AM_MC-05


Serial ARYA MANGGADA

Episode I: MENJENGUK CAKRAWALA

JILID 5

kembali | lanjut

AMMC-05NAMUN setelah mereka mengamati sejenak, ternyata mereka menyadari, bahwa yang dilakukan oleh orang-orang beraliran sesat itu barulah persiapan. Mereka sibuk menghias tempat persembahan dengan janur yang berwarna kekuningan, sebagaimana mereka menghias tempat peralatan perkawinan. Demikian pula regol padukuhan, dan agaknya, juga bangunan-bangunan yang ada di padukuhan kecil itu.

Tetapi orang-orang yang berada di pinggir padang rumput, dan bersembunyi di balik rimbunnya pohon perdu itu, tidak berani mendekat. Mereka hanya dapat mengamati semuanya itu dari kejauhan.

Dalam pada itu, Ki Ajar berbisik, “Agaknya mereka telah memperkuat penjagaan. Hilangnya beberapa orang di antara mereka, telah membuat mereka menjadi sangat berhati-hati.”

Ki Wiradadi mengangguk-angguk. Namun ia masih saja dibayangi oleh kecemasannya, akan kemungkinan yang terjadi atas Manggada dan Laksana. Keduanya bukan apa-apanya. Tidak ada hubungan keluarga sama sekali. Jika keduanya menjadi korban, maka ia tentu akan menyesal sekali.

Tetapi ia tidak dapat mengatakannya. Kedua anak muda itu sendiri nampaknya sudah begitu mantap untuk terjun ke gelanggang. Sebagaimana pernah mereka katakan, bahwa selain untuk menyelamatkan gadis itu, maka kepercayaan sesat itu memang harus dipadamkan.

Malam itu, mereka sempat melihat persiapan yang dilakukan oleh beberapa orang. Bahkan mereka melihat semacam gladi bagaimana upacara itu akan dilakukan besok.

Mereka yang berada di pinggir padang rumput, di balik gerumbul-gerumbul perdu itu, melihat bagaimana besok iring-iringan itu akan keluar dari regol. Ternyata gadis yang akan di korbankan, akan dibawa naik sebuah tandu, dikawal olah ampat orang bersenjata.

Sementara itu, tempat penyerahan korban telah dijaga pula oleh ampat orang di setiap sudutnya. Pengawal itu bersenjata tombak panjang dengan juntai janur kuning di bawah mata tombaknya.

Gladi upacara itu agaknya dilakukan hampir utuh. Namun Ki Ajar berkata, “Penjagaan kali ini memang nampak lebih cermat.”

“Ki Ajar pernah melihat upacara semacam ini?” bertanya Ki Wiradadi.

“Bukankah aku pernah mengatakannya? Tetapi aku segan untuk mengingatnya lagi, karena penglihatanku itu selalu menyiksa perasaanku. Aku melihat satu tindakan yang bertentangan dengan nuraniku, tapi aku tidak dapat berbuat apa-apa.” desis Ki Ajar.

Ki Wiradadi tidak bertanya lagi. Ia mengerti perasaan Ki Ajar yang sakit, justru karena ia tidak dapat berbuat apa-apa.

Ketika bulan menjadi semakin tinggi, dan bahkan mencapai puncaknya, semua persiapan telah dapat diselesaikan. Bahkan beberapa rontek dan umbul-umbul telah terpasang. Upacara itu memang merupakan upacara yang termasuk besar.

Memang terkilas di dalam, “angan-angan Ki Wiradadi pertanyaan, apakah mereka akan berhasil dengan rencana mereka, justru menghadapi kesiagaan yang begitu tinggi.

Tetapi ia selalu mengusir keragu-raguan dari dalam hatinya. Ia sadar, bahwa Ki Ajar dan anak-anak muda yang bersedia membantunya itu, agaknya membenci keraguraguannya. Karena itu, ia harus memantapkan sikapnya, apapun yang tersirat di hatinya.

Demikianlah, ketika padang rumput itu menjadi semakin sepi, Ki Ajar berkata, “Marilah. Agaknya semua persiapan telah selesai. Kita sudah mendapat gambaran apa yang akan terjadi besok. Kita sudah melihat celah-celah yang memberi kemungkinan kepada kita untuk bertindak besok malam.”

“Kapan kita akan hadir di sini besek Ki Ajar?” bertanya Ki Wiradadi.

“Pada saat bulan terbit, kita harus sudah berada di sini” jawab Ki Ajar.

Ki Wiradadi menarik nafas dalam-dalam. Namun ia kemudian mengikuti Ki Ajar, meninggalkan tempat itu Demikian juga Manggada dan Laksana.

Ketika mereka sampai di rumah Ki Ajar, maka Ki Ajar telah mempersilahkan mereka langsung beristirahat.

“Kita besok memerlukan tenaga dan kemampuan kita sepenuhnya” berkata Ki Ajar.

Ki Wiradadi, Manggada dan Laksana tidak membantah. Mereka pun telah pergi ke serambi, dan membaringkan diri di amben yang cukup besar. Di serambi terasa lebih sejuk dan segar daripada mereka berada di dalam rumah yang terasa sempit dan panas. Karena itu, mereka pun merasa akan dapat lebih cepat tidur daripada jika mereka berada di dalam.

Di hari berikutnya, Ki Wiradadi dan kedua orang anak muda itu telah melakukan persiapan terakhir. Malam nanti mereka akan bergabung di antara hidup dan mati. Tetapi apapun yang terjadi, mereka sudah bertekad untuk menghancurkan gerombolan orang yang menganut ilmu sesat. Meskipun orang-orang itu berjumlah jauh lebih banyak, namun mereka yakin, bahwa jika para pemimpinnya telah dikalahkan, yang lain tidak akan banyak memberikan perlawanan.

Ketika matahari turun, Ki Ajar telah bersiap-siap pula. Setelah memberikan pesan-pesan terakhir, maka mereka pun mulai bergerak. Tetapi mereka harus sangat berhati-hati. Mereka tidak boleh datang sebelum gelap. Tetapi mereka pun tidak boleh terlambat.

Karena itu, mereka sengaja berangkat agak awal. Namun mereka harus menunggu di sebuah semak-semak yang berdaun rimbun. Baru ketika senja turun, mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju ke padang rumput yang menjadi arena penyerahan korban bagi orang-orang berilmu hitam itu.

Bagaimanapun juga, terasa debar di jantung mereka menjadi semakin keras, ketika mereka semakin dekat. Dari jarak yang agak jauh, telah nampak cahaya obor yang menjulang. Agaknya padang rumput itu memang menjadi terang dan oleh puluhan obor yang telah dinyalakan.

Pada saat hari mulai gelap, Ki Ajar dan kawan-kawannya mempersiapkan diri. Mereka tidak boleh terlambat bertindak, karena jika ia terlambat, maka segalanya akan gagal. Gadis itu tentu akan terbunuh dan bahkan mungkin mereka semuanyapun akan terbunuh pula.

Tetapi jika terjadi hal yang demikian, maka itu adalah akibat yang harus mereka terima.

Sambil menunggu bulan bulat di langit, detak jantung mereka serasa menjadi semakin cepat. Rasa-rasanya mereka harus menunggu sangat lama.

Namun akhirnya, langit pun menjadi semakin terang. Sesaat lagi bulan akan terbit.

Ki Ajar memberikan isyarat kepada mereka, yang bekerja bersamanya. Di saat bulan terbit, semua persiapan akan dilakukan pada tahap terakhir. Sejenak kemudian, korban pun dibawa keluar dari padukuhan, dan diarak ke tempat korban dipersembahkan.

Upacara akan berlangsung beberapa lama, sehingga baru menjelang tengah malam pusaka yang akan menjadi sangat bertuah itu dihunjamkan kedada korban.

Dengan isyarat itu, maka Ki Wiradadi, Manggada dan Laksana telah bergeser untuk mengambil jarak. Namun dalam pada itu, si Bongkok mendekati Ki Ajar untuk menerima perintah-perintahnya.

“Kita tidak akan mendapat kesempatan lain Bongkok” berkata Ki Ajar.

“Ya Ki Ajar” jawab Bongkok “karena itu, kita harus berhasil kali ini. Kepercayaan sesat ini harus kita hancurkan, sehingga tidak akan dapat tumbuh kembali.”

“Selebihnya, kita selamatkan gadis yang akan menjadi korban itu.” desis Ki Ajar.

Si Bongkok mengangguk-angguk. Namun perhatiannya sepenuhnya tertuju kepada gerbang padukuhan yang terang.

“Begitu gadis itu diletakkan di atas tempat korban, kita akan bertindak” berkata Ki Ajar.

Orang bongkok itu masih saja mengangguk. Tetapi ia tidak segera menjawab. Perhatiannya masih saja tertuju kepada kesibukan di pintu gerbang. Agaknya benda-benda upacara sudah akan dibawa keluar, sebelum mereka membawa korban itu sendiri.

Sebenarnyalah bahwa Ki Ajar dan orang bongkok itu pernah menyaksikan apa yang terjadi di padang rumput itu. Tetapi mereka merasa ngeri untuk mengingatkannya. Tetapi dalam keadaan yang penting itu, mereka terpaksa melihat kembali ingatan mereka tentang upacara-upacara yang pernah dilakukan di padang itu.

Beberapa saat kemudian, benda-benda upacara telah dibawa keluar. Beberapa puluh obor mendahului benda-benda upacara itu, dalam iring-iringan agak panjang.

Benda-benda upacara itu kemudian dibawa ke tempat korban diserahkan. Sebagian diletakkan di atas tatanan batu, sementara yang lain diletakkan di bawah.

Manggada dan Laksana yang belum pernah menyaksikan upacara seperti itu, merasa jantungnya berdetak semakin keras. Bulu-bulu tengkuk mereka, serasa berdiri. Upacara itu nampak mengerikan.”Apalagi kedua anak muda itu sudah mulai membayangkan, seorang gadis terbaring di tempat korban, kemudian sebilah keris diangkat tinggi-tinggi dan terayun menghunjam ke jantungnya.

Rasa-rasanya anak-anak muda itu mendengar jerit tinggi. Namun ternyata yang didengarnya, adalah isyarat dalam upacara yang sedang berlangsung itu dari salah seorang perempuan yang memimpin upacara itu, di antara beberapa orang perempuan yang lain.

Tiba-tiba saja, terjadi gerakan mengejutkan. Dengan serentak, semua orang di sekitar tempat itu bergerak. Berputaran sambil meneriakkan kata-kata yang tidak jelas. Semakin lama semakin cepat.

“Beri tahu anak-anak muda itu” berkata Ki Ajar “sebentar lagi korban akan dibawa keluar.”

Orang bongkok itu pun kemudian merangkak mendekati anak-anak muda itu untuk memberikan isyarat dengan tangannya, bahwa korban akan dibawa keluar.

Manggada dan Laksana telah bergeser lagi semakin jauh. Sementara Ki Wiradadi, tetap berada di tempatnya. Mereka akan mempergunakan anak panah untuk menyerang dari jarak jauh, sehingga akan timbul kekacauan di tempat upacara itu. Meskipun di sekitar tempat upacara itu terdapat banyak orang, tetapi kelima orang itu yakin, bahwa hanya beberapa saja di antara mereka yang bersiap untuk benar-benar bertempur dengan kemampuan yang memadai.

Mereka telah melihat beberapa orang, bukan saja menjajagi kemampuan mereka, tetapi justru telah membunuhnya.

Sejenak kemudian, terdengar suara bende yang bergaung memecah keriuhan di padang rumput itu. Bende yang menjadi isyarat bahwa korban akan dibawa keluar dari pintu gerbang padukuhan, di sebelah padang itu.

Orang-orang yang menunggu diatas tanggul, di balik gerumbul itu, menjadi tegang. Terutama Manggada, Laksana dan Ki Wiradadi. Ki Wiradadi yang seakan-akan telah melihat anak gadisnya diarak dalam tandu keluar pintu gerbang, rasa-rasanya tidak sabar lagi menunggu lebih lama.

Korban yang akan dibaringkan di atas tempat korban itu, benar-benar telah ditandu keluar dari pintu gerbang. Satu iring-iringan panjang, dengan beberapa tanda upacara yang lain dari yang telah lebih dahulu dipasang.

Namun dari tempat mereka bersembunyi, Ki Wiradadi dan kawan-kawannya tidak dapat melihat wajah orang yang berada di dalam tandu itu.

Tetapi mereka tidak mempedulikannya. Mereka berpegang pada rencana yang telah mereka susun. Demikian korban diletakkan di atas batu itu, mereka akan bertindak. Mereka tidak akan menunggu upacara berkepanjangan, sehingga akan dapat membuat jantung mereka semakin tegang, dan mungkin akan kehilangan keseimbangan.

“Dalam saat itu. mungkin Panembahan belum ada di padang. Tetapi itu kebetulan sekali. Kita akan menghadapi lawan-lawan yang lain. Baru kemudian, kita akan berhadapan dengan Panembahan” berkata Ki Ajar yang menjelaskan saat mereka menyusun rencana.

Dengan demikian, mereka dapat menghadapi lawan-lawan mereka bergantian.

Kehadiran korban itu benar-benar bagaikan iring-iringan pengantin perempuan, dalam upacara yang besar. Bahkan suara gamelan pun telah terdengar mengiringi korban yang duduk di atas tandu itu. Namun sebenarnyalah, orang yang duduk di atas tandu itu seakan-akan tidak lagi sadar akan dirinya, karena ketakutan yang mencekam.

Perempuan yang duduk di dalam tandu itu menyadari, bahwa sebentar lagi, umurnya akan dicabut di atas tempat untuk menyerahkan korban.

Ki Wiradadi rasa-rasanya tidak sabar lagi. Tetapi ia harus menunggu Ki Ajar memberikan isyarat.

Dalam siraman cahaya bulan, mereka yang bersembunyi di balik gerumbul itu melihat, perempuan yang duduk di dalam tandu itu dipanggul tiga kali mengelilingi tempat yang akan dipergunakannya untuk menyerahkan korban.

Kemudian tandu itu berhenti tepat di sisi sebelah kanan. Dengan penuh hormat, beberapa orang perempuan telah mempersilahkan pengantin perempuan turun dari tandu dan naik ke atas tempat korban diserahkan.

Ternyata bahwa perempuan di dalam tandu itu tidak lagi mampu untuk melakukannya sendiri. Ia memerlukan pertolongan dari orang-orang yang mengiringinya, karena rasa-rasanya tulang-tulangnya tidak lagi dapat mengangkat tubuhnya. Ketakutan yang sangat, memang telah mencekam jiwanya, sehingga ia kehilangan kemampuan untuk menguasai kehendaknya sendiri atas tubuhnya.

Namun bagaimana pun, Ki Wiradadi tidak sempat melihat siapakah perempuan itu. Namun yang terbayang di matanya, bahwa perempuan itu adalah anak gadisnya.

Demikian perempuan itu naik, dan dibaringkan di atas tempat menyerahkan korban, upacara pun segera dimulai. Beberapa orang mulai berloncatan menari-nari di sekitar korban yang telah terbaring. Teriakan-teriakan yang tidak dapat dimengerti, menjadi semakin keras dan semakin cepat. Orang-orang yang menari-nari itu mulai bergerak di sekeliling tempat korban dibaringkan.

Ki Ajar menganggap waktunya sudah tepat. Karena itu, ia memberikan isyarat. Orang bongkok yang berada di dekatnya, telah mendapat perintah untuk melemparkan batu-batu kecil kearah Ki Wiradadi dan kedua anak muda yang membantunya berusaha membebaskan anak gadisnya itu.

Ki Wiradadi memang sudah tidak sabar lagi. Karena itu, demikian ia mendapat isyarat, sebagaimana sudah disepakati, ia pun segera meletakkan endong anak panahnya di lambung. Dengan tergesa-gesa Ki Wiradadi memasang anak panah pada tali busurnya, sebagaimana dilakukan oleh Manggada dan Laksana.

Sesaat kemudian, anak panah terlepas. Terdengar jerit mengoyak teriakan-teriakan upacara. Tiga orang telah jatuh dengan anak panah melekat di punggungnya.

Sejenak orang-orang yang sedang menari-nari itu, bagaikan telah membeku. Namun lagi, tiga orang telah jatuh sambil menjerit kesakitan.

Upacara itu pun menjadi gempar. Beberapa orang berteriak berlari-lari. Namun pemimpin upacara itu, tiba-tiba saja telah berteriak, “Selamatkan ratu.”

Suaranya meledak bagaiman suara guruh di langit, yang diselimuti mendung gelap.

Ki Ajar menangkap isyarat itu. Yang dimaksud dengan ratu, tentu orang yang sudah siap dikorbankan itu.

Karena itu, Ki Ajar berkata kepada orang bongkok “Sekarang”

Orang bongkok itupun mengangguk. Tiba-tiba saja. mulutnya melepaskan bunyi yang khusus, seperti bunyi seekor tikus.

Ternyata bunyi itu adalah bunyi yang dikenali oleh dua ekor harimau yang sudah lama bersembunyi di belakang gerumbul, sebagaimana si bongkok itu sendiri. Oleh isyarat itu, kedua ekor harimau itu telah meloncat keluar dari persembunyiannya sambil mengaum keras sekali.

Suaranya memang mengejutkan. Apalagi ketika kedua ekor harimau itu menyergap orang-orang yang ada di sekitar batu tempat korban akan diserahkan.

Beberapa orang berlari-larian dengan penuh ketakutan. Sementara itu, anak panah Ki Wiradadi, Manggada dan Laksana masih saja mengambil korban.

Beberapa saat kemudian, para pengawal berusaha menguasai keadaan. Namun mereka menjadi sangat berhati-hati, karena kehadiran dua ekor harimau yang bagaikan mengamuk di antara orang-orang yang berlari cerai-berai.

Sejenak kemudian, sekelompok pengawal hadir di tempat yangkacau itu. Dengan senjata di tangan, mereka siap menghadapi dua ekor harimau yang mengamuk itu. Tetapi ternyata mereka tidak sekedar menghadapi dua ekor harimau. Beberapa orang di antara mereka telah jatuh terjerembab dengan anak panah menghunjam di punggung.

“Setan” geram pemimpin kelompok pengawal. Dan sekali lagi terdengar perintah “Selamatkan ratu.”

