AM_SKH-04


Serial ARYA MANGGADA

Episode IV: SEJUKNYA KAMPUNG HALAMAN

JILID 4

kembali | lanjut

AMSKH-04KETIKA Ki Jagabaya dan ketiga orang anak muda itu berdiri di tepi pembaringan, maka keadaan orang itu sudah menjadi lebih baik. Luka-lukanya sudah dibersihkan dan diobati. Meskipun orang itu kadang-kadang masih menyeringai menahan pedih, tetapi ia sudah dapat lebih lancar berbicara.

“Mereka mencari Sampurna, Manggada dan Laksana“ berkata orang itu, “ketika aku mereka tangkap, maka aku tidak dapat ingkar dan terpaksa mengatakan tentang kalian bertiga”

Tetapi di luar dugaan, ketiga orang anak muda itu tidak menjadi ketakutan. Bahkan Manggada bertanya dengan wajah yang tegang oleh kemarahan yang bergejolak di dadanya, “Apakah kira-kira mereka masih di tempat mereka menangkapmu?”

“Apa yang akan kau lakukan?” bertanya orang itu.

“Daripada mereka mencari kami, biarlah kami bertiga mencari mereka” jawab Manggada,

Orang-orang yang mendengar jawaban itu memang terkejut. Sementara itu Sampurna berkata pula, “Semakin cepat, semakin baik. Keadaan seperti ini tidak boleh terjadi berlarut-larut”

Namun seorang di antara mereka yang ada di ruangan itu berkata, “Tetapi ingat anak-anak muda. Mereka adalah kaki tangan Wira Sabet dan Sura Gentong”

“Kami tidak peduli. Siapa pun yang telah memperlakukan keluarga padukuhan kami dengan kasar dan apalagi melukainya, maka mereka harus dibalas”

“Tetapi tidak terhadap Wira Sabet dan Sura Gentong” berkata orang yang lain.

Namun jawab Ki Jagabaya juga mengejutkan, “Biarlah hal itu mereka lakukan. Aku justru sependapat. Apalagi aku sebagai Jagabaya disini bertanggung jawab atas keselamatan dan keamanan padukuhan ini”

Orang-orang itu menjadi heran. Selama ini mereka tidak pernah mendengar seseorang yang berani menentang Wira Sabet dan Sura Gentong. Mereka menjadi keheranan dan terkejut melihat pada hari-hari terakhir tiga orang anak muda yang berkuda berkeliling padukuhan. Dan kini bahkan mereka akan langsung menemui ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong”

Seorang yang terhitung tua berkata, “Angger. Kita jangan kehilangan akal. Pikirkan keputusan angger untuk mencari orang-orang itu sekali lagi. Ki Jagabaya yang terpancang pada tugasnya itu kurang memperhatikan perkembangan Wira Sabet dan Sura Gentong, Ia bukan Wira Sabet dan Sura Gentong yang ketakutan, dan melarikan diri melihat orang-orang padukuhan ini datang dengan senjata seadanya. Tetapi ia sekarang adalah murid sebuah perguruan dan sudah memiliki ilmu yang tinggi. Apalagi ia datang bersama beberapa orang seperguruannya dan bahkan telah bekerja bersama dengan Ki Sapa Aruh”

Tetapi jawab Ki Jagabaya, “Siapa yang mengatakan bahwa Wira Sabet dan Sura Gentong berilmu tinggi? Mereka sendirilah yang mengatakan kepada orang yang sempat ditemuinya untuk menakuti orang-orang padukuhan ini”

Orang-orang yang ada di rumah itu menjadi semakin bingung. Sementara Ki Jagabaya berkata kepada Sampurna dan kedua kawannya, “Lihat, apakah ketiga orang itu masih ada disana”

Sampurna tidak menunggu lebih lama lagi. Bersama Manggada dan Laksana mereka pun segera keluar dari rumah itu dan dalam sekejap, kuda-kuda mereka telah berderap menuju ke tempat yang ditunjukkan oleh orang yang terluka itu.

Sepeninggal ketiga orang anak muda itu, beberapa orang masih berusaha memperingatkan Ki Jagabaya. Namun Ki Jagabaya justru berkata, ”Jangan harapkan aku akan menyerah kepada mereka. Satu pemberitahuan yang pantas kalian dengar, bahwa Wira Sabet, Sura Gentong dan Ki Sapa Aruh berniat untuk merampas padukuhan ini dan menguasainya. Aku akan berjuang mati-matian sekedar untuk mempertahankan jabatanku, tetapi justru karena aku tahu apa yang akan terjadi jika mereka menguasai padukuhan ini. Ki Demang Kalegen tentu akan berada dibawah pengaruh Ki Sapa Aruh, Wira Sabet dan Sura Gentong. Karena itu, sebelum hal itu terjadi, maka aku akan berusaha mencegahnya dengan mengorbankan apa saja yang aku punya jika perlu.”

Orang-orang yang mendengar tekad Ki Jagabaya itu menarik nafas dalam-dalam. Mereka sadari, bahwa Ki Jagabaya memang benar justru karena ia mengemban tugas. Sikap itu pantas mendapat dukungan dari setiap orang. Tetapi mereka tidak mempunyai keberanian untuk melakukannya.

Karena itu, maka orang-orang yang ada di rumah itu hanya terdiam saja.

Beberapa saat kemudian, maka Ki Jagabaya itupun minta diri. Ia akan pulang dan kepada orang-orang yang ada di rumah itu ia berkata, “Ingat. Aku tidak akan pernah menyerah kepada Wira Sabet dan Sura Gentong”

Orang-orang yang mendengar pernyataan itu hanya berdiam diri saja.

Namun sepeninggal Ki Jagabaya, beberapa orang mulai berbincang. Mereka mulai menilai sikap Ki Jagabaya yang berani itu.

Namun seorang di antara mereka berkata, “Ki Jagabaya nampaknya memang seorang bebahu padukuhan yang baik. Tetapi sikap Ki Jagabaya dan anaknya serta kedua kawannya itu dapat berakibat sangat buruk bagi kami. Mungkin Ki Jagabaya sendiri mampu melindungi dirinya sendiri. Tetapi apa yang dapat kami lakukan terhadap para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong? Mereka hari ini melukai seorang warga padukuhan ini. Besok lagi, besok lagi dan bahkan mungkin mereka mulai membunuh”

“Kita minta pertanggung-jawaban Ki Jagabaya“ sahut yang lain.

“Yang dapat dilakukan oleh Ki Jagabaya memang sangat terbatas. Mungkin ia sendiri akan mengalami kesulitan untuk melindungi dirinya dan keluarganya jika Wira Sabet dan Sura Gentong benar-benar mulai bertindak kasar” berkata yang lain lagi.

Seorang yang bermata dalam tiba-tiba saja berkata, “Kita akan minta kepada Ki Jagabaya untuk menghentikan perlawanannya”

Ternyata pendapat itu mendapat dukungan beberapa orang. Seorang yang bertubuh tinggi berkata, “Aku setuju. Ki Jagabaya harus menghentikan perlawanannya”

Namun mereka tidak berani berbincang terlalu lama. Jika para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong melihat mereka berkumpul, maka mungkin akan dapat terjadi salah paham yang dapat berakibat buruk bagi mereka.

Karena itu maka merekapun segera meninggalkan halaman rumah itu. Bahkan orang yang terluka itupun telah minta diri pula, karena menurut pendapatnya, ia sudah dapat berjalan sampai ke rumahnya.

Tetapi salah seorang laki-laki yang menolongnya berkata, “Marilah. Aku antar kau sampai ke rumah”

Dalam pada itu, maka Sampurná, Manggada dan Laksana telah sampai ke bulak persawahan. Orang yang disakiti itu mengatakan bahwa di tempat itu mereka bertemu dengan tiga orang yang menanyakan tentang tiga orang anak muda yang sering berkuda mengelilingi padukuhan Gemawang. Namun mereka sudah tidak menjumpai seorang pun.

“Iblis itu tentu sudah kembali ke sarangnya” geram Sampurna menahan marah.

“Besok kita akan menemui mereka” sahut Manggada.

“Mudah-mudahan mereka benar-benar mencari kita” berkata Laksana pula.

Sampurna menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia bertanya, “Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang?”

“Tidak ada” jawab Manggada, “kita kembali ke padukuhan. Kita katakan kepada orang-orang yang ketakutan itu, bahwa mereka tidak perlu takut menghadapi Wira Sabet dan Sura Gentong. Bahkan Ki Sapa Aruh”

Demikianlah, maka mereka bertiga telah berderap kembali memasuki padukuhan. Tetapi rumah tempat orang yáng terluka itu mendapat pertolongan sementará, ternyata sudah menjadi sepi.

Demikianlah, ketiga orang anak muda itupun langsung menuju ke rumah Ki Jagabaya.

Tetapi ketiga anak muda itu terkejut ketika mereka melihat dua orang yang sedang berbincang dengan Ki Jagabaya di serambi. Agaknya pembicaraan mereka tidak menemukan titik temu, sehingga nampaknya sedang terjadi perselisihan di antara mereka dengan Ki Jagabaya.

Ketika ketiga orang anak muda itu ikut duduk di serambi, maka mereka segera mengetahui bahwa orang itu telah minta kepada Ki Jagabaya untuk tidak melakukan perlawanan terhadap Wira Sabet dan Sura Gentong.

Orang yang datang itu adalah orang yang bermata dalam yang ada pula di antara orang-orang yang mengerumuni orang yang dilukai oleh pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu.

“Ki Jagabaya” berkata orang bermata dalam itu tanpa menghiraukan ketiga orang anak muda yang ikut duduk di serambi itu, “Ki Jagabaya jangan terpancang pada kedudukan Ki Jagabaya. Mungkin Ki Jagabaya benar. Tetapi sama sekali tidak berperhitungan. Nah, sekarang korban telah mulai jatuh. Untung orang itu tidak dibunuh oleh pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong”

Pembicaraan mereka ternyata terputus ketika mereka mendengar pintu sekeeng diketuk orang.

Selagi mereka bertanya-tanya siapa lagi yang telah datang, maka terdengar suara seseorang memanggil, Namun yang dipanggil adalah justru nama Tantri.

Ki Jagabaya Itupun segera mengetahui bahwa yang datang adalah Wisesa.

Dengan kesal Sampurna bangkit dan melangkah menuju ke pintu.

Sebenarnyalah bahwa yang berdiri di belakang pintu adalah Wisesa.

“Marilah“ Sampurna mempersilahkan.

Setelah menutup dan menyelarak pintu, maka Sampurna telah mengajak Wisesa untuk duduk pula di serambi itu.

Dalam pada itu, Ki Jagabaya yang tidak menghiraukan kehadiran Wisesa itupun kemudian berkata kepada orang yang bermata dalam itu, “Dengar jawabanku sekali lagi. Aku tidak akan pernah tunduk kepada tekanan Wira Sabet dan Sura Gentong. Aku berharap orang-orang padukuhan ini bersedia bersamaku menentang mereka. Tetapi jika kalian tidak berani, maka jangan menghambat usaha kami”

“Kami tidak mungkin tinggal diam. Ki Jagabaya, karena yang akan mengalami bencana adalah kami, orang-orang sepadukuhan” jawab orang itu.

“Nah, kau tahu kenapa demikian?” bertanya Ki Jagabaya. Orang itu tidak segera menjawab.

“Dengar” berkata Ki Jagabaya, “karena mereka sebenarnya adalah penakut. Mereka sama sekali tidak berani berbuat apa-apa kepadaku. Kepada anakku dan kepada anak-anak muda ini Aku dan anak-anak ini tidak mempunyai kelebihan apa-apa dari kalian. Tetapi karena kami berani menentang mereka, maka kami tidak menjadi sasaran usaha mereka menakut-nakuti orang-orang padukuhan ini”

“Tidak benar” berkata orang itu, “Kami tahu Ki Jagabaya mempunyai kelebihan. Anak laki-laki Ki Jagabaya itu tentu juga merasa mempunyai kelebihan. Entahlah dengan anak dan kemanakan Ki Kertasana itu”

“Jadi kalian menganggap bahwa aku mempunyai kelebihan dari kalian?” bertanya Ki Jagabaya.

“Ya” jawab orang itu.

“Jika demikian, yakinlah bahwa aku dan anak-anak muda ini berusaha untuk melindungi kalian” berkata Ki Jagabaya.

“Tetapi itu tidak mungkin Ki Jagabaya” berkata orang itu

“Wira Sabet dan Sura Gentong serta beberapa orang saudara seperguruannya adalah orang-orang linuwih.”

“Omong kosong” bentak Ki Jagabaya yang menjadi marah, “mereka tidak berani datang kepadaku. Mereka tentu tahu, jika mereka mematahkan perlawananku, maka mereka tidak akan menemui perlawanan lagi disini. Tetapi mereka tidak berani datang”

“Mereka menunggu satu kesempatan yang baik” berkata orang yang bermata dalam itu.

“Aku tidak peduli” jawab Ki Jagabaya.

“Tetapi kami minta dengan sangat Ki Jagabaya untuk tidak meneruskan perlawanan. Atas nama semua orang di padukuhan ini”

“Tidak” jawab Ki Jagabaya yang menjadi semakin marah, “jika aku tidak mau, kalian mau apa? Kalian akan menentang aku? Lakukan. Aku akan memperlakukan kalian sebagaimana Wira Sabet dan Sura Gentong melakukan. Kau kira aku tidak dapat melakukan? Kau kira aku tidak dapat menyakiti dan bahkan membunuh orang yang menentang aku? Aku tidak takut seandainya kalian semuanya berpihak Wira Sabet dan Sura Gentong menentang aku. Aku tidak takut seandainya kalian semua ingin mengangkat Wira Sabet dan Sura Gentong menjadi Kami Tuwa dan Jagabaya di padukuhan Gemawang serta mengangkat Ki Sapa Aruh menjadi bekel”

Orang bermata dalam itu mengerutkan dahinya, sehingga matanya menjadi semakin dalam. Di luar sadarnya ia berkata, “Tentu kami tidak menghendakinya, Ki Jagabaya”

“Nah, sekarang kalian dapat memilih. Wira Sabet dan Sura Gentong atau aku” geram Ki Jagabaya.

Orang bermata dalam itu memang menjadi bingung. Ia sadar, bahwa Ki Jagabaya adalah seorang yang berilmu. Mereka pun menduga bahwa anak laki-lakinya juga berilmu. Karena itu, maka Ki Jagabaya akan dapat memperlakukan para penghuni padukuhan ini sebagaimana dilakukan oleh Wira Sabet dan Sura Gentong. Menyakiti dan bahkan membunuh orang yang tidak mendukungnya.

Dengan demikian maka orang-orang padukuhan itu akan terjepit di antara dua kekuatan yang tidak terlawan. Wira Sabet dan Sura Gentong di satu pihak, sedang di pihak yang lain Ki Jagabaya serta anaknya dan tentu dua orang anak muda yang bernama Manggada dan Laksana itu.

Sebelum orang itu menjawab, maka Ki Jagabaya pun berkata, “Nah, sekarang pulanglah. Katakan kepada orang-orang Gemawang yang sependapat dengan kau berdua. Katakan, bahwa aku tidak akan pernah mundur. Aku akan menghancurkan siapa saja yang menentang aku. Aku yakin, bahwa aku memiliki kekuatan yang tidak kalah dengan Wira Sabet dan Sura Gentong”

Kedua orang itu tidak berani menjawab lagi. Mereka tahu bahwa Ki Jagabaya benar-benar sudah menjadi marah.

Namun tiba-tiba di luar dugaan mereka, maka Wisesa pun berkata seperti orang mengigau saja, “Aku sependapat dengan orang-orang itu. Ki Jagabaya. Ki Jagabaya memang harus menghentikan perlawanan terhadap Wira Sabet dan Sura Gentong. Tidak ada gunanya. Kami tahu, bahwa Ki Jagabaya memiliki kemampuan. Tetapi kemampuan Ki Jagabaya sangat terbatas. Mungkin Ki Jagabaya hanya dapat melindungi diri Ki Jagabaya saja. Tetapi bagaimana dengan orang-orang padukuhan ini atau bahkan keluarga Ki Jagabaya sendiri. Ki Jagabaya mempunyai anak dan isteri”

Wajah Ki Jagabaya menjadi merah. Tetapi Ki Jagabaya masih menanam kemarahannya. Dengan suara yang bergetar, Ki Jagabaya itu pun bertanya, “Jadi, kau setuju jika Sura Gentong mengambil Tantri untuk menjadi isterinya?”

