ADBM-098


Bagian 2

“Guru memang seorang pemaaf,” berkata Swandaru tiba-tiba memotong keterangan Kiai Gringsing, “tetapi kitalah yang kehilangan sanak kadang dan kawan bermain.”

Sekali lagi Swandaru telah mengejutkan Ki Sumangkar dan Ki Waskita, selain Kiai Gringsing sendiri. Bahkan Ki Demang pun terpaksa memotong kata-kata, “Tetapi kita pun bukan pendendam. Kita akan dapat menahannya diri, mengikuti unggah-ungguh yang berlaku di setiap medan. Kita pernah menghadapi keadaan yang lebih parah dari keadaan sekarang ini di saat Macan Kepatihan masih berkeliaran. Tetapi kita pun dapat menunjukkan bahwa kita adalah orang-orang yang menjunjung tinggi peradaban yang berlaku.”

Swandaru mengangkat wajahnya. Dipandanginya ayahnya sejenak. Namun kemudian ia pun berdesah, “Pada suatu saat akan datang waktunya kita tidak memanjakan lagi kejahatan yang terjadi di daerah Kademangan Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh, karena pada suatu saat akan datang kekuasaan yang memegang teguh keadilan.”

Kata-kata Swandaru itu disambut dengan geraman dan bahkan seolah-olah janji dari anak-anak muda Sangkal Putung dan bahkan nampak juga jelas di wajah Prastawa dan anak-anak muda dari Tanah Perdikan Menoreh, bahwa mereka sependapat dan pancaran kesediaan untuk mendukungnya.

Orang-orang tua yang mendengarnya hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Mereka tidak berusaha untuk membantah lagi, karena setiap kata yang dianggap mengecilkan arti janji itu, akan dianggap sebagai hambatan yang harus disingkirkan.

Namun dalam pada itu, terasa di hati Ki Waskita sepercik petunjuk, bahwa warna-warna buram yang selalu dilihatnya di dalam isyarat kini sudah mulai nampak di dalam kenyataan hidup Swandaru. Namun demikian rasa-rasanya perasaan Ki Waskita masih juga melonjak untuk mengingkarinya.

“Mudah-mudahan ada usaha untuk memberikan jalan kepadanya,” desisnya di dalam hati. Bahkan kemudian seolah-olah ia telah melawan penglihatannya sendiri, “Tidak. Itu hanyalah sekedar kejutan perasaan setelah ia mengalami gangguan di perjalanan. Tetapi besok atau lusa, anak itu tentu sudah melupakannya.”

Karena itulah, maka Ki Waskita masih mencoba memerangi penglihatannya dengan harapan-harapan yang dibuatnya sendiri sesuai dengan keinginannya. Seolah-olah ia melupakan bahwa keinginan seseorang tidak lebih dari suatu keinginan yang dapat meningkat menjadi harapan dan permohonan. Sedangkan ketentuan terakhir adalah tetap di tangan Yang Maha Kuasa pula adanya.

Bagi Kiai Gringsing, Swandaru akan merupakan persoalan yang sangat rumit. Di samping muridnya, maka ia adalah orang yang telah dicadangkan untuk menerima kekuasaan pada kedua daerah yang terpisah. Tanah Perdikan Menoreh dan Kademangan Sangkal Putung yang kedua-duanya memiliki naluri pengawalan yang kuat atas daerah masing-masing. Kedua daerah itu memiliki pasukan pengawal yang terlatih, terdiri dari anak-anak muda yang dengan sadar menyerahkan dirinya bagi ketenangan kampung halaman. Bahkan untuk menjadi seorang pengawal, di kedua daerah itu mempunyai kebiasaan yang mirip pula, yaitu melalui pendadaran yang cukup berat.

Lebih daripada itu, mereka adalah anak-anak muda yang masih mudah disentuh oleh panasnya api yang dapat membakar jantung mereka.

Agak berbeda dengan mereka adalah Agung Sedayu. Ia pun masih muda seperti Swandaru dan para pengawal dari kedua daerah itu. Namun ia memiliki sifat yang agak berbeda, yang dibawanya sejak kanak-kanak. Perubahan sifat yang terjadi menjelang dewasa, telah memecahkan kungkungan ketakutan yang luar biasa yang selalu membayanginya setiap saat. Namun demikian, masih ada sifat-sifatnya yang nampak sampai saat terakhir.

Sikap Swandaru telah membuatnya menjadi prihatin. Sebagai saudara seperguruan, ia memang merasakan ada sesuatu yang kurang sesuai padanya. Tetapi ia tidak pernah dapat menyebutnya.

Sekilas terbayang saat-saat ia menginjakkan kakinya di Kademangan Sangkal Putung. Bagaimana Swandaru telah membuatnya hampir beku ketakutan ketika anak muda yang gemuk itu berlari-lari memberitahukan kepada Sidanti bahwa Agung Sedayu-lah yang berhak disebut pembidik terbaik.

“Sejak saat itulah aku harus bermusuhan dengan Sidanti,” desis Agung Sedayu di dalam hatinya.

Namun sejak saat itu pula terjadi perubahan di dalam dirinya. Ia bukan lagi seorang anak muda yang ditelikung oleh perasaan takut. Lukanya saat ia berperang tanding dengan Sidanti bersenjata panah, telah memecahkan sifat-sifatnya itu.

Meskipun demikian, Agung Sedayu masih tetap dibayangi oleh pertimbangan-pertimangan yang lebih dewasa, meskipun nampaknya juga keragu-raguan dan ketidak-pastian yang terasa sangat lamban bagi anak-anak muda sebayanya.

Agung Sedayu menarik nafas. Ia menyadari sifat-sifatnya. Dan ia pun menyadari bahwa sifat-sifatnya itu sama sekali tidak menguntungkannya. Ia berada di antara dua alas yang berbeda, tetapi tidak mempunyai keberanian untuk memilihnya. Satu kakinya berada di lingkungan kerasnya permainan senjata, sedang satu kakinya berdiri pada alas yang sama sekali berbeda karena dibayangi oleh perasaan kasih sayang yang dalam. Sehingga yang nampak pada anak muda itu justru keragu-raguan dan kadang-kadang salah pilih di antara kedua alas kakinya yang seakan-akan berlawan itu.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia mulai membayangkan dua orang anak muda yang justru telah berhasil memilih dunianya masing-masing Swandaru dan Rudita. Meskipun tempat mereka berdiri adalah hampir di kedua ujung sifat-sifat manusiawi, namun nampaknya mereka tidak lagi dibayangi oleh keragu-raguan atas pilihannya.

Meskipun demikian, kesadaran itu tidak dapat mendorong Agung Sedayu untuk memilih tempat. Untuk waktu yang lama ia masih akan tetap terombang-ambing tidak menentu.

“Aku tidak tahu, apakah dengan segala keragu-raguan itu aku dapat dianggap justru lebih baik dari sifat-sifat Swandaru,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya sambil berdesah, “tetapi yang pasti, aku tidak dapat menerima sikapnya yang nampak mulai tumbuh di dalam hatinya.”

Namun tiba-tiba saja Agung Sedayu itu tersentak. Selagi ia masih menimbang dirinya sendiri, terdengar Swandaru ternyata masih melanjutkan kata-katanya, “Ternyata bahwa kita tidak dapat menggantungkan diri kepada siapa pun juga. Sangkal Putung harus mempunyai kekuatan yang cukup untuk melindungi kepentingan Sangkal Putung sendiri. Demikian juga dengan Tanah Perdikan Menoreh. Hal itu ternyata seperti apa yang telah terjadi. Kita semua berhasil melepaskan diri dari tangan para penjahat, bukan karena perlindungan siapa pun juga.”

“Swandaru,” potong Ki Demang, “sudahlah. Kita sedang menerima beberapa orang yang mengucapkan selamat datang kepadamu dan kepada isterimu. Sebaiknya kau membatasi diri dengan keadaan sekarang ini. Bukan waktunya untuk membicarakan masalah yang luas dan apalagi menyangkut hubungan Sangkal Putung dengan kekuasaan yang ada di sekitarnya.”

“Tentu tidak dapat dipisahkan, Ayah,” berkata Swandaru kemudian. “Mumpung kita menghadapi contoh yang jelas dan baru saja terjadi. Sebenarnya aku hanya ingin bertanya, apakah Pajang masih tetap merasa dirinya berkuasa sekarang ini, dan mempunyai kewajiban untuk melindungi rakyatnya? Apakah Ayah melihat, bahwa Pajang telah melindungi kita semuanya? Jika kita tidak mampu melepaskan diri kita sendiri dari tangan para penjahat itu, maka kita tidak akan dapat bertemu di sini. Sedangkan pasukan Pajang baru akan datang besok atau lusa. Tidak untuk melepaskan kita dari kesulitan, tetapi sekedar ikut berduka cita atas jatuhnya beberapa orang korban.”

“Swandaru,” suara ayahnya menjadi semakin keras, “aku adalah seorang Demang yang mengakui kekuasaan yang lebih tinggi sampai kepada kekuasaan yang tertinggi. Sebaiknya kau mempertimbangkan sikapmu sebaik-baiknya. Kau bukan kanak-kanak lagi. Apalagi sejak beberapa hari yang lalu, kau sudah berada di dalam hidup kekeluargaan. Dan itu merupakan salah satu pertanda lahiriah yang akan diikuti oleh perubahan rohaniah tentang sikap dan pandanganmu terhadap hidup dan kehidupan.”

“Ayah,” Swandaru masih menjawab, “justru sikapku yang aku nyatakan itu adalah hasil kematangan jiwa yang tumbuh dari perubahan badani dan jiwani yang aku alami. Aku harus berani menentukan sikap seperti seorang yang memang meningkat dewasa.”

