AM_MC-03


Serial ARYA MANGGADA

Episode I: MENJENGUK CAKRAWALA

JILID 3

kembali | lanjut

AMMC-03KI DEMANG PUN mengangguk-angguk. Akhirnya atas persetujuan para petugas sandi dari Pajang, orang-orang yang tertawan itu telah dihadapkannya, termasuk pemimpin dari orang-orang yang telah mencegat mereka meskipun orang itu terluka.

“Aku tidak mempunyai banyak waktu,” berkata Ki Demang. “Jawab pertanyaanku atau kalian akan aku lempar ke tangan orang-orangku yang marah. Jika kalian masih mempunyai arti bagi kami maka kami akan mempertahankan hidup kalian. Bahkan jika kalian memberikan jalan yang terang bagi kami, maka kami akan tetap berbuat baik atas kalian. Tetapi jika kalian memang tidak mau bekerja bersama kami, maka kalian memang tidak berarti lagi. Sepantasnya kalian dilemparkan kepada orang-orang padukuhan yang marah itu. Apalagi mereka yang telah kehilangan anak gadisnya.”

“Ki Demang,” berkata pemimpin dari sekelompok orang yang berusaha membebaskan kedua kawannya namun yang justru telah tertangkap pula, “kami hanya bertugas mengambil gadis-gadis yang sudah ditunjuk oleh pimpinan kami.”

“Siapakah pimpinan kalian?” bertanya Ki Demang.

“Kami memang tidak banyak mengenal. Yang kami kenali hanyalah namanya saja. Itu pun mungkin bukan namanya yang sebenarnya,” berkata orang itu.

“Katakan, siapakah nama itu?” bertanya Ki Demang.

“Apakah ada artinya bagi Ki Demang?” bertanya orang itu.

“Sebut,” desak Ki Demang.

“Singa Ireng,” jawab orang itu.

Ki Demang memandang ketiga orang petugas sandi itu berganti-ganti. Tetapi tidak ada seorang pun di antara mereka yang pernah mendengar nama itu. Benar kata orang itu, bahwa nama memang tidak penting bagi mereka, karena seseorang akan dapat bertukar nama sepuluh kali dalam sehari.

“Baiklah,” berkata salah seorang di antara para petugas sandi dari Pajang itu. “Nama itu akan dapat menyesatkan. Tetapi kemana gadis-gadis itu kalian bawa?”

“Kami mempunyai satu tempat sebagaimana mereka tentukan untuk menyerahkan gadis-gadis itu. Selebihnya kami tidak tahu, mereka akan dibawa kemana,” jawab orang itu.

Tetapi petugas sandi dari Pajang itu tertawa. Katanya, “Kau aneh. Kau anggap kami anak-anak kecil yang dengan mudah dapat kau kelabuhi. Ki Sanak, sebaiknya kau berkata terus terang daripada kami harus menyerahkan kalian kepada orang-orang di halaman itu. Mereka memang sangat marah terhadap kalian.”

“Aku berkata sebenarnya,” berkata orang itu.

“Baiklah. Katakan, kami percaya kepada kalian. Dengan demikian maka kami akan membawa kalian ke tempat yang kau katakan itu,” berkata salah seorang di antara para petugas sandi itu.

“Tempat itu tidak tentu,” jawab orang itu.

Hampir berbareng ketiga orang petugas sandi itu tertawa. Seorang di antaranya berkata, “Tepat. Jawaban seperti itulah yang harus kau ucapkan. Jika kau menjawab lain, maka kau akan membuat kejutan.”

Wajah orang itu menjadi pucat. Sementara itu, salah seorang petugas sandi itu berkata kepada Ki Demang, “Nampaknya orang ini tidak berarti apa-apa bagi kita, Ki Demang. Yang dikatakan adalah apa yang telah kami duga sebelumnya, sehingga orang ini tidak akan dapat memberi petunjuk apapun juga. Karena itu, mumpung ia masih terluka cukup parah, agar kita tidak bersusah payah mengobatinya, maka serahkan saja orang ini kepada orang-orang padukuhan di luar. Apa saja yang akan mereka lakukan terhadap orang ini, kita tidak usah ikut campur.”

Manggada menjadi berdebar-debar mendengar ancaman itu. Namun ia masih belum yakin bahwa ancaman itu benar-benar akan dilakukan.

Dalam pada itu, maka orang yang sedang terluka itu pun memohon, “Jangan. Jangan serahkan aku kepada mereka. Jika kalian ingin membunuhku, bunuh sajalah. Aku tidak akan menyesali nasibku. Tetapi jangan serahkan aku kepada mereka.”

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kenapa kau tidak mau membantu kami? Coba bayangkan, jika anak gadismulah yang hilang, apakah kau tidak akan menjadi bingung dan barangkali dapat kehilangan akal?”

Orang itu termangu-mangu.

“Kita tidak mempunyai pilihan lain,” berkata Ki Demang. Lalu, “Seorang demi seorang akan kami dengar keterangannya. Mereka yang tidak dapat memberikan keterangan apapun juga akan kami serahkan kepada orang-orang yang marah itu.”

Wajah orang yang terluka itu menjadi pucat. Katanya, “Apakah sebenarnya yang kalian kehendaki?”

“Kau jangan berpura-pura dungu seperti itu. Kesabaran seseorang akan dapat sampai ke batas,” jawab Ki Demang.

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Lukanya memang masih terasa sakit. Namun kemudian dipandanginya wajah kawan-kawannya. Lalu katanya, “Kita tidak mempunyai pilihan lain. Aku tidak mau mati di tangan orang-orang gila di halaman itu.”

Kawan-kawannya tidak menjawab. Mereka mengerti, bahwa mereka tidak akan dapat ingkar. Namun orang itu masih juga berkata, “Baiklah. Aku akan membantu kalian. Tetapi menurut perhitunganku, mereka tentu sudah memindahkan sarang mereka karena mereka tentu sudah mendengar bahwa kami tertangkap. Mereka tentu akan mengalihkan sarang mereka, karena mereka tentu sudah memperhitungkan kemungkinan bahwa sekelompok orang akan mencari mereka. Mereka tentu sudah memperhitungkan bahwa kami tidak akan mampu mempertahankan kerahasiaan sarang kami.”

“Mencari jejak bukan semata-mata menemukan sarang mereka. Tetapi kau tentu tahu sayap-sayap gerakan mereka. Siapa saja yang pernah mereka hubungi dan untuk apakah gadis-gadis yang telah mereka culik dari keluarga mereka itu,” berkata salah seorang petugas sandi itu.

Menghadapi para petugas sandi itu, maka orang-orang yang tertawan itu tidak dapat terlalu banyak mengelakkan pertanyaan-pertanyaan yang mereka berikan. Ketiga orang petugas sandi itu adalah orang-orang yang sangat berpengalaman.

Dalam keadaan seperti itulah, maka orang-orang itu akhirnya harus mengatakan, bahwa jalur perdagangan gadis-gadis itu sudah demikian luasnya. Beberapa orang kaya yang tidak berpijak pada kehidupan wajar dengan landasan nilai-nilai kemanusiaan.

Ketika hal itu dikatakan oleh orang-orang tertawan, maka ketiga orang petugas sandi itu sama sekali tidak terkejut. Mereka memang sudah menduga, bahwa akhirnya mereka akan berhadapan dengan sekelompok orang yang meng-anggap kekayaan mereka adalah segala-galanya.

Tetapi di luar dugaannya, tawanan yang tertua di antara mereka berkata, “Baiklah, Ki Sanak. Nampaknya aku memang sudah tidak mendapat kesempatan lain untuk mengurangi beban kesalahanku. Bukan terhadap kalian, bukan terhadap Ki Demang dan bukan terhadap Sultan di Pajang sekalipun, tetapi kepada Yang Maha Kuasa. Saat-saat maut mulai mengintip, maka aku mulai menyadari, bahwa aku harus mempergunakan sisa-sisa hidup ini untuk mengurangi panasnya api neraka.”

“Apa yang akan kau katakan?” bertanya salah seorang petugas sandi itu.

Jawabnya memang sangat mengejutkan, “Ki Sanak, di samping orang-orang kaya yang memiliki kesenangan mengumpulkan gadis-gadis untuk melepaskan nafsu mereka, ternyata ada orang-orang yang lebih terkutuk lagi. Orang-orang dari aliran sesat yang mempergunakan gadis-gadis untuk korban pemujaan mereka.”

Tiba-tiba salah seorang petugas sandi telah mencengkam pundaknya sambil membentak keras, “Kau berkata sebenarnya?”

“Ya,” jawab orang itu yang justru telah menjadi tenang. “Rasa-rasanya beban di dalam jantung ini telah aku letakkan. Aku sudah mengatakannya.”

“Dimana mereka bersarang?” bertanya petugas sandi itu.

“Mereka tentu sudah menyingkir dari sarang mereka seperti yang telah kami katakan,” jawab orang itu.

“Tetapi kenapa mereka harus berhubungan dengan kalian? Bukankah mereka dapat melakukannya sendiri, mengambil gadis-gadis dimana saja?” berkata petugas sandi itu.

“Mungkin demikian. Tetapi mereka memerlukan gadis-gadis yang khusus. Gadis-gadis dengan syarat tertentu, sehingga mereka kadang-kadang mendapat kesukaran untuk mencarinya karena jumlah mereka memang tidak begitu banyak,” jawab orang itu.

Petugas sandi itu mengangguk-angguk. Agaknya hal itulah yang lebih menarik perhatian mereka daripada alasan yang pertama, yang memang sudah diduga sebelumnya.

Dalam pada itu, nampaknya para petugas sandi itu telah memusatkan perhatian mereka terutama pada kemungkinan yang kedua. Jika gadis-gadis itu jatuh ke tangan orang-orang kaya, betapapun menderita batin mereka, namun masih ada kemungkinan untuk menyelamatkan mereka. Tetapi jika gadis-gadis itu jatuh ke tangan orang-orang yang menganut aliran sesat, maka umurnya akan segera berakhir.

Dengan suara yang berat salah seorang petugas sandi itu bertanya, “Kau tahu, apa yang dilakukan oleh orang-orang sesat itu terhadap gadis-gadis yang dikehendakinya?”

“Mereka akan dijadikan korban. Agaknya umur mereka akan diakhiri di atas batu persembahan,” jawab orang tua itu.

“Apakah syarat yang mereka kehendaki atas gadis-gadis itu?” bertanya petugas sandi itu.

“Gadis itu harus anak sulung. Ia tidak boleh mempunyai saudara perempuan di dalam keluarganya dan gadis itu harus gadis yang lengkap, tidak cacat lahiriah dan rohaniah, sedangkan umurnya tidak boleh kurang dari limabelas tahun dan tidak boleh lebih dari duapuluh tahun. Syarat itulah agaknya yang telah mendorong orang-orang sesat itu berhubungan dengan kami yang mempunyai jaringan lebih luas untuk mendapatkan gadis-gadis sebagaimana mereka kehendaki,” berkata orang itu.

“Tetapi bukankah kau dapat menipunya? Kau dapat menyerahkan perempuan yang manapun asal ujudnya masih pantas disebut berumur antara limabelas dan duapuluh tahun. Apakah gadis itu anak sulung atau bukan, atau mempunyai saudara perempuan atau tidak dan syarat-syarat yang lain,” berkata petugas sandi itu.

Tetapi orang itu menggeleng. Katanya, “Tidak. Kami tidak dapat menipu mereka. Ketika pada suatu kali kami serahkan seorang gadis yang ternyata bukan anak sulung, orang-orang itu dapat mengetahuinya. Dan gadis itulah yang justru mendapat nasib lebih buruk lagi. Selain itu, maka kutuk pun telah menimpa kawan kami yang mencoba menipu mereka itu. Dua orang kawan kami tiba-tiba saja mati tanpa sebab. Tubuhnya berbintik-bintik biru. Matanya merah dan lidahnya tergigit oleh gigi mereka sendiri.”

“Sangat mengerikan,” desis petugas sandi itu.

Namun seorang kawannya berkata, “Kita harus menemukan mereka dengan cepat. Di samping itu maka kita akan menelusuri jalur dari orang-orang kaya yang kehilangan pijakan kemanusiaannya itu.”

“Tetapi Ki Sanak,” berkata orang itu, “berhati-hatilah. Mereka memiliki kekuatan yang tidak dapat diabaikan. Bahkan mungkin sebelum Ki Sanak bertindak, merekalah yang lebih dahulu justru datang kemari. Mereka tentu akan mengambil kami sebagaimana kami akan mengambil kedua orang kawan kami yang tertawan itu. Tetapi jika gagal, maka mereka tentu akan membunuh kami.”

“Tetapi menurut kalian, bukankah jumlah mereka tidak banyak, terutama orang yang mengikuti aliran sesat itu?” bertanya salah seorang di antara petugas sandi itu.

“Kadang-kadang dalam kepentingan yang khusus, mereka dapat bergabung. Orang-orang berilmu sesat tetapi berilmu sangat tinggi itu, dengan kawan-kawan kami, penjual gadis-gadis yang kami culik dari orang-orang padukuhan,” jawab orang itu.

Para petugas sandi dari Pajang itu termangu-mangu. Namun agaknya mereka dapat mempercayai keterangan orang itu, sehingga karena itu, maka salah seorang di antara mereka berkata, “Kita akan berbicara di antara kita.”

Ki Demang nampaknya tanggap akan niat petugas sandi itu. Karena itu, maka para tawanan itupun segera disingkirkannya.

Namun salah seorang petugas sandipun berkata, “Jaga mereka baik-baik. Bukan saja mereka mungkin melarikan diri. Tetapi justru orang lain datang kepada mereka dan membunuh mereka. Kita masih memerlukan mereka.”

Demikianlah, maka orang-orang itu pun telah dibawa justru masuk ke dalam bilik di dalam banjar agar tidak ada seorangpun yang akan dapat berbuat sesuatu atas mereka. Bahkan para petugas sandi pun telah memperingatkan, agar atap pun diawasi dengan baik.

“Tidak mustahil mereka membunuh kawan-kawannya dengan menyibak atap,” berkata salah seorang petugas sandi itu.

Dengan demikian maka pengawasan di sekitar banjar itu pun dilakukan dengan cermat sekali. Hampir di setiap langkah di seputar banjar itu berdiri seorang dengan senjata di tangan.

Dalam pada itu, para petugas sandi itu pun telah berbicara dengan Ki Demang dan Ki Bekel. Namun Ki Bekel telah minta agar Ki Wiradadi dan dua orang anak muda yang telah membantu mereka ikut pula berbicara bersama mereka.

“Siapakah kedua orang anak muda itu?” bertanya salah seorang petugas sandi.

“Kami belum mengenal mereka lebih banyak selain nama mereka. Yang seorang Manggada sedang yang lain Laksana. Mereka bersaudara meskipun sepupu,” jawab Ki Bekel.

“Apa yang dapat mereka lakukan?” bertanya petugas sandi itu.

Ki Bekel pun kemudian telah memanggil Ki Wiradadi dan mempersilahkannya untuk berceritera tentang kedua anak muda itu.

“Nampaknya keduanya akan dapat membantu kita,” berkata Ki Wiradadi.

“Tetapi apakah keduanya benar-benar dapat dipercaya?” bertanya petugas sandi itu.

“Aku percaya kepada mereka,” sahut Ki Wiradadi.

“Apakah mereka tidak mempunyai pamrih yang tersembunyi?” bertanya petugas sandi itu pula.

Ki Wiradadi menggeleng. Katanya, “Aku tidak melihat itu. Entahlah jika aku tidak mampu menangkap gejolak perasaan mereka. Namun selama ini menurut pengamatanku, mereka cukup meyakinkan.”

Petugas sandi itu termangu-mangu. Namun katanya kemudian, “Mungkin mereka memang dapat dipercaya. Tetapi mereka masih terlalu muda untuk ikut berbicara bersama kita. Biarlah mereka tidak usah berada di antara kita. Kita akan memberitahukan apa yang akan kita lakukan, dan membawa mereka bersama kita kelak.”

Ki Wiradadi termangu-mangu. Namun katanya, “Mereka memang masih muda. Tetapi mereka mempunyai gagasan yang mapan dan bahkan kadang-kadang tidak terpikirkan oleh yang tua-tua ini.”

Para petugas sandi itu termangu-mangu sejenak. Namun seorang di antara mereka, yang nampaknya yang memimpin kelompok kecil itu berkata, “Biarlah mereka menunggu. Kita akan berbicara disini.”

Ki Wiradadi tidak memaksakan keinginannya. Demikian pula Ki Bekel. Sehingga karena itu, maka Manggada dan Laksana tetap berada di luar.

Ternyata para petugas sandi dan para pemimpin kademangan itu tidak akan mengambil sikap dengan tergesa-gesa. Berdasarkan keterangan dari orang-orang yang tertawan, maka mereka harus meyakinkan dahulu sasaran yang akan mereka tuju. Dengan keterangan yang masih akan mereka minta untuk dilengkapi, maka para petugas sandi itu lebih dahulu akan menyelidiki sekelompok orang yang beraliran sesat itu.

“Satu tugas yang berbahaya,” berkata Ki Demang.

“Karena itu, biarlah hal ini kami lakukan sendiri. Apalagi anak-anak muda itu tidak boleh terlibat ke dalam tugas ini,” berkata para petugas sandi. Lalu katanya kemudian, “Yang aku maksud dengan kami itu pun akan berkembang. Kami akan minta bantuan dari pimpinan petugas sandi di Pajang untuk melakukan tugas ini.”

“Jadi kami harus menunggu?” bertanya Ki Wiradadi.

“Ya,” jawab petugas sandi itu.

“Tetapi sampai kapan?” bertanya Ki Wiradadi. “Aku juga harus menyelamatkan anakku.”

“Aku mengerti. Tetapi kerja ini harus berhasil baik. Bukan justru menambah korban,” berkata petugas sandi itu.

