AM_MR-04


Serial ARYA MANGGADA

Episode II: MAS RARA

JILID 4

kembali | lanjut

AMMR-04“AKU juga mohon diri“ sambung Wirantana, “aku akan kembali menjemput ayah dan ibuku. Sebelum sepekan mereka harus sudah berada di padukuhan ini”

“Baiklah anak-anak muda“ berkata pemimpin prajurit itu, “kami akan menyampaikannya kepada Raden Panji”

Sepeninggal para prajurit itu, Manggada berdesis, “Untuk menyampaikan hadiah seperti ini, kenapa harus sekelompok prajurit. Bukankah satu atau dua orang saja sudah cukup?“

“Satu kehormatan“ desis Wirantana, “bukankah dengan demikian kalian cukup dihormati disini, sehingga untuk menyerahkan hadiah yang tidak berarti itu telah dilakukan oleh sekelompok prajurit?“

“Kami memang tidak pernah memikirkan hadiah. Karena itu, kami tidak memikirkan apakah hadiah itu benilai atau tidak” desis Manggada.

“Justru karena itu“ berkata Wirantana, “justru karena hadiahnya tidak bernilai, maka ada nilai yang lain yang diberikan kepada kalian. Satu penghormatan”

Manggada mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tertawa sambil berkata, “Nilai-nilai yang sulit aku dapatkan di tempat lain”

Ketiga anak muda itu pun tertawa. Namun hati mereka terasa seperti disentuh ujung duri. Mereka merasa betapa perlakuan yang diberikan oleh Raden Panji itu benar-benar menyakiti hati mereka. Terutama Manggada dan Laksana. Namun demikian Manggada juga merasa gelisah karena adiknya yang tentu merasa sangat gelisah pula. Wirantana sudah membayangkan bahwa menjadi isteri Raden Panji bukannya satu peristiwa yang bernilai tinggi, tetapi justru akan merupakan satu penderitaan yang panjang. Apalagi Mas Rara adalah isteri Raden Panji yang keenam. Ia akan menjadi endapan kepahitan hidup kelima isteri Raden Panji sebelumnya.

Namun tiba-tiba terbersit satu pertanyaan, “Apakah aku akan membiarkan penderitaan itu berkepanjangan?“

Wirantana menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu, ketiga anak muda itu pun telah berada di dalam biliknya. Laksana sempat membaringkan diri dipembaringan, sementara Manggada dan Wirantana duduk diamben bambu sambil merenung.

Sementara itu maka senja pun menjadi semakin gelap. Lampu telah dinyalakan dimana-mana. Di gandok itu pun lampu telah dinyalakan pula.

“Aku akan berbicara dengan sais dan pembantunya itu“ berkata Wirantana.

Manggada dan laksana mengangguk. Dengan nada datar Manggada berkata, “Aku akan segera tidur agar besok aku dapat bangun dini hari”

Wirantana menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Bukankah kita menunggu makan malam?“

Manggada tidak menjawab. Ia duduk sambil tersenyum, sementara Laksana masih saja berbaring. Sekali-sekali matanya justru terpejam meskipun ia tidak ingin segera tidur.

Kepada kedua orang yang melayani pedati berkuda itu Wirantana sudah berpesan, agar pedati itu dipersiapkan. Mereka akan berangkat menjelang fajar.

“Kita tinggal berangkat“ berkata seorang diantara mereka, “segalanya sudah siap”

“Baiklah“ berkata Wirantana, “besok kita berangkat sebelum padukuhan ini terbangun. Kita berangkat bersama-sama dengan Manggada dan Laksana meskipun tujuan kita berbeda”

“Kedua orang anak itu akan pergi kemana?“ bertanya seorang yang lain.

“Mereka memang sedang mengembara. Mungkin mereka akan pergi ke Pajang“ jawab Wirantana.

Demikian maka Wirantana pun telah meninggalkan kedua orang itu. Sementara itu, kedua orang itu memang sudah menyiapkan segala-galanya. Bahkan senjata mereka pun telah mereka siapkan.

Ketika Wirantana kembali ke gandok ternyata makan malam bagi mereka telah dipersiapkan.

Setelah makan malam maka rasa-rasanya udara menjadi panas sehingga bertiga anak-anak muda itu justru duduk-duduk diserambi yang udaranya terasa lebih sejuk.

Namun mereka tidak terlalu lama berada diserambi. Halaman rumah itu nampak terlalu sepi. Meskipun ada dua orang prajurit yang berjaga, juga diregol dan lima orang yang lain berada di gardu meskipun dua orang diantaranya sudah berbaring karena mendapat giliran tidur disore hari, namun suasananya terasa sangat lengang.

Malam yang menjadi semakin dalam telah membuat ketiga orang itu mulai mengantuk. Tetapi rasa-rasanya mereka masih belum puas berbicara justru disaat terakhir mereka sempat melakukannya. Besok mereka sudah akan berpisah.

Tanpa mereka sadari, maka mereka telah berbicara kian kemari, termasuk membicarakan sifat-sifat Raden Panji serta kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi atas Mas Rara.

Namun akhirnya mereka memang menjadi mengantuk sekali menjelang tengah malam. Karena itu, maka Wirantana pun berkata, “Baiklah. Kita akan beristirahat sekarang. Besok menjelang fajar kita akan bersiap”

Manggada dan Laksana pun mengangguk-angguk. Dengan nada rendah agak tertelan Manggada berkata, “Aku juga sudah mengantuk”

Demikianlah, maka ketiga orang anak muda itu pun telah membaringkan dirinya di pembaringan. Sekali-sekali mereka menguap dan menggosok mata mereka. Memang terasa sayang sekali bahwa mereka akan melewatkan saat-saat terakhir mereka bertemu hanya untuk tidur. Namun mereka tidak dapat mengelak.

Tetapi ketika mata mereka telah terpejam, maka ketiga anak muda itu telah dikejutkan oleh pembicaraan yang terjadi di halaman. Tidak terlalu keras. Namun nampaknya bersungguh-sungguh.

“Aku mengemban tugas dari Raden Panji” terdengar suara yang berat.

 “Apakah kau membawa pertanda perintah itu?“ bertanya suara yang lain.

“Ada“ jawab orang yang pertama.

Wirantana memang sangat tertarik oleh pembicaraan itu. Iapun segera bangkit, memadamkan lampu dan dengan sangat berhati-hati membuka pintu bilik gandok.

Manggada dan Laksana pun telah ikut pula mengintip dari sela-sela pintu bilik gandok itu. Mereka melihat dua orang yang berdiri dihadapan salah seorang dari para prajurit yang bertugas, bahkan agaknya pemimpin kelompoknya. Sementara dua orang prajaurit yang lain, yang sudah bersiap-siap untuk beristirahat setelah tugasnya di regol digantikan oleh dua orang kawannya, berdiri termangu-mangu didepan gardu.

Ketiga orang anak muda itu melihat salah seorang dari kedua orang yang mengaku utusan Raden Panji itu telah menunjukkan sesuatu. Agaknya sebuah cincin.

“Kau tentu mengenal cincin ini. Cincin ini memang cincin pertanda perintah Raden Panji“ berkata orang itu.

Pemimpin sekelompok prajurit yang bertugas itu menarik nafas dalam-dalam Namun katanya, “tetapi Mas Rara tentu sudah tidur”

“Tidak apa apa. Kita harus membangunkannya dan segera membawanya menghadap Raden Panji” jawab orang itu.

“Tetapi kenapa harus malam-malam begini?“ bertanya pemimpin prajurit itu.

“Jangan bodoh“ jawab orang yang membawa cincin itu.

Pemimpin prajurit yang sedang bertugas di rumah itu menarik nafas dalam-dalam. Namun keragu-raguannya pun kemudian telah terdesak kesamping ketika utusan Raden Panji itu berkata, “Perintah Raden Panji, kami harus membawa Mas Rara. Tidak boleh ada orang yang menghalanginya”

“Terserahlah” berkata pemimpin prajurit itu, “tetapi sebenarnya aku kasihan melihat gadis itu”

“Apakah kau akan melawan perintah Raden Panji?“ bertanya utusan itu.

“Tentu tidak. Ambillah“ jawabnya.

Tetapi utusan itu berkata, “Kaulah yang membangunkannya dan membawanya kemari. Aku akan membawanya sampai kepada Raden Panji”

“Kau yang mendapat perintah. Lakukan perintah itu“ jawab pemimpin prajurit yang bertugas.

“Perintah Raden Panji termasuk perintah kepada kalian“ jawab utusan itu.

Tetapi pemimpin prajurit itu menggeleng. Katanya, “Tentu tidak. Raden Panji hanya memerintahkan kepadamu untuk mengambil gadis itu. Sekarang terserah kepadamu, apakah kau akan membawanya menghadap atau tidak”

Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Seorang diantara mereka berkata, “Baiklah. Kami akan mengambilnya”

Meskipun sebenarnya ragu-ragu, tetapi kedua orang itu pun telah menuju ke pintu pringgitan. Dengan perlahan-lahan pintu itu pun diketuknya.

Baru setelah diulang sampai dua tiga kali, maka terdengar seorang perempuan menyapa, “Siapa diluar?“

“Kami bibi. Mengemban perintah Raden Panji“ jawab salah seorang diantara keduanya.

“Kenapa malam-malam?“ bertanya perempuan yang ada didalam itu.

“Kami hanya mengemban perintah bi, “jawab prajurit itu.

“Bagaimana kalau besok saja?“ bertanya perempuan yang ada di dalam.

“Apakah ada diantara kita yang berani menentang perintah Raden Panji?“ prajurit itu justru bertanya.

Perempuan itu pun kemudian telah membuka pintu. Sebelum orang tua itu bertanya, prajurit itu telah menunjukkan cincin yang dipakainya sambil berkata, “Aku membawa pertanda pengemban perintah Raden Panji”

Perempuan tua yang melayani Mas Rara termangu-mangu. Ia menyadari apa yang akan terjadi dengan gadis yang lugu itu. Tetapi ia pun mengerti, apa yang terjadi terhadap seseorang yang berani menentang perintah Raden Panji itu. Apalagi tentang seorang perempuan cantik yang telah mengguncang-kan hatinya sehingga Raden Panji itu tidak sabar lagi menunggu waktu sepekan yang telah ditentukannya sendiri”

Satu gejolak perasaan telah terjadi dihati perempuan tua itu. Rasa-rasanya ia memang ingin menghalangi kedua orang itu mengambil Mas Rara. Tetapi perempuan tua itu menyadari, bahwa ia tidak akan berdaya berbuat sesuatu untuk mencegahnya.

”Maaf bibi“ berkata prajurit itu, “aku minta bibi membangunkannya dan membawanya kemari. Kami akan mengantar mereka kepada Raden Panji sekarang juga. Raden Panji sudah berpesan agar aku segera kembali sambil membawa Mas Rara bersamaku. Raden Panji sudah mengancam, jika aku gagal, maka leherku akan menjadi taruhan”

Perempuan tua itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “ Itulah biliknya”

“Bawa gadis itu kemari“ berkata kedua orang itu hampir berbareng.

Tetapi perempuan tua itu menggeleng lemah. Katanya, “Kau ambil gadis itu sendiri, Aku tidak sampai hati membangunkannya dan memberitahukannya bahwa ia diperlukan Raden Panji sekarang juga, sementara masih ada tenggang waktu sepekan dengan hari pernikahan yang ditentukan sendiri oleh Raden Panji”

Kedua orang itu menjadi tegang. Namun ia tidak akan dapat memaksa perempuan tua itu untuk membangunkan Mas Rara. Sementara waktunya sudah menjadi terlalu lama. Raden Panji yang memberikan perintah langsung kepada kedua orang itu nampaknya tidak sabar lagi menunggu.

Karena itu, maka keduanya pun telah menyingkirkan perasaannya sendiri yang justru berlawanan dengan tugas yang harus diembannya. Seorang diantara mereka berkata, “Aku akan membangunkannya”

Orang itu telah mendekati pintu bilik Mas Rara. Namun sebenarnyalah keragu-raguan masih saja mencengkamnya.

Ketika diluar sadarnya prajurit itu menyentuh pintu, maka ia pun tahu bahwa pintu bilik itu telah diselarak dari dalam.

Perlahan-lahan orang itu mengetuk pintu sambil berdesis, “Mas Rara, Mas Rara”

Beberapa saat orang itu mengetuk pintu, namun sama sekali. tidak terdengar jawaban. Karena itu, maka prajurit itu mengetuk semakin keras.

“Mas Rara” panggil prajurit itu.

Mas Rara sebenarnya memang sudah terbangun. Tetapi ia justru menjadi ketakutan. Yang terdengar diluar pintu adalah suara laki-Iaki.

“Mas Rara“ berkata prajurit yang membangunkannya itu, “aku membawa pesan Raden Panji. Pesan yang sangat penting bagi Mas Rara”

Mas Rara masih saja ragu-ragu. Namun karena pintu itu diketuk lagi, maka ia pun bertanya, “Siapa diluar?“

Prajurit yang mendapat tugas untuk menjemput Mas Rara itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata, “Kami adalah utusan Raden Panji. Jika Mas Rara ragu-ragu, maka silahkan membuka pintu. Kami akan menunjukkan pertanda perintah dari Raden Panji”

“Kenapa tidak besok saja?“ bertanya Mas Rara.

“Pesan itu sangat penting Mas Rara” jawab prajurit itu, “aku persilahkan Mas Rara melihat cincin itu. Mas Rara tentu akan yakin, bahwa kami adalah utusan Raden Panji”

Mas Rara memang tidak dapat berbuat lain. Ia menyadari, bahwa dirinya bagaikan seekor kelinci didalam kandang seekor harimau yang ganas.

Ketika prajurit itu mengetuk pintunya lagi, maka Mas Rara pun telah membukanya.

Diluar pintu ia melihat dua orang prajurit berdiri termangu-mangu. Beberapa langkah dibelakangnya, orang tua yang melayaninya berdiri tegak dan tubuh gemetar.

Demikian pintu terbuka, maka perempuan tua itu telah berlari memeluknya. Diluar sadarnya, terasa air mata perempuan tua itu menitik dibahunya.

“Bibi“ desis Mas Rara.

Perempuan tua itu tidak menjawab sama sekali. Tetapi kedua orang prajurit itulah yang kemudian mengangguk hormat.

Mas Rara berdiri tegak memandangi kedua orang prajurit yang menunduk itu. Meskipun keduanya belum mengatakan sesuatu kepadanya, tetapi Mas Rara seakan-akan sudah tahu apa yang akan dilakukan Raden Panji atas dirinya.

Namun kemudian salah seorang dari kedua prajurit itu betapapun segannya, terpaksa mengatakan, “Mas Rara. Kami adalah utusan Raden Panji. Kami membawa pertanda perintah. Kami ditugaskan untuk mempersilahkan Mas Rara bersama-sama dengan kami menghadap Raden Panji”

Meskipun Mas Rara sudah menduga, namun ketika kedua orang prajurit itu menyampaikan perintah Raden Panji, jantungnya masih juga berdentangan keras sekali.

Perempuan tua yang kemudian melepaskan pelukannya itu pun berdiri dengan cemasnya disisi Mas Rara. Sudah beberapa kali ia menyaksikan perempuan yang menjadi isteri Raden Panji. Namun perasaannya terasa lain ketika ia berhadapan dengan Mas Rara. Apalagi jika ia melayani seorang perempuan yang tamak dan sombong. Maka ia sama sekali tidak merasa tersentuh melihat saat-saat seperti yang sedang terjadi itu. Ia merasa sangat benci kepada perempuan yang menyambut perintah Raden Panji itu dengan sangat gembira dan penuh harapan.

Namun ternyata bahwa sikap Mas Rara itu berbeda. Pada saat yang sangat gawat itu, ia justru menemukan keberanian yang sudah terlepas dari dirinya sejak ia dinyatakan akan menjadi isteri Raden Panji. Pribadinya yang serasa hilang itu tiba-tiba pula telah bangkit kembali didalam dirinya. Bahwa tubuhnya rasa-rasanya tidak menjadi miliknya lagi, dengan serta merta telah tersentak dari relung jantungnya.

Karena itu, maka Mas Rara itu dengan tengadah berkata, “Katakan kepada Raden Panji, bahwa aku tidak dapat menghadap sekarang. Kecuali hari telah larut malam, katakan bahwa aku sedang sakit”

“Tetapi perintah Raden Panji mawanti-wanti” berkata prajurit itu, “jika aku kembali tanpa Mas Rara, maka aku akan mendapat hukuman yang sangat berat. Bahkan mungkin aku akan dihukum mati”

“Kau tidak bersalah“ berkata Mas Rara, “perintahnya telah sampai kepadaku. Tetapi akulah yang menolaknya. Bukan kalian berdua”

“Benar Mas Rara. Tetapi apakah aku dapat meyakinkan Raden Panji bahwa Mas Rara menolak perintah itu?“ desis prajurit itu.

“Apakah kau akan membawa cincinku untuk meyakinkan Raden Panji?“ bertanya Mas Rara.

“Tidak Mas Rara. Bukan cincin itu. Yang penting kami mengharap Mas Rara menghadap Raden Panji. Apapun yang akan dilakukan Raden Panji benar-benar diluar tanggung jawab kami. Jika kami melakukannya, itu semata-mata karena kamipun merasa takut untuk menolak perintah itu“ berkata prajurit yang menjadi gelisah itu.

“Katakan kepada Raden Panji, bahwa kau telah melakukan tugasmu dengan baik. Dan katakan pula bahwa akulah yang menolak perintahnya. Jika Raden Panji marah dan akan menjatuhkan hukuman, biarlah aku yang dihukum. Hukuman mati sekalipun“ jawab Mas Rara. Lalu katanya pula, “Sampaikan kepada Raden Panji bahwa aku menolak kemauannya. Aku baru akan menjadi isterinya sepekan lagi.”

Wajah kedua utusan itu menjadi tegang. Mereka tidak mengira bahwa Mas Rara akan menolak perintah yang diberikan Raden Panji. Secara kebetulan, seorang diantara mereka juga melakukan perintah yang sama atas isteri Raden Panji yang ke lima. Tapi perintah itu tidak ditolaknya. Utusan itu tidak tahu perasaan apa yang bergejolak di hati perempuan itu. Tapi perempuan itu tampaknya merasa bangga sekali. Baru beberapa hari kemudian pernikahannya akan berlangsung. Namun keluarga itu tidak lama tampak utuh. Beberapa bulan kemudian hubungan mereka mulai retak dan nasib isteri kelima itu menjadi kurang baik.

Tetapi sekarang, seorang perempuan dari padukuhan Nguter telah berani menentang perintah Raden Panji. Bahkan menentang untuk menerima hukuman mati sekalipun.

Ketika keduanya masih termangu-mangu, Mas Rara yang seakan-akan telah menemukan dirinya kembali itu berkata, “Ki Sanak, kembalilah. Aku masih letih. Aku masih ingin tidur lagi”

Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Namun seorang diantara mereka berkata, “Tidak Mas Rara. Aku harus kembali menghadap Raden Panji bersama Mas Rara”

“Aku tidak mau“ bentak Mas Rara.

“Kami juga tidak berani kembali tanpa Mas Rara“ sahut yang seorang lagi.

“Terserah pada kalian. Tapi aku tidak akan pergi“ jawab Mas Rara.

Kedua orang itu menjadi bingung. Dengan gagap, seorang diantara mereka berkata, “Tidak. Mas Rara harus pergi”

“Aku tidak mau“ jawab Mas Rara tegas.

“Kami akan memaksa Mas Rara“ utusan yang kehilangan akal itu mulai mengancam.

Wajah Mas Rara jadi makin tegang. Dengan suara bergetar ia berkata, “Kau tahu siapa aku? Kau tidak akan dapat menakut-nakuti aku. Aku adalah calon isteri Raden Panji. Jika kalian berani menentang perintahku, itu berarti kalian berani menentang Raden Panji”

Kedua orang itu memang menjadi bimbang. Tetapi ketakutan yang bergejolak di jantung mereka ternyata lebih berat dibanding keragu-raguan mereka, sehingga seorang diantara mereka berkata, “Raden Panjilah yang memerintahkan kami datang kemari. Karena itu, yang kami lakukan adalah atas nama dan atas kuasanya. Karena itu, jangan menentang kami”

Debar jantung Mas Rara bagaikan semakin cepat berdegup. Tapi ia masih berkata lantang, “Pergi. Jangan mencoba mengganggu aku. Jika Raden Panji mengetahuinya, kalian akan dihukum gantung”

“Kami mengemban perintah Raden Panji“ ulang salah seorang dari mereka.

