Seri Kerajaan Singosari


[Waosan ka-22]Rontal SUNdSS 11

TOHJAYA  [Parwa ka-2]

Seperti sejak awal berdirinya, Tumapel kembali berdarah. Sang Akuwu Tumapel Tunggul Ametung dibunuh oleh Ken Arok, kemudian Ken Arok pun mati dibunuh, Anusapati menyusul kemudian, Kematian berbalas kematian masih berlanjut.

Ranggawuni dan Mahisa Campaka sadar, jika utang jiwa harus dibayar dengan jiwa maka kematian akan disusul dengan kematian. Setiap dendam akan menuntut. Dan dendam itu sendiri akan berkembang sejalan dengan perkembangan manusia. Tetapi akhirnya manusia akan lenyap ditelan oleh dendam mereka sendiri.

Rencana Ranggawuni dan Mahisa Campaka, orang-orang yang tahu asal usul dirinya, orang-orang yang berhak atas tahta Singosari, tetapi bukan karena ingin merebut tahta itu, maka ia menyerbu Singosari kali ini. Bukan pula karena dilandasi rasa dendam, tetapi untuk kejayaan Singosari semata-mata, yang dirasakan semakin terpuruk. Untuk seluruh kawula Singosari yang kesejahteraannya tidak pernah diperdulikan lagi oleh Tohjaya.

Kemaharajaan Tohjaya yang tidak mengakar di hati rakyat Singosari itulah yang membuat Ranggawuni mengambil sikap, menabuh genderang perang bahu-membahu dengan saudara sepupunya, Mahisa Cempaka.

Lembu Ampal berbalik memilih bergabung dan mendukung kedua pangeran yang hendak dibunuhnya itu. Lembu Ampal sadar bahwa pemerintahan Tohjaya adalah pemerintahan yang tidak sah, karena Tohjaya tidak berhak atas tahta Singosari. Keturunan Ken Dedeslah yang berhak atas tahta Singosari itu. Maka Lembu Ampal pun menyusun rencana kudeta terhadap pemerintahan Tohjaya.

Didorong oleh perasaan berdosa kepada kedua pangeran yang harus dibunuh karena perintah Tohjaya; tetapi lebih daripada itu, adalah kesetiaan Lembu Ampal pada Singosari semata.

Demikian juga halnya dengan orang-orang dari Pasukan Khusus Tentara Rajasa dan orang-orang dari Pasukan Khusus Tentara Sinelir yang merupakan bagian dari Pasukan Pengawal dan Pasukan Pelayan Dalam; pasukan tentara kerajaan yang juga dikecewakan Tohjaya.

Mereka bersatu pada untuk melengserkan Tohjaya.

Pararaton mengabarkan:

Sanggup ing wong Rajasa, parekakena ugi Ki Lembhu Ampal, wong batur puniki bhinakta pinituhan ing wong Rajasa parek ing raden kalih, atur ira wong Rajasa: ‘Pukulun pakan ira ya kita a kawula Rajasa. Saandhika pakanira, pakanira corana, manawi tan tuhu pangawulan ipun. ‘Paheya den ipun ira angawula, mangkana wong Sinelir sama ingundhang pinituhan ipun. Tunggal sanggup ipun lawan wong Rajasa tur pinatut, kalih batur sampun kacoran. Winekas mene sore, padha merene tur amawa sahayan ira sowang sowang. Pada ambarananga ring Kedhaton, sama amit mantuk,

[Panglima Tentara Rajasa menyatakan kesanggupannya: “Nah, bawalah kami menghadap kepada kedua pangeran itu, wahai Lembu Ampal.”
Maka Panglima Tentara Rajasa itu dibawa menghadap kepada Ranggawuni dan Mahisa Campaka. Panglima Tentara Rajasa itu berkata: “Tuanku, kami mohon hendaknya tuanku berdua berkenan melindungi kami dan pasukan kami. Apa saja yang tuan titahkan kepada kami. Kami bersumpah akan setia kepada tuan berdua dan menjunjung tinggi titah tuanku. Kami akan bersungguh sungguh menghamba kepada paduka tuanku.”
Demikian halnya dengan Pasukan Khusus Tentara Sinelir, dipanggilah panglima mereka, dan seperti kesanggupan Panglima Tentara Rajasa, Panglima Tentara Sinelir pun bersedia mengabdikan dirinya di bawah kepemimpinan Rangawuni dan Mahisa Campaka.
Selanjutnya kedua belah pihak telah didamaikan dan telah disumpah semua, lalu dipesan: “Petang senja hari nanti kalian datang kemari, dan bawalah pasukanmu. Kita akan menyerbu istana.” Kemudian kedua panglima Sinelir dan Rajasa bersama-sama memohon diri,]

