Seri Kerajaan Singosari


[Waosan ka-13] wonten ing PdLS 72.

ANUSAPATI><TOHJAYA intrik berdarah yang tak henti

Yåtå sirå Mpu Purwwå Panditå Budhå Mahayånå anibaken samyå tan rahayu, ling irå: “lah kang amalayoken anakingsun mogghå tan panutugå pamuktine matyå binahud angeris,….” Sahångkå sirå Gandring Sang Gusali angucap: “Kang amaten i ring sirå tembe kris iku, anak putun irå mati dene kris iku, oleh ratu pipitu tembe kris iku amaten i.”

keris itu bergagang cangkring wilahan berbintik kuning, keris itu berpamor biru di atas baja pilih tanding, keris itu meminta kematian demi kematian, keris itu basah berlumur darah anak cucu keturunan, keris itu basah berlumur darah tujuh raja para penguasa, keris itu menebar petaka, keris itu melahirkan dendam dan berbalas dendam. Pakuwon Tumapel anyir becek darah yang tumpah, sumpah sepata dua empu nan sakti, dionarkan kobaran amarah, relung-relung hati tertutup geram dan benci. Anusapati

Menurut Pararaton, Anusapati adalah putra pasangan Tunggul Ametung dan Ken Dedes. Ayahnya dibunuh oleh Ken Arok sewaktu dirinya masih berada dalam kandungan Ken Dedes.

gênêp lèk ing raré. Mijil anak irå Kèn Dêdês lanang, patutan irå Tunggul Amêtung. Inaranan Sang Anusapati. Papanjin irå sang apanjiyå nêngah”.

“setelah genap bulannya Ken Dedes melahirkan seorang anak laki laki, lahir dari ayah Tunggul Ametung, diberi nama Sang Anusapati dan nama kepanjiannya adalah Sang Apanji Anengah.” [Pararaton 03].

Ken Arok kemudian menikahi Ken Dedes dan mengambil alih jabatan Tunggul Ametung sebagai akuwu Tumapel. Kemudian pada tahun 1222 M Ken Arok mengumumkan berdirinya Kerajaan Tumapel. Ia bahkan berhasil meruntuhkan Kerajaan Kadiri di bawah pemerintahan Kertajaya.

Menurut Nagarakretagama, Anusapati adalah putra dari Ranggah Rajasa Sang Girinathaputra, pendiri Kerajaan Tumapel. Dengan kata lain, ia adalah putra Ken Arok, karena Nagarakretagama tidak pernah menyebut adanya tokoh Tunggul Ametung.

Bhatara sang anusanatha wekå de bhatara sumilih wisesa siniwi” “Batara Sang Anusapati, putera Baginda, berganti dalam kekuasaan” [Nagarakretagama pupuh XLI:1]

“Putra Baginda” tentunya yang dimaksud dengan baginda di sini adalah Sang Girinathaputra (Putra Sang Girinatha Bhatara Guru yaitu Ken Angrok sendiri).

Nama Anusapati memang tidak pernah dijumpai dalam prasasti apa pun, sedangkan nama Tohjaya ditemukan dalam prasasti Mula Malurung tahun 1255 (hanya selisih tujuh tahun setelah kematian Anusapati). Dalam prasasti itu tokoh Tohjaya disebutkan menjadi raja Kadiri menggantikan adiknya yang bernama Guningbhaya. Jadi, pemberitaan Pararaton bahwa Tohjaya adalah raja Tumapel atau Singosari adalah keliru. Berdasarkan prasasti tersebut, tokoh Tohjaya mungkin memang tidak pernah membunuh Anusapati sesuai pemberitaan Nagarakretagama. Jika Tohjaya benar-benar melakukan kudeta disertai pembunuhan, maka sasarannya pasti bukan terhadap Anusapati, melainkan terhadap Guningbhaya.

Candi Kidal. Di desa Rejokidal, kecamatan Tumpang, sekitar 20 km sebelah timur kota Malang – Jawa Timur, terdapat Candi Kidal yang dibangun pada tahun 1248 M, bertepatan dengan berakhirnya rangkaian upacara pemakaman yang disebut Cradha (tahun ke-12) untuk menghormat raja Anusapati yang telah meninggal.

