AM_SKH-01


Serial ARYA MANGGADA

Episode IV: SEJUKNYA KAMPUNG HALAMAN

JILID 1

kembali | lanjut

AMSKH-01SINAR matahari pagi yang cerah telah menyegarkan tubuh Manggada dan Laksana yang berjalan di belakang Ki Pandi. Mereka melintasi bulak panjang yang digelari padi-padi muda. Yang nampak dari ujung sampai ke ujung cakrawala adalah warna yang hijau segar. Satu-satu titik embun yang masih bergayut nampak berkilat-kilat memantulkan cahaya matahari.

Ki Pandi yang bongkok itu berjalan sambil menundukkan kepalanya. Nampaknya memang ada yang sedang direnungkan-nya.

Sementara itu di belakang mereka, Manggada dan Laksana masih juga sempat berkelakar Dengan dahi yang berkerut Laksana berkata, “Sebenarnya aku merasa kecewa terhadap sikap Winih”

“Kenapa?” bertanya Manggada, “bukankah ia bersikap baik terhadap kita. Jika kelak kita kembali, maka ia masih akan tetap menganggap kita sebagai kakaknya sendiri”

“Itulah sebabnya aku menjadi kecewa?”

“Kenapa?” desak Manggada.

“Aku lebih senang jika kelak, apabila kita kembali, kita setidak-tidaknya aku, dianggap sebagai orang lain. Namun diterima dengan baik” jawab Laksana.

“Aku tidak tahu maksudmu” gumam Manggada.

“Ah, kau. Penalaranmu memang tumpul. Kau tahu, jika aku dianggap sebagai kakaknya, aku akan tetap saja menjadi kakaknya. Tetapi jika aku dianggap orang lain, maka mungkin, hanya mungkin, kedudukanku terhadap Winih akan dapat berubah. Ia terlalu cantik untuk menjadi adikku”

Manggada tertawa. Katanya, “Kau memang gila. Kau kira kau pantas bermimpi seperti itu”

Laksanapun tertawa pula, sehingga Ki Pandi pun telah berpaling sambil bertanya, “Ada apa?”

Manggada lah yang menjawab, “Laksana sedang bermimpi”

“Mimpi apa?” bertanya Ki Pandi pula.

“Mimpi tentang seorang gadis yang cantik. Tetapi gadis itu berilmu sangat tinggi, sehingga jika gadis itu marah, maka Laksana di hadapannya akan menjadi seekor tikus di hadapan seekor kucing yang sedang menyusui dan bahkan sedang lapar” jawab Manggada.

Ki Pandi pun tersenyum pula. Ia segera tahu, apa yang sedang dijadikan bahan kelakar anak-anak muda itu. Karena itu, maka iapun berkata, “Aku tahu. Mimpi yang demikian adalah mimpi yang wajar bagi anak-anak muda. Jika seorang anak muda ingin melihat mimpinya menjadi kenyataan, maka ia harus berjuang. Bukan menunggu seperti menunggu titiknya embun di siang hari”

“Ah, tidak Ki Pandi” jawab Laksana, “Manggada berbohong. Aku sama sekali tidak bermimpi, karena bermimpipun aku tidak berani”

“Kenapa tidak berani?” bertanya Ki Pandi justru sambil tertawa.

“Aku bukan apa-apa Ki Pandi. Eh, sepantasnya aku menjadi cantriknya” jawab Laksana.

“Jangan begitu” berkata Ki Pandi. Lalu katanya, “Aku tahu bahwa kalian tidak bersungguh-sungguh. Tetapi pada kesempatan lain, jika kalian bersungguh-sungguh, maka kalian harus berbuat sesuatu”

“Berbuat apa?” bertanya Manggada.

“He, nampaknya kau yang justru lebih dahulu ingin berbuat sesuatu itu” potong Laksana.

Manggada tertawa. Katanya, “Tidak. Aku hanya ingin tahu. Seperti yang dikatakan oleh Ki Pandi, mungkin pada kesempatan lain aku menjadi seekor tikus”

Ki Pandi yang kemudian berjalan di antara kedua orang anak muda itu kemudian berkata, “Nah, anak-anak muda. Agar kalian tidak sekedar menjadi tikus, maka kalian harus belajar menjadi kucing”

Manggadalah yang menyahut, “Tetapi berapa panjang waktu yang diperlukan begi seekor tikus untuk menjadi seekor kucing”

Ki Pandi menepuk bahu Manggada sambil berkata, “Kalian telah dihinggapi penyakit rendah diri”

Manggada memang tidak membantah. Katanya, “Di lingkungan keluarga Kiai Gumrah, kami berdua benar-benar merasa tidak berarti apa-apa”

“Kalian memang salah menilai diri kalian” berkata Ki Pandi, “kalian mengira bahwa harga diri seseorang semata-mata ditentukan oleh kemampuannya dalam olah kanuragan. He, bukankah Winih itu dapat mengatakan kepada kalian bahwa kepribadian seseorang merupakan bagian dari harga diri seseorang”

Kedua orang anak muda itu mengangguk-anguk. Sementara Ki Pandi berkata selanjutnya, “Sebaiknya kalian mulai sekarang berusaha untuk menghapus perasaan rendah diri itu. Jika perasaan itu terlanjur barakar di dalam diri kalian, maka akibatnya akan menjadi kurang baik bagi kalian. Kalian akan terpisah, dan bahkan memisahkan diri dari pergaulan yang seharusnya tidak perlu. Kalian membayang-bayangi diri kalian dengan berbagai macam penilaian yang tidak berarti. Kau ingin satu contoh yang ujud tentang seseorang yang mempunyai perasaan rendah diri”

Kedua orang anak muda itu tidak menjawab. Sedangkan Ki Pandi berkata selanjutnya, “Nah, aku adalah contoh yang dekat di hadapan kalian. Aku adalah seorang yang ditelan oleh perasaan rendah diri itu. Sejak aku menjadi cacat, maka aku merasa tidak pantas lagi bergaul dengan banyak orang. Aku jarang sekali berkumpul dengan anak-anak muda sebayaku waktu itu. Aku lebih senang menyendiri dan hidup di dunia angan-angan. Selebihnya aku telah memaksa diri untuk menguasai berbagai macam ilmu. Dalam perguruan pun aku masih saja dibayangi oleh perasaan rendah diri itu. Untuk menutupinya, maka aku berusaha untuk menjadi salah seorang di antara murid-murid terbaik diperguruanku”

Ki Pandi itu berhenti sejenak. Wajahnya nampak menjadi bersungguh-sungguh. Lalu katanya pula, “Namun betapapun juga aku memiliki ilmu yang tinggi, tetapi hidupku tidak banyak berarti, justru karena kepribadianku rapuh. Aku tetap terasing dari pergaulan. Dan aku tetap menjadi seseorang yang lain dari kehidupan yang wajar”

“Tetapi Ki Pandi sudah berbuat banyak untuk memerangi dunia hitam” berkata Manggada.

“Tetapi gerakku sangat terbatas. Kadang-kadang aku memang merasa diriku menjadi pahlawan. Tetapi perasaan itu adalah sekedar untuk mengimbangi perasaan rendah diriku, sehingga justru karena itu, maka aku seakan-akan menjadi manusia lain dari kewajaran hidup seseorang. Bahkan mungkin seperti hantu yang sesekali muncul kemudian menghilang lagi”

Kedua anak muda itu terdiam. Mereka tidak tahu, apa yang harus mereka katakan.

Sementara itu Ki Pandi masih berkata, “Sekarang aku melihat anak-anak muda yang juga merasa rendah diri. Tetapi aku tahu, bahwa kalian merasa rendah diri hanya pada satu sisi, yaitu pada sisi olah kanuragan. Jika apa yang kalian anggap kekurangan itu sudah terangkat, maka kalian tentu tidak akan merasa rendah diri lagi. Berbeda dengan aku. Apapun yang dapat aku perbuat, tetapi cacat ini akan selalu melekat padaku, sehingga aku akan tetap merasa rendah diri untuk sepanjang umurku”

“Tetapi bukankah Ki Pandi menyadari bahwa perasaan rendah diri itu seharusnya disingkirkan, karena tidak berarti apa-apa dan bahkan hanya merugikan diri sendiri, sebagaimana Ki Pandi nasehatkan kepada kami?” bertanya Laksana.

Ki Pandi itu tersenyum. Katanya, “Memang agaknya lebih mudah untuk menasehati orang lain daripada menasehati diri sendiri”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Namun keduanya tidak bertanya lebih banyak lagi. Untuk beberapa saat mereka sempat merenungi diri mereka, bagaimana mereka merasa sangat kecil di antara raksasa-raksasa di dunia olah kanuragan. Bahkan Winih, gadis yang cantik itu pun memiliki ilmu yang tinggi pula.

Sementara itu, matahari telah memanjat langit semakin tinggi. Panasnya terasa mulai menggatalkan kulit. Di langit, awan yang tipis mengalir tertiup angin semilir. Daun pohon turi yang tumbuh di sebelah menyebelah jalan menggeliat perlahan-lahan.

Dalam pada itu, tiba-tiba saja Manggada bertanya, “Ki Pandi. Apakah Ki Pandi mengetahui tentang tombak dan payung yang disimpan oleh Kiai Gumrah itu”

Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tidak tahu pasti. Tetapi menurut dugaaanku, pusaka-pusaka itu adalah lambang perguruan mereka”

“Tetapi menurut Kiai Gumrah, ada tanda-tanda dari pemilik pusaka-pusaka itu. Hanya mereka yang memiliki tanda-tanda itulah yang akan dapat mengambil pusaka-pusaka itu” desis Laksana.

“Mungkin benar. Tetapi tanda-tanda yang dimaksud justru dibawa oleh salah seorang atau dua murid yang lain. Mungkin Kiai Padma yang disebut juragan itu. Mungkin orang lain” jawab Ki Pandi.

“Tetapi apa hubungannya dengan pendapat Panembahan Lebdagati bahwa jika sampai purnama besok lusa pusaka-pusaka itu belum dimandikan dengan darah yang masih mengalir di jantung, maka tuahnya akan hilang?” bertanya Manggada.

“Bukankah kau tahu latar belakang kepercayaan Panembahan itu? Tetapi mungkin ada maksud lain yang dapat dipertimbangkan. Mungkin Panembahan itu memang berniat membunuh orang-orang yang sementara dapat bekerja bersamanya. Dengan alasan mempertahankan tuah pada pusaka-pusaka itu, maka ia akan menusuk setiap jantung dari orang-orang yang untuk sementara dapat bekerja bersamanya merampas pusaka-pusaka itu. Tetapi aku yakin, bahwa bukan Panembahan itu saja yang merencanakan pengkhianatan seperti itu. Tentu juga yang lain-lain. Kiai Kajar, pemimpin Padepokan Susuhing Angin, Kiai Windu Kusuma dan orang-orang yang terlibat di dalamnya, karena pusaka-pusaka itu memang benar-benar benda yang harganya sangat mahal. Emas dan permata yang melekat pada pusaka-pusaka itu akan dapat dipergunakan untuk membeli sebuah negeri”

“Tetapi darimana Kiai Gumrah dan saudara-saudara seperguruannya mendapatkan benda-benda itu”

“Aku tidak tahu pasti. Tetapi sebagaimana pernah aku dengar tanpa mengetahui kebenarannya, bahwa perguruan Kiai Gumrah itu didirikan oleh seorang bangsawan keturunan Majapahit. Pusaka-pusaka itu tentu juga berasal dari Majapahit jika berita yang aku dengar itu benar” jawab Ki Pandi.

Manggada dan Laksana menganguk-angguk pula. Namun mereka tidak bertanya lagi. Sehingga untuk sesaat kemudian, merekapun berjalan sambil berdiam diri.

Dalam pada itu, hari pun beringsut dari waktu ke waktu. Ketika matahari mulai menuruni sisi langit, maka ketiga orang itu telah singgah di sebuah kedai yang terhitung ramai. Beberapa orang telah singgah di kedai itu ketika Ki Pandi, Manggada dan Laksana melangkah masuk.

Tetapi ketika Manggada dan Laksana akan melangkah ke tengah-tengah ruangan kedai itu, Ki Pandi menggamit mereka sambil berkata, “Kita duduk di sudut itu saja”

“Kenapa?” bertanya Manggada.

“Tidak menjadi perhatian banyak orang” jawab Ki Pandi.

Manggada dan Laksana tidak membantah. Merekapun mengikut Ki Pandi yang memilih tempat di sudut sebagaimana kebiasaan Ki Pandi yang lebih senang menyendiri.

Meskipun demikian, ada juga beberapa orang anak muda yang memperhatikannya. Nampaknya justru anak-anak muda dari lingkungan orang berada. Sambil sekali-sekali memandang Ki Pandi, mereka menahan tertawa mereka disela-sela bisik-bisik lirih. Namun kadang-kadang suara tertawa mereka meledak tanpa dikendalikan lagi.

Namun nampaknya Ki Pandi tidak menghiraukan mereka. Kepada Manggada dan Laksana ia berdesis, “Aku sudah terlalu sering menjadi bahan tertawaan. Dan itu membuat aku semakin merasa rendah diri”

“Aku akan membungkam mulut mereka yang tertawa itu” desis Laksana.

Manggada sudah menjadi berdebar-debar bahwa Laksana benar-benar akan membuat keributan. Tetapi Ki Pandi sendirilah yang mencegahnya, “Sudahlah. Aku merasa bahwa ujudku memang pantas untuk ditertawakan. Tetapi aku tidak kenal mereka dan mereka tidak kenal kau. Besok aku tidak akan bertemu dengan mereka lagi. Karena itu, biarkan saja mereka”

Laksana yang sudah siap untuk bangkit berdiri, menarik nafas dalam-dalam. Dicobanya untuk mengendapkan kembali perasaannya yang bergejolak.

Namun ternyata Ki Pandi sempat menikmati minuman dan makanan yang dipesannya.

“Jarang sekali aku sempat mendapatkan minuman dan makanan seperti ini” berkata Ki Pandi, “biasanya aku minum air dari belik atau pancuran. Kemudian makan apa saja yang diketemukan. Buah-buahan dan akar-akaran. Namun sekali-sekali juga nasi dengan garam. Jika aku kembali ke rumah Ki Ajar Pangukan, maka aku dapat makan lebih teratur”

Kedua anak muda itu termangu-mangu sejenak. Dengan dahi yang berkerut Manggada bertanya, “Dimana Ki Ajar Pangukan sekarang”

“Ia masih tetap berada di rumahnya yang dahulu. Ia tidak berpindah-pindah. Tetapi seperti aku, Ki Ajar memang sering mengembara. Namun sekali waktu, kami berada bersama-sama lagi di rumah itu” jawab Ki Pandi.

Manggada mengangguk kecil. Katanya, “Sekali waktu aku ingin bertemu kembali dengan Ki Ajar”

“Besok pada suatu saat, kita datang ke rumahnya” sahut Ki Pandi.

Namun Laksana hampir tidak dapat memperhatikan pembicaraan itu. Perhatiannya justru tertuju kepada anak-anak muda yang masih saja memperhatikan Ki Pandi sambil sekali-sekali tertawa tertahan.

“Marilah” berkata Ki Pandi, “jika kalian sudah cukup, kita tinggalkan saja tempat ini”

Laksana lah yang kemudian berdiri dan melangkah mendapatkan pemilik kedai itu.

Demikianlah, setelah membayar harga makanan dan minumannya, maka ketiga orang itu telah meninggalkan kedai itu. Tanpa berpaling lagi, Ki Pandi melangkahi tlundak pintu dan turun ke halaman diikuti oleh Manggada dan Laksana.

Ketiga orang itu pun menepi ketika mendengar derap kaki beberapa ekor kuda. Ketika mereka berpaling, ternyata anak-anak muda di kedai itulah yang melarikan kuda mereka mendahului Ki Pandi, Manggada dan Laksana.

Ketiganya harus menutup hidung mereka karena debu yang kelabu berhamburan di belakang kaki-kaki kuda itu.

Mereka bertiga masih mendengar anak-anak muda itu tertawa berkepanjangan. Sementara Ki Pandi berusaha untuk menghibur dirinya sendiri, “Mereka tidak mentertawakan aku”

Beberapa saat kemudian, mereka telah berada kembali di sebuah bulak yang terhitung panjang. Sementara matahari sudah menjadi semakin rendah.

Di kejauhan mereka melihat hutan yang terbentang memanjang kearah Barat. Di depan hutan itu terdapat gumuk-gumuk kecil yang ditumbuhi gerumbul-gerumbul perdu yang membatasinya dengan daerah persawahan.