Selanjutnya Pararaton mengabarkan:

wong Sinelir lawan wong Rajasa, katekan sore masa sama rawuh kalih batur amawa sahaya. Sama marek ing hayun ira raden kalih. Sama samo, annuli mangkata mbaranang mareng jro kadhaton.

[Setelah senja hari Pasukan Tentara Rajasa dan Pasukan Tentara Sinelir datang bersama-sama menghadap kepada kedua pangeran, mereka keduanya saling menyapa, lalu mereka berangkat menyerbu kedalam istana.]

ULASAN:

A. Keberadaan tokoh Tohjaya:

Mengenai tokoh Tohjaya dari ketiga sumber sejarah yang menjadi acuan, kita temukan perbedaan. Pararaton menyebutkan bahwa masa pemerintahan Tohjaya berlangsung sangat singkat hanya beberapa bulan saja tahun dari tahun 1171Ç/1249M sampai dengan tahun 1172Ç/1250M.

Nagarakretagama sama sekali tidak menyebutkan adanya tokoh Tohjaya, tetapi hal ini tidak mengurangi kenyataan tokoh tersebut. Tokoh Tohjaya secara histori ada, karena di dalam prasasti Mula Malurung berangka tahun 1255M dengan jelas disebutkan nama Nararyya Tohjaya. Tidak disebutkannya nama Tohjaya dalam Kakawin Nagarakretagama, mungkin disebabkan karena menurut anggapan Empu Prapanca Tohjaya tidak ada sangkut paut dengan raja-raja Majapahit, karena ia bukan leluhur Hayam Wuruk.

Prasasti Mula Malurung tidak menyinggung nama Anusapati sama sekali, apalagi bagaimana beliau mangkat. Boleh jadi beliau mangkat dalam keadaan biasa, tidak dibunuh oleh Apanji Tohjaya seperti dikabarkan Pararaton; karena bisa dibuktikan bahwa Nararyya Tohjaya adalah raja Kadiri pengganti Nararyya Gung Ing Bhaya (Guningbhaya) di kedaton Kadiri.

B. Kudeta

Jika Pararaton mengandung unsur-unsur kebenaran tentang kudeta yang disertai pembunuhan yang dilakukan Tohjaya, maka seharusnya Tohjaya melakukannya terhadap Nararyya Guningbhaya, bukan terhadap Anusapati. Pembunuhan itu juga tidak bermaksud membalas dendam atas kematian Ken Arok, melainkan untuk merebut kekuasaan Guningbhaya.

Biasanya tahta jatuh kepada yang lebih muda. Kemungkinan besar Tohjaya melakukan kudeta terhadap Guningbhaya. Tohjaya beranggapan bahwa ia mempunyai hak yang sama seperti saudara-saudaranya yang lain, meskipun ia dilahirkan dari garwa ampil (selir) yaitu Ken Umang.

Guningbhaya tidak melakukan pembunuhan terhadap Ken Arok. Yang mempunyai hak waris atas Kadiri adalah Mahisa Campaka putra Mahisa Wonga Teleng, Hal ini dikarenakan Tohjaya menurut Pararaton hanyalah putra selir. Sehingga ia tidak memiliki hak atas tahta Kadiri.

