AM_SP-03


Serial ARYA MANGGADA

Episode III: SANG PENERUS

JILID 3

kembali | lanjut

AMSP-03

TETAPI sebelum matahari turun di sisi Barat belahan langit, Ki Gumrah yang sedang sibuk menuang minyaknya kedalam guci, terkejut mendengar suara orang memanggilnya sambil mengetuk pintu depan rumahnya. Karena Kiai Gumrah tidak segera menjawab, maka ketukan pintu dan suara yang memanggil namanya itu menjadi semakin keras. Tetapi suara itu terdengar akrab sekali.

Manggada dan Laksana yang sedang membantunya menuang minyak itu termangu-mangu. Sementara Kiai Gumrah berkata, “Lihat, siapa yang datang. Tetapi berhati-hatilah. Pergilah kalian berdua.”

Manggada dan Laksana pun telah pergi ke pintu depan rumahnya. Pintu itu tidak diselarak. Karena itu, maka Manggada pun telah membuka perlahan-lahan, sementara Laksana tetap berhati-hati karena hal-hal yang tidak terduga akan dapat terjadi.

Ketika pintu itu terbuka, maka kedua anak muda itu terkejut. Yang berdiri dimuka pintu ternyata tidak hanya seorang saja. Tetapi tiga orang. Seorang laki-laki, seorang perempuan dan seorang gadis yang sedang tumbuh dewasa.

Ternyata bukan saja Manggada dan Laksana yang terkejut. Tetapi ketiga orang yang berdiri dimuka pintu itupun terkejut. Dengan kerut dikeningnya, laki-laki yang berdiri didepan pintu itu bertanya, “Bukankah ini rumah Kiai Gumrah?”

Manggada termangu-mangu sejenak. Namun kemudian jawab, “Ya paman. Rumah ini rumah Kiai Gumrah.”

“Apakah Kiai Gumrah ada?” bertanya orang itu.

“Ada. Kakek sedang menuang minyak. Biarlah aku memanggilnya” sahut Manggada.

“Tetapi siapakah kalian berdua?” bertanya orang itu.

“Kami cucunya, paman” jawab Manggada.

“Cucunya? He, kalian anak siapa?” bertanya perempuan yang berdiri termangu-mangu.

Manggada dan Laksana memang menjadi bingung. Mereka tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan itu. Namun selagi keduanya berdiri termangu-mangu, maka terdengar suara Kiai Gumrah, “He, ternyata kalian yang datang. Marilah, masuklah.”

Ketiga orang itu pun kemudian melangkah masuk keruang dalam. Dengan wajah yang cerah Kiai Gumrah berkata, “Marilah. Sudah lama kalian tidak datang melihat rumah ini.”

“Kami memang sedang sibuk ayah” jawab laki-laki itu, “daerah kami baru saja terserang banjir. Hujan yang tidak berkeputusan telah membuat. Kali Panjer meluap. Untunglah bahwa rumah kami tidak hanyut.”

“Sokurlah” Kiai Gumrah mengangguk-angguk, “marilah, duduklah.” Kiai Gumrah pun kemudian melangkah mendekati gadis yang sedang tumbuh dewasa itu, “Kau sudah besar sekarang nduk. Sudah berapa tahun kau tidak ikut datang kemari. Ketika ayah dan ibumu beberapa waktu yang lalu datang kemari, kau tidak ikut bersama mereka.”

“Ayah dan ibu tidak memperbolehkan aku ikut kek.” jawab gadis itu.

“Kenapa?” bertanya Kiai Gumrah.

Gadis itu tidak menjawab. Tetapi ia berpaling memandangi laki-laki dan perempuan yang ternyata adalah ayah dan ibunya itu.

Ayahnya tersenyum sambil menjawab, “Waktu itu kami datang hanya sekedar menengok ayah. Kami hanya bermalam satu malam saja. Anak itu tentu akan kelelahan jika ikut bersama kami.”

“Sebenarnya tidak kek. Aku dapat berjalan dengan jarak dua tiga kali lipat jarak yang kami tempuh sampai ke-rumah kakek ini.” sahut gadis itu.

Kakeknya tertawa. Katanya, “Nah, ayah dan ibumu tidak mau kau menjadi sangat letih. Sekarang ayah dan ibumu agaknya akan bermalam lebih dari satu malam disini.”

“Anak itu pulalah yang memaksa kami untuk datang kemari, ayah” berkata ibunya.

“Bukan. Bukan aku kek” sahut gadis itu, “ayah dan ibu memang ingin menengok kakek.”

Kiai Gumrah tertawa berkepanjangan. Katanya kemudian, “Duduklah. Duduklah.”

Mereka bertiga pun kemudian duduk diamben yang cukup besar diruang dalam, sementara Manggada dan Laksana masih berdiri termangu-mangu. Baru sejenak kemudian ayah gadis itu bertanya, “Ayah, siapakah kedua orang anak muda ini? Mereka mengatakan bahwa mereka adalah cucu ayah. Sepengetahuanku cucu ayah hanya seorang saja. Winih ini.”

Kiai Gumrah tertawa. Katanya, “Keduanya memang cucuku meskipun ayah dan ibunya kedua-duanya bukan anakku.”

“Maksud ayah?” bertanya anaknya.

“Mereka telah tersesat kerumah ini dalam perjalanannya ke Pajang. Ternyata keduanya kerasan tinggal disini. Sehingga mereka telah aku anggap sebagai cucuku sendiri.”

Kiai Gumrah berhenti sejenak, lalu katanya kepada Manggada dan Laksana, “Nah, sekarang kau sempat berkenalan dengan anakku. Bukankah aku pernah mengatakan bahwa aku mempunyai seorang anak tetapi sudah lama sekali pergi meninggalkan rumah ini? Sekarang ia datang bersama seluruh keluarganya karena anaknya memang hanya seorang yang dinamainya Winih.”

Anak dan menantu Kiai Gumrah itu tertawa. Tetapi Winih menundukkan kepalanya. Sementara Manggada dan Laksana mengangguk hormat. Dengan nada rendah Manggada berkata, “Kami mohon maaf paman. Kami berdua belum mengenal paman sebelumnya.”

“Namanya Prawara. Panggil saja paman Prawara.” potong Kiai Gumrah sambil tertawa.

“Jika kalian kemudian dianggap cucu ayahku dan kau juga menganggap ayahku sebagai kakekmu, maka kita sudah menjadi keluarga.” namun Prawara itu pun kemudian bertanya, “Ayah, jika demikian sebaiknya siapakah yang lebih dituakan. Winih atau kedua anak muda ini?”

“Biarlah Manggada dan Laksana dianggap lebih tua. Umurnya memang lebih tua dari Winih.” jawab Kiai Gumrah. Lalu katanya kepada Winih, “nDuk, panggil keduanya dengan sebutan kakang, karena kau dianggap sebagai cucuku yang lebih muda dari mereka.”

Seleret Winih memandang Manggada dan Laksana. Namun iapun kemudian menundukkan kepalanya pula.

Ketika Kiai Gumrah kemudian juga duduk diamben itu, ia pun berkata, “Marilah,-duduk pulalah disini.”

Manggada dan Laksana menjadi ragu-ragu. Diluar sadarnya Manggada berkata, “Kami akan ke dapur kek.”

“Duduk sajalah dahulu. Biarlah nanti saja kita membuat minuman bagi tamu-tamu kita.” jawab Kiai Gumrah.

“Tidak usah ngger” berkata Nyi Prawara, “biarlah, nanti aku dan Winih membuatnya sendiri.”

Manggada dan Laksana tidak membantah lagi. Mereka duduk diamben yang besar itu pula bersama ketiga orang tamu yang baru datang itu.

Kiai Gumrah pun kemudian telah mempertanyakan keselamatan mereka. Keadaan tempat tinggal mereka yang diterpa banjir. Serta perjalanan mereka sampai kerumah itu.

Sementara itu Ki Prawarapun bertanya pula, “Bagaimana pula keadaan ayah selama ini?”

“Kami baik-baik saja disini. Kedua anak muda ini telah membantu aku dalam segala hal. Mereka pulalah yang setiap hari membersihkan banjar, menyalakan lampu dan jika di banjar itu hadir anak-anak muda sebelum ke banjar yang baru, maka keduanya ikut pula bersama mereka. Bahkan kedua anak ini dapat mewakili aku melakukan kegiatan di padukuhan ini.”

“Sokurlah” Ki Prawara mengangguk-angguk, “kami memang selalu memikirkan keadaan ayah disini. Bahwa ayah tidak bersedia tinggal bersama kami, membuat kami kadang-kadang gelisah sebagaimana sejak dua pekan terakhir. Akhirnya kami memaksa diri untuk datang betapapun sibuknya kami mengerjakan sawah dan ladang di musim seperti ini.”

Kiai Gumrah tertawa. Katanya, “Aku sudah menduga bahwa kalian akan datang. Dalam kegelisahan seperti ini, kedatangan kalian dapat sedikit memberikan ketenangan kepada kami.”

Ki Prawara mengerutkan keningnya. Diluar sadarnya, dipandanginya Manggada dan Laksana. Namun Kiai Gumrah yang tanggap itupun berkata, “Keduanya telah mengetahui segala-galanya tentang pusaka-pusaka itu. Setidak-tidaknya sebagian besar dari persoalan yang sedang aku hadapi.”

Ki Prawara pun menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada dalam ia berkata, “Kami datang sesuai dengan pesan ayah.”

Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Katanya dengan nada rendah kepada Manggada dan Laksana, “Aku telah memberikan kesan kepada anakku. Ia memang anakku. Bukan dongeng sebagaimana pernah kalian dengar dan kepura-puraan yang pernah kalian lihat terjadi dirumah ini. Kegelisahan yang semakin mencengkam memaksa aku untuk memanggilnya, karena aku berharap bahwa anakku dapat membantuku”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk kecil. Seperti juga Kiai Gumrah dan kawan-kawannva yang berdagang gula itu, maka Ki Prawara itu menilik ujud lahiriahnya tidak lebih dari seorang petani kebanyakan. Pakaiannya, sikapnya dan caranya berbicara. Namun Manggada dan Laksana yakin bahwa Ki Prawara adalah seorang yang tentu juga berilmu tinggi.

Namun dalam pada itu. Nyi Prawara yang sejak semula mendengarkan pembicaraan itupun berkata, “Ayah, biarlah aku pergi kedapur untuk merebus air.”

Namun Manggadalah yang menyahut, “Masih ada air terjerang diatas perapian.”

“Kebetulan” jawab Nyi Prawara yang kemudian menggamit Winih, “marilah. Bantu aku membuat minuman.”

“Kau dapat mencari mangkuk di paga bambu” berkata Kiai Gumrah

“Biarlah aku mengambilnya” berkata Laksana.

“Tidak” dengan cepat Nyi Prawara menyahut, “duduk sajalah ngger. Biarlah aku dan Winih yang berada di-dapur. Bukankah kami berada dirumah ayah sehingga tidak bedanya dirumah sendiri.”

Laksana tidak menjawab. Ia pun merasa bahwa Ki Prawara, Nyi Prawara dan Winih adalah keluarga terdekat Kiai Gumrah. Sedangkan ia dan Manggada adalah orang yang tersesat saja sampai kerumah itu. Sehingga karena itu, maka Nyi Prawara dan winih dapat berbuat lebih banyak di rumah itu.

Karena itu, ketika Nyi Prawara dan Winih pergi ke dapur, Laksana tidak beranjak dari tempatnya.

Dalam pada itu Kiai Gumrah pun berkata kepada Manggada dan Laksana, “Baiklah aku berterus terang. Anakku memang memiliki sedikit kemampuan sehingga ia akan dapat membantuku melindungi pusaka-pusaka itu disamping beberapa orang kawan-kawanku, para pedagang gula itu. Seperti pernah aku katakan, bahwa orang-orang yang menghendaki pusaka-pusaka itu mulai bersungguh-sungguh, sehingga kami pun harus mulai bersungguh-sungguh pula. Karena itu, maka kami harus menghimpun segala orang yang akan dapat ikut serta membantuku. Tentu bukan anak-anak muda padukuhan ini, karena hal itu akan dapat berarti menghancurkan mereka pula. Juga bukan para prajurit Pajang, karena mereka akan dapat membuat kebijaksanaan yang tidak sesuai dengan keinginan kita meskipun mereka juga berniat melindungi pusaka-pusaka itu.”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Kiai Gumrah memang pernah mengatakan hal itu. Tetapi agaknya ia sengaja mengulanginya dihadapan Ki Prawara.

Dalam pada itu, di dapur, Nyi Prawara dan Winih menjadi sibuk membuat minuman. Meskipun mereka tidak terbiasa dengan peralatan dapur Kiai Gumrah, namun mereka pun akhirnya dapat menyiapkan wedang jahe hangat dengan gula kelapa yang banyak terdapat didapur itu.

Namun dalam pada itu, selagi Nyi Prawara sibuk menyiapkan minuman, ia pun terkejut ketika tiba-tiba seseorang telah berdiri dipintu dapur. Orang itu pun terkejut pula melihat dua orang perempuan didapur itu.

Namun Nyi Prawara masih juga sempat bertanya, “Apakah keperluan Ki Sanak? Siapakah yang Ki Sanak cari?”

Tetapi Winih justru bertanya, “Apakah Ki Sanak juga cucu kakek Gumrah?”

“Tidak” jawab orang itu, “tetapi aku memang mencari Kiai Gumrah.”

Keduanya memang merasa heran, bahwa orang itu tidak mengetuk pintu depan, tetapi langsung ke pintu dapur. Namun Nyi Prawara itupun kemudian berkata, “Winih, panggil kakekmu.”

Winih pun kemudian bergegas masuk keruang dalam sambil berkata, “Kek, ada tamu.”

“Tamu?” bertanya Kiai Gumrah.

“Ya. Orang itu langsung masuk ke dapur” jawab Winih.

Kiai Gumrah mengerutkan dahinya. Namun ia pun kemudian segera bangkit dan melangkah menuju ke dapur.

Ternyata Kiai Gumrah pun terkejut. Hampir diluar sadarnya ia berdesis, “Kundala.”

“Ya, Kiai” jawab orang itu lirih, seakan-akan hanya untuk didengarnya sendiri saja.

“Marilah, masuklah” Kiai Gumrah mempersilahkan.

“Tidak Kiai” jawab Kundala, “aku sedang dalam perjalanan menemui seseorang.”

“Siapa?” bertanya Kiai Gumrah.

Kundala memang ragu-ragu. Keningnya telah menitikkan keringat. Bahkan baju dibagian punggungnya pun telah menjadi basah kuyup seakan-akan ia baru saja kehujanan di bulak panjang.

Ia memang tidak dapat dengan serta merta menyebutkan sebuah nama.

Kiai Gumrah-agaknya tanggap akan kesulitan perasaan Kundala. Karena itu, maka ia tidak mendesaknya. Ia justru bertanya, “Barangkali kau mempunyai keperluan dengan aku atau dengan kedua cucuku? Marilah duduklah.”

“Tidak Kiai” jawab Kundala, “tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin singgah untuk melihat keselamatan Kiai dan cucu-cucu Kiai. Agaknya semuanya selamat disini. Bahkan mungkin dirumah ini sedang ada tamu.”

“Ya. Memang ada tamu dirumah ini. Tetapi mereka adalah keluargaku sendiri.”

“Tidak ada yang ingin aku sampaikan kecuali sekedar menengok keselamatan Kiai itulah.”

Kiai Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada lembut ia berkata, “Kundala. Aku tahu bahwa kau berada dalam kebingungan yang sangat. Terserah kepadamu, apakah kau akan mengatakannya atau tidak. Tetapi tentu ada yang mendorongmu untuk singgah dirumahku ini. Aku yakin bahwa itu adalah nuranimu yang untuk waktu yang panjang tentu telah kau timbuni dengan ketamakan, kedengkian dan kepura-puraan. Tetapi kenapa kau justru berusaha menutup telinga hatimu dan membiarkan kepura-puraan itu menguasai dan kemudian menimbuni nuranimu sehingga tenggelam jauh kedasar jiwamu?”

Kundala termangu-mangu sejenak. Tetapi ia mengakui bahwa dorongan nuraninyalah yang telah membawanya singgah kerumah Kiai Gumrah. Bahkan nuraninya itu pula telah mendorongnya untuk mengatakan kenapa ia telah singgah.

Kiai Gumrah membiarkan Kundala itu termangu-mangu dimuka pintu. Keringatnya semakin banyak mengalir membasahi pakaiannya, sementara hatinya telah diguncang-guncang oleh keragu-raguan.

Namun akhirnya ia berkata, “Kiai. Aku baru saja menemui utusan Panembahan.”

“Utusannya?” bertanya Kiai Gumrah.

