Seri Kerajaan Singosari


[Waosan ka-23]

APANJI TOHJAYA PRALÅYÅ

Tak ada yang meniup terompet kemenangan.
Tak ada yang menabuh genderang.
Yang ada adalah gemuruh suara hati yang tersingkirkan
Panji-panji keakuan yang dikibarkan terkulai sudah
Pasukan-pasukan mlajar dari istana gontai sudah.

Gemuruh itu semakin jelas terdengar.
Ranggawuni Narasingamurti bukan lagi saudara.
Tohjaya harus dilengser paksa
Ken Umang terlantarkan, menangis meraung bak bocah kehilangan boneka

Tak ada lagi bahasa kata.
Tak ada lagi harum bunga.
Yang ada hanya bahasa amarah, panah, gada dan pedang.
Singosari kembali anyir becek darah yang tumpah dari tahta
kali ini Tohjaya

Debu membubung di langit Tumapel Kutaraja
Tak ada segar udara.
Tinggal perih dan sesak yang terasa.

Kalah dan menang telah kehilangan makna.
Gemuruh perang terus saja membahana.
Gemuruh perang ada di mana-mana.
Gemuruh perang tak hanya ada di istana
Gemuruh perang juga terdengar dari dalam dada Maharaja Tohjaya.

Tak ada iringan gamelan yang ditabuh pelan
Tak ada irama tlutur tembang Panjang Ilang yang dilantunkan
Rawuh sireng Katang Lumbang mukta ta sira. Linan sira. Anuli dhinarmme.
Pendharmaan Sang Apanji Tohjaya di Katang Lumbang berlangsung sunyi.

Pararaton mengabarkan:

wong Sinelir lawan wong Rajasa, katekan sore masa sama rawuh kalih batur amawa sahaya. Sama marek ing hayun ira raden kalih. Sama samo, annuli mangkata mbaranang mareng jro kadhaton.

[Setelah senja hari Pasukan Tentara Rajasa dan Pasukan Tentara Sinelir datang bersama-sama menghadap kepada kedua pangeran, mereka keduanya saling menyapa, lalu mereka berangkat menyerbu kedalam istana.]

Maka terjadilah pemberontakan. Dan Tohjaya yang lalai itupun harus dilengserkan dari tahta dan mati. Tohjaya tertusuk senjata tajam dan terluka parah, namun berhasil dilarikan oleh para pengawal setianya. Namun pada akhirnya, dia mati dibunuh oleh pengusung tandunya sendiri, dalam pelariannya di desa Katang Lumbang. Peristiwa ini terjadi tahun 1172Ç/1250M.

Di pupuh lain Pararaton mengabarkan:

Yogha kagyat sira Panji Tohjaya, malajeng kapisah, tinumbak tan kapisanan, marin ing geger, rinuruh den ing kawulan ira. Pinikul pinalayoken mareng Katang Lumbang. Kang amikul kasingse gadage, katon pamungkure.

Ling ira Panji Tohjaya ring kang amikul: ‘Beciki gadagta katon pamungkure.’ Sangkan ing tan awet ratu dene silit iku. Rawuh sireng Katang Lumbang mukta ta sira. Anuli dhinarmme Katang Lumbang. Linan ira isaka 1172.

[Apanji Tohjaya sangat terperanjat, lari terpisah, kali ini ia terkena tombak. Sesudah huru hara berhenti, ia dicari oleh para pengikut yang setia kepadanya, dan kemudian dengan tandu dia diusung dan dibawa lari ke Katanglumbang. (Karena tergopoh-gopoh), salah seorang pengusung tandunya terlepas celananya, tampaklah aurat belakangnya.

(Dengan kemarahan yang tak tertahankan) Apanji Tohjaya membentak orang yang memikul tandu itu: “Rapikan celanamu, terlihat auratmu!” (Kemudian Tohjaya turun dari atas tandu dan ditombaklah si pengusung tandu itu, ia membalas dengan menusukkan kerisnya ke dada Tohjaya, tetapi pengusung tandu itu mati pada akhirnya).

