AM_SP-04


Serial ARYA MANGGADA

Episode III: SANG PENERUS

JILID 4

kembali | lanjut

AMSP-04SEMENTARA itu kedua orang yang lain telah bertempur melawan Darpati yang telah mencabut pedangnya. Dengan tangkasnya Darpati berloncatan sambil memutar senjatanya.

Manggada dan Laksana yang bertempur melawan masing-masing seorang lawan dan harus pula memperhatikan sambaran-samabaran kuku baja burung elang yang garang itu, harus mengerahkan kemampuan mereka.

Namun ternyata orang-orang yang bertempur melawan mereka itu adalah orang-orang yang memang memiliki ilmu yang mapan. Manggada dan Laksana pun dengan cepat mulai terdesak. Ketika Manggada mengayunkan pedangnya menebas seekor burung elang yang menyambar dengan cepat, maka lawan-nyapun telah meloncat pula sambil menulurkan pedangnya. Manggada terpaksa mengurungkan niatnya menyerang burung elang itu. Dengan cepat ia harus mengelak dari ujung senjata lawannya.

Tetapi demikian Manggada meloncat, maka burung elang itu benar-benar menyambarnya. Kuku-kuku bajanya yang tajam telah menggores pundak anak muda itu.

Manggada mengaduh tertahan. Tetapi ia harus menyeringai menahan pedih yang menggigit luka dipundaknya itu.

Laksana terkejut melihat Manggada mulai terluka. Namun ia tidak sempat berbuat banyak. Serangan lawannya datang demikian cepatnya.

Dengan tangkas Laksana menangkis serangan itu. Tetapi burung elang itu menyambarnya dengan cepat pula. Hampir saja kuku-kuku tajam itu mengcengkam wajahnya. Tetapi Laksana sempat meloncat mengelak sambil mengayunkan pedangnya. Tetapi burung itu dengan cepat menggeliat dan kemudian terbang membubung.

Tetapi pada saat itu, ujung senjata lawannya ternyata telah menyambarnya di arah dada.

Laksana tidak banyak mendapat kesempatan. Ia memang dapat menarik dadanya surut. Tetapi ia tidak dapat melepaskan diri seluruhnya dari jangkauan pedang lawannya. Karena itu, maka ujung pedang itu telah tergores didada Laksana.

Laksana pun berdesah kesakitan. Luka didadanya itu kemudian telah mengalirkan darah, sebagaimana luka dipundak Manggada.

Sementara itu Darpati bertempur dengan garangnya. Kakinya berloncatan dengan tangkasnya. Kedua lawannya yang tidak kalah garangnya telah menyerangnya dari arah yang berbeda. Tetapi keduanya ternyata sangat sulit untuk dapat mengenainya.

Tetapi Darpati juga tidak segera dapat mendesak kedua lawannya yang seakan-akan bergantian datang menyerang.

Winih berdiri termangu-mangu menyaksikan pertempuran itu. Wajahnya menjadi sangat tegang. Dipandanginya Manggada dan Laksana berganti-ganti. Keduanya memang mengalami kesulitan. Luka Manggada telah bertambah lagi. Lengannya juga telah tergores pedang sehingga kulitnya telah terkoyak.

Winih memang menjadi sangat tegang melihat keadaan Manggada dan Laksana. Sementara itu lawan mereka sama sekali tidak mengekang diri. Keduanya benar-benar berniat untuk membunuh Manggada dan laksana. Senjata mereka terayun-ayun mendebarkan jantung. Sementara itu, sepasang burung elang itu pun benar-benar telah ikut pula dalam pertempuran itu. Keduanya seakan-akan telah digerakkan oleh kekuatan yang memiliki kemampuan tinggi dalam olah kanuragan. Burung-burung itu seakan-akan tahu, kapan mereka harus menyerang. Kapan mereka harus menarik perhatian sehingga serangan lawan-lawan Manggada dan Laksana mendapat kesempatan menusukkan pedangnya.

Rasa-rasanya Manggada dan Laksana memang tidak mempunyai kesempatan lagi. Sementara itu Darpati tidak segera dapat mengalahkan lawannya dan membantu mereka.

Ketika Darpati masih berusaha untuk mempertahankan dirinya dari serangan kedua lawannya yang datang berganti-ganti susul-menyusul, maka Manggada dan Laksana menjadi semakin terdesak. Luka-luka ditubuh mereka menjadi semakin banyak. Darahpun mengalir semakin deras pula.

Dalam keadaan yang demikian, adalah diluar dugaan bahwa tiba-tiba saja terdengar aum yang keras dari dalam rimbunnya pepohonan dan batang-batang perdu. Aum seekor harimau yang garang telah disaut oleh aum harimau yang lain.

Selagi orang-orang yang sedang bertempur itu masih belum siap menghadapi kemungkinan baru itu dua ekor harimau telah bermunculan dari dalam belukar.

Kedua ekor harimau itu dengan serta merta telah menyerang kedua orang lawan Manggada dan laksana serta kedua orang lawan Darpati. Keduanya seakan-akan menyatakan diri untuk ikut bertempur dipihak mereka yang mendapat serangan tiba-tiba itu.

Orang-orang yang mendapat serangan dari sepasang harimau itu terkejut. Sementara Manggada dan Laksana masih berdiri termangu-mangu, maka kedua orang lawan Manggada dan Laksana itupun segera bergabung untuk melawan seekor diantaranya, sedang lawan Darpati bersama-sama menyerang seekor yang lain.

Orang-orang itu pada dasarnya sama sekali tidak takut menghadapi harimau yang paling garang sekalipun. Namun ternyata bahwa Manggada dan Laksana melihat kedua ekor harimau itu bukan harimau kebanyakan.

Sebagaimana dua ekor elang yang berterbangan melingkar-lingkar dan kemudian menyambar-nyambar itu, maka kedua ekor harimau itu seakan-akan juga memiliki kemampuan untuk bertempur. Keduanya seakan-akan mengenal bahwa pedang itu termasuk senjata yang berbahaya yang dapat melukai kulit mereka.

Namun lebih dari itu, kedua ekor harimau itu mengingatkan Manggada dan Laksana pada dua ekor harimau yang datang kerumah Kiai Gumrah. Bahkan Manggada dan Laksana pun segera teringat pula dua ekor harimau milik Ki Pandi yang bongkok yang ternyata adalah saudara seperguruan Sang Panembahan.

Karena itu, maka rasa-rasanya Manggada dan Laksana tidak dapat membiarkan kedua ekor harimau itu bertempur tanpa bantuan mereka.

Setelah mengamati keadaan sejenak, maka Manggada dan Laksana segera turun lagi ke arena. Mula-mula keduanya harus bertempur melawan kedua ekor elang yang masih saja menyambar-nyambar. Namun ketika pedang Manggada melukai seekor diantarahya, maka kedua ekor elang itupun terbang menjauh. Yang terluka itu agaknya harus berjuang untuk dapat pulang sampai kesangkarnya, sedang yang lain mengikutinya di belakangnya, seakan-akan menjaganya agar kawannya itu tidak kehilangan keseimbangannya.

Ketika kedua ekor elang itu terbang semakin tinggi, maka nampak bahwa yang terluka itu menjadi semakin miring. Namun akhirnya keduanya hilang dibalik pepohonan.

Perhatian Manggada dan Laksana kemudian terpusat kepada ampat orang yang bertempur melawan kedua ekor harimau yang sangat garang itu. harimau yang seakan-akan memiliki ilmu kanuragan sehingga keempat orang yang bertempur melawan mereka itu mengalami kesulitan.

Apalagi ketika kemudian Manggada dan Laksana ikut pula dalam pertempuran itu. Luka-luka ditubuh Manggada dan Laksana membuat kedua orang anak muda itu marah dan ingin membalas dendam.

Dalam pada itu Darpati menjadi termangu-mangu. Bahkan beberapa kali Darpati memanggil Manggada dan Laksana.

“Kemarilah. Nanti harimau itu keliru menyerangmu.” teriak Darpati, “harimau itu tidak lebih dari seekor binatang yang tidak tahu apa yang sedang dilakukan.”

Tetapi Manggada menjawab, “Kedua ekor elang itu ternyata juga tahu, siapa saja yang harus diserangnya. Agaknya demikian pula kedua harimau itu.”

Darpati memang menjadi sangat gelisah. Sementara itu keempat orang yang harus bertempur melawan Manggada, Laksana dan dua ekor harimau yang sangat garang itu menjadi semakin terdesak. Bahkan kemudian mereka mulai dilukai oleh kuku-kuku harimau itu. Kulit-kulit mereka menjadi terkoyak dan bahkan darah pun bagaikan terperas dari tubuh mereka.

Manggada dan Laksana yang melihat keadaan keempat orang itu pun telah mengekang diri. Meskipun mereka tahu bahwa orang-orang itu telah benar-benar ingin membunuh mereka, setidak-tidaknya kedua orang lawan Manggada dan Laksana itu.

Tetapi nampaknya kedua ekor harimau itu tidak berbuat sebagaimana Manggada dan Laksana. Keempat orang yang sudah tidak berdaya itu, sama sekali tidak dilepaskan. Bukan saja kuku-kuku kedua ekor harimau itu. Tetapi taring-taring mereka-pun telah mengoyak tubuh keempat orang itu, sehingga beberapa saat kemudian, keempat orang itu tidak lagi berdaya untuk menyelamatkan nyawa mereka.

Manggada, Laksana, Darpati apalagi Winih telah memalingkan wajah mereka. Winih yang gemetar telah berpegangan tangan Manggada sambil berkata, “Tolong mereka.”

Manggada dan Laksana memang tidak dapat berbuat sesuatu. Darpati pun hanya dapat berdiri dengan wajah yang tegang. Ketika kemudian terdengar aum kedua ekor harimau itu, maka Darpati pun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Bahkan ia pun sempat berdesis, “Manggada dan Laksana. Bersiaplah, harimau-harimau itu tidak akan tahu bahwa kalian telah membantu mereka. Setelah keempat orang itu terbunuh, mungkin keduanya akan menyerang kita.”

Manggada dan Laksana tidak menjawab. Mereka memandangi kedua ekor harimau yang masih berbau darah itu.

Kedua ekor harimau yang telah membunuh keempat orang itu dengan taringnya yang masih menyeringai memandang keempat orang yang tegang itu. Namun ternyata kedua ekor harimau itu tidak menyerang mereka. Bahkan kemudian keduanya telah meloncat meninggalkan arena pertempuran itu. Yang terdengar adalah aumnya yang panjang seakan-akan menggetarkan pepohonan dan bahkan bukit kecil itu.

Ketika kedua ekor harimau itu hilang, maka Manggada dan Laksana semakin merasa betapa sakit dan nyeri menggigit tubuhnya pada luka-lukanya yang menganga.

“Beristirahatlah” berkata Winih kepada keduanya, “tetapi jangan disini. Kita bergeser menjauh.”

Manggada dan Laksana mengerti, bahwa Winih ingin menjauhi keempat sosok tubuh yang telah dikoyak-koyak oleh kedua ekor harimau itu.

Dibawah sebatang pohon yang rindang, Manggada dan Laksana duduk dengan lemah. Namun keduanya memang membawa obat yang dapat menolong mereka untuk sementara.

Winih dibantu oleh Darpati telah mencoba untuk mengobati luka-luka keduanya. Luka-luka yang terdapat dibeberapa bagian ditubuh mereka. Sebagian luka-luka karena ujung senjata, sedangkan yang lain, luka-luka karena kuku-kuku sepasang elang itu.

Namun angin yang segar yang bertiup disela-sela pepohonan membuat tubuh kedua orang anak muda itu terasa segar pula. Bahkan kemudian Manggada sempat bertanya “Bagaimana dengan tubuh keempat orang yang telah dibunuh oleh kedua ekor harimau itu?”

“Kita tidak dapat berbuat sesuatu ” jawab Darpati.

“Tetapi kita tidak dapat meninggalkan tubuh-tubuh itu begitu saja.” sahut Manggada.

“Lalu apa yang dapat kita lakukan?” bertanya Darpati.

“Kita harus menguburkan tubuh-tubuh itu” jawab Manggada.

Darpati mengerutkan dahinya. Katanya, “Apakah kita harus menggali ampat buah lubang kubur untuk mereka?”

“Tetapi tubuh-tubuh itu harus dilindungi dari ganasnya binatang-binatang buas. Mungkin harimau yang bukan kedua ekor harimau itu, mungkin serigala atau anjing hutan.” sahut Laksana yang sambil menunjuk ke udara berkata pula, “Lihat, burung-burung gagak pemakan bangkai itu.”

Winih pun menengadahkan wajahnya pula. Yang nampak dilangit bukan lagi sepasang burung elang. Tetapi beberapa ekor burung gagak yang berwarna hitam lekam. Suaranya bagaikan menguak keheningan lembah kecil itu dan memecahkan suara air terjun yang memang tidak begitu besar.

Darpati yang nampaknya agak segan untuk menggali lubang kubur keempat orang itu kemudian berkata, “Kita dapat melindungi tubuh-tubuh itu tanpa membuat lubang kubur. Kita justru menimbuninya dengan bebatuan yang banyak berserakan ditempat ini.”

Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Dengan nada rendah Manggada berkata, “Baiklah. Agaknya hanya itulah yang dapat kita lakukan.”

“Tetapi kau masih terlalu lemah. Biarlah aku dan Darpati sajalah yang melakukannya ” berkata Winih.

“Kau akan menjadi terlalu letih” desis Laksana.

“Aku terbiasa bekerja keras dirumah.” jawab Winih.

Namun Manggada dan Laksana tidak membiarkan Darpati dan Winih berdua saja yang melakukannya. Sementara itu Winih berusaha untuk tidak melihat tubuh-tubuh yang terkoyak oleh kuku dan taring harimau itu.

Karena itu, maka Winih hanya membantu dari kejauhan. Ia telah melemparkan bebatuan kearah tubuh-tubuh itu terbaring tanpa melihatnya. Sementara itu Darpati lah yang menempatkan bebatuan itu untuk menutup tubuh-tubuh yang terkoyak itu. Manggada dan Laksana yang lemah itu membantu sejauh dapat mereka lakukan.

Demikianlah, setelah mereka beristirahat barang sejanak, serta setelah mereka mencuci kaki dan tangan mereka, serta minum beberapa teguk air pancuran yang jernih, maka mereka-pun segera meninggalkan tempat itu.

Keempat orang itu tidak dapat berjalan terlalu cepat. Manggada dan Laksana yang telah mengobati luka-lukanya meskipun hanya untuk sementara, masih merasa tubuh mereka sangat lemah. Bahkan sekali-sekali Darpati dan Winih harus membantu mereka melintasi batu-batu padas serta mendaki lereng yang meskipun tidak terlalu tinggi.

Ketika kemudian mereka sampai di padukuhan, beruntunglah mereka bahwa jalan-jalan terasa sepi, sehingga tidak banyak orang yang melihat keadaan Manggada dan Laksana.

Satu dua orang yang melihat mereka dari kotak-kotak sawah, tidak begitu menghiraukan keadaan mereka. Orang-orang itu hanya menduga bahwa keempat orang itu sedang berjalan-jalan saja tanpa tujuan, sehingga mereka berjalan perlahan-lahan.

Namun ketika mereka sampai dirumah, maka keadaan Manggada dan Laksana telah mengejutkan seisi rumah itu. Kiai Gumrah, Ki Prawara dan Nyi Prawara dengan serta merta telah mengerumuni kedua anak muda itu tetapi sebelum mereka bertanya, maka Winih sudah berceritera seperti gerontol jagung yang tumpah.

“Benar begitu ngger?” bertanya Ki Prawara.

“Ya paman” jawab Manggada dan Laksana hampir berbareng.

Sementara itu Darpatipun berkata, “Nampaknya memang terjadi keajaiban. Ditempat itu terdapat dua jenis binatang yang seakan-akan memiliki ketajaman indera sehingga dapat memilih lawan. Bahkan kedua jenis binatang itu seakan-akan telah terlatih dan memiliki kemampuan olah kanuragan.”

Kiai Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Baginya kehadiran dua ekor harimau itu bukannya didengarnya untuk yang pertama. Dihalaman rumah itupun pernah hadir dua ekor harimau yang seakan-akan telah membantunya menyelamatkan pusaka-pusaka yang tersimpan dirumahnya itu.

“Dengan demikian jelas, bahwa tidak ada hubungan apapun antara harimau-harimau itu dengan pusaka-pusaka yang tersimpan itu” berkata Kiai Gumrah didalam hatinya.

Namun dalam pada itu, Nyi Prawarapun berkata, “Marilah anak-anak. Aku coba untuk membersihkan luka-luka kalian. Mudah-mudahan luka-luka itu tidak beracun.”

Manggada dan Laksana pun kemudian telah pergi kedapur mengikuti Nyi Prawara. Tubuh mereka memang terasa sangat lemah. Meskipun mereka telah mengobati luka-lukanya dengan obat yang mereka bawa untuk memampatkan darahnya, namun tenaga mereka ternyata sudah banyak tersusut.

