AM_MR-02


Serial ARYA MANGGADA

Episode II: MAS RARA

JILID 2

kembali | lanjut

AMMR-02PARA peronda itu kemudian mengikuti anak-anak muda itu ke regol. Namun regol itu masih diselarak dari dalam, sehingga Manggada berkata, “Kita lewat regol butulan saja. Atau aku harus meloncat masuk dan membuka regol ini?“

“Buka saja regol ini“ berkata salah seorang diantara mereka.

Manggada kemudian meloncat dinding dan masuk ke halaman. Kemudian membuka selarak pintu dari dalam.

Bersama-sama dengan peronda itu, mereka naik ke pendapa rumah Ki Partija Wirasentana, yang telah menjadi sepi.

Wirantana ternyata masih berada di dalam. Ketika kedua orang lawannya melarikan diri, setelah mendengar isyarat kawannya yang berada di luar, Wirantana tidak mengejar mereka, karena ia merasa bertanggung jawab atas keselamatan orangtua dan adiknya.

Demikian kedua orang lawannya melarikan diri, Wirantana cepat-cepat mengetuk pintu bilik adiknya.

“Mas Rara, Mas Rara. Buka pintu, mumpung orang-orang itu sudah melarikan diri“ berkata Wirantana.

Mas Rara ragu-ragu. Tetapi ketika sekali lagi Wirantana memanggilnya, maka ia pun segera membuka pintu.

Demikian ia melihat kakaknya berdiri tegak, ia segera memeluknya sambil menangis.

“Jangan menangis. Marilah, masuk kebilik ayah dan ibu“ berkata Wirantana.

Mas Rara kemudian dibimbing mendekati pintu bilik ayah dan ibunya

“Ayah, buka pintu Mas Rara akan masuk“ berkata Wirantana.

Pintu itu tidak segera dibuka. Namun ketika Wirantana mengetuk sekai lagi, burulah pintu itu dibuka sedikit. Karena Winintana tidak sabar lagi, ia segera mendorong adiknya masuk ke dalam bilik itu.

Wirantana mendengar pintu diselarak. Namun tiba-tiba saja Wirantana mendengar Mas Rara menjerit.

“Mas Rara, ayah, ibu“ teriak Wirantana dengan cemas.

Tanpa menghiraukan apapun lagi. Wirantana mengetuk pintu bilik itu keras-keras.

Pada saat itu, Manggada dan Laksana telah naik ke pendapa. Teriakan dan jerit dari dalam itu mengejutkan mereka. Karena itu, mereka pun meloncat lewat seketheng, masuk ke longkangan dan langsung masuk lewat pintu butulan yang masih terbuka.

Manggada dan Laksana melihat Wirantana sedang mengetuk-ngetuk pintu bilik ayahnya.

“Ada apa” bertanya Laksana.

“Aku tidak tahu. Mas Rara menjerit di dalam“ jawab Wirantana.

Namun sebentar kemudian, pintu bilik terbuka. Mereka melihat ayah Mas Rara membimbing gadis yang hampir menjadi pingsan itu. Di belakangnya, ibunya berjalan menunduk sambil menekan dadanya dengan kedua telapak tangannya.

“Apa yang telah terjadi?“ bertanya Wirantana.

“Lihatlah“ berkata ayahnya dengan suara serak.

Wirantana melangkah memasuki bilik itu diikuti oleh Manggada dan Laksana. Namun mereka terkejut ketika melihat seseorang yang tubuhnya baru separo berada di dalam bilik itu, namun sudah tidak bernyawa lagi.

“Ayah agaknya telah membunuh orang ini“ berkata Wirantana termangu-mangu sambil mengamati luwuk ayahnya yang terletak di atas lincak bambu, dan masih berlumuran darah yang mulai mengering.

Manggada dan Laksana termangu-mangu. Mas Rara tentu menjerit karena terkejut.

“Paman masih pingsan“ tiba-tiba saja Wirantana berdesis.

Ketiga anak muda itu ternyata tidak tergesa-gesa mengambil orang itu. Tetapi perhatian mereka lebih dahulu tertuju kepada Ki Resa yang pingsan.

Ketika ketiga anak muda itu mendekatinya, mereka melihat Ki Resa mulai bergerak.

“Paman sudah mulai sadar“ berkata Wirantana. Ketiga orang itu kemudian mengangkat tubuh Ki Resa dan dibaringkannya di atas sebuah amben di ruang tengah itu.

Namun dalam pada itu, beberapa orang peronda yang semula telah naik kependapa menyusul pula lewat pintu butulan itu. Dengan jantung yang berdebaran, mereka melihat apa yang telah terjadi di ruangan itu.

“Aku akan memukul kentongan“ desis seorang diantara mereka, “bukan kentongan kecil ini, tetapi kentongan di gardu”

“Tidak perlu“ berkata Ki Partija Wirasentana, “tolong Ki Sanak, sampaikan saja kepada Ki Bekel, bahwa beberapa orang perampok telah memasuki rumah ini. Seorang diantara mereka dengan terpaksa telah kubunuh. Aku merasa begitu ketakutan, sehingga aku tidak dapat berbuat lain, kecuali membunuhnya”

Para peronda itu termangu-mangu sejenak. Kemudian seorang diantara mereka mendorong kawannya sambil berkata, “Pergilah kerumah Ki Bekel”

Tetapi orang yang didorong itu memanggil kawannya yang lain, “Kau sajalah pergi ke rumuh Ki Bekel. Aku berjaga-jaga di sini, jika perampok itu kembali”

Yang digamit termangu-mangu sejenak. Tetapi ternyata ia telah berterus-terang, “Aku tidak berani seorang diri”

“Pergilah bersama-sama“ berkata Ki Partija Wirasentana aku sudah mempunyai beberapa kawan di sini”

Para peronda itu termangu-mangu. Namun seorang diantara mereka bartanya, “Apa salahnya jika aku memukul kentongan saja? Yang datang tentu bukan hanya Ki Bekel, tapi para bebahu dan anak-anak sepadukuhan”

“Jangan“ jawab Ki Partija, “nanti seisi padukuhan menjadi gelisah. Semua orang menjadi ketakutan”

Orang-orang yang sedang meronda itu termangu-mangu. Manggada kemudian berkata, “Apakah aku harus mengantar-kan kalian?”

“Tidak. Tidak“ jawab salah seorang dari mereka. Lain katanya kepada kawan- kawannya, “Marilah kita menemiu Ki Bekel”

Demikianlah, orang-orang itu kemudian pergi ke remah Ki Bekel. Tetapi merek singgah di gardu dan mengajak semua orang yang ada di gardu karena sebenarnyalah mereka ngeri jika bertemu dengan perampok yang datang ke rumah Ki Partija, yang baru saja menerima mas kawin dari Raden Panji Prangpranata.

Sementara itu, Ki Partija menjadi sibuk dengan adiknya. Sementara Mas Rara duduk ditunggui ibunya, dan kakaknya Wirantana, yang juga menjadi cemas. Namun Mas Rara telah sedikit menjadi tenang.

Sedangkan di dalam bilik Ki Partija, sesosok tubuh yang mulai membeku masih saja berada ditempatnya. Ki Partija memang menunggu Ki Bekel untuk menyaksikan kaadaan itu.

Perlahan-lahan Ki Resa mulai bergerak-gerak. Kemudian tangannya mulai meraba-raba tengkuknya. Dengan nada rendah, ia mulai bertanya, “Apa yang telah terjadi”

“Perampokan, Resa” jawab Ki Partija

”Perampokan” wajah Ki Resa menjadi tegang, “apa yang telah dibawanya?”

“Tidak ada yang dapat dibawa“ jawab Ki Partija.

“O. Mana Mas Rara” bertanya Ki Resa.

Ki Partija Wirasentana menarik nafas dalam-dalam. Sambil menunjuk anak gadisnya, ia menjawab, “Itu, bersama ibu dan kakanya”

Ki Resa kemudian berusaha untuk bangkit dan duduk, dibantu oleh kakaknya. Kemudian memandang berkeliling sambil bertanya, “Bagaimana dengan mas kawin itu”

“Untunglah, masih dapat kita selamatkan“ jawab Ki Partija.

Ki Resa menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku semula tidak mengira bahwa hal seperti itu akan terjadi. Aku mendengar Wirantana memanggil. Tetapi aku terlambat menyadarinya.

”Semuanya sudah teratasi“ berkata Ki Partija, “kita sudah berhasil mengusir para perampok itu”

“Tidak seorangpun yang tertangkap?” bertanya Ki Resa.

“Sayang sekali“ jawab Ki Partija, “tidak seorang pun yang tertangkap. Tetapi ada seorang diantara mereka yang terbunuh”

“Terbunuh” wajah Ki Resa menjadi tegang.

“Ya. Yang terbunuh ada didalam bilik itu, pada saat-saat gawat, orang itu berusaha masuk kedalam bilikku lewat dinding luar. Dengan kapak, orang itu memecah dinding. Namun aku berhasil mengatasi perasaan takutku, atau justru sebaliknya, karena aku menjadi sangat ketakutan, aku telah membunuhnya selagi ia berusaha masuk kedalam lewat dinding yang telah dipecahkannya” berkata Ki Partija Wirasentana.

Ki Resa perlahan-lahan bergeser menepi, dan berusaha untuk bangkit berdiri. Tertatih-tatih, Ki Resa masuk kedalam bilik Ki Partija untuk melihat orang yang terbunuh, sebagaimana dikatakan oleh kakaknya itu.

Ki Resa tertegun sejenak. Wajahnya menjadi merah. Namun ia kemudian menarik nafas dalam-dalam, ia berdiri tegak sambil memandang tubuh yang telah membeku itu.

Ketika ia kemudian keluar dari bilik itu, ia berkata, “Syukurlah, bahwa kakang berdua tidak mengalami sesuatu. Juga Mas Rara dam Wirasentana, Nampaknya para perampok itu orang-orang buas dan liar. Mereka telah menempuh cara yang paling kasar. Untunglah kakang sempat membunuhnya, jika tidak, kakang akan dapat dibunuhnya”

“Yang Maha Agung masih melindungi kita semuanya“ desis Ki Partija Wirasentana, “namun aku sama sekali tidak pernah bermimpi untuk melakukan pembunuhan. Kali ini aku benar-benar tidak tahu cara untuk menghindarinya. Di dalam bilik itu, aku simpan mas kawin yang baru saja kita terima dari Raden Panji. Didalam bilik itu pula aku simpan nyawaku dan nyawa Nyi Partija”

Ki Resa mengangguk-angguk. Katanya, “Tidak seorang pun dapat menyalahkan kakang. Kakang benar-benar sakedar membela diri, jika kakang tidak membunuhnya, kakang yang akan dibunuh, bahkan berdua. Selanjutnya, harta benda kakang akan dirampas dan dibawa padahal benda-benda berharga itu pemberian Raden Panji untuk Mas Rara”

Ki Parti|a mengangguk-angguk. Katanya, “Kita menunggu Ki Bekel”

Ki Resa kemudian duduk diamben yang panjang, di ruang tengah, yang masih belum dibenahi. Beberapa macam alat-alat rumah tangga masih terserak.

Tak lama kemudian, Ki Bekel datang bersama beberapa bebahu dan beberapa orang peronda yang telah memberi-tahukan kepadanya. Bersama mereka, Ki Bekel menyaksikan isi rumah Ki Partija yang berserakan, serta melihat keadaan salah seorang perampok yang terbunuh.

“Tentu ada hubungannya dengan kedatangan utusan Raden Panji” berkata Ki Bekel.

“Nampaknya begitu jawab Ki Partija. Untunglah seisi rumah ini dapat mengatasi para perampok itu, jika tidak, kita semuanya akan menjadi kalut. Raden Panji akan marah pada kita semuanya” Ki Bekel berhenti sejenak, lalu katanya, “Tetapi kenapa Ki Partija tidak memberikan isyarat, misalnya dengan memukul kentongan. Dengan demikian, kami dapat memberikan bantuan sejauh dapat kami lakukan”

“Kami tidak sempat melakukannya Ki Bekel. Semuanya terjadi begitu tiba-tiba. Adikku tidak sempat berbuat sesuatu, karena demikian ia membuka pintu, ia langsung mendapat satu pukulan telak, yang membuatnya pingsan” berkata Ki Partija.

“Ki Resa agaknya terlalu tergesa-gesa membuka pintu“ berkata Ki Bekel.

“Aku sama sekali tidak berpikir tentang perampok“ desis Ki Resa.

“Tetapi syukurlah semuanya dapat diatasi“ berkata Ki Bekel.

“Bagaimana dengan perampok yang terbunuh itu” bertanya Ki Partija.

“Besok, biarlah orang-orang padukuhan ini membantu kalian menguburkan orang itu. Malam ini, biarlah tubuh itu dibawa saja ke banjar padukuhan“ berkata Ki Bekel.

“Terima kasih Ki Bekel“ jawab Ki Partija.

“Sementara itu, aku akan menempatkan sebagian peronda di pendapa rumah ini. Biarlah orang-orang khusus berada digardu untuk mengatasi keadaan jika diperlukan“ berkata Ki Bekel, “rasa-rasanya kita semua ikut bertanggung jawab atas keselamatan Mas Rara, yang kebetulan tinggal di padukuhan ini”

“Ternyata, kedua anak muda yang telah menolong Mas Rara dari terkaman harimau itu, telah menyelamatkan kami“ tiba-tiba Wirantana memotong.

Ki Bekel berpaling kepadanya. Kemudian dipandanginya Ki Partija Wirasentana, seakan-akan minta pertimbangan apakah yang dikatakan Wirantana itu benar.

Ki Partija yang termangu-mangu itu kemudian berkata, “Ya, ya Ki Bekel. Aku belum mengatakannya. Bersama anakku, mereka bertempur melawan para perampok yang terdiri dari enam atau tujuh orang”

Ki Bekel mengangguk-angguk. sambil berpaling kepada Manggada dan Laksana, Ki Bekel berkata, “mendahului Raden Panji Prangpranata. Aku mengucapkan terima kasih atas bantuan kalian, Untunglah kalian masih tetap berada disini, sehingga dapat membantu Ki Partija melindungi mas kawin yang baru saja diterima dari Raden Panji, sekaligus melindungi Mas Rara”

“Kami hanya sekadar membantu Ki Bekel“ jawab Manggada, “Wirantana lah yang lebih banyak terlibat dalam perlawanan, dan kemudian berhasil mengusir para perampok itu. Sayang kami tidak dapat menangkap seorang pun diantara mereka”

Ki Resa dengan nada rendah kemudian berkata, “Ternyata penyerahan mas kawin itu sudah didengar oleh orang-orang yang berniat buruk, dan segerombolan diantara mereka telah datang”

“Tetapi untuk selanjutnya, tidak akan terjadi sesuatu” berkata Ki Bekel. Lalu katanya pula, “Seisi padukuhan ini akan ikut membanlu kalian”

Ki Resa mengangguk kecil. Katanya, “Terima kasih Ki Bekel. Mudah-mudahan niat buruk itu tidak menjalar pada gerombolan-gerombolan yang lain”

“Ya, Ki Bekel” desis Ki Partija Wirasentana. Apakah Ki Partija mempertimbangkan untuk memberitahukan kepada Raden Panji?” bertanya Ki Bekel.

Sebelum Ki Partija menjawab, Ki Resa telah mendahuluinya, “Tidak perlu Ki Bekel. Jika hal itu dilakukan, Raden Panji akan menjadi gelisah, sehingga mungkin akan mengambil keputusan yang tidak menguntungkan. Karena itu, biarlah kita berusaha menjaga benda-benda berharga itu dengan sebaik-baiknya. Gerombolan-gerombolan itu pun tentu akan membuat perhitungan, apakah korban yang akan mereka berikan sesuai dengan nilai dari benda-benda berharga itu. Berapa pun besarnya mas kawin dari Raden Panji, nilainya tentu tetap terbatas”

Ki Bekel mengangguk-angguk. Ketika ia berpaling, Ki Partija Wirasentana pun mengangguk-angguk Katanya, “Aku sependapat dengan Resa, Ki Bekel. Aku tidak merasa perlu untuk melaporkannya kepada Raden Panji. Dengan demikian, Raden Panji akan menganggap kami terlalu manja. Segala sesuatunya disandarkan kepada Raden Panji”

“Baiklah“ berkata Ki Bekel, “ jika Ki Partija berniat untuk tidak menyampaikannya kepada Raden Panji, biarlah kau mengatur kesiagaan anak-anak muda untuk membantu kalian. Sudah beberapa kali aku katakan, kami ikut bertanggung jawab atas keselamatan Mas Rara. Mungkin kali ini para perampok itu sekadar berusaha mengambil benda-benda berharga yang dibawa oleh utusan Raden Panji itu sebagai mas kawin. Namun tidak mustahil orang berniat lebih dari itu”

“Apa maksud Ki Bekel” bertanya Ki Partija Wirasentana dengan wajah cemas.

Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Bukan maksudku menakut-nakuti Ki Partija, tetapi hendaknya Ki Partija dan Ki Resa menjadi lebih berhati-hati.

“Aku tidak mengerti Ki Bekel“ desis Ki Partija.

“Orang yang berniat jahat itu dapat saja pada kesempatan lain justru mengambil Mas Rara” berkata Ki Bekel.

“Apakah itu satu tantangan kepada Raden Panji Prang-pranata yang mempunyai kekuasaan luas itu” bertanya Ki Partija Wirasentana.