Ini pertanda buruk, karena itulah, maka Tohjaya tidak lama menjadi raja, karena ia telah melihat sesuatu yang tidak patut, (ia disingkur oleh pengusung tandunya) sehingga nampak aurat si pengusung tandunya itu. Sesampainya di Katang Lumbang, Tohjaya pun tewas karena luka-lukanya. Apanji Tohjaya dicandikan di Katanglumbang, ia mangkat pada tahun 1172Ç/1250M.]

Pararaton begitu rinci menggambarkan lelakon ini sejak penobatan Tohjaya hingga penyerbuan ke istana Tumapel.

Adapun Babad Tanah Jawi, secara singkat mengabarkan:

Tohjåyå jumênêng Nåtå, nanging iyå ora suwé. Tohjåyå utusan mantriné aran Lêmbu Ampal, didhawuhi nyirnakaké kâlilipé loro, yaiku: Rånggåwuni, putrané Anusåpati, lan nakduluré kang aran Nåråsingåmurti; yén ora biså kêlakon, Lêmbu Ampal dhéwé bakal kênå ukum pati. Dumadakan ånå sawijining Brahmånå kang wêlas marang radén loro, banjur wêwarah sapêrlune. Satriyå loro banjur ndhêlik ånå ing panggonané Panji Patipati. Lêmbu Ampal nggoléki radén loro ora kêtêmu, banjur ora wani mulih, ngungsi marang Panji Patipati. Barêng ånå ing kono mbalik ngiloni radén loro, malah ngrêmbugi pårå punggåwå kang ora cocog karo Tohjåyå diajak ngraman, wasånå kêlakon, Sang Prabu nganti nêmahi sédå.

[Babad Tanah Jawi Bab 04 Perangan Kang Kapisan Ken Angrok Nêlukaké Karajan-karajan Cilik (1220-1247) ]

Kembali darah mengalir di tahta Tumapel, kali ini dari putera Ken Umang. Tohjaya.

Berdasarkan uraian Pararaton dapat diketahui bahwa Tohjaya tidak lama memerintah, Tohjaya hanya memerintah beberapa bulan saja tahun dari tahun 1171Ç/1249M sampai dengan tahun 1172Ç/1250M.

Kematian Tohjaya.

Dalam Sejarah Nasional Indonesia II dikatakan bahwa Pararaton yang kita ketahui selama ini adalah Pararaton yang ditulis pada akhir abad ke-15 dalam bentuk prosa (gancaran), ditulis dengan gaya sastra Jawa Tengahan dalam bahasa Jawa Kawi. Naskah ini cukup singkat, berupa 32 halaman seukuran folio yang terdiri dari 1.126 baris.

Belum banyak diketahui orang bahwa Pararaton bentuk prosa ini merupakan “salinan” Pararaton dalam bentuk Kidung. Namun sangat disayangkan Pararaton versi kidung ini nampaknya hanya “samar-samar” .

Beberapa ahli sejarah termasuk Dr. J.L.A. Brandes (13 Januari 1857-26 Januari 1905), pegawai pemerintah Kolonial Belanda yang ditugaskan di Indonesia (Hindia Belanda, pada waktu itu); berkenan memanfaatkan kecerdasannya untuk tugas-tugas penelitian bidang kepurbakalaan. Dialah penyelidik ahli pertama kali mengenai buku Pararaton. Usahanya ini kemudian diteruskan oleh Prof. N.J. Krom setelah Brandes meninggal dunia.

Usaha penelitian Dr. Brandes memakai naskah-naskah yang kini tersimpan di Museum Gajah Jakarta masing-masing:
A. Kropak No. 337, 17 halaman
B. Kropak No. 550, 47 halaman
C. Kropak No. 600, 58 halaman

Upaya yang dilakukan adalah melakukan penelitian, mempelajari dan menterjemahkan naskah manuskrip Pararaton yang dalam bentuk kropak abad 17, dan menyalin beberapa “kejadian” dari Pararaton Kidung, yang beberapa lembar rontalnya telah hilang atau tak terbaca.