Beberapa orang pengawal memang berlari untuk mengambil gadis yang sudah terbaring di atas batu tempat persembahan itu. Tetapi beberapa anak panah telah menghentikan mereka. Dua orang anak muda berdiri di atas setumpuk batu yang diatur rapi itu, di bawah kaki gadis yang terbaring ketakutan. Sementara itu, Ki Wiradadi berdiri di sebelah kepala gadis itu. Mereka bertiga telah mempergunakan anak panah mereka untuk menghentikan para pengawal yang siap menyerang mereka, sementara seluruh padang rumput itu menjadi kacau oleh dua ekor harimau yang nampak sangat liar dan garang.

Ketika para pengawal berusaha untuk menyerang dari arah yang lain, maka mereka telah menghadapi Ki Ajar dengan pedang teihunus. Dengan senjata itu, Ki Ajar tidak menunjukkan sesuatu ciri kepada para pengawal pada senjatanya.

Pertempuran pun segera terjadi. Namun dalam waktu yang singkat, jumlah para pengawal telah susut terlalu banyak. Disaat perhatian mereka tertuju kepada dua ekor harimau, maka anak panah telah mematuk punggung. Tetapi jika mereka memperhatikan anak panah itu, maka kuku harimau itu akan mengoyak tubuh mereka.

Dalam keadaan yang kacau itulah, terdengar suara Ki Ajar yang tiba-tiba saja telah berada didekat Ki Wiradadi “Lihat gadis itu. Selamatkan siapapun ia. Sokur jika gadis itulah yang kita cari.”

Ki Wiradadi pun segera tanggap. Dengan tangkasnya ia telah meloncat ke atas tempat persembahan itu. Setumpuk batu yang diatur dengan cermat dan di pahat meskipun agak kasar.

Dalam keremangan cahaya obor, Ki Wiradadi mencoba mengamati wajah gadis yang telah dirias itu. Untuk beberapa saat Ki Wiradadi tercenung. Namun akhirnya ia menjadi yakin ketika terdengar gadis yang lemah dan tidak lagi mampu menguasai dirinya sendiri karena ketakutan-itu berdesis “Ayah.”

“Kau” suara Ki Wiradadi menjadi serak.

Namun ia segera sadar, ketika Ki Ajar berkata, “Bawa anak itu. Kita akan menyelamatkannya.”

Ki Wiradadi pun segera menyangkutkan busurnya di pundaknya. Kemudian dengan tangkasnya mendukung anak itu dikedua tangannya.

Dalam keadaan wajar, mungkin ia merasa agak berat membawa anak gadisnya di kedua tangannya itu. Tetapi dalam keadaan yang gawat, maka rasa-rasanya anak gadisnya itu masih saja seorang anak kecil yang memang sepantasnya didukungnya.

“Kita bergerak sekarang” berkata Ki Ajar.

Orang-orang itu pun dengan tangkasnya telah berloncatan mundur. Manggada dan Laksana tidak henti-hentinya melepaskan anak panah mereka kearah orang-orang yang memburunya.

Tetapi pengawal yang memburu mereka terlalu banyak, sehingga beberapa orang mampu mencapai orang-orang yang sedang melarikan diri itu.

Namun Ki Ajar tidak membiarkan mereka menyentuh gadis yang sedang didukung oleh Ki Wiradadi itu. Sementara dua ekor harimau itu lebih banyak mengacaukan pemusatan perhatian para pengawal daripada menyerang mereka. Namun dengan demikian, maka para pengawal yang kebingungan itu telah menjadi sasaran anak panah Manggada dan Laksana.

Beberapa saat kemudian mereka telah mendekati tanggul di pinggir jurang yang rendah. Manggada lah yang lebih dahulu berdiri dia tas tanggul itu. Kemudian ia berusaha melindungi orang-orang yang lain dengan anak panahnya disaat orang-orang itu mengundurkan diri. Sementara Laksana sambil melangkah surut masih juga selalu melepaskan anak panahnya pula.

Ternyata Ki Ajar, Ki Wiradadi, Manggada dan Laksana telah meloncat ke dalam jurang yang rendah itur Namun dalam sekilas dibawah terangnya bulan bulat, anak-anak muda itu melihat harimau yang bagaikan mengamuk di padang rumput. Tetapi yang membuat bulu tengkuk mereka meremang, bukan hanya kedua ekor harimau itu. Antara nampak dan tidak nampak dalam keremangan cahaya bulan bulat dan cahaya obor mereka melihat seekor harimau yang berwarna keputih-putihan dengan ujud yang lebih besar dari kedua ekor harimau yang dipelihara oleh orang bongkok itu.

Tetapi anak-anak muda itu tidak sempat memperhatikan lebih lama lagi. Ki Ajar telah memberikan isyarat agar mereka segera meninggalkan tempat itu, menelusuri jurang yang rendah menuju ketempat yang rumit dan jarang disentuh kaki manusia. Apalagi dalam keremangan malam meskipun bulan terang.

Ki Wiradadi memang mengalami kesulitan karena ia harus membawa anak gadisnya. Namun terdorong oleh tekadnya untuk menyelamatkan anak gadisnya itu, maka ia rasa-rasanya tidak menemui hambatan sama sekali.

Tetapi ketika mereka menempuh jalan yang rumpil dan miring, maka Manggada dan Laksana terpaksa menolong Ki Wiradadi ikut menjaga agar Ki Wiradadi dan anaknya tidak justru terperosok kedalam jurang.

Ketika mereka menjadi semakin jauh, Manggada dan Laksana yang beberapa kali berpaling masih belum melihat orang bongkok dengan kedua ekor harimaunya. Bahkan kedua anak muda itu sempat menjadi cemas. Banyak kemungkinan dapat terjadi dalam keributan di padang rumput itu. Para pengawal tentu akan segera berdatangan. Bahkan baragkali para pemimpin dari padepokan yang besar itu telah datang pula.

Manggada yang tidak dapat menahan kegelisahannya telah bertanya, “Ki Ajar. Bagaimana dengan Ki Pandi dan kedua ekor harimaunya?”

“Aku harap mereka akan dapat mengatasi kesulitan mereka” jawab Ki Ajar.

Manggada hanya menarik nafas dalam-dalam. Beberapa saat mereka berusaha mengatasi jalan yang sulit dan kadang-kadang gelap dibawah bayangan pepohonan yang rimbun. Namun karena mereka telah beberapa kali melewati jalan itu, maka akhirnya mereka berhasil mencapai rumah Ki Ajar Pangukan.

Dengan hati-hati gadis yang ketakutan itu, dibaringkan di dalam rumah kecil itu. Namun ternyata bahwa gadis Ki Wiradadi itu justru telah pingsan. Ia telah menahan goncangan-goncangan perasaan cukup lama, sehingga ketika tumbuh harapan, didalam hatinya karena kehadiran ayahnya, ia justru kehilangan seluruh penguasaan diri.

Tetapi Ki Ajar adalah seorang yang tahu benar tentang pengobatan. Karena itu, maka ia pun segera mempersiapkan beberapa reramuan. Setelah dicairkan dengan air, maka obat itu pun setitik demi setitik telah dituang kedalam mulut gadis yang pingsan itu.

Perlahan-lahan gadis itu menjadi sadar. Ia telah mulai membuka matanya dan bahkan mulai menangis.

“Ayah” desisnya.

Ki Wiradadi menarik nafas dalam-dalam. Katanya dalam nada lembut, “Jangan menangis lagi. Kau telah ditolong oleh Ki Ajar dengan seorang pembantunya.”

“Bukan aku yang menolongmu anak manis. Tetapi ayahmu telah mempertaruhkan apa saja bagimu, bagi keselamatanmu.” sahut Ki Ajar.

Ketika Ki Wiradadi akan menjawab lagi, maka Ki Ajar itu berkata, “Kau dapat beristirahat sebaik-baiknya disini sambil menunggu seorang yang masih tertinggal di padang rumput itu. Tempat ini cukup jauh dan terpencil. Mudah-mudahan kita akan luput dari penglihatan orang-orang padepokan itu.”

“Aku takut ayah” terdengar suara gadis itu lambat.

“Kau tidak perlu takut lagi sekarang” jawab ayahnya.

Gadis itu terdiam. Diamatinya ruang yang remang-remang itu. Lampu minyak sudah dinyalakan diatas ajuk-ajuk bambu disudut ruangan. Sinarnya yang lemah menggapai-gapai disentuh angin yang menyusup lewat lubang-lubang dinding.

Manggada dan Laksana duduk termangu-mangu. Sekali-sekali mereka menatap gadis yang terbaring diam itu. Kemudian dipandanginya wajah Ki Wiradadi dan Ki Ajar berganti-ganti.

“Sebutlah nama Yang Maha Agung” berkata Ki Wiradadi kepada anak gadisnya “kau telah dilindungi dari malapetaka itu.”

Gadis itu kemudian memang menyebut nama Yang Maha Agung. Sementara Ki Ajar mengamati perkembangannya setelah obatnya merayap keseluruh tubuh.

Keadaan gadis itu memang menjadi semakin baik. Bahkan sejenak kemudian, ia telah dapat bangkit dan duduk sambil minum beberapa teguk.

Namun dalam pada itu, pintu lereg rumah itu telah berderit. Manggada dan Laksana dengan sigapnya telah bangkit berdiri. Tetapi yang ternyata berdiri dipintu adalah Ki Pandi, orang bongkok yang mereka tinggalkan di padang rumput.

“Masuklah Bongkok” desis Ki Ajar.

Orang bongkok itupun kemudian melangkah masuk sambil menutup pintu.

“Dimana kedua ekor harimaumu itu?” bertanya Ki Ajar.

“Mereka ada diluar Ki Ajar” jawab orang bongkok.

“Bukankah mereka tidak mengalami sesuatu?” bertanya Ki Ajar pula.

“Tidak Ki Ajar” jawab orang bongkok itu.

“Sokurlah. Duduklah! Karena kau yang terakhir meninggalkan padang rumput itu, barangkali kau dapat memberikan ceritera yang tidak kami ketahui “- berkata Ki Ajar

Orang bongkok itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Untunglah kalian cepat meninggalkan padang rumput itu. Beberapa saat kemudian, beberapa orang pengawal terpilih telah datang. Bahkan Panembahan sendiri telah datang pula. Untunglah bahwa kami, maksudku aku dan kedua harimau itu sempat menghilang pula. Tetapi aku masih berusaha untuk mengetahui perkembangan selanjutnya. Dari kejauhan, aku dapat melihat apa yang dilakukan oleh Panembahan yang marah. Beberapa orang justru telah dibunuhnya karena korbannya telah hilang. Kemudian agaknya Panembahan telah memerintahkan memburu kita.”

“Apa yang mereka lakukan kemudian?” bertanya Ki Ajar.

“Mereka telah berpencar” jawab orang bongkok itu.

“Apakah menurut dugaanmu mereka akan datang kemari?” bertanya Ki Ajar pula.

“Aku kira akhirnya mereka akan sampai kemari. Tetapi agaknya tidak malam ini” jawab orang bongkok itu.

Ki Ajar mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Fajar besok kita akan menentukan, apa yang akan kita lakukan. Setidak-tidaknya malam ini kita dapat beristirahat.”

Ki Wiradadi menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata “Aku mengucapkan terima kasih kepada kalian.”

“Sudahlah” berkata Ki Ajar. Namun katanya kemudian, “sebaiknya kalian beristirahat. Biarlah aku pergi sebentar. Si bongkok akan menemani kalian disini.”

“Ki Ajar akan pergi ke mana?” bertanya Ki Wiradadi.

“Hanya melihat-lihat keadaan. Tetapi jangan cemas. Aku sudah berada di tempat ini untuk waktu yang lama. Karena itu, aku tidak akan mengalami kesulitan” berkata Ki Ajar. Lalu katanya kepada orang bongkok itu “Aku ajak harimaumu.”

“Silahkan Ki Ajar” sahut orang bongkok itu. Demikianlah, sejenak kemudian maka Ki Ajar itu telah meninggalkan rumah itu, sementara orang bongkok itu berkata “Aku akan ke dapur. Air panas tentu lebih baik di malam begini.”

“Sudahlah” berkata Ki Wiradadi “beristirahat lah.”

Tetapi orang bongkok itu tersenyum. Katanya, “Aku kedinginan. Aku akan memanaskan badan sejenak. Sementara itu diatas api aku jerang air.”

Namun dalam pada itu, Ki Wiradadi sempat bertanya kepada orang bongkok itu sebelum pergi ke dapur “Kemana Ki Ajar itu pergi?”

Orang bongkok itu termangu-mangu. Namun kemudian, sambil tersenyum, ia berkata, “Ki Ajar merasa periu mengamati keadaan, justru setelah peristiwa ini. Apalagi di sini ada seorang yang dianggap sangat berharga bagi Panembahan. Gadis itu. Ia merasa kehilangan sesuatu yang nilainya tidak terbatas. Dengan kegagalannya kali ini, ia harus mengulangi lagi semua upacara korban yang telah dilakukan-nya.”

“Mengulangi?” Ki Wiradadi justru terkejut.

“Ya” jawab orang bongkok itu.

“Dengan demikian berarti bahwa setiap bulan akan ada lagi gadis yang hilang?” bertanya Ki Wiradadi.

Orang bongkok itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kita tentu tidak akan membiarkannya terjadi. Mungkin Ki Wiradadi berpendapat, bahwa dengan diselamatkannya anak gadis itu, maka akan berarti berpuluh lagi gadis akan menjadi gantinya, karena upacara harus diulang sejak permulaan. Mungkin sudah lebih dari sepuluh, dua puluh atau bahkan lima puluh orang gadis.”

Ki Wiradadi menjadi semakin berdebar-debar. Jika demikian, maka dengan diselamatkannya anak gadisnya, berarti lima puluh orang gadis lain akan mati.

Namun orang bongkok itu berkata, “Tetapi Ki Wiradadi tidak perlu merasa bersalah. Kita sudah mulai. Dengan demikian, kita tidak boleh berhenti di saat ini. Kita harus bekerja lebih keras, dan mencegah agar tidak terjadi lagi penyerahan korban seperti ini dikemudian hari. Kematian demi kematian, menandai upacara sesaat itu, harus dihentikan untuk seterusnya. Bukan sekedar menyelamatkan anak gadis Ki Wiradadi.”

Ki Wiradadi mengangguk-angguk. Ia pun kemudian tidak bertanya lagi.

“Silahkan beristirahat. Aku akan pergi ke dapur.” berkata orang bongkok itu.

Sepeninggal orang bongkok itu, Ki Wiradadi berkata “Ternyata peristiwa ini merupakan satu permulaan dari perjuangan yang panjang. Semula aku kira, setelah anak gadisku diselamatkan, semuanya sudah selesai. Tetapi ternyata tidak.”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Dengan nada rendah, Manggada berkata, “Aliran sesat seperti itu memang harus dihancurkan sama sekali Ki Wiradadi. Jika tidak, maka pada suatu saat gadis yang sudah dibebaskan itu akan dapat ditangkap lagi.”

Ki Wiradadi mengangguk-angguk. Katanya , “Nampaknya Ki Ajar juga sedang menyusun rencana.”

“Ki Ajar telah membawa kedua ekor harimau itu” berkata Manggada.

Ki Wiradadi tidak menjawab. Namun nampak di dalam angan-angannya, satu perjuangan berat yang masih harus dilakukan. Ia mulai berpikir, bagaimana ia dapat membawa anak gadisnya keluar dari lingkungan itu. Sementara Panembahan sesat itu tidak akan menyerah atas kegagalan-nya. Kemarahannya tentu akan meledak, dan bahkan mungkin tidak akan terkuasai lagi oleh kekuatan yang ada di dalam gubug kecil itu. Panembahan itu tentu akan mengerahkan segenap kekuatannya di malam purnama itu untuk memburu korbannya.

Beberapa saat, ternyata orang bongkok itu telah membawa minuman hangat ke ruang dalam Dengan ramah ia berkata, “Marilah. Silahkan minum dengan gula kelapa.”

“Terima kasih” hampir berbareng ketiga-tiganya, yang ada di ruang tengah itu, menyahut.

“Baunya sangat sedap. Wedang sere” desis Laksana.

Orang bongkok itu tertawa. Katanya, “Ya. Di sini terdapat kebun sere. Bukan saja untuk minuman, tetapi Ki Ajar mempergunakan untuk ramuan obat-obatan.”

Ki Wiradadi mengangguk-angguk. Tetapi ia kemudian mempersilahkan orang bongkok itu untuk duduk bersama mereka.

Namun sejenak kemudian, orang bongkok itu berkata, “Masih ada sisa waktu. Aku persilahkan kalian beristirahat. Mungkin kalian masih harus melakukan tugas-tugas penting. Selama anak gadis itu belum keluar dari lingkungan ini, tugas kalian masih berat sekali.”

Ki Wiradadi mengangguk-angguk. Ia menyadari, bahwa tidak mudah baginya untuk membawa anak gadisnya keluar. Orang-orang Panembahan itu tentu sudah menutup semua jalan yang mungkin dapat dilaluinya.

“Silahkan” berkata orang bongkok itu, “aku akan berada di luar.”

Tetapi Manggada dan Laksana menyahut hampir berbareng, “Aku juga akan tidur di serambi,”

Orang bongkok itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Silahkan. Aku akan berjaga-jaga di halaman.”

“Ki Sanak pun harus beristirahat” berkata Ki Wiradadi.

Orang bongkok itu tersenyum. Katanya, “Sayang sekali melepaskan saat-saat bulan terang seperti ini.”

Ki Wiradadi tidak menjawab, sedangkan Manggada dan Laksana telah keluar pula. Sementara orang bongkok itu berpesan, “Jagalah anak gadis Ki Wiradadi. Beri obat sesuai dengan pesan Ki Ajar, agar ketahanan tubuhnya meningkat. Mungkin kita akan menempuh perjalanan yang berat dan panjang, untuk menghindari ujung jari Panembahan yang garang itu.”

Ki Wiradadi mengangguk sambil menjawab, “Baik Ki Sanak. Aku akan melakukannya.”

Sejenak kemudian, Manggada dan Laksana telah berbaring di serambi. Tetapi nampaknya mereka tidak akan segera dapat tidur. Sementara itu, orang bongkok itu melangkah ke regol halaman, dan hilang di balik dedaunan.

Untuk beberapa saat, Manggada dan Laksana masih saja berbincang tentang peristiwa yang baru saja mereka alami. Kemudian kemungkinan-kemungkinan yang bakal datang. Itulah agaknya yang membuat kedua anak muda itu sangat berhati-hati, sehingga senjata mereka selalu berada di sisinya, agar dapat dipergunakan kapan saja.

