AM_MR-01


Serial ARYA MANGGADA

Episode II: MAS RARA

JILID 1

AM_MC-06 | lanjut AM_MR-02

AMMR-01SEJENAK kemudian, ketiga orang bertubuh raksasa itu mulai dipaksa untuk mengelak dari serangan-serangan Manggada dan Laksana. Namun serangan-serangan kedua orang anak muda yang bertempur berpasangan itu rasa-rasanya selalu memburu mereka. Sehingga dengan demikian maka kedua orang itu pun telah mulai dengan serangan-serangan mereka pula.

Dengan demikian maka pertempuran pun menjadi semakin lama semakin cepat. Berbeda dengan lawan-lawan ketiga raksasa yang terdahulu, maka kedua anak muda itu justru telah lebih dahulu mengenai mereka. Seorang di antara mereka harus menyeringai menahan sakit ketika serangan Manggada mengenai lambungnya. Kemudian disusul pula oleh tumit Laksana yang langsung menghantam dada. Bahkan kemudian sekali lagi Manggada sempat mengayunkan sisi telapak tangannya mengenai tengkuk yang seorang lagi sehingga orang itu jatuh menelungkup.

Meskipun ia masih bangkit lagi, namun wajahnya bukan saja menjadi kotor, tetapi kulit didahinya tersobek hampir sampai ke pelipis. Sehingga dengan demikian maka darah pun mulai mengucur.

Dalam perkelahian selanjutnya, ternyata ketiga orang itu sama sekali tidak berdaya. Manggada dan Laksana benar-benar telah meningkatkan ilmu mereka, sehingga dalam waktu yang pendek ketiga orang itu telah tidak berdaya sama sekali. Bahkan ketika Ki Sudagar sendiri serta ayah Miranti mencoba membantunya, kedua anak muda itu sama sekali tidak menjadi goyah.

Ketika para pengikut Ki Sudagar Resakanti itu mulai meraba senjatanya, maka Manggada pun berkata, “Jangan mencoba menarik senjata kalian. Aku pun juga bersenjata. Jika kalian menarik pedang, berarti akan terjadi pembunuhan disini, karena kalian bertiga tidak akan mampu mengimbangi ilmu pedang kami berdua”

Ketiga orang itu termangu-mangu. Namun ketika mereka melihat Manggada menarik pedangnya dan memutarnya dengan cepat, maka ketiganya menjadi semakin ragu-ragu.

“Apakah kalian ingin terbunuh disini?“ bentak Laksana tiba-tiba. Lalu katanya pula, “Yang pertama akan mati bukan kalian bertiga, tetapi Ki Sudagar Resakanti. Ia merupakan sumber dari kekisruhan ini. Kedua adalah ayah Miranti, yang telah sampai hati menjual anak gadisnya”

Wajah ketiga orang itu menjadi semakin tegang. Numun tiba-tiba saja terdengar Ki Sudagar Resakanti berteriak, “Bunuh ketiga cucurut itu. Aku yang bertanggung jawab. Mereka telah mengacaukan rencanaku yang telah matang”

Ketiga orang itu berpaling sejenak. Wajah Ki Sudagar memang telah menjadi merah membara. Karena itu, maka ketiga orang itu pun benar-benar telah menarik senjatanya dan mencoba berpencar. Namun ternyata mereka tidak banyak mendapat kesempatan. Manggada telah siap menyerang sambil berkata, “jadi kalian sama sekali tidak mau mendengar kata-kataku?“

Sebelum orang-orang itu menjawab, maka Manggada dan Laksana Loluh meloncat menyerang. Senjata mereka berputaran dengan cepat menyusup perhanan ketiga orang bertubuh raksasa itu. Seorang diantara mereka setiap kali harus bergeser mengambil jarak, karena ia harus menyeka darahnya yang mengucur dari luka didahinya. Tetapi justru karena itu, maka orang itulah yang terbebas dari ujung pedang Manggada dan Laksana. Kedua orang bertubuh raksasa itu hampir berbareng mengaduh kesakitan. Ujung pedang Manggada dan Laksana telah mengoyak tubuh kedua orang yang bertubuh raksasa itu. Seorang dilambungnya dan seorang dipundaknya. Dengan pucat keduanya meraba lukanya yang mulai memancarkan darah yang masih hangat dari tubuh mereka.

“Ki Sudagar“ geram Manggada, “sekali lagi aku peringatkan, jika kau tidak memerintahkan orang-orangmu berhenti maka kau adalah orang yang akan mati pertama kali.

Wajah Ki Sudagar menjadi pucat ketika Manggada mendekatinya sambil berkata kepada Laksana, “Jika ketiga orang itu masih melawan, hancurkan mereka. Aku akan membunuh Ki Sudagar”

Wajah Ki Sudagar menjadi semakin pucat. Setelah termangu-mangu sejenak, maka ia pun berkata, “Baik. Baiklah. Orang-orangku akan berhenti”

“Bawa orang-orangmu pergi. Tinggalkan tempat ini. Jangan bermimpi lagi untuk mengambil Miranti sebagai menantumu. Biarlah ia merancang hari depannya dengan anak muda yang dicintainya, sehingga ia akan memiliki keutuhan pilihan. Apapun yang terjadi kelak adalah tanggung jawabnya sendiri”

Ki Sudagar masih termangu-mangu. Namun Manggada itu membentak, “ Cepat, sebelum kami berdua menjadi gila”

Ki Sudagar tidak menjawab lagi. Ia pun segera melangkah menuju ke kudanya diikuti oleh ayah Miranti dan ketiga orang yang telah terluka itu. Sejenak kemudian, maka kuda-kuda mereka telah berderap meninggalkan rumah itu.

Manggada dan Laksana telah menyarungkan pedangnya. Kemudian katanya kepada Ki Bekel, “Segalanya sekarang terserah kepada Ki Bekel. Namun menurut pendapatku, biarlah untuk sementara Miranti berada dirumah Ki Bekel. Selanjutnya, terserah apa yang terbaik dilakukannya sesuai dengan pertimbangan Ki Bekel”

“Kita akan membicarakannya ngger“ berkata Ki Bekel.

“Maaf Ki Bekel. Aku tidak dapat mengikuti Ki Bekel kembali ke padukuhun Ki Bekel. Kami berdua akan melanjutkan perjalanan. Kami serahkan kedua ekor kuda itu disini” sahut Manggada, “bukankah aku singgah untuk sekedar minta ijin bermalam di banjar. Tetapi sekarang hari telah siang. Bahkan hampir tengah hari. Bukankah aku tidak perlu bermalam lagi?”

Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Namun saudara Ki Winduwara itu berkata, “Aku mohon angger berdua sudi bermalam disini barang semalam saja”

Tetapi Manggada dan Laksana menggeleng. Dengan nada rendah Laksana berkata, “Kami akan melanjutkan pernjalanan kami yang mash panjang. Kami mohon maaf”

Ki Winduwara lah yang kemudian berkata kepada anaknya, ”Sela Aji. Kaulah yang wajib mengucapkan seribu kali terima kasih kepada mereka berdua. Mereka telah berbuat terlalu banyak bagi kalian berdua. sehingga kalian bebas dari bencana”

Sela Aji lelah mengajak Miranti untuk mendekati kedua orang anak muda itu. Dengan suara yang lemah Sela Aji yang kepalanya masih pening itu berkata, “Aku mengucapkan beribu terima kasih”

Manggada tersenyum. Sambil minta diri maka ditepuknya pundak Sela Aji sambil berkata, “Kau tempuh jalanmu dengan kesulitan yang hampir mencelakaimu. Karena itu, kau harus menyelamatkan perkawinan kalian sampai akhir hidup kalian”

Sela Aji mengangguk kecil. Demikian pula Miranti. Bahkan dari sela-sela bibirnya ia berucap, “Terima kasih anak-anak muda yang baik”

Ki Bekel, Kl Winduwara, para bebahu dan paman Sela Aji tidak mampu lagi menahan kedua anak muda itu.

Keduanya pun segera minta diri betapapun paman Sela Aji itu menahannya.

Demikianlah kedua orang anak muda itu telah melanjutkan perjalanan mereka. Mereka memang merasa letih dan kantuk. Semalam mereka tidak jadi menumpang untuk tidur di banjar.

Namun Laksana itu pun kemudian berkata, “Ternyata bukan bersumber dari hutan Jatimalang. Lebih-lebih lagi mereka bukan kawan yang baik untuk menjajagi ilmu kita. Kita masih memerlukan orang lain yang lebih baik dari ketiga orang raksasa dungu itu”

“Ah kau. Kau harus ingat pesan ayahmu” jawab Manggada.

“Ya, ya. Aku ingat“ sahut Laksana sambil tersenyum. Namun katanya kemudian, “He, bukankah Miranti gadis yang cantik?“

“Ah kau“ desis Manggada.

Laksana tertawa. Namun ia tidak menjawab lagi.

Manggada dan Laksana memutuskan untuk tidak segera kembali ke rumah ayah Manggada. Padahal mereka meninggal-kan tempat berguru, terutama Manggada, didorong oleh perasaan rindu pada ayah dan ibunya.

Namun ternyata, kedua anak muda itu tiba-tiba saja merasa perlu melihat dunia ini lebih banyak. Justru karena mereka telah hadir di cakrawala, maka mereka merasa tetapa sempitnya penglihatan mereka.

Karenanya, kedua anak muda itu telah memutuskan untuk tidak segera pulang.

Dengan demikian, keduanya tidak memilih jalan terdekat menuju ke Pajang, tempat tinggal orang tua Manggada, tapi melingkar.

Manggada dan Laksana berjalan menelusuri jalan sempit yang membawa mereka ke dekat sebuah hutan yang tidak seluas hutan Jatimalang. Ketika mereka menuruni tebing sebuah sungai, tidak jauh dari hutan kecil itu, Manggada sempat bertanya kepada seorang petani yang sedang mencuci cangkulnya sambil memandikan seekor lembu.

“Ki Sanak, sungai ini disebut sungai apa?“

Petani itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian, ia justru bertanya, “Apakah anak-anak muda bukan penghuni padukuhan di sekitar tempat ini?“

“Bukan Ki Sanak“ jawab Manggada.

Petani itu mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Sungai ini disebut Kali Jlantah, yang mengalir dari antara lereng Gunung Lawu dan Gunung Kukusan”

Manggada mengangguk-angguk. Namun ia masih juga bertanya, “Hutan yang di sebelah itu?“

Petani itu mengangkat wajahnya. Tetapi hutan itu tidak nampak dari tempat mereka berdiri, karena terhalang tebing. Namun petani itu sudah tahu pasti, bahwa tidak terlalu jauh dari tempat itu memang terdapat sebuah hutan.

Karena itu ia jawab, “Hutan itu disebut hutan Nguter, anak-anak muda, karena letaknya tidak jauh dari sebuah padukuhan yang disebut Nguter. Sebuah padukuhan yang mulai lumbuh, meskipun tidak terlalu cepat”

”Tetapi apakah letaknya yang dekat dengan hutan itu tidak mengganggu?” bertanya Laksana.

“Tentu tidak” jawab petani itu, “tetapi sekali-sekali memang pernah ada seekor harimau yang berkeliaran mendekati padukuhan. Pernah terjadi ternak dimangsa oleh harimau yang kebetulan kelaparan. Biasanya harimau-harimau yang telah menjadi tua dan tidak lagi mampu berburu di hutan yang lebat itu”

Kedua anak muda itupun mengangguk-angguk. Namun keduanya tiba-tiba saja ingin melihat-lihat padukuhan yang ada di dekat hutan itu.

Setelah mengucapkan terima kasih kepada petani itu, keduanya lalu menyusuri Kali Jlantah menuju kesebuah padukuhan yang dipisahkan bulak panjang dan berada tidak jauh pula dari sebuah hutan yang disebut Hutan Nguter, sebagaimana nama padukuhan terdekat dan hutan itu.

Demikian keduanya naik ke atas tebing, mereka telah berada di sebuah padang perdu itu, terdapat bulak yang luas sekali. Di kejauhan, nampak sebuah hutan yang dipisahkan oleh padang perdu pula, serta bulak panjang dengan sebuah padukuhan.

Manggada dan Laksana kemudian menyeberangi padang perdu dan turun ke jalan sempit di ujung bulak. Menyusuri jalan sempit itu, mereka melintasi sebuah bulak yang luas.

Beberapa buah gubug terdapat diantara kotak-kotak sawah. Agaknya orang-orang yang pergi ke sawah tidak perlu hilir mudik pulang ke rumah masing-masing, di waktu mereka beristirahat di tengah hari. Biasanya, keluarga merekalah yang pergi ke sawah untuk mengirimkan makan siang mereka.

Matahari memang terasa semakin panas menyengat kulit. Namun di jalan sempit, di tengah-tengah bulak yang luas itu, Manggada dan Laksana mulai bertemu dengan beberapa orang yang membawa makanan ke sawah.

Dua orang anak berjalan sambil berteriak-teriak menyanyi-kan sebuah tembang yang patah-patah dan tidak berujung pangkal. Sementara beberapa puluh langkah di belakang mereka, seorang perempuan separo baya menggendong sebuah bakul makanan sambil mengusap keringat di keningnya.

Tetapi kerja itu sudah dilakukannya setiap hari.

Kedua anak muda itu berjalan semakin lama semakin dekat dengan hutan yang tidak begitu besar itu. Sedangkan di sisi lain, nampak sebuah padukuhan yang hijau, diantara tanaman yang subur di sawah.

Agak jauh di depan mereka, nampak seorang perempuan yang berjalan menggendong bakul pula. Tetapi kedua anak muda itu tidak dapat melihat dengan jelas, karena jaraknya yang masih cukup jauh.

Nampaknya, perempuan itu bukannya seorang perempuan yang sudah separuh baya, sebagaimana yang dijumpainya sebelumnya. Tetapi perempuan itu adalah perempuan yang masih cukup muda.

Namun kedua anak muda itu tidak berpapasan dengan perempuan itu. Sebelum mereka bertemu jalan, perempuan itu sudah berbelok meniti sebuah pematang.

Laksana tiba-tiba saja menarik nafas panjang, sementara Manggada sempat bertanya, “Kenapa?“

“Tidak apa-apa” jawab Laksana.

Manggada tersenyum. Tetapi ia tidak berkata sesuatu.

Namun ketika Manggada dan Laksana berjalan semakin dekat dengan pematang tempat perempuan itu berbelok, dan berjalan di tengah-tengah hijaunya batang padi, tiba-tiba saja mereka terkejut.

Kedua anak muda itu mendengar jerit panjang. Kemudian mereka melihatl perempuan yang masih nampak tersembul diantara batang padi itu berbalik, berlari dengan cepatnya. Namun ketika perempuan itu meloncati parit di ujung pematang, ia terperosok jatuh.

Manggada dan Laksana dengan cepat berlari mendekatinya. Dengan serta merta, keduanya telah menolongnya berdiri sambil bertanya hampir berbareng, “Ada apa?“

Perempuan itu ternyata adalah seorang perempuan muda Wajahnya menjadi pucat, dan bibirnya yang bergerak nampaknya tidak dapat melontarkan kata-kata. Tetapi tangannya bergerak menunjuk ke satu arah.

Manggada dan Laksana berpaling mengikuti arah tangan perempuan itu. Ternyata keduanya terkejut. Manggada dan Laksana telah memapah perempuan muda itu beberapa langkah surut.

Kedua unuk muda itu telah melihat seekor harimau yang tersembul dari rimbunnya batang padi muda yang tumbuh subur.

Perempuan yang ketakutan itu menjadi sangat gemetar. Tetapi Manggada berkata, “Jangan cemas. Kami akan berusaha untuk mengusir harimau itu”

“Tetapi, tetapi“ perempuan itu nampaknya masih akan berbicara. Namun mulutnya bagaikan sulit untuk dipergunakan.

“Tenanglah“ berkata Laksana.

Manggada dan Laksana kemudian meletakkan perempuan muda itu duduk di pinggir jalan. Sementara Manggada dan laksana mempersiapkan diri untuk melawan harimau itu.

Keduanya tiba-tiba teringat pekerjaan mereka sebelum meninggalkan padukuhan tempat mereka menempa diri. Mereka memang sering berburu binatang buas untuk diambil kulitnya, yang dapat mereka jual kepada para pedagang kulit binatang buas.

Tetapi yang mereka hadapi saat ini bukan sekadar harimau buruan, tapi mereka harus melindungi seorang perempuan muda yang ketakutan.

Karena itu, mereka tidak saja harus memperhatikan diri mereka berdua, tetapi juga harus memperhatikan perempuan itu. Jika perempuan itu menjadi semakin ketakutan, maka ia akan dapat menjadi pingsan karenanya.

Di pinggang kedua anak muda itu, masih terselip pedang. Karenanya, mereka dapat mempergunakannya untuk melawan harimau itu, karena mereka tidak sedang memerlukan kulitnya.

Menghadapi seekor harimau yang besar itu, kedua anak muda itu berpencar. Harimau itu, menurut pengamatan Manggada dan Laksana, adalah seekor harimau yang memang sudah agak tua, yang sudah malas berburu kijang atau jenis-jenis binatang buruan lainnya.

Nampaknya harimau itu sudah menjadi sangat lapar, sehingga tidak sabar lagi menunggu senja. Dengan harapan untuk bertemu buruan yang lemah, dan tidak mampu berlari secepat kijang atau rusa, harimau itu telah menyeberangi padang perdu di pinggir hutan itu untuk memasuki bulak persawahan.

Beberapa saat kemudian, harimau itu mulai merunduk. Harimau itu menjadi marah, ketika melihat dua orang anak muda yang dengan sengaja datang mendekatinya.

Sementara itu, dari kejauhan seorang yang juga akan mengirim makan ke sawah dan melihat harimau yang sudah berada di jalan bulak itu, telah berteriak-teriak sambil berlari menjauh tanpa menghiraukan apa yang dapat terjadi atas mereka yang sudah berhadapan dengan harimau itu.

Sebenarnyalah perempuan muda yang duduk di tanggul parit, agak mundur beberapa langkah dari Manggada dan Laksana dengan sangat ketakutan. Ia sama sekali sudah tidak mempunyai kemampuan lagi untuk berlari menjauh. Kakinya bagaikan telah membeku.

Teriakan orang yang berlari menjauh itu, ternyata telah didengar oleh beberapa orang, sehingga mereka yang berada di sawah atau mulai beristirahat di gubug, telah meloncat turun dan berlari ke jalan.