Tetapi rasa-rasanya Ki Wiradadi tidak terlalu sabar untuk menunggu. Karena itu maka katanya, “Ki Sanak, kami akan sangat berterima kasih atas kesediaan para petugas dari Pajang langsung menangani persoalan ini. Tetapi aku harus menyelamatkan anakku secepat-cepatnya.”

“Aku mengerti, Ki Wiradadi,” berkata pemimpin dari petugas sandi itu. “Tetapi Ki Wiradadi juga harus dapat menahan diri. Persoalannya bukan sekedar anak gadis Ki Wiradadi. Tetapi beberapa orang gadis yang bagi orang tua masing-masing akan bernilai sama dengan anak gadis Ki Wiradadi itu.”

Ki Wiradadi menarik nafas dalam-dalam. Ia memang dapat mengerti dengan nalarnya. Tetapi rasa-rasanya jantungnya tidak lagi dapat diredakan.

Dalam pada itu, Manggada dan Laksana yang tidak ikut dalam pembicaraan itupun telah duduk di tangga pendapa banjar itu. Mereka masih melihat anak-anak muda. yang berjalan hilir-mudik. Bukan saja mereka yang bertugas, tetapi beberapa kelompok anak muda yang ingin mengetahui perkembangan dari persoalan yang sedang mereka hadapi bersama-sama. Bahkan satu dua orang anak muda yang adiknya juga hilang dari keluarga mereka, merasa berhak ikut serta melakukan sesuatu untuk membebaskan adik-adiknya itu.

Tetapi tiba-tiba saja Laksana itupun berkata, “Buat apa sebenarnya kita masih saja disini? Mereka sama sekali tidak menganggap perlu atas kehadiran kita disini. Mereka telah berbicara tentang gadis-gadis yang hilang itu. Mereka merasa akan dapat menyelesaikan persoalan mereka.”

Manggada menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Baiklah kita menunggu.”

“Buat apa?” bertanya Laksana. “Biar mereka mengurusi persoalan mereka. Kita sudah berusaha menolong mereka. Tetapi mereka tidak memerlukan kita sama sekali.”

“Mungkin kita akan dapat berbuat sesuatu,” desis Manggada.

“Apa peduli kita atas mereka? Kita sudah berbuat baik menurut pengertian kita. Tetapi kita sama sekali tidak dipedulikan sama sekali dalam pembicaraan-pembicaraan selanjutnya. Aku tidak bermaksud untuk mendapatkan pujian atau dianggap sebagai seorang pahlawan dalam hal itu. Tetapi aku ingin berbuat lebih baik dari yang pernah kita lakukan. Barangkali sekedar membantu mereka. Tetapi nampaknya mereka tidak memerlukan kita lagi. Bukankah telah ada orang lain yang lebih berarti dari kita?” berkata Laksana.

Tetapi Manggada berkata, “Jangan. Kita tidak memerlukan perhatian mereka. Kita akan menunggu. Jika pada suatu saat kita yakin bahwa kita memang tidak diperlukan, kita akan pergi. Tetapi pembicaraan itu masih berlangsung sehingga kita belum tahu apakah kesimpulan dari pembicaraan itu.”

“Seharusnya mereka mengajak kita dalam pembicaraan itu,” geram Laksana.

“Itu tidak perlu. Bagi kita, cukup menunggu kesimpulannya saja,” berkata Manggada.

“Menunggu kesimpulannya saja? Kemudian mereka memerintahkan kepada kita untuk melakukan sesuatu?” bertanya Laksana.

“Bukan maksudku bahwa kita berada di bawah perintah mereka. Jika kesimpulan itu sudah diambil, barangkali ada yang sesuai bagi kita,” berkata Manggada.

“Sesuai atau tidak, kita tidak bertanggung jawab,” berkata Laksana sambil melemparkan pandangan matanya ke kejauhan.

“Memang tidak. Tetapi bukankah yang penting bagi kita, dengan melibatkan diri kita akan mendapatkan pengalaman? Suatu kesempatan yang baik sekali. Kita mendapat kesempatan untuk menjajagi kemampuan kita di antara mereka yang bergerak di dunia olah kanuragan dalam ruang gerak yang agak luas, tetapi kita tidak bertanggung jawab. Kita hanya ikut-ikutan saja, sehingga kita tidak akan mendapat beban jiwani jika kita gagal,” berkata Manggada.

Laksana termangu-mangu. Namun ia pun kemudian tersenyum sambil berkata, “Kau benar. Kita akan mendapatkan pengalaman.”

“Nah, bukankah pengalaman itu penting bagi kita?” bertanya Manggada.

“Ya. Kita sudah merasakan. Dengan pengalaman yang sedikit ini, maka kita dapat melihat kembali ke dalam ilmu kita. Unsur-unsur yang pernah kita pelajari merupakan landasan dasar. Namun dalam benturan ilmu yang sebenarnya, maka unsur-unsur itu akan segera berkembang,” berkata Laksana.

Manggada tersenyum. Sambil menepuk bahu Laksana ia berkata, “Nah, bukankah kita harus tinggal disini?”

Laksana mengangguk-angguk.

Beberapa saat lamanya keduanya masih harus menunggu. Rasa-rasanya memang sudah lama sekali sehingga Laksana hampir menjadi jemu karenanya. Bahkan demikian pula anak-anak muda yang menunggu di halaman dan di luar regol halaman banjar itu.

Dua orang anak muda telah mendekati Manggada dan Laksana. Seorang di antara mereka bertanya, “Apa saja yang dibicarakan di dalam?”

Manggadalah yang menjawab, “Mereka sedang menentukan langkah-langkah. Mungkin mereka masih mendengarkan keterangan para tawanan. Atau mereka sedang mengurai keadaan.”

“Kenapa mereka tidak dengan cepat mengambil kesimpul-an, sehingga segera dapat berbuat sesuatu?” berkata anak muda itu. “Bahwa beberapa orang di antara mereka tertangkap, tentu akan membuat mereka melakukan langkah-langkah pengamanan.”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Ternyata anak-anak muda padukuhan itu pun mampu berpikir tajam menanggapi keadaan. Namun bagaimanapun juga mereka memang harus menunggu.

Beberapa saat kemudian, maka beberapa orang yang ada di ruang dalam banjar itu pun telah selesai berbicara. Para petugas sandi dari Pajang telah menentukan sikap. Dua di antara mereka akan langsung turun ke medan, sementara yang seorang akan membuat laporan-laporan dan menyiapkan tenaga yang cukup apabila diperlukan. Akan dibentuk satu pasukan kecil yang khusus menangani persoalan hilangnya gadis-gadis dari beberapa padukuhan.

Ketika kemudian anak-anak muda yang berada di halaman itu bergeser mendekati pendapa, maka Ki Demang telah maju pula dan berbicara kepada mereka.

“Segala sesuatunya telah ditentukan,” berkata Ki Demang. “Sekarang kita dapat pulang ke rumah kita masing-masing. Tetapi kita semuanya harus selalu bersiap. Setiap saat kita akan bertindak.”

Namun tiba-tiba seorang separo baya bertanya, “Setiap saat bagaimana, Ki Demang? Persoalan yang gawat ini telah berlangsung beberapa saat. Jika kita masih menunggu, apakah kita akan dapat menolong anak-anak kita itu? Atau kita memang menunggu mereka menjadi debu? Anak gadisku telah hilang lebih dari sepuluh hari yang lalu. Sebelum gadis yang terakhir, anak Ki Wiradadi juga hilang beberapa lama kemudian.”

“Kau benar,” sahut Ki Demang. “Tetapi kita menghadapi kekuatan yang harus kita perhitungkan. Kita tidak dapat berbuat dengan tergesa-gesa. Kita harus menghitung langkah. Seandainya kita akan bertindak sekarang, apa yang harus kita lakukan? Jika kita menyerang sarang mereka sebagaimana dikatakan para tawanan, maka sarang mereka itu tentu sudah kosong. Lalu kita harus berbuat apa?”

Laki-laki separo baya itu termangu-mangu. Yang dikatakan oleh Ki Demang itu memang benar. Tetapi rasa-rasanya menunggu dan menunggu itu terlalu menyiksanya.

Sementara itu, seorang laki-laki yang lain bertanya, “Lalu tindakan apa yang segera dapat diambil?”

“Percayakan itu kepada kami,” berkata Ki Demang. “Sejak saat ini kita sudah berbuat sesuatu. Kami memang tidak menunggu sampai nanti atau apalagi besok. Tetapi langkah-langkah kami memakai perhitungan seutuhnya. Kita tidak ingin korban semakin banyak. Apalagi korban yang seharusnya tidak perlu terjadi.”

Tidak ada seorang pun yang bertanya lagi. Ketika Ki Demang kemudian memerintahkan mereka pulang, maka seorang demi seorang telah meninggalkan halaman banjar itu, sehingga yang tinggal hanyalah mereka yang bertugas. Orang-orang padukuhan itu dan beberapa padukuhan yang lain yang pernah kehilangan anak gadisnya berusaha untuk percaya kepada keterangan Ki Demang yang selama memerintah memang mereka akui, telah berusaha berbuat apa saja bagi rakyatnya.

Namun seorang di antara orang-orang yang gelisah itu berkata, “Tetapi para pemimpin itu tidak mengatakan, langkah-langkah apakah yang akan mereka ambil?”

Kawannya yang lebih tua dan berpengalaman menjawab, “Tentu telah dirahasiakan. Jika Ki Demang itu mengatakan kepada kita langkah-langkah yang akan diambilnya, maka banyak orang yang akan mendengar sehingga akhirnya orang yang akan dicari itu pun mendengarnya pula.”

Orang yang pertama itu mengangguk-angguk. Ia dapat mengerti alasan yang diberikan oleh kawannya. Apalagi ketika kawannya itu berkata, “Yang harus kita lakukan adalah, bahwa kita harus bersiap-siap menghadapi kemungkinan-kemungkin-an yang mungkin tidak kita duga sebelumnya.”

“Ya,” berkata orang yang pertama, “apapun dapat terjadi. Tetapi kita tidak akan dapat tinggal diam jika anak-anak kita itu diambil seorang demi seorang.”

Mereka pun kemudian terdiam. Yang nampak hanyalah ketegangan di wajah kedua orang itu.

Di banjar, Manggada dan Laksana masih duduk di tempatnya. Di pendapa beberapa orang masih berbicara sambil berdiri. Namun akhirnya Ki Demang dan beberapa orang itu pun telah minta diri.

Yang didengar oleh Manggada dan Laksana adalah pernyataan salah seorang di antara mereka, “Kita jangan ketinggalan waktu. Banyak hal dapat terjadi. Kita harus berbuat hari ini juga.”

Manggada dan Laksana menarik nafas dalam-dalam. Tetapi mereka sama sekali tidak berbuat apa-apa. Mereka hanya mengamati saja ketika para pemimpin yang kemudian melangkah meninggalkan pendapa diikuti oleh Ki Bekel dan Ki Wiradadi.

Sejenak kemudian, maka Ki Bekel yang mengantar tamu-tamunya sampai ke regol telah kembali melintasi halaman. Namun Ki Bekel dan Ki Wiradadi itu kemudian terhenti di tangga pendapa. Bahkan Ki Wiradadi itu pun kemudian memanggil, “Marilah, anak-anak muda. Kita berbicara di dalam.”

“Apakah kami perlu ikut berbicara?” jawab Laksana.

Dengan sikunya Manggada telah menggamit Laksana. Bahkan Manggada itu pun bangkit sambil menjawab, “Baiklah. Kami akan menyertai setiap pembicaraan sepanjang kami diijinkan.”

Ki Bekel itu memandang Ki Wiradadi sejenak. Namun keduanya tidak mengatakan sesuatu.

Demikianlah, maka mereka pun kemudian telah mengikuti Ki Bekel dan Ki Wiradadi ke ruang dalam.

Sejenak kemudian, mereka berempat telah duduk di ruang tengah banjar padukuhan. Tampaknya Ki Wiradadi tidak dapat terlalu sabar menunggu.

Karena itu, maka katanya, “Ki Bekel, bukan berarti bahwa kita tidak percaya kepada para petugas sandi Pajang. Tetapi sebagai salah seorang dari orang tua anak-anak gadis yang hilang, apakah Ki Bekel membenarkan jika aku juga berbuat sesuatu untuk mencari anakku? Jika Ki Bekel membenarkan-nya, aku akan minta pertolongan kedua anak muda ini untuk dapat ikut bersamaku. Meskipun mereka masih muda, tetapi agaknya mereka memiliki kemampuan tinggi, sehingga keduanya dapat benar-benar membantuku dalam kesulitan. Barangkali aku juga masih memerlukan beberapa orang lagi yang pada satu saat akan bergerak bersamaku.”

Ki Bekel termangu-mangu. Ketika ia berpaling kepada kedua anak muda yang duduk di sebelah Ki Wiradadi, maka dilihatnya kedua anak muda itu menundukkan kepalanya.

Namun dari ujudnya serta apa yang telah dilakukannya, maka keduanya memang memiliki kelebihan dari anak-anak muda yang lain. Apalagi yang sebayanya.

“Ki Wiradadi,” berkata Ki Bekel, “aku adalah seorang bebahu yang berada di bawah perintah Ki Demang. Karena itu, maka aku tidak akan dapat mengambil kebijaksanaan sendiri dalam satu persoalan apabila Ki Demang sudah mengambil kebijaksanaan lebih dahulu. Yang harus kulakukan adalah melaksanakan kebijaksanaan yang telah diambil oleh Ki Demang itu.” Ki Bekel itu pun berhenti sejenak, lalu, “Karena itu, maka aku sudah barang tentu tidak akan dapat menyetujui rencana Ki Wiradadi.”

Ki Wiradadi menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Bukankah aku tidak mengganggu apa yang telah diputuskan oleh Ki Demang? Jika aku melakukannya, adalah atas tanggung jawabku sendiri. Seandainya harus jatuh korban, maka aku tidak akan berkeberatan.” Ki Wiradadi itupun kemudian berpaling kepada Manggada dan Laksana. “Bagaimana, anak-anak muda? Bersediakah kalian bersama kami mencari jejak hilangnya gadis-gadis itu tanpa meng-ganggu tugas para prajurit sandi dari Pajang? Biarlah mereka mengadakan penyelidikan. Sementara itu, kita juga melakukannya sendiri. Aku masih berharap bahwa anakku dan syukurlah seandainya beberapa orang gadis yang lain masih dapat kita selamatkan.”

Manggada mengangguk-angguk kecil. Katanya, “Jika hal itu tidak dianggap melanggar paugeran Pajang, maka kami tidak akan berkeberatan.”

“Tentu tidak. Jika para prajurit sandi itu menghendaki agar kita mempercayakan saja kepada mereka, maka agaknya agar tidak jatuh korban lebih banyak lagi. Atau, yang terselamatkan hanya satu dua orang gadis saja sehingga lainnya akan segera dilenyapkan oleh orang-orang yang menculik gadis-gadis itu untuk menghilangkan jejak,” jawab Ki Wiradadi. Lalu, “Jika hal ini kita sadari sungguh-sungguh, maka kita akan menjadi sangat hati-hati, agar tidak terjadi hal seperti itu. Terutama usaha untuk menghilangkan jejak, karena dengan demikian beberapa orang gadis memang akan dapat menjadi korban.”

“Tetapi jika hal itu terjadi,” berkata Ki Bekel, “kita harus menyadari bahwa orang-orang yang telah menculik gadis-gadis itu tentu orang-orang yang tidak lagi mengenal perikemanusiaan. Baik mereka yang mengumpulkan gadis-gadis muda untuk kesenangan dan pemanjaan nafsu rendahnya maupun mereka yang sampai saat ini masih saja menganut adat dan kepercayaan mengorbankan gadis yang dianggapnya masih bersih.”

“Kita akan berusaha, Ki Bekel. Taruhannya adalah jiwa kami,” jawab Ki Wiradadi.

“Tetapi sudah tentu bukan anak-anak muda ini. Mereka masih terlalu muda untuk mati, sebagaimana gadis-gadis yang hilang itu. Ki Wiradadi sebaiknya jangan mempertaruhkan jiwa anak-anak muda ini,” berkata Ki Bekel.

Ki Wiradadi menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti keberatan Ki Bekel. Karena itu, iapun tertunduk diam.

Namun justru Manggada lah yang berkata, “Ki Bekel, kami memang berkeberatan jika kami harus mengorbankan nyawa kami untuk satu kepentingan yang kurang kupahami. Tetapi bukan berarti bahwa kami akan membiarkan saja kejahatan seperti ini berlangsung. Karena itu, maka kami berdua tidak berkeberatan membantu Ki Wiradadi. Kami akan berusaha melindungi nyawa kami. Namun bukankah segala sesuatunya ada di tangan Yang Maha Agung?”

Ki Bekel mengerutkan keningnya. Dengan nada rendah ia berkata, “Kalian masih muda. Tetapi cara berpikir dan bersikap kalian telah cukup dewasa. Seandainya aku tidak melihat ujud kalian, maka aku akan menyangka bahwa aku sedang berbicara dengan Ki Wiradadi.”

“Ah,” desis Manggada, “kami hanya sekedar mengikuti perasaan kami.”

Ki Bekel termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya kepada Ki Wiradadi, “Ki Wiradadi, seperti yang kukatakan, sudah tentu aku tidak dapat menyetujui rencana Ki Wiradadi. Tetapi aku pun menyadari bahwa sebaiknya aku tidak mencegahnya. Karena itu, segala sesuatunya terserah saja kepada Ki Wiradadi. Aku tidak tahu apa yang kau lakukan. Aku tidak akan terlibat apapun yang akan terjadi.”

Ki Wiradadi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Itu sudah cukup, Ki Bekel. Aku mengucapkan terima kasih. Akupun berjanji untuk berbuat sebaik-baiknya bagi segala pihak. Aku sadar, bahwa aku tidak boleh sekadar mementingkan diri sendiri.”

“Silakan, Ki Wiradadi,” berkata Ki Bekel. “Aku tidak tahu-menahu apa yang akan Ki Wiradadi lakukan.”

