ADBM-088


Bagian 2

Orang gemuk itu agaknya melihat ketiga orang-orang tua itu termangu-mangu. Maka katanya, “Sudah tentu anak muda yang menggantung atau digantung itu bukan anakmu, itu sudah lama terjadi.”

Ki Waskita mengangguk. Katanya, “Ya. Yang terjadi itu sudah lama.”

“Nah, sekarang kita berpisah. Kau menuju ke arah yang berlawanan dengan aku. Tetapi jika kau mengikuti jalan yang baru saja aku lalui, maka kau tidak akan menemui siapapun juga kecuali anak-anak padukuhan yang merasa dirinya sudah menjadi pahlawan. Dengan belajar sedikit memegang pedang dan tombak, mereka merasa dirinya berilmu melampaui prajurit Pajang, yang mengajari mereka bermain-main dengan senjata.”

“Terima kasih, Ki Sanak,” jawab Ki Waskita, “aku akan mencari ke tempat yang barangkali tidak dilalui orang. Di tempat yang rumit dan terasing. Mungkin anakku berada di tempat-tempat seperti itu.”

“Cari sajalah. Tetapi lereng Gunung ini tidak hanya selebar daun beringin. Meskipun demikian cari sajalah. Jika pada suatu saat anak itu diketemukan, perlakukan ia dengan baik. Anak adalah harapan bagi masa mendatang.”

Orang yang gemuk itu pun kemudian meninggalkan Ki Waskita, Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar yang termangu-mangu.

“Aneh,” berkata Ki Waskita.

“Memang aneh,” desis Ki Sumangkar, “kadang-kadang kita tidak mengerti sifat dan sikap seseorang. Ternyata orang-orang yang kita anggap tidak mengetahui baik dan buruk, mempunyai sikap pula terhadap sesuatu. Sikap yang baik dan terpuji. Apakah kita dapat menduga, bahwa orang yang bentuknya, pakaiannya dan sifat-sifat lahiriahnya demikian kasar dan barangkali kejam, dapat mengucapkan nasehat yang baik itu?”

“Sebenarnya orang itu bukan tidak mengerti baik dan buruk,” berkata Kiai Gringsing, “tetapi ia tidak mampu lagi memilih apa yang harus dilakukannya. Ada orang yang memang tidak tahu, yang manakah yang baik dan yang buruk. Ada yang sama sekali tidak menghiraukan lagi yang manakah yang baik dan yang manakah yang buruk. Tetapi ada yang mengetahui dengan pasti, tetapi ia tidak mampu melakukan pilihan.”

Ki Waskita dan Ki Sumangkar mengangguk-angguk. Mereka mengerti apa yang dimaksud oleh Kiai Gringsing, sehingga Ki Sumangkar pun menanggapinya, “Ya. Demikianlah agaknya. Seperti yang kita lihat pada beberapa orang yang dengan sengaja memilih jalan sesat. Tentu bukan karena ia tidak mengerti baik dan buruk. Juga Raden Sutawijaya mengerti, bahwa hubungannya dengan gadis Kalinyamat itu bukan pekerjaan yang baik. Tentu beberapa orang pemimpin  Pajang mengerti, bahwa hidup melimpah-limpah dalam suasana prihatin bukan pilihan yang tepat. Apalagi dengan memeras, memaksa dan tindakan-akan lain yang tercela. Mereka mengerti bahwa hal itu buruk, ternyata mereka menganjurkan kepada orang lain agar tidak melakukannya. Tetapi ia sendiri berbuat demikian. Nah, agaknya pada sisi yang inilah orang yang gemuk itu berdiri. Betapapun juga, ia mengharap bahwa ia masih dapat, meskipun hanya sekedar menyebut, sesuatu yang dianggapnya baik.”

Kiai Gringsing dan Ki Waskita lah yang kemudian mengangguk-anggukkan kepala mereka. Namun sejenak kemudian, perhatian mereka telah tertarik pada jalur jalan panjang di bawah kaki mereka.

“Nah, kita akan berjalan terus,” berkata Ki Waskita, “Aku yakin, bahwa jalan ini adalah jalan yang benar. Aku tidak tahu kenapa orang-orang itu tidak menemukan Rudita di sepanjang perjalanannya.”

Ketiga orang itu pun kemudian melanjutkan perjalanan mereka dengan tergesa-gesa. Ki Waskita yang berada di paling depan, telah menyingsingkan wiru kain panjangnya dan menyelipkannya pada ikat pinggangnya.

Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar berjalan di belakangnya dengan cepat pula. Sekali-sekali mereka mengerinyitkan alis mereka jika semakin lama semakin cepat, dan bahkan hampir berlari-lari.

“Kiai,” bisik Sumangkar, “kita sekarang benar berlomba berjalan cepat. Aku masih ingat. Di sebelah Sangkal Putung, menjelang hari-hari terakhir angger Macan Kepatihan, Kiai mengajak aku berlomba lari. Agaknya baru sekarang kita benar-benar mencobanya, meskipun sekedar berjalan cepat.”

Kiai Gringsing tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab. Bahkan ia pun kemudian mempercepat langkahnya mendekati Ki Waskita yang berjalan semakin cepat pula.

“Kita akan memasuki padukuhan di muka kita. Rasa-rasanya Rudita sudah semakin dekat. Tetapi bayangan itu nampak kabur dan gelap. Apakah yang sebenarnya terjadi atas anak itu?”

Kiai Gringsing tidak menyahut, ia maju semakin dekat di belakang Ki Waskita bersama Ki Sumangkar.

Semakin lama, mereka bertiga itu pun menjadi semakin dekat dengan padukuhan di seberang bulak, di hadapan mereka. Sebuah tikungan yang tajam, di balik gerumbul-gerumbul perdu, seolah-olah telah mematahkan jalan lurus menuju ke padukuhan di hadapan mereka.

Semakin dekat mereka dengan padukuhan itu, maka rasa-rasanya Ki Waskita menjadi semakin yakin, bahwa anaknya memang berada di padukuhan itu.

“Tetapi kenapa orang-orang berkuda itu tidak dapat menemukannya?” bertanya Ki Waskita di dalam hatinya.

Ternyata pertanyaan yang serupa bukan saja hinggap di dada Ki Waskita. Bahkan Ki Sumangkar pun kemudian bertanya kepada Ki Waskita, “Ki Waskita, apakah Ki Waskita masih tetap merasa berada di arah yang benar?”

“Ya. Aku merasa demikian.”

“Tetapi orang-orang berkuda itu tidak menemukannya.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya kemudian, “Aku berharap bahwa Rudita memang telah disembunyikan oleh orang-orang padukuhan yang mencoba melindunginya. Jika Rudita jatuh ke tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab, maka ia akan mengalami akibat yang kurang baik.”

Ki Sumangkar mengangguk-angguk. Ia sependapat dengan Ki Waskita. Katanya, “Mungkin orang-orang yang tinggal di padukuhan itu adalah mereka yang pernah mendapat sedikit tuntunan dari para prajurit di Pajang, seperti yang dikatakan oleh orang-orang berkuda itu. Agaknya anak-anak muda di padukuhan itu pulalah yang disebut oleh orang-orang berkuda itu seolah-olah dirinya pahlawan.”

“Kita akan mengucapkan terima kasih yang tiada taranya kepada mereka,” desis Kiai Gringsing, “menyembunyikan Rudita memerlukan keberanian. Apalagi anak-anak muda itu tentu belum mengerti bahwa Rudita telah mendapat perlindungan dari para prajurit Pajang di Jati Anom dan memerintahkan orang-orang yang berada di dalam pengawasan para prajurit itu, untuk membantu mencarinya.”

“Tentu, Kiai,” berkata Ki Waskita, “kita akan mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.”

Dengan demikian maka ketiga orang itu pun segera mempercepat langkah mereka. Agaknya mereka sudah pasti, bahwa Rudita berada di dalam perlindungan anak-anak muda di padukuhan di seberang bulak itu.

Di regol padukuhan Cangkring, beberapa orang anak muda masih selalu berjaga-jaga. Mereka bersiaga sepenuhnya menghadapi semua kemungkinan yang dapat terjadi. Apalagi karena di dalam padukuhan itu, telah ditangkap seorang anak muda yang diduga menjadi petugas sandi untuk mencari kemungkinan baru bagi para penjahat yang ruang jelajahnya menjadi semakin sempit.

Anak-anak muda yang berjaga-jaga di regol itu melihat kedatangan tiga orang yang berjalan dengan tergesa-gesa itu, dengan penuh kecurigaan pula.

“Siapa pula mereka itu?” bertanya salah seorang anak muda yang berdiri di bibir regol.

Sejenak tidak terdengar jawaban. Namun kemudian seorang yang bertubuh pendek berdesis, “Kita akan menghentikannya.”

Ki Waskita, Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar sama sekali tidak membayangkan apa yang telah terjadi sebenarnya dengan Rudita. Karena itu, maka mereka pun sama sekali tidak bercuriga. Bah kan dengan tergesa-gesa mereka mendekati beberapa orang anak muda yang berada di regol padukuhan, yang menurut dugaan ketiga orang tua itu, justru telah melindungi Rudita.

Ketiga orang itu pun kemudian menjadi semakin dekat dengan regol itu, ketika seorang di antara anak-anak muda menyongsong mereka dengan wajah yang tegang.

Anak muda yang bertubuh pendek itu pun kemudian berdiri bertolak pinggang di tengah jalan, sambil menatap ketiga orang yang mendekat itu dengan tajamnya.

Ki Waskita, Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar pun menyadari, bahwa anak-anak muda padukuhan di hadapan mereka itu tentu menerimanya dengan curiga. Tetapi jika mereka sudah mengetahui bahwa salah seorang dari ketiganya adalah ayah dari Rudita, maka tanggapan mereka tentu akan berubah.

Ki Waskita-lah yang oleh kegelisahan yang menekan, berjalan di paling depan menemui anak muda yang bertolak pinggang di tengah jalan itu.

Anak muda itu maju selangkah. Ketika Ki Waskita menganggukkan kepalanya, ia pun mengangguk pula, meskipun hanya sekedar bergerak.

“Siapakah kalian?” bertanya anak muda itu.

“Ki Sanak,” berkata Ki Waskita, “kami, adalah tiga orang tua yang sedang digelisahkan oleh anak kami. Kami datang ke padukuhan ini untuk mencari anak kami yang hilang.”

Anak muda itu mengerutkan keningnya. Kemudian dengan nada yang penuh kecurigaan ia bertanya, “Siapakah anakmu itu, he?”

“Namanya Rudita. Apakah, Ki Sanak menemukan seorang anak muda yang bernama Rudita?”