“Anak-anak muda” berkata Ki Pandi, “hutan itu sangat menarik perhatianku. Sudah beberapa kali aku berada di dalamnya untuk sekedar mengamati isinya. Kedua ekor harimauku juga ada di hutan itu”

“Jadi Ki Pandi sudah sering pergi ke hutan itu?” bertanya Manggada.

“Ya. Jika kalian bersedia, kita akan bermalam di hutan itu malam nanti” ajak Ki Pandi.

Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Dengan ragu-ragu Manggada bertanya kepada adik sepupunya itu, “Bagaimana jika kita bermalam di hutan itu semalam sebagaimana dikatakan oleh Ki Pandi”

“Aku tidak berkeberatan” jawab Laksana.

“Baiklah” berkata Ki Pandi, “kita akan langsung menuju ke hutan itu”

Demikianlah, maka bertiga mereka telah meninggalkan jalan yang mereka lalui. Mereka telah meloncati tanggul parit, mengikuti jalan pintas sepanjang pematang sawah menuju ke padang perdu dengan gumuk-gumuk kecil yang berserakan. Hanya ada satu dua batang pohon yang agak besar tumbuh di sela-sela gumuk-gumuk kecil itu. Namun semakin dekat dengan hutan yang lebat itu, maka pepohonan pun menjadi semakin banyak.

Sebelum matahari terbenam, mereka telah berada di dalam hutan itu. Meskipun matahari masih nampak di langit, tetapi semakin dalam mereka memasuki hutan itu, maka rasa-rasanya malam sudah mulai turun. Tetapi dari sela-sela daun pepohonan yang rimbun masih nampak berkas-berkas cahaya matahari yang berhasil menyusup menimpa pohon-pohon raksasa yang bertebaran di antara beribu-ribu batang pohon yang seakan-akan saling berdesakan.

Manggada dan Laksana bukan untuk yang pertama kali memasuki hutan-hutan yang lebat. Ketika mereka masih berguru, mereka sudah sering mencari harimau untuk dikuliti. Kulitnya dapat mereka jual kepada beberapa orang pedagang yang memang mencari kulit harimau sebagai barang dagangan.

Namun pamannya pun kemudian telah menasehatkan agar mereka menghentikan kegiatan itu.

Kemudian Manggada dan Laksana juga telah menyeberangi hutan Jatimalang bersama Ki Wiradadi yang kehilangan anak gadisnya. Justru di seberang hutan itulah Manggada dan Laksana bertemu dengan Ki Pandi dan Ki Ajar Pangukan.

Karena itu, keduanya memang tidak terlalu canggung berada di dalam hutan yang terhitung lebat itu.

“Hutan ini merupakan hutan yang jarang disentuh kaki manusia” berkata Ki Pandi. Lalu katanya selanjutnya, “Hutan ini termasuk hutan yang lebat, sebagaimana hutan Jatimalang. Tetapi hutan ini tidak menyembunyikan satu lingkungan sebagaimana yang terdapat di belakang hutan Jatimalang”

“Jadi apa yang menarik dari hutan ini?” bertanya Laksana.

“Tidak seperti hutan Jatimalang yang miring karena letaknya di kaki gunung. Hutan ini datar. Ada rawa-rawa di dalamnya. Pohon-pohon raksasa yang jumlahnya lebih banyak. Batu-batu besar yang berserakan di dalamnya sebagaimana terdapat gumuk-gumuk kecil di padang perdu itu. Sedangkan dikedung bagian Barat hutan ini terdapat sarang sejenis buaya kerdil yang liar dan buas”

“Buaya kerdil?” ulang Manggada.

“Ya. Sejenis buaya yang tidak begitu besar. Tetapi justru sangat berbahaya. Geraknya lebih tangkas dan kebiasaannya bergerombol dan bergerak bersama-sama. Ketika terjadi perkelahian antara sekelompok buaya itu dengan sekelompok anjing hutan yang juga banyak terdapat di hutan ini, aku sempat merasa ngeri. Kedua-duanya merupakan jenis binatang yang bergerombol dan berkelahi bersama-sama”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Nampaknya selain berceritera, Ki Pandi juga memberikan peringatan-peringatan dini kepada Manggada dan Laksana.

Sementara itu, maka langit pun menjadi semakin buram. Dari balik pegunungan disisi Timur, bulan yang hampir purnama mulai muncul. Meskipun demikian, di dalam hutan itu rasa-rasanya memang menjadi semakin kelam.

Namun mata Manggada dan Laksana sudah terlatih sejak mereka masih berguru pada Ki Citrabawa. Mereka sering memasuki hutan di malam hari untuk menangkap harimau.

Malam itu mereka bertiga bermalam di hutan itu. Sebenarnya bahwa di dalam hutan itu keadaannya jauh lebih berbahaya daripada keadaan di luar. Jika mereka bermalam di pategalan atau bahkan dibanjar padukuhan, maka mereka tidak akan diganggu oleh binatang buas sebagaimana jika mereka berada di dalam hutan.

Ketika mereka menemukan tempat yang agak lapang, maka mereka bertiga pun beristirahat di atas sebuah batu yang besar dan tergolek dibawah sebatang pohon yang besar pula. Satu-satunya sinar bulan jatuh pula di atas tanah yang lembab.

Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak, ketika ia melihat Ki Pandi mengambil serulingnya. Kemudian diletakkannya ujung serulingnya di mulutnya. Sejenak kemudian terdengar suaranya yang membumbung menggetarkan dedaunan. Tidak terdengar lagu atau nada-nada dalam irama yang manis. Tetapi tidak lebih dari satu suitan yang nyaring.

Ternyata beberapa saat kemudian, terdengar aum harimau di kejauhan. Bersahutan.

Manggada dan Laksana pun segera mengetahui, bahwa dua ekor harimau Ki Pandi telah mendengar isyarat pemiliknya.

Karena itu, ketika dalam keremangan malam yang ditaburi cahaya bulan itu mereka melihat dua ekor harimau, maka Manggada dan Laksana justru merasa lebih tenang. Apalagi ketika kedua ekor harimau itu mendekat dan mendekam di sebelah batu besar itu.

Untuk beberapa saat kemudian, Manggada dan Laksana sempat memperhatikan suara-suara malam di hutan yang lebat. Bagi mereka suara-suara itu memang tidak asing lagi. Hutan yang pernah dirambahnya di malam hari juga memperdengarkan suara-suara yang hampir sama.

Ketika bulan menjadi semakin tinggi, maka cahayanya telah menembus dedaunan yang agak jarang di atas tempat duduk ketiga orang itu. Laksana yang duduk memeluk lututnya, sekali-sekali menepak nyamuk yang hinggap dan menggigit kulitnya.

Dalam pada itu, maka Ki Pandi yang untuk beberapa saat berdiam diri itupun berkata, “Anak-anak muda. Kalian telah cukup lama mengembara. Bagaimana pendapat kalian, jika pengembaraan kalian ditambah satu bulan lagi”

Manggada dan laksana tidak begitu memahami kata-kata Ki Pandi itu. Karena itu, maka Manggada pun bertanya, “Maksud Ki Pandi”

“Kita akan tertahan sebulan lagi di perjalanan” jawab Ki Pandi.

“Tetapi Pajang sudah dekat. Kemudian beberapa langkah lagi kita akan sampai ke tujuan” jawab Laksana.

“Ya. Aku tahu. Tetapi sebelum kalian sampai, apakah kalian bersedia menjalani laku sebulan lamanya bersamaku di hutan ini? Kita akan mulai nanti saat bulan purnama, dua hari lagi. Dan kita akan mengakhiri disaat purnama sebulan kemudian” berkata Ki Pandi.

“Tetapi kita sudah terlalu lama berada di perjalanan” berkata Manggada.

“Jika waktu yang sudah terlalu lama itu ditambah dengan satu bulan lagi, maka tentu tidak akan terasa lebih lama” sahut Ki Pandi.

“Tetapi laku apa yang harus kami jalani. Ki Pandi?” bertanya Manggada kemudian.

“Jika kalian bersedia, maka kalian akan mendapatkan banyak sekali bahan-bahan yang akan dapat melengkapi ilmu kalian. Mungkin tataran ilmu kalian tidak meningkat dengan jelas. Tetapi unsur-unsur ilmu kalian akan menjadi semakin lengkap. Kalian akan memiliki banyak cara untuk mengatasi kesulitan apabila kalian berhadapan dengan lawan yang berilmu tinggi sekalipun” jawab Ki Pandi.

Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Dengan ragu-ragu Laksana bertanya, “Laku apa yang akan kita jalani seandainya kami bersedia melakukannya”

Ki Pandi menarik nafas panjang. Namun kemudian katanya dengan nada dalam, “Anak-anak muda, jika kalian bersedia, kalian akan aku minta menjalani Tapa Ngidang selama satu bulan di hutan ini. Dari purnama sampai ke purnama. Memang tidak ada hubungannya dengan kebulatan bulan di langit. Jika aku menyebutnya dari purnama sampai ke purnama itu sekedar sebagai ancar-ancar waktu saja”

Kedua orang anak muda itu saling berpandangan sejenak. Dengan dahi yang berkerut Manggada bertanya ”Lalu apakah yang harus kami jalani dengan Tapa Ngidang itu”

“Kita berlaku seperti seekor kijang di dalam hutan ini” jawab Ki Pandi.

“Seperti kijang?” ulang Laksana, “aku tidak dapat membayangkan, apa saja yang harus kami lakukan”

“Anak-anak muda, di hutan yang tidak pernah dikunjungi orang ini, bahkan orang mencari kayu sekalipun, kita akan menanggalkan semua pakaian kita. Kita akan memakai cawat dari kulit kayu. Kita akan hidup di hutan ini dengan cara seperti seekor kijang. Kita akan makan dan minum dari apa saja yang kita temukan di hutan ini. Kita akan menjelajah hutan dari ujung sampai ke ujung”

“Lalu apa yang akan kami dapatkan dari laku itu?” bertanya Manggada.

“Anak-anak muda. Tapa Ngidang bukan berarti kita menjadi kijang. Kita memang berlaku seperti kijang. Kita tetap saja dalam pribadi kita masing-masing. Kita tetap seseorang yang mempunyai akal budi. Jika kita lepaskan pakaian kita, karena pakaian itu dapat mengganggu gerak kita, serta pakaian kita akan dapat menjadi rusak, sedangkan hal itu sebenarnya tidak perlu. Kita akan berlari-lari di dalam lebatnya dedaunan dan akar-akar serta sulur-sulur kayu bahkan di antara semak dan duri. Tetapi kita tidak seperti kijang yang hanya dapat melarikan diri jika bertemu dengan binatang buas. Tetapi kita akan mampu melawannya, atau kita dapat memanjat pohon. Sedangkan seekor kijang tidak dapat melakukannya. Dengan laku itu kita akan melihat dan mengamati apa saja yang dilakukan oleh binatang binatang hutan. Dari seekor harimau, buaya di rawa-rawa, berjenis-jenis kera pepohonan, ular bahkan binatang-binatang kecil sampai ke tikus tanah. Bagaimana mereka mencari mangsanya, namun juga bagaimana binatang-binatang yang lebih lemah menyelamatkan dirinya dari tangan binatang-binatang yang jauh lebih kuat”

Manggada dan Laksana menarik nafas dalam-dalam. Mereka membayangkan betapa beratnya laku yang harus dijalaninya. Dingin malam, gatalnya dedaunan yang berbulu, goresan-goresan duri dan ranting-ranting perdu. Bahkan racun dari serangga-serangga berbisa serta sengat lebah-lebah raksasa.

Untuk beberapa saat kedua anak itu mulai merenung. Namun akhirnya Manggada itu pun berkata kepada Laksana, “Marilah kita coba. Kita berharap bahwa laku itu akan memberikan arti bagi kita, khususnya di dalam olah kanuragan”

“Tidak hanya olah kanuragan” berkata Ki Pandi, “tetapi kalian juga akan mengenal jenis-jenis tanaman jauh lebih banyak. Kalian juga akan dapat mengenali tingkah laku binatang yang sebelumnya tidak pernah kalian lihat. Selain itu, kalian juga akan mengenali jenis-jenis tanah di dalam hutan serta arti matahari dan bulan. Kalian akan lebih mengenali siang dan malam karena kalian tidak akan pernah menghindarinya. Hujan, angin dan dinginnya malam”

Laksanapun ternyata mengangguk sambil menjawab, “Baiklah. Kita akan menunda perjalanan pulang kita sebulan lagi, meskipun kita sudah tidak terlalu jauh lagi dari rumah”

Demikianlah, maka Ki Pandi telah mempersiapkan anak-anak muda itu untuk menjalani laku Tapa Ngidang. Sebelum purnama naik, selama dua hari mereka membiasakan diri serta mengenali isi hutan itu. Mereka mulai makan apa yang ada serta minum dari sulur-sulur kayu yang dipotong ujungnya atau air belik yang bening dibawah pohon-pohon raksasa.

Menjelang purnama, maka Ki Pandi mengajari anak-anak muda itu membuat pakaian dari kulit kayu. Beberapa lembar kulit kayu yang berserat, dikeringkan. Kemudian kulit kayu itu ditumbuk perlahan-lahan sehingga menjadi lemas, sehingga jika dikenakannya tidak membuat kulit mereka menjadi lecet. Merekapun telah membuat tali dari serat kekayuan untuk membuat tali ikat pinggang.

Ketika semua perlengkapan dan pakaian khusus mereka sudah siap, maka menjelang malam mereka pun telah melepaskan pakaian mereka, membungkusnya dengan rapi dan diikatkan pada dahan pohon yang cukup besar, sehingga tidak mudah jatuh, bahkan diambil oleh binatang yang memanjat, terutama kera.

Demikian bulan mulai nampak di langit, maka bertiga mereka telah mengenakan pakaian yang mereka buat dari kulit kayu.

“Malam ini tentu akan terasa sangat dingin bagi kalian. Gatal-gatal pada kulit kalian serta perasaan-perasaan lain yang tidak menyenangkan. Tetapi kalian harus menganggap bahwa hal itu merupakan pendadaran, apakah kalian pantas menjalani laku Tapa Ngidang atau tidak”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Dingin malam yang kemudian turun memang nulai terasa menyentuh kulit. Tetapi mereka sebelumnya juga sudah sering melepas baju mereka di malam hari. Bahkan ketika mereka masih menempa diri, maka mereka sudah terbiasa berada di hutan tanpa baju meskipun tidak mengenakan pakaian khusus dari kulit kayu.

Malam itu Manggada dan Laksana masih belum mengalami laku yang sebenarnya, selain hanya berjalan menyusuri hutan yang sepi itu. Sekali-sekali, jika mereka sampai di tempat yang agak lapang, mereka sempat memandangi bulatnya bulan dari sela-sela dedaunan. Namun kemudian langitpun rasa-rasanya segera menjadi pepat sekali setelah mereka menyusup kembali di antara pohon-pohon raksasa.

Tetapi malam itu Ki Pandi sudah mengatakan bahwa sejak esok pagi, mereka akan benar-benar meenjalani laku Tapa Ngidang.

Demikianlah, lewat tengah malam mereka mencari tempat untuk tidur. Menurut Ki Pandi, yang terbaik bagi mereka adalah tidur di atas dahan yang besar.

Manggada dan Laksana sependapat. Mereka pernah mengalaminya, tidur di atas dahan sebatang pohon yang besar.

Tetapi Ki Pandi minta keduanya tetap berhati-hati. Salah seorang dari antara kalian harus tetap terjaga. Disini ada sejenis harimau yang berkeliaran di dahan-dahan. Macan Kumbang yang berwarna hitam. Selain itu, mungkin kera-kera yang nakal akan dapat juga mengganggu. Selain binatang-binatang berkaki dan buas, maka ular harus mendapat perhatian mereka pula.

Malam itu, Manggada dan Laksana memang sulit untuk dapat tidur. Rasa-rasanya mereka berarap bahwa harimau-harimau peliharaan Ki Pandi akan lewat. Kehadiran kedua ekor harimau itu akan dapat membuat mereka lebih tenang. Tetapi agaknya Ki Pandi sudah memberi isyarat agar kedua ekor harimaunya itu menjauh.

Namun meskipun hanya sesaat-sesaat Manggada dan Laksana dapat juga tidur bergantian. Ketika bulan tenggelam, serta cahaya fajar mulai nampak, maka Manggada yang menggeliat sambil duduk dialas dahan yang besar itu berkata, “Dimana kita mandi”

“Siapa yang akan mandi?” bertanya Ki Pandi.

“Aku. Kita. Bukankah kita akan mandi”

“Kita tidak perlu mandi dengan teratur sebagaimana sebelumya. Mungkin nanti, besok atau lusa kita akan menyeberangi sungai yang mengalir ditengah-tengah hutan ini. Dalam kesempatan itu, kita sekaligus akan mandi” jawab Ki Pandi.

Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Laksana pun bertanya, “Jadi mungkin kita belum tentu mandi dalam sehari? Justru saat kita bergulat dengan tanah berlumpur, pepohonan dan sampah yang tertimbun karena daun-daun kering yang berguguran. Bahkan mungkin lugut yang gatal dari beberapa jenis pohon dan dedaunan. Bahkan juga keringat kita sendiri yang tentu akan banyak mengalir”

Ki Pandi mengangguk sambil menjawab, “Ya. Kita tidak akan mandi. Kecuali jika kita menyeberangi sungai. Tetapi ingat, bahwa di kedung di tikungan sungai yang mengalir di hutan ini, banyak terdapat buaya kerdil yang sangat liar dan buas”

Manggada dan Laksana hanya dapat mengangguk-angguk saja.

“Nah, sekarang kita benar-benar akan melakukan Tapa Ngidang itu. Marilah. Ikuti aku. Kita akan menjelajahi hutan ini. Tentu saja pertama-tama untuk mengenalinya. Namun, kemudian benar-benar memperhatikan dan memahami isinya ” Ki Pandi berhenti sejenak. Lalu katanya lagi, “Tapa Ngidang yang sebenarnya termasuk Tapa Mbisu. Tetapi kita tidak akan melakukannya. Kita akan tetap berbicara karena kita memang dapat berbicara”

Manggada dan Laksana itupun kemudian melangkah mengikuti Ki Pandi yang bongkok itu. Mula-mula mereka berjalan saja di antara pohon-pohon raksasa. Sekali-sekali mereka memang melihat semak-semak yang berguncang. Seekor kijang berlari dengan kencangnya.

Ki Pandi itu berjalan semakin lama semakin cepat. Bahkan kemudian ia mulai berlari-lari kecil. Menyusup semak-semak dan meloncati batang-batang kayu yang roboh.

Manggada dan Laksana hanya mengikutinya saja. Keduanya juga ikut menyusup semak-semak dan meloncati batang-batang kayu yang roboh.

Demikianlah, maka mereka telah melintas hutan yang panjang itu. Ketika mereka sampai di sebuah rawa yang menggenang, maka mereka telah melingkari tepi-tepi rawa itu. Berbagai tumbuh-tumbuhan air tumbuh di dalam rawa-rawa itu. Tidak kalah hebatnya dengan batang-batang pohon yang tumbuh di tanah.

Pada hari yang pertama itu, agaknya Ki Pandi masih belum memperkenalkan Manggada dan Laksana dengan isi rawa-rawa itu. Karena itu, maka mereka tidak berhenti. Hanya kaki-kaki mereka sajalah yang berdecak pada air berlumpur di ujung rawa-rawa itu.

Ki Pandi memang belum membawa anak-anak muda itu sepenuhnya pada laku yang terlalu berat. Tetapi Ki Pandi menuntun sedikit demi sedikit agar keduanya tidak mengalami gangguan badani, juga jiwani.

Namun ternyata Manggada dan Laksana yang dengan mantap menjalani laku itu, telah menunjukkan betapa mereka dengan sungguh-sungguh melakukan apa saja yang diperintahkan oleh Ki Pandi. Sejak hari yang pertama, mereka telah menunjukkan, bahwa mereka memiliki bekal yang cukup banyak untuk meningkat pada jenjang kemampuan berikut dan berikutnya.

Dengan demikian, maka Ki Pandi pun menjadi semakin berharap atas kedua orang anak muda itu. Seperti yang direncanakannya, maka dari hari ke hari, laku yang dijalani menjadi semakin berat. Mereka tidak saja berlari-lari menyusuri hutan itu sejak matahari belum terbit. Tetapi mereka juga mulai berhubungan dengan penghuninya. Mereka mulai memperhati-kan isi hutan itu dari jenis binatang yang kecil sampai pada binatang yang terbesar yang terdapat di hutan itu. Berkali-kali mereka bertemu dengan harimau yang bukan milik ki Pandi. Namun jika masih ada kemungkinan untuk menghindar, mereka selalu menghindarinya. Yang mereka perhatikan, bagaimana binatang-binatang itu mempertahankan hidupnya dalam garangnya pergaulan di dalam rimba yang lebat.

Tetapi semakin lama mereka berada di hutan, maka mereka tidak selalu dapat menghindari pertarungan yang keras melawan binatang binatang liar di dalam hutan beberapa jenis harimau pernah mereka hadapi. Namun mereka masih menghindar jika bertemu dengan sekelompok anjing hutan liar yang sangat berbahaya. Jika tidak mungkin lagi menghindar, maka Ki Pandi terpaksa memanggil kedua ekor harimaunya untuk mengusir anjing-anjing hutan yang ganas dan licik itu. Namun yang biasa dilakukan oleh ketiga orang itu jika mereka bertemu dengan gerombolan anjing liar adalah dengan memanjat sebatang pohon.

Yang menarik perhatian mereka adalah kelompok-kelompok buaya kerdil yang hidup di dalam kedung. Sebuah tikungan sungai yang airnya cukup dalam. Seperti yang diceritakan oleh Ki Pandi, maka Manggada dan Laksana juga sempat melihat, pertarungan yang mengerikan antara sekelompok buaya kerdil melawan sekelompok anjing hutan liar yang lapar.

Pertarungan itu dimulai ketika beberapa ekor anjing hutan yang haus minum dari air kedung itu. Tiba-tiba saja seekor di antaranya telah disambar oleh seekor buaya kerdil. Lengking anjing itu ternyata telah memanggil segerombolan kawan-kawannya. Dengan demikian, maka pertarungan pun tidak dapat dihindarkan ketika sekelompok buaya kerdil naik ke darat.

Manggada dan Laksana yang sudah memiliki pengalaman menghadapi benturan kekerasan, masih juga merasa sangat ngeri menyaksikan apa yang terjadi. Kedung itu menjadi merah, mereka tidak jelas melihat bagaimana pertarungan itu berakhir. Namun yang nampak kemudian adalah beberapa ekor anjing hutan terseret ke dalam kedung, sementara beberapa ekor buaya kerdil yang berkulit keras itu dapat juga terkoyak oleh gigi-gigi tajam anjing liar, sehingga beberapa ekor di antaranya harus tertinggal di darat. Mati.

“Itulah akibat jika terjadi pertempuran” berkata Ki Pandi, “bukan saja antara binatang liar yang buas. Tetapi pertempuran antara sekelompok manusia melawan kelompok yang lain, akibatnya akan sama saja sebagaimana kau lihat yang terjadi di rumah Kiai Windu Kusuma”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sementara itu Ki Pandi pun berkata selanjutnya, “Apalagi manusia mempunyai akal dan penalaran. Mereka dapat berbuat lebih jahat dari binatang-binatang liar itu”

Manggada dan Laksana masih saja mendengarkan keterangan Ki Pandi itu sambil mengangguk-angguk.

Demikianlah, selama Tapa Ngidang banyak sekali yang dapat dilihat oleh Manggada dan Laksana. Sementara itu, selama berada di hutan itu, Manggada dan Laksana telah menempa diri mereka pula. Selama menjalani laku, maka mereka makan apa saja yang mereka dapatkan di hutan itu. Apa yang dapat dimakan oleh seekor kijang, maka mereka pun dapat pula memakannya. Tetapi lebih dari itu, maka mereka pun makan apa yang dapat dimakan oleh seekor kera. Bahkan apa yang dapat dimakan oleh seekor harimau. Sebagaimana dikatakan oleh Ki Pandi bahwa mereka tidak menjadi seekor kijang, tetapi mereka tetap berlandaskan akal budi mereka.

Karena itu, maka merekapun tetap menggunakan kemampu-an membuat api. Kemampuan yang tidak dapat dilakukan seekor harimau jika harimau itu berhasil menangkap seekor kijang atau rusa.

Dalam laku Tapa Ngidang, maka Manggada dan Laksana hampir di setiap dini hari, berlari-lari kencang, seperti seekor kijang yang sedang diburu oleh seekor harimau. Menyusup di antara pohon-pohon perdu, melingkari pepohonan, meloncati batang-batang kayu yang melintang, menyusuri tepi rawa-rawa, menyeberangi sungai dan berloncatan di atas bebatuan serta mengatasi rintangan-rintangan yang lain. Mereka juga melatih ketajaman penglihatan mereka. Kepekaan mereka terhadap keadaan di sekitarnya. Namun juga pernafasan mereka.

Dari kehidupan berbagai macam binatang, mereka mendapatkan berbagai macam unsur gerak yang dapat mengisi kekurangan penguasaan mereka atas unsur-unsur gerak yang telah mereka pelajari. Ketrampilan mempergunakan tangan dan kaki, serta ketajaman naluri dan penggraita.

Ki Pandi yang mengamati kedua orang anak muda itu memang meyakini, bahwa keduanya akan mendapatkan sesuatu yang sangat berharga selama satu bulan berada di dalam hutan. Bukan saja kemampuan dalan olah kanuragan serta peningkatan tenaga dan daya tahan mereka, tetapi juga ketahanan jiwani yang akan dapat menjadi pendukung landasan pribadi mereka.

Dalam pada itu, dari hari ke hari, malampun rasa-rasanya menjadi semakin gelap. Sedikit demi sedikit, kebulatan bulan pun menjadi semakin menyusut, sehingga malam pun menjadi gelap pekat. Namun mata Manggada dan Laksana menjadi terbiasa dengan gelapnya malam di dalam hutan. Selain latihan yang dilakukan sedikit demi sedikit sesuai dengan susutnya cahaya bulan, keduanya memang sudah berbekal katajaman penglihatan dan pendengaran. Sehingga sebagaimana sebilah mata pisau yang tajam yang selalu diasah, akan menjadi semakin tajam pula.

Dengan demikian, maka apa yang dapat dicapai oleh Manggada dan Laksana selama mereka berada di hutan dalam laku Tapa Ngidang ternyata melampaui apa yang diperkirakan oleh Ki Pandi. Ketika bulan gelap, maka Manggada dan Laksana telah mampu menyerap pengalaman, pengenalan dan pengetahuan sebagaimana diperkirakan akan dapat diserap dalam jarak waktu dari purnama sampai ke purnama.

Demikian pula peningkatan kekuatan, ketrampilan dan ketahanan tubuhnya.

Namun Ki Pandi tidak menghentikan laku Tapa Ngidang itu hanya setengah bulan. Laku itu pun dilanjutkan hingga batas waktu yang sudah ditetapkan. Namun dengan hasil yang jauh lebih banyak dari yang diharapkan.

Justru setelah melihat hasil dari laku yang dijalani oleh Manggada dan Laksana, maka pada hari-hari terakhir, Ki Pandi telah membawa anak-anak muda itu memasuki satu laku yang lebih berat. Tiga malam mereka akan menjalani laku dengan berendam di sungai. Mereka memilih tempat yang agak jauh dari kedung, sarang buaya-buaya kerdil yang buas itu. Kemudian tiga malam terakhir mereka berada di hutan itu, menjelang bulan purnama, mereka akan mejalani laku Tapa Ngalong. Di malam hari mereka akan bergayut pada dahan sebatang pohon yang tinggi dengan kaki mereka. Sementara di siang hari mereka tetap menjelajahi hutan itu dari ujung sampai keujung. Mereka sempat melengkapi pengenalan mereka dengan kehidupan burung-burung. Dari burung-burung kecil, sampai pada burung-burung buas yang berparuh melengkung. Sekali-sekali mereka berlama-lama berada dibawah sebatang pohon raksasa yang menjadi sarang burung elang yang buas. Namun mereka pun kadang-kadang berdiri ditepi hutan melihat burung alap-alap meluncur memburu mangsanya. Namun merekapun melihat bagaimana sejenis burung tekukur mampu melepaskan diri dari terkaman burung alap-alap yang mampu terbang lebih cepat dari burung yang diburunya.

Di kesempatan lain, mereka melihat seekor burung srigunting yang bertarung melawan burung elang yang lebih besar yang lebih besar dan buas. Namun kecepatan gerak burung yang lebih kecil itu membuat lawannya menjadi bingung, sehingga elang itu merasa lebih baik menyingkir untuk saja.

Demikianlah, hari pun merangkak terus, sehingga akhirya laku Tapa Ngidang, berendam di air serta Tapa Ngalong, telah selesai dijalani. Sementara itu, di malam-malam terakhir, langit menjadi terang kembali. Bulan yang gelap semakin lama menjadi semakin terang, sehingga akhirnya, sampailah mereka pada malam purnama.

Bulan bulat bertengger di langit. Bintang nampak gemerlapan. Selembar-selembar awan yang tipis mengalir dihembus angin.

Ki Pandi menganggap laku yang dijalani oleh Manggada dan Laksana sudah selesai. Menjelang tengah malam, saat inilah bulat berada di puncak, ketiga orang itu pun telah mandi keramas di sungai. Mereka membersihkan semua kotoran yang melekat di tubuh mereka, karena selama mereka menjalani laku, mereka tidak dapat mandi setiap hari. Beruntunglah bahwa mereka menjalani laku dengan berendam di dalam air selama tiga malam berturut-turut, sehingga kotoran di tubuh mereka hanyut dibawa arus sungai itu.

Selesai dengan mandi keramas, maka mereka pun telah mencari pakaian mereka yang mereka simpan. Mereka mulai menanggalkan pakaian mereka yang dibuat dari kulit kayu diikat dengan tali serat pada pinggangnya.

Demikian mereka mengenakan pakaian mereka, maka rasa-rasanya tubuh mereka menjadi hangat. Seluruh tubuh mereka seakan-akan telah terbungkus rapat.

Setelah sebulan mereka mengenakan pakaian dari kulit kayu, maka rasa-rasanya dengan berpakaian lengkap, gerak mereka memang menjadi lebih terbatas.

Menjelang dini hari, maka mereka pun telah mempersiapkan diri untuk keluar dari hutan itu. Ki Pandi mempergunakan kesempatan itu untuk berbicara bersungguh-sungguh dengan Manggada dan Laksana yang telah selesai menjalani laku.

“Anak-anak” berkata Ki Pandi, “kalian telah melihat, mendengar dan mengalami peristiwa yang bermacam-macam di dalam hutan ini. Kalian telah berlatih dan menempa diri dengan berbagai macam cara. Kalian juga menempa jiwa kalian sehingga kalian menemukan arti dari kesabaran, ketekunan, keuletan, ketabahan dan lebih dari itu, kalian telah lebih banyak mengenali ciptaan dari Yang Maha Agung. Kalian lebih banyak melihat perbedaan antara kehidupan berjenis-jenis binatang dengan kehidupan manusia yang berakal budi. Di rimba ini, siapa yang kuat ialah yang menang tanpa menghiraukan kebenaran dan keadilan. Tidak ada usaha dari binatang-binatang itu untuk melindungi yang lemah dan melawan kelaliman. Dengan demikian, maka kalian akan lebih menghormati nilai-nilai yang dijunjung oleh kita manusia jika kita tidak mau disamakan dengan binatang yang hidup di hutan. Kita bukan mahluk yang menganut tatanan kehidupan rimba, siapa yang kuat ialah yang akan menang”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Namun kata-kata Ki Pandi itu benar-benar telah menyentuh hatinya.

Dengan demikian semakin terasa pula bahwa Sang Maha Pencipta yang bersifat Maha Pengasih dan Maha Penyayang memberikan kita akal dan pikiran yang dapat membedakan baik dan buruk, dan tidak menempuh kehidupan sebagaimana kehidupan di dalam rimba yang lebat itu.

Namun Ki Pandi itu pun kemudian berkata, “Meskipun demikian anak-anak muda. Di lingkungan tatanan kehidupan manusia yang yang sewajarnya itu, masih ada juga yang menjalaninya sebagaimana tatanan kehidupan di dalam rimba. Ada satu dua orang, bahkan satu dua kelompok orang yang menganggap dalam tatanan kehidupan menusia itu juga berlaku paugeran siapakah yang kuat merekalah yang menang. Bahkan ada yang menganggap bahwa menelan sesamanya dapat menjadi pilihan yang sah untuk mencapai maksud serta keinginannya”

Manggada dan Laksana masih saja mengangguk-angguk. Tetapi mereka tidak menjawab. Sedangkan Ki Pandi masih berkata selanjutnya, “Nah, dalam kehidupan yang demikian, di antara orang-orang yang menghormati tata nilai kehidupan serta mereka yang sama sekali tidak menghargainya, kita harus menempatkan diri kita sebaik-baiknya. Kita yang telah mengenali tata kehidupan manusia dan tata kehidupan binatang di hutan, tentu akan mampu dengan landasan nalar dan budi memilih yang terbaik bagi kita dan bertanggung jawab kepada Sang Pencipta”

Manggada dan Laksana masih saja mengangguk-angguk. Namun dari sela-sela bibirnya. Manggada berdesis, “Kami mengerti, Ki Pandi”

“Bagus” berkata Ki Pandi, “jika demikian, mulai besok, kita akan memasuki kembali dunia kita dalam tatanan hidup mahluk Sang Pencipta yang dianugerahi akal dan pikiran”

Dengan demikian, maka Ki Pandi pun membawa dua orang anak muda itu keluar dari hutan.