“Kami mohon restu meskipun itu sekadar di dalam hati, karena aku tahu bahwa Ki Bekel tidak akan memberikannya secara lesan, yang akan berarti bahwa Ki Bekel menyetujui rencana kami,” berkata Ki Wiradadi.

Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya, “Aku akan kembali. Para pengawal sudah tahu akan kewajiban untuk menjaga para tawanan itu.”

Ki Wiradadi termangu-mangu. Hampir saja terucapkan untuk minta izin kepada Ki Bekel untuk menemui para tawanan. Tetapi Ki Wiradadi mengurungkannya. Ki Bekel tentu tidak akan mengizinkannya dengan resmi. Jika demikian, maka ia akan kehilangan kesempatan, karena ia tidak akan dapat melanggar keputusan Ki Bekel. Tetapi jika hal itu dilakukan diam-diam, maka Ki Bekel tidak akan pernah mengeluarkan pernyataan untuk melarangnya, sehingga ia masih mempunyai kesempatan untuk berbicara dengan mereka bagaimanapun caranya.

Demikianlah, maka Ki Bekel pun kemudian meninggalkan banjar. Ia memang tidak memberikan pesan apapun kepada para pengawal. Juga tidak meninggalkan pesan yang melarang siapapun menemui para tawanan itu.

Karena itu, sepeninggal Ki Bekel, Ki Wiradadipun berbincang dengan Manggada dan Laksana untuk mengambil langkah-langkah yang lebih nyata.

“Kita temui pemimpin kelompok yang mencegat perjalanan kita,” berkata Ki Wiradadi.

“Bukankah orang itu terluka?” bertanya Laksana.

“Kita tidak dapat mencari kesempatan lain jika mereka diambil oleh Ki Demang nanti atau besok,” sahut Ki Wiradadi

Kedua anak muda itu tidak menolak. Mereka bertiga kemudian pergi ke bilik tahanan yang dijaga ketat para pengawal.

“Aku akan menemui mereka,” berkata Ki Wiradadi.

Pemimpin pengawal memang menjadi ragu-ragu. Bahkan iapun bertanya, “Apakah kalian sudah mendapat izin dari Ki Bekel?”

Ki Wiradadi mengerutkan kening. Ia bertanya, “Apakah Ki Bekel pernah berpesan kepadamu bahwa aku tidak boleh menemuinya?”

Pemimpin pengawal itu termangu-mangu. Namun kemudian ia menggeleng. Katanya, “Tidak.”

“Nah, jika demikian aku akan menemui mereka. Kau pun tahu, siapakah yang telah berhasil menangkap mereka dan membawanya kemari?” berkata Ki Wiradadi.

Pemimpin pengawal yang bertugas itu termangu-mangu. Namun ternyata bahwa ia tidak mencegah ketika Ki Wiradadi dan kedua anak muda itu masuk ke dalam bilik tahanan.

Orang-orang yang tertawan itu memandangi mereka penuh curiga. Orang-orang itu adalah orang-orang yang telah bertempur dan menangkap mereka. Karena itu, sikapnya dapat berbeda dengan sikap Ki Demang dan para bebahu yang lain.

Sebenarnyalah Ki Wiradadi memang memberi kesan kepada orang-orang itu, bahwa ia dapat bertindak kasar. Ketika seorang di antara para tawanan itu tidak bergeser dari tempatnya duduk ketika Ki Wiradadi lewat, maka dengan kakinya Ki Wiradadi mendorong orang itu sehingga jatuh terlentang.

“Minggir,” bentak Ki Wiradadi. “Aku tidak akan berbicara dengan kau. Aku akan berbicara dengan pemimpinmu.”

Orang itu sama sekali tidak berani memandang wajah Ki Wiradadi. Namun kawannyalah yang menyahut, “Pemimpinku baru sakit.”

“Persetan,” geram Ki Wiradadi. “Aku sudah tahu. Tetapi aku harus berbicara sebelum aku kehilangan kesempatan.”

Orang-orang di bilik itu sama sekali tidak berani mencegahnya. Mereka tahu kemampuan ketiga orang itu, sehingga karena itu, maka orang-orang itu hanyalah saling berdiam diri dan saling berpandangan.

Ki Wiradadi pun kemudian mendekati pemimpin kelompok yang terluka itu. Dengan geram ia berkata, “Kau tidak boleh cengeng dan merajuk. Lukamu tidak seberapa. Karena itu kau harus menjawab pertanyaanku.”

Pemimpin kelompok yang terluka agak parah itu memang menjadi berdebar-debar. Orang-orang itu akan dapat berbuat apa saja atas dirinya, sementara lukanya masih saja terasa sakit. Apalagi jika orang-orang itu mulai menyentuhnya.

Karena itu, maka agaknya orang itu memang tidak mempunyai pilihan lain. Ia harus menjawab setiap pertanyaan jika ia dapat melakukannya.

Ternyata Ki Wiradadi itu bertanya, “Ki Sanak, yang lebih menarik perhatian adalah gadis-gadis yang dikorbankan oleh orang-orang sesat itu. Mungkin anakku akan dapat digolongkan di antara gadis-gadis yang barangkali memenuhi atau hampir memenuhi syarat itu. Atau seandainya tidak, kalian dapat berbohong meskipun kalian pernah menyanggah-nya. Apakah Ki Sanak tahu, di mana gadis-gadis itu harus diserahkan? Jangan membuat darahku mendidih dengan jawaban-jawaban cengengmu.”

Pemimpin kelompok yang terluka itu berdesah. Rasa-rasanya tangan Ki Wiradadi telah meraba tubuhnya.

Dengan suara bergetar orang itu menjawab, “Tidak ada gunanya aku mengatakannya. Mereka tentu sudah menyingkir.”

Suara Ki Wiradadi menjadi lebih keras, “Aku tidak peduli apakah mereka menyingkir atau tidak menyingkir. Tetapi dimana kau sering menyerahkan gadis-gadis itu? Baik kepada pedagang gadis-gadis yang dijual kepada orang-orang yang tidak beradab karena nafsunya yang mencekik kesadaran kemanusiaannya, maupun mereka yang tidak beradab karena mengorbankan gadis-gadis untuk persembahan ilmu sesat.”

Pemimpin kelompok itu termangu-mangu. Namun Ki Wiradadi benar-benar telah menepuk bahunya. Perlahan-lahan saja. Namun rasa-rasanya jari-jari Ki Wiradadi itu sudah siap menusuk luka-luka di tubuhnya.

Akhirnya pemimpin kelompok itu tidak merasa perlu lagi untuk berbohong. Agaknya ia tidak mempunyai pilihan lain. Karena itu, maka iapun telah menceriterakan, kemana gadis-gadis itu telah dibawa. “Sekelompok orang telah menunggu di padukuhan terpencil di pinggir Kali Pepe. Mereka dibawa dengan pedati ke tempat yang tidak kami ketahui. Kami hanya tahu arahnya meskipun kami tidak tahu kemana.”

“Mereka dibawa ke arah mana?” bertanya Ki Wiradadi.

“Menelusuri Kali Pepe,” jawab orang itu.

“Bukankah Kali Pepe bermata air di kaki Gunung Merbabu?” bertanya Ki Wiradadi dengan kening berkerut.

“Ya, meskipun masih agak jauh,” jawab orang itu.

“Mereka tentu gadis-gadis yang diperjual-belikan di antara orang-orang kaya yang tidak beradab. Tetapi apakah kau tahu tentang gadis-gadis yang akan dikorbankan itu?” bertanya Ki Wiradadi pula.

“Kami menyerahkan mereka di tempat yang agak jauh,” jawab orang itu.

“Dimana, cepat katakan,” Ki Wiradadi mulai membentak. Tangannya mulai mencekam kulit pemimpin kelompok yang menjadi semakin cemas itu. “Kau tentu tahu, anakku telah dibawa kemana.”

Pemimpin kelompok itu mulai mengerang. Tulang-tulangnya mulai merasa sakit karena cengkeraman Ki Wiradadi, meskipun tidak pada lukanya. Jika Ki Wiradadi itu ingat bahwa tubuhnya terluka, maka luka itu akan dapat dimanfaatkannya.

Karena itu, pemimpin kelompok itu tidak menunggu tubuhnya menjadi sangat kesakitan. Apalagi ia sadar, bahwa akhirnya ia akan berbicara juga karena orang-orang padukuhan itu akan dapat berbuat apa saja atas mereka.

“Cepat, katakan,” bentak Ki Wiradadi.

“Yang aku tahu, gadis terakhir itu memang dibawa ke Hutan Jatimalang,” jawab orang itu.

“Apakah di Hutan Jatimalang ada tempat untuk mengorbankan gadis-gadis, alas persembahan atau apa?” bertanya Ki Wiradadi.

Orang itu menggeleng. Katanya, “Aku tidak tahu. Tetapi aku kira, korban itu tidak diserahkan di Hutan Jatimalang.”

“Dimana?” desak Ki Wiradadi yang jantungnya menjadi bergejolak.

Tetapi adalah tidak diduganya sama sekali bahwa Manggada, anak muda itu berkata kepada pemimpin kelompok yang tertawan itu, “Kesempatanmu tinggal sedikit. Selagi kau masih hidup, kau akan dapat mengurangi kesalahanmu. Tetapi jika kau sudah mati, hal itu tidak akan dapat kau lakukan lagi.”

Pemimpin kelompok itu memandang Manggada dengan wajah yang tegang. Namun Manggada tidak menghiraukan-nya. Ia masih berkata selanjutnya, “Ki Sanak, kau batasi pengertian hidupmu dengan hidup kewadagan. Kau sama sekali tidak mau serba sedikit memikirkan hidup yang lain. Kehidupan yang kekal tanpa batas.”

Orang itu termangu-mangu. Sementara Manggada berkata pula, “Jika kau mau, kau dapat mengurangi kesulitan di hari-hari yang abadi. Agaknya waktumu memang tinggal sedikit.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Satu cara yang sangat baik untuk memaksa seseorang berbicara. Anak muda, bagiku pengertian seperti itu sudah lama terkubur bersama pengertianku tentang baik dan buruk.”

“Setiap orang telah mengerti, bahwa orang-orang seperti kalian ini telah melemparkan nilai-nilai kehidupan yang sebenarnya, karena kalian telah diperbudak oleh nilai-nilai yang sebenarnya tidak berarti. Nilai-nilai duniawi yang diwarnai oleh dentang keping-keping uang, karena kau mengira dengan uang segala-galanya dapat dicapai. Tetapi kau tahu, bahwa uang itu tidak dapat membebaskanmu sekarang. Juga kawan-kawanmu. Uang itu tidak akan membangunkan kawan-kawanmu yang telah mati, yang telah mulai menjalani hidup langgengnya. Kau dapat membayang-kan, kehidupan yang bagaimanakah yang akan mereka jalani itu. Padahal kehidupan itu tidak akan dibatasi oleh waktu. Kau tidak akan dapat membeli suatu bentuk kehidupan langgeng dengan uang yang dengan susah payah kau kumpulkan. Bahkan dengan mengorbankan martabat kemanusiaanmu,” berkata Manggada.

Orang itu termangu-mangu sejenak. Bahkan Ki Wiradadi pun menarik nafas dalam-dalam. Mula-mula ia akan memper-gunakan kekerasan untuk memaksa orang itu berbicara. Namun akhirnya ia menunggu, apa yang akan dikatakannya kemudian.

Orang yang terluka itu menunduk dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata, “Aku juga mempunyai seorang anak laki-laki sebaya dengan kau, anak muda. Tetapi seperti aku, mata batinnya telah tertutup rapat-rapat, sehingga ia tidak dapat melihat apapun selain kepentingan diri sendiri. Tetapi itu bukan salahnya. Ia memang hidup dalam dunia seperti itu.”

“Mungkin masih ada kesempatan lain buat anakmu. Sekarang, apakah kau akan mengurangi beban penderitaanmu di masa langgeng, atau justru kau ingin menambahinya dengan penderitaan di saat menjelang hari terakhirmu? Jika selama hidupmu kau mendambakan kesenangan dengan berusaha mendapatkan uang sebanyak-banyaknya dengan cara apapun juga, maka di saat kematianmu sama sekali tidak tercermin akan hasil usahamu itu. Bahkan mayatmu akan dilemparkan begitu saja ke lubang kubur tanpa upacara besar-besaran sebagaimana seorang yang kaya raya,” berkata Manggada. “Namun demikian, betapa nistanya kematianmu, kau masih mempunyai harapan untuk satu kehidupan yang baik di masa kekal.”

“Sudahlah, anak muda,” berkata orang itu. “Kau telah menimbulkan persoalan tersendiri di dalam dadaku.”

“Sekarang terserah kepadamu. Tetapi jika kau dapat membantu menemukan anak gadis Ki Wiradadi, maka kau sudah berusaha mengurangi kepahitan langgeng itu,” berkata Manggada.

Orang itu ragu-ragu. Namun tiba-tiba kawannya yang lemah berkata tersendat, “Ki Sanak, biarlah aku dibunuh oleh kawan-kawanku. Tetapi kata-katamu mempengaruhi perasaanku. Dengarlah, gadis-gadis itu dari Hutan Jatimalang telah dibawa ke kaki Gunung Kelut.”

“Kaki Gunung Kelut?” wajah Ki Wiradadi menjadi tegang.

“Ya. Tetapi kami tidak tahu, di manakah penyerahan korban itu dilakukan. Tetapi menurut pendengaran kami, mereka memerlukan seorang gadis di setiap bulan purnama. Mereka harus mengorbankan sampai batas tertentu sebelum mereka berhasil mencapai sesuatu,” berkata orang itu.

Ki Wiradadi menggeram. Namun orang itu justru nampak ragu-ragu.

“Katakan. Atau kau takut kepada pemimpin kelompokmu ini? Jika ia menghukummu karena ia menganggap kau berkhianat, maka hukuman yang akan diterimanya adalah sepuluh kali lipat,” berkata Ki Wiradadi.

Tetapi pemimpin kelompok itu menggeleng. Katanya, “Aku tidak akan menyalahkannya. Seandainya ia tidak mengatakan-nya, maka aku sudah berniat untuk mengatakan. Ternyata bahwa pendapat anak muda itu telah mempengaruhi perasaanku. Agaknya orang itu juga terpengaruh oleh pendapat anak muda itu sehingga ia merasa bahwa bebannya akan menjadi lebih ringan.”

Ki Wiradadi menarik nafas dalam-dalam. Hampir saja ia menjadi semakin kasar.

Manggada lah yang kemudian berkata, “Katakan, apa yang kau ketahui kemudian.”

“Tidak ada lagi yang aku ketahui. Tidak seorang pun yang mengetahui selain orang-orang mereka, di manakah letak korban itu mereka serahkan. Kamipun tidak tahu cara apakah yang mereka pergunakan untuk menyerahkan korban itu. Apakah mereka dibunuh atau diserahkan kepada seseorang atau diumpankan kepada seekor binatang,” berkata orang itu.

Ki Wiradadi menggeram. Hampir tanpa dapat menguasai dirinya ia bertanya, “Sejak anakku hilang, apakah bulan pernah purnama?”

Orang yang telah menceritakan apa yang diketahuinya itu termangu-mangu. Namun tiba-tiba Ki Wiradadi yang menjadi sangat cemas itu meloncat menerkam orang itu. Sambil mengguncang tubuhnya yang lemah Ki Wiradadi membentak, “Katakan, apakah sejak anakku hilang, bulan pernah purnama?”

Orang itu menjadi bingung. Karena itu, maka ia tidak segera dapat menjawab.

Manggadalah yang kemudian berkata, “Kita harus segera berbuat sesuatu. Ternyata gadis-gadis itu dibawa ke dua arah yang berbeda. Juga kepentingannya yang berbeda.”

Ki Wiradadi tiba-tiba saja tubuhnya merasa bergetar. Bahkan ia hampir tidak dapat menguasainya dirinya oleh kegelisahan dan kecemasan.

Sementara itu Laksana pun berkata, “Kita harus berusaha menelusuri jalan yang pernah mereka tempuh, setidak-tidaknya sampai ke Hutan Jatimalang. Kemudian kita harus berusaha menemukan arah perjalanan yang cukup panjang sampai ke kaki Gunung Kelut. Satu perjalanan panjang. Kita harus benar-benar siap lahir dan batin.”

Manggada mengangguk-angguk. Katanya, “Perjalanan kita pulang memang tertunda. Tetapi aku kira perjalanan ini akan berarti bagi kita. Meskipun kita harus menyadari, bahwa kemungkinan paling buruk dapat terjadi.”

Laksana mengangguk-angguk. Namun ia pun kemudian mendekati orang yang lemah itu sambil berkata, “Tunjukkan kepadaku, ancar-ancar untuk sampai ke tempat itu.”

Bahkan bukan saja orang itulah yang telah memberikan ancar-ancar, tetapi pemimpin kelompok yang terluka itu pun telah ikut pula memberi tahu, sadar atau tidak sadar.

“Terima kasih,” berkata Laksana kemudian. “Kita akan melacak orang-orang berilmu sesat itu. Tetapi kalian tidak boleh mengatakannya kepada siapapun juga. Bahkan kepada Ki Demang atau siapapun yang memeriksa kalian, tentang rencana kami. Jika rencana kami menyelamatkan gadis itu gagal, akan sia-sialah usaha kalian, mengurangi panasnya api yang akan membakar hidup kalian yang kekal mendatang.”

Para tawanan itu mengangguk-angguk. Justru pemimpin kelompok yang tertawan itulah yang menyahut, “Kami berjanji. Mudah-mudahan kalian dapat berhasil.”

Demikianlah, maka kedua anak muda itu bersama Ki Wiradadi telah meninggalkan para tawanan itu. Mereka kembali memasuki ruang dalam banjar. Untuk beberapa saat mereka berbincang.

“Sebaiknya kita tidak membawa orang lain,” berkata Manggada.

Ki Wiradadi termangu-mangu. Namun katanya, “Apakah kita akan mampu mengatasi kesulitan yang dapat timbul dalam perjalanan kita? Jika kita mempunyai kawan lebih banyak, maka kita akan menjadi semakin kuat.”