Pertanyaan itu telah mengejutkan bukan saja anak muda yang bertolak pinggang itu. Tetapi juga anak-anak muda yang lain sehingga mereka pun segera bergeser maju.

“Siapakah kalian?” bertanya anak yang bertubuh pendek itu.

“Aku adalah ayah anak yang hilang itu.”

“Sudah kau katakan. Tetapi siapakah kau sebenarnya? Apakah kau datang dengan segerombolan pengacau untuk merusakkan suasana tenang di padukuhanku?”

“Aku tidak mengerti.”

“Tentu kau berpura-pura tidak mengerti. Tetapi kami tidak tahu menahu tentang anak yang kau sebut bernama Rudita itu. Dua kelompok penjahat telah datang, dan menanyakan seorang anak muda yang bernama Rudita. Sekarang, kelompok yang ketiga agaknya telah menyamar dirinya, seolah-olah kalian adalah orang baik-baik. Tetapi  kami tidak akan dapat kalian kelabui. Kau bertiga tentu termasuk dalam kelompok-kelompok penjahat yang hampir kehilangan ladang di daerah ini. Sekarang kalian mempergunakan cara yang lain untuk mencari sesuap nasi.”

Ki Waskita terkejut mendengar jawaban itu. Dengan penuh kebimbangan ia berpaling memandang Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar berganti-ganti.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia pun maju selangkah sambil berkata, “Anakmas. Mungkin kita telah salah paham. Aku dapat mengerti, bahwa anak-anak muda padukuhan ini selalu menaruh kecurigaan terhadap siapa pun juga, sehingga kalian memandang perlu untuk melindungi anak muda yang bernama Rudita itu. Tetapi kami adalah orang tuanya. Jika anak itu memang berada di sini, kalian dapat mempertemukan kami dan menanyakan kebenaran keterangan kami kepadanya.”

“Siapa yang kau sangka melindungi anak muda yang sedang kau cari itu?” bentak salah seorang anak muda yang berada di regol itu.

Kiai Gringsing memandang anak itu dengan tatapan mata yang penuh dengan berbagai macam pertanyaan. Namun sebelum ia sempat mengucapkannya, maka anak muda yang bertubuh pendek itu pun berkata, “Pergilah. Jangan mencoba mengganggu ketenangan kami. Meskipun kalian tidak berkuda, dan berpakaian rapi seperti itu, tetapi kalian adalah orang-orang yang akan membuat onar di sini. Kami tahu bahwa anak muda yang kalian cari adalah bagian dari kelompok-kelompok penjahat seperti kalian.”

“Ki Sanak,” Ki Waskita pun memotong keterangan itu dengan serta merta, “jadi anak itu memang berada di sini, apa pun menurut tanggapanmu?”

Anak muda itu menggeleng. “Tidak ada anak muda yang manapun juga, selain anak-anak muda Cangkringan.”

Ki Waskita termenung sejenak. Namun ia pun merasakan sentuhan isyarat yang pasti. Rudita ada di padukuhan itu.

Karena itu, maka ia pun mendesak pula, “Ki Sanak. Bagaimanakah caranya, agar aku dapat meyakinkan Ki Sanak, bahwa aku adalah ayah anak itu? Jika benar anak itu mendapat perlindungan di sini, aku tentu akan mengucapkan beribu-ribu terima kasih.”

“Sudah aku katakan, pergilah. Jika kau memaksa, maka aku akan memaksamu pergi pula.”

“Jangan begitu, Ki Sanak,” berkata Ki Waskita, “kami datang dengan perasaan prihatin karena anak kami yang hilang itu. Tetapi kami kecewa bahwa kami tidak dapat meyakinkan kalian dengan cara kami ini. Meskipun demikian, kami mohon agar Ki Sanak mempercayai kami.”

“Persetan. Sudah aku katakan, tidak ada siapapun di sini. Pergilah. Jangan membuat anak-anak Cangkringan menjadi marah. Sampai saat ini, kami telah berhasil mengamankan padukuhan kami. Dengan halus atau dengan kasar. Jika kalian tidak dapat di ajak berbicara dengan mulut, maka kami akan mengambil jalan lain.”

Ki Waskita termangu-mangu sejenak. Tetapi agaknya tidak ada kesempatan lagi baginya untuk memasuki padukuhan itu, karena nampaknya anak-anak muda Cangkringan itu sedang diliputi oleh kecurigaan.

Sejenak ketiga orang tua itu berdiri termangu-mangu. Ada niat mereka untuk mencoba sekali lagi memberikan penjelasan. Tetapi anak-anak muda itu nampaknya tidak akan memberi kesempatan lagi. Bahkan anak muda yang bertubuh pendek itu berkata, “Pergilah. Jangan menunda sampai kalian kehilangan kesempatan.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Baiklah anak muda. Jika kami memang tidak boleh memasuki padukuhan ini, biarlah kami meninggalkan Cangkringan dengan teka-teki yang tidak terjawab.”

“Tidak ada teka-teki atau semacam itu. Tidak ada anak muda yang bernama Rudita di sini. Kami sudah mengusir dua kelompok penjahat yang juga mencari Rudita. Tentu kalian adalah kelompok yang ketiga.”

Sebelum Ki Waskita menjawab, anak muda itu meneruskan, “Kalian tidak usah menerangkan lagi, tidak ada gunanya. Kami tahu bahwa setiap kata kalian adalah bohong semata-mata.”

Ki Waskita tidak aaaaan itu.

“Jadi kita tidak sempat membuktikan, apakah Rudita benar-benar berada di padukuhan itu?” bertanya Ki Sumangkar.

“Aku yakin ia berada dipadukuhan itu,” jawab Ki Waskita.

“Lalu, apakah yang akan kita lakukan?” bertanya Kiai Gringsing.

“Kita masuk lewat jalan lain. Tentu tidak semua tempat mendapat pengawasan. Kita dapat meloncat pagar batu di tempat yang agak sepi.”

“Tetapi jika kita melakukannya, maka tentu akan ada akibat yang dapat menumbuhkan geseran pendapat dan bahkan mungkin kekerasan.”

“Tetapi kami berniat baik. Kami tidak akan melakukan apapun juga selain menemui Rudita. Jika terpaksa terjadi sesuatu, maka kami akan melakukan sesuatu sekedar untuk menyelamatkan diri.”

Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar pun mengangguk-angguk. Mereka memang berdiri di jalan simpang yang sulit. Mereka tentu tidak akan sampai hati membiarkan Rudita untuk waktu yang terlalu lama dalam keadaan yang bagaimanapun juga. Apalagi setelah mereka bertemu dengan anak-anak muda dari Cangkringan. Maka tanggapan mereka mengenai Rudita menjadi ragu-ragu.

“Kecurigaan mereka agak berlebih-lebihan,” desis Ki Waskita, “apakah itu bukan berarti kesulitan bagi Rudita? Memang aku menangkap isyarat yang agak buram. Agaknya ada sesuatu yang kurang mapan atau suatu kesalah-pahaman.”

“Hatiku pun menjadi berdebar-debar. Meskipun tidak ada isyarat yang dapat aku tangkap, tetapi aku mendapat firasat, bahwa memang sesuatu terjadi atas angger Rudita,” sahut Kiai Gringsing kemudian.

Ketiganya pun kemudian berjalan semakin cepat menjauhi regol padukuhan. Tetapi, ketika mereka sampai pada sebuah jalan simpang, mereka pun segera berbelok.

Tetapi karena mereka berjalan di bulak yang terbuka, maka mereka memerlukan waktu yang lama untuk melingkari padukuhan itu dan mendekati dari arah yang lain. Mereka memintas lewat pematang, menyusup di antara batang-batang jagung yang tumbuh subur.

Dengan hati-hati mereka mendekati padukuhan, justru dari arah yang tidak biasa dilalui orang. Mereka sudah memutuskan untuk tidak memasuki padukuhan itu lewat lorong yang sempit sekalipun, karena menurut perhitungan mereka, setiap lorong tentu mendapat pengawasan yang ketat dari anak-anak muda Cangkringan yang sedang dibakar oleh kecurigaan itu.

Beberapa saat lamanya mereka berdiri di tepi pagar batu. Setelah mereka yakin bahwa tidak ada seorang pun yang melihat, maka mereka pun segera meloncat masuk.

“Kita berada di kebun seseorang,” desis Kiai Gringsing ketika mereka sudah berada di dalam pagar.

“Apaboleh buat,” desis Ki Waskita, “kita harus berusaha untuk sampai ke pusat padukuhan.”

“Sulit,” desis Ki Sumangkar, “kecuali jika kita tidak menolak semua akibat yang dapat terjadi.”

Ki Waskita termangu-mangu sejenak. Lalu, “Kita akan bergeser sepanjang kebun salak yang rimbun itu. Kemudian kita akan mencari sebuah lorong. Jika kita sudah berada di lorong itu, maka kita akan dapat berjalan lebih aman, meskipun ada kecurigaan dari setiap orang yang melihat kita.”

Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya.

Demikianlah, maka mereka bertiga dengan hati-hati bergeser selangkah demi selangkah di balik gerumbul salak yang berduri tajam. Namun mereka sama sekali tidak menghiraukannya. Yang menjadi pusat perhatian mereka adalah Rudita, yang pasti berada di padukuhan itu.

Dengan susah payah, akhirnya mereka bertiga dapat mencapai sebuah lorong kecil. Dengan hati-hati sekali, ketiganya pun kemudian meloncat melalui pagar batu yang rendah, memasuki lorong itu.

“Kita pergi ke kanan,” desis Ki Waskita, “Rudita ada di arah itu.”

Ketiganya pun kemudian berjalan menyusuri jalan kecil itu. Dengan hati yang berdebar-debar, mereka memandangi setiap pintu rumah di tepi lorong yang mereka lalui.

“Padukuhan ini sepi sekali,” desis Ki Sumangkar.

“Hanya satu dua, kami lihat perempuan di dalam rumahnya. Tetapi mereka sama sekali tidak menghiraukan apa-apa, termasuk kita.”

Kiai Gringsing dan kedua kawannya berjalan terus dengan hati yang bertanya-tanya, “Apakah yang sudah terjadi di padukuhan ini?” Mereka hampir tidak melihat anak muda atau seorang laki-laki di rumahnya.

“Mereka berada di sekitar padukuhan ini,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “mereka harus berjaga-jaga oleh kecurigaan yang telah mencengkam padukuhan ini. Semua anak-anak muda dan semua laki-laki.”

Ki Waskita dan Ki Sumangkar mengangguk-angguk. Sedangkan kaki mereka menjadi semakin cepat melangkah, seolah-olah mereka semakin yakin bahwa sesuatu memang telah terjadi.