Sesaat kemudian Ki Prawara pun telah menyusul mereka ke dapur pula. Bahkan dengan sungguh-sungguh ia bertanya, “Bagaimana menurut tanggapanmu atas apa yang telah terjadi?”

Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Mereka telah membuka baju mereka yang bukan saja kusut, kotor dan koyak. Tetapi juga bernoda darah.

Ketika Nyi Prawara mengusap lukanya dengan kain yang bersih yang dibasahi dengan air panas, maka mereka harus menahan perasaan pedih yang menggigit.

Baru kemudian Manggada justru bertanya, “Maksud paman?”

“Maksudku, tanggapanmu atas Darpati.”

“Ia telah bertempur pula melawan keempat orang penyerang itu. Justru Darpati telah bertempur melawan dua orang diantara mereka.”

“Tetapi ia sama sekali tidak terluka ” desis Ki Prawara.

“Darpati memang berilmu tinggi ” sahut Nyi Prawara.

“Tetapi kedua ekor burung itu justru menyerang Manggada dan Laksana. Keduanya tidak membantu dan tidak menyerang Darpati yang mampu mengimbangi kedua orang lawannya.” berkata Ki Prawara dengan dahi yang berkerut.

Manggada dan Laksana pun mulai berpikir. Semula mereka tidak mengurai persoalan itu sedemikian jauh. Tetapi ternyata keduanya merasakan bahwa kedua orang yang bertempur melawan Darpati tidak segarang kedua orang yang bertempur melawan mereka berdua. Apalagi kedua ekor burung elang berkuku baja itu justru menyerang mereka berdua pula.

Hampir diluar sadarnya Manggada bertanya, “Seandainya hal itu sudah diketahui oleh Darpati sebelumnya, lalu apakah maksudnya hal itu dilakukannya?”

“Anak-anak muda. Menurut ceritera Winih dan apa yang kalian katakan melengkapi ceriteranya, maka kedua orang lawan kalian serta kedua ekor burung itu agaknya benar-benar berniat membunuh kalian. Bukankah begitu?” bertanya Ki Prawara.

“Ya paman” jawab Manggada dan Laksana hampir berbareng.

“Tetapi tidak demikian yang dialami Darpati” berkata Ki Prawara selanjutnya.

“Kami tidak begitu yakin, paman” jawab Manggada.

“Tetapi aku mengambil kesimpulan seperti itu ” berkata Ki Prawara.

Manggada dan Laksana tidak menjawab. Sementara itu, Nyi Prawara telah mengusapkan obat pada luka-luka mereka, sehingga keduanya harus menyeringai lagi menahan pedih. Obat itu rasa-rasanya telah menyengat luka-lukanya sampai keurat-urat dagingnya. Bahkan kemudian terasa luka-luka itu menjadi panas.

“Obat kalian cukup baik meskipun hanya sekedar memampatkan luka-luka saja” berkata Nyi Prawara.

Manggada dan Laksana tidak menjawab. Mereka masih harus menahan pedih untuk beberapa saat.

“Aku akan keruang dalam” berkata Ki Prawara.

Ki Prawara tidak menunggu jawaban Manggada dan laksana atau isterinya. Ia pun segera kembali ke ruang dalam. Diruang dalam masih duduk Darpati, Winih dan Kiai Gumrah.

Ketika Ki Prawara sudah pergi keruang dalam, maka Nyi Prawara pun telah selesai mengobati luka-luka Manggada dan Laksana. Hampir diluar sadarnya ia berkata, “lawan-lawanmu memang benar-benar ingin membunuhmu.”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk kecil. Hampir tidak terdengar Laksana bertanya seakan-akan kepada diri sendiri, “Apa maksud mereka sebenarnya?”

Nyi Prawara dengan bersungguh-sungguh berkata perlahan, “Ngger. Mereka memang ingin membunuh kalian. Darpati tentu mengetahui bahwa hal itu akan terjadi, katakan, bahwa ia memang merencanakannya. Kita memang tidak tahu, apa maksud mereka melakukan hal itu. Mungkin karena Darpati tahu bahwa kalian bukan sanak kadang Winih. Atau tegasnya kalian orang lain bagi Winih, sehingga timbul niatnya untuk menyingkirkan kalian dari sisi Winih. Atau justru karena Darpati menganggap bahwa kalian benar-benar cucu Kiai Gumrah yang telah ikut mempertahankan pusaka-pusaka itu. Namun apapun alasannya, kalian memang harus berhati-hati terhadap anak itu.”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Agaknya memang masuk akal. Terutama dalam hubungannya dengan kedua ekor elang itu.

Namun kemudian justru Nyi Prawara lah yang bertanya, “Tetapi bagaimana dengan sepasang harimau itu?”

“Aku mempunyai jawabnya” sahut Manggada. Katanya kemudian, “kedua ekor harimau itu tentu harimau milik Ki Pandi. Saudara seperguruan, tetapi juga lawan bebuyutan Panembahan yang menginginkan pusaka-pusaka itu.”

“Bagaimana kedua ekor harimau itu berdiri dipihakmu?” bertanya Nyi Prawara.

“Kami pernah bersama-sama Ki Pandi bertempur melawan Panembahan itu.” Jawab Manggada.

“Jadi kedua ekor harimau itu pernah mengenalmu?” bertanya Nyi Prawara.

“Ya” jawab Manggada dan Laksana berbareng.

“Bagaimana sikap harimau itu terhadap Darpati?” bertanya Nyi Prawara.

Manggada dan Laksana justru mulai mengingat-ingat. Tetapi yang jelas kedua ekor harimau itu tidak menyerang Darpati.

Meskipun demikian Manggada dan Laksana memang melihat, kedua ekor harimau itu untuk beberapa saat memandangi Darpati dengan menyeringai menampakkan taring-taring mereka. Tetapi keduanya justru meninggalkan arena perkelahian itu dan hilang kedalam hutan.

Nyi Prawara mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Nah, aku sudah selesai mengobati luka-luka kalian. Sekarang sebaiknya kalian memakai baju kalian. Tentu saja bukan yang sudah koyak dan dikotori oleh noda-noda darah itu. Nampaknya baju-baju itu sudah tidak akan dapat dipakai lagi.”

Manggada dan Laksana pun kemudian telah mengambil baju yang lain. Setelah mereka mengenakannya, maka mereka pun segera bersiap untuk pergi keruang dalam, ikut menemui Darpati yang masih duduk bersama Kiai Gumrah, Ki Prawara dan Winih.

Namun dalam pada itu, Manggada sempat berbincang dengan Laksana tentang Darpati. Karena sejak semula mereka sudah menaruh kecuriagaan terhadapnya, maka Manggada pun kemudian berkata, “Agaknya ada benarnya juga dugaan Ki Prawara dan Nyi Prawara. Meskipun semula Nyi Prawara bersikap lain, tetapi kemudian pikirannya sejalan dengan suaminya.”

“Ya. Ternyata Nyi Prawara juga menaruh perhatian terhadap sikap Darpati.” desis Laksana.

“Karena hal itu menyangkut anak gadisnya” jawab Manggada. Namun kemudian katanya, “Tetapi agaknya ada hal lain yang perlu diperhatikan. Nyi Prawara memiliki pengetahuan tentang pengobatan. Lebih dari itu, ia pun dapat mengurai peristiwa didekat pancuran itu dengan cermat.”

“Aku juga menganggap bahwa hal itu bukan hal yang kebetulan” berkata Laksana.

Manggada mengangguk-angguk. Katanya, “Tentu ada kelebihan pada Nyi Prawara. Setidak-tidaknya ia memiliki ilmu pengobatan yang tinggi.”

Laksana hanya mengangguk-angguk saja. Namun kemudian katanya, “marilah. Kita ikut menemui Darpati.”

Keduanya pun kemudian telah masuk keruang dalam. Keduanya ikut duduk pula bersama Kiai Gumrah dan Ki Prawara.

Bahkan kemudian Nyi Prawara pun telah hadir pula di ruang dalam sambil membawa hidangan. Ketika Winih melihat ibunya membawa nampan berisi mangkuk minuman, maka ia pun segera bangkit. Tetapi ibunya berkata, “Duduklah Winih. Tidak ada lagi yang harus dihidangkan.”

Winih memang duduk lagi. Sementara itu Kiai Gumrah pun berkata, “Marilah, silahkan ngger. Hanya minuman yang dapat kami hidangkan.”

“Terima kasih Kiai” jawab Darpati, “sebenarnyalah aku memang haus.”

Darpati pun kemudian menghirup minuman hangat yang dihidangkan oleh Nyi Prawara dengan gula kelapa. Nampaknya betapa segarnya wedang sere itu. Agaknya Darpati memang benar-benar haus.

Untuk beberapa saat Darpati masih berbincang dengan Ki Prawara, Nyi Prawara dan Kiai Gumrah. Meskipun Manggada dan Laksana ada juga diantara mereka, tetapi Darpati seakan-akan tidak banyak menaruh perhatian kepada mereka. Berbeda dengan Winih. Meskipun Winih juga lebih banyak diam, namun Darpati setiap kali berbicara dengan Winih atau tentang Winih.

Kiai Gumrah, Ki Prawara dan Nyi Prawara hanya tersenyum-senyum saja jika Darpati memuji-muji Winih. Mungkin tentang sikapnya, mungkin tentang ketabahan hatinya, juga tentang tanggapannya terhadap Rambatan dan kawan-kawannya.

Demikianlah, beberapa saat kemudian, maka Darpati pun minta diri. Dengan nada tinggi ia berkata, “Besok aku datang lagi mengunjungi Winih. Tetapi untuk sementara kita tidak akan berjalan-jalan lebih dahulu.”

Kiai Gumrah lah yang menjawab, “Ya ngger. Nampaknya ada sesuatu yang harus kita perhitungkan. Agaknya di sekitar padukuhan ini terdapat orang-orang jahat yang berniat buruk. Bahkan anak-anak muda di padukuhan inipun telah berniat buruk pula terhadap Winih.”

“Kita memang harus berhati-hati Kiai” jawab Darpati. Lalu katanya kepada Manggada dan Laksana seperti perintah seorang lurah prajurit, “Jaga adikmu baik-baik.”

Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian keduanya pun mengangguk. Meskipun dengan segan Manggada menjawab, “Aku akan menjaganya.”

Darpati tersenyum. Namun kemudian ia berkata kepada Ki Prawara dan Nyi Prawara, “Sudahlah. Aku minta diri. Mudah-mudahan Winih tidak mengalami sesuatu. Sebaiknya Winih jangan diijinkan keluar halaman rumah ini tanpa aku. Lingkungan ini memang berbahaya sekali.”

Ki Prawaralah yang menjawab sambil menganggukangguk, “Ya, ya ngger. Aku akan melarang Winih keluar halaman. Siapapun yang mengajaknya.”

Darpati mengerutkan dahinya. Katanya, “Kecuali aku ynng mengajaknya.”

“Tetapi Winih akan mempersulit keadaan angger. Hampir saja angger mengalami kesulitan karena Winih.”

“Bukan aku yang hampir saja mengalami bukan saja kesulitan, bahkan bencana. Tetapi Manggada dan Laksana.” jawab Darpati.

“Seandainya Manggada dan Laksana telah diselesaikan oleh kedua orang lawannya, maka kau akan menghadapi ampat orang sekaligus. Bahkan dengan dua ekor burung elang.” desis Ki Prawara.

Tetapi Darpati tertawa. Katanya, “Aku masih akan dapat menyelamatkan diriku.”

“Jadi bagaimana dengan Winih?” bertanya Nyi Prawara.

“Sudah tentu menyelamatkan Winih. Aku akan mampu menghancurkan keempat orang itu meskipun mereka bertempur bersama-sama.”

“Terima kasih ngger” berkata Ki Prawara, “sebagai orang tua, maka aku selalu dibayangi oleh kecemasan tentang satu-satunya anakku.”

Darpati tertawa. Hampir saja ia mengatakan bahwa Kiai Gumrah dan sudah tentu Ki Prawara dapat menilai apa yang dihadapinya karena mereka adalah orang-orang berilmu tinggi. Terutama Kiai Gumrah sendiri sebagai dikatakan oleh Ki Windu kusuma sendiri. Untunglah bahwa ia masih dapat menahan diri untuk tidak mengatakannya. Ia merasa lebih aman jika Kiai Gumrah dan tentu juga Ki Prawara yang berilmu tinggi itu, tidak mengetahui, bahwa sebenarnya ia sudah tahu tentang kemampuan orang tua itu.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, Darpati pun sudah meninggalkan rumah Kiai Gumrah. Demikian Darpati itu hilang dibalik regol, maka Kiai Gumrah pun berkata, “Duduklah Winih. Aku ingin berbicara dengan kau, kedua orang tuamu dan orang kakakmu, nampaknya memang ada yang penting kita bicarakan.”

Winih mengerutkan dahinya. Tetapi ia tidak membantah. Iapun kemudian duduk lagi diamben yang besar itu bersama ayah dan ibunya serta Manggada dan Laksana.

“Apa yang ingin kakek katakan” wajah Winih sudah mulai cemberut. Ia tahu bahwa ayahnya akan berbicara tentang Darpati.

“Winih” berkata kakeknya kemudian, “bagaimana tanggapanmu tentang Darpati?”

“Maksud kakek?” Winih justru bertanya.

“Apakah menurut pendapatmu Darpati itu seorang yang baik, jujur dan dapat dipercaya?”

“Kakek. Darpati adalah seorang yang berilmu tinggi dan mempunyai wawasan yang sangat luas. Ia baik dan bertanggung jawab.” jawab Winih.

“Apakah menurut pendapatmu ia melakukannya dengan jujur?” desak kakeknya.

Winih termangu-mangu. Nampak kerut yang dalam didahi-nya. Dengan ragu ia berkata, “Aku tidak melihat bahwa Darpati berpura-pura. Ia telah mempertaruhkan ilmunya ketika ampat orang itu tiba-tiba saja menyerang.”

“Bagaimana sikapnya terhadap seorang gadis?” bertanya kakeknya pula.

“Bukankah sikapnya baik sekali? Seperti yang aku katakan, ia seorang yang bertanggung-jawab.” jawab Winih.

“Bagiku sikapnya justru terlalu baik. Ia bersikap sangat akrab meskipun kau baru dikenalnya. Sama sekali ia tidak merasa canggung.” Berkata Kiai Gumrah.

“Ya. Ia sama sekali tidak merasa canggung.” Jawab Winih.

“Dan tidak mempunyai perasaan segan” Ki Prawara meneruskan.

“Ya” jawab Winih.

“Kau benar Winih. Darpati sama sekali tidak merasa canggung dan segan meskipun kau baru dikenalnya kemarin. Kau tahu artinya atas sikapnya itu?” bertanya Ki Prawara.

Winih mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak segera mengetahui maksud ayahnya.

Karena itu, maka ia pun bertanya, “Apakah yang ayah maksudkan? Aku tidak mengerti.”

“Winih” berkata Ki Prawara, “menilik sikapnya yang sama sekali tidak canggung dan segan-segan lagi terhadapmu yang baru saja dikenalnya, maka menurut pendapatku, Darpati adalah seorang anak muda yang telah terbiasa berhubungan dengan perempuan. Mungkin mereka adalah gadis-gadis remaja, mungkin sudah dewasa, tetapi mungkin juga perempuan-perempuan yang lebih masak lagi.”

“Ayah” Winih benar-benar terkejut.

“Winih. Kau adalah seorang gadis yang baru saja memasuki usia dewasa. Kau baru menginjak satu masa pancaroba. Sementara itu, kau belum mengenal liku-liku kehidupan cukup jauh. Karena itu, jika kau mau mendengar kata-kata ibu, ayah dan kakek, maka kau jangan bergaul terlalu rapat dengan Darpati” berkata ibunya kemudian.

Wajah Winih menjadi tegang. Dengan nada berat ia bertanya, “Ibu, ayah dan kakek mencurigainya bahwa ia tidak jujur?” bertanya Winih.

Nyi Prawara memandang mata Winih yang memancarkan kegelisahan hatinya yang sangat. Namun dengan nada dalam Nyi Prawara itu menjawab, “Ya Winih. Kami tidak dapat berkata lain, bahwa kami memang mencurigai Darpati, bahwa ia tidak jujur terhadapmu.”

Mata Winih menjadi basah. Katanya, “Bagaimana kakek, ayah dan ibu dapat menganggap bahwa ia tidak jujur, justru ia sudah menunjukkan jasanya yang besar. Ia menolongku ketika Rambatan dan kawan-kawannya menggangguku, sementara kakang Manggada dan Laksana tidak berbuat apa-apa. Iapun telah menyelamatkan aku ketika aku diancam untuk dibawa oleh ampat orang yang tidak dikenal, sementara kakang Manggada dan Laksana berdua tidak dapat berbuat banyak. Bahkan kakang Manggada dan Laksana belum tentu akan dapat mempertahankan nyawanya sendiri.”