“Ya Kiai. Utusan Panembahan itu akan berbicara dengan Kiai Windu Kusuma tentang pusaka-pusaka itu.” Jawab Kundala.

“Kenapa utusan itu tidak langsung menemui Kiai Windu Kusuma?” bertanya Kiai Gumrah.

“Nampaknya memang masih ada jarak antara Panembahan dan Kiai Windu Kusuma meskipun Kiai Windu Kusuma telah berada dibawah pengaruh Panembahan.” jawab Kundala.

“Lalu apa tugasmu menemui utusan Panembahan?”

“Kami akan membicarakan pertemuan antara Panembahan dan Kiai Windu Kusuma. Pertemuan langsung itu harus dilakukan tanpa gangguan apapun juga.

Termasuk keselamatan Panembahan itu sendiri. Karena itu, maka penyelenggaraan pertemuan itu harus dilakukan dengan sangat berhati-hati” jawab Kundala.

Kiai Gumrah termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Apakah Panembahan dan Kiai Windu Kusuma belum pernah melakukan pertemuan itu?”

“Sudah. Sudah beberapa kali. Tetapi ditempat yang jauh dan terpencil. Pertemuan kali ini akan dilakukan ditempat Kiai Windu Kusuma.” jawab Kundala pula.

“Dimana tempat itu?”

Kundala tidak menjawab. Ia justru termangu-mangu kebingungan. Sekali-sekali dipandanginya Nyi Prawara yang duduk diamben yang lain di dapur itu.

Kiai Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Kepada Nyi Prawara ia berkata, “Ngger. Aku minta tamuku ini juga disuguh minuman yang hangat. Nanti, hidangkan saja minuman yang lain keruang dalam. Suamimu tentu sudah haus.”

Nyi Prawara seakan-akan tersadar dari sebuah renungan yang dalam. Tergagap ia berkata, “Ya, ya. Ayah.”

Nyi Prawara pun kemudian telah menyuguhkan minuman hangat kepada Kundala yang tegang. Kemudian iapun telah membawa minuman ke ruang dalam.

“Ia menantuku” berkata Kiai Gumrah. Kundala mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata, “Aku tidak mempunyai banyak waktu.”.

“Minumlah.” Kiai Gumrah. mempersilahkan.

Kundalapiun kemudian meneguk mangkuknya menghirup minuman hangat dengan gula kelapa.

Sementara itu Kiai Gumrah berkata, “Jadi bagaimana dengan burung-burung elang itu? Apakah burung-burung elang itu dilepaskan oleh Panembahan atau oleh Kiai Windu Kusuma?”

“Seorang pembantu Panembahan yang menjadi serati burung-burung elang itu berada bersama Kiai Windu Kusuma” jawab Kunuaia meskipun agak ragu.

“Tetapi kaulah yang mendapat tugas untuk menjadi penghubung sebelum pertemuan itu diselenggarakan” desis Kiai Gumrah.

Kundala mengangguk kecil.

“Aku mengucapkan terima kasih atas keteranganmu” berkata Kiai Gumrah, “tetapi apakah masih ada hal lain yang dapat aku ketahui?”

Kundala menjadi semakin tegang. Beberapa kali ia mengusap keningnya yang basah oleh keringat. Pertentangan didalam dirinya semakin bergejolak. Sekali-sekali terdengar ia berdesah.

Kiai Gumrah membiarkan Kundala dalam kegelisahannya. Bahkan iapun kemudian mempersilahkan lagi, “Minumlah, selagi masih hangat.”

Kundala mengangkat mangkuknya. Ia pun menghirup lagi seteguk. Baru kemudian ia berkata, “Panembahan nampaknya mengenali pusaka-pusaka yang tersimpan itu dengan baik, Kiai.”

“Darimana ia tahu?” bertanya Kiai Gumrah.

Seakan-akan diluar sadar Kundala pun menceriterakan apa yang pernah didengarnya pembicaraan antara Kiai Windu kusuma dengan Putut Sempada tentang pusaka-pusaka yang tersimpan dirumah Kiai Gumrah itu.

Kiai Gumrah pun menarik nafas dalam-dalam. Dengan kerut dikening Kiai Gumrah berkata hampir kepada diri sendiri, “Darimana ia mengetahui bahwa diantara pusaka-pusaka itu terdapat Kiai Simarengu dan Kiai Simariwut.”

“Entahlah” Kundala menyahut lirih.

Namun tiba-tiba Kundala itupun berkata, “Sudahlah Kiai. Aku sudah terlalu lama disini. Aku harus segera kembali agar aku tidak dicurigai oleh Kiai Wmdukusuma. Apalagi sekarang dalam beberapa hal aku sudah mulai tersisih. Bukan karena aku dianggap tidak setia, tetapi aku dianggap tidak cukup memiliki kemampuan untuk menghadapi pekerjaan-pekerjaan besar. Namun mudah-mudahan pada suatu saat, aku masih diperlukan oleh Kiai Windukusuma.”

Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih. Keteranganmu sangat penting artinya bagi kami. Hati-hatilah. Mungkin burung elang itu memantau perjalananmu.”

“Memang mungkin, tetapi aku tidak melihat burung itu di langit.”

“Minumlah dahulu. Aku akan melihat, apakah burung itu terbang atau tidak.” berkata Kiai Gumrah yang kemudian keluar dari dapur dan menengadahkan wajahnya.

Namun ia pun kemudian masuk lagi kedapur sambil berkata, “Burung itu tidak ada..”

“Baiklah Kiai” berkata Kundala, “aku mohon diri.”

“Berhati-hatilah. Kau berada dikandang serigala. Setiap saat serigala-serigala itu akan dapat menggigitmu.” Pesan Kiai Gumrah.

Kundala tidak menunggu lebih lama lagi. Ia pun segera minta diri dan meninggalkan Kiai Gumrah yang termangu-mangu.

Ketika kemudian Kiai Gumrah berada diruang dalam bersama anak, menantu dan cucunya, maka ternyata Kiai Gumrah tidak merahasiakan kehadiran dan pesan-pesan Kundala. Dengan demikian maka Manggada dan Laksana mengambil kesimpulan bahwa Kiai Gumrah mengharap kedatangan anaknya benar-benar untuk membantunya melindungi pusaka-pusaka itu. Karena itu, maka kedua anak muda itu berkesimpulan bahwa Ki Prawara itu tentu juga seorang yang berilmu tinggi. Jika tidak demikian, maka kehadirannya tentu tidak akan berarti apa-apa. Justru malah membahayakan jiwa Ki Prawara itu sendiri. Apalagi isteri dan anak gadisnya.

Ternyata pesan Kundala itu telah ditanggapi dengan sungguh-sungguh oleh Kiai Gumrah dan Ki Prawara. Mereka memperhitungkan bahwa Panembahan itu akan turun sendiri untuk mengambil pusaka-pusaka itu.

“Lebih dari itu Panembahan itu berniat untuk mengorbankan seseorang. Ia memerlukan jantung seseorang yang masih segar. Bahkan mungkin jantung seseorang yang disyaratkan oleh Panembahan itu.” berkata Kiai Gumrah.

“Nampaknya Panembahan itu masih hidup pada jaman yang gelap, pada jaman manusia masih terpisah dari Yang Maha Agung. Nampaknya Panembahan itu-masih belum menyadari panggilan Sumber Hidupnya, sehingga ia telah mengabdi kepada kegelapan.”desis Ki Prawara, “dengan demikian maka ia merupakan manusia yang sangat berbahaya pada jaman seperti ini. Ia sampai hati mengorbankan sesamanya dengan cara yang tidak pantas dan tidak berperikemanusiaan sama sekali untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Satu kekuatan yang berasal dari dunia kegelapan.”

“Itulah yang kita hadapi sekarang Prawara?” desis Kiai Gumrah, “ternyata kita berhadapan dengan kekuatan iblis dalam arti yang sebenarnya.”

Manggada pun kemudian sempat menceriterakan dengan singkat, bagaimana seorang Panembahan yang juga memiliki burung-burung elang itu membenamkan Kerisnya di dada gadis-gadis yang masih suci disetiap bulan purnama karena Panembahan itu memuja keris yang dianggapnya sangat bertuah itu. Keris yang jika digenapi mereguk darah gadis-gadis dalam jumlah tertentu akan menjadi keris yang dapat mendukung derajatnya karena tuahnya yang tidak ada bandingnya. Bahkan keris itu akan menjadi pusaka yang paling sakti dimuka bumi.”

Kiai Gumrah menarik nafas dalam-dalam, sementara tengkuk Nyi Prawara terasa meremang.

“Sekarang kejahatan seperli itu akan diulangi. Aku yakin bahwa Panembahan yang kau katakan itu adalah Panembahan yang ingin memiliki pusaka-pusaka itu pula. Beberapa pertandanya sama terutama bahwa ia memuja kuasa kegelapan.” berkata Kiai Gumrah.

Ki Prawara mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Jika demikian kita memang harus menjadi sangat berhati-hati.”

Kiai Gumrah mengangguk pula. Katanya, “Malam nanti, seorang diantara kita akan berada dirumah ini pula.”

“Siapa ayah?” bertanya Ki Prawara.

“Kiai Linggar. Ia akan tidur dirumah ini untuk menjaga kemungkinan buruk yang dapat terjadi.” jawab Kiai Gumrah.

“Bagaimana dengan saudara-saudara kita yang lain?” bertanya Prawara

“Hampir semua saudara-saudara kita sudah mengetahui apa yang dapat terjadi disini. Mereka sudah berada diputaran kejadian sehingga tidak terlalu sulit lagi untuk menghubungi mereka seorang demi seorang, sebagaimana kau sendiri”

Prawara mengangguk-angguk. Panembahan yang disebut-sebut itu telah bersungguh-sungguh pula, sehingga mereka pun harus bersungguh-sungguh sebagaimana Panembahan itu.

Demikianlah, maka sejenak kemudian Nyi Prawara pun telah berada di dapur pula. Ketika Kiai Gumrah akan menyiapkan makan bagi mereka, Nyi Prawara itu berkata, “Bukankah kami, perempuan, lebih pantas untuk berada didapur?”

“Biasanya aku, Manggada dan Laksanalah yang masak untuk kami sendiri. Aku ajari mereka membumbui bermacam-macam masakan, sehingga sekarang mereka telah dapat melakukannya.” berkata Kiai Gumrah.

“Tetapi hari-hari biasa dirumah ini tidak ada seorang perempuan. Sekarang ada dua orang perempuan disini.” sahut Nyi Prawara.

Kiai Gumrah tertawa. Katanya, “Baiklah. Jika kau akan memetik sayuran, ambillah di halaman belakang. Daun kacang panjang, so, melinjo dan kroto, atau terung ungu. Jika kau senang sayur rebung, sekaranglah musimnya.”

“Baik ayah. Kami akan mengambil bahan-bahan itu sendiri di halaman belakang.” jawab Nyi Prawara.

Dengan kehadiran anak, menantu dan cucunya, maka rumah Kiai Gumrah menjadi semakin terasa hidup. Rumah dan halaman yang telah dibersihkan oleh Manggada dan Laksana akan menjadi semakin nampak cerah karena ada tangan-tangan perempuan yang memeliharanya, meskipun hanya untuk sementara.

Dalam pada itu, ketika malam kemudian turun, maka rumah itu menjadi semakin ramai. Ternyata.yang datang kerumah Kiai Gumrah bukan hanya seorang kawannya yang untuk sementara akan berada dirumah itu, tetapi, yang datang ternyata empat orang termasuk juragan gula kelapa itu. Diantara mereka terdapat orang-yang telah mengirimkan pesan untuk Ki Prawara.

Ki Prawara telah ikut menyambut tamu-tamu Kiai Gumrah itu. Terdengar suara tertawa yang gembira. Orang-orang tua itu mulai berkelakar dengan ramainya.

“Pesanku kapan sampai kepadamu Prawara?,” bertanya salah seorang diantara tamu-tamu Kiai Gumrah.

“Dua. hari yang lalu Kiai.” jawab Prawara.

“Ternyata pesan itu memerlukan waktu tiga hari untuk sampai ketelingamu.”

“Tetapi aku sekarang sudah ada disini” jawab Prawara.

Sementara itu Kiai Linggar pun berkata, “Jika demikian, maka aku tidak perlu lagi berada ditempat ini. Rumah ini akan menjadi penuh sesak. Selain Prawara, isteri dan anak gadisnya, disini sudah ada dua orang cucu Kiai Gumrah yang lain.”

“Ya” Juragan gula itulah yang menjawab, “disini kau hanya akan memenuhi ruangan dan menghabiskan makanan yang disediakan oleh Nyi Prawara.”

Orang-orang -tua itu tertawa. Ki Prawara pun tertawa pula.

Demikianlah malam itu rumah Kiai Gumrah menjadi ramai. Meskipun mereka tidak bermain dadu, tetapi kehadiran Ki Prawara telah menyerap perhatian tamu-tamu Kiai Gumrah. Ki Prawara ternyata seorang yang pandai menyusun ceritera sehingga hal-hal yang biasa terjadi menjadi sangat menarik. Ia sempat menceriterakan pengalaman hidupnya yang terpisah dari ayahnya untuk waktu yang lama.

Sementara itu, Nyi Prawara dan Winih masih saja sibuk di dapur. Manggada dan Laksana ikut membantunya dan kemudian menghidangkan suguhan keruang dalam. Minuman, makanan dan makan malam. Meskipun hanya sayur-sayuran saja, tetapi karena Nyi Prawara pandai memasak, hidangan itu terasa nikmat di mulut tamu-tamu Kiai Gumrah.

Namun menjelang, tengah malam, suara tertawa dan kelakar menjadi semakin susut. Pembicaraan orang-orang tua itu menjadi semakin bersungguh-sungguh. Manggada dan Laksana yang sudah selesai menghidangkan suguhan bagi mereka yang berada di ruang dalam, duduk dibersandar dinding didapur. Justru karena mereka sudah tidak sibuk lagi, maka mereka mulai merasa kantuk. Karena itu, maka Nyi Prawara pun berkata, “Duduklah didalam ngger. Kalian sudah berhak mendengarkan pembicaraan orang-orang tua itu, karena kalian memang sudah memanjat usia dewasa.”

Manggada dan Laksana memang menjadi ragu-ragu. Tetapi kemudian Manggada itupun menyahut, “Biarlah kami duduk disini saja Nyi. Mungkin masih ada yang harus kami kerjakan. Jika minuman para tamu itu habis, maka kami akan menuang lagi.”

“Bukankah itu dapat dilakukan oleh Winih?” sahut Nyi Prawara sambil memandang anak gadisnya.

Namun Manggada berkata, “Adi winih tentu letih. Bukankah ia baru datang hari ini.”

Tetapi Nyi Prawara tertawa, katanya, “Ia terbiasa berjalan jauh. Dirumah sehari-hari ia bekerja disawah, sehingga tubuhnya telah terbiasa.”

Manggada dan Laksana hanya mengangguk-angguk saja, sementara Winih sendiri memang tidak nampak letih. Juga tidak nampak mengantuk. Ia masih tetap nampak segar.

Dalam pada itu, diam-diam Manggada dan Laksana memandangi gadis itu. Gadis itu nampak tegar. Tubuhnya seakan-akan selalu bergerak, apapun yang dilakukan. Seakan-akan gadis itu tidak dapat duduk diam barang sekejappun. Jika ia duduk, maka kakinya atau tangannya yang bergerak-gerak, Meskipun ujudnya Winih telah dewasa, namun wajahnya masih nampak kekanak-kanakan. Tetapi jika sekali-sekali Manggada dan Laksana, sempat memandang matanya, maka di mata itu seakan-akan tersimpan api gejolak jiwanya.

Tetapi Winih masih belum menjadi akrab dengan Manggada dan Laksana. Diantara mereka masih ada jarak, justru karena Manggada dan Laksana adalah anak-anak muda, sedangkan Winih seorang gadis yang sama-sama meningkat dewasa.

Namun dalam pada itu terdengar Kiai Gumrah memanggil Manggada dan Laksana. Ternyata Kiai Gumrah justru ingin Manggada dan Laksana mendengarkan pembicaraan mereka yang mulai bersungguh-sungguh.

“Sayang. Kita semuanya sudah menjadi tua. Satu-satunya orang yang masih terhitung muda adalah kau, Prawara.” berkata Kiai Linggar.

“Itulah kelemahan kita” berkata juragan gula itu, “kita mabuk akan kebanggaan atas diri kita sendiri, sehingga kita lupa, bahwa pada suatu saat kita akan menjadi tua, dan kehilangan landasan kekuatan kewadagan kita. Jika sebentar lagi kita sudah harus merenungi kerapuhan wadag kita, maka orang-orang yang lebih muda masih belum siap untuk menggantikan tugas kita.”

“Kiai sekalian masih belum terlambat” berkata Prawara, “masih ada kesempatan untuk menempa mereka yang lebih muda dari kita, atau katakan lebih muda dari aku.”

Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Hampir diluar sadarnya mereka memandang Manggada dan Laksana yang sudah duduk diamben itu pula, meskipun agak dibelakang.

Tetapi Manggada dan Laksana agaknya menundukkan wajah mereka.

Orang-orang tua yang ada diruang dalam itu tanggap akan maksud Kiai Gumrah. Tetapi mereka masih harus berpikir, “apakah keduanya bersedia untuk benar-benar, bergabung dengan orang-orang tua itu dalam arti yang,sebenarnya. Karena mereka tahu, bahwa anak-anak muda itu sedang dalam perjalanan pulang kerumah mereka tidak jauh dari Kotaraja.

Namun Prawaralah yang kemudian berkata, “Tetapi yang penting bagi kita adalah persoalan dalam waktu dekat ini. Jika menurut ayah, seorang pengikut Kiai Windu Kusuma yang bernama Kundala telah mengabarkan hal-hal tersebut, berarti bahwa kita harus menanggapinya dengan mengerahkan segenap, kemampuan yang ada pada kita. Untuk waktu yang pendek dan mendesak ini, kita belum sempat memikirkan, siapakah yang akan menjadi penerus kita kemudian. Karena dihadapan kita sekarang ternyata menganga mulut sekelompok buaya yang buas.”

Orang-orang tua itu mengangguk-angguk. Juragan gula itupun berkata, “Untunglah, bahwa ada seseorang yang bernama Kundala. Dengan demikian kita berharap untuk selanjutnya, ia akan dapat membantu kita.”

Demikianlah, orang-orang tua itu berbicara berkepanjangan. Namun akhirnya mereka pun menjadi letih. Kiai Linggar lah yang kemudian berkata, “Sudahlah. Kami datang untuk mengucapkan selamat datang kepada Prawara. Selain itu, akupun tidak perlu lagi berada dirumah ini untuk sementara. Karena itu, aku mohon diri.”

Ternyata orang-orang tua yang lain pun telah minta diri pula. Juragan gula itupun berkata, “Sudah terlalu malam. Aku kira sudah tidak ada suguhan lagi yang akan dihidangkan. Karena itu, kami akan pulang saja.”

Ki Prawara tertawa. Tetapi Kiai Gumrah berkata, “Kalian harus membayar sebanyak yang kalian makan hari ini.”

Orang-orang tua itu tertawa. Namun mereka berjalan terus meninggalkan rumah Kiai Gumrah.

Demikian mereka keluar dari regol halaman, mereka bertemu dengan beberapa orang anak muda yang sedang meronda. Namun anak-anak muda itu sudah mengenal orang-orang tua itu, sehingga mereka tidak terlalu banyak bertanya-tanya. Tetapi justru kepada Manggada dan Laksana anak-anak muda itu bertanya, kenapa ia tidak pergi ke banjar.

“Kami hanya sekedar menyalakan lampu. Kami harus segera pulang karena dirumah banyak tamu.” Jawab Manggada.

“Tetapi bukankah mereka tamu kakekmu?” bertanya salah seorang di antara mereka.

“Ya. Tetapi bukankah harus ada yang merebus air dan menyediakan hidangan meskipun hanya sekedar merebus ketela pohon atau ubi rambat?”

Anak-anak muda itu tersenyum. Seorang diantara mereka berkata, “He, jika tersisa bawa ke banjar. Kami akan beristirahat di banjar sebentar.”

Laksanalah yang menjawab, “Sayang. Yang masih tersisa tinggal gua kelapa.”

“Tentu, kakekmu setiap hari membuat gula” sahut salan seorang dari anak-anak muda itu.

Manggada dan Laksana hanya tertawa saja. Namun mereka kemudian justru masuk kembali keregol halaman dan menutupnya ketika orang-orang tua yang meninggalkan rumah itu sudah menjadi semakin jauh.

Malam itu Manggada dan Laksana harus tidur diamben dapur. Namun bagi mereka berdua sama sekali tidak ada persoalan. Amben yang besar diruang tengah dipergunakan untuk Ki Prawara, Nyi Prawara dan Winih.

Namun kehadiran Ki Prawara memang membuat Manggada dan Laksana menjadi semakin tenang, karena mereka tahu bahwa Ki Prawara itu tentu memiliki ilmu yang dapat diandalkan sebagaimana dikatakan oleh Kiai Gumrah dan kawan-kawannya.

Ketika kemudian fajar menyingsing, sebagaimana biasa Manggada dan Laksana sudah bangun. Mereka segera pergi ke banjar dan membersihkan halaman banjar, mengisi jambangannya dan memadamkan lampu-lampunya. Baru kemudian mereka pulang untuk membersihkan halaman rumah Kiai Gumrah.

Tetapi ketika mereka memasuki halaman, ternyata bahwa halaman rumah itu sudah menjadi bersih. Mereka masih melihat Winih menyelesaikan pekerjaannya dengan memasukkan sampah kelubang sampah disudut halaman.

“Kami terlambat” berkata Manggada.

“Seberapa luas halaman banjar itu, sehingga kalian berdua baru selesai?” bertanya Winih yang sudah mulai mengatasi keseganan masing-masing.

“Bukan hanya membersihkan halaman” jawab Laksana, “kami harus membersihkan ruangan-ruangan banjar dan mengisi jambangan di pakiwan.”

“O” Winih mengangguk-angguk, “sebelum kalian datang, apakah semuanya itu dilakukan oleh kakek sendiri?”

“Agaknya memang demikian. Tetapi justru karena itu, maka rumah kakek inilah yang tidak mendapat waktu untuk dibersihkan. Waktu kami datang, nampaknya rumah dan halaman ini jarang disapu sedangkan perabot didalam pun agaknya tidak sempat disentuh tangan. Kakek memang terlalu sibuk. Sedangkan pohon-pohon kelapa itu memerlukan perhatiannya” jawab Manggada.

“Kasihan kakek” desis Winih, “jika aku tahu, aku tentu sudah datang jauh sebelum ayah dan ibu mengajak aku kemari.”

Manggada dan Laksana yang kemudian melintas sempat berhenti sejenak. Namun, kemudian mereka mulai melangkah lagi melintas halaman samping. Sambil berjalan Manggada pun berdesis, “Kami akan mengisi jambangan.”

“Ayah sudah mengisinya” sahut Winih

“Kalau begitu, apa lagi yang harus kami kerjakan? Menyiapkan minuman?”Laksana justru bertanya.

“Ibu sedang sibuk didapur” jawab Winih.

“Dan kakek?” bertanya Manggada.

“Kakek sudah berada dikebun dengan bumbungbumbungnya.”

Manggada dan Laksana saling berpandangan. Agaknya tugas mereka menjadi ringan oleh kehadiran Ki Prawara dengan keluarganya dirumah itu.

Namun dalam pada itu Winih itupun tiba-tiba berkata, “Bukankah kita tidak mempunyai pekerjaan apa-apa lagi? Bagaimana jika kita pergi ke pasar?”

“Kepasar?” ulang Manggada.

“Ya. Aku akan minta kepada ibu agar aku saja yang berbelanja dipasar. Tetapi bukankah kahan juga tidak ada kerja dirumah pagi ini? Nah, kita sajalah yang pergi ke pasar.”

Manggada dan Laksana memang menjadi ragu-ragu. Mereka memang senang untuk berbelanja bersama Winih yang ceria itu. Namun dengan ragu Manggada berkata, “Kami harus minta ijin dahulu kepada kakek.”

“Kakek tentu tidak berkeberatan. Bukan kalian yang berbelanja. Tetapi aku. Bukankah pantas jika aku yang berbelanja? Kalian hanya menemani aku saja” berkata Winih dengan lancar. Seakan-akan mereka sudah akrab sebelumnya.

Manggada dan Laksana masih saja ragu-ragu. Mereka selalu ingat akan pesan Kiai Gumrah, bahwa mereka harus berhati-hati karena orang-orang berilmu tinggi itu sudah mengenal mereka

“Kenapa kalian ragu-ragu? Apakah kalian merasa malu berjalan bersama seorang gadis?” bertanya Winih.

Manggada dan Laksana justru merasa jantungnya tergetar mendengar pertanyaan itu. Namun mereka menyadari bahwa pertanyaan itu meluncur dari mulut Winih dengan lugu, jujur dan tanpa maksud apa-apa.

Karena itu, maka-meskipun agak memaksa diri Manggada menjawab, “Tidak. Soalnya bukan itu. Tetapi kakek selalu berpesan agar kami berhati-hati dalam keadaan yang nampaknya semakin genting ini.”

“Tetapi bukankah itu persoalan kakek, kawan-kawannya dan barangkali ayah. Tetapi itu bukan persoalan kita.”

“Kami berdua sudah terlibat kedalam persoalan itu.” jawab Laksana.

“Jadi kalian takut pergi ke pasar?” bertanya Winih.

Bagaimanapun juga Manggada dan Laksana tersinggung mendengar pertanyaan itu. Namun justru karena itu, mereka tidak segera menjawab.

Tetapi Winih sambil meneruskan kerjanya berdesis seakan-akan kepada diri sendiri, “Jika demikian aku akan pergi sendiri ke pasar.”

Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Namun Manggada pun kemudian berkata, “Baiklah. Kami akan pergi. Tetapi kami harus minta ijin lebih dahulu kepada kakek.”

Wajah Winih nampak menjadi gembira. Katanya, “Jika demikian aku akan segera mandi. Kita pergi kepasar selagi masih pagi. Kita akan mendapatkan sayur-sayuran yang masih segar.”

Hampir diluar sadarnya Laksana berkata, “Selama ini kami mengambil sayuran dikebun.”

“Tetapi dipasar kita mendapatkan sayuran yang jenisnya jauh lebih banyak dari yang ada dikebun kakek.” Jawab Winih.

“Tentu saja” sahut Laksana, “tetapi kita harus membelinya. Dikebun kita tinggal memetik.”

“Aku akan minta uang kepada ibu” desis Winih.

Manggada dan Laksana hanya termangu-mangu saja.

Sementara itu Winih pun telah berlari masuk rumah mencari ibunya, sementara, sapunya ditinggalkannya begitu saja.

Laksana menarik nafas dalam-dalam. Ia pun kemudian telah memungut sapu lidi yang ditinggalkan Winih dan menyelesaikan pekerjaan Winih yang tinggal sedikit. Sebagian kecil sampah itu ternyata masih tersisa. Belum seluruhnya masuk kedaiam lubang sampah di sudut halaman itu:

Dalam pada itu, maka Manggada dan Laksana pun telah mencari Kiai Gumrah di kebun. Agaknya Kiai Gumrah juga sudah selesai dengan pekerjaannya. Sambil membawa beberapa buah bumbung legen ia berjalan menuju ke dapur.

Manggada dan Laksana pun telah membantunya membawa bumbung legen itu. Sementara itu Manggada pun berkata, “Kek, apakah kami berdua boleh pergi ke pasar?”

“Untuk apa?” bertanya Kiai Gumrah.

“Winih ingin pergi ke pasar. Ia minta kami mengantarkannya.”

“Ah, anak itu” desis Kiai Gumrah, “ia tidak tahu bahaya yang tersembunyi di sekitar keluarga kita.”

“Winih nampaknya ingin sekali pergi ke pasar.” Desis Laksana. Lalu katanya, “Agaknya iapun akan minta ijin kepada kakek. Tentu saja juga kepada ayah dan ibunya, karena Winih masih akan minta uang lebih dahulu.”

“Apa yang akan dicarinya di pasar?” bertanya Kiai Gumrah.

“Anak itu ingin berbelanja. Katanya jenis sayuran dipasar jauh lebih banyak dari jenis sayuran yang ada dikebun.” jawab Laksana.

Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Katanya, “Biar anak itu minta ijin ayah dan ibunya. Ayah dan ibunya tentu sudah tahu bahwa kita seluruh keluarga harus berhati-hati.”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Tetapi mereka tidak menjawab lagi.

Tetapi ketika mereka sampai didapur, Winih itu sudah menunggu. Demikian ia melihat Manggada dan Laksana, maka ia pun berkata lantang, “He, kalian belum mandi?”

“Apakah kau sudah selesai berbenah diri?” bertanya Manggada.

“Tentu. Aku sudah menunggumu.” jawab Winih.

“Apakah kau sudah minta ijin ayah dan ibumu?” bertanya Kiai Gumrah.

“Sudah kek. Ayah dan ibu tidak berkeberatan. Ibu malahan sudah memberi uang belanja kepadaku.”

Kiai Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Namun, kemudian katanya, “Baiklah. Jika kau sudah mendapat ijin ayah dan ibumu.” Lalu Kiai Gumrah itu pun berkata kepada Manggada dan Laksana, “Kalian harus tetap berhati-hati.”

“Ya kek” jawab Manggada.

Tetapi Winih segera memotong, “Tetapi mereka belum mandi.”

Kiai Gumrah itupun tersenyum. Katanya, “Mandilah.”

“Cepat sedikit. Biasanya laki-laki berbenah diri lebih cepat dari perempuan.” berkata Winih.

Kiai Gumrah bahkan tertawa. Katanya, “Hari masih pagi. Pasar itu tidak akan segera bubar.”

“Tetapi sayuran yang segar itu sudah habis.” Jawab Winih.

“Tentu belum. Tetapi seandainya sudah habis, maka biarlah Manggada dan Laksana memetik sayuran segar dari kebun dan biar mereka membawanya kepasar. Nah, kau akan dapat membeli sayuran yang masih sangat segar.” berkata Kiai Gumrah.

“Ah, kakek mesti bercanda” desis gadis itu.

Sementara itu Manggada dan Laksana tergesa-gesa menyiapkan dirinya. Sementara Winih menunggu di depan. Bahkan hampir saja ia kehilangan kesabaran. Tetapi ketika Manggada dan Laksana selesai berpakaian, maka mereka justru dipanggil oleh Nyi Prawara didapur. Katanya, “Kalian belum minum. Nanti minuman ini menjadi dingin.”

“Terima kasih Nyi” jawab Manggada dan Laksana hampir berbareng. Tetapi demikian keduanya meneguk minumannya, Winih telah berdiri dipjnfcu sambil berkata, “Kalian masih sempat minum. Matahari sernakin tinggi.”

“Kenapa kau Winih” ibunya yang menyahut, “biarlah mereka minum lebih dahulu. Bukankah hari masih pagi. Justru para penjual sayuran masih belum ada di pasar.”

“Kakek kalau pergi ke pasar agak siang” berkata Manggada.

“Tetapi kakek menjual gula. Itu pun sudah ada orang-orang tertentu yang menerimanya sehingga kakek tidak usah menjajakan dagangannya dan menunggunya berlama-lama.” jawab Winih.

“Baiklah” berkata Laksana kemudian, “kami sudah selesai.”

Demikianlah mereka bertigapun segera meninggalkan regol halaman rumahnya. Disimpang tiga tidak jauh dari banjar mereka bertemu dengan beberapa orang anak muda yang akan pergi kesawah. Ternyata anak-anak muda itu terkejut melihat Manggada dan Laksana berjalan bersama seorang gadis yang tumbuh dewasa. Gadis yang sangat cantik menurut penglihatan mereka.

“He” seorang dari anak-anak muda itu menegur.

Dengan cepat Manggada tanggap dan menjawab, “Kami. mengantar adik”

Anak-anak muda itu tersenyum Seorang diantara mereka bertanya, “Kapan adikmu datang?”

“Kemarin” jawab.Manggada.

Beberapa anak muda itu tanpa berjanji mengangguk hormat, sementara Winihpun mengangguk hormat pula meskipun ia melihat kerlingan mata yang nakal. Tetapi Winih tidak menghiraukannya. Sebagai seorang gadis yang tumbuh dewasa dengan gaya hidupnya yang agak lebih bebas dari gadis-gadis sebayanya maka Winih telah sering melihat sorot mata yang seolah-olah ingin menusuk sampai kedasar jantungnya.

Tetapi anak-anak muda itu masih tetap dalam batas-batas kewajaran, sehingga Winih pun tidak terlalu merasa terganggu.

Sesaat kemudian, maka masing-masingpun telah meneruskan perjalanan mereka. Winih diantar oleh Manggada dan Laksana ke pasar, sementara beberapa orang anak muda itu pergi ke sawah.

Namun belum lagi mereka melangkah terlalu jauh, mereka pun telah berpaling ketika mereka mendengar langkah sorang berlari-lari. Seorang anak muda yang bertubuh kekar dan berwajah keras. Anak muda itu berlari-lari menyusul kawan-kawannya yang pergi kesawah.