Setelah selesai pemugaran kembali tahun 1990-an, candi ini sekarang berdiri dengan tegak dan kokoh serta menampakkan keindahannya. Disekitar candi banyak terdapat pohon-pohon besar dan rindang, taman candi juga tertata dengan baik, ditambah lingkungan yang bernuansa pedesaan menambah suasana asri bila berkunjung kesana.

Candi Kidal tidak sepopuler candi Singosari, Jago, atau Jawi. Hal ini karena candi Kidal terletak agak jauh dipedesaan, tidak dalam jalan utama, dan tidak banyak diulas oleh pakar sejarah, serta jarang ditulis pada buku-buku panduan Pariwisata. Namun demikian candi Kidal sesungguhnya memiliki beberapa kelebihan menarik dibanding dengan candi-candi lainnya tersebut.

Candi Kidal terbuat dari batu andesit dan berdimensi geometris vertikal. Kaki candi nampak agak tinggi dengan tangga masuk keatas kecil-kecil seolah-olah bukan tangga masuk sesungguhnya. Badan candi lebih kecil dibandingkan luas kaki serta atap candi sehingga memberi kesan ramping. Pada kaki dan tubuh candi terdapat hiasan medallion serta berhias sabuk melingkar badan candi. Atap candi terdiri atas 3 tingkat yang semakin keatas semakin kecil dengan bagian paling atas mempunyai permukaan cukup luas tanpa hiasan atap seperti ratna (ciri khas candi Hindu) atau stupa (ciri khas candi Budha). Masing-masing tingkat disisakan ruang agak luas dan diberi hiasan. Konon disetiap pojok tingkatan atap tersebut pernah ditempatkan berlian kecil.

Hal menonjol lainnya adalah kepala kala yang dipahatkan diatas pintu masuk dan bilik-bilik candi. Kala, salah satu aspek dewa Syiwa dan umumnya dikenal sebagai penjaga bangunan suci. Hiasan kepala kala candi Kidal nampak menyeramkan dengan matanya melotot, mulutnya terbuka dan nampak kedua taringnya yang besar dan bengkok memberi kesan dominan. Adanya dua taring tersebut juga merupakan ciri khas Kala corak Jawa Timuran. Disudut kiri dan kanannya terdapat jari tangan dengan mudra (sikap) mengancam. Maka sempurnalah tugasnya sebagai penjaga bangunan suci candi.

Disekeliling candi terdapat sisa-sisa pondasi dari sebuah tembok keliling yang berhasil digali kembali sebagai hasil pemugaran tahun 1990-an tersebut. Terdapat tangga masuk menuju kompleks candi disebelah barat melalui tembok tersebut namun sulit dipastikan apakah memang demikian aslinya. Jika dilihat dari perspektif tanah diluar kompleks candi, nampak dataran asli candi Kidal agak menjorok kedalam sekitar satu meter. Apakah dataran candi tersebut merupakan permukaan tanah sesungguhnya jaman dulu sementara tanah luarnya kemungkinan akibat dari bencana alam seperti banjir, gunung meletus, tetapi tidak ada cacatan atau penjelasan tertulis tentang hal itu.

Dirunut dari usianya, candi Kidal merupakan candi tertua dari peninggalan candi-candi periode Jawa Timur paska periode Jawa Tengah (abad ke 5-10 M). Hal ini karena periode Mpu Sindok (10 M), Airlangga (11 M) dan Kadiri (12 M) sebelumnya tidak meninggalkan sebuah candi yang masih utuh keberadaanya sampai sekarang, kecuali candi Belahan (di Gempol) dan Jolotundo (di Trawas) yang sesungguhnya bukan merupakan candi melainkan patirtan.

Sesungguhnya ada candi yang lebih tua yakni Kagenengan yang menurut versi kitab Negarakretagama tempat didharmakannya, Ken Arok, ayah Anusapati,. Namun sayang candi ini sampai sekarang belum pernah ditemukan.

