AM_SKH-03


Serial ARYA MANGGADA

Episode IV: SEJUKNYA KAMPUNG HALAMAN

JILID 3

kembali | lanjut

AMSKH-03TIDAK” jawab Ki Jagabaya, “aku bertemu dengan Ki Resa di jalan ketika Ki Resadana sedang pergi ke rumahmu”

“Ke rumahku?” bertanya Manggada dengan heran.

“Ya. Ki Resadana ingin memberitahukan kepada ayahmu, bahwa kau baru saja mekakukan pekerjaan yang sangat berbahaya. Menurut Ki Resa, ia tidak sampai hati untuk tetap berdiam diri. Jika terjadi sesuatu atas kalian berdua, maka Ki Resadana akan ikut merasa bersalah”

Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Sambil mengangguk-angguk Manggada itupun berkata, “Ki Resa bermaksud baik. Tetapi paman Resadana tidak tahu maksudku yang sebenarnya meskipun aku sudah mengatakan. Aku berniat untuk menunjukkan kepada paman Wira Sabet bahwa ia bukan hantu di padukuhan ini”

Ki Jagabaya tersenyum. Katanya, “Ia akan mendapat penjelasan dari ayahmu”

Manggada mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab lagi.

Yang kemudian berbicara adalah Sampurna. Ia menyampaikan pendapat Wisesa untuk mencoba berbicara dengan Wira Sabet dan Sura Gentong.

Tetapi Ki Jagabaya berkata, “Tidak ada gunanya. Kita hanya akan membuang-buang waktu dan tenaga”

Namun Sampurna itupun berkata, “Manggada bersedia untuk melakukan pembicaraan pendahuluan ayah. Mungkin ada juga gunanya ayah menjajagi maksudnya”

“Bukankah sudah jelas bagi kita, dan mereka datang untuk membalas dendam? Mereka dengan telah sangat teratur menimbulkan ketakutan dan ketegangan pada padukuhan ini. Mereka mengancam orang-orang padukuahn dengan segala macam cara”

“Tetapi barangkali kedua orang itu akan dapat dihentikan dengan syarat tertentu. Mungkin mereka mengajukan syarat-syarat itu. Jika saja syarat itu masih wajar, bukankah kita akan dapat memenuhinya?”

Ki Jagabaya memandang Manggada dengan kerut di dahi. Namun kemudian ia bertanya, “Apakah kau ingin mencobanya?”

“Jika Ki Jagabaya setuju, kami akan mencoba berbicara. Tetapi hasilnya, kami tidak dapat mengatakannya”

Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Jika kau ingin mencobanya, tetapi berhati-hatilah. Bagaimanapun juga kedua orang itu adalah orang-orang yang berbahaya. Bertahun-tahun mereka mempersiapkan diri untuk melakukan balas dendam. Karena itu, agaknya memang sulit untuk mencairkan maksud mereka itu. tetapi agaknya segala cara memang dapat dicoba”

“Terima kasih atas kepercayaan Ki Jagabaya. Sebenarnya kami telah didorong untuk ikut membantu memecahkan persoalan-persoalan yang timbul sejauh dapat kami lakukan”

“Aku mengerti Manggada. Karena itu sejak semula aku menghargai kesediaanmu itu. Tentu saja segala sesuatunya tidak hanya tergantung kepada kalian berdua”

Dengan persetujuan Ki Jagabaya itu, maka Manggada dan Laksana kemudian harus mempersiapkan diri untuk melakukan tugas yang labih berat.

Beberapa saat kemudian, maka keduanya itu pun telah minta diri. Tantri dan Nyi Jagabaya telah datang pula ke serambi saat keduanya akan meninggalkan rumah itu.

“Berhati-hatilah ngger, “pesan Nyi Jagabaya.

“Ya Nyi. Kami akan berhati-hati” jawab Manggada.

Demikianlah, maka Manggada dan Laksana itu pun meninggalkan rumah Ki Jagabaya. Di jalan pulang mereka tidak banyak bertemu dengan penghuni padukuhannya. Satu dua orang nampak turun ke jalan dengan tergesa-gesa. Kemudian hilang di balik pintu-pintu regol halaman.

“Aku tidak pernah mendengar suara orang menumbuk padi“ berkata Laksana.

Manggada mengangguk. Katanya, “Ya. Aku tidak tahu bagaimana caranya mereka mendapatkan beras. Mungkin mereka juga menumbuk padi, tetapi di dalam rumah atau di dapur, sehingga suaranya dapat sedikit diredam agar tidak terdengar dari jalan ini”

Laksana mengangguk-angguk.

Namun keduanya berhenti ketika mereka melihat seekor burung gelatik yang kakinya terikat benang terbang melintasi dinding halaman dan turun ke jalan. Tiba-tiba saja seorang anak muncul dari balik pintu regol. Agaknya gelatik itu adalah milik anak itu yang terlepas saat diunda benang. Tetapi demikian anak itu melihat Manggada dan Laksana, maka serta merta anak itu kembali masuk ke halaman.

Manggada sempat menangkap burung yang tidak dapat terbang jauh itu. Kemudian mendorong pintu regol untuk menyerahkan gelatik itu pada pemiliknya. Namun ia tidak melihat seseorang di halaman itu lagi.

Karena itu, maka Manggada dan Laksanapun telah masuk pula ke halaman. Sambil mengetuk pinju rumah itu Manggada berkata, “Aku mengembalikan burung yang terlepas itu. Bukalah pintu rumahmu. Aku tidak apa-apa. Jangan takut”

Manggada dan Laksana mendengar anak itu merengek. Karena itu, ia mengulangi, “Ini gelatikmu adik kecil”

Pintu rumah itu akhirnya terbuka. Seorang laki-laki berdiri di muka pintu rumah itu.

Sejenak Manggada termangu-mangu. Namun kemudian sambil tersenyum ia berdesis, “Timbang. Bukankah kau Timbang yang rambutnya selalu dicukur dengan kuncung diubun-ubun?”

Orang itu memandang Manggada dengan tajamnya. Namun kemudian iapun tertawa pula sambil berkata, “Manggada. Kau tentu Manggada yang sudah sejak lama tidak nampak di padukuhan ini”

“Ya, aku Manggada. Dan ini adalah adik sepupuku, Laksana”

“Marilah, masuklah, “Timbang itu mempersilahkan. Demikianlah, maka kedua orang anak muda itu duduk di ruang depan rumah Timbang yang tidak terlalu besar. Namun rumah yang sederhana itu nampak terpelihara rapi. Sementara itu seorang anak berdiri termangu-mangu didepan pintu ruang dalam.

“Siapakah anak ini?” bertanya Manggada.

“Anakku” jawab Timbang.

“Anakmu? Jadi kau sudah mempunyai anak?”

Timbang tersenyum sambil berkata, “Ya. Aku kawin muda”

“Siapakah isterimu? Apakah juga anak padukuhan ini?” bertanya Manggada.

“Ya. Dari padukuhan ini. Tetapi tentu sudah bukan anak-anak lagi” jawab Timbang.

“Siapakah isterimu itu?” bertanya Manggada.

Wajah Timbang itu menjadi kemerah-merahan. Ia sudah menduga bahwa Manggada tentu akan mentertawakannya. Namun demikian, Timbang itupun kemudian menjawab, “Perti”

Sebenarnyalah Manggada tertawa. Katanya, “Aku sudah mengira. Isterimu itu tentu Perti. Sejak kecil kalian selalu berdua. Bahkan kadang-kadang memisahkan diri dari kelompok anak-anak yang sedang bermain”

Timbang juga tertawa. Sementara itu Manggada bertanya, “Dimana isterimu sekarang, he? Ia tentu tidak akan lupa kepadaku, meskipun sudah lama tidak bertemu”

Timbang memang agak ragu-ragu. Katanya, “Mungkin ia malu menemuimu”

“Kenapa? Jika ia tidak mau keluar, aku akan mencarinya ke dalam” berkata Manggada.

Timbang tertawa. Tetapi ia pun kemudian bangkit berdiri. Tetapi sebelum ia beranjak pergi, Manggada berkata, “Ini gelatik anakmu yang lepas dan terbang keluar halaman”.

Timbang tertegun. Namun kemudian ia berlutut di sebelah anaknya sambil berkata, “Nah, mendekatlah. Paman itu baik. Ia akan mengembalikan gelatikmu yang terlepas”

Anak itu memang ragu-ragu. Namun kemudian ia pun melangkah mendekati. Ia menerima burung gelatik yang masih terikat benang yang diberikan oleh Manggada. Namun ayahnya pun berkata, “Kau harus mengucapkan apa?”

Anak itu memandang wajah Manggada. Wajah itu memang nampak bening dan tidak menakutkan. Karena itu maka anak itu pun berkata, “Terima kasih, paman”

“Bagus“ sahut Manggada sambil menepuk pipi anak itu, “kau akan menjadi anak yang pandai”

Anak itupun kemudian segera berlari masuk ke ruang dalam. Sementara Manggada berkata, “Ia akan menjadi anak pandai. Berbeda dengan kau waktu kecil. Pemalu dan sedikit pemarah. Jika ada anak yang nakal terhadap Perti, kau langsung memukulnya, tidak peduli anak itu jauh lebih besar dari kau sendiri”

“Ah, tidak” jawab Timbang sambil memandangi Laksana yang tersenyum-senyum. Katanya kemudian kepada Laksana, “Kakak sepupumu ini termasuk anak yang paling suka berkelahi di masa kecilnya. Tetapi ia mempunyai kelebihan. Ia anak yang bandel. Jarang menangis meskipun ia menderita kesakitan yang sangat. Mungkin berkelahi, mungkin dilempar batu anak-anak nakal atau bahkan terjatuh dari pepohonan”

Laksana pun tertawa mendengarnya. Ia percaya akan ceritera itu. Manggada sampai dewasanya termasuk anak muda yang mempunyai daya tahan yang sangat tinggi. Pandai memanjat dan memiliki ketrampilan sebagai perkembangan kebiasaan berkelahi di masa kecilnya”

Tetapi Manggada itu sendiri berkata, “Aku bukan termasuk anak yang suka berkelahi. Hitung. Bukankah aku jarang sekali berkelahi?”

Timbangpun tertawa. Namun Manggada berkata pula, “Mana Perti itu? Atau aku yang mencarinya sampai kedapur?”

Timbang tidak dapat berbuat lain. Ia pun kemudian masuk ke ruang dalam rumahnya untuk memanggil isterinya.

Perti yang ada di dapur juga tidak dapat menolak ketika suaminya membimbingnya ke ruang depan rumahnya yang tidak besar itu. Kepada isterinya Timbang berkata, “Lebih baik kau kesana daripada Manggada melihat isi rumah dan dapur kita”

Perti memang menjadi tersipu-sipu. Tetapi ia pun kemudian muncul juga di ruang depan.

“Nah” berkata Manggada sambil bangkit berdiri, “tetapi aku yakin, bahwa yang ini bukan sekedar bermain-main”

Perti menunduk untuk mnyembunyikan wajahnya yang kemerah-merahan. Namun kemudian dengan suara lirih ia bertanya, “Kapan kau kembali Manggada?”

“Baru beberapa hari” jawab Manggada yang kemudian telah dipersilahkan untuk duduk kembali.

“Kemana kau selama ini?” bertanya Perti kemudian.

“Aku berada di rumah paman. Ini adik sepupuku, putra paman itu” jawab Manggada.

Perti menganggukkan kepalanya. Namun ia masih saja banyak menunduk.

Manggada lah yang kemudian bertanya, “Tetapi bukankah rumahmu dahulu tidak disini, Timbang?”

“Ya. Rumah orang tuaku ada di sebelah tikungan itu. Tetapi setelah kami berkeluarga, maka kami membuat gubug kecil ini di tanah milik kakek” jawab Timbang.

“Ternyata kalian telah pantas disebut ayah dan ibu” berkata Manggada kemudian.

“Kau pun sudah pantas” desis Perti.

Manggada tertawa. Sementara Timbang mengingat-ingat “Anak perempuan yang manakah yang di masa kecilmu selalu dekat denganmu di setiap permainan?”

“Aku dekat dengan semua kawan-kawanku, laki-laki atau perempuan” jawab Manggada.

Tetapi Perti itu berkata, “Kau sering berkelahi dengan Tantri waktu kau kecil”

Manggada tertawa. Katanya, “Ya, justru berkelahi”

Demikianlah, beberapa saat mereka sempat berbicara tentang masa kecil mereka. Namun kemudian Perti itu berkata, “Baiklah. Silahkan duduk. Aku akan pergi ke dapur. Mungkin kalian haus”

“Tidak. Terima kasih. Aku baru saja minum” jawab Manggada yang bahkan kemudian berkata, “Aku justru akan minta diri”

“Kau pergi kemana saja Manggada?” bertanya Timbang.

“Melihat-lihat keadaan padukuhan ini. Nampaknya terlalu sepi dan suasananya tidak menarik” jawab Manggada.

“Apakah kau sudah tahu sebabnya?” bertanya Timbang pula.

“Sudah. Aku sudah mengatahui sebabnya” jawab Manggada, “karena itu aku sedang mencari kawan-kawan bermain yang bersedia ikut memecahkan persoalan ini”

“Apa maksudmu?” bertanya Timbang.

“Kita harus mencegah suasana seperti ini berkepanjangan. Suasana padukuhan ini harus dikembalikan seperti sediakala. Tenang, tenteram, tetapi hidup dan beriak” jawab Manggada.

“Apakah kau belum tahu bahwa persoalannya mempunyai hubungan dengan dendam Wira Sabet dan Sura Gentong?” bertanya Timbang.

“Ya. Aku sudah tahu. Karena itu, kami berdua berniat untuk berbicara dengan Wira Sabet dan Sura Gentong untuk mendapatkan penyelesaian yang tuntas sehingga suasana yang tidak menentu ini tidak berkepanjangan. Bayangkan, bahwa sawah dan ladang tidak terpelihara dengan baik sekarang ini. Parit dan jalan-jalan tidak terawat karena semua orang berada dalam ketakutan. Jika keadaan seperti ini berlangsung lama, maka kesejahteraan penghuni padukuhan ini akan menjadi semakin lama semakin menurun. Hasil sawah akan susut dan pategalan bahkan tidak tergarap. Semua orang keluar dari rumahnya dengan tergesa-gesa karena mereka menghindari Wira Sabet dan Sura Gentong” berkata Manggada dengan sungguh-sungguh.

“Itu tugas para bebahu. Disini ada Ki Bekel, Ki Jagabaya dan bebahu yang lain. Biarlah mereka mencari penyelesaian. Kita tinggal menunggu” jawab Timbang.

Tetapi Manggada berkata sambil tertawa, “Kenapa kau tidak marah-marah kepada Wira Sabet dan Sura Gentong seperti masa kanak-kanakmu. Kau sama sekali tidak dapat tersinggung selembar benang pakaianmu. Kecuali oleh Perti”

“Ah” Timbang tersenyum.

Sementara itu Manggada berkata selanjutnya, “Sudahlah. Kami mohon diri. Jika untuk sementara kau masih belum ingin untuk melibatkan diri, berdoa sajalah bagi kami. Mudah-mudahan kami dapat menemukan jalan keluar dari persoalan ini”

Wajah Timbang menegang. Kemudian katanya, “Manggada. Untuk waktu yang lama kau meninggalkan padukuhan ini. Karena itu kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi disini. Karena itu, demi persahabatan kita sejak masa kanak-kanak, aku ingin memberikan peringatan kepadamu, bahwa sebaiknya kau urungkan saja niatmu untuk ikut mencampuri urusan ini”

Sebelum Manggada menjawab, Pertipun berkata, “Manggada. Tidak seorang pun yang berani berbuat sesuatu disini. Bahkan nampaknya Ki Bekelpun tidak”

“Baiklah” sahut Manggada, “aku akan memperhatikan pendapatmu. Terima kasih atas kebaikan hatimu, karena aku tahu, peringatan itu kau berikan karena kau masih tetap menganggap aku sahabatmu sebagaimana di masa kanak-kanak itu”

Demikianlah, maka Manggada dan Laksana pun segera minta diri. Dielusnya kapala anak Timbang itu sambil berkata, “Jangan kau lepaskan lagi burung gelatikmu, adik kecil”

Anak itu mengangguk, sementara Manggada berkata pula, “Paman minta diri, ya”

Anak itu mengangguk lagi.

Timbang dan Perti mengantar Manggada dan Laksana sampai ke pintu regol. Namun demikian keduanya turun ke jalan, maka Timbang pun segera menutup pintu regol itu. Tetapi tidak diselarak sebagaimana pintu-pintu regol halaman rumah yang lain.