Ki Demang masih akan menjawab. Tetapi Kiai Gringsing mendahuluinya dengan suara sareh, “Agaknya kau benar, Swandaru. Suatu perubahan memang telah terjadi. Bahkan begitu cepatnya. Beberapa hari yang lalu kau sudah mulai meningkat dalam jenjang kehidupan yang baru. Dan dalam beberapa hari itu kau sudah mulai menunjukkan sikapmu sebagai orang dewasa sepenuhnya. Namun ada sesuatu yang masih perlu kau sempurnakan, Swandaru. Kesadaran tentang perubahan yang terjadi itu sendiri. Jika kau menyadari bahwa sedang terjadi perubahan bukan saja badani tetapi juga jiwani padamu dan isterimu, maka kau harus menilai setiap perubahan itu apakah perubahan itu sudah seimbang antara yang lahiriah dan yang rohaniah. Dengan demikian, maka kau akan tetap dapat mengendalikan di dalam sikap dan perbuatan.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Tetapi perasaan segan terhadap gurunya telah memaksanya untuk merenung.

Ki Sumangkar dan Ki Waskita melihat perkembangan itu dengan jantung yang berdebar.

Sejenak pendapa itu dicekam oleh kesenyapan yang mendebarkan. Beberapa orang anak-anak muda menjadi termangu-mangu karena mereka kurang memahami pembicaraan antara guru dan murid itu.

Bahkan Prastawa pun masih harus meraba-raba, apakah sebenarnya Kiai Gringsing itu sedang berusaha mendorong atau bahkan menghalang-halangi sikap muridnya.

Yang memahami persoalan yang sedang diperbincangkan itu, selain orang-orang tua adalah Agung Sedayu. Ia mengerti benar maksud gurunya yang mulai cemas melihat perkembangan jiwa Swandaru.

Penghormatan yang besar di dalam ia menjalani masa perkawinannya, membuatnya seolah-olah terlepas dari alas perjuangan yang ditempuh selama ini. Agaknya Swandaru merasa bahwa ia sudah mulai menginjakkan kakinya pada tangga kekuasaan yang akan diterimanya nanti dari ayahnya Ki Demang Sangkal Putung dan Ki Gede Menoreh dari Tanah Perdikan di Menoreh.

Ki Demang yang menanggapi pula persoalan itu, tiba-tiba saja telah berusaha mengalihkan pembicaraan itu. Dengan serta-merta maka ia pun berkata lantang, “Nah, sudahlah. Kita akan berbicara kelak. Sekarang aku mempersilahkan semuanya untuk menikmati hidangan yang sudah tersedia.”

Sejenak kemudian suasana di pendapa itu mulai berubah. Meskipun kadang-kadang masih terselip penyesalan atas jatuhnya beberapa orang korban, namun mereka mulai menggeser pembicaraan mereka pada upacara perkawinan di Tanah Perdikan Menoreh.

Di ruang dalam, beberapa orang perempuan mendengarkan ceritera Sekar Mirah dengan hati yang berdebar. Seperti Swandaru, maka Sekar Mirah pun merasa, betapa lunaknya sikap Sangkal Putung terhadap kejahatan. Seperti Swandaru pula, maka Sekar Mirah pun mengharapkan bahwa pada suatu saat, Kademangan Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh akan bertindak lebih meyakinkan lagi untuk memberantas kejahatan.

Perempuan-perempuan yang mendengarkan ceritera Sekar Mirah tidak dapat membayangkan apa yang sebenarnya dikehendakinya. Tetapi mereka sedikit mendapatkan gambaran apa yang sudah terjadi di ujung hutan kecil itu. Dan mereka pun mengetahui pula bahwa beberapa orang korban telah jatuh. Luka dan bahkan ada yang tidak lagi dapat diselamatkan jiwanya.

Pandan Wangi sendiri tidak banyak menyambung ceritera Sekar Mirah. Ia pun terhitung seorang perempuan yang lain dengan kebanyakan perempuan. Namun ia tidak mempunyai sikap dan pendirian yang sama dengan Sekar Mirah yang garang. Selama ia mengikuti cara ayahnya memerintah Tanah Perdikan Menoreh, maka nampaknya Tanah Perdikan Menoreh berangsur menjadi semakin baik tanpa tindakan-tindakan kekerasan yang berat seperti yang dikatakan oleh Sekar Mirah itu. Meskipun itu bukan berarti bahwa ayahnya tidak pernah menjatuhkan hukuman terhadap kesalahan dan apalagi kejahatan. Tetapi hukuman pada dasarnya bukannya dendam yang dilindungi oleh ketentuan yang berlaku, tetapi hukuman adalah satu ujud kasih sayang untuk merubah kelakuan seseorang agar ia tidak lagi melakukan kesalahan yang dapat menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam kesulitan lahir dan batin, dan terlebih-lebih lagi dapat menimbulkan kesulitan pada orang lain.

Tetapi Pandan Wangi masih menyimpannya saja di dalam hati. Karena ia tidak mendengarkan pembicaraan di pendapa, maka ia masih berharap bahwa sikap Sekar Mirah itu sekedar luapan kemarahannya karena hambatan yang parah di perjalanan. Dan ia masih berharap bahwa sikap itu akan berbeda dengan sikap Swandaru apabila ia dapat mempertimbangkan segala persoalan dengan tenang di dalam lain.

Sementara itu, selagi di pendapa dan di ruang dalam sedang berlangsung pembicaraan yang ramai, tetapi kadang-kadang masih juga diselingi dengan gemeretak gigi, maka di bagian belakang kademangan itu perempuan-perempuan sibuk menyiapkan hidangan selanjutnya. Dapur kademangan itu menjadi ribut. Meskipun dapur itu sudah diperluas dengan teratak, karena di dalam saat keramaian berlangsung, dapur yang ada tentu jauh dari mencukupi, namun nampaknya masih juga terlampau sempit.

Kesibukan orang-orang di dapur itu bukan saja diperuntukkan bagi mereka yang ada di kademangan. Tetapi mereka yang ada di banjar pun harus mendapat perhatian. Mereka yang terluka dan mereka yang sedang merawatnya. Juga harus diperhatikan tawanan-tawanan yang dikawal oleh beberapa orang anak muda, karena mereka pun memerlukan makan pula.

Namun dalam pada itu, Ki Jagabaya yang mengurus mereka yang terluka dan para tawanan, ternyata sudah mengambil kebijaksanaan, bahwa di hari berikutnya, harus dibuat dapur tersendiri, agar tidak mengganggu setiap upacara yang akan dilangsungkan di kademangan.

Demikianlah, Kademangan Sangkal Putung seolah-olah telah menjadi semakin sibuk, karena yang terjadi benar-benar di luar dugaan. Bukan saja kesibukan di kademangan yang mempersiapkan hidangan dan keramaian di hari-hari berikutnya, tetapi Ki Jagabaya pun sibuk mempersiapkan para pengawal, karena masih akan dapat terjadi kemungkinan yang lain yang dapat ditimbulkan oleh para penjahat yang berhasil melarikan diri itu.

Dalam pada itu, selagi Sangkal Putung membentengi diri dengan kesiagaan para pengawal, maka para penjahat yang melarikan diri tercerai-berai itu pun sedang berusaha untuk berkumpul kembali dalam kelompok-kelompok masing-masing. Para pemimpin mereka benar-benar telah dibakar oleh kemarahan dendam dan penyesalan.

“Kita telah dijerumuskan ke dalam kesulitan yang paling parah,” geram Ki Bajang Garing.

Seorang anak buahnya memotong dengan nada geram, “Gandu Demung pantas dicincang sekarang.”

Tetapi ternyata bahwa salah seorang saudara Gandu Demung mendengarnya, sehingga dengan wajah yang merah membara ia berkata lantang, “Siapakah yang paling bersalah dalam hal ini? Gandu Demung hanyalah mengemukakan suatu persoalan. Bukankah kita bersama-sama telah melakukan persiapan, penyelidikan dan kemudian bersama-sama memutuskan? Jika terjadi kegagalan yang sempurna sekarang ini, maka kesalahannya tentu terletak pada kita semuanya.”

Ki Bajang Garing menggeram. Tetapi ia tidak mau berselisih saat ia sedang berusaha mengumpulkan anak buahnya. Sehingga karena itulah maka ia pun berdesis, “Persetan dengan Gandu Demung. Tetapi pada suatu saat aku ingin bertemu lagi dengan orang itu.”

Saudara Gandu Demung pun menganggap bahwa perselisihan dalam keadaan yang demikian tidak menguntungkan. Meskipun ia sadar, bahwa permusuhan di antara mereka akan semakin membara.

Tetapi mereka tidak sempat lagi untuk memikirkan persoalan yang masih akan datang itu. Yang mereka hadapi adalah kesulitan mereka saat itu. Mereka berada di ujung hutan perdu di bagian lain dari hutan kecil yang telah menjerat mereka ke dalam kesulitan.

“Kita beristirahat sebentar,” berkata salah seorang saudara Gandu Demung kepada anak buahnya yang masih dapat dijumpainya, “orang-orang Sangkal Putung tidak akan mengejar kita sampai ke tempat ini. Kita harus meyakinkan diri, apakah yang telah terjadi dengan Gandu Demung.”

“Bagaimana kita akan dapat mengetahui nasibnya?” bertanya salah seorang anak buahnya.

“Salah seorang dari kita akan mencarinya sampai ke bekas arena perkelahian.”

“Berbahaya sekali.”

“Malam cukup gelap.”

Namun nampaknya keragu-raguan pada orang ini. Meskipun malam gelap, tetapi nampaknya tidak mudah untuk mencari keterangan tentang Gandu Demung.

Meskipun demikian, saudara Gandu Demung tidak akan sampai hati pergi begitu saja tanpa mengetahui nasib saudaranya itu. Karena itu, maka salah seorang saudaranya pun berkata, “Tunggulah di sini. Aku akan segera kembali.”

“Marilah kita pergi berdua,” sahut yang lain.

Keduanya pun kemudian meninggalkan beberapa orang anak buahnya yang berkumpul di ujung hutan yang lain itu. Mereka tidak memintas lewat pusat hutan yang meskipun tidak terlalu lebat, tetapi untuk menjelajahinya di malam hari, rasa-rasanya akan memerlukan waktu yang terlalu lama.

Namun ternyata bahwa keduanya tidak menemukan apa-apa lagi di bekas arena perkelahian itu. Semua korban telah diangkut dengan pedati ke padukuhan terdekat. Bahkan yang lain ke padukuhan induk Kademangan Sangkal Putung.

“Kita tidak akan segera mengetahuinya,” bisik salah seorang dari kedua saudara Gandu Demung itu.

