ISTANA YANG SURAM 12

ISTANA YANG SURAM

Jilid 12

Karya: SH Mintardja

kembali | lanjut

Istana Yang Suram-12SEJENAK kemudian, maka kedua kelompok itu pun berangkat menuju ke istana kecil yang suram itu, mereka telah bersepakat untuk tidak merahasiakan kedatangan mereka.

“Tidak ada gunanya kita bersembunyi-sembunyi, kita akan datang dengan menengadahkan dada kita” berkata Pangeran Sora Raksa Pati.

Ajar Sukaniti tersenyum, jawabnya, “Ada yang kurang sesuai dengan jalan pikiran kita semula, kita akan datang menjelang fajar, menunggu agar orang-orang yang ada di dalam istana itu lengah, ternyata kita justru datang dengan dada tengadah”

“Bukan aku yang pengecut” geram Pangeran Sora Raksa Pati.

“Dengan demikian, kau mengartikan bahwa akulah yang pengecut, bukan begitu Pangeran?” bertanya Ajar Sukaniti.

Dua kelompok kecil orang-orang berkuda itu pun kemudian menyusuri jalan padukuhan menuju ke istana kecil yang terpisah beberapa puluh tonggak dari padukuhan Karangmaja.

Ternyata bahwa derap kaki kuda itu telah membangunkan beberapa orang padukuhan, sebagian mereka menjadi ketakutan dan membeku karenanya, tetapi satu dua anak-anak muda yang memiliki keberanian, mencoba untuk bangun dari pembaringan-nya, meskipun yang dapat mereka lakukan hanyalah mengintip dari kejauhan.

Tetapi ternyata mereka tidak melihat sesuatu.

Adalah kebutulanan sekali, dua orang yang berada di sawah karena menunggui air yang mengalir tersendat-sendat di parit yang membelah sawahnya, melihat kelompok orang-orang berkuda itu, sambil menggigil mereka berusaha untuk bersembunyi di balik tanggul.

Darah mereka serasa membeku ketika salah seorang dari orang-orang berkuda itu berkata dekat diatas kepala mereka yang bersembunyi itu, “Ada dua ekor tikus bersembunyi disini”

“Biarkan mereka” jawab yang lain, “Biarlah mereka menjadi saksi, bahwa kita telah datang ke istana kecil itu, besok orang-orang Karangmaja akan menemukan mayat-mayat yang berserakan yang harus mereka kuburkan”

Meskipun iring-iringan itu sama sekali tidak mengacuhkan kedua orang itu, tetapi rasa-rasanya nyawa mereka berdua telah melekat di ubun-ubun, karena itulah ketika derap kaki kuda itu menjadi semakin jauh, rasa-rasanya mereka dapat bernafas kembali.

Namun tiba-tiba salah seorang dari mereka berdesis, “Mereka akan memasuki halaman istana itu”

“Ya, mereka akan melakukan perbuatan yang jahat”

“Apakah kita akan diam saja?”

“Apakah yang dapat kita lakukan?”

“Melaporkannya kepada Ki Buyut”

Kawannya termenung, namun kemudian jawabnya, “Ya, kita wajib melaporkannya kepada Ki Buyut”

Kedua orang itu pun kemudian dengan tergesa-gesa meninggalkan parit dengan alirannya yang gemericik, menyusuri pematang mereka bergegas untuk segera sampai ke rumah Ki Buyut di Karangmaja.

Namun dalam pada itu, ketika ia sampai di halaman rumah Ki Buyut, ia sudah melihat beberapa orang anak muda. Ki Buyut sudah berada di pendapa pula.

“Apa yang terjadi?” bertanya salah seorang dari keduanya.

“Kami mendengar derap kaki kuda, tentu orang-orang yang ada di banjar dan kelompok yang lain menuju ke istana kecil itu.

“Kalian melihat?”

“Tidak, kami hanya mendengar derap kaki kuda, kami tidak berani keluar rumah sebelum derap kaki kuda itu lenyap”

“Aku melihat mereka” hampir berbareng kedua orang itu menyahut.

Ki Buyut tertarik mendengar percakapan itu, kemudian dipanggilnya kedua orang itu dan dimintanya untuk menceritakan apa yang sudah mereka lihat.

Dengan singkat keduanya menceritakannya sahut menyahut, merekapun menceritakan bahwa sebenarnya orang-orang berkuda itu melihat mereka pula.

“Apakah mereka menuju ke istana kecil itu?” bertanya Ki Buyut.

“Ya, Ki Buyut. Bahkan mereka berkata, bahwa kita akan menjadi saksi, besok orang-orang Karangmaja akan menemukan mayat-mayat yang berserakan dan harus kita kuburkan”

“He” wajah Ki Buyut menjadi tegang, “Jadi mereka akan membunuh penghuni istana itu?”

“Ya, Ki Buyut”

Ki Buyutpun tiba-tiba saja seolah-olah membeku, di wajahnya nampak pergulatan pikiran yang tidak kunjung terurai.

“O” tiba-tiba ia berdesis, “Kita sudah berhutang budi kepada seisi istana, dan kita sekarang mengetahui bahwa istana itu akan mengalami bencana, tetapi kita tidak berdaya untuk melakukan sesuatu”

Tidak seorang pun yang menyahut, semua orang dihinggapi perasaan serupa dengan Ki Buyut Karangmaja itu.

Keadaan menjadi semakin hening ketika mereka melihat Ki Buyut itu terduduk lemah, adalah diluar ugaan mereka ketika tiba-tiba Ki Buyut yang tua itu menutup wajahnya dengan keuda telapak tangannya, nampak ia berjuang untuk bertahan dari hentakan perasaannya, namun Ki Buyut itu tidak berhasil.

Anak-anak muda Karangmaja berdiri mematung ketika mereka melihat Ki Buyut menangis, laki-laki tua itu adalah laki-laki yang kuat menurut penilaian anak-anak muda Karangmaja, ia seolah-olah tidak pernah tergoncang oleh keadaan, hatinya keras seperti batu karang.

Tetapi kini ia menangis.

Suasana yang hening itu menjadi semakin sepi, anak-anak muda Karangmaja bagaikan terpukau di tempatnya.

Namun sejenak kemudian Ki Buyut itu pun mengangkat wajahnya, tiba-tiba saja ia berdiri tegak, diputarnya keris yang ada di punggungnya, sehingga kemudian terselip didada, sambil memegang hulu kerisnya ia berkata, “Anak-anakku, aku adalah orang yang sudah tidak berarti apa-apa bagi orang yang sedang bertentangan di halaman istana itu, tetapi aku tidak dapat tinggal diam disini tanpa berbuat apa-apa”

“Apa yang akan Ki Buyut lakukan?” bertanya seorang anak muda.

“Ambilkan pedangku, aku akan pergi ke istana kecil itu”

“Ki Buyut” tiga orang anak-anak muda maju serentak, “Itu berbahaya sekali”

“Aku mengerti, tetapi aku harus pergi”

Anak-anak muda itu pun menjadi tegang, yang terdengar kemudian adalah suara Ki Buyut yang gemetar, “Ambil pedangku, aku akan pergi, tidak seorang pun boleh mengikuti aku”

“Tetapi Ki Buyut tidak akan pergi”

“Aku akan pergi, kau dengar”

“Jika demikian, kita semuanya akan pergi”

“Bodoh, apakah aku akan membunuh semua anak-anak muda di Karangmaja ini?, biarlah aku yang tua, kalian tahu, siapakah yang akan menggantikan kedudukanku, karena itu, cepat ambil pedangku, aku akan pergi”

Anak-anak muda itu menjadi tegang, tetapi salah seorang dari mereka itu pun pringgitan juga masuk ke ruang dalam, mengambil pedang yang dimaksudkan oleh Ki Buyut, setiap orang mengetahui, bahwa pedang yang tergantung di ruang tengah adalah pedang pusaka Ki Buyut Karangmaja.

Setelah menerima pdangnya, maka Ki Buyutpun sekali lagi berpesan, “Jangan bodoh, setiap orang diantara kita yang pergi ke istana itu tentu akan mati, akupun sudah siap untuk mati, tetapi aku akan mencoba berbuat sesuatu dengan pedangku, meskipun aku tahu, itu tidak akan banyak berarti”

Anak-anak muda Karangmaja masih mencoba mencegahnya, tetapi Ki Buyut itu pun mulai melangkahkan kakinya sambil berkata, “Tidak seorangpun yang boleh mengikuti aku”

Anak-anak muda itu pun bagaikan mematung ditempatnya, ketika mereka melihat dalam keremangan malam, Ki Buyut melangkah satu-satu menuju ke regol halaman rumahnya, semakin lama semakin jauh kemudian hilang dalam kegelapan malam.

Anak-anak muda itu menarik nafas dalam-dalam, mereka seolah-olah melihat Ki Buyut telah berjanji dengan maut, untuk berjumpa di balik gelapnya malam yang menjadi semakin dalam.

Untuk beberapa saat lamanya anak-anak muda Karangmaja itu tidak dapat mengucapkan sepatah katapun, mereka berdiri saja membeku sambil memandang kegelapan, namun mereka sudah tidak melihat sesuatu.

Anak muda yang berdiri ditengah jalan menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Kita akan kehilangan. Kehilangan Ki Buyut Karangmaja dan kehilangan isi istana kecil yang pernah memberikan banyak tuntunan bagi tata cara kehidupan padukuhan kecil ini”

Yang lain tidak menjawab, yang terdengar adalah desah dari beberapa orang yang termenung.

Anak muda yang pertama itu pun kemudian berkata, “Apakah kita akan tinggal diam?”

Tidak seorang pun yang segera menjawab, namun mereka cukup menyadari bahwa mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa, mereka sudah cukup menderita dengan luka parah yang dialami oleh Kasdu dan seorang kawannya.

“Jika kita pergi ke istana itu, maka seperti yang dikatakan oleh Ki Buyut, semuanya akan mati di halaman istana itu” desis salah seorang kemudian.

Anak muda yang pertama menarik nafas dalam-dalam, sementara seorang yang lebih tua dari mereka, berkata, “Sudahlah, dengarlah pesan dari Ki Buyut, yang terjadi, agaknya memang harus terjadi, tetapi jangan menambah korban mungkin banyak”

Tidak seorang pun yang menyahut, namun hampir setiap orang dengan ngeri membayangkan, mayat yang terbujur lintang di halaman istana kecil itu.

“Kita tidak dapat berbuat apa-apa, kita harus melihat dan membiarkan semuanya itu terjadi, betapapun besar hasrat kita untuk membantu, tetapi kita tidak dapat mengingkari kenyataan bahwa kemampuan kita memang terbatas, “Orang yang lebih tua itu meneruskan.

Karena itulah, maka anak-anak muda itu pun kemudian seorang demi seorang memasuki regol halaman Ki Buyut, dengan kepala tunduk mereka kemudian duduk di tangga pendapa tanpa berbuat sesuatu. Meskipun demikian ada semacam dorongan di setiap hati, dan ternyata anak-anak muda Karangmaja itu telah berdoa menurut cara mereka, mereka memohon kepada Yang Maha Kuasa bermurah hati menyelamatkan Ki Buyut dan seisi istana kecil itu.

Dalam pada itu orang-orang Kumbang Kuning dan orang-orang Cengkir Pitu telah mendekati regol halaman istana kecil itu, sejenak mereka berhenti sambil memandang regol yang tertutup.

“Kita akan mengetuk pintu dengan tangkai pedang” berkata Kidang Alit.

“Tidak ada gunanya, mereka tidak akan membuka, kita rusak saja pintu itu” sahut Raden Kuda Rupaka.

Kidang Alit termenung, namun ia pun kemudian tersenyum, “Terserah kepada Raden. Raden adalah kemanakan penghuni istana yang suram ini”

Untuk beberapa saat lamanya, orang-orang di depan regol itu masih termenung, Raden Kuda Rupaka yang sudah berdiri di depan regol itu pun masih nampak ragu-ragu, namun kemudian, dengan gigi yang gemeretak ia berkata, “Aku akan memecahkan regol ini”

Kidang Alit tertawa, katanya, “Ada ketidak relaan di dalam hatimu Raden, sehingga kau terpaksa menghentakkan perasaan dengan menggeretakkan gigi, kau mendapatkan sandaran kekuatan untuk melakukannya”

Raden Kuda Rupaka memandang Kidang Alit dengan tajamnya, namun ia tidak menghiraukannya, dengan serta merta ia turun dari kudanya dan mendekati regol halaman yang sudah menjadi semakin rapuh.

Raden Kuda Rupaka tidak memerlukan kekuatannya yang berlebih-lebihan, ternyata dengan dorongan yang tidak terlalu kuat, regol itu sudah terbuka.

“Tidak diselarak” desisnya.

Sekali lagi Kidang Alit tertawa, katanya, “Mereka menyadari bahwa tidak ada gunanya menyelarak pintu itu”

Raden Kuda Rupaka tidak menjawab, namun kemudian dituntunnya kudanya memasuki halaman istana yang suram itu, diikuti oleh orang-orang Kumbang Kuning dan orang-orang Cengkir Pitu.

Untuk beberapa saat, orang-orang yang memasuki istana itu mencoba mencari orang-orang yang tentu sudah bersiap-siap di halaman itu, namun mereka mengerutkan keningnya, ketika mereka melihat beberapa orang yang duduk di pendapa istana kecil itu.

“Mereka berada di pendapa” desis Kidang Alit.

“Ya, seperti yang kita duga, mereka tidak akan berpencar” sahut Ajar Sukaniti, “Dan kitapun akan menghadapi mereka seperti yang kita perhitungkan semula”

“Kita harus membunuh mereka semuanya lebih dahulu” geram Pangeran Sora Raksa Pati, “Baru kita melakukan yang lain”

Orang-orang yang ada di pendapa istana kecil itu menarik nafas dalam-dalam, mereka mendengar dengan jelas pembicaraan yang seolah-olah dengan sengaja dilontarkan untuk mempengaruhi ketahanan hati mereka.

“Perempuan itu tentu ada diantara mereka” desis Raden Kuda Rupaka.

“Tetapi jika yang lain sudah terbunuh, ia akan menjadi jinak” sahut Kidang Alit.

Terasa bulu-bulu di seluruh tubuh Pinten meremang, sebagai seorang gadis ia menyadari bahwa yang terjadi padanya akan dapat berbeda dengan orang-orang lain yang berada di pendapa itu.

Tetapi ketika tersentuh senjatanya, maka terasa hatinnya menjadi agak tenang.

Dalam pada itu, Sangkan dan kawan-kawannya pun telah berdiri pula, dengan hati-hati mereka melangkah maju menyongsong kedatangan orang-orang Cengkir Pitu dan Kumbang Kuning seperti yang sudah mereka duga sebelumnya.

Untuk sesaat masing-masing pihak saling berhadapan dengan tegang, seakan-akan mereka sedang saling menilai kekuautan masing-masing.

Namun sejenak kemudian suara Ajar Sukaniti, “Anak-anak muda, apakah hanya orang-orang inilah kawan-kawanmu di istana ini?”

Dada Panon menjadi berdebar-debar, hampir diluar sadarnya, ia menghitung di dalam hati, “Enam orang”

Tetapi ternyata Sangkan menjawab lain, “Tidak Ki Sanak, kawanku cukup banyak, selain yang kau lihat disini, aku masih mempunyai beberapa orang kawan, diantaranya adalah Panji Sura Wilaga”

Raden Kuda Rupaka menahan hatinya yang bergejolak, namun ianya menyahut, “Bagus, aku akan mengambilnya, jika paman Panji Sura Wilaga sudah tidak ada lagi, maka tebusannya adalah enam nyawa sekaligus”

Tetapi diluar dugaan mereka, maka Sangkan menjawab sambil tertawa, “Bagi kami tentu tidak akan ada bedanya, membunuh atau tidak, kalian tentu akan membunuh kami semuanya”

Namun diluar dugaan pula, Kidang Alit menyahut, juga disela-sela tertawanya, “Tentu tidak Sangkan, jika Panji Sura Wilaga masih hidup, justru aku akan membunuh kalian semuanya, tetapi jika Panji Sura Wilaga sudah kalian bunuh, maka harus tersisa sebuah nyawa sebagai gantinya, dan aku memilih, Pinten lah yang akan tetap hidup”

“Persetan” Pinten menggeram, tetapi Ki Ajar Respati sudah mendahuluinya, “Terima kasih, anakmas, jika kau bermurah hati untuk mensisakan satu diantara kami, sebab yang satu itu masih mempunyai kemungkinan untuk membinasakanmu dan menceburkan ke dalam sumur sebelum mulut sumur itu disumbat, aku tidak mengatakan bahwa mulutmulah yang akan disumbat”

Wajah Kuda Rupaka menjadi merah, tetapi ia masih dapat menahan diri.

Tetapi agaknya Pangeran Sora Raksa Pati bersikap lain, dengan suara mengguntur ia berkata, “Orang-orang inilah yang harus kita bunuh, kita datang untuk bertempur, bukan untuk bergurau seperti anak-anak muda yang kurang waras ingatan.”

Suaranya ternyata berpengaruh kuat, suasana halaman itu menjadi tegang.

Sangkan yang berdiri di paling depan diantara kawan-kawannya dengan sungguh-sungguh menyahut, “Baiklah, kita akan mulai bersungguh-sungguh, akupun tidak akan banyak mempunyai waktu, tetapi dalam saat-saat terakhir, aku masih ingin bertanya kepada Pangeran Cemara Kuning dan Pangeran Sendang Prapat, dimanakah Pangeran Kuda Narpada saat ini?”

Pangeran Cemara Kuning dan Pangeran Sendang Prapat terkejut mendengar pertanyaan yang tidak terduga-duga itu, namun sejenak kemudian Pangeran Sendang Prapat menjawab, “Kenapa kau bertanya kepadaku?”

“Disaat terakhir, Pangeran berdualah yang nampak pergi bersama Pangeran Kuda Narpada”

Pangeran Cemara Kuning dan Pangeran Sendang Prapat saling berpandangan sejenak, namun kemudian Pangeran Cemara Kuning berkata, “Tidak ada gunanya kau bertanya lagi tentang Pangeran Kuda Narpada, aku tidak tahu lagi dimanakah ia kini berada, apakah menjadi tanggung jawabku bahwa pada suatu saat Pangeran Kuda Narpada pergi meninggalkan keluarganya dan tidak kembali lagi”

“Jawaban Pangeran sama sekali tidak memperingan tanggung jawab Pangeran, agaknya Pangeran Kuda Narpada sudah tertipu sehingga akhirnya ia terjebak ke dalam rencana jahat, rencana yang sama sekali tidak diduganya, karena Pangeran Kuda Narpada sendiri tidak pernah memikirkan tindak kejahatan yang licik seperti yang terjadi atas dirinya”

“Apa pedulimu tentang peristiwa itu?” geram Pangeran Sendang Prapat, “Sekarang kau menghadapi maut, jangan kau kacaukan pikiranmu, dengan persoalan yang sama sekali tidak menyangkut dirimu”

“Persoalan kemanusiaan menyangkut setiap orang” jawab Sangkan, “Seandainya aku harus mati sekarang ini, sebenarnyalah aku ingin mengetahui apakah yang sudah Pangeran berdua lakukan atas Pangeran Kuda Narpada. Menipu dan menjebaknya?, atau bakal meracuninya?, karena dalam sikap beradu dada, Pangeran berdua tidak akan dapat menang melawan Pangeran Kuda Narpada seorang diri”

“Cukup” bentak Ajar Sukaniti, “Kita sudah mulai lagi dengan persoalan-persoalan yang berkepanjangan, sekarang kita mulai membunuh mereka bersama-sama”

“Lakukanlah” tiba-tiba saja Pinten yang menyahut, “Tetapi apakah Pangeran tidak mau memberikan waktu sedikit saja untuk menjelaskan keadaan terakhir Pangeran Kuda Narpada?”

