Seri Kerajaan Singosari


[Waosan ka-14] PdLS 73

lanjutan dongeng: ANUSAPATI >< TOHJAYA Parwa ka-2: intrik berdarah yang tak henti

Kemungkinan besar sebelum meninggal, Anusapati berpesan kepada keluarganya agar kelak candi yang didirikan untuknya supaya dihiasi dengan cerita Garudeyå. Dia sengaja berpesan demikian karena bertujuan meruwat ibunya, Ken Dedes, yang sangat dicintainya, namun selalu menderita selama hidupnya dan belum sepenuhnya menjadi wanita utama walaupun dalam kitab Pararaton dia disebut sebagai Ardanariswari atau wanita utama.

Dikisahkan bahwa Ken Dedes adalah putri Mpu Purwa yang cantik jelita tiada tara dari pedepokan Panawijen di daerah Malang Selatan. Kecantikan Ken Dedes begitu tersohor hingga akuwu Tunggul Ametung terpaksa menggunakan kekerasan untuk dapat menjadikan dia sebagai prameswarinya (istri utama).

Setelah menjadi istri Tunggul Ametung, ternyata Ken Dedes pula menjadi penyebab kematian suaminya yang sekaligus ayah Anusapati karena dibunuh oleh Ken Arok, ayah tirinya. Hal ini terjadi karena Ken Arok, ditaman Boboji kerajaan Tumapel, secara tak sengaja melihat ada bagian tubuh Ken Dedes yang memancarkan sinar kemilau.

Setelah diberitahu oleh pendeta Lohgawe guru spiritualnya bahwa wanita mana saja yang mengeluarkan sinar demikian adalah wanita Ardanariswari yakni wanita yang mampu melahirkan trah raja-raja besar di Jawa dan sesuai dengan ambisi Ken Arok yang ingin menjadi raja maka diapun membunuh Tunggul Ametung dan memaksa kawin dengan Ken Dedes.

Sementara itu setelah mengawini Ken Dedes, ternyata Ken Arok juga memiliki istri lain bernama Ken Umang. Dan menurut cerita tutur Ken Arok lebih menyayangi Ken Umang daripada Ken Dedes; Sehingga Ken Dedes terabaikan.

[Pertanyaan untuk pårå kadang:”Mengapa selalu terjadi, bila seorang lelaki mempunyai dua orang istri, selalu istri muda yang lebih disayang daripada istri pertama?]

Berlandaskan uraian diatas maka pemberian cerita Garudeyå pada candi Kidal oleh Anusapati tiada lain bertujuan untuk meruwat ibunya Ken Dedes yang cantik jelita namun nestapa selama hidupnya. Anusapati sangat berbakti dan mencintai ibunya. Dia ingin ibunya menjadi suci kembali sebagai wanita utama dan sempurna lepas dari penderitaan serta nestapa.

Tohjaya

Menurut Pararaton, Tohjaya adalah putra Ken Arok yang lahir dari selir bernama Ken Umang.

Hana ta bini ajin irå Ken Angrok anom, haran sirå Ken Umang. Sira ta apatutan lanang haran sirå Panji Tohjaya. “Ken Angrok mempunyai isteri muda bernama Ken Umang, ia melahirkan anak laki laki bernama Panji Tohjaya,….. [Pararaton 03]

Kisah hidup sebagai bukti sejarah terhadap Tohjaya terdapat dalam Pararaton, yang ditulis ratusan tahun sesudah zaman Kerajaan Tumapel sehingga kebenarannya perlu dibuktikan. Nagarakretagama yang ditulis tepat pada zaman Raja Dyah Jiwana Hayam Wuruk dari Majapahit (1365) ternyata sama sekali tidak menyebutkan adanya nama Tohjaya.

Menurut Nagarakretagama, sepeninggal Anusapati yang menjadi raja selanjutnya adalah Wisnuwardhana (Ranggawuni).

Nama Tohjaya justru ditemukan dalam Prasasti Mula Malurung yang dikeluarkan oleh Kertanagara atas perintah ayahnya yang bernama Maharaja Seminingrat (nama Wisnuwardhana versi prasasti) tahun 1255.

Prasasti Mula Malurung, dikisahkan pengabdian Pranaraja terhadap raja-raja sebelumnya. Kertanagara disebut sebagai putra Seminingrat dan Waning Hyun. Waning Hyun adalah putri Parameswara. Pengganti Parameswara adalah Guningbhaya lalu Tohjaya. Sepeninggal Tohjaya, Seminingrat menyatukan kembali kerajaan Tumapel.