“Bukan. Bukan satu tantangan“ jawab Ki Bekel, “tetapi dengan demikian, orang yang mengambil Mas Rara itu menuntut tebusan uang. Atau barangkali benda-benda berharga dan bernilai tinggi”

Ki Partija menarik nafas dalam-dalam. Sambil memandang adiknya ia berkata, “Satu kemungkinan buruk, Resa. Tetapi kita memang harus berhati-hati. Kemungkinan seperti itu akan dapat terjadi”

Resa menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya kemudian, “Tetapi apakah ada orang yang berani menentang atau bahkan dengan cara itu, menantang Raden Panji”

“Bukan berhadapan langsung“ jawab Ki Bekel, “Mas Rara akan menjadi taruhan. Jika Raden Panji tidak mau memenuhi tuntutan orang itu, Mas Rara akan mengalami nasib sangat buruk bahkan mungkin sekali Mas Rara dibunuh”

“Ah“ desah Ki Resa, “mengerikan sekali. Tetapi orang itu akan tahu akibatnya jika Raden Panji marah”

“Tidak ada yang tahu siapa yang mengambil Mas Rara” jawab Ki Bekel, “sudah tentu Raden Panji tidak akan dapat menghukum semua orang, karena sebagian besar dari mereka mungkin tidak bersalah. Yang bersalah mungkin hanya dua atau tiga orang dari seluruh Kademangan ini, atau bahkan mungkin orang dari Kademangan lain atau dari tempat yang jauh”

Ki Partija mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud Ki Bekel. Karena itu katanya, “Peringatan Ki Bekel sangat berharga bagi kami. Kami akan lebih berhati-hati. Namun kami benar-benar mohon Ki Bekel melindungi anakku”

“Aku dan Ki Jagabaya akan mengaturnya. Namun Ki Partija harus menyiapkan kentongan. Jangan hanya sebuah di serambi gandok, tapi di longkangan-longkangan pun sebaiknya disediakan kentongan, meski kentongan yang lebih kecil. Sementara itu, digardu akan ditambah dengan beberapa orang anak muda setiap malam“ jawab Ki Bekel. Namun kemudian katanya, “Tetapi di siang hari, kami berharap keluarga ini dapat melindungi Mas Rara dengan baik. Di sini ada Ki Partija Wirasentana sendiri. Wirantana yang serba sedikit sudah mempelajari ilmu olah kunuragan. Ki Resa yang sudah yang sudah sama-sama kita ketahui tingkat kemampuannya dan beberapa orang laki-laki pembantu di rumah Ki Partija juga dapal diikut sertakan dalam kesiagaan itu. Gamel, dan barangkali pembantu-pembantu yang lain, yang sering menjemur padi dan gabah serta memandikan lembu, atau orang-orang lain lagi yang ada di rumah ini. Sementara itu, di siang hari atau di malam hari, jika kami mendengar isyarat suara kentongan, kami akan selalu siap datang membantu. Tetapi kami mohon Mas Rara tidak pergi kemana pun, untuk keperluan apapun. Tidak usah pergi berbelanja ke pasar. Tidak usah ikut mencuci ke sungai bersama gadis-gadis sebayanya. Tidak usah ikut ibunya ke peralatan, meskipun hanya di rumah sebelah menyebelah”

Ki Partija Wirasentana mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata, “Baik Ki Bekel. Aku akan menjaga Mas Rara sebaik-baiknya. Jika terjadi sesuatu dengan anak itu, akibatnya akan dapat terpercik kepada orang lain”

“Sudahlah“ berkata Ki Bekel, “bagaimana pun juga, kau jangan terlalu terbenam dalam kecemasan. Peristiwa malam ini dapat kita jadikan semacam peringatan. Kita masih dapat mengucap sukur bahwa dalam peringatan ini tidak jatuh korban, meskipun Ki Patrija tidak dapat mengelakkan diri untuk membunuh. Tetapi yang dilakukan oleh Ki Partija adalah semata-mata membela diri”

Ki Partija mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih Ki Bekel. Namun bagaimanapun juga kita harus menahan agar Mas Rara tidak keluar dari halaman rumah ini”

Demikianlah. Sejenak kemudian, Ki Bekel minta diri. Demikian pula orang-orang lain yang ada di rumah Ki Partija Wirasentana.

Seperti yang dikatakan Ki Bekel, tubuh yang terbunuh di dalam bilik Ki Partija telah dibawa ke banjar. Namun Ki Partija tidak sampai hati membebankan semua penyelenggaranya kepada padukuhan. Karena itu, semua beaya penguburan di tanggung Ki Partija Wirasentana.

Sementara itu, di rumah Ki Partija Wirasentana beberapa orang tengah sibuk membenahi rumahnya yang rusak, karena seseorang telah memecahkan dinding, juga isi rumah yang tercerai berai. Bahkan halaman yang terinjak-injak kaki, selagi beberapa orang bertempur.

Namun dalam pada itu, Wirantana telah berbicara sungguh-sungguh dengan Manggada dan Laksana. Ia berbicara tentang kemungkinan sebagaimana dikatakan oleh Ki Bekel.

“Aku mohon“ berkata Wirasentana, “kita bersama-sama menjaga Mas Rara. Ia memang adikku, tapi aku yakin bahwa kalian tidak berkeberatan. Bukankah kalian telah menyelamat-kannya dari terkaman harimau yang garang itu? Tentu kalian juga tidak akan membiarkannya jatuh ke tangan orang-orang yang hanya akan mengambil keuntungan daripadanya, namun yang akan benar-benar dapat mencelakainya. Bahkan membunuhnya. Jika hal itu terjadi, bencana itu akan berlanjut dengan kemarahan Raden Panji. Ayah dan ibu dapat dituduh menyia-nyiakan anak itu, sementara anak itu jiwanya benar-benar terancam”

Kedua anak muda itu saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Manggada menjawab, “Kami sudah berada di rumah ini Wirantana. Bagaimanapun juga kami sudah berjanji untuk tidak melanggar pesan Raden Panji. Kami akan berada disini sampai saatnya kami ikut dibawa kerumah Raden Panji bersama Mas Rara, sekitar setengah bulan lagi. Selama ini, tentu saja kami akan ikut bertanggung jawab, apapun yang akan terjadi atas Mas Rara”

“Terima kasih. Peringatan Ki Bekel nampaknya sangat menggelisahkan ayah dan ibu” berkata Wirantana.

“Tetapi Ki Partija tidak sendiri“ jawab Laksana, “Ki Bekel dan seluruh padukuhan ini akan berpihak kepadanya jika terjadi sesuatu. Dalam keadaan yang tiba-tiba, pamanmu dan kau sendiri merupakan perisai yang dapat melindungi adikmu sebaik-baiknya”

Wirantana mengangguk-angguk. Katanya, “Nampaknya kita memang harus berhati-hati. Persoalannya saling berkaitan. Usaha untuk merampok yang gagal itu, bagi para perampok, dapat dipergunakan semacam usaha penjajagan atas kekuatan yang ada di rumah ini. Jika mereka datang lagi, mereka akan membawa kekuatan yang lebih besar. Atau mereka akan mencuri kesempatan untuk mengambil Mas Rara”

Namun Manggada dan Laksana menyadari, betapa Wirantana menjadi gelisah sebagaimana ayah dan ibunya. Karena itu, Manggada kemudian berkata, “Yakinkan dirimu. Bahwa selama aku ada disini, dalam perjalanan menuju ke rumah Raden Panji, serta selama aku mendapat kesempatan berada di rumah Raden Panji, aku akan ikut bertangguug |awab, demikian pula Laksana. Kami akan berada diantara seluruh penghuni padukuhan ini, untuk melindungi Mas Rara, kemudian sudah barang tentu bersama-sama para pengawal yang akan dikirim Raden Panji saat penjemputan Mas Rara”

Wirantana menganguk angguk. Katanya, “Terima kasih. Setidak-tidaknya kesediaan kalian telah membuat hatiku menjadi tenang. Agaknya ayah dan ibu akan menjadi tenang pula mendengar kesediaan kalian, di samping kesediaan paman”

“Jangan cemas. Sejauh dapat kami lakukan“ jawab Manggada.

Wirantana mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Mas Rara untuk selanjutnya akan selalu berada di ruang dalam. Memang menjemukan. Selama setengah bulan, di saat mandi dan mencuci. Di pakiwan, seluruh isi halaman ini harus bersiap-siap. Dan itu akan dilakukan pagi dan sore”

“Apaboleh buat“ berkata Manggada. Kami akan mangawasi bagian depan rumah itu. Kau dan Ki Partija mengawasi bagian dalam. Selanjutnya, Ki Partija, Wirantana akan dapat menunjuk satu dua orang untuk mengawasi bagian belakang. barangkali pamanmu atau orang lain.

Wirantana menganngguk-angguk. la sadar bahwa pekerjaan ini sangat menjemukan. la dan ayahnya akan bergantian menemani Mas Rara.

Tetapi tidak dapat diambil jalan lain. Peringatan Ki Bekel memang masuk akal. Sementara di malam hari, para peronda pun mendapat pesan khusus dari Ki Bekel untuk ikut mengawasi rumah itu.

Namun seperti pendapat Ki Resa, Ki Partija Wirasentana tidak berniat memberikan laporan kepada Raden Panji Prangpranata.

Demikianlah, hari demi hari melangkah dengan ketegangan yang mencengkam seisi rumah itu. Para pekerja telah melengkapi diri mereka dengan senjata di lambung. Parang tidak pernah terlepas dari setiap pekerja di rumah itu.

Ki Partija yang merasa sangat beruntung, bahwa dua anak muda yang telah menyelamatkan Mas Rara dari terkaman harimau itu masih berada di rumahnya. Dengan demikian, kedua anak muda itu, bersama anaknya, merupakan pelindung terbaik bagi Mas Rara, di samping pamannya. Namun karena Ki Resa kadang-kadang mempunyai kepentingan sendiri, maka jarang berada di rumah Ki Partija Wirasentana.

Yang sering nampak di halaman, di kebun dan bahkan di sebelah kandang, adalah ketiga anak muda itu. Manggada, Laksana dan Wirantana. Namun jika di rumah itu sedang ada beberapa orang pekerja menjemur padi di halaman, atau sedang mengerjakan pekerjaan lain, ketiga anak muda itu menyempatkan diri ke sanggar.

Dalam pada itu, Manggada dan Laksana berlandaskan pada ilmu serta pengalamannya, berusaha mengembangkan ilmunya. Bahkan ia sempat memungut beberapa unsur gerak yang bermanfaat untuk melengkapi ilmunya dari Wirantana. Demikian pula sebaliknya. Mereka yakin, guru-guru mereka tidak akan keberatan melihat kejadian itu.

Dengan demikian, betapapun lambatnya, ilmu mereka telah meningkat. Apalagi pada Manggada dan Laksana yang telah mendapat alas kokoh, yang diberikan seorang Ajar yang tinggal di pondok terpencil bersama seorang bertubuh bongkok dan sepasang harimau yang dapat dikendalikannya dengan baik.

Namun sampai hari yang dijanjikan Raden Panji untuk menjemput Mas Rara tiba, tidak pernah lagi terjadi gangguan berarti atas Mas Rara. Tidak ada perampok yang akan mengambil benda-benda berharga di rumah Ki Partija. Tidak ada pula orang yang berusaha mengambil Mas Rara untuk kepentingan apapun.

Namun Ki Bekel tetap membantu sebaik-baiknya. Di malam hari, pura peronda tetap mendapat perintah untuk lebih sering melihat-lihat keadaan rumah itu.

“Jangan hanya lewat sambil memukul kentongan“ berkata Ki Bekel, “kalian harus melihat dan meyakinkan, bahwa tidak terjadi sesuatu di rumah itu. Sebagaimana kalian ketahui, jika Raden Panji Prangpranata marah, kita semua dapat mengalami perlakuan buruk, karena ia memegang kekuasaan pemerintahan di daerah ini. Bahkan mempunyai wewenang atas sekumlah prajurit”

Sebenarnyalah, menjelang hari yang ditentukan itu, para peronda melakukan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Tetapi untuk menenteramkan hati para peronda, jumlah mereka berlipat dua. Bahkan sejak tiga hari sebelum hari yang ditentukan, sebagian dari para peronda itu berjaga-jaga di regol halaman rumah Ki Partija bergantian.

Namun Ki Partija Wirasentana yang merasa mendapat bantuan besar dari para peronda, setiap malam, menjelang hari-hari yang ditentukan itu, mengirimkan minuman dan makanan bagi para peronda.

Mendekati hari yang ditentukan, Ki Partija memang sudah bersiap-siap untuk menerima utusan Raden Panji yang akan menjemput Mas Rara. Tentu satu kelompok utusan yang lebih besar dari saat mereka datang untuk menyerahkan mas kawin.

Tetapi Wirantana yang kebetulan berada di regol halaman rumahnyai terkejut ketika melihat dua orang berkuda yang langsung menuju keregol itu. Bahkan keduanya telah berloncatan turun sambil mengangguk hormat.

Namun kemudian Wirantana menyadari, bahwa seorang diantara kedua orang itu adalah orang yang pernah datang sebagai utusan Raden Panji pada suat menyerahkan mas kawin. Karena itu, Wirantana dengan tergesa-gesa telah menyuruh mereka masuk.

Kepada seorang yang sedang sibuk membersihkan halaman, Wirantana berkata, “Katakan kepada ayah, ada utusan dari Raden Panji Prangpranata”

“Katakan, bahwa kami tidak membawa persoalan baru agar Ki Partija tidak menjadi gelisah“ berkata utusan yang pernah datang kerumah itu sebelumnya.

Demikianlah, Wirantana mempersilahkan kedua orang itu naik dan duduk di pendapa. Sementara itu, Ki Partija yang diberitahu dengan tergesa-gesa keluar dari pringgitan.

Dengan ramah Ki Partija Wirasentana menyapa tamu-tamunya, serta menayakan kabar keselamatan.

Namun dalam pada itu, baik Ki Partija Wirasentana maupun Wirantana, bertanya-tanya di dalam hati, kenapa hanya dua orang yang datang menjemput Mas Rara. Apakah selanjutnya Mas Rara harus pergi bersama mereka dengan berjalan kaki atau naik kuda atau bagaimana”

Tetapi Ki Partija Wirasentana dan Wjrantana sama sekali tidak berani menanyakannya. Jika terjadi salah paham, utusan itu akan menganggap bahwa Mas Rara telah menjadi terlalu manja dengan minta dijemput iring-iringan yang panjang dengan berbagai macam pertanda kebesaran.

Namun sebelum Ki Partija bertanya, utusan itu telah lebih dulu menyampaikan pesan Raden Panji. Seorang diantara mereka berkata, “Ki Partija Wirasentana. Kami, telah mendahului utusan Raden Panji yang sebenarnya untuk menjemput Mas Rara. Utusan itu baru akan datang besok pagi. Mereka akan bermalam di sini semalam. Hari berikutnya, mereka akan kembali sambil membawa Mas Rara. Iring-iringan yang membawa Mas Rara akan berangkat menjelang fajar dan akan sampai di rumah Raden Panji malam hari. Iring-iringan itu tidak akan berhenti di perjalanan. Jika harus berhenti, hanya sekadar beristirahat. Namun mereka akan meneruskan perjalanan meskipun menjelang tengah malam, bahkan dini hari berikutnya mereka baru sampai”

Ki Partija Wirasentana menarik nafas dalam-dalam. Namun ia mulai membayangkan bahwa perjalanan itu adalah perjalanan yang sangat berat. Apalagi jika Mas Rara harus berjalan kaki. Sementara itu, Mas Rara memang belum pernah belajar naik kuda. Mungkin ia akan dapat naik kuda tetapi kudanya harus dituntun oleh seseorang.

Dengan nada rendah, Ki Partija Wirasentana kemudian menjawab, “Segala sesuatunya aku serahkan kepada Raden Panji”

“Nah, dengan demikian, kami berdua akan bermalam di sini dua malam. Bukankah Ki Partija tidak berkeberatan”

“Tentu tidak Ki Sanak. Segala sesuatunya memang sudah dipersiapkan” jawab Ki Partija.

Dengan demikian, hari itu, Ki Partija Wirasentana dan keluarganya menjadi sibuk. Mereka bukan saja menyiapkan hidangan dan pelayanan terhadap kedua orang tamunya, tetapi juga bersiap-siap untuk menerima tamu lebih banyak lagi di hari berikutnya. Tetapi Ki Partija Wirasentana tidak berani bertanya jumlah tamunya yang bakal datang. la hanya menghubungi tetangga terdekat, jika diperlukan, Ki Partija akan meminjam beberapa ruangan bagi tamu-tamunya itu.

Tentu saja tetangga-tetangganya tidak berkeberatan sama sekali. Apalagi mereka tahu, tamu yang akan datang itu adalah utusan Raden Panji Prangpranata yang akan mengambil Mas Rara sebagai isteri.

Manggada dan Laksana yang telah diberitahu Wirantana, menjadi sedikit lega. Ia sudah terlalu lama terkungkung tanpa berbuat sesuatu yang berarti bagi banyak orang.

Jika Mas Rara kemudian dijemput, mereka tentu akan segera mendapatkan kebebasannya kembali. Mereka tidak memikirkan, apakah akan menerima hadiah dari Raden Panji atau tidak.

Malam pada itu, ketika Ki Resa datang, seperti ketika utusan yang terakhir datang, sikapnya sangat ramah. Banyak hal yang telah dibicarakan ususan itu dengan Ki Resa tentang kesalamatan Mas Rara.

Namun baik Ki Partija maupun Ki Resa, masih belum mengatakan perampokan yang telah terjadi di rumah itu. Ki Partija memang minta agar Ki Resa tidak tergesa-gesa menyampaikannya. Ki Partija Wirasentana sendirilah yang akan menyampaikannya jika semua utusan Raden Panji telah datang.

Namun menjelang senja, Ki Resa sudah tidak nampak di rumah itu. Ki Partija memang tidak menghiraukannya, karena adiknya itu sudah punya rumah sendiri.

Malam itu, Ki Partija Wirasentana masih saja diganggu oleh kegelisahan. Namun kehadiran kedua orang utusun Raden Panji itu membuatnya sedikit tenang. Keduanya tentu orang orang yang berilmu tinggi. Jika terjadi sesuatu, lawan yang bagaimanapun kuatnya akan teratasi.

Seperti malam sebelumnya, beberapa orang peronda berada di regol halaman rumah itu ketika malam turun. Kedua orang utusan yang masih duduk di pendapa, telah mendapat keterangan bahwa para peronda selalu memperhatikan keselamatan para penghuni padukuhan itu, sehingga mereka terbiasa berada di regol-regol halaman, selain mereka yang berada di gardu.

Namun agaknya kedua utusan itu dapat menangkap maksud Ki Partija Wirasentana bahwa para peronda yang ada di regol halaman itu ikut membantu berjaga-jaga di rumah yang akan mengadakan upacara pelepasan anak gadisnya. Tetapi mereka sama sekali belum mendapat keterangan tentang perampokan yang telah terjadi.

Ketika malam menjadi semakin dalam, kedua orang itu dipersilahkan beristirahat di gandok sebelah. Sementara Manggada dan Laksana berada di gandok lain. Namun keduanya telah diberi tahu, bahwa besok mereka akan berada di bilik Laksana, karena tamu yang lain akan datang menjemput Mas Rara dan bermalam di rumah itu semalam.

Ternyata malam itu tidak terjadi sesuatu. Padukuhan Nguter terasa tenang dan bahkan sepi. Sekali-sekali, di malam hari, memang terdengar para peronda berkeliling padukuhan sambil membunyikan kentongan-kentongan kecil dengan irama kotekan. Dengan demikian, mereka yang tertidur terlalu nyenyak akan terbangun.

Ketika kemudian fajar menyingsing, dapur di rumah Ki Partija sudah tampak sibuk. Beberapa orang perempuan telah menyiapkan minuman panas bagi dua orang tamu utusan Raden Panji, serta kedua orang anak muda yang telah menyelamatkan Mas Rara.

