ADBM2-114


<<kembali | lanjut >>

PENGAWAL itu pun bergeser surut. Sejenak ia hilang diluar pintu paseban dalam. Namun kemudian ia nampak kembali bersama seorang anak muda. Agung Sedayu.

Wajah Untara benar-benar menjadi tegang. Ketika Agung Sedayu bergeser sambil berjongkok setapak demi setapak, rasa-rasanya anak itu menjadi sangat lamban. Hampir saja ia berteriak agar adiknya itu bersikap sedikit cepat.

Ketika Agung Sedayu sudah duduk bersila dan menyembah, kemudian duduk sambil menunduk menunggu pertanyaan Sultan Hadiwijaya, dada Untara rasa-rasanya bagaikan pecah.

“Kau siapa?” bertanya Sultan Hadiwijaya.

“Hamba Agung Sedayu tuanku.”

Sultan Hadiwjaya mengerutkan keningnya. Ia pernah mendengar nama itu. Karena itu. maka ia pun kemudian berdesis, “Kau adik Untara?”

“Hamba tuanku.”

Sultan mengangguk-anggukkan kepalanya. Sementara beberapa orang perwira tiba-tiba saja tidak dapat menahan diri untuk berpaling. Bahkan beberapa orang di antara mereka dengan wajah yang berkerut merut memandanginya sambil berkata didalam hati. “Jadi anak inilah yang memiliki cambuk bernafas maut itu seperti gurunya. Kiai Gringsing.”

Sementara itu Sultan mengangguk-angguk kecil. Dipandangnya Agung Sedayu yang menunduk. Seakan-akan ia ingin memperbandingkan anak itu dengan Untara.

Namun Untara lah yang tidak sabar. Jika Agung Sedayu menghadap ke Pajang, tentu ada persoalan yang penting yang dibawanya. Tetapi ternyata Sultan Hadiwijaya tidak segera bertanya.

“Agung Sedayu,” akhirnya Sultan pun bertanya, “apakah kau datang untuk menyusul kakakmu yang telah datang terlebih dahulu kemari?”

Agung Sedayu termangu-mangu. Sekilas dipandanginya kakaknya yang duduk dengan gelisah. Kemudian diluar sadarnya, ia pun melihat beberapa orang yang dengan ragu-ragu memandanginya sekilas-sekilas. Namun agaknya mereka terikat oleh kehadiran mereka di paseban. sehingga mereka pun segera menundukkan kepala mereka kembali.

Namun kesan yang sekilas itu membuat dada Agung Sedayu menjadi semakin berdebar-debar. Seolah-olah ia melihat sejumlah orang dengan sejumlah sikap yang berbeda-beda. Bahkan ia pun ragu-ragu. apakah kakaknya membenarkan kehadirannya dipaseban itu. meskipun ia hanya sekedar utusan.

Sebenarnyalah Agung Sedayu adalah seorang anak muda yang hidup didalam lingkungan yang jauh dari adat dan tata kehidupan istana meskipun ia adik seorang Senapati yang dihormati. Namun Kiai Gringsing telah memberikan banyak petunjuk, sebagaimana ia harus menghadap seorang raja dan tata unggah-ungguh didalam paseban, khususnya unggah-ungguh di istana Pajang.

Karena itu, maka sikap Agung Sedayu pun tidak banyak menimbulkan persoalan dan kesulitan bagi dirinya.

Karena Agung Sedayu masih saja dicengkam oleh keragu-raguan, maka sekali lagi Sultan bertanya, “Apakah kau mempunyai kepentingan yang lain?”

“Ampun tuanku,” jawab Agung Sedayu, “sebenarnyalah hamba tidak menyusul kakang Untara, karena hamba tidak tahu bahwa kakang Untara telah berada di paseban.”

“O,” Sultan mengerutkan keningnya, “jadi?”

Untarapun menjadi gelisah. Dan rasa-rasanya Agung Sedayu memang terlalu lamban menjawab. Rasa-rasanya ingin Untara membentaknya untuk segera berbicara.

“Ampun tuanku,” Agung Sedayu berkata selanjutnya, “sebenarnyalah bahwa hamba datang dari Sangkal Putung untuk menyampaikan berita yang barangkali kurang menyenangkan. Menurut pertimbangan guru hamba dan Ki Widura, maka sebaiknyalah bahwa hamba menyampaikan juga berita itu kepada tuanku, karena tuanku telah mengenal pula seseorang yang bernama Ki Sumangkar. yang pernah mempunyi kedudukan penting pada saat Jipang masih berdiri.”

“Ya. ya. Aku kenal Ki Sumangkar dengan baik. Dan aku pun telah mendengar bahwa ia sekarang dalam keadaan sakit yang gawat. Apakah kau membawa berita tentang orang tua yang baik itu?”

“Hamba tuanku. Agaknya Yang Maha Kuasa telah berkenan memanggil hambanya yang bernama Ki Sumangkar.”

“He,” wajah Sultan Hadiwijaya menegang sejenak.

Untara yang mendengar berita itu pun terkejut pula. Setapak ia bergeser sambil berpaling kearah Agung Sedayu. Namun Agung Sedayu hanya dapat menganggukkan kepalanya saja.

Sementara itu. beberapa orang perwira yang berada di ruang itu pun menunduk pula dalam-dalam. Sebagian dari mereka yang tidak mengetahui peristiwa yang sebenarnya terjadi di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu menganggap bahwa Ki Sumangkar telah dihinggapi oleh penyakit yang sewajarnya. Tetapi sebagian yang lain. yang mempunyai hubungan langsung dengan apa yang terjadi di lembah itu, menganggap bahwa kematian Sumangkar itu sudah tidak dapat dihindari lagi. Mereka telah mendengar bahwa luka-lukanya dipeperangan itu benar-benar tidak akan mungkin tertolong lagi, betapapun juga ia mendapat pengobatan dan pertolongan.

“Sisa kekuatan Jipang itu kini telah lenyap pula,” berkata seorang perwira didalam hatinya.

Sementara itu Sultan Hadiwijaya justru termenung sejenak. Dipandanginya Agung Sedayu yang duduk dengan kepala tunduk. Baru kemudian ia berkata, Agaknya saatnya memang sudah tiba. Ki Sumangkar memang sudah tua meskipun belum tua sekali. Tetapi jika saat itu datang, tidak seorang pun yang akan dapat mengingkari. Betapapun tinggi ilmu seseorang, betapapun pandainya seseorang dalam ilmu pengobatan, dan betapapun seseorang berusaha, namun saat-saat kematian memang tidak berada didalam genggaman tangan manusia. Kematian hadir disaat Yang Maha Kuasa menentukan untuk memanggil seorang hambanya seperti saat Yang Maha Kuasa menghadirkannya didunia ini.”

Paseban itu menjadi senyap. Berbagai tanggapan telah bergejolak disetiap dada.

“Agung Sedayu,” berkata Sultan Hadiwijaya, “baiklah. Aku terima pemberitahuan itu. Sebagai seorang sahabat aku memang wajib datang untuk memberikan penghormatan terakhir. Tetapi karena keadaanku sendiri, maka aku akan mengirimkan utusan untuk melihat, untuk menyampaikan rasa persahabatanku kepadanya untuk yang penghabisan kali.”

Agung Sedayu pun kemudian menyembah. Sekali lagi ia memandang sekilas kepada kakaknya. Tetapi Untara masih saja menunduk.

Sebenarnyalah telah melonjak penyesalan dihati Untara. Ia tidak sempat datang lagi ke Sangkal Putung menengok Ki Sumangkar. Sebenarnya ia sudah berkeras untuk pergi ke Sangkal Putung. Namun tiba-tiba saja ia harus datang menghadap ke Pajang, sehingga ia tidak sempat bertemu lagi dengan Ki Sumangkar.

Sebelum Agung Sedayu meninggalkan paseban, ia masih menyampaikan pesan, saat-saat Ki Sumangkar akan dimakamkan, menjelang matahari dipuncak langit dikeesokan harinya.

Sejenak kemudian maka Agung Sedayu pun mohon diri. Ketika ia sudah berada di luar regol istana, maka dijumpainya dua orang pengawal yang datang bersamanya, dan bertiga mereka pun segera berpacu kembali ke Sangkal Putung. Apakah mungkin mereka ingin untuk masih sempat ikut memandikan jenazah Ki Sumangkar.

“Tetapi agaknya kita sudah terlambat,” berkata Agung Sedayu, “meskipun demikian, kita akan berusaha.”

Namun sebenarnyalah, pada saat itu. orang-orang di Sangkal Putung justru telah sibuk menyediakan air untuk memandikan jenazah Ki Sumangkar yang ternyata memang sudah saatnya menghadap Tuhannya kembali.

Sepeninggal Agung Sedayu maka suasana di paseban pun telah berubah. Kedatangan Agung Sedayu ke Pajang seolah-olah merupakan jawaban atas persoalan yang dibicarakan didalam paseban itu, bahwa orang-orang yang berkumpul di Sangkal Putung itu memang beralasan, karena justru mereka menunggui saat-saat terakhir dari Ki Sumangkar.

Meskipun demikian, seorang perwira yang berusia mendekati setengah abad memberanikan diri untuk bertanya, “Tuanku. Peristiwa kematian Ki Sumangkar memang merupakan peristiwa yang penting. Tetapi tidak bagi Pajang. Peristiwa itu penting bagi Jipang dan bekas-bekas pengikut Adipadi Jipang. Dengan demikian, apakah perlu bahwa kematiannya dibawa kepaseban di Pajang, dan mendapat perhatian dari tuanku?”

Sultan Pajang mengerutkan keningnya. Ia melihat beberapa orang perwira yang lain justru mengangguk-angguk, seolah-olah mereka membenarkan pertanyaan kawannya itu.

Karena itu. maka ia menganggap perlu untuk memberikan keterangan, “Para pemimpin prajurit Pajang tentu masih ingat jelas, siapakah Sumangkar itu. Dan setiap pemimpin prajurit di Pajang pun tentu mengetahui, bahwa sampai saat-saat terakhir perlawanan Tohpati di sekitar Sangkal Putung, Ki Sumangkar masih ada didalam pasukan Macan Kepatihan itu. Namun pada suatu saat ia telah berhasil dihubungi dan ditangkap. Kemudian dibawa ke Pajang di saat Tohpati tidak dapat mempertahankan diri lagi. Tetapi aku telah memberikan pengampunan, atas persetujuan kakang Pemanahan yang pada waktu itu masih memegang kendali pimpinan prajurit di Pajang. Nah. bukankah dengan demikian, sewajarnya jika kematiannya diberitahukan kepadaku? Agar aku tidak merasa kehilangan dan mempunyai prasangka buruk terhadap orang yang sebenarnya telah meninggal?”

Para perwira menundukkan kepalanya. Mereka yang semula mengangguk-angguk mendengar pertanyaan tentang orang tua itu, maka mereka pun telah mengangguk-angguk pula mendengar jawaban Sultan Hadiwijaya.

Sementara itu Sultan berkata selanjutnya, “Dalam hal ini agaknya Untara lah yang paling mengetahui, karena nilai yang berhadapan langsung dengan pasukan Tohpati di Sangkal Putung bersama pamannya Ki Widura.”

Untara masih saja menundukkan kepalanya.

“Karena itu,” berkata Sultan kemudian, “sekarang aku akan mengutus Untara pergi ke Sangkal Putung sebagai pertanda aku ikut berduka cita atas kematian itu. Aku sendiri sebenarnya ingin datang.Tetapi kesehatan ku tidak memungkinkan.”

Beberapa orang perwira mengerutkan dahinya. Demikian besar perhatian Sultan terhadap Ki Sumangkar yang pernah menentangnya itu, sehingga ia telah mengutus Untara untuk datang ke Sangkal Putung atas namanya.

Bahkan mereka terkejut bukan buatan ketika tiba-tiba saja Sultan Hadiwijaya berkata, “Untara. Supaya pasti bahwa kedatanganmu adalah seperti kehadiranku sendiri, maka bawalah pertanda kebesaran yang meyakinkan.”

Untara sendiri justru menjadi termangu-mangu. Apalagi ketika Sultan Hadiwijaya kemudian mengambil keris masih dalam wrangkanya dari punggungnya dan menyerahkannya kepada Untara, “Untara. Bawalah serta Kanjeng Kiai Crubuk.”

Rasa-rasanya setiap dada dari mereka yang ada dipaseban itu tergetar. Seolah-olah mereka tidak percaya penglihatan mereka, bahwa Sultan Hadiwijaya telah memberikan pusaka pribadinya yang paling terpercaya itu kepada Untara sebagai pertanda kehadirannya di Sangkal Putung disaat Ki Sumangkar meninggal. Apalagi mereka yang mengetahui dengan pasti apa yang telah terjadi dengan Ki Sumangkar di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu.”

Tetapi sebenarnyalah bahwa Sultan Hadiwijaya dari Pajang itu telah menyerahkan kerisnya Kangjeng Kiai Crubuk kepada Untara yang menerimanya dengan penuh keragu-raguan. Untara sendiri tidak mengerti, kenapa Sultan berkenan memberikan pertanda dengan menyerahkan Kangjeng Kiai Crubuk. Sebenarnya masih ada pertanda lain yang tidak kalah jelas dan pasti yang nilainya tidak setinggi Kangjeng Kiai Crubuk. Kangjeng Sultan dapat memberikan pertanda dengan sebuah panji-panji dengan tunggul kebesaran, atau pertanda yang lain. Namun Untara pun tidak dapat menolak ketika ia harus menerima Kangjeng Kiai Crubuk untuk dibawanya ke Sangkal Putung. Keris yang dipergunakan oleh Hadiwijaya yang saat itu masih seorang Adipati Pajang, untuk mengimbangi kedasyatan keris Adipati Jipang, yang bernama Kangjeng Kiai Setan Kober. Untunglah bahwa perang tanding yang hampir saja meledak di antara kedua Adipati itu masih dapat dilerai, meskipun akhirnya perang antara Jipang dan Pajang tidak dapat dihindarkan lagi.

Dengan hati yang berdebar-debar maka Untara pun kemudian mohon diri sambil membawa Keris Kangjeng Kiai Crubuk di tangannya. Ia sama sekali tidak berani menyelipkan pusaka Pajang itu di punggungnya seperti ia membawa kerisnya sendiri.

Betapapun anehnya, namun tidak seorang pun yang berani mencegah niat Sultan Hadiwijaya itu. Para perwira dan pemimpin Pajang yang hadir hanya dapat melihat Untara yang meninggalkan paseban sambil membawa pusaka yang sangat dihormati itu. Bahkan mereka pun melihat bahwa agaknya Untara sendiri menjadi ragu-ragu dan kurang yakin akan kepercayaan Kangjeng Sultan itu.

Sepeninggal Untara, maka pertemuan di paseban itu tidak ada lagi kepentingannya. Maka Sultan pun kemudian memerintahkan mereka yang hadir untuk meninggalkan paseban setelah Sultan sendiri masuk keruang dalam istana Pajang.

Yang baru saja terjadi di paseban, ternyata telah menjadi bahan pembicaraan yang ramai. Para perwira dan pemimpin pemerintahan telah memberikan tafsiran yang berbeda-beda. Ada yang menganggap bahwa Sultan dengan sengaja menunjukkan kepercayaannya kepada Untara. Tetapi ada yang berpendapat lain justru karena keris itu adalah perlambang pertentangan antara Pajang dan Jipang.

Dalam pada itu. Agung Sedayu yang telah mendahului kakaknya meninggalkan Pajang berusaha untuk segera dapat sampai ke Sangkal Putung. Namun mereka pun menyadari, bahwa mereka tidak akan sempat ikut memandikan janazah Ki Sumangkar, karena agaknya perjalanan mereka rasa-rasanya menjadi terlalu lama.

Ketika Agung Sedayu dan dua orang pengawal dari Sangkal Putung memasuki padukuhan induk Kademangan, mereka melihat kesibukan yang semakin meningkat. Ternyata bahwa orang-orang Sangkal Putung berusaha untuk ikut membantu sesuai dengan kemampuan masing-masing untuk menyelenggarakan jenazah Ki Sumangkar.

Di rumah Ki Demang Sangkal Putung, kesibukan itu semakin terasa. Pada saat Agung Sedayu dan kedua pengawal Kademangan itu memasuki regol halaman, maka mereka langsung menyerahkan kuda mereka untuk diikat di tonggak di sudut halaman. Dengan tergesa-gesa mereka pun menuju ke pendapa.

Ki Demang Sangkal Putung, Ki Widura dan Kiai Gringsing yang melihat kedatangannya segera menyongsongnya dan dengan tidak sabar mereka bertanya apakah ia berhasil menghadap Sultan Hadiwijaya.

“Aku mendapat kesempatan itu guru,” berkata Agung Sedayu kemudian, “malahan di Pajang sedang berlangsung sidang di paseban dalam. Aku diperkenankan masuk dan memberikan laporan tentang Ki Sumangkar yang didengar oleh para pemimpin dan para perwira yang hadir saat itu, termasuk kakang Untara.”

“O,” Ki Widura mengerutkan keningnya, jadi Untara ada di Pajang?”

“Ya. Semula Sultan menyangka bahwa aku datang untuk menyusul kakang Untara. Tetapi ternyata bahwa keteranganku tentang Ki Sumangkar telah mengejutkan seisi paseban.”

Ki Widura, Kiai Gringsing dan Ki Demang Sangkal Putung mengangguk-angguk. Mereka pun kemudian membawa Agung Sedayu naik ke pendapa. Mereka duduk di sisi jenazah yang sudah dimandikan dan dibaringkan diatas amben bambu ditengah-tengah pendapa.