Pada kaki candi terdapat relief indah yang menggambarkan legenda cerita Garuda (Garudeya). Cerita ini sangat popular dikalangan masyarakat Jawa saat itu sebagai cerita moral tentang pembebasan atau ruwatan. Kesusastraan Jawa kuno berbentuk kakawin tersebut, mengisahkan tentang usaha Garuda dalam membebaskan ibunya dari perbudakan dengan penebusan air suci amerta. Cerita ini juga ada pada candi Jawa Timur yang lain yakni di candi Sukuh (lereng utara Gunung Lawu). Cerita Garuda ini sangat populer dikalangan masyarakat agama Hindu aliran Wisnu terutama pada periode kerajaan Kahuripan dan Kadiri. Sampai-sampai raja besar Airlangga dari kerajaan Kahuripan menggunakan simbol Garuda sebagai lambang dan stempel kerajaan dan setelah meninggalnya dimuliakan sebagai dewa Wisnu pada candi Belahan dan Jolotundo, Patung Wisnu diatas Garuda yang paling indah dan sekarang masih tersimpan di musium Trowulan diduga berasal dari candi Belahan.

[Cacatan: Lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia “Garuda Pancasila”, konon mendapatkan inspirasi dari lambang dan stempel kerajaan Kahuripan (Prabu Airlangga). Prabu Airlangga sendiri diabadikan dalam wujud Bhatara Wisnu mengendarai Garuda].

Narasi cerita Garuda pada candi Kidal tersebut dipahatkan dalam tiga relief dan masing-masing relief terletak pada bagian tengah sisi-sisi kaki candi kecuali pintu masuk. Pembacaannya dengan cara prasawiya (berjalan berlawanan arah jarum jam atau candi disisikan sebelah kiri) dimulai dari sisi sebelah selatan atau sisi sebelah kanan tangga masuk candi.

Relief pertama menggambarkan Garuda berada dibawah tiga ekor ular, relief kedua melukiskan Garuda dengan kendi di atas kepalanya, dan relief ketiga Garuda menggendong seorang wanita. Di antara ketiga relief tersebut, relief kedua adalah yang paling indah dan masih utuh.

Dikisahkan bahwa Kadru dan Winata adalah dua bersaudara istri resi Kasiapa. Kadru mempunyai anak angkat tiga ekor ular dan Winata memiliki anak angkat Garuda. Kadru yang pemalas merasa bosan dan lelah harus mengurusi tiga anak angkatnya yang nakal-nakal karena sering menghilang diantara semak-semak. Timbullah niat jahat Kadru untuk menyerahkan tugas ini kepada Winata. Diajaklah Winata bertaruh pada warna ekor kuda Uraiswara yang sering melewati rumah mereka dan yang kalah harus menurut segala perintah pemenang. Dengan tipu daya, akhirnya Kadru berhasil menjadi pemenang. Sejak saat itu Winata diperintahkan melayani segala keperluan Kadru serta mengasuh ketiga ular anaknya setiap hari. Winata selanjutnya meminta pertolongan Garuda untuk membantu tugas-tugas tersebut. (relief pertama).

Ketika Garuda tumbuh besar, dia bertanya kepada ibunya mengapa dia dan ibunya harus menjaga tiga saudara angkatnya sedangkan bibinya tidak. Setelah diceritakan tentang kisah pertaruhan kuda Uraiswara tersebut, maka Garuda mengerti. Suatu hari ditanyakanlah kepada tiga ekor ular tersebut bagaimana caranya supaya ibunya dapat terbebas dari perbudakan ini. Dijawab oleh ular “bawakanlah aku air suci amerta yang disimpan di kahyangan dan dijaga para dewa, dan berasal dari lautan susu”. Garuda menyanggupi dan segera mohon ijin ibunya untuk berangkat ke kahyangan.

Tentu saja para dewa tidak menyetujui keinginan Garuda sehingga terjadilah perkelahian. Namun berkat kesaktian Garuda para dewa dapat dikalahkan. Melihat kekacauan ini Bathara Wisnu turun tangan dan Garuda akhirnya dapat dikalahkan. Setelah mendengar cerita Garuda tentang tujuannya mendapatkan amerta, maka Wisnu memperbolehkan Garuda meminjam amerta untuk membebaskan ibunya namun juga dengan syarat bahwa Garuda harus mau menjadi tunggangan Wisnu setelah tugasnya selesai nanti. Garuda menyetujuinya. Sejak saat itu pula Garuda menjadi tunggangan Bathara Wisnu seperti nampak pada patung-patung Wisnu yang umumnya duduk diatas Garuda. Garuda turun kembali ke bumi dengan amerta. (relief kedua).