Suara Pinten ternyata mengumandang dalam nadanya yang tinggi, sehingga orang-orang yang ada di halaman itu bagaikan tercengang karenanya, namun yang menjawab kemudian adalah Pangeran Sora Raksa Pati, “Bunuh mereka sekarang”

“Tunggu” desis Pinten, “Aku hanya ingin mendengar, apakah Pangeran Kuda Narpada masih hidup atau sudah mati?”

“Pangeran Kuda Narpada sudah mati” tiba-tiba saja Pangeran Sendang Prapat berteriak, “Dan kalian semuanya juga akan mati”

Sangkan menjadi semakin tegang, dengan nada dalam ia menggeram, “Pembunuhan yang licik, siapakah yang telah membunuhnya?”

“Jangan hiraukan, keduanya berusaha untuk memperpanjang waktu, mungkin mereka mengharapkan agar orang-orang Karangmaja datang membantu mereka” teriak Raden Kuda Rupaka, “Tidak ada waktu lagi untuk berbicara”

“Jangan beri kesempatan kepadanya untuk menunggu orang yang bakal diharapkan datang” tambah Kidang Alit.

Suasana di halaman itu menjadi semakin tegang, ternyata Sangkan dan Pinten tidak berhasil lagi menunda perkelahian yang sebentar lagi tentu akan meledak.

Tetapi sementara itu Ki Ajar Respati yang melangkah maju sambil tertawa, “Baiklah” katanya, “Kita akan bertempur, mungkin diantara kita akan ada yang mati terbunuh, tetapi yang aneh bahwa aku masih belum banyak mengenal siapakah yang sedang aku hadapi sekarang”

“Persetan” Pangeran Sora Raksa Patilah yang menyahut, “Kaupun berusaha memperpanjang kesempatan untuk menunggu, jangan banyak bicara lagi”

Ki Reksabahu ingin bicara, tetapi baru saja ia bergerak Ajar Sukaniti sudah berteriak, “Bunuh mereka sekarang”

Tidak ada kesempatan lagi, orang-orang Kumbang Kuning dan orang-orang Cengkir Pitu segera mengambil sikap.

Namun sementara itu seakan-akan tanpa disadari, orang-orang yang tinggal di istana kecil itu pun segera berloncatan saling mendekat, mereka kemudian siap melawan kedua kelompok yang datang menyerang itu dalam sati kesatuan di tengah-tengah pendapa, istana kecil itu. Pinten yang semula berdiri agak terpisah, telah menyatukan diri pula diantara Sangkan dan Panon.

Kiai Rancangbandang, Ki Reksabahu dan Ki Ajar Respati telah menutup lingkaran di belahan lain, mereka sudah siap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi.

Sejenak kemudian orang-orang Kumbang Kuning dan Cengkir Pitu masih saja ragu-ragu untuk menyerang meskipun mereka telah mengepung rapat. Kesatuan kecil memang tidak mudah untuk diserang bersama-sama, justru karena mereka tidak terpencar, dengan demikian maka orang-orang Cengkir Pitu dan Kumbang Kuning itu menjadi seakan-akan saling berdesakan.

Ajar Sukaniti, Pangeran Sora Raksa Pati, Raden Kuda Rupaka dan Kidang Alit telah berpencar pula dan berdiri di empat arah.

Sejenak mereka masih termenung, namun ketika Pangeran Sora Raksa Pati mulai menghunus senjatanya, maka pertempuran itu pun segera mulai.

Pada tingkat pertama, mereka saling menjajagi kemampuan masing-masing, orang-orang Cengkir Pitu dan orang-orang Kumbang Kuning sedang berusaha untuk mencari kesempatan yang paling baik untuk memecahkan lingkaran kecil yang rapat itu.

Tetapi senjata keenam orang yang berdiri dalam lingkaran itu seakan-akan telah menjadi perisai yang tidak tertembus sama sekali.

Namun demikian pertempuran itu pun semakin lama menjadi semakin cepat, masing-masing mulai meningkatkan kemampuannya untuk menekan lawanlawannya.

Dalam pada itu diluar regol halaman, seseorang berdiri termenung, sejenak ia mengawasi keadaan, dengan kaki yang timpang ia melangkah mendekat, dari regol halaman ia melihat, bahwa pertempuran di pendapa istana kecil itu sudah dimulai.

Namun tiba-tiba saja orang itu terkejut ketika ia melihat seseorang dengan tergesa-gesa mendekati regol halaman itu tanpa ragu-ragu.

Orang yang timpang itu pun segera mempersiapkan diri, ia belum dapat mengenal orang itu di dalam kegelapan, tetapi menilik langkahnya, maka orang tentu mempunyai kepercayaan kepada dirinya sendiri.

Tetapi orang itu terkejut ketika semakin dekat ia melihat dalam keremangan malam, siapakah yang berjalan dengan tergesa-gesa itu.

“Ki Buyut” sapa orang yang timpang itu.

Ki Buyut terkejut, tiba-tiba saja ia melihat seseorang muncul dari kegelapan, karena itu sambil mengacungkan pedangnya ia bertanya, “Siapakah kau?”

“Wirit, namaku Ki Wirit”

“Apakah kau orang Kumbang Kuning atau orang Cengkir Pitu?”

Ki Wirit menggeleng kepalanya, katanya, “Bukan Ki Buyut, aku orang lain sama sekali, aku tidak terlibat dalam persoalan yang terjadi itu”

“Kalau begitu minggirlah”

“Ki Buyut akan kemana?”

“Kau mengenal aku sebagai Buyut di Karangmaja?”

“Setiap orang mengenal Ki Buyut”

“Minggirlah, aku akan ikut serta dalam persoalan istana kecil ini, aku tidak dapat tinggal diam karena aku tahu bahwa orang-orang Kumbang Kuning dan Cengkir Pitu akan menyerang dan membunuh seisi istana ini”

“Jadi apakah yang akan Ki Buyut lakukan?”

“Di dalam istana ini ada beberapa orang yang akan mempertahankan seluruh isinya, tetapi kekuatan yang ada tentu tidak akan seimbang”

“Dan Ki Buyut akan ikut bertempur?”

“Aku akan berdiri di pihak mereka yang mempertahankan istana kecil ini”

“Tetapi orang-orang Kumbang Kuning dan Cengkir Pitu itu sangat berbahaya Ki Buyut, mereka tidak akan berbelas kasihan sedikitpun terhadap mereka yang telah menyatakan diri melawan mereka”

“Aku tidak memerlukan belas kasihan, aku adalah orang yang tahu diri, seluruh padukuhan Karangmaja merasa berhutang budi kepada Pangeran Kuda Narpada, dan sekarang keluarga yang ditinggalkannya akan mengalami bencana, apakah aku akan dapat berpangku tangan melihat istana ini menjadi karang abang?, tidak. Aku harus berbuat sesuatu, meskipun aku sadar, bahwa aku akan mati”

“Itu namanya membunuh diri Ki Buyut, sebaiknya Ki Buyut tidak usah melibatkan diri, bantu saja hal yang lain yang dapat Ki Buyut berikan, tetapi jangan nyawa Ki Buyut”

“Jangan halangi aku, nyawaku masih belum berarti dibandingkan dengan sumbangan-sumbangan yang pernah diberikan oleh Pangeran Kuda Narpada bagi padukuhan yang semula kering kerontang dan bagaikan selalu terbakar karena warnanya yang kuning kemerahmerahan, sekarang padukuhan Karangmaja menjadi hijau, bahkan lereng-lereng pegunungan yang gundulpun mulai ditumbuhi pepohonan. Kehidupan diseluruh padukuhan menjadi jauh lebih baik dari masa-masa sebelum Pangeran Kuda Narpada datang”

Ki Wirit menarik nafas dalam-dalam, namun katanya kemudian, “Ki Buyut, kau diperlukan sekali oleh padukuhan Karangmaja, kau yang pernah mendapat petunjuk langsung dari Pangeran Kuda Narpada, seharusnya mengembangkan terus usaha yang sudah nampak hasilnya itu, tetapi jika tiba-tiba saja kau bunuh diri, maka siapa yang akan yakin bahwa pegunungan ini tidak akan kembali lagi di musim kering yang panjang? Siapakah yang akan menjamin bahwa parit-parit akan tetap mengalir dan sawah di lembah yang rendah itu dapat panen dua kali setahun?”

Ki Buyut termenung, tetapi kemudian jawabnya, “Anak-anak muda Karangmaja sudah mengetahui apa yang harus mereka lakukan bagi padukuhan mereka untuk menjadi padukuhan yang lebih baik, karena itu, hidupku sudah tidak banyak berarti lagi, sekarang minggirlah, aku akan berbuat sesuatu bagi keselamatan istana kecil ini”

“Tetapi itu tidak akan berati apa-apa, kemampuanmu tidak akan dapat diperbandingkan dengan kemampuan orang-orang Kumbang Kuning dan orang-orang Cengkir Pitu”

“Aku tidak peduli”

“Apalagi kau hanya sendiri”

“Aku memang hanya sendiri, aku melarang, aku melarang setiap orang yang akan ikut bersamaku, karena dengan demikian kematian akan semakin bertambah-tambah”

“Juga, kematianmu akan sia-sia, sekarang kembalilah ke padukuhan, tenagamu lebih berarti untuk mengubur mayat-mayat yang akan bergelimpangan di halaman ini daripada kau akan ikut menambah beban bagi mereka yang hidup”

Ki Buyut menjadi bimbang, namun kemudian ia menghentakkan giginya sambil mengacungkan pedangnya, “Minggir, atau kau akan menjadi orang pertama yang akan aku bunuh”

“Jangan Ki Buyut, aku menasehatimu, pertempuran itu adalah arena perkelahian bagi orang-orang yang mempunyai ilmu yang tinggi”

“Persetan” Ki Buyut seolah-olah tidak peduli lagi, ia mkh menuju ke pintu gerbang.

Tetapi orang yang timpang yang menyebutnya dirinya Ki Wirit itu menghalanginya sambil berkata, “Kembali sajalah”

“Tidak”

“Aku tidak mengijinkan kau masuk”

Ki Buyut menjadi tegang, dan tiba-tiba saja ia membentak, “Kau tentu salah seorang dari orang-orang Kumbang Kuning atau orang-orang Cengkir Pitu, jangan menyesal, aku akan membunuhmu jika kau tidak menepi”

Tetapi orang itu tetap berdiri ditengah jalan.

Karena itu, Ki Buyut menjadi tidak sabar lagi, dengan kesal ia membentak, “Pergi, atau kau akan mati disini”

Ki Wirit menarik nafas dalam-dalam, tatapan matanya tiba-tiba saja menjadi sayu, katanya, “Ki Buyut, yang telah dilakukan oleh Pangeran Kuda Narpada sama sekali tidak seimbang dengan nyawamu. Nyawa seseorang adalah sangat berharga, sedangkan yang dilakukan oleh Pangeran Kuda Narpada tidak lebih daripada menganjurkan kepada orang-orang Karangmaja untuk memperbaiki saluran-saluran air, menanami lereng pegunungan dengan batang metir yang akan dapat membantu melunakkan tanah yang berbatu-batu padas selebihnya adalah kerja keras orang-orang Karangmaja sendiri”

“Cukup” tiba-tiba saja Ki Buyut membentak, “Kau tidak tahu apa yang sudah dilakukan oleh Pangeran Kuda Narpada yang lebih senang kalau dipanggil Ki Kuda Narpada, kau memang pantas dibunuh paling dahulu dari semua kawan-kawanmu, kau berusaha memperkecil arti Pangeran Kuda Narpada bagi kami”

Orang timpang itu menarik nafas dalam-dalam sambil berdesis, “Kau salah paham, Ki Buyut”

“Persetan, minggir, aku tidak mempunyai waktu, pertempuran di halaman sudah berlangsung”

Tetapi ketika Ki Buyut melangkah maju, orang itu sama sekali tidak mau beranjak dari tempatnya, ia masih saja menghadang sambil berkata, “Jangan bodoh Ki Buyut”

Ki Buyut tidak menjawab, ia sudah kehilangan kesabarannya, karena itu maka ia pun segera mengayunkan pedangnya menyerang orang yang menghambat niatnya itu”

Tetapi Ki Buyut tidak tahu apa yang terjadi kemudian, ia hanya merasa bahwa pedangnya sama sekali tidak mengenai sasarannya, selebihnya, semuanya menjadi gelap dan ia tidak mengerti apa yang terjadi kemudian.

Perlahan-lahan orang timpang itu mengangkat tubuh Ki Buyut dan meletakkan di tempat yang gelap, tertutup oleh rimbunnya dedaunan.

“Berbaringlah sementara disini Ki Buyut, kau sudah terlalu tua dan lmumu terlalu lemah untuk ikut serta dalam pertarungan yang mengerikan itu, usahamu untuk membalas budi kepada Pangeran Kuda Narpada adalah suatu sikap yang sangat terpuji, tetapi tidak dengan cara yang bodoh itu” desisnya sambil melangkah meninggalkan tubuh Ki Buyut yang seakan-akan sedang tidur nyenyak karena syaraf kesadaran telah terganggu oleh sentuhan jari-jari orang timpang yang menamakan dirinya Ki Wirit itu.

Dengan langkah yang tetap, Ki Wirit pun kemudian memasuki halaman istana kecil yang suram itu, dadanya yang berdebar-debar rasa-rasanya menyesakkan nafasnya.

Ada sesuatu yang bukan perasaannya, bukan karena ia cemas akan nasibnya melawan orang-orang Kumbang Kuning dan orang-orang Cengkir Pitu, tetapi ada sesuatu yang lain yang membuatnya sangat gelisah.

Tetapi Ki Wirit menghentakkan tangannya, dalam kegelapan ia membayangkan muridnya yang berjuang mati-matian untuk mempertahankan hidupnya melawan orang-orang yang jumlahnya lebih banyak dan mempunyai ilmu yang tinggi.

Ketika ia melihat cara yang dipergunakan oleh orang-orang yang berada di istana itu, ia pun menarik nafas dalam-dalam sambil bergumam, “Cara yang baik untuk mempertahankan diri, tetapi selebihnya mereka tidak akan dapat berbuat banyak, jika waktunya datang, maka mereka akan kelelahan dan satu-satu mereka harus menyerah, tetapi memang tidak ada cara lain yang lebih baik dari sekedar mempertahankan diri”

Kedatangan orang timpang itu ternyata telah diketahui oleh kedua belah pihak yang sedang bertempur, karena itu, maka dengan serta merta Panon menyambut, “Kami sudah mulai guru”

Ki Wirit tidak menyahut, tetapi ia melangkah dengan timpang mendakti arena.

“Siapa kau” Kidang Alitlah yang berteriak.

“Namaku Wirit” jawab orang itu yang sudah naik ke pendapa, “Aku mencari muridku, dan aku menemukannya disini, agaknya ia sedang bertempur melawan sekelompok orang-orang yang tidak tahu diri”

“Tutup mulutmu” teriak Raden Kuda Rupaka.

“Muridku berada di dalam suatu lingkungan kecil dengan beberapa orang yang sebagian telah aku kenal, tetapi yang lain belum, sementara orang-orang Cengkir Pitu dan Kumbang Kuning yang jumlahnya jauh lebih banyak, sedang berusaha membinasakannya”

Sejenak suasana di pendapa itu menjadi semakin tegang, namun karena sebagian dari perhatian mereka tertuju kepada orang timpang itu, maka pertempuran menjadi agak mereda.

Dalam pada itu, Pangeran Sendang Prapat dan Pangeran Cemara Kuning tidak sabar lagi melihat kesombongan orang timpang itu, dengan serta merta mereka seakan-akan berjanji meninggalkan arena yang rasa-rasanya memang terlalu padat itu langsung menyerang orang timpang yang menyebut dirinya Ki Wirit, dan mengaku sebagai guru Panon.

Tetapi keduanya sadar, bahwa anak muda yang bernama Panon itu telah memiliki ilmu yang hampir sempurna, sehingga gurunya Tentu orang yang pilih tanding.

Namun agaknya keduanya memperhitungkan, bahwa cacat kakinya akan memperngaruhi tata geraknya, jika orang timpang itu telah benar-benar terlibat dalam pertempuran yang sengit.

Demikianlah, maka sejenak kemudian Ki Wirit sudah berhadapan dengan Pangeran Sendang Prapat dan Pangeran Cemara Kuning, dengan kasar Pangeran Sendang Prapat membentaknya, “Apakah kau akan membanggakan kakimu yang timpang itu?, Ayo berdoalah sebelum kau mati di pendapa ini”

“Aku akan turun saja ke halaman, pendapa ini terasa terlampau sempit oleh hiruk pikuk perkelahian, bagi anak-anak muda yang sedang bertahan itu, agaknya memang menguntungkan sekali, tetapi tidak bagiku”

Pangeran Cemara Kuning dan Pangeran Sendang Prapat menjadi berdebar-debar melihat ketenangan orang timpang itu, apalagi ketika keduanya melihat Ki Wirit seolah-olah tidak menghiraukan kemungkinan-kemungkinan buruk yang dapat terjadi atas dirinya, saat ia berjalan dengan timpang turun ke halaman.

Hampir diluar sadarnya Pangeran Sendang Prapat dan Pangeran Cemara Kuning mengikutinya, namun mereka telah bersiap dengan senjatanya, setiap orang timpang itu dapat berbuat sesuatu diluar dugaan.

Tetapi Ki Wirit memang tidak berbuat apa-apa, ia turun ke halaman dan kemudian berdiri tegak di dalam kegelapan.

“Marilah Pangeran” berkata Ki Wirit, “Bukankah kalian berdua adalah Pangeran Sendang Prapat dan Pangeran Cemara Kuning?”

Kedua Pangeran itu termangu-mangu sejenak, dengan nada datar Pangeran Sendang Prapat menjawab, “Siapapun aku dan kau, kita akan saling membunuh di halaman ini”

“Aku tidak akan ingkar”

“Bersiaplah untuk mati”

“Baiklah, tetapi aku ingin tahu kenapa Raden Kuda Rupaka justru berdiri di pihak Kumbang Kuning tidak di pihak Cengkir Pitu?”

Pertanyaan itu benar-benar mengejutkan, sejenak kedua Pangeran itu bimbang, namun kemudian Pangeran Sendang Prapat menjawab, “Tidak ada orang lain yang dapat mencampuri pilihan kami, tetapi darimana kau berpijak sebagai alas pertanyaan itu?”

“Aku hanya menduga-duga Cengkir Pitu dipimpin oleh Pangeran Sora Raksa Pati yang seharusnya lebih dekat dengan Pangeran berdua daripada Sora Raksa Pati”

“Persetan, aku tidak peduli” geram Pangeran Cemara Kuning, “Kita tidak mempunyai waktu lagi, kami harus menemukan pusaka itu malam ini”

“Itu tidak mungkin Pangeran, sebentar lagi fajar segera menyingsing di timur”

Pangeran Pangeran Cemara Kuning tidak menjawab, ia pun segera melangkah maju sambil mengacungkan senjatanya”

Ki Wirit melangkah surut, namun ia pun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Ketika kemudian Pangeran Cemara Kuning meloncat menyerang, maka Ki Wirit pun dengan tangkasnya mengelak pula, sama sekali tidak terkesan kesulitan yang ditumbuhkan oleh kakinya yang timpang itu.