Namun Manggada dan Laksana yang telah mengenal anak muda itu pula menjadi berdebar-debar. Dari kawan-kawannya Manggada dan Laksana mengetahui, bahwa anak muda itu adalah anak muda yang keras hati, yang hanya menuruti kemauannya sendiri tanpa menghiraukan perasaan orang lain. Beberapa orang kawannya berusaha untuk menjauhinya. Tetapi anak-anak muda itu tidak dapat menghindarinya jika anak yang bertubuh kekar dan berwajah keras itu hadir diantara mereka. Hampir seluruh anak-anak muda sepadukuhan berada dibawah pengaruhnya. Bukan karena ia mempunyai wibawa yang tinggi, tetapi karena kekasaran dan kekerasannya.

Ketika Manggada dan Laksana sekali-sekali berpaling, mereka melihat bahwa anak muda yang bertubuh kekar itu memperhatikan Winih dengan penuh perhatian.

“Mudah-mudahan tidak ada niat buruknya” berkata Manggada didalam hatinya. Sementara itu Laksana pun menjadi cemas karena sikap anak muda itu.

Winih sendiri tidak menghiraukannya lagi. Ia belum mengetahui sifat anak muda yang berlari-lari itu. Ia mengira bahwa anak muda itu ingin menyusul kawan-kawannya yang sudah berangkat lebih dahulu.

Demikianlah, maka ketiga orang itu berjalan agak bergegas menuju kepasar yang tidak begitu jauh. Tetapi Winih yang ingin cepat-cepat sampai kepasar diluar sadarnya telah berjalan semakin cepat, sehingga Manggada merasa perlu untuk memperingatkannya, “Jangan terlalu cepat Winih. Orang-orang yang berpapasan dengan kita akan memperhatikan kita, seolah-olah kita sedang dikejar oleh satu kepentingan yang sangat mendesak.”

“O” Winih mengangguk-angguk kecil. Ia memang memperlambat langkahnya. Tetapi langkahnya yang kecil itu semakin lama menjadi semakin cepat pula. Bahkan kemudian Winih tidak menghiraukan lagi orang-orang yang memperhatikannya.

Setelah melewati bulak-bulak kecil, maka mereka pun sampai kepasar. Pasar yang terhitung ramai dihari pasaran sebagaimana hari itu. Beberapa orang pedagang dari padukuhan lain telah berdatangan ke pasar itu.

Ternyata Winih memang menjadi gembira melihat keramaian di1 pasar itu. Tidak seperti yang direncanakan, bahwa ia akan segera membeli sayur-sayuran segar. Tetapi yang pertama-tama menarik perhatiannya adalah justru para pedagang kain lurik yang beraneka-warna. Kain dengan garis-garis yang besar, tetapi ada yang bergaris-garis lembut. Ada yang berwarna pekat, tetapi ada juga yang berwarna cerah.

Laksana yang berjalan dipaling belakang sempat bertanya, “He, aku kira kita salah memilih sasaran.”

“Kenapa?” bertanya Winih.

“Bukankah kau tergesa-gesa karena kau tidak mau kehabisan sayuran segar?” bertanya Laksana pula.

“Nanti dulu” jawab Winih, “aku senang melihat kain yang beraneka warna ini. Sebenarnya aku ingin membeli barang selembar atau dua lembar. Tetapi uang yang diberikan ibu hanya cukup untuk berbelanja sayur-sayuran dan bahan masakan yang lain.”

“Karena itu, marilah, kita pergi kesisi lain, ketempat para pedagang, sayuran menjajakan dagangannya.” Berkata Laksana

“Nanti dulu. Aku masih ingin melihat-lihat” jawab Winih.

Laksana tidak berkata apapun lagi. Ia hanya berjalan saja mengikuti Winih sebagaimana Manggada. Keduanya tidak dapat berbuat apa-apa, bahkan seperti kerbau dicocok hidung.

Namun dalam pada itu, ketiga anak muda itu sama sekali tidak menyadari, bahwa dua pasang mata tengah mengawasi mereka. Kedua orang yang melihat mereka bertiga telah dengan sengaja menjauhkan diri meskipun keduanya tetap mengawasinya.

“Kedua orang anak muda itu adalah cucu Kiai Gumrah” berkata seorang diantara mereka.

Yang seorang lagi adalah Kundala. Keringatnya mengalir membasahi seluruh tubuhnya seperti saat ia berada dirumah Kiai Gumrah. Ia tahu bahwa gadis itu tentu juga cucu Kiai Gumrah. Bahkan saat ia memasuki dapur Kiai Gumrah ia telah melihat pula gadis itu di dapur bersama seorang perempuan yang disebut oleh Kiai Gumrah sebagai menantunya.

“Kenapa kau menjadi gelisah?” bertanya kawannya.

Kundala bagaikan tersadar dari mimpi buruknya.

Dengan gagap ia menjawab, “tidak. Sama sekali tidak.”

“Wajahmu menampakkan kecemasanmu. He, jangan takut terhadap anak-anak.”

“Aku tidak takut. Aku pernah mengalahkan mereka berdua” jawab Kundala.

“Jadi kenapa kau menjadi begitu gelisah. Bahkan wajahmu bukan saja menunjukkan kecemasan hatimu, tetapi bahkan wajahmu menjadi pucat.” berkata kawannya pula.

“Aku sama sekali tidak cemas karena anak-anak itu. Tetapi Kiai Gumrah adalah pedagang-gula dipasar ini. Ia mempunyai beberapa kawan disini. Juga para pedagang gulai” jawab Kundala.

“Darimana kau tahu?” bertanya kawannya.

“Bukankah aku sering mendapat tugas kepasar. Menjemput seseorang, mengawasi seseorang atau bertemu dengan siapapun menurut perintah Kiai Windu Kusuma.” jawab Kundala.

Kawannya mengangguk-angguk. Ia memang percaya bahwa Kundala sudah sering berada di pasar bahkan tugas-tugas lain diluar lingkungan mereka.

“Siapakah gadis itu” tiba-tiba kawannya bertanya.

“Aku tidak tahu” jawab Kundala. Namun terasa kata-katanya itu begitu pahitnya di lidahnya. Setiap kali ia selalu dibayangi oleh tuduhan dihidungnya bahwa ia telah berkhianat.

“Aku tidak peduli” Kundala berteriak didalam hatinya, “aku memang berkhianat.”

Namun mulutnya justru terkatup rapat. Sementara kawannya berkata, “Kundala. Kau tidak perlu menjadi sangat cemas seperti itu. Seandainya pedagang gula itu berniat berbuat sesuatu, maka kita masih dapat melawan. Jika tidak, maka kesempatan untuk menghindarpun banyak sekali, karena kita ada dipasar yang ramai.”

Kundala tidak menjawab. Namun jantungnya berdenyut semakin keras ketika ia mendengar kawannya itu berdesis, “Gadis itu sangat cantik.”

“Jangan ganggu gadis itu.”

Kawannya justru tertawa. Tetapi ia bertanya, “Siapa kah gadis itu sebenarnya? Bukankah ia bukan anakmu?”

“Memang bukan” jawab Kundala, “tetapi jika gadis itu bersama-sama dengan cucu Kiai Gumrah, maka gadis itu tentu ada hubungannya pula dengan Kiai Gumrah.”

“Aku tidak peduli” jawab kawannya, “aku masih muda. Gadis itu tumbuh dewasa. Apa salahnya jika aku memperkenalkan diriku? Jika kau takut dikenali kedua cucu Kiai Gumrah itu sebaiknya kau tidak usah ikut aku.” berkata kawannya.

“Kedua cucu Kiai Gumrah itu akan mengenalmu” jawab Kundala yang menjadi semakin gelisah.

“Mereka belum mengenal aku” jawab kawannya.

“Tetapi darimana kau tahu bahwa mereka adalah cucu Kiai Gumrah? Bukankah kau mengenalnya saat kau menyerang rumah Kiai Gumrah itu?” bertanya Kundala.

“Sama sekali tidak. Bukankah aku belum pernah datang kerumah itu? Aku mengenalinya dari pengamatan saja. He, bukankah anak itu yang sering berada diregol rumah Kiai Gumrah? Yang sering pergi ke banjar lama itu?” sahut kawannya.

Kundala tidak menjawab. Tetapi dengan demikian keringatnya menjadi semakin deras mengalir di punggungnya. Karena dengan demikian ia tahu bahwa yang bertugas keluar lingkungan Kiai Windu Kusuma itu tentu beberapa orang pula. Bahkan tugas pengamatan. Jika saja ada tugas pengamatan yang dikirim oleh Kiai Windu Kusuma melihat ia singgah dirumah Kiai Gumrah, maka umurnya tentu akan segera berakhir.

“Ternyata para pengikut Kiai Windu Kusuma tidak saling mengetahui tugas mereka yang satu dengan yang lain” berkata Kundala didalam hatinya.

Namun Kundala pun meyadari bahwa dengan demikian maka Kiai Windu Kusuma akan dapat mengawasi orang-orangnya sebaik-baiknya, meskipun Kundala sampai saat itu masih belum diketahui bahwa ia telah berkhianat.

Meskipun Kundala masih dicengkam oleh kegelisahan, namun ia masih juga sempat memperingatkan kawannya itu, “Jika kau mau mendengarkan aku, jangan ganggu gadis itu atau kau akan terjerumus kedalam kesulitan. Bahkan akan dapat mempengaruhi usaha Kiai Windu Kusuma yang menginginkan pusaka-pusaka dirumah Kiai Gumrah itu. Jika Kiai Windu Kusuma menganggap bahwa kau yang menyebabkannya, maka kau tahu, akibat apa yang akan kau alami.”

“Kau tahu hubunganku dengan Kiai Windu Kusuma?” bertanya kawannya.

“Kau memang dianggap orang penting. Tetapi kedudukanmu bukan berarti memberimu kesempatan berbuat apa saja” berkata Kundala bersungguh-sungguh.

Kawannya tertawa lagi. Katanya, “Aku memang pengikut Kiai Windu Kusuma. Tetapi aku masih tetap mempunyai hak dan wewenang dalam persoalan pribadiku.”

“Tetapi kau tidak akan dapat menempatkan hak dan wewenangmu dalam persoalan pribadimu sekalipun melampaui kepentingan Kiai Windu Kusuma.” berkata Kundala.

“Kau tidak usah mengajari aku Kundala. Aku lebih tahu dari kau. Sebaliknya justru aku memperingatkairnu agar kau tidak mencampuri persoalanku.”

Kundala memang tidak menjawab. Tetapi ia menjadi gelisah. Gadis itu pernah melihat ia datang kerumah Kiai Gumrah. Seandainya gadis itu kemudian benar-benar dapat berkenalan dengan kawannya itu, maka Kundala sendiri akan menjadi semakin sulit berhubungan dengan Kiai Gumrah. Bahkan mungkin gadis itu akan berceritera tentang hubungannya dengan penjual gula itu.

Tetapi Kundala memang tidak berhasil mencegah kawannya itu. Dalam segala hal ia memang berada dibawah tatarannya. Termasuk kemampuan olah kanuragan.

Dalam pada itu, Winih memang sudah berada di sudut tempat para penjual sayuran menjajakan dagangannya.

Dengan senang hati Winih memilih sayuran yang dikehendaki. Sambil menimang sebuah waluh kenti gadis itu berkata, “Nah, bukankah di kebun kakek tidak ada buah waluh kenti seperti ini? Juga kangkung yang segar seperti ini.”

“Kau senang sayur waluh kenti?” bertanya Laksana.

“Tidak.” jawab Winih.

“Kenapa kau akan membelinya?” bertanya Laksana ?pula.

“Siapa yang akan membelinya?” justru Winih bertanya.

“Jadi?” Laksana termangu-mangu.

“Aku hanya mengatakan bahwa di kebun kakek tidak terdapat buah waluh kenti. Tetapi aku tidak ingin membelinya.”

Laksana hanya mengangguk-angguk saja. Sementara Manggada tersenyum sambil menggamitnya.

Namun dalam pada itu Winih pun berkata, “Aku akan membeli kangkung. Aku ingin ibu membuat sayur padamara. Kangkung dengan kedelai hitam.”

Laksana hanya mengangguk-angguk saja. Tetapi ia tidak ingin bertanya atau menebak kemauan Winih. Beberapa saat Winih memilih beberapa ikat daun kangkung yang nampak muda, hijau dan segar. Kemudian setelah ia membayarnya, maka iapun segera beralih untuk membeli beberapa kebutuhan dapur yang lain.

Namun ketika ia akan membeli seekor ayam, Manggada bertanya, “Untuk apa kau membeli ayam?”

“Aku ingin ayah menyembelihnya. Hari ini aku ingin makan dengan daging ayam selain sayur padamara.” Jawab Winih.

“Bukankah kakek mempunyai banyak sekali ayam. Setiap kali kakek ingin daging ayam, maka kakek akan menyembelihnya seekor.” berkata Manggada.

“Aku tidak pernah dapat makan daging ayam yang pernah dipelihara sendiri.” jawab Winih.

“Bukankah ayam kakek itu bukan ayam yang pernah kau pelihara karena ketika kau datang ayam itu sudah ada disana.”

“Tetapi bukankah ayam itu dipelihara oleh kakek? Nah, itu sama saja artinya dengan ayam itu dipelihara sendiri.”

Manggada tidak bertanya lagi. Ia hanya mengikut saja dibelakang ketika Winih kemudian membeli bukan hanya seekor, tetapi bahkan dua ekor ayam.

Beberapa saat kemudian, maka Winihpun telah selesai berbelanja. Ketika mereka pulang, maka Manggada dan Laksana harus ikut membantu membawa hasil pembelian Winih dipasar.

Ketika mereka berjalan meninggalkan pasar itu, maka Darpati, kawan Kundala itu, memandang Winih dari kejauhan. Kundala yang telah mengenal dan dikenal oleh Winih, Manggada dan Laksana tidak ingin terlihat oleh ketiganya, sehingga Kundala lebih senang berada didalam pasar yang ramai ketika Darpati berada diluar pasar untuk memperhatikan Winih yang berjalan meninggalkan pasar bersama Manggada dan Laksana.

Beberapa saat kemudian, maka perjalanan Winih bersama Manggada dan Laksana telah sampai ke bulak yang tidak begitu luas. Sementara itu, jalanpun nampak sepi. Orang-orang yang pergi ke pasar masih belum banyak yang pulang. Sementara itu, tanaman di sawah yang tumbuh subur tidak lagi memerlukan penanganan setiap hari, sehingga dengan demikian maka bulak pendek itu kesannya memang sepi.

Manggada dan Laksana memang terkejut ketika ia melihat anak muda yang tadi berlari-lari menyusul kawannya itu duduk diatas tanggul parit dipinggir jalan.

Manggada dan Laksana yang berjalan di belakang Winihpun merapat. Hampir berbisik Manggada pun berkata, “Apa maksud anak muda itu? Kawan-kawan tidak begitu senang dengan anak muda itu.”

“Nampaknya ia sangat memperhatikan Winih.” Jawab Laksana

“Jika ia berniat buruk, maka kita akan menghadapi persoalan yang rumit. Ia mempunyai pengaruh yang sangat besar atas anak-anak-muda sepadukuhan.” desis Manggada.

Laksana mengangguk kecil. Ia pun sudah membayangkan kesulitan yang bakal terjadi jika anak itu mulai mengganggu Winih. Manggada dan Laksana sama sekali tidak takut menghadapi anak muda itu sendiri. Tetapi itu akan berarti hubungannya dengan anak-anak muda padukuhan itu mengalami hambatan. Anak muda yang mempunyai pengaruh yang sangat besar itu akan dapat mengendalikan sikap anak-anak muda padukuhan itu.

Namun demikian mereka berjalan terus. Manggada dan Laksana masih belum melihat apakah anak muda itu memang bermaksud buruk atau kebetulan saja ia memang duduk disitu.

Semakin dekat dengan anak muda yang duduk di tanggul parit itu, maka Manggada dan Laksana menjadi semakin berdebar-debar. Apalagi ketika kemudian anak muda itu justru berdiri saat Winih tinggal beberapa langkah saja dari padanya.

Tetapi Winih sendiri sama sekali tidak memperhatikan anak muda itu. Ia berjalan saja tanpa berprasangka apapun terhadap anak muda yang kemudian berdiri diatas tanggul itu.

Namun Winih itu terpaksa menghentikan langkahnya ketika anak muda itu mengangguk hormat. Dengan nada rendah ia berkata, “Selamat datang di padukuhan kami, anak manis.”

Winih mengerutkan dahinya. Ketika ia berpaling kepada Manggada dan Laksana, maka kedua anak muda itu sudah berdiri dekat dibelakangnya.

“Anak itu adikku” berkata Manggada.

“O” anak muda itu mengangguk-angguk, “satu kebetulan. Bukankah kita sudah bersahabat? Apa salahnya jika aku juga berkenalan dengan adikmu?”

Manggada dan Laksana terkejut ketika Winih sendiri menjawab, “Jika kau sahabat kakak-kakakku, maka sudah tentu aku tidak berkeberatan berkenalan dengan kau.”