“Tidak. Tentu tidak” jawab Wisesa terbata-bata.

“Lalu apa yang dapat kau lakukan untuk mencegahnya? Jika aku menghentikan perlawanan, berarti aku harus menyerahkan segala-galanya. Kedudukan. Bukan saja aku sendiri, tetapi semua bebahu padukuhan ini. Kemudian anak perempuanku dan aku yakin, bahwa kemudian juga nyawaku”

“Tidak Ki Jagabaya. Kita harus mencari jalan lain” berkata Wisesa.

“Jalan yang mana?” bertanya Ki Jagabaya.

“Aku mempunyai gagasan yang akan dapat memberikan pemecahan atas persoalan ini” jawab Wisesa.

“Gagasan yang besar, yang akan dapat membebaskan kemelut di padukuhan ini sebagaimana pernah kau katakan?” tiba-tiba Laksana memotong.

Manggada menggamitnya. Ia tahu, suasananya sedang panas. Ki Jagabaya akan dapat meledak setiap saat. Namun Manggada pun sangat menyesalkan sikap Wisesa yang ternyata masih saja dungu dan cengeng itu.

Wisesa memandang Laksana dengan sorot mata penuh kebencian. Namun kemudian ia berkata kepada Ki Jagabaya tanpa menghiraukan Laksana lagi, “Ki Jagabaya. Jalan yang terakhir bagi Ki Jagabaya dan keluarga adalah menyingkir dari kademangan Kalegen”

“Menyingkir?” Ki Jagabaya mengulangi.

“Ya” Wisesa mengangkat wajahnya ”satu gagasan yang paling baik yang dapat diberikan seseorang kepada Ki Jagabaya” jawab Wisesa.

Meskipun demikian, Ki Jagabaya itu sempat juga bertanya, “Menyingkir ke mana?”

“Ke Pajang, ke dalam dinding kota” jawab Wisesa.

“Ke rumah siapa? Mengungsi ke istana? Atau ke kandang gajah milik istana?” bertanya Ki Jagabaya yang hampir kehilangan kesabaran.

“Ke rumah pamanku” jawab Wisesa sambil menengadahkan dadanya, “Aku mempunyai seorang paman yang tinggal di Pajang. Ia adalah seorang prajurit dari pasukan Pengawal istana. Ki Jagabaya dan keluarga Ki Jagabaya akan aman di rumah pamanku yang sangat besar itu. Wira Sabet dan Sura Gentong tentu tidak akan berani mengusik Ki Jagabaya, karena Ki Jagabaya tinggal di rumah seorang prajurit pilihan. Sementara itu, Ki Jagabaya tidak lagi perlu menghiraukan padukuhan ini, apakah Ki Sapa Aruh akan menjadi Bekel, apakah Wira Sabet dan Sura Gentong akan menjadi bebahu, bukan lagi menjadi tanggung jawab Ki Jagabaya”

Bibir Ki Jagabaya menjadi gemetar menahan marah. Sementara itu Sampurna hampir tidak dapat menahan dirinya, sedangkan Manggada sekali lagi harus menggamit Laksana yang sudah beringsut setapak.

Sambil menahan kemarahan yang hampir meledakkan jantungnya, Ki Jagabaya bertanya, “jadi menurut gagasan besarmu, sebaiknya aku mengungsi menghindari beban tugasku?”

“Bukan mengungsi Ki Jagabaya. Sebaiknya kita memang mempergunakan istilah menyingkir” jawab Wisesa.

“Baiklah Wisesa” berkata Ki Jagabaya, “daripada, aku harus menyingkir, aku kira lebih baik aku memenuhi saja permintaan Sura Gentong. Selain jabatan bebahu padukuhan ini, Tantri juga akan aku serahkan”

“Tidak” sahut Wisesa dengan serta merta, “Tantri tidak boleh jatuh ketangan Sura Gentong”

“Aku akan menyerahkannya. Dengan demikian aku akan aman dan tidak akan terganggu lagi. Aku tidak perlu pergi ke Pajang. Tetapi aku akan tetap tinggal di rumah. Sura Gentong akan menjadi menantuku, sehingga aku pun akan menjadi orang yang ditakuti seperti Sura Gentong”

“Tetapi jangan serahkan Tantri. Lebih baik Ki Jagabaya menyingkir”

“Dengar anak cengeng” bentak Ki Jagabaya yang kemarahannya sudah sampai ke ubun-ubun, “aku tidak mempunyai pilihan lain”

“Tetapi tidak untuk menyerahkan Tantri” sahut Wisesa dengan nada tinggi.

“Kecuali jika kau dapat melindungi Tantri dan kami sekeluarga. Maka aku akan bersikap lain”

Wajah Wisesa menjadi pucat. Sementara Ki Jagabaya berkata, “Aku muak dengan gagasan-gagasan yang tidak dapat dilaksanakan seperti gagasan-gagasanmu itu”

Wajah Wisesa menjadi pucat. Ia baru sadar, bahwa Ki Jagabaya benar-benar menjadi sangat marah. Karena itu, maka Wisesa tidak berani lagi mengangkat wajahnya yang kemudian menunduk dalam-dalam.

Sementara itu, Ki Jagabaya pun telah berkata pula kepada orang bermata tajam, “Aku ulangi kata-kataku. Aku tidak akan pernah menyerah kepada Wira Sabet dan Sura Gentong. Bahkan aku menantang siapapun yang berani menghalangi aku, akan mengalami nasib yang sangat buruk. Ternyata aku bukan Orang yang lebih beradab dari Wira Sabet dan Sura Gentong”

Kedua orang itu pun tidak berani mengucapkan sepatah kata lagi di hadapan Ki Jagabaya, meskipun sebenarnya mereka tetap menginginkan Ki Jagabaya mengurungkan perlawanannya dan bahkan gagasan Wisesa itu telah menimbulkan satu sikap baru untuk menghadapi persoalan yang sedang berlangsung di padukuhan itu.

Dalam pada itu, maka Ki Jagabaya pun berkata, “Nah, sekarang pergilah. Katakan kepada semua orang padukuhan ini. Siapa yang mencoba menentang aku, akan aku hancurkan sama sekali daripada mereka kelak akan berpihak kepada Wira Sabet dan Sura Gentong”

Kedua orang itu pun segera minta diri pula dengan jantung yang berdebaran. Mereka masih saja cemas ketika Sampurna mengantar mereka ke pintu seketeng. Demikian mereka keluar, maka Sampurnapun berkata, “Nah, aku sudah mendengar sikap ayah. Jangan mencoba menentangnya, agar ayah tidak menjadi semakin marah. Sampai saat ini ayah masih berpikir, berjuang untuk padukuhan Gemawang. Tidak untuk dirinya sendiri. Tetapi jika orang-orang Gemawang ini justru menentangnya, maka ayah akan dapat bersikap lain. Sementara itu kalian harus menyadari, tidak seorang pun di padukuhan ini yang mampu melawan ayah dan tentu juga aku dan kedua orang sahabatku itu. Manggada dan Laksana. Ingat kata-kata ayah, bahwa ternyata ayah bukan orang yang lebih beradab dari Wira Sabet dan Sura Gentong. Maksud ayah tentu, apabila orang lain memulainya”

Kedua orang itu tidak menjawab. Baru kemudian setelah mereka keluar dari regol halaman rumah Ki Jagabaya, orang yang bermata tajam itu berkata, “Kedudukan kita justru menjadi semakin rumit. Dua kekuatan yang tidak dapat kami lawan telah menghimpit kita. Sehingga kita akan dapat mati terjepit ditengahnya”

“Apakah kita harus berpihak?” bertanya kawannya.

“Berpihak kepada siapa?” bertanya orang bermata dalam.

“Kita harus memperhitungkan, kekuatan siapakah yang lebih besar. Wira Sabet dan Sura Gentong yang dibantu oleh Ki Sapa Aruh, atau Ki Jagabaya”

“Kekuatan Ki Jagabaya tidak seberapa dibanding dengan kekuatan Wira Sabet dan Sura Gentong”

“Tentu masih lebih besar kekuatan Wira Sabet dan Sura Gentong” jawab kawannya.

“Jadi menurut pendapatmu, kita akan berpihak kepada Wira Sabet dan Sura Gentong?” bertanya orang bermata tajam itu.

“Bukankah itu lebih aman? Kesempatan kita untuk selamat jauh lebih besar” jawab kawannya.

“Tetapi apakah dengan demikian kita tidak berkhianat terhadap Ki Jagabaya?” orang bermata tajam itu masih bertanya lagi.

“Kita sudah mencoba untuk memperingatkannya. Tetapi Ki Jagabaya tidak mendengarkan peringatan kami. Karena itu, maka kita tentu tidak akan bersalah, jika kita mengambil sikap lain”

Tetapi orang bermata tajam itu masih nampak ragu-ragu. Katanya, “Kita bicarakan dengan kawan-kawan kita yang lain malam nanti. Kita akan mengumpulkan mereka dan kita akan mengambil keputusan. Bukankah Wira Sabet dan Sura Gentong selama ini tidak pernah datang ke padukuhan malam hari?”

“Tetapi itu sangat berbahaya jika ada satu dua orang pengikut mereka yang melihat. Mereka tidak tahu apa yang kami lakukan, sehingga akan dapat menimbulkan salah paham” sahut kawannya

Orang bermata tajam itu mengangguk-angguk. Ia pun menyadari, bahwa para pengikut Wiia Sabet dan Sura Gentong dapat saja mengawasi padukuhan itu di luar pengetahuan mereka.

Karena itu, maka niat untuk bertemu dengan orang-orang padukuhan itu pun dibatalkannya. Orang bermata tajam itu pun kemudian berkata, “Kita akan bertemu dan berbicara seorang demi seorang untuk menghindari salah paham.”

“Ya. Baru kemudian jika persoalannya sudah jelas kita akan menyatakan sikap. Jika perlu kita akan menemui pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong”

Tetapi orang bermata dalam itu masih saja ragu-ragu. Katanya, “Kita akan melihat perkembangan keadaan”

Kawannya tidak menjawab. Namun ia mengusulkan untuk menemui orang yang telah terluka itu.

“Bagaimana pendapatnya tentang sikap Ki Jagabaya itu” berkata kawannya.

Ketika keduanya berjalan menyusuri jalan padukuhan, mereka terkejut mendengar derap kaki kuda. Ternyata Sampurna, Manggada dan Laksana telah melarikan kuda mereka di sepanjang jalan padukuhan itu pula.

Tetapi hari itu ketiga anak muda itu tidak bertemu dengan orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong. Namun hampir setiap orang yang menemui mereka telah memperingatkan, agar mereka tidak melakukan perbuatan yang sangat berbahaya itu.

“Mereka sedang mencari kalian ngger” berkata seorang yang rambutnya sudah ditumbuhi uban.

“Terima kasih atas peringatan paman” jawab Sampurna, “tetapi persoalannya harus segera diselesaikan”

Orang yang rambut sudah ubanan itu hanya dapat menggelengkan kepalanya saja.

Sementara itu, kawan orang yang bermata dalam itu berdesis, “Biarkan saja mereka menyombongkan dirinya. Aku juga berharap bahwa mereka benar-benar akan bertemu dengan orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong yang mencari mereka”

Kawannya yang bermata dalam itu tidak menjawab.

Ketika matahari turun semakin rendah, maka ketiga orang anak muda itupun telah pulang ke rumah mereka masing-masing. Namun mereka telah berjanji, di keesokan harinya mereka akan mencari para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong.

Dalam pada itu, lepas senja, setelah makan malam, Ki Jagabaya masih berbincang dengan isteri dan anak-anaknya. Ki Jagabaya ternyata sangat menyesali sikap orang-orang padukuhan Gemawang. Mereka justru minta agar Ki Jagabaya menghentikan perlawanannya terhadap Wira Sabet dan Sura Gentong.

“Orang-orang itu benar-benar telah menjadi ketakutan” berkata Sampurna.

“Ya. Mereka kehilangan akal. Sementara itu, Wisesa masih saja gila dengan gagasan-gagasannya” desis Ki Jagabaya.

“Hampir saja aku memukul mulutnya“ gumam Sampurna.

“Pemimpin yang hidupnya tidak berjejak di atas tanah” berkata Ki Jagabaya.

“Tetapi ia tidak rela jika Tantri diserahkan kepada Sura Gentong” berkata Sampurna sambil memandang Tantri.

“Apa?“ bertanya Tantri dengan suara melengking.

“Tidak” jawab Sampurna.

“Apa yang kau katakan tadi?” desak Tantri yang bergeser mendekati kakaknya.

“Tidak. Aku tidak berkata apa-apa” Sampurna bergeser menjauh sambil tersenyum.

“Kau mentertawakan aku, ya“ Tantri mulai menggapai

Sampurna. Tetapi Sampurna bergeser semakin jauh, “tidak. Aku tidak bermaksud mentertawakanmu. Aku justru mentertawakan Wisesa”

“Kau kira aku tidak berani memilin leher anak itu? Sejak kecil ia tidak berani melawan aku” berkata Tantri.

“Tetapi ia rajin berkunjung kemari” sahut Sampurna.

Tantri tiba-tiba bangkit. Tetapi Sampurna meloncat menjauh sambil berkata, “Sudahlah, Tantri. Aku menyerah”

“Tidak. Aku belum membalas” sahut Tantri.

“Sudahlah” potong Ki Jagabaya, “aku benar-benar sedang prihatin”

“Tetapi ayah harus menghukumnya. Ia yang mula-mula mengganggu aku” sahut Tantri.

“Duduklah yang baik” berkata Ki Jagabaya.

Keduanya pun segera duduk kembali.. Sementara Ki Jagabaya berkata, “Apa yang dapat kita lakukan jika orang-orang padukuhan ini justru menentang kita?”

“Ayah” berkata Sampurna kemudian bersungguh-sungguh, “besok, aku, Manggada dan Laksana akan mencari orang-orang Wira Sabet itu. Kami tidak akan berdiam diri justru mereka mencari kami”

“Lalu, apa yang akan kalian lakukan?” bertanya Ki Jagabaya.

Sampurna termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Bukankah mereka juga mencari kami?”

Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kita menunggu perkembangan keadaan”

Dalam pada itu, di rumahnya Manggada dan Laksana juga menceriterakan apa yang sudah terjadi. Mereka juga menyesali sikap orang-orang padukuhan Gemawang yang ketakutan, sehingga mereka kehilangan pertimbangan penalaran yang bening.

“Jika keadaan berlarut-larut, maka orang-orang padukuhan ini akan benar-benar kehilangan diri mereka” desis Ki Citrabawa.

Seperti Sampurna, maka Manggada dan Laksana juga menyatakan, bahwa mereka bukan saja dicari oleh para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong. Tetapi merekalah yang besok akan mencarinya.

Demikianlah, kegelisahan dan ketegangan yang semakin memanas telah mewarnai padukuhan Gemawang. Beberapa orang sempat saling mengunjungi untuk membicarakan sikap Ki Jagabaya. Pada umumnya orang-orang Gemawang menganggap Ki Jagabaya itu seorang yang keras kepala, sehingga tidak mau melihat kenyataan yang dihadapinya. Bahkan ada yang menganggap bahwa Ki Jagabaya sekedar berjuang untuk mempertahankan kedudukannya.

“Ia sampai hati telah mengorbankan penghuni padukuhan ini” berkata seorang di antara mereka yang ketakutan.

Namun ketika matahari kemudian terbit di keesokan harinya, orang-orang padukuhan Gemawang telah mendengar derap kaki kuda berlari-lari di jalan-jalan padukuhan. Tiga orang anak muda telah berkeliaran di atas punggung kuda mereka tanpa mengenal takut sama sekali.

Tetapi sikap orang-orang padukuhan itu ternyata telah berubah. Mereka tidak lagi berniat untuk memperingatkan ketiga orang anak muda itu. Bahkan orang-orang Gemawang berharap bahwa ketiga anak muda itu segera menjadi jera, setelah orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong menemukan mereka.