“Ada apa?“ bertanya seseorang.

”Harimau, harimau“ teriak orang itu sambil berlari tanpa berhenti.

Sejenak kemudian, berita tentang kehadiran seekor harimau di sawah itu telah sampai ke padukuhan. Orang-orang padukuhan yang menganggap bahwa seekor harimau dapat mendatangkan kematian, kemudian membunyikan kentongan dalam nada titir.

Seekor harimau yang turun ke sawah, atau bahkan datung ke padukuhan, bukannya untuk pertama kali. Namun demikian, harimau masih juga merupakan seekor binatang yang menakutkan. Belum setahun, seekor harimau telah membunuh seorang petani yang bekerja di sawah dan singgah di padang perdu untuk mencari kayu bakar. Sepekan kemudian, baru ditemukan sisa-sisa tubuhnya yang telah dikoyak-koyak oleh harimau, diseret ke dalam hutan. Sedangkan sebelumnya, seekor harimau telah menerkam beberapa ekor kambing beberapa malam berturut-turut.

Seekor diantara harimau yang turun ke padukuhan itu, telah berhasil dibunuh oleh para petani. Mereka yang marah, ramai-ramai berusaha menjebak harimau itu dan membunuhnya. Diantara para petani itu, seorang yang bertubuh tinggi kekar, berjanggut dan berjambang, dengan bulu dada yang lebat, adalah orang yang paling berani. Ia adalah orang yang memimpin perburuan harimau itu, sehingga berhasil membunuhnya.

Suara titir dan teriakan-teriakan, kembali membangkitkan kemarahan para petani, sehingga mereka bergegas keluar dari rumahnya

“Dimana harimau itu?“ bertanya seorang petani pada seorang yang berlari-lari di lorong, di muka rumahnya.

“Di sawah“ jawab orang itu, “hampir saja menerkam orang”

“Siapa yang akan diterkamnya? Lalu bagaimana?“ bertanya orang itu kembali.

“Entahlah“ jawab orang itu dengan nafas terengah-engah, “beberapa orang laki-laki bersenjata telah mendatanginya”

“Siapa yang akan diterkam?“ bertanya orang itu mendesak.

“Mas Rara“ jawab orang itu.

“Mas Rara?“ mata orang itu terbelalak. Dengan tangkasnya ia berlari masuk ke dalam rumahnya untuk mengambil sebatang tombak pendek. Kemudian berlari dengan cepat menuju ke gerbang padukuhan.

Ia segera tahu di mana harimau itu. Karena itu, ia pun berlari sepanjang bulak dengan tombak pendek di tangannya.

Akhirnya, dari kejauhan ia melihat beberapa orang berkerumun. Dari kejauhan sudah nampak beberapa buah ujung senjata yang mencuat diantara beberapa orang yang berdiri dalam lingkaran.

Dengan jantung berdebar, ia bertanya kepada diri sendiri, “Apa yang telah terjadi dengan Mas Rara?“

Sejenak kemudian, ia telah menyibak orang-orang yang berdiri dalam lingkaran. Ia berharap bahwa ia tidak terlambat.

Yang dilihatnya di dalam lingkaran orang-orang padukuhan itu, adalah Mas Rara yang pingsan. Kepalanya terletak di pangkuan kakak laki-lakinya. Sementara kedua orang tuanya menangisi di sebelahnya.

“Kenapa dengan Mas Rara, kakang?“ bertanya yang bertubuh kekar itu. Suaranya menggelegar dan membangunkan ayah Mas Rara dari keadaannya.

Sambil berpaling, berdesis, “Kau Resa”

“Bagaimana dengan Rara kakang?“ bertanya orang bertubuh kekar yang dipanggil Resa itu.

“Ia pingsan. Tubuhnya menjadi dingin seperti membeku” jawab ayah Mas Rara.

Resa lalu berjongkok di sebelahnya. Namun ia berkata, “Ki Sampar tentu akan segera menyembuhkannya”

Seorang tua yang sibuk mengobati Mas Rara berpaling. Tetapi sekejap kemudian ia telah sibuk lagi memijit-mijit kening Mas Rara dengan sejenis reramuan.

Resa pun kemudian bangkit berdiri sambil berkata, “Apakah harimau itu telah lari?“

“Tidak Ki Resa“ jawab seseorang.

“Lalu?“ bertanya Resa.

Beberapa orang di sisi lain telah menyibak. Di belakang mereka, seekor harimau yang besar tergolek tidak bernyawa.

“Kalian telah membunuhnya beramai-ramai?“ bertanya Resa.

“Tidak Ki Resa“ jawab beberapa orang hampir berbareng.

“Lalu bagaimana?“ bertanya Resa heran.

“Dua orang anak muda itulah yang membunuhnya“ jawab seorang.

“Dua orang anak muda?“ Resa menjadi semakin heran.

Beberapa orang pun kemudian menunjuk dua orang anak muda yang berdiri diantara mereka, yang mengerumuni Mas Rara yang pingsan itu.

“Siapa mereka?“ hampir diluar sadarnya Resa bertanya.

Orang-orang itu menggelengkan kepalanya. Memang tidak seorang pun diantara mereka mengenai kedua orang anak muda itu.

Namun wajah Resa telah berubah. Ia justru tidak senang melihat dua orang anak muda yang telah membunuh seekor harimau yang sangat besar. Yang lebih besar dari seekor harimau yang pernah dibunuhnya bersama-sama dengan beberapa orang.

Namun Resa masih herusaha untuk bersikap wajar. Apalagi Mas Rara masih belum sadarkan diri.

Tetapi sejenak kemudian, Mas Rara mulai bergerak. Dengan nada rendah, Ki Sampar berkata kepada orang-orang yang berkerumun, “Mundurlah. Mundurlah agar udara menjadi segar. Jika kalian berkerumun terlalu dekat, udara akan menjadi pengab. Bau keringat kalian akan membuatnya pingsan lagi”

Ayahnya pun telah berkata pula kepada orang-orang itu, “Tolonglah, tolonglah”

Orang-orang yang berkerumun itu pun berdesakan mundur. Sementara itu, Mas Rara benar-benar telah sadar. Bahkan kemudian gadis itu menangis tersedu-sedu.

“Sudahlah Rara. Sudahlah“ berkata kakaknya yang kemudian mengusap air matanya dengan jari-jarinya, “jangan menangis. Kau berada di sawah. Nanti orang-orang melihatmu menangis”

“Kakang“ desis Mas Rara. Namun wajahnya tiba-tiba nampak ketakutan, “bagaimana dengan harimau itu”

“Harimau itu sudah mati“ jawab kakaknya.

“Mati? Kaulah yang membunuhnya kakang?“ bertanya Mas Rara.

Kakaknya menggeleng. Namun katanya, “Sudahlah. Nanti kau akan tahu. Sekarang, bangkitlah dan coba duduk. Kau perlu minum”

Mas Rara memang berusaha untuk bangkit. Minum seteguk air yang dibawanya untuk mengirim ayahnya dan kakaknya yang bekerja di sawah. Air kendi yang segar, telah membuat tenaganya pulih kembali. Apalagi ketika ia melihat banyak orang bersenjata mengerumuninya, sehingga ia tidak perlu ketakutan lagi. Apalagi ketika ia melihat pamannya yang bertubuh tegap tegar, dan dikagumi oleh orang-orang sepadukuhannya karena keberaniannya. Bahkan, ada orang yang menyebutnya Ki Resa, si pembunuh harimau.

“Paman telah membunuh harimau itu?“ bertanya Mas Rara.

Resa menjadi agak bimbang untuk menjawab. Namun kemudian katanya, ”Sudahlah. Kau harus merasa sehat lebih dahulu. Kemudian, jika mungkin, pulanglah, agar kau tidak kepanasan di tengah sawah ini”

“Ia masih lemah paman“ desis kakaknya.

“Kau dapat memapahnya“ berkata pamannya. Kakaknya mengangguk kecil. Katanya

“Baiklah. Aku akan mencobanya”

“Aku dapat berjalan sendiri kakang“ berkata Mas Rara.

“Marilah. Aku akan membantumu“ jawab kakaknya.

Dibantu oleh kakaknya, Mas Rara pun telah berjalan tertatih-tatih bersama ibunya.

Sementara ayahnya masih sempat menemui Manggada dan Laksana untuk mengucapkan terima kasih. Katanya kemudian, “Kami mohon kalian berdua bersedia untuk singgah di rumah kami”

Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Sementara ayah Mas Rara mendesaknya, “Kami mohon anak-anak muda. Kami mohon”

Manggada dan Laksana tidak dapat menolak permintaan itu. Karena itu, katanya hampir berbareng, “Baiklah. Kami akan singgah”

Ketika orang-orang itu kemudian beriringan kembali ke padukuhan, maka beberapa orang diantara mereka berniat membawa harimau itu kembali untuk diambil kulitnya.

Namun Resa yang pernah digelari Pembunuh harimau, membentak, “Untuk apa kalian bawa harimau itu?“

“Kulitnya laku dijual Ki Resa“ jawab salah seorang diantara mereka.

“Tetapi harimau itu adalah hak ke dua anak muda itu“ jawab Ki Resa yang tiba-tiba saja berkata, “He, panggil anak-anak muda itu. Cepat, sebelum ia pergi jauh”

Orang-orang itu menjadi heran. Nada kata-kata Ki Resa nampaknya tidak begitu ramah.

“Cepat“ bahkan ia membentak.

Seorang diantara mereka telah berlari-lari menyusul kedua orang anak muda yang berjalan paling belakang dari iring-iringan itu.

“Anak-anak muda“ berkata orang itu, “Ki Resa minta kalian untuk menemuinya sebentar. Hanya sebentar”

Kedua anak muda itu termangu-mangu. Namun mereka pun melangkah kembali, mendekati Ki Resa yang memandangi mereka dengan tajamnya.

“Kalian yang mengaku telah membunuh harimau ini?“ bertanya Resa.

“Ya Ki Sanak“ jawab Manggada, “kami terpaksa membunuh-nya, karena harimau itu akan menerkam gadis yang pingsan itu”

“Aku pamannya. Aku adalah Ki Resa yang digelari Pembunuh Harimau. Kenapa kau harus melakukannya? Apa kalian kira, tanpa kalian aku tidak mampu membunuhnya?“ bertanya Ki Resa.

Manggada dan Laksana menjadi heran. Ia tidak mengerti, kenapa tiba-tiba saja orang itu menjadi marah kepada mereka.

Karena Manggada dan Laksana tidak segera menjawab, maka Ki Resa membentak, “Kenapa? Kenapa kalian diam saja? kalian sudah mengaku dapat membunuh harimau itu, sekarang kalian harus dapat mempertanggung-jawabkan”

Manggadalah yang kemudian bertanya, “Ki Resa, apakah kami telah melakukan kesalahan?“

“Kau terlalu sombong. Kau dan kawanmu itu, dengan sengaja ingin menunjukkan kepada orang-orang padukuhan ini bahwa kalian adalah orang-orang yang memiliki kelebihan dengan membunuh harimau tua yang sudah tidak bergigi itu” jawab Ki Resa, “Kau kira dengan permainanmu itu, aku akan mengagumimu?“

Manggada dan Laksana akhirnya mengerti kenapa orang itu menjadi marah. Agaknya, orang yang telah disebut pembunuh harimau, adalah orang yang sangat dikagumi di padukuhan itu. Kehadiran mereka berdua, dianggap menjadi saingan bagi orang itu.

Wajah Laksana menjadi tegang. Tetapi sebelum ia mengatakan sesuatu, Manggada telah mendahului, “Ki Resa. Jika kami dianggap bersalah, kami minta maaf. Tetapi kami tidak sempat berpikir sama sekali pada waktu itu. Apalagi kami sama sekali tidak tahu bahwa perbuatan kami telah membuat Ki Resa tidak senang. Sebab, saat itu harimau telah meloncat menerkam, sebelum Ki Resa datang”

Ki Resa mengerutkan keningnya. Jawaban anak muda itu nampaknya dapat dimengerti oleh orang-orang yang ikut mendengar pembicaraan itu, sehingga Ki Resa menahan diri untuk menghindari prasangka buruk dari orang-orang yang akan mengambil kulit harimau itu.

Bahkan kemudian, sambil melangkah pergi, ia berkata, “Jika kalian menginginkan kulitnya, bicaralah dengan anak-anak itu”

Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Sementara itu, orang-orang yang akan membawa harimau itu telah berbicara kepada Manggada dan Laksana.

“Bawalah“ jawab Manggada, “tetapi kulit harimau itu tidak dapat dijual mahal. Beberapa buah lubang terdapat pada kulit itu”

Seorang anak muda yang lebih tua sedikit dari Manggada bertanya, “Jadi seharusnya bagaimana?“

“Kulit harimau akan menjadi lebih mahal jika tidak terdapat luka-luka di tubuhnya“ jawab Manggada.

“Tetapi hampir tidak mungkin dapat membunuh harimau tanpa melukainya“ desis anak muda itu.

Manggada tidak menjawab. Ia memang tidak ingin bercerita lebih panjang tentang kebiasaannya menangkap harimau, hingga pada suatu saat pamannya harus menghentikannya.

Sementara itu, seorang telah berlari-lari kembali dari iring-iringan yang menjadi semakin jauh. Dengan nada tinggi, orang itu berkata, ”Ki Sanak. Marilah. Kami, bukan saja keluarga Mas Rara, tetapi seisi padukuhan, mempersilahkan kalian singgah.”

“Baik, baik Ki Sanak” jawab Manggada, ”kami akan segera menyusul bersama saudara-saudara yang akan membawa harimau ini untuk dikuliti”

Akhirnya, beberapa orang telah mengangkat harimau yang cukup berat itu untuk dibawa ke padukuhan bersama dengan Manggada dan Laksana. Agak jauh di hadapan mereka, Ki Resa berjalan cepat, menyusul iring-iringan Mas Rara.

Dalam pada itu, Laksana berdesis kepada Manggada, “Kenapa kau terlalu merendahkan diri terhadap Ki Resa? Jika itu jadi perselisihan, bukan salah kita. Aku justru ingin tahu, apakah orang yang disebut Pembunuh Harimau itu dapat mengalahkan aku seorang diri. Tanpa kau”

“Sudahlah“ berkata Manggada, “kita akan memasuki satu lingkungan baru. Sebaiknya kita bersikap baik, sehingga kesan pertama yang ditangkap oleh orang-orang padukuhan atas kita, cukup baik. Mungkin pada kesempatan lain kita akan dapat bersikap lain terhadap Ki Resa”

Laksana termangu-mangu. Namun ia tidak menjawab lagi.

Keduanya tidak banyak berbicara lagi. Iring-iringan itu telah melewati bulak panjang. Semakin lama semakin bertambah-tambah. Orang-orang yang berada di sawah, hampir semuanya ikut bersama-sama iring-iringan itu kembali ke padukuhan. Bahkan beberapa orang seakan-akan menyongsong mereka, untuk melihat apa yang telah terjadi dengan Mas Rara.

Seorang gadis yang sebaya dengan Mas Rara, yang tidak berani menyongsong ke sawah, berbisik kepada kawannya di mulut lorong padukuhan, “Jika terjadi sesuatu atas Mas Rara, maka Raden Panji akan marah sekali. Seisi padukuhan ini akan dihukumnya tanpa ampun”

“Sukurlah bahwa Mas Rara dapat diselamatkan. Beberapa saat lagi, ia akan duduk di pelaminan dengan seorang bangsawan tinggi yang sangat dihormati“ sahut kawannya juga seorang gadis.

Gadis yang pertama itu, berkata lagi, “Banyak kawan-kawan sebaya kita menjadi iri”

Tetapi gadis yang pertama mencubitnya. Katanya, “Ah, apakah kau juga iri?“

“Bukankah bakal suaminya, Raden Panji, berkuasa dan kaya raya?“ jawabnya sambil menghindari cubitan kawannya.

Yang lain tidak menjawab lagi. Mereka telah melihat iring-iringan datang. Di bagian depan, orang tua Mas Rara disusul Mas Rara yang dibimbing kakaknya. Namun Mas Rara, meskipun masih nampak lemah, tapi sudah mampu berjalan lebih baik.

Ketika iring-iringan itu memasuki padukuhan, tidak banyak pertanyaan dapat dijawab. Iring-iringan itu langsung menuju ke rumah Mas Rara.

Karena beberapa orang ikut masuk ke halaman rumah Mas Rara, orang tua gadis itu sibuk mencari kedua anak muda yang telah membunuh harimau, yang hampir saja menerkam anak gadisnya.

“Mereka ada di belakang“ berkata Resa yang sudah ada di rumah itu pula.

”Kami akan menyambut mereka sebagai pernyataan terima kasih“ berkata ayah Mas Rara.

“Biarkan saja mereka“ berkata Ki Resa dengan nada berat, “mereka akan menjadi manja, dan bahkan sombong. Mereka akan mengira bahwa di padukuhan ini tidak ada orang lain yang dapat melakukan sesuatu yang lebih baik dari yang dapat mereka lakukan. Mereka mengira bahwa membunuh harimau adalah satu kerja yang tidak ada bandingnya”

Ayah Mas Rara menarik nafas dalam-dalam. Dengan sabar, orang tua itu berkata, “Seluruh padukuhan itu tahu Resa, bahwa kau tentu akan mampu melakukannya. Tetapi saat itu, adalah kebetulan bahwa kedua orang anak muda itu ada di dekat anakmu, yang hampir saja di terkam seekor harimau. Sudah tentu tidak seorang pun akan memilih untuk menunggu kedatanganmu”

“Aku mengerti kakang, aku mengerti“ jawab Resa, “tetapi dengan demikian, seluruh isi padukuhan ini dengan serta merta telah mengaguminya. Terimalah keduanya dengan wajar. Tanpa harus dibuat-buat”

“Apakah yang aku lakukan tidak wajar? Aku, orang tua dari seorang gadis yang diselamatkan jiwanya. Bukankah wajar jika aku merasa sangat bergembira, dan menyatakan sukur kepada Yang Maha Pencipta, yang telah melindungi anakku dengan lantaran kedua anak muda itu?“ bertanya ayah Mas Rara.

“Ketika aku membunuh harimau, orang-orang padukuhan ini tidak menjadi gempar seperti ini“ geram Ki Resa.

