Seri Kerajaan Singosari


[Waosan ka-10] PdLS 62

Prasasti Mula Malurung

Sumber ketiga dongeng si Angrok adalah Prasasti Mula Malurung

Prasasti Mula Malurung adalah piagam pengesahan atas desa Mula dan Malurung menjadi Sima (perdikan) karena loyalitas seorang penjabat bernama Pranaraja berhasil memimpin membuat tempat berbakti kepada nenek buyut prabu Seminingrat atau Wisnuwardana. Prasasti ini diterbitkan Kertanagara pada 15 Desember 1256 M (Rebo Legi). sebagai raja muda di Kadiri, atas perintah ayahnya, Wisnuwardhana raja Singasari.

Prasasti Mula Malurung berupa lempengan-lempengan tembaga yang ditemukan pada tahun 1975 di dekat Kediri, dan kemudian disimpan dalam Musium Nasional, Jakarta.

Naskah prasasti ini telah diterjemahkan dan dianalis oleh Slamet Muljana dan dimuat dalam bukunya Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya (1979).

Dari uraiannya, naskah prasasti tersebut diperkirakan terdiri atas sepuluh lempeng, namun lempengan kedua, keempat, dan keenam tidak ditemukan.

Lempengan pertama berisi perintah Kertanagara untuk menerbitkan prasasti sebagai piagam pengesahan anugerah Bhatara Parameswara dan Seminingrat penguasa Jawa. Lempengan ketiga berisi pengabdian Pranaraja terhadap raja-raja sebelumnya. Kertanagara disebut sebagai putra Seminingrat dan Waning Hyun. Waning Hyun adalah putri Parameswara. Pengganti Parameswara adalah Guningbhaya lalu Tohjaya. Sepeninggal Tohjaya, Seminingrat menyatukan kembali kerajaan Tumapel.

Lempengan kelima berisi kesetiaan Pranaraja terhadap Seminingrat. Juga berisi puji-pujian untuk Seminingrat. Lempengan ketujuh berisi lanjutan nama-nama raja bawahan yang diangkat Seminingrat, antara lain Kertanagara di Kadiri dan Jayakatwang di Gelang-Gelang.

Lempengan kedelapan berisi ungkapan terima kasih para abdi yang dipimpin Ramapati atas anugerah raja. Lempengan kesembilan berisi anugerah untuk Pranaraja adalah desa Mula dan Malurung. Disebutkan pula Seminingrat adalah cucu Bhatara Siwa pendiri kerajaan.

Lempengan kesepuluh berisi perintah Seminingrat melalui Ramapati supaya Kertanagara mengesahkan anugerah tersebut untuk Pranaraja.

Pranaraja yang mendapat hadiah desa Mula dan Malurung disebutkan sebagai seorang pegawai kerajaan Kadiri yang setia dan rajin. Ia mengabdi pada tiga raja sebelum Kertanagara yaitu Bhatara Parameswara, Guningbhaya, dan Tohjaya. Adapun Kertanagara saat itu (1255) baru menjadi raja bawahan di Kadiri, belum menjadi raja Singasari.

Hadiah untuk Pranaraja telah dijanjikan oleh Seminingrat raja Tumapel. Seminingrat lalu memerintahkan putranya, Kertanagara untuk melaksanakannya. Seminingrat di sini merupakan nama lain dari Raja Wisnuwardhana.

Pararaton tidak menjelaskan jasa apa yang telah ditunjukkan Pranaraja terhadap ketiga raja Bhatara Parameswara, Guningbhaya, dan Tohjaya.

Berdasarkan uraian naskah prasasti Mula Malurung, yang jelas lebih akurat dibandingkan Pararaton ataupun Nagarakretagama, diperoleh fakta-fakta baru antara lain:

  1. Pendiri Kerajaan Tumapel bernama Bhatara Siwa. Bhatara Siwa adalah nama lain Sang Rajasa alias Ken Angrok.
  2. Kadiri setelah ditaklukkan Tumapel tidak diserahkan pada Jayasabha putra Kertajaya (menurut Nagarakretagama), melainkan diperintah oleh Bhatara Parameswara putra Bhatara Siwa.
  3. Bhatara Parameswara digantikan adiknya, bernama Guningbhaya.
  4. Guningbhaya digantikan kakaknya, bernama Tohjaya.
  5. Tohjaya adalah raja Kadiri, bukan raja Singasari (menurut Pararaton).
  6. Sepeninggal Tohjaya, Kadiri disatukan dengan Tumapel oleh Seminingrat (alias Wisnuwardhana).
  7. Kertanagara putra Seminingrat diangkat sebagai raja bawahan di Kadiri karena ia lahir dari Waning Hyun putri Bhatara Parameswara.
  8. Jayakatwang menantu Seminingrat diangkat sebagai raja bawahan di Gelang-Gelang.