Orang yang telah dipukuli oleh pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu berkata kepada seorang tetangganya yang datang mengunjunginya. Ketiga orang itu tentu akan segera menemukan mereka setelah orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong itu mengetahui siapa mereka itu. Jika ketiga orang anak muda itu sudah mengalami seperti yang aku alami, barulah mereka akan menjadi jera dan tidak akan menyombongkan dirinya lagi”

Tetangganya mengangguk-angguk sambil bergumam, “Apakah karena ayahnya seorang Jagabaya, maka anak itu menjadi demikian sombongnya”

“Anak itu salah menilai kekuatan ayahnya sekarang ini” desis orang yang terluka itu.

Namun dalam pada itu, Sampurna, Manggada dan Laksana masih saja menelusuri jalan-jalan padukuhan Gemawang tanpa mengenal takut sama sekali.

Namun dalam pada itu, ternyata beberapa orang yang pergi ke sawah telah kembali lagi ke padukuhan. Mereka telah melihat tiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong menuju ke padukuhan

Seorang di antara mereka berjalan bergegas sambil berkata, “Selagi masih ada kesempatan, aku ingin memperingatkan anak-anak muda yang berkeliaran di atas punggung kuda itu”

Tetapi kawannya berkata, “Untuk apa kita bersusah payah melakukannya? Kita biarkan saja mereka menjadi jera. Tidak kurang dan antara kita yang sudah memperingatkan mereka. Tetapi dengan sombong mereka menolaknya. Bahkan mereka juga sudah tahu bahwa tiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong mencari mereka. Tetapi mereka dengan sombong pala justru mencari ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu. Bukankah itu sudah berlebihan?”

Seorang yang lain justru berkata, “Aku ingin melihat ketiga orang anak muda yang sombong itu dipukuli babak belur oleh pengikutnya Wira Sabet dan Sura Gentong sebagaimana seorang dari antara kita kemarin”

“Bagaimana jika mereka bertiga dibunuh oleh para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong?” bertanya orang yang pertama.

Kawan-kawannya itu terdiam. Nampaknya mereka memang berpikir sambil melangkah cepat-cepat pulang.

Tiba-tiba seorang dari antara mereka berkata, “Tidak. Mereka tidak akan dibunuh. Tetapi mereka akan dibuat jera dan bahkan kuda mereka akan dirampas. Itu saja”

Yang lain mengangguk-angguk. Sementara itu, mereka telah memasuki padukuhan Gemawang. Berlari-lari kecil mereka berjalan di jalan padukuhan menuju ke rumah mereka masing-masing. Namun seorang di antara mereka masih berkata, “Aku ingin melihat anak-anak sombong itu dipukuli”

Demikianlah, maka sejenak kemudian, orang-orang itu telah hilang di belakang regol halaman mereka masing-masing. Namun sebenarnyalah bahwa ada di antara mereka yang memang ingin melihat Sampurna, Manggada dan Laksana disakiti oleh para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong, agar mereka menjadi jera. Bahkan dengan demikian Ki Jagabaya akan dapat menjadi sadar.

Ternyata ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu telah memasuki padukuhan Gemawang tanpa mengenal takut. Seorang di antara mereka telah berteriak, “He orang-orang Gemawang. Kali ini kami tidak akan berbuat apa-apa atas kalian. Jangan takut. Kami hanya akan menangkap ketiga orang anak muda yang sombong itu. Tetapi jika kita tidak berhasil menangkap mereka, maka kami akan mengambil tiga orang yang manapun yang dapat kami tangkap di antara para penghuni padukuhan ini”

Teriakan-teriakan itu bergema menusuk ke dalam setiap pintu rumah. Orang-orang Gemawang itu menjadi ketakutan. Mereka berharap agar para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu dapat bertemu dengan Sampurna, Manggada dan Laksana.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja terdengar derap kaki kuda. Ternyata Sampurna, Manggada dan Laksana yang menyusuri jalan padukuhan itu tidak mengetahui bahwa tiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong berada di padukuhan itu. Tidak ada seorang pun yang telah memberitahukan kepada mereka. Meskipun orang-orang yang berlari-lari kecil menghindari kehadiran ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu ada yang berpapasan dengan ketiga orang anak muda itu. Tetapi mereka tidak memberitahukannya.

Namun orang-orang itu kemudian menjadi kecewa. Bagaimanapun juga mereka merasa ngeri, apa yang akan terjadi dengan ketiga orang anak muda itu apabila mereka benar-benar bertemu dengan orang-orang yang sedang mencari mereka itu.

Demikian pula orang-orang yang berada di sebelah menyebelah jalan padukuhan. Baru saja mereka mendengar teriakan orang-orang yang mereka takuti itu, tiba-tiba merekapun mendengar derap kaki kuda.

“Apa yang akan terjadi dengan anak-anak muda itu?” bertanya orang-orang itu di dalam hati mereka.

Dalam pada itu, ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong yang juga mendengar derap kaki kuda segera bersiap. Mereka merasa bahwa mereka akan segera dapat melakukan tugas mereka dengan baik.

“Kita akan menangkap mereka dan membawa mereka menghadap Ki Wira Sabet dan Ki Sura Gentong” berkata salah seorang dari ketiga orang itu.

“Jika mereka melawan, kita benar-benar akan mempergunakan kekerasan” desis yang lain.

Mereka tidak berbicara lebih jauh. Mereka mulai melihat tiga orang anak muda di punggung kudanya mendekati mereka.

Dengan serta merta, maka ketiga orang itupun segera berloncatan ketengah jalan dan memberi isyarat ketiga orang penunggang kuda itu untuk berhenti.

Sampurna yang berkuda di paling depan segera memberi isyarat pula kepada Manggada dan Laksana. Dengan serta merta ketiganya telah menarik kendali kuda mereka sehingga ketiganya telah berhenti sebelah mereka menjadi terlalu dekat dengan ketiga orang itu.

“Tentu. mereka itulah yang kita cari” desis Sampurna.

Laksana tidak menunggu lebih lama lagi. Ia adalah orang yang pertama meloncat turun dari punggung kudanya. Manggada dan Sampurnapun segera telah meloncat turun pula. Mereka telah mengikat kuda mereka pada batang perdu di pinggir jalan itu. Baru kemudian mereka bertiga melangkah mendekati ketiga orang yang telah menunggu itu.

Ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu termangu-mangu sejenak. Mereka justru merasa heran. Ketiga orang anak muda itu sama sekali tidak nampak menjadi gentar.

“Mereka memang sombong” geram salah seorang dari ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu.

Kawannyapun menyahut, “Sebentar lagi mereka akan menjadi jera”

Sementara itu yang seorang lagi berkata, “Kita lumatkan dahulu mereka sebelum kita bawa menghadap Ki Wira Sabet dan Ki Sura Gentong”

Kedua kawannya tidak menyahut, sementara itu Laksana, Sampurna dan Manggada telah menjadi semakin dekat.

Laksana yang berdiri dipating depan itulah yang bertanya, “He, siapakah kalian yang telah berani menghentikan kami bertiga yang sedang menelusuri jalan-jalan padukuhan kami sendiri”

“Anak iblis” geram orang tertua dari ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu, “kau-kira kau berbicara dengan siapa?”

“Jika aku tahu, aku tidak akan bertanya” sahut Laksana dengan lantang”

“Kami datang untuk menangkap kalian dan membawa kalian ke tempat kami” jawab salah seorang dari ketiga orang itu.

Laksana tertawa. Katanya, “Kau kira, kau berbicara dengan siapa, he?”

Ketiga orang itu menggeram. Hampir bersamaan mereka mengumpat. Seorang di antara mereka berkata, “Siapakah di antara kalian yang bernama Sampurna, anak Ki Jagabaya?

Hampir bersamaan pula ketiga orang anak muda itu menjawab, “Aku”

Tetapi mereka bertiga justru terkejut. Sejenak mereka saling berpandangan. Namun kemudian mereka bertiga tertawa meledak. Wajah ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu menjadi merah padam. Mereka sama sekali tidak mengira, bahwa mereka akan mendapat perlakuan yang demikian menyakitkan hati dari tiga orang anak-anak yang masih muda, sementara seisi padukuhan itu menjadi ketakutan melihat mereka bertiga datang”

Dengan suara bergetar menahan kemarahan, seorang di antara mereka berteriak, “Cukup. Aku akan mengoyak mulut kalian”

Tetapi Laksana justru menjawab, “Jangan terlalu garang Ki Sanak. Kalian tidak berarti apa-apa disini. Jika Paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong melihat kehadiran kalian di daerah kuasanya, maka kalian akan segera dihancurkan sampai lumat”

“Kau memang gila” geram orang itu, “aku adalah bagian dari kuasa Ki Wira Sabet dan Ki Sura Gentong”

“Nah, kenapa kau tidak mengatakan sejak semula. Jika kami tahu bahwa kalian adalah bagian dari kuasa paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong, maka sampaikan salam kami kepada mereka. Khususnya kepada paman Wira Sabet. Hari ini, kami akan mengambil duwet dan manggis di halaman rumahnya seperti biasanya”

Kemarahan ketiga orang itu telah membakar ubun-ubun mereka. Karena itu, seorang di antara mereka berteriak, “Dengar, kami akan membuat kalian menjadi lumat. Kami akan mematahkan tulang-tulang kalian dan kemudian menyeret kalian menghadap Ki Wira Sabet dan Ki Sura Gentong”

Tetapi jawaban Laksana sangat menyakitkan hati, “He, kenapa kalian hanya datang bertiga? Kalian tahu bahwa kami bertiga. Seharusnya kalian datang sedikitnya bersembilan, karena takaran kemampuan kami adalah tiga orang di antara kalian”

Orang-orang itu ternyata tidak tahan lagi mendengar ucapan Laksana itu. Karena itu, maka orang yang tertua di antara ketiga orang itupun berteriak, “Selesaikan mereka dengan cara kita”

Orang-orang yang tinggal di pinggir jalan itu menjadi berdebar-debar. Mereka mendengar bentakan-bentakan kasar. Tetapi mereka juga mendengar suara tertawa nyaring. Bahkan satu dua kalimat dapat mereka dengar ketika kalimat-kalimat itu diucapkan dengan keras. Mereka mendengar ancaman-ancaman yang mengerikan. Sementara suara tertawa membuat mereka menjadi bingung.

“Anak-anak muda itu nampaknya sama sekali tidak menjadi ketakutan” berkata orang-orang di sebelah-menyebelah jalan itu kepada diri sendiri.

Apalagi ketika kemudian mereka mendengar seseorang berkata keras-keras, “Jangan ganggu aku. Aku akan menyelesaikan ketiga orang itu seorang diri. Kecuali jika aku akan mati di tangan mereka”

Kata-kata itu ternyata telah diucapkan oleh Laksana.

Sampurna termangu-mangu sejenak. Sementara Manggada berkata, “Kita lihat saja apakah anak sombong itu dapat benar-benar berhasil”

Sampurna tidak segera menjawab. Namun Laksana pun berkata sambil tertawa, “Kalian tidak usah ragu-ragu. Aku tentu akan berhasil”

Kemarahan ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong yang merasa ditakuti oleh orang sepadukuhan itu benar-benar tidak tertahankan lagi. Karena itu, sebelum Laksana selesai berbicara, maka seorang di antara mereka telah meloncat menyerang dengan garangnya.

Tetapi Laksana benar-benar tangkas. Ia masih menyelesaikan kalimatnya ketika ia meloncat mengelak. Bahkan ia berkata lebih lanjut, “Minggir. Aku akan menunjukkan satu permainan yang bagus bagi kalian”

Kedua orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong yang lain pun telah menyerang Laksana pula. Seorang di antara mereka berkata, “Kita koyakkan mulutnya lebih dahulu. Baru kita selesaikan yang lain”

Tetapi Laksana yang pernah ditempa oleh ayahnya sendiri bersama Manggada, yang kemudian mendapat landasan ilmu dari Ki Ajar Pangukan dan pengalaman yang luas selama ia tinggal bersama Kiai Gumrah dan yang terakhir tapa Ngidang di hutan, telah membuatnya menjadi anak muda pilihan.

Karena itu, maka ia benar-benar berniat memberikan kesan yang mantap kepada orang-orang padukuhan Gemawang serta kepada para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong, bahwa padukuhan Gemawang tidak perlu menjadi ketakutan.

Kesan itu ternyata tidak tanggung-tanggung. Ia sendiri berniat untuk mengalahkan ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong, agar dengan demikian, yang terjadi itu akan benar-benar dapat meyakinkan.

Demikianlah, maka sejenak kemudian telah terjadi perkelahian antara Laksana dan ketiga orang itu. Seperti kijang Laksana berloncatan. Kakinya menjadi demikian ringannya sehingga seakan-akan tidak berjejak di atas tanah.

Tetapi ketiga lawannya juga bukan orang kebanyakan. Mereka adalah orang-orang yang sudah berpengalaman melakukan kekerasan. Namun agaknya mereka tidak dilandasi oleh dasar-dasar ilmu yang mapan.

Karena itu, maka mereka meskipun bertiga, tidak segera dapat mengatasi lawannya yang hanya seorang dan tidak lebih dari anak yang masih terlalu muda bagi mereka.

Dalam pada itu, orang-orang yang tinggal di sebelah menyebelah jalan itu benar-benar dicengkam oleh ketegangan. Seorang yang memiliki sedikit keberanian telah dengan sangat hati-hati mendekati pintu regol, dari sela-sela pintunya yang sedikit terbuka ia sempat melihat apa yang terjadi.

Orang itu hampir tidak percaya kepada penglihatannya. Seorang dari ketiga orang anak muda yang sering berkuda menyusuri jalan-jalan padukuhan itu tengah bertempur melawan tiga orang yang tentu pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong Bukan karena kedua orang kawan anak muda itu menjadi ketakutan dan tidak berani membantunya. Tetapi kedua anak muda yang lain berdiri di pinggir jalan dengan gaya orang yang sedang menonton aduan ayam di kalangan.

“Apa yang sebenarnya terjadi?” bertanya orang itu kepada diri sendiri.

Namun di luar sadarnya, maka orang itu justru tidak beranjak dari tempatnya.

Ternyata tidak hanya seorang saja yang telah mengintip pertempuran itu. Di seberang jalan, di balik pintu regol yang sedikit terbuka, maka seseorang telah mengintip pula.

Sebenarnyalah bahwa Laksana telah bertempur seorang diri melawan ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu. Dengan tangkasnya ia berloncatan. Menghindari serangan-serangan ketiga orang itu. Namun kemudian dengan cepat melancarkan serangan yang tiba-tiba terhadap salah seorang dari ketiga orang lawannya. Demikian cepatnya, sehingga ketiga orang lawannya itu kadang-kadang memang menjadi bingung menghadapinya.

Namun karena pengalaman mereka yang luas, maka ketiga orang itu pun tidak segera dapat ditundukkan oleh Laksana. Tetapi sebaliknya mereka bertiga juga tidak dapat menguasai anak yang masih terhitung muda itu.

Sementara itu, Sampurna dan Manggada memang tidak melibatkan dirinya. Mereka justru sekali-sekali bertepuk tangan. Bahkan kemudian mereka mulai dengan lantang berteriak memberikan dorongan kepada Laksana yang sekali-sekali memang hurus berloncatan surut oleh desakan ketiga orang lawannya yang bertempur semakin lama menjadi semakin kasar.

Tetapi setelah berhasil mendapat pijakan yang mapan, maka Laksana lah yang kemudian dengan kecepatan yang sangat tinggi melibat ketiga orang lawannya. Seperti angin pusaran, Laksana berputaran sehingga kadang-kadang lawannya menjadi kehilangan arah.

Tetapi memang tidak terlalu mudah bagi Laksana untuk dapat mengalahkan ketiga orang yang bertempur semakin keras dan kasar itu. Laksana harus meningkatkan kemampuannya semakin tinggi.

Tetapi latihan-latihan yang berat sebelumnya, telah memberikan bekal yang sangat berarti bagi Laksana menghadapi ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu.