“Kenapa tidak?“ bertanya ayah Mas Rara, “bukankah waktu itu justru semua orang keluar dari rumahnya, ikut beramai-ramai membunuh harimau itu. Kaulah yang berhasil menghunjamkan tombak pendekmu ke tubuh harimau itu, sehingga harimau itu tidak bernafas lagi, setelah lukanya arang keranjang dihujani senjata oleh orang sepadukuhan”

“Kakang memperkecil keberhasilanku, seolah-olah aku hanya dapat melakukannya dengan bantuan orang sepadukuhan“ geram Ki Resa.

Ayah Mas Rara menarik nafas dalam-lalam. Namun ia tidak bertanya lagi.

Sementara itu, bersama beberapa orang, Manggada dan Laksana telah memasuki halaman itu pula. Dengan tergesa-gesa, ayah Mas Rara mempersilahkan naik ke pendapa yang tidak begitu luas.

Beberapa orang laki-laki telah ikut duduk pula di pendapa. Mereka adalah orang-orang yang mengagumi kedua anak muda yang belum mereka kenal itu.

Sebenarnyalah mereka mengetahui bahwa sebelumnya, Ki Resa pernah juga membunuh seekor harimau bersama-sama dengan hampir setiap laki-laki padukuhan yang keluar sambil membawa senjata. Sehingga Ki Resa digelari Pembunuh Harimau. Namun ketika kemanakannya sendiri hampir diterkam seekor harimau, justru Orang lainlah yang menolongnya.

Orang-orang yang ada di pendapa itu ingin mengenai lebih jauh kedua anak muda itu. Siapakah mereka, dan dari mana saja mereka berjalan, atau menuju kemana, sehingga mereka melintasi bulak panjang didekat padukuhan mereka.

Beberapa saat kemudian, ayah Mas Rara berkata dengan nada rendah, “Selamat datang dipadukuhan Nguter anak-anak muda”

“Terima kasih Ki Sanak. Tetapi bolehkah aku tahu nama Ki Sanak? Bukankah Ki Sanak orang tua gadis itu?“ bertanya Manggada.

Ayah Mas Rara tertawa. Katanya, “Ya anak-anak muda. Aku adalah ayah gadis itu. Namaku Ki Partija“ kemudian, sambil menunjuk kakak Mas Rara yang sudah duduk di pendapa itu pula, ia berkata, “Itu adalah anakku yang sulung. Namanya Wirantana. Kakak anak gadisku yang akhir-akhir dipanggil Mas Rara”

“Kenapa akhir-akhir ini?“ bertanya Laksana.

“Namanya bukan Mas Rara, tetapi Wiranti. Karena anak gadisku akan diambil menjadi isteri Raden Panji Prangpranata, maka orang-orang pun telah memanggilnya Mas Rara.”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Namun hampir di luar sadarnya, Laksana bertanya, “Nama Ki Sanak agak bernada lain dengan nama anak-anak Ki Sanak”

Ki Partija, ayah gadis itu tersenyum. Katanya, “Nama itu adalah pemberian kedua orang tuaku. Aku memang tidak merubahnya, meskipun setelah kawin aku mempunyai nama lain. Tetapi aku tidak pernah mempergunakannya”

“Siapa nama itu?“ bertanya Manggada.

“Wirasentana. Nama yang aku buat sendiri setelah aku berumah tangga. Tetapi jarang sekali orang yang memanggilku demikian. Orang-orang di sekitarku masih saja memanggilku Ki Partija. Aku senang dengan panggilan itu” jawab orang itu.

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sementara itu, hidangan mulai disuguhkan. Minuman dan makanan.

Setelah meneguk minuman dan mencicipi beberapa potong makanan, Manggada dan Laksana minta diri untuk melanjutkan perjalanan.

Tetapi ternyata ia tidak berhasil keluar dari pendapa rumah itu. Ki Wirapartija telah mencegahnya. Dengan sungguh-sungguh, ia minta agar kedua anak muda itu menunggu. Besok keluarga itu akan mengadakan upacara, mengucapkan sukur kepada Yang Maha Agung, bahwa anaknya telah diselamatkan dari maut. Anak gadis yang diharapkan akan dapat menjadi tumpuan kebanggaan orang tuanya.

“Kami benar-benar tidak rela angger berdua meninggalkan rumahku sebelum hadir dalam upacara sukuran itu“ berkata Ki Partija Wirasentana.

Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Tetapi sebelum mereka menjawab, Ki Partija telah berkata, “Sekali lagi aku minta anak-anak muda untuk tetap tinggal. Kami akan mempersilahkan angger berdua untuk beristirahat di gandok sebelah kanan. Kalian telah menyelamatkan jiwa anakku. Itu bukan sekadar satu peristiwa yang dapat dilakukan begitu saja, dan kemudian tidak punya kesan apapun. Angger berdua harus tahu, bahwa yang kalian lakukan itu tidak akan dapat dilupakan seumur hidup. Bahkan akan tetap berpengaruh pada sikap dan cara berpikirnya”

Kedua anak muda itu tidak dapat memaksa. Beberapa orang telah menekankan permintaan Ki Partija dengan sungguh-sungguh. Akhirnya Manggada berkata, “Baiklah. Aku mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya”

“Bagus“ Ki Partija hampir berteriak. Lalu katanya kepada anak laki-lakinya, “Wirantana. Bawa kedua anak muda ini ke gandok kanan. Biarlah mereka beristirahat”

Wirantana mengangguk kecil. Kemudian katanya, “Marilah Ki Sanak, perlu beristirahat. Kami telah menyiapkan gandok sebelah kanan bagi Ki Sanak berdua”

Manggada dan Laksana pun kemudian meninggalkan pendapa. Ki Partija kemudian berkata kepada orang-orang yang ikut duduk di pendapa itu, “Biarlah anak-anak muda itu beristirahat lebih dahulu. Berkelahi dengan seekor harimau, bukan pekerjaan ringan. Jauh lebih berat daripada mengisi sepuluh jambangan pakiwan yang besar-besar. Bahkan akan dapat mengancam nyawa mereka sendiri. Adalah jarang ada anak-anak muda yang memiliki kemampuan sebagaimana kedua anak muda itu”

“Nanti sore kalian akan mendapat kesempatan berbincang-bincang lagi dengan mereka“ berkata Ki Partija.

Ketika pendapa rumah itu telah menjadi sepi, Ki Resa telah menemui kakaknya, Ki Partija Wirasentana. Seperti diduga oleh kakaknya, Ki Resa kemudian berkata, “Kakang terlalu memanjakan anak-anak itu, seperti yang sudah aku katakan. Jika mereka mau pergi, biar saja mereka pergi. Untuk apa kakang menahan mereka”

“Resa“ berkata kakaknya, “seperti yang sudah aku katakan. Aku memang menjadi sangat bergembira bahwa anakmu lepas dari maut. Kau tidak boleh memikirkan kepentinganmu sendiri, seakan-akan anak-anak muda itu menyaingi kebesaran namamu sebagai pembunuh harimau. Kau mendapatkan kebesaran namamu sendiri, sehingga anak itu pun mendapatkannya pula. Jika saat itu kami harus menunggu kedatanganmu, maka anakmu, Mas Rara, tentu sudah mati diterkam harimau yang besar itu. Apa daya seorang gadis”

“Aku tidak mengecilkan arti kemampuannya kakang. Kakang dapat mengucapkan terima kasih, memberinya sedikit uang, dan menyuruhnya pergi” berkata Ki Resa.

Tetapi kakaknya menggeleng. Katanya, “Persoalannya menyangkut hidup dan mati. Bukan sekadar upah seperti menebang sebatang pohon. Bagi Mas Rara, juga bagiku, semua milikku tidak akan cukup untuk membayar jasa yang telah diberikan“ Ki Partija berhenti sejenak. Lalu, “Apalagi kedua anak muda itu sebaya, bahkan lebih muda sedikit dari Wirantana. Mereka akan dapat menjadi kawan yang baik”

Ki Resa hanya dapat menggeram. Ia tidak dapat membantah niat kakaknya untuk menahan kedua anak muda itu.

Seperti yang dikatakan oleh ayahnya, Wirantana menjadi cepat akrab dengan Manggada dan Laksana. Wirantana yang sedikit lebih tua dari kedua anak muda itu, ternyata juga belum terlalu lama tinggal di rumahnya. Anak muda itu juga baru saja kembali dari rumah seorang sahabat ayahnya yang memiliki kemampuan ilmu kanuragan.

“Tetapi yang kami pelajari, adalah sangat sederhana sekali“ berkata Wirantana.

Manggada tersenyum sambil menjawab, “Kami tidak mendapatkan apa-apa selain ilmu dasar. Hanya itu”

“Tetapi kalian berdua mampu membunuh seekor harimau“ berkata Wirantana.

“Satu kebetulan. Atau mungkin karena terdorong oleh satu kewajiban yang harus kami lakukan untuk membantu sesama” jawab Manggada.

Wirantana mengangguk-angguk. Namun katanya, “Tetapi aku masih sangsi, apakah aku mampu melakukannya, seandainya terpaksa aku melakukannya. Meskipun umurku lebih tua dari kalian, namun agaknya dalam ilmu kanuragan, kalian sudah lebih dewasa dari aku”

Manggada menggeleng lemah. Namun Laksanalah yang berkata, “Kami masih baru mulai. Kami belum apa-apa”

Demikianlah, mereka sempat berbicara tentang berbagai macam pengalaman mereka masing-masing. Saat-saat mereka berada di perguruan mereka. Adalah diluar sadar bahwa Laksana kemudian menceriterakan pula kebiasaan mereka menangkap harimau untuk diambil kulitnya, dan dijual kepada pedagang kulit binatang buas dan binatang liar. Sehingga pada suatu saat pamannya menghentikannya, karena hal itu dianggap dapat mengganggu keseimbangan kehidupan di hutan.

Wirantana mengangguk-angguk. Katanya, “Jadi membunuh, bahkan menangkap harimau adalah pekerjaan kalian sehari-hari?“

Anak-anak muda itu mengerutkan keningnya. Namun hal itu sudah terlanjur dikatakannya.

Wirantana nampaknya memang tidak menaruh perhatian yang berlebihan. Namun ketika ia kembali ke pendapa, ia telah menceritakan kepada ayahnya.

Ayahnya mengangguk-angguk. Ia percaya akan ceritera itu. Kedua anak muda itu tentu anak-anak muda yang memang memiliki kelebihan dari anak-anak muda kebanyakan. Bahkan dari Wirantana yang pernah dikirimnya berguru, dan belum lama kembali kepada keluarganya.

Tetapi Ki Partija memang tidak perlu merasa iri. Bahkan ia menganggap kehadiran kedua anak muda itu akan dapat membantu anaknya mengembangkan ilmunya.

“Jika saja anak-anak muda itu mau tinggal bersama Wirantana untuk beberapa lama” berkata Ki Partija Wirasentana di dalam hatinya.

Namun pada hari itu, Ki Partija telah mempersiapkan segala-galanya dengan cepat. Besok mereka akan menyelenggarakan upacara ucapan sukur dengan memanggil tetangga-tetangga-nya. Makan bersama, dan kelenengan sepanjang malam. Ki Partija memang mempunyai kelompok yang terbiasa mengadakan latihan-latihan menabuh gamelan, sehingga justru pada malam syukuran, Ki Partija ingin mencoba kemampuan kawan-kawannya itu.

Dengan demikian, sejak hari itu, beberapa perempuan telah menjadi sibuk. Mereka mulai mengumpulkan bahan-bahan mentah yang dapat mereka lakukan pada hari itu. Dari lumbung, beberapa orang perempuan telah mengambil padi dan mulai menumbuknya di lesung yang panjang. Kemudian yang lain mengambil daun pisang di kebun belakang yang cukup luas. Kemudian yang lain lagi pergi ke pategalan memetik dedaunan yang dapat dipergunakan untuk membuat nasi megana.

Namun bukan saja hasil kebun dan pategalan sendiri. Beberapa orang tetangga yang ikut mengucap sukur bahwa Mas Rara selamat, telah datang memberikan sumbangan apa saja. Yang kebiasaannya membuat gula kelapa, telah datang dengan membawa setenggok gula kelapa. Ada yang membawa sebakul telur itik. Tetapi ada juga yang membawa dua ekor ayam hidup-hidup.

Dengan demikian, beberapa macam bahan telah datang sendiri, sehingga Ki Partija Wirasentana tidak perlu membelinya lagi keesokan harinya.

Malam itu di rumah Ki Partija sudah ramai dikunjungi orang. Beberapa orang duduk di pendapa namun ada juga yang duduk-duduk di serambi gandok. Terutama anak-anak muda yang ingin berkenalan dengan Manggada dan Laksana.

Namun dalam pada itu, yang sangat mengejutkan adalah kehadiran seorang utusan dari Raden Panji Prangpranata yang juga hadir di pendapa.

Dengan tergopoh-gopoh Ki Partija Wirasentana telah menemui tamunya yang khusus itu. Tentu ada sesuatu yang penting sehingga Raden Panji Prangpranata teleh mengirimkan utusan untuk datang ke rumahnya.

Dengan penuh hormat, Ki Partija Wirasentana menyapa tamunya, serta menanyakan keselamatan perjalanannya. Juga ditanyakan pula keselamatan Raden Panji Prangpranata serta keluarganya.

“Baik, Ki Partija Wirasentana” jawab utusan itu, “Kami dan keluarga Raden Panji dalam keadaan selamat”

Ki Partija mengangguk-angguk sambil berdesis, “Syukurlah, namun kedatangan Ki Sanak yang tiba-tiba telah membuat hatiku berdebar-debar. Sebab kami akan menyelanggarakan upacara pernyataan sukur karena Mas Rara telah diselamatkan dari terkaman seekor harimau yang sangat besar”

Orang itu tersenyum, katanya, “Baru saja aku mendengar tentang hal itu. Sebenarnya kedatanganku tidak ada sangkut pautnya dengan rencana Ki Partija menyelenggarakan upacara pernyataan sukur. Aku justru terkejut ketika memasuki halaman rumah ini, ternyata banyak orang berada di dalamnya”

Ki Partija Wirasentana mengangguk-angguk sambil berkata, “Kebetulan sekali Ki Sanak. Dengan demikian Ki Sanak dapat menyampaikan kepada Raden Panji, bahwa baru saja terjadi peristiwa yang hampir saja merenggut jiwa Mas Rara”

“Tetapi bukankah Mas Rara sudah selamat sekarang?” bertanya utusan itu.

“Sudah Ki Sanak. Itulah sebabnya kami membuat upacara pernyataan sukur besok malam” jawab Ki Partija Wirasentana yang tina-tiba bertanya, “apakah Ki Sanak akan bermalam sampai besok?”

Orang itu tersenyum, katanya, “Aku hanya bermalam semalam. Besok pagi aku sudah berangkat kembali”

“Kenapa tidak besok lusa saja?” sahut Ki Partija, “besok Ki Sanak dapat ikut upacara pernyataan sukur itu. Besok malam Mas Rara akan menari untuk membuat suasana semakin meriah”

“Mas Rara akan menari besok?” bertanya orang itu.

“Ya” jawab Ki Partija.

“Mas Rara dapat menari?” bertanya utusan itu pula.

“Anakku adalah penari terbaik di padukuhan ini” jawab Ki Partija, “Aku mempunyai seperangkat gamelan yang akan dipergunakan besok. Para penabuh juga dari padukuhan ini”

Utusan itu menarik nafas dalam-dalam. Ia memang sudah melihat itu ada di pringgitan.

“Nanti, jika kawan-kawan sudah lengkap, kami akan mengadakan latihan” berkata Ki Partija.

Utusan itu mengangguk-angguk, namun katanya, “Beruntunglah aku melihat latihan itu, sehingga aku dapat melihat Mas Rara menari. Aku tentu akan menceritakannya pada Raden Panji Prangpranata”

“Apalagi jika Ki Sanak sempat menyaksikannya besok” berkata Ki Partija.

Tetapi orang itu tersenyum sambil berkata, “Aku besok harus kembali”

Ki Partija pun kemudian menanyakan keperluan utusan itu datang ke padukuhan Nguter.

“Ki Partija Wirasentana” jawab orang itu, “sebenarnya aku mendapat perintah dari Raden Panji untuk melihat keadaan Mas Rara yang sudah agak lama tidak dikunjunginya, karena kesibukannya. Selain itu, Raden Panji nampaknya sudah mulai bersiap-siap untuk menentukan hari perkawinannya dengan Mas Rara. Oleh karena itu. Raden Panji minta Ki Partija untuk bersiap-siap. Dalam waktu dua tiga pekan lagi, Raden Panji akan mengirim utusan lagi.

Ki Partija mengangguk-angguk. Katanya, “Kami hanya menunggu perintah, Ki Sanak. Apapun yang diperintahkan oleh Raden Panji, kami akan melaksanakan. Kami tidak berwenang untuk menyatakan pendapat apapun di hadapan Raden Panji Prangpranata”

“Ada dua kemungkinan yang akan ditawarkan Raden Panji“ berkata utusan itu pula, “perkawinan agung itu diadakan di sini, kemudian diboyong Raden Panji, atau perkawinan agung diadakan di rumah Raden Panji. Ditinjau dari segi adat, maka perkawinan itu sebaiknya dilakukan di sini. Tetapi mengingat tempat dan kelayakan bagi para tamu Raden Panji yang akan diundang, sebaiknya perkawinan dilakukan di rumah Raden Panji”

Ki Partija mengangguk-angguk. Katanya, “Sekali lagi aku nyatakan, kami hanya melakukan segala perintah Raden Panji. Dimanapun perkawinan agung itu dilakukan, kami tidak akan berkeberatan”

“Kesulitan yang lain jika perkawinan itu dilakukan di sini, jaraknya terlalu jauh dari para tamu yang akan diundang oleh Raden Panji. Jika upacara selesai, Raden Panji harus menyediakan penginapan yang pantas bagi para tamunya. Dan itu agaknya tidak mungkin dilakukan mengingat tidak ada rumah yang pantas di sini. Jarak perjalanan ke tempat ini sangat melelahkan. Berkuda, lebih dari setengah hari perjalanan. Aku memang tidak terlalu cepat berpacu, karena aku tidak tergesa-gesa. Beberapa kali aku berhenti untuk makan, terutama yang aku tidak tahan adalah minum, serta memberi minuman dan makanan kudaku” berkata utusan itu.