Meskipun demikian, keduanya merasa tidak tenang untuk tidur bersama-sama. Karena itu, mereka membagi sisa malam yang pendek itu. Laksana mendapat giliran untuk tidur lebih dahulu. Baru kemudian Manggada akan tidur menjelang pagi.

Namun ternyata, sebelum keduanya dapat tidur nyenyak, Ki Ajar datang bersama orang bongkok yang telah menyongsongnya.

Dengan serta merta, kedua anak muda itu pun bangkit dan duduk di bibir amben.

“Kalian belum tidur?,” bertanya Ki Ajar.

“Belum Ki Ajar” jawab Manggada jujur, “ada semacam kegelisahan.”

“Tentu” jawab Ki Ajar, “dalam keadaan seperti ini, tentu ada kegelisahan.” Ia terdiam sejenak, namun kemudian katanya, “Marilah kita berbicara dengan Ki Wiradadi di dalam.”

Manggada dan Laksana menjadi berdebar-debar. Mereka memang belum sempat tertidur ketika mereka berdua kembali lagi duduk di ruang dalam.

“Panembahan gila itu ternyata tidak tanggung-tanggung” berkata Ki Ajar, “malam ini juga ia telah menyebar orang-orangnya ke segala sudut daerah ini. Karena itu, sulit bagi kita untuk menghindarkan diri dari penglihatan Panembahan itu. Nanti, atau besok, tentu ada orang yang akan datang kemari. Tidak hanya satu dua orang. Tetapi sekelompok pengikutnya.”

Tetapi orang bongkok itu berkata, “Daerah ini sangat sulit dicapai Ki Ajar. Juga tidak ada tanda-tanda bahwa daerah ini telah dihuni.”

“Aku melihat beberapa orang membawa burung elang. Mereka tentu melatih burung-burung itu untuk melihat tempat-tempat yang perlu mereka datangi.” berkata Ki Ajar, “tetapi nampaknya, burung itu tidak dapat segera bergerak di malam hari. Meskipun bulan terang, dan mata elang itu tajam, tetapi aku belum melihat seekor elang pun di langit malam ini.”

Orang bongkok itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Mungkin anak panah kita dapat menghentikan pengamatan yang dilakukan burung elang itu.”

“Jika elang itu terbang merendah, aku yakin bahwa anak-anak muda yang memiliki kemampuan bidik tinggi itu akan dapat mengenainya” berkata Ki Ajar, “tetapi jika elang itu terbang tinggit maka sulit untuk mencapainya dengan anak panah.”

“Jadi Ki Ajar tadi kembali ke padang itu?” bertanya orang bongkok itu.

“Tidak. Aku belum sampai kesana. Tetapi aku sudah bertemu dengan beberapa orang yang nampaknya sedang menjelajahi tempat ini. Dua di antara mereka membawa burung elang. Mungkin kelompok lain juga dibekali burung yang sama pula.” berkata Ki Ajar.

“Jadi apa yang harus kita lakukan Ki Ajar?” bertanya orang bongkok itu.

“Aku harus melihat keadaan lagi. Bersiaplah, jika perlu kita akan menyingkir. Kita akan mengadakan perlawanan pada waktu dan tempat yang tepat. Kita tidak tahu, apakah bukan Panembahan sendiri yang akan datang kemari. Jika elang itu melihat atap rumah kita, dan memberikan isyarat kepada kelompok pencari, atau bahkan Panembahan sendiri, maka kita akan mengalami kesulitan, sementara gadis itu belum berhasil kita singkirkan.” berkata Ki Ajar.

“Baiklah Ki Ajar” berkata orang bongkok itu.

“Berjaga-jagalah di sini. Aku akan pergi lagi” berkata Ki Ajar.

“Kemana Ki Ajar?” bertanya Manggada, “apakah kami boleh ikut?”

Ki Ajar menggeleng sambil tersenyum. Katanya, “Jangan. Aku akan pergi sendiri. Tidak terlalu lama.”

Demikianlah, setelah meneguk wedang sere, Ki Ajar meninggalkan tempat itu lagi sambil berpesan, “Berbenah dirilah. Dan bersiaplah menghadapi segala kemungkinan.”

Orang bongkok itu tidak boleh mengikuti Ki Ajar, yang pergi seorang diri. Namun sepeninggal Ki Ajar, segala persiapan dilakukan. Gadis yang ketakutan itu memang masih ketakutan. Tetapi ia sudah menjadi agak tenang, sehingga dapat diberikan beberapa pengertian tentang keadaan yang sedang mereka hadapi.

Karena itu, ia pun telah bersiap-siap pula untuk meninggalkan tempat itu.

Beberapa saat mereka menunggu dengan tegang. Manggada dan Laksana berada di serambi luar, sementara orang bongkok itu berjalan hilir mudik di luar pagar.

Namun tiba-tiba orang bongkok itu terkejut. Dengan cepat ia berlari-lari keserambi sambil berdesis, “Elang itu.”

Manggada dan Laksana pun segera turun ke halaman. Bulan memang sudah menjadi sangat rendah di Barat. Tetapi cahaya matahari sudah mulai membayanginya.

Dalam keremangan fajar, dan sisa cahaya bulan, ternyata mereka melihat dikejauhan seekor burung elang terbang berputaran.”

“Tetapi sasaran penglihatannya tentu bukan tempat ini” berkata Manggada, “elang itu melingkari satu lingkungan tertentu.”

“Tetapi jika elang itu terbang sedikit ke Barat, maka mungkin sekali rumah kita akan dilihatnya” berkata orang bongkok itu.

. Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Namun agaknya perhatian burung elang itu masih tertarik terhadap sesuatu.

“Meskipun demikian orang bongkok itu berkata, “Amati burung elang itu. Aku akan membantu Ki Wiradadi mempersiapkan diri. Kemungkinan buruk dapat saja terjadi, jika burung itu bergeser dari putarannya. Sehingga dengan demikian, burung itu akan menuntun orang-orang gila itu datang ke tempat ini.”

Namun dalam pada itu, mereka terkejut pula ketika mereka mendengar gemerisik dedaunan. Ketika mereka berpaling, ternyata mereka melihat dua ekor harimau orang bongkok itu mendekat.

“He, kau tidak ikut Ki Ajar?” bertanya orang bongkok itu.

Harimau itu termangu-mangu. Tetapi keduanya tidak memberi isyarat apapun.

Orang bongkok itulah yang kemudian memberi isyarat kepada kedua ekor harimaunya untuk berjaga-jaga.

Sejenak kemudian, kedua harimau itu memang telah hilang di balik pohon-pohon perdu.

Ki Wiradadi memang menjadi sangat cemas. Tetapi ia telah mempersiapkan segenap senjatanya. Mungkin ia memang harus mempertahankan anaknya dengan nyawanya.

Tetapi Ki Wiradadi sendiri sama sekali tidak mencemaskan hidupnya. Ia justru masih saja memikirkan kedua anak muda yang telah terlibat ke dalam persoalannya itu.

Dalam pada itu, Manggada dan Laksana memang menjadi cemas. Elang yang berputar-putar di langit itu memang bergeser perlahan-lahan. Bahkan sejenak kemudian, kedua anak muda itu melihat seekor elang yang lain telah ikut berputar-putar.

Meskipun kedua ekor burung elang itu masih ada di atas lingkungan agak jauh, tetapi kedua anak muda itu pasti, bahwa burung elang itu akan melihat pemukiman kecil mereka. Rumah, halaman dan pepohonan.

Sebenarnyalah, ketika matahari kemudian menjadi semakin terang, burung elang itu telah bergeser semakin dekat. Sehingga akhirnya yang mereka cemaskan telah terjadi. Kedua burung elang yang berputar-putar di langit itu, telah melihat gubug Ki Ajar. Elang itu kemudian terbang berputaran tidak henti-hentinya. Bahkan beberapa saat kemudian, kedua ekor elangitu menukik merendah, kemudian kembali melambung naik tinggi.

Manggada dan Laksana menjadi semakin berdebar-debar. Sementara, orang bongkok itu telah membantu Ki Wiradadi siap untuk menyingkir dari tempat itu.

Manggada dan Laksana segera teringat akan senjata-senjata mereka, karena selain pedangnya yang selalu berada di lambung, yang lain mereka letakkan di dalam gubug itu.

“Kita menunggu Ki Ajar” berkata orang bongkok itu.

“Tetapi apakah kita tidak terlambat?” bertanya Ki Wiradadi.

Orang bongkok itu termangu-mangu. Ia menjadi agak bimbang menghadapi perkembangan keadaan yang begitu cepat. Sementara itu, kedua ekor elang itu benar-benar telah memberikan isyarat, bahwa kedua ekor burung itu melihat satu pemukiman, betapapun kecilnya. Ternyata keduanya berganti-ganti menyambar dan menukik rendah.

Darah Manggada dan Laksana menjadi panas melihat sikap kedua ekor burung itu. Dengan gigi gemeretak, mereka berlindung di bawah gerumbul perdu sambil meletakkan anak panah pada busurnya.

“Kita bidik salah satu lebih dahulu bersama-sama” berkata Manggada, “jika anak panahku luput, maka mudah-mudahan anak panahmu mengenai.”

Demikianlah, keduanya telah memilih sasaran. Ketika seekor di antara burung elang itu menukik rendah di atas rumah Ki Ajar, Manggada dan Laksana bersama-sama melepaskan anak panahnya.

Ternyata kemampuan bidik kedua orang anak muda itu memang luar biasa. Terdengar elang itu bagaikan menjerit ngeri. Kemudian burung itu masih berusaha untuk terbang naik ke udara. Tetapi ternyata burung itu sudah tidak mampu lagi. Tiba-tiba saja burung itu telah terjatuh di tanah.

Ki Wiradadi yang kemudian mengetahui hal itu, sempat bertanya, “Apakah kematian elang itu tidak menambah kemarahan Panembahan dan orang-orangnya?”

Namun orang bongkok itu menjawab, “Apapun yang terjadi, mereka tentu akan datang kemari. Burung itu telah melihat gubug ini, dan menyampaikan isyarat kepada pemiliknya.”

Ki Wiradadi menjadi semakin berdebar-debar. Sementara anak gadisnya telah menjadi semakin ketakutan lagi.

“Aku tidak mau dibawa kembali ke tempat itu” minta anak gadisnya.

“Tidak ngger. Jangan takut” desis Ki Wiradadi menenang-kan hati anak gadisnya, betapapun hatinya sendiri bergejolak.

“Kau tidak akan pernah jatuh ketangan mereka lagi.”

“Aku akan memilih mati daripada harus kembali ke-tempat itu ayah” tangis gadis itu.

“Jangan takut” hanya itu sajalah yang dapat dikatakan Ki Wiradadi.

Manggada dan Laksana yang telah membunuh burung elang itu, sempat mendekatinya. Ternyata kuku-kuku burung itu dilapisi baja-baja runcing. Dengan demikian, burung-burung itu telah dipersiapkan tidak saja untuk mengamati keadaan, tetapi juga untuk berkelahi.

“Kita sudah mulai” berkata orang bongkok itu.

“Ya” jawab Manggada, “kita memang sudah mulai. –

Ketiga orang itu menjadi semakin berdebar-debar pulaj ketika mereka melihat dua ekor burung telah muncul lagi di udara. Ketika seekor yang lain berteriak-teriak keras sekali, agaknya orang-orang Panembahan telah melepaskan lagi dua ekor yang lain.

Orang bongkok itu pun kemudian berkata, “Kita bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan. Pada waktu yang singkat, mereka tentu akan datang. Mudah-mudahan Ki Ajar datang lebih dahulu dari mereka.”

Manggada dan Laksana hanya mengangguk-angguk saja. Tetapi mereka telah mempersiapkan semua senjata yang mereka miliki, untuk menghadapi kemungkinan yang paling buruk yang dapat terjadi.

Dalam pada itu, tiga ekor burung elang beterbangan di udara. Burung-burung itu beterbangan berputaran seakan-akan membuat lingkaran-lingkaran isyarat.

Namun ternyata, burung-burung elang itu tidak hanya empat. Meskipun yang seekor telah mati, tetapi yang beterbangan di langit masih lebih banyak dari tiga ekor. Dua lagi telah datang dan ikut pula berputaran. Sekali-sekali kedua ekor burung yang datang kemudian itu menjauh. Kemudian mendekat lagi.

Orang bongkok itu ternyata cukup cerdas menanggapi keadaan. Katanya, “Kalian lihat yang dua ekor itu? Keduanya tentu telah menuntun sekelompok orang untuk dibawanya kemari. Keduanya adalah petunjuk jalan. Namun dengan demikian, kita pun dapat menduga darimana mereka datang.”

“Apakah kita harus menyongsong mereka?” bertanya Manggada.

‘“Sebentar lagi. Kita masih harus menunggu Ki Ajar. Menilik kedua ekor burung elang itu, orang-orang yang akan datang tentu masih agak jauh. Tetapi jika pada saatnya Ki Ajar belum datang, maka apaboleh buat. Kita tidak dapat menunggu, di sini untuk dikepung, dan kemudian dibantai beramai-ramai.” berkata orang bongkok itu.

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Namun kemudian, Laksana berkata, “Jika kita dapat memperhitungkan arah, apakah tidak lebih baik Ki Wiradadi dan anaknya kita persilahkan untuk menyingkir?”

“Itulah yang tidak dapat diperhitungkan. Kita dapat menduga arah kedatangan mereka, tetapi orang-orang Panembahan itu tentu telah berkeliaran di semua sudut lingkungan ini. Jika Ki Wiradadi bertemu dengan mereka, maka keadaannya akan menjadi sulit. Gadis itu akan mengalami malapetaka, melampaui saat-saat ia dijadikan korban” berkata orang bongkok itu.

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk pula. Sementara orang bongkok itu berkata, “Jika pada saatnya Ki Ajar belum datang, kita justru harus maju. Kita tahan mereka di bawah” tanggul sempit. Tidak ada jalan lain yang dapat dilalui kecuali lewat tanggul sempit itu. Sementara, kalian dapat mempergunakan anak panah untuk menahan mereka. Kedua ekor harimau itu justru harus berada di seberang tanggul untuk mengacaukan perhatian mereka, meskipun kedua ekor harimau itu akan dapat mengalami kesulitan jika lawannya terlalu banyak.”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Mereka tidak mengira bahwa pada saat yang gawat, orang bongkok itu dapat mengambil sikap sebagaimana Ki Ajar sendiri.

Demikianlah. Maka orang-orang yang ada di halaman gubug kecil itu telah bersiap sepenuhnya. Mereka justru berpedoman pada burung-burung elang yang menuntun kedatangan orang-orang yang beraliran sesat itu.

Namun orang bongkok itu nampak sangat gelisah, ketika orang-orang itu menjadi semakin dekat, sementara

Ki Ajar belum datang.

“Apaboleh buat” berkata orang bongkok itu, “kita harus maju sekarang. Kita akan menutup jalan sempit itu dengan anak panah.”

Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Di luar sadar, mereka memandangi endong anak panah mereka yang tinggal berisi sedikit. Seandainya musuh terlalu banyak, maka anak panah mereka tidak akan mencukupi lagi.

Orang bongkok itu dapat membaca sikap kedua anak muda itu. Ia kemudian berkata, “Cepat, ikut aku. Tidak banyak waktu.”

Keduanya pun kemudian berlari-lari ke dapur. Ternyata di dapur itu tersimpan setumpuk anak panah di bawah jerami. Bukan anak panah terbuat dari ruas-ruas bambu panjang, tetapi anak panah yang cukup baik dengan bedor yang tajam dan bulu keseimbangan yang rapi.

Kedua orang anak muda itu telah memenuhi endong mereka masing-masing. Demikian pula Ki Wiradadi.

Ketika kedua anak muda itu pergi bersama orang bongkok itu, maka orang bongkok itu berpesan, “Hati-hatilah Ki Wiradadi. Jangan ragu-ragu. Jika ada satu dua yang luput dari anak panah kami dan mendekati rumah ini, bunuh saja sebelum mereka menjamah kalian. Lindungi anak Ki Wiradadi baik-baik. Jika tidak lagi ada kemungkinan, maka agaknya kematian adalah batas terbaik untuk menghindarkan diri. Tetapi Ki Wiradadi jangan membunuh diri seperti orang yang berputus asa. Kita akan melawan sampai mati.”

Ki Wiradadi mengangguk. Ia mengerti maksud orang bongkok itu. Tetapi bagaimana dengan anak gadisnya?”

“Ki Wiradadi tidak sempat berpikir panjang. Ia sudah bersiap dengan busur dan anak panahnya.

Sementara itu, Manggada dan Laksana masih sempat juga mengenai seekor lagi dari burung-burung elang yang sedang menukik. Nampaknya burung itu ingin melihat lebih jelas sasaran yang. akan mereka datangi. Namun ketika seekor di antara mereka dengan sombong mencoba menyerang harimau Ki Pandi, kuku-kuku tajam harimau itu telah mengoyak tubuhnya. Giginya sempat menatahkan sayap dan memecahkan kepala burung elang itu.

Orang bongkok itu kemudian memerintahkan harimaunya untuk keluar dari sarang mereka. Harimau-harimau itu harus mengacaukan perhatian orang-orang beraliran sesat itu, sementara mereka akan menyerang dengan anak-panah.

Demikianlah, Manggada, Laksana dan orang bongkok itu telah mengikuti kedua ekor harimau yang berlari-lari kecil mendahului mereka, sementara Ki Wiradadi berada di rumah menunggui anak perempuannya.

Namun demikian, ketika kedua ekor harimau itu akan melintasi tanggul sempit itu, keduanya telah menggeram. Beberapa langkah mereka surut. Ternyata yang muncul adalah Ki Ajar yang nampak mulai gelisah oula.

“Ki Ajar datang tepat pada waktunya” berkata orang bongkok itu. Lalu, “Kami hampir kehilangan akal.”

“Mereka sudah sangat dekat. Kita akan melawan mereka di sini. Di tempat yang tidak terlalu terbuka” berkata Ki Ajar.

“Ya. Tanggul sempit itu adalah satu-satunya jalan. Kita akan menutup jalan sempit itu dengan serangan-serangan anak panah” berkata orang bongkok itu.

“Bagus” jawab Ki Ajar, “tetapi aku masih menunggu beberapa orang.”

“Siapa?” bertanya orang bongkok itu.

“Sanak kadang sendiri” jawab Ki Ajar, “aku telah memberikan isyarat.”

