Seri Kerajaan Singosari


[Waosan Ka-21]SUNdSS 09

TOHJAYA

Tohjaya tentu meradang. Kesempatan tak boleh hilang. Cerita ini tak boleh berakhir begitu saja. Selalu ada jalan untuk itu. Anusapati sangat menyukai adu ayam. Maka Tohjaya menantangnya.

Tohjaya bersiap untuk menjebaknya bila ia tanpa pengamanan. Aduan ayam telah melalaikan kewaspadaan Anusapati. Dan kesempatan itu pun terbuka. Anusapati tak menyadari jebakan yang ada. Dan bahkan setelah ia puas melihat ayam aduannya menang, hidupnya pun berakhir dikeris Empu Gandring, keris yang sama yang telah meminta nyawa dan darah lima orang sebelumnya.

Keluarga Sang Permaisuri Singosari bagai belanga tembikar yang terbanting di atas batu cadas hitam, pecah berkeping-keping, masing-masing menyimpan dendam di dalam hati.

Ken Dedes terbenam dalam linangan air mata yang tak putus-putusnya sepanjang hari, di hari terbunuhnya anak kesayangannya itu. Kematian Anusapati merupakan pukulan yang dahsyat bagi hidupnya. Ia yang selama hidupnya banyak mengalami kepahitan, penderitaan dan menahan perasaannya, Tetapi kali ini dukanya hampir tak tertanggungkan lagi, sehingga di dalam sisa hidupnya Ken Dedes sudah tak memiliki niat dan kemauan lagi.

Di tempat lain, tetapi masih di jêron bètèng istana Singosari yang megah; terdengar dendang tawa berkepanjangan ringkik iblis betina yang seolah-olah mendapatkan mangsa sesajian darah segar dan beberapa sosok mayat baru.

Garwa Selir Ken Umang. Yang kini adalah Ibunda Maharaja Singosari, suara derai tawanya melontar lepas tanpa dapat dikendalikan lagi, terbahak-bahak, melepaskan puncak kegembiraannya. Suara tawanya mengumandang ke seluruh bangsal. Keinginannya terwujud.

Pararaton mengabarkan:

Gumanti sira Panji Tohjaya, anjeneng ratu ring Tumapel.

[Maka bergantilah Apanji Tohjaya menjadi raja di Tumapel].

“Kabinet Tohjaya” pun disusun, sedangkan orang-orang yang setia pada Anusapati harus disingkirkan.

Tohjaya menganggap dirinya orang besar, orang paling besar di Kerajaan Singosari yang besar. Singosari memang besar tetapi apakah seluruh Singosari mengakui kebesaran Apanji Tohjaya.

Dendam itu masih terus menyala di dalam hati, maka Singosari tidak akan sempat membangun dirinya.

Singosari tentu akan disibukkan oleh dendam yang tiada henti. turun dan maraknya raja yang satu disusul dengan naik dan tumbangnya raja yang lain, menyusul rangkaian pembunuhan dan darah yang ditumpahkan.

Dendam yang sulit untuk dihapuskan, bahkan dendam itu sekan-sekan semakin dalam. Tuntutan untuk membalas kematian dengan kematian. Dan ini pasti akan membakar habis Singosari, betapun besar kerajaan itu. Singosari akan hancur terkoyak-koyak dengan sendirinya.

Hidup Tohjaya meski berkuasa di atas tahta kencana, senantiasa diliputi ketakutan. Dibenaknya selalu dihantui rasa curiga kepada siapapun, juga dendam. Dendam kepada siapa saja yang dianggap tidak sejalan dengan keinginannya, terutama kepada anak keturunan Ken Dedes. Dendam yang ditanamkan sejak kecil oleh Ken Umang ibundanya, telah membentuk menjadi wataknya yang sekarang. Sejak Tohjaya kecil, telah diajarinya agar selalu membenci anak keturunan Ken Dedes, terutama Anusapati. Kebenciannya kepada Anusapati dan adik-adiknya yang lahir dari rahim Ken Dedes telah mendorong sampai ke puncaknya dengan segala macam cara, yang berujung pada pembunuhan Anusapati.