Tetapi Mas Rara tetap pada pendiriannya. Katanya, “Aku tidak mau. Jika kau akan memaksakan, kalian akan menyesal. Aku dapat mengatakan hitam atau putih tentang kalian kepada Raden Panji. Aku dapat mengatakan bahwa kalian telah memanfaatkan keadaan itu untuk kepentingan dan kesenangan kalian sendiri”

“Gila“ wajah orang-orang itu menjadi marah. Seorang diantara mereka berkata, “Kami akan melakukannya dihadapan saksi-saksi, para prajurit yang bertugas di tempat ini akan menjadi saksi apa yang telah kami lakukan. Mereka akan mengatakan sesuai dengan apa yang mereka lihat”

Wajah Rara Wulan jadi panas. Ternyata orang-orang itu tidak lekas menjadi ketakutan. Namun ia sudah bertekad untuk tidak mau pergi mengikuti keduanya. Karena itu, Rara Wulan berkata, “Aku tidak peduli. Tapi aku tidak mau. Jika kalian coba menjamah kulitku dan menjadi kotor, Raden Panji tentu tidak akan memaafkan kalian lagi”

Kedua orang itu memang berpikir. Namun seorang diantara mereka tiba-tiba saja telah mencabut pedangnya sambil berkata, “Mas Rara harus pergi. Aku memiliki wewenang penuh untuk melakukan apa saja sampai Mas Rara berhasil aku bawa menghadap Raden Panji”

“Termasuk membunuh aku?“ tanya Mas Rara.

Orang yang memegang pedang itu menjadi makin bingung. Ternyata Mas Rara sama sekali tidak menjadi gentar melihat ujung pedang yang tajam runcing itu. Bahkan sambil menengadahkan dadanya ia berkata, “Marilah. Jika itu perintah Raden Panji, lakukanlah”

Sejenak kedua orang itu tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Sementara itu, perempuan tua yang melayani Mas Rara menjadi sangat ketakutan. Ketika seorang diantara kedua utusan Raden Panji itu mengacungkan pedangnya, perempuan itu bergeser mendekati Mas Rara.

Karena kedua orang itu tidak segera berbuat sesuatu, sekali lagi Mas Rara berkata, “Ayo, bunuh aku jika kau berani melakukannya. Nanti bawa tubuhku menghadap Raden Panji. Kau tentu akan menerima hadiah yang sangat besar, atau lehermu akan di penggal di halaman rumah Raden Panji untuk dijadikan pangewan-ewan. Kepalamu akan dijadikan peringatan bagi orang-orang yang berani pada calon isterinya. Jika hal seperti ini kau lakukan dua tiga bulan lagi, setelah aku benar-benar jadi isterinya, mungkin kau akan naik pangkat. Tapi jika sekarang kau lakukan, berarti kau akan membunuh diri”

Kedua orang itu benar-benar menjadi bingung. Tampaknya Mas Rara terlalu yakin akan dirinya. Seakan-akan dalam waktu singkat Mas Rara telah berubah sama sekali. Bukan lagi seorang perempuan lembut, penurut dan tanpa berani mengangkat wajahnya dihadapan seseorang. Namun tiba-tiba ia dapat menjadi garang dan menantang ujung pedang.

Perempuan tua yang melayaninya menjadi sangat heran. Kekuatan apa yang telah menggerakkan Mas Rara untuk berbuat demikian.

Namun dalam kebingungan dan tanpa dapat melihat jalan keluar yang lebih baik, kedua orang itu telah melakukan kekerasan. Memang tidak menusuk jantung Mas Rara dengan pedang. Justru senjata tajam yang sudah dicabut itu disarungkan kembali. Keduanya kemudian memaksa Mas Rara untuk mengikutinya. Seorang diantara mereka telah memegang lengan gadis itu dan menariknya sambil berkata, “Aku tidak tahu apakah jalan ini yang terbaik. Tetapi aku tidak mau mendapat hukuman karena perempuan yang keras kepala ini”

Ketika Mas Rara meronta, yang seorang lagi telah membantunya, memegangi lengannya yang satu lagi.

Mas Rara, seorang gadis lembut dan lugu, tidak dapat mengatasi kekuatan kedua orang prajurit itu. Tangannya yang kasar dan tenaganya yang besar, telah menyeret Mas Rara dari ruang dalam.

Mas Rara tidak mengira bahwa ia akan mendapat perlakuan sangat kasar. Sementara itu, perempuan tua yang melayaninya telah memeluk dan menahannya sambil berkata, “Lepaskan. Lepaskan. Kau akan digantung besok jika kau berani berbuat kasar terhadap calon isteri Raden Panji”

Tapi bagi kedua orang itu, berbuat kasar tentu akan lebih baik daripada tidak membawa Mas Rara sama sekali. Apalagi Raden Panji telah mengancam, apapun alasannya, ia tidak mau mendengarkan jika mereka datang tanpa Mas Kara. Ketakutan akan pesan itulah yang telah membuat kedua utusan itu kebingungan dan tidak dapat melihat jalan keluar.

Ketika keduanya menarik Mas Rara keluar ruang dalam, Mas Rara menjerit hingga suaranya yang melengking telah mengejutkan semua orang yang ada di lingkungan rumah itu.

Beberapa orang prajurit berlari-larian ke pendapa, ketika mereka melihat kedua utusan Raden Panji itu keluar dari pintu pringgitan.

“Apa yang terjadi?” tanya pemimpin prajurit yang bertugas sambil mengacungkan tombaknya.

“Aku harus membawa gadis itu menghadap Raden Panji. Beliau yang memerintahkan. Tidak ada alasan untuk mengelakkan perintah itu. Malam ini, Mas Rara harus dihadapkan padanya. Tapi Mas Rara menolak, sehingga kami harus memaksanya. Karena itu, aku minta dua orang diantara kalian pergi bersama kami untuk menjadi saksi bahwa kami melakukan atas perintah Raden Panji dan tidak mengkhianatinya sama sekali“ berkata salah seorang dari kedua utusan itu.

Para prajurit itu termangu-mangu. Seorang diantara mereka bertanya, “Apakah tindakan ini tidak membuat Raden Panji marah?“

“Kami sudah mendapat wewenang. Dengan cara apapun juga, Mas Rara harus dihadapkan padanya malam ini juga“ berkata salah seorang dari utusan itu. Katanya lagi, “Karena itu, bantu aku agar tugas ini dapat kami selesaikan dengan baik, sehingga kita semuanya tidak mendapat hukuman besok pagi”

Para prajurit itu termangu-mangu. Namun mereka yakin bahwa kedua orang itu memang utusan Raden Panji, menilik pertanda yang mereka bawa. Dengan demikian, keduanya telah bertindak atas nama Raden Panji.

Dalam keragu-raguan itu, Mas Rara meronta sekali lagi. Demikian tiba-tiba hingga kedua orang prajurit yang memeganginya terkejut. Mas Rara memang dapat melepaskan diri. Tapi ia tidak sempat berlari turun dari pendapa. Tangan-tangan yang kuat itu telah menggapainya lagi. Bahkan kemudian tangan-tangan kasar itu memeganginya lebih erat di lengannya, sehingga lengan Mas Rara terasa sakit.

Sekali lagi Mas Rara menjerit. Tapi suaranya bagaikan hilang ditelan geiapnya malam.

Namun dalam pada itu, Wirantana, Manggada dan Laksana telah berdiri di halaman rumah itu, Dengan sigapnya mereka meloncat naik ke pendapa Dengan geram Wirantana bertanya, “Apa yang kalian lakukan atas adikku?“

“Kami mengemban tugas dari Raden Panji” berkata utusan itu sambil menunjukkan cincin pertanda kekuasaan Raden Panji.

Wirantana, Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Wirantana telah bertanya kepada Mas Rara, “Apa yang mereka kehendaki?“

“Aku tidak mau. Aku tidak mau“ teriak Mas Rara.

Sedangkan perempuan tua yang melayani Mas Rara itu pun telah berada di pendapa rumuh itu dengan wajah yang tegang.

“Ki Sanak“ berkata Wirantana kemudian, “Mas Rara datang ke rumah ini karena permintaan Raden Panji. Mas Rara itu dalam waktu sepekan lagi akan menjadi isteri Raden Panji. Kenapa sekarang kau perlakukan seperti itu?“

“Kami mengemban tugas. Kami harus membawa Mas Rara menghadap Raden Panji sekarang ini. Seharusnya Mas Rara tidak menolaknya, sehingga tidak akan terjadi sesuatu” berkata salah seorang dari mereka yang membawa Mas Rara itu.

“Tetapi bukankah kau dapat mengatakan kepada Raden Panji bahwa Mas Rara berkeberatan untuk menghadap malam ini?“ sahut Wirantana.

“Kau belum mengenal Raden Panji dengan baik. Tetapi kau seharusnya sudah tahu, meskipun kau baru mengenal beberapa saat, bahwa bagi Raden Panji, tidak akan pernah mau mendengarkan jawaban seperti itu” berkata orang itu selanjutnya.

“Jadi, dianggap apa adikku itu? Apakah ia tidak dianggap sebagai seseorang yang mempunyai perasaan, yang mempunyai kehendak dan harga diri? Ia baru akan menjadi isteri Raden Panji sepekan lagi” berkata Wirantana. Lalu katanya, “Apapun yang akan dilakukannya malam ini, namun Mas Rara harus mendapat hak untuk bersedia atau tidak bersedia datang. Jika Mas Rara tidak bersedia datang, maka tidak ada orang yang dapat memaksanya”

“Raden Panji dapat memaksanya“ jawab orang itu.

“Tidak“ geram Wirantana tegas.

“Jadi kau berani melawan Raden Panji?“ bertanya orang itu kemudian.

“Tidak. Aku tidak berani melawan Raden Panji, tetapi aku pun tidak rela adikku kehilangan haknya untuk menentukan kehendaknya dan mempertahankan harga dirinya“ jawab Wirantana.

“Cukup“ orang yang membawa Mas Rara itu menjadi semakin marah, “Minggir, atau kau akan mendapat hukuman dari Raden Panji. Ketahuilah, Raden Panji tidak pernah tanggung-tanggung jika ia memberikan hukuman kepada seseorang yang telah berani melawan kehendaknya”

“Hukuman sepantasnya hanya diberikan kepada orang-orang yang bersalah. Tidak kepada orang-orang yang mempertahankan haknya” jawab Wirantana.

“Raden Panji tidak akan mempedulikan, apakah ia bersalah atau tidak. Tetapi semua orang yang menentang kehendaknya, ia akan dihukum. Termasuk Mas Rara. Karena itu, maka biarlah Mas Rara datang memenuhi perintah Raden Panji” jawab orang itu.

Wirantana tiba-tiba telah menjadi garang pula. Gejolak perasaannya ternyata tidak dapat dikendalikan lagi. Apalagi sikap kedua orang itu justru menjadi semakin kasar terhadap Mas Rara. Seorang diantaranya seakan-akan telah menyeretnya sementara yang lain berdiri menghadapi Wirantana, Manggada dan Laksana.

Dengan lantang Wirantana berkata, “Lepaskan adikku”

“Kau gila. Raden Panji mempunyai wewenang untuk menghukum mati kepada siapa saja yang dianggapnya menghalangi tugasnya” berkata orang itu.

“Wewenang dari siapa?” bertanya Wirantana. Lalu katanya, “kalau wewenang itu diberikan oleh ayah dan ibunya, maka itu tidak akan mempunyai nilai sama sekali untuk ditrapkan dalam tugas-tugasnya sebagai seorang prajurit”

”Tutup mulutmu. Raden Panji mendapat tugas dari Kangjeng Sultan di Pajang untuk mengamankan daerah ini dari kekuasaan para penjahat dengan wewenang untuk memberikan hukuman mati kepada siapa saja yang berani menentangnya” berkata orang itu.

“Jika demikian, kaulah yang gila. Atau Raden Panji itulah yang sudah menjadi gila“ Wirantana benar-benar telah kehilangan pengekangan diri.

Kedua orang prajurit yang mengambil Mas Rara itu terkejut. Mereka tidak menduga, sama sekali, bahwa kata-kata yang keras itu akan terlontar dari mulut seseorang apalagi dari sebuah padukuhan yang jauh.

Dengan lantang seorang diantara mereka berkata, “Kau sudah benar-benar menjadi jenuh untuk hidup. Kau akan digantung sebagaimana para penjahat yang telah tertangkap”

“Wewenang untuk menghukum mati hanya diberikan kepada Raden Panji dalam tugasnya memberantas kejahatan. Tidak untuk kepentingan diri sendiri, apalagi untuk memaksa perempuan-perempuan muda menjadi isterinya yang ke enam, ketujuh bahkan kelak isterinya yang ke seratus. Apalagi memaksa seorang perempuan yang bukan isterinya datang kepadanya di malam hari seperti ini“ suara Wirantana tidak kalah lantangnya.

“Tutup mulutmu“ bentak prajurit itu, “atas nama Raden Panji dengan wewenang yang diberikan kepadaku, jangan ganggu tugasku. Atau aku akan mempergunakan wewenangku”

“Aku tidak akan mengganggumu jika kau tidak mengganggu adikku“ Wirantana membentak pula.

“Aku melakukan perintah Raden Panji“ orang itu berteriak.

Tetapi Wirantana pun berteriak pula, “Jika demikian, jika kalian telah menjadi budak-budak yang mati, katakan, Raden Panji tidak boleh mengganggu adikku“

Wajah kedua orang prajurit itu menjadi merah. Namun dengan demikian, mereka telah memusatkan perhatian mereka kepada Wirantana.

Dalam kesempatan itu, Mas Rara telah menghentakkan tangannya dan merenggutnya dari pegangan prajurit itu. Demikian tiba-tiba dan diluar dugaan, sehingga sejenak kemudian tangan Mas Rara telah terlepas.

Keberanian Mas Rara benar-benar telah tumbuh tanpa segera berlari kearah Wirantana dan seakan-akan bersembunyi di belakang punggungnya.

Kemarahan kedua orang prajurit yang mengemban tugas Raden Panji itu sudah sampai ke puncak. Kemarahan mereka telah dilandasi pula oleh perasaan takut jika mereka gagal menjalankan perintah. Seandainya mereka tidak dapat membawa Mas Rara menghadap Raden Panji, maka Raden Panji tentu akan menjadi kehilangan kesabaran sebagaimana sering dilakukannya. Keduanya tentu akan mengalami nasib yang sangat buruk. Apalagi tugas mereka adalah tugas yang sangat mudah. Membawa seorang per-empuan menghadap Raden Panji. Hanya itu.

Karena itu, maka seorang diantara mereka berkata, “Aku masih ingin memperingatkan kalian sekali lagi. Aku tengah mengemban perintah Raden Panji. Bahkan lebih dipercaya untuk membawa pertanda kuasanya. Cincin jabatannya. Jika kalian masih menghalangi tugasku ini, maka aku akan mempergunakan kekerasan. Seperti Raden Panji, maka aku berwenang untuk membunuh seorang yang melawan perintahnya, karena seseorang yang melawan perintah Raden Panji yang berkuasa atas nama Kanjeng Sultan adalah pengkhianat”

“Aku tidak berkeberatan disebut pengkhianat oleh Raden Panji karena mencegah tingkah lakunya yang tidak pantas serta menerapkan wewenang yang tidak sewajarnya atas seorang gadis yang tidak berdaya seperti Mas Rara. Meskipun Mas Rara sudah ditetapkan menjadi bakal isteri Raden Panji, tetapi baru sepekan lagi ia sah menjadi isterinya. Baru sepekan lagi Mas Rara wajib tunduk atas segala kemauan Raden Panji. Tetapi tidak sekarang”

“Cukup” bentak prajurit itu, “aku memang harus menyumbat mulutmu”

Kedua prajurit itu tiba-tiba saja telah bergerak. Sementara itu Manggada dan Laksana pun telah bergerak pula. Mereka sama sekali tidak lagi menghiraukan kemungkinan hukuman yang tidak terbayangkan karena kemarahan Raden Panji.

Tetapi kedua anak muda itu merasa wajib membela Wirantana.

“Lindungi adikku“ berkata Wirantana sambil mendorong adiknya kepada Manggada dan Laksana.

Namun Manggada pun berkata, “Jaga Mas Rara baik-baik”

Laksana tidak sempat menjawab. Tetapi iapun bergeser mendekati Mas Rara ketika Manggada bergeser maju dan berdiri disisi Wirantana.

Kedua prajurit yang marah itu tidak berpikir panjang lagi. Dengan serta merta keduanya telah menyerang Wirantana dan Manggada, sehingga sejenak kemudian mereka pun telah bertempur dengan sengitnya.

Keributan itu telah menimbulkan kebingungan beberapa orang prajurit yang bertugas meronda. Mereka berdiri termangu-mangu. Mereka tidak tahu apa yang sebaiknya mereka lakukan. Mereka mengerti bahwa kedua orang kawannya itu sekedar menjalankan perintah. Tetapi mereka pun tahu, kenapa Wirantana, kakak Mas Rara berkeras untuk mencegah tindakan kedua orang prajurit itu.

Sementara itu, ternyata kemampuan Wirantana dan Manggada untuk bertempur seorang lawan seorang, jauh lebih tinggi dari kedua prajurit itu. Dengan demikian, maka dalam waktu singkat, maka kedua orang prajurit itu sudah terdesak.

Namun dalam pada itu, salah seorang prajurit, yang mengenakan cincin pertanda kekuasaan Raden Panji itu berteriak, “Para prajurit yang bertugas, Atas nama Raden Panji, kalian aku perintahkan untuk menangkap ketiga orang itu serta Mas Rara”

Para prajurit masih juga ragu-ragu. Ada diantara mereka yang memang merasa kasihan kepada Mas Rara. Namun ternyata ketika prajurit yang memakai pertanda kuasa Raden Panji itu menyebut namanya, maka prajurit-prajurit itu pun menjadi cemas tentang nasib mereka sendiri.

Karena itu, maka mereka pun mulai bergerak ke pendapa. Empat orang bersama-sama.

Namun Wirantana dan Manggada pun telah siap menyambut mereka.

Ketika kemudian mereka terlibat dalam perkelahian, maka Laksana tidak dapat tinggal diam. Ia pun telah terjun pula kedalam lingkaran perkelahian. Sementara itu mereka bertigalah yang kemudian berusaha untuk melindungi Mas Rara yang ketakutan.

Tetapi adalah diluar dugaan, bahwa kedua orang yang dikirim oleh Ki Jagabaya untuk melayani kereta berkuda itu pun telah tanggap akan keadaan. Mereka dengan cepat telah mengemasi pedati berkuda mereka.

Wirantana, Manggada dan Laksana yang bertempur melawan beberapa orang sekaligus itu memang mengalami kesulitan, justru karena Rara Wulan menjadi sangat ketakutan. Karena itu maka yang mereka lakukan kemudian adalah bergeser turun ke halaman sambil membawa Mas Rara diantara mereka.

Pada saat itulah, pedati yang ditarik kuda itu telah memasuki halaman pula. Dengan cambuk yang panjang yang diputar dan dihentak-hentakkan sendal pancing, maka beberapa orang justru telah menyibak.

“Cepat, masuk” berkata kedua orang yang melayani pedati itu hampir bersamaan.

Salah seorang diantara kedua orang itulah yang kemudian menolong Mas Rara masuk, sementara Manggada dan Laksana telah menghadangi setiap orang yang berusaha mendekat.

Wirantana masih bertempur dengan sengitnya. Namun kemudian ia pun mulai bergerak, bergeser sejalan dengan gerak pedati menuju ke regol.

Dua orang prajurit masih berada di regol. Mereka pun segera berusaha menghadangi usaha Wirantana melarikan adiknya.

Tetapi Wirantana telah menyerang keduanya sehingga seorang diantara mereka terdesak keluar. Sementara yang lain harus bergeser menjauh ketika cambuk sais pedati yang ditarik kuda itu menghentak-hentakkan cambuknya dengan keras.

Demikian pedati berkuda itu lolos, maka Wirantana yang meloncat naik segera bertindak, “Manggada, Laksana, cepat naik”

Kedua orang anak muda itu pun telah meloncat naik pula. Para prajurit yang berlari-lari memang berusaha untuk mengejar mereka. Semua prajurit yang ada di halaman rumah yang dipergunakan oleh Mas Rara. Beberapa diantara mereka yang semula masih bermimpi, bukan saja karena mereka terbangun dan terkejut, tetapi mereka pun tidak dapat sepenuhnya melakukan perintah kawannya yang membawa cincin kekuasaan Raden Panji, karena mereka menganggap Mas Rara masih terlalu muda untuk mengalami nasib yang buruk.

Tetapi kemudian mereka kemudian tidak dapat ingkar akan tugas mereka. Mereka juga tidak mau mendapatkan hukuman dari Raden Panji karena mereka tidak membantu para prajurit kepercayaannya yang justru memakai cincin kuasanya.

Wirantana, Manggada dan Laksana telah bersiap sepenuhnya. Kedua orang yang melayani pedati itupun telah bersiap pula menghadapi segala kemungkinan. Pedati itu meskipun ditarik oleh kuda, tetapi tidak dapat berlari terlalu cepat. Sementara Wirantana, Manggada dan Laksana tidak sempat mengambil seekor kuda pun meskipun dibelakang terdapat beberapa ekor kuda.

Lebih dari sepuluh orang prajurit telah mengejar mereka. Sementara itu, seorang prajurit yang lain telah berlari minta bantuan prajurit berkuda yang ada di padukuhan itu.