Bahkan anak muda itu sendiri terheran-heran mendengar jawaban gadis itu. Apalagi kemudian Winih itu berkata, “Namaku Winih. Siapa namamu?”

Anak muda itu termangu-mangu sejenak. Baru kemudian ia menjawab, “Namaku Rambatan.”

“Nama yang bagus” sahut Winih. Rambatan itu semakin heran ketika Winih berkata, “Marilah. Aku akan pulang. Ibu tentu menunggu. Jika aku kesiangan sampai dirumah, maka ibupun akan kesiangan pula menyiapkan makan kami sekeluarga.”

Rambatan semakin termangu-mangu. Niat yang sudah memenuhi kepalanya untuk mengganggu gadis itu justru bagaikan terdesak tenggelam dalam keheranannya melihat sikap Winih yang sama sekali tidak diduganya. Sama sekali tidak terlintas dikepalanya jika kemudian gadis itu berkata, “Rambatan. Marilah, kita berjalan bersama. Bukankah kita tinggal di padukuhan yang sama.”

Rambatan itu dengan gagap menjawab, “Tetapi, tetapi aku masih harus pergi ke sawah. Terima kasih. Lain kali saja.”

Manggada dan Laksana justru termangu-mangu ketika Rambatan itu berkata kepada mereka, “Aku akan pergi ke sawah. Sawahku ada disebelah itu.”

“Baiklah” jawab Manggada dan Laksana hampir berbareng.

Rambatan memang segera pergi. Sementara itu seolah-olah tidak terjadi sesuatu. Winih melanjutkan perjalanannya Dengan nada tinggi ia berkata, “Ibu tentu sudah menunggu”

Manggada dan Laksana mengikuti saja langkah Winih yang menjadi semakin cepat. Sementara itu Manggada dan Laksana justru mulai menilai sikap gadis itu. Apakah gadis itu memiliki kemampuan menilai seseorang, kemudian dengan kematangan sikapnya menanggapinya atau justru karena Winih seorang gadis yang lugu sehingga ia sama sekali tidak berprasangka buruk terhadap siapapun juga. Juga kepada Rambatan.

Namun Manggada dan Laksana yang kemudian saling berbincang di perjalanan meskipun perlahan-lahan telah memutuskan untuk menyampaikan hal itu kepada Kiai Gumrah dalam kesempatan yang khusus. Agar ayah dan ibu Winih tidak mendengarnya. Kecuali jika kemudian Kiai Gumrah memang ingin berbicara dengan ayah dan ibunya.

Ketika mereka bertiga sampai dirumah, maka ibu Winih memang sudah sibuk didapur. Nasi telah dijerang. Bumbu yang sudah adapun telah tersedia. Namun, demikian Kiai Gumrah melihat Laksana membawa dua ekor ayam, maka iapun bertanya, “He, untuk apa kalian membeli ayam?”

“Hari ini kita akan makan agak lain dari biasanya” jawab Winih, “aku akan minta ayah memotong kedua ekor ayam itu.”

“Winih, bukankah kakek mempunyai beberapa ekor ayam?” berkata Kiai Gumrah.

“Aku tidak mau menyembelih ayam sendiri.” Jawab Winih.

Kiai Gumrah menarik nafas dalam-dalam, sementara Nyi Prawara berkata, “Anak itu memang tidak mau menyembelih ayam yang dipelihara sendiri. Karena itu, jika ia ingin ayahnya menyembehh ayam, maka lebih baik ia membeli. Bahkan jika tidak mempunyai uang ayamnya sendiri dijualnya.”

Kiai Gumrah tersenyum. Namun terbersit di hatinya tanggapannya atas jiwa cucunya itu. Gadis itu tentu mempunyai perasaan yang mudah tersentuh serta kesetia-kawanan yang tinggi.

Karena itu, maka Kiai Gumrah pun tidak bertanya lagi tentang kedua ekor ayam itu.

Sementara itu Rambatan memang telah pergi ke sawahnya. Tetapi demikian ia sampai di sawah, maka iapun menjadi seperti tersadar dari mimpi yang asing.

“Kenapa aku justru seperti orang yang terbius?” pertanyaan itu telah bergejolak dihatinya.

Rambatan menyesal, kenapa ia tidak berjalan mengikuti gadis itu sampai kepadukuhan. Berbicara dan barangkali bercanda dengan gadis cantik itu. Manggada dan Laksana tentu tidak akan berani melarangnya berbuat apa saja terhadap adiknya itu.

“Aku telah melewatkan kesempatan ini” berkata Rambatan yang kesal kepada diri sendiri.

Tetapi sebenarnyalah kesempatan itu masih terbuka baginya. Winih tidak hanya sekali pergi ke pasar. Dikeesokan harinya, ternyata Winih minta Manggada dan Laksana mengantarnya lagi ke pasar.

“Apakah kau akan membeli ayam lagi?” bertanya Manggada.

“Ah kau” desis Winih, “aku ingin membeli kain lurik yang berwarna merah bata itu. Aku senang sekali. Mungkin ibu juga senang setelah melihatnya dan ingin pula membelinya.”

Namun Manggada dan Laksana masih saja selalu ingat pesan Kiai Gumrah. Jika mereka terlalu sering keluar rumah maka persoalannya akan dapat berkembang. Orang-orang Kiai Windu Kencana mungkin akan mempunyai rencana tertentu terhadap mereka. Apalagi jika mereka mengetahui bahwa Winih memang cucu Kiai Gumrah.

Namun agaknya Winih sama sekali tidak menghiraukan bahaya itu. Bahkan ketika ayahnya memperingatkan agar ia tidak usah pergi kepasar hari itu, Winih mulai merengek.

“Biarlah ia pergi” desis ibunya, “angger Manggada dan Laksana akan menemaninya.”

Ki Prawara sempat berbisik, “Ayah mencemaskannya. Orang-orang Kiai Windu Kusuma mungkin sekali mengamatinya.”

“Apa yang akan mereka lakukan disiang hari? Bukankah jalan tidak terlalu sepi? Sementara itu angger Manggada dan Laksana bersamanya.”

Ki Prawara mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Tetapi besok Winih tidak boleh pergi iagi ke pasar.”

Nyi Prawara mengangguk. Katanya, “Baiklah. Setelah hari ini, maka ia tidak boleh terlalu sering pergi ke pasar. Kecuali untuk menjaga keselamatannya, maka uang kita pun akan segera habis.”

Ki Prawara pun tersenyum. Sambil mengangguk kecil ia berkata, “Kau benar. Bekal kita memang tidak terlalu banyak.”

Seperti direncanakan, maka Winih memang telah pergi ke pasar bersama Manggada dan Laksana. Mereka bertemu lagi beberapa orang anak muda yang pergi ke sawah. Merekapun melihat anak muda yang berwajah keras dan bernama Rambatan itu berjalan dengan beberapa orang anak muda pula sambil membawa cangkul.

Winih menanggapi sikap mereka dengan baik. Ketika anak-anak muda itu mengangguk hormat, maka Winih pun mengangguk homat pula. Demikian pula ketika ia bertemu dengan Rambatan. Ia menjawab sapa Rambatan dengan wajar.

Namun nampaknya Winih tidak memperhatikan sorot mata Rambatan yang memancar bagaikan sorot mata serigala yang melihat seekor anak domba.

Manggada dan Laksana yang melihat kilatan sorot mata itu-menjadi berdebar-debar pula. Tetapi Laksana pun berkata perlahan-lahan tanpa didengar oleh Winih, “Tetapi kemarin ia bersikap baik. Rambatan tidak mengganggu Winih.”

“Mudah-mudahan untuk seterusnya ia bersikap baik.” jawab Manggada.

Di pasar, Winih memang langsung menuju ketempat para penjual kain lurik. Beberapa kali ia memilih. Digelarnya beberapa lembar kain. Tetapi kain itu pun harus dilipat lagi oleh penjualnya karena Winih ternyata tidak menyenanginya.

Manggada dan Laksana menjadi tidak telaten menunggu Winih memilih kain lurik yang di mgminya. Tetapi ketika hal itu dikatakan oleh Laksana, maka sambil memberengut Winih berkata, “Jika kalian akan pulang dahulu, pulang sajalah.”

“Bukan itu maksudku, Winih” jawab Laksana, “tetapi penjual kain itu akan dapat marah kepada kita. Berapa saja yang sudah digelarnya. Tetapi kau selalu menolaknya.”

Winih memandang Laksana sejenak. Namun kemudian katanya, “Bukankah wajar untuk memilih barang yang hendak kita beli?”

“Tetapi tidak terlalu lama seperti itu.”

Namun ternyata Winih pun mengangguk. Seperti yang direncanakan dari rumah, maka akhirnya Winih memang memilih selembar kain yang berwarna merah bata.

Tetapi sementara itu, sepasang mata masih saja selalu mengikutinya. Ternyata Darpati, kawan Kundala, yang melihat Winih berada dipasar lagi, telah mengikutinya meskipun dari jarak tertentu, sehingga Winih, Manggada dan Laksana tidak mengetahuinya, bahkan ketika Darpati itu lewat dan sempat menyinggung Winih yang sedang memilih kain lurik itu. Namun yang kemudian telah mengambil jarak lagi.

Dalam pada itu, setelah mendapat kain yang diingininya, maka Winih pun mengajak Manggada dan Laksana pulang. Namun Winih masih singgah untuk membeli beberapa kebutuhan dapur sesuai dengan pesan ibunya.

Dengan wajah yang cerah Winih melangkah menyusuri jalan pulang. Manggada dan Laksana yang berjalan dibelakangnya mengikuti langkah-langkah kecil yang cepat itu,

Sambil berpaling Winih berkata, “Marilah. Kenapa begitu lambat? Aku ingin segera menunjukkan kain itu kepada ibu. Biarlah ibu menilainya, apakah pilihanku tepat atau tidak. Sesuai atau tidak dengan kulitku.”

Diluar sadarnya Manegrada dan Laksana justru memperhatikan kulit Winih. Gadis itu kulitnya memang nampak bersih. Sebagai seorang gadis desa, maka Winih termasuk berkulit kuning meskipun nampak terpaan sinar matahari yang membakar. Seperti dikatakan ibunya, Winih hampir setiap hari dipanggang oleh panasnya matahari di sawah dan pategalan bersama dengan ayah dan ibunya.

Namun dalam pada itu, ketika mereka sampai dibulak kecil, Manggada dan Laksana melihat lagi Rambatan duduk di tanggul parit, ia tidak sendiri. Tetapi Rambatan duduk diparit bersama dengan ampat orang kawannya.

Manggada dan Laksana menjadi berdebar-debar. Bahwa Rambatan berada di bulak pendek itu bersama dengan ampat orang kawannya, maka persoalan yang tidak diinginkan akan dapat timbul.

Winih pun kemudian melihat pula Rambatan dan kawan-kawannya. Karena itu, maka berbeda dengan hari sebelumnya, Winih telah memperlambat langkahnya. Bahkan kemudian ia bertanya, “Kenapa Rambatan itu ada disana lagi?”

“Entahlah” berkata Manggada, “mudah-mudahan ia tidak mengganggumu lagi.”

“Rambatan belum pernah menggangguku” jawab Winih.

“Bukankah kemarin ia juga menunggumu disana?” bertanya Laksana.

“Tetapi aku tidak merasa terganggu dengan kehadirannya kemarin. Tetapi sekarang ia datang lagi bersama beberapa orang kawannya. Jika semuanya nanti bertanya seorang demi seorang, maka aku memang akan merasa terganggu.” desis Winih.

“Mudah-mudahan mereka hanya bertanya saja” desis Laksana.

“Apakah mungkiri lebih dari itu?” bertanya Winih

“Winih” berkata Manggada kemudian, “hati-hatilah. Menurut beberapa orang kawannya yang aku kenal. Rambatan bukan seorang yang baik. Ia mempunyai sifat yang tidak disukai oleh kawan-kawannya karena ia sangat mementingkan dirinya sendiri.”

“Tetapi kenapa kawan-kawannya mau datang bersamanya?” bertanya Winih.

“Memang ada beberapa orang anak muda yang secara khusus sangat dekat dengan Rambatan. Anak-anak muda itu tentu mempunyai pamrih. Karena Rambatan ditakuti oleh anak-anak muda sepadukuhan dan bahkan padukuhan-padukuhan disekitarnya, maka ada beberapa orang yang ingin menompang untuk ikut ditakuti karena mereka adalah kawan-kawan dekat Rambatan.” Jawab Manggada.

“Tetapi di siang hari mereka tidak akan berbuat apa-apa” berkata Winih.

“Belum tentu Winih” jawab Laksana, “bulak kecil ini terhitung sepi pada saat seperti ini. Memang sebentar lagi jalan ini akan banyak dilalui orang dari pasar. Tetapi sekarang kita tidak melihat orang lewat dan orang yang berada di sawah.”

Winih tidak menjawab. Tetapi ia tidak lagi berjalan terlalu cepat.

Sementara itu Rambatan dan kawan-kawannya telah bangkit berdiri. Dengan nada berat Rambatan berkata kepada kawan-kawannya, “Gadis itu tidak akan dapat menyihirku lagi.”

“Apakah kau pernah disihirnya?” bertanya seorang kawannya.

“Kemarin aku seakan-akan disihirnya. Tiba-tiba saja aku menjadi dungu, dan kehilangan akal menghadapi gadis itu.” jawab Rambatan.

“Sekarang apa yang akan kau lakukan?” bertanya

kawannya yang lain.

“Aku akan mengajaknya singgah dirumah. Aku mempunyai dua ekor ayam yang dapat aku berikan kepadanya. Kemarin gadis itu membawa dua ekor ayam dari pasar.”jawab Rambatan.

“Hanya itu?” bertanya kawannya yang lain lagi.

“Ya. Lalu apa?” Rambatan justru bertanya, “aku tidak gila untuk berbuat lebih dari itu kali ini. Entah besok atau lusa. Mudah-mudahan ia berada disini untuk waktu yang lama. Kakeknya, penjual gula itu tidak akan banyak bertingkah.”

“Bagaimana dengan ayahnya dan kedua orang anak muda itu?” bertanya kawannya pula.

“Mereka bukan penghuni padukuhan ini. Mereka tidak akan berani berbuat apa-apa.” jawab Rambatan.

Kawan-kawannya tidak menjawab lagi. Winih dan Manggada serta Laksana yang berjalan disebelah menyebelah menjadi semakin dekat. Bertiga mereka memang nampak berhati-hati.

Demikian Winih menjadi semakin dekat maka Rambatan itupun melangkah menyongsongnya sambil ter:senyum. Winih yang mulai memperhatikan anak muda itu melihat betapa Wajahnya nampak keras sehingga senyumnya sama sekali tidak berkesan ramah.

Tetapi Winih justru bertanya lebih dahulu, “Bukankah kau Rambatan yang kemarin?”

“Ya” jawab Rambatan, “aku memang ingin berbicara dengan kau Winih.”

“Berbicara apa? Bukankah sejak kemarin kita sudah berbicara?” justru Winih yang bertanya.

Rambatan mengerutkan dahinya. Namun sambil mengangguk ia menjawab, “Ya. Kemarin kita memang sudah berbicara.”

“Jika demikian, apa lagi yang akan kita bicarakah?”

Rambatan tiba-tiba menjadi bingung. Diluar sadarnya ia berpaling kepada kawan-kawannya.

Seorang kawannyalah yang kemudian berkata, “Bukankah kau mempunyai dua ekor ayam?”

“O, ya” berkata Rambatan dengan serta merta, “aku mempunyai dua ekor ayam. Aku minta kau singgah sebentar dirumahku. Kau dapat membawa dua ekor ayam itu. Bukankah kemarin kau membeli dua ekor ayam rlinasar?”

Winih tersenyum. Katanya, “Terima kasih Rambatan. Ayam itu masih ada sampai sekarang. Ayah belum sempat menyembelihnya. Karena itu, aku masih belum memerlukan ayam lagi. Mungkin lain kali saja.”

Satu kesalahan telah dilakukan oleh Winih tanpa disadarinya. Justru karena itu tersenyum. Rambatan yang melihat Winih tersenyum, jantungnya serasa berdebar semakin cepat. Meskipun kemarin Winih juga tersenyum, tetapi saat itu Rambatan melihat wajah Winih menjadi secantik wajah bidadari.

Karena itu, maka penalaran Rambatan menjadi semakin goncang. Dengan suara bergetar ia kemudian berkata bahkan dengan nada memaksa, “Winih. Aku minta kau singgah sebentar dirumahku. Aku sudah menyediakan dua ekor ayam buatmu. Kau tidak boleh menolak. Ayah dan ibuku sudah tahu bahwa kedua ekor ayam itu akan aku peruntukkan bagimu.”