Raden Sutawijaya ternyata masih tetap berada di Sangkal Putung bersama Ki Juru Martani. Mereka merasa wajib untuk ikut menunggui Ki Sumangkar, karena mereka mengerti sepenuhnya, apakah yang dilakukan orang tua itu di saat-saat terakhir.

Agung Sedayu pun kemudian memberikan keterangan tentang perjalanannya kepada mereka yang berada di pendapa. Saat-saat ia berada di Pajang dan kesempatannya menghadap Sultan.

Raden Sutawijaya mendengarkan keterangan itu sambil termangu-mangu. Sekilas terbayang ruang paseban yang sudah lama sekali tidak dilihatnya. Bahkan rasa-rasanya ruangan itu tidak akan pernah di ambahnya lagi, sejak ia meninggalkan istana mengikuti jejak ayahandanya, Ki Gede Pemanahan yang bertekad untuk membuka Alas Mentaok.

“Jadi Sultan akan mengirimkan utusan?” bertanya Kiai Gringsing.

“Demikianlah keterangan yang aku dengar dari Sultan sendiri,” jawab Agung Sedayu.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya tubuh yang terbujur diam itu sambil berguman, “Bagaimanapun juga, kau masih mendapat perhatian dari Sultan di Pajang, karena sebenarnyalah bahwa kau adalah seorang yang seharusnya berada didalam lingkungan istana.”

Raden Sutawijaya yang mendengar guman Kiai Gringsing itu mengangguk-angguk. Ia pun mengakui, bahwa Ki Sumangkar adalah keluarga dari lingkungan istana Pajang. Hanya karena kerendahan hatinya ia berada disegala lingkungan dan meninggal di rumah seorang Demang di Sangkal Putung dalam keadaan sederhana.

Sementara itu, didalam rumah Ki Demang, Sekar Mirah setiap kali masih saja menangis tersedu-sedu. Ia benar-benar merasa kehilangan atas meninggalnya Ki Sumangkar. Apalagi ia merasa bahwa ia adalah satu-satunya murid Ki Sumangkar yang wajib menunjukkan baktinya sebagai seorang murid.

Meskipun Ki Sumangkar sudah memberikan segala pokok-pokok ilmu yang ada namun Sekar Mirah merasa bahwa ia masih memerlukan bimbingannya untuk mengembangkannya sehingga ilmunya menjadi mapan dan masak.

Tetapi yang terjadi adalah diluar kehendak manusia. Betapapun juga. jika saat itu datang, maka ia akan datang dengan segala keperkasaannya melampaui segala macam ilmu, kemampuan, dan kekuasaan duniawi.

Dalan pada itu. Agung Sedayu masih memberikan beberapa keterangan tentang sikap Sultan Hadiwijaya yang bijaksana dan penuh wibawa.

“Mengherankan sekali,” berkata Agung Sedayu didalam hatinya, “bahwa dalam pengaruh kewibawaan itu ada juga orang-orang yang ingin menghancurkannya.”

Namun Agung Sedayu tidak mengetahui lebih banyak tentang Sultan Hadiwijaya.

Dalam pada itu, segala persiapannya telah dilakukan dengan cermat. Jenazah itu masih akan bermalam satu malam. Menjelang matahari mencapai puncak diesok hari, jenazah itu baru akan dikebumikan.

Sehari penuh maka berdatanganlah orang-orang yang ingin memberikan penghormatan terakhir bagi Ki Sumangkar. Bukan saja orang-orang Sangkal Putung dan beberapa orang pemimpin Mataram yang datang menyusul setelah mereka mendengar bahwa Ki Sumangkar telah meninggal. Tetapi berita itu pun telah disampaikan pula kepada orang-orang Jipang yang pernah mengenal Ki Sumangkar dengan baik.

Dengan demikian maka Sangkal Putung seakan-akan telah menjadi sangat ramai. Beberapa buah rumah di sekitar rumah Ki Demang telah disiapkan untuk menginap tamu-tamunya yang berdatangan dari luar Sangkal Putung.

Meskipun berada di tempat yang jauh dari istana Pajang dan Jipang, namun ternyata bahwa nama Ki Sumangkar masih sanggup mengundang demikian banyak orang disaat terakhirnya.

Dalam pada itu, ternyata Untara yang meninggalkan istana Pajang tidak langsung menuju ke Sangkal Putung. Ia memerlukan kembali lebih dahulu ke Jati Anom, agar para prajurit yang ditinggalkannya tidak menjadi gelisah.

Baru menjelang malam Untara bersama beberapa orang perwira dan pengawal telah datang ke Sangkal Putung mewakili Sultan Hadiwijaya memberikan penghormatan terakhir bagi Ki Sumangkar.

Kedatangan Untara telah mengejutkan para tamu. Apalagi karena Untara membawa pusaka yang tentu merupakan suatu pertanda dari seseorang yang memiliki kekuasaan.

Ketika beberapa orang menyambutnya di tangga pendapa Kademangan, maka Untara menjelaskan kehadirannya, “Atas nama Kangjeng Sultan Hadiwijaya dari Pajang, yang pada saat ini berhalangan untuk datang memberikan penghormatan terakhir, maka aku telah datang dengan membawa pertanda pribadinya, Kangjeng Kiai Crubuk.”

Kata-kata itu memberikan ketegangan sejenak. Namun sambil menundukkan kepalanya. Kiai Gringsing-pun kemudian menyahut, “Kehadiran pertanda pribadi Sultan Hadiwijaya sangat membesarkan hati kami. Silahkan anakmas Untara, anakmas saat ini mewakili Kangjeng Sultan dari Pajang.”

Untara termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun melihat Raden Sutawijaya yang dengan segera berdiri dan menghormatinya sambil berkata, “Kangjeng Kiai Crubuk memberikan arti tersendiri kepadamu Untara. Silahkan. Kau mempunyai kedudukan khusus sekarang.”

Untara masih ragu-ragu. Namun Raden Sutawijaya yang mempercayai pusaka di tangan Untara itu pun segera mempersilahkan. Sementara Ki Juru dan orang-orang yang lainpun memberikan tempat kepada Senapati Besar itu. terlebih-lebih karena ia membawa pertanda kebesaran Pajang.

Malam itu, pendapa Kademangan Sangkal Putung telah penuh dengan para Tamu. Mereka berbincang dalam kelompok-kelompok di antara mereka. Sekelompok berbicara tentang sebab-sebab kematian Ki Sumangkar yang tidak banyak dimengerti selain sakit yang parah untuk beberapa saat lamanya. Sementara yang lain membicarakan pusaka Sultan Pajang yang dibawa oleh Untara sebagai wakil pribadinya memberikan penghormatan terakhir kepada Ki Sumangkar.

Dalam pada itu, Untara sendiri bertanya kepada Kiai Gringsing, “Apakah sudah tidak ada lagi obat yang terlampaui Kiai?”

“Semua yang aku kenal telah aku usahakan, tetapi agaknya Tuhan memang sudah menghendaki sehingga kemampuan yang terbatas itu sama sekali tidak dapat menolongnya,” jawab Kiai Gringsing.

Untara mengangguk-angguk. Ia pun menyadari, bahwa batas waktu bagi seseorang tidak akan dapat lagi digeser dengan cara apapun juga.

Sementara itu Kiai Gringsing masih sempat menceriterakan, bagaimana ia berusaha. Segala macam tumbuh-tumbuhan yang diduganya akan dapat memberikan pertolongan telah dicobanya. Tetapi hasilnya sama sekali tidak ada.

Hampir tidak seorang pun yang berada di pendapa Kademangan Sangkal Putung itu sempat tidur semalam suntuk. Namun karena mereka adalah para Senapati, prajurit dan pemimpin pemerintahan serta beberapa orang pemimpin pengawal dari Mataram, maka mereka sudah terbiasa untuk tidak tidur semalam suntuk. Apalagi mereka mempunyai kawan berbincang tanpa ketegangan, menghadapi minuman panas dan sekedar makanan.

Untara yang membawa pusaka Pajang itu pun duduk ditempatnya tanpa bergeser. Ia benar-benar memberikan penghormatan terakhir atas nama Sultan Hadiwijaya dari Pajang, sehingga karena itu, maka Raden Sutawijaya telah memberikan tempat khusus kepadanya, justru karena pertanda kebesaran yang dibawanya.

Di ruang dalam, Pandan Wangi sibuk menenangkan Sekar Mirah. Beberapa orang perempuan yang lainpun ikut pula menungguinya. Oleh kelelahan yang mencengkam, maka akhirnya Sekar Mirah pun jatuh tertidur sambil terisak. Namun perlahan-lahan ia nampak menjadi agak tenang, sehingga Pandan Wangi sempat meninggalkannya untuk membersihkan diri.

Di pintu dalam Pandan Wangi berpapasan dengan Swandaru yang gelisah karena keadaan adiknya. Dengan nada dalam ia bertanya, “Bagaimana dengan Sekar Mirah?”

“Ia mulai tidur meskipun semula karena kelelahan. Tetapi mudah-mudahan dengan demikian ia dapat menjadi tenang,” sahut Pandan Wangi.

Swandaru mengangguk-anggguk. Katanya, “Kaupun perlu beristirahat. Meskipun kau tidak segelisah Sekar Mirah, tetapi nampaknya kau pun menjadi tegang, justru karena keadaan Sekar Mirah.”

“Aku tidak apa-apa,” jawab Pandan Wangi “aku akan ke pakiwan. Jika sempat, akupun akan tidur barang sejenak.”

Swandaru mengangguk sambil melangkah masuk kedalam bilik adiknya dengan hati-hati. Ketika dilihatnya Sekar Mirah yang tertidur, maka ia pun kemudian meninggalkannya dan pergi ke pendapa.

Ketika Pandan Wangi kembali ke pintu belakang setelah ia menyegarkan diri di pakiwan, ia tertegun melihat Agung Sedayu yang berada di antara anak-anak muda yang sibuk menyediakan minum bagi para tamu yang seakan-akan bergantian mengalir seperti arus air sungai. Diluar sadarnya ia pun mendekatinya sambil bertanya, “Kau disini kakang Agung Sedayu?”

Agung Sedayu memandanginya sejenak. Kemudian sambil mengangguk ia menjawab, “Ya. Aku membantu menyiapkan minuman.”

“Kenapa kau tidak duduk di pendapa?”

Agung Sedayu menggeleng. Jawabnya, “Sama saja bagiku. Barangkali aku lebih bermanfaat disini daripada duduk di pendapa.”

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Sambil melangkah memasuki pintu belakang ia merenungi sikap Agung Sedayu. Ia selalu berendah hati dan berada di antara mereka yang seolah-olah tersembunyi tanpa berusaha menampakkan diri dalam kesibukan-kesibukan yang lebih berarti.

Namun dalam pada itu. ternyata bahwa sejenak kemudian Ki Waskita pun menyusul Agung Sedayu di antara anak-anak muda yang sibuk menyiapkan minuman itu.

“Kenapa paman tidak duduk di pendapa?” Agung Sedayulah yang bertanya.

Ki Waskita menggeleng. Katanya, “Di pendapa duduk para pemimpin dan perwira dari Mataram dan Pajang. Selebihnya adalah sanak keluarga Ki Sumangkar dari Jipang. Agaknya aku lebih baik berada disini. Kecuali aku tidak merasa asing, aku pun dapat membantu kalian membuat minuman.”

Agung Sedayu tidak mencegahnya. Ia merasakan betapa gelisah duduk terasing di antara para tamu yang riuh berbicara di antara mereka.

Ketika malam menjelang fajar, maka Ki Demang-pun mempersilahkan tamu-tamunya yang akan beristirahat untuk pergi kerumah tetangga-tetangganya yang sudah dipersiapkan. Meskipun kurang memadai, namun tempat-tempat itu telah memberikan kesempatan bagi tamu-tamunya untuk sekedar beristirahat setelah hampir semalam suntuk mereka duduk di pendapa.

Untara yang membawa pertanda pribadi Sultan Hadiwijaya dipersilahkan beristirahat di gandok kanan Ki Demang Sangkal Putung dengan pengawal kepercayaannya. Sementara Raden Sutawijaya dan Ki Juru Martani berada di gandok sebelah kiri. Agung Sedayu, gurunya dan Ki Waskita telah dipindahkan kebilik di belakang karena mereka telah dianggap sebagai keluarga sendiri.

Ketika para tamu sempat berbaring sejenak, maka Agung Sedayu dan Ki Waskita lah yang duduk di pendapa menunggui jenazah Ki Sumangkar. Sejenak kemudian Kiai Gringsing yang baru saja kepakiwan telah datang pula bersamaan dengan Pandan Wangi yang muncul dari pintu pringgitan.

Ki Demang Sangkal Putung yang ingin beristirahat, di ruang dalam berkata kepada Swandaru yang telah duduk di depan bilik Sekar Mirah yang masih tertidur, “Jika kau tidak ingin tidur, duduklah di pendapa.”

Swandaru mengangguk. Ia pun segera bangkit menengok adiknya. Ketika ia melihat Sekar Mirah masih nyenyak, maka ia pun kembali ke pendapa seperti yang dipesankan ayahnya.

Prastawa yang datang bersama Ki Argapati, agaknya tidak ingin beristirahat pula. Ketika Ki Argapati telah ditempatkan di rumah sebelah dan mencoba untuk berbaring, maka Prastawa pun kemudian meninggalkannya. Agaknya ia lebih tertarik duduk di pendapa bersamaan Swandaru daripada berada didalam bilik di rumah sebelah bersama Ki Gede Menoreh.

Namun anak muda itu mengerutkan keningnya ketika ia melihat Agung sedayu duduk tepekur disisi amben tempat jenazah Ki Sumangkar terbaring.

“Kau tidak beristirahat Prastawa?” bertanya Pandan Wangi yang menemuhi adik sepupunya.

Prastawa menggeleng. Katanya, “Aku sama sekali tidak merasa lelah atau mengantuk.”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut.

Namun sementara itu Prastawa lah yang agaknya sedang menunggu seseorang. Setiap kali ia memandang pintu pringgitan. Kemudian mengedarkan pandangan matanya ke sekitarnya.

Tetapi ia tidak melihat orang yang dicarinya.

“Dimanakah Sekar Mirah itu?” ia selalu bertanya kepada diri sendiri. Tetapi ia segan untuk menanyakan kepada Pandan Wangi, rasa-rasanya ia tidak berhak untuk bertanya tentang gadis itu, meskipun betapa keinginannya untuk bertemu seolah-olah sangat mendesaknya. Namun Prastawa masih tetap menyadari keadaannya.

Namun akhirnya ia menemukan akal juga. Ia pun kemudian bergeser mendekati Swandaru dan bertanya beberapa hal tentang Ki Sumangkar.

Swandaru selalu menjawabnya seperti yang diketahuinya tentang Ki Sumangkar. Ia sama sekali tidak mengetahui arah pertanyaan Prastawa yang sebenarnya.

Namun kemudian ternyata bahan Prastawa sampai pada pertanyaan yang mulai menjurus, “Swandaru, bukanlah Ki Sumangkar memiliki senjata yang tidak kalah dahsyatnya dengan senjata Tohpati yang bergelar macan Kepatihan itu?”

Swandaru mengangguk. Jawabnya, “Ya. Meskipun ukurannya agak berbeda. Senjata Ki Sumangkar itu agak lebih kecil. Tetapi perbedaannya hampir tidak nampak.”

“Senjata yang sangat mengerikan. Tentu satu-satunya muridnya yang akan memiliki senjata itu.”

“Sudah lama senjata itu diberikan kepada Sekar Mirah.”

Prastawa mengangguk-angguk. Lalu ia pun bertanya pula, “Apakah yang dilakukan Sekar Mirah sekarang? Ia tentu merasa kehilangan.”

“Ya. Ia merasa dirinya menjadi sebatang kara. Yang dikerjakan sekarang adalah menangis sepanjang hari. Kemudian tertidur oleh kelelahan.”

Prastawa termenung sejenak. Namun ia pun mengetahui bahwa Sekar Mirah tentu berada didalam biliknya sepanjang hari. Ketika Ki Sumangkar masih belum meninggal dunia. Sekar Mirah masih nampak sekali-sekali di bilik gurunya meskipun seakan-akan tidak ada orang lain yang diperhatikannya selain Ki Sumangkar yang sedang sakit. Namun kemudian gadis itu bagaikan hilang dari antara keluarga Ki Demang Sangkal Putung.

Diluar sadarnya Prastawa memandang Agung Sedayu. Tetapi agaknya Agung Sedayu sama sekali tidak menghiraukannya. Karena itu, maka Prastawa pun kemudian sambil mengangguk-angguk berkata, “Tetapi harus ada orang yang dapat menenangkannya. Ia harus menyadari, bahwa yang pergi itu tidak akan dapat kembali.”

“Pandan Wangi selalu ada didekatnya,” jawab Swandaru, “karena sekarang ia sedang tidur. maka Pandan Wangi dapat hadir disini.”

Prastawa masih mengangguk-angguk. Karena Sekar Mirah sedang tidur, maka sudah barang tentu gadis itu tidak akan keluar dari biliknya.

Dengan demikian, maka tiba-tiba saja Prastawa merasa lelah dan kantuk. Rasa-rasanya ia lebih senang berbaring didekat Ki Argapati di rumah sebelah daripada duduk di pendapa itu. Apalagi jenazah Ki Sumangkar telah ditunggui oleh beberapa orang, sehingga kehadirannya agaknya tidak diperlukan lagi.

Karena itu, maka Prastawa pun kemudian minta diri kepada Swandaru untuk beristirahat barang sejenak.