Namun tiba-tiba langkah mereka tertegun. Di hadapan mereka, di mulut lorong yang turun ke jalan yang lebih besar, nampak beberapa orang laki-laki berdiri di simpang tiga itu.

“Itulah mereka,” berkata Ki Waskita dengan gelisah, “agaknya mereka berkumpul di gardu-gardu, meskipun di siang hari. Tentu ada sesuatu yang telah memaksa mereka berbuat demikian.”

“Ya. Mungkin karena beberapa kelompok penjahat telah lewat di padukuhan ini mencari Rudita, maka anak-anak muda Cangkring pun merasa bahwa mereka wajib bersiap-siap menghadapi setiap kemungkinan yang terjadi.”

“Lalu bagaimana dengan kita?” bertanya Ki Sumangkar.

“Kita berjalan terus. Kita akan minta kepada mereka, agar kita diperkenankan mencari anak itu di dalam padukuhan ini,” sahut Ki Waskita.

Ki Sumangkar mengangguk-angguk. Memang tidak ada jalan lain yang dapat mereka tempuh.

Namun sebelum mereka mendekat orang-orang yang berkerumun di simpang tiga, di sekitar gardu perondan, orang-orang di simpang liga itu pun telah melihat kedatangan ketiga orang tua itu. Karena itu, maka mereka pun segera mempersiapkan diri ketika seseorang berkata lantang, “He, lihatlah. Siapakah yang datang itu?”

Setiap orang pun kemudian berdiri berjejalan di mulut lorong. Mereka memandang Ki Waskita dan kedua kawannya dengan herannya.

“Bagaimana mungkin tiba-tiba saja mereka berada di lorong itu?” desis salah seorang dari mereka.

Seorang laki-laki yang sudah separo baya pun kemudian mendekati Ki Waskita dengan kedua kawannya itu. Dengan wajah yang tegang ia pun bertanya, “Ki Sanak. Siapakah Ki Sanak ini? Dan bagaimana caranya, maka Ki Sanak tiba-tiba saja telah berada di situ?”

“Kami masuk padukuhan ini lewat pintu gerbang seperti biasa,” jawab Ki Waskita.

“Itu tidak mungkin. Setiap pintu gerbang sudah dijaga.”

“Memang. Tetapi kami mendapat ijin untuk masuk.”

“Siapakah kalian?”

“Aku adalah Ki Waskita,” jawab Ki Waskita, “kedua orang ini adalah saudara-saudaraku.”

“Apa kerjamu di sini?”

“Aku sudah mengatakan kepada anak-anak muda yang bertugas di regol, bahwa aku sedang mencari anakku yang bernama Rudita.”

“Rudita?” seorang anak muda mendesak maju di antara laki-laki yang berdiri di mulut lorong, “apakah anak muda yang bernama Rudita itu anakmu?”

“Ya, anakku.”

“Jika demikian, maka kau tentu salah seorang dari sekelompok penjahat yang mondar-mandir di sekitar padukuhan ini.”

“Kenapa kau mengambil kesimpulan demikian?”

“Beberapa kelompok penjahat sedang mencari anak yang disebutnya bernama Rudita. Menurut pertimbangan kami, Rudita itu adalah salah seorang dari mereka.”

“Atau sebaliknya,” berkata Ki Waskita, “yang benar adalah, bahwa Rudita memang sedang dikejar-kejar oleh beberapa kelompok penjahat.”

Anak muda itu mengerutkan keningnya.

“Mereka menyangka bahwa Rudita membawa beberapa keping uang dan barangkali emas. Mereka tentu mengira bahwa menilik pakaian dan tingkah lakunya, Rudita adalah seorang yang kaya.”

“Itulah yang gila,” berkata anak muda itu. Ia tahu betul bahwa Rudita adalah seorang anak muda yang berpakaian kusut dan sobek di sana-sini. Sama sekali tidak membawa harta benda berupa apa pun.

Tetapi sebelum anak muda itu berkata sesuatu. Kiai Gringsing melanjutkan, “Tetapi ternyata bahwa Rudita telah berada di bawah perlindungan prajurit Pajang di Jati Anom, sehingga penjahat-penjahat itu tidak dapat berbuat apa-apa kepadanya.”

Beberapa orang laki-laki itu saling berpandangan. Namun salah seorang dari mereka berkata, “Kata-katamu membingungkan, Ki Sanak. Dengan demikian, kami mengambil kesimpulan, bahwa kalian pun wajib aku curigai.”

“Kenapa kalian mencurigai aku?” berkata Kiai Gringsing.

“Kalian harus kami tangkap, dan kami bawa ke banjar,” Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia bertanya, “dimanakah letak banjar itu?”

“Di pusat padukuhan ini.”

Ia memandang Ki Waskita sejenak. Lalu, “Baiklah, kita tidak akan melawan. Bukankah begitu?”

Ki Waskita dan Ki Sumangkar pun segera menangkap maksudnya. Karena itu mereka pun segera mengangguk pula.

“Sudah tentu kita tidak akan melawan,” berkata Ki Sumangkar, “tetapi siapakah yang berada dibanjar itu, Ki Demang, atau siapa?”

“Kita tidak memerlukan Ki Demang. Ayo berjalan. Jangan terlalu banyak bertanya lagi.”

Ki Waskita, Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar pun kemudian digiring oleh beberapa orang laki-laki menuju ke banjar padukuhan itu.

Tidak banyak yang dipercakapkan di perjalanan. Namun dari pembicaraan beberapa orang yang mengawalnya. Kiai Gringsing, Ki Waskita dan Ki Sumangkar, menjadi semakin yakin, bahwa Rudita memang berada di padukuhan itu.

Dalam pada itu, di halaman banjar padukuhan, anak-anak yang sedang menjelang dewasa merasa dirinya sedang melakukan tugas yang besar. Mereka dengan sepenuh tekad sedang berusaha memaksa Rudita untuk mengaku, dari kelompok manakah ia datang untuk mengamati padukuhan Cangkring.

Tidak ada seorang pun yang dapat menahan gejolak kemarahan anak-anak yang masih sedang tumbuh itu. Rudita yang jatuh ke tangan mereka, seolah-olah tidak dianggapnya sebagai sesama mereka lagi. Setiap orang ingin menunjukkan kejantanan mereka dengan tindakan yang paling kasar dan keras.

Rudita yang berada di tengah-engah mereka, bagaikan permainan yang terdorong ke sana kemari. Sekali ia bergeser ke depan. Kemudian terlempar lagi ke belakang.

Halaman Banjar itu menjadi semakin riuh ketika beberapa anak muda berlari-lari sambil berteriak, “Kita menangkap tiga orang lagi. Tiga orang-orang tua.”

Teriakan itu benar-benar mengejutkan orang-orang yang ada di banjar. Orang-orang yang sudah separo baya dan anak-anak muda, yang sedang menyaksikan kawan-kawan mereka mencoba memaksa Rudita untuk berbicara. Bahkan beberapa orang dengan serta-merta telah berlari-lari mendapatkan kawan-kawannya, yang membawa tiga orang tua menuju ke halaman banjar.

Dalam pada itu, Ki Waskita yang berjalan di paling depan, dapat melihat keributan yang terjadi di halaman banjar lewat pintu gerbang yang terbuka. Hampir di luar sadarnya ia pun bertanya kepada anak muda yang mengawalnya, “Apakah yang telah terjadi di halaman banjar itu?”

Anak muda itu memandangnya dengan tatapan mata yang kecut. Bahkan kemudian dengan suara yang penuh ejekan menjawab, “Kau masih juga bertanya? itulah akibat kebodohannya. Dan kau akan mengalami nasib yang serupa, jika kau tidak mau menyebut dirimu dengan sebenarnya.”

Jawaban itu telah menggetarkan dada Ki Waskita dan kedua orang kawannya. Bahkan langkahnya pun tertegun sejenak. Matanya menjadi gelisah dan memancarkan kecurigaan yang tajam.

“Apa maksudmu, Ki Sanak?” bertanya Ki Waskita.

“Jangan ribut. Berjalanlah. Kau akan tahu apa yang terjadi. Ki Waskita termangu-mangu. Namun Kiai Gringsing kemudian berbisik, “Kita berjalan terus. Kita akan melihat apa yang terjadi.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Dengan ragu-ragu ia melangkah menuju ke regol banjar.

“He, siapakah mereka itu?” tiba-tiba seorang laki-laki berkumis lebat keluar dari regol halaman banjar sambil berteriak.

Anak-anak muda yang membawa Ki Waskita bersama kedua orang kawannya itu pun hampir berbareng menjawab, “Mereka orang yang tidak dikenal.”

Orang berkumis itu mendekati Ki Waskita sambil mengerutkan keningnya. Lalu membentaknya, “Darimana kau .memasuki padukuhan ini?”

“Dari gerbang, Ki Sanak.”

“Tidak mungkin,” orang itu semakin marah, “semua regol telah ditutup untuk orang-orang yang tidak dikenal. Hanya mereka yang dapat meyakinkan para penjaga sajalah yang dapat lewat jalan ini.”

“Aku telah dapat meyakinkan mereka,” jawab Ki Waskita.

“Bohong,” tiba-tiba seorang anak muda mendesak maju. “He, bukankah orang-orang ini telah kita tolak, ketika mereka akan memasuki padukuhan? Kenapa tiba-tiba saja mereka sudah berada di dalam padukuhan?”

Orang berkumis lebat itu pun memandang Ki Waskita dengan wajah yang merah oleh kemarahan yang memuncak. Tiba-tiba saja ia telah menggeram, “Jadi ketiga orang inikah, yang telah kau laporkan mencari anak bernama Rudita?”

“Ya, Ki Rena,” jawab anak muda itu.

“Jika demikian, maka nasibmu akan menjadi seperti anak yang kau cari itu. Ia telah membohongi kami, dan tidak mau mengaku tentang dirinya sendiri.”

Kata-kata itu benar-benar telah mengejutkan hati ketiga orang tua itu. Bahkan Ki Waskita telah bergeser maju. Jawaban itu langsung menimbulkan pertimbangan yang buram, seperti yang dilihatnya telah terjadi di halaman banjar itu.

“Ki Sanak,” suara Ki Waskita mulai gemetar, “apa yang telah terjadi dengan Rudita?”

“Ia harus menebus kepalsuannya.”

“Apa yang terjadi?” tiba-tiba Ki Waskita kehilangan kesabarannya. Ia dapat menahan diri terhadap caci-maki dan bahkan hinaan terhadap dirinya sendiri. Tetapi Rudita adalah satu-satunya anaknya. Hidup ibu Rudita itu seakan-akan tergantung pula pada anak itu sehingga apabila terjadi sesuatu, maka hidupnya tentu akan diguncang oleh malapetaka yang tidak akan teratasi.

