AM_SP-06


Serial ARYA MANGGADA

Episode III: SANG PENERUS

JILID 6

kembali | lanjut

AMSP-06

ANGGAPAN itulah yang ternyata kemudian merupakan salah satu kelemahan bagi Kiai Windu Kusuma, karena ia menganggap bahwa tidak ada orang yang dapat memberikan keterangan lebih banyak tentang isi dan kekuatan kelompok Kiai Windu Kusuma dan orang yang disebutnya Panembahan itu. Mereka menganggap bahwa Kiai Gumrah tidak akan berani berbuat lebih jauh dari sekedar mempertahankan diri dirumah-nya karena ia tidak mempunyai gambaran sama sekali tentang lawannya yang ingin mendapatkan pusaka-pusaka yang disimpannya itu.

Kiai Windu Kusuma memang tidak mengingkari kemungkinan bahwa Kiai Gumrah akan dapat mengetahui letak per-sembunyiannya dengan mengikuti arah terbang burung-burung elang yang dipergunakannya untuk mengetahui beberapa hal tentang keadaan Kiai Gumrah, lingkungannya dan bahkan beberapa kegiatannya. Tetapi persembunyian itu ternyata bukan merupakan satu hal yang sangat penting bagi mereka.

Sebenarnyalah pengamatan salah seorang kawan Kiai Gumrah atas sarang lawannya masih jauh dari yang diharapkan. Untunglah bahwa Kiai Gumrah dan kawan-kawannya berhasil menangkap dua orang pengikut Darpati yang telah berusaha untuk mengambil pusaka-pusaka yang tersimpan dirumah Kiai Gumrah itu dengan caranya, setelah mereka berhasil mengelabui dan menggerakkan orang-orang padukuhan bahkan termasuk Ki Bekel pula.

Ternyata perlakuan yang baik, serta perawatan yang bersungguh-sungguh telah membuat hati kedua orang tawanan itu berguncang. Jika mereka semula berniat untuk tidak mengatakan sesuatu tentang kelompoknya, maka kemudian sedikit demi sedikit tekad yang semula mengeras seperti batu hitam itu mulai mencair.

Kiai Gumrah sejak semula memang meyakini, bahwa sikap dan perlakuan yang baik, akan dapat mengkikis kekerasan hati kedua orang tawanannya. Karena itu maka perlahan-lahan Kiai Gumrah dapat menggiring mereka kedalam satu pembicaraan yang bersungguh-sungguh.

Ketika keadaan kedua orang itu menjadi sedikit baik, maka mereka mulai dapat duduk diamben yang besar diruang dalam rumah Kiai Gumrah. Tali yang mengikat dengan pembaringan mereka telah dilepas disaat-saat tertentu, sebagaimana saat mereka duduk diruang dalam bersama dengan Kiai Gumrah dan Ki Prawara.

Meskipun tangan dan kakinya tidak terikat, tetapi kedua orang itu menyadari, bahwa ia berada disatu lingkungan yang dikelilingi oleh orang-orang berilmu tinggi. Ternyata dua orang perempuan yang ada dirumah itu adalah perempuan yang berilmu tinggi pula. Seorang diantaranya berhasil membunuh Darpati, sedangkan yang seorang lagi telah mengalahkan salah seorang dari kedua orang tawanan itu.

Setelah menghirup beberapa teguk minuman hangat, maka mereka mulai berbincang tentang beberapa hal yang menyangkut tentang kelompok yang dipimpin oleh Kiai Windu Kusuma.

Kedua orang itu memang tidak segera menjawab pertanyaan-pertanyaan Kiai Gumrah. Namun sedikit demi sedikit Kiai Gumrah meyakinkan kepada keduanya, bahwa keduanya bagi Kiai Windu Kusuma sudah dianggap sebagai orang-orang yang hilang.

“Ki Sanak” berkata Kiai Gumrah, “di kuburan itu terdapat delapan onggok tanah galian baru. Seorang diantara kawanku menyaksikan dua orang pengikut Kiai Windu Kusuma yang datang dan menghitungnya”

“Bagaimana kawan Kiai dapat mengerti, bahwa kedua orang itu adalah pengikut Kiai Windu Kusuma?” bertanya salah seorang dari kedua orang tawanan itu.

“Kawanku bersembunyi dibalik sebuah gerumbul yang tidak terlalu jauh. Ia mendengar percakapan kedua orang itu, sehingga kawanku yakin bahwa Kiai Windu Kusuma telah menganggap kalian orang-orang yang telah dikubur bersama enam orang kawan kalian”

Orang itu masih merasa ragu. Namun kemudian Kiai Gumrah berkata, “Ki Sanak. Justru kalian sudah dianggap hilang, aku merasa kasihan kepada kalian. Kalian tidak akan dapat berlindung kepada siapapun. Seandainya mereka tahu bahwa kalian masih ada, mungkin mereka akan berusaha untuk membebaskan kalian. Tetapi mungkin juga sebaliknya. Mereka akan berusaha membunuh kalian agar kalian tidak dapat berbicara lagi. Tetapi dengan dua onggok tanah kuburan itu, kalian tidak akan lagi merasa dibayangi oleh ancaman pembunuhan itu”

Kedua orang itu termangu-mangu sejenak, sementara Kiai Gumrahpun berkata, “Pertimbangkan keadaanmu baik-baik Ki Sanak. Karena kalian tentu tidak akan merasa senang untuk benar-benar berada di kuburan itu, siapapun yang mengantarkan kalian kesana”

Keduanya mengangguk-angguk. Seorang diantara mereka berkata, “Aku mengerti Kiai. Akupun merasa perlakuan Kiai dan keluarga Kiai terlalu baik buat kami. Karena itu, maka rasa-rasanya kami memang harus menilai sikap kami”

“Kalian masih mempunyai waktu Ki Sanak” berkata Kiai Gumrah, “meskipun sangat sempit. Sekarang, beristirahatlah agar keadaan kalian menjadi semakin baik”

“Tidak Kiai. Kami sudah cukup beristirahat” berkata orang itu.

“Jika demikian, apakah kita dapat berbicara lebih lanjut?” berkata Kiai Gumrah.

Kedua orang itu menarik nafas dalam-dalam. Sejenak mereka saling berpandangan. Namun kemudian seorang diantara mereka berkata, “Kami sudah mengetahui apa yang Kiai inginkan”

“Sokurlah” jawab Kiai Gumrah. Tetapi kemudian ia justru bertanya, “Apa menurut pendapatmu yang ingin aku ketahui itu?”

“Tentu kekuatan dan sarang para pengikut Kiai Windu Kusuma” jawab seorang diantara keduanya.

“Kami sudah mengetahui sarang mereka. Tetapi yang memang belum kami ketahui sepenuhnya adalah kekuatan mereka”

Wajah kedua orang itu berkerut. Namun seorang diantara mereka berkata, “Darimana Kiai mengetahuinya?”

“Kawan-kawan kami berhasil mengikuti arah terbang burung-burung elang yang sering dilepaskan oleh para pengikut Kiai Windu Kusuma” jawab Kiai Gumrah.

Kedua orang itu mengangguk-angguk. Namun kemudian seorang diantara mereka berkata, “Kiai. Aku sekarang sudah disini. Aku kira aku memang tidak akan dapat kembali kelingkunganku yang lama. Jika aku kembali, maka nasibku pun akan menjadi buruk sekali. Karena itu, maka aku justru akan menitipkan hidup matiku kepada Kiai”

“Ki Sanak. Sebenarnyalah bahwa kami bukan sekelompok pembunuh yang haus melihat darah tertumpah. Jika kami melakukan kekerasan itu semata-mata, karena kami sekedar mempertahankan diri dan mempertahankan hak kami. Karena itu, maka jika kalian memang ingin mendapat perlindungan kami, maka kami tentu tidak akan berkeberatan. Tetapi apakah hal ini ada hubungannya dengan pengenalan kami atas sarang Kiai Windu Kusuma dan para pengikutnya atau bahkan sarang orang yang disebut Panembahan itu?”

Kedua orang itu mengangguk-angguk. Seorang diantara mereka berkata, “Ya Kiai. Kami ingin memperingatkan bahwa pengenalan Kiai atas sarang Kiai Windu Kusuma dan orang yang disebut Panembahan itu tidak lengkap”

Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia bertanya, “Apakah yang kau maksud tidak lengkap? Bukankah sudah aku katakan, bahwa kami memang belum mengetahui dengan pasti kekuatan mereka?”

“Bukan hanya kekuatan mereka, Kiai” jawab orang itu, “tetapi juga sarang mereka yang sebenarnya. Karena sarang burung-burung elang itu bukan sarang Kiai Windu Kusuma yang sebenarnya. Rumah itu memang dipergunakan oleh Kiai Windu Kusuma. Tetapi hanya beberapa orang saja yang tinggal disana. Terutama orang yang mampu mengendalikan burung-burung elang itu. Sedangkan yang lain berada ditempat yang terpisah.”

Wajah Kiai Gumrah nampak berkerut. Keterangan itu sangat menarik perhatiannya. Tetapi Kiai Gumrah tidak segera mempercayainya begitu saja. Bahkan Ki Prawara dengan serta-merta bertanya, “Apakah kau berkata sebenarnya?”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia dapat mengerti bahwa Kiai Gumrah dan Ki Prawara itu tentu tidak begitu saja mempercayainya.

Karena itu, maka katanya, “Kiai. Bukankah Kiai mempunyai kawan-kawan yang memiliki ilmu yang tinggi? Jumlah kawan-kawan Kiai memang tidak begitu banyak. Tetapi kawan-kawan Kiai benar-benar memiliki kelebihan dari orang-orang kebanyakan. Hadirnya dua ekor harimau itu juga merupakan rahasia tersendiri bagi Kiai Windu Kusuma. Semuanya itu merupakan satu landasan yang sangat berarti bagi Kiai. Sementara itu salah seorang diantara kawan-kawan Kiai tentu akan dapat menyelidiki tempat sebenarnya dari Kiai Windu Kusuma dan kawan-kawannya. Bahkan sekarang, orang yang disebut Panembahan itu telah ada disana pula”

Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Dengan kening yang berkerut ia pun kemudian bertanya, “Siapakah nama Panembahan itu?”

“Kami hanya menyebutnya dengan Panembahan begitu saja”

“Baiklah. Kita tidak mempersoalkan namanya. Tetapi kami yakin bahwa Panembahan itu adalah Panembahan yang pernah kami kenal namanya, karena Panembahan yang kami kenal namanya itu juga mempunyai tingkah laku sebagaimana Panembahan yang ada diantara kalian. Jika Panembahan yang kami kenal namanya itu menurut pendengaran kami telah mengorbankan gadis-gadis untuk membuat pusakanya yang berupa sebilah keris menjadi pusaka yang terbaik didunia, maka sekarang Panembahan yang ada diantaramu itu akan memelihara dan meningkatkan tuah dari pusaka-pusaka yang akan diambilnya dari rumahku ini dengan menikam jantung manusia yang masih segar. Bukankah pada keduaduanya berarti membasahi pusaka-pusaka itu dengan darah. Satu lambang betapa hausnya Panembahan itu terhadap darah yang tertumpah. Bahkan mungkin Panembahan itupun mengerti bahwa darah itu tidak akan berarti apa-apa, apalagi memberikan tuah. Tetapi kepuasan Panembahan itu mula-mula justru saat ia melihat darah yang memancar. Namun lambat laun, kebiasaan untuk mencari kepuasan itu telah diberinya alasan yang lebih mapan agar ia dapat melakukannya dengan lebih mantap”

Tetapi kedua orang itu hampir bersamaan menggeleng. Seorang diantaranya berkata, “Tidak Kiai. Meskipun mungkin ada juga sedikit kebenarannya. Tetapi sebenarnya Panembahan itu adalah salah seorang yang memuja kuasa kegelapan”

Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Sementara Ki Prawara bertanya, “Apa tandanya bahwa Panembahan itu menuju kuasa kegelapan?”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Tingkah lakunya yang aneh. Benda-benda yang melekat pada dirinya, serta korban yang selalu diberikannya kepada kuasa yang dipujanya itu. Kami memang menjadi curiga bahwa yang dikorbankan itu merupakan bagian yang diambilnya dari tubuh manusia, terutama darah”

“Kapan Panembahan itu menyerahkan korbannya?” bertanya Kiai Gumrah.

“Kiai” berkata orang itu, “kami adalah orang-orang yang sebenarnya adalah pengikut Kiai Windu Kusuma, sehingga kami tidak terlalu banyak mengetahui apa yang dilakukan oleh Panembahan. Tetapi menurut pendengaranku, Panembahan setiap bulan purnama telah menyerahkan korban”

Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Dengan demikian maka ia menjadi semakin yakin bahwa Panembahan itu adalah orang yang sangat berbahaya. Ia dapat berbuat apa saja diluar dugaan setiap saat, sehingga yang tidak terbayangkanpun akan dapat dilakukan pula.

Namun Kiai Gumrahpun kemudian bertanya, “Tetapi kenapa Kiai Windu Kusuma telah terlibat dalam kegiatan panembahan itu?”

Kedua orang itu menggeleng. Seorang diantara mereka berkata, “Kami tidak tahu, hubungan apakah yang telah mendorong Kiai Windu Kusuma untuk melibatkan diri dalam perebutan pusaka-pusaka itu. Tetapi nampaknya pengaruh Panembahan itu terhadap Kiai Windu Kusuma cukup kuat, sehingga mau tidak mau Kiai Windu Kusuma harus terlibat kedalamnya”

Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Namun ia percaya akan keterangan itu. Karena itu, maka Kiai Gumrah dan Ki Prawara mengangguk-angguk mengiakan.

“Kami harus segera membicarakannya” berkata Kiai Gumrah, “kami minta kalian bersedia berbicara bersama kami terutama untuk menilai kekuatan Panembahan dan Kiai Windu Kusuma”

Kedua orang itu mengangguk kecil. Namun kemudian seorang diantara mereka berkata, “Masih ada satu pihak lagi yang terlibat dalam hubungan ini. Jika aku tidak mengatakannya, maka aku cemas bahwa penilaian Kiai atas kekuatan Panembahan tidak lengkap. Karena itu, sebaiknya Kiai juga mengetahuinya”

“Siapa lagi yang terlibat dalam hubungannya dengan niat Panembahan?” bertanya Kiai Gumrah.

“Tetapi nampaknya orang itu tergerak sekedar karena nilai kebendaan yang diinginkannya” jawab orang itu.

“Siapa orang itu?” bertanya Kiai Gumrah selanjutnya.

Orang itu termangu-mangu. Namun kemudian orang itu berkata, “Aku hanya mendengar namanya disebut Kiai Kajar.”

Wajah Kiai Gumrah dan Ki Prawara menjadi tegang. Diluar sadarnya Ki Prawara berdesis, “Iblis itu benar-benar berkhianat”

“Kiai kenal orang itu?” bertanya salah seorang dari kedua tawanan itu.

“Ya. Orang itu adalah saudara seperguruanku” berkata Kiai Gumrah, “karena itulah agaknya Kiai Windu Kusuma dan bahkan Panembahan itu mengetahui bahwa disini tersimpan pusaka-pusaka yang diinginkannya”

“Aku kira tidak Kiai” sahut orang itu, “Kiai Windu Kusuma memang mengetahui adanya pusaka-pusaka itu dari Kiai Kajar. Tetapi Panembahan itu tidak. Seakan-akan ia tahu segala-galanya, terutama tentang pusaka-pusaka yang menurut pendapatnya sangat bertuah”

“Kau tentu tidak mengetahui segala-galanya. Meski ada yang terlampaui” berkata Kiai Gumrah.

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia-pun mengangguk-angguk sambil berkata, “Ya. Aku memang bukan termasuk salah seorang pemimpin yang ikut menentukan. Tetapi aku mendapat sedikit kepercayaan. Bukan dari Panembahan, tetapi dari Kiai Windu Kusuma”

Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Hampir saja ia bertanya tentang Kundala. Tetapi niatnya diurungkannya. Agaknya masih belum saatnya, Kiai Gumrah menyebut kehadiran Kundala di rumah itu. Masih banyak kemungkinan dapat terjadi atas kedua orang itu, juga atas Kundala, sehingga kemungkinan buruk dapat saja terjadi atas mereka.

Namun pembicaraan itu telah memberikan banyak bahan bagi Kiai Gumrah. Ia sadar, bahwa satu pertemuan yang lebih besar harus diselenggarakan. Kiai Gumrah sudah dapat membayang-kan, bahwa yang dihadapi adalah satu kekuatan yang cukup besar.

Ternyata meskipun Kiai Gumrah telah memasuki usia tuanya, namun ia masih melangkah dengan tegar. Dalam waktu singkat ia sudah menghubungi kawan-kawannya. Beranting mereka menyampaikan undangan Kiai Gumrah bagi kawan-kawannya yang tidak kurang dari saudara-saudara seperguruannya.