Orang bongkok itu termangu-mangu. Namun kemudian terdengar isyarat Ki Ajar. Beberapa orang memang telah muncul lewat tanggul yang sempit itu.

Ki Ajar mengajak mereka mundur beberapa langkah. Sementara itu, Manggada dan Laksana menjadi termangu-mangu. Seorang di antara mereka tiba-tiba saja bertanya kepada Manggada, “Di mana orang tua yang kehilangan anaknya itu?”

Manggada termangu-mangu. Namun ia menjawab sambil mencoba mengingat-ingat di mana ia pernah melihat orang itu, “Ki Wiradadi ada di rumah itu.”

“Kau ingat aku?” bertanya orang itu.

Namun tiba-tiba saja Manggada berkata, “Petugas sandi dari Pajang itu.”

Orang itu tertawa. Katanya, “Aku yakin bahwa kalian tidak akan sabar menunggu kami. Tetapi kami sudah membuat hubungan dengan Ki Ajar sejak sebelum kalian mengenalinya. Ternyata bahwa kalian pun telah melakukan langkah-langkah penting sebelum kami, sehingga gadis itu sudah dapat dibebaskan.”

Namun mereka tidak mempunyai waktu lagi untuk berbincang. Tiba-tiba saja orang bongkok itu berkata, “Mereka sudah datang.”

Ki Ajar mengangguk. Kedua ekor harimau yang tidak jauh menyeberangi tanggul sempit itu, tetap ada di antara mereka. Tetapi mereka tidak lagi hanya berempat, lima orang termasuk Ki Wiradadi. Ternyata mereka telah mendapat sejumlah kawan lagi. Lima orang petugas sandi dari Pajang yang telah mendapat isyarat dari Ki Ajar.

Sejenak kemudian, orang-orang itu menempatkan diri dibalik gerumbuL Orang bongkok itupun telah memegang busur pula, sebagaimana Manggada dan Laksana.

Sementara itu, burung-burung elang yang tersisa telah berterbangan berputaran di atas mereka. Sekali-sekali burung itu menukik sambil menjerit. Namun kemudian, dengan cepat terbang naik tinggi-tinggi di udara. Seakan-akan mereka menyadari bahwa di bawah mereka, ujung-ujung anak panah akan dapat membunuh mereka.

Sebenarnyalah, beberapa saat kemudian telah terdengar suara riuh. Beberapa orang tiba-tiba saja telah muncul di tanggul sempit itu tanpa menyadari apa yang mereka hadapi. Karena itu, maka demikian orang-orang itu dengan susah payah melintasi tanggul sempit itu, sebuah anak panah telah menembus dadanya. Demikian pula orang berikutnya dan berikutnya.

Terdengar teriakan-teriakan marah. Seorang di antara mereka berteriak nyaring, “Pergunakan perisai. Jangan bodoh.”

Sebenarnyalah, orang-orang yang membawa perisai telah menempatkan diri paling depan. Tiga orang berurutan telah mendahului kawan-kawannya. Mereka telah menempatkan diri berjajar untuk melindungi kawan-kawan mereka yang merangkak melampaui tanggul sempit itu.

Meskipun demikian, anak panah Manggada, Laksana dan orang bongkok itu masih juga sempat menyambar mereka meskipun ada juga yang mampu meloloskan diri karena perlindungan perisai itu.

“Gila” geram orang bongkok itu, “ada juga di antara mereka yang membawa perisai.”

Namun dalam pada itu, beberapa orang telah sempat melangkahi mayat kawan-kawannya. Tiba-tiba saja, mereka telah meloncat sambil berteriak menyerang. Ketika anak-anak panah menyambar mereka, maka mereka telah mampu menangkis anak panah itu dengan pedangnya. Sementara yang lain dengan tombak pendeknya.

Demikianlah, ternyata semakin banyak orang yang sempat melintasi tanggul sempit itu, perlawanan anak panah Manggada dan Laksana semakin kurang berarti. Meskipun demikian, dalam beberapa hal, anak panah mereka masih juga sempat mengurangi jumlah lawan.

Dalam keadaan yang mulai gawat, beberapa orang yang masih bersembunyi di balik dedaunan telah mulai bergeser. Sementara itu, orang bongkok itu meneriakkan isyarat bagi kedua ekor harimaunya yang tiba-tiba saja mengaum dahsyat sekali.

Orang-orang itu terkejut. Demikian perhatian mereka tertuju kepada kedua ekor harimau itu, maka anak panah Manggada, Laksana dan orang bongkok itu telah menyambar beberapa orang lawan yang terjatuh di tanah.

Tetapi orang-orang yang mengalir dari balik tanggul sempit itu seakan-akan tidak ada habis-habisnya. Namun kedua ekor harimau itu memang telah merusakkan perlawanan mereka. Kedua ekor harimau itu tiba-tiba saja telah menyergap langsung masuk ke dalam kjngkaran lawan.

Namun seperti yang diduga oleh orang bongkok itu, bahwa harimaunya akan mengalami kesulitan, karena yang dihadapi adalah murid-murid Panembahan beraliran sesat.

Karena itu, tiba-tiba orang bongkok itu sendiri telah meloncat keluar dari balik dedaunan. Beberapa lama ia masih berjongkok dengan busur di tangan. Namun ternyata dua orang telah menyerangnya dari arah yang berbeda. Ia sempat menghentikan seorang diantara mereka, tetapi yang lain telah mengayunkan tombak pendeknya mengarah kedadanya.

Orang bongkok itu ternyata cukup tangkas. Ia sempat melenting berdiri dan menangkis serangan itu dengan busurnya. Tetapi agaknya ia tidak dapat bertempur dalam jarak pendek dengan busur dan anak panah, sehingga karena itu, orang bongkok itu telah meletakkan busurnya dan menarik pedangnya. Ternyata pedang orang bongkok itu adalah pedang yang khusus. Bukan saja ujudnya, tetapi juga buatannya. Pedang itu dibuat sebagaimana orang membuat keris. Terdapat pamor yang berkilat sepanjang tubuh pedang itu. Sedangkan pedang itu ternyata tajam di kedua sisinya, seperti sebilah keris yang besar.

Sejenak kemudian, orang bongkok itu telah bertempur dengan pedangnya. Ketika seorang yang lain menyerang dari belakang, maka serangan itu telah dihentikan oleh anak panah Manggada yang menyambar punggungnya.

Orang bongkok itu ternyata sempat juga berkata, “Terima kasih.”

Demikianlah, sejenak kemudian sembilan orang yang sedang menunggu itu telah berloncatan keluar dari balik pepohonan di belakang tanggul sempit itu. Namun dalam pada itu, ternyata di seberang tanggul sempit itu masih terdapat sepasukan orang-orang yang berilmu sesat.

Pertempuran telah terjadi di sebelah menyebelah tanggul sempit itu. Beberapa orang berumu sesat, yang telah berhasil menyusup ke balik tanggul, telah berhadapan dengan sembilan orang yang memiliki ilmu cakup mapan. Meskipun Manggada dan Laksana masih terlalu muda untuk hadir dalam pertempuran yang rumit itu tetapi ternyata bahwa mereka memang memiliki bekal yang cukup.

Jika sekilas kedua anak muda itu sempat memperhatikan si bongkok, mereka menjadi heran. Ternyata orang bongkok itu sanggup bertempur dengan tangkas sekali. Pedangnya berputaran, sementara dengan terbongkok-bongkok, ia berloncatan dengan cepat dan kadang-kadang di luar dugaan.

Para petugas sandi dari Pajang, adalah orang-orang berpengalaman di dalam pertempuran. Mereka sama sekali tidak menjadi bingung meskipun lawan mereka berada di segala tempat. Namun seorang diantara mereka perhatiannya terpecah, karena dua ekor harimau yang ikut berloncatan di medan pertempuran. Ki Ajar berteriak, “Ke-duanya adalah milik kami.”

Petugas sandi itu pun telah menjadi mantap lagi. Ia tidak lagi perlu memperhatikan harimau itu, meskipun harimau itu tentu akan sulit untuk memperhatikan, yang manakah lawan dan yang manakah kawan-kawan mereka.

Tetapi Ki Ajar kemudian berteriak pula sambil berkata, “Si Bongkok telah melatih keduanya untuk tahu apa yang harus dilakukan dalam pertempuran yang kacau sekalipun. Apalagi, mereka telah memahami benar lawan-lawan mereka yang berilmu sesat.”

Namun seorang diantara lawan-lawan mereka itu pun berteriak pula, “Kalian menjadi dengki dan iri, karena kalian tidak mampu mencapai tataran ilmu sebagaimana kami. Dengari demikian, “kalian menganggap .bahwa kami berilmu sesat.”

Tetapi Ki Ajar tidak menanggapinya. Ia masih saja menghindar dan menangkis serangan-serangan yang datang dari segala arah.

Semakin lama, lawan pun menjadi semakin banyak. Sementara itu, beberapa ekor burung elang masih beterbangan di langit. Nampaknya, burung-burung itu sempat memberikan beberapa isyarat yang diajarkan kepada mereka. Namun mungkin juga, burung-burung buas itu mulai mencium bau darah.

Tetapi ketika lawan semakin berdesak, melewati tanggul, maka satu dua orang di antara mereka ada yang mulai berlari mendekati gubug Ki Ajar. Namun ternyata anak panah Ki Wiradadi telah menghentikan mereka sebelum mereka memasuki halaman.

Namun demikian, tidak hanya dua tiga orang yang telah terbaring di tanah dengan anak panah menembus jantung ketika mencoba menggapai rumah Ki Wiradadi. Tetapi beberapa orang yang lain telah mencobanya pula.

Dengan demikian, garis pertahanan Ki Ajar dan kawan-kawannya harus bergeser surut. Sementara Si Bongkok telah memberikan perintah kepada kedua ekor harimaunya untuk membantu Ki Wiradadi menahan arus orang-orang yang ingin mencapai gubug itu.

Namun sejenak kemudian, telah terdengar perintah, “Ambil gadis itu. Gadis itu tentu ada di dalam gubug kecil itu.

Perintah itu telah menggetarkan jantung Ki Wiradadi. Bahkan juga mereka yang telah berusaha menyelamatkannya.

Namun dalam pada itu, terjadi sesuatu yang mengejutkan orang-orang yang telah memasuki lekuk di tanggul sempit itu.

Ternyata Ki Ajar tidak mempunyai pilihan lain. Ia harus mengerahkan ilmunya untuk mengurangi arus lawan yang jumlahnya tentu tidak terhitung lagi.

Karena-ttu, Ki Ajar bergeser menjauhi arena. Beberapa orang yang tidak tahu maksudnya, telah mengejarnya. Dengan demikian, Ki Ajar meloncat naik ke sebuah gundukan tanah dan tiba-tiba saja menghentakkan tangannya.

Ternjadi sebuah ledakan kecil. Dua orang di antara lainnya telah terlempar dan jatuh terbanting di tanah.

Sejenak orang-orang yang bertempur itu sempat berpaling. Mereka melihat apa yang telah terjadi, sehingga orang-orang berilmu sesat itu menjadi ngeri.

Tetapi pemimpin kelompok orang berilmu sesat itu, tiba-tiba saja bersuit nyaring. Agaknya orang itu telah memberikan isyarat kepada seseorang, memberitahukan apa yang telah terjadi.

Sebenarnyalah, medan itu menjadi gempar. Sejenak kemudian, terdengar ledakan yang tidak dilontarkan oleh kekuatan ilmu Ki Ajar, tetapi dilontarkan oleh seseorang yang berada di luar batas tanggul yang sempit itu.

Ledakan itu berasal dari seorang yang memiliki ilmu sangat tinggi.

Dengan kemampuannya orang itu menghantam tanggul sehingga menganga dan runtuh berhamburan. Batu-batu padas yang pecah, berserakan.

Dengan demikian pintu sempit itu terbuka lebar. Tetapi orang-orang yang bertempur yang bertempur di halaman itu terkejut. Dibelakang tanggul, telah terjadi pertempuran. Itulah sebabnya orang orang-orang berilmu sesat tidak mengalir terlalu deras memasuki tempat yang terpencil itu.

Hampir di luar sadarnya, Manggada yang tengah bertempur bertanya, “Siapa- bertempur diluar?”

Pemimpin dari para petugas sandi itu menjawab, “Kami tidak hanya datang berlima. Kami datang dengan sepasukan prajurit.”

Manggada menarik nafas dalam-dalam. Ternyata dugaannya tentang sikap para prajurit dan petugas sandi’ Pajang selama ini keliru. Ia menganggap para petugas sandi Pajang yang sudah mengetahui persoalan anak gadis Ki Wiradadi, tidak dengan cepat menanggapinya.

Ternyata mereka telah bekerja keras. Tetapi Pajang tidak berpikir sekedar menyelamatkan anak Ki Wiradadi. Agaknya Pajang benar-benar ingin menghancurkan perguruan yang menyebarkan ilmu sesat itu sampai ke akar-akarnya.

Tetapi dalam pada itu, seorang bertubuh tinggi tegap, berjanggut putih, meloncat memasuki lingkungan terpencil itu.

Hampir berbareng beberapa orang telah berdesis, “Panembahan.”

Manggada dan Laksana menjadi berdebar-debar. Orang itulah yang disebut dengan Panembahan Lebdagati. Seorang Panembahan yang memiliki pengetahuan tuntas. Kawruh lahir dan batin, serta menguasai inti kekuatan alam di sekitarnya.

Tiba-tiba saja, pertempuran itu telah menyibak. Namun di samping itu, di belakang Panembahan Lebdagati yang melangkah perlahan-lahan memasuki lingkungan terpencil itu, pertempuran rasa-rasanya menjadi semakin sengit. Prajurit Pajang dengan segala ciri keprajuritannya, telah menghantam orang-orang berilmu sesat itu tanpa ampun Namun orang-orang berilmu sesat itu pun memiliki bekal ilmu yang kuat, meskipun kasar dan bahkan iiar.

Dalam pada itu, tiba-tiba saja dua orang prajurit telah memanjat tebing yang lebih tinggi. Keduanya tiba-tiba saja telah meniup sangkakala yang suaranya menggetarkan udara, mengumandang di lereng gunung itu.

Gema suara sangkakala itu, seakan-akan menggaung panjang tanpa henti-hentinya. Susul menyusul membentur lereng.

Namun dalam pada itu, orang berjanggut putih yang disebut Panembahan Lebdagati, tidak senang melihat keduanya berdiri di lereng tebing yang semakin tinggi. Karenanya, Panembahan itu menghentakkan tangannya ke arah kedua orang prajurit itu.

Ternyata tebing tempat keduanya berdiri, bagaikan telah meledak. Kedua orang prajurit itu kemudian terlempar dari tebing dan berguling kedalam lekuk-lekuk batu padas.

“Setan orang-orang Pajang” geram Panembahan Lebdagati.

Bersamaan dengan itu, seseorang telah berdiri di hadapan Panembahan Lebdagati.

“Selamat datang ke gubug kami Panembahan” sapa Ki Ajar.

Panembahan Lebdagati memandanginya dengan kerut di kening. Dengan geram ia bertanya, “siapa kau yang telah mengenal aku?“

“Aku adalah Ajar Pangukan. Panembahan tentu belum pernah mengenal namaku” jawab Ki Ajar.

“Apa hubunganmu dengan hilangnya gadis yang sedang dalam upacara penobatan menjadi ratu kami semalam? Dan apa pula hubunganmu dengan prajurit prajurit Pajang itu?” bertanya Panembahan Lebdagati

”Aku adalah salah seorang yang tersinggung karena Panembahan telah menempuh satu jalan sesat mengganggu ketenangan hidup orang banyak. Bahkan Panembahan telah berani mengorbankan gadis-gadis tiap bulan purnama, untuk melakukan pemujaan sesat seperti yang semalam Panembahan lakukan” jawab Ki Ajar.

“Siapa yang berani menyebut aliran kepercayaanku itu sesat? Aku telah menempuh kebenaran sejati sesuai dengan perintah Dewa tertinggi kami. Dengan laku yang diperintahkannya, maka aku akan memiliki pusaka yang akan dapat membelah Gunung dan mengeringkan lautan. Aku akan menjadi orang terkuat di dunia. Tidak ada seorang pun yang akan dapat mengalahkan aku” Panembahan itu berhenti sejenak, lalu, “Dengan tingkah laku kalian, maka aku telah mundur setengah tahun lagi. Aku harus mengulanginya dan membunuh lagi enam oranggadis setiap bulan purnama, sebagai ganti gadisku yang hilang semalam, serta gagalnya upacaraku. Kematian keenam orang gadis itu, adalah tanggung jawabmu karena kau telah memaksa aku untuk melakukannya lagi.”

Tetapi Ki Ajar tersenyum sambil berkata, “Itu tidak perlu Panembahan, karena hari ini Panembahan akan ditangkap.”

Panembahan Lebdagati mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menengadahkan wajahnya sambil tertawa, “Ajar Pangukan. Siapakah sebenarnya kau, sehingga berani berkata seperti itu? Apa hakmu dan apakah landasan kekuatanmu menangkap aku?”

“Aku adalah Ajar Pangukan seperti yang Panembahan lihat. Tetapi aku di sini bekerja sama dengan prajurit Pajang, yang tidak berkenan menyaksikan tingkah lakumu. Kangjeng Sultan Pajang menganggap kau bersalah. Setidak-tidaknya, menduga kau melakukan kesalahan. Karena itu, kau harus ditangkap dan dihadapkan pada Kangjeng Sultan Pajang, atau orang yang akan ditunjuk mengadilimu.”

Panembahan itu masih saja tertawa. Katanya, “Kau kira aku menjadi gentar mendengar nama Sultan Pajang? Kau kira Jaka Tingkir, gembala yang kebetulan dapat menarik perhatian putri Sultan Trenggana Demak, harus ditakuti?”

“Tidak Panembahan. Kau tidak usah berhadapan dengan Jaka Tingkir, atau yang lebih dikenal dengan nama Mas Karebet itu. Meski kau tidak segarang Kebo Danu dari Banyubiru, yang kepalanya pecah karena benturan tangan Mas Karebet, tapi di sini pasukan Pajang telah siap menghancurkan padepokanmu. Padepokan sesat yang mengabdikan kepercayaannya pada iblis dan kekuatan hitam lainnya.” jawab Ki Ajar.

Tetapi suara tertawa Panembahan itu semakin keras. Kemudian bahkan bagaikan menggetarkan lereng Gunung. Gemanya memantul, memukul setiap jantung orang yang ada di medan pertempuran itu.