{Catatan: Perlu di ketahui bahwa sejak Raja pertama Tumapel yaitu Sri Ranggah Rajasa berkuasa, Kadiri dijadikan ibu kota kerajaan kedua, dengan diberikan kepada putra mahkotanya, yaitu Bhathara Paramecwara (dalam prasasti Mula-Malurung yang identik dengan tokoh Mahisa Wongateleng dalam Pararaton) sebagai anak Sri Ranggah Rajasa tertua.}

Ketika ayahnya mangkat, tahta Kadiri jatuh ke tangan Guningbhaya adik Bhatara Parameswara. Kemungkinan besar saat itu putra Bhatara Parameswara, yakni Mahisa Campaka masih kecil sehingga untuk sementara tahta diemban oleh pamannya Guningbhaya. Namun kemudian takhta jatuh kepada Tohjaya yang disebut sebagai kakak Guningbhaya.

Berdasarkan data di atas, tokoh Guningbhaya (Pararaton: Agnibhaya). Dalam naskah itu disebutkan kalau Agnibhaya adalah adik Mahisa Wonga Teleng (putra Ken Arok dan Ken Dedes). Keduanya merupakan paman dari Ranggawuni alias Wisnuwardhana.

Disebutkan dalam prasasti Mula Malurung tokoh Guningbhaya naik tahta Kadiri menggantikan kakaknya yang bernama Bhatara Parameswara (Pararaton: diidentifikasi sebagai Mahisa Wonga Teleng). Lagi pula, melalui pernikahannya dengan Waning Hyun putri Bhatara Parameswara (Pararaton: Mahisa Wonga Teleng), Nararyya Seminingrat (Ranggawuni versi Pararaton) juga mempunyai hak waris atas tahta Kadiri. Oleh karena itu maka, Apanji Tohjaya menjadi curiga terhadap Ranggawuni dan Mahisa Campaka.

Memahami pendapat Pranaraja yang menyebutkan bahwa keduanya diibaratkan bisul yang di pusat, yang sangat membahayakan kedudukan tahta Tohjaya, bila pecah pada suatu saat.

Kudeta Ranggawuni dan Mahisa Campaka tidak terjadi di Singosari. Sebab:

  1. Nararyya Tohjaya bukan raja Singosari, tetapi raja Kadiri;
  2. Pranaraja adalah pejabat pemerintahan dari kerajaan Kadiri yang mengabdi Raja Kadiri Tohjaya (Lempengan III). Pranaraja mendapat anugerah Desa Mula dan Malurung sebagai desa swatantra (tanah perdikan); yang terletak di sebelah utara ibukota kerajaan Daha Kadiri. Dengan demikian desa Mula Malurung terletak di wilayah Kerajaan Kadiri, bukan di wilayah Singosari.
  3. Panji Patipati yang menurut Pararaton telah menyembunyikan Ranggawuni dan Mahisa Campaka, adalah seorang pejabat keraton Kadiri. Ia adalah pendukung utama Nararyya Seminingrat untuk memperoleh tahta kerajaan Kadiri.

Dengan demikian yang diperebutkan oleh Ranggawuni dan Mahisa Campaka adalah tahta Kadiri, bukan tahta Singosari.

C. Pranaraja dan Panji Patipati

(Berikut ini dipaparkan tentang Tata Pemerintahan Majapahit dan kerajan yang mendahuluniya. Tetapi mengingat cakupan bahasannya cukup luas dan terinci, maka pada kesempatan kali ini Cantrik Bayuaji hanya mencuplik sebagian kecil yang ada kaitannya dengan “tokoh” Pranaraja dan Panji Patipati saja).

Berdasarkan beberapa piagam dan prasasti, Pranaraja dan Panji Patipati adalah sebutan suatu jabatan tertentu dalam sistem pemerintahan kerajaan sejak zaman Mataram Hindu (Mataram Lama) sampai dengan Majapahit yang disandang oleh seseorang.

Dari Pararaton dan Nagarakretagama dapat diketahui bahwa sistem pemerintahan dan politik Majapahit sejak Mataram (Lama), sudah teratur dengan baik dan berjalan lancar. Raja dianggap sebagai penjelmaan dewa tertinggi, memegang otoritas politik tertinggi dan menduduki puncak hirarki kerajaan.

Adapun struktur birokrasi dalam hirarki di tingkat pusat adalah sebagai berikut:

  1. Raja.
  2. Yuwaraja/Kumaraja (Raja Muda).
  3. Rakryan Mahâmantrî Kratîni.
  4. Rakryan Mantri ri Pakirakiran.
  5. Dhammadhyaksa.

i. Raja.