Tetapi agaknya keluarga Ki Partija Wirasentana memang lebih memperhatikan kedua utusan Raden Panji itu daripada Manggada dan Laksana, selain Wirantana. Bagi Wirantana, kedua anak muda itu merupakan tamu yang sangat berarti bagi keluarganya. Tanpa kedua anak muda itu, segalanya tidak akan terjadi. Mas Rara tentu sudah diterkam harimau. Jika kemudian datang utusan Raden Panji, mereka tidak akan datang membawa mas kawin. Tetapi mereka akan datang untuk memaki-maki. Bahkan mungkin, Raden Panji mempunyai prasangka buruk terhadap Ki Partija Wirasentana.

Karena itu, Wirantana selalu memperhatikan kedua anak muda itu. Apalagi karena umurnya yang sebaya, sehingga banyak hal yang dapat dilakukannya bersama kedua anak muda itu.

Ketika kemudian matahari terbit. serta kedua orang utusan itu telah duduk di pendapa bersama Ki Partija Wirasentana, minuman hangatpun dihidangkan bersama beberapa jenis makanan. Sementara itu, di dapur tengah dipersiapkan makan pagi bagi tamu-tamunya itu.

Wirantana yang kemudian menemui ayahnya diruang dalam, berkata, “Aku bawa kedua anak muda itu ke pendapa, ayah. Biar mereka minum dan makan bersama utusan-utusan itu”

“He, jangan“ cegah ayahnya, “biar saja anak-anak muda itu di serambi. Kawani mereka minum dan makan makanan yang akan dihidangkan.

“Kenapa mereka tidak dipersilahkan naik ke pendapa bersama-sama para tamu itu ayah? bertanya Wirantana.

“Mereka adalah utusan Raden Panji“ jawab ayahnya.

“Mereka hanya utusaan Raden Panji“ sahut Wirantana sedangkan anak muda-muda itu telah menyelamatkan Mas Rara. Semuanya tidak akan berarti apa-apa tanpa kedua anak-anak muda itu”

Ayahnya menarik dalam-dalam. Katanya, “Aku sama sekali tidak mengecilkan arti mereka berdua. Tetapi aku hanya sekadar menempatkan mereka dalam terapan unggah-ungguh. Mereka masih terlalu muda untuk duduk dan berbincang dengan orang-orang tua yang berbicara tentang perkawinan Mas Rara dengan Raden Panji”

Wirantana menarik nafas dalam-dalam. Namun ia kemudian berkata, “Baiklah, jika itu alasan ayah. Tetapi bagiku keduanya justru merupakan orang-orang yang paling penting, bagi kita, Kecali mereka telah menyelamatkan Mas Rara, mereka juga telah menyelamatkan mas kawin yang telah ayah terima dari Raden Panji”

Ki Partija menarik nafas dalam-dalam. Yang diutarakan anaknya itu telah mengingatkannya, betapa penting kedudukan kedua anak muda itu di rumahnya. Apalagi keduanya bertahan di rumahnya karena keduanya diperlukan oleh Raden Panji.

Karena itu, ketika kemudian dihidangkan minuman dan makanan ke serambi gandok, hidangan itu tidak ubahnya dengan hidangan yang disuguhkan kepada para tamu di pendapa.

Namun hari itu, Ki Partija Wirasentana harus bersiap-siap menerima tamu yang lebih banyak lagi. Ia memang kesulitan untuk menduga berapa orang yang akan datang, sementara rasa-rasanya ia segan menanyakan kepada kedua utusan yang mendahului itu.

Tetapi agaknya utusun itu mengerti kesulitan Ki Partija Wirasentana, ketika ia mendengar pembicaraan Ki Partija Wirasentana dengan Wirantana di halaman untuk membicara-kan beberapa rumah tetangga yang harus mereka pinjam.

“Ki Partija“ berkata utusan itu, “barangkali ada gunanya Ki Partija mengetahui, utusan yang hari ini akan datang kira-kira sepuluh orang. Mereka akan datang berkuda, dan berharap Mas Rara juga bersedia berkuda besok”

“Anakku belum pernah naik kuda“ berkata Ki Partija Wirasentana.

”Para pengawal akan menjaganya. Seekor kuda yang paling jinak akan di bawa kemari nanti siang. Mas Rara akan dapat duduk di atas kuda itu, yang akan dituntun para pengawal berkuda“ berkata utusan itu. Namun kemudian katanya, “Tetapi jika tidak memungkinkan, Mas Rara akan dibawa dengan tandu. Tandu itu akan disiapkan disini nanti, agar besok tandu itu dapat dipergunakan. Namun tentu saja perjalanan kita akan menjadi bertambah lama”

Ki Partija Wirasentana mengangguk-angguk. Tetapi ia berdesis, “Aku akan berbicara dengan Mas Rara”

“Nanti Ki Partija dapat membicarakannya jika rombongan utusan itu sudah datang“ berkata salah seorang utusan itu.

Ki Partija mengangguk-angguk. Katanya, ”Baiklah. Sementara ini biarlah kami membuat persiapan-persiapun”

“Mereka baru akan datang setelah lewat tengah hari, seandainya mereka berangkat menjelang dini hari, sebagaimana direncanakan” berkata utusan itu.

Ki Partija mengangguk-angguk. Dengan demikian, ia telah mendapat gambaran, penyambutan yang dapat diberikan. Baik hidangan yang harus disiapkan, maupun penginapan bagi para utusan yang harus tetap merasa mendapat penghormatan cukup.

Demikianlah. Hari itu Ki Partija memang menjadi sibuk. Ketika Ki Resa datang, Ki Resalah yang kemudian menemani kedua orang utusan itu di pendapa. Bahkan kemudian keduanya ingin berjalan-jalan di sepanjang jalan-jalan padukuhan. Sedangkan Ki Partija Wirasentana sendiri menjadi sibuk untuk menyiapkan bilik-bilik di rumah tetangga, sehingga menjadi tempat yang pantas untuk bermalam. Sementara itu, Ki Partija telah mohon kepada Ki Bekel bantuan pengamanan tamu-tamunya yang tersebar. Meskipun tamu-tamunya itu tentu memiliki kemampuan prajurit, tetapi karena mereka terpisah-pisah, maka jika terjadi sesuatu pada satu dua orang yang tidak sempat memberikan isyarat, maka Ki Partija Wirasentana tentu akan mengalami kesulitan.

“Baiklah” berkata Ki Bekel, “aku sendiri akan memimpin para peronda. Malam nanti aku akan berada di gardu”

“Tidak“ jawab Ki Partija, “aku mohon Ki Bekel ikut menemui tamu-tamuku”

Ki Bekel tersenyum. Katanya, “Bukankah tamu-tamumu akan datang sebelum matahari turun? Aku akan ikut menerima tamumu itu. Tetapi kemudian, menjelang senja, aku akan mmdi diri untuk mengatur para peronda”

Ki Partija termangu-mangu. Namun kemudian ia ber-kuta, “Baiklah. Sebelumnyu aku mengucapkan terima kasih”

Namun dalam pada itu, Nyi Partija Wirasentana telah mulai sibuk dengan Mas Rara, bersama dua orang perempuan yang sudah berusia tua. Keduanya telah memandikan Mas Rara secara khusus upacara mandi yang biasa dilakukan sehari sebelum perkawinan. Yang dilakukan atas Mas Rara hanya sekedar usaha untuk membuat Mas Rara menjadi lebih cerah dan berbau wangi.

Tetapi dengan demikian, diluar sadarnya, beberapa kali Nyi Partija Wirasentana telah menitikkan air mata. Ia merasa bahwa gadisnya itu akan hilang dari keluarganya, untuk selama-lamanya.

Ketika Ki Partija melihat isterinya bersedih, berdesis, “Bukankah kita berharap agar anak kita mendapatkan kesempatan yang lebih baik di masa mendatang”

Nyi Partija tidak menjawab. Tetapi kepalanya menunduk, sedangkan titik-titik air matanya menjadi semakin deras.

“Nyi“ berkata Ki Partija Wirasentana, “bukankah kita justru harus bersyukur”

“Apakah kakang yakin begitu” bertanya Nyi Partija.

Ki Partija justru terdiam. Ditepuknya bahu isterinya sambil berdesis, “Semua kita serahkan kepada Yang Maha Agung”

Isterinya menarik nafas dalam-dalam, Tetapi titik-titik air mata itu masih saja mengembun dari matanya.

Mas Rara sendiri tidak menangis. Ia melihat ibunya dengan wajah yang sayu. Tetapi seakan-akan gadis itu sudah kehilangan perasaannya, menghadapi hari-hari perkawinannya. Pandangannya terasa kosong, dan keningnya tidak pernah nampak berkerut lagi.

Sementara itu, ketika matahari menjadi semakin tinggi, dan kemudian menggapai puncak langit, sebuah iring-iringan orang berkuda mendekati padukuhan Nguter. Beberapa orang berkuda sambil membawa beberapa ekor kuda tanpa penunggangnya. Kuda yang akan dipergunakan untuk Mas Rara jika gadis itu bersedia. Jika tidak, Mas Rara akan dipersilahkan naik ke atas sebuah tandu yang akan dipersiapkan di padukuhan Nguter.

Seorang diatara mereka, berkuda paling depan sambil membawa tombak pendek. Nampaknya ia adalah pemimpin dari iring-iringan yang akan menjemput Mas Rara itu.

Sepanjang perjalanan, kelompok orang berkuda itu sama sekali tidak menemui hambatan. Mereka melewati jalan-jalan padukuhan dan bulak-bulak panjang. Kehadiran mereka di sepanjang perjalanan memang menarik perhatian banyak orang. Tetapi tidak seorang pun yang sempat bertanya, karena iring-iringan itu berjalan agak cepat, meski tidak berpacu.

Telapi di luar pengetahuan mereka, yang berada di dalam iring iringan itu, dua orang tengah mengamati mereka dari kejauhan. Mereka sempat menghitung jumlah orang berkuda itu, sehingga dengan demikian mereka dapat memperkirakan kekuatan dari orang-orang yang akan menjemput Mas Rara itu.

“Sekitar sepuluh orang“ desis seorang diantara mereka.

“Ada kuda yang tidak berpenumpang” sahut yang lain.

“Kita dapat membicarakannya dengan Ki Lurah” berkata orang pertama.

Kedua orang itu mengagguk-angguk. Namun seorang diantara mereka bergumam selain mereka, masih ada dua orang anak muda yang harus diperhitungkan. Kedua anak muda yang juga akan dibawa menghadap Raden Panji.

“Siapa?” bertanya kawannya.

“Dua anak muda yang telah menolong Mas Rara, ketika gadis itu hampir diterkam harimau“ jawab yang lain.

Kawannya mengangguk-angguk. Katanya, “Jadi dua belas orang. Kita harus menghitung kedua anak muda itu, karena mereka juga memiliki kemampuan untuk bertempur”

“Dua orang lagi” jawab yang lain, “yang kemarin sudah datang mendahului”

“Ya. Ki Lurah sudah tahu“ gumam kawannya.

Ketika iring-iringan itu lewat, keduanya meninggalkan tempat itu untuk memberikan laporan kepada Ki Lurah. Seorang yang bertubuh tinggi kekar dan berkumis lebat. Seorang pemimpin gerombolan yang disegani.

Namun untuk menghadapi setidak-tidaknya empat belas orang prajurit, gerombolan itu masih memerlukan bantuan dari gerombolan lain, yang tinggal di tempat yang agak jauh. Tetapi sebelumnya gerombolan itu memang sudah dihubungi. Apabila diperlukan, akan datang penghubung untuk memberitahukan-nya.

Dalam pada itu, bebarapa saat kemudian, kelompok utusan Raden Panji telah memasuki pedukuhan Nguter, kemudian menyususuri jalan pedukuhan langsung menuju ke rumah Ki Partija Wirasentana.

Pedukuhan Nguter segera menjadi ramai. Orang-orang pedukuhan itu telah keluar dari regol-regol halaman untuk menyaksikan iring-iringan. Mereka tahu bahwa iring-iringan itu datang untuk menjemput Mas Rara.

“Gadis itu telah membawa keberuntungan bagi orang-tuanya“ desis perempuan separuh baya.

Perempuan lain menjawab, “Ki Partija Wirasentana suami isteri adalah orang-orang yang selalu berprihatin bagi anak-anaknya. Sekarang ia akan menarik buahnya. Anak gadisnya akan menjadi isteri seorang berpangkat tinggi dan punya kekuasaan yang besar”

Perempuan separuh baya itu mengangguk-angguk. Katanya, “Gadisku yang diambil orang pedukuhan sebelah itu ternyata hidupnya tidak lebih baik dari kita semuanya. Sawah suaminya hanya beberapa kotak saja. Sementara masih harus mengurusi mertuanya yang sudah mulai pikun”

Perempuan yang lain itu pun menyahut, “Bukankah itu sudah cukup baik daripada menjadi perawan tua seperti anak Priman itu”

“O, itu salah orangtuanya. Ayah dan ibunya terlalu garang dan pilihannya pun terlampau sulit untuk dapat dipenuhi, sehingga akhirnya, gadis itu malah tidak pernah mendapat jodohnya“ sahut perempuan setengah baya itu.

Keduanya terdiam. Iring-iringan itu menjadi semakin jauh. Namun terasa keagungan yang akan memancar dari rumuh Ki Partija Wirasentana.

“Kekuatan apa yang mendekatkan Mas Rara pada sebuah iring-iringan pemburu yang ternyata adalah Raden Panji Prangpranata, yang melihatnya dan kemudian tergila-gila kepada gadis itu“ desis seorang perempuan lain.

Sementara, iring-iringan itu telah mendekati regol halaman rumah Ki Partija yang sudah mengetahui akan kedatangan iring-iringan itu.

Karena itu, bersama beberapa orang tua, bahkan Ki Bekel pedukuhan Nguter, serta dua utusan yang terdahulu, Ki Partija Wirasentana menyambut iring-iringan yang datang itu di regol halaman rumahnya.

Sejenak kemudian, maka para tamu itu telah berada di pendapa induk di atas tikar pandan yang putih. Sementara beberapa orang pembantu di rumah Ki Partija telah menerima kuda-kuda para tamu dan menambatkannya di patok-patok yang sudah tersedia.

Selelah masing-masing pihak saling menyatakan keselamatan mereka, maka orang tertua dari utusan Raden Panji Prangpranata itupun telah menyampaikan pesan serta tugas kedatangan mereka ke rumah Ki Partija Wirasentana itu.

Memang bukan satu hal yang baru, karena masing-masing pihak telah mengetahui kepentingan kedatangan utusan itu.

Ki Bekel lah yang mewakili Ki Partija Wirasentana menerima utusan itu dan menerima pesan-pesannya. Kemudian atas nama Ki Partija Wirasentana mengucapkan terimakasih atas perkenan Raden Panji Prangpranata untuk menjemput anak gadisnya.

Sementara itu, Ki Resa pun telah berada pula diantara mereka. Dengan sikap yang sangat ramah ia ikut serta memberikan beberapa keterangan tentang Mas Rara dan keadaannya.

Ketika pembicaraan mereka sampai pada keberangkatan Mas Rara esok ke rumah Raden Panji, maka pada kesempatan itulah Ki Partija Wirasentana menceriterakan bahwa telah terjadi usaha perampokan di rumah itu.

Para utusan itu terkejut. Demikian pula utusan yang telah datang sebelumnya. Bahwa dengan serta merta kedua utusan itu bertanya hampir berbareng, “Kenapa Ki Partija tidak pernah mengatakannya sebelumnya”

“Aku memang menunggu sampai semuanya hadir“ jawab Ki Partija Wirasentana, “dengan demikian, maka kita akan dapat membicarakannya bersama-sama sehubungan dengan akan keberangkatan Mas Rara esok. Ki Bekel telah memperingatkan kepadaku, bahwa yang dapat terjadi mungkin sekali bukan sekedar perampokan harta benda, tetapi juga usaha untuk menangkap Mas Rara, membawanya dan menjadikannya taruhan untuk mendapat uang tebusan sebanynk-banyaknya”

Orang tertua diantara para utusan itu mengangguk-angguk. Namun dengan menyesal orang itu berkata, “Kenapa Ki Partija tidak memberitahukan hal itu kepada Raden Panji”

Sebelum Ki Partija menjawab, Ki Resa lah yang telah menjawab lebih dulu, “Kami tidak ingin terlalu menggantungkan diri kepada Raden Panji. Bukan karena kami tidak yakin bahwa Raden Panji tentu akan menolong. Tetapi kami tidak ingin memberikan kesan, bahwa kami menjadi terlalu manja. Segala sesuatunya kami bebankan kepada Raden Panji. Karena itu, hal-hal yang dapat kami selesaikan, telah kami selesaikan sendiri”

Utusan Raden Panji itu mengangguk-angguk. Sementara Ki Resa berkata selanjutnya, “Jika para utusan Raden Panji tidak berkeberatan, biarlah besok aku ikut mengantarkan Mas Rara sampai ke rumah Raden Panji”

Utusan yang tertua itu tersenyum. Katanya, “Jika hal itu merepotkan Ki Resa, aku kira tidak perlu Ki Resa lakukan. Kami sudah menjadi dua belas orang. Tentu sudah cukup banyak. Kami kebetulan adalah prajurit-prajurit Pajang yang setidak-tidaknya telah dibekali dengan kemampuan olah kanuragan serba sedikit, sehingga jika ada yang berniat jahat, maka kami akan berusaha mengatasinya.

“Aku percaya sepenuhnya“ jawab Ki Resa, “jika aku ingin ikut serta, semata-mata karena kecintaan orangtua terhadap anaknya yang sulit untuk disembunyikannya. Jika aku tidak ikut dalam iring-iringan besok, maka aku justru akan menjadi sangat gelisah untuk waktu yang lama. Tetapi jika aku ikut serta, maka sekembalinya aku dari rumah Raden Panji, maka aku akan dapat segera tidur nyenyak karena aku tahu bahwa anakku itu sudah selamat sampai ke tujuan”

Utusan yang tertua itu tersenyum. Katanya, “Ternyata bahwa keluarga Ki Partija Wirasentana adalah keluarga yang sangat akrab, menjunjung tinggi harga diri dan kewibawaan. Itulah sebabnya, maka keluarga ini telah menerima anugerah sehingga seorang diantaranya, telah mencuat dari antara sasamanya, karena akan menjadi isteri seorang yang terpandang, berkuasa dan berwibawa pula”

“Ah, Ki Sanak terlalu memuji“ berkata Ki Partija Wirasentana segala sesuatunya kami kembalikan kepada kurnia Yang Maha Agung”

Sementara itu, maka hidangan pun segera telah dihidangkan. Ki Bekel atas nama Ki Partija telah mempersilahkan para tamu baik utusan dari Raden Panji maupun orang-orang tua dari padukuhan Nguter untuk minum dan makan makanan yang disuguhkan.