Jalan yang kurang menguntungkan, serta Mas Rara yang beberapa kali memekik kecil oleh guncangan-guncangan roda pedati yang menginjak batu-batu padas, membuat pedati itu semakin lambat. Para prajurit yang berlari itu ternyata semakin lama menjadi semakin dekat. Mereka telah mengacu-acukan senjata mereka sambil berteriak-teriak.

Tetapi yang tidak diduga telah terjadi pula. Beberapa orang berkuda telah muncul dari tikungan. Dengan serta merta orang-orang berkuda itu justru telah menyerang para prajurit yang sedang mengejar pedati itu.

Dengan demikian pertempuran pun telah terjadi, Namun memang tidak terlalu lama. Orang-orang berkuda, yang jumlahnya hanya ampat orang itu ternyata mampu menahan sepuluh orang yang mengejar pedati itu. sehingga jaraknya menjadi semakin jauh. Bahkan kemudian pedati itu telah keluar dari padukuhan menyusuri jalan-jalan bulak.

Dalam kegelapan malam, pedati itu meluncur terguncang-guncang menjauhi padukuhan yang dipergunakan oleh Raden Panji sebagai landasan kekuatannya untuk mengawasi daerah yang luas. Tetapi tidak semua prajurit Raden Panji berada di padukuhan itu. Beberapa kelompok justru tersebar untuk mengawasi keadaan serta untuk menegakkan kekuasaan yang diberikan oleh Pajang kepadanya. Sepuluh orang yang mengejar mereka sudah tidak nampak lagi. Apalagi gelap malam memang telah menghalangi pandangan mata mereka.

Tetapi beberapa saat kemudian, Wirantana, Manggada dan Laksana terkejut. Mereka mendengar derap kaki kuda. Dan bahkan dalam keremangan malam di bulak yang terbuka luas, mereka melihat empat orang penunggang kuda menyusul mereka.

Ketiga orang anak muda itu termangu-mangu. Mereka tidak tahu apa yang dikehendaki oleh ampat orang berkuda itu. Apakah mereka benar-benar ingin menolong atau sebaliknya, mereka menghendaki Mas Rara. Jika mereka berhasil menguasai Mas Rara maka masih ada kemungkinan bagi mereka untuk memeras Raden Panji. Sementara Raden Panji tentu ingin mendapatkan Mas Rara. Tidak sebagai calon isterinya, tetapi sebagai seorang buruan yang harus dihukum berat. Mungkin Raden Panji masih menghendaki Mas Rara sebagai seorang gadis. Tetapi tentu tidak lagi sebagai isterinya kelak setelah Mas Rara berusaha melarikan diri dan apalagi melawan perintahnya.

Bagaiamanapun sais pedati itu melecut kudanya, namun kuda yang menarik pedati itu memang tidak dapat berlari cepat. Sehingga dengan demikian, maka keempat orang berkuda itu semakin lama menjadi semakin dekat.

Seorang diantara mereka yang berkuda itu bergerak maju lebih cepat dari kawan-kawannya sehingga beberapa saat kemudian telah berada hanya beberapa langkah dibelakang pedati itu.

“Berhenti“ teriak orang itu, “berhentilah. Aku ingin berbicara dengan kalian”

Pedati itu tidak juga berhenti. Sementara orang itu sekali lagi berteriak, “Berhenti. Apakah kalian tidak mengenal aku lagi?“

Malam memang gelap. Wirantana, Manggada dan Laksana yang juga berada didalam pedati itu sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

“Pedati itu terlalu berat membawa beban enam orang. Karena itu, maka pedati itu tidak dapat berlari lebih cepat. Berhentilah“ orang itu masih berteriak.

Pedati itu masih saja berlari. Namun roda pedati yang lebih berat dari roda kereta biasa itu, serta enam orang yang ada didalam-nya benar-benar telah membebani tenaga kuda yang menariknya.

Ketika roda pedati itu terperosok kedalam lumpur, maka pedati itu tertahan sejenak. Mas Rara telah menjerit oleh goncangan yang tiba-tiba itu, sehingga gadis itu terkejut bukan buatan.

Kuda-kuda yang menarik pedati itu memang segera dapat mengangkat roda yang terperosok tidak begitu dalam itu. Namun dua orang penunggang kuda telah berhasil menggapai kendali kuda penarik pedati itu dan menghentikannya.

Sais yang mengemudikan pedati itu ragu-ragu. Meskipun cambuknya telah siap terayun, namun kedua orang sais itu masih ragu-ragu untuk menyerang meskipun keretanya sudah berhenti.

Wirantana, Manggada dan Laksana telah berloncatan turun. Mereka telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Dua orang penunggang kuda yang tidak memegangi kendali kuda dan masih berada dibelakang pedati itupun telah meloncat turun pula. Seorang diantara mereka telah melangkah maju. Dengan nada rendah orang itu bertanya, “kau benar-benar tidak mengenal aku lagi?“

Ketiga orang anak muda itu saling berpandangan sejenak. Namun dalam jarak yang semakin dekat ketiganya dapat melihat lebih jelas meskipun malam cukup gelap. Tetapi di tempat terbuka maka cahaya bintang dilangit, membuat malam menjadi remang-remang.

Akhirnya ketiga orang anak muda itu mengangguk-angguk. Wirantana lah yang menyahut, “Ya. Kami mengenal Ki Sanak. Bukankah Ki Sanak orang yang duduk disebelah kami kemarin siang ketika Raden Panji datang menjumpai Mas Rara?“

“Tepat“ jawab orang itu.

“Sekarang, apakah yang Ki Sanak kehendaki?“ bertanya Wirantana.

“Sebaiknya kalian lebih cepat meninggalkan padukuhan ini. Agar pedati itu tidak terlalu berat, pakailah kuda-kuda kami. Tetapi ingat, jika segala sesuatunya sudah selesai, maka kuda itu harus kalian kembalikan kepada kami“ berkata orang itu.

Satu hal yang sama sekali tidak terduga. Namun Wirantana yang sedang menghadapi kesulitan itu tidak sempat berpikir panjang. Apalagi orang itupun berkata, “Cepat. Tinggalkan tempat ini. Sebentar lagi, pasukan berkuda tentu akan menyusul kalian, jika kalian terlambat”

Anak-anak muda itu tidak berpikir panjang lagi. Meskipun segera menerima ampat ekor kuda, Wirantana, Manggada, Laksana dan seorang dari kedua orang sais itu. Mereka berdua akan bergantian mengemudikan pedati yang menjadi semakin ringan itu.

Namun Manggada sempat juga bertanya, “Lalu bagaimana dengan Ki Sanak”

“Jangan pikirkan aku” jawab orang itu.

“Tetapi Ki Sanak telah melawan para prajurit yang mengejar kami“ berkata Manggada.

“Mereka tidak mengenal kami. Malam cukup gelap, sementara kami tidak membiarkan mereka sempat melihat wajah kami dengan jelas. Para prajurit pun tidak akan mengira bahwa kami, yang tinggal disekitar rumah itu, akan melakukan perlawanan seperti ini“ jawab orang itu.

Demikianlah, maka Wirantana dan yang lainpun telah melanjutkan perjalanan mereka yang mendebarkan. Mereka sadar, bahwa prajurit berkuda tentu akan mengejar mereka.

Namun rasa-rasanya perjalanan mereka memang menjadi lebih cepat. Pedati kuda yang menjadi semakin ringan itu dapat melaju meskipun justru terguncang-guncang. Sekali-sekali Mas Rara memekik bukan saja ketakutan, tetapi juga kesakitan.

Ketiga orang anak muda yang berpacu disebelah dan belakang pedati itu, setiap kali mendengar pekik Mas Rara yang berpegangan tiang-tiang pedati itu kuat-kuat.

Manggada yang mendekati Wirantana itupun kemudian berkata, “Kau naik saja menemani Mas Rara. Biarlah kami berkuda dibelakang pedatimu.

“Lalu kuda ini?“ bertanya Wirantana.

“Sangkutkan kendalinya pada tiang pedati itu“ jawab Manggada.

“Terlalu pendek“ desis Wirantana kemudian.

Sais pedati itu ternyata menyahut pula, “Disini ada tambang sabut kelapa”

Sais itu telah memberikan tambang itu kepada Wirantana. Namun Wirantana pun berkata, “Berhentilah sebentar”

Kereta itu memang berhenti. Hanya sebentar. Selama Wirantana mengikat kendali kudanya dengan tali dan mengikatkan ujung tadi yang lain pada tiang kereta berkudanya.

Sejenak kemudian kereta itu sudah berpacu kembali. Ditambah Wirantana, maka berat pedati itu menjadi semakin mantap. Sementara itu, Wirantana pun dapat mengawani Mas Rara yang ketakutan.

Beberapa saat kemudian, kereta berkuda itu melewati simpang empat ditengah-tengah bulak. Beberapa saat kemudian, kereta itu akan memasuki sebuah padukuhan.

Anak-anak muda itu memang menjadi berdebar-debar. Jika para peronda di padukuhan itu menghentikan mereka, maka mereka akan kehilangan waktu.

Namun Manggada lah yang kemudian mendahului kereta itu mendekati regol.

Sebenarnyalah ada beberapa orang yang berdiri di sebelah menyebelah regol. Bahkan dua orang diantara mereka berdiri di tengah-tengah regol sambil mengangkat tangannya.

Tetapi Manggada justru berteriak lebih dahulu, “Minggir. Minggir. Kuda pedatiku menjadi gila”

Teriakan itu begitu tiba-tiba sehingga orang-orang yang ada di regol itu terkejut. Karena pedati itu justru berpacu semakin cepat, maka mereka pun telah berloncatan menepi.

Dengan demikian maka pedati itu pun telah berderap dengan kencangnya lewat gardu peronda di depan pintu gerbang yang terbuka diregol padukuhan.

Para peronda itu termangu-mangu sejenak. Namun mereka pun tidak menghiraukannya lagi. Mereka tidak akan dapat menolong karena kereta itu berpacu terlalu kencang. Sehingga dalam waktu yang pendek, derapnya sudah tidak terdengar lagi.

Manggada yang masih tetap berpacu dipaling depan itu telah melakukan hal yang sama ketika pedati berkuda itu akan keluar dari regol padukuhan di ujung sebelah. Para peronda pun telah meloncat menepi ketika mereka melihat beberapa ekor kuda berpacu seperti dikejar hantu.

Ketika pedati itu sampai ke bulak kembali, rasa-rasanya sesak nafas orang-orang berkuda serta mereka yang ada didalam pedati itu menjadi longgar. Meskipun demikian, mereka sama sekali tidak mengurangi laju kuda-kuda mereka pada kemungkinan yang paling baik.

Namun anak-anak muda yang melarikan Mas Rara itu terkejut. Ketika mereka mendekati simpang empat yang lain di tengah-tengah bulak itu, dalam keremangan malam mereka melihat beberapa orang berkuda tengah memotong jalan mereka dari arah kanan simpang empat itu.

“Tidak ada kesempatan untuk berhenti dan mengambil arah yang lain. Seakan-akan begitu tiba-tiba beberapa orang prajurit berkuda telah berada didepan mereka.

Anak-anak muda yang membawa Mas Rara itu tidak mempunyai pilihan lain. Mereka pun segera bersiap menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi atas mereka.

Beberapa langkah dari para prajurit berkuda yang berhenti di simpang empat itu. Manggada telah memberi isyarat kepada yang lain untuk berhenti. Namun Laksana telah menyusul Manggada dan berhenti disisinya, sementara Wirantana pun telah meloncat pula dari dalam pedati.

“Jaga adikku baik-baik“ pesan Wirantana kepada sais pedati itu.

Beberapa saat anak-anak muda itu saling berhadapan dengan beberapa orang prajurit berkuda. Semuanya ada tujuh orang dengan senjata masing-masing.

Namun pemimpin prajurit itu tiba-tiba saja telah meloncat turun sambil berkata, “Aku mengalami kesulitan malam ini”

Manggada termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia dapat mengenali prajurit itu.

Sementara itu pemimpin prajurit itu berkata selanjutnya, “Aku mendapat perintah untuk menangkap kalian, tetapi bagaimana mungkin hal ini dapat aku lakukan?“

“Apakah kalian tidak mengenal kami?“ bertanya prajurit itu.

“Ya. aku kenal. Kau adalah pemimpin prajurit Raden Panji yang mendapat tugas menjemput Mas Rara“ jawab Manggada.

“Ya. Ternyata kalian telah menyelamatkan jiwaku pada saat itu. Karena itu aku tidak berhasil membawa Mas Rara karena tingkah laku pamannya itu, maka aku tentu akan digantung. Tanpa kalian maka Mas Rara tentu sudah hilang. Dan kami akan tergantung di tiang gantungan itu”

Manggada justru menjadi termangu-mangu. Sementara pemimpin prajurit jtu berkata, “Kami adalah prajurit yang membawa Mas Rara itu dari padukuhannya. Kami mendapat perintah dari Raden Panji untuk membawa Mas Rara kembali”

“Dan kalian berusaha untuk membawanya“ bertanya Manggada.

Pemimpin prajurit itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun menggeleng lemah. Katanya hampir hanya terdengar oleh dirinya sendiri, “Tidak. Aku tidak dapat melakukannya. Aku tahu apa yang akan terjadi dengan Mas Rara jika ia kami bawa kembali. Raden Panji tidak akan memperlakukannya lagi sebagai seorang gadis yang akan dinikahinya sepekan lagi. Ia akan menghukum gadis itu dengan caranya. Cara seorang yang seakan-akan memang sudah tidak wajar lagi. Kelakuannya tidak pantas untuk disebut. Apalagi terhadap gadis-gadis yang diinginkannya”

“Jadi?“ bertanya Manggada.

“Baiklah. Teruskan perjalanan kalian. Aku akan mengatakan bahwa aku tidak dapat menjumpai kalian telah mengambil jalan lain dari jalan yang kami telusuri“ jawab prajurit itu.

“Apakah dengan demikian kalian tidak akan dihukum?“ bertanya Laksana.

“Hukumannya tentu akan lebih ringan. Kami dapat dianggap tidak melakukan tugas kami sebaik-baiknya. Tetapi yang terjadi adalah diluar batas kemampuan kami” jawab pemimpin prajurit itu.

Manggada, Laksana dan Wirantana saling berpandangan

sejenak. Hampir berbareng mereka mengucap, “Terima kasih

atas kebaikan kalian”

“Cepatlah, kamipun akan segera berpacu mengikuti jalan menyilang ini” Namun kemudian pemimpin prajurit itu berdesis perlahan, “mudah-mudahan tidak ada pengkhianatan. Jika Raden Panji mengetahui hal itu, maka kami benar-benar akan digantung di ara-ara”

“Apakah sebenarnya ia berhak melakukannya?“ bertanya Wirantana.

“Raden Panji mendapat wewenang tanpa batas. Maksudnya untuk mengatasi keadaan yang tidak aman di daerah ini karena sebuah gerombolan perampok dan penyamun yang besar dan kuat yang bahkan kemudian menghimpun para penjahat yang lain. Brandal, gegedug dan bahkan pencuri-pencuri kecil, mereka ikut dalam satu gerombolan. Raden Panji memang berhasil. Dengan kekerasan yang tidak tanggung-tanggung Raden Panji berhasil menumpas gerombolan itu. Menangkap beberapa orang diantaranya. Namun sebagian dari mereka sudah dihabisi oleh Raden Panji sendiri sebelum dibawa ke Pajang”

“Bukankah dengan demikian Raden Panji menjadi seorang pahlawan?“ bertanya Laksana.

“Tetapi setelah gerombolan perampok itu dimusnahkannya menjadi debu, maka kekuasaan yang ada ditangannya dipergunakan menurut kehendak hatinya sendiri” jawab prajurit itu. Lalu katanya pula, “Kadang-kadang Raden Panji itu bertindak bijaksana. Namun justru yang sering dilakukan, ia lupa pada sangkan paraning dumadi”

“Apakah tidak ada laporan kepada para Senapati di Pajang?“ bertanya Wirantana.

“Siapa berani memberikan laporan? Jika laporan itu jatuh ketangan sahabat Raden Panji, maka orang yang memberikan laporan itu akan dapat menjadi ndeg pengamun-amun“ jawab prajurit itu. Namun katanya kemudian, “Sudahlah. Lanjutkan perjalananmu. Sebaiknya kalian tidak berhenti sejauh mungkin kuda kalian dapat bertahan. Kalian dapat beristirahat sebentar untuk memberi kesempatan kuda kalian minum dan makan rumput diperjalanan itu. Tetapi kalian harus segera melanjutkan perjalanan kalian sampai ke rumah. Setelah itu terserah kepada kalian. Tetapi pertimbangkan kemungkinan buruk yang dapat terjadi atas kalian sekeluarga”

“Jadi?“ bertanya Wirantana, “apakah kami harus mengungsi?“

“Aku kira itu adalah kemungkinan yang paling baik” jawab pemimpin prajurit itu. Lalu katanya, “Bawa Mas Rara keluar dari daerah kekuasaan Raden Panji. Tetapi kalian harus tahu, bahwa Raden Panji adalah pendendam. Ia tentu masih akan mencari Mas Rara sepanjang sisa umurnya”

Wirantana mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih atas keterangan Ki Sanak. Bahkan kami segera melanjutkan perjalanan”

Perjalanan ke Nguter memang perjalanan yang agak panjang. Karena itu, maka semua yang ada di iring-iringan itu harus mampu menyesuaikan diri dengan perjalanan mereka yang berat. Jauh lebih berat dari perjalanan ke Pajang pulang balik.

Sejenak kemudian, maka Mas Rara dan para pengawalnya telah melanjutkan perjalanan. Namun mereka masih akan selalu dibayangi oleh kekuasaan dan kewenang-wenangan Raden Panji.

Meskipun demikian di sepanjang perjalanan, anak-anak muda itu masih sempat mengagumi keberanian pemimpin prajurit yang telah memberikan kesempatan kepada Mas Rara untuk melarikan diri.

Dua kali anak-anak muda itu mendapat pertolongan dari orang yang berbeda, sehingga mereka masih dapat melanjutkan perjalanan. Tetapi mereka tidak tahu, apabila sekali lagi ada sekelompok prajurit mampu mengejar mereka lagi, maka apakah mereka masih sempat untuk membebaskan diri.

Malam itu, pedati yang ditarik kuda itu masih berjalan terus diikuti oleh beberapa penunggang kuda yang letih. Tetapi mereka tidak berhenti sejauh dapat mereka capai. Ketika matahari terbit, iring-iringan itu memang sempat berhenti sejenak di sebelah jalan yang tidak begitu besar. Laksana telah dengan tergesa-gesa pergi ke sebuah kedai yang baru saja dibuka, sementara kuda-kuda mereka sempat beristirahat sambil minum air bening yang mengalir disebuah parit.

“Kasihan kuda-kuda itu“ desis Manggada.

Tetapi mereka tidak berhenti terlalu lama. Mereka pun segera melanjutkan perjalanan mereka menuju ke padukuhan Nguter.

Wirantana merasa tidak perlu mencari jalan lain dari jalan yang paling dekat yang dapat ditempuh, karena orang-orang Raden Panji sudah tahu dengan pasti, dimanakah letaknya Nguter.

Yang penting menurut perhitungan Wirantana adalah sampai ke rumah dan langsung mengungsi ke tempat yang berada diluar jangkauan kekuasaan Raden Panji.

“Tetapi kemana?“ pertanyaan itu telah semakin menggelisahkan Wirantana.

“Akan dipikirkan kemudian“ katanya didalam hati.

Demikianlah, maka secepat-cepat dapat dilakukan, pedati itu pun berderap diatas jalan yang tidak terlalu rata. Mas Rara yang telah sama sekali tidak mau makan apapun yang dibeli oleh Laksana. Kegelisahannaya tidak memungkinkan untuk menelan apapun juga.

Tetapi Manggada, Laksana dan Wirantana sendiri sempat makan makanan yang telah dibeli sambil duduk di punggung kuda. Demikian juga kedua orang yang dikirim oleh Ki Jagabaya untuk melayani pedati serta kudanya itu.

Matahari pun menjadi semakin terik. Panasnya terasa makin menggigit kulit. Ketika mereka melampaui jalan yang lewat diantara pegunungan yang kecil berbatu-batu padas, maka mereka menjadi semakin berpengharapan bahwa mereka akan dapat sampai ke rumah dengan selamat. Tetapi perjalanan ke padukuhan Nguter memang jauh.

Dengan demikian maka Wirantana tidak dapat memaksa kuda-kuda dari iring-iringan yang kecil itu untuk berjalan terus. Jika Wirantana memaksanya juga, maka mungkin kuda-kuda itu justru akan kehabisan tenaga diperjalanan. Karena itu, maka perjalanan itu pun menjadi perjalanan yang cukup lama.

Sementara itu, Raden Panji yang mendapat laporan dari penolakan Mas Rara untuk datang ke rumahnya, serta sikap anak-anak muda yang menyertainya dari padukuhan Nguter telah membuatnya sangat marah. Demikian marahnya Raden Panji, sehingga berteriak-teriak memberikan beberapa perintah.

Apalagi ketika ia menyadari bahwa prajurit-prajurit yang ada di rumah pondokan Mas Rara tidak dapat mengatasi anak-anak muda itu. Bahkan hadirnya orang yang tidak dikenal dan ikut campur dalam persoalan itu.