Ki Partija mengangguk-angguk. Katanya, “Sudah aku katakan Ki Sanak. Terserah kepada Raden Panji. Kami hanya tinggal melaksanakannya”

Utusan itu mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Jika demikian Ki Partija, aku akan menyampaikannya kepada Raden Panji. Namun agaknya Raden Panji cenderung untuk melaksanakan perkawinan itu di rumah Raden Panji yang memadai. Pada suatu saat, Raden Panji akan mengirimkan utusan disertai dengan pertanda dirinya untuk menjemput Mas Rara. Aku juga belum tahu, kapan itu dilakukan. Apalagi jika Raden Panji kemudian mempunyai rencana lain.

“Kami akan melakukan dengan sebaik-baiknya. Kami menunggu dengan sabar dan dengan kesungguhan hati“ jawab Ki Partija.

“Nah, jika Ki Partija tidak mempunyai persoalan lagi, biarlah hasil pembicaraan ini aku bawa kepada Raden Panji“ berkata utusan itu, “sekarang, silahkan Ki partija meneruskan acara yang telah kau susun. Mungkin latihan atau apa. Tetapi jika Ki Partija tidak berkeberatan, aku ingin berbicara dengan kedua anak muda yang telah berhasil membunuh harimau itu”

“Tentu. Aku sama sekali tidak berkeberatan“ berkata Ki Partija Wirasentana, “aku akan memanggilnya. Anak-anak muda itu masih berada di gandok. Beberapa orang anak muda dari padukuhan Nguter ini telah datang untuk menemuinya dan berbicara dengan keduanya”

Ki Partija pun kemudian menyuruh seseorang untuk memanggil Manggada dan Laksana agar datang ke pendapa untuk menemui utusan dari Raden Panji Prangpranata.

Sejenak kemudian, kedua anak muda itu telah hadir. Beberapa orang anak muda dari Nguter, ikut naik ke pendapa dan duduk pula diantara mereka.

Utusan itu agak terkejut melihat keduanya. Masih terlalu muda. Sementara itu, dari seseorang ia telah mendengar, bahwa adik Ki Partija telah mendapat gelar Pembunuh Harimau. Namun yang kemudian menolong Mas Rara. justru dua orang yang masih sangat muda.

Untuk beberapa saat, utusan itu berbicara dengan Manggada dan Laksana. Memang tidak terlalu banyak yang mereka bicarakan selain peristiwa sekitar pembunuhan harimau yang hampir saja menerkam Mas Rara itu.

“Kalian akan mendapat hadiah secukupnya dari Raden Panji“ berkata utusan itu.

Tetapi Manggada menggeleng sambil berkata, “Terima kasih. Bukan maksud kami untuk mendapatkan hadiah apapun. Kami melakukannya karena kami merasa berkewajiban”

Orang itu tersenyum. Katanya, “Aku tahu. Raden Panji memberikan hadiah karena rasa terima kasihnya. Mungkin sekadar kenangan bagi kalian berdua.Tetapi Raden Panji tidak akan menilainya dengan uang, karena keselamatan jiwa Mas Rara tidak akan dapat dihargai berapapun juga”

Manggada dan Laksana menarik nafas dalam-dalam. Keduanya kemudian mengangguk hormat. Namun keduanya sama sekali tidak menjawab lagi.

Demikianlah. Sejenak kemudian, utusan itu berkata kepada Ki Partija Wirasentana, “Silahkan meneruskan rencana kalian. Latihan atau memasang perlengkapan, memindahkan gamelan atau apapun juga. Bukankah gamelan besok tidak akan ditempatkan di pringgitan?“

“Kami akan melakukan latihan dahulu Ki Sanak. Besok siang baru gamelan akan dipindah di sisi pendapa, berseberangan dengan pringgitan itu“ jawab Ki Partija Wirasentana.

Sejenak kemudian, Ki Partija Wirasentana telah mempersilahkan para penabuh untuk menempati tempatnya. Hampir semuanya orang dari padukuhan Nguter, meskipun ada satu dua orang datang dari padukuhan tetangga. Tetapi sudah menjadi kebiasaan mereka untuk setiap kali melakukan latihan bersama dengan orang-orang Nguter.

Utusan Raden Panji ternyata seorang yang mampu menikmati irama gamelan. Apalagi ketika para penari mulai melakukan latihan. Beberapa orang membawakan pethilan tari topeng. Namun yang paling menarik adalah ketika Mas Rara melakukan latihan sangat memikat para penonton. Apalagi besok, jika Mas Rara mengenakan pakaian lengkap seorang penari.

Anak-anak muda Nguter memandanginya tanpa berkedip. Mas Rara bukan saja seorang penari yang baik, tapi juga seorang gadis yang sangat cantik.

Manggada dan Laksana memandang gadis itu bagaikan membeku. Mereka belum pernah melihat gadis secantik gadis yang sedang menari itu. Anak gadis Ki Wiradadi yang diambil oleh sekelompok orang berilmu hitam untuk dikorbankan, juga cantik. Tapi gadis itu tidak sedang bersolek seperti Mas Rara. Anak gadis Ki Wiradadi justru nampak kusut dan lemah. Sedangkan Mas Rara nampak bersih dan segar.

Selagi Mas Rara menari dengan asyiknya, di halaman, pamannya pun tengah mengaguminya. Bahkan Ki Resa yang digelari Pembunuh Harimau itu sempat menggeram, “Kenapa gadis itu telah dijual?“

Sekilas Ki Resa memandang utusan Raden Panji Prang-pranata. Dengan mata yang memancarkan ketidak senangan, ia kemudian meninggalkan halaman, dan keluar regol turun ke jalan.

Ternyata di jalan, di depan rumah Ki Partija Wirasentana, cukup ramai. Meski yang berlangsung di pendapa baru latihan, tapi telah banyak orang datang. Bukan saja untuk menonton, tetapi juga untuk ikut menyatakan kegembiraan mereka bahwa Mas Rara selamat.

Ki Resa tidak menghiraukan mereka. Ia hanya mengangguk jika ada orang mengangguk kepadanya. Namun tidak sepatah kata keluar dari mulutnya.

Beberapa orang yang melihat sikapnya, menjadi heran. Beberapa orang hanya mendengar bahwa Ki Resa merasa kurang senang karena ia didahului oleh dua orang anak muda yang telah membunuh harimau itu.

Orang-orang itu coba untuk mengerti, bahwa Ki Resa yang mendapat panggilan Pembunuh Harimau itu menjadi kecewa karena bukan dirinya yang membunuh harimau itu. Tetapi justru dua orang anak muda.

Namun tidak seorang pun yang dapat menyalahkan kedua anak muda itu. Jika keduanya tidak berbuat sesuatu, apalagi membunuh harimau itu, Mas Rara tidak akan dapat lagi menari di pendapa rumahnya.

Demikianlah. Malam itu rumah Mas Rara menjadi sangat sibuk. Orang-orang perempuan mulai memasak untuk menyiapkan hidangan buat besok.

Namun akhirnya pendapa rumah itu sepi, ketika latihan telah selesai, serta orang-orang yang ikut menyatakan kegembiraan mereka telah pulang, karena malam berikutnya mereka akan datang lagi sebagai tamu dalam upacara pernyataan sukur. Beberapa orang yang tinggal dan mulai merasa ngantuk, berbaring di serambi. Ki Partija Wirasentana pun telah beristirahat setelah mempersilahkan Manggada dan Laksana beristirahat di gandok, ditemani Wirantana. Sementara itu, utusan Raden Panji Prangpranata dipersilahkan beristirahat di biliknya.

Namun dalam pada itu, meskipun pendapa keadaannya sepi, tapi tidak demikian halnya dengan di dapur. Beberapa orang masih saja sibuk. Tetapi beberapa orang mulai berbaring di mana saja tersedia tempat, meskipun di sebelah orang yang sedang mengkukur kelapa.

Ketika matahari terbit di hari berikutnya, rumah Mas Rara menjadi semakin sibuk. Malam mendatang, akan diselenggara-kan upacara yang menarik itu.

Namun pagi itu utusan Raden Panji Prangpranata telah minta diri. Betapapun Ki Partija Wirasentana mencoba menahannya, namun utusan itu tetap mohon diri untuk kembali.

“Aku tidak berani melanggar perintah Raden Panji“ berkata utusan itu, “jika aku tidak pulang hari ini, Raden Panji akan marah”

Dengan demikian, keluarga Mas Rara tidak dapat menahannya lagi, Namun utusan itu sempat sekali lagi mengucapkan terima kasih kepada Manggada dan Laksana yang telah menyelamatkan Mas Rara.

“Jika tidak perkawinan agung itu akan batal. Yang terjadi adalah iring-iringan untuk mengantarkan tubuh membeku ke kuburan. Ah, itu memang tidak akan terjadi“ berkata utusan itu.
“Kami sekadar melakukan kewajiban. Bukankah kewajiban kita adalah saling tolong-menolong?“ sahut Manggada.

“Ya. Meskipun demikian, kami harus mengenal kalian, tempat tinggal kalian dan keluarga kalian“ berkata utusan itu.

Tetapi Manggada menggeleng. Katanya, “Ki Sanak boleh mengenal nama kami. Itu sudah cukup. Besok kami sudah akan meninggalkan tempat ini. Dan barangkali kita tidak akan bertemu lagi”

Orang itu tersenyum. Katanya, “Kalian memang anak-anak muda yang rendah hati. Tetapi apa salahnya jika kami mengenai kalian lebih banyak? Seandainya kami tidak ingin memberikan apapun juga, bukankah kita dapat berkenalan dan bersahabat lebih akrab?”

Tetapi Manggada hanya tersenyum. Sementara Laksana berkata, “Tetapi kami dapat menduga sebelumnva apa yang akan Ki Sanak lakukan”

“Baiklah“ berkata utusan itu. Namun ia berharap bahwa ayah Mas Rara akan dapat memberikan lebih banyak keterangan tentang kedua orang anak muda itu.

Sementara utusan itu minta diri. Ki Resa tidak mendekat. la benar-benar merasa benci kepadanya, meskipun orang itu tidak lebih dari seorang utusan. Sebenarnyalah bahwa Ki Resa sangat membenci orang yang disebut Raden Panji Prangpranata. Seorang yang berkedudukan tinggi, kaya raya serta memiliki kekuasaan atas daerah yang luas, termasuk padukuhan Nguter.

Sejenak kemudian, orang itu minta diri. Wirantana, Manggada dan Laksana mengantarkannya sampai ke regol halaman.

Demikian kuda itu berpacu meninggalkan halaman Ki Partija, Ki Resa mendekati mereka sambil berdesis kepada Wirantana, “He, apakah kau rela adikmu dijual oleh ayah ibumu?“

Wirantana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku tidak tahu maksud paman”

“Kau memang bodoh. Apalagi kau agak lama meninggalkan kedua orang tuamu, karena menuntut ilmu. Sekarang kau telah kembali. Kau tidak lagi Wirantana yang bodoh, lemah dan tidak mampu berpikir. Kau sekarang sudah memiliki ilmu. Umurmu sudah menjadi makin dewasa. Karena itu, kau harus mampu berpikir tentang sikap kedua orang tuamu atas adikmu itu” geram Ki Resa.

Tetapi Ki Resa tidak menunggu Wirantana menjawab. Ia segera melangkah meninggalkan anak muda itu.

Wirantana berdiri termangu-mangu. Namun kemudian ia bergumam, “Aku tidak mengerti maksud paman. Kenapa paman menganggap Mas Rara telah dijual kepada Raden Panji”

“Bagaimana sebenarnya?“ bertanya Manggada.

“Aku tidak tahu. Aku harus bertanya kepada ayah dan ibu, apa yang sebenarnya terjadi atas adikku itu. Tetapi aku sama sekali tidak melihat kesan yang tidak wajar pada adikku” berkata Wirantana.

“Ia seorang gadis“ berkata Manggada biasanya seorang gadis tidak pernah menyatakan pendapatnya, apapun yang akan terjadi atas dirinya”

“Tetapi adikku sangat terbuka hatinya kepadaku. la tidak pernah menyembunyikan sesuatu. Apalagi jika benar kata paman, bahwa Mas Rara telah dijual” berkata Wirantana.

“Mungkin Mas Rara sendiri tidak tahu apa yang telah dibicarakan tentang dirinya, oleh ayah dan ibumu“ desis Manggada.

Anak-anak muda itu tidak berbicara lebih lanjut ketika beberapa orang datang mendekati mereka sambil tersenyum. Seorang diantara mereka berkata, “He, apakah aku masih mendapat bagian kerja di rumahmu Wirantana? Mengusung gamelan atau memasang oncor di sudut-sudut halaman, atau apa saja?“

“Ah“ sahut Wirantana, “tidak ada kerja apapun di rumah. Hanya sekadar menyapu halaman. Dan itu sudah aku lakukan”

Orang-orang itu tertawa. Namun sambil memasuki legol, seorang diantara mereka berkata, “Jika kerja sudah habis, maka biarlah menunggu saja waktunya suguhan dikeluarkan”

Wirantana juga tertawa. Namun ia tidak menjawab.

Beberapa saat anak-anak muda itu masih berdiri di regol. Namun kemudian Wirantana berkata, “Silahkan beristirahat di serambi gandok. Aku akan berbicara dengan ayah dan ibu”

Manggada dan Laksana tidak menolak. Keduanya kemudian pergi ke serambi gandok, sementara Wirantana pergi ke ruang dalam untuk berbicara dengan ayahnya.

Sementara itu, kesibukan masih saja berlangsung di luar dan di dalam rumah sampai kedapur. Mas Rara sendiri ternyata bukan seorang gadis yang manja. Ia ikut sibuk bersama perempuan-perempuan di dapur.

Ketika Wirantana kemudian menghadap ayahnya, dan menyampaikan pertanyaannya, maka ayahnya sama sekali tidak mau memberikan keterangan, sehingga Wirantana menjadi sangat kecewa.

Dengan wajah tegang, Wirantana menemui Manggada dan Laksana yang duduk di amben panjang, di serambi gandok.

“Ayah masih saja menganggap aku anak-anak“ berkata Wirantana

“Bagaimana?” bertanya Manggada.

“Ayah dan ibu sama sekali tidak menjawab pertanyaanku. Ayah hanya mengatakan bahwa Raden Panji adalah orang yang berwibawa dan sangat berkuasa“ jawab Wirantana.

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Namun dalam pada itu, Wirantana berkata, “Tetapi menilik keterangan itu, memang ada unsur yang tidak wajar dalam perkawinan yang akan dilangsungkan antara Mas Rara dan Raden Panji. Namun agaknya perkawinan itu akan memberikan kebanggaan, bukan saja keluargaku, tapi seluruh padukuhan Nguter. Ternyata Mas Rara sangat dihormati, sebelum ia menjadi isteri Raden Panji. Para penghuni padukuhan ini tentu berharap, Mas Rara akan dapat mengangkat derajad seluruh padukuhan ini. Mas Rara akan dapat memanfaatkan kekuasaan Raden Panji bagi kepentingan padukuhan kecil yang sampai saat ini tidak memiliki kelebihan apapun juga dari padukuhan-padukuhan lain”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Dengan nada datar Manggada berkata, “Jika demikian, perkawinan itu akan memberikan arti kepada padukuhan ini”

“Ya. Tetapi paman agaknya sangat tidak setuju” berkata Wirantana.

“Mungkin lambat laun kau akan mengerti apa sebabnya adikmu menjadi isteri Raden Panji, dan kenapa pamanmu tidak menyukainya“ berkata Laksana. Lalu, “Tetapi menilik sikap tetangga-tetanggamu, semua akan ikut berbangga atas rencana perkawinan itu”

Wirantana mengangguk-angguk. Ia sependapat dengan anak muda yang telah menolong adiknya dari cabikan taring harimau itu.

“Ya“ berkata Wirantana kemudian, “Seluruh padukuhan ikut bergembira karena adikku selamat. Dari tetangga-tetangga kami mendapat banyak sekali sumbangan. Bahan mentah, bahkan keamanan yang sudah siap untuk disuguhkan dan ada diantara mereka yang menyumbang uang”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sementara Wirantana berkata selanjutnya, “Kami tidak dapat menolaknya. Jika kami tidak mau menerima sumbangan Itu, tetangga-tetangga kami akan menjadi sakit hati. Mereka menuduh kami mulai menjadi sombong sebelum Mas Rara menjadi isteri Raden Panji”

Namun tiba-tiba Manggada bertanya, “Apakah kau pernah bertemu dengan Raden Panji?“

Wirantana menggeleng. Katanya, “Belum. Aku belum lama kembali”

“Bagaimana dengan adikmu?“ bertanya Manggada pula.

“Anak itu tidak pernah mengatakan sesuatu. Sebagaimana layaknya seorang gadis, ia menerimanya dengan wajar. Tidak ada tanda-tanda bahwa ia merasa dijual seperti yang dikatakan paman. Seperti sudah aku katakan, ia Hanya terbuka padaku. Tetapi aku tidak tahu tentang soal yang satu ini” suara Wirantana merendah.

Manggada dan Laksana hanya mengangguk-angguk saja. Namun agaknya Wirantana merasa belum puas jika belum mengetahui kenapa pamannya selalu menganggap
bahwa adiknya telah dijual.

Tetapi Wirantana kemudian berkata, “Baiklah. Biarlah aku membantu mengatur tempat di pendapa”

“Kami dapat membantumu“ berkata Manggada.

“Kalian adalah tamu kami“ jawab Wirantana. Tetapi sambil tersenyum Laksana berkata, “Di mana-mana kami tidak terbiasa diperlakukan sebagai tamu. Kami lebih sering berada di satu tempat untuk melakukan kerja apapun”

Wirantana pun tidak berkeberatan. Ia sadar, bahwa perasaan kedua anak muda itu tentu tidak enak, jika mereka hanya sekadar duduk sementara orang lain sibuk di
halaman, di pendapa dan dimana-mana.

Demikianlah, menjelang senja, semuanya sudah siap. Bahkan orang mulai memasang obor disudut-sudut halaman, di regol dan bahkan di belakang rumah.

Para penabuh gamelan dan para penari sudah mulai mempersiapkan diri. Demikian pula Mas Rara.

Sejenak kemudian, gamelan pun mulai dibunyikan. Suasana di rumah Ki Partija Wirasentana menjadi semakin meriah. Lampu-lampu minyak terdapat di mana-mana.

