ADBM2-107


<<kembali | lanjut >>

(satu halaman, yaitu halaman 5 tidak ada, dari hasil scaning buku asli hanya mulai halaman 6)

———-> prajurit-prajurit Pajang yang berpengalaman.

Perintah itu pun segera menjalar kepada setiap pemimpin kelompok dan prajurit, meskipun mereka tidak mengetahui alasannya dengan pasti. Namun perintah itu pun disusul oleh perintah Swandaru kepada pasukannya, bahwa mereka tidak hanya sekedar menunggu di mulut lembah. Mereka akan mengikuti gerak pasukan Mataram. Jika benar-benar diperlukan, maka mereka akan langsung terlibat kedalam pertempuran.”

Sementara itu, tiga orang berkuda lelah berpacu meninggalkan mulut lembah. Tetapi mereka tidak dapat melingkari lambung Gunung Merapi yang masih ditutup oleh hutan-hutan lebat meskipun dibeberapa bagian sudah terbuka. Mereka harus melingkar turun dikaki Gunung. Menyusuri jalan-jalan padukuhan, dan kadang-kadang juga masih harus melalui pinggir hutan.

Tetapi di antara tiga orang itu adalah seorang yang sudah mengetahui dengan baik jalan-jalan yang melingkar dikaki Gunung Merapi.

“Tetapi besok menjelang tengah hari kita baru akan sampai,” berkata orang itu.

Kawan-kawannya tidak menjawab. Mereka berusaha secepatnya dapat mencapai pasukan dari Tanah Perdikan Menoreh yang dipimpin oleh Ki Gede Menoreh dan kemanakannya Prastawa bersama Ki Waskita dan Agung Sedayu.

Dalam pada itu, para petugas sandi yang ada di lembah, seperti yang diperhitungkan oleh Ki Juru Martani dan para pemimpin Mataram dan Sangkal Putung, benar-benar telah mengadakan penyelidikan di mulut lembah yang lain. Dengan berdebar-debar mereka menemukan, bahwa sepasukan yang besar telah berada di mulut lembah itu. Dan para petugas itu pun menduga, bahwa pasukan itu tentu pasukan Tanah Perdikan Menoreh.

“Rencana Mataram cukup matang,” desis para petugas itu, “tetapi agaknya pasukan Tanah Perdikan Menoreh tidak sekuat pasukan Mataram.”

Petugas sandi itu mencoba untuk meyakinkan pengamatannya. Didalam gelapnya malam mereka berhasil mencapai jarak yang tidak terlalu jauh. Meskipun pasukan Tanah Perdikan Menoreh berusaha untuk tidak menumbuhkan perhatian, tetapi di antara mereka terdapat pula perapian untuk menghangatkan air dan makanan.

“Kita akan melaporkan kepada Tumenggung Wanakerti,” berkata salah seorang petugas itu.

“Ya. Jika perlu, maka kita akan dapat memecah pertahanan di mulut lembah ini. Mereka menyangka bahwa pasukan kita hanyalah terdiri dari sekelompok kecil orang-orang yang tidak mempunyai pekerjaan dan dua tiga orang prajurit Pajang,” sahut yang lain.

Para petugas itu pun kemudian merayap kembali ke perkemahan mereka.

Malam itu, para pemimpin kelompok yang ada di lembah itu pun telah menyusun rencana berdasarkan pengamatan para petugas sandi mereka. Mereka membuat perbandingan antara pasukan Mataram yang ada di mulut lembah sebelah Timur dan pasukan yang ada di mulut lembah sebelah Barat.

“Bagaimana dengan jumlah mereka dalam keseluruhan?” bertanya Tumenggung Wanakerti kepada petugas sandinya.

“Di mulut lembah sebelah Barat, pasukan yang agaknya datang dari Tanah Perdikan Menoreh itu tidak begitu kuat. Kami melihat beberapa kelompok di antara mereka di sekitar perapian. Agaknya mereka telah menebar dalam kelompok-kelompok kecil.”

“Tetapi Tanah Perdikan Menoreh memiliki pengawal yang baik. Secara pribadi pengawal Tanah Perdikan Menoreh tidak kalah dari para pengawal di Mataram,” desis Empu Pinang Aring.

Yang lain mengangguk-angguk. Mereka menyadari bahwa Tanah Perdikan Menoreh yang memiliki perkembangan yang lebih dahulu dari Mataram, tentu memiliki kelebihan. Hanya karena Mataram dipimpin oleh seorang yang bernama Raden Sutawijaya, putera angkat Sultan Hadiwijaya di Pajang, serta telah mendapatkan restu atas usahanya membuka hutan yang lebat, yang disebut Alas Mentaok, maka perkembangan Mataram meloncat jauh lebih pesat dari Tanah Perdikan Menoreh dan daerah-daerah lain di sekitarnya.

Untuk beberapa saat orang-orang di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu itu berunding. Sebagian dari mereka memang berpendapat untuk memecahkan pertahanan Tanah Perdikan Menoreh dan menghindari pertempuran dengan Mataram.

Tetapi sebagian besar dari mereka berpendirian lain. Kiai Kelasa Sawit berkata, “Apakah kekuatan Mataram dapat mengimbangi kekuatan kita yang kemampuannya dapat dibanggakan untuk menerobos masuk ke Pajang?”

Seorang pengawas yang telah mengamati kekuatan Mataram berkata, “Jumlah mereka tidak terlalu banyak. Aku tidak dapat mengatakan kemampuan yang ada pada pribadi masing-masing. Tetapi petugas-petugas sandi yang pernah mengamati Mataram dari dekat, dan melihat latihan-latihan keprajuritan, maka pengawal bukanlah orang-orang yang harus disegani. Memang ada di antara mereka adalah bekas-bekas prajurit Pajang yang telah minta dengan kemauan sendiri untuk pindah ke Mataram, tetapi jumlah mereka tidak terlalu banyak.”

Para pemimpin yang ada di lembah itu mengangguk-angguk. Menurut perhitungan mereka, maka mereka tidak akan cemas menghadapi kekuatan Mataram, sementara kekuatan Tanah Perdikan Menoreh tidak begitu meresahkan hati.

Namun demikian, mereka tidak lengah untuk memperhitungkan segala kemungkinan. Bahkan Tumenggung Wanakerti berkata, “Jika menurut pertimbangan kita berikutnya, kita lebih baik menghindari pertempuran dengan Mataram untuk menyelamatkan pusaka itu sebelum kita menentukan tempat lain, maka kita akan menghancurkan pasukan Tanah Perdikan Menoreh yang di lembah itu.”

Tetapi Empu Pinang Aring menyahut, “Kita berjalan seperti seekor siput. Jika kita menentukan tempat lain, maka untuk membicarakan tempat yang baik, kita memerlukan waktu tidak kurang dari setahun. Kemudian untuk menyiapkan tempat itu dan mengamankannya kita memerlukan waktu lima tahun. Jika demikian, maka pertempuran yang sebenarnya baru akan berlangsung jika anakku nanti sudah dapat mewakili aku.”

Ki Tumenggung Wanakerti mengerutkan keningnya. Katanya, “Jangan lekas marah. Kita akan menentukan bersama-sama.”

“Coba bayangkan. Berapa orang di antara kita yang tidak sabar menunggu telah hilang. Satu-satu kekuatan kita dilenyapkan oleh Mataram atau Pajang atau Tanah Perdikan Menoreh. Jika kita menunda pertemuan ini, maka aku cemas bahwa kita semuanya akan terbunuh seorang demi seorang.”

Ki Tumenggung Wanakerti menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah. Tetapi kita harus mengadakan pengamatan yang cermat. Di lembah ini ada dua buah pusaka yang harus dipertahankan mati-matian, selain pusakan-pusaka yang kita harapkan akan segera berada di antara kita pula.”

“Kita dapat mengambil perbandingan,” berkata Empu Pinang Aring, “Apakah kita menunggu mereka menyerang, atau kita justru menyerang mereka.”

“Kita tidak menunggu di perkemahan ini, tetapi juga tidak menyerang ke mulut lembah. Kita akan maju dan menunggu mereka dalam kesiagaan yang tinggi. Menurut laporan para petugas sandi, agaknya pasukan Tanah Perdikan Menoreh tidak dipersiapkan untuk menyerang. Agaknya mereka mendapat tugas untuk menutup mulut lembah. Ternyata gelar mereka yang menebar dan terpisah dalam kelompok-kelompok kecil meskipun jaraknya tidak terlalu jauh yang satu dengan yang lain. Jika mereka siap untuk menyerang, maka mereka tidak akan terpisah-pisah dalam kelompok-kelompok kecil yang tugasnya hanyalah mengamati keadaan,” sahut Ki Tumenggung Wanakerti.

“Baiklah,” berkata seorang yang bertubuh raksasa yang nampaknya memiliki kekuatan berlipat dari orang-orang kebanyakan, “kita akan menghancurkan mereka dimanapun.”

Tumenggung Wanakerti memandang Kiai Jagarana dengan wajah yang tegang. Namun kemudian ia pun tersenyum sambil berkata, “Baiklah. Kita akan menghancurkan mereka. Sekarang, kita masih akan mengatur kembali setiap orang yang ada didalam pasukan kita masing-masing. Sementara mungkin di antara kita masih akan beristirahat sejenak sampai saatnya kita akan mempertaruhkan nyawa. Pengawas-pengawas kita akan tersebar di depan mulut lembah di sebelah Timur dan di sebelah Barat. Jika ada gerakan lawan di malam hari, maka mereka tentu akan memberikan isyarat.”

Orang-orang terpenting di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu itu pun kemudian kembali kepasukan masing-masing. Tumenggung Wanakerti pun kembali kedalam pasukannya, sekelompok prajurit Pajang yang memang berada di antara orang-orang di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu itu. Dengan jelas ia memberikan pesan bahwa menjelang fajar pasukan mereka akan bergeser menyongsong pengawal Mataram yang akan menyerang mereka dari arah Timur, karena menurut pengamatan para pengawas, pasukan Tanah Perdikan Menoreh tidak disiapkan untuk menyerang, tetapi sekedar untuk mengamati keadaan lawan.

Dalam pada itu, para penghubung yang harus menuju ke mulut lembah di sebelah Barat, berpacu dengan sekencang-kencangnya. Mereka berusaha untuk mempercepat perjalanan. Menurut perhitungan mereka akan sampai menjelang tengah hari, sementara saat temawon Mataram mulai menggerakkan pasukannya dari sebelah Timur. Serangan itu sudah mengalami saat pengunduran waktu, karena semula direncanakan pasukan Mataram akan digerakkan menjelang fajar. Tetapi karena keterangan terakhir dari para pengawas bahwa kekuatan lawan cukup besar, maka serangan itu mengalami perubahan waktu dan mengikut sertakan pasukan pengawal dari Sangkal Putung.

“Mudah-mudahan tidak ada perubahan-perubahan apa-apa lagi,” berkata salah seorang penghubung itu di sepanjang perjalanan menuju ke mulut lembah di sebelah Barat.

“Jika karena sesuatu hal, serangan pasukan Mataram mengalami perubahan, sehingga pasukan Tanah Perdikan Menoreh sampai lebih dahulu di pemusatan pasukan di lembah itu, maka nasib para pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh tentu akan buruk sekali.”

Yang lain mengangguk-angguk. Katanya, “Keterangan yang samar-samar yang didapat Mataram tentang kekuatan lawan, ternyata telah menjadi pengalaman penting bagi masa mendatang. Perhitungan tentang kekuatan lawan itu agak meleset. Jumlah lawan agak terlalu banyak dibandingkan dengan perhitungan. Sementara persiapan pertempuran sudah sampai pada babak terakhir.”

“Mungkin ada kesengajaan para tawanan memberikan keterangan yang kurang jelas, untuk menjerumuskan pasukan Mataram. Tetapi mungkin pula, tawanan-tawanan itu, terutama yang terakhir ditangkap oleh Kiai Gringsing, benar-benar tidak mengetahui keadaan seluruhnya di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, meskipun hal itu tentu sangat mengherankan.”

Kawannya tidak menyahut lagi. Ditatapnya jalur jalan yang samar-samar dihadapan kaki kudanya, sementara derap yang menggema dimalam hari bagaikan memecahkan kesenyapan.

Jika mereka melalui padukuhun-padukuhan kecil disela-sela bulak-bulak panjang dan hutan-hutan ilalang, maka derap kaki kuda mereka itu telah mengejutkan orang-orang yang tinggal di pinggir jalan kecil itu. Mereka mengerutkan kening, sambil bertanya-tanya didalam hati, “Siapakah yang berpacu dimalam hari?”

Tetapi pada umumnya mereka tidak berani keluar rumah karena kemungkinan yang mengerikan dapat terjadi, jika yang berpacu itu adalah penjahat penjahat yang lewat.

Sekali-sekali para penghubung itu harus menyusup hutan-hutan kecil dan lewat di pinggir hutan-hutan lebat yang masih bertebaran dilereng Gunung Merapi. Namun di antara mereka terdapat seorang yang telah mengenal benar jalan-jalan dilambung Gunung Merapi itu.

Secepat derap lari kuda-kuda itu, maka rasa-rasanya secepat itu pula waktu berjalan. Bintang-bintang menjadi semakin condong ke Barat, dan warna-warna merah pun telah membayang di ujung Timur.

“Hampir fajar,” gumam salah seorang dari para penghubung itu.

Kawan-kawannya tidak menjawab. Tetapi didalam angan-angan masing-masing seolah-olah terbayang, jika tidak ada perubahan seperti yang diputuskan oleh Raden Sutawijaya, maka saatnya telah tiba bagi pasukan Mataram untuk menyerang.

“Ternyata masih ada waktu sedikit,” berkata salah seorang dari mereka kepada diri sendiri, “menjelang temawon, para pengawal itu masih sempat menyiapkan makan pagi.”

Sementara itu kuda-kuda mereka berpacu semakin cepat. Mereka berharap bahwa penyerangan itu tidak akan tertunda. Karena jika demikian akan sama artinya dengan mengumpankan pasukan Tanah Perdikan Menoreh kedalam mulut kehancuran.

Demikian fajar mulai membayang, maka pasukan Mataram dan Sangkal Putung telah bersiap untuk bergerak, meskipun mereka akan menunggu sampai saat temawon. Mereka berusaha mengurangi jarak waktu antara serangan mereka dengan gerakan pasukan Tanah Perdikan Menoreh, karena menurut perhitungan terakhir, ternyata bahwa di lembah itu terdapat kekuatan yang sangat besar.

Sementara itu, justru pasukan di lembah itulah yang mulai bergerak. Mereka ingin bertempur tidak diperkemahan mereka, tempat mereka menyimpan pusaka-pusaka terpenting yang telah berhasil mereka rampas dari Mataram.

Namun sementara itu, sepasukan kecil yang kuat telah mereka tinggalkan dibarak itu untuk mengawal pusaka pusaka yang nilainya tidak terhingga itu. Mereka mendapat perintah untuk mempertahankan pusaka itu sampai kemampuan mereka yang terakhir.

“Tidak mustahil, bahwa ada sekelompok pengawal Mataram yang dengan sengaja telah disusupkan kebelakang garis pertempuran untuk mengambil pusaka-pusaka itu. Nah, kewajiban kalianlah untuk menghancurkan mereka sampai orang terakhir.”

Orang-orang yang ditugaskan untuk mengawal pusaka itu mengangguk-angguk. Mereka sadar, bahwa tugas mereka sangat berat. Tetapi jika pasukan Mataram berhasil dipukul mundur sebelum mereka menjamah perkemahan itu, maka mereka seakan-akan tidak berbuat apa-apa sama sekali dalam pertempuran itu. Tetapi jika benar ada sepasukan yang menyusup di belakang garis perang, maka mereka memang harus bertempur sampai kemungkinan yang terakhir.

Orang yang diserahi pimpinan atas sekelompok pengawal terpilih yang harus menjaga pusaka-pusaka itu adalah seorang tua yang sangat disegani. Ia adalah orang yang kecuali merasa dirinya keturunan Majapahit, juga seorang yang mengerti benar tentang jenis-jenis pusaka dan sejenisnya.

“Ki Gede Telengan,” pesan Tumenggung Wanakerti kepada orang tua yang diserahi memimpin pasukan pengawal yang menjaga pusaka itu, “aku percaya kepada Ki Gede. Jika kita berhasil, maka Ki Gede bukan saja akan menjadi juru gedong pada gedung perbendaharaan pusaka, tetapi seperti yang pernah dikatakan oleh kakang Panji, bahwa Ki Gede adalah seorang yang paling pantas untuk menjadi seorang Tumenggung yang menguasai seluruh isi Istana Majapahit yang kelak akan dibangunkan kembali.”

Tetapi orang yang bernama Ki Gede Telengan itu tertawa. Katanya, “Jangan seperti anak-anak Tumenggung Wanakerti. Apa artinya jabatan seorang Tumenggung bagiku. Dihadapanku sekarang pun ada seorang Tumenggung yang bernama Wanakerti. Tetapi apa arti kekuasaannya di Pajang sekarang ini.”

Wajah Tumenggung Wanakerti menjadi merah padam. Sementara itu Ki Gede Telengan berkata terus, “Tetapi sudah barang tentu aku tidak akan merasa berhak atas Majapahit yang akan berdiri kelak. Namun demikian aku adalah orang yang berhak memerintah didalam atau diluar keraton.”

Tumenggung Wanakerti menggeretakkan giginya. Jika saja pasukan Mataram belum berada dihadapan hidungnya, maka ia akan membuat perhitungan dengan orang tua itu. Namun ia sadar, bahwa dengan demikian tindakannya itu tentu tidak akan menguntungkan bagi keseluruhan.

Meskipun demikian, sikap Ki Gede Telengan itu merupakan sikap dari kebanyakan orang yang berada di lembah itu bersama pasukannya. Kiai Kelasa Sawit, Kiai Jagaraga Kiai Samparsada dan tentu juga Empu Pinang Aring dan beberapa orang pemimpin yang lain. Mereka tentu mengharapkan terlalu banyak jika mereka berhasil menjatuhkan Pajang dan menguasai tahta, meskipun hampir setiap orang yakin bahwa orang yang bernama kakang Panji itulah orang yang pertama-tama akan duduk diatas tahta. Tetapi jabatan-jabatan tertinggi lainnyalah yang tentu akan menjadi rebutan yang bahkan mungkin akan dapat menghancurkan mereka sendiri.

Tetapi Tumenggung Wanakerti memutuskan untuk memperhitungkan kemudian. Yang penting, mereka harus menghancurkan Mataram lebih dahulu. Baru kemudian persoalan antara mereka akan dibicarakan.

Sebab untuk menentukan kedudukan masing-masing, orang yang disebut kakang Panji tentu tidak akan dapat mengabaikan para Adipati yang berkuasa diluar rangkah yang setiap saat-saat tertentu harus menyerahkan persembahan bagi yang berkuasa di Pajang.

Betapapun panas hati Tumenggung Wanakerti, namun dibiarkannya saja Ki Gede Telengan dengan sikapnya pula. Ia sadar bahwa ia harus memimpin pasukannya bergerak beberapa ratus langkah dari perkemahan, agar ajang pertempuran itu tidak akan merusakkan perkemahan mereka.

Ketika para pengamat dari lembah itu melaporkan, bahwa tidak ada pasukan khusus dari Pajang yang menyertai pasukan pengawal Mataram, maka Tumenggung Wanakerti pun mengerti, bahwa Mataram yang kehilangan pusaka itu telah bergerak sendiri diluar pengetahuan Pajang, sehingga dengan demikian Tumenggung Wanakerti menjadi semakin berbesar hati, bahwa ia akan dapat menghancurkan Mataram lebih dahulu.

“Tetapi gerakan ke Pajang pun harus segera menyusul setelah kita berhasil membangun kembali kekuatan yang meski akan berkurang didalam pertempuran itu,” katanya didalam hati.

Dalam pada itu, maka Tumenggung Wanakerti telah menempatkan induk pasukannya yang terdiri dari para prajurit dan perwira Pajang dipusat gelar. Di sebelah menyebelah terdapat pasukan Empu Pinang Aring di sayap kanan bersama Kiai Jagaraga dan Kiai Kelasa Sawit dan Kiai Sampar ada di sayap kiri.

Beberapa ratus langkah dari perkemahan, pasukan itu berhenti. Di tempat yang agak terbuka, mereka pun segera menyusun pertahan. Mereka membuka pasukannya menebar, seperti juga pasukan Mataram yang akan datang menyerang.

“Kita tidak tahu pasti, kapan mereka akan menyerang. Tetapi menilik persiapan mereka, maka mereka akan datang hari ini,” berkata Tumenggung Wanakerti kepada para pemimpin pasukan yang masih belum berada dipasukan masing-masing.

“Pengawas didepan kita akan mengirimkan isyarat jika mereka melihat pasukan lawan mulai bergerak,” berkata Empu Pinang Aring.

“Ya. Kita percaya kepada para pengawas,” berkata Tumenggung Wanakerti, “mereka tidak akan lengah. Apalagi ada beberapa kelompok kecil pengawas yang mengamati pasukan lawan dari beberapa sudut.”

“Tetapi aku yakin bahwa kita pun sedang diawasi,” berkata Kiai Samparsada.

Tumenggung Wanakerti tersenyum. Katanya, “Kita tidak merahasiakan pasukan kita karena kita yakin akan kekuatan kita. Kita akan bertahan disini, menghancurkan pasukan Mataram disini dan menguburkan mereka disini pula. Kasihan Raden Sutawijaya yang masih terlalu muda itu. Ia terlalu sombong dan keras kepala. Jika saja ia tidak menolak untuk datang menghadap ayahandanya Sultan Pajang, maka ia tentu tidak akan malu mohon bantuan sepasukan prajurit pilihan yang akan dapat membuat kita menjadi cemas. Tetapi kini, apa artinya pasukan pengawal Mataram meskipun mereka dengan sungguh-sungguh telah melatih diri. Mereka tentu terdiri dari anak-anak muda petani yang hanya biasa memegang cangkul dan bajak. Disamping beberapa orang bekas prajurit.”

Kiai Samparsada mengangguk-angguk. Nampannya ia sependapat dengan Tumenggung Wanakerti. Bahkan dengan nada tinggi ia berkata, “Tetapi Kiai Kelasa Sawit lah yang merasa kecewa bahwa dendamnya harus dibalaskan kepada orang lain.”

“Tidak ada bedanya. Jika aku dapat membunuh Raden Sutawijaya, maka dendamku kepada prajurit Pajang sudah terobati.” jawab Kiai Kelasa Sawit.

Namun dalam pada itu. Empu Pinang Aring berkata, “Tetapi kalian harus memperhatikan kemungkinan lain. Sebagian dari pengawal Mataram adalah prajurit Pajang yang telah meninggalkan tugasnya.”

“Hanya sebagian kecil sekali. Mereka memang diijinkan untuk mengikuti Senopati Ing Ngalaga yang kemudian berkedudukan di Mataram,” potong Tumenggung Wanakerti.

“Tetapi jangan menutup mata atas penglihatan para petugas sandi yang pernah menyaksikan latihan-latihan di Mataram,” jawab Empu Pinang Aring, “selebihnya, Mataram mempunyai hubungan yang baik dengan Tanah Perdikan Menoreh, yang ternyata telah mengerahkan pasukannya yang cukup kuat untuk menutup mulut lembah di sebelah Barat, meskipun jika kita menghendaki, maka pasukan itu akan dapat kita pecah dalam sekejap. Dan selain Tanah Perdikan Menoreh, tidak mustahil bahwa Mataram akan mendapat bantuan dari Kademangan Sangkal Putung.”

“Memang mungkin sekali,” jawab Jagarana, “tetapi apa artinya sebuah Kademangan kecil seperti Sangkal Putung. Berapa orang pengawal yang dapat dipercaya untuk ikut dalam kemeriahan peralatan di lembah ini?”

Empu Pinang Aring tersenyum. Jawabnya, “Belum banyak yang kau ketahui tentang daerah Selatan ini. Sangkal Putung dapat bertahan dari serangan yang kuat pasukan Tohpati yang bergelar Macan Kepatihan dari Jipang.”

“Itu sudah terjadi beberapa saat yang lampau,” sahut Tumenggung Wanakerti, “tetapi tumpuan kekuatan Sangkal Putung tidak pada pengawal Kademangan, karena prajurit Pajang yang dipimpin oleh Widura dan kemudian disusul langsung oleh Untara ada di Kademangan itu, yang sekarang berada di Jati Anom.”

Empu Pinang Aring menarik nafas panjang. Tentu Tumenggung Wanakerti lebih banyak mengetahui tentang tugas para prajurit. Namun demikian, ia masih berkata, “Tetapi jangan terlalu meremehkan lawan.”

