ISTANA YANG SURAM 08

ISTANA YANG SURAM

Jilid 8

Karya: SH Mintardja

kembali | lanjut

Istana Yang Suram-08BIBI” berkata Kuda Rupaka, “Jika pusaka itu ada padaku, maka aku akan membawanya pergi. Dengan demikian maka para penjahat tidak akan mengerumuni istana ini. Memang ada kemungkinan aku mengalami bencana di perjalanan. Tetapi aku adalah laki-laki, dan aku adalah kesatria, yang memang wajib menolong sesama dan menyelamatkan pusaka itu. Memang seharusnya bukan bibi dan diajeng Inten Prawesti yang menjadi korban dari pusaka itu. Jika seandainya akulah yang akan menjadi banten itu barangkali masih lebih baik”

Raden Ayu Kuda Narpada menundukkan kepalanya, wajahnya menjadi semakin buram, bahkan matanya telah menjadi basah. Dengan suara yang sendau ia berkata, “Angger Kuda Rupaka, itu adalah sifat ksatria utama. Sungguh-sungguh suatu sifat yang terpuji. Aku berterima kasih atas kesediaan angger menolong kami sekeluarga” ia berhenti sejenak, tangan kirinya terangkat perlahan-lahan. Dengan jari-jarinya Raden Ayu Kuda Narpada mengusap air matanya, lalu katanya kemudian, “Tetapi adalah sayang sekali, aku benar-benar tidak tahu, dimanakah pusaka yang kau kehendaki itu tersimpan. Sebenarnya aku juga ingin segera terlepas dari kesulitan yang nampak semakin lama semakin terasa mengerikan, tetapi apa yang dapat aku lakukan angger?”

Kuda Rupaka memandang Raden Ayu Kuda Narpada dengan tajamnya. Selangkah ia maju sambil bergumam, “Maaf, bibi. Aku sudah terlalu lama disini, jika semula aku hanya ingin menengok bibi, tentu satu dua hari saja, ternyata aku sudah berada disini untuk waktu yang cukup lama, justru karena keterlibatanku dengan persoalan yang semula sama sekali tidak aku mengerti, namun tiba-tiba saja aku sudah terikat kedalam keadaan yang membuat aku menjadi terjerat di istana ini. Terjerat oleh kewajibanku sebagai seorang laki-laki dan sebagai seorang ksatria pula”

“Aku minta maaf, angger, akulah yang harus minta maaf kepadamu”

“Bibi, jika bibi masih selalu menyembunyikan kenyataan entang pusaka itu, berarti bahwa bibi sama sekali tidak mempunyai kepercayaan sedikitpun kepadaku. Aku sudah mempertaruhkan nyawa dan bahkan apa yang aku punya untuk kepentingan bibi sekeluarga. Jika bekalku sudah menipis dan sampai saatnya habis, maka aku terpaksa sekali meninggalkan bibi disini, dengan demikian bibi akan dapat membayangkan apa yang akan terjadi disini. Bahkan sebagaimana bibi ketahui, bahwa pengemis-pengemis itu ternyata bukanlah pengemis kebanyakan. Mereka memiliki kemampuan untuk memaksa seisi rumah ini melakukan apa saja yang mereka kehendaki. Bukan saja atas harta benda, jika mereka menemukan, juga pusaka itu, tetapi yang lebih buruk adalah yang akan terjadi atas diajeng Inten Prawesti dan barangkali juga Pinten”

“O” Inten memekik kecil.

“Terserahlah kepada bibi”

Raden Ayu Kuda Narpada menjadi semakin tunduk, mulutnya justru bagaikan tersumbat, sehingga untuk beberapa saat lamanya ia tidak mengatakan apa-apa.