Bulan yang bulat telah jauh condong di sebelah Barat. Namun sinarnya masih nampak gemerlapan memantul dari wajah dedaunan.

Manggada dan Laksana kemudian berdiri di padang perdu yang luas bersambung bulak persawahan yang membentang sampai ke cakrawala.

“Tidurlah di atas bebatuan itu” berkata Ki Pandi.

Manggada dan Laksana pun kemudian duduk di atas sebuah batu yang besar. Namun Manggadapun bertanya, “Bagaimana dengan Ki Pandi”

“Aku juga akan tidur” jawab Ki Pandi.

Namun Ki Pandi melihat keragu-raguan pada kedua orang anak muda itu. Bahkan Laksana pun kemudian berkata, “Ki Pandi memang harus beristirahat. Biarlah kami bergantian berjaga-jaga”

“Waktunya tinggal sedikit. Sebentar lagi fajar akan datang. Jika kalian berjaga-jaga berganti ganti, maka tidak seorang pun di antara kalian yang sempal tidur.

“Tetapi binatang buas dari hutan itu akan dapat sampai ke tempat ini”

Ki Pandi pun tersenyum. Kemudian, orang bongkok itu telah mengambil serulingnya. Ketika suara seruling yang melengking, maka dua ekor harimau telah muncul dari dalam hutan mendekati Ki Pandi sambil mengibaskan ekornya.

“Nah, kita akan tidur” berkata Ki Pandi, “biarlah kedua ekor harimau itu disini sampai menjelang pagi. Besok, jika kita meninggalkan hutan ini, harimauku akan tinggal di hutan ini. Biarlah mereka hidup di antara paugeran rimba yang berlaku. Sementara kita akan menjalani hidup dalam tatanan yang berbeda”

Kehadiran kedua ekor harimau itu memang membuat Manggada dan Laksana menjadi tenang. Merekapun kemudian berbaring di atas tanah berbatu padas. Meskipun tidak selembar pun alas yang mereka pergunakan, tetapi keadaan itu sudah jauh lebih baik dari saat mereka menjalani laku Tapa Ngidang di dalam hutan.

Meskipun hanya sebentar, ternyata mereka sempat memejamkan mata mereka. Menjelang matahari terbit, mereka terbangun. Bulan sudah menginjak batas langit, sementara kedua ekor harimau Ki Pandi sudah tidak nampak lagi. Tetapi Ki Pandi sendiri duduk bersandar sebatang pohon yang tumbuh di padang perdu itu.

Manggada dan Laksana pun kemudian membenahi diri dan pakaian mereka. Mereka tidak perlu lagi mandi, karena mereka lewat tengah malam baru saja mandi keramas.

“Nah, kita sudah siap sekarang berkata Ki Pandi. “Kita akan menempuh jalan pulang, Ki Pandi” berkata Manggada dengan nada tinggi. Nampak kegembiraan memancar di sorot matanya serta getar suaranya.

“Ya. Aku akan ikut bersama kalian sampai ke rumah kalian”

“Tidak hanya bersama kami sampai ke rumah kami, tetapi Ki Pandi akan tinggal bersama kami” jawab Manggada.

Ki Pandi tersenyum. Katanya ”Tergantung kepada orang tua kalian”

“Orang tuaku akan senang sekali menerima kehadiran Ki Pandi. Apalagi jika orang tuaku tahu apa yang telah Ki Pandi lakukan. Bukan saja Ki Pandi telah memberikan tuntunan bagi kami dalam ilmu kanuragan, tetapi juga apa yang lelah Ki Pandi lakukan bagi sesama. Usaha Ki Pandi untuk melawan kekuatan hitam menunjukkan sikap Ki Pandi menghadapi tatanan kehidupan” berkata Manggada.

Ki Pandi tersenyum. Katanya, “Mudah-mudahan penilaianmu benar anak muda”

”Semua orang akan mengatakan demikian, Ki Pandi” sahut Laksana, “kecuali Panembahan Lebdagati”

Ki Pandi tertawa. Katanya, “Kalian pandai memuji. Aku senang mendapat pujian kalian”

“Kami tidak memuji” jawab Laksana, “kami mengatakan sesuai dengan nurani kami.

Ki Pandi tertawa lebih keras lagi, tetapi ia tidak menjawab.

Meskipun demikian, hubungannya dengan anak-anak muda itu telah dapat membuatnya tertawa. Ki Pandi sendiri menyadari, bahwa ia jarang sekali sempat tertawa. Mungkin sekali dua kali dalam sepekan, tetapi bersama anak-anak muda itu, ia menjadi lebih sering tertawa.

Demikian, maka mereka pun berjalan terus. Manggada dan Laksana bersepakat bahwa mereka akan berjalan melewati Pajang. Mereka sudah lama tidak melihat-lihat keadaan kota yang terhitung ramai itu.

Ketiga orang itu memang berjalan menyusuri jalan yang langsung menuju Pajang. Manggada dan Laksana tidak ingin lagi berhenti di perjalanan. Mereka sudah terlalu lama mengembara.

Semakin dekat dengan Pajang, maka tatanan kehidupan pun mulai berubah. Jalan-jalan terasa lebih ramai. Rumah-rumah pun nampak lebih bersih dan terawat.

Apalagi ketika mereka memasuki pintu gerbang kota. Maka terasa satu kehidupan yang bergetar lebih cepat. Di jalan-jalan nampak orang yang berjalan hilir mudik. Sekali dua kali nampak orang-orang berkuda lewat.

Rasa-rasanya setiap orang melakukan pekerjaan mereka dengan tergesa-gesa. Mereka nampak selalu berpacu dengan waktu.

Manggada dan Laksana melihat suasana itu dengan hati yang berdebaran, namun mereka dapat mengerti, bahwa tatanan kehidupan di Pajang memerlukan gerak yang lebih cepat. Waktu seakan-akan selalu memburu, sementara yang harus mereka lakukan masih belum selesai.

Manggada dan Laksana yang mulai merasa haus telah mengajak Ki Pandi untuk berhenti di sebuah kedai di pinggir jalan utama. Sambil tersenyum Ki Pandi berkata, “Tentu hidangan yang jauh lebih baik dari minuman dan makanan yang kita dapatkan di hutan itu”

Manggada dan Laksana tertawa. Disela-sela tertawanya, Manggada berkata, “Sulit bagi kita untuk mencari makanan sebagaimana kita dapatkan di hutan itu di seluruh kota ini”

Ki Pandi pun tertawa pula. Katanya, “Tetapi aku juga tidak berkeberatan makan dan minum apa adanya di kedai itu”

Manggada dan Laksana tertawa semakin panjang.

Demikianlah maka bertiga mereka memasuki kedai yang cukup besar itu. Kedai yang ramai dikunjungi oleh banyak orang.

Seperti sebelumnya, maka Ki Pandi telah memilih tempat yang paling terpisah di kedai itu. Mereka duduk di sudut agak ke belakang, dekat pintu butulan yang sempit.

Baru ketika mereka sudah duduk, mereka menyadari bahwa kedai itu termasuk kedai yang terbiasa disinggahi orang-orang yang mempunyai kedudukan yang baik. Ternyata dari pakaian mereka, sikap mereka dan cara mereka berbicara yang satu dengan yang lain.

Ki Pandi lah yang mula-mula melihat hal itu. Karena itu, maka ia pun berdesis, “Kita telah tersesat”

“Kenapa?” bertanya Manggada.

“Kedai ini nampakya hanya dikunjungi orang-orang yang terpandang di kota ini”

Manggada tersenyum. Namun katanya, “Tetapi tidak ada larangan bagi siapapun yang masuk untuk membeli makanan dan minuman disini”

“Kita mempunyai uang Ki Pandi” sahut Laksana, “asal kita membayar harga makanan dan minuman sesuai dengan tarifnya, kita tentu tidak akan dianggap bersalah”

“Tetapi lihat orang-orang yang ada di kedai ini” berkata Ki Pandi, “mereka memandang kita dengan heran. Mungkin pakaian kita tidak seperti pakaian mereka. Pakaian kita termasuk kusut dan kumal. Yang lain menjadi heran melihat punggungku yang bongkok dan buruk”

Manggada menggeleng sambil berkata, “Tidak Ki Pandi. Seperti yang Ki Pandi katakan, bahwa Ki Pandi selalu dihantui oleh perasaan rendah diri”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Mungkin memang demikian. Tetapi sebaikya kita mencari kedai yang lebih kecil yang memang diperuntukkan orang-orang kecil seperti kita”

Tetapi Laksana menyahut, “Kita sudah terlanjur duduk disini, Ki Pandi. Sebaiknya kita acuhkan saja orang-orang lain itu”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Ia mencoba untuk tidak memperhatikan orang lain. Tetapi ia mulai memperhatikan berjenis-jenis makanan yang tersedia.

Beberapa saat kemudian, maka merekapun telah mendapatkan makan dan minuman yang mereka pesan. Namun pelayan kedai itupun agaknya telah memperlakukan tamu-tamunya menurut ujud lahiriahnya. Karena itu, maka sikapnya kepada Ki Pandi, Manggada dan Laksana juga agak kurang menyenangkan.

Tetapi ketiganya memang tidak menghiraukan sikap itu. Mereka pun kemudian telah meneguk minuman hangat itu serta makanan yang telah mereka pesan. Ketiganya tidak mau kehilangan selera makan mereka karena hal-hal yang tidak berarti apa-apa bagi mereka. Mereka berpendirian, bahwa setelah mereka meninggalkan kedai itu, maka orang-orang yang memperhatikan mereka, termasuk pelayan kedai itu, tidak akan dijumpainya lagi.

Beberapa saat kemudian, maka Ki Pandi, Manggada dan Laksana itu sudah selesai dengan makanan dan minuman mereka. Tubuh mereka yang baru saja ditempa di tengah-tengah hutan itu pun merasa mejadi semakin segar. Darah mereka menjadi panas dan jantung merekapun rasa-rasanya berdetak semakin mantap.

Namun yang dicemaskan Ki Pandi itupun terjadi. Tiba-tiba saja tiga orang anak muda yang nampaknya dari keluarga yang cukup terpandang telah mendekatinya. Seorang di antara mereka sambil tertawa berkata kepada kawannya, “Bagaimana mungkin kakek ini mempunyai kelebihan di punggungnya”

Kawan-kawan tertawa. Bahkan seorang yang lain ternyata lebih berani lagi. Diusapnya bongkok di punggung Ki Pandi itu sambil berkata, “Maaf kek. Aku tidak dapat menahan diri untuk tidak meraba punggung kakek yang sangat memilik perhatian ini.”

Kawan-kawannya tertawa semakin keras. Bahkan seorang dari sekelompok anak muda yang yang lain, yang duduk di muka pintu berkata, “Bagaimana jika bongkok itu kita ambil dan kita minta pemilik kedai ini untuk menggorengnya?”

Seisi kedai itu tertawa meledak.

Wajah Ki Pandi memang menjadi merah. Manggada dan Laksana tidak dapat berdiam diri mengalami perlakuan yang sangat buruk itu. tetapi ketika mereka bangkit, Ki Pandi berdesis, “Jangan lakukan. Aku minta”

“Tetapi itu sudah keterlaluan” sahut Laksana.

“Tidak apa-apa. Nanti setelah kita meninggalkan kedai ini, kita tidak akan bertemu lagi dengan orang itu”

Manggada menggeram. Tetapi ia tidak mau melanggar perintah Ki Pandi.

Namun anak muda yang meraba punggung Ki Pandi itu justru yang menyahut Jangan marah. “Ki Sanak. Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin mengusap punggung ini”

Wajah Manggada dan Laksana bagaikan telah membara. Tetapi Ki Pandi lah yang menjawab, “Aku tidak berkeberatan anak muda”

“Bagus jawab anak muda itu kau memang orang yang baik?” anak muda itu berhenti sejenak. Namun kemudian katanya, “Tetapi sayang. Aku justru mengharap kedua anak yang bersamamu itu marah”

“Tidak. Mereka tidak akan marah. Mereka adalah kemenakan-kemenakanku. Aku Kira, kami memang tidak akan dapat marah kepada kalian anak anak muda”

“Ternyata kau cukup cerdik” berkata anak muda yang lain, “he, apakah kau tahu siapa kami”

“Tidak” jawab Ki Pandi, “tetapi kami memang harus menghormati kalian”

Anak muda yang masih saja memegangi punggung Ki Pandi itu berkata, “ternyata kau bijaksana. Baiklah. Silahkan makan dan minum”

Ketiga anak muda itu bergeser menjauh dan kembali duduk di tempatnya semula. Namun anak muda yang berada di depan pintu itu berteriak lagi, “He, kenapa kalian tidak jadi mengambil kelebihan pada punggung kakek itu? Ambil dan serahkan pada pemilik kedai ini”

Beberapa orang yang ada di kedai itu tertawa.

Sementara itu, Ki Pandi pun berkata, “Marilah. Kita tinggalkan kedai ini. Hal-hal seperti ini akan terulang dan terulang sebagaimana yang terjadi sebelum kita memasuki hutan itu. Karena itu, kalianpun tahu, kenapa aku menjadi rendah diri. Dahulu, ketika aku masih muda, aku berusaha menutupi perasaan ini dengan tingkah laku yang aneh-aneh. Di perguruan aku berusaha untuk menunjukkan kelebihanku dalam olah kanuragan. Aku menjadi sagat mudah tersinggung dan aku sering membuat onar. Tetapi masa-masa seperti itu sudah lampau. Kini aku hanya dapat menerima setiap perlakuan seperti itu dengan menekan perasaanku, karena agaknya tidak pantas lagi bagiku untuk berkelahi di sembarang tempat.

Manggada dan Laksana menarik nafas dalam-dalam. Namun dengan nada berat Laksana berkata, “Bagaimana jika kami saja yang berkelahi sekarang”

Ki Pandi menggeleng. Katanya, “Tidak. Jangan”

Namun agaknya orang-orang di kedai itu masih saja memperolok-olokkannya. Sekali-sekali terdengar gelak tertawa di antara mereka. Bahkan ampat orang anak muda yang baru masuk kedai itu pun telah ikut pula memperolok-olokkannya. Agaknya anak muda itupun termasuk anak-anak muda dari lingkungan yang sama.

Namun tiba tiba semua gelak itu pun terhenti. Orang-orang yang ada di dalam kedai itu nampak menjadi gelisah. Lebih-lebih beberapa kelompok anak muda yang sudah ada di dalam kedai. Sedangkan orang-orang yang lebih tua pun menundukkan kepala mereka. Semua perhatian tiba-tiba telah terikat pada mangkok-mangkok minuman dan makanan mereka.

Beberapa saat kemudian, seorang anak muda memasuki kedai itu, diiringi oleh dua orang yang bertubuh tinggi kekar dan berwajah garang.

Tiga orang anak muda yang telah memperolok-olokkan Ki Pandi dengan meraba-raba bongkoknya itu nampak menjadi sangat gelisah. Setelah mereka saling memberi isyarat, maka ketiganya tiba-tiba telah bangkit berdiri dan berlari lewat pintu butulan di dekat tempat Ki Pandi duduk.

Namun langkahnya pun terhenti. Di luar pintu telah telah berdiri pula seorang yang bertubuh tinggi berbadan kekar seperti dua orang yang mengikuti anak muda yang baru masuk itu.

“Apakah kalian akan lari?” bertanya orang yang sudah berdiri di pintu itu.

Ketiga anak muda itu melangkah mundur. Wajah mereka menjadi tegang. Sementara anak muda yang baru masuk bersama dua orang itu masih berdiri di pintu kedai itu.

“Kau tidak akan dapat lari kemana-mana sekarang” berkata anak muda yang baru datang itu.

Ketiga orang anak muda itu memang tidak dapat melarikan diri lagi. Sementara itu, anak-anak muda yang lain nampaknya tidak ingin terlibat. Bahkan orang-orang yang lebih tua tidak ada yang berani berbuat sesuatu.

“Aku ingin membuat perhitungan sekarang” berkata anak muda itu, “aku mencarimu selama dua hari. Baru sekarang aku menemukanmu disini”

Ketiga orang anak muda itu tidak menjawab. Tetapi wajah-wajah mereka nampak menjadi sangat tegang.