Dari satu naskah “asli” Pararaton Kidung, kemudian menjadi dua. Pararaton Kidung dan Pararaton Gancaran, melahirkan perbedaan tentang kematian Tohjaya:

1. Pararaton ( Versi Prosa);

Pada waktu pasukan tentara Sinelir dan Pasukan tentara Rajasa menyerbu istana di waktu malam, Apanji Tohjaya tertikam tombak tetapi tidak meninggal, didampingi hamba-hambanya yang setia maka diusunglah Maharaja Singosari itu dengan tandu melarikan diri ke luar istana, di tengah jalan salah satu pengusungnya, karena tergesa-gesa kasingse gadage, katon pamungkure (terlepas kainnya dan terlihat aurat-belakangnya). Ibarat melihat hal yang tabu, suatu pantangan bagi raja.

Dengan kemarahan yang tak tertahankan Apanji Tohjaya membentak orang yang memikul tandu itu: “Rapikan celanamu, terlihat auratmu!” Kemudian Tohjaya turun dari atas tandu dan ditusuklah si pengusung tandu itu, ia membalas dengan menusukkan kerisnya ke dada Tohjaya, tetapi pengusung tandu itu mati pada akhirnya.

Ini pertanda buruk, karena menurut kepercayaan, raja yang disingkur tidak akan lama hidupnya, karena ia telah melihat sesuatu yang tidak patut, yaitu aurat pengusung tandunya itu. maka Tohjaya tidak lama menjadi raja.

Sesampainya di Katang Lumbang, Tohjaya pun tewas karena luka-lukanya. Apanji Tohjaya dicandikan di Katanglumbang, ia mangkat pada tahun 1172Ç/1250M.

2. Pararaton ( Versi Kidung);

Setelah mendapat serbuan dari tentaranya sendiri yang mengkudeta yakni pasukan tentara Sinelir dan pasukan tentara Rajasa. Tohjaya sempat melarikan diri dengan berkuda diikuti oleh para pengawal setianya.

Ia dikejar dan diteriaki oleh para tentara yang memberontak hingga sampai ke tepian sungai dekat Katanglumbang. Pertempuran besar kembali berkobar di tepian sungai itu.

Tohjaya tewas tertikam tombak dalam pertempuran itu. Apanji Tohjaya dicandikan di Katanglumbang, ia mangkat pada tahun 1172Ç/1250M.]

Adanya kedua versi ini semakin menunjukkan bahwa kedua Pararaton sulit untuk ditentukan yang “asli”. Tetapi yang ‘pasti’ Tohjaya tidak mati karena keris sakti Empu Gandring sebagaimana diyakini oleh beberapa pihak.

Dalam pada itu Prasasti Mula Malurung tidak memberikan informasi apapun tentang kematian Tohjaya. Suksesi kekuasaan dari Tohjaya ke Nararyya Semi Ning Rat terkesan berlangsung damai.

Kembali ke Pararaton, dikabarkan di sana bahwaTohjaya dibunuh, dan mati, tetapi dari bukti sejarah versi manapun kematiannya bukan karena keris yang dibuat Sang Empu Gandring. Tohjaya mangkat di tepi sungai di daerah Katanglumbang, dibunuh oleh pengawal setianya.

Di mana keris bergagang cangkring buatan Empu Gusali Gandring itu sekarang?

Di mana letak Katanglumbang atau disebut juga Lumbang Katang ?

Telah diketahui bahwa Kerajaan Singosari meninggalkan sejumlah bangunan candi dan patung yang indah dan megah. Sebagian besar candi-candi ini sudah dapat direkonstruksi kembali untuk dapat dinikmati dan dirasakan kebesarannya dimasa lalu serta dihayati makna dibalik pendiriannya.