“Apa pedulimu dengan Rudita?” bertanya orang berkumis lebat itu.

“Aku adalah ayahnya,” geram Ki Waskita.

“Jika kau ayahnya, kau mau apa, he?”

“Aku menuntut anakku. Sekarang dimanakah anak itu dan kenapa?”

“Salahnya sendiri. Lihatlah apa yang terjadi atasnya. Jika kau berkeras kepala, maka nasibmu akan serupa.”

Ki Waskita benar-benar telah kehilangan kesabaran. Ia pun kemudian berlari-lari mendekati pintu gerbang halaman banjar yang di jaga oleh beberapa orang anak muda.

“Biarkan ia melihat apa yang terjadi,” desis Ki Rena. Beberapa orang yang telah melangkah untuk menahan Ki Waskita itu pun melangkah surut. Mereka membiarkan Ki Waskita mendekati regol, tetapi mereka tetap menjaga agar Ki Waskita tidak memasuki halaman banjar itu.

Dari regol, Ki Waskita melihat apa yang telah terjadi. Ia melihat beberapa anak yang menjelang usia dewasa, sedang berusaha untuk memaksa seseorang berbicara. Tangan mereka pun terayun-ayun menyambar tubuh Rudita yang terdorong kesana-kemari.

Sekilas Ki Waskita justru kehilangan akal. Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa hal itu telah terjadi dengan anaknya satu-satunya. Anak-anak yang masih sangat muda itu memperlakukan Rudita seperti mereka sedang memperlakukan seorang penjahat yang tertangkap. Mereka menghukum tanpa mengadilinya terlebih dahulu.

Ki Waskita melihat anaknya itu menundukkan kepalanya. Kedua tangannya berusaha untuk menutup wajahnya dari ayunan tangan anak-anak yang masih sangat muda itu. Namun dengan demikian bertubi-tubi, pukulan yang mengenai tengkuk dan punggungnya.

Ki Waskita adalah seorang tua yang seakan-akan telah menguasai dirinya sebaik-baiknya, seakan-akan ia tidak dapat lagi didorong, sekedar oleh perasaannya saja tanpa pertimbangan akal. Ia adalah seorang yang telah masak dan mengendap menghadapi segala sesuatu persoalan.

Tetapi, melihat anaknya diperlakukan demikian, maka dada Ki Waskita bagaikan pecah. Anak itu adalah anak satu-satunya. Anak yang sangat dikasihinya. Apalagi oleh ibunya. Kepada anak itulah tergantung semua harapan bagi masa mendatang.

Betapa ia mencoba menguasai dirinya, namun rasa-rasanya Ki Waskita telah terlepas dari segala ikatan. Seolah-olah ia telah dilepaskan di tengah-engah rimba yang paling lebat. Rimba yang tidak lagi mempunyai ketentuan yang dapat melindungi anaknya dari malapetaka, kecuali kekerasan.

Itulah agaknya, maka darah Ki Waskita benar-benar telah mendidih. Jika dirinya sendiri yang diperlakukan demikian, mungkin ia masih mempunyai beberapa pertimbangan. Tetapi yang diperlakukan demikian adalah anaknya, Rudita, dengan pakaian yang telah menjadi compang-camping tidak menentu.

Tiba-tiba saja Ki Waskita itu meloncat maju. Tetapi beberapa anak muda telah berdiri menahannya. Bahkan seorang anak muda yang bertubuh tegap telah mendorongnya mundur sambil menggeram, “Kau hanya boleh melihat, bahwa anakmu harus menebus kedunguannya. Ia akan mengalami parlakuan demikian, sampai ia mengaku. Tetapi karena kalian datang menyusul, maka kalian pun akan mendapat giliran diperlakukan demikian.”

Dalam keadaan yang biasa, mungkin Ki Waskita akan segera melangkah surut. Namun dalam keadaan yang seolah-olah dibayangi oleh sikap dan perasaan di luar sadarnya, tiba-tiba saja ia menarik tangan anak itu dan mengibaskannya.

Akibatnya sungguh di luar dugaan. Anak muda itu terpelanting menimpa beberapa orang kawannya. Demikian kerasnya ayunan tubuh anak muda itu, sehingga beberapa orang anak muda sekaligus telah terbanting jatuh berguling-guling di atas tanah.

Perlakuan Ki Waskita itu benar-benar telah menimbulkan kemarahan beberapa anak muda yang berada di pintu regol itu. Dengan serta merta mereka pun segera menyerang bersama-sama. Bukan saja anak-anak yang menjelang dewasa, tetapi mereka adalah anak-anak muda pengawal padukuhan itu, bersama beberapa orang yang lebih tua dari mereka.

Yang mereka serang ternyata bukan saja Ki Waskita. Tetapi Ki Rena pun kemudian berteriak, “Tangkap mereka. Dan perlakukan mereka seperti anak itu, sehingga mereka menyebut salah satu kelompok penjahat yang ada di sekitar padukuhan kita.”

Kiai Gringsing terkejut melihat perkembangan keadaan. Tetapi yang terjadi itu demikian cepatnya, sehingga ia tidak sempat berbuat apa-apa. Apalagi Kiai Gringsing mengerti sepenuhnya, betapa perasaan Ki Waskita tersayat melihat perlakuan yang tidak diduganya sama sekali telah terjadi dengan anaknya. Dari jarak yang lebih jauh, Kiai Gringsing melihat perlakuan yang memang langsung menyentuh perasaan keadilan. Apalagi Kiai Gringsing tahu pasti, bahwa Rudita tentu tidak akan berbuat sesuatu yang dapat menyeret dirinya ke dalam keadaan yang memang seharusnya diperlakukan demikian. Bahkan seandainya Rudita telah berbuat salah sekalipun, namun apakah sudah sewajarnya ia diperlakukan demikian, di halaman banjar padukuhan itu?

“Sebentar lagi anak itu akan menjadi tontonan yang mengerikan,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya, “tubuhnya tentu akan merah biru dan wajahnya akan kehilangan bentuk. Bahkan mungkin bagian tubuhnya akan dapat rusak oleh pukulan yang tiada terhitung jumlahnya itu.”

Tetapi Kiai Gringsing tidak dapat berangan-angan lebih lama. Sejenak kemudian, beberapa orang anak muda telah menyerangnya dengan garangnya.

Agak berbeda dengan Ki Waskita, Kiai Gringsing masih dapat mengekang dirinya. Ia tahu, bahwa telah terjadi salah paham, bahkan salah paham yang parah. Karena itu, maka ketika serangan itu datang dari segenap penjuru, ia sekedar berusaha mengelakkannya dan sekali-sekali saja menangkis serangan-serangan itu. Demikian pula agaknya yang dilakukan oleh Ki Sumangkar, meskipun keduanya sadar bahwa pada suatu saat mereka tidak akan dapat berbuat demikian itu terus-menerus.

Tetapi sementara itu, Ki Waskita telah berbuat lain. Dengan kemarahan dan kecemasan yang bercampur-baur, maka ia pun mulai memberikan perlawanan. Bahkan sekali-sekali tangannya terjulur memukul orang-orang yang menyerangnya beramai-ramai.

Dan ternyata, pukulan Ki Waskita itu akibatnya adalah parah sekali.

Meskipun Ki Waskita tidak bermaksud menciderai seseorang, karena yang dilakukannya hampir di luar sadarnya, namun tangan Ki Waskita benar-benar telah menyebabkan beberapa orang menjadi pingsan.

Sebenarnya yang dilakukan Ki Waskita hanyalah sekedar menyibakkan orang-orang yang menghalanginya. Tetapi setiap kali seseorang jatuh olehnya, sengaja atau tidak sengaja, maka kemarahan orang-orang Cangkring menjadi semakin meluap-luap.

“Kita benar-benar harus bertempur melawan penjahat-penjahat ini,” teriak Ki Rena, “jangan ragu-ragu lagi. Pergunakan senjata kalian.”

Perintah itu benar-benar telah mengejutkan Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar. Jika orang-orang Cangkring benar-benar mempergunakan senjata, sedang Ki Waskita masih tetap tidak dapat menguasai perasaannya karena dorongan kemarahan dan kecemasannya, maka akibatnya akan sangat parah bagi kedua belah pihak. Korban tentu akan jatuh. Dan setiap korban yang jatuh akan membuat orang-orang Cangkring menjadi semakin kalap. Betapapun juga, Ki Waskita tidak akan dapat melawan orang sepadukuhan, karena kemampuan seseorang tentu akan ada batasnya. Sedangkan jika orang-orang Cangkring menyerangnya tanpa kekangan, maka akibatnya akan mengerikan sekali.

Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar menjadi berdebar-debar melihat orang-orang Cangkring mulai bergerak dengan senjata di tangan. Bukan saja mengepung Ki Waskita, tetapi juga Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar itu.

“Mungkin dengan mengorbankan beberapa orang, Ki Waskita dapat mengusir orang-orang Cangkring,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya, “Jika dengan tangannya ia membunuh orang yang berdiri di paling depan, maka ada kemungkinan orang-orang di lapisan berikutnya akan ketakutan. Tetapi dengan demikian, Ki Waskita harus mempertanggung-jawabkannya kepada prajurit Pajang di Jati Anom.”

Dalam kebimbangan itu, Kiai Gringsing melihat orang-orang yang mengepungnya menjadi semakin dekat. Bahkan beberapa buah senjata telah mulai teracu.

Sekilas ia melihat Ki Waskita berdiri dengan garangnya. Namun hati Kiai Gringsing bagaikan meledak ketika ia melihat Ki Waskita tiba-tiba saja telah melepaskan ikat kepalanya dan membebatkannya pada tangan kirinya.

Kiai Gringsing pernah mendengar apa yang dapat dilakukan oleh Ki Waskita dengan cara yang demikian. Senjata Panembahan Agung, yang seolah-olah dapat merobohkan gunung itu, tidak mampu menembus bebatan ikat kepala di tangan Ki Waskita. Apalagi senjata anak-anak ingusan dari Cangkring itu.

“Ki Waskita telah benar-benar kehilangan kesadarannya,” berkata Kiai Gringsing yang termangu-mangu.

“Tidak ada cara lain,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “aku harus menarik perhatian setiap orang yang ada di tempat ini. Aku berharap bahwa ceritera tentang cambukku telah mereka dengar.”

Kiai Gringsing tidak sempat mempertimbangkan cara lain, karena orang-orang yang mengepungnya telah menjadi semakin dekat. Karena itu, maka ia pun segera mengurai cambuk yang membelit lambung di bawah bajunya.