“Besok kita baru akan mendengarnya. Kita harus menyamar sebagai orang kebanyakan yang berjalan melewati Kademangan Sangkal Putung, dan mendengar berita tentang perkelahian itu.”

“Bagaimanakah jika kita bertemu dengan pengawal yang kebetulan mengenal kita di arena perkelahian itu?”

Yang lain menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Memang sulit. Tetapi kita harus mencari jalan untuk mengetahui, apakah Gandu Demung masih hidup atau sudah mati.”

“Jika demikian maka kita akan tinggal di sekitar daerah ini untuk beberapa lama.”

“Salah seorang dari kita. Yang lain akan membawa beberapa orang yang tersisa itu kembali kepada ayah.”

“Dan menerima umpatan dan cela cerca yang tidak berkeputusan.”

“Mungkin ayah akan melakukan sesuatu. Ayah masih tetap seorang pendendam.”

“Aku pun mendendam.”

“Tetapi ingat, bahwa mungkin pihak-pihak lain dari orang di sekitar Gunung Tidar akan tetap menganggap Gandu Demung bersalah dan mengambil tindakan langsung terhadap kelompok kita. Sampaikan kepada ayah, bahwa meskipun keadaan kita parah, tetapi ayah harus mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan itu. Biarlah aku tinggal sampai aku mendapat keterangan tentang Gandu Demung.”

Demikianlah maka keduanya pun kemudian berpisah. Ternyata mereka masih sempat menemukan kuda mereka yang mereka sembunyikan di dalam hutan yang tidak terlalu lebat itu. Bahkan karena jumlah yang sudah jauh berkurang, maka kuda-kuda itu pun menjadi terlalu banyak.

“Aku mencemaskan nasib Gandu Demung,” berkata saudaranya yang akan mencarinya, “kudanya masih ada di sini. Jika ia selamat, tentu akan datang mengambil kudanya seperti orang-orang lain yang selamat.”

Karena itulah, maka salah seorang saudaranya itu akan tetap tinggal di sekitar Sangkal Putung bersama seorang pengawalnya. Sementara yang tersisa harus segera kembali ke sebelah Gunung Tidar untuk memberikan laporan.

“Jangan timbulkan perselisihan jika kalian sejalan dengan orang-orang Bajang Garing dan orang-orang dari Alas Pengarang. Kecuali jika mereka menyerang. Tetapi agaknya karena kita sama-sama parah, mereka pun tidak akan berbuat apa-apa.”

Demikianlah, maka saudara Gandu Demung itu pun segera membawa sisa orangnya menuju ke Gunung Tidar untuk memberikan laporan tentang kegagalan yang dialaminya di daerah Sangkal Putung, meskipun sebenarnya perhitungan Gandu Demung cukup cermat. Namun agaknya masih ada yang dilupakan. Justru karena tempat itu berada di ujung kademangan, maka kuda-kuda yang terlepas merupakan isyarat yang sangat baik bagi orang-orang Sangkal Putung itu.

Bahkan di sepanjang perjalanan kembali itu, salah seorang dari anak buah saudara Gandu Demung itu bertanya, “Kenapa hal ini kita lakukan di depan hidung Kademangan Sangkal Putung?”

“Perhitungan itu sebenarnya tepat,” jawab saudara Gandu Demung.

“Apakah salahnya jika kita lakukan di Alas Tambak Baya atau tempat lain yang masih jauh dari Sangkal Putung.”

“Kelengahan mereka merupakan keuntungan yang besar bagi kita.”

“Tetapi itu pun tidak terjadi? Iring-iringan itu berhenti sebelum mereka memasuki batas jebakan kita.”

“Ya. Hampir secara kebetulan mereka melihat pohon yang sudah dikerat itu.”

“Tidak secara kebetulan. Itu adalah karena kemampuan yang tinggi dari salah seorang yang berada di dalam iring-iringan itu. He, apakah kau tidak melihat, bagaimana orang-orang bercambuk itu melawan beberapa orang di antara kita? Kau lihat seorang yang bersenjata trisula? Itu adalah kelebihan yang harus diakui. Meskipun jumlah kita berlipat, tetapi kita tidak dapat berbuat apa-apa. Jika kemudian datang pengawal-pengawal kademangan itu adalah seolah-olah hanya mempercepat penyelesaian saja, karena kita agaknya memang tidak akan dapat mengalahkan iring-iringan itu seperti yang kita harapkan.”

“Hanya soal waktu.”

“Waktu sangat menentukan akhir dari pertempuran seperti itu.”

Keduanya pun kemudian terdiam. Mereka berpacu terus melintasi bulak panjang. Mereka mencoba tidak berkuda bersama-sama agar tidak menimbulkan kecurigaan.

Namun dalam pada itu, yang tidak terduga pun telah terjadi. Ketika mereka melintasi sebuah bulak, setelah mereka meninggalkan Kademangan Sangkal Putung, maka mereka seakan-akan merasa telah dibayangi oleh sebuah kekuatan yang lain. Benar-benar sekedar firasat petualangan mereka. Bahkan salah seorang saudara Gandu Demung yang ada di dalam iring-iringan itu berkata, “Aku merasakan sesuatu akan terjadi.”

“Ya. Aku melihat seekor kuda melintas di depan jalan kita.”

“Itulah sebabnya aku merasakan sesuatu.”

“Dan kita tidak akan dapat mengejarnya karena beberapa pertimbangan.”

Saudara Gandu Demang itu pun kemudian memerintahkan agar iring-iringan itu memperlambat perjalanan. Sejenak ia mencoba untuk melihat, apakah yang sebenarnya mereka hadapi. Namun seekor kuda yang rasa-rasanya mereka lihat itu sama sekali tidak nampak lagi. Suara derap kakinya pun tenggelam dalam derap kaki kuda mereka sendiri.

Yang nampak adalah tabir malam yang hitam kelam.

“Apakah dalam iring-iringan ini tidak ada orang lain?” bertanya saudara Gandu Demung itu.

“Tidak. Ki Bajang Garing membawa orang-orangnya melalui jalan lain. Demikian pula kelompok dari Alas Pengarang,” jawab salah seorang anak buahnya.

“Apakah mungkin yang kita lihat salah seorang dari kedua kelompok itu?”

“Memang mungkin.”

“Apakah mereka akan mencegat kita?”

“Jika demikian, apa boleh buat.”

Mereka pun tidak bercakap-cakap lagi. Tetapi saudara Gandu Demang yang memimpin sisa kelompoknya yang parah itu pun kemudian memerintahkan orang-orangnya untuk mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan. Mereka menyadari bahwa tersimpan dendam pada orang-orang yang merasa terjebak di Sangkal Putung meskipun sebelumnya mereka telah ikut serta menentukan.

“Mereka menumpukan kegagalan ini pada kesalahan Gandu Demung,” desis saudara Gandu Demung itu.

Anak buahnya yang berkuda di sebelahnya mengangguk-angguk. Desisnya kemudian, “Itu tidak adil.”

“Karena itu jika mereka memaksa kita mengakui kesalahan maka kita akan bertempur sampai orang yang terakhir. Dan aku yakin, bahwa kita masih akan tetap dapat mempertahankan diri.”

Kawannya tidak menjawab. Tetapi wajahnya menjadi tegang.

Dalam pada itu yang terjadi di bagian lain dari lereng Gunung Merapi di sisi Selatan itu, hampir serupa pula. Ki Bajang Garing yang membawa anak buahnya berpacu meninggalkan Sangkal Putung sambil mengumpat-umpat telah merasakan sesuatu yang mendebarkan jantung.

“Aku melihat beberapa orang di gardu perondan itu,” desisnya.

“Mereka sama sekali tidak menghentikan kita,” jawab kawannya.

“Tentu tidak berani. Mereka mengetahui, bahwa yang lewat bukan hanya satu atau dua orang berkuda.”

Kawannya mengangguk-angguk. Namun mereka terkejut ketika tiba-tiba saja mereka melihat sebatang panah api meloncat ke udara.

“Gila. Apakah artinya itu,” geram Bajang Garing.

“Kecurigaan,” desis salah seorang anak buahnya.

“Tentu peronda-peronda itu memberikan isyarat kepada padukuhan di hadapan kita.”

“Kita dapat berbelok di tengah-tengah bulak itu. Kita akan melalui jalan lain.”

“Ya. Kita akan berbelok di simpang jalan yang pertama kita temui.”

“Jika tidak ada jalan simpang?”

Ki Bajang Garing termangu-mangu. Ia tidak begitu mengenal daerah itu. Yang diketahuinya adalah bahwa ia berada di lereng Selatan Gunung Merapi, karena meskipun di malam hari, puncak Gunung Merapi nampak menjulang di langit yang bersih.

“Kita akan berbelok ke kiri. Pada suatu saat kita tentu akan sampai ke jalan yang menuju ke Mataram. Meskipun kita juga tidak akan melintasi Mataram, namun di bagian lain dari Alas Mentaok kita akan dapat mengenali jalan yang menuju ke Gunung Tidar.”

“Kenapa kita harus melingkar dan melalui jalur menuju ke Mataram.”

“Memang lebih jauh. Tetapi kita tidak akan tersesat. Sebelum fajar, kita tentu sudah menemukan jalan yang kita kenal dengan baik di sekitar Mataram. Kita akan menerobos bagian yang masih berujud Hutan Mentaok dan akan muncul di sebelah Utara. Kita masih harus memperhitungkan waktu berikutnya untuk mencapai Gunung Tidar.”

Kawannya tidak menjawab. Mereka berpacu semakin cepat di gelapnya malam. Namun mereka tidak segera menemukan jalan simpang yang mereka cari.

“Tentu di mulut lorong di padukuhan sebelah, para peronda sudah siap menghentikan kita,” berkata Kiai Bajang Garing kemudian.

“Kita tidak akan berhenti. Aku akan menyibukkan mereka dengan ujung senjata,” sahut salah seorang anak buahnya.

Ki Bajang Garing tidak menjawab. Namun yang terdengar adalah gemeretak giginya.

Tetapi dalam kegelisahan itu, tiba-tiba saja ia memberikan isyarat kepada anak buahnya yang tersisa. Ternyata bahwa di hadapan mereka terdapat sebuah jalan simpang yang berbelok justru ke kiri seperti yang mereka harapkan.