Nama Ken Angrok menurut:

  1. Pararaton: Rajasa Sang Amurwabhumi;
  2. Nagarakertagama: Sri Ranggah Rajasa Sang Girinathaputra;
  3. Prsasati Mula Malurung: Bathara Syiwa.

Kisah Angrok pun berlanjut pada obsesi Angrok untuk memiliki Ken Dedes. Dan intrik tentang kekuasaan pun dimulai dari sini, ketika niatan Angrok bukan hanya menjadi suami bagi Ken Dedes, melainkan juga menjadi raja di Jawadwipa.

Berbekal pengalaman sebagai perampok, membunuh bukan hal luar biasa baginya. Dengan meminta bantuan Empu Gandring untuk membuatkan sebuah keris sakti, karena tidak sabar, maka sang pembuat keris itu pun ia bunuh karena dianggapnya Sang Empu tidak dapat segera membuatkan keris pesanannya. Keris yang dipesan masih belum sempurna, gagangnya masih gagang sementara yang terbuat dari dahan cangkring. Dengan bengis Ken Arok membenamkan pusaka itu ke dada pembuatnya, Empu Gandring pun menjatuhkan kutukan bahwa kelak keris itu akan meminta banyak nyawa, termasuk nyawa Ken Arok.

Angrok anungklang duhung anyar bergagang cangkring wilahan berbintik kuning pamor biru di atas baja pilih tanding; kutuk keris itu meminta kematian demi kematian, darah tujuh raja para penguasa.

Pararaton mengisahkan:

…sira Gandring angucap: ‘Kang amaten i ring sira tembe kris iku, anak putun ira mati dene kris iku, oleh ratu pipitu tembe kris iku amaten i’. [Bersepatalah Gandring: ‘Kelak engkau akan mati terbunuh oleh keris itu, anak cucumu pun akan mati juga karena keris itu, tujuh orang raja akan mati karena keris itu pula.’]

Dongeng tentang Keris Gandring dan korbannya akan didongengkan kemudian

Angrok lalu meminjamkan keris itu kepada sahabatnya, Kebo Idjo. Sifat suka pamer Kebo Idjo ia manfaatkan dalam rencana kudeta politisnya terhadap Tunggul Ametung. Ketika Kebo Idjo sedang terlelap, ia pun mencurinya dan membunuh Tunggul Ametung malam itu juga. Dan tak lupa esok harinya ia memfitnah Kebo Idjo dan membunuhnya dengan keris itu pula. Intrik politik yang tidak jelas siapa kawan dan siapa lawan ditunjukkan oleh Ken Angrok dalam Serat Pararaton.

Kebengisan berdarah dingin dan menghalalkan segala macam cara ditimpakan pula kepada Kebo Idjo, yang kepadanya keris itu dipinjamkan sehingga kemudian banyak orang di Tumapel mengira keris yang menancap di dada Akuwu Tunggul Ametung adalah milik Kebo Idjo karena sebelumnya ke mana-mana Kebo Idjo selalu pamer keris itu. Tanpa banyak bicara Ken Arok membunuh Kebo Idjo sebagai tertuduh, dengan mengabaikan saksi yang terbungkam mulutnya, Ken Dedes, anak seorang empu linuwih, Empu Purwa dari Panawijen.

Kemudian terjadilah perkawinan antara Ken Arok dan Ken Dedes yang dari awal benar-benar sudah dirancang oleh Ken Arok, bukan sekadar oleh alasan betis Ken Dedes bercahaya. Ken Arok mengawini Ken Dedes meskipun perempuan ini sedang hamil dari suaminya terdahulu.

[Pararaton 03].

…..tuhu yan kraman ira Ken Angrok ring sira Ken Dedes, alama akakarepan.. …. Yata apanggih Ken Angrok lawan sira Ken Dedes………,

[Pararaton mengisahkan, bahwa para dewa memang telah menghendaki, bahwasanya Ken Angrok memang sungguh sungguh menjadi jodoh Ken Dedes, lamalah sudah mereka saling hendak menghendaki, dan tak ada orang Tumapel yang berani membicarakan semua tingkah laku Angrok, demikian juga semua keluarga Tunggul Ametung diam, tak ada yang berani mengucap apa apa, akhirnya Ken Angrok kawin dengan Ken Dedes. Pada waktu ditinggalkan oleh Tunggul Ametung, dia ini telah mengandung tiga bulan, lalu dicampuri oleh Ken Angrok.”]