Namun, lebih daripada itu ia menjadi kecewa atas keberadan dirinya dimuka bumi ini. Dia berusaha lari dari kenyataan itu. Sang Apanji Tohjaya telah menyia-nyiakan kesempatannya sebagai seorang maharaja, ia tak hirau lagi dengan negara. Baginya hidup adalah kesenangan, hidup bermewah-mewahan. Adu ayam, mabuk dan mengumpulkan perempuan-perempuan dari seluruh negeri untuk dijadikan gundiknya.

Singosari yang megah mulai rusak kembali, Singosari mulai kehilangan pamornya, maka cita-cita brahmana Syiwa agar menjadikan negara gemah ripah loh jinawi pun di Jawadwipa menjadi padam.

Tohjaya belajar dari kesalahan. Ia tak ingin menyimpan musuh dalam selimut. Maka keturunan Ken Dedes harus dibasmi. Dimulai dari dua bocah kecil yang tak bersalah. Ranggawuni dan Mahisa Campaka.

Pararaton mengabarkan:

Hana ta putran ira Sang Anusapati, haran sira Ranggawuni. Kaprenah kaponakan den ira Panji Tohjaya. Sira panji Wongateleng sanak ira Panji Tohjaya tunggal ing bapa, sahu ibhu. Aputra ta sira ring Mahisa Campaka, kaprenah pahulunan den ira Panji Tohjaya, ……

[Sang Anusapati mempunyai seorang anak laki-laki bernama Ranggawuni, dia adalah kemenakan Sang Apanji Tohjaya. Adapun Apanji Mahisa Wonga Teleng, saudara Apanji Tohjaya juga, dari ayah yang sama tetapi beda ibu, ia mempunyai seorang anak lak-laki bernama Mahisa Campaka, dengan begitu ia kemenakan Sang Apanji Tohjaya juga.]

Ditingkah hasutan pembantunya yang bernama Pranaraja, Tohjaya pun berniat membunuh kedua kemenakannya itu, Ranggawuni putra Anusapati, cucu Tunggul Ametung dan Ken Dedes; Mahisa Campaka putra Mahisa Wonga Teleng, cucu Ken Arok dan Ken Dedes, sebagai lawan yang dianggapnya berbahaya bagi kelangsungan tahtanya.

Asahur sembah sira Pranaraja matur: ‘ Singgih pukulun andhika, paduka Bhatara, apekik pekik ing rupa. Sama wani wani sira kalih, anghing pukulun upaman ira kadi wuwudhun munggwing nabhi, tan wurung sira amatyani ri puhara’.

[Sembah Sang Pranaraja: “seperti titah tuanku itu, keduanya memiliki wajah yang tampan, dan gagah, Tetapi Tuanku, mereka dapat diibaratkan sebagai bisul di pusat yang tak urung akan membahayakan kedudukan tuanku, bila pecah pada akhirnya.”]

Meneng talampakan ira Bhatara, sangsaya karasa atur ira Pranaraja. Runtik Sang Apanji Tohjaya,

[Paduka Batara terdiam, hasutan Pranaraja nampak termakan olehnya, marahlah Sang Apanji Tohjaya,]
Senapati Lembu Ampal diberi tugas untuk melaksanakan pembunuhan itu.

teher angundhang ing sira Lembhu Ampal. Kon anghilangaken ing Raden kalih. Andhikan ira Panji Tohjaya ring sira Lembhu Ampal: ‘Mon luput den ira ngilangaken ing ksatriya roro iku. Ko dhak hilangaken!’

[dipanggillah Lembu Ampal, diperintahkan kepadanya untuk melenyapkan kedua pangeran itu. Berkatalah Apanji Tohjaya kepada Lembu Ampal: “Jika kamu tidak berhasil melenyapkan dua orang kesatria itu, kamulah yang akan kulenyapkan.”]

Duk sira Panji Tohjaya aken angilangana ri Raden kalih, ring sira Lembhu Ampal, hana wonten brahmana sedhang hanangka paheni, ring sira Panji Tohjaya. Awas den ira Dhanghyang angrengha, yan Raden kalih kinen hilangakena.