Di sepanjang jalan pulang, Manggada dan Laksana masih saja memperbincangkan sikap orang-orang padukuhan itu. Tetapi keduanya tidak dapat mengingkari kenyataan, betapa penghuni padukuhan itu dicengkam oleh ketakutan.

Demikianlah, beberapa saat kemudian, Manggada dan Laksana telah sampai ke rumah. Demikian mereka masuk ke ruang dalam, maka Ki Kertasana pun memberi isyarat agar keduanya ikut duduk bersama di amben besar di ruang itu bersama Ki Citrabawa dan Ki Pandi.

Dengan nada datar Ki Kertasanapun berkata, “Baru saja Ki Resa pulang”

“Ki Resadana, maksud ayah?” bertanya Manggada.

“Ya. Ke Resa yang rumahnya di sebelah rumah Wira Sabet”

Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Manggada itupun bertanya, “Apa yang dikatakannya?”

“Aku tahu, ia bermaksud baik. Ia mencoba untuk memperingatkan kami, orang-orang tua ini. bahwa kau telah melakukan satu perbuatan yang tidak dapat dimengerti oleh Ki Resa bahkan orang-orang sepadukuhan”

“Ya. Ki Resa pun sudah langsung memperingatkan aku”

“Kau harus tahu. bahwa maksud Ki Resa itu baik” berkata Ki Kertasana kemudian.

“Ya. Kami mengerti. Lalu, apa yang ayah katakan kemudian kepadanya?” bertanya Manggada.

“Aku hanya dapat mengucapkan terima kasih dan berjanji untuk menyampaikan pesannya kepada kalian berdua” jawab Ki Kertasana.

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Namun kemudian Manggada pun telah menceriterakan kesediaannya untuk berbicara dengan Wira Sabet.

“Ki Jagabaya telah menyetujuinya” berkata Manggada.

Ki Kertasana menarik nafas panjang. Kamudian katanya, “Memang satu langkah yang berbahaya”

“Satu kemungkinan ayah” berkata Manggada, “jika kemungkinan ini gagal, maka agaknya tidak ada kemungkinan lain kecuali dengan kekerasan. Cara yang sebaiknya dihindari sejauh-jauhnya. Namun yang justru merupakan cara yang paling sering dipergunakan oleh banyak orang”

Ki Kertasana mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Jika kalian merasa mampu melakukannya. Namun orang-orang tua hanya dapat berpesan agar kalian sangat berhati-hati. Sesuatu yang tidak terduga mungkin akan terjadi”

“Baiklah ayah” jawab Manggada, “besok aku akan berusaha menemui paman Wira Sabet. Kami memang berharap bahwa yang dapat kami temui mula-mula adalah paman Wira Sabet. Bukan paman Sura Gentong”

Ki Kertasana memang sependapat. Katanya, “Agaknya Wira Sabet memang tidak segarang Sura Gentong. Apalagi kesalahan ini bermula dari tingkah laku Sura Gentong. Saat itu Wira Sabet hanya membela adiknya yang dalam keadaan terjepit. Tetapi ternyata ia sudah melukai Ki Jagabaya sehingga karena itu, maka ia telah menjadi buruan pula pada waktu itu. Namun setelah bertahun-tahun berlalu, maka keduanya kembali tidak lagi sebagai buruan, tetapi justru sebagai orang-orang yang sangat ditakuti”

“Tetapi bukankah belum pernah ada orang yang membuktikan atau menjajagi kemampuan mereka yang sebenarnya?” bertanya Laksana tiba-tiba.

“Nampaknya memang belum. Tetapi sikapnya, kawan-kawan yang dibawanya serta saudara-saudara seperguruannya telah meyakinkan orang-orang padukuhan ini, bahwa Wira Sabet dan Sura Gentong adalah orang-orang yang sangat ditakuti”

Manggada mengangguk-angguk. Sementara Laksana pun berkata, “Cara mereka menakuti-nakuti orang-orang padukuhan ini memang pantas mendapat pujian, paman”

Ki Kertasana tidak membantah. Namun satu kenyataan bahwa seluruh isi padukuhan itu menjadi ketakutan kecuali Ki Jagabaya dan anak laki-laki. Bahkan Nyi Jagabaya dan Tantri nampaknya juga tidak menjadi ketakutan. Meskipun membayang juga kecemasan. Ternyata anak laki-laki Ki Jagabaya itu selalu membawa keris meskipun ia sedang di rumah.

Demikianlah, maka Manggada dan Laksana sudah sepakat, di keesokan harinya, mereka akan berada di halaman rumah Wira Sabet lagi.

“Mudah-mudahan Wira Sabet melihat halaman rumahnya yang kotor itu” berkata Laksana.

Di malam hari, ketika Manggada dan Laksana duduk di serambi, Ki Pandi telah duduk pula bersama mereka. Ketiganya berbincang tentang kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi jika Wira Sabet dan Sura Gentong tidak dapat diajak berbicara

“Kita harus bersepakat dengan Ki Jagabaya. Jika terjadi sesuatu, maka baik pada keluarga Ki Jagabaya, maupun keluarga kita disini, masing-masing membunyikan tanda bahaya. Jika kekuatan kita dan kekuatan yang ada di rumah Ki Jagabaya bergabung, mungkin akan dapat mengatasi kekuatan Wira Sabet dan kawan-kawannya, termasuk Ki Sapa Aruh” berkata Laksana.

“Kita disini mempunyai banyak kawan” sahut Manggada, “sedangkan Ki Jagabaya hanya dua orang, tetapi isyarat itu mungkin akan mempunyai pengaruh yang lebih luas jika perlawanan memang sudah terjadi”

Dalam pada itu, Ki Pandipun berkata, “Yang penting memang keluarga ki Jagabayalah yang harus membunyikan isyarat jika terjadi sesuatu atas keluarga mereka. Tetapi Nyi Jagabaya dan anak perempuannya tentu termasuk orang-orang yang berani”

“Apakah Tantri memiliki kelebihan sebagaimana Winih?” tiba-tiba Laksana bertanya.

“Aku kira tidak” jawab Manggada, “Tantri tidak pernah meninggalkan rumahnya. Jika ia memiliki kemampuan tentu hanya warisan dari ayahnya. Mungkin serba sedikit Tantri memiliki bekal untuk membela diri”

“Baiklah” berkata Laksana, “besok kita menemui Wira sabet, kemudian memberikan laporan kepada Ki Jagabaya”

Demikian seperti yang mereka rencanakan, maka ketika matahari mulai memanjat kaki langit, Manggada dan Laksana pun telah bersiap. Setelah makan pagi, maka mereka berdua telah pergi ke halaman rumah Wira Sabet.

Ketika Ki Resa melihat keduanya, ia menjadi terkejut. Setelah melihat tidak ada orang lain di sepanjang jalan, maka ia pun medekati Manggada dan Laksana sambil berkata, “Aku kemarin pergi ke rumahmu. Apakah ayahmu tidak mengatakan sesuatu?”

“Ya, paman. Ayah memang menyampaikan pesan bagi kami berdua. Bahkan ayah juga sudah berpesan, agar kami tidak datang kembali ke halaman rumah ini” jawab Manggada.

“Jadi kenapa kau kembali lagi?” desak Ki Resa.

“Kami masih saja selalu ingin berbicara dengan paman Wira Sabet” jawab Manggada.

“Sekali lagi aku peringatkan, ngger. Itu sangat berbahaya”

“Kami mengucapkan terima kasih paman. Sebagaimana ayah katakan, maksud paman memang baik. Tetapi kami mempunyai pertimbangan tersendiri paman”

Ki Resa menarik nafas dalam-dalam.

Namun dalam pada itu, dua orang berjalan tergesa-gesa melewati jalan di muka rumah Wira Sabet. Ketika Ki Resa bertanya, apa yang terjadi, maka seorang di antara mereka menjawab, “Wira Sabet dan anaknya bersama dua orang pengawalnya akan lewat jalan ini”

Kedua orang itu tidak berhenti. Tetapi merekapun berjalan semakin cepat.

Dalam pada itu Ki Resa pun menjadi gelisah. Katanya, “Marilah ngger. Masuk ke rumahku”

Tetapi Manggada tersenyum sambil menjawab, “Aku disini saja, paman”

Karena Manggada dan Laksana tetap tidak mau ketika Ki Resa mendesak, maka Ki Resa sendiri dengan tergesa-gesa masuk ke regol sambil bergumam, “Anak-anak yang keras kepala”

Sepeninggal Ki Resa, maka Manggada dan Laksana pun telah duduk di tangga rumah Wira Sabet yang tidak terpelihara itu. Namun bagaimanapun juga, keduanya memang menjadi berdebar-debar. Tetapi karena keduanya sudah bertekad untuk menjadi penghubung antara bebahu padukuhan itu dengan Wira Sabet, maka mereka benar-benar berusaha untuk dapat berbicara.

Demikianlah, seperti yang dikatakan oleh kedua orang yang dengan tergesa-gesa melintas di jalan di depan rumah itu, maka Wira Sabet benar-benar telah lewat. Bahkan kemudian berhenti dan melangkah memasuki halaman rumahnya.

Wira Sabet terkejut ketika ia melihat kedua orang anak muda itu sudah duduk di tangga rumahnya.

“Maaf paman. Pagi-pagi kami sudah ada disini. Kami memang tidak mempunyai pekerjaan apapun di rumah. Karena itu, maka kami segera teringat pohon duwet dan pohon manggis yang kebetulan sedang berbuah” berkata Manggada.

Wira Sabet tidak sempat menjawab. Tiba-tiba saja Manggada yang melihat anak Wira Sabet yang datang bersama ayahnya itu dengan serta merta telah menyapanya, “He, kau Pideksa. Seperti namamu, kau tumbuh menjadi seorang anak muda yang gagah”

Manggada memang sebenarnya agak ragu. Apakah Pideksa itu masih juga seperti masa kecil mereka, saat mereka bermain bersama dan sekali-sekali bertengar dan berkelahi, namun kemudian bermain kembali.

Tetapi ternyata Pideksa itupun menanggapi. Meskipun anak muda itu harus mengingat sejenak. Tetapi iapun segera melangkah mendekati sambil berkata, “Manggada. Bukankah kau Manggada”

“Ya” jawab Manggada yang melangkah mendekat sambil berkata, “Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Baru beberapa hari aku pulang dari rumah pamanku. Dan ini adalah adik sepupuku”

Pideksa memandang Laksana sekilas. Ketika Laksana mengangguk, maka Pideksa pun mengangguk pula. “Aku memang mendengar kau baru saja pulang” jawab Pideksa kemudian.

“Aku merasa rindu pada kampung halamanku” berkata Manggada.

Pideksa mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian, “Aku juga sudah lama meninggalkan padukuhan ini. Sekarang aku juga ingin pulang kembali”

“Padukuhan ini akan menjadi ceria kembali. Kita akan membangunkan keceriaan masa kanak-kanak kita” berkata Manggada.

“Tetapi keadaan sudah berubah” berkata Pideksa yang kemudian berpaling kepada ayahnya. Katanya, “Harus ada pembaharuan di padukuhan ini”

“Aku sudah pernah mengatakannya kepada Manggada” berkata Wira Sabet.

“Jadi ayah pernah bertemu dengan Manggada sebelumnya?” bertanya Pideksa.

“Ya. Bukankah aku sudah mengatakannya? Karena itu, aku sengaja mengajakmu. Bukankah kalian kawan bermain di masa kanak-kanak”

Pideksa mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Kami adalah kawan bermain di masa kanak-kanak. Tetapi apakah kami masih akan dapat bersahabat seperti di masa kanak-kanak itu?”

“Kenapa tidak?” bertanya Manggada.

“Sudah aku katakan. Keadaan sudah berubah” jawab Pideksa. Lalu katanya pula, “Kita harus berani berbuat sesuatu untuk membangunkan orang-orang padukuhan ini yang tertidur”

“Aku sependapat” jawab Manggada dengan serta merta, “jika kita, maksudku, anak-anak muda bangkit untuk berbuat sesuatu yang berarti, maka segala sesuatunya tentu akan segera menjadi baik”

“Kalian tidak perlu berbicara tentang perubahan-perubahan. Itu sudah kami pikirkan. Kalian akan menerima perintah-perintah untuk malakukan tugas-tugas kalian” berkata Wira Sabet kemudian.

“Tetapi ayah memerlukan pikiran dan pendapat anak-anak muda“ sahut Pideksa.

“Itu akan dilakukan kemudian” jawab Wira Sabet, “tetapi kamilah yang akan meletakkan dasar-dasar pembaharuan itu”

“Itulah yang ingin kami bicarakan dengan paman” berkata Manggada meskipun dengan agak ragu.

Wira Sabet mengerutkan keningnya. Dipandanginya Manggada dan Laksana yang baginya merupakan orang-orang aneh di padukuhan itu. Keduanya sama sekali tidak menjadi ketakutan melihat kedatangannya. Namun Wira Sabet berpendapat, mungkin karena kedua orang anak muda itu masih belum tahu benar, apa yang telah terjadi di padukuhan itu.

“Apa yang ingin kau bicarakan dengan ayah?” justru Pideksalah yang bertanya.

Manggada termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berkata, “Paman, aku mohon waktu sejenak untuk berbicara dengan paman. Persoalannya memang demikian mendesak, sementara kami belum tahu dimana paman tinggal”

Wajah Wira Sabet berkerut. Sementara itu, dua orang pengikutnya pun memperhatikan Manggada dengan sungguh-sungguh.

“Kalian akan berbicara tentang apa?” bertanya Wira Sabet meskipun ia tidak begitu senang mendengarnya.

“Tentang padukuhan kita ini, paman” jawab Manggada.

“Sudah aku katakan, biarlah kami yang meletakkan dasar-dasar dari perubahan-perubahan yang perlu bagi padukuhan kita. Kalian dan orang-orang padukuhan ini tinggal melaksanakan belandaskan dasar-dasar yang akan kami letak kan itu”

Manggada dan Laksana justru melangkah mendekati Wira Sabet, sementara Pideksapun telah bergeser pula.

“Paman” berkata Manggada, “kami mohon waktu sebentar saja untuk menyampaikan satu pesan”

Wira Sabet termangu-mangu sejenak. Namun Pideksa lah yang kemudia bertanya, “Pesan apa dan dari siapa?”

Manggada memandang Wira Sabet sejenak. Ia masih berpengharapan bahwa Wira Sabet akan mau mendengarkannya.

Sebenarnyalah Wira Sabet itu berkata, “Katakan”

“Paman. Di padukuhan ini masih terdapat bebahu-bebahu yang sampai saat ini masih tetap diakui kedudukannya. Karena itu, bukankah lebih baik jika diselenggarakan satu pembicaraan antara paman dan para bebahu? Menurut keterangan yang kami dengar, padukuhan ini tiba-tiba saja telah dicengkam oleh satu keadaan yang tidak pasti. Satu dengan yang lain tidak mengetahui apa yang dikehendaki oleh masing-masing pihak. Akibatnya adalah kebekuan dan ketegangan seperti sekarang ini. Bahkan padukuhan ini seakan-akan sedang diambah oleh wabah yang sangat menakutkan sehingga setiap orang tidak berhubungan yang satu dengan yang lain. Jika keadaan ini berlangsung lebih lama, maka kehidupan di padukuhan ini akan berhenti”

Wajah Wira Sabet menjadi tegang. Ia menjadi semakin heran menghadapi sikap kedua orang anak muda itu. Sementara itu, Manggadapun berkata selanjutnya, “Karena itu paman, maka diperlukan satu pemecahan. Harus ada jalan keluarnya, agar kehidupan di padukuhan ini dapat kembali seperti sediakala. Kanak-kanak dapat bermain dengan bebas di halaman dan bahkan di jalan-jalan padukuhan. Orang-orang pergi ke sawah dan pategalan tanpa dibayangi oleh ketakutan dan kecemasan. Perempuan yang ditinggal suami pergi ke sawah tidak dihantui oleh hal-hal yang tidak dimengerti”

Kening Wira Sabet menjadi semakin berkerut. Namun Manggada itu masih berkata pula, “Paman. Jika paman bersedia, maka para bebahu menghendaki untuk berbicara mencari pemecahan yang paling baik bagi padukuhan ini”

Wira Sabet menjadi semakin tegang. Namun kemudian ia pun bertanya dengan nada berat, “Siapa yang memberikan pesan itu? Siapa pula yang menyatakan bersedia untuk melakukan pembicaraan dengan kami?”

“Ki Jagabaya” jawab Manggada, “jika paman bersedia, maka dapat ditentukan, kapan pembicaraan itu dilakukan dan dimana”

Wira Sabet itupun menggeram. Dengan lantang ia berkata, “Kau kira aku seorang yang dungu?”

Manggada mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia berkata, “Mungkin akulah yang dungu. Tetapi mengapa?”