Ki Ajar harus mengerahkan daya tahannya untuk melawan getaran gema suara Panembahan yang menghentak-hentak berlipat ganda dari suara tertawanya sendiri.

Manggada, Laksana dan para petugas dari Pajang pun harus melakukannya pula. Namun ternyata getaran itu demikian kerasnya memukul setiap dada. Ki Wiradadi merasa betapa jantungnya bagaikan berhenti bekerja. Demikian pula para prajurit Pajang yang berada dimedan itu.

Para pengikut Panembahan itu telah mendapat petunjuk, apa yang harus mereka lakukan agar jantung mereka tidak rontok. Mereka telah mendapat. latihan bagaimana menutup lubang pendengaran dengan mengatur pernafasan.

Dengan demikian, oleh pengaruh suara tertawa yang bergulung-gulung itu, para prajurit Pajang menjadi banyak mengalami kesulitan.

Di saat mereka harus berjuang melawan getaran suara menghentak jantung itu, mereka juga harus melawan ayunan pedang dan tombak dari para pengikut Panembahan yang berilmu sesat itu.

Dalam pada itu, Ki Ajar yang tidak banyak terpengaruh oleh getaran gema suara tawa Panembahan itu, karena daya tahannya sangat tinggi, berkata, “Panembahan, kau ternyata bukan seorang laki-laki sejati. Seseorang dapat saja menjadi pengikut ilmu yang benar atau seorang yang berilmu sesat, namun bersifat laki-laki sejati.”

“Apa maksudmu?” bertanya Panembahan itu di sela-sela derai suara tawanya.

“Kita berhadapan sebagai laki-laki. Kau dan aku. Kau jangan mempengaruhi orang-orang yang tidak memiliki ilmu sejajar kita dengan cara licik itu” berkata Ki Ajar.

Panembahan itu tertawa semakin keras. Katanya, “Kau yang licik. Kau ingin menyelamatkan orang-orangmu, dan para prajurit Pajang. Biarlah mereka musnah di padepokan ini. Dengan demikian, untuk selama-lamanya Pajang tidak akan berani melakukannya lagi.”

Panembahan itu sama sekali tidak mengendorkan serangan suara tawanya. Sementara itu, para pengikutnya bertempur semakin sengit.

Pada saat-saat korban di pihak prajurit Pajang mulai berjatuhan karena tekanan suara dan senjata lawan, tiba-tiba terdengar suara seruling yang melengking tinggi. Sebuah lagu menyayat terlontar dari seruling itu, langsung mengguncang udara. Getaran nada tinggi itu, rasa-rasanya telah membentur gema suara tawa Panembahan yang lebih dahulu menggetarkan udara di lereng pegunungan itu.

Dua jenis getaran saling membentur. Namun dengan demikian, kedua getaran itu saling menyerap, sehingga pengaruhnya semakin lama semakin kecil. Dengan demikian, prajurit Pajang, yang hampir kehilangan kemampuan perlawanannya, telah bangkit kembali. Maka pertempuran pun menjadi bergejolak kembali. Semakin lama semakin sengit.

Panembahan Lebdagati mengumpat keras. Ia tidak tertawa lagi karena ia sadar, bahwa hal itu tidak akan ada gunanya.

Ia kemudian berpaling ke arah sumber suara seruling, yang menghentak-hentak dengan nada tinggi itu.

Panembahan mengerutkan keningnya. Manggada, Laksana dan Ki Wiradadi ikut terkejut.

Bahkan Ki Ajar memandanginya dengan heran.

“Luar biasa” desis Manggada, “ternyata orang bongkok itu memiliki ilmu sangat tinggi.”

Sementara, Ki Ajar berkata kepada diri sendiri, “Sudah begitu lama ia bersamaku. Ternyata selama itu ia telah mampu meningkatkan ilmunya sampai tataran yang tertinggi, di luar pengamatanku. Agaknya di saat-saat aku berada di dalam sanggar, si Bongkok menempa dirinya. Ia memang telah membawa bekal ilmu ketika datang kepadaku. Namun yang tidak aku ketahui, tingkat perkembangannya kemudian.”

Ki Ajar memang menganggap orang bongkok itu tidak terlalu berminat meningkatkan ilmu dasar yang telah dimilikinya. Ia pun tidak bersedia mendapat bimbingan ilmu dari Ki Ajar. Alasannya, dasar ilmu mereka memang berbeda, sehingga si Bongkok harus menempuh jalan tersendiri untuk menyesuaikan dasar-dasar ilmunya.

Terbukti, orang bongkok itu mampu menangkal getaran gema suara tawa Panembahan, yang memang dengan sengaja dipergunakan menyerang lawan-lawannya.

Panembahan itu menjadi sangat marah. Karena itu, tangannya bergerak dengan tiba-tiba. Hampir tidak dapat diikiti dengan mata wadag. Juga karena demikian mendadak. Sebuah serangan telah menyambar orang bongkok yang sedang duduk di atas batu padas, di lereng yang agak tinggi. Seperti yang pernah dilakukan, maka batu padas itu seakan-akan telah meledak.

Tetapi orang bongkok itu tidak terlempar seperti kedua prajurit Pajang yang meniup sangkakala sebagai isyarat bagi para prajurit Pajang yang lain. Orang bongkok itu dengan tangkas telah meloncat dan berdiri di atas batu padas beberapa langkah dari tempatnya semula.

“Setan, kau bongkok” Panembahan itu berteriak.

“Apakah kau masih ingat kepadaku?” tiba-tiba saja si Bongkok bertanya dengan nada tinggi.

“Kenapa kau belum mati?” bertanya Panembahan itu.

“Kenapa kau sekarang menyebut dirimu Panembahan? Semula aku kurang yakin bahwa Panembahan Lebdagati yang berilmu sesat itu adalah kau. Tetapi ternyata yang aku saksikan adalah benar. Kaulah yang menyebut dirimu Panembahan, yang ingin menjadi orang terkuat di seluruh muka bumi. Setidak-tidaknya, diatas tanah ini.” berkata orang bongkok itu.

“Sekarang aku sudah berada di sini” berkata Panembahan itu, “mau tidak mau, kau harus mengakui keberadaanku di sini sebagai penguasa yang tidak tergoyahkan. Jika kau juga berada di sini, maka kau telah menempuh satu perjalanan maut. Sebab, hanya akulah yang boleh tinggal hidup di antara kita. Kau dapat meloloskan diri saat itu, tetapi sekarang justru kematianmu, atas kemauanmu sendiri.”

Si Bongkok tertawa. Katanya, “Kita berbekal ilmu yang sama. Kita bersama-sama menempa diri untuk waktu yang panjang. Sepuluh tahun atau lebih. Kau tempuh jalan sesat dengan membunuh gadis-gadis. Kau kira dengan demikian, kau akan mendapatkan satu pusaka yang membuatmu menjadi orang terkuat di dunia? Semuanya akan gagal. Aku yang mencarimu selama ini, telah menempatkan diriku di bawah perlindungan Ki Ajar Pangukan. Orang yang sekarang berhadapan dengan kau. Ia memiliki ilmu yang tidak ada duanya, tanpa harus menempuh jalan sesat dan membunuh gadis-gadis.”

“Setan kau” geram Panembahan itu pula, “seharusnya aku menemukan kau sebelumnya, dan menghabiskan sisa tikus-tikus busuk dari padepokan kita, sehingga akulah satu-satunya orang yang masih hidup. Tetapi kau bersembunyi dengan rapat.”

“Seandainya kita bertemu sebelumnya, belum tentu jika kau akan menjadi orang satu-satunya yang hidup. Mungkin aku yang akan tetap hidup.” berkata si Bongkok itu.

Panembahan itu menggeram. Sekali lagi, tangannya bergetar. Sebuah serangan tiba-tiba telah menghantam tebing. Namun sekali lagi, si bongkok terlepas dari serangan itu. Ia telah berdiri di atas batu padas, beberapa langkah dari tempat berdirinya semula.

Sekali lagi, Panembahan itu mengumpat. Sementara itu, pertempuran telah berlangsung semakin sengit. Manggada, Laksana dan Ki Wiradadi tidak lagi harus berjuang sendiri. Mereka kini bersama-sama dengan dua orang berilmu sangat tinggi, serta sepasukan prajurit Pajang yang kuat.

Karena itu, hati Ki Wiradadi menjadi besar. Ia semakin berharap bahwa Yang Maha Agung akan melindungi anaknya dengan lantaran kekuatan yang sangat besar itu. Sekaligus untuk menumpas kekuatan yang beralaskan ilmu sesat.

Sebenarnyalah, bahwa para prajurit Pajang telah menemukan landasan yang kokoh untuk memecahkan perlawanan orang-orang berilmu sesat itu. Mereka telah berhasil memecah kekuatan para pengikut Panembahan menjadi kelompok-kelompok kecil yang terpencar. Terutama mereka yang masih berada di seberang tanggul sempit, yang telah dipecahkan oleh Panembahan itu.

Dengan demikian, prajurit Pajang nampaknya mulai menguasai medan. Perlawanan orang-orang berilmu sesat itu, menjadi semakin terdesak. Tetapi mereka adalah orang-orang yang seakan-akan tidak berjantung. Meskipun sudah terdesak, dan terpecah-pecah, namun mereka masih saja bertempur tanpa mengenal menyerah. Bahkan rasa-rasanya, mereka bukan lagi orang-orang yang mengenal takut, tetapi benar-benar tidak berperasaan.

Orang-orang yang terluka, bahkan yang parah sekalipun, sama sekali tidak terdengar mengaduh. Hanya sekali-sekali terdengar berdesis, dan menyeringai menahan sakit.

Panembahan itu pun akhirnya melihat juga, bahwa orang-orangnya semakin lama menjadi semakin tidak berdaya. Sementara itu sangat mengganggu perasaannya. Karena itulah, Panembahan Lebdagati berkata lantang, “Kalian memang tidak mempunyai pilihan. Aku terpaksa membunuh kalian dengan caraku.”

Orang bongkok itu termangu-mangu. Sementara Ki Ajar yang berdiri di hadapan Panembahan itu, berkata, “Panembahan. Kau sudah tidak mempunyai pilihan lain kecuali menyerah. Para prajurit Pajang, dengan kekuatan besar, celah menguasai seluruh medan. Orang-orangmu telah terdesak dan terpecah-pecah. Seorang demi seorang mereka telah terbunuh dan terluka parah. Jika kau berkeras untuk bertempur terus, maka kematian akan bertambah, sehingga kaulah yang harus bertanggungjawab.”

“Persetan. Kenapa tiba-tiba saja kau menggurui aku?” sahut Panembahan itu, “bersiaplah untuk mati. Kau dan orang-orangmu. Jika orang-orangku ikut mati, itu adalah salah mereka sendiri.”

Ki Ajar termangu-mangu sejenak. Tiba-tiba saja dilihatnya Panembahan itu bergeser surut. Namun kemudian Panembahan itu telah mengambil sesuatu dari dalam kantong yang tergantung pada ikat pinggangnya yang besar.

Ternyata sebuah bumbung yang agak panjang. Dengan serta merta, Panembahan itu telah membuka tutup bumbung itu dan kemudian memutar bumbung itu di udara.

Dari dalam bumbung itu, keluar asap, berwarna kekuning-kuningan. Asap yang mengepul dan kemudian menghambur ke sekitarnya, semakin lama semakin meluas ke seluruh medan.

Dengan cemas, orang bongkok itu berteriak, “Tahan pernafasan kalian, sejauh dapat kalian lakukan. Serbuk racun itu dapat membunuh kalian perlahan-lahan.”

Sebenarnyalah, serbuk itu akan dapat membuat orang menjadi lemas. Serbuk yang berwarna kekuning-kuningan itu akan terhisap beserta tarikan nafas, dan meracuni bagian dalam tubuh.

Panembahan, itu kemudian tertawa berkepanjangan sambil berkata, “Kalian tidak akan dapat menahan nafas untuk waktu yang terlalu lama. Serbuk racunku akan bekerja sehari semalam.”

Dalam pada itu, orang bongkok di lereng bukit itu berteriak, “Pergunakan kain apa saja untuk menutup hidungmu, setidak-tidaknya mengurangi racun yang masuk lewat pernafasanmu.”

Orang yang mendengar teriakan itu telah mempergunakan kain apa saja. Kain panjangnya, ikat kepalanya, atau bajunya untuk menutupi hidung mereka. Setidak-tidaknya akan mampn memperpanjang daya tahan mereka.

Tetapi dalam pada itu, Ki Ajar tidak saja membiarkan hal itu terjadi. Ia sendiri tidak menutup hidungnya dengan apapun. Namun justru bergeser surut serta memusatkan nalar budinya. Bahkan Ki Ajar itu telah menyilangkan tangan di dadanya.

Satu pertempuran ilmu yang menggetarkan. Ternyata tanpa ada mendung dan tanpa ada angin, tiba-tiba saja telah bertiup angin pusaran. Angin pusaran yang bagaikan tumbuh dari arah rumah kecil yang di huni oleh Ki Ajar itu, dan mengalir berputaran. Asap yang kuning itupun terhisap dan ikut berputar membumbung tinggi ke langit.

Sejenak kemudian, udara di medan itu menjadi bersih kembali. Angin pusaran itu kemudian lenyap mengalir hilang.

“Racun yang berbahaya” berkata Ki Ajar, “aku tidak dapat meniup racunmu begitu saja, karena jika racunmu itu mengalir ke hutan, maka binatang-binatangpun akan mati. Karena itu, aku harus mengangkatnya dan menebarkannya di udara yang tinggi. Dengan demikian, jika racun itu turun dalam tebaran yang luas, maka bahayanya telah susut, karena kadarnya menjadi jauh lebih kecil.”

“Gila kau Ki Ajar” geram Panembahan yang menjadi sangat marah itu, “seharusnya aku membunuhmu lebih dahulu.”

Ki Ajar masih akan menjawab. Tetapi tiba-tiba saja Panembahan itu telah menyerangnya, sehingga keduanya terlibat dalam pertempuran yang sengit.

Keduanya ternyata adalah orang-orang yang berilmu sangat tinggi. Panembahan itu berloncatan sambil menyerang dengan tenaga raksasa. Sementara Ki Ajar, telah mengerahkan tenaga cadangannya, sehingga ayunan tangannya rasa-rasanya akan dapat memecahkan batu hitam.

Dengan demikian, pertempuran antara kedua orang itu semakin lama menjadi semakin sengit. Keduanya mampu bergerak dengan kecepatan sangat tinggi, sehingga keduanya bagaikan beterbangan di arena pertempuran yang dahsyat itu.

Orang bongkok itu masih berada di lereng yang agak tinggi. Dengan seksama, ia mengikuti pertempuran antara kedua orang tua yang semakin lama menjadi semakin seru itu. Sebagai saudara seperguruan dengan Panembahan itu, ia tahu kekuatan dan kelemahan dari Panembahan yang ternyata telah menempuh jalan sesat untuk meningkatkan ilmunya, karena ingin jadi orang terbaik di seluruh muka bumi.

Tetapi ternyata. Ki Ajar mempunyai landasan ilmu luar biasa. Meskipun Panembahan itu telah mengerahkan segenap kemampuannya, ia tidak mampu mendesak, apalagi mengalahkan Ki Ajar.

Akhirnya, Panembahan itu merambah ilmunya yang menggetarkan.

Ketika keduanya sedang bertempur dengan serunya, tiba-tiba saja Panembahan itu meloncat mengambil jarak.

Dengan segera Ki Ajar menyadari, apa yang akan dilakukan Panembahan itu. Karena itu, Ki Ajar pun bersiap dengan landasan ilmunya pula.

Sebenarnyalah, sejenak kemudian Panembahan itu telah meluncurkan serangannya dengan mengacungkan kedua tangannya ke depan dengan telapak tangan terbuka menghadap ke arah Ki Ajar.

Namun Ki Ajar sudah bersiap sepenuhnya. Dengan tanpa meloncat mengerahkan tenaga, Ki Ajar telah bergeser dari tempatnya. Seakan-akan tubuhnya terdorong menyamping beberapa langkah dengan sikap yang tidak berubah.

Serangan Panembahan yang tidak mengenai sasaran itu, meluncur dan menghantam rumpun bambu di sebelah rumah Ki Ajar. Rumpun bambu itu bagaikan telah meledak, dan pohon-pohon bambu tumbang berserakan.

“Luar biasa” bagaimanapun juga Ki Ajar mengakui betapa dahsyatnya ilmu Panembahan itu. Demikian pula orang bongkok yang menyaksikannya.

Karena itu, ia pun meloncat semakin rendah. Jika terjadi sesuatu, ia akan dapat segera membantu Ki Ajar. Mungkin ia akan dapat membantu dalam serangan bersama-sama, untuk mematahkan perlawanan Panembahan berilmu tinggi itu. Meskipun pada suatu saat takaran ilmu Panembahan itu sama tingginya dengan orang bongkok itu, tetapi justru dengan jalan sesat, ilmu Panembahan jtu telah semakin meningkat, meskipun belum dapat dikatakan terbaik.

Tetapi Panembahan itu harus melihat kenyataan, bahwa serangannya tidak mampu membunuh orang yang menyebut dirinya Ki Ajar Pangukan itu. Dengan mudah, Ki Ajar Pangukan mampu menghindari serangan ilmunya yang dahsyat, sebagaimana orang bongkok di lereng tebing itu.

Panembahan itu mengumpat kasar. Darahnya yang telah dialiri ilmu sesat, bagaikan mendidik. Karena itu, yang membayang di angan-angannya tidak ada lain kecuali membunuh.

Karena serangan-serangannya tidak mampu membunuh Ki Ajar dan orang bongkok itu, serta racunnya sudah terhambur dan tidak berarti sama sekali, maka Panembahan berilmu sesat itu mencabut kerisnya. Keris yang setiap purnama menghisap darah gadis-gadis. Keris yang akan dijadikan pusaka untuk mendukung nafasnya menjadi orang terkuat di seluruh muka bumi.

Ki Ajar menjadi berdebar-debar melihat keris yang dilekati dengan darah yang telah membeku. Darah yang semakin lama menjadi semakin tebal itu.