[Ketika Apanji Tohjaya memberi perintah kepada Lembu Ampal untuk melenyapkan kedua pangeran itu, ada seorang brahmana pendeta istana yang sedang melakukan upacara keagamaan untuk Apanji Tohjaya. Dang Hyang itu mendengar, bahwa kedua pangeran itu akan dilenyapkan.]

Awelas sang brahmana ring raden kalih. Awelas yen sira Lembhu Ampal kang kinen angilangakena. Yen luputa kalih, kaki sira puniki, den ipun Lembhu Ampal. Pun Lembhu Ampal gumanti hilangaken den ira Sri Maharaja’.

[Sang Brahmana menaruh belas kasihan kepada kedua pangeran itu, diberitahukan kepadanya bahwa Lembu Ampal telah diberi perintah untuk melenyapkan keduanya. Jika Lembu Ampal tidak berhasil, maka sebagai gantinya Lembu Ampal lah yang akan dilenyapkan oleh Sri Maharaja.]

Lingira Raden kalih: ‘Aron ta sira kaki, asonetana rumuhan.’ Pinariringaken manawi brahmanan ira adwa. Yata Raden sama maring sira Panji Patipati.

[Kedua pangeran itu berkata: “Wahai Bapa Dang Hyang, apa salah dan dosa kami berdua.”

Selanjutnya Sang Brahmana menyarankan agar kedua pangeran itu sebaiknya bersembunyi terlebih dahulu. Tetapi karena bimbang, takut kalau-kalau brahmana itu berbohong, maka kedua pangeran itu pergi ke rumah Apanji Patipati.]

Selanjutnya Pararaton mengabarkan:

‘Isun asenetan ing umah ira. Anengguh isun harep hilangakena den ira Bharata. Yen isun atut harep hilangakena, nora dosan isun’. Pinarurung aken den ira Panji Patipati. Rahaden atut. Yen pakan ira ingilangaken pun Lembu Ampal sinalahan.

[(Kata pangeran itu): “Panji Patipati, kami menyelamatkan diri mengungsi di rumahmu, karena kami akan dilenyapkan oleh Batara, Kami tidak tahu, apa kesalahan kami.”

Mendengar hal itu, Apanji Patipati mencoba mencari tahu kebenaran berita itu, katanya kemudian: “Tuanku berdua, memang betul tuanku berdua akan dilenyapkan, Lembu Ampal lah telah ditugaskan untuk itu.”]

Mangkin henak den ira senetan kalih, rinuruh sira rahaden kalih, tan kapanggih. Pinarurungaken tan hana parungon paran ira.

[Keduanya telah bersembunyi dengan serapi-rapinya. Tidak ada siapapun yang tahu keberadaannya. Maka diperintahkan (oleh Tohjaya) untuk mencari kedua pangeran itu, tetapi keduanya tidak dapat ditemukan. Disebarlah para petugas sandi negara untuk mencari keduanya, tetapi mereka tidak mendapatkannya.]

Lembu Ampal menjadi buron. Lembu Ampal dianggap orang yang paling bertanggungjawab atas hilangnya Ranggawuni dan Mahisa Campaka, sebagai orang yang diberi tugas untuk membunuh keduanya. Lembu Ampal telah gagal melaksanakannya dan kedua pangeran tersebut menghilang dari lingkungan istana Singosari.

Selanjutnya Pararaton menceritakan:

Yata sinenggeh sira Lembhu Ampal sakarahita lawan raden kalih den ira Bhatara. Samangka sira Lembhu Amphal hingilangaken. Malayu asenetan tetanggan ira Panji Patipati

[Lembu Ampal didakwa bersekutu dengan kedua pangeran itu oleh Batara, maka diperintahkan olehnya agar Lembu Ampal dilenyapkan juga. Maka larilah Lembu Ampal, bersembunyi di dalam rumah tetangga Apanji Patipati.]

Angrunghu sira Lembhu Ampal, yen Raden hana ing panji patipati. Yata sira Lembhu Ampal, marek ing rahaden kalih. Atur ira Lembhu Ampal ring rahaden:’Manira angungsi ring paken ira pukulun. Dosan ira kinen angilangakena ring pakan ira den ira Bhatara. Mangkin ta manira anedha cineran, manawi pakan ira tan kandhel, den pakan ira henakane sira angawula ring pakanira.