“Ki Jagabaya tentu berusaha menjebakku. Ia masih menyimpan dendam di hatinya, karena aku pernah melukainya. Saat itu aku memang tidak sengaja. Dalam keadaan yang hiruk pikuk, maka golok di tanganku telah menggores dadanya, sehingga sebuah luka yang agak dalam menyilang panjang”

“Tetapi Ki Jagabaya tidak pernah mengatakannya. Yang disebutnya adalah satu usaha untuk memecahkan satu persoalan yang kini mencengkam padukuhan ini. Tatanan kehidupan yang porak poranda. Kecemasan dan ketakutan yang mencengkan serta ketimpangan-ketimpangan lain yang perlu dibenahi”

“Tetapi itu semua hanyalah lamis. Yang sebenarnya adalah, Ki Jagabaya itu ingin membalas dendam dengan cara yang paling licik. Ia tidak berani menentangku perang tanding atau cara lain yang lebih jantan”

“Memang tidak, paman“ sahut Manggada, “Ki Jagabaya memang berusaha untuk mencari pemecahan masalah dengan mengesampingkan penggunaan kekerasan”

“Itu dilakukan karena ia berada dalam ketakutan” Wira Sabet hampir berteriak.

“Mungkin paman benar. Ki Jagabaya memang dicengkam oleh ketakutan. Bukan saja bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi seisi padukuhan ini. Karena jika keadaan ini berlangsung lama, maka seperti yang aku katakan tadi, kehidupan di padukuhan ini akan menjadi semakin surut. Orang-orang padukuhan ini akan menjadi kekurangan pangan, kehilangan kesempatan dan akhirnya menjadi putus asa”

“Itu adalah salah mereka sendiri. Jika mereka tidak bertindak sewenang-wenang dan tidak merasa bersalah, maka mereka tidak akan merasa ketakutan”

“Ketakutan atas dendam dan kebencian terhadap mereka?”

“Itu adalah bayangan di kepala mereka masing-masing. Tidak ada yang mendendam dan tidak ada yang menaburkan kebencian. Jika yang dimaksudkan mendendam dan menyebarkan kebencian itu adalah aku dan adikku, maka yang sebenarnya kami berdua hanya ingin membuat satu langkah pembaharuan justru untuk kesejahteraan padukuhan ini” berkata Wira Sabet.

Dalam pada itu Pideksa pun menyambung, “Nah, meskipun kau anak padukuhan ini, tetapi kau dalam persoalan ini dapat dianggap orang baru yang salah menilai keadaan”

Tetapi Manggada menjawab, “Tetapi justru karena kesalah-pahaman itu itulah, maka aku semakin yakin bahwa pertemuan dan pembicaraan itu perlu dilakukan. Dengan saling memberikan penjelasan maka persoalannya akan dapat diluruskan. Bahkan mungkin rancangan paman tentang pembaharuan itu justru akan mendapat dukungan dari para bebahu padukuhan ini”

Wira Sabet termangu-mangu sejenak. Namun Pideksa lah yang kemudian menyahut, “Mungkin pikiran Manggada ada juga benarnya ayah. Jika keinginan ayah dan paman Sura Gentong dapat dimengerti dan diterima oleh para bebahu, bukankah tidak ada alasan untuk menitikkan keringat dan apalagi darah”

Wira Sabet masih nampak ragu-ragu. Namun kemudian katanya, “Aku akan membicarakannya dengan pamanmu Sura Gentong dan Ki Sapa Aruh”

“Jika demikian, maka besok kita akan menemui Manggada lagi” berkata Pideksa.

“Baiklah. Besok kau tunggu aku disini pada waktu seperti ini. Aku akan memberikan keterangan tentang pendapatmu itu”

“Terima kasih paman” jawab Manggada.

“Sekarang, aku aku akan kembali untuk membicarakannya” berkata Wira Sabet itu sambil melangkah.

Namun Manggada itu berkata, “Paman, bukankah aku masih diijinkan untuk mengambil duwet?”

“Ambillah seberapa kau suka” jawab Wira Sabet.

“Terima kasih paman” jawab Manggada. Namun kemudian Manggada itupun masih bertanya kepada Pideksa, “Pideksa, apakah kau masih juga sering mencari ikan dan ketam di sungai kecil itu?”

Pideksa yang juga sudah melangkah mengikuti ayahnya berhenti dan berpaling. Sambil tertawa ia berkata, “Itu terjadi masa kanak-kanak kita Manggada. Sekarang kita sudah berubah. Kau tentu tidak pernah pula turun ke sungai untuk mencari ketam dan ikan sejak kau pulang”

Manggada mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tertawa. Ketika Pideksa sudah akan melangkah, Manggada bertanya lagi, “Pideksa, apakah kau masih sering bertemu dengan Timbang, Wisesa dan barangkali Sampurna? Apakah kau juga pernah singgah di rumah paman Resa sebelah?”

Pideksa tertawa berkepanjangan. Katanya, “Mereka tidak pernah nampak. Tetapi aku pun jarang sekali datang ke padukuhan ini. Tidak tentu sepuluh hari atau setengah bulan sekali. Meskipun demikian, aku tahu, kau masih juga anak yang paling berani di antara kawan-kawan kita bermain, Manggada”

“Apa hubungannya dengan keberanian?” bertanya Manggada.

“Aku melihat jawabnya di senyummu itu” jawab Pideksa.

Pideksa tidak menunggu jawaban Manggada. Ia pun kemudian telah melangkah pergi mengikuti ayahnya yang sudah turun ke jalan. Kedua orang kawan ayahnya yang menyertai mereka pun segera pergi pula meninggalkan halaman rumah yang kotor itu.

Ternyata Wira Sabet tidak meneruskan perjalanannya mengelilingi padukuhan itu seperti kemarin. Tetapi Wira sabet telah melangkah kembali ke arah darimana ia datang.

Sepeninggal Wira Sabet, anaknya dan kawan-kawannya, maka Laksana pun bergumam, “Anak itu cukup cerdik”

“Ya. Sejak kanak-kanak ia memang terhitung cerdik, tetapi juga licik. Aku tidak tahu apa sebenarnya yang bermain di kepalanya. Apakah ia sejalan dengan sikap ayah dan pamannya atau ada perbedaan-perbedaan yang berarti. Namun bagaimanapun juga, kita harus berhati-hati terhadapnya” sahut Manggada.

“Nah, sekarang apa yang akan kita lakukan?”

“Kita pergi ke rumah Ki Jagabaya. Tetapi kita akan singgah sebentar di rumah Ki Resa sebelah”

“Untuk apa?” bertanya Laksana.

“Paman Resa tentu menjadi cemas tentang nasib kita. Karena itu, jika ia melihat kita tidak mengalami sesuatu, maka ia akan menjadi tenang” jawab Manggada.

Sebenarnyalah mereka berdua telah singgah di rumah Ki Resa. Demikian mereka dipersilahkan masuk ke ruang dalam, maka Ki Resa itupun berkata, “Hatiku tinggal sebesar biji sawi ngger. Aku cemas apakah kalian tidak mengalami nasib buruk”

“Ternyata kami tidak mengalami perlakuan buruk, paman. Kita dapat berbicara dengan lebih terbuka. Bahkan Pideksa masih tetap mengenal aku sebagai kawannya bermain di masa kanak-kanak”

“Beruntunglah kau” berkata Ki Resa. Namun katanya kemudian, “Meskipun demikian, aku tetap memperingatkanmu. Jauhi orang itu sebelum kau mengalami perlakuan yang tidak diharapkan”

“Aku berharap bahwa usahaku untuk mendekatinya berhasil, paman” jawab Manggada yang kemudian minta diri untuk meninggalkan rumah Ki Resadana.

Ki Resadana hanya dapat menggelengkan kepalanya. Sekali lagi ia bergumam, “Anak-anak yang keras kepala”

Dalam pada itu, Manggada dan Laksanapun telah pergi ke rumah Ki Jagabaya. Mereka ingin melaporkan hasil pertemuan mereka dengan Wira Sabet. Nampaknya pertemuan antara Wira Sabet dan bebahu padukuhan itu mungkin dilakukan. Namun masih tergantung pada Sura Gentong yang sikapnya lebih keras dari Wira Sabet. Apalagi kesalahan utama pada saat mereka terusir adalah pada Sura Gentong itu.

Demikianlah keduanya telah menyusuri jalan-jalan sepi sebagaimana mereka lihat sehari-hari. jika ada satu dua orang lewat, tentu dengan tergesa-gesa. Bahkan dibayangi oleh perasaan takut dan was-was. Mereka merasa bahwa setiap saat dapat terjadi malapetaka atas diri mereka.

Ketika Manggada dan Laksana memasuki halaman rumah Ki Jagabaya dan kemudian pergi ke pintu seketeng, maka seperti biasanya pintu itu tertutup dan agaknya diselarak. Karena itu, maka Manggada pun telah mengetuk pintu seketeng itu agak keras.

Untuk beberapa saat Manggada dan Laksana menunggu. Baru kemudian mereka mendengar langkah kaki seseorang mendekati pintu seketeng.

“Siapa?” terdengar seseorang bertanya. Manggada dan

Laksana segera mengetahui bahwa yang betanya itu Sampurna, anak Ki Jagabaya.

Karena itu, maka iapun menjawab, “Aku, Manggada dan Laksana”

Sampurna pun mengenali suara itu. Karena itu, maka tanpa ragu-ragu iapun telah mengangkat selarak pintu seketeng itu.

Demikian pintu itu terbuka, maka Sampurna pun mempersilahkan Manggada dan Laksana masuk. Setelah pintu seketeng itu diselarak lagi, maka Sampurna pun mengajak mereka langsung ke serambi.

Laksana mengerutkan dahinya ketika melihat Wisesa telah duduk di serambi itu pula. Sampurna lah yang kemudian berkata, “Wisesa memenuhi janjinya. Ia membawa bibit pohon kemuning”

“O“ Manggada mengangguk-angguk. Ia pun kemudian bertanya, “Apakah kau mempunyai pohon kemuning di halaman rumahmu?”

“Ya” jawab Wisesa, “kenapa?”

“Karena itulah maka kau dapat membawa bibit pohon kemuning bagi Tantri” jawab Manggada.

“Jadi kenapa jika aku membawa bibit pohon kemuning bagi Tantri?” nada suara Wisesa Semakin tinggi.

“Kenapa?” Manggada justru menjadi bingung, Namun kemudian ia melanjutkan, “Maksudku, karena kau mempunyai pohon kemuning di rumah, maka kau dapat mencangkoknya dan membawanya kemari”

“Jadi apa anehnya. Karena bibit pohon kemuning itu kau anggap sesuatu yang perlu dibicarakan?”

Manggada menarik nafas dalam-dalam. Ia berniat untuk menanggapinya, namun tiba-tiba saja Laksana menjawab, “Maksud kakang Manggada, bibit kemuning itu kau bawa dari rumahmu sendiri. Kau cangkok sendiri, sehingga tidak merugikan orang lain. Tadi paman Wira Sabet mencari bibit kemuning di halaman rumahnya, tetapi sudah hilang. Menilik bekasnya, baru kemarin atau tadi pagi bibit kemuning itu dicungkil orang”

“Wira Sabet?” bertanya Wisesa. Tiba-tiba saja wajahnya menjadi tegang, “darimana kau tahu bahwa paman Wira Sabet mencari bibit kemuningnya”

“Kami baru datang dari rumahnya yang kosong dan kotor itu. Kebetulan paman Wira Sabet tadi datang menengoknya. Maksudnya menengok bibit kemuningnya itu”

“Bohong, “bentak Wisesa.

“Buat apa kami berbohong? Kami sengaja menemuinya, karena kami memang sudah menyediakan diri untuk melakukannya. Kami sudah berjanji kepada Ki Jagabaya”

“Kalian hanya membual. Tidak seorangpun yang berani menemui Wira Sabet” geram Wisesa.

“Kami tidak berkeberatan jika kau tidak percaya. Tetapi jika Ki Jagabaya tidak mempercayai kami, kami persilahkan Ki Jagabaya menemui Ki Resa yang tinggal di sebelah rumah Wira Sabet yang kosong”

Wajah Wisesa benar-benar menjadi tegang. Sementara itu Sampurna berkata, “Aku pecaya kalau Manggada dan Laksana telah menemui dan berbicara dengan Wira Sabet seperti yang kemarin dilakukannya”

“Ya“ sahut Laksana, “bahkan kami sudah mendapat ijin Wira Sabet untuk memanjat dan memetik duwet atau manggis atau apa saja yang ada di halaman rumah itu, kecuali bibit kemuning. Namun ternyata bibit itu hilang”

“Apakah Wira Sabet tidak menuduhmu?” bertanya Sampurna.

“Aku masih berada di sana waktu itu. Atau paman Wira Sabet memang mempercayai kami bahwa kami tidak akan melakukannya” jawab Laksana.

Wajah Wisesa menjadi semakin tegang. Bahkan kemudian menjadi pucat. Dengan gagap ia berkata, “Tetapi, tetapi bibit ini aku bawa dari rumahku. Aku dapat membuktikannya. Pada dahan pohon kemuningku nampak bekas potongan baru di bawah cangkokan”

“Besok jika paman Wira Sabet bertanya, biarlah aku yang menjawab sebagaimana kau katakan. Tetapi jika paman Wira Sabet tidak bertanya lagi tentang kemuningnya, biarlah kami berdiam diri saja” sahut Laksana kemudian.

Tetapi pernyataan Laksana telah membuat Wisesa menjadi sangat gelisah. Seolah-olah ia akan dituduh oleh Wira Sabet, bahwa ia telah mengambil bibit pohon kemuning itu dari halaman rumah Wira Sabet.

Namun pembicaraan merekapun terhenti. Tantri yang mendengar kehadiran Manggada dan Laksana telah menghidangkan minuman panas dan beberapa potong makanan.

Adalah di luar dugaan, bahwa ketika Tantri menghidangkan minuman itu, Wisesa berkata, “Tantri, jangan kau tanam dahulu bibit pohon kemuning itu. Atau kau tanam saja di longkangan dalam sehingga tidak mudah dilihat dari halaman”

“Kenapa?” bertanya Tantri.

“Ternyata Wira Sabet juga sedang mencari bibit pohon kemuningnya yang hilang” jawab Wisesa.

“Kenapa dengan, Wira Sabet. Biar saja ia mencari bibit kemuningnya yang hilang. Besok aku akan menanam bibit itu di halaman depan” jawab Tantri.

“Tetapi jangan besok, Jika Wira Sabet melihatnya, maka ia akan mengira bahwa bibit itu adalah miliknya” berkata Wisesa dengan cemas.

“Bukankah aku punya mulut untuk menjelaskan, bahwa kemuning itu aku dapat dari kau”

“Itulah yang aku cemaskan. Wira Sabet akan menuduhku mengambil bibit itu dari halaman rumahnya”

“Tetapi bukankah itu tidak kau lakukan?” bertanya Tantri.

“Tidak. Aku tidak mengambil bibit itu dari halaman rumahnya. Apalagi mengambil bibit pohon kemuning, lewat pun aku tidak pernah” jawab Wisesa.

“Jika demikian bukankah kau dapat mengatakannya” suara Tantri mulai meninggi.

“Orang itu tentu tidak dapat diajak berbicara” sahut Wisesa dengan wajah tegang.

“Sebaiknya kau pukul saja mulutnya jika ia menuduhmu tanpa alasan”

“Tantri“ potong Wisesa dengan serta merta, “jangan berkata begitu. Kata-katamu itu dapat menjeratmu ke dalam kesulitan”

“Jika terjadi demikian, aku akan minta kau menolongku”

Wajah Wisesa menjadi semakin tegang. Sementara itu Manggada dan Sampurna yang agaknya mengetahui bahwa Laksana hanya sekedar mengganggunya, tertawa di dalam hati. Tetapi mereka membiarkan Wisesa dicengkam oleh kecemasannya. Sementara itu Tantri masih memiliki sifat-sifat kerasnya sejak masa kanak-kanak. Katanya selanjutnya, “Jika kau berkeberatan aku menanam pohon kemuningmu di halaman, bawa saja pulang. Maksudku menanam kemuningmu di halaman agar kelak aku selalu dapat memandangi dan menikmati kesejukan dan harum bungannya seandainya satu dua hari kau tidak datang mengunjungiku. Tetapi seleraku sekarang sudah hilang. Ambil dan bawa kembali kemuningmu. Besok aku akan minta kepada Wira Sabet sebatang pohon kemuning”

Tiba-tiba saja Laksana menyela, “Sebenarnya bukan Wira Sabet sendiri yang memerlukan bibit pohon kemuning itu. Tetapi anaknya, Pideksa yang tadi datang bersama ayahnya di bekas tempat tinggalnya itu”

“Omong kosong“ bentak Wisesa.