“Tetapi bukankah Darpati yang mengajakmu ke tempat yang sepi itu?” bertanya ibunya pula.

“Jadi maksud ibu, Darpati telah menempatkan orang-orangnya di tempat itu?” desak Winih.

Ibunya menarik nafas dalam-dalam. Katanya agak sendat, “Kami belum memastikan bahwa hal itu dilakukannya, Winih. Tetapi kami mengambil kesimpulan sementara, bahwa Darpati telah melakukannya. Kami juga menghubungkan kehadiran dua ekor burung elang berkuku baja itu. Luka Manggada dan Laksana menunjukkan, bahwa kedua ekor burung elang itu memang sangat berbahaya. Bekas kuku-kukunya yang mengoyak bukan saja kulitnya, tetapi juga daging kakak-kakakmu. Sementara itu Darpati sama sekali tidak diganggu oleh kedua ekor burung elang itu.”

“Tetapi Darpati sudah bertempur melawan dua orang.” jawab Winih.

“Apakah kau sempat memperhatikan pertempuran itu?” bertanya ibunya dengan nada lebih keras.

Winih tertunduk dalam-dalam. Perhatiannya memang tertarik pada sepasang burung elang yang menyerang Manggada dan Laksana disamping kedua orang lawannya.

“Sudahlah” berkata Kiai Gumrah, “kita memang masih harus menyeledikinya. Namun yang penting kau ketahui Winih, bahwa sikap Darpati kepadamu menunjukkan bahwa ia sudah terbiasa bergaul dengan perempuan jenis apapun juga. Ketahuilah dan pertimbangkan hal ini baik-baik.”

Kata-kata kakeknya itulah yang justru menyentuh perasaannya yang paling dalam. Winih memang menjadi sedih mendengarnya. Sebagai gadis yang tumbuh dewasa, Winih memang jarang bergaul dengan laki-laki.

Sebagaimana dengan kawan-kawannya, jika seorang gadis tumbuh mendekati masa dewasanya, maka pergaulannya dengan anak-anak muda justru menjadi semakin jauh.

Meskipun demikian, masih nampak pada mata Winih yang basah, bahwa ia masih belum percaya sepenuhnya kata-kata kakek, ayah dan ibunya. Baginya Darpati adalah seorang laki-laki yang memiliki tanggung jawab yang sangat besar.

Tetapi Winih tidak lagi menjawab.

Kiai Gumrah pun kemudian telah meninggalkan ruangan itu untuk pergi ke kebun. Nyi Prawara pun telah kembali ke dapur, sementara Ki Prawara pergi ke halaman depan.

Yang tinggal diruang dalam adalah Manggada, Laksana dan Winih yang masih merenungi persoalan yang menyangkut Darpati.

Kepada Manggada dan Laksana Winih itu bertanya, “Kakang, jika Darpati sengaja memancing kita kedalam jebakannya di dekat pancuran itu, apa yang mereka kehendaki?”

Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Manggadapun menjawab, “Kami tidak tahu pasti Winih. Tetapi jika ia berhasil menyelamatkanmu, maka dimatamu, ia tentu benar-benar menjadi seorang pahlawan.”

Winih memandang Manggada dengan tajamnya. Katanya, “Apakah ia menjadi sejahat itu?”

Namun Laksana itu justru menjawab, “Mungkin lebih jahat dari itu Winih. Mungkin Darpati benar-benar ingin membunuh kami berdua, namun-tanpa meninggalkan jejak kejahatannya.”

“Kenapa ia ingin membunuh kalian berdua?” bertanya Winih.

Agaknya hati Laksana lebih terbuka dari Manggada. Karena itu, maka jawabnya menirukan pendapat Nyi Prawara, “Mungkin Darpati tahu bahwa kau bukan adikku dan bukan adik kakang Manggada. Maksudku, bukan adik kandung atau sepupu atau sama sekali bukan sanak kadang.”

“Lalu, kenapa jika demikian?” bertanya Winih.

“Darpati tidak ingin melihat seorang anak muda ada didekatmu” jawab Laksana.

Wajah Winih menjadi merah. Ternyata ia menjadi marah mendengar kata-kata Laksana itu. Dengan suara bergetar ia berkata, “Jadi selama ini kau menganggap bahwa kehadiranku, sikapku dan keakrabanku terhadap kalian itu kau artikan sebagaimana sikap seorang gadis terhadap seorang anak muda? Kakang, ternyata kaulah yang tidak jujur terhadapku. Selama ini aku menganggap kalian sebagai kakak-kakak kandungku sendiri.”

Winihpun segera bangkit berdiri dan hampir saja ia melangkah pergi. Namun Manggadalah yang kemudian berkata dengan sabar, “Winih. Dengarlah penjelasan kami. Ternyata kau salah paham.”

“Tidak. Aku tidak salah paham. Aku tahu benar apa yang kalian maksudkan” jawab Winih.

“Tunggu Winih. Seandainya kau tahu benar maksud kami, kami masih ingin menambah pengertianmu sedikit saja. Duduklah.” berkata Manggada.

Winih memang duduk. Tetapi wajahnya masih saja nampak gelap. Bukan saja kekecewaannya terhadap sikap kakek, ayah dan ibunya, tetapi juga sikap Manggada dan Laksana.

“Winih” berkata Manggada, “kami tidak sedang mengatakan sikap batinmu. Aku tahu bahwa kau telah menganggap kami berdua sebagaimana kakak kandungmu sendiri. Kami berdua pun menganggapmu sebagai adik kandungku sendiri. Sehingga dengan demikian, maka apa yang kami lakukan, adalah ungkapan sikap seorang kakak terhadap adiknya. Tetapi yang kami katakan adalah sikap batin Darpati. Ia tahu bahwa aku dan Laksana bukan kakak kandungmu, bukan pula sepupumu dan bahkan bukan sanak-kadangmu sendiri. Karena itu, maka Darpati berpendapat, bahwa ada kemungkinan, aku atau Laksana ingin berdiri menjadi sekat keinginannya untuk mendekatimu. Karena itu, maka baik aku maupun Laksana harus disingkirkan dengan caranya, agar tidak meninggalkan jejak.”

“Hati kalianlah yang berbulu. Kalian menuduh Darpati berbuat jahat. Tetapi bukankah dihati kalian sendiri tumbuh niat seperti itu? Kalian ingin menyingkirkan Darpati, jika tidak merampas nyawanya karena kalian tidak mampu, juga dengan menghancurkan nama baiknya. Agaknya kakek, ayah dan ibu mulai terpengaruh oleh tanggapan kalian terhadap Darpati.” sahut Winih.

“Winih” berkata Manggada yang mulai berkeringat mengendalikan perasaannya yang bergejolak, “kau harus mencoba mendengarkan kata-kata kami.”

Laksanalah yang menjadi hampir tidak sabar. Tetapi karena ia mengingat bahwa gadis itu adalah cucu Kiai Gumrah, maka Laksana dengan susah payah masih mengendalikan dirinya.

“Apa lagi yang harus aku dengar?” bertanya Winih.

“Apapun yang kami lakukan, adalah karena kami menganggapmu sebagai adik kandung kami sendiri. Kami tidak mau melihat kau ditelan oleh serigala yang ganas, namun yang mengenakan bulu domba itu.” Berkata Manggada, “sekali lagi harus kau sadari, bahwa yang kami katakan adalah sikap batin Darpati. Bukan sikap hatimu. Kau harus yakin, bahwa kami tidak dapat menganggapmu lain daripada adik kandung. Itu pun merupakan satu kehormatan yang tidak ada taranya, karena kami adalah anak-anak terbuang yang mengembara menyusuri lorong-lorong sempit, lereng-lereng terjal dan tepi-tepi hutan yang pepat. Disiang hari kami berpayung matahari dan dimalam hari kami berkandang langit dan berselimut awan. Dengan demikian, bagaimana kanii berani memikirkan atau bahkan berangan-angan jauh melampaui derajat dan martabat kami sebagai pengembara yang tidak berharga?”

Winih mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia pun tersenyum sambil berkata lembut, “Maaf kakang. Tetapi kakang jangan merajuk seperti itu. Seharusnya sebagai seorang laki-laki kakang menjadi marah kepadaku.”

“Winih” desis Manggada, “seandainya aku tidak menganggapmu sebagai adik kandungku, maka aku tentu akan marah, karena kau tidak berhak bersikap demikian terhadapku.”

“Aku minta maaf kepada kakang berdua” desis Winih pula.

“Baiklah Winih” berkata Manggada kemudian, “aku akan melupakannya. Tetapi apa yang aku katakan tentang Darpati sama sekali bukan fitnah. Tetapi benar-benar muncul dari nurani kami, kakak-kakak kandungmu. Mudah-mudahan dugaan kami itu tidak benar sehingga persoalannya tidak akan berekor dengan luka-luka dihatimu dan dihati ayah, ibu serta kakekmu. Jika kau percaya, tentu juga dihatiku dan dihati Laksana.”

“Aku berterima kasih bahwa kalian tidak menjadi marah kepadaku kakang.” bertaka Winih kemudian.

“Jika kau, mau mendengarkan kata-kata kami, kata-kata kakek, ayah serta ibumu, maka kami akan menjadi sangat berbahagia.” jawab Manggada,

Winih pun kemudian bangkit berdiri sambil berdesis, “Kakang, aku akan memperhatikan keteranganmu, keterangan ayah, kakek dan ibu. Tetapi kenyataanlah yang akan membuktikan, apakah anggapan kalian terhadap Darpati itu benar.”

“Tentu saja Winih. Tetapi kesadaranmu jangan datang terlambat” berkata Manggada.

Winih mengangguk sambil tersenyum. Namun kemudian iapun melangkah kedapur sambil berdesis, “Aku harus membantu ibu.”

Demikian Winih hilang dibalik pintu, Laksana tiba-tiba saja berkata, “Apa pula yang kau lakukah? He, Winih sendiri berkata kepadamu, jangan merajuk. Seharusnya kau marah. Kenapa justru kau berkata dengan nada cengeng tentang pengembaraan kita, seolah-olah kita disiang hari berpayung matahari dan dimalam hari hati kita berkandang langit berselimut awan.”

Manggada tertawa tertahan. Katanya, “Tetapi bukankah hati Winih menjadi luluh? Apa katanya? Ia telah minta maaf kepada kita berdua. He, Laksana. Seorang gadis yang sedang mulai menapakkan kakinya kedalam dunia mimpi, maka ia akan lebih mudah tersentuh oleh kata-kata yang sedikit merajuk seperti itu.”

Laksana mengerutkan dahinya. Namun ia pun kemudian tertawa. Katanya, “Pantas Winih menyebut kita tidak jujur. Ternyata kau memang pandai berpura-pura.”

“Tetapi bukankah kita tidak bermaksud buruk?”

Laksana mengangguk. Katanya, “Ya. Kita memang tidak bermaksud buruk.”

“Nah, kita sekarang akan turun ke kebun. Kita akan membantu Kiai Gumrah.” ajak Manggada.

Namun Laksana sempat berdesis, “Tetapi mata Darpati tidak kabur.”

“Kenapa?” bertanya Manggada.

Laksana tersenyum. Perlahan-lahan ia berdesis, “Winih memang cantik.”

“Ah, kau” sahut Manggada, “ketika kita menyelamatkan gadis yang hampir saja menjadi korban keris Panembahan itu, kau mengatakan bahwa gadis itu cantik sekali. Kemudian ketika kita membantu menyelamatkan Mas Rara, kau berkata bahwa Mas Rara adalah gadis yang sangat cantik. Sekarang kau bertemu dengan Winih, kau berkata bahwa Winih adalah seorang gadis yang memang cantik.”

Laksana tertawa. Hampir saja ia tidak dapat menahan suara tertawanya. Namun kemudian ia menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Tetapi ia sempat berdesis, “Ketiga-tiganya telah kita pertaruhkan dengan nyawa kita.”

“Sudahlah” desis Manggada, “kau jangan mengigau begitu.”

Laksana tidak menjawab. Tetapi ia masih tersenyum sambil melangkah mengikuti Manggada yang pergi ke halaman belakang.

Demikian keduanya berada dipintu butulan, mereka melihat Kiai Gumrah yang telah berdiri di longkangan bersama Ki Prawara memandang ke udara.

Tanpa ragu-ragu Manggada pun menebak, “Burung elang itu lagi, kek?”

“Ya. Kemarilah. Biarlah burung itu melihat bahwa kau berdua telah selamat sampai dirumah ini.”

Manggada dan Laksana pun segera turun ke longkangan. Mereka melihat sepasang burung elang yang terbang berputar-putar. Yang seekor tentu bukan elang yang telah terluka. Sedangkan yang seekor lagi nampaknya juga masih segar. Tetapi mereka memang tidak dapat membedakan seekor elang dengan elang yang lain.

Beberapa saat burung elang itu berputar-putar diatas rumah Kiai Gumrah. Sementara Manggada berdesis hampir kepada diri sendiri, “Apakah ada semacam isyarat buat Darpati?”

Manggada terkejut ketika ia mendengar Ki Prawara bertanya, “Kau yakin ada hubungan antara burung-burung itu dengan Darpati sehingga dengan demikian kau yakin bahwa yang telah terjadi itu sengaja dilakukan oleh Darpati sebagai jebakan?”

Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Baru kemudian Manggada menjawab sambil mengangguk kecil, “Kami hanya menduga paman. Tetapi menurut pendengaran kami atas beberapa pendapat dari paman sendiri, kakek dan bibi agaknya memang demikian. Namun Winih akan berpendapat lain.”

Ki Prawara mengangguk-angguk, Ketika Ki Prawara itu kemudian menengadahkan wajahnya, maka burung elang itu sudah terbang menjauh dan kemudian hilang dikejauhan.

“Winih telah membuat kepalaku menjadi pening” berkata Ki Prawara, “aku menyesal membawanya kemari sehingga ia bertemu dengan Darpati. Bagiku Darpati jauh lebih berbahaya dari Rambatan, karena kita tahu dengan pasti, siapakah Rambatan itu dan seberapa tinggi kemampuannya. Tetapi Darpati bagi kita masih terlalu asing. Sementara Winih telah langsung tertarik melihat ujud orang itu.

“Tetapi bagi seorang gadis seumur Winih, kita masih mempunyai kesempatan untuk mengarahkannya. Menurut pendapatku, sebaiknya kita berterus-terang bahwa kita menduga bahwa Darpati adalah salah seorang dari antara mereka yang ingin mengambil pusaka-pusaka itu.” Berkata Kiai Gumrah.

“Aku juga berpikir demikian ayah. Tetapi apakah Winih percaya? Apakah ia tidak mengira bahwa itu adalah sekedar alasan kita untuk mencegahnya berhubungan dengan Darpati?”

“Kita akan mencobanya.” berkata Kiai Gumrah.

Ki Prawara mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah ayah. Kita memang harus berbicara dengan terbuka terhadap gadis itu. Kita berharap bahwa ia akan dapat mengerti apa yang sebaiknya dilakukan. Kita tidak ingin Winih menjadi semakin jauh terjerumus kedalam ikatan batin dengan Darpati.”

Kiai Gumrah mengangguk-angguk saja. Namun katanya kemudian kepada Manggada dan Laksana, “Kalian harus membantu kami.”

” Ya kakek.” jawab Manggada dan Laksana.

“Baiklah” jawab Kiai Gumrah, “kita harus menjaga agar persoalan kita tidak menjadi semakin kusut. Sementara Kiai Windu Kencana tentu sudah membicarakan rencananya semakin masak. Waktu kita menjadi semakin sempit. Orang yang kita harapkan dapat memberikan keterangan adalah Kundala. Tetapi jika benar Darpati adalah salah seorang diantara mereka, maka Kundala akan semakin sulit menghubungi kita. Apalagi jika pada suatu saat Darpati ada disini, sengaja atau tidak sengaja melihat Kundala singgah.”

Ki Prawara mengangguk-angguk. Katanya, “Kita harus menemukan satu cara untuk menyingkirkan Darpati dari Winih.”

Tetapi Ki Prawara dan Kiai Gumrah sepakat untuk berbicara langsung dengan Winih lebih dahulu.

Menjelang sore hari, maka Manggada dan Laksana telah melakukan tugasnya sehari-hari. Mereka telah berada di banjar untuk membersihkan halaman banjar menggantikan pekerjaan Kiai Gumrah. Mengisi lampu dan kemudian menyiapkannya. Jika senja turun, maka mereka tinggal menyulutnya saja.

Namun dalam pada itu, seorang anak muda yang agaknya tergesa-gesa datang menemui mereka.

“Ada apa?” bertanya Manggada.

“Rambatan” desis anak muda itu.

“Kenapa dengan Rambatan?” bertanya Laksana sambil mengerutkan dahinya.