Kemarahan Raden Panji memuncak ketika ia mendapat laporan dari sekelompok pasukan berkuda, bahwa mereka tidak menemukan Mas Rara setelah mereka mengelilingi lingkungan itu, terutama mengikuti jalan kearah padukuhan Nguter.

“Kenapa kau kembali tanpa membawa Mas Rara?“ teriak Raden Panji.

Kakinya tiba-tiba saja telah menghantam pemimpin prajurit yang telah memberikan kesempatan kepada Mas Rara untuk melepaskan diri sehingga prajurit itu jatuh terlentang.

“Ampun Raden Panji” mohon prajurit itu kemudian, “jika Raden Panji berkenan, kami akan menyusulnya ke padukuhan Nguter. Jalan mana pun yang mereka tempuh, maka kami berjanji bahwa kami akan datang lebih dahulu di rumah Mas Rara itu. Kami akan menangkap kedua orang tuanya dan apabila Mas Rara langsung pulang, kamipun akan menangkapnya dan membawanya menghadap Raden Panji”

“Setan kau. Kau akan melarikan diri dari hukuman yang pantas aku berikan kepadamu he?“ bentak Raden Panji.

“Tidak Raden. Hukuman apapun yang akan diberikan kepadaku, akan aku terima dengan kepala tunduk. Namun demi kesetiaanku, maka aku ingin benar-benar membawa Mas Rara menghadap Raden Panji.

 

“Tidak. Kau tidak boleh pergi sendiri. Siapkan kudaku. Aku sendiri akan pergi ke Nguter. Aku sendiri akan menangkap perempuan liar itu dan menghukumnya sepanjang jalan dari Nguter sampai ke rumahku menurut caraku. Ia harus menjalani hukuman yang terberat dari antara semua hukuman yang pernah aku berikan kepada isteri-isteriku sebelumnya, sehingga akhirnya perempuan itu akan aku hukum mati karena ia telah menghina aku yang berkuasa di daerah ini”

Tidak seorang pun yang berani menjawab apalagi membantah. Namun dalam pada itu, Raden Panji itu berdesis dengan nada rendah, “Tetapi ia sangat cantik. Ia harus menjadi isteriku sebelum aku akan menghukumnya dengan hukuman yang terberat”

Pemimpin prajurit itu mengumpat di dalam hati. Tetapi ia masih saja menundukkan kepalanya. Ia tahu, Raden Panji adalah orang yang berilmu sangat tinggi sehingga dengan ilmunya itu ia mampu menduduki jabatannya yang seakan-akan tidak dapat diganggu gugat itu.

Tetapi pemimpin prajurit itu terkejut ketika Raden Panji tiba-tiba saja membentak, “Cepat, sediakan kudaku atau aku bunuh kau”

Pemimpin prajurit itu pun segera bergerak. Ia dengan tergesa-gesa telah pergi ke belakang untuk mencari orang yang terbiasa memelihara kuda yang paling baik milik Raden Panji itu.

Dalam waktu tidak terlalu lama kuda itu memang sudah siap. Tetapi prajurit itu tidak segera membawa kuda itu ke halaman. Ia masih memerintahkan orang yang menyiapkan kuda itu untuk memberi makan lebih dahulu.

“Kuda ini telah makan dengan kenyang“ berkata gamel yang mengurusi kuda-kuda Raden Panji itu.

“Tetapi kuda ini akan menempuh perjalanan jauh“ jawab prajaurit itu.

Gamel itu tidak menjawab lagi. Iapun telah menyiapkan makanan secukupnya bagi kuda yang telah disiapkan bagj Raden Panji itu.

Namun sebelum kuda itu sempat makan, seorang prajurit berlari-lari ke belakang sambil berkata, “Kakang. Raden Panji sudah tidak sabar lagi. Cepat sebelum ia datang sendiri kemari dan membunuhmu disini”

Pemimpin prajurit itu mengangguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan membawa kuda ini ke halaman depan”

Sejenak kemudian itu telah siap. Demikian pula beberapa ekor kuda yang lain.

Dengan lantang Raden Panji berkata, “Kita akan pergi. Lima belas orang akan ikut bersamaku”

Sejenak kemudian, maka enam belas ekor kuda sudah berpacu menuju ke padukuhan Nguter, termasuk pemimpin prajurit yang telah memberi kesempatan Mas Rara pergi, bersama prajurit-prajurit. Sementara itu, beberapa orang yang lain harus tinggal untuk menjaga para tawanan yang disimpan di padukuhan yang menjadi pusat pengendalian dari pasukan Raden Panji itu.

Ternyata Raden Panji dan prajurit-prajuritnya berpacu lebih cepat dari pedati yang ditumpangi Mas Rara. Meskipun jarak pada saat Raden Panji berangkat dengan pedati Mas Rara cukup jauh, tetapi kuda Raden Panji berpacu seperti angin.

Prajurit yang pernah merasa diselamatkan kedudukannya oleh anak-anak muda yang menyertai Mas Rara itu memang menjadi berdebar-debar. Ia telah berusaha menghambat keberangkatan Raden Panji dengan menghambat kesiagaan kudanya. Tetapi ternyata itu tidak berpengaruh banyak.

Kuda Raden Panji yang berpacu didepan memang seperti seekor kuda yang ketakutan karena dikejar hantu. Tanpa menghiraukan bahaya yang dapat terjadi diperjalanan. Raden Panji berpacu dengan cepatnya.

Di jalan yang agak ramai, Raden Panji memang sedikit mengurangi kecepatannya. Tetapi laju kudanya masih tetap jauh lebih cepat dari laju pedati yang ditunggangi oleh Mas Rara.

Hanya karena kesempatan yang telah didapatkannya dengan berlari lebih dahulu sajalah, maka pedati itu tidak segera dapat disusul.

Wirantana rasa-rasanya ingin terbang saja melintasi jarak yang tersisa. Ia pun sudah membayangkan bahwa di belakangnya sekelompok prajurit dibawah pimpinan Raden Panji sendiri tengah memburunya. Seperti dikatakan oleh prajurit yang melepaskannya meneruskan perjalanan itu bahwa Raden Panji adalah seorang pendendam.

Sisa-sisa hari berjalan sangat cepat. Justru perjalanan merekalah yang terasa maju sangat lamban. Ketika matahari terbenam Mas Rara masih belum sampai ke rumahnya

Namun akhirnya, iring-iringan kecil itu telah mendekati padukuhan Nguter. Padukuhan yang nampaknya sudah menjadi sepi. Pintu-pintu sudah ditutup setelah lampu dan oncor mulai dipasang di regol-regol halaman. Nguter agaknya memang sudah lelap.

Ketika pedati yang ditumpangi Mas Rara masuk ke regol padukuhan, maka kegelisahan justru semakin membakar jantung. Rasa-rasanya kudanya sudah tidak mau berlari lagi.

Nampaknya kuda-kuda itu telah menjadi sangat letih.

Dalam pada itu, jarak antara pedati yang membawa Mas Rara dengan iring-iringan orang berkuda yang dipimpin langsung oleh Raden Panji itu menjadi semakin pendek. Meskipun jarak yang ditempuh cukup panjang, tetapi Raden Panji tidak terlalu banyak beristirahat. Kecepatan lari kudanya pun berlipat dengan kecepatan lari kuda pedati Mas Rara.

Wirantana memang menjadi sangat gelisah. Ia harus segera sampai ke rumah. Memaksa ayah dan ibunya berkemas dan dengan cepat pergi mengungsi.

Tetapi pedati itu memang tidak mau berjalan lebih cepat lagi. Sais yang memegang kendali kuda penarik pedati itu pun telah mencoba untuk menyentuh kudanya dengan ujung cemeti. Tetapi kuda itu hanya menghentak dua tiga langkah. Lalu kembali berlari dengan letihnya.

Karena kegelisahan yang menghentak jantung, maka Wirantana itu pun kemudian berkta kepada adiknya, “Kita sudah ada di padukuhan. Biarlah aku mendahului perjalanan kalian agar aku sempat minta kepada ayah dan ibu untuk bersiap-siap. Kita semuanya harus mengungsi ketempat yang tidak diketahui oleh Raden Panji”

“Jangan tinggalkan aku, kakang“ minta Mas Rara.

“Tetapi kita tidak boleh terlambat“ jawab Wirantana.

“Kau tetap bersamaku“ berkata Mas Rara dengan suara yang sangat dalam.

Wirantana tidak sampai hati meninggalkan adiknya yang ketakutan. Namun ia pun berharap agar ayah dan ibunya akan sempat bersiap-siap menghadapi kemungkinan yang sangat buruk itu.

Karena itu, maka Wirantana menjadi bingung.

Dalam pada itu, Manggada lah yang kemudian berkata, “Apakah kau sependapat, jika aku mendahului perjalanan kalian? Bukankah perjalanan ini sudah tidak jauh lagi?“

Wirantana lah yang ragu-ragu. Jika Raden Panji dan pasukannya datang menyusul, maka ia tidak mempunyai seorang kawan pun untuk melindungi Mas Rara.

Namun akhirnya Wirantana pun setuju. Kedua orang sais dan pembantunya itu tentu akan bersedia berbuat sesuatu.

Karena itu, maka Wirantana pun kemudian berkata, “Baiklah. Pergilah. Biarlah ayah dan ibu menyiapkan kuda agar kita dapat segera berangkat. Kuda pedati itu harus diganti agar kita dapat berjalan lebih cepat. Mudah-mudahan Raden Panji tidak membawa seorang atau lebih orang-orang yang ahli dalam menelusuri jejak”

Manggada dan Laksana pun tidak membuang waktu lagi. Keduanya telah mempercepat derap kuda mereka yang masih lebih segar dari kuda penarik pedati itu. Apalagi kuda-kuda kedua anak muda itu tidak menarik muatan apapun juga.

Demikianlah kedua ekor kuda itupun segera berpacu. Mereka sudah mengenal dengan baik jalan menuju ke rumah Ki Partija Wirasentana. Karena itu, maka kedua anak muda itu dengan cepat telah mendekati regol rumah Ki Partija Wirasentana.

Dengan tergesa-gesa keduanya langsung memasuki regol halaman yang ternyata masih terbuka.

Namun kedua orang anak muda itu terkejut sekali. Demikian mereka memasuki regol, maka beberapa orang yang sudah berada di halaman segera bergeser ke pintu. Tanpa menutup pintu regol, orang-orang itu telah merundukkan ujung tombak pendek mereka.

Manggada dan Laksana segera meloncat turun dari kudanya. Demikian mereka sempat memperhatikan orang-orang yang berdiri dipintu, maka keduanya berdesis, “Prajurit”

“Kita terjebak“ berkata Manggada, “untung Mas Rara tidak bersama kita”

“Tetapi bagaimana kita sempat memberitahukan kepadanya?“ desis Laksana.

Keduanya pun tidak segera mendapatkan jalan yang dapat mereka tempuh untuk menyelamatkan Mas Rara.

Sementara itu, beberapa orang prajurit telah mengepung mereka. Sekilas Manggada dan Laksana sempat menghitung. Delapan orang.

Manggada dan Laksana pun segera berdiri saling membelakangi. Dengan serta merta mereka telah mencabut pedang-pedang mereka dan siap menghadapi segala kemungkinan, meskipun bagi mereka delapan orang itu tentu terlalu banyak.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja dari pringgitan terdengar suara orang bertanya, “Siapakah mereka?“

Salah seorang prajurit menjawab, “Kami tidak tahu. Kedua-duanya langsung menyerbu masuk dan tiba-tiba saja telah mencabut pedang.

Beberapa orang telah melintasi pendapa dan kemudian turun kehalaman. Sementara itu, beberapa buah obor menerangi halaman rumah itu.

Seorang diantara mereka yang turun dari pendapa itu adalah Ki Partija Wirasentana. Berlari-lari ia mendekati Manggada dan Laksana sambil berkata, “Ngger, kaukah itu?“

“Ya“ jawab Manggada, “kami datang tergesa-gesa Ki Partija. Tetapi kami terlambat. Para prajurit ini telah berada disini.”

“Prajurit yang mana? Apakah angger tahu, dari mana datangnya para prajurit ini?“ bertanya Ki Partija.

“Bukankah mereka prajurit Raden Panji?“ bertanya Laksana.

“Raden Panji Prangpranata maksud angger?“ bertanya Ki Partija pula.

“Ya, “ jawab Laksana.

Ki Partija menggeleng. Katanya, “Bukan ngger. Mereka bukan prajurit yang dikirim oleh Raden Panji. Tetapi kenapa angger menjadi tergesa-gesa dan menyangka bahwa para prajurit ini prajurit Raden Panji?“

Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Manggada berkata, “Ada sesuatu yang penting harus aku sampaikan kepada Ki Partija Wirasentana. Tetapi prajurit-prajurit ini datang dari mana dan untuk apa?“

“Marilah, silahkan duduk“ berkata Ki Partija Wirasentana, “tetapi kenapa angger tiba-tiba saja telah menarik pedang? Apa yang sebenarnya terjadi?“

“Ki partija“ berkata Manggada yang menjadi sangat tegang., “Mas Rara berada diperjalanan. Beberapa saat lagi ia akan sampai kehalaman rumah ini. Kami minta Ki Partija dengan cepat bersiap-siap. Kita harus mengungsi”

“Kenapa kita harus mengungsi? Apa yang telah terjadi?“ bertanya Ki Partija tegang.

“Mas Rara melarikan diri dari tangan Raden Panji yang nampaknya ingin melanggar paugeran. Raden Panji menghendaki Mas Rara sebelum hari pernikahan dilangsungkan. Sedangkan Mas Rara berpegang teguh pada batas-batas ketentuan hubungan antara laki-laki dan perempuan menurut paugeran“ jawab Manggada.

“Bagaimana hal itu dapat terjadi?“ bertanya Ki Partija.

“Wirantana tidak sampai hati melihat kesulitan Mas Rara. Kami telah menembus para penjaga dan melarikan diri. Kami tahu, bahwa saat ini Raden Panji dengan pasukannya sedang mengejar kami menuju kemari. Karena itu, Wirantana minta agar Ki partija Wirasentana bersiap untuk mengungsi. Jika tidak, maka kedatangan Raden Panji akan merupakan malapetaka bagi kita semuanya” berkata Manggada kemudian.

Ki Partija memang menjadi bingung. Diluar sadarnya ia memandang orang-orang yang turun bersamanya dari pringgitan.

Seorang diantara mereka, seorang yang bertubuh tinggi tegap berdada bidang dengan lengan dan bahu yang kekar maju selangkah. Ketika ia berbicara, maka Manggada dan Laksana terkejut. Suaranya tidak mencerminkan kegarangan tubuhnya. Tetapi suaranya terdengar lembut, “Aku mendengar ceritamu anak-anak muda. Memang belum begitu jelas. Tetapi yang sedikit itu telah memberikan gambaran, bahwa gadis yang disebut Mas Rara itu lari dari Raden Panji dan menuju kemari”

“Ya, ya Ki Sanak“ sahut Manggada.

Tiba-tiba saja Ki Partija memotong, “Kau tentu belum mengenalnya. Ki Tumenggung Purbarana, sedangkan yang berdiri disebelahnya itu adalah Raden Puspasari. Salah seorang bangsawan keturunan dari Majapahit yang kini berada di istana Pajang”

“Keturunan Majapahit?“ ulang Manggada dan Laksana hampir berbareng. Jantungnya memang menjadi berdebar-debar.

“Tetapi bagaimana dengan Mas Rara?“ bertanya Manggada dengan tegang.

Raden Puspasari yang disebut sebagai keturunan dari Majapahit yang berada di Pajang itu telah menyahut, “Baiklah Ki Sanak. Biarlah Mas Rara kembali ke rumah ini”

“Tetapi jika Raden Panji datang pula dengan prajurit-prajuritnya?“ bertanya Manggada.

“Kami akan berbicara dengan Raden Panji“ jawab Raden Puspasari.

“Apakah Raden mengenal Raden Panji?“ bertanya Laksana tiba-tiba.

Bangsawan itu menggeleng. Katanya, “Secara pribadi belum. Tetapi bukankah kita dapat berbicara dengan baik? Raden Panji adalah seorang Senopati perang. Karena itu, maka penalarannya tentu dapat berjalan dengan baik“

Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Sementara Ki Partija wirasentana yang juga menjadi cemas bertanya, “Apakah Raden dapat melindungi Mas Rara?“

Raden Puspasari tersenyum. Katanya, “Kita akan berbicara baik-baik. Ki Partija. Bukankah nalar budi yang ada pada kita dapat kita pergunakan untuk memecahkan persoalan-persoalan? Jika kita bersikap baik dan berbicara dengan baik, aku kira tidak akan ada persoalan yang tidak akan dapat kita selesaikan”

“Tetapi Raden Panji mempunyai sikap yang sangat keras menghadapi orang-orang yang dianggap berani menentang perintahnya“ berkata Laksana dengan nada cemas.

“Ia seorang Senapati yang mendapat tugas untuk menenangkan satu daerah yang bergejolak” sahut Ki Tumenggung Purbarana, “dengan demikian maka memang perlu sikap yang keras dan tegas.

“Tetapi juga kepada orang-orang yang tidak bersalah seperti Mas Rara” desis Laksana.

“Tenanglah anak muda“ berkata Ki Tumenggung sambil tersenyum.

Manggada dan Laksana tidak sempat berbicara panjang. Mereka telah mendengar gemeretak kereta kuda serta derap kaki kuda yang mengikutinya.

“Mereka datang“ berkata Manggada.

Sebenaranyalah sejenak kemudian sebuah pedati yang ditarik kuda telah memasuki halaman rumah Ki Partija. Didalamnya terdapat Wirantana yang terkejut sekali melihat beberapa prajurit telah berada di halaman rumah itu. Terdengar pekik kecil Mas Rara yang ketakutan.

Dengan sigap Wirantana meloncat turun. Ia melihat Manggada dan Laksana memegang pedang ditangannya, sehingga dengan serta merta iapun telah menarik pedangnya pula.

Suasana memang menjadi tegang. Manggada dan Laksana yang semula mulai menundukkan pedangnya, tiba-tiba pedang itu telah terangkat kembali. Terdengar Manggada berdesis, “Apakah kami tidak berada dalam jebakan Raden Panji?“

“Kami bukan sekelompok prajurit dibawah pimpinan Raden Panji“ berkata Ki Tumenggung Purbarana.

Wirantana masih bingung. Namun Ki Partija kemudian telah berlari-lari mendapatkan Mas Rara yang gemetar.

“Ayah“ Mas Rara yang kemudian turun dari pedati itu langsung memeluk ayahnya.

“Marilah. Kita mendapatkan ibumu“ berkata ayahnya.

“Siapakah mereka ayah? Apakah mereka utusan Raden Panji?“ bertanya Mas Rara.

“Bukan. Bukan ngger“ jawab Ki Partija.

“Tetapi siapa?“ desak Wirantana

”Nanti aku ceriterakan. Sekarang marilah, masuklah” ajak Ki Partija.

Tetapi Wirantana berkata, “Ayah. Kita harus menyelamatkan diri dari tangan Raden Panji. Setidak-tidaknya kita harus menyelamatkan Mas Rara. Biarlah aku disini, menghambat Raden Panji yang tentu akan mengejar kami”

“Sudahlah anak muda” berkata Raden Puspasari, “tenanglah. Kita masing-masing membawa ceritera yang panjang yang tidak sempat kita ceriterakan sekarang. Tetapi sebaiknya kita tidak usah gelisah. Biarlah nanti kita bersama-sama berbicara dengan baik-baik jika Raden Panji datang. Betapapun keras hatinya, jika kita bersikap baik dan lunak, maka aku kira hatinya akan menjadi lunak pula”

“Tetapi Raden Panji adalah seorang yang keras hati“ berkata Wirantana.

“Kedua orang anak muda yang datang lebih dahulu itu pun telah mengatakannya” jawab Raden Puspasari, “Tetapi aku masih tetap berkeyakinan, bahwa kita nanti akan dapat berbicara dengan baik”

Wirantana termangu-mangu. Tetapi seperti juga Manggada dan Laksana, masih ada kecurigaan yang memancar disorot mata mereka.

Namun dalam pada itu, Ki Partija telah membimbing Mas Rara naik kependapa, kemudian masuk keruang dalam.

Demikian Mas Rara bertemu dengan ibunya, maka tangannya bagaikan meledak. Bahkan ibunya yang ingin menenangkan hati gadis itu, ternyata telah ikut menangis pula.

“Sudahlah“ berkata Ki Partija, “duduklah dengan tenang., “Mudah-mudahan persoalannya akan segera dapat diselesaikan dengan baik”

Demikian Mas Rara dan ibunya duduk diruang dalam, maka Ki Partija Wirasentana telah kembali ke halaman.

