Seri Kerajaan Singosari


[Waosan ka-4]

Tokoh

Pengantar

Pada “dongeng” sebelumnya [komen pada: PdLS 40 dan PdLS 41] cantrik mendongeng tentang lokasi Panawijen; tentang perubahan nama Panawijen (Pararaton) atau Panawijyan (prasasti Wurandungan 865 Çaka) menjadi Palawijen sekarang; dongeng tentang tempat suci seorang wiku/petapa/empu penganut Budha Mahayana, mandala kedewaguruan di daerah Tumapel, Singosari, Malang sekarang dan sekitarnya; maka sebagai to be continuednya berikut ini cantrik Bayuaji mendongeng kembali tentang beberapa tokoh PdLS yang “ada” dan “hidup” berdasarkan Serat Kidung Pararaton {1535 Çaka atau 1613-an M (?)}, Kakawin Nagarakertagama (Syair Mpu Prapanca 1365 Çaka) dan Prasasti Mula Malurung (1177 Çaka atau 1255 M) yang ditemukan di daerah Kediri pada tahun 1975 dan kini tersimpan di Museum Gajah Jakarta.

Ada banyak cerita yang bisa ditulis menjadi drama dari Serat Kidung Pararaton sebagaimana Ki Begawan SH Mintardja yang melahirkan PdLS. Ada pengkhianatan, culas, haus darah dan dendam; penuh intrik, kolusi, nepotisme, rakus, hasrat akan harta dan perebutan kekuasaan, saling iri-dengki antar saudara, tetapi ada kisah jalinan asmara, tapi juga perselingkuhan, pembunuhan, dan kematian. Ada kemenangan dan kekalahan, juga kepasrahan hidup, pengabdian tulus, ada pula ketakberdayaan, kesadaran diri. Ada raja yang tumbang dan bangkit.

Apa yang didongengkan oleh Ki Begawan Singgih Hadi Mintardja dalam PdLS salah satunya memang bersumber dari Serat Kidung Pararaton, mungkin juga Kakawin Negarakertagama, tetapi sebagaimana halnya karya Ki Begawan lainnya seperti Nagasasra Sabukinten, di PdLs pun beliau “melahirkan” tokoh-tokoh fiktif yang tidak ada pada Pararaton, seperti Sang Lakon Utama Mahisa Agni, Wiraprana, Kuda Sempana, Witantra, Mahendra, Empu Sada, Kebo Sindet, dan Emban Djun Rumanti, tetapi justru karena itulah PdLS mengasyikkan, suatu perpaduan kisah sejarah meskipun kita tahu bahwa dalam Pararaton banyak dijumpai kisah-kisah mitos, tetapi ditangan Sang Begawan SHM, dongeng Angrok-nDedes menjadi mempesona.

Beberapa tokoh dan lokasi yang disebut oleh Pararaton dan PdLS, antara lain: A.    Tokoh

  1. Ken Arok (Ken Angrok)
  2. Ken Dedes
  3. Trimurti (Brahma, Wisnu dan Syiwa)
  4. Mpu Purwa
  5. Mpu Gandring
  6. Kebo Idjo
  7. Akuwu Tunggul Ametung
  8. Kebo Idjo
  9. Ken Umang
  10. Bango Samparan
  11. Lembong
  12. Danghyang Lohgawe

B.    Daerah/wilayah

  1. Wilayah Timur Gunung Kawi
  2. Panawijen (Palawijen)
  3. Tumapel (Tumapel sekarang)
  4. Lulumbang (Lumbang Pasuruan -?-)
  5. Karuman (Kampung Karuman)
  6. Daha / Kadiri (Kediri sekarang)

Daftar ini masih dapat dilanjutkan, mengingat PdLS belum diwedar seluruhnya, jadi masih ada tokoh-tokoh lainnya yang belum disebut.

Pararaton sebagai sumber penulisan PdLS, adalah salah satu catatan kebangkitan sebuah dinasti di Jawa, yang dimulai Ken Arok (Angrok) sampai berakhirnya Majapahit dengan rinci. Setiap kali berbicara tentang kerajaan Jawa periode abad ke-12 sampai ke-15 tidak bisa lepas dari Pararaton.

Kidung yang ditulis tahun 1613-an ini, tokoh utamanya adalah Ken Arok alias Ken Angrok. Kisah tentang kehidupannya dituturkan sejak lembar pertama kidung tersebut. Hampir separoh isinya bercerita tentang Arok, yang merupakan campuran antara khayal dan kenyataan. Sudah disebutkan di atas bahwa Pararaton adalah buku diarynya Ken Arok / Ken Angrok.

Pararaton merupakan sebuah historiografi tradisi yang menjadi rujukan utama para sejarawan dalam mempelajari sejarah Singasari dan Majapahit. Posisi serat ini pun mampu menandingi Negarakertagama dan prasasti-prasasti yang ditinggalkan oleh peradaban Singasari dan Majapahit. Padahal Negarakretagama dan prasasti-prasasti ini lebih jelas asal-usulnya daripada Pararaton itu sendiri.

Historiografi tradisi adalah historiografi di mana bercampurnya antara fakta sejarah dengan mitos-mitos yang ada. Dengan bercampurnya antara fakta dan mitos ini tidak serta merta membuat historiografi tradisi diragukan kebenarannya. Sejarawan sendiri lebih banyak mengambil dari Pararaton ketika membicarakan tentang sejarah Singasari dan Majapahit. Dan apa yang mereka dapat dari serat itu mereka bandingkan dengan Negarakretagama dan prasasti-prasasti yang telah ditemukan. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa Pararaton adalah inti cerita dari sejarawan-sejarawan yang mengkisahkan sejarah Singasari dan Majapahit, sementara Negarakretagama dan prasasti-prasasti lain hanya sebagai pembanding dan pelengkap dari kisah-kisah di dalam Pararaton. Teks Sumpah Palapa yang diucapkan Gajah Mada ditulis dengan lengkap dalam kidung ini. Perang Bubat, kisah asamara yang berujung pada kematian antara Jiwana Hayam Wuruk dan Putri Dyah Pitaloka si puteri Sunda, juga diungkap dalam Pararaton ini.