Ki Sumangkar yang tidak mengetahui maksud Kiai Gringsing pun terkejut. Bahkan ia bertanya kepada dirinya sendiri, “He, apakah Kiai Gringsing juga sudah kehilangan akal?”

Tetapi senjata yang teracu-acu di seputarnya memang membuat orang tua itu berdebar-debar, ia tentu tidak akan dapat melawan senjata itu hanya dengan tangannya. Karena itu, tangan Ki Sumangkarpun telah mulai meraba trisula kecilnya. Katanya kepada diri sendiri, “Setidak-tidaknya aku harus menangkis setiap serangan, agar aku tidak terbunuh di sini.”

Namun sekejap kemudian, selagi orang-orang Cangkring yang bersenjata itu mempersempit kepungannya atas Ki Waskita, Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar dalam lingkaran yang terpisah-pisah, maka setiap hati telah terguncang ketika di luar regol halaman banjar itu telah meledak dengan dahsyatnya suara cambuk Kiai Gringsing. Tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali.

Suara cambuk itu benar-benar telah mencengkam setiap jantung. Orang-orang Cangkring pada umumnya telah pernah mendengar ceritera tentang orang bercambuk. Ceritera yang menjalar sejak beberapa waktu yang lampau, sejak di Tambak Wedi masih tinggal seseorang yang sangat ditakuti oleh setiap orang di lereng Merapi.

Dan kini, tiba-tiba suara cambuk itu meledak di halaman mereka.

Sementara orang itu termangu-mangu, maka Kiai Gringsing pun tiba-tiba telah berteriak, “He orang-orang dari padukuhan ini. Apakah kalian pernah mendengar suara cambuk yang lain meledak seperti petir di langit? Jika kalian pernah mendengarnya sekali saja di dalam hidupmu, maka aku akan melepaskan cambukku untuk selama-lamanya, karena hanya akulah orang yang dapat mempergunakan cambuk untuk membunuh dua ratus orang dengan sekali ayun.”

Suara Kiai Gringsing yang menggelegar itu benar-benar telah mencengkam jantung orang-orang Cangkring. Suara cambuk itu sudah membuat mereka gemetar. Apalagi kata-kata Kiai Gringsing itu, karena mereka sadar bahwa yang berdiri di hadapannya sudah tentu orang bercambuk yang namanya sudah mereka dengar sebelumnya.

Agaknya suara cambuk Kiai Cringing benar-benar berhasil merampas suasana. Setiap orang telah mematung di tempatnya, juga mereka yang berada di halaman banjar pun rasa-rasanya bagaikan membeku di tempatnya pula.

Ternyata bukan saja mereka yang sedang beramai-ramai memeras keterangan Rudita-lah yang terkejut dan membeku. Rudita pun menjadi terkejut pula karenanya. Ketika tidak terasa lagi pukulan yang menghunjam di tubuhnya, perlahan-lahan ia mencoba mengangkat wajahnya untuk melihat apakah yang sebenarnya telah terjadi di sekitarnya.

Sejenak ia termangu-mangu. Yang dilihatnya adalah wajah-wajah anak yang masih terlampau muda yang tegang membeku.

Kiai Gringsing melihat perubahan suasana yang tiba-tiba itu. Ki Sumangkar pun kemudian menarik nafas dalam-dalam. Ia dapat menangkap maksud Kiai Gringsing dengan sikapnya, karena biasanya Kiai Gringsing tidak pernah menyombongkan dirinya.

Tetapi agaknya saat itu Kiai Gringsing telah memaksa dirinya untuk bersombong. Ia berusaha menakut-nakuti orang-orang Cangkring, sehingga dengan demikian tindakan kekerasan berikutnya akan dapat dicegahnya.

Ki Sumangkar pun kemudian melihat, perlahan-lahan beberapa orang bergeser surut. Mereka dengan cemas memandang cambuk Kiai Gringsing yang masih terayun-ayun di tangannya.

Namun dalam pada itu, selagi setiap orang mulai menyadari dengan siapa mereka berhadapan, Rudita tersentak dari kediamannya. Di sela-sela anak-anak muda Cangkring yang kecemasan, ia melihat seseorang yang berdiri tegak bagaikan patung besi. Di tangan kirinya membelit ikat kepalanya.

Jantung Rudita rasa-rasanya telah berhenti berdegup. Orang itu adalah ayahnya. Dan ia tahu benar, sikap apakah yang telah dilakukan oleh ayahnya itu.

Karena itu, maka dengan serta merta ia berlari mendapatkan ayahnya, langsung memeluknya sambil berkata, “Ayah, apakah yang akan ayah lakukan terhadap anak-anak ini?”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Dibelainya kepala anaknya sambil berdesis, “Apakah aku tidak terlambat, Rudita?”

“Tidak. Tentu tidak. Kenapa?”

Ayahnya menjadi heran. Didorongnya Rudita perlahan-lahan. Kemudian dengan tangannya Ki Waskita mengangkat wajah anaknya. Meskipun dengan ragu-ragu, ia pun berusaha dapat melihat, bagaimana bentuk wajah anaknya itu.

Tetapi yang dilihatnya adalah mengejutkan sekali. Bahkan juga Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar, yang sudah mendekati anak muda itu tanpa menghiraukan orang-orang Cangkring yang masih membeku.

“Kau tidak apa-apa, Rudita?” bertanya ayahnya dengan heran, ia memang melihat noda-noda biru di wajah anak itu. Tetapi wajah itu tetap tidak berubah. Tidak ada bagian yang membengkak, apalagi berdarah.

Rudita tersenyum. Katanya, “Aku tidak apa-apa, Ayah.”

“Tetapi, bukankah kau telah ditangkap dan diperlakukan tidak adil, seperti seorang penjahat yang tertangkap saat melakukan kejahatan? Dan bukankah kau tidak melakukan kejahatan apa pun juga?”

“Aku tidak berbuat apa-apa, Ayah.”

“Tetapi, kenapa kau diperlakukan seperti itu? Berpuluh-puluh anak-anak muda telah mengeroyokmu tanpa belas kasihan.”

“Tetapi bukankah aku tidak apa-apa?”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Dan sebelum ia berkata sesuatu, Rudita telah mendahuluinya, “Ternyata Ayah telah kehilangan kesabaran.”

Ki Waskita masih berdiri termangu-mangu. Sementara Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar mendekati anak muda itu. Dengan jari-jarinya yang memiliki pengenalan atas tubuh seseorang, Kiai Gringsing meraba punggung, pundak dan lengan anak itu sambil berkata, “Kau benar-benar tidak mengalami sesuatu, Rudita?”

“Tidak, Kiai, sebagaimana Kiai melihatnya.”

“Tetapi perlakuan anak-anak muda itu sangat mencemaskan ayahmu.”

Rudita tersenyum. Dipandanginya wajah Ki Rena yang tegang.

“Kiai,” berkata Rudita kemudian, “aku tahu, jika ayah sudah bersikap demikian, maka ayah benar-benar telah kehilangan kesabaran. Dan apakah kira-kira yang akan terjadi, jika ayah yang kehilangan kesabaran itu mengamuk di tengah-engah anak-anak yang tidak tahu apa-apa ini?”

“Tetapi mereka telah memperlakukan kau dengan tidak adil, Rudita,” berkata Kiai Gringsing, “Dan itulah yang telah mempengaruhi perasaan dan pertimbangan nalar ayahmu.”

Rudita memandang ayahnya sejenak. Lalu katanya, “Ayah harus memaafkan mereka. Anak-anak itu tidak tahu menahu apa yang mereka lakukan.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Kepalanya pun kemudian tertunduk lesu.

“Kiai berdua,” berkata Ki Waskita dengan suara yang datar, “ternyata aku masih harus belajar kepada anakku. Baru sekarang aku menyadari, apa yang telah terjadi sebenarnya. Rudita telah mengutip sebagian dari isi rontalku. Dan yang sebagian itu kini telah nampak hasilnya, ia masih tetap utuh dan sehat dalam keadaan yang demikian, meskipun ada juga bekas-bekasnya pada tubuhnya. Tetapi tidak berakibat sangat buruk.”

Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar mengangguk-angguk.

“Itulah sebabnya, Ayah. Aku hanya mempelajari sebagian saja dari ilmu yang tertulis di dalam rontal Ayah. Aku hanya mempelajari bagian-bagian yang dapat melindungi diriku tanpa mencederai orang lain. Jika aku mempelajari ilmu itu seluruhnya, dan aku menjadi seperti Ayah, atau setidak-tidaknya memiliki sebagian kecil dari ilmu Ayah, mungkin aku akan berbuat lain dalam keadaan seperti ini. Mungkin aku tidak dapat melihat, bahwa anak-anak muda di padukuhan ini sama sekali tidak mengerti apa yang mereka lakukan. Mungkin aku akan menjadi panas, dan melawan mereka seperti yang hampir saja Ayah lakukan.”

Ki Waskita mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Ayah. Bukankah dengan demikian, persoalannya justru akan berkepanjangan? Anak-anak muda Cangkring adalah anak-anak muda yang mendapat perlindungan, dan bimbingan langsung dari prajurit-prajurit Pajang di Jati Anom. Jika terjadi sesuatu atas mereka, maka prajurit-prajurit Pajang di Jati Anom tentu tidak akan tinggal diam.”

Ki Waskita menundukkan kepalanya. Rasa-rasanya ia sedang dihadapkan pada noda di wajahnya. Ia tidak dapat mengingkari ketelanjurannya. Hampir saja ia kehilangan akal dan melakukan sesuatu, yang akan dapat menimbulkan akibat yang berkepanjangan. Jika selagi ia kehilangan pengamatan diri itu, ia bertindak sesuatu, maka akibatnya akan mengerikan sekali. Setiap ayunan tangannya dalam puncak ilmunya, Ki Waskita akan dapat memecahkan kepala anak-anak muda Cangkring, yang baru mulai belajar tata bela diri yang paling sederhana itu.

Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar yang berdiri di samping Ki Waskita merasa, bahwa mereka pun telah melakukan perbuatan kekerasan, meskipun masih dalam pengendalian nalar.

“Ayah,” berkata Rudita kemudian, “sekarang, sebaiknya Ayah minta maaf kepada mereka. Di sini orang yang agaknya paling berpengaruh adalah orang itu.”

Ki Waskita, Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar berpaling. Mereka memandang Ki Rena yang berdiri termangu-mangu. Bahkan kakinya kemudian terasa menjadi gemetar.

“Apakah Ki Demang dari Cangkring tidak ada di sini?” bertanya Ki Waskita.

Rudita mengerutkan keningnya. Katanya “Sependengaranku, Ki Demang tidak ada di sini.”