[Lembu Ampal mendengar, bahwa kedua pangeran berada di tempat tinggal Apanji Patipati. Lembu Ampal pergi menghadap kepada kedua pangeran itu. Ia berkata: “Hamba berlindung kepada tuan hamba, hamba merasa bersalah, karena hamba diperintahkan melenyapkan tuanku berdua oleh Batara. Sekarang hamba bersumpah, saya harap tuanku berdua percaya pada hamba. Ijinkanlah hamba mengabdi kepada paduka tuanku berdua.”]

Lembu Ampal berbalik memilih bergabung dan mendukung kedua pangeran yang hendak dibunuhnya itu. Lembu Ampal sadar bahwa pemerintahan Tohjaya adalah pemerintahan yang tidak sah, karena Tohjaya tidak berhak atas tahta Singosari. Keturunan Ken Dedeslah yang berhak atas tahta Singosari itu. Maka Lembu Ampal pun menyusun rencana kudeta terhadap pemerintahan Tohjaya.

Didorong oleh perasaan berdosa kepada kedua pangeran itu, Lembu Ampal minta izin kepada keduanya untuk kembali ke Singosari, Lembu Ampal bermaksud membunuh Tohjaya, yang telah menjerumuskannya pada upaya pembunuhan pewaris sah tahta Singosari. Tetapi Yang Maha Agung telah menolongnya dari upaya keji itu.

Lembu Ampal kemudian melakukan adu domba pada dua kelompok pasukan khusus tentara kerajaan Singosari, yaitu Pasukan Khusus Tentara Sinelir dan Pasukan Khusus Tentara Rajasa, sehingga terciptalah kekacauan.

Sampun cineran, awatara kalih dina, sira raden Lembhu Amphal marek ing raden kalih. Matur ing raden: ‘Punapa wekas ira rahaden pakan ira, tan wonten puharan ing asenetan? .’

[Setelah bersumpah. Dua hari kemudian Lembu Ampal menghadap kepada kedua pangeran itu, dan berkata: “Tuanku, tak akan menyelesaikan masalah jika tuanku berdua terus bersembunyi dan berdiam diri di sini. Bagaimanapun ini harus berakhir,]

Lembu Ampal melakukan “perang gerilya”, dengan menciderai orang-orang dari kedua pasukan khusus itu.

Manira anudhuka wong Rajasa mene, sedhang ipun ababanyu.

[sebaiknya hamba akan menusuk salah satu anggota tentara Rajasa, nanti kalau mereka sedang pergi kesungai.”]

Tatkala sore, anudhuk wong Rajasa sira Lembhu Ampal, ingaloken malayu maring Sinelir. Ujar ing wong Rajasa: ‘Wong Sinelir anudhuk ing wong Rajasa’. Watara kalih dina wong sinudhuk den ira Lembhu Ampal, binuru malayu maring Rajasa. Ujare wong Sinelir.’

[Tatkala sore hari Lembu Ampal menusuk seorang tentara Rajasa, ketika orang berteriak, ia lari kepada tentara orang Sinelir. Kata orang Rajasa: “Orang Sinelir menusuk orang Rajasa. Kata orang Sinelir: “Orang Rajasa menusuk orang Sinelir.”]

Pasukan Tentara Kerajaan Singosari lainnya yaitu para Pasukan Pelayan Dalam dan Pasukan Pengawal Istana berusaha melerai mereka yang bertengkar itu, tetapi mereka tidak mampu mendamaikan kerusuhan dan kekacauan tersebut, sehingga menyebabkan Tohjaya berniat menghukum mati para panglima tentaranya.

Wekasan atukaran wong Rajasa lawan wong Sinelir, rame aleng lengan. Sinapih saking dalem tan ahidep. Runtik sira Panji Tohjaya, ingilangaken kalih batur pisan.‘

[Akhirnya orang orang pasukan tentara Rajasa dan orang orang pasukan tentara Sinelir itu berkelahi, kisruh dan menimbulkan kekacauan. Pasukan tentara Istana berusaha mendamaikan pertikaian itu, tetapi tidak berhasil. Apanji Tohjaya marah, dia hendak menghukum mati semua orang dari pasukan yang bertikai itu.