“Kau akan menjadi pengganti gadisku yang hilang semalam” geram Panembahan yang berilmu sesat itu, “mudah-mudahan darahmu juga punya arti bagi kerisku ini. Meskipun keris ini belum sepenuhnya puas minum darah gadis-gadis, tetapi kekuatannya sudah melampaui semua keris di seluruh dunia. Karena itu, di hadapan keris ini, semua kekuatan dan kemampuanmu akan menjadi beku. Kau akan tunduk kepadaku dan membiarkan aku menikam dadamu. Kau akan berlutut dan tidak mampu melakukan perlawanan.”

Ki Ajar termangu-mangu. la mendengar kata-kata Panembahan itu. Suara itu rasa-rasanya melingkar-lingkar di dadanya. Sementara Panembahan itu telah mengangkat kerisnya di atas dahinya.

“Ki Ajar” berkata Panembahan itu, “dengar kata-kataku. Tidak ada orang yang mampu melawan kerisku. Kaupun tidak. Kau akan diam membeku dan membiarkan aku membunuh-mu.”

Suara itu begitu tajam menusuk telinga Ki Ajar. Kemudian, jantungnya terasa berdebar semakin cepat. Suara itu, adalah bagian dari ilmu Panembahan, yang mampu mempengaruhi dan membuat lawannya seakan-akan menjadi beku.

jSelangkah demi selangkah Panembahan itu mendekat dengan keris yang masih diangkat di atas dahinya. Sementara itu, pertempuran di sekitarnya menjadi semakin seru, mendekati saat-saat terakhir. Orang-orang berilmu sesat yang putus asa, telah bertempur seperti orang mabuk, tanpa menghiraukan pengamatan-pengamatan yang diberikan oleh para prajurit Pajang.

Dalam pada itu, orang bongkok itu memperhatikan sikap Ki Ajar dengan cemas. Seakan:akan Ki Ajar telah terbius oleh ilmu Panembahan yang kemudian mengangkat kerisnya semakin tinggi.

Bahkan selangkah demi selangkah. Panembahan yang jantungnya bagaikan terbakar oleh kemarahan itu menjadi semakin dekat.

Orang yang bongkok itu tiba-tiba saja telah meloncat ke atas sebongkah batu. Dilekatkannya seruling-nya di bibirnya. Ia tidak mempunyai cara tertentu untuk membangunkan Ki Ajar dari kebekuannya. Dengan mengguncang jantungnya, ia berharap Ki Ajar akan terbangun.

Namun sebelum orang bongkok itu sempat meniup seruling, ia terkejut. Kedua orang berilmu tinggi itu ternyata telah menentukan bagian terakhir dari pertempuran itu.

Pada saat Panembahan itu berdiri dua langkah di hadapan Ki Ajar yang nampaknya benar-benar telah membeku itu, maka diangkatnya kerisnya tinggi-tinggi. Panembahan itu sudah siap untuk membunuh lawannya dengan menghujam-kan keris itu di jantung lawannya.

Namun yang terjadi adalah sebaliknya. Sebelum Panembahan itu menyarungkan kerisnya ke dada lawannya, maka tiba-tiba saja Ki Ajar telah melemparkan beberapa paser kecil justru keleher Panembahan Lebdagati yang telah siap membunuhnya.

Panembahan itu benar-benar terkejut. Ia tidak mengira bahwa Ki Ajar yang disangkanya telah membeku itu masih mampu menyerangnya. Sehingga karena itu, maka Panembahan yang sudah berdiri terlalu dekat itu tidak sempat mengelak.

Dua buah paser kecil menancap dilehernya. Satu lagi di dadanya dan satu dipundaknya.

Selangkah Panembahan itu bergeser surut. Wajahnya menunjukkan kemarahan yang luar biasa. Dendam dan kebencian mewarnai sorot matanya.

“Kau licik Ajar gila” gerum Panembahan Lebdagati itu, “Kau telah mencoba meracuniku.”

Ki Ajar itu berdiri termangu-mangu. Ia melihat Panembahan itu terhuyung-huyung beberapa langkah surut.

“Aku tidak mempunyai pilihan lain Panembahan” jawab Ki Ajar.

Tetapi Ki Ajar itu terkejut. Dengan tangan kirinya Panembahan Lebdagati telah mencabuti paser-paser kecil yang memang mengandung racun itu. Sejenak Panembahan itu seakan-akan memusatkan kekuatan lahir dan batinnya. Kemudian, Panembahan Lebdagati telah menghentakkan kekuatannya.

Dari luka-lukanya yang beracun oleh paser-paser kecil itu telah memancar darah yang berwarna kehitam-hitaman. Namun kemudian darah itu telah berubah menjadi merah.

Panembahan Lebdagati itupun kemudian telah meraba daun kerisnya yang bergetar. Seakan-akan sesuatu telah mengalir dari kerisnya itu ke tubuhnya.

Sejenak kemudian darah yang mengalir itu telah berhenti dengan sendirinya. Racun didalam darahnya yang masuk lewat jarum-jarum paser itu ternyata telah dapat dihentakkan keluar.

Panembahan itu tersenyum. Katanya, “Usahamu yang licik itu tidak akan berarti Ki Ajar. Akan datang saatnya, aku membalasnya. Aku akan menusukmu tidak dengan paser-paser kecil. Tetapi dengan ujung kerisku.”

Tetapi Ki Ajar telah menjawab, “Kau memang mampu memusnahkan racun itu dari dalam tubuhmu Panembahan. Tetapi sebagaimana kita ketahui, darah kita sangat terbatas. Kita tidak dapat membuat darah dalam waktu sekejap. Karena itu, sebanyak darahmu keluar, sebanyak itu pula kekuatanmu berkurang.”

“Kau tidak dapat membuat aku beku seperti yang kau maksudkan, Panembahan. Jika aku diam, bukan berarti bahwa kekuatanmu mampu mencengkam jantungku.” berkata Ki Ajar.

“Aku tahu” jawab Panembahan itu, “kau sengaja berdiam diri sambil menunggu aku mendekat. Itu termasuk cara licikmu untuk membunuhku. Tetapi kaupun gagal.”

“Aku memang gagal Panembahan. Tetapi dalam keseluruhan kami berhasil. Kami telah dapat menghancurkan seluruh kekuatanmu. Kekuatan sesatmu. Sebentar lagi kau akan tahu sendiri. Sudah tentu kau tidak akan mampu melawan kami. Aku, orang bongkok yang ternyata saudara seperguruanmu meskipun kemudian kau meningkatkan ilmumu dengan cara yang sesat. Kemudian para perwira Pajang dan anak-anak muda yang baru mengasah ilmunya itu. Disamping itu, si Bongkok itu mempunyai dua ekor harimau yang akan dapat mengoyak kulitmu. Kau tidak dapat mempengaruhinya dengan ilmu sihirmu seandainya kau memiliki, karena harimau itu tidak mampu menangkap getaran yang mengganggu otaknya” jawab Ki Ajar.

“Persetan dengan igauanmu” jawab Panembahan itu. Namun Panembahan itu masih juga belum menyerang. Ia masih juga berkata, “Kau boleh percaya atau tidak percaya; bahwa aku sendiri akan dapat menaklukkan kalian semuanya tanpa orang-orangku.”

“Kau mimpi” berkata Ki Ajar.

“Mimpi daradasih” jawab Panembahan Lebdagati, “kau tahu artinya mimpi daradasih. Sebagai seorang Ajar kau tentu mengetahui. Juga tanda-tanda mimpi daradasih itu.”

Ki Ajar mengerutkan keningnya. Panembahan itu memang sudah mempersiapkan diri. Tetapi masih belum ada tanda-tanda untuk menyerang.

Namun akhirnya Ki Ajar mengetahui bahwa Panembahan itu memang berusaha -memperpanjang waktu. Dengan demikian, maka luka-lukanya akan benar-benar menjadi pampat.

Karena itu, maka Ki Ajarlah yang kemudian bergeser mendekat sambil berkata, “Kita akan menguji, siapakah diantara kita yang terbaik. Kau dengan ilmu sesatmu atau aku.”

Panembahan Lebdagati tertawa. Ia masih akan berbicara lagi. Tetapi Ki Ajar tidak memberinya kesempatan. Dengan tangkasnya Ki Ajarpun telah menyerangnya.

“Iblis kau” geram Panembahan sambil mengelakkan serangan itu, “dengar. Aku masih akan memberimu beberapa penjelasan.”

“Aku tidak memerlukan penjelasan” jawab Ki Ajar. Namun iapun telah meloncat sekali lagi menyerang Panembahan Labdagati.

Panembahan itu memang dengan mudah dapat mengelakkan serangan Ki Ajar. Namun serangan-serangan berikutnya adalah serangan kekuatan yang menggetarkan jantung. Selain kecepatannya yang sulit diimbangi, maka Ki Ajar juga mempunyai kekuatan bukan saja wadagnya. Tetapi kekuatan ilmu yang luar biasa besar.

Panembahan Lebdagati harus berloncatan menghindar, meskipun setiap saat pada kesempatan Panembahan itu telah mengajak berbicara. Tetapi Ki Ajar yang mengetahui maksud Panembahan itupun justru telah menyerang semakin cepat.

Akhirnya, Panembahan itu terpaksa melayaninya. Ia pun bergerak semakin cepat. Bahkan ketika ia tidak lagi melihat kemungkinan untuk memperpanjang waktu, maka Panem-bahan itu telah mengambil kesimpulan, bahwa ia harus menyelesaikan lawannya itu secepatnya, sebelum darahnya mengucur lagi dari lukanya atau justru akan menghabiskan tenaganya.

Tetapi Ki Ajar ternyata mampu mengimbangi kecepatan gerak Panembahan Lebdagati. sehingga serangan-serangan Panembahan Lebdagati sama sekali tidak berhasil mengenainya.

Sementara itu, Panembahan Lebdagati yang marah itu pn menjadi bimbang. Jika ia memaksa diri untuk melepaskan ilmunya, termasuk Gelap Ngampar, maka hentakan kekuatan ilmunya akan dapat mendorong darahnya mengalir lagi dari luka-lukanya. Sementara itu, orang bongkok itu akan dapat menangkalnya dengan suara serulingnya. Sedangkan ilmunya yang lain, ternyata tidak mampu mengikat Ki Ajar dalam kebekuan. Karena itu. maka ia telah memikirkan kemungkinan yang lain. Ia dapat menyerang Ki Ajar dari jarak jauh. Namun hal itu pun pernah dicobanya dan gagal. Bahkan orang bongkok itu pun tidak dapat dikenainya dengan ilmunya itu.

Namun Panembahan itu harus berbuat sesuatu jika ia Lidak mau mati kehabisan darah.

Untuk beberapa saat Panembahan Lebdagati masih bertempur melawan Ki Ajar Pangukan.Keduanya saling menyerang. Namun seperti yang dicemaskan oleh Ki Ajar itu sendiri, darah dilukanya itu mulai mengalir lagi. Ia tidak sempat menutup luka-lukanya dengan kemampuan ilmunya, karena ia harus mengerahkannya untuk melawan Ki Ajar.

Dalam pada itu, para pengikut Panembahan itu telah benar-benar dilumpuhkan. Beberapa orang yang seperti orang kehilangan akal telah terbunuh. Beberapa orang yang lain terluka. Namun jarang sekali diantara mereka yang menyerah. Apalagi mereka yang sudah berada pada tataran yang cukup tinggi di lingkungan Panembahan Lebdagati.

Beberapa orang pengikut Panembahan Lebdagati yang memiliki ilmu yang tinggi terpaksa dihadapi oleh beberapa orang sekaligus.

Dalam pada itu Manggada dan Laksana pun telah bertemu dengan dua orang Putut dari padepokan raksasa yang tersembunyi itu. Untunglah keduanya telah membawa bekal yang cukup sehingga keduanya mampu bertahan untuk beberapa lama. Namun kemudian beberapa orang prajurit Pajang telah datang membantu.

Dalam keadaan itu, maka Panembahan Lebdagati benar-benar telah tersudut. Orang-orangnya yang justru terpercaya sekalipun tidak mampu menghadapi para perwira dari pasukan Pajang serta para petugas sandi yang memiliki kemampuan yang mampu mengimbangi kemampuan orang-orangnya.

Karena itu, maka sejenak kemudian Panembahan Lebdagati itu telah mengambil keputusan untuk sekali lagi mencoba menyerang lawannya dengan ilmunya yang dapat dilontarkannya dari jarak jauh.

Tetapi ternyata Panembahan Lebdagati tidak menghadapi keadaan itu dengan dada tengadah. Ketika ia menyerang Ki Ajar dengan lontaran ilmu, serta Ki Ajar bergeser menghindar, maka dengan mengerahkan tenaga cadangan didalam dirinya. Panembahan itu telah meloncat jauh-jauh surut.

Ki Ajar terkejut. Ia sadar, bahwa Panembahan Lebdagati akan menghindar dari medan. Karena itu, maka Ki ajar pun telah melakukan hal yang sama. Dengan menghentakkan tangannya, maka sebuah serangan yang dahsyat telah meluncur ke arah Panembahan yang memang mencoba menghindar dari pertempuran. Tetapi Panembahan Lebdagati mampu mengelak. Bahkan sekali lagi ia meloncat menjauhi Ki Ajar dengan loncatan panjang.

Orang Bongkok yang pernah menjadi saudara seperguruan Ki Lebdagati itu pun tidak tinggal diam. Iapun memiliki ilmu sebagaimana dimiliki oleh orang yang menyebut dirinya Panembahan Lebdagati itu. Sebagaimana dilakukan oleh Ki Lebdagati, maka orang bongkok itu pun mampu menyerangnya dari jarak jauh.

Tetapi Panembahan itu masih mampu mengelakkan diri. Meskipun serangan datang dari dua orang yang memiliki atas perguruan yang berbeda, tetapi memiliki ilmu yang ujudnya hampir sama, namun Panembahan Lebdagati itu ternyata mampu melepaskan diri. Ia meloncat semakin jauh dan semakin tinggi pada tebing pebukitan yang seakan-akan menjadi dinding tempat terpencil itu. Bahkan akhirnya Panembahan Lebdagati itu telah menghilang.

Orang Bongkok beserta kedua ekor harimaunya telah mencoba mengejarnya. Tetapi ketika mereka sampai, ke panggung pebukitan, mereka sudah tidak melihat lagi, ke-mana Panembahan itu melarikan diri.

Orang bongkok itu merasa kecewa sekali. Sumber malapetaka itu ternyata luput dari tangan orang-orang yang berusaha menghancurkannya.

Dengan menyesal ia telah kembali menemui Ki Ajar dan beberapa perwira prajurit Pajang. Merekapun merasa menyesal pula, bahwa buruan mereka berhasil melepaskan diri.

“Apaboleh buat” berkata Senapati prajurit Pajang yang memimpin pasukannya datang ketempat terpencil itu

“Kita sudah berusaha sejauh mungkin. Tetapi kita ternyata kehilangan jejak.”

“Aku minta maaf” berkata Ki Ajar.

“Ki Ajar sudah banyak sekali membantu” jawab Senapati itu. Tetapi katanya kemudian, “Namun sebaiknya kita memasuki padepokan induk Panembahan Lebdagati. Mudah-mudahan ia singgah ke padukuhan induk itu.”

Orang bongkok itu menggeleng. Katanya, “Tentu tidak. La pun tahu bahwa kita tentu akan kesana. Tetapi sebaiknya kita mencobanya.”

Demikianlah para prajurit Pajang telah dikumpulkan oleh Senapatinya. Para pemimpin kelompok telah melaporkan keadaan orang-orangnya. Beberapa orang “korban memang telah jatuh.

Senapati itu telah membagi pasukannya. Sebagian dari mereka harus tetap berada di tempat itu untuk merawat kawan-kawannya yang terluka dan mengumpulkan yang gugur di medan pertempuran. Sebagian yang lain akan dibawa ke padukuhan induk padepokan raksasa itu.

Namun tiba-tiba Ki Ajar berkata kepada Ki Wiradadi, “Marilah. Sebaiknya Ki Wiradadi dan anak gadismu ikut bersama kami. Ada beberapa alasan. Mungkin Panembahan itu akan kembali mencari korbannya jika ia tahu, gadis itu kami tinggalkan disini. Kedua, anak gadis Ki Wiradadi pernah berada di padukuhan induk. Mungkin ia dapat serba sedikit menceriterakan lingkungan padukuhan untuk itu, khususnya istana Panembahan Lebdagati.”

Ki Wiradadi mengangguk-angguk. Sementara itu, anak gadisnyapun setuju untuk ikut serta.

“Aku takut” berkata gadis itu, “jika orang itu kembali, maka aku akan mati disini.”

Ki Wiradadipun mengangguk-angguk. Ia pun sadar, meskipun ada kelompok prajurit yag akan tinggal ditempat itu untuk merawat kawan-kawannya, tetapi jika Panembahan yang luput dari tangan mereka itu kembali, maka agaknya sulit bagi mereka untuk dapat melindungi anak gadis itu.

Karena itu, sejenak kemudian, maka sebuah iring-iringan telah meninggalkan tempat terpencil itu. Tiba-tiba saja mereka tidak lagi melihat burung elang diudara. Demikian orang-orang padepokan itu dihancurkan serta Panembahan Lebdagati meninggalkan medan, maka sisa-sisa burung elang itu pun telah lenyap pula.

Beberapa saat mereka berjalan menyusuri jalan yang sulit. Mereka kadang-kadang harus menuruni tebing yang rendah, kemudian menyusuri tanggul sempit, sehingga akhirnya mereka sampai ke tempat yang diperuntukkan bagi upacara penyerahan korban itu.

Gadis itu tiba-tiba saja menjerit kecil ketika ia melihat tatanan batu di tengah-tengah padang rumput yang tidak terlalu luas itu. Ia menjadi ngeri mengingat saat ia telah terbaring ditempat itu. Hampir saja nyawanya direnggut oleh keris Panembahan Lebdagati sebagai korban yang kesekian kalinya dibawah cahaya bulan bulat.

Ki Wiradadi mendekap anaknya Bisiknya, “Kau aman sekarang anakku. Kau lihat, orang-orang berilmu tinggi itu telah menolongmu. Bahkan sepasukan prajurit Pajang telah datang pula. Bagi para prajurit itu, tujuan utamanya adalah menghancurkan sekelompok orang beraliran sesat disini. Adalah kebetulan sekali mereka hadir sekarang, sehingga jiwamu telah diselamatkan. Yang Maha Agung masih melindungimu.”

Gadis itu ternyata telah terisak. Namun Ki Wiradadi berkata, “Tugasmu sekarang, membalas kebaikan orang-orang berilmu tinggi itu. Tunjukkan padepokan induk itu dan apa saja yang kau lihat ada didalamnya.”