“Mungkin aku masih sempat tidur barang sekejap menjelang pagi,” berkata Prastawa.

“Silahkan, kau memang perlu beristirahat,” sahut Swandaru.

Tanpa minta diri kepada orang-orang lain yang berada di pendapa itu, maka Prastawa pun kemudian bergeser dan turun dari pendapa. Perlahan-lahan ia berjalan melintasi halaman pergi ke rumah sebelah.

Di pendapa beberapa orang masih bercakap-cakap tentang Ki Sumangkar. Ki Waskita yang juga berada di pendapa bergumam, “Nampaknya Ki Sumangkar sendiri sudah tidak berusaha untuk membantu Kiai.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Ki Sumangkar tidak pernah menolak obat apapun yang aku berikan.”

“Benar Kiai. Tetapi tidak ada gejolak dari dalam dirinya untuk membantu penyembuhannya. Namun memang segalanya berada di dalam Kuasa Yang Maha Agung.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Nampaknya Ki Sumangkar sendiri merasa bahwa ia sudah terlalu lelah melakukan tugas-tugasnya selama ini. Ia merasa bahwa ilmunya sudah seluruhnya diturunkan kepada murid satu-satunya. Ia berharap bahwa Sekar Mirah dengan bantuan orang-orang di sekitarnya akan dapat mengembangkan ilmunya sehingga mencapai tataran tertinggi seperti Ki Sumangkar sendiri.”

“Apakah Ki Sumangkar tidak merasa wajib untuk menuntun muridnya sehingga ilmunya sampai ke puncak?” bertanya Ki Waskita.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tidak seorang pun yang mengetahui isi hati seseorang. Juga kita tidak tahu apa yang sebenarnya dikandung dihati orang yang baik itu.”

Ki Waskita termangu-mangu ketika ia melihat Kiai Gringsing mengedarkan tatapan matanya. Kemudian bergeser mendekatinya. Seolah-olah sambil berbisik ia berkata, “Agaknya Ki Sumangkar terlalu yakin, bahwa Agung Sedayu yang sudah mampu mengembangkan ilmunya sampai ketingkat tertinggi itu akan dapat membantu Sekar Mirah. Tetapi lebih dari pada itu, ada sepercik kekecewaan dihati Ki Sumangkar.”

Meskipun Kiai Gringsing tidak menyebutkannya, tetapi rasa-rasanya Ki Waskita sudah dapat menangkap seluruhnya. Ki Sumangkar tentu kecewa melihat sikap Sekar Mirah menghadapi Agung Sedayu. Bahkan juga sikap Sekar Mirah terhadap keadaan di sekelilingnya. Agaknya kekecewaannya itu pula yang membuat Ki Sumangkar ragu-ragu untuk mengembangkan ilmu Sekar Mirah sampai pada tingkat tertinggi. Agaknya Ki Sumangkar tidak yakin, bahwa ilmunya akan dipergunakan dalam jalan kebenaran sepenuhnya. Jika nafsu apapun mulai berbicara dalam ilmu yang sudah mencapai tingkat tertinggi, maka akibatnya akan sangat menyulitkan peradaban sesamanya.

Ki Waskita yang mengangguk-angguk itu masih saja mengangguk-angguk. Meskipun Kiai Gringsing telah diam, tetapi di telinganya seolah-olah terdengar Kiai Gringsing itu berceritera panjang lebar mengenai Ki Sumangkar dan sikap serta pandangannya terhadap kehidupan di sekitarnya di saat-saat terakhir.

Dalam pada itu maka langit pun menjadi semakin merah. Beberapa orang pengawal yang telah sempat beristirahat mendekati mereka yang duduk di pendapa dan mempersilahkan mereka bergantian beristirahat.

Meskipun Waskita kemudian meninggalkan pendapa itu juga bersama Kiai Gringsing. tetapi keduanya sama sekali tidak dapat tidur barang sekejap pun. Keduanya berbaring saja di pembaringan sambil sepatah-sepatah berbicara tentang Ki Sumangkar.

Dalam pada itu Swandaru yang masuk kedalam biliknya masih sempat memejamkan matanya sejenak. Demikian juga Pandan Wangi yang berbaring di antara beberapa orang perempuan yang membentangkan tikar disamping pembaringan Sekar Mirah.

Namun Agung Sedayu sama sekali tidak dapat tertidur sekejap pun. Seperti semula ia kembali ke tempat anak-anak muda merebus air dan menyiapkan minuman. Ia berbaring juga di atas sebuah lincak bambu di serambi. Namun matanya sama sekali tidak dapat terpejam. Apalagi di sekitarnya beberapa orang anak muda masih saja sibuk menyiapkan minuman panas bagi mereka yang terbangun dari tidurnya dan bergantian berjaga-jaga. Baik di pendapa, maupun di regol-regol dan gardu-gardu di sekitar Kademangan.

“Kenapa kau berbaring disitu?” bertanya seorang anak muda.

“Hangat,” jawab Agung Sedayu pendek, “dekat perapian.”

“Tetapi kau akan selalu dikejutkan oleh mereka yang sibuk disini apabila kau memejamkan mata,” sahut yang lain.

Tetapi Agung Sedayu tidak beringsut dari tempatnya. Ia tetap berbaring saja sambil menatap atap serambi yang sempit. Kemudian bergeser memandang bayang-bayang kegelapan yang mulai diwarnai oleh merahnya fajar.

Ternyata bahwa sejenak kemudian, orang-orang yang tertidur didapur telah mulai bangun. Beberapa orang perempuan mulai mencuci beras dan menyiapkan perapian, sementara yang lain pergi ketempat anak-anak muda menyiapkan mmuman sambil memesan beberapa mangkuk minuman panas.

Sebentar kemudian, maka fajar pun menjadi semakin terang. Orang-orang yang berada di Kademangan itu pun mulai terbangun dan menjalankan kuwajiban masing-masing. Ada yang membersihkan halaman, ada yang menimba air mengisi jambangan pakiwan, dan kerja sehari-hari mereka masing masing. Namun dalam pada itu, para tamu yang menginap di rumah sebelah menyebelahpun telah mulai bangun pula.

Ketika kemudian matahari mulai naik, sibuklah Kademangan Sangkal Putung dengan persiapan penguburan jenazah Ki Sumangkar. Orang-orang penting dari Pajang, dari Mataram, dari Jipang dan bahkan dari Demak telah siap pula untuk melakukan upacara. Untara yang membawa pertanda pribadi Sultan Pajang, menjadi pusat segala perhatian. Namun selain Untara, meskipun tidak dalam kedudukannya sebagai seorang priyagung dari Pajang, namun Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati Ing Ngalaga, merupakan seorang tamu yang juga menarik perhatian.

Jika Untara dalam kedudukannya serta karena pertanda pribadi Sultan Pajang, maka Raden Sutawijaya adalah putera angkat terkasih dari Sultan Pajang itu sendiri. Namun yang kemudian seolah-olah telah memisahkan diri dan mendirikan suatu negeri baru yang disebutnya Mataram diatas Alas Mentaok yang telah dibukanya.

Demikanlah, ketika saatnya telah tiba, maka jenazah Ki Sumangkar pun segera dipersiapkan.

Di sepanjang jalan dari rumah Ki Demang Sangkal Putung sampai kepemakaman, orang-orang Sangkal Putung berdesak-desakan ingin memberi penghormatan yang terakhir. Meskipun Ki Sumangkar bukan orang Sangkal Putung, tetapi karena sudah lama berada di rumah Ki Demang, maka orang-orang Sangkal Putung telah mengenalnya dengan baik, seperti mereka mengenal Sekar Mirah sendiri.

Bahkan orang-orang dari Kademangan di sekitarnya ada pula yang memerlukan datang untuk menyaksikan penguburan yang telah dikunjungi oleh orang-orang besar dari Pajang dan beberapa Kadipaten di sekitarnya.

Dalam pada itu, Pandan Wangi selalu sibuk dengan Sekar Mirah. Agung Sedayu yang dipanggil oleh Swandaru mencoba untuk menenangkannya pula. Namun setiap kali Sekar Mirah masih saja menangis. Seakan akan ia telah kehilangan ayahnya sendiri

“Sadarilah keadaanmu Mirah,” Agung Sedayu mencoba mengendapkan perasaan gadis itu, “kau adalah muridnya. Ki Sumangkar adalah titah dalam lingkup ciptaan Yang Maha Kuasa, ia datang karena kehendak-Nya. Dan ia pergi karena dipanggil-Nya. Jika kita bersedih itu adalah wajar sekali. Setiap perpisahan memang tidak menyenangkan bagi seseorang terutama yang mempunyai ikatan khusus. Tetapi, perpisahan itu tidak dapat ditolak oleh siapapun juga. Justru penolakan itu, meskipun hanya didalam hati, akan menjadi titik-titik noda bagi utuhnya hubungan kita dengan Yang Maha Peneipta itu. Karena seakan-akan kita menolak keharusan yang telah ditetapkan-Nya dengan tuntutan didalam sikap hubungan kita dengan-Nya itu.”

Sekar Mirah mencoba untuk menangkap isi kata-kata Agung Sedayu. Bagaimanapun juga anak muda itu baginya menjadi tumpuan harapan dimasa datang. Meskipun kadang-kadang Agung Sedayu mengecewakannya di dalam sikap. tetapi kadang-kadang anak muda itu sangat mengagumkan dan menumbuhkan harapan.

Namun di sela-sela isaknya ia berkata, “Kakang Agung Sedayu. Aku ingin ikut mengantar jenazah guru sampai ke makam.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Dipandanginya Swandaru dan Pandan Wangi berganti-ganti, seolah-olah ia minta pertimbangan mereka.

Swandaru pun menjadi bingung. Untuk sejenak ia terdiam.

“Jangan dilarang,” minta Sekar Mirah.

“SekarMirah,” berkata Agung Sedayu kemudian, “sebaiknya aku menyampaikannya kepada Ki Demang.”

“Tetapi ayah pun jangan melarang.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Aku akan mengusahakannya Mirah. Tetapi berjanjilah kepada diri sendiri, bahwa kau tidak akan mengikuti dorongan perasaan sedihmu di pemakaman agar segalanya dapat berjalan seperti biasanya.”

Sekar Mirah terdiam sesaat. Dan Agung Sedayu berkata seterusnya, “Kau memang akan menangis Mirah. Itu sudah wajar. Tetapi sadarilah, bahwa tangismu harus tetap dapat kau atasi dengan nalar. Kau harus tetap sadar, bahwa yang terjadi itu memang harus terjadi. Dan bahwa kau menangis itu pun wajar sekali karena kau kehilangan. Tetapi kau pun harus sadar pula, bahwa itu adalah luapan kesedihanmu tanpa dapat menimbulkan perubahan apa-apa juga atas yang terjadi. Ki Sumangkar akan tetap pergi untuk selama-lamanya. Dan itu harus terjadi tanpa dapat dicegah lagi.”

Sekar Mirah mengangguk.

“Jika kau berjanji, aku akan menyampaikannya kepada Ki Demang. Mudah-mudahan Ki Demang pun tidak berkeberatan. Aku akan menjelaskan bahwa kau akan tetap sadar sepenuhnya akan keadaan yang kau hadapi di pemakaman.”

Sekali lagi Sekar Mirah mengangguk.

“Jika demikian, bantulah ia membenahi diri Pandan Wangi,” berkata Swandaru, “orang-orang diluar sudah mulai bersiap-siap.”

Swandaru dan Agung Sedayu pun kemudian meninggalkan bilik Sekar Mirah, membantu gadis itu membenahi rambut dan pakaiannya.

Dalam keadaan yang demikian kedua perempuan itu sama sekali tidak membayangkan kegarangan mereka di peperangan. Namun agaknya sikap dan tingkah laku Sekar Mirah dapat membantunya meringankan beban perasaan. Ia mencoba mempergunakan nalarnya sebaik-baiknya seperti yang dipesankan Agung Sedayu, agar ia tidak terseret dalam duka yang tidak berbatas.

Namun dalam pada itu. selain para pemimpin dari berbagai penjuru datang memberikan penghormatan terakhir, maka ada juga di antara mereka yang datang untuk kepentingan yang lain. Seorang perwira prajurit Pajang dengan saksama memperhatikan setiap orang yang ada di Sangkal Putung sebaik-baiknya.

Perwira itu mencoba untuk mencari kemungkinan lain yang dapat terjadi di Sangkal Putung karena sedemikian banyak orang yang hadir.

Tetapi ia tidak melihat sesuatu selain orang-orang yang dengan tulus memberikan peghormatan terakhir pada pemakaman Ki Sumangkar.

Dengan tidak menumbuhkan kecurigaan maka perwira itu pun kemudian ikut pula dalam kesibukan disaat keberangkatan jenazah. Namun ia masih sempat juga berdiri di regol untuk melihat-lihat orang-orang yang berdesakan untuk menyaksikan upacara pemakaman.

Sejenak perwira itu termangu-mangu, namun ia pun kemudian mendekati seorang yang sudah berambut putih meskipun tubuhnya masih nampak kuat dan kekar.

“Sebentar lagi jenazah akan diberangkatkan,” berkata perwira itu.

“Apakah ada bayang-bayang dibawah lentera?” bertanya orang berambut putih.

Perwira itu menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Tidak. Tidak ada apa-apa. Semuanya wajar.”

Perwira itu pun kemudian meninggalkan orang berambut putih itu. Beberapa orang mendengar percakapan itu. Tetapi mereka tidak mengerti dan sebagian besar sama sekali tidak menghiraukannya.

Namun berbeda dengan orang-orang yang tidak memperhatikan sikap dan pembicaraan perwira dengan yang berambut putih itu, maka seorang anak muda dalam pakaian seorang petani mengerutkan keningnya. Ia memperhatikan orang berambut putih itu dari antara orang-orang yang berdesakan.

Tetapi ia tidak berbuat apa-apa. Sejenak kemudian anak muda itu sudah memperhatikan kesibukan di halaman Kademangan Sangkal Putung.

Setelah saatnya tiba, serta segala persiapan dan upacara sudah dilakukan, maka jenazah Ki Sumangkar-pun segera diiring menuju ke makam. Para pemimpin dari Pajang, Mataram dan beberapa Kadipaten yang lain ikut pula mengantar jenazah itu dalam iring-iringan yang panjang.

Beberapa lapis di belakang jenazah Sekar Mirah berjalan dibimbing oleh Pandan Wangi. Dengan sekuat tenaga ia bertahan untuk tidak menitikkan air mata. Ia mencoba untuk menahan gejolak perasaannya dengan nalarnya.

Swandaru dan Agung Sedayu berjalan di belakang kedua perempuan itu. Mereka hampir tidak berbicara sama sekali. Hanya kadang-kadang Agung Sedayu berpaling, karena Glagah Putih mengikutinya di belakangnya.

“Kau tidak tinggal di Kademangan saja?” bertanya Agung Sedayu.

“Semuanya ikut serta. Ayah, Kiai Gringsing dan kakang ikut pula. Aku sendiri di Kademangan.” jawab Glagah Putih.

Agung Sedayu tidak bertanya lagi.

Namun dalam pada itu, di bagian lain dari iring-iringan itu, beberapa orang perwira yang merasa kedudukannya lebih tinggi dari Untara merasa canggung, bahwa Untara lah yang telah mendapat limpahan pertanda pribadi Sultan Pajang.

“Ia adalah Senapati yang kuasanya meliputi daerah Sangkal Putung,” berkata seorang Tumenggung yang kumisnya tebal meskipun satu dua sudah nampak memutih. “apalagi saat laporan itu sampai kepada Sultan yang diberikan langsung oleh Agung Sedayu, Untara sedang berada di istana.”

Kawannya, juga seorang Tumenggung yang umurnya sebaya dengan Tumenggung yang berkumis itu mengangguk. Jawabnya, “Mungkin demikian. Tetapi mungkin Sultan memang sudah pikun, sehingga tidak dapat berpikir panjang lagi.”

Kawannya mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menjawab lagi.

Demikianlah iring-iringan itu berjalan memanjang di sepanjang jalan Kademangan. Di sebelah menyebelah jalan, berjejal-jejal orang yang ingin menyaksikan iring-iringan itu.

Ketika perwira yang berbicara dengan orang berambut putih dimuka regol halaman Kademangan itu sampai ditikungan diluar padukuhan induk, sekali lagi ia bertemu dengan orang berambut putih itu. Ketika ia berjalan di depannya, maka perwira itu berkata, “Tak ada apa-apa.”

Orang berambut putih itu mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab sama sekali.

Tetapi diluar sadar mereka, maka anak muda yang sejak semula memperhatikannya, masih juga berdiri tidak jauh di belakangnya. Ia pun mendengar kata-kata perwira itu. Tetapi ia pun tidak berbuat apa-apa.

Selangkah demi selangah, maka iring-iringan itu pun semakin jauh dari rumah Ki Demang Sangkal Putung dan mendekati pemakaman. Untuk menjaga segala kemungkinan, maka Swandaru telah memerintahkan beberapa orang pengawal mengawasi keadaan. Sekelompok pengawal telah mendahului berpencar di pemakaman. Sementara yang lain tetap berada di Kademangan. Yang lain lagi telah ikut dalam iring-iringan yang semakin panjang.

Sutawijaya yang berada di antara iring-iringan itu memperhatikan keadaan dengan saksama. Ia berjalan disamping Untara yang membawa pertanda pribadi Sultan Pajang. Namun keduanya seakan-akan tidak berbicara sepatah katapun sejak mereka berangkat dari Kademangan.