Angrunghu sira Lembhu Ampal, yen wong kalih batur ingillangaken. Mara sireng wong Rajasa sira Lembhu Ampal, ling ira Lembhu Ampal: ‘Yen sira hingilangaken, angungsiya sira ring rahaden kalih sira, apan sama hana rahaden.’

[Lembu Ampal mendengar, bahwa kedua belah pihak pasukan yang berkelahi itu ada yang dihukum mati, maka Lembu Ampal pergi ke Panglima Pasukan Khusus Tentara Rajasa. Kata Lembu Ampal: “Kalau kamu akan dilenyapkan (oleh Sang Apanji Tohjaya) hendaknya kalian meminta perlindungan kepada kedua pangeran, karena kedua pangeran itu masih ada. (Kedua pangeran itu bersedia memberikan perlindungan kepada kalian)”.]

Mendengar keputusan itu, para perwira dan seluruh anggota pasukan khusus tentara kerajaan Singosari itu segera bergabung dengan kelompok Ranggawuni, tentu saja atas ajakan Lembu Ampal. Bahkan ia berhasil menghimpun dukungan dari kedua kelompok pasukan khusus tentara Singosari itu, untuk bersama-sama mendukung Ranggawuni dan Mahisa Campaka.

Sanggup ing wong Rajasa, parekakena ugi Ki Lembhu Ampal, wong batur puniki bhinakta pinituhan ing wong Rajasa parek ing raden kalih, atur ira wong Rajasa:
‘Pukulun pakan ira ya kita a kawula Rajasa. Saandhika pakanira, pakanira corana, manawi tan tuhu pangawulan ipun. ‘Paheya den ipun ira angawula, mangkana wong Sinelir sama ingundhang pinituhan ipun.
Tunggal sanggup ipun lawan wong Rajasa tur pinatut, kalih batur sampun kacoran. Winekas mene sore, padha merene tur amawa sahayan ira sowang sowang. Pada ambarananga ring Kedhaton, sama amit mantuk
,

[Panglima Tentara Rajasa menyatakan kesanggupannya: “Nah, bawalah kami menghadap kepada kedua pangeran itu, wahai Lembu Ampal.”
Maka Panglima Tentara Rajasa itu dibawa menghadap kepada Ranggawuni dan Mahisa Campaka. Panglima Tentara Rajasa itu berkata: “Tuanku, kami mohon hendaknya tuanku berdua berkenan melindungi kami dan pasukan kami. Apa saja yang tuan titahkan kepada kami. Kami bersumpah akan setia kepada tuan berdua dan menjunjung tinggi titah tuanku. Kami akan bersungguh sungguh menghamba kepada paduka tuanku.”

Demikian halnya dengan Pasukan Khusus Tentara Sinelir, dipanggilah panglima mereka, dan seperti kesanggupan Panglima Tentara Rajasa, Panglima Tentara Sinelir pun bersedia mengabdikan dirinya di bawah kepemimpinan Rangawuni dan Mahisa Campaka.

Selanjutnya kedua belah pihak telah didamaikan dan telah disumpah semua, lalu dipesan: “Petang senja hari nanti kalian datang kemari, dan bawalah pasukanmu. Kita akan menyerbu istana.” Kemudian kedua panglima Sinelir dan Rajasa bersama-sama memohon diri.]

Setelah mendapat dukungan kedua pasukan tentara itu, segeralah mereka melakukan persiapan. Mereka segera saling menghubungi, memusatkan kedudukan pasukan, dengan mengumpulkan seluruh anggota tentara dari pasukan khusus itu, dan dipilihlah saat yang tepat untuk menggempur ibukota Tumapel.

wong Sinelir lawan wong Rajasa, katekan sore masa sama rawuh kalih batur amawa sahaya. Sama marek ing hayun ira raden kalih. Sama samo, annuli mangkata mbaranang mareng jro kadhataon.