“Besok sore kita bertemu. Aku akan meminjam banjar tua itu untuk mengadakan pertemuan. Aku akan minta agar Ki Bekel tidak mengatakan kepada siapapun, bahwa kita akan mengadakan pertemuan di banjar. Anak-anak muda padukuhan ini juga tidak perlu mengetahui, sehingga karena itu, maka biarlah Ki Bekel membuat satu kegiatan apapun bagi anak-anak muda agar mereka tidak berkeliaran ke banjar tua” berkata Kiai Gumrah kepada salah seorang pedagang gula yang termasuk saudara seperguruannya. Kiai Gumrahpun telah menemui juragan gula itu pula, agar ia menyampaikan kepada saudara-saudara seperguruannya yang esok pagi menyerahkan gula kelapa kepadanya.

“Apakah kawan-kawan yang lain sudah tahu?” bertanya juragan gula itu.

“Beranting” jawab Kiai Gumrah, “dipasar besok mudah-mudahan banyak yang dapat ditemui. Jika tidak, maka biarlah saudara-saudara kita saling mengunjungi di rumah mereka masing-masing”

Malam itu juga Kiai Gumrah telah menemui Ki Bekel. Ia minta ijin untuk menggunakan banjar tua yang untuk waktu yang terhitung panjang telah ditungguinya, dibersihkan dan dijaga dengan baik.

“Tentu” berkata Ki Bekel, “Kiai Gumrah dapat saja mempergunakan banjar itu untuk keperluan apapun.”

“Tetapi aku mohon anak-anak muda tidak mengganggu pertemuan kami. Biasanya ada beberapa anak muda yang singgah di banjar itu dimalam hari. Sebenarnya aku merasa senang akan kehadiran anak-anak muda itu. Tetapi kali ini aku mohon Ki Bekel mengatur satu pertemuan di banjar baru, agar anak-anak muda tidak pergi ke banjar lama”

Ki Bekel termangu-mangu. Katanya, “Aku tidak berkeberatan. Tetapi apa alasanku untuk mengikat mereka di banjar baru”

Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Tanpa alasan apapun, Ki Bekel memang tidak dapat menahan anak-anak muda di banjar baru.

Namun tiba-tiba Kiai Gumrah berkata, “Ki Bekel. Selama ini Rambatan dan beberapa orang kawannya seakan-akan telah terpisah dari anak-anak muda yang lain. Tetapi pada saat terakhir, agaknya Rambatan telah berubah sikap. Apakah Ki Bekel dapat mempergunakannya sebagai alasan?”

“Maksud Kiai Gumrah?” bertanya Ki Bekel.

“Undang anak-anak muda termasuk Rambatan dan kawan-kawannya itu. Ki Bekel dapat mengatakan kepada mereka, bahwa pertemuan itu adalah pertemuan untuk menghilangkan jarak antara Rambatan dan kelompoknya dengan anak-anak muda yang lain. Katakan bahwa anak-anak muda padukuhan itu telah menyatu kembali. Rambatan telah meninggalkan cara hidupnya yang lama”

Ki Bekel termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Bagus. Aku akan mengajak anak-anak itu makan untuk merayakan perubahan sikap sebagian dari anak-anak muda padukuhan ini. Dan lebih dari itu, juga sikapku sendiri. Bukankah perubahan sikapku juga pantas disambut baik dengan sebuah kegembiraan”

“Tentu” Kiai Gumrah tertawa, “aku ikut bergembira. Sayang aku tidak dapat hadir dalam pertemuan untuk mensukuri beberapa perubahan yang terjadi di padukuhan ini” Kiai Gumrah berhenti sejenak, lalu, “Tetapi aku mohon Ki Bekel tidak mengatakan sesuatu tentang pertemuan itu tidak baik untuk diketahui oleh anak-anak muda itu. Kita masih harus tetap curiga, bahwa setelah berbagai perubahan sikap terjadi di padukuhan ini, ternyata masih ada satu dua orang yang meragukan sikapnya”

“Aku mengerti, Kiai. Aku akan berbuat sebaik-baiknya” jawab Ki Bekel.

Demikianlah, maka ketika pasar mulai ramai, beberapa orang pedagang gula pun saling bertemu. Mereka telah menyebarkan panggilan dari Kiai Gumrah untuk bertemu di banjar tua yang untuk waktu yang terhitung lama ditunggui olehnya.

“Apakah tempat itu sudah diamankan?” bertanya salah seorang dari mereka.

“Itu tanggung jawab Kiai Gumrah” jawab saudagar gula yang menerima gula dari para pembuat gula yang jumlahnya sampai satu dua pedati. Sebagian besar dari gula-gula itu telah dikirimkan kepada pedagang gula di pasar-pasar yang lain, bahkan dipadukuhan-padukuhan yang agak jauh.

Jaringan perdagangan gula itulah yang menjadi jalur hubungan antara Kiai Gumrah dan saudara-saudara seperguruannya, meskipun tidak semua pedagang gula termasuk dalam lingkungan seperguruan Kiai Gumrah.

Dengan demikian maka panggilan Kiai Gumrah itu telah merambat dari satu orang kepada orang yang lain, sehingga tersebar kepada saudara-saudara seperguruannya, bahwa setelah malam turun, maka mereka akan bertemu untuk berbicara di banjar tua didekat rumah Kiai Gumrah.

Ketika kemudian senja mulai membayangi padukuhan itu, Kiai Gumrahpun mulai bersiap-siap. Ia berpesan kepada Nyi Prawara dan Winih, agar mereka berhati-hati dirumah. Demikian pula Manggada dan Laksana.

“Kalian tidak usah keluar dari rumah” pesan Kiai Gumrah.

Nyi Prawara mengangguk. Katanya, “Kami akan menempatkan kentongan kecil didalam rumah ini ayah. Mungkin kami memerlukannya mengingat kekuatan lawan yang ternyata cukup besar. Mereka dapat datang setiap saat. Bahkan disaat yang tidak diduga-duga”

“Aku setuju. Biarlah Manggada memasukkan kentongan kecil diserambi belakang itu” berkata Kiai Gumrah. Lalu katanya, “Aku dan Prawara akan berada di banjar tua itu”

Nyi Prawara mengangguk. Dengan nada dalam ia berkata kepada Manggada, “Ambillah kentongan di serambi belakang itu. Kita harus berhati-hati menghadapi mereka”

Demikianlah, ketika Kiai Gumrah dan Ki Prawara pergi ke banjar, maka yang tinggal dirumah adalah Nyi Prawara, Winih, Manggada dan Laksana. Mereka duduk di ruang dalam, didepan sentong tempat Kiai Gumrah menyimpan pusaka-pusakanya. Namun untuk dapat mengamati langsung pusaka-pusaka itu, maka tirai dipintu bilik itu pun telah disingkapkannya. Sehingga dengan demikian maka mereka dapat melihat langsung pusaka-pusaka yang sedang mereka lindungi itu.

Sementara itu, di banjar itu telah berkumpul lebih dari sepuluh orang. Semuanya sudah nampak separo baya. Bahkan Ki Prawara pun nampaknya terhitung muda diantara para pedagang dan pembuat gula itu.

Dengan singkat Kiai Gumrah menguraikan tentang niat Kiai Windu Kusuma dan seorang yang disebut Panembahan untuk memiliki pusaka itu.

“Aku mengajak dua orang pengikut Kiai Windu Kusuma yang dapat kami tangkap” berkata Kiai Gumrah.

Semua orang yang hadir di banjar itu telah memandang kedua orang tawanan yang menundukkan kepalanya. Namun Kiai Gumrahpun kemudian berkata, “Tetapi keduanya dapat aku anggap sebagai orang yang baik”

“Kenapa?” bertanya seorang pembuat gula yang bertubuh tinggi besar, sehingga kawan-kawannya menyebutnya Buta Ijo.

“Mereka telah memberikan banyak petunjuk” jawab Kiai Gumrah.

“Mereka berbicara karena terpaksa” desis seorang yang lain, yang rambut dan kumisnya sudah mulai memutih.

“Tidak. Aku tidak memaksa. Mereka berbicara atas kehendak mereka sendiri. Seandainya disebut terpaksa, bukan karena tekanan kekerasan” jawab Kiai Gumrah yang kemudian dengan singkat menguraikan tentang delapan onggok kuburan.

“Bagaimanapun juga unsur keterpaksaan itu ada” berkata raksasa itu pula.

“Jika kita membuat tataran, maka tataran kejahatan mereka masih belum terlalu tinggi, meskipun mereka termasuk orang-orang yang datang untuk membunuh cucu-cucuku dan bahkan menantuku” berkata Kiai Gumrah.

“Baiklah jika kau menganggap bahwa kesalahannya tidak sampai ke ubun-ubun. Nah, sekarang apa lagi?” bertanya yang lain, yang kurang sabar terhadap perkembangan pembicaraan itu.

Kiai Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia mulai berbicara tentang pendapatnya bahwa sebaiknya mereka tidak sekedar menunggu Panembahan itu datang kepadanya.

“Satu pilihan yang paling baik” berkata juragan gula yang nampaknya agak terkantuk-kantuk.

“Apakah kita sudah mempunyai gambaran apa yang akan kita lakukan?” bertanya orang yang bertubuh raksasa yang jarang berhubungan dengan saudara-saudara seperguruannya.

Juragan gula itu tersenyum. Dengan nada rendah ia berkata, “Kau selama ini selalu mengurung diri. He, kepada siapa gulamu kau jual? Kenapa tidak kepadaku?”

“Kau kira aku tidak perlu makan buat aku dan keluargaku” jawab Buta Ijo itu, “kalau aku menjual gula itu kepadamu, berapa aku mendapat uang? Hasil penjualan gula itu masih harus dikurangi upah mengangkut gula dari tempatku yang cukup jauh dari rumahmu”

Juragan gula itu tertawa. Katanya, “Meskipun demikian, sekali-sekali kau hubungi aku. Dengan demikian kau tidak akan ketinggalan mengikuti perkembangan keadaan. Khususnya yang menyangkut keluarga seperguruan kita”

“Yang penting sekarang, beri aku keterangan tentang persoalan yang kita hadapi” berkata raksasa itu, “disini bukan tempat untuk mencari dagangan”

Yang lain tertawa. Kiai Gumrahpun tertawa pula. Namun kemudian ia berkata, “Baiklah. Agaknya aku dapat sedikit memberikan keterangan”

Namun tiba-tiba kawan Kiai Gumrah yang pernah menemukan sarang burung elang itu berkata, “Aku sudah menemukan sarang mereka yang ingin merampas pusaka-pusaka itu”

“Ya” jawab Kiai Gumrah, “tetapi masih perlu mendapat penjelasan tentang sarang itu”

Kawan Kiai Gumrah itu mengerutkan dahinya. Dengan nada berat ia bertanya, “Penjelasan apa lagi? Aku sudah menemukannya. Hanya orang berilmu tinggi mampu melakukannya.”

Beberapa orang tertawa serentak. Seorang yang berjanggut beberapa lembar saja berkata, “He, sejak kapan kau menyadap ilmu itu? Tiba-tiba saja kau mengaku berilmu tinggi”

“Sejak aku menemukan sarang itu, baru aku yakin bahwa aku berilmu tinggi” jawab orang itu.

Kawan-kawannya tertawa. Juragan gula yang sempat berbincang dengan Kiai Gumrah sebelum pertemuan itu dimulai berkata, “Kau dengar, bahwa penemuanmu masih memerlukan penjelasan”

“Penjelasan apa?” bertanya orang itu.

Kiai Gumrah lah yang kemudian mengatakan pengakuan kedua orang yang pengikut Kiai Windu Kusuma yang dapat ditangkapnya itu.

Orang-orang yang ada di banjar tua itu mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Aku orang berilmu tinggi. Biarlah aku menyelidiki sarang mereka sebagaimana dikatakan oleh kedua orang itu. Tetapi jika mereka berbohong, maka mereka akan aku gantung di depan sarang burung-burung elang itu”

Kiai Gumrah pun berpaling kepada kedua orang itu. Dengan dahi yang berkerut ia bertanya, “Nah kau dengar? Bukankah kau tidak berbohong? Kau juga mendengar bahwa orang itu berilmu tinggi sehingga ia benar-benar akan dapat menggantung kalian tinggi-tinggi pada batang pohon randu alas”

Namun seorang yang lain menambahkannya, “Tetapi kedua orang itu harus diikat dahulu kaki dan tangannya. Jika tidak, maka ia tidak akan berani melakukannya meskipun ia berilmu tinggi”

Orang-orang yang hadir itu tertawa serentak. Orang yang menyebut dirinya berilmu tinggi itu juga tertawa.

Kedua orang tawanan itu saling berpandangan. Mereka tidak melihat suasana seperti itu di sarang Kiai Windu Kusuma. Yang mereka lihat hampir setiap hari adalah wajah-wajah yang berkerut, sikap yang keras dan kasar. Susunan hubungan yang satu dengan yang lain seakan-akan dibayangi oleh tataran kepemimpinan yang ketat, sehingga para pemimpin dapat berlaku sekehendak hatinya terhadap para pengikutnya. Bahkan diantara para pemimpin masih saja selalu timbul persoalan-persoalan yang harus dibicarakan dengan tegang. Apalagi ketika Panembahan bersama beberapa orang pengikutnya telah datang.

Tetapi di banjar tua itu ia melihat orang-orang berilmu tinggi itu dapat berbicara sambil bergurau dan tertawa. Mereka dapat meningkatkan pembicaraan mereka setingkat demi setingkat tanpa ketegangan sama sekali.

Dengan demikian maka kedua orang itu merasa berada didunia yang sama sekali berbeda isi dan suasananya.

Demikianlah, maka Kiai Gumrah dan saudara-saudara seperguruannya itu mulai berbicara tentang sarang Kiai Windu Kusuma yang sebenarnya. Mereka memang menunjuk dua orang diantara mereka untuk menyelidiki sarang itu.

Dari kedua orang tawanan itu, Kiai Gumrah dan saudara-saudara seperguruannya mengetahui bahwa disamping orang-orang berilmu tinggi terdapat para pengikutnya yang jumlahnya cukup banyak.

Tiba-tiba saja Ki Prawara itu pun bertanya kepada para tawanan itu, “Kau dilingkungan para pengikut Kiai Windu Kusuma termasuk tataran yang mana? Apakah kau termasuk pengikut yang tidak diperhitungkan atau pada tataran menengah atau kau terhitung berilmu tinggi?”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kawan-kawan setataranku telah berkurang banyak. Ternyata Darpati yang ingin memenuhi keinginannya sendiri telah banyak mengorbankan kawan-kawan kami. Terakhir rencananya memang dapat diterima penalaran Kiai Windu Kusuma meskipun sebelumnya Darpati telah dimarahinya dan hampir kehilangan kepercayaan”

“Apa rencana terakhirnya?” bertanya Ki Prawara.

“Sebagaimana telah terjadi” jawab orang itu, “Darpati ingin mengambil pusaka itu dengan caranya sendiri. Ia menghasut orang-orang padukuhan, termasuk Ki Bekel. Darpati memperhitungkan bahwa Kiai Gumrah akan sibuk melayani orang-orang padukuhan itu sementara ia akan mengambil pusaka-pusaka itu dengan beberapa orang terpilih. Sedangkan rencana kedua sebagai cadangan jika rencana pertama gagal, ia akan menculik Winih. Tetapi ternyata kedua-duanya gagal, bahkan Darpati sendiri terbunuh. Salah satu kesalahannya adalah, ia tidak tahu bahwa Winih ternyata berilmu tinggi dan bahkan dapat mengalahkannya”

Ki Prawara mengangguk-angguk. Katanya, “Nah, kalian dengar rencana itu? Jika demikian maka kedua orang ini tentu termasuk orang yang dipilih oleh Darpati. Karena itu, maka mereka adalah orang-orang yang berada pada tataran menengah”

“Sayang, aku tidak melihat tingkat kemampuannya” berkata orang bertubuh raksasa yang disebut Buta Ijo. Lalu katanya, “Bagaimana jika kedua orang itu kita adu sampai salah seorang diantara mereka mati? Kita tentu akan melihat catatan kemampuan mereka, orang-orang yang berada ditingkat menengah”

Kiai Gumrah menarik nafas dalam-dalam, sementara jantung kedua orang itu menjadi berdebar-debar.

Namun mereka menjadi tenang ketika juragan gula itu berkata, “Jangan cemas. Buta Ijo itu memang senang menakut-nakuti orang. Tetapi sebenarnya hatinya lembut seperti beludru.”

“Persetan kau” geram Buta Ijo itu. Tetapi ia tidak berbicara lebih lanjut. Dalam pada itu, meskipun sambil bergurau, namun orang-orang itu telah menemukan satu sikap yang sama. Mereka tidak akan menunggu lagi. Bahkan merekalah yang akan datang untuk menyerang sarang Kiai Windu Kusuma. Menurut pendapat mereka, itu adalah cara yang paling baik untuk mempertahankan pusaka-pusaka milik perguruan mereka yang bagi Kiai Gumrah memang benar-benar titipan sebagaimana dikatakannya kepada Manggada dan Laksana. Tetapi bukan titipan dari orang lain, namun titipan dari perguruannya sendiri.