Candi-candi yang masih dapat ditelusuri antara lain candi Kidal (untuk Anusapati), Jago (untuk Wisnuwardhana), Singosari dan Jawi (Kertanegara). Sedangkan beberapa candi tidak dapat ditemukan lagi keberadaannya seperti Kagenengan (Ken Arok), dan Katanglumbang (Tohjaya).

Belum ada ahli sejarah yang berhasil ‘melacak’ lokasi Katang Lumbang candi tempat pendharmaan Apanji Tohjaya, sebagaimana halnya Kagenengan candi tempat pendharmaan Ken Arok.

Ada nama sebuah dusun di wilayah Pasuruan, tepatnya di Dusun Lumbang Boro Timur Desa Lumbang Rejo Kecamatan Prigen Kabupaten Pasuruan (Tretes). Tetapi belum dapat dipastikan juga apakah Desa Lumbang (Dusun Lumbang Boro atau Desa Lumbang Rejo) ini dahulunya adalah Katanglumbang, tempat yang disebut dalam kitab Pararaton,

Kagnangan/Kagenengan sebagai tempat pendharmaan Ken Angrok sebagai Syiwa atau pun pendharmaan di Usana sebagai Buddha hingga sekarang ini belum dapat diketahui keberadaannya secara pasti. Tersisa suatu desa di wilayah selatan Kabupaten Malang, tepatnya di Kecamatan Pakisaji. Desa Kagenengan. Tetapi belum dapat dipastikan apakah Desa Kagenengan ini merupakan tempat yang sama yang disebut dalam kitab Pararaton, Babad Tanah Jawi dan Nagarakertagama.

Ranggawuni pun akhirnya naik tahta menjadi raja Singosari. Ia memimpin dengan gelar Sri Jayawisnuwardhana Sang Mapanji Seminingrat Sri Sakala Kalana Kulama Dhumardana Kamaleksana. Saat Ranggawuni menjadi raja, Mahisa Campaka menjadi raja anggabaya dengan gelar Bhatara Narasinga.

Ranggawuni adalah putra dari Anusapati yang berarti cucu dari Tunggul Ametung dan Ken Dedes. Sementara Mahisa Campaka adalah putra dari Mahisa Wongateleng yang berarti cucu dari Angrok dan Ken Dedes.

Keduanya diibaratkan dwi-tunggal guna menyatukan antara pendukung Tunggul Ametung dengan pendukung Angrok. Konflik Singosari pun berakhir pada pemerintahan Ranggawuni sehingga ia akhirnya dapat meninggal tanpa harus terkena kutukan keris Empu Gandring. Ranggawuni dan Mahisa Campaka. Keduanya akan memerintah Singosari yang besar.

Pararaton menggambarkan:

Tumuli sirå Ranggawuni angadêg ratu, kadi NÅGHÅ RORO SALÉNG. Lawan sirå Mahisa Campaka, sirå Ranggawuni, abhiséka Bhatara Wisnu Wardhana karatun irå. Sira Mahisa Campaka dadi ratu Angabhåyå, abhiséka Bhatara Narasingha. Atyantå patut irå tan hånå wiwal.

[Kemudian Ranggawuni menjadi raja, ia dengan Mahisa Campaka dapat diumpamakan seperti SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG.

Ranggawuni bernama nobatan Wisnuwardana, demikanlah namanya sebagai raja, Mahisa Campaka menjadi Ratu Angabhaya, bernama nobatan Batara Narasinga. Sangat rukunlah mereka, tak pernah berpisah.]

Babad Tanah Jawi Bab 04 Perangan Kang Kapisan Ken Angrok Nêlukaké Karajan-karajan Cilik (1220-1247) mengabarkan;

“Ranggawuni jumênêng Nåtå ajêjuluk Syri Wisynuwardhana nganti nakdhéréké Narasingå. Nganti têkan ing sêdå priyagung loro mau rukun banget, nganti dibasakaké: “Kåyå Wisynu lan kâng råkå Bathara Endrå.”