Dalam pada itu, ketika Sutawijaya melihat regol pemakaman, tiba-tiba saja ia teringat akan ayahandanya yang sudah tidak ada lagi. Ketika Ki Gede Pemanahan meninggal, maka ia pun mendapat penghormatan yang besar seperti Ki Sumangkar. Bahkan penghormatan yang tercermin dari hadirnya pusaka Pajang yang telah dianugerahkan kepada Raden Sutawijaya berupa sebuah songsong merupakan penghormatan yang sangat tinggi.

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah kehilangan ayahandanya. Dan kini ia rasa-rasanya berdiri di seberang pagar dari ayahanda angkatnya, bukan karena ayahanda angkatnya itu sendiri. Tetapi ia sendirilah yang telah menjauhkan diri dari padanya.

Tetapi Raden Sutawijaya tidak sempat berangan-angan terlalu lama. Sebentar kemudian, maka iring iringan itu pun telah mendekati regol makam.

Beberapa orang telah mendahului. Mereka mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk pemakaman jenazah Ki Sumangkar itu. Di antara mereka yang mendahului adalah Swandaru dan Agung Sedayu. sementara Glagah Putih mengikuti mereka di belakang.

Banyak orang yang ikut mengantarkan jenazah itu sampai kemakam. Tetapi para pengawal berusaha untuk menahan mereka agar mereka tidak memasuki makam, sebelum para pemimpin dan tamu yang datang dari jauh.

Dengan demikian, maka orang-orang itu pun bagaikan berpencar di seputar makam. Mereka berusaha untuk mendapat tempat diluar dinding makam yang tidak terlalu tinggi, agar mereka dapat melihat kedalam. Tetapi ternyata bahwa orang-orang penting yang kemudian memasuki makam mengiringi jenazah itu telah melingkar menutup pandangan mereka.

“Seharusnya mereka menepi,” desis seseorang diluar dinding makam.

“Menepi kemana?” bertanya orang di sebelahnya, “Kekiri atau kekanan, asal mereka tidak menutup pandangan kami.”

“Tetapi jika mereka kekiri atau kekanan. mereka akan tetap menutup pandangan orang lain,” desis yang lain lagi.

Orang yang pertama tidak menjawab. Tetapi ia tetap bersungut-sungut.

Sementara orang-orang yang bertugas sedang mempersiapkan jenazah yang akan diturunkan kedalam makam, maka beberapa orang yang lain didalam makam itu telah berpencar pula. Bernaung dibawah pepohonan yang terdapat disela-sela batu-batu nisan.

Glagah Putih yang tidak ikut membantu Agung Sedayu dan Swandaru telah menepi pula. Ia duduk agak jauh diluar kerumunan orang-orang yang berada di sekitar liang pemakaman.

Angin yang berhembus didedaunan rasa-rasanya telah menyegarkan badannya. Diluar sadarnya ia bergeser selangkah demi selangkah. sehinggga akhirnya ia telah berdiri terpisah dari orang-orang lain yang berada didalam dinding makam itu.

Glagah Putih yang kemudian duduk dibawah sebatang pohon rasa-rasanya bagaikan diayun dalam ayunan. Apalagi semalam ia pun kurang tidur meskipun tidak terjaga semalam suntuk.

Tetapi tiba-tiba saja ia tertarik pada sebuah pembicaraan dari dua orang yang berdiri diluar dinding, dekat di belakangnya. Karena itu maka ia pun kemudian berusaha mendengarkan pembicaraan itu dengan saksama.

Meskipun tidak begitu jelas tetapi ia mendengar seorang dari mereka berkta, “Itulah Agung Sedayu.”

“Yang mana?”

“Agak terlindung. Tetapi kau tentu melihatnya, ia berdiri disamping saudara seperguruannya, Swandaru yang gemuk itu.”

Sejenak kedua orang itu terdiam. Ketika dengan hati-hati Glagah Putih berpaling kepada mereka tanpa menarik perhatiannya, maka Glagah Putih melihat dua orang yang memperhatikan Agung Sedayu dengan saksama. Yang seorang sudah berambut putih, sedang yang lain agak lebih muda sedikit meskipun nampaknya umurnya tidak terpaut banyak.

Ketika keduanya mulai berbicara lagi, Glagah Putih berusaha pula untuk mendengar percakapan mereka. Salah seorang dari keduanya berkata, “Anak muda itu nampaknya tidak lebih dari penggali kubur.”

“Ya,” jawab yang lain, “tetapi ia sudah berbuat sesuatu yang sangat mengejutkan. Benar-benar diluar nalar. Seolah-olah ia bukan manusia biasa.”

Kawannya tertawa pendek.

Ketika Glagah Pulih mengerling kepada mereka, ia melihat orang yang tertawa itu memandang kesekitarnya, kepada orang-orang yang berdiri di sebelah menyebelah bertolakan dinding batu yang rendah. Orang itu berkata, “Kau nampaknya cemas benar.”

“Kau dengar apa yang terjadi di Mataram?”

Yang lain masih tertawa. Katanya, “Aku dengar. Tetapi mereka yang telah digilasnya itu bukan aku dan kau.”

“Ah, sombong kau. Apa kelebihan kita dari Wanakerti?”

“Sst,” desis kawannya, “kau mulai menyebut nama. Hati-hatilah sedikit. Pepohonan itu mempunyai telinga.”

“Lebih pasti orang-orang di sekitar kita itu mempunyai telinga.”

“Tetapi telinga mereka tidak untuk mendengarkan pembicaraan kita.”

Sejenak keduanya terdiam. Sementara itu mereka yang melakukan upacara pemakaman pun berjalan terus. Glagah Putih tidak melihat ketika jenazah Ki Sumangkar diturunkan. Kemudian setelah upacara selesai, maka makam itu pun mulai ditimbun dengan tanah.

Dalam pada itu, Pandan Wangi yang berdiri disisi Sekar Mirah menjadi berdebar-debar. Setiap kali ia memandang wajah gadis yang muram itu. Namun agaknya Sekar Mirah berusaha sungguh-sungguh untuk tidak kehilangan nalar dan tenggelam dalam arus perasaannya.

Sementara itu, beberapa orang telah melakukan seperti kebiasaan mereka dalam upacara pemakaman. Segenggam-segenggam mereka melontarkan tanah ke makam yang sedang ditimbun itu.

“Kau?” desis Pandan Wangi.

Sekar Mirah berpaling. Sejenak ia termangu-mangu. Namun kemudian ia pun melangkah maju. Beberapa orang yang tahu bahwa ia adalah satu-satunya murid Ki Sumangkar telah menyibak dan memberikan kesempatan kepada Sekar Mirah untuk juga melontarkan segenggam tanah.

“Itu adalah Sekar Mirah,” tiba-tiba saja Glagah Putih mendengar orang itu berbicara lagi, sehingga ia mengurungkan niatnya untuk ikut melontarkan tanah kemakam.

“Ya aku tahu. Gadis itu adalah bakal isteri Agung Sedayu,” jawab yang lain.

“Tetapi ia pun seperti seekor macan betina. Jika ia berdiri dengan tongkatnya, ia akan berubah sama sekali.”

Kawannya tidak menjawab. Untuk sesaat Glagah Putih tidak mendengar keduanya berbicara. Yang didengarnya adalah geremang orang-orang yang ada diluar dinding itu. Karena pemakaman sudah selesai, maka mereka pun mulai berdesakan meninggalkan makam.

Namun sejenak kemudian terdengar salah seorang itu berbicara, “Lihat. Siapa saja yang berada di makam itu. Ada berapa puluh orang sakti disini. Mereka datang dari segala penjuru. Jika saat ini diadakan sayembara untuk memilih yang paling sakti, maka akan ada pertunjukan yang paling menarik ditahun ini.”

“Dan kau akan ikut serta?” bertanya yang lain.

“Tentu tidak.”

“Tetapi kau katakan, bahwa kau bukan orang-orang yang terbunuh di Mataram. Menurut pengertianku, kau merasa memiliki kemampuan melampaui mereka.”

“Itu bodoh sekali. Kebodohan semacam itulah yang telah banyak membunuh orang-orang sakti. Untuk membinasakan Agung Sedayu harus dipergunakan akal. Bukan sekedar membenturkan ilmu.”

Yang lain tertawa kecil. Namun kemudian katanya, “Orang-orang telah pergi. Kita pun akan pergi. Kita tidak perlu cemas melihat orang-orang sakti itu berkumpul disini. Mereka datang dari segala penjuru dengan segala pendirian masing-masing. Mereka tidak akan berbincang dan menentukan sikap apapun juga. Apalagi disini ada Untara. Ia adalah seorang prajurit yang lurus dalam sikap dan pendirian.”

Dengan hati-hati Glagah Putih mencoba melihat mereka, ketika ia mendengar salah seorang berkata, “Marilah. Apa lagi yang kita tunggui.”

Kedua orang itu mulai bergerak. Tetapi tiba-tiba salah seorang berkata, “Anak itu memperhatikan kita.”

Yang lain mengerutkan keningnya dan bertanya, “Yang mana?”

Dengan pandangannya yang seorang menunjuk Glagah Putih yang berdebar-debar.

“Anak kecil itu?”

“Ia bukan lagi anak kecil, ia mulai meningkat remaja.”

Yang lain tertawa. Katanya, “Ia tidak mendengar pembicaraan kita.”

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Namun ia sempat memperhatikan wajah keduanya. Meskipun demikian. ia pun mulai mengerti tentang dirinya sendiri. Bahkan latihan pendengaran yang selalu dilakukannya memberikan keuntungan baginya. Pendengarannya ternyata menjadi semakin tajam, melampaui kebanyakan orang, sehingga kedua orang itu menganggapnya tidak mendengar pembicaraan mereka.

“Aku dapat mendengarnya meskipun lamat-lamat,” katanya kepada diri sendiri, “tetapi aku mengerti apa yang mereka percakapkan.”

Meskipun demikian Glagah Putih menjadi gelisah pula. Jika kedua orang itu memutuskan untuk berbuat sesuatu atasnya karena ia dianggap memperhatikan percakapan mereka, maka ia akan mengalami kesulitan, setidak-tidaknya saat ia berada di Sangkal Putung.

Karena perhatian Glagah Putih tertumpah seluruhnya kepada kedua orang itu, maka tiba-tiba saja ia merasa bahwa pemakaman itu sudah selesai. Beberapa orang telah beringsut dari tempatnya dan berjalan meninggalkan gundukan tanah merah yang ditaburi dengan bunga.

Perlahan-lahan Glagah Putih mendekat. Ia melihat Sekar Mirah masih berdiri disisi makam yang baru itu. Disampingnya Pandan Wangi memegangi tangannya, sementara Agung Sedayu berdiri di belakangnya bersama Swandaru.

“Marilah Mirah,” desis Pandan Wangi.

Sekar Mirah mengangguk. Ia bertahan untuk tidak menangis, meskipun matanya nampak merah.

Disamping regol makam, Kiai Gringsing berdiri termangu-mangu. Di sebelahnya Ki Waskita dan Ki Demang bercakap perlahan-lahan. Sementara di sebelah lain nampak Untara sedang berbicara pula dengan Raden Sutawijaya dan Ki Juru Martani di antara para pengawal mereka.

“Mereka menunggu kita,” desis Swandaru.

Sekali lagi Sekar Mirah mengangguk.

Sejenak Sekar Mirah masih memandangi tanah yang merah itu. Kemudian ia pun melangkah meninggalkannya. Betapa dadanya bagaikan retak, tetapi Sekar Mirah tidak menangis. Setitik air matanya meleleh dipipi. Namun jari-jarinya segera mengusapnya.

Ketika langkahnya sampai dihadapan Untara dan Raden Sutawijaya, ia berhenti. Dengan isyarat ia mempersilahkan keduanya berjalan lebih dahulu.

Untara dan Raden Sutawijaya ragu-ragu. Namun Kiai Gringsing lah yang kemudian berkata, “Silahkan anakmas berdua berjalan di depan bersama Ki Juru Martani.”

Meskipun masih juga nampak ragu-ragu, tetapi mereka pun kemudian berjalan mendahului Sekar Mirah dan Pandan Wangi yang kemudian mengikut di belakang. Sementara itu, di belakang mereka, para pemimpin dan para Senapati yang datang dari segala penjuru itu pun mengikutinya pula.

Glagah Putih yang kemudian berlari-lari kecil menyusul Agung Sedayu. menggamitnya sambil berbisik, “Ada sesuatu yang penting aku sampaikan kakang.”

“Apa itu?” bertanya Agung Sedayu.

“Kau sempat mendengarnya sekarang, mumpung belum terlambat?”

Agung Sedayu memandanginya sejenak. Namun kemudian sambil mengusap kepala anak itu ia berkata, “Nanti saja di rumah Glagah Putih.”

“Tetapi penting. Jika tidak kau tentu tidak akan mengatakannya. Tetapi tidak perlu sekarang. Kita sedang dalam perjalanan kembali.”

Glagah Putih menjadi gelisah. Dapat saja terjadi sesuatu disetiap saat. Sementara itu Agung Sedayu masih belum mengerti persoalannya.

“Kakang,” ia berjalan disisi kakang sepupunya, “bagaimana jika terlambat.”

“Apa yang terlambat? Jangan cemas Glagah Putih Sebentar lagi kita akan sampai. Sekarang sebaiknya kau simpan ceriteramu itu.”

Glagah Putih, menjadi jengkel. Tetapi ia tidak dapat memaksa Agung Sedayu untuk mendengarkan ceriteranya. Apalagi Agung Sedayu berjalan dalam iring-iringan. Jika ia memaksa untuk berceritera, maka ia harus berbicara keras-keras sehingga mungkin akan ada orang yang mendengarnya.

Karena itu Glagah Putih tidak lagi mengikuti Agung Sedayu. Ia berjalan sendiri di antara orang-orang yang meninggalkan makam. Sekilas dilihatnya ayahnya berjalan bersama Ki Demang dan Ki Waskita. Namun kemudian bergeser mendekati Kiai Gringsing dan Ki Gede Menoreh.

Glagah Putih tidak mempedulikan mereka. Ia berjalan saja searah dengan mereka. Sementara orang-orang yang berjalan pun tidak menghiraukannya pula.

“Uh,” desahnya, “aku sudah berusaha. Tetapi kakang Agung Sedayu menganggap persoalan yang akan aku katakan itu tidak perting. Mudah mudahan tidak terjadi sesuatu di sepanjang jalan kembali ke Kademangan.”

Namun kemudian dijawabnya sendiri, “Tentu tidak akan ada apa-apa. Ia berjalan di antara banyak orang. Nampaknya semua orang berilmu tinggi. Tentu dalam keadaan seperti ini tidak ada orang yang berani mengganggunya. Bahkan tidak ada sekelompok orang yang berani mengganggu iring-iringan ini. Disini ada kiai Gringsing, ada Ki Waskita, ada kakang Untara, kakang Agung Sedayu dan kakang Swandaru. Ada Pandan Wangi, Sekar Mirah. Ki Gede Menoreh, ada lagi Raden Sutawijaya, Ki Juru Martani, para perwira dari Pajang dan para Senapati dari Mataram, beberapa orang Adipati dengan para pengawalnya.”

Glagah Putih mengerutkan dahinya. Diluar sadarnya ia berguman perlahan-lahan, “Jika ada pasukan sekuat iring-iringan ini, maka negara diseluruh dunia tentu akan takluk. Masing-masing tentu membawa pasukan segelar sepapan. Dengan rontek dan umbul-umbul. Alangkah dahsyatnya. Sepasukan yang panjang dibawah para Senapati yang tidak terkalahkan.”

Glagah Putih menjadi tegang oleh angan-angannya. Dipandanginya orang-orang yang berjalan di sebelahnya. Nampaknya semua memang orang penting dan memiliki ilmu yang tinggi.

Namun diluar sadarnya, dua orang terus mengamatinya. Salah seorang berkata, “He kau lihat anak kecil itu mendekati Agung Sedayu.”

“Tetapi Agung Sedayu tidak menghiraukannya,” desis yang lain.

“Ia belum sempat. Tetapi mungkin sekali anak kecil itu mendengar percakapan kita. Dan ia ingin memberitahukannya kepada Agung Sedayu,” berkata yang pertama.

“Itu tentu berbahaya bagi kita. Tetapi nampaknya ia belum sempat.”

“Aku sudah menduga, bahwa anak itu berbahaya. Tetapi kau tidak mendengarkannya. Kau anggap ia anak kecil dan tidak mendengar percakapan kita.”

“Aku kira memang begitu. Kita saja yang cepat menjadi cemas. Mungkin ia akan menceritakan apa saja kepada Agung Sedayu yang tidak ada sangkut pautnya denga pembicaraan kita.”

“Kau selalu mencoba mengelakkan persoalan yang sebenarnya.”

“Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan.”

Yang lain termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Lihat, anak itu memisahkan diri. Ia berjalan sendiri.”

“Sendiri? Kau kira yang lain itu bukan orang?”

“Maksudku, ia berjalan sendiri di antara sekian banyak orang.”

“Apa yang dapat kita lakukan?”

“Kita giring anak itu keluar dari iring-iringan.”

“Lalu?”

“Kita bungkam untuk selama-lamanya.”

“He?”

“Tidak ada jalan lain, mumpung ia belum sempat mengatakannya kepada Agung Sedayu atau kepada orang lain.”

Yang seorang nampak termangu-mangu. Namun yang lain mendesak, “Apakah kita akan membiarkan usaha kita gagal karena Agung Sedayu sudah mengetahui bahwa ia selalu dibayangi oleh dendam?”