Meskipun Ki Tumenggung Purbarana dan Raden Puspasari nampak tenang, tetapi terasa ketegangan telah mencengkam halaman rumah itu. Beberapa orang prajurit yang bersenjata tombak dan pedang, berdiri tegak tanpa mengetahui persoalan yang sedang berkembang. Namun ketika mereka melihat Ki Tumenggung Purbarana dan Raden Puspasari masih belum menunjukkan kegelisahannya, para prajurit itupun masih berusaha untuk tetap tenang.

Dalam pada itu, maka Raden Panji yang marah berderap bersama para prajuritnya menyusul Mas Rara. Hampir tanpa mengucapkan sepatah katapun di sepanjang perjalanan selain perintah-perintah dan umpatan-umpatan kasar. Raden Panji memacu kudanya secepat-cepatnya. Sementara malam masih mencengkam.

Namun akhirnya Raden Panji dan para pengiringnya itu pun menjadi semakin dekat dengan padukuhan Nguter. Bahkan Raden Panji masih memaksa kudanya berlari lebih cepat lagi.

Beberapa ekor kuda mulai tertinggal beberapa langkah di belakang iring-iringan itu. Semakin lama semakin banyak meskipun jaraknya tidak terlalu jauh. Sementara itu kuda Raden Panji yang tegar itu masih berdiri dengan kecepatan yang sangat tinggi, tanpa menghiraukan kemungkinan buruk yang dapat terjadi jika kuda itu terperosok kakinya ke dalam lubang disepanjang jalan atau terantuk batu yang cukup besar.

Darah Raden Panji justru terasa mendidih ketika ia memasuki pintu gerbang padukuhan Nguter. Rasa-rasanya ia ingin meloncat menerkam dan mencekik Mas Rara yang telah berani menolak kemauannya. Bahkan kemudian telah melarikan diri dari tangannya. Satu hal yang belum pernah terjadi pada isteri-isterinya yang terdahulu. Bahkan tidak seorang pun yang berani menentang kemauannya.

Dalam pada itu, orang-orang yang ada di halaman rumah Ki Partija pun segera mendengar derap kaki kuda yang semakin lama semakin dekat. Ki Tumenggung Purbaranapun segera memerintahkan prajurit-prajuritnya untuk bergeser dan menempatkan diri ditempat yang tidak menarik perhatian.

Tidak ada tanda-tanda bahwa di halaman itu telah bersiap sekelompok orang untuk melakukan kekerasan. Sementara Wirantana, Manggada dan Laksanapun telah menepi pula, berdiri didepan tangga pendapa. Didepannya Ki Partija Wirasentana berdiri bersama Ki Tumenggung Purbarana dan Raden Puspasari.

Pedati yang ditarik kuda dan membawa Mas Rara melarikan diri itu pun telah digeser ke pinggir halaman, dibawah sebatang pohon nangka. Sedangkan kedua orang yang melayani pedati itu berdiri termangu-mangu menunggu apa yang akan terjadi kemudian.

Sejenak kemudian, maka derap kaki kuda di sepanjang jalan padukuhan itu menjadi semakin dekat. Orang-orang padukuhan yang semula terkejut mendengar derap kaki dua tiga ekor kuda, serta gemeretak pedati, telah terkejut pula mendengar pasukan berkuda lewat jalan padukuhan.

Beberapa orang yang terbangun dari tidurnya yang nyenyak menjadi berdebar-debar. Mereka memang sudah mengira bahwa derap kaki kuda yang rasa-rasanya datang berturut-turut itu ada hubungannya dengan Mas Rara.

“Apa yang telah terjadi?“ desis seorang perempuan yang menjadi cemas mendengar kuda-kuda yang berlari-larian dimalam hari itu.

“Entahlah“ jawab suaminya, “mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu”

Keduanya tidak bercakap-cakap lagi. Mereka sudah tidak mendengar apa-apa diluar. Derap kaki kuda itu sudah menjauh dan keduanya memang yakin, bahwa kuda-kuda itu menuju ke rumah Ki Partija Wirasentana.

Sebenarnyalah Raden Panji telah memacu kudanya langsung memasuki regol halaman yang memang telah dibuka. Para prajuritnya pun telah mengikutinya pula, langsung menebar di halaman yang memang agak luas itu.

Namun ternyata Raden Panji pun terkejut melihat orang-orang yang sudah berada di halaman. Meskipun mereka sama sekali tidak menunjukkan kesiagaan untuk bertempur, namun orang-orang yang berdiri berderet di pinggir halaman, di depan tangga pendapa serta pedati dibawah pohon nangka, membuat jantungnya berdegup semakin keras. Tiba-tiba saja masih diatas punggung kudanya Raden Panji berteriak lantang, “Jadi kalian sudah bersiap-siap untuk melawan aku he? Apakah kalian sudah menjadi gila? Aku mendapat wewenang mengambil tindakan apapun untuk membuat daerah ini tenteram. Siapa yang melawan perintahku sama dengan melawan kekuasaan Pajang, sehingga mereka dapat disebut pemberontak. Dengan dasar itu, aku akan dapat membunuh semua orang yang ada disini, yang sudah bersiap untuk memberontak”

Orang-orang yang berdiri di halaman masih belum ada yang menjawab ketika Raden Panji kemudian berteriak, “Partija, Partija Wirasentana”

Ki Partija Wirasentana terkejut. Seperti seorang yang terbangun dari mimpi. Wajahnya menjadi tegang dan jantungnya berdebar-debar.

Karena Ki Partija Wirasentana masih saja termangu-mangu, maka Raden Panji itu pun telah meloncat turun dari kudanya.

Dengan demikian maka para prajuritnya pun telah berloncatan turun pula. Seorang diantara prajurit-prajurit itu telah mendekati Raden Panji untuk menerima kudanya dan membawanya menepi.

Beberapa langkah Raden Panji bergeser maju. Sekali lagi ia memanggil, “Partija Wirasentana. Kemari. Bukankah kau tidak tuli”

“Ya, ya Raden“ jawab Ki Partija gagap. Selangkah ia maju.

“Mana anakmu itu he?“ bentak Raden Panji.

“Ia ada didalam Raden“ jawab Ki Partija.

“Apakah kau kira kau dapat melawan Pajang?“ suaranya bergetar menghentak-hentak karena kemarahan yang membakar isi dadanya.

Wajah Raden Panji masih tegang. Ia melihat dalam keremangan cahaya obor dan lampu minyak, orang-orang yang berdiri di halaman itu. Mereka tidak menunjukkan sikap bermusuhan. Tetapi mereka pun tidak menjadi ketakutan.

Dengan nada tinggi Raden Panji kemudian bertanya lantang, ”Siapakah mereka? Kau upah orang untuk melindungimu dari kuasaku? Tentu kau bayar mereka dengan Mas Kawin yang kau terima untuk Mas Rara yang ternyata berkhianat itu”

“Sama sekali tidak Raden” berkata Ki Partija Wirasentana dengan jantung yang berdebaran.

“Jadi siapakah mereka yang berada di halaman ini?” bertanya Raden Panji.

“Mereka adalah prajurit dari Pajang“ jawab Ki Partija Wirasentana.

“Kau jangan mengigau seperti orang gila. Aku memang melihat mereka berpakaian seperti prajurit Pajang. Tetapi disini, akulah penguasa tunggal dari Pajang. Tidak ada pasukan yang lain yang mendapat wewenang berkeliaran di daerah ini tanpa ijinku“ Raden Panji hampir berteriak.

“Tetapi mereka benar- benar prajurit Pajang, Raden” jawab Ki Partija Wirasentana.

“Siapa pemimpinnya, aku ingin bicara” geram Raden Panji.

Yang melangkah maju adalah Ki Tumenggung Purbarana. Seorang Tumenggung yang memiliki bentuk tubuh yang meyakinkan. Namun sikapnya bukan sikap seorang prajurit yang kasar.

”Siapa kau?“ bertanya Raden Panji.

“Aku Tumenggung Purbarana” jawab Ki Tumenggung. Raden Panji mengerutkan keningnya. Ia memang melihat tanda-tanda seorang perwira prajurit Pajang.

Raden Panji yang marah itu memang mencoba untuk mengekang diri. Dihadapan seorang Tumenggung Raden Panji harus berpikir ulang untuk membentak-bentak.

Sebelum Raden Panji menjawab, Tumenggung Purbarana berkata selanjutnya, “Yang berdiri disebelah ini adalah Raden Puspasari. Cucu dari Pangeran Kuda Kertanata, putera Prabu Brawijaya Pamungkas. Yang sekarang berada di Pajang, karena ibunda Raden Puspasari yang berada di Demak telah memerintahkannya untuk menyertai pusaka-pusaka yang disemayamkan dari Majapahit dan berada di Demak untuk selanjutnya dibawa ke Pajang.

Wajah Raden Panji nampak menjadi semakin tegang. Namun kemudian tiba-tiba ia berkata, “Aku hormati kedudukan Ki Tumenggung serta Raden Puspasari. Tetapi aku mohon maaf. Daerah ini adalah kuasaku. Aku mendapat wewenang dengan pertanda cincin kekuasaan pemerintah Pajang di daerah ini”

“Ya, ya. Kami tahu Raden Panji“ jawab Ki Tumenggung Purbarana. Lalu katanya, “Raden Panji justru telah dianggap berhasil membuat daerah yang bergolak ini menjadi tenang kembali“

“Tetapi kenapa Ki Tumenggung berada di daerah kuasaku tidak memberitahukan kepadaku lebih dahulu, apalagi mendapat ijinku“ bertanya Raden Panji.

“Persoalan kami sekedar persoalan keluarga. Kami tidak mencampuri keberhasilan Raden Panji di daerah ini. Kami pun sama sekali tidak mengulangi kuasa Raden Panji untuk menentukan kebijaksanaan di daerah ini” jawab Ki Tumenggung Purbarana.

“Jika demikian, kami yang mendapat tugas di daerah ini mohon agar Ki Tumenggung serta Raden Puspasari meninggalkan daerah ini” berkata Raden Panji.

“Tentu. Kami akan segera meninggalkan daerah ini” jawab Ki Tumenggung Purbarana, “bahkan barangkali akan lebih cepat dari yang Raden duga”

“Tetapi apa hubungan Ki Tumenggung dengan Partija Wirasentana sehingga Ki Tumenggung berada di rumah ini?” bertanya Raden Panji kemudian.

“Kami mendapat perintah untuk melihat kembali, apakah benar bahwa di rumah Ki Partija ini telah dititipkan sebilah pusaka dari Majapahit, milik Pangeran Kuda Kertanata yang dibawa oleh puteranya Raden Kuda Respada yang mengembara sejak kanak-kanak. Yang kemudian hidup dan tinggal di padesan dengan nama Ki Respada. Namun ketika isterinya meninggal saat melahirkan, maka Ki Respada telah meneruskan perjalanan menuju ke Demak. Tetapi pusaka yang dibawanya dari Majapahit itu telah ditinggalkan di sebuah padukuhan.

Nama padukuhan itu Nguter. Sedangkan orang yang mendapat titipan itu namanya Partija dan kemudian menjadi Partija Wirasentana“ jawab Tumenggung Purbarana. Lalu katanya pula, ”Raden Puspasari ini adalah orang yang berhak untuk mengambil pusaka itu sesuai dengan pesan ibundanya, karena Raden Kuda Respada itu pun segera meninggal setelah berada di Demak tanpa sempat melihat kembali keris pusakanya yang ditinggalkan”

Raden Panji menjadi semakin tegang. Katanya, “Partija Wirasentana tidak pernah mengatakannya”

“Mungkin Ki Partija menganggap bahwa hal itu tidak perlu dikatakan kepada siapapun” berkata Ki Tumenggung Purbarana.

“Jika demikian, lakukanlah. Ambillah keris itu jika memang ada. Kemudian Ki Tumenggung Purbarana dan Raden Puspasari aku persilahkan untuk meninggalkan tempat ini. Aku masih akan menyelesaikan tugasku disini”

“Apakah disini ada pemberontak atau semacamnya sebagaimana disebut-sebut oleh Raden Panji tadi?” bertanya Ki Tumenggung.

“Ya. Setidak-tidaknya ketiga orang anak muda yang telah melarikan isteriku itu“ jawab Raden Panji. Namun kemudian, “Tetapi ini bukan tugas Ki Tumenggung. Tugas itu adalah tugasku disini. Bukankah tugas Ki Tumenggung mengambil keris dan membawanya kepada ibunda Raden Puspasari?“

“Ya Raden“ jawab Ki Tumenggung. Namun kemudian katanya, “Tetapi selain keris, Raden Puspasari masih mempunyai tugas yang lain”

“Apa?“ bertanya Raden Panji.

Ki Tumenggung Purbarana berpaling kepada Raden Puspasari. Katanya, “Sebaiknya Raden sajalah yang memberikan penjelasan”

Raden Puspasari melangkah selangkah maju. Katanya, “Kami memang sedang mengemban tugas untuk mengambil pusaka yang pernah ditinggalkan oleh paman Kuda Respada disini. Tetapi tugas itu masih disertai dengan tugas yang lain. Tugas inilah yang semula membuat kami agak bingung. Pada saat kami datang ke tempat ini, maka yang ada di rumah ini tinggal keris pusaka itu. Sedangkan yang lain sudah tidak ada di rumah ini”

“Yang lain apa maksud Raden?“ bertanya Raden Panji.

“Raden Panji“ berkata Raden Puspasari, “yang terjadi disini memang membingungkan. Aku tidak tahu, yang manakah yang
sebaiknya dilakukan. Karena itu, maka bukankah sebaiknya kita duduk dan berbicara sebaik-baiknya? Mungkin kita akan dapat memecahkan persoalannya dengan baik”

“Tidak ada yang harus dibicarakan Raden. Raden Puspasari melakukan tugas yang dibebankan di pundak Raden. Aku menjalankan tugas yang memang sudah aku emban sejak lama. Tugas kita memang sangat berbeda“ jawab Raden Panji.

“Tetapi ada yang berkait Raden” berkata Raden Puspasari.

“Bagaimana mungkin tugas kita dapat berkait. Tugas itu tidak ada hubungannya sama sekali, “ jawab Raden Panji dengan nada tinggi.

Raden Puspasari termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia masih bertanya, “Jadi, dapatkah kita duduk sejenak untuk berbicara?“

“Apa yang sebenarnya akan Raden katakan? Katakanlah. Aku tidak mempunyai banyak waktu“ berkata Raden Panji.

Namun Raden Puspasari berkata, “Raden. Bukankah hari telah jauh malam. Bahkan sebentar lagi kita akan memasuki dini hari. Apakah kita tidak dapat menunda persoalan kita sampai esok pagi?“

“Aku seorang prajurit Raden“ jawab Raden Panji, “aku harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Aku datang ke rumah ini karena aku mempunyai persoalan. Karena itu, maka aku harus menyelesaikannya segera. Sementara itu aku mohon Raden pun cepat menyelesaikan tugas Raden”

“Aku tidak tergesa-gesa seperti Raden Panji” jawab Raden Puspasari.

“Aku berkeberatan“ jawab Raden Panji.

“Baiklah jika demikian. Aku memang harus mengatakannya karena persoalannya sudah terlanjur terkait. Seandainya, sekali lagi, seandainya Mas Rara tidak Raden bawa, maka persoalannya memang sama sekali tidak bersinggungan dengan tugas Raden“ jawab Raden Puspasari.

“Apa hubungannya dengan Mas Rara?“ bertanya Raden Panji.

“Yang ditinggalkan oleh paman Raden Kuda Respada sebenarnya bukan hanya sekedar sebilah keris pusaka. Tetapi keris itu akan menjadi pertanda kelak, bahwa di rumah ini tinggal seorang anak yang pernah dilahirkan oleh isteri paman Raden Kuda Respada. Namun bibi telah meninggal setelah melahirkan. Sementara paman yang kemudian pergi ke Demak dengan meninggalkan bayi dan pusakanya tidak sempat mengurusinya lagi karena paman juga segera meninggal“ jawab Raden Puspasari. Lalu katanya, “Bayi itu adalah bayi perempuan yang kemudian dibesarkan oleh Ki Partija Wirasentana. Dinamainya bayi perempuan itu Wiranti, namun yang kemudian dipanggil dengan Mas Rara ketika bayi yang telah menjadi gadis dewasa itu akan diambil menjadi isteri Raden Panji. Sebenarnya rencana perkawinan itu sendiri sama sekali tidak berpengaruh. Jika Raden Panji memang mencintainya dan Mas Rara pun mencintai Raden Panji. Bahkan kami telah memutuskan untuk menyusul Mas Rara esok pagi ke rumah Raden Panji. Namun tiba-tiba Mas Rara justru telah kembali ke rumah ini“ Raden Puspasari berhenti sejenak, lalu katanya pula, “Karena itu, silahkan duduk Raden. Ternyata masih ada beberapa masalah yang harus kita bicarakan”

Wajah Raden Panji menjadi tegang. Dipandanginya orang yang menyebut dirinya Raden Puspasari itu. Kemudian Ki Tumenggung Purbarana, seorang yang memang mengenakan pakaian seorang prajurit. Tubuh dan ujudnya memang meyakinkan, bahwa ia adalah seorang prajurit yang berpangkat Tumenggung.

Untuk beberapa saat Raden Panji menjadi bingung. Tetapi tiba-tiba saja ia berkata lantang, “Siapapun kalian, akulah penguasa yang sah di daerah ini atas nama Sultan Pajang. Karena itu, kuasaku adalah sama dengan kuasa Sultan itu sendiri”

“Bukanlah kami sudah menyatakan bahwa kami mengakui kuasa Raden Panji? Sejak dari Pajang kami sudah membekali diri dengan pengakuan, bahwa di daerah ini ada seorang Panji yang mendapat tugas untuk memulihkan keamanan dari gangguan para perampok yang ganas. Raden Panji ternyata telah berhasil menghancurkan perampok itu, sehingga daerah ini telah menjadi aman kembali, “ jawab Raden Puspasari.

“Jika demikian, silahkan kalian meninggalkan tempat ini. Aku berhak menentukan, apakah kalian dapat berbuat sesuatu di sini atau tidak“ jawab Raden Panji dengan wajah yang menjadi tegang.

“Raden Panji“ berkata Raden Puspasari, “aku telah mendapat perintah untuk mengambil pusaka yang ditinggalkan pamanda Raden Kuda Respada. Itu tentu tidak akan ada persoalan. Namun ibunda juga memerintahkan agar aku membawa bayi yang pernah ditinggalkan oleh pamanda Raden Kuda Respada itu, yang sekarang telah mekar menjadi seorang gadis dewasa. Nah, dalam hal inilah persoalan kita berkait, karena gadis itu Raden tetapkan untuk menjadi isteri Raden yang ke enam”

Ketegangan mencengkam, bukan saja wajah Raden Panji, tetapi jantungnya terasa telah berdegup semakin keras. Dengan suara lantang, Raden Panji berkata, “Gadis itu telah melakukan kesalahan yang sangat besar di daerah kuasaku. Ia telah berkhianat. Karena itu ia harus dihukum. Kuasaku di daerah ini belum pernah dicabut”

“Baiklah“ berkata Raden Puspasari, “Mas Rara tidak akan melarikan diri. Aku akan membawanya ke Pajang beserta keris pusaka pamanda Kuda Respada. Namun persoalannya dengan Raden Panji masih belum selesai. Silahkan Raden Panji mengusutnya ke Pajang agar Mas Rara diserahkan kepada Raden Panji untuk menjalani hukuman”

“Jangan menganggap aku kanak-kanak“ jawab Raden Panji, “aku akan menangkap Mas Rara”

“Sudahlah Raden Panji“ potong Ki Tumenggung Purbarana, “sebaiknya kita tidak bersitegang dengan sikap kita masing-masing. Bukankah masih ada orang-orang yang lebih berwenang memutuskan persoalan yang sedang kita hadapi. Kami akan menyerahkan Mas Rara itu kepada ibunda Raden Puspasari. Sementara itu, Raden Panji yang merasa dikhianati atau apa, dapat menuntutnya, sehingga persoalannya akan diselesaikan di Pajang.

“Ki Tumenggung tidak dapat memperkecil kuasaku di sini. Meskipun pangkat Ki Tumenggung lebih tinggi dari pangkatku, tetapi aku mengemban tugas yang mewakili kuasa Sultan di Pajang. Karena itu, silahkan kalian meninggalkan tempat ini tanpa mencampuri persoalan-persoalan yang terjadi di tempat ini, di daerah kuasaku“ suara Raden Panji menjadi semakin keras.

“Baiklah Raden“ jawab Ki Tumenggung Purbarana, “sudah beberapa kali kami katakan. Besok, jika matahari telah terbit, kami akan pergi bersama Mas Rara dan pusaka yang dibawa oleh pamanda Kuda Respada itu. Bukankah cukup jelas”

“Mas Rara tidak dapat dibawa. Ia melakukan kejahatan di sini, di daerah kuasaku. Ia harus diadili di sini. Apalagi ia bakal isteriku yang telah berkhianat“ jawab Raden Panji.