Raja adalah pemegang otoritas tertinggi baik politik maupun kebijakan istana lainnya. Kedudukannya diperoleh dari hak waris yang telah digariskan secara turun temurun.

ii. Yuwaraja/Kumaraja (Raja Muda).

Jabatan ini biasanya diduduki oleh putera mahkota. Dari berbagai prasasti bahkan Nagarakretagama diketahui bahwa para putra mahkota sebelum diangkat menjadi raja pada umumnya diberi kedudukan sebagai raja muda.

iii. Rakryan Mahâmantrî Kratîni.

Jabatan ini merupakan jabatan yang telah ada sebelumnya. Sejak zaman Mataram Hindu yakni pada masa Rakai Kayuwangi. Pejabat-pejabat ini terdiri dari tiga orang yakni:

1. Rakryan Mahâmantrî i Hino,
2. Rakryan Mahâmantrî I Halu, dan
3. Rakryan Mahâmantrî I Sirikan.

Para pejabatnya semuanya bergelar kebangsawanan dyah, menandakan mereka adalah putra raja.

Semenjak zaman Majapahit, ketiga jabatan mahamantri tersebut merupakan jabatan kehormatan belaka, mereka tidak mempunyai wewenang secara langsung dalam urusan pemerintahan.

iv. Rakryan Mantri ri Pakirakiran.

Jabatan ini berupa kelompok penjabat tinggi yang berfungsi semacam “dewan menteri” atau “kabinet”. Terdiri dari lima orang pejabat negara yang diserahi urusan pemerintah Majapahit, jabatan ini baru ada sejak Majapahit berdiri, mereka adalah:

  1. Rakryan Mahapatih atau Patih Hamangkubumi.
  2. Rakryan Tumenggung atau Panglima Perang (Kerajaan).
  3. Rakryan Demung atau Pengatur Rumah Tangga Kerajaan.
  4. Rakryan Rangga atau Pembantu Panglima Kerajaan.
  5. Rakryan Kanuruhan atau Penghubung dan Protokoler Istana.

Para ‘tanda’ rakryan ini dalam susunan pemerintahan Majapahit sering disebut Sang Panca Ring Wilwatikta atau Mantri Amancanagara.

Dalam berbagai sumber urutan jabatan tidak selalu sama. Namun, jabatan Rakryan Mahapatih (Patih Hamangkubumi) adalah yang tertinggi, yakni semacam Perdana Menteri (Mantri Mukya). Untuk membedakan dengan jabatan patih yang ada di Negara Daerah (‘provinsi’) yang biasanya disebut Mapatih (Apatih) atau Rakryan Mapatih (Rakryan Apatih), maka dalam Nagarakretagama patih hamangkubumi dikenal dengan sebutan Apatih ring Tiktawilwadika.

Contoh: Gajah Mada bergelar Sang Mahamantri Mukya Rakyran Mahapatih.

v. Dhammadhyaksa.

Dhammadhyaksa yaitu pejabat tinggi yang bertugas dalam yurisdikdi dan masalah-masalah keagamaan. Jabatan ini diduduki oleh dua orang, yaitu:

  1. Dhammadhyaksa ring Kasaiwan untuk urusan agama Siwa dan,
  2. Dhammadhyaksa ring Kasogatan untuk urusan agama Buddha.

Lain-lain:

1) Paduka Bhatara

Pejabat lainnya dibawah raja adalah sejumlah raja-raja daerah (paduka bhatara) yang masing-masing memerintah sebuah negara daerah. Biasanya mereka adalah saudara-saudara raja atau kerabat dekat.

Dalam pelaksanaan tugas kerajaan, raja-raja daerah tadi dibebani tugas untuk mengumpulkan penghasilkan kerajaan, menyerahkan upeti, bulu bekti, ‘glondong pangareng-areng’ kepada perbendaharaan kerajaan dan pertahanan wilayah.
Mereka juga dibantu oleh sejumlah pejabat daerah bentuknya hampir sama dengan birokrasi di pusat, tetapi dalam lingkup yang lebih kecil. Dalam hal ini raja-raja daerah memiliki otonomi untuk mengangkat pejabat-pejabat birokrasi bawahannya.