“Tetapi perjalanan kita tentu akan lebih mudah dikenali. Semakin banyak orang yang terlibat, maka akan semakin cepat kehadiran kita diketahui oleh orang-orang yang beraliran sesat itu,” berkata Manggada.

“Bukankah kita belum mengenal kekuatan mereka?” bertanya Ki Wiradadi. “Jika jumlah mereka tidak terlawan, maka itu akan berarti bahwa kita akan terperosok ke dalam kesulitan yang lebih dalam.”

“Memang mungkin sekali. Tetapi bagaimana jika perjalanan kita merupakan usaha penyelidikan lebih dahulu sebelum kita mengambil langkah-langkah. Justru karena kita belum tahu, seberapa besar kekuatan yang akan kita hadapi. Jika sekiranya kita memang tidak akan mampu mengatasinya, maka kita akan membuat perhitungan lain,” berkata Manggada.

“Apakah kita tidak akan terlambat?” bertanya Ki Wiradadi.

“Memang banyak kemungkinan dapat terjadi, Ki Wiradadi,” sahut Laksana. “Tetapi kita memang harus berhati-hati. Seandainya kita membawa terlalu banyak kawan, maka selain akan mempermudah pengenalan mereka terhadap kita, juga belum tentu bahwa kita akan dapat mengimbangi kekuatan mereka, karena kita memang belum mengetahuinya.”

Ki Wiradadi mengangguk-angguk. Tetapi kemudian katanya, “Jika demikian kita harus dengan segera berangkat ke Hutan Jatimalang sesuai dengan petunjuk orang-orang yang tertawan itu. Kemudian kita harus segera membuat rencana yang lebih terperinci.”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Hampir di luar sadarnya Laksana berkata, “Kita berangkat besok. Hari ini kita akan mempersiapkan senjata-senjata yang kita perlukan.”

“Senjata apa?” bertanya Ki Wiradadi.

“Dalam tugas seperti ini, akan lebih berarti bagi kita jika kita mempergunakan senjata-senjata lontar yang kecil,” jawab Laksana. “Tetapi aku tidak tahu, apakah Ki Wiradadi sering mempergunakannya atau tidak.”

Ki Wiradadi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku mengenal senjata sejenis itu. Tetapi aku tidak memilikinya meskipun ada beberapa buah paser di rumah.”

“Pisau-pisau kecil?” bertanya Laksana.

“Juga tidak ada,” jawab Ki Wiradadi. “Aku hanya mempunyai satu dua.”

Laksana mengangguk-angguk. Namun ia masih bertanya, “Apakah Ki Wiradadi tidak tahu, di manakah kita dapat mencari senjata semacam itu? Apakah Ki Wiradadi tidak mempunyai satu atau dua orang kenalan yang mampu membuat senjata-senjata kecil seperti itu?”

Ki Wiradadi mengangguk-angguk. Sambil merenung ia berkata, “Mungkin ada. Aku mengenal seorang yang dapat membuat pisau-pisau terbang sebagaimana kau maksud. Juga jenis senjata-senjata kecil yang lain.”

“Kita pergi ke rumah orang itu, Ki Wiradadi,” sahut Laksana. “Tetapi kita harus memberikan kesan, bahwa kita tidak akan segera mempergunakannya. Orang itu tidak boleh menjadi curiga bahwa kita membeli banyak senjata kecil untuk kita pergunakan di hari berikutnya.”

“Aku mengerti,” berkata Ki Wiradadi. Namun ia pun kemudian berkata, “Tetapi aku tidak terbiasa mempergunakan senjata seperti itu.”

“Kalau kita bertempur dengan banyak lawan, senjata seperti itu akan sangat berguna,” jawab Laksana.

“Mungkin aku harus melatih diri. Tetapi waktu kita terlalu sempit untuk itu,” berkata Ki Wiradadi.

“Sebaiknya kita lihat dahulu senjata-senjata itu. Apakah kebetulan ada persediaan atau tidak. Jika ada, hari ini Ki Wiradadi akan berlatih. Mungkin juga malam nanti sampai menjelang pagi,” berkata Laksana.

Demikianlah, maka ketiga orang itu pun kemudian telah meninggalkan banjar. Seperti dikatakan oleh Ki Wiradadi, maka mereka pergi ke rumah seorang kenalan Ki Wiradadi yang terbiasa membuat senjata-senjata jenis kecil seperti itu.

Orang itu memang bertanya kepada Ki Wiradadi, “Bukan kebiasaan Ki Wiradadi mengambil senjata-senjata kecil dari aku. Bahkan baru kali ini.”

“Aku pernah melakukannya,” jawab Ki Wiradadi.

“Tetapi sudah tentu bukan sesungguhnya,” jawab orang itu. “Beberapa contoh senjata itu tidak berarti apa-apa. Tetapi nampaknya Ki Wiradadi benar-benar akan mengambil seperangkat senjata jenis kecil itu.”

Ki Wiradadi tertawa. Katanya, “Bukan untuk aku. Tetapi Ki Sanak, bagaimana jika seperangkat senjata kecil ternyata mendapatkan pasaran di satu tempat. Apakah dengan demikian setiap pesanan aku akan mendapat bagian?”

“O,” orang itu tertawa pula. Katanya, “Tentu. Tentu. Aku tidak akan melupakan Ki Wiradadi. Jika yang dimaksudkan Ki Wiradadi senjata-senjata jenis kecil itu akan menjadi barang dagangan, maka aku akan mempersilahkan Ki Wiradadi membawa saja setiap jenis seperangkat.”

Ki Wiradadi tertawa. Katanya, “Kami akan membelinya. Kami sendiri akan memiliki sementara mungkin kami dapat menawarkan kepada orang lain.”

Orang itu mengangguk-angguk. Katanya, “Aku percaya. Ki Wiradadi tentu mempunyai hubungan yang luas dengan orang-orang yang bergerak di bidang olah kanuragan.”

Demikianlah, maka Manggada, Laksana dan Ki Wiradadi sendiri memang membeli seperangkat senjata-senjata kecil itu dari jenis pisau belati yang kecil-kecil. Namun Manggada dan Laksana juga membeli sepasang pisau belati yang panjang.

Karena itu, ketika mereka meninggalkan tempat itu, maka Manggada, Laksana dan Ki Wiradadi telah mengenakan ikat pinggang yang penuh dengan pisau-pisau belati kecil mengelilingi lambung. Kemudian di sebelah-menyebelah tergantung dua buah pisau belati panjang yang dapat dipergunakannya sebagai pedang.

Dari tempat itu, ketiganya telah singgah di rumah seorang pembuat busur yang baik. Manggada dan Laksana ternyata memerlukan masing-masing sebuah busur, endong tempat anak panah yang khusus digantungkan di punggung, tidak di lambung.

“Apakah demikian banyak kita membawa senjata?” bertanya Ki Wiradadi.

“Kita akan menjadi pemburu di Hutan Jatimalang. Seandainya tiba-tiba saja kita bertemu dengan mereka, maka mereka akan menyangka bahwa kita sedang berburu,” jawab Manggada.

Ki Wiradadi mengangguk-angguk. Ia sendiri sudah mempunyai sebuah busur yang baik dan sejumlah anak panah serta endongnya yang juga dibelinya di tempat itu beberapa waktu yang lalu. Tetapi ia benar-benar mempergunakannya untuk berburu.

Dalam pada itu, di sisa hari yang ada, Ki Wiradadi telah belajar mempergunakan senjata-senjata kecil. Sebagai seorang yang memiliki ilmu kanuragan, maka ia tidak terlalu banyak mengalami kesulitan karena pada dasarnya ia telah mampu mempergunakan. Namun bukan menjadi kebiasaan. Tetapi sesuai dengan pertimbangan kedua anak muda itu, maka senjata-senjata kecil itu ternyata memang dirasa perlu. Apalagi jika mereka harus melawan sekelompok orang dalam jumlah yang besar.

Dari Manggada dan Laksana lah, Ki Wiradadi belajar bagaimana mereka harus mampu menghadapi lawan dalam jumlah yang besar. Bagaimana mereka harus menghindar dan menyerang dengan mempergunakan senjata-senjata kecil itu.

Ketika malam menjadi larut maka mereka pun berhenti berlatih. Sambil tersenyum Ki Wiradadi berkata, “Ternyata Angger berdua memiliki sesuatu yang sangat berharga bagiku. Meskipun Angger berdua belum mempunyai pengalaman yang cukup luas, namun bekal yang kalian bawa dari perguruan kalian terlalu banyak dibandingkan dengan pengalamanku yang terhitung cukup panjang.”

“Bukan apa-apa, Ki Wiradadi. Dorongan untuk mendapatkan pengalaman telah melibatkan kami dalam beberapa hal yang sebenarnya memang tidak perlu kami campuri. Tetapi kini persoalannya sudah lain. Kami tidak sekedar ingin mendapat-kan pengalaman, karena persoalan gadis-gadis yang hilang itu bukan sekedar persoalan-persoalan kecil yang dapat dimanfaatkan. Namun persoalan itu adalah persoalan yang bersungguh-sungguh karena telah melanggar nilai-nilai kemanusiaan. Karena itu, maka kami telah melibatkan diri dengan penuh rasa tanggung jawab,” jawab Manggada.

Ki Wiradadi mengangguk-angguk. Katanya, “Setiap kali aku hanya dapat mengucapkan terima kasih, karena aku tidak mempunyai cara lain untuk menyatakannya.”

“Sudahlah,” berkata Manggada. “Setiap orang mempunyai kewajiban serupa itu. Yang kami lakukan juga sekedar memenuhi kewajiban.”

Di sisa malam itu, maka ketiganya sempat beristirahat untuk beberapa saat. Pagi-pagi benar mereka sudah siap untuk berangkat ke Hutan Jatimalang dengan berjalan kaki. Mereka akan memasuki satu lingkungan yang belum pernah mereka datangi. Tetapi mereka sudah mempunyai bekal keterangan dari orang-orang yang telah mereka tahan.

Dalam perjalanan menuju ke Hutan Jatimalang, maka ketiga orang itu berusaha untuk menyesuaikan keterangan orang-orang yang mereka tahan dengan kenyataan yang mereka hadapi. Ternyata bahwa orang-orang itu tidak berbohong.

Namun demikian Ki Wiradadi berkata, “Tetapi siapa tahu, bahwa setelah memasuki Hutan Jatimalang, justru kita masuk ke dalam perangkap.”

“Banyak kemungkinan dapat terjadi. Tetapi kita harus berhati-hati,” desis Manggada.

“Mungkin kita perlu mengambil jalan lain untuk memasuki hutan itu,” berkata Laksana.

Ki Wiradadi mengangguk-angguk. Ternyata pikiran anak-anak muda itu cukup cermat, sehingga bersama mereka, Ki Wiradadi merasa cukup mantap.

Demikianlah, maka perjalanan mereka menyelusuri bulak-bulak panjang kadang-kadang memang menarik perhatian. Yang paling nampak pada mereka adalah busur yang besar melintang di punggung, di atas endong yang juga tersangkut di punggung.

Tetapi para petani di sawah memang sudah menduga, bahwa mereka adalah sekelompok kecil pemburu yang akan berburu binatang buas. Namun demikian, arah perjalanan ketiga orang itulah yang menimbulkan persoalan kepada mereka. Arah perjalanan ketiga orang itu adalah menuju ke Hutan Jatimalang.

Orang-orang yang serba sedikit mengetahui tentang hutan itu, menganggap bahwa hutan itu adalah hutan yang sangat wingit. Jalma mara jalma mati, setiap orang yang berani memasuki hutan itu tidak akan dapat keluar lagi dengan selamat.

Seorang petani tua yang sedang beristirahat di bawah sebatang pohon yang rindang, duduk di atas sebuah batu yang agak besar, di sebelah isterinya yang mengirim makanan baginya, berhenti meneguk air dingin dari gendinya. Dipandanginya ketiga orang yang lewat dengan panah menjalang di punggung itu. Bahkan orang tua itu tidak dapat menahan keinginannya untuk mengetahui kemana ketiga orang itu pergi, telah bertanya, “Ki Sanak, ke manakah kalian akan berburu?”

Ki Wiradadi lah yang menjawab, “Ke Hutan Jatimalang, Kek. Aku dengar di hutan itu banyak terdapat binatang buas yang belum pernah atau jarang sekali diburu oleh pemburu yang manapun.”

“Benar,” jawab orang tua itu. “Tidak ada seorang pemburu pun yang berani memasuki hutan itu, Ki Sanak. Nampaknya menjadi kewajiban kami untuk memberikan peringatan kepada siapapun juga yang ingin memasuki hutan itu.”

“Kenapa, Kek?” bertanya Ki Wiradadi.

“Justru terlalu banyak binatang buasnya,” jawab orang tua itu. “Apalagi jika kalian menyeberangi rawa-rawa yang terdapat di hutan itu. Rawa-rawa itu penuh dengan buaya yang tidak kalah buasnya dengan seekor harimau kumbang. Ular-ular raksasa yang bergayutan di pepohonan. Bukankah Ki Sanak tahu, bahwa ular-ular raksasa sering bergayutan?”

“Tahu, Kek. Kami adalah pemburu-pemburu berpengalam-an. Ular-ular raksasa biasanya berpegangan pada sebatang dahan dengan ekor dan tajinya. Kemudian kepalanyalah yang terayun-ayun siap menangkap mangsanya,” jawab Ki Wiradadi. “Tetapi di sekitar tempat itu tentu telah terdapat isyarat sehingga kami akan cepat mengenali lingkungan, apakah ada ular raksasa yang sedang lapar atau tidak. Selain isyarat itu, kelengangan hutan, apabila angin membantu, bau ular yang tajam itu akan cepat kita ketahui pula. Karena itu, maka angin ikut pula menentukan keberhasilan dari seorang pemburu.”

Orang tua itu mengangguk-angguk. Katanya, “Rupanya kalian adalah pemburu yang, berpengalaman. Tetapi kami tetap menganjurkan agar kalian membatalkan niat kalian untuk berburu ke Hutan Jatimalang. Bukankah begitu, Nek?”

Isterinya mengangguk-angguk. Tetapi agaknya ia kurang mengerti apa yang dikatakan oleh suaminya.

Ki Wiradadi lah yang kemudian berkata, “Terima kasih atas peringatan kakek dan nenek. Tetapi kami ingin mencoba melihat kenapa hutan itu dianggap hutan yang sangat berbahaya bagi para pemburu.”

“Berhati-hatilah, Ki Sanak,” berkata orang tua itu. “Kami sudah mencoba untuk memperingatkan kalian.”

“Doakan saja kami selamat, Kek,” sahut Ki Wiradadi.

Kakek itu termangu-mangu. Namun akhirnya justru ia berdiri termangu-mangu. Rasa-rasanya ada sesuatu yang ingin dikatakannya kepada ketiga orang yang akan pergi ke Hutan Jatimalang itu. Namun nampak kebimbangan di sorot matanya.

Ki Wiradadi melihat kesan itu, sehingga ia pun berkata, “Kakek, apakah masih ada yang ingin Kakek katakan?”

Orang tua itu masih saja termangu-mangu. Sekali-sekali ia berpaling kepada isterinya yang juga sudah tua. Namun kemudian katanya, “Ki Sanak, bukan saja Hutan Jatimalang itu gawat bukan buatan. Tetapi Ki Sanak juga akan melewati satu lingkungan yang mulai terasa gawat sebelum memasuki Hutan Jatimalang itu. Dua padukuhan lagi Ki Sanak akan sampai pada perbatasan antara kademangan ini dengan kademangan sebelah. Di kademangan sebelah Ki Sanak masih akan melihat suasana yang tidak jauh berbeda dengan kademangan ini dan kademangan-kademangan yang lain. Tetapi karena kademangan itu berbatasan dengan sebuah lingkungan yang agak berbeda dengan lingkungan yang lain, maka kademangan itupun telah menunjukkan gejala-gejala yang barangkali tidak terdapat di kademangan yang lain, termasuk kademangan ini.”

Ki Wiradadi mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih atas semua keterangan Kakek. Kami memang belum pernah memasuki lingkungan Hutan Jatimalang. Tetapi kami adalah pemburu-pemburu yang pernah menjelajahi hutan-hutan yang paling gawat di tanah ini. Mudah-mudahan Jatimalang bukan hutan yang terakhir kami masuki.”

“Mudah-mudahan kalian selamat, Ki Sanak,” berkata kakek tua itu.

“Terima kasih, Kek. Kamipun berharap bahwa kademangan ini lambat laun tidak dijalari gejala-gejala aneh seperti kademangan sebelah yang berbatasan dengan lingkungan yang tidak sewajarnya itu,” berkata Ki Wiradadi yang kemudian katanya pula, “Baiklah, kami minta diri untuk melanjutkan perjalanan. Pesan Kakek kami perhatikan dengan sungguh-sungguh.”

“Jalan ini adalah jalan yang terbaik kalian tempuh,” berkata kakek tua itu. “Meskipun jalan ini akan melalui beberapa padukuhan yang aku sebutkan memiliki kebiasaan aneh di kademangan seberang dari kademangan berikut.”

Ki Wiradadi termangu-mangu. Namun ia pun bertanya, “Apakah ada jalan lain?”

“Ada beberapa jalan lain. Tetapi tidak lebih jalan setapak yang kadang-kadang sulit dilalui. Licin, berbatu-batu dan ada yang harus melalui daerah rawa-rawa. Meskipun di rawa-rawa yang dangkal itu tidak terdapat buaya, tetapi di rawa-rawa itu terdapat berjenis-jenis ular yang lebih berbahaya dari ular-ular raksasa yang seakan-akan telah memberikan isyarat sebelumnya. Di rawa-rawa itu terdapat ular-ular air yang kecil tetapi bisanya dapat membunuh seseorang dalam waktu yang pendek,” jawab kakek itu.

“Terima kasih, Kek,” jawab Ki Wiradadi sambil melangkah. Katanya pula, “Mudah-mudahan kita bertemu pula. Jika aku mendapat banyak binatang buruan, aku akan memberimu seekor.”