Sebenarnyalah bahwa Manggada dan Laksana juga sudah meragukan kebenaran ceritera Kiai Gumrah tentang pusaka-pusaka itu. Namun demikian kedua orang anak muda itu memang merasa tidak berhak untuk mendapatkan keterangan yang lebih terperinci.

Namun Kiai Gumrah dan saudara-saudara seperguruannya itu masih harus mendapatkan keterangan yang lebih terperinci tentang sarang Kiai Windu Kusuma dan orang yang disebut Panembahan itu.

“Kita serahkan saja kepada beberapa orang” berkata Buta Ijo, “kita menunggu perintah, kapan kita akan melakukannya”

“Masih banyak yang harus kita bicarakan” berkata Kiai Gumrah.

“Aku tahu. Tetapi tidak perlu semuanya ikut berbicara. Kita tunjuk lima atau enam orang. Yang lain akan melaksanakan segala keputusannya tanpa membantah sama sekali”

Sebelum Kiai Gumrah menjawab, maka beberapa orang pun berkata hampir berbareng, “Aku sependapat”

Kiai Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Ternyata bahwa semuanya tidak berkeberatan.

Namun Kiai Gumrah pun berkata, “Baiklah. Aku akan menunjuk lima orang, tentu saja dengan minta persetujuan kalian semuanya. Ingat, persetujuan, bukan kesanggupan, karena semua orang harus sanggup melakukan tugas betapapun beratnya”

Buta Ijo itu dengan serta merta menyahut, “Bagus, aku sependapat. Tetapi dengan syarat, bukan aku yang ditunjuk untuk bertugas apapun juga”

“Kenapa?” bertanya juragan gula itu.

“Aku sedang mempunyai pekerjaan yang sulit ditinggalkan” jawab Buto Ijo itu.

“Pekerjaan apa?” bertanya orang yang selalu mengaku berilmu tinggi itu. Bahkan katanya kemudian, “Kita berdua akan menyelidiki sarang Kiai Windu Kusuma”

“Anakku yang bungsu sedang merajuk. Ia minta seekor kuda berbulu putih. Nah, aku sedang sibuk mencari uang untuk membeli kuda berbulu putih”

“He, isteriku juga sedang merajuk” berkata orang yang mengaku berilmu tinggi itu.

“Ah, kau juga akan membuat dongeng?” bertanya Buta Ijo.

“Kau mengaku bahwa kau telah membuat dongeng?” bertanya Kiai Gumrah kepada Buto Ijo itu.

Buta Ijo itu tertawa. Tetapi ia tidak menjawab.

Namun akhirnya orang-orang yang berkumpul di banjar tua itu berhasil menunjuk lima orang yang akan memegang pimpinan untuk melakukan perlawanan dan bahkan menyerang sarang Kiai Windu Kusuma dan orang yang disebut Panembahan.

Diantara mereka adalah Kiai Gumrah, juragan gula, orang yang selalu menyebut dirinya berilmu tinggi, orang yang melihat dua orang pengikut Kiai Windu Kusuma menghitung onggokan tanah kuburan kawan-kawannya yang terbunuh di halaman rumah Kiai Gumrah dan seorang lagi yang sudah terbiasa duduk-duduk berbincang dirumah Kiai Gumrah.

Namun Kiai Gumrah itu berkata, “Selain berlima, aku selalu menunggu pendapat kalian. Kawan-kawan yang sering datang kerumahku justru aku minta selalu datang. Tidak terbatas hanya kelima orang ini saja”

“Tentu” jawab Buta Ijo.

“Kau juga akan selalu datang?” bertanya juragan gula itu.

Buta Ijo itu tertawa berkepanjangan. Namun dalam pada itu, maka Kiai Gumrah itu pun berkata, “Masih ada satu hal yang penting kalian ketahui”

“Apa lagi?” bertanya seorang yang bertubuh kurus. Nampaknya matanya sudah lebih banyak terpejam. Hampir mengigau ia berkata dalam kantuknya, “Aku haus”

“Sayang ” berkata Kiai Gumrah, “aku tidak menyediakan minuman malam ini. Aku hanya mempunyai beberapa bumbung legen”

“Buat apa legen” berkata Buta Ijo, “aku mempunyai legen setempayan besar penuh di rumah”

“Aku benar-benar minta maaf, bahwa aku tidak menyediakan minuman buat kalian” berkata Kiai Gumrah, “tetapi jangan takut. Biarlah dirumah Nyi Prawara merebus air.”

“Justru saat pertemuan ini sudah selesai” desah orang yang terkantuk-kantuk”

Kiai Gumrah pun segera berpaling kepada Ki Prawara sambil berdesis, “Lihat, apakah isterimu merebus air? Aku masih ingin berbicara dengan mereka sebentar lagi”

Ki Prawara pun kemudian telah bangkit berdiri sambil berkata, “Aku akan pulang dahulu”

Hampir berbareng beberapa orang berkata, “Bagus. Ia akan melihat, apakah wedang jaenya sudah siap”

Demikianlah Ki Prawara dengan tergesa-gesa pulang melihat apakah isterinya merebus air. Meskipun ia dan ayahnya tidak memesannya, namun biasanya Nyi Prawara mengerti dengan sendirinya bahwa diperlukan minuman dan makanan.

Ketika Ki Prawara sampai ke rumah, maka sebenarnyalah Nyi Prawara memang sudah merebus air dan bahkan merebus ketela pohon. Namun Nyi Prawara itu pun berkata, “Kalian tidak memberitahukan kepada kami, berapa orang yang datang, sehingga seberapa banyak kami harus merebus air dan ketela pohon”

“Yang kau sediakan sudah terlalu banyak. Baiklah, biar aku bawa hidangan ini ke sana”

“Ayah membawanya sendiri?” bertanya Winih.

“Biarlah nanti satu dua orang membantu mengambilnya kemari” jawab Ki Prawara.

“Apakah kami dapat membantu membawanya?” bertanya Manggada dan Laksana hampir berbareng.

Tetapi Ki Prawara menggeleng. Katanya, “Jangan. Kalian sebaiknya tetap tinggal dirumah. Jarak antara rumah ini ke banjar itu memang pendek saja. Meskipun demikian, biarlah aku dan orang-orang dibanjar itu sajalah yang membawa hidangan itu kesana”

Manggada dan Laksana tidak membantah. Mereka sadar, bahwa orang-orang tua itu bersikap berhati-hati menghadapi suasana yang kurang menentu. Segala kemungkinan memang masih dapat terjadi. Apalagi terhadap mereka yang tataran ilmunya masih belum cukup tinggi.

Namun ketika Ki Prawara itu membuka pintu sambil membawa nampan berisi beberapa mangkuk minuman, ia pun terkejut. Ia melihat bayangan dalam kegelapan malam.

Karena itu, maka ia telah melangkah surut kembali. Diletakkannya mangkuk berisi minuman hangat itu. Bahkan kemudian disingsingkannya kain panjangnya.

Nyi Prawara dan Winih yang ada didalam tidak melihat bayangan yang bergerak dengan cepat dalam kegelapan itu. Namun ketika ia melihat kesiagaan Ki Prawara, maka Nyi Prawara pun bertanya, “Kau melihat sesuatu kakang?”

“Ya” jawab Ki Prawara, “aku melihat bayangan di kegelapan. Hanya sekilas. Tetapi kesannya, tentu orang berilmu tinggi”

“Jadi?” bertanya Nyi Prawara.

“Aku hanya melihat seorang saja. Biarlah aku pergi ke banjar tanpa membawa apa-apa. Nanti biar saja mereka datang kemari jika mereka haus. Sediakan saja minuman dan makanan itu” berkata Ki Prawara.

“Tempat terlalu sempit disini” berkata Nyi Prawara.

“Pembicaraan kami sudah selesai di banjar. Karena itu, maka jika orang-orang yang ada di banjar itu tidak dapat masuk seluruhnya keruang dalam, biarlah sebagian berada diluar. Asal minuman itu masih hangat”

“Tetapi minuman itu sudah mulai dingin” jawab Nyi Prawara.

“Jika demikian biarlah sebagian masih tetap diatas perapian saja” jawab Ki Prawara.

Nyi Prawara mengangguk kecil. Namun ia berkata, “Jika kakang pergi ke banjar, berhati-hatilah. Kakang sudah melihat bayangan orang di halaman. Mungkin ia tidak sendiri”

“Banjar itu tidak terlalu jauh. Jika aku berteriak memanggil dengan kata sandi, maka mereka tentu akan segera datang” jawab Ki Prawara.

“Mereka yang di kegelapan itu dapat berbuat licik” desis Nyi Prawara kemudian. Namun kemudian katanya, “Kami ada disini. Pintu tidak diselarak”

“Kalian juga harus berhati-hati dirumah” pesan Ki Prawara.

Ki Prawara memang menjadi sangat berhati-hati. Ia sadar, bahwa bayangan itu tentu orang yang berilmu tinggi. Ki Prawara tidak melihat, kemana orang itu menghilang.

Namun Ki Prawara juga berilmu tinggi. Karena itu maka Ki Prawara sama sekali tidak menjadi gentar. Namun ia memang harus dengan saksama memperhatikan keadaan di sekitarnya.

Tetapi ketika Ki Prawara itu keluar dari regol halaman rumah ayahnya, maka ia melihat lagi bayangan itu. Namun justru menjauhinya dan hilang dalam kegelapan.

Demikian cepatnya bayangan itu hilang, sehingga Ki Prawara tidak dapat melihat ujudnya dengan jelas.

Ketikia Ki Prawara sampai di banjar tua itu lagi, maka beberapa orang bertanya hampir berbareng, “He, kau tidak membawa apa-apa?”

Yang lain pun telah menyahut, “Kami sudah terlalu lama menunggu. Jika kami tahu bahwa kau datang tanpa membawa sesuatu, kami sudah pulang sejak tadi”

Ki Prawara tidak menghiraukan kata-kata itu. Namun ia pun kemudian berkata, “Ada sesuatu yang penting kalian ketahui.”

“Yang penting itu sudah dikatakan oleh Kiai Gumrah. Kau tidak usah mengulangi” berkata Buta Ijo itu.

Ki Prawara berpaliang kepada ayahnya dan bertanya, “Apa yang sudah ayah katakan?”

“Aku telah mengatakan bahwa Kiai Kajar berada diantara mereka yang ingin memiliki pusaka-pusaka itu” jawab Kiai Gumrah dengan nada tinggi.

“Iblis itu benar-benar berkhianat” berkata juragan gula itu, “sebenarnya ia termasuk orang terbaik di perguruan kita”

“Ia tidak usah ikut berusaha merampas pusaka-pusaka itu karena pusaka-pusaka itu termasuk miliknya juga” berkata Buta Ijo. Lalu katanya pula, “Dengan demikian ia berusaha untuk merampas miliknya sendiri”

Ki Prawara mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Bukan itu yang ingin aku katakan. Aku tahu bahwa hal itu tentu sudah dikatakan oleh ayah”

“Jadi apa yang akan kau katakan?” bertanya juragan gula itu, bahkan Kiai Gumrah pun telah bertanya pula, “Apa ada yang lain yang penting diketahui oleh saudara-saudara kita?”

“Ya” jawab Ki Prawara, “ternyata ada orang di halaman rumah kita”

“Kau lihat itu?” bertanya Kiai Gumrah.

“Ya. Aku melihat orang itu sekilas dalam kegelapan. Tetapi aku tidak dapat melihat ujudnya. Demikian cepatnya orang itu menghilang” jawab Ki Prawara.

“Kesanmu orang berilmu tinggi?” bertanya Kiai Gumrah.

“Ya” jawab Ki Prawara, “karena itu aku mengurungkan untuk membawa mangkuk-mangkuk minuman kemari. Sementara itu dirumah selain minuman ada pula ketela rebus yang masih hangat”

“Kalau begitu, aku akan mengambilnya” berkata Buta Ijo.

“Kita tidak usah mengambilnya dan membawanya kemari. Kita nanti jika pembicaraan memang sudah selesai, bersama-sama pergi kerumah. Kita akan minum dan makan ketela rebus di rumah. Biar berhimpitan, tetapi tentu lebih mapan. Kita tidak perlu membawa mangkuk kesana kemari” berkata Ki Prawara.

“Baiklah” jawab orang yang bertubuh kekurusan, “kita kesana sekarang. Sebentar lagi aku tentu sudah tertidur disini”

Ki Prawara termangu-mangu sejenak. Namun ia pun bertanya, “Apakah pembicaraan kita sudah benar-benar selesai”

“Masih ada satu dua pesan yang penting” berkata Kiai Gumrah sambil beringsut setapak.

Sebenarnyalah Kiai Gumrah masih memberikan beberapa pesan kepada saudara-saudara seperguruannya. Iap un masih perlu membicarakan langkah-langkah yang harus segera diambil bersama saudara-saudara seperguruannya meskipun mereka telah menunjuk lima orang yang akan mengatur segala-galanya.

“Dua hari lagi kalian wajib datang kerumahku. Ada atau tidak ada kepentingan. Waktunya sudah terlalu sempit” berkata Kiai Gumrah, “tetapi harus diatur sehingga kalian tidak datang bersama-sama. Ada yang datang pagi, siang atau sore atau malam. Mungkin rumahku selalu diawasi”

Saudara-saudara seperguruannya mengangguk-angguk. Tidak seorang pun yang menolak.

Namun dalam pada itu, selagi Kiai Gumrah masih berbicara dengan saudara-saudara seperguruannya, maka pintu rumah Kiai Gumrah diketuk orang perlahan-lahan. Bukan pintu depan, tetapi pintu butulan.

Seisi rumah itu pun menjadi berdebar-debar. Manggada dan Laksana telah siap untuk pergi kepintu. Namun Nyi Prawara telah menahannya. Ia memberi isyarat agar keduanya tidak membuka pintu itu lebih dahulu.

Nyi Prawaralah yang kemudian melangkah mendekati pintu sambil bertanya, “Siapa?”

“Aku Nyai” jawab suara diluar.

“Aku siapa?” bertanya Nyi Prawara yang rasa-rasanya belum pernah mengenal suara itu.

“Aku ingin berbicara dengan Manggada dan Laksana, Nyai” jawab suara itu.

Nyi Prawara termangu-mangu. Sementara Manggada dan Laksana melangkah mendekati pintu butulan. Tetapi Nyi Prawara telah memberi isyarat, agar mereka berhenti beberapa langkah dari pintu butulan itu.

“Tetapi siapa kau Ki Sanak?” bertanya Nyai Prawara, sementara Winih telah mempersiapkan dirinya menghadapi segala kemungkinan.

Namun suara itu terdengar lagi, “Aku tidak mengharapkan mereka keluar. Aku hanya ingin memberikan pesan”

Nyi Prawara termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun telah memberikan isyarat kepada Manggada dan Laksana untuk mendekati pintu.

“Siapakah kau Ki Sanak?” bertanya Manggada.

“Kau masih ingat aku? Ki Pandi” terdengar suara diluar.

“Ki Pandi” hampir berbareng Manggada dan Laksana mengulang nama itu.

“Ya. Dengarlah suara kedua sahabatku itu”

Manggada dan Laksana saling berpandangan. Yang kemudian terdengar adalah suara dua ekor harimau menggeram.

“Aku kenal, Ki Pandi” sahut Manggada.

“Nah, aku hanya ingin memberikan isyarat. Di banjar tua itu, saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah telah bertemu dan berbicara tentang Kiai Windu Kusuma dan orang yang mereka kenal dengan sebutan Panembahan.

Sebenarnyalah Panembahan itu adalah Panembahan yang pernah kita kenal dahulu. Yang mencari gadis-gadis bersih untuk mencuci kerisnya dengan darah gadis-gadis bersih itu. Sekarang ia pun mulai haus akan darah lagi. Nah, katakan kepada Kiai Gumrah, bahwa meskipun aku tidak berkepentingan langsung, tetapi aku akan menyertai mereka jika mereka akan pergi menemui Ki Windu Kusuma dan Panembahan itu. Salah seorang saudara seperguruannya ada pula yang bergabung dengan Kiai Windu Kuruma. Namanya Kiai Kajar”

“Ya” jawab Manggada dan Laksana yang juga sudah mendengar tentang seseorang yang bernama Kiai Kajar sebagaimana dikatakan oleh kedua orang tawanan itu.

“Karena itu, maka aku minta kau sampaikan keinginanku menyertai mereka. Kita akan bertemu lagi pada kesempatan lain. Aku ingin mendapat keterangan, apakah niatku ini diterima atau tidak. Aku tidak mempunyai pamrih apapun juga dalam soal ini, kecuali menghentikan perbuatan Panembahan yang sudah dikuasai oleh kuasa kegelapan itu” berkata suara diluar dinding.

“Apakah Ki Pandi ingin bertemu dan berbicara dengan kakek atau paman Prawara, atau bibi yang sekarang ada dirumah?” bertanya Manggada.

“Bukankah Nyi Prawara sudah mendengar kata-kataku? Bukankah aku tidak perlu mengulanginya.” bertanya Ki Pandi.