Sementara itu teriakan-teriakan Sampurna dan Manggada memang menarik perhatian. Orang-orang yang tinggal tidak jauh dari tempat pertempuran itu terjadi, menjadi semakin tidak mengerti, apa yang telah terjadi. Sedangkan orang-orang yang berani mengintip dari celah-celah pintu regolnya, seakan-akan tidak mempercayai penglihatannya, bahwa salah seorang dari ketiga orang anak muda itu mampu menghadapi tiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong.

Sesuatu yang menurut mereka hanya dapat terjadi dalam mimpi yang akan terhapus saat mereka terbangun.

Tetapi meskipun mereka mengusap mata mereka, yang terjadi itu memang telah terjadi.

Laksana yang bertempur melawan tiga orang lawannya yang bertempur dengan keras dan kasar itu justru menjadi semakin garang, kakinya berloncatan dengan cepat, seakan-akan tidak berjejak di atas tanah. Sekali-sekali ia melenting menyerang, namun kemudian meloncat menghindari serangan.

Ketiga orang tawannya yang sudah mulai kelelahan menjadi sangat marah. Anak muda tiu ternyata tidak mudah untuk ditundukkan, meskipun mereka bertiga, tetapi anak muda itu berloncatan dengan tangkas seperti seekor rusa di padang perdu.

Dalam pertempuran yang menjadi semakin garang, maka tiba-tiba saja terdengar seseorang mengaduh tertahan. Kaki Laksana tepat mengenai dada salah seorang lawannya. Seorang yang bertubuh tinggi agak kekurus-kurusan.

Orang itu ternyata telah terlempar beberapa langkah dan jatuh terbanting di tanah. Untunglah bahwa kepalanya tidak membentur dinding halaman di pinggir jalan itu.

Sementara kedua kawannya masih bertempur terus, maka orang itu berusaha untuk bangkit.

Dadanya terasa sesak dan nyeri. Seakan-akan tulang-tulang iganya menjadi retak. Bahkan punggungnya pun terasa sakit. Demikian derasnya serangan Laksana, sehingga ketiga orang itu terbanting jatuh, maka punggungnya telah tergores bebatuan yang berserakan di jalan.

Tetapi orang itu berhasil bangkit berdiri sambil menahan sakit. Untuk beberapa saat ia berdiri termangu-mangu, sementara kedua orang kawannya semakin mengalami kesulitan menghadapi Laksana yang masih saja bertempur dengan tangkasnya.

Namun beberapa saat kemudian, maka orang itu pun telah mempersiapkan diri untuk kembali memasuki arena pertempuran.

Meskipun tulang-tulangnya masih terasa nyeri, namun orang itu kemudian telah meloncat memasuki arena.

Tetapi demikian, orang itu mulai menyerang, maka seorang kasarnya tiba-tiba saja telah jatuh terduduk sambil memegangi perutnya. Ternyata sambil berputar, kaki Laksana terayun menghantam perut orang itu. Demikian kerasnya, sehingga isi perutnya seakan-akan akan menghambur keluar. Kesakitan yang sangat telah membuatnya kehilangan kekuatan untuk tetap tegak berdiri.

Keadaan Laksana menjadi semakin baik. Dua lawannya telah disakitinya. Sehingga tinggal seorang saja yang masih mampu memberikan perlawanan dengan baik.

Dalam pada itu, Manggada pun segera memberi isyarat kepada Sampurna untuk berdiri berseberangan. Dengan demikian, maka keduanya teah menutup kemungkinan orang-orang itu melarikan diri.

Pertempuran masih berlangsung meskipun keseimbangannya telah menjadi semakin jelas. Ketika orang yang perutnya kesakitan itu dapat bangkit berdiri, maka kedua kawannya benar-benar sudah terdesak. Sebelum orang itu sempat memasuki arena pertempuran, maka seorang yang masih belum disakiti itulah yang mengaduh kesakitan. Ketika Laksana sempat menusuk dengan jari-jarinya yang merapat, tepat di arah ulu hati lawannya itu, maka orang itu telah terbungkuk. Pada saat itulah, maka Laksana telah memukul tengkuknya dengan telapak tangannya.

Dengan derasnya orang itu telah terjerumus dan jatuh menelungkup di tanah. Wajahnyalah yang telah tersuruk di tanah yang berbatu-batu kerikil.

Orang yang dadanya masih kesakitan itu mencoba untuk membantunya. Dengan sisa tenaganya ia menyerang Laksana.

Namun usahanya sia-sia. Dengan tangkasnya Laksana bergeser ke samping, kemudian kakinya terjulur dengan cepatnya mengenai lambungnya.

Sekali lagi orang itu terdorong surut. Sementara itu, Laksana telah meloncat memburunya. Tangannyalah yang kemudian, terjulur menyambar keningnya.

Orang itu tidak sempat berbuat sesuatu. Tubuhnya pun terpelanting jatuh.

Kawannya yang seorang lagi ternyata hatinya kuncup, ia tidak lagi nampak garang. Bahkan kemudian ia berdiri saja dengan wajah yang pucat. Ketika Laksana melangkah mendekatinya, maka orang itupun surut kebelakang, sehingga akhirnya ia berdiri melekat dinding.

“Aku dapat membunuhmu” geram Laksana.

Orang itu tidak menjawab. Perut dan punggungnya masih terasa sakit. Sementara itu, ia tidak mempunyai kesempatan sama sekali.

Dengan lantang Laksana pun kemudian memerintahkan ketiga orang itu berkumpul. Dua orang yang masih terbaring itu pun berusaha untuk dapat bangkit. Bahkan seorang di antaranya terpaksa harus merangkak untuk melakukan perintah Laksana.

Demikian ketiga orang itu duduk bersandar dinding dengan tubuh yang lemah dan sakit-sakitan, maka Laksana pun berkata, “Nah, sekarang kalian mendapat kesempatan untuk melihat kenyataan yang ada di padukuhan ini”

Karena ketiga orang itu tidak menjawab, maka Laksana itu bertanya pula, “He, kenapa kau kemarin menyakiti seorang di antara para penghuni padukuhan ini?”

Ketiga orang itu masih tetap berdiam diri. Sehingga Laksana itu pun kemudian membentak ”Jawab. Kenapa kau menyakiti salah seorang penghuni padukuhan ini?”

Ketika Laksana menyambar baju salah seorang dari ketiganya, yang kebetulan dadanya masih terasa sangat sakit, serta tulang-tulang iganya rasa-rasanya menjadi retak, maka orang itu pun mengaduh kesakitan.

Tetapi Laksana justru mengguncangnya sambil membentak pula, “He, kenapa kau tidak menjawab”

Orang itu menjadi semakin kesakitan, karena itu, maka ia terpaksa menjawabnya, “Bukan maksudku”

“Jadi, maksud siapa?” desak Laksana.

“Aku mendapat perintah dari Ki Wira Sabet dan Ki Sura Gentong untuk mengetahui anak-anak muda yang berkeliaran di atas punggung kuda. Kami harus menangkap mereka dan membawanya menghadap. Sebenarnya kami tidak bermaksud menyakiti orang pudukuhan itu. Kami hanya ingin sekedar bertanya. Tetapi ternyata orang itu keras kepala”

“Bohong” bentak Laksana, “orang-orang padukuhan ini sebagian menjadi ketakutan melihat kalian. Orang itu tidak akan berani berbohong kepadamu atau menolak untuk menjawab. Tetapi kalian tetap saja menyakitinya karena kalian ingin membuat padukuhan ini semakin ketakutan”

“Tidak. Sungguh tidak ada niat kami untuk menyakitinya” jawab orang itu.

Karena Laksana melepaskan tangannya sambil mendorongnya, maka orang itu terjatuh menimpa dinding halaman. Karena itu, maka orang itu pun mengaduh kesakitan.

Dalam pada itu maka Manggada lah yang kemudian melangkah mendekati sambil berkata, “Nah, sekarang kalian sudah bertemu dan berbicara langsung dengan ketiga orang anak muda yang berkeliaran di punggung kuda. Apakah kalian masih tetap berniat menangkap kami dan membawa kami menghadap paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong?”

Orang itu termangu-mangu. Namun kemudian dengan nada rendah ia menjawab, “Kami tidak berhasil”

Manggada mengangguk-angguk. Sementara itu Sampurna itu pun berkata, “Ki Sanak. Jika kau tidak berhasil menangkap kami dan membawa kami kepada paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong, maka sampaikan salam kami kepada mereka dan kawan-kawannya. Tetapi sebelum kalian menemui mereka, maka kalian harus menjawab beberapa pertanyaan”

Wajah orang itu menjadi semakin pucat. Sementara Sampurna berkata, “Pertanyaan-pertanyaan kami sangat sederhana. Karena itu, maka kalian tentu dapat menjawabnya.”

“Kami tidak akan menjawab pertanyaan-pertanyaan” jawab orang yang dadanya masih terasa sakit itu.

“Terserah kepada kalian” berkata Sampurna, “tetapi sebelum kalian menjawab pertanyaan-pertanyaan kami, maka kalian tidak akan kami lepaskan”

“Kalian tidak akan berani berbuat seperti itu” berkata orang itu.

“Kenapa?” bertanya Sampurna.

“Jika kami tidak kembali pada saat yang ditentukan, maka Ki Wira Sabet dan Ki Sura Gentong akan datang sendiri kemari”

“Menarik sekali” berkata Sampurna, “itulah salah satu pertanyaan yang ingin aku sampaikan kepada kalian. Kapan paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong akan datang kemari. Karena itu, maka sebaiknya kami menahan kalian bertiga sampai mereka benar-benar datang”

Orang itu mengumpat di dalam hati. Sementara itu kawannya yang perutnya masih terasa sakit itupun berkata, “Jika Ki Wira Sabet dan Ki Sura Gentong datang kemari, mereka tentu tidak hanya berdua. Tentu bersama Pideksa dan beberapa orang pengawal”

“Bagus” sahut Sampurna, “disini kami tinggal bersuit saja. Anak-anak muda akan berdatangan untuk menyambut paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong serta para pengawalnya”

Tetapi orang yang wajahnya tersuruk ke tanah dengan goresan-goresan kecil yang menjadi merah itu berkata, “Aku tidak yakin, bahwa anak-anak muda padukuhan ini berani dari keluar regol halaman rumahnya”

Jawaban itu membuat Sampurna menjadi marah. Tiba-tiba saja tangannya telah menampar wajah orang itu, sehingga orang itu mengaduh kesakitan. Goresan-goresan yang berwarna merah itu sudah terasa pedih, apalagi telapak tangan Sampurna itu.

“Kau menghina kami” geram Sampurna.

Orang itu tidak berbicara lagi. Apalagi ketika terasa darah yang hangat mengalir disela-sela bibirnya yang pecah.

Yang kemudian bertanya adalah Manggada, “Ki Sanak. Katakan kepada kami, dimana tempat tinggal paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong?”

Jantung ketiga orang itu rasa-rasanya berdetak semakin cepat. Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang sangat menakutkan. Mereka bertiga tentu tidak akan dapat menunjukkan dimana tempat tinggal Wira Sabet dan Sura Gentong.

Tetapi jika mereka tidak mengatakan, maka ketiga anak muda itu tentu akan memaksanya,.

“Anak-anak muda ini memang gila” geram orang-orang itu di dalam hatinya. Mereka sama sekali tidak mengira bahwa di padukuhan Gemawang itu ada juga anak-anak muda yang berilmu tinggi.

Manggada memang menunggu sejenak. Tetapi karena tidak ada di antara mereka yang menjawab, maka Manggada telah mengulangi lagi pertanyaannya, “Katakan kepada kami, dimana tempat tinggal paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong. Kami tidak mempunyai waktu banyak. Karena itu, sebaiknya kau tidak menunda-nunda jawaban kalian”

Adalah di luar dugaan, bahwa orang yang bertubuh tinggi agak kekurus-kurusan itu berkata, “Anak-anak muda. Kalian tentu tahu, bahwa kami tidak akan dapat memberikan jawaban itu. Kami tahu, bahwa kalian dapat memaksa kami untuk berbicara dengan cara kalian. Tetapi kami tetap tidak akan berani menjawab, karena jika terloncat dari mulut kami jawaban itu, maka nasib kami akan menjadi sangat buruk”

“Tetapi bukankah kau juga memaksa seorang dari penghuni padukuhan ini untuk mengatakan kepada kalian, siapakah kami bertiga?”

Orang itu terdiam lagi. Tetapi jantungnya menjadi semakin berdentangan.

“Ki Sanak“ berkata Manggada, “kami dapat memperlakukan kalian sebagaimana kalian memperlakukan salah seorang tetangga kami yang baik. Bahkan kami dapat menahan kalian sampai kalian bersedia berbicara. Kami tidak takut apakah paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong datang kemari atau tidak. Bahkan seandainya mereka datang dengan saudara-saudara seperguruannya”

“Anak-anak muda” berkata orang yang bertubuh tinggi itu, “bagaimanapun juga kami tidak akan memilih untuk mengatakan dimana tempat tinggal Ki Wira Sabet dan Ki Sura Gentong. Seandainya kalian akan memperlakukan kami lebih buruk lagi dari perlakuan kami atas tetangga kalian itu, kami memang harus menjalaninya. Tetapi betapapun pahitnya penderitaan kami di tangan kalian, bagi kami tentu masih lebih baik dari hukuman yang akan kami terima jika kami menjawab pertanyaan kalian”

“Itukah duniamu? Dunia paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong?”

“Ya” jawab orang itu.

Manggada menarik nafas dalam-dalam. Ketiga orang itu tentu tidak akan berani mengatakan apa-apa. Bahkan agaknya mereka akan memilih membunuh diri daripada dipaksa untuk mengatakan, dimana letaknya tempat tinggal Wira Sabet dan Sura Gentong.

Untuk membuktikan dugaannya itu maka Manggada pun berkata, “Ki Sanak. Bagaimanapun juga, kami akan memaksa kalian untuk berbicara. Jangan mengira bahwa kami tidak dapat memperlakukan kalian lebih buruk dari paman Wira Sabet dan Sura Gentong. Kami dapat menghukum kalian dengan hukuman picis”

Keringat dingin telah membasahi seluruh pakaian orang-orang itu. Bukan saja karena mereka telah memeras tenaganya untuk berkelahi dan kalah, tetapi mereka memang menjadi sangat ngeri mendengar hukuman picis yang disebut-sebut oleh anak muda itu.

Meskipun demikian, mereka sama sekali tidak mempunyai keberanian untuk mengkhianati Wira Sabet dan Sura Gentong. Untuk waktu yang cukup lama mereka telah dibentuk untuk menjadi seorang hamba yang setia. Setiap kali mereka selalu mendengar ancaman, bentakan dan bahkan kadang-kadang kekerasan badani. Namun kadang-kadang mereka juga disanjung dan diberi harapan-harapan bagi masa depan mereka.

Karena orang itu masih saja ragu-ragu, maka Manggada pun berkata, “Nah, pertimbangkan lagi keputusan kalian. Apakah kalian akan berbicara atau tidak”

“Anak-anak muda” berkata orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan, “aku mohon, bunuh saja kami. Kami tidak mempunyai kesempatan apapun juga. Kematian tentu akan lebih baik daripada mengalami perlakuan Ki Wira Sabet dan Ki Sira Gentong serta beberapa orang saudara seperguruan mereka. Apalagi di antara merekapun terdapat Ki Sapa Aruh”

Ketiga orang anak muda itu saling berpandangan sejenak. Namun tiba-tiba saja Manggada berkata, “Baik. Jika kalian tidak mau menunjukkan tempat tinggal paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong, maka aku mempunyai usul. Kalian kami bebaskan Tetapi dengan syarat bahwa kalian harus menangkap kami sebagaimana tugas yang diberikan kepada kalian dan membawa kami menghadap paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong.”

Wajah orang itu menjadi tegang. Dengan dahi yang berkerut ia bertanya, “Apakah kau bergurau?”

“Tidak. Aku tidak bergurau” jawab Manggada yang lalu bertanya kepada Laksana, “Apakah kau sependapat, bahwa kita akan menyerah saja dan biarlah ketiga orang itu menangkap dan membawa kita?”