Dalam pada itu, ketika pembicaraan dilanjutkan, maka setelah beberapa kali ditanyakan kepada Mas Rara yang terpaksa hadir dalam pembicaraan itu, gadis itu berkeberatan jika harus naik kuda dengan cara apapun. Karena itu, maka berkali-kali ia berkata dengan nada dalam hampir tidak terdengar oleh orang lain, “Aku akan berjalan kaki saja”

“Tidak“ berkata ayahnya, “jika kau berkeberatan untuk naik kuda, maka kau akan dibawa dengan tandu. Mereka akan membawamu dengan tandu berganti-ganti empat orang pada setiap giliran.

“Tidak. Aku juga tidak mau naik tandu. Aku akan berjalan kaki saja” Jawab Mas Rara.

“Jangan mempersulit tugas para utusan itu Mas Rara“ berkata ayahnya, “kesannya tentu kurang baik. Kau akan disangka menjadi terlalu manja”

“Tidak. Aku justru tidak mau bermanja-manja. Aku akan berjalan kaki. Bukankah hal itu telah terbiasa aku lakukan” berkata Mas Rara.

Ayah memang menjadi agak kebingungan. Karena itu, maka ia masih belum dapat memberikan jawaban kepada utusan yang datang itu.

Namun tiba-tiba Wirantana berkata, “Ayah. Bagaimana jika Mas Rara naik pedati yang ditarik dengan seekor kuda”

Ayahnya mengerutkan keningnya. Sementara Wirantana berkata, “Bukankah Ki Jagabaya dari Kademangan mempunyai sejenis pedati yang ditarik oleh seekor kuda”

Ayahnya mengangguk-angguk. Desisnya, “Kereta kuda”

Ki Bekel mengangguk-angguk pula. Katanya, “Ya. Ki Jagabaya dari Kademangan memang banyak akalnya. la telah membuat sebuah kereta kuda yang cukup bagus. Aku kira Ki Jagabaya tidak akan berkeberatan untuk dipergunukan”

Ki Partija Wirasentana termangu-mangu sejenak. Pendapat Wirantana memang menarik. Meminjam kereta Ki Jagabaya dari Kademangan, yang juga sudah dikenal baik Ki Partija. Meski hubungan mereka tidak terlalu dekat, tapi dengan pengaruh Ki Bekel. Ki Jagabaya akan bersedia meminjamkannya.

Namun agaknya Ki Resa bersikap lain. Katanya Apakah pantas kita mengganggu Ki Jagabaya, yang selama ini tidak tahu menahu tentang persoalan yang kita hadapi”

“Ah“ sahut Ki Bekel, “Ki Jagabaya tentu sudah mendengar bahwa Mas Rara akan menjadi istri Raden Panji Prangpranata. Ki Jagabaya juga tahu siapa Raden Panji itu.

Mungkin itu satu-sutunya pemecahan, selain mengikuti keinginan Mas Rara untuk berjalan kaki. Tapi jika Mas Rara benar-benar akan berjalan kaki, maka kuda-kuda yang dibawa para utusan tidak ada gunanya. Semua orang yang menjemputnya tentu akan berjalan kaki pula.

“Jika bukan Ki Jagabaya, kita juga harus memikirkan Raden Panji itu sendiri. Apa pantas bahwa bakal istri Raden Panji mempergunakan sebuah kereta pinjaman” berkata Ki Resa kemudian.

Tetapi salah seorang dari utusan Raden Panji berkata, “Aku kira, jika itu pemecahan terbaik, Raden Panji tidak akan keberatan. Kereta itu tentu akan segera dikembalikan. Bahkan Raden Panji tentu akan sangat berterima kasih pada Ki Jagabaya”

Ki Resa menarik nafas dalam-dalam. Tapi ia segera tersenyum sambil berkata, “Jika demikian, maka tentu tidak akan ada keberatannya lagi”

“Tetapi semuanya harus diselesaikan hari ini. Besok kita akan berangkat pagi-pagi” berkata salah seorang utusan itu.

Ki Partija pun kemudian telah mempersilahkan tamu-tamunya untuk beristirahat di tempat yang sudah disediakan. Sementara itu, ia sendiri akan pergi ke rumah Ki Jagabaya di padukuhan lain bersama Ki Bekel.

Ternyata Ki Partija tidak menemui kesulitan. Ki Jagabaya dengan senang hati meminjamkan kereta kudanya. Bahkan katanya kemudian, “Biarlah kusirnya ikut serta. Ia tentu tidak akan keberatan. Selain ia memang terbiasa mengendalikan kuda penarik kereta itu, ia adalah orang yang ikut membuat kereta itu. Tetapi sudah tentu kecepatan kereta kudaku tidak akan dapat menyamai kecepatan kuda yang berlari tanpa beban. Apalagi keretaku kalau dibawa lari terlalu kencang, rodanya akan dapat lepas dari porosnya”

Ki Bekel tertawa. Ki Jagabaya pun tertawa pula.

Sementara itu Ki Partija berkata, “Bukankah itu jauh lebih baik dari pada anak gadisku berjalan kaki? la benar-benar tidak mau naik kuda dengan cara apapun. Ia juga tidak mau dibawa dengan tandu. la ingin berjalan kaki. Kereta Ki Jagabaya menjadi sutu-satunya jalan keluar terbaik”

“Silahkan, silahkan“ berkata Ki Jagabaya dengan ramah, “Orangku akan mengurus segala sesuatunya mengenai kereta dan kuda itu. Kebetulan ia juga pandai menyabit rumput. Aku tahu siapa calon suami Mas Rara. Adalah satu kehormatan bagiku bila Mas Rara bersedia naik kereta kudaku”

Ki Partija menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah mendapat-kan pemecahan atas kesulitannya. Karena itu, berkali-kali dia mengucapkan terima kasih.

“Besok, sebelum fajar. kereta itu sudah berada di rumah Ki Partija berkata Ki Jagabaya, “biarlah malam ini segala sesuatunya dibenahi”

Ki Partija bersama Ki Bekel kemudian mohon diri. Ki Bekel ternyata tidak lagi kembali ke rumah Ki Partija.

“Besok pagi-pagi aku akan datang“ berkata Ki Bekel.

Ketika Ki Partija kemudian sampai di rumahnya, masih ada beberapa orang yang menunggu untuk mendengarkan keterangannya, apakah kereta itu dapat dipinjamkan atau tidak.

Ki Jagabaya sangat baik. Selain keretanya juga sais, gamel serta pekatiknya juga dipinjamkannya. Besok, menjelang fajar, kereta itu sudah berada disini” berkata Ki Partija.

Syukurlah berkata seorang diantara tetangganya, aku ikut memikirkan, bagaimana perjalanan Mas Rara nanti. Tetapi nampaknya kereta itu cukup memadai, meski tidak akan dapat berlari cepat”

Dengan demikian, tetangga-tetangganya kemudian minta diri untuk pulang. Besok mereka akan datang kembali untuk melepas Mas Rara yang akan pergi ke rumah bakal suaminya, menjelang hari perkawinannya.

Malam itu, semua keluarga Ki Partija hampir tidak dapat tidur. Ki Partija duduk di bibir pembaringannya. Demikian pula Nyi Partija. Rasa-rasanya hati mereka pedih berpisah dengan gadisnya, meski gadis itu akan kawin. Seakan-akan mereka akan kehilangan hartanya yang paling berharga. Bahkan Nyi Partija mulai terdengar terisak.

Ki Partija menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada lembut, ia berkata, “Sudahlah Nyi. Kita justru harus berdoa agar anak kita menemukan kebahagiaan di hari depannya. Apalagi menurut perhitungan lahiriah, Raden Panji adalah orang berkuasa, kaya dan bersungguh-sungguh”

Nyi Partija masih saja menitikkan airmata, tapi ia tidak mengatakan sesuatu.

Sebenarnya, Ki Partija juga merasa sedih harus melepaskan anak gadisnya. Ada sesuatu yang tidak dapat dikatakan kepada siapapun juga, selain harus dipikulnya sendiri. Ia tidak pernah membicarakannya dengan siapapun, juga pada isterinya, karena ia tidak ingin membebani perasaan siapapun.

Sementara itu, Mas Rara sendiri juga tidak dapat tidur di dalam kamarnya. Meski ia berbaring, matanya tetap terbuka memandangi langit-langit di atas biliknya. Dari matanya, meleleh air bening. Namun Mas Rara tidak mengeluh. Tidak ada orang yang mau mendengarkannya. Semua orang menganggap bahwa dia akan menjadi sangat bahagia. Ia akan menjadi gadis yang dapat menjunjung derajat orang tuanya, karena berhasil jadi istri orang besar.

Wirantana pun tidak bisa tidur. Ia menjadi gelisah didalam biliknya. Sementara Manggada dan Laksana yang juga berada dibilik itu, ikut-ikutan tak bisa tidur. Kegelisahan Wirantana membuat Manggada dan Laksana ketularan.

“Sudahlah“ berkata Manggada yang kemudian bangkit duduk, “seharusnya kau bersyukur karena adikmu akan segera kawin dengan orang terpandang”

“Tetapi rasa-rasanya ada sesuatu yang tersembunyi dari peristiwa ini. Ayah dan ibu nampaknya tidak terbuka“ berkata Wirantana, “Sejak aku kembali dari berguru, aku merasakan sesuatu yang tidak wajar. Juga pada paman Resa. Entahlah, aku merasa menjadi orang asing di rumah ini. Tidak seperti waktu aku belum meninggalkan rumah ini. Semuanya akrab dan saling terbuka. Tidak ada rahasia yang menyelubungi rumah ini. Apalagi penghuninya”

“Tidurlah“ berkata Manggada, ”kau harus beristirahat”

“Esok aku akan ikut. Boleh tidak boleh. Paman Resa juga akan ikut. Ada sesuatu yang mendesakku untuk ikut. Mungkin bahaya sedang mengancam Mas Rara, sehingga paman dan aku didorong oleh naluri untuk menyelamatkan Mas Rara”

“Perasaanmu terlalu peka. Mungkin karena kau terlalu sayang pada adikmu, sebagairnana Ki Resa sayang pada kemenakannya” berkata Laksana sambil berbaring. Ia sudah menutupi kedua matanya dengan lengan agar dapat tidur. Tetapi pembicaraan antara Wirantana dan Manggada semakin membuatnya gelisah dan tidak dapat tidur.

“Mungkin. Tapi aku tidak dapat menyingkirkannya“ berkata Wirantana, “Bukankah besok paman ikut pula. Sais kereta kudu Ki Jagabaya juga akan ikut serta. Bukan-kah dengan demikian aku mempunyai kawan dalam perjalanan pulang ke padukuhan ini”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Namun Laksana masih juga berkata, “Sekarang tidurlah. Besok kita akan bangun pagi-pagi”

Wirantana mengangguk. Ia pun kemudian telah berbaring pula diamben yang cukup besar untuk mereka bertiga. Gandok sebelah menyebelah telah diperuntukkan bagi para tamu sehingga Manggada dan Laksana harus berada pula di bilik Wirantana.

Yang tidak nampak di rumah itu kemudian adalah Ki Resa. Seperti malam-malam sebelumnya, ia bagaikan telah hilang. Telapi sebelum fajar ia telah berada di rumah itu kembali.

Di dini hari, maka semua orang telah terbangun. Mereka segera bersiap-siap, agar sebelum matahari terbit, mereka dapat mulai dengan perjalanan menuju ke rumah Raden Panji Prangpranata.

Menjelang fajar semuanya telah bersiap di pendapa. Hidanganpun telah disuguhkan pula. Mas Rara juga sudah berbenah diri dan berpakaian rapi meskipun tidak berpakaian pengantin.

Ki Partija terkejut ketika ia melihat Wirantana pun telah bersiap. Karena itu, maka Ki Partija telah memanggilnya dan bertanya., “Kau akan pergi kemana?”

“Aku akan menyertai perjalanan Mas Rara” Jawab Wirantana.

“Untuk apa? Sudah banyak pengawal yang mengantarkan-nya. Pamanmu, bahkan akan ikut pula“ berkata ayahnya.

Sementara Ki Resa yang ada disebelahnya telah berkata, “Kau tidak usah berbuat aneh-aneh Wirantana. Kau tidak perlu ikut mengantar Mas Rara. Kau dapat menyinggung perasaan para utusan itu, karena kita seakan-akan tidak mempercayainya. Bahkan aku akan ikut serta itu pun telah aku pertimbangkan berulang kali. Tetapi rasa-rasanya ada sesuatu yang telah mendesak, sehingga aku merasa berkewajiban untuk ikut serta”

Wirantana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia berkata, “Aku tidak ingin melepas kedua anak muda yang telah menolong Mas Rara, sebagai pernyataan terima kasih. Bukankah keduanya telah dipanggil oleh Raden Panji Prang-pranata”

“Kenapa kau harus melepas mereka sampai ke rumah Raden Panji? Bukankah kau dapat melepas mereka di halaman ini saja” bertanya Ki Resa.

Tetapi jawab Wirantana, “Aku akan mengawani paman pulang. Mengawani sais pedati kuda itu”

Ki Partija menjadi bingung. Soal perjalanan Mas Rara sudah teratasi, Ki Jagabaya telah mengirimkan kereta kuda yang dijanjikannya. Namun tiba-tiba saja Wirantana berniat untuk ikut.

Ketika hal itu diketahui utusan Raden Panji, ia berkata, “Tidak ada keberatannya. Jika kakak Mas Rara ingin ikut, ada baiknya. Biar Raden Panji bisa mengenal kakak iparnya, di samping Ki Resa yang akan mewakili Ki Partija menyerahkan Mas Rara”

Ki Resa termangu-mangu sejenak. Tapi Ki Partija kemudian berkata, “Jika demikian, baiklah. Biar Wirantana ikut mengantarkan Mas Rara, serta melepas kedua anak muda yang telah menyelamatkan nyawa adiknya”

Ki Resa ternyata masih juga bergumam, “Kau masih seperti kanak-kanak saja Wirantana. Ingin ikut-ikutan apapun yang dilakukan oleh orang lain”

Wirantana tidak menjawab. Ia memang agak takut dan menghormati pamannya. Namun rasa-rasanya ada dorongan kuat yang memaksanya ikut dalam iring-iringan itu.

Demikianlah. Saat langit makin cerah, iring-iringan siap. Begitu matahari tarbit. mereka berangkat meninggalkan halaman rumah itu.

Nyai Partija tidak dapat menahan tangisnya ketika ia melepas Mas Rara dan membantunya naik ke atas pedati. Diciuminya anak gadis itu beberapa kali, sehingga wajahnya basah airmata. Apalagi ketika ia melihat bahwa Mas Rara tidak lagi menangis seperti dirinya.

Meskipun matanya basah, tapi wajah gadis itu seakan kosong. Mas Rara sudah kehilangan perasaannya, sehingga ia tidak dapat lagi merasakan perpisahan itu.

“Mas Rara“ desis ibunya.

Mas Rara hanya berkata lirih, “Tubuhku bukan milikku lagi ibu. Aku tidak perlu menangisinya”

“Tidak anakku, tidak“ Nyi Partija hampir menjerit sehingga semua orang berpaling padanya.

“Jangan menangis ibu“ bisik Mas Rara yang berkaca-kaca, “bukankah aku akan kawin dengan orang berkedudukan tinggi, kaya raya dan berkuasa”

Ibunya justru memeluk anaknya semakin erat. Namun Ki Partija mendekatinya sambil berkata, “Sudahlah Nyi. Semuanya sudah siap berangkat”

Ki Partija kemudian menggandeng istrinya mundur. Sementura itu, pemimpin utusan Raden Panji telah sekali lagi minta diri.

Sejenak kemudian, iring-iringan itu berangkat meninggalkan halaman rumah Ki Partija. Nyi Partija menjerit, seakan-akan melepas mayat anaknya untuk dibawa ke kubur.

Sebaliknya, Ki Bekel dan beberapa bebahu desa yang ikut melepas keberangkatan Mas Rara, yang didampingi Ki Resi, Wirantana, Manggada dan Laksana, nampak cerah wajahnya. Seolah-olah mereka bisa merasakan kebahagiaan yang nantinya bakal diperoleh Mas Rara beserta orangtua dan saudaranya. Oleh karenanya mereka tidak terlalu memperhatikan apa yang dilakukan Nyi Partija Wirasentana.

Kebahagiaan Mas Rara dan Ki Partija, berarti pula kebahagiaan seluruh penduduk pedukuhan Nguter. Kenapa Nyi Partija jadi histeris dan nelangsa, mereka sama sekali tak tahu dan tak habis pikir. Tapi mereka memupusnya dengan anggapan bahwa apa yang diperbuat Nyi Partija adalah luapan rasa seorang ibu yang akan ditinggal anak tercintanya. Bukan apa-apa, sehingga tak perlu dikhawatirkan.

Ki Bekel pun tetap tersenyum melihat iring-iringan yang sudah keluar dari halaman rumah Ki Partija. Tangannya masih tetap melambai-lambai. Seakan-akan dialah Ki Partija yang berbahagia.

Tak lama kemudian. iring-iringan itu sudah menyusuri jalan-jalan padukuhan Nguter. Berjejal orang yang ingin melihat keberangkatan Mas Rara dengan pedati yang ditarik seekor kuda besar milik Ki Jagabaya. Sebuah kereta kuda yang sangat menyenangkan.

“Satu perjalanan yang sangat menarik“ seorang perempuan separo baya berdesis, “sebentar lagi, Mas Rara akan membuat kedua orangtuanya jadi orang sangat dihormati. Selama ini Ki Partija adalah orang yang baik. Anak-anaknya juga baik dan cukup ramah. Mudah-mudahan kelak mereka tidak berubah”

Tetapi di halaman rumah Ki Partija, beberapa orang jadi heran melihat sikap Nyi Partija. Namun mereka hanya menduga perempuan itu sangat mengasihi anaknya sehingga merasa segan melepaskannya, meski untuk menjalani masa yang harus dijalani setiap orang. Perkawinan.

Demikianlah, iring-iringan itu berjalan agak lebih cepat. Meski tak dapat berpacu dengan kuda-kuda lepas, tapi karena itu tidak merambat sebagaimana pedati yang ditarik seekor lembu.

Ketika matahari naik, mereka sudah berada di bulak panjang. Orang-orang yang kebetulan ada di sawah, berlari-lari melintasi pematang menuju jalan untuk melihat apa yang sebenarnya lewat. Beberapa diantara mereka memang tahu bahwa hari itu Mas Rara telah dijemput oleh utusan bakal suaminya. Raden Panji Prangpranata, seorang berkedudukan tinggi.

Iring-iringan itu berjalan terus. Wirantana, Manggada dan Laksana berada tepat di belakang kereta kuda yang ditumpangi Mas Rara, yang duduk di dalam kereta sambil menunduk. Seakan-akan tidak lagi tertarik pada apapun di sekitarnya.

Mas Rara tidak lagi ingin melihat sawah yang menghijau, atau perbukitan yang kemerah-merahan yang disirami sinar matahari pagi.