“Tetapi Ki Pandi belum berbicara dengan bibi” desis Manggada.

“Baiklah” berkata Ki Pandi, “aku mohon Nyi Prawara sudi mendengarkan aku”

“Aku mendengar Ki Sanak” jawab Nyi Prawara.

“Aku berkata sebenarnya Nyai. Aku tidak mempunyai pamrih apapun, karena kehidupan duniawi sudah lampau bagiku”

“Tetapi sebaiknya Ki Sanak bertemu dengan ayah” jawab Nyi Prawara.

“Aku akan menemuinya pada kesempatan lain” jawab Ki Pandi.

Nyi Prawara masih akan berbicara lagi. Tetapi Ki Pandi itu berdesis, “Aku mohon diri. Pertemuan di banjar itu sudah selesai. Mereka sudah datang kemari”

“Satu kesempatan Ki Sanak. Bukankah Ki Sanak dapat bertemu dengan banyak orang sekaligus?” berkata Nyi Prawara.

Tetapi sudah tidak terdengar jawaban lagi. Yang berada didalam dinding rumah itu tidak mendengar suara kaki Ki Pandi yang beringsut menjauh. Demikian pula kedua ekor harimau yang agaknya ikut bersama Ki Pandi.

“Orang itu sudah pergi” desis Laksana.

Sebenarnyalah sejenak kemudian, pintu rumah itu diketuk orang. Terdengar suara beberapa orang bercakap-cakap diluar. Bahkan terdengar suara tertawa pula diantara mereka.

Yang kemudianterdengaradalah suara Ki Prawara, “Buka pintunya Nyi”

Laksana lah yang dengan tergesa-gesa membuka pintu, sementara Winih dan ibunya justru pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman yang masih saja hangat.

Demikian pintu terbuka, maka beberapa orang telah memasuki pintu dapur. Tetapi ruang dalam rumah Kiai Gumrah yang memang tidak terlalu luas itu segera terasa sesak, sementara masih ada beberapa orang yang berdiri diluar. Namun Kiai Gumrahpun ternyata kemudian berkata “Kita semuanya akan berada diluar saja. Kita dapat duduk dimana saja, sementara minuman hangat akan disuguhkan”

Orang-orang yang sudah terlanjur berada diruang dalam itu pun keluar lagi sambil bergeremang. Namun kemudian mereka duduk tersebar di amben bambu, di bebatur rumah atau di tlundak pintu.

Tetapi ketika Manggada dan Laksana menghidangkan minuman dan makanan, maka yang duduk di telundak itu pun terpaksa berdiri.

Namun ternyata bahwa Kiai Gumrah dan kawan-kawannya dapat menikmati wedang jae dan ketela pohon rebus yang hangat bersama-sama. Sementara itu, dua orang tawanan Kiai Gumrah ada diantara mereka pula.

Beberapa saat setelah mereka meneguk minuman dan makan beberapa kerat ketela pohon, maka tiba-tiba orang-orang yang ada dihalaman itu dikejutkan oleh suara seruling yang terdengar mengalun diantara desah angin malam.

Sejenak halaman rumah Kiai Gumrah itu menjadi hening. Orang-orang yang ada dihalaman sambil minum dan makan ketela pohon itu seakan-akan telah terpukau mendengar suara seruling itu.

Namun mereka bukan saja tertarik oleh suara seruling yang ngelangut, menggetarkan jantung. Apalagi di malam yang hening. Namun mereka juga tertarik karena mereka merasakan tenaga yang terlontar bersama suara seruling itu. Tenaga itu telah menggetarkan udara malam melibat dan menyentuh perasaan orang-orang yang mendengarnya.

Kiai Gumrah lah yang kemudian bangkit berdiri dan berkata kepada kawan-kawannya, “Orang yang meniup seruling itu agaknya ingin tahu, apakah jantung kita masih tetap berdegup.

“Siapakah orang itu” bertanya Buta Ijo, “apakah aku harus berteriak untuk menghentikan suara seruling itu”

“Bukan suara seruling itu yang berhenti” jawab juragan gula, “tetapi tetangga-tetangga Kiai Gumrahlah yang akan terbangun semuanya”

Buta Ijo itu tertawa. Justru berkepanjangan.

Kiai Gumrah tidak mencegahnya. Ia tahu, bahwa Buta Ijo itu tidak senang mendengar suara seruling yang ngelangut. Seakan-akan ratapan dari dalam dasar luweng yang sangat dalam.

Tetapi suara seruling itu tidak berhenti. Nadanya justru meninggi, seakan-akan menggapai lapisan awan di tataran langit ketujuh. Namun kemudian menukik menyambar seperti burung elang yang sering nampak berterbangan diatas padukuhan itu.

“Setan itu” geram Buta Ijo.

“Tenanglah” berkata juragan gula itu, “kau tidak usah menjadi gelisah seperti itu. Bukankah suara seruling itu tidak mengganggu kita?”

“Memang tidak. Tetapi aku merasakan betapa sombongnya orang yang meniup seruling ini” jawab Buta Ijo itu.

“Aku tidak yakin, bahwa ia seorang yang sombong. Tetapi aku justru mengira bahwa orang itu ingin memperkenalkan diri” jawab Kiai Gumrah.

“Kau rasakan suara itu mulai menggelitik?” bertanya Buta Ijo.

“Hanya menggelitik. Tidak menyakiti” jawab Kiai Gumrah.

“Aku lebih senang disakiti daripada digelitik” jawab Buta Ijo itu.

Namun tiba-tiba saja Manggada yang ada diruang dalam melangkah keluar. Sejenak ia berdiri termangu-mangu.

Namun kemudian katanya kepada Kiai Gumrah, “Kek, barangkali aku tahu, siapakah yang meniup seruling itu”

“He, darimana kau tahu?” bertanya Buto Ijo itu dengan serta-merta.

Manggada memang ragu-ragu. Tetapi Kiai Gumrah itu pun berkata, “Katakan apa yang kau ketahui”

Manggada menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan jantungnya yang berdetak semakin keras karena semua mata memandang kearahnya. Namun kemudian iapun berkata, “Kek. Aku menduga bahwa yang meniup seruling itu adalah Ki Pandi”

“Siapakah Ki Pandi itu?” bertanya orang yang selalu menyebut dirinya berilmu tinggi.

“Orang yang memiliki kedua ekor harimau yang selalu datang setiap saat diperlukan. Seakan-akan mereka tahu kapan mereka harus datang membantu” jawab Manggada.

“Orang bongkok itu” berkata Kiai Gumrah kemudian.

“Orang bongkok dari hutan Jatimalang?” bertanya orang yang kekurus-kurusan yang lebih banyak memejamkan matanya dan terkantuk-kantuk. Namun dapat menangkap semua pembicaraan disekitarnya dengan jelas.

“Ia tidak berasal dari hutan Jatimalang” jawab orang yang bertubuh sedang, berkumis panjang, “ia memang pernah tinggal di hutan itu. Tetapi tidak terlalu lama”

“Kiai mengenalnya?” bertanya Manggada,

“Pada umumnya kami mengenalnya” jawab Kiai Gumrah, “tetapi tidak terlalu akrab”

“He, darimana kau tahu bahwa yang meniup seruling itu orang bongkok dari Jatimalang?” bertanya Buta Ijo.

“Kami berdua pernah tinggal bersamanya. Bersama Ki Ajar Pangukan dibelakang hutan Jatimalang” jawab Manggada.

Semua orang justru tertarik pada pengakuan Manggada itu kecuali Kiai Gumrah, karena ia pernah mendengarnya.

“Jadi kau juga pernah tinggal di hutan Jatimalang?” bertanya orang yang menyebut dirinya berilmu tinggi.

“Ya, Kiai” jawab Manggada, “kami datang ke belakang hutan Jatimalang bersama Ki Wiradadi, seorang yang mencari anak gadisnya yang hilang. Kami bertemu dengan Ki Ajar Pangukan dan Ki Pandi. Bahkan kemudian sekelompok prajurit Pajang yang mencium keberadaan Panembahan Lebdagati di belakang hutan Jatimalang, dilereng gunung, telah datang pula. Tetapi Panembahan Lebdagati itu berhasil melepaskan diri”

“Aku yakin bahwa Panembahan dibelakang hutan Jatimalang itu tentu Panembahan yang bekerja bersama Kiai Windu Kusuma dan Kiai Kajar” berkata Kiai Gumrah.

“Kita memang harus menghancurkan mereka. Kita tidak usah menunggu prajurit Pajang. Kita akan menyelesaikan persoalan dengan Kiai Windu Kusuma itu sendiri” berkata juragan gula itu.

Semuanya mengangguk-angguk. Suara seruling itu masih terdengar, mengalun menggetarkan udara malam yang terasa semakin dingin.

Tetapi ketika mereka mengetahui bahwa yang membunyikan seruling itu adalah orang bongkok dari hutan Jatimalang, maka mereka tidak lagi merasa sangat terganggu. Getaran yang dilontarkan memang bukan getaran yang dapat mengguncang jantung. Namun seperti yang dikatakan oleh Kiai Gumrah, orang bongkok itu seakan-akan ingin memperkenalkan dirinya.

Manggada pun kemudian berkata lagi, “Ki Pandi pernah langsung bertempur dengan Panembahan. Namun Panembahan itu berhasil melepaskan diri. Agaknya usahanya untuk menghentikan langkah-langkah Panembahan yang dipengaruhi oleh kuasa kegelapan itu tidak akan berhenti”

“Apakah orang bongkok itu selalu membawa seruling?” bertanya orang yang terkantuk-kantuk itu.

“Sepengetahuanku, ia memang mempunyai sebuah seruling” jawab Manggada.

“Kenapa ia tidak menemui kami sekarang?” bertanya Buta Ijo.

“Ia memang telah datang. Ia berbicara dengan kami. Juga dengan bibi Prawara. Tetapi Ki Pandi masih belum bersedia menemui kakek sekarang. Pada satu saat ia memang akan berusaha untuk dapat berbicara dengan kakek, karena Ki Pandi telah menyatakan untuk menyertai kakek dan saudara-saudaranya pergi ke sarang Kiai Windu Kusuma. Bahkan Ki Pandi juga mengetahui bahwa disana ada seorang yang bernama Kiai Kajar”

“Darimana ia tahu?” bertanya Kiai Gumrah.

“Ki Pandi tidak mengatakannya, kek” jawab Manggada.

Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Biarlah aku menunggu kedatangannya. Tetapi jika kami sudah siap melangkah dan orang itu belum juga datang, maka aku tidak akan menunggunya lebih lama lagi”

Demikianlah, maka seorang diantara saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah itupun telah mengeluarkan rinding dari kantong ikat pinggangnya yang besar.

Kemudian diletakannya rinding itu dimulutnya. Sejenak kemudian, beralunlah lagu yang berdengung menggetarkan udara malam, menyentuh getaran suara seruling yang masih terdengar. Dengan irama yang berbeda kedua lontaran lagu itu mengalun meninggi. Namun seakan-akan semakin lama semakin tinggi, sehingga akhirnya keduanya berhenti sama sekali. Rasa-rasanya kedua irama itu terputus setelah keduanya yakin bahwa nada yang terlontar tidak akan mampu mencapai bintang.

Orang yang membunyikan rinding itu menarik nafas panjang. Kemudian tangannya menggapai mangkuk minumannya. Beberapa teguk minuman ditelannya seakan-akan orang itu baru saja berlari-lari mengelilingi padukuhan.

Manggada yang sudah duduk pula di bebatur rumah nafasnya menjadi tersengal-sengal. Namun kemudian ia pun bangkit dan melangkah masuk keruang dalam. Didalam dilihatnya Laksana juga terduduk diam.

Nyi Prawaralah yang kemudian menghampirinya. Dipandangnya Manggada dan dimintanya duduk disebelah Laksana.

Sambil memberikan dua mangkuk minuman, Nyi Prawara berkata, “Minumlah”

Manggada dan Laksanapun kemudian minum beberapa teguk. Dada mereka kemudian terasa lapang. Meskipun suara seruling dan rinding yang berbaur dan melontarkan getaran itu tidak berniat menyerang siapapun juga, tetapi rasa-rasanya nafas kedua orang anak muda itu menjadi sesak.

“Kedua irama itu masih belum dapat luluh” desis Nyi Prawara, “Tetapi dalam keadaan yang lebih baik, kedua irama itu akan dapat diatur lebih serasi, sehingga dapat saling menyerap atau saling memperkuat sesuai dengan kebutuhan”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Ketika mereka sempat melihat Winih yang keluar dari dapur, maka nampaknya Winih sama sekali tidak terpengaruh oleh kedua irama yang masih terasa saling berebut untuk saling mengtasasi.

Dengan demikian maka Manggada dan Laksana itu justru merasa semakin kecil. Keduanya adalah orang yang paling lemah diantara sekian banyak orang yang berkumpul itu. Meskipun mereka sudah memiliki bekal ilmu kanuragan, namun ilmu mereka ternyata masih belum memadai dibandingkan dengan orang-orang yang berilmu tinggi itu.

Dalam pada itu, tiba-tiba Buta Ijo yang ada di halaman itu berkata lantang, “He, aku akan pulang. Jika kalian masih akan duduk disini sepanjang malam, terserah saja”

Namun orang yang terkantuk-kantuk itu pun menyahut, “Aku juga akan pulang. Aku sudah mengantuk”

Orang yang selalu menyebut dirinya berilmu tinggi itu menyahut, “Aku tidak pernah melihat kau tidak mengantuk”

Yang lain pun tertawa hampir berbareng. Tetapi orang itu tidak menghiraukannya. Ia justru sudah mulai melangkah keregol halaman.

Namun juragan gula itu berkata, “He, kau belum minta diri kepada orang yang telah menyuguhkan minuman dan makanan ini. Begitu kau merasa kenyang, begitu kau pergi”

“O, baiklah. Tetapi kepada siapa?” orang itu bertanya.

“Sudahlah” berkata Kiai Gumrah, “biarlah aku yang menyampaikannya”

Demikianlah, maka saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah itu pun segera minta diri. Satu-satu mereka keluar dari regol halaman. Melihat suasana diluar dan kemudian melangkah sendiri-sendiri atau sebanyak-banyaknya berdua. Mereka menuju kearah yang berbeda-beda.

Namun jalan-jalan sudah menjadi sangat sepi. Tidak ada seorang pun yang lewat. Meskipun demikian, mereka mendengar kotekan anak-anak muda yang meronda agak dikejauhan.

Beberapa saat kemudian, rumah Kiai Gumrah pun menjadi sepi. Kedua orang tawanan itu pun sudah berada diruang dalam pula. Bagaimanapun juga, kepercayaan Kiai Gumrah dan keluarganya kepada mereka masih belum utuh, sehingga Kiai Gumrahpun berkata, “Maaf Ki Sanak. Kami masih akan mengikat kalian pada pembaringan kalian. Kami tidak dapat berbuat lain. Jika malam ini kami semuanya tertidur nyenyak, maka banyak hal akan dapat terjadi. Sementara itu kalian sudah mendengar rahasia besar sebagai keputusan pembicaraan diantara kami”

Kedua orang itu tidak dapat menolak. Mereka harus memberikan tangan dan kaki mereka untuk diikat dengan pembaringan.

Meskipun demikian, diluar pengetahuan kedua orang tawanan itu, Kiai Gumrah dan keluarganya telah mengatur diri agar kedua orang itu tetap dapat diawasi setiap saat. Manggada dan Laksanapun ikut pula mendapat tugas bergantian.

Namun sebelum seisi rumah itu sempat tidur, mereka terkejut ketika mereka mendengar suara geramang beberapa orang yang berada dihalaman. Bahkan kemudian terdengar pintu diketuk orang.

Kiai Gumrah dan bahkan seisi rumah itu telah berkumpul diruang dalam. Namun yang terdengar kemudian adalah suara anak-anak muda yang memanggil Manggada dan Laksana.

Ketika kemudian pintu dibuka, seorang telah menyerahkan sebakul kecil nasi dan lauk-pauknya sambil bertanya, “He, kenapa kau tidak datang ke banjar? Kami makan-makan disana bersama Ki Bekel untuk menghormati perubahan tatanan kehidupan yang terjadi di padukuhan ini”

“O” desis Manggada, “sayang sekali. Kami sedang sibuk dengan persoalan kami sendiri”

“Bukankah persoalan keluarga kalian dapat ditingalkan sebentar?” bertanya salah seorang anak muda itu.

“Sebenarnya demikian. Tetapi beberapa orang saudara kami baru saja pulang. Mereka datang berkunjung setelah untuk waktu yang lama kami berpisah” jawab Manggada.

Anak-anak muda itu tidak bertanya lagi. Namun yang menyerahkan bakul itu berkata, “Kami memaksa Ki Bekel untuk menyisihkan hidangan sekedarnya. Kami ingin kalian berdua juga ikut menikmatinya. Semula Ki Bekel berkeberatan. Tetapi akhirnya ia tidak dapat mencegahnya”

“Terima kasih” berkata Manggada dan Laksana bersamaan.