2) Tanda

Selain pejabat birokrasi yang telah disebutkan tadi, masih banyak pula sejumlah pejabat sipil dan militer lainnya. Mereka itu adalah nayaka, pratyaya, dan drawwayahaji dan surantani, yaitu para punggawa praja atau pejabat negara atau pegawai kerajaan, yang bertugas pula sebagai pengawal raja dan lingkungan keraton.

Mereka disebut tanda, masing-masing diberi sebutan atau gelar, sesuai dengan jabatan yang emban.

Rakryan Mahâmantrî Kratîni, Sang Panca Wilwatikta, dan Dhammadhyaksa, digolongkan pula sebagai tanda

Di Indonesia sekarang ini, tanda dapat disamakan dengan menteri, jaksa, duta besar, panglima tentara, Pegawai Negeri Sipil; Pejabat Militer atau Pejabat Negara lainnya.

Sebutan gelar tanda yang masih berlaku hingga sekarang dan terbatas di lingkungan keraton Yogyakarta dan Surakarta adalah mangkubumi (perdana menteri); tetapi dengan berubahnya bentuk negara dari monarki ke republik, maka sebutan mangkubumi kini sudah tidak mempunyai makna politik kenegaraan.

Ditinjau dari gelar sebutannya, seperti yang tertulis pada berbagai piagam dan prasasti, tanda dibagi menjadi tiga golongan:

A. Golongan rakryan atau rake:

Jabatan yang disertai dengan gelar rake atau rakryan jumlahnya sangat terbatas:

1.  Mahâmantrî Kratîni:
Terdiri dari tiga jabatan, masing-masing:

a.  Rakryan Mahâmantrî i Hino,

b.  Rakryan Mahâmantrî i Halu, dan

c. Rakryan Mahâmantrî i Sirikan.

[Selanjutnya lihat iii. Rakryan Mahâmantrî Kratîni, di atas]

2.  Pasangguhan;
Jabatan ini setara dengan hulubalang atau panglima tentara. Tercatat hanya ada dua jabatan Pasangguhan, yaitu:

1. Sang Pranaraja dan

2. Sang Nayapati;

Pada awal Majapahit ada empat jabatan Pasangguhan, yakni dua orang tersebut di atas, ditambah:

  1. Rakryanmantri Dwipantara Sang Arya dan
  2. Pasangguhan Sang Arya

Contoh: Mapasanggahan Sang Pranajaya Rakryanmantri Empu Sina (tertulis di Piagam Penanggungan); Empu Sina adalah nama orang yang menjabat jabatan tersebut.

Siapa Pranaraja (Pararaton) yang menghasut Tohjaya agar melenyapkan Ranggawuni dan Mahisa Campaka?

Siapa pula Pranaraja (Prasasti Mula Malurung) yang masih tetap mengabdi kepada Sang Prabu Semi Ning Rat (Pararaton: Ranggawuni atau Wisnuwardhana).

Adakah Pranaraja itu tokoh yang sama atau berbeda? Tidak diperoleh penjelasan apapun tentang hal ini.

3.  Sang Panca Wilwatikta;
[lihat iv. Rakryan Mantri ri Pakirakiran.

4. Juru Pangalasan;

Pejabat daerah (mungkin setara dengan gubernur); pembesar daerah mancanegara (mancanegara di sini tidak diartikan sebagai “luar negeri”, karena pejabat tersebut tetap adalah abdi raja); Pangalasan adalah suatu jabatan di bawah raja; yang mempunyai hak dan wewenang untuk menyampaikan pesan-pesan atau perintah raja; pengantar tamu-tamu raja; penjaga kerajaan. Contoh: Pengalasan ri Batil.

5. Rakryan Patih;
Pejabat wakil raja pada negara-negara bawahan. Mungkin wakil raja (?)

B. Golongan: Arya;

Para tanda arya mempunyai kedudukan lebih rendah daripada rakryan. Ada berbagai jabatan yang disertai gelar arya. Mereka adalah:

1. Sang Arya Patipati;
2. Sang Arya Wangsaprana:
3. Sang Arya Jayapati;
4. Sang Arya Rajaparakrama;
5. Sang Arya Suradhiraja;
6. Sang Arya Rajadhikara;
7. Sang Arya Dewaraja; dan
8. Sang Arya Dhiraraja.