Ki Waskita termangu-mangu sejenak. Sambil memandang kepada Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar berganti-ganti, ia pun bertanya, “Bagaimana, Kiai?”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam sekali, katanya, “Kita memang harus minta maaf kepada mereka, Ki Waskita.” Lalu sambil menunjuk kepada beberapa anak muda yang mulai sadar dari pingsannya, ia berkata, “Ki Waskita sudah membuat lebih dari tiga orang menjadi pingsan.”

Ki Waskita mengangguk-angguk.

“Selebihnya, Ki Waskita harus mengucap syukur, bahwa angger Rudita telah mencegah Ki Waskita berbuat lebih jauh lagi.”

Ki Waskita memandang anaknya dengan tatapan mata yang sayu. “Kiai Gringsing benar. Ternyata kau memiliki kesabaran yang jauh lebih besar daripada aku. Meskipun umurmu masih muda, ternyata kau telah berhasil menguasai perasaan dengan sikap damai itu.”

“Aku memang sedang mencoba, Ayah, apakah aku dapat mengatasi nafsu di dalam diriku. Aku sudah berhasil menguasai wujud jasmaniah dengan segala macam sikap dan tindak tanduk. Aku dapat mengesampingkan perasaan sakit, lelah dan letih. Namun yang kini sedang aku matangkan, adalah sikap rohaniahku. Apakah aku juga mampu menguasai nafsu dan keinginan yang dapat mempunyai seribu macam bentuk dan wujud.”

“Bersyukurlah, Rudita.”

“Tetapi meskipun demikian, Ayah, aku pun masih seorang manusia yang lemah dan dicengkam oleh ketidak percayaan. Ternyata bahwa aku berusaha untuk mempelajari ilmu yang tertulis di dalam rontal Ayah, meskipun hanya sebagian. Aku masih harus mempelajari ilmu untuk melindungi tubuhku, seolah-olah aku tidak mempercayai perlindungan yang paling rapat. Bukankah aku dapat mempercayakan diriku kepada Tuhan Yang Maha pengasih dan Penyayang? Ayah, aku masih seorang manusia yang kadang-kadang kehilangan penyerahan diri dan pasrah. Namun, mudah-mudahan, aku tidak terlampau jauh meninggalkan-Nya, karena yang aku dapatkan sekarang, meskipun berdasarkan atas tindak dan laku seperti yang tertulis di dalam rontal, tetapi semuanya itu aku mohonkan kepada Yang Maha Kuasa itu pula.”

Kata-kata Rudita itu benar-benar telah menyentuh hati ayahnya. Bahkan juga Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar. Seolah-olah Rudita memberitahukan kepada mereka, alangkah lemahnya hati ketiga orang tua itu. Jika mereka yakin dan percaya mutlak kepada penciptanya, maka mereka tentu tidak akan pernah mempelajari ilmu kanuragan jenis yang manapun juga, karena bagi mereka yang yakin dan percaya, maka perlindungan yang paling utama adalah perlindungan Yang Maha Kuasa itu jualah. Bukan perlindungan yang dibuat oleh seseorang dengan kekuatannya sendiri.

Namun kelemahan seseorang yang didorong oleh naluri untuk mempertahankan hidup dan jenisnyalah, maka manusia kadang-kadang mencari jalan untuk memiliki perisai yang dapat menyelamatkan dirinya dengan cara badaniah. Tetapi selama dengan kekuatan yang didapatkannya itu, ia masih tetap berusaha berjalan di jalan lurus, maka ia masih akan dapat mencapai jalan menuju kepada-Nya.

Tetapi kadang-kadang manusia telah didorong oleh nafsu badani, sehingga mereka melupakan sumber hakiki dari keseluruhan wujud dan bentuk, bahkan yang kasat mata, yang tidak kasat mata, dan yang tanpa bentuk.

Kecenderungan untuk mendapatkan kekuatan atas usaha sendiri dan melupakan Sumber dari semuanya yang ada itulah, kadang-kadang telah menuntun seseorang sampai ke daerah-daerah hitam yang kelam. Mereka menyangka bahwa di daerah yang hitam itu, mereka akan menemukan yang dicarinya. Tetapi agaknya mereka telah tersesat. Pada wujud-wujud wadag yang justru menyeret mereka semakin jauh dari titik akhir yang abadi, dalam kedamaian yang bening.

Tetapi ketiga orang-orang tua itu tidak sempat untuk merenunginya terlampau lama. Rudita yang berpakaian compang-camping itu mendorong ayahnya sekali lagi, “Ayah. mintalah maaf kepada Ki Rena. Orang yang paling berpengaruh yang ada di banjar ini. Kemudian Ayah akan dapat pergi kepada Ki Demang dan Ki Jagabaya yang sekarang belum juga hadir di sini. Mudah-mudahan tidak akan ada salah paham lagi yang terjadi antara Ayah dan Ki Rena, apalagi dengan Ki Demang dan Ki Jagabaya nanti.”

Ki Waskita masih termangu-mangu di tempatnya. Setiap kali ia memandang Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar berganti-ganti.

Kiai Gringsing pun kemudian bergeser semakin dekat pada Ki Waskita. Sekilas dilihatnya keadaan Rudita. Bahkan karena noda-noda yang kemerah-merahan di tubuhnya, karena ternyata tubuhnya masih tetap segar, tetapi karena pakaiannya yang menjadi compang-camping oleh perlakuan yang kasar dari orang-orang Cangkring.

Dalam pada itu, orang-orang Cangkring berdiri mematung di tempatnya. Mereka sama sekali tidak mengerti apakah yang sebenarnya sedang mereka hadapi. Apalagi ketika mereka melihat keadaan Rudita. Ketika mereka beramai-ramai memukulinya, mereka belum melihat akibat dari perbuatan mereka. Tetapi kemudian ternyata, bahwa anak muda yang satu ini lain sekali dengan yang memang pernah terjadi. Jika orang-orang Cangkring sedang marah, karena kejahatan-kejahatan kecil, mereka kadang-kadang tidak dapat mengendalikan diri dan memperlakukan orang-orang yang dapat mereka tangkap itu dengan semena-mena, seperti yang mereka lakukan atas Rudita.

Tetapi biasanya, orang yang diperlakukan demikian, akan menjadi bengkak-bengkak dan berdarah dari mulut dan hidungnya. Mereka akan menjadi pingsan dan kadang-kadang sampai berhari-hari, bahkan berpekan-pekan harus berbaring di pembaringan.

Tetapi Rudita itu nampaknya masih tetap segar. Seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu atasnya, selain pakaiannya yang kemudian menjadi compang-camping.

“Apakah anak itu anak iblis?” orang-orang Cangkring itu mulai bertanya-tanya.

Satu dua orang di antara mereka mulai menghubung-hubungkan Rudita dengan orang bercambuk itu. Dengan dada yang berdebar-debar seorang anak muda berkata, “Apakah ia murid orang bercambuk itu? Jika demikian, kita akan celaka.”

Kawannya yang berdiri di sampingnya tidak menyahut. Tetapi hatinya pun menjadi sangat kecut.

“Kita tidak akan menjadi cemas seperti sekarang ini, seandainya kita benar-benar berhadapan dengan sekelompok penjahat yang berkeliaran itu,” berkata anak-anak muda itu di dalam hatinya. Apalagi mereka merasa yakin akan perlindungan prajurit-prajurit Pajang di Jati Anom, sehingga para penjahat itu tidak akan pernah berani mengganggu mereka.

Tetapi kali ini yang datang untuk mengambil seseorang, yang telah mengalami perlakuan yang sangat buruk itu, adalah orang bercambuk itu. Bahkan anak muda yang diperlakukan buruk sekali itu pun ternyata adalah anak muda yang sangat membingungkan. Bahkan seorang anak muda berkata, “Anak itu agaknya memiliki ilmu kebal. Ia tidak dapat disakiti dan dilukai. Lihat, ia sama sekali tidak apa-apa.”

“Ya,” desis yang lain, “kita tidak menyadari apa yang terjadi, selama kita sibuk memukulinya. Baru sekarang kita sadar, bahwa jika anak itu marah, akan terjadi malapetaka ya tiada taranya bagi Cangkring.”

Yang lain mengangguk-angguk. Berbagai perasaan telah menyentuh hati anak-anak muda yang berada di sekitar banjar itu. Apalagi mereka yang mendengar percakapan antara Rudita dan ayahnya.

Ki Rena masih berdiri termangu-mangu. Ia tidak mengerti apa yang harus dilakukannya. Ia merasa bahwa ia telah mendorong anak-anak muda itu untuk berlaku kasar. Hampir setiap kali ialah yang memimpin anak-anak itu berbuat demikian terhadap orang-orang yang mereka curigai, dan apalagi mereka yang tertangkap selagi melakukan kejahatan-kejahatan kecil, seolah-olah mereka adalah pahlawan-pahlawan yang sedang berjuang di medan perang.

Ki Rena tiba-tiba menjadi gemetar, ketika ia melihat Ki Waskita, Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar bersama Rudita mendekatinya. Ia pun menyadari bahwa ternyata anak muda yang bernama Rudita itu, adalah anak yang seolah-olah tidak mempan oleh pukulan-pukulan yang menghujaninya. Orang-orang lain yang diperlakukan demikian, tentu sudah menjadi bengkak-bengkak dan berdarah hidung dan mulutnya, bahkan tentu sudah pingsan. Tetapi Rudita sama sekali tidak mengalami cidera apa pun karenanya.

“Apakah sebenarnya yang dikehendaki oleh anak ini,” Ki Rena bertanya-tanya kepada diri sendiri dengan penuh kebimbangan. “Ia tentu bukan saja kebal, tetapi juga memiliki kekuatan yang luar biasa. Apalagi ketiga orang tua-tua itu, yang seorang di antaranya adalah orang  bercambuk, yang namanya sudah dikenal hampir di seluruh Pajang.” hatinya menjadi semakin berdebar-debar, dan ia pun dengan penyesalan yang mendalam berkata di dalam hati, “Celakalah padukuhan Cangkring sekarang ini. Tidak oleh penjahat-penjahat yang bersarang di sekitar padukuhan ini, tetapi justru oleh orang-orang yang selama ini disegani, bukan saja oleh para penjahat, tetapi juga oleh prajurit Pajang.”

Meskipun Ki Rena juga melihat sikap Rudita yang tidak bermusuhan, namun Ki Waskita dan Kiai Gringsing masih tetap mendebarkan jantung. Ki Waskita yang merasa anaknya diperlakukan tidak adil, dan Kiai Gringsing yang masih menggenggam cambuknya.

Setiap langkah Ki Waskita, Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar terasa bagaikan hentakan di dalam dada.