“Dua hari yang lalu kalian telah memukuli saudara sepupuku. Apakah kalian belum mengenal aku?”

“Tetapi, tetapi…” salah seorang dari ketiga orang itu menjawab dengan gagap, “kami tidak tahu bahwa anak itu sepupumu. Anak itulah yang mendahului menimbulkan persoalan. Justru saat itu kami sedang baristirahat”

“Kau dapat mengatakan dengan alasan apapun juga. Tetapi yang sudah terjadi adalah bahwa kalian telah memukuli kemanakanku sampai terluka cukup parah” jawab anak muda itu.

“Tetapi anak itulah yang memancing persoalan” jawab salah seorang dari ketiga anak muda itu.

“Aku tidak peduli” anak muda itu membentak.

Ketiga orang itu menjadi semakin pucat. Sementara itu anak muda itu berkata, “Kalian harus tahu siapa aku”

“Ya. Kami tahu” jawab anak muda yang menjadi ketakutan itu.

“Nah, kita sudah saling mengenal, siapa kalian dan siapa aku. Karena itu terserah kepada kalian, apakah kalian akan melawan atau kalian akan membiarkan kami memperlakukan kalian seperti kalian memperlakukan sepupuku”

“Tetapi ia menyerang kami dengan pisau. Kami tidak bersalah” seorang di antara ketiganya hampir berteriak.

Tetapi anak muda itu sama sekali tidak menghiraukannya. Selangkah ia maju. Ketika kakinya menyentuh kaki seorang yang duduk sambil menunduk di dekatnya, maka kaki itu pun dikibaskannya keras-keras sehingga orang itu telah terpental dari tempat duduknya dan jatuh terguling di tanah.

Demikian orang itu berusaha bangkit, maka anak muda itu pun membelalakkan matanya sambil berkata, “Kau akan mencoba menghina aku, he”

“Tidak. Tidak” orang itu menjadi ketakutan, “aku sama sekali tidak sengaja. Aku mohon ampun”

Anak muda itu melangkah lagi. Ia pun kemudian telah memandangi orang-orang yang ada di kedai itu. Bukan hanya ketiga orang anak muda yang menjadi ketakutan itu.

Tiba-tiba matanya terhenti ketika ia melihat Ki Pandi, Manggada dan Laksana. Dengan wajah yang tegang ia berkata, “Ada juga kutu-kutu busuk yang masuk ke kedai ini”

Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia berdesis perlahan sekali, “Kalian harus tetap menahan diri, “

“Apakah kedai ini sudah berubah menjadi ruang makan bagi pengemis-pengemis” berkata anak muda itu keras-keras.

Suasana masih tetap diam namun tegang. Adalah di luar dugaan bahwa anak muda itu justru melangkah mendekati Ki Pandi, “He, kakek bongkok. Kau kenal aku?”

Ki Pandi memandang anak muda itu sekilas. Namun kemudian iapun menggeleng sambil menjawab, “Tidak anak muda”

“Nah, sekarang kesempatan bagimu untuk mengenalku. Aku adalah penguasa di lingkungan ini. Semua orang harus tunduk kepadaku”

Ki Pandi yang memang tidak ingin ribut itu mengangguk sambi menjawab, “Aku mengerti anak muda”

“Dengar. Aku tidak senang melihat pengemis di kedai ini” geram orang itu.

Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Di luar sadarnya, ia memandang berkeliling. Orang-orang yang ada di dalam kedai itu memang orang-orang yang agaknya datang dari tataran yang baik. Tetapi ketika hal itu dibicarakan dengan Manggada dan Laksana, maka keduanya menganggap bahwa kedai itu diperuntukkan bagi siapa saja yang sanggup membayar, sehingga karena itu, maka mereka bertiga tidak segera pergi. Namun ternyata hal itu mempunyai akibat yang panjang.

Anak muda itupun kemudian berkata, “Baiklah. Kali ini aku maafkan kalian. Tetapi untuk selanjutnya kalian tidak boleh lagi masuk ke dalam kedai ini”

“Baiklah anak muda” jawab Ki Pandi, “kami akan segera meninggalkan kedai ini”

Anak muda itupun telah memanggil pemilik kedai itu dengan isyarat tangannya. Dengan tergesa-gesa pemilik kedai itu pun berlari-lari kecil mendekat.

“Suruh orang-orang itu pergi setelah membayar”

Pemilik kedai itu mengangguk hormat. Katanya, “Baiklah anak muda”

Manggada tidak menunggu orang itu minta dibayar harga makanan dan minuman yang telah mereka pesan. Ketika orang itu mendekatinya, maka Manggada pun segera bertanya sambil mengambil kampil kecil dari kantong ikat pinggangnya.

Di kampil itu masih tersimpan sisa uangnya yang sudah tidak terlalu banyak lagi. Tetapi justru karena mereka sudah berada di jalan pulang, maka mereka tidak akan memerlukan banyak uang lagi di perjalanan.

Setelah membayar beberapa keping uang sebagaimana disebut oleh pemilik kedai itu, maka mereka bertiga pun melangkah keluar diikuti pandangan berpasang-pasang mata dari orang-orang yang ada di kedai itu.

Sebenarnya perasaan Manggada dan Laksana telah memberontak di dalam dadanya. Tetapi mereka sangat menghormati Ki Pandi, sehingga mereka tidak berbuat sesuatu karena Ki Pandi selalu mencegahnya.

Demikian Ki Pandi, Manggada dan Laksana keluar dari kedai itu, maka perhatian anak muda itu kembali tertuju kepada ketiga orang anak muda yang masih ada di dalam kedai itu.

Semula mereka mengira bahwa perhatian anak muda yang baru datang itu telah beralih. Namun ternyata perhatiannya kembali tertuju kepadanya.

Di luar, Ki Pandi, Manggada dan Laksana masih berdiri termangu-mangu. Seorang yang umurnya sudah sebaya dengan Ki Pandi telah datang mendekatinya.

“Apakah kau diperlakukan kasar oleh anak-anak di dalam kedai itu? Dan yang terakhir anak muda yang baru datang bersama tiga orang pengawalnya?” bertanya orang itu.

“Ah, tidak apa-apa Ki Sanak” jawab Ki Pandi, “aku mengenal sikap anak-anak muda yang kadang-kadang meledak-ledak”

Orang itu memandang ke pintu kedai itu. Lalu katanya, “Tetapi anak-anak itu kadang-kadang memang keterlaluan. Aku melihat apa yang mereka lakukan atas Ki Sanak”

Ki Pandi tersenyum. Katanya, “Aku sudah melupakannya”

“Ki Sanak memang bijaksana” jawab orang itu. Namun katanya kemudian, “tetapi hukuman itu akhirnya datang sendiri. Kau belum mengenal anak muda yang datang dengan pengawalnya itu”

“Belum Ki Sanak” jawab Ki Pandi.

“Anak itu anak orang yang sangat kaya. Orang-orang di sekitar tempat ini, termasuk pemilik kedai itu, mendapat pinjaman uang dari orang tua anak muda itu sebagai modal. Itulah sebabnya maka ia sangat dihormati di lingkungan ini. Kedudukannnya justru melampaui kedudukan Ki Demang sendiri. Ia dapat berbuat apa saja sekehendak hatinya. Nah, tiga orang anak muda itu akan mengalami nasib buruk di tangannya. Ketiga orang pengawalnya itu akan memperlakukan ketiga orang anak muda itu menjadi barang mainan. Mereka pulang dengan tulang-tulang yang retak”

“Apakah Ki Demang tidak mampu mengatasinya?” bertanya Ki Pandi, “atau barangkali prajurit Pajang”

“Ki Demang sudah tidak berdaya. Sementara itu, mereka tidak berani melaporkan kepada prajurit Pajang. Mungkin prajurit Pajang dapat bertindak. Namun nasib mereka yang berani melaporkan itu akan menjadi lebih buruk lagi”

Wajah Ki Pandi nampak berkerut. Sementara orang itu berkata, “Lebih dari itu, ayah anak muda itu mempunyai banyak kawan di lingkungan keprajuritan. Hubungan yang baik itu sangat mempengaruhi sikap mereka”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Namun sebelum ia menyahut, maka ia pun terkejut melihat anak muda yang terlempar dari pintu kedai itu dan jatuh di halaman.

“Ampun. Aku minta ampun” anak muda itu hampir menangis.

Seorang yang bertubuh tinggi keker melangkah mendekatinya. Dengan tangkasnya ia menggapai baju anak muda yang terjatuh itu. Kemudian ditariknya sehingga anak muda itu berdiri. Namun sebuah pukulan yang sangat keras telah mengenai perutnya.

Anak muda itu terbungkuk kesakitan. Tetapi pukulan yang lain melayang mengenai wajahnya, sehingga sekali lagi anak muda itu terjatuh di halaman.

Ki Pandi, Manggada dan Laksana berdiri termangu-mangu. Sedang orang yang sudah sebaya dengan Ki Pandi itu berkata, “Lebih baik kita pergi. Jika kita masih tetap disini, maka kita tentu akan dianggap mencampuri persoalan mereka”

Ki Pandi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Silahkan menyingkir Ki Sanak. Aku akan menonton disini”

Orang itu menjadi heran. Dengan nada tinggi ia berkata, “Apa yang sebenarnya kau kehendaki? Kau sudah mendapat perlakuan kasar. Kau sudah diusir seperti seorang pengemis meskipun kau mampu membayar harga makanan dan minumanmu. Sekarang kau akan menonton apa yang bakal terjadi disini. Bukankah itu akan berakibat buruk bagi kalian?”

“Kasihan anak-anak muda yang bakal mengalami nasib buruk itu” berkata Ki Pandi.

“Itu hukuman bagi mereka. Bukankah mereka telah memperolok-olokkan Ki Sanak”

“Tetapi kenakalan itu masih merupakan kenakalan anak-anak muda. Namun agaknya anak muda yang berpengawal itu telah melakukan perbuatan-perbuatan yang lebih kasar lagi, justru karena ia mempunyai kedudukan yang kuat, serta pengawal yang berilmu tinggi” berkata Ki Pandi, “bahkan menurut perhitunganku, anak muda itu tentu juga sering memeras orang-orang yang telah meminjam uang kepada ayahnya di luar pengetahuan ayahnya itu sendiri”

“Ya” jawab orang itu ”darimana kau tahu”

“Aku hanya menduga” jawab Ki Pandi. Namun kemudian katanya, “Meskipun aku juga berprihatin melihat anak-anak muda yang tidak lagi menaruh hormat kepada orang-orang tua sebagaimana dilakukan oleh ketiga orang anak muda yang memperolok-olokkan aku, tetapi aku merasa sangat menyesali sikap dan tindakan anak muda yang berpengawal itu. Tingkah lakunya sudah mengarah pada laku kejahatan, la menakut-nakuti orang di satu lingkungan tertentu dan memeras mereka dengan semena-mena”

“Aku sependapat Ki Sanak. Tetapi apa yang dapat kau lakukan atas mereka?” sahut orang itu.

Namun keadaan menjadi bertambah tegang, ketika dua orang anak muda yang lain dilemparkan keluar pula. Mereka mulai merengek minta ampun. Tetapi ketiga orang yang bertubuh tinggi berbadan kekar dan berwajah garang itu tanpa belas kasihan telah menghajar mereka. Sedangkan anak muda yang ditakuti itu berdiri bertolak pinggang di muka pintu.

Ki Pandi berdiri termangu-mangu. Kemudian ia berpaling kepada Manggada dan Laksana sambil berkata, “Kalian harus mencegah perlakuan yang sewenang-wenang itu”

Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Semula Ki Pandi mencegah mereka untuk turun tangan. Namun tiba-tiba Ki Pandi itu justru memberikan perintah kepada mereka untuk berbuat sesuatu.

Melihat kedua anak muda itu ragu-ragu, maka Ki Pandi pun berkata sekali lagi, “Cegah orang itu. Mereka tidak berhak memperlakukan anak-anak muda itu seperti itu. Jika anak-anak muda itu bersalah, maka ia harus diserahkan kepada Ki Demang atau bebahu yang ditugaskannya”

Manggada dan Laksana mengangguk kecil. Tanpa bertanya lebih lanjut, maka mereka pun melangkah mendekati anak muda yang bertolak pinggang itu.

Anak muda itu memang menjadi heran melihat kedua orang yang telah diusirnya itu mendatanginya. Dengan lantang anak muda itu membentaknya, “He, untuk apa kau datang kepadaku”

Suaranya justru telah menghentikan pengawalnya yang masih saja menyakiti ketiga anak muda yang sudah minta ampun itu. Bahkan mulut mereka sudah mulai berdarah, karena bibir mereka yang pecah atau gigi mereka yang terlepas.

“Hentikan perbuatan itu Ki Sanak” berkata Manggada.

“Perbuatan yang mana?” bertanya anak muda itu.

“Anak-anak muda yang dipukuli oleh pengawalmu itu sudah merengek minta ampun. Ternyata mereka memang tidak lebih dari anak-anak yang hanya dapat menangis dan minta ampun jika mereka menghadapi kesulitan, meskipun mereka anak-anak yang tidak tahu diri dan mengenal unggah-ungguh” jawab Manggada.

Wajah anak muda itu menjadi merah. Tidak pernah ada orang yang berani mencegah perbualan-perbuatannya. Karena itu, maka ia pun berteriak, “He, pengemis buruk. Kau tidak mengenal aku, he. Bukankah aku sudah mengatakan bahwa aku penguasa di lingkungan ini”

“Mungkin, tetapi mereka tidak mengakuimu. Aku pun bukan orang yang termasuk mempunyai pinjaman kepada orang tuamu. Karena itu, aku dapat bersikap sesuai dengan kemauanku atasmu”

“Setan kau” suara anak muda itu mulai bergetar oleh kemarahan yang membakar ubun-ubunnya, “kalian mau apa sekarang”

Laksanalah yang menyahut, “Bagus. Aku menunggu pertanyaan itu. Dengar. Sekarang aku akan mencegah perbuatan orang-orangmu itu. Jika perlu dengan kekerasan”

Kemarahan anak muda itu tidak terbendung lagi. Karena itu, maka ia pun berteriak kepada orang-orangnya, “Koyaklah mulut anak-anak gila ini”

Ketiga orang pengawai anak muda itu pun meninggalkan korban-korban mereka. Dengan gigi yang gemeretak, maka mereka segera melangkah mendekati Manggada dan Laksana.

Ketiga orang anak muda yang tulang-tulangnya bagaikan retak itu berusaha bangkit. Namun mereka hanya dapat beringsut beberapa langkah, sementara Manggada berkata, “Jangan takut anak-anak manis. Kau tidak akan dipukuli lagi”

Ketiga orang anak muda itu pun menjadi heran. Anak-anak, muda itu adalah anak-anak muda yang duduk bersama orang bongkok yang telah diperolok-olokkannya. Ketika itu mereka tidak berbuat apa-apa.

Meskipun nampaknya mereka tersinggung, tetapi justru orang bongkok itu sendirilah yang menenangkan mereka, sehingga keduanya tidak berbuat apa-apa. Bahkan ketika salah seorang dari mereka mengharap kedua anak muda itu marah, ternyata keduanya tidak bangkit dari tempat duduknya.

Namun kini anak-anak muda itu telah menantang ketiga orang pengawal anak muda yang sangat disegani di lingkungan itu.

Dalam pada itu, ketiga orang pengawal itu sudah siap. Namun karena yang akan mereka hadapi hanya dua orang anak muda saja, maka seorang di antara mereka terpaksa mengalah.

“Kau bereskan anak-anak yang telah memukuli sepupuku itu” berkata anak muda yang disegani itu.

Orang itu memang berpaling kepada tiga orang anak muda yang sudah berhasil bangkit untuk duduk di pinggir halaman itu. Sementara itu Laksana lah yang berteriak kepada mereka, “Bangkit. Lawan orang yang akan memukulimu. Bukankah kalian laki-laki sejati? Kalian hanya berani memperolok-olokkan orang tua yang kau anggap tidak mampu berbuat apa-apa. Tetapi menghadapi orang yang kau anggap kuat, kau sama sekali tidak berani berbuat apa-apa. Bahkan merengek minta ampun”

“Cukup” bentak anak muda yang membawa tiga orang pengawal itu. Lalu katanya kepada kedua orang pengawalnya, “Buat mereka menjadi jera”

Kedua orang pengawal itu pun segera melangkah maju. Seorang mendekati Manggada dan seorang lagi mendekati Laksana.