Sementara di dapur, segala sesuatu telah dipersiapkan.

Malam itu, bukan saja seisi rumah Ki Partija Wirasentana merasa bersukur atas keselamatan Mas Rara, tapi seisi padukuhan menjadi bergembira karenanya. Sejak orang tua sampai kanak-kanak. Yang biasanya tidur sejak hari gelap, sempat bermain-main sampai jauh malam. Bahkan dengan sedikit uang saku untuk membeli gelali, kacang serta binteng jae.

Ada diantara mereka yang tertarik pada suara gamelan, dun melihat beberapa saat di halaman. Mereka sekejap mengagumi orang-orang yang menari di pendapa. Namun kemudian mereka berlari-lari lagi di halaman.

Ketika para tamu di pendapa dipersilahkan makan nasi punar yang berwarna kuning, anak-anak pun dipanggil pula ke longkangan. Mereka juga mendapat sepincuk nasi punar, kedele goreng dan sekerat daging ayam serta telur dadar.

Betapa gembiranya anak-anak itu. Mereka tidak saja makari nasi kuning, tetapi justru saat mereka berdesakan untuk menerima sepincuk nasi itulah yang sangat menarik bagi mereka.

Namun semuanya itu perlahan-lahan berlalu. Ki Bekel padukuhan Nguter atas nama Ki Partija Wirasentana menyatakan kegembiraan hati seluruh keluarga serta mengucapkan sukur kehadapan Yang Maha Agung, bahwa Mas Kara telah diselamatkan.

Manggada dan Laksana sama sekali tidak menduga, bahwa Ki Bekel telah memanggil mereka berdua dan diperkenalkan kepada semua orang yang hadir di pendapa.

Wajah kedua anak muda itu menjadi merah. Kaki meleka rasa-rasanya menjadi seberat timah, ketika melangkah di pendapa. Semua mata memandang mereka berdua. Bahkan ketika orang-orang Nguter bertepuk tangan gemuruh, Manggada dan Laksana hampir menjadi pingsan karenanya. Mereka agaknya memilih berkelahi melawan seekor harimau daripada berdiri di pendapa itu.

Namun, sementara semua orang bersuka itu, Ki Resa masih saja tetap menyendiri sambil bergeremang. Ia tidak dapat mencegah apa yang akan terjadi dengan Mas Rara, yang akan diperisteri Raden Panji Prangpranata itu.

Ki Resa sama sekali tidak mau naik ke pendapa. Ia berlalan hilir mudik di depan regol rumah kakaknya itu.

Lewat tengah malam, suasana sudah menjadi tenang. Irama gamelan tidak lagi gemuruh mengiringi tari-tarian. Yang terdengar adalah suara gamelan yang tenang, mengalir dalam irama terayun lembut. Kadang-kadang melengking dalam nada tinggi, namun kemudian menurun rendah seperti seekor burung yang melayang-layang di udara malam.

Menjelang dini, satu dua orang mulai mohon diri. Terutama orang-orang tua yang sudah tidak tahan lagi duduk semalam suntuk. Udara malam yang dingin, rasa-rasanya membuat darah mereka lambat mengalir. Namun anak-anak muda tetap bertahan sampai fajar. Baru ketika langit menjadi merah, keramaian di pendapa itu resmi dinyatakan selesai.

Tetapi dari dapur sekali lagi telah mengalir minuman panas dan nasi langgi yang hangat dengan serundeng kuning gemerisik dan dendeng basah yang lunak. Tidak digoreng dengan minyak, tetapi dipanggang di atas api kecil.

Mereka yang ikut menghadiri keramaian dalam upacara sukuran itu, ternyata pulang dengan perut kenyang. Ki Bekel yang terhitung masih belum terlalu tua, bertahan sampai selesai. Bahkan sampai orang terakhir meninggalkan pendapa rumah itu.

Ki Bekel masih sempat menemui Mas Rara untuk mengucapkan selamat, dan kemudian berpesan, “Lain kali berhati-hati. Di hutan itu masih terdapat beberapa ekor binatang buas yang kadang-kadang mengganggu kita. Namun jika anak-anak muda itu kelak meninggalkan padukuhan ini, kita masih mempunyai Ki Resa, Si Pembunuh Harimau. Karena itu, kita tidak usah khawatir. Meskipun demikian, sebaiknya jangan pergi sendiri jika kau mengirim nasi ayahmu di sawah yang dekat dengan hutan itu. Kau boleh mengirim nasi ke sawah, tetapi yang jauh dari hutan. Jika terjadi sesuatu atasmu, Raden Panji tentu tidak hanya menyalahkan ayahmu, tetapi kami semua. Penduduk padukuhan Nguter. Barangkali akulah yang akan menerima hukuman paling berat”

Mas Rara mengangguk hormat, sambil berdesis bertahan, “Ya Ki Bekel”

“Ajak ayahmu jika kau akan pergi ke sawah dekat hutan itu“ berkata Ki Bekel pula, “tidak ada seekor harimau pun yang berani mengusikmu”

“Ya Ki Bekel“ sekali lagi Mas Rara mengangguk. Namun kemudian Ki Bekel bertanya, “Di mana Ki Resa? Aku tidak melihatnya sejak sore”

“Paman agak sibuk Ki Bekel“ jawab Mas Rara.

Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya, “Salam buat pamanmu”

“Ya Ki Bekel“ jawab Mas Rara sambil mengangguk hormat.

Demikianlah. Ki Bekel kemudian minta diri. Ketika ia keluar dari regol, langit sudah menjadi semakin terang. Namun Ki Bekel sudah tidak bertemu dengan Ki Resa.

Yang kemudian tinggal adalah orang-orang yang membersihkan jalan di depan rumah Ki Partija Wirasentana, Jalan yang menjadi kotor oleh dedaunan bungkus makanan, karena di sepanjang jalan di depan rumah itu bertebaran orang-orang yang memanfaatkan keramaian itu untuk berjualan.

Demikian pula orang-orang yang sibuk membersihkan halaman pendapa, bahkan bagian dalam rumah. Perempuan-perempuan di dapur sibuk membersihkan perkakas yang kotor.

Manggada dan Laksana ikut pula membantu Wirantana membersihkan halaman. Mencabut tiang-tiang obor dan membantu menyimpan gamelan ke ruang tengah.

Ketika matahari memanjat semakin tinggi, sebagian kerja di bagian luar rumah sudah hampir selesai. Karena itu, Manggada dan Laksana mulai membicarakan, kapan mereka akan meneruskan perjalanan.

Namun sebelum mereka mengambil keputusan, menjelang tengah hari, datang dua orang berkuda memasuki regol rumah Ki Partija Wirasentana. Dua orang yang kemudian menyatakan diri utusan Raden Panji Prangpranata.

Ki Partija Wirasentana terkejut bukan buatan. Baru saja utusan yang datang terdahulu kemarin meninggalkan rumah itu, tiba-tiba dua orang yang lain telah datang pula.
Tetapi dengan ramah seorang diantaranya berkata, “Kami mohon maaf, bahwa kedatangan kami telah mengejutkan Ki Wirasentana. Sebenarnya tidak ada hal yang terlalu penting. Kami hanya akan menyampaikan beberapa pesan”

Ki Wirasentana menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku sudah menjadi sangat berdebar-debar”

“Kami mengerti“ jawab salah seorang diantara mereka, “karena itu kami merasa wajib untuk segera memberikan ketenangan kepada Ki Wirasentana”

Ternyata kedua orang itu tidak tergesa-gesa menyampaikan sesuatu. Mereka sempat menunggu minuman hangat dan beberapa potong makanan, sebelum mereka menyampaikan pesan dari Raden Panji, sehingga Ki Partija Wirasentana menjadi tenang.

Baru setelah meneguk minuman hangat, dan makan beberapa potong makanan, salah seorang dari mereka berkata, “Baiklah Ki Wirasentana. Kami memang membawa pesan dari Raden Panji Prangpranata”

Ki Partija mengangguk-angguk, sementara utusan itu berkata selanjutnya, “Utusan yang kemarin datang kemari, telah memberikan laporan kepada Raden Panji. Semua keterangan yang diberikan telah diterima Raden Panji dengan hati-hati. Karena persoalannya menyangkut seorang perempuan yang akan menjadi isterinya”

Ki Partija Wirasentana masih mengangguk-angguk. Sedangkan utusan itu melanjutkan, “Ternyata Raden Panji kemudian mengambil kesimpulan, bahwa segala sesuatunya harus dipercepat pelaksanaannya. Apalagi ketika utusan yang datang sebelum kami itu melaporkan bahwa Mas Rara benar-benar sudah menjadi dewasa penuh. Ketika kemarin utusan itu melihat latihan yang dilakukan Mas Rara, ia mengambil kesimpulan, Mas Rara sudah pantas melaksanakan perkawinan dengan Raden Panji Prangpranata”

Ki Partija Wirasentana menarik nafas dalam-dalam. Sedangkan utusan itu masih berkata, “Peristiwa yang terjadi atas Mas Rara, sangat mengejutkan Raden Panji. Bagi Raden Panji, kurang pantas jika bakal isterinya masih harus pergi ke sawah mendukung bakul berisi makanan, untuk mengirim ayahnya. Apakah tidak ada orang lain yang dapat melakukannya?”

Ki Partija mengangguk kecil sambil berkata, “Aku minta maaf. Tolong, sampaikan pada Raden Panji. Aku tidak mengira bahwa suatu saat Mas Rara akan bertemu harimau. Bagiku, seorang gadis harus dapat melakukan pekerjaan yang memang harus dilakukannya. Ia tidak boleh menjadi manja, meskipun ia sudah pasti akan menjadi isteri seorang pemimpin yang berkuasa. Jika ia menjadi manja, ia tidak akan dapat menjadi seorang isteri yang baik”

Utusan Raden Panji itu tersenyum sambil menjawab, “Maksud Ki Partija memang baik. Tetapi yang telah terjadi itu mencemaskan hati Raden Panji. Karena itu, selagi peristiwa seperti itu belum terulang, biarlah segala sesuatunya segera diselesaikan”

“Maksud Raden Panji?“ bertanya Ki Partija Wirasentana.

“Ki Partija“ berkata utusan itu, “Raden Panji akan segera menyelesaikan segala macam upacara yang harus dilakukan. Raden Panji dalam akhir pekan ini akan mengirim utusan resmi untuk menyerahkan mas kawin bagi Mas Rara”

“Akhir pekan ini?“ Ki Partija Wirasentana terkejut, “begitu cepat?“

“Ya. Sebulan kemudian, perkawinan diselenggarakan. Keterangan utusan kemarin, Ki Partija menyerahkan kepada kebijaksanaan Raden Panji, apakah perkawinan itu akan diselenggarakan di sini atau di rumah Raden Panji. Ternyata Raden Panji mengambil keputusan, perkawinan diselenggara-kan di rumah Raden Panji. Karena itu, agar segala persiapan dapat diselenggarakan dengan baik, setelah upacara penyerahan mas kawin, pertengahan bulan, Mas Rara akan dijemput dan dibawa ke rumah Raden Panji. Mas Rara akan mengalami pingitan setengah bulan. Memang terlalu pendek, karena seharusnya pingitan berlangsung empatpuluh hari empat puluh malam. Tetapi Raden Panji menganggap bagi Mas Rara tidak perlu. Segala sesuatunya dilakukan karena rasa cemas, akan terjadi lagi sesuatu yang bisa mencelakai Mas Rara” berkata utusan itu.

Ki Partija termangu-mangu sejenak. Kemudian ia berdesis, “Kenapa begitu tergesa-gesa? Aku kira tidak setiap saat ada harimau keluar dari hutan. Apalagi sejak peristiwa itu terjadi, Mas Rara tidak pernah lagi pergi ke sawah mengirim makanan”

“Tetapi apakah Ki Partija Wirasentana mempunyai alasan bahwa waktu sebulan itu terasa terlalu pendek?“ Bukankah segala sesuatunya akan dilakukan di rumah Raden Panji? Sejak sekarang Raden Panji sudah menugaskan orang untuk melakukan apa saja yang penting bagi perkawinan agung itu. Rumah Ki Tumenggung sudah mulai dibenahi. Bahkan sampai dinding halaman pun telah diperbaiki dan dibersihkan. Setiap hari tidak kurang dari lima orang bekerja keras membersihkan rumah, beserta halaman dan kebun belakang“ berkata utusan itu.

Ki Partija hanya dapat mengangguk-angguk. Jika segala sesuatunya dilakukan di rumah Raden Panji, ia tidak mempunyai alasan waktu itu terlalu pendek.

Karena itu, Ki Partija pun berkata, “Terserah kepada Raden Panji. Apapun yang diperintahkan, akan kami lakukan dengan sebaik-baiknya”

“Sukurlah” berkata orang itu, “utusan yang kemarin datang juga mengatakan, Ki Partija menyerahkan segala sesuatunya pada Raden Panji”

Ki Partija mengangguk-angguk. Ia memang tidak bisa berbuat lain daripada mengiakan segala pesan Raden Panji Prangpranata.

Namun kemudian utusan itu berpesan, “Ki Partija. Selain itu semua, Ki Partija diminta menahan dua orang anak muda yang telah menolong Mas Rara agar tidak meninggalkan tempat ini. Raden Panji benar-benar merasa berhutang budi. Jika mereka mengaku pengembara, maka mereka tentunya tidak mempunyai batasan waktu sampai kapan harus kembali pulang. Diharap mereka dapat ikut menghadap Raden Panji saat Mas Rara dijemput kelak”

Ki Partija Wirasentana mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Tetapi sebaiknya Ki Sanak berbicara langsung dengan mereka. Mereka tentu akan lebih memperhatikan pesan itu daripada aku yang mengatakannya”

“Baiklah. Aku akan bertemu dengan mereka. Selama keduanya berada di sini, semua biaya hidupnya ditanggung Raden Panji” berkata utusan itu.

“Ah, bukan begitu“ berkata Ki Partija, “mereka tidak memerlukan apa-apa kecuali makan. Dan itu tidak seberapa. Apalagi keduanya sebaya dengan anakku, sehingga mereka merasa mempunyai kawan seimbang di sini”

“Jangan segan-segan“ berkata utusan itu, “meskipun hanya makan dan minum, tetapi mereka akan berada di sini kira-kira setengah bulan”

“Bukan apa-apa“ jawab Ki Partija, “terima kasih atas perhatian Raden Panji. Untuk makan dua orang, aku tidak merasa keberatan”

Sebelum utusan itu menjawab, Ki Partija Wirasentana telah mendahuluinya, “Maaf Ki Sanak. Aku akan memanggil anak-anak itu”

Sejenak kemudian, Manggada dan Laksana telah menghadap utusan Raden Panji Prangpranata, untuk mendengarkan permintaan Raden Panji.

Setelah usai, Manggada dan Laksana saling berpandangan. Namun kemudian Manggada menjawab, “Sebenarnya kami tidak ingin menetap di suatu tempat untuk waktu terlalu lama. Sebenarnya kami sudah harus sampai di rumah. Jika orang tua kami mengetahui bahwa kami telah meninggalkan rumah paman tetapi belum sampai di rumah, mereka akan gelisah”

“Tetapi ini perintah Raden Panji Prangpranata“ berkata utusan itu, “tidak seorang pun berwenang menolak perintahnya. Apalagi perintah kepada kalian berdua mengandung kemungkinan menguntungkan bagi kalian. Setidak-tidaknya, secara pribadi, Raden Panji dapat mengucapkan terima kasih kepada kalian”

“Yang kami lakukan tidak lebih dari kewajiban terhadap sesama“ berkata Manggada.

“Tidak ada alasan apapun juga“ berkata utusan itu sambil tertawa. Katanya kemudian, “Seharusnya kalian berdua berterima kasih karena mendapat perhatian khusus dari Raden Panji Prangpranata. Sebaiknya kalian menyesuaikan diri dengan keinginannya. Jika kalian tidak meneputi perintahnya, Raden Panji akan marah, meskipun semula ia berniat mengucapkan terima kasih pada kalian”

“Anak-anak muda“ berkata Ki Partija Wirasentana kemudian, “aku minta kalian bersedia. Seperti yang dikatakan utusan Raden Panji, untuk kepentingan apapun Raden Panji tidak ingin perintahnya ditentang. Sebaiknya, kalian berdua tetap tinggal di sini sampai Raden Panji menjemput Mas Rara untuk dibawa ke rumahnya, menjelang perkawinan agung itu”

Manggada dan Laksana termangu-mangu. Namun kemudian Manggada berkata, “Baiklah. Jika kami memang harus menunggu, kami akan menunggu”

“Terima kasih“ berkata Ki Partija Wirasentana, “Wirantana tentu akan senang mendengar keputusanmu. Ia akan mendapat kawan yang sebaya di rumah ini”

Demikianlah, Manggada dan Laksana kemudian meninggal-kan pendapa. Kedua utusan itu masih berbincang beberapa lama. Namun kemudian keduanya minta diri untuk segera kembali,

“Begitu cepat?“ bertanya Ki Partija, “aku kira Ki Sanak berdua akan bermalam. Bukankah Ki Sanak hampir semalam menempuh perjalanan, karena menjelang tengah hari KiSanak sampai di sini”

Namun seorang diantara mereka menjawab, “Kami masih akan singgah di rumah seorang kadang. Kami akan bermalam di sana. Besok pagi-pagi kami akan menempuh perjalanan kembali”

Keduanya tidak dapat ditahan-tahan lagi, dan kemudian meninggalkan rumah Ki Partija Wirasentana. Namun demikian masih meninggalkan pesan, agar kedua orang anak muda itu benar-benar tidak meninggalkan rumah Ki Partija Wirasentana.
Karena itulah, Ki Partija benar-benar minta agar Manggada dan Laksana tidak meninggalkan rumahnya.

“Kita tidak dapat menduga apa yang akan dilakukan oleh Raden Panji jika kita menolak perintahnya“ berkata Ki Partija Wirasentana. Lalu katanya pula, “Meskipun seandainya angger berdua telah jauh, Raden Panji akan memerintahkan orang-orangnya untuk melacak sampai kalian berdua ditemukan. Selain itu, aku pun agaknya akan menemui kesulitan”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sebenarnya mereka tidak menjadi takut diancam akan dilacak sampai ke manapun. Mereka sadar, bahwa kekuasaan Raden Panji ada batasnya. Keduanya merasa dapat menyelamatkan diri mereka sendiri dari jangkauan tangan para pengikut Raden Panji. Tetapi jika yang kemudian mengalami kesulitan adalah Ki Partija, maka persoalannya akan berbeda.