Tubuhnya terasa menjadi semakin gemetar ketika ia mendengar suara Ki Waskita, “Ki Rena, apakah kau yang bernama Ki Rena?”

“Ya, Ayah,” Rudita-lah yang menyahut, “aku mendengar orang lain memanggilnya demikian.”

“Ya, Ki Sanak,” jawab Ki Rena dengan suara yang bergetar pula.

“Kau agaknya orang yang paling berpengaruh sekarang ini, sebelum kita bertemu dengan Ki Demang atau Ki Jagabaya.”

“Bukan. Bukan aku, Ki Sanak. Kami sama-sama melakukan semua tindakan ini. Aku tidak mempunyai kedudukan apa pun di padukuhan ini.”

Ki Waskita memandang orang itu dengan tajamnya. Namun hatinya yang sudah mengendap itu, kemudian menjadi sangat kecewa karena sikap orang yang bernama Ki Rena itu.

“Ki Rena,” berkata Ki Waskita, “tidak ada persoalan yang akan dapat mengeruhkan keadaan lagi. Aku hanya ingin berbicara dengan orang yang barangkali paling berpengaruh di sini.”

“Tidak. Tidak ada orang yang paling berpengaruh.”

“Tetapi, bukankah Ki Rena mempunyai pengaruh atas anak-anak muda itu?” berkata Rudita, “Bukankah Ki Rena dapat memerintahkan mereka untuk berbuat sesuatu. Maksudku, bukan karena aku ingin menuntut pertanggungan jawab. Tetapi tentu saja ayah tidak akan dapat berbicara dengan semua orang ini sekaligus, tetapi sebaiknya ada seorang atau dua orang yang mewakili mereka.”

“Tetapi jangan aku. Aku tidak berbuat apa-apa.”

“Ki Rena,” tiba-tiba seorang anak muda mendesak maju, “Bukankah Ki Rena dapat mengambil tanggung jawab itu? Ki Rena-lah yang mendorong kami untuk melakukan perbuatan ini.”

“Tidak. Bukan aku. Aku tidak apa-apa.”

“Bukan hanya sekali dua kali,” berkata anak muda itu, “Setiap kali, Ki Rena telah memerintahkan kepada kami untuk melakukan hal yang serupa.”

“Tidak. Aku tidak berhak memerintah kalian.”

“Tetapi itu telah kau lakukan,” potong anak muda yang lain.

Ki Rena masih akan menjawab, tetapi Rudita menengahi, “Baiklah. Jika di antara kalian tidak ada yang berani bertanggung jawab atas peristiwa yang baru saja terjadi. Aku memang tidak akan menuntut apa pun juga. Ayahku pun tidak. Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar juga tidak. Ayah hanya akan mengucapkan sepatah dua patah kata penyesalan. Tidak lebih.”

Anak-anak muda Cangkring itu menjadi heran. Kenapa justru penyesalan. Namun sebagian dari mereka mengira, bahwa Ki Waskita itu akan menyesali perbuatan anak-anak Cangkring yang lancang dan tidak berperhitungan itu.

“Anak-anak muda dari padukuhan Cangkring,” berkata Ki Waskita, “karena tidak ada yang dapat aku ajak berbicara, biarlah aku berkata langsung kepada kalian,” Ki Waskita berhenti sejenak sambil memandang berkeliling. Kemudian, “Aku akan minta maaf kepada kalian, bahwa hampir saja aku kehilangan pengamatan diri dan bertindak di luar sadar. Jika demikian maka akibatnya akan buruk sekali bagi kita semuanya.”

Anak-anak muda Cangkring itu saling berpandangan. Mereka tidak mengerti, kenapa orang itu justru minta maaf. Seharusnya merekalah yang minta maaf kepadanya.

“Mungkin anakku telah menimbulkan persoalan di padukuhan ini,” berkata Ki Waskita lebih lanjut, “Untunglah bahwa kesulitan yang lebih parah lagi dapat dihindari,” ia berhenti sejenak. Lalu, “namun demikian, aku mempunyai permintaan kepada kalian, bahwa untuk selanjutnya, kalian sebaiknya bertindak lebih hati-hati. Jika terjadi korban yang tidak bersalah, maka hal itu tentu akan sangat menyedihkan kita semuanya. Katakanlah seorang anak muda yang sebaya dengan anakku. Apalagi jika ia adalah satu-satunya anak yang menjadi gantungan harapan masa depan.”

Anak-anak muda Cangkring itu menundukkan kepalanya.

“Tindakan kalian dapat menimbulkan bencana. Bahkan kematian. Seandainya anakku bersalah sekalipun, kalian tidak berwenang untuk memperlakukannya demikian.”

Nampak beberapa orang di antara anak-anak muda Cangkring itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kami mengetahui,” berkata Ki Waskita lebih lanjut, “bahwa dalam waktu yang lama kalian telah dicengkam oleh kecemasan, kegelisahan dan kemarahan, karena gangguan-gangguan yang sering terjadi. Namun setelah kalian mendapat sedikit bimbingan dari prajurit-prajurit Pajang, maka terjadilah ledakan itu. Ledakan yang seharusnya dapat penyaluran yang sewajarnya.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Ada banyak persoalan yang terasa berdesakan untuk meloncat dari bibirnya. Tetapi ia tidak ingin menyakiti hati orang-orang Cangkring itu.

Karena itu, maka katanya kemudian, “Karena itulah, maka sebaiknya kita berhati-hati untuk seterusnya. Marilah hal ini kita anggap tidak pernah terjadi. Dan mudah-mudahan benar-benar tidak akan pernah terjadi lagi. Sekali lagi aku minta maaf. Kami berempat akan segera minta diri. Kami akan kembali ke Jati Anom, karena sebenarnyalah kami sudah mendapat ijin dari Senapati Untara untuk melakukan pencarian ini. Dengan demikian kami pun masih akan minta diri kepadanya.”

Tidak ada seorang pun yang menyahut. Semuanya bagaikan mematung di tempatnya.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba terdengar hiruk pikuk di luar lingkaran anak-anak muda Cangkring. Di antara keributan itu terdengar suara seseorang yang agak serak-serak, “He, siapakah yang telah membuat keributan ini?”

Anak-anak muda Cangkring itu pun menyibak. Yang datang ternyata adalah Ki Demang diiringi oleh Ki Jagabaya.

“Siapakah orang itu,” bertanya Ki Demang lantang, “hanya akulah yang berhak berbicara langsung kepada rakyatku. Apakah orang itu telah mempengaruhi kalian? Dan apakah orang itu yang dikatakan datang dari salah sebuah gerombolan panjahat yang bersarang di sekitar tempat ini?”

Ki Waskita menjadi berdebar-debar. Dipandanginya wajah Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar berganti-ganti.

“Mudah-mudahan ia dapat diajak berbicara,” berkata Kiai Gringsing perlahan-lahan.

Dalam pada itu Ki Demang pun telah memasuki lingkaran anak-anak muda Cangkring. Sekilas ia melihat Ki Rena yang berdiri termangu-mangu.

Tiba-tiba Ki Demang tertegun sejenak. Bahkan kemudian ia mendekati Ki Rena dengan wajah yang buram.

“Apakah kau lagi yang membuat gaduh di sini, Ki Rena?” bertanya Ki Demang.

Ki Rena termangu-mangu sejenak. Tetapi kemudian ia berpaling kepada Ki Waskita dan kedua kawan-kawannya.

“Apakah mereka itu?” bertanya Ki Demang pula. Tidak ada jawaban. Ki Rena masih berdiri termangu-mangu.

Ki Demang pun kemudian melangkah ke depan. Dipandanginya wajah-wajah yang tegang di sekitarnya.

Tiba-tiba saja dari antara anak-anak muda itu muncul seseorang, yang agaknya memiliki ketenangan yang agak lebih dalam dari kawan-kawannya. Ia lah yang sudah mencoba memperingatkan Ki Rena, tetapi sama sekali tidak dihiraukannya.

“Ki Demang,” berkata anak muda itu, “semuanya telah terjadi seperti yang pernah terjadi. Ki Rena menangkap seorang yang dicurigainya dan di sini kami beramai-ramai mencoba untuk memeras keterangannya.”

“Apakah kalian berhasil?”

“Tidak,” jawab anak muda itu, “tangkapan Ki Rena itu sama sekali tidak mau menyebut kelompok-kelompok yang manapun juga, seperti yang dikehendaki oleh Ki Rena.”

“Jadi, anak itu tidak mau mengaku? Tetapi apakah ia bersalah?” bertanya Ki Demang, “Aku tidak ingin melihat korban yang tidak bersalah lagi.”

Anak muda itu menggeleng. Katanya, “Ia memang tidak bersalah, Ki Demang.”

“Jadi bagaimana? Ia luka parah? Inilah kegilaan yang selalu berulang. Aku bangga kalian memiliki ilmu kanuragan. Tetapi sudah barang tentu tidak dipergunakan di sembarang keadaan. Bahkan dipergunakan untuk memaksakan kehendak atas orang lain,” Ki Demang berhenti sejenak. Lalu, “He, dimana korban kalian kali ini.”

Anak muda itu termangu-mangu. Namun kemudian ia menunjuk kepada Rudita sambil berkata, “Kali ini kami menjumpai seorang anak muda yang lain. Betapapun juga anak-anak Cangkring memukulinya, namun ia sama sekali tidak terluka. Bahkan hampir-hampir tidak terpengaruh, seolah-olah ia tidak tersentuh sama sekali oleh perasaan sakit.”

“Kebal, jadi anak itu kebal?”

“Agaknya memang demikian, Ki Demang.”

Ki Demang termangu-mangu sejenak, ditatapnya tubuh Rudita yang tetap segar. Selangkah ia maju dengan tatapan mata yang tegang. Lalu katanya, “Jadi kau kebal ya?”

Rudita ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia menggeleng, “Tidak, Ki Demang. Aku sama sekali tidak kebal. Kulitku akan sobek jika tergoresi oleh duri yang lemah sekalipun.”

“Tetapi kau nampaknya tidak apa-apa?”

“Tentu tidak apa-apa. Anak-anak muda Cangkring pun tidak berbuat dengan bersungguh-sungguh. Mereka hanya sekedar mencoba menakut-nakuti aku. Memang ada di antara mereka yang berpura-pura memukuli aku. Tetapi sudah tentu tidak sampai menimbulkan akibat yang gawat.”

Ki Demang menjadi bingung. Bahkan anak-anak muda yang mendengar jawaban Rudita itu pun menjadi bingung pula.

“Sudahlah, Ki Demang,” berkata Ki Waskita kemudian, “Marilah kita lupakan saja peristiwa yang baru saja terjadi.”

“Siapa kau?”

