AM_MC-02


Serial ARYA MANGGADA

Episode I: MENJENGUK CAKRAWALA

JILID 2

kembali | lanjut

AMMC-02PEMIMPIN kelompok itu menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Manggada dan Laksana yang berdiri di sebelahnya berganti-ganti. Lalu katanya, “Kalian masih sangat muda, tetapi ternyata kalian memiliki pandangan yang cukup jauh.”

“Cepatlah. Jika terlambat, ternyata bukan kamilah yang bersalah,” berkata Manggada.

“Anak-anak muda, hal yang sebenarnya tidak pantas aku katakan di hadapan kalian yang muda-muda, tetapi baiklah. Aku akan berterus terang. Kedua orang itu telah melarikan anak gadisku,” jawab orang itu.

Manggada dan Laksana mengerutkan dahinya. Sementara itu anak-anak muda yang mendengarnya pun terkejut karenanya. Namun demikian anak-anak muda itu tidak dapat langsung mempercayainya. Karena itu Manggada bertanya, “Kapan anak gadismu dilarikan? Kedua orang itu tidak bersama-sama dengan seorang gadis ketika ia memasuki padukuhan ini.”

“Gadis itulah yang sedang kami cari,” berkata orang berkuda yang memimpin kelompoknya itu. “Orang-orang kami hanya dapat mengetahui kedua orang itu tanpa gadis yang telah dilarikannya.”

“Tetapi kenapa kedua orang itu sudah mengetahui, bahwa kalian akan mengejar mereka? Kedua orang itu tahu bahwa malam ini akan datang sekelompok orang yang akan membunuh mereka, sehingga karena itu, maka keduanya telah bersiap menghadapi kalian. Bahkan seisi padukuhan inipun telah bersiap pula,” berkata Laksana tiba-tiba.

Pemimpin kelompok itu termangu-mangu. Dengan nada rendah ia berdesis, “Jadi keduanya sudah mengetahui akan kehadiran kami?”

“Mereka telah menunggu,” jawab Laksana.

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Agaknya mereka melihat petugas kami di padukuhan ini. Sementara itu mereka merasa tidak dapat lari lagi dari kejaran kami. Atau bahkan menganggap bahwa padukuhan ini sudah kami kepung. Aku tidak tahu pasti, kenapa mereka tidak lari lagi dari padukuhan ini jika mereka menyadari bahwa kami telah mengetahui persembunyian mereka.”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Agaknya kedua anak muda itu dapat mempercayai keterangan dari pemimpin kelompok itu. Namun karena ia sebenarnya bukan anak muda dari padukuhan itu, maka ia tidak dapat mengambil keputusan yang mutlak.

Karena itu, maka Manggada pun telah mendekati anak muda yang memimpin perondan malam itu dan bertanya, “Bagaimana menurut pendapatmu?”

“Terserah kepadamu,” katanya.

Manggada dan Laksana hanya saling berpandangan saja.

Sementara itu, beberapa orang telah berdesis, “Itu, Ki Bekel dan Ki Jagabaya telah datang.”

Sebenarnyalah iring-iringan yang semakin panjang itu menjadi semakin dekat pula dengan pintu gerbang padukuhan, sementara sekelompok orang-orang berkuda itu telah berloncatan turun.

Orang-orang yang ada di regol padukuhan itupun menjadi tegang. Ki Bekel dan Ki Jagabaya ternyata telah diikuti oleh anak-anak muda padukuhan itu. Mereka yang melihat iring-iringan itu telah ikut pula bergabung, sehingga iring-iringan itu menjadi panjang. Kecuali beberapa orang yang bertugas di gardu-gardu.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, Ki Bekel, Ki Jagabaya dan beberapa orang telah menyibak anak-anak muda di gerbang padukuhan itu. Mereka telah maju beberapa langkah untuk menemui orang-orang berkuda yang telah mendatangi padukuhan mereka. Ternyata bersama mereka adalah dua orang yang merasa dirinya terancam oleh orang-orang yang menurut mereka akan membunuh itu.

“Siapakah kalian?” bertanya Ki Bekel yang berdiri di paling depan.

“Apakah aku berhadapan dengan Ki Bekel padukuhan ini?” bertanya orang yang menjadi pemimpin kelompok itu.

“Ya. Aku adalah bekel dari padukuhan ini,” jawab Ki Bekel.

“Adalah kebetulan sekali, Ki Bekel. Sebenarnya aku memang ingin menghadap Ki Bekel,” berkata pemimpin sekelompok kecil orang-orang berkuda itu. “Aku memang mempunyai kepentingan dengan Ki Bekel.”

“Kepentingan apa?” bertanya Ki Bekel.

“Aku mohon diperkenankan untuk mengambil dua orang yang malam ini bermalam di padukuhan ini,” berkata pemimpin dari orang-orang berkuda itu.

Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya, “Jadi benar, bahwa kalian adalah sekelompok orang yang akan menimbulkan kekacauan di padukuhan ini?”

Orang-orang berkuda itu termangu-mangu sejenak. Pemimpinnyapun kemudian bertanya, “Kenapa Ki Bekel berpendapat demikian?”

“Sebelum kalian datang, kami telah mendapat laporan, bahwa dua orang yang bermalam di padukuhan ini merasa terancam jiwanya. Mereka merasa dikejar-kejar oleh beberapa orang yang ingin membunuh mereka,” berkata Ki Bekel.

“Kami sama sekali tidak ingin membunuh mereka, Ki Bekel. Kami hanya ingin menangkap mereka, karena mereka telah melakukan kesalahan terhadap kami,” berkata orang-orang berkuda itu.

“Tentu kalian dapat saja mengatakan demikian,” sahut Ki Bekel. Lalu, “Apakah kau mengenal orang yang kau cari itu?”

“Tentu, Ki Bekel. Orang itu berdiri di belakang Ki Bekel,” jawab pemimpin kelompok itu.

“Ternyata kau telah memutar balik kenyataan. Katakan, seandainya kau akan menangkapnya, apakah kesalahan mereka terhadap kalian?” bertanya Ki Bekel.

“Anak-anak muda itu tadi telah bertanya demikian pula. Dan aku telah memberikan jawabanku. Orang-orang itu telah melarikan anak gadisku,” jawab pemimpin dari orang-orang berkuda itu. “Karena itu, maka aku mohon Ki Bekel untuk menangkap orang-orang itu.”

“Omong kosong,” teriak orang yang berdiri di belakang Ki Bekel. “Kau jangan memfitnah orang dengan cara sekasar itu. Kau dapat mengarang seribu macam fitnah. Tetapi yang kau ucapkan itu terlalu keji dan tidak masuk akal.”

Orang-orang berkuda itu mengerutkan keningnya. Pemimpin merekapun berkata, “Ki Bekel, sudah tentu ia akan dapat mengelak. Tetapi ada saksi yang cukup banyak yang dapat menetapkan kesalahannya. Karena itu, biarlah aku membawanya kembali. Biarlah ia berhadapan dengan para saksi yang akan dapat menudingnya bahwa ia telah melarikan anak gadisku itu.”

“Kau jangan asal saja mengucapkan fitnah itu,” berkata orang itu. “Disini aku berada di bawah perlindungan paugeran yang adil. Jika kau dapat membuktikan kesalahanku di hadapan Ki Bekel, maka kau akan dapat menangkap aku.”

Pemimpin dari orang-orang berkuda itu termangu-mangu. Katanya, “Yang menentukan apakah kau bersalah atau tidak bukan Ki Bekel disini. Tetapi Ki Bekel dan Ki Demang di rumah ini bukan saja pernah kau lakukan beberapa tahun yang lalu. Tetapi agaknya memang ada kesengajaanmu menentang paugeran yang berlaku.”

“Kau memang pandai menyusun kata-kata sehingga meyakinkan orang lain dan seakan-akan telah mensahkan fitnahmu,” jawab orang yang minta perlindungan kepada Ki Bekel. “Kau akan dapat mempermainkan orang lain, tetapi tidak dengan Ki Bekel disini.”

“Apapun yang kau katakan, tetapi akhirnya kebenaran akan menang,” berkata pemimpin dari sekelompok orang berkuda itu.

Namun tiba-tiba Ki Bekel berkata, “Pergilah, Ki Sanak. Jangan ganggu ketenangan di padukuhan kami. Kami akan melindungi orang-orang yang memang memerlukan perlindungan di padukuhan kami. Apapun yang mereka lakukan, tetapi kalian tidak akan dapat menangkapnya di daerah kuasaku. Aku tidak mau kehilangan kepercayaan bagi orang-orang yang menginap di padukuhan ini, seolah-olah di padukuhan ini tidak ada paugeran yang berlaku, sehingga kekerasan dapat berlaku atas siapa saja.”

“Tetapi kedua orang itu telah bersalah, Ki Bekel. Yakinlah. Selagi belum terlambat, aku harus mendapatkan anak gadisku itu kembali. Aku yakin, kedua orang itu merupakan alat dari sekelompok orang-orang yang telah memperdagangkan gadis-gadis tanpa belas kasihan. Jika kami berhasil menangkapnya, maka kami kira, kami akan membuka satu jaringan kejahatan yang mungkin akan mencengkam padukuhan itu pula. Ketika ia melakukan kesalahan yang sama beberapa tahun yang lalu, kami mengira bahwa yang dilakukan itu didorong oleh perasaan cintanya yang tidak dapat dikendalikan, sementara orang tuanya tidak menyetujuinya. Karena itu, ketika gadis yang diambilnya telah kembali, maka persoalannya dianggap sudah selesai. Tetapi ketika ia melakukannya sekali lagi atas anak gadisku, maka kami telah mengadakan penyelidikan sambil mengikuti jejak kepergiannya. Ternyata bahwa ia memang alat dari sekelompok pedagang gadis-gadis muda yang jahat. Ternyata bahwa kedua orang itu telah diduga melakukan penculikan pula di beberapa padukuhan yang lain. Karena itu Ki Bekel, sebelum besok kedua orang itu pergi sambil membawa gadis dari padukuhan ini, maka serahkan orang itu kepada kami,” minta pimpinan dari sekelompok orang-orang berkuda itu.

“Fitnah yang keji. Sampai hati kau memfitnah kami dengan cara seperti itu?” geram orang yang berdiri di belakang Ki Bekel itu. “Aku tidak menyangka, bahwa dari mulutmu dapat keluar fitnah yang demikian kasarnya tanpa malu-malu.”

“Jangan mengelak lagi,” berkata pemimpin dari orang-orang berkuda itu. “Kau telah melakukan kesalahan yang gawat. Menculik gadis-gadis adalah pekerjaan yang terkutuk. Apalagi kau lakukan atas gadis tetanggamu sendiri.”

“Alasanmu tidak meyakinkan,” berkata Ki Bekel. “Karena itu, maka aku tidak akan dapat menyerahkan orang ini.”

“Ki Bekel,” berkata orang berkuda itu, “sayang sekali bahwa Ki Bekel tidak melihat pancaran sorot mata mereka.”

“Pergilah, Ki Sanak. Jangan ganggu padukuhanku,” berkata Ki Bekel.

“Tidak, Ki Bekel. Aku harus menemukan anak gadisku kembali. Bagiku anakku sama berharganya dengan nyawaku. Selagi nyawaku masih berada di dalam tubuhku, aku akan mencarinya dengan cara apapun juga,” berkata orang itu.

“Tetapi tidak di daerah kuasaku,” berkata Ki Bekel.

“Ki Bekel,” berkata orang itu, “di hadapanku telah berdiri orang yang aku cari. Karena itu, aku tidak akan melepaskannya. Aku akan menangkapnya dan membawanya menghadap Ki Demang untuk mendapatkan pengadilan.”

“Kau lihat disini anak-anak muda sudah siap. Kami, para bebahu padukuhan inipun telah berada di sini, termasuk Ki Jagabaya. Nah, kau mau apa?” bertanya Ki Bekel.

“Sayang sekali, bahwa Ki Bekel telah terpengaruh oleh mulutnya yang berbisa. Tetapi aku harus mendapatkannya,” geram orang itu.

Ki Bekelpun menjadi marah. Dengan lantang ia berkata kepada Ki Jagabaya, “Ki Jagabaya, usir mereka. Jika perlu dengan kekerasan. Ki Jagabaya dapat mempergunakan anak-anak muda yang telah bersiap disini. Atau memukul kentongan memanggil anak-anak muda yang lain yang belum ada disini untuk mengusir mereka. Jika mereka benar-benar keras kepala, maka jika terjadi sesuatu, bukan salah kami.”

Ki Jagabaya yang bertubuh tinggi kekar itupun melangkah maju. Kumis dan jambangnya membuat wajahnya menjadi semakin menyeramkan.

Suaranya ternyata bagaikan guntur mangsa kesanga, “Ki Sanak, kami tidak mempunyai banyak waktu untuk melayani Ki Sanak. Karena itu, cepat, pergilah.”

“Kami memang sangat menyayangkan bahwa hal seperti ini harus terjadi. Tetapi kami tidak dapat berbuat lain. Kami harus menangkap orang-orang itu dan membawanya kembali ke kademangan.”

Ki Jagabaya itu pun kemudian memberikan isyarat kepada anak-anak muda yang ada di tempat itu untuk bergerak. Katanya, “Suruh orang itu pergi. Atau seret mereka ke banjar.”

Tetapi orang itu berkata, “Jangan kau umpankan anak-anak muda kalian yang belum berpengalaman. Sebenarnya kami segan sekali berbenturan kekerasan dengan mereka. Karena itu, kalian sajalah yang tua-tua silahkan memasuki arena permainan. Barangkali permainan ini memang permainan orang-orang tua. Apalagi taruhannya cukup berharga. Seorang gadis. Bahkan aku telah mempertaruhkan pula nyawaku untuk keselamatan gadis itu.”

Wajah anak-anak muda itu menjadi tegang. Namun sekali lagi Ki Jagabaya berkata, “Usir mereka.”

Orang-orang berkuda itu telah bergeser beberapa langkah surut. Mereka sengaja keluar dari regol padukuhan. Seorang di antara mereka telah menambatkan kuda mereka pada sebatang pohon di pinggir jalan. Sementara pemimpin mereka berkata, “Kami akan berkelahi di luar regol padukuhan ini.”

Dalam pada itu, maka beberapa orang anak muda memang mulai bergerak. Namun orang-orang berkuda itupun agaknya telah bersiap melayaninya.

“Jangan menyesal jika terjadi sesuatu atas kalian,” berkata pemimpin dari orang-orang berkuda itu, yang nampaknya yakin akan dirinya. Menilik tatageraknya, maka mereka bukanlah orang kebanyakan.

Tetapi orang-orang padukuhan itu nampaknya tidak menghiraukannya. Beberapa orang anak muda justru telah mulai menyerangnya.

Manggada dan Laksana yang pernah mempelajari olah kanuragan dapat menduga apa yang akan terjadi. Beberapa orang anak muda tiba-tiba saja telah terlempar jatuh. Bahkan dua di antara mereka rasa-rasanya sulit untuk dapat memasuki kembali arena perkelahian karena punggung mereka rasa-rasanya telah patah.

Namun dalam pada itu, anak-anak muda yang lain telah mengepung mereka dan bersama-sama menyerang mereka dari segala penjuru. Mereka memang tidak mengerti bahaya yang akan dapat terjadi atas diri mereka oleh beberapa orang berkuda itu.

Tetapi beberapa saat kemudian, beberapa orang anak muda telah terbanting jatuh keluar dari arena. Bahkan hampir saja terinjak oleh kawan-kawan mereka sendiri.

Dalam pada itu, terdengar lagi pemimpin sekelompok orang berkuda itu berkata, “Jangan kau paksa anak-anak kalian menjadi tumbal dari kebodohan kalian. Marilah, siapakah di antara kalian yang memang tanggon dan mampu menghadapi kami dalam pertempuran yang seimbang.”

Ki Bekel, Ki Jagabaya, dan beberapa orang bebahu padukuhan itu memang merasa gelisah melihat anak-anak muda mereka yang ternyata akan mengalami kesulitan. Ternyata sekelompok orang berkuda itu memiliki kemampuan bertempur yang tinggi. Anak-anak muda yang berkelahi bersama-sama melawan mereka, seakan-akan tidak mampu mendekat. Setiap kali ada saja di antara mereka yang berteriak kesakitan. Meskipun mereka memaksa untuk bertempur terus, namun mereka benar-benar mengalami kesulitan. Bahkan beberapa orang anak muda benar-benar telah kehilangan keberanian untuk memasuki arena, karena tulang-tulang iga mereka rasa-rasanya berpatahan.

Para bebahu padukuhan itu memang tidak dapat membiarkan hal itu terjadi. Apalagi ketika sekali lagi mereka mendengar tantangan, “He, apa kerja kalian yang tua itu? Seharusnya kalian melindungi anak-anak kalian. Tetapi kalian justru berlindung di balik punggung anak-anak kalian yang jika tidak mau menarik diri, akan mengalami akibat yang parah. Sudah tentu kalian tidak akan menunggu salah seorang dari anak-anak kalian tidak bangkit kembali untuk selama-lamanya.”

Ki Bekel menggeram. Katanya kepada Ki Jagabaya, “Kita harus menangani sendiri orang-orang keparat ini.”

Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Katanya, “Memang tidak ada pilihan lain.” Lalu sambil berpaling kepada kedua orang yang minta perlindungan di padukuhan itu ia berkata, “Kau jangan melepaskan tanggung jawab. Kalianlah yang menjadi sumber persoalan. Sementara itu kalian mengaku akan melawan mereka jika jumlahnya sama dengan jumlah kalian berdua. Karena itu, marilah kita akan melawan mereka bersama-sama. Kalian berdua dapat memilih lawan dua di antara mereka. Kami memang tidak dapat mengorbankan anak-anak itu dengan semena-mena.”

Kedua orang itu mengangguk. Seorang di antara mereka menjawab, “Aku akan membunuh orang-orang itu.”

Ki Jagabaya tidak berbicara lagi. Iapun kemudian melangkah mendekati arena pertempuran yang riuh. Dilihatnya beberapa anak muda sudah dibawa menepi. Sebagian di antara mereka telah duduk bersandar dinding padukuhan sambil mengerang kesakitan. Seorang yang lain mengaduh sambil mengusap darah di mulutnya karena tiga giginya berpatahan. Namun ada pula di antara anak-anak muda itu yang telah menjadi pingsan.

Keadaan itu rasa-rasanya telah membakar jantung Ki Jagabaya dan Ki Bekel beserta beberapa orang bebahu. Mereka telah mengikuti langkah Ki Jagabaya mendekati arena pula. Demikian pula kedua orang yang sedang diburu oleh sekelompok orang-orang berkuda itu.

Dengan suara lantang Ki Jagabaya pun kemudian berteriak, “Minggir. Biarlah kami yang tua-tua melayani mereka bermain-main.”

Anak-anak muda itu tidak menunggu perintah untuk kedua kalinya. Mereka memang sudah mengerti untuk menghadapi sekelompok orang-orang berkuda itu akan sangat sulit. Karena itu, maka dengan segera merekapun telah menyibak.

Orang-orang berkuda itu pun kemudian telah bersiap-siap pula menghadapi segala kemungkinan. Nampaknya mereka tidak lagi harus sekedar bermain-main. Tetapi orang-orang padukuhan itu, terutama para bebahu yang dipimpin langsung oleh Ki Bekel dan Ki Jagabaya itu harus mereka hadapi dengan sungguh-sungguh.

“Jangan menyesal jika kalian tidak dapat pergi dari gerbang padukuhan kami. Bukan salah kami, tetapi kalianlah yang telah datang kepada kami,” geram Ki Bekel.

“Sebenarnya kami tidak bermusuhan dengan kalian,” berkata orang-orang itu, “tetapi kalian telah melindungi orang yang bersalah, sehingga karena itu, maka kami harus mempergunakan kekerasan.”

“Persetan,” geram Ki Jagabaya. “Masih ada kesempatan bagimu untuk menyingkir.”

Tetapi orang-orang berkuda itu tidak beranjak dari tempatnya.

Sejenak kemudian maka para bebahu dan orang-orang lain yang ada di gerbang itu telah mengepung orang-orang berkuda itu. Dalam jumlah yang berlipat, mereka telah siap untuk bertempur. Ki Bekel, Ki Jagabaya dan kedua orang yang dicari oleh orang-orang berkuda itu melangkah semakin dekat. Dengan geram Ki Bekel berkata, “Marilah, kita akan membuktikan, siapakah yang akan menyesal dalam permainan ini.”

Orang-orang berkuda itu tidak menjawab. Sementara itu, maka Ki Bekel dan orang-orangnyapun telah berloncatan menyerang.

Memang berbeda dengan anak-anak muda yang darahnya masih terlalu panas. Tanpa bekal apapun mereka mencoba untuk bertempur melawan orang-orang yang berilmu kanuragan. Dengan demikian maka mereka bagaikan telah membenturkan dirinya pada dinding batu yang keras.

Tetapi orang-orang yang kemudian bersama-sama Ki Bekel menyerang orang-orang berkuda itu bobotnya memang berbeda. Mereka pada umumnya juga mengenal ilmu kanuragan. Apalagi Ki Jagabaya, Ki Bekel sendiri dan kedua orang yang sedang diburu itu. Mereka merupakan orang-orang yang berbahaya bagi orang-orang berkuda itu. Ki Jagabaya yang bertubuh tinggi besar itu memiliki kekuatan melampaui orang kebanyakan. Sementara Ki Bekel memiliki ketangkasan dan kecepatan bergerak bagaikan seekor sikatan. Beberapa bebahu yang lain bersama-sama merupakan kekuatan yang memang sulit untuk dilawan.

Beberapa saat kemudian, maka Ki Jagabaya yang marah itu, bersama-sama dengan para bebahu telah bertempur dengan garangnya. Anak-anak muda mereka yang mengalami kesulitan dan bahkan cidera pada tubuh mereka, telah membuat para bebahu itu semakin garang. Mereka merasa wajib untuk membalas dan bahkan jika mungkin menangkap dan mengadili mereka karena mereka telah menyakiti anak-anak mereka.

Beberapa saat kemudian pertempuranpun semakin menjadi keras dan cepat. Orang-orang berkuda itu secara pribadi memiliki kelebihan dari lawan-lawan mereka. Tetapi lawan mereka memang terlalu banyak.

Meskipun demikian, kemarahan Ki Jagabaya semakin menjadi-jadi karena orang-orang berkuda itu masih saja mampu bertahan meskipun kadang-kadang mereka memang terdesak.

“Menyerahlah,” geram Ki Jagabaya, “atau pergilah sebelum kami kehilangan kesabaran. Kau sudah menyakiti anak-anak kami. Menyakiti hati kami. Jika kesabaran kami sampai ke batas, maka kami akan dapat mengambil keputusan lain.”

Tetapi pemimpin pasukan berkuda itu menjawab, “Serahkan kedua orang itu. Atau biarkan kami menyelesaikan persoalan kami sendiri. Sebaiknya kalian memang tidak ikut campur sehingga di antara kita tidak akan timbul persoalan.”

“Cukup,” bentak Ki Jagabaya. “Kami sudah mengambil sikap. Kau terima sikap itu atau kalian akan mengalami bencana di padukuhan ini.”

“Kami tidak akan menyerah,” berkata pemimpin dari sekelompok orang-orang berkuda itu, “apapun yang akan terjadi atas diri kami. Gadis yang diambilnya adalah anakku sendiri. Jika aku tidak berhasil mendapatkannya, maka biarlah aku mati disini. Kalian akan dapat merenungi mayat seorang ayah yang mengorbankan nyawanya bagi anak gadisnya. Saudara-saudaraku yang datang bersamaku adalah orang-orang yang setia kepada harga dan nilai kemanusiaan sehingga merekapun rela mengorbankan nyawanya. Kau akan merenungi korban dari keganasan orang-orang yang tidak berperikemanusiaan karena mereka telah mendapatkan keuntungan justru karena mereka telah sampai hati mengorbankan gadis-gadis yang diperjual-belikannya tidak lebih dari seekor binatang.”

“Omong kosong,” teriak salah seorang dari kedua orang yang diburu itu. “Kau dapat memfitnah dengan seribu macam ceritera ngayawara. Tetapi orang-orang padukuhan ini, apalagi Ki Bekel dan Ki Buyut bukan orang-orang yang dungu yang begitu saja mempercayaimu.”

“Kau memang pandai berbicara. Kau memang mempunyai kemampuan untuk menyesatkan keyakinan seseorang. Tetapi aku tidak akan menyerah kepada kelicikanmu itu sampai kemungkinan yang terakhir. Jika aku harus mati, aku tidak akan merasa menyesal sama sekali,” jawab pemimpin dari orang-orang berkuda itu.

“Jahanam kau,” bentak Ki Jagabaya. Yang kemudian berteriak, “Aku beri kesempatan terakhir. Jika tidak, apaboleh buat.”

Tetapi orang-orang berkuda itu memang tidak meninggalkan medan pertempuran yang semakin menekan mereka.

Sebenarnyalah Ki Jagabaya memang menjadi semakin marah. Orang-orang itu masih saja berusaha bertahan. Karena itu, maka dalam batas kesabarannya, Ki Jagabaya tiba-tiba saja berteriak, “Jika kalian tidak mau menyerah, kami terpaksa benar-benar membunuh kalian.”

“Kematian tidak lagi menakutkan bagi kami,” jawab pemimpin dari orang-orang berkuda itu.

Jawaban itu membuat telinga Ki Jagabaya menjadi merah. Karena itu, maka iapun meneriakkan aba-aba, “Pergunakan senjata kalian.”

Orang-orang yang bertempur melawan orang-orang berkuda itupun kemudian telah menarik senjata mereka. Serentak mereka telah mengacukan senjata mereka, termasuk Ki Bekel dan kedua orang yang sedang dicari oleh orang-orang berkuda itu.

Orang-orang berkuda itu berloncatan beberapa langkah surut. Tetapi mereka memang tidak melarikan diri. Merekapun telah menarik senjata mereka pula untuk menghadapi orang-orang padukuhan yang telah bersenjata itu.

Dengan demikian maka sejenak kemudian telah terjadi pertempuran bersenjata. Orang-orang padukuhan itu telah mengacu-acukan senjata mereka di seputar orang-orang berkuda itu. Bahkan Kemudian kedua orang yang sedang diburu itu justru telah menyerang orang-orang berkuda itu, diikuti oleh Ki Bekel dan Ki Jagabaya serta para bebahu yang lain.

Namun dalam pada itu, ternyata keadaan orang-orang berkuda itu menjadi semakin sulit. Ujung-ujung senjata yang berputar, terayun dan mematuk rasa-rasanya telah menjadi semakin berbahaya.

Dalam pada itu, Manggada dan Laksana berdiri termangu-mangu. Ia melihat bahwa orang-orang berkuda itu memang berada dalam kesulitan. Lawannya terlalu banyak untuk dapat dilawan. Meskipun mereka berilmu, tetapi ilmu mereka tidak cukup tinggi untuk melawan orang yang sekian banyaknya.

Manggada yang bergeser mendekati Laksana berdesis, “Bagaimana pendapatmu tentang orang-orang itu?”

“Kau bagaimana?” Laksana justru ganti bertanya.

“Aku lebih percaya kepada mereka daripada kedua orang itu. Agaknya orang-orang berkuda itu berkata dengan jujur. Sikapnya pun lebih meyakinkan daripada kedua orang yang agaknya sangat licik itu,” jawab Manggada.

Laksana mengangguk-angguk. Katanya, “Aku sependapat.”

“Jadi bagaimana?” bertanya Manggada pula.

“Kita bantu mereka,” jawab Laksana.

Manggada mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata, “Kita akan mendapatkan pengalaman yang berharga, sekaligus berarti bagi sesama. Tidak sekedar mencari musuh tanpa sebab.”

“Ah, kau,” Laksana berdesis.

Sementara itu Manggada telah mendekati anak-anak muda yang bertugas. Dengan nada dalam ia berkata, “Berikan pedangmu. Bukankah kau tidak akan ikut bertempur?”

Anak muda itu termangu-mangu. Tetapi karena anak muda itu tidak tahu maksud Manggada, maka iapun telah memberikan pedangnya, sementara yang lain telah memberikan pedangnya pula kepada Laksana.

“Lebih baik kita memakai pedang,” desis Manggada. “Jika kita menarik keris kita, maka akhirnya akan sangat parah, karena setiap goresan akan berarti maut.”

Laksana mengangguk kecil. Sementara itu keduanya pun telah bergerak mendekati arena pertempuran.

Ternyata orang-orang berkuda itu terdesak semakin jauh. Bahkan orang-orang padukuhan itu, termasuk Ki Bekel, Ki Jagabaya dan kedua orang yang justru sedang diburu berusaha untuk mengepung rapat. Dengan demikian maka orang-orang berkuda itu akan mengalami kesulitan untuk menyelamatkan diri jika keadaan mereka benar-benar terdesak.

Untuk beberapa saat Manggada dan Laksana sempat memperhatikan pertempuran yang menjadi semakin garang itu. Menurut pengamatan kedua anak muda itu, dua orang yang disebut telah melarikan seorang gadis itu, bertempur dengan keras dan bahkan kasar. Agaknya keduanya benar-benar ingin membunuh orang-orang berkuda itu. Terutama pemimpinnya, yang mengatakan bahwa anaknyalah yang telah diambil oleh kedua orang itu. Bahkan ketika pertempuran menjadi semakin sengit, keduanya telah bertempur bersama-sama melawan pemimpin dari orang-orang berkuda yang kehilangan anaknya itu.

“Keduanya nampaknya benar-benar seperti iblis,” geram Laksana.

Manggada mengangguk angguk. Tetapi ia masih sempat melihat bahwa pemimpin dari orang-orang berkuda itu tetap bertahan. Tetapi ketika kemudian dua orang lagi datang melawannya, maka ia benar-benar dalam keadaan yang gawat.

“Menyerahlah,” bentak salah seorang dari orang padukuhan itu.

Tetapi salah seorang dari kedua orang yang diburu itu berteriak, “Kita bunuh mereka. Mereka adalah orang-orang yang sangat berbahaya.”

Manggada tidak menunggu lebih lama lagi. Ia pun telah menggamit Laksana sambil berkata, “Marilah. Jangan terlambat.”

Keduanyapun kemudian telah meloncat dan menyibak orang-orang padukuhan itu. Namun tiba-tiba mereka telah berdiri di antara orang-orang berkuda itu. Sementara Laksana berteriak, “Aku berpihak kepada orang yang telah kehilangan anaknya ini. Menurut pendapatku, justru merekalah yang harus mendapat pertolongan. Bukan sebaliknya. Kedua orang yang telah menculik anaknya itu harus ditangkap. Mereka bertanggung jawab atas keselamatan anak gadis yang telah mereka culik itu.”

“Setan,” teriak salah seorang dari kedua orang itu. “Kau siapa, he?”

“Siapapun kami, tetapi kau harus ditangkap,” jawab Laksana.

“Ternyata kau telah membunuh dirimu sendiri. Apakah kau anak muda padukuhan ini? Jika demikian kau termasuk anak-anak muda yang telah memberontak terhadap kekuasaan Ki Bekel dan Ki Jagabaya.”

“Kami berdua bukan anak-anak muda padukuhan ini. Tetapi justru karena itu, kami mampu melihat kesalahan Ki Bekel dan Ki Jagabaya yang terlalu percaya kepadamu,” jawab Manggada.

Kedua orang itu menjadi semakin marah. Dengan garangnya seorang di antara mereka berteriak, “Bunuh juga anak itu sebagaimana orang-orang yang lain, yang telah berusaha mencemarkan nama baik padukuhan ini. Termasuk Ki Bekel dan Ki Jagabaya.”

“Yang merasa tercemar seharusnya bukan kau jika benar itu terjadi. Ki Bekel dan Ki Jagabaya tidak merasa terjadi pencemaran itu. Kenapa kau justru berteriak-teriak tentang pencemaran nama baik padukuhan dan para pemimpinnya?” sahut Manggada.

Kedua orang itu menjadi semakin marah. Namun agaknya Ki Jagabaya pun tersinggung karena kedua anak muda itu ternyata telah menentang kebijaksanaannya. Tetapi Ki Jagabaya pun merasa heran atas kehadiran anak-anak muda yang belum pernah dilihatnya. Namun kemudian Ki Jagabaya itupun berteriak, “Tangkap pula kedua anak muda itu. Aku belum pernah melihat mereka. Agaknya mereka telah disusupkan oleh orang-orang yang memang ingin mengacaukan padukuhan ini.”

“Kau harus lebih bijaksana menanggapi satu peristiwa, Ki Sanak,” berkata Manggada. Namun ia tidak sempat berbicara lebih panjang karena salah seorang dari kedua orang yang sedang diburu itu berteriak, “Keduanya harus dibunuh saja.”

Manggada dan Laksana tidak menjawab. Namun keduanya benar-benar telah berada di antara orang-orang berkuda itu.

Tetapi yang justru bertanya kemudian adalah pemimpin dari orang berkuda itu, “Siapakah kalian, anak-anak muda? Apakah keuntungan kalian melibatkan diri dalam persoalan kami?”

“Kami merasa tersinggung justru karena ketidak-adilan menurut pendapat kami. Mungkin kami telah melakukan kesalahan dengan langkah kami ini. Tetapi yang kami lakukan ini berlandaskan pada kata nurani kami,” jawab Manggada. Lalu, “Menurut pendapat kami, kalian bersikap jujur, sedangkan kedua orang itu dengan licik telah mempengaruhi seisi padukuhan itu untuk melakukan kesalahan.”

“Terima kasih,” jawab pemimpin dari orang-orang berkuda itu. Tetapi katanya lebih lanjut, “Namun kalian harus menyadari bahwa kalian telah melakukan satu langkah yang sangat berbahaya. Bahkan dapat membahayakan jiwa kalian.”

“Kami sedang melakukan Tapa Ngrame. Kami harus menolong sesama yang mengalami kesulitan, sesuai dengan kata nurani kami,” jawab Laksana.

Manggada mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu.

Demikianlah, maka sejenak kemudian kedua anak muda itu mulai menggerakkan pedang di tangan mereka. Perlahan-lahan. Namun semakin lama menjadi semakin cepat.

Anak-anak muda padukuhan itu menjadi bingung. Apalagi mereka yang telah menyerahkan pedang mereka kepada Manggada dan Laksana. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa kedua anak itu tiba-tiba saja telah berpihak kepada orang-orang yang dianggap telah menyerang padukuhan mereka.

Ternyata pengaruh keterlibatan Manggada dan Laksana sangat besar. Keduanya telah menuntut ilmu dengan tertib dan bersungguh-sungguh. Karena itu, maka keduanya meskipun masih terlalu muda, namun sudah menguasai ilmu dengan baik dan mapan. Sehingga karena itulah, maka kehadiran mereka di medan pertempuran itu sangat mengejutkan. Bukan saja para pemimpin padukuhan serta kedua orang yang sedang diburu itu. Tetapi orang-orang berkuda itu pun merasa heran melihat tatagerak kedua orang anak muda itu.

Dengan tangkasnya keduanya berloncatan. Pedangnya berputaran seperti baling-baling. Sementara itu, keduanya seakan-akan mampu menyusup di antara ujung-ujung senjata lawan-lawan mereka. Dengan tangkasnya pula keduanya menangkis serangan-serangan yang mengarah ke tubuh mereka. Sekali-sekali mereka meloncat menghindar, berputar, menggeliat, dan melenting jauh.

Bahkan pada setiap benturan senjata, lawan-lawan mereka merasa sangat terkejut. Kekuatan kedua anak muda itu ternyata terlalu besar dibanding dengan mereka.

Dengan kehadiran kedua anak muda itu di arena, maka keseimbangan pertempuranpun telah berubah. Sambil berloncatan, Manggada dan Laksana menggerakkan pedang-nya. Sekali-sekali menyambar, terayun mendatar, menusuk dan menebas.

Tetapi Manggada dan Laksana memang tidak ingin membunuh seorang pun dari antara lawan-lawannya. Meskipun demikian, mereka menyadari, bahwa tidak akan mungkin untuk menghindari sama sekali sentuhan-sentuhan senjata mereka atas satu dua orang lawan. Namun Manggada dan Laksana ternyata menaruh perhatian terbesar kepada kedua orang buruan itu.

Namun dalam pada itu, karena Manggada dan Laksana berloncatan dari satu lawan ke lawan yang lain, maka pertempuran itu pun tidak lagi dapat berlangsung sebagaimana dikehendaki oleh orang-orang padukuhan. Manggada dan Laksana kadang-kadang justru telah menembus kepungan dan bertempur di luar lingkaran. Dengan demikian maka perhatian orang-orang padukuhan itu pun telah terpecah. Justru dalam kekalutan itu, keduanya telah memasuki lagi medan yang dibatasi oleh selingkar orang-orang bersenjata sambil mengacu-acukan senjata mereka.

Ki Bekel yang marah itu menjadi semakin marah. Dengan geram ia berkata, “Anak-anak muda, menyingkirlah. Jika kalian memang tidak tersangkut dalam persoalan ini, jangan mencari perkara. Apapun yang terjadi, kalian dapat meninggalkan dendam di hati orang-orang padukuhan ini.”

“Ki Bekel,” berkata Manggada, “aku minta, tangkap kedua orang itu. Serahkan kepada mereka yang memburunya. Jika perlu Ki Bekel dapat meyakinkan kebenaran mereka dengan mengikuti mereka ke padukuhan mereka.”

“Aku tidak sebodoh yang kau sangka. Jika kalian ingin menjebakku dengan cara itu, maka kalian akan kecewa,” berkata Ki Bekel lantang.

“Jangan berkata begitu Ki Bekel,” Laksana lah yang menyahut. Lalu katanya, “Apakah kau sadari, bahwa tuduhan itu merupakan satu penghinaan, seolah-olah kami termasuk manusia licik seperti kedua orang yang telah melarikan gadis itu?”

Ki Bekel memang tertegun sejenak. Tetapi kemudian katanya dengan suara yang garang, “Cukup. Kau membuat kami semakin marah. Jangan menyesal jika kalian terlibat dalam kesulitan dan bahkan kau telah mempertaruhkan nyawamu untuk sesuatu yang tidak kau ketahui.”

“Aku tahu pasti apa yang aku lakukan. Aku yakin, bahwa Ki Bekel lah yang mempertaruhkan nyawa untuk suatu hal yang tidak kau ketahui,” berkata Laksana. “Karena itu, mulailah berpikir, Ki Bekel. Selagi semuanya belum terlanjur, dan kau juga belum terlanjur mati.”

Kemarahan Ki Bekel bagaikan telah membakar ubun-ubunnya. Karena itu, maka iapun telah berteriak, “Bunuh anak-anak muda itu.”

Tetapi yang terjadi justru sangat mengejutkan. Demikian Ki Bekel meneriakkan aba-aba itu, maka Manggada dan Laksana telah berloncatan semakin garang. Senjatanya terayun-ayun mengerikan. Beberapa orang telah terlempar dengan luka di tubuh mereka. Meskipun luka itu tidak terlalu dalam, tetapi pakaian merekapun telah dikotori dengan darah.

Sikap kedua anak muda itu memang mengejutkan. Orang-orang padukuhan itu tidak mengira, bahwa kedua anak yang masih sangat muda itu mampu bergerak dengan cepatnya. Bahkan pada benturan-benturan senjata yang terjadi, orang-orang padukuhan itu merasakan bahwa kekuatan kedua anak muda itu ternyata sangat besar sehingga setiap kali ada saja senjata yang terlepas dari tangan.

Ki Bekel memang menjadi heran. Tetapi ia tidak dapat menentang kenyataan yang telah terjadi itu.

Anak-anak muda yang berada di regol tidak mengira, bahwa kedua anak muda itu justru akan melawan Ki Bekel dan orang-orang padukuhan mereka. Pemimpin dari anak-anak muda yang bertugas itu berdesis kepada seorang kawannya, “Apakah kedua anak muda itu memang dikirim oleh orang-orang berkuda itu mendahului mereka?”

“Mungkin saja,” jawab kawannya. “Keduanya ternyata telah berpihak kepada mereka.”

Pemimpin anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Tetapi iapun kemudian berkata, “Tetapi mereka hanya berdua. Kenapa Ki Bekel, Ki Jagabaya dan para bebahu tidak segera dapat menangkap mereka?”

Kawan-kawannya menggeleng. Tidak seorang pun yang dapat menjawab, meskipun mereka semuanya telah menduga, bahwa kemampuan anak-anak muda itu memang sangat tinggi.

Dalam pada itu, kedua orang yang sedang diburu oleh orang-orang berkuda itu pun menjadi cemas melihat kehadiran kedua orang anak muda yang memiliki ilmu sangat tinggi itu. Menurut pengamatan mereka, kemampuan keduanya justru lebih tinggi dari kemampuan orang-orang berkuda itu sendiri.

Namun kedua orang itu masih berharap Ki Bekel dan orang-orang padukuhan itu akan mampu mengatasi keadaan. Bagaimanapun juga jumlah mereka jauh lebih banyak. Apalagi di antara mereka terdapat Ki Bekel, Ki Jagabaya dan mereka berdua.

Namun kedua orang yang sedang diburu itu ternyata tidak segera mampu mengatasi lawannya. Meskipun kedua orang itu bertempur melawan seorang lawan, pemimpin dari orang-orang berkuda itu, namun ternyata bahwa orang itu memiliki kemampuan yang dapat mengimbangi kedua orang buruannya itu.

Manggada dan Laksana yang mulai kehilangan kesabarannya telah bergerak lebih cepat. Darahnya yang mulai mendidih di dalam jantungnya telah membakar kemarahan di dalam dadanya.

Karena itu, maka Manggada dan Laksana itupun telah bergerak lebih cepat.

Betapapun kemarahan bergejolak di dalam dada anak muda itu, namun mereka ternyata masih sempat juga menilai ilmu mereka masing-masing. Mereka masih juga sempat memperhatikan pengalaman mereka bertempur melawan banyak orang. Namun kadang-kadang dorongan kemarahan mereka telah menggerakkan senjata mereka, sehingga menyentuh tubuh salah seorang di antara lawan-lawan mereka.

Dengan demikian, maka beberapa orang padukuhan itu telah terluka. Semula, rasa-rasanya lawan orang-orang berkuda yang dibantu oleh Manggada dan Laksana itu mengalir tidak berkeputusan. Namun kemudian, semakin lama lawan pun menjadi semakin tipis. Semakin banyak orang yang terluka, maka orang-orang padukuhan itupun menjadi semakin ngeri.

Ternyata bahwa orang-orang berkuda yang semula terdesak, telah menjadi bangkit kembali. Dibayangi oleh kecemasan tentang jumlah lawan mereka, maka mereka memang menjadi lebih garang dan bertempur semakin keras. Ujung-ujung senjata merekapun telah melukai beberapa orang padukuhan. Namun pemimpin orang-orang berkuda yang harus bertempur melawan dua orang buruannya dibantu oleh beberapa orang padukuhan dari salah seorang buruannya ternyata telah menyentuh pundaknya meskipun tidak terlalu dalam.

Manggada yang menjadi semakin jemu melihat pertempuran itu pun kemudian telah mendekati Ki Bekel sambil berkata, “Ki Bekel, sikap Ki Bekel sangat memuakkan. Jika Ki Bekel tidak mau mendengarkan usulku untuk menangkap kedua orang itu, maka aku sendirilah yang akan melakukannya.”

“Aku bekel disini. Akulah yang berhak berbuat demikian. Tanpa ijinku, tidak ada orang yang dapat berbuat sesuka hatinya,” teriak Ki Bekel.

Tetapi Laksana berteriak tidak kalah lantangnya, “Aku tidak percaya. Aku tidak yakin bahwa seseorang akan dapat mencegah apa yang akan aku lakukan.”

Laksana tidak menunggu lagi. Tiba-tiba ia bergerak semakin cepat. Pedangnya berputaran semakin garang, sehingga orang-orang yang terlukapun menjadi semakin banyak. Meskipun hanya goresan-goresan kecil, tetapi darah telah membuat orang-orang itu ketakutan. Di cahaya oncor di regol atau ketika mereka meraba dengan tangannya, maka warna merah dan cairan yang hangat membuat hati orang-orang padukuhan itu semakin berkerut.

Bahkan Manggada yang berhadapan dengan Ki Bekel yang bertempur berpasangan dengan Ki Jagabaya telah bertempur semakin garang. Kedua orang pemimpin padukuhan itu ternyata benar-benar mengalami kesulitan. Ujung pedang Manggada rasa-rasanya telah memburu kemana kedua orang itu menghindar. Seakan-akan ujung pedang anak muda itu melihat kemana sasarannya berkisar.

Ki Bekel benar-benar menjadi bingung. Sementara itu Manggada berkata, “Ki Bekel, aku akan membuktikan, apakah benar Ki Bekel dapat mencegah seseorang berbuat sesuatu jika Ki Bekel tidak mengijinkan. Dengar Ki Bekel, setuju atau tidak setuju, diijinkan atau tidak diijinkan, aku akan melukai Ki Bekel dan Ki Jagabaya.”

“Anak iblis,” geram Ki Bekel.

Tetapi Manggada tidak menggagalkan niatnya. Ujung pedangnya berputar dengan cepat. Kemudian terayun mendatar. Ketika Ki Bekel menghindar, maka tiba-tiba saja ujung pedang itu mematuk seperti mulut seekor ular yang buas.

Ki Bekel meloncat surut. Namun ia benar-benar tidak dapat menghindari sambaran ujung pedang itu. Karena itu, maka Ki Bekel itupun kemudian menyeringai menahan pedih. Tetapi sekaligus mengumpat kasar. Pundaknya ternyata telah terluka.

Belum lagi mulut Ki Bekel terkatub, maka Ki Jagabaya pun telah mengumpat pula. Lengannya terkoyak oleh ujung pedang Manggada yang garang itu.

“Ki Bekel,” berkata Manggada kemudian, “apa kataku? Apakah benar tanpa ijin Ki Bekel seseorang tidak akan dapat berbuat sesuka hatinya. Ternyata tanpa ijin Ki Bekel aku telah melukai tubuh Ki Bekel dan Ki Jagabaya. Nanti, jika aku ingin, tanpa ijin Ki Bekel, maka aku akan membunuh Ki Bekel dan Ki Jagabaya, dua orang yang menjadi buruan itu akan dapat ditangkap dan dihadapkan kepada orang yang berhak mengadilinya. Jika kedua orang itu tertangkap, maka yang akan dapat diketemukan bukan hanya seorang gadis anak orang berkuda itu. Tetapi tentu beberapa orang gadis yang lain yang pernah hilang, akan dapat dikemukakan pula.”

Kemarahan Ki Bekel bagaikan membakar ubun-ubunnya. Tetapi ia menyadari, anak muda itu benar-benar berilmu tinggi.

Sementara itu Laksana telah berada di antara orang-orang berkuda itu. Bersama Laksana, mereka ternyata telah berhasil mendesak orang-orang padukuhan yang mula-mula mengepung rapat dan berdesakan untuk menyerang mereka. Tetapi yang terjadi kemudian adalah sebaliknya, justru satu-satu orang-orang padukuhan itu telah meninggalkan arena, bergeser surut yang di antaranya justru telah terluka.

Kedua orang yang sedang diburu itu pun telah melihat keadaan itu. Karena itu, maka dengan cerdik mereka telah membuat perhitungan. Mereka sama sekali tidak mengingat lagi akan harga diri mereka, seandainya mereka berbuat licik sekalipun.

Karena itu, maka ketika mereka tidak melihat kesempatan lagi untuk berlindung di belakang punggung Ki Bekel dan Ki Jagabaya yang telah menjadi semakin terdesak, maka kedua orang itu telah memutuskan untuk melarikan diri. Mereka tidak berbicara dengan terang-terangan, namun mereka telah saling memberikan isyarat, sehingga kemudian kedua orang itupun telah bersiap untuk meloncat meninggalkan arena.

Ternyata bahwa kedua orang itu mampu mempergunakan kesempatan dengan baik. Untuk beberapa saat keduanya berusaha untuk memancing kekisruhan dalam pertempuran itu. Namun kemudian, dengan tiba-tiba saja keduanya telah meloncat berlari meninggalkan medan langsung menyusup ke dalam gelap. Mereka telah meloncat ke balik gerumbul liar, dan berusaha mengendap-endap dan menghilang di tanah persawahan.

“Jangan lari,” teriak pemimpin dari sekelompok orang-orang berkuda itu.

Orang itu berusaha mengejar. Tetapi beberapa orang masih saja menghalanginya.

“Jangan bodoh,” geram pemimpin sekelompok orang berkuda itu. “Kedua orang itu telah lari.”

Tetapi kekisruhan di arena itu memang sulit untuk segera disibakkan. Bahkan telah terjadi pula kebingungan.

Tetapi demikian kedua orang yang meninggalkan arena itu meloncat ke atas pematang yang sudah agak jauh dari arena, maka langkah mereka tertegun. Di hadapan mereka, juga di pematang itu, berdiri dua orang anak muda berurutan menunggu mereka.

Malam memang terasa cukup gelap. Namun kedua orang yang melarikan diri itu masih dapat melihat dalam keremangan malam, dua orang yang menunggunya itu.

Keduanya pun harus berhenti. Yang terdengar kemudian adalah suara tertawa salah seorang dari kedua orang yang menghentikan mereka. Tidak terlalu keras, tetapi menyakitkan hati.

“Kalian akan melarikan diri?” bertanya salah seorang di antara kedua orang itu.

Dua orang yang diburu itu tidak terlalu gelisah menghadapi dua orang yang menghentikan mereka. Sementara itu, mereka menganggap bahwa orang-orang di padukuhan masih sibuk saling bertempur. Keduanya mengharap bahwa orang-orang padukuhan itu dapat menahan agar orang-orang yang memburu mereka tidak sempat mencari arah mereka menghindarkan diri.

Tetapi ketika kedua orang yang menghentikan mereka itu maju lebih dekat, sementara yang seorang turun ke sawah dan maju lebih dekat lagi, barulah mereka menyadari, bahwa kedua orang yang menghentikan mereka adalah kedua orang anak muda yang berilmu tinggi itu.

“Setan,” geram salah seorang dari kedua orang yang diburu itu.

“Nah, kalian jangan mencoba melarikan diri,” desis Manggada. “Kau harus bertanggung jawab atas segala perbuatanmu.”

“Anak-anak muda,” berkata salah seorang dari mereka, “kau tentu tahu, bahwa orang-orang seperti kami tentu tidak berdiri sendiri. Kami adalah orang-orang yang bekerja dalam kelompok yang rapi. Karena itu, siapa yang berani menghalangi kami, maka ia akan berhadapan dengan kelompok kami yang sudah tersusun dengan baik dan dapat bekerja dengan cepat.”

“Tetapi kau bukan orang penting di dalam kelompokmu itu,” jawab Manggada. “Jika kau termasuk orang penting, kau tentu mendapat perlindungan. Kau tentu tidak akan mengalami kejadian seperti sekarang ini. Nah, jika demikian aku dapat menduga, bahwa kalian justru telah diumpankan oleh kelompokmu agar kalian dapat dijadikan tumbal bagi mereka. Jika kau mati, maka habislah jalur yang akan dapat menelusuri kegiatan mereka.”

“Persetan,” geram yang lain. “Kau jangan mencoba untuk menakut-nakuti kami dengan mengusik hubungan kami dengan kelompok kami. Kami adalah orang-orang terpercaya yang akan dapat menentukan hidup mati mereka.”

“Jika demikian, maka kalian berdua seharusnya berusaha untuk mencari pelindung yang dapat menyelamatkan hidup kalian dari ancaman kawan-kawan kalian sendiri,” berkata Manggada.

“Omong kosong,” geram mereka hampir bersamaan.

Tetapi Manggada tertawa. Katanya, “Jangan ingkar. Kau dapat ingkar kepada kami, tetapi apakah kau dapat ingkar kepada dirimu sendiri?” Manggada berhenti sejenak, lalu, “Menyerahlah. Kau akan mendapat perlindungan justru dari usaha pembunuhan oleh kawan-kawanmu sendiri.”

Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Namun kemudian merekapun telah bersiap untuk bertempur. Seorang di antara mereka berkata, “Kami akan membunuh kalian berdua.”

Manggada tersenyum. Sementara Laksana tertawa sambil berkata, “Jangan kehilangan akal seperti itu. Kau seharusnya masih sempat memperhitungkan kemampuan kalian.”

Memang kedua orang itu tidak mempunyai harapan lagi. Karena itu betapa sakit hati mereka, namun akhirnya mereka memang terpaksa menyerah kepada kedua orang anak muda itu meskipun mereka mengumpat-umpat di dalam hati. Kenapa kedua anak muda itu justru melibatkan dirinya.

Dengan demikian, maka Manggada dan Laksana telah membawa kedua orang itu kembali ke padukuhan.

Sementara itu di padukuhan pertempuran telah terhenti. Pemimpin kelompok orang-orang berkuda itu nampaknya benar-benar telah berhasil menguasai keadaan. Bukan saja karena pertempuran yang terjadi, tetapi juga karena sikap kedua orang yang melarikan diri itu.

“Kami telah kehilangan mereka,” geram pemimpin kelompok orang-orang berkuda itu. “Keduanya adalah satu-satunya kemungkinan bagiku untuk menemukan kembali anak gadisku.”

Ki Bekel yang masih belum dapat meredakan kemarahannya menjawab, “Itu bukan urusanku. Urusanku adalah ketenangan di padukuhan ini.”

“Meskipun di padukuhan ini dipergunakan untuk berlindung perampok, pencuri, penyamun dan juga penculik gadis-gadis?” bertanya pemimpin kelompok itu.

Namun Ki Bekel membentak, “Persetan. Aku masih memberi kesempatan kalian untuk pergi.”

Orang yang kehilangan anak gadisnya itu menggeram. Katanya, “Aku memang akan pergi karena aku telah kehilangan buruanku. Dan aku tidak akan melupakan sepanjang umurku, bahwa Ki Bekel telah berhasil menyelamatkan dua orang yang telah menculik gadisku, sementara berpuluh-puluh orang tua dari gadis-gadis yang pernah hilang pun akan mengenang kebesaran nama Ki Bekel itu.”

“Cukup,” teriak Ki Bekel.

“Ingat, Ki Bekel. Aku akan menyebar-luaskan peristiwa yang telah terjadi disini. Mudah-mudahan nama Ki Bekel benar-benar akan terkenal,” geram orang itu.

“Tutup mulutmu. Kau kira kami tidak dapat mencegahmu? Kami akan dapat membunuhmu. Tanpa dua orang anak muda yang sekarang tidak kelihatan lagi, kalian bukan apa-apa,” teriak Ki Bekel.

Ternyata Ki Jagabaya pun menyambungnya pula, “Aku kira akhir yang paling baik bagi kalian adalah memang kematian. Kalian akan bungkam dan tidak akan berkata apa-apa.”

“Bunuhlah kami semuanya jika kalian ingin. Tetapi ingat, kami tidak akan mau mati sendiri. Paling sedikit sejumlah orang-orang kami dan orang-orang padukuhan ini pun akan mati. Ki Bekel dan Ki Jagabaya yang telah terlukapun akan mati,” geram orang itu. Lalu katanya pula, “Bahkan kematian kamipun akan dihargai orang karena kami mati justru dalam tugas kemanusiaan. Bukan saja mencari anakku seorang, tetapi beberapa orang gadis yang lain akan diselamatkan pula. Tetapi kematian Ki Bekel akan dicemoohkan orang, karena kau telah melindungi para penjahat yang telah terlibat dalam sekelompok penculik gadis-gadis untuk diperdagangkan.”

“Persetan,” geram Ki Bekel. Namun suaranya tiba-tiba saja telah menurun. Ada sesuatu yang bergerak di dalam hatinya.

Namun Ki Jagabaya masih tetap lantang, “Kita bunuh saja mereka.”

Orang-orang berkuda itu pun telah bersiap, sementara orang-orang padukuhan itulah yang menjadi ragu-ragu. Beberapa orang memang telah terluka. Jika tidak terluka kulitnya, maka tulang-tulangnyalah yang terasa bagaikan retak.

Karena itu mereka mendengar teriakan Ki Jagabaya dengan jantung yang berdegupan. Namun belum seorang pun di antara orang-orang padukuhan itu yang bergerak.

Dalam keadaan yang demikian itu, maka mereka semua telah dikejutkan oleh kehadiran kedua orang anak muda yang telah membawa dua orang yang sedang diburu oleh orang-orang berkuda itu.

Orang-orang berkuda itu pun telah bergerak hampir serentak menyongsong kedua orang anak muda itu. Pemimpin orang-orang berkuda itupun bertanya, “Kau berhasil menangkap mereka?”

“Kenapa kalian tidak mengejarnya?” bertanya Manggada.

“Kami tertahan oleh orang-orang padukuhan ini,” jawab pemimpin dari kelompok orang berkuda yang telah kehilangan anak gadisnya itu.

“Aku yakin bahwa kalian tidak berpura-pura dan tidak sekedar membuat persoalan. Kami percaya bahwa kalian benar-benar sedang memburu kedua orang ini,” berkata Manggada.

Ki Bekel dan Ki Jagabaya justru termangu-mangu. Sementara Laksana berkata, “Kami sudah kehabisan kesabaran. Siapa yang masih akan berusaha membela dan melindungi orang ini akan kami bunuh.”

Wajah Ki Jagabaya menjadi merah. Namun Laksana seakan-akan melihatnya. Katanya, “Nah, kau masih mempunyai kesempatan untuk membunuh diri, Ki Jagabaya. Aku tidak akan berkeberatan membantumu. Kemudian makammu akan ditulisi dengan huruf-huruf yang indah, bahwa kau adalah seorang pahlawan yang gugur karena melindungi kejahatan. Dan padukuhan ini untuk selanjutnya akan penuh dengan penjahat-penjahat yang mencari perlindungan. Para bebahu padukuhan ini di bawah pimpinan Ki Bekel dan Jagabaya yang baru, akan tetap berperang mengorbankan orang-orangnya atas nama ketenangan dan barangkali pajak dari rumah-rumah penginapan yang ada disini.” Laksana berhenti sejenak. Namun kemudian katanya, “Nah, jika ada seorang pun yang mati sekarang ini, maka Ki Bekel dan Ki Jagabayalah yang menjadi pembunuh yang sebenarnya.”

“Tutup mulutmu,” teriak Ki Jagabaya.

“Aku bunuh kau,” geram Laksana.

Tetapi Manggada cepat memegang lengannya ketika Laksana benar-benar melangkah maju dengan mengacungkan pedangnya.

“Lepaskan aku,” geram Laksana. “Orang seperti ini tidak berhak untuk tetap hidup, apalagi menjadi jagabaya dari sebuah padukuhan yang besar.”

Sebenarnyalah jantung Ki Jagabaya telah berdesir tajam. Ia menyadari bahwa ia tidak akan dapat melawan jika anak itu benar-benar datang kepadanya dan berusaha membunuhnya.

Dalam pada itu, maka Manggada pun telah berkata, “Sudahlah. Kedua orang ini sudah tertangkap. Kita serahkan saja kepada yang berkepentingan.”

“Terima kasih, anak muda,” berkata pemimpin pasukan berkuda itu.

Namun Manggada pun berpesan, “Kalian harus sadar, bahwa orang-orang seperti kedua orang itu tentu tidak berdiri sendiri. Kawan-kawannya mempunyai dua pilihan untuk memutuskan hubungan tentang apa yang diketahuinya dengan kelompoknya. Mereka dapat berusaha membebaskan-nya jika kedua orang ini dianggap penting, bahkan dengan pengorbanan yang tinggi, tetapi dapat juga sebaliknya. Kedua orang ini akan dibunuh dengan berbagai macam cara agar mulutnya tidak lagi dapat berbicara.”

Pemimpin dari orang-orang berkuda itu mengangguk. Katanya, “Kami menyadari. Kami sudah bersiap untuk menghadapinya.”

“Jika kalian tidak berkeberatan, maka kami berdua ingin mengikuti kalian sampai ke padukuhan kalian,” berkata Manggada.

“Bagus,” sahut Laksana. “Hampir saja aku mengatakannya.”

“Jika kalian bersedia, kami mengucapkan terima kasih, anak-anak muda,” desis pemimpin dari orang-orang berkuda itu. Tetapi katanya, “Namun kami tidak mempunyai kuda bagi kalian.”

Laksanalah yang kemudian berkata kepada Ki Bekel, “Ki Bekel, aku meminjam empat ekor kuda. Itu lebih baik daripada kami memenggal empat kepala disini.”

Wajah Ki Bekel menjadi merah. Namun nampaknya Laksana berkata dengan sungguh-sungguh.

“Cepat, sebelum pedangku berbicara.”

Ki Bekel tidak mempunyai pilihan lain. Kedua orang anak muda itu akan benar-benar dapat melakukannya tanpa dapat dicegah lagi.

Meskipun dengan segan karena harga dirinya yang tersinggung, namun Ki Bekel terpaksa memberikan isyarat, agar disediakan empat ekor kuda yang akan dipinjam oleh anak-anak muda itu.

Ketika kemudian empat ekor kuda itu tersedia, maka sekelompok orang berkuda itu telah meninggalkan padukuhan itu, diikuti oleh Manggada dan Laksana serta membawa dua orang di antara orang-orang yang memang sedang mereka buru karena mereka sering menculik gadis-gadis.

Sementara itu Manggada sempat berkata kepada Ki Bekel, “Ingat, Ki Bekel. Kau harus berbuat lebih bijaksana. Jika kau masih saja mementingkan pemasukan uang bagi padukuhan-mu tanpa menghiraukan harga diri, maka kau akan menyesal. Pada suatu saat tempat ini akan dapat menjadi tempat yang paling buruk meskipun dapat memberikan hasil yang baik bagi padukuhanmu. Tempat ini akan dapat menjadi tempat dimana martabat manusia tidak dihargai lagi, karena martabat seseorang akan dapat dibeli dengan uang.”

Ki Bekel tidak menjawab. Namun apa yang dikatakan oleh anak muda itu ternyata mampu menyentuh hatinya.

Ketika Ki Jagabaya mengumpat kasar setelah anak-anak muda itu meninggalkan padukuhan mengikuti sekelompok orang-orang berkuda, maka Ki Bekel berkata, “Ki Jagabaya, ternyata kita memang harus merenungi kata-kata anak muda itu.”

“Yang mana?” bertanya Ki Jagabaya.

“Tentang harga diri. Apakah harga diri kita memang sudah dibeli dengan uang?” bertanya Ki Bekel.

Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Namun ia tidak menjawab. Hanya pandangan matanya sajalah yang masih mengikuti beberapa ekor kuda yang berderap sehingga hilang di dalam gelapnya malam.

“Marilah,” berkata Ki Bekel. “Persoalannya sudah selesai. Akhirnya aku juga percaya, bahwa kedua orang itu adalah orang-orang jahat.”

Dalam pada itu, pada saat yang bersamaan, beberapa orang telah mendatangi penginapan yang dicengkam oleh kegelisahan itu. Untuk beberapa saat mereka menunggu. Tetapi nampaknya penginapan itu masih belum tertidur. Beberapa orang justru nampak gelisah berjaga-jaga.

Seorang di antara orang-orang yang mendatangi penginapan itu pun kemudian bertanya kepada salah seorang di antara mereka yang berjaga-jaga, “Apa yang terjadi?”

“Nampaknya telah terjadi kerusuhan,” jawab orang itu.

“Ki Sanak itu siapa? Apakah Ki Sanak salah seorang petugas di penginapan ini?” bertanya orang itu.

“Ya,” jawab orang yang berjaga-jaga itu.

“Baiklah. Tetapi kami berniat minta ijin untuk menemui dua orang sahabat kami yang bermalam di penginapan ini,” berkata orang itu.

“Dua orang? Seorang di antara mereka berjambang panjang?” bertanya petugas itu.

“Ya,” jawab orang yang datang itu, “seorang berjambang panjang.”

“Dua orang yang telah minta perlindungan Ki Bekel karena merasa diburu oleh orang-orang jahat?” bertanya petugas itu.

“Mungkin sekali ia memang memerlukan perlindungan. Aku kawan-kawannya yang ingin menolong mereka. Jika kedua orang itu melihat kami, maka mereka tentu akan mengatakan hal itu kepada kalian,” berkata orang itu.

“Ataukah justru kalian yang sedang memburunya?” bertanya petugas itu.

“Tidak. Jika kau tidak percaya, katakan kepada mereka dengan isyarat sandi. Katakan, bahwa pedang bermata dua telah datang,” desis orang itu.

Tetapi petugas itu justru termangu-mangu. Dengan kata-kata sandi itu ia menjadi percaya bahwa orang-orang itu adalah kawan kedua orang yang minta perlindungan Ki Bekel. Karena itu maka petugas itupun kemudian mengatakan, kemana kedua orang itu pergi bersama beberapa orang anak muda padukuhan dan bahkan dengan Ki Bekel dan Ki Jagabaya.

Orang yang datang itu terkejut. Dengan tegang ia bertanya, “Jadi kedua orang itu telah pergi ke banjar?”

“Ya. Selanjutnya aku kurang jelas. Menurut pendengaranku orang-orang yang memburunya itu telah datang, sehingga kedua orang yang kau cari itu harus mendapat perlindungan lebih baik,” berkata petugas itu.

Orang itu termangu-mangu. Namun ia pun kemudian berkata, “Aku akan berbicara dengan kawan-kawanku.”

Orang-orang itu memang menjadi cemas. Tetapi mereka menyadari bahwa Ki Bekel memang ingin memberikan perlindungan kepada kedua orang kawannya.

“Kita akan menunggu,” berkata salah seorang dari mereka.

Orang-orang itu pun kemudian telah mendapat ijin dari petugas di penginapan itu untuk menunggu. Nampaknya para petugas pun selalu berjaga-jaga di penginapan itu.

Dari para petugas itu, orang-orang yang datang ke penginapan itu tahu, bahwa tidak setiap hari diadakan penjagaan yang ketat seperti itu. Justru karena ada sesuatu yang mungkin dapat menimbulkan kegelisahan, maka para petugas di penginapan itu telah bersiap-siap melampaui kebiasaan mereka.

Beberapa saat kemudian, seseorang telah datang dengan tergesa-gesa. Orang-orang yang menunggu kedua orang kawannya itu melihat orang yang baru datang itu berbicara dengan para petugas yang mengerumuninya.

Karena itu, maka orang-orang itu pun dengan serta-merta telah ikut pula mengerumuni orang itu.

Jantung mereka pun telah menjadi berdebar-debar setelah mereka mendengar cerita orang itu, bahwa kedua orang yang mereka cari itu telah tertangkap dan dibawa oleh beberapa orang berkuda.

“Setan,” geram salah seorang di antara mereka yang dengan serta-merta telah mencengkam baju orang itu. “Kenapa kalian gagal melindungi kawan-kawanku itu?”

“Orang-orang berkuda itu ternyata adalah orang-orang berilmu tinggi. Mereka dibantu oleh dua orang anak muda yang ilmunya justru sangat tinggi. Anak muda itu pulalah yang telah melukai Ki Bekel meskipun tidak parah,” jawab orang yang memberikan kabar tentang peristiwa di regol padukuhan.

Ternyata orang-orang yang mencari kedua orang kawannya itupun menjadi marah. Dengan garangnya seorang di antara mereka telah memukul wajah orang yang membawa kabar itu sehingga orang itu terdorong beberapa langkah surut dan bahkan kemudian jatuh terlentang.

Kawan-kawannya serentak telah menolongnya. Namun orang-orang yang mencari kawannya itu benar-benar sangat marah.

Perkelahian pun tidak dapat dihindarkan. Para petugas yang merasa kesulitan menguasai orang-orang itu, maka seorang di antara mereka telah membunyikan kentongan.

Orang-orang yang kebetulan menginap di penginapan itu telah berlari-larian. Sebenarnya mereka memang sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan buruk, karena mereka tahu bahwa di antara kedua orang yang menginap di penginapan itu sedang dalam bahaya. Tetapi mereka pun tahu bahwa kedua orang itu sudah pergi ke banjar dengan sebagian besar anak-anak muda yang berjaga-jaga.

Namun tiba-tiba di penginapan itu telah terjadi keributan.

Untunglah, bahwa tidak banyak orang yang menginap di penginapan itu, karena agaknya masih belum musimnya memetik hasil sawah yang sering diperdagangkan dan dibawa ke kotaraja.

Suara kentongan itu memang segera terdengar oleh seisi padukuhan. Bahkan suara kentongan yang lain pun segera menyambutnya sehingga seluruh padukuhan itu menjadi gempar.

Namun irama kentongan yang semula bernada empat-empat ganda itu pun segera berubah menjadi tiga-tiga ganda. Sejenak kemudian api pun telah mulai menjilat langit, sementara Ki Bekel dan Ki Jagabaya berlari-lari ke penginapan setelah mereka mendapat kerusuhan yang terjadi di penginapan.

Tetapi kedatangan Ki Bekel dan Ki Jagabaya telah terlambat. Penginapan itu telah menyala. Sedangkan orang-orang yang membuat kerusuhan itu telah melarikan diri. Namun mereka telah meninggalkan tiga orang petugas penginapan itu terluka.

“Mereka adalah orang-orang berilmu tinggi,” berkata salah seorang di antara mereka yang terluka itu.

Ki Jagabaya hanya dapat mengumpat-umpat saja. Peristiwa-peristiwa yang terjadi berurutan di padukuhan itu merupakan peristiwa yang perlu mendapat perhatian dan penilaian dengan sungguh-sungguh.

Sementara itu orang-orang padukuhan itu pun telah bekerja keras untuk berusaha memadamkan api yang menjadi semakin besar. Bahkan rasa-rasanya sulit untuk dapat dikuasai. Bangunan yang terhitung besar itu berhubungan dengan tempat yang biasanya untuk menyimpan barang-barang yang diperdagangkan oleh para pedagang yang menginap. Sebagaimana tidak terlalu banyak orang yang menginap, maka di tempat barang itupun tidak terlalu banyak bertimbun barang-barang dagangan itu.

Namun perlahan-lahan akhirnya api itu mulai susut. Beberapa orang yang berani berusaha memisahkan bagian belakang dari bangunan itu agar tidak terbakar. Serambi yang menghubungkan kedua bangunan itu sebelah menyebelah longkangan justru telah dirobohkan, sehingga dengan demikian tidak dapat dipergunakan untuk merambat api dari bangunan induk yang terbakar.

“Mereka membakar penginapan ini. Mereka telah menumpahkan lampu-lampu minyak di tempat-tempat yang mudah terbakar, sehingga karena itu, maka rumah ini pun cepat sekali terbakar di tempat yang hampir merata,” berkata orang-orang yang terluka itu.

Tidak ada orang yang dapat menyalahkan mereka. Mereka sudah berusaha sejauh dapat mereka lakukan. Namun mereka memang tidak akan mampu mencegahnya.

Dalam pada itu, ketika di luar sadarnya, Manggada berpaling, maka iapun terkejut. Ia melihat warna merah di langit.

“Kebakaran,” desisnya.

Orang-orang berkuda itu pun telah berpaling pula. Tanpa isyarat apapun, maka mereka telah memperlambat kuda mereka, bahkan kemudian berhenti sama sekali.

“Agak jauh,” desis pemimpin dari orang-orang berkuda itu.

Tetapi Manggada menyahut, “Tampaknya dari padukuhan yang baru saja kita tinggalkan. Bukankah arahnya itu tepat pada padukuhan itu?”

“Tetapi kenapa telah terjadi kebakaran?” bertanya salah seorang di antara orang-orang berkuda itu.

Kawan-kawannya menggeleng. Memang tidak seorang pun yang mengetahuinya. Kedua orang yang ditangkap itu pun tidak tahu bahwa kawan-kawan merekalah yang telah melakukannya.

Namun nampaknya kedua orang itu cukup cerdik. Tanpa mengetahui sebenarnya apa yang telah terjadi, seorang di antara mereka berkata, “Nah, hanya untuk diketahui, ternyata aku tidak hanya berdua saja dengan kawanku ini.”

“Maksudmu?” bertanya pemimpin dari orang berkuda itu.

“Bahwa kami berdua hilang dari padukuhan itu telah membuat kawan-kawanku marah. Padukuhan itu akan menjadi karang abang,” berkata orang itu.

“Gila,” geram pemimpin dari orang-orang berkuda itu.

“Bahwa nyawa kami memang mahal. Kita dapat membayangkan, berapa puluh orang padukuhan itu yang terbunuh. Mereka adalah orang-orang yang tidak tahu-menahu tentang gadismu yang hilang itu,” berkata orang itu.

Orang-orang berkuda itu termangu-mangu. Demikian pula Manggada dan Laksana. Mereka memang membayangkan sekelompok orang tengah membantai orang-orang padukuhan yang tidak bersalah itu.

“Apakah kita akan membiarkan mereka diperlakukan tidak adil?” tiba-tiba Laksana berdesis.

Manggada mengangguk-angguk, meskipun ia tahu bahwa ada maksud lain di samping usaha untuk menolong orang-orang padukuhan itu. Laksana memang ingin mencari pengalaman sebanyak-banyaknya dengan ilmu kanuragannya.

Pemimpin dari orang-orang berkuda itupun telah menyahut pula, “Marilah kita lihat. Aku ikut bertanggung jawab jika benar-benar terjadi pembantaian di padukuhan itu atas orang-orang yang tidak bersalah.”

“Apakah kita akan kembali?” bertanya salah seorang di antara orang-orang berkuda itu.

“Ya. Mungkin kita dapat bertemu dengan orang-orang yang lebih penting dari gerombolan penculik gadis-gadis itu,” berkata pemimpinnya.

Demikianlah, maka iring-iringan itu telah memacu kuda mereka kembali ke padukuhan yang terbakar itu. Namun ketika mereka menjadi semakin dekat, maka pemimpin dari orang-orang berkuda itu telah minta kepada kawan-kawannya agar kedua orang tawanan mereka itu diikat pada sebatang pohon yang terlindung di luar padukuhan.

Dua orang di antara mereka harus mengawasi kedua orang itu. Pemimpin orang-orang berkuda itu berpesan, “Jika terjadi sesuatu, lepaskan anak panah sendaren. Jangan hanya satu, tetapi beberapa.”

Kedua orang itu mengangguk. Namun mereka tidak mengawasi kedua tawanan itu di tempat terbuka. Tetapi keduanya juga menunggui kedua tawanan itu di tempat yang terlindung.

Sementara itu, kawan-kawannya bersama Manggada dan Laksana telah berpacu memasuki padukuhan.

Namun yang mereka temui bukannya sekelompok orang yang membantai orang-orang padukuhan itu. Tetapi beberapa orang yang telah membakar penginapan.

“Sukurlah,” berkata pemimpin dari orang-orang berkuda itu, “aku membayangkan beberapa orang padukuhan ini menjadi korban tanpa bersalah. Karena itu aku kembali. Akupun ingin bertemu dan berbicara dengan orang-orang yang aku kira kedudukannya lebih penting dari kedua orang yang telah aku tangkap itu.”

“Mereka sudah melarikan diri,” jawab Ki Bekel.

Orang-orang berkuda itu pun kemudian telah minta diri. Mereka akan meneruskan perjalanan mereka kembali ke padukuhan mereka untuk mengusut hilangnya beberapa orang gadis, yang mungkin akan mendapat perlakuan yang sangat buruk.

Namun dengan demikian, Ki Bekel dan orang-orang padukuhan itu semakin percaya bahwa orang-orang itu bukan penjahat. Mereka telah kembali meskipun agaknya mereka sudah agak jauh dari padukuhan itu ketika mereka melihat api. Sebenarnya mereka dapat berpacu terus tanpa menghiraukan orang-orang padukuhan itu akan mengalami kesulitan. Tetapi ternyata bahwa mereka telah kembali ke padukuhan itu untuk membantu.

Setelah mengambil orang-orang yang terikat serta kedua orang kawannya, maka iring-iringan berkuda itu telah melanjutkan perjalanan mereka.

“Berapa korban yang telah jatuh?” bertanya salah seorang dari kedua orang yang tertawan itu.

“Korban apa maksudmu?” bertanya pemimpin dari orang-orang berkuda itu.

“Bukankah kawan-kawanku telah membantai orang-orang padukuhan?” bertanya orang itu pula.

Namun yang menjawab dengan cepat adalah Manggada. Katanya, “Kami telah kehilangan waktu tanpa arti sama sekali. Ternyata di padukuhan itu telah terjadi kebakaran. Dua orang pemabuk telah membakar rumah salah seorang di antara mereka, karena pemabuk itu bertengkar dengan isterinya.”

Kedua orang tawanan itu termangu-mangu. Ternyata pemimpin dari orang-orang berkuda itu pun tanggap. Karena itu maka ia telah menyambung, “Ki Bekel yang lagi bingung telah mengambil tindakan yang sangat keras terhadap kedua orang pemabuk itu.”

“Apakah mereka dibunuh?” salah seorang dari kedua orang tawanan itu bertanya.

“Tidak. Tetapi keduanya telah diikat pada tiang bambu di halaman banjar,” jawab Manggada.

Kedua orang itu terdiam. Tetapi nampaknya mereka menjadi kecewa. Ternyata kebakaran itu tidak ada hubungannya dengan langkah-langkah yang diambil oleh kawan-kawannya.

Kuda-kuda itu pun kemudian telah berpacu semakin cepat. Mereka telah kehilangan waktu beberapa saat karena mereka telah kembali ke padukuhan itu. Tetapi merekapun masih dapat bersukur bahwa tidak ada orang-orang yang menjadi korban dan terbunuh, meskipun ada juga yang terluka.

Namun yang tidak pernah diperhitungkan itu pun telah terjadi. Ketika kuda-kuda mereka tengah berpacu di bulak panjang, maka mereka telah melihat dua buah obor yang menyala di tengah-tengah jalan. Bahkan ketika mereka menjadi semakin dekat, maka obor-obor itupun telah digerak-gerakkan oleh tangan yang memegangnya.

“Siapa?” bertanya pemimpin kelompok itu seakan-akan kepada diri sendiri.

Tetapi yang terdengar adalah suara kedua orang tawanan itu tertawa hampir berbareng. Seorang di antara mereka berkata, “Nah, sekarang kalian harus percaya, bahwa kami berdua tidak dibiarkan sendiri menghadapi kesulitan seperti ini.”

“Persetan,” geram Laksana. Namun tiba-tiba ia pun berkata, “Berhenti. Kita berhenti sebentar.”

Meskipun orang-orang berkuda itu tidak mengetahui maksud Laksana, namun merekapun telah berhenti.

“Untuk apa kita berhenti?” bertanya pemimpin kelompok orang-orang berkuda itu.

“Mungkin yang menghentikan kita di depan itu ialah kawan-kawan kedua orang ini,” berkata Laksana.

“Memang mungkin sekali,” salah seorang dari kedua orang tawanan itulah yang menjawab. Katanya pula, “Bahkan pasti.”

“Baik, jika demikian maka kita harus mengambil langkah-langkah pengamanan,” berkata Laksana.

Kedua orang tawanan itu terkejut. Mereka sama sekali tidak menduga, bahwa anak muda itu ternyata mempunyai ketajaman penalaran sedemikian jauh.

Namun keduanya tidak sempat menolak ketika Laksana kemudian meloncat turun dan berkata, “Aku akan mengikat mereka.”

“Bagaimana kami dapat naik kuda dengan kedua tangan terikat,” berkata salah seorang dari mereka.

“Kalian tidak akan naik kuda. Jarak kita dengan obor itu sudah terlalu dekat. Kalian akan berjalan kaki sampai ke tempat itu. Baru jika ternyata yang kita jumpai disana orang lain, maka kau akan kami lepaskan kembali,” berkata Laksana yang kemudian membentak, “Turun.”

Kedua orang itu harus meloncat turun. Namun dalam pada itu tiba-tiba saja beberapa orang telah berloncatan dari dalam kegelapan.

Laksana menarik nafas dalam-dalam. Ternyata orang-orang yang menghentikan mereka itu pun mempunyai perhitungan yang cukup rumit.

Namun demikian Laksana tidak menyerah. Ia pun kemudian berkata kepada pemimpin kelompok orang-orang berkuda itu, “Layani mereka. Aku akan mengikat keduanya.”

“Tidak,” berkata salah seorang di antara orang-orang yang berloncatan mengepung mereka. “Jika hal itu kau lakukan juga, maka kau akan menyesal.”

“Kenapa aku menyesal? Aku mengikat tawananku sendiri. Apa hubungan kalian dengan tindakanku ini?” bertanya Laksana.

“Kedua orang itu adalah kawan-kawanku. Aku minta kalian serahkan kedua orang itu kepadaku. Kemudian kami akan membiarkan kalian lewat,” sahut orang yang agaknya pemimpin kawan-kawannya itu.

Laksana termangu-mangu sejenak. Sementara itu ternyata obor di kejauhan telah padam.

Beberapa saat ketegangan mencengkam sekelompok orang-orang berkuda yang membawa dua orang tawanan itu. Namun pemimpin merekapun kemudian berkata, “Jadi kedua orang ini kawan-kawan kalian?”

“Ya,” jawab orang yang mencegat mereka itu.

“Adalah kebetulan sekali,” jawab pemimpin orang-orang berkuda itu. “Aku menginginkan orang yang dapat menunjukkan kepadaku, dimana gadis-gadis padukuhanku yang telah kalian culik.”

“Jangan terlalu bodoh,” berkata pemimpin dari orang-orang yang mencegat itu. “Kau tahu bahwa pertanyaan seperti itu tidak akan dijawab. Sekarang, serahkan kedua orang kawanku itu. Kami tidak mempunyai waktu untuk berbicara panjang lebar tanpa ujung pangkal.”

“Tidak,” jawab pemimpin kelompok dari orang-orang berkuda itu. “Kami tidak akan pernah memaafkan orang-orang yang dengan tanpa perikemanusiaan telah menculik gadis-gadis.”

“Ada dua kemungkinan,” berkata orang itu, “memaafkan mereka yang telah menculik gadis-gadis atau mati disini.”

“Persetan,” geram Laksana. “Aku akan mengikat mereka.”

“Sekali lagi aku peringatkan. Jangan lakukan.”

Tetapi yang dilakukan oleh Laksana justru mengejutkan. Tiba-tiba saja ia telah mengetuk pundak kedua orang itu, kemudian dengan ujung-ujung jarinya yang merapat ia telah mengetuk punggung kedua orang itu. Demikian cepatnya sehingga kedua orang itu tidak sempat menghindar atau melawan. Pada ketukan yang ketiga di lambung kedua orang itu telah membuat mereka perlahan-lahan berlutut dan kemudian terbaring di tanah.

“Baik,” berkata Laksana, “aku tidak akan mengikatnya. Meskipun demikian mereka telah pingsan untuk beberapa lama.”

Orang-orang yang menghentikan sekelompok orang-orang berkuda itu menjadi sangat marah. Pemimpin mereka berkata dengan suara bergetar oleh kemarahan yang membakar ubun-ubunnya, “Kalian telah menghina kami. Karena itu, maka kami tidak akan memaafkan kalian.”

“Apakah kau kira kami akan minta maaf?” jawab Laksana. Lalu dengan nada keras ia berkata, “Nah, sekarang kalian mau apa? Bertempur atau berbicara baik-baik atau apa?”

“Kau memang harus dibunuh,” geram pemimpin dari orang-orang yang telah mencegat mereka itu.

Laksana justru membentak, “Lakukan. Kenapa kau hanya berbicara saja?”

Sementara itu pemimpin dari orang-orang berkuda yang mencari anaknya yang hilang itu berkata, “Marilah. Kita akan menentukan siapa yang akan menang. Tetapi ingat, bahwa kami memerlukan kalian untuk menunjukkan dimana gadis-gadis kami kalian sembunyikan. Jika kami membunuh kalian, maka dua atau tiga orang akan tetap hidup. Setidak-tidaknya dua orang yang pingsan itu.”

Pemimpin dari orang-orang yang mencegat sekelompok orang-orang berkuda itu menjadi semakin marah. Katanya, “Kita bunuh mereka.”

Orang-orang berkuda itu tidak menjawab lagi. Tetapi mereka pun telah mempersiapkan diri. Kuda-kuda mereka telah ditambatkan pada batang-batang pohon di pinggir jalan, sementara yang lain telah bersiap menghadapi kemungkinan.

Ketika orang itu mulai bergerak, maka Manggada tiba-tiba saja berbisik kepada pemimpin dari orang-orang yang mencari gadis-gadis mereka yang hilang itu, “Perintahkan satu dua orang-orangmu menjaga kedua orang yang pingsan itu.”

“Bukankah mereka tidak dapat berbuat sesuatu?” desis pemimpin dari orang-orang berkuda itu.

“Jika kawan-kawannya gagal membebaskannya, mereka justru akan membunuhnya. Dengan demikian maka kita akan kehilangan sumber untuk mengikuti jejak dari gerombolan itu,” berkata Manggada perlahan-lahan.

Pemimpin dari orang-orang berkuda itupun mengerti maksudnya. Ia pun kemudian telah memberi isyarat kepada salah seorang pengikutnya untuk mendekat dan berbisik pula kepadanya untuk mengawasi kedua orang yang pingsan itu.

“Mereka harus tetap hidup,” desis pemimpinnya itu.

Orang yang mendapat perintah itu mengangguk-angguk. Ia mengerti akan tugas yang dibebankan kepadanya.

Sejenak kemudian, maka orang-orang yang telah menghentikan sekelompok orang-orang berkuda itu telah mengepung rapat dan justru memperketat kepungan mereka. Sebagian di antara mereka telah turun ke sawah sementara yang lain berdiri di tengah jalan di kedua arah.

“Kalian tidak akan mendapat kesempatan lagi,” berkata pemimpin dari orang-orang berkuda itu. Lalu katanya pula, “Tetapi jika kalian serahkan kedua orang yang pingsan itu, maka sekali lagi aku peringatkan, kalian dapat lewat dengan selamat. Jika kesempatan terakhir ini tidak kalian pergunakan, maka kalian akan mati disini. Semuanya, tanpa kecuali.”

Tetapi jawaban dari pemimpin orang-orang berkuda itu tetap, ”Aku memerlukan satu atau dua orang di antara kalian untuk melengkapi keterangan tentang gadis-gadis kami yang hilang.”

“Persetan,” geram pemimpin dari orang-orang yang mencegatnya. Kemudian maka terdengar aba-abanya, “Bunuh mereka. Bebaskan kawan-kawanmu yang telah mereka tahan itu. Kesempatan terakhir yang aku berikan telah mereka sia-siakan.”

Dengan demikian maka sejenak kemudian, maka orang-orang yang menghentikan sekelompok orang-orang berkuda itu telah menyerang dari segala arah. Mereka yang berada di tengah jalan, mereka yang ada di tanggul parit, di pematang dan mereka yang berada di sawah pun telah bergerak. Dalam keremangan malam, maka senjata mereka berkilat oleh cahaya bintang di langit. Sementara itu beberapa orang telah berloncatan sambil berteriak.

Namun nampaknya suara mereka yang ribut itu tidak akan didengar oleh orang-orang padukuhan yang jaraknya cukup jauh. Bulak itu memang terlalu panjang.

Tetapi orang-orang berkuda itu telah siap menghadapi segala kemungkinan. Jumlah mereka memang lebih sedikit dari orang-orang yang mencegatnya. Tetapi orang yang telah kehilangan anaknya itu memang mempunyai kelebihan dari orang kebanyakan. Sementara beberapa orang kawannya pun menguasai ilmu pedang dengan baik. Sehingga dengan demikian maka meskipun jumlah mereka lebih sedikit, tetapi mereka berharap akan dapat menyelesaikan pertempuran itu sebagaimana mereka harapkan.

Sejenak kemudian, maka senjata pun mulai berdentang. Orang-orang yang mencegat orang-orang berkuda itu nampaknya tidak ingin kehilangan banyak waktu. Mereka telah bertempur dengan garang dan kasar. Pada ayunan senjata mereka yang pertama, maka mereka benar-benar telah bertekad untuk membunuh lawan-lawan mereka.

Demikianlah, maka pertempuran pun segera membakar bulak yang panjang itu. Di antara sekelompok orang-orang berkuda itu terdapat Manggada dan Laksana, dua orang remaja yang baru saja keluar dari sebuah lingkungan kecil yang menempa mereka dalam olah kanuragan.

Namun ternyata bahwa bekal yang telah mereka bawa cukup memadai.

Demikianlah maka kedua anak muda itu telah bertempur dengan tangkasnya di antara orang-orang yang sebelumnya belum pernah mereka kenal. Namun bagi kedua anak muda itu, persoalan yang mereka hadapi telah memberikan pengalaman yang berharga. Bukan saja dalam olah kanuragan, tetapi juga dari segi yang lain. Dengan demikian maka mereka telah sempat memandang cakrawala tentang kehidupan yang lebih luas. Liku-liku dari perbuatan sesamanya yang kadang-kadang bertentangan dengan martabat mereka.

Pertempuran itu semakin lama menjadi semakin sengit. Kedua belah pihak telah mengerahkan kemampuan mereka masing-masing. Dentang senjata pun menjadi semakin sering terdengar dan kilatan bunga api berloncatan di udara.

Ternyata bahwa kedua belah pihak terdiri dari orang-orang yang berpengalaman. Orang berkuda yang kehilangan anak gadisnya itu tidak membawa orang-orang kebanyakan bersamanya untuk mencari anak gadisnya. Ia tahu pasti, bahwa perjalanannya adalah perjalanan yang berbahaya, sehingga karena itu, maka orang-orang yang pergi bersamanya adalah orang-orang yang terpilih dan yang menyadari sepenuhnya apa yang akan mungkin mereka hadapi di perjalanan. Sementara itu, orang-orang yang mencegatnya pun adalah orang-orang terpilih di antara mereka. Apalagi jumlah mereka lebih banyak.

Namun demikian, ternyata Laksana dan Manggada masih memiliki kelebihan dari setiap orang yang sedang bertempur itu. Mereka tidak sekedar mempergunakan ilmu kanuragan. Tetapi mereka mempergunakan penalaran mereka sebaik-baiknya.

Seperti yang pernah dilakukan, maka Manggada dan Laksana telah dengan sengaja bertempur berloncatan dari satu lingkaran ke lingkaran pertempuran yang lain. Keduanya telah memisahkan diri dan bertempur pada arah yang berlawanan.

Sebenarnyalah yang dilakukan oleh kedua orang anak muda itu agak membingungkan lawan yang meskipun lebih banyak. Kedua anak muda itu tiba-tiba saja muncul di semua lingkaran medan, tetapi dengan tiba-tiba saja mereka telah bergeser. Namun kemampuan mereka yang tinggi dan ilmu pedang mereka yang jauh lebih baik dari lawan-lawannya, telah menimbulkan kegelisahan di seluruh arena. Lawan-lawan mereka selalu dicemaskan oleh kehadirannya yang tiba-tiba dan putaran pedangnya yang sangat berbahaya.

Bahkan Manggada dan Laksana dengan kecepatan geraknya, ternyata telah berhasil menyentuh tubuh lawan-lawannya dengan ujung pedangnya. Pedang yang didapatkannya di padukuhan yang baru saja mereka tinggalkan.

“Kedua iblis itu harus dihentikan,” geram pemimpin dari orang-orang yang telah mencegat mereka itu.

Pemimpin itu pun kemudian telah melepaskan lawannya untuk mendapat kesempatan mengatur orang-orangnya menghadapi kedua anak muda itu. Ketika dua orang pengikutnya menggantikannya melawan pemimpin kelompok orang-orang berkuda yang kehilangan anak gadisnya itu, maka pemimpin mereka pun telah menghilang di medan.

Ternyata orang itu telah memilih tiga orangnya yang terbaik. Dua di antara mereka harus mengikuti salah seorang di antara kedua orang anak muda itu, sedangkan ia sendiri dan seorang lagi akan mengikuti anak muda yang lain.

“Mereka harus diikat dalam satu pertempuran dengan lawan yang tetap,” berkata pemimpin dari orang-orang yang telah mencegat sekelompok orang berkuda itu. Lalu katanya pula, “Jika mereka dibiarkan berkeliaran maka keduanya akan dapat mempengaruhi seluruh medan.”

Demikianlah, maka pemimpin orang-orang yang mencegat orang-orang berkuda itu pun bersama seorang pengikutnya telah berusaha untuk bertempur melawan salah seorang di antara anak-anak muda yang mendebarkan itu. Ternyata orang itu telah bertemu dengan Manggada yang berloncatan tidak jauh daripadanya, sedangkan dua orang pilihan yang lain telah mencari Laksana.

“Anak muda,” geram orang itu, “kau tidak perlu berkeliaran di medan pertempuran ini. Kau tidak akan dapat melepaskan diri dari tangan kami berdua. Karena itu, kau harus mencoba untuk melindungi dirimu sendiri. Kau harus rela melihat orang-orang lain terbunuh di peperangan ini jika kau tidak ingin kepalamu sendiri terpenggal.”

Manggada memandang orang itu sejenak. Meskipun dalam keremangan malam, namun ia segera dapat mengenali bahwa orang itu adalah pemimpin dari orang-orang yang telah menghentikan iring-iringannya dan menuntut agar kedua orang tawanan itu diserahkan kepadanya.

Karena itu Manggada menjadi berhati-hati. Dengan nada rendah ia berkata, “Kau ingin merubah caraku bertempur?”

“Kau akan segera mati,” berkata lawannya itu.

“Tidak seorang pun dapat mengikatku dalam satu lingkaran arena. Aku dapat pergi sesuka hatiku dan bertempur melawan siapapun juga. Jika kalian berusaha menahanku untuk tetap berada disini sementara kawan-kawanku terdesak, maka kalianlah yang akan mengalami nasib paling buruk, karena aku akan segera membunuh kalian berdua agar aku dapat terbang kemana aku sukai,” jawab Manggada.

Lawannya itu menggeram. Ia pun telah bersiap untuk meloncat menyerang, sementara kawannya pun telah mendapat isyarat untuk mendesak.

Sejenak kemudian, maka mereka memang benar-benar telah bertempur. Manggada melawan dua orang lawan. Dua orang lawan yang terbaik di antara lawan-lawannya yang lain.

Dengan demikian maka Manggada benar-benar telah menguji kemampuannya. Ia telah mengetrapkan ilmu yang telah disadapnya dari gurunya. Sedangkan pengalamannya masih sangat sempit sehingga ia harus menyandarkan kemampuannya pada ilmu yang diwarisinya itu.

Namun ternyata bahwa setelah menempa diri dengan sungguh-sungguh dan bekerja keras tanpa mengenal lelah, Manggada memang memiliki bekal yang cukup mapan.

Bagi anak muda itu, sebagaimana Laksana, yang terjadi itu justru merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi mereka. Bagi anak-anak muda yang baru saja keluar dari perguruan kecil yang tidak banyak dikenal, kemudian turun ke dunia olah kanuragan yang keras.

Kedua anak muda itu seolah-olah dua ekor burung yang menguak dari sarangnya, memandang betapa luasnya cakrawala.

Demikianlah, maka pertempuran yang terjadi pun semakin lama menjadi semakin keras. Kedua orang lawan Manggada itu berusaha untuk segera mengakhiri perlawanannya, karena keduanya merasa bahwa tugas mereka masih cukup banyak.

Tetapi ternyata anak muda itu memang sangat liat. Tidak mudah untuk menguasainya, mengalahkannya dan apalagi membunuhnya.

Demikian juga dua orang pilihan yang bertempur melawan Laksana. Anak muda itu tangkas seperti seekor burung sikatan. Dengan cepat menukik menyambar bilalang. Namun kemudian dengan cepat pula meluncur terbang ke udara. Hilang tanpa bekas.

Karena itu, kedua lawan Laksana pun kadang-kadang menjadi kebingungan. Namun keduanya telah berusaha sejauh kemampuan mereka agar anak muda itu tidak terlepas dari lingkaran pertempuran melawan keduanya.

Namun dalam pada itu, arena pertempuran itu dalam keseluruhannya telah terpengaruh karenanya. Empat orang terbaik di antara mereka yang mencegat orang-orang berkuda itu terikat dalam pertempuran melawan Manggada dan Laksana. Karena itu, maka kekuatan mereka pun rasa-rasanya menjadi jauh berkurang.

Pemimpin dari orang-orang berkuda yang kehilangan anaknya itu bertempur dengan garangnya. Kawan-kawannya pun telah menjadi garang pula. Mereka bertempur untuk satu beban yang bagi mereka mempunyai arti yang sangat luhur. Kemanusiaan.

Karena itu, maka mereka pun telah mempertaruhkan segala-galanya atas kesadaran mereka terhadap tugas yang mereka sandang itu. Sehingga dengan demikian, maka mereka sama sekali tidak gentar menghadapi apapun juga. Apalagi ketika mereka merasa bahwa perlawanan orang-orang yang menghentikan mereka itu semakin susut.

Dengan demikian, pemimpin dari orang-orang yang mencegat orang-orang berkuda itu memang menjadi cemas. Karena itu, ia telah mengerahkan segenap kemampuannya untuk menghentikan perlawanan anak muda yang ternyata memang berilmu tinggi itu.

Tetapi ternyata bahwa anak muda itu mampu bergerak semakin cepat pula. Bahkan kedua tangannya telah bergerak-gerak dengan tangkasnya. Pedangnya menyambar-nyambar mengerikan. Sekali-sekali pedang itu berada di tangan kanan, namun tiba-tiba pedang itu bergetar di tangan kirinya. Kedua tangan anak muda itu nampaknya memiliki ketrampilan yang sama. Apakah itu tangan kanan apakah tangan kiri.

Kemarahan telah menghentak-hentak di dada pemimpin dari orang-orang yang ingin merebut kedua orang kawannya yang tertawan itu. Tetapi ia tidak dapat mengingkari kenyataan. Kawan-kawannya dalam jumlah yang lebih besar, tidak mampu mengalahkan orang-orang berkuda itu.

Apalagi beberapa saat kemudian, Manggada yang mulai jemu dengan pertempuran itu, telah menghentakkan senjatanya pula. Ketika ia mendapat kesempatan, maka ujung pedangnya telah menyambar mendatar ke dada pemimpin orang-orang yang telah mencegat perjalanannya itu. Namun ternyata orang itu cukup tangkas. Dengan cepat ia bergeser surut sehingga ujung pedang Manggada tidak mampu menggapainya. Justru pada saat yang demikian, lawannya yang seorang lagi telah meloncat menyerangnya. Senjatanya mematuk ke arah lambung.

Namun Manggada cukup tangkas. Dengan cepat ia menarik serangannya dan meloncat surut. Dengan pedangnya ia telah memukul senjata lawannya demikian kerasnya.

Tetapi Manggada tidak berhasil menjatuhkan senjata lawannya, meskipun terasa tangan lawannya itu menjadi pedih. Tetapi ia masih mampu mempertahankan senjatanya.

Namun Manggada tidak berhenti menyerang. Pedangnya tiba-tiba saja telah berputar. Dengan cepat pedangnya mematuk lawannya itu.

Lawannya memang terkejut. Tetapi ia masih sempat meloncat surut.

Pada saat yang bersamaan, pemimpin orang-orang yang ingin membebaskan kedua orang kawannya itulah yang telah menyerang Manggada. Serangannya datang bergulung seperti badai. Demikian garangnya, sehingga Manggada memang harus meloncat beberapa langkah surut.

Namun yang tidak disangka-sangka telah terjadi. Ketika serangan itu masih memburu, Manggada telah meloncat dengan cepat hampir tidak kasat mata. Senjatanya dengan ayunan mendatar telah menggapai lawannya yang seorang lagi, yang justru sedang termangu-mangu menyaksikan serangan pemimpinnya itu.

Karena itu, maka orang itu telah terkejut sekali. Ia tidak mempunyai kesempatan untuk berbuat sesuatu. Orang itu memang berusaha untuk menangkis serangan itu. Tetapi ia tidak berhasil. Meskipun senjatanya menyentuh senjata Manggada, namun ia tidak berhasil menahan serangan itu. Karena itulah, maka sejenak kemudian dada orang itu telah terkoyak oleh ujung pedang anak muda itu.

Sementara itu, Manggada masih juga sempat meloncat menghindari serangan lawannya yang seorang lagi. Bahkan pada serangan berikutnya Manggada telah siap membentur serangan itu.

Demikianlah, dua buah senjata saling berbenturan. Pedang Manggada memang bukan pedang pilihan. Namun dengan kemampuannya yang besar, maka ia berhasil menahan ayunan pedang lawannya itu. Bahkan dengan menghentakkan seluruh kekuatannya, maka hampir saja senjata lawannya terlepas dari tangannya.

Tetapi lawannya masih sempat meloncat surut. Dengan sisa tenaga yang ada orang itu berusaha mempertahankan senjatanya. Namun Manggada tidak membiarkannya. Dengan langkah yang panjang ia meloncat memburunya. Sekali lagi pedangnya terayun deras sekali. Manggada memang tidak mengarahkan senjatanya ke tubuh lawannya, tetapi dengan sengaja telah berusaha membentur senjatanya.

Ketika benturan itu sekali lagi terjadi, maka lawannya tidak mampu mempertahankannya lagi. Senjatanya ternyata telah terlepas dari tangannya dan melenting jatuh di tanah.

Dengan cepat Manggada meloncat mendekat lagi. Satu pukulan tangan kirinya menghantam dada orang itu sehingga ia terdorong beberapa langkah surut. Sebelum ia menyadari apa yang terjadi, maka kaki Manggada telah menyapu kakinya sehingga ia jatuh terlentang.

Ketika orang itu siap melenting berdiri, ujung pedang Manggada telah melekat di dada orang itu.

“Jangan bangkit,” berkata Manggada. “Aku ingin menusuk dadamu selagi kau berbaring. Diamlah.”

Orang itu menjadi sangat tegang. Namun ia tidak dapat berbuat sesuatu. Ujung pedang itu benar-benar akan dapat menghunjam di dadanya. Karena itu, maka orang itu terpaksa tetap berbaring betapapun jantungnya bagaikan akan meledak.

Sementara itu, Laksana tengah berloncatan memburu seorang lawannya. Sementara lawannya yang seorang lagi telah terbaring diam. Seperti lawan Manggada, maka dadanya telah terkoyak oleh ujung pedang.

Lawannya yang seorang lagi tidak memiliki kesempatan untuk menyelamatkan diri. Meskipun ia masih mencoba melawan untuk melindungi dirinya, tetapi serangan Laksana datang beruntun. Satu putaran pedang Laksana ternyata telah melemparkan senjata lawannya. Gerakan yang dilakukan kemudian adalah satu tusukan yang menghunjam ke perut lawannya itu.

Dengan demikian maka kedua lawan Laksana itu telah terbaring diam untuk selama-lamanya.

Laksana yang kehilangan kedua lawannya telah siap untuk melibatkan diri melawan yang lain. Tetapi dalam pada itu, pertempuran itu tiba-tiba telah terhenti ketika terdengar suara pemimpin dari orang-orang yang telah menghentikan orang-orang berkuda itu.

“Letakkan senjata,” teriak orang itu.

Para pengikutnya mengenali suaranya. Sementara itu Manggada berteriak, “Hentikan. Kita akan berbicara.”

Pertempuran itupun berhenti. Dengan ujung pedang di punggung orang itu berkata kepada para pengikutnya, “Biarlah kita menyerah.”

Para pengikutnya termangu-mangu. Mereka saling berpandangan sejenak. Namun tidak seorang pun di antara mereka yang melepaskan senjatanya.

Ternyata bahwa dugaan Manggada tidak luput. Orang itu tidak benar-benar ingin menyerah. Dalam kesempatan yang terbuka, tiba-tiba saja ia telah menjatuhkan dirinya. Dengan kakinya ia telah menyerang ke arah perut Manggada sambil berteriak dengan lantang, “Bunuh semua orang.”

Beberapa orang memang terkejut. Tetapi Manggada yang curiga terhadap sikap pemimpin orang-orang yang mencegatnya itu, telah siap menghadapinya. Karena itu, maka ia dengan tangkasnya telah melenting surut.

Kesempatan yang ditunggu itu pun datang ketika orang itu dengan cepat melenting berdiri. Pada saat yang tepat Manggada telah meloncat dengan tubuhnya yang miring. Kakinya terjulur lurus menyamping.

Dengan kekuatan penuh kaki Manggada telah menghantam dada lawannya. Demikian kerasnya sehingga lawannya itu telah terlempar beberapa langkah dan jatuh terbanting di tanah.

Dadanya rasa-rasanya pecah. Nafasnya terhenti mengalir dan matanyapun mulai berkunang-kunang sehingga akhirnya semuanya menjadi gelap.

Para pengikutnya mencoba memanfaatkan kesempatan itu dengan serta-merta. Beberapa orang berhasil mendesak lawannya, bahkan melukai orang-orang berkuda yang kehilangan kewaspadaan.

Namun dengan demikian mereka telah membuat orang-orang berkuda itu marah sehingga mereka telah menghentakkan senjata mereka. Bahkan Laksana pun telah menjadi sangat marah pula. Dalam setiap ayunan, maka ia telah melukai seorang lawannya.

Dengan demikian, maka pertempuran itu pun kemudian telah berakhir dengan sangat pahit. Beberapa orang telah terbunuh. Tubuh mereka malang melintang bahkan saling bertindih.

Beberapa orang berkuda telah pula terluka. Tetapi tidak seorang pun di antara mereka yang terbunuh.

Namun dalam pada itu, Manggada lah yang berteriak, “Jangan kalian bunuh orang-orang itu. Kita memerlukan keterangannya.”

Namun pertempuran itu masih berlangsung beberapa saat. Orang-orang berkuda itu tidak dapat dengan serta-merta menghentikan pertempuran karena lawan-lawan mereka masih saja menyerang dengan sengitnya.

Satu demi satu orang-orang itu telah terkulai. Karena itu, maka Manggada merasa perlu untuk mengambil langkah. Dengan tangkasnya ia telah menyambar seorang lawan dengan sisi telapak tangannya yang mengenai punggungnya. Demikian orang itu menggeliat, maka dengan ujung-ujung jarinya yang merapat, Manggada telah menyentuh beberapa tempat di punggung orang itu sehingga orang itu pun kehilangan kesadarannya.

Dengan cepat Manggada menangkapnya dan membaringkannya di tanah.

Sebenarnyalah korban telah semakin banyak jatuh. Dua orang yang mencoba melarikan diri, justru punggungnya telah tertembus senjata. Sehingga akhirnya orang-orang yang mencegat orang-orang berkuda itu benar-benar telah kehilangan kesempatan.

Dengan demikian maka pertempuran pun telah berhenti. Disana-sini tubuh terkapar silang melintang. Darah yang mengalir dari luka telah menyiram bumi yang mulai dibasahi oleh embun.

Manggada dan Laksana berdiri tegak memandang bekas arena pertempuran itu. Sesuatu ternyata telah menggelitik perasaannya. Ternyata mereka telah melakukan pembunuhan-pembunuhan, sementara sebenarnya mereka hanya ingin mendapatkan pengalaman.

“Apakah yang terbunuh itu memang pantas dibunuh?” bertanya anak-anak muda itu di dalam hatinya.

Namun dalam pada itu, pemimpin dari orang-orang berkuda itu pun telah mengumpulkan orang-orangnya. Dengan obat-obatan yang ada mereka berusaha untuk mengurangi darah yang mengalir dari luka.

Sementara itu, maka Manggada dan Laksana pun telah melihat orang-orang yang terbaring. Dua orang tawanan yang dibawanya masih belum sadarkan diri. Demikian pula seorang yang telah dibuat pingsan oleh Manggada. Sedangkan di antara orang-orang yang terbujur lintang terdapat orang-orang yang masih hidup, meskipun terluka parah. Termasuk pemimpin dari orang-orang yang mencegat perjalanan orang-orang berkuda itu

Dua orang itu pun kemudian telah diangkat oleh Manggada dan Laksana. Keduanyalah yang telah mengobati kedua orang itu, dengan obat yang dibawanya dari rumah Laksana.

Sejenak kemudian, maka orang-orang itu telah berbenah diri. Beberapa orang harus dibawa. Manggada dan Laksana telah menyentuh simpul-simpul syaraf yang mereka tutup sehingga membuat orang-orang itu pingsan, untuk dibuka kembali, sehingga orang-orang itu menjadi sadar.

Demikianlah, Manggada dan Laksana dapat menawan selain kedua orang yang terdahulu, terdapat seorang lagi dan dua orang yang terluka. Sehingga semuanya yang harus dibawa adalah lima orang.

“Bagaimana dengan orang-orang yang terbunuh?” Manggada berdesis.

Pemimpin dari orang-orang berkuda yang telah kehilangan anak gadisnya itupun agak kebingungan. Mereka tidak akan dapat meninggalkan mayat-mayat itu begitu saja.

“Kita beritahukan orang-orang padukuhan sebelah,” berkata Laksana. “Kita minta tolong kepada mereka. Barangkali kita perlu sedikit menakut-nakuti mereka jika mereka tidak bersedia mengubur mayat-mayat itu.”

Manggada termangu-mangu. Sementara pemimpin yang kehilangan anak perempuannya itu berkata, “Kita dapat mencobanya.”

Demikianlah, maka kelima orang tawanan itu telah dibawa oleh orang-orang berkuda itu. Tiga orang di antara mereka terpaksa ikut di belakang salah seorang dari mereka yang berkuda. Dua orang telah ikut bersama dua orang tawanan yang dibawa dari padukuhan. Sedang seorang lagi yang terluka berkuda bersama salah seorang pengikut orang yang kehilangan anak gadisnya itu. Namun mereka tidak dapat berpacu dengan cepat. Mereka harus mengingat kekuatan kuda-kuda yang membawa beban rangkap. Selain itu, ada di antara orang-orang berkuda itu sendiri yang terluka cukup berat.

Di padukuhan yang kemudian mereka lewati, Manggada memang minta kepada orang-orang yang berada di gardu untuk pergi ke bulak.

“Ada beberapa sosok mayat. Kuburkan mereka. Kami mohon pertolongan kalian,” berkata Manggada.

Tetapi pemimpin peronda itu justru menjadi marah. Bahkan membentak, “Siapakah kalian, he? Apakah kalian berhak memerintah kami?”

Ketika Laksana bergeser, Manggada telah menggamitnya. Ia lah yang menggerakkan kudanya beberapa langkah maju. Katanya, “Ki Sanak, ada beberapa sosok mayat. Kamilah yang telah membunuh mereka semua. Lihat, beberapa kawan kami juga terluka. Jangan membuat darah kami yang masih panas ini bergejolak lagi. Karena kami akan dapat membunuh kalian semua. Nah, kami tidak akan berbicara lagi. Kami akan pergi. Tetapi jika besok pagi kami kembali dan sosok-sosok mayat itu masih disana, kami akan membunuh orang-orang padukuhan ini, atau kami tidak peduli jika mayat-mayat itu akan dapat menimbulkan penyakit dan barangkali wabah yang tidak terlawan, sehingga orang-orang padukuhan ini akan habis dimakan wabah penyakit itu.”

Pemimpin peronda itu masih akan berbicara. Tetapi Manggada telah memberikan isyarat kepada orang-orang berkuda itu untuk melanjutkan perjalanan.

Tetapi pemimpin peronda itu menjadi semakin marah. Dengan serta-merta ia telah meloncat menangkap kendali kuda Manggada.

Kuda itu terkejut sehingga melonjak berdiri dengan kedua kaki belakangnya, sehingga hampir saja Manggada terjatuh. Untunglah bahwa ia cukup tangkas untuk menguasai kudanya kembali, sehingga kuda itu dapat ditenangkannya.

Tetapi pemimpin peronda itu masih saja marah. Katanya dengan kasar, “Turun kau, anak muda. Kau sangka kau siapa, he?”

Manggada memang turun. Tetapi ia memberikan isyarat kepada yang lain agar mereka tetap berada di punggung kuda.

“Kalian tidak mempunyai pilihan,” berkata Manggada, “kecuali jika kalian ingin melihat padukuhan-padukuhan di sekitar bulak itu akan menjadi kuburan raksasa. Kalian tentu tidak akan sempat saling mengubur jika wabah itu berjangkit disini.”

“Justru karena itu, maka kami akan memaksa kalian untuk mengubur mayat-mayat itu,” berkata pemimpin peronda itu.

“Kami tergesa-gesa. Jika kawan-kawan kami itu tidak segera tertolong, maka mereka akan segera mati,” jawab Manggada.

“Aku tidak peduli,” jawab pemimpin peronda itu, sementara beberapa orang kawannya telah berdiri di sebelahnya dengan wajah yang garang.

“Jangan memaksa aku bertindak atas kalian, Ki Sanak,” geram Manggada.

“Persetan. Kamilah yang akan bertindak atas kalian,” berkata pemimpin peronda itu.

Namun belum lagi mulutnya terkatub, tangan Manggada telah mengenai pipinya. Terasa pipi itu bagaikan menyentuh bara api, sehingga panasnya terasa sampai ke ubun-ubun.

Dalam pada itu, beberapa orang kawannya mulai bergerak. Tetapi tiga orang sekaligus telah terlempar jauh. Sementara itu sesaat kemudian dua orang lagi terdorong dan jatuh terlentang.

“Kau lihat, aku hanya mempergunakan telapak tanganku. Tetapi jika kalian masih tetap menjadi gila, aku benar-benar akan mempergunakan pedangku. Kalian tidak mati terkena wabah, tetapi kalian akan mati oleh pedangku ini.”

Pemimpin peronda itu terkejut melihat ketangkasan Manggada. Karena itu, maka ia pun menjadi termangu-mangu. Apalagi ketika Manggada kemudian menarik pedangnya sambil menggeram, “Pergi atau aku mulai membunuh sekarang. Atau kau akan memanggil orang-orang padukuhan dengan isyarat? Lakukan. Tetapi mereka semua akan terbunuh sebelum wabah itu menyentuh padukuhanmu.”

Pemimpin peronda itu termangu-mangu. Bahkan ia bagaikan membeku ketika ia melihat Manggada meloncat ke punggung kudanya. Dan kemudian bersama dengan yang lain, meninggalkan mereka.

Sejenak kemudian, maka orang-orang berkuda itu telah hilang di dalam kegelapan malam. Namun sementara itu kawan-kawannya yang telah tersentuh tangan Mangga justru mulai bangkit dan mengaduh. Dada mereka rasanya menjadi sesak.

Kawan-kawannyapun segera menolong mereka. Perlahan-lahan mereka dipapah ke gardu dan dibaringkannya perlahan-lahan. Tetapi justru karena mereka berbaring itu, maka dada mereka terasa semakin sesak, sehingga mereka pun minta untuk dibantu duduk kembali. Dengan duduk maka pernafasan mereka menjadi agak baik.

Tetapi Manggada memang tidak bersungguh-sungguh. Beberapa saat kemudian, mereka pun telah menjadi baik dan seakan-akan tidak berbekas lagi. Tetapi sebenarnyalah bagi para peronda itu, maka orang-orang berkuda itu adalah orang-orang yang berilmu.

Karena itu, maka pemimpin peronda itu segera menghadap Ki Bekel untuk memberikan laporan apa yang telah terjadi. Mereka harus mengubur mayat yang ada di bulak panjang. Tidak hanya sesosok.

Mula-mula Ki Bekel pun menjadi marah. Tetapi pemimpin peronda itu telah memberikan laporan pula apa yang telah terjadi dengan para peronda.

“Kami tidak melihat orang itu bergerak. Tetapi kami telah terlempar jatuh dengan dada yang bagaikan tersumbat bukit,” berkata salah seorang di antara anak-anak muda yang sedang meronda, yang telah disentuh tangan Manggada.

Ki Bekel hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Kita tidak mempunyai pilihan lain. Karena itu, kita harus melakukannya. Menurut keterangan anak muda itu, jika mayat-mayat itu tidak dikuburkan, akan dapat timbul wabah penyakit. Aku sependapat dengan keterangan itu.”

Demikianlah, maka meskipun malam hari, Ki Bekel telah memanggil laki-laki di padukuhan itu terutama anak-anak mudanya untuk pergi ke bulak. Mereka membawa obor di tangan dan senjata apapun juga di lambung. Ki Bekel dan para bebahu menjadi cemas bahwa terjadi sesuatu di bulak itu.

Tetapi mereka tidak menemukan sesuatu, selain beberapa sosok mayat sebagaimana dikatakan oleh anak muda di antara orang-orang berkuda itu.

Menilik bekasnya, tentu sudah terjadi pertempuran yang sengit di bulak panjang itu. Tanaman padi di sebelah-menyebelah jalan telah rusak. Gerumbul-gerumbul liar di tanggul parit berserakan dan mayat-mayat yang terbujur lintang memberikan gambaran tentang sebuah pertempuran yang sengit. Apalagi di antara orang-orang berkuda itu terdapat orang-orang yang terluka. Bahkan ada yang parah.