Karena itu, kedua orang anak muda itu terpaksa menunggu untuk waktu yang lama. Sampai saatnya Mas Rara dijemput. Mereka berdua agaknya harus ikut bersama orang-orang yang menjemput Mas Rara itu, menghadap Raden Panji.

“Orang yang aneh“ berkata Manggada, “orang itu memaksa memberikan hadiah kepada orang lain, dengan mengancam”

“Kita tidak dapat menolak, justru karena kita mengingat keselamatan Ki Partija Wirasentana” berkata Laksana.

Manggada mengangguk-angguk. Mereka memang tidak mempunyai pilihan lain.

Untunglah di rumah itu ada anak muda yang hampir sebaya dengan mereka. Anak Ki Partija Wirasentana sendiri, sehingga mereka dapat bergerak lebih bebas. Bersama Wirantana, mereka tidak merasa berada dalam tahanan, karena mereka di pagi hari telah ikut ke sawah. Mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Wirantana, membantu Ki Partija Wirasentana.

Tetapi Mas Rara tidak lagi mengirimkan makanan ke sawah. Pekerjaan itu kemudian dilakukan oleh orang lain. Seorang laki-laki muda pembantu Ki Partija.

Ternyata Manggada dan Laksana juga terampil bekerja di sawah. Mereka telah terbiasa melakukannya, di samping kebiasaan mereka memasuki hutan untuk berburu binatang.

Manggada dan Laksana menjadi semakin akrab dengan Wirantana. Karena Wirantana baru saja pulang dari sebuah perguruan, maka mereka sempat berlatih bersama. Meskipun Wirantana belum mencapai tataran sebagaimana Manggada dan Laksana, namun perbedaan itu hanyalah selapis tipis. Pada saat-saat tertentu, mereka mampu berlatih dengan baik. Di sore hari, jika tidak ada pekerjaan di sawah, atau bahkan di malam hari.

Dengan latihan-latihan itu, mereka bertiga mampu mungembangkan kemampuan mereka masing-masing. Manggada dan Laksana yang mempunyai dasar unsur-unsur ilmu yang berbeda dari Wirantana, dapat saling mengambil keuntungan dari perbedaan itu. Anak-anak muda yang masih ingin berkembang itu, telah berusaha menemukan sesuatu yang dapat memperkaya unsur-unsur gerak mereka masing-masing.

Namun atas usul Wirantana, mereka selalu menyembunvikan kemampuan mereka yang sebenarnya dari pamannya, Ki Resa.

“Kenapa?“ bertanya Manggada.

“Entahlah“ jawab Wirantana, “aku tidak tahu, kenapa aku tidak begitu yakin akan niat baik paman. Paman selalu mencela sikap ayah. Meskipun mungkin paman benar, tetapi cara yang ditempuh oleh paman, terasa agak kurang mapan”

“Bukankah Ki Resa itu adik ayahmu?“ bertanya Laksana.

“Ya. Tetapi umur mereka terpaut banyak. Ayah adalah anak sulung, sedang paman Resa anak bungsu. Diantara mereka, masih ada dua orang saudara ayah. Seorang laki-laki dan seorang perempuan. Sebenarnya empat, Tetapi dua orang meninggal di saat mereka sedang tumbuh. Kedua-duanya perempuan” jawab Wirantana.

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Namun Laksana kemudian bertanya, “Pamanmu tidak setuju bahwa Mas Rara akan menjadi isteri Raden Panji”

“Ya. Itu jelas. Paman selalu menuduh ayah menjual anak gadisnya. Namun seharusnya paman juga mempertimbangkan kekuasaan Raden Panji. Sementara itu, aku tidak melihat akibat buruk pada Mas Rara sampai saat ini” jawab Wirantana. Tetapi ia pun berkata selanjutnya, “Namun aku kadang kadang melihat Mas Rara merenung. Aku tidak tahu sebabnya. Agaknya hal yang satu ini disembunyikannya rapat-rapat, meskipun dalam hal lain, Mas Rara selalu terbuka padaku. Tetapi sebagai seorang gadis, Mas Rara memang tidak banyak pilihan. Terutama tentang jodohnya”

“Sepekan lagi, akan datang utusan Raden Panji untuk memberikan Mas Kawin kepada Mas Rara“ desis Laksana.

“Tiga hari lagi“ sahut Wirantana, “dua hari telah lewat. Karena itu ayah sudah bersiap-siap untuk menerima utusan itu” Wirantana berhenti sejenak, lalu, “Tetapi nampaknya paman menjadi semakin jauh dari ayah”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sementara Wirantana berkata selanjutnya, “Telah dua hari paman tidak kembali”

“Apakah pamanmu mempunyai rumah yang lain?“ bertanya Manggada.

“Ya. Paman memang mempunyai rumah sendiri. Warisan yang diterima dari kakek, sebagaimana ayah. Tetapi paman memang sering berada di sini” jawab Wirantana.

“Apakah pamanmu belum berkeluarga?“ bertanya Laksana.

Wirantana termangu-mangu. Katanya dengan nada dalam, “Ada sudah lama pergi dari rumah. Baru beberapa saat aku berada kembali diantara keluargaku. Karena itu, aku tidak tahu dengan jalan apa yang telah terjadi dengan paman, serta keluarganya. Namun menurut pendengaranku, paman memang pernah kawin”

“Pernah kawin?“ bertanya Laksana.

“Ya. Tetapi aku tidak tahu jelas, kenapa paman sekarang sendiri” jawab Wirantana.

Manggada dan Laksana tidak bertanya lebih jauh. Agaknya Wirantana bukan saja tidak banyak mengetahui tentang pamannya, tetapi ia pun agak segan untuk menceriterakannya.

Demikianlah, Ki Partija Wirasentana bersama keluarganya menjadi sibuk ketika hari yang ditentukan menjadi semakin dekat. Ki Partija merasa perlu untuk menyediakan penginapan bagi para utusan itu. Jika mereka menempuh perjalanan di siang hari, maka para tamu yang akan membawa mas kawin itu harus bermalam di padukuhan Nguter.

Karena itulah, Ki Partija membersihkan kedua gandok rumahnya. Manggada dan Laksana, bersama Wirantana. berada di balik belakang, Bahkan Ki Partija telah meminjam rumah di depannya, untuk disediakan pula sebagai penginapan, karena rumah itu juga memiliki gandok kiri kanan yang memadai.

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu itu datang. Seluruh keluarga Ki Partija diminta bersiap menyambut utusan. Ki Resa yang pergi telah kembali. Bahkan ia tidak menolak ketika Ki Partija memanggilnya untuk ikut menerima tamu yang akan datang. Ki Partija Wirasentana juga minta beberapa orang tua untuk ikut menerima utusan Raden Panji, yang akan datang untuk menyerahkan mas kawin.

Tetapi karena Ki Partija tidak tahu waktu yang tepat saat kedatangan utusan itu, maka di hari kelima, sejak menjelang tengah hari, beberapa orang telah bersiap-siap menyambutnya.

Jika mereka berangkat di malam hari, maka mereka akan Mampai di sini menjelang tengah hari, seperti utusan yang datang sepekan lalu“ berkata Nyi Partija.

”Mereka tidak akan menempuh perjalanan semalam suntuk, karena mereka membawa mas kawin. Meskipun kita mendapat mas kawin berlebihan bahkan tanpa mas kawinpun kita tidak akan berkeberatan, namun betapapun kecilnya, mas kawin itu tentu akan menarik perhatian. Terutama bagi orang yang berniat jahat” sahut Ki Partija Wirasentana. Isterinya mengangguk-angguk. Namun bagaimanapun juga, mereka telah bersiap untuk menerima tamu utusan Raden Panji Prangpranata.

Ternyata Ki Partija dan orang-orang yang telah bersiap di pendapa harus menunggu sampai sore hari. Ketika matahari menjadi semakin rendah, orang yang ditugaskan oleh Ki Partija Wirasentana mengamati kedatangan utusan itu di mulut lorong padukuhan, telah berlari-lari untuk menyampaikan laporan, bahwa sebuah iring-iringan telah nampak di bulak, di sebelah padukuhan.

“Apakah mereka itu utusan Raden Panji?“ bertanya Ki Partija Wirasentana.

“Entahlah. Tetapi mereka berlima, dan dua ekor kuda tanpa penunggang. Agaknya dua ekor kuda itu membawa beban“ jawab orang yang mengamati jalan bulak itu.

Ki Partija hampir memastikan bahwa mereka itulah utusan Raden Panji. Karena itu, orang-orang yang berada di pendapa itupun telah bersiap-siap menyambut tamu-tamu mereka.

Sebenarnyalah bahwa lima orang itu adalah utusan Raden Panji, yang harus membawa mas kawin untuk orang tua Mas Rara.

Kelima orang itu kemudian diterima dengan sangat hormat oleh Ki Partija dengan keluarganya. Bahkan Ki Resa pun ikut menerima mereka. Sikapnya berubah sama sekali. Ia tidak lagi berwajah muram. Marah-marah dengan menuduh kakaknya telah menjual anak gadisnya. Dengan sikap yang ramah. Ki Resa ikut menerima utusan Raden Panji di pendapa.

Wirantana, Manggada dan Laksana sempat memperhatikan sikap Ki Resa. Bahkan Wirantana sempat berdesis, “Sikap paman agak berbeda dari kebiasaannya. Ketika Utusan yang terdahulu datang, paman sama sekali tidak mau ikut menerima. Tetapi sekarang paman nampak bersikap baik”

Manggada mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin sesuatu telah berkembang di dalam dadanya”

Wirantana mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak berbicara lagi. Bahkan ia menjadi tegang, menyaksikan pertemuan yang diliputi kegembiraan sangat besar itu.

Sejenak kemudian, hidangan pun disuguhkan. Sambil berbincang dan tertawa-tawa, mereka menghirup minuman hangat, dan mencicipi beberapa potong makanan.

Namun sebenarnyalah, bahwa utusan yang datang itu tidak sebagaimana dibayangkan oleh Ki Partija. Ia menyangka bahwa utusan yang datang adalah orang-orang tua yang akan menyampaikan mas kawin dengan berbagai macam upacara adat. Diantara mereka tidak ada seorang perempuan pun. Hanya lima orang yang berpakaian sebagai pelayan dalam di rumah Raden Panji Prangpranata.

Meskipun demikian, orang tertua diantara mereka telah menggenapi adat itu. Ia merupakan utusan dan sekaligus mewakili orang-orang tua yang datang dengan resmi untuk melamar Mas Rara, dengan menyerahkan Mas Kawin. Kelima orang itu pun kemudian mengambil mas kawin yang harus diserahkan. Tidak seperti biasanya, berupa sanggan dan pakaian sepengadeg, diiringi dua atau tiga buah jodang berisi makanan, disamping sejumlah uang. Yang dibawa kelima orang utusan itu membuat Ki Partija tercengang.

Agaknya Raden Panji ingin menyelesaikan upacara itu tanpa mengikuti urutan adat. Ia begitu saja menyerahkan sejumlah uang yang nilainya tidak pernah dibayangkan oleh KI Partija Wirasentana. Lima kampil berisi kepingan-kepingan uang. Diantaranya kepingan uang perak dan emas. Selain itu, Raden Panji juga mengirimkan pakaian lima pangandeg. Yang tidak pernah diduga sebelumnya adalah, Raden Panji telah menyerahkan pula perhiasan sepengandeg. Centhung, tusuk konde, cunduk montul, kalung, subang, cincin, peniti renteng, bahkan pendhing. Semuanya dari emas dengan tretes permata.

Ki Partija Wirasentana tercenung beberapa saat. Yang dihadapinya itu seolah-olah sebuah mimpi ajaib. Karena itu. Ki Partija terkejut ketika yang tertua diantara kelima orang itu berkata, “Semua yang dikirimkan Raden Panji telah kami serahkan. Dengan sengaja kami menunjukkan semuanya ini dihadapan saksi, sehingga jika Raden Panji menanyakannya, tidak akan ada selisihnya. Memang kami tidak menganut adat yang seharusnya berlaku dalam upacara asok tukon. Kami tidak disertai orang-orang tua laki-laki dan perempuan. Tidak pula membawa sanggan dan jodang. Semua itu dilakukan Raden Panji karena keadaan. Jarak yang panjang, serta waktu yang terasa sempit”

Ki Partija Wirasentana mengangguk dalam-dalam. Dengan nada rendah, ia berkata, “Ki Sanak. Apa yang diberikan oleh Raden Panji Prangpranata kepada keluarga kami, sudah terlalu banyak, Bahkan kami tidak tahu, bagaimana menghitung semua itu. Adapun mengenai upacara berdasarkan adat, kami sama sekali tidak merasa terlampaui. Jika ada perbedaan dari kebiasaan yang berlaku, hanyalah sekadar laku. Bukan isi dari upacara itu. Karenanya, kami mengucapkan beribu terima kasih tidak hanya satu dua kali. Tetapi berkalikali dan setiap saat”

Kelima orang utusan itu tertawa. Yang tertua diantara mereka berkata, “Yang diberikan kepada Mas Rara memang sangat banyak. Itu jika dihitung dengan angka yang kita kenal. Tetapi tentu tidak bagi Raden Panji Prangpranata, karena Raden Panji memiliki jauh lebih banyak dari yang kita duga”

Ki Partija Wirasentana mengangguk-angguk. Demikian pula Ki Resa, yang juga menjadi sangat heran melihat barang-barang berharga sekian banyaknya.

Namun pembicaraan itu terputus ketika para pelayan menghidangkan makan yang memang sudah dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Nasi maupun lauk pauknya masih hangat.

Ternyata kelima orang utusan itu juga tidak mempergunakan basa basi, sebagaimana orang-orang yang datang untuk menyerahkan asok tukon. Yang tertua diantara mereka telah mengatakan langsung keperluannya, sekaligus mengakhirinya, “Silahkan menyimpan barang-barang ini Ki Partija. Nampaknya kita akan segera menikmati hidangan yang masih hangat ini”

Ki Partija pun kemudian memanggil Wirantana. Kemudian mempersilahkan adiknya, Ki Resa bersama Wirantana untuk menyimpan barang-barang yang sangat berharga itu.
Keduanya telah memasukkan benda-benda berharga itu ke dalam peti. Kemudian menyimpan peti itu di dalam bilik Ki Partija, langsung di bawah pengawasan Ki Partija sendiri.

Manggada dan Laksana yang tahu, bahwa barang-barang itu sangat tinggi nilainya, tidak berani menawarkan diri untuk membantu menyimpan di ruang dalam. Hal itu akun dapat mengundang persoalan. Karena itu, keduanya hanya mengamati saja dari kejauhan, ketika Ki Resa dan Wirantana membawa barang-barang berharga itu masuk.

Sementara itu, setelah barang-barang berharga disimpan, Ki Partija Wirasentana mempersilahkan tamu-tamunya menikmati hidangan bersama keluarga Ki Partija. Bahkan yang tertua diantara para utusan itu telah sempat bertanya tentang dua orang anak muda yang telah menolong Mas Rara dari cengkaman tajamnya kuku-kuku harimau.

“Apakah mereka masih ada di sini?“ bertanya utusan itu.

“Ya Ki Sanak. Sebagaimana pesan yang terdahulu. anak-anak muda itu ternyata bersedia tinggal di sini” jawab Ki Partija.

“Syukurlah. Raden Panji Prangpranata memang ingin bertemu langsung dengan anak-anak itu. Pada saat Mas Rara dijemput kelak, keduanya akan diminta ikut bersama dengan utusan yang menjemput itu” berkata orang tertua itu.
Ki Partija sempat berpaling kearah kedua orang anak muda itu. Sementara Wirantana yang telah selesai menyimpan barang-barang berharga itu, telah berada diantara mereka.

Demikianlah Sebagaimana direncanakan, maka Ki Partija Wirasentana telah membersihkan gandok rumahnya yang disediakan bagi tamu-tamunya. Tapi karena jumlahnya tidak sebanyak yang diduga, Ki Partija mengurungkan rencananya meminjam rumah di sebelah depan.

Malam itu, para utusan Raden Panji bermalam di rumah Ki Partija. Sementara Ki Partija Wirasentana dengan isterinya, sekali lagi menghitung uang dan perhiasan yang telah mereka terima. Tetapi mereka tidak mampu menyebut angka sesuai dengan nilai barang-barang yang telah diberikan Raden Panji Prangpranata kepada mereka.

“Ternyata anak itu membawa rejeki yang tidak terhitiing jumlahnya, Nyi Rejeki lahiriah“ berkata Ki Partija Wirasentana datar.

Isterinya mengungguk kecil. Tetapi tidak ada kesan kegembiraan yang nampak di wajahnya.

Sementara itu, Mas Rara terbaring di biliknya menengadah, memandang atap. Ia berusaha memejamkan matanya, tapi tidak dapat tidur nyenyak. Setiap kali, di luar sadarnya, matanya terbuka.

Di luar, suara jengkerik dan bilalang berderik bersahutan. Angin malam berhembus agak kencang. Mendung memang melintas. Tetapi sejenak kemudian, bintang-bintang mulai berkeredipan lagi di langit.

Manggada, Laksana dan Wirantana telah tidur mendekur. Seakan-akan anak-anak muda itu sama sekali tidak dibebani oleh perasaan apapun juga.

Meskipun rumah Ki Partija Wirasentana nampaknya menjadi lelap, tetapi Ki Partija telah memerintahkan beberapa orang meronda di rumahnya. Mereka telah mendapat pesan Jika sesuatu terjadi, mereka harus segera memberikan isyarat. Jika keadaannya memang sangat genting, mereka diminta untuk membunyikan kentongan tanpa ragu-ragu.

Namun ternyata sampai terdengar ayam jantan berkokok untuk terakhir kalinya, tidak terjadi sesuatu di rumah itu. Beberapa orang yang ditugaskan untuk meronda rumah itu telah berkumpul dan duduk di serambi belakang. Sementara langit mulai menjadi cerah.

Para utusan yang bermalam di rumah Ki Partija Wirasentana, telah terbangun. Bergantian mereka pergi ke pakiwan. Sementara orang-orang perempuan telah sibuk di dapur, termasuk Mas Rara sendiri.