”Satu rencana yang bagus” sahut Laksana, “aku setuju. Kita akan sampai juga ke tempat tinggal paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong”

Sampurna pun kemudian juga menyahut, “Baik. Kami akan menyerahkan diri kami”

Tetapi Manggada berkata, “Kau jangan, Sampurna. Bagimu akan menjadi sangat berbahaya. Kau akan dapat menjadi sasaran dendam paman Wira Sabat dan paman Sura Gentong. Bukankah sasaran utama dendamnya kepada ayahmu?”

“Aku tidak akan gentar mengalami perlakuan apapun juga” jawab Sampurna.

Namun Laksana juga memperingatkan, “Jangan. Kau akan tinggal. Kau akan menyampaikan keputusan kami ini kepada ayah dan paman”

“Tetapi rencana ini juga sangat berbahaya bagi kalian.”

“Tidak. Paman Wira Sabet pernah kami temui. Ia masih belum melupakan aku yang di masa kecil sering mencari duwet dan manggis di halaman rumahnya. Pohon duwet dan manggis itu masih ada meskipun juga sudah tua” berkata Manggada.

“Tetapi itu tidak adil. Jika kalian mengalami sesuatu, maka aku akan menyesal sepanjang hidupku” jawab Sampurna.

“Kami akan menjaga diri kami, percayalah. Kami titipkan kuda kami kepadamu. Sampaikan pula rencana ini kepada ayah dan paman” berkata Manggada. Lalu katanya, “Dengan demikian, biarlah ayah dan paman membuat rencana berikutnya dengan Ki Jagabaya untuk mengatasinya”

Sampurna masih saja ragu-ragu. Sementara itu Manggada berkata, “Jika kau ikut bersama kami, maka tidak ada seorang pun yang dapat menyampaikan rencana ini kepada Ki Jagabaya dan kepada ayah serta paman”

Sampurna akhirnya dapat diyakinkannya, sehingga ia pun kemudian bersedia untuk tinggal.

Namun ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itulah yang menjadi bingung. Karena itu, maka Manggada pun menjelaskan rencananya, “Nah, kalian dapat memilih. Tinggal disini dengan hukuman picis, atau menangkap kami berdua dan membawa kami menghadap paman Wira Sabet dan Sura Gentong. Agar kalian tidak mendapat hukuman, maka kalian harus mengatakan kepada mereka, bahwa kalian berhasil menangkap kami berdua. Tetapi Sampurna berhasil meloloskan dirinya. Nah, jelas?”

Ketiga orang itu masih saja bingung. Seorang di antara mereka berkata, “Kami tidak akan dapat melakukannya. Jika kalian jatuh ketangan Ki Wira Sabet dan Ki Sura Gentong, maka nasib kalian akan menjadi sangat buruk. Kalian akan mengalami perlakuan yang tidak kalian bayangkan sebelumnya”

“Memang mungkin. Tetapi ini satu-satunya cara bagi kami untuk mengetahui tempat tinggal paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong. Selebihnya, kami akan dapat mengalami beberapa hal tentang isi tempat tinggal mereka.”

Tetapi orang itu menggeleng. Katanya, “Jangan lakukan itu”

Sikap orang-orang itu memang menarik perhatian. Manggada dan Laksana bahkan percaya, bahwa ketika orang itu tidak akan mencelakakan mereka dengan sengaja.

Tetapi ketiga orang itu benar-benar menjadi bingung. Semula mereka menyangka bahwa anak-anak muda itu sekedar bergurau untuk mengganggu mereka yang telah gagal menjalankan tugas. Namun ternyata anak-anak muda itu bersungguh-sungguh.

Sementara itu Manggada pun berkata, “Ki Sanak. Dengarkan. Kami telah mengampuni kesalahan kalian. Seharusnya kami dapat memperlakukan kalian apa saja sekehendak kami. Kami sama sekali tidak takut atas pembalasan paman Wira Sabet dan Sura Gentong. Tetapi kami tidak melakukannya. Karena itu, terserah tanggapan kalian atas tingkah laku kami. Sementara itu, kami minta kalian menangkap kami. Membawa kami berdua sebagaimana tugas yang dibebankan kepada kalian. Kalian tidak usah segan. Perlakukan kami sebagaimana kalian memperlaku-kan orang-orang tangkapan.”

Ketiga orang itu saling berpandangan sejenak. Sementara itu Manggada telah menarik Sampurna menjauh dan memberikan beberapa pesan kepadanya.

Sampurna mengangguk-angguk, Katanya hampir berbisik, “Baiklah. Aku akan mengusahakannya”

Demikianlah, Manggada dan Laksana telah memaksa ketiga orang itu untuk membawanya. Dengan nada keras Manggada berkata, “Kesempatan ini adalah kesempatan terbaik bagi kalian. Apapun yang terjadi atas diri kami, kalian tidak usah menghiraukannya. Sementara itu, paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong tidak akan menghukum kalian. Karena kalian tidak gagal sepenuhnya. Dua dari tiga orang telah dapat kalian tangkap”

“Tetapi kami tidak akan dapat menyaksikan perlakuan Ki Wira Sabet dan Ki Sura Gepong atas kalian”

“Itu tergantung kepada sikap kalian. Jika kalian tidak mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, maka nasib kami tidak akan terlalu buruk. Sementara keinginan kami untuk mengetahui tempat tinggal mereka dapat terlaksana”

Ketiga orang itu benar-benar sulit untuk mengerti, apa sebenarnya yang dikehendaki oleh anak-anak muda. Keinginan yang bagi mereka tidak masuk akal. Rencana itu akan dapat membahayakan jiwa mereka.

Karena itu salah seorang dari ketiga orang itu berkata, “Anak muda. Kalian telah berbuat di luar dugaan kami. Kalian tidak memaksa kami berbicara dengan cara yang kasar. Bahkan kalian akan membebaskan kami. Dengan demikian, apakah kami akan sampai hati melihat kalian mengalami kesulitan di sarang kami? Anak-anak muda. Kami peringatkan, bahwa Ki Sura Gentong sering menghukum seseorang dengan cara di luar batas ketahanan badani seseorang. Sehingga akibatnya menjadi sangat parah. Mati tidak tetapi hidup pun tidak”

Manggada mengerutkan dahinya. Ia masih teringat ancaman Sura Gentong yang diucapkan di halaman rumah Wira Sabet. Namun Manggada masih berharap bahwa berdua dengan Laksana, ia akan dapat mengatasi kesulitan itu.

Karena itu, maka ia menjawab, “Ki Sanak. Nasibku akan berbeda jika seandainya aku tertangkap saat aku menyusup memasuki sarang itu. Tetapi sekarang aku tertangkap di padukuhanku sendiri, sehingga kesalahanku tentu dianggap tidak seberat jika aku datang ke tempat tinggal mereka”

Ketiga orang itu tidak mempunyai pilihan lain. Jika mereka menolak, maka anak-anak muda itu tidak akan melepaskan mereka dan bahkan mungkin merekapun akan mendapat perlakuan buruk di padukuhan itu. Tetapi untuk membawa kedua orang anak muda itu, maka rasa-rasanya sangat berat bagi perasaannya.

Bahkan ketiga orang itu sempat juga bertanya kepada diri mereka sendiri, “Apakah aku masih mempunyai perasaan?”

Namun sikap kedua orang anak muda itu agaknya telah mengguncang jantungnya, dan mengorek endapan perasaannya yang masih tersisa.

Dengan demikian, maka ketiga orang itupun terpaksa melakukan permintaan kedua orang anak muda itu. Bertiga mereka menggiring keduanya keluar padukuhan Gemawang.

Memang agak aneh, bahwa orang-orang yang menangkap kedua orang anak muda itu keadaannya jauh lebih buruk dari kedua orang tangkapannya. Namun Manggada dan Laksana berkata kepada mereka bertiga ”Jangan cemas. Kami pandai berpura-pura. Disarang paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong, aku akan berpura-pura kesakitan di bagian dalam tubuhku lebih parah dari kalian”

Ketiga orang itu tidak menjawab. Tetapi kegelisahan telah mencengkam jantung mereka. Betapapun ganas dan garangnya mereka, namun ternyata sia-sia nuraninya masih juga sempat berbicara.

Dalam pada itu, sepeninggal Manggada dan Laksana yang telah dibawa oleh ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu, maka Sampurna pun segera memenuhi pesan Manggada. Cepat-cepat ia pergi ke rumah Ki Kertasana untuk memberitahukan keputusan yang telah diambil oleh Manggada dan Laksana.

Ki Kertasana dan Ki Citrabawa memang terkejut. Dengan wajah tegang Ki Kertasana itupun berdesis, “Satu petualangan yang tidak berperhitungan”

“Ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu justru telah memperingatkan mereka” berkata Sampurna, “tetapi Manggada dan Laksana tetap pada keinginannya. Sebenarnya aku juga menyatakan ingin menyertai mereka, tetapi mereka menolak, karena dengan demikian tidak seorang pun yang dapat memberitahukan rencana ini kepada paman”

Ki Kertasana dan Ki Citrabawa memang menjadi tegang. Namun Ki Pandi lah yang bertanya, “Apakah ada pesan yang lain yang harus angger sampaikan?”

“Ya” jawab Sampurna, “Manggada dan Laksana akan berusaha meninggalkan jejak disepanjang perjalanan mereka”

Ki Pandi itu pun mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Terima kasih ngger. Mudah-mudahan cara yang dipilihnya tidak berakibat sangat buruk bagi mereka”

Namun Ki Pandi itupun kemudian berkata kepada Ki Kertasana dan Ki Citrabawa, “Aku minta diri. Mudah-mudahan ada cara untuk berbuat sesuatu”

“Apa yang akan Ki Pandi lakukan?” bertanya Ki Kertasana.

“Aku belum tahu. Setidak-tidaknya mengikuti jejak anak-anak itu sampai sejauh jejak itu aku ketemukan” jawab ki Pandi.

Ki Kertasana dan Ki Citrabawa yang sudah menduga bahwa Ki Pandi tidak akan membiarkan kedua orang anak muda itu, tidak mencegahnya. Namun Ki Kertasanapun berpesan, “Hati-hati Ki Pandi. Kita berhadapan dengan orang-orang yang sakit hati dan menyimpan dendam yang dalam sekali di dalam hatinya”

“Tetapi dendam itu tidak mutlak ditujukan kepada Manggada dan Laksana” jawab Ki Pandi.

Dengan demikian, maka Ki Pandi itu pun kemudian telah meninggalkan rumah itu selelah ia mendapat petunjuk dari Sampurna, darimana awal keberangkatan Manggada dan Laksana.

Dengan cepat Ki Pandi menemukan isyarat pertama dari Manggada. Ketika ia sampai di ujung lorong, maka dilihatnya ranting perdu yang berpatahan terinjak kaki. Manggada dan Laksana tentu dengan sengaja melakukannya, karena mereka dengan sengaja telah meninggalkan jejak sebagaimana dikatakannya dalam pesannya lewat Sampurna.

Dalam pada itu, yang juga menjadi pening adalah orang-orang yang sempat mengintip apa yang telah terjadi. Mereka tidak dapat mengerti, apa yang dilakukan oleh Manggada dan Laksana. Bahkan ketika kedua orang anak muda itu dibawa pergi, beberapa orang telah muncul di jalan. Mereka saling berpandangan dan sejenak kemudian tiga orang telah berkumpul di halaman rumah salah seorang dari mereka.

“Aku tidak dapat mengerti, apa yang sebenarnya telah terjadi. Seorang dari ketiga orang anak muda itu mampu mengalahkan tiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong. Namun kemudian dua di antara ketiga anak muda itu menyerahkan diri untuk dibawa ke sarang Ki Wira Sabet dan Ki Sura Gentong”

“Ya. Tetapi mereka sempat melarang Sampurna untuk ikut. Memang dendam Wira Sabet dan Sura Gentong kepada Ki Jagabaya akan dapat dilimpahkan kepadanya” berkata yang lain.

Namun yang lain lagi berkata, “Manggada memang gila. Apa sebenarnya yang dikehendakinya”

Orang yang pertamalah yang menyahut, “Nampaknya anak-anak itu telah mengorbankan segala-galanya, bahkan diri mereka sendiri untuk mengatasi bayangan Wira Sabet dan Sura Gentong yang menakutkan itu”

“Tetapi satu hal yang aku anggap tidak masuk akal. Seorang saja di antara mereka telah dapat mengalahkan tiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong yang sangat ditakuti itu. Orang-orang sepadukuhan ini tidak berani berbuat apa-apa terhadap mereka bertiga. Sementara itu seorang anak muda mampu menundukkannya” berkata yang lain.

Tetapi kesimpulan yang mereka ambil ternyata tidak sejalan dengan kesimpulan yang dikehendaki oleh anak-anak muda itu. Mereka tidak segera bangkit dan ikut serta melawan ketakutan yang tersebar di padukuhan itu. Tetapi seorang di antara mereka justru berkata, “Tetapi kekalahan itu tentu akan membuat Wira Sabet dan Sura Gentong menjadi sangat marah, sehingga mereka akan mengirimkan orang lebih banyak dan lebih garang. Atau bahkan Wira Sabet dan Sura Gentong sendiri yang akan datang”

“Tetapi anak-anak muda yang menang itu justru menyerah” sahut yang lain.

“Itulah yang dapat membuat kita menjadi gila. Tetapi aku tidak yakin bahwa tingkah anak-anak itu akan mampu menyelamatkan kita dan padukuhan Gemawang dari kegarangan Wira Sabet dan Sura Gentong” berkata yang seorang lagi.

“Justru sebaliknya” berkata yang lain, “mungkin akan timbul persoalan-persoalan baru yang dapat menambah kesulitan padukuhan ini”

Namun mereka tidak berbincang lebih lama. Dua orang di antara mereka pun segera meninggalkan halaman rumah itu, kembali ke rumah masing-masing dengan berbagai pertanyaan di dalam hati mereka.

Dalam pada itu, Manggada dan Laksana telah berjalan semakin jauh. Laksana tidak tahu, kemana ia akan dibawa. Tetapi Manggada yang memang dilahirkan di padukuhan itu, serta kenakalannya di masa kanak-kanaknya, segera dapat mengerti, kemana mereka pergi.

“Jalan ini menuju ke padang perdu di pinggir hutan itu” berkata Manggada di dalam hatinya.

Namun jalan yang ditempuh memang bukan jalan yang ramai. Tetapi jalan setapak yang jarang dilalui orang. Bahkan jalan itu kadang-kadang menuruni tebing sungai dan kemudian naik di seberang. Melintasi padang ilalang dan tanah gersang yang tidak digarap Baru kemudian mereka sampai ke padang perdu yang luas sampai ke batas sebuah hutan yang memang tidak terlalu besar.

“Agaknya di hutan itu mereka bersarang” berkata Manggada di dalam hatinya.

Namun ketika mereka menjadi semakin dekat, pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itupun berkata, “Kami harus menutup mata kalian jika kalian memasuki lingkungan kami. Bahkan hal ini seharusnya kami lakukan, sejak kami meninggalkan jalan padukuhan di bulak itu”

“Baik” berkata Manggada, “lakukanlah. Tetapi sebelumnya beritahu aku, diarah mana sarang kalian dibuat.”

“Di ujung hutan di sisi sebelat Barat” jawab orang itu.

“Di tempat yang menjorok itu?” bertanya Manggada.

“Ya” jawab orang itu termangu-mangu.

“Baiklah” berkata Manggada, “tutuplah mata kami. Sebenarnya jika kami inginkan, kami dapat melarikan diri sekarang, sehingga keinginan kami untuk mengetahui dimana letak sarang kalian sudah kami dapat. Kalian bertiga tentu tidak akan dapat mencegah kami. Tetapi dengan demikian, kalian bertiga akan mengalami penderitaan yang sangat kalian takutkan. Karena itu, biarlah kalian bawa kami ke sarang kalian dengan mata tertutup”

Ketiga orang itu saling berpandangan sejenak. Seorang di antara mereka berkata, “Ya. Kalian dapat melarikan diri sekarang. Tetapi jika hal itu kalian lakukan, bunuh saja kami bertiga disini. Itu lebih baik bagi kami. Tetapi jika kalian tidak melakukannya. Sebenarnyalah kami ingin mengetahui, apa sebenarnya yang kalian inginkan?”