“Tetapi jika ia dipaksa untuk mengerahkan segenap kemampuannya, maka timpang kakinya akan sangat berpengaruh” berkata Pangeran Cemara Kuning di dalam hatinya.

Sejenak kemudian maka pertempuran di halaman itu pun menjadi semakin sengit, Ki Wirit yang timpang itu harus berjuang melawan Pangeran Cemara Kuning dan Pangeran Sendang Prapat, dua orang Pangeran yang memiliki kemampuan yang tinggi.

Namun dalam pada itu, Panon yang bertempur di pendapa menjadi heran, ia sama sekali tidak menyangka bahwa gurunya yang timpang itu mampu bergerak dengan kecepatan yang tidak kalah dengan kecepatan serangan Pangeran Cemara Kuning dan Pangeran Sendang Prapat.

“Aku tidak mengerti” gumam Panon kepada diri sendiri, “Menurut pengalamanku, guru tidak dapat berbuat apa-apa dengan kakinya, latihan-latihan yang diberikan terutama sekedar petunjuk-petunjuk dasar, dan aku sendirilah yang harus mengembangkan kemampuan gerak kaki. Guru hanya memberikan beberapa petunjuk, kemudian menilainya dengan serangan-serangan yang dilontarkan dengan tangannya”

Tetapi ternyata kini ia melihat gurunya yang timpang itu mampu bertempur seolah-olah tidak cacat sama sekali.

Namun dalam pada itu, tekanan yang semakin lama semakin berat telah menghimpit orang-orang yang sedang bertahan di pendapa. Lingkaran mereka terut merapat, kadang-kadang satu dua diantara mereka sempat juga menyerang, meskipun pada jarak yang sangat terbatas, namun mereka kemudian harus segera kembali menutup lingkaran pertahanan mereka.

Tetapi ternyata bahwa pertahanan yang demikian itu sampai menjengkelkan lawan-lawan mereka, mereka tidak dapat menyerang dengan leluasa bersama-sama, karena sasarannya seolah-olah berkumpul disatu titik.

“Licik” teriak Pangeran Sora Raksa Pati, “Marilah kita bertempur dengan jantan, kita mencari tempat yang luas dan kita langsung berhadapan dengan dada tengadah, tidak seperti yang kalian lakukan sekarang, berdesakan dan kadang-kadang berperisai tiang pendapa”

Yang terdengar adalah jawaban Kiai Rancangbandang, “Aneh sekali, bagaimana jika kita berjanji, kita akan bertempur dengan jantan dan jumlah yang sama banyak”

“Persetan” teriak Sora Raksa Pati, “Yang akan menentukan kemenangan adalah kekuatan kita masing-masing, bukan aturan yang kau buat”

“Baiklah” yang menjawab adalah Ki Reksabahu, “Kau pun jangan membuat aturan tentang cara kami berkelahi”

Pangeran Sora Raksa Pati menggeram, tetapi ia tidak berbicara lagi, dengan geramnya ia menyerang Sangkan yang kebetulan berada di hadapannya, tetapi Sangkan sempat menangkis serangan itu dan bahkan melemparkan arahnya sehingga hampir saja senjatanya berbenturan deng senjata salah orang pengawalnya.

Pada saat yang bersamaan Kidang Alit dengan lincahnya meloncat maju dengan senjata terjulur, “Tetapi sambil mengumpat ia terpaksa menarik serangannya, karena tiba-tiba seorang pengawalnya telah membentur sikunya karena ia pun sedang melangkah sambil menyerang.

“Gila” geram Kidang Alit.

Namun demikian, ternyata bahwa lingkaran itu telah mengurung mereka yang mencoba bertahan itu semakin lama semakin rapat, mereka justru semakin mapan dan berhasil saling menyesuaikan diri.

Demikianlah pertempuran itu semakin lama menjadi semakin seru, masing-masing berusaha untuk menembus pertahanan lawan, tidak ada lagi usaha untuk mengekang diri, yang menjadi tujuan mereka kemudian adalah sentuhan senjata didada lawan dan membunuhnya sekaligus.

Di halaman ternyata bahwa, Ki Wirit masih mampu mengimbangi kedua lawannya yang tidak bercacat itu. Betapapun juga Pangeran Sendang Prapat dan Pangeran Cemara Kuning mengerahkan tenaganya untuk bukan lawannya, tetapi Ki Wirit itu mampu bertahan dengan rapatnya, meskipun kakinya timpang namun senjata kedua orang lawannya sama sekali tidak menyentuhnya.

“Aku mengharapkan bahwa Pangeran berdua menyadari kesalahan ini” berkata Ki Wirit.

“Gila, jangan menggurui aku, sebentar lagi kau akan mati”

“Kematianku bukannya merubah kebenaran, demikian juga kemenangan yang mungkin dapat kalian capai dalam pertempuran ini”

“Aku tidak memerlukan kebenaran menurut penilaianmu, bagiku apa yang akan terjadi sesuau dengan keinginanku adalah kebenaran”

Ki Wirit menarik nafas dalam-dalam, tetapi ia sama sekali tidak lengah.

“Orang yang tidak mau berusaha melihat ke dalam dirinya sendiri, selamanya akan sesat” berkata Ki Wirit.

“Aku tidak peduli, jangan berbicara lagi” teriak Pangeran Cemara Kuning.

“Apa salahnya” sahut Ki Wirit.

“Aku sobek mulutmu” Pangeran Cemara Kuning menggeram.

Tetapi Pangeran Sendang Prapat menyahut, “jangan hiraukan, ia memang sedang berusaha membuat kita marah, tetapi kita bukankan kanak-kanak, kita harus menyadarii cara yang licik itu”

Pangeran Cemara Kuning terdiam, ia tidak lagi berteriak, dan bahkan ia mencoba untuk tidak terseret oleh kemarahannya.

Meskipun demikian, kedua orang Pangeran itu tidak segera dapat mengusai lawannya yang pincang, bahkan kadang-kadang mereka menjadi bingung dan kehilangan pegangan, sehingga mereka harus berloncatan surut mencari kesempatan untuk mulai dengan serangan berikutnya.

Dalam pada itu, ternyata bahwa Pangeran Sendang Prapat menjadi tidak sabar lagi, apalagi ketika ia sempat melihat orang-orang yang mengepung lingkaran di pendapa itu masih berdesak-desakan.

“Kemarilah, satu atau dua orang” teriak Pangeran Sendang Prapat, lalu, “Bunuh orang cacat ini lebih dahulu, baru kita bersama-sama akan menyelesaikan yang lain.”

Suara Pangeran Sendang Prapat bagaikan menggetarkan pendapa itu. Adalah mengherankan sekali, bahwa kedua Pangeran yang bertempur bersama itu tidak dapat segera mengalahkan seorang lawannya yang cacat, apalagi mereka terpaksa memanggil orang lain untuk membantunya.

Sora Raksa Pati dan Pangeran Sora Raksa Pati menjadi heran, namun kemudian mereka justru sependapat, orang cacat itu Tentu orang yang pilih tanding, muridnya yang masih sangat muda itu telah memiliki kemampuan yang mengherankan.

Karena itu, maka Sora Raksa Pati dan Pangeran Sora Raksa Pati telah melepas dua orang untuk turun ke halaman membantu Pangeran Sendang Prapat dan Pangeran Cemara Kuning melawan orang timpang yang aneh itu.

“Kekuatan kita tidak akan berkurang” desis Pangeran Sora Raksa Pati, “Justru kita tidak akan berdesak-desakan dan dengan mudah dapat memecahkan lingkaran gila itu”

Dua orang yang terdiri di lapisan paling belakang dari kepungan itu pun segera melangkah surut, sejenak mereka memandang orang timpang di halaman yang bertempur melawan Pangeran Cemara Kuning dan Pangeran Sendang Prapat.

“Orang itu memang luas biasa” berkata mereka di dalam hati.

Perlahan-lahan keduanya pun melangkah turun ke halaman mendekati arena pertempuran yang sengit.

“Jangan panggil orang lain, Pangeran” berkata Ki Wirit.

“Kau mulai ketakutan” desis Pangeran Cemara Kuning

“Mungkin, tetapi justru karena itu, aku akan menjadi liar dan berbahaya”

“Jangan mengigau”

“Ketakutan kadang-kadang membuat seseorang berubah dalam solah dan tingkah laku”

“Kau akan mati, apapun yang akan kau lakukan” geram Pangeran Sendang Prapat.

“Aku sudah memperingatkan, dalam ketakutan aku dapat membunuh mereka berdua, karena aku tidak akan memperlakukan mereka seperti Pangeran berdua”

“Persetan” teriak Pangeran Cemara Kuning.

Ki Wirit tidak menyahut lagi, tetapi wajahnya menjadi tegang, karena kedatangan kedua orang yang turun dari pendapa itu.

Sementara itu langit menjadi semburat merah, fajar telah mendekat. Di kejauhan terdengar ayam jantan berkokok bersahutan.

Sejenak kemudian, maka kedua orang yang turun ke halaman itu pun telah bersiap-siap untuk bertempur, mereka menempatkan diri masing-masing berseberangan, diantara kedua Pangeran yang telah memeras keringat melawan Ki Wirit yang timpang, namun tidak segera berhasil.

“Aku sudah memperingatkan” desis Ki Wirit

“Sebaiknya selain Pangeran berdua, tidak ada orang lain yang ada di lingkaran perkelahian ini, tetapi bila ini terjadi, maka seperti yang aku katakan, aku akan menjadi liar dan berlaku buas, aku akan mulai membunuh lawanku.

“Jangan banyak bicara” teriak Pangeran Cemara Kuning

Ki Wirit terdiam, tetapi wajahnya mulai berkerut merut, ia memandang dua orang yang telah berada di dalam arena pertempuran, sementara ia masih tetap menghindari serangan-serangan yang datang beruntun.

“Aku memang harus mengurangi jumlah lawanku” katanya di dalam hati, “Jumlah orang yang bertempur di pendapa itu terlalu banyak, sehingga pada suatu saat orang-orang yang bertahan dalam lingkaran itu akan kehabisan tenaga”

Dalam pada itu, kedua orang yang telah berada di lingkaran pertempurannya itu pun telah ikut pula, mengambil bagian, mereka telah berloncatan pula ikut menyerang.

Ki Wirit yang melawan empat orang sekaligus memang harus memperhitungkan kemampuannya pula, Pangeran Cemara Kuning dan Pangeran Sendang Prapat bukannya orang yang tidak berilmu, tetapi mereka adalah orang-orang ug cukup kuat untuk bertempur, apalagi berpasangan.

Itulah sebabnya, Ki Wirit kemudian benar-benar akan melakukan apa yang dikatakannya, dengan wajah yang tegang dan hati yang berdebar-debar ia berdesis, “Bukan maksudku membunuh seseorang sekedar untuk membunuh, aku kini sedang dalam ketakutan atas keselamatanku sendiri”

“Persetan” geram Pangeran Sendang Prapat.

Tetapi gema suaranya belum lenyap, terdengar salah seorang kawannya yang baru turun dar pendapa itu berdesis, kemudian mendengar sebuah keluhan pendek.

“Gila” orang itu menggeram, tetapi ia terhuyung-huyung beberapa langkah surut.

“Apa yang sudah kau lakukan” teriak yang seorang lagi, tetapi Pengeran Cemara Kuning dan Pangeran Sendang Prapat sempat melihat, ternyata bahwa Ki Wirit telah melontarkan sebilah pisau kecil langsung ke dada orang itu”

“Licik” teriak Pangeran Sendang Prapat, “Kau melemparkan pisau dalam perkelahian ini”

“Aku sudah mengatakan, bahwa aku akan menjadi buas dan liar, mungkin aku akan kehilangan ungah-unggah perkelahian jika ketakutanku telah memuncak sampai ke ubun-ubun”

Pangeran Cemara Kuning yang marah meloncat menyambar dengan senjatanya, tetapi Ki Wirit dapat mengelakkan diri.

Dengan demikian, maka Pangeran Cemara Kuning dan Pangeran Sendang Prapat harus menyesuaikan diri dengan cara perkelahian orang yang menyebut dirinya Ki Wirit, ternyata tangan kirinya mampu melontarkan senjata-senjata kecil yang langsung dapat melumpuhkan lawannya, ternyata orang yang telah terkena pisau itu seakan-akan telah kehilangan semua tenaganya, sambil mengerang ia terduduk bersandar sebatang pohon, sementara tangannya memegang tungkai pisau yang menancap di dadanya.

Sora Raksa Pati melihat seorang kawannya yang terluka, itulah sebabnya, maka ia pun segera meninggalkan arena perkelahian yang hiruk pikuk di pendapa untuk membantu meringankan penderitaannya.

Ternyata bahwa Sora Raksa Pati mempunyai pengetahuan tentang luka-luka dan berbagai macam penyakit, apalagi ia memang sudah membawa obat untuk setiap saat dapat dipergunakan.

Agaknya obat yang diberikan oleh Sora Raksa Pati itu mempunyai pengaruh yang kuat , terasa pedih pada luka-luka itu menjadi jauh berkurang, sementara darahnyapun menjadi pempat.

Dalam pada itu, Sora Raksa Pati masih saja melihat-lihat pisau yang baru saja dicabutnya. Semula dalam keremangan malam menjelang fajar ia tidak melihat sesuatu yang menarik pada pisau itu, tetapi ketika tangannya meraba-raba tangkai pisau itu, terasa bahwa pada tangkai pisau itu terdapat goresan yang merupakan sebuah gambar.

Dengan seksama Sora Raksa Pati mengamat-amati gambar itu, semula ia tidak menemukan bentuknya, namun tiba-tiba saja ia berlari ke sudut istana kecil itu, di bahwah lampu minyak yang masih menyala ua melihat lukisan kecil dari seekor kuda dengan sepasang sayap yang terkembang,

“Kuda bersayap” desisnya.

Dan tiba-tiba saja terasa seluruh kulitnya meremang, bahkan kemudian diamatinya gambar itu sekali lagi sambil merabanya, seakan-akan ia tidak percaya kepada penglihatannya.

“Hanya kebetulan” desisnya, “Atau orang ini menemukan pisau semacam ini di suatu tempat”

Namun kegelisahan yang mengoyak dadanya, telah mendorongnya untuk berlari naik ke pendapa, digamitnya Pangeran Sora Raksa Pati yang sedang berusaha menekan lawannya diantara beberapa orang anak buahnya”

“Lihat Pangeran” desis Sora Raksa Pati.

“Apa itu?” bertanya Pangeran Sora Raksa Pati, “Aku tidak ada waktu, aku ingin membunuh tikus-tikus ini segera”

“Pisau ini, dan lukisan ini”

Kata-kata itu memang menarik perhatiannya, karena itu, maka ia pun surut selangkah dan menerima pisau kecil itu.

“Lukisan apa?” Pangeran Sora Raksa Pati tidak dapat langsung melihat.

“Seekor kuda dengan sepasang sayap terkembang”

“He” wajahnya menjadi tegang, “Apakah matamu tidak rabun?”

“Aku melihat di bawah lampu minyak disudut itu”

Pangeran Sora Raksa Pati pun kemudian berlari-lari ke sudut istana itu, sementara dengan gelisah Sora Raksa Pati menempati tempat Pangeran Sora Raksa Pati.

Namun tiba-tiba halaman itu telah dikejutkan oleh Pangeran Sora Raksa Pati yang menggelegar, “Bunuh orang timpang itu, bunuh semua orang yang ada di halaman ini, orang timpang itu sangat berbahaya bagi kita semua, karena ia mempunyai ciri seekor kuda dengan sepasang sayap yang terkembang”

Beberapa orang tertegun mendengar kata-kata Pangeran Sora Raksa Pati, bahkan Pangeran Cemara Kuning dan Pangeran Sendang Prapat telah meloncat menjauh Ki Wirit itu, dan bahkan kawannya yang ikut bertempur melawan Ki Wirit itu.

Dan sekali lagi suara Pangeran Sora Raksa Pati menggema, “Kita tidak akan dapat berbaik hati kepada siapapun juga yang mempunyai ciri seekor kuda dengan sayap yang terkembang”

Ki Wirit yang termangu-mangu itu pun kemudian bertanya, “Aku tidak mengerti, apakah yang kalian sebut-sebut dengan lukisan seekor kuda dengan sepasang sayap yang terkembang?”

“Persetan” bentak Pangeran Sora Raksa Pati

“Darimana kau mendapat pisau kecil ini, atau kau sendiri yang mempunyai ciri seperti lukisan pada tangkai pisaumu”

“Aku tidak mengerti, aku menemukan pisau semacam bukan hanya sebilah, tetapi seikat, dan aku masih mempunyai lainnya, apakah yang menarik perhatian pada pada tangkai pisau itu? setiap orang dapat melukis apa saja pada tangkainya, mungkin seekor kuda bersayap terkembang, mungkin seekor naga dengan lidah api, mungkin burung elang dengan kuku-kuku baja atau apa saja, kenapa lukisan itu tiba-tiba telah mempunyai pengaruh yang kuat?”

Pertempuran di pendapa itu pun seolah-olah telah berhenti, persoalan lukisan kuda dengan sayap terkembang itu benar-benar telah berpengaruh.

Dalam ketegangan itu tiba-tiba saja Pangeran Cemara Kuning bertanya, “Dimana kau menemukan pisau-pisau itu?”

“Di lembah Gunung Merbabu, aku adalah salah seorang penghumi lembah itu disamping sejumlah orang padukuhan lainnya”

Jawaban itu membuat Pangeran Sendang Prapat menjadi tegang, dengan nada yang datar ia bertanya, “Apakah kau menemukan barang yang lain selain seikat pisau itu?”

Ki Wirit menggeleng, jawabnya, “Tidak, aku hanya menemukan seikat pisau, aku tidak berbohong, karena aku tidak sendiri waktu itu, aku sedang menyusuri air parit yang mengairi sawah bersama dua orang tetanggaku”

Orang yang mendengar keterangan itu termangu-mangu, “Ki Wirit yang menceritakan saat ia menemukan pisau-pisau itu, menggambarkan bahwa ia adalah seorang penghuni padukuhan seperti kebanyakan penghuni yang lain. Namun ilmunya mengesankan bahwa ia bukannya orang kebanyakan yang tinggal di dalam suatu lingkungan di sebuah padukuhan.

“Bohong, tiba-tiba Sora Raksa Pati berteriak dari pendapa, “Kau jangan mengelabui kami, kau adalah pemilik pisau-pisau itu”

“Benar, aku memang pemiliknya, aku menemukan pisau semacam itu seikat, dan sekarang aku masih mempunyai cukup banyak untuk membunuh kalian seorang demi seorang, aku akan melontarkan pisauku kearah dada, tepat menghunjam jantung, tidak seperti yang sudah aku lakukan tadi, pisauku sisip dan akhirnya ia dapat diselamatkan oleh Pangeran Sora Raksa Pati”

Sora Raksa Pati menggeram, katanya, “Persetan dengan igauanmu, jangan biarkan ia hidup dan menghantui kita semuanya”

Pangeran Sora Raksa Pati pun kemudian mendekat perlahan-lahan, katanya dengan lantang, “Aku akan bertempur bersama Pangeran Sendang Prapat dan Pangeran Cemara Kuning”

“Aku juga” desis Sora Raksa Pati, “Kita berempat akan membunuhnya, baru kami akan membunuh yang lain”

Ki Wirit mengerutkan keningnya, melawan empat orang itu, rasa-rasanya akan merupakan tugas yang sangat berat baginya.