Badan Mas Rara kelihatan lesu. Matanya redup, karena hampir semalaman ia tidak tidur sama sekali.

Manggada, Laksana dan Wirantana sibuk bergantian menimba air, mengisi jambangan di pakiwan. Kemudian mereka juga membantu membersihkan halaman dan kerja yang lain.

Ketika matahari naik, para tamu telah berada di pendapa. Hidangan telah disuguhkan pula. Minuman hangat dan nasi yang hangat pula. Ki Partija Wirasentana telah minta isterinya menyiapkan makan pagi-pagi, karena kelima orang tamu mereka, utusan Raden Panji Prangpranata itu, akan meninggal-kan rumah itu.

Ketika para tamu itu mulai menyenduk nasi ke mangkuk mereka, Ki Resa pun telah datang pula dengan wajah yang cerah. Ki Partija telah memanggilnya untuk ikut bersama dengan tamu-tamunya, makan bersama di pendapa.

Ki Resa tidak menolak. Ia pun naik ke pendapa. Sikapnya tidak berubah. Ramah dan banyak tersenyum dan tertawa.

Seperti yang direncanakan. Beberapa saat kemudian, setelah para tamu itu selesai makan dan minum serta setelah beristirahat pula sebentar, sementara matahari naik semakin tinggi, maka para tamu itu pun telah minta diri meninggalkan padukuhan Nguter.

“Kami ingin minta diri kepada Mas Rara“ berkata orang tertua dari para utusan itu.

Ki Partija Wirasentana termangu-mangu sejenak.

Namun kemudian ia pun mengangguk hormat sambil berkata, “Gadis itu gadis pemalu”

Kelima orang utusan itu tertawa. Seorang diantaranya berkata, “Ia akan menjadi isteri Raden Panji”

Ki Partija masih saja termangu-mangu. Sementara utusan itu berkata, “Mas Rara harus menyesuaikan diri. Ia akan menerima tamu-tamu Raden Panji. Diantaranya, ada pemimpin. Karena itu, ia tidak boleh menjadi gadis pemalu”

Ki Partija tidak dapat menjawab. Karena itu ia bangkit dan melangkah masuk, mencari Mas Rara.

Ternyata Mas Rara masih berada di dapur.

Seperti yang diduga, Mas Rara menolak untuk pergi ke pendapa. Ia merasa malu berhadapan dengan utusan Raden Panji Prangpranata.

Tetapi ayahnya memaksa. Dengan nada rendah, ayahnya berkata, “Mas Rara. Jika kau tidak mau pergi ke pendapa, utusan itu tidak akan meninggalkan rumah ini. Mereka tidak perduli terlambat menghadap Raden Panji, dan kemudian dimarahi, atau bahkan dihukum. Mereka merasa wajib untuk minta diri padamu, karena kau bakal isteri Raden Panji”

“Tetapi aku malu ayah“ jawab Mas Rara.

“Jadi kau biarkan tamu-tamu itu berada di pendapa sampai nanti siang, atau nanti sore, atau bahwa bermalam lagi? Atau sampai datang utusan Raden Panji menyusul mereka?“ bertanya ayahnya.

Mas Rara menjadi bingung. Namun ibunya kemudian berkata dengan lembut, “Kau harus belajar dengan kewajiban-kewajiban yang bakal dibebankan kepadamu Mas Rara. Kau bukan lagi kanak-kanak. Kau tidak boleh selalu dikekang perasaan malu”

Mas Rara masih tetap ragu-ragu. Namun akhirnya Mas Rara terpaksa mengikuti ayahnya ke pendapa, sambil berpegangan tangan ibunya.

Ketika Mas Rara keluar lewat pintu pringgitan, wajahnya menunduk. Sementara itu, kelima orang utusan Raden Panji mendekatinya. Seorang diantara mereka berkata, “Bukankah Mas Rara pernah menari dihadapan banyak tamu? Utusan yang pernah datang kemari menceriterakan bahwa Mas Rara adalah seorang penari yang baik. Kenapa Mas Rara sekarang merasa malu terhadap kami? Anggap saja kami berada diantara para penonton, jika Mas Rara sedang menari”

Mas Rara tersenyum tertahan. Tetapi ia justru menjadi semakin menunduk Wajahnya menjadi merah.

Ki Partija tersenyum. Tetapi ia tidak berkata sesuatu.

Selanjutnya, para utusan itu minta diri untuk kembali dan memberikan laporan kepada Raden Panji.

Ki Partija menggamit anaknya. Tetapi anaknya tidak tanggap. la masih saja menundukkan kepala sambil mempermainkan jari-jari tangannya sendiri.

“He“ akhirnya Ki Partija tidak sabar, “kau harus menjawab. Para utusan itu minta diri”

Mas Rara termangu-mangu. Tetapi wajahnya justru terusa panas.

Sekali lagi para utusan itu minta diri, “Kami mohon diri Mas Rara. Kami harus kembali menghadap Raden Panji untuk memberikan laporun, bahwa kami telah melakukan perintah dengan sebaik-baiknya”

Dengan jantung berdebaran, Mas Rara akhirnya menjawab, “Selamat jalan”

“Kau tidak mengucapkan terima kasih?“ bertanya bapaknya.

“Ah“ desah gadis itu.

Kelima utusan itu tertawa. Sementara, atas desakan ayahnya, Mas Rara berkata, “Aku mengucapkan terima kasih”

“Tidak buat kami, “ jawab salah seorang dari para utusan itu. Agaknya ia ingin menggoda Mas Rara. Karena itu ia bertanya, “Jadi terima kasih itu buat siapa?“

Wajah Mas Rara terasa semakin panas. Ia tidak menjawab sama sekali.

“Sudahlah berkata utusan itu“ Kami sudah mengerti, terima kasih itu tentu Mas Rara tujukan kepada calon suami yang memerintahkan kami datang kemari”

Hampir saja Mas Rara lari ke dalam. Nanum orang-orang itu sambil tertawa bergerak, dan melangkah menuju tangga pendapa.

Ki Partija membimbing Mas Rara untuk ikut mengantar tamunya sampai ke regol halaman, diikuti Nyi Partija.

Di regol, utusan itu sekali lagi minta diri kepada ayah dan ibu Mas Rara. Bahkan sekali lagi kepada Mas Rara. Kepada Ki Resa yang ikut pula mengantar, mereka telah minta diri pula.

Namun yang tertua diantara mereka berpesan, “Jangan biarkan anak-anak itu pergi”

Ki Partija tersenyum sambil menjawab, “Kami akan selalu berusaha memenuhi perintah Raden Panji Ki Sanak”

“Terima kasih“ jawab orang itu.

Sejenak kemudian, utusan Raden Panji itu telah meninggalkan regol halaman rumah Ki Partija. Mas Rara tidak lagi menunggu lebih lama. Ia kemudian berlari masuk lewat seketheng ke ruang dalam melalui butulan.

Ki Partija suami isteri membiarkannya. Anaknya memang tidak terbiasa bergaul dengan orang-orang yang belum dikenalnya. Lebih-lebih orang yang datang dari luar pudukuhan.

Demikianlah. Sepeninggal utusan itu, beberapa orang tetangga yang berada di pendapa telah minta diri. Ki Partija mengucapkan terima kasih kepada mereka yang bersedia ikut melepas para utusan itu.

Sepeninggal para tamu, rumah Ki Partija menjadi lengang. Manggada dan Laksana telah dipersilakan oleh Wirantana kembali ke gandok sepeninggal tamu-tamunya.

“Kalian tidak boleh meninggalkan rumah ini“ berkatu Wirantana kepada kedua anak muda itu.

“Aku sudah terlalu lama di sini“ desis Laksana.

“Tetapi ini perintah Raden Panji“ jawab Wirantana.

“Siapakah sebenarnya Raden Panji itu? Demikian besarkah kuasanya, sehingga apa yang diinginkan harus jadi?“ bertanya Laksana kemudian.

“Aku tidak tahu. Aku belum lama pulang” jawab Wirantana.

“Menurut ayahmu?“ bertanya Laksana mendesak.

“Ayah tidak pernah berbicara dengan aku tentang Mas Rara. Aku masih dianggap anak-anak yang cukup disuapi makan dan minum“ jawab Wirantana.

Laksana tidak bertanya lagi. la mengerti bahwa Wirantana tidak banyak mengetahui tentang bakal adik iparnya itu.

Demikianlah. Meski jemu, Manggada dan Laksana harus tetap tinggal di rumah itu. Sebenarnya mereka tidak takut pada Raden Panji. Keduanya sadar, kekuasaan Raden Panji tidak akan menjangkaunya. Jika ada utusan yang mengejarnya di luar batas kekuasaan Raden Panji, utusan itu dapat dilawannya.

Tetapi yang mereka pikirkan justru Ki Partija sekeluarga. Jika benar Raden Panji menjadi marah, karena anak muda itu meninggalkan rumah Ki Partija, kemudian menjatuhkan kemarahan itu kepada keluarga itu, maka Manggada dan Laksana akan merasa bersalah. Karenanya, kedua anak muda itu bertahan untuk tetap tinggal di rumah itu.

Hari itu, Manggada dan Laksana ikut Wirantana ke sawah Dengan bekerja di sawah, anak-anak muda itu bisa melupakan kejenuhan mereka Namun di sore hari, ketika keduanya berada di serambi gandok, rasa-rasanya mereka ingin segera menerus-kan perjalanan.

Baru jika Wirantama datang, mereka dapat mengisi waktu dengan berbincang-bincang, bergurau, dan bahkan berbicara tentang olah kanuragan.

Namun ketika malam turun, ketiga anak muda itu justru berada di kebun belakang. Di tempat yang agak jauh dari rumah mereka.

Dalam kegelapan malam, diantara pepohonan dan tanaman empon-empon yang di musim kering seakan-akan telah hilang, tapi pada musim hujan tumbuh lagi, anak-anak muda itu mencoba meningkatkan ilmu mereka. Juga berusaha untuk mempertajam penglihatan mereka. Berganti-ganti mereka berlatih olah kanuragan. Namun mereka selalu menjaga agar tidak ada orang lain yang mengetahuinya. Juga pamannya.

Ketika saat sepi mencengkam padukuhan Nguter, ketiga anak muda itu berhenti berlatih. Mereka kemudian pergi ke pakiwan, dan selanjutnya membenahi pakaiannya yang basah oleh keringat.

Manggada dan Laksana berada di dalam biliknya, ketika terdengar suara kentongan di tengah malam. Keduanya bahkan telah berbaring. Laksana yang merasa letih, sudah memejamkan niatnya. Hampir saja ia tertidur, ketika ia mendengar pintu biliknya diketuk.

“Siapa?“ bertanya Manggada.

“Aku, “ jawab orang yang mengetuk pintu.

“Wirantana?“ bertanya Manggada pula.

“Ya“ jawab yang di luar.

Manggada pun bangkit dan membuka pintu. Laksana yang sudah hampir tertidur, telah duduk di bibir pembaringannya.

Ketika pintu terbuka, Wirantana masuk sambil berdesah, “Aku tidak dapat tidur. Aku merasa gelisah”

“Kenapa?“ bertanya Manggada.

Wirantana yang kemudian duduk diamben panjang di dalam bilik itu berdesis, “Entahlah. Tetapi aku tidak dapat tidur”

Manggada menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Kau memikirkan emas kawin yang diterima oleh adikmu itu”

“Kenapa aku memikirkanhya? Mas Kawin itu diberikan kepada adikku? Kenapa aku harus memikirkannya?“ bertanya Wirantana.

“Bukan mas kawin itu sendiri. Tetapi mungkin kau merasa cemas, bahwa dirumah ini tersimpan harta benda yang cukup banyak” berkata Manggada.

“Sst“ desis Wirantana, “jangan terlalu keras”

“Mungkin kecemasan itu tidak kau sadari“ berkata Laksana, “tetapi memang ada baiknya kita berhati-hati”

Wirantana termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Mungkin kalian benar. Baiklah. Aku akan kembali ke bilikku. Bagaimanapun juga benda-benda berharga yang
sebelumnya tidak kita miliki ini akan dapat mengundang persoalan”

Manggada dan Laksana tidak menjawab. Tetapi keduanya bangkit ketika Wirantana kemudian keluar dari bilik itu dan kembali kebiliknya sendiri.

Demikian menyelarak pintu, maka Laksana telah menjatuhkan diri lagi di pembaringannya. Sambil memejamkan matanya ia berkata, “Aku sudah hampir tertidur”

Manggada hanya tersenyum saja. Tetapi rasa-rasanya ia pun tidak mudah untuk tidur. Benda-benda berharga itu memang dapat menarik perhatian orang-orang yang berniat jahat. Tetapi Manggada tidak ingin mengganggu Laksana yang ternyata beberapa saat kemudian telah tertidur nyenyak.

Sementara itu, malam pun menjadi semakin larut. Diluar suara bilalang masih terus berderik disela-sela bunyi angkup. Merintih berkepanjangan.

Di dalam biliknya, Wirantana juga tidak dapat tidur. Bahkan iapun kemudian duduk dipembaringannya. Suara-suara malam bagaikan berbisik ketelinganya agar Wirantana bertahan unluk tetap terjaga.

Untuk beberapa lama Wirantana duduk di pembaringannya. Kemudian ia bergeser menepi untuk dapat bersandar dinding. Namun rasa-rasanya menjadi semakin tidak mengantuk. Pendapat Manggada dan Laksana justru menjadi semakin mengganggu perasaannya.

Wirantana tiba-tiba tertarik suara gemerisik diluar dinding biliknya, yang terdengar bergeser menyusurii dinding. Bukan gemerisiknya angin malam di dedaunan.

Tiba-tiba saja wirantana sadar bahwa suara itu adalah suara langkah seseorang.

“Agaknya yang dicemaskan akan terjadi“ berkata Wirantana didalam hatinya.

Tetapi Wirantana masih tetap berdiam diri. Ia memang ingin melihat, apa yang akan dilakukan oleh orang-orang itu dan barangkali dapat diketahui siapakah mereka.

Karena Wirantana berusaha untuk berdiam diri, serta berusaha mengatur pernafasannya dengan baik, maka ia memberikan kesan bahwa ia sudah tertidur nyenyak.

Demikian pula Manggada didalam biliknya. Ia bahkan telah berbaring dipembaringannya meskipun masih belum tidur.

Dibiliknya, ternyata Mas Rara pun tidak dapat tidur pula meskipun dengan kegelisahan yang berbeda. Sedangkan Ki Partija Wirasentana dan isterinya juga masih saja selalu gelisah. Sebuah peti yang berisi benda-benda berharga ada dibawah pembaringannya. Bagaimanapun juga benda sebanyak itu belum pernah dimiliki sebelumnya.

Namun bukan hanya karena nilai-nilai yang tersimpan pada benda-benda itu. Tetapi persoalan yang terkandung didalamnya telah membuat mereka gelisah.

Dalam pada itu, maka Wirantama semakin lama justru menjadi semakin gelisah. Ia telah mendengar langkah langkah yang berurutan. Tentu tidak hanya seorang saja atau bahkan tentu lebih dari dua orang.

Sejenak Wirantana masih bertahan ditempatnya. Ia menunggu perkembangan keadaan. Namun ia juga berharap bahwa Manggada dan Laksana atau salah seorang dari mereka masih tetap terjaga pula.

Namun Wirantana menjadi sedikit tegang, karena ia mengerti, bahwa pamannya ada dirumah itu pula. Jika terjadi sesuatu, pamannya akan dapat membantunya. Wirantana tahu pasti, bahwa pamannya adalah seorang yang berilmu.
Tetapi Wirantana kemudian menjadi curiga. Orang yang berada diluar terlalu banyak untuk sekelompok pencuri. Karena itu, maka ia pun telah memperhitungkan, bahwa orang-orang itu bukan pencuri yang akan memasuki rumah itu dengan diam-diam dan mengambil harta benda yang disimpan oleh ayahnya. Tetapi mereka tentu akan memasuki rumah itu dengan paksa dan tidak dengan sembunyi-sembunyi berusaha merampas benda-benda berharga itu.

Karena itu, maka Wirantana pun tidak lagi menunggu dengan diam-diam. Ia pun kemudian telah bergeser lagi. Namun untuk mempersiapkan senjatanya.

Sebenarnyalah, sejenak kemudian, maka telah terdengar pintu butulan diketuk orang. Tidak terlalu keras. Tetapi cukup dapat membangunkan orang-orang yang tidur diruang dalam.

Wirantana adalah orang yang pertama keluar dari biliknya. la ingin memperingatkan ayahnya agar berhati-hati. Kemudian minta kepada pamannya untuk tidak dengan serta merta membuka pintu butulan.

Tetapi Wirantana terlambat. Ketika ia sampai ke ruang tengah maka ia telah melihat pamannya membuka pintu butulan.

“Paman“ Wirantana berteriak.

Tetapi tepat pada saat itu, pamannya telah mengangkat selarak. Satu dorongan yang kuat telah menempa tubuh pamannya. Ternyata orang-orang yang berada diluar pintu telah mendorongnya keras-keras, sehingga Ki Resa terdorong beberapa langkah surut. Namun Ki Resa tidak mempunyai banyak kesempatan. Ketika ia berusaha memperbaiki keseimbangannya, maka tiba tiba sebuah pukulan yang keras dengan sepotong besi telah mengenai tengkuknya.

Ki Resa terhuyung-huyung beberapa langkah. Bahkan telah melanggar dinding. Namun Ki Resa masih berusaha mencabut keris. Tetapi agaknya, daya tahannya tidak mampu lagi mengatasi kesulitan didalam dirinya. Perlahan-lahan Ki Resa itu terjatuh disudut ruang.

Wirantana sempat meloncat mundur. Ketika ia melihat ayahnya membuka pintu biliknya, maka Wirantana segera meloncat masuk sambil mendorong ayahnya. Dengan cepat Wirantana menutup pintu bilik itu dari dalam dengan selarak yang kuat.

“Apa yang terjadi?“ bertanya ayahnya. Wirantana tidak segera menjawab. Tetapi ia sudah menggenggam pedang ditangannya.

“Dimana Mas Rara?“ bertanya Wirantana tiba-tiba.

“Didalam biliknya“ jawab ibunya.

Namun Wirantana tidak sempat bertanya lagi. Sejenak kemudian pintu bilik itu sudah digedor dari luar.

