Seri Kerajaan Singosari


Waosan ka-2

Perubahan nama Panawijen (tertulis pada Pararaton) atau Panawijyan (tertulis pada prasasti Wurandungan 865 Saka).

Dari informasi berbagai prasasti terbahas diperoleh sejumlah nama wanua,wanwa atau banua, (areal yang jauh lebih luas daripada sekedar desa), baik sebagai sima (perdikan), tepi siring (tetangga desa terdekat) maupun wanua biasa. Upaya pelacakan asal keberadaan desa-desa kuno tersebut mengalami banyak kendala. Namun demikian sejumlah desa kuno dapat dikenali kembali letak geografisnya, sekalipun tidak selalu dikuatkan dengan temuan artefak sejaman. Artefak yang ditemukan pada desa-desa kuno itu kadang berasal dari usia yang lebih muda. Hal ini justru sangat mendukung dugaan bahwa desa tersebut telah dihuni oleh sederet generasi atau dalam waktu yang lama. Di antara desa-desa kuno tersebut, di masa sekarang ada yang sama sekali berubah namanya tetapi ada juga yang tetap atau sedikit berubah. Persoalan ini tidak sulit dipahami mengingat dalam perjalanan waktu perubahan senantiasa terjadi.

Wilayah Watak Kanuruhan Catatan :

  1. [watak atau watek (wilayah yang lebih kecil daripada wanua)];
  2. [wanua,wanwa atau banua, (areal yang jauh lebih luas daripada sekedar desa)]

Desa-desa kuno di wilayah watak Kanuruhan yang masih dapat dilacak kembali lokasinya yaitu Waharu, Balingawan, Panawijyan, dan Bantaran. Pelacakan ini dilakukan melalui proses mencari kesesuaian antara nama wanua dalam prasasti dengan toponimi baik yang terekam pada peta maupun yang masih hidup dalam tradisi lisan. Selain itu juga dilakukan pelacakan on the spot survey dan wawancara dengan warga masyarakat.

Sekedar contoh:

Wanua i waharu mungkin sekarang ini bernama Lowok Waru yang terletak di wilayah kecamatan Lowok Waru. Perubahan nama dari waharu atau waru menjadi Lowok Waru kiranya tidak berlebihan atau menjadi suatu gejala yang sudah lazim. Terdapat sejumlah desa yang diawali dengan kata Lowok, yaitu Lowok Suruh, Lowok Jati dan Lowok Dara. Kata lowok dalam kosa kata bahasa Jawa (Baru) salah satu artinya adalah bunga.

Adapun wanua i balingawan mungkin telah berubah menjadi Mangliawan, yaitu suatu desa di kecamatan Pakis. Proses perubahan nama ini tidak terjadi secara serta-merta. Sangat mungkin prosesnya diawali dari Balingawan menjadi Malingawan. Seterusnya berubah menjadi Manglingawan dan akhirnya Mangliawan. Posisi desa Mangliawan pada poros Malang-Tumpang yang diketahui memiliki kepadatan peninggalan arkeologi yang cukup tinggi sangat mendukung keberadaannya sebagai salah satu desa kuno. Selain itu di lokasi desa ini juga ditemukan peninggalan ikonografi yang cukup banyak antara lain yang masih tersimpan di Taman Rekreasi Wendit dan di kramatan (areal makam) desa Mangliawan. Dengan demikian tidak berlebihan bila diajukan dugaan bahwa lokasi ini adalah bekas desa kuno yang dulu bernama Balingawan.

Wanua i panawijyan diduga kuat saat ini adalah desa Palawijen. Perubahan bunyi melalui pertukaran konsonan n dan p pada bahasa Jawa kiranya merupakan peristiwa bahasa yang acap kali terjadi. Adapun perubahan bunyi pada vokal dari a menjadi o adalah disebabkan perubahan pada bunyi abjad (susunan aksara) yang dipakai dari abjad Jawa Kuno menuju Jawa Baru. Selain terdapat kedekatan unsur nama, di desa ini juga terdapat beragam peninggalan arkeologis yang menguatkan dugaan di atas.

Peninggalan arkeologis yang masih dapat ditemukan di tempat ini antara lain bekas pemukiman yang kaya dengan pecahan keramik asing dan gerabah, sisa umpak-umpak batu dan arung (saluran air bawah tanah).

Dalam Pararaton dilukiskan betapa keberadaan desa ini penting mengingat di sana tinggal atau berada suatu perguruan (mandala/kadewaguruan) [kadewagurwan (???)] yang dipimpin oleh Mpu Purwwa (Mpu Purwa). Kerbau Kering Ada yang menyebut, gorong-gorong (yang sudah didongengkan di atas) semacam irigasi. Sebab, semua ini dihubung-hubungkan dengan prasasti Wurandungan I, yang dibuat tahun 943 M (adapula yang menyebut 948 M). Dari lempeng ke-7 prasasti ini, menyebutkan keberadaan Panawijen alias Palawijen yang sangat kering seperti kingkaboringayanya (kerbau kurus kering).