[Setelah senja hari Pasukan Tentara Rajasa dan Pasukan Tentara Sinelir datang bersama-sama menghadap kepada kedua pangeran, mereka keduanya saling menyapa, lalu mereka berangkat menyerbu kedalam istana.]

Ranggawuni dan Mahisa Campaka berpesan bahwa penyerbuannya ke Singosari bukanlah dilandasi rasa dendam, tetapi untuk kejayaan Singosari semata-mata, yang dirasakan semakin terpuruk.

Maka terjadilah pemberontakan yang dipimpin oleh Ranggawuni dan Mahisa Campaka terhadap Tohjaya di istana Tumapel. Dan Tohjaya yang lalai itupun harus mati.

Catatan tentang tokoh-tokoh: Lembu Ampal,
Pranaraja dan Panji Patipati

1. Lembu Ampal

Tidak banyak diketahui tentang keberadaan tokoh ini. Hanya Kitab Pararaton saja yang menceritakan bahwa Lembu Ampal adalah salah seorang pengawal Tohjaya, yang ditugaskan sebagai ekskutor Ranggawuni dan Mahisa Campaka, yang akhirnya membelot dan bergabung dengan Ranggawuni dan Mahisa Campa, untuk melakukan kudeta terhadap pemerintahan Tohjaya.

2. Pranaraja

Pårå kadang dapat membaca kembali Dongeng Arkeologi & Antropogi pada:

1.Waosan ka-10 PdLS 62 On 8 Maret 2010 at 10:09 dan

2. Waosan ka-20. SUNdSS 05 On 17 April 2010 at 14:54; atau di

3.Halaman Lain, Jejak Masa Lalu, Dongeng Arkeologi.

Tokoh Pranaraja dalam Pararaton disebut sebagai pembantu Tohjaya yang mengusulkan supaya Ranggawuni dan Mahisa Campaka dibunuh. Pengarang Pararaton mengetahui adanya tokoh bernama Pranaraja yang pernah mengabdi pada Tohjaya. Tokoh Pranajaya oleh penulis Pararaton dikisahkan sebagai seorang penghasut.

Menurut Prasasti Mula Malurung, Pranaraja adalah seorang pejabat di Daha Kadiri yang memperoleh anugerah desa Mula dan Malurung menjadi desa Sima (perdikan) karena loyalitasnya yang berhasil memimpin membuat tempat berbakti kepada nenek buyut prabu Seminingrat atau Wisnuwardana.

Prasasti Mula Malurung hanya menjelaskan bahwa Sang Pranaraja bertindak sebagai ‘abdi’ Sang Prabu Seminingrat,

Disebutkan pula bahwa pada waktu penyucian tanah candi, Sang Pranaraja bekerja sangat keras. Selain itu, pada waktu pencandian buyut Sang Prabu Seminingrat di Kalang Bret, Sang Pranaraja memimpin segala pekerjaan sampai selesai. Pada waktu Sang Prabu Seminingrat meresmikan candi makam di Pager yang bernama Narasinghardaya, Sang Pranaraja bertindak seolah-olah alat Sri Baginda Seminingrat.

Pranaraja yang mendapat hadiah desa Mula dan Malurung disebutkan sebagai seorang pegawai kerajaan Kadiri yang setia dan rajin. Ia dan keturunannya adalah orang-orang yang loyalis kepada raja. Ia mengabdi pada tiga raja sebelum Kertanagara yaitu Bhatara Parameswara, Guningbhaya, dan Tohjaya.

Adapun Kertanagara saat itu (1255) baru menjadi raja bawahan di Kadiri, belum menjadi raja Singosari.

3. Panji Patipati

Pararaton menyebutkan bahwa Panji Patipati adalah seorang pejabat keraton Kadiri, yang menyembunyikan Ranggawuni (kelak sebagai raja dengan gelar abhiseka Wisnuwardhana atau Nararyya Semi Ning Rat) dan Mahisa Campaka (kelak bergelar abhiseka Narasinghamurti sebagai ratu angabhaya); mereka berdua termasuk “orang yang dicari pemerintah” atau “DPO”nya pemerintahan Tohjaya.