“Baiklah,” jawab Tumenggung Wanakerti, “agaknya kita sudah cukup berhati-hati. Dan sekarang, kalian dapat kembali kepasukan kalian masing-masing sambil menunggu isyarat, bahwa pasukan Mataram mulai bergerak.”

Para pemimpin dari kelompok-kelompok pasukan yang kuat di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu itu pun segera kembali kepada pasukan masing-masing. Mereka sudah benar-benar bersiap menghadapi segala kemungkinan. Namun sampai matahari memancar diatas cakrawala pasukan Mataram masih belum bergerak, meskipun mereka telah berada dalam kesiagaan untuk melangsungkan serangan yang dahsyat, menusuk ke jantung lembah diautara Gunung Merapi dan Merbabu itu.

Sementara itu, pasukan Mataram yang sudah siap berada dilapis pertama, menunggu sampai saatnya mereka akan menyerang. Di belakang gelar pasukan Mataram, para pengawal Sangkal Putung telah siap pula turun kemedan. Mereka tidak sekedar dipersiapkan untuk mencegat kemungkinan pasukan lawan yang lolos, tetapi mereka benar-benar akan ikut kedalam pertempuran, sesuai dengan keterangan beberapa orang pengawas, bahwa, pasukan lawan ternyata jumlah lebih banyak dari yang diperhitungkan oleh Mataram, yang agaknya keterangan dari para tawanan dan para pengawas yang tidak dapat mendekati perkemahan itu tidak tepat.

Sementara pasukan Mataram masih menunggu, Raden Sutawijaya masih sempat berbincang dengan beberapa orang pemimpin nasukannya. Pesan-pesan terakhir telah diberikan, dan petunjuk-petunjuk untuk mengatasi kesulitan yang dapat timbulpun telah diberitahukannya.

Namun sementara itu. Ki Juru Martani agaknya telah diganggu oleh perasaan aneh disaat-saat terakhir. Dengan wajah yang tegang, ia duduk diatas sebuah batu sambil memandang ke mulut lembah yang ditumbuhi oleh pepohonan hutan yang cukup lebat.

Kiai Gringsing yang melihatnya, mendekatinya sambil bertanya, “Apakah yang sedang Ki Juru renungkan?”

Ki Juru menarik nafas dalam-dalam. Ketika Kiai Gringsing kemudian duduk disampingnya ia berkata, “Seperti inilah yang telah terjadi hampir di setiap tataran keturunan. Sejak jaman Mataram lama, kemudian kerajaan bergeser ke timur melalui masa pemerintahan Kediri, Singasari, Majapahit dan setelah pemerintahan kembali bergeser sampai ke Demak dan kemudian ke daerah pertanian di Pajang, tidak ada henti-hentinya, peperangan terus membakar Tanah ini.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam.

“Dendam yang terpendam saat surutnya pemerintahan Majapahit, kini telah diungkit lagi,” Ki Juru meneruskan, lalu. “Kiai, bukankah Kiai mempunyai ciri-ciri khusus yang dapat menempatkan Kiai kepada jalur keturunan yang berhak menerima warisan atas Majapahit? Apakah Kiai tidak dapat ikut berbicara dengan landasan sikap Kiai untuk menghindarkan cara-cara yang tidak sepantasnya bagi martabat manusia?”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ki Juru, yang nampak dihadapan kita sama sekali bukannya suatu cita-cita atau mimpi yang terputus oleh kejutan, sehingga kita telah terbangun. Tetapi yang kita hadapi sebenarnya adalah nafsu yang lerselubung. Ada atau tidak ada ciri-ciri keturunan Majapahit, mereka tentu akan bergerak. Jika mereka tidak mempergunakan kesempatan sebagai pewaris Kerajaan Agung Majapahit, maka mereka tentu akan mempergunakan dalih lain. Dan agaknya kekerasan memang sulit untuk dihindarkan.”

Kiai Gringsing diam sejenak. Dipandanginya wajah Ki Juru yang dipenuhi oleh kerut merut umur yang nampak semakin dalam. Dengan suara yang dalam ia berkata, “Kau benar Kiai. Tetapi peperangan bukannya peristiwa yang menyenangkan. Kita akan melihat nanti, beberapa orang prajurit Pajang yang ada dilingkungan mereka, akan bertempur dengan prajurit Pajang yang ada di pihak Mataram. Mereka memiliki ilmu keprajuritan dari satu sumber. Tetapi mereka akan membenturkan ilmu yang mereka miliki itu yang satu dengan yang lain.”

Kiai Gringsing pun kemudian memandang kekejauhan. Seolah-olah ia ingin memandang menembus rimbunnya pepohonan hutan. Dengan nada yang dalam ia berkata, “Ki Juru yang bijaksana. Selama dunia ini masih diselubungi oleh nafsu yang berlawanan, kebaikan dan kejahatan, kejujuran dan kebohongan dan ujud-ujudnya yang lain, yang digolongkan kedalam sifat-sifat baik dan buruk, maka selama itu benturan-benturan masih akan terjadi. Agaknya kali ini kitapun menghadapi dua ujung dari sifat-sifat yang bertentangan itu, sehingga dengan demikian, sulitlah bagi kita untuk menghindari bentrokan kekerasan untuk mempertahankan ujud dari sifat yang memang bertentangan itu.”

Ki Juru termangu-mangu. Ia tidak mengingkari kebenaran kata-kata Kiai Gringsing. Tetapi sebuah pertanyaan telah tumbuh didalam hatinya. Kenapa kedua sifat itu tumbuh didalam persoalan yang menyangkut pimpinan pemerintahan.

Tetapi Ki Juru itu pun menjawab bagi dirinya sendiri, “Sifat-sifat seperti itu akan nampak dimanapun juga. Dalam hubungan pribadi seorang dengan seorang dalam hubungan perdagangan, dalam hubungan kelompok dengan kelompok dan dalam hubungan pemerintahan.”

Kesadaran itulah yang agaknya dapat sedikit memperingan beban yang rasa-rasanya memberati hati orang tua itu. Betapa sakitnya jika ia harus menyaksikan pertempuran antara prajurit Pajang melawan prajurit Pajang sendiri.

Tetapi Ki Juru dan Kiai Gringsing tidak menyampaikan kegelisahan itu kepada Raden Sutawijaya yang muda. Jika ia mengetahui perasaan itu, maka tanggapannya mungkin akan dapat berbeda, sehingga akan dapat timbul persoalan didalam diri anak muda itu.

Sesaat kemudian, Ki Juru menengadahkan wajahnya. Dilihatnya langit menjadi semakin cerah, dan bayangan badanpun nampaknya menjadi semakin pendek.

“Hampir saatnya kita begerak,” berkata Ki Juru kepada Kiai Gringsing.

Kiai Gringsing mengangguk.

“Marilah, kita akan melihat semua persiapan.” ajak Ki Juru.

Kiai Gringsing tidak menjawab. Ia pun kemudian mengikuti Ki Juru berjalan mendekati Raden Sutawijaya yang masih berbincang dengan beberapa orang pemimpin beserta Ki Sumangkar.

“Saatnya telah tiba,” berkata Raden Sutawijaya mungkin orang-orang di lembah ini telah bersiap menyongsong kedatangan kita. Kita akan bergerak dalam dua susun. Gelar pasukan Mataram dan gelar pasukan pengawal dari Sangkal Putung, yang apabila perlu akan tampil pula dalam pertempuran nanti.”

Para pemimpin kelompok pun segera mempersiapkan diri dipasukan masing-masing, sementara pasukan Sangkal Putungpun telah dipersiapkan pula dibawah pimpinan Swandaru beserta isteri dan adiknya. Namun demikian mereka bertiga mengerti, bahwa di gelar pasukan Mataram, terdapat Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar, yang apabila perlu tentu akan hadir di tengah-tengah pasukan Sangkal Putung.

Perlahan-lahan pasukan Mataram pun maju kearah pertahanan orang-orang di lembah, yang mengaku pewaris kerataan Majapahit itu.

Matahari yang cerah telah memanjat langit semakin tinggi. Disela-sela derap kaki pasukan Mataram dan Sangkal Putung yang bergerak maju, terdengar angin lembah bertiup perlahan-lahan. Di antara dedaunan, burung-burung liar yang berkicau menyambut datangnya hari yang baru, sama sekali tidak mengacuhkan, bahwa di lembah itu akan terjadi pertumpahan darah yang mengerikan.

Dengan petunjuk para pengawas, pasukan Mataram menuju kepertahanan lawan yang sudah bergerak maju beberapa ratus langkah dari perkemahannya.

Sementara itu, para pengawas dari pihak yang lain-pun telah melaporkan, bahwa pasukan Mataram sudah mulai bergerak. Seorang pengawas dengan kerut merut dikening melaporkan kepada Tumenggung Wanakerti, “Pasukan Mataram dibagi dalam dua susun.”

Tumenggung Wanakerti mendengar laporan itu dengan saksama. Dengan tegang ia bertanya, “Apakah kau tahu maksudnya, kenapa pasukan Mataram itu dibagi menjadi dua susun?”

Pengawas itu menggeleng. Tetapi ia menjawab, “Ki Tumenggung. Ada beberapa perbedaan yang nampak secara lahiriah pada kedua pasukan itu. Aku tidak tahu pasti, apakah yang menyebabkan kedua pasukan nampak berbeda.”

Ki Tumenggung Wanakerti mengerutkan keningnya. Laporan itu menarik perhatiannya. Namun kemudian ia bertanya, “Apakah jumlah kedua pasukan yang bersusun itu mencemaskan ?”

Pengawas itu menggeleng. Jawabnya, “Tidak. Pasukan itu tidak melampui jumlah kita semuanya. Bahkan menurut pengamatanku masih lebih kecil. Nampaknya mereka bukan prajurit.”

Tumenggung Wanakerti tersenyum. Katanya, “Raden Sutawijaya telah mengerahkan anak-anak petani yang tidak tahu menahu tentang olah kanuragan, dan apalagi gelar perang. Kasihan anak-anak itu. Meskipun mereka sekedar menjadi pasukan cadangan, namun setelah kami menghancurkan induk pasukannya, pasukan cadangan itu pun akan hancur pula.”

Pengawas yang melaporkan itu mengangguk angguk. Namun kemudian ia bertanya, “Mungkin kita akan dapat menghancurkan mereka. Tetapi bagaimana dengan prajurit Pajang?”

Tumenggung Wanakerti tertawa. Katanya, “Pimpinan prajurit Pajang ada didalam tangan kami.”

“Panglima yang disegani yang berada di Jati Anom mempunyai sikap dan pendirian tersendiri. Ia tidak mudah diombang-ambingkan keadaan karena justru ia adalah seorang prajurit yang sebenarnya.”

“Ia akan menjalankan perintah Panglimanya. Usaha kita adalah mempengaruhi keadaan di istana Pajang itu sendiri.”

Pengawas itu mengangguk-angguk. Namun ia nampaknya masih kurang yakin. Tetapi ia tidak berhak untuk bertanya terlalu banyak. Tugasnya melaporkan penglihatannya dan pertimbangan-pertimbangannya untuk memperhitungkan kekuatan dan keadaan lawan.

Laporan itu pun telah menggerakkan pasukan yang berada di lembah untuk bersiaga. Gerakan pasukan Mataram berarti pertanda bahwa pertumpahan darah akan segera terjadi di lembah itu.

Kiai Kalasa Sawit, Kiai Jagarana, Kiai Samparsada dan Empu Pinang Aring telah berada di antara pasukan masing-masing. Bahkan mereka telah mulai bergerak untuk menyongsong lawan. Ujung sayap pasukan yang berada di lembah itu telah maju beberapa langkah didepan induk pasukannya sehingga gelar yang menebar itu telah berbentuk Gelar Wulan Punanggal.

Dalam pada itu pasukan Mataram pun telah menjadi semakin dekat. Raden Sutawijaya berada langsung di ujung gelar. Disamping Senopati pengapitnya di sayap pasukannya, maka Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar pun berada di sebelah menyebelah, sementara Ki Juru Martani selalu berada disampingnya. Betapapun juga ada perasaan khawatir untuk melepas Raden Sutawijaya yang muda itu seorang diri di paruh gelarnya. Namun semantara itu, ia pun masih juga terganggu oleh perasaannya, bahwa akan terjadi pertempuran yang sengit antara prajurit-prajurit Pajang yang berada dikedua belah pihak.

“Mungkin di antara mereka terdapat dua orang kawan karib yang pernah saling menolong dimedan perang yang terdahulu. Tetapi kini mereka mungkin sekali dihadapkan sebagai lawan yang harus saling membunuh. Bahkan mungkin ada di antara mereka saudara sekandung yang berbeda pendirian, masing-masing berada dipihak yang kini akan berhadapan dengan senjata di tangan,” desis Ki Juru Martani didalam hatinya.

Sementara itu, selagi kedua pasukan yang bermusuhan didalam lembah itu saling mendekati, maka utusan yang melingkari Gunung Merapi pun masih berpacu sekencang-kencangnya. Sejak mereka berhenti sejenak, untuk memberikan kesempatan kuda mereka beristirahat dan makan rumput hijau sekedarnya di pinggir tanggul yang hijau. Namun kemudian mereka pun segera berpacu lagi memasuki lembah di ujung Barat.

Justru pada saat yang diperhitungkan pasukan Mataram mulai bergerak, di wayah temawon, para utusan yang bertugas menjumpai Ki Gede Menoreh itu sudah memasuki mulut lembah di sebelah Barat.

“Kita akan mencari pertahanannya,” desis yang satu.

“Kita harus datang dengan berhati-hati di daerah terbuka, agar tidak terjadi salah paham.” sahut yang lain.

Mereka pun kemudian menyusuri jalan terbuka memasuki lembah di ujung Barat.

“Kita datang lebih cepat dari perhitungan kita,” berkata salah seorang dari mereka.

“Ya.Masih belum lewat wayah temawon. Semalam suntuk kita berkuda. Kasihan. Kuda-kuda ini tentu merasa lelah sekali.”

“Tetapi kita sudah dekat. Menurut perhitungan dan pesan dari Raden Sutawijaya, sekarang pasukan Mataram mulai bergerak.”

Kawannya menengadahkan wajahnya. Mereka melihat matahari disela-sela lambung Gunung, sudah menjadi semakin tinggi. Sementara kuda mereka masih berjalan terus menyusuri jalan setapak di lembah itu.

Kedatangan utusan itu telah mengejutkan Ki Gede Menoreh. Ketika seorang pengawas melaporkan kepadanya bahwa ada petugas yang menurut keterangannya datang dari garis pertempuran di sebelah Timur, maka dengan tergesa-gesa ia telah memanggilnya.

Dengan tergesa-gesa pula Ki Gede bertanya ketika para utusan itu sudah menghadapnya. “Apakah ada pesan khusus dari Raden Sutawijaya?”

Salah seorang dari utusan itu pun segera menyampaikan pesan Raden Sutawijaya. Ternyata menurut perhitungan berdasarkan penglihatan para pengawas, pasukan yang berada di lembah itu lebih besar dari perhitungan sebelumnya yang dasarnya dari pengamatan dan dilengkapi keterangan para tawanan.”

Laporan itu telah menggetarkan hati Ki Gede Menoreh. Ki Waskita dan Agung Sedayu yang mendengar pula laporan itu mengangguk-angguk betapapun hati mereka bergejolak.

“Bagaimana pesan seterusnya?” bertanya Ki Gede seolah-olah tidak sabur lagi menunggu.

“Ki Gede,” berkata utusan itu, “karena itulah maka Raden Sutawijaya telah mengadakan beberapa perubahan. Bukan saja mengenai waktu, tetapi juga mengenai gelar.”

Ki Gede Menoreh mengerutkan keningnya. Dengan saksama ia mendengarkan keterangan dan pesan yang disampaikan oleh utusan itu dengan jelas.

Ketika utusan itu selesai, maka ki Gede pun sadar, bahwa tugasnya memang telah beralih. Ia tidak hanya sekedar penunggu lembah jika ada arus pelarian ke Barat dari orang-orang yang berada di lembah itu, tetapi justru sebaliknya, keadaan keseimbangan kekuatan ternyata tidak seperti yang diperhitungkan semula.

“Baiklah,” berkata Ki Gede, “aku akan menyesuaikan diri. Aku akan membawa pasukanku memasuki lembah. Tetapi karena jaraknya yang tidak terlalu pendek, maka tentu setelah tengah hari, kami baru akan sampai keperkemahan itu dari arah Barat. Mudah-mudahan kehadiran pasukan Tanah Perdikan Menoreh dapat menarik perhatian mereka.”

“Mudah-mudahan,” berkata utusan itu, “jika tidak, maka Mataram dan Sangkal Putung akan mengalami kesulitan.”

Ki Gede Menoreh pun mengangguk-angguk. Kepada para pemimpin pasukannya ia kemudian memberikan beberapa pesan dan petunjuk.

“Agaknya kita harus merubah sikap,” berkata Ki Gede kepada para pemimpin kelompoknya, “siapkan pasukan dalam gelar. Kita akan bergerak maju. Tetapi dalam keadaan tergesa-gesa ini semua perlengkapan jangan ada yang tertinggal. Kita akan menyerang perkemahan dari arah Barat.”

Para pemimpin kelompok mendengarkan semua petunjuk Ki Gede dengan saksama.

“Bimbing anak-anak muda yang belum berpengalaman. Jangan lepaskan mereka dalam gerakan yang berbahaya.” pesan Ki Gede kepada para pemimpin pengawal agar mereka lebih memperhatikan ikatan gerak dalam keseluruhan. Karena ada di antara pasukan pengawal itu anak-anak muda yang sama sekali belum berpengalaman. Namun ada di antara para pengawal orang-orang yang telah kenyang makan pahit asamnya pertempuran dalam segala bentuk.

Meskipun disaat terakhir nampak kemunduran di Tanah Pertikan Menoreh, namun setelah mereka mulai menyentuh medan, maka gairah yang hampir mencair itu telah mengeras kembali disetiap jantung. Mereka benar-benar telah terbangun dari mimpi yang malas.

Namun dalam pada itu, didalam perjalanan pendek yang menegangkan itu, setiap pemimpin kelompok telah berusaha untuk meyakinkan anak-anak muda yang berada didalam kelompoknya, bahwa yang mereka hadapi adalah kekuatan yang tidak dapat diabaikan.

“Kalian bukannya sedang bermain-main dengan seorang pencuri ayam,” berkata seorang pemimpin kelompok kepada para pengawal, “tetapi yang kalian hadapi adalah orang-orang yang memiliki kemampuan yang tinggi. Di antara mereka terdapat prajurit-pranurit Pajang yang telah menyeberang atau mereka yang memang bermuka dua.”

Anak-anak muda yang berada didalam lingkungan pengawal Tanah Perdikan Menoreh itu mengangguk-angguk. Tetapi di antara mereka merasa bahwa pengalaman ini akan memberikan warna baru di dalam tugasnya sebagai seorang pengawal.

Tanpa peristiwa-peristiwa semacam ini, maka seumur hidupku aku tidak akan pernah berpengalaman didalam perang yang sebenarnya,” desis seorang pengawal muda kepada kawannya.

“Ya. Tetapi aku berharap bahwa ini bukan merupakan pengalamanku yang terakhir. Karena itu, aku akan berhati-hati dan berlindung di dalam bayang-bayang yang telah lebih dahulu berpengalaman,” jawab kawannya yang berjalan disisinya sambil membelai hulu pedangnya.

Sementara itu. Dibagian Timur dari lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, pasukan Mataram telah mendekati pertahanan lawan. Raden Sutawijaya sengaja tidak tergesa-gesa, karena ia memperhitungkan gerakan pasukan Tanah Perdikan Menoreh. Meskipun mungkin pasukan Tanah Perdikan Menoreh terlambat, karena perjalanan utusannya, namun mereka akan mempunyai kesempatan untuk berbuat sesuatu pada hari itu. Pasukan Mataram harus memelihara kemampuan tempurnya dihari pertama. Jika dihari pertama pertempuran itu tertunda oleh gelapnya malam, maka dihari berikutnya pasukan Tanah Perdikan Menoreh tentu sudah dapat ikut menentukan.

Ketika seorang pengawas melaporkan bahwa pasukan lawan telah berada beberapa puluh langkah dihadapannya, maka Raden Sutawijaya telah mengisyaratkan, agar pasukannya berhenti sejenak. Ia masih memberikan pesan-pesan terakhir lewat para penghubung, kemudian juga kepada Swandaru yang memimpin pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh dilapisan berikutnya.

Mungkin pertempuran ini tidak hanya berlangsung satu hari. Mungkin setelah gelap ada isyarat untuk menunda pertempuran, tetapi mungkin sebaliknya. Orang-orang di lembah ini akan meneruskan pertempuran dimalam hari, karena mereka mempunyai kelebihan bermain senjata didalam gelap,” pesan Sutawijaya, “karena itu. kitalah yang akan mempersiapkan obor dan sebagai persiapan jasmaniah, kita jangan membiarkan pasukan kita kehabisan tenaga didalam benturan yang pertaman.”

Pesan itu pun kemudian telah menjalar di seluruh pasukannya. Para pengawal yang semula adalah prajurit-prajurit Pajang, segera dapat menyesuaikan diri dengan keadaan yang mereka hadapi. Tetapi para pengawal yang belum berpengalaman masih harus mempertimbangkan pesan itu sebaik-baiknya. Apakah tidak lebih baik bertempur mati-matian dibenturan pertama dan mengalahkan lawannya daripada memelihara kekuatannya dengan membiarkan lawannya bertahan terlalu lama.

Ketika seorang pengawal muda menyampaikan hal itu kepada seorang pengawal yang lebih tua dan berpengalaman, maka pengawal tua itu menjawab, “Memang lebih baik kita menghancurkan lawan secepat cepatnya. Tetapi ingat, bahwa didalam pertempuran, bukanlah kita yang menentukan. Yang terjadi mungkin berbeda dengan keinginan kita, karena lawan pun berusaha membinasakan kita.”

Pengawal muda itu mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian mengangguk angguk.

Sementara itu matahari memanjat semakin tinggi. Lewat wayah temawon waktu rasa-rasanya berjalan cepat, karena perhatian mereka telah dirampas oleh ketegangan yang mencengkam.

Namun dalam pada itu. Raden Sutawijaya terkejut ketika tiba-tiba saja dari sela-sela pepohonan hutan dihadapannya telah muncul beberapa orang bersenjata dan berhenti agak jauh dari padanya. Meskipun Raden Sutawijaya sudah berada di antara gerumbul-gerumbul perdu di ujung hutan namun ia masih dapat melihat lawannya dengan jelas.

“Ki Tumenggung Wanakerti,” desisnya.

Yang muncul dihadapan pasukan Mataram itu memang Ki Tumenggung Wanakerti. Sambil tersenyum ia berkata, “Benar Raden. Ternyata Raden benar-benar seorang anak muda yang berani. Yang pantas mendapat gelar Senopati IngNgalaga.”

“Jangan mengigau. Sebut, apakah maksudmu menemui aku di antara garis pasukan kita masing-masing. Aku sudah siap bertempur dan menghancurkan pasukanmu,” geram Raden Sutawijaya.

Tetapi Tumenggung Wanakerti tertawa. Katanya, “Bagus. Kau memang pantas memimpin gelar yang besar seperti sekarang ini. Tetapi aku ingin memperingatkan Raden, bahwa pasukanmu masih terlalu kecil untuk menjalankan tugas yang besar ini.”

“Jadi apa nasehatmu?” bertanya Raden Sutawijaya.

Tumenggung Wanakerti mengerutkan keningnya. Ia tidak menduga bahwa Raden Sutawijaya akan bertanya seperti itu. Namun kemudian ia menjawab, “Nasehatku, kau harus membunuh dirimu daripada kau jatuh ketanganku.”

Raden Sutawijaya lah yang tertawa. Katanya, “Aku kira kau ingin menasehatkan agar aku kembali saja sebelum pertempuran ini terjadi.”

“Itu tidak mungkin. Kau tentu hanya akan berusaha menyelamatkan dirimu. Karena itu, mulailah menyesali kesombonganmu.”

“Pergilah. Jangan banyak bicara lagi. Pasukanku sudah siap untuk bertempur.”

Ki Tumenggung Wanakerti menebarkan pandangan matanya. Ia melihat sebagian dari gelar Raden Sutawijaya diinduk pasukan. Katanya kemudian, “Semula aku tidak percaya kepada laporan pengawasku, bahwa dengan pasukan yang sangat kecil kau berani memasuki lembah ini. Tetapi ternyata kau benar-benar dungu. Dan sekarang aku melihat induk pasukanmu, sebagai paruh gelarmu, benar-benar pasukan yang tidak berdaya sama sekali. Bukanlah cara bunuh diri yang demikian agak kurang baik bagimu. Karena itu pakailah cara lain. Bunuh diri dihadapanku.”