“Semuanya mengerikan” desis gadis itu.

“Tetapi kau harus melakukannya” berkata ayahnya. Gadis itu mengangguk. Ia. memang menyadari, apa yang sedang dialami. Karena itu, maka penalarannya memang mengatakan kepadanya, bahwa ia harus langsung melibatkan diri bukan saja bagi keselamatan dirinya, tetapi gadis-gadis lain di masa mendatang.

Sesaat, iring-iringan itu singgah di padukuhan yang menghadap ke padang rumput yang tidak terlalu luas itu.

Mereka masih melihat beberapa macam benda upacara selain yang berserakan di dekat tempat upacara untuk menyerahkan korban itu.

“Kita harus menghancurkannya” berkata orang bongkok itu.

“Ya” desis Ki Ajar, “supaya tidak menimbulkan rangsangan untuk melakukannya lagi bagi para pengikut Panembahan Lebdagati yang luput dari tangan kita.”

Senapati prajurit Pajang itupun ternyata sependapat. Karena itu, maka para prajurit pun telah mengumpulkan benda-benda upacara dan dikumpulkan diatas tatanan batu yang dipergunakan untuk menyerahkan korban. Dari berjenis-jenis bokor dari tembaga, pakaian yang khusus yang ada di tempat penyimpanan benda-benda upacara. Rontek, umbul-umbul dan berbagai macam senjata khusus yang hanya dipakai dalam upacara, yang dikumpulkan oleh para prajurit karena benda-benda itu sebagian berserakan di padang rumput kecil itu.

“Kita akan membakarnya” desis Senapati prajurit Pajang.

Ki Ajar dan orang bongkok itu sependapat. Karena itu, maka mereka pun segera menyalakan api. Benda-benda upacara itu pun segera telah menyala termasuk beberapa buah obor yang masih lengkap dengan sumbunya serta sisa minyak yang ada didalamnya.

Ketika api menyala dengan asap yang membumbung tinggi, Manggada dan Laksana sempat berbincang dengan Ki Ajar. Dengan nada ragu Manggada bertanya, “Kita tidak menemukan sesosok mayat pun. Bukankah beberapa orang telah terbunuh disini?”

Ki Ajar mengangguk-angguk. Katanya, “Agaknya ada orang-orang khusus disamping para pengikut yang bersenjata dan telah bertempur melawan kita.”

“Tetapi tidak hanya satu dua orang yang telah terbunuh. Juga ada diantara mereka yang telah dikoyak oleh harimau Ki Pandi itu” berkata Laksana.

“Mungkin kita akan menemukan jawabnya jika kita sempat memasuki induk padepokan Panembahan Lebdagati nanti” jawab Ki Ajar.

Demikianlah, maka setelah api berkobar bagaikan menjilat langit menelan setumpuk benda-benda upacara itu, maka iring-iringan itu telah melanjutkan perjalanan, menuju ke induk padepokan raksasa yang berada di lereng Gunung itu.

Ketika iring-iringan itu melalui sebuah padukuhan, maka nampak padukuhan itu begitu sepi. Semua pintu rumah tertutup rapat. Tidak ada seorang pun yang nampak dihalaman, apalagi di jalan-jalan.

Manggada dan Laksana memang ingin tahu, apakah orang-orang padukuhan itu telah pergi mengungsi atau mereka telah melakukan sesuatu yang lain berhubungan dengan upacara yang telah dilakukan oleh Panembahan Lebdagati itu.

Karena itu, tiba-tiba saja kedua orang anak muda itu telah menyelinap masuk sebuah regol halaman yang sedikit terbuka. Dengan berlari-lari kecil keduanya naik kependapa rumah itu dan langsung menuju ke pintu pringgitan.

“Apa yang akan mereka lakukan?” bertanya Senapati prajurit Pajang.

Ki Ajar menarik nafas panjang. Katanya, “Mereka ingin tahu apa saja. Agaknya mereka ingin tahu, apakah di-dalam rumah yang pintunya tertutup itu ada orangnya.”

Senapati itu mengangguk-angguk. Katanya, “agaknya aku juga akan berbuat begitu jika umurku masih semuda mereka.”

Namun demikian, Ki Ajar tidak meninggalkan kedua orang anak muda itu. Bersama orang bongkok itu, keduanya berhenti diluar halaman.

Ternyata Manggada dan Laksana telah mengetuk pintu pringgitan keras-keras. Beberapa kali keduanya menyapa jika ada orang didalam rumah itu.

Tetapi sama sekali tidak ada jawaban, sehingga Manggada Hari Laksana telah mengguncang-guncang pintu.

“Buka pintu atau aku akan menghancurkannya” tiba-tiba Laksana berkata lantang.

Sesaat keduanya menunggu. Namun ternyata ketajaman telinga mereka mampu menangkap desir lembut di-dalam rumah itu. Karena itu. keduanya yakin, bahwa tentu ada seseorang atau lebih didalam rumah itu.

“Aku akan menghitung sampai sepuluh” geram Laksana, “jika sampai kehitungan kesepuluh pintu tidak dibuka, maka aku akan menghancurkan pintu itu.”

Sejenak kemudian maka Laksuna pun telah mulai menghitung, sementara itu, keduanya telah bersiap-siap untuk menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi, jika ia benar-benar harus memecahkan pintu itu.

Manggada pun telah bersiap. Ia yang mengenal Laksana dengan baik, percaya jika hitungannya sampai sepuluh dan pintu itu tidak dibuka, maka ia benar-benar akan memecahkannya.

Ketika hitungan sampai keenam, dan tidak terdengar langkah mendekati pintu, Manggada jadi berdebar-debar. Tujuh, delapan, sembilan, masih juga tidak terdengar langkah.

Pada hitungan kesepuluh. Laksana benar-benar melakukan apa yang dikatakannya. Dengan kekuatannya yang sangat besar, ia menendang pintu itu.

Pintu itu berderak dan terbuka. Bahkan daun pintunya yang retak, terpelanting lepasjdarf uger-ugernya.

.Manggada pun bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan, karena demikian pintu terbuka. Laksana yang masih belum mapan akan dapat diserang dengan cepat. Karena itu ia harus bersiap menghadapinya.

Tetapi kedua anak muda itu terkejut. Mereka memang melihat beberapa orang di dalam rumah itu, tapi tidak lebih dari seorang laki-laki tua, tiga orang perempuan dan dua orang anak-anak yang masih remaja, menggigil ketakutan.

Manggada dan Laksana saling berpandangan. Namun kemudian, Manggada bertanya, “Kenapa kau tidak mau membuka pintu, he?”

“Kami takut anak-anak muda. Perang sedang berkecamuk di luar” jawab laki-laki tua itu dengan suara gemetar.

“Tetapi kau tahu akibatnya jika kau menolak perintah kami?” berkata Laksana.

“Kami tidak berniat menolak. Tetapi kami tidak berani melakukannya” suara orang itu semakin gemetar karena ketakutan.

Laksana menarik nafas dalam-dalam. Laki-laki tua itu kembali berkata, “Marilah anak-anak muda. Aku persilah-kan kalian duduk.”

“Tidak” jawab Manggada, “kami akan meneruskan perjalanan kami.”

Keduanya pun tidak lagi menaruh banyak perhatian kepada mereka. Karena keduanya telah melangkah meninggalkan ruang dalam itu.

Tetapi mencapai pintu, seseorang telah mendorong mereka dengan kuatnya, sehingga Manggada dan Laksana jatuh terguling di lantai. Namun dengan sigapnya, mereka melenting berdiri.

Baru keduanya, menyadari, bahwa mereka hampir saja terjebak. Demikian keduanya keluar dan membelakangi pintu, orang tua yang dianggap menggigil ketakutan itu telah menyerangnya. Seperti terbang, orang itu meluncur dengan kedua tangan mengembang, siap menerkam tengkuk Manggada dan Laksana, dan membentur kepala kedua anak muda itu. Tapi Ki Ajar dapat membaca apa yang akan terjadi. Ia yang tidak sampai hati meninggalkan anak-anak muda belum banyak pengalaman itu, kemudian memasuki halaman bersama si bongkok.

Orang tua yang kehilangan sasaran itu menggeram marah. Tapi ia terkejut melihat si bongkok yang berdiri beberapa langkah di sebelah anak-anak muda itu.

“Kau demit bongkok?” geram orang tua itu.

“Jadi kau bersembunyi disini?” berkata orang bongkok itu, “satu firasat yang sangat tinggi telah memanggil anak-anak muda itu untuk membuka pintumu.”

“Adalah satu kebetulan yang barangkali juga bukan kebetulan, bahwa keduanya akan menemukan tempatmu bersembunyi. Kau terlalu bodoh dengan sedikit membuka regol halamanmu, sehingga menarik perhatian mereka, atau memang sengaja kau lakukan untuk menarik perhatian, kemudian menjebak.dengan licik seperti yang telah terjadi?”

“Kau iblis” geram orang tua itu, “kenapa kau ikut campur dalam persoalan ini?”

““Aku kira, dari perguruan kita yang tinggal hanya aku dan orang yang menyebut dirinya Panembahan Lebdagati itu. Tapi ternyata kau ada di sini juga untuk mengabdi pada orang berilmu sesat dan menodai nama perguruan kita itu.” berkata orang bongkok itu.

Orang tua itu tertawa., Katanya, “Kau tidak perlu mencela orang lain. Jika hal itu sudah menjadi satu keyakinan, maka takarannya adalah maut.”

“Tidak” jawab orang bongkok itu, “seseorang memang dapat memegang satu keyakinan, tapi keyakinan itu dapat berubah jika suatu saat ia menyadari bahwa ia melakukan kesalahan dengan keyakinannya itu. Ia dapat berpaling untuk mencari kebenaran.”

“Nampaknya kau adalah jenis orang yang keyakinannya goyah. He, orang bongkok. Serahkan anak-anak muda itu kepadaku. Aku akan membunuh mereka, kemudian membunuhmu dan membunuh orang tua itu. Siapapun orang itu” geram orang tua itu.

Tetapi orang bongkok itu seakan-akan tidak mendengarnya. Ia masih juga bertanya, “Apa alasanmu ikut bersama Panembahan yang gila itu, yang menganggap kerisnya telah berharga dari jiwa seseorang?”

“Persetan” geram orang itu, “kaulah yang telah berkhianat atas perguruan kita. Panembahan Lebdagati adalah orang yang memiliki hak yang sah untuk memimpin padepokan kita.”

“Kenapa? Apakah aku pernah menentang? Yang aku tentang adalah ilmu gilanya itu, yang di setiap bulan purnama harus mengorbankan seorang gadis untuk keris dan kepercayaannya itu.” berkata orang bongkok itu.

“Kau sudah terlalu banyak berbicara” geram orang tua itu, “sudah saatnya aku membunuhmu.”

Tetapi orang bongkok itu berkata” Kau ternyata memang bodoh. Kenapa kau tidak bergabung bersama Panembahan Lebdagati? Berdua, kalian akan menjadi kekuatan yang sulit dipatahkan. Tetapi sendiri-sendiri, kau tidak berarti apa-apa. Kita pernah berguru bersama, sebagaimana Panembahan Lebdagati. Dan kita tahu perbandingan ilmu kita, sehingga tanpa bertandingpun kita sudah dapat menentukan, siapa diantara kita yang kalah dan menang.”

“Cara berpikirmu sangat sederhana” berkata orang tua itu, “kau kira perbandingan ilmu seseorang akan tetap sama berpuluh tahun sekalipun?”

“Aku tahu bahwa kau telah terbius dengan ilmu sesat saudara seperguruan kita yang menyebut dirinya Panembahan Lebdagati itu, sehingga kau merasa bahwa ilmumu telah jauh meningkat. Tetapi kaupun harus memperhitungkan bahwa akupun telah meningkatkan ilmuku tanpa mengotori tanganku dengan darah gadis-gadis di saat bulan purnama.” berkata orang bongkok itu.

“Tutup mulutmu” geram orang tua itu, “Kau kira ilmu siluman harimaumu itu menakutkan aku?”

“Aku tidak pernah berhubungan dengan siluman yang manapun juga. Aku mencoba untuk bersikap lurus. Tetapi aku memang memelihara dua ekor harimau. Kau ingin melihatnya?” bertanya orang bongkok itu.

“Jangan kau kira aku tidak tahu” berkata orang itu

“Aku memang tidak tahu bahwa kau telah memelihara harimau sesungguhnya, tapi kau sendiri adalah seekor harimau jadi-jadian sejak kau berada di perguruan kita. Nah, sekarang kita akan berhadapan. Jika kau sebut ilmuku ilmu sesat, maka ilmumu adalah ilmu siluman.”

Orang bongkok itu mengerutkan keningnya. Katanya

“Ternyata pengetahuanmu tentang berbagai macam ilmu sangat picik. Tapi baiklah. Sekarang menyerahlah. Kau tidak akan berarti apa-apa di hadapan Ki Ajar. Tetapi kau tidak usah berhadapan dengan Ki Ajar, karena kau tidak cukup berharga untuk melayaninya.”

“Anak iblis” geram erang itu, “bersiaplah untuk mati. Semua orang akan mati.”

“Sudah aku katakan, bahwa kau ternyata sangat bodoh tidak bergabung dengan Panembahan Lebdagati. karena berdua kalian sulit untuk dikalahkan. Tetapi sekarang, kau tidak berarti lagi” sahut orang bongkok itu.

Orang itu tidak menunggu lebih lama lagi. Tiba-tiba ia telah menyerang orang bongkok itu dengan garangnya.

Si Bongkok sudah bersiap menghadapi serangan itu. Karenanya, demikian serangan datang ia telah meloncat menghindar. Bahkan ia bergeser dan meloncat turun ke halaman.

Sejenak kemudian, terjadi pertempuran sengit. Keduanya adalah orang-orang yang berilmu tinggi. Dengan meningkatkan ilmu mereka, keduanya telah bertempur semakin lama semakin cepat dan keras.

Ki Ajar bersama kedua anak muda itupun turun pula ke halaman. Melihat Manggada dan Laksana berdiri terpaku, Ki Ajar berdesis, “Si bongkok akan dapat mengatasinya.”

Tapi tiba-tiba Manggada bertanya, “Apakah benar Ki Pandi dapat menjelma menjadi seekor harimau, seperti yang dikatakan orang tua itu? Apakah benar ilmunya dapat disebut ilmu siluman?”

“O” Ki Ajar tersenyum, “sama sekali bukan. Ki Pandi itu tidak dapat menjelma menjadi seekor harimau, apalagi harimau putih sebesar kerbau. Ia tidak memiliki ilmu siluman seperti yang dikatakan- orang tua itu. Mungkin kau pernah dibayangi ujud seekor harimau lain, kecuali kedua ekor harimau yang dipelihara oleh si bongkok itu, tapi yang kalian lihat itu adalah sekedar bayangan angan-anganmu. Bentuk-bentuk semu. Memang Ki Pandi mampu melontarkan getaran semu, sehingga kedua ekor harimaunya itu seolah-olah dapat menjadi lebih banyak. Menjadi tiga, empat atau lebih.

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Hampir tidak terdengar Manggada bergumam, “Ternyata Ki Pandi adalah orang yang berilmu tinggi.”

“Ya. Ia memang berilmu tinggi. Bahkan ternyata lebih tinggi dari yang aku duga. Ketika kita bertemu dengan orang yang menyebut dirinya Panembahan Lebdagati, orang bongkok itu telah menunjukkan kemampuannya yang sebenarnya, yang sebelumnya tidak pernah aku ketahui. Agaknya selama ini, orang bongkok itu sempat memperdalam ilmunya bersama dengan kedua ekor harimaunya” jawab Ki Ajar.

Manggada dan Laksana tidak menyahut. Perhatian mereka sepenuhnya terhisap pertempuran yang sengit, antara Ki Pandi melawan orang tua yang disebutnya saudara seperguruan itu.

Bahkan beberapa saat kemudian, keduanya telah merambah ke ilmu puncak mereka. Tiba-tiba saja lawan Ki Pandi mengeluarkan dua potong belahan bambu kecil dari dalam bajunya. Kemudian dengan serta merta, ia memukul-mukulkan kedua potong belahan bambu itu satu dengan lainnya. Semakin lama semakin cepat, sehingga suaranya melengking mengetuk-ngetuk dada.

Ki Ajar tiba-tiba saja bergumam, “Hati-hatilah. Kekuatan ilmu yang terlontar dari suara itu, sama dengan kekuatan ilmu yang dilontarkan Panembahan Lebdagati. Kalian harus berusaha untuk mengatasinya dengan pemusatan nalar budi, mengerahkan daya tahanmu.”

Manggada lan Laksana memang harus melakukannya. Suara kedua potong belahan bambu itu bagaikan telah menghentak-hentak jantungnya, sehingga rasa-rasanya jantung mereka akan terlepas dari tangkainya.

Meskipun keduanya adalah anak-anak muda yang telah menempa diri lahir dan batin, menguasai ilmu kanuragan serta mempertinggi tenaga cadangan dalam dirinya, namun keduanya mengalami kesulitan untuk bertahan mengatasi serangan yang menyusup ke dalam bagian tubuh mereka melalui indera pendengaran itu. Meskipun keduanya telah menutup telinga rapat-rapat, tetapi suara itu masih juga menghentak-hentak isi dada mereka semakin keras.

Namun sejenak kemudian, Ki Pandi telah mengambil serulingnya. Sejenak kemudian, terdengar suara mengalun dari seruling itu membentur getar udara yang menghentak-hentak oleh bunyi ketukan dua potong belahan bambu cii tangan lawannya.

Keduanya ternyata memiliki ilmu yang sangat tinggi. Dua kekuatan yang ternyata seimbang, sehingga yang satu berhasil menyerap kekuatan yang lain, sehingga kedua-duanya justru seakan-akan tidak berdaya.

Orang tua yang ternyata adalah saudara seperguruan Ki Pandi itu, telah menghentikan serangannya, dengan mengetuk-ketukkan kedua belahan bambunya. Serangan itu dianggapnya tidak banyak berarti bagi lawannya. Demikianlah. Tiba-tiba saja ia telah menyerang Ki Pandi dengan mengibaskan tangannya. Serangan yang ternyata dahsyat sekali, sebagaimana dilakukan oleh Panembahan Lebdagati.

Ki Pandi yang mendapat serangan itu meloncat ke samping, secepat sambaran sinar yang seakan-akan meluncur dari telapak tangan lawannya itu.