“Raden Ayu” tiba-tiba saja Panji Sura Wilaga berkata “Kesabaran seseorang memang ada batasnya, dan Raden Ayu jangan berharap atas kebaikan kami berlebih-lebihan, aku tahu pasti bahwa Raden Ayu memang berusaha menyembunyikan pusaka itu. Memang agaknya demikian pesan itu, berusaha menyembunyikan pusaka itu. Tetapi Pangeran Kuda Narpada tidak mengetahui apa yang terjadi sekarang ini. Dan apa yang dapat terjadi atas Raden Ayu dan atas puteri Inten Prawesti, jika Pangeran Kuda Narpada mengetahui, maka ia tentu mengatakan pesan yang lain dari pesan yang pernah diberikan itu”

“Tentu, tidak” terdengar suara Raden Ayu disela-sela isaknya yang tidak tertahankan.

“Ibunda” Inten tiba-tiba saja berlari dan berjongkok dihadapan ibundanya, “Jangan menangis ibunda”

Ibundanya mengusap air matanya.

“Tetapi Raden Ayu” Panji Sura Wilaga masih mendesaknya terus, “Hal ini tidak cukup ditangisi, tetapi harus ada suatu sikap yang pasti, dengan demikian maka kita akan segera mendapat penyelesaian. Jika Raden Ayu memang berkeberatan untuk menyerahkan pusaka itu, apakah gunanya kami tetap disini, bahkan harus mempertaruhkan nyawa”

“Sebenarnyalah aku tidak tahu jawabannya”

“Tentu Raden Ayu mengetahuinya, Raden Ayu tinggal mengatakan bagaimana sikap Raden Ayu sebenarnya atas pusaka itu”

“Aku tidak tahu sama sekali tentang pusaka itu”

“Bertindaklah lebih bijaksana, demi keselamatan Raden Ayu dan terutama puteri Inten Prawesti”

“Aku tidak tahu, aku tidak tahu”

Isak Raden Ayu Kuda Narpada semakin memepatkan jantungnya. Tetapi agaknya Panji Sura Wilaga tidak menghiraukannya, juga ketika Inten Prawesti menangis pula sambil memeluk ibundanya.

Bahkan ia pun kemudian maju setapak sambil berkata, “Raden Ayu Kuda Narpada yang setia kepada pesan suaminya, kami berbangga melihat kesetiaan itu, tetapi kami menjadi sangat cemas melihat nasib Raden Ayu dan puteri” ia berhenti sejenak, wajahnya menjadi tegang.

“Raden Ayu, apakah kami harus mencari sendiri dengan membongkar istana ini?”

“Panji” wajah Raden Ayu yang tunduk itu tiba-tiba terangkat meskipun air matanya masih tetap meleleh di pipinya, “Kenapa kau nampaknya ingin memaksakan sesuatu yang tidak akan dapat aku lakukan?”

“Kami hanya mohon kebijaksanaan Raden Ayu. Kami sudah terlalu lama berada disini, sedangkan kami tidak sampai hati meninggalkan keluarga ini dalam keadaan seperti sekarang ini, jika kami memaksa pergi juga, maka untuk waktu yang lama kami akan tetap diperngaruhi oleh perasaan bersalah, karena kami meninggalkan Raden Ayu sekeluarga tanpa bertanggung jawab sebagai seorang ksatria. Apalagi apabila kelak kami mendengar berita bahwa Raden Ayu telah mengalami bencana. Mungkin terbunuh, mungkin mengalami siksaan yang luar biasa untuk memeras keterangan tentang pusaka itu, dan yang yang lebih mengerikan lagi apabila pada suatu saat kami mendengar berita bahwa puteri Inten Prawesti ternyata telah berada di padepokan Guntur Geni, satu-satunya perempuan di padepokan yang dihuni oleh puluhan serigala itu, atau Kidang Alit telah berhasil memasukkan ilmu gendamnya sehingga puteri Inten bagaikan menjadi gila dan mengikutinya kemana anak muda yang tidak kalah buasnya dari seekor anjing hutan itu pergi bersama sepuluh atau bahkan duapuluh perempuan-perempuan lain yang pada saatnya akan dicampakkan tanpa arti di tengah-tengah hutan yang lebat”

“O, tidak, tidak” tiba-tiba saja Inten Prawesti berteriak sambil memeluk ibundanya semakin erat.