Penghinaan itu benar-benar telah membakar jantung Raden Sutawijaya yang muda itu, sehingga hampir saja ia kehilangan nalarnya dan langsung menyerang Tumenggung Wanakerti.

Untunglah bahwa Ki Juru Martani ada di antara pasukannya. Dengan tergesa-gesa Ki Juru mendekatinya dan menggamitnya sambil berdesis, “Jangan terpengaruh oleh perasaannmu saja ngger?”

Raden Sutawijaya yang marah itu berpaling. Ketika ia melihat Ki Juru berdiri di belakangnya maka ia pun menarik nafas dalam-dalam untuk meredakan gejolak didalam dirinya.

Tumenggung Wanakerti yang berdiri tidak terlalu jauh daripadanya, melihat dengan dahi yang berkerut merut. Bahkan kemudian ia berteriak, “He. Ki Juru Martani. Apa pula yang kau bisikkan ditelinga momonganmu? Kau sudah terlalu banyak membubuhkan racun di telinganya. Sekarang, apa lagi yang kau katakan. Kau jugalah yang membawa anak muda itu memasuki lembah neraka ini, dan tidak ada jalan lagi baginya untuk keluar.”

Ki Juru memandang Tumenggung Wanakerti itu. Sejenak nampak ketegangan diwajahnya Seperti yang diduganya, bahwa akan datang saatnya prajurit Pajang akan saling bertempur di antara mereka, karena mereka terdapat dikedua belah pihak.

Namun kata-kata Ki Tumenggung Wanakerti membuat jantungnya semakin keras berdetak, sehingga kemudian ia pun menjawab, “Ki Tumenggung. Mungkin dugaanmu benar, bahwa aku telah menjerumuskan Raden Sutawijaya kelembah neraka ini. Tetapi meskipun demikian, itu adalah kewajibannya. Kewajiban seorang Senopati besar. Karena itu, jangan marah bahwa ia telah mengganggu rencanamu.”

“Sayang,” jawab Ki Tumenggung, “ia masih terlalu muda. Ia harus mati meninggalkan perempuan-perempuan yang pernah dipeluknya. Perempuan yang dicurinya meskipun ia tahu, bahwa perempuan itu adalah bakal isteri ayahanda angkatnya. Kemudian gadis dari Pegunungan Sewu itu. Masih ada lagi dari daerah Tebu Wulung.”

“Cukup,” Raden Sutawijaya berteriak. Tetapi sekali lagi Ki Juru menggamitnya sambil berbisik, “Jangan lekas murah. Pergunakanlah nalarmu baik-baik. Semakin lama ia berbiara semakin baik bagimu.”

“Aku kira utusanmu telah sampai kedaerah pertahanan pasukan Tanah Perdikan Menoreh. Mereka tentu sudah mulai bergerak. Selama itu, biar sajalah orang itu berbicara panjang lebar. Ia sengaja memancing kemarahanmu. Karena kau masih sangat muda dipandangan matanya.”

Raden Sutawijaya menarik nafas panjang sekali.

Dengan suara gemetar ia berdesis, “Aku tidak tahan, paman. Ia telah menghinaku.”

“Itu sudah diperhitungkan. Dan kau jangan terpancing oleh usahanya yang licik itu.”

Raden Sutawijaya mencoba untuk mengerti keterangan Ki Juru. Ia mulai membayangkan pasukan Tanah Perdikan Menoreh yang bergerak masuk lembah. Namun katanya kemudian, “Tetapi jika mereka lebih dahulu terlibat dalam pertempuran, akibatnya akan menjadi buruk sekali bagi mereka.”

Ki Juru Martani mengangguk-angguk. Jawabnya, “Kau masih dapat membuat perhitungan dengan jernih. Karena itu jangan terlibat dalam pusaran arus perasaanmu. Jika kau menyerang atas dasar pertimbanganmu bahwa pasukan Tanah Perdikan Menoreh telah mendekati kubur pertahanan lawan, maka lakukanlah. Telai jika kau menyerang karena dibakar oleh kemarahanmu saja, tundalah barang sesaat, sehingga api yang menyala dihatimu itu padam, dan kau akan dapat membuat perhitungan-perhitungan yang mapan dalam pertempuran yang besar nanti.”

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk, sementara itu Ki Tumenggung Wanakerti berteriak, “He Raden. Kenapa kau termenung saja? Kau masih sempat mendengarkan kicau orang itu itu lagi?”

Raden Sutawijaya menarik nafas. Desisnya kepada Ki Juru, “Aku selalu mengingat pesan paman. Aku akan mulai menyerang, karena perhitunganku mengharuskannya, agar orang orang dari Tanah Perdikan Menoreh tidak lebih dahulu terlibat dalam perang. Bukan sekedar karena aku terbakar oleh kata-katanya.”

“Lakukankah. Berikanlah aba-aba itu.”

Raden Sutawijaya memandang Ki Tumenggung Wanakerti dan beberapa orang pengawalnya. Ia sadar, bahwa pasukan di lembah itu tidak jauh lagi berada dihadapan hidung mereka. Karena itu maka Raden Sutawijaya pun berkata, “Ki Tumenggung. Waktu kita sudah habis. Kita akan bertempur sejak tengah hari aku tidak tahu, apakah kau sengaja memperpanjang waktu agar kita akan bertempur sampai malam. Tetapi seandainya demikian, aku pun telah mempersiapkan diri pula bertempur di malam hari.”

Ki Tumenggung Wanakerti menjadi berdebar-debar. Katanya kepada Raden Sutawijaya, “He, apakah kau sudah menyesali nasibmu dan justru pasrah terhadap keadaan? Tetapi membunuh diri bersama orang-orang yang tidak berdosa, adalah tidak bijaksana.”

Rasa-rasanya darah Raden Sutawijaya telah mendidih lagi. Tetapi ia selalu ingat pesan Ki Juru. Ia tidak berdiri sendiri. Tetapi ia membawa sepasukan pengawal, sehingga tidak sebaiknya ia memimpin pasukannya dalam keadaan marah dan kehilangan akal.

Raden Sutawijaya tidak ingin menjawab lagi kata-kata Tumenggung Wanakerti. Ia tidak ingin membiarkan orang-orang dari Tanah Perdikan Menoreh terlibat dalam kesulitan. Katanya perlahan-lahan kepada Ki Juru, “Aku menjadi curiga, paman. Apakah di belakang mereka, pertempuran itu benar sudah berkobar.”

“Majulah ngger. Tetapi berhati-hatilah.”

Raden Sutawijaya pun kemudian memberikan isyarat kepada pengawalnya yang bertugas untuk melontarkan aba-aba lewat sangkakala. Karena itu, sejenak kemudian suara sangkakala pun telah bergema memenuhi daerah yang dipenuhi dengan perdu dihadapan hutan yang menjadi semakin lebat.

Suara Sangkakala itu bagaikan telah menggetarkan setiap dada. Bukan saja para pengawal dari Mataram, tetapi juga orang-orang yang menunggunya di lembah itu.

Aba-aba itu telah menggerakkan setiap orang untuk segera memasuki arena pertempuran yang dahsyat di lembah antara Gunung Merapi dan Merbabu.

Ki Tumenggung Wanakerti telah menyadari apa yang akan terjadi. Karena itu, maka ia pun segera kembali kepasukannya. Seperti Raden Sutawijaya, maka ia pun segera memerintahkan seorang pengawalnya untuk memberikan aba-aba. Berbeda dengan pengawal di Mataram yang mempergunakan sangkakakala, maka pengawal Ki Tumenggung Wanakerti telah meneriakkan aba-aba itu yang disahut berturut-turut dari induk pasukan sampai keujung sayap.

Kedua pasukan telah bergerak rnaju. Mereka tidak lagi berjalan setapak demi setapak sambil memperhatikan keadaan disekilarnya. Tetapi mereka langsung maju dengan senjata teracu, karena masing-masing telah meyakini bahwa lawan mereka pun sedang berjalan tergesa-gesa menyongsongnya.

Baru sejenak kemudian, mereka mulai melihat lawan-lawan mereka bermunculan dibalik pepohonan. Pasukan Mataram atas isyarat Raden Sutawijaya sengaja memperlambat langkah mereka, agar mereka tidak memasuki hutan yang terlalu lebat, sehingga pertempuran akan berlangsung di tempat yang tidak terlalu padat dengan pepohonan.

Seperti yang diperhitungkan, maka pasukan Ki Tumenggung Wanakerti lah yang kemudian maju menyerang di daerah hutan perdu di ujung hutan yang lebih lebat dengan pepohonan.

Sejenak kemudian. Raden Sutawijaya pun telah melihat sayap pasukannya mulai terlibat kedalam pertempuran. Pertempuran yang agaknya akan berlangsung cukup lama. Apalagi ketika ia kemudian menyadari bahwa jumlah lawan memang terlalu banyak bagi pasukan pengawal Mataram.

Dalam pada itu, Ki Juru Martani berbisik, “Mudah-mudahan Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar dapat menyesuaikan diri dengan kemampuan pasukan pengawal Mataram. Mereka adalah orang-orang yang luar biasa, sehingga mungkin mereka agak terpisah jauh didalam ungkapan kemampuan mereka di medan perang.

“Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar sudah mengetahui tingkat kemampuan para pengawal paman. Bahkan mereka dapat bertempur bersama pasukan pengawal Sangkal Putung, yang barangkali masih juga tidak lebih baik dari pasukan pengawal Mataram.”

Ki Juru mengangguk-angguk. Kemudian dengan isyarat ia memberitahukan kepada Raden Sutawijaya, bahwa pasukannya akan segera terlibat pula dalam pertempuran seperti pasukan di ujung ujung sayap.

Raden Sutawijaya pun kemudian mulai merundukkan senjatanya. Sebuah tombak pendek yang ditandai dengan seutas tali berwarna kuning keemasan. Dengan tegang ia mencoba mencari, dimanakah Tumenggung Wanakerti memimpin pasukannya.

“Gila,” desis Raden Sutawijaya, “ia tidak berada diparuh pasukannya. Ia tentu akan mengguncang keberanian para pengawal dengan tingkah lakunya yang aneh-aneh di antara garis benturan kekuatan.”

Ki Juru menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Jangan langsung berada di ujung pasukan. Kau harus berusaha membayangi tingkah laku Ki Tumenggung Wanakerti yang licik itu. Biarlah aku berada diparuh pasukanmu.”

Raden Sutawijaya termangu-mangu. Namun ia pun kemudian menyerahkan paruh pasukannya kepada Ki Juru beserta para pengawal terpilihnya. Raden Sutawijaya sendiri segera menenggelamkan diri kedalam pasukannya. Ia sadar, bahwa Ki Tumenggung Wanakerti memiliki banyak kelebihan dari para prajurit kebanyakan, sehingga ia akan dapat membuat pangeram-eram sehingga mengguncang perasaan para pengawal.

“Kelicikan ini harus dicegah,” berkata Raden Sutawijaya kepada dirinya sendiri.

Di sayap pasukannya, pertempuran pun segera berkobar dengan dahsyatnya. Para pemimpin kelompok pun tidak segera dapat saling bertemu dan bertempur di antara mereka. Tetapi mereka masih sibuk memberikan perintah dan aba-aba bagi pasukan masing-masing.

Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar yang berada disayap pasukan Mataram pun mulai mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan yang mungkin tidak terduga-duga. Disamping para pemimpin dari Mataram. Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar yang sadar, bahwa di antara lawan-lawan mereka terdapat orang-orang yang memiliki kelebihan, maka mereka tidak akan dapat membiarkan orang-orang setingkat Panembahan Agung dan Panembahan Alit itu menyapu bersih pasukan pengawal yang mendekati mereka.

Ketika pertempuran itu menjadi semakin dahsyat, maka ujung-ujung senjata pun mulai menjadi merah. Beberapa gores luka telah menyentuh orang-orang yang sedang bertempur itu di kedua belah pihak.

Sementara itu, di bagian Barat dari lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu itu, pasukan Tanah Perdikan Menoreh telah bergerak semakin maju. Sebagai seorang yang berpengalaman, maka Ki Gede tidak dapat berbuat tergesa-gesa. Setiap kali ia mengirimkan beberapa orang mendahului pasukannya untuk mempertahankan medan. Jika para pengawas itu melihat sesuatu, maka pasukannya harus segera menyesuaikan diri dengan petunjuk-petunjuk itu.

Tetapi gerakan Ki Gede Menoreh memang tidak dapat terlalu cepat, karena mereka sudah menyusup di antara pepohonan hutan. Mereka tidak lagi berada di tempat terbuka, atau hutan perdu yang meskipun terdapat pohon-pohon yang rimbun berserakan, namun secara keseluruhan, pasukannya akan lebih mudah diawasi. Namun pasukannya yang menyusup di antara pepohonan hutan, memerlukan penghubung yang trampil dan cepat, sehingga pimpinan pasukan akan mendapat gambaran yang luas dari seluruh gerakan pasukannya.

Setelah menyusup beberapa lama, maka pasukan Tanah Perdikan Menoreh itu pun mulai mendekati barak yang dijaga oleh sepasukan pilihan meskipun jumlahnya tidak terlalu besar. Sementara itu, pasukannya yang terbesar itu pun telah memasuki daerah pengawasan orang-orang yang berada di lembah itu.

Seorang pengawas dengan tegang melihat gerakan yang semula kurang jelas baginya. Ia melihat beberapa orang menyusup di antara pepohonan hutan. Namun kemudian, ia pun sadar, bahwa yang bergerak itu bukannya hanya beberapa orang, tetapi sepasukan pengawal.

“Gila,” geram pengawas itu, “apakah penglihatanku benar?”

Sejenak ia termangu-mangu. Menurut perhitungan para pemimpinnya, pasukan Tanah Perdikan Menoreh yang tidak begitu besar itu, tidak akan menyerang, tetapi sekedar menjaga mulut lembah.

Tetapi ternyata bahwa mereka kini melihat pasukan itu bergerak maju. Semakin lama menjadi semakin dekat dengan barak yang sedang ditinggalkan oleh pasukan yang ada di lembah itu, meskipun masih ada sebagian pengawal yang berjaga-jaga.

“Kita akan melaporkan kepada Ki Gede Telengan yang bertugas menjaga kedua pusaka itu di barak yang khusus,” berkata salah seorang pengawas kepada kawannya.

“Ya. Dan Ki Gede Telengan adalah orang yang tidak dapat dikalahkan. Mungkin pasukannya tidak terlalu besar. Tetapi Ki Gede Telengan sendiri akan mampu membunuh setiap orang dipasukan lawannya, karena Ki Gede Telengan sendiri tidak dapat disentuh oleh maut.”

Kawannya mengerutkan keningnya. Tiba-tiba saja ia bertanya, “Siapa yang mengatakannya?”

“Aku adalah salah seorang pengawalnya. Aku mengetahui apa yang pernah dilakukan di medan yang beraneka ragam. Dan Ki Gede Telengan benar-benar tidak dapat disentuh oleh maut karena ilmunya yang tidak ada duanya. Selama kakinya atau bagian-bagian tubuhnya masih tersentuh tanah.”

“Pancasona,” desis kawannya.

Yang lain mengangguk sambil berdesis, “Begitulah.”

Tetapi kawannya tiba tiba membentak, “Kita akan melaporkan kepada Ki Gede Telengan. Tidak sekedar berbicara tentang Ki Gede Telengan itu.”

Para pengawas itu pun kemudian dengan tergesa-gesa meninggalkan tempatnya menuju kebarak tempat penyimpanan pusaka. Tidak ada pilihan lain daripada melaporkan kepada Ki Gede Telengan bahwa pasukan yang diduga dari Tanah Perdikan Menoreh telah mendekati barak.

Tetapi para pengawas itu menjadi berdebar-debar. Ternyata mereka tidak melihat seorang pun yang berjaga-jaga didepan barak khusus tempat penyimpanan pusaka itu. Namun justru karena itu, maka mereka pun kemudian berlari memasuki pintu barak yang sudah terbuka.

“Ki Gede,” pengawas itu tidak sabar.

Tetapi tidak ada jawaban apapun. Bahkan tidak seorang pun yang mereka jumpai didalam barak itu.

“Ki Gede,” pengawas-pengawas itu berlari-lari mengelilingi barak itu. Namun mereka tidak menjumpai seorang pun.

“Kita lihat kedalam bilik tempat penyimpanan pusaka itu. Mungkin mereka berkumpul didalam bilik itu.” desis yang seorang.

“Mana mungkin. Bilik itu terlalu sempit untuk bersembunyi sekelompok pengawal pusaka itu.”

Kedua pengawas itu menjadi ragu-ragu. Namun perlahan-lahan mereka mencoba mendorong pintu bilik tempat penyimpanan pusaka itu.

Ketika pintu itu terbuka, maka kedua pengawas itu telah terkejut. Yang mereka lihat adalah sebuah ruangan yang kosong. Pusaka-pusaka yang mereka simpan didalam barak itu untuk waktu yang cukup lama, kini telah lenyap, seperti lenyapnya asap ditiup angin.

“Dimana pusaka-pusaka itu,” desis yang seorang. “Hilang. Atau Ki Gede telah membawanya menyusul induk pasukan ?”

Para pengawas itu termangu-mangu. Namun ketika mereka memasuki bilik itu, darah mereka serasa terhenti mengalir. Disudut bilik, disisi amben mereka melihat dua sosok mayat yang tergolek saling menindih.

“Mayat,” desis seorang dari pengawas itu.

Yang lain tidak menjawab. Dengan sekali loncat ia meraih mayat itu dan membalikkan wajahnya yang tersembunyi.

“Sura,” desisnya, “ia adalah salah seorang pengawal pusaka ini.”

Yang lain menjadi tegang. Ketika yang seorang itu dibalikkannya pula, maka keduanya menjadi yakin, bahwa kedua orang pengawal pusaka itu telah terbunuh.

“Siapa yang telah membunuhnya? “ geram yang seorang.

Yang seorang memandang kawannya dengan sorot mata yang membara. Katanya, “Kau tentu mengetahuinya. Lihat, kedua orang pengawal ini bukan termasuk orang-orang Ki Gede Telengan.”

“Apa maksudmu?”

Pengawal yang seorang menjadi tegang. Namun demikian ia pun dengan tergesa-gesa keluar dari bilik itu diikuti oleh yang seorang lagi langsung pergi kebelakang. Dengan sekali hentak, sebuah pintu dari sebuah bilik dibagian belakang barak itu pun telah terbuka.

“Lihat,” ia hampir berteriak, “dua sosok mayat lagi.”

Ketika mereka memperhatikan kedua mayat itu, maka ternyata keduanya pun telah terbunuh dengan luka di dada.

Sekali lagi salah seorang pengawas itu menggeram, “Keduanya juga bukan anak buah Ki Gede Telengan.”

“Jadi apakah yang terjadi menurut dugaaumu?”

“Ki Gede Telengan telah melarikan pusaka itu dan membunuh para pengawal yang bukan anak buahnya. Mungkin para pengawal itu mencoba menghalanginya.” suaranya gemetar menahan marah, “ he. kau adalah anak buah Ki Gede Telengan. Tetapi aku bukan. Apa yang akan kaulakukan?”

Kawannya termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku memang anak buahnya. Tetapi aku sudah ditinggalkannya jika dugaanmu benar.”

“Kau akan membunuh aku juga, atau aku harus membunuhmu?”

“Tidak ada gunanya. Aku telah terpisah daripadanya. Sebaiknya kita mencoba meyakinkan dugaan itu, kemudian melaporkan kepada Ki Tumenggung Wanakerti.”

Kedua orang itu dengan tergesa-gesa menyusuri dinding bagian belakang dari halaman sempit di belakang barak itu. Ternyata mereka menemukan dua sosok mayat lagi, dan beberapa langkah dari kedua sosok mayat itu, sesosok yang lain terbujur pula disudut.

“Ki Prancak,” desis salah seorang pengawas itu. “sekarang aku yakin. Ki Gede Telengan lah yang telah melakukannya. Dan ia telah melarikan pusaka itu bagi kepentingan dirinya sendiri. Sekarang terserah kepadamu. Aku akan melaporkan pengkhianatan ini.”

“Aku tidak akan menentang. Aku sudah tidak berinduk lagi sekarang, sehingga aku menyerahkan persoalannya kepadamu.”

“Baiklah. Marilah, kita akan menyusul ke medan. Mudah-mudahan kita tidak terlalu terlambat.”

Keduanyapun kemudian dengan tergesa-gesa berlari-lari kemedan di sebelah Timur dari lembah itu. Ternyata seorang di antara mereka telah berkhianat, justru dalam keadaan yang gawat.

Dalam pada itu, sebenarnyalah Ki Gede Telengan telah meninggalkan barak penyimpanan pusaka bersama pengikut-pengikutnya yang mengawal pusaka itu. Beberapa orang di antara para pengawal yang bukan pengikutnya telah dibinasakannya. Beberapa orang di antara mereka telah dibunuh didalam barak itu.Yang lain diluar barak dan bahkan di sepanjang jalan kecil didalam hutan, setelah orang-orang itu dipaksa ikut beberapa puluh langkah.

Namun Ki Gede Telengan tidak mau selalu terganggu oleh orang-orang yang tidak diketahui kesetiaannya kepadanya. Itulah sebabnya, akhirnya semuanya telah dibunuhnya tanpa ampun.

Beberapa orang pengikut Ki Gede Telengan sendiri yang berada di medan sama sekali tidak dihitungkannya. Ki Gede Telengan sadar, bahwa mereka akan dapat menjadi sasaran balas dendam. Tetapi ia tidak peduli. Baginya orang-orang itu tidak akan banyak berarti untuk seterusnya. Yang penting baginya kedua pusaka itu sudah dimilikinya.

“Pusuka ini harus disembunyikan dahulu.” katanya kepada seorang kepercayaannya, “kitapun harus bersembunyi sambil mempersiapkan diri. Semua kekuatan yang yakin akan mendukung kita, diam-diam akan kita hubungi.”

Kepercayaannya itu mengangguk-angguk. Nampaknya kesempatan untuk melarikan pusaka itu tidak akan terulang lagi di kesempatan lain.

“Kita akan menjauhi barak itu. Kemudian dekat di mulut lembah, kita akan memanjat naik menghindari orang-orang dari Tanah Perdikan Menoreh yang menurut para pengawas berada di mulut lembah itu. Aku kira mereka tidak menebar sampai lambung gunung. Baik Gunung Merapi maupun Gunung Merbabu, karena dengan demikian mereka memerlukan gelar pasukan yang panjang.”

Pengikut-pengikutnya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Namun mereka pun berpengharapan. Jika Ki Gede Telengan kelak berhasil mamanfaatkan pusaka-pusaka itu untuk menyerap wahyu keraton, maka akan datang saatnya bagi mereka untuk menikmati kemukten.”

Tetapi ternyata ada satu hal yang tidak diketahui oleh Ki Gede Telengan. Ia tidak menyadari bahwa pasukan Tanah Perdikan Menoreh telah jauh maju dari tempatnya. Bahkan pasukan Tanah Perdikan Menoreh sudah berada dihadapan hidungnya.

Ki Gede Telengan yang melarikan pusaka itu berjalan tidak dijalur kecil yang memang menjadi jalan induk di lembah itu. Untuk menghindari segala kemungkinan, ia berjalan agak menepi, sehingga justru karena itu, ia tidak terantuk pada induk pasukan, tetapi pada sayapnya.

Seorang pengawas yang mendahulu pasukan Tanah Perdikan Menoreh melihat iring-iringan yang dipimpin oleh Ki Gede Telengan itu. Dengan tergesa-gesa ia melaporkan kepada pemimpin sayap gelar pasukannya, yang kebetulan didampingi oleh Agung Sedayu.

“Sepasukan kecil berada dihadapan kita,” berkata pengawas itu.

“Siapa yang berada dipimpinannya?”

“Kami tidak mengetahuinya, tetapi mereka agaknya membawa pusaka yang sangat mereka hormati.”

Agung Sedayu yang mendengar laporan itu terkejut. Dengan dada yang berdebar-debar ia bertanya, “Kau lihat pusaka-pusaka itu?”

“Ya. Aku melihatnya. Mereka berada beberapa langkah saja dihadapan kita.”

“Siapkan seluruh pasukan didalam sayap ini,” berkata pemimpin sayap gelar itu kepada seorang pengawal yang membantunya didalam setiap gerakan.

Pengawal itu pun kemudian membunyikan isyarat. Sebuah kentungan kecil dengan irama lima ganda berturut-turut beberapa kali.

Suara kentongan itu terdengar tidak saja didalam lingkungan sayapnya, tetapi terdengar sampai keinduk pasukannya.

