Seri Kerajaan Singosari


Waosan ka-3

Mandala Kedewaguruan) [Kadewagurwan(???)]

Masyarakat Palawijen seperti ditulis dalam Prasasti Wurandungan adalah masyarakat yang sangat religius. Mereka sangat taat mengadakan kurban untuk sesembahan mereka, Sang Hyang Rahyangta (Hindu Hyang). Malah dalam prasasti itu disebutkan bahwa Palawijen adalah Parahyangan Sang Hyang Rahyangta.

Tapi, dalam Kitab Kidung Pararaton, disebutkan pula ada seorang religius yang disebut Pendeta Sthapaka dari Budha aliran Mahayana bernama Mpu Purwa yang tinggal di Panawijen dan memiliki pertapaan di setra penduduk Panawijen. Sebelum menjadi pendeta Budha, nampaknya Sang Empu pernah menikah hingga memiliki putri bernama nDedes.

[Terjemahan Pararaton pupuh 02]:

Kemudian adalah seorang pujangga, pemeluk agama Budha, menganut aliran Mahayana, bertapa di ladang orang Panawijen, bernama Mpu Purwa.

Ia mempunyai seorang anak perempuan tunggal, pada waktu ia belum menjadi pendeta Mahayana.

Anak perempuan itu luar biasa cantik moleknja bernama Ken Dedes. Dikabarkan, bahwa ia ayu, tak ada yang menyamai kecantikannya itu, termasyur di sebelah timur Kawi sampai Tumapel.

Sayang tak disebutkan siapa ibu dari si nDedes ini. Namun, dari sini jelas sekali disebutkan bahwa Mpu Purwa memiliki pertapaan. Pertapaan adalah tempat suci yang merupakan sebuah Patapan. Yaitu tempat seorang mengasingkan diri, berapa dalam jangka waktu tertentu hingga mendapat tujuannya.

Mpu Purwa memilih setra (kuburan), lantaran ia adalah Budha Mahayana Tantra. Di setra, ia bisa bersemadi untuk menurunkan kekuatan magis dari Dewa Heruka, Dewa Bhairawa Budha yang merupakan dewa lapangan mayat bagi sekte Tantrayana Budhis. Hal ini telah disinggung di atas.

Dari sinilah, makin jelas bahwa Palawijen sangat eksis dengan tempat sucinya baik bagi kaum Hindu, maupun Budha. Di zaman selanjutnya, mungkin lebih sinkretis lagi yakni suatu kepercayaan ganda yang bercampur pula dengan kepercayaan dinamis-animis, karena lunturnya Hindu dan Budha di abad 14-15 Masehi.

Kembalinya kepercayaan asli di atas permukaan membawahi Hindu-Budha yang makin luntur itulah yang mengantar kita kepada bukti fisik di Palawijen terkait situs lorong/gua bawah tanah, yang diduga sebagai tempat aktivitas kelompok kepercayaan tertentu. Punden Sumur Windu sebenarnya merupakan mulut/pintu gua di bawah sebuah mandala kedewaguruan (lingkungan pengajaran ilmu religi).

Hal ini terbukti lantaran di sisi utara punden lebih kurang 2-3 meter terdapat mulut gua yang sudah tertutup tanah. Di atas tanah cekung bagian barat terdapat sisa-sisa pondasi bata merah tebal (bata kuno). Lebih ke barat laut pernah pula ditemukan struktur bata kuno berpola pondasi bangunan. Hal ini makin dikuatkan setelah ditemukannya lorong di sumur Ibu Siti Maiyah seperti yang telah dibahas di atas. Jelaslah kalau lorong itu bukan arung saluran air sebagaimana biasanya.

Dari bukti fisik di atas dapat ditarik analisa bahwa daerah tersebut pernah menjadi sebuah asrama yang lazim disebut kadewaguruan. Yakni tempat pendidikan agama yang letaknya jauh terpencil. Mandala dipimpin oleh Sidharsi atau Maharsi yang disebut pula dewaguru. Dewaguru punya murid yang berjenjang ilmunya mulai dari Ubhwan (ubon) atau ajar-ajar, yang merupakan pendeta wanita, kemudian manguyu sebagai pendeta laki. Lalu murid di bawahnya, tapa untuk pertapa laki dan tapi untuk pertapa wanita.