Sepeninggal anak-anak muda itu, Kiai Gumrah menarik nafas panjang. Ki Bekel agaknya memang sudah mencegahnya. Tetapi anak-anak itu tidak lagi dapat ditahan. Untunglah bahwa saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah sudah berlalu.

Demikianlah, maka keluarga Kiai Gumrah itu telah mempergunakan sisa malam untuk beristirahat, meskipun ada diantara mereka yang harus berjaga-jaga.

Pagi-pagi benar, seperti biasanya, seisi rumah itu sudah terbangun. Nyi Prawara dan Winih mulai sibuk di dapur. Sementara Manggada dan Laksana telah memerlukan pergi ke banjar untuk membersihkan halaman. Sedangkan seperti biasa pula. Kiai Gumrah mulai sibuk dengan bumbung-bumbung legennya.

Namun dalam pada itu, maka rencana yang dibuat oleh Kiai Gumrah dan saudara-saudara seperguruannya sudah mulai pada langkah yang menentukan. Mereka mulai mempersiapkan diri menyerang sarang Kiai Windu Kusuma. Di tempat itu tinggal pula orang yang disebut Panembahan yang berakibat pada kuasa kegelapan, serta Kiai Kajar, justru saudara seperguruan yang dianggap salah satu dari orang-orang terbaik.

Dirumah, Kiai Gumrah dan keluarganya mengawasi kedua orang tawanannya semakin ketat. Kedua orang itu sudah mendengar rencana terpenting dari Kiai Gumrah dan saudara-saudara seperguruannya. Sebelum mereka menyelesaikan persoalan mereka dengan Kiai Windu Kusuma, maka kedua orang itu sama sekali tidak akan diijinkan berhubungan dengan orang lain.

Namun pagi itu, ketika Kiai Gumrah telah mengumpulkan bumbungnya yang baru saja dipungut dari batang-batang kelapa dan dituang di tempayan, sementara Manggada dan Laksana yang sudah terbiasa membantunya sedang sibuk dengan perapian, maka merekapun telah dikejutkan oleh kedatangan seseorang yang pernah mereka kenal. Kundala.

Kiai Gumrah memang terkejut. Dengan tergopoh-gopoh dipersilahkan Kundala itu masuk kedapur.

Tetapi Kundala itu berkata, “Waktuku hanya sedikit sekali, Kiai”

“Apakah kau sedang bertugas?” bertanya Kiai Gumrah.

“Ya, Kiai. Aku harus menghubungi seseorang di pasar dan membawanya ke sarang kami”

“Apakah kau sudah pergi ke pasar?” bertanya Kiai Gumrah.

“Aku baru berangkat ke pasar. Aku memerlukan singgah sebentar” jawab Kundala.

“Apakah kau yakin bahwa kau tidak diawasi?” bertanya Kiai Gumrah pula.

“Aku yakin, karena aku memilih jalan bulak” jawab Kundala.

“Sekarang, apa yang akan kau katakan?” bertanya Kiai Gumrah selanjutnya.

“Panembahan tidak sabar lagi. Malam setelah tiga hari mendatang, rumah ini akan didatanginya dengan kekuatan penuh. Orang yang akan aku hubungi adalah salah satu diantara orang terpenting dilingkungan kelompok Panembahan”

“Apakah Panembahan itu bernama Lebdagati?” bertanya Kiai Gumrah.

“Aku tidak tahu Kiai. Yang aku ketahui hanyalah Panembahan begitu saja”

Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Katanya, “Jadi mereka akan datang tiga hari lagi?”

“Ya. Ada beberapa orang berilmu tinggi. Juga para pengikutnya akan dikerahkan. Mereka mempunyai tataran ilmu yang bermacam-macam. Ada yang terhitung tinggi, sedang dan ada yang sekedar mengandalkan kekuatan wadagnya saja”

“Terima kasih, Kundala. Aku akan mempersiapkan diri untuk melawan mereka” berkata Kiai Gumrah.

“Tetapi Kiai, kekuatan mereka cukup besar. Apakah tidak sebaiknya Kiai menyingkir saja? Ketika Darpati datang kemari bersama beberapa orang kawannya, itu tentu hanya sekedar penjajagan, meskipun Darpati bersama tujuh orang lainnya harus dikorbankan, dan bahkan ada diantara mereka yang berilmu tinggi hampir setingkat Darpati sendiri. Tetapi yang dipersiapkan nanti adalah jauh lebih besar dari itu. Mungkin berlipat tiga atau ampat”

“Kau akan ikut serta?” bertanya Kiai Gumrah.

“Ya, Kiai. Aku akan ikut bersama mereka” jawab Kundala.

Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Ketika kemudian Ki Prawara datang, maka dipersilahkannya Ki Prawara untuk ikut berbincang.

Namun agaknya waktu Kundala amat sempit. Karena itu, maka katanya, “Aku harus segera pergi ke pasar. Sebentar lagi siang itu tentu menyusul untuk mengawasi perjalananku”

“Terima kasih Kundala. Berhati-hatilah” pesan Kiai Gumrah.

Demikianlah, maka Kundalapun segera meninggalkan tempat itu. Manggada dan Laksana masih tetap duduk diperapian. Sementara Nyi Prawara dan Winih pun telah mendekat Kiai Gumrah untuk ikut mendengar keterangan Kundala.

Kiai Gumrah pun tidak merahasiakannya pula. Bahkan kepada Manggada dan Laksana. Namun Kiai Gumrah masih menjaga, agar para tawanannya yang masih saja diikat diruang dalam tidak ikut mendengarnya.

“Jadi, langkah apa yang akan kita ambil?” bertanya Ki Prawara.

“Aku akan berbicara dengan beberapa orang yang dapat aku hubungi. Menurut pendapatku, rencana kita tetap. Kita akan menyerang sarang mereka. Tentu sebelum mereka datang lebih dahulu”

“Waktunya sangat sempit, ayah” desis Nyi Prawara.

“Kita tidak mempunyai pilihan lain. Menurut pendapatku, kita akan lebih banyak mendapat kesempatan jika kita menyerang. Tidak hanya sekedar bertahan”

“Lalu, bagaimana dengan pusaka-pusaka itu?” bertanya Winih.

“Kita akan membawanya. Kita akan mempergunakannya. Tentu orang yang paling bertanggung jawablah yang akan maju ke medan dengan mempergunakan senjata pusaka perguruan itu. Kiai Kajar tentu akan berkerut jantungnya melihat pusaka itu langsung kita pergunakan di medan”

Ki Prawara menarik nafas panjang. Katanya, “Tetapi bagaimana dengan songsong itu?”

“Kita akan membawanya pula. Songsong itu juga dapat dipergunakan sebagai senjata. Bukankah kau tahu? Jari-jarinya yang terbuat dari baja menjadikan songsong itu tidak mudah rusak. Jika kainnya koyak, bukankah dapat diganti lagi dengan yang baru dan diwarnai sebagaimana warna semula”

Ki Prawara mengangguk-angguk. Katanya, “Jika demikian, kita harus bergerak lebih cepat dari yang direncanakan”

“Aku akan menemui juragan gula itu dan selanjutnya pergi ke pasar” berkata Kiai Gumrah, “mudah-mudahan aku dapat melihat Kundala selain menemui saudara-saudaranya Hati-hatilah dirumah. Meskipun disiang hari dapat saja terjadi sesuatu”

Dengan membawa sisa gula yang ada, maka Kiai Gumrah pun telah pergi ke rumah juragan gula. Yang penting baginya, bukannya menyerahkan gulanya dan menerima uangnya, tetapi ia harus bergerak lebih cepat dari yang direncanakan.

Hari itu juga jaringan hubungan saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah mulai bergerak. Sebelum senja, maka semua orang harus berhasil ditemui. Mereka bukan sekedar melakukan hubungan, tetapi mereka sudah memutuskan, bahwa malam ketiga, semalam sebelum Kiai Windu Kusuma merencanakan untuk mengambil pusaka-pusaka itu, mereka akan menyerang sarangnya.

Rencana yang disusun dengan cepat dipasar, telah tersebar kepada semua saudara seperguruan Kiai Gumrah. Dimana mereka harus berkumpul, saatnya dan kelengkapan yang harus disediakan.

Sementara itu, ketika Kiai Gumrah masih berada di pasar bersama dua tiga orang penjual gula, termasuk juragan gula itu, ternyata mereka sempat melihat orang yang dijemput oleh Kundala. Dengan sengaja Kundala mengajak orang itu berjalan melewati sisi pasar yang khusus dipergunakan bagi para pedagang dan penjual gula kelapa.

“Dua orang ” desis Kiai Gumrah.

Juragan gula itu mengangguk-angguk. Katanya, “Menurut ingatanku, yang tua itu datang dari perguruan Susuhing Angin.

“Ya. Aku masih ingat. Yang muda itu tentu salah seorang dari perguruan itu juga. Mungkin murid utama dari pemimpin perguruan Susuhing Angin itu” jawab Kiai Gumrah.

“Iblis itu telah melibatkan perguruan yang banyak dikenal itu pula”

“Apakah orang itu tidak mengenal kita?” desis Kiai Gumrah.

“Mereka tidak sempat berpaling kearah kita. Apalagi kita sempat menyembunyikan wajah kita. Tetapi agaknya mereka memang tidak mengira bahwa kita ada disini” jawab juragan gula itu.

Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Ia pun berpendapat, bahwa kedua orang yang berjalan bersama Kundala itu tidak melihat mereka diantara keranjang-keranjang gula yang berserakan.

Ketika Kiai Gumrah tiba di rumahnya, maka ia pun telah mempersiapkan segala sesuatu. Bukan saja senjata-senjata mereka serta pusaka-pusaka yang mereka rawat dan mereka jaga dengan baik itu. Tetapi juga persiapan ketahanan jiwani untuk menghadapi satu tugas yang sangat berat.

“Kita, seisi rumah ini akan berangkat semuanya” berkata Kiai Gumrah, “semua pusaka yang ada akan ikut dalam pertempuran”

Nyi Prawara menarik nafas dalam-dalam. Katanya

“Baiklah. Kita semuanya harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya.

Namun tiba-tiba saja hampir diluar sadarnya Manggada bertanya, “Bagaimana dengan Ki Pandi?”

“Jika aku bertemu sebelum saat pertempuran terjadi, maka aku akan memberitahukan kepadanya. Jika ia datang terlambat, apaboleh buat” jawab Kiai Gumrah.

Manggada tidak bertanya lagi. Ia sadar, bahwa Kiai Gumrah tidak dapat bergantung kepada Ki Pandi. Apalagi setelah ia mendengar bahwa Panembahan akan mengambil langkah terakhir karena purnama sudah menjadi semakin dekat.

Dihari berikutnya, maka beberapa orang sengaja datang kepasar untuk saling bertemu. Sedangkan disore hari, bahkan sampai malam, beberapa orang yang lain telah datang pula kerumah Kiai Gumrah untuk mendapatkan penjelasan.

Namun saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah benar-benar sudah siap untuk menghadapi tugas yang berat itu.

Kepada saudara-saudara seperguruannya. Kiai Gumrah juga sudah mengatakan niat Ki Pandi untuk bersama mereka menghadapi Kiai Windu Kusuma dan orang yang disebut Panembahan itu.

“Satu hal yang barangkali ada diantara kalian yang belum mengetahui, bahwa Ki Pandi memelihara dua ekor harimau yang akan dapat diajak bersamanya dalam tugastugas beratnya” berkata Kiai Gumrah.

“Bagaimana kita dapat menghubunginya?” bertanya orang yang selalu menyebut dirinya berilmu tinggi.

“Kita hanya dapat menunggu orang bongkok itu datang kepada kita” jawab Kiai Gumrah.

Dalam pada itu, kedua orang tawanan yang ada di rumah Kiai Gumrah itu pun melihat kesibukan yang semakin meningkat. Tetapi mereka merasa bahwa mereka sama sekali tidak berhak untuk bertanya apapun kecuali jika Kiai Gumrah mengajak mereka berbicara.

Ketika matahari terbit dihari berikutnya, maka keluarga Kiai Gumrah mulai dibayangi ketegangan. Hari itu adalah hari yang menentukan. Menjelang malam mereka akan berkumpul ditempat yang ditentukan, kemudian mereka akan menyerang sarang Kiai Windu Kusuma yang didalamnya terdapat pula o-rang yang disebut Panembahan, Kiai Kajar serta orang yang baru datang dari perguruan Susuhingj Angin.

Namun Kiai Gumrah masih juga pergi ke pasar untuk mengadakan hubungan terakhir sebelum segalanya dimulai.

Dipasar, Kiai Gumrah juga melihat Kundala berjalan dengan seorang kawannya. Namun Kiai Gumrah merasa bersukur bahwa Kundala masih mendengar suara nuraninya yang paling dalam, sehingga ia tidak mengatakan kepada kawannya tentang kegiatan Kiai Gumrah itu. Sementara Kiai Windu Kusuma masih juga mempercayainya meskipun kemampuan Kundala dianggap kurang memadai lagi diantara para pengikut Kiai Windu Kusuma. Meskipun demikian, Kundala masih sering mendapat tugas-tugas khusus sebagaimana dilakukannya itu. Meskipun hanya sekedar sebagai penghubung.

Dalam pada itu Kiai Gumrah masih juga bertemu dan berbicara dengan beberapa orang saudara seperguruannya. Pertemuan itu memang penting, justru pada saat-saat terakhir menjelang pertempuran yang menentukan.

Untuk meyakinkan keberhasilan rencananya, Kiai Windu Kusuma memang mengirimkan orang untuk melihat keadaan rumah Kiai Gumrah. Yang mendapatkan tugas memang bukan Kundala, karena Kiai Windu Kusuma mencemaskan, bahwa Kundala akan dapat dikenali oleh Kiai Gumrah atau cucu-cucunya.

Orang itu memang melaporkan bahwa terdapat kesibukan dirumah penjual gula itu. Namun kesibukan itu masih terbatas sekali. Orang itu belum melihat usaha-usaha Kiai Gumrah untuk menyusun pertahanan di rumahnya. Orang-orang yang berdatanganpun telah meninggalkan rumahnya. Bahkan tidak ada lagi nampak orang-orang yang bermalam dirumahnya.

Namun Kundala tahu benar, kapan orang itu mengawasi rumah Kiai Gumrah, dan kapan rumah itu terlepas dari pengawasan. Di siang hari rumah itu justru jarang sekali diawasi. Sekali-sekali memang ada orang yang ditugaskan. Namun dikesempatan lain, Kiai Windu Kusuma sekedar melepaskan burung-burung elang yang telah mendapat latihan khusus itu.

Pada hari yang terakhir itu, Kiai Gumrah memang tidak terlalu lama berada di pasar. Ketika matahari memanjat langit semakin tinggi, justru saat pasar sedang mencapai puncak keramaiannya, Kiai Gumrah telah meninggalkan pasar, karena masih banyak yang harus dipersiapkan. Ia tidak dapat ingkar akan tugas yang dibebankan kepadanya, karena ia dianggap saudara seperguruan yang terbaik. Karena itu, ia akan memikul tanggung-jawab terberat atas rencana mereka. Penyerangan ke sarang Kiai Windu Kusuma, karena Kiai Gumrah dan saudara-saudara seperguruannya menganggap langkah itu merupakan cara yang terbaik untuk mempertahankan diri serta mempertahankan hak mereka.

Namun ketika Kiai Gumrah mendekati sudut padukuhan-nya, ia pun tertegun. Ia melihat seseorang yang duduk diatas seonggok batu padas dibawah sebatang pohon turi.

“Orang bongkok itu” desis Kiai Gumrah.

Orang itu memang Ki Pandi. Demikian ia melihat Kiai Gumrah melangkah mendekatinya, maka ia pun mulai beringsut.

“Apakah kau menunggu aku?” bertanya Kiai Gumrah.

“Ya” jawab orang itu.

“Ada sesuatu yang ingin kau katakan?” bertanya Kiai Gumrah pula.

“Aku sudah berpesan kepada cucumu, bahwa aku akan menemuimu sekitar dua tiga hari kemudian. Nah, hari ini aku memerlukan menemuimu”

“Ya. Cucu-cucuku sudah mengatakannya. Juga sudah mengatakan niatmu untuk bersama-sama menghancurkan Panembahan yang mengabdi pada kuasa kegelapan itu”

“Aku menempatkan diri dalam pasukanmu. Aku menunggu perintahmu. Aku hanya seorang diri bersama dua ekor harimauku. Mereka akan ikut bersamaku” berkata Ki Pandi.

Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Meskipun tidak terlalu akrab, namun Kiai Gumrah mempercayai Ki Pandi, sehingga karena itu, maka Kiai Gumrah pun telah memberitahukan rencananya untuk menyerang malam nanti.

“Apakah kalian sudah menguasai medan?” bertanya Ki Pandi.