“Bagaimana ayah dan ibumu mengetahui tentang aku?” bertanya Winih.

“Aku yang mengatakannya kepada mereka. Aku berceritera tentang kau. Bahwa kau cucu pembuat dan penjual gula itu. Bahwa kau cantik dan ramah.” berkata Rambatan.

Winih menarik nafas dalam-dalam. Pernyataan itu mulai tidak menyenangkan hati gadis itu. Tetapi gadis itu masih saja mengulangi kesalahan yang tidak disadarinya. Tersenyum. Winih sama sekali tidak mengetahui bahwa senyumnya telah membuat Rambatan menjadi bagaikan orang mabuk.

Namun Winih itu menjawab, “Rambatan. Aku tidak dapat membuat ibu gelisah. Aku harus segera pulang. Atau kau saja yang pergi kerumah kakek? Aku akan menghidangkan minuman hangat dengan gula kelapa. Kakek mempunyai banyak gula kelapa”

Rambatan menjadi bingung. Bahkan ia menjadi gelisah. Keringat dingin membasahi punggung dan keningnya. Hampir saja ia mengangguk mengiakan. Tetapi seorang kawannya berkata, “Bukankah kau telah berniat untuk mengajak Winih pulang dan memberinya dua ekor ayam?”

Sebelum Rambatan menjawab, Winih sudah lebih, dahulu menjawab, “Ia sudah mengatakannya tadi. Aku pun telah menjawab.”

“Tetapi jawabmu tidak sebagaimana dimaksudkan oleh Rambatan” berkata anak muda kawan Rambatan itu, “Rambatan ingin mengajak kau kerumahnya sekarang.”

Manggada dan Laksana memang menjadi ragu-ragu. Jika ia langsung demikian mencampurinya, maka kemungkinan buruk dapat terjadi. Dengan demikian mereka tidak akan dapat menyembunyikan diri lagi terhadap anak-anak muda pedukuhan itu sehingga hubungannya dengan anak-anak muda sepadukuhah akan berubah.

Dalam pada itu Winih pun menjawab, “Maaf, Ki Sanak. Aku akan segera pulang. Aku justru mengajak Rambatan singgah dirumahku.”

Tetapi kawannya masih saja berkata, “Tentu kurang pantas jika Rambatan yang harus singgah dirumah kakekmu. Kau sajalah yang singgah dirumahnya.”

Manggada ternyata tidak tahan lagi. Karena itu, maka ia pun menjawab, “Itu terbalik Ki Sanak. Bukankah lebih baik seorang laki-laki datang berkunjung kerumah seorang gadis daripada sebaliknya?”

“Itu pikiran orang-orang tua yang tidak tahu diri.” Jawab kawan Rambatan itu, “tetapi apapun alasannya, sebaiknya Winih singgah sebentar dirumah Rambatan.”

Rambatan sendiri memang menjadi agak bingung. Ia bahkan menjadi sangat gelisah. Apalagi ketika Winih menjawab langsung ditujukan kepadanya, “Rambatan. Bukankah kau tidak ber-keberatan berjalan bersama aku dan singgah dirumah kakek?”

Rambatan memang tidak segera menjawab. Tetapi kawannya yang lain tiba-tiba dengan kasar berkata, “Kau tidak mempunyai pilihan, Winih. Kau harus singgah. Manggada dan Laksana juga harus ikut meskipun kalian tidak perlu ikut singgah dirumah Rambatan.”

Manggada dan Laksana melihat gelagat yang tidak baik. karena itu maka ia tidak mempunyai pilihan lain. Karena itu, maka Laksana pun telah menjawab meskipun masih berusaha mengekang diri, “Jangan begitu Ki Sanak, Winih tentu akan bersedia singgah. Tetapi lain kali. Tidak sekarang. Jika ia terlambat pulang, tentu ibu dan ayahnya menjadi gelisah sekali.”

“Mungkin. Tetapi jika saatnya Winih pulang dengan membawa dua ekor ayam, ayah dan ibunya tentu tidak akan marah.” jawab kawan Rambatan yang bermata merah.

Karena Rambatan sendiri masih saja berdiam diri, maka seorang kawannya menggamitnya sambil berkata, “Kau harus berkata dengan tegas. Kau adalah seorang laki-laki. Bahkan laki-laki yang paling ditakuti di padukuhan ini. Bukan saja oleh anak-anak muda, tetapi orang-orang tuapun takut kepadamu.”

Rambatan mengerutkan dahinya. Sementara kawannya berkata, “Dua orang kakak Winih itu pun tentu tidak akan berani menghalangimu. Karena itu, kau mempunyai wewenang untuk memaksa Winih mengikutimu.”

Rambatan memandang Manggada dan Laksana berganti-ganti. Meskipun ia menjadi bingung menghadapi seorang gadis, tetapi ketika ia melihat Manggada dan Laksana, maka kekerasan hatinya dan kekasarannya pun justru timbul. Hampir diluar sadarnya ia berkata, “Jangan ikut campur. Nanti aku memilin lehermu sampai patah.”

Manggada dan Laksana sebenarnya sama sekali tidak takut terhadap anak muda yang bernama Rambatan itu. Bahkan dengan kawan-kawannya sama sekali. Tetapi yang diragukan justru anak-anak padukuhan akan mengenali kemampuannya.

Namun dalam pada itu, mereka melihat seorang yang masih nampak muda, sedikit lebih tua dari Manggada dan Laksana, berjalan menuju kearah mereka. Langkahnya lebar dan cepat, sehingga beberapa saat kemudian orang itupun menjadi semakin dekat.

“Syukurlah” berkata Winih, “ada orang lewat. Aku akan, berjalan bersamanya jika Rambatan tidak mau berjalan bersama aku.”

Tetapi seorang kawannya memperingatkan, “Jangan menyeret orang itu kedalam kesulitan. Biarlah orang itu tidak usah turut campur, sehingga ia tidak akan terjerumus kedalam lumpur sawah yang basah itu.”

Tetapi orang itu sudah menjadi semakin dekat. Bahkan kemudian orang itu justru melangkah langsung mendekati Winih.

Manggada dan Laksana menjadi berdebar-debar. Hampir saja mereka menahan orang itu agar tidak berdiri terlalu dekat dengan Winih.

Tetapi demikian orang itu berhenti, maka ia pun segera, menghadap kearah Rambatan sambil berkata, “Apakah kalian bermaksud mengganggu gadis ini?”

“Siapakah kau?” bertanya kawan Rambatan.

“Namaku Darpati. Aku kebetulan saja lewat. Dari kejauhan aku melihat sesuatu yang tidak sewajarnya terjadi disini, sehingga aku tergesa-gesa mendekat.”

Rambatan yang melihat sikap anak muda itu hatinya bagaikan disulut api. Kekerasan dan kekasarannya yang mulai terungkit oleh sikap Manggada dan Laksana, semakin membara dihatinya. Karena itu maka iapun berkata lantang, “He, anak dungu. Jika kau ingin lewat, lewat sajalah. Jangan ikut mencampuri persoalan kami dengan gadis itu. Tidak ada persoalan apa-apa diantara kami. Kami yang sudah akrab memang sedang berbincang-bincang saja. Karena itu, pergilah dan jangan membuat aku marah.”

Namun tiba-tiba saja Winih berkata kepada anak muda yang lewat itu, “Ki Sanak. Apakah kau akan pergi kepadukuhan sebelah? Jika demikian, marilah, kita akan berjalan bersama-sama.”

Darpati mengerutkah dahinya. Namun kemudian ia menjawab, “marilah, aku memang akan berjalan ke padukuhan sebelah.”

Tetapi seorang kawan Rambatan justru berteriak, “Tidak. Kau tidak akan pergi kemanapun. Kau harus mengambil dua ekor ayam itu. Ayam itu sudah terlanjur ditangkap dan diikat sejak fajar.”

“Kalian memang aneh Ki Sanak” berkata Darpati, “sikap kalian tidak dapat aku mengerti. Gadis ini akan berjalan terus. Agaknya kalian memaksa gadis ini untuk melakukan sesuatu.”

“Ia sendiri yang memesan dua ekor ayam” jawab kawan Rambatan, “ayam itu sudah disediakan.”

“Sudahlah” berkata Winih’yang nampaknya masih saja tenang, “aku akan pulang bersama anak muda ini. Selain kedua orang kakakku itu.”

“Tidak. Kau tidak dapat berbuat begitu” kawan Rambatan mulai membentak.

Namun Darpatipun berkata, “Marilah. Aku antar kau sampai kerumahmu. Jangan takut.” Lalu iapun berpaling kepada Manggada dan Laksana, “aku akan pulang bersamamu.”

Tetapi Rambatan menggeram, “Anak muda. Tinggalkan tempat ini atau kau akan menyesali tingkah lakumu itu.”

“Kau mau apa?” bertanya Darpati.

“Aku akan memilin lehermu” jawab Rambatan.

Darpati tertawa. Ia pun kemudian berpaling kepada Manggada dan Laksana. Darpati tahu bahwa Manggada dan Laksan memiliki kemampuan yang tentu cukup untuk mengalahkan Rambatan dan kawan-kawannya, karena Darpati sudah mendengar tentang keduanya. Tetapi adalah kebetulan bahwa Manggada dan Laksana belum berbuat sesuatu Darpati memang merasa beruntung mendapatkan kesempatan itu, karena dengan demikian ia akan dapat berkenalan dengan Winih dan bahkan telah memberikan jasa baiknya pula.

Dengan nada rendah ia berkata kepada Manggada dan Laksana, “Bawa adikmu menepi. Aku akan menyelesaikan anak yang tidak tahu diri ini.”

“Setan kau” geram Rambatan. Ia sudah terbiasa berbuat kasar. Diantara kawan-kawannya maka ia adalah anak muda yang paling ditakuti. Bahkan sepadukuhan menganggapnya orang yang terkuat dari antara semua laki-laki.

Karena itu, melihat sikap Darpati, jantungnya benar-benar telah terbakar. Dengan garangnya ia menggeram pula, “Aku tidak terbiasa memberi kesempatan,orang yang berani menentangku lolos dari tanganku. Tetapi kali ini aku masih berusaha untuk mengekang diri. Pergilah dan jangan ganggu gadis itu.”

Darpati justru tertawa. Katanya, “Siapakah yang mengganggu gadis itu. Ia minta agar aku berjalan bersamanya ke padukuhan sebelah.”

“Jika kau tidak mau mendengar kata-kataku, maka aku akan melakukan sebagaimana selalu aku lakukan terhadap siapa saja yang menentangku.”

Tetapi Darpati masih saja tertawa. Katanya, “Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Hanya para pengecut sajalah yang takut kepadamu.”

Rambatan tidak menunggu lebih lama lagi. Ia pun segera bergeser dan bersiap untuk berkelahi.

Manggada dan Laksana telah membawa Winih menepi. Keduanya memang merasa beruntung pula bahwa mereka tidak perlu berkelahi. Melihat sikap dan gerak Darpati, maka Manggada dan Laksana mengetahui bahwa ia tentu seorang yang memiliki bekal ilmu kanuragan. Memang agak berbeda dengan Rambatan yang melandasi keberaniannya pada tenaganya yang besar dan mungkin sedikit saja pengetahuannya tentang olah kanuragan.

Demikianlah, sejenak kemudian maka Rambatan pun mulai menyerang dengan- garangnya. Tenaganya memang kuat sekali. Ayunan serangannya telah menggetarkan udara disekitarnya.

Tetapi Darpati tersenyum saja melihat serangan itu. Dengan gerak yang sederhana ia berhasil menghindarinya. Bahkan demikian tangan Rambatan terayun sejengkal dihadapan wajahnya, maka dengan keempat ujung jarinya yang terbuka dan merapat Darpati menyentuh lambung Rambatan.

Sambil menyeringai menahan sakit yang menyengat Rambatan meloncat surut..

Darpati tidak memburunya. Sambil tersenyum ia berkata, “Ki Sanak. Untuk memenangkan sebuah perkelahian, seseorang tidak cukup mengandalkan kekuatan kewadagan saja. Tetapi kita harus mengenal cara dan akal untuk mengatasi sekedar kekuatan wadag. Bahkan seseorang yang lebih lemah akan dapat mengalahkan lawannya yang jauh lebih kuat, justru dengan meminjam kekuatan lawannya yang berlebihan itu.”

“Cukup” bentak Rambatan, “aku tidak perlu sesorahmu. Aku justru ingin mengoyak mulutmu itu.”

Darpati justru tertawa. Kalanya, “Kau harus berlatih bertahun-tahun untuk dapat menguasai dasar ilmu untuk menyelesikan tataran pertama. Dan bertahun-tahun tataran kedua dan berikutnya.”

Tetapi Rambatan tidak menjawab. Sekali lagi ia meloncat menyerang. Tangannya yang kuat dengan jari-jari terbuka menerkam wajahnya.

Darpati sama sekali tidak mengalami kesulitan untuk menghindar. Tetapi Darpati tidak menghindar seluruhnya. Seperti yang dikatakan, maka Darpati justru menangkap pergelangan tangan Rambatan dan mempergunakan tenaga dorongnya, maka Darpati membalikkan tubuhnya sambil menarik tangan lawannya.

Tarikan yang tidak begitu kuat, didorong oleh tenaganya sendiri, maka Rambatan justru terlempar lewat diatas pundak Darpati yang merendah, sambil membalikkan tubuhnya.

Rambatan benar-benar telah terlempar. Bahkan berputar sekali diudara dan jatuh terbanting ditanah.

Darpati yang kemudian berdiri bertolak pinggang memandangi Rambatan yang kesakitan. Anak muda itu memang berusaha untuk bangkit dan berdiri. Tetapi punggungnya terasa nyeri

Dalam pada itu adalah diluar dugaan, bahwa seorang diantara kawan Rambatan telah meloncat menyerang dari belakang.

Darpatipun sama sekali tidak menduga. Sementara itu Manggada dan Laksana berdiri pada jarak yang cukup jauh karena mereka telah mengajak Winih menepi. Dengan demikian maka serangan kaki itu langsung mengenai punggung Darpati.

Darpati terdorong dengan derasnya beberapa langkah dan bahkan jatuh terjerembab. Tetapi Darpati memang tangkas. Ia tidak tersuruk dengan wajahnya membentur tanah. Tetapi Darpati justru melingkar dan jatuh pada pundaknya dan bergulung beberapa kali.

Dalam sekejap Darpati sudah berdiri tegak. Keningnya nampak berkerut, sementara sorot, matanya memancarkan kemarahan yang menyala di dadanya. Dengan nada tinggi ia berkata, “Pengecut kau. Kau serang aku dari belakang justru saat aku memberi kesempatan kawanmu bangkit. Karena itu, maka kau akan menerima akibat dari perbuatanmu itu.”

Anak muda yang telah menyerang Darpati dari belakang itu mundur selangkah. Sorot mata Darpati memang membuat jantungnya bergetar. Tetapi karena Ia tidak sendiri maka ia pun berpaling kepada kawan-kawannya agar mereka pun ikut bertanggung jawab.

Sebenarnyalah bahwa kawan-kawannya memang tidak membiarkannya melawan seorang diri. Bahkan Rambatan yang punggungnya terasa nyeri itupun sudah siap untuk berkelahi.

Darpati menyadari bahwa ia harus melawan lima orang sekaligus. Tetapi ia sama sekali tidak tergetar hatinya.

Manggada dan Laksana yang melihat Darpati harus berhadapan dengan lima orang itu tidak dapat tinggal diam. Betapapun mereka ingin berbuat sebagaimana Kiai Gumrah tanpa menunjukkan kemampuannya kepada orang-orang padukuhan itu, namun mereka tidak akan dapat berdiam diri melihat Darpati yang berusaha melindungi Winih harus bertempur seorang diri.

Tetapi ketika Manggada dan Laksana melangkah maju meninggalkan Winih sendiri, Darpati itupun berkata, “Jangan tinggalkan gadis itu sendiri. Biarlah aku selesaikan anak-anak yang tidak tahu diri ini.”

Rambatan dan keempat kawannya itu mulai mengepungnya. Rambatan yang punggungnya masih terasa nyeri itu pun berkata, “Kau akan menyesal anak yang sombong.”

Tetapi Darpati tertawa. Katanya, “aku tidak akan pernah menyesal menginjak kepala cucurut yang licik.”

Rambatan memang merasa terhina sekali. Ia pun kemudian memberi isyarat kepada kawan-kawan untuk segera menyerang.

Kelima orang itu memang serentak menyerang. Tetapi Darpati benar-benar seorang yang tangkas. Ketika kelima orang itu menyerang, maka Darpati nampaknya memang tidak menghindar. Tetapi orang-orang yang sedang berkelahi itu nampak berputaran, berbenturan dan kemudian seakan-akan tidak dapat diikuti lagi apa yang terjadi karena, mereka saling berbaur seakan-akan hanya sekedar dorong-mendorong.