Di bagian depan kereta, duduk dua orang yang saling berdiam diri. Keduanya adalah sais dan pembantunya. Di sisi pedati itu, terikat seekor kuda cadangan jika kuda penarik pedati letih.

Ki Resa berada paling depan bersama pemimpin utusan Raden Panji yang memimpin utusan Raden Panji yang menjemput Mas Rara. Sebab Ki Resa adalah wakil Ki Partija menyerahkan Mas Rara pada keluarga, Raden Panji Prang-pranata.

Iring-iringan itu memang sangat menarik perhatian. Tiap melewati padukuhan, selain ada yang bertanya siapakah yang sebenarnya lewat, dan mereka berjejal di sepanjang jalan.

Menjelang matahari menggapai puncak langit, panasnya mulai menyengat kulit. Untunglah pedati Ki Jagabaya dilengkapi atap dari anyaman bambu sehingga Mas Rara tidak mengalami cubitan matahari. Namun demikian, keringat membasahi seluruh tubuhnya. Bukan saja karena udara yang panas, tapi juga karena kegelisahan yang mencengkam.

Beberapa saat kemudian, iring-iringan itu telah mendekati jalan yang menyusup di celah-celah bukit kecil di sebelah kanan dan kiri jalan. Hutan kecil menyelimuti kedua bukit itu, sehingga rasa-rasanya iring-iringan itu akan memasuki satu daerah yang jarang dilalui orang meskipun jalan itu merupakan satu-satunya jalan menuju ke rumah Raden Panji.

Yang tidak diduga oleh iring-iringan itu adalah bahwa di bukit sebelah kiri sekelompok orang telah menunggu.
Bahkan beberapa diantara mereka rasa-rasanya sudah tidak sabar lagi, sehingga dipanasnya matahari siang mereka berdiri mengamati jalan.

Namun orang-orang itu sempat mengumpat-umpat. Matahari semakin panas, tapi iring-iringan itu belum nampak. Kawan-kawannya yang berlindung di bawah rimbunnya pepohonan sempat menertawakannya. Seorang yang bertubuh gemuk dengan perut besar berkata, “Sudahlah. Mereka tidak akan lolos dari tangan kita. Tunggulah dengan tenang di sini”

“Setan kau“ geram seorang yang bertubuh tinggi berkumis lebat, “Bagaimana jika mereka merubah rencana mereka”

“Tidak. Mereka tidak akan merubah rencana“ jawab orang yang bermata seperti matu burung hantu.

Mereka pun terdiam. Sementara matahari menjadi semakin tinggi. Tapi tiba-tiba saja orang yang berdiri di atas sebongkah batu padas berkata lantang, “Itulah. Iring-iringan itu mulai nampak”

Yang bertubuh gemuk tertawa, “Nah, kau yakin sekarang”

“Tutup mulutmu“ geram yang berkumis lebat. Orang-orang itu segera menempatkan dirinya sesuai perintah sambil menunggu iring-iringan sampai. Namun pemimpin dari kelompok itu bertanya, “Berapa orang bersama kita sekarang”

“Duapuluh orang“ sahut orang yang bertubuh tinggi berkumis lebat itu.

“Sudah jauh dari cukup“ sahut orang yang bertubuh gemuk, “menurut perhitunganku, sepuluh orang saja sudah cukup”

“Mereka semuanya berjumlah sekitar limabelas orang“ berkata pemimpin kelompok itu.

“Tetapi mereka adalah tikus-tikus kecil yang tidak mampu berbuat banyak. Mereka memang prajurit-prajurit. Tetapi mereka prajurit kehormatan yang tugasnya hanya berjaga-jaga di regol bangsawan. Sesekali berbaris memberikan peng-hormatan. Kemudian kembali ke gardu minum-minuman panas dengan gula kelapa. Sagon yang hangat dan hawug-hawug manis. Itu saja”

“Jangan merendahkan kemampuan mereka“ berkata pemimpin kelompok itu, “kita harus dapat membawa Mas Rara hidup-hidup. Jika ia berniat membunuh diri, kita harus mencegahnya. Sementara itu, harta kekayaan, emas dan perhiasan yang ada dan dipakai oleh Mas Rara atau dibawa iring-iringan itu menjadi milik kita selain upah yang di terima”

“Kita tidak akan gagal. Kita dengan dua puluh orang adalah kekuatan yang selama ini belum pernah kita himpun. Sekarang kita berkesempatan untuk mencoba, apakah kekuatan ini bukan berarti banjir bandang yang tidak akan dapat dibendung oleh siapapun” sahut orang yang bertubuh tinggi berkumis lebat itu.

Pemimpin kelompok itu mengangguk-angguk. Ia yakin akan kekuatannya. Apalagi jumlah mereka ternyata lebih banyak dari iring-iringan itu. Menurut ukuran mereka, seorang lawan seorang pun mereka akan menang. Apalagi menurut perkiraan, prajurit kehormutan itu bukan prajurit yang mampu bermain senjata. Mereka hanya bisa berbaris dan memberi hormat para pemimpin dan Senapati yang lewat dihadapan mereka.

Makin lama, iring-iringan itu makin dekat. Duapuluh orang yang menunggu itu telah bersembunyi dibalik bebatuan, gumpalan-gumpalan padas, rimbunnya gerumbul-gerumbul perdu di lereng bukit dan semak-semak.

Di sepanjang perjalanan, Ki Resa lebih banyak bicara pada pemimpin utusan Raden Panji. Dengan ramah, diceriterakannya lingkungan yang mereka lewati. Nama-nama padukuhan, perbukitan dan sungai-sungai yang mengalir ditengah-tengah persawahan. Bahkan sungai-sungai yang kecil sekalipun juga diceriterakannya. Termasuk kebiasaan sungai-sungai itu pada musim basah maupun kering.

Pemimpin pasukan utusan Raden Panji itu tidak ingin mengecewakan Ki Resa yang begitu ramah. Sesekali terdengar suara tawanya. Namun dengan demikian, pimpinan utusan itu tidak sempat memperhatikan jalan dihadapannya.

Tapi Manggada dan Laksana yang pernah mendapat pengalaman berat di daerah perbukitan, diluar kehendak mereka, telah memperhatikan pepohonan dilereng bukit kecil yang dikiri-kanan jalan yang mereka lewati itu. Naluri mereka sebagai pengembara, telah memperingatkan mereka bahwa celah-celah bukit itu adalah lingkungan yang berbahaya.

Keduanya ternyata telah melihat sesuatu. Mereka melihat ujung batang ilalang bergerak-bergerak. Bukan oleh angin, karena geruknya tidak merata. Demikian pula pada gerumbul perdu liar.

Ketika Manggada menggamit Laksana, sebelum mengatakan sesuatu. Laksanalah yang justru berdesis, “Angin yang aneh itu”

“Ya“ sahut Manggada.

“Apa yang kalian katakan” bertanya Wirantana.

“Ada, yang kurang wajar dibalik semak-semak dilereng bukit kecil itu“ desis Manggada.

Wirantana coba memperhatikannya. Tapi ketajaman penglihatan dan penggraitanya tidak setajam Manggada dan Laksana. Hanya dengan memusatkan segenap perhatiannya, akhirnya Wirantana melihat juga keanehan itu.

“Aku akan memberitahu paman“ berkata Wirantana.

Tetapi Manggada menggeleng. Katanya, “Jangan. Aku akan berbicara dengan pimpinan prajurit yang menjemput adikmu”

Wirantana termangu-mangu sejenak. Tapi ia kemudian mengangguk dan berkata, “Terserah padamu”

Manggada kemudian mempercepat kudanya, melintasi kereta kuda dan kemudian berderap disebelah pemimpin prajurit utusan itu.

Ternyata sikap Manggada bukan lagi sikap anak-anak muda yang kerjanya hanya berkelakar dan sesekali bergurau dengan para peronda digardu jika tidak sedang berada di sanggar. Dengan sikap seorang yang memiliki ketajaman penglihatan, ia berkata, “Aku melihat sesuatu yang tidak wajar dibalik gerumbul-gerumbul perdu dan batang ilalang liar itu”

Pemimpin utusan yang lebih banyak mendengarkan cerita Ki Resa itu tersentak. Ia sadar bahwa iring-iringan itu akan memasuki daerah berbahaya. Bukit kecil yang lerengnya ditumbuhi pohon-pohon perdu rimbun serta batu-batu padas.

Namun Ki Resa yang juga terkejut mendengar laporan Manggada itu memotong hampir diluar sadarnya, “Kau jangan mengigau anak iblis”

“Aku minta kalian memperhatikannya“ sahut Manggada.

“Setiap hari aku melewati daerah ini. Aku tidak pernah mendapat kesulitan apa-apa“ jawab Ki Resa.

Tetapi perhatian pemimpin utusan itu telah tertuju pada lereng bukit kecil sebelah-menyebelah jalan yang mereka lalui itu. Jaraknya sudah menjadi makin dekat, sehingga pemimpin utusan itu tiba-tiba menghentikan iring-iringan.

Ketika ia mengangkat tangannya untuk memberi isyarat, Ki Resa justru bertanya, ”Kenapa kita harus berhenti disini? Apakah igauan anak itu pantas diperhatikan?”

Pemimpin prajurit itu tidak menjawab. Ia mulai melihat gerakan dedaunan yang tidak wajar. Apalagi orang-orang yang bersembunyi dibalik dedaunan itu telah mengumpat-umpat karena iring-iringan itu berhenti. Dengan demikian, guncangan tubuhnya telah menggerakkan dedaunan tempat mereka berlindung.

“Ki Resa“ berkata pemimpin utusan itu, “aku minta Ki Resa memperhatikan dengan sungguh-sungguh”

Ki Resa termangu-mangu sejenak. Ia kemudian melihat juga getar dedaunan. Bukan karena angin. Tetapi Ki Resa kemudian bertanya, “Tetapi bukankah kemarin iring-iringan ini juga melewati jalan itu”

“Ya. Tapi ketika kami datang, kami tidak membawa barang-barang berharga, karena barang-barang itu telah lebih dulu sampai dan kemudian sekelompok orang telah berusaha merampoknya. Agaknya orang-orang itu terlambat mengetahui-nya. Saat ini, mereka tentu menyangka barang-barang itu dipakai oleh Mas Rara, sehingga mereka berusaha untuk merampasnya” berkata pemimpin prajurit itu.

Ki Resa termangu-mangu. Wajahnya menjadi tegang, sehingga tidak sesadarnya ia menggeram.

Pemimpin prajurit itu melihat betapa jantung Ki Resa bergejolak. Karena itu ia berkata, “Sebaiknya kita jangan kehilangan pegangan. Kita hadapi segalanya dengan kekuatan dan penalaran jernih. Jika kita mata gelap, kita akan kehilangan beberapa kemungkinan terbaik yang dapat kita lakukan”

“Setan itu harus dihancurkan sampai lumat“ geram Ki Resa.

“Kita belum tahu kekuatan mereka. Karena itu kita harus hati-hati” kata pemimpin utusan itu.

Beberapa saat iring-iringan itu tidak bergerak. Sementara Wirantana mendekati adiknya yang mulai ketakutan. Tapi Mas Rara masih saja menunduk dalam-dalam.

Laksana kemudian berdesis pada Wirantana, “Jaga adikmu baik-baik. Mungkin akan ada usaha menculiknya. Dengan menguasai adikmu, orang-orang itu akan dapat minta tebusan sebanyak-banyaknya pada Raden Panji.

Wirantana mengangguk. Tiba-tiba giginya jadi gemeretak. Katanya, “Inilah agaknya yang menggelitik aku untuk ikut dalam iring-iringan ini”

Sementara itu, kedua orang yang duduk di pedati itu telah memutar pedangnya dan meletakkannya di pangkuan mereka. Sementara itu, seorang diantaranya telah meraih cambuk yang besar, yang sebelumnya hanya merupakan hiasan saja di bagian depan keretanya.

Seluruh kekuatan yang mengawal Mas Rara telah mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan. Pemimpin utusan itu telah menepuk pundak Manggada sambil berkata, “Terimakasih anak muda. Ternyata kelebihanmu tidak hanya sekadar membunuh seekor harimau. Tetapi kau memiliki ketajaman penglihatan melampaui seorang prajurit, karena kaulah yang pertama kali sempat melihatnya, meskipun aku membawa sekelompok prajurit”

Manggada tidak menjawab. Tetapi tatapan matanya tidak lepas dari lereng bukit kecil yang sudah terlalu dekat didepannya.

Sebenarnyalah, bahwa beberapa orang prajurit telah mempersiapkan senjata jarak jauh mereka. Beberapa orang dengan tangkasnya telah menarik busur yang semula terselip dalam endong yang tergantung pada ikat pinggang para prajurit itu, siap untuk dipasang di busurnya.

Wajah Ki Resa yang menjadi tegang dan kemerah-merahan itu bagaikan tersentuh lidah api. Giginya gemeretak dan sesekali terdengar geramnya yang garang.

“Kita akan menyerang mereka“ berkata Ki Resa.

“Jangan tergesa-gesa“ berkata pemimpin prajurit itu, “mereka mempunyai landasan yang jauh lebih baik dari kita. Kita membawa perempuan yang harus mendapat perlindungan khusus. Perempuan itu adalah Mas Rara, bakal isteri Raden Panji”

“Jadi kita akan menunggu disini“ bertanya Ki Resa.

“Kita akan melakukan satu gerakan yang pantas bagi gerakan prajurit. berkata pemimpin utusan itu.

Prajurit itu kemudian berdesis kepada Manggada, “Kau dan adikmu serta Wirantana sebaiknya menjaga Mas Rara. Kami akan bergerak maju”

Manggada mengangguk-angguk. Ia sadar bahwa tugas itu adalah tugas yang sangat berat. Tetapi nampaknya pemimpin prajurit itu memiliki kepercayaan penuh kepadanya.

“Ki Resa“ berkata pemimpin utusan itu, “kita akan bergerak maju”

Tetapi jawab Ki Resa, “Aku tidak sampai hati meninggalkan anakku dalam keadaan seperti ini. Sebaiknya kita bergerak bersama-sama dan tidak meninggalkan Mas Rara disini”

“Itu berbahaya sekali“ berkata pemimpin prajurit itu. Kita percayakan Mas Rara kepada beberapa orang yang memiliki kemampuan untuk menjaganya. Sementara itu, kita akan melihat suasana. Jika kita harus bergerak mundur, maka kita akan bertempur disini. Tidak dicelah-celah itu”

Ki Resa menjadi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Jika kalian akan menyongsong mereka, biarlah aku membantu menjaga Mas Rara di sini. Aku tidak sampai hati meninggalkannya hanya ditunggui anak-anak”

Pemimpin pasukan itu menjadi ragu-ragu. Tapi kemudian katanya, “Baiklah. Memang tugas kami menghadapi orang-orang yang mencegat itu. Jika Ki Resa ingin tetap di sini untuk ikut menjaga Mas Rara, silahkan. Kami mengucapkan terima kasih”

Dengan demikian, pemimpin prajurit yang mengawal Mas Rara, termasuk dua utusan yang lebih dulu datang ke rumah Ki Partija, bersiap menyongsong lawan. Mereka turun dari kuda dan mengikatkannya pada batang-batang pohon atau perdu yang tumbuh di pinggir jalan.

Dengan isyarat, pemimpin prajurit itu memerintahkan para prajurit bergerak. Beberapa orang bahkan telah menyiapkan busur, lengkap dengan anak panah yang siap diluncurkan.

Tapi pemimpin prajurit itu memberi isyarat bahwa mereka tidak maju lewat jalan yang menembus celah-celah bukit kecil itu. Pemimpin prajurit itu mengisyaratkan agar para prajurit berpencar.

Dengan demikian, mereka bisa mengecoh para pencegat, sambil memecahkan konsentrasi mereka. Tanpa perbuatan semacam itu, mereka bisa terdesak dalam waktu singkat. Sebab mereka belum mengetahui kekuatan para pencegat tersebut.

Untuk memberi semangat kepada para bawahannya, pimpinan prajurit tersebut juga ikut terjun ke gelanggang, sehingga dia bisa langsung mengawasi dan mengkomando bawahannya bila nanti terdesak.

Manggada, Laksana dan Wirantana, tetap di tempat sambil mengamati pembagian tugas berdasar siasat dari pemimpin prajurit. Kendati ada perasaan untuk ikut bersama prajurit itu mendahului menyerbu para pencegat, namun mereka sadar bahwa sasaran utama gerombolan yang akan mencegat iring-iringan itu adalah Mas Rara. Oleh karenanya, mereka menahan keinginan tersebut. Calon istri Raden Panji Prangpranata lebih penting dijaga keselamatannya.

Namun sebelum meninggalkan kereta Mas Rara, pemimpin prajurit itu sempat berbisik di telinga Manggada, tanpa terdengar orang lain, “Hati-hati. Dalam keadaan seperti ini, kita pantas mencurigai siapa saja”

Manggada tidak begitu mengerti pesan itu. Tapi ia mencoba untuk memahaminya.

Ketika para prajurit mendekati bukit, Manggada telah berada di sebelah kereta Mas Rara. Laksana dan Wirantana pun telah siap menghadapi segala kemungkinan. Sedang di depan kereta itu, Ki Resa teluh turun dari kudanya dan mengamati para prajurit dengan seksama.

Kedua orang yang dikirim Ki Jagabaya mula-mula tetap duduk di atas kereta, meski senjata sudah mereka siapkan. Namun akhirnya, kedua orang itu turun juga. Tapi tidak beranjak lebih dua langkah dari kereta mereka.

Seorang diantara mereka justru menggenggam sebuah cambuk besar, yang semula hanya jadi hiasan kereta. Cambuk itu bisa jadi senjata cukup berbahaya. Meski demikian, di lambungnya tetap terselip sebilah pedang. Sedang yang satunya hanya menggeser pedangnya agar siap dicabut jika lawan datang mendekat.

Orang-orang yang bersembunyi di belakang gerumbul-gerumbul liar mengumpat habis-habisan melihat sikap para prajurit. Mereka akhirnya menyadari bahwa prajurit-prajurit itu ternyata bukan sekadar prajurit kehormatan yang hanya bisa berdiri di sebelah regol jika ada tamu terhormat datang ke rumah Raden Panji. Mereka benar-benar prajurit yang siap bertempur.

Apalagi ketika prajurit-prajurit itu kemudian menebar dan siap memanjat bukit. Separo dari mereka di sebelah kiri jalan, sebagian lagi di sebelah kanan.

Pemimpin penghadang Mas Rara itu kemudian meneriakkan aba-aba untuk menyerang para prajurit yang mulai memanjat. Tapi para prajurit sudah siap.

Untuk menahan arus serangan, para prajurit yang membawa busur dan anak panah telah menyerang mereka, sehingga orang-orang liar itu terpaksa berhenti untuk menghindar atau menangkis anak-anak panah yang melesat bagai angin itu.