“Saat kami berkumpul nanti, dua orang yang kami tugaskan untuk melihat dan mengamati keadaan akan memberikan laporan tentang medan. Selain itu, ada dua orang tawanan kami yang bersedia menguraikan serba sedikit sasaran yang akan kita datangi malam nanti. Juga sedikit tentang kekuatan mereka”

“Aku juga mempunyai beberapa keterangan. Aku juga akan membantu memberikan keterangan itu jika diperlukan nanti” berkata Ki Pandi kemudian.

“Terima kasih. Mudah-mudahan keterangan yang kami dapatkan itu akan mencukupi, sehingga kami tidak salah menilai lawan serta menilai medan” berkata Kiai Gumrah.

Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya, “Aku nanti akan datang bersama kedua ekor harimauku”

Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih atas kesediaanmu. Mudah-mudahan kita berhasil”

Ki Pandi mengangguk kecil. Katanya, “Kegilaan Panembahan itu harus dihentikan. Ia tidak berhak lagi hidup dimuka bumi karena bayangan kegelapan yang menguasai jantungnya.”

“Kami akan menunggumu. Kami berharap bahwa kami akan mendapat keterangan yang cukup sehingga kami tidak justru akan terjebak disarang mereka” berkata Kiai Gumrah kemudian sambil melangkah melanjutkan perjalanannya.

Sementara itu dikejauhan dua ekor burung elang terbang dengan cepat melintas. Tetapi Kiai Gumrah sudah hilang dibalik regol padukuhannya.

Ketika Kiai Gumrah itu berpaling, maka orang bongkok itu sudah tidak dilihatnya lagi.

“Setan bongkok itu memang berilmu sangat tinggi” desis Kiai Gumrah.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, Kiai Gumrah sudah berada dirumahnya. Iapun segera mengatur segala sesuatunya yang berhubungan dengan rencana mereka. Kepada seisi rumahnya yang berkumpul Kiai Gumrah berkata, “Sebelum rumah ini mendapat pengawasan yang lebih ketat, karena besok mereka akan menyerang kita, maka sebaiknya kalian berada di banjar tua itu. Kita akan berangkat dari banjar itu. Yang mereka awasi tentu rumah kita”

Seisi rumah itu memang dapat mengerti. Karena itu, mereka tidak bertanya terlalu banyak. Ki Prawara, Nyi Prawara dan Winih segera berbenah diri. Nyi Prawara dan Winih pun segera mengenakan pakaian khusus mereka, siap untuk menghadapi segala kemungkinan.

Manggada dan Laksanapun telah bersiap-siap pula. Namun mereka berdua merasa diri mereka terlalu kecil diantara keluarga rumah itu. Meskipun keduanya telah memiliki bekal olah kanuragan, namun dibanding dengan ilmu Winih, masih terpaut agak terlalu banyak. Apalagi dengan kedua orang tua mereka dan Kiai Gumrah, serta saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah.

Namun Laksana yang melihat Winih dalam pakaian khususnya berdesis, “Gadis itu nampak semakin cantik. Tubuhnya semakin kelihatan ramping, namun tangkas dan lincah”

“Kau akan berguru kepadanya?” bertanya Manggada sambil tersenyum.

Laksana pun tersenyum pula. Katanya, “Malam nanti kita akan menjadi kelinci diantara sekawanan harimau”

Manggada mengangguk-angguk. Katanya kemudian “Satu pengalaman yang menarik”

“Apakah kita masih sempat menganggap yang akan terjadi malam nanti satu pengalaman?” bertanya Laksana.

Manggada menarik nafas dalam-dalam. Dengan dahi yang berkerut ia menjawab, “Apapun yang akan terjadi atas diri kita, maka kita harus siap mengalaminya. Sejak semula kita sendirilah yang berniat untuk melibatkan diri. Pada hari-hari pertama kita disini, Kiai Gumrah sudah berusaha mengusir kita agar kita tidak terlibat. Tetapi kitalah yang berkeras untuk tetap tinggal”

Laksana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Semuanya sudah terjadi. Kita memang tidak dapat melangkah surut”

Pembicaraan keduanyapun terputus. Kiai Gumrah minta agar mereka semuanya pergi ke banjar.

“Jika mereka mengirimkan orang, maka mereka tidak akan mengamati banjar tua itu” berkata Kiai Gumrah.

Tetapi rencana itu tertunda, ketika Manggada melihat dua ekor elang yang berterbangan.

“Tidak akan lama” berkata Kiai Gumrah, “justru tampakkan dirimu di halaman”

Manggada dan Laksanapun kemudian justru telah memungut kayu bakar yang sedang dijemur di halaman samping, sekedar untuk menyatakan bahwa dirumah itu tidak terdapat perubahan apa-apa. Penghuninya masih tetap ada ditempat dengan kesibukan sehari-hari pula.

Seperti yang diduga, maka elang itu tidak terlalu lama berputar-putar. Beberapa saat kemudian, maka kedua ekor elang itu pun segera pergi tanpa melakukan gerakan-gerakan yang menarik perhatian.

“Hati-hatilah” pesan Kiai Gumrah, “tidak terlalu jauh dari tempat ini tentu ada pengikut Kiai Windu Kusuma yang melihat gerakan-gerakan elang itu serta memberikan tafsiran artinya. Biarlah Manggada dan Laksana melihat keluar halaman.”

Manggada dan Laksana pun kemudian telah pergi ke regol halaman. Satu dua orang lewat dijalan didepan rumah Kiai Gumrah. Namun mereka sama sekali tidak memperhatikan rumah itu.

Sementara itu, Ki Prawara, Nyi Prawara dan Winih telah pergi ke banjar lewat pintu butulan yang dibuat pada dinding yang memisahkan halaman rumah Kiai Gumrah dengan halaman banjar. Pintu itu sangat berarti bagi Kiai Gumrah selama ia bertugas menjaga dan membersihkan banjar tua itu.

Seperti keinginan Kiai Gumrah, maka Ki Prawara, Nyi Prawara dan Winih telah diperintahkan pula untuk membawa tombak-tombak pusaka yang disimpannya serta sebuah songsong yang berwarna kuning keemasan dengan lingkaran hijau itu.

Ketika Manggada dan Laksana kemudian masuk kembali kedalam rumah, maka Kiai Gumrahpun telah memerintahkan agar Manggada dan Laksana juga pergi ke banjar.

Sejenak keduanya termangu-mangu. Dengan ragu Manggada bertanya, “Bagaimana dengan kedua orang tawanan itu?”

“Biarlah mereka tinggal dirumah” jawab Kiai Gumrah.

“Tetapi…………………..”Manggada tidak meneruskan kata-katanya, karena Kiai Gumrah telah menyahutnya sambil tersenyum, “aku akan membuat mereka tertidur untuk semalam suntuk”

Manggada dan Laksana menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia percaya bahwa Kiai Gumrah dapat melakukannya. Ia akan dapat menyentuh simpul-simpul syaraf sehingga membuat seseorang tertidur atau seolah-olah membeku pada sebagian tubuhnya.

Karena itu, maka Manggada dan laksana tidak bertanya lagi. Keduanya pun kemudian telah menyusul mereka yang sudah berada di banjar.

Meskipun rumah itu seolah-olah telah menjadi kosong, tetapi Kiai Gumrah tidak menutup pintu depan. Kiai Gumrah memang ingin memberikan kesan bahwa tidak ada perubahan apa-apa terjadi di rumah itu, sehingga orang-orang yang mengamatinya tidak akan menaruh banyak perhatian. Bahkan mereka akan menganggap bahwa Kiai Gumrah masih belum mengetahui rencana Kiai Windu Kusuma dan Panembahan Lebdagati untuk datang mengambil pusaka-pusaka yang mereka anggap keramat itu.

Sebenarnyalah bahwa pengikut Kiai Windu Kusuma yang lewat didepan rumah Kiai Gumrah tidak melihat kesan apapun. Bahkan ia masih melihat lewat pintu regol halaman rumahnya yang terbuka, Kiai Gumrah yang sedang menyapu halaman rumahnya.

Ketika kemudian senja turun, Kiai Gumrah masih juga menyalakan lampu-lampu dirumahnya. Sedangkan Manggada dan Laksana yang sudah berada di banjar, juga telah menyalakan lampu-lampu di banjar tua itu.

Namun demikian Kiai Gumrah menutup pintu rumahnya ketika malam turun, maka rumah itu telah menjadi kosong. Yang ada didalam hanyalah kedua orang tawanan Kiai Gumrah yang tangan dan kakinya masih terikat, sementara dengan ketukan pada simpul syarafnya telah membuat kedua orang itu tertidur.

Sekeluarga, Kiai Gumrah pun kemudian telah meninggalkan banjar tua itu pula. Lewat lorong-lorong sempit di paduku-hannya. Dengan hati-hati mereka menghindari pertemuan dengan seseorang agar pusaka-pusaka yang mereka bawa tidak menimbulkan persoalan.

Demikianlah, pada saat yang ditentukan, maka saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrahpun telah berkumpul disebuah kebun yang kosong dekat sebuah kuburan.

Ki Prawara yang berdiri didekat Manggada dan Laksana sempat berdesis, “Di kuburan ini orang yang kami hormati semasa hidupnya, telah dimakamkan”

Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Dengan ragu-ragu Manggada bertanya, “Siapakah orang yang dihormati itu?”

“Ceriteranya panjang” jawab Ki Prawara, “nanti, setelah tugas kita selesai, semoga aku masih sempat, aku ceriterakan selengkapnya”

“Semoga kami berdua juga masih sempat mendengarkannya” sahut Manggada.

“Kita sama-sama berdoa” gumam Ki Prawara kemudian.

Merekapun kemudian terdiam. Agaknya Kiai Gumrah mulai berbicara dengan bersungguh-sungguh. Namun masih terbatas dengan juragan gula itu serta dua orang saudara seperguruannya yang lain.

Selagi mereka masih menunggu, maka terdengar geram dua ekor harimau yang berada dikuburan itu. Saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah yang sudah tahu bahwa Ki Pandi akan datang bersama kedua ekor harimau peliharaannya itu pun serentak berpaling kearah suara itu.

Sebenarnyalah yang muncul memang orang bongkok yang berilmu tinggi itu.

Dengan kedatangan Ki Pandi, maka pembicaraan pun segera dimulai. Saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah itu pun duduk melingkar dibawah rimbunnya pepohonan.

Dua orang yang mendapat tugas mengamati keadaan pun segera memberikan keterangan tentang sasaran yang akan mereka datangi.

“Kami telah melihat sasaran dari segala sudut” berkata salah seorang dari keduanya.

Dengan jelas orang itu menyebut ciri-ciri serta kemungkinan-kemungkinan yang dapat mereka lihat dari luar.

Kiai Gumrahlah yang kemudian melengkapi keterangan itu. Agaknya Kiai Gumrah telah berhasil menyadap keterangan terperinci dari kedua orang tawanan yang ditinggalkannya dirumah.

“Kita tidak menyerang dengan memecahkan regol halaman beramai-ramai sebagaimana pasukan segelarsepapan. Tetapi kita akan melakukannya sendiri-sendiri. Kita masing-masing akan memasuki rumah itu dari arah yang berbeda. Ingat, didalam rumah itu tinggal Kiai Windu Kusuma dengan beberapa orang berilmu tinggi. Selain mereka masih terdapat para pengikutnya yang jumlahnya cukup banyak. Selain para pengikut Kiai Windu Kusuma, maka di dalam rumah itu terdapat pula para pengikut orang yang disebut panembahan itu. Diantara mereka terdapat pula orang-orang dari perguruan Susuhing Angin dan tidak mustahil, masih ada lagi orang-orang dari perguruan lain yang terpengaruh oleh Panembahan itu”

Demikianlah, maka saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah itu pun telah membicarakan segala sesuatunya dengan cermat. Mereka menilai segala macam kemungkinan yang dapat terjadi. Isyarat-isyarat yang harus mereka berikan dari yang satu kepada yang lain agar tidak terjadi salah paham.

Terakhir Kiai Gumrah itu pun berkata, “Yang dikehendaki oleh Panembahan itu adalah pusaka-pusaka ini. Karena itu, maka tidak mustahil bahwa Panembahan itu akan langsung berusaha mengambilnya” Kiai Gumrah itu pun berhenti sejenak, lalu, “karena itu, maka pusaka-pusaka itu harus berada di tangan-tangan yang benar-benar bertanggung jawab”

Namun Ki Pandi pun memotong pembicaraan itu, “Aku tidak ingin membawa salah satu diantara pusaka-pusaka itu. Tetapi aku akan menyertai mereka yang membawanya. Aku akan minta kerelaan kalian untuk dapat bertemu langsung dengan orang yang disebut Panembahan itu, sementara kalian tentu menganggap penting untuk bertemu dengan Kiai Kajar. Menurut pendapatku, baik Panembahan itu, maupun Kiai Kajar akan berusaha untuk dapat langsung menguasai pusaka-pusaka itu, sehingga aku akan dapat menemukannya jika aku berada didekat orang yang membawa pusaka itu”

Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Katanya, “Tentu kami tidak berkeberatan. Tetapi jika Ki Pandi tidak berhasil menemui Panembahan, jangan menyalahkan kami”

Ki Pandi mengerutkan dahinya. Tetapi ia tidak menjawab.

Ternyata saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah itu telah mempercayakan pusaka-pusaka itu kepada Kiai Gumrah, juragan gula dan satu lagi diserahkan kepada Ki Prawara dan Nyi Prawara.

“Masih ada satu lagi. Siapakah yang akan membawa songsong itu?”

Kiai Gumrah termangu-mangu sejenak. Songsong itu memang tidak secara khusus dapat dipergunakan sebagai senjata. Namun songsong itu mempunyai nilai yang tinggi bagi Kiai Gumrah dan saudara-saudara seperguruannya. Karena itu, maka orang yang selalu menyebut dirinya berilmu tinggi itu berkata, “Songsong itu akan berada ditangan ketiga cucu Kiai Gumrah. Namun dua orang diantara kami harus melindunginya.”

“Bagus” sahut Buta Ijo, “tetapi jika mereka juga harus memasuki sarang Kiai Windu Kusuma dengan membawa songsong itu, bukankah sama saja artinya dengan memanggil perhatian para pengikut Kiai Windu Kusuma yang sedang bertugas”

“Tetapi kita memerlukan semua orang untuk bersaman sama memasuki lingkungan lawan. Jumlah kita yang hanya tiga belas orang ditambah dengan tiga orang cucu Kiai Gumrah itu tentu akan menjadi terlalu sedikit dibandingkan dengan jumlah lawan”

“Kau belum menghitung Ki Pandi dan kedua ekor harimaunya ” berkata Ki Prawara kemudian.

Saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah itu mengangguk-angguk, sementara Kiai Gumrah berkata, “Baiklah. Mereka akan memasuki regol halaman rumah itu setelah salah seorang diantara kita membuka pintu itu dari dalam”

“Baik” berkata juragan gula itu ”demikian pintu terbuka, maka mereka akan memasuki halaman. Songsong itu memang akan menarik perhatian. Tetapi kita dapat mempergunakan sekaligus sebagai pancingan. Namun hal itu baru akan kita lakukan setelah kita membersihkan sebagian para pengikut Kiai Windu Kusuma yang akan dapat mengganggu benturan akhir dari serangan kita”

“Tetapi aku ingin memperingatkan kalian” berkata Kiai Gumrah, “kita semuanya bukan pembunuh-pembunuh yang tidak berjantung. Kita menjunjung tinggi ajaran perguruan kita. Jika kita datang kesarang lawan kali ini adalah justru dalam rangka mempertahankan hak kita yang ingin mereka kuasai”

Tetapi Buta Ijo itu menyahut, “Apa yang dapat kita lakukan jika kita tidak boleh membunuh? Bukankah itu berarti kita sekedar membunuh diri?”

“Apakah kau artikan ajaran perguruan kita seperti itu?” bertanya Kiai Gumrah.

Buta Ijo itu terdiam. Sementara Kiai Gumrah pun berkata, “Kita mengerti batas kewajaran ajaran perguruan kita. Tetapi bukankah kita juga dapat melumpuhkan lawan tanpa membunuhnya? Tentu saja dalam batas-batas kemungkinan”

Saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah itu mengangguk-angaguk. Buta Ijo itupun mengangguk-angguk pula.

Sambil menunggu tengah malam, maka Kiai Gumrah dan saudara-saudara seperguruannya telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Mereka melihat senjata-senjata mereka, agar pada saatnya tidak mengecewakannya. Kiai Gumrah, juragan gula serta Ki Prawara telah menggegam tombak ditangan mereka masing-masing. Tombak yang akan mereka pergunakan langsung dipertempuran yang bakal terjadi di rumah besar yang menjadi sarang Kiai Windu Kusuma.

Menjelang tengah malam, maka segala macam persiapan benar-benar telah mapan. Karena itu, maka Kiai Gumrah pun segera minta saudara-saudara seperguruannya bersiap.