Agung Sedayu yang berada disayap itu pun segera mempersiapkan diri pula. Jika benar yang nampak oleh pengawas itu pusaka-pusaka yang sedang dicari oleh Mataram, maka yang mengawal pusaka itu tentu bukannya orang kebanyakan.

Ki Gede Menoreh diinduk pasukan yang mendengar isyarat di bagian sayap gelarnya itu pun segera mengirimkan penghubung unuk mengetahui apa yang sedang terjadi.

Sementara pimpinan sayap gelar itu sibuk memberikan keterangan kepada penghubung yang datang dengan tergesa-gesa, Agung Sedayu beserta beberapa orang pengawal telah maju leibh jauh. Menurut perhitungan Agung Sedayu, isyarat itu dapat menghentikan kelompok yang ada dihadapannya, dan bahkan mungkin mereka akan mencari jalan lain.

Tetapi Ki Gede Telengan tidak sempat melakukannya. Ia memang mendengar isyarat itu. Sejenak ia berhenti bersama pasukannya.

“Isyarat itu tentu dari seorang pengawas pasukan Tanah Perdikan Menoreh yang melihat gerakan pasukan kita,” berkata Ki Gede Telengan.

“Tetapi isyarat itu terdengar dekat sekali.”

“Mereka hanya terdiri dari dua atau tiga orang pengawas. Namun mungkin sekali, isyarat itu mengundang pasukan yang lebih besar, atau sekedar memberitahukan agar mereka bersiap ditempatnya.”

“Kita berbelok,” berkata salah seorang pengikut Ki Gede Telengan.

“Kita akan maju beberapa langkah. Mungkin kita menemukan pengawas itu atau sekelompok kecil. Kita akan mendapat gambaran yang jelas dimana orang-orang Tanah Perdikan Menoreh bertahan.”

“Jadi?”

“Tiga orang dari antara kita akan melingkar dan menyergap pengawas itu. Tetapi jika dihadapan kita terdapat pasukan yang kuat, maka pengawas itu harus memberikan isyarat, agar kita dapat mencari jalan lain.”

Namun mereka sama sekali tidak menyangka, bahwa isyarat itu telah dibunyikan didalam gerakan pasukan di sayap gelar itu sendiri, sehingga mereka tidak menyadari, bahwa Agung Sedayu telah berada beberapa langkah saja dihadapan mereka, di antara pepohonan didalam hutan yang cukup lebat.

Agung Sedayu yang merapat maju di antara pepohonan pun akhirnya dapat melihat pasukan dihadapannya. Itulah sebabnya, maka ia tidak menunggu lebih lama lagi.

Ki Gede Telengan terkejut melihat kehadiran Agung Sedayu dengan sepasukan pengawal dari tanah perdikan Menoreh yang merupakan sayap dari gelar seluruh pasukan Tanah Perdikan Menoreh. Tiga orang pengawas yang dikirim oleh Ki Gede Telengan masih belum hilang dari tatapan matanya, sehingga ketiganyapun segera melangkah kembali.

Agung Sedayu melihat kelompok yang terkejut itu. Di antara mereka memang terdapat dua buah pusaka yang berkerudung kain putih. Menurut pengamatan sekilas Agung Sedayu, kedua pusaka itu tentu sebatang tombak dan sebuah songsong.

Karena itu, maka dengan serta merta Agung Sedayu pun kemudian meloncat kehadapan orang yang dianggapnya menjadi pemimpin kelompok itu sambil berkata, “Berhentilah sebentar Ki Sanak.”

Ki Gede Telengan menjadi berdebar-debar. Tetapi yang nampak dihadapannya adalah sekelompok kecil saja pengawal-pengawal anak muda yang menghentikannya.

“Siapa kau,” geram Ki Gede Telengan.

“Aku Agung Sedayu,” jawab anak muda itu. “aku ingin mengetahui kemanakah pusaka-pusaka itu akan kau bawa.”

Dada Ki Gede Telengan menjadi berdebar-debar. Tetapi tiba-tiba saja ia bertanya, “Pusaka yang mana?”

Agung Sedayu yang sebenarnya masih meragukan kedua pusaka itu berusaha untuk langsung mempengaruhi sikap Ki Gede Telengan. Karena itu jawabnya tegas, seolah-olah ia memang sudah mengetahuinya, “Kedua pusaka yang kau bawa itu. Kangjeng Kiai Pleret dan Kangjeng Kiai Mendung.”

Ternyata jawaban itu benar-benar telah menyentuh-hati Ki Gede Telengan. Ia menganggap bahwa Agung Sedayu telah benar-benar mengetahuinya, sehingga karena itu, tidak dapat ingkar. Jawabannya, “Ya. Aku memang membawa kedua pusaka itu. Aku akan membawanya ketempatku yang tidak seorang pun mengetahuinya.”

“Siapa kau sebenarnya?” bertanya Agung Sedayu.

“Orang menyebutnya Ki Gede Telengan. Tetapi itu tidak penting bagimu. Pergilah. Aku masih mempunyai belas kasihan kepadamu, karena barangkali kau tidak akan menggangguku. Dan aku yakin, kau bingung dan gelisah.”

“Kau tentu tidak akan dapat mengabaikan aku dan menyuruh aku pergi begitu saja. Aku sudah tahu bahwa kau membawa pusaka-pusaka yang hilang dari Mataram, dan aku sebenarnya memang sedang mencari pusaka-pusaka itu.”

“Gila,” Ki Gede Telengan menggeram, “jangan menggigau. Pergi atau aku akan membunuhmu.”

“Pikirkan baik-baik Ki Gede Telengan. Jika aku pergi maka jejakmu sudah aku ketahui. Bahkan dengan demikian aku akan sempat melaporkan kepada Senopati Ing Ngalaga di Mataram tentang kedua pusaka itu.”

“Persetan,” geram Ki Gede Telengan, “memang kau harus dibunuh.”

Agung Sedayu melihat sorot mata yang gelisah tetapi penuh dengan nafsu untuk menyebarkan maut. Karena itu, Agung Sedayu selalu berwaspada menghadapi segala kemungkinan yang akan segera melibatnya. Apalagi menilik sikap dan geraknya. Ki Gede Telengan benar-benar bukan orang bebanyakan.

Ki Gede Telengan kemudian menyadari bahwa orang-orang yang berada di hadapannya tentu sebagian dari orang-orang Tanah Perdikan Menoreh, yang dengan sengaja telah menyumbat mulut lembah di bagian Barat. Itulah sebabnya maka ia tidak akan banyak berbicara lagi.

Sejenak Ki Gede Telengan memandang para pengawalnya pilihan yang dianggapnya memiliki kemampuan yang dapat dibanggakan. Apalagi ketika ia melihat jumlah pengawal yang datang bersama Agung Sedayu, maka katanya, “Bersiaplah untuk mati. Aku akan menumpas kau dan orang-orangmu yang tidak tahu diri. Dihadapanmu adalah Ki Gede Telengan yang mampu memecahkan punggung lawannya dengan tangannya.”

“Ki Gede Telengan,” sahut Agung Sedayu, “kenapa kau tidak bersikap lebih baik dan menyerahkan saja pusaka itu kepadaku. Aku tidak sendiri. Aku membawa pasukan segelar sepapan.”

“Aku tahu. Kau tentu anak Tanah Perdikan Menoreh yang dikabarkan telah menyumbat mulut lembah. Tetapi jika kau masih belum mampu menggenggam guruh dan prahara di tanganmu, jangan mencoba menangkap aku.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Ketika ia melihat Ki Gede Telengan bergeser setapak maju, maka ia pun bergeser pula ke samping sambil mempersiapkan dirinya.

Dengan isyarat Ki Gede Telengan pun memerintahkan orang-orang kepercayaannya untuk maju mendekat. Mereka telah menggenggam senjata di tangan mereka.

“Bunuh mereka semuanya,” perintah Ki Gede Telengan.

“Kau akan menyesal Ki Gede,” suara Agung Sedayu lantang, “kita akan bertempur dengan segenap pasukan yang ada.”

Sesaat kemudian, seperti yang dikatakan oleh Agung Sedayu, pemimpin sayap yang telah selesai memberikan keterangan kepada penghubung yang datang dari induk pasukar itu pun telah tiba dengan pasukannya, meskipun pemimpin sayap gelar itu tidak menghirup semua kekuatan. Ia masih tetap membagi orang-orangnya sehingga pengawasan di sekitarnya tetap dapat dilakukan.

Kehadiran mereka sama sekali tidak mempengaruhi sikap Ki Gede Telengan. Sejenak kemudian, pengawal-pengawal-nyapun segera berlari-lari menyerang di antara pepohonan hutan.

“Hati-hatilah,” teriak Agung Sedayu terhadap orang-orang yang baru datang, “mereka mulai menyerang.”

Permimpin sayap gelar pasukan Tanah Perdikan Menoreh itu pun segera bersiap melawan orang-orang yang menyerangnya. Demikian pula para pengawal yang lain. Mereka pun segera menyebar di antara pepohonan dengan senjata di tangan.

Teryata bahwa pasukan yang mengawal pusaka-pusaka yang akan dilarikan itu benar-benar orang-orang yang bukan saja memiliki ilmu yang tinggi. Tetapi mereka adalah orang-orang yang sama sekali tidak mempunyai pertimbangan-pertimbangan apapun selain membunuh. Itulah sebabnya, maka mereka pun segera bertempur dengan kasar dan bahkan seperti binatang buas yang kelaparan.

Agung Sedayu pemimpin sayap itu dan juga para pengawal Daerah Perdikan Menoreh yang lain terkejut melihat sikap orang-orang itu. Meskipun sebagian dari para pengawal Tanah Perdikan Menoreh telah pernah mengalami pertempuran yang dahsyat, namun serangan yang kasar dan buas itu telah menggetarkan hatinya.

Namun Agung Sedayu tidak begitu mencemaskan pasukan pengawal Daerah Perdikan Menoreh, karena jumlahnya lebih banyak. Dengan suara lantang Agung Sedayu memikirkan keselamatan anak-anak muda yang baru mengalami pertempuran yang sebenarnya untuk yang pertama kali, dan langsung menjumpai lawan yang kuat dan liar, berkata, “Bertempurlah berpasangan. Jumlah kita jauh lebih banyak.”

“Pengecut yang licik,” teriak Ki Gele Telengan, “jika kalian seorang jantan, ajarilah anak buahmu bertempur seorang melawan seorang.”

Agung Sedayu bergeser surut. Ki Gede Telengan telah menyerang dengan dahsyatnya. Namun Agung Sedayu masih sempat menjawab, “Kita berada dipeperangan. Bukan diperang tanding. Jika jumlah kita memang lebih banyak, kenapa kita harus mempersulit diri?”

“Pengecut, kau akan mampus lebih dahulu.” Serangan Ki Gede Telengan pun kemudian datang membadai. Ternyata bahwa orang itu memang memiliki ilmu yang tinggi. Pada serangan-serangan pertama Ki Gede Telengan yang terlalu percaya akan kemampuan sendiri itu sama sekali tidak mempergunakan senjata. Tetapi ayunan tangannya telah menimbulkan desir angin yang dapat mendebarkan jantung. Apalagi tangkapan perasaan Agung Sedayu yang masak terhadap ilmu. seseorang, sehingga dengan demikian ia menyadari, bahwa lawannya bukannya orang yang dapat diabaikan.

Ki Gede Telengan menganggap bahwa lawannya tidak lebih dari anak muda Tanah Perdikan Menoreh itu pun terkejut. Ketika ia melompat sambil mengayunkan sisi telapak tangannya pada tengkuk Agung Sedayu dengan kecepatan yang sulit diikuti dengan tatapan mata wadag, maka Agung Sedayu masih sempat mengelak dengan kecepatan yang sama.

“Anak gila, kau dapat mengelakkan seranganku he,” teriak Ki Gede Telengan.

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi ia menjadi sangat berhati-hati. Desir angin yang ditimbulkan oleh ayunan tangan Ki Gede Telengan, merupakan peringatan yang sungguh-sungguh bagi Agung Sedayu.

Dalam pada itu, pertempuran di sayap itu pun semakin lama menjadi semakin dahsyat. Seperti yang diperingatkan oleh Agung Sedayu, maka para pengawal Tanah Perdikan Menoreh telah bertempur berpasangan. Hanya mereka yang sudah cukup berpengalaman dan memiliki kemampuan yang cukup berusaha untuk mempertahankan dirinya sendiri, karena mereka menganggap bahwa anak-anak muda yang baru itulah yang lebih memerlukan bantuan di antara mereka.

Sebenarnyalah anak-anak muda yang baru untuk pertama kali mengalami pertempuran yang sebenarnya, mula-mula menjadi bingung. Mereka tidak menyangka, bahwa seseorang akan dapat bertempur dengan cara yang kasar dan buas tanpa memperhatikan martabat mereka sebagai seseorang yang berilmu. Mereka bukan saja bertempur dengan senjata mereka, tetapi kadang-kadang mereka menggunakan apa saja yang ada di sekitar mereka. Bahkan dalam kesulitan, seseorang dari mereka telah melontarkan segenggam debu kepada lawannya.

Berita tentang pertempuran yang terjadi disayap itu pun telah diberitahukan oleh seorang penghubung kepada sayap yang lain. Ki Waskita yang berada disayap yang lain menjadi berdebar-debar. Meskipun ia sadar, bahwa Agung Sedayu telah memiliki ilmu yang hampir sempurna, serta luka-lukanya sama sekali sudah tidak berarti lagi, namun betapapun juga Agung Sedayu masih terlalu muda.

Namun ia tidak dapat meninggalkan tempatnya. Setiap saat sayap itu pun akan dapat berjumpa dengan orang orang berilmu yang akan dapat mengacaukan gelar para pengawal Tanah Perdikan Menoreh jika orang-orang berilmu itu tidak menemukan lawan yang dapat mengikatnya dalam suatu pemusatan ilmu.

Di induk pasukan Tanah Perdikan Menoreh. Ki Gede Menoreh pun menjadi gelisah. Tiba-tiba saja ia ingin melihat, apa yang telah terjadi sebenarnya atas pasukan di sayap gelarnya.

Karena itu, maka ia pun kemudian berkata kepada Prastawa, “Pimpinlah induk pasukan ini. Jangan maju lagi sebelum aku datang dan memberikan perintah. Di sayap telah terjadi persoalan yang memerlukan perhitungan lebih jauh.”

“Paman akan pergi melihat pertempuran itu?”

“Ya. Mereka tentu berhadapan dengan orang-orang yang memiliki kemampuan yang tinggi, jika benar seperti yang dikatakan oleh penghubung itu, bahwa pusaka-pusaka yang hilang itu ada di antara mereka.”

Prastawa termangu-mangu sejenak. Namun katanya, “Paman, biarlah aku saja yang pergi. Memang mungkin kakang Agung Sedayu memerlukan bantuan.”

Ki Gede memandang wajah Prastawa yang sungguh-sungguh. Tetapi ia pun kemudian menggeleng sambil menjawab, “Jangan Prastawa. Kau tetap berada di induk pasukan. Kau harus mengatur seluruh gelar. Jika terjadi keadaan yang memaksa, kau harus segera mengambil keputusan.

Prastawa nampak kecewa. Ada niatnya untuk membantu Agung Sedayu. Tetapi ada juga keinginannya untuk menunjukkan kepada Agung Sedayu. bahwa ilmunya telah berkembang dengan pesatnya. Ia ingin hadir diarena untuk melihat Agung Sedayu dalam kesulitan. Kemudian ia datang untuk menyelamatkannya.

Tetapi ternyata pamannya tidak mengijinkannya.

Dalam pada itu, Ki Gede Menorehpun kemudian bersama empat orang pengawalnya menyusup di belakang garis pasukannya menuju ke sayap gelarnya yang telah terlibat dalam pertempuran itu. Di tangannya tergenggam sebuah tombak pendek. Sementara para pengawalnya membawa pedang dan perisai di tangannya.

Sementara itu, di bagian Timur dari lembah itu pun telah terjadi pertempuran yang sengit pula. Pasukan Mataram telah terlibat dalam pertempuran yang sengit pula. Pasukan Mataram telah terlibat dalam pertempuran yang seru. Namun dengan demikian, segera terasa tekanan yang berat dari pasukan lawan yang jumlahnya lebih besar itu.

Di sayap, pasukan Mataram, Ki Lurah Branjangan dan Ki Dipajaya yang menjadi Senopati pengapit sebelah menyebelah, harus menghadapi kenyataan, bahwa lawan mereka benar-benar orang yang tidak dapat dicari bandingnya di antara para pengawal Mataram, sehingga karena itu, maka pengawal Mataram yang jumlahnya lebih sedikit itu masih harus bertempur dalam kelompok-kelompok kecil untuk melawan orang-orang seperti Empu Pinang Aring, Kiai Kalasa Sawit, Kiai Jagaraga dan Kiai Samparsada.

Tetapi untunglah, bahwa di antara pasukan Mataram itu terdapat Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar yang berada di sayap gelar itu pula sebelah menyebelah.

Pada saat-saat terakhir, dari permulaan perang yang sengit itu, maka Kiai Gringsing tidak dapat sekedar memperhatikan perkembangan keadaan saja. Dadanya menjadi berdebar-debar ketika ia melihat orang yang menyebut dirinya bernama Empu Pinang Aring bertempur seperti seekor harimau lapar.

Ketika ia mendengar seseorang meneriakkan nama orang itu, barulah Kiai Gringsing tahu. bahwa orang yang garang itulah orang yang disebut Empu Pinang Aring. Nama yang pernah didengarnya dan pernah disebut-sebut pula oleh satu dua orang yang tertangkap saat segerombolan perampok berusaha menyamun iring-iringan pengantin Swandaru.

“Aku tidak dapat membiarkannya mengacaukan pertahanan orang-orang Mataram,” berkata Kiai Gringsing didalam hatinya.

Namun disayap kanan lawan itu pun terdapat orang lain yang memiliki kemampuan yang luar biasa. Dengan kerut merut dikening, Kiai Gringsing memperhatikan orang yang bertempur melawan sekelompok kecil pengawal Mataram yang dipimpin sendiri oleh Ki Lurah Branjangan, sementara sekelompok yang lain sedang berusaha menahan Empu Pinang Aring.

“Siapa orang itu,” bertanya Kiai Gringsing didalam hatinya.

Tetapi ia tidak dapat sekedar bertanya-tanya. Ki Lurah Branjangan telah bertempar dengan sekuat tenaga dibantu oleh dua orang pengawal terpilih melawan seorang yang bertubuh raksasa. Karena ujud orang itu lebih menarik dari Empu Pinang Aring, maka Ki Lurah Branjangan telah mencoba menahannya.

Tetapi ternyata Empu Pinang Aring itu pun merupakan hantu dimedan itu. Meskipun empat orang berusaha melawannya, tetapi keempat orang itu seakan-akan tidak berdaya menghadapinya. Mereka setiap kali harus berloncatan menjauh apabila Empu Pinang Aring mengayunkan senjatanya berputaran.

Bahkan sekali-sekali Empu Pinang masih sempat tertawa sambil berkata. “Marilah anak-anak. Kita bermain kejar-kejaran. Tetapi kita tidak sekedar bertaruh gandu atau kecik sawo. Taruhan kita sekarang adalah nyawa kita.”

Kata-kata Empu Pinang Aring itu memang dapat menggetarkan hati lawan-lawannya. Apalagi setelah mereka merasakan, betapa sambaran angin yang mengerikan mengikuti ayunan senjata orang yang oleh pengikutnya disebut Empu Pinang Aring.

Tetapi Empu Pinang Aring terkejut ketika tiba-tiba saja terdengar jawaban di sebelah, “Baiklah Empu. Aku pun ingin ikut serta dalam taruhan ini. Bukan kemiri, bukan pula gayam, tetapi taruhannya adalah umur kita masing masing.”

Empu Pinang Aring memandang orang yang sudah menjelang hari-hari tuanya itu. Beberapa langkah ia meloncat mundur menghindari lawan-lawannya. Dengan tajam ia menatap wajah Kiai Gringsing sambil bertanya, “Siapa kau?”

“Aku salah seorang dari pengawal Mataram,” jawab Kiai Gringsing sambil berdiri menghadapi Empu Pinang Aring.

Empu Pinang Aring termangu-mangu sejenak. Namun kemudian, “Baiklah. Bergabunglah dengan lawan-lawanku. Mungkin kau masih dapat membawa satu dua orang kawan lagi yang akan aku bantai bersama sama.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Dari sorot matanya. Empu Pinang Aring memancarkan kepercayaan yang teguh kepada kemampuan diri sendiri, sehingga ia sama sekali tidak terpengaruh oleh sikap Kiai Gringsing.

Tetapi Kiai Gringsing pun adalah orang yang memiliki beberapa kelebihan. Karena itu dengan tenang ia berkata kepada para pengawal Mataram yang termangu-mangu. “Tinggalkan aku. Jumlah kalian terlalu sedikit untuk melawan orang-orang yang bersembunyi di lembah ini. Biarlah Empu Pinang Aring bermain-main bersamaku.”

Empu Pinang Aring mengerutkan keningnya. Yang satu ini tentu akan lain dari keempat orang yang telah mengeroyoknya. Karena itu Empu Pinang Aring mulai tertarik kepada lawannya yang tua ini.

“Siapa kau sebenarnya ?” bertanya Empu Pinang Aring.

Kiai Gringsing tidak segera menjawab. Ia masih memberi isyarat kepada para pengawal Mataram untuk meninggalkannya dan bertempur dalam arena yang kemudian telah menjadi perang brubuh.

“Siapa? “ Empu Pinang Aring mengulanginya.

“Namaku tidak banyak disebut orang Empu. Tetapi orang memanggilku Kiai Gringsing.”

“Kiai Gringsing,” Empu Pinang Aring menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Jadi kaukah orang bercambuk itu?”

“Empu sudah pernah mendengar namaku?”

Empu Pinang Aring memandang Kiai Gringsing dari ujung kakinya sampai keujung rambutnya. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Aku percaya bahwa orang inilah yang disebut orang bercambuk. Baiklah. Kau sudah berhasil mendapatkan lawan. Dan dengan demikian kau sudah mengurangi tekanan pada pasukan pengawal Mataram, karena kau seorang diri dapat mewakili empat orang lawanku.”

Kiai Gringsing tidak segera menjawab. Dipandanginya medan yang semakin lama menjadi semakin seru. Namun terasa bahwa pasukan pengawal Mataram memang sudah terdesak.

“Kenapa Raden Sutawijaya masih belum memberikan isyarat kepada pasukan Sangkal Putung yang sudah siap,” bertanya Kiai Gringsing kepada diri sendiri.

Namun ternyata ia tidak menunggu terlalu lama. Sejenak kemudian terdengar suara sangkakala menggema di lembah itu.

Swandaru yang berada di belakang garis pertempuran menjadi gelisah ketika ia harus menunggu terlalu lama. Ia sadar, bahwa Raden Sutawijaya tentu ingin menjajagi kekuatan lawannya lebih dahulu dengan pasukannya.

Namun akhirnya suara sangkakala itu telah terdengar. Dengan demikian maka Swandaru pun segera memberikan isyarat kepada pasukannya untuk segera bergerak.

Seperti keterangan yang telah diterimanya dari para penghubung, bahwa pasukan lawan cukup kuat, maka ia pun telah memberikan pesan-pesan terakhir kepada pasukannya. Kepada anak-anak muda yang sama sekali belum berpengalaman. Swandaru memberitahukan, bahwa mereka kini tidak sedang bermain-main. Kebetulan lawan mereka yang pertama adalah orang-orang yang sama sekali tidak mempunyai tanggung jawab, bukan saja terhadap sesama, tetapi juga kepada Sumber Hidup mereka.

“Berhati-hatilah. Mungkin kalian akan dikejutkan oleh peristiwa-peristiwa yang sama sekali tidak pernah kalian bayangkan. Tetapi inilah yang disebut pertempuran yang sebenarnya.”

Pandan Wangi dan Sekar Mirah oleh Swandaru tidak diletakkannya disayap gelarnya. Ia sendiri tidak tahu, kenapa ia telah memasang kedua perempuan itu justru diinduk pasukan bersamanya. Agaknya ada semacam kecemasan bahwa kedua perempuan itu akan menghadapi kesulitan, jika keduanya terpisah daripadanya.

Sebenarnya Pandan Wangi dan Sekar Mirah sendiri menyatakan keinginannya untuk berada disayap sebelah menyebelah. Tetapi Swandaru menggeleng sambil berkata, “Kalian bersamaku.”

Pandan Wangi dan Sekar Mirah tidak membantah. Kecuali hubungan pribadi di antara mereka, maka Swandaru adalah pimpinan pasukan Sangkal Putung yang berada di lembah itu.

