaki oleh anak muda bangsawan itu.

Tetapi agaknya Juwiring sama sekali tidak ingin menyerah. Demikian juga Buntal yang sedikit lebih muda daripadanya. Ke duanya justru menyiapkan diri, menghadapi segala kemungkinan.

Pada saat itu, Sura mulai bergerak. Dengan segenap ketahanan yang ada padanya, ia mencoba mengatasi rasa sakit di tubuhnya. Ketika ia mendengar aba-aba Rudira, timbullah niatnya untuk ikut berkelahi dan membalas serangan-serangan yang tidak sempat dielakkannya.

“Cepat. Aku mau kalian bertindak sekarang. Sekarang!”

Ketika orang-orang yang mengepung kedua anak muda itu mulai bergerak. Sura pun berusaha untuk berdiri. Tetapi Buntal yang berdiri di sisinya sama sekali tidak memberinya kesempatan, ia sadar sepenuhnya bahwa orang yang bernama Sura itu orang yang paling berbahaya di antara para pengiring Rudira. Karena itulah, maka sebelum Sura berhasil berdiri, dengan sekuat tenaganya, tanpa peringatan apapun juga. Buntal sekali lagi menghantam tengkuk orang itu. Kali ini dengan sisi telapak tangannya.

Sura adalah seorang yang seakan-akan bertubuh liar. Tetapi ternyata pukulan Buntal itu membuatnya keriangan kekuatan. Sambil menyeringai ia menggeliat, Tetapi sekali lagi pukulan yang sama telah diulang oleh Buntal. Kali ini Sura benar-benar tidak dapat bertahan 1agi. Kepalanya segera tertunduk dan tubuhnya terkulai dengan lemahnya.

Pada saat itulah, para pengawal Rudira mulai menyerang. Ada yang menyerang dengan mantap dan sepenuh hati, tetapi ada juga yang masih ragu-ragu, sebab mereka pun tahu, bahwa Juwiring adalah putera Pangeran Ranakusuma seperti Rudira. Tetapi karena Rudira kini berkuasa di istana Ranakusuman, maka tidak seorang pun yang berani melawan kehendaknya.

Juwiring dan Buntal terpaksa berkelahi melawan mereka. Tetapi di antara mereka tidak lagi terdapat Sura yang telah hampir menjadi pingsan sambil duduk bersimpuh. Kepalanya yang terkulai mencium tanah dialasinya dengan kedua tangannya yang lemas.

Arum berdiri membeku di pinggir parit. Ia berdiri di antara dua kemungkinan yang sama-sama berat. Kalau ia sama sekali tidak berbuat apa-apa, adalah terlalu sulit bagi Juwiring dan Buntal untuk bertahan melawan tujuh orang bahkan lebih. Arum yang merasa memiliki kemampuan setingkat dengan Juwiring dan Buntal, yang hanya karena kodrat kegadisannya sajalah yang memberikan selisih sedikit dalam olah kanuragan, merasa mampu juga ikut di dalam arena perkelahian. Tetapi jika demikian, maka ia akan menjadi orang aneh di padukuhan Jati Sari. Ia akan menjadi pusat perhatian untuk waktu yang lama, yang bahkan tidak akan ada habisnya. Kawan-kawannya pasti akan bersikap lain kepadanya, bahkan mungkin gadis-gadis Jati Sari akan menjauhinya, sehingga ia akan terkurung di padepokan Jati Aking saja.

Dalam keragu-raguan itu, ia mendengar suara Juwiring lantang, “Jangan berbuat sesuatu Arum. Tinggallah disitu. Atau pergilah jauh-jauh”

Arum mengerti maksud Juwiring. Ia harus menahan hati. Ia harus tetap merupakan seorang gadis biasa di mata kawan-kawannya dan orang-orang Jati Sari. Karena itulah maka ia justru melangkah surut Namun dengan demikian ia menjadi cemas akan nasib kedua saudara seperguruannya itu.

Dalam pada itu, Juwiring dan Buntal berkelahi mati-matian untuk mempertahankan diri. Untunglah bahwa tidak semua pengawal Rudira berkelahi bersungguh-sungguh, sehingga meskipun jumlah mereka cukup banyak, namun Juwiring dan Buntal masih tetap dapat bertahan.