Namun ia tidak ingkar, apapun yang harus dihadapinya, akan dihadapinya dengan segala tanggung jawab.

Dengan wajah yang tegang Pangeran Sora Raksa Pati dan Sora Raksa Pati telah berada di dalam satu arena, sementara seorang kawannya yang semula ikut bertempur melawan Ki Wirit , telah berada di pendapa.

Orang yang terluka yang duduk bersandar batang pohon dipinggir halaman menyaksikan perkembangan keadaan dengan tegang, meskipun lukanya sudah tidak terasa menyengat-nyengat, tetapi ia masih belum mampu untuk ikut melibatkan diri dalam perkelahian berikutnya.

Sejenak orang-orang yang sudah saling berhadapan itu termangu-mangu, Panon yang melihat gurunya harus menghadapi empat orang yang menjadi puncak kekuatan lawannya, tidak sampai hati membiarkannya. meskipun ia percaya bahwa gurunya adalah seorang yang mumpuni, tetapi melawan mereka berempat akan merupakan tugas yang sulit untuk dapat dilakukannya.

Karena itu, diluar perintah gurunya, tiba-tiba saja Panon meloncat berlari sambil mengayunkan senjatanya, sehingga beberapa orang yang terkejut telah menyibak.

“Aku akan bertempur bersama guru” teriaknya.

Tidak seorang pun yang sempat mencegah, yang terjadi itu begitu tiba-tiba dan mengejutkan.

“Biarlah ia berada disini” desis Pangeran Sendang Prapat, “Adalah lebih bahagia baginya mati bersama gurunya”

Tidak ada yang menyahut, suasana di halaman itu menjadi bertambah tegang.

“Langit telah menjadi merah” teriak Sora Raksa Pati, “Kenapa kita masih termangu-mangu. Jika lukisan kuda bersayap itu adalah pertanda milik orang timpang sendiri, biarlah ia mati untuk tidak akan bangkit kembali”

Teriakan itu bagaikan perintah yang tidak perlu diulang, sejenak kemudian maka orang-orang yang ada di pendapa dan di halaman itu pun sudah mulai dengan pertempuran yang sangat dahsyat.

Di pendapa, Sangkan yang seolah-olah telah memimpin kawan-kawannya, segera mulai menyerang dengan sengitnya, disusul oleh adiknya Pinten, meskipun ia seorang gadis.

Ki Reksabahu, Ki Ajar Respati dan Kiai Rancangbandang harus segera menyesuaikan dirinya, mereka telah berada di dalam kepungan, sehingga yang harus mereka lakukan adalah berjuang untuk mempertahankan hidup mereka.

Sangkan dan Pinten yang masih muda itu ternyata memang bukan anak-anak muda kebanyakan yang sekedar mendapat ilmu dari padepokan kecil, dari tata gerak dan ilmunya, justru saat-saat ia mengalami tekanan yang berbahaya, mulai dapat dibaca oleh kawan-kawannya, dan bahkan kemudian menumbuhkan banyak pertanyaan di dalam hati.

Tetapi tidak seorangpun yang sempat merenunginya, karena mereka sendiri harus mengerahkan segenap ilmu yang ada agar mereka tidak segera disentuh oleh nafas maut.

Di halaman, Ki Wirit menghadapi lawan yang sangat berat bersama muridnya, Panon. Yang ada di halaman itu adalah orang-orang terkuat dari kelompok Kumbang Kuning dan Cengkir Pitu. Pangeran Sendang Prapat, Pangeran Cemara Kuning, Pangeran Sora Raksa Pati dan Sora Raksa Pati, sedangkan Ki Wirit hanya dikawani oleh muridnya yang setia, Panon Suka.

Ketika pertempuran telah menjadi semakin sengit, mulailah terasa, bahwa betapapun tinggi ilmu Ki Wirit, namun keempat lawannya benar-benar memiliki kemampuan untuk menguasainya, perlahan-lahan tetapi hampir pasti, Ki Wirit dan Panon telah terkurung dalam satu kepungan yang tidak tertembus.

Tetapi keduanya sama sekali tidak mengeluh dan tidak menyesal, keduanya bertempur dengan segenap hati tanpa menghiraukan apa yang akan terjadi.

Dalam keadaan yang sulit, sekali-sekali Panon terpaksa melepaskan pisau-pisaunya, tetapi tidak seperti pisau gurunya, maka pisau yang ada pada Panon adalah pisau-pisau yang terbuat oleh pandai besi di padukuhannya, namun demikian, jika pisau itu mengenai lawannya maka lambaran kekuatan tangannya akan dapat menghunjam pisaunya itu sampai ke jantung.

“Kau pandai juga bermain pisau” desis Pangeran Sora Raksa Pati.

Panon tidak menjawab, ia bertempur dengan gigih, namun setiap kali jika lawannya berhasil memburunya dalam kesulitan, maka setiap kali ia harus melindungi dirinya dengan lontaran pisaunya, bahkan kadang-kadang sekaligus, ia berhasil melemparkan dua atau tiga pisau belati yang dengan demikian telah menahan serangan lawannya yang terpaksa menghindar.

“Tetapi berapa ribu pisau yang dapat kau bawa?”

Sora Raksa Pati tersenyum, “Pada sutu saat pisau akan habis, dan kau akan segera terbaring di halaman ini”

Kemarahan yang menggelitik hati anak muda itu bagaikan akan meledak, sehingga ia pun berteriak, “Sebelum pisauku habis, kaulah yang lebih dahulu mati”

Tetapi yang mengejutkan adalah suara gurunya, “Jangan sombong Panon, lebih baik kau perhatikan nasehat Sora Raksa Pati, hematlah pisau-pisaumu, meskipun sekedar pisau dapur, tetapi pisau-pisau itu akan sangat berguna bagimu dalam saat yang paling sulit”

Panon menjadi berdebar-debar, agaknya ia sudah terlanjur menyombongkan diri menurut penilaian gurunya, namun dengan demikian, ia benar-benar memperhatikan petunjuk itu, dan ia tidak melepaskan pisau-pisaunya jika itu tidak terpaksa sekali.

Sementara itu, langit pun mulai bertambah cerah, cahaya kemerah-merahan di langit menjadi semakin terang.

Namun pertempuran di halaman istana kecil itu masih berlangsung dengan sengitnya, masing-masing telah mengerahkan segenap kemampuan yang ada untuk membinasakan lawannya.

Tetapi betapapun juga, ternyata bahwa kekuatan orang-orang yang bertahan di halaman istana kecil itu, semakin lama semakin susut, lawan mereka terlalu banyak, dan kekuatan diantara kedua belah pihak nampak semakin tidak berimbang.

Di halaman Ki Wirit dan Panon pun menjadi semakin terdesak, tidak ada sandaran lagi bagi mereka untuk memperpanjang perlawanan, apalagi pisau-pisau dapur Panon telah semakin menipis dan tinggal beberapa buah sajalah yang masih terselip diikat pinggangnya.

Keringat telah membasahi seluruh tubuh mereka yang bertempur, di dalam cahaya pagi, maka semakin jelaslah, bahwa perlawanan orang-orang yang mempertahankan istana kecil itu menjadi semakin lemah.

“Sangkan” suara Raden Kuda Rupaka gemetar, “Apakah kau masih akan bertahan terus?”

Sangkan tidak menjawab, tetapi ia merasa bertanggung jawab atas perlawanan itu, karena itu, ia telah berbuat apa saja untuk memenangkan pertempuran itu atau setidak-tidaknya mempertahankan hidupnya dan kawannya.

Namun serangan Raden Kuda Rupaka dan para pengawalnya datang bagaikan reruntuhan tebing pegunungan, sementara disisi yang lain, Kidang Alit bertempur dengan segenap kekuatannya bersama para pengiringnya.

Pendapa itu menjadi semakin panas ketika tiba-tiba saja Raden Kuda Rupaka yang marah bersama beberapa pengawalnya berhasil mendesak Pinten selangkah surut. Namun arah sebenarnya dari serangan Raden Kuda Rupaka justru adalah Sangkan, sehingga karena itulah maka Sangkan telah terpancing untuk melindungi adiknya, namun dengan tangkasnya Raden Kuda Rupaka menyerangnya untuk merampas segenap perhatiannya, dan pada saat yang bersamaan seorang pengawalnya telah menghunjamkan tombak pendeknya kearah punggung Sangkan.

“Sangkan” Kiai Rancangbandang sempat berteriak.

Dan Sangkan pun menyadari kesalahannya, ia masih sempat mengelak dengan berputar setengah lingkaran dan menangkis ujung tombak pendek itu, namun ternyata bahwa ia tidak berhasil membebaskan dirinya seluruhnya dari ujung senjata lawan, karena itu tombak itu telah menyentuh pundaknya.

Sangkan menjadi tegang ketika terasa pundaknya disengat oleh pedih dilukanya, diluar sadar tangannya menyentuh darah yang meleleh dari luka itu.

Darah yang hangat itu bagaikan telah membakar jantungnya, namun ia sadar, bahwa perjuangannya akan menjadi semakin berat.

Pinten yang melihat darah di pundak kakaknya menggeretakkan giginya, dengan segenap kemampuan yang ada padanya, ia menyerang lawannya. Senjatanya seakan-akan telah berubah menjadi puluhan senjata di dalam genggaman puluhan tangan.

Tetapi lawan terlalu banyak, tidak mudah bagi Pinten untuk menembus pertahanan lawan yang sangat rapat.

Sementara itu Kiai Rancangbandang, Ki Reksabahu dan Ki Ajar Respati telah berjuang dengan segenap kemampuan mereka, tidak ada waktu untuk menyerang, yang dapat mereka lakukan adalah sekedar memperpanjang hidup, mereka harus bertahan matimatian agar mereka tidak menjadi orang yang pertama tergolek di lantai pendapa istana kecil itu.

Namun ternyata bahwa sejenak kemudian Kiai Rancangbandangpun harus berdesis menahan sakit, lengannya pun telah tergores pula oleh senjata lawan, sehingga darahnyapun telah mulai mengalir.

Yang terdengar kemudian adalah gemeretak gigi kemarahan yang menggetarkan dada, namun masing-masing tidak dapat berbuat menurut keinginannya, karena mereka harus berhadapan dengan lawan yang kuat sekali.

Di halaman, Panon telah kehilangan semua pisau-pisaunya, ia telah melepaskan pisaunya yang terakhir ketika ia kehilangan keseimbangannya saat ia menghindari serangan Sora Raksa Pati, hampir saja ia terjatuh dan senjata Sora Raksa Pati menghunjam dadanya, untunglah ia masih sempat melemparkan pisaunya, sehingga langkah Sora Raksa Pati tertahan, dengan demikian ia mendapat kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya.

Tetapi semuanya menjadi semakin buruk ketika matahari telah memanjat dibibir langit, cahayanya yang kemerah-merahan menjadi semakin cerah, darah di luka Sangkan dan Kiai Rancangbandang menjadi semakin jelas mengalir di tubuhnya.

Pinten menggeram ketika terdengar suara Kidang Alit, “Kau tidak akan terluka Pinten, meskipun semuanya akan mati, tetapi aku akan berjuang untuk mempertahankan hidupmu”

Darah Pinten bagaikan mendidih, tetapi semuanya serba terbatas, sehingga kemarahannya justru bagaikan meretakkan dadanya sendiri.

Sementara itu, Panji Sura Wilaga yang tertidur diatap istana diatas talang batang pucang itu pun mulai dijalari oleh kesadarannya kembali, kekuatan yang membuatnya tertidur telah menjadi semakin samar-samar, sehingga akhirnya Panji Sura Wilaga itu pun seolah-olah telah terbangun dari tidurnya yang sangat nyenyak.

Yang pertama-tama terasa adalah sengatan panas matahari pagi, sambil mengedipkan matannya ia mencoba mengingat apa yang telah terjadi atas dirinya, ketika ia ingin mengusap keringat di keningnya, barulah ia sadar, bahwa tangan dan kakinya masih juga terikat, selembar ikat kepala telah membungkam mulutnya, sehingga ia tidak lagi dapat berteriak.

“Setan alas” ia menggeram, tetapi tidak seorang yang mendengar suaranya.

Dalam pada itu, dibagian lain dari atap istana kecil itu, Raden Ayu Kuda Narpada duduk membeku, di sampingnya Nyi Upih telah menjadi gemetar, bukan saja karena hatinya yang kecut, tetapi udara malam yang dingin bagaikan menggigit tulang.

Yang agak berbeda dari keduanya adalah Puteri Inten Prawesti, yang terjadi semalam seakan-akan justru telah menempa dirinya, ia menjadi jemu bersembunyi diatas atap untuk menunggu ketidak pastian, karena itulah, maka seakan-akan telah tumbuh di dalam hatinya, keberanian yang tidak dikenalnya dari mana datangnya.

Tiba-tiba saja Inten Prawesti itu berteriak, “Ibu, aku akan turun, aku akan melihat dan mengalami apa yang terjadi dengan Pinten.”

“Jangan” desis ibundanya, “Dengarlah pesannya Inten”

“Tetapi, apakah yang akan terjadi dengan kita pun tidak kita ketahui, biarlah, jika maut menjemputku”

“Bukan maut, tetapi derita sepanjang hidupmu”

Inten Prawesti menjadi termangu-mangu, bulu-bulunya meremang ketika ia mulai membayangkan, bagaimana Kidang Alit tertawa, bagaimana Raden Kuda Rupaka tersenyum kepadanya, dan menggandeng tangannya ketika memanjat tebing bukit-bukit kecil di belakang istananya.

“Tenanglah Inten”

Inten Prawesti menarik nafas dalam-dalam, namun ada sesuatu yang bergejolak dihatinya. Ia tidak dapat membiarkan Pinten berada diantara serigala yang sedang bertaruh nyawa.

Hampir di luar sadarnya, tiba-tiba saja Inten Prawesti berdiri tegak, meskipun ibunya dan Nyi Upih mencegahnya, namun ia sama sekali tidak menghiraukannya lagi.

Untunglah, bahwa tidak seorang pun yang ada di halaman melihatnya, karena tertutup oleh atap istana itu.

Namun yang mengejutkan ibundanya adalah justru wajah Inten yang pucat itu menjadi semakin pucat, dengan suara yang patah-patah ia berdesis, “Ibunda, mereka datang lagi. Sebentar lagi halaman ini akan penuh dengan darah dan mayat akan berserakan”

“Kenapa?”

“Sekelompok orang-orang berkuda, aku tidak tahu siapakah mereka, mungkin orang-orang dari Guntur Geni seperti yang pernah aku dengar, mungkin orang-orang dari perguruan lain yang ingin mendapatkan pusaka itu, mungkin orang-orang yang akan membakar istana ini bersama kita semuanya”

“O” Raden Ayu Kuda Narpada menarik nafas dalam-dalam, tetapi ia tidak bekata apapun juga.

Inten Prawesti masih berdiri diatas talang, sementara Nyi Upih yang cemas telah mendekatinya dan berjongkok disampingnya.

“Puteri” suara Nyi Upih terputus.

Inten memandang kejauhan, ia dapat melihat debu yang mengepul, beberapa ekor kuda berlari kencang sekali melalui jalan berliku, namun sebentar kemudian kuda-kuda itu telah hilang terlindung oleh atap disisinya.

Inten Prawesti tertunduk dengan lemahnya, tetapi ia tidak menangis, bahkan gadis telah menggeretakkan giginya.

Dalam ketakutan dan kecemasan, Nyi Upih heran melihat sikap Inten Prawesti, namun ia tidak sampai mempelajari gejala yang timbul pada gadis momongannya.

Dalam pada itu, pertempuran di pendapa dan halaman istana itu menjadi semakin sengit, Sangkan yang terluka masih sangup bertempur dengan dahsyatnya, ternyata ia memiliki ilmu yang mempuni, sehingga lawan-lawannya menjadi heran melihat tandangnya.

Disampingnya, Pinten benar-benar bagaikan seekor harmau betina yang garang, sama sekali tidak lagi nampak sifat-sifat kemanjaannya, tidak terdengar lagi ia merengek dan merajuk terhadap kakaknya, tetapi ia bertempur dengan penuh tanggung jawab atas dirinya sendiri.

Kiai Rancangbandang yang telah terluka pula, harus bertahan agar tenaganya tidak terhisap habis oleh hentakkan tenaganya, apalagi oleh darah yang mengalir dari luka, dengan penuh perhitungan ia berusaha menghemat tenaganya, namun sudah mulai terbayang dirongga matanya, bahwa pada suatu saat, ia akan kehabisan tenaga.

Sekilas terkenang olehnya, bagaimana ia terlempar keatas gunung yang gersang dan bagaikan sarang hantu-hantu yang buas itu, namun ia tidak menyesalinya, ia telah melakukan sesuatu bagi prikemanusiaan, jika ia gagal, maka ia merasa bahwa ia sudah berusaha berbuat sesuatu yang dapat memberikan arti bagi hidupnya. Arti yang kecil sesuai dengan tingkat hidupnya sebagai orang kecil.

Ki Wirit yang bertempur di halaman terkejut, ketika ia melihat Panon terlempar selangkah surut, ia mendengar anak muda itu berdesah, ketika ia sekilasnya, maka seleret warna merah menyilang di dada anak muda itu.

Suara tertawa Sora Raksa Pati telah membelah dentang senjata yang susul menyusul di halaman dan di pendapa, dengan lantang Sora Raksa Pati berkata, “Aku akan melukainya silang menyilang, baru akan aku bunuh anak yang sombong ini”

Ki Wirit menggeretakkan giginya, ia melihat Pangeran Sora Raksa Pati mulai dengan serangan-serangannya kembali, sementara Panon dengan susah payah berusaha menghindarinya.

“Memang terlalu berat baginya” berkata Ki Wirit di dalam hatinya.

Namun karena itulah, maka tiba-tiba saja ia mempergunakan kesempatan yang ada padanya untuk mendekati Panon sambil memberikan beberapa buah pisau belati kecil, bukan pisau-pisau dapur seperti yang sudah dipergunakannya, tetapi pisau-pisau yang pada tangkainya terdapat sebuah lukisan yang Panon sendiri tidak mengetahuinya.

Dengan tangan kirinya Panon menerima pisau-pisau belati kecil itu, dan menyelipkannya pada ikat pinggangnya yang besar, meskipun pisau itu hanya beberapa buah, tetapi pisau-pisau itu Tentu akan dapat memperpanjang perlawanannya.

Sementara Panon bergeser surut sambil mempersiap dirinya, maka Ki Wirit harus bekerja keras untuk menarik perhatian lawan-lawannya. Sampai Panon sudah siap lagi untuk bertempur meskipun dengan segores luka di dada.

“Pisau-pisau itu tidak akan menolongmu, Panon” Sora Raksa Pati tersenyum.

Tetapi tiba-tiba saja senyumnya lenyap dari bibirnya, ia tidak mengira bahwa tiba-tiba saja seleret pisau menyumbatnya, bukan dilemparkan oleh Panon tetapi oleh Ki Wirit sendiri.