Kakek tua itu tertawa. Katanya, “Berapa ekor kalian ingin mendapatkan binatang buruan? Berapa hari kalian ingin berburu? Jika kau mendapatkan seekor binatang buruan, tetapi kalian masih berusaha mendapatkan yang lain di hari berikutnya, maka binatang buruanmu yang pertama sudah tidak dapat dimanfaatkan lagi.”

Ki Wiradadi mengerutkan keningnya. Tetapi ia pun kemudian tersenyum sambil berkata, “Kek, jika kami berburu binatang buas dan binatang yang lain, bukan dagingnya yang ingin kami ambil. Tetapi kulitnya. Dan kami dapat mengambil kulitnya di medan perburuan.”

Orang tua itu mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak berbicara lagi. Dipandanginya saja ketiga orang yang menyandang busur di punggungnya itu berjalan semakin lama semakin jauh. Demikian pula isterinya yang berdiri pula di sampingnya.

“Mudah-mudahan orang itu selamat,” berkata kakek itu.

“Kau tidak mengatakan bahwa di hutan itu banyak berkeliaran hantu penghisap darah?” berkata isterinya.

“Mereka tentu tidak akan percaya. Bagi mereka, yang disebut hantu penghisap darah itu adalah binatang-binatang buas,” sahut kakek tua itu.

“Mudah-mudahan mereka selamat,” desis nenek itu.

Namun sejenak kemudian, keduanya telah kembali duduk di atas batu yang agak besar itu untuk makan dan minum setelah kakek tua itu bekerja di sawah mereka.

Sementara itu, Ki Wiradadi, Manggada dan Laksana berjalan semakin lama semakin jauh. Masih ada padukuhan yang harus mereka lewati. Kemudian sebuah kademangan sebelum mereka memasuki sebuah kademangan yang mempunyai kebiasaan yang agak lain.

Ternyata bahwa keterangan orang tua itu sesuai dengan keterangan tawanan yang telah mereka tangkap dan yang agaknya merasa menyesali atas semua perbuatan mereka.

“Kita memang harus berhati-hati,” berkata Ki Wiradadi

Manggada mengangguk-angguk. Bagaimanapun juga, hatinya mulai berdebar-debar. Sebagai seorang anak muda yang baru keluar dari sebuah penempaan diri, maka pengalamannya memang masih jauh dari cukup untuk menghadapi persoalan-persoalan yang agaknya cukup berat. Sementara Laksana menundukkan kepalanya. Ia pun sedang memikirkan tugas yang sedang mereka bebankan di bahunya sendiri.

“Bagaimana menurut pendapat kalian, apakah kita akan memilih jalan ini atau mengambil jalan lain?” bertanya Ki Wiradadi.

Manggada termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berpaling kepada Laksana, “Bagaimana pendapatmu?”

Laksana menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dengan nada dalam ia berkata, “Aku tidak tahu, jalan yang manakah yang sebaiknya kita tempuh. Jika kita terperosok ke rawa-rawa, maka seperti dikatakan oleh kakek tua itu, mungkin kaki kita akan dipatuk ular. Dengan demikian, maka kita harus bersiap-siap dengan obat penawar bisa.”

“Jadi menurut pendapatku, kita akan menempuh jalan ini sampai pada suatu saat kita memutuskan untuk mengambil jalan lain. Sebelum memasuki Hutan Jatimalang, maka jalan akan menjadi sempit dan sulit. Aku kira, jalan-jalan yang lain pun akan seperti itu pula. Sehingga kita tidak akan dapat memilih. Pilihan kita tinggal arah dan pertimbangan-pertimbangan lain,” berkata Ki Wiradadi.

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Bagaimana-pun juga mereka harus mengakui, bahwa Ki Wiradadi adalah seorang yang memiliki pengalaman yang luas, sehingga perhitungannya pun tentu lebih masak dari mereka berdua, meskipun bekal mereka lebih banyak.

Tetapi mereka memang harus berhati-hati jika mereka memasuki kademangan yang disebutkan sebagai satu lingkungan yang tidak wajar, di sebelah kademangan berikutnya.

“Menurut para tawanan, orang-orang di kademangan itu selalu mencurigai orang yang datang ke tempat mereka,” berkata Manggada.

“Bukankah sesuai dengan ceritera kakek tua itu?” desis Laksana.

Manggada mengangguk-angguk.

Namun dalam pada itu, ketika mereka bertemu dua orang petani yang pulang dari sawahnya, ternyata mereka telah mendapat peringatan serupa dengan pesan kakek tua itu. Nampaknya orang-orang kademangan itu termasuk orang-orang yang tidak ingin melihat orang lain mengalami kesulitan di tujuan mereka.

Tetapi seperti kepada kakek tua itu, Ki Wiradadi menjawab, “Terima kasih, Ki Sanak. Kami akan berhati-hati.”

Demikianlah, ketiga orang itu telah meneruskan perjalanan mereka. Sejenak kemudian mereka telah meninggalkan kademangan yang satu, memasuki kademangan yang lain. Kademangan itu masih merupakan kademangan yang tidak jauh berbeda dengan kademangan sebelumnya, meskipun pengaruh dari kehidupan yang aneh di kademangan berikutnya sudah mulai terasa.

Di bulak-bulak panjang, mereka memang masih bertemu dengan beberapa orang petani. Bahkan satu dua masih bertanya dengan wajar dan bahkan sempat memberi peringatan pula. Namun semakin jauh mereka memasuki kademangan itu, maka terasa tanggapan orang-orangnya agak berbeda.

“Pengaruh kehidupan di kademangan sebelah mulai terasa,” berkata Ki Wiradadi.

Sebenarnyalah ketika mereka bertiga berjalan di sebuah padukuhan, maka orang-orang padukuhan itu memandangi mereka dengan curiga. Tidak seperti padukuhan-padukuhan sebelumnya, apalagi di kademangan sebelah, kademangan yang baru saja mereka lewati. Meskipun penghuninya kadang-kadang memang bersikap acuh dan yang lain memperhatikan dengan cara yang berlebih-lebihan, namun tidak dengan penuh kecurigaan.

Beberapa orang dengan serta-merta telah berloncatan memasuki pintu-pintu regol halaman. Namun terasa oleh ketiga orang yang lewat itu, bahwa mereka sedang mengintip dari balik pintu regol.

Semakin jauh mereka memasuki kademangan itu, maka kecurigaan itu terasa menjadi semakin besar, sehingga akhirnya mereka melintasi satu batas antara dua kademangan yang ditandai dengan sebuah tugu baru. Tugu baru yang dipasang di pinggir sebuah sungai kecil yang menjadi batas antara kedua kademangan itu.

“Kita memasuki sebuah kademangan yang aneh,” berkata Ki Wiradadi. “Karena itu kita harus berhati-hati.”

“Ya,” jawab Manggada. “Justru lewat tengah hari.”

“Apakah kita akan langsung memasuki Hutan Jatimalang hari ini juga?” bertanya Laksana.

“Aku kira tidak mungkin,” sahut Ki Wiradadi. “Jika kita langsung memasuki Hutan Jatimalang, maka kita akan memasukinya menjelang malam. Kita akan banyak mengalami kesulitan karena kita belum mengenal lingkungan itu.”

“Jadi kita harus bermalam di luar hutan itu. Besok pagi-pagi kita baru memasukinya,” berkata Manggada.

“Ya. Kita bermalam di luar hutan itu,” desis Ki Wiradadi. Lalu, “Bukankah tidak ada persoalan?”

“Tidak,” jawab Manggada dan Laksana hampir berbareng.

Ki Wiradadi mengangguk-angguk. Katanya, “Bagus. Kita memang dapat bermalam dimana-mana.”

Demikianlah, ketiga orang itupun kemudian telah berjalan memasuki lingkungan yang memang terasa aneh. Seorang petani yang bekerja di kejauhan, tiba-tiba saja telah bergeser ke balik gerumbul atau tanaman atau apapun yang dapat dipakai untuk membayangi dirinya dari penglihatan orang-orang yang sedang lewat itu.

Namun dengan demikian, maka ketiga orang itu justru ingin melewati padukuhan. Apakah yang kira-kira akan diperbuat oleh orang-orang padukuhan itu.

“Kita tidak usah mengambil jalan simpang,” berkata Ki Wiradadi. “Lewat jalan ini kita tentu akan sampai juga di sebuah padukuhan. Namun kita memang harus berhati-hati.”

“Di padukuhan yang terakhir, kita akan minta ijin untuk tidur di banjar. Sudah tentu di padukuhan itu tidak ada penginapan.”

“Tetapi kita akan sampai di padukuhan terakhir sebelum matahari mendekati punggung bukit. Masih terlalu siang untuk minta menumpang bermalam,” sahut Manggada.

“Kita berhenti di bulak panjang di seberang padukuhan itu. Atau bulak sebelum padukuhan terakhir sehingga senja. Baru kita memasuki padukuhan itu untuk minta kesempatan menginap di banjar,” berkata Laksana.

Manggada mengangguk-angguk. Katanya, “Akal yang baik. Tetapi seandainya kita harus bermalam dimanapun, kita tidak akan mengalami kesulitan. Kita sudah membiasakan diri tidur di bawah selimut langit.”

Laksana mengangguk-angguk. Namun sambil tersenyum ia berkata, “Kita memang dapat tidur dimana saja. Tetapi jika aku boleh memilih tidur di bawah sebatang randu alas dan tidur di banjar padukuhan, aku masih juga memilih tidur di banjar padukuhan betapapun anehnya padukuhan itu.”

“Jika tidak boleh memilih?” bertanya Manggada.

“Apa boleh buat,” jawab Laksana.

Manggada pun tersenyum pula. Katanya, “lebih baik kita tidak memilih. Dimanapun kita harus tidur, maka kita akan tidur.”

Laksana tidak menjawab, meskipun ia tersenyum juga.

Sejenak kemudian, maka Manggadapun berdesis, “Kita akan memasuki sebuah padukuhan.”

Ketiga orang itu pun kemudian telah bersiap-siap untuk memasuki sebuah padukuhan. Mereka menyadari, bahwa mereka akan memasuki daerah yang penuh dengan perasaan curiga, prasangka dan dugaan-dugaan yang tidak sewajarnya, sebagaimana dikatakan oleh petani tua suami istri itu, serta beberapa orang yang lain. Sesuai pula dengan cerita orang-orang yang telah mereka tawan.

Sebenarnyalah bahwa ketika mereka sampai ke regol padukuhan, maka rasa-rasanya suasana itu telah mereka temui. Dua orang anak yang sedang bermain-main di dekat regol, segera berlari masuk ke dalam padukuhan.

Manggada dan Laksana hanya berpandangan sejenak. Namun keduanya tidak mengatakan sesuatu. Sementara Ki Wiradadi berjalan di paling depan.

Beberapa saat kemudian, mereka telah memasuki padukuhan itu. Seperti yang telah mereka perhitungkan sebelumnya, maka orang-orang padukuhan itu pun telah masuk ke halaman dan menutup pintu regol. Tetapi tidak terlalu rapat, beberapa orang telah mengintip dari balik pintu regol itu. Demikian ketiga orang itu lewat, maka beberapa orang telah turun lagi ke jalan memperhatikan ketiga orang yang berjalan menjauhi mereka itu.

Manggada dan Laksana memang menjadi jengkel. Tetapi Ki Wiradadi pun berkata, “Kita harus dapat menjaga diri dan mengekang diri. Mungkin mereka tidak berbuat sesuatu. Mereka mencurigai setiap orang yang memasuki padukuhan-nya justru karena ketakutan.”

“Memang mungkin,” berkata Manggada. “Jika kita dapat menunjukkan kepada mereka, bahwa kita tidak akan berbuat sesuatu yang dapat merugikan mereka, maka aku kira mereka tidak akan bersembunyi lagi selagi kita lewat.”

“Apa yang dapat kita lakukan?” berkata Laksana. “Membagi uang atau berbuat apa saja?”

Manggada menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Memang sulit. Tetapi kita dapat mencoba menemui bekel dari padukuhan ini. Kita akan berbicara dengan mereka. Mungkin Ki Bekel mempunyai pandangan yang lebih luas dari para penghuni yang lain.”

“Tetapi kepada siapa kita bertanya tentang rumah Ki Bekel?” desis Laksana.

Ki Wiradadi yang mendengar percakapan ini kemudian menyahut, “Kita akan berjalan terus lewat jalan induk padukuhan ini. Biasanya rumah seorang pemimpin padukuhan itu terletak di jalur jalan induk.”

“Tidak selalu,” berkata Manggada.

“Memang tidak selalu. Tetapi kebanyakan,” jawab Ki Wiradadi.

Kedua anak muda itu mengangguk-angguk. Kebanyakan rumah seorang bekel memang terletak di tepi jalan induk. Demikian pula banjar padukuhan biasanya memang terletak di pinggir jalan induk pula.

Beberapa lama mereka berjalan, maka mereka menjadi semakin dalam memasuki padukuhan itu. Namun mereka belum melihat rumah yang pantas disebut rumah seorang bekel.

Namun akhirnya mereka sampai ke sebuah rumah yang mempunyai pekarangan yang luas. Dinding halamannya nampak lebih rapi dan regol halamannya pun lebih bersih.

“Kita akan singgah di rumah ini, siapapun yang memilikinya,” berkata Ki Wiradadi.

Manggada dan Laksana sependapat. Karena itu, maka merekapun berhenti di depan regol halaman rumah itu, meskipun hati mereka menjadi berdebar-debar.

Perlahan-lahan Ki Wiradadi mendorong pintu regol halaman yang ternyata tidak diselarak.

Ternyata halaman rumah itu nampak sepi. Namun ketajaman penglihatan ketiganya sempat melihat dua orang yang justru menghilang di saat pintu regol halaman terbuka.

“Berhati-hatilah,” desis Ki Wiradadi.

Manggada dan Laksana pun kemudian berjalan di sebelah-menyebelah, Ki Wiradadi agak di belakang. Dengan tajam mereka mengamati sudut-sudut halaman rumah itu. Namun agaknya halaman rumah itu memang sepi.

Ki Wiradadi bersama kedua orang anak muda itu telah berhenti di muka pendapa rumah yang lebih besar dari rumah-rumah yang lain itu, yang mereka sangka adalah rumah Ki Bekel di padukuhan itu.

Karena tidak seorang pun yang menerima mereka, maka, Ki Wiradadi pun mulai memberikan salam.

Tetapi tidak ada yang menjawab.

Laksana yang menjadi jengkel kemudian berkata, “Apakah kita harus mengetuk pintu pringgitan atau memukul kentongan?”

Ki Wiradadi memang juga menjadi bingung. Tetapi mereka yakin bahwa penghuni rumah itu telah melihat kehadiran mereka.

Karena itu, maka Ki Wiradadi pun telah mendekati kentongan yang tergantung di sudut pendapa. Mengambil pemukulnya yang terselip di lubang kentongan itu.

“Aku tidak peduli,” desis Ki Wiradadi.

Ia pun kemudian telah memukul kentongan itu dalam irama yang datar. Namun tidak terlalu keras.

Sekali ia memukul kentongan itu, ternyata tidak ada tanggapan apapun juga. Namun Ki Wiradadi tidak mau berhenti. Ia telah memukul berulang kali. Semakin lama semakin keras.

Namun akhirnya Ki Wiradadi berhenti memukul. Ia menyadari bahwa meskipun dengan sembunyi-sembunyi, namun beberapa orang telah bertebaran di halaman rumah yang nampaknya sepi itu.

Ternyata Manggada dan Laksana pun melihat pula beberapa sosok bayangan yang bergerak-gerak.

Ki Wiradadi yang sudah tidak memukul kentongan itu lagi, telah bersama-sama dengan Manggada dan Laksana berdiri di tengah-tengah halaman. Mereka tinggal menunggu orang-orang yang bersembunyi di balik tanaman, di belakang seketheng dan di sisi bangunan induk rumah yang cukup besar itu.

Ternyata beberapa saat kemudian, pintu pringgitan rumah itu terbuka. Beberapa orang keluar dari pintu pringgitan itu. Seorang berumur separo baya diiringi tiga orang bertubuh tinggi kekar.

Dua di antaranya berkumis tebal, sedangkan yang seorang lagi agak lebih muda dari yang lain. Tidak berkumis. Wajahnya nampak bersih. Namun sorot matanya yang tajam, serta pandangannya yang mencengkam, menunjukkan betapa keras watak orang itu.

Ki Wiradadi, Manggada dan Laksana berdiri termangu-mangu di halaman. Memang terasa betapa kecurigaan mencengkam orang-orang yang ada di halaman rumah itu, sebagaimana orang-orang seisi padukuhan itu.

Orang yang dikawal oleh tiga orang bertubuh tinggi tegap itupun kemudian berdiri di bibir pendapa. Dipandanginya Ki Wiradadi dan kedua orang anak muda yang menyertainya.

Tanpa basa-basi orang itu bertanya, “Apa maksud kalian memasuki halaman rumahku, Ki Sanak?”

Ki Wiradadi maju selangkah. Kemudian iapun menjawab, “Kami adalah pemburu-pemburu yang belum pernah memasuki Hutan Jatimalang. Beberapa orang petani yang aku jumpai di sawah memberitahukan kepada kami, bahwa Hutan Jatimalang adalah hutan yang banyak menyimpan binatang buruan, sehingga jika kami memasuki hutan itu, maka kami tentu akan berhasil dengan baik. Kami akan mendapat banyak binatang buruan yang dapat kami ambil kulitnya dan dijual ke kota atau ditukar dengan barang-barang lain yang mahal harganya.”

“Omong kosong,” geram orang itu tiba-tiba. “Siapa yang mengatakannya?”

“Aku belum mengenalnya. Aku hanya bertemu dengan mereka di sawah. Tiga orang telah memberikan keterangan yang sama kepadaku,” berkata Ki Wiradadi.

“Bohong,” berkata orang itu. Lalu katanya, “Hutan itu memang menyimpan binatang buas yang banyak. Tetapi juga binatang berbisa. Bahkan aku menganjurkan kepada Ki Sanak untuk tidak berburu di Hutan Jatimalang.”