Dengan demikian, pemimpin prajurit sempat menilai lawan-lawannya. Ternyata mereka orang-orang yang memiliki kemampuan dan pengalaman bermain senjata. Anak panah yang dilontarkan para prajurit tidak ada yang langsung dapat menghentikan seorangpun diantara mereka. Dua orang memang terluka lengannya, tapi sama sekali tidak berarti. Darah yang menitik satu-satu, tidak dihiraukannya.

Tapi para prajurit itu benar-benar telah siap. Mereka jadi makin berhati-hati setelah mereka menyadari keadaan lawan. Ketika orang-orang itu menyerang makin dekat, dan busur serta anak panah tak menguntungkan lagi, mereka mencabut senjatanya masing-masing. Ada yang pakai pedang, ada yang pakai tombak pendek. Sementara senjata lawan-lawan mereka ujudnya cukup mengerikan dan mendirikan bulu tengkuk.

Ada yang membawa bindi, tombak bertaji di sebelah mata tombaknya, atau canggah bertangkai pendek. Ada pula yang membawa kapak bertangkai panjang, atau jenis-jenis senjata lainnya.

Para prajurit memang harus benar-benar mengerahkan segenap kemampuannya untuk melawan orang-orang itu, yang menurut pengamatan para prajurit, merupakan gerombolan perampok yang sudah berpengalaman.

Dalam pada itu, dengan isyarat, pemimpin perampok memerintahkan sebagian orang-orangnya untuk langsung menyerang orang-orang yang berjaga-jaga di sekitar kereta yang membawa Mas Rara.

Pemimpin prajurit tidak dapat berbuat banyak. Dalam waktu yang pendek, mereka sudah telah digempur oleh perampok-perampok itu. Meskipun demikian, pemimpin prajurit itu sempat memerintahkan dua orang diantara mereka untuk ikut melindungi Mas Rara.

“Di sana ada Manggada, Laksana. Wirantana dan Ki Resa. Mudah-mudahan kalian akan dapat melindunginya, “ berkata pemimpin prajurit itu.

la tidak dapat pergi ke kereta Mas Rara meski sebenarnya ia ingin melakukannya. Sebab ia harus mengatur prajurit-prajuritnya lebih dulu menghadapi kelompok orang kasar dan liar itu.

Demikianlah. Pertempuran pun berlangsung. Pemimpin prajurit beberapa kali meneriakkan aba-aba. Selain untuk membesarkan hati bawahannya, ia juga mulai melihat beberapa kelemahan pada pertahanan orang-orangnya.

“Kalian adalah prajurit prajurit yang memiliki kemampuan bertempur dalam kesatuan. Jangan terpancing untuk melepaskan kesatuan itu sampai kelompok yang sekecil sekalipun“ teriak pemimpin prajurit itu.

Perintah itu ternyata berarti sekali bagi para prajurit. Mereka yang biasa bertempur dalam kerjasama, kemudian mengetrapkannya untuk menghadapi lawan-lawan kasar dan bertempur secara keras itu. Tapi secara pribadi, prajurit-prajurit itu memiliki kemampuan yang memadai karena latihan-latihan cukup berat.

Sementara itu. beberapa orang penghadang iring-iringan itu telah berlari-lari menuju ke kereta Mas Rara. Namun Manggada. Laksana, Wirantana dan kedua sais kereta itu, serta Ki Resa, sudah siap menghadapi mereka. Sementara dua orang prajurit yang diperintahkan pimpinan pasukan, juga telah menyusul orang-orang itu.

Namun orang-orang yang akan menyerang kereta Mas Rara itu cukup cerdik. Mereka coba mengurangi lawan mereka, sehingga seorang diantara mereka kemudian berteriak, “Kita bantai dulu dua orang itu. Mereka tentu akan mengganggu tugas kita mengambil Mas Rara”

Tapi ketika orang-orang itu berhenti, Manggada dan Laksana tanggap akan keadaan. Tanpa menunggu, Manggada berteriak ke arah Wirantana, “Bantu Ki Resa jika ada yang datang. Aku akan membantu kedua prajurit itu sambil menghentikan mereka agar tidak mencapai kereta ini”

Sebenarnya kedua prajurit itu terkejut melihat orang-orang yang diikutinya berhenti. Apalagi ketika mereka bersiap menyerangnya. Berdua mereka tentu tidak akan mampu melawan pecahan kelompok perampok itu. Karenanya kedua prajurit itu sudah bersiap untuk melarikan diri, berputar dan kemudian bergabung dengan orang-orang yang menjaga Mas Rara.

Bersama mereka, kedua prajurit itu tentu akan dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik. Tidak harus melawan orang yang jumlahnya terlalu banyak dibanding jumlah mereka yang hanya berdua.

Tetapi niat itu diurungkan ketika kedua prajurit itu melihat dua anak muda berlari-lari menyongsong mereka, “Anak-anak muda itu“ desis seorang diantara kedua prajurit itu.

“Mereka bukan anak-anak muda kebanyakan“ desis yang lain, “mereka adalah anak-anak muda yang aneh”

“Kita harus bertahan“ desis prajurit pertama. Keduanya terdiam. Namun masing-masing telah mempersiapkan senjatanya untuk menghadapi orang-orang yang berbalik menyerangnya. Namun sejenak kemudian, orang-orang yang mengetahui kalau anak muda telah berlari ke arah mereka. Karena itu, sebagian dari mereka bersiap kedua prajurit di belakang mereka, sebagian lagi menghadapi kedua anak muda itu.

“Kebetulan sekali“ desis seorang diantara perampok-peranpok itu, “kita akan membantai empat orang sekaligus”

Sejenak kemudian, Manggada dan Laksana telah mendekati sekelompok diantara orang-orang yang mencegat perjalanan mereka itu. Sebagian dari mereka telah menyerang dua orang prajurit yang telah bersiap sebelumnya.

Dengan demikian, pertempuran terjadi dengan sengitnya. Empat orang melawan hampir separo dari dua puluh orang yang menghentikan perjalanan Mas Rara itu. Sekitar tujuh orang bertempur dengan garangnya, dan berusaha secepatnya menghabisi nyawa keempat orang yang telah berani menghadapi mereka itu.

Tetapi kedua orang prajurit itu mampu bertempur dengan tangkas. Sementara itu, Manggada dan Laksana pun memiliki ketangkasan melampaui prajurit.

Dengan demikian, Manggada dan Laksana telah mengejutkan lawan-lawan mereka. Justru setiap sentuhan senjata serta benturan kekuatan, lawan-lawan anak muda itu harus berdesah menahun gejolak di dalam jantung mereka. Kemarahan yang menjadi semakin membara, namun juga pengakuan bahwa keduanya tidak mudah untuk ditundukkan.

Pertempuran semakin lama menjadi semakin sengit. Ketujuh orang itu telah mengerahkan segenap kemampuan mereka. Mereka memAng berniat untuk dengan cepat menyelesaikan pertempuran itu.

Di dekat pedati, Ki Resa menyaksikan dengan wajah yang tegang. Dentang senjata serta teriakan orang-orang yang sedang bertempur itu, seolah-olah dentang genta sebesar bukit di telinganya.

Keringat mulai membasahi keningnya. Jantungnya berdentang semakin cepat, sementara tangannya menjadi gemetar.

Wirantana yang juga berada di dekat kereta Mas Rara, menjadi tegang sebagaimana Ki Resa. Ia melihat pertempuran di bukit itu menjadi semakin garang. Namun jarak yang agak jauh, telah menghalangi penglihatannya, sehingga ia tidak dapat melihat, apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi Wirantana sempat melihat pertempuran yang lebih dekat dari mereka. Dua orang prajurit bersama Manggada dan Laksana, bertempur melawan sekitar tujuh orang.

Dalam pada itu, ternyata salah seorang dari ketujuh orang yang bertempur melawan dua orang prajurit serta Manggada dan Laksana, telah memberikan isyarat. Isyarat yang tidak diketahui oleh keempat orang lawan mereka.

Namun tiba-tiba dua orang diantara mereka telah meloncat keluar dari arena pertempuran dan berlari ke arah Mas Rara yang ditunggui oleh Ki Resa, Wirantana dan dua orang yang dikirim oleh Ki Jagabaya bersama pedati kudanya.

Kedua orang prajurit dan kedua anak muda itu termangu-mangu sejenak. Namun mereka kemudian tidak banyak menghiraukan lagi. Di dekat kereta Mas Rara ada Ki Resa serta Wirantana. Masih ada sais dan pembantunya, sehingga menurut perhitungan mereka, kedua orang itu tidak akan mampu berbuat banyak.

Bahkan dengan kepergian dua orang itu, tugas kedua prajurit serta kedua anak muda itu menjadi semakin ringan.

Ki Resa yang melihat dua orang berlari-lari ke arahnya segera bersiap. Ki Resa dan Wirantana telah menambatkan kuda mereka pula. Sementara sais dan pembantunya telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Dua orang itu ternyata telah memilih lawan. Seorang langsung menyerang Ki Resa, sedangkan seorang lagi menyerang Wirantana. Pertempuran segera terjadi. Sais dan pembantunya telah bersiap di sebelah menyebelah kereta. Merekalah yang kemudian menjaga Mas Rara dengan mempersiapkan senjata mereka sebaik-baiknya.

Tetapi adalah di luar dugaan setiap orang. Ki Resa yang digelari pembunuh harimau, serta ditakuti oleh banyak orang itu, ternyata tidak mampu bertahan sepenginang. Hanya beberapa saat saja ia bertahan, kemudian terdengar teriakan kesakitan. Sejenak kemudian, Ki Resa telah berguling jatuh.

Sementara itu, Wirantana masih bertahan sekuat tenaganya. Tanpa mengenal gentar, ia bertempur dengan mengerahkan segenap kemampuannya. Ia memang mampu mendesak lawannya yang justru semakin lama menjadi semakin jauh dari kereta kuda itu.

Namun Wirantana menjadi sangat gelisah ketika ia melihat pamannya jatuh terguling dan tidak bergerak lagi. Sementara itu, ia tidak dapat berbuat apa-apa, karena ia masih terikat dalam pertempuran melawan seorang lawannya.

Tetapi Wirantana masih herpengharapan. Kedua orang sais dan pembantunya itu dengan serta merta telah menyerang orang yang telah menjatuhkan Ki Resa.

Ledakan cambuk mulai terdengar memekakkan telinga. Ternyata bahwa ujung cambuk yang menggeliat dan menghentak-hentak itu telah mendesak orang yang berusaha untuk dapat menggapai kereta kuda yang didalamnya terdapat Mas Rara itu.

Wirantana menjadi sedikit berpengharapan ketika ia melihat sais dan pembantunya itu mampu mendesak lawannya menjauhi kereta kuda itu.

Namun yang tidak terduga-duga itu pun telah terjadi. Dalam ketakutan itu, tiba-tiba saja Ki Resa yang terbaring itu telah meloncat bangkit. Dengan cepat ia berlari ke arah pedati yang berhenti di pinggir jalan itu. Sekali loncat, Ki Resa telah duduk di tempat sais. Satu hentakan telah mengejutkan kuda sang menarik pedati itu, sehingga kuda itu segera berlari. Tetapi Ki Resa telah membawa keretanya justru berbalik ke arah padukuhan Nguter. Namun ada lebih dari sepuluh simpangan yang akan dapat dilaluinya sebelum jalan itu memasuki padukuhan Nguter.

Tidak seorang pun menduga bahwa hal itu akan terjadi. Mas Rara yang ada di dalam pedati menjerit. Tetapi pedati yang ditarik seekor kuda itu terus berlari.

Wirantana pun berteriak keras-keras dengan suara parau, “Paman, paman.

Ki Resa berpaling pun tidak. Bahkan ia telah berdiri ditempat sais kereta itu biasanya duduk.

Wirantana tidak ingin membiarkan hal itu terjadi tanpa diketahui sebab-sebabnya. Ia yang menganggap sikap pamannya agak kurang dimengerti, menjadi semakin membingungkannya. Karena itu, Wirantana segera berlari meninggalkan lawannya kearah kudanya.

Untunglah bahwa pembantu sais itu tanggap akan keadaan. Ketika lawan Wirantana mengejarnya, pembantu sais dengan cambuk di tangannya telah menyerang orang itu, sehingga orang itu tidak dapat mencegah Wirantana yang dengan kecepatan yang tinggi telah meloncat ke punggung kudanya.
Sejenak kemudian, kuda itu telah berlari seperti angin mengejar Ki Resa yang telah melarikan Mas Rara.

Ternyata Ki Resa menyadari, apa yang terjadi. Sambil mengumpat ia menghentikan kereta kudanya yang tidak dapat berpacu secepat kuda Wirantana. Dengan sigap, Ki Resa meloncat turun. Pedangnya ternyata telah berayun di tangannya.

Wirantana yang melihat pamannya meloncat turun. telah menarik kekang kudanya pula. Iapun telah meloncat turun pula.

“Apa artinya ini paman” teriak Wirantana.

“Aku peringatkan, jangan mencampuri persoalan ini. Sebaiknya kau tidak mengikuti aku dan Mas Rara“ geram Ki Resa.

“Aku minta paman membawa Mas Rara kembali, Mas Rara akan dibawa menghadap Raden Panji Prangpranata sebagai-mana direncanakan“ minta Wirantana.

“Sekali lagi aku peringatkan. Kau tidak mempunyai kesempatan berbuat apa-apa. Aku akan membunuhmu jika kau keras kepala. Karena itu, pergilah“ suara Ki Resa gemetar.

“Aku akan mencegahnya sampai aku mendapat penjelasan yang dapat meyakinkan aku“ berkata Wirantana.

“Kau jangan terlalu sombong menghadapi aku“ berkata Ki Resa, “sementara itu, orang-orang yang mencegat Mas Rara akan membunuh semua prajurit dan orang-orang yang bersama mereka”

“Jadi paman bekerjasama dengan mereka? Paman berpura-pura jatuh dan tidak bangkit lagi. Paman ternyata telah melakukan hal yang serupa sampai dua kali. Ketika rumah ayah dirampok orang, paman begitu cepat menjadi pingsan. Agaknya paman telah bekerjasama dengan mereka. Sekarang paman bekerjasama dengan orang-orang untuk mencegat Mas Rara, menculiknya dan mempergunakannya untuk memeras Raden Panji” berkata Wirantana.

Ki Resa tertawa. Suara tertawanya bergetar memenuhi udara. Bagi Wirantana, pamannya itu tiba-tiba saja telah berubah menjadi iblis yang garang.

Tetapi Wirantana sama sekali tidak menjadi ketakutan. Bahkan kemarahannya justru telah meggelegak., “Paman“ berkata Wirantana, “aku hormati paman sebagai orangtuaku sendiri. Tetapi dalam keadaan seperti ini, aku terpaksa melawan paman”

“Bagaimana jika orang-orang yang mencegat iring-iringan ini kemudian datang kemari, sedangkan semua prajurit dan orang-orang yang menyertai Mas Rara telah terbunuh” bertanya Ki Resa.

“Aku akan mempertaruhkan nyawaku demi kehormatan adikku. Adikku tidak akan dapat dipergunakan sebagai alat untuk memeras Raden Panji Prangpranata” geram Wirantana.

Ki Resa tidak menjawab lagi. Tetapi senjatanya mulai terjulur.

Tetapi Wirantana telah mengangkat pedangnya pula. Dengan nada rendah ia berkata, “Maaf paman. Aku terpaksa berani melawan paman dalam keadaan seperti ini”

Ki Resa masih juga tidak menjawab. Tetapi ia sudah meloncat menyerang dengan garangnya. Anak itu harus segera diselesaikan agar ia dengan cepat dapat menyingkirkan Mas Rara.

Keduanya segera bertempur dengan sengitnya. Ternyata Ki Resa harus mengakui, bahwa Wirantana yang baru pulang dari berguru itu memiliki bekal yang semakin mapan untuk menghadapinya.

Dalam pada itu, sais dan pembantunya segera mengalami kesulitan menghadapi dua orang yang garang. Sais yang telah kehilangan kudanya itu memberi isyarat kepada kawannya untuk bertempur sambil berlari-lari.

Beberapa saat kemudian, keduanya telah bergeser semakin dekat dengan arena pertempuran yang lain.

Sambil bertempur, tiba-tiba saja Manggada berteriak kepada salah seorang prajurit yang bertempur bersamanya, “Bantu kedua orang sais itu”

Seorang prajurit yang sedang bertempur itupun tanggap. Ia pun segera melompat meninggalkan arena untuk membantu kedua orang sais yang mengalami kesulitan, sehingga harus bertempur sambil berlari-lari mendekati arena pertempuran itu.

Ketika seorang diantara lawan-lawannya berusaha mencegahnya, Laksana telah meloncat menyerang sehingga prajurit itu sempat meninggalkan lawannya. Sementara Manggada telah berloncatan dengan garangnya.

Kedua sais mengucap sukur didalam hati ketika seorang prajurit datang mendekati mereka. Seorang diantara kedua lawan mereka harus menghadapi prajurit yang datang membantu itu, sehingga mereka berdua tinggal melawan seorang saja. Dengan demikian, mereka menjadi semakin berpengharapan untuk tetap hidup.

Manggada dan Laksana pun kemudian masing-masing harus melawan dua orang. Tetapi Manggada dan Laksana sama sekali tidak menjadi goyah. Keduanya mampu bertempur mengatasi kedua orang lawan masing-masing.

Bahkan ketika pertempuran itu masih juga belum ada tanda-tanda segera selesai, sementara keduanya terguncang oleh sikap Ki Resa yang sulit diketahui, Manggada dan Laksana telah menghentakkan segala kemampuannya.

Tetapi adalah diluar dugaan mereka. Kedua orang anak muda yang marah dan gelisah itu, seakan-akan telah menumpahkan segala-galanya yang dimilikinya dalam ilmu kanuragan. Gelora di dalam dada mereka, serta darah muda mereka yang mendidih, bagaikan telah mematangkan kekuatan, kemampuan dan ilmu yang tersimpan di dalam diri mereka.

Adalah mengejutkan bahwa tiba-tiba saja kekuatan mereka bagaikan berlipat. Sesuatu rasa-rasanya telah menggelegak, bergelora dan muncul dari dasar ke permukaan. Bahkan kedua anak muda itu untuk sesaat bagaikan dituntun oleh pedangnya. Namun barulah mereka sadar bahwa kemampuan ilmu pedangnyalah yang telah bergetar menggerakkan pedang itu.

Keduanya dalam saat yang gawat itu ingat apa yang pernah terjadi atas diri mereka. Mereka teringat, bagaimana seorang Ajar yang tinggal di tempat terpencil bersama seorang yang punggungnya bongkok namun berilmu sangat tinggi, memberikan bekal kepada mereka. Ki Ajar yang seakan-akan telah meningkatkan alas kemampuan ilmu mereka, sehingga dengan demikian ilmu mereka pun terangkat dalam keutuhannya dan semakin tinggi.