Cuplikan Lempengan IIIA dan B [mohon maaf cantrik bayuaji tidak mendapatkan teks dalam bahasa aslinya]

………Sang Pranaraja mengabdi kepada Sang Prabu Guning Bhaya. Sepeninggal sang prabu Guning Bhaya, Nararya Tohjaya naik tahta. Nararya Tohjaya adalah kakak sang prabu Guning Bhaya dan paman sang prabu Seminingrat. ………

Prasasti ini telah membuktikan kalau Tohjaya merupakan tokoh sejarah yang benar-benar ada, bukan sekadar tokoh fiksional ciptaan Pararaton.

Akan tetapi, dalam prasasti itu ditulis bahwa Tohjaya bukan raja Tumapel atau Singosari, melainkan raja Kadiri yang menggantikan adiknya, bernama Guningbhaya. Ada pun Guningbhaya menjadi raja setelah menggantikan kakaknya yang bernama Bhatara Parameswara. Ketiga raja Kadiri tersebut merupakan paman dari Seminingrat. Selain itu, tertulis pula bahwa pendiri Kerajaan Tumapel adalah Bhatara Syiwa yang wafat di atas tahta kencana, yaitu kakek dari Seminingrat.

Berdasarkan Prasasti Mula Malurung, ditafsirkan kembali bahwa Kerajaan Kadiri runtuh tahun 1222 akibat pemberontakan Bhatara Syiwa (alias Ken Arok). Ia kemudian mendirikan Kerajaan Tumapel di mana Kadiri menjadi negeri bawahan, dan diserahkan kepada putranya yang bernama Bhatara Parameswara. Hal ini membuat cemburu Anusapati yang merasa sebagai putra tertua. Mungkin ia memang benar membunuh Bhatara Syiwa karena menurut Prasasti Mula Malurung raja pertama Tumapel itu wafat di atas tahtanya.

Prasasasti Sapi Kerep. Semakin banyak ditemukan peninggalan sejarah berupa prasasti, candi bahkan rontal, maka semakin banyak informasi dari masa lalu yang kita peroleh.

Temuan mutakhir pada Februari 2001, di sebuah sawah milik seorang petani di Desa Sapi Kerep, Kecamatan Sukapura, Probolinggo, Jawa Timur, berupa delapan lempeng tembaga Prasasti Sapi Kerep (berangka tahun 1275 Masehi).

Pada Mei tahun yang sama, dari lapak penjual barang loak di Kediri, Jatim, ditemukan pula tiga lempeng kelanjutan Prasasti Mula Malurung (berangka tahun 1255 Masehi). Sebelumnya pada tahun 1975 di daerah yang sama juga ditemukan 10 lempeng prasasti serupa.

Kebenaran sejarah ternyata bersifat hipotetik. Sejarah dapat diperbarui atau direvisi, selama kajian terhadap penemuan-penemuan arkelogis yang menunjang masih terjadi.

Ternyata kajian terhadap temuan Prasasti Mula Malurung dan Sapi Kerep ini terbukti merevisi sejarah Kerajaan Singosari yang kini berkembang. Revisi yang sangat menonjol dengan temuan prasasti Mula Malurung dan prsasti Sapi Kerep, misalnya, dari kisah menyedihkan berupa intrik berdarah untuk perebutan kekuasaan pemerintahan yang tak berkesudahan di Singosari.

Melalui kajian Prasasti Mula Malurung, ternyata ditemukan kisah baru yang mampu mempertajam lagi intrik berdarah tersebut.

Sepeninggal Rajasa alias Bhatara Syiwa setelah menaklukkan Kadiri, kerajaan terpecah menjadi dua, Tumapel (Singosari) dipimpin Anusapati sedangkan Kadiri dipimpin Bhatara Parameswara (alias Mahisa Wonga Teleng). Parameswara digantikan oleh Guningbhaya, kemudian Tohjaya. Sementara itu, Anusapati digantikan oleh Seminingrat yang bergelar Wisnuwardhana.

Prasasti Mula Malurung menyebutkan juga bahwa sepeninggal Tohjaya, Kerajaan Tumapel dan Kadiri dipersatukan kembali oleh Seminingrat. Kadiri kemudian menjadi kerajaan bawahan yang dipimpin oleh putranya, yaitu Kertanagara.