Dalam pada itu, beberapa orang yang ada di kedai itu pun telah keluar. Mereka melihat dua orang anak muda yang datang bersama orang bongkok itu sudah berhadapan dengan orang-orang yang sangat ditakuti di tempat itu. Bahkan Ki Demang pun tidak dapat berbuat apa-apa terhadap mereka.

Tetapi kedua orang anak muda yang berpakaian kusut itu nampaknya sama sekali tidak merasa takut.

Tetapi beberapa orang berbisik di antara mereka, “Mereka belum mengenal kedua orang yang garang dan bengis itu. Mereka tentu akan mematahkan tangan atau kaki keduanya atau bahkan lehernya”

Sementara itu, orang yang umurnya sebaya dengan Ki Pandi berkata dengan nada cemas, “Kau umpankan anak-anak itu ke dalam mulut serigala yang sangat buas. Kau tentu belum mengenal mereka. Mereka dapat berbuat apa saja yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain. Apalagi terhadap orang yang sudah berani menentang anak muda yang mengendalikan mereka. Anak muda yang nampaknya tampan itu ternyata berhati iblis. Dan kau serahkan anak-anakmu itu ke tangannya yang merah oleh darah.”

Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tidak berharap demikian. Aku tidak senang melihat tingkah laku anak muda dan pengawal-pengawalnya itu. Karena itu, aku berharap bahwa kedua orang kemenakanku itu dapat sedikit memperingatkannya agar untuk selanjutnya ia berhati-hati”

“Apakah kedua kemenakanmu itu mempunyai ilmu kebal?” bertanya orang itu.

“Tidak” jawab Ki Pandi. Namun katanya kemudian, “Tetapi mereka berbekal niat yang baik”

“Niat saja tidak akan menolong mereka. Nasibnya akan menjadi lebih buruk dari ketiga orang anak muda itu”

Dalam pada itu, Manggada dan Laksanapun sudah mulai bergeser saling menjauhi. Mereka sudah siap menghadapi kedua orang yang bertubuh tinggi tegap itu. Bahkan tenaga mereka pun ternyata lebih kuat dari orang kebanyakan.

Orang-orang yang bertubuh raksasa itulah yang kemudian mulai menyerang. Mereka seakan-akan tidak memperhitungkan perlawanan kedua orang anak muda itu. Raksasa yang melawan Manggada itu justru telah melangkah maju sambil mejulurkan tangannya untuk menangkap anak muda itu, seakan-akan anak muda itu bukannya sasaran yang dapat bergerak dan apalagi melawan.

Manggada yang melihat lawannya itu ingin menangkapnya begitu saja, justru merasa tersinggung. Beberapa langkah ia mundur. Tidak untuk menghindari tangan lawannya yang akan menangkap lengannya itu. Tetapi ia justru mengambil ancang-ancang.

Bahwa Manggada merasa tersingggung itu telah membuatnya berusaha untuk memberikan peringatan kepada lawannya pada serangannya yang pertama.

Demikianlah, ketika raksasa itu masih saja melangkah maju, maka dengan tiba-tiba saja Manggada telah melenting sambil memiringkan tubuhnya. Dikerahkannya tenaganya untuk melontarkan serangan kearah dada orang itu untuk menunjukkan bahwa lawannya tidak dapat menganggapnya seorang yang tidak berdaya.

Tubuh Manggada meluncur dengan derasnya. Kakinya terjulur lurus menyamping. Langsung ke arah dada.

Namun ternyata yang tidak terduga-duga itu terjadi. Manggada sendiri terkejut ketika kakinya menghantam dada orang itu.

Ternyata pertahanan orang itu telah terguncang. Bahkan kemudian orang itu bagaikan dilemparkan langsung jatuh terbanting di tanah.

Terdengar mulutnya mengumpat kasar. Dengan sigapnya ia melenting untuk bangkit berdiri. Tetapi ternyata tubuhnya pun segera terhuyung-huyung. Ia hanya mampu berdiri beberapa kejap. Kemudian sekali lagi tubuhnya jatuh terguling. Bahkan dari mulutnya telah mengalir darah.

Orang itu mengerang kesakitan. Dipeganginya dadanya dengan kedua tangannya sambil menggeliat-geliat. Betapa wajahnya membayangkan kesakitan yang sangat. Bahkan kemudian nafasnya menjadi sesak.

“Gila” teriak anak muda yang disegani itu, “apa yang telah terjadi denganmu”

Tetapi orang bertubuh raksasa itu tidak dapat menjawab. Dari mulutnya masih terdengar erang kesakitan.

Ki Pandi menjadi cemas. Ia tidak mengharap Manggada membunuh orang itu. Namun Ki Pandi pun memaklumi, bahwa setelah berada di hutan selama sebulan, maka Manggada kehilangan pengamatan atas tingkat ilmunya. Manggada sendiri tidak sadar, bahwa ilmunya telah jauh meningkat dibandingkan sebelum ia menjalani laku Tapa Ngidang di hutan dari purnama sampai ke purnama.

Sementara itu, seorang di antara raksasa yang sudah berhadapan dengan Laksana pun menjadi cemas. Agaknya anak muda yang seorang lagi itu pun memiliki kemampuan yang setingkat.

Tetapi orang yang sudah siap menghadapi Laksana itu berkata pada diri sendiri, “Orang dungu itu telah lengah, sehingga ia tidak berdaya sama sekali ketika serangan itu datang”

Karena itu, maka orang itu pun telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menghadapi anak muda yang seorang lagi itu.

Sementara itu, anak muda yang ditakuti itu pun berteriak kepada pengawal yang seorang lagi, “Gantikan orang dungu itu. ia tidak pantas menjadi pengawalku lagi. Selesaikan kedua orang anak iblis itu. Apapun yang terjadi atas mereka”

Perintah itu jelas. Mereka tidak perlu mengekang diri lagi, bahkan seandainya anak-anak itu terbunuh oleh tangan-tangan mereka yang kasar itu.

Manggada mundur beberapa langkah. Yang terjadi itu benar-benar di luar dugaannya sendiri. Karena itu, maka ia justru harus menilai kembali tenaga dan kemampuannya. Bahkan tanpa mengerahkan tenaga dalamnya.

Yang kemudian mulai menyerang adalah orang yang berhadapan dengan Laksana. Sebenarnyalah bahwa Laksana sendiri juga menjadi bimbang oleh kekuatan dan kemampuannya sendiri.

Karena itu, maka Laksana harus mulai dari dasar kekuatannya, ia mulai mejajagi kekuatan dan kemampuan lawannya. Ia pun tidak ingin jika lawannya kemudian terbunuh dalam pertempuran itu.

Namun dalam beberapa saat, laksanapun segera mengetahui, bahwa kekuatan lawannya yang bertubuh raksasa itu tidak akan mampu menggetarkan pertahanannya.

Karena itu, maka Laksana pun tidak perlu bersusah payah menghindari serangan-serangan lawannya. Tetapi ia selalu menangkis dan bahkan membentur serangan lawannya.

Dengan demikian, maka Laksana sekaligus dapat menjajagi bukan saja kekuatan dan kemampuan lawannya, tetapi kekuatan dan kemampuannya sendiri pula.

Ternyata orang bertubuh raksasa itu tidak banyak mempunyai kesempatan. Serangan-serangannya selalu kandas seakan-akan tidak berarti bagi lawannya yang masih muda itu. Setiap terjadi benturan, maka rasa-rasanya tulang-tulangnya menjadi retak.

Demikian pula orang yang kemudian menggantikan kawannya yang kesakitan itu, Iapun segera mulai terdesak, namun Manggada berusaha untuk lebih mengendalikan diri. Ia tidak ingin membunuh seorangpun. Bahkan iapun mulai menjadi cemas ketika ia melihat orang yang terbaring itu sama sekali tidak bergerak lagi.

Ki Pandi yang juga melihat orang itu tidak bergerak lagi, segera mendekatinya. Namun ternyata orang itu masih hidup. Namun tubuhnya sudah menjadi lemah sekali. Meskipun demikian, pernafasannya masih cukup baik. Ki Pandi pun termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun berteriak kepada pemilik kedai yang berdiri termangumangu di pintu kedainya sambil gemetar, “Ambil air, cepat”

Pemilik kedai itu sekan-akan telah bergerak dengan sendirinya. Berlari-lari ia mengambil semangkuk air dan diserahkannya kepada Ki Pandi yang berjongkok di sebelah orang itu, sementara Manggada dan Laksana masih bertempur di halaman.

Ki Pandi kemudian telah mengambil sebutir obat dari kantong ikat pinggangnya. Kemudian menyisipkannya di bibir orang itu.

Sambil menitikkan air di mulut orang itu Ki Pandi berkata, “Telanlah. Keadaanmu akan berangsur baik”

Antara sadar dan tidak, maka orang itu pun telah menelan air yang dituangkan perlahan-lahan di mulutnya. Obat yang diselipkan di bibir orang itupun lelah menjadi larut pula ikut tertelan lewat kerongkongannya.

Terasa darahnya yang menjadi hangat merambat lewat urat-uratnya, mengalir ke seluruh tubuhnya. Perasaan sakit pun sedikit demi sedikit telah berkurang, sementara tenaganya terasa sedikit segar.

Meskipun dadanya masih sakit dan tulang-tulangnya terasa nyeri, namun obat itu telah sangat membantunya mengurangi penderitaannya.

Sementara itu, pertempuran masih berlangsung, namun sudah tidak seimbang lagi. Manggada dan laksana telah mendesak lawannya sehingga sama sekali tidak berdaya lagi. Mereka tinggal dapat meloncat-loncat menghindar, berlari-lari kecil mengambil jarak dan balikan nampak di wajah mereka, betapa mereka mulai dicengkam oleh kecemasan yang sangat. Sekali-sekali serangan Manggada dan Laksana telah mengenai tubuh mereka. Perasaan sakit dan nyeri telah mencengkam seluruh tubuh mereka, lawan Manggada hidungnya sudah mulai berdarah. Sementara lawan Manggada matanya nampak lembab dan kebiru-biruan.

Anak muda yang disegani itu ternyata tidak mau melihat kenyataan. Ketika kedua pengawalnya itu tidak lagi mampu berbuat sesuatu, maka ia masih saja berteriak, “Bunuh anak-anak iblis itu. Jangan takut, aku yang akan mempertanggung jawabkannya”

Tetapi kedua orang pengawalnya yang bertubuh raksasa itu tidak mampu berbuat sesuatu. Mereka tidak mampu lagi menghindari dan bahkan menangkis serangan-serangan anak-anak muda itu.

Bahkan ketika Laksana sedikit terdorong melayangkan tangannya menebas dengan sisi telapak tangannya mengenai kening lawannya, maka lawannya itupun merasa bumi tempatnya berpijak menjadi berputar.

Laksana yang sudah siap melancarkan serangan berikutnya, telah tertahan dan bahkan mengurungkannya. Dibiarkannya lawannya berusaha memperbaiki keseimbangaannya yang goyah.

Anak muda yang disegani itu menjadi semakin marah. Ketika orang yang berusaha untuk berdiri tegak itu gagal, sehingga ia jatuh terduduk, maka anak muda itupun berteriak, “He, pengecut. Kenapa kau malah duduk disitu. bangkit, bunuh lawanmu atau kau akan dihukum cambuk oleh ayah”

Orang itu memang masih berusaha untuk bangkit, tetapi ia tidak mampu lagi. Kepalanya benar-benar terasa pening dan segalanya telah berputar.

“Bangkit” teriak anak muda itu.

Laksana yang mendengar teriakan-teriakan itu justru tidak tahan lagi. Justru karena lawannya sudah tidak berdaya. Karena itu, maka ketika anak muda itu berteriak sekali lagi dan bahkan lebih keras, maka Laksana telah meloncat menghampirinya. Dengan cepat tangannya telah menggapai baju anak itu dan menariknya sambil berkata, “Kenapa kau hanya berteriak-teriak saja. Kenapa bukan kau sendiri yang memasuki arena dan berkelahi”

Anak muda itu terkejut. Ia tidak pernah mengalami perlakuan yang demikian, karena itu, maka ia pun berteriak, “Lepaskan bajuku. Kau akan menyesal dengan perlakuanmu”

Tetapi Laksana tidak melepaskannya. Justru tangannya terayun menampar wajah anak muda itu sambil membentak, “Diam kau, atau aku buat kau terdiam”

Tamparan di wajahnya itu benar-benar mengejutkannya. Bagaimana mungkin hal seperti itu terjadi. Seorang anak muda yang berpakaian kumal telah berani menamparnya.

Tetapi Laksana masih saja memegangi bajunya sambil membentak-bentaknya, “Ayo. Aku tantang kau berkelahi. Mau tidak mau”

Sebelum anak itu menjawab, maka Laksana telah menyeretnya dan mendorongnya ke halaman.

Demikian kerasnya dorongan Laksana sehingga anak muda itu telah jatuh terjerembab. Wajahnya terantuk tanah, sehingga menjadi kotor karenanya.

Laksana yang berdiri di dekatnya membentaknya, “bangkit. Kita berkelahi”

Anak itu benar-benar menjadi bingung. Orangnya yang terakhir pun telah terbaring pula di tanah.

Sebenarnya Manggada tahu, bahwa lawannya itu masih mungkin untuk bangkit dan memberikan perlawanan. Tetapi agaknya orang itu tidak melihat lagi harapan untuk dapat bertahan, sehingga karena itu, ketika ia terjatuh, maka ia pun berpura tidak lagi mampu berdiri.

Karena anak muda itu masih belum bangkit, maka Laksana telah memarik lagi bajunya. Sekali lagi Laksana menampar wajah anak muda itu.

Tiba-tiba saja anak muda itu telah kehilangan pegangan. Ia tidak terbiasa berbuat sesuatu selain berteriak-teriak memberikan perintah. Ketika kemudian orang-orang yang mengawalnya itu tidak berdaya, maka anak muda itu pun tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan.

Karena itu, ketika Laksana mengguncang bajunya, maka tiba-tiba saja anak itu menagis.

“Ampun. Aku minta ampun”

Hampir saja Laksana tidak mampu mengendalikan dirinya. Tetapi kemudian Laksana itu menyadari, bahwa anak muda itu telah benar-benar menjadi ketakutan.

Karena itu, maka Laksana pun telah melepaskannya dan berkata, “Aku akan datang lagi ke lingkungan ini. Jika kau masih berbuat sebagaimana kau lakukan sekarang, maka aku akan menghancurkanmu. Katakan kepada ayahmu, bahwa aku akan tetap berbuat tanpa harus tunduk kepadamu dan kepada ayahmu. Disini tentu ada paugeran yang berlaku bagi setiap orang. Termasuk kau dan ayahmu, sehingga kalian tidak dapat berbuat sekehendakmu sendiri”

Anak muda itu tidak dapat menjawab sama sekali. Tangisnya justru menjadi-jadi. Rasa-rasanya anak muda itu tidak lagi merasa malu.

Orang yang menyaksikan peristiwa itu memang menjadi berdebar-debar. Mereka yakin bahwa orang-orang yang berani melawan anak muda itu tentu orang yang sama sekali tidak mengenalnya.

Namun yang perasaanya terguncang bukan saja anak muda yang menangis itu, tetapi tiga orang anak muda yang telah dihajar oleh ketiga pengawal anak muda yang menangis itupun menjadi sangat gelisah menghadapi kenyataan itu. Mereka tidak dapat mengerti, kenapa kedua anak muda yang berpakaian kusut itu tidak berbuat sesuatu atas diri mereka ketika mereka memperolok-olokkan orang tua yang bongkok yang justru mencegahnya. Jika saja kedua anak muda itu tidak dapat dikendalikan oleh orang yang bongkok itu, maka mereka bertiga akan mengalami nasib yang lebih buruk lagi.

Sementara itu, Laksana telah melepaskan anak muda yang menangis itu. Sedangkan Manggada pun telah bergeser menjauh. Ki Pandi yang telah memberikan obat kepada salah seorang pengawal yang dadanya terluka di dalam itupun telah bangkit dan berdiri pula.

“Marilah” berkata Ki Pandi, “kita tinggalkan saja tempat ini. Kita tidak mempunyai kepentingan apa-apa lagi disini”

Manggada telah melangkah mendekati Ki Pandi. Tetapi Laksana justru melangkah mendekati ketiga orang anak muda yang telah memperolok-olokkan Ki Pandi yang masih saja bingung manghadapi kenyataan itu.

Laksana yang kemudian berdiri di hadapan ketiga orang anak muda itu berkata, “Sekarang kalian bangkit berdiri”

Ketiga orang anak muda itupun benar-benar ketakutan. Karena itu, merekapun dengan gemetar telah bangkit berdiri pula, betapapun tubuh mereka masih merasa nyeri.