Air mata mengalir semakin deras dari mata air mata Raden Ayu, sementara Panji Sura Wilaga berdiri dengan garangnya. Bahkan kemudian Kuda Rupaka masih menambah, “Barangkali tempat yang lebih baik bagi dajeng adalah istana para bangsawan di Demak. Mungkin juga bersama bibi. Jika bibi tidak berkeberatan, aku akan mendahului pergi ke Demak sambil membawa pusaka itu, dan aku akan menyediakan tempat tinggal untuk bibi dan Diajeng Inten. Setelah itu, kami akan datang kmbali kemari menjemput bibi bersama diajeng Inten Prawesti untuk pindah ke Demak”

“Ibunda” desis Inten Prawesti. Tetapi suaranya terputus oleh isaknya.

“Aku mengerti Inten, bahkan bagimu, aku sangat lebih baik jika aku dapat menyerahkan pusaka itu, tetapi sayang sekali, aku benar-benar tidak mengerti, dimanakah pusaka itu disimpan oleh ayahandamu, jika benar ayahandamu mendapat limpahan sipat kandel itu”

“O” Inten meletakkan kepalanya di pangkuan ibundanya, isaknya menjadi semakin keras oleh kengerian yang hampir tidak tertahankan.

“Raden Ayu dapat memilih” desak Panji Sura Wilaga, “Jangan mengeraskan hati kepada kesetiaan yang membutakan hati”

“Panji..!!” tiba-tiba saja Raden Ayu memotong, suaranya menjadi bergetar. Bukan saja oleh gejolak kecemasan, tetapi juga oleh kemarahan yang mulai memanasi jantungnya.

Tetapi Panji Sura Wilaga sama sekali tidak menghiraukannya, bahkan suaranyapun meninggi, “Semuanya tergantung kepada Raden Ayu. Keselamatan dan bencana yang dapat menimpa puteri Inten Prawesti tergantung kepada keputusan yang akan Raden Ayu ucapkan”

Raden Ayu Kuda Narpada menjadi semakin gemetar, apalagi ketika Panji Sura Wilaga berkata, “Aku akan tetap disini menunggu keputusan Raden Ayu. Apakah kami harus membawa pusaka itu ke Demak atau kami harus pergi dengan gelisah, karena kami tidak tahu nasib yang akan menimpa istana ini, atau kami mengambil jalan lain, mencari sendiri ke dalam istana ini” ia berhenti sejenak, lalu, “Terserahlah kepada Raden Ayu, kami akan menunggu di dalam bilik ini, meskipun tiga hari tiga malam”

“O” Pinten tiba-tiba terpekik kecil, “Tiga hari tiga malam?, dan Raden berdua tidak makan?”

“Diam, diam kau, atau kau pergi dari bilik ini. Kau tidak usah ikut campur persoalan yang sama sekali tidak kau ketahui.”

Pinten termangu-mangu, tetapi ia tidak beranjak dari tempatnya, sehingga Panji Sura Wilaga yang marah membentaknya keras-keras, “Pergi, pergi”

Namun seebelum Pinten bangkit, tiba-tiba saja Sangkan telah berdiri di muka pintu dengan wajah yang pucat.

“Anak gila” geram Panji Sura Wilaga, “Apa kerjamu di situ, He..!”

“Ampun Raden Ayu, aku hanya disuruh oleh Panon untuk memohon agar Raden Ayu hadir di serambi”

“Kenapa?” bertanya Kuda Rupaka.

“Ternyata atap sudah terlalu rusak, sedangkan kita tidak mempunyai lagi bahan yang dapat dipasang. Panon ingin memasang julup melinjo untuk menyulami atap, jika Raden Ayu berkenan. Karena itu, Panon mohon Raden Ayu untuk melihatnya, ia tidak berani langsung menyampaikannya kepada Raden Ayu”

“Gila, gila. Kami sedang membicarakan persoalan yang jauh lebih berharga dari julup melinjo” teriak Kuda Rupaka.