“Aku tidak berbohong” jawab Laksana, “sebelum ini aku belum pernah mengenal anak muda yang namanya Pideksa itu. Baru tadi aku melihat dan mengenalnya. Ia datang bersama paman Wira Sabet”

“Pideksa” tiba-tiba saja Tantri menyahui, “apakah ia ikut bersama ayahnya? Sudah lama aku tidak bertemu. Apakah ia sekarang kembali ke rumahnya? Ia tentu telah tumbuh menjadi anak muda yang gagah, kuat dan berani”

“Tantri” potong Wisesa, “tetapi ia anak Wira Sabet”

“Pideksa adalah kawan kita bermain sejak kanak-kanak, ia termasuk satu di antara anak-anak yang berani, kuat dan tampan”

“Wajah Wisesa menjadi sangat tegang. Namun tiba-tiba saja dahi Laksana berkerut, ia menjadi tidak senang mendengar Tantri memuji Pideksa yang memang tumbuh menjadi anak muda yang gagah sebagaimana namanya.

Manggada hampir tidak dapat menahan tertawanya melihat wajah Laksana. Manggada tahu, bahwa ia ingin mengganggu Wisesa. Tetapi ternyata Laksana sendiri terkejut mendengar Tantri memuji anak muda itu.

Namun dalam pada itu, pembicaraan merekapun terhenti. Terdengar pintu seketeng diketuk orang.

“Itu ayah datang” berkata Sampurna yang mengenali cara ayahnya mengetuk pintu.

Sampurna pun kemudian bangkit dan melangkah menuju ke pintu seketeng, sementara Tantri pun bangkit pula sambil menjinjing nampan masuk ke ruang dalam. Tetapi di pintu ia sempat berkata kepada Laksana, “Jika kau bertemu lagi dengan Pideksa, katakan, salamku baginya”

Tantri memang menunggu sejenak, ia sempat melihat wajah Wisesa kemerah-merahan. Namun Tantri sendiri tidak memperhatikan bahwa wajah Laksanapun menjadi semakin berkerut.

Tetapi Laksana itupun menjawab, “Baiklah. Aku akan menyampaikannya”

Dalam pada itu, sesaat kemudian, Ki Jagabaya pun telah memasuki serambi itu pula. Ia pun langsung duduk bersama anak-anak muda itu.

“Apakah kalian sudah lama duduk disini” bertanya Ki Jagabaya.

Yang pertama-tama menjawab adalah Wisesa, “Belum paman. Aku datang untuk memenuhi janjiku, membawa bibit pohon kemuning. Tetapi aku minta Tantri tidak segera menanamnya, atau jika ia ingin segera menanam, biarlah ditanam di longkangan”

“Kenapa” bertanya Ki Jagabaya.

Wisesapun menceriterakan tentang Wira Sabet yang sedang mencari bibit kemuningnya.

Ki Jagabaya tertawa, ia pun kemudian bertanya kepada Manggada tanpa menyinggung soal bibit kemuning itu lagi, “Apakah kau sudah bertemu dengan Wira Sabet?”

“Ya, paman” jawab Manggada.

“Kau sudah mengatakan kepadanya tentang satu kemungkinan untuk membicarakan persoalan yang sedang mencengkam padukuhan Gemawang ini?” bertanya Ki Jagabaya

“Ya. Aku sudah bertemu dan berbicara dengan paman Wira Sabet. Bahkan paman Wira Sabet tadi datang bersama anaknya, Pideksa, kawan bermain di masa kanak-kanak” jawab Manggada.

Wisesa yang mendengarkan pembicaraan itu justru menjadi semakin yakin, bahwa Pideksa telah mempersoalkan kemuningnya yang hilang.

“Bagaimana hasil pembicaraanmu?” bertanya Ki Jagabaya kemudian.

“Menurut pendapatku” jawab Manggada, “Paman Wira Sabet akan membuka satu kesempatan satu pembicaraan meskipun syaratnya tentu cukup berat. Tetapi aku tidak tahu, bagaimana, pendapat paman Sura Gentong yang nampaknya bersikap lebih keras”

“Itu dapat dimengerti. Persoalannya memang bersumber dari tingkah laku Sura Gentong” jawab Ki Jagabaya.

“Ya. Namun paman Wira Sabet masih juga menganggap bahwa Ki Jagabaya mendendamnya karena ketika Wira Sabet berusaha membantu adiknya, ia telah melukai Ki Jagabaya”

Ki Jagabaya tersenyum. Katanya, “Kita memang saling mencurigai. Tetapi apakah Wira Sabet menentukan satu waktu dan satu tempat untuk pertemuan itu?”

“Belum Ki Jagabaya” jawab Manggada, “paman Wira Sabet masih ingin berbicara dengan adiknya”

Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Sementara Wisesa berkata, “Nah, bukankah pendapatku akan dapat menyelamatkan padukuhan Gemawang ini?”

Ki Jagabaya justru termangu-mangu sejenak. Dipandanginya Wajah anak muda itu dengan tajamnya. Sehingga Wisesa pun telah menunduk. Namun kemudian Ki Jagabaya itu berkata, “Ya Wisesa. Aku hargai pendapatmu. Mudah-mudahan pendapatmu nanti memberikan arti bagi padukuhan Gemawang ini”

“Mudah-mudahan paman“ sahut Wisesa sambil mengangguk-angguk. Kebanggaan telah mulai mekar diliatinya. Jika usaha itu berhasil, maka namanya tentu akan selalu disebut-sebut oleh orang-orang padukuhan Gemawang. Wisesa akan dapat dianggap sebagai seorang yang telah membebaskan Gemawang dari cengkeraman ketakutan kecemasan dan kecurigaan.

Namun dalam pada itu, Ki Jagabaya itu pun berkata, “Manggada. Aku tidak bermaksud mengurangi arti dari usahamu. Tetapi kita memang tidak dapat terlalu berpengharapan. Sura Gentong dan apalagi campur tangan Ki Sapa Aruh, akan sangat berpengaruh. Meskipun demikian, kita akan menunggu hasil pertemuanmu kemudian dengan Wira Sabet”

“Besok mudah-mudahan paman Wira Sabet dapat memberikan keterangan” jawab Manggada.

Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Nah, silahkan kalian berbincang sambil minum. Biarlah Tantri membuat minuman hangat lagi. Aku akan beristirahat. Besok, jika aku sudah mendapat keterangan, aku akan menghadap Ki Bekel yang seakan-akan sudah menjadi putus asa sekarang ini”

Demikianlah, maka Ki Jagabaya itu pun kemudian meninggalkan anak-anak muda itu yang duduk di serambi itu. Wisesa yang agak kecewa dengan pendapat Ki Jagabaya yang terakhir itu berkata, “Ki Jagabaya kadang-kadang memang menjadi kehilangan harapan. Seharusnya tidak demikian. Tanda-tandanya sudah menjadi semakin jelas, bahwa persoalan padukuhan ini akan dapat dipecahkan. Jika Ki Jagabaya dan kelompok Wira Sabet itu sempat bertemu, maka akan dapat dipastikan dapat dicapai satu persetujuan. Tetapi padukuhan Gemawang memang harus bersedia memberikan pengorbanan sebagai imbalan kepada kelompok Wira Sabet itu. Tanpa kesediaan Gemawang untuk memberikan imbalan sepantasnya, maka memang sulit untuk dapat dicari penyelesaian”

Manggada, Laksana dan ternyata juga Sampurna mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba Laksana berkata, “Tetapi ternyata kemudian bahwa yang kami lakukan itu sangat berbahaya. Aku jadi ngeri setelah aku sempat memikirkannya. Karena itu sebaiknya niat untuk menemuinya dibatalkan saja”

“Apa?” Wisesa itu hapir berteriak, “apa maksudmu?”

“Tidak ada maksud apa-apa. Tetapi aku menjadi ketakutan” jawab Laksana.

“Tetapi kau sudah menyatakan kesediaaninu kepada Ki Jagabaya untuk melanjutkan pembicaraan itu.”

“Tadi aku tidak merasa takut. Tiba-tiba saja perasaan takut itu seperti tumbuh di dalam hatiku. Semakin lama menjadi semakin besar dan rimbun. Akhirnya seisi hatiku telah dipenuhi oleh perasaan takut itu”

“Tidak. Kau tidak dapat mengurungkannya“ bentak Wisesa.

Laksana masih akan menjawab, tetapi Manggada telah mendahului, “Baiklah Wisesa. Kami akan tetap berusaha untuk meneruskan tugas kami yang sudah kami rintis ini”

Laksana mengerutkan keningnya. Namun ia masih harus menahan tertawanya. Demikian pula Sampurna. Namun Manggada sendiri telah menjadi letih mendengar Laksana yang selalu mengganggu Wisesa.

Dalam pada itu, untuk beberapa saat, anak-anak muda itu masih berbincang-bincang. Wisesa masih juga sempat berkata, “Kalian tinggal melaksanakan. Mungkin kalian memang mengalami kesulitan atau diperlukan keberanian. Tetapi bagaimanapun juga nilai gagasan yang berarti selalu lebih berharga daripada pelaksanaannya betapapun sulitnya. Gagasan timbul karena kecerdasan penalaran, sedangkan pelaksanaan hanyalah sekedar mewujudkan gagasan itu, betapapun berat dan sulitnya”

Manggada mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Kami memang harus mengakui. Tanpa gagasan yang baik, maka tidak akan ada kerja yang baik dan bernilai tinggi”

“Nah, dengan demikian, maka tidak sewajarnya jika kalian mengurungkan kesediaan kalian untuk berbicara dengan Wira Sabet dan Sura Gentong”

Laksana yang sudah beringsut dan siap untuk menyahut, telah didahului pula oleh Manggada, “Tidak. Kami tidak akan berhenti berusaha. Apalagi karena Wira Sabet mau mengajak anaknya yang telah kita kenal dengan baik. Mudah-mudahan Pideksa dapat menjadi rambatan untuk mendapatkan satu kesamaan sikap untuk menemukan pemecahan bagi kesulitan yang terjadi di padukuhan Gemawang ini”

Wisesa mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku berharap bahwa kalian berhasil. Jika kalian berhasil, maka kalian akan merupakan bagian dari keberhasilan gagasanku”

Laksana hampir tidak dapat menahan diri lagi. Tetapi ketika ia melihat Sampurna tersenyum-senyum, maka ia pun menarik nafas dalam-dalam.

Namun dalam pada itu, maka Manggada dan Laksana yang sudah merasa cukup lama duduk di serambi rumah Ki Jagabaya itupun telah minta diri. Mereka masih akan berputar-putar, jika mungkin menemui kawan-kawan bermain mereka.

“Aku sudah bertemu dengan Timbang dan Perti” berkata Manggada.

“Mereka sudah mempunyai anak” jawab Sampurna.

“Mereka kawin muda” jawab Manggada.

“Ya. Mereka harus bekerja keras untuk dapat hidup berkeluarga. Ketika mereka mulai merambah jalan yang mulai lancar setelah bekerja keras, tiba-tiba suasana padukuhan ini berubah. Seperti kebanyakan orang, kesejahteraan keluarga yang mereka rintis itu menjadi semakin menyusut lagi”

Manggada mengangguk-angguk. Namun Sampurna masih berkata, “Aku dapat mengerti bahwa Timbang tidak dapat ikut melibatkan diri dalam tugas ini. Ia memerlukan waktu dan perhatian sepenuhnya untuk menghidupi keluarganya meskipun anaknya baru seorang. Tetapi dalam keadaan yang rumit ini, maka waktunya sepenuhnya diberikan kepada keluarganya.

“Lebih dari itu” sahut Sampurna, “jika sesuatu terjadi atasnya, maka keluarganya akan menjadi hancur pula. Orang tua Timbang sebagaimana orang tua Perti tidak termasuk orang tua yang berkecukupan”

Manggada masih saja mengangguk-angguk. Namun kemudian ia benar-benar telah minta diri. Bahkan Ki Jagabaya, Tantri dan ibunya juga turut melepas mereka sampai ke pintu seketeng.

Sepeninggal Manggada dan Laksana, maka yang duduk di serambi tinggal Sampurna dan Wisesa. Dengan nada tinggi Wisesa itu berkata, “Manggada sekarang menjadi semakin bengal dan bahkan sombong. Apalagi adik sepupunya. Apa sebenarnya yang terjadi atas mereka?”

“Apakah mereka terhitung sombong?” Sampurna justru bertanya, “aku melihat kesungguhan mereka menangani kesulitan yang dialami oleh padukuhan ini”

“Itulah yang aku maksudkan, bahwa mereka terlalu sombong” jawab Wisesa.

“Bukankah kau juga menganjurkan agar mereka meneruskan tugas yang mereka bebankan atas pundak mereka sendiri?”

“Itu karena mereka sudah mulai melakukannya. Namun pada saatnya, jika usaha itu berhasil, keduanya akan menepuk dada, seakan-akan keberhasilan itu adalah karena gagasan mereka”

Sampurna tersenyum. Katanya, “Betapapun cemerlangnya satu gagasan, tetapi jika gagasan itu tidak dapat mewujud, maka gagasan itu tidak akan berarti sama sekali”

“Tetapi gagasan itu merupakan pangkal dari satu langkah pelaksanaan. Tanpa gagasan, tidak akan ada apa-apa” jawab Wisesa.

“Ya” Sampurna mengangguk-angguk, “aku tidak menolak pendapatmu itu”

Wisesa termangu-mangu sejenak. Tetapi untuk sesaat ia justru terdiam. Tangannya sajalah yang kemudian menggapai mangkuk minumannya.

Setelah minum seteguk maka Wisesa itupun berkata, “Sampurna, tolong katakan kepada Tantri, aku akan minta diri”

“O. Begitu, tergesa-gesa?”

“Aku sudah lama duduk disini” jawab Wisesa. Sampurna pun kemudian telah memanggil Tantri, karena Wisesa akan minta diri.

Meskipun dengan agak segan, maka Tantri telah menuju ke serambi.

“Aku akan minta diri. Tantri” berkata Wisesa, “besok aku akan datang lagi”

Tetapi Tantri itupun justru bertanya, “Bagaimana dengan bibit pohon kemuningmu?”

“Kenapa?” Wisesa justru bertanya.

”Apakah kau akan membawanya pulang atau akan kau tinggal disini. Jika kau tinggal disini, aku akan menanamnya di halaman depan. Tetapi jika kau berkeberatan, bawa saja bibit itu pulang sekarang”

“Tantri, seharusnya kau mengucapkan terima kasih kepadaku, bahwa aku telah membawakan bibit itu untukmu. Bukankah kau menginginkannya?”

“Bukankah aku sudah mengucapkan terima kasih itu ketika kau serahkan bibit itu kepadaku?”

“Kenapa kau tidak mau mengerti keadaanku? Aku hanya minta kau menunda untuk tidak segera menanam bibit itu di halaman. Jika kau ingin segera menanamnya, tanam saja di longkangan ini”

“Aku ingin menanamnya di halaman atau tidak sama sekali” jawab Tantri.

Sampurna lah yang kemudian menggamit Tantri. Terbayang di angan-angan Sampurna, Tantri di masa kanak-kanaknya memang sering berkelahi dengan Wisesa Tetapi setelah keduanya dewasa, maka sikap Wisesa mulai mengarah pada bentuk hubungan yang lebih bersunguh-sungguh.

Sampurna sendiri tidak akan mencampuri tanggapan Tantri terhadap Wisesa. Itu adalah hak dan wewenang Tantri sendiri sepenuhnya. Namun menanggapi sikap Tantri sebagaimana masa kanak-kanaknya itu, Sampurna ingin mencegahnya.

Tantri memang berpaling kepada kakaknya. Sementara Sampurna berkata, “Sudahlah, biarlah bibit itu ditinggal disitu”

“Tetapi Wisesa berkeberatan aku menanam di halaman” berkata Tantri.

“Bukan begitu. Ia hanya minta kau menundanya saja” sahut Sampurna.

Tantri tidak menjawab. Tetapi ia menjadi kesal bahwa kakaknya justru telah membantu Wisesa.

Tetapi dalam pada itu. Sampurna harus menahan tertawanya. Ia tahu bahwa Laksana tadi tentu hanya sekedar mengganggu Wisesa. Tetapi karena hati Wisesa memang lemah, maka anak muda itu segera menjadi gelisah dan kebingungan tanpa sempat menilai kebenaran dongeng Laksana itu.

Demikianlah, maka Wisesa itu telah minta diri. Baik kepada Sampurna maupun kepada Tantri. Namun tanggapan Tantri ternyata tidak sehangat yang diharapkan oleh Wisesa. Meskipun demikian Wisesa masih tetap berpengharapan bahwa Tantri akhirnya akan dapat ditundukkannya. Apalagi jika kemudian gagasannya untuk mencari pemecahan terhadap kesulitan yang dihadapi oleh padukuhan itu berhasil. Ia akan menjadi orang yang dianggap penting di padukuhan Gemawang.