Ketika kedua anak muda itu berada dalam gegolak kemarahan yang memuncak, kekuatan itu telah muncul dari dasarnya, yang tersimpan didalam diri mereka, sehingga baik Manggada maupun Laksana telah menjadi semakin garang.

Karena itulah, kedua lawan masing-masing menjadi sangat terkejut ketika tiba-tiba saja senjata mereka bersentuhan. Kekuatan kedua anak muda itu benar-benar bagaikan berlipat.

Dua orang yang bertempur melawan Manggada telah bergeser menebar untuk mengambil tempat yang lapang. Mereka berusaha untuk meyakinkan diri bahwa mereka adalah orang-orang yang ditakuti, serta memang memiliki kekuatan dan kemampuan yang bisa mendukung kegarangan mereka.

Tetapi Manggada yang marah, yang menghentakkan segenap kemampuan didalam diri mereka, justru bagaikan mendapat kesempatan untuk menguji ilmunya.

Dalam pertempuran yang berkembang selanjutnya, kedua lawan Manggada benar-benar menjadi heran. Dua orang anak yang masih terhitung muda itu, ternyata telah memiliki ilmu yang tidak dapat mereka jangkau sama sekali. Perlahan-lahan tetapi pasti, kedua orang itu telah terdesak. Bahkan ketika seorang diantara keduanya menjadi marah pula, dan mencoba menghantam Manggada dengan pedangnya yang dilambari segenap kekuatannya, orang itu akhirnya menyesal. Benturan yang sangat keras telah terjadi. Manggada tidak berusaha untuk menghindar. Namun ia telah menangkis serangan itu. Rasa-rasanya Manggada ingin menjajagi kemampuan sendiri yang masih baru saja dikenalinya dengan baik.

Lawannya benar-benar terkejut. Benturan itu telah menggetarkan pedangnya. Telapak tangannya terasa menjadi sangat panas. Bahkan rasa-asanya kulitnya akan terkelupas. Sebelum ia sempat memperbaiki keadaan tangannya, terasa pedang Manggada berputar. Pedangnya sendiri tiba-tiba bagaikan telah hanyut dihisap oleh putaran pedang anak muda itu. Satu hentakkan telah melemparkan pedang orang itu sehingga jatuh beberapa langkah dari padanya.

Dalam keadaan yang gawat itu, kawannya telah meloncat menyerang Manggada dengan garangnya. Sabetan pedang yang terayun deras langsung mengarah ke leher anak muda itu.

Tetapi Manggada sempat melihat serangan itu. Dengan tangkas ia telah merendahkan dirinya. Begitu ayunan pedang itu meluncur diatas kepalanya, pedang Manggada pun telah terjulur langsung menusuk dada lawannya.

Terdengar erang kesakitan. Namun ketika kemudian Manggada menarik pedangnya, orang itu terhuyung-huyung roboh. Ternyata sentuhan ujung pedang Manggada telah menggapai jantungnya, sehingga orang itu tidak sempat berbuat sesuatu. Tarikan nafas yang panjang, telah mengakhiri hidupnya.

Sementara itu, kawannya yang telah kehilangan senjatanya tidak sempat berbuat banyak. Ketika ia melihat kawannya tertusuk pedang dadanya, ia berusaha melarikan diri. Tetapi sebelum ia sempat meloncat menjauh, Manggada dengan cepat telah bangkit. Ternyata kemarahannya yang memuncak telah membuat darahnya bagaikan menggelegak. Dengan derasnya, Manggada telah mehgayunkan pedangnya dengan satu tebasan mendatar.

Ujung pedang Manggada ternyata telah mengoyak dada lawannya itu menyilang. Dengan demikian, lawannya itu pun telah terdorong dan bahkan kemudian terlempar jatuh terlentang. Darah bagaikan memancar dari luka itu demikian derasnya, sehingga orang itu tidak lagi mempunyai kesempatan untuk bangkit kembali.

Pada saat yang demikian, Laksana pun telah mendesak lawan-lawannya. Seorang diantara kedua lawannya ternyata mampu bergerak cepat sekali, sehingga sesekali Laksana harus bergeser mundur.

Sementara itu, Manggada meloncat meninggalkan arena menuju ke tempat kedua orang sais yang juga tengah bertempur sambil berteriak pada Laksana yang masih bertempur dengan sengitnya, “Selesaikan lawan-lawanmu. Bantu para prajurit di bukit. Aku akan mengurus Ki Resa yang aneh itu”

Laksana tidak menjawab. Sementara Manggada berlari dengan cepat. Ketika ia sempat mendekati sais dan pembantunya yang sedang bertempur, ia mengayunkan pedangnya. Segores luka telah menyilang di punggung orang yang bertempur melawan kedua orang sais dan pembantunya yang kurang memiliki kemampuan itu. Untunglah bahwa seorang diantaranya pandai bermain cambuk, sehingga sempat menyulitkan lawannya. Tetapi lawannya itu kemudian tidak berdaya lagi, terbaring diatas rerumputan kering.

Ketika Manggada kemudian meloncat kepunggung kudanya, sais dan pembantunya segera membantu prajurit yang tadi membantunya.

Seorang yang harus bertempur melawan tiga orang itu pun tidak mampu berlahan terlalu lama. Ia pun segera terdesak.

Sementara itu, Manggada telah berpacu menyusul Wirantana yang masih bertempur melawan Ki Resa. Meskipun kemampuan Wirantana sudah meningkat jauh setelah ia pergi berguru, tetapi Ki Resa yang disebut pembunuh harimau itu ternyata tidak mudah dikalahkannya. Bahkan perlahan-lahan Ki Resa telah mampu mendesak Wirantana. Meskipun dasar ilmu Wirantana cukup tinggi, tetapi anak muda itu masih belum cukup berpengalaman untuk menghadapi pamannya yang garang dan keras itu.

Bahkan Ki Resa masih sekali lagi memperingatkannya, “Wirantana. Jika kau tidak mau pergi, aku benar-benar akan membunuhmu”

Wirantana menggeram. Katanya, “Paman jangan bermimpi buruk seperti itu. Seharusnya paman cepat bangun dan menyadari apa yang telah paman lakukan”

Ki Resa menggeram. Dengan garang ia berkata, “Jika demikian, kau akan mati. Aku akan membawa Mas Rara sejauh-jauhnya tanpa dapat diketahui oleh siapapun”

Wirantana tidak menjawab. Ia telah menyerang dengan cepatnya. Namun Ki Resa memang memiliki kemampuan yang tinggi.

Pada saat yang demikian, Mas Rara sudah turun dari pedatinya. Ia memang menjadi ketakutan melihat pertempuran itu. Ia pun tidak mampu berbuat sesuatu selain menjadi gemetar.

Ketika Mas Rara berniat untuk melarikan diri dari pertempuran antara kakaknya dan pamannya, kakinya rasa-rasanya menjadi sangat berat. Ia tidak sampai hati meninggalkan kakaknya dalam kesulitan. Tetapi ia pun tidak mau jatuh ketangan pamannya yang kasar dan garang itu.

Pada saat yang demikian, seekor kuda dengan penunggangnya telah berlari mendekat. Mas Rara pun segera melihat bahwa penunggang kuda itu adalah anak muda yang telah menolongnya ketika ia hampir saja diterkam oleh seekor harimau.

Karena itu, harapannya telah berkembang. Kuda itu berpacu sangat cepat, sehingga sejenak kemudian Manggada telah meloncat turun dan langsung berlari ke arena.

“Setan kau“ geram Ki Resa yang serba sedikit mengetahui kemampuan anak muda itu.

Manggada tidak menyahut sama sekali. Ia segera menempatkan diri di sebelah Wirantana yang meloncat surut mengambil jarak dari pamannya yang kehilangan akal itu.

“Ki Resa“ tiba-tiba Manggada berdesis, “kami ingin Ki Resa mempertanggung-jawabkan langkah-langkah yang kami ambil”

Tetapi Ki Resa menggeram, “Kalian akan mati bersama-sama”

Tidak ada lagi pembicaraan. Manggada dan Wirantana telah bersiap untuk bertempur melawan Ki Resa yang garang itu.

Tetapi Ki Resa sudah berada ditengah arus. Apakah ia akan kembali atau berlanjut, tidak akan banyak bedanya.

Ia harus menempuh tekanan yang sangat berat. Kedua orang anak muda itu memiliki bekal yang cukup untuk mengatasinya.

Namun Ki Resa harus menghadapinya. Sementara Mas Rara telah menjadi semakin jauh daripadanya.

Ketika Ki Resa sekali menengok kearah Mas Rara, maka Wirantana segera tanggap akan niatnya. Iapun telah meloncat dan berdiri diantara Ki Resa dengan adiknya itu.

Ki Resa mengumpat kasar.

Sementara itu Manggada sempat juga bertanya, “Apakah sebenarnya maksud Ki Resa terhadap Mas Rara?”

“Persetan, apa pedulimu“ geram Ki Resa.

“Jangan sampai terjadi salah paham. Tetapi agaknya Ki Resa berniat buruk terhadap Mas Rara. Justru karena Ki Resa telah berpura-pura pingsan” berkata Manggada pula.

“Tutup mulutmu. Bersiaplah untuk mati“ suara Ki Resa bergetar oleh kemarahan yang menggelegak di dadanya.

Manggada tidak bertanya lagi. Dari arah yang berbeda, Manggada dan Wirantana kemudian telah mendekati Ki Resa.

Sejenak kemudian, mereka pun telah terlibat lagi dalam pertempuran yang sengit. Tetapi Wirantana tidak sendiri. Ia bertempur bersama Manggada yang justru telah mampu mengangkat kekuatan yang semula masih tersembunyi di bawah permukaan.

Sementara itu, Laksana pun menjadi semakin garang. Dua orang lawannya telah tidak berdaya. Keduanya telah terluka di tubuh mereka. Seorang terluka di lambung, sedangkan yang lain di sisi bagian dadanya. Namun luka mereka cukup dalam, sehingga mereka tidak mampu lagi meneruskan pertempuran.

Seorang lagi yang bertempur melawan prajurit yang mengawal Mas Rara yang dikirim oleh Raden Panji Prang-pranata itupun telah kehilangan keberanian, sehingga dengan serta merta telah melarikan diri ke bukit. Ia berharap bahwa kawan-kawannya yang bertempur di bukit akan dapat menguasai keadaan.

Sebenarnya pertempuran di bukit masih berlangsung dengan sengitnya. Ternyata kekuatan mereka justru seimbang. Pemimpin prajurit yang mengawal Mas Rara tidak dapat meninggalkan prajurit-prajuritnya yang mengalami pertempur-an yang sengit, sehingga ia benar-benar mempercayakan Mas Rara kepada Ki Resa serta kakak gadis itu, Wirantana.
Demikian sengitnya pertempuran itu, sehingga pemimpin prajurit itu tidak tahu apa yang telah terjadi dengan Mas Rara. Namun Laksana dan seorang prajurit yang kehilangan lawannya itu telah menuju ke bukit pula. Prajurit itu telah mengejar lawannya yang justru juga telah berlari ke bukit itu.

Ketika orang yang dikejar oleh prajurit itu mampu mencapai bukit, maka kawan-kawannya telah menyambutnya dengan harapan. Meskipun hanya seorang, tetapi mereka berharap bahwa yang seorang itu akan dapat mempengaruhi keadaan yang seimbang itu.

Namun kemudian seorang prajurit ternyata telah menyusul. Bahkan kemudian seorang anak muda. Kehadiran Laksana tidak banyak mendapat perhatian. Orang-orang yang bertempur di bukit memang tidak begitu memperhatikannya. Bahkan ketika Laksana berhasil mengalahkan lawan-lawannya. Namun orang yang baru saja melarikan diri dari pertempuran di ngarai itu berteriak, “Hati-hati. Anak itu sangat berbahaya”

Pemimpin prajurit yang bertempur dengan segenap kemampuannya itu pun melihat kehadiran Laksana. la memang heran, kenapa Laksana tidak datang bersama Manggada. Biasanya keduanya tidak pernah berpisah. Karena itu, ketika Laksana berada tidak jauh daripadanya, iapun bertanya, “Dimana saudaramu”

“Ia berada bersama Mas Rara“ jawab Laksana.

Pemimpin prajurit itu menarik nafas dalam-dalam. Ternyata saudara anak muda itu tidak berada dalam keadaan yang gawat.

Di bukit, Laksana langsung melibatkan diri kedalam pertempuran. Ia memang tidak terbiasa bertempur dalam satu kesatuan sebagaimana para prajurit yang meskipun dalam kelompok yang paling kecil yang terdiri dari dua atau tiga orang, mereka mampu menunjukkan kerjasama yang baik. Saling mengisi dan yang satu tanggap atas sikap yang lain. Karena itu, untuk melawan yang jumlahnya lebih banyak, para prajurit itu tidak membebani satu atau dua orang yang harus bertempur melawan lawan yang rangkap. Mereka seakan-akan bergantian menghadapi kelebihan jumlah lawan itu.

Tetapi Laksana tidak merasa perlu berbuat demikian. Ia bertempur melawan orang yang terdekat dengannya Bahkan jika dua orang sekaligus, maka ia akan menghadapinya sendiri.

Para prajurit yang menyadari cara anak muda itu bertempur, sama sekali tidak langsung mengganggunya. Namun prajurit yang ada didekatnya, selalu mengawasinya. Jika anak muda itu berada dalam kesulitan, maka prajurit yang terdekat harus berusaha mempengaruhi medan.

Dalam waktu yang pendek, Laksana ternyata telah mendapat dua orang lawan, justru karena seorang yang berteriak tentang kemampuannya itu. Namun Laksana sama sekali tidak gentar. Meskipun sebelumnya ia telah mengerahkan tenaganya, namun kedua orang lawannya itu pun sudah bertempur pula sebelumnya.

Beberapa saat kemudian, maka Laksana telah bertempur dengan garangnya. Kedua orang lawannya segera mengakui, bahwa anak muda itu benar-benar memiliki ilmu yang tinggi. Sementara itu Laksana yang menghentakkan segenap kekuatan yang ada didalam dirinya, telah mengungkit pula landasan kekuatan yang pernah diwarisinya dari Ki Ajar.

Dalam waktu yang tidak terlalu lama, ternyata kedua lawan Laksana itu sudah mulai bergeser surut. Mereka merasa betapa senjata anak muda itu sangat berbahaya bagi mereka. Beberapa kali desing senjata ibu bagaikan telah menyentuh telinga mereka.

Pemimpin orang-orang yang mencegat iring-iringan Mas Rara itu memang menjadi tidak telaten. Dengan marah ia berteriak, “Cepat, selesaikan mereka. Kita tidak mempunyai waktu banyak. Kita harus segera meninggalkan tempat ini. Lihat, waktu telah berjalan terlalu cepat. Bunga itu tentu sudah dipetik sekarang. Mas Rara tentu sudah dikuasainya”

Kata-kata itu benar-benar mengejutkan semua prajurit yang mendengarnya. Terutama pemimpinnya. Karena itu, maka ia menjadi sangat marah. Sejalan dengan itu, ia merasa sangat menyesal, bahwa ia tidak berada didekat Mas Rara.

“Tetapi aku percaya kepada pamannya, kakaknya dan kedua orang anak muda itu” berkata pemimpin prajurit itu didalam hatinya.

Namun dalam pada itu, ia pun telah meneriakkan aba-aba yang garang, “Hancurkan para perampok sampai orang yang terakhir. Sisakan satu dua orang saja akan kita peras sampai darahnya kering jika Mas Rara benar-benar hilang”

“Cepat, bunuh semua orang“ pemimpin perampok itu berteriak. la masih ingin mempengaruhi agar para prajurit menjadi gelisah. Katanya, “Sebenarnya sasaran kita sudah tercapai sampai disini. Seandainya kita tinggalkan tempat ini, kita sudah tidak akan dirugikan apapun lagi”

“Jangan seorangpun lolos dari tempat ini“ teriak pemimpin prajurit itu.

Tetapi pemimpin perampok itu tertawa. Katanya, “Kalian tidak akan dapat berbuat apa-apa. Jika Mas Rara sudah kami kuasai, maka kalian harus meletakkan senjata, membungkuk dihadapan kami dan membiarkan leher kalian ditebas hingga kepala kalian terlepas”

“Tidak benar“ teriak Laksana, “kakang Manggada dan Wirantana tetap menguasai Mas Rara”

Pemimpin perampok itu termangu-mangu. Tetapi ia pun segera berteriak, “Ki Resa akan menyelesaikan segala-galanya”

Sekali lagi para prajurit itu terkejut.

Sementara itu, pemimpin perampok itu tertawa sambil berkata lantang, “Kalian telah dipermainkan oleh Ki Resa. Sekarang Mas Rara tentu sudah dikuasai Ki Resa. Jika kalian tidak menyerah, maka Mas Rara tidak akan pernah kalian ketemukan. Tetapi jika kalian menyerah dan memberikan leher kalian, maka kami masih berpikir untuk mengembalikan Mas Rara kepada satu dua orang diantara kalian”

Kata-kata itu telah menimbulkan ketegangan dihati para prajurit yang mendapat tugas untuk mengambil Mas Rara. Mereka sama sekali tidak mengira, bahwa pamannya sendiri telah berniat buruk.

Dengan nada kebingungan pemimpin prajurit itu bertanya, “Apakah Ki Resa menginginkan tebusan”

“Ketahuilah, Ki Resa sudah beberapa lama menaruh hati kepada gadis itu. Karena itu, maka ia berusaha menggagalkan usaha kalian membawa Mas Rara kepada Raden Panji” berkata pemimpin perampok itu Namun katanya kemudian, “Tetapi jika Raden Panji bersedia memberi tebusan jauh lebih besar dari upah yang kami terima dari Ki Resa, maka kami akan mengambil gadis itu dari tangan Ki Resa dengan perjanjian tersendiri. Kamilah yang akan membunuh Ki Resa”

“Kalian memang iblis“ geram pemimpin prajurit yang menjadi bingung karena kata-kata pemimpin perampok yang simpang siur itu. Namun Laksana tiba-tiba telah menjelaskan, “Jangan hiraukan mereka. Mas Rara dan Ki Resa, kedua-duanya telah dikuasai oleh kakang Manggada, Wirantana, seorang prajurit yang masih ada disana dan sais pedati serta pembantunya. Ki Resa sudah tidak berdaya, sementara Mas Rara dalam keadaan baik”

“Omong kosong“ teriak pemimpin perampok itu.

Laksana yang marah itu memang memperhitungkan, bahwa orang itu adalah pemimpin perampok yang telah mencegat perjalanan para prajurit yang menjemput Mas Rara. Karena itu, maka Laksana telah melepaskan lawannya dan langsung berlari menuju ke pemimpin perampok yang berteriak-teriak itu.