Sedangkan Kakawin Nagarakretagama pada Pupuh XLI (41): 2 mengabarkan:

Bhatara wisnuwarddhana kateka putra nira sang gumanti siniwi
Bhatara narasingha rowang ira tulya madhawa sahagrajamagehi rat

[Batara Wisnuwardana, putera Baginda, berganti dalam kekuasaan, Beserta Narasinga bagai Madawa dengan Indra memerintah negara,]

Prasasati Mula Malurung (mungkin karena ketidak lengkapnya lempengan yang ditemukan), tidak menceritakan Bhatara Narasinga sebagai pendamping Seminingrat (Ranggawuni, Wisnuwardhana). Prasasti Mula Malurung hanya menceritakan pengganti Nararyya Tohjaya dan kemashuran Seminingrat belaka.

Sepeninggal Nararyya Tohjaya, berkat dukungan semua pejabat Kadiri terutama Panji Patipati. Nararyya Seminingrat berhasil menyatukan kembali Singosari yang diwarisi dari Anusapati dan Kerajaan Kadiri yang diwarisinya melalui pernikahannya dengan Putri Waning Hyun dari Bhatara Parameswara sepeninggal Nararyya Tohjaya, menjadi Negara Singosari. [Prasasti Mula Malurung Lempengan IIIB].

Dalam diri sang prabu Seminingrat berkumpul dewa Brahmana, Wisnu, dan Syiwa. Beliau berwenang memberikan anugerah kepada para abdi untuk pekerjaan yang penting, berwenang menjaga sesuatu yang layak dijaga, menghukum apa yang selayaknya dihukum, membina candi makam, memperbaiki candi yang rusak tanpa membeda-bedakan jenisnya, thani bala, sima, kalang, kalagyan, kamulan, kakurugan, kuti, biara, sala, parhyangan, dan keresian. Oleh karena itu kemashuran sang prabu tersebar luas di seluruh negara. [Prasasti Mula Malurung Lempengan IXA dan B].

6 Tanggapan

  1. Manteb tenan ………..

  2. bagus sekali

  3. jdbk sdh sy copas baru sampe jld 20.2. Trims pakDhe.

  4. terima kasih pencerahan nya sayangnya lorong di rumah bu siti maiyah tsb kurang terdokumentasi dgn baik untuk cerita ke ke generasi penerus dan menjadi cagar budaya kota malang

    • Iya, pasti ada alasannya sendiri ketika pamong desa memerintahkan untuk menghentikan misi pemeriksaan lebih lanjut. Banyak kejadian aneh sebelum sumur itu ditutup . Misalkan penampakan Harimau putih yg sangat besar berkeliaran didesa Polowijen konon dipercaya penunggu desa Polowijen juga seekor ular tapa yg mengelilingi batas wilayah Polowijen. Dan banyak orang2 disekitar yg kerasukan mungkin sebagai peringatan dan akhirnya sumur itu ditutup pintu besi rapat dimulut sumur.

  5. Desa katang lumbang bisa jadi desa tempat saya lahir yaitu desa lumbang kecamatan lumbang kabupaten pasuruan.kenapa saya berkata begitu karena di desa saya ada makam kuno.makam siapa itu?penduduk setempat dari dulu mengatakan bahwa itu adalah makam mbah joyo,makam toh joyo.penduduk setempat dari dulu mengetahui hal itu.lokasinya berada kurang lebih 1 km kearah selatan dari perumahan desa lumbang…dan di daerah lokasi makam penduduk setempat menamakan joyo..itu adalah area ladang penduduk yang berada di sekitar lokasi makam.makamnya sendiri berada di sebelah timur dari sungai kecil dan sungainya sekarang tidak ada airnya.mungkin karna hutan disekitar sana sudah banyak yang beralih fungsi menjadi perkebunan warga.karna makam ini adalah makam bagian dari sejarah bangsa. Keadaan makam saat ini kurang terawat.sampai saat ini belum ada penelitian dari dinas purbakala atau dinas yang berhubungan dg sejarah yang kesana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s