Tiba-tiba Laksana telah menyambar ikat kepala mereka, membantingnya di tanah dan menginjaknya. Sambil mengusap kepala ketiga orang anak muda itu ia berkata, “Tiba-tiba saja aku ingin mengusap kepala kalian. Kepala anak-anak muda yang tidak lebih dari pengecut. Kenapa kalian sama sekali tidak berani melawan? Apakah kalian hanya berani memperolok-olokkan orang tua yang kau anggap tidak berdaya? Atau kau anggap pengemis sebagaimana dikatakan oleh anak cengeng itu”

Ketiganya sama sekali tidak menjawab. Mereka pun sama sekali tidak berbuat apa-apa ketika kepala mereka diguncang-guncang oleh Laksana.

Ketiga anak muda itu melangkah mundur. Wajah mereka menjadi tegang. Sementara anak muda yang baru masuk bersama dua orang itu masih berdiri di pintu kedai itu.

Ki Pandi hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Sementara Manggada hanya memandanginya saja.

Namun akhirnya Ki Pandi itu memberinya isyarat untuk meninggalkan anak-anak muda itu.

Bertiga mereka pun kemudian bersiap meninggalkan kedai itu dengan meninggalkan berbagai macam kesan di hati orang-orang yang menyaksikannya. Bahkan orang yang umurnya sebaya dengan Ki Pandi itu melangkah mendekatinya sambil berkata, “Maafkan aku Ki Sanak. Aku tidak mengenal Ki Sanak sebelumnya, Jika Ki Sanak tidak berkeberatan, apakah Ki Sanak dapat memberitahukan kepadaku, siapa Ki Sanak itu sebenarnya”

Ki Pandi tersenyum. Katanya, “Kami adalah pengembara yang tidak berarti apa-apa. Tetapi peristiwa ini telah sangat menarik perhatian kami, sehingga agaknya kami akan sering lewat jalan ini”

Demikianlah, sejenak kemudian maka Ki Pandi telah mengajak Manggada dan Laksana meninggalkan tempat itu. Mereka pun kemudian melangkah menyusuri jalan panjang. Namun kemudian mereka berbelok memasuki jalan yang lebih kecil.

Sambil berjalan meninggalkan tempat itu, mereka menyadari, bahwa apa yang terjadi telah menjadi tontonan orang banyak. Bukan saja orang-orang yang ada di kedai itu. Tetapi orang-orang yang kebetulan lewat, juga terhenti untuk menyaksikan apa yang terjadi.

Bahkan Ki Pandi, Manggada dan Laksana telah bertemu dengan ampat orang prajurit berkuda yang berpacu menuju ke arah yang berlawanan.

Sebenarnyalah bahwa ternyata ada juga yang melaporkan peristiwa itu ke sebuah barak prajurit, sehingga Senapati yang mendapat laporan itu telah mengirimkan ampat orang prajurit berkuda untuk melerai keadaan.

Namun ketika mereka sampai di kedai itu, maka perkelahian pun sudah berhenti.

Tetapi para prajurit itu masih menemukan orang-orang yang telah terluka serta anak-anak muda yang kesakitan. Juga anak muda yang telah menangis itu meskipun sudah berhasil menguasai gejolak perasaannya sehingga tangisnya pun telah berhenti.

Dari orang-orang yang masih mengerumuni halaman kedai itu meskipun dari jarak yang tidak terlalu dekat, para prajurit telah mendapat keterangan apa yang telah terjadi. Karena itu, para prajurit itu minta pemilik kedai itu datang ke barak untuk memberikan keterangan tentang perkelahian di kedainya itu.

“Tetapi tiga di antara para pelaku itu sudah pergi” berkata pemilik kedai itu.

“Nanti di barak kau akan dimintai keterangan selengkapnya” berkata prajurit yang tertua.

Sementara itu Ki Pandi, Manggada dan Laksana sudah berjalan semakin jauh. Para prajurit itu memang tidak berusaha mencarinya. Merekapun sudah mengenali anak muda dengan ketiga orang pengawal itu, sehingga para prajurit itu sudah mengira bahwa anak muda itulah yang bersalah. Namun ia agaknya telah terbentur pada sekelompok orang berilmu tinggi, sehingga ketiga orang pengawalnya itu tidak berdaya sama sekali.

Kepada anak muda yang cengeng itu prajurit yang tertua berkata, “Kaupun setiap saat diperlukan harus datang ke barak”

Anak muda yang sudah tidak menangis lagi itu berkata, “Aku akan memberitahukan kepada ayahku atas perlakuan kalian”

Prajurit itu ternyata telah tersinggung. Meskipun mereka mengetahui siapakah ayah anak itu, serta hubungannya yang luas dengan para Senapati dan pemimpin di Pajang, namun dalam menjalankan tugasnya, prajurit itu tidak mau direndahkan. Karena itu, maka prajurit yang tertua itu mendekatinya sambil berkata, “Coba, katakan sekali lagi. Maka aku akan menumbat mulutmu dengan pedangku”

Anak muda itu menjadi ketakutan kembali. Bahkan mulutnya mulai bergetar dan matanya mulai mengembun lagi.

Tetapi prajurit itu tidak mau memperpanjang persoalan. Ia pun kemudian telah mendekati tiga orang anak muda yang masih kesakitan sambil berkata, “Kalianpun harus bersiap-siap dan datang jika kalian kami panggil”

“Kami akan melakukannya” jawab ketiganya hampir berbareng.

Demikianlah, maka para prajurit itu pun meninggalkan kedai itu. Sedangkan orang-orang yang berkerumun pun telah pergi pula satu persatu. Sedangkan ketiga anak muda yang kesakitan itupun dengan sisa tenaganya berusaha untuk menjauhi tempat itu pula.

Yang tinggal kemudian hanyalah anak muda dan ketiga orang pengawalnya. Seorang yang berpura-pura tidak dapat bangkit itu telah berdiri. Yang lain pun mulai dapat bangkit dan duduk sambil bersandar pada tangannya. Pengawal yang dadanya terluka di dalam itu sudah menjadi bertambah baik pula keadaannya setelah Ki Pandi mengobatinya.

Pemilik kedai dan pelayan-pelayannyalah yang kemudian berusaha menolong mereka dan membawanya ke dalam kedai.

Dalam pada itu, Ki Pandi, Manggada dan Laksana sudah menjadi semakin jauh. Mereka tidak lagi mengikuti jalan induk yang akan sampai ke pintu gerbang kota yang lain. Tetapi mereka telah memilih jalan yang lebih kecil dan keluar dari kota Pajang lewat pintu gerbang samping yang lebih kecil.

“Satu hal yang tanpa kalian sengaja tetapi dapat memberikan petunjuk penting bagi kalian” berkata Ki Pandi.

“Tentang apa, Ki Pandi?” bertanya Manggada.

“Kalian masih belum mampu menilai dengan tepat kemampuan kalian sendiri” jawab Ki Pandi.

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Mereka memang masih harus menilai lagi kemampuan mereka yang sudah meningkat setelah mereka berada di hutan dari purnama sampai ke purnama.

Dalam pada itu, Ki Pandi pun berkata pula, “agaknya angger Manggada masih terkejut melihat serangannya yang hampir saja membunuh orang bertubuh raksasa itu. Seandainya daya tahan orang itu tidak cukup tinggi, maka ia tentu sudah tidak tertolong lagi”

Manggada mengangguk-angguk. Sebenarnyalah bahwa ia masih belum tahu pasti, seberapa tinggi tataran ilmu serta kekuatan tenaganya setelah ia melakukan Tapa Ngidang. Namun hal itu juga tergantung kepada kemampuan serta daya tahan lawannya.

Tetapi Manggada dan Laksana memang menyadari, bahwa mereka harus melakukan pengamatan lebih seksama tentang peningkatan ilmu’mereka itu.

“Kita akan melakukannya setelah kalian berada di rumah nanti” berkata Ki Pandi.

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk mengiakan. Dengan sungguh-sungguh Manggada berkata, “Kami tentu akan sangat berterima kasih Ki Pandi. Jika pada suatu saat paman melihat bagaimana kami dapat meningkatkan kemampuan kami, maka paman tentu akan sangat bergembira. Sudah tentu ayah juga, “

“Semuanya itu sudah tentu sebagian besar tergantung kepada kalian berdua sendiri. Kemauan kalian serta tenaga dasar yang ada di dalam diri kalian” berkata Ki Pandi. Lalu katanya pula, “Tetapi tentu saja dengan harapan, bahwa apa yang telah kalian miliki itu akan berarti bagi sesama. Bukan sebaliknya justru merugikan sesama”

Manggada dan Laksana masih saja mengangguk-angguk. Beberapa kali mereka mendengar petunjuk itu. Bukan saja dari Ki Pandi, tetapi juga dari guru mereka, dari orang tua mereka dan bahkan dari Kiai Gumrah.

Demikianlah, mereka bertiga pun telah melanjutkan perjalanan mereka justru menjauhi Pajang. Mereka telah berjalan lagi di antara bulak-bulak sawah. Kehidupan mulai nampak berbeda dari kehidupan di kota yang sibuk. Jalan-jalan tidak lagi terlalu ramai. Tatanan rumah dan halaman. Bahkan sifat dan kebiasaan penghuni-penghuninya.

Semakin jauh mereka dari kota, maka mereka tidak lagi merasa dikelilingi oleh kesibukan dan ketergesa-gesaan. Tetapi juga tidak lagi dibayangi oleh kehidupan anak-anak muda yang menggelisahkan, meskipun jumlah mereka sebenarnya terhitung kecil. Meskipun sebenarnya kenakalan itu ada dimana-mana, tetapi karena kahidupan di kota yang berbeda dengan kehidupan di luarnya, maka ujud kenakalannyapun berbeda pula.

Dalam pada itu, agaknya Ki Pandi pun sedang memikirkan sikap anak-anak muda yang baru saja ditemuinya. Dengan nada rendah Ki Pandi itupun berkata, “Angger berdua. Di sepanjang perjalanan kita, maka kita sudah melihat berbagai macam sikap dan sifat anak anak muda. Anak anak muda yang ada di sekitar Kiai Gumrah. Kau kenal anak-anak muda yang nakal bahkan keterlaluan sehingga sudah merugikan banyak orang seperti Rambatan. Tetapi kau kenal juga anak-anak muda yang baik di padukuhan itu. Kau kenal juga Darpati dan Winih”

Manggada dan Laksana menjadi termangu-mangu sejenak. Ternyata banyak hal yang diketahui oleh Ki Pandi.

Agaknya Ki Pandi dapat membaca perasaan anak-anak itu. Katanya kemudian, ”Aku mengetahuinya dari sedikit pengamatanku. Namun juga dari ceritera Kiai Gumrah” ia berhenti sejenak, lalu, “kau lihat anak-anak mada di perjalanan kita ke Pajang, sebelum dan sesudah kita melampaui hutan itu. Sehingga dengan demikian, maka kau akan dapat membuat perbandingan-perbandingan. Justru kalian juga termasuk anak-anak muda, maka kalian tentu mempunyai kesempatan untuk menentukan sikap dan pilihan bagi jalan kehidupan kalian”

Manggada dan Laksana itupun mengangguk-angguk. Sementara Ki Pandi berkata, “Memang ada di antara anak-anak muda yang memilih untuk hidup dalam kesenangan dan kepuasan keduniawian yang dapat langsung dirasakannya sesaat. Tetapi ada yang meletakkan harapannya pada masa depan. Bahkan ada yang memikirkan ruang lingkup kehidupan yang lebih luas dari kehidupan dirinya sendiri”

Manggada dan Laksana mendengarkan keterangan itu dengan bersungguh-sungguh pula. Agaknya Ki Pandi memang tersentuh melihat kehidupan anak-anak muda yang dijumpainya dalam perjalanan hidupnya.

Dalam pada itu, maka merekapun melangkah semakin lama semakin jauh dari Pajang. Mereka sudah berada di antara hijaunya tanaman di sawah dan pategalan. Angin terasa semilir berhembus mengguncang batang-batang padi muda yang nampak segar terendam di air yang tergenang.

Wajah kedua anak muda itu manjadi semakin cerah. Lebih-lebih lagi Manggada. Mereka sudah memasuki jalan yang langsung menuju padukuhannya. Kampung halamannya.

Laksanapun pernah mengunjungi pamannya itu. Meskipun itu sudah lama terjadi, tetapi lamat-lamat ia masih dapat mengenali jalan yang dilaluinya, karena agaknya masih belum banyak berubah.

“Perjalanan kita sudah menjadi semakin dekat” berkata Manggada dengan wajah yang mamancarkan kegembiraannya.

Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya, “Keluarga kalian tentu akan bergembira pula menerima kedatangan kalian”

“Ya. Jika saja ayah tahu bahwa kami sudah agak lama berangkat dari rumah paman, maka ayah dan ibu tentu sudah menunggu-nunggu dengan cemas. Kedatangan kami tentu akan sangat menggembirakan mereka” desis Manggada.

Ki Pandi mengangguk-angguk. Tetapi rasa-rasanya ia akan ikut bergembira melihat pertemuan antara anak-anak muda itu dengan kedua orang tuanya.

Demikianlah ketika mereka mendekati padukuhan Gemawang yang terletak di Kademangan Kalegen, maka mereka pun menjadi berdebar-debar. Sudah lama Manggada meninggalkan Kademangan Kalegen, sementara Laksana juga pernah mengunjungi pamannya ketika ia menginjak remaja.

Terasa angin yang sejuk berhembus perlahan menggoyang dedaunan. Padukuhan Gemawang yang merupakan bagian dari Kademangan Kalegen nampak tenang dikejauhan. Pohon nyiur yang berdiri berjajar di batas padukuhan seakan-akan melambai menyambut kedatangan Manggada dan sepupunya Laksana.

Ketika mereka memasuki regol padukuhan di bawah lindungan bayangan pepohonan, Manggada menarik nafas sambil berdesis, yang seakan-akan hanya ditujukan kepada dirinya sendiri saja, “Alangkah sejuknya udara di kampung halaman”

Namun Laksana yang mendengarnya berdesis juga, “Ya, alangkah sejuknya”

Bahkan Ki Pandi pun menyahut, “Setelah kita berjemur dipanasnya matahari menjelang sore hari, maka berlindung di bawah bayang pepohonan memang terasa sejuk sekali”

Laksana yang justru berjalan di depan berkata, “Aku masih ingat dengan jelas, kemana kakiku harus melangkah”

Manggada tertawa. Katanya, “Kau tentu masih ingat jalan-jalan di padukuhan Gemawang. Bahkan di kademangan Kalegen. Bukankah kau pernah berada disini beberapa lama ketika itu”

“Ya” jawab Laksana, “belum banyak terdapat perubahan sampai sekarang ini”

Namun tiba-tiba Manggada mengerutkan dahinya ketika ia melihat seorang anak kecil berlari ketakutan melihat kehadiran mereka. Bahkan kemudian ia sempat memperhatikan halaman di sebelah menyebelah jalan. Dari regol-regol halaman ia melihat beberapa buah rumah yang pintunya tertutup rapat. Bahkan halaman-halaman rumah dan jalan-jalanpun rasa-rasanya terlalu sepi. Tidak seorang pun dijumpainya di jalanjalan. Anak kecil yang dilihatnya justru berlari ketakutan dan hilang di balik regol.

Ketika ia berpaling kepada Ki Pandi, maka dilihatnya dahi Ki Pandi pun berdesis, “Apakah sejak dahulu padukuhan ini terlalu lengang”

“Tidak” jawab Manggada, “padukuhan ini terhitung padukuhan yang besar. Jalan ini merupakan jalan induk yang paling banyak dilalui orang di padukuhan ini. Betapa sepinya sebuah padukuhan, tetapi tentu tidak sesepi ini”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya, “Apakah ada sesuatu yang membuat padukuhan ini terlalu sepi”

“Memang mungkin Ki Pandi. Tetapi apa” sahut Manggada.

Ki Pandi mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia pun bertanya, “Apakah rumahmu berada di sisi lain dari padukuhan ini?” bertanya Ki Pandi.

“Rumah kami ada ditengah-tengah padukuhan” jawab Manggada.

Ki Pandi mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak berbicara apapun lagi.

Ketiga orang itu berjalan semakin ke dalam. Namun suasananya masih saja tetap lengang.

Mereka semakin berdebar-debar ketika melihat seorang anak yang akan berlari melintasi jalan padukuhan. Tetapi ketika anak itu melihat mereka, maka ia pun segera berbalik dan berlari masuk ke dalam regol halaman rumahnya.

Ketiga orang itu memperhatikan keadaan itu dengan dahi yang berkerut. Teka-teki itu rasa-rasanya semakin menggelitik.