Tetapi yang mengejutkan kemudian adalah, kelima orang itu seakan-akan telah terlempar dan berjatuhan terbanting ditanah.

“Apa yang terjadi?” bertanya Manggada didalam hatinya. Demikian pula Laksana memang menjadi heran melihat peristiwa itu.

Kelima orang anak muda yang dipimpin oleh Rambatan itu ternyata telah mengalami kesulitan. Mereka mengalami kesulitan untuk bangkit berdiri, badan mereka terasa sakit. Tulang-tulang mereka bagaikan menjadi retak. Apalagi Rambatan sendiri yang nyeri di punggungnya masih terasa. Ditambah lagi dengan perasaan sakit yang menyengat pundak dan lambungnya. Bahkan nafasnyapun seakan-akan menjadi sesak.

Darpati berdiri tegak diantara tubuh yang terbaring dan menggeliat Kesakitan. Namun ternyata ia masih marah kepada anak muda yang menyerangnya dari belakang. Digapanrya baju anak itu dan ditariknya berdiri. Dengan geram Darpati berkata, “Nah, sekarang aku ingin membalas. Aku ingin menyerang punggungmu dengan tendangan sekuat tenagaku.”

“Jangan” anak itu merengek, “aku minta ampun.”

“Aku mengampuni kawan-kawanmu. Tetapi karena kau licik, maka aku tidak mengampunimu.”

“Ampun. Aku mohon ampun” anak itu menangis.

Tiba-tiba saja Darpati mendorong anak itu sehingga jatuh. Namun iapun kemudian tertawa sambil berkata, “Kau benar-benar licik. Kau serang aku dari belakang, sekarang kau menangis Sehingga aku menjadi iba.”

Darpatipun kemudian meninggalkan anak-anak muda yang sudah tidak mampu berbuat, apa-apa itu. Bahkan Rambatan masih saja mengerang kesakitan.

Sambil mendekati Winih. ia berkata, “Marilah. Aku antar kau pulang, Winih.”

Winih tersenyum sambil menjawab, “Terima kasih. Aku hanya merepotkan saja.”

“Tidak” jawab Darpati, “Itu sudah menjadi kewajibanku.”

Winih tidak menjawab lagi Tetapi iapun kemudian melangkah bersama Darpati menuju kepadukuhan sebelah. Sekali Winih masih berpaling kepada Rambatan dan kawan-kawannya. Namun kemudian ia melangkah semakin jauh.

Manggada dan Laksana berjalan di belakang mereka. Disebelah Rambatan yang berusaha bangkit, keduanya berhenti. Tetapi keduanya juga tidak berbuat sesuatu, karena keduanya pun segera melanjutkan perjalanan mereka mengikuti Winih yang berjalan bersama Darpati.

Dibelakang mereka pada jarak beberapa langkah Manggada berkata, “Orang itu ternyata seorang yang memiliki kelebihan.”

“Ya. Hanya orang berilmu tinggi dapat berbuat seperti itu” jawab Laksana.

“Siapakah orang itu sebenarnya? Orang itu sengaja mencegah kita melibatkan diri dalam perkelahian itu. Apakah ia mengetahui bahwa kita sengaja menyembunyikan sedikit kemampuan yang kita miliki terhadap anak-anak muda padukuhan ini? Atau ia ingin menunjukkan kepada Winih bahwa ia memiliki ilmu yang tinggi atau maksud-maksud yang lain lagi?” desis Manggada.

Laksana mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menjawab, “Perhatiannya tertumpah kepada Winih. Ia tentu ingin menunjukkan kepada gadis itu bahwa ia memiliki kemampuan yang sangat tinggi. Dengan mudah ia dapat mengalahkan lima orang anak muda termasuk Rambatan, anak muda yang ditakuti diseluruh padukuhan.”

Manggada mengangguk-angguk. Tetapi ia sempat bergurau, katanya, “Sudahlah, biarlah orang itu menjadi seorang pahlawan bagi Winih. Kau tidak usah menyesal.”

“He?” Laksana justru berhenti melangkah.

Manggada pun berhenti pula. Namun Laksana pun kemudian berkata, “Bukankah Winih itu adik kita?”

Manggada tertawa. Laksana pun kemudian tertawa pula.

Demikianlah, mereka berempat menyusuri jalan padukuhan disebelah bulak yang tidak begitu luas itu. Ternyata Darpati yang mengantar Winih tidak menjadi canggung ketika Winih mempersilahkamrya untuk singgah pula.

Kiai Gumrah, Ki Prawara dan bahkan Nyi Prawara telah ikut menemui Darpati yang menyerahkan Winih kepada kedua orang tuanya itu. Darpatipun telah menceriterakan apa yang telah terjadi atas Winih dijalan bulak yang meskipun tidak begitu luas, tetapi jalan memang agak sepi. Demikian pula tidak nampak para petani berada di sawah mereka.

“Terima kasih ngger” berkata Kiai Gumrah, “angger telah menyelamatkan cucuku. Jika saja angger tidak membantunya, maka tidak ada seorangpun diantara kami yang dapat melepaskannya dari tangan Rambatan itu.”

Darpati tertawa. Ia bukan saja tertawa atas pujian itu. Tetapi sebenarnyalah ia mentertawakan Kiai Gumrah, karena Darpati sebagai bagian dari kekuatan Kiai Windu Kusuma sudah mengerti bahwa Kiai Gumrah adalah seorang yang berilmu sangat tinggi. Bahkan ketika ia bertemu dan berbicara dengan Ki Prawara, Darpati itu pun menduga bahwa anak Kiai Gumrah itu tentu juga seorang yang berilmu meskipun seandainya, tidak, atau belum setinggi ilmu Kiai Gumrah.

Untuk beberapa lama Darpati berada dirumah Kiai Gumrah. Winih sendiri yang ikut menemui Darpati bersikap sangat ramah. Setiap kali nampak senyumnya menghiasi bibirnya. Ia berbicara panjang, namun terasa nada bicaranya, bahwa Winih adalah seorang gadis yang lugu. Tetapi apakah tersirat perasaan lain pada nada bicaranya selain ungkapan terima kasihnya dan pendapatnya yang serta-merta saja keluar dari mulutnya

Namun akhirnya setelah meneguk minuman yang dihidangkan baginya serta sepotong ketela pohon rebus, maka Darpati pun minta diri.

Kiai Gumrah serta kedua orang tua winih masih saja mengucapkan terima kasih ketika Darpati itu keluar dari regol halaman rumah Kiai Gumrah.

Sepeninggal Darpati, maka Kiai Gumrah, kedua orang tua Winih telah memanggil Manggada dan Laksana serta Winih sendiri. Mereka minta mereka menceriterakan apa yang telah terjadi.

Manggada dan Laksana hampir tidak pernah mendapat kesempatan untuk berbicara. Winih sendirilah yang berceritera banyak tentang Darpati yang telah menolongnya.

“Seandainya Darpati itu tidak datang menolongmu, bukankah ada kakakmu Manggada dan Laksana?” bertanya Kiai Gumrah.

“Kakang Manggada dan Laksana tidak berbuat apa-apa” jawab Winih.

“Apakah begitu?” bertanya Kiai Gumrah.

Sebelum Manggada dan Laksana menjawab, Winih sudah mendahuluinya, “Aku tidak tahu pasti apakah mereka akan melindungi aku atau tidak, tetapi setidak-tidaknya mereka sangat lamban.”

“Seandainya Manggada dan Laksana lamban, serta orang itu tidak datang?” desak ibunya.

Manggada dan Laksana mengerutkan dahinya. Baginya pertayaan itu memang aneh. Tetapi Winih tidak menjawab. Ia hanya menunduk saja.

“Winih” berkata Ki Prawara, “aku ingin mendengar pendapat Manggada dan Laksana tentang orang itu. Aku minta kau diam saja lebih dahulu.”

Winih memandang ayahnya sejenak. Namun kemudian kembali ia menunduk.

Ki Prawara pun kemudian bertanya kepada Manggada dan Laksana, “Menurut pendapatmu, apakah ia memang berilmu tinggi?”

“Ya paman” jawab Manggada, “kami kadang-kadang tidak sempat mengikuti apa yang dilakukannya.”

Ki Prawara mengangguk-angguk, sementara Laksana sempat menceriterakan apa yang telah terjadi dengan lebih jelas, apakah yang telah dilakukan oleh Darpati terhadap kelima orang anak muda yang dipimpin oleh Rambatan itu.

Ki Prawara mengangguk-angguk. Sementara itu kepada Kiai Gumrah ia berkata, “Apakah sebelumnya ayah pernah mendengar di sekitar daerah atau lingkungan ini terdapat satu perguruan atau sekelompok orang yang berilmu tinggi?”

Kiai Gumrah menggelengkan kepalanya. Katanya, “Baru setelah orang-orang Windu Kencana ada disini.”

Ki Prawara masih mengangguk-angguk. Katanya, “Apakah ada hubungannya antara orang-orang Kiai Windu Kusuma dengan orang ini? Seandainya demikian, maka kita harus menjadi sangat berhati-hati.”

“Ayah terlalu curiga” berkata Winih hampir bergumam.

“Bukan terlalu curiga Winih” jawab ayahnya, “mungkin orang itu sengaja memanfaatkan kehadiranmu disini agar ia sempat memasuki dan melihat-lihat rumah ini.”

“Orang itu telah menolongku. Sekarang ayah menjadi curiga kepadanya. Bukankah seharusnya ayah berterimakasih sebagaimana ayah katakan? Apakah apa yang ayah katakan memang tidak sesuai dengan apa yang ayah pikirkan?” bertanyaWinih

“Bukan begitu Winih” jawab ayahnya, “tetapi dalam keadaan seperti sekarang ini, maka wajarlah jika kita mencurigai setiap orang. Tentu saja termasuk Darpati.”

“Tetapi ia orang baik, ayah” gumam Winih.

Ayahnya hanya mengangguk-angguk. Kemudian Ki Prawara itu pun telah memberikan isyarat kepada Nyi Prawara untuk membawa anaknya keluar atau ke dapur saja.

Nyi Prawara yang tanggap itu kemudian berkata, “Winih. Sudahlah, bantu saja aku masak didapur.”

“Aku ingin menunjukkan kain lurikku.” gumam Winih sambil memberengut.

“O” sahut ibunya, “bawa saja kedapur. Aku akan melihatnya. Mungkin aku juga ingin memiliki kain seperti itu.”

Winih pun kemudian pergi ke dapur bersama ibunya sambil membawa kainnya yang dibelinya di pasar.

Sementara itu, Kiai Gumrah dan Ki Prawara masih menahan Manggada dan Laksana. Mereka ingin mendapat keterangan keduanya lebih banyak lagi.

Kesan yang diberikan oleh Manggada dan Laksana memang mengatakan mempunyai dasar ilmu kanuragan, masih merasa sulit untuk memahami apa yang telah dilakukan oleh Darpati atas Rambatan dan kawan-kawannya.

“Aku menjadi gelisah” berkata Ki Prawara, “nampaknya Winih menganggap orang itu terlalu baik.”

Kiai Gumrah mengangguk kecil. Katanya, “Agaknya lebih dari itu. Bukankah kau merasakan pertumbuhan anakmu itu, baik secara kewadagan maupun kajiwan. Ujud anakmu sekarang adalah benar-benar seorang gadis dewasa, sedangkan. jiwanyapun tentu sedang bergejolak menembus dinding masa remajanya memasuki usia dewasanya. Justru pada umur. yang paling rawan bagi seorang gadis yang sedang tumbuh.”

Ki Prawara mengangguk-angguk. Ia memang merasakan beberapa perubahan pada anak gadisnya. Sikapnya terhadap anak-anak mudapun berubah. Agaknya sebagaimana dikatakan oleh Kiai Gumrah, bahwa umur Winih adalah umur yang paling rawan dalam pertumbuhan dan perkembangan jiwa seorang gadis.

“Sudahlah” berkata Kiai Gumrah, “kitalah yang harus berhati-hati. Kita awasi Winih sebagaimana menguasai kanak-kanak yang bermain dipinggir jurang. Kita memang tidak boleh lengah sekejap pun.”

“Ya ayah” sahut Ki Prawara sambil mengangguk kecil. Namun iapun berdesis, “Darpati, menilik ujudnya, memang seorang yang menarik. Adalah mungkin sekali Winih sudah tertarik sejak penglihatannya yang pertama atas orang lain. Apalagi Darpati telah menunjukkan jasanya kepada Winih. Meskipun Winih sudah ditemani oleh Manggada dan Laksana.”

“Maaf kek” berkata Manggada kemudian, “kami memang terlambat berbuat sesuatu. Kami merasa ragu, karena selama ini kami menyatakan diri sebagai anak-anak muda kebanyakan tanpa ilmu kanuragan jika kami berada diantara anak-anak muda padukuhan.”

Kiai Gumrah mengangguk sambil menjawab, “Sudahlah. Kalian tidak dapat disalahkan. Keragu-raguan itu wajar sekali. Kalian tentu tahu bahwa orang-orang padukuhan ini mengenal aku sebagai seorang pembuat dan penjual gula, tidak lebih. Karena itu, maka sudah sepantasnya jika kalian juga menyesuaikan diri.”

Manggada dan Laksana, hanya dapat menundukkan kepalanya Tetapi mereka masih juga merenungi sikap Winih. Bahkan mereka juga merasa menyesal, kenapa mereka tidak segera berbuat sesuatu, saat Rambatan, sudah menjadi semakin kasar.

Namun perkenalan antara Rambatan dan Darpati itu sudah terjadi. Yang harus dilakukan memang sebagaimana dikatakan, oleh Kiai Gumrah, bagaimana melepas kanak-kanak dipinggir jurang.

Ketika kemudian Manggada dan Laksana meninggalkan ruang dalam dan keluar ke halaman, maka mereka terkejut. Mereka melihat seekor burung elang yang melayang-layang tinggi. Burung yang sudah sangat mereka kenal

“Beritahukan kakek” desis Manggada, “aku akan melihatnya kemana burung itu terbang.”

Laksana mengangguk. Sambil melangkah masuk ia berkata, “Baiklah. Aku akan memberitahukan kepada kakek.”

Ketika hal itu disampaikan kepada Kiai Gumrah, maka Kiai Gumrah pun berkata kepada Ki Prawara, “Burung itu adalah perpanjangan mata Kiai Windu Kusuma. Sebenarnya burung itu milik seseorang yang disebut Panembahan, yang mengingini pusaka-pusaka itu. Burung itu mampu menterjemahkan penglihatannya sehingga dapat memberikan keterangan-keterangan yang diperlukan oleh Kiai Windu Kusuma. Isyarat yang diberikan burung itu dapat dibaca dengan tepat oleh seseorang yang bertugas sebagai pawangnya.”

“Luar biasa” desis Ki Prawara, “apakah burung itu hanya seekor?”

“Tidak” jawab Kiai Gumrah, “lebih dari seekor. Cobalah kau melihat burung itu dari halaman belakang saja. Mungkin kau perlu berlindung dibawah dedaunan.”

Ki Prawara mengangguk-angguk. Namun, kemudian katanya, “Betapapun pandainya seekor burung, tetapi akal manusia akan tetap lebih mampu mengatasinya.”

Demikianlah, maka Ki Prawara dan Kiai Gumrah pun segera keluar dari ruang dalam. Namun mereka telah pergi ke belakang, melalui pintu butulan untuk melihat seekor burung elang yang berterbangan dilangit.

Ki Prawara mengangguk-angguk kecil melihat burung itu. Memang ada kesan bahwa burung itu seakan-akan mempunyai nalar. Seakan-akan burung itu tahu benar apa yang harus dilihat dan diperhatikannya dirumah yang ditunjuk oleh pawangnya.

“Asal kau mengetahui saja” berkata Kiai Gumrah yang ada dibawah sebatang pohon yang berdaun rimbun.

“Aku tidak perlu bersembunyi dari tatapan mata burung itu” berkata Ki Prawara, “orang-orang Kiai Windu Kusuma tentu sudah tahu bahwa aku ada disini.”

“Burung itu mengawasi tempat ini untuk melihat apa yang sedang dikerjakan di tempat ini, jika saja ada kesibukan apapun atau mungkin sekali kesibukan yang tinggi disini.”

Ki Prawara mengangguk-angguk. Tetepi burung itu memang memberikan kesan tersendiri” Dengan nada dalam Ki Prawara berkata, “Burung itu tentu tidak sekedar mengawasi. Tetapi burung itu dipersiapkan untuk menyerang dan setidak-tidaknya mengganggu. Kukunya memberikan kesan khusus.”

“Ya” jawab Kiai Gumrah, “kuku-kukunya berselut baja.”