Dengan serta-merta iring-iringan itu pun berhenti. Beberapa ekor kuda yang terkejut, bahkan melonjak dan berdiri dengan kedua kaki belakang. Tetapi mereka pun segera menarik nafas ketika mereka menyadari, bahwa mereka akan dapat menempuh jalan simpang yang membelah bulak panjang itu ke arah Selatan.

Tetapi sekali lagi yang tidak terduga itu pun terjadi. Tiba-tiba saja dari balik gerumbul batang jarak di tepi jalan, muncul seseorang yang hanya nampak kehitam-hitaman di dalam bayangan kegelapan.

Ki Bajang Garing yang jantungnya masih membara karena kegagalan yang dialaminya segera membentak, “He, siapakah kau?”

“Sabarlah, Ki Sanak,” jawab bayangan hitam itu.

“Cepat menepi atau kau akan terkapar di pinggir jalan ini dengan luka di dadamu?”

Tetapi orang itu sama sekali tidak menepi. Ia masih tetap berdiri di tempatnya. Bahkan ia justru bergeser setapak ke tengah sambil berkata, “Jangan terlampau garang. Sabarlah, dan kita akan berbicara serba sedikit.”

“Aku tidak mempunyai waktu. Jika kau berbicara, berbicaralah. Dan sebutlah, siapakah kau.”

Orang yang berdiri di tengah jalan itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berkata, “Turunlah. Kita akan berbicara.”

“Tidak!” teriak Ki Bajang Garing. “Cepat minggir, atau aku benar-benar akan membunuhmu.”

Orang itu ragu-ragu sejenak. Lalu katanya, “Baiklah. Aku akan menyebut siapakah aku.”

“Aku tidak peduli,” Bajang Garing semakin marah.

“Dengarlah. Aku adalah seorang prajurit dari Pajang.”

“Prajurit?” suara Ki Bajang Garing justru meninggi.

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun memberikan isyarat dengan tepuk tangan tiga kali.

Beberapa orang segera muncul dari balik gerumbul dan berloncatan ke jalan, justru di segala arah, sehingga Ki Bajang Garing benar-benar telah terkepung oleh bebarapa orang yang tidak begitu jelas di dalam gelapnya malam. Namun dalam keremangan itu, Ki Bajang Garing dan anak buahnya mencoba mengenalinya, bahwa pakaian yang mereka pakai benar-benar pakaian prajurit Pajang.

Tetapi Kiai Bajang Garing tidak segera mempercayainya. Dengan nada yang geram ia berkata, “Kau jangan menakut-nakuti kami seperti menakut-nakuti anak-anak. Cepat pergi dari tempat ini, atau kalian terpaksa mengalami tindakan kekerasan sehingga kalian akan menyesal.”

“Dengarlah,” berkata orang itu, “kami benar-benar prajurit Pajang yang mendapat perintah dari Senapati Agung di daerah ini, Untara yang berkedudukan di Jati Anom. Kami harus menangkap setiap orang yang kami curigai untuk mendapat keterangan daripadanya. Kami mendapat wewenang untuk melepaskan atau menahan orang-orang yang kami curigai itu sesuai dengan keadaan mereka. Demikian juga berlaku bagi kalian.”

“Persetan! Tidak ada orang yang dapat menahan kami,” Kiai Bajang Garing berteriak semakin keras. Kemarahan yang membakar jantungnya bagaikan disiram dengan minyak, “Menepilah. Cepat!”

Namun orang itu tiba-tiba saja telah menggenggam pedang yang tergantung di lambungnya sambil berkata, “Aku sedang menjalankan tugas. Semua perintahku adalah perintah atas wewenang yang melimpah dari Sultan Pajang mengalir sampai ke pundakku. Setiap orang harus mentaatinya. Jika kalian memang tidak bersalah, maka kalian akan segera kami lepaskan.”

“Aku tidak peduli,” teriak Kiai Bajang Garing

“Jika demikian, maka kami pun akan mempergunakan kekerasan. Karena kami mendapat wewenang pula untuk melakukannya terhadap setiap orang yang tidak mau mengikuti perintah kami.”

Yang terdengar adalah gemeretak gigi Kiai Bajang Garing. Dengan nada yang marah, maka ia pun berkata, “Singkirkan orang-orang ini.”

Anak buahnya pun segera mempersiapkan diri. Tetapi ternyata bahwa prajurit-prajurit Pajang itu pun bertindak cepat. Merekalah yang justru menyerang lebih dahulu, sehingga orang-orang berkuda itu terkejut. Beberapa orang tidak dapat berbuat lain kecuali meloncat turun dari kuda-kuda mereka.

Demikian juga Kiai Bajang Garing. Orang yang menghentikannya itu dengan serta-merta telah menyerangnya pula, sehingga ia pun terpaksa meloncat turun pula karena tidak ada kesempatan baginya untuk menggerakkan kendali kudanya.

Sejenak kemudian, pertempuran telah terjadi lagi. Kali ini sisa-sisa orang Kiai Bajang Garing yang parah itu harus melawan sekelompok prajurit yang ternyata jumlahnya lebih banyak dari orang-orang Kiai Bajang Garing itu.

Tetapi Kiai Bajang Garing memang memiliki kelebihan dari orang kebanyakan. Kemarahan yang meluap di dadanya, telah membuatnya menjadi seorang yang garang dan bertempur dengan kasarnya, bahkan semakin lama ia pun menjadi semakin buas.

Tetapi prajurit-prajurit itu nampaknya telah berpengalaman pula. Pimpinannya dengan segera memberikan beberapa macam aba-aba, sehingga prajurit-prajurit Pajang itu cepat dapat menguasai keadaan, apalagi jumlah mereka memang lebih banyak.

“Menyerah!” perintah pimpinan prajurit Pajang itu. “Kami mendapat wewenang sepenuhnya. Tetapi kami pun mendapat pesan, bahwa tugas kami adalah tugas keprajuritan, sehingga kami bukanlah pembunuh-pembunuh yang mata gelap. Jika kalian menyerah, maka kami akan memperlakukan kalian sesuai dengan ketentuan. Tetapi jika kalian berkeras kepala, apalagi sampai menitikkan darah dari tubuh kami, maka kami pun manusia biasa yang masih juga dikuasai oleh perasaan di samping kewajiban kami sebagai seorang prajurit.”

Kiai Bajang Garing tidak menjawab. Tetapi ia melihat kepungan itu menjadi semakin rapat. Kepungan prajurit dalam jumlah yang lebih banyak dari jumlah orang-orangnya.

“Menyerahlah,” terdengar perintah itu sekali lagi. Bukan saja perintah dengan lesan. Tetapi serangan prajurit-prajurit itu pun terasa semakin menekan.

Tetapi Kiai Bajang Garing masih berusaha untuk melawan. Bahkan dengan suara parau ia berteriak, “Kalian bukan prajurit Pajang. Kalian adalah perampok-perampok yang ingin merampok kami.”

“Atas nama Senapati Agung di daerah Selatan. Menyerahlah,” perintah itu terdengar semakin keras, “kami dapat melakukan apa saja atas kalian. Itu adalah wewenang yang memang ada pada kami.”

Kiai Bajang Garing tidak segera menyerah. Bahkan ia bertempur semakin seru sambil bertanya, “Jika kalian prajurit Pajang, kenapa kalian berada di tempat ini pada saat ini?”

“Kami mempunyai beberapa alasan. Tetapi kami tidak sempat menceriterakan sekarang. Jika kalian menyerah dan mau mendengarkan pembicaraan kami, maka kami akan mengatakan alasan kami kenapa kami mencurigai kalian sekarang ini.”

“Persetan!” geram Kiai Bajang Garing. Sambil berteriak nyaring, maka ia pun bertempur dengan segenap kemampuan yang ada padanya diikuti oleh sisa-sisa anak buahnya. Bahkan ada di antara mereka yang telah terluka dan tidak mampu berbuat banyak.

Sejenak kemudian pertempuran di jalan simpang itu pun menjadi semakin sengit. Bahkan mau tidak mau beberapa orang terpaksa terjun ke dalam sawah, menginjak-injak tanaman jagung muda yang sedang tumbuh dengan suburnya.

“Kasihan pemilik sawah ini,” desis seorang prajurit, “kau adalah sumber kegagalan panenan mendatang.”

“Bukan kami,” teriak seorang anak buah Ki Bajang Garing, “jika kalian tidak menghentikan perjalanan kami, maka perkelahian ini tidak terjadi.”

“Jika kalian menurut perintah kami, maka tidak akan terjadi keributan ini. Sedangkan kami adalah prajurit-prajurit yang sedang menjalankan kuwajiban.”

Anak buah Ki Bajang Garing itu tidak menjawab. Namun ia menyerang semakin dahsyat. Tetapi dengan demikian, perlawanan prajurit-prajurit Pajang itu pun menjadi semakin seru pula.

Pemimpin prajurit yang bertempur melawan Ki Bajang Garing mulai merasa tekanan yang semakin berat. Semula ia tidak menyangka, bahwa ia akan bertemu dengan orang yang memiliki kemampuan yang cukup tinggi. Menurut pengamatannya, penjahat-penjahat kecil yang sering melakukan perampokan, kadang-kadang hanyalah orang-orang yang sekedar mempunyai keberanian. Tetapi lawannya yang bertubuh pendek itu ternyata memang memiliki kemampuan bertempur yang cukup.

Karena itulah, maka senapati itu pun kemudian tidak menjadi lengah. Bahkan kemudian ia pun mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya untuk mengalahkan lawannya. Tetapi ternyata bahwa lawannya cukup lincah dan kuat.

Tetapi di bagian lain, anak buah Bajang Garing yang sudah semakin parah, tidak dapat menahan sergapan para prajurit yang jumlahnya lebih banyak itu. Satu-satu mereka dapat dilumpuhkan dan bahkan terpaksa meletakkan senjata mereka, karena tidak ada kesempatan lagi untuk melawan. Jika tiba-tiba saja ujung pedang telah menekan punggung, selagi ia sedang menghadapi seorang lawan lainnya yang berdiri di depannya, maka tidak akan jalan lain kecuali melepaskan senjatanya dan membiarkan kedua tangannya diikat.