Nama lengkapnya adalah Sang Pamegat ring Ranu Kabayan Sang Apanji Patipati. Ia adalah pendukung kuat Nararyya Semi Ning Rat untuk memperoleh tahta kerajaan Kadiri, sepeninggal Nararyya Tohjaya.

Berkat dukungan Sang Apanji Patipati, Nararyya Semi Ning Rat berhasil menyatukan kembali kerajaan Singosari yang diwarisinya dari Anusapati dan kerajaan Kadiri yang diwarisinya melalui pernikahannya dengan Putri Waning Hyun dari Bhatara Parameswara.

Setelah Ranggawuni naik tahta bersama ratu angabhaya Mahisa Campaka, yang disebut oleh Pararaton sebagai Någhå Roro Saléng atau bagaikan Dewa Madhawa (Wisnu) dan Indra menurut Nagarakretagama.

Atas jasanya Panji Patipati diangkat sebagai dharmadikarana (hakim tinggi), seperti tertulis pada Prasasti Gunung Wilis berangka tahun 1191Ç/1269M.

Hubungan yang harmonis antara Wisnuwardhana dan Panji Patripati ini dijaga baik sampai turun menurun, hingga ke putranya Kretanagara.

Menurut Piagam Penanggungan berangka tahun 1218Ç/1296M, Panji Patipati dengan gelar Empu Kapat diangkat sebagai dharmmadyaksa ringkasaiwan (pejabat tinggi urusan agama Syiwa), pada masa pemerintahan Kretanagara.

Sebuah keterangan yang sangat menarik tentang penobatan Nararyya Semi Ning Rat, kita dapati pada prasasti ini, bahwa sepeninggal Nararyya Tohjaya, semua pejabat keraton dengan dipimpin oleh Sang Apanji Patipati dengan jabatannya yang baru menobatkan Nararyya Semi Ning Rat sebagai raja Tumapel (nararyya smining rat ta pinasangaken prajapatya).

Penjelasan ini menimbulkan kesan tentang tidak adanya calon raja yang sah yang duduk di tahta kerajaan, atau menunjukkan bahwa terdapat beberapa orang yang tidak berhak, tetapi mereka berusaha untuk dapat menduduki tahta kerajaan.

6 Tanggapan

  1. Manteb tenan ………..

  2. bagus sekali

  3. jdbk sdh sy copas baru sampe jld 20.2. Trims pakDhe.

  4. terima kasih pencerahan nya sayangnya lorong di rumah bu siti maiyah tsb kurang terdokumentasi dgn baik untuk cerita ke ke generasi penerus dan menjadi cagar budaya kota malang

    • Iya, pasti ada alasannya sendiri ketika pamong desa memerintahkan untuk menghentikan misi pemeriksaan lebih lanjut. Banyak kejadian aneh sebelum sumur itu ditutup . Misalkan penampakan Harimau putih yg sangat besar berkeliaran didesa Polowijen konon dipercaya penunggu desa Polowijen juga seekor ular tapa yg mengelilingi batas wilayah Polowijen. Dan banyak orang2 disekitar yg kerasukan mungkin sebagai peringatan dan akhirnya sumur itu ditutup pintu besi rapat dimulut sumur.

  5. Desa katang lumbang bisa jadi desa tempat saya lahir yaitu desa lumbang kecamatan lumbang kabupaten pasuruan.kenapa saya berkata begitu karena di desa saya ada makam kuno.makam siapa itu?penduduk setempat dari dulu mengatakan bahwa itu adalah makam mbah joyo,makam toh joyo.penduduk setempat dari dulu mengetahui hal itu.lokasinya berada kurang lebih 1 km kearah selatan dari perumahan desa lumbang…dan di daerah lokasi makam penduduk setempat menamakan joyo..itu adalah area ladang penduduk yang berada di sekitar lokasi makam.makamnya sendiri berada di sebelah timur dari sungai kecil dan sungainya sekarang tidak ada airnya.mungkin karna hutan disekitar sana sudah banyak yang beralih fungsi menjadi perkebunan warga.karna makam ini adalah makam bagian dari sejarah bangsa. Keadaan makam saat ini kurang terawat.sampai saat ini belum ada penelitian dari dinas purbakala atau dinas yang berhubungan dg sejarah yang kesana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s