“Aku adalah ayah anak ini. Ketika aku sampai di sini, memang sedang terjadi sedikit keributan. Tetapi tidak membawa akibat apa pun juga.”

Ki Demang termangu-mangu sejenak. Kemudian ia berpaling kepada Ki Jagabaya, seolah-olah ingin mendengar pendapatnya.

“Ki Demang,” berkata Ki Jagabaya, “aku menjadi bingung juga mendengar keterangan yang bersimpang siur. Sebaiknya marilah kita bawa keempat orang itu ke Kademangan, bersama Ki Rena.”

“Aku tidak apa-apa, aku tidak apa-apa,” desis Ki Rena.

Ki Demang menjadi heran. Biasanya Ki Rena tidak mempedulikan sama sekali peringatan yang pernah diberikan. Bahkan seolah-olah anak-anak muda Cangkring itu lebih banyak terpengaruh oleh Ki Rena, daripada Ki Demang dan Ki Jagabaya. Mereka hanya tunduk kepada Ki Demang dan Ki Jagabaya di hadapannya saja. Tetapi jika kedua orang itu tidak ada, dan perabot-perabot padukuhan yang lain tidak melihat, mereka dapat saja melakukan tindakan-akan yang aneh-aneh, di bawah pengaruh Ki Rena. Ki Rena sendiri yang memiliki sekedar ilmu kanuragan merasa, bahwa ia adalah orang yang paling kuat di padukuhan Cangkring.

Namun ternyata di hadapan orang bercambuk itu, semua keberanian, kesombongan dan ketamakannya, bagaikan lenyap ditiup angin.

“Ki Demang,” berkata Ki Waskita, “baiklah. Aku berterima kasih jika aku diperkenankan singgah di rumah Ki Demang untuk menjelaskan persoalan ini.”

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Marilah, kita dapat berbicara lebih lelulasa.”

Demikianlah, maka Ki Waskita, Kiai Gringsing, Ki Sumangkar dan Rudita pun diajak oleh Ki Demang pergi ke rumahnya, untuk didengar penjelasannya.

Namun dalam pada itu, ternyata kehadiran orang bercambuk itu telah sangat menarik perhatian. Berita kehadirannya itu tidak hanya akan tersebar di kalangan rakyat Cangkring, tetapi juga sampai ke sarang-sarang penjahat di sekitarnya.

Agaknya hal itu baru disadari oleh Kiai Gringsing ketika ia berjalan sambil menundukkan kepalanya, menuju ke rumah Ki Demang Cangkring.

“Aku sama sekali tidak sempat memikirkan hal itu,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya. Lalu, “tetapi apaboleh buat. Semuanya sudah terjadi, sehingga aku tidak akan dapat menarik kembali.”

Meskipun demikian, Kiai Gringsing tidak dapat mengesampingkan kecemasannya tentang murid-muridnya, yang ditinggalkannya di Sangkal Putung. Jika terjadi sesuatu atas mereka, maka itu adalah akibat dari kecerobohannya.

“Tetapi angger Rudita sudah dapat di ketemukan. Hari ini juga, aku dapat kembali ke Sangkal Putung,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya.

Tetapi agaknya langit akan segera menjadi suram. Jika ia cepat-cepat meninggalkan tempat itu, maka baru malam hari ia akan sampai di Jati Anom. Sudah tentu bahwa ia masih harus menunggu sampai matahari terbit esok pagi.

Di rumah Ki Demang Cangkring, ternyata tidak banyak yang mereka bicarakan. Ketika Ki Demang mengetahui semua persoalan yang terjadi, maka tidak henti-hentinya ia minta maaf kepada Ki Waskita, Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar. Terutama kepada Rudita.

“Jika aku boleh berterus terang,” berkata Ki Demang, “hal seperti ini bukan terjadi untuk yang pertama kalinya. Meskipun yang pernah terjadi, pada umumnya karena anak-anak itu benar melihat kejahatan terjadi, meskipun betapa kecilnya, namun hal seperti itu sangat mencemaskan.”

“Mereka memerlukan penyaluran, Ki Demang,” berkata Ki Waskita.

“Ya, Agaknya memang demikian. Setiap kali aku memperingatkan mereka, mereka nampaknya juga mendengarkannya. Tetapi di lain kesempatan, mereka telah mengulanginya lagi. Bahkan nampaknya ada di antara mereka yang sangat kecewa terhadap sikapku. Di antara mereka adalah Ki Rena. Ia memang mempunyai pengaruh terhadap anak-anak, terutama yang menjelang usia dewasa.”

“Nampaknya memang demikian,” desis Rudita.

“Angger,” berkata Ki Demang, “seharusnya anak-anak itu memang mendapat pelajaran. Kenapa angger tidak melawannya, sehingga mereka menjadi jera? Menilik keadaan angger, setelah angger mengalami perlakuan kasar itu, angger adalah seorang anak muda yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Bahkan mungkin angger benar-benar seorang anak muda yang kebal.”

“Ah tidak, Ki Demang. Sudah berulang kali aku katakan, aku sana sekali tidak kebal.”

“Meskipun tidak,” berkata Ki Demang, “tetapi Angger sudah menunjukkan sesuatu yang luar biasa. Dan angger tentu dapat mempergunakannya untuk membuat anak-anak itu menjadi jera.”

Tetapi Rudita menggeleng. Katanya, “Ki Demang, jika aku melawan, maka keadaan tentu akan menjadi semakin buruk. Tentu anak-anak muda itu menjadi semakin marah, dan bahkan mungkin mereka akan mempergunakan senjata. Jika demikian, maka akibatnya tentu tidak kita harapkan,” Rudita berhenti sejenak. Lalu, “Lebih daripada itu, Ki Demang, sebenarnyalah bahwa aku tidak akan mampu untuk berkelahi.”

“Ah,” Ki Demang mengerutkan keningnya, “kau bergurau. Dan itulah yang sangat mengagumkan. Angger yang memiliki ilmu katakanlah sejenis ilmu kebal, sama sekali tidak berbuat apa-apa dalam keadaan yang sangat buruk itu.”

“Benar, Ki Demang. Aku tidak dapat dan sama sekali tidak memiliki ilmu untuk bertempur.”

Ki Demang justru tertawa. Tetapi Kiai Gringsing yang kemudian berkata, “Sebenarnya demikian Ki Demang. Sebenarnya aku pun iri atas sikap damai anak itu. Rudita telah memilih jalan hidup yang jauh lebih mulia dari yang barangkali kita pilih bersama, ia mempelajari ilmu yang disadapnya dari seseorang yang sakti tiada taranya. Sebenarnya ia leluasa mengambil seluruh ilmu  yang tersedia di dalam rontal. Tetapi anak itu memilih pada bagian yang seperti kita lihat sekarang. Ia memilih sekedar untuk melindungi diri dalam sikap damainya, tanpa mempergunakan kekerasaan. Itu pun dengan penyesalan, bahwa dengan demikian telah mengurangi hubungan kepercayaan yang seharusnya mutlak dengan Penciptanya.”

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Luar biasa. Tetapi benar-benar tidak dapat dimengerti. Di jaman seperti sekarang ini, ada juga seorang anak muda yang hidup dalam alam cita-cita hakiki dari setiap manusia. Namun yang sampai saat ini jarang sekali, jika tidak dapat dikatakan tidak ada, orang yang berani mencobanya.”

“Ah,” potong Rudita, “Ki Demang jangan memuji. Jika aku berbuat demikian, itu adalah karena aku mempunyai latar belakang sikap dan jiwa yang tidak sama pula dengan anak-anak muda sebayaku. Aku adalah seorang penakut yang manja.”

“Tidak, tentu tidak. Sudah aku katakan, tidak ada orang yang memiliki keberanian seperti Angger.”

Rudita tidak menjawab lagi. Ketika ia memandang wajah Kiai Gringsing nampak wajahnya yang lesu menunduk dalam-dalam.

Ternyata Kiai Gringsing sedang memperbandingkan Rudita dengan Agung Sedayu yang memiliki sifat yang hampir bersamaan di masa kanak-anaknya. Tetapi ternyata perkembangan selanjutnya adalah sangat berbeda.

“Akulah yang tidak mempunyai keberanian untuk melakukannya,” berkata Kiai Gringsing di dalam hati, lalu, “karena aku adalah orang yang hidup di dalam kebimbangan dan ketidakpastian. Aku ingin berbuat tanpa kekerasan, tetapi aku mempelajari ilmu kekerasan dengan sebaik-baiknya.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Namun demikian, ia masih mencoba untuk melapangkan dadanya, “Tetapi bagaimanapun juga, aku harus berusaha bahwa yang aku lakukan adalah untuk suatu tujuan yang baik, yang sesuai dengan kehendak-Nya. Di dalam jaman yang keras ini, memang tidak dapat diingkari, bahwa kadang-kadang diperlukan juga kemampuan dalam olah kanuragan untuk melindungi sesuatu. Sesuatu yang dapat dianggap baik, dari keruntuhan karena perbuatan yang salah.”

Kiai Gringsing seakan-akan terbangun dari angan-angannya, ketika tiba-tiba saja Ki Demang berkata, “Ki Sanak sekalian. Apakah yang selanjutnya dapat aku lakukan untuk menyatakan penyesalan yang sedalam-dalamnya dari seluruh penghuni padukuhan ini, bahwa yang terjadi adalah suatu kesalahan yang besar.”

Ki Waskita-lah yang menjawab, “Tidak ada, Ki Demang. Tidak ada yang wajib Ki Demang lakukan untuk kami. Tetapi barangkali ada yang harus Ki Demang lakukan untuk rakyat padukuhan ini.”

Ki Demang mengerutkan keningnya.

“Ki Demang. Mungkin ada sesuatu yang perlu mendapat perhatian. Usaha prajurit Pajang di Jati Anom untuk menempa anak-anak muda di padukuhan Cangkring adalah benar. Tetapi selain bimbingan kanuragan, anak-anak muda Cangkring harus mendapat bimbingan kejiwaan, sehingga dengan demikian, maka perkembangan anak-anak muda Cangkring akan menjadi seimbang. Jika mereka untuk selanjutnya hanya mendapat tempaan jasmaniah saja, maka akibatnya akan dapat menjadi salah langkah. Anak-anak muda itu akan berkembang dengan pesatnya, namun hanya di belahan luar. Tidak di belahan dalam diri mereka.”

———-oOo———-

(bersambung ke Jilid 089)

diedit dari: http://adbmcadangan.wordpress.com/buku-88/

 

Terima kasih kepada beliau-beliau atas jerih payahnya:

From Kasdoelah’s Collection
Retype: Ki Prastawa
Proof: Ki Gede Menoreh

<<kembali | lanjut >>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s