“Kami memang ingin berhubungan dan berbicara lebih banyak dengan paman Wira Sabet dan Sura Gentong” jawab Manggada.

“Untuk terakhir kalinya, aku peringatkan kalian, bahwa kalian akan dapat mengalami penderitaan yang tidak berkeputusan”

“Mudah-mudahan tidak. Tetapi bukankah kau yang akan mengalaminya jika kami membatalkan niat kami pergi ke sarangmu itu” berkata Manggada, “bahkan kau minta agar kami membunuh kalian bertiga”

Ketiga orang itu tidak menjawab. Mereka memang masih saja kebingungan.

Sementara itu Manggada. berkata pula, “Lekas, tutup mata kami sebelum kawan-kawanmu melihat apa yang terjadi sekarang”

Orang-orang itu tidak menjawab. Namun mereka melakukan sebagaimana dikatakan oleh Manggada.

Sejenak kemudian Manggada dan Laksana pun telah ditutup matanya. Mereka digiring menuju ke sarang Wira Sabet dan Sura Gentong yang memang terletak di tempat yang terpencil dari hubungan dengan sesamanya.

“Kita sudah dekat” desis orang yang bertubuh tinggi itu.

Manggada pun berdesis, “Laksana, kita harus menunjukkan bahwa kita dalam keadaan yang sulit”

“Bagaimana aku harus berpura-pura?”

“Kau tentu dapat melakukannya” jawab Manggada. Lalu katanya kepada pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu, “Lakukan tugas kalian dengan baik”

Ketiga orang yang menggiringnya tidak menyahut. Sebenarnyalah mereka merasa segan untuk berbuat kasar kepada kedua orang anak muda yang tidak dapat dimengerti kemauannya itu.

Namun ketika mereka mendekati pagar bambu yang rapat yang mengelilingi sebuah lingkungan yang menjadi barak hunian Wira Sabet dan Sura Gentong, ketiga orang itu memang mulai menjadi kasar. Mereka mendorong Manggada dan Laksana berganti-ganti.

Dari kejauhan, dua orang yang mengawasi keadaan di luar dinding barak itu sudah melihat, ketiga orang kawannya datang dengan membawa dua orang tawanan yang matanya tertutup rapat.

“Kenapa hanya dua” desis yang seorang.

“Seharusnya tiga orang anak muda” sahut yang lain.

Tetapi keduanya pun terdiam. Sementara itu ketiga orang yang membawa Manggada dan Laksana itu berusaha untuk menghilangkan bekas atau rasa sakit dengan berjalan tegap tanpa memberikan kesan kesakitan.

Ketika ketiga orang itu menjadi semakin dekat dengan dinding baraknya, maka mereka menjadi semakin kasar. Sementara itu sekali-sekali Manggada terhuyung-huyung hampir jatuh tertelungkup jika punggungnya disentuh oleh orang yang menggiringnya.

Laksana yang tertutup matanya tidak melihat apa yang dilakukan oleh Manggada. Tetapi ia mendengar seakan-akan Manggada akan terjatuh. Karena itu, maka ia pun bertanya, “Apa yang terjadi?”

Manggada justru berdesah, “Sst. Aku pura-pura setengah mati. Kau harus melakukan juga. Jika tidak, maka semuanya akan sia-sia saja”

Laksana terdiam. Sementara salah seorang yang menggiringnya itu berdesis, “Kita sudah dekat. Ada pengawas di depan”

Manggada dan Laksana terdiam. Tetapi jika mereka didorong dengan kasar, maka mereka pun berpura-pura akan tertelungkup atau tingkah laku yang lain yang membuat mereka seolah-olah tidak berdaya lagi.

Beberapa langkah mendekati dua orang pengawas itu, salah seorang dari ketiga orang yang menggiring Manggada dan Laksana yang ditutup matanya itu berkata, “Apakah Ki Lurah ada?”

“Ada” jawab salah seorang dari mereka, “tetapi bukankah kau harus menangkap tiga orang anak muda?”

“Iblis kecil yang seorang lagi sempat melarikan diri” jawab orang itu, “tetapi dua ini sudah mewakili”

“Ki Lurah menghendaki tiga” berkata orang itu.

“Anak yang seorang itu penakut. Demikian ia melihat kami, maka dilarikannya kudanya menjauh. Tetapi yang dua orang ini tidak sempat melakukannya”

Kedua orang pengawas itu mengangguk-angguk. Tetapi yang lain bertanya, “Tidak kau bawa kudanya itu?”

”Kudanya berlari seperti sedang berpacu demikian, penunggangnya terjatuh. Kami gagal untuk menangkap. Tetapi orang-orangnya inilah yang lebih penting dari kudanya bagi kami” jawab orang yang bertubuh tinggi itu.

Kedua pengawas itu tidak bertanya lagi. Mereka membiarkan ketiga orang itu membawa Manggada dan Laksana memasuki regol pagar barak mereka.

Sementara itu, Ki Pandi dengan hati-hati mengikuti jejak ketiga orang yang membawa Manggada dan Laksana. Tidak terlalu sulit baginya.

Namun ketika jejak itu menuruni tebing sungai, maka Ki Pandi agak menjadi cemas. Jika mereka menelusuri sungai, maka tentu agak sulit baginya untuk mengikuti jejak mereka.

Ia harus mencari jejak itu di seberang sungai, menelusuri tepian. Tetapi yang masih dipertanyakan, ke arah hulu atau udik.

Namun Ki Pandi tidak perlu bersusah payah. Ketika ia menyeberangi sungai itu, maka ia langsung dapat melihat jejak kaki di tepian. Jejak yang sengaja dibuat sebagaimana sebelumnya.

Dengan demikian, Ki Pandi tidak menemukan kesulitan apa-apa untuk mengikuti arah perjalanan Manggada dan Laksana.

Tetapi Ki Pandi tidak dapat mengikuti jejak itu sampai ke barak. Dengan ketajaman penglihatannya, Ki Pandi yang bersembunyi di balik rimbunnya pohon perdu melihat Manggada dan Laksana itu dibawa ke barak, sementara dua orang yang mengawasi keadaan itu masih saja berjaga-jaga di tempatnya. Keduanya berjalan hilir mudik untuk mengatasi kejemuan mereka dalam tugas yang melelahkan itu. Agaknya para pengikut Wira Sabet dari Sura Gentong itu lebih senang melakukan tugas-tugas lain daripada berdiri di pinggir hutan untuk mengawasi keadaan. Meskipun sejak semula mereka berada di tempat itu, belum pernah ada. orang yang datang atau bahkan yang tersesat sekalipun sampai ke tempat itu.

Namun para pengikut Wira Sabat dan Sura Gentong setiap hari bergantian selalu mengawasi keadaan. Namun karena itu, maka para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu tidak melakukan tugas mereka dengan sungguhsungguh.

Mereka lebih banyak menyibukkan diri justru untuk mengusir kejemuan daripada menjalankan tugasnya sebaik-baiknya.

Ki Pandi melihat gelagat itu. Karena itu, maka ia ingin memanfaatkan keadaan itu sebaik-baiknya. Sebagai seorang yang berilmu tinggi dan mempunyai ketajaman panggraita, maka Ki Pandi mampu beringsut dari balik gerumbul perdu yang satu ke balik gerumpul perdu yang lain, sehingga akhirnya Ki Pandi itu hilang ke dalam hutan.

Dan dalam hutan itulah Ki Pandi ingin melihat, apa yang ada di balik dinding yang cukup tinggi yang dibuat dari bambu yang berjajar rapat.

Dalam pada itu, Manggada dan Laksana telah dibawa masuk ke dalam lingkungan barak itu. Di regol dua orang penjaga berdiri di sebelah menyebelah dengan tombak di tangan.

“Inikah anak-anak muda yang harus kau ambil?” bertanya seorang penjaga.

Orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itulah yang menjawab, “Ya. Seorang lagi lepas dari tangan kami”

“Kenapa dapat terjadi?” bertanya penjaga.

Orang yang membawa Manggada dan Laksana itu merasa tidak perlu menjawab. Karena itu, maka merekapun, berjalan terus menuju ke bangunan induk sarang Wira Sabet dan Sura Gentong itu. Sekali-sekali mereka didorong ke arah yang benar, karena keduanya masih saja ditutup matanya.

Manggada dan Laksana hampir jatuh terjerumus ketika kaki mereka terantuk tangga ketika mereka sampai di bagian depan bangunan induk barak itu yang cukup luas dan terbuka, yang dianggapnya sebagai pendapa.

Tetapi seorang yang menggiring mereka cepat menangkap tengkuk Manggada dan sekaligus Laksana. Dengan kasar orang itu membentak, “Naik tangga itu, anak-anak dungu.”

Manggada dan Laksanapun kemudian melangkah dengan hati-hati, naik tangga pendapa yang rendah itu.

“Hanya tiga anak tangga” desis Laksana.

Orang-orang yang menggiringnya itupun kemudian mendorong Manggada dan Laksana sambil membentak, “Duduk”

Manggadi dan Laksana masih belum merasa berada di atas tikar. Karena itu, mereka agak ragu-ragu untuk duduk.

Tetapi orang-orang yang menggiringnya itu telah mendorong mereka, sehingga Manggada telah terjatuh, sementara Laksana terhuyung-huyung beberapa langkah.

“Duduk” bentak orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan.

Sekali lagi Manggada dan Laksana merasa tengkuknya ditangkap dan kemudian ditekan untuk duduk di atas lantai tanah yang tidak dilambari sehelai tikar.

Namun tiba-tiba saja mereka mendengar seseorang berkata, “Jangan terlalu kasar terhadap orang yang sudah tidak berdaya”

Manggada dan Laksana termangu-mangu mendengar peringatan itu. Apakah itu satu kebaikan baginya atau justru satu penghinaan, bahwa keduanya sama sekali sudah tidak berdaya.

Namun kemudian terdengar suara itu lagi, “Kau hanya membawa dua di antara ketiga orang anak muda itu?”

“Yang seorang berhasil melarikan diri. Ketika anak itu melihat kami, maka ia langsung melarikan kudanya, sehingga kami tidak dapat mengejarnya. Sementara kedua orang anak muda ini tidak sempat melakukannya. Keduanya justru meloncat turun dan berusaha untuk melawan. Sementara kuda-kuda mereka juga lari dengan cepat menjauh”

“Paman Sura Gentong menghendaki ketiga-tiganya. Tetapi untuk sementara dua orang ini sudah cukup”

Manggada dan Laksana yang mendengar pembicaraan itu cepat menduga, bahwa orang yang berbicara itu adalah Pideksa.

Dalam pada itu. maka Pideksa itu pun kemudian memerintah-kan agar tutup mata kedua anak muda itu dibuka.

Demikian tutup mala itu dibuka, maka Manggada dan laksana melihat sebagaimana mereka duga, Pideksa berdiri beberapa langkah di hadapan mereka.

“Maaf Manggada” berkata Pideksa, “kami terpaksa mengundang kalian berdua untuk datang ke sarang kami”

“Apa maksudmu menangkap kami berdua, Pideksa?” bertanya Manggada.

“Kalian berdua, bertiga dengan Sampurna, merupakan orang-orang yang berbahaya di padukuhan Gemawang” jawab Pideksa.

“Kenapa?” bertanya Manggada.

“Kalian telah melakukan tindakan-tindakan yang menunjukkan bahwa kalian tidak menjadi ketakutan terhadap ayah dan paman Sura Gentong. Kalian telah menghasut orang-orang padukuhan Gemawang untuk tidak takut kepada kami” berkata Pideksa.

“Jadi maksudmu, kami, orang-orang Gemawang harus menjadi takut dan kemudian tunduk kepada kalian?” bertanya Manggada.

“Ya” jawab Pideksa, “kami tidak mempunyai pilihan lain”

Pembicaraan itu terhenti. Mereka melihat dua orang yang berjalan menuju kependapa yang bahannya semuanya dari bambu itu. Dari bambu petung yang besar dibuat untuk tiang-tiangnya. Bambu wulung dan bahkan bambu apus sebagai kerangka atapnya.

Namun bagaimanapun juga Manggada dan Laksana menjadi berdebar-debar. Kedua orang itu dapat melakukan hal-hal yang tidak terduga sebelumnya.

Demikian mereka naik ke pendapa, maka seorang di antaranya, Sura Gentong sendiri, bertanya lantang, “Mana yang seorang lagi?”

“Yang seorang berhasil melarikan diri Ki Sura” jawab orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu agak takut.

Namun Pideksa segera menyahut, “Sampurna memang seorang penakut sejak kanak-kanak. Ketika mereka melihat ketiga orang yang mencarinya, maka Sampurna segera melarikan kudanya meninggalkan kedua orang kawannya”

“Jadi apa artinya kesombongannya selama ini?”

“Anak itu dapat diabaikan tanpa Manggada dan Laksana”

“Seharusnya tikus itu harus kau tangkap juga” geram Sura Gentong.

“Tetapi kami mendapat perintah untuk tidak menangkap mereka di rumah mereka” jawab seorang di antara ketiga orang yang membawa Manggada dan Laksana itu.

“Untuk sementara kita memang masih membatasi diri“ yang menyahut adalah Wira Sabet.

Namun Sura Gentong itu menggeram, “Sebenarnya kita harus sudah bertindak sesuai dengan rencana”

“Bukankah Ki Sapa Aruh juga minta agar kita mematangkan keadaan lebih dahulu?” sahut Wira Sabet.

Sura Gentong tidak menjawab. Namun kemudian ia berpaling kepada Manggada dan Laksana, “Kau ingat apa yang aku katakan kepada kalian di halaman rumah kakang Wira Sabet?”

Manggada dan Laksana menjadi semakin berdebar-debar.

Namun kemudian Sura Gentong itu bertanya kepada ketiga orang yang membawa kedua orang anak muda itu, “He, tidak kau tutup matanya ketika mereka kau bawa kemari?”

Yang menjawab adalah Pideksa, “Akulah yang membukanya. Baru saja”

Sura Gentong itu mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia pun berkata kepada Manggada dan Laksana, “Ada dua pilihan bagi kalian. Kalian tetap berada disini, atau kalian ingin pulang tetapi dengan mata yang buta”

Manggada dan Laksana tidak segera menjawab, sehingga Sura Gentong membentaknya keras-keras ”Jawab”

Manggada dan Laksana terkejut. Tetapi keduanya masih tetap berdiam diri.

Ternyata Sura Gentong memang seorang yang sangat kasar. Tiba-tiba kakinya melayang menghantam lengan Manggada.

Manggada terpelanting. Ia bukan saja jatuh terlentang. Tetapi Manggada berguling dilantai yang tidak beralas itu. Bahkan kemudian ia nampak menjadi sangat kesakitan. Mulutnya menyeringai sementara ia menggeliat sambil memegangi lengannya dengan tangannya yang lain.

“Anak iblis” geram Sura Gentong. Sementara Laksana menjadi sangat tegang. Tetapi Laksana masih dapat mengekang dirinya, sehingga ia tidak berbuat sesuatu.

Sura Gentong ternyata masih saja berteriak, ”jawab.Kau belum menjawab”

“Kami tidak ingin menjadi buta paman” jawab Manggada sambil menyeringai kesakitan.

Tetapi Sura Gentong menjadi semakin marah. Bahkan ia berteriak, “Dengar pertanyaanku. Apakah kau memilih tinggal disini atau memilih kami lemparkan kembali ke padukuhanmu tetapi dengan mata yang buta?”

Manggada terpaksa menjawab, “Aku memilih tinggal disini, paman”

“Duduk” perintah Sura Gentong lantang. Sementara itu, ia pun berpaling kepada Laksana, “Bagaimana dengan kau?”

“Aku juga memilih tinggal disini” jawab Laksana.

“Ternyata kesombongan kalian sama sekali tidak berarti apa-apa. Kau kelilingi padukuhan Gemawang dengan naik kuda, berderap seperti seorang senapati perang. Kau hasut orang-orang Gemawang untuk tidak takut menghadapi kami. Kau kira kami dapat membiarkan orang-orang yang menentang kami?”

Laksana menundukkan wajahnya. Sementara Manggada telah duduk lagi di sebelahnya.