Karena jasa-jasanya seorang arya dapat dinaikan menjadi wreddhamantri atau mantri sepuh.

Pararaton menyebutkan bahwa Panji Patipati atau Sang Arya Panji Patipati adalah seorang pejabat keraton Kadiri, yang menyembunyikan Ranggawuni; (kelak sebagai raja dengan gelar abhiseka Wisnuwardhana atau Nararyya Semi Ning Rat) dan Mahisa Campaka (kelak bergelar abhiseka Narasinghamurti sebagai ratu angabhaya).

Gelar dan nama lengkap Sang Arya Apanji Patipati adalah Sang Pamegat ring Ranu Kabayan Sang Arya Apanji Patipati Empu Kapat.

Empu Kapat atau Pu Kapat adalah nama orang yang menjabat jabatan tersebut. Ia adalah pendukung kuat Nararyya Semi Ning Rat untuk memperoleh tahta kerajaan Kadiri, sepeninggal Nararyya Tohjaya.

Menurut Piagam Penanggungan berangka tahun 1218Ç/1296M, Sang Pamegat ring Ranu Kabayan Sang Arya Panji Patipati Empu Kapat diangkat sebagai Dhammadhyaksa ring kasaiwan (pejabat tinggi urusan agama Syiwa), pada masa pemerintahan Kretanagara.

C. Golongan: Dang Acarya;

Sebutan khusus yang diperuntukkan bagi para pendeta Siwa dan Buddha yang diangkat sebagai dhammadhyaksa (hakim tinggi) atau upapatti (pembantu Dhammadhyaksa ring Kasaiwan dan Dharmadhyaksa Kebuddhaan).

Upapatti semula hanya berjumlah lima, semuanya dalam kasaiwan (kesiwaan); kemudian ditambah dua upapatti kasogatan (kebuddhaan) di kandangan tuha dan kandangan rahe.

———-oOo———-

6 Tanggapan

  1. Manteb tenan ………..

  2. bagus sekali

  3. jdbk sdh sy copas baru sampe jld 20.2. Trims pakDhe.

  4. terima kasih pencerahan nya sayangnya lorong di rumah bu siti maiyah tsb kurang terdokumentasi dgn baik untuk cerita ke ke generasi penerus dan menjadi cagar budaya kota malang

    • Iya, pasti ada alasannya sendiri ketika pamong desa memerintahkan untuk menghentikan misi pemeriksaan lebih lanjut. Banyak kejadian aneh sebelum sumur itu ditutup . Misalkan penampakan Harimau putih yg sangat besar berkeliaran didesa Polowijen konon dipercaya penunggu desa Polowijen juga seekor ular tapa yg mengelilingi batas wilayah Polowijen. Dan banyak orang2 disekitar yg kerasukan mungkin sebagai peringatan dan akhirnya sumur itu ditutup pintu besi rapat dimulut sumur.

  5. Desa katang lumbang bisa jadi desa tempat saya lahir yaitu desa lumbang kecamatan lumbang kabupaten pasuruan.kenapa saya berkata begitu karena di desa saya ada makam kuno.makam siapa itu?penduduk setempat dari dulu mengatakan bahwa itu adalah makam mbah joyo,makam toh joyo.penduduk setempat dari dulu mengetahui hal itu.lokasinya berada kurang lebih 1 km kearah selatan dari perumahan desa lumbang…dan di daerah lokasi makam penduduk setempat menamakan joyo..itu adalah area ladang penduduk yang berada di sekitar lokasi makam.makamnya sendiri berada di sebelah timur dari sungai kecil dan sungainya sekarang tidak ada airnya.mungkin karna hutan disekitar sana sudah banyak yang beralih fungsi menjadi perkebunan warga.karna makam ini adalah makam bagian dari sejarah bangsa. Keadaan makam saat ini kurang terawat.sampai saat ini belum ada penelitian dari dinas purbakala atau dinas yang berhubungan dg sejarah yang kesana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s