Kiai Bajang Garing mengumpat tidak habis-habisnya melihat satu-satu anak buahnya dapat dikuasai oleh orang-orang yang mengaku prajurit Pajang itu. Bahkan kemudian tiba-tiba saja senapati yang melawannya itu berkata, “Menyerahlah. Aku akan memerintahkan beberapa anak buahku untuk mengurungmu.”

“Licik.”

“Kenapa licik.”

“Kita perang tanding.”

“Aku adalah prajurit yang mengemban tugas. Aku tidak mempunyai persoalan pribadi dengan kau. Karena itu, maka aku akan menangkapmu. Tidak melakukan perang tanding. Hanya jika di antara kita telah bersinggungan harga diri dan apalagi pandangan hidup, maka barulah kita pantas melakukan perang tanding.”

“Pengecut! Aku menantang kau perang tanding. Aku akan menghinamu sebagai tikus yang paling pengecut. Aku akan menyinggung harga dirimu yang paling rendah. Kau adalah pengecut yang mengaku sebagai seorang prajurit. Tetapi kau sama sekali tidak berani bersikap jantan dan melawan aku dalam perang tanding.”

Tetapi prajurit itu tersenyum. Katanya dengan sareh, “Jangan sekarat. Menyerahlah.”

“Persetan, persetan!” Kiai Bajang Garing berteriak untuk melepaskan kemarahan yang serasa memerahkan dadanya.

Namun ternyata senapati itu sama sekali tidak terpengaruh. Ia masih sempat mengatur beberapa orang prajuritnya untuk mengepung Kiai Bajang Garing.

Betapa pun juga kemampuan yang ada pada orang bertubuh pendek itu, tetapi ia segera mengalami kesulitan melawan beberapa orang prajurit yang nampaknya memang terlatih baik untuk bertempur berpasangan.

“Curang licik, pengecut, penakut!” teriak Kiai Bajang Garing. Bahkan masih banyak lagi umpatan-umpatan kotor yang meloncat dari mulutnya.

“Kau tidak usah mengingkari kenyataan yang kau hadapi, Ki Sanak. Menyerahlah. Aku tidak akan memperlakukan kau dengan sewenang-wenang karena kami prajurit-prajurit Pajang, terikat pada ketentuan yang dilandasi atas sumpah. Itulah sebabnya, jika kau menyerah maka kau dan orang-orangmu akan mengalami nasib yang baik.”

Tetapi Kiai Bajang Garing sama sekali tidak mau mendengarnya. Ia masih bertempur dengan gigihnya melawan beberapa orang sekaligus, sementara anak buahnya telah tidak ada lagi yang mengangkat senjatanya.

“Semua orang-orangmu telah menyerah,” berkata Senapati Pajang itu, “jika sampai ada salah seorang prajuritku yang luka kulitnya karena senjatamu, mungkin aku akan mengambil keputusan lain, karena aku juga manusia yang masih digenggam oleh kisaran perasaan. Ki Sanak, jika seorang kawanku terluka, maka aku akan membuat sepuluh luka di kulitmu. Aku dapat mencari garam di padukuhan. Dan kau akan mengerti, apakah maksudku selanjutnya.”

“Gila. Itukah tingkah laku prajurit Pajang.”

“Bukan tingkah laku prajurit Pajang. Tetapi aku bermaksud menakut-nakutimu. Karena barangkali memang ada satu-satu prajurit yang tersentuh oleh kemarahan yang tidak terkendali.”

Bajang Garing tidak menjawab. Tetapi ia masih bertempur melawan orang-orang yang menyebut dirinya prajurit Pajang itu. Sekali-sekali ia berusaha untuk melepaskan diri dari kepungan yang rapat dengan memecah dinding, namun kadang-kadang dengan membabi buta ia menyerang berputaran. Selapis perasaan putus asa telah mulai menyentuh dasar hatinya. Tetapi ia masih belum mau melihat kenyataan. Ia masih ingin mempertahankan diri dan harga dirinya sebagai orang yang memiliki nama di daerah Gunung Tidar.

Namun, perjuangan Bajang Garing terasa semakin berat. Ia mulai kebingungan menangkis serangan dari beberapa arah, yang bahkan hampir bersamaan.

Meskipun demikian, Bajang Garing masih juga dapat berbangga, bahwa senjata lawannya sama sekali belum ada yang menyentuh apalagi kulitnya, bahkan pakaianya pun tidak.

Tetapi ternyata bahwa pakaiannya itu telah basah kuyup oleh keringat yang bagaikan diperas dari tubuhnya.

Prajurit-prajurit Pajang yang bertempur melawan Bajang Garing itu semakin merapatkan kepungannya. Senapati yang memimpin mereka setiap kali masih saja mencoba memaksa Bajang Garing untuk melihat kenyataan. Tetapi nampaknya Bajang Garing tetap berkeras kepala. Ia masih bertempur terus dengan segenap kemampuan yang ada padanya.

“Apakah kau benar-benar tidak dapat diajak berbicara,” geram senapati itu kemudian.

“Aku menantang kau perang tanding jika kau memang jantan,” jawab Bajang Garing.

“Aku sedang menangkapmu, bukan menyelesaikan persoalan di antara kita. Dengar, dan sekali lagi dengar,” senapati itu semakin marah.

Tetapi Bajang Garing seolah-olah tidak mendengarnya. Ia masih saja bertempur membabi buta.

Senapati itu menarik nafas dalam-dalam. Akhirnya ia memberikan isyarat kepada seorang prajuritnya untuk mendekat.

“Berikan tombakmu.”

Prajurit itu termangu-mangu. Tetapi ia tidak sempat memikirkan akibat dari tombak itu, karena tiba-tiba saja tombak itu sudah dihentakkan dari tangannya.

Sejenak mereka masih bertempur. Beberapa orang prajurit Pajang masih melingkari Bajang Garing yang bagaikan mengamuk.

Namun tiba-tiba para prajurit Pajang itu menyadari, bahwa senapatinya berhasrat segera mengakhiri pertempuran itu. Sadar bahwa Bajang Garing adalah orang yang cukup kuat dan memiliki ilmu yang tinggi, maka senapati itu tidak dapat berbuat tergesa-gesa.

Tetapi kesempatan yang ditunggunya itu pun akhirnya datang. Ketika Bajang Garing sibuk menangkis serangan dari sebelah-menyebelah, maka tiba-tiba saja senapati itu mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya.

Dengan kemampuan tangannya menggerakkan tangkai tombak, maka ia meloncat maju dengan cepatnya. Tangannya terjulur lurus ke depan, sedangkan tangannya yang lain dengan tangkasnya menggerakkan tangkai tombak yang bertumpu pada tangannya yang terjulur itu.

Dalam kebingungan, Bajang Garing tidak sempat berbuat apa-apa. Senjatanya sedang berputar di sisi tubuhnya menangkis serangan dari samping yang mengarah ke dada. Karena itulah, maka ia sama sekali tidak berdaya ketika tombak itu terjulur ke lambung.

Meskipun ia mencoba menggeliat, namun ujung tombak itu bagaikan mempunyai mata. Dengan gerakan kecil, tangan Senapati yang terjulur itu ternyata telah mampu merubah arah tombaknya.

Tetapi senapati itu tidak menusuk dengan ujung tajam tombaknya. Ia hanya ingin melumpuhkan Bajang Garing. Karena itulah maka ia pun telah menyerang dengan pangkalnya menghantam lambung.

Terdengar keluhan tertahan. Bajang Garing memang memiliki daya tahan yang kuat. Namun demikian, hentakan pangkal tangkai tombak di lambungnya itu terasa sakit bukan buatan sehingga terdengar ia berdesah.

Serangan itu telah membuka serangan-serangan berikutnya meskipun tidak semuanya berhasil menyentuh lawan.

Para prajurit itu pun menyadari maksud serangan pemimpinnya yang tidak mempergunakan tajam tombaknya. Jika demikian, maka tajam tombak itu tentu sudah menyobek kulit orang yang keras kepala itu. Sehingga karena itu pula, maka para prajurit yang mengepungnya itu pun menyerang dengan cara yang sama pula.

Seorang yang bersenjata pedang, telah memukul punggung Bajang Garing tidak dengan tajam pedangnya, tetapi justru dengan punggungnya meskipun pukulan itu tidak segera dapat menjatuhkan lawannya.

Namun serangan, yang datang berurutan itu telah membuat Bajang Garing kebingungan. Ia tidak lagi dapat memusatkan perhatiannya. Setiap kali terasa tubuhnya disengat oleh perasaan sakit, dan kadang-kadang terasa tulang-tulangnya menjadi retak.

Ketika sebuah pukulan tangkai tombak yang keras mengenai tengkuknya, terasa kepala Bajang Garing menjadi pening. Bintang-bintang yang bertaburan di langit bagaikan berputaran mengelilingi ubun-ubunnya. Bahkan orang-orang yang mengelilingi itu pun bagaikan berlari-lari berputaran sambil mengacungkan senjata kewajahnya.

Perlahan-lahan kesadaran Bajang Garing pun mulai kabur, sehingga akhirnya ia pun jatuh tertelungkup. Pingsan.

Sesaat kemudian orang-orang yang mengerumuninya itu pun saling berpandangan. Kemudian terdengar sebuah perintah, “Ikat orang itu, dan kita bawa bersama anak buahnya yang menyerah. Mereka akan berguna bagi kita.”

Orang-orang yang mengerumuninya dan menyebut dirinya prajurit-prajurit Pajang itu pun kemudian berlutut di seputar tubuh Bajang Garing. Salah seorang dari mereka segera mengikat tangan Bajang Garing itu dengan tali yang kuat.

“Orang itu cukup berbahaya. Jika ia sadar di perjalanan, maka ia akan meronta.”

“Tali itu cukup kuat, Ki Lurah,” jawab salah seorang.

Pemimpinnya mengangguk-angguk. Katanya, “Marilah, kita bawa mereka sekarang.”

Sejenak kemudian, orang-orang itu pun telah membenahi diri. Para tawanan diperintahkan untuk naik ke kuda masing-masing Sedangkan senjata mereka telah diikat menjadi satu. Ada pun Bajang Garing yang pingsan dinaikkan pula ke punggung kuda dijaga oleh seorang sambil memeganginya agar ia tidak terjatuh.