Tetapi agaknya Rudira melihat hal itu, sehingga karenanya ia berteriak keras-keras, “sekali lagi aku peringatkan. Siapa yang berkhianat akan mengalami nasib jelek di istana. Tidak ada orang yang dapat mencegah tindakan yang akan aku ambil atas kalian”

Dada para pengiringnya itu pun menjadi berdebaran. Mereka tidak boleh berkelahi berpura-pura. Dan mereka tidak akan dapat menyembunyikan sikapnya itu. Jika demikian, maka mereka akan dapat diusir dari pekerjaan mereka.

Karena itu, tidak ada pilihan lain daripada berkelahi benar-benar. Di dalam hati mereka berkata, “Bukan tanggung-jawabku. Aku hanya menjalankan perintah”

Dengan demikian maka perkelahian itu menjadi semakin lama semakin sengit. Bagaimanapun juga Juwiring dan Buntal menjadi semakin terdesak. Badan mereka mulai merasa lelah dan sakit, karena setiap kali mereka tidak berhasil mengelakkan serangan-serangan lawan yang datang dari segala penjuru, sedang ilmu yang mereka kuasai baru sekedar ilmu dasar, dari ilmu yang sesungguhnya.

Arum menjadi bertambah gelisah. Ia tidak akan dapat minta bantuan kepada ayahnya yang bagi orang-orang Jati Sari, Kiai Danatirta dari padepokan Jati Aking, adalah seorang tua yang hanya mesu kajiwan dan kasampurnan batin. Sama sekali bukan seseorang yang mendalami ilmu kanuragan. Sehingga dengan demikian Arum menjadi semakin bingung.

Dalam pada itu, keadaan Juwiring dan Buntal menjadi semakin sulit seperti hati Arum. Mereka terdesak semakin jauh, sehingga hampir tidak dapat bertahan lagi. Bahkan sekali-sekali Buntal terdorong beberapa langkah. Hanya karena kekerasan hatinya sajalah maka ia masih tetap bertahan dan berkelahi terus, meskipun keningnya telah menjadi kebiru-biruan dan pipinya mulai membengkak.

Pada saat-saat yang berat itu, justru Sura mulai bergerak dan tertatih-tatih berdiri. Sejenak ia masih memegangi perutnya dan kemudian meraba-raba tengkuknya. Namun sejenak kemudian ia sudah berhasil berdiri tegak.

Ketika ia melihat bahwa perkelahian masih berlangsung, maka ia pun menggeram. Kini ia tidak melangkah setapak demi setapak perlahan-lahan. Tetapi dengan tergesa-gesa ia mendekati arena sambil berteriak, “Lepaskan yang kecil itu. Itu adalah bagianku. Kalian semuanya tinggal mempunyai seorang lawan. Terserah perintah dari Raden Rudira terhadap kalian atas Raden Juwiring Tetapi anak gila itu serahkan kepadaku”

Buntal menjadi berdebar-debar. Ia melihat api yang menyala di mata orang yang bernama Sura itu.

Namun seperti yang telah terjadi. Benar-benar di luar dugaan, bahwa dalam keadaannya. Buntal berhasil menyusup, sesaat perhatian lawannya tertarik oleh suara Sura. Sekali lagi ia melontarkan dirinya dan kaki terjulur lurus menghantam raksasa itu. Kali ini mengarah ke dadanya.

Namun Sura sempat melihat serangan yang dianggapnya terlampau gila itu. Tetapi ia tidak sempat mengelak. Dengan demikian maka dengan tergesa-gesa disilangkannya tangannya di depan dadanya itu untuk menangkis serangan Buntal.

Daya lontar Buntal ternyata cukup besar. Ternyata benturan itu membuat Sura terdorong surut beberapa langkah, sedang Buntal sendiri terlempar jatuh di tanah Tetapi cepat ia bangkit berdiri meskipun ia harus menyeringai karena pergelangan kakinya serasa akan patah.

Sura berhasil mempertahankan keseimbangan meskipun hampir saja ia terjatuh. Serangan itu begitu tiba-tiba. Didorong pula oleh daya lontar yang kuat, sedang tubuh Sura sendiri masih belum pulih sama sekali.