Ki Ajar pun bersiap-siap pula menghadapi kemungkinan buruk. Jika lawan Ki Pandi itu tiba-tiba saja menyerangnya. Bahkan, ia pun telah bergeser dan berdiri dimuka Manggada dan Laksana.

Ketika beberapa kali Ki Ajar sempat melihat orang itu berpaling sekilas kepadanya, dan kedua anak muda itu, maka fapun menjadi semakin curiga. Karena itu, ia berdesis, “Berhati-hatilah. Orang itu dapat dengan curang menyerang kita.”

Namun orang itu masih juga memusatkan perhatiannya kepada Ki Pandi. Agaknya Ki Pandi kemudian tidak saja ingin berloncatan menghindar, tetapi iapun memiliki ilmu serupa. Karena itu, Ki Pandi pun ingin segera mengakhiri pertempuran itu, apapun yang terjadi.

Karena itu, ketika lawannya sekilas dilihatnya bersi ap menyerangnya, Ki Pandi tidak lagi berniat untuk menghindar. Ia telah bersiap menghadapi kemungkinan yang paling buruk, dengan membenturkan ilmunya yang serupa.

Sebenarnyalah, sejenak kemudian saudara seperguruan Ki Pandi itu telah menyerang dengan ilmunya. Tetapi Ki Pandi sudah bertekad bulat. Karena itu yang dilakukannya kemudian adalah melontarkan serangan serupa.

Sejenak kemudian, terjadi benturan dahsyat. Ilmu yang bersumber dari mata air yang sama, yang mengalami tempaan dan pengembangan untuk waktu yang lama. sehingga ilmu kedua orang itupun telah menjadi masak.

Ternyata akibatnya mengejutkan. Kedua orang itu terpental beberapa langkah. Ki Pandi jatuh terguling beberapa kali di tanah. Namun kemudian, ia sempat bangkit berdiri tegak dan bersiap menghadapi segala kemungkinan, meskipun dadanya terasa nyeri sekali. Rasa-rasanya, nafasnya menjadi sesak dan menyumbat kerongkongannya.

Lawannyapun mengalami keadaan yang sama. Bahkan lawannya tidak lagi mampu bergerak setangkas Ki Pandi. Ketika ia sempat bangkit, terasa sendi-sendi tulangnya bagaikan terlepas.

Untuk beberapa saat, Ki Pandi menunggu. Namun Ki Pandi masih harus berusaha mengatasi rasa sakitnya, sebagaimana lawannya.

Namun agaknya, kecurigaan Ki Ajar beralasan. Dalam keadaan yang belum mantap, lawan Ki Pandi itu tiba-tiba sudah mempersiapkan serangannya. Demikian cepatnya. Tidak diarahkan kepada Ki Pandi, tetapi diarahkan kepada Ki Ajar dan dua orang anak muda yang berdiri agak dibela-kangnya.

Serangan itu ternyata datang begitu cepatnya. Namun Ki Ajar yang telah menjadi curiga sejak orang itu setiap kali memandang kearahnya, ternyata telah bersiap pula. Meskipun ia tidak memiliki ilmu yang sama, tetapi Ki Ajar-pun mampu melontarkan ilmunya pula, mirip dengan ujud dan ungkapan ilmu orang itu, meskipun sumber ilmu dan kekuatannya berbeda.

Karena itu. demikian saudara seperguruan orang bongkok itu menyerangnya, ia melontarkan serangannya pula dengan sepenuh kekuatan dan kemampuan ilmunya.

Sekali lagi terjadi benturan dahsyat. Bahkan Ki Pandi yang terkejut melihat serangan yang curang itu, telah melepaskan serangannya pula kearah lawannya. Demikian tiba-tiba, didorong oleh kemarahan yang semakin membakar jantung, melihat kecurangan itu.

Benturan yang dahsyat itu ternyata telah menghancurkan bagian dalam saudara seperguruan Ki Pandi yang masih dalam keadaan belum siap benar, serta tubuhnya yang masih belum mapan setelah membentur ilmu Ki Pandi. Sementara itu, kecuali keadaan Ki Ajar yang masih tegar dan utuh, juga karena Ki Ajar sudah bersiap sepenuhnya untuk melontarkan segenap kemampuan ilmunya. Kecuali itu, ilmu Ki Ajar memang lebih tinggi dari ilmu orang itu.

Dalam keadaan yang demikian, serangan Ki Pandi, yang meskipun dengan tiba-tiba dan tidak sempat mengerahkan segenap sisa kekuatannya, ternyata ikut menentukan.

Saudara seperguruan Ki Pandi yang terlempar oleh benturan ilmu yang tidak seimbang dengan ilmu Ki Ajar itu, telah pula dikenai serangan orang bongkok itu. Karena itu, demikian orang itu terjatuh ditanah, maka ia hanya sempat menggeliat. Mati.

Manggada dan Laksana yang menyaksikan pertempuran itu, menjadi berdebar-debar. Ternyata apa yang diketahuinya selama mereka berada di perguruan, baru sebagian kecil dari dunia olah kanuragan. Ketika kemudian mereka sempat menjenguk cakrawala, maka yang dilihatnya adalah raksasa-raksasa yang belum pernah terbayang-kan sebelumnya.

Sejenak kemudian, keduanya masih saja termangu-mangu. Ki Ajar telah melangkah dengan tergesa-gesa mendekati orang bongkok yang nampak menjadi sangat lemah, setelah ia menghentakkan sisa tenaganya.

“Duduklah” berkata Ki Ajar sambil menolong orang bongkok yang terhuyung-huyung kehabisan tenaga, sehingga sulit baginya untuk mempertahankan keseimbangannya.

Orang bongkok itupun kemudian telah duduk bersila. Sementara Ki Ajar berkata, “Pergunakan kesempatan yang pendek ini untuk memperbaiki keadaanmu.

Ki Pandi mengangguk. Ia pun kemudian telah menyilangkan kedua tangannya di dada, memusatkan nalar budi serta berusaha mengatur jalan pernafasannya.

Sementara itu, Ki Ajar melangkah mendekati saudara seperguruan Ki Pandi yang terbaring diam.

Manggada lan Laksana dengan ragu-ragu mendekat pula. Sementara Ki Ajar berbisik, “Orang ini telah mati.”

Kedua anak muda itu memang melihat tubuh saudara seperguruan Ki Pandi menjadi agak kehitam-hitaman. Benturan ilmu yang tidak seimbang melawan ilmu Ki Ajar, telah membuat bagian dalam tubuhnya bagaikan terbakar.

“Ia termasuk orang yang berilmu tinggi” desis Ki Ajar, “tetapi ia tidak mempergunakan ilmunya untuk maksud-maksud yang baik. Ia telah terdampar kedalam padepokan yang mengagungkan ilmu sesat.”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Mereka harus mengakui bahwa orang yang terbunuh itu memang orang berilmu tinggi, sebagaimana orang yang bongkok itu, yang ternyata disamping ilmunya yang telah disaksikannya, ia mampu membuat ujud-ujud semu.

“Anak-anak muda” berkata Ki Ajar kemudian, “ternyata kalian telah mendapat kesempatan untuk menyaksikan dari dekat, betapa kasarnya dunia olah kanuragan itu.”

Manggada dan Laksana bagaikan terbangun dari angan-angannya yang melambung dalam putaran pengenalannya itu, ketika Ki Ajar berkata, “Lihatlah, siapakah yang masih ada di dalam. Hati-hatilah.

Kedua anak itu kemudian bergerak memasuki pintu rumah itu. Yang ada di ruang dalam adalah beberapa orang perempuan dan kanak-kanak yang ketakutan.

Tetapi Manggada dan Laksana tidak mau terjebak di dalam rumah itu. Karena itu maka katanya, “Silahkan semua orang keluar. Rumah ini harus dikosongkan.”

Orang-orang yang ada di dalam rumah itu masih gemetar ketakutan. Tetapi Laksana lah yang kemudian membentak, “Cepat keluar. Jika tidak, rumah ini akan aku bakar habis.”

Bagaimanapun juga, betapa mereka gemetar dan ketakutan, akhirnya perempuan-perempuan dan kanak-kanak itu keluar dari ruang dalam dan berkumpul di pendapa.

Mereka terkejut ketika kemudian mengetahui bahwa orang tua yang bersembunyi di antara mereka telah terbunuh di halaman rumah itu.

“Orang itu sangat berbahaya” berkata Manggada.

“Orang itu.” desis seorang perempuan.

“Katakan” desak Manggada. Perempuan-perempuan dan kanak-kanak itu justru terdiam. Sementara Ki Ajar Pangukan telah mendekati mereka pula.

“Jangan takut. Kami tidak akan berbuat jahat” berkata Ki Ajar.

Namun seorang perempuan sambil gemetar berkata perlahan, “Tetapi kau bunuh orang itu.”

“Orang itu adalah salah seorang dari mereka yang memimpin aliran sesat ini” berkata Ki Ajar.

“Tetapi ia tidak pernah berbuat jahat kepada kami” sahut perempuan itu.

“Mungkin. Tetapi jika orang-orang sejahat orang itu tidak disingkirkan, maka dunia ini tidak akan menjadi tenang” jawab Ki Ajar.

Perempuan-perempuan dan kanak-kanak itu terdiam. Sementara itu, Ki Ajar memberikan beberapa penjelasan kepada mereka untuk merelakan laki-laki itu pergi.

“Apakah laki-laki itu mempunyai sahabat dan kawan-kawan dekatnya yang tinggal di sekitar tempat ini?” bertanya Ki Ajar.

Tidak seorang pun yang menjawab.

“Yang akan kami lakukan adalah untuk kepentingan kalian semuanya. Untuk kepentingan seluruh padukuhan. Bahkan kepentingan seluruh daerah seberang hutan Jati-malang.” berkata Ki Ajar.

Perempuan-perempuan itu saling berpandangan. Namun kemudian seorang di antara mereka berkata, “Ia bukan penduduk padukuhan ini. Ia datang dari padepokan induk dan tinggal di sini untuk bersembunyi.”

“Apakah kau kenal oang itu sebelumnya?” bertanya Ki Ajar.

“Kami belum mengenalnya. Tetapi kami pernah melihatnya. Namun selama ia berada di sini, ia tidak menunjukkan sikap jahatnya” berkata perempuan-perempuan itu.

K i Ajar termangu-mangu. Apapun yang dikatakan mereka, masih harus diteliti latar belakang kehidupan perempuan-perempuan itu. Agaknya, mereka berada dalam pengaruh kepercayaan yang sesat itu. Sehingga dengan demikian, ia tidak akan dapat dengan mudah memberikan penjelasan tentang peristiwa yang baru saja terjadi.”

Karena itu, maka Ki Ajar pun kemudian berkata kepada Manggada dan Laksana, “Kita memang memerlukan waktu. Lebih baik kita tinggalkan dahulu tempat ini.”

“Bagaimana dengan tubuh itu?” bertanya Manggada.

“Kita letakkan saja di pendapa. Nanti, kita akan minta para prajurit menyelesaikannya.” berkata Ki Ajar.

Manggada dan Laksana pun mengangguk-angguk. Namun mereka harus mengangkat tubuh itu dan meletakkannya di pendapa.

“Orang ini tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi.” berkata Ki Ajar, “biarlah ia di sini. Nanti kami akan mengambilnya dan menguburkannya. Tugas kami belum selesai.”

Demikianlah, maka Ki Ajar, orang bongkok itu, Manggada dan Laksana, meninggalkan tempat itu. Mereka dengan tergesa-gesa menuju ke induk padepokan dengan mengikuti jejak para prajurit Pajang.

Namun ketika mereka sampai ke padukuhan induk, tempat itu telah bersih. Tidak terjadi pertempuran dan tidak terjadi kekerasan. Agaknya para penghuni padepokan induk itu sempat melarikan diri.

“Tetapi sebagian besar dari mereka tentu sudah ada di tangan para prajurit, ketika kita bertempur melawan mereka di sekitar rumah Ki Ajar” berkata pemimpin prajurit Pajang itu.

Ki Ajar mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Bagaimana dengan padepokan induk ini? Kita tentu tidak menghendaki lambang kehadiran kepercayaan yang sesat ini.”

Pemimpin prajurit Pajang itu pun mengangguk-angguk. Katanya, “Kita akan menghancurkannya, sebagaimana kita menghancurkan tempat dan peralatan upacara itu.”

Ki Ajar mengangguk-angguk. Katanya, “Aku sependapat. Padepokan induk ini harus dihancurkan. Di dalam padepokan ini, masih juga terdapat alat-alat upacara dari kepercayaan sesat itu. Sanggar dan beberapa macam kelengkapannya.”

Demikianlah. Sejenak kemudian, pemimpin prajurit Pajang itupun memerintahkan kepada prajurit-prajuritnya untuk menghancurkan padepokan itu.

“Tidak boleh ada satu jenis benda upacara yang boleh dimiliki oleh siapapun juga” perintah Senopati itu.

Para pemimpin kelompok telah diperintahkan untuk mengadakan pengawasan yang ketat. Di dalam beberapa ruang khusus, memang terdapat beberapa benda upacara yang mahal nilainya. Ada yang dibuat dan tembaga, perak dan bahkan ada yang dibuat dari logam yang berlapis emas.

Seorang prajurit yang sudah siap dengan obor ditangap, justru membeku diam ketika ia melihat sebuah patung kecil yang berwarna kuning mengkilap di sebuah bilik yang tertutup.

“Patung itu tentu terbuat dari emas” desisnya. Prajurit itu termangu-mangu sejenak. Namun tiba-tiba saja Senopati prajurit Pajang telah berdiri di belakangnya. Nampaknya bilik tertutup di ruang yang paling dalam itu, telah menarik perhatiannya pula.

“Patung itu emas” desis prajurit itu.

“Ya” berkata Senopati itu, “tetapi itu adalah lambang dari kesesatan. Kau lihat wajah dari patung yang mengerikan itu? Meskipun dari emas, tetapi memancarkan cahaya kegelapan. Emas itu sendiri adalah logam yang berharga. Tetapi patung itu adalah benda yang harus dimusnahkan. Patung yang oleh orang-orang berkepercayaan sesat ini telah disembah dan diagungkan. Seolah-olah patung itu mampu memberikan sesuatu kepada Panembahan Lebdagati dan penganut-penganutnya. Patung itu adalah berhala.”

Prajurit itu termangu-mangu. Sementara Senopati itu berkata, “Kau lihat landasan patung itu?”

Prajurit itu ternyata tidak memperhatikan sama sekali landasan patung yang terbuat dari emas itu. Baru kemudian ia sadar, bahwa landasan patung itu adalah sebuah tengkorak yang telah dibalut dengan tembaga sehingga yang nampak sepintas adalah sebuah landasan patung yang bagus buatannya.

“Tengkorak” desis prajurit itu.

“Ya. Agaknya lambang dari kepercayaan ini adalah tengkorak” berkata Senopati itu.

“Bukan” terdengar suara dibelakang mereka. Senopati itupun berpaling. Ki Ajar dan orang bongkok itu tejah berdiri di belakang mereka, di luar pintu.

Senopati itu menarik nafas dalam-dalam. Ruang itu terasa pengab. Sementara sebuah lampu minyak menyala di atas patung kecil itu. Bayangan di wajah patung itu, memang membayangkan cahaya hitam dari dunia kegelapan.

“Jadi, apakah lambang dari kepercayaan ini?” bertanya Senopati itu.

“Kegelapan itu sendiri. Seperti yang nampak pada wajah patung itu. Tengkorak bagi mereka adalah lambang kekuatan. Mereka percaya bahwa dengan menyimpan tengkorak yang khusus, mereka akan mendapatkan kekuatan baru di dalam dirinya. Aku justru menjadi curiga, bahwa tengkorak yang ada di ruang ini tidak hanya satu, landasan patung itu –   berkata Ki Ajar.

Senopati itu mengangguk-angguk. Sementara Ki Ajar ilan orang bongkok itu masuk ke dalam. Ternyata Manggada dan Laksana pun telah ada di situ pula. Tetapi mereka tetap berdiri di luar bilik yang tidak terlalu luas itu. Sementara itu, Ki Ajar minta agar ia tidak memasuki bilik itu.

Beberapa saat Ki Ajar meneliti isi ruangan itu. Kemudian ia mulai meraba kain putih yang menjadi alas tempat landasan patung itu diletakkan. Kain putih itu telah menyelubungi semacam peti yang besar yang nampaknya tidak pernah disentuh oleh orang lain kecuali Panembahan sendiri.

Dengan hati-hati. Ki Ajar telah menyibakkan selubung itu. Ternyata isi dari kotak yang besar itu sangat mengejutkan. Beberapa buah tengkorak.

Ki Ajar segera melepaskan selubung itu. Sambil berdiri ia berdesis, “bukan main. Tengkorak itu mengingatkan aku kepada korban-korban yang telah terbunuh oleh keris Panembahan yang diharapkannya akan dapat menjadi pusaka terbaik di dunia ini.”

Orang bongkok itu kemudian berjongkok dan sekali lagi membuka selubung itu. Bahkan ia telah mengambil sebuah di antara tengkorak-tengkorak itu dan menerangi-nya dengan lampu yang terdapat di ruang itu. Tetapi nampaknya orang bongkok itu tidak puas. Katanya kemudian, “Bawa obor itu kemari.”

Prajurit yang sudah siap dengan obor untuk membakar seluruh isi padepokan induk itupun mendekat. Dengan nyala obor yang kemerah-merahan itu diteranginya tengkorak yang diambil dari balik selubung di dalam kotak yang besar, yang menjadi alas landasan patung itu.

Terdapat beberapa goresan pada dahi tengkorak itu, yang ternyata adalah sebuah nama, “Pranti.”

Ketika orang bongkok itu mengambil lagi yang lain, maka di dahinya terdapat pula nama, “Warsi.”

Orang bongkok itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ya. Tengkorak itu adalah tengkorak gadis-gadis yang dikorbankan untuk kepentingan kepercayaan sesat ini.”

Ki Ajar mengangguk-angguk kecil sambil mengusap dadanya.

-ooOdw-aremaOoo-

bersambung ke jilid 2

Sumber djvu : Koleksi Ismoyo

http://cersilindonesia.wordpress.com

Ebook : Dewi KZ

http://kangzusi.com/ atau http://ebook-dewikz.com/

http://kang-zusi.info http://dewikz.byethost22.com/

Diedit ulang oleh Ki Arema

kembali | lanjut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s