Dengan bekal air suci amerta inilah akhirnya Garuda dapat membebaskan ibunya dari perbudakan atas Kadru. Hal ini digambarkan pada relief ketiga dimana Garuda dengan gagah perkasa menggendong ibunya dan bebas dari perbudakan. (relief ketiga)

Berbeda dengan candi-candi gaya Jawa Tengahan, candi Jawa Timuran berfungsi sebagai tempat pendharmaan (memuliakan) raja, sementara candi-candi Jawa Tengah umunya dibangun untuk keagungan agama yang dianut raja beserta masyarakatnya.

Seperti dijelaskan dalam kitab Nagarakretagama bahwa raja Wisnuwardhana didharmakan di candi Jago, Kertanegara di candi Jawi dan Singosari, Hayam Wuruk di candi Ngetos.

Dalam filosofi Jawa asli, candi juga berfungsi sebagai tempat ruwatan raja yang telah meninggal supaya kembali suci dan dapat menitis kembali menjadi dewa. Ide ini berkaitan erat dengan konsep “Dewa-Raja” yang berkembang kuat di Jawa saat itu. Dan untuk menguatkan prinsip ruwatan tersebut sering dipahatkan relief-relief cerita moral dan legenda pada kaki candi yang berkaitan erat dengan sejarah atau ide sang raja selama hidupnya. Contoh pada candi Jago dengan cerita Tantri, Parthayadnya, Arjunawiwaha, dan Krenayana, candi Surowono dengan cerita Arjunawiwaha, Bubuksah Gagang-Aking, dan Sri Tanjung, candi Tigowangi dengan cerita Sudamala. Berkaitan dengan prinsip tersebut, serta sesuai dengan kitab Nagarakretagama, maka candi Kidal merupakan tempat diruwatnya raja Anusapati dan dimuliakan sebagai dewa Syiwa. Sebuah patung Syiwa yang indah dan sekarang masih tersimpan di museum Leiden Belanda diduga kuat berasal dari candi Kidal.

Pertanyaan selanjutnya adalah, mengapa dipahatkan relief Garudeya pada candi Kidal? Apa hubungannya dengan Anusapati ?

6 Tanggapan

  1. Manteb tenan ………..

  2. bagus sekali

  3. jdbk sdh sy copas baru sampe jld 20.2. Trims pakDhe.

  4. terima kasih pencerahan nya sayangnya lorong di rumah bu siti maiyah tsb kurang terdokumentasi dgn baik untuk cerita ke ke generasi penerus dan menjadi cagar budaya kota malang

    • Iya, pasti ada alasannya sendiri ketika pamong desa memerintahkan untuk menghentikan misi pemeriksaan lebih lanjut. Banyak kejadian aneh sebelum sumur itu ditutup . Misalkan penampakan Harimau putih yg sangat besar berkeliaran didesa Polowijen konon dipercaya penunggu desa Polowijen juga seekor ular tapa yg mengelilingi batas wilayah Polowijen. Dan banyak orang2 disekitar yg kerasukan mungkin sebagai peringatan dan akhirnya sumur itu ditutup pintu besi rapat dimulut sumur.

  5. Desa katang lumbang bisa jadi desa tempat saya lahir yaitu desa lumbang kecamatan lumbang kabupaten pasuruan.kenapa saya berkata begitu karena di desa saya ada makam kuno.makam siapa itu?penduduk setempat dari dulu mengatakan bahwa itu adalah makam mbah joyo,makam toh joyo.penduduk setempat dari dulu mengetahui hal itu.lokasinya berada kurang lebih 1 km kearah selatan dari perumahan desa lumbang…dan di daerah lokasi makam penduduk setempat menamakan joyo..itu adalah area ladang penduduk yang berada di sekitar lokasi makam.makamnya sendiri berada di sebelah timur dari sungai kecil dan sungainya sekarang tidak ada airnya.mungkin karna hutan disekitar sana sudah banyak yang beralih fungsi menjadi perkebunan warga.karna makam ini adalah makam bagian dari sejarah bangsa. Keadaan makam saat ini kurang terawat.sampai saat ini belum ada penelitian dari dinas purbakala atau dinas yang berhubungan dg sejarah yang kesana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s