Tetapi dengan kasar Sura Gentong melemparkan ikat kepala dan menarik rambut Laksana sambil berkata, “Apakah kau masih akan menghasut orang-orang Gemawang menentang kami?”

“Tidak” jawab Laksana cepat-cepat.

Sura Gentong mengguncang kepala Laksana keras-keras sambil berkata, “Seharusnya kau tengadahkan wajahmu sebagaimana saat kau berada di punggung kuda berlari-lari mengelilingi padukuhan Gemawang”

Laksana masih tetap berdiam diri meskipun rambutnya masih digoncang-goncang oleh Sura Gentong. Namun akhirnya Sura Gentong melepaskan rambut Laksana, tetapi dengan kerasnya ia menampar kening anak muda itu.

Laksanalah yang kemudian berguling-guling kesakitan beberapa saat.

Ketiga orang yang membawa kedua orang anak muda itu menjadi tegang. Mereka sudah terbiasa menyaksikan orang-orang yang mengalami perlakuan kasar. Bahkan lebih dari yang dialami oleh kedua orang anak muda itu. Namun saat itu jantung mereka terasa berdentang semakin cepat.

Pideksa pun berdiri termangu-mangu. sementara Wira Sabet memandang anak-anak muda itu dengan wajah yang tegang.

Dalam pada itu Sura Gentong itupun berkata, “Kalian berdua sudah terlanjur melihat tempat tinggal kami. Karena itu, sebelum segala sesuatunya selesai, kalian tidak akan dapat keluar dari tempat ini, kecuali jika mata kalian telah menjadi buta. kalian berdua akan menjadi budak disini. Melakukan segala pekerjaan kasar yang tidak pantas dilakukan oleh orang lain”

Manggada dan Laksana tidak menjawab sama sekali. Dalam keadaan yang demikian mereka tidak akan mendapat kesempatan untuk berbicara apapun juga. Karena itu, mereka harus menunggu satu kesempatan untuk berbicara tentang hubungan antara orang-orang itu dengan padukuhan Gemawang.

Dalam pada itu, Pideksa pun yang kemudian berkala, “Serahkan anak-anak gila itu kepadaku, paman”

“Kau urus mereka” geram Sura Gentong.

Sementara itu, Wira Sabet pun berbicara pula kepada ketiga orang yang membawa kedua orang anak muda itu, “Serahkan mereka kepada Watang yang akan menyimpan mereka”

“Nanti aku akan berbicara dengan mereka” geram Sura Gentong.

Ketiga orang itu pun kemudian membawa kedua orang anak muda itu kepada orang yang ternama Watang. Seorang yang mendapat kepercayaan Wira Sabet dan Sura Gentong menahan orang-orang yang dianggapnya berbahaya. Bahkan dari lingkungan mereka sendiri.

Tetapi Wira Sabet masih berkata selanjutnya, “Pideksa. Temui Watang. katakan kepadanya tentang kedua anak muda itu”

Pideksa tanggap akan pesan ayahnya. Karena itu, maka ia pun ikut pula bersama ketiga orang yang akan menyerahkan Manggada dan Laksana.

“Ambil ikat kepalamu” berkata Pideksa kepada Laksana.

Laksana pun kemudian mengambil ikat kepalanya dan dikenakannya asal saja melekat di kepalanya.

Diiringi oleh Pideksa dan ketiga orang yang membawanya ke tempat itu, maka Manggada dan Laksana telah di dihadapkan kepada orang yang bersama Watang. Seorang yang bertubuh tinggi besar dan sedikit gemuk Rambut di kepalanya tidak terlalu banyak, sementara ikat kepalanya yang botak itu tanpa menyembunyikan botaknya.

Wajah orang itu nampak bengis. Matanya yang dalam memancarkan nafas kebencian.

Ketiga orang yang membawa Manggada dan Laksana itu menjadi semakin berdebar-debar. Mereka mengenal Watang sebagai seorang yang tidak berjantung. Ia dapat berbuat apapun yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain.

Ketika mereka mendekati sebuah barak yang kokoh di tengah-tengah lingkungan sarang Wira Sabet dan Sura Gentong itu, Pideksa berkata kepada ketiga orang yang membawa Manggada dan Laksana, “Beristirahatlah. Kalian telah berhasil menjalankan tugas kalian, meskipun tidak sempurna”

Ketiga orng itu nampak ragu-ragu. Mereka memandangi Manggada dan Laksana sesaat dengan tatapan mata yang lain.

Namun mereka pun kemudian meninggalkan Manggada dan Laksana yang digiring langsung oleh Pideksa.

Watang yang melihat Pideksa membawa dua orang anak muda telah menyongsongnya. Dengan suara yang berakitan, bergetar, orang yang bertubuh tinggi besar dan berwajah garang itu bertanya, “inikah anak-anak muda Gemawang yang berkeliaran di atas punggung kudanya itu? Bukankah semuanya ada tiga?”

“Ya” jawab Pideksa, “yang seorang masih luput, ia sempat melarikan diri”

“Jika demikian, biarlah dosanya ditanggung oleh kedua orang kawannya itu”

“Maksudmu?” bertanya Pideksa.

“Jika seharusnya yang dipatahkan satu tangannya, maka untuk menanggung dosa kawannya, maka yang akan aku patahkan adalah dua buah tangannya”

“Itukah mimpimu siang dan malam?” bertanya Pideksa.

“Bukankah itu tugasku disini?” Watang justru bertanya.

“Tetapi dua orang anak muda itu adalah bagianku. Kau tidak boleh mengusiknya. Aku sendiri yang akan menghukum mereka. Ingat. Kau tidak boleh mengusiknya, atau kau sendiri juga akan mengalami perlakuan kasar dari aku atau ayah atau paman Sura Gentong”

Watang mengerutkan dahinya. Sementara Pideksa berkata, “Aku ingin satu permainan yang utuh dengan kedua orang anak muda itu. Nah, kau tahu maksudku?”

Watang mengangguk sampai tersenyum, “Aku mengerti anak muda itu”

“Nah, jika demikian jangan kecewakan aku” berkata Pideksa kemudian.

Watang mengangguk-angguk. Sementara itu Pideksa berkata ”Simpan anak itu baik-baik”

“Baik, anak muda” jawab Watang kemudian.

Tiba-tiba saja kedua tangan Watang itu menyambar baju Manggada dan Laksana diarah tengkuknya. Didorongnya kedua anak muda itu ke pintu sebuah bilik tahanan yang kuat. Kemudian dengan kakinya, Watang mendorong Manggada dan kemudian Laksana masuk ke dalam bilik itu.

Dorongan yang kemudian membuat kedua orang anak muda itu terhuyung-huyung. Namun Manggada kemudian telah jatuh tertelungkup di dalam biliknya.

Sementara itu Pideksa berkata, “Jangan kurangi hakku, mengerti. Aku tidak mau kecewa”

Watang tidak menjawab. Tetapi iapun kemudian menutup pintu dari luar dan kemudian menyelaraknya.

Sejenak kemudian Pideksa pun lelah meninggalkan bilik tahanan itu dan melangkah kenib di ke pendapa.

Adalah di luar kesadaran mereka, bahwa dari sebatang pohon yang tinggi, di dalam hutan yang terletak di sebelah lingkungan tempat tinggal Wira Sabet dan Sura Gentong itu, Ki Pandi sempat melihat kemana Manggada dan Laksana itu digiring dan disimpan. Meskipun Ki Pandi tidak tahu apa yang terjadi seluruhnya, namun setidak-tidaknya ia sudah mengetahui satu di antara bangunan yang ada di lingkungan dinding bambu yang terhitung tinggi itu, sebagai tempat untuk menahan Manggada dan Laksana.

Tetapi Ki Pandi tidak dapat berbuat apa-apa, ia tahu bahwa di tempat itu banyak terdapat para pengikut. Wira Sabet dan Sura Gentong dengan beberapa orang saudara seperguruannya. Bahkan mungkin orang yang bernama Ki Sapa Aruh itu juga tinggal di tempat itu pula.

Sementara itu, Manggada dan Laksana yang berada di dalam bilik yang tertutup rapat itu, duduk sambil mengusap pakaiannya yang kotor. Dengan nada dalam Manggada berkata, “Aku harus mengotori pakaianku dengan beberapa kali berguling-guling dilantai dan bahkan di tanah”

“Salahmu” desis Laksana, “kenapa kau harus jatuh dan berguling-guling, sehingga aku harus menirukannya juga”

Manggada tersenyum. Katanya, “Bukankah permainanku meyakinkan mereka”

”Tanpa setiap kali bergulingpun kita akan dapat meyakinkan mereka” sahut laksana.

Manggada tertawa tertahan. Katanya, “Sudahlah. Kita mempunyai gaya permainan tersendiri”

Laksana mengangguk-angguk. Namun kemudian ia bertanya, “Bagaimana tanggapanmu tentang sikap Pideksa?”

“Aku tidak berprasangka buruk. Bagaimanapun juga, di masa kecil, kami adalah kawan bermain. Aku tidak bermusuhan dengan Pideksa di masa kecilku” jawab Manggada.

“Mudah-mudahan. Akupun berpikir demikian. Tetapi dugaan kita dapat salah” jawab Laksana.

Tetapi untuk sementara kedua orang anak muda itu berkesimpulan bahwa Pideksa masih berusaha untuk mengekang perlakuan yang sangat buruk terhadap mereka.

Dalam pada itu, yang justru menjadi gelisah adalah ketiga orang yang telah membawa Manggada dan Laksana ke barak itu. Perasaan yang belum pernah singgah dihatinya telah membuat mereka tidak mengerti tentang diri mereka sendiri.

Bahkan mereka bertiga sempat berbicara tentang nasib kedua orang anak muda itu.

“Aku tidak tahu, apa jadinya kedua orang anak yang aneh itu” berkata orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu.

“Sikapnya tidak masuk akal bagiku. Atau barangkali mereka memang anak-anak muda yang sombong” jawab kawannya.

“Mungkin” sahut yang lain ”sombong dan tidak mengerti apa yang dapat terjadi atas diri mereka jika mereka berada di tangan Ki Wira Sabet dan Ki Sura Gentong. Apalagi Watang yang gila itu dapat berbuat apa saja yang tidak pernah kita bayangkan sekalipun”

“Anak-anak itu memang gila. Tetapi kegilaannya telah membuat jantungku berdebaran terus. Aku tiba-tiba merasa berhutang kepada mereka” berkata orang yang bertubuh tinggi itu.

Dua orang kawannya yang berjalan mendekati mereka, melihat wajah-wajah yang nampak kusut itu. Seorang di antara mereka bertanya, “Kenapa kalian nampak murung?”

Yang bertubuh tinggi itulah yang menjawab, ”Kemungkinan buruk dapat terjadi atas kita”

“Kenapa?” bertanya kawannya itu.

“Kami gagal menangkap ketiga orang anak muda berkuda itu. Kami hanya dapat menangkap dua orang” jawab orang yang bertubuh tinggi itu.

“Itu lebih baik daripada tidak sama sekali” desis orang itu sambil melangkah pergi.

Orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu menarik nafas panjang. Di luar sadarnya ia berkata, “Anak-anak muda itu mempunyai ilmu yang sangat tinggi. Seorang saja di antara mereka dapat mengalahkan kita bertiga. Apakah dengan ilmunya yang tinggi itu, ia ingin menjajagi isi barak ini”

“Mungkin. Tetapi jika keduanya membentur Ki Wira Sabet dan Ki Sura Gentong, maka keduanya akan mengalami nasib buruk. Apalagi Ki Sapa Aruh” sahut yang lain.

Orang yang bertubuh tinggi itu mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian, “Terserahlah, apa yang akan terjadi. Aku tidak mau menjadi gila karenanya. Jika terjadi sesuatu atas anak-anak itu, tentu bukan salah kami. Mereka sendiri yang justru memaksa kami membawanya kemari. Sebaliknya, jika anak-anak itu membuat keonaran disini, juga bukan salah kami. Ki Wira Sabet dan Ki Sura Gentong menghendaki mereka dibawa kemari”

“Ya” sahut kawannya, “kita tidak bersalah terhadap siapapun. Kita melakukan apa yang mereka kehendaki. Baik Ki Wira Sabet dan Ki Sura Gentong, maupun Manggada dan Laksana itu”

Ketiganya mengangguk-angguk. Meskipun demikian, rasa-rasanya ada beban yang tidak dapat mereka letakkan.

Sementara itu, Manggada dan Laksana sudah berbaring di dalam bilik tahanannya. Mereka masih belum tahu apa yang dapat terjadi atas diri mereka. Namun ternyata ada juga sedikit kecemasan di hati mereka setelah mereka benar-benar berada di sarang Wira Sabet dan Sura Gentong.

Ketika hari mendekati senja, maka Manggada dan Laksana menjadi berdebar-debar ketika selarak pintu dibuka. Watang yang bertubuh tinggi besar dan agak gemuk itu berdiri di muka pintu dengan wajah yang membuat jantung kedua anak muda itu berdeba-debar.

Tanpa mengucapkan sepatah katapun. Watang melangkah masuk. Dicengkamnya baju Manggada dan Laksana. Kemudian dengan serta merta keduanya dilemparkan keluar bilik tahanan itu.

Keduanya terhuyung-huyung beberapa langkah. Laksana sempat berpegangan sebatang pohon yang hampir saja membentur tubuhnya. Namun Manggada telah jatuh terguling di tanah.

Ketika Manggada berusaha dengan susah payah bangkit. Laksana berbalik, terjatuh lagi

“Sst“ Manggada berdesis.

Mereka terdiam ketika Pideksa melangkah mendekati mereka sambil berkata, “Ayah dan paman Sura Gentong ingin berbicara dengan kalian”

Manggada dan Laksana menjadi gelisah juga. Tetapi agaknya kesempatan itulah yang mereka tunggu.

Demikianlah, maka Pideksa pun telah membawa Manggada dan Laksana ke pendapa bangunan induk sarang Wira Sabet dan Sura Gentong itu.

Di pendapa itu, Wira Sabet dan Sura Gentong telah menunggu. Mereka duduk di atas tikar yang dibentangkan di pendapa itu. Tetapi tikar itu tidak cukup luas apabila Manggada dan Laksana ikut duduk bersama mereka.

Karena itu, maka ketika Sura Gentong memerintahkan keduanya untuk duduk, Manggada dan Laksana telah duduk di atas lantai tanpa lambaran tikar sama sekali.

Dengan wajah yang tetap garang. Sura Gentong pun bertanya, “He, kenapa kau telah melakukan satu perbuatan gila dengan berkuda berkeliling padukuhan?”

Manggada termangu-mangu sejenak. Pertanyaan seperti itu memang sudah diduganya. Meskipun demikian Manggada harus menjawabnya dengan sangat berhati-hati.

“Paman” berkata Manggada kemudian, “sebenarnyalah aku ingin melihat padukuhan kami hidup lagi seperti keadaannya sehari-hari. Dalam keadaan yang tidak sewajarnya itu, maka orang-orang padukuhan tidak dapat melakukan pekerjaan mereka dengan baik. Sawah tidak terpelihara sebagaimana seharusnya, parit-parit yang kering tidak sempat diairi karena bendungan yang pecah. Jalan-jalan yang rusak dan bahkan perempuan-perempuan tidak sempat pergi ke pasar”

“Jadi kau ingin menjadi pahlawan, ya. Kau ingin menentang kami disini?”

“Sama sekali tidak. Yang kami lakukan sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong. Kami hanya ingin orang-orang Gemawang bekerja seperti biasa. Tanpa rasa takut, karena persoalan antara para bebahu Gemawang dengan paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong akan diselesaikan oleh mereka, sehingga orang-orang Gemawang tidak usah turut campur”

“Tidak” jawab Sura Gentong, “kami memang menginginkan mereka menjadi ketakutan. Kami menginginkan agar mereka mendapat kesan, bahwa bebahu yang sekarang memegang pimpinan di padukuhan itu tidak mampu melindungi mereka”

“Kami tidak mengetahuinya, paman”

“Bohong Kau kira kau dapat membohongi kami? Kau ingat apa yang kau katakan di halaman rumah kakang Wira Sabet? Kau ingat bagaimana kau mencobai untuk membujuk kami agar kami bersedia berbicara dengan Ki Jagabaya. Kata-katamu sudah saling bertentangan. Karena itu. aku dapat mengambil kesimpulan bahwa kau memang bermaksud buruk dengan kelakuanmu bertiga itu”

“Sebenarnya keinginan itu masih tetap ada di kepalaku, paman. Kami tentu akan merasa berbahagia jika paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong bersedia untuk berbicara”

Tiba-tiba saja Sura Gentong itu bangkit dan melangkah mendekati Manggada.