“Anak setan” geram orang yang selalu menyebut dirinya berilmu tinggi, “Buta Ijo itu telah mendekur”

Juragan gula itulah yang kemudian membangunkannya. Sambil mengguncang lengannya ia berkata, “He. Bangun dari mimpi burukmu itu”

Buta Ijo itu terkejut. Sekali ia menguap sambil menggeliat. Tetapi kawannya yang selalu terkantuk-kantuk membentak, “He, tutup mulutmu. Seekor katak dapat meloncat masuk kedalam mulutmu yang terbuka itu”

“Setan kau” geram Buta Ijo itu, “kenapa kau tidak kembali kekuburan itu saja”

Tetapi saudara seperguruannya yang lain berkata, “Kau yang selalu mengantuk, ternyata tidak semudah Buta Ijo itu untuk dapat benar-benar tidur”

“Sudahlah” berkata juragan gula itu, “kita akan segera berangkat”

Kiai Gumrah pun kemudian telah memberikan pesan-pesan terakhir kepada saudara-saudara seperguruannya. Mereka diperingatkan untuk berusaha memasuki halaman rumah itu dengan diam-diam. Mereka harus dapat mengurangi lawan sebanyak-banyaknya. Tetapi diperingatkan pula bahwa mereka bukan pembunuh-pembunuh yang haus darah. Karena itu, bukan kematian tujuan utama kita, meskipun kita juga tidak akan membunuh diri”

Demikianlah, maka saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah itu sekali lagi berdiri dalam lingkaran. Sejenak mereka memusatkan nalar budi mereka untuk mempersiapkan tugas mereka yang sangat berat.

Sejenak kemudian, maka terdengar Kiai Gumrah berkata, “Semoga kita selalu mendapat perlindungan dari yang Maha Agung”

Demikianlah, maka saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah itu pun mulai bergerak. Mereka membenahi pakaian mereka agar tidak justru mengganggu tugas mereka. Senjata merekapun sudah siap pula. Setiap saat mereka akan mempergunakannya.

Dalam kegelapan malam, maka saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah itu mulai merayap mendekati rumah yang terhitung besar yang menjadi sarang Kiai Windu Kusuma dan para pengikutnya. Didalam rumah itu juga terdapat orang-orang berilmu tinggi yang lain.

Seperti yang direncanakan, maka saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah itu akan bergerak sendiri-sendiri. Mereka akan memasuki halaman rumah itu dengan meloncati dinding. Namun seperti yang ditentukan, ketiga orang cucu Kiai Gumrah serta dua orang yang akan melindungi mereka, baru akan memasuki halaman rumah itu setelah pintu gerbang dibuka.

Yang kemudian harus membawa payung yang bertangkai agak panjang itu adalah Manggada dan Laksana. Namun mereka tidak akan membawa songsong itu bersama-sama. Tetapi bergantian.

Meskipun mereka tidak akan memasuki halaman bersama-sama dengan yang lain, namun berlima mereka telah bergerak mendekati pintu gerbang, meskipun masih pada jarak yang terbatas. Winih sengaja tidak memasang selongsong payung yang berwarna putih itu. Tetapi menyulubunginya dengan baju lurik hitam milik kakeknya agar warna kuning keemasan yang mengkilat itu tidak justru memantulkan cahaya oncor yang sengaja dipasang disudut-sudut dinding halaman rumah itu.

Sementara itu, maka Kiai Gumrah dan saudara-saudara seperguruannya yang lain telah merayap mendekati dinding rumah itu. Dengan diam-diam mereka berusaha untuk dapat meloncati dinding. Dari saudara seperguruan mereka yang telah mengamati dinding halaman rumah itu dari luar serta keterangan terperinci yang diberikan oleh Kiai Gumrah berdasarkan keterangan kedua orang tawanannya, maka mereka dapat memilih tempat-tempat, yang paling aman untuk meloncat memasuki halaman.

Yang mula-mula mencapai dinding halaman itu adalah orang yang selalu menyebut dirinya berilmu tinggi. Sejenak ia mendengarkan setiap suara dengan saksama. Namun sudut dinding halaman ditempat ia menempelkan tubuhnya itu sangat sunyi. Tidak terdengar suara apapun juga.

Karena itu, maka orang itu telah memberanikan diri untuk meloncat menggapai bibir dinding halaman itu. Perlahan-lahan ia beringsut naik, sehingga akhirnya ia berhasil memandang kedalam.

Keadaan didalam halaman itupun sangat sunyi, padahal menurut perhitungannya, jika besok mereka akan bergerak mengambil pusaka-pusaka itu dirumah Kiai Gumrah, maka mereka tentu sudah membuat persiapan-persiapan.

Sejenak kemudian orang itupun telah menelungkup datar diatas bibir dinding halaman. Dengan baju yang terbuat dari kain lurik ketan ireng serta celana komprang yang juga berwarna hitam serta kain panjang latar ireng, maka orang itu tidak begitu nampak. Apalagi cahaya oncor yang lemah tidak sempat menggapai tempat itu.

Untuk beberapa saat lamanya ia masih menelungkup melekat bibir dinding halaman. Dengan saksama ia mengamati keadaan. Oleh cahaya lampu minyak yang dipasang diserambi, maka samar-samar ia dapat melihat keadaan halaman belakang rumah yang besar itu.

Baru kemudian ia melihat dua orang duduk diserambi, dibawah bayangan kere bambu yang sebagian masih digulung naik.

Justru karena itu, maka orang itu menjadi sangat berhati-hati. Bahkan orang itu masih memperhitungkan bahwa tentu masih ada orang lain yang bertugas di halaman belakang itu.

Ternyata beberapa saat kemudian, orang itu melihat dua orang petugas yang lain berjalan melintasi serambi, menuju ke sebelah rumah itu. Nampaknya mereka memang sedang meronda berkeliling.

Orang yang menyebut dirinya berilmu tinggi harus menahan nafas ketika kedua orang itu ternyata berjalan seakan-akan menuju ketempatnya.

Untunglah bahwa kedua orang yang meronda berkeliling itu tidak melihatnya. Demikian kedua orang itu lewat, orang yang melekat dibibir dinding halaman itu menarik nafas dalam-dalam.

Namun demikian, kedua orang itu menjauh, maka orang itupun segera meloncat turun didalam halaman rumah itu.

Perlahan-lahan sekali ia beringsut. Disusunnya dinding halaman itu. Perlahan-lahan ia berusaha mendekati kedua orang yang duduk diserambi itu, Orang itu berhenti sejenak dibawah sebatang pohon kemuning yang rimbun. Diperhatikannya suasana rumah itu dengan sungguh-sungguh.

Sekali lagi orang itu tertegun. Dalam keheningan malam ia mendengar suara perempuan tertawa tertahan-tahan dibelakang serambi tempat dua orang yang sedang duduk dibayangan kere bambu itu.

Sejenak kemudian, maka pintu serambi itu terbuka. Seorang perempuan didorong keluar lewat pintu itu. Hampir saja perempuan itu terjatuh menimpa kedua orang yang sedang duduk diserambi itu.

Perempuan itu masih tertawa. Ketika dua orang yang duduk diserambi itu menyeretnya untuk duduk bersamanya.

Ketika perempuan itu mulai mengigau, maka saudara seperguruan Kiai Gumrah itu mengerti, bahwa perempuan itu sedang mabuk. Tetapi menurut penilaiannya, perempuan itu tentu bukan perempuan baik-baik.

“Setan” geram orang yang menyebut dirinya berilmu tinggi itu ia terpaksa mengurungkan niatnya mendekati kedua orang di serambi itu.

Tetapi kesan yang didapatkannya adalah, bahwa isi rumah yang besar itu ternyata adalah warna-warna buram, sehingga sepantasnyalah bahwa isi rumah itu dibersihkan sama sekali.

Demikian orang itu beranjak pergi, maka terdengar lagi suara tertawa berkepanjangan. Masih juga terdengar suara perempuan, tetapi bukan perempuan yang telah berada diserambi itu.

Saudara seperguruan Kiai Gumrah itu bergumam meninggalkan tempat itu. Dengan hati-hati ia menyelinap kebelakang gerumbul perdu disebelah rumah yang besar itu. Ia mulai yakin, bahwa rumah itu masih belum tertidur meskipun sudah lewat tengah malam. Namun iapun yakin pula, bahwa seisi rumah itu sama sekali tidak menduga, bahwa beberapa orang yang asing bagi mereka telah berada di halaman rumah itu.

Ketika orang itu kemudian melihat dua orang penjaga yang berjalan hilir mudik didekat pintu butulan pada dinding halaman yang menghadap ke samping, maka saudara seperguruan Kiai Gumrah itupun telah menghembus kedua telapak tangannya sambil berdesis “Apaboleh buat. Jika daya tahan kalian cukup tinggi, maka kalian tidak akan mati. Tetapi jika kalian ternyata mati, itu bukan salahku, karena ilmuku memang terlalu tinggi bagi kalian”

Dengan hati-hati orang itu merayap mendekati. Kemudian demikian ia meloncat keluar dari kegelapan, maka, tangannya telah melayang menyambar tengkuk salah seorang dari kedua orang itu.

Orang itu memang tidak sempat mengaduh. Sesaat ia terhuyung-huyung. Namun kemudian orang itupun terjatuh di-tanah.

Sementara itu kawannya terkejut. Tetapi ia juga tidak mendapat kesempatan. Satu pukulan yang sangat keras telah mengenai ulu hatinya sehingga orang itu terbungkuk kesakitan, baru kemudian telapak tangan saudara seperguruan Kiai Gumrah itu menghantam tengkuknya.

Orang itu pun telah kehilangan kesadarannya. Ia pun kemudian telah terjatuh pula.

Orang yang selalu menyebut dirinya berilmu tinggi itu tersenyum sambil berdesis, “Mudah-mudahan kalian tidak mati. Kiai Gumrah berpesan agar kami tidak menjadi pembunuh yang haus darah. Tetapi bukankah kalian sama sekali tidak menitikkan darah?”

Orang itu kemudian masih sempat menyeret kedua sosok tubuh.itu kedalam gerumbul disebelah pintu butulan.

Tetapi ia sadar, bahwa tidak hanya kedua orang itu sajalah yang harus diselesaikan lebih dahulu, sebelum mereka benar-benar memasuki rumah itu dan berusaha bertemu dengan Kiai Windu Kusuma dan orang-orang penting lainnya yang tinggal dirumah itu.

“Aku ingin bertemu dengan Kiai Kajar” berkata orang itu didalam hatinya, “ia seorang yang terlalu manja diperguruan. Tetapi aku tidak yakin bahwa ilmunya melampaui ilmu saudara-saudara seperguruannya”

Namun baginya Kiai Kajar adalah seorang yang sangat bodoh. Jika sekelompok orang yang tinggal dirumah itu berhasil memiliki pusaka-pusaka yang disimpan oleh Kiai Gumrah, maka Kiai Kajar itu tentu hanya mendapat bagian yang kecil saja. Bahkan seandainya pusaka-pusaka itu harus dibagi diantara saudara-saudara seperguruannya, maka ia akan mendapatkan lebih banyak.

Tetapi orang itu bergumam, “Tetapi pusaka-pusaka itu bukan milik siapa-siapa diperguruan”

Sejenak orang itupun beringsut pula. Ia menuju sudut belakang gandok rumah itu. Namun ia terkejut ketika ia menemukan sebatang tombak pendek yang tergeletak di tanah, baru kemudian ia melihat jejak sesuatu yang ditarik ke gerumbul disudut gandok yang gelap itu. Rerumputan dan daun-daun perdu yang patah menuntunnya menemukan dua sosok tubuh yang terbaring diam.

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia pun telah menyembunyikan tombak itu pula didekat tubuh yang membeku itu.

“Juga tidak ada darah ” desisnya.

Ternyata saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah telah berada dihalaman rumah itu kecuali yang bertugas melindungi songsong didepan pintu gerbang utama. Mereka yang ada dihalaman itu telah berusaha membersihkan para petugas yang berjaga-jaga. Bahkan orang-orang yang meronda berkelilingpun telah mengalami nasib buruk pula.

Sementara itu Kiai Gumrah sendiri dan Ki Pandi masih berada di halaman depan yang luas. Mereka berjongkok di belakang sebatang pohon soka yang daunnya menjadi sangat rimbun. Bunganya yang kemerah-merahan nampak hampir disetiap ujung ranting-rantingnya.

Keduanya agaknya masih menunggu. Juragan gula itulah yang mendapat tugas untuk memberikan isyarat jika mereka akan memasuki rumah yang besar itu. Namun sebelumnya akan ada isyarat-isyarat kecil untuk menandai kesiagaan semua saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah itu.

Yang terjadi kemudian adalah gerakan yang diam dari mereka yang memasuki halaman rumah itu. Orang yang selalu terkantuk-kantuk itu ternyata telah berhasil memasuki longkangan samping setelah berhasil meloncati dinding disebelah seketheng. Dua orang yang ada dilongkangan itupun tidak berdaya ketika orang itu menyentuhnya.

Sementara itu, Buta Ijo yang bertubuh seperti raksasa itu justru telah masuk kedalam dapur dengan membuka dinding perlahan-lahan. Ketika ia membuka geledeg ia masih menemukan beberapa potong makanan.

Tetapi sentuhan-sentuhan mangkuk digeledeg itu telah membangunkan seorang anak muda yang tidur di dapur itu. namun, demikian anak muda itu bangkit, maka mulutnyapun telah dibungkam oleh Buta Ijo yang masih mengunyah sepotong ledre pisang.

Anak muda itu tidak dapat berbuat apa-apa. Ia merasa tekanan yang sangat keras ditengkuk dan punggungnya. Namun kemudian anak muda itu telah tertidur kembali.

“Kau akan tidur untuk waktu yang lebih lama dari kebiasaanmu anak muda” desis Buta Ijo itu, “mungkin besok tengah hari kau baru akan menyadari keadaanmu lagi”

Buta Ijo itu pun kemudian telah beringsut dari tempatnya. Ketika ia melewati pintu dapur disisi lain, ternyata ia sudah berada di sebuah longkangan.

“Kiai Gumrah tidak menyebut longkangan ini” berkata orang itu didalam hatinya.

Untuk beberapa saat Buta Ijo itu mengamat-amati tempat itu. Beberapa kali ia memperhatikan bangunan disebelah Iongkangan yang berdinding bambu sebagaimana dinding dapur itu. Namun ia menjadi ragu-ragu.

Namun akhirnya Buta Ijo itu mengangguk-angguk ketika ia teringat pesan Kiai Gumrah, bahwa memang telah dibuat bangunan baru. Dapur itupun merupakan bangunan susulan karena dapur yang sebenarnya telah dipergunakan untuk kepentingan lain.

“Agaknya didalam bangunan disebelah longkangan itu tinggal beberapa orang pengikut Kiai Windu Kusuma atau pengikut Panembahan yang dibawanya kemari” berkata Buta Ijo itu didalam hatinya.

Tetapi Buta Ijo itu tidak akan memasuki bangunan didepan longkangan itu. Jika ia terperosok kedalamnya, maka ia tentu akan bertemu dengan beberapa orang pengikut Kiai Windu Kusuma. Raksasa itu tidak akan mati ketakutan, tetapi dengan demikian, maka suasana tentu akan segera menjadi ribut.

Karena itu, maka Buta Ijo itu akan menghindari saja tempat itu dan kembali keluar lewat dinding bambu di dapur yang telah dibukanya.

Sejenak kemudian Buta Ijo itu sudah ada diluar. Ia tidak mau meninggalkan jejak yang dapat menarik perhatian. Karena itu, maka dilekatkannya lagi dinding bambu yang telah dibukanya itu.

Tetapi sebelum ia beranjak, dua orang dengan tergesa-gesa mendekatinya. Dua orang peronda yang masih lolos dari tangan saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah.

Sambil mengacukan senjatanya, seorang diantara keduanya itu membentak, “Siapa kau, he?”

Buta Ijo itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun tertawa sambil menjawab, “kau aneh. Kenapa kau bertanya seperti itu?”

Orang itu mengerutkan keningnya. Sementara itu Buta Ijo itu berkata, “Bukankah aku yang dua hari yang lalu datang dari perguruan Susuhing Angin?”

Kedua orang itu masih termangu-mangu. Tetapi yang seorang kemudian berkata, “Bohong. Yang datang dari perguruan Susuhing Angin telah aku kenal semuanya”

“Ternyata tidak. Kenapa kau tidak mengenal aku” desis Buta Ijo dengan tenang.

“Menyerahlah. Bagaimana kau berhasil masuk kelingkungan kami yang tertutup ini” geram orang yang lain. Ujung senjatanya mulai bergetar.

Tetapi Buto Ijo masih tenang-tenang saja. Bahkan ia pun berkata pula, “Kalian memang aneh. Jika aku bukan orang dari perguruan Susuhing Angin, bagaimana aku dapat masuk kemari?”

“Tidak ada gunanya kau berbohong. Jika kau orang dari Susuhing Angin, apa yang kau lakukan disini?”