“Ia mendendammu” jawab anak muda itu.

“Kenapa dendam aku?” bertanya Laksana pula.

“Ketika ia berniat mengajak adikmu singgah dirumahnya, maka niatnya itu telah terhalang.”

“Tetapi bukan kami yang menghalanginya. Tetapi Darpati”

“Nampaknya ia tidak berani melawan orang itu. Selain itu ia tidak tahu dimana tinggalnya orang yang telah memukulinya bersama dengan beberapa orang anak muda dari padukuhan kami.”

“Jadi dendamnya ditimpakan kepada kami?” bertanya Manggada dengan nada tinggi.

“Ya. Bahkan bukan hanya itu. Tetapi Rambatan telah mengadu kepada Ki Bekel. Meskipun Ki Bekel dan para bebahu padukuhan ini tidak senang terhadap Rambatan dan tingkah lakunya, tetapi bahwa anak-anaknya dipukuli oleh orang lain, Ki Bekel agaknya menjadi marah juga.”

“Apakah Rambatan telah mengelabui Ki Bekel dengan keterangan palsu?” bertanya Manggada.

“Tidak. Ki Bekel sudah mendapat laporan tentang apa yang terjadi. Ki Bekel memang menjadi marah kepada Rambatan dan memberinya peringatan. Tetapi disamping itu, Ki Bekel tidak mau anak padukuhan ini dipukuli oleh orang lain.”

“Bukankah Rambatan berbuat salah? Jika tidak ada orang lain itu, maka adikku dapat saja mengalami hal yang buruk.” jawab anak muda itu.

“Menurut Ki Bekel, Rambatan harus dilaporkan kepadanya. Bukan dipukuli dan bahkan dilukai” jawab anak muda itu.

“Terlambat. Jika saat itu, kami harus melapor kepada Ki Bekel, maka yang tidak diinginkan mungkin sudah terjadi. Sementara itu memang Rambatan dan kawan-kawannya yang justru mendahului sehingga timbul perselisihan itu.” berkata Laksana.

“Ya. Aku mengerti. Tetapi berhati-hatilah. Atau pulang sajalah. Rambatan dan kawan-kawannya kadang-kadang tidak dapat menahan diri.” berkata anak muda itu.

“Tetapi jika ia berbuat demikian, maka Darpati akan marah. Ia dapat berbuat banyak atas Rambatan dan kawan-kawannya.” Jawab Manggada.

“Betapapun tinggi kemampuan orang itu, tetapi Rambatan dapat menggerakkan banyak anak-anak muda padukuhan ini. Senang atau tidak senang, anak-anak muda itu tidak berani menolak jika Rambatan minta agar mereka melakukannya.” berkata anak muda itu.

“Jika dasarnya adalah karena mereka takut terhadap Rambatan dan kawan-kawannya, maka ketakutan yang lebih besar akan mencegah mereka. Darpati pantas lebih ditakuti dari Rambatan.” jawab Manggada.

“Tetapi orang yang bernama Darpati itu tidak bertemu setiap hari dengan anak-anak muda di padukuhan ini.” berkata anak muda itu.

Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Manggada berdesis, “Baiklah. Kami akan pulang. Pekerjaan kami memang sudah selesai. Tinggal nanti menyalakan lampu-lampu minyak itu.”

Tetapi Laksana itupun bertanya, “Jika kami pulang, apakah Rambatan dan kawan-kawannya tidak akan menyusul kami?”

“Ada beberapa pertimbangan” berkata anak muda itu, “aku sudah berbicara dengan beberapa orang kawan. Rambatan agaknya segan datang kerumahmu karena ada adikmu. Apalagi melakukan kekerasan terhadap kalian berdua.”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Katanya, “Jika Kiai Gumrah tidak terlalu sibuk, biar Kiai Gumrah sajalah nanti yang menyalakan lampu di banjar.”

Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Dengan nada datar Manggada berkata, “Baiklah. Aku akan berbicara dengan kakek.”

Demikianlah, maka Manggada dan Laksana itu pun segera meninggalkan banjar itu, sementara anak muda itu pun telah pergi pula. Anak muda itu berusaha agar kedatangannya tidak diketahui oleh Rambatan atau kawan-kawannya yang seakan-akan telah menjadi pengikutnya.

Ketika Manggada dan Laksana sampai dirumah Kiai Gumrah, maka keduanya masih saja ragu-ragu. Apakah mereka akan mengatakannya apa yang akan dilakukan oleh Rambatan.

Tetapi tiba-tiba saja Laksana berkata, “Aku tidak mau selalu menghindar dari setiap persoalan. Kita tidak akan dapat terus-menerus bersembunyi, Kakek juga tidak. Sementara itu Darpati sudah mengetahui bahwa kita bukan Rambatan.”

Manggada mengangguk angguk. Namun tiba-tiba ia berdesis, “Darpati sama sekali tidak merasa heran melihat kita berkelahi di dekat pancuran itu. Agaknya ia memang sudah mengetahui bahwa kita memang bukan orang yang sama sekali tidak berdaya.”

“Agaknya memang demikian. Ketika ia melindungi Winih dari niat Rambatan mengajaknya singgah di rumahnya, ia sengaja mencegah kita berbuat sesuatu, jika kita berbuat sesuatu, maka kejantanannya akan menyusut dimata Winih.” sahut Laksana.

Manggada termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Kita tidak akan menyembunyikan diri untuk seterusnya. Kita akan pergi ke banjar untuk menyalakan lampu nanti.”

“Kita tidak usah minta pertimbangan kakek. Kita justru akan mengatakan kepada kakek, bahwa kita tidak mempunyai kesempatan untuk mengelakkan diri dari benturan kekerasan.” berkata Laksana kemudian.

Manggada mengangguk-angguk. Rasa-rasanya memang menjemukan untuk terus-menerus berpura-pura.

Karena itu, maka keduanya memang tidak mengatakan kepada Kiai Gumrah bahwa Rambatan akan mengajak kawan-kawannya melontarkan dendam dan kemarahannya kepada mereka berdua.

Tidak seperti yang dikatakan mereka kepada anak muda itu, maka Manggada dan Laksana justru dengan sengaja pergi ke banjar lama itu untuk menyalakan lampu minyak. Mereka sama sekali tidak merasa perlu lagi untuk menghindar, karena dengan demikian maka persoalan antara mereka dan Rambatan justru tidak akan segera dapat diselesaikan.

Manggada dan Laksana kemudian sepakat, jika mereka tidak melarikan diri, maka Rambatan dan kawan-kawannya tidak akan menakut-nakuti mereka lagi.

Ternyata anak muda yang datang memberitahukan kepada mereka, bahwa Rambatan dan kawan-kawannya akan datang itu tidak berbohong. Demikian lampu-lampu minyak di banjar lama itu menyala, maka di halaman banjar itu telah menunggu beberapa orang anak muda yang dipimpin oleh Rambatan.

“Orang-orang yang mencegat Winih di bulak itu” desis Manggada yang hanya didengar oleh Laksana.

Laksana menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Rambatan benar-benar menjadi sakit hati. Agaknya ia ingin membangkitkan kepercayaan kawan-kawan yang telah menjadi pengikutnya itu. Jika mereka berhasil menghajar kami berdua, maka cacat nama Rambatan karena kekalahannya dari Darpati akan sedikit dipulihkan.”

Tetapi Laksana itupun berkata, “Tetapi aku tidak mau dikalahkan. Aku akan berbuat sebagaimana dilakukan oleh Darpati.”

Namun ketika keduanya turun dari tangga pendapa banjar lama, yang berdiri dipaling depan bukan Rambatan, tetapi seorang yang sebelumnya belum pernah dilihat oleh Manggada dan Laksana.

“Hati-hati terhadap orang ini” bisik Manggada. Laksana mengangguk. Tetapi ia justru langsung melangkah mendapatkan orang itu.

Orang itu mengerutkan dahinya. Dengan tajamnya ia memandang Laksana yang kemudian berdiri dihadapannya. Seakan-akan tidak ada persoalan apapun, Laksana berkata, “Selamat malam, Ki Sanak. Apakah kalian mempunyai keperluan?”

“Siapa kau?” bertanya orang yang bertubuh kekurus-kurusan itu.

“Aku adalah cucu Kiai Gumrah, yang terbiasa merawat banjar lama ini. Bukankah Rambatan dan anak-anak muda padukuhan ini mengetahuinya? Tetapi justru aku yang bertanya kepada Ki Sanak. Selama aku berada disini, aku belum pernah bertemu dengan Ki Sanak.

“Persetan dengan kau” jawab orang itu, “aku tidak peduli apakah kau mengenal aku atau tidak. Tetapi dibulak itu kalian telah menyakiti hatiku, hati kawan-kawanku.” Jawab orang itu.

“Tetapi apa hubunganmu dengan persoalan yang pernah terjadi antara Darpati dan Rambatan? Jika Rambatan mendendam dan datang kepadamu untuk minta bantuanmu, maka sasaran dendamnya seharusnya adalah Darpati, bukan kami” berkata Laksana.

“Tidak ada dendam dan aku tidak peduli dengan Darpati. Aku datang membalas sakit hatiku dan sakit hati kawan-kawanku.”

“Ya. Tetapi kenapa kau dan kawan-kawanmu menjadi sakit hati kepada kami? Jangan berputar-putar. Berkatalah terus-terang. Rambatan gagal mengganggu adikku Winih. Tetapi ia tidak berani membalas dendam kepada Darpati. Sekarang ia datang kepadaku bersama kawan-kawannya, bahkan dengan kau yang asing bagi padukuhan ini.” Laksana berkata lantang.

“Persetan semuanya itu. Aku tidak peduli. Apapun sebab dan alasannya, bahkan seandainya tanpa alasan sekalipun. Kami ingin memukuli kalian berdua sampai kalian berdua tidak dapat bangkit berdiri. Itu saja.”

Laksana menggeram. Wajahnya menjadi panas. Dengan geram ia berkata, “Kau kira kami akan menyerahkan diri kami untuk diperlakukan demikian? He, berapa kau diupah untuk berbuat demikian atasku oleh Rambatan?”

“Setan kau ” jawab orang itu dengan suara bergetar oleh kemarahan yang menghentak dadanya, “aku bukan orang upahan.”

“Tentu kau orang upahan” jawab Laksana, “apapun ujud upahnya. Mungkin bukan uang. Mungkin kesempatan, mungkin pujian atau mungkin kau ingin menjadi pahlawan dan dikagumi kawan-kawanmu.”

“Cukup. Kau yang hanya dua orang itu akan berbual apa, he? Jika kalian mempersulit diri, maka nasib kalian akan semakin buruk. Lebih buruk lagi jika kami nanti datang ke rumahmu untuk mengambil adikmu itu. Karena itu, sebaiknya kalian dengar dan lakukan perintah kami.”

“Melakukan perintahmu untuk memukuli diri sendiri” bertanya Laksana.

“Satu pendapat yang bagus” berkata orang yang tinggi kekurus-kurusan itu.

Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Sambil tersenyum orang itu berkata, “Kami ingin melihat kalian berdua berkelahi. Kalian harus bersungguh-sungguh sehingga salah seorang diantara kalian tidak dapat bangkit lagi. Nah. yang menang akan kami maafkan. Yang kalah, akan mengalami nasib yang lebih buruk lagi.”

Tetapi Laksana tersenyum. Katanya, “Bagaimana jika kalian saja yang berkelahi? Yang menang akan aku maafkan.”

Wajah orang itu menjadi merah. Sambil berpaling kepada Rambatan ia berkata, “Rambatan. Aku sependapat dengan kau, bahwa kedua-duanya harus mendapat pelajaran yang setimpal dengan kesombongannya. Mereka telah berpihak kepada orang yang dengan sengaja melawanmu. Nah, sekarang kau pantas memberikan hukuman kepada mereka.

“Jangan menunggu lagi” berkata Rambatan, “aku sudah tidak sabar.”

“Marilah” berkata orang yang kekurus-kurusan itu, “kita sebagaimana aku katakan, akan memukuli mereka sampai mereka tidak dapat bangkit lagi.”

Adalah tidak diduga sama sekali, bahwa tiba-tiba saja Laksana justru telah meloncat menyerang orang yang kekurus-kurusan itu. Ia menganggap bahwa orang itu adalah orang yang paling diandalkan diantara sekelompok orang yang dipimpin oleh Rambatan itu.

Serangan yang tiba-tiba itu sangat mengejutkan orang yang tinggi agak kekurus-kurusan itu. Karena itu, maka ia tidak sempat menghindar. Yang dapat dilakukan adalah berusaha melindungi dadanya yang menjadi sasaran serangan kaki Laksana dengan tangannya.

Serangan Laksana demikian kerasnya didorong oleh segenap kekuatannya. Kakinya yang terjulur itu telah menghantam tangan orang yang kekurus-kurusan yang bersilang didadanya. Demikian kerasnya serangan itu, sehingga dorongan kekuatannya yang menghentak pada tangan yang bersilang itu telah menekan dadanya pula.

Orang itu pun telah terdorong beberapa langkah surut. Bahkan ia pun telah kehilangan keseimbangannya, sehingga terhuyung-huyung menimpa beberapa orang yang berdiri dibelakangnya.

Namun dengan demikian orang itu tidak jatuh terlentang di halaman banjar itu.

Dengan sigapnya orang itu segera memperbaiki keseimbangannya yang goyah. Sejenak kemudian ia sudah berdiri tegak sambil mengumpat. Namun kemudian mulutnya harus menyeringai menahan sakit. Dadanya serasa menjadi sesak. Sedangkan tulang-tulang iganya bagaikan menjadi retak.

“Setan yang licik” geram orang itu.

Tetapi Laksana tidak mau mendengarnya. Ia pun dengan cepat telah menyerang pula.

Rambatan juga terkejut melihat serangan Laksana. Ia tidak menduga sama sekali, bahwa Laksana itu mampu bergerak demikian cepatnya. Dengan mendorong kawannya yang bertubuh kekurus-kurusan itu sehingga kehilangan keseimbangannya.

Karena itu, maka dengan cepat Rambatan mempersiapkan diri. Ia adalah anak muda yang ditakuti oleh seisi padu-kuhan itu. Karena itu, maka ia pun dapat bersikap garang pula.

Tetapi Manggada dengan cepat mendapatkannya sambil berkata, “Jangan campuri persoalan mereka.”

“Iblis kau. Ternyata kalian tidak tahu diri. Kalian harus menyadari dengan siapa kalian berhadapan.”

“Aku tahu. Aku berhadapan dengan Rambatan” jawab Manggada.

“Dan kau tahu siapa Rambatan itu?” bertanya Rambatan itu lagi.

“Tentu. Kau adalah anak muda yang disegani dipadukuhan ini. Sehingga kau seakan-akan dapat berbuat apa saja menurut kehendakmu sendiri.”

“Nah, jika demikian, kenapa kau berani menentang aku?”

“Karena aku bukan orang padukuhan ini” jawab Manggada, “aku datang kepadukuhah ini hanya sekedar untuk menengok kakekku. Karena itu, maka aku tidak terikat oleh keadaan yang berlaku di padukuhan ini. Juga keseganan anak-anak muda padukuhan ini terhadapmu.”

“Kau akan menyesal anak sombong. Apalagi jika mau tahu, siapakah kawanku itu.” geram Rambatan.

“Siapa?” bertanya Manggada.

“Ia datang dari jauh. Ia datang untuk menolongku dari penghinaan orang seperti yang kau sebut Darpati itu. Dan apalagi kau berdua. Malam ini kami akan membuat kalian jera. Besok atau lusa kami akan menghancurkan Darpati.”

“Siapakah orang itu?” desak Manggada.

“Kau tidak perlu tahu lebih banyak. Tetapi ia seolah-olah datang dari langit.”

Manggada termangu mangu sejenak. Ia sempat melihat bagaimana Laksana bertempur melawan orang yang bertubuh kekurus-kurusan itu.

Rambatan yang juga berpaling kepada kawannya yang kekurus-kurusan itu, sempat terkejut. Laksana telah mendesaknya sehingga beberapa kali orang itu berloncatan surut.

Namun Rambatan pun kemudian membentak kawan-kawannya yang seperti kebingungan menyaksikan pertempuran itu, “He, kenapa kau menjadi seperti patung.”

Seorang kawannya menjawab, “Bukankah orang itu tidak mau diganggu jika ia sudah mulai bertempur?”

“Persetan. Sekarang, hancurkan yang satu ini.” perintah Rambatan.

Kawan-kawan Rambatan itu pun segera bergerak. Namun seperti Laksana, maka Manggadapun tidak mau terlambat. Dengan cepat ia menyerang seorang yang ingin menunjukkan keberaniannya, maju terlalu dekat dengan Manggada.

Serangan Manggada pun tidak tanggung-tanggung pula. Begitu cepat dan langsung kesasaran. Dengan dilandasi kekuatannya yang besar, maka kakinya yang telah terlatih itu terjulur langsung menikam arah ulu hati.