“Mungkin Raden, tetapi, tetapi Panon mohon Raden Ayu untuk segera datang”

“Pergi, pergi. Atau aku akan mencekikmu sampai mati” sahut Panji Sura Wilaga, “Sudah lama aku ingin membunuhmu. Agaknya sekarang kesempatan itu datang”

“Tetapi, tetapi bukan aku sendirilah yang berniat mengganggu Raden Panji”

“Aku tidak perduli” Panji Sura Wilaga yang marah melangkah dengan tergesa-gesa mendekati Sangkan yang ketakutan. Bahkan Pinten telah meloncat berdiri sambil memekik, “Jangan, jangan”

Tetapi Panji Sura Wilaga tidak menghiraukannya. Ia telah menjulurkan tangannya kearah Sangkan yang dengan gemetar melangkah surut sampai ketindak pintu.

“Jangan, jangan” Teriak Pinten dan bahkan Inten pun kemudian berdesis pula, “Tidak, jangan paman Panji”

Tetapi Panji Sura Wilaga yang memang sudah lama membenci Sangkan tidak berhenti. Ia maju selangkah lagi, sehingga tangannya benar-benar hampir mencengkam leher Sangkan.

Raden Kuda Rupaka berdiri termangu-mangu. Namun ia sama sekali tidam mencegahnya, agaknya Raden Kuda Rupaka pun telah kehabisan kesabaran menghadapi Sangkan dalam keadaan yang paling gawat itu.

Namun ketika tangan Panji Sura Wilaga hampir mencengkam leher Sangkan, tiba-tiba saja Sangkan terdorong ke samping, sehingga ia terjatuh. Namun dengan demikian tangan Panji Sura Wilaga tidak menyentuhnya sama sekali.

Semua yang berada di dalam bilik itu terkejut ketika tiba-tiba saja mencul dari balik pintu seorang anak muda dengan pakaiannya yang kusut, Panon.

“Gila” geram Panji Sura Wilaga.

“Aku mohon maaf bahwa aku telah memberanikan diri memasuki ruangan dalam ini, tetapi aku tidak dapat membiarkan Sangkan mengalami kesulitan. Akulah yang telah menyuruhnya memohon kepada Raden Ayu agar sudi melihat atap yang rusak itu. Karena itu akibat yang dapat timbul, akulah yang harus mempertanggung-jawabkan”

“Jadi, kau dengan sengaja membuat persoalan ini?” bentak Panji Sura Wilaga, kemudian dengan wajah yang merah padam, ia berpaling kepada Raden Ayu sambil berkata, “Lihat Raden Ayu, selagi aku masih disini, anak gila ini sudah berani menghina istana ini”

“Sama sekali bukan maksudku” Panon menyahut, “Aku hanya ingin mengatakan, bahwa Sangkan tidak bersalah. Jika Raden tidak senang akan tingkah laku Sangkan, justru dalam keadaan yang tidak menguntungkan itu, maka akulah yang akan mempertanggung-jawabkan. Aku tidak perduli, apakah Raden senang atau tidak dengan tindakanku ini. Tetapi, sekali lagi, aku minta maaf. Akulah yang telah menyuruhnya kemari”

“Kau sudah berani menentang kami” geram Raden Kuda Rupaka.

“Tidak, sama sekali tidak. Apa yang aku lakukan, masih jauh lebih sopan dari yang Raden berdua lakukan atas Raden Ayu Kuda Narpada”

“Gila” Panji Sura Wilaga sudah kehilangan kesabaran, lalu katanya kepada Kuda Rupaka, “Anak pengemis ini benar-benar merupakan duri dalam daging, jika Raden memperkenankan, aku ingin menyelesaikannya”

Suasana menjadi bertambah tegang, Panon pun agaknya sama sekali tidak gentar menghadapi kemungkinan yang dapat terjadi atasnya. Bahkan kemudian ia telah melangkah surut sambil bersikap.