Namun ketegangan perasaan mereka menjadi berkurang ketika mereka melihat seorang yang berjalan sambil membawa cangkul di pundaknya. Orang itu pun nampaknya agak tergesa, sehingga langkahnya pun menjadi panjang-panjang.

“Paman Wangking” desisi Manggada yang mempercepat langkanya pula.

Beberapa langkah sebelum mereka berpapasan, orang itu tiba-tiba telah berbelok turun ke jalan yang lebih kecil. Namun Manggada itu berlari-lari mandapatkannya sambil memanggil namanya, “Paman. Paman Wangking”

Orang itu memang berhenti. Wajahnya menjadi tegang. Namun dengan tajamnya ia memandangi Manggada yang berlari-lari mendapatkannya sambil bertanya, “Paman, apakah paman tidak ingat lagi kepadaku”

“Kau siapa?” bertanya orang yang dipanggilnya Wangking itu.

“Aku Manggada”

“Manggada, he kaukah itu”

“Ya paman. Aku Manggada. Paman ingat sekarang”

Orang itu meletakkan cangkulnya. Ditepuknya pundak Manggada sambil berkata, “Kau sudah sebesar ini sekarang. Hampir saja aku tidak mengenalmu lagi. Dimana saja kau selama ini”

“Aku berada di rumah paman” jawab Manggada. Lalu katanya, “Ini adik sepupuku. Dan ini Ki Pandi. Seseorang yang banyak membantuku dalam perjalanan hidupku”

Orang itu berpaling kepada Ki Pandi sambil mengangguk hormat. Sementara itu Ki Pandipun berkata, “Adalah kebetulan bahwa kami menempuh perjalanan yang searah”

“Jika ada kesempatan, silahkan singgah di rumahku Ki Pandi” berkata orang itu, “rumahku tinggal beberapa langkah saja dari sini”

“Terimakasih Ki Wangking. Besok, aku akan memerlukan singgah” jawab Ki Pandi.

“Aku sudah agak lama meninggalkan ayah dan ibu, paman. Aku ingin melihatnya lebih dahulu. Besok aku antar Ki Pandi singgah di rumah Ki Wangking” berkata Manggada. Namun kemudian Iapun bertanya, “Tetapi rasa-rasanya padukuhan ini menjadi sangat sepi sekarang, paman. Biasanya rumah-rumah belum menutup pintu di saat seperti ini”

“Sebentar lagi senja turun” jawab Ki Wangking.

“Ya. Tetapi suasananya terasa lain sekali dengan hari-hari yang pernah aku saksikan di padukuhan ini beberapa tahun yang lalu” berkata Manggada kemudian, “bahkan aku melihat anak-anak yang ketakutan melihat kami lewat”

Ki Wangkingpun melihat sekelilingnya. Rasa-rasanya memang aneh, bahwa orang itu nampak gelisah. Padahal sejak dilahirkan, Ki Wangking tinggal di padukuhan itu. Bahkan kemudian katanya, “Baiklah Manggada. Pulanglah. Ayah dan ibumu tentu sudah menunggu” namun kemudian ditambahkannya, “menurut pengetahuanku di rumahmu kini sedang ada tamu. Tetapi aku kurang tahu, siapakah tamu di rumahmu itu.”

“Tamu?” bertanya Manggada.

“Ya. Tetapi saatnya memang agak kurang tepat. Tetapi tamu di rumahmu itu tentu tidak tahu apa yang sedang terjadi di padukuhan ini” berkata Ki Wangking.

“Apakah yang sebenarnya terjadi?” bertanya Manggada.

“Ayahmu akan dapat mengatakan kepadamu nanti. Cepat-cepat sajalah pulang” berkata Ki Wangking. Namun kemudian ia pun berkata dengan nada gelisah, “Marilah. Aku juga ingin segera sampai ke rumah”

“Terima kasih, paman” sahut Manggada.

Ternyata Ki Wangking itupun segera melangkah sambil menjinjing cangkulnya, “Marilah anak-anak muda. Marilah Ki Pandi. Aku tunggu kalian singgah”

Manggada, Laksana dan Ki Pandi menjadi semakin heran. Namun kemudian mereka pun segera melanjutkan langkah mereka. Mereka justru semakin ingin cepat-cepat sampai ke rumah Manggada untuk mengetahui apa yang tengah terjadi di padukuhan itu.

Di tikungan, mereka melihat seorang perempuan melintas. Cepat sekali. Namun Manggada segera mengenal perempuan itu. Karena itu, maka iapun telah memanggilnya, “Bibi, bibi Gangsal”

Perempuan itu memang berpaling. Ketika ia melihat Manggada maka iapun berkata tertahan, “Apakah aku berhadapan dengan Manggada yang sering mamanjat pohon duwet di rumah sebelah”

“Ya bibi. Bukankah rumah sebelah itu rumah Pamrih, anak yang umurnya sebayaku kawan memanjat pohon duwet itu”

“Manggada” Perempuan itu mengangguk-angguk, “Kau sudah begitu besar. Tetapi kemana kau selama ini?” bertanya perempuan itu.

“Aku berada di rumah paman, bibi” jawab Manggada. Perempuan itu nampaknya masih ingin bertanya lebih panjang. Tetapi tiba-tiba wajahnya berkerut. Katanya, “Pulanglah ngger. Bukankah kau belum sampai ke rumahmu”

“Belum bibi” jawab Manggada.

“Nah, pulanglah, sebentar lagi senja turun” berkata perempuan itu, “aku juga harus segera pulang”

Manggada tidak sempat memperkenalkan saudara sepupunya dan Ki Pandi. Namun bahwa semua orang nampaknya merasa gelisah, menjadi semakin terasa. Sehingga karena itu, maka Manggada pun semakin ingin cepat sampai di rumah.

Demikianlah, mereka bertiga tidak berhenti lagi. Mereka tidak lagi bertemu dengan seorang pun. Ketika senja turun, maka semua pintu rumah menjadi semakin tertutup rapat.

Mereka bertiga hanya dapat melihat cahaya lampu minyak yang menyusup di antara lubang dinding yang tidak rapat. Sementara regol-regol halaman pada umurnya memang tidak tertutup rapat.

Ketika Manggada sampai dimuka regol halaman rumahnya, maka pintu rumahnya pun sudah tertutup. Tetapi pintu regolnya masih sedikit terbuka.

Rumah Manggada adalah sebuah rumah yang sedang. Lengkap dengan pringgitan, pendapa dan gandok. Dua buah seketheng di sebelah-menyebelah pendapa memisahkan longkangan dengan halaman depan yang memang agak luas.

Jantung Manggada terasa bergejolak semakin cepat. Kepada Ki Pandi Manggada itu berkata, “Inilah rumahku, Ki Pandi”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya, “Rumah yang bagus”

“Rumah yang sederhana” sahut Manggada.

“Tetapi rumahmu terpelihara dengan rapi, Manggada. Bersih dan terawat baik”

“Ayah dan ibu memang senang merawat rumah, termasuk halamannya dan tanam-tanaman di atasnya” jawab Manggada.

Ki Pandi mengangguk-angguk, sementara itu senja pun menjadi semakin temaram. Di pendapa rumah orang tua Manggada, lampu sudah menyala. Demikian pula di serambi gandok dan bahkan di seketheng. Namun rumah itu nampak sepi.

Ketiga orang itu pun kemudian memasuki halaman rumah. Manggada mempersilahkan Ki Pandi naik ke pendapa dan duduk di atas tikar pandan yang memang sudah digelar di pringgitan.

Manggada yang menjadi berdebar-debar mendekati pintu pringgitan. Sementara Laksana ikut saja di belakangnya.

Perlahan-lahan Manggada mengetuk pintu. Semula ia ingin mengganggu kedua orang tuanya dan mengejutkan mereka. Namun karena suasana nampaknya tidak menguntungkan, maka niatnya diurungkan. Ia tidak mau benar-benar membuat orang tuanya benar-benar terkejut.

Ternyata ketukannya itu segera didengar oleh orang yang berada di belakang pintu. Sesaat Manggada dan Laksana mendengar orang-orang berbisik di dalam. Baru kemudian dengan suara yang ragu terdengar seseorang bertanya, “Siapa di luar”

Meskipun sudah lama Manggada meninggalkan rumahnya, namun Manggada masih ingat benar. Suara itu suara ayahnya.

Karena itu, maka Manggada itupun segera menyahut, “Ini kami ayah. Manggada dan Laksana”

“Manggada dan Laksana” terdengar suara perempuan. Ibu Manggada.

Sejenak kemudian pintu pringgitan itupun terbuka. Dengan tergesa-gesa seseorang telah mengangkat selarak pintu.

Ketika pintu dibuka, maka ayah dan ibu Manggada berdiri di muka pintu. Demikian mereka melihat Manggada, maka ibunya segera memeluknya, sementara ayah Manggada memegangi kedua bahu Laksana sambil mengguncang-guncangnya. Seperti anaknya, maka Laksana nampak tumbuh menjadi anak muda yang kokoh kuat. Tangan ayah Manggada segera merasakan betapa kerasnya tulang-tulang Laksana dan betapa liat kulitnya.

Namun yang kemudian terkejut adalah Manggada dan Laksana. Ternyata di belakang ayah dan ibu Manggada berdiri ayah dan ibu Laksana.

“Ayah dan ibu ada disini?” bertanya Laksana gagap.

Ibu Laksana pun memeluknya pula. Setitik air mata menetes di bahu anaknya. Ia menahan tangis ketika melepas anaknya itu pergi bersama Manggada. Tetapi setelah kegelisahan mencengkam jantungnya, maka kini ia bertemu lagi dengan anaknya.

“Marilah, masuklah” ayah Manggada mampersilahkan keduanya.

Tetapi Manggada berkata, “Ayah. Aku datang bersama seseorang. Seseorang yang telah banyak membantu dan bahkan melindungi aku selama dalam perjalanan”

Ayah Manggada mengerutkan dahinya Namun kemudian katanya, “Persilahkan ia masuk”

Manggada pun kemudian melangkah mendekati Ki Pandi diikuti oleh ayahnya. Ki Pandi pun kemudian telah bangkit berdiri pula. Dengan hormat ia mengangguk dalam-dalam.

Demikian pula ayah Manggada, sementara Manggada berkata, “Ki Pandi. Ini Ayahku. Kebetulan ayah dan ibu Laksana pun ada disini pula”

Kepada ayahnya, Manggada telah memperkenalkan Ki Pandi pula. Dikatakannya bahwa selama dalam perjalanan Ki Pandi telah banyak berbuat bagi Manggada dan Laksana.

“Aku mempersilahkan Ki Pandi duduk di dalam saja” ayahnya mempersilahkan.

Memang tidak terbiasa bagi orang yang baru dikenalnya langsung dipersilahkan duduk di ruang dalam. Biasanya seorang tamu diterima di pendapa atau di pringgitan.

Tetapi Ki Pandi yang sudah menangkap suasana di padukuhan itupun mengerti, kenapa ia dipersilahkan masuk ke ruang dalam.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, mereka sudah berada di ruang dalam rumah keluarga Manggada. Suasana yang gembira meliputi pertemuan itu.

“Aku sudah hampir sepuluh hari berada di rumah ini” berkata Ki Citrabawa kepada Manggada dan Laksana, “sejak kalian meninggalkan rumah kami, maka kami tidak lagi mendengar kabar beritanya. Kami berharap kalian datang menengok kami. Tetapi sampai kegelisahan kami memuncak, kalian sama sekali tidak muncul. Ketika kami tidak tahan lagi, terutama ibumu, maka kami telah pergi menyusul kalian. Demikian kami sampai di rumah ini, kegelisahan itu justru semakin bertambah, karena ternyata kalian belum sampai di rumah ini”

“Maafkan kami paman” jawab Manggada dengan nada rendah.

“Ketika paman dan bibimu datang kemarin Manggada, serta menceritakan bahwa kalian sudah lama berangkat meninggalkan rumah pamanmu, jantungku dan jantung ibumu rasa-rasanya akan terlepas dari tangkainya” berkata ayah Manggada.

Manggada dan Laksana hanya menundukkan kepalanya saja. Mereka memang bersalah, karena dengan demikian maka mereka telah membuat kedua keluarga mereka sangat gelisah. Apalagi setelah Ki Citrabawa datang mengunjungi Ki Kertasana, ayah Manggada.

“Aku bertemu dengan kedua anak muda ini di belakang hutan Jatimalang” berkata Ki Pandi menyela.

“Hutan Jatimalang” Ki Citrabawa mengulang hampir tidak percaya, “kenapa kalian sampai ke belakang hutan Jatimalang”

“Ceriteranya panjang paman” jawab Manggada.

“Baiklah” berkata Ki Citrabawa, “besok kalian harus berceritera panjang sepanjang perjalanan kalian”

“Baik paman. Namun yang dapat kami beritahukan, seandainya kami tidak bertemu dengan Ki Pandi dan Panembahan Lebdagati, mungkin kami memang tidak akan dapat sampai ke rumah ini”

Tetapi Ki Pandipun menyahut, “Aku hanya menjadi penunjuk jalan karena agaknya keduanya kebingungan”

“Kami mengucapkan terima kasih Ki Pandi” berkata Ki Kertasana sambil mengangguk-angguk. Lalu katanya selanjutnya, “agaknya mereka telah bertualang”

“Itulah yang kami cemaskan, kakang” sahut Ki Citrabawa, “karena itu, aku sudah banyak berpesan ketika mereka meninggalkan rumahku, bahwa mereka tidak perlu merasa perlu untuk mencoba kemampuan mereka terhadap siapapun dan terhadap apapun”

Manggada dan Laksana hanya berdiam diri saja. Namun Ki Pandi lah yang kemudian berkata, “Mereka memang tidak berusaha untuk mencoba ilmu mereka dengan siapapun. Tetapi agaknya mereka tertarik untuk menjenguk betapa jauhnya cakrawala. Jika kemudian mereka harus mempertahankan dirinya, itu adalah perbuatan yang wajar bagi setiap orang yang merasa terancam. Namun satu hal yang dapat dibanggakan dari kedua anak muda itu adalah, dorongan nurani mereka untuk membantu kesulitan orang lain”

Ki Kertasana dan Ki Citrabawa mengangguk-angguk. Satu kebanggaan memang bergejolak di dalam dada orang-orang tua Manggada dan Laksana itu. Namun Ki Kertasana itu berkata, “Tetapi selama ini dada kami bagaikan dipanggang di atas api”

Ki Pandi tersenyum, katanya, “Selama perjalanan mereka, kedua anak muda ini tentu mendapat banyak sekali pengalaman meskipun kadang-kadang cukup berbahaya. Namun Tuhan Yang Maha Pengasih masih tetap melindungi mereka”

Dalam pada itu, maka Nyi Kertasana dan Nyi Citrabawa pun telah minta diri pergi ke dapur untuk membuat minuman dan menyiapkan makan malam.

Demikian kedua orang perempuan itu meninggalkan ruang dalam, maka Manggada yang sudah tidak sabar lagi itu pun bertanya, “Ayah. Ketika kami memasuki padukuhan Gemawang ini terasa suasananya terasa agak berbeda. Apakah hal seperti itu hanya terjadi di padukuhan Gemawang atau di seluruh Kademangan Kalegen?”

“Suasana apa yang kau rasakan?” bertanya Ki Kertasana.

“Lengang dan gelisah” jawab Manggada.

Ki Kertasana mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Suasana itu telah mencengkam padukuhan ini. Meskipun juga sedikit terasa di padukuhan lain di Kademangan Kalegen, tetapi tidak sedalam di padukuhan Gemawang”

“Kenapa demikian ayah? Apa yang telah terjadi disini” bertanya Manggada pula.

“Satu kebetulan, dalam suasana yang mencengkam itu, paman dan bibimu datang kemari, sehingga mereka tidak dapat melihat-lihat suasana yang sewajarnya di padukuhan ini. Apalagi karena kalian berdua masih belum sampai di rumah. Kegelisahan yang mencengkam padukuhan ini masih ditambah lagi dengan kegelisahan yang mencuat dari dada ini”

Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Namun kemudian keduanya telah menunduk lagi.

Sementara itu, Ki Kertasana melanjutkan, “Kegelisahan ini bermula dari berita bahwa dua orang kakak beradik yang sudah lama hilang dari padukuhan ini akan kembali lagi.

0oOdw-aremaOo0

Bersambung ke Jilid 2

Karya SH Mintardja

Seri Arya Manggada 3 – Sang Penerus

Sumber djvu : Ismoyo

Convert, editor & ebook oleh : Dewi KZ

Tiraikasih Website

http://kangzusi.com/ http://kang-zusi.info/

http://cerita-silat.co.cc/ http://dewi-kz.com/

kembali | lanjut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s