Anak muda yang dikenai serangan itu mengaduh. Tubuhnya pun kemudian terbanting jatuh terguling ditanah. Namun ia pun kemudian telah berguling-guling sambil memegangi arah ulu hatinya yang bagaikan terkoyak itu.

Rambatan yang marah pun menerkamnya. Rasa-rasanya ia ingin meremas leher Manggada yang telah melumpuhkannya seorang kawannya.

Tetapi Manggada yang terlatih itu tidak mudah untuk disentuhnya. Karena itu, maka tangannya sama sekali tidak mengenai sasaran.

Sementara itu Manggada pun telah berloncatan diantara beberapa orang lawannya. Kakinya yang terayun mendatar telah menyambar seorang lagi diantara kawan-kawan Rambatan.

Orang itu masih berusaha menahan ayunan kaki Manggada dengan tangannya. Tetapi ayunan kaki itu demikian kerasnya, sehingga tangan orang itu justru bagaikan dihentakkan dengan sangat kerasnya sehingga tulangnya serasa menjadi retak.

Orang itu mengaduh tertahan. Ia pun meloncat beberapa langkah surut sambil memegangi sebelah tangannya dengan tangannya yang lain.

Rambatan memang menjadi semakin marah. Tetapi Manggada pun tidak ingin bertempur terlalu lama. Ia pun segera berloncatan. Kaki dan tangannya menyambar-nyambar seperti burung sikatan.

Kawan-kawan Rambatan pun seakan-akan telah kehilangan kesempatan melawan. Ketika mereka melawan Darpati, mereka tidak tahu apa yang terjadi atas diri mereka. Yang mereka ketahui adalah, bahwa mereka telah terlempar dan kesakitan.

Namun melawan Manggada mereka juga tidak mempunyai kesempatan untuk membalas serangan-serangan yang datang beruntun. Bahkan Rambatan pun kemudian menjadi bingung ketika kedua tangan Manggada telah mengenai kedua sisi pelipisnya hampir bersamaan.

Sementara itu, Laksana masih bertempur melawan orang yang kekurus-kurusan itu. Ternyata bahwa orang itu juga memiliki bekal kemampuan yang cukup. Karena itu, maka Laksana harus mengerahkan kemampuannya untuk mengatasinya.

Beruntunglah Laksana bahwa ia telah menyerang lebih dahulu, sehingga setiap kali orang itu harus memegangi dadanya yang menjadi sakit serta nafasnbya yang sesak, sehingga bagaimanapun juga dapat mengganggu kemantapannya bertempur.

Namun Laksana telah ditempa selain oleh ayahnya, juga kesempatannya untuk meningkatkan ilmunya dalam bimbingan Ki Ajar Pangukan. Karena itu, meskipun lawannya juga berbekal ilmu, namun Laksana sama sekali tidak tergetar karenanya. Bahkan semakin lama semakin nampak bahwa Laksana memiliki kelebihan dari lawannya itu.

Dalam pada itu, Ramnbatan memang mengalami kesulitan pula menghadapi Manggada. Bersama kawan-kawannya ia telah menjadi semakin terdesak. Dua orang kawannya telah menjadi kesakitan. Kemudian Rambatan telah beberapa kali dikenai oleh serangan-serangan Manggada. Kemampuannya mulai disengat oleh perasaan nyeri. Bahkan kemudian bahunya pun telah kesakitan pula. Sedangkan serangan-serangan Manggada semakin lama justru menjadi semakin cepat.

Meskipun tidak segarang Darpati, namun Manggada ternyata memang tidak mudah dikuasai oleh Rambatan dan kawan-kawannya, bahkan seorang lagi telah terlempar dari perkelahian itu dan terdorong jatuh menimpa sebatang pohon di halaman banjar lama itu. Sehingga kepalanya menjadi sangat pening.

Ketika ia mencoba untuk bangkit ternyata halaman banjar itu rasa-rasanya menjadi berputar. Karena itu, maka orang itu pun telah menjatuhkan dirinya dan duduk sambil menyembunyikan wajahnya dibelakang kedua tangannya. Namun bumi tempat ia duduk itupun rasa-rasanya masih saja berputar.

Rambatan menjadi semakin marah. Tetapi ia harus melihat kenyataan. Kawan-kawannya menjadi semakin berkurang.

Sementara itu, orang yang kekurus-kurusan, yang diharapkannya akan dapat menyelesaikan persoalan, ternyata juga mengalami kesulitan melawan Laksana.

Orang yang kekurus-kurusan itu mengumpat sejadi-jadinya ketika ia terlempar beberapa langkah surut karena kaki Laksana telah menghantam dada orang itu.

Sambil menggeram orang itu telah mengerahkan segenap kemampuannya. Namun Laksana pun telah meningkatkan ilmunya pula. Ketika orang kekurus-kurusan itu mencoba untuk menembus pertahanan Laksana dengan serangan tangannya yang terayun mendatar kearah kening, maka Laksana sempat merendahkan dirinya. Dengan cepat tangannya terjulur lurus dengan jari-jari telapak tangannya yang merapat, keempat jari-jari tangannya itu justru sempat menyusup dibawah ayunan tangan lawannya langsung mengenai lambungnya.

Orang itu menyeringai menahan sakit sambil meloncat surut. Namun kemudian sambil mengerahkan segenap tenaganya, dengan cepat orang itu melontarkan serangan kaki yang meluncur mengarah kedada Laksana.

Tetapi Laksana memang lebih mapan. Demikian serangan itu datang, Laksana dengan cepat menjatuhkan dirinya. Kedua kakinya sempat terbuka dan bagaikan menyuruk menjepit kaki lawannya yang satu lagi. Demikian Laksana memutar tubuhnya, maka lawannya itu bagaikan dihentakkan jatuh kesamping.

Orang yang bertubuh kekurus-kurusan itu tidak menahan dirinya, karena ia sadar, bahwa hal itu tidak mungkin dilakukan. Jepitan dan putaran kaki Laksana terlalu kuat untuk ditahan. Karena itu, maka ia justru menjatuhkan dirinya dan berusaha untuk berguling beberapa kali sambil melepaskan jepitan kaki Laksana.

Dengan tangkasnya orang itu melenting berdiri. Namun ternyata Laksana bergerak lebih cepat. Demikian orang itu berdiri, maka tangan Laksana telah terjulur menyambar dagunya.

Pukulan itu telah menghentakkannya sehingga kepalanya terangkat. Dengan cepat serangan berikutnya telah menyusul pula. Tangan Laksana telah menghantam perut lawannya yang kekurus-kurusan itu sesaat kepalanya terangkat.

Pukulan Laksana itu menjadi demikian kerasnya sehingga orang itu terbungkuk kesakitan.

Tetapi ternyata bahwa orang itu memiliki tubuh yang liat. Demikian Laksana mengayunkan sisi telapak tangannya kearah tengkuknya saat ia membungkuk, ternyata orang itu sempat membentur tubuh Laksana dengan kepalanya. Demikian kerasnya sehingga keduanya jatuh berguling.

Namun orang itu luput dari serangan Laksana yang hampir saja mengakhiri perkelahian itu.

Sejenak kemudian, keduanya pun telah bangkit berdiri dan bersiap untuk melanjutkan perkelahian, meskipun orang yang bertubuh kekurus-kurusan itu masih harus menyeringai menahan sakit diperutnya.

Laksana yang meskipun tidak sedang kesakitan termangu-mangu sejenak. Ternyata lawannya memiliki daya tahan yang luar biasa. Meskipun ia mendapat kesempatan lebih banyak untuk mengenainya, tetapi lawannya itu masih dapat bertahan dan melawannya dengan kekuatannya yang masih saja tidak menyusut.

Karena itu, maka Laksana menjadi lebih berhati-hati. Orang itu tentu memiliki sesuatu yang dapat dibanggakannya.

Namun dalam pada itu, Rambatan dan kawan-kawannya menjadi semakin lama semakin tidak berdaya melawan Manggada. Seorang demi seorang mereka terlempar dari arena, sehingga disaat terakhir Rambatan pun telah terdorong beberapa langkah surut. Ia masih sempat bertahan agar tidak terbanting jatuh, namun serangan Manggada berikutnya telah menghantam dadanya.

Demikian kerasnya sehingga Rambatan tidak lagi mampu bertahan. Ketika ia terbanting jatuh, ia masih sempat melihat dedaunan yang menjadi kehitaman di-malam yang semakin gelap itu berputar. Namun kemudian Rambatan itu menjadi pingsan.

Ketika Rambatan kemudian kehilangan kesadarannya, Manggada telah meninggalkannya. Seperti Laksana, maka Manggada pun berkesimpulan bahwa orang yang bertubuh kekurus-kurusan itu ternyata memiliki ketahanan tubuh yang sangat tinggi. Meskipun serangan Laksana semakin banyak mengenai tubuhnya dan bahkan menyakitinya, namun beberapa saat kemudian, perasaan sakit itu seakan-akan telah diatasinya.

Beberapa kali orang itu menahan desah kesakitan. Beberapa kali ia harus menyeringai jika serangan Laksana mengenainya. Bahkan orang itu nampaknya selalu terdesak dan tidak mempunyai kesempatan untuk membalas serangan-serangan Laksana yang datang beruntun. Tetapi untuk waktu yang lama Laksana masih saja belum dapat mengalahkan orang itu.

Ketika kekuatan dan tenaga Laksana sudah terasa mulai menyusut karena ia harus mengerahkan tenaganya, ternyata bahwa lawannya itu masih saja tegar dan liat.

Karena itulah, maka Manggada merasa perlu untuk segera melibatkan diri. Sesuatu yang aneh pada lawannya itu, membuat Manggada meragukan, apakah Laksana akan dapat memenangkan pertempuran itu.

Orang yang bertubuh kekurus-kurusan itu memang menjadi gelisah ketika ia melihat Rambatan dan kawan-kawannya menjadi tidak berdaya sama sekali. Bahkan Rambatan sendiri telah menjadi pingsan. Ia sudah menduga, bahwa anak muda yang seorang lagi tentu akan ikut berkelahi melawannya.

Sebenarnyalah sejenak kemudian, maka orang itu harus bertempur melawan Laksana dan Manggada. Dua orang anak muda yang telah memiliki dasar-dasar kemampuan olah kanuragan.

Ternyata orang yang kekurus-kurusan itu memang menjadi semakin sulit. Tetapi semakin lama tubuhnya seakan-akan menjadi semakin liat. Sekali-sekali orang itu mengaduh dan menyeringai menahan sakit. Namun kemudian ia telah bertempur lagi dengan garangnya.

Bahkan sekali-sekali orang itu dengan sengaja telah membentur serangan Manggada atau Laksana. Meskipun orang itu terlempar dan terguling, jatuh, namun iapun cepat bangkit dan bersiap melanjutkan pertempuran. Sesaat ia masih terdengar mengeluh atau mengurut pinggangnya yang kesakitan. Namun setelah ia berloncatan lagi, maka perasaan sakit itu rasa-rasanya telah hilang. Orang yang kekusus-kurusan itu telah melupakan perasaan sakitnya yang terdahulu ketika serangan Manggada dan Laksana yang kemudian mengenainya lagi.

Namun bagaimanapun juga, melawan kedua orang anak muda yang mempunyai landasan ilmu yang semakin mapan itu pun memang terlalu berat baginya. Betapapun ia memiliki ketahanan tubuh yang sangat tinggi, tetapi serangan kedua orang anak muda itu menjadi semakin sering mengenainya.

Seperti Manggada dan Laksana yang menjadi heran karena lawan mereka yang memiliki daya tahan tubuh yang sangat tinggi itu, maka orang yang kekurus-kurusan itupun merasa heran, bahwa tenaga dan kemampuan kedua anak muda itu juga tidak segera terasa menyusut.

Meskipun sebenarnya Laksana sudah mulai merasa bahwa kekuatannya tidak lagi sesegar saat ia mulai bertempur dan bahkan sebenarnya sudah mulai menyusut, namun ketika Manggada kemudian bertempur bersamanya, maka Laksana masih dapat menghentakkan tenaganya sehingga rasa-rasanya kekuatannya masih utuh.

Dengan demikian maka orang yang bertubuh kekurus-kurusan itu harus menyadari kenyataan yang dihadapinya. Bagaimanapun juga, agaknya terlalu berat baginya untuk melawan kedua orang anak muda itu.

Karena itu, maka orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu tidak ingin memaksa diri melawan kedua orang anak muda yang sebelumnya disangka tidak akan dapat melawannya bersama dengan Rambatan dan kawan-kawannya. Rambatan dan kawan-kawannya diharap dapat menguasai seorang diantara kedua orang anak muda itu. Kemudian orang yang bertubuh kekurus-kurusan itu akan menguasai seorang yang lain. Namun ternyata Rambatan dan kawan-kawannya menjadi tidak berdaya.

Karena itu, maka orang itu pun telah mengambil satu keputusan untuk meninggalkan perkelahian itu. Ia merasa bahwa ia tidak akan berhasil, sementara itu, persoalannya justru akan dapat mengembang seandainya kedua orang itu kemudian dapat menguasainya.

Maka ketika ia kemudian mendapat kesempatan, orang yang bertubuh kekurus-kurusan itu telah mempergunakannya sebaik-baiknya.

Dengan cepat orang itupun segera meloncat kedalam gelap. Ketika itu melenting hinggap diatas dinding halaman banjar tua itu. Kemudian dengan cepat meluncur seperti terbang, turun dalam bayangan pepohonan diluar dinding banjar.

Manggada dan Laksana memang mengejarnya. Tetapi ketika keduanya meloncat turun pula diluar dinding halaman, mereka seakan-akan telah kehilangan jejak. Orang yang bertubuh kekurus-kurusan itu sudah tidak nampak lagi.

Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Namun kemudian keduanya telah meloncati dinding itu dan kembali memasuki halaman banjar. Dihalaman itu masih terbaring Rambatan yang pingsan serta beberapa orang yang kesakitan.

Ketika Manggada dan Laksana mendekati Rambatan yang masih terbaring, ternyata ia sudah mulai menyadari keadaannya. Perlahan-lahan matanya mulai terbuka. Dibawah cahaya lampu minyak dipendapa banjar yang berkeredipan ditiup angin, Rambatan nampak menahan sakit di tubuhnya.

“Rambatan” Laksana mengguncang tubuh yang mulai bergerak itu.

Wajah Rambatan justru menjadi pucat, ketika ia melihat Laksana berdiri disebelahnya.

“Bangun” perintah Laksana, “cepat. Aku ingin bicara.”

Rambatan memang menjadi ketakutan. Apalagi ketika ia melihat Manggada yang menatapnya dengan tajamnya. Bahkan Manggada itu pun kemudian berkata pula, “Bangunlah. Kita akan berbicara atau kita harus berkelahi lagi.”

“Tidak. Aku tidak ingin berkelahi lagi” jawab Rambatan yang menjadi ketakutan.

“Bagus” jawab Manggada, “jika demikian, marilah. Kita akan naik kependapa. Kita akan berbicara.”

“Apa yang akan kita bicarakan?” bertanya Rambatan.

“Apa saja. Kau harus menjawab pertanyaan-pertanyaanku.” jawab Laksana.

“Apa yang akan kau tanyakan?” bertanya Rambatan pula.

“Sekarang ikut naik atau- kita akan berkelahi. Kami berdua, kau seorang diri, karena kawan-kawanmu masih kesakitan.”

Rambatan sempat memandang berkeliling. Kawan-kawannya sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa. Meskipun mereka sudah duduk, tetapi mereka rasa-rasanya sulit untuk bangkit berdiri.

Rambatan pun kemudian duduk pula. Bahkan kemudian dengan susah payah iapun bangkit berdiri tertatih-tatih. Meskipun tubuhnya masih terasa sakit, namun ia memaksa diri untuk naik kependapa. Ternyata kedua orang anak muda itu bukan anak muda kebanyakan sebagaimana anak-anak muda padukuhan itu.

Ketika mereka sudah duduk dipendapa, maka Manggada dan Laksana yang duduk di sebelah menyebelahnya mulai mengajukan beberapa pertanyaan.

Dengan suara bergetar Rambatan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan Manggada dan Laksana.

“Aku tidak percaya jika kau belum mengenal orang itu tadi sebelumnya” geram Laksana.

“Benar. Aku belum mengenalnya” jawab Rambatan.

“Jika ia belum mengenalmu, kenapa ia bersedia membantumu?” desak Manggada.

“Ia datang kepadaku dan menawarkan bantuannya” jawab Rambatan. Wajahnya menjadi semakin pucat, sedangkan keringat dingin membasahi punggungnya.

“Kau jangan berbohong” geram Manggada, “kau tahu bahwa aku dapat memilin lehermu? Kawan-kawanmu tidak akan berani membantumu sementara orang yang kau anggap akan dapat menyelesaikan dendammu itu sudah melarikan diri.”