Namun ketegangan itu kemudian dipecahkan oleh suara Raden Ayu Kuda Narpada.”Baiklah Panon, aku akan melihat atap yang rusak itu di serambi”

Semua orang yang ada itu berpaling memandang wajah Raden Ayu. Betapa tegangnya wajah Panji Sura Wilaga dan Raden Kuda Rupaka. Namun mereka bagaikan patung memandang Raden Ayu itu bangkit. Kemudian perlahan-lahan melangkah maju sambil membimbing puterinya.

“Tunjukkan kepada kami, Panon”

Panon melangkah surut beberapa langkah, ketika Raden Ayu keluar dari biliknya, sekilas dipandangnya wajah Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga yang seakan-akan menjadi merah membara. Tetapi nampaknya keduanya tidak akan dapat berbuat apa-apa.

Dalam pada itu, Pinten dan Sangkan berlari-lari mengikuti Raden Ayu tanpa berani berpaling sama sekali. Apalagi ketika mereka sadar, bahwa kedua orang itu ikut melangkah keluar bilik itu pula.

Diluar pintu Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga saling berpandangan sejenak ketika mereka melihat diluar pintu butulan Ki Mina duduk di tangga. Ia beringsut dan kemudian bangkit berdiri sambil bergeser selangkah.

“Gila” geram Panji Sura Wilaga meskipun tertahan di mulutnya, lalu katanya, “Raden, nampaknya keduanya memang sudah mempersiapkan diri untuk dengan terang-terangan melawan kita”

“Apaboleh buat, jika bibi masih memanjakan pengemis-pengemis itu, maka kita harus mengambil tindakan”

“Aku tidak sabar lagi, kedua pengemis itu harus dibinasakan. Juga Sangkan dan adiknya, bahkan Nyi Upih harus disingkirkan pula”

Raden Kuda Rupaka menggeratakkan giginya.

“Raden Ayu Kuda Narpada lebih menghargai kesetiaannya kepada suaminya”

“Bukan sekedar kesetiaan. Tetapi bibipun tahu, betapa tinggi nilai pusaka itu. Bahkan aku menjadi curiga, nampaknya bibi akan mempertahankannya, meskipun ia harus mengorbankan apapun juga. Mungkin bibi mempunyai rencana tersendiri atas pusaka itu, meskipun seandainya anak gadisnya harus menjadi tumbal”

Panji Sura Wilaga mengerutkan keningnya, dengan ragu-ragu ia bertanya, “Maksud Raden?”

“Nampaknya bibi tidak menghiraukan lagi meskipun aku sudah mengatakannya, bahwa kekerasan hatinya depat menjebak anak gadisnya itu kedalam bencana. Orang-orang Guntur Geni, Kidang Alit dan mungkin masih ada orang-orang lain yang tentu tidak akan membiarkan gadis secantik itu untuk lepas jatuh ke tangan yang lain. Selain pusaka, maka mereka tentu akan membawa gadis itu pula. Tetapi jika pusaka itu sudah loncat dari istana ini, maka perhatian mereka tentu tidak akan tertuju lagi kepada istana itu dengan segala penghuninya. Orang-orang itu tentu akan saling berkejaran memperebutkan pusaka yang bagi mereka tentu dianggap lebih tinggi nilainya dari gadis yang paling cantik sekalipun.”

Wajah Panji Sura Wilaga menjadi semakin tegang, dengan ragu-ragu ia bertanya kepada Kuda Rupaka, “Aku belum mengerti maksud Raden yang sesungguhnya”

“Paman, bagi kita, pusaka itu pun merupakan harapan bagi masa depan kita, sehingga tentu saja bagi kita nilainya melampaui apapun juga”

“Apakah itu berarti bahwa Raden sudah bertekad untuk mendapatkan pusaka itu dengan cara apapun juga?”

Kuda Rupaka menarik nafas dalam-dalam.