Dengan tergesa-gesa Sora Raksa Pati menghindar sambil mengumpat, namun sekali lagi telah terjadi diluar perhitungannya, Panon yang sudah menyadari, bahwa ia harus berhemat dengan pisau-pisaunya, namun ketika nampak olehnya kesempatan yang barangkali tidak akan terulang, maka dengan perhitungannya yang cepat, ianya segera melontarkan sebilah pisau dengan tangan kirinya.

Tetapi tangan kirinya itu pun cukup terlatih, sehingga pisau tu langsung terbang ke arahnya.

Sora Raksa Pati terkejut untuk kedua kalinya, tetapi justru karena tidak diduga, maka ia terlambat menghindar, meskipun ia masih sempat memperkecil akibat yang timbul karena pisau itu.

Sora Raksa Pati menggeram ketika pisau itu menyambar pundaknya, seperti Panon, maka darahpun mulai meleleh dari luka itu.

“Ternyata kau bukan orang yang kebal Ki Ajar” berkata Ki Wirit, “Pisau muridku dapat menyobek kulitmu”

“Persetan” ia berteriak, “Anak gila itu memang harus segera dibunuh”

Kemarahan yang tidak ada taranya telah membakar jantung Pangeran Sora Raksa Pati, dengan menggeretakkan giginya, ia pun segera meloncat bagaikan badai melanda perahu di lautan.

Kedudukan Panon menjadi bertambah sulit, karena kemarahan Sora Raksa Pati, ia menyesal bahwa pisaunya tidak langsung dapat melumpuhkan lawannya, justru bagaikan menyentuh sarang lebah yang tergantung di pepohonan, namun demikian Panon yakin, semakin banyak darah yang mengalir, maka kekuatan Sora Raksa Pati itu pun Tentu menjadi semakin berkurang.

Tetapi jumlah lawan yang terlalu banyak, telah membuat gambaran akhir daripada pertempuran itu. Luka di dada Panon dan luka-luka Kiai Rancangbandang dan Sangkan, adalah permulaan dari kesulitan yang semakin memuncak, bahkan luka-luka itu itu pun rasa-rasanya kian lama kian bertambah pedih lagi.

Sora Raksa Pati yang terluka pula, justru bagaikan harimau yang terluka, serangannya datang bergulung-gulung bagaikan ombak di lautan yang di dorong oleh badai yang dahsyat.

Ki Wirit menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat Panon semakin terdesak, tetapi ia sendiri harus mempertahankan hidupnya pula meskipun ia tidak melepaskan tanggung jawabnya untuk membantu muridnya, karena kehadiran Panon di halaman itu sebenarnyalah telah mengurangi bebannya pula.

Namun karena keempat lawannya adalah orang-orang yang memiliki kemampuan yang tinggi, maka adalah diluar kemampuannya, bahwa segalanya agaknya akan berakhir dengan suram.

Di pendapa keadaan Sangkan dan kawan-kawannya justru menjadi semakin parah, Kiai Rancangbandang harus menahan nyeri ketika darahnya semakin banyak mengalir, bahkan ia menyeringai ketika sekali lagi senjata lawannya menyentuh tubuhnya.

Ki Ajar Respati yang melihat adiknya dalam kesulitan berusaha untuk melindunginya, namun justru ia terdesak surut selangkah, seperti adiknya, maka darah telah mengalir dari luka di lambungnya.

Meskipun luka itu tidak cukup dalam, namun rasa-rasanya luka itu telah mulai mengganggunya pula.

Dalam pada itu, terdengar suara Raden Kuda Rupaka lantang. “He, orang-orang yang tidak berakal, kalian lihat, betapa pahitnya nasib kalian jika kalian tetap berkeras kepala, aku menawarkan suatu penyelesaian yang terhormat bagi kalian menghentikan perkelahian, menyerah dan kami akan tetap menghidupi kalian dengan janji, bahwa kalian tidak akan mengganggu usaha kami untuk menemukan pusaka yang sedang kami cari dalam halaman istana ini”

Suara Raden Kuda Rupaka terdengar oleh Pangeran Sora Raksa Pati yang menggeram, “Kita sudah bersepakat untuk membunuh setiap orang”

“Tetapi aku menjadi kasihan kepada mereka paman” jawab Raden Kuda Rupaka, “Meskipun aku sadar, bahwa dengan demikian agaknya persoalan masih akan berkepanjangan”

“Kau sudah menjadi gila” teriak Sora Raksa Pati, “Kita akan membunuh setiap orang”

Raden Kuda Rupaka tidak menjawab lagi, namun terdengar suara Kidang Alit, “Apakah kematian mereka akan banyak memberikan bantuan terhadap kita paman?”

“Diam!” bentak Pangeran Sendang Prapat, “Orang yang memiliki pisau-pisau belati dengan lukisan kuda bersayap ini adalah racun yang harus dimusnahkan sebelum menggigit nyawa kita masing-masing”

Kidang Alitpun terdiam, namun ia sama sekali tidak mengurangi tekanannya, namun ia mengerutkan keningnya ketika seorang pengawalnya berkata sambil menyerang, “Jika Raden ingin membiarkan gadis itu hidup, biarlah gadis itu saja yang kita biarkan hidup, yang lain tidak perlu kita hiraukan lagi”

Kidang Alit tidak menyahut, tetapi jawaban itu benar-benar telah menyakitkan hati Pinten.

Meskipun demikian ia masih harus menahan diri, ia tidak dapat berbuat apa-apa selain berjuang mempertahankan diri.

Dalam pada itu, halaman istana itu telah digoncangkan derap kaki kuda yang berlari diatas jalan yang berbatu-batu, sekelompok orang berkuda yang dilihat Inten Prawesti dari atas atap ternyata telah menjadi semakin dekat dengan gerbang istana kecil itu.

Derap kaki kuda itu benar-benar telah mengejutkan setiap orang yang ada di halaman, mereka tidak melihat, siapakah yang telah datang, namun diluar sadar, Sora Raksa Pati berkata, “Orang-orang Guntur Geni”

“Tentu tidak” sahut Raden Kuda Rupaka, “Mereka telah dilumpuhkan, orang-orang dari perguruan Guntur Geni telah binasa, meskipun masih ada seorang pemimpinnya telah berhasul meloloskan dirinya”

“Jadi siapa menurut dugaanmu?” bertanya Pangeran Sora Raksa Pati.

Pertempuran di halaman dan di pendapa itu tiba-tiba saja sudah mengendor, mereka masing-masing telah terpesona oleh derap kaki kuda yang menjadi semakin dekat.

Namun tiba-tiba saja derap kaki kuda itu terhenti diluar dinding halaman istana itu dan berpencar mengelilingi.

“Mereka mengepung istana ini” teriak Pangeran Sendang Prapat.

“Persetan dengan orang-orang Guntur Geni” geram Kidang Alit, “Kita akan menunggu mereka dan membinasakan mereka bersama-sama dengan orang-orang yang telah menghalangi rencana kita, sebenarnya aku merasa kasihan terhadap orang-orang yang sudah hampir kehabisan tenaga ini, tetapi mereka ternyata telah menyebabkan kita terlibat dalam benturan kekuatan dengan orang-orang Guntur Geni.”

Pertempuran di halaman itu justru seakan-akan telah terhenti, masing-masing berdiri dengan tegang meskipun senjata mereka masih tetap teracu.

Langit menjadi panas oleh terik matahari yang semakin tinggi, dengan nanar orang-orang di halaman dan di pendapa itu menunggu, siapakah orang yang pertama memasuki regol halaman.

“Cepat, siapakah yang akan mati lebih dahulu” teriak Pangeran Sora Raksa Pati yang tidak sabar.

Namun orang-orang berkuda di luar halaman itu justru telah menghindari regol halaman yang terbuka, sehingga orang-orang yang ada di dalamnya tidak segera melihat mereka.

Sangkan sekali-sekali masih berdesis karena pedih dilukanya, namun hatinya bertambah tegang menunggu siapakah orang yang akan nampak diatas punggung kuda memasuki halaman itu, apakah mereka orang-orang Guntur Geni atau orang-orang dari perguruan lain yang belum dikenalnya, mungkin dari lembah Gunung Ciremai, atau dari pulau Nusakambangan.

Dalam ketegangan itu, tiba-tiba saja setiap hati bagaikan tersentak, yang pertama-tama mereka lihat bukannya seseorang yang berada di punggung kuda memasuki regol dengan senjata di tangan diikuti oleh beberapa pengawal, tetapi yang mereka lihat pertama-tama adalah justru ujung sebuah tunggul. Apalagi kemudian nampak mencuat pada dinding dinding halaman itu, beberapa ujung tunggul dan tombak yang lain.

“Siapakah mereka?” setiap hati bagaikan meledak.

Baru sejenak kemudian orang-orang di dalam halaman itu mendengar aba-aba, bukan teriakan nyaring yang kasar, tetapi sebuah sangkakala.

Darah mereka serasa membeku, ketika mereka melihat ujung-ujung tunggul dan tombak itu mulai bergerak, barulah kemudian mereka melihat dengan tubuh gemetar, beberapa orang-orang berkuda memasuki regol halaman istana kecil itu, lengkap dengan tanda-tanda kebesaran, tunggul dan panji-panji, diiringi oleh sepasukan kecil dengan ciri-ciri lengkap kebesaran prajurit Demak.

“Gila” teriak Pangeran Sora Raksa Pati, sementara wajah Sora Raksa Pati menjadi merah padam.

“Kakangmas Bondan lamatan” desis Pangeran Cemara Kuning.

Pangeran Sendang Prapat pun menjadi semakin tegang, namun untuk sesaat ia justru berdiri mematung.

Orang yang berkuda di paling depan memandang berkeliling, dilihatnya beberapa orang bersenjata di halaman dan di pendapa.

Dengan nada yang dalam orang bertubuh tinggi kekar dan berkumis itu berkata penuh wibawa, “Letakkan senjata kalian, kami ingin berbicara dengan siapapun yang ada di halaman ini”

Suasana yang tegang itu menjadi semakin tegang, Pangeran Sora Raksa Pati yang garang, tiba-tiba saja melangkah dengan lesu, “Pangeran Bondan Lamatan, kenapa Pangeran ada disini sekarang”

Orang yang berkumis yang masih berada di punggung kuda itu mengerutkan keningnya, kemudian jawabnya, “Ternyata disini ada orang-orang penting dari beberapa aliran keturunan, Pangeran Sora Raksa Pati, Pangeran Sendang Prapat, Pangeran Cemara Kuning dan seorang Ajar yang memiliki nama tidak ada duanya”

Halaman itu jadi hening, dan Pangeran Bondan Lamatan berkata seterusnya, “Tetapi yang lain, aku masih belum mengenalnya, meskipun barangkali pernah mendengar namanya”

Tidak ada orang yang menjawab.

Karena itu Pangeran Bondan Lamatan mengulangi perintahnya, “Letakkan semua senjata”

Pangeran Sora Raksa Pati yang berwajah merah padam menggeram, “Pangeran Bondan Lamatan, aku tahu. Kau seorang senopati pinunjul, orang menyebutmu sebagai seorang yang memiliki ilmu lembu Sekilan dan Welut Putih, sehingga dalam keadaan yang bagaimanapun juga kau tidak akan dapat dikalahkan, tetapi aku yakin akan kekuatanku, aku akan mampu menembus ilmu Lembu Sekilan dan menghambarkan ajimu Welut Putih”

Pangeran Bondan Lamatan mengerutkan keningnya, lalu katanya, “Kau mengalami kesulitan untuk memenangkan perkelahian yang terjadi di halaman ini, aku dapat membaca dari sikap dan keadaan ini. Aku sudah melihat beberapa orang terluka, kepungan yang masih bulat dan senjata teracu, tetapi aku belum melihat sesosok mayat pun di halaman ini, sehingga menurut kesimpulanku, pertempuran yang terjadi, memang berat sebelah, tetapi tidak segera dapat menentukan”

“Kami baru saja mulai, dan kami sudah membunuh tiga atau empat orang lawan” teriak Sora Raksa Pati.

“Aku tidak tahu, dipihak manakah kau berdiri diarena ini, tetapi menilik sikap terakhir, kau bersama Pangeran Sora Raksa Pati, Pangeran Sendang Prapat dan Pangeran Cemara Kuning sedang mengepung dua orang lawan, seorang tua dan seorang anak muda.”

“Ya, Pangeran” Ki Wirit, “Kami berdua dengan anak kami harus bertahan mati-matian melawan mereka berempat”

“Tutup mulutmu” teriak Sora Raksa Pati.

Tetapi Sora Raksa Pati tidak dapat memaksa Ki Wirit untuk diam, karena orang timpang itu berkata seterusnya, “Sedangkan di pendapa itu telah terjadi pertempuran yang sama sekali tidak berimbang, hanya karena tempat yang sempit dan tiang-tiang pendapa yang mengganggu sajalah, maka beberapa itu dapat bertahan dari orang-orang Kumbang Kuning dan orang-orang Cengkir Pitu yang masing-masing dipimpin oleh Raden Kuda Rupaka dan Kidang Alit”

“Raden Kuda Rupaka?” Pangeran Bondan Lamatan itu mengulang dengan kerut merut di keningnya.

“Ya”

“Di pihak mana Raden Kuda Rupaka itu berdiri?”

“Cengkir Pitu”

Pangeran Bondan Lamatan menarik nafas dalam-dalam, kemudian katanya lantang, “Cepat, letakkan senjata kalian, aku membawa sepasukan prajurit pilihan, jika kalian semuanya tidak mematuhi perintahku, maka aku menyerang kalian semuanya yang ada di halaman dan pendapa ini, aku dan pasukanku akan memaksa kalian untuk melepaskan senjata kalian dari genggaman, atau jika perlu kami mendapat wewenang untuk mengakhiri perlawanan dengan cara apapun juga”

Wajah-wajah di halaman dan di pendapa nampak menjadi semakin tegang, namun tidak seorangpun yang berbuat sesuatu.

Halaman dan pendapa istana kecil itu menjadi semakin tegang, setiap jantung rasa-rasanya berdebar semakin keras.

Dalam pada itu, ternyata Sangkan telah memecahkan ketegangan itu, sambil mengangkat senjatanya ia berkata, “Aku akan mematuhi perintah Pangeran Bondan Lamatan, tetapi aku mohon perlindungan, bahwa lawanku tidak menusuk dadaku dengan serta merta jika aku meletakkan senjata bersama kawanku”

Pangeran Bondan Lamatan memandang anak muda itu sejenak, kemudian katanya, “Aku lindungi keselamatanmu, kemarilah, setiap orang yang menghalangimu akan mengalami nasib yang paling buruk”

Sangkan kemudian memandang kawan-kawannya sejenak, kemudian katanya, “Kita akan mematuhi perintahnya, kita sudah melihat tanda-tanda kebesaran prajurit Demak, dan kita tidak akan melawan mereka”

Kiai Rancangbandang yang terlukam Ki Ajar Respati yang sudah menitikkan darah pula dan Ki Reksabahu saling berpandangan sejenak, namun semakin tidak terucapkan, agaknya mereka bersepakat, bahwa mereka akan mematuhi perintah itu pula seperti yang dikehendaki Sangkan.

Sangkan tidak perlu bertanya kepada Pinten, ia tahu, adiknya itu tentu akan mematuhi perintah itu pula.

Demikianlah, Sangkan pun kemudian maju beberapa langkah, hampir diluar sadar, orang-orang yang mengepungnya itu pun menyibak, sehingga Sangkan dan kawan-kawannya kemudian keluar dari kepungan itu dan turun ke halaman, beberapa langkah di hadapan Pangeran Bondan Lamatan. Sangkan melemparkan senjatanya diikuti oleh kawan-kawannya.

Bahkan dengan serta merta Ki Wirit berbuat hal serupa pula sambil berkata, “Aku menyerahkan nasibku kepada Pangeran Bondan Lamatan bersama anakku”

Panon termangu-mangu sejenak, namun ia pun kemudian meletakkan senjata pula.

“Kemarilah” berkata Pangeran Bondan Lamatan

“Berdirilah disisi sebelahku”

Sangkan dan kawan-kawannya kemudian bergeser dan berdiri di sebelah pasukan Demak yang berada di halaman itu.

“Nah” berkata Pangeran Bondan Lamatan kemudian, “Apakah kalian anak-anak perguruan Cengkir Pitu dan Kumbang Kuning masih akan berkeras mempertahankan diri?”

“Pengecut”“ geram Sora Raksa Pati sambil memandang Ki Wirit, “Kenapa kau tidak bertahan melawan orang-orang Demak itu?”

“Tidak, aku tahu bahwa mereka tidak akan berbuat apa-apa” jawab Ki Wirit, “Apalagi mereka tentu tidak akan dengan tamak mencari pusaka itu untuk mereka sendiri”

Sangkan mengerutkan keningnya, jika masih ada sedikit kecurigaan di dalam hatinya terhadap Ki Wirit, maka lambat laun kecurigaannya itu pun semakin cair.

Dalam pada itu, Pangeran Bondan Lamatan sekali lagi berkata, “Aku memberikan kesempatan terakhir, letakkan senjata kalian, atau kami harus bertindak dengan kekerasan”

Tidak ada yang dapat mereka lakukan selain mematuhi perintah itu.

Betapapun kemarahan membakar jantung, namun mereka tidak dapat melawan perintah Pangeran Bondan Lamatan, karena mereka tahu Pangeran Bondan Lamatan membawa pasukan yang kuat dengan beberapa orang senapati pilihan.

Dalam pada itu, Raden Kuda Rupaka dan Kidang Alitlah orang yang pertama-tama melangkah turun dari pendapa dan meletakkan senjatanya, sementara Pangeran Sora Raksa Pati dan Sora Raksa Pati memandangnya dengan sorot mata yang bagaikan menyala.

Tetapi merekapun akhirnya harus menerima kenyataan itu, merekapun kemudian terpaksa meletakkan senjata mereka satu demi satu.

Beberapa orang senapati dan pasukan Demak itu pun kemudian mendesak maju, mereka turun dari kuda mereka dan menyerahkan kuda mereka kepada beberapa orang prajurit, sementara mereka mengatur orang-orang yang telah meletakkan senjata mereka.

“Maaf Pangeran” berkata seorang senapati muda

“Kami mohon Pangeran bertiga bersama Sora Raksa Pati untuk berdiri di sudut sana, demikian pula Raden Kuda Rupaka dan kawan-kawannya”

Pangeran Sora Raksa Pati, Pangeran Cemara Kuning dan Pangeran Sendang Prapat tidak dapat membantah, demikian pula Pangeran Sora Raksa Pati, bagaimanapun juga ternyata kebesaran tunggul dan tanda-tanda keprajuritan Demak mempunyai pengaruh atas mereka.

Sejenak Pangeran Bondan Lamatan masih tetap diatas punggung kudanya, sambil memandang berkeliling ia bertanya, “Dimanakah Gusti Puteri Raden Ayu Kuda Narpada?”

Sejenak mereka termangu-mangu, namun kemudian Sangkanlah yang menjawab, “Gusti Puteri aku sembunyikan diatas atap bersama Puteri Inten Prawesti dan biyung”

“Siapa kau” bertanya Pangeran Bondan Lamatan.

“Aku adalah Sangkan, anak Nyi Upih, abdi setia dari Gusti Puteri”

Pangeran Bondan Lamatan memandang Sangkan dengan tajamnya, sejenak ia termangu-mangu, namun kemudian katanya, “He, kau anak nakal, jadi kau sebut dirimu Sangkan?”