“Ia tentu selalu merasa dibayangi oleh dendam. Tetapi bagaimana anak itu?”

“Bunuh saja.” yang lain menggeram, “sudah aku katakan. Membunuh Agung Sedayu harus dengan akal. Tidak dengan sekedar membanggakan ilmu yang tentu tidak akan dapat menyamainya. Cobalah jujur kepada diri sendiri. Apakah kira-kira empat atau lima orang seperti kita dapat membunuhnya?”

“Kita tidak harus membunuhnya dengan tangan kita berdua saja. Kita harus mengamat-amatinya dan kemudian menentukan sikap.”

“Jika demikian, membinasakan anak itu termasuk tugas kita.”

Keduanya terdiam. Mereka barjalan di sebelah iring-iringan itu. Rasa-rasanya jalan memang menjadi pepat. Tetapi keduanya masih sempat melihat Glagah Putih berjalan seenaknya tanpa berprasangka, karena ia merasa bahwa ia berjalan di antara banyak orang yang berilmu.”

“Kita mendahului,” desis salah seorang dari kedua orang yang mengikuti Glagah Putih, “kita cegat di tikungan. Kita akan berusaha memisahkannya dari iring-iringan.”

Kawannya tidak menjawab. Tetapi keduanyapun kemudian mencari jalan lain mendahului iring-iringan itu.

Di mulut sebuah lorong mereka menunggu. Jika Glagah Putih lewat mereka akan berusaha menarik perhatiannya dan memisahkannya dari iring-iringan itu.

Siapkan pisau belati kecil itu. Aku akan berdiri melekat tubuhnya sambil menekankan ujung pisau itu dibawah kain panjang.”

“Mencurigakan. Kita panggil saja anak itu. Baru setelah ia mendekat, kita ancam ia dengan pisau.”

“Apakah ia akan mendekat? Baiklah kita coba. Kita panggil anak itu. Nampaknya ia ingin mengetahui banyak hal. Karena itu agaknya ia akan tertarik oleh sikap-sikap yang justru mencurigakan baginya.”

Demikian iring-iringan itu berjalan terus. Para perwira dan Senopati yang datang dari luar Sangkal Putung masih akan kembali ke rumah Ki Demang. Baru kemudian mereka akan minta diri untuk kembali ke tempat masing-masing.

Demikian pula Untara dan Raden Sutawijaya. Mereka berdua bersama pengawal masing-masing berjalan menuju ke Kademangan. Berbeda dengan saat mereka berangkat, yang hampir tidak berbicara sama sekali, maka di jalan pulang mereka nampak banyak berbincang tentang keadaan Ki Sumangkar menjelang saat-saat terakhir, meskipun Raden Sutawijaya masih sangat membatasi keterangannya tentang luka-luka yang diderita oleh Ki Sumangkar.

Namun bagi Untara, keterangan itu agaknya sangat penting. Meskipun demikian ia sadar, bahwa Raden Sutawijaya tentu bukan merupakan sumber yang dapat diharapkan.

Dengan demikian, maka mereka sekedar berbicara tentang keadaan yang sebenarnya telah mereka ketahui tentang saat-saat terakhir Ki Sumangkar itu.

Sekar Mirah yang dibimbing oleh Pandan Wangi berjalan di antara iring-iringan itu. Nampaknya Sekar Mirah berhasil mengatasi gejolak dihatinya sehingga ia tidak lagi kehilangan nalar. Ia berjalan kembali keinduk padepokan tanpa menitikkan air mata, meskipun setiap kali terdengar ia berdesah.

Dalam pada itu, Glagah Putih berjalan di belakang. Semakin lama semakin jauh dari Agung Sedayu. Ia masih saja berangan-angan tentang para perwira dan Senapati. Tentang pasukan segelar sepapan yang tidak terhingga dibawa para pemimpin yang sekarang berkumpul.

“Sayang,” anak yang masih sangat muda itu kemudian berdesah, “mereka bukan berasal dari satu kesatuan kekuatan. Bahkan nampaknya di antara mereka terdapat batas-batas sesuai dengan asal mereka masing-masing. Sehingga nampaknya mereka sulit dipersatukan dalam satu kekuatan.” Glagah Putih mengerutkan dahinya. Kemudian gumamnya, “Jika saja. Jika saja mereka bersatu.”

Namun diluar sadarnya, Glagah Putih telah berada di ujung belakangan dari iring-iringan itu meskipun belum terpisah. Ia memang ingin melihat semua orang yang dianggapnya memiliki ilmu yang dahsyat. Karena itulah maka ia pun kemudian berjalan di antara orang kebanyakan yang sedang dalam perjalanan kembali ke padukuhan induk.

Dua orang yang menunggunya di tikungan menjadi berdebar-debar. Namun semakin melihat, Glagah Putih tidak lagi berjalan di antara para perwira dan Senapati.

Beberapa langkah lagi Glagah Putih sudah akan sampai di tikungan. Ia sama sekali tidak mengira bahwa dua orang sudah siap menunggunya. Justru dua orang yang telah menarik perhatiannya di luar makam saat-saat pemakaman Ki Sumangkar.

Demikianlah, ketika langkahnya membawanya sampai ketikungan, dan orang yang berdiri menunggunya itu pun telah bersiap. Mereka sama sekali tidak menarik perhatian, karena sikap mereka seperti sikap orang-orang yang melihat iring-iringan itu.

Namun demikian. Glagah Pulih lewat dihadapan mereka, salah seorang dari keduanya tertawa sambil berkata, “He anak muda.”

Glagah Putih yang sedang menekuni angan-angannya terkejut. Ia sama sekali tidak menghiraukan orang-orang yang berdiri di sebelah menyebelah jalan. Namun ketika ia mendengar orang memanggil dekat di sebelahnya ia pun mengangkat wajahnya. Yang dilihatnya adalah dua orang yang diperhatikannya di makam itu.

Namun dalam pada itu salah seorang dari keduanya telah berkata, “Ternyata dugaanmu salah.”

Glagah Putih termangu-mangu.

“Ya anak muda, aku berbicara dengan kau.”

Langkah Glagah Putih pun tertegun. Di sebelahnya iring-iringan itu berjalan terus. Debu yang kelabu terhambur hambur diudara menyesakkan nafas.

“Kau berbicara dengan aku?” Glagah Putih meyakinkan.

“Ya, kau. Tidak ada orang lain yang boleh mendengar selain kau,” desis salah seorang dari keduanya.

Glagah Putih ragu-ragu. Tetapi rasa ingin tahunya telah mendorongnya mendekat.

“Aku tidak mengerti,” berkata Glagah Putih.

“Bukankah kau yang duduk di makam disaat pemakaman Ki Sumangkar tadi?”

“Ya,” jawab Glagah Putih.

“Nah, aku kira kau memang pantas untuk mendapat kepercayaan itu. Kau masih muda. tetapi agaknya kau cerdas.”

“Aku tidak mengerti maksudmu,” desis Glagah Putih kebingungan.

Kedua orang itu memang dengan sengaja membuat Glagah Putih kebingungan. Kemudian salah seorang dari keduanya berkata, “Dengarlah. Tetapi jangan didengar orang lain. Sangat penting artinya bagimu dan bagi Agung Sedayu.”

Glagah Putih menjadi bingung, ia teringat apa yang dikatakan oleh kedua orang itu. sehingga kecurigaannyapun mulai timbul.

Namun ia tidak sempat mengelakkan diri dari bahaya yang segera mencengkamnya. Tiba-tiba saja salah seorang dari keduanya telah berdiri dekat di belakangnya. Perlahan-lahan orang itu bergumam, “Jangan melawan anak muda. Pisauku dapat menghunjam di punggungmu.”

Glagah Putih sadar, bahwa ia telah terjebak. Dalam saat yang gawat itu ia teringat sekilas usahanya yang gagal untuk memberitahukan Agung Sedayu apa yang dapat terjadi atasnya.

“Kakang Agung Sedayu terlalu mengabaikan aku,” desisnya.

Tetapi yang terjadi justru agak berbeda. Ia sendirilah yang menjadi sasaran pertama-tama karena ia telah lengah. Sebab ia sendiri sudah merasa, bahwa ia akan terlibat justru karena ia mendengar pembicaraan kedua orang itu.

Beberapa orang masih berjalan di ekor iring-iringan itu. Tetapi mereka bukan para perwira dan Senapati yang datang dari luar Sangkal Putung.

Sementara itu. terasa di punggung Glagah Putih ujung pisau menjadi semakin menekan.

“Kau tidak mempunyai pilihan,” desis salah seorang dari kedua orang itu, “marilah. Ikuti kami.”

Glagah Putih tidak dapat membantah lagi. Ketika pisau di punggungnya terasa semakin menekan, maka ia pun bergeser setapak.

“Jangan hanya bergeser,” desis orang yang menekankan pisau di punggungnya, “berjalanlah. Dan jangan menumbuhkan kecurigaan kami berdua. Kau tidak mempunyai kesempatan apapun juga. Aku adalah seorang yang mampu mengimbangi ilmu orang-orang yang paling sakti didunia ini. Sementara temanku itu adalah orang yang tidak terkalahkan dalam benturan ilmu sepanjang hidupnya. Karena itu. kau tidak akan dapat melawan kehendak kami.”

Glagah Putih menjadi semakin berdebar-debar. Ia benar-benar tidak dapat berbuat lain daripada mengikuti perintah orang itu, karena setiap kali terasa ujung pisau yang tajam menekan kulitnya. Jika pisau itu benar-benar ditekan oleh orang yang mengancamnya itu. maka punggungnya tentu akan berlubang sampai kepusat jantung.

Karena itu maka Glagah Putih pun segera melangkah mengikuti perintah kedua orang itu. Mereka berjalan lewat jalan simpang menuju ketengah bulak yang panjang.

Orang-orang yang berjalan dalam iring-iringan menuju keinduk pedukuhan sama sekali tidak menghiraukannya. Mereka sama sekali tidak tahu, bahwa Glagah Putih telah diancam dengan sebilah pisau dan dibawa menjauhi induk padukuhan diluar pengawasan siapapun juga. Meskipun di Sangkal Putung itu ada ayahnya, Ki Widura. ada saudara-saudara sepupunya. Agung Sedayu dan Untara, namun mereka sama sekali tidak menyangka, bahwa Glagah Putih telah terjebak kedalam tangan orang-orang yang sangat berbahaya.

Glagah Putih yang dipaksa untuk berjalan di antara kedua orang yang menjebaknya itu, menjadi semakin berdebar-debar. Ia sadar, bahwa ia akan dibawa ketempat yang sepi. Dan ia pun sadar, bahwa justru karena ia telah memperhatikan keduanya, dan karena Agung Sedayu menolak mendengarkan keterangannya, maka kini ia berada dalam kesulitan.

Tetapi Glagah Pulih bukan seorang anak yang lekas berputus asa. Di padepokan kecil ia telah mulai dengan menyadap ilmu kanuragan betapa dangkalnya.

Karena itu, maka ia tidak segera kehilangan harapan, ia mencoba untuk mencari akal. apakah yang sebaiknya dilakukan. Ia harus berbuat sesuatu, ia sadar, bahwa berbuat sesuatu itu pun tentu ada akibatnya yang dapat mempercepat dekapan maut dilehernya. Tetapi itu lebih baik daripada tidak berbuat sesuatu, namun akhirnya maut itu akan memeluknya juga.

Namun untuk sementara Glagah Putih tidak berbuat sesuatu, ia mencoba untuk menduga, apakah kedua orang itu bebar-benar berilmu tinggi.

Tetapi tidak mudah baginya untuk mengetahui, apakah kedua orang itu benar-benar orang-orang sakti atau sekedar hanya menakut nakutinya.

Semakin lama mereka justru menjadi semakin jauh terpisah dari iring-iringan yang kembali ke padukuhan induk. Bahkan jantung Glagah Pulih menjadi semakin berdebar-debar ketika salah seorang dari keduanya berkata, “Berhentilah sebentar anak muda.”

Glagah Putih pun kemudian berhenti. Dipandanginya orang berambut putih yang berdiri dihadapannya. Kemudian orang yang agak lebih muda yang berdiri disisinya.

“Siapakah kalian,” bertanya Glagah Putih.

Orang berambut putih itu tertawa. Katanya, “Kau tentu sudah mendengar percakapanku di kuburan itu.”

Glagah Pulih mengerutkan keningnya. Katanya, “Percakapan apa?”

Yang seorang pun tertawa. Katanya, “Kau mendengar percakapan kami. Kemudian kau berusaha memberitahukan kepada Agung Sedayu. Tetapi Agung Sedayu tidak menghiraukan.”

Sejenak Glagah Pulih termangu-mangu. Ia sadar, bahwa kedua orang itu tentu memperhatikannya ketika ia berlari-lari kecil mendekati Agung Sedayu. namun kemudian degan kecewa ia harus menjauhinya karena Agung Sedayu sama sekali tidak mau mendengarkan kata-katanya.

“Jangan menyesal anak muda,” berkata salah seorang dari keduanya, “nasibmulah yang terlalu buruk. Mungkin kau sama sekali tidak sengaja mendengarkan percakapan kami. Tetapi ternyata bahwa karena itu, kau terlibat dalam kesulitan.”

Glagah Putih masih termangu-mangu.

“Tetapi adalah mengherankan, bahwa dari jarak yang tidak terlalu dekat, kau dapat mendengar percakapan kami. Kami menduga bahwa kau tentu tidak mendengarnya. Ternyata kau mendengarkan dan mengerti percakapan kami, karena kau dengan tergasa-gesa mendekati Agung Sedayu.”

“Aku tidak mengerti apa yang kalian percakapkan,” berkata Glagah Putih kemudian.

“Adalah wajar jika kau berusaha untuk menyelamatkan diri. Tetapi agaknya kaupun bukan anak kebanyakan. Jika kau mendengar percakapan kami, tentu kau memiliki sesuatu yang membuatmu lebih baik dari anak-anak muda sebayamu.”

“Aku tidak mengerti yang kalian katakan. Aku tidak tahu apa-apa.”

“Jika kau tidak mendengar percakapan kami, apa yang akan kau katakan kepada Agung Sedayu pada saat kau berlari-larian kecil menyusulnya?”

“Aku ingin mengatakan, bahwa aku belum sempat melontarkan segenggam tanah ke kubur Ki Sumangkar.”

Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Namun yang berambut putih itu tertawa, “Kau cerdik. Kau ingin membohongi kami. Namun karena itu kami semakin yakin, bahwa kau bukan anak-anak kebanyakan yang hanya sekedar ikut-ikutan mengantarkan jenazah Ki Sumangkar kemakam.”

Glagah Putih mulai menjadi bingung. Ia tidak mempunyai alasan lagi yang dapat dipergunakannya, untuk mengelak. Apalagi ketika orang berambut putih itu berkata. “Marilah. Ikut kami. Kami akan menengok makam Ki Sumangkar. Dan kau akan dapat melontarkan tanah tidak hanya segenggam. Tetapi sepuluh atau dua puluh onggok tanah, aku akan menggali lubang disamping makam Ki Sumangkar. Bukankah suatu kehormatan bagi seseorang yang dimakamkan disisi seorang pahlawan seperti Sumangkar.”

Terasa jantung Glagah Putih berdentangan. Seolah-olah sudah diberitahu oleh orang-orang itu, apakah yang akan terjadi atasnya.

Sejenak Glagah Putih termangu-mangu. Namun ia berusaha untuk tetap menyadari keadaannya. Bahkan akhirnya ia telah menentukan pilihan, bahwa lebih baik mati membela diri dari pada dengan suka rela berbaring di lubang kubur, kemudian ditimbun dengan tanah merah selagi nafasnya masih tersengal-sengal.

“Marilah,” orang berambut putih itu berkata lagi, “lebih baik mengikuti perintah kami daripada kau akan mendapat perlakuan yang lebih buruk lagi. Aku mempunyai banyak cara untuk membunuh seseorang. Mati cepat dan tidak tersiksa, atau mengalami penderitaan yang tiada taranya untuk waktu yang bertahun-tahun. Jika kau cacat berat, maka nasibmu akan sangat buruk. Kau masih muda dan kau akan kehilangan masa depan, karena masa depanmu akan gelap segelap malam, sedangkan tangan dan kakimu tidak akan dapat kau pergunakan lagi sepanjang sisa hidupmu. Demikian pula telinga dan mulutmu.”

Terasa kulit diseluruh tubuh Glagah Putih meremang. Cacat yang demikian tentu merupakan penderitaan yang tiada taranya. Tetapi mati dengan berbaring sendiri dilubang kubur, kemudian demikian saja ditimbun tanah pun merupakan peristiwa yang mengerikan.

Karena itu, maka memang tidak ada pilihan lain. Glagah Putih bukan seekor kelinci yang lumpuh melihat seekor serigala yang mengejarnya. Betapapun lemahnya, tetapi ia harus berusaha berbuat sesuatu.

Sejenak Glagah Putih berdiri tegak. Ia tidak mau memberikan kesan bahwa ia akan melawan. Ia ingin berbuat dengan tiba-tiba agar ia mendapat kesempatan mendahului lawannya di saat lawannya itu belum bersiap.

Demikianlah, ketika salah seorang dari kedua orang itu akan berbicara lagi, tiba-tiba saja Glagah Putih melenting menyerang orang berambut putih itu dengan kakinya.

Orang itu benar-benar tidak menyangka. Karena itu, maka ia terkejut bukan buatan. Namun ternyata bahwa usaha Glagah Putih untuk memperoleh kesempatan yang pertama telah gagal. Orang berambut pulih itu sempat meloncat kesamping, sehingga serangan Glagah Putih tidak menyentuh sasarannya.