Ki Wiradadi termangu-mangu. Namun kemudian ia telah bertanya, “Maaf, Ki Sanak. Supaya aku tidak keliru menang-gapi pendapat Ki Sanak, siapakah Ki Sanak ini?”

“Aku jagabaya dari kademangan ini,” jawab orang itu.

Ki Wiradadi mengangguk-angguk. Katanya, “Ternyata kami salah duga.”

“Apa yang salah?” bertanya orang yang ternyata Ki Jagabaya itu.

“Aku kira aku berhadapan dengan Ki Bekel padukuhan ini,” jawab Ki Wiradadi.

“Rumah Ki Bekel ada di sebelah, selang tiga rumah dari rumah ini,” jawab Ki Jagabaya.

“Jadi, bagaimana pendapat Ki Jagabaya tentang hutan itu?” bertanya Ki Wiradadi kemudian.

“Pergilah ke tempat lain,” berkata Ki Jagabaya.

“Aku adalah pemburu yang telah menjelajahi hutan dan pegunungan rasa-rasanya kami telah didorong oleh satu keinginan yang sulit dicegah untuk memasuki Hutan Jatimalang yang menurut pendengaran kami terdapat banyak binatang buasnya. Kami adalah pemburu yang telah mendapat pesanan berbagai macam kulit binatang buas itu,” berkata Ki Wiradadi.

Tetapi Ki Jagabaya itu berkata, “Ki Sanak akan mendapat banyak kesulitan. Sebaiknya Ki Sanak mengurungkan niat kalian untuk memasuki Hutan Jatimalang, dan secepatnya meninggalkan padukuhan ini.”

“Kenapa?” bertanya Ki Wiradadi.

“Sudah aku katakan, di hutan itu terdapat banyak sekali binatang berbisa yang tidak dapat kalian lawan dengan busur dan anak panah. Ular, laba-laba biru, kumbang bercincin perak, bahkan beberapa jenis tumbuh-tumbuhan berbisa akan dapat membunuh Ki Sanak bertiga. Laba-laba biru dan kumbang bercincin perak biasanya tidak kalah tajam dari ular bandotan yang berkeliaran di setiap jengkal tanah. Sedangkan di rawa-rawa, di samping ular air yang tidak kalah tajam bisanya, terdapat buaya-buaya dari dua jenis. Di rawa-rawa yang dangkal, terdapat buaya-buaya kerdil tetapi rakusnya melampaui ulat, liar dan sangat buas. Sedangkan di rawa-rawa yang dalam, terdapat buaya-buaya raksasa yang tidak terlawan,” berkata Ki Jagabaya.

Tetapi adalah di luar dugaan Ki Jagabaya, Ki Wiradadi justru berkata dengan wajah cerah, “Menarik sekali. Buaya-buaya kerdil adalah jenis binatang langka yang justru dicari. Kulitnya akan dapat menjadi perhiasan yang sangat mahal. Sedangkan buaya-buaya raksasapun akan sangat laku di kota-kota besar. Kulit buaya yang tidak cacat akan dapat ditukar dengan seekor kuda yang tegar, jika kita dapat mengolahnya dan berhasil baik.”

Wajah Ki Jagabaya menjadi tegang. Katanya, “Kalian sudah disesatkan oleh ketamakan kalian mendapatkan uang yang banyak atas hasil buruan kalian. Betapapun banyaknya bahan yang ada dalam hutan itu untuk kalian jadikan uang, tetapi jika kalian tidak dapat keluar lagi dari hutan itu, maka semuanya tidak akan berarti apa-apa.”

Tetapi Ki Wiradadi tertawa. Katanya, “Sudah lebih dari duapuluh tahun aku berkeliaran di segala jenis hutan. Kedua orang anakku ini, meskipun masih sangat muda, tetapi juga sudah berpengalaman antara lain dua dan tiga tahun.”

“Jika kalian tidak ingin mendengar pendapatku, kenapa kalian singgah di rumahku? Untuk apa?” bertanya Ki Jagabaya.

“Kami sekedar ingin memberitahukan kehadiran kami,” jawab Ki Wiradadi, “agar yang bertanggung jawab atas padukuhan ini mengetahui, bahwa kami bertiga datang untuk berburu ke hutan yang barangkali termasuk lingkungannya. Karena aku mengira bahwa rumah ini adalah rumah Ki Bekel, maka aku telah masuk. Namun agaknya akupun tidak keliru, karena rumah ini ternyata justru rumah Ki Jagabaya bukan saja dari padukuhan ini, tetapi dari kademangan ini.”

Ki Jagabaya termangu-mangu sejenak. Namun agaknya ada sesuatu yang tersimpan di dalam dadanya.

Sementara itu Ki Wiradadi berkata selanjutnya, “Ki Jagabaya, aku mengucapkan terima kasih atas peringatan yang telah Ki Jagabaya berikan. Tetapi sayang, bahwa kami benar-benar berniat untuk pergi ke hutan itu.”

Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba saja ia berkata, “Naiklah. Duduklah. Mungkin Ki Sanak memerlukan penjelasan lebih banyak.”

Ki Wiradadi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian bertiga, bersama Manggada dan Laksana, maka ia pun telah naik ke pendapa dan duduk melingkar di atas tikar pandan yang putih.

“Ki Sanak,” berkata Ki Jagabaya kemudian, “apakah aku harus memberikan lebih banyak keterangan untuk mencegah kalian memasuki hutan itu?”

Ki Wiradadi yang kemudian nampak menjadi bersungguh-sungguh. Katanya, “Ki Jagabaya, sebenarnyalah sejak aku memasuki padukuhan ini, terasa satu suasana yang lain. Bahkan di beberapa padukuhan sebelumnyapun hal itu mulai terasa. Di kademangan sebelah, suasana seperti itu masih belum nampak, kecuali di satu dua padukuhan terakhir. Keadaan itu sangat menarik perhatianku. Aku belum pernah menjumpai padukuhan yang dicengkam suasana seperti ini, seakan-akan diselimuti oleh kabut yang muram. Orang-orang padukuhan ini, dan beberapa padukuhan sebelumnya, rasa-rasanya tidak ingin berhubungan dengan orang-orang yang datang dari luar padukuhannya.”

“Itu hanya perasaan Ki Sanak saja,” berkata Ki Jagabaya. “Tidak ada perasaan semacam itu di padukuhan ini. Penduduk padukuhan ini, termasuk padukuhan-padukuhan lain di kademangan ini adalah penduduk yang ramah.”

Ki Wiradadi mengangguk-angguk. Tetapi iapun kemudian bertanya, “Ki Jagabaya, apakah tanggapanku salah? Bahkan di halaman ini pun telah terjadi suasana seperti di seluruh padukuhan. Penuh kecurigaan dan kecemasan. Di tempat lain, atau katakanlah pada umumnya, jika diketahui ada tamu yang datang, maka biasanya tamu itu akan disambut baik, meskipun seandainya timbul persoalan. Apalagi mereka yang belum dikenal, akan segera ditemui dan dipersilahkan duduk. Tetapi di rumah ini yang aku jumpai ternyata lain. Isi rumah ini sudah tahu bahwa ada tamu yang memasuki regol halaman. Tetapi justru penghuni rumah ini seakan-akan bersembunyi. Baru kemudian, setelah aku memukul kentongan, Ki Jagabaya datang menyambut kami.”

Ki Jagabaya termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku mempunyai banyak pekerjaan, Ki Sanak. Aku tidak dapat menerima setiap tamuku, apalagi yang belum aku kenal.”

“Siapapun dapat menerima kami, Ki Jagabaya. Tetapi penghuni rumah ini seakan-akan justru telah bersembunyi. Satu penerimaan yang tidak wajar,” berkata Ki Wiradadi. “Bukan maksud kami mencela sikap ini Ki Jagabaya. Mungkin sikap itu adalah sikap kebanyakan penghuni padukuhan ini, tetapi kami kurang mengerti kenapa Ki Jagabaya bersikap seperti itu, sebagaimana sikap padukuhan ini terhadap orang yang datang dari luar,” berkata Ki Wiradadi.

Ki Jagabaya menjadi tegang. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu.

Karena Ki Jagabaya masih tetap diam, Ki Wiradadi berkata selanjutnya, “Ki Jagabaya, sebenarnyalah aku akan memasuki Hutan Jatimalang. Aku sudah mempersiapkan alat-alat berburu yang paling baik yang aku miliki. Aku memang harus berterima kasih kepada Ki Jagabaya yang telah memperingat-kan kami. Tetapi seperti yang sudah aku katakan, kami adalah pemburu yang berpengalaman menjelajahi hutan. Menghadapi binatang buas dan binatang berbisa apapun juga. Ki Jagabaya, kami mempunyai sejenis minyak yang dapat kami usapkan di kulit kami, sehingga binatang berbisa jenis apapun tidak akan menggigit atau menyengat kami.”

Tiba-tiba saja Ki Jagabaya menggeram. Sesuatu agaknya telah bergejolak di dalam hatinya. Pada saat ia tidak dapat lagi menahan diri, maka iapun berkata menghentak-hentak, “Bukan hanya binatang buas dan binatang berbisa.”

Ki Wiradadi mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Jika bukan sekedar binatang jenis apapun, lalu apa?”

Wajah Ki Jagabaya menjadi merah. Sorot matanya memancarkan gejolak di dalam dadanya. Namun kemudian kepalanya menunduk dalam-dalam.

Ketiga orang yang mengawalnya itupun termangu-mangu. Namun nampaknya merekapun menjadi gelisah.

Ki Wiradadi, Manggada dan Laksana termangu-mangu pula untuk beberapa saat. Mereka merasakan betapa sesuatu tengah bergejolak di hati Ki Jagabaya itu. Namun Ki Wiradadi yang berpengalaman, tidak tergesa-gesa mendesaknya. Ia menunggu, sehingga Ki Jagabaya sempat mengendapkan perasaannya itu.

Baru kemudian Ki Jagabaya berkata, “Ki Sanak, aku tidak dapat membantah lagi, bahwa apa yang Ki Sanak katakan semuanya memang benar. Orang-orang padukuhan ini, dan bahkan setiap keluarga, termasuk keluargaku, selalu mencurigai orang lain yang datang memasuki padukuhan ini, karena selama ini kami telah mengalami satu tekanan yang sangat berat yang sampai saat ini belum teratasi.”

“Apa yang telah terjadi, Ki Sanak?” bertanya Ki Wiradadi.

“Itu adalah persoalan kami. Kami tidak perlu memberitahu-kan kepada orang lain karena hal itu hanya akan menjadi bencana saja bagi kademangan ini,” jawab Ki Jagabaya.

“Bukan maksud kami menumbuhkan kesulitan yang semakin besar di kademangan ini. Namun jika Ki Jagabaya dapat memberitahukan persoalannya, maka agaknya kami akan dapat menempatkan diri kami. Karena sebenarnyalah bahwa kami semula memang tidak mempunyai kepentingan apapun dengan kademangan ini, selain sekedar lewat dalam perjalanan kami menuju ke Hutan Jatimalang,” berkata Ki Wiradadi.

Ki Jagabaya termangu-mangu. Di luar sadarnya ia berpaling kepada ketiga orang pengawalnya. Namun ketiga orang pengawalnya itu hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Mereka sama sekali tidak mengerti, sikap yang manakah yang paling baik ditempuh oleh Ki Jagabaya pada saat seperti itu. Mereka memang tidak terbiasa menghadapi orang yang mampu menekan perasaan mereka sehingga mereka harus berterus terang seperti pemburu itu.

“Ki Sanak,” berkata Ki Jagabaya selanjutnya, “kademangan ini adalah kademangan yang malang. Adalah di luar kuasa kami untuk mengatasi kesulitan yang timbul beberapa tahun terakhir ini.”

“Apakah yang terjadi?” bertanya Ki Wiradadi. “Sudah dua tiga kali kau mengucapkan pertanyaan itu.”

“Aku tidak ingin memperburuk keadaan,” jawab Ki Jagabaya.

“Kami berjanji untuk mengerti. Dan bukan kebiasaan kami untuk memperberat penderitaan seseorang. Apalagi kalian telah berbuat baik terhadap kami dengan berusaha mencegah kami memasuki hutan itu,” berkata Ki Wiradadi.

Ki Jagabaya masih saja ragu-ragu. Namun di dalam hatinya telah tumbuh kepercayaan kepada ketiga orang yang mengaku pemburu itu. Bahkan ia berharap, jika ia berterus terang maka hendaknya ketiga orang pemburu itu mengurungkan niatnya untuk memasuki hutan itu. Sebab apabila mereka benar-benar berniat memasuki hutan itu, Ki Jagabaya pun akan dapat dituduh berbuat salah tidak mencegah sekelompok pemburu memasuki hutan itu.

Karena itu, maka katanya, “Baiklah, Ki Sanak. Aku akan berterus terang. Namun dengan demikian aku berharap Ki Sanak tidak meneruskan niat Ki Sanak memasuki hutan itu.”

Ki Wiradadi mengangguk-angguk. Sementara itu Ki Jagabaya berkata selanjutnya, “Ki Sanak, di hutan itu terdapat sekelompok orang yang tidak mau berhubungan dengan orang lain dalam keadaan apapun. Jika mereka terpaksa berhubung-an, tentu dalam keadaan yang sangat khusus.”

“Maksud Ki Jagabaya dengan sangat khusus?” bertanya Ki Wiradadi.

“Karena terpaksa sekali. Misalnya jika mereka memerlukan garam. Jika mereka memerlukan kebutuhan hidup mereka sehari-hari,” berkata Ki Jagabaya.

Ki Wiradadi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Terima kasih atas keterangan Ki Sanak. Tetapi jika hanya demikian, kenapa hal itu telah membuat kademangan ini bersikap aneh?”

Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ki Sanak terlalu banyak ingin tahu.”

“Persoalannya belum masuk ke dalam penalaran kami,” jawab Ki Wiradadi.

Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Katanya pula, “Ki Sanak, tempat ini adalah jalur jalan yang dipergunakan oleh sekelompok orang itu untuk berhubungan dengan sekelompok lain yang menyediakan segala kebutuhan dari kelompok yang ada di dalam hutan itu. Namun tidak mustahil bahwa kadang-kadang kademangan kami ini mengalami kesulitan karenanya. Kami, penghuni kademangan ini tidak boleh tahu apa yang setiap kali dibawa oleh sekelompok orang yang lewat padukuhan dan bahkan kademangan ini.”

Ki Wiradadi mengangguk-angguk. Tetapi ia bertanya, “Apa sebabnya? Apakah yang dibawa oleh sekelompok orang itu akan berkurang jika kalian mengetahuinya?”

“Kami tidak tahu,” jawab Ki Jagabaya. “Tetapi sekelompok orang itu hampir sama garangnya dengan sekelompok orang yang ada di dalam hutan. Kadang-kadang kami tidak mengerti apakah kesalahan kami, namun tiba-tiba saja sekelompok orang itu marah kepada kami.”

“Lalu apa yang mereka lakukan jika mereka marah?” bertanya Ki Wiradadi.

“Kami harus membayar denda,” jawab Ki Jagabaya. “Kadang-kadang uang. Tetapi kami pernah dua kali harus membayar denda yang sangat mahal. Jika kami menolak, maka seluruh isi kademangan ini akan ditumpas.”

“Denda apakah itu?” bertanya Ki Wiradadi.

“Kami harus membayar dengan menyerahkan setiap kali dari kedua denda yang sangat mahal itu seorang gadis,” jawab Ki Jagabaya.

“Seorang gadis?” bertanya Ki Wiradadi dengan tegang.

“Ya,” jawab Ki Jagabaya.

“Jadi Ki Jagabaya, atau katakanlah kademangan ini pernah menyerahkan dua orang gadis?” desak Ki Wiradadi.

“Ya. Seorang hampir dua tahun yang lalu. Sedang yang seorang baru beberapa bulan berselang,” jawab Ki Jagabaya.

Wajah Ki Wiradadi menjadi tegang. Demikian pula Manggada dan Laksana. Bahkan hampir di luar sadarnya Manggada bertanya, “Apakah Ki Jagabaya mengetahui, untuk apa gadis-gadis itu?”

Ki Jagabaya menggeleng.

“Jadi Ki Jagabaya menyerahkan juga gadis-gadis itu?” bertanya Ki Wiradadi.

“Jika tidak, maka kademangan kami telah menjadi abu. Para penghuninya telah menjadi tanah sekarang ini dan kademangan ini tidak akan pernah ada lagi,” jawab Ki Jagabaya.

“Kenapa kalian tidak melawan?” bertanya Ki Wiradadi.

“Melawan?” bertanya Ki Jagabaya.

“Ya, melawan. Bukankah ada banyak laki-laki di kademangan ini?” bertanya Ki Wiradadi pula.

“Jika kami melawan, maka nasib seisi kademangan ini akan justru menjadi semakin buruk. Kekuatan apa yang dapat kami pergunakan untuk melawan? Bukan hanya dua orang gadis yang akan hilang. Tetapi sama nasibnya sebagaimana kami tidak menyerahkan gadis-gadis,” berkata Ki Jagabaya.

Ki Wiradadi mengangguk-angguk. Mereka yang datang ke kademangan itu dengan sikap seorang pemburu itu telah mendapat bahan yang jelas tentang dua kelompok orang yang telah menakut-nakuti kademangan itu. Sekelompok orang yang biasa mengorbankan gadis-gadis itu dan sekelompok orang yang, menjadi alatnya untuk mendapatkan gadis-gadis.

Agaknya kedua kelompok itu merupakan kelompok yang mirip. Yang mengorbankan gadis-gadis itu tentu sekelompok orang yang mengikuti aliran yang sesat. Sementara kelompok yang lain adalah sekelompok orang-orang yang tamak, yang tanpa menghiraukan penderitaan orang lain dan tanpa mengenal perikemanusiaan telah berusaha mendapatkan uang sebanyak-banyaknya dari orang-orang yang beraliran sesat.