Meskipun Raden Kuda Rupaka tidak menjawab, namun Panji Sura Wilaga seakan-akan dapat membaca kata hatinya, agaknya Kuda Rupaka benar-benar sudah tidak mempunyai pilihan lain.

“Paman, selama ini kita memerlukan pusaka itu, seakan-akan sekedar ingin membebaskan diri dari diajeng Inten Prawesti dari kesulitan. Tetapi baiklah, sejak saat ini kita memilih keputusan yang paling baik buat kita dan buat hari depan”

“Apakah itu berarti kita harus memilih antara pusaka itu dan Raden Ayu Kuda Narpada”

“Mungkin” berkata Kuda Rupaka memskipun nampak keragu-raguan di wajahnya, “Meskipun dengan demikian, sikap kita telah berubah sama sekali”

“Bukankah dengan demikian kita menemukan diri kita sendiri? Yang penting bagi kita justru pusaka itu, meskipun kita terpaksa mencelakai seseorang”

Kuda Rupaka tertegun, sejenak ia berdiri termangu-mangu. Bibinya, diikuti oleh beberapa orang akan pergi ke serambi, termasuk Panon. Sedangkan Ki Mina sudah tidak nampak lagi ditelan sudut ruangan.

Panji Sura Wilaga pun berhenti pula, sejenak ia memandang wajah Kuda Rupaka. Ia mengerutkan keningnya ketika tiba-tiba saja ia melihat Kuda Rupaka tertawa. Tertawa berkepanjangan sehingga semakin lama menjadi semakin keras.

“Raden” Panji Sura Wilaga memperingatkannya ketika ia melihat Sangkan menjengukkan kepalanya dari sudut ruangan dengan heran. Tetapi suara tertawa itu masih saja bergema, meskipun kemudian Kuda Rupaka itu pergi meninggalkan ruangan diikuti oleh Panji Sura Wilaga.

Sangkan masih berdiri termangu-mangu. Ia melihat perbedaan sikap pada Kuda Rupaka, meskipun Kuda Rupaka sering tertawa keras-keras, tetapi nadanya tidak sekasar suara tertawa yang baru saja didengarnya.

Nampak kening Sangkan itu pun berkerut merut. Bahkan kemudian ia mengusap dagunya beberapa kali sambil mengangguk-angguk, seolah-olah ia menemukan sesuatu yang penting.

“Kau lihat siapa yang tertawa itu kakang?” tiba-tiba Pinten telah berdiri di belakangnya.

“Raden Kuda Rupaka”

“Ya, suaranya adalah suara Raden Kuda Rupaka, tetapi sikapnya terasa aneh. Raden Ayu Kuda Narpada nampaknya menjadi ngeri pula mendengarnya”

Sangkan menarik nafas dalam-dalam, sambil menggeleng ia menjawab, “Aku pun menjadi heran, Pinten. Kenapa tiba-tiba saja Raden Kuda Rupaka seolah-olah telah berubah sifatnya”

“Apakah ia teramat kecewa karena Raden Ayu tidak mau menunjukkan pusaka itu kepadanya?”

Pinten memandang Sangkan dengan tajamnya, nampak mata sorot matanya sepercik cahaya yang lain.

“Kau cemas?” bertanya Sangkan.

“Mudah-mudahan tidak menimbulkan bencana pada Raden Ayu dan puterinya, mereka sudah cukup menderita”

“Panon ada disini. Agaknya ia akan dapat menjadi pihak yang menimbulkan keseganan pada Raden Kuda Rupaka, betapapun kemarahan itu mencengkam jantungnya”

Pinten mengangguk-angguk, desisnya, “Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu, kemarahan yang tidak terkendali, memang dapat membakar hati”

Sangkan tidak menjawab, ia pun kemudian melangkah meninggalkan sudut ruang itu dan menyusul Raden Ayu ke serambi.