Betapa kecewa dan marah mencengkam hatinya. Apalagi ketika ia kemudian meloncat berputar dan siap untuk menyerang lagi, kedua orang itu memandanginya sambil tertawa.

“Luar biasa,” desis orang berambut putih, “kau benar-benar anak muda yang luar biasa. Kau memiliki ilmu yang pantas menjadi kebanggaan bagi anak-anak sebayamu.”

Glagah Putih memandang keduanya dengan tegang. Tubuhnya bergetar karena marah.

“Jangan banyak tingkah anak muda. Matilah dengan tenang.”

Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Diluar sadarnya ia memandang kesekelilingnya. Sebuah bulak yang panjang dan sepi.

“Ha,” berkata orang yang lebih muda, “kau sedang mencari jalan untuk mendapatkan pertolongan. Tidak ada gunanya. Sawah-sawah menjadi sepi. karena semua orang pergi kemakam Ki Sumangkar. Kini mereka berkumpul di Kademangan karena mereka ingin melihat orang-orang yang bernama Sutawijaya. Untara, dan para perwira serta Senapati yang sedang berkumpul disana. Hanya kaulah yang berada disini menghadapi maut. Tetapi orang-orang di Kademangan tidak akan tahu dimana kau akan bersembunyi, karena tidak seorang pun yang akan melihat kau terbaring di lubang kubur disisi Ki Sumangkar. Bahkan mungkin besok atau lusa, Kademangan ini akan gempar, bahwa tiba-tiba saja kubur itu telah pecah menjadi dua.”

Kedua orang itu tertawa.

Wajah Glagah Putih menjadi merah. Namun ia sudah bertekad untuk tidak menyerah. Apapun yang akan terjadi, ia akan melawan.

“Marilah,” berkata orang berambut putih.

Glagah Putih bergeser setapak. Ia sudah bersiap untuk meloncat dan menghantam lawannya.

“Jangan menjadi buas dan gila seperti itu.”

Glagah Putih tidak menghiraukan. Ketika salah seorang dari keduanya mendekat, Glagah Putih menyerang dengan garangnya.

Tetapi sekali lagi serangannya gagal.

“Kami masih bersabar,” berkata orang berambut putih yang disambung oleh kawannya, “tetapi kesabaran kami sangat terbatas.”

“Aku tidak peduli,” teriak Glagah Putih, “Jika kalian akan membunuh aku, bunuhlah. Kau sangka aku takut mati?”

Kedua orang itu mengerutkan keningnya. Salah seorang berdesis, “Kau memang anak muda yang luar biasa. Kau memiliki keberanian dan bekal yang cukup untuk menjadi seorang anak muda yang perkasa. Sayang, umurmu tidak akan panjang.”

“Persetan. Jika kalian mau membunuh lakukanlah! Apa yang akan kalian tunggu?”

“Maksud kami, berjalanlah sendiri kekuburan, agar kami tidak perlu mengangkat dan mendukungmu. Kuburan itu masih agak jauh di sebelah. Atau, jika terpaksa mayatmu akan kami tinggalkan disini meskipun akan menjadi makanan anjing liar yang datang dari hutan sebelah.”

“Jangan mengigau. Aku sudah siap,” sekali lagi Glagah Putih berteriak.

Kedua orang itu menjadi heran. Ternyata Glagah Putih sama sekali tidak menjadi gentar meskipun anak itu mengetahui bahwa ia tidak akan dapat berbuat apa-apa. Bahkan kedua orang itu terpaksa mengelak ketika Glagah Pulih menyerang mereka dengan membabi buta.

“Anak gila,” geram orang yang berambut putih itu, “kau membuat aku marah. Sebenarnya aku masih menaruh belas kasihan karena kau terpaksa kami singkirkan. Itu adalah salahmu, karena kau ingin persoalan orang lain. Tetapi kami akan mempergunakan cara yang baik bagimu tanpa menumbuhkan kengerian. Namun agaknya kau keras kepala, membuat aku marah dan mendorong aku untuk melakukan dengan cara-cara yang paling aku gemari.”

Glagah Putih seolah-olah tidak mendengarnya, ia masih saja menyerang dengan garangnya.

“Anak setan,” tiba-tiba orang yang lebih muda kehabisan kesabaran.

Dengan sekali ayun, maka Glagah Putih telah terlempar dan jatuh di sawah yang berlumpur.

Anak muda itu berguling diatas batang-batang padi. Kemudian dengan tangkasnya ia melanting berdiri siap untuk berkelahi, tanpa mengenal takut sama sekali meskipun ia menyadari akibat yang dapat terjadi atasnya.

“Kau benar-benar anak iblis,” geram orang itu, “tetapi kau telah membangkitkan nafsuku untuk membunuhmu dengan cara yang paling baik. Aku akan menelungkupkan kau didalam lumpur dengan, mengikat tangan dan kakimu. Jika ada orang pergi ke sawah menjelang matahari senja, maka mereka akan menemukan kau sudah tidak bernyawa lagi. Tetapi kau masih mempunyai waktu untuk menikmati kengerian sampai matahari turun ke Barat dan hilang dibalik gunung.”

Diluar sadarnya Glagah Putih memandang Gunung Merapi yang nampaknya kebiru-biruan menjulang ke langit yang hampir sewarna. Sekilas terbayang padepokan kecilnya di Jati Anom, yang terletak dikaki Gunung Merapi itu.

“Nikmatilah alam di sekitarmu. Kenanglah ayah ibumu untuk yang terakhir kali.” geram orang berambut putih.

Namun tiba-tiba saja perhatian Glagah Putih tertuju kepada batang pohon rindang yang tumbuh ditepi parit, tak terlalu jauh dari tempatnya, ia melihat sesuatu yang bergerak-gerak dibalik semak-semak dibawah pohon itu.

Ternyata bahwa pandangan matanya diikuti pula oleh kedua orang lawannya. Sejenak mereka tertegun. Namun kemudian salah seorang berguman, “Gila. Ada orang disitu.”

“Tidak peduli, bunuh saja. Orang itu tidak akan mengenal kita. Biarlah ia berceritera, bahwa dua orang telah membunuhnya. Dan tidak seorang pun yang mengetahui kenapa ia dibunuh. Menurut pengamatanku, ia belum sempat berbicara kepada Agung Sedayu. meskipun kematiannya akan menumbuhkan kecurigaan pula, dan Agung Sedayu akan dapat menelusuri sikap anak itu terhadapnya menjelang saat kematiannya.”

Sejenak Glagah Putih termangu-mangu. Sekilas dilihatnya seseorang yang berada dibalik gerumbul itu bergeser. Ketika kepalanya kemudian tersembul maka dengan suara gemetar ia berkata, “Jangan bunuh aku.”

“Persetan,” geram orang yang berambut putih, “kemarilah.”

Orang itu pun kemudian berdiri, ia memakai pakaian petani yang sedang bekerja disawah. Celana hitam, dengan kain panjang yang membelit lambung. Sama sekali orang itu memakai baju. Tetapi selembar ikat kepala tersangkut di lehernya. Tidak dipakainya diatas kepalanya.

“Siapa kau?” bertanya kawan orang berambut putih.

“Aku, aku seorang petani tuan. Petani dari Sangkal Putung.”

“Setan,” geram yang berambut putih, “apa kerjamu disini?”

“Sebenarnya aku sedang beristirahat dibawah pohon itu. Aku sedang menyiangi tanamanku,” jawab petani yang masih muda itu.

“Kau tidak pergi ke makam Ki Sumangkar dikuburkan?”

“Aku tidak dapat meninggalkan pekerjaanku meskipun sebenarnya aku ingin.”

Orang berambut putih itu termangu-mangu sejenak. Kemudian dengan suara berat ia bertanya, “Kau mengenal anak ini?”

Jawabnya benar-benar mengejutkan. Seolah-olah diluar sadarnya orang itu berkata, “Ya Tuan. Aku mengenalnya. Anak itu adalah Glagah Putih, adik sepupu Agung Sedayu dan Untara.”

“He?” wajah orang itu menjadi tegang. Sementara itu orang itu melanjutkan katanya, “ayahnya adalah Ki Widura, seorang Senapati yang telah meninggalkan lapangan keprajuritan karena ia lebih senang tinggal di padepokan. Tetapi meskipun demikian ia masih tetap seorang berilmu tinggi. Ia pernah berada di Sangkal Putung saat Sangkal Putung selalu diganggu oleh Tohpati yang bergelar Macan Kepatihan sebelum hadirnya Untara sendiri.”

“Cukup, aku sudah tahu,” bentak orang berambut putih.

“Maaf. Aku hanya ingin meyakinkan kepada tuan, bahwa aku benar-benar orang Sangkal Putung. Bahkan aku tahu pula bahwa tuan berdua adalah dua orang saudara yang datang dari daerah yang terkenal dengan sebutan Pesisir Endut dipantai Selatan.”

“Gila. Darimana kau tahu he?”

“Bukankah tuan berdua mendapat tugas dari orang tak dikenal di Pajang untuk membunuh Agung Sedayu,” berkata orang berpakaian petani itu, “tetapi ternyata bahwa kau berniat untuk membunuh anak itu pula.”

“Iblis alasan. Darimana kau tahu he, dari mana?” orang berambut putih itu berteriak.

“Aku mendengar percakapan tuan dengan perwira dari Pajang itu. Dan aku mendengar percakapan tuan di pinggir kuburan.”

Keduanya pun kemudian sadar, bahwa yang dihadapinya bukanlah seorang petani yang baru menyiangi sawahnya dan beristirahat dibawah sebatang pohon yang rindang.

Justru karena itu, maka keduanya pun segera mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan. Sekilas dipandanginya Glagah Putih yang berdiri termangu-mangu dengan tubuh yang kotor oleh lumpur.

Tetapi, bagi keduanya Glagah Putih bukan lagi penting untuk mendapat perhatian terlalu banyak. Petani yang masih muda itu justru akan dapat merusak segala rencananya.

“Ki Sanak,” berkata orang berambut putih itu, “kau tidak usah banyak bicara lagi. Aku tahu bahwa kau tentu bukan petani dari Sangkal Putung. Kau tentu bukan orang yang sekedar sedang berteduh dibawah pohon yang rindang itu.”

Dan jawab orang muda itu semakin mengejutkan, “Memang bukan. Aku hanya pura-pura, biar orang kebanyakan menyangka aku petani. Dan dengan pakaian dan sikapku ternyata Dua Hantu bersaudara dari Pesisir Endut dipantai Selatan tidak tahu bahwa aku mengikutinya, mendengar segala percakapannya dan bahkan melihat bagaimana mereka menakut-nakuti anak-anak. Tetapi ternyata anak itu sama sekali tidak takut. Jika ia ketakutan dan menggigil, maka ia tentu bukan anak Widura, dan bukan saudara sepupu Agung Sedayu dan Untara.”

“Gila,” geram orang berambut putih, “siapa kau?”

“Itu tidak penting. Tetapi aku memang bukan petani. Aku orang yang barangkali memang tidak penting. Meskipun demikian aku berhak untuk mencegah tingkah lakumu yang aneh dan tidak masuk akal itu.” sahut orang muda yang berpakaian petani itu.

“Sebut namamu sebelum kau mati,” teriak orang yang lebih muda dari yang berambut putih.

“Namaku dapat saja kau sebut Sarik atau Gempol atau Condrokusuma atau Suryaadiwaskita atau siapa saja. Itu tidak ada bedanya. Yang penting aku akan mencegah kejahatan yang sudah siap kau lakukan. Untung aku tidak terlambat.”

Kedua orang itu menjadi semakin marah. Orang berambut putih itu pun berkata, “Bunuh anak iblis itu. Aku akan membunuh Setan Alasan ini.”

Tetapi tiba-tiba saja terdengar suara tertawa orang muda itu berkumandang di bulak yang luas. Katanya, “Jangan sombong tuan. Tuan berdua akan membagi diri? Apakah tuan merasa diri mumpuni segala macam ilmu agal-alus kanuragan dan kajiwan? Persetan dengan sikap tuan. Tetapi jangan mencoba memperkecil arti kehadiranku disini. Kalian berdua seharusnya masih mencari kawan,” orang itu berhenti sebentar lalu, “maaf. Akupun telah menyombongkan diri.”

“Kau tidak bermaksud sombong,” berkata orang berambut putih, “jangan kau kira aku bodoh sekali. Kau sengaja memancing agar kami berdua melawanmu. Itu sekedar cara yang jantan untuk menyelamatkan anak yang malang itu. Tetapi aku tidak peduli. Seorang dari kami akan membunuh iblis kecil itu dan yang seorang membunuhmu.”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Jika demikian, kalian akan menyesal. Anak itu tidak akan mudah kau bunuh.”

Kedua orang itu tidak menunggu lebih lama lagi. Mereka tidak mau kehilangan waktu, karena perkelahian yang timbul mungkin akan dapat mengundang orang-orang yang melihatnya dari kejauhan. Adalah celaka jika orang yang melihatnya itu kemudian melaporkannya ke Kademangan.

Karena itu, maka keduanya pun segera meloncat menyerang. Yang seorang menyerang petani muda itu, sedang yang lain berniat untuk segera membunuh Glagah Putih.

Glagah Putih menyadari keadaan itu sehingga ia pun telah mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan. Tetapi ia pun menyadari bahwa orang-orang itu adalah orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi.

Namun yang terjadi benar-benar telah mengejutkan kedua orang itu dan bahkan Glagah Putih. Petani muda itu dengan tangkasnya menghindari serangan pada dirinya. Namun kemudian dengan cepatnya pula ia telah menyerang orang yang sedang meluncur menyerang Glagah Putih.

Keduanya telah berbenturan. Orang yang menyerang Glagah Putih tidak sempat menghindar. Selagi ia sedang menyerang maka serangan yang tidak disangka-sangka itu telah datang.

Benturan itu benar-benar telah berakibat dahsyat sekali. Orang yang berpakaian petani itu terdorong selangkah surut. Namun lawannya telah terlempar beberapa langkah dan jatuh berguling.

Seorang yang lain, yang melihat kawannya jatuh berguling diluar sadarnya berdesah. Namun orang yang terguling itu sempat berteriak, “Gila. Kau curang.”

Orang yang berpakaian petani itu tidak menjawab. Tetapi ia berkata kepada Glagah Putih. “Cobalah menyesuaikan dirimu. Kau tidak perlu melawan. Hindarilah dengan menempatkan diri pada garis lindunganku. Keduanya memang sangat berbahaya.”

Glagah Putih tidak menjawab. Tetapi ia meloncat mendekati orang yang berpakaian petani itu.

“Kau cukup lincah. Berusahalah untuk tidak mati. Aku akan bertempur untukmu.”

Glagah Putih tetap berdiam diri. Tetapi ia melakukan perintah orang yang akan melindunginya itu.

Kedua orang yang datang dari Pasisir Endut di pantai Selatan itu menjadi sangat marah. Mereka seakan-akan telah kehilangan buruan mereka karena kehadiran orang yang menyebut dirinya petani itu.

Sejenak keduanya mempersiapkan diri. Kemudian dengan garangnya keduanya menyerang seperti badai yang dahsyat menyambar ujung pepohonan.

Tetapi orang yang berpakaian petani itu pun ternyata orang luar biasa. Ia mampu mempertahankan diri sekaligus melindungi Glagah Putih yang berusaha menyesuaikan dirinya. Seperti pesan orang berpakaian petani itu, ia sama sekali tidak berbuat lain kecuali, menyesuaikan diri.

Dalam pada itu, perkelahian itu pun semakin lama menjadi semakin sengit. Ternyata orang berpakaian petani itu benar-benar seorang yang memiliki kelebihan dari orang kebanyakan. Ia mampu melawan kedua orang lawannya sambil melindungi Glagah Putih. Untunglah bahwa Glagah Putih pun bukan orang yang sekedar ingin menyerah dan berputus asa karena ia memang memiliki kemauan untuk berusaha, juga berusaha menyelamatkan diri.

Orang berambut putih dan seorang lagi yang, ternyata adalah adiknya dan keduanya berasal dari Pesisir Endut itu menjadi semakin marah. Mereka bertempur semakin garang dan kasar. Bahkan semakin lama menjadi semakin buas dan liar.

Namun bagaimanapim juga orang yang berpakaian petani itu sama sekali tidak terpengaruh. Ia tetap bertempur dengan wajar. Tetapi nampak betapa ia benar-benar menguasai ilmunya dengan matang.

Dua orang bersaudara dari Pesisir Endut itu berusaha untuk menyerang orang yang berpakaian petani itu dari dua arah, sekaligus berusaha untuk memisahkan Glagah Putih dari padanya. Namun usaha mereka selalu gagal. Orang berpakaian petani itu mampu meloncat bagaikan kijang dan mampu menghantam lawannya seperti seekor banteng.

Kedua orang dari Pesisir Endut itu berusaha dengan segenap kemampuan mereka. Bahkan, ketika keduanya merasa tidak mungkin lagi untuk melawan orang berpakaian petani itu dengan tangannya maka keduanya pun telah menarik senjata masing-masing.

Yang berambut putih telah menarik pedangnya yang besar. Pedang bermata dua. Tajamnya berada di sebelah menyebelah, sementara ujungnya runcing seperti duri, tetapi pedang itu tidak terlalu panjang.

Sementara itu yang lain telah menggenggam senjatanya pula. Ia lebih senang mempergunakan pedang rangkap di kedua tangannya. Pedang yang lebih pendek, tetapi nampaknya lebih berat dan kuat.