Demikian Wisesa keluar dari regol halaman rumah Ki Jagabaya, maka ia pun dengan tergesa-gesa melangkah menyusuri jalan pulang. Namun di sepanjang jalan ia masih saja memikirkan sikap Ki Jagabaya. Nampaknya perhatian Ki Jagabaya justru lebih banyak tertuju pada hasil kerja Manggada dan Laksana daripada menilai arti dari gagasannya yang besar itu.

“Nampaknya Ki Jagabaya lebih menghargai tenaga Manggada dan Laksana daripada kecemerlangan penalaranku” berkata Wisesa di dalam hatinya. Namun kemudian ia pun berkata, “Tetapi yang penting adalah penilaian terakhir. Rakyat padukuhan ini tentu akan mengakui kebesaran gagasanku daripada sekedar kerja kasar Manggada dan Laksana”

Sementara itu, Manggada dan Laksana memang masih berjalan mengitari padukuhannya yang sepi. Tidak banyak orang yang dijumpainya. Pada umumnya mereka yang sempat diajak berbincang-bincang meskipun hanya beberapa patah kata. memperingatkan agar Manggada dan Laksana menjadi lebih berhati-hati. Atau bahkan menarik diri sama sekali dari keterlibatannya dengan persoalan Wira Sabet dan Sura Gentong.

Tetapi Manggada dan Laksana hanya dapat mengucapkan terima kasih kepada mereka. Mereka berdua sudah bertekad untuk melibatkan diri mencari penyelesaian segera sehingga tatanan kehidupan di padukuhan Gcmawang dapat berjalan dengan wajar kembali.

Ketika Manggada dan Laksana sampai di rumah, maka mereka pun telah menceriterakan apa yang telah mereka alami kepada Ki Kertasana, Ki Citrabawa dan Ki Pandi.

Ternyata ketiganya tidak berkeberatan jika kedua anak muda itu meneruskan usaha mereka. Sambil mengangguk-angguk kecil Ki Kertasana berkata, “Jika kalian berhasil menyelesaikan persoalan ini dengan tanpa kekerasan, maka Ki Bekel dan Ki Jagabaya tentu akan berterima kasih. Namun demikian, kalian tidak boleh lengah bahwa kemungkinan yang lain akan dapat terjadi, menilik sikap dan latar belakang kedua orang itu”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Mereka memang tidak boleh lengah meskipun agaknya Wira Sabet dapat diajak berbicara untuk memecahkan persoalan yang sedang dihadapi oleh padukuhan Gemawang sehingga padukuhan itu akan dapat menemukan ujud kewajarannya sebagaimana sebelumnya.

Dalam pada itu, agaknya Ki Pandi juga merasa cemas bahwa sesuatu akan dapat terjadi atas kedua orang anak muda itu. Karena itu, maka katanya kepada Manggada dan Laksana, “Jika kalian berdua tidak berkeberatan, ngger. Biarlah besok aku berada di rumah Ki Resadana selama kau menunggu kedatangan Wira Sabet di halaman rumahnya. Besok kita pergi lebih pagi dari saat-saat Wira Sabet biasanya datang. Mudah-mudahan Ki Resa tidak berkeberatan mengijinkan aku berada di rumahnya”

Ternyata Ki Kertasana dan Ki Citrabawa tidak berkeberatan. Mereka meyakini bahwa Ki Pandi adalah orang yang berilmu tinggi, sehingga kehadirannya akan dapat menjadi pelindung bagi Manggada dan Laksana apabila diperlukan.

Demikianlah, maka mereka pun telah mengambil beberapa kesepakatan. Justru karena mereka berhadapan dengan dengan orang-orang yang sifatnya masih belum dimengerti sepenuhnya.

Menjelang malam, Ki Pandi yang terbiasa duduk-duduk di serambi bersama Manggada dan Laksana telah berada di serambi sebagaimana biasanya setelah mereka makan malam. Namun ketika gelap mulai menyelimuti padukuhan Gemawang, Ki Pandipun berkata kepada kedua orang anak muda itu, “Aku akan melihat halaman rumah Wiira Sabet itu”

“Malam-malam begini?” bertanya Manggada.

“Bukankah lebih aman jika aku melakukannya di malam hari?” Ki Pandi justru bertanya.

“Untuk apa Ki Pandi?” bertanya Laksana pula.

“Aku hanya ingin sekedar melihatnya” jawab Ki Pandi.

“Tidak lebih dari sebuah lingkungan yang luas, kotor dan bagaikan hutan perdu” berkata Manggada.

Ki Pandi tersenyum. Katanya, “Kalian tidak usah mengatakannya kepada orang tua kalian. Aku tidak terlalu lama”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sementara Ki Pandi pun kemudian turun ke halaman dan melangkah keluar pintu regol.

Manggada dan Laksana masih berada di serambi. Lampu minyak yang redup masih berkedipan di pendapa.

“Apakah Ki Pandi benar-benar akan melihat rumah Wira Sabet yang telah kosong itu?” desis Laksana.

“Mungkin” sahut Manggada, “mungkin ada sesuatu yang akan dilakukan besok”

Laksana mengangguk-angguk. Tetapi sulit menebak, apa yang akan dilakukan oleh orang bohgkok itu. Namun keduanya berharap bahwa ki Pandi akan tetap membantu mereka dalam segala keadaan.

Ketika malam menjadi semakin dalam, Ki Kertasana yang melihat Manggada dan Laksana masih duduk di serambi telah mendatanginya dan bertanya, “Apakah kalian tidak akan segera pergi tidur?”

“Nanti ayah” jawab Manggada, “udara di dalam terasa panas. Apalagi kami memang belum mengantuk”

Beruntunglah bahwa Ki Kertasana tidak bertanya tentang Ki Pandi. Sambil melangkah meninggalkan keduanya, Ki Kertasana berkata, “Segera tidur. Mari sudah larut malam”

“Baik ayah. Nanti sebentar kami akan segera tidur setelah udara sedikit menjadi sejuk” jawab Manggada.

Namun Ki Kertasana itu pun segera hilang di balik pintu.

Sementara itu Manggada dan Laksana masih saja duduk di serambi. Mereka masih saja menunggu Ki Pandi yang menurut keterangannya tidak akan terlalu lama.

Tetapi ternyata sampai tengah malam, Ki Pandi masih belum kembali.

“Tetapi aku yakin bahwa ia akan kembali sebelum pagi” desis Manggada.

“Ya. Tetapi apa jawab kami jika paman atau ayah menanyakannya?” desis Laksana.

“Kita akan berkata berterus terang” jawab Manggada.

Laksana mengangguk-angguk. Dengan demikian, maka Laksana justru tidak menjadi gelisah lagi.

Namun ternyata seisi rumah itu telah tertidur, sehingga baik Ki Kertasana maupun Ki Citrabawa tidak lagi keluar dan bertanya apapun lagi kepada kedua orang anak muda itu.

Meskipun demikian, ketika dini hari tiba, kedua anak muda itu menjadi gelisah lagi. Mereka tidak lagi memikirkan pertanyaan-pertanyaan dari orang tua mereka, tetapi mereka benar-benar gelisah tentang Ki Pandi. Apakah Ki Pandi begitu saja meninggalkan mereka.

Namun jantung mereka yang bergejolak rasa-rasanya telah dihembus oleh angin sejuk ketika mereka melihat seorang yang bongkok memasuki regol halaman rumah itu.

Berbareng Manggada dan Laksana bangkit berdiri. Sementara Ki Pandi justru mengerutkan dahi.

“Kalian belum tidur?” bertanya Ki Pandi.

“Kami menunggu” jawab Manggada.

“Kenapa? Apakah kalian menduga bahwa aku tidak akan kembali?” bertanya Ki Pandi.

“Bukan begitu, Ki Pandi. Tetapi rasa-rasanya tidak adil jika kami tidur nyenyak sementara Ki Pandi sibuk sendiri sampai dini hari” jawab Manggada. Namun ternyata ia tidak dapat menyembunyikan perasaan dan berkata dengan jujur, “Tetapi disamping itu, kami memang merasa cemas justru pada saat-saat yang menjadi semakin gawat”

Ki Pandi yang kemudian juga duduk di amben di serambi itu tertawa. Katanya, “Kalian sudah bukan anak-anak lagi. Tetapi baiklah. Sekarang tidurlah. Aku juga akan tidur. Bukankah masih ada waktu untuk beristirahat?”

Manggada dan Laksanapun bangkit berdiri pula ketika Ki Pandi kemudian pergi ke biliknya.

Namun Manggada dan Laksana masih juga berbicara di antara mereka tentang Ki Pandi yang pergi sampai dini hari.

Meskipun Manggada dan Laksana baru tidur setelah dini, namun seperti biasanya mereka bangun pagi-pagi dan melakukan pekerjaan sehari-hari mereka. Mengisi jambangan di pakiwan dan mengisi gentong di dapur.

Seperti yang sudah direncanakan, maka Manggada dan Laksana hari itu berangkat lebih pagi dari hari-hari sebelumnya. Mereka pergi bersama Ki Pandi yang akan berada di rumah Ki Resadana jika Ki Resa tidak berkeberatan.

Ketika hal itu disampaikan kepada Ki Resa, maka Ki Resa memang menjadi ragu-ragu.

“Ki Pandi tidak akan keluar dari dalam rumah ini paman” berkata Manggada meyakinkan.

“Jadi untuk apa Ki Pandi berada disini?” bertanya Ki Resa.

“Ki Pandi hanya ingin meyakinkan ayah dan paman, bahwa yang aku lakukan tidak sangat berbahaya sebagaimana dibayangkan oleh ayah dan paman” jawab Manggada.

“Akulah yang justru memberikan gambaran bahwa yang kalian lakukan itu sangat berbahaya” berkata Ki Resa kemudian.

“Untuk memberikan pertimbangan, maka ayah telah minta Ki Pandi untuk melihat kemungkinan-kemungkinan yang terjadi disini” jawab Manggada.

Ki Resadana akhirnya berkata sambil menarik nafas dalam-dalam, “Baiklah. Tetapi aku minta Ki Pandi tidak menampakkan diri apapun yang terjadi. Ia orang asing disini sehingga akan dapat menarik perhatian dan bahkan mungkin menimbulkan persoalan yang berkepanjangan”

Ki Pandi pun menyahut sambil mengangguk-angguk, “Aku akan tetap berada di dalam Ki Resa. Aku juga tidak akan berani keluar rumah, apalagi jika orang-orang yang ditakuti itu sudah datang, aku hanya ingin mendengarkan dari dalam rumah ini sejauh dapat aku tangkap dengan telinga tuaku”

“Ya. Sebagian pembicaraan di sebelah dinding memang dapat didengar jika kita berdiri melekat di dinding halaman di belakang gandok” jawab Ki Resa.

“Jika kita berdiri di tempat itu, apakah kita dapat dilihat dari luar halaman ini?”

“Tidak” jawab Ki Resa, “aku juga sering mendengarkan pembicaraaan anak-anak itu dengan Wira Sabet dari belakang dinding justru karena aku mencemaskan keadaan mereka. Tetapi jika orang-orang di halaman sebelah meloncati dinding batas halaman itu, mereka akan melihat bahwa kita sedang memperhatikan dan mendengarkan pembicaraan mereka”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Jika demikian aku akan dapat mendengarkan dari balik dinding itu”

“Tetapi kita harus berhati-hati. Jika nafas kita dapat didengar dari sebelah, maka nasib kita akan menjadi sangat buruk”

Ki Pandi masih saja mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan berhati-hati, karena aku tahu akibat yang terjadi jika mereka mengetahuinya”

Demikianlah, Ki Resadana memang tidak dapat menolak meskipun sebenarnya labih baik baginya jika tidak ada orang lain di halaman rumahnya.

Demikianlah, maka Manggada dan Laksana pun kemudian telah memasuki halaman rumah Wira Sabet yang kotor itu. Seperti kemarin, mereka menunggu Wira Sabet datang untuk memberi keterangan apakah Wira Sabet dan Sura Gentong bersedia untuk berbicara dengan para bebahu padukuhan Gemawang.

Seperti yang dijanjikan, maka Wira Sabet telah datang pada waktunya. Seperti kemarin, Wira Sabet datang bersama Pideksa dan dua orang kawannya.

Manggada dan Laksana pun segera menyongsongnya. Dengan nada tinggi Manggada berkata, “Selamat pagi paman. Kami juga baru saja datang”

Wira Sabet mengangguk sarnbil menjawab, “Selamat pagi. Kami datang sedikit lebih siang dari kemarin”

“Aku kira tidak paman. Matahari itu baru saja naik sepenggalah. Sinarnya belum menggatalkan kulit”

“Baiklah” berkata Wira Sabet kemudian dengan nada yang justru agak lunak, “Aku akan langsung pada persoalannya”

“Ya, paman. Kami memang menunggu-nunggu” desis Manggada.

“Aku sudah membicarakan pesan para bebahu padukuhan ini. Aku sudah berbicara dengan Sura Gentong dan Ki Sapa Aruh. Tetapi ternyata mereka berpendapat lain” jawab Wira Sabet.

“Maksud paman?” bertanya Manggada dengan jantung yang berdebar-debar.

“Aku semula setuju untuk berbicara, mencari kemungkinan-kemungkinannya. Kami akan mengajukan syarat-syarat untuk menapak pada satu keadaan yang lebih baik daripada sekarang. Tetapi banyak yang tidak aku mengerti. Sura Gentong dan Ki Sapa Aruh banyak memberikan pengertian kepadaku, bahwa usaha itu tidak lebih dari satu jebakan dan pengkhianatan” jawab Wira Sabet.

“Kenapa sebuah jebakan dan pengkhianatan? Apakah paman kira, kami masih mempunyai kemungkinan untuk menjebak paman?” bertanya Manggada.

“Segala kemungkinan dapat terjadi, Manggada” sahut Pideksa, “kami sudah membicarakannya dengan panjang lebar. Hampir saja aku terpengaruh oleh kenangan masa kanak-kanakku, sehingga aku mencoba menentang sikap paman Sura Gentong. Namun setelah aku mendapat penjelasan dari paman Sura Gentong dan Ki Sapa Aruh, aku baru menyadari, bahwa pembicaraan tidak akan membuahkan apa-apa bagi kami selain kemungkinan buruk itu. Jebakan dan penghianatan”

“Paman“ Manggada berusaha menjelaskan, “kami bersikap jujur. Jika kami menjebak paman, kenapa tidak kami lakukan sekarang atau saat paman memasuki padukuhan ini besok atau lusa atau kapan saja? Tidak paman. Kami tidak mempunyai keberanian untuk itu. Sementara itu, orang-orang padukuhan ini menganggap bahwa melihat paman dari kejauhan saja akan dapat mendatangkan malapetaka baginya dan keluarganya. Siapa yang berani menyebut nama paman dan apalagi mencerca nama paman, maka rasa-rasanya orang itu akan tersuruk ke dalam bencana. Nah, dalam keadaan yang demikian, siapa yang berani menjebak dan berkhianat kepada paman Wira Sabet, paman Sura Gentong dan Ki Sapa Aruh yang belum aku kenal”

“Luar biasa“ Pideksa lah yang berdesis, “kau adalah anak muda yang sangat berani. Selama ini aku mengamati tingkah laku orang-orang padukuhan ini. Tidak seorang pun yang berani berpapasan dengan ayah dan paman Sura Gentong. Seperti yang kau katakan, siapa yang sempat melihat ayah dan paman dari kejauhan, mereka akan mengalami malapetaka. Tetapi ternyata bahwa kau masih juga berani menemui ayah sekarang ini”

“Aku terlalu yakin akan maksud baikku Pideksa. Aku yakin pula bahwa paman Wira Sabet masih juga sempat mendengarkan kata nuraninya sebagai anak kampung halaman ini. Dasar itulah yang mendorong aku untuk berani melakukan hal ini sekarang. Seberapa dalam dendam terpahat di hati paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong, sedalam dendam yang terukir di hati Ki Jagabaya, namun aku yakin, bahwa lebih dalam lagi hasrat yang mendorong paman dan Ki Jagabaya untuk menemukan satu landasan awal bagi masa depan padukuhan ini”

Wira Sabet itu pun menarik nafas dalam-dalam. Sementara Pideksa itupun berkata, “Aku mengerti Manggada. Tetapi ayah tidak berdiri sendiri. Itulah sebabnya, ayah tidak dapat mengambil keputusan sendiri, apalagi yang menyimpang dari rencana yang sudah disusun dengan mapan oleh ayah, paman dan Ki Sapa Aruh”

Manggada termangu-mangu sejenak. Namun tiba-tiba saja Manggada dan Laksana terkejut. Seorang yang berwajah garang memasuki halaman rumah yang kotor itu. Sura Gentong.