Biarpun sangat terkenal, tapi kidung ini menyisakan satu misteri. Bukan yang mana mitos dan yang mana kenyataan. Tetapi lebih sederhana lagi. Siapa penulisnya? Di mana ditulis? Tidak ada catatan yang menunjukkan penulis Pararaton. Di bagian akhir, penulis hanya menyisakan nama desa dan waktu menyelesaikan tulisannya yaitu di Itcasada desa Sela Penek, Sabtu Pahing Warigadyan tanggal dua, tengah bulan menghitam, bulan kedua. 1535 Çaka atau 3 Agustus 1613. Tapi tempat dan tanggal itu pun masih menyisakan pertikaian para ahli.

Zaman itu sudah bukan Majapahit tapi Jawa dikuasai Mataram. Tahun 1613 adalah tahun pertama Sultan Agung –raja ketiga Mataram Islam– berkuasa. Tidak heran jika ada yang menduga sang penulis kidung ini tidak tinggal di Pulau Jawa, tapi di Pulau Bali yang tetap Hindu.

Sangat berbeda dengan Negarakretagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada masa Kerajaan Majapahit. Apalagi bila dibandingkan dengan prasasti-prasasti yang sudah pasti terbukti keabsahannya sebagai sebuah sumber sejarah. Padahal Pararaton adalah rujukan utama para sejarawan dalam menganalisa sejarah Singasari dan Majapahit, tetapi hingga saat ini belum diketahui siapakah penanggungjawab kebenaran-kebenaran peristiwa pada Pararaton tersebut.

Pararaton lebih cenderung ke arah sebuah novel yang sarat dengan kisah kepahlawanan, intrik politik, asmara, dendam, dan hasrat akan harta dan kekuasaan. Dan bila ditelisik lebih jauh, serat ini memberitahukan bahwa budaya politik Nusantara adalah budaya saling mengkudeta satu sama lain. Dalam Pararaton digambarkan dengan gamblang tentang perebutan kekuasaan, saling iri-dengki antarsaudara, obsesi yang begitu tinggi, megalomania, dendam pribadi, dan lain-lain. Hanya saja apabila dibandingkan dengan Negarakretagama, Pararaton nampak lebih objektif karena tidak hanya membicarakan yang indah dan elok-elok saja mengenai sejarah Singasari dan Majapahit.

Pararaton berkisah tentang awal mula Ken Angrok lahir hingga menjelang jatuhnya Majapahit pada masa Bhre Pandan Salas (Sri Adi Suraprabhawa Singawikramawardhana Giripati Pasutabhupati Ketubhuta). Di dalamnya penuh dengan mitos, fantasi, dan khayalan yang digunakan untuk melegitimasi tokoh-tokoh yang diceritakan. Fakta dan fantasi yang terbaur menjadi satu membuat para ahli sejarah meragukan bahwa Pararaton ditulis untuk merekam kejadian-kejadian pada masa lampau. Sehingga seolah-olah teks-teks tersebut secara keseluruhan adalah supernatural dan ahistoris, serta dibuat bukan dengan tujuan untuk merekam masa lalu melainkan untuk menentukan kejadian-kejadian di masa depan.

6 Tanggapan

  1. Manteb tenan ………..

  2. bagus sekali

  3. jdbk sdh sy copas baru sampe jld 20.2. Trims pakDhe.

  4. terima kasih pencerahan nya sayangnya lorong di rumah bu siti maiyah tsb kurang terdokumentasi dgn baik untuk cerita ke ke generasi penerus dan menjadi cagar budaya kota malang

    • Iya, pasti ada alasannya sendiri ketika pamong desa memerintahkan untuk menghentikan misi pemeriksaan lebih lanjut. Banyak kejadian aneh sebelum sumur itu ditutup . Misalkan penampakan Harimau putih yg sangat besar berkeliaran didesa Polowijen konon dipercaya penunggu desa Polowijen juga seekor ular tapa yg mengelilingi batas wilayah Polowijen. Dan banyak orang2 disekitar yg kerasukan mungkin sebagai peringatan dan akhirnya sumur itu ditutup pintu besi rapat dimulut sumur.

  5. Desa katang lumbang bisa jadi desa tempat saya lahir yaitu desa lumbang kecamatan lumbang kabupaten pasuruan.kenapa saya berkata begitu karena di desa saya ada makam kuno.makam siapa itu?penduduk setempat dari dulu mengatakan bahwa itu adalah makam mbah joyo,makam toh joyo.penduduk setempat dari dulu mengetahui hal itu.lokasinya berada kurang lebih 1 km kearah selatan dari perumahan desa lumbang…dan di daerah lokasi makam penduduk setempat menamakan joyo..itu adalah area ladang penduduk yang berada di sekitar lokasi makam.makamnya sendiri berada di sebelah timur dari sungai kecil dan sungainya sekarang tidak ada airnya.mungkin karna hutan disekitar sana sudah banyak yang beralih fungsi menjadi perkebunan warga.karna makam ini adalah makam bagian dari sejarah bangsa. Keadaan makam saat ini kurang terawat.sampai saat ini belum ada penelitian dari dinas purbakala atau dinas yang berhubungan dg sejarah yang kesana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s