“Kita tidak perlu tergesa-gesa,” berkata pemimpinnya, “kasihan kuda yang harus dibebani oleh dua orang itu.”

Sejenak kemudian, maka perlahan-lahan iring-iringan berkuda itu mulai bergerak meninggalkan bulak yang telah menjadi arena perkelahian itu. Beberapa orang yang tertawan masih saja bertanya-tanya di dalam hati, kemanakah mereka itu dibawa, dan berada di tangan siapakah mereka itu sebenarnya.

Tetapi tidak seorang pun yang berani bertanya. Mereka hanya mencoba untuk mendengarkan setiap percakapan agar mereka dapat mengambil kesimpulan.

Tetapi pembicaraan mereka yang telah membawa para perampok itu tidak begitu jelas. Mereka menyebut-nyebut bermacam-macam persoalan yang tidak diketahui. Namun setiap kali terdengar mereka menyebut diri mereka sebagai prajurit-prajurit.

“Mungkin mereka benar-kenar prajurit Pajang,” desis salah seorang perampok yang tertawan. “Jika mereka termasuk kelompok yang lain lagi, atau mungkin kawan-kawan Gandu Demung dari Gunung Tidar, atau salah satu kelompok di bawah kekuasaan orang yang kadang-kadang disebut Kelasa Sawit, atau orang-orang semacamnya, maka agaknya nasib kami akan berkepanjangan.”

Ketika salah seorang yang menawan itu menyebut nama Untara, maka para lawanan itu mencoba memperhatikan, apakah ada hubungannya dengan keadaan mereka. Namun mereka menjadi kecewa, karena orang itu hanya mengatakan, bahwa Untara tentu akan datang ke Sangkal Putung untuk ikut merayakan perkawinan Swandaru.

“Persetan dengan pengantin itu,” salah seorang dari mereka yang tertawan itu mengumpat di dalam hati.

Demikianlah iring-iringan itu maju perlahan-lahan menyusuri bulak-bulak panjang dan pendek. Setiap kali mereka melalui jalan simpang, mereka memilih untuk berbelok daripada melalui padukuhan-padukuhan yang tersebar di lereng Gunung Merapi. Bahkan kemudian mereka telah berjalan menyusur jalan kecil di sebelah hutan yang panjang, meskipun bukan hutan yang lebat.

Yang diketahui oleh para tawanan, bahwa jalan sudah mulai mendaki kaki Gunung Merapi. Beberapa kali terasa mereka mengikuti sebuah jalur jalan yang naik meskipun belum terlampau tinggi.

Ternyata Bajang Garing masih belum sadar. Ia tidak mengetahui jalan yang ditempuhnya. Ia tidak sadar, apakah yang telah terjadi selama ia pingsan.

Tetapi pada saatnya, maka Bajang Garing itu pun mulai menjadi sadar. Perlahan-lahan ia mulai merasa sentuhan tali yang membelit di tangannya.

Ketika Bajang Garing membuka matanya, ia melihat bayangan-bayangan kabur di hadapannya. Semakin lama semakin jelas. Sehingga akhirnya ia sadar sepenuhnya, bahwa ia sudah berada di sebuah pendapa yang tidak dikenalnya, dikelilingi beberapa orang dalam terangnya lampu minyak.

Tetapi serasa ia terlonjak ketika terlihat olehnya, saudara Gandu Demung dan orang-orang dari Hutan Pengarang ada di pendapa itu pula, dan seperti dirinya sendiri, mereka pun terikat tangannya pula serta dijaga oleh beberapa orang di sebelah-menyebelah.

“Orang itu mulai sadar,” terdengar seseorang berkata sambil memandang kepada Bajang Garing.

Dengan demikian maka setiap mata pun mulai memandang, sehingga Bajang Garing yang terikat itu merasa wajahnya serasa tersentuh bara.

“Persetan,” geramnya di dalam hati. Giginya terasa gemertak menahan kemarahan yang serasa menghentak-hentak dada.

Namun ia tidak dapat ingkar atas kenyataan yang dialaminya. Ia terikat di sebuah pendapa yang tidak dikenalnya.

Ketika Bajang Baring kemudian mengangkat wajahnya ia melihat beberapa orang memandanginya tanpa berkedip, seolah-olah orang-orang itu sedang memperhatikan sesuatu yang sangat menarik perhatiannya dan yang belum pernah dilihatnya.

Sekali lagi ia menggeram. Namun ia tidak berhasil merubah suasana di pendapa itu.

Sejenak kemudian, setiap orang mulai bergeser ketika terdengar derap beberapa ekor kuda memasuki halaman. Salah seorang dari orang-orang yang berada di pendapa itu berdesis, “Ia telah datang.”

Bajang Garing dan orang-orang yang tertawan dengan tangan terikat itu pun ikut berpaling. Tetapi mereka hanya melihat beberapa bayangan hitam di halaman tanpa dapat mengenal mereka seorang demi seorang.

Baru sejenak kemudian, mereka melihat seorang anak muda yang naik ke pendapa diikuti oleh beberapa orang pengawal.

Dalam keragu-raguan, Bajang Garing dan kawannya mendengar orang-orang di sekitarnya dengan sengaja memberitahukan mereka, “Itu adalah Senapati Agung di daerah Selatan. Untara.”

Nama itu rasa-rasanya telah menghentakkan jantung mereka sehingga rasa-rasanya dada mereka berdentangan semakin keras. Ternyata mereka benar-benar berada di pendapa yang penuh dengan prajurit-prajurit Pajang. Dan dengan demikian maka mereka pun mulai yakin, sebenarnyalah mereka telah ditangkap oleh prajurit-prajurit Pajang.

Sejenak kemudian mereka melihat Untara duduk di depan pringgitan di antara beberapa orang perwira pembatunya. Matanya yang tajam memandang seorang demi seorang dari mereka yang terikat.

“Apakah mereka pemimpin-pemimpinnya,” terdengar suara anak muda itu berat dan mantap.

“Ya,” jawab seorang perwira yang sudah lebih tua dari Untara, “mereka telah ditangkap oleh prajurit-prajurit yang memang dikerahkan ke daerah yang dicurigai.”

“Dan mereka benar-benar melalui daerah itu,” geram Untara.

“Ya.”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya kepada orang-orang yang terikat itu, “Kalian tahu, kenapa kalian kami tangkap?”

Tidak seorang pun yang menjawab.

“He, apakah kalian tidak mendengar pertanyaanku.”

Masih belum ada jawaban. Namun dada orang-orang yang terikat itu tergetar ketika tiba-tiba saja mereka melihat Untara itu meloncat berdiri, “He,” suaranya menjadi keras, “Apakah kalian tahu? Jawab pertanyaanku, atau kepala kalian akan terlepas dari leher kalian. Apakah kalian menyadari, kenapa kalian ditangkap?”

Yang ada di pendapa dengan tangan terikat itu adalah para pemimpin penjahat yang memiliki ketahanan badani dan jiwani yang besar. Namun melihat sikap Untara rasa-rasanya mereka telah didorong oleh suatu keharusan untuk menjawab, “Ya. Kami mengerti.”

Untara mengatupkan giginya rapat-rapat. Kemudian perlahan-lahan ia duduk sambil berguman, “Kalian berhadapan dengan prajurit Pajang. Jangan mencoba untuk menyombongkan diri di pendapa ini.”

Terasa hati para pemimpin penjahat itu menjadi kecut. Agaknya Untara tidak senang bermain-main. Hampir setiap orang telah pernah mendengar tentang senapati muda yang bernama Untara itu.

“Ki Sanak,” suara Untara merendah, “aku sudah tahu apa yang telah terjadi di ujung Kademangan Sangkal Putung meskipun terlambat, sehingga kami tidak dapat mengambil langkah-langkah menyelamatkan sepasang pengantin itu. Untunglah, bahwa Sangkal Putung berhasil melindungi pengantinnya, sehingga kalian telah mengalami kegagalan.”

Orang-orang yang terikat tangannya itu menundukkan kepalanya.

“Laporan-laporan tentang kalian sudah kami terima sejak kalian mendekati hutan itu di malam sebelum pertempuran itu terjadi. Tetapi kami tidak tahu pasti apa yang akan terjadi. Beberapa pengawas kami telah melihat iring-iringan dalam kelompok kecil yang mencurigakan karena jumlahnya yang terlampau banyak. Mungkin orang-orang kebanyakan tidak banyak memperhatikan kelompok-kelompok kecil yang lewat. Tetapi peronda-peronda kami agaknya telah melihat suatu kelainan.”

Orang-orang itu masih saja terdiam.

“Tetapi kami terlambat mendapat laporan tentang pertempuran yang terjadi, sehingga kehadiran kami sudah tidak berarti lagi. Apalagi para pengawas kami melihat kepastian bahwa Sangkal Putung akan berhasil memenangkan pertempuran itu.” Untara berhenti sejenak, lalu, “Dan seperti yang kami perhitungkan, bahwa kami akan melakukan penyergapan di saat-saat kalian meninggalkan daerah Sangkal Putung. Prajurit kami tersebar di setiap jalur jalan di sekitar daerah Sangkal Putung. Penangkapan ini akan sangat berarti bagi ketenangan Sangkal Putung dalam saat-saat perayaan perkawinan itu berlangsung.”

Meskipun para pemimpin penjahat itu tidak menjawab sepatah kata pun, namun mereka mengumpat-umpat di dalam hati. Mereka tidak akan dapat berbuat banyak menghadapi prajurit-prajurit Pajang dalam kesempatan-kesempatan berikutnya.

“Ini adalah akibat kegilaan Gandu Demung,” geram Bajang Garing di dalam hatinya. “Jika ia tidak bermimpi demikian gilanya, maka kami bersama-sama tidak akan mengalami nasib buruk, setelah beberapa orang kawan kami menjadi korban.”

Tetapi Bajang Garing hanya dapat menyimpan kegeramannya itu di dalam hati. Ketika ia mencoba mengangkat wajahnya memandang berkeliling, maka terdengar giginya gemeretak ketika terpandang olehnya saudara Gandu Demung yang ternyata juga telah tertangkap oleh prajurit Pajang.