Sambil berlari Laksana berkata, “Aku sudah tahu segala-galanya tentang Ki Resa dan tentang kalian. Tetapi ternyata kalian lebih rakus dari Ki Resa yang berbuat bagi kepentingan satu keinginan yang menurut keyakinannya akan baik baginya. Tetapi kalian adalah ular berkepala rangkap sehingga kalian berusaha menggigit kesana kemari. Karena itu, maka hukuman bagi kalian adalah dengan memenggal semua kepala yang melekat ditubuh”

Pemimpin prajurit yang menjemput Mas Rara itu masih termangu-mangu sejenak. Ia memang belum yakin terhadap apa yang dikatakan baik oleh pemimpin perampok itu maupun yang dikatakan oleh Laksana.

Tetapi sejenak kemudian Laksana benar-benar telah menyerang pemimpin perampok itu sambil berteriak, “Jangan seorangpun dibiarkan lolos”

Pertempuran pun telah menjadi semakin sengit. Dilereng bukit kecil itu, dentang senjata beradu mengumandang diantara teriakan-teriakan marah orang-orang yang sedang bertempur. Tetapi sekali-sekali terdengar juga jerit ngeri dari orang yang tertusuk senjata dilambungnya dan jatuh terguling dari bibir batu padas ke batu dibawahnya.

Para perampok itu memang menjadi semakin garang bahkan menjadi liar. Namun Laksana dan para prajurit yang telah basah oleh keringat itupun bertempur semakin cepat dan keras pula.

Laksana yang telah mengerahkan segenap kekuatan dan kemampuannya dengan landasan kekuatan yang mendasari ilmunya, telah mengejutkan pemimpin perampok itu. Pedangnya berputaran semakin cepat. Sekali-sekali menebas mendatar, kemudiAn terayun menyilang. Ketika pemimpin perampok itu bergeser surut, maka ujung pedang itu mematuk seperti kepala seekor ular bandotan.

Semakin lama pemimpin perampok itu menjadi semakin bingung menghadapi anak muda itu, sehingga akhirnya iapun memberi isyarat kepada seorang pengikutnya. Dengan serta merta pengikutnya itu pun telah meloncat mendekatinya dan langsung melibatkan diri melawan Laksana yang bagaikan banteng ketaton.

Laksana memang terdesak surut beberapa langkah. Tetapi ia sekedar mengambil ancang-ancang serta untuk mengamati lawannya yang baru. Namun kemudian serangannya pun telah membadai pula.

Demikian pula para prajurit yang marah. Pemimpin prajurit itu sekali lagi berteriak, “Jangan biarkan seorangpun lolos”

Pemimpin perampok itu masih juga berteriak, “Mas Rara akan mati ditangan kami”

“Omong kosong“ Laksana lah yang menjawab, “jangan hiraukan. Aku bertanggung jawab atas keteranganku. Mas Rara selamat”

Benturan senjata pun menjadi semakin garang. Para prajurit memang telah menebar, seakan-akan mengepung arena pertempuran itu. Perlahan-lahan jumlah para prajurit menjadi semakin lebih banyak dari para perampok yang satu-satu kehilangan kesempatan untuk melawan.

Sementara itu, Manggada dan Wirantana masih bertempur melawan Ki Resa yang jantungnya bagaikan terbakar oleh kemarahannya. Ternyata rencananya tidak berjalan selancar yang diinginkannya.

Tetapi memang tidak ada jalan kembali bagi Ki Resa. Dengan demikian maka ia harus bertempur dengan mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya.

Namun kedua orang anak muda itu benar-benar telah mendesak Ki Resa sehingga beberapa langkah ia terdorong surut. Senjata kedua anak muda itu bagaikan mengelilingi tubuhnya dan sekali-sekali menyentuh bajunya. Anak-anak muda itu mampu bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi, sehingga Ki Resa itu menjadi semakin kesulitan menghindari serangan-serangan senjata mereka.

“Paman“ geram Wirantana kemudian, “menyerahlah. Kita akan berbicara.

“Iblis kau“ teriak Ki Resa sambil menyerang dengan garang.

Tetapi Wirantana sempat meloncat surut. Sementara Manggada justru menjulurkan senjatanya menggapai ke arah punggung.

Ki Resa menggeliat. Namun Manggada yang telah berhasil mengangkat landasan kemampuannya itu benar-benar merupakan kekuatan yang sulit untuk dilawan.

Ki Resa memang berhasil menggeliat menghindari ujung pedang Manggada. Tetapi ujung pedang itupun telah berputar pula langsung menebas ke samping.

Ki Resa harus meloncat surut menghindari kejaran ujung pedang Manggada. Namun tiba-tiba saja Ki Resa berteriak sambil mengumpat kasar. Dengan serta merta Ki Resa melenting tinggi berputar diudara dan berdiri tegak beberapa langkah dari Manggada dan Wirantana.

Tetapi lengan Ki Resa telah tergores ujung senjata Wirantana meskipun tidak begitu dalam.

Ternyata ketika ujung pedang Wirantana hampir mengoyak lengan pamannya, dengan kekuatan naluriah, Wirantana justru menahan ayunan pedangnya sehingga yang terjadi hanyalah satu goresan yang tidak dalam di lengan pamannya.

Meskipun demikian, darah mulai menitik dari tubuh Ki Resa yang dijuluki Pembunuh Harimau itu.

“Paman“ desis Wirantana sambil berdiri termangu-mangu.

“Kau sudah melukai lenganku anak iblis“ geram Ki Resa.

“Kita dapat berbicara dengan baik“ sahut Manggada.

Tetapi Ki Resa tidak menghiraukannya. Tiba-tiba saja ia sudah meloncat menyerang lagi dengan garangnya.

Pertempuran telah berlangsung lagi semakin sengit. Ki Resa benar-benar telah sampai kepuncak kemampuannya. Namun setiap kali ia membentur kekuatan dan kemampuan Manggada yang harus diakuinya sebagai satu kenyataan berada diatas kekuatan dan kemampuannya. Sementara itu Wirantana yang baru saja meninggalkan perguruannya telah memiliki bekal yang tinggi pula.

Dalam keadaan yang kalut, maka Ki Resa seakan-akan menjadi tidak menghiraukan lagi apa yang akan terjadi atas dirinya. Dengan sisa tenaga dan puncak kemampuannya ia telah mengamuk sejadi-jadinya.

Mas Rara yang menyaksikan pertempuran itu dengan jantung yang berdentangan. Memang sudah agak lama ia merasakan keanehan sikap pamannya kepadanya. Tetapi ia tidak mengerti arti dari keanehan sikap itu. Bahkan sampai saatnya ia menyaksikan pertempuran yang membuatnya hampir kehilangan akal itu, ia tidak tahu pasti apa yang sebenarnya dikehendaki oleh pamannya itu.

Tetapi bagi Wirantana dan Manggada, sikap Ki Resa tentu sikap yang tidak sewajarnya. Bahkan tentu berniat buruk, apalagi dengan bekerja sama dengan para perampok yang telah mencegat perjalanan Mas Rara ke rumah bakal suaminya, Raden Panji Prangpranata.

Namun bagaimanapun juga, Mas Rara benar-benar telah terguncang hatinya menyaksikan pertempuran antara pamannya dan kakaknya itu. Pamannya yang dihormatinya sebagaimana orang tuanya sendiri. Apalagi ketika ia melihat bahwa darah telah membasahi pakaian pamannya itu.

Namun ternyata bahwa Ki Resa sama sekali sudah tidak terkendali lagi. Ketika dengan garangnya ia meloncat menyerang Manggada, maka Manggada sempat bergeser kesamping. Tetapi Ki Resa tidak melepaskannya, ia justru telah berputar dan menyerang sekali lagi.

Tetapi seperti Wirantana, ternyata Manggada masih merasa ragu. Ketika terasa ujung pedangnya menyentuh lambung Ki Resa, maka Manggada justru telah menarik pedangnya.

Meskipun demikian, ujung pedangnya memang telah melukai lambung Ki Resa. Kulitnya telah tergores pula dan darah pun telah mengalir dari luka itu.

Ketika Ki Resa bergeser mundur, Manggada sempat pula berkata, “Ki Resa, bangunlah dari mimpi burukmu. Masih ada kesempatan untuk berbicara”

Tetapi Manggada terkejut. Justru saat ia berbicara, Ki Resa meloncat menyerangnya.

Manggada masih sempat mengelak. Namun Ki Resa telah memburunya seperti orang yang benar-benar telah kehilangan akal. Beberapa langkah Manggada masih juga bergeser surut sambil berusaha menangkis setiap serangan.

Sementara itu Wirantana lah yang telah menyerang Ki Resa yang sedang membabi buta itu.

Ki Resa seakan-akan tidak menghiraukan serangan itu. Ujung pedang Wirantana memang telah menempel ke pundak Ki Resa, tetapi Ki Resa sama sekali tidak menghiraukannya. Baru ketika Manggada meloncat mengambil iarak, Ki Resa telah berpaling dan memburu Wirantana.

Satu serangan yang keras telah memaksa Wirantana juga berloncatan surut. Namun ketika Wirantana benar-benar terdesak, bukan karena kemampuan Ki Resa, tetapi pengaruh hubungan keluarga yang masih sulit disingkirkan oleh Wirantana. maka Manggada tidak menunggu lebih lama lagi. Ia pun telah menyerang Ki Resa dengan uluran pedangnya.

Ki Resa yang berusaha mengelak, justru masuk ke garis ayunan pedang Wirantana. Karena itu, maka sebuah goresan telah menyilang dipunggung pamannya itu.

Ki Resa menggeram. Ia tidak dapat lagi menahan perasaan pedih dari luka-luka ditubuhnya. Luka dilengannya, dilambungnya dan kemudian di punggungnya, terasa bagaikan disengat api. Apalagi ketika keringatnya mengalir membasahi luka-lukanya.

Wirantana masih juga sekali lagi berusaha menyadarkan pamannya itu. Katanya betapapun terdengar nada keraguan, “Paman. Apakah paman benar-benar tidak mau melihat kenyataan ini”

“Tutup mulutmu tikus kecil“ bentak Ki Resa yang justru meloncat menyerang.

Wirantana benar-benar kehilangan kesadarannya. Sambil mengelak, iapun telah berputar sambil mengayunkan pedangnya. Ki Resa tidak berusaha untuk menghindar. Tetapi ia berusaha menangkis serangan itu dengan sekuat tenaganya.

Namun Ki Resa memang sudah mulai letih. Tangannya terasa menjadi pedih. Sementara itu, Manggada telah mengacukan senjatanya pula. Satu lagi goresan telah melukai pundaknya.

Namun Ki Resa benar-benar telah menjadi gila. Darah telah membasahi seluruh tubuhnya. Namun ia sama sekali tidak berniat untuk menghentikan perlawanannya.

Mas Rara pun telah berpaling. Bagaimanapun juga, ia tidak sampai hati melihat seluruh pakaian pamannya basah oleh darahnya.

Beberapa saat kemudian, Mas Rara justru mendengar kakaknya memanggil-manggil, “Paman. Paman”

Diluar sadarnya, Mas Rara berpaling kembali kearah pamannya. Namun ia terkejut. Dilihatnya pamannya terbaring diam, sementara Wirantana dan Manggada berjongkok di sebelahnya.

“Paman. Paman“ Wirantana mengguncang tubuh pamannya.

Ki Resa membuka matanya. Tetapi darah sudah terlalu banyak mengalir dari lukanya.

Dalam keadaan yang gawat itu Ki Resa berdesis, “Dimana Mas Rara”

“Ada disini paman“ desis Wirantana.

Mas Rara memang sudah berdiri di belakang kakaknya. Ia masih agak ketakutan menghadapi sikap pamannya yang tidak dimengertinya.

“Wirantana“ berkata Ki Resa dengan suara yang dalam, “sudah lama aku menginginkannya. Diam-diam aku mencintainya”

“Tetapi tidak mungkin paman. Mas Rara adalah kemanakan paman sendiri. Bukankah paman adik ayah” bertanya Wirantana.

Ki Resa tidak menjawab. Nafasnya semakin memburu.

“Sudahlah“ berkata Wirantana, “kita bawa paman ke padukuhan terdekat. Mungkin ada seorang tabib yang dapat mengobatinya”

Ki Resa menjadi semakin lemah. Disela-sela bibirnya terdengar desis perlahan, “Ayahmu, ayahmu“

“Aku mohon maaf“ suara Ki Resa bagaikan tersumbat dikerongkongan.

“Kita angkat paman ke dalam pedati” berkata Wirantana.

Tetapi ternyata semuanya tiduk berarti lagi. Darah yang mengalir terlalu banyak itu telah membuatnya terlalu lemah dan tidak mampu lagi bertahan untuk tetap hidup. Karena itu, ketika Wirantana akan mengangkatnya bersama Manggada, maka Wirantana pun menarik nafas sambil berdesis, “Kita terlambat Manggada”

Tubuh itu tidak jadi diangkat. Wirantana pun kemudian berdiri dengan kepala tunduk.

“Kita telah membunuhnya“ desis anak muda itu.

“Aku mohon maaf Wirantana“ desis Manggada.

“Kau tidak bersalah Manggada. Paman memang bersalah“ jawab Wirantana.

Namun merekapun berpaling ketika mereka mendengar isak tangis Mas Rara.

Wirantana mendekati adiknya sambil berdesis, “Sudahlah Mas Rara. Kita tidak berniat melakukannya. Beberapa kali aku sudah memberikan peringatan. Tetapi paman benar-benar sudah kehilangan penalarannya. Mungkin paman merasa bahwa kematian adalah jalan yang paling baik untuk menghindari pertanggung-jawaban dari langkah yang telah diambilnya. Ia tidak sekedar main-main. Ia telah mengerahkan sekelompok orang untuk mencegat iring-iringan ini. Tentu ada korban diantara para prajurit”

Mas Rara menutup wajahnya. Sementara Wirantana pun kemudian membimbingnya kembali ke pedatinya.

“Naiklah. Kita akan kembali ketempat kita berhenti“ berkata Wirantana.

“Bagaimana dengan paman” bertanya Mas Rara.

“Aku akan membawanya, Paman akan aku tompangkan diatas punggung kuda” jawab Wirantana.

Sejenak kemudian, maka Manggada telah mengendalikan kereta kuda itu. Diikatnya kudanya di belakang kereta. Sementara itu Wirantana duduk diatas punggung kudanya sambil membawa tubuh pamannya.

Sementara itu pertempuran di bukit pun telah menjadi semakin reda. Perlawanan para perampok sudah tidak banyak berarti lagi. Mereka memang tidak sempat melarikan diri, karena para prajurit telah berusaha mengepungnya. Sehingga beberapa saat kemudian maka pertempuran pun telah berakhir.

Pemimpin prajurit yang mengawal Mas Rara segera mengatur orang-orangnya. Kemarahan masih memancar di wajahnya. Apalagi ternyata sogores luka telah menyilang di punggungnya. Untunglah bahwa luka itu tidak dalam, sehingga obat yang dibawanya dapat membuatnya untuk sementara memampatkan luka-lukanya.

Pemimpin perampok itu pun kemudian harus melihat kenyataan. Dibawah bukit kecil itu, semuanya telah berkumpul. Para perampok yang bekerja bagi kepentingan Ki Resa itu akan menjadi tawanan dan dibawa menghadap Raden Panji Prangpranata. Namun orang yang bertanggung jawab atas peristiwa itu telah terbunuh, Ki Resa.

Ternyata beberapa orang prajurit memang telah terluka. Dua orang diantaranya parah. Sementara itu, tiga orang perampok telah terbunuh. Sedangkan beberapa orang yang lain telah terluka pula.

“Perjalanan masih cukup jauh“ berkata pemimpin prajurit itu, “Mereka membuat kepalaku menjadi bagaikan pecah. Sebenarnya aku ingin membunuh mereka semua, sehingga tidak akan menjadi beban diperjalanan”

Tetapi pemimpin prajurit itu tidak dapat melakukannya. Ia tidak dapat membunuh orang-orang yang sudah tidak berdaya betapapun darahnya bagaikan mendidih.

Ternyata perjalanan Mas Rara benar-benar terlambat. Bukan saja karena pertempuran itu, tetapi mereka harus menunggu para perampok itu menguburkan kawan-kawannya. Sementara itu Wirantana dan Manggada pun tengah berbicara dengan Laksana dan Mas Rara. Apa yang harus mereka lakukan dengan Ki Resa.

“Apakah kita akan menguburkannya bersama-sama dengan para penjahat” desis Mas Rara, “kita bawa paman pulang. Kita serahkan kepada ayah dan ibu”

“Tetapi perjalanan kita sudah cukup jauh. Apakah kita harus kembali” bertanya Manggada.

Tetapi paman tidak dapat dikubur bersama para penjahat itu“ Mas Rara mulai menangis lagi.

“Tetapi apakah kita dapat kembali” bertanya Wirantana.

Ketika mereka berpaling kepada pemimpin prajurit yang sedang sibuk sambil membentak-bentak marah, maka mereka menjadi ragu untuk menyampaikan kepadanya, bahwa mereka ingin membawa Ki Resa kembali”

Tetapi Manggada kemudian mengusulkan, “Aku dan Laksana akan membawanya pulang. Kalian akan meneruskan perjalanan menghadap Raden Panji Prangpranata”

Wirantana termangu-mangu sejenak. Tetapi kemudian ia berkata, “Aku merasa ragu. Apakah ayah dan ibu akan dapat mengerti. Atau bahkan mungkin akan dapat timbul salah paham”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sementara Wirantana berkata, “Aku akan membawa paman kembali”

“Jangan“ potong Mas Rara, “aku takut berjalan sendiri”

“Manggada dan Laksana akan menemanimu“ berkata Wirantana.

“Aku tidak mau“ jawab Mas Rara.

Wirantana memang menjadi bingung. Sementara itu pemimpin prajurit itu pun telah berteriak, “He, kenapa kau belum berbuat apa-apa”

“Apa yang kau maksud” bertanya Wirantana.

“Korban yang lain telah dikuburkan“ bentak pemimpin prajurit itu. Lalu katanya, “Kau jangan membuat perjalanan ini semakin lambat”

“Kami sedang membicarakan tentang penguburan paman“ jawab Wirantana berteriak pula.

“Cepat lakukan. Apalagi yang harus dipikirkan“ Pemimpin prajurit itu menjadi semakin keras.

Bersambung ke jilid 3

Sumber djvu : Koleksi Ismoyo

http://cersilindonesia.wordpress.com

Ebook : Dewi KZ

http://kangzusi.com/ atau http://ebook-dewikz.com/

http://kang-zusi.info http://dewikz.byethost22.com/

Diedit ulang oleh Ki Arema

kembali | lanjut

Satu Tanggapan

  1. jan gawe penasaran matur nwn awet tayange mas rara……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s