Tetapi kini Sura mengetahui, bahwa kekuatan anak itu tidak terlampau mencemaskan. Kalau ia sempat melawan, maka baginya Buntal bukanlah lawan yang harus diperhitungkan, meskipun kelincahannya mengagumkannya pula.

Kini Sura memusatkan perhatiannya kepada Buntal, sementara yang lain mulai melingkari Juwiring.

“Hancurkan mereka. Itu perintahku. Aku akan bertanggung jawab. Buatlah mereka untuk selanjutnya tidak akan dapat melawan kita lagi. Mungkin tangan mereka atau kaki merekalah yang membuat mereka terlampau sombong”

“Bagus” geram Sura, “Aku akan melakukan sebaik-baiknya. Tangan anak ini memang terlampau cekatan”

Dada Buntal benar-benar berguncang ketika ia melihat Sura mendekatinya. Tetapi ia sudah terlanjur basah. Karena itu, apapun yang akan terjadi akan dihadapinya.

Dalam pada itu, Juwiring pun menjadi berdebar-debar. Sura memang bukan lawan Buntal yang masih terlalu muda itu. Bahkan ia sendiri yang lebih tua, masih harus mempergunakan bukan saja tenaganya, tetapi terlebih-lebih adalah otaknya untuk melawan orang yang bernama Sura itu. Dan agaknya pertimbangan pikiran Buntal pun masih belum cukup dewasa menanggapi lawannya itu, sehingga apabila ia hanya sekedar mempergunakan tenaga dan dasar-dasar ilmunya, maka ia tidak akan dapat melawannya. Apalagi apabila sekali anggauta badannya teraba oleh Sura, maka tulang-tulangnya pasti akan retak karenanya.

Tetapi Juwiring tidak dapat berbuat apa-apa, karena beberapa orang telah berdiri melingkarinya. Kalau ia bergerak, maka itu akan berarti, ia harus berkelahi melawan orang-orang itu.

Sejenak Juwiring berdiri termangu-mangu. Ia melihat Buntal telah bersiap menghadapi setiap kemungkinan, meskipun kemungkinan yang paling besar akan terjadi adalah kemungkinan yang kurang menyenangkan baginya.

“Jangan menyesal” geram Sura, “Kau sudah menyakiti aku. Sekarang aku akan menyakiti kau”

Buntal tidak menyahut. Tetapi ia tidak mau didahului. Menurut pertimbangannya, memang lebih baik mendahului daripada didahului.

Karena itu, maka selagi Sura melangkah mendekatinya, sekali lagi Buntal melontarkan serangan sekuat-kuat tenaganya. Untuk melawan raksasa itu, Buntal lebih percaya kepada kekuatan kakinya, meskipun ia sadar, bahwa ia menghadapi kekuatan yang lebih besar dari kekuatannya.

Juwiring mengerutkan keningnya. Buntal memang masih terlampau muda. Kalau ia mencoba melawan kekuatan dengan kekuatan, maka sebentar lagi, ia pasti akan diremukkan oleh raksasa Ranakusuman yang mengerikan itu.

Dugaan Juwiring tidak jauh meleset. Sekali lagi kaki Buntal menghantam tangan Sura. Kali ini Sura mengiringkan tubuhnya, dan membenturkan lengannya. Namun kekuatan lengannya telah mampu melemparkan Buntal dan membantingnya jatuh di tanah,
meskipun Sura sendiri juga terdorong beberapa langkah surut.

Buntal menyeringai menahan sakit di punggungnya yang membentur batu padas. Tetapi ia pun segera berusaha berdiri untuk menghadapi setiap kemungkinan yang bakal terjadi, meskipun pergelangan kakinya semakin terasa sakit.

Arum yang masih berdiri Di tempatnya menjadi semakin, bingung. Sudah tentu ia tidak akan dapat berdiam diri, apabila bahaya yang sebenarnya telah mengancam kedua saudaranya itu. Apapun yang akan dikatakan orang, dan apapun yang akan terjadi pada dirinya seterusnya ia tidak mempedulikannya lagi. Sehingga karena itu, ia pun justru melangkah mendekat, setelah ia meletakkan selendangnya.