“Sedangkan orang-orang beraliran sesat itu tentu mendapatkan uang dengan cara yang tidak sepantasnya pula,” berkata Ki Wiradadi di dalam hatinya.

Namun dalam pada itu, maka Ki Wiradadi itu pun telah berkata, “Ki Jagabaya, agaknya kami menjadi jelas duduk persoalannya. Ki Jagabaya telah menghadapi kekuatan yang menurut perhitungan kademangan itu tidak terlawan. Karena itu, maka Ki Jagabaya merasa perlu untuk memenuhi segala tuntutan mereka, meskipun itu ternyata sangat mahal harganya. Menyerahkan gadis-gadis.”

“Karena itu, Ki Sanak,” berkata Ki Jagabaya, “jangan menambah penderitaan kami. Jangan kau teruskan perjalanan kalian, karena hal itu hanya akan membuat mereka marah. Yang akan menjadi sasaran adalah kademangan ini.”

Ki Wiradadi mengangguk-angguk. Tetapi iapun bertanya, “Tetapi apakah sekelompok orang itu memang menghuni Hutan Jatimalang?”

“Sebenarnya tidak. Tetapi mereka sering berada di hutan itu, apalagi jika mereka dalam kesepakatan serah terima atas kebutuhan mereka,” jawab Ki Jagabaya.

“Jika mereka tidak berada di hutan itu?” bertanya Ki Wiradadi.

“Kami tidak tahu. Tetapi menurut pendengaran kami, mereka berada di kaki gunung,” jawab Ki Jagabaya.

“Ki Jagabaya,” tiba-tiba seorang di antara pengawalnya itu menegurnya.

Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Hatiku telah tidak mampu memuat lagi. Aku tidak tahu, kenapa aku mempercayai ketiga orang-pemburu itu.”

“Baiklah, Ki Jagabaya,” berkata Ki Wiradadi. “Jika demikian justru aku akan memasuki hutan itu.”

“Aku sudah mencoba untuk mencegah,” berkata Ki Jagabaya. “Juga demi keselamatan kami.”

“Katakan bahwa kami tidak melalui jalan kademangan ini jika mereka marah karena kehadiran kami,” jawab Ki Wiradadi, “agar kami bukan menjadi bencana ketiga bagi kalian. Tetapi kamipun tidak dapat dicegah.”

Ki Jagabaya termangu-mangu. Namun ia benar-benar tidak dapat mencegah ketiga orang pemburu itu yang berniat benar-benar untuk memasuki hutan itu. Nampaknya ketiga orang pemburu itu benar-benar akan menjadi bencana ketiga jika Ki Jagabaya akan menahan mereka.

Karena itu, maka Ki Jagabaya yang sudah tidak tahu lagi apa yang sebaiknya dilakukan, akhirnya menyerah pada keadaan. Ketiga orang-orangnya yang garang, dan beberapa orang lain yang ada di halaman, adalah orang-orangnya yang paling dipercaya. Tetapi menurut penilaian Ki Jagabaya, mereka tidak akan dapat menghentikan ketiga orang pemburu itu tanpa jatuh korban. Bahkan mungkin terlalu banyak dibandingkan dengan jumlah orang yang tinggal.

Namun agaknya orang-orangnya pun nampak lebih sesuai dengan keputusan Ki Jagabaya, membiarkan ketiga orang itu berjalan terus. Bahkan ketiga orang kepercayaan Ki Jagabaya itu berpendapat hampir sama di dalam dirinya, “Biar saja orang itu ditelan hutan yang garang dan isinya yang menggetarkan jantung itu. Agaknya itu lebih baik daripada harus mencegah pemburu-pemburu itu dengan kekerasan. Agaknya mereka juga orang-orang berilmu, sebagaimana orang-orang yang sering memaksakan kehendaknya di padukuhan, bahkan di kademangan ini. Bahkan ketiganya sama sekali tidak mengganggu kami. Sikapnya jauh lebih baik dan sama sekali berbeda dengan orang-orang yang pernah menimbulkan bencana di padukuhan ini.”

Karena itulah, ketika ketiganya kemudian berniat meneruskan perjalanan, mereka sama sekali tidak berusaha menahan perjalanan mereka.

Demikianlah, ketiga orang itu telah turun dari pendapa. Mereka melihat beberapa orang yang bersembunyi di balik perdu. Tetapi karena tidak terjadi apa-apa, maka mereka pun tidak berbuat apa-apa.

“Kami tidak perlu singgah di rumah Ki Bekel,” berkata Ki Wiradadi. “Mohon Ki Jagabaya menyampaikan kepadanya, bahwa kami telah menempuh perjalanan ini. Barangkali Ki Jagabaya pun dapat berbicara dengan Ki Bekel dan orang-orang di padukuhan ini, apa yang akan kalian katakan tentang kami jika orang-orang itu bertanya kepada kalian, karena kami telah hadir di Hutan Jatimalang. Apakah kalian akan ingkar, atau kalian akan mengatakan alasan lain, terserah kepada kalian.”

Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab. Meskipun demikian ia mempunyai kesan, bahwa ketiga orang itu bukan orang yang berniat berbuat jahat. Meskipun Ki Jagabaya juga tidak yakin, bahwa mereka bukan sekedar pergi berburu ke Hutan Jatimalang. Namun terbersit di hatinya bahwa hendaknya orang-orang itu akan membawa perubahan di kademangannya, yang sudah bertahun-tahun dibayangi oleh kegelisahan dan ketakutan.

Ketiga orang pengawal Ki Jagabaya itu ternyata mempunyai kesan yang sama dengan Ki Jagabaya. Bahkan seorang di antara mereka berkata, “Apakah mereka memang dikirim oleh Yang Maha Agung untuk memperbaiki keadaan kita?”

Ki Jagabaya tidak menjawab. Namun orang yang lain justru menyahut, “Atau sebaliknya? Jika kedatangan mereka menimbulkan kemarahan orang-orang yang ada di hutan itu, bukankah itu berarti bencana yang lebih besar bagi kita?”

Seorang lagi di antara mereka menyahut, “Kita sudah tidak mempunyai hak apa-apa lagi untuk bersikap. Kita tinggal menerima apa yang akan terjadi.”

Yang lain pun kemudian terdiam. Sementara itu Ki Jagabaya berkata, “Aku akan pergi ke rumah Ki Bekel.”

Dalam pada itu, Ki Wiradadi, Manggada dan Laksana telah menyusuri jalan bulak di luar padukuhan itu. Nampaknya kademangan yang meliputi padukuhan itu adalah kademangan yang cukup besar. Namun tidak lebih dari sebuah kademangan yang mati.

“Kasihan,” berkata Ki Wiradadi.

“Orang-orangnya hidup dalam kecemasan dan ketakutan. Bukan untuk satu dua hari atau bulan, tetapi berbilang tahun,” desis Laksana.

“Ya,” sahut Manggada. “Itulah yang telah membentuk mereka menjadi orang-orang aneh. Curiga, cemas, ketakutan dan hampir tidak berani berhubungan dengan orang lain di luar padukuhan mereka.”

“Pada suatu saat, mereka akan mengalami kesulitan yang tidak tertahankan. Sebagaimana mulai tercermin pada diri Ki Jagabaya yang tidak lagi mampu menahan desakan di dalam dadanya,” berkata Ki Wiradadi.

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Namun mereka tidak menyahut. Perhatian mereka tertuju pada sebuah padukuhan kecil di hadapan mereka.

“Apakah kita akan bermalam di padukuhan seperti itu?” bertanya Laksana.

Ki Wiradadi menggeleng. Katanya, “Sebaiknya tidak. Kehadiran kita akan membuat mereka semalam suntuk dibayangi oleh ketakutan yang sangat. Apalagi padukuhan kecil seperti itu.”

“Jadi?” bertanya Laksana.

“Kita akan bermalam di perjalanan,” jawab Ki Wiradadi. “Di pategalan di pinggir hutan itu atau dimana saja.”

Laksana tidak menyahut lagi. Agaknya memang lebih baik demikian untuk menjaga agar mereka tidak menggelisahkan orang sepadukuhan.

Ketika mereka bertiga memasuki padukuhan kecil itu, maka suasana terasa semakin mencengkam. Orang-orang yang sempat melihat ketiga orang itu lewat dari kejauhan, mereka segera berusaha untuk berlindung atau memasuki regol halaman terdekat, atau memasuki jalan-jalan sempit dan berkelok menghilang.

Ki Wiradadi memberikan isyarat kepada kedua orang anak-anak muda itu untuk berjalan terus. Mereka sama sekali tidak akan berhenti di padukuhan itu. Bahkan ketika mereka lewat di depan sebuah bangunan yang mereka perkirakan banjar padukuhan, mereka sama sekali tidak menjumpai seorang pun. Laksana yang sempat menjengukkan kepalanya memang melihat halaman banjar itu sepi.

Demikianlah maka mereka bertiga segera melanjutkan perjalanan. Ternyata padukuhan itu adalah padukuhan terakhir. Demikian mereka keluar dari padukuhan itu, maka mereka melihat bulak yang panjang. Di ujung bulak itu terdapat sebuah padang perdu yang luas, yang menghubungkan bulak itu dengan ujung hutan yang terkenal. Hutan Jatimalang.

Ketiga orang itu termangu-mangu. Mereka tidak dapat memasuki hutan langsung pada saat itu. Sebentar lagi malam akan turun. Sementara itu mereka belum mengenal medan yang akan mereka lalui. Apalagi mereka menyadari, bahwa mereka sama sekali bukan pemburu-pemburu yang berpengalaman sebagaimana mereka katakan. Meskipun Ki Wiradadi memang mempunyai sedikit pengalaman perburuan, tetapi tentu tidak akan cukup memadai sebagai bekal memasuki Hutan Jatimalang di malam hari.

Manggada dan Laksana memang belum berpengalaman. Meskipun mereka pernah menempa diri sebaik-baiknya, tetapi mereka sama sekali belum pernah dengan sengaja pergi berburu. Bersama guru mereka, kedua anak muda itu memang pernah memasuki hutan yang lebat. Tetapi sama sekali bukan untuk berburu. Mereka memasuki hutan dalam rangka menempa kekuatan wadag mereka. Menyusup di antara pepohonan yang roboh, akar-akar yang liar dan pepohonan yang merambat dan berduri. Namun sekali-sekali meloncati dahan-dahan patah, memanjat pepohonan, bergantungan pada sulur yang kuat untuk berayun dan meloncati rawa-rawa yang menyimpan buaya sekalipun.

Namun demikian, latihan-latihan menjelajahi hutan itu akan dapat membantu mereka mengenali dan menguasai medan yang lebat. Bahkan Hutan Jatimalang sekalipun.

Tetapi tentu tidak di malam hari.

Karena itu, ketiga orang anak muda itu pun telah berusaha untuk mendapatkan tempat bermalam. Langit nampak bersih. Agaknya di malam yang segera akan datang, hujan tidak akan turun, meskipun kadang-kadang yang terjadi tidak seperti yang diharapkan.

“Kita akan bermalam di padang perdu itu,” berkata Ki Wiradadi. Namun kemudian, “Tetapi jangan sampai kitalah yang diburu harimau, tetapi kitalah yang akan menjadi pemburu.”

Kedua anak muda itu mengangguk-angguk. Namun bagaimanapun juga mereka harus berpikir, bahwa yang akan mereka lakukan adalah satu tugas yang berbahaya. Mungkin mereka akan dapat mengalami garangnya binatang buas, tetapi yang tidak dapat mereka perhitungkan adalah kekuatan orang-orang liar yang berilmu sesat itu. Yang menganggap bahwa kesetiaan mereka terhadap sumber kekuatan mereka akan dapat memberikan apa saja yang mereka inginkan. Meskipun mereka harus memberikan pengorbanan yang sangat mahal. Seorang gadis dengan syarat tertentu.

Ketiga orang itu ternyata mencapai batas tanah yang digarap oleh orang-orang padukuhan sebelum senja turun. Matahari masih nampak di langit, meskipun sudah menjadi sangat rendah. Dengan demikian ketiga orang itu sempat mengenali lingkungan itu. Bahkan mereka masih sempat memilih beberapa tempat yang paling baik mereka pergunakan untuk bermalam. Namun di padang perdu itu tidak banyak didapati pohon-pohon yang agak besar. Baru beberapa ratus langkah lagi, setelah mendekati batas hutan, terdapat pohon-pohon yang lebih besar.

Tetapi tempaan lahir dan batin atas ketiga orang itu telah membuat ketiga orang itu tidak gentar. Justru setelah mereka mendapat tempat yang paling baik, maka mereka sempat melihat-lihat beberapa puluh langkah di sekitar mereka.

Ternyata tidak ada yang menarik perhatian, selain jalur jalan setapak yang menuju ke Hutan Jatimalang.

“Menilik buasnya hutan itu dengan segala jenis isinya, jalan setapak ini tentu bukan jalan orang yang mempunyai kebiasaan mencari kayu,” berkata Ki Wiradadi

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Dengan nada rendah Manggada berkata, “Tentu bukan. Besok kita akan melihat, jalan ini akan menuju ke arah mana. Jalan kecil ini bukan jalan yang disebut oleh para tawanan itu.”

“Pengenalanmu sangat tajam,” berkata Ki Wiradadi. “Tetapi pepohonan itu memberikan petunjuk bahwa kita tidak salah jalan.”

“Ya. Pohon, sungai, gumuk kecil, dan arah,” desis Manggada.

Yang lain mengangguk-angguk. Namun nampaknya tidak ada lagi yang mereka persoalkan, sementara itu langit pun menjadi buram dan malam mulai turun.

Di malam hari, ketiga orang itu sulit untuk dapat tidur nyenyak meskipun mereka telah membagi waktu. Di kejauhan selalu terdengar suara binatang buas. Bahkan tengkuk mereka sempat meremang ketika mereka mendengar suara anjing hutan, jenis binatang yang hidup berkelompok dan sangat berbahaya. Dalam kelompok, anjing hutan dapat lebih berbahaya dari seekor harimau yang besar.

Adalah di luar sadar ketika mereka memperhatikan beberapa batang pohon yang meskipun tidak terlalu besar, yang akan dapat menjadi tempat untuk menyelamatkan diri apabila sekelompok anjing hutan datang kepada mereka.

Ketiga orang itu merasa beruntung bahwa arah angin tidak menuju ke hutan. Tetapi justru dari arah hutan itu. Sehingga dengan demikian, bau keringat mereka tidak dibawa berhembus ke hidung binatang-binatang buas. Meskipun pada dasarnya binatang buas selalu menghindari manusia, tapi dalam keadaan tertentu binatang buas akan dapat menyerang seseorang.

Ketiga orang itu tidak segera dapat tidur. Ki Wiradadi lalu bertanya, “Siapakah yang lahir tepat pada saat matahari terbenam?”

“Kenapa?” bertanya Manggada.

“Seorang yang demikian disebut julung macan. Orang yang lahir di saat matahari terbenam adalah orang yang dicari oleh harimau untuk menjadi mangsanya,” berkata Ki Wiradadi.

“Benar begitu?” bertanya Manggada.

“Kau lahir di saat matahari terbenam?” bertanya Ki Wiradadi.

Manggada menggeleng. Katanya, “Tidak. Aku lahir hampir tengah malam.”

Ki Wiradadi tersenyum. Katanya, “Sukurlah. Bagaimana dengan kau?”

Laksana yang sedang menguap tidak segera menjawab. Namun kemudian katanya, “Bagaimana jika lahir tepat pada saat matahari terbit?”

“Julung kembang. Seekor harimau hanya akan mencium baunya. Tetapi akan menyingkir dan tidak akan menerkamnya,” jawab Ki Wiradadi. “Apakah kau lahir tepat di saat matahari terbit?”

“Tidak,” jawab Laksana. “Aku lahir beberapa saat menjelang matahari terbit. Hampir dini hari.”

“O,” Ki Wiradadi mengangguk-angguk. “Tidak ada di antara kita yang julung macan.”

“Ki Wiradadi lahir di saat yang bagaimana?” bertanya Manggada.

“Aku lahir di saat matahari mencapai puncaknya,” jawab Ki Wiradadi sambil tertawa pendek.

Kedua anak muda itu mengangguk-angguk. Namun Laksana masih juga bertanya, “Ki Wiradadi percaya kepada sebutan julung macan dan julung kembang itu, serta hubungannya dengan seekor harimau?”

“Kalau sebutan itu sendiri, aku tidak berkeberatan. Tetapi sudah tentu tidak ada hubungannya sama sekali dengan seekor harimau,” jawabnya.

Manggada mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun mengangguk-angguk.

Ketiga orang itu pun kemudian saling berdiam diri. Ketika mereka mendengar aum seekor harimau, mereka berdebar-debar. Tetapi ternyata suara itu tidak menjadi semakin dekat.

“Kita harus beristirahat,” berkata Ki Wiradadi. Lalu, “Silakan kalian tidur. Bukankah aku mendapat giliran pertama. Jika kalian tidak segera tidur, maka akan datang giliran kedua bagi salah seorang di antara kalian, sehingga kesempatan untuk tidur menjadi semakin sempit.”

Manggada dan Laksana tidak menjawab. Namun mereka memang berusaha untuk tidur. Mereka sama sekali tidak menaruh kecurigaan kepada Ki Wiradadi yang sedang mencari anak gadisnya.

Sebenarnyalah, sejenak kemudian kedua anak muda itu tertidur juga. Sementara Ki Wiradadi berjaga-jaga. Untuk menghindarkan diri dari perasaan kantuk, Ki Wiradadi melangkah hilir mudik di dekat anak-anak muda itu sedang tidur.

Adalah sangat mengejutkannya ketika seekor ular hitam merambat menyilang di kaki Manggada yang sedang tidur nyenyak. Dengan berdebar-debar ia memperhatikan ular itu. Jika dengan tidak sengaja Manggada bergerak dalam tidurnya, maka ular itu akan dapat menggigitnya.

Untunglah bahwa Manggada sama sekali tidak bergerak sehingga ular itu melewatinya dan hilang di dalam semak-semak.