Wajah Rambatan menjadi semakin pucat. Dengan suara yang terbata-bata Rambatan menjawab, “Aku tidak berbohong. Aku berkata sebenarnya.”

“Jika demikian, ceriterakan kepadaku, bagaimana terjadi, bahwa orang itu bersedia membantumu sehingga kau bawa orang itu kemari.” desak Laksana.

Rambatan memang menjadi sangat ragu-ragu. Tetapi ketika Laksana memegang pergelangan tangannya, maka Rambatan yang disegani oleh orang-orang sepadukuhan itu terpaksa berceritera tentang orang yang kekurus-kurusan itu.

“Tanpa aku ketahui asal-usulnya, maka ia datang kepadaku. Begitu tiba-tiba. Ia menawarkan jasa baiknya jika aku ingin membalas dendam. Aku sudah mengatakan kepadanya, bahwa aku mendendam kepada Darpati. Tetapi orang itu justru menunjuk kalian berdua merupakan bagian dari sasaran dendamku. Sementara itu, aku tidak akan dapat mencari dimana Darpati tinggal.” berkata Rambatan.

“Apakah orang itu mengenal Darpati? Apakah ia tahu apa yang telah terjadi di bulak saat kau mencegat Winih? Apa pula yang diketahuinya tentang kami berdua?” bertanya Manggada.

“Tidak banyak yang diketahuinya selain bahwa kalian harus mendapat sedikit peringatan atas tingkah laku kalian.” jawab Rambatan.

“Tingkah laku yang mana?” desak Laksana.

“Orang itu tidak mengatakannya.” jawab Rambatan.

“Dan kau lakukan apa yang dikatakannya seperti korban yang dicocok hidung?” bertanya Manggada.

“Bukan maksudku ” jawab Rambatan.

“Omong kosong. Kau memang mempunyai kebiasaan buruk. Kau mempunyai kesenangan berkelahi dan menyakiti hati orang lain. Menyakiti tubuhnya, tetapi juga menyakiti hatinya.” geram Laksana yang kemudian mengguncang tubuh Rambatan sambil berkata selanjutnya, “Katakan, siapa nama orang itu?”

Rambatan menjadi semakin ketakutan. Tetapi kemudian ia memberanikan diri untuk menjawab, “Aku tidak tahu.”

“Setan kau” Laksana menjadi marah, “lalu apa yang kau ketahui, he? Apakah aku harus mencekikmu?”

“Benar, aku tidak tahu namanya” bukan hanya suara Rambatan yang bergetar. Tetapi tubuhnya juga mulai gemetar.

“Jadi kau benar-benar tidak tahu apa-apa tentang orang itu atau demikian pandainya kau berbohong?” bentak Laksana.

“Aku benar-abenar tidak tahu.” jawab Rambatan hampir menangis karena ketakutan.

Laksana yang menahan kemarahannya itu menggeram, “Kau tahu bahwa apa yang kau katakan itu tidak masuk akal?”

“Tetapi sebenarnyalah demikian yang terjadi. Aku dan kawan-kawanku tidak mengenal orang itu. Ia datang dan menawarkan diri untuk membantuku. Itu saja.” Suara Rambatan menjadi hampir tidak terdengar.

“Dan kau tidak bertanya lebih lanjut?” Laksana mulai mengguncang tubuh Rambatan dengan memegang bajunya.

Rambatan semakin gemetar dan ketakutan. Justru karena itu, maka ia tidak mampu lagi berkata sesuatu.

Dalam, papda itu, tiba-tiba saja terdengar suara Kiai Gumrah yang memasuki regol halaman banjar tua itu. Sambil bergegas mendekati Manggada dan Laksana ia bertanya, “Ada apa? Ada apa dengan Rambatan?”

Laksana harus melepaskan pegangannya atas baju Rambatan. Bahkan ia pun telah bergeser surut.

“Apa yang terjadi?” bertanya Kiai Gumrah.

“Katakan apa yang terjadi kepada kakek” geram Laksana.

“Apa yang terjadi Rambatan?” bertanya Kiai Gumrah, “aku minta maaf, jika kedua cucuku telah mengganggumu.”

“Kek” berkata Laksana, “aku tidak ingin terus-menerus menyembunyikan diri. Dalam keadaan seperti ini aku tidak dapat berbuat lain kecuali melawan.”

Kiai Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Rambatan telah diminta untuk menceriterakan apa yang telah terjadi di banjar tua itu.

Dengan singkat Rambatan telah menceriterakan apa yang telah terjadi. Ia pun menceriterakan tentang orang yang bertubuh kekurus-kurusan yang sebenarnya sama sekali tidak dikenalnya itu.

“Apakah kita dapat percaya dengan ceritera itu kek?” bertanya Laksana.

Tetapi Kiai Gumrah mengangguk kecil sambil menjawab, “Aku percaya kepadanya. Ia telah berceritera apa adanya.”

Wajah Manggada dan Laksana memang menjadi tegang sejenak. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Kiai Gumrah justru percaya kepada Rambatan.

Bahkan kemudian Kiai Gumrah itu berkata, “Sudahlah Rambatan. Pulangkan. Ajak kawan-kawanmu. Sebenarnya kau tidak terlibat dalam persoalan ini.”

Rambatan mengangguk-angguk sambil berkata, “Terima kasih Kiai. Terima kasih.”

Manggada dan Laksana tidak mengatakan sesuatu. Mereka memandang Rambatan dengan tajamnya. Sementara itu Kiai Gumrah telah mengulanginya lagi, “Pulanglah. Ajak kawan-kawanmu.”

Rambatan pun mulai beringsut. Meskipun tubuhnya terasa sakit dipunggung, pinggang, kening dan bahkan dimana-mana, namun bahwa ia diperkenankan pulang telah membuat hatinya sedikit lapang.

Namun ketika Rambatan itu mulai menyeret kakinya turun pendapa banjar tua itu, tiba-tiba saja beberapa orang telah memasuki halaman banjar itu. Diantara mereka terdapat Ki Bekel.

Belum lagi berhenti melangkah, Ki Bekel sudah berteriak, “He, apa yang kalian lakukan terhadap anak-anak padukuhanku?”

Kiai Gumrah pun kemudian melangkah turun pula diikuti oleh Manggada dan Laksana. Dengan nada rendah Kiai Gumrah bertanya, “Apakah yang Ki Bekel maksudkan?”

Ki Bekel dan beberapa orang yang datang bersamanya, diantara mereka adalah bebahu padukuhan itu, telah berhenti ditengah-tengah halaman. Sekali lagi ia bertanya, “Apa yang kalian lakukan disini?”

“Aku baru saja datang Ki Bekel.” jawab Kiai Gumrah.

“Aku bertanya kepada cucu-cucumu itu. Mereka bukan anak padukuhan ini. Mereka orang asing bagi kami. Tetapi mereka sudah berani menyakiti anak-anakku. Betapa nakalnya Rambatan, tetapi ia tetap anakku. Mungkin aku memang harus mengajarinya untuk berlaku lebih baik. Tetapi aku tidak senang jika orang lain menyakitinya seperti itu. Beberapa hari yang lalu, hal yang serupa telah terjadi. Orang asing telah menyakiti Rambatan. Sekarang cucu-cucumu Kiai Gumrah.”

“Yang terjadi adalah perselisihan diantara anak-anak muda Ki Bekel.” jawab Kiai Gumrah.

“Bukankah kau dapat mengajari cucu-cucumu? Jika ia datang kepadukuhan ini hanya untuk memamerkan kemampuannya berkelahi, maka aku tidak akan segan-segan mengambil tindakan. Bukan hanya terhadap cucu-cucumu. Tetapi juga terhadapmu. Kau harus ingat, bahwa kau berada di padukuhan ini karena kami, orang-orang sepadukuhan ini menaruh belas kasihan kepadamu. Kami tahu bahwa kau memerlukan pegangan untuk dapat hidup dan mencukupi kebutuhanmu sehari-hari. Kami sudah memberikan kesempatan kepadamu untuk dapat hidup dengan sekedar penghasilan atas tanah yang kami berikan kepadamu di sebelah banjar itu dengan memberimu pekerjaan sebagai penjaga banjar. Ternyata sekarang kau telah mensia-siakan kebaikan hati kami dengan membiarkan cucu-cucumu menyakiti anak-anak padukuhan ini.”

“Aku mohon maaf Ki Bekel. Aku akan berusaha sebaik-baiknya untuk mencegah hal seperti ini terjadi.” berkata Kiai Gumrah.

“Kali ini aku masih memaafkan cucu-cucumu. Tetapi lain kali tidak. Jika terjadi lagi hal seperti ini, aku akan mengusir mereka dari padukuhan ini. Jika perlu, maka kau pun akan dapat kami usir dari padukuhan ini.” berkata Ki Bekel.

“Aku mengerti Ki Bekel. Aku akan berbuat sebaik-baiknya agar cucu-cucuku tidak melakukannya lagi.”

Ki Bekel itupun kemudian berpaling kepada Rambatan sambil berkata, “Marilah. Ikut aku. Kau dapat pulang kerumahmu. Demikian pula kawan-kawanmu itu.”

Ki Bekel tidak lagi mengatakan kepada Kiai Gumrah. Ia pun kemudian mengajak Rambatan dan kawan-kawannya pulang. Namun mereka sempat melihat bekas-bekas perkelahian itu pada Rambatan dan kawan-kawannya yang masih saja merasa kesakitan.

Demikian Ki Bekel dan orang-orang yang datang bersamanya itu meninggalkan regol halaman banjar, maka Manggada pun segera berkata kepada Kiai Gumrah, “Kami mohon maaf kek. Kami tidak ingin menyulitkan kakek.”

Kiai Gumrah tersenyum. Katanya, “Aku mengerti apa yang kalian lakukan. Aku melihat semuanya. Karena itu maka kalian tidak bersalah. Agaknya kalian telah merasa jemu untuk terus-menerus berpura-pura. Bukan saja kalian, tetapi ternyata akupun menjadi jemu. Jika tidak ada Kiai Windu Kusuma serta orang yang disebut Panembahan itu, maka aku kira aku masih dapat hidup tenang tanpa terusik. Namun ternyata bahwa telah tiba waktunya, perubahan-perubahan sikap dan tingkah-laku harus terjadi. Sebenarnyalah bahwa karena itu, maka aku pun sudah menjadi jemu untuk berpura-pura. Apalagi menghadapi Kiai Windu Kusuma.”

Manggada dan Laksana itu pun mengangguk-angguk. Dengan nada datar Laksana bertanya, “Apakah sikap Ki Bekel itu wajar, kek?”

Kiai Gumrah tertawa. Katanya, “Tidak. Aku menganggap sikap itu sama sekali tidak wajar.”

“Jadi apakah ada hubungannya dengan laki-laki yang kekurus-kurusan itu?” bertanya Manggada.

Kiai Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Semakin lama persoalan yang terjadi disekeliling kita memang menjadi semakin rumit. Karena itu, maka kita harus membuat pertimbangan-pertimbangan lain. Jika selama ini kami selalu berpura-pura, kami anggap bahwa cara itu adalah cara yang paling baik untuk menyembunyikan beberapa benda pusaka yang agaknya memang telah mengundang persoalan.”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sementara Kiai Gumrah berkata selanjutnya, “Kehadiran Prawara adalah salah satu diantara banyak hal yang akan kami lakukan untuk meninggalkan sikap kepura-puraan ini. Kami memang sedang menghubungkan persoalan yang kita hadapi sekarang serta kehadiran Kiai Windu Kusuma dengan musuh bebuyutan perguruan kami.”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Ternyata yang mereka ketahui tentang Kiai Gumrah baru sebagian kecil saja dari seluruh persoalannya. Tentang pusaka-pusaka itu. Tentang orang-orang tua pembuat gula kelapa. Kemudian tentang perguruannya dan musuh bebuyutan dari perguruannya itu dalam hubungannya dengan Kiai Windu Kusuma dan orang yang disebut Panembahan itu. Namun yang juga sangat menarik baginya adalah kehadiran sepasang harimau yang menurut dugaan Manggada dan Laksana adalah harimau peliharaan milik Ki Pandi, orang bongkok yang berilmu sangat tinggi itu.

Namun dalam itu, Kiai Gumrah pun berkata, “Tetapi marilah, kita pulang saja. Kita akan berbicara di rumah dengan Prawara. Kita dapat mendengar pendapatnya.”

Manggada dan Laksana pun kemudian mengikuti Kiai Gumrah meninggalkan banjar tua itu. Sehingga dengan demikian maka banjar itu menjadi lengang. Lampu minyak yang menyala dipendapa dan dibeberapa ruang penting di banjar itu, masih mengedipkan sinarnya yang kekuning-kuningan.

Di rumah, Kiai Gumrah telah menceriterakan apa yang terjadi di banjar kepada anak dan menantunya. Ki Prawara yang mendengarkan dengan sungguh-sungguh itu pun kemudian berkata, “Peristiwa ini justru penting ayah.”

“Ya.” jawab ayahnya, “Nah, siapakah orang yang disebut kekurus-kurusan oleh Manggada dan Laksana itu?”

“Tentu ada hubungannya dengan Darpati. Demikian pula tindakan yang telah diambil oleh Ki Bekel yang sebelumnya tidak banyak berbuat sesuatu terhadap Rambatan dan bahkan nampaknya ada keseganan untuk menanganinya. Justru tiba-tiba saja ia berusaha melindunginya dan bersikap memusuhi manggada dan Laksana, meskipun persoalan itu bermula dari tindakan Darpati.” berkata Kiai Gumrah.

“Tentu ada orang yang mulai menghasut” berkata K Prawara.

Tiba-tiba saja Nyi Prawara menyela, “Kesempatan yang baik untuk berbicara dengan Winih.”

Ki Prawara mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Kita akan berbicara dengan Winih.”

Nyi Prawaralah yang kemudian bangkit untuk memanggil Winih. Ketika ia memasuki bilik Winih yang sempit, maka dilihatnya gadis itu berbaring menengadahkan wajahnya memandang langit-langit. Lampu minyak yang redup menerangi bilik kecil itu.

Nyi Prawara pun kemudian duduk dibibir amben. Dengan nada keibuan ia berkata, “Winih. Ayah dan kakek memanggilmu.”

“Aku sudah mengantuk ibu.” desis Winih.

“Hanya sebentar saja Winih” berkata ibunya.

“Apakah begitu penting sehingga tidak dapat dibicarakan esok pagi?” bertanya Winih.

Ibunya mengangguk. Katanya, “Persoalannya memang penting. Tetapi ayah dan kakekmu tidak akan berbicara banyak.”

“Tentu tentang Darpati” gumam Winih, “kenapa ayah dan kakek meributkan persoalan itu. Curiga dan bahkan mempunyai prasangka yang sangat buruk, sedangkan orang itu tidak berbuat apa-apa kecuali menolong aku sampai dua kali.”

“Bertanyalah kepada ayah dan kakekmu. Marilah, hari belum terlalu malam.” berkata ibunya.

Winih tidak dapat menolak. Ia pun kemudian bangkit dan membenahi pakaiannya.

Seperti yang direncanakan, maka Kiai Gumrah pun berkata berterus-terang kepada Winih, tentang kecurigaan mereka yang semakin tajam terhadap Darpati. Peristiwa yang terjadi di banjar itu termasuk permainan Darpati sebagaimana yang terjadi di pancuran sebelumnya.

“Nampaknya Darpati memang ingin menyingkirkan Manggada dan Laksana.”

Winih yang memang sudah menduga tentang apa yang akan dikatakan kakeknya menundukkan kepalanya. Tetapi ia masih menyahut, “Jika Darpati ingin menyingkirkan kakang Manggada dan Laksana, karena ia mempunyai kemampuan untuk melakukannya.”

“Belum tentu Winih” jawab kakeknya, “Darpati memang berilmu tinggi. Ilmunya tentu lebih tinggi dari Manggada dan Laksana. Tetapi jika harus menghadapi mereka berdua, mungkin Darpati masih harus berpikir ulang. Selebihnya, jika hal itu dilakukannya sendiri dan kau sempat mengetahuinya, maka ia tidak akan dapat mengharapkanmu lagi. Meskipun baginya kau hanya salah satu diantara sekian banyak perempuan yang pernah singgah dihati iblisnya itu.”

“Kakek sudah menghukumnya sebelum dapat membuktikan-nya.” berkata Winih.

“Aku ingin segalanya tidak terlambat. Darpati termasuk salah seorang diantara mereka yang ingin mendapatkan pusaka-pusaka itu. Sedangkan ayahmu atau ibumu tentu mengetahui nilai pusaka-pusaka itu bagi perguruan kami.”

Manggada dan Laksana memang agak terkejut mendengar pernyataan itu, sehingga keduanya telah memperhatikan tanggapan Winih. Namun Winih tidak terkejut, sehingga Manggada dan Laksana mendapat kesimpulan bahwa Winih memang sudah mengetahui nilai dari pusaka-pusaka itu.