“Di manakah orang-orang itu,” bertanya Bajang Garing di dalam hatinya ketika ia tidak melihat anak buahnya di pendapa itu. Namun agaknya ia telah mencoba menjawabnya, “Mereka tentu berada di dalam bilik yang gelap dan pepat, dijaga oleh para prajurit dengan tombak telanjang.”

Tetapi Bajang Garing tidak sempat berangan-angan, karena sejenak kemudian Untara berkata, “Kami ingin mendapat keterangan kalian lebih banyak lagi. Pada kesempatan lain aku sendiri akan berbicara dengan kalian seorang demi seorang.”

Setiap orang menjadi berdebar-debar. Mereka sadar sepenuhnya, dengani siapa mereka berhadapan. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa, karena mereka telah terikat di pendapa Jati Anom.

Dalam pada itu, Untara pun kemudian memerintahkan untuk menyingkirkan orang-orang itu. Di keesokan harinya ia akan mulai memanggil orang-orang itu seorang demi seorang.

“Besok malam aku akan hadir di Sangkal Putung memenuhi undangan Ki Demang menyambut pengantin,” katanya kepada para perwira, “sehingga karena itu, maka besok aku harus sudah mempunyai bekal. Meskipun resminya aku pergi ke Sangkal Putung untuk menghadiri perayaan perkawinan itu, tetapi salah seorang dari orang-orang Sangkal Putung itu mungkin akan bertanya tentang para perampok. Mungkin ada pihak-pihak yang mempunyai tafsiran yang salah tentang peristiwa itu. Sehingga aku perlu meletakkan persoalannya pada keadaan yang seharusnya.”

Para perwira itu mengangguk-angguk,

“Besok pagi-pagi para tawanan itu harus sudah disiapkan. Tentu tidak mudah memancing jawaban dari mereka.”

“Tetapi agaknya mereka telah kehilangan pribadi,” jawab seorang perwira, “mungkin karena kecewa, tetapi mungkin karena kejutan yang sama sekali tidak mereka perhitungkan sebelumnya.”

“Hanya kejutan. Tetapi besok mereka akan kembali kepada kepribadian mereka masing-masing.”

Para perwira itu tidak menjawab. Tetapi mereka pun sudah membayangkan, bahwa Untara tentu akan mengetahui sesuatu tentang diri para tawanan itu sebelum ia pergi ke Sangkal Putung.

Dalam pada itu, sebenarnyalah telah tumbuh kekecewaan di hati Swandaru karena peristiwa yang telah terjadi di ujung kademangannya itu. Ia tidak tahu pasti, siapakah sebenarnya yang bersalah. Tetapi ternyata bahwa sebagian dari kejengkelannya telah terlempar kepada prajurit-prajurit Pajang.

“Jika kami tidak dapat mempertahankan diri, maka kami telah hancur,” katanya di dalam hati. “Prajurit Pajang tidak berbuat apa-apa sama sekali.”

Tetapi ternyata bahwa Untara tidak tinggal diam. Ia telah memerintahkan tiga orang prajurit untuk dengan resmi datang ke Sangkal Putung, memberitahukan kepada Ki Demang segala sesuatu yang telah dilakukan.

Kedatangan utusan Untara itu memang mengejutkan Sangkal Putung. Namun sebagian dari mereka kemudian mengangguk-angguk sambil berdesis, “Jadi prajurit-prajurit Pajang itu tidak berdiam diri. Sayang, mereka terlambat sehingga korban sudah banyak yang jatuh. Tetapi yang dilakukan masih jauh lebih baik dari tidak berbuat apa-apa, karena ternyata para perampok yang berhasil lolos itu telah dapat dijaring oleh prajurit-prajurit Pajang yang dengan cepat digerakkan.”

Namun demikian, masih terasa kekecewaan yang tersisa di hati Swandaru terhadap Untara.

Dalam pada itu, peristiwa yang telah mendahului perayaan pengantin di Sangkal Putung itu mempunyai pengaruh yang cukup besar. Orang-orang Sangkal Putung rasa-rasanya menjadi sangat berhati-hati. Mereka membayangkan, bahwa perampok yang banyak jumlahnya itu masih mempunyai kawan yang setiap saat dapat menerkam Sangkal Putung.

Karena itu, maka mereka tidak mau melepaskan anak-anak mereka, terlebih-lebih yang masih kecil-kecil untuk pergi bermain terlalu jauh dari rumah. Bahkan perempuan-perempuan selalu diganggu oleh kecemasan. Mereka segera menutup pintu rapat-rapat jika suami mereka pergi meninggalkan rumah.

Namun hati rakyat Sangkal Putung itu serasa menjadi tenang jika mereka melihat sekelompok anak-anak muda yang meronda dengan senjata di tangan. Juga perempuan-perempuan yang berada di kademangan, setiap kali mereka memerlukan melihat, apakah peronda di gardu masih lengkap.

Meskipun kecemasan melanda seluruh kademangan, namun dapur kademangan masih tetap mengepulkan asap. Perempuan-perempuan masih tetap sibuk menyiapkan hidangan dan selamatan. Selain pertunjukan yang akan tetap berlangsung, maka di pendapa akan diadakan kenduri yang juga sebagai ucapan sukur bahwa sepasang pengantin itu telah selamat juga sampai ke kademangan dengan tidak melupakan pengorbanan mereka yang terpaksa menjadi bebanten.

Dalam suasana yang khusus itu, Kademangan Sangkal Putung merayakan perkawinan Swandaru. Antara gembira dan duka. Antara gelak tertawa dan gemeretak gigi.

Jika di pendapa beberapa orang duduk sambil menghadapi hidangan menjelang upacara yang akan diadakan lepas senja, maka di jalan-jalan di seluruh kademangan nampak anak-anak muda hilir-mudik dalam kesiagaan tertinggi.

Namun hati mereka menjadi tenang, ketika para peronda di ujung kademangan menerima kedatangan empat orang berkuda yang memang khusus menjumpai mereka.

“Apakah Tuan akan menjumpai Ki Jagabaya?” bertanya salah seorang peronda.

“Apakah Ki Jagabaya ada dirumahnya?”

“Tidak. Tentu tidak ada di rumahnya.”

“Di kademangan?”

“Tentu juga tidak. Ki Jagabaya berada di banjar bersama beberapa orang pengawal terpercaya yang siap digerakkan setiap saat.”

“Baiklah. Aku akan menjumpai Ki Jagabaya.”

Para peronda pun segera membawa keempat orang berkuda itu ke banjar untuk menjumpai Ki Jagabaya yang ternyata memang berada di antara para pengawal.

Dengan wajah yang tegang Ki Jagabaya menerima keempat orang itu di pendapa banjar kademangan.

“Apakah yang Tuan kehendaki?”

Salah seorang dari keempat orang itu menjawab, “Ki Jagabaya. Kami hanya sekedar ingin membantu agar ketenangan di kademangan ini dapat lebih terjamin selama perayaan berlangsung beberapa hari seperti yang telah direncanakan.”

Ki Jagabaya mengangguk-angguk.

“Kami tidak akan langsung berada di dalam lingkungan pengamatan para pengawal Kademangan Sangkal Putung agar dengan demikian justru tidak menumbuhkan kesibukan-kesibukan baru bagi kademangan yang sedang sibuk ini. Kami akan berada di luar kademangan, dan setiap kali melakukan hubungan-hubungan yang perlu. Dengan demikian kami tidak akan menambah beban bagi kademangan ini, karena kami akan menyiapkan segala kebutuhan kami sendiri.”

Ki Jagabaya menarik natas. Jawabnya, “Sebenarnya itu bukan merupakan persoalan bagi kami. Justru karena kami sedang sibuk, maka jika kesibukan itu ditambah sedikit, tidak akan terasa bagi kami.”

“Terima kasih,” jawab salah seorang dari keempat orang berkuda itu, “kami akan melakukan di luar kademangan, pada jalur-jalur jalan dan di bulak-bulak panjang.”

“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Aku akan melaporkannya kepada Ki Demang, yang tentu akan sangat berterima kasih pula.”

“Kami menempatkan sepasukan berkuda di daerah Benda dan sepasukan yang lain di Turi Pitu. Jika keadaan memaksa, maka kedua pasukan kecil itu dapat kita gerakkan dengan segera.”

“Kenapa tidak di padukuhan yang mana pun dalam Kademangan Sangkal Putung?”

Salah seorang dari keempat orang itu menjawab sambil tersenyum, “Silahkan merayakan perkawinan Swandaru dengan tenang tanpa memikirkan apa pun juga. Tanpa memikirkan keadaam kami dan keperluan kami.”

Ki Jagabaya pun tersenyum. Sekali lagi ia berkata, “Terima kasih. Kami menyadari, bahwa sikap prajurit Pajang di Jati Anom itu akan sangat membantu.”

“Setidak-tidaknya memberikan ketenangan batin. Seandainya tidak ada lagi yang dapat dilakukan oleh kelompok-kelompok penjahat yang agaknya telah tidak berdaya sama sekali itu, namun kecemasan orang-orang Sangkal Putung akan sangat berpengaruh terhadap suasana lepas senja nanti. Jika mereka mengetahui bahwa prajurit Pajang ada di sekitar kademangan mereka, maka mereka akan menjadi tenang.”

“Ya. Ya. Kami mengerti. Kami akan mengumumkan bahwa prajurit Pajang ada di Benda dan Turi Pitu selain mereka yang meronda di jalan-jalan yang menuju ke Sangkal Putung untuk mengawasi orang-orang yang lalu-lalang. Karena orang-orang dari sekitar Sangkal Putung akan berdatangan memenuhi undangan Ki Demang.”

Keempat orang itu pun kemudian minta diri. Mereka akan kembali ke induk pasukan mereka untuk mengatur pengawasan di sekitar Sangkal Putung.

Ki Jagabaya pun segera menemui Ki Demang. Berita tentang kesiagaan prajurit-prajurit Pajang itu pun segera tersebar. Juga di seluruh Kademangan Sangkal Putung.

“Mereka tentu lebih mementingkan keselamatan Untara yang akan datang pula daripada keselamatan Sangkal Putung,” gumam Swandaru setelah ia mendengar laporan Ki Jagabaya.