Buta Ijo itu melihat berkeliling. Namun kemudian katanya perlahan-lahan, “Tetapi jangan berkata kepada siapapun. Aku ingin masuk ke dapur”

“Untuk apa?” bertanya salah seorang dari kedua peronda itu.

“Aku lapar” Buta Ijo itu menjawab sambil tertawa.

Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Namun ternyata Buta Ijo telah memanfaatkan kesempatan itu. Dengan cepat ia meloncat menyusup diantara dua ujung senjata kedua orang itu. Dengan cepat pula kedua tangannya meraih kepala kedua orang itu.

Kedua orang itu tidak sempat mengetahui apa yang terjadi kemudian. Duniapun segera menjadi gelap. Buta Ijo itu terbelalak melihat akibat perbuatannya. Kepala kedua orang itu menjadi retak. Dan darah telah mengalir.

“Bukan maksudku” desis Buta Ijo yang menjadi sangat gelisah, “aku bukan pembunuh yang mendapat kepuasan karena kematian orang lain”

Tetapi ia tidak sempat berpikir panjang. Ia pun kemudian telah menyeret kedua orang itu dan membenamkannya dibelakang gerumbul. Kedua pucuk senjata itupun telah dibuangnya kedalam gerumbul itu pula.

Setelah menenangkan hatinya sejenak, Buta Ijo itu pun mengendap-endap pula di kegelapan. Ia telah melingkari rumah yang besar itu. Namun dengan serta-merta Buta Ijo itu telah berhenti, menyusup kebalakang gerumbul ketika ia melihat sesuatu yang bergerak. Perlahan-lahan mulutnya telah berdecak seperti suara seekor bilalang.

Ketika dari gerumbul yang lain juga terdengar suara yang sama, maka Buta Ijo itupun yakin, kalau yang dilihatnya bergerak itu adalah saudara seperguruannya.

Karena itu, maka Buta Ijo pun telah mendekatinya.

Sebenarnyalah bahwa yang bersembunyi dibelakang gerumbul itu adalah saudara seperguruannya yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan dengan kumis yang panjang diujungnya.

“Aku terpaksa membunuh” desis Buta Ijo.

“Apaboleh buat” desis yang berkumis. Lalu katanya, “Sebenarnya kita dapat mengetrapkan ilmu sirep saja”

“Jangan” cegah Buta Ijo, “sirepmu tidak akan berarti bagi orang-orang berilmu tinggi dirumah itu. Justru hanya akan mengundang kecurigaan saja. Jika mereka menyadari bahwa ada sirep, maka mereka justru akan segera bersiapsiap”

Orang berkumis panjang dikedua ujungnya itu mengerutkan dahinya. Katanya, “Sirepku melampaui ilmu sirep yang manapun. Kaupun akan tertidur pula karenanya”

“Jika saudara-saudara kami tertidur, apa yang akan kami lakukan?”

“Setan kau” geram orang berkumis itu.

Buta Ijo itu tertawa. Tetapi orang berkumis itu cepat berdesis, “Kau jangan mengacaukan rencana kita”

Buta Ijo itu menutup mulutnya.

Namun keduanya terkejut ketika mereka melihat beberapa orang keluar dari pintu samping dengan senjata siap ditangan. Mereka berhenti sejenak ketika pemimpin sekelompok orang itu memberikan perintah, “Menyebar. Bayangan itu tentu masih belum keluar.”

“Ternyata mereka sudah mengetahui bahwa ada orang lain di halaman rumah ini” gumam orang berkumis itu.

“Beri isyarat” sahut Buta Ijo.

“Kau sajalah. Suaramu lebih mirip dengan suara burung bence daripada suaraku”

“Tetapi orang-orang itu sudah berada dihadapan hidung kita. Jika mereka mendengar suara burung bence disini, maka mereka tentu akan berdatangan kemari” desis Buta Ijo.

Kawannya tidak menjawab. Tetapi tiga orang diantara mereka yang menyebar itu melangkah mendekati gerumbul tempat keduanya bersembunyi.

Ketika ketiga orang itu benar-benar menyibak dedaunan gerumbul itu, maka kedua orang itu tidak mempunyai pilihan lain. Dengan cepat kedua orang itu meloncat dan menerkam ketiga orang itu. Orang berkumis itu menangkap seorang diantara mereka tepat dikepalanya. Satu putaran yang keras sekali ternyata telah mematahkan leher orang itu. Sementara sekali lagi Buta Ijo itu meraih dua kepala dan membenturkannya.

Tetapi keduanya tidak lagi dapat bersembunyi. Tiga orang yang lain yang bergerak kesamping telah melihat serangan singkat yang telah melumpuhkan tiga orang kawannya itu. Karena itu, maka ketiga orang itupun segera berteriak, “Mereka ada disini”

“Wah” desah Buta Ijo, “tetapi bukan kita yang menyebabkan kehadiran kita diketahui”

“Tidak. Tentu bukan kita. Ketika mereka keluar dari pintu samping rumah itu, mereka sudah mencari seseorang. Tentu orang kantuk itu yang menyebabkannya”

“Jangan menuduh” jawab Buta Ijo.

Demikianlah, maka orang-orang yang keluar dari pintu samping itu segera mengepung Buta Ijo dan orang berkumis panjang diujungnya itu.

Dengan demikian maka keduanya tidak dapat berbuat lain. Mereka harus bertempur menghadapi beberapa orang yang mengepung mereka. Namun Buta Ijo itu masih berdesis, “Jika terjadi seperti ini, bagaimana kita dapat menghentikan perlawanan mereka tanpa membunuh?”

“Tetapi bukan niat kita membunuh. Jika ada yang mati, itu salah mereka sendiri” jawab orang berkumis itu.

“Ya, salah mereka sendiri ” sahut Buta Ijo.

Pemimpin sekelompok orang yang mengepung kedua orang saudara seperguruan Kiai Gumrah itu pun berkata lantang, “Menyerahlah. Mungkin kalian masih dapat diampuni”

“Jika kami diampuni, apakah kami boleh pergi?” bertanya Buta Ijo.

“Itu bukan persoalanku. Itu persoalan pemimpinku” jawab pemimpin kelompok itu.

“Siapa pemimpinmu?” bertanya orang berkumis tipis.

“Itu bukan urusanmu” jawab pemimpin kelompok, “sekarang menyerahlah. Lemparkan senjata kalian. Melangkah maju perlahan-lahan”

Buta Ijo itu termangu-mangu sejenak. Tetapi kemudian ia menggamit saudara seperguruannya sambil berdesis, “Kita melangkah maju”

Kedua orang itu pun melangkah maju. Mereka terhenti ketika pemimpin kelompok itu berteriak, “Lemparkan senjata kalian”

Buta Ijo itu termangu-mangu. Luwuknya yang besar masih berada disarungnya. Demikian pula senjata orang berkumis itu. Ia membawa sepasang trisula yang masih terselip pada ikat pinggangnya, bersilang dipunggungnya.

“Perlahan-lahan tarik senjata kalian dari sarungnya” teriak orang itu yang dengan sengaja ingin diperdengarkan kepada orang-orang yang ada didalam rumah itu.

Sebenarnyalah bahwa para pemimpin dari kelompok-kelompok yang ada dirumah itu mendengarnya. Seorang diantara mereka berdesis, “Bodoh. Seharusnya ia tidak memerintahkan untuk mencabut senjata dari sarungnya. Biar saja senjata itu dilemparkan bersama sarungnya”

Baru saja orang yang ada didalam rumah itu mengatupkan bibirnya, yang dicemaskan itu sudah terjadi. Buta Ijo dan orang berkumis itu memang menarik senjata-senjata mereka. Tetapi mereka tidak melemparkan senjata itu. Dengan cepat mereka telah meloncat menyerang dengan garangnya.

Orang-orang yang mengepung dengan senjata teracu itu terkejut. Mereka tidak mengira bahwa kedua orang yang sudah dikepung itu masih berani menyerang.

Namun mereka terlambat menyadari kesalahan mereka. Buta Ijo itu memutar luwuknya dengan cepat. Beberapa buah senjata terpelanting dari tangan pemiliknya. Namun mereka tidak sempat berbuat sesuatu karena ayunan luwuk itu berikut nya telah menyambar tubuh mereka.

Beberapa orang telah terpelanting jatuh. Sementara itu beberapa orang yang lain telah berteriak kesakitan. Tajamnya trisula telah melukai beberapa orang pula.

Pertempuran tidak dapat dihindari lagi. Namun Buta Ijo yang mempunyai kesempatan lebih dahulu tidak menyianyiakannya. Dengan cepat orang bertubuh raksasa itu berloncatan menyerang, sehingga lawan-lawannya pun berjatuhan.

Demikian pula orang berkumis itu. Sepasang trisulanya berputaran dikedua tangannya. Setiap kali senjata lawannya yang sempat terjepit oleh mata trisula yang bercabang tiga itu, tentu terhempas dari tangan. Putaran trisula itu merupakan kekuatan yang dapat merenggut senjata lawan dengan kekuatan yang besar.

Namun kedua orang itu tidak melayani lawan-lawannya terlalu lama. Keduanyapun kemudian sepakat untuk bergeser dari tempatnya dan berlari ke halaman belakang.

Beberapa orang yang tersisa telah mengejar mereka berdua. Namun yang terjadi benar-benar menggetarkan jantung. Ketika mereka melewati sudut belakang rumah yang besar itu, maka dua orang yang berlari dipaling belakang telah terlempar jatuh. Demikian beberapa orang berhenti, maka dua orang lagi jatuh terpelanting sambil mengaduh kesakitan.

Lima orang yang tersisa menjadi bingung. Mereka melihat seseorang berlari dari sudut belakang rumah itu dan menghilang di kegelapan.

Pertempuran pun telah menjalar. Dari longkangan rumah itu terdengar suara kentongan memberikan isyarat kepada seisi rumah itu untuk bersiap menghadapi bahaya yang ternyata telah ada dihalaman rumah itu pula.

Tetapi tiba-tiba saja suara kentongan itu terputus. Beberapa saat tidak terdengar lagi isyarat itu. Tetapi kemudian dari longkangan yang lain, telah terdengar lagi suara kentongan dengan nada titir.

Kiai Gumrah dan saudara-saudara seperguruannya tidak mempunyai pilihan lain. Mereka pun telah bergerak bertindak. Beberapa kelompok pengikut Kiai Windu Kusuma, orang yang disebut Panembahan, Kiai Kajar dan orang-orang dari perguruan Susuhing Angin dan semuanya yang ada didalam lingkungan rumah yang besar itu telah menghambur keluar pula.

Orang-orang yang bergerak dalam kelompok-kelompok itu memang setiap kali terkejut. Tiba-tiba saja mereka diserang oleh orang-orang yang berloncatan dari gerumbul-gerumbul perdu. Setelah terjadi pertempuran sejenak, maka orang itu segera berlari. Namun orang-orang yang mengejarnya, tiba-tiba saja telah mendapat serangan dengan cepat pula. Dua tiga orang terjatuh dengan luka-luka yang parah.

Dengan demikian maka para pengikut orang-orang yang berkumpul dirumah yang besar itu dengan cepat menjadi susut. Tubuh mereka terbaring silang melintang di halaman samping dan halaman belakang.

Kiai Gumrah dan Ki Pandi yang berada di halaman depan masih menunggu isyarat juragan gula sebagaimana disepakati. Sementara itu juragan gula yang ada disamping rumah yang besar itu, telah melibatkan diri pula. Ujung tombak ditangannya beberapa kali telah mematuk orang-orang yang berlari-larian dan kejar-mengejar disekitarnya. Bahkan juragan gula itu sendiri juga harus ikut berlarilarian.

Akhirnya orang-orang yang tinggal dirumah itu menyadari, bahwa orang yang datang memasuki halaman rumah itu jumlahnya cukup banyak. Karena itu, maka sekali lagi terdengar suara kentongan yang memberikan isyarat bahaya tertinggi bagi mereka yang tinggal di rumah itu.

“Apa yang terjadi?” bertanya Kiai Windu Kusuma kepada seorang kepercayaannya.

“Beberapa orang telah menyerang rumah ini, Kiai” jawab orang itu.

“Berapa orang?” bertanya Kiai Windu Kusuma.

“Belum dapat diketahui dengan pasti. Tetapi rasa-rasanya dimana-mana ada. Mereka memakai baju lurik hitam, celana hitam dan kain serta ikat kepala tatar ireng yang juga kehitam-hitaman”

“Apakah kalian tidak dapat menyelesaikannya?” bertanya Kiai Windu Kusuma.

“Aku cemas, bahwa tidak lama lagi orang-orang kita sudah habis dibantai oleh mereka. Mereka bersembunyi di balik gerumbul yang gelap. Namun kemudian tiba-tiba saja mereka menyergap jika ada orang-orang kita yang berlari-lari dekat tempat persembunyian mereka”

“Kenapa kalian berlari-lari?” bertanya Kiai Windu Kusuma.

“Kami mengejar diantara mereka yang berlari untuk bersembunyi ditempat-tempat gelap”

“Pikirkan. Bukankah kalian yang dungu” Kiai Windu Kusuma yang marah berteriak.

Orang kepercayaannya itu tidak menjawab. Sementara itu orang yang disebut Panembahan yang juga sudah berkumpul diruang tengah itu berkata, “Semua gerakan harus mulai diatur.”

“Jangan menunggu sampai semua orang-orangku dibantai habis. Kita semuanya harus segera bertindak” berkata Kiai Windu Kusuma kepada orang-orang yang ada di ruang dalam

“Maksudmu?” bertanya Kiai Kajar.

“Semua orang harus keluar untuk menyongsong orang-orang yang telah berani memasuki halaman rumah ini?” jawab Kiai Windu Kusuma.

“Apakah kau tidak lagi mampu mengatasinya. Kau tuan rumah disini. Kau harus dapat mengamankan tamutamumu” berkata pemimpin Perguruan Susuhing Angin.

“Kita mempunyai kepentingan bersama-sama. Jika orang-orangku habis dibantai, kita akan menjadi semakin lemah. Selagi hal itu belum terjadi, perintahkan orang-orang kalian dan bahkan kita semua untuk keluar”

“Seberapa orang yang telah memasuki halamanmu? Siapa pula mereka?” bertanya Kiai Kajar.

“Jangan berpura-pura lagi. Kita semuanya menjadi cemas. Jika sekelompok orang berani memasuki halaman rumahku, mereka tentu bukan orang kebanyakan” jawab Kiai Windu Kusuma.

Yang menjawab adalah orang yang nampaknya paling berpengaruh diantara mereka. Panembahan itu. Katanya, “Kita tidak dapat berpura-pura tenang disini. Aku setuju, semua kekuatan yang ada harus mulai bergerak. Semuanya barus mulai diatur dengan tertib. Jika kita tidak langsung ikut campur, maka kita sendiri akan mengalami kesulitan”

Karena yang berbicara adalah orang yang sangat berpengaruh diantara mereka, maka tidak seorangpun yang membantah. Sementara Panembahan itu berkata, “Kita harus mengetahui, siapakah orang yang datang itu. Aku condong menduga bahwa mereka adalah Kiai Gumrah dan kawan-kawannya. Ternyata rencana kita untuk datang, kerumahnya telah bocor, sehingga ia lebih dahulu datang kepada kita”

“Itu tidak penting” jawab Kiai Kajar, “mereka akan kita hancurkan disini”

“Kita harus menemukan orang yang telah membocorkan rahasia ini” berkata pemimpin perguruan Susuhing Angin “Tidak perlu sekarang” jawab Kiai Windu Kusuma, “yang penting kita hadapi orang-orang yang datang itu lebih dahulu”

Orang-orang yang ada diruang dalam itupun telah mempersiapkan diri. Sementara itu, sebagaimana dikatakan oleh Panembahan, maka para pengikut dari berbagai macam perguruan itupun telah diperintahkan untuk ikut serta keluar dari bilik-bilik mereka.

Karena itu, maka terdengar pula suara kentongan dalam nada yang berbeda. Bukan sekedar memperingatkan bahaya tertinggi bagi orang-orang yang ada didalam rumah yang besar dan halaman yang sangat luas itu. Tetapi nadanya menyiratkan perintah bagi semua orang untuk keluar.

Kiai Gumrah dan saudara-saudara seperguruannya tidak tahu maksud isyarat itu. Namun bunyi kentongan itu memperingatkan kepada mereka, bahwa mereka harus menjadi lebih berhati-hati.

Sebenarnyalah sesaat kemudian, kelompok-kelompok yang ada di rumah itu telah keluar pula. Bukan hanya para pengikut Kiai Windu Kusuma.

Namun merekapun segera disergap oleh saudara-saudara seperguruan Kiai Gumrah yang bertebaran di halaman.

 00Odw-aremaO00

 Bersambung ke jilid 7

Kara SH Mintardja

Seri Arya Manggada 3 – Sang Penerus

Sumber djvu : Ismoyo

Convert, editor & ebook oleh : Dewi KZ

Tiraikasih Website

http://kangzusi.com/ http://kang-zusi.info/

http://cerita-silat.co.cc/ http://dewi-kz.com/

kembali | lanjut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s