Di serambi Panon sedang sibuk memperbaiki atap yang berlubang dengan julup batang melinjo, karena tidak ada bahan yang lebih baik yang dapat dipergunakan.

Sangkan menarik nafas dalam-dalam, ternyata istana kecil itu pun telah benar-benar menjadi semakin suram, tetapi bangunan istana itu sendiri semakin lama menjadi semakin rusak meskipun di saat-saat terakhir ada usaha untuk memperbaiki dan menyulam dengan bahan-bahan yang lebih sederhana.

Dalam pada itu di ruang depan, Raden Kuda Rupaka menghentakkan kakinya sambil menggerutu, “Kedua pengemis itu harus disingkirkan lebih dahulu”

“Kita tidak usah menunggu, sekarang kita dapat melakukannya, Raden”

Kuda Rupaka menggelengkan kepakanya sambil berkata, “Tidak, tidak semudah itu, kita sudah pernah melihat bagaimana ia bertempur melawan orang-orang Guntur Geni. Nampaknya mereka sama sekali tidak gentar menghadapi orang-orang Guntur Geni dan menghadapi semua persoalan yang dapat berkembang disini. Bahkan nampaknya mereka mempunyai pengenalan yang baik terhadap lawan-lawannya. Mereka sama sekali tidak cemas terhadap racun yang dapat dihamburkan oleh orang-orang Guntur Geni itu. Bahkan terhadap Kidang Alit, Panon sama sekali tidak menghiraukannya”

“Tetapi aku yakin, kita dapapt menghancurkan keduanya, kemudian kita bungkam pula untuk selamanya anak pelayan yang gila itu. Aku benar-benar menjadi muak”

“Kita harus yakin. Jika kita menghadapi kedua pengemis itu, mungkin kita akan terlibat kedalam kesulitan, jika Kidang Alit yang selalu berkeliaran itu mengetahui pertentangan ini, maka ia akan mengambil keuntungan sebesar-besarnya”

“Apa yang akan dilakukannya?”

“Ia tentu akan membantu salah satu pihak, jika ia membantu kita, maka kita masih dapat membuat pertimbangan bagi langkah kita selanjutnya. Karena kita tidak gentar menghadapi Kidang Alit dengan kawan-kawannya itu”

“Apakah kita gentar menghadapi kedua pengemis itu?”

“Tidak, tentu tidak tanpa campur tangan orang lain. Tetapi jika kemudian Kidang Alit menganggap kita adalah lawan yang lebih berat dari kedua pengemis itu. Nah, paman tahu akibatnya, kita akan melawan dua pihak yang memiliki kekuatan hampir sama dengan kekuatan kita berdua.

Panji Sura Wilaga mengangguk-angguk, katanya, “Aku mengerti maksud Raden, kita harus yakin bahwa Kidang Alit tidak akan campur tangan”

“Bukan begitu, kita harus menyeretnya secara langsung agar ia ikut bertempur di pihak kita”

“Bagaimana mungkin”

“Kita dapat menghasutnya, kita dapat mengatakan kepadanya bahwa agaknya bibi lebih percaya kepada kedua pengemis itu dari pada kepada kita. Sehingga kedua pengemis itu mempunyai kesempatan terbesar untuk menerima pusaka itu langsung dari tangan Raden Ayu Kuda Narpada”

Panji Sura Wilaga mengangguk-angguk, katanya, “Ya, Kidang Alit pun tentu bernafsu untuk membunuhnya sebelum ia berusaha membunuh kita”

“Ya, dan kitapun mempunyai pertimbangan serupa”

“Tetapi kita harus berhati-hati, ia sangat licik, dan itu harus kita pertimbangkan, karena terlalu sulit untuk mempercayai kesanggupannya yang bagaimanapun juga”

“Kita harus menyakinkan, bahwa pusaka itu akan jatuh ke tangan ke dua pengemis itu”

“Kita harus licik seperti Kidang Alit”

Kuda Rupaka mengerutkan keningnya, namun ia pun kemudian tersenyum, “Ya, kita harus licik seperