Seri Kerajaan Singosari


[Waosan ka-8]

DONGENG KEN ANGROK

Parwa ka-1: “Angrok si kere munggah bale

Menyoal asal-usul Ken Arok (Ken Angrok) bak misteri. Penelusuran asal-usul Angrok ini menarik mengingat dalam dua kitab yang mengisahkan Angrok yakni Negarakertagama dan Pararaton sama sekali tidak memberikan kejelasan siapa ayah Angrok sebenarnya. Hal ini menimbulkan banyak penafsiran baik oleh sejarawan. Asal-usul Ken Angrok yang samar-samar menimbulkan banyak penafsiran. Mana yang paling tepat? Mungkin bukti-bukti yang lebih logis dan pararel dengan fakta-fakta sejarah yang bisa dihandalkan.

Sumber pertama kisah tentang Angrok ialah Serat Kidung Pararaton,

Dari penelitian, selama ini tempat kelahiran Angrok dengan memakai sumber kitab Pararaton yakni desa Pangkur. sira Ken Angrok, angher ing Pangkur. Demikian Pararaton menulis.

Dalam penelitian sesuai Pararaton, Pangkur itu letaknya ada di antara Kepanjen, Kabupaten Malang dan Blitar. Ada pula yang menyebutnya di daerah Ngawi. Tapi ada pendapat lain bahwa Angrok itu berasal dari Batu, Malang Raya lantaran disebutkan di Pararaton juga bahwa Ken Ndok sempat pula bertemu dengan Lembong dan Bango Samparan dari Karuman untuk mengakui bahwa anak yang diasuh dua laki-laki itu adalah anaknya.

wonten ta bobotoh sasiji saking Karuman haran sira Bango Samparan. ….

Ada seorang penjudi permainan saji <berasal dari Karuman, bernama Bango Samparan.

Bango Samparan adalah orang tua asuh Angrok, dan di desa Karuman itulah Angrok pernah bertemu dengan orang Karuman (mungkin dimaksud adalah Bango Samparan), dan melakukan tindak kriminal. Sampai sekarang desa Karuman masih ada, dan merupakan bagian dari Kelurahan Tlogomas.

Secara ringkas, masa kecil Angrok tak sebesar kemegahannya ketika menjadi raja Singasari. Karena tekanan kemiskinan, tapi sangat mungkin juga karena lahir tak berbapa, Ken Ndok membuang Angrok ketika masih bayi dengan cara meletakkannya dalam keranjang yang dihanyutkan di Sungai Brantas. Ia berharap, agar bayi itu ditemukan oleh seseorang, dan akan diasuh serta dibesarkannya. dan akan bernasib lebih baik daripada dirinya.

Angrok ditemukan seorang pencuri bernama Lembong. Di cerita yang lain, Angrok tidak dihanyutkan di sungai tapi diletakkan begitu saja di makam dan diambil Lembong, dalam pengasuhan Lembong, Angrok pun dibesarkan menjadi seorang pencuri dan penyamun yang cerdik.

Runtuhnya kerajaan Daha (Kadiri), dan bangkitnya kerajaan Singasari oleh Angrok. Ia anak Ken Ndok, petani desa di tepi Brantas di kawasan Tumapel, di utara kota Malang sekarang. Harapan itu memang terjadi. Ia ditemu seseorang pencuri. Sehingga “si lembu peteng” ini pun tumbuh dan menjadi besar sebagai pencuri dan penyamun. Tapi, sekalipun pencuri, Angrok memang cerdik dan panjang akal.

Tumapel ketika itu di bawah kekuasaan seorang akuwu, Tunggul Ametung, yang tunduk di bawah kekuasaan Raja Kertajaya di Kediri (1191-1222). Berita tentang kejahatan pencuri ini tersebar juga di wilayah Kediri. Maka diperintahnya Tunggul Ametung agar menangkap pencuri itu.

Suatu ketika ia dikejar orang Tumapel beramai-ramai hendak ditangkap. Tiba di pinggir kali perbatasan ia terpaksa berhenti. Sejurus termangu. Tiba-tiba saja ia mendapat akal. Di pinggir kali itu ada sebatang pohon siwalan. Ia segera memanjat pohon itu sampai ke ujung. Duduk di salah satu pelepah daun. Ketika orang-orang tiba di situ, segera mereka mengepung pohon tal sambil berseru-seru menyuruh si Maling turun. Salah seorang dari mereka segera memanjat pohon itu dengan tangkas. Sementara itu si Maling tampak mengepit dua pelepah daun tal di kedua belah tangannya. Selagi orang masih sibuk bertanya-tanya di hati masing-masing tentang apa yang akan terjadi, si Maling dengan bersayap daun tal telah melayang terbang ke daratan seberang sungai.

Pararaton menulis:

Dadi sira amiresep sabdha ring awing awing, kinon sira amranga ron ing tal, pinaka hlaran ira kiwa tengen, marggan ira anglayang maring sabrang wetan, masa sira mati ya mwah.

“Sekarang ia menangis, menyebut nyebut Sang Pentjipta Kebaikan atas dirinya, akhirnya ia mendengar sabda dari angkasa, ia disuruh memotong daun tal, untuk didjadikan sayapnya kiri kanan, agar supaya dapat melayang ke seberang timur, mustahil ia akan mati.” [lihat: PdLS rontal 1 halaman 27]

Orang-orang itu gagal menangkap si Pencuri. Dengan hati kesal tapi juga rasa kagum mereka kembali ke desa. Tanah seberang sungai itu wilayah kerajaan lain, yang tak mungkin mereka masuki beramai-ramai. Lagi pula arus kali itu pun tidak bersahabat. Lolos dari pengejaran, si Maling bersembunyi beberapa lama.

Sementara itu dewa-dewa di Suralaya berunding, mencari jalan bagaimana bisa menyelamatkan si Maling. Di persidangan para dewa ini ternyata Maling ini justru menjadi rebutan ketiga-tiga dewa Trimurti. Semuanya mengaku sebagai yang berhak atas pemuda maling yang berani dan panjang akal itu. Dewa Brahma dan Dewa Syiwa saling mengaku sebagai ayahnya. Sedangkan Dewa Wisnu mengaku, bahwa pada tubuh Maling itulah ia menemukan tempat awatara atau titisannya yang terbaru. Namun begitu kelak, jika si Maling sudah tampil sebagai raja Ken Angrok pembangun dinasti raja-raja Singasari, ternyata ia sendiri lebih cenderung pada Syiwa. Sehingga oleh karena itu untuk nama dinasti atau wangsa yang dibangunnya pun, Angrok memilih nama Girindrawangsaja – “keluarga yang lahir dari Girindra”. Girindra ialah nama lain dari Syiwa. Sang Bhatara Guru

Pararaton mengisahkan:

….. Andhikan iraji Dhangdhang Gendhis: ‘Sapa ta angalahakena ring nagaran isun iki? Manawa kalah, lamun Bhatara Guru tumurun saking akasa, Manawa kalah!’

Ingaturan sira Ken Angrok, yan siraja Dhangdhang Gendhis angandhika mangkana. Ling ira Sang Amurwwabhumi: ‘He para bhujangga Sewa Soghata kabeh, astwakena isun abhiseka Bhatara Guru’. Samangkana mulan ira abhiseka Bhatara Guru. Ingastwan ing bhujangga Brahmana Rsi. Tur sira anuhu anglurrug maring Deha.

Pangkur ada di Rejasa, Batu?

Didaerah Batu Kecamatan Junrejo ada sebuah desa bernama Rejasa atau nJasa atau lidah Jawa menyebutkan Rejoso (?) Konon daerah itu, di zaman Jawa Kuno sudah sangat ramai. Terbukti dengan banyaknya temuan-temuan purbakala di sana. Di desa itu, banyak sekali pematung dan tukang pahat batu alias Jlagra. Bila dikaitkan dengan banyaknya penemuan patung di daerah tersebut, bisa jadi keahlian itu adalah keahlian turun temurun dari masa kuno dulu. Maklum juga, lantaran Batu adalah daerah antara Daha (Kadiri) dan Tumapel (Malang Raya di masa Angrok).

Di jaman seperti itu, acapkali gelar atau nama seseorang dikaitkan dengan tempat asalnya. Angrok diduga lahir di Junrejo, Batu, desa bernama Rejasa itu. Di tempat itu ditemukan kolam kuno yang cukup besar, pernah juga ditemukan sebuah patung yang melambangkan Batara Wisnu yang kini keberadaannya tidak diketahui, ada yang menyebutnya di musium Adam Malik, namun ada yang meragukan bahwa patung Wisnu di musium itu adalah patung yang berasal dari desa nJasa. Beberapa penemuan lain disimpan di Vihara dekat situ saja yakni di Vihara Kertarejasa.

Di daerah Batu memang banyak sekali ditemukan partitan kuno pun petilasan candi. Hal ini mengindikasikan bahwa daerah Batu dan sekitarnya sampai arah timur yakni Dinoyo merupakan daerah yang penting di masa itu. maka sangatlah masuk akal kalau Angrok memang dari daerah itu.

Di barat desa itu, ada sumber air yang dialirkan ke seluruh desa sini. Sumber air itu, menurut cerita turun-temurun adalah sumber air yang biasa didatangi Ken Ndok (Endok), ibu si Angrok. Sumber Ndok, begitu biasa orang-orang Rejasa menamai sumber air itu. endog, sebutan untuk Ndok. Ndok dalam bahasa jawa artinya telur. Itulah mengapa ibunda Angrok disebut sebagai Ken Ndok. Untuk menegaskan bahwa Angrok adalah anak tanpa ayah bahkan kerap disebut sebagai anak Dewa, Dewa Brahma. Pararaton memaparkan ibu Angrok adalah manusia, ibu tanpa asal usul yang jelas itu disebut Ken Ndok. Bagaimanapun, ibu adalah yang memiliki sel telur untuk dibenihi. Bisa jadi, Pangkur yang disebut di Pararaton itu ada di situ.

Tak jauh dari Sumber Ndok, seperti disebut di atas ada Partitan kuno. Partitan itu tepatnya di Jeding, masih Kecamatan Junrejo, Batu. Daerahnya masih sangat wingit. Di satu sisi, Partitan itu juga dianggap sebagai punden, sebuah partitan kuno yang berdiri megah di bawah pohon beringin tua itu.

Tokoh Angrok memang dikisahkan nakal dan gemar berkelahi. Menurut naskah Pararaton, Angrok adalah putra Dewa Brahma yang berselingkuh dengan seorang wanita bernama Ken Ndok dari desa Pangkur. Ken Ndok tinggal di daerah Pangkur. Tak ada yang tahu di mana daerah Pangkur itu, namun dari penelitian soal desa-desa kuno di Malang, dimungkinkan Pangkur terletak antara Kepanjen-Blitar.

Oleh ibunya, bayi Angrok dibuang di sebuah pemakaman, hingga kemudian ditemukan dan diasuh oleh seorang pencuri bernama Lembong. Berdasarkan temuan bekas peninggalan Angrok yang ada di desa Jiwut Jiput) kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar.

Terkait dengan itu, beberapa bukti hal ini terkait dengan nama Angrok setelah menjadi raja yakni Sri Rajasa Amurwabumi. (kata Rajasa dekat sekali dengan kata Rejasa).

to be contiuned

6 Tanggapan

  1. Manteb tenan ………..

  2. bagus sekali

  3. jdbk sdh sy copas baru sampe jld 20.2. Trims pakDhe.

  4. terima kasih pencerahan nya sayangnya lorong di rumah bu siti maiyah tsb kurang terdokumentasi dgn baik untuk cerita ke ke generasi penerus dan menjadi cagar budaya kota malang

    • Iya, pasti ada alasannya sendiri ketika pamong desa memerintahkan untuk menghentikan misi pemeriksaan lebih lanjut. Banyak kejadian aneh sebelum sumur itu ditutup . Misalkan penampakan Harimau putih yg sangat besar berkeliaran didesa Polowijen konon dipercaya penunggu desa Polowijen juga seekor ular tapa yg mengelilingi batas wilayah Polowijen. Dan banyak orang2 disekitar yg kerasukan mungkin sebagai peringatan dan akhirnya sumur itu ditutup pintu besi rapat dimulut sumur.

  5. Desa katang lumbang bisa jadi desa tempat saya lahir yaitu desa lumbang kecamatan lumbang kabupaten pasuruan.kenapa saya berkata begitu karena di desa saya ada makam kuno.makam siapa itu?penduduk setempat dari dulu mengatakan bahwa itu adalah makam mbah joyo,makam toh joyo.penduduk setempat dari dulu mengetahui hal itu.lokasinya berada kurang lebih 1 km kearah selatan dari perumahan desa lumbang…dan di daerah lokasi makam penduduk setempat menamakan joyo..itu adalah area ladang penduduk yang berada di sekitar lokasi makam.makamnya sendiri berada di sebelah timur dari sungai kecil dan sungainya sekarang tidak ada airnya.mungkin karna hutan disekitar sana sudah banyak yang beralih fungsi menjadi perkebunan warga.karna makam ini adalah makam bagian dari sejarah bangsa. Keadaan makam saat ini kurang terawat.sampai saat ini belum ada penelitian dari dinas purbakala atau dinas yang berhubungan dg sejarah yang kesana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s