“Jangan dibuka“ desis Wirantana.

“Siapakah mereka?“ bertanya Ki Partija Wirasentana.

“Mereka adalah sekelompok penjahat“ jawab Wirantana.

“Bagaimana dengan adikmu“ Nyi Partija Wirasentana hampir menangis.

Wirantana memang menjadi bingung. Ia tahu bahwa adiknya tentu akan menjadi sangat ketakutan. Tetapi jika ia membuka pintu itu dan keluar, maka orang-orang itu tentu menjadi sangat berbahaya, bukan saja baginya, tetapi juga bagi ayah dan ibunya serta benda-benda berharga yang baru saja diserahkan oleh Raden Panji.

Sementara itu, pintu bilik itu telah berderak-derak keras. Orang-orang yang ada diruang dalam berusaha untuk merusaknya sambil berteriak, “Keluar. Atau aku bakar rumah ini”

Wirantana memang benar-benar menjadi bingung. Tetapi ia siap di pintu bilik itu. Demikian pintu terbuka, maka ia tidak akan berpikir panjang. Pedangnya tentu akan mengoyak perut orang-orang yang akan menerobos masuk kedalam bilik itu.
Namun dalam pada itu, ternyata suara ribut itu terdengar oleh Manggada yang berada digandok. Dengan hati-hati ia telah membangunkan Laksana dan memberi isyarat bahwa sesuatu memang telah terjadi.

Laksanapun segera mempersiapkan diri. Pedangnya kemudian telah terselip dipinggangnya.

“Marilah. Kita melihat apa yang telah terjadi“ berkata Laksana.

Kedua orang anak muda itu dengan sangat berhati-hati telah keluar dari pintu bilik mereka di gandok. Mereka pun kemudian dengan hati-hati telah memasuki halaman samping. Lewat seketheng mereka memasuki longkangan.

Keduanya terkejut ketika keduanya melihat bahwa pintu telah terbuka. Karena itu, maka merekapun segera telah mendekat.

Namun tiba-tiba seseorang telah meloncat menyerang mereka, Nampaknya orang itu telah mendapat tugas untuk berjaga-jaga diluar.

Manggada sempat mengelak. Dengan lantang ia berkata, “Laksana. Cegah orang itu. Aku akan masuk”

Laksana pun segera menempatkan diri untuk melawan orang itu. Sementara Manggada telah meloncat mendekati pintu.

Dengan hati-hati ia bergerak masuk. Ia melihat Ki Resa terbaring disudut ruangan. Agaknya Ki Resa tidak sempat membela dirinya ketika ia begitu tiba-tiba mendapat serangan.

Ketika Manggada kemudian berada di ruang dalam, maka orang-orang yang sedang berusaha memecah pintu bilik Ki Wirasentana melihatnya. Karena itu, maka dua orang diantara mereka telah meloncat menyerang Manggada.

Tetapi Manggada cukup tangkas. Ia pun segera berloncatan diantara perabot rumah yang ada diruang dalam. Pedangnya langsung berputaran.

Kedua orang yang menyerangnya terkejut. Pada benturan yang terjadi, orang-orang itu langsung mengetahui, bahwa anak muda itu memiliki ilmu yang mapan.

Demikianlah, maka Manggada telah bertempur ditempat yang kurang menguntungkan. Tetapi lawannya yang bertempur berpasangan itupun tidak dapat dengan leluasa mengambil arah. Sehingga dengan demikian, maka pertempuran itu masih belum berkembang sampai ke puncak ilmu masing-masing.

Sementara itu, Wirantana mendengar pertempuran yang terjadi diluar. Sementara itu, ia mendengar suara Manggada lantang, “He, siapakah kalian yang telah berani memasuki rumah ini?“

“Persetan. Aku sumbat mulutmu dengan ujung pedang“ geram salah seorang dari mereka.

Manggada tidak menjawab. Tetapi ia sudah berloncatan di tempat yang agak sempit untuk bertempur. Karena itu ia kemudian memusatkan perlawanannya pada ketrampilan tangannya menggerakkan senjatanya.

Ternyata Manggada tidak mengalami kesulitan melawan kedua orang lawannya itu.

Apalagi ketika sejenak kemudian, Laksana telah mendesak lawannya yang berusaha masuk ke ruang dalam untuk mendapat bantuan dari kawan-kawannya. Perhatian orang-orang itu benar-benar terpecah.

Namun untunglah bahwa orang-orang itu tidak tahu, bahwa Mas Rara ada di dalam bilik yang mana, sehingga mereka tidak langsung dapat mempergunakannya sebagai taruhan.

Ketika seorang lagi berusaha untuk membantu kawannya yang terdesak oleh Laksana, Wirantana berusaha untuk dapat mengetahui apa yang terjadi di luar. Ia juga mendengar suara Laksana, ketika pemuda itu berteriak, “Jika kalian percaya kepada kemampuan kalian, kita bertempur di luar”

Tidak ada jawaban. Tetapi dengan bantuan seorang kawannya, maka lawan Laksana itu mendesak Laksana yang dengan sengaja menarik perhatian kedua orang itu dengan langkah langkah surut.

Sejenak kemudian, Laksana telah bertempur dengan dua orang lawan di longkangan. Di tempat yang lebih lapang, Laksana mampu bergerak lebih bebas daripada Manggada yang ada di dalam. Dengan demikian, pertempuran dj longkangan lebih cepat berkembang, sehingga ketiga orang itu bagai bayangan di kegelapan.

Sementara itu, Wirantana berusaha mengangkat selarak pintu bilik ayahnya, yang sudah hampir dapat dipecah oleh orang-orang yang memasuki rumah itu. Dengan isyarat ia minta ayahnya mundur.

Ki Partija Wirasentana memang melangkah mundur, tapi ia memegang sebuah luwuk kehitaman, dengan pamor berkeredipan. Luwuk pusaka peninggalan orang tuanya.
Demikian pintu terbuka, Wirantana dengan cepat, memanfaatkan kesempatan saat orang yang berada di luar pintu memperhatikan pertempuran yang sedang terjadi di ruang itu.

Dengan garang, Wirantana meloncat keluar setelah berdesis, “Tutup, dan selarak kembali pintu itu ayah”

Dua orang yang masih berdiri di muka pintu terkejut. Wirantana yang langsung menyerang berhasil mendesak kedua orang yang berada di depan pintu untuk melangkah surut. Dengan demikian, Ki Partija sempat menutup dan menyelarak pintu itu kembali.

Wirantana sempat menarik nafas panjang ketika melihat pintu bilik adiknya masih tertutup rapat, meski ia tahu bahwa adiknya tentu sudah terbangun dan menjadi ketakutan di dalam biliknya. Tetapi kehadiran Manggada di ruang itu telah membuatnya berbesar hati, karena Wirantana mengetahui tataran kemampuan anak muda itu. Dan ia pun mengerti bahwa Laksana telah bertempur di longkangan.

Sejenak kemudian, ketiga anak muda itu telah bertempur masing-masing melawan dua orang. Meski demikian, Wirantana masih juga merasa curiga, bahwa masih ada orang lain selain mereka berenam.

Sebenarnyalah, selain keenam orang itu, ada orang ketujuh yang berusaha mengoyak dinding dari luar dengan kapak besar.

Nyi Wirasentana menjadi sangat ketakutan. Tetapi Ki Partija menenangkannya. Katanya, “Jangan takut Nyi. Aku sudah siap menebas lehernya. Begitu kepalanya mencuat masuk ke dalam dinding, ia akan mati”

Nyi Wirasentana menjadi agak tenang. Tetapi ketika ia mendengar kapak yang berderak-derak memecahkan dinding bilik itu dari luar, ia menjadi semakin gemetar.

Sementara itu, Manggada mulai memancing lawannya untuk bertempur di luar. Sambil menggeser mundur, ia mendekati pintu untuk kemudian meloncat keluar.

Agaknya, kedua lawannya juga ingin bertempur di luar. Di tempat yang lebih lapang. Agar mereka dapat bergerak lebih banyak serta dapat memilih arah.

Tetapi Wirantana berusaha untuk tetap bertempur di dalam. Ia merasa wajib mengawasi bilik adiknya, dan sekaligus bilik ayahnya, meski ia yakin bahwa ayahnya akan mampu melindungi dirinya serta ibunya, apabila hanya seorang saja diantara lawannya yang berusaha masuk kedalam bilik itu.

Di longkangan, Laksana bertempur melawan dua orang lawan yang kasar Namun Laksana sama sekali tidak gentar menghadapi mereka. Ternyata ia memiliki kelebihan dalam ilmu pedang dari lawannya. Meski kedua lawannya bertempur dengan keras dan kasar. Laksana yang tangkas itu sempat membuat kedua lawannya kebingungan.

Manggada yang telah berada di luar, telah berloncatan dengan cepatnya. Bahkan Manggada berhasil memancing lawannya turun ke halaman depan. Dengan demikian, ia mendapat kesempatan untuk berloncatan semakin panjang.

Kedua lawan Manggada terkejut menghadapi anak muda itu, Ternyata anak muda itu memang memiliki ilmu yang cukup tinggi, sehingga kedua orang itu tidak segera dapat mengalahkannya. Bahkan beberapa kali kedua orang itu kebingungan dan berloncatan mengambil jarak. Hanya karena keduanya mampu bekerja sama dengan baik, saling mengisi, dan memperhitungkan saat-saat paling baik untuk menyerang serta menghindar, mereka dapat bertahan lebih lama.

Namun demikian, Manggada tidak ingin membiarkan kedua lawannya, dan orang-orang lain yang datang ke rumah itu, sampai melakukan kejahatan. Dengan demikian, Manggada berniat mengakhiri perlawanan kedua orang itu secepatnya.
Dengan tangkasnya, Manggada menekan kedua orang lawannya. Pedangnya terayun-ayun mendebarkan. Sekali menggapai lawannya yang seorang, namun kemudian terayun menebas kearah lawannya yang lain. Beberapa kali Manggada dengan sengaja tidak menghindari serangan lawan-lawannya, tetapi langsung membentur serangan itu dengan menangkis-nya. Ternyata bahwa kekuatan Manggada telah menggetarkan pegangan tangan lawannya atas senjata mereka.

Ketika Manggada menghentakkan kemampuannya, kedua lawannya menjadi semakin terdesak. Dalam serangan yang cepat, Manggada telah mendesak seorang lawannya, sehingga ia meloncat beberapa langkah surut. Tetapi Manggada tidak sempat memburu. Lawannya yang lain telah berusaha mengenainya dengan serangan lurus mengarah ke lambung. Namun Manggada dengan cepat meloncat menghindar sambil menyerang lawannya yang seorang lagi, sehingga lawannya yang tidak menduga itu terkejut. Dengan serta merta, ia meloncat mundur. Ujung pedang Manggada memang tidak menyentuhnya, tapi Manggada tidak membiarkannya. Sebelum lawan yang lain meloncat menyerangnya, Manggada bergeser, memburu lawannya dengan pedang tetap terjulur.

Dengan tergesa-gesa, lawannya berusaha menangkis serangan itu. Tetapi Manggada sempat memutar pedangnya, sehingga lawannya mengaduh perlahan. Ujung pedang Manggada sempat menyentuhnya, meski tidak terlalu dalam.

Dengan demikian, perlawanan kedua orang di halaman itu menjadi semakin lemah. Tapi kedua orang itu masih berusaha untuk bertahan. Mereka berharap jika kawan-kawannya mampu mengalahkan lawan-lawan mereka, maka mereka akan datang dan membantu mengalahkan anak muda itu.

Dalam pada itu, Laksana pun mampu membuat lawannya terdesak. Meski sekali-sekali Laksana juga harus berloncatan surut, tapi arena itu seakan-akan telah dikuasai sepenuhnya oleh Laksana. Bahkan Kadang-kadang kedua lawannya harus berloncatan surut beberapa langkah, karena desakan Laksana yang sulit untuk diatasi.

Di dalam rumah, Wirantana masih bertempur pula melawan dua orang. Wirantana memang harus menjaga diri agar ia tidak keluar dari ruang dalam. Jika ia terhisap keluar, maka tidak ada lagi yang mengawasi bilik kedua orang tuanya dan adiknya.

Sementara itu, Mas Rara menjadi gemetar di dalam biliknya. Meskipun ia tidak tahu apa yang terjadi, tetapi Mas Rara sudah menduga, bahwa kedatangan orang-orang itu tentu ada hubungannya dengan mas kawin yang diterimanya dari Raden Panji Prangpranata.

Karena itu, Mas Rara pun memikirkan ayah dan ibunya. Jika orang-orang itu sempat masuk kedalam bilik kedua orang tuanya, maka nasib kedua orang tuanya tentu akan menjadi buruk sekali. Mungkin para perampok itu akan menyakiti orang tuanya, bahkan mungkin lebih dari itu. Kemungkinan lain adalah, seandainya orang tuanya selamat, maka masih harus dipertanyakan sikap Raden Panji Prangpranata.

Kebingungan dan kecemasan berbaur di dalam hatinya. Namun Mas Rara tidak berani beranjak dari biliknya. Tapi ia menyadari, bahwa pertempuran telah terjadi di longkangan rumahnya, di depan gandok di belakang seketheng.

Mas Rara tidak mendengar apa yang terjadi di halaman, karena suaranya tertelan oleh kekerasan yang terjadi di ruang dalam.

Dalam pada itu, orang-orang yang datang kerumah itu telah berusaha dengan segenap kemampuan mereka untuk mengalahkan anak-anak muda itu. Dengan garang, seorang diantara mereka yang bertempur melawan Wirantana berteriak, “Menyerahlah. Jika kau tetap melawan, kau akan mengalami nasib yung lebih buruk. Kau ayah dan ibu serta Mas Rara yang telah dilamar oleh Raden Panji Prangpranata”

Dalam pada itu, selagi Ki Partija Wirasentana yang berada di dalam biliknya masih dibayangi kecemasan karenu suara kapak yang semakin keras berderak pada dinding biliknya, serta dentang senjata di ruang dalam, beberapa orang peronda bersiap-siap mengelilingi padepokan mereka untuk terakhir kalinya di malam itu, sebelum mereka pulang.

Empat orang telah bersiap di muka gardu, sementara tiga orang tetap berjaga-jaga menunggu gardu.

Sejenak kemudian, keempat orang itu mulai berkeliling sambil membunyikan kentongan kecil dengan irama khusus, sebagaimana sering mereka perdengarkan jika sedang meronda. Suara kotekan itu kemudian menelusuri jalan-jalan padukuhan, diselingi dengan dendang gembira untuk membangunkan orang-orang yang terlalu nyenyak tidur, sehingga dapat terjadi kemungkinan buruk jika seorang pencuri masuk ke dalam rumah mereka.

Manggada menjadi cemas mendengar suara itu. Ia tidak ingin kehilangan kedua lawannya. Ia berniat menangkap mereka hidup-hidup.

Namun, suara kentongan dalam irama kotekan itu mengacaukan rencananya. Lawan-lawannya, juga lawan Laksana dan Wirantana, menjadi semakin cemas menghadapi anak-anak muda itu dan sebentar lagi tentu para peronda. Karena itu, beberapa saat kemudian, terdengar suitan nyaring dari longkangan, yang ternyata adalah isyarat dari salah seorang diantara mereka yang memasuki halaman rumah Ki Partija Wirasentana itu.

Demikianlah. Sekejap kemudian, orang-orang yang sedang bertempur itu melakukan gerakan agak mengejutkan lawan-lawan mereka, seakan-akan mereka serentak akan menyerang.

Namun ternyata, mereka berloncatan menjauh dan kemudian melarikan diri.

Manggada dan Laksana berusaha untuk mengejar mereka. Tetapi ketika mereka berlari dan kemudian meloncati dinding halaman, turun ke jalan, mereka bertemu dengan para peronda yang juga berlari-lari ke regol halaman.

“He, berhenti, berhenti“ teriak salah seorang peronda.

Manggada dan Laksana terpaksa berhenti. Jika mereka berlari terus, mengejar orang-orang yang melarikan diri itu, akan terjadi salah paham. Para peronda yang belum melihat mereka dengan jelas dalam keremangan dini hari, akan mengira mereka berdua adalah orang-orang yang justru harus mereka tangkap, sebagaimana orang-orang yang telah berlari lebih dulu. Apalagi belum semua orang padukuhan itu mengenai mereka berdua dengan baik.

Keempat orang peronda itu telah mengepung mereka sambil mempersiapkan senjata yang mereka bawa, karena Manggada dan Laksana masih menggenggam senjata.

“Siapa kalian?“ bertanya orang tertua diantara para peronda.

“Kami adalah tamu Ki Partija“ jawab Manggada, “kami sebenarnya sedang mengejar orang-orang yang berniat jahat di rumah ini”

Seorang diantara para peronda itu ternyata dengan cepat mengenali kedua anak muda itu. Karenanya orang itu berkata lantang, “He, bukankah kalian anak-anak muda yang telah menolong Mas Rara dari harimau yang akan menerkamnya, dan kemudian singgah di rumah Ki Partija?”

“Ya. Malam ini rumah Ki Partija telah didatangi beberapa orang perampok“ jawab Manggada.

Tetapi orang-orang itu tidak segera percaya. Namun seorang diantara mereka berkata, “Kami memang melihat beberapa orang berlari-lari. Namun segera hilang ke halaman sebelah, sebelum kalian meloncat ke jalan”

“Orang-orang itulah yang sedang kami kejar“ jawab Manggada.

Beberapa orang diantara mereka saling berpandangan. Memang terasa sedikit kecurigaan nampak di sorot mata mereka. Sehingga Laksana bertanya, “Bagaimana tanggapan kalian atas hal ini? Kami telah kehilangan buruan”

“Dimana Ki Partija Wirasentana?“ bertanya yang tertua diantara para peronda itu.

“Ada di dalam“ jawab Manggada. Lalu katanya, “Marilah kita temui Ki Partija”

Bersambung ke jilid 2

Sumber djvu : Koleksi Ismoyo

http://cersilindonesia.wordpress.com

Ebook : Dewi KZ

http://kangzusi.com/ atau http://ebook-dewikz.com/

http://kang-zusi.info http://dewikz.byethost22.com/

Diedit ulang oleh Ki Arema

 

AM_MC-06 | lanjut AM_MR-02

Satu Tanggapan

  1. menunggu dengan sabar kelanjutannya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s