Pada lempeng ke-4 bagian B (lempeng sisi belakang) disebutkan bahwa Palawijen adalah daerah kering. Artinya bukan tanah sawah dengan pengairan yang berasal dari sumber artesis atau aliran sungai. Meskipun di daerah Palawijen mengalir sungai besar di sebelah utara, Kali Mewek yang permukaannya di bawah Palawijen.

Di prasasti itu disebutkan pula, dari 13 jung wilayah Palawijen, oleh Kerajaan Kanuruhan yang berkuasa saat itu, diperitahkan agar 1 jungnya digunakan untuk tanaman basah (sawah) yang airnya diambil dari sungai di dekatnya (suwakan). Sebagai catatan, Jung adalah ukuran tanah, 1 jung = 4 bahu = 7 are.

Tapi, benarkah hanya untuk areal sawah hanya seluas 7 are itu perlu dibuatkan gorong-gorong sepanjang itu? Keperluan lebih lanjut untuk pengembangan sawah-sawah di sekitar Palawijen yang memang tanahnya subur? Jawaban itu bisa jadi benar, tapi bisa jadi salah. Sebab, dalam prasasti Wurandungan itu jelas tercatat bahwa air untuk sawah diambil dari sungai yang disalurkan (disuwak=disobek dalam Jawa Kuno).

Yang disobek adalah sungai induk yakni Kali (sungai) Mewek itu. Jadi, cikal bakal nama Mewek itu bukan berarti mewek dalam artian menangis. Demikian masyarakat Malang mengartikan Kali Mewek. Tapi, Mewek dalam arti sobek. Sebab, Suwak mendapat awalan Ma menjadi Masuwak yang dalam tatanan Jawa Kuno menyatakan perbuatan, sifat, dan keadaan. Kata Masuwak sedikit demi sedikit mengalami perubahan bunyi menjadi Masuwek —- Mawek — akhirnya Mewek.

Aliran air itu yang disebut dalam prasati itu hingga kini ada di sebelah selatan situs Mpu Purwa berjarak sekitar 50 meter. Sementara sobekan dari Kali Mewek dapat kita jumpai di sebelah barat Palawijen. Di sana terdapat sebuah dam kecil dari Kali Mewek. Warga setempat mengaku dam tersebut dibangun pada Jaman Belanda ketika hampir disisihkan oleh Jepang. Namun, riwayatnya, sebelumnya dam tersebut sudah ada dan oleh penduduk pada masa lalu hanya dibendung dengan batang-batang pohon kelapa.

———-oOo———-

6 Tanggapan

  1. Manteb tenan ………..

  2. bagus sekali

  3. jdbk sdh sy copas baru sampe jld 20.2. Trims pakDhe.

  4. terima kasih pencerahan nya sayangnya lorong di rumah bu siti maiyah tsb kurang terdokumentasi dgn baik untuk cerita ke ke generasi penerus dan menjadi cagar budaya kota malang

    • Iya, pasti ada alasannya sendiri ketika pamong desa memerintahkan untuk menghentikan misi pemeriksaan lebih lanjut. Banyak kejadian aneh sebelum sumur itu ditutup . Misalkan penampakan Harimau putih yg sangat besar berkeliaran didesa Polowijen konon dipercaya penunggu desa Polowijen juga seekor ular tapa yg mengelilingi batas wilayah Polowijen. Dan banyak orang2 disekitar yg kerasukan mungkin sebagai peringatan dan akhirnya sumur itu ditutup pintu besi rapat dimulut sumur.

  5. Desa katang lumbang bisa jadi desa tempat saya lahir yaitu desa lumbang kecamatan lumbang kabupaten pasuruan.kenapa saya berkata begitu karena di desa saya ada makam kuno.makam siapa itu?penduduk setempat dari dulu mengatakan bahwa itu adalah makam mbah joyo,makam toh joyo.penduduk setempat dari dulu mengetahui hal itu.lokasinya berada kurang lebih 1 km kearah selatan dari perumahan desa lumbang…dan di daerah lokasi makam penduduk setempat menamakan joyo..itu adalah area ladang penduduk yang berada di sekitar lokasi makam.makamnya sendiri berada di sebelah timur dari sungai kecil dan sungainya sekarang tidak ada airnya.mungkin karna hutan disekitar sana sudah banyak yang beralih fungsi menjadi perkebunan warga.karna makam ini adalah makam bagian dari sejarah bangsa. Keadaan makam saat ini kurang terawat.sampai saat ini belum ada penelitian dari dinas purbakala atau dinas yang berhubungan dg sejarah yang kesana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s