Dengan demikian, ia berhasil menggapai tahapan awal dari rencana jangka panjang yang dirancangnya. Dengan mengawini Ken Dedes, Ken Arok dengan sendirinya memperoleh kedudukan sebagai akuwu di Tumapel.

Di samping Ken Dedes, Ken Arok juga mengawini Ken Umang.

Alama sira patutan manih lawan sira Ken Angrok, mijil lanang haran Mahisa Wongateleng. Mwah hari den ira mahisa Wongateleng lanang haran Sang Apanji Saprang. Harin ira Panji Saprang lanang haran sira Aghnibhaya. Harin ira Ghnibhaya wadon, haran sira Dewi Rimbhu. Patpat suthanira Ken Angrok lawan Ken Dedes.

Hana ta bini ajin ira Ken Angrok anom, haran sira Ken Umang. Sira ta apatutan lanang haran sira Panji Tohjaya. Harin ira lanang haran sira Pan[21b]ji Sudhatu. Harin ira Panji Sudhatu lanang, haran sira Tuwan Wregola. Harin ira Tuwan Wregola stri haran sira Dewi Ramti. Kweh ing putra 9. lanang 7. wadon 2.

Telas purwwa wetan ing Kawi. Kaputer sawetan ing Kawi. Sama awedhi ri sira Ken Angrok, mahu ariwa riwa, ahyun angadhega ratu. Wong Tumapel sama suka yan Ken Angrok angadheg ratu, katuwon pan dulur ing widdhi,

Setelah lama perkawinan Ken Angrok dan Ken Dedes itu, maka Ken Dedes dari Ken Angrok melahirkan anak laki laki, bernama Mahisa Wonga Teleng, dan adik Mahisa Wonga Teleng bernama Sang Apanji Saprang, adik panji Saprang juga laki laki bernama Agnibaya, adik Agnibaya perempuan bernama Dewi Rimbu, Ken Angrok dan Ken Dedes mempunyai empat orang anak.

Ken Angrok mempunyai isteri muda bernama Ken Umang, ia melahirkan anak laki laki bernama panji Tohjaya, adik panji Tohjaya, bernama Twan Wregola, adik Twan Wregola perempuan bernama Dewi Rambi. Banyaknya anak semua ada 9 orang, laki laki 7 orang, perempuan 2 orang.

Sudah dikuasailah sebelah timur Kawi, bahkan seluruh daerah sebelah timur Kawi itu, semua takut terhadap Ken Angrok, mulailah Ken Angrok menampakkan keinginannya untuk menjadi raja, orang orang Tumapel semua senang, kalau Ken Angrok menjadi raja di situ.

6 Tanggapan

  1. Manteb tenan ………..

  2. bagus sekali

  3. jdbk sdh sy copas baru sampe jld 20.2. Trims pakDhe.

  4. terima kasih pencerahan nya sayangnya lorong di rumah bu siti maiyah tsb kurang terdokumentasi dgn baik untuk cerita ke ke generasi penerus dan menjadi cagar budaya kota malang

    • Iya, pasti ada alasannya sendiri ketika pamong desa memerintahkan untuk menghentikan misi pemeriksaan lebih lanjut. Banyak kejadian aneh sebelum sumur itu ditutup . Misalkan penampakan Harimau putih yg sangat besar berkeliaran didesa Polowijen konon dipercaya penunggu desa Polowijen juga seekor ular tapa yg mengelilingi batas wilayah Polowijen. Dan banyak orang2 disekitar yg kerasukan mungkin sebagai peringatan dan akhirnya sumur itu ditutup pintu besi rapat dimulut sumur.

  5. Desa katang lumbang bisa jadi desa tempat saya lahir yaitu desa lumbang kecamatan lumbang kabupaten pasuruan.kenapa saya berkata begitu karena di desa saya ada makam kuno.makam siapa itu?penduduk setempat dari dulu mengatakan bahwa itu adalah makam mbah joyo,makam toh joyo.penduduk setempat dari dulu mengetahui hal itu.lokasinya berada kurang lebih 1 km kearah selatan dari perumahan desa lumbang…dan di daerah lokasi makam penduduk setempat menamakan joyo..itu adalah area ladang penduduk yang berada di sekitar lokasi makam.makamnya sendiri berada di sebelah timur dari sungai kecil dan sungainya sekarang tidak ada airnya.mungkin karna hutan disekitar sana sudah banyak yang beralih fungsi menjadi perkebunan warga.karna makam ini adalah makam bagian dari sejarah bangsa. Keadaan makam saat ini kurang terawat.sampai saat ini belum ada penelitian dari dinas purbakala atau dinas yang berhubungan dg sejarah yang kesana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s