“Raden Panji tidak boleh berbuat demikian, meskipun Raden Panji memiliki pertanda kuasa Sultan Pajang“ jawab Raden Puspasari, “karena Sultan Pajang sendiri tidak akan berbuat sebagaimana dilakukan oleh Raden Panji”

“Jangan mengada-ada“ kesabaran Raden Panji yang kasar itu sudah habis, “sekali lagi aku mempersilahkan kalian pergi sekarang. Tidak besok pagi. Tinggalkan Mas Rara di sini. Ini perintah atas dasar kuasa yang aku terima dari Kangjeng Sultan”

Tetapi Ki Tumenggung Purbarana dan Raden Puspasari masih tetap bersikap tenang. Dengan sareh Ki Tumenggung berkata, “Raden Panji. Jangan perlakukan kami seperti perampok dan penyamun di daerah ini, yang telah berhasil Raden tenangkan. Kami juga prajurit Pajang, sebagaimana Raden Panji. Jika Raden Panji mendapat kuasa untuk menumpas perampok dan penyamun di daerah ini, tentu bukan berarti bahwa Raden Panji juga mendapat kuasa untuk memperlakukan kami seperti itu. Karena itu, sekali lagi aku mengulangi permintaan Raden Puspasari. Silahkan duduk. Kita berbicara. Dengan demikian, kita akan mendapatkan penyelesaian yang terbaik, yang dapat kita pilih”

“Kuasa yang aku terima tidak terkecuali“ jawab Raden Panji, “kedatangan kalian akan dapat menimbulkan persoalan di sini, yang dapat mengguncangkan ketenangan yang dengan susah payah telah aku pulihkan. Karena itu, masih atas dasar kuasa yang aku terima dari Sultan, pergilah”

“Baiklah“ berkata Raden Puspasari kemudian, “kami akan pergi. Tetapi keris pusaka dari Majapahit serta Wiranti akan aku bawa”

“Bawalah pusaka itu. Tetapi Mas Rara tidak. Ia melakukan kejahatan disini. la harus diadili disini, sebagaimana aku mengadili para perampok dan penyamun“ geram Raden Panji.

“Mas Rara bukan perampok dan bukan penyamun“ jawab Raden Puspasari.

“Ia berkhianat terhadapku. Justru terhadap seorang Senapati yang bertugas atas dasar kuasa tertinggi“ jawab Raden Panji semakin keras.

“Raden“ berkata Raden Puspasari kemudian, “baiklah. Marilah kita lihat sebentar saja. Apakah sebenarnya kesalahan Mas Rara sehingga Raden menganggapnya berkhianat, atau memberontak, atau mengganggu ketenangan daerah kuasa Raden Panji”

Wajah Raden Panji menjadi tegang. Sementara Raden Puspasari berkata selanjutnya, “Dalam hal ini, meskipun aku baru mendengar sedikit dari anak-anak muda yang mendahului perjalanan Mas Rara serta kakaknya, aku tahu, bahwa yang terjadi sama sekali tidak dapat disebut sebagai satu pemberontakan atau pengkhianatan atau semacamnya”

“Kalian tidak tahu pasti persoalannya” geram Raden Panji.

“Raden“ Ki Tumenggung Purbarana pun ternyata tidak lagi dapat menahan-perasaannya yang bergejolak, “Raden mendapat tugas di sini untuk menghancurkan para perampok dan penyamun. Itu bukan berarti memberi wewenang kepada Raden Panji justru untuk merampok”

“Merampok?“ wajah Raden Panji menjadi merah membara.

“Berapa tahun Raden Panji berada di tempat ini? Dua atau selama-lamanya tiga tahun. Berapa kali selama itu Raden Panji telah kawin? Dan apa yang sebenarnya Raden Panji lakukan di daerah ini terhadap perempuan-perempuan itu juga atas Mas Rara?“ suara Ki Tumenggung Purbarana mulai bergetar, “saat terakhir Raden akan melakukan pelanggaran karena Raden Panji menghendaki Mas Rara sebelum hari perkawinan dilangsungkan.

“Cukup“ bentak Raden Panji, “aku tidak mau mendengar fitnah buruk itu. Kalian tentu iri melihat keberhasilanku di sini. Namun dengan fitnah itu, aku pun menjadi curiga, apakah benar kalian prajurit Pajang yang mengemban tugas sebagaimana yang kalian katakan”

“Kami juga memiliki pertanda sebagaimana perintah kuasa yang kau bawa Raden“ jawab Ki Tumenggung Purbarana.

“Omong kosong. Pertanda itu dapat dibuat sendiri atau dipalsukan“ geram Raden Panji.

“Apakah Raden Panji juga melakukannya?“ bertanya Raden Puspasari.

“Aku sudah berada di sini lebih dari dua tahun. Jika pertanda yang aku bawa itu palsu, maka Pajang mempunyai kesempatan luas untuk mengambil tindakan” jawab Raden Panji lantang.

“Pertanda yang kau bawa memang tidak palsu Raden, tetapi pengetrapan kuasa di daerah ini itulah yang akhirnya menjadi palsu“ sahut Raden Puspasari.

“Kau menghina seorang Senapati yang berkuasa di sini“ teriak Raden Panji yang marah.

Namun tiba-tiba saja terdengar seseorang berkata, “Raden Puspasari benar. Bukan pertanda kuasa itu yang dipalsukan. Tetapi apa yang dilakukan Raden Panji lah yang palsu”

Semua orang berpaling kearah suara itu. Seorang yang berjalan memasuki halaman itulah yang mengatakannya, sementara seorang yang lain menuntun kudanya mendekat.

“Aku sengaja tidak ingin mengejutkan kalian. Karena itu, aku turun dari kudaku pada jarak yang masih agak jauh. Aku terpaksa berlari-lari kecil kemari agar aku tidak terlambat mendengar pembicaraan ini meskipun aku tidak mengira bahwa di sini ada pihak lain yang telah datang lebih dahulu dari aku”

Manggada, Laksana dan Wirantana terkejut ketika melihat wajah orang itu setelah tersentuh cahaya obor di halaman. Orang itu adalah orang yang pernah duduk di sebelah mereka di pendapa rumah persinggahan Mas Rara. Mereka pulalah yang telah memberikan beberapa ekor kuda. Namun agaknya mereka telah menyusul pula perjalanan para prajurit berkuda yang dipimpin oleh Raden Panji sendiri.

“Aku datang berempat. Dua orang kawanku masih berada di luar regol untuk mengatasi kesulitan jika hal itu terjadi“ berkata orang itu selanjutnya, “namun agaknya dengan kehadiran beberapa orang prajurit Pajang dari kesatuan yang lain, keadaan akan berubah”

“Siapa kau?“ bertanya Raden Panji.

“Aku adalah tetangga Raden Panji“ jawab orang itu, “tetapi mudah-mudahan Ki Tumenggung Purbarana masih mengenal aku”

Ki Tumenggung Purbarana termangu-mangu sejenak. Dipandanginya orang yang mengenakan pakaian sebagaimana orang kebanyakan dalam keremangan cahaya obor.

Orang itu tersenyum sambil berkata, “Aku juga prajurit Pajang. Aku Panji Wiratama”

“O“ Ki Tumenggung Purbarana mengangguk-angguk, “Maaf adhi, aku memang agak lupa. Sudah agak lama kita tidak bertemu”

“Sejak aku mendapat tugas dalam lingkungan prajurit sandi“ jawab Panji Wiratama. Lalu katanya, “Nah, dalam rangka tugas sandiku, aku diperintahkan mengawasi tugas Raden Panji Prangpranata. Beberapa laporan telah sampai ke Pajang tentang tingkah lakunya. Sebenarnya aku tidak perlu terlibat langsung dalam tindakan kewadagan. Tetapi aku tidak sampai hati melihat nasib gadis yang bernama Mas Rara itu. Ia mempunyai kelainan dengan isteri Raden Panji sebelumnya. Agaknya gadis itu tidak pantas mengalami nasib yang buruk karena tingkah laku Raden Panji”

“Cukup“ teriak Raden Panji Prangpranata, “aku tahu. Kalian semua ternyata telah sepakat untuk menjatuhkan namaku. Agaknya kalian merasa iri hati akan keberhasilanku serta kepercayaan yang aku terima dari Kangjeng Sultan di Pajang. Nah, sekarang sekali lagi aku perintahkan kalian untuk pergi atau kalian akan aku hancurkan disini atas nama Kangjeng Sultan Pajang”

“Raden Panji“ berkata Panji Wiratama, “sudahlah. Aku mohon Raden Panji bersedia meninjau kembali segala tingkah laku Raden Panji. Sementara itu Ki Tumenggung Purbarana dan Raden Puspasari juga membawa pertanda kuasa Sultan Pajang. Aku pun memiliki pertanda tugas sandiku. Karena itu bukankah tidak baik terjadi benturan kekerasan antara kekuatan Pajang sendiri, sementara Pajang baru berusaha untuk menyusun diri menjadi negara yang besar”

“Aku tidak memperdulikan sesorahmu” bentak Raden Panji Prangpranata.

“Aku sudah cukup lama tinggal menjadi tetangga Raden Panji. Aku adalah saksi yang akan dapat mengatakan segala tingkah laku Raden Panji yang tidak terpuji bersama orang-orang yang bertugas bersamaku. Tetapi jika Raden Panji bersedia mengerti, maka sudah tentu aku tidak akan sampai hati menjerumuskan Raden Panji ke dalam kubangan yang dalam dan kotor. Apalagi aku tahu bahwa Raden Panji adalah orang yang pernah berjasa disini meskipun dengan cara yang agak kasar menghadapi para penjahat“ berkata Panji Wiratama kemudian.

Tetapi agaknya Raden Panji Prangpranata tidak mau mendengarkan kata-kata Panji Wiratama maupun Tumenggung Purbarana dan Raden Puspasari yang berusaha untuk mencari penyelesaian dengan cara yang lebih baik dari kekerasan.

Bahkan kemudian Raden Panji itu berkata kepada para prajuritnya, “He anak-anak. Bersiaplah. Kalian harus bermain-main lagi. Tidak dengan para prajurit yang sering merampok dan menyamun. Tetapi dengan prajurit-prajurit Pajang sendiri yang ternyata tidak tahu paugeran dan dengan sengaja melanggar hak dan wewenangku. Tunjukkan kepada mereka bahwa kalian adalah prajurit-prajurit Pajang terpilih yang sudah berbilang tahun mengarungi medan demi medan menghancurkan kelompok-kelompok penjahat di daerah ini. Ingat siapa aku. Aku adalah orang yang paling banyak memberikan hadiah kepada prajurit-prajuritku. Tetapi aku juga orang yang tidak segan-segan menghukum prajurit-prajurit yang tidak berbuat sebaik-baiknya dalam pertempuran, apalagi dihadapanku”

Para prajurit Raden Panji memang menjadi berdebar-debar. Mereka sadar, bahwa Raden Panji berkata sesungguhnya. Jika mereka tidak baik menurut penilaian Raden Panji, maka mereka tentu benar-benar akan dihukum. Hukuman yang pernah diberikan oleh Raden Panji kepada prajurit-prajuritnya memang tidak tanggung-tanggung.

Karena itu, apapun yang terjadi, maka para prajurit Raden Panji itu pun telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya.

Tiga dari tujuh prajurit yang melepaskan Mas Rara ketika mereka mengejar sesaat setelah Mas Rara meninggalkan pedukuhan Raden Panji, ada diantara para prajurit yang mengiringi Raden Panji itu. Agaknya yang lain mendapat perintah untuk menjaga para tawanan yang belum sempat mendapat perlakuan khusus dari Raden Panji karena kesibukannya mengurus Mas Rara.

Ki Tumenggung Purbarana memang menjadi sedikit cemas menghadapi perkembangan keadaan Raden Panji memang sulit diajak berbicara seperti telah dikatakan oleh anak-anak muda yang menyelamatkan Mas Rara dari tangan Raden Panji.

Karena itu, maka Ki Tumenggung Purbarana pun telah memberikan isyarat pula kepada prajurit-prajuritnya. Bahkan Panji Wiratama pun berkata kepada kawannya, “Panggil kedua kawanmu”

Orang itu pun mengangguk. Kemudian iapun telah bergeser menuju ke regol halaman.

Berapa saat kemudian, maka dua orang menuntun kudanya memasuki halaman itu, langsung mengikat kuda mereka di tepi didekat kedua ekor kuda yang lain.

Halaman rumah Ki Partija Wirasentana itu telah dicengkam ketegangan. Setiap orang telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Sementara tangan para prajurit itupun telah berada di hulu senjata mereka masing-masing. Mereka ternyata akan berhadapan dengan semua prajurit Pajang sendiri, sehingga dengan demikian maka pertempuran pun akan menjadi pertempuran yang paling mendebarkan diri berbagai macam pertempuran yang pernah mereka alami melawan para penjahat dan perampok.

Dalam pada itu dengan suara yang bergetar Raden Panji berkata lantang, “Anak-anak, tugas kalian adalah mengambil perempuan liar yang telah berkhianat itu. Siapa yang mencoba menghalangi, singkirkan dengan cara sebagaimana kalian lakukan terhadap para penjahat, karena sebenarnyalah setiap orang yang menghalangi tugasku disini, aku perlakukan sebagai para, penjahat”

Wajah Ki Tumenggung Purbarana menjadi tegang. Dengan lantang iapun berkata, “Aku masih memperingatkan kau sekali lagi Panji Prangpranata” Suara Ki Tumenggung memang berubah. Ia tidak lagi tersenyum dan berbicara dengan suara yang lembut.

Tetapi jawab Raden Panji, “Kesempatan terakhir bagimu Tumenggung Purbarana. Tinggalkan tempat ini”

Namun suara Panji Wiratama tidak lebih garangnya, “Aku berhak menangkapmu berdasarkan tugas dan wewenangku”

“Setan kau“ teriak Raden Panji, “singkirkan orang itu. Dengar perintahku. Ambil perempuan pengkhianat itu. Siapa menghalangi, patahkan lehernya”

Pertempuran memang tidak dapat dicegah. Beberapa orang prajurit mulai bergerak. Sementara Raden Panji masih berteriak, ”Masuk ke dalam rumah itu. cari sampai ketemu. Ia menjadi penyebab peristiwa ini. Jika ada seorang saja diantara prajuritku yang kulitnya tergores senjata, maka hukuman bagi perempuan itu akan berlipat ganda. Ia akan mengalami hukuman picis. Hukuman picis yang pertama yang aku berikan kepada seorang perempuan.”

Pertempuran memang tidak dapat dicegah. Beberapa orang prajurit Pajang di bawah perintah Raden Panji Prangpranata telah berusaha naik ke pendapa, menuju ke pintu pringgitan. Tetapi para prajurit yang datang bersama-sama Ki Tumenggung Purbarana dan Raden Puspasari telah mencegah mereka.

Sementara itu, Ki Partija Wirasentana sendiri menjadi bingung. Wirantana yang gelisah menjadi termangu-mangu. Manggada ternyata masih sempat berpikir dan berkata kepada Wirantana, “Bawa ayahmu masuk. Lindungi adikmu yang ada di dalam. Jika ada orang yang sempat menyusup”

“Baik. Aku dan ayah akan melindungi Mas Rara“ berkata Wirantana.

Ia pun segera berlari mendekati ayahnya sambil berkata, “Marilah. Lindungi Mas Rara”

Ki Partija seperti orang yang terbangun dari mimpi yang sangat buruk. Sementara itu Wirantana telah menariknya naik ke pendapa dan masuk ke ruang dalam.

Di ruang dalam Mas Rara dan ibunya duduk gemetar saling berpelukan. Mereka tidak tahu apa yang terjadi di luar. Mereka hanya mendengar orang-orang saling membentak. Tetapi Mas Rara tidak tatu pasti, apakah yang mereka katakan selain teriakan Raden Panji untuk menghukumnya. Ia tidak mendengar jelas penjelasan Raden Puspasari tentang dirinya.

Keduanya terkejut sekali ketika pintu tiba-tiba terbuka. Tetapi jantung mereka bagaikan disiram setitik embun ketika mereka melihat Wirantana dan Ki Partija Wirasentana yang masuk ke ruang dalam.

“Aku akan menemani kalian“ berkata Ki Partija.

Wirantana pun kemudian berdiri selangkah di sebelah adiknya. Sekilas ia sempat memandang wajah yang basah itu. Baru ia menyadari, bahwa wajah gadis itu memang lain dari wajahnya sendiri. Lain dari wajah ibunya dan lain dan wajah ayahnya.

“Ternyata ia seorang gadis asing“ desisnya.

Ki Partija Wirasentana pun kemudian telah memungut senjatanya dan bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan.

Sementara itu, di luar telah terjadi pertempuran yang sengit. Kedua belah pihak memiliki ketangkasan yang seimbang. Prajurit Raden Panji adalah prajurit yang untuk beberapa lamanya menjelajahi arena pertempuran melawan para penjahat, sementara para prajurit yang datang bersama Ki Tumenggung Purbarana adalah prajurit pilihan.

Manggada dan Laksana tidak dapat tinggal diam. Keduanya pun telah terlibat dalam pertempuran melawan prajurit Raden Panji yang garang. Prajurit yang terbiasa bertempur dengan keras dan kasar menghadapi para perampok dan penjahat di daerah yang lain, yang harus mereka amankan.

Tetapi Manggada dan Laksana pun memiliki bekal yang cukup. Mereka memiliki landasan ilmu yang mereka sadap dengan tekun dan bersungguh-sungguh. Meskipun belum begitu banyak, tetapi keduanya memiliki pengalaman yang keras pula.

Raden Panji Prangpranata sendiri adalah seorang Senapati perang yang memiliki ilmu yang tinggi. Ia telah berhasil menguasai satu daerah yang luas selama ia bertugas. Kekuasaannya seakan-akan tidak terbatas, karena kecuali Raden Panji sendiri seorang yang berilmu tinggi, ia pun memiliki kekuatan. Sepasukan prajurit Pajang yang tangguh. Sehingga untuk beberapa lama Raden Panji merasa bahwa ia adalah orang yang dapat berbuat apa saja menurut kehendaknya. Siapa yang mencoba untuk menentangnya dengan tanpa kesulitan telah disingkirkan. Bahkan jika dianggap perlu disingkirkan untuk selama-lamanya.

Raden Panji Prangpranata memang tidak saja berkuasa untuk menentukan satu kebijaksanaan. Tetapi iapun merasa mempunyai wewenang untuk menghukum orang yang dianggapnya bersalah tanpa dapat dibatalkan oleh orang lain. Bahkan ia pun merasa tidak perlu untuk mendengar pendapat orang lain apabila sendiri sudah menganggap perlu untuk mengambil keputusan.

Namun dalam pada itu, di halaman rumah Ki Partija itu, ia telah bertemu dengan seorang Senapati yang juga seorang pilihan. Ki Tumenggung Purbarana yang dengan sengaja telah menempatkan diri menghadapi langsung Raden Panji Prangpranata.

Beberapa orang prajurit Raden Panji dengan cepat telah bergerak ke segala celah-celah halaman. Mereka yang sudah untuk waktu yang lama mengikuti segala perintah Raden Panji itu pun menjadi sangat garang pula. Satu dua orang prajurit memang berusaha untuk menembus pertahanan dan memasuki rumah lewat seketheng. Namun para prajurit Pajang yang datang bersama Ki Tumenggung Purbarana telah menyebar. Sementara Manggada dan Laksana telah ikut pula menghadapi para prajurit yang berusaha memasuki seketheng sebelah kiri.

Sementara itu Panji Wiratama telah melibatkan diri pula dalam pertempuran itu. Sebagai seorang petugas sandi, Panji Wiratama telah ditempa dengan ilmu kanuragan, sehingga ia sama sekali tidak menjadi bingung menghadapi prajurit-prajurit Raden Panji Prangpranata yang berpengalaman luas.

Raden Puspasari yang mendapat tugas untuk menjemput Mas Rara itu memang termangu-mangu sejenak. Bukannya karena ia menjadi cemas menghadapi pertempuran itu, tetapi pertempuran itu sama sekali tidak dikehendakinya.

Namun ia tidak banyak dapat berbuat sesuatu menghadapi seseorang yang keras seperti Raden Panji Prangpranata, yang merasa dirinya orang yang paling berkuasa.

Ketika pertempuran menjadi semakin sengit, maka Raden Puspasari telah naik ke pendapa. Dengan jantung yang berdebaran ia melihat seluruh arena di halaman itu. Bahkan satu dua orang prajurit telah bertempur di pendapa itu pula.

Mereka adalah prajurit-prajurit Raden Panji yang ingin menerobos memasuki pintu pringgitan untuk mengambil Mas Rara, namun telah dihentikan dan dihadapi oleh para prajurit Pajang yang datang bersama-sama dengan Raden Puspasari itu.

Dalam pada itu, hampir diluar sadarnya, Raden Puspasari sempat melihat Manggada dan Laksana yang sedang bertempur. Dengan kening yang berkerut, Raden Puspasari melihat, bahwa kedua anak muda itu ternyata mampu mengimbangi kemampuan para prajurit Pajang. Mereka sama sekali tidak mengalami banyak kesulitan untuk mempertahankan dirinya. Tangannya pun dengan tangkas mempermainkan pedang.