Winih tidak menyahut. Tetapi matanya menjadi semakin redup. Sementara itu, ibunya berkata, “Winih. Kami tidak ingin menyakiti hatimu. Kami hanya ingin menyelamatkan apa yang masih kita miliki. Kau dan pusaka-pusaka itu.”

Winih memandang ibunya sekilas. Namun sambil menunduk iapun berkata, “Kita terlalu mencemaskan pusaka-pusaka itu. Demikian kita berhati-hati, sehingga kita menjadi curiga kepada setiap orang yang berhubungan dengan keluarga kita.”

“Bukan begitu Winih. Kita tidak kehilangan penalaran kita. Jika kita mencurigai Darpati, tentu kita mempunyai alasan-alasan tertentu. Sebaliknya kau tidak boleh menjadi silau terhadap ujud lahiriah yang kau hadapi, sehingga kau kehilangan penalaranmu yang bening.”

“Aku sudah cukup dewasa kek. Aku tahu apa yang harus aku lakukan.” jawab Winih.

“Tidak” ayahnyalah yang menyahut, “ternyata kau tidak mampu melihat anak muda yang barangkali di matamu nampak tampan, baik hati dan bertanggung jawab, tetapi yang menurut pengamatan kami, ia justru seorang yang sama sekali tidak menghargai perempuan. Selebihnya, ia mempunyai maksud yang lebih buruk lagi daripada sekedar merampas segala milikmu yang paling berharga, karena ia juga akan merampas pusaka-pusaka itu.”

“Itu hanya sebuah prasangka” berkata Winih, “kita harus membuktikannya.”

“Tetapi dengar Winih” berkata ayahnya, “sejak saat ini, kau tidak boleh lagi pergi keluar halaman rumah ini. Aku tidak berniat untuk memingitmu sebagaimana gadis-gadis pingitan. Tetapi kita sedang dalam bahaya. Kita harus berhati-hati.”

Winih memang terkejut. Tetapi ia tidak membantah, ia sudah menjadi pening sehingga nalarnya tidak lagi dapat bekerja dengan baik.

Yang terasa kemudian adalah kejengkelan, marah dan perasaan-perasaan lain yang membuat dadanya menjadi sakit.

“Sudahlah” berkata ayahnya, “jika kau akan tidur, tidurlah. Tetapi jika kau ingin mendengarkan kami berbincang, duduk sajalah disitu.”

Winih tidak menjawab. Tetapi gadis itu segera bangkit dan tanpa berkata apapun juga ia pergi ke biliknya dan menjatuhkan dirinya di pembaringannya.

Ibunyalah yang menyusulnya. Masih dengan sikap seorang- ibu ia berkata, “Kami lakukan semuanya itu untuk kebaikanmu Winih.”

Winih tidak menjawab. Tetapi ia telah menyembunyikan wajah di bantalnya sambil menelungkup.

Lamat-lamat terdengar Winih berdesis, “Ayah, kakek dan ibu tidak adil. Ayah dan kakek menilai kakang Darpati hanya sekedar mengurai peristiwa-peristiwa yang terjadi. Sementara itu, uraian yang berdasarkan dugaan-dugaan itu tidak selalu benar. Tetapi ayah dan kakek dan bahkan ibu sudah menjatuhkan keputusan untuk menghukum kakang Darpati.”

“Sudahlah Winih. Peristiwa yang terjadi beruntun dalam waktu yang terhitung singkat ini membuat dugaan kami semakin meyakinkan. Tetapi sudahlah. Sekarang beristirahatlah. Sebaiknya kau memang tidur.” Berkata ibunya.

Winih tidak menjawab. Sementara itu ibunyapun telah keluar dari bilik anak gadisnya. Ketika ia melihat Manggada dan Laksana masih duduk diamben besar di ruang dalam, maka Nyi Prawara itu mendekatinya sambil berkata, “Lihat luka-lukamu.”

Manggada dan Laksana telah membuka bajunya. Ternyata luka Laksana telah mengembun lagi. Darah setitik-setitik keluar dari lukanya yang sudah diobati oleh Nyi Prawara.

“Marilah, aku ganti obat kalian.” berkata Nyi Prawara.

Luka yang sudah hampir dilupakan itu memang mulai terasa sedikit nyeri. Namun Nyi Prawara segera mengobatinya.

Beberapa saat kemudian, maka Kiai Gumrah pun telah menyuruh Manggada dan Laksana untuk beristirahat. Sementara itu bersama Ki Prawara, keduanya justru pergi keluar Kepada Nyi Prawara suaminya berkata, “Aku akan berada diluar. Udara terasa panas malam ini.”

“Berhati-hatilah kakang” pesan Nyi Prawara. Suaminya tersenyum. Katanya, “Dalam keadaan seperti ini, kami selalu berhati-hati Nyi.”

Ketika keduanya telah berada diluar dan menutup pintu butulan, maka Nyi Prawarapun telah pergi ke bilik Winih.

“Aku temani kau tidur” berkata Nyi Prawara, “aku tahu, bahwa kau tidak mudah untuk tidur malam ini.”

Winih memang tidak menjawab. Tetapi ia pun beringsut dan memberi tempat kepada ibunya di pembaringannya yang tidak begitu luas itu.

Diluar, Ki Prawara duduk di bebatur samping rumah, sedangkan Kiai Gumrah berjalan saja hilir mudik. Seakan-akan kepada diri sendiri Kiai Gumrah itu berkata, “Sudah larut malam, tetapi orang itu masih belum datang.”

“Mungkin malam ini. Tetapi mungkin juga besok malam, ayah” jawab Ki Prawara.

“Aku harap ia datang, berhasil atau tidak berhasil” berkata Kiai Gumrah.

Ki Prawara tidak menjawab. Sambil bersandar dinding ia memandangi pepohonan yang menjadi kehitam-hitaman di gelapnya malam.

Namun keduanya pun telah bergeser dan duduk di serambi depan rumah Kiai Gumrah.

Jalan didepan rumah Kiai Gumrah itu sudah sepi. Tidak seorang pun yang lewat di malam yang kelam. Di kejauhan terdengar suara kentongan yang mengisyaratkan, bahwa malam sudah sampai kepertengahannya.

“Malam berjalan begitu cepatnya” berkata Kiai Gumrah.

“Ya. Suara kentongan itu.” jawab Ki Prawara. Lalu katanya pula, “Kentongan itu memang kentongan yang bagus. Suaranya seperti bergema.”

“Kentongan itulah yang dahulu berada di banjar ini. Tetapi ketika dipergunakan banjar yang baru, maka kentongan itu pun dipindahkan ke banjar yang baru. Sedangkan di banjar ini ditaruh kentongan yang lebih kecil. Tetapi kentongan itu jarang sekali aku tabuh.”

“Kenapa?” bertanya Ki Prawara.

“Suaranya kurang baik dan jangkauannya tidak cukup jauh.” jawab Kiai Gumrah.

Ki Prawara mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab lagi.

Sementara itu, Kiai Gumrah yang kemudian berjalan hilir mudik di halaman rumahnya, tiba-tiba berhenti. Sambil bergeser mendekati Ki Prawara ia berdesis, “Ada orang diluar regol. Aku melihat bayangannya. Mudah-mudahan orang itulah yang kami tunggu malam ini.”

Ki Prawara tidak menjawab. Namun kemudian ia pun telah bangkit pula dan bergeser menepi.

Demikianlah, untuk beberapa lama mereka menunggu. Tetapi tidak seorang pun yang memasuki halaman rumah itu lewat regol yang memang sedikit terbuka.

Namun Kiai Gumrah itu kemudian berpaling, sebagaimana Ki Prawara yang berkisar dan menghadap ke arah halaman samping rumah Kiai Gumrah itu.

Terdengar suara tertawa perlahan. Seseorang telah muncul dari bayangan hitam pepohonan.

Kiai Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku kira Kiai Windu Kusuma atau orang yang disebut Panembahan itu.”

“Bukankah aku berjanji akan datang?” jawab orang itu.

“Kau sudah berada diregol. Kenapa kau bersusah payah masuk halaman rumahku dengan meloncati dinding, sementara regol halaman itu sudah terbuka?”

“Bukankah terlalu biasa masuk halaman rumah seseorang lewat pintu regol yang terbuka?” orang itu justru bertanya.

“Maksudmu?” bertanya Kiai Gumrah.

“Aku ingin menunjukkan bahwa aku dapat melakukan hal yang tidak biasa” jawab orang itu sambil tertawa.

“Ah, kau. Kelapa kau harus mempersulit diri?” bertanya Ki Prawara

“Bukankah aku orang berilmu tinggi?” orang itu tertawa semakin keras.

“Jangan berteriak-teriak dimalam hari” berkata Kiai Gumrah, “suaramu akan didengar oleh orang-orang yang sedang tertidur nyenyak.”

Orang itu menutup mulutnya. Suara tertawanya pun segera terhenti. Namun kemudian katanya, “Nah, aku datang untuk memberikan laporan.”

“Marilah, duduklah.” Kiai Gumrah mempersilahkan tamunya.

“Dimana?” bertanya orang yang baru datang itu yang juga seorang pedagang gula.

“Disini saja” jawab Kiai Gumrah.

“Kita akan berbicara” desis orang itu.

“Lebih baik disini. Jika ada orang yang mendengarkan, kita justru dapat melihat. Tetapi jika kita berada didalam, maka kita tidak tahu apakah diluar ada orang yang mendengarkan atau tidak.” jawab Kiai Gumrah.

Orang itu mengangguk-angguk. Ia pun kemudian telah duduk pula diatas amben bambu di serambi rumah Kiai Gumrah. Sementara itu, malam pun menjadi semakin malam.

Namun Ki Prawara justru bangkit untuk menutup pintu regol dan menyelaraknya dari dalam. Ketika ia sudah duduk kembali, maka ia pun berkata, “Ternyata tamu kita tidak memerlukan pintu itu. Karena itu lebih baik ditutup dan diselarak.”

Tamunya tertawa lagi. Tetapi ia tidak menyahut.

Sementara itu, Kiai Gumrah dan Ki Prawara telah duduk bersama tamunya. Dengan nada rendah Kiai Gumrah mulai bersungguh-sungguh, “Kau berhasil?”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Baru kemudian ia menjawab, “Dapat disebut berhasil, tetapi dapat juga belum.”

“Kenapa?” bertanya Kiai Gumrah.

“Aku telah menemukan rumah tempat burung elang itu turun. Bahkan ketika aku mengamati hari ini, aku sempat melihat dua ekor burung itu muncul dari halaman belakang rumah itu, sehingga aku yakin, bahwa rumah itu adalah sarang beberapa ekor burung elang yang dapat dikendalikan itu.” jawab tamunya.

“Jika demikian, maka agaknya kau telah berhasil” desis Kiai Gumrah.

“Aku memang berhasil menemukan rumahnya. Tetapi aku belum dapat mengetahui kegiatan yang dilakukan didalam rumah itu. Rumah yang berdinding agak tinggi dan kesannya memang tertutup. Regolnya tidak pernah terbuka. Jarang sekali ada orang keluar masuk lewat regol halaman. Jika ada juga orang yang keluar atau masuk, maka kesannya orang itu bukan orang kebanyakan. Wajah-wajah mereka nampak mengandung rahasia.”

“Apakah orang tua saja yang keluar masuk rumah itu! Atau orang muda juga?” bertanya Kiai Gumrah.

“Ada yang tua. Tetapi ada juga yang muda” jawab tamunya.

Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Katanya, “Tolong, jika kau masih sempat melihat lagi keadaan rumah itu, awasi, jika ada orang muda yang keluar atau masuk, ingat-ingat cirinya. Mungkin orang itu dapat kita kenali.”

Orang itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan mengamati terus. Kebetulan di depan rumah itu, meskipun agak menyamping, terdapat sebuah warung. Ketika aku menawarkan gula dengan harga yang lebih murah dari harga yang sebenarnya, warung itu nampaknya senang menerimanya. Sambil menyerahkan gula, aku dapat minum-minum barang sebentar di warung itu.”

“Bagus. Tetapi hati-hatilah. Mungkin kau pun diawasi oleh orang yang tinggal dirumah itu tanpa kau sadari. Jika kau tertangkap, terbukti atau tidak, maka kau tentu akan dihancurkannya. Mereka tentu tidak mempunyai pertimbangan perikemanusiaan.”

Orang itu mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan berhati-hati. Aku mempunyai modal yang sangat berarti bagi tugasku.”

“Apa? Ilmumu yang tinggi? Di rumah itu tentu terdapat banyak orang berilmu tinggi.” jawab Kiai Gumrah.

“Bukan ilmu yang tinggi. Tetapi aku telah mempelajari ilmu yang khusus, bagaimana dapat berlari kencang sekali. Aku telah belajar secara khusus mengetrapkan tenaga dalam untuk mendorong gerak kaki jika kita sedang melarikan diri.”

“Ah, kau” desis Kiai Gumrah.

Orang itu tetawa. Ki Prawara pun tertawa pula.

Namun Kiai Gumrah pun kemudian berkata, “Jika benar kita akhirnya mengetahui dengan pasti tempat tinggal mereka, maka kita bukan sekedar menjadi sasaran. Tetapi jika perlu kita dapat datang mengunjungi rumah itu.”

“Aku sependapat” berkata tamu Kiai Gumrah itu.”rasa-rasanya menjadi muak untuk selalu berjaga-jaga, kapan kita akan disergap. Sebaiknya kita pun sekali waktu datang menyergap-nya.”

“Bagus” sahut orang itu, “tetapi kita harus ingat, bahwa benda yang diperebutkan itu ada disini. Jika kita menyerang mereka, maka ada kemungkinan buruk dapat terjadi dengan pusaka-pusaka itu. Bahkan anak-anakpun akan mampu mengambilnya. Justru karena kita pergi kerumah mereka yang jaraknya cukup jauh. Rumah itu berada di padukuhan lain.”

“Bukankah ada diantara kita yang tinggal?” bertanya Kiai Gumrah.

“Seberapa besarnya tenaga kita” tamunya justru ganti bertanya, “jika kita tidak pergi semua ke rumah yang tertutup itu, maka kemungkinan buruk dapat terjadi pula atas kita, karena aku yakin bahwa di rumah ini terdapat orang-orang berilmu tinggi.”

Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Sementara itu Ki Prawara berkata, “Ya. Kita dapat mengerti. Karena itu untuk sementara kau awasi saja rumah ini. Meskipun demikian dalam waktu singkat kita harus dapat segera mengambil sikap, karena nampaknya mereka pun tidak akan menunggu terlalu lama lagi.”

“Sebelum purnama dibulan depan” berkata Kiai Gumrah.

Tamu Kiai Gumrah itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan terus-menerus mengawasinya. Tentu saja jika keadaan memungkinkan, karena aku tidak mau mati digebugi oleh orang-orang yang tinggal dirumah yang tertutup itu.”

“He, bukankah kau berilmu tinggi?” bertanya Ki Prawara.

Orang itu tertawa. Jawabnya, “Aku memang berilmu tinggi. Tetapi orang-orang yang tinggal dirumah itu berilmu lebih tinggi lagi.”

Kiai Gumrah pun tertawa. Demikian pula Ki Prawara. Disela-sela tertawanya Kiai Gumrah berkata, “Kau sudah menyerah sebelum bertempur.”

“Bukan begitu, tetapi aku mempunyai perhitungan yang tajam dan cermat atas persoalan yang Sedang aku hadapi.” jawab orang itu masih sambil tertawa. Kiai Gumrah pun masih tertawa berkepanjangan pula.

“Duduk sajalah dahulu, biar aku mengambil minuman di dapur. Meskipun barangkali sudah tidak panas lagi. Tetapi barangkali kau merasa haus” berkata Ki Prawara.

“Tidak. Tidak usah. Aku akan segera minta diri” sahut orang itu. Lalu katanya pula, “Aku harus menengok rumah dahulu sebelum besok pagi-pagi aku membawa gula kewarung yang ada didepan rumah yang tertutup itu. Tetapi gulaku tinggal sedikit. Sehari kemarin aku tidak sempat membuat gula.”

“Aku masih mempunyai persediaan gula” berkata Kiai Gumrah.

“Terima kasih. Kau tidak pernah dapat membuat gula yang berwarna jernih. Gulamu terlalu hitam. Sedangkan kedai itu minta gula yang berwarna jernih.”

“Kau belum melihat gulaku yang terakhir” berkata Kiai Gumrah.

“Tentu juga sehitam kulitmu” jawab orang itu sambil bangkit berdiri dan bergeser. Meskipun demikian ia masih berkata, “Orang yang kulitnya hitam, jika membuat gula tentu hitam juga.”

“Omong kosong” sahut Kiai Gumrah, “kau sudah pandai membual sekarang.”

Orang itu tertawa lagi. Katanya, “Sudahlah. Aku akan pulang. Besok aku masih harus mengawasi rumah itu. Tugas yang sebenarnya tidak aku sukai.”