Dengan wajah yang garang ia memandang Manggada dan Laksana yang sedang berbicara dengan Wira Sabet.

“Paman Sura Gentong” sapa Manggada.

Tetapi sikap Sura Gentong memang berbeda dengan Sikap Wira Sabet. Ketika Manggada beringsut untuk mendekat, Sura Gentong berkata lantang, “Tetap di tempatmu, aku akan pancung kepalamu”

Manggada tertegun sejenak. Namun seperti juga Laksana, maka Manggada pun segera mengetahui, bahwa ternyata Sura Gentong jauh lebih kasar dari Wira Sabet.

“Inikah bocah edan itu?” geram Sura Gentong.

“Ia baru pulang beberapa hari yang lalu, paman” Pideksa yang menjawab.

“Aku tidak peduli. Orang-orang yang berani menatap wajah Wira Sabet dan Sura Gentong akan dibuat jera untuk selama-lamanya” berkata Sura Gentong.

“Maksud paman?” bertanya Pideksa.

“Orang itu akan menjadi buta. Tetapi bagi orang yang belum mengenal kami dengan baik, maka dosanya akan diperingan. Ia akan menjadi buta matanya sebelah”

“Itu tidak perlu” desis Wira Sabet.

“Ia benar-benar orang baru disini” sambung Pideksa.

“Aku tidak peduli. Tetapi ia adalah kaki tangannya Jagabaya yang tamak itu. Orang yang telah membantu Ki Jagabaya akan mendapat hukuman tersendiri” berkata Sura Gentong.

Namun tiba-tiba Wira Sabet berkata, “Pergilah. Kali ini kau diampuni”

“Tunggu” geram Sura Gentong, “apakah kakang sudah mengatakan syarat yang kami minta sebelum pembicaraan dilakukan?”

Wira Sabet menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku sudah mengatakan, bahwa pembicaraan itu tidak akan dapat dilakukan kapanpun dimanapun”

“Bukan begitu pesan Ki Sapa Aruh” berkata Sura Gentong, “Ki Sapa Aruh mengisyaratkan bahwa pembicaraan itu dapat saja dilakukan. Tetapi dengan syarat, semua bebahu padukuhan meletakkan jabatan. Ki Sapa Aruh akan memegang jabatan Bekel. Kakang Wira Sabet menjadi Kami Tuwa dan aku menjadi Jagabaya.”

Wajah Manggada dan Laksana terasa menjadi panas. Namun keduanya tidak mengatakan sesuatu.

Sementara itu Wira Sabet berkata lagi, “Cepat pergi. Kalian diampuni kali ini. Tetapi untuk selanjutnya, jika kalian berani menatap wajah kami, maka mata kalian akan menjadi buta”

“Masih belum selesai” berkata Sura Gentong, “masih ada satu syarat lagi. Karena Ki Jagabaya telah membunuh perempuan calon isteriku, maka ia harus menggantinya. Aku inginkan Tantri menjadi isteriku”

Telinga Laksana bagaikan tersentuh bara. Namun ketika ia beringsut, maka Manggada telah menggamitnya.

Namun dalam pada itu, sebelum Wira Sabet mengusir lagi kedua anak muda itu, Sura Gentong justru berkata, “Aku akan pergi. Jika aku lebih lama disini, aku akan benar-benar membuat sebelah mata anak-anak itu menjadi buta”

Tanpa menunggu jawaban, maka Sura Gentong itu pun segera meninggalkan halaman rumah Wira Sabet itu.

Wira Sabet, Pideksa dan kedua orang kawannya termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Wira Sabet itu pun berkata, “Sebaiknya kau tidak melibatkan diri dalam hal ini. Temui Ki Jagabaya, katakan syarat yang sudah terlanjur diucapkan oleh Sura Gentong itu yang semula ingin aku sembunyikan saja. Kemudian kau menarik diri dari persoalan ini. Sebaiknya kalian, selalu berada di rumah. Agaknya itu akan lebih baik bagi kalian”

Manggada dan Laksana tidak menjawab. Sementara itu Pideksa berkata, “Bukankah segala-galanya sudah berubah? Aku tidak dapat menjadi cengeng dengan mengenang masa lalu, karena masa lalu tidak akan pernah datang kembali, betapapun kerinduan menusuk sampai ke pusat jantung. Hati-hatilah Manggada. Sebaiknya kau minggir saja dari persoalan ini. Aku tahu bahwa kau tentu berkeberatan. Kau termasuk anak yang keras kepala, berani dan bengal. Tetapi kau cerdas dan bandel”

Pideksa tidak menunggu jawaban. Ia pun kemudian memberi isyarat kepada ayahnya untuk meninggalkan tempat itu. Namun di regol ia berkata, “Ayah masih tetap mengijinkanmu memanjat pohon duwet dan pohon manggis itu”

Manggada dan Laksana sama sekali tidak menjawab. Baru setelah mereka pergi, keduanya menarik nafas dalam-dalam.

“Sura Gentonglah yang sudah menjadi gila” geram Manggada.

“Nampaknya tidak ada jalan lain kecuali dengan kekerasan” desis Laksana.

Manggada menarik nafas dalam-dalam.

Namun dalam pada itu, keduanya terkejut ketika mereka mendengar semak tersibak. Ketika mereka berpaling dan bergeser selangkah, maka mereka melihat sekilas dua ekor harimau hilang di balik semak-semak yang banyak terdapat di halaman yang luas itu.

Kedua orang anak muda itu saling berpandangan. Merekapun yakin bahwa kedua ekor harimau itu adalah harimau Ki Pandi. Mereka pun segera tahu pula bahwa selama Ki Pandi pergi semalam, tentu Ki Pandi telah memanggil harimaunya.

“Kecuali dengan, serulingnya, Ki Pandi mempunyai cara berhubungan dengan kedua ekor harimaunya dari jarak jauh” berkata Manggada kemudian.

Laksana mengangguk-angguk. Namun iapun bergumam, “Kenapa Wira Sabet dan Sura Gentong tidak kita selesaikan sama sekali. Kita tahu disini ada Ki Pandi. Apalagi ada dua ekor harimaunya. Seandainya Ki Sapa Aruh dan orang-orangnya masih mendendam, maka kekuatan mereka telah jauh menyusut tanpa Wira Sabet dan Sura Gentong”

“Tetapi sasaran dendam Ki Sapa Aruh tentu tidak pandang bulu. Orang-orang padukuhan ini akan mengalami nasib buruk, karena kita tidak akan dapat berada di segala tempat. Sementara Ki Sapa Aruh akan dapat mengirimkan orang-orangnya kemanapun yang dikehendaki” jawab Manggada.

Laksana menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia pun kemudian mengangguk sambil berdesis, “Ya. Ki Sapa aruh dapat berbuat licik sekali”

“Kecuali jika kita sempat mematangkan perlawanan orang-orang padukuhan ini” berkata Manggada.

Laksana tidak menjawab. Tetapi ia masih saja mengangguk-angguk.

Demikianlah, maka Manggada dan Laksana pun kemudian keluar dari halaman rumah yang kotor itu. Demikian mereka turun ke jalan, maka merekapun melihat Ki Pandi dan Ki Resadana keluar dari pintu regol.

“Nampaknya sulit untuk dapat berbicara dengan mereka” berkata Laksana.

“Kami dari balik dinding mendengar pembicaraan kalian dengan Wira Sabet dan kemudian Sura Gentong” berkata Ki Pandi.

“Kami berdua akan berbicara dengan Ki Jagabaya” berkata Manggada.

“Tetapi siapa yang dimaksud dengan Tantri?” bertanya Ki Pandi.

“Seorang gadis kemarin sore“ Ki Resadana lah yang menyahut, “umurnya masih belum setua Pideksa”

“Ya. Lebih muda dari Pideksa. Ia pantas menjadi anak bungsu Sura Gentong jika ia mempunyai sepuluh orang saudara” sahut Laksana.

Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya, “Nampaknya memang sulit untuk berbicara dengan Sura Gentong. Sebenarnya tanpa pengaruh Sura Gentong dan Ki Sapa Aruh, Wira Sabet masih dapat diajak berbicara. Tetapi tidak demikian halnya dengan Sura Gentong”

Ki Resa mengangguk-angguk. Namun dengan nada cemas ia berkata, “Sudahlah ngger. Sebaiknya kalian berdua tidak usah turut campur. Atau bahkan sebaiknya kalian kembali saja ke tempat kalian selama ini tinggal”

“Mungkin kami berdua dapat mengungsi, paman. Tetapi bagaimana dengan ayah dan ibu?” jawab Manggada.

“Jika perlu bawa saja ayah dan ibu kalian bersama kalian” jawab Ki Resa.

“Nampaknya ayah dan ibu tentu berkeberatan. Disini mereka dilahirkan. Disini sawah dan tanah pategalan mereka digelar. Apakah semuanya itu harus ditinggalkan tanpa melakukan pembelaan sama sekali?”

“Pembelaan? Apa maksudmu? Apakah kalian akan melawan Wira Sabet dan Sura Gentong?” bertanya Ki Resa.

“Jika tidak demikian, maka setidak-tidaknya kami mendapatkan penyelesaian yang terbaik” jawab Manggada.

Ki Resa menarik nafas dalam-dalam, ia sudah berusaha menemui orang tua kedua anak muda itu. Namun ternyata kedua anak muda itu sama sekali tidak menarik diri. Bahkan orang tua mereka agaknya tidak dengan keras melarang mereka.

Namun dengan demikian, timbul sedikit sentuhan di hati Ki Resadana. Jika anak-anak yang untuk waktu yang lama sudah meninggalkan kampung halamannya masih menganggap perlu untuk berbuat sesuatu bagi kebaikan padukuhannya, apakah Ki Resa justru akan mengingkari tugas-tugas semacam itu?.

Namun bagaimanapun juga yang dilakukan oleh anak-anak muda itu memerlukan keberanian. Dan keberanian itu tidak dimilikinya dan tidak pula dimiliki oleh orang-orang padukuhan itu.

Dalam pada itu, maka Manggada, Laksana dan Ki Pandi pun kemudian telah minta diri kepada Ki Resa. Mereka akan memberian laporan tentang kewajiban yang mereka pikul untuk bertemu dan berbicara dengan Wira Sabet dan bahkan Sura Gentong kepada Ki Jagabaya.

Ki Resa pun kemudian hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kesungguhan kedua orang anak muda itu untuk berbuat sesuatu bagi padukuhan mereka.

Seperti yang direncanakan, maka kedua orang anak muda itu memang pergi ke rumah Ki Jagabaya. Namun Ki Pandi tidak pergi bersama mereka. Tetapi Ki Pandi berniat langsung kembali ke rumah Ki Kertasana.

Namun sebelum mereka berpisah, Laksana sempat bertanya, “Apakah kedua ekor harimau itu akan tetap berada disana?”

“Tidak. Biarlah malam nanti keduanya kembali ke hutan. Tetapi tidak perlu hutan yang kita pergunakan untuk Tapa Ngidang itu. Tetapi hutan yang lebih dekat di sebelah Barat padukuhan ini. Meskipun hutan itu kecil, namun kedua ekor harimau itu tidak akan menjadi kelaparan sebagaimana jika keduanya tetap berada di halaman rumah itu. Bahkan jika keduanya kelaparan, mereka akan dapat berbuat hal-hal yang tidak sepatutnya mereka lakukan?”

“Apakah mereka dapat menyerang seseorang?” bertanya Laksana.

“Tanpa perintahku tidak. Tetapi mereka sering melakukannya terhadap seekor ternak, jika benar-benar kelaparan” jawab Ki Pandi.

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sementara itu, maka mereka pun telah sampai ke simpang tiga. Manggada dan Laksana berbelok ke kiri, sedangkan Ki Pandi berbelok ke kanan.

Demikianlah, beberapa saat kemudian, maka keduanya telah sampai di rumah Ki Jagabaya. Ternyata Ki Jagabaya tidak sedang bepergian. Namun, lebih dahulu dari mereka berdua, Wisesa telah berada di rumah itu pula.

Sampurna seperti biasanya mempersilahkan Manggada dan Laksana duduk di serambi bersama Wisesa. Kepada Tantri yang ada di dapur, Sampurna minta agar ia membuat minuman lagi bagi kedua orang tamu yang datang kemudian itu. Seterusnya Sampurna telah menemui ayahnya untuk memberitahukan kedatangan Manggada dan Laksana.

“Baiklah” berkata Ki Jagabaya, “sebentar lagi aku datang”

Ketika kemudian Sampurna duduk lagi di serambi, maka Tantri telah menghidangkan minuman dan makanan bagi Manggada dan Laksana yang duduk bersama Wisesa.

“Darimana saja kalian berdua?” bertanya Tantri.

“Aku baru saja pergi ke rumah paman Wira Sabet” jawab Manggada. Namun sementara itu Laksana sibuk memperhatikan Tantri. Apa jadinya jika gadis cantik itu benar-benar harus diserahkan kepada Sura Gentong untuk menebus dendam yang menyala di hati orang yang garang itu.

“Apakah kalian bertemu dengan Wira Sabet?” bertanya Tantri pula.

“Ya” jawab Manggada, “bahkan juga paman Sura Gentong”

“Jadi kalian bertemu juga dengan Sura Gentong?” bertanya Sampurna?”

“Ya“ Manggada mengangguk-angguk. Lalu katanya pula, “Karena itu aku langsung datang kemari untuk melaporkannya kepada Ki Jagabaya”

“Apa kata mereka?” bertanya Wisesa, “apakah mereka menerima gagasan besarku demi kesejahteraan padukuhan ini?”

Manggada termangu-mangu sejenak. Namun Sampurna lah yang menjawab, “Biarlah kita menunggu ayah. Manggada dan Laksana akan memberikan laporan kepada ayah”

“Apa bedanya? Aku adalah seorang yang telah melahirkan gagasan besar itu” berkata Wisesa, “bukankah kita akan membicarakan bersama pada akhirnya?”

“Baiklah” berkata Sampurna, “karena itu, sebaiknya kita menunggu ayah”

Wisesa mengerutkan dahinya. Sebelum ia menjawab Tantri telah bangkit dan melangkah meninggalkan serambi itu.

Sejenak kemudian, maka Ki Jagabaya pun telah ikut duduk di serambi itu bersama Manggada, Laksana dan Wisesa.

Ki Jagabaya itupun segera bertanya, “Apakah kau bertemu dengan Wira Sabet dan Sura Gentong?”

“Ya, Ki Jagabaya. Aku telah bertemu dengan mereka berdua”

“Apakah kau membicarakan tentang satu kemungkinan untuk mengadakan satu pembicaraan?” bertanya Ki Jagabaya.

“Ya, sesuai dengan gagasanku” sahut Wisesa.

Manggada memandang Wisesa sekilas. Namun ia tidak menghiraukannya lagi.

“Kami sudah mencoba untuk berbicara dengan mereka Ki Jagabaya. Sebenarnya aku yakin bahwa paman Wira Sabet akan dapat mengerti dan menerima rencana pembicaraan itu” jawab Manggada..

“Karena itu adalah gagasan terbaik yang dapat dilahirkan oleh seseorang dalam keadaan seperti ini” sahut Wisesa.

Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia pun kemudian mengangguk-angguk sambil berdesis, “Ya. Gagasan terbaik”

Manggada pun kemudian telah melaporkan pertemuannya dengan Wira Sabet dan Sura Gentong. Manggada menceriterakan perbedaan sikap antara kakak beradik itu.

“Apakah syarat yang telah diajukan oleh Sura Gentong?” bertanya Ki Jagabaya.

Satu persatu Manggada menguraikan syarat-syarat yang dikehendaki oleh Sura Gentong dan Ki Sapa Aruh. Justru karena Tantri telah meninggalkan serambi Itu, maka Manggada pun berkata, “Syarat terakhir yang dikehendaki oleh Sura Gentong adalah ganti atas meninggalnya bakal isterinya saat itu”

“Tetapi perempuan itu membunuh diri” berkata Ki Jagabaya, “namun nampaknya Sura Gentong menuduh bahwa aku telah membunuhnya. Atau seandainya sebenarnya ia mengetahui, tetapi ia tentu akan berpura-pura tidak mengetahuinya.

Dengan demikian maka ia akan dapat menuntut ganti atas kematian isterinya”

“Agaknya memang demikian Ki Jagabaya” jawab Manggada.

Namun kemudian Ki Jagabaya itu berkata, “Apakah ia juga mengatakan ganti seperti apa yang dikehendakinya?”

Jantung Manggada pun menjadi berdebar-debar. Rasa-rasanya sulit untuk mengatakannya, bahwa Sura Gentong menghendaki Tantri, gadis Ki Jagabaya itu.