“Tetapi aku memakai kain panjang” berkata Arum kepada diri sendiri di dalam hatinya, “sedang disini banyak orang. Kalau aku berada di halaman rumah sendiri di malam hari aku dapat menyingsingkan saja kain panjang ini. Tetapi bagaimana disini?”

Arum menjadi termangu-mangu. Tetapi ketika terpandang olehnya Buntal yang tampak terlampau kecil berdiri berhadapan dengan Sura, maka ia pun menggeretakkan giginya, “Apa peduliku dengan orang-orang itu. Aku dapat menyangkutkan kain seperti Buntal dan Juwiring”

Dalam pada itu, dada Arum berdesir ketika ia melihat Sura mulai menyerang lawannya. Sebuah pukulan yang keras mengarah ke pelipis Buntal. Tetapi Buntal cukup cekatan sehingga ia masih sempat mengelak. Bahkan kemudian dengan. lincahnya ia mencoba menyerang lambung Sura dengan kakinya.

Dengan gerak naluriah Sura mengibaskan tangannya, memukul kaki itu. Terdengar Buntal mengeluh tertahan. Terasa betisnya bagaikan dipukul dengan sepotong besi, sehingga ia terputar setengah lingkaran sebelum ia meloncat menjauhi Sura yang mengejarnya.

Juwiring sendiri masih berdiri termangu-mangu. Agaknya orang-orang yang mengurungnya pun menjadi termangu-mangu juga. Mereka masih menunggu apa yang harus mereka lakukan, sementara semua perhatian terikat oleh perkelahian antara Buntal dan Sura.

Hampir saja Arum menjerit, ketika ia melihat sekali lagi kekuatan mereka berbenturan, karena Sura tidak pernah berusaha mengelakkan serangan Buntal. Sekali lagi Buntal terlempar. Kali ini cukup keras, sehingga ia tidak dapat mempertahankan keseimbangannya lagi. Dengan derasnya ia jatuh terbanting dan berguling kokoh kuat yang seperti sepasang tiang terpancang jauh ke dalam bumi.

Ketika ia meloncat berdiri sambil menyeringai, ia sempat melihat orang itu. Seorang yang bertubuh tinggi kekar, bermata tajam dan berwajah sedalam lautan. Menilik raut mukanya yang meskipun kotor oleh debu dan keringat, orang itu bukan orang kebanyakan. Tetapi menilik pakaiannya, ia adalah seorang petani miskin yang baru berada dalam perjalanan yang jauh. Bajunya dibuka dan dililitkan di lambungnya. Kain panjangnya disingsingkannya pula, sehingga celananya yang sampai di bawah lututnya tampak kumal dan kotor sekotor wajahnya itu.

Kehadiran orang itu ternyata telah menarik perhatian. Sejenak ia berdiam diri memandang Buntal yang tertatih-tatih berdiri. Kemudian memandang orang-orang yang berada di sekitar arena perkelahian itu.

“Kenapa tuan-tuan berkelahi disini?” bertanya orang itu dengan suara yang berat.

“Siapa kau?” Rudira lah yang bertanya.

“Aku seorang petani yang berada dalam perjalanan yang jauh tuan. Dan siapakah tuan? Menilik pakaian tuan, tuan adalah seorang bangsawan”

“Ya. Aku adalah putera Pangeran Ranakusuma”

“O” petani yang bertubuh tinggi itu mengangguk dalam-dalam, “Maafkan aku tuan. Aku tidak tahu, bahwa tuan adalah seorang putera Pangeran”

“Sekarang kau sudah tahu. Minggirlah. Kami sedang menyelesaikan persoalan kami”

“Maaf tuan, apakah aku boleh bertanya?”

Rudira memandang orang itu dengan tajamnya. Tetapi jaraknya-tidak begitu dekat

“Kenapa perkelahian ini tidak dilerai? Dan agaknya anak muda yang seorang itu pun sudah terkepung pula?”