“Anak-anak muda yang berani“ berkata Raden Puspasari di dalam hatinya, “agaknya tidak banyak dari antara anak-anak muda yang berani mengambil sikap seperti mereka. Di saat Raden Panji berada dalam puncak kekuasaannya, mereka berani mengambil langkah yang dapat membahayakan hidup mereka untuk melindungi Mas Rara yang diperlakukan dengan sewenang-wenang oleh Raden Panji”

Sementara itu Manggada dan Laksana memang sedang bertempur dengan sengitnya. Masing-masing menghadapi seorang prajurit yang terlatih dengan baik dan berpengalaman luas. Namun kedua anak muda itu sama sekali tidak menjadi gentar. Apalagi mereka sadar, bahwa langkah-langkah yang diambilnya ternyata mendapat sandaran yang mapan. Justru seorang Tumenggung dari Pajang bersama pasukan kecilnya.

Manggada dan Laksana memang telah mengambil jarak. Mereka menahan dua orang prajurit yang akan menyelinap lewat seketheng untuk masuk ke dalam rumah melalui pintu-pintu butulan atau pintu samping. Jika kedua orang prajurit itu berhasil masuk dan menguasai Mas Rara, maka segala bentuk perlawanan memang harus dihentikan, karena jiwa Mas Rara tentu akan terancam.

Namun Manggada dan Laksana memang berhasil menahan kedua orang prajurit itu. Dengan ketangkasannya, kedua anak muda itu telah membuat kedua orang prajurit yang bertempur melawannya menjadi heran

Kedua orang prajurit yang bertempur melawan Manggada dan Laksana itu pernah melihat keduanya ketika Raden Panji mengunjungi bakal isterinya di rumah yang telah disediakan baginya. Tetapi berbeda dengan para prajurit yang menjemput Mas Rara dari rumahnya dan harus bertempur melawan orang-orang yang telah diupah oleh paman Mas Rara sendiri untuk mencegahnya, mereka belum pernah melihat kemampuan kedua anak muda itu. Meskipun mereka mendengar bahwa kedua anak muda itu pernah menolong Mas Rara ketika gadis itu hampir diterkam seekor harimau, serta ceritera beberapa orang kawannya bahwa kedua anak muda itu telah mempertaruhkan nyawanya di saat Mas Rara dijemput dari rumahnya, namun mereka tidak mengira bahwa kedua anak muda itu mampu mengimbangi mereka, prajurit yang berpengalaman.

Karena itu, maka kedua orang prajurit itu pun kemudian telah mengerahkan segenap kemampuannya. Seorang diantara mereka berkata, “Anak-anak muda. Sebaiknya kau tidak usah ikut campur. Kau bukan sanak bukan kadangnya. Jika perlawanan ini dilakukan oleh kakaknya, maka hal itu masih dapat dimengerti. Tetapi kau bukan. Karena itu, kami memberi kesempatan kepada kalian berdua untuk melarikan diri jika kalian ingin selamat”

“Terima kasih” jawab Manggada, “tetapi sebagaimana kau dengar, ternyata gadis itu bukan sekedar anak Ki Partija Wirasentana. Tetapi ia adalah seorang gadis yang seharusnya tidak berada di padukuhan. Ia seorang gadis bangsawan”

“Siapapun gadis itu, tetapi segala sesuatunya harus dikembalikan kepada kekuasaan yang ada di daerah ini. Yang berkuasa adalah Raden Panji Prangpranata“ berkata prajurit itu.

“Bukan berarti Raden Panji dapat berbuat apa saja tanpa menghiraukan tatanan yang berlaku di Pajang. Raden Panji bukan Sultan Pajang yang berlaku di Pajang yang berhak dan berwenang membuat paugeran sekehendak hatinya“ jawab Manggada.

“Kau anak yang sombong“ geram prajurit itu, “jika kau sia-siakan kesempatan ini, maka kau akan menyesal. Jika kau tidak terbunuh dalam pertempuran ini, maka kau akan mendapat hukuman pula dari Raden Panji. Jika kau tahu, Raden Panji tidak pernah ragu-ragu menghukum orang yang dianggapnya bersalah.

“Tetapi Kangjeng Sultan Pajang pun tidak akan ragu-ragu menghukum Raden Panji dengan kesewenang-wenangannya meskipun ia pernah berjasa dalam tugasnya yang besar dan berat”

“Persetan kalian“ geram prajurit yang seorang lagi. Kalian memang ingin mati. Jangan kau kira, bahwa keberhasilanmu membunuh seekor harimau akan dapat menolongmu menghadapi senjata kami. Dengan membunuh seekor harimau kalian telah menjadi kehilangan akal. Kepalamu menjadi besar dan tidak tahu diri”

Namun Laksana yang menjawab, “Kita buktikan saja. Kepala siapa yang besar sekarang ini”

Prajurit itu menjadi merah. Dengan serta merta ia telah meloncat dengan menjulurkan senjatanya kearah dada. Tetapi dengan tangkas Laksana telah menangkisnya, sehingga ujung senjata itu sama sekali tidak menyentuh sasaran. Bahkan Laksana sempat memutar pedangnya dan seolah-olah menggeliat dengan cepat, sehingga sabetan mendatar justru telah memaksa prajurit itu meloncat surut.

Pertempuran itu pun kemudian telah menjadi semakin sengit. Para prajurit itu memperlakukan kedua anak muda itu seperti para perampok dan penjahat lainnya. Merekalah yang mulai bertempur dengan kasar, keras dan tidak terkendali.

Namun Manggada dan Laksana tidak menjadi kehilangan akal. Mereka telah pernah bertempur melawan orang-orang yang lebih keras dan lebih kasar dari para prajurit itu.

Raden Puspasari menarik nafas dalam-dalam. Namun ia harus bergeser ke samping ketika seorang prajurit menyerangnya dengan tiba-tiba. Namun seorang prajurit Pajang yang datang bersamanya telah menempatkan diri melawan prajurit itu.

Sementara itu, Raden Panji Prangpranata yang bertempur melawan Ki Tumenggung Purbarana menjadi semakin keras pula. Ternyata Raden Panji memang seorang yang berilmu tinggi. Dengan tangkas ia berloncatan di seputar lawannya. Meskipun Raden Panji itu nampaknya sudah mendekati usia lanjutnya, namun ia masih seorang Senapati yang pilih tanding. Tubuhnya yang tua itu masih mampu melenting dengan ringannya, seakan-akan tidak digantungi bobot sama sekali. Senjatanya berputaran dengan cepatnya. Sekali mematuk, dan di kesempatan lain terayun dengan derasnya.

Tetapi lawan yang dihadapi adalah Ki Tumenggung Purbarana. Seorang Tumenggung yang pilih landing. Selain tubuhnya yang meyakinkan, Ki Tumenggung pun memiliki bekal ilmu yang tinggi. Sebagai seorang Senapati perang, maka Ki Tumenggung memiliki pengalaman yang tidak kalah luasnya dari Raden Panji Prangpranata. Meskipun Raden Panji memiliki kecepatan gerak yang tinggi, tetapi Ki Tumenggung sama sekali tidak menjadi bingung.

Sementara itu, di ruang dalam, Ki Partija Wirasentana dan Wirantana menunggui Mas Rara dengan jantung yang berdebar-debar. Namun tidak ada niat mereka untuk meninggalkan ruangan itu dan untuk selanjutnya mengungsi ke tempat lain. Di halaman sudah terlanjur terjadi pertempuran. Karena itu, keduanya justru tidak lagi merasa takut kepada Raden Panji Prangpranata. Apalagi ada beberapa orang saksi yang juga datang dari Pajang.

Yang menjadi sangat gelisah adalah Raden Puspasari. Ia sama sekali tidak menghendaki pertempuran seperti itu terjadi. Namun ia pun tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa Raden Panji Prangpranata sama sekali tidak mau mendengarkan pendapat orang lain. Ia menganggap bahwa kebenaran itu hanya ada pada dirinya.

Dengan jantung yang berdebaran, Raden Puspasari menyaksikan pertempuran yang menjadi semakin sengit. Bahkan korban telah mulai jatuh. Beberapa orang prajurit telah terluka.

Namun Raden Panji sendiri tampaknya tidak begitu menghiraukannya. Ia bertempur dengan garangnya. Namun lawannya pun seakan-akan telah kehabisan pola. Raden Panji yang selalu berhasil menghancurkan lawannya dalam tugasnya di daerah itu, kini telah membentur kekuatan yang belum pernah dijumpai sebelumnya. Gegedug yang paling garang sekalipun tidak membuatnya mengalami kesulitan. Namun Ki Tumenggung Purbarana justru mulai membuatnya gelisah. Apalagi ketika terasa bahwa Ki Tumenggung Purbarana mulai menekannya.

Dalam pada itu, para prajurit Raden Panji pun mulai mengalami kesulitan. Lawan-lawan mereka ternyata memiliki kelebihan yang sulit mereka atasi. Para prajurit yang berada di bawah perintah Ki Tumenggung Purbarana memang tidak lebih baik dari para prajurit Raden Panji Prangpranata, sehingga iantara mereka terdapat keseimbangan. Tetapi para prajurit yang harus bertempur melawan Panji Wiratama dan kawan-kawannya dari prajurit sandi Pajang, harus memeras tenaganya untuk dapat mengimbangi mereka. Bahkan prajurit-prajurit yang harus bertempur dengan anak-anak muda yang pernah menolong Mas Rara dari cengkeraman kuku-kuku seekor harimau itupun telah mengalami kesulitan pula. Manggada dan Laksana ternyata memiliki bekal yang cukup tinggi untuk melawan para prajurit Pajang, meskipun para prajurit Pajang itu memiliki pengalaman yang sangat luas.

Dengan demikian, semakin lama semakin terasa bahwa Raden Panji Prangpranata dan para prajuritnya menjadi semakin terdesak.

Tetapi karena hal seperti itu belum pernah terjadi selama ia bertugas di daerah yang luas itu, maka Raden Panji masih saja tidak mau mengakui kekalahan yang perlahan-lahan mencengkamnya. Bahkan dengan lantang Raden Panji itu masih meneriakkan aba-aba untuk menghancurkan lawannya.

“Bunuh semua orang yang tidak mau menyerah“ teriak Raden Panji Prangpranata, “jangan takut. Aku mempunyai pertanda kuasa dari Sultan Pajang”

Namun para prajuritnya yang tidak pernah gagal melaksanakan perintah Raden Panji itu mulai menjadi gelisah. Yang mereka hadapi bukan para perampok dan para penjahat, yang harus mereka bunuh jika tidak mau menyerah. Tetapi yang mereka hadapi adalah prajurit-prajurit Pajang. Orang-orang yang memiliki kemampuan setidak-tidaknya setingkat dengan mereka. Bahkan beberapa orang diantara mereka memiliki kelebihan yang sulit diimbangi.

Ki Panji Wiratama ternyata dengan cepat menekan lawannya. Tidak ada niat sama sekali untuk membunuh sesama prajurit Pajang. Namun Panji Wiratama tidak dapat berbuat lain untuk menghentikan perlawanan prajurit Pajang itu tanpa melukainya.

Sebenarnyalah, prajurit yang melawan Panji Wiratama itu sulit untuk dapat melindungi dirinya sendiri dari serangan-serangan yang membingungkan. Karena itu, maka prajurit itu meloncat surut ketika senjata Panji Wiratama menyentuh pundak.

Tetapi Panji Wiratama tidak melepaskannya. Demikian prajurit itu berdiri tegak, maka ujung senjata Panji Wiratama telah memburunya. Seleret luka pun kemudian tergores di dada prajurit itu.

Prajurit itu mengaduh tertahan Namun terasa betapa pedihnya luka di pundak dan di dadanya.

Ternyata Panji Wiratama tidak melepaskannya. Selagi orang itu berusaha memperbaiki keadaannya, maka kaki Panji Wiratama-lah yang menghantam lambungnya, sehingga perutnya terasa mual.

Selagi orang itu terbongkok-bongkok menahan sakit di lambungnya, maka Panji Wiratama telah mengetuk tengkuk orang itu dengan sisi telapak tangannya.

Orang itu pun jatuh menelungkup. Bahkan langsung menjadi pingsan.

Prajurit yang lain sempat melihat apa yang terjadi atas kawannya itu. Ternyata Panji Wiratama tidak mengetuk leher kawannya itu, maka leher prajurit itu akan dapat terpenggal karenanya.

Semakin lama keadaan para prajurit Raden Panji menjadi semakin sulit. Tetapi Raden Panji tidak mau mengakui kenyataan itu. Ia masih menuntut kemenangan sebagaimana setiap terjadi benturan antara para prajuritnya dengan para perampok dan penjahat. Bahkan setiap kali Raden Panji masih mengulangi perintahnya, “Bunuh yang tidak mau menyerah”

Tetapi tidak seperti yang selalu terjadi, maka para prajuritnya tidak dapat melakukan perintah itu. Bahkan Raden Panji sendiri telah mengalami kesulitan menghadapi lawannya, Ki Tumenggung Purbarana.

Raden Puspasari sendiri memang tidak terlibat dalam pertempuran itu. Hanya sekali-sekali ia harus menghindar jika datang serangan tiba-tiba. Namun para prajuritnya selalu berusaha untuk melindunginya.

Dalam kecemasan Raden Puspasari ternyata tertarik sekali kepada Manggada dan Laksana yang dengan tangkas mengimbangi para prajurit yang menjadi lawan mereka. “Meskipun keduanya bukan prajurit dan umurnya masih terhitung sangat muda, namun keduanya nampak tangkas dan cekatan. Keduanya sama sekali tidak mencemaskan, meskipun keduanya harus melawan prajurit-prajurit yang berpengalaman. Bahkan sekali-sekali kedua anak muda itu berloncatan dengan cepatnya, sehingga lawannya menjadi kebingungan. Seperti anak kijang yang bermain-main di rerumputan“ desis Raden Puspasari.

Sementara itu, keadaan Raden Panji Prangpranata bersama para prajuritnya menjadi semakin sulit. Semakin lama semakin banyak orang-orangnya yang terluka, sehingga tidak mampu lagi memberikan perlawanan yang berarti. Meskipun pada kedua belah pihak nampaknya tidak dibakar oleh nafsu untuk saling membunuh, namun bagaimanapun juga di dalam pertempuran yang sengit, kemungkinan itu akan dapat terjadi.

Raden Panji sendirilah yang selalu berteriak-teriak untuk membunuh lawan yang tidak mau menyerah. Namun Raden Panji beberapa kali harus berloncatan surut untuk memperbaiki keadaannya yang semakin sulit.

Pada saatnya, maka Ki Tumenggung Purbarana yang berteriak-teriak, “Raden Panji. Sebagai seorang Senopati kau arus mampu menilai keadaan medan. Menyerahlah. Selagi kita masih dikendalikan oleh penalaran kita. Jika perasaan mulai menguasai otak kita, maka keadaan tentu akan lain”

“Setan kau Purbarana“ geram Raden Panji yang benar-benar tidak man melihat kenyataan itu, “siapapun yang menentang uasaku di sini, akan aku hancurkan sampai lumat”

“Kau jangan kehilangan akal Raden Panji“ sahut Ki Tumenggung Purbarana, “aku akan memberimu kesempatan untuk menilai pertempuran ini dalam keseluruhan”

Tetapi Raden Panji justru meloncat menyerang dengan garangnya.

Ki Tumenggung Purbarana bergeser mengelak. Namun senjatanya telah berputar mematuk tubuh Raden Panji. Tetapi ternyata Raden Panji yang tangkas itu masih sempat menggeliat. Bahkan dengan cepat senjatanya terayun menyambar kearah kening Ki Tumenggung.

Ki Tumenggung dengan cepat mengangkat senjata menangkis serangan Raden Panji itu. Dengan demikian, kedua senjata itupun telah berbenturan. Masing-masing dengan mengerahkan segenap kekuatannya.

Raden Panji mengumpat sejadi-jadinya. Hampir saja senjatanya terlepas dari tangannya. Namun ia masih sempat mempertahankannya meskipun tangannya terasa menjadi pedih.

Sambil meloncat mundur tiba-tiba saja ia berteriak, “Jangan hiraukan yang lain. Ambil perempuan pengkhianat itu. Aku hanya memerlukan perempuan itu. Siapa yang menghalangi, bunuh saja di tempat”

Tetapi tidak seorang pun yang dapat melakukannya. Selain mereka masih harus bertempur, mereka pun tidak akan mampu melakukannya.

Di ruang dalam, Mas Rara mendengar teriakan Raden Panji itu. Dengan gemetar ia telah memeluk ibunya, sementara Wirantana berkata, “Jangan takut, ayah dan aku ada di sini”

Tetapi Mas Rara memang menjadi ketakutan. Apalagi ia tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi di pendapa dan di halaman depan rumahnya.

Dalam pada itu, seakan-akan seluruh padukuhan menjadi ketakutan. Satu dua orang yang mendengar keributan itu dan keluar dari rumahnya, menjadi berdebar-debar. Satu dua orang itu mencoba untuk melihat apa yang terjadi di halaman rumah Ki Partija. Tetapi demikian mereka melihat sebuah pertempuran yang sengit, maka mereka pun telah pergi menjauh. Beberapa orang yang lain yang ingin melihat keadaan, telah diberitahu tentang apa yang telah terjadi.

“Apa, yang sebenarnya terjadi di rumah itu?“ desis seseorang.

“Kita tidak tahu. Ada dua pasukan yang datang ke rumah itu. Namun ternyata kedua pasukan itu telah bertempur”

Dengan demikian, meskipun seakan-akan seisi padukuhan itu telah terbangun, namun mereka tidak berani mendekat rumah Ki Partija Wirasentana. Meskipun ada niat diantara mereka untuk membantu jika ada kesulitan yang terjadi. Tetapi mereka tidak akan dapat melibatkan diri dalam pertempuran yang sengit. Merekapun tidak tahu kepada siapa mereka harus berpijak.

Karena itu, mereka hanya dapat mengikuti pertempuran itu dari jarak yang agak jauh, dengan jantung yang berdebar-debar. Namun demikian, pintu setiap rumah telah ditutup rapat-rapat. Nyala lampu diperkecil dan perempuan-perempuan memeluk anak-anak mereka semakin erat.

Seorang anak laki-laki merengek mencari ayahnya. Dengan susah payah ibunya membujuknya agar anak itu diam.

“Ayah sedang meronda ngger. Tidurlah. Masih malam“ bisik ibunya dengan suara yang gemetar.

Sebenarnyalah hampir setiap laki-laki memang keluar dari rumahnya dan berpesan agar isterinya menyelarak pintu rapat-rapat. Yang tidak mendengar keributan telah diketuk pintunya oleh tetangga-tetangganya dan dimintainya keluar rumah, meskipun di luar rumah mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Pertempuran di halaman rumah Ki Partija masih saja berlangsung. Tidak ada tanda-tanda bahwa Raden Panji akan menyerah, meskipun orang-orangnya semakin terdesak. Beberapa orang justru telah terluka. Dan beberapa saat kemudian Raden Panji sendiri telah tergores ujung senjata pula. Meskipun lukanya tidak dalam dan tidak mempengaruhi kemampuannya, tetapi pakaiannya telah terkoyak lebar.

Dalam pada itu, Raden Puspasari akhirnya menjadi tidak sabar lagi. Iapun mulai menyingsingkan kain panjangnya. Sikap Raden Panji menurut Raden Puspasari telah melampaui batas wewenangnya, sementara ia tidak mau mendengarkan pendapat orang lain sama sekali.

“Orang yang semula dianggap berjasa itu ternyata telah menjadi mabuk kekuasaan“ berkata Raden Puspasari di dalam atinya. Namun katanya kemudian kepada dirinya sendiri, “Apa-boleh buat. Aku akan mengambil alih orang itu. Aku harus benar-benar sampai hati untuk melumpuhkannya. Biarlah Ki Tumenggung Purbarana menyelesaikan para prajuritnya”

Tetapi ketika Raden Puspasari melangkah ke tangga pendapa, ia terkejut karenanya. Raden Puspasari telah mendengar derap kaki kuda mendekati halaman rumah Ki Partija Wirasentana.

Karena itu, ia urung turun ke halaman. Dengan berdebar-debar Raden Puspasari menunggu siapa yang telah datang itu. Mungkin prajurit-prajurit Raden Panji yang menyusul. Mungkin orang lain. Atau siapapun.

Ternyata tidak hanya derap beberapa ekor kuda mendekati pintu gerbang halaman. Namun mereka masih saja terikat dalam pertempuran, sehingga mereka tidak dapat memperhatikannya dengan seksama. Tetapi derap kaki kuda itu telah menyentuh setiap jantung yang ada di halaman rumah Ki Partija dan sedang bertempur itu.

Beberapa saat kemudian, beberapa ekor kuda muncul dari luar regol. Dua orang dalam pakaian perwira tinggi Pajang, diikuti oleh lima orang prajurit pengawal. Bahkan menilik pakaiannya, mereka adalah prajurit khusus bagian dari Wiratamtama.