Semua orang terkejut mendengar sapaan itu, apalagi ketika Pangeran Bondan Lamatan segera turun dari kudanya, perlahan-lahan ia mendekati Sangkan sambil memandanginya dari atas kepala sampai ke ujung kakinya.

“Kau memang pandai menyamar, aku tidak segera dapat mengenalmu” ia termangu, lalu dipandanginya gadis yang berdiri di belakang Sangkan, sejenak Pangeran Bondan Lamatan berdiri tegak, namun kemudian ia melangkah maju, sambil menggapai kepala Pinten dan kemudian menariknya sambil mengusap rambut gadis itu ia berkata, “Raksi Padmasari, keluargamu menangisi kepergianmu, kau memang anak nakal, meskipun mereka tahu bahwa kau tidak mau terpisah dari kakakmu, tetapi kepergianmu membuat seisi rumahmu berprihatin”

Pinten tidak menyahut, tetapi terasa matanya menjadi panas.

“Aku sudah menasehatinya” berkata Sangkan, “tetapi ia memaksa untuk mengikuti kepergianku, meskipun ia tahu bahwa yang aku tuju adalah Pegunungan Sewu yang penuh dengan kesulitan dan bahaya”

“Burungmu sampai dengan selamat bersama dengan secarik rontalmu” desis Pangeran Bondan Lamatan.

Semua perhatian telah tertuju kepada Sangkan, bahkan Ki Wirit telah bertanya, “Jadi kau melepaskan seekor burung?”

“Burung merpati, burung itu kembali ke kandangnya sambil membawa sehelai rontal” jawab Sangkan.

“Sebuah perintah bagi kami” sahut Pangeran Bondan Lamatan, “Dan ternyata kami sampai pada saatnya”

Ki Wirit mengangguk-angguk, sementara Pangeran Sora Raksa Pati menggeretakkan giginya sambil bergumam, “Kau anak gila, siapa kau sebenarnya, he?”

Sangkan memandang Pangeran Sora Raksa Pati, katanya, “Pangeran, kita mempunyai jalur keturunan yang berbeda meskipun yang satu tidak akan dapat terlepas dari yang lain, itulah sebabnya ada diantara kita yang tidak saling mengenal, keturunan Kediri, Singasari dan Majapahit sendiri telah melahirkan banyak kesatria dalam sikapnya masing-masing, bahkan beberapa orang yang lahir dari jalur yang lain masih terlibat dalam persoalan lahirnya Demak”

“Tetapi siapa kau?”

Sangkan menarik nafas dalam-dalam, dipandanginya wajah Pangeran Bondan Lamatan sejenak, namun tiba-tiba ia berkata lantang, “Gusti Puteri ada diatap rumah itu, Pinten tolonglah mereka agar mereka menyaksikan kehadiran Pangeran Bondan Lamatan”

Pinten termangu-mangu sejenak, namun kemudian ia pun melangkah pergi ke sisi istana kecil itu untuk mengambil sebuah tangga bambu yang bersandar pada sebatang pohon kemiri.

Tetapi hampir diluar sadarnya, Panon dengan tergesa-gesa mendahuluinya untuk mengambil tangga itu.

“Nah” desis Sangkan, “Nah, bukankah aku tidak perlu membantumu”

“Ah” wajah Pinten menjadi merah, hampir saja ia meloncat mengejar kakaknya, tetapi ketika terpandang olehnya Pangeran Bondan Lamatan dan beberapa orang yang berdiri tegang di halaman itu, maka maksudnya pun diurungkannya.

Meskipun demikian, ia masih bergumam, “Jika kau tidak mau membantu, aku juga tidak akan mengambil Gusti Puteri”

Sangkan tersenyum, ia pun kemudian membantu Panon membawa tangga bambu yang panjang itu, dan menyandarkannya tepat pada talang batang pucang.

“Naiklah” desis Sangkan.

“Bodoh, kau yang naik, aku akan menolong dan menurunkannya lewat tangga”

Demikianlah, maka Raden Ayu Kuda Narpada dan Inten Prawesti dengan susah payah telah diturunkan dari tempat persembunyiannya, demikian pula pelayannya yang setia, meskipun masih juga gemetar.

“Di halaman hadir Pangeran Bondan Lamatan” desis Sangkan.

“Pangeran Bondan Lamatan” suara Raden Ayu Kuda Narpada gemetar oleh berbagai perasaan yang saling berbenturan.

“Ya Gusti, bersama dengan sepasukan prajurit Demak, mereka telah menguasai setiap orang yang bermaksud jahat di istana ini”

Sejenak Raden Ayu Kuda Narpada termangu-mangu, ia melihat beberapa orang prajurit di halaman itu, tetapi ia masih belum melihat, siapakah orang yang memegang pimpinan.

Dengan diikuti oleh Sangkan, Pinten dan Panon, Raden Ayu Kuda Narpada, Inten Prawesti dan Nyi Upihpun kemudian pergi ke halaman depan, seperti yang dikatakan oleh Sangkan, maka ia pun kemudian melihat Pangeran Bondan Lamatan.

Ketika melihat Raden Ayu Kuda Narpada yang pucat bersama puterinya, maka Pangeran Bondan Lamatan pun segera berlari mendapatkannya, sambil mengangguk dalam-dalam ia berkata, “Aku mohon maaf, mungkin kedatanganku agak terlambat, tetapi kini semuanya sudah berlalu”

Setitik air mengambang di pelupuk mata Raden Ayu Kuda Narpada, dengan suara yang tersendat-sendat ia berkata, “Adimas Pangeran Bondan Lamatan, kedatanganmu membuat hatiku seperti tersiram air setelah kering di panasnya api ketamakan beberapa orang saudara kita sendiri, meskipun dari jalur keturunan yang lain”

“Ya, kakangmbok, aku mengerti, untunglah ada beberapa orang yang dengan suka rela telah mendahului perjalananku dan menahan arus ketamakan itu”

“Kenapa kau tidak datang saja lebih cepat adimas?”

Pangeran Bondan Lamatan menarik nafas dalam-dalam, katanya, “Ada beberapa alasan kakangmbok, tetapi diantaranya adalah bahwa dengan demikian kami dapat melihat apakah yang telah terjadi, kita dapat melihat, manakah yang emas dan manakah yang loyang. Kedua Pangeran yang berdiri di pihak perguruan Kumbang Kuning yang ada sekarang, Tentu akan dapat bercerita banyak tentang kakangmas Pangeran Kuda Narpada yang hilang beberapa tahun yang lampau”

Raden Ayu Kuda Narpada memandang beberapa orang yang berdiri dipinggir halaman, beberapa orang bangsawan yang dengan tamak telah berusaha mendapatkan pusaka-pusaka yang mereka anggap dapat mengantarkan mereka ke jenjang tahta kerajaan Majapahit yang sudah lebur itu.

Beberapa orang Pangeran yang sudah tidak berdaya itu menjadi berdebar-debar, wajah mereka menjadi merah padam dan jantung mereka serasa berdetak semakin cepat.

“Aku berterima kasih kepada anak-anak muda yang telah memperpanjang umurku sehingga saatnya kau datang” berkata Raden Ayu Kuda Narpada.

Pangeran Bondan Lamatan berpaling kearah Sangkan dan Pinten, dengan suara yang patah-patah ia berkata, “Kakangmbok, apakah kakangmbok mengenal gadis itu?”

“Pinten, ya. Ia adalah gadis yang sangat mengagumkan, ia telah ikut menyelamatkan kami, ia mengaku anak Nyi Upih, meskipun aku agak meragukannya, karena kemampuannya yang berlebihan”

Pangeran Bondan Lamatan menarik nafas dalam-dalam, sementara wajah Pinten yang kemerah-merahan nampak menunduk.

“Nyai” bertanya Pangeran Bondan Lamatan, “Kaukah yang bernama Nyi Upih?”

“Ya, Pangeran”

“Apakah Pinten memang anakmu?”

“Nyi Upih menjadi bingung, namun tiba-tiba saja ia berlari kearah Pinten dan berlutut di hadapannya, “Ampun Puteri, apakah yang harus aku katakan?”

Raden Ayu Kuda Narpada dan Inten Prawesti terkejut, hampir bersamaan mereka bertanya, “Nyai, siapakah sebenarnya gadis itu?”

Nyi Upih mengusap matanya, perlahan-lahan ia berpaling memandang Gusti Puteri Kuda Narpada dan Puteri Inten Prawesti, kemudian sambil memandang wajah Pinten ia berkata, “Katakanlah Puteri, katakanlah, sudah terlalu lama aku menahan diri untuk memendam rahasia ini, sehingga rasa-rasanya dadaku akan pecah”

Pinten pun mengusap matanya, kemudian sambil berpaling kepada Pangeran Bondan Lamatan ia berkata, “Terserahlah kepada Pangeran”

Pangeran Bondan Lamatan tersenyum, katanya, “Ia adalah Raksi Padmasari”

“He?” kedua orang Puteri itu terbelalak, sementara Nyi Upih mengusap matanya yang basah, dengan ragu-ragu ia mendekati Raden Ayu Kuda Narpada, kemudian berjongkok pula di hadapannya sambil berkata, “Ampun Gusti, Puteri Raksi Padmasarilah yang minta agar aku merahasiakan kehadirannya”

Raden Ayu Kuda Narpada menarik nafas dalam-dalam, namun ia masih nampak keragu-raguan di wajahnya.

Sementara itu, Nyi Upih pun kemudian berkata, “Pangeran Bondan Lamatan telah menyebut nama Puteri Raksi Padmasari, dan jika Gusti masih belum dapat mengingatnya, maka biarlah Inten Prawesti mulai mengingat kembali, sebuah istana yang halamannya ditumbuhi sebatang pohon beringin ditengahnya dan enam batang pohon beringin di sekelilingnya, tiga sangkar bekisar dan beberapa ekor binatang buas”

“Istana pamanda Pangeran Sargola Manik” Inten hampir berteriak.

“Gadis kecil yang pernah tinggal di istana itu adalah Puteri Raksi Padmasari meskipun hanya sebentar”

“O” rupa-rupanya ingatan Inten mulai membayangkan gadis kecil hampir sebaya dengan dirinya, dan terpekik ia berkata, “Ya, Puteri Raksi Padmasari, aku ingat, namanya Raksi, aku tidak ingat lagi kelanjutannya”

“Itulah gadis kecil yang nakal itu”

Inten termangu-mangu sejenak, namun hampir diluar sadarnya, tiba-tiba saja ia berlari memeluk Pinten yang kemudian memeluknya pula.

“Aku sudah pernah memikirkannya, bahkan aku pernah menyebutnya, tetapi Nyi Upih berbohong waktu itu” desis Inten disela-sela isaknya.

Pinten yang sebenarnya bernama Raksi Padmasari itu pun menitikkan air mata, sudah lama ia bukan perasaan untuk tetap dalam penyamarannya, tiba-tiba terasa dadanya bagaikan terlepas dari himpitan yang paling berat.

“Ya, diajeng” desis Raksi Padmasari, “Akulah yang memaksa Nyi Upih untuk berbohong, aku tidak dapat mengganggu tugas kakangmas untuk menyelamatkan pusaka pamanda Pangeran Kuda Narpada”

“Tetapi” suara Inten terputus, perlahan-lahan ia melepaskan Raksi Padmasari sambil memandang Raden Kuda Rupaka di kejauhan.

“Aku memang datang bersama kakangmas Kuda Rupaka” desis Raksi.

Inten menjadi tegang, sekilas ia memandang Sangkan yang tegak disamping Pangeran Bondan Lamatan, seolah-olah ia ingin bertanya, “Siapakah laki-laki yang telah datang bersama Pinten itu, jika ia benar datang bersama Pinten itu, jika ia benar datang bersama Kuda Rupaka.”

Namun dalam pada itu, Pangeran Sora Raksa Pati telah berteriak dari tempatnya, “Ketahuilah, lebih baik aku yang mengatakannya daripada orang lain, Kuda Rupaka yang bersamaku sekarang, bukan Kuda Rupaka yang sebenarnya, kami telah memanfaatkan namanya, karena ia adalah anak Linggar Watang, jika gadis itu menyebut dirinya adik Raden Kuda Rupaka, maka anak muda yang dungu itulah Tentu Raden Kuda Rupaka”

Sangkan terkejut mendengar kata-kata Pangeran Sora Raksa Pati itu, namun Pangeran Bondan Lamatan menyahut, “Pangeran Sora Raksa Pati berkata sebenarnya, Raden Kuda Rupaka, putera Pangeran Linggar Watang yang pernah berada di Majapahit, di istana Pangeran Sargola Manik, adalah anak muda itu, ia telah lama hilang dari kalangan kebangsawanan dan tinggal jauh bersama ayahandanya di padepokan kecil”

Semua orang memandang Sangkan dengan hati yang berdebar-debar, bahkan rasa-rasanya wajah Puteri Inten Prawesti menjadi merah dan panas.

Namun dalam pada itu, terdengar Kidang Alit bertanya, “Jadi siapakah Raden Kuda Rupaka yang bukan sebenarnya itu?”

“Raden Johar patitis, ia adalah Johar Patitis, memang berasal dari perguruan Cengkir Pitu, tidak ada gunanya kita bersembunyi lagi, semuanya sudah terbuka. Nah, sebutlah siapa nama Kidang Alit yang sebenarnya. Ia tentu pengikut setia Pangeran Sendang Prapat atau Pangeran Cemara Kuning di perguruan Sora Raksa Pati”

Yang menjawab adalah Kidang Alit sendiri, ia masih saja diwarnai oleh sifat-sifatnya, tertawanya yang licik dan suaranya yang bernada tinggi, “Apakah ada gunanya aku memperkanalkan diri disini?, baiklah, jika perlu, aku adalah Waruju, Raden Waruju, putera Pangeran Windupati yang berdarah Kediri”

Pangeran Bondan Lamatan menarik nafas dalam-dalam, dengan nada tinggi ia berkata, “Itupula sebabnya, setiap orang merasa dirinya terpisah karena darah ketutunan, dengan demikian kita masing-masing tidak akan pernah merasa satu. Meskipun dalam tubuh kita mengalir darah dari sumber yang sama yang bercampur dengan darah yang berbeda, kita masing-masing merasa keturunan Jenggala, Kediri, Singasari di timur dan Mataram, Pajajaran, Sriwijaya di di bagian barat yang berbeda-beda dan kita pertentangkan di dalam hati, sehingga dengan demikian kita masing-masing akan berjuang dengan sekuat tenaga bagi kejelasan dari perbedaan-perbedaan itu. kita akan bangga jika kita yang berdiri pada jalur tertentu menemukan kelebihan dari yang lain, seperti yang kita lihat sekarang, kita masing-masing berjuang untuk mendapatkan pusaka yang kita anggap dapat menjadi persemayaman wahyu keraton, dengan demikian kita masing-masing yang berhasil akan berdiri sambil menepuk dada dan berkata, “Inilah darah keturunan Kediri, Singasari atau Majapahit, yang telah berhasil menegakkan kembali pemerintahan di tanah ini” kata-kata Pangeran Bondan Lamatan itu ternyata telah menyentuh hati setiap orang yang mendengarnya, sementara itu Pangeran Bondan Lamatan berkata seterusnya, “Kenapa kita tidak justru mengaburkan perbedaan-perbedaan yang ada di dalam diri kita masing-masing dan memantapkan persamaan yang memang ada dalam diri kita. Bukankah dengan demikian kita semuanya akan menjadi tulang punggung yang kokoh dan tidak tergoyahkan bagi Demak, selama Demak masih merupakan tumpuan harapan, maka kita akan menegakkannya.”

Tidak seorang pun yang menyahut kata-kata itu yang bagaikan bergema di setiap dada.

Namun dalam pada itu, selagi semua perhatian tercurah pada Pangeran Bondan Lamatan, tiba-tiba mereka terkejut, seseorang dengan tergesa-gesa telah memasuki halaman, dengan keris dalam genggamannya ia berdiri tegak di depan regol, sambil memandang berkeliling ia berteriak, “Siapa yang telah memperlakukan ku dengan curang”

Semua orang justru menjadi termangu-mangu, yang pertama-tama menyebutnya adalah Sangkan, “Ki Buyut”

Ki Buyut memandang Sangkan sambil berkata, “Ya aku datang untuk membantu apa saja, aku ingin membalas budi pada penghuni istana ini, jika aku harus bertempur aku akan bertempur dan jika aku harus mati, aku bersedia untuk mati”

“Tidak ada pertempuran disini Ki Buyut” jawab Sangkan.

“Jangan bohongi aku, kau sudah terluka, aku tahu kalian telah bertempur, tunjukkan padaku manakah yang harus aku lawan”

Sangkan tidak menjawab, sementara Ki Buyut seolah-olah masih mencari diantara orang-orang yang berdiri di halaman istana kecil itu.

Tiba-tiba saja pandangan matanya terbentur pada satu wajah, wajah Ki Wirit, yang telah menghentikannya dan tiba-tiba saja ia menjadi tidak sadarkan diri.

Dengan tegang Ki Buyut Ki Buyut memandang orang itu, dan tiba-tiba saja dengan suara nyaring ia berkata, “Itulah orangnya, dialah yang telah menyihirku, dia sudah berusaha membunuh aku, tetapi ternyata aku masih hidup”

Semua orang berpaling kearah Ki Wirit, namun tiba-tiba Sangkanlah yang berteriak, “Masih ada satu teka-teki di halaman ini”

Kini semua wajah berpaling kepada Sangkan, sementara Sangkan berkata selanjutnya, “Apakah arti pisau-pisau belati yang pada tangkainya dilukisi seekor kuda dengan sepasang sayap terkembang?”

Halaman itu menjadi tegang, Pangeran Bondan Lamatan melangkah maju sambil berkata, “Pangeran Sora Raksa Pati, apakah kau dapat menyebutnya?”

Pangeran Sora Raksa Pati termangu-mangu, yang terdengar adalah pekik Puteri Inten Prawesti, “Itu adalah pertanda kebesaran ayahanda”

“Ya” sahut Pangeran Sora Raksa Pati, “Itu adalah ciri Pangeran Kuda Narpada”

Dengan tergesa-gesa Ki Wirit menyahut, “Aku minta maaf bahwa aku telah mempergunakannya”

Suara Ki Wirit itu telah menarik perhatian Inten Prawesti, diluar sadarnya ia melangkah mendekati Ki Wirit, namun justru Ki Wirit surut selangkah sambil berkata, “Ampun Gusti Puteri, aku tidak sengaja merendahkan martabat Pangeran Kuda Narpada, aku hanya menemukan pisau-pisau itu di lereng yang terjal di kaki gunung Merbabu”

Namun Inten melangkah semakin dekat sambil bergumam seakan-akan ditujukan kepada dirinya sendiri, “Aku pernah mengenal suara itu”

“Tidak, Puteri belum pernah mengeal suaraku”

Langkah Inten Prawesti tertegun, ia berpaling kepada ibundanya, seolah-olah minta pertimbangan.

Dalam pada itu Gusti Puteri Kuda Narpada berdiri dengan gemetar, diluar sadarnya ia memandang sebuah cincin dijarinya. Dengan suara yang gemetar pula ia berkata, “Aku mendapatkan cincin ini dari anak muda yang menyebut dirinya Panon, anak muda yang cakap melagukan kidung kenangan”

“Ia adalah muridku” berkata Ki Wirit, “Akulah yang menyuruhnya datang kemari untuk menyerahkan cincin itu, karena setiap orang tahu bahwa cincin itu adalah amanat perintah Maha Raja Majapahit disamping cincin kerajaan”

“Kenapa kau serahkan cincin itu kemari?” bertanya Gusti Puteri.