Demikianlah, maka pasukan Sangkal Putung itu maju menyatu dengan garis pertempuran yang seru. Mereka langsung mengambil bagian di antara pasukan Mataram yang sudah terlebih dahulu terlibat dalam perang.

Kehadiran pasukan Sangkal Putung tidak mengejutkan pasukan yang berada di lembah itu. Sejak semula mereka menyadari, bahwa lawan mereka terdiri dari dua lapis.

Meskipun demikian, kehadiran pasukan Sangkal Putung yang cukup kuat itu langsung mempengaruhi keseimbangan. Namun demikian, jumlah pasukan yang berada di lembah itu masih cukup banyak untuk menekan kedua pasukan gabungan, karena jumlah mereka memang terlalu banyak.

Namun pasukan gabungan yang ada di lembah itu mulai merasa, bahwa pasukan Mataram dan pasukan Sangkal Putung bukannya pasukan-pasukan yang lemah. Apalagi di antara pasukan Mataram memang terdapat prajurit-prajurit Pajang.

Dengan demikian maka pertempuran itu pun menjadi semakin sengit. Pasukan dari lembah itu tidak lagi mendesak lawannya. Mereka mulai merasakan, bahwa lawan mereka adalah kekuatan yang justru semakin berkembang.

Tetapi di sayap kedua pasukan yang berbenturan itu, tekanan pasukan lawan masih terasa berat. Kiai Gringsing yang bertempur melawan Empu Pinang Aring, kadang-kadang masih berdebar-debar melihat seorang yang bertubuh raksasa yang mengamuk bagaikan angin prahara di antara batang-batang ilalang.

Ki Lurah Branjangan adalah orang yang memiliki kelebihan dari para pengawal yang lain. Namun ia merasa, betapa dahsyatnya kekuatan orang bertubuh raksasa itu, sehingga ia memerlukan beberapa orang untuk membantunya.

Tetapi kehadiran pasukan Sangkal Putung memberi kan sedikit kesempatan untuk bernafas. Meskipun pasukan Sangkal Putung tidak terlampau menekankan kekuatan di bagian sayapnya, karena semua kekuatan puncaknya berada di induk pasukan, namun kehadiran mereka terasa juga akibatnya, seakan-akan tugas pasukan pengawal dari Mataram itu menjadi agak ringan, meskipun seolah-olah maut masih tetap mengintai setiap orang disetiap saat.

Dalam pada itu. Empu Pinang Aring sendiri segera terbentur pada kekuatan yang tidak dapat ditembusnya. Ketika pertempuran mulai menjadi seru di antara kedua orang yang memiliki ilmu diluar jangkauan para pengawal yang lain itu. maka mereka masing-masing telah mempergunakan senjata yang paling mereka percaya.

Empu Pinang Aring telah menerima senjata khususnya dari seorang pengawalnya yang selalu mengikutinya. Senjata yang jarang-jarang sekali dipergunakan, kecuali dalam kesempatan-kesempatan yang paling berbahaya bagi dirinya.

Kiai Gringsing memperhatikan senjata yang agak aneh itu. Ia sadar bahwa senjata Empu Pinang Aring itu tentu didapatkannya dari orang-orang asing yang pernah berada di tlatah Pajang, atau masa-masa pemerintahan sebelumnya.

Senjata yang bertangkai sepanjang tangkai tombak pendek itu, mempunyai tiga mata seperti trisula. Tetapi kedua mata tombaknya yang berada dibagian luar, mempunyai mata yang tajamnya menghadap kearah yang berlawanan, seperti ujung eri pandan, sedangkan mata tombak trisula yang berada ditengah, agak lebih panjang sedikit dari kedua ujung yang lain.

“Jangan takut menghadapi senjataku ini,” desis Empu Pinang Aring ketika ia melihat wajah Kiai Gringsing menegang.

Kiai Gringsing yang menyadari keadaannya, tiba-tiba saja tersenyum. Jawabnya, “Aku tidak menjadi ketakutan. Tetapi aku menjadi heran. Jika saja kita tidak sedang bertempur, aku akan meminjam senjata itu barang sejenak.”

Empu Pinang Aring mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Kau tidak saja akan meminjamnya, tetapi kau akan merasakan, bahwa trisulaku itu mempunyai kemampuan untuk berbuat apa saja dimedan. Aku dapat menyobek perutmu dengan tusukan. Tetapi aku dapat memecahkan kepalamu dengan ayunan, karena mata trisulaku mempunyai tajam seperti kapak disisi-sisinya.”

“O,” desis Kiai Gringsing yang telah menggenggam cambuknya, “aku akan mencoba melawan senjatamu yang aneh itu.”

Empu Pinang Aring tidak menjawab lagi. Dengan serta merta ia telah menyerang. Senjata menusuk seperti sebatang tombak. Namun ketika ujungnya gagal menyentuh Kiai Gringsing, maka senjata itu pun segera terayun seperti kapak yang bertangkai panjang.

Kiai Gringsing menjadi berdebar-debar. Senjata itu memang berbahaya. Dalam setiap geraknya senjata itu memungkinkan untuk melukainya, atau bahkan melumpuhkannya.

Karena itulah, maka untuk selanjutnya Kiai Gringsing harus benar-benar berhati-hati. Bahkan ia harus memperlihatkan kemampuannya bergerak dengan kecepatan yang hampir tidak dapat diikuti dengan tatapan mata.

Sejenak kemudian pertempuran antara kedua orang itu pun semakin menjadi dahsyat. Beberapa orang yang ada di seputarnya menjadi berdebar-debar. Senjata Empu Pinang Aring menyambar dari segala arah. Kemudian mematuk seperti seekor ular bandotan yang menerkam lawannya.

Namun dalam pada itu, setiap kali Empu Pinang Aring terkejut mendengar ledakan cambuk Kiai Gringsing. Suara cambuk yang tidak begitu keras menurut pendengaran telinga wadag. Tetapi ternyata bagi telinga Empu Pinang Aring dapat mengetahui bahwa bunyi cambuk itu bagaikan panggilan baginya dari daerah maut.

Dengan demikian maka kedua orang yang bertempur dengan kemampuan yang luar biasa itu telah menumbuhkan keadaan yang khusus didalam arena itu. Sementara para pengawal yang lain bertempur dengan sengitnya melawan orang kasar yang bersembunyi di lembah itu. Setiap kali mereka bersorak-sorak dan berteriak-teriak memekakkan telinga, sehingga kadang-kadang suara itu berhasil mempengaruhi ketahanan hati orang-orang Mataram dan Sangkal Putung.

Ki Lurah Branjangan yang memiliki pengalaman yang luas di medan yang betapapun sulitnya, meskipun ia tidak dapat mengimbangi kekuatan lawannya seorang diri, telah berusaha mengurangi tekanan perasaan pada para pengawal dari Mataram dan Sangkal Putung. Lewat pengawal-pengawalnya ia memerintahkan agar para pengawal Mataram dan Sangkal Putung ikut pula meneriakkan kemenangan-kemenangan yang dapat mereka capai dipertempuran itu.

Sambil menjauhi lawannya sejenak, dan membiarkan para pengawalnya yang lain bertempur, ia berkata kepada seorang penghubung, “Lakukanlah seperti yang mereka lakukan. Dengan demikian maka kalian tidak akan mendengar apa yang mereka teriakkan, karena kalian telah berteriak pula.”

Perintah itu pun kemudian menjalar kepada setiap orang di sayap gelar orang-orang Mataram dan Sangkal Putung itu. Sehingga dengan demikian maka sayap gelar itu pun menjadi sangat riuh dan ramai.

Tetapi seperti yang diperhitungkan oleh Ki Lurah Branjangan, maka para pengawal Mataram dan Sangkal Putung tidak lagi terpengaruh oleh kata-kata yang dilontarkan lawannya, karena mereka tidak mendengar teriakan-teriakan itu lagi dengan jelas.

Sayap gelar pasukan Mataram dan Sangkal Putung itu benar-benar bagaikan arena benturan guruh dan guntur. Suaranya bagaikan menggugurkan lereng Merapi dan Merbabu. Setiap orang bertempur sambil berteriak. Tetapi teriakan mereka itu pun hanyalah dapat mereka dengar sendiri. Karena setiap orang telah berteriak pula.

Orang di lembah itu pun menjadi marah pula karena sikap para pengawal dari Mataram dan Sangkal Putung. Mereka tidak lagi dapat memperolok-olokkan mereka. Tidak lagi dapat mengumpati dan menyebut kematian demi kematian. Bahkan tidak lagi dapat berbohong untuk mempengaruhi perasaan para pengawal dari Mataram dan Sangkal Putung, karena mereka sendiripun telah berteriak-teriak tidak menentu.

“Gila,” geram Kiai Jagarana ketika Ki Lurah Branjangan telah kembali melawannya, “kau ajari para pengawal Mataram itu berbuat seperti perampok-perampok dan penyamun.”

“Aneh,” desis Ki Lurah Branjangan, “orang-orangmu pun melakukannya.”

“Mereka sebagian memang perompak dan penyamun. Tetapi sebagian lagi adalah prajurit-prajurit Pajang.”

“Biar sajalah para pengawal dari Mataram berusaha menyumbat telinga mereka dengan mulutnya sendiri. Kata-kata yang dilontarkan oleh orang-orangmu, terutama oleh para perampok dan penyamun itu telah berhasil mempengaruhi jiwa para pengawal. Kata-kata kasar dan kotor itu memang memalukan sekali. Tetapi kini lontaran kata-kata mereka itu sudah tidak didengar lagi.”

Orang bertubuh raksasa itu tidak menjawab lagi. Dengan serta merta ia menyerang Ki Lurah Branjangan dengan senjata yang paling digemari. Sebuah bindi yang besar dan panjang bergerigi berlapis besi baja.

Ki Lurah Branjangan pun harus berhati-hati menghadapi lawannya. Tetapi pedangnya cukup lincah menyusup ayunan bindi Kiai Jagarana. Beberapa orang pengawal yang membantunyapun cukup lincah, sehingga untuk beberapa saat lamanya, pertempuran itu berlangsung dengan sengitnya.

Di sayap yang lain Ki Sumangkar berada dalam pasukan yang dipimpin oleh Ki Lurah Dipajaya. Sesuai dengan pesan Raden Sutawijaya, maka Ki Dipajayapun telah bertempur bersama beberapa orang pengawalnya seperti yang dilakukan oleh Ki Lurah Branjangan menghadapi orang yang bernama Samparsada. Seorang yang memiliki kemampuan yang luar biasa, sejajar dengan kawan-kawannya di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, sementara Ki Sumangkar telah bertemu dengan Kiai Kalasa Sawit yang pernah tinggal di padepokan Tambak Wedi. Ternyata bahwa Kiai Kelasa Sawit masih tetap garang dan kasar.

Tetapi luka-luka ditubuh Ki Sumangkar sudah tidak berpengaruh lagi. Ia sudah dapat memutar trisulanya dengan dahsyatnya. Sekali-sekali trisulanya itu bagaikan terjulur menyambar kepala lawannya. Namun kemudian berputar seperti baling-baling.

Kiai Kalasa Sawit menghadapi lawannya dengan hati-hati. Ia sadar, bahwa sambaran trisula itu akan dapat melubangi keningnya. Sehingga karena itu, maka ia harus berusaha untuk menghindarinya.

Ternyata sayap gelar pasukan Mataram itu telah tertahan oleh kekuatan yang agak lebih besar. Meskipun pasukan Sangkal Putung telah bergabung bersama mereka, tetapi rasa rasanya tekanan orang orang yang berada di lembah itu masih terasa sangat berat.

Di Pusat gelar pasukan Mataram yang bergabung dengan pasukan Sangkal Putung itu, pertempuranpun telah berkobar dengan dahsyatnya. Raden Sutawijaya telah menunjukkan kemampuannya sebagai seorang Senopati muda. Ia mampu menguasai seluruh keadaan medan yang panjang dengan penglihatannya, keterangan-keterangan yang didengarnya dan perhitungan-perhitungannya, seolah-olah ia telah melihat medan itu dalam keseluruhan.

Namun ketika Tumenggung Wanakerti sengaja menyongsongnya, maka Raden Sutawijaya pun mulai terikat oleh pemusatan kemampuannya kepada Tumenggung yang memang sudah dikenalnya itu.

“Anak muda,” berkata Tumenggung Wanakerti, “jika kau kemudian disebut Senopati Ing Ngalaga itu sama sekali bukan karena kemampuanmu di medan perang. Tapi gelar Senopati Ing Ngalaga itu kau dapatkan sebagai sebuah kurnia dari ayahanda angkatmu yang kasihan melihat anaknya sama sekali tidak memiliki kemampuan apapun juga. Akhirnya kau terpaksa disingkirkan ke Mataram, karena kau hanya akan menghambat perkembangan prajurit Pajang.”

Senopati Ing Ngalaga menggeram. Tetapi ia selalu ingat pesan Ki Juru Martani. Bahwa sebagai seorang pemimpin dari satu gelar yang besar ia tidak boleh terlalu terpengaruh oleh perasaannya. Jika ia kehilangan akal dan pengekangan diri, maka ia tidak akan dapat menguasai seluruh keadaan medan. Karena itulah maka ia menganggap kata-kata Tumenggung Wanakerti itu sebagai pancingan untuk membangkitkan kemarahannya.

Dalam pada itu, medan pun menjadi semakin dikuasai oleh nafsu membunuh. Setiap orang yang telah menjadi basah oleh keringat, seakan-akan telah menjadi wuru. Apalagi mereka yang telah mulai menitikkan darah dari goresan-goresan senjata.

“Kau masih harus berlatih dua tiga tahun lagi Senopati muda,” berkata Tumenggung Wanakerti yang bertempur melawan Raden Sutawijaya.

Raden Sutawijaya mengerutkan keningnya. Ketika tombak pendeknya hampir saja meyambar hidung Tumenggung Wanakerti sehingga Tumenggung itu meloncat mundur. Raden Sutawijaya berkata, “Jika aku berguru dua tiga tahun lagi, maka alangkah ngerinya wajahmu sekarang.”

Tetapi Tumenggung Wanakerti masih dapat tertawa. Katanya, “Bagus. Aku akan melihat, apakah yang dapat kau lakukan sekarang.”

Namun sebenarnyalah hati Raden Sutawijaya menjadi semakin mapan, ia tidak lagi meronta dan memaksa diri untuk bersabar. Tetapi ia benar-benar tidak banyak terpengaruh lagi oleh kata-kata Ki Tumenggung Wanakerti yang memancing kemarahannya itu.

Tetapi dalam pada itu, ternyata bahwa di pusat gelar lawan, kekuatannya benar-benar menakjubkan. Beberapa Senopati dari Pajang telah terlibat pula didalamnya. Jika pasukan Mataram disertai dengan sekelompok prajurit Pajang, maka mereka telah berhadapan dengan beberapa orang Senopati yang memiliki beberapa kelebihan dari prajurit-prajurit kebanyakan.

Namun di pusat gelar itu pun kemudian hadir Swandaru, Pandan Wangi dan Sekar Mirah. Kedatangan mereka telah mengejutkan lawan. Apalagi ketika cambuk Swandaru mulai meledak. Suaranya bagaikan guruh yang seolah-olah memecahkan selaput telinga wadag.

Tumenggung Wanakerti mengerutkan keningnya. Sambil bertempur ia mencoba memperhatikan bunyi cambuk itu. Tetapi telinganya ternyata dapat membedakan, bahwa bunyi cambuk itu adalah bunyi kekerasan wadag. Namun demikian ia menjadi berdebar-debar juga, karena di pusat gelar itu telah hadir seorang yang memiliki kekuatan raksasa.

Ki Juru Martani lah yang kemudian mengatur, dimana Swandaru harus bertempur. Ia tiba-tiba saja telah berada tidak jauh dari Raden Sutawijaya, sehingga kehadirannya langsung mempengaruhi medan. Para Senopati yang bertempur melawan dua atau tiga orang yang berpasangan, karena kemampuan mereka yang berbeda, telah terkejut pula.

Swandaru memang memiliki kelebihan. Seorang Senopati Pajang yang berada di dalam lingkungan orang-orang di lembah itu mencoba untuk menahannya. Namun kemudian ia harus mengakui, bahwa Swandaru bukannya seorang gembala yang hanya pandai meledakan cambuknya keras-keras tanpa lantaran tenaga sama sekali.

Ketika cambuk Swandaru meledak dihadapan Senopati itu, maka langsung terasa, betapa sambaran angin telah menyapu tubuh lawannya sehingga dengan demikian lawannya mengetahui, bahwa cambuk itu benar-benar memiliki kekuatan untuk merobek kulitnya.

Selagi orang-orang di lembah itu masih dikuasai oleh kejutan hadirnya orang gemuk bersenjata cambuk itu, maka sekali lagi mereka terkejut. Disisi lain dari Raden Sutawijaya telah terjadi kegelisahan, karena dimedan itu telah muncul dua orang perempuan dengan senjata mereka yang menggemparkan. Pandan Wangi dengan pedang rangkapnya, sementara Sekar Mirah telah mempergunakan senjata yang diberikan oleh gurunya kepadanya. Sebatang tongkat baja yang berkepala tengkorak berwarna kekuning-kuningan.

“Tongkat itu,” seorang Senopati yang lain berdesis.

Beberapa orang prajurit Pajangpun menjadi berdebar-debar pula. Sebagian dari mereka telah mengenal tongkat baja putih itu. Tongkat yang pernah menggemparkan Pajang saat Pajang masih harus bertempur melawan Jipang.

Sebenarnyalah Sekar Mirah menguasai tongkatnya sebaik-baiknya. Tidak kalah dari yang dapat dilakukan oleh Tohpati yang bergelar Macan Kepatihan.

“Gila,” geram seorang Senopati muda, seolah-olah aku telah menyaksikan sesuatu yang tidak mungkin. Dari wajah yang cantik itu telah memancar sorot mata penuh kebencian dan dendam.”

Namun ia tidak dapat sekedar memandang dengan heran. Sejenak kemudian Senopati muda itu telah terlibat dalam pertempuran yang sengit melawan Sekar Mirah.

“Luar biasa,” desis prajurit itu, selelah senjatanya membentur tongkat Sekar Mirah.

Sekar Mirah tidak menyahut. Sekilas ia memandang Senopati itu. Meskipun Senopati itu tidak lagi memakai pakaian keprajuritannya, namun ada beberapa ciri yang dapat memperkenalkan dirinya sebagai seorang prajurit.

***

(diantara tanda *** sampai *** berikut sepertinya terselip tidak nyambung paragraf sebelum dan sesudahnya.)

Agung Sedayu tidak sempat menyahut lagi. Serangan Ki Gede Telengan telah datang bagaikan angin prahara. Tangannya yang mengandung kekuatan yang tidak terduga menyambar kening Agung Sedayu. Untunglah bahwa Agung Sedayu masih sempat bergeser sambil menarik kepalanya kesamping, sehingga yang terasa olehnya hanyalah sambaran angin yang mendebarkan jantung.

Namun Agung Sedayu tidak sempat merenungi kekuatan lawannya, karena Ki Gede Telengan lelah menyambar lambungnya dengan kaki kanannya.

Sekali lagi Agung Sedayu terpaksa mengelak. Sebuah loncatan kecil kesamping telah melepaskannya dari sambaran kaki Ki Gede Telengan.

Tetapi gerak Ki Gede Telengan itu beruntun bagaikan deburan ombak di lautan. Demikian sebelah kakinya menjejak tanah, maka tubuhnya telah terputar seperti pusaran air. Kaki yang lain seakan-akan telah terlempar menyambar lawannya mendatar.

Agung Sedayu tidak sempat mengelak. Tetapi ia tidak mau dikenai tumit lawannya, karena ia sadar, bahwa perutnya tentu akan menjadi muak, dan bahkan mungkin terluka didalam, sehingga ia tidak akan mendapat kesempatan lebih banyak lagi untuk bertempur.

Karena itu, maka Agung Sedayu pun segera merendahkan dirinya. Ia sadar, bahwa kekuatan lawannya adalah kekuatan raksasa. Karena itulah, maka ia pun menghimpun segenap kekuatannya pada kedua tangannya yang bersilang di hadapan dadanya, sementara kedua kakinya merendah pada lututnya.

Benturan kekuatan pun tidak dapat dihindarkan lagi Kaki Ki Gede Telengan telah membentur siku tangan AgungSedayu.

Ternyata bahwa keduanya telah terperanjat. Bentaran kekuatan itu benar-benar merupakan benturan kekuatan raksasa yang sulit dicari imbangannya.

Agung Sedayu ternyata telah terdorong surut, setelah kedua kakinya yang merendah pada lututnya gemetar beberapa saat. Ia tidak dapat bertahan berdiri ditempatnya, sehingga sebelah kakinya telah bergeser dan kaki yang lain harus melangkah surut.

Namun sementara itu, kaki Ki Gede Telengan bagaikan telah dilontarkan oleh sebuah kekuatan yang tidak diperhitungkannya sama sekali. Sehingga ia pun telah kehilangan keseimbangannya.

Sekejap ia mencoba bertahan, namun kemudian ia terpaksa jatuh pada lutut kaki kanannya.

Tetapi ia masih dapat meloncat dengan sigapnya. Ketika Agung Sedayu siap untuk menyerang, ternyata bahwa Ki Gede Telengan pun telah berdiri tegak pula menghadapi segala macam kemungkinan.

Namun demikian Ki Gede Telengan itu masih sempat mengumpat, “Anak Iblis. Kau benar-benar telah kerasukan. Kau mempunyai kekuatan yang tidak sewajarnya bagi anak-anak sebesar kau. Tetapi jika iblis ditubuhmu itu oncat, maka kau tidak lebih dari seonggok jerami yang tidak berdaya.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi ia siap untuk bertempur lebih dahsyat lagi.

*****

Sejenak kemudian maka Senopati muda itu tidak lagi dapat memandang wajah Sekar Mirah yang cantik. Yang nampak olehnya kemudian adalah segumpal awan putih yang bagaikan ingin melihat dirinya. Kilatan cahaya kekuning-kuningan di antara gumpalan putih itu bagaikan cahaya tatit ditengah-tengah mendung yang kelabu.

Pertempuran di lembah itu pun semakin lama menjadi semakin seru. Pedang rangkap Pandan Wangi pun telah berputar dengan dahsyatnya. Sekali-sekali menyambar, namun kemudian mematuk mengerikan. Seperti Sekar Mirah, maka Pandan Wangipun telah mendebarkan jantung lawannya, seorang Senopati Pajang yang berada dipihak orang-orang yang berkumpul di lembah itu.

Namun dalam pada itu, jumlah orang-orang yang berada di lembah itu memang lebih banyak. Meskipun pada dasarnya, setiap pemimpin mereka telah berhasil ditahan oleh para pemimpin kelompok dari Mataram dan Sangkal Putung. namun orang orang di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu yang lebih banyak jumlahnya itu, masih juga berhasil menekan sehingga setapak demi setapak, pertempuran itu telah bergeser dari garis semula. Karena tidak disadari, pasukan Mataram dan Sangkal Putung meskipun hanya sejengkal demi sejengkal telah terdesak mundur.

Sementara itu, dibagian lain dari lembah itu, Ki Gede Telengan masih bertempur melawan Agung Sedayu. Ternyata bahwa Ki Gede Telengan telah bertemu dengan lawan yang tidak diduganya sama sekali. Agung Sedayu bukannya sekedar seorang anak petani yang kebetulan bermain-main dimedan pertempuran. Tetapi anak muda itu ternyata mampu mengimbangi ilmu Ki Gede Telengan.

Karena Ki Gede Telengan tidak bersenjata, maka Agung Sedayu pun merasa lebih mantap bertempur tanpa senjata. Namun untuk mengimbangi ilmu Ki Gede Telengan, Agung Sedayu pun telah mempergunakan ilmunya selengkapnya.

Ki Gede Telengan benar-benar heran melihat kemampuan lawannya yang masih sangat muda itu. Setiap kali Agung Sedayu selalu dapat membebaskan diri dari libatan serangannya. Betapapun ia memburu setiap gerak menghindar, namun pada suatu saat ia sendirilah yang harus berloncatan menghindari serangan anak muda itu yang membadai.

“He anak muda,” tiba-tiba saja Ki Gede Telengan berteriak, “dimana kau berguru he? Sehingga kau mampu mengimbangi ilmuku pada usiamu yang masih sangat muda itu?”

Agung Sedayu terrnangu-mangu sejenak. Namun kemudian jawabnya, “Ki Sanak. Setiap orang yang menengadahkan permohonannya kepada Sumber Hidupnya, ia akan memiliki sesuatu yang berharga. Cobalah mengerti tentang dirimu sendiri. Mungkin kau dapat memungut ilmu itu di daerah gelap dan hitam. Tetapi pada saatnya, maka yang hitam itu akan terhapus. Seandainya bukan aku, tentu ada orang lain yang akan datang dalam perjalanan hidupmu.”