Ki Prawara tidak menjawab lagi. Dipandanginya burung yang berputaran beberapa kali. Bahkan menukik beberapa kali. Kemudian terbang tinggi menyusup awan yang mengalir rendah.

Ketika bunmg elang itu kemudian hilang dari pandangan mata mereka, maka Ki Prawara pun telah masuk kembali keruang dalam. Manggada dan Laksana telah berada diruang dalam pula. Demikian juga Kiai Gumrah.

“Kita memang harus berhati-hati terhadap burung-burung itu” berkata Ki Prawara

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Mereka mengenal burung-burung itu sejak mereka mengenal seseorang yang bernama Panembahan yang bergelimang kegelapan itu.

Demikianlah, maka orang-orang yang tinggal dirumah Kiai Gumrah itu menjadi semakin bersiaga menghadapi segala kemungkinan. Memang tidak ada niat mereka untuk minta perlindungan kepada pihak lain atau menitipkan pusaka-pusaka itu kepada siapapun juga. Mereka berniat untuk menyelamatkan pusaka-pusaka itu sendiri bersama dengan kawan-kawan mereka.

Yang membuat Kiai Gumrah dan Ki Prawara prihatin adalah anak gadis Ki Prawara. Nampaknya Winih benar-benar telah tertarik pada pertemuannya yang pertama dengan Darpati. Ketika dihari berikutnya Darpati datang berkunjung kerurnah Kiai Gumrah, maka Winih telah menerimanya dengan akrab.

Ki Prawara dan Nyi Prawara tidak dapat dengan serta merta melarang hubungan anaknya dengan orang yang baru saja dikenalnya itu. Meskipun demikian, ketika kemudian Darpati itu minta diri, maka Ki Prawara mencoba untuk menasehati anaknya.

“Winih” berkata Ki Prawara, “kau harus membatasi hubunganmu dengan orang asing itu.”

“Orang asing?” bertanya Winih, “bukankah ia orang baik ayah. Jika ia bukan orang baik, ia tidak akan menolong aku. Ia dapat saja membiarkan aku diperlakukan buruk oleh siapapun, karena itu memang bukan tanggung-jawabnya.”

“Kita memang harus berterirna-kasih kepadanya, Tetapi untuk berhubung jauh lagi. Maka kita perlu mengetahui, siapakah orang itu. Bagaimana dengan keluarganya dan bagaimana sikapnya memandang kehidupan” berkata ayahnya

“Apakah kita masih membedakan latar belakang kehidupan seseorang dalam hubungan pergaulan ini?” bertanya. Winih.

“Tentu, Winih. Apalagi pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang masing-masing sudah menginjak dewasa” berkata ayahnya.

“Jadi apakah ayah bermaksud menjadikan aku gadis pingitan seperti kebanyakan, kawan-kawanku? Bukankah ayah dan ibu sudah berjanji untuk tidak menjadikan aku gadis pingitan yang hanya boleh mengintip sisi pergaulan anak-anak muda dari lubang-lubang dinding?” bertanya Winih.

“Bukan maksud ayah dan ibu Winih. Tetapi kau tidak boleh bergaul terlalu akrab dengan orang yang baru kau kenal kemarin. Kau tentu mengetahui perlunya kita mengenal latar belakang kehidupan orang baru itu. Misalnya saja, jika orang itu mempunyai isteri dan apalagi anak, bukankah hubunganmu dengan orang itu akan menimbulkan persoalan bagi isteri dan.anak-anaknya? Katakan bahwa hubunganmu dengan orang itu sama sekali tidak mengarah pada perhubungan yang lebih khusus, namun bahwa ia datang kepadamu dengan sikapnya seperti itu, akan dapat menimbulkan persoalan pada keluarganya.”

Winih mengerutkan keningnya. Wajahnya memang menjadi buram. Dengan nada berat ia berkata, “Ayah dan ibu selalu berpikir hal yang bukan-bukan.”

“Mungkin ayah dan ibu terlalu berhati-hati Winih. Tetapi bukankah sudah banyak terjadi bahwa pergaulan dari perkenalan yang terlalu singkat tanpa mengetahui latar belakang kehidupan masing-masing akan dapat menimbulkan persoalan.”

“Bukankah aku sudah dewasa, sehingga aku akan dapat menjaga diri?” berkata Winih.

“Menjaga diri dalam kesadaran sepenuhnya memang dapat menghindarkan diri setidak-tidaknya mengurangi kemungkinan yang tidak diinginkan. Tetapi jika perasaan mulai diguncang oleh perasaan lain, maka penalaran akan terdorong kesamping.”

Namun Winih itu berkata dengan suara bergetar, “Ayah dan ibu masih selalu menganggap aku kanak-kanak.”

“Tidak. Bukan begitu. Tetapi jika kau katakan bahwa ayah dan ibu menganggapku kurang berpengalaman dalam pergaulan, memang benar.” jawab ayahnya.

Winih memang tidak menjawab. Tetapi di wajahnya nampak betapa ia menjadi kecewa terhadap sikap ayah dan ibunya.

Tetapi ternyata dihari berikutnya, Darpati itu datang kembali. Winihpun masih tetap bersikap akrab sekali. Bahkan setelah mereka berbicara serba sedikit, maka Winih itu menemui ayah dan ibunya untuk minta ijin melihat-lihat keadaan disekitar padukuhan itu.

Ayah dan ibunya memang menjadi cemas. Mereka memang berusaha untuk mencegah. Tetapi Winih selalu berkata, “Aku hanya ingin berjalan jalan. Bukankah Winih bukan kanak-kanak lagi? Winih akan dapat menjaga diri dan mengetahui batas-batas yang tidak harus dilewati.”

“Winih” berkata ibunya kemudian, “jika kau ingin pergi juga, ajak kakak-kakakmu. Manggada dan Laksana.

“Ibu, bukankah itu aneh?” bertanya Winih.

“Tidak Winih Tidak aneh bagi mereka yang baru berkenalan dua hari yang lalu. Aku tidak ingin kau dianggap seorang gadis yang dengan mudah dapat dibujuk oleh kata-kata, sikap dan meskipun oleh kebaikan hati sekalipun. Atau kau tidak akan pergi sama sekali.” ibunya mulai bersikap keras.

Winih menundukkan kepalanya. Ia tahu sifat ibunya. Karena itu, betapapun ia sebagai gadis tunggal yang manja, namun Winih tidak berani lagi menolak perintah ibunya. Karena itu, maka Winihpun mengangguk kecil.

Ketika hal itu didengar oleh Kiai Gumrah, serta Winih pun sedang memanggil Manggada dan Laksana, maka Kiai Gumrah itupun berkata, “Manggada dan Laksana tidak akan mampu menjaga Winih jika terjadi kekerasan. Ilmu anak muda itu menurut Manggada dan Laksana sendiri, jauh lebih tinggi dari anak-anak itu.”

“Tetapi setidak-tidaknya kehadiran mereka akan dapat mempengaruhi sikap Darpati jika ia berniat buruk.” Jawab ibunya.

Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengerti.”

Demikianlah, maka Winih pun telah mengatakan pula kepada Darpati bahwa kedua orang kakaknya akan ikut pula bersama mereka melihat-lihat keadaan di sekitar padukuhan itu.

Adalah diluar dugaan Winih, bahwa Darpati dengan serta merta menyahut, “Bagus sekali. Aku senang Manggada dan Laksana bersama kita. Rasa-rasanya kita tidak kesepian dijalan.” Darpati. termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia berkata selanjutnya, “Sebenarnya aku juga merasa ragu untuk berjalan-jalan berdua. Mungkin orang-orang padukuhan ini tidak terbiasa melihat hal yang demikian. Karena itu, menyenangkan sekali jika Manggada dan Laksana ikut pula.”

Wajah Winih memang menjadi merah. Tetapi ia merasa, beruntung bahwa ibunya berkeras untuk mengajak Manggada dan Laksana. Jika tidak, agaknya pandangan dan anggapan Darpati terhadap dirinyapun akan terpengaruh juga. Bahkan Winih itu bertanya kepada diri sendiri, “Apakah Darpati itu sedang menilai sikapku?”

Diam-diam Winih merasa berterima kasih kepada ibunya.

Demikianlah maka sejenak kemudian mereka berempat pun telah meninggalkan rumah Kiai Gumrah. Mereka memang hanya ingin berjalan-jalan saja. Tetapi Darpati tidak menawarkan kepada Winih untuk pergi ke pasar. Bahkan Darpati mengajak Winih serta Manggada dan Laksana untuk melihat pancuran di piriggir hutan.

“Bukankah kalian belum pernah melihatnya? Pancuran itu terhitung pancuran yang jarang ada duanya. Airnya memang tidak begitu deras dan tidak pula begitu tinggi. Tetapi didekat pancuran itu terdapat semacam hutan pepohonan berbunga yang sangat indah. Seakan-akan ada tangan yang telah mengaturnya.”

“Menarik sekali” sahut Winih dengan serta merta.

Manggada dan Laksana yang memang sudah merasa cemas terhadap Darpati bahwa ia mempunyai hubungan dengan Kiai Windu Kusuma tidak berkata sesuatu. Kelebihan Darpati dari orang kebanyakan, bahkan ilmunya yang sangat tinggi memang sangat menarik perhatian. Apalagi sebelumnya Darpati tidak dikenal didaerah itu dan disekitarnya

Sinar matahari pagi yang cerah; angin yang semilir menggoyang batang padi yang sedang tumbuh segar, membuat Winih manjadi semakin gembira.

Tetapi semakin Winih gembira dan seakan-akan melupakan kehati-hatian, maka Manggada dan Laksana justru menjadi semakin berhati-hati.

Ketika mereka kemudian mendekati hutan yang terhitung agak lebat, Winih mulai menyadari kembali perjalanannya. Bahkan kemudian ia mulai memperlambat langkahnya.

“Dimanakah letak pancuran itu?” bertanya Winih.

“Kau lihat bukit kecil itu?” bertanya Darpati. Winih mengangguk.

“Kita akan pergi ke bukit kecil itu. Disisi sebelah Timur, kita akan melihat taman yang telah diciptakan oleh alam itu. Taman yang melampaui keindahan taman yang dibuat oleh tangan manusia.” jawab Darpati.

Winih mengangguk-angguk. Bukit itu memang tidak terlalu jauh lagi. Justru karena Winih melihat pohon-pohon raksasa diatas bukit kecil itu, maka winih percaya bahwa dilereng bukit itu memungkinkan sekali terdapat sebuah pancuran.

Beberapa saat lagi mereka berjalan. Sekali-sekali Winih memang harus berhenti dan bahkan harus ditolong meloncati parit-parit kecil yang dibuat oleh arus air yang mengalir dari bukit. Bahkan parit-parit itu ada yang agak dalam dan licin.

Tetapi ternyata apa yang dikatakan oleh Darpati itu benar.

Beberapa saat kemudian mereka sampai di sebuah lembah yang tidak begitu luas. Tetapi di lembah itu memang terdapat air terjun meskipun tidak terlalu besar sehingga Darpati menyebutnya sebagai pancuran saja.

Tidak seorang pun yang telah mengaturnya, bahwa lembah itu menjadi sebuah lembah yang sangat menarik. Dise-kitar air terjun yang memang tidak begitu deras itu terdapat sekelompok pepohonan berbunga yang sangat menarik.

“Bagus sekali” desis Winih dengan sertamerta.

Manggada dan Laksana pun ikut mengagumi pepohonan dilembah itu pula Mereka terpesona memandangi pepohonan yang sedang berbunga. Berbagai warna tersebar memanjang lembah yang basah itu.

Namun Manggada yang dengan tidak sengaja memandang langit, nampak dua ekor burung elang yang terbang berputaran. Karena itu, maka iapun telah menggamit Laksana sambil berdesis, “kau lihat burung-elang itu?”

Wajah Laksana menjadi tegang. Katanya, “Ya. Burung elang itu mulai melingkar-lingkar.”

Keduanyapun segera mempersiapkan diri. Mereka sejak semula sudah merasa curiga kepada Darpati. Apalagi ketika mereka melihat sepasang elang yang berterbangan justru selagi mereka berada ditempat yang jarang dikunjungi orang itu.

Darpati sendiri sama sekali tidak menghiraukan sepasang elang yang berterbangan itu. Kepada Winih ia berceritera tentang jenis-jenis pepohonan yang terdapat di lembah kecil disekitar air terjun yang tidak begitu besar itu.

Namun Manggada dan Laksana menjadi semakin tegang ketika mereka melihat kedua ekor burung itu mulai menukik dan menyambar-nyambar.

Manggada dan Laksana pun segera bersiap menghadapi segala kemungkinan. Mereka memperhitungkan bahwa bukan hanya sepasang elang itu saja yang hadir ditempat itu, yang seakan-akan memang telah diatur oleh Darpati.

“Winih, berhati-hatilah” berkata Manggada tiba-tiba.

Winih berpaling kepadanya sambil bertanya, “Kenapa?”

“Kau lihat burung elang itu” jawab Manggada.

Winih mengangkat wajahnya. Demikian pula. Darpati.

Dengan nada tinggi Darpati bertanya, “Kenapa dengan burung elang itu?”

Namun Winih memang sudah mendengar serba sedikit tentang burung elang itu. Karena itu, maka iapun bergeser mendekati Manggada dan Laksana sambil berkata, “Apa yang akan dilakukan oleh burung elang itu?.”

“Kedua ekor burung itu sangat berbahaya” berkata Winih kemudian.

“Aku tidak takut kepada siapapun juga. Apalagi hanya kepada dua ekor burung elang.” jawab Darpati.

Winih mengangguk kecil. Ia percaya kepada kata-kata Darpati itu, karena Darpati memang seorang yang berilmu tinggi.

Namun dalam pada itu, kedua ekor burung itu tidak juga segera pergi. Justru keduanya berputar semakin cepat dan menukik semakin dalam.

Darpati juga memperhatikan kedua ekor elang itu. Nampaknya ia pun telah bersiap untuk melawan, jika elang itu akan menyerangnya. Bahkan tangan Darpati itu sudah melekat pada hulu pedangnya.

Namun tiba-tiba mereka telah dikejutkan oleh teriakan nyaring yang datang dari dalam gerumbul-gerumbul lebat di sekitar pepohonan yang berbunga itu. Beberapa orang telah berloncatan muncul dengan senjata di t angan mereka.

“Jangan lari” teriak orang-orang itu, “kalian telah terkepung rapat.”

Manggada dan Laksana segera merapat. Demikian pula Darpati. Ia pun segera menarik pedangnya sambil berdiri di depan Winih.

“Siapakah kalian dan apakah yang kalian inginkan?” bertanya Darpati,

“Jangan melawan. Berikan gadis itu kepada kami.” bentak seorang diantara orang-orang yang muncul dari hutan itu.

“Kau gila” geram Darpati, “gadis ini bukan sanak kadangku. Tetapi akulah yang mengajaknya datang ketempat ini. Karena itu, maka aku bertanggung jawab, atas keselamatannya.”

“Jangan membunuh diri. Aku hanya membutuhkan gadis itu. Bukan siapa-siapa. Jika kalian akan pergi, pergilah. Tetapi jika kalian mencoba untuk mencegahnya, maka kalian akan mati. Pada akhirnya gadis itu akan jatuh ketanganku juga.”

“Tidak” teriak Darpati sambil membelalakkan matanya, “pergi kalian. Atau kalian yang akan mati disini.”

Ternyata orang-orang itu tidak mau pergi. Mereka justru mulai bergeser mendekat di seputar mereka berempat.

Manggada dan Laksana pun sudah menggenggam pedangnya pula. Ketika mereka sempat menghitung, maka orang-orang yang mengepung mereka itu berjumlah tidak lebih dari ampat orang saja.

Darpati tidak berbicara lebih panjang lagi. Kepada Manggada dan Laksana ia berkata, “Kali ini aku terpaksa minta bantuan kalian. Nampaknya orang-orang ini bukan tataran Rambatan dan kawan-kawannya. Orang-orang ini memiliki kemampuan yang harus diperhitungkan.”

Manggada dan Laksana memang sudah bersiap. Karena itu. ketika orang-orang itu mulai bergerak, maka bertempuranpun segera terjadi.

Sementara itu sepasang burung elang itu masih saja berputaran dan menukik-nukik tajam. Bahkan kemudian sepasang burung itu telah ikut pula menyerang Manggada dan Laksana. Sehingga dengan demikian maka kedua anak muda itu harus bertempur melawan kedua orang lawannya serta kedua ekor burung elang yang berkuku baja itu.

 

Bersambung ke Jilid 4

Kara SH Mintardja

Seri Arya Manggada 3

Sang Penerus

Sumber djvu : Ismoyo

Convert, editor & ebook oleh : Dewi KZ

Tiraikasih Website

http://kangzusi.com/ http://kang-zusi.info/

http://cerita-silat.co.cc/ http://dewi-kz.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s