“Menurut lagu pedagang di sepanjang bulak-bulak panjang diatas sebuah bukit di pegunungan Sewu terdapat sebuah istana kecil dari seorang Pangeran yang berasal dari Majapahit. Aku ketemukan cincin itu tidak jauh dari pisau-pisau belati kecil yang pada tangkainya dilukisi gambar seekor kuda bersayap yang terkembang. Aku tidak tahu bahwa muridku telah terlibat dalam persoalan yang jauh tentang pusaka yang sedang diperebutkan oleh beberapa pihak”

Halaman itu menjadi semakin tegang, wajah Raden Ayu Kuda Narpada menjadi merah, sementara Puteri Inten Prawesti menjadi ragu-ragu meskipun ia masih berdiri di tempatnya.

Diluar sadarnya ia memandang wajah Ki Wirit dengan seksama, meskipun ada beberapa gores bekas luka dan kerut merut umur yang semakin dalam, tetapi wajah itu dapat dikenalnya hampir seperti wajah yang selalu di tunggu-tunggunya.

Rambut yang beberapa helai terurai dibahwah ikat kepalanya yang kumal, beberapa helai kumis dan janggut yang memutih tanpa terpelihara, memang dapat menyamarkan bentuk wajah itu, tetapi Puteri Inten Prawesti merasa bahwa wajah itu adalah wajah yang selalu terpateri di dalam hatinya.

Namun sekali lagi orang itu bergeser sambil melangkah surut, katanya dengan nada tersendat-sendat, “Aku mohon maaf, kedatanganku kemari adalah sekedar menjemput muridku yang terlalu lama pergi dari padepokan”

Inten Prawesti menjadi sangat bingung, dan tiba-tiba saja ia berlari memeluk ibundanya sambil menangis, namun ternyata bahwa ibundanya tidak dapat menahan air matanya pula.

Di seberang halaman, di sebelah Pangeran Sora Raksa Pati berdiri Pangeran Sendang Prapat dan Pangeran Cemara Kuning, dengan tajamnya ia mencoba mengenal orang timpang yang berdiri di sebelah orang-orang yang telah bertempur mempertahankan istana kecil itu, dengan seksama mereka mencoba mengenalinya, namun sejenak kemudian terdengar suara Pangeran Cemara Kuning lantang, “Orang itu berkata sebenarnya, justru jika ia mengaku seseorang yang mempunyai sangkut paut dengan lukisan seekor kuda dengan sepasang sayap yang terkembang, maka ia adalah seorang pembohong besar”

“Aku memang tidak tahu menahu tentang lukisan itu” sahut Ki Wirit.

Namun dalam pada itu, dengan wajah yang merah membara tiba-tiba saja Raden Ayu Kuda Narpada bertanya, “Pangeran Cemara Kuning, jika kau meyakinkan hal itu, aku ingin bertanya kepadamu, dimanakah kakanda Pangeran Kuda Narpada”

Pangeran Cemara Kuning mengerutkan keningnya, wajahnya menjadi tegang, sejenak ia justru bagaikan terbungkam.

Namun yang menjawab lantang adalah Pangeran Sendang Prapat, “Tidak ada gunanya pula aku mengingkari saat ini, semuanya Tentu akan terbuka pula pada akhirnya” ia berhenti sejenak untuk mengumpulkan kekuatan hatinya, lalu terdengar suaranya menyentak, “Kami berdua telah membunuhnya”

“O” Inten memekik, dan tiba-tiba saja tubuhnya menjadi lemah, hampir saja ia terjatuh jika Sangkan tidak menangkap dan menahannya.

“Jangan disesali” desis Pangeran Sendang Prapat, “Semuanya sudah terjadi”

Raden Ayu Kuda Narpada pun tidak dapat menahan air matanya.

Jika kedatangan Panon dengan cincin di jarinya itu memberikan sedikit pengharapan, maka harapan itu kini sudah punah sama sekali.

Apalagi ketika Ki Wirit kemudian berkata, “Sebenarnyalah Gusti Puteri. Saat aku menemukan seikat pisau-pisau kecil dan cincin kerajaan, aku memang menemukan sesosok mayat, tetapi agaknya aku terlambat mengenalinya, sehingga aku tidak dapat mengatakan kepada siapapun juga, bahwa seorang Pangeran telah gugur karena dibunuh orang”

“Tetapi kenapa kau mengirimkan cincin itu tanpa menyebutnya sama sekali?” tiba-tiba saja disela-sela isak yang menyentak Gusti Puteri Kuda Narpada bertanya terbata-bata.

 

“Ampun Gusti, sebenarnyalah aku tidak ingin membuat Puteri semakin sedih”

“O” Raden Ayu Kuda Narpada menutup wajahnya dengan kedua tangannya, sementara Pangeran Bondan Lamatan menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Pangeran Sendang Prapat dan Pangeran Cemara Kuning, ternyata banyak persoalan yang harus kalian selesaikan di hadapan tahta Demak nanti pada saatnya”

Tetapi Pangeran Sendang Prapat justru tertawa, katanya, “Mati atau mukti, keduanya adalah akibat yang sudah aku perhitungkan sebelumnya, apakah salahnya jika kami jatuh ke dalam salah satu akibat yang memang sudah sewajarnya terjadi?”

Pangeran Bondan Lamatan menarik nafas dalam-dalam, katanya, “Kau memang seorang jantan, tetapi kejantanan itu adalah pertanda betapa gelapnya hatimu”

“Pangeran Bondan Lamatan” tiba-tiba saja Pangeran Cemara Kuning memotong, “Bukan tugasmu mengadili kami disini, tugasmu adalah menangkap kami, dan sekarang kami sudah tertangkap”

“Terima kasih atas peringatan itu Pangeran” berkata Pangeran Bondan Lamatan, agaknya ia masih akan berbicara lebih banyak lagi, tetapi tiba-tiba semuanya terkejut ketika mereka mendengar sesuatu terjatuh di sebelah istana kecil itu, sehingga dengan serta merta Pinten berlari memburu disusul oleh Panon.

Di samping istana mereka melihat Panji Sura Wilaga terkapar di bawah teritisan, agaknya ia berusaha untuk melepaskan diri sambil bergeser dari tempat, namun ternyata ia telah terjatuh, meskipun demikian, ikatan tubuhnya sama sekali tidak berhasil dilepaskannya.

“Gila” geram Pinten, “Tetapi baiklah, marilah ikut ke halaman, permainan ini sudah selesai. Dan kau akan mendapat pelayanan yang lebih baik daripada di simpan diatas talang.

Mata Panji Sura Wilaga memancarkan kemarahan yang luar biasa, tetapi ia tidak mampu berbuat apa-apa, tubuhnya masih terikat dan punggungnya serasa patah, karena ia telah terbanting jatuh di tanah.

Panon yang mendekati Panji Sura Wilaga yang terbaring di tanah itu pun termangu-mangu sejenak, sambil memandang Pinten ia bertanya, “Pinten, apakah ikatan ini harus dilepaskan, eh maksudku puteri………”

“Ah kau” potong Pinten, lalu, “Lepas sajalah tali itu, dan. Panji Sura Wilaga kita hadapkan kepada Pangeran Bondan Lamatan”

Kata-kata itu membuat Panji Sura Wilaga semakin menyala, tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa.

Panon pun kemudian melepaskan ikatan yang mula-mula menyumbat mulut Panji Sura Wilaga. Demikian mulutnya terbuka, Panji Sura Wilaga itu mengumpat dengan kasar, “Aku bunuh kau anak-anak gila”

Panon menarik nafas dalam-dalam, katanya, “Jangan kasar Raden Panji, kita sudah selesai memainkan peran sandiwara kita masing-masing, kecuali aku, karena aku adalah aku sendiri. Raden Kuda Rupaka yang kau ikuti itu pun telah membuka kedoknya. Katakan, apakah kau benar-benar tidak tahu bahwa ia adalah Raden Johar Patitis?”

Wajah Panji Sura Wilaga menjadi merah padam, namun ia masih membentak, “Omong kosong”

“Apakah kau juga ingin menyebut dirimu sendiri?”

“Aku adalah aku seperti yang kau lihat”

“Memang tidak ada gunanya, Panon” berkata Pinten

“Orang seperti Panji Sura Wilaga tidak menentukan apapun juga disini, siapapun sebenarnya orang itu, sama sekali tidak penting bagi kita, nah, lepas saja tali pengikatnya. Ikat pinggangku itu tidak akan dapat diputuskan dengan kekuatan apapun juga, karena bengang jangetnya, kecuali dengan tajamnya pisau bertangkai dengan lukisan kuda bersayap”

Panon mengerutkan keningnya, ia sadar, bahwa sentuhan itu bukannya tidak ada maksudnya, karena Ki Wirit yang kebetulan membawa pisau-pisau itu adalah gurunya.

Tetapi Panon tidak menanggapinya, ia pun kemudian berjongkok dan melepas ikatan pada tubuh Panji Sura Wilaga.

Namun ternyata bahwa Panji Sura Wilaga memang orang yang keras kepala, demikian ikatan itu terbuka, maka dengan serta merta ia telah menyerang Panon.

Tetapi agaknya Panon sama sekali tidak lengah, ia memang sudah menduga, bahwa orang yang keras kepala itu Tentu akan berbuat sesuatu yang mengejutkan.

Karena itulah, maka serangan yang tiba-tiba itu masih dapat dihindari oleh Panon, bahkan sambil merendahkan diri, ia masih sempat memutar sebelah kakinya, sehingga tumitnya telah menyentuh Panji Sura Wilaga yang gagal mengenainya.

Panji Sura Wilaga menghindar surut, namun terasa perutnya menjadi mual karena sentuhan serangan Panon.

Tetapi Panji Sura Wilaga tidak menyerah, ia segera bersiap untuk mengulangi serangannya atas Panon yang telah berdiri tegak menghadapinya.

Tetapi sebelum ia sempat bergerak, tiba-tiba saja terasa tengkuknya bagaikan dihantam oleh sebongkah batu, ternyata Pinten tidak membiarkan kegilaan Panji Sura Wilaga, kemarahannya tidak lagi dapat ditahannya, sehingga tiba-tiba saja ia telah meloncat sambil memukul tengkuk Panji Sura Wilaga yang perhatiannya telah terpusat kepada Panon.

Panji Sura Wilaga terhuyung-huyung, tetapi ia tidak terjatuh, namun Panon sempat menangkap kedua tangannya. Dan kemudian memutarnya, sebelum Panji Sura Wilaga sempat berbuat sesuatu, Panon telah bergumam, “Jika kau berbuat sesuatu, maka aku akan memukul kepalamu dari belakang sehingga isi kepalamu akan bererakan disini”

“Persetan” geram Panji Sura Wilaga.

“Kalau kau tidak percaya, lakukanlah, dan Raksi Padmasari akan mengikatmu lagi dengan ikat pinggangnya, kemudian aku masih sanggup menyeretmu ke halaman” Panon berhenti sejenak, lalu, “Nah, pikirkan, bukankah masih lebih terhormat bagimu untuk berjalan sendiri daripada aku yang menyeretmu?”

Wajah Panji Sura Wilaga menjadi merah, tetapi sesuatu telah menarik perhatiannya, sehingga ia bertanya, “Kau menyebut nama Puteri Raksi Padmasari?”

“Ya, ia adik Raden Kuda Rupaka, tetapi bukan Raden Kuda Rupaka yang kau buat-buat. Nah, bukankah kau termasuk salah seorang dalang tentang penyamaran Raden Kuda Rupaka?”

“Ya, tetapi siapakah yang kau sebut Puteri Raksi?”

“Gadis yang ada disisimu”

“He” wajah Panji Sura Wilaga menjadi merah.

“Akulah Raksi Padmasari, karena itu permainanmu sudah aku ketahui sejak semula”

“Dan Raden Kuda Rupaka?”

“Kau sudah dapat menerka, ayo, berjalanlah, jangan ribut dengan setiap tokoh dalam permainan yang mengasikkan ini”

Panji Sura Wilaga terpaksa harus berjalan, tetapi sebenarnyalah bahwa ia sudah dapat menduga, bahwa Sangkan adalah Raden Kuda Rupaka yang sebenarnya.

“Bodoh sekali” gumamnya sambil melangkah ke halaman depan.

Di sudut istana ia terkejut, ia melihat sepasukan prajurit Demak, ia melihat beberapa orang yang dijaga dengan senjata terhunus termasuk Raden Johar Patitis, Kidang Alit dan beberapa orang Pangeran.

“Aku disini paman” tiba-tiba saja Johar Patitis berteriak.

Panji Sura Wilaga menarik nafas dalam-dalam, ia memang tidak dapat berbuat apa-apa lagi oleh kenyataan yang dihadapinya, apalagi ketika dilihatnya Pangeran Bondan Lamatan yang agaknya memegang kendali perintah.

“Pergilah ke tempatmu” desis Panon, “Kau tahu, dimana kau harus berdiri”

Panji Sura Wilaga memandang Raden Johar Patitis sejenak, kemudian ia juga memandang Pangeran Sora Raksa Pati yang berdiri di sebelahnya, sambil menarik nafas dalam-dalam ia kemudian melangkah mendekati keduanya.

“Perhitunganmu kurang cermat Panji” berkata Pangeran Sora Raksa Pati, “Ternyata bahwa Raden Kuda Rupaka itu tidak hilang tanpa bekas, meskipun ia berada di padepokan terpencil, tetapi saat namanya kau pasang pada nama Raden Johar Patitis, tiba-tiba saja ia telah hadir di tempat yang sama”

“Tentu atas nasehat dan petunjuk orang lain, aku kira ada penghianat diantara kita”

Tetapi Raden Johar Patitis sendiri justru tertawa, “Sudahlah paman, akulah yang paling kehilangan, aku tidak tahu apakah diajeng Inten Prawesti masih akan bersikap sama kepadaku, setelah ia menyadari bahwa aku bukan Raden Kuda Rupaka, tetapi Raden Johar Patitis, meskipun menurut pendapatku, aku masih tetap dalam arus darah yang lebih tua daripadanya”

Panji Sura Wilaga menggeram, ia sudah semakin dekat dengan Pangeran Sora Raksa Pati, namun ia masih menyahut, “Itulah salah satu sebab kegagalan kita, kita tidak bekerja dengan cepat, justru karena ada Puteri Inten Prawesti”

Raden Johar Patitis masih tertawa sambil berpaling kepada Kidang Alit, ia berkata, “He, Raden Waruju yang berdarah Kediri, bagaimana pendapatmu tentang Puteri Inten Prawesti dan Puteri Raksi Padmasari yang kau sangka anak pelayan itu?”

Kidang Alit tertawa pula, jawabnya, “Lebih baik kita segera pergi, aku tidak berani lagi memandang tatapan mata Ki Buyut, meskipun aku pernah berjasa mengawinkan beberapa pasang pengantin selama aku di padukuhan ini”

Ki Buyut memandang Kidang Alit dengan kebencian yang tertahan, namun ia berdiri saja tanpa berbuat apa-apa, karena kadang-kadang masih juga terkilas, bekas tangan Kidang Alit atas Kasdu, sehingga anak muda itu telah terbebas dari kutuk yang paling mengerikan, lumpuh, bisu, buta dan tuli.

Dalam pada itu, agaknya, Pangeran Bondan Lamatan merasa tugasnya telah cukup, karena itu, maka katanya, “Kini semua sudah selesai, kami harus membawa saudara-saudara kami kembali ke Demak, menghadapkan mereka kepada Sultan. aku tidak tahu, keputusan apakah yang akan dijatuhkan atas mereka, namun masih ada tugas yang harus aku lakukan. Membawa keluarga kecil ini kembali ke Demak beserta pusaka yang telah menimbulkan persoalan di daerah terpencil ini”

Raden Ayu Kuda Narpada termangu-mangu, namun kemudian katanya, “Marilah, aku ingin mempersilahkan semuanya duduk, kita akan berbicara dengan sareh dan mapan”

Pangeran Bondan Lamatan mengerutkan keningnya, namun kemudian katanya, “Baiklah, biarlah senopati utamaku membawa para tawanan mendahului ke Demak, aku akan tinggal untuk membicarakan persoalan yang masih belum selesai”

Dalam pada itu, maka Pangeran Bondan Lamatan pun segera mengatur pasukannya, dan menyuruh mereka memasuki halaman.

“Pangeran-Pangeran yang ada di dalam pengamatan kami” berkata Pangeran Bondan Lamatan, “Aku mohon maaf, bahwa kalian akan tetap aku perlakukan sebagai tawanan, agar kalian tidak membahayakan pengawalan yang akan membawa kalian menempuh jarak yang panjang, maka kalian akan mengalami perlakuan yang barangkali tidak menyenangkan, tetapi aku tidak akan mengingkari martabat kalian sebagai bangsawan-bangsawan tertinggi di Demak, tanpa memperhitungkan dari darah yang manakah yang telah tercampur dalam aliran di tubuh kalian masing-masing, sebagai pertanda bahwa kalian adalah tawanan, maka pada tubuh kalian akan disangkutkan sehelai cinde yang memang sudah aku persiapkan”

Raden Kuda Rupaka yang sebenarnya adalah Raden Johar Patitis mengerutkan keningnya, namun kemudian katanya, “Jelasnya, tangan kami akan diikat, apakah pengikatnya itu cinde berwarna cerah atau seutas tutus kulit melinjo, agaknya tidak banyak bedanya, kecuali sekedar penghormatan atas martabat kami, tetapi jika tali gantungan telah melilit di leher, maka tali cinde sutera sekalipun tidak akan menolong nyawa kami”

Pangeran Bondan Lamatan memandang anak muda itu sejenak, lalu katanya, “Baiklah, tetapi aku tidak dapat melepaskan ketentuan yang berlaku, dan aku akan melaksanakan sesuai dengan tugasku”

Tidak seorang pun yang membantah lagi, ketika beberapa orang senopati pilihan kemudian mengikat mereka dengan cinde berwarna kuning, maka mereka pun hanya dapat mengulurkan kedua tangan mereka, sementara para pengikut dari perguruan Cengkir Pitu dan Kumbang Kuningpun telah diikat dengan kain berwarna merah yang kasar.

Sejenak kemudian, maka para tawanan itu pun telah diletakkan di punggung kuda masing-masing, mereka akan segera menempuh perjalanan yang jauh dengan cinde di tangan mereka.

Kidang Alit masih sempat berkata dengan nada tinggi, “He, kami akan menjadi acara pertunjukan yang menarik di sepanjang jalan”

“Diam kau anak gila” geram Pangeran Sendang Prapat.

Kidang Alit memandang Pangeran Sendang Prapat sejenak, namun ia pun tertawa sambil berkata, “Kita tidak akan sempat mengeluh paman, akulah yang seharusnya mengangis, karena aku masih terlalu muda untuk digantung, tetapi aku berharap, bahwa aku masih akan panjang umur”

Pangeran Sendang Prapat menggeram, tetapi ia tidak mengatakan sesuatu lagi.

Demikianlah, maka dibawah pengamatan para senopati terpilih, para tawanan itu dibawa langsung ke Demak, diantara mereka terdapat seorang ajar yang selalu menundukkan kepalanya.