“Persetan,” geram Ki Gede Telengan yang menyerang semakin dahsyat, “kau sempat menggurui aku. Baiklah. Terima kasih. Tetapi sebentar lagi kau akan mati.”

Ki Gede Telengan yang menjadi semakin gelisah itu-pun tidak mau memperpanjang waktu lagi. Jika kepergiannya diketahui, maka ia akan semakin dalam terbenam kedalam kesulitan, karena baik Tumenggung Wanakerti maupun para pemimpin gerombolan yang lain, tentu tidak akan melepaskan pusaka-pusaka yang harus dijaganya itu dibawa pergi.

Karena itulah maka Ki Gede Telengan pun kemudian telah mengarahkan segenap kemampuannya untuk segera dapat membunuh lawannya, sementara pengikutnya telah bertempur mati-matian melawan pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh.

Dalam pada itu, tekanan dimedan di sebelah Timur dari lembah itu pun semakin lama terasa menjadi semakin berat bagi pasukan pengawal Mataram dan Sangkal Putung. Namun Sutawijaya masih berharap, bahwa pada suatu saat, pasukan Tanah Perdikan Menoreh akan datang dan melihat lawan mereka dari belakang.

Namun ternyata pasukan Tanah Perdikan Menoreh datang terlalu lambat dari yang diperhitungkan. Pasukan Mataram dan Sangkal Putung sudah terdesak semakin jauh. Namun pasukan dari Tanah Perdikan Menoreh sama sekali belum mempengaruhi medan.

Raden Sutawijaya tidak mengetahui, bahwa pasukan Tanah Perdikan Menoreh telah tertahan. Meskipun hanya bagian sayapnya saja yang bertempur dengan sengitnya melawan pasukan pengawal pusaka yang disembunyikan oleh orang-orang yang berkumpul di lembah itu, namun seluruh pasukanpun telah terhenti kerenanya.

Tetapi dalam pada itu, ternyata Prastawa telah menempuh kebijaksanaan lain. Sepeninggal Ki Gede Menoreh dari induk pasukannya, maka Prastawa telah dikecewakannya. Ia ingin datang dan menunjukkan kelebihannya atas Agung Sedayu, dengan membebaskannya dari tekanan lawannya. Tetapi Ki Gede Menoreh tidak memperkenankannya.

Oleh kejengkelannya itulah maka ia telah menentukan sikap yang dianggapnya paling baik. Sesuai dengan pesan para penghubung dari medan di sebelah Timur, pasukan Tanah Perdikan Menoreh harus menyerang dari Barat, karena jumlah lawan ternyata terlalu banyak.

“Biarlah sayap itu bertempur. Aku harus bergerak maju untuk membantu pasukan Mataram. Terutama sayap yang lain dan induk pasukan.” katanya kepada seorang pengawalnya.

Tetapi sayap yang sedang bertempur itu akan terbuka. Jika maksud kita menahan setiap kemungkinan untuk melarikan diri, maka keterbukaan sayap sebelah itu akan memungkinkan orang-orang yang terkurung itu menerobos dan hilang didalam hutan yang lebat.

Prastawa termangu-mangu. Namun katanya, “Tetapi perintah dari Mataram telah kita dengar bersama.”

“Mataram tentu tidak memperhitungkan peristiwa yang telah terjadi, sehingga pasukan ini telah tertahan.”

“Tidak. Tidak ada seorang pun yang akan sempat menerobos.” geram Prastawa.

“Tetapi induk pasukan ini jangan maju terlebih dahulu. Mungkin sebagian dari sayap yang lain dan sebagian dari induk pasukan ini. Namun kita masih harus tetap menutup kemungkinan merembesnya lawan digelar yang panjang ini.

Prastawa berpikir sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Aku akan meninggalkan sebagian dari induk pasukan dan pasukan disayap yang lain agar mereka dapat mengawasi keadaan. Yang lain harus segera memasuki medan dari arah belakang, karena dengan demikian akan mengurangi beban pada pasukan Mataram dan Sangkal Putung.”

“Tetapi berhati-hatilah. Mungkin lawan akan membuat gelar yang tidak dapat dimengerti. Mereka dapat saja mengerahkan sebagian besar kekuatannya justru untuk menghancurkan pasukan kecil ini, sementara yang lain hanya sekedar menahan pasukan Mataram dan Sangkal Putung saja.”

“Aku sudah memperhitungkan. Jika demikian, aku harus bergerak mundur. Dan pasukan yang tinggal ini harus bersiap-siap memberikan dukungan kepada pasukan kecilku.”

Pengawal itu mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud Prastawa. Dan ia pun menganggap bahwa anak muda itu dapat berpikir cepat dan cermat, meskipun masih terlalu didorong oleh perasaannya.

Dengan demikian maka Prastawa telah membawa sebagian dari pasukannya dan memerintahkan sebagian dari sayap yang tidak sedang mengalami gangguan itu untuk tetap maju memberian tekanan betapapun kecilnya dari arah Barat. Dengan demikian, maka perhatian pasukan yang ada di lembah itu akan terbagi, meskipun Prastawa mengetahui bahaya yang mungkin justru akan mengarah kepada pasukannya.

Tetapi medan yang penuh dengan pepohonan itu agaknya memberikan keuntungan padanya jika pasukannya mengalami tekanan yang tidak tertahankan. Pasukannya akan mundur dan bersandar pada kekuatan yang ditinggalkannya.

Diengan hati-hati maka sebagian dari pengawal Tanah Perdikan Menoreh itu telah maju mendekaki arena pertempuran. Mereka menemukan bagian dari barak yang kosong, karena Ki Gede Telengan telah meninggalkan barak itu dan bertempur melawan sayap pasukan Ki Gede Menoreh yang disertai dengan Agung Sedayu dan kemudian disusul oleh Ki Gede Menoreh sendiri.

Ki Waskita yang ada disayap yang lain mendapat beberapa keterangan dari seorang penghubung tentang niat Prastawa untuk hadir dimedan. Agaknya Ki Waskita pun tidak berkeberatan atas rencana itu, sehingga ia pun kemudian ikut serta maju bersama sebagian dari pasukan yang ada disayap itu

………….……… (halaman 74 dan 75 tidak ada) …….……………….

di sekitarnya. Tetapi persoalan pusaka itu benar-benar telah mencengkam jantungnya.

Tiba-tiba saja tangannya telah menyambar baju orang itu. Sambil mengguncangkannya ia bertanya, “Apakah Ki Gede Telengan tidak berhasil mempertahankannya? Apakah kau dapat menyebut, siapa vang telah mengambil pusaka itu? Ki Gede Menoreh? Atau siapa?”

Orang itu menjadi semakin pucat. Nafasnya yang mulai teratur telah menyesak lagi didadanya.

“Bukan, bukan orang lain yang mengambilnya.”

“Jadi siapa? He, berkatalah dengan jelas.” Ki Tumenggung Wanakerti berteriak. Tetapi suaranya bagaikan lenyap dalam riuhnya suara pertempuran.

“Ki Gede Telengan sendiri.”

“Ki Gede Telengan. He. apakah kau sudah gila?”

“Benar Ki Tumenggung. Ki Gede Telengan telah melarikan pusaka itu. Beberapa orang telah mencoba mencegahnya. Tetapi mereka telah terbunuh. Mungkin hanya aku atau barangkali satu dua orang lain yang berhasil lolos dari maut.”

“Gila. Apakah kau berkata sebenarnya? Apakah kau memang sudah gila, sehingga kau tidak tahu apa yang kau lihat dan tidak sadar, apa yang kau katakan?”

“Aku sadar sepenuhnya Ki Tumenggung. Aku melihat Ki Gede Telengan memerintahkan pengikutnya membawa pusaka-pusaka itu ke arah Barat.”

“Gila. Benar-benar gila.”

“Meskipun di sebelah Barat ada pasukan yang diduga adalah pasukan Tanah Perdikan Menoreh yang berpihak pada Mataram, namun Ki Gede Telengan tentu sudah mempunyai perhitungan tersendiri.”

Wajah Ki Tumenggung menjadi merah padam. Dadanya bagaikan retak oleh kemarahan yang tidak tertahankan.

Sejenak Ki Tumenggung berdiri dengan tubuh gemetar. Ia sedang dibingungkan oleh keadaan. Ia tidak akan dapat membiarkan pusaka-pusaka itu hilang begitu saja dibawa oleh Ki Gede Telengan. Tetapi ia juga tidak akan dapat begitu saja meninggalkan medan yang menjadi tanggung jawabnya. Apalagi orang-orang terpenting dari pasukannya berada disayap sebelah menyebelah. Sehingga dengan demikian, ia tidak akan dapat langsung berbincang dengan mereka.

Dalam pada itu, pertempuran bagaikan membakar seluruh lembah. Sementara itu, pasukan Ki Tumenggung Wanakerti masih tetap berhasil menekan lawannya, sehingga medanpun masih tetap bergeser meski pun lambat sekali.

Kemenangan-kemenangan kecil itulah yang ikut memberikan keputusan pada Ki Tumenggung Wanakerti, ia pun kemudian memberikan wewenang kepada seorang Senopati prajurit Pajang yang ada didalam pasukannya untuk sementara memegang pimpinan.

“Kita akan memenangkan pertempuran ini dalam waktu yang tidak terlalu lama. Aku mempunyai tugas yang lebih penting, dan yang masih belum jelas keadaannya,” berkata Ki Tumenggung Wanakerti.

Senopati itu termangu-mangu sejenak. Ia merasa agak segan untuk menerima pimpinan itu, karena didalam pasukannya terdapat orang-orang seperti Empu Pinang Aring, Kiai Kalasa Sawit, Samparsada, Jagaraga dan pengikut-pengikutnya yang memiliki cara tersendiri untuk mematuhi perintah Panglimanya.

Tetapi ia sependapat dengan Ki Tumenggung Wanakerti, bahwa pertempuran itu agaknya tidak akan berlangsung terlalu lama lagi. Ia pun yakin bahwa pasukan Mataram akan segera dapat didesak dan dihancurkan, meskipun ternyata ia tidak dapat menutup penglihatannya atas suatu kenyataan hadirnya seorang anak muda bertubuh gemuk bersenjata cambuk, seorang perempuan bersenjata rangkap dan seorang lagi bersenjata tongkat baja putih dengan kepala tengkorak yang berwarna kekuning-kuningan.

………….……… (halaman 78 dan 79 tidak ada) …….……………….

Karena itulah, maka Ki Gede Telengan mengambil keputusan untuk menyelesaikan pertempuran yang berkepanjangan itu. Betapapun ia berusaha mempergunakan segenap kemampuannya dalam oleh kanuragan ternyata bahwa ia tidak berhasil mengalahkan Agung Sedayu yang dapat bergerak selincah burung sikatan dan memiliki tenaga sebesar tenaganya sendiri.

“Aku harus mengajarinya tunduk kepada perintahku,” berkata Ki Gede Telengan kepada diri sendiri.

Ia pun kemudian memberikan isyarat kepada pengawalnya yang khusus membawa kedua pusaka itu untuk agak menjauh dan mengamati pusaka-pusaka itu dengan saksama. Ki Gede Telengan sendiri akan mengatur diri dan menyelesaikan pertempuran yang baginya sudah terlalu lama berlangsung itu.

Agung Sedayu yang melihat sikap dan isyarat-isyarat yang diberikan oleh Ki Gede Telengan menjadi bertambah tegang. Ia dapat menangkap isyarat itu, bahwa Ki Gede Telengan akan sampai kepada ilmunya yang terakhir.

Sejenak kemudian. Agung Sedayu yang berusaha menekan Ki Gede itu dengan serangan-serangan yang semakin cepat, melihat Ki Gede Telengan justru meloncat menjauhinya. Ketika Agung Sedayu berusaha memburunya, ternyata tiga buah pisau belati telah menyambarnya.

Agung Sedayu terpaksa berloncatan menghindari serangan itu. Namun agaknya saat-saat itulah Ki Gede Telengan telah menentukan serangannya yang terakhir. Serangan yang tidak mempergunakan kekuatan wadagnya.

———-oOo———-

Bersambung ke jilid 108

diedit dari: h

Bagian 2

Pengawal itu pun kemudian membunyikan isyarat. Sebuah kentungan kecil dengan irama lima ganda berturut-turut beberapa kali.

Suara kentongan itu terdengar tidak saja didalam lingkungan sayapnya, tetapi terdengar sampai keinduk pasukannya.

Agung Sedayu yang berada disayap itu pun segera mempersiapkan diri pula. Jika benar yang nampak oleh pengawas itu pusaka-pusaka yang sedang dicari oleh Mataram, maka yang mengawal pusaka itu tentu bukannya orang kebanyakan.

Ki Gede Menoreh diinduk pasukan yang mendengar isyarat di bagian sayap gelarnya itu pun segera mengirimkan penghubung unuk mengetahui apa yang sedang terjadi.

Sementara pimpinan sayap gelar itu sibuk memberikan keterangan kepada penghubung yang datang dengan tergesa-gesa, Agung Sedayu beserta beberapa orang pengawal telah maju leibh jauh. Menurut perhitungan Agung Sedayu, isyarat itu dapat menghentikan kelompok yang ada dihadapannya, dan bahkan mungkin mereka akan mencari jalan lain.

Tetapi Ki Gede Telengan tidak sempat melakukannya. Ia memang mendengar isyarat itu. Sejenak ia berhenti bersama pasukannya.

“Isyarat itu tentu dari seorang pengawas pasukan Tanah Perdikan Menoreh yang melihat gerakan pasukan kita,” berkata Ki Gede Telengan.

“Tetapi isyarat itu terdengar dekat sekali.”

“Mereka hanya terdiri dari dua atau tiga orang pengawas. Namun mungkin sekali, isyarat itu mengundang pasukan yang lebih besar, atau sekedar memberitahukan agar mereka bersiap ditempatnya.”

“Kita berbelok,” berkata salah seorang pengikut Ki Gede Telengan.

“Kita akan maju beberapa langkah. Mungkin kita menemukan pengawas itu atau sekelompok kecil. Kita akan mendapat gambaran yang jelas dimana orang-orang Tanah Perdikan Menoreh bertahan.”

“Jadi?”

“Tiga orang dari antara kita akan melingkar dan menyergap pengawas itu. Tetapi jika dihadapan kita terdapat pasukan yang kuat, maka pengawas itu harus memberikan isyarat, agar kita dapat mencari jalan lain.”

Namun mereka sama sekali tidak menyangka, bahwa isyarat itu telah dibunyikan didalam gerakan pasukan di sayap gelar itu sendiri, sehingga mereka tidak menyadari, bahwa Agung Sedayu telah berada beberapa langkah saja dihadapan mereka, di antara pepohonan didalam hutan yang cukup lebat.

Agung Sedayu yang merapat maju di antara pepohonan pun akhirnya dapat melihat pasukan dihadapannya. Itulah sebabnya, maka ia tidak menunggu lebih lama lagi.

Ki Gede Telengan terkejut melihat kehadiran Agung Sedayu dengan sepasukan pengawal dari tanah perdikan Menoreh yang merupakan sayap dari gelar seluruh pasukan Tanah Perdikan Menoreh. Tiga orang pengawas yang dikirim oleh Ki Gede Telengan masih belum hilang dari tatapan matanya, sehingga ketiganyapun segera melangkah kembali.

Agung Sedayu melihat kelompok yang terkejut itu. Di antara mereka memang terdapat dua buah pusaka yang berkerudung kain putih. Menurut pengamatan sekilas Agung Sedayu, kedua pusaka itu tentu sebatang tombak dan sebuah songsong.

Karena itu, maka dengan serta merta Agung Sedayu pun kemudian meloncat kehadapan orang yang dianggapnya menjadi pemimpin kelompok itu sambil berkata, “Berhentilah sebentar Ki Sanak.”

Ki Gede Telengan menjadi berdebar-debar. Tetapi yang nampak dihadapannya adalah sekelompok kecil saja pengawal-pengawal anak muda yang menghentikannya.

“Siapa kau,” geram Ki Gede Telengan.

“Aku Agung Sedayu,” jawab anak muda itu. “aku ingin mengetahui kemanakah pusaka-pusaka itu akan kau bawa.”

Dada Ki Gede Telengan menjadi berdebar-debar. Tetapi tiba-tiba saja ia bertanya, “Pusaka yang mana?”

Agung Sedayu yang sebenarnya masih meragukan kedua pusaka itu berusaha untuk langsung mempengaruhi sikap Ki Gede Telengan. Karena itu jawabnya tegas, seolah-olah ia memang sudah mengetahuinya, “Kedua pusaka yang kau bawa itu. Kangjeng Kiai Pleret dan Kangjeng Kiai Mendung.”

Ternyata jawaban itu benar-benar telah menyentuh-hati Ki Gede Telengan. Ia menganggap bahwa Agung Sedayu telah benar-benar mengetahuinya, sehingga karena itu, tidak dapat ingkar. Jawabannya, “Ya. Aku memang membawa kedua pusaka itu. Aku akan membawanya ketempatku yang tidak seorang pun mengetahuinya.”

“Siapa kau sebenarnya?” bertanya Agung Sedayu.

“Orang menyebutnya Ki Gede Telengan. Tetapi itu tidak penting bagimu. Pergilah. Aku masih mempunyai belas kasihan kepadamu, karena barangkali kau tidak akan menggangguku. Dan aku yakin, kau bingung dan gelisah.”

“Kau tentu tidak akan dapat mengabaikan aku dan menyuruh aku pergi begitu saja. Aku sudah tahu bahwa kau membawa pusaka-pusaka yang hilang dari Mataram, dan aku sebenarnya memang sedang mencari pusaka-pusaka itu.”

“Gila,” Ki Gede Telengan menggeram, “jangan menggigau. Pergi atau aku akan membunuhmu.”

“Pikirkan baik-baik Ki Gede Telengan. Jika aku pergi maka jejakmu sudah aku ketahui. Bahkan dengan demikian aku akan sempat melaporkan kepada Senopati Ing Ngalaga di Mataram tentang kedua pusaka itu.”

“Persetan,” geram Ki Gede Telengan, “memang kau harus dibunuh.”

Agung Sedayu melihat sorot mata yang gelisah tetapi penuh dengan nafsu untuk menyebarkan maut. Karena itu, Agung Sedayu selalu berwaspada menghadapi segala kemungkinan yang akan segera melibatnya. Apalagi menilik sikap dan geraknya. Ki Gede Telengan benar-benar bukan orang bebanyakan.

Ki Gede Telengan kemudian menyadari bahwa orang-orang yang berada di hadapannya tentu sebagian dari orang-orang Tanah Perdikan Menoreh, yang dengan sengaja telah menyumbat mulut lembah di bagian Barat. Itulah sebabnya maka ia tidak akan banyak berbicara lagi.

Sejenak Ki Gede Telengan memandang para pengawalnya pilihan yang dianggapnya memiliki kemampuan yang dapat dibanggakan. Apalagi ketika ia melihat jumlah pengawal yang datang bersama Agung Sedayu, maka katanya, “Bersiaplah untuk mati. Aku akan menumpas kau dan orang-orangmu yang tidak tahu diri. Dihadapanmu adalah Ki Gede Telengan yang mampu memecahkan punggung lawannya dengan tangannya.”

“Ki Gede Telengan,” sahut Agung Sedayu, “kenapa kau tidak bersikap lebih baik dan menyerahkan saja pusaka itu kepadaku. Aku tidak sendiri. Aku membawa pasukan segelar sepapan.”

“Aku tahu. Kau tentu anak Tanah Perdikan Menoreh yang dikabarkan telah menyumbat mulut lembah. Tetapi jika kau masih belum mampu menggenggam guruh dan prahara di tanganmu, jangan mencoba menangkap aku.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Ketika ia melihat Ki Gede Telengan bergeser setapak maju, maka ia pun bergeser pula ke samping sambil mempersiapkan dirinya.

Dengan isyarat Ki Gede Telengan pun memerintahkan orang-orang kepercayaannya untuk maju mendekat. Mereka telah menggenggam senjata di tangan mereka.

“Bunuh mereka semuanya,” perintah Ki Gede Telengan.

“Kau akan menyesal Ki Gede,” suara Agung Sedayu lantang, “kita akan bertempur dengan segenap pasukan yang ada.”

Sesaat kemudian, seperti yang dikatakan oleh Agung Sedayu, pemimpin sayap yang telah selesai memberikan keterangan kepada penghubung yang datang dari induk pasukar itu pun telah tiba dengan pasukannya, meskipun pemimpin sayap gelar itu tidak menghirup semua kekuatan. Ia masih tetap membagi orang-orangnya sehingga pengawasan di sekitarnya tetap dapat dilakukan.

Kehadiran mereka sama sekali tidak mempengaruhi sikap Ki Gede Telengan. Sejenak kemudian, pengawal-pengawal-nyapun segera berlari-lari menyerang di antara pepohonan hutan.

“Hati-hatilah,” teriak Agung Sedayu terhadap orang-orang yang baru datang, “mereka mulai menyerang.”

Permimpin sayap gelar pasukan Tanah Perdikan Menoreh itu pun segera bersiap melawan orang-orang yang menyerangnya. Demikian pula para pengawal yang lain. Mereka pun segera menyebar di antara pepohonan dengan senjata di tangan.

Teryata bahwa pasukan yang mengawal pusaka-pusaka yang akan dilarikan itu benar-benar orang-orang yang bukan saja memiliki ilmu yang tinggi. Tetapi mereka adalah orang-orang yang sama sekali tidak mempunyai pertimbangan-pertimbangan apapun selain membunuh. Itulah sebabnya, maka mereka pun segera bertempur dengan kasar dan bahkan seperti binatang buas yang kelaparan.

Agung Sedayu pemimpin sayap itu dan juga para pengawal Daerah Perdikan Menoreh yang lain terkejut melihat sikap orang-orang itu. Meskipun sebagian dari para pengawal Tanah Perdikan Menoreh telah pernah mengalami pertempuran yang dahsyat, namun serangan yang kasar dan buas itu telah menggetarkan hatinya.

Namun Agung Sedayu tidak begitu mencemaskan pasukan pengawal Daerah Perdikan Menoreh, karena jumlahnya lebih banyak. Dengan suara lantang Agung Sedayu memikirkan keselamatan anak-anak muda yang baru mengalami pertempuran yang sebenarnya untuk yang pertama kali, dan langsung menjumpai lawan yang kuat dan liar, berkata, “Bertempurlah berpasangan. Jumlah kita jauh lebih banyak.”

“Pengecut yang licik,” teriak Ki Gele Telengan, “jika kalian seorang jantan, ajarilah anak buahmu bertempur seorang melawan seorang.”

Agung Sedayu bergeser surut. Ki Gede Telengan telah menyerang dengan dahsyatnya. Namun Agung Sedayu masih sempat menjawab, “Kita berada dipeperangan. Bukan diperang tanding. Jika jumlah kita memang lebih banyak, kenapa kita harus mempersulit diri?”

“Pengecut, kau akan mampus lebih dahulu.” Serangan Ki Gede Telengan pun kemudian datang membadai. Ternyata bahwa orang itu memang memiliki ilmu yang tinggi. Pada serangan-serangan pertama Ki Gede Telengan yang terlalu percaya akan kemampuan sendiri itu sama sekali tidak mempergunakan senjata. Tetapi ayunan tangannya telah menimbulkan desir angin yang dapat mendebarkan jantung. Apalagi tangkapan perasaan Agung Sedayu yang masak terhadap ilmu. seseorang, sehingga dengan demikian ia menyadari, bahwa lawannya bukannya orang yang dapat diabaikan.

Ki Gede Telengan menganggap bahwa lawannya tidak lebih dari anak muda Tanah Perdikan Menoreh itu pun terkejut. Ketika ia melompat sambil mengayunkan sisi telapak tangannya pada tengkuk Agung Sedayu dengan kecepatan yang sulit diikuti dengan tatapan mata wadag, maka Agung Sedayu masih sempat mengelak dengan kecepatan yang sama.

“Anak gila, kau dapat mengelakkan seranganku he,” teriak Ki Gede Telengan.

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi ia menjadi sangat berhati-hati. Desir angin yang ditimbulkan oleh ayunan tangan Ki Gede Telengan, merupakan peringatan yang sungguh-sungguh bagi Agung Sedayu.

Dalam pada itu, pertempuran di sayap itu pun semakin lama menjadi semakin dahsyat. Seperti yang diperingatkan oleh Agung Sedayu, maka para pengawal Tanah Perdikan Menoreh telah bertempur berpasangan. Hanya mereka yang sudah cukup berpengalaman dan memiliki kemampuan yang cukup berusaha untuk mempertahankan dirinya sendiri, karena mereka menganggap bahwa anak-anak muda yang baru itulah yang lebih memerlukan bantuan di antara mereka.