Demikian mereka berada di halaman, maka pertempuran itu pun seakan-akan telah berhenti. Beberapa orang yang sedang bertempur itu telah berloncatan surut mengambil jarak. Bahkan Raden Panji pun telah meloncat menjauhi Ki Tumenggung Purbarana sambil berteriak, “Siapa lagi yang datang ke halaman rumah pengkhianat ini? Jika kalian prajurit Pajang, maka kewajiban kalian adalah melaporkan kehadiran kalian kepada kami. Pasukan yang telah mendapat wewenang untuk memelihara keamanan di daerah ini”

Dua orang perwira yang masih duduk di punggung kudanya itu tidak segera menjawab. Mereka memandang berkeliling halaman. Sekali-sekali mereka mengusap keringat di kening.

Ketujuh orang itu nampak letih. Demikian pula kuda-kuda mereka.

Namun ketika mereka bergerak lebih dekat dan mulai disentuh oleh cahaya lampu minyak di pendapa, maka orang-orang yang ada di halaman itupun terkejut. Raden Puspasari lah yang pertama-tama menyebut namanya, “Paman Wilamarta”

Orang yang disebut namanya itu memandang ke pendapa. Dengan nada rendah ia berdesis, “Raden sudah berada di sini”

“Ya. Aku mendapat tugas bersama Ki Tumenggung Purbarana“ jawab Raden Puspasari.

“Tetapi apa yang telah terjadi di sini?“ bertanya Ki Wilamarta.

Raden Puspasari pun kemudian turun dari pendapa. Sementara Ki Wilamarta dan para pengiringnya pun meloncat turun dari kudanya.

Sambil mendekati Ki Wilamarta Raden Puspasari pun berkata, “Silahkan Ki Wilamarta bertanya kepada Raden Panji Prangpranata”

Ki Wilamarta mengerutkan keningnya. Dipandanginya Raden Panji Prangpranata, Beberapa langkah Ki Wilamarta maju mendekat.

Sebelum Ki Wilamarta bertanya, Raden Panji telah berkata, ”Selamat datang di daerah tugasku Ki Wilamarta”

Ki Wilamarta tersenyum. Katanya, “Aku menjadi kelelahan. Aku datang ke barak induk pengendalian pasukanmu. Tetapi kau tidak ada. Aku mendapat keterangan bahwa belum terlalu lama kau pergi ke Nguter untuk memburu para pengkhianat”

“Ya. Ya, Ki Wilamarta“ sahut Raden Panji dengan serta merta, “aku memang sedang berusaha menangkap pengkhianat yang ternyata mendapat perlindungan dari beberapa orang prajurit Pajang. Mereka datang ke daerah kuasaku tanpa melaporkan kehadirannya kepadaku”

“Siapa“ bertanya Ki Wilamarta.

“Tumenggung Purbarana“ jawab Raden Panji Prangpranata.

“Tetapi aku melihat Panji Wiratama ada di sini pula“ berkata Ki Wilamarta.

“Ya Ki Wilamarta“ jawab Panji Wiratama yang ada dikejauhan, yang telah mengambil jarak pula dari lawannya, ”aku telah datang pula kemari. Aku telah mencoba mencegah tindakan yang diambil Raden Panji Prangpranata meskipun aku datang agak terlambat. Tetapi Raden Panji sama sekali tidak menghiraukannya”

“Aku sedang menjalankan tugasku Ki Wilamarta sahut Raden Panji.

“Tugas apa?“ bertanya Ki Wilamarta.

“Aku sedang memburu pengkhianat dan para perampok Selama ini aku telah berhasil menjalankan tugasku dengan baik. Menguasai daerah yang luas dan membersihkannya dari kejahatan. Tetapi ternyata kemudian justru aku sendirilah yang dirampok dan dikhianati“ jawab Raden Panji.

“Apa saja milik Raden Panji yang dirampok?” bertanya Ki Wilamarta.

Raden Panji termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun menjawab, “Justru lebih berharga dari harta benda. Calon isterikulah yang telah dirampok orang”

“Dan siapakah pengkhianat itu?“ bertanya Ki Wilamarta pula.

Raden Panji memang menjadi bingung. Tetapi ia pun kemudian menjawab, “Bakal isteriku itu”

“Jika demikian, kenapa Raden Panji harus menyusul demikian jauhnya untuk mengambil pengkhianat itu? Biar sajalah pengkhianat itu dibawa oleh para perampok. Raden Panji tidak perlu berusaha menolongnya”

“Aku tidak akan menolongnya Tetapi aku akan menangkap mereka semuanya” jawab Raden Panji tersendat-sendat.

Ki Wilamarta tersenyum. Dipandanginya orang-orang yang ada di halaman itu. Raden Puspasari, Ki Tumenggung Purbarana yang termangu-mangu, Panji Wiratama dan para prajurit Pajang yang sedang saling bertempur itu.

Mereka pada umumnya telah mengenal Ki Wilamarta seorang Senapati dari prajurit Wiratamtama Pajang. Seorang yang dekat sekali hubungannya dengan Sultan di Pajang.

Halaman itu pun kemudian telah dicengkam oleh suasana yang tegang namun hening. Tidak seorang pun yang berbicara diantara mereka. Sementara Ki Wilamarta melangkah ke pendapa dan kemudian naik serta berdiri tegak menghadap kehalaman.

“Raden Panji“ berkata Ki Wilamarta, “kami, di Pajang telah menerima laporan tentang tugas-tugas yang kau lakukan. Di samping keberhasilanmu menenangkan daerah ini dari kerusuhan yang ditimbulkan oleh para perampok, maka Raden Panji pun telah menimbulkan kegelisahan tersendiri. Tugas yang kau pikul telah kau laksanakan dalam batas-batas wajar. Tetapi semakin lama menjadi semakin sulit dimengerti, sehingga pada suatu saat, tingkah laku Raden Panji sudah terlepas dari kendali”

“Itu fitnah“ potong Raden Panji.

Tetapi Ki Wilamarta seakan-akan tidak mendengarkannya. Ia berkata selanjutnya, “Aku mendapat tugas untuk mengikuti perkembangan tugas Raden Panji. Karena itu, aku telah menugaskan Panji Wiratama yang belum kau kenal untuk mengamatimu dari dekat. Ia tinggal beberapa rumah saja dari rumah yang kau pergunakan sebagai barak induk pasukanmu. Ia tahu benar apa yang kau lakukan. Ia tahu, berapa orang perempuan yang telah menjadi korbanmu. Selain itu, Raden Panji juga telah merasa berwenang untuk menjatuhkan hukuman apa saja kepada orang yang dianggap bersalah. Bahkan hukuman mati sekalipun”

“Puncak dari kegelisahan tugas Raden Panji adalah keinginan Raden Panji mengambil calon isteri dari Nguter ini. Kami telah mendapat laporan lengkap. Laporan itu kami hubungkan dengan tugas Ki Tumenggung Purbarana dan Raden Puspasari. Kedua-duanya juga menyebutkan padukuhan Nguter. Apalagi ketika laporan yang terperinci itu menyebut tentang Mas Rara“ dia berhenti sejenak.

“Karena itu, aku datang langsung ingin bertemu dengan Raden Panji. Tetapi saat kami datang, Raden Panji sedang memburu pengkhianat dan perampok kemari Ke Nguter. Betapapun kami letih, kami berusaha menyusul kemari, meskipun harus beristirahat beberapa kali di perjalanan”

Wajah Raden Panji menjadi merah. Dipandanginya orang di sekelilingnya. Nampak beberapa orang perwira yang memiliki kekuasaan di dalam tataran keprajuritan Pajang. Bahkan beberapa orang yang kedudukannya lebih tinggi dari kedudukannya. Apalagi Ki Wilamarta sendiri telah datang ke tempat itu.

Sementara itu Ki Wilamarta telah berkata selanjutnya, “Kau masih sempat mengingat apa yang kau lakukan selama ini Raden Panji. Sekarang aku datang tidak untuk melupakan keberhasilanmu. Tetapi aku sekadar membawa perintah baru bagimu. Kembali ke Pajang”

Raden Panji yang tua itupun kemudian menundukkan kepalanya. Ia masih mendengar Ki Wilamarta bertanya, ”Bukankah aku tidak perlu menunjukkan pertanda tugasku kepadamu? Bukankah wajahku yang telah kau kenal ini sudah merupakan pertanda itu?”

“Ya Ki Wilamarta“ desis Raden Panji, “aku tidak akan berani menanyakan pertanda tugas Ki Wilamarta, justru aku mengenal Ki Wilamarta”

“Nah, jika demikian, marilah. Kita akan kembali ke Pajang“ berkata Ki Wilamarta.

“Aku tidak akan melawan perintah itu” jawab Raden Panji, “tetapi aku akan berbicara dengan para prajuritku. Aku akan kembali ke barak induk pengendalian pasukanku. Aku akan mengumumkan mereka dan berbicara kepada mereka”

“Tidak Raden Panji“ jawab Ki Wilamarta, “kita akan langsung pergi ke Pajang. Kita akan mengambil jalan lain dan tidak akan singgah di barak pengendalian pasukanmu itu”

“Tetapi aku masih mempunyai barang-barang di sana” desis Raden Panji.

“Biarlah orang lain mengurusnya“ jawab ki Wilamarta.

Raden Panji tidak menjawab lagi. Kepalanya yang tunduk menjadi semakin tunduk.

Namun Raden Puspasari lah yang berkata, “Tentu paman Wilamarta tidak kembali ke Pajang sekarang. Paman telah menjadi sangat letih. Kuda-kuda paman pun letih. Paman akan berada di sini sampai besok siang, sehingga cukup untuk beristirahat. Besok kita bersama-sama menempuh perjalanan ke Pajang“

Ki Wilamarta termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Aku akan beristirahat di sini sampai besok siang”

Dengan demikian, maka pertempuran di halaman itu pun telah selesai. Beberapa orang yang terluka sempat mendapat perawatan. Sementara Ki Wilamarta telah memanggil beberapa orang untuk berbicara di pendapa. Raden Puspasari, Ki Tumenggung Purbarana, Panji Wiratama, Raden Panji Prangpranata serta Ki Partija Wirasentana. Sedangkan di halaman para prajurit berada dalam kelompok-kelompok mereka masing-masing. Namun mereka yang terluka telah dibaringkan di pringgitan untuk mendapat perawatan. Apalagi mereka yang terluka cukup parah. Bahkan ada dua diantara mereka yang nyawanya tidak dapat tertolong lagi.

Malam itu Ki Wilamarta telah memberikan beberapa perintah kepada para perwira yang telah dikumpulkannya itu.

Ki Wilamarta yang membawa wewenang penuh dari Kangjeng Sultan itu telah memerintahkan Panji Wiratama untuk menggantikan kedudukan Raden Panji Prangpranata.

“Tugasmu tidak seberat tugas Raden Panji Prangpranata“ berkata Ki Wilamarta, “Apalagi satu atau dua tahun yang lalu”

“Ya Ki Wilamarta“ jawab Panji Wiratama, “aku siap menjalankan perintah”

“Para prajurit yang datang ke Nguter bersama-sama dengan Raden Panji Prangpranata akan menjadi saksi perintahku. Tetapi untuk sandaran Ki Panji Wiratama dalam menjalankan tugasnya, maka aku perintahkan Raden Panji menyerahkan pertanda tugasnya kepada Ki Panji Wiratama”

Raden Panji Prangpranata tidak dapat mengingkarinya melakukan segala perintah Ki Wilamarta.

Sementara itu, di ruang dalam Mas Rara masih saja ketakutan. Namun Wirantana yang menemaninya berkata, “Jangan takut. Segala sesuatunya telah berlalu”

Mas Rara tidak menjawab. Tetapi tubuhnya masih gemetar.

Demikianlah, maka segala sesuatunya telah diselesaikan oleh Ki Wilamarta. Para perwira yang ada di pendapa itu sudah tahu pasti apa yang akan mereka lakukan besok.

Namun masih ada satu hal yang mereka bicarakan, bagaimana mereka akan membawa Mas Rara ke Pajang

“Mas Rara tidak mau duduk di punggung kuda” berkata Ki Partija Wirasentana, “namun atas kebaikan hati Ki Jagabaya, aku telah meminjam pedati kuda itu. Pedati kuda yang beberapa hari yang lalu telah dibawa mengantarkan Mas Rara menghadap Raden Panji Prangpranata”

“Apakah pedati itu masih dapat dipinjam?“ bertanya Ki Wilamarta.

“Besok aku akan berbicara dengan Ki Jagabaya“ jawab Ki Partija Wirasentana.

Tetapi Ki Wilamarta itu pun kemudian telah bertanya kepada Raden Puspasari, “Apakah Mas Rara sudah siap berangkat besok?”

Raden Puspasari itu pun termangu-mangu sejenak. Sambil memandangi Ki Partija Wirasentana, Raden Puspasari itu berkata, “Aku belum mengatakan apa-apa kepada gadis itu”

Ki Wilamarta mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Kenapa Raden belum berbicara dengan gadis itu?“

“Gadis itu baru datang. Ketika aku datang ke rumah ini, Mas Rara telah berada di tempat Raden Panji Prangpranata. Namun kemudian telah melarikan diri, “jawab Raden Puspasari.

Ki Wilamarta pun mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Ya. Aku dapat mengerti dan membayangkan peristiwanya. Tetapi bukankah sebaiknya Raden berbicara sekarang dengan Mas Rara jika ia belum tidur?“

“Belum Ki Wilamarta“ jawab Ki Partija Wirasentana, “gadis itu masih ketakutan di dalam, ditunggui kakaknya, maksudku anakku, Wirantana”

Raden Puspasari mengangguk-angguk. Katanya kepada Ki Partija, “Aku dan Ki Tumenggung Purbarana akan berbicara dengan gadis itu”

“Tetapi Wiranti tentu tidak akan berani keluar, “desis Ki Partija Wirasentana.

“Jadi?“ desis Raden Puspasari.

“Biarlah Raden dan Ki Tumenggung masuk ke pringgitan” berkata Ki Partija Wirasentana.

Demikianlah. Diantar oleh Ki Partija, kedua utusan dari Pajang itu telah memasuki pringgitan. Ketika pintu terbuka, Mas Rara telah memeluk ibunya erat-erat.

“Jangan takut” berkata ayahnya, “keduanya adalah utusan dari Pajang yang justru telah menolongmu”

Namun bagaimanapun juga, bayangan ketakutan itu masih nampak di wajah Mas Rara.

Raden Puspasari dan Ki Tumenggung Purbarana itupun kemudian telah duduk di ruang dalam. Dengan sangat berhati-hati Raden Puspasari mulai berbicara dengan Wiranti yang kemudian disebut Mas Rara.

Mas Rara sendiri menjadi sangat terkejut mendengar keterangan itu. Bahkan ketika ia menyadari, bahwa para utusan dari Pajang itu berniat menjemputnya dan membawanya ke Pajang. Mas Rara telah memeluk ibunya erat-erat. Hampir berteriak Mas Rara menangis, “Aku tidak mau. Aku tidak mau”

Bagi Mas Rara memang tidak ada orang lain yang dianggapnya sebagai ayah dan ibunya kecuali Ki Partija Wirasentana suami isteri. Meskipun keduanya tidak lebih dari orang-orang padesan, tetapi Mas Rara merasakan kesejukan kasih sayangnya sejak ia masih belum menyadari kehadiran dirinya.

Namun Raden Puspasari, Ki Tumenggung Purbarana dan bahkan Ki Partija Wirasentana suami isteri, dengan sabar berusaha, meyakinkan bahwa Mas Rara sudah sepantasnya berada di Pajang.

Sampai dini hari mereka membujuk Mas Rara untuk bersedia pergi ke Pajang. Namun mereka masih saja mengalami kesulitan. Apalagi di Pajang, sebenarnya Mas Rara sudah tidak lagi mempunyai ayah dan ibu kandung lagi.

Meskipun demikian, dengan segala macam kesediaan dan janji, maka Mas Rara akan pergi ke Pajang namun bersama dengan orang yang dianggap orang tuanya itu. Ki Partija Wirasentana suami isteri, dan kakaknya Wirantana.

Raden Puspasari dan Ki Tumenggung Purbarana memang tidak berkeberatan. Mereka pun membayangkan bahwa akhirnya Wiranti itu tentu akan kembali lagi kepada Ki Partija Wirasentana suami isteri, karena selain kedua orang tuanya sendiri sudah tidak ada, hubungan antara Wiranti dengan kedua orang tua angkatnya itu sudah terlanjur demikian eratnya.

Ketika fajar mulai membayang di langit, maka di pendapa rumah Ki Partija Wirasentana itu Ki Wiratama telah mendapat laporan tentang kesediaan Mas Rara pergi ke Pajang, namun bersama dengan seluruh keluarganya.

“Tentu tidak berkeberatan” berkata Ki Wilamarta, “bagaimanapun juga, nama Pangeran Kuda Kertanata masih juga dihormati. Demikian pula dengan Raden Kuda Respada, ayah Wiranti itu”

Ketika kemudian matahari terbit, maka para perwira prajurit Pajang itu justru baru mulai beristirahat. Namun demikian, Raden Panji Prangpranata merasa bahwa dirinya selalu berada di dalam pengawasan.

Menjelang siang, mereka akan meninggalkan tempat itu ke arah yang berbeda, meskipun perjalanan mereka akan mereka lakukan sampai jauh malam. Ki Wilamarta akan membawa Raden Panji Prangpranata ke Pajang, bersama-sama dengan Raden Puspasari dan Ki Tumenggung Purbarana yang akan membawa Mas Rara dengan seluruh keluarganya ke Pajang. Sedangkan Ki Panji Wiratama bersama para prajurit yang datang bersama Raden Panji serta para pembantunya, akan kembali ke padukuhan induk pengendalian pasukan Pajang yang semula dipimpin oleh Raden Panji Prangpranata.

Namun dalam pada itu, sebelum semuanya berangkat meninggalkan rumah Ki Partija Wirasentana, setelah Ki Jagabaya meminjamkan pedati kudanya. maka dua orang anak muda telah menemui Ki Partija Wirasentana untuk minta diri.

“Tidak“ jawab Ki Partija Wirasentana, “kalian berdua akan pergi bersama kami ke Pajang”

“Terima kasih Ki Partija“ jawab Manggada, “kami sudah terlalu lama tersangkut di padukuhan Nguter ini. Karena itu, maka kami mohon diri untuk menentukan perjalanan kami. Sebenarnyalah kami sedang menempuh perjalanan pulang untuk menjumpai orang tua kami setelah beberapa lama mengembara”

“Siapakah mereka Ki Partija?“ bertanya Ki Wiratama. Dengan singkat Ki Partija telah menceriterakan tentang kedua orang anak muda itu, yang bersama-sama dengan anaknya telah membebaskan Wiranti dari tangan Raden Panji. Namun Wirantana sempat menceriterakan apa yang pernah dilakukan oleh keduanya. Manggada dan Laksana adalah orang yang telah menyelamatkan Mas Rara dari kuku-kuku dan taring harimau lapar. Namun keduanya pula yang telah melepaskan Mas Rara dari nafsu hitam Ki Resa, pamannya.”

“Tanpa kedua orang anak muda itu, maka para prajurit yang dikirim oleh Raden Panji untuk menjemput Mas Rara tentu akan dihancurkan di perjalanan“ berkata Wirantana kemudian.

Ki Wilamarta mengangguk-angguk. Sebagai seorang yang berilmu tinggi, maka ia pun dapat melihat kemampuan yang terpancar pada kedua orang anak muda itu.

Maka katanya kemudian, “Anak-anak muda. Jika berkenan di hati kalian, aku ingin menawarkan, agar kalian bersedia menjadi prajurit di Pajang”

Namun Manggada menjawab, “Kami mengucapkan terima kasih. Memang sangat menarik bagi kami untuk menjadi seorang prajurit. Tetapi kami mohon untuk minta ijin dahulu kepada orang tua kami”

Ki Wilamarta tersenyum. Katanya, “Baiklah. Sebenarnya kalian memang minta ijin lebih dahulu”

Dengan demikian maka Ki Partija Wirasentana suami isteri, Wirantana dan bahkan Mas Rara sendiri tidak dapat lagi mencegahnya. Manggada dan Laksana benar-benar meninggalkan padukuhan Nguter dengan seribu macam kesan dan kenangan.

Kedua anak muda itu sempat melihat sepasang mata Raden Panji Prangpranata yang menyala. Namun ia pun melihat senyum ramah Raden Puspasari dan pandangan lembut Ki Tumenggung Purbarana. Kepada Ki Panji Wiratama, Manggada dan Laksana mengingatkan akan kuda-kuda yang disediakan bagi mereka.

“Kuda itu masih ada di sini“ desis Manggada.

Ketika mereka berdua meninggalkan halaman rumah itu, Mas Rara dan keluarganya telah melepaskan mereka sampai ke regol. Dengan nada yang lemah Mas Rara berbisik, “Terima kasih. Aku tidak akan pernah melupakan kalian berdua”

Manggada dan Laksana hanya dapat menarik nafas. Namun mereka pun kemudian telah melangkah meninggalkan regol halaman semakin lama semakin jauh.

 

T A M A T

Episode berikutnya adalah “SANG PENERUS”

ikuti kisah selanjutnya.

 

kembali | lanjut

Satu Tanggapan

  1. maturnuwun, ki sanak…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s