“Kenapa kau menawarkan dirimu untuk melakukannya.”

Orang itu tertawa semakin keras. Katanya, “Tidak sejak mula-mula. Sebenarnya aku ingin menolak tugas ini. Tetapi ternyata pemilik warung didepan rumah yang tertutup itu adalah seorang janda dan tidak mempunyai anak pula.”

“Setan kau” geram Kiai Gumrah, “he, bukankah rambutmu sudah putih?”

“Kenapa kalau rambutku sudah putih?” orang itu justru bertanya.

“Kau tidak pantas lagi mengintai seorang janda yang belum mempunyai anak. Jika kau ingin kawin lagi sepeninggal isterimu yang dipanggil kembali oleh Yang Maha Agung itu, sebaiknya kau mencari perempuan yang sebaya dengan umurmu, sehingga jika kau besok atau lusa juga dipanggil menghadap-Nya, isterimu tidak akan terlalu lama menjanda lagi.”

“He, kau kira aku yang membutuhkan janda itu?” orang itu membelalakkan matanya.

“Jadi?” bertanya Ki Prawara.

“Aku sedang mencari jodoh buat adikku yang bungsu. Isterinya meninggal saat melahirkan. Demikian pula anaknya.”

Kiai Gumrah dan Ki Prawara tertawa. Disela-sela tertawanya, Ki Prawara berkata, “Maaf. Kami tidak tahu bahwa kau mempunyai seorang adik bungsu yang memerlukan seorang isteri.”

Sambil melangkah pergi orang itu masih bergumam, “Kalian selalu berprasangka buruk terhadapku.”

“Maaf, kami sudah minta maaf.”

“Sudahlah, aku akan pergi.” berkata orang itu.

“Apakah kau akan lewat regol halaman?” bertanya Kiai Gumrah.

“Tidak. Aku seorang yang berilmu tinggi. Aku harus melakukan sesuatu yang tidak biasa dilakukan orang lain. Aku akan meninggalkan rumah ini lewat jalan yang aku lalui saat aku memasuki halaman rumah ini.” jawab orang itu.

“Pergilah” desis Kiai Gumrah.

Orang itu pun kemudian melangkah kekegelapan di sisi rumah Kiai Gumrah. Sebagaimana saat ia datang, maka ia pun tidak keluar dari halaman rumah itu lewat regol.

Kiai Gumrah menggeleng-gelengkan kepalanya sambil bergumam, “Orang itu memang aneh-aneh saja.”

Tetapi Ki Prawara menjawab, “Siapakah diantara kita yang tidak aneh-aneh? Ayah sendiri, kawan-kawan ayah yang sering datang kemari itu dan barangkah aku juga jika aku berada diantara kawan-kawan ayah.”

Kiai Gumrah mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia pun tertawa. Katanya, “Ya. Tetapi, dengan berbuat yang aneh-aneh itu, maka kita mendapat kepuasan tersendiri.”

Ki Prawara juga tertawa. Namun demikian Kiai Gumrah pun tertawa berkepanjangan.

Ketika suara tertawa Kiai Gumrah mereda, maka ia pun kemudian berkata, “Marilah, kita masuk kedalam. Rasa-rasanya malam menjadi semakin dingin.”

Ki Prawara pun telah bangkit pula. Keduanya pun kemudian masuk kembali kedalam lewat pintu butulan.

Namun sebelum mereka sempat berbaring diamben panjang, terdengar pintu butulan itu diketuk orang.

“Siapa?” bertanya Kiai Gumrah.

“Aku” jawab orang yang mengetuk pintu itu, yang ternyata adalah tamunya yang baru saja meninggalkan halaman rumah Kiai Gumrah.

Dengan tergesa-gesa Kiai Gumrah membuka pintu butulan diikuti oleh Ki Prawara.

“Ada apa lagi?” bertanya Kiai Gumrah.

Wajah orang itu nampak bersungguh-sungguh. Katanya, “Hati-hatilah. Aku melihat sesosok bayangan di sudut halaman rumahmu. Meskipun bayangan itu berada diluar dinding, tetapi dalam sekejap ia akan dapat berada didalam dinding.”

“Apakah bayangan itu melihatmu?” bertanya Kiai Gumrah.

“Mungkin, ketika aku meloncati dinding. Tetapi bayangan itu justru menghilang. Mungkin sekarang bayangan itu sedang mengintai aku yang memberitahukan kehadirannya kepadamu.”

“Berhati-hatilah. Atau kau akan bermalam disini?” bertanya Kiai Gumrah.

“Kenapa? Kau kira aku ketakutan melihat bayangan itu? Aku justru datang untuk memperingatkanmu. Kaulah yang harus berhati-hati.” berkata orang itu dengan dahi berkerut.

“Ya, ya. Aku akan berhati-hati. Tetapi kau juga harus berhati-hati.” jawab Kiai Gumrah.

Tetapi orang itu menjawab, justru agak keras, “Kau tidak usah merisaukan aku. Bukankah aku berilmu tinggi?”

Kiai Gumrah hanya menarik nafas panjang saja, sementara tamunya itupun kemudian telah meninggalkannya tanpa berpaling lagi, sehingga sejenak kemudian, iapun telah hilang dari penglihatan Kiai Gumrah dan Ki Prawara.

Sejenak kemudian, maka pintu itupun telah tertutup kembali. Dengan nada dalam Kiai Gumrah berkata, “Ternyata rumah ini selalu diawasi. Jika tidak dengan burung-burung elang itu, maka mereka telah mengirimkan orang kemari. Tetapi agaknya orang itu masih berada diluar dinding.”

“Tetapi orang itu tidak akan mengganggu kita ayah.” berkata Ki Prawara.

“Ya. Orang itu tentu hanya sekedar mengawasi saja.” desis Kiai Gumrah, “sudahlah, beristirahatlah.”

Ki Prawarapun kemudian telah berada diruang tengah. Ketika ia duduk diamben yang besar, maka ia pun memperhatikan Manggada dan Laksana yang berbaring dengan mata terpejam. Namun sambil tersenyum ia berdesis, “Tidurlah. Tidak ada apa-apa. Kami hanya mencari angin diluar.”

Manggada dan Laksana membuka matanya. Ternyata Ki Prawara tahu bahwa mereka memang belum dapat tidur. Dengan nada rendah Manggada berkata, “Ada tamu diluar paman?”

Ki Prawara tersenyum.

“Kau mendengar percakapan kami?” bertanya Ki Prawara.

“Tidak paman. Tetapi aku mendengar suaranya tertawanya.”

“Sudahlah, tidurlah ” desis Ki Prawara kemudian.

Sementara itu Kiai Gumrah masih saja berada di dapur. Bahkan kemudian ia pun berbaring diamben yang ada di dapur. Ia memang sering tidur di tempat itu atau di amben yang lain diruang dalam.

Namun bukan hanya Manggada dan Laksana saja yang masih belum tidur. Winih dan ibunya pun ternyata masih belum tidur juga. Bahkan mereka mendengar pembicaraan Kiai Gumrah dan tamunya yang datang kembali di muka pintu butulan untuk memberitahukan bahwa ada bayangan diluar dinding halaman rumah Kiai Gumrah.

Malam itu, para penghuni rumah Kiai Gumrah itu tidak dapat tidur nyenyak. Manggada dan Laksana pun seakan-akan mempergunakan waktu yang tinggal sedikit itu untuk tidur bergantian. Kiai Gumrah, bahkan menjelang fajar baru dapat tidur sekejap ketika Ki Prawara keluar lewat pintu butulan pergi ke pakiwan.

“Tidurlah ayah” desis Ki Prawara, “aku sudah sempat tidur sekejap.”

Kiai Gumrah baru dapat tidur dengan tenang, meskipun hanya sebentar, karena ia tahu, bahwa Ki Prawara tidak akan tidur lagi.

Ketika matahari naik, maka Kiai Gumrah sudah berada di kebun kelapanya. Iapun mulai memanjat batang-batang kelapa untuk mengganti bumbung-bumbung legennya. Manggada dan Laksana mengikutinya untuk membantu membawa bumbung-bumbung legen yang akan dipasang dan yang baru saja diturunkan.

Sementara itu, yang lain seisi rumah itu telah melakukan tugas mereka masing-masing pula.

Ketika matahari sepenggalah, maka Kiai Gumrah telah sibuk diperapian memanasi legen untuk dibuat gula. Demikian Kiai Gumrah menuang jladren yang sudah mengental kedalam tempurung kelapa untuk mencetak, maka terdengar orang mengetuk pintu Jepan sambil memanggil nama Winih.

“Siapa orang itu?” bertanya Kiai Gumrah yang sudah menduga bahwa orang itu tentu Darpati.

Manggada yang menjenguk keluar memang melihat bahwa orang yang datang itu adalah Darpati.

“Apakah Winih sudah mandi?” bertanya Darpati.

Manggada mengerutkan dahinya. Pertanyaan itu terdengar aneh. Demikian Manggada muncul, maka yang ditanyakan adalah, apakah Winih sudah mandi.

“Kenapa?” bertanya Darpati ketika ia melihat Manggada agak kebingungan.

Ternyata Darpati tidak menunggu Manggada mempersilahkan. Iapun segera melangkahi tlundak pintu, bahkan seakan-akan telah menyibak jalan menyisihkan Manggada yang berdiri dipintu dan kemudian duduk diruang dalam.

“He, kau belum menjawab, apakah Winih sudah mandi” berkata Darpati.

“Kenapa kau tanyakan hal itu?” Manggada justru bertanya.

Darpati tertawa. Katanya, “Aku ingin membawa Winih berjalan-jalan. Aku ingin mengajakmu pula bersama Laksana.”

“Kemana?” bertanya Manggada.

“Tentu tidak kepancuran itu lagi.” jawab Darpati.

“Biarlah winih nanti yang bertanya kepadaku. Aku akan menjawab hanya kepada Winih.” jawab Darpati.

Manggada menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak bertanya lagi. Katanya, “Aku akan menanyakan kepada Winih, apakah ia sudah mandi atau belum.”

Darpati tertawa, ia tahu bahwa pertanyaannya itu membuat Manggada menjadi kesal. Tetapi juga karena ia tidak mau menjawab pertanyaan Manggada, kemana ia akan mengajak Winih.

Sementara itu, ternyata Nyi Prawara mendengar kata-kata Darpati itu. Karena itu iapun berbisik ditelinga Winih, “Kau ingat pesan ayahmu?”

“Kenapa ibu?” Winih masih bertanya.

Ibunya meletakkan jarinya dibibirnya sambil berdesis, “Ayahmu sudah memberikan alasan-alasannya. Kau harus mengerti.”

Winih menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti bahwa ibunya minta agar ia tidak berbicara terlalu keras.

Tetapi bahwa ia tidak boleh keluar dari halaman rumah kakeknya itu telah membuatnya bersedih. Apalagi Darpati telah menjemputnya. Baginya Darpati adalah seorang anak muda yang baik, yang tidak ditemuinya di tempat tinggalnya. Bahkan telah menunjukkan kesediaannya untuk menolongnya ketika ia mendapat gangguan diperjalanan pulang.

“Apa yang kau pikirkan Winih” desis ibunya, “bukankah kau mendengar ceritera kakek semalam? Darpati bukan satu-satunya orang yang dapat menyelamatkanmu. Seandainya waktu itu Darpati tidak menolongmu, Manggada dan Laksana tentu akan dapat melakukannya. Bedanya, Manggada dan Laksana tidak dengan mudah menunjukkan kemampuannya. Hanya jika perlu, sebagaimana terjadi di pancuran dan semalam di banjar tua itu. Dalam keadaan yang tidak dapat dihindarinya lagi, maka keduanya baru mempergunakan kemampuannya. Berbeda dengan Darpati. Ia dengan sengaja, bahkan ia akan mencari banyak kesempatan untuk menunjukkan kelebihannya.”

“Bukan ibu, bukan itu sebabnya” berkata Winih. Namun sekali lagi ibunya menempelkan jari-jarinya, justru di bibir Winih.

Winih terdiam. Namun kemudian ia meneruskan, “Barangkali tidak terpikir olehnya untuk berbuat seperti itu.”

“Sudahlah Winih. Turuti saja perintah ayah dan kakekmu.”

“Tetapi ibu dapat minta agar ayah tidak berkeras seperti itu.” minta Winih.

Tetapi jawaban ibunya benar-benar membuat Winih bersedih. Katanya, “Winih. Seandainya ayah dan kakekmu tidak melarangmu, maka akulah yang akan melarangmu.”

Winih tidak dapat mendesak lagi. Kadang-kadang ia memang dapat merubah sikap ayahnya lewat ibunya. Tetapi jika ibunyalah yang berkeras melarangnya, maka larangan itu harus ditaatinya.

Sementara itu Manggada telah berdiri di pintu bilik Winih. Ia memang tidak segera mengetuk pintu lereg yang sudah sedikit terbuka. Tetapi ia sempat mendengar pembicaraan Winih dengan ibunya, meskipun hanya lamat-lamat dan tidak lengkap. Namun Manggada mengerti, bahwa ibunya, memang melarang Winih untuk pergi, apalagi bersama Darpati.

Namun kemudian Manggada itu pun telah mengetuk pintu bilik Winih yang memang terasa sempit.

“Marilah” desis ibu Winih perlahan-lahan, “kami sudah mendengar beberapa pertanyaan Darpati. Tolong, jawablah. Winih belum mandi.”

“Tidak” potong Winih, “aku sendiri yang akan mengatakannya bahwa aku tidak akan pergi kemanapun sesuai dengan perintah kakek, ayah, ibu dan barangkali juga kakang Manggada dan Laksana.”

“Aku?” bertanya Manggada.

“Sudahlah” potong Nyi Prawara. Lalu katanya kepada Winih perlahan-lahan tetapi tegas, “Temuilah jika kau sendiri ingin mengatakan bahwa kau tidak akan pergi kemana-pun, siapapun yang melarangmu.” Ibunya yang mulai menunjukkan sikap kerasnya.

Winih tidak menjawab. Ia memang bangkit berdiri dan berjalan keruang depan tanpa membenahi pakaiannya. Meskipun Winih sudah mandi, tetapi ia tidak berpakaian dan berhias sebagaimana jika ia akan pergi.

Demikian Winih keluar keruang dalam, maka Darpati pun bangkit berdiri sambil berkata, “He, kau belum siap?”

“Untuk apa?” bertanya Winih.

“Kita akan berjalan-jalan. Kau tidak usah sendiri. Biarlah Manggada dan Laksana ikut bersama kita.” jawab Darpati.

“Aku tidak siap untuk pergi Darpati ” jawab Winih.

“Bukankah kau sudah mandi? Berpakaianlah, aku akan menunggu ” berkata Darpati kemudian.

Tetapi Winih menjawab, “Aku hari ini tidak akan pergi, Darpati. Keadaan di sekitarku menjadi tidak menentu. Perkelahian, kekerasan dan kejadian-kejadian yang membuat aku ketakutan untuk keluar dari halaman rumah kakek ini.” jawab Winih.

“Kenapa kau takut? Kau akan pergi bersama aku dan Manggada serta Laksana. Apapun yang akan terjadi, maka kami bertiga tentu akan dapat mengatasinya.” Berkata Darpati.

“Tidak Darpati. Kakek, ayah dan ibu mencemaskan keselamatanku. Meskipun aku pergi bersamamu serta kakang Manggada dan Laksana, namun jika bahayanya terlalu besar, ada kemungkinan kalian tidak dapat mengatasi.” jawab Winih.

“Aku ingin berbicara dengan kakek dan ayahmu, Winih.” berkata. Darpati kemudian.

“Tentang apa?” bertanya Winih.

“Aku akan memberi penjelasan kepada mereka, agar mereka tidak dibayangi oleh kecemasan.” berkata Darpati.

Winih termangu-mangu sejenak. Agaknya memang lebih baik jika Darpati itu berbicara dengan kakek dan ayahnya, agar ia tidak menjadi marah kepadanya. Karena dengan demikian maka Darpati akan mengetahui, bahwa bukan ia yang menolak ajakannya.

Karena itu, maka Winih pun kemudian telah mendapatkan kakeknya di ruang sebelah.

“Kakek sudah mendengar?” desis Winih perlahan.

“Aku dan ayahmu sudah mendengar” jawab Kiai Gumrah.

“Jika demikian, biar kakek atau ayah sajalah yang menjawab” minta Winih.

0ooo0dw-arema0ooo0

 Bersambung ke jilid 5

Kara SH Mintardja

Seri Arya Manggada 3 – Sang Penerus

Sumber djvu : Ismoyo

Convert, editor & ebook oleh : Dewi KZ

Tiraikasih Website

http://kangzusi.com/ http://kang-zusi.info/

http://cerita-silat.co.cc/ http://dewi-kz.com/

kembali | lanjut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s