Orang berpakaian petani itu termangu-mangu. Memang pertempuran berikutnya akan sangat berbahaya bagi Glagah Putih. Karena itu. ia harus memberi kesempatan Glagah Putih meninggalkan gelanggang.

Sejenak orang berpakaian petani itu merenung. Senjata-senjata itu memang tidak terlalu berbahaya baginya. Tetapi bagi Glagah Putih akan lain akibatnya.

Karena itu, maka orang berpakaian petani itu pun tiba-tiba telah membuka ikat pinggang kulitnya yang tebal. Dengan ikat pinggang kulit yang tebal itu ia mempersiapkan diri untuk melawan.

“Kau akan segera mati,” geram orang berambut putih.

“Aku akan berusaha untuk menghindari kematian itu,” jawab orang berpakaian petani itu.

“Kau tidak akan dapat melawan senjata kami.”

Orang berpakaian petani itu tersenyum. Katanya, “Yang kau bawa adalah sekedar mainan anak-anak. Senjata yang kau sembunyikan dibawah bajumu itu tidak akan berarti apa-apa. Pedang atau sebut belati-belati itu atau golok atau nama lain dari senjata yang kalian bawa, tidak akan dapat memutuskan ikat pinggangku.”

“Persetan,” geram orang berambut putih. Dan sebelum mulutnya terkatup ia sudah menyerang dengan garangnya. Pedangnya terayun langsung mengarah ke dahi lawannya, seakan-akan ia ingin membelah kepala itu dengan sekali ayunan.

Namun yang terjadi sangat mengejutkan. Orang berpakaian petani itu dengan cepatnya merentangkan ikat pinggangnya yang besar untuk melindungi kepalanya. Kemudian mengendorkannya sedikit. Ketika ia menghentakkan ikat pinggangnya. Maka senjata lawannya seolah-olah telah dihentak pula oleh kekuatan yang dahsyat, sehingga pedang itu terdorong dengan kuatnya.

Hampir saja pedang itu terlempar. Namun orang berambut putih itu masih mampu menahannya, sehingga pedang itu tidak terlepas dari tangannya.

Namun dalam pada itu, kedua orang itu menyadari, bahwa orang berpakaian pelani itu benar-benar orang yang tidak dapat diabaikan. Bahkan orang itu benar-benar merupakan bahaya yang cukup gawat. Dengan demikian, maka perkelahian bersenjata itu pun menjadi semakin dahsyat. Orang berpakaian petani itu bergerak semakin cepat, meskipun tidak menunjukkan kekasaran seperti kedua lawannya. Sementara itu Glagah Putih masih bersembunyi dibalik perlindungan orang berpakaian petani itu. Namun tiba-tiba saja ia mendengar orang yang melindunginya itu berbisik, “Carilah kesempatan untuk lari.”

Glagah Putih seperti terbangun dari mimpinya yang sangat buruk. Sejenak ia memperhatikan keadaan. Namun kemudian ia pun memutuskan untuk melarikan diri pada saat yang tepat.

Ternyata orang berpakaian petani itu pun berusaha mendesak kedua lawannya untuk memberi kesempatan kepada Glagah Putih. Ikat pinggangnya ternyata tidak hanya dapat dipergunakan sebagai perisai, tetapi tiba-tiba saja ikat pinggang itu pun dapat mematuk bagaikan sekeping besi baja yang kuat dan berat.

Kedua orang dari Pasisir Endut itu benar-benar telah tenggelam dalam perlawanannya terhadap orang berpakaian petani itu, sehingga keduanya agak kurang memperhatikan Glagah Putih. Apalagi serangan orang itu bagaikan kuku-kuku burung rajawali yang berterbangan mengitarinya.

Dengan demikian, maka kedua orang itu tidak lagi mendapat kesempatan untuk memperhatikan anak yang hampir dibunuhnya. Jika salah seorang dari keduanya meninggalkan gelanggang untuk membunuh Glagah Putih, itu berarti bahwa yang lainpun akan terbunuh pula. Sehingga dengan demikian maka keduanya lebih baik bertempur berpasangan dan untuk sementara melepaskan perhatian mereka kepada anak itu.

Kesempatan itu nampaknya mulai terbuka. Meskipun demikian Glagah Putih cukup berhati-hati. Jika ia melepaskan diri dari perlindungan orang berpakaian petani itu dan berlari menyeberangi bulak, maka bayak kemungkinan yang dapat terjadi.

Dengan cermat Glagah Putih memperhatikan pertempuran itu. Orang berpakaian petani itu nampaknya berusaha untuk menekan lawannya sehingga keduanya tidak dapat berbuat lain kecuali bertahan berpasangan.

Ternyata pengamatan Glagah Putih cukup tajam. Ia melihat kesempatan yang benar-benar telah terbuka ketika orang berpakaian petani itu berhasil mendesak kedua lawannya justru menjauhinya.

Saat yang baik itu tidak disia-siakan. Dengan serta merta Glagah Putih meloncat berlari meninggalkan bulak yang hampir saja menelan nyawanya.

Kedua orang yang datang dari Pesisir Endut itu melihat Glagah Putih berlari. Tetapi pada saat itu keadaan mereka sendiri sudah terlalu sulit. Serangan orang berpakaian petani yang bersenjata ikat pinggangnya yang lebar dan tebal itu seolah-olah tidak dapat dihindarinya lagi.

Sementara itu Glagah Putih berlari-lari sekencang-kencangnya menuju kepadukuhan induk Kademangan Sangkal Putung. Meskipun ia melihat orang berpakaian petani itu berhasil mendesak lawannya, tetapi jika nasib malang datang menimpanya, maka ia akan mengalami kesulitan.

Karena itu Glagah Putih menganggap bahwa hal itu perlu diberitahukannya kepada Agung Sedayu, agar anak muda itu dapat menolongnya apabila orang yang berpakaian petani itu pada suatu saat mengalami kesulitan.

Dengan sekencang-kencangnya Glagah Putih berlari menyusur pematang. Dengan lincahnya ia meloncati parit dan kadang-kadang jalan-jalan kecil yang melintang langsung menuju ke padukuhan induk.

Ketika Glagah Putih memasuki padukuhan induk, ia masih melihat beberapa orang yang berjalan hilir mudik. Agar ia tidak menumbuhkan kecurigaan bagi beberapa orang dan kemudian menumbuhkan keributan, ia berusaha menahan diri dan berjalan menyusur jalan-jalan yang memintas langsung menuju ke rumah Ki Demang Sangkal Putung.

Seperti yang diduganya, maka orang-orang yang semula mengantarkan jenasah Ki Sumangkar kepemakaman, telah berada di pendapa. Beberapa orang anak muda sedang mempersiapkan minuman dan makanan bagi mereka.

Sejenak Glagah Putih termangu-mangu. Namun kemudian ia segera pergi ke belakang. Menurut dugaanya. Agung Sedayu tentu berada di antara anak-anak muda yang sedang sibuk mengatur jamuan itu.

Dugaannya ternyata tepat. Agung Sedayu sedang sibuk di belakang bersama anak-anak muda sebayanya menyiapkan minuman dan makanan bagi tamu-tamu yang sedang berkumpul di Sangkal Putung.

“Kakang,” desis Glagah Putih sambil menarik ujung baju Agung Sedayu.

Agung Sedayu berpaling. Dilihatnya Glagah Putih dengan wajah yang kemerah-merahan dibakar terik dan kegelisahan.

“Minumlah. He, kau nampak terengah-engah.”

“Kakang. Dengarlah. Ada hal yang penting yang perlu segera kauketahui.”

Agung Sedayu memandanginya sejenak. Diletakannya mangkuk yang ada di tangannya. Kemudian sambil tersenyum ia berkata, “Kau masih saja ingin berceritera. Duduklah dan minumlah. Kau tentu haus sekali.”

Glagah Putih menjadi jengkel. Karena itu, maka ia pun berbisik ditelinga Agung Sedayu, “Kakang, aku hampir mati dicekik orang.”

“He?” kata-kata itu benar-benar mengejutkan Agung Sedayu.

Glagah Putih yang melihat Agung Sedayu mulai tertarik kepada ceriteranya segera melanjutkan kata-katanya meskipun masih sambil berbisik, “Ada dua orang yang berusaha membunuh aku.”

Agung Sedayu menjadi semakin tertarik. Digandengnya Glagah Putih menjauhi anak-anak muda yang sedang sibuk. Dibawah sebatang pohon yang rindang keduanya duduk diatas sepotong kayu yang melintang.

“Katakan,” desis Agung Sedayu.

Glagah Putih pun kemudian mulai berceritera dengan singkat apa yang diketahuinya. Sejenak ia berada dimakam, kemudian usaha kedua orang itu memisahkannya dari iring-iringan dan akhirnya mencoba membinasakannya.

“Jadi apa yang terjadi kemudian?”

“Mereka masih bertempur. Meskipun aku melihat yang seorang itu mendesak lawannya, tetapi aku belum yakin bahwa ia akan dapat menang dari kedua orang lawannya itu,” berkata Glagah Putih dengan gelisah.

Agung Sedayu menjadi tegang, ia bukan seorang yang lekas dibakar oleh niat untuk membenturkan kekerasan dengan siapapun juga. Tetapi yang terjadi adalah tindak yang melampaui batas karena keduanya telah berusaha membunuh Glagah Putih yang masih terlalu muda dan tidak mengetahui persoalan apapun yang terjadi dalam kemelut yang menyuramkan hubungan Pajang dengan Mataram. Apalagi jika orang yang telah menolong Glagah Putih itu kemudian mengalami kesulitan yang gawat. Maka adalah kuwajibannya pula untuk membantunya, setidak-tidaknya untuk membebaskannya dari keadaan yang paling pahit, maut.

Karena itu, maka ia pun dengan tergesa-gesa menemui seorang kawannya yang sedang menuang minuman kedalam mangkuk. Ditelinganya ia berbisik, “Aku akan pergi sebentar.”

“Kemana?” bertanya kawannya, “kau nampak tergesa-gesa sekali.”

Sekali lagi Agung Sedayu menempelkan mulutnya ketelinga kawannya itu, “Aku akan ke sungai. Perutku tidak dapat bertahan lagi.”

Kawannya tertawa. Agung Sedayu pun mencoba untuk tertawa pula, sementara Glagah Putih menjadi heran, kenapa keduanya justru tertawa, karena ia tidak mendengar kata-kata Agung Sedayu.

Agung Sedayu memang tidak ingin menumbuhkan keresahan, karena dengan demikian, orang-orang yang ada di pendapa itu tentu akan menjadi hiruk pikuk.

Tetapi lebih dari itu, Agung Sedayu memperhitungkan, bahwa mereka nampaknya ada yang terlibat pula pada persoalan itu.

Lebih parah lagi jika mereka yang ada di pendapa itu ada yang berdiri pada pihak yang berseberangan. Jika ada prajurit Pajang yang terlihat, sementara yang lain menentangnya, maka akan timbul persoalan yang parah, justru saat mereka berada di Sangkal Putung.

Karena itulah maka Agung Sedayu berniat untuk menyelesaikan masalah itu tanpa menumbuhkan keonaran.

Sejenak kemudian, maka Agung Sedayu telah mengikuti Glagah Putih yang berjalan tergesa-gesa. Mereka menghindari orang-orang yang mungkin akan tertarik perhatiannya.

Karena itu, maka Agung Sedayu dan Glagah Putih telah menyusuri jalan turun kesungai. Kemudian mereka berdua berlari-lari menuju kebulak panjang tempat kedua orang dari Pasisir Endut itu bertempur melawan seorang yang berpakaian petani.

Ternyata pertempuran itu telah berlangsung dengan dahsyatnya. Ketika Agung Sedayu dan Glagah Putih mendekati arena, mereka masih terlihat dalam pertempuran yang sengit.

Namun ketika Agung Sedayu melihat pertempuran itu dengan saksama, maka ia menarik nafas dalam-dalam. Ia yakin, bahwa orang berpakaian petani itu akan dapat menyelesaikan pertempuran itu menurut kehendaknya. Ia tidak banyak mengalami kesulitan yang berarti, sehingga sebenarnyalah bahwa ia tidak memerlukan bantuan siapapun juga.

“Aku sudah menduga bahwa kau akan datang Agung Sedayu,” berkata anak muda yang berpakaian petani itu.

“Dari mana kau tahu?” bertanya Agung Sedayu.

“Glagah Putih itu sepupumu. Dan ia tentu tidak akan memberitahukan hal ini kepada Untara. Tetapi kepadamu.”

Agung Sedayu tidak menyahut. Sambil mengerutkan keningnya ia melihat senjata anak muda yang aneh itu berputaran. Hampir seperti cara Agung Sedayu sendiri menggerakkan cambuknya.

“Ada beberapa unsur yang mirip,” desis Agung Sedayu didalam hatinya.

Ternyata kehadiran Agung Sedayu telah membuat kedua orang dari Pasisir Endut itu menjadi semakin garang. Mereka berbuat apa saja untuk dapat membela diri dan sekali-sekali menyerang lawannya. Namun agaknya anak muda berpakaian petani itu benar-benar seorang anak muda yang mumpuni. Betapa kasar dan liarnya kedua orang dari Pesisir Endut itu. namun mereka tidak berdaya melawan anak muda berpakaian petani itu.

“Agung Sedayu,” berkata anak muda itu, “aku memang menunggumu. Aku ingin memperlihatkan kepadamu, bagaimana aku membunuh kedua orang yang hampir saja merenggut nyawa adik sepupumu yang masih kecil dan tidak tahu apa-apa itu.”

Glagah Putih mengerutkan keningnya. Ia berkeberatan disebut masih kecil oleh anak muda berpakaian petani itu. Tetapi ia tidak mengatakannya.

Agung Sedayu sementara itu termangu-mangu. Ia memperhatikan pertempuran itu dengan saksama. Namun pengamatannya yang tajam, semakin meyakinkannya bahwa anak muda berpakaian petani itu benar-benar akan dapat mengalahkan kedua lawannya.

“Agung Sedayu,” berkata anak muda itu,” aku tak tahu bahwa kau termasuk seseorang yang tidak suka melihat pembunuhan-pembunuhan. Aku pun sebenarnya bukan jenis seorang pembunuh yang tidak berperikemanusiaan. Tetapi karena kedua orang dari Pesisir Endut itu benar-benar orang yang berbahaya, maka aku akan membunuh keduanya.”

“Persetan,” orang berambut putih itu menggeram.

Sementara itu. Agung Sedayu yang termangu-mangu bergeser setapak menjauh diluar sadarnya, seakan-akan ia adalah orang yang asing sama sekali dari olah kanuragan, dan ketakutan melihat akibat yang bakal terjadi.

“Jangan seperti perempuan cengeng Agung Sedayu,” berkata anak muda itu, “lihatlah, bagaimana ikat pinggangku mengakhiri perlawanan mereka. Jika aku tidak menunggu kedatanganmu, maka keduanya tentu sudah aku bunuh jauh sebelum saat ini.”

Kedua orang dari Pesisir Endut itu menggeram. Mereka menyadari bahwa kedua anak muda itu benar-benar akan mencoba membunuh mereka. Sehingga karena itu, maka mereka pun segera mengerahkan segenap sisa kemampuan yang ada pada mereka.

Betapapun juga kasar dan liarnya, tetapi mereka benar-benar telah dikuasai oleh anak muda itu. Sambil melihat lawannya dengan ikat pinggangnya anak muda itu berkata, “Kau memang orang aneh Agung Sedayu. Tetapi matamu seperti seorang yang kagum melihat perkelahian yang tidak berarti ini. Ketahuilah, bahwa kedua orang ini sama sekali tidak dapat menyamai, bahkan mendekati kemampuan Tumenggung Wanakerti, sehingga kemampuanku pun tentu berada jauh dibawah kemampuanmu yang sebenarnya.”

“Tidak,” tiba-tiba saja Agung Sedayu menjawab, “aku melihat kau mempunyai kelebihan. Bahkan dari orang-orang yang pernah aku kenal.”

“Ah, bohong,” orang muda itu tertawa sambil bertempur sehingga kedua lawannya semakin merasa terhina, “orang-orang yang kau kenal adalah terutama gurumu, Raden Sutawijaya dari Mataram, Untara kakakmu dari Jati Anom dan masih banyak lagi. Tentu aku bukan orang yang dapat diperbandingkan dengan mereka.”

Agung Sedayu tidak segera menyahut. Ia melihat anak muda itu menekan lawannya semakin tajam, meskipun ia masih juga berbicara dengan lantang, “Jangan membohongi dirimu sendiri. Kaulah yang melampaui setiap orang yang pernah kau kenal termasuk aku.”

Agung Sedayu menggeleng. Namun tiba-tiba orang muda itu berteriak, “Bukan waktunya untuk merendahkan diri. Lihat, bagaimana aku membunuh dua orang yang paling kejam dimuka bumi.”

Agung Sedayu tidak sempat menjawab. Anak muda berpakaian petani itu seolah-olah melenting tinggi. Kemudian ikat pinggangnya pun segera berputar dengan dasyatnya.

Kedua orang dari Pesisir Endut itu menjadi semakin bingung.

Bagaimanapun juga ternyata bahwa mereka tidak akan dapat melepaskan diri dari kegarangan ikat pinggang anak muda berpakaian petani itu, sehingga mereka mengumpat-umpat didalam hati, bahwa anak muda itu telah melihat apa yang telah dilakukannya.

Ternyata bahwa yang dikatakan oleh anak muda itu benar-benar dilakukan. Senjatanya yang aneh itu semakin lama semakin cepat berputar dan kadang-kadang terayun seperti pedang dan mematuk seperti tombak.