Sepeninggal pasukan Demak yang membawa para tawanan itu, maka Gusti Puteri Kuda Narpada telah mempersilahkan orang-orang yang masih ada di halaman istana kecilnya untuk naik ke pendapa, meskipun hatinya sudah menjadi tenteram dan ketakutan sudah tidak ada lagi, namun agaknya masih juga ada sesuatu yang tersangkut di hatinya.

Pangeran Bondan Lamatan ternyata memenuhi permintaan Raden Ayu Kuda Narpada untuk tinggal di istana itu, beberapa orang pengawal pilihan telah tingal pula menungguinya untuk mengawal Pangeran itu kembali ke Demak pada saatnya sambil membawa pusaka yang sedang diperebutkan itu.

Namun semuanya seolah-olah telah diliputi oleh kecerahan, Pangeran Bondan Lamatan yang telah menunaikan tugasnya, nampak duduk tersenyum di samping Sangkan, sementara Inten Prawesti duduk sambil menundukkan kepalanya disisi ibundanya.

“Hanya kepada Sultan pusaka itu akan kami serahkan” berkata Pangeran Bondan Lamatan.

Raden Ayu Kuda Narpada menarik nafas dalam-dalam, ia sadar bahwa pusaka itu telah menimbulkan persoalan yang sangat gawat di istana kecilnya, sehingga beberapa orang telah datang untuk memperebutkannya.

Tetapi agaknya Pangeran Bondan Lamatan tidak tergesa-gesa, apalagi setelah para tawanan yang terikat itu dibawa ke Demak oleh para senapati pilihan dan sepasukan pengawal yang kuat.

Karena itulah, maka Pangeran Bondan Lamatan sempat mendengarkan kisah yang menarik dari istana kecil itu sejak awal sampai saatnya ia datang setelah burung merpati yang ditempatkan di salah satu pemusatan pasukan Demak di daerah selatan itu membawa kabar dari Raden Kuda Rupaka.

“Aku memang mendapat tugas itu” berkata Raden Kuda Rupaka, “Tetapi ketika aku mendengar bahwa sudah ada orang lain yang mempergunakan namaku, maka aku pun segera berganti nama, aku berhasil menghubungi Nyi Upih sebelum aku datang istana ini dengan namaku yang baru bersama diajeng Raksi Padmasari sebagai anak Nyi Upih”

Inten memandang Nyi Upih sambil memberengut, tiba-tiba saja ia mencubit pelayannya yang ikut duduk di belakangnya sambil berkata, “Kau membohongi kami”

Nyi Upih bergeser sambil menahan nyeri, katanya, “Ampun Puteri, aku tidak bermaksud berbohong”

Sangkan yang sebenarnya bernama Raden Kuda Rupaka itu tertawa, ia sadar, bahwa justru karena ia tidak berada di Demak, maka seseorang telah mempergunakan namanya, yang menguntungkan adalah karena Raden Kuda Rupaka termasuk keluarga dekat dari Pangeran Kuda Narpada.

“Nyi Upih” berkata Raden Ayu kemudian, “Baiklah kami tidak menyalahkanmu, tetapi lebih baik lagi, apabila kau sempat merebus air buat tamu kita”

Nyi Upih mengerutkan keningnya, katanya, “Ampun Puteri, aku akan merebus air, tetapi………”

Raden Ayu Kuda Narpada memandang Nyi Upih dengan kerut merut di keningnya.

“Tetapi, tetapi aku takut Gusti, mungkin masih ada orang-orang jahat yang meloncat lewat dinding belakang”

Raden Ayu Kuda Narpada menarik nafas dalam-dalam, namun dalam pada, Panonlah yang menyahut, “Baiklah aku akan mengawani Nyi Upih”

Nyi Upih memandang Panon sejenak, namun kemudian sambil menggeleng ia berkata, “Seharusnya kau duduk saja disitu, kau sekarang menjadi tamu dari Gusti Puteri”

“Ah” Panon telah bergeser dan kemudian berdiri sambil melangkah turun dari pendapa menduhului Nyi Upih, “Marilah Nyai”

Nyi Upih pun kemudian minta diri untuk pergi ke belakang merebus air bagi tamu-tamunya.

Namun pada itu, Pinten menjadi gelisah, hampir diluar sadarnya ia berkata, “Kasihan Nyi Upih, aku sudah terbiasa membantunya, baiklah aku pergi ke dapur”

“Jangan” cegah Raden Ayu Kuda Narpada, “Kau bukan lagi Pinten anak Nyi Upih, tetapi kau adalah Puteri Raksi Padmasari”

“Tidak apa bibi, apakah bedanya aku kemarin dan sekarang?, silahkan duduk menemui pamanda Pangeran Bondan Lamatan aku akan pergi ke dapur”

Raden Kuda Rupaka lah yang tertawa sambil menjawab, “Nyi Upih yang selama ini menjadi biyung Pinten, sekarang tidak penting lagi baginya, ada orang lain yang lebih menarik di dapur itu”

Tiba-tiba saja Pinten yang sebenarnya bernama Raksi Padmasari itu meloncat menerkam Raden Kuda Rupaka yang tidak sempat mengelak, dengan geramnya jari-jarinya telah mencubit lengan kakaknya dan diputarnya sehingga Raden Kuda Rupaka menyeringai sambil berdesis, “Raksi, jangan!”

“Jika kau tidak jera menggangguku, aku akan mengelupas kulitmu”

“Jangan, aku berjanji untuk tidak mengatakan sekali lagi”

Perlahan-lahan raksi melepaskan tangannya, sejenak ia masih memandang kakaknya dengan geramnya.

“Tanganmu seperti besi, cepatlah kau ke dapur, katanya kau ingin membantu Nyi Upih”

“Tidak, aku tidak mau” jawabnya aku akan tetap disini”

Inten Prawesti sudah terbiasa melihat keduanya bertengkar, tetapi kali ini ia sadar, bahwa keduanya bukanlah anak-anak yang dungu

Dalam pada itu untuk beberapa lamanya mereka duduk di pendapa itu saling berbincang tentang keadaan, kemudian merambat pada pusaka yang menjadi pusat persoalan.

Ketika mereka mulai berbincang tentang pusaka yang sedang menjadi rebutan itu, maka wajah Raden Ayu Kuda Narpada menjadi pucat, dengan suara yang tersendat ia berkata, “Adimas Pangeran Bondan Lamatan, sebenarnyalah aku tidak tahu, dimanakah Pangeran Kuda Narpada meletakkan bahkan mungkin menyembunyikan pusaka yang menjadi rebutan itu. Sebenarnya terhadap utusan Sultan aku tidak akan dapat mengatakan demikian, tetapi aku tidak dapat berbuat lain”

Pangeran Bondan Lamatan memandang wajah Raden Ayu Kuda Narpada sejenak, seolah-olah ia ingin melihat pusat jantung Puteri itu.

Namun kemudian katanya, “Sebenarnyalah, hanya Pangeran Kuda Narpada sajalah yang mengetahui dimanakah letak pusaka itu, aku percaya, menilik wajah kakangmbok, aku tidak akan dapat ingkar, bahwa sebenarnyalah bahwa kakangmbok tidak mengetahui dimanakah letak pusaka itu”

“Jadi?” desis Raden Ayu Kuda Narpada.

“Kita harus minta tolong kepada seseorang yang dapat mempergunakan penglihatan batinnya untuk mencari pusaka di dalam halaman istana ini, aku kira pekerjaan ini merupakan pekerjaan yang sangat sulit, namun agaknya ada orang yang dapat melakukannya. Mungkin Ki Buyut dapat menunjukkan seorang yang dapat berbuat demikian, mungkin Kiai Rancangbandang atau Ki Ajar Respati”

Ki Buyut menggelengkan kepalanya, sementara Ki Ajar Respati berkata sambil tersenyum, “Pangeran, aku mohon ampun, aku adalah orang yang paling sombong yang berani menyebut diriku Ajar Respati, tetapi sebenarnyalah aku adalah orang yang paling dungu sehingga aku tidak akan mempu melihat dengan mata hati, dimana letak pusaka yang menjadi rebutan itu”

Pangeran Bondan Lamatan menarik nafas dalam-dalam, sekilas ia memandang Ki Wirit yang tegang, namun karena Ki Wirit tidak berkata sepatah katapun, maka Pangeran Bondan Lamatan berkata selanjutnya, “Baiklah, jika tidak seorang pun yang dapat berusaha menemukan seseorang yang dapat mencari pusaka itu di halaman ini dengan penglihatan batinnya, maka aku akan berusaha mendapatkannya di Kota Raja, jika di Kota Rajapun tidak ada, maka biarlah pusaka itu tetap berada dipersembunyiannya”

Nampak Ki Wirit semakin gelisah, ketika ia tidak dapat menahan diri lagi, maka katanya, “Tetapi Pangeran, bukankah dengan demikian berarti bahwa disaat mendatang masih mungkin timbul persoalan tentang pusaka itu, mungkin ada orang-orang lain lagi yang berusaha saling memperebutkannya, tidak besok atau lusa, tetapi mungkin setahun atau dua tahun mendatang”

“Mungkin, mungkin sekali” jawab Pangeran Bondan Lamatan.

Ki Wirit menarik nafas dalam-dalam, sementara Pangeran Bondan Lamatan melanjutkannya, “Kakangmbok, agaknya yang terjadi memang berada diluar kemampuan kita semuanya. Karena itu, kita masih wajib berusaha, namun sementara itu, apabila kakangmbok tidak berkebaratan, kami akan membawa kakangmbok ke Demak”

Raden Ayu Kuda Narpada menarik nafas dalam-dalam, sejenak ia termangu-mangu, namun kemudian katanya, “Adimas, rumah ini telah dibuat oleh kakangmas Kuda Narpada, rasa-rasanya aku tidak akan sampati hati meninggalkannya”

“Tetapi tempat ini berbahaya bagi Kakangmbok dan Inten”

“Aku akan tetap tinggal disini”

“Tetapi pusaka itu” sahut Pangeran Bondan Lamatan, “Selama pusaka itu masih ada disini, maka selama itu pula, istana akan tetap merupakan sarang kegelisahan dan bahkan mungkin bahaya yang sebenarnya bagi Kakangmbok dan Inten. Kali ini, kami masih sempat melepaskan Kakangmbok dari malapetaka, tetapi mungkin lain kali, peristiwa itu terjadi diluar pengamatan kami”

Raden Ayu Kuda Narpada termangu-mangu, namun ia tetap menggeleng, “Aku tetap tinggal disini. Apalagi ternyata bahwa pusaka itu masih ada disini pula”

Sejenak pendapa itu dicengkam oleh ketegangan, namun tiba-tiba saja Ki Wirit yang gelisah berkata, “Ampun Pangeran. Aku mohon ampun bahwa aku berani menyatakan diri betapapun aku seorang yang dungu, jika Pangeran tidak keberatan, apakah aku diperkenankan untuk mencoba melihat dengan penglihatan batin untuk menemukan pusaka itu, mungkin aku berhasil tetapi mungkin pula tidak”

“He” Pangeran Bondan Lamatan mengerutkan keningnya, “Ki Wirit, jika kau akan mencoba, aku akan sangat berterima kasih, berhasil atau tidak, biarlah kita pikirkan kelak, karena hal itu juga berada diluar kemampuan daya capai budi dan nalar kita, tetapi cobalah melihat, mungkin kau memerlukan waktu semalam, dua malam atau berapapun, aku akan menunggumu disini, jika kau berhasil, aku akan dapat membawanya ke Demak, karena pusaka itu adalah pusaka yang bernilai tinggi bagi kesejahteraan Demak”

“Jika aku tidak berhasil?”

“Itu bukan salahmu, tentu Kakangmbok tidak berkeberatan jika aku bersamanya beberapa orang yang memang sudah berada di istana ini serta pengawal-pengawalku untuk tinggal barang sehari atau lebih”

“O, terima kasih, aku akan merasa tenang sekali jika adimas berada di rumah ini” ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi bagaimanakah Ki Wirit dapat mengetahui tentang pusaka itu?”

“Aku belum tahu Puteri, tetapi aku akan mencoba, aku pernah nayuh sebuah pusaka, dan aku menemukan petunjuk tentang kekuatannya, dan kini aku akan nayuh pusaka yang hilang itu, meskipun aku belum menyentuhnya. Mungkin aku akan mendapat petunjuk pula, sehingga aku dapat menemukannya”

Gusti Ayu Kuda Narpada memandang wajah Ki Wirit dengan tajamnya, seolah-olah ia ingin melihat sorot matanya yang sejuk, tetapi Ki Wirit selalu menundukkan kepalanya. Dalam-dalam.

“Baiklah Kakangmbok” berkata Pangeran Bondan Lamatan, “Kita akan mencoba, Ki Wirit akan berada di istana ini untuk mencoba menemukan pusaka yang tidak seorangpun mengetahui dimana letaknya itu”

Raden Ayu Kuda Narpada menarik nafas dalam-dalam, namun dengan nada dalam ia berkata, “Aku senang sekali menerima siapapun di dalam rumah ini” ia berhenti sejenak, wajahnya menjadi gelisah, dari bibirnya yang bergerak-gerak tdr suaranya lirih, “Tetapi, tetapi……..”

Pangeran Bondan Lamatan mengerutkan keningnya, tetapi seperti orang tua yang lain, mereka segera dapat menangkap bahwa Raden Ayu Kuda Narpada tidak akan dapat memberikan suguhan apapun juga selama mereka berada di istana itu, karena memang tidak ada persediaan apapun juga yang dapat disuguhinya.

Ki Buyut yang hadir di pendapa itu mengerti juga kesulitan itu, hampir diluar sadarnya ia berkata terang, “Ampun Gusti, jika gusti tidak berkeberatan, biarlah semuanya menjadi tamuku, meskipun mereka berada di istana ini, itulah yang dapat aku lakukan untuk membantu para petugas dari Demak, karena sebenarnyalah aku memang tidak dapat berbuat apa-apa”

“O” suara Raden Ayu Kuda Narpada seakan-akan terputus di kerongkongan, namun dipaksakannya berkata betapapun beratnya, “Terima kasih Ki Buyut aku, aku tidak dapat mengatakan yang lain meskipun sebenarnya aku tidak ingin mengganggu Ki Buyut”

“Sama sekali gusti Puteri tidak mengganggu aku, kehadiran keluarga Pangeran Kuda Narpada sudah memberikan kesegaran batu bagi padukuhan yang semula kering gersang ini. panenan kami disetiap tahun menjadi berlipat-lipat dari tahun berikutnya” jawab Ki Buyut dengan sungguh-sungguh.

Pelupuk mata Raden Ayu Kuda Narpada menjadi panas, tetapi ia mencoba bertahan agar titik air tidak mengembun di matanya, meskipun demikian sekali-sekali ia mengusapnya dengan ujung jari.

“Jika demikian” berkata Pangeran Bondan Lamatan, “Kami semuanya mengucapkan terima kasih kepada Ki Buyut, kami merasa senang sekali menjadi tamu Ki Buyut, meskipun kami akan berada di halaman istana kecil ini”

“Silahkan Pangeran, jika Pangeran ingin tinggal di padukuhan, kami tidak akan berkeberatan.”

“Tentu tidak Ki Buyut, karena kami masih harus menemukan pusaka yang akan kita bawa kembali ke Demak”

Ki Buyut hanya mengangguk-angguk, ia tidak dapat mencampuri persoalan pusaka yang sedang dicari dan bahkan yang telah menimbulkan persoalan yang gawat, yang hampir saja menghancurkan istana kecil yang suram itu.

Dengan demikian, maka tidak ada persoalan lagi yang dapat mengganggu usaha Ki Wirit untuk berusaha mencari pusaka yang tersimpan di istana itu dengan mata hatinya.

Untuk melakukan tugasnya, Ki Wirit minta agar ia diperkenankan untuk berada dimana saja di dalam halaman itu.

“Jika aku berada di sudut halaman belakang, atau dimanapun, adalah dalam rangka usahaku menemukan pusaka itu” berkata Ki Wirit kemudian.

Demikianlah, maka istana kecil itu menjadi semakin bertambah penghuninya, selain Pangeran Bondan Lamatan, beberapa orang pengawal telah berada di halaman itu pula.

Namun demikian, istana itu masih tetap dapat menampung mereka, jika malam tiba, maka pendapa yang cukup luas itu merupakan ruang tidur yang dapat diisi oleh beberapa orang sekaligus.

“Aku akan mengirimkan tikar kemari” berkata Ki Buyut ketika ia minta diri.

“Terima kasih Ki Buyut” jawab Pangeran Bondan Lamatan.

“Aku berharap, Pangeran singgah di rumahku atau di banjar yang pernah dihuni oleh beberapa orang yang membuat orang-orang di padukuhan Karangmaja menjadi ketakutan” berkata Ki Buyut mempersilahkan.

“Tentu Ki Buyut. Jika semua tugasku telah selesai, aku akan singgah di rumah Ki Buyut”

Ki Buyut yang berbesar hati atas kehadiran para petugas dari Demak dan sekaligus menyelamatkan istana kecil itu pun kemudian meninggalkan halaman istana itu dan kembali ke padukuhan, ia terkejut ketika beberapa puluh langkah di luar padukuhannya, ia telah melihat beberapa orang berkumpul di mulut lorong, bahkan agaknya ketika orang-orang itu melihatnya, beberapa diantara anak-anak muda telah berlari-lari menyongsongnya.

“Ki Buyut selamat?” bertanya salah seorang dari mereka

“Seperti yang kau lihat, aku tidak cidera sama sekali, meskipun yang hadir dan bertempur di halaman istana itu banyak orang-orang sakti” jawab Ki Buyut.

“O, luar biasa, apakah pusaka Ki Buyut itu yang telah melindungi dan menjadi perisai bagi Ki Buyut dari penjahat-penjahat itu” bertanya orang yang lain.

Ki Buyut tersenyum, jawabnya, “Nanti aku akan bercerita panjang sekali, tetapi seperti yang kalian lihat, aku telah kembali dengan selamat, kulitku tidak terluka segorespun”

“Luar biasa, ternyata Ki Buyut mampu mengimbangi orang-orang sakti yang selama ini kita takuti” desis anak muda yang bertubuh tinggi.

Ki Buyut tertawa, katanya, “Aku telah tidur nyenyak sekali di luar istana itu”

“Tidur?”

“Sudahlah, nanti aku akan bercerita panjang, tetapi masih ada tugas yang belum terselesaikan, pusaka yang diperebutkan di dalam istana itu masih belum diketemukan” berkata Ki Buyut dengan sungguh-sungguh.

Anak-anak muda dari padukuhan Karangmaja itu termangu-mangu, mereka menjadi cemas, bahwa pusaka itu masih belum dapat diketemukan, bukankah dengan demikian berarti bahwa pergolakan masih akan terjadi, dan kematian demi kematian masih akan menyusul.

Tetapi mereka menunggu sampai saatnya Ki Buyut di Karangmaja akan berterita panjang tentang peristiwa yang terjadi di halaman ia1 itu”

-oo0 dw-arema 0oo-

Bersambung ke jilid 2

Sumber djvu : Koleksi Ismoyo

http://cersilindonesia.wordpress.com

Ebook : Dewi KZ

http://kangzusi.com/ atau http://ebook-dewikz.com/

http://kang-zusi.info http://dewikz.byethost22.com/

diedit ulang oleh Ki Arema

kembali | lanjut