Sebenarnyalah anak-anak muda yang baru untuk pertama kali mengalami pertempuran yang sebenarnya, mula-mula menjadi bingung. Mereka tidak menyangka, bahwa seseorang akan dapat bertempur dengan cara yang kasar dan buas tanpa memperhatikan martabat mereka sebagai seseorang yang berilmu. Mereka bukan saja bertempur dengan senjata mereka, tetapi kadang-kadang mereka menggunakan apa saja yang ada di sekitar mereka. Bahkan dalam kesulitan, seseorang dari mereka telah melontarkan segenggam debu kepada lawannya.

Berita tentang pertempuran yang terjadi disayap itu pun telah diberitahukan oleh seorang penghubung kepada sayap yang lain. Ki Waskita yang berada disayap yang lain menjadi berdebar-debar. Meskipun ia sadar, bahwa Agung Sedayu telah memiliki ilmu yang hampir sempurna, serta luka-lukanya sama sekali sudah tidak berarti lagi, namun betapapun juga Agung Sedayu masih terlalu muda.

Namun ia tidak dapat meninggalkan tempatnya. Setiap saat sayap itu pun akan dapat berjumpa dengan orang orang berilmu yang akan dapat mengacaukan gelar para pengawal Tanah Perdikan Menoreh jika orang-orang berilmu itu tidak menemukan lawan yang dapat mengikatnya dalam suatu pemusatan ilmu.

Di induk pasukan Tanah Perdikan Menoreh. Ki Gede Menoreh pun menjadi gelisah. Tiba-tiba saja ia ingin melihat, apa yang telah terjadi sebenarnya atas pasukan di sayap gelarnya.

Karena itu, maka ia pun kemudian berkata kepada Prastawa, “Pimpinlah induk pasukan ini. Jangan maju lagi sebelum aku datang dan memberikan perintah. Di sayap telah terjadi persoalan yang memerlukan perhitungan lebih jauh.”

“Paman akan pergi melihat pertempuran itu?”

“Ya. Mereka tentu berhadapan dengan orang-orang yang memiliki kemampuan yang tinggi, jika benar seperti yang dikatakan oleh penghubung itu, bahwa pusaka-pusaka yang hilang itu ada di antara mereka.”

Prastawa termangu-mangu sejenak. Namun katanya, “Paman, biarlah aku saja yang pergi. Memang mungkin kakang Agung Sedayu memerlukan bantuan.”

Ki Gede memandang wajah Prastawa yang sungguh-sungguh. Tetapi ia pun kemudian menggeleng sambil menjawab, “Jangan Prastawa. Kau tetap berada di induk pasukan. Kau harus mengatur seluruh gelar. Jika terjadi keadaan yang memaksa, kau harus segera mengambil keputusan.

Prastawa nampak kecewa. Ada niatnya untuk membantu Agung Sedayu. Tetapi ada juga keinginannya untuk menunjukkan kepada Agung Sedayu. bahwa ilmunya telah berkembang dengan pesatnya. Ia ingin hadir diarena untuk melihat Agung Sedayu dalam kesulitan. Kemudian ia datang untuk menyelamatkannya.

Tetapi ternyata pamannya tidak mengijinkannya.

Dalam pada itu, Ki Gede Menorehpun kemudian bersama empat orang pengawalnya menyusup di belakang garis pasukannya menuju ke sayap gelarnya yang telah terlibat dalam pertempuran itu. Di tangannya tergenggam sebuah tombak pendek. Sementara para pengawalnya membawa pedang dan perisai di tangannya.

Sementara itu, di bagian Timur dari lembah itu pun telah terjadi pertempuran yang sengit pula. Pasukan Mataram telah terlibat dalam pertempuran yang sengit pula. Pasukan Mataram telah terlibat dalam pertempuran yang seru. Namun dengan demikian, segera terasa tekanan yang berat dari pasukan lawan yang jumlahnya lebih besar itu.

Di sayap, pasukan Mataram, Ki Lurah Branjangan dan Ki Dipajaya yang menjadi Senopati pengapit sebelah menyebelah, harus menghadapi kenyataan, bahwa lawan mereka benar-benar orang yang tidak dapat dicari bandingnya di antara para pengawal Mataram, sehingga karena itu, maka pengawal Mataram yang jumlahnya lebih sedikit itu masih harus bertempur dalam kelompok-kelompok kecil untuk melawan orang-orang seperti Empu Pinang Aring, Kiai Kalasa Sawit, Kiai Jagaraga dan Kiai Samparsada.

Tetapi untunglah, bahwa di antara pasukan Mataram itu terdapat Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar yang berada di sayap gelar itu pula sebelah menyebelah.

Pada saat-saat terakhir, dari permulaan perang yang sengit itu, maka Kiai Gringsing tidak dapat sekedar memperhatikan perkembangan keadaan saja. Dadanya menjadi berdebar-debar ketika ia melihat orang yang menyebut dirinya bernama Empu Pinang Aring bertempur seperti seekor harimau lapar.

Ketika ia mendengar seseorang meneriakkan nama orang itu, barulah Kiai Gringsing tahu. bahwa orang yang garang itulah orang yang disebut Empu Pinang Aring. Nama yang pernah didengarnya dan pernah disebut-sebut pula oleh satu dua orang yang tertangkap saat segerombolan perampok berusaha menyamun iring-iringan pengantin Swandaru.

“Aku tidak dapat membiarkannya mengacaukan pertahanan orang-orang Mataram,” berkata Kiai Gringsing didalam hatinya.

Namun disayap kanan lawan itu pun terdapat orang lain yang memiliki kemampuan yang luar biasa. Dengan kerut merut dikening, Kiai Gringsing memperhatikan orang yang bertempur melawan sekelompok kecil pengawal Mataram yang dipimpin sendiri oleh Ki Lurah Branjangan, sementara sekelompok yang lain sedang berusaha menahan Empu Pinang Aring.

“Siapa orang itu,” bertanya Kiai Gringsing didalam hatinya.

Tetapi ia tidak dapat sekedar bertanya-tanya. Ki Lurah Branjangan telah bertempar dengan sekuat tenaga dibantu oleh dua orang pengawal terpilih melawan seorang yang bertubuh raksasa. Karena ujud orang itu lebih menarik dari Empu Pinang Aring, maka Ki Lurah Branjangan telah mencoba menahannya.

Tetapi ternyata Empu Pinang Aring itu pun merupakan hantu dimedan itu. Meskipun empat orang berusaha melawannya, tetapi keempat orang itu seakan-akan tidak berdaya menghadapinya. Mereka setiap kali harus berloncatan menjauh apabila Empu Pinang Aring mengayunkan senjatanya berputaran.

Bahkan sekali-sekali Empu Pinang masih sempat tertawa sambil berkata. “Marilah anak-anak. Kita bermain kejar-kejaran. Tetapi kita tidak sekedar bertaruh gandu atau kecik sawo. Taruhan kita sekarang adalah nyawa kita.”

Kata-kata Empu Pinang Aring itu memang dapat menggetarkan hati lawan-lawannya. Apalagi setelah mereka merasakan, betapa sambaran angin yang mengerikan mengikuti ayunan senjata orang yang oleh pengikutnya disebut Empu Pinang Aring.

Tetapi Empu Pinang Aring terkejut ketika tiba-tiba saja terdengar jawaban di sebelah, “Baiklah Empu. Aku pun ingin ikut serta dalam taruhan ini. Bukan kemiri, bukan pula gayam, tetapi taruhannya adalah umur kita masing masing.”

Empu Pinang Aring memandang orang yang sudah menjelang hari-hari tuanya itu. Beberapa langkah ia meloncat mundur menghindari lawan-lawannya. Dengan tajam ia menatap wajah Kiai Gringsing sambil bertanya, “Siapa kau?”

“Aku salah seorang dari pengawal Mataram,” jawab Kiai Gringsing sambil berdiri menghadapi Empu Pinang Aring.

Empu Pinang Aring termangu-mangu sejenak. Namun kemudian, “Baiklah. Bergabunglah dengan lawan-lawanku. Mungkin kau masih dapat membawa satu dua orang kawan lagi yang akan aku bantai bersama sama.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Dari sorot matanya. Empu Pinang Aring memancarkan kepercayaan yang teguh kepada kemampuan diri sendiri, sehingga ia sama sekali tidak terpengaruh oleh sikap Kiai Gringsing.

Tetapi Kiai Gringsing pun adalah orang yang memiliki beberapa kelebihan. Karena itu dengan tenang ia berkata kepada para pengawal Mataram yang termangu-mangu. “Tinggalkan aku. Jumlah kalian terlalu sedikit untuk melawan orang-orang yang bersembunyi di lembah ini. Biarlah Empu Pinang Aring bermain-main bersamaku.”

Empu Pinang Aring mengerutkan keningnya. Yang satu ini tentu akan lain dari keempat orang yang telah mengeroyoknya. Karena itu Empu Pinang Aring mulai tertarik kepada lawannya yang tua ini.

“Siapa kau sebenarnya ?” bertanya Empu Pinang Aring.

Kiai Gringsing tidak segera menjawab. Ia masih memberi isyarat kepada para pengawal Mataram untuk meninggalkannya dan bertempur dalam arena yang kemudian telah menjadi perang brubuh.

“Siapa? “ Empu Pinang Aring mengulanginya.

“Namaku tidak banyak disebut orang Empu. Tetapi orang memanggilku Kiai Gringsing.”

“Kiai Gringsing,” Empu Pinang Aring menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Jadi kaukah orang bercambuk itu?”

“Empu sudah pernah mendengar namaku?”

Empu Pinang Aring memandang Kiai Gringsing dari ujung kakinya sampai keujung rambutnya. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Aku percaya bahwa orang inilah yang disebut orang bercambuk. Baiklah. Kau sudah berhasil mendapatkan lawan. Dan dengan demikian kau sudah mengurangi tekanan pada pasukan pengawal Mataram, karena kau seorang diri dapat mewakili empat orang lawanku.”

Kiai Gringsing tidak segera menjawab. Dipandanginya medan yang semakin lama menjadi semakin seru. Namun terasa bahwa pasukan pengawal Mataram memang sudah terdesak.

“Kenapa Raden Sutawijaya masih belum memberikan isyarat kepada pasukan Sangkal Putung yang sudah siap,” bertanya Kiai Gringsing kepada diri sendiri.

Namun ternyata ia tidak menunggu terlalu lama. Sejenak kemudian terdengar suara sangkakala menggema di lembah itu.

Swandaru yang berada di belakang garis pertempuran menjadi gelisah ketika ia harus menunggu terlalu lama. Ia sadar, bahwa Raden Sutawijaya tentu ingin menjajagi kekuatan lawannya lebih dahulu dengan pasukannya.

Namun akhirnya suara sangkakala itu telah terdengar. Dengan demikian maka Swandaru pun segera memberikan isyarat kepada pasukannya untuk segera bergerak.

Seperti keterangan yang telah diterimanya dari para penghubung, bahwa pasukan lawan cukup kuat, maka ia pun telah memberikan pesan-pesan terakhir kepada pasukannya. Kepada anak-anak muda yang sama sekali belum berpengalaman. Swandaru memberitahukan, bahwa mereka kini tidak sedang bermain-main. Kebetulan lawan mereka yang pertama adalah orang-orang yang sama sekali tidak mempunyai tanggung jawab, bukan saja terhadap sesama, tetapi juga kepada Sumber Hidup mereka.

“Berhati-hatilah. Mungkin kalian akan dikejutkan oleh peristiwa-peristiwa yang sama sekali tidak pernah kalian bayangkan. Tetapi inilah yang disebut pertempuran yang sebenarnya.”

Pandan Wangi dan Sekar Mirah oleh Swandaru tidak diletakkannya disayap gelarnya. Ia sendiri tidak tahu, kenapa ia telah memasang kedua perempuan itu justru diinduk pasukan bersamanya. Agaknya ada semacam kecemasan bahwa kedua perempuan itu akan menghadapi kesulitan, jika keduanya terpisah daripadanya.

Sebenarnya Pandan Wangi dan Sekar Mirah sendiri menyatakan keinginannya untuk berada disayap sebelah menyebelah. Tetapi Swandaru menggeleng sambil berkata, “Kalian bersamaku.”

Pandan Wangi dan Sekar Mirah tidak membantah. Kecuali hubungan pribadi di antara mereka, maka Swandaru adalah pimpinan pasukan Sangkal Putung yang berada di lembah itu.

Demikianlah, maka pasukan Sangkal Putung itu maju menyatu dengan garis pertempuran yang seru. Mereka langsung mengambil bagian di antara pasukan Mataram yang sudah terlebih dahulu terlibat dalam perang.

Kehadiran pasukan Sangkal Putung tidak mengejutkan pasukan yang berada di lembah itu. Sejak semula mereka menyadari, bahwa lawan mereka terdiri dari dua lapis.

Meskipun demikian, kehadiran pasukan Sangkal Putung yang cukup kuat itu langsung mempengaruhi keseimbangan. Namun demikian, jumlah pasukan yang berada di lembah itu masih cukup banyak untuk menekan kedua pasukan gabungan, karena jumlah mereka memang terlalu banyak.

Namun pasukan gabungan yang ada di lembah itu mulai merasa, bahwa pasukan Mataram dan pasukan Sangkal Putung bukannya pasukan-pasukan yang lemah. Apalagi di antara pasukan Mataram memang terdapat prajurit-prajurit Pajang.

Dengan demikian maka pertempuran itu pun menjadi semakin sengit. Pasukan dari lembah itu tidak lagi mendesak lawannya. Mereka mulai merasakan, bahwa lawan mereka adalah kekuatan yang justru semakin berkembang.

Tetapi di sayap kedua pasukan yang berbenturan itu, tekanan pasukan lawan masih terasa berat. Kiai Gringsing yang bertempur melawan Empu Pinang Aring, kadang-kadang masih berdebar-debar melihat seorang yang bertubuh raksasa yang mengamuk bagaikan angin prahara di antara batang-batang ilalang.

Ki Lurah Branjangan adalah orang yang memiliki kelebihan dari para pengawal yang lain. Namun ia merasa, betapa dahsyatnya kekuatan orang bertubuh raksasa itu, sehingga ia memerlukan beberapa orang untuk membantunya.

Tetapi kehadiran pasukan Sangkal Putung memberi kan sedikit kesempatan untuk bernafas. Meskipun pasukan Sangkal Putung tidak terlampau menekankan kekuatan di bagian sayapnya, karena semua kekuatan puncaknya berada di induk pasukan, namun kehadiran mereka terasa juga akibatnya, seakan-akan tugas pasukan pengawal dari Mataram itu menjadi agak ringan, meskipun seolah-olah maut masih tetap mengintai setiap orang disetiap saat.

Dalam pada itu. Empu Pinang Aring sendiri segera terbentur pada kekuatan yang tidak dapat ditembusnya. Ketika pertempuran mulai menjadi seru di antara kedua orang yang memiliki ilmu diluar jangkauan para pengawal yang lain itu. maka mereka masing-masing telah mempergunakan senjata yang paling mereka percaya.

Empu Pinang Aring telah menerima senjata khususnya dari seorang pengawalnya yang selalu mengikutinya. Senjata yang jarang-jarang sekali dipergunakan, kecuali dalam kesempatan-kesempatan yang paling berbahaya bagi dirinya.

Kiai Gringsing memperhatikan senjata yang agak aneh itu. Ia sadar bahwa senjata Empu Pinang Aring itu tentu didapatkannya dari orang-orang asing yang pernah berada di tlatah Pajang, atau masa-masa pemerintahan sebelumnya.

Senjata yang bertangkai sepanjang tangkai tombak pendek itu, mempunyai tiga mata seperti trisula. Tetapi kedua mata tombaknya yang berada dibagian luar, mempunyai mata yang tajamnya menghadap kearah yang berlawanan, seperti ujung eri pandan, sedangkan mata tombak trisula yang berada ditengah, agak lebih panjang sedikit dari kedua ujung yang lain.

“Jangan takut menghadapi senjataku ini,” desis Empu Pinang Aring ketika ia melihat wajah Kiai Gringsing menegang.

Kiai Gringsing yang menyadari keadaannya, tiba-tiba saja tersenyum. Jawabnya, “Aku tidak menjadi ketakutan. Tetapi aku menjadi heran. Jika saja kita tidak sedang bertempur, aku akan meminjam senjata itu barang sejenak.”

Empu Pinang Aring mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Kau tidak saja akan meminjamnya, tetapi kau akan merasakan, bahwa trisulaku itu mempunyai kemampuan untuk berbuat apa saja dimedan. Aku dapat menyobek perutmu dengan tusukan. Tetapi aku dapat memecahkan kepalamu dengan ayunan, karena mata trisulaku mempunyai tajam seperti kapak disisi-sisinya.”

“O,” desis Kiai Gringsing yang telah menggenggam cambuknya, “aku akan mencoba melawan senjatamu yang aneh itu.”

Empu Pinang Aring tidak menjawab lagi. Dengan serta merta ia telah menyerang. Senjata menusuk seperti sebatang tombak. Namun ketika ujungnya gagal menyentuh Kiai Gringsing, maka senjata itu pun segera terayun seperti kapak yang bertangkai panjang.

Kiai Gringsing menjadi berdebar-debar. Senjata itu memang berbahaya. Dalam setiap geraknya senjata itu memungkinkan untuk melukainya, atau bahkan melumpuhkannya.

Karena itulah, maka untuk selanjutnya Kiai Gringsing harus benar-benar berhati-hati. Bahkan ia harus memperlihatkan kemampuannya bergerak dengan kecepatan yang hampir tidak dapat diikuti dengan tatapan mata.

Sejenak kemudian pertempuran antara kedua orang itu pun semakin menjadi dahsyat. Beberapa orang yang ada di seputarnya menjadi berdebar-debar. Senjata Empu Pinang Aring menyambar dari segala arah. Kemudian mematuk seperti seekor ular bandotan yang menerkam lawannya.

Namun dalam pada itu, setiap kali Empu Pinang Aring terkejut mendengar ledakan cambuk Kiai Gringsing. Suara cambuk yang tidak begitu keras menurut pendengaran telinga wadag. Tetapi ternyata bagi telinga Empu Pinang Aring dapat mengetahui bahwa bunyi cambuk itu bagaikan panggilan baginya dari daerah maut.

Dengan demikian maka kedua orang yang bertempur dengan kemampuan yang luar biasa itu telah menumbuhkan keadaan yang khusus didalam arena itu. Sementara para pengawal yang lain bertempur dengan sengitnya melawan orang kasar yang bersembunyi di lembah itu. Setiap kali mereka bersorak-sorak dan berteriak-teriak memekakkan telinga, sehingga kadang-kadang suara itu berhasil mempengaruhi ketahanan hati orang-orang Mataram dan Sangkal Putung.

Ki Lurah Branjangan yang memiliki pengalaman yang luas di medan yang betapapun sulitnya, meskipun ia tidak dapat mengimbangi kekuatan lawannya seorang diri, telah berusaha mengurangi tekanan perasaan pada para pengawal dari Mataram dan Sangkal Putung. Lewat pengawal-pengawalnya ia memerintahkan agar para pengawal Mataram dan Sangkal Putung ikut pula meneriakkan kemenangan-kemenangan yang dapat mereka capai dipertempuran itu.

Sambil menjauhi lawannya sejenak, dan membiarkan para pengawalnya yang lain bertempur, ia berkata kepada seorang penghubung, “Lakukanlah seperti yang mereka lakukan. Dengan demikian maka kalian tidak akan mendengar apa yang mereka teriakkan, karena kalian telah berteriak pula.”

Perintah itu pun kemudian menjalar kepada setiap orang di sayap gelar orang-orang Mataram dan Sangkal Putung itu. Sehingga dengan demikian maka sayap gelar itu pun menjadi sangat riuh dan ramai.

Tetapi seperti yang diperhitungkan oleh Ki Lurah Branjangan, maka para pengawal Mataram dan Sangkal Putung tidak lagi terpengaruh oleh kata-kata yang dilontarkan lawannya, karena mereka tidak mendengar teriakan-teriakan itu lagi dengan jelas.

Sayap gelar pasukan Mataram dan Sangkal Putung itu benar-benar bagaikan arena benturan guruh dan guntur. Suaranya bagaikan menggugurkan lereng Merapi dan Merbabu. Setiap orang bertempur sambil berteriak. Tetapi teriakan mereka itu pun hanyalah dapat mereka dengar sendiri. Karena setiap orang telah berteriak pula.

Orang di lembah itu pun menjadi marah pula karena sikap para pengawal dari Mataram dan Sangkal Putung. Mereka tidak lagi dapat memperolok-olokkan mereka. Tidak lagi dapat mengumpati dan menyebut kematian demi kematian. Bahkan tidak lagi dapat berbohong untuk mempengaruhi perasaan para pengawal dari Mataram dan Sangkal Putung, karena mereka sendiripun telah berteriak-teriak tidak menentu.

“Gila,” geram Kiai Jagarana ketika Ki Lurah Branjangan telah kembali melawannya, “kau ajari para pengawal Mataram itu berbuat seperti perampok-perampok dan penyamun.”

“Aneh,” desis Ki Lurah Branjangan, “orang-orangmu pun melakukannya.”

“Mereka sebagian memang perompak dan penyamun. Tetapi sebagian lagi adalah prajurit-prajurit Pajang.”

“Biar sajalah para pengawal dari Mataram berusaha menyumbat telinga mereka dengan mulutnya sendiri. Kata-kata yang dilontarkan oleh orang-orangmu, terutama oleh para perampok dan penyamun itu telah berhasil mempengaruhi jiwa para pengawal. Kata-kata kasar dan kotor itu memang memalukan sekali. Tetapi kini lontaran kata-kata mereka itu sudah tidak didengar lagi.”

Orang bertubuh raksasa itu tidak menjawab lagi. Dengan serta merta ia menyerang Ki Lurah Branjangan dengan senjata yang paling digemari. Sebuah bindi yang besar dan panjang bergerigi berlapis besi baja.

Ki Lurah Branjangan pun harus berhati-hati menghadapi lawannya. Tetapi pedangnya cukup lincah menyusup ayunan bindi Kiai Jagarana. Beberapa orang pengawal yang membantunyapun cukup lincah, sehingga untuk beberapa saat lamanya, pertempuran itu berlangsung dengan sengitnya.

Di sayap yang lain Ki Sumangkar berada dalam pasukan yang dipimpin oleh Ki Lurah Dipajaya. Sesuai dengan pesan Raden Sutawijaya, maka Ki Dipajayapun telah bertempur bersama beberapa orang pengawalnya seperti yang dilakukan oleh Ki Lurah Branjangan menghadapi orang yang bernama Samparsada. Seorang yang memiliki kemampuan yang luar biasa, sejajar dengan kawan-kawannya di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, sementara Ki Sumangkar telah bertemu dengan Kiai Kalasa Sawit yang pernah tinggal di padepokan Tambak Wedi. Ternyata bahwa Kiai Kelasa Sawit masih tetap garang dan kasar.

Tetapi luka-luka ditubuh Ki Sumangkar sudah tidak berpengaruh lagi. Ia sudah dapat memutar trisulanya dengan dahsyatnya. Sekali-sekali trisulanya itu bagaikan terjulur menyambar kepala lawannya. Namun kemudian berputar seperti baling-baling.

Kiai Kalasa Sawit menghadapi lawannya dengan hati-hati. Ia sadar, bahwa sambaran trisula itu akan dapat melubangi keningnya. Sehingga karena itu, maka ia harus berusaha untuk menghindarinya.

Ternyata sayap gelar pasukan Mataram itu telah tertahan oleh kekuatan yang agak lebih besar. Meskipun pasukan Sangkal Putung telah bergabung bersama mereka, tetapi rasa rasanya tekanan orang orang yang berada di lembah itu masih terasa sangat berat.

Di Pusat gelar pasukan Mataram yang bergabung dengan pasukan Sangkal Putung itu, pertempuranpun telah berkobar dengan dahsyatnya. Raden Sutawijaya telah menunjukkan kemampuannya sebagai seorang Senopati muda. Ia mampu menguasai seluruh keadaan medan yang panjang dengan penglihatannya, keterangan-keterangan yang didengarnya dan perhitungan-perhitungannya, seolah-olah ia telah melihat medan itu dalam keseluruhan.

Namun ketika Tumenggung Wanakerti sengaja menyongsongnya, maka Raden Sutawijaya pun mulai terikat oleh pemusatan kemampuannya kepada Tumenggung yang memang sudah dikenalnya itu.