Sejenak kemudian, terdengar orang berambut putih itu mengeluh pendek. Segores luka telah menyobek dadanya melintang, sehingga darah yang merah telah memercik dari lukanya.

Terdengar anak muda berpakaian petani itu tertawa. Kemudian dengan lantangnya ia berkata, “Aku akan membunuh kalian didalam suatu arena pertempuran. Aku masih menghormati kalian sebagai laki-laki jantan. Dengan demikian maka aku masih berbuat lebih baik dari rencanamu. Menyuruh anak itu berbaring dilubang kubur, kemudian akan kau timbun hidup-hidup.”

Terasa kulit tubuh Agung Sedayu meremang mendengar kata-kata itu. Jika benar demikian terjadi atas Glagah Putih, maka alangkah mengerikan.

Namun demilkian, rasa-rasanya hati Agung Sedayu-pun berdebar-debar pula melihat anak muda berpakaian petani itu. Ketika sekali lagi ia melenting sambil mengayunkan ikat pinggangnya, maka lawannya yang muda pun telah terlempar beberapa langkah.

Dengan susah payah ia berusaha untuk tetap berdiri tegak, namun kakinya terasa menjadi sangat lemah.

Kedua orang dari Pesisir Endut itu sama sekali sudah tidak berdaya. Meskipun keduanya masih berdiri, tetapi mereka sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Bahkan mereka pun sama sekali tidak dapat menghindar ketika anak muda berpakaian petani itu menyambar mereka dengan ayunan ikat pinggangnya.

“Cukup,” teriak Agung Sedayu.

Tetapi ia terlambat. Ikat pinggang anak muda berpakaian petani itu telah menyambar kedua lawannya, sehingga keduanya pun telah terlempar jatuh.

Sejenak keduanya masih mengerang. Namun kemudian suara mereka terputus. Keduanya ternyata telah mati.

Agung Sedayu berdiri termangu-mangu. Ditatapnya anak muda yang bersenjata ikat pinggang itu. Kemudian katanya, “Kau membunuh keduanya Ki Sanak.”

“Ya. Aku membunuh keduanya. Hal yang tidak akan kau lakukan.”

“Tetapi kita memerlukan keduanya. Mungkin keduanya akan dapat memberikan keterangan tentang diri mereka berdua.”

“Aku tahu apa yang mereka ketahui. Keterangan itu tidak perlu sama sekali bagiku.”

“Tetapi pembunuhan itu tidak perlu sama sekali. Ketika mereka sudah tidak mampu melawan, maka mereka akan dapat ditangkap dengan mudah.”

Anak muda itu tertawa. Katanya, “Itulah yang penting bagimu. Mengampuni orang itu. Bukan mencari keterangan dari mereka.”

Agung Sedayu memandang anak muda berpakaian petani itu dengan heran. Sikapnya dan tatapan matanya nampak asing dan aneh. Setiap kali ia tertawa dan sekali-sekali tertawanya terdengar nyaring.

“Nah Agung Sedayu,” katanya kemudian, “aku telah menyelamatkan saudara sepupumu.”

“Siapakah kau sebenarnya?” tiba tiba saja Agung Sedayu bertanya.

Orang itu mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba wajahnya menjadi tegang. Kalanya, “He. mereka yang mengantar Ki Sumangkar ke makam dan kembali kepadukuhan kini telah turun ke bulak. Lihat ada beberapa petani menyusuri parit.”

Agung Sedayu berpaling. Nampaknya memang beberapa orang Sangkal Putung sedang kembali ke sawah mereka untuk melanjutkan kerja setelah terputus beberapa lama.

“Marilah kita pergi kerumah Ki Demang,” ajak Agung Sedayu.

Anak muda itu tertawa. Katanya, “aku tidak perlu. Aku akan pergi. Pembunuhan ini terpaksa aku lakukan, karena jika keduanya tetap hidup, akibatnya akan parah bagimu dan Glagah Putih.”

“Kenapa?” bertanya Agung Sedayu.

“Keduanya adalah orang-orang yang cukup memiliki ilmu. Tetapi mereka tidak berdiri sendiri.Kedua bersaudara dari Pesisir Endut itu telah terlibat dalam persekutuan dengan orang-orang yang menyebut dirinya keturunan Majapahit. He, bukankah kau mengetahui hal itu? Bertanyalah kepada gurumu, kenapa gurumu justru tetap berdiam diri tentang keturunan itu, seolah-olah ia tidak memiliki hak untuk berbuat demikian. Bukan maksudku agar Kiai Gringsing ikut bermain-main berebutan warisan kerajaan Majapahit. Tetapi dengan pengaruh namanya ia akan dapat meredakan suasana. Namun mungkin juga sebaliknya. Rebutan itu akan bertambah ramai.”

“Jika mereka masih hidup, akan dapat ditelusur dari manakah sumber dari kericuhan itu.”

Anak muda itu tertawa. Sambil menggeleng ia menjawab, “Tidak mungkin. Jalur-jalur itu bertingkat banyak dan tentu akan terputus di tengah jalur.” ia berhenti sejenak, lalu. “Nah, sekarang aku minta diri.”

“Tunggu,” sahut Agung Sedayu, “kau harus mempertimbang-kan bagaimana dengan kedua orang yang mati itu.”

“Biar sajalah ia disitu. Nanti orang-orang padukuhan tentu akan menguburkannya.”

“Tetapi tinggalah disini. Petani-petani itu semakin dekat. Kau akan menjadi saksi apa yang sudah terjadi disini dengan Glagah Putih.”

Dan tidak akan ada orang yang menuduh aku membunuh mereka berdua karena diluar kehendakku sendiri aku sudah terlalu banyak membunuh.”

Anak muda itu tertawa semakin keras. Katanya, “Kau seorang yang mumpuni. Tetapi kau menjadi ketakutan untuk dituduh membunuh dua orang tikus dari Pasisir Endut itu? Aku kira itu lebih baik daripada keduanya masih tetap hidup dan memberikan banyak keterangan tentang Agung Sedayu. Sengaja atau tidak sengaja, kau memang sudah terlibat semakin jauh, bahkan kau akan dianggap musuh yang paling utama setelah kau membunuh dan melumpuhkan banyak orang-orang penting di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu itu.”

“Kau tahu tentang pertempuran itu?”

“Aku adalah seorang petualang atau katakan seorang pengembara yang menjelajahi gunung dan ngarai. Aku tahu apa saja yang terjadi dalam hubungan Pajang dan Mataram serta orang-orang yang merasa dirinya pewaris kerajaan Majapahit.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba diluar sadarnya ia bertanya, “Kau kenal Rudita?”

Anak muda itu termangu-mangu sejenak. Kemudian ia menggelengkan kepalanya sambil menjawab, “Aku belum mengenalnya. Apakah ia orang mumpuni seperti kau?”

“Ia seorang yang mumpuni dan meyakini sikap dan pandangan hidupnya. Tetapi bukan seorang di antara kita yang tangannya berbau darah.”

Anak muda itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian, “Orang orang itu menjadi semakin dekat. Ada dua orang yang berjalan ke arah ini. Karena itu, aku akan pergi.”

“Jangan pergi dahulu,” Agung Sedayu mencegahnya, “kau harus bertanggung jawab terhadap pembunuhan ini?”

“Bertanggung jawab terhadap siapa?” bertanya anak muda itu dengan heran.

“Kepada orang-orang Sangkal Putung,” jawab Agung Sedayu, “daerah ini adalah daerah Kademangan Sangkal Putung. Peristiwa-peristiwa yang terjadi disini harus dipertanggung jawabkan kepada Ki Jagabaya dan Ki Demang.”

Anak muda itu tertawa. Jawabnya, “Aku bukan orang Sangkal Putung. Kedua orang itu pun bukan orang Sangkal Putung.”

“Tetapi peristiwa itu terjadi di Sangkal Putung,” desak Agung Sedayu.

“Aku tidak peduli. Aku akan pergi. Biarlah keduanya diurus oleh orang-orang Sangkal Putung. Aku tidak berkepentingan dengan mereka berdua, dan aku pun tidak berkepentingan dengan orang-orang Sangkal Putung.”

“Kau berkepentingan dengan kedua sosok mayat itu. Kaulah yang telah membunuhnya.”

“O, jadi menurut pendapatmu, aku sebaiknya tidak usah mencampuri persoalan kedua orang itu? Atau menurut pertimbanganmu sebaiknya aku membiarkan keduanya membunuh Glagah Putih.”

“Tidak. Bukan maksudku. Bahkan aku hampir lupa mengucapkan terima kasih terhadapmu. Tetapi tunggulah sebentar. Kau harus mengatakan kepada petani yang lewat itu bahwa kaulah yang telah membunuh keduanya, dan bukan aku.”

Tetapi anak muda itu menggeleng. Jawabnya, “Itu tidak perlu. Kau sudah mempunyai saksi. Glagah Putih.”

“Aku minta kau tetap disini,” berkata Agung Sedaya kemudian.

Anak muda itu memperhatikan Agung Sedayu sebentar. Kemudian dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apakah kau akan memaksa aku?”

“Sebenarnya aku tidak perlu memaksa. Tetapi kau dengan kehendakmu sendiri akan berada ditempat ini sebentar lagi saja.”

“Sayang, aku tidak melihat gunanya. Petani-petani Sangkal Putung itu tentu tidak mengenal aku juga. Biarlah. Aku minta diri.”

Tetapi Agung Sedayu menggeleng. Katanya, “Tunggulah.”

“Aku tidak mau.”

Wajah Agung Sedayu menjadi tegang. Ketika anak muda itu beringsut, diluar sadarnya Agung Sedayu pun beringsut pula. Bahkan seolah-olah ia mengancam, “Kau harus tetap disini. Kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu kepada Ki Jagabaya dan Ki Demang Sangkal Putung.”

“Aku tidak mau.”

Agung Sedayu melangkah maju. Namun tiba-tiba saja langkahnya tertegun ketika ia mendengar anak muda itu berkata, “Aku menyesal bahwa aku sudah menolong sepupumu. Jika aku membiarkannya, maka aku tidak akan mendapat tekanan seperti ini.”

Sejenak Agung Sedayu berdiam diri sambil termangu-mangu. Anak muda itu berkata dlam hati, “sebenarnya. Jika ia tidak mencampuri persoalan Glagah Putih dengan kedua orang itu, maka tidak akan ada orang yang akan menahannya dan menuntutnya untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.”

Selagi Agung Sedayu termangu-mangu maka anak muda itu berkata, “Agung Sedayu, jika kau memaksa aku untuk tetap tinggal disini, maka kau tentu dapat.”

“Aku akan dapat melawan kehendakmu jika kau memang berniat memaksakan kehendakmu itu, karena kau adalah orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Tetapi mengertilah, bahwa aku tidak ingin terlibat kedalam persoalan yang semakin jauh. Aku hanya ingin menolong Glagah Pulih. Selebihnya aku tidak mau mencampurinya.”

“Tetapi kau mengetahui banyak hal tentang Pajang, tentang Mataram dan bahkan tentang aku.”

“Semua orang mengetahui tentang kau, tentang Untara. tentang Raden Sutawijaya, tentang Kiai Gringsing, tentang Ki Juru Martani dan tentang persoalan-persoalan yang dihadapinya. Karena itu maka aku pun mengerti serba sedikit tentang kau, tentang Pajang dan tentang pertempuran di lembah itu.”

Agung Sedayu termangu-mangu ketika ia memandang kejalan panjang, di tengah-tengah bulak itu, ia melihat kedua orang petani Sangkal Pulung itu menjadi semakin dekat.

Tetapi agaknya anak muda itu benar-benar tidak mau menunggu. Ia pun mulai melangkah dan berkata, “Jika kau memaksaku untuk menunggu mereka, aku tentu akan dapat melakukannya karena aku tidak akan dapat melawanmu. Tetapi dengan demikian maka aku akan menyesal sepanjang umurku, bahwa aku telah menolong Galgah Putih hari ini.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi terasa Glagah Putih menggamitnya sambil berbisik, “Kakang, ia benar-benar telah menyelamatkan aku.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah Glagah Putih, aku tidak akan menahannya.”

Anak muda yang menolong Glagah Putih itu berhenti sejenak. Katanya, “Yang aku lakukan bukanlah apa-apa.”

“Tetapi Ki Widura, ayah Glagah Putih tentu akan menyesal bahwa ia tidak sempat mengucapkan terima kasih kepadamu.”

Anak muda itu tertawa. Katanya, “Itu tidak perlu. Aku sama sekali tidak mengharapkan terima kasih dari siapapun juga.”

Agung Sedayu tidak menyahut lagi. Dibiarkannya anak muda berpakaian petani itu meninggalkannya yang berdiri termangu-mangu.

Sementara itu, petani dari Sangkal Putung yang berjalan menyusuri jalan bulak itu menjadi semakin dekat. Dari kejauhan mereka sudah melihat Agung Sedayu berdiri termangu-mangu. Sedangkan orang yang sedang berbicara dengan anak muda itu kemudian pergi meninggalkannya. Namun petani-petani Sangkal Putung itu masih belum melihat bahwa dihadapan mereka terdapat dua sosok mayat yang tergolek di tanah.

Agung Sedayu dan Glalah Putih menjadi berdebar-debar. Namun mereka tidak dapat berbuat apa-apa sementara orang-orang itu mendekatinya.

Betapa terkejut mereka, ketika para petani itu melihat tubuh yang terbujur membeku di tanah. Dengan mata terbelalak mereka memandang mayat itu.

Agung Sedayu yang gelisah itu pun segera mencoba memberikan keterangan, “Dua orang yang mati dibunuh oleh anak muda yang baru saja meninggalkan aku.”

“O, anak muda itu,” desis salah seorang petani sambil memandang ke ujung jalan yang panjang. Anak muda itu masih kelihatan, berjalan menyusuri jalan bulak itu semakin lama semakin jauh.

“Kenapa?” petani itu bertanya.

Agung Sedayu termangu-mangu. Ia tidak ingin menceritakan kepada mereka apa yang sesungguhnya telah terjadi agar mereka tidak menjadi gelisah dan cemas.

Karena itu, maka jawabnya, “Mereka berselisih. Akhirnya perkelahian tidak dapat dihindarkan.”

“Apakah yang mereka persoalkan?”

Agung Sedayu menggeleng. Jawabnya, “Aku tidak tahu.”

Dan yang dicemaskan Agung Sedayu itu pun terloncat dari mulut salah seorang petani itu, “Dan kau biarkan saja mereka pergi.”

Agung Sedayu termenung sejenak. Tetapi kemudian ia menjawab, “Aku tidak dapat mencegahnya. Persoalan yang terjadi antara mereka pun aku tidak jelas. Tetapi, agaknya anak muda itu berbuat demikian dengan maksud baik. Mungkin Glagah Putih dapat menjelaskan kemudian.”

Orang itu menjadi bingung. Namun kemudian katanya, “Tetapi pembunuhan itu terjadi di tlatah Sangkal Putung.”

“Ya, aku mengerti. Aku tidak dapat mencegahnya. la pergi begitu saja.”

“Kau dapat menahannya. Kau mempunyai kemampuan untuk mencegah agar ia tidak pergi dan menghadap Ki Demang Sangkal Putung.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya, “Persoalannya tentu akan berkembang. Pertentangan itu akan merambat antara aku dan orang itu.”

Petani-petani itu termangu-mangu sejenak. Namun tiba-tiba saja salah seorang dari mereka berdesis, “Agung Sedayu, apakah kau tidak menutupi kenyataan yang terjadi? Apakah bukan kau yang telah membunuh kedua orang itu karena mereka justru telah mengancam nyawamu?”

“Aku?” bertanya Agung Sedayu. Debar jantungnya menjadi semakin cepat.

“Bukan,” Glagah Putih lah yang menyahut, “bukan kakang Agung Sedayu. Tetapi anak muda itulah yang telah membunuh keduanya dengan cara yang aneh sekali.”

Petani-petani itu saling berpandangan. Namun kemudian salah seorang dari mereka berkata, “Kita wajib memberitahukan kepada Ki Jagabaya dan Ki Demang.”

Agung Sedayu tidak dapat mencegah mereka. Karena itu. ia berdiri saja termangu-mangu ketika para petani itu kemudian dengan tergesa-gesa pergi meninggalkannya.

“Kademangan tentu akan menjadi ribut,” desis Agung Sedayu, “jika tamu-tamu yang berdatangan dari tempat-tempat lain itu masih ada, maka mereka tentu akan beriringan datang untuk melihat, apa yang telah terjadi.”

“Apakah yang harus kita katakan kepada mereka kakang?”

“Kita tidak dapat berbohong terlalu banyak. Kau harus mengatakan bahwa mereka akan membunuhmu, kemudian seorang anak muda berpakaian petani telah menolongmu.”

“Bagaimana jika seseorang bertanya kepadaku, kenapa mereka akan membunuhku?”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun ia tidak ingin persoalannya berkembang semakin jauh. Karena itu, maka katanya, “Katakan saja bahwa kau tidak tahu apa apa. Mereka tentu akan mencari sendiri sebabnya.”

Glagah Putih termenung sejenak. Dan Agung Sedayu pun berkata lebih lanjut. “Ketahuilah Glagah Putih, yang ada di Sangkal Putung sekarang adalah orang-orang yang tidak kita ketahui dengan pasti sikap dan tanggapannya terhadap keadaan sekarang ini.”

———-oOo———-

Bersambung ke jilid 115

diedit dari: http://adbmcadangan.wordpress.com/buku-II-14/

Terima kasih kepada Ki Sugito yang telah me-retype jilid ini.

<<kembali | lanjut >>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s