“Bukankah aku sudah memberikan syarat untuk membuka pembicaraan? Apakah Ki Jagabaya menyetujui syarat itu?”

“Paman” berkata Manggada, “bagaimana jika syarat itu paman katakan langsung kepada Ki Jagabaya dalam sebuah perundingan? Sebenarnya yang terpenting orang-orang padukuhan adalah satu penyelesaian yang tuntas, itu saja”

Tiba-tiba saja Manggada terkejut. Kaki sura Gentong itu telah berada di atas pundaknya. Katanya, “Kau tidak berhak, mengatakan sepatah katapun tentang usaha penyelesaian dalam persoalan Gemawang. Aku sudah mempunyai rencana yang lengkap. Rencana itu akan aku sampaikan kepada Ki Bekel dan para bebahu. Tidak ada perundingan. Persoalan akhir adalah, mereka menerima atau tidak. Jika mereka menerima, maka Gemawang akan segera pulih kembali. Jika tidak, maka terpaksa akan terjadi kekerasan”

Manggada menunduk. Pundaknya mulai terasa sakit. Sementara Sura Gentong berkata, “Rencana penyelesaianku tetap sebagaimana aku katakan kepadamu di halaman rumah paman Wira Sabet. Tetapi sekarang aku sudah menyusunnya menjadi satu kesatuan pengertian yang terperinci dan dimuat pada sebuah surat yang memang agak panjang. Itu saja”

“Apakah paman menghendaki aku membawa surat itu?”

“Persetan kau“ kaki Sura Gentong telah mendorong pundak Manggada sehingga Manggada jatuh terlentang. Mulutnya menyeringai menahan sakit

“Duduk” bentak Sura Gentong, “sudah aku katakan, karena kau telah melihat tempat ini, maka kau akan menjadi budak disini sampai tercapai satu penyelesaian yang tuntas. Tergantung dari penyelesaian itu, apakah kau akan dapat melihat ayah dan ibumu lagi atau tidak”

Manggada pun kemudian berusaha untuk duduk. Sementara itu, Sura Gentong telah mendekati Laksana sambil berkata, “He, kau orang asing. Kenapa kau ikut campur dalam persoalan padukuhan Gemawang”

“Aku hanya ikut-ikutan paman” jawab Laksana, “aku adalah adik sepupu kakang Manggada”

“Aku sudah tahu“ tangan Sura Gentongpun telah menampar wajah Laksana sehingga wajah Laksana itu terputar menyamping. Yang terdengar kemudian adalah desah kesakitan, sementara kedua tangannya memegangi mulutnya yang kesakitan

Yang kemudian juga bangkit adalah Wira Sabet. Dengan kerut di dahinya Wira Sabet itupun bertanya, “Apakah yang sudah dilakukan oleh Ki Jagabaya selama ini?”

Manggada lah yang menjawab, “Ki Jagabaya tidak melakukan apa-apa, paman”

“Apakah ia mempersiapkan sekelompok orang untuk membantunya mempertahankan kedudukannya?”

“Sepengetahuanku tidak. Tidak ada orang yang akan berani melakukannya, seandainya Ki Jagabaya menghendakinya” jawab Manggada.

“Jadi, kenapa menurut pendapatmu, bahwa Ki Jagabaya berani menentang keinginan kami?” bertanya Wira Sabet pula.

“Aku tidak tahu paman. Tetapi menurut kata orang, Ki Jagabaya itu terlalu setia kepada kewajibannya, sehingga ia tidak memikirkan akibat yang dapat terjadi atas dirinya”

Namun tiba-tiba saja Sura Gentong itupun bertanya pula, “He, apakah ayahmu juga berani menentang aku?”

“Tidak, paman. Ayah masih seperti dahulu. Ia tidak banyak menyangkutkan diri dengan persoalan di sekitarnya. Ayah lebih baik diam dan demikian pula dalam persoalan sekarang ini.

“Tetapi kenapa kau menjadi ribut bersama anak Jagabaya itu sehingga setiap hari kalian selalu bersama-sama dengan Sampurna berkuda di sepanjang jalan padukuhan? Apakah dengan demikian Sampurna mencari pendukung untuk mempertahankan kedudukan ayahnya yang sudah goncang itu?”

“Tidak. Sampurna melakukan sebagaimana kami lakukan” jawab Manggada.

Namun tiba-tiba saja kaki Sura Gentong telah hinggap pula di tengkuk Manggada, “Kau jangan mencoba melindungi anak Jagabaya itu. Atau karena kau sadari bahwa apa yang dilakukannya menyangkut kalian berdua juga?”

“Tidak paman. Aku berkata sebenarnya” jawab Manggada.

Tetapi kaki Sura Gentong itu menekan Manggada semakin keras, sehingga kepala Manggada semakin menunduk hampir menyentuh lantai. Sementara kakinya masih tetap bersilang, sedangkan tangannya berusaha menyangga tubuhnya.

Tetapi Wira Sabet itupun kemudian bertanya kepadanya, “Manggada. Apakah Ki Jagabaya pernah mengatakan sesuatu kepadamu dalam hubungannya dengan kami?”

“Seperti yang pernah kami katakan kepada paman“ Manggada berhenti sejenak, sementara ia masih saja membungkuk karena kaki Sura Gentong masih menekan tengkuknya.

“Aku ingin mendengar jawabannya” berkata Wira Sabet kepada Sura Gentong.

Sura Gentong menggeram. Tetapi ia mengangkat kakinya dan memberikan Manggada mengangkat kepalanya pula.

“Jawab pertanyaanku dengan jelas” desis Wira Sabet.

“Seperti yang pernah kami katakan kepada paman di halaman rumah paman itu” jawab Manggada.

“Satu hal yang tidak mungkin” berkata Wira Sabet, “selanjutnya tidak akan ada orang yang dapat mempengaruhi sikap kami terhadap padukuhan Gemawang. Apalagi setelah kau berdua ada disini. Seperti yang dikatakan oleh pamanmu Sura Gentong, maka kau akan menjadi budak disini”

Manggada tidak menjawab lagi. Sementara itu Wira Sabet pun berkata, “Kau akan berada dibawah perintah Pideksa langsung. Kau harus menurut perintahnya. Jika kau dan adik sepupumu itu berani menolak perintahnya, maka kau akan menyesal. Ingat, kau berada di lingkungan kuasa kami”

Manggada dan Laksana tidak menjawab. Tetapi kepala mereka menunduk dalam-dalam.

“Pideksa” berkata Wira Sabet, “bawa anak-anak ini melihat-lihat apa saja yang harus mereka lakukan mulai besok.”

“Baik, ayah” jawab Pideksa.

Ternyata Sura Gentong tidak menahannya ketika Pideksa kemudian berkata, “Marilah, ikuti aku”

Manggada dan Laksana tidak menjawab. Ia pun kemudian mengikuti Pideksa keluar dari pendapa. Dua orang pengawal yang mendapat tugas untuk mengikuti Pideksa yang membawa kedua orang tawanan melangkah di belakang mereka dengan tombak pendek di tangan.

Manggada dan Laksana kemudian berjalan di belakang Pideksa menuju ke bagian belakang barak itu. Barak yang dihuni oleh Wira Sabet dan Sura Gentong serta beberapa orang saudara seperguruannya. Meskipun secara khusus orang-orang yang disebut saudara seperguruan Wira Sabet dan Sura Gentong itu tidak nampak menonjol di antara para pengikut yang ada di barak itu, namun Pideksa sempat berdesis kepada Manggada dan Laksana, “Ada empat orang saudara seperguruan ayah dan paman Sura Gentong disini. Yang duduk di sudut barak yang terpisah itu adalah satu di antaranya”

Manggada dan Laksana memandang orang itu dengan jantung yang berdebaran. Orang itu benar-benar nampak bengis sebagaimana orang yang bernama Watang. Meskipun tubuhnya tidak sebesar Watang. tetapi nampak bahwa orang itu adalah orang yang berilmu. Bukan sekedar orang yang mengandalkan kekuatan tenaganya saja, atau barangkali sedikit kemampuan dasar olah kanuragan.

Ketika di antara dua bangunan bambu mereka berpapasan dengan seorang yang bertubuh sedang dan bahkan berwajah tampan, maka Pideksa pun berkata, “Orang itu adalah salah satunya pula”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk kecil. Ternyata ujud orang itu jauh berbeda dengan ujud orang yang duduk di sudut barak yang terpisah itu.

Demikian orang itu berdiri beberapa langkah dari Pideksa, orang itu berhenti. Demikian pula Pideksa, sehingga Manggada, Laksana dan dua orang pengawal di belakang merekapun berhenti.

Ternyata orang yang berwajah tampan itu tersenyum. Dipandanginya Manggada dan Laksana dengan saksama. Kemudian orang itupun berkata, “inikah anak-anak yang diburu oleh ayahmu itu?”

“Ya, paman” jawab Pideksa.

“Apa sebenarnya kesalahan mereka?” bertanya orang berwajah tampan itu.

“Mereka yang dikatakan ayah dan paman Sura Gentong berkeliaran di padukuhan Gemawang di atas punggung kuda bertiga itu paman” jawab Pideksa.

Orang itu tertawa. Kepada Manggada dan Laksana ia bertanya, “He, apa sebenarnya yang kau lakukan dengan berkuda berkeliling padukuhan itu?”

Manggada dan Laksana masih melihat senyum di bibir orang itu. Dengan ragu-ragu Manggada menjawab, “Sudah kami katakan kepada paman Wira Sabet dan Sura Gentong pula, bahwa kami sekedar ingin melihat padukuhan Gemawang hidup kembali”

Orang itu tertawa pula. Katanya, “Ada yang menarik pada kalian berdua dan yang seharusnya bertiga. Kalian adalah anak-anak yang berani. Tetapi keberanian kalian telah melemparkan kalian ke dalam neraka ini”

Manggada dan Laksana tidak menjawab. Sementara orang itu bertanya kepada Pideksa, “Akan kau bawa kemana anak-anak itu, Pideksa?”

“Aku akan menunjukkan kepada mereka, apa yang harus mereka kerjakan disini”

“Apakah keduanya akan bergabung dengan budak-budak itu?” bertanya orang yang berwajah tampan itu.

“Ya” jawab Pideksa.

“Jika keduanya sering berkuda berkeliling padukuhannya, maka keduanya tentu dapat memelihara kuda. Nah, apakah kau pernah berpikir bahwa keduanya dapat diserahi untuk memelihara kuda-kuda yang ada di barak ini?”

Pideksa berpikir sejenak. Kemudian katanya, “Satu gagasan yang baik. Baik, paman. Mereka akan mendapat tugas khusus, memelihara kuda”

Orang itu mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Hanya ada satu kuda putih di barak ini. Kuda itu adalah kudaku. Hati-hati dengan kuda itu. Jika kalian melakukan kesalahan atas kuda putihku, maka tidak akan ada ampun lagi bagi kalian”

Manggada dan Laksana tidak menjawab. Sementara itu, orang itu meneruskan langkahnya sambil menepuk pundak Manggada, “Selamat bekerja anak-anak. Mudah-mudahan kalian kerasan tinggal disini”

Pideksa mengikuti langkah orang itu beberapa lama. Namun kemudian ia mengajak Manggada dan Laksana berjalan terus.

Namun Pideksa itu sempat berdesis, “Hati-hati dengan orang itu”

“Kenapa?” bertanya Manggada di luar sadarnya, “nampaknya ia orang baik”

“Ia adalah orang yang paling kejam di antara saudara seperguruan ayah. Mungkin pikiran dan perasaannya sejalan dengan paman Sura Gentong”

“Tetapi menilik ujud dan sikapnya” desis Laksana.

Pideksa tertawa pendek. Katanya, “Itulah yang sering menyesatkan anggapan orang atasnya”

Manggada dan Laksana menarik nafas dalam-dalam. Tetapi mereka tidak bertanya lagi.

Sementara itu, senja sudah turun. Lampu-lampu minyak telah menyala dimana-mana. Pideksa telah mengajak Manggada dan Laksana ke kandang kuda yang terletak agak di bagian belakang barak itu.

Laksana menjadi berdebar-debar. Ada beberapa ekor kuda yang ada di kandang itu. Jika berdua saja dengan Manggada mereka harus memelihara kuda itu, maka mereka benar-benar menjadi budak yang malang.

“Inilah kuda-kuda itu” berkata Pideksa, “kalian harus memelihara dengan baik. Ingat, kuda putih itu adalah kuda yang harus kalian perhatikan melampaui yang lain. Pemiliknya adalah seorang yang mempunyai perangai yang aneh”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sementara itu Pideksa telah memerintahkan salah seorang pengawalnya memanggil orang yang sebelumnya memelihara kuda itu.

Sejenak kemudian, orang itupun telah menghadap. Sambil terbungkuk-bungkuk ketakutan orang itu mendekati Pideksa.

“Aku membawa dua orang anak muda untuk menjadi kawan kerjamu disini. Kau sudah menjadi semakin tua. Tenagamu menjadi semakin lemah” berkata Pideksa.

Orang tua itu memandang Manggada dan Laksana sejenak. Namun kemudian orang itu mengangguk-angguk sambil berkata, “Terima kasih anak muda. Dengan demikian tugasku akan menjadi lebih ringan”

“Mulai besok, kalian berdua akan bekerja disini. Tetapi ingat, kalian berdua adalah tawanan kami. Kalian jangan mencoba dan berusaha untuk melarikan diri. Tidak ada jalan yang akan dapat kalian lalui. Jika kalian berusaha memanjat dinding, maka tentu ada seseorang yang melihat kalian, karena orang-orangku selalu mengawasi barak. Yang perlu kalian ketahui, setiap usaha untuk melarikan diri hanya akan berarti satu penderitaan panjang yang tidak berkeputusan” berkata Pideksa.

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sementara itu Pideksa itupun berkata, “Marilah. Malam ini kalian berdua masih harus tidur di bilik tahanan ini. Mungkin untuk beberapa malam berikutnya, sementara di siang hari kau bekerja disini.

Manggada dan Laksana tidak menjawab.

Ketika Pideksa akan mengajak Manggada dan Laksana kembali ke biliknya, maka mereka mendengar derap kaki kuda berlari ke arah mereka. Sejenak kemudian nampak dua orang berkuda melarikan kuda mereka menyusup di antara bangunan-bangunan yang ada di barak itu.

Demikian kedua orang itu meloncat turun, maka orang tua yang biasanya memelihara kuda itu tergesa-gesa mendekati mereka dan menerima kedua ekor kuda itu.

Kedua orang tertegun melihat Pideksa dan dua orang anak muda di dekat kandang itu.

“Siapakah mereka, Pideksa?” bertanya salah seorang dari mereka.

“Manggada dan Laksana, paman” jawab Pideksa.

“O“ yang seorang di antara mereka mengangguk-angguk sambil melangkah mendekati Manggada dan Laksana, “Jadi inilah anak-anak muda yang gagah berani itu?

 

0oO-dw-arema-Oo0

Bersambung ke jilid 5

Karya SH Mintardja

Seri Arya Manggada 3 – Sang Penerus

Sumber djvu : Ismoyo

Convert, editor & ebook oleh : Dewi KZ

Tiraikasih Website

http://kangzusi.com/ http://kang-zusi.info/

http://cerita-silat.co.cc/ http://dewi-kz.com/

kembali | lanjut

Satu Tanggapan

  1. Mohon Maaf,

    Mungkin karena kuota sudah semakin kecil, dan pembaca yang banyak maka proses posting ke halaman seperti biasanya sulit dilakukan.
    Oleh karena itu, karena janji upload naskah 3 hari sekali telah tiba, maka untuk sementara naskah AM_SKH-05kami letakkan di halaman depan.

    mohon maaf atas ketidak nyamanan ini.

    nuwun

    satpampelangi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s