Sejenak Manggada memandang Laksana. Tetapi Laksana menundukkan kepalanya.

Akhirnya, meskipun betapa berat bibirnya bergerak, Manggada harus mengatakannya, “Ki Jagabaya, yang dikehendaki Sura Gentong adalah Tantri”

“Tantri“ suara Ki Jagabaya menghentak. Wajahnya menjadi merah. Demikian pula Sampurna. Bahkan Wisesa. Dengan suara bergetar Wisea berkata, “Gila. Apakah Sura Gentong sudah gila? Berapa umur Sura Gentong. Dan berapa umur Tantri”

“Ya” desis Manggada, “Sura Gentong agaknya, memang sudah gila”

Tetapi tiba-tiba Wisesa terkejut. Ia sudah mengumpati Sura Gentong. Wisesa sadar, bahwa ia telah melakukan kesalahan yang sangat besar. Jangankan mengumpati, mencercanya saja, seseorang akan dapat mengalami bencana.

Wajah Wisesa menjadi pucat. Keringat dingin mengalir dari seluruh tubuhnya. Tetapi ia sudah terlanjur mengucapkannya.

Tetapi Manggada dan Laksana mengira bahwa Wisesa itu menjadi demikian marahnya, sehingga wajahnya justru menjadi pucat dan keringatnya membasahi pakaiannya.

Ki Jagabayalah yang benar-benar menjadi marah. Dengan geram ia berkata, “Angger berdua. Jika Ki Sapa Aruh ingin menjadi Bekel, Wira Sabet menghendaki kedudukan Kamituwa dan Sura Gentong sendiri ingin merampas kedudukanku sebagai Jagabaya, jika hal itu diterima oleh rakyat padukuhan Gemawang, aku tidak akan berkeberatan. Tetapi permintaannya yang terakhir membuat telingaku menjadi panas. Agaknya Sura Gentong benar-benar mencari alasan untuk melakukan kekerasan di padukuhan ini”

“Agaknya memang demikian Ki Jagabaya, “Laksana lah yang menyahut, “Aku juga berpendapat, bahwa tidak ada jalan lain kecuali menghancurkan Sura Gentong dan Ki Sapa Aruh. Jika keduanya dapat di lenyapkan, maka Wira Sabet sendiri tentu masih dapat mempergunakan penalarannya. Demikian pula agaknya dengan anaknya, Pideksa”

“Manggada dan Laksana” berkata Ki Jagabaya kemudian, “aku berterima kasih atas kesediaan kalian membantu mencari penyelesaian sebaik-baiknya atas persoalan yang terjadi di padukuhan ini. Tetapi ternyata kalian telah terbentur pada sikap yang keras dan menyakitkan hati. Itu bukan salah kalian. Karena itu, agaknya aku tidak mempunyai pilihan lain. Aku akan mempersiapan diri menghadapi mereka apapun yang terjadi. Mungkin keluarga kami akan ditumpas habis. Tetapi aku tidak berkeberatan karena aku menganggap hal itu lebih baik daripada memenuhi permintaan mereka”

“Ki Jagabaya tidak sendiri” berkata Laksana, “sejak kami menghadap, kami sudah menyatakan bahwa keluarga kami akan berdiri di belakang Ki Jagabaya. Apapun yang terjadi, karena padukuhan ini adalah padukuhan kami, kampung halaman kami”

“Tetapi kau tahu bahwa Wira Sabet dan Sura Gentong memiliki kekuatan yang besar sehingga melawan mereka akan dapat berakibat sangat buruk” berkata Ki Jagabaya.

“Itu sudah kami perhitungkan” jawab Manggada.

Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Katanya, “Aku sangat berterima kasih. Nanti aku akan menemui Ki Bekel. Aku akan minta pendapatnya untuk yang terakhir kalinya. Jika Ki Bekel masih saja ragu-ragu, aku akan meninggalkannya”

Dalam pada itu, tiba-tiba saja Sampurna berkata kepada Wisesa, “Bagaimana dengan kau Wisesa? Kau sudah mendengar betapa menyakitkan hati tuntutan Sura Gentong itu?. Gagasanmu yang besar itu ternyata merupakan satu alasan yang paling baik bagi Sura Gentong untuk menghina keluarga kami. Nah, kami memang harus mempertimbangkannya, apakah kami akan menyerahkan Tantri atau tidak”

“Tentu tidak” desis Wisesa.

Sampurna termangu-mangu sejenak. Namun dalam kekalutan pikiran, Ki Jagabaya mengerti maksud anak laki-lakinya. Karena itu, ia tidak menyela pembicaraan anaknya dengan Wisesa.

Sementara itu, Sampurnapun bertanya, “Apa yang harus kita lakukan jika Sura Gentong itu datang kemari dan minta untuk membawa Tantri sekarang ini?”

Wajah Wisesa yang pucat menjadi semakin pucat. Setiap kali ia teringat bahwa ia terlanjur mengumpati Sura Gentong. Satu tindakan yang sangat disesalinya.

Namun tiba-tiba Sampurna bertanya, “Jika Sura Gentong itu datang untuk mengambil Tantri, apakah kau bersedia menghalanginya dengan cara apapun juga?”

Wisesa tergagap. Ia tidak dapat segera menjawab pertanyaan itu. Bahkan rasanya ia menjadi semakin ketakutan, sehingga tubuhnya menjadi sangat dingin.

Karena Wisesa tidak segera menjawab, maka Sampurna berkata, “Tetapi aku yakin, bahwa akan ada orang yang membantu kami mempertahankannya seandainya kau tidak bersedia melakukan itu Wisesa”

Perasaan Wisesa justru telah terguncang-guncang, ia menjadi sakit hati jika ada orang yang berjasa melindungi Tantri. Tetapi ia sendiri tidak berani melakukannya, karena Wira Sabet dan Sura Gentong tidak ubahnya sebagai siluman yang sangat menakutkan baginya.

Namun justru karena itu, maka Wisesa bahkan menjadi bagaikan orang yang kehabisan akal. Keringatnya sajalah yang mengalir semakin deras.

Manggada dan Laksana yang mengerti maksud Sampurna, sama sekali tidak menyahut. Mereka bahkan hanya berdiam diri saja.

Namun akhirnya Sampurna pun tidak lagi menyudutkan Wisesa. Tetapi ia berkata bersunguh-sungguh kepada Manggada dan Laksana, “Jika demikian, maka kita harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Setiap saat suasana yang panas ini akan dapat meledak”

“Kami menunggu perintah Ki Jagabaya” berkata Manggada, “jika kami mendengar isyarat, kami akan segera datang”

“Baiklah“ Ki Jagabayalah yang menyahut, “seperti yang aku katakan tadi, aku akan menemui Ki Bekel. Keadaan sudah memuncak. Agaknya memang tidak ada jalan lain kecuali dengan kekerasan”

Demikianlah, maka Manggada dan Laksana pun kemudian telah minta diri. Sementara itu Wisesa pun bertanya, “Apakah kau akan lewat jalan Selatan?”

“Kenapa?” bertanya Manggada.

“Kita dapat berjalan bersama-sama” jawab Wisesa.

Manggada menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu bahwa Wisesa menjadi tiba-tiba menjadi ketakutan, sehingga ia memerlukan kawan untuk berjalan pulang.

Karena itu, maka iapun menjawab, “Aku dapat lewat jalan mana saja. Meskipun sedikit berputar, baiklah, aku akan pulang lewat jalan Selatan”

Hampir saja Laksana mengganggunya lagi. Tetapi Manggada sudah memandanginya dengan sikap yang bersunguh-sungguh sehingga Laksana pun telah mengurungkan niatnya.

Sejenak kemudian, maka Sampurna, Tantri dan ibunya telah melepas Manggada dan Laksana pulang bersama Wisesa, sementara Ki Jagabayapun akan pergi ke rumah Ki Bekel.

Di sepanjang jalan Wisesa yang berjalan tergesa-gesa sama sekali tidak mengatakan sesuatu. Ia berjalan paling depan. Namun sekali-sekali ia berpaling sambil berkata, “Marilah. Kenapa kalian berjalan sangat lamban?”

Tetapi Laksana justru bertanya, “Kenapa kau tergesa-gesa?”

“Aku masih mempunyai banyak pekerjaan di rumah” jawab Wisesa.

Namun Laksana menjawab lagi, “Aku tidak. Jika aku tergesa-gesa, aku akan mengambil jalan lain yang lebih dekat dari jalan ini”

Wisesa terdiam. Ia berusaha menahan perasaannya yang bergejolak. Kebenciannya kepada kedua orang anak muda itu menjadi semakin meningkat. Sejak kanak-kanak ia memang tidak begitu senang berkawan dengan Manggada yang dianggapnya sangat nakal, keras kepala dan bengal. Tetapi Manggada itu terlalu dekat dengan Tantri. Meskipun keduanya sering berkelahi, tetapi setiap kali keduanya telah menjadi rukun kembali. Sedangkan kepada Laksana, Wisesa tidak menyukainya demikian ia mengenalnya.

Wisesa masih tetap berjalan di paling depan. Namun begitu ia melihat regol rumahnya, maka iapun berkata, “Aku tidak telaten berjalan bersama orang-orang malas. Kenapa kau mengambil jalan ini? Sebaiknya aku berjalan saja dahulu”

Wisesa tidak menunggu jawaban, la berjalan semakin cepat. Bahkan kemudian berlari-lari kecil masuk ke dalam regol halamannya tanpa berpaling lagi.

Laksana tertawa. Tetapi ia tidak berkata sesuatu.

Ketika mereka sampai di rumah, maka mereka pun segera menceriterakan pertemuan mereka dengan Wira Sabet dan Sura Gentong. Meskipun sebagian telah diceriterakan oleh Ki Pandi yang telah mendahului pulang, namun Manggada dan Laksana masih juga dengan bersungguh-sungguh menceriterakan kembali. Merekapun juga berceritera bahwa mereka telah singgah di rumah Ki Jagabaya dan memberikan laporan tentang pembicaraan mereka dengan Wira Sabet dan Sura Gentong.

“Apa yang dikatakan oleh Ki Jagabaya?” bertanya Ki Kertasana.

“Ki Jagabaya menjadi sangat marah, ia bertekad untuk melawan Wira Sabet dan, “Sura Gentong meskipun keduanya telah bekerja sama dengan Ki Sapa Aruh” jawab Manggada.

Ki Kertasana menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Nampaknya segala usaha memang akan sia-sia jika sikap Sura Gentong demikian kasarnya. Apaboleh buat jika harus diselesaikan dengan kekerasan”

“Kita memang tidak mempunyai pilihan lain. Hanya soal waktu sajalah yang menentukan benturan kekerasan yang bakal terjadi. Tetapi kita tidak tahu seberapa banyak sebenarnya kekuatan lawan itu. Kita juga tidak tahu tataran kemampuan mereka” berkata Ki Pandi.

Ki Kertasana, Ki Citrabawa. Manggada dan Laksana pun mengangguk-angguk. Mereka megerti maksud Ki Pandi. Namun mereka memang tidak mempunyai gambaran, bagaimana caranya mereka dapat mengetahui kekuatan lawannya itu. Sementara itu tidak seorang pun tahu, dimana Wira Sabet dan Sura Gentong tinggal. Apalagi Ki Sapa Aruh.

Agaknya mereka akan mengalami kesulitan untuk bertanya kepada siapapun tentang kedua orang itu. Seandainya ada yang pernah melihat, tentu tidak lebih dari arah kedatangan mereka. Terutama Wira Sabet yang memang lebih sering nampak daripada Sura Gentong. Itu pun agaknya sulit memancing keterangan mereka.

Dalam pada itu, maka Manggada pun berkata, “Untuk sedikit mengurangi ketakutan yang mencengkam orang-orang padukuhan Gemawang, maka kita memang harus berbuat sesuatu. Jika keberatan mereka serba sedikit timbul, maka mereka akan berbicara setidaknya dimana mereka pernah melihat Wira Sabet atau dari mana ia datang. Mungkin kita dapat menelusuri dan mengetahui tempat tinggal mereka”

“Tetapi itu berbahaya sekali ngger” desis Ki Pandi.

“Bukankah kita perlu mengetahui gambaran kekuatan mereka?” desis Mangagada.

“Tetapi tentu tidak dengan cara itu” sahut Ki Pandi.

“Jadi, apa yang sebaiknya kita lakukan?”

“Kita akan menyiapkan kemampuan yang ada pada kita setinggi-tingginya. Untuk sementara hanya itu yang dapat kita lakukan” jawab Ki Pandi.

Manggada mengangguk-angguk. Demikian pula Laksana. Namun tiba-tiba saja Manggada berkata, “Aku ingin membangunkan orang-orang padukuhan ini dengan cara yang lain. Kami berdua akan mengelilingi padukuhan ini berkuda. Aku akan mengajak Sampurna, anak Ki Jagabaya”

“Untuk apa?”bertanya Ki Kertasana.

“Untuk membesarkan hati orang-orang padukuhan ini” jawab Manggada.

“Jika kalian bertemu dengan Wira Sabet atau orang-orangnya yang tersinggung atas perbuatan kalian?” bertanya Ki Kertasana.

“Apaboleh buat” jawab Manggada, “kekerasan nampaknya tidak dapat dihindari. Seandainya akan menjadi api yang menyulut pertempuran, bukankah kita sudah siap meskipun kita belum mengetahui dengan pasti besarnya kekuatan mereka?”

Ki Kertasana menarik nafas dalam-dalam. Sementara Manggada berkata, “Tetapi jika benturan kekerasan itu memang harus terjadi, biarlah terjadi. Keadaan padukuhan ini harus segera berubah”

Orang-orang tua yang mendengar ketetapan hati Manggada itu hanya menarik nafas panjang. Anak semuda Manggada biasanya memang ingin memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapinya dengan cepat. Apalagi setelah cara lain yang lebih lunak sudah ditempuh dan tidak berhasil.

Karena itu, maka Ki Kertasana itupun hanya berpesan, “Tetapi berhati-hatilah. Kita menghadapi bukan saja orang-orang yang mendendam, tetapi juga orang-orang yang tamak seperti Ki Sapa Aruh yang memanfaatkan keadaan dan memperalat Wira Sabet dan Sura Gentong untuk kepentingannya sendiri”

“Baik ayah” jawab Manggada, sementara Laksana berkata, “Semakin lama keadaan ini berlangsung, maka orang-orang padukuhan ini akan menjadi semakin ketakutan dan bahkan tidak berani membuka pintu rumahnya, sehingga jika lumbung padi mereka sudah kosong, maka mereka akan dapat menjadi kelaparan. Bahkan meskipun padi di sawah menguning, tidak seorang pun yang akan berani memetiknya jika Wira Sabet dan Sura Gentong berdiri di tengah-tengah bulak itu”

“Ya. Kemungkinan itu dapat terjadi” desis Ki Kertasana.

Dengan demikian maka Manggada dan Laksana pun telah minta ijin untuk mempergunakan kuda yang ada di kandang. Mereka akan mempergunakannya untuk mencoba membangkitkan keberanian orang-orang padukuhan yang dicengkam oleh ketakutan itu.

Di sore hari, ketika Ki Pandi, Manggada dan Laksana duduk di serambi gandok, maka mereka pun terkejut melihat pintu regol yang tidak diselarak itu terbuka. Serentak mereka bangkit berdiri. Namun merekapun menarik nafas dalam-dalam ketika mereka melihat Ki Jagabaya lah yang memasuki regol halaman itu.

“Marilah Ki Jagabaya“ Manggada mempersilahkan. Sejenak kemudian, Ki Jagabaya itu pun sudah duduk di pringgitan bersama Ki Kertasana, Ki Citrabawa, Ki Pandi, Manggada dan Laksana.

Dengan kecewa Ki Jagabaya menceriterakan sikap Ki Bekel yang masih tetap ragu-ragu. Dengan nada rendah Ki Jagabaya berkata, “Ki Bekel tidak dapat berbuat banyak. Ia selalu dibayangi oleh keselamatan keluarganya. Ia mempunyai tujuh orang anak. Sebagian masih kecil-kecil. Di antara mereka belum ada yang dapat membantu ayahnya jika keadaan menjadi semakin buruk”

“Apakah Ki Bekel itu lebih muda dari Ki Jagabaya?” bertanya Ki Pandi.