Sekali lagi Swandaru mengejutkan beberapa orang tua yang mendengarnya. Meskipun bagi beberapa orang yang lain hal itu tidak banyak menarik perhatian, seolah-olah begitu saja diucapkan oleh Swandaru tanpa maksud yang lebih dalam, namun bagi Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, Ki Waskita, bahkan Agung Sedayu mempunyai arti yang mendebarkan.

“Nampaknya kepercayaan Swandaru kepada Pajang benar-benar sudah larut,” berkata orang-orang tua itu di dalam hatinya.

Meskipun demikian, namun mereka sama sekali tidak saling mempersoalkan, seolah-olah mereka pun sama sekali tidak memper-hatikan kata-kata Swandaru.

Dalam pada itu, Ki Demang yang mendengar laporan Ki Jagabaya itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Bahkan dengan serta-merta ia berkata, “Kita tentu sangat berterima kasih, Ki Jagabaya. Untuk apa pun dan untuk siapa pun Pajang meningkatkan kesiagaannya, bagi kita akibatnya hampir sama. Kita dapat menjadi lebih tenang, karena di samping para pengawal kita sendiri, kita dikelilingi oleh prajurit-prajurit Pajang meskipun jumlahnya tidak terlalu banyak. Apalagi menurut pendengaran kita, sisa-sisa perampok yang berhasil lolos telah dapat dijaring oleh pasukan Pajang yang dapat digerakkan dengan cepat.”

“Ya, Ki Demang,” sahut Ki Jagabaya, “kita akan menyebarkan berita itu seluas-luasnya agar rakyat Sangkal Putung tidak merasa selalu dibayangi oleh ketakutan justru pada saat mereka harus bergembira sekarang ini.”

“Baiklah,” jawab Ki Demang, “sebanyak-banyak orang yang pantas mengetahui kesiagaan prajurit Pajang itu.”

Dengan demikian maka ketenangan pun mulai menjalar di seluruh kademangan. Orang-orang yang semula menutup pintu rumahnya, kemudian telah merencanakan untuk melihat keramaian di pendapa kademangan meskipun padukuhannya terpisah oleh bulak kecil dengan padukuhan induk. Namun mereka percaya bahwa di bulak-bulak itu akan berkeliaran para pengawal dan bahkan para prajurit Pajang.

Menjelang sore, pendapa kademangan sudah dibersihkan. Semua persiapan sudah diatur serapi-rapinya. Kedua orang pengantin akan mengalami rias serupa saat mereka dipertemukan di Tanah Perdikan Menoreh.

Padukuhan yang semula sepi seolah-olah telah menjadi hidup kembali. Lampu-lampu telah disiapkan di gerbang-gerbang. Jika gelap malam turun, maka lampu minyak itu pun akan segera dinyalakan.

Namun demikian, dalam kegembiraan yang mulai hidup lagi di Sangkal Putung, Agung Sedayu merasa dirinya menjadi semakin kecil, jika ia melihat tikar yang sudah terbentang di pendapa, maka ia pun mulai membayangkan bahwa perkawinan Swandaru ternyata mendapat perhatian dari orang-orang terbesar di sekitarnya. Senapati besar di daerah kekuasaan Pajang di bagian Selatan Lereng Merapi akan hadir malam nanti. Demikian pula penguasa yang akan mewakili Senapati Ing Ngalaga dari Mataram pun akan datang.

“Ternyata aku adalah orang yang paling kecil di dalam lingkunganku,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya. Jika sekilas dilihatnya tikar yang terbentang di pendapa, maka ia sudah mulai membayangkan orang-orang yang dihormati akan duduk di sekeliling Swandaru dan Pandan Wangi yang bersanding.

“Peristiwa ini tentu akan selalu diingat oleh Sekar Mirah,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya. Dan karena itulah, maka Agung Sedayu selalu dibayangi oleh kecemasan menjelang hari perkawinannya sendiri, jika saatnya akan tiba.

“Kapan?” tiba-tiba ia bertanya kepada diri sendiri.

Dalam pada itu, matahari pun kemudian bagaikan meluncur dengan cepatnya menuruni langit di ujung Barat. Pendapa Sangkal Putung telah dirias pula dengan segarnya. Warna-warna kuning seperti yang nampak di Tanah Perdikan Menoreh, telah memenuhi pendapa dan halaman kademangan.

Orang-orang tua dan mereka yang diserahi untuk menerima tamu-tamu yang bakal datang pun telah siap di pintu regol dan di tangga pendapa. Sebentar lagi, para tamu pun tentu akan berdatangan. Terutama para tamu yang datang dari jauh.

Sementara itu, peristiwa yang terjadi di Sangkal Putung, ternyata telah didengar pula oleh para pemimpin di Mataram. Para petugas yang mengamati keadaan ternyata cukup cepat menanggapi berita yang datang dari daerah di sebelah Timur Alas Mentaok, sehingga sebelum mereka yang akan pergi menghadiri upacara perkawinan Swandaru di Sangkal Putung berangkat, berita tentang peristiwa di ujung hutan itu telah didengar oleh Ki Lurah Branjangan.

“Untunglah bahwa sepasang pengantin itu selamat,” desisnya.

“Tetapi korban telah ada yang jatuh.”

Ki Lurah memang harus mempertimbangkan peristiwa yang telah terjadi itu. Karena ia masih belum mendapat gambaran yang jelas, maka ia pun telah mengirimkan beberapa orang petugas untuk mendahului perjalanannya. Bahkan, jumlah pengawal yang dibawanya pun menjadi semakin banyak pula karenanya.

Tetapi yang tidak terduga-duga telah terjadi. Para petugas yang mendahului perjalanan Ki Lurah Branjangan ke Sangkal Putung, ternyata telah berpapasan dengan beberapa orang peronda dari Pajang.

“Kalian mencurigakan sekali,” berkata salah seorang prajurit Pajang.

“Kami adalah para pengawal dari Mataram. Kami mendahului perjalanan Ki Lurah Branjangan yang akan pergi ke Sangkal Putung.”

Pengakuan itu sebenarnya telah dapat meredakan ketegangan yang timbul. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Beberapa orang prajurit yang di dalam dirinya telah tersimpan benih-benih ketidak-senangan terhadap orang-orang Mataram yang dianggapnya telah menyaingi kekuasaan Pajang, setidak-tidaknya di sekitar Alas Mentaok itu seolah-olah mendapat kesempatan untuk menumpahkan perasaannya. Itulah sebabnya maka salah seorang prajurit muda menyahut dengan lantang, “Kami akan menggeledah setiap orang yang kami curigai. Kami berhak merampas senjata dan apa pun yang kami pandang perlu.”

Wajah para pengawal dari Mataram itu menjadi merah. Salah seorang dari mereka menjawab, “Kami adalah pengawal Senapati Ing Ngalaga.”

Sejenak ketegangan terasa semakin memuncak. Bahkan seorang prajurit muda yang lain berkata, “Kami adalah prajurit Pajang. Kami berhak melakukan apa saja yang menurut pertimbangan kami akan bermanfaat bagi keamanan Pajang dan seluruh daerah kuasanya, termasuk Alas Mentaok.”

Para pengawal dari Mataram merasakan sindiran yang tajam itu. Seorang pengawal yang juga masih muda nampaknya sulit untuk menahan hati. Jawabnya, “Senapati Ing Ngalaga di Mataram telah mendapat limpahan kekuasaan pula dari Pajang. Kanjeng Kiai Pleret adalah perlambang dari kekuasaan itu. Karena itu, prajurit-prajurit seperti kalian tidak berwenang menyentuh kekuasaan Senapati Ing Ngalaga atau yang mendapat limpahan dari padanya. Dan kami adalah pengawal yang dipercaya. Nilai kami tidak lebih rendah dari seorang prajurit Pajang dalam kedudukan kami di hadapan Kanjeng Sultan.”

Jawaban itu membuat suasana menjadi semakin panas. Prajurit-prajurit muda dan para pengawal yang masih muda pula, rasa-rasanya sulit untuk mengendalikan diri. Namun pemimpin prajurit dari Pajang itu pun kemudian mencoba untuk meredakan suasana, “Jangan dihiraukan lagi. Ia berhak datang ke Sangkal Putung, jika Ki Demang memang mengundangnya.”

Prajurit muda yang lain nampaknya tidak puas dengan keputusan pemimpinnya. Tetapi pemimpin itu berkata pula, “Kita akan mengikuti mereka sampai ke perbatasan Kademangan Sangkal Putung. Setelah mereka berada dalam pengawasan para pengawal, kita akan melepaskannya.”

Para pengawal dari Mataram itu tetap merasa tersinggung. Tetapi mereka pun menyadari, bahwa pertengkaran yang terjadi di hadapan Kademangan Sangkal Putung yang sedang bersiap-siap merayakan perkawinan anak laki-laki Ki Demang itu tentu akan terganggu. Karena itu, maka orang tertua dari mereka menjawab, “Terserahlah kepada kalian. Tetapi sudah aku katakan, bahwa aku mendahului perjalanan Ki Lurah Branjangan yang akan hadir pula pada perayaan perkawinan anak Ki Demang Sangkal Putung itu.”

“Dan kau akan kembali lagi mengabarkan kehadiranmu kepada Ki Lurah Branjangan?”

“Tidak. Jika kami tidak menemui kesulitan apa pun di perjalanan berhubung dengan peristiwa yang telah terjadi atas iring-iringan pengantin itu, berarti bahwa Ki Lurah Branjangan dapat berjalan terus.”

———-oOo———-

(bersambung ke Jilid 099)

 

diedit dari: http://adbmcadangan.wordpress.com/buku-98/

 

Terima kasih kepada beliau-beliau atas jerih payahnya:

From Kasdoelah’s Collection
Retype: Kiai Gaza
Proof: Ki Gede Menoreh

<<kembali | lanjut >>

Satu Tanggapan

  1. saya senang baca artikel ini ,isinya bagus,bisa bersambung wasalam.

    monggo ki sanak,
    sayangnya, kami tidak bisa melanjutkan upload naskah disini, selanjutnya jilid 101 dan seterusnya silahka kunjungi http://adbm2011.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s