Pararaton dan Nagarakretagama menyebutkan adanya pemerintahan bersama antara Wisnuwardhana dan Narasinghamurti. Dalam Pararaton disebutkan nama asli Narasingamurti adalah Mahisa Campaka. Apabila kisah kudeta berdarah dalam Pararaton benar-benar terjadi, maka dapat dipahami maksud dari pemerintahan bersama ini adalah suatu upaya rekonsiliasi antara kedua kelompok yang bersaing. Wisnuwardhana merupakan cucu Tunggul Ametung sedangkan Narasingamurti adalah cucu Ken Arok.

Sementara itu, sepeninggal Bhatara Parameswara di Kadiri, tahta jatuh kepada adiknya, bernama Guningbhaya. Kemudian sepeninggal Guningbhaya tahta jatuh kepada kakaknya, yaitu Tohjaya.

Dalam Pararaton, tokoh Bhatara Parameswara identik dengan Mahisa Wonga Teleng, putra tertua pasangan Ken Arok dan Ken Dedes. Sedangkan Guningbhaya identik dengan adik kandung Mahisa Wonga Teleng, yaitu Agnibhaya. Sementara itu, Tohjaya sendiri disebut sebagai kakak Guningbhaya.

Berita ini sesuai dengan Pararaton di mana Tohjaya merupakan putra tertua Ken Arok yang lahir dari Ken Umang. Maka, dapat dipastikan kalau Tohjaya lahir lebih dulu daripada Agnibhaya.

Yang berbeda dengan Pararaton adalah, Tohjaya merupakan raja Kadiri bukan raja Tumapel atau Singasori. Jika benar ia melakukan kudeta disertai pembunuhan, mungkin ia melakukannya terhadap Guningbhaya, bukan terhadap Anusapati. Kiranya, Tohjaya yang hanya putra selir membunuh Guningbhaya untuk merebut tahta Kadiri.

Sementara saya cukupkan sampai di sini dongeng “potret diri” Anusapati dan Tohjaya.

Dongeng selanjutnya masih udreg-udregan yang berkepanjangan antara Anusapati >< Tohjaya.

Situasipun pun ‘dimatangkan’ oleh Ken Angrok Sri Rajasa Sang Amurwabhumi yang sebagai seorang penguasa ternyata berperilaku dan bertindak “tebang pilih”; bersikap “êmban cindhé êmban siladan” terhadap kedua putranya.

6 Tanggapan

  1. Manteb tenan ………..

  2. bagus sekali

  3. jdbk sdh sy copas baru sampe jld 20.2. Trims pakDhe.

  4. terima kasih pencerahan nya sayangnya lorong di rumah bu siti maiyah tsb kurang terdokumentasi dgn baik untuk cerita ke ke generasi penerus dan menjadi cagar budaya kota malang

    • Iya, pasti ada alasannya sendiri ketika pamong desa memerintahkan untuk menghentikan misi pemeriksaan lebih lanjut. Banyak kejadian aneh sebelum sumur itu ditutup . Misalkan penampakan Harimau putih yg sangat besar berkeliaran didesa Polowijen konon dipercaya penunggu desa Polowijen juga seekor ular tapa yg mengelilingi batas wilayah Polowijen. Dan banyak orang2 disekitar yg kerasukan mungkin sebagai peringatan dan akhirnya sumur itu ditutup pintu besi rapat dimulut sumur.

  5. Desa katang lumbang bisa jadi desa tempat saya lahir yaitu desa lumbang kecamatan lumbang kabupaten pasuruan.kenapa saya berkata begitu karena di desa saya ada makam kuno.makam siapa itu?penduduk setempat dari dulu mengatakan bahwa itu adalah makam mbah joyo,makam toh joyo.penduduk setempat dari dulu mengetahui hal itu.lokasinya berada kurang lebih 1 km kearah selatan dari perumahan desa lumbang…dan di daerah lokasi makam penduduk setempat menamakan joyo..itu adalah area ladang penduduk yang berada di sekitar lokasi makam.makamnya sendiri berada di sebelah timur dari sungai kecil dan sungainya sekarang tidak ada airnya.mungkin karna hutan disekitar sana sudah banyak yang beralih fungsi menjadi perkebunan warga.karna makam ini adalah makam bagian dari sejarah bangsa. Keadaan makam saat ini kurang terawat.sampai saat ini belum ada penelitian dari dinas purbakala atau dinas yang berhubungan dg sejarah yang kesana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s