Ki Wiradadi menarik nafas dalam-dalam. Keringat dingin telah membasahi punggungnya.

Ketika datang giliran kedua bagi mereka bertiga, maka Ki Wiradadi telah membangunkan Manggada. Sebelum Ki Wiradadi tidur, ia sempat memberitahukan tentang ular hitam itu.

Manggada mengangguk-angguk. Terasa jantungnya berdebar semakin cepat.

“Berhati-hatilah,” pesan Ki Wiradadi.

Ketika Ki Wiradadi kemudian berbaring, maka Manggada telah menyiapkan busur dan anak panahnya. Ia akan dapat membunuh ular itu dengan memanah arah kepalanya dan mengenainya.

Tetapi malam itu tidak terjadi sesuatu atas ketiga orang itu. Laksana yang mendapat tugas terakhir, menunggui mereka sampai matahari mulai membayang.

Demikianlah, di saat matahari terbit, mereka telah meneruskan perjalanan. Namun mereka benar-benar mempergunakan busur dan anak pernah untuk menangkap seekor binatang buruan, justru ketika mereka belum memasuki hutan yang lebat. Ketika mereka menemukan sebuah mata air, maka mereka telah menunggu sejenak dengan penuh kesabaran, sehingga seekor kijang datang untuk minum.

“Kita harus makan sebelum memasuki hutan itu,” desis Ki Wiradadi.

Demikianlah, akhirnya mereka benar-benar telah memasuki hutan itu. Seperti petunjuk dari orang-orang yang tertawan, akhirnya mereka menemukan pintu gerbang dari hutan yang lebat dan garang. Sepasang pohon raksasa yang tumbuh berjarak sekitar sepuluh langkah. Pohon jati yang umurnya telah beratus tahun.

“Kita memasuki hutan itu,” desis Ki Wiradadi. “Kita akan menyusup di antara kedua batang pohon jati raksasa itu.”

Demikianlah, dengan sangat berhati-hati mereka berjalan di antara kedua batang pohon jati raksasa itu. Mereka memang mendapatkan semacam jalan sempit di antara lebatnya pepohonan hutan. Jalan sempit yang menghunjam, menusuk langsung ke jantung Hutan Jatimalang.

Beberapa saat mereka bertiga menjadi ragu-ragu. Ki Wiradadi sempat berdesis, “Apakah kita akan memasuki hutan ini lewat jalan yang disebut oleh para tawanan itu? Bukankah dengan demikian kita akan sampai ke tempat mereka bertemu dan membuat perjanjian dengan orang-orang beraliran sesat itu?”

Kedua anak muda itu termangu-mangu. Namun kemudian Manggada berkata, “Kita akan menempuh jalan sempit ini. Setelah kita mendekati tempat itu, yang ciri-cirinya tentu akan kita kenali, maka kita akan menentukan sikap lagi.”

“Aku sependapat,” berkata Laksana. “Jalan ini masih cukup panjang.”

“Namun kita tidak boleh kehilangan sikap berhati-hati. Meskipun masih cukup jauh, tetapi ada beberapa jenis bahaya yang mengancam kita. Bahkan mungkin kita akan masuk ke dalam perangkap meskipun pada dasarnya aku percaya kepada keterangan para tawanan itu,” sahut Ki Wiradadi.

Kedua anak muda itu pun mengangguk-angguk. Dengan anak panah siap pada busurnya, masing-masing berjalan di sepanjang jalan sempit itu. Sekali-sekali mereka mengenali ciri-ciri yang pernah disebutkan oleh para tawanan, yang sebelumnya pernah memasuki hutan itu. Bahkan mungkin tidak hanya satu dua kali.

Ketiga orang itu kadang-kadang memang harus berhenti barang sejenak, jika mereka melihat sesuatu yang agak asing bagi mereka yang jarang sekali memasuki hutan-hutan lebat, meskipun mereka mempunyai pengetahuan yang cukup untuk sebuah perburuan.

Mereka kadang-kadang dikejutkan oleh segerombolan kera yang bergayutan di dahan-dahan pepohonan, yang nampak-nya sedang menempuh satu perjalanan bersama-sama dari satu tempat ke tempat yang lain yang mungkin menyimpan makanan cukup bagi mereka.

Namun kadang-kadang merekapun harus mengagumi beberapa jenis burung yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

Ketiga orang itu memang sudah pernah mengenali lebatnya hutan belantara, meskipun dengan tujuan lain. Sehingga dengan demikian, mereka bertiga tidak begitu canggung berada di Hutan Jatimalang.

Meskipun demikian, isi hutan-hutan belantara memang berbeda-beda.

Ketika mereka menyusuri jalan sempit itu semakin dalam, mereka mulai menemukan sesuatu yang menarik perhatian. Mereka menemukan bumbung bambu yang dibuat sebagai alat untuk minum. Bahkan juga tempurung kelapa yang nampak-nya memang dibuat sebagai alat minum, sebagaimana bumbung-bumbung bambu itu.

Ki Wiradadi dan kedua orang anak muda yang menyertainya itu, telah mengamati alat-alat minum itu. Bahkan merekapun sempat mengamati lingkungan yang lebih luas lagi, di sekitar tempat mereka menemukan alat untuk minum itu.

Mereka bertiga pun kemudian mengambil satu kesimpulan, bahwa tempat itu menjadi tempat sekelompok orang yang membawa gadis-gadis untuk beristirahat.

“Kenapa di tempat ini?” bertanya Manggada.

Ki Wiradadi mengangguk-angguk. Tetapi ia pun juga berdesis, “Ya, kenapa di tempat ini? Apakah di tempat ini ada yang menarik, atau sesuatu yang tidak terdapat di tempat lain?”

Beberapa saat mereka bertiga termangu-mangu. Namun kemudian mereka mulai memperhatikan keadaan tempat itu dengan jangkauan yang lebih jauh.

Ketika Manggada meloncat ke atas sebatang pohon yang rebah, maka ia mulai memperhatikan suara yang lamat-lamat didengarnya.

“Air,” desisnya.

Karena itu, maka ia pun berkata kepada Ki Wiradadi dan Laksana, bahwa tidak jauh dari tempat itu tentu terdapat sebuah sungai kecil.

Ketiganya pun kemudian telah berdiri pula di atas sebatang pohon kayu yang besar, yang roboh tersandar pada batang-batang kayu lain. Sementara pepohonan yang lebih kecil justru ikut menjadi roboh karenanya.

Ki Wiradadi mengangguk-angguk. Katanya, “Agaknya sungai itulah yang membuat mereka berhenti di tempat ini, yang selanjutnya menjadi tempat pemberhentian yang tetap. Nampaknya satu dua alat minum mereka tercecer atau mereka anggap sudah tidak terpakai lagi, sehingga tertinggal di tempat itu.”

Yang lain mengangguk-angguk. Namun Manggada pun kemudian berkata, “Marilah kita lihat.”

Dengan menjinjing busur, agar dapat lebih cepat dipergunakan jika perlu, daripada disangkurkan di bahu, ketiga orang itu dengan hati-hati bergeser ke arah sebuah sungai yang mengalir di tengah-tengah hutan.

Meskipun suaranya sudah terdengar, namun ternyata mereka masih harus berjalan beberapa lama, menyusup batang-batang kayu yang roboh, meloncati rerumputan berduri dan menyibak gerumbul-gerumbul perdu. Sekali-sekali mereka terhenti oleh sulitnya jalan yang mereka tempuh. Agaknya mereka memerlukan waktu untuk mendekati sungai yang sudah mereka dengar gemericik airnya itu.

Tetapi tiba-tiba saja mereka telah sampai pada sebuah jalan setapak yang nampaknya merupakan jalan, yang meskipun tidak terlalu sering, tetapi sekali-sekali dilalui oleh kaki-kaki manusia. Bukan sekedar kaki binatang.

“Kita dapat mengikuti jalan setapak ini,” desis Manggada.

“Ya,” sahut Laksana, “mudah-mudahan kita dapat menemukan sesuatu.”

“Setidak-tidaknya petunjuk tentang sesuatu,” desis Ki Wiradadi.

Dengan tetap berhati-hati, ketiganya berjalan menyelusuri jalan setapak yang ternyata sangat licin itu. Lumut tumbuh menutupi hampir seluruh jalan setapak itu. Bahkan di beberapa bagian jalan itu justru telah tertutup dengan genangan air meskipun tidak di musim hujan.

“Berhati-hatilah terhadap jenis-jenis ular air yang senang hidup di genangan air seperti itu,” berkata Ki Wiradadi.

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Merekapun sudah diperkenalkan oleh guru mereka, bahwa kehidupan di daerah yang basah diwarnai dengan beberapa jenis ular. Ketika mereka lewat di dekat rawa-rawa yang berair lebih banyak, mereka berhenti sejenak untuk melihat jenis binatang yang bergerak-gerak di dalam air.

“Buaya,” desis Manggada.

“Terlalu kecil,” sahut Laksana. “Sejenis biawak yang besar.”

Ki Wiradadilah yang menyahut, “Tidak. Bukan biawak. Memang buaya. Tetapi buaya-buaya kerdil. Justru jenis buaya yang berbahaya. Buaya-buaya kerdil yang berwarna kehijauan itu hidup dalam kelompok-kelompok. Sekali seekor binatang digigit oleh salah satu dari buaya itu dan menitikkan darah, maka dalam sekejap binatang itu sudah tidak akan nampak lagi tertimbun oleh sekelompok buaya kerdil. Kemudian yang tertinggal adalah sekedar kerangkanya saja.”

Laksana mengangguk-angguk. Ketika ia menjadi semakin jelas memperhatikan binatang yang ada di dalam rawa-rawa itu, maka ia pun mengangguk-angguk sambil berkata, “Ya. Memang buaya. Buaya dari jenis yang kecil.”

Namun bulu-bulu tengkuknya meremang ketika ia membayangkan seekor binatang buas yang tinggal kerangkanya saja.

“Bagaimana dengan seekor harimau?” tiba-tiba saja Laksana bertanya.

“Ya. Seekor harimau yang terperosok ke dalam rawa-rawa itu akan menjadi mangsa buaya-buaya kerdil itu. Jika seekor buaya menggigit kakinya dan berdarah, maka akibatnya akan sangat pahit bagi binatang itu. Bahkan jika harimau itu membalas menggigit buaya kerdil itu, maka darah buaya itu sendiri akan menjerat harimau itu ke dalam maut,” jawab Ki Wiradadi. Lalu katanya pula, “Apalagi seekor rusa, kijang atau banteng sekalipun.”

Laksana mengangguk-angguk.

“Marilah,” tiba-tiba Manggada mendesak. “Aku menjadi ngeri untuk berlama-lama disini. Jika kaki kita diterkam dan digigitnya, maka kitapun akan habis di rawa-rawa ini.”

Sejenak kemudian mereka telah meninggalkan rawa-rawa itu. Mereka telah mencapai tepi sebuah sungai yang tidak begitu deras airnya. Tetapi nampak sebuah kedung yang cukup luas di tikungan.

Ternyata bahwa air sungai itu cukup jernih. Di lereng yang menurun terdapat sebuah tangga yang nampaknya dibuat oleh seseorang. Tidak terlalu tinggi.

Tetapi ketiga orang itu tidak menuruni lereng tanggul itu. Mereka berdiri saja di atas tanggul sambil melihat betapa jernihnya air sungai itu, sehingga dasarnya dapat kelihatan. Ikan-ikan yang hilir mudik dari berbagai jenispun nampak dengan jelas.

“Nampaknya kita berada di tempat yang benar. Marilah, kita ikuti kembali jalan setapak itu. Mungkin akan dapat menunjukkan kepada kita, kemana kita akan pergi selanjutnya,” berkata Ki Wiradadi.

Ketiga orang itupun telah melangkah kembali sepanjang jalan setapak itu. Mereka mengikuti jalur itu sehingga mereka sampai ke tempat yang agak lapang di tengah-tengah lebatnya hutan itu.

“Kita sampai ke tempat yang kita cari,” berkata Ki Wiradadi.

Kedua orang anak muda yang menyertainya mengangguk-angguk.

Manggada pun berkata, “Ciri-cirinya sesuai benar dengan keterangan orang-orang yang tertawan itu.”

“Tetapi kita tidak menemukan apa-apa disini,” desis Laksana.

“Memang tidak,” sahut Ki Wiradadi. “Tetapi di sinilah gadis-gadis itu diserahkan kepada orang-orang yang beraliran sesat itu.”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Tetapi saat-saat penyerahan itu jarang sekali terjadi. Mungkin sebulan sekali di hari-hari yang tidak diketahui.

“Lalu apa yang kita dapatkan disini?” bertanya Laksana.

Ketiga orang itu termangu-mangu sejenak. Dengan sungguh-sungguh mereka mengamati tempat itu. Beberapa buah batu besar, perapian dan beberapa pertanda yang menjelaskan bahwa tempat itu memang sering dikunjungi orang.

“Orang-orang yang membawa gadis yang akan dijual itu agaknya sering berhenti di tempat yang kita amati sebelum kita menemukan jalur ke sungai. Mereka berhenti di tempat itu untuk menunggu saat-saat penyerahan,” Ki Wiradadi menjelaskan perhitungannya.

“Ya,” Manggada mengangguk-angguk. “Agaknya penyerahan itu hanya dilakukan di hari-hari tertentu.”

Ketiga orang itu menjadi semakin yakin akan penemuan mereka. Karena itu, dengan anak panah siap pada tali busur mereka sehingga setiap saat segera dapat dilepaskan, ketiga orang itu mengamati tempat itu dengan seksama.

Manggada terkejut ketika di balik gerumbul yang rimbun diketemukan sosok kerangka manusia yang tertindih kekayuan silang-melintang, sehingga sulit untuk dapat mengambilnya.

“Apakah mungkin seseorang yang tertimpa batang-batang pepohonan yang roboh?” desis Manggada.

Ki Wiradadi dan Laksana yang kemudian melihat pula kerangka itu, mencoba untuk mengurainya. Namun mereka sependapat bahwa orang itu tertindih kekayuan sehingga mayatnya tidak diseret oleh binatang buas dari tempat itu.

Namun menurut pengamatan Ki Wiradadi, yang memiliki pengetahuan dan pengalaman cukup luas, ia menduga bahwa yang telah mati itu adalah seorang perempuan.

“Kenapa seorang perempuan?” bertanya Laksana.

Ki Wiradadi menggeleng. Jawabnya, “Aku tidak tahu.”

“Apakah Ki Wiradadi dapat menduga, berapa lama kerangka itu terbaring di situ?” bertanya Manggada.

Ki Wiradadi termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Aku tidak tahu pasti. Tetapi menilik tulang-tulang itu, mungkin kerangka itu sudah terbaring di tempat itu kira-kira sejak setahun yang lalu.”

Kedua anak muda itu mengangguk-angguk. Namun sudah pasti bagi mereka, bahwa sosok kerangka itu tentu bukan anak perempuan Ki Wiradadi, karena anak itu belum terlalu lama diambil dari rumahnya.

Namun menitik tempat itu, maka ketiga orang itu pun menjadi semakin yakin, bahwa orang-orang yang mengambil gadis-gadis itu adalah orang-orang yang tidak lagi hidup sewajarnya sebagai orang-orang yang beradab.

“Kita akan menelusuri jalan menuju ke tempat mereka,” berkata Ki Wiradadi.

“Kita tidak tahu berapa lama kita akan sampai ke tempat mereka,” desis Manggada.

“Ya, kita tidak mengerti seberapa jauh jalan yang akan kita tempuh. Tetapi kita harus memperhitungkan kemungkinan di tengah-tengah hutan ini,” desis Laksana.

Ki Wiradadi mengangguk-angguk. Namun iapun berkata, “Apakah kalian belum pernah mendapat petunjuk bagaimana kita bermalam di dalam hutan yang lebat seperti ini?”

“Kami pernah mempelajarinya,” jawab Manggada. “Bahkan kami telah melakukannya beberapa kali.”

“Apa yang kalian lakukan?” bertanya Ki Wiradadi.

“Memanjat pepohonan,” jawab Manggada dan Laksana hampir berbareng.

Ki Wiradadi mengangguk-angguk. Karena itu katanya, “Jika demikian, bukankah kita tidak akan mengalami kesulitan?”

Laksana menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tetapi lebih senang bermalam di luar hutan daripada di dalam hutan ini.”

“Jika terpaksa?” bertanya Ki Wiradadi.

“Apa boleh buat,” jawab Laksana.

“Baiklah,” berkata Ki Wiradadi. “Jika demikian, kita akan menelusuri jalan ini. Kita akan sampai ke satu tempat yang barangkali merupakan tempat yang sangat berbahaya.”

“Jika jalan itu yang harus kita tempuh, maka kita akan menempuhnya,” berkata Laksana.

Demikianlah, maka mereka bertiga telah bersiap menempuh satu perjalanan yang berbahaya. Jalan yang sebelumnya tidak mereka dapatkan gambaran sama sekali, karena yang diceriterakan oleh para tawanan hanya sampai ke tempat mereka menyerahkan gadis-gadis di tengah hutan yang lebat itu. Selebihnya tidak seorang pun yang mengetahuinya.

Ki Wiradadi dengan busur yang siap dipergunakan berjalan paling depan sambil mengikuti jejak. Di belakangnya Laksana dan yang paling belakang adalah Manggada.

Ketiganya benar-benar siap melakukan apa saja untuk menembus lebatnya hutan, dan mendekati tempat orang-orang yang beraliran sesat itu.

Namun jalan itu memang terlalu rumit. Kadang-kadang mereka seakan-akan telah kehilangan jalur.

-ooOdw-aremaOoo-

bersambung ke jilid 4

Sumber djvu : Koleksi Ismoyo

http://cersilindonesia.wordpress.com

Ebook : Dewi KZ

http://kangzusi.com/ atau http://ebook-dewikz.com/

http://kang-zusi.info http://dewikz.byethost22.com/

Diedit ulang oleh Ki Arema

kembali | lanjut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s