“Itu urusanku. Pergilah. Jangan mencampuri persoalan orang lain. Aku adalah putera Pangeran Ranakusuma. Aku mempunyai wewenang untuk berbuat sesuatu sesuai dengan keinginanku atas orang-orang kecil yang tidak tahu adat ini”

“Jadi, tuanlah yang sedang melakukan tindakan kekerasan atas orang-orang kecil ini?”

“Ya”

“Apakah salah mereka?”

“Kau tidak mempunyai sangkut paut apapun juga dengan mereka. Pergilah, supaya kau tidak tersangkut di dalam persoalan ini” bentak Rudira.

“Aku sudah berjalan jauh tuan. Tetapi aku tidak pernah menjumpai persoalan serupa ini. Seharusnya tuan dan pengawal-pengawal tuan melindungi orang-orang kecil ini dari segala macam kesulitan”

“Diam, diam” tiba-tiba Rudira membentak, “Kau tahu akibat dari kata-katamu itu he? Bahwa kau berani membantah kata-kataku, itu adalah alasan yang baik bagiku untuk bertindak. Kau mengerti?”

“Mengerti tuan. Tetapi perjalananku yang jauh mengajar kepadaku, agar aku tidak cukup sekedar mengerti sikap orang lain, tetapi aku harus menilainya pula, apakah sikap itu benar atau tidak”

Tiba-tiba mata Rudira bagaikan menyala. Ia tidak menyangka bahwa orang yang tiba-tiba saja datang melihat perkelahian itu, bersikap sangat menyakitkan hati.

“He, apakah kau bukan kawula Surakarta?”

“Aku kawula Surakarta”

“Kenapa kau berani bersikap semacam itu kepadaku. Kepada putera Pangeran Ranakusuma”

“Aku pernah berjalan berkeliling kota Surakarta. Dan aku memang pernah mendengar siapakah Pangeran Ranakusuma itu. Kalau tuan puteranya, maka tuan pasti pernah melihat, ayahanda tuan adalah sahabat yang baik dari orang-orang yang berkulit aneh itu. Kulitnya tidak seperti kulit kita dan matanya tidak seperti mata kita. Tetapi itu bukan alasan untuk menarik batas antara kita yang berkulit kotor dan bermata gelap ini dengan mereka, tetapi tindak dan sikap merekalah yang membuat jarak antara kita dengan orang-orang asing itu. Memang tidak ada bedanya di dalam hakekat, bahwa kita adalah mahluk Tuhan seperti mereka. Tetapi juga tidak akan dibenarkan apabila yang satu mulai melakukan penghisapan kepada yang lain. Bangsa yang satu atas bangsa yang lain. Nah, tolong, sampaikan kepada ayahanda tuan, bahwa akulah yang berkata demikian”

“Siapa kau?”

“Seorang petani dari Sukawati”

“Huh” Raden Rudira menjadi semakin marah, “Apa artinya seorang petani bagi ayahanda. Pergi dari tempat ini, atau kau harus mengalami nasib seperti anak itu?”

“Anak ini adalah benih yang baik buat masa mendatang. Aku sebenarnya sudah melihat perkelahian yang terjadi disini dari kejauhan. Tetapi ketika aku melihat benih masa mendatang ini akan dipatahkan, aku merasa sayang, sehingga aku pun mendekat”

Jawaban itu bagaikan sebuah tamparan yang langsung dijawab Rudira, sehingga wajah itu pun menjadi merah padam. Dengan suara bergetar ia berkata, “Jadi, apa maksudmu he? Apa yang akan kau lakukan?”

“Aku melihat dua orang anak petani ini dapat berbuat banyak di saat-saat mendatang, Karena itu, jangan tuan mengganggunya”

“Persetan. Kau tidak dapat mencegah aku. Atau kau sendiri yang akan menjadi pengewan-ewan disini?”

“Tuan, aku sudah mendekati arena. Karena aku merasa sayang kepada dua orang anak muda yang berkelahi melawan beberapa orang inilah maka aku datang. Anak ini memang bukan lawan raksasa yang dungu itu”

“Gila” Sura hampir berteriak, “Apakah kau akan turut campur?”