“Anak muda,” berkata Tumenggung Wanakerti, “jika kau kemudian disebut Senopati Ing Ngalaga itu sama sekali bukan karena kemampuanmu di medan perang. Tapi gelar Senopati Ing Ngalaga itu kau dapatkan sebagai sebuah kurnia dari ayahanda angkatmu yang kasihan melihat anaknya sama sekali tidak memiliki kemampuan apapun juga. Akhirnya kau terpaksa disingkirkan ke Mataram, karena kau hanya akan menghambat perkembangan prajurit Pajang.”

Senopati Ing Ngalaga menggeram. Tetapi ia selalu ingat pesan Ki Juru Martani. Bahwa sebagai seorang pemimpin dari satu gelar yang besar ia tidak boleh terlalu terpengaruh oleh perasaannya. Jika ia kehilangan akal dan pengekangan diri, maka ia tidak akan dapat menguasai seluruh keadaan medan. Karena itulah maka ia menganggap kata-kata Tumenggung Wanakerti itu sebagai pancingan untuk membangkitkan kemarahannya.

Dalam pada itu, medan pun menjadi semakin dikuasai oleh nafsu membunuh. Setiap orang yang telah menjadi basah oleh keringat, seakan-akan telah menjadi wuru. Apalagi mereka yang telah mulai menitikkan darah dari goresan-goresan senjata.

“Kau masih harus berlatih dua tiga tahun lagi Senopati muda,” berkata Tumenggung Wanakerti yang bertempur melawan Raden Sutawijaya.

Raden Sutawijaya mengerutkan keningnya. Ketika tombak pendeknya hampir saja meyambar hidung Tumenggung Wanakerti sehingga Tumenggung itu meloncat mundur. Raden Sutawijaya berkata, “Jika aku berguru dua tiga tahun lagi, maka alangkah ngerinya wajahmu sekarang.”

Tetapi Tumenggung Wanakerti masih dapat tertawa. Katanya, “Bagus. Aku akan melihat, apakah yang dapat kau lakukan sekarang.”

Namun sebenarnyalah hati Raden Sutawijaya menjadi semakin mapan, ia tidak lagi meronta dan memaksa diri untuk bersabar. Tetapi ia benar-benar tidak banyak terpengaruh lagi oleh kata-kata Ki Tumenggung Wanakerti yang memancing kemarahannya itu.

Tetapi dalam pada itu, ternyata bahwa di pusat gelar lawan, kekuatannya benar-benar menakjubkan. Beberapa Senopati dari Pajang telah terlibat pula didalamnya. Jika pasukan Mataram disertai dengan sekelompok prajurit Pajang, maka mereka telah berhadapan dengan beberapa orang Senopati yang memiliki beberapa kelebihan dari prajurit-prajurit kebanyakan.

Namun di pusat gelar itu pun kemudian hadir Swandaru, Pandan Wangi dan Sekar Mirah. Kedatangan mereka telah mengejutkan lawan. Apalagi ketika cambuk Swandaru mulai meledak. Suaranya bagaikan guruh yang seolah-olah memecahkan selaput telinga wadag.

Tumenggung Wanakerti mengerutkan keningnya. Sambil bertempur ia mencoba memperhatikan bunyi cambuk itu. Tetapi telinganya ternyata dapat membedakan, bahwa bunyi cambuk itu adalah bunyi kekerasan wadag. Namun demikian ia menjadi berdebar-debar juga, karena di pusat gelar itu telah hadir seorang yang memiliki kekuatan raksasa.

Ki Juru Martani lah yang kemudian mengatur, dimana Swandaru harus bertempur. Ia tiba-tiba saja telah berada tidak jauh dari Raden Sutawijaya, sehingga kehadirannya langsung mempengaruhi medan. Para Senopati yang bertempur melawan dua atau tiga orang yang berpasangan, karena kemampuan mereka yang berbeda, telah terkejut pula.

Swandaru memang memiliki kelebihan. Seorang Senopati Pajang yang berada di dalam lingkungan orang-orang di lembah itu mencoba untuk menahannya. Namun kemudian ia harus mengakui, bahwa Swandaru bukannya seorang gembala yang hanya pandai meledakan cambuknya keras-keras tanpa lantaran tenaga sama sekali.

Ketika cambuk Swandaru meledak dihadapan Senopati itu, maka langsung terasa, betapa sambaran angin telah menyapu tubuh lawannya sehingga dengan demikian lawannya mengetahui, bahwa cambuk itu benar-benar memiliki kekuatan untuk merobek kulitnya.

Selagi orang-orang di lembah itu masih dikuasai oleh kejutan hadirnya orang gemuk bersenjata cambuk itu, maka sekali lagi mereka terkejut. Disisi lain dari Raden Sutawijaya telah terjadi kegelisahan, karena dimedan itu telah muncul dua orang perempuan dengan senjata mereka yang menggemparkan. Pandan Wangi dengan pedang rangkapnya, sementara Sekar Mirah telah mempergunakan senjata yang diberikan oleh gurunya kepadanya. Sebatang tongkat baja yang berkepala tengkorak berwarna kekuning-kuningan.

“Tongkat itu,” seorang Senopati yang lain berdesis.

Beberapa orang prajurit Pajangpun menjadi berdebar-debar pula. Sebagian dari mereka telah mengenal tongkat baja putih itu. Tongkat yang pernah menggemparkan Pajang saat Pajang masih harus bertempur melawan Jipang.

Sebenarnyalah Sekar Mirah menguasai tongkatnya sebaik-baiknya. Tidak kalah dari yang dapat dilakukan oleh Tohpati yang bergelar Macan Kepatihan.

“Gila,” geram seorang Senopati muda, seolah-olah aku telah menyaksikan sesuatu yang tidak mungkin. Dari wajah yang cantik itu telah memancar sorot mata penuh kebencian dan dendam.”

Namun ia tidak dapat sekedar memandang dengan heran. Sejenak kemudian Senopati muda itu telah terlibat dalam pertempuran yang sengit melawan Sekar Mirah.

“Luar biasa,” desis prajurit itu, selelah senjatanya membentur tongkat Sekar Mirah.

Sekar Mirah tidak menyahut. Sekilas ia memandang Senopati itu. Meskipun Senopati itu tidak lagi memakai pakaian keprajuritannya, namun ada beberapa ciri yang dapat memperkenalkan dirinya sebagai seorang prajurit.

***

(diantara tanda *** sampai *** berikut sepertinya terselip tidak nyambung paragraf sebelum dan sesudahnya.)

Agung Sedayu tidak sempat menyahut lagi. Serangan Ki Gede Telengan telah datang bagaikan angin prahara. Tangannya yang mengandung kekuatan yang tidak terduga menyambar kening Agung Sedayu. Untunglah bahwa Agung Sedayu masih sempat bergeser sambil menarik kepalanya kesamping, sehingga yang terasa olehnya hanyalah sambaran angin yang mendebarkan jantung.

Namun Agung Sedayu tidak sempat merenungi kekuatan lawannya, karena Ki Gede Telengan lelah menyambar lambungnya dengan kaki kanannya.

Sekali lagi Agung Sedayu terpaksa mengelak. Sebuah loncatan kecil kesamping telah melepaskannya dari sambaran kaki Ki Gede Telengan.

Tetapi gerak Ki Gede Telengan itu beruntun bagaikan deburan ombak di lautan. Demikian sebelah kakinya menjejak tanah, maka tubuhnya telah terputar seperti pusaran air. Kaki yang lain seakan-akan telah terlempar menyambar lawannya mendatar.

Agung Sedayu tidak sempat mengelak. Tetapi ia tidak mau dikenai tumit lawannya, karena ia sadar, bahwa perutnya tentu akan menjadi muak, dan bahkan mungkin terluka didalam, sehingga ia tidak akan mendapat kesempatan lebih banyak lagi untuk bertempur.

Karena itu, maka Agung Sedayu pun segera merendahkan dirinya. Ia sadar, bahwa kekuatan lawannya adalah kekuatan raksasa. Karena itulah, maka ia pun menghimpun segenap kekuatannya pada kedua tangannya yang bersilang di hadapan dadanya, sementara kedua kakinya merendah pada lututnya.

Benturan kekuatan pun tidak dapat dihindarkan lagi Kaki Ki Gede Telengan telah membentur siku tangan AgungSedayu.

Ternyata bahwa keduanya telah terperanjat. Bentaran kekuatan itu benar-benar merupakan benturan kekuatan raksasa yang sulit dicari imbangannya.

Agung Sedayu ternyata telah terdorong surut, setelah kedua kakinya yang merendah pada lututnya gemetar beberapa saat. Ia tidak dapat bertahan berdiri ditempatnya, sehingga sebelah kakinya telah bergeser dan kaki yang lain harus melangkah surut.

Namun sementara itu, kaki Ki Gede Telengan bagaikan telah dilontarkan oleh sebuah kekuatan yang tidak diperhitungkannya sama sekali. Sehingga ia pun telah kehilangan keseimbangannya.

Sekejap ia mencoba bertahan, namun kemudian ia terpaksa jatuh pada lutut kaki kanannya.

Tetapi ia masih dapat meloncat dengan sigapnya. Ketika Agung Sedayu siap untuk menyerang, ternyata bahwa Ki Gede Telengan pun telah berdiri tegak pula menghadapi segala macam kemungkinan.

Namun demikian Ki Gede Telengan itu masih sempat mengumpat, “Anak Iblis. Kau benar-benar telah kerasukan. Kau mempunyai kekuatan yang tidak sewajarnya bagi anak-anak sebesar kau. Tetapi jika iblis ditubuhmu itu oncat, maka kau tidak lebih dari seonggok jerami yang tidak berdaya.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi ia siap untuk bertempur lebih dahsyat lagi.

*****

Sejenak kemudian maka Senopati muda itu tidak lagi dapat memandang wajah Sekar Mirah yang cantik. Yang nampak olehnya kemudian adalah segumpal awan putih yang bagaikan ingin melihat dirinya. Kilatan cahaya kekuning-kuningan di antara gumpalan putih itu bagaikan cahaya tatit ditengah-tengah mendung yang kelabu.

Pertempuran di lembah itu pun semakin lama menjadi semakin seru. Pedang rangkap Pandan Wangi pun telah berputar dengan dahsyatnya. Sekali-sekali menyambar, namun kemudian mematuk mengerikan. Seperti Sekar Mirah, maka Pandan Wangipun telah mendebarkan jantung lawannya, seorang Senopati Pajang yang berada dipihak orang-orang yang berkumpul di lembah itu.

Namun dalam pada itu, jumlah orang-orang yang berada di lembah itu memang lebih banyak. Meskipun pada dasarnya, setiap pemimpin mereka telah berhasil ditahan oleh para pemimpin kelompok dari Mataram dan Sangkal Putung. namun orang orang di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu yang lebih banyak jumlahnya itu, masih juga berhasil menekan sehingga setapak demi setapak, pertempuran itu telah bergeser dari garis semula. Karena tidak disadari, pasukan Mataram dan Sangkal Putung meskipun hanya sejengkal demi sejengkal telah terdesak mundur.

Sementara itu, dibagian lain dari lembah itu, Ki Gede Telengan masih bertempur melawan Agung Sedayu. Ternyata bahwa Ki Gede Telengan telah bertemu dengan lawan yang tidak diduganya sama sekali. Agung Sedayu bukannya sekedar seorang anak petani yang kebetulan bermain-main dimedan pertempuran. Tetapi anak muda itu ternyata mampu mengimbangi ilmu Ki Gede Telengan.

Karena Ki Gede Telengan tidak bersenjata, maka Agung Sedayu pun merasa lebih mantap bertempur tanpa senjata. Namun untuk mengimbangi ilmu Ki Gede Telengan, Agung Sedayu pun telah mempergunakan ilmunya selengkapnya.

Ki Gede Telengan benar-benar heran melihat kemampuan lawannya yang masih sangat muda itu. Setiap kali Agung Sedayu selalu dapat membebaskan diri dari libatan serangannya. Betapapun ia memburu setiap gerak menghindar, namun pada suatu saat ia sendirilah yang harus berloncatan menghindari serangan anak muda itu yang membadai.

“He anak muda,” tiba-tiba saja Ki Gede Telengan berteriak, “dimana kau berguru he? Sehingga kau mampu mengimbangi ilmuku pada usiamu yang masih sangat muda itu?”

Agung Sedayu terrnangu-mangu sejenak. Namun kemudian jawabnya, “Ki Sanak. Setiap orang yang menengadahkan permohonannya kepada Sumber Hidupnya, ia akan memiliki sesuatu yang berharga. Cobalah mengerti tentang dirimu sendiri. Mungkin kau dapat memungut ilmu itu di daerah gelap dan hitam. Tetapi pada saatnya, maka yang hitam itu akan terhapus. Seandainya bukan aku, tentu ada orang lain yang akan datang dalam perjalanan hidupmu.”

“Persetan,” geram Ki Gede Telengan yang menyerang semakin dahsyat, “kau sempat menggurui aku. Baiklah. Terima kasih. Tetapi sebentar lagi kau akan mati.”

Ki Gede Telengan yang menjadi semakin gelisah itu-pun tidak mau memperpanjang waktu lagi. Jika kepergiannya diketahui, maka ia akan semakin dalam terbenam kedalam kesulitan, karena baik Tumenggung Wanakerti maupun para pemimpin gerombolan yang lain, tentu tidak akan melepaskan pusaka-pusaka yang harus dijaganya itu dibawa pergi.

Karena itulah maka Ki Gede Telengan pun kemudian telah mengarahkan segenap kemampuannya untuk segera dapat membunuh lawannya, sementara pengikutnya telah bertempur mati-matian melawan pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh.

Dalam pada itu, tekanan dimedan di sebelah Timur dari lembah itu pun semakin lama terasa menjadi semakin berat bagi pasukan pengawal Mataram dan Sangkal Putung. Namun Sutawijaya masih berharap, bahwa pada suatu saat, pasukan Tanah Perdikan Menoreh akan datang dan melihat lawan mereka dari belakang.

Namun ternyata pasukan Tanah Perdikan Menoreh datang terlalu lambat dari yang diperhitungkan. Pasukan Mataram dan Sangkal Putung sudah terdesak semakin jauh. Namun pasukan dari Tanah Perdikan Menoreh sama sekali belum mempengaruhi medan.

Raden Sutawijaya tidak mengetahui, bahwa pasukan Tanah Perdikan Menoreh telah tertahan. Meskipun hanya bagian sayapnya saja yang bertempur dengan sengitnya melawan pasukan pengawal pusaka yang disembunyikan oleh orang-orang yang berkumpul di lembah itu, namun seluruh pasukanpun telah terhenti kerenanya.

Tetapi dalam pada itu, ternyata Prastawa telah menempuh kebijaksanaan lain. Sepeninggal Ki Gede Menoreh dari induk pasukannya, maka Prastawa telah dikecewakannya. Ia ingin datang dan menunjukkan kelebihannya atas Agung Sedayu, dengan membebaskannya dari tekanan lawannya. Tetapi Ki Gede Menoreh tidak memperkenankannya.

Oleh kejengkelannya itulah maka ia telah menentukan sikap yang dianggapnya paling baik. Sesuai dengan pesan para penghubung dari medan di sebelah Timur, pasukan Tanah Perdikan Menoreh harus menyerang dari Barat, karena jumlah lawan ternyata terlalu banyak.

“Biarlah sayap itu bertempur. Aku harus bergerak maju untuk membantu pasukan Mataram. Terutama sayap yang lain dan induk pasukan.” katanya kepada seorang pengawalnya.

Tetapi sayap yang sedang bertempur itu akan terbuka. Jika maksud kita menahan setiap kemungkinan untuk melarikan diri, maka keterbukaan sayap sebelah itu akan memungkinkan orang-orang yang terkurung itu menerobos dan hilang didalam hutan yang lebat.

Prastawa termangu-mangu. Namun katanya, “Tetapi perintah dari Mataram telah kita dengar bersama.”

“Mataram tentu tidak memperhitungkan peristiwa yang telah terjadi, sehingga pasukan ini telah tertahan.”

“Tidak. Tidak ada seorang pun yang akan sempat menerobos.” geram Prastawa.

“Tetapi induk pasukan ini jangan maju terlebih dahulu. Mungkin sebagian dari sayap yang lain dan sebagian dari induk pasukan ini. Namun kita masih harus tetap menutup kemungkinan merembesnya lawan digelar yang panjang ini.

Prastawa berpikir sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Aku akan meninggalkan sebagian dari induk pasukan dan pasukan disayap yang lain agar mereka dapat mengawasi keadaan. Yang lain harus segera memasuki medan dari arah belakang, karena dengan demikian akan mengurangi beban pada pasukan Mataram dan Sangkal Putung.”

“Tetapi berhati-hatilah. Mungkin lawan akan membuat gelar yang tidak dapat dimengerti. Mereka dapat saja mengerahkan sebagian besar kekuatannya justru untuk menghancurkan pasukan kecil ini, sementara yang lain hanya sekedar menahan pasukan Mataram dan Sangkal Putung saja.”

“Aku sudah memperhitungkan. Jika demikian, aku harus bergerak mundur. Dan pasukan yang tinggal ini harus bersiap-siap memberikan dukungan kepada pasukan kecilku.”

Pengawal itu mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud Prastawa. Dan ia pun menganggap bahwa anak muda itu dapat berpikir cepat dan cermat, meskipun masih terlalu didorong oleh perasaannya.

Dengan demikian maka Prastawa telah membawa sebagian dari pasukannya dan memerintahkan sebagian dari sayap yang tidak sedang mengalami gangguan itu untuk tetap maju memberian tekanan betapapun kecilnya dari arah Barat. Dengan demikian, maka perhatian pasukan yang ada di lembah itu akan terbagi, meskipun Prastawa mengetahui bahaya yang mungkin justru akan mengarah kepada pasukannya.

Tetapi medan yang penuh dengan pepohonan itu agaknya memberikan keuntungan padanya jika pasukannya mengalami tekanan yang tidak tertahankan. Pasukannya akan mundur dan bersandar pada kekuatan yang ditinggalkannya.

Diengan hati-hati maka sebagian dari pengawal Tanah Perdikan Menoreh itu telah maju mendekaki arena pertempuran. Mereka menemukan bagian dari barak yang kosong, karena Ki Gede Telengan telah meninggalkan barak itu dan bertempur melawan sayap pasukan Ki Gede Menoreh yang disertai dengan Agung Sedayu dan kemudian disusul oleh Ki Gede Menoreh sendiri.

Ki Waskita yang ada disayap yang lain mendapat beberapa keterangan dari seorang penghubung tentang niat Prastawa untuk hadir dimedan. Agaknya Ki Waskita pun tidak berkeberatan atas rencana itu, sehingga ia pun kemudian ikut serta maju bersama sebagian dari pasukan yang ada disayap itu

………….……… (halaman 74 dan 75 tidak ada) …….……………….

di sekitarnya. Tetapi persoalan pusaka itu benar-benar telah mencengkam jantungnya.

Tiba-tiba saja tangannya telah menyambar baju orang itu. Sambil mengguncangkannya ia bertanya, “Apakah Ki Gede Telengan tidak berhasil mempertahankannya? Apakah kau dapat menyebut, siapa vang telah mengambil pusaka itu? Ki Gede Menoreh? Atau siapa?”

Orang itu menjadi semakin pucat. Nafasnya yang mulai teratur telah menyesak lagi didadanya.

“Bukan, bukan orang lain yang mengambilnya.”

“Jadi siapa? He, berkatalah dengan jelas.” Ki Tumenggung Wanakerti berteriak. Tetapi suaranya bagaikan lenyap dalam riuhnya suara pertempuran.

“Ki Gede Telengan sendiri.”

“Ki Gede Telengan. He. apakah kau sudah gila?”

“Benar Ki Tumenggung. Ki Gede Telengan telah melarikan pusaka itu. Beberapa orang telah mencoba mencegahnya. Tetapi mereka telah terbunuh. Mungkin hanya aku atau barangkali satu dua orang lain yang berhasil lolos dari maut.”

“Gila. Apakah kau berkata sebenarnya? Apakah kau memang sudah gila, sehingga kau tidak tahu apa yang kau lihat dan tidak sadar, apa yang kau katakan?”

“Aku sadar sepenuhnya Ki Tumenggung. Aku melihat Ki Gede Telengan memerintahkan pengikutnya membawa pusaka-pusaka itu ke arah Barat.”

“Gila. Benar-benar gila.”

“Meskipun di sebelah Barat ada pasukan yang diduga adalah pasukan Tanah Perdikan Menoreh yang berpihak pada Mataram, namun Ki Gede Telengan tentu sudah mempunyai perhitungan tersendiri.”

Wajah Ki Tumenggung menjadi merah padam. Dadanya bagaikan retak oleh kemarahan yang tidak tertahankan.

Sejenak Ki Tumenggung berdiri dengan tubuh gemetar. Ia sedang dibingungkan oleh keadaan. Ia tidak akan dapat membiarkan pusaka-pusaka itu hilang begitu saja dibawa oleh Ki Gede Telengan. Tetapi ia juga tidak akan dapat begitu saja meninggalkan medan yang menjadi tanggung jawabnya. Apalagi orang-orang terpenting dari pasukannya berada disayap sebelah menyebelah. Sehingga dengan demikian, ia tidak akan dapat langsung berbincang dengan mereka.

Dalam pada itu, pertempuran bagaikan membakar seluruh lembah. Sementara itu, pasukan Ki Tumenggung Wanakerti masih tetap berhasil menekan lawannya, sehingga medanpun masih tetap bergeser meski pun lambat sekali.

Kemenangan-kemenangan kecil itulah yang ikut memberikan keputusan pada Ki Tumenggung Wanakerti, ia pun kemudian memberikan wewenang kepada seorang Senopati prajurit Pajang yang ada didalam pasukannya untuk sementara memegang pimpinan.

“Kita akan memenangkan pertempuran ini dalam waktu yang tidak terlalu lama. Aku mempunyai tugas yang lebih penting, dan yang masih belum jelas keadaannya,” berkata Ki Tumenggung Wanakerti.

Senopati itu termangu-mangu sejenak. Ia merasa agak segan untuk menerima pimpinan itu, karena didalam pasukannya terdapat orang-orang seperti Empu Pinang Aring, Kiai Kalasa Sawit, Samparsada, Jagaraga dan pengikut-pengikutnya yang memiliki cara tersendiri untuk mematuhi perintah Panglimanya.

Tetapi ia sependapat dengan Ki Tumenggung Wanakerti, bahwa pertempuran itu agaknya tidak akan berlangsung terlalu lama lagi. Ia pun yakin bahwa pasukan Mataram akan segera dapat didesak dan dihancurkan, meskipun ternyata ia tidak dapat menutup penglihatannya atas suatu kenyataan hadirnya seorang anak muda bertubuh gemuk bersenjata cambuk, seorang perempuan bersenjata rangkap dan seorang lagi bersenjata tongkat baja putih dengan kepala tengkorak yang berwarna kekuning-kuningan.

………….……… (halaman 78 dan 79 tidak ada) …….……………….

Karena itulah, maka Ki Gede Telengan mengambil keputusan untuk menyelesaikan pertempuran yang berkepanjangan itu. Betapapun ia berusaha mempergunakan segenap kemampuannya dalam oleh kanuragan ternyata bahwa ia tidak berhasil mengalahkan Agung Sedayu yang dapat bergerak selincah burung sikatan dan memiliki tenaga sebesar tenaganya sendiri.

“Aku harus mengajarinya tunduk kepada perintahku,” berkata Ki Gede Telengan kepada diri sendiri.

Ia pun kemudian memberikan isyarat kepada pengawalnya yang khusus membawa kedua pusaka itu untuk agak menjauh dan mengamati pusaka-pusaka itu dengan saksama. Ki Gede Telengan sendiri akan mengatur diri dan menyelesaikan pertempuran yang baginya sudah terlalu lama berlangsung itu.

Agung Sedayu yang melihat sikap dan isyarat-isyarat yang diberikan oleh Ki Gede Telengan menjadi bertambah tegang. Ia dapat menangkap isyarat itu, bahwa Ki Gede Telengan akan sampai kepada ilmunya yang terakhir.

Sejenak kemudian. Agung Sedayu yang berusaha menekan Ki Gede itu dengan serangan-serangan yang semakin cepat, melihat Ki Gede Telengan justru meloncat menjauhinya. Ketika Agung Sedayu berusaha memburunya, ternyata tiga buah pisau belati telah menyambarnya.

Agung Sedayu terpaksa berloncatan menghindari serangan itu. Namun agaknya saat-saat itulah Ki Gede Telengan telah menentukan serangannya yang terakhir. Serangan yang tidak mempergunakan kekuatan wadagnya.

———-oOo———-

Bersambung ke jilid 108

diedit dari: http://adbmcadangan.wordpress.com/buku-II-7/

Terima kasih kepada Ki Sugito dan Ki Sarip Tambak Oso yang telah me-retype jilid ini.

 

<<kembali | lanjut >>

Satu Tanggapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s