“Ya. Terpaut agak banyak. Aku sudah menjabat sebagai Jagabaya ketika padukuhan ini dijabat oleh ayah Ki Bekel yang sekarang” suara Ki Jagabaya itu merendah, “tetapi Ki Bekel yang dahulu memiliki keberanian jauh lebih besar dari Ki Bekel yang sekarang. Namun agaknya aku dapat mengerti, jika Wira Sabet dan Sura Gentong itu datang ke rumah Ki Bekel, maka anak-anaknya tentu akan mengalami nasib buruk, seandainya Ki Bekel itu sendiri melawan”

Ki Kertasana pun kemudian menyahut, “Jika demikian, maka kita harus menghadapinya tanpa Ki Bekel. Tetapi jika harus terjadi demikian, maka apaboleh buat”

“Terima kasih Ki Kertasana dan seluruh keluarga disini yang telah dengan suka-rela membantu kami yang masih berusaha untuk menegakkan harga diri padukuhan ini”

“Bagi kami, apa yang kami lakukan itu merupakan bagian dari kewajiban kami sebagai penghuni padukuhan Gemawang, karena kami merasa ikut memiliki sehingga kami pun harus ikut mempertahankannya dari laku yang menyimpang”

Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Sementara Manggada mengatakan rencananya untuk berusaha membangkitkan sedikit keberanian orang-orang padukuhan itu.

“Baiklah. Aku akan mengatakannya kepada Sampurna. Agaknya ia tidak akan berkeberatan.”

Demikianlah, setelah mendapat hidangan minuman dan makanan, maka Ki Jagabaya pun segera minta diri.

Seperti yang direncanakan di keesokan harinya, maka Manggada dan Laksana sucah siap dengan kuda mereka. Sejenak kemudian keduanya telah berderap menyusuri jalan padukuhan. Mula-mula keduanya pergi ke rumah Ki Jagabaya. Kemudian bersama Sampurna yang ternyata sependapat dengan Manggada dan Laksana telah mengelilingi padukuhan mereka.

Derap kaki-kaki kuda itu memang menarik perhatian. Orang yang tergesa-gesa berjalan di jalan padukuhan untuk satu keperluan yang mendesak terkejut melihat ketiga orang anak muda itu. Yang langsung mereka kenali adalah Sampurna. Namun kemudian juga Manggada.

Seorang laki-laki yang bertubuh kuat kekar memandang ketiganya dengan penuh keheranan.

“Angger bertiga, apa kalian menyadari, bahwa yang kalian lakukan itu dapat mengundang kesulitan?” bertanya laki-laki itu.

“Kenapa?” bertanya Sampurna.

“Wira Sabet dan bahkan Sura Gentong sering datang ke padukuhan ini”

“Apa salahnya? Bukankah kami berada di padukuhan kami sendiri? Sebagaimana paman juga berada di padukuhan paman sendiri?” jawab Sampurna.

Orang itu mengerutkan dahinya. Katanya, “Meskipun demikian, tetapi bukankah kalian tahu bahwa suasana padukuhan ini baru panas?”

“Maksud paman?” bertanya Sampurna.

“Ah, seperti orang asing saja kau ngger” sahut orang itu.

“Maksud paman, padukuhan kita sedang dalam keadaan ketakutan karena Wira Sabet dan Sura Gentong?” bertanya Sampurna pula.

“Ya, ngger. Jika angger bertiga bertemu dengan mereka, maka kemungkinan buruk dapat terjadi atas engger bertiga”

“Itulah yang ingin kami tunjukkan kepada paman dan kepada seisi padukuhan ini. Kami tidak takut, paman. Kenapa harus takut kepada paman Wira Sabet dan Sura Gentong? Mereka dahulu juga penghuni padukuhan ini. Bukankah kita sudah saling mengenal?”

“Kau tiba-tiba menjadi aneh, ngger. Setiap orang menjadi ketakutan dan bersembunyi jika kedua orang itu atau salah seorang daripadanya lewat di padukuhan ini”

“Paman. Sekali lagi kami ingin mengatakan kepada semua orang. Kita tidak perlu takut. Aku tidak takut. Manggada dan Laksana ini juga tidak takut. Dan semua orang seharusnya tidak takut menghadapi mereka. Seandainya kedua orang itu ingin berbuat sesuatu yang tidak semestinya di padukuhan iini, maka kita bersama-sama akan bangkit dan mengusir mereka sebagaimana pernah kita lakukan beberapa tahun yang silam”

“Angger. Jangan pura-pura tidak tahu. Keduanya bukan Wira Sabet dan Sura Gentong beberapa tahun yang silam. Mereka sekarang adalah dua orang yang berilmu tinggi. Mereka datang bersama saudara-saudara seperguruan mereka dan bahkan bersama Ki Sapa Aruh yang ditakuti oleh banyak orang”

Tetapi Sampurna tertawa. Katanya, “Satu mimpi buruk paman. Bangunlah. Kita akan melihat satu kenyataan bahwa keduanya akan lari terbirit-birit melihat seisi padukuhan ini bangkit, berkumpul dan dengan berani menentangnya. Tetapi jika kita, penghuni padukuhan ini menjadi ketakutan, maka keduanya akan memasuki padukuhan ini dengan dada tengadah, menakut-nakuti kita dan akhirnya menggilas kita semuanya. Kita kemudian harus tunduk dibawah telapak kakinya dan melakukan segala perintahnya meskipun bertentangan dengan nurani kita sendiri”

Orang bertubuh kuat dan kekar itu termangu-mangu. Rasa-rasanya ia berada di dalam satu dunia yang asing. Sikap ketiga orang anak muda itu aneh.

“Ada yang tidak wajar” desis orang itu, “ketidak wajaran itu ada pada kalian bertiga atau ada padaku. Tetapi rasa-rasanya aku tersuruk ke dalam satu keadaan yang membingungkan”

“Kenapa?” Sampurna masih saja tertawa. Bahkan kemudian Manggada dan Laksana pun tertawa pula melihat orang itu kebingungan. Dengan nada tinggi Manggada berkata, “Paman nampak bingung justru karena paman telah terbius oleh dongeng yang tersebar selama ini, bahwa Wira Sabet dan Sura Gentong adalah dua orang yang menakutkan. Tetapi jika paman tidak menjadi ketakutan, maka paman tidak usah bingung. Kita bersama-sama akan mengusir mereka. Bahkan bersama saudara-saudara seperguruannya dan sekaligus Ki Sapa Aruh”

“Ini aneh. Aneh sekali bahwa anak-anak muda berani mengatakan hal seperti itu”

“Bukan hal yang aneh paman. Justru inilah satu kewajaran sikap orang-orang yang berniat untuk melindungi nama padukuhannya” berkata Sampurna. Lalu katanya pula, “Nah, terserah kepada paman. Tetapi menilik ujud tubuh paman yang kuat dan kekar itu, maka Wira Sabet dan Sura Gentong tentu akan berpikir dua kali untuk melawan paman.”

Orang itu benar-benar menjadi bingung. Biasanya ia melihat orang-orang menjadi ketakutan jika mereka mendengar nama Wira Sabet dan Sura Gentong. Bahkan orang-orang akan segera masuk regol halaman dan hilang dibalik pintu rumahnya. Jika mereka tidak sempat mencapai rumah mereka, maka mereka pun akan segera memasuki rumah tetangga-tetangganya untuk menyembunyikan diri. Tetapi kali ini ia bertemu dengan anak-anak muda yang menyebut nama Wira Sabet dan Sura Gentong sambil tertawa. Seperti mereka menyebut Ki Jagabaya dan Ki Bekel.

Orang yang bertubuh kuat dan kekar itu bergumam, “Sampurna itu adalah anak Ki Jagabaya”

Sementara itu Sampurna, Manggada dan Laksana telah menjelajahi padukuhan Gemawang. Mereka bertemu dengan orang-orang yang menjadi keheranan seperti orang bertubuh kuat dan kekar itu. Bahkan anak-anak muda sebaya merekapun merasa heran melihat sikap itu. Sikap yang tidak sama seperti sikap orang-orang padukuhan itu pada umumnya.

Namun hari itu Sampurna, Manggada dan Laksana telah mulai menggelitik jantung orang-orang padukuhan itu. Mereka memang heran. Tetapi sikap ketiga anak muda itu mulai mereka renungkan.

Tetapi sebagian besar dari orang-orang padukuhan itu justru menjadi cemas bahwa anak-anak muda itu akan mengalami kesulitan.

Tetapi hari itu, Wira Sabet dan Sura Gentong tidak memasuki padukuhan. Karena itu, maka Sampurna, Manggada dan Laksana dapat mengelilingi padukuhannya tanpa terganggu sama sekali.

Meskipun demikian tingkah laku ketiga orang anak muda itu tidak lepas dari pengawasan orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong. Ternyata ada dua orang pengikut mereka yang melihat ketiga orang anak muda berkuda mengelilingi padukuhan tanpa rasa takut sama sekali.

Ketika hal itu mereka laporkan kepada Wira Sabet dan Sura Gentong, maka Sura Gentong pun membentak dengan kasar, “Siapakah mereka itu?”

“Kami belum tahu” jawab pengikutnya.

Pideksa yang juga mendengar laporan itu berkata di dalam hatinya, “Tentu Manggada dan adik sepupunya itu. Tetapi siapa yang seorang lagi?”

Namun Pideksa sama sekali tidak menyebut nama mereka di hadapan pamannya yang garang sekali itu.

Wira Sabet pun menggeram. Tetapi gejolak di dadanya berbeda dengan gejolak kemarahan Sura Gentong. Wira Sabet menjadi sangat kecewa terhadap sikap anak-anak muda itu. Ia sudah memperingatkan bahwa sebaiknya mereka tidak melibatkan dirinya dalam persoalan yang menyangkut dendam mereka kepada bebahu padukuhan itu.

“Mereka memang keras kepala” berkata Wira Sabet di dalam hatinya. Seperti Pideksa ia pun segera menduga bahwa anak-anak muda itu tentu Manggada dan Laksana. Tetapi ia pun bertanya, “Siapakah yang seorang lagi?”

Dalam pada itu, Sura Gentong pun berkata lantang kepada pengikutnya, “Besok kalian harus mengetahui siapakah ketiga orang anak muda itu”

Pengikut Sura Gentong itu mengangguk sambil menjawab, “Baik. Besok aku tentu mengetahui siapakah mereka itu”

Demikianlah, dihari berikutnya Sampurna, Manggada dan Laksana mengulangi sebagaimana dilakukan sehari sebelumnya. Bertiga mereka mengelilingi padukuhan. Bahkan mereka telah memasuki regol-regol halaman rumah kawan-kawan mereka untuk menyatakan sikap mereka.

Tetapi orang-orang padukuhan itu masih saja menganggap kelakuan ketiga anak muda itu sebagai sesuatu yang aneh, yang tidak masuk akal dan bahkan rasa-rasanya tidak dapat terjadi.

Namun yang mereka cemaskan bahwa tingkah laku anak-anak muda itu akan menimbulkan kesulitan bagi padukuhan mereka, ternyata memang terjadi.

Ketika matahari sedikit melewati puncak langit, maka seorang laki-laki yang masih terhitung muda, berjalan terhuyung-huyung memasuki regol padukuhan. Pakaiannya bukan saja basah oleh keringat, tetapi juga oleh darah.

Demikian orang itu sempat berpegangan pada tiang regol padukuhan, maka ia pun berteriak dengan sisa kekuatannya, “Tolong, tolong”

Suaranya melengking menggetarkan udara padukuhan Gemawang. Beberapa orang yang tinggal tidak jauh dari regol itu memang mendengar teriakan itu. Tetapi mereka merasa ragu-ragu untuk keluar dari halaman rumah mereka.

Namun ketika orang itu berteriak sekali lagi, maka satu dua orang mulai keluar dari rumahnya. Dengan ragu-ragu mereka mengintip dari balik pintu regol halaman. Baru ketika mereka yakin tidak melihat sesuatu, maka mereka perlahan-lahan dan berhati-hati keluar dan turun ke jalan.

Demikian mereka melihat seseorang berdiri berpegangan tiang regol padukuhan, maka tiga orang laki-laki segera berlari mendekatinya. Dengan cepat mereka menangkap orang yang hampir roboh karena kekuatannya seakan-akan telah terkuras sebagaimana darahnya yang mengalir dari tubuhnya.

Dengan cepat ketiga orang laki-laki itu telah membawa orang yang terluka itu ke rumah yang terletak di ujung padukuhan. Sementara itu beberapa orang yang lain yang datang kemudian, telah mengikuti mereka memasuki halaman rumah itu pula.

“Apa yang telah terjadi?” merekapun telah saling bertanya.

Tidak seorangpun yang segera dapat menjawab, sementara orang yang terluka itupun masih sulit untuk dapat diajak berbicara.

Baru kemudian, setelah agak menjadi tenang, serta setelah minum beberapa teguk, ia berceritera dengan kata-kata yang sendat tentang apa yang telah terjadi atas dirinya.

“Tiga laki-laki itu mencari tiga orang berkuda” berkata orang itu.

“Ketiga anak-anak muda itu?” desis seseorang.

“Ya” jawab orang yang terluka itu.

“Apa yang kau katakan?” bertanya salah seorang yang menolongnya.

“Aku tidak dapat berbohong. Mereka mencekikku. Memukulku dan melukai tubuhku dengan pisau” jawab orang itu, “aku terpaksa mengatakan bahwa mereka adalah Sampurna, anak Ki Jagabaya, Manggada, anak Ki Kertasana dan sepupunya Laksana”

Ketiga orang yang menolongnya itu saling berpandangan. Seorang di antara mereka berkata, “Aku sudah memperingatkan ketiga orang anak muda itu. Sebaiknya beritahukan mereka, agar mereka tidak melakukannya lagi, karena mereka benar-benar telah dicari”

“Kenapa tidak dibiarkan saja? Biar mereka menjadi jera dan kesombongan mereka sendiri” jawab yang seorang.

“Jangan” berkata yang lain lagi, “sebaiknya seseorang datang kepada mereka dan memberitahukan kepada mereka, apa yang telah terjadi. Jika mereka sudah melihat sendiri, maka mereka tentu akan memikirkan kembali tingkah laku mereka”

Yang lain ternyata sependapat. Karena itu, maka salah seorang dari ketiga orang itu telah memberitahukan kepada orang-orang yang ada di halaman, agar salah seorang dari mereka menemui Sampurna, anak Ki Jagabaya. Sementara yang lain diminta untuk mengamati keadaan.

“Mungkin pengikut Sura Gentong itu datang kemari” desis orang itu. Karena orang itu yakin bahwa ketiga orang yang mencari anak-anak muda yang berkuda mengelilingi padukuhan itu adalah pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong.

Dengan tergesa-gesa, bahkan berlari-lari kecil seseorang telah pergi ke rumah Ki Jagabaya. Demikian ia bertemu dengan Sampurna, maka ia langsung memberitahukan apa yang telah terjadi di ujung jalan induk padukuhan itu.

“Jadi pengikut Sura Gentong telah menyakiti salah seorang penghuni padukuhan ini?” bertanya Sampurna.

“Ya” berkata orang itu, “ia sekarang masih dirawat.

“Aku akan segera datang” berkata Sampurna.

Namun Ki Jagabayapun berkata, “Aku juga” Lalu katanya kepada orang yang memberitahukan itu, “pergilah dahulu. Nanti kami segera menyusul”

Orang itu tidak membantah. Ia pun segera meninggalkan rumah Ki jagabaya. Kembali ia berlari-lari. Jantungnya berdebar-debar kalau saja ia juga bertemu dengan ketiga orang pengikut Sura Gentong itu.

Sejenak kemudian Ki Jagabaya pun telah meninggalkan rumahnya bersama Sampurna. Kepada Tantri ia berpesan, “Jika terjadi sesuatu, bunyikan isyarat. Kami tentu mendengarnya”

“Ya, ayah” jawab Tantri.

Sejenak kemudian maka keduanya telah turun ke jalan, Ki Jagabaya hanya berjalan kaki, sementara Sampurna berkuda, karena ia ingin mengajak Manggada dan Laksana.

Beberapa saat kemudian, maka orang-orang yang ada di halaman rumah tempat orang yang terluka itu dirawat, telah menyibak. Ki Jagabaya lah yang lebih dahulu sampai di rumah itu.

Namun sebelum Ki Jagabaya melangkah masuk ke dalam, maka terdengar derap kaki kuda. Sampurna, Manggada dan Laksana telah sampai pula ke tempat itu.

Setelah menambatkan kuda-kuda mereka, maka bersama Ki Jagabaya, mereka telah masuk ke ruang dalam untuk melihat keadaan orang yang telah mengalami kesulitan karena tingkah laku para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong itu.

 

0oOdw-aremaOo0

Bersambung ke jilid 4

 

Karya SH Mintardja

Seri Arya Manggada 3 – Sang Penerus

Sumber djvu : Ismoyo

Convert, editor & ebook oleh : Dewi KZ

Tiraikasih Website

http://kangzusi.com/ http://kang-zusi.info/

http://cerita-silat.co.cc/ http://dewi-kz.com/

kembali | lanjut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s