“Maaf. Aku terpaksa turut campur”

“Sura” teriak Rudira yang tidak sabar lagi, “selesaikan orang itu”

“Baik tuan” jawab Sura sambil membusungkan dadanya. Lalu katanya, “Petani dari Sukawati, jangan menyesal bahwa kau hari ini telah salah langkah”

“Aku akan menerima segala nasib yang akan menimpaku hari ini” jawab petani itu.

Namun dalam pada itu Buntal tiba-tiba berkata, “Pergilah. Pergilah supaya kau tidak terlibat dalam persoalan ini”

“Aku memang melibatkan diriku, anak muda” jawab petani itu.

Tetapi petani itu tidak sempat lagi mengucapkan kata-kata yang sudah di kerongkongan, karena tiba-tiba saja Sura telah menyerangnya. Tangannya terayun dengan derasnya ke wajah petani yang kotor itu. Tangan Sura yang mempunyai kekuatan melampaui kekuatan kawan-kawannya abdi Ranakusuman.

Yang melihat ayunan tangan Sura itu menahan nafas. Demikian juga Juwiring, Buntal dan bahkan Rudira sendiri. Kalau tangan itu mengenai pelipis petani itu, maka ia pasti akan pingsan seketika.

Tetapi yang terjadi benar-benar di luar dugaan. Setiap orang yang menyaksikan hanya dapat berdiri dengan mulut ternganga. Mereka hampir tidak percaya atas apa yang telah terjadi.

Dengan tenangnya, petani dari Sukawati itu menggerakkan tangannya. Tenang tetapi secepat gerak tangan Sura. Hampir tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, tiba-tiba saja orang itu telah berhasil menggenggam pergelangan tangan raksasa yang marah itu. Demikian cepatnya, sehingga Sura tidak sempat menariknya. Bahkan sekejap kemudian terdengar Sura itu mengaduh pendek. Tangannya ternyata telah terpilin di punggungnya. Kemudian suatu hentakkan yang keras mendorongnya, sehingga Sura itu pun jatuh menelungkup dengan derasnya, sehingga wajahnya telah menyentuh tanah.

Tidak seorang pun yang dapat mengatakan, apa yang telah dilakukan oleh petani yang mengaku berasal dari Sukawati itu. Tetapi yang mereka lihat kemudian Sura berusaha dengan susah payah bangkit berdiri. Ketika ia meraba dahinya, terasalah sepercik darah dari kulitnya yang tersobek karena benturan sepotong batu padas.

Peristiwa yang sesaat itu, ternyata telah membuat gambaran yang jelas kepada semua orang yang menyaksikan, apa saja yang dapat dilakukan oleh petani yang sedang dalam perjalanan jauh itu. Karena itu, maka dada mereka pun menjadi berdebaran.

Rudira yang menyaksikan hal itu pun seolah-olah telah membeku. Hampir tidak masuk akal, bahwa raksasa itu dapat dijatuhkannya dengan mudah dalam perkelahian beradu muka. Berbeda dengan serangan Buntal yang tidak terduga-duga. Tetapi kali ini justru Sura lah yang telah menyerang orang itu.

Hal itu membuat jantung Rudira menjadi susut. Tetapi darahnya yang menggelegak membuatnya berteriak, “He petani dungu. Kau sudah melawan keluarga Ranakusuma. Kau akan menyesal. Kami akan beramai-ramai mencincangmu tanpa tuntutan apapun juga”

“Silahkanlah tuan. Disini aku tidak berdiri sendiri. Setidak-tidaknya aku mempunyai dua orang kawan untuk melawan tuan bersama kawan-kawan tuan. Dan sebelumnya aku akan memperingatkan kepada tuan, bahwa tuan bersama pengiring tuan seluruhnya, tidak akan dapat melawan kami bertiga”

Bersambung ke bagian 2

Satu Tanggapan

  1. Terkilas diangan-angan Buntal nasehat Kiai Danatirta, “Kita hidup bumi yang sama. Tuhan yang Satu walaupun Ia mempunyai sembilan puluh sembilan nama dan kita pun diciptakan dari tanah yang sama. Itulah sebabnya maka kita harus saling sayang menyayangi. Saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran” ……. pesan moral agama dalam sisipan karangan yang sangat mendasar & membekas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s