Para murid itu dalam samadi memerlukan suatu tempat pengunduran diri yang sunyi guna pengendalian diri yang dilakukan dengan kemauan teguh sampai menimbulkan ‘panas badan’ si pelaku guna mencapai keberhasilan mencari kebenaran tertinggi mengenai hubungan Atmam (jiwa) dan Brahman (zat tertinggi) dengan tujuan pelepasan jiwa.

Tempat sunyi di Palawijen akhirnya dibuat yakni di bawah tanah, lantaran Palawijen jauh dari hutan. Daerah sekitar pertapaan disebut pajaran/topowana. Begitulah penjelasan yang lebih masuk akal soal keberadaan lorong bawah tanah situs Mpu Purwa. Beberapa kali masyarakat Malang juga menemukan lorong serupa lorong di Sumur Ibu Siti Maiyah. Biasanya lorong semacam gua itu di dekat aliran sungai macam Derah Aliran Sungai Brantas. Mungkinkah juga pertapaan di masa lampau? Bisa jadi……………………………………

Taksih kathah dongeng antropologi tilaran prasasti kang kaweca lan Kitab Kidung Pararaton (jan-janne pararaton kuwi rak yo buku diarynya Ken Arok), siapa Ken Arok, lahir dan besar di mana, ujug-ujug bisa jadi raja, siapa pula tokoh-tokoh di sekelilingnya, punapa malih menawi para kadang maos tembang kasmaran arok-ndedes, wis jan ………..………….

Kidung Pararaton menggambarkan bagaimana ketika Si Arok melihat “sesuatu” yang tersingkap dari sinjang nDedes. Jangan-jangan nDedes…?????

Sinambi nembang pupuh kidung kasmaran, dan membayangkan Si Arok yang sedang “ngleng ngleng”, mila inggih cekap kapunggel semanten rumiyin, keparenga kawula pun si cantrik bayuaji madal pasilan. Nyuwun pangapunten menawi wonten ukara kang keladuk.

6 Tanggapan

  1. Manteb tenan ………..

  2. bagus sekali

  3. jdbk sdh sy copas baru sampe jld 20.2. Trims pakDhe.

  4. terima kasih pencerahan nya sayangnya lorong di rumah bu siti maiyah tsb kurang terdokumentasi dgn baik untuk cerita ke ke generasi penerus dan menjadi cagar budaya kota malang

    • Iya, pasti ada alasannya sendiri ketika pamong desa memerintahkan untuk menghentikan misi pemeriksaan lebih lanjut. Banyak kejadian aneh sebelum sumur itu ditutup . Misalkan penampakan Harimau putih yg sangat besar berkeliaran didesa Polowijen konon dipercaya penunggu desa Polowijen juga seekor ular tapa yg mengelilingi batas wilayah Polowijen. Dan banyak orang2 disekitar yg kerasukan mungkin sebagai peringatan dan akhirnya sumur itu ditutup pintu besi rapat dimulut sumur.

  5. Desa katang lumbang bisa jadi desa tempat saya lahir yaitu desa lumbang kecamatan lumbang kabupaten pasuruan.kenapa saya berkata begitu karena di desa saya ada makam kuno.makam siapa itu?penduduk setempat dari dulu mengatakan bahwa itu adalah makam mbah joyo,makam toh joyo.penduduk setempat dari dulu mengetahui hal itu.lokasinya berada kurang lebih 1 km kearah selatan dari perumahan desa lumbang…dan di daerah lokasi makam penduduk setempat menamakan joyo..itu adalah area ladang penduduk yang berada di sekitar lokasi makam.makamnya sendiri berada di sebelah timur dari sungai kecil dan sungainya sekarang tidak ada airnya.mungkin karna hutan disekitar sana sudah banyak yang beralih fungsi menjadi perkebunan warga.karna makam ini adalah makam bagian dari sejarah bangsa. Keadaan makam saat ini kurang terawat.sampai saat ini belum ada penelitian dari dinas purbakala atau dinas yang berhubungan dg sejarah yang kesana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s