Namun ketika mereka mulai meneliti sosok-sosok tubuh yang terbaring itu, tiba-tiba seorang anak muda berteriak, “Lihat. Orang ini masih hidup.”

Obor di tangan anak muda itu pun telah semakin direndahkan untuk mengamati keadaan orang itu.

“Rawat orang itu,” berkata Ki Bekel. “Mungkin kita akan mendapat keterangan dari mulutnya kelak, apa yang sebenarnya telah terjadi.”

Empat orang di antara mereka telah membawa orang yang masih hidup itu ke padukuhan. Seorang yang dianggap memiliki kemampuan pengobatan telah mengobatinya di banjar.

Anak-anak muda yang membawanya telah berpesan kepada tabib itu, “Tolong, usahakan agar orang itu dapat diselamatkan sesuai dengan rencana Ki Bekel untuk mendengar keterangan dari orang itu, apa yang sebenarnya telah terjadi.”

“Aku hanya dapat berusaha,” jawab tabib itu. “Segala sesuatunya ada di tangan Yang Maha Agung.”

Anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Namun salah seorang di antara mereka berkata, “Bagaimanapun juga kita harus berusaha.”

Tabib itu mengangguk-angguk. Namun ia pun telah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengobati orang itu.

Tetapi luka orang itu memang cukup parah. Dadanya telah terkoyak oleh pedang, bahkan di pundak dan di pahanya telah terdapat luka pula. Darah ternyata telah terlalu banyak mengalir sehingga orang itu telah menjadi sangat lemah.

Namun tabib itu tidak berputus asa. Tiba-tiba saja ia pun telah tertarik untuk mengerti, apa yang sebenarnya telah terjadi di bulak itu, sehingga beberapa orang telah terbunuh karenanya.

Setelah orang itu minum obat yang diramu oleh tabib itu, maka keadaannya memang menjadi membaik. Meskipun wajahnya masih pucat, tetapi bibirnya sudah mulai bergerak.

Tetapi tabib itu masih belum mengganggunya. Orang itu masih harus dijaga agar keadaannya tidak menjadi lebih buruk lagi. Ia memerlukan ketenangan lahir dan batin, sehingga kekuatannya tidak akan semakin larut.

Di bulak, beberapa orang masih sibuk. Mereka telah membuat beberapa buah usungan untuk membawa sosok-sosok mayat itu ke kuburan dan kemudian menguburnya di sana.

Baru menjelang pagi pekerjaan itu dapat mereka selesaikan. Selebihnya, orang-orang padukuhan itu telah berendam di sungai untuk menghilangkan kotoran yang telah melekat di tubuh mereka. Mungkin dari mayat-mayat yang mereka bawa ke kuburan, tetapi juga mungkin oleh tanah di kuburan itu.

Sementara itu, sekelompok orang-orang berkuda yang membawa lima orang tawanan serta dua orang anak muda yang telah membantu mereka, masih meneruskan perjalanan mereka dengan letih.

Namun pemimpin orang-orang berkuda itu kemudian berkata, “Masih satu jangkauan lagi. Sebelum fajar kita tentu sudah sampai disana.”

“Sampai dimana?” bertanya Manggada.

“Padukuhan kami. Orang-orang padukuhan kami telah menunggu dengan penuh harapan. Di antara mereka adalah orang-orang yang pernah kehilangan anak gadisnya sebagaimana aku sendiri. Bahkan satu dua orang dari padukuhan dan kademangan tetangga ternyata ada juga yang pernah kehilangan anak gadis mereka,” berkata pemimpin rombongan itu.

Manggada mengangguk-angguk. Ia sudah mulai membayangkan bahwa bersama dengan orang-orang berkuda itu, maka akan dihadapinya wajah-wajah yang murung oleh kepedihan perasaan namun juga nyala dendam di sorot mata mereka.

Sebenarnyalah, perjalanan yang lamban itu akhirnya mendekati satu padukuhan yang telah bergejolak itu. Dua tiga padukuhan yang terakhir mereka lampaui ternyata telah tidak mengalami persoalan lagi. Orang-orang yang meronda telah banyak yang mengenal orang-orang berkuda itu. Bahkan beberapa orang telah sempat mempertanyakan apa yang telah terjadi.

Tetapi orang-orang berkuda itu tidak mempunyai waktu banyak, sehingga pemimpinnya itu menjawab singkat, “Ki Sanak, besok aku akan berceritera panjang lebar. Sekarang aku tergesa-gesa, karena ada di antara kawan-kawanku yang terluka.”

Nampaknya orang-orang itu dapat mengerti, sehingga mereka tidak menahannya lebih lama lagi dengan beribu macam pertanyaan.

Sebelum fajar, orang-orang berkuda itu telah memasuki padukuhannya. Seperti yang diduga oleh Manggada, maka di halaman banjar terdapat banyak orang yang menunggu di samping mereka yang berada di gardu-gardu. Kedatangan orang-orang berkuda itu seakan-akan telah memanggil semua orang padukuhan itu untuk berkumpul.

Pemimpin padukuhan itu memang menjadi berdebar-debar. Karena itu, sebelum terjadi sesuatu, maka beberapa orang kawannya telah diperintahkannya untuk memasukkan kelima orang tawanan mereka ke dalam banjar.

Jika orang-orang padukuhan itu langsung melihat kelima orang itu, pemimpin orang-orang berkuda itu ragu-ragu, apakah mereka dapat ditahan untuk tidak berbuat sesuatu.

Orang-orang yang menjadi tawanan itu pun ternyata menjadi ketakutan pula. Jika mereka diserahkan kepada orang-orang padukuhan itu, maka keadaan mereka tentu akan sangat pahit.

Orang-orang padukuhan yang marah itu tentu akan memperlakukan mereka dengan kasar dan semena-mena. Mereka tentu akan membunuh tanpa dapat dikendalikan lagi menurut cara yang tidak sewajarnya.

Namun orang-orang yang tertawan itu masih mengharapkan bahwa orang-orang yang menangkapnya itu melindungi mereka.

Sebenarnyalah bahwa mereka sama sekali tidak takut mati. Yang membuat kulit mereka meremang adalah cara mati itu. Jika ujung pedang dihunjamkan ke dada mereka sampai tembus ke jantung, tentu akan jauh lebih baik daripada jika mereka dipukuli beramai-ramai di halaman banjar itu dengan tangan terikat, sampai pada satu saat mereka mati terkapar dengan tubuh yang remuk.

Jantung para tawanan itu memang terasa berdebar lebih cepat ketika mereka mendengar orang-orang di luar banjar itu berteriak-teriak, “Serahkan mereka kepada kami. Mereka telah mengambil gadis-gadis kami.”

Pemimpin dari orang-orang berkuda, serta para pemimpin padukuhan itu telah berusaha untuk menenangkan orang-orang padukuhan yang marah. Dengan lantang Ki Bekel berkata, “Kita menunggu Ki Demang. Kita tidak dapat berbuat menurut kehendak kita sendiri.”

“Mereka telah mengambil anak-anak gadis kami,” teriak yang pernah kehilangan anak gadisnya. “Tidak ada yang pantas dilakukan atas mereka kecuali dihukum mati.”

“Segala sesuatunya kita serahkan kepada Ki Demang nanti,” berkata pemimpin dari orang-orang berkuda yang telah berhasil menangkap beberapa orang itu.

“Buat apa kita berlama-lama menunggu. Semakin cepat semakin baik,” berkata seseorang di antara orang banyak itu.

“Tidak,” Ki Bekel dari padukuhan itulah yang kemudian berdiri di hadapan rakyatnya itu. “Kita memerlukan petunjuk untuk menolong anak-anak kita. Jika orang-orang itu dibunuh, maka kita akan kehilangan jejak. Kita tidak akan dapat menemukan anak-anak kita yang hilang.”

“Anak-anak kita tentu sudah mereka bunuh pula. Karena itu, serahkan mereka kepada kami. Kita tidak memerlukan mereka lagi,” teriak seorang yang berdiri di dekat pohon sawo kecik.

Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya udara menjadi panas, meskipun matahari belum terbit. Di sana-sini terdengar teriak-teriakan.

Tetapi Ki Bekel kemudian berkata, “Saudara-saudaraku, baiklah, sekarang aku persilahkan kalian memilih. Kalian ingin sekedar menuruti gejolak perasaan kalian dengan membunuh orang-orang itu, atau mencari kemungkinan yang lebih baik buat anak-anak kita yang pernah hilang. Atau kita memang sudah menjadi orang yang mementingkan diri sendiri, sekedar mendapat kepuasan tanpa mengingat anak-anak kita. Jika memang kalian sekedar dibakar oleh nafsu untuk membunuh, silahkan. Tetapi anak-anak kalian akan tetap meratapi nasibnya di sepanjang hidupnya. Mereka akan hidup dalam kesia-siaan. Mereka akan tetap berada di tangan-tangan orang yang kasar dan bahkan buas dan liar. Sementara itu kalian disini dengan bengisnya membunuh orang-orang yang seharusnya akan dapat kita pergunakan untuk mencari jejak.”

Orang-orang yang berada di halaman banjar itu mulai berpikir.

Sementara itu Ki Bekel berkata selanjutnya, “Nah, sekarang kalian boleh memilih. Orang-orang yang tidak pernah kehilangan anak gadisnyalah yang tentu lebih bergairah untuk membunuh sekarang, karena mereka memang tidak memerlukan orang-orang itu. Tetapi apakah itu mencerminkan watak kita? Apakah itu yang selama ini kita banggakan bahwa kita memiliki keluhuran budi?”

Orang-orang yang berada di halaman mulai menundukkan kepalanya. Agaknya mereka menyadari apa yang telah mereka lakukan itu hanya sekedar dibakar oleh dendam yang tidak didasari pada penalaran yang matang.

Ki Bekel yang melihat bahwa orang-orang di halaman banjar itu dapat mendengarkan kata-katanya telah berkata selanjutnya, “Marilah kita dengan tenang menunggu Ki Demang. Kita memerlukan cara yang paling baik untuk menemukan anak-anak kita kembali.”

Pemimpin dari sekelompok orang-orang berkuda yang mendapat tugas untuk mencari jejak itu menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Ki Bekel masih berkata, “Nah, marilah kita berterima kasih kepada saudara-saudara kita yang telah menyediakan dirinya mencari jejak. Terutama kepada Ki Wiradadi. Bukan saja karena anak Ki Wiradadi juga hilang. Tetapi Ki Wiradadi telah bersedia mempertaruhkan nyawanya sendiri.”

Orang-orang di halaman banjar itu mengangguk-angguk. Ki Wiradadi, yang memimpin sekelompok orang-orang berkuda itu adalah seorang yang paling disegani di kademangan itu. Ia memiliki ilmu kanuragan serta berpikiran terang. Karena itu sejak semula ia memang menjadi tumpuan harapan dari orang-orang yang telah kehilangan anak gadisnya. Apalagi ketika tiba-tiba saja anak gadis Ki Wiradadi itu sendiri hilang. Namun agaknya hilangnya anak gadis Ki Wiradadi itu merupakan pendorong baginya untuk langsung menangani persoalan itu bersama beberapa orang terpilih di antara orang-orang yang memiliki keberanian di kademangan itu. Namun yang juga memiliki kemampuan dalam olah kanuragan.

“Saudara-saudaraku,” berkata Ki Bekel kemudian, “marilah kita membuat suasana pagi ini menjadi lebih dingin agar kita mempunyai kesempatan lebih luas untuk merenung dan membuat perhitungan selanjutnya. Lebih-lebih lagi jika Ki Demang nanti sudah datang.”

Orang-orang yang berada di halaman itu nampaknya mulai mengerti. Meskipun ada juga satu dua orang yang masih merasa sangat geram terhadap orang-orang yang telah menculik gadis-gadis itu. Tetapi mereka mengerti bahwa orang-orang itu ternyata dibutuhkan untuk menelusuri jejak hilangnya gadis-gadis padukuhan mereka.

Karena itu, maka sebagaimana diminta oleh Ki Bekel, orang-orang di halaman banjar itu memang menjadi tenang. Mereka tidak berteriak-teriak lagi menuntut orang-orang yang tertawan itu dibunuh.

Sejenak kemudian, maka Ki Demang ternyata telah datang diiringi oleh beberapa orang bebahu. Ketika mereka memasuki halaman banjar, maka orang-orang yang masih berada di halaman itupun mulai saling bertanya-tanya. Apakah yang akan diperbuat oleh Ki Demang atas orang-orang itu. Namun merekapun sudah memperkirakan bahwa Ki Demang akan membawa orang-orang itu ke kademangan dan memeras keterangan mereka tentang gadis-gadis yang telah hilang itu.

Tetapi ternyata Ki Demang tidak dengan tergesa-gesa membawa mereka. Ki Demang ternyata memperhitungkan waktu sebaik-baiknya. Ia harus segera mendapat keterangan tentang gadis-gadis yang hilang itu, sehingga memungkinkan mereka untuk menelusuri jejaknya.

Karena itu, maka Ki Demang pun kemudian telah menemui orang-orang yang tertawan itu bersama tiga orang yang tidak termasuk bebahu kademangan itu. Mereka adalah orang-orang yang datang ke Kademangan itu dua tiga hari sebelumnya.

“Siapakah mereka?” bertanya Ki Bekel kepada Ki Jagabaya.

“Tiga orang petugas sandi dari Pajang,” jawab Ki Jagabaya.

“Dari Pajang?” bertanya Ki Bekel.

“Ya. Ki Demang telah melaporkan tentang beberapa orang gadis yang hilang. Ternyata Pajang cepat tanggap dan mengirimkan tiga orang petugas sandi. Namun nampaknya dari padukuhan ini telah lebih dahulu berhasil mencium sekelompok orang yang menculik gadis-gadis itu,” jawab Ki Jagabaya.

“Hasil kerja Ki Wiradadi, beberapa kawan dan barangkali saudara seperguruan Ki Wiradadi telah membantunya, di samping beberapa orang pilihan dan memiliki keberanian dari kademangan ini. Justru mendahului kebijaksanaan Ki Demang,” jawab Ki Bekel.

Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Sementara itu Ki Bekelpun berkata, “Dua orang anak muda yang sebelumnya tidak kami kenal telah membantu kami menangkap orang-orang itu.”

“Siapakah mereka?” bertanya Ki Jagabaya.

“Yang duduk di sebelah Ki Wiradadi.”

Sejenak kemudian agaknya Ki Demang telah mulai dengan penyelidikannya. Orang-orang yang berada di dalam banjar itu telah diperintahkannya keluar kecuali beberapa orang yang berkepentingan, termasuk Ki Wiradadi dan Ki Jagabaya.

Ketika Ki Demang melihat Manggada dan Laksana masih berada di dalam banjar itu, maka iapun berkata, “Anak-anak muda, bukan saatnya kalian bermain di banjar dalam suasana seperti ini. Keluarlah. Kami mempunyai banyak persoalan yang harus kami selesaikan dalam waktu yang sangat singkat.”

Tetapi yang menjawab adalah Ki Wiradadi, “Keduanya adalah anak-anak muda yang telah membantu kami menangkap orang-orang ini, Ki Demang. Tanpa kedua anak muda itu, kami tidak akan berhasil.”

Ki Demang mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Tetapi mereka tidak banyak berkepentingan.”

“Aku mohon mereka diperkenankan mendengarkannya,” minta Ki Wiradadi.

Ki Demang termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia berkata, “Baiklah. Jika kalian menganggap kehadirannya tidak mengganggu.”

“Mereka akan dapat membantu kita, Ki Demang,” jawab Ki Wiradadi.

Demikianlah, maka sesaat kemudian Ki Demang sudah mulai memanggil dua orang yang telah ditangkap pertama kali. Dengan nada keras Ki Demang bertanya, dimana gadis-gadis yang telah mereka ambil itu disembunyikan.

“Aku tidak pernah tahu tentang hal itu, Ki Demang,” jawab salah seorang dari mereka.

Namun salah seorang petugas sandi dari Pajang itu tersenyum. Katanya, “Jawaban yang tentu akan kau ucapkan. Sejak sebelum pertanyaan Ki Demang itu dilontarkan, kami sudah tahu, bahwa jawaban kalian tentu demikian. Tidak mengerti atau kurang tahu atau jawaban-jawaban dalam nada seperti itu.”

“Aku benar-benar tidak tahu, Ki Demang,” orang itu mulai berkeringat.”

-ooOdw-aremaOoo-

bersambung ke jilid 3

Sumber djvu : Koleksi Ismoyo

http://cersilindonesia.wordpress.com

Ebook : Dewi KZ

http://kangzusi.com/ atau http://ebook-dewikz.com/

http://kang-zusi.info http://dewikz.byethost22.com/

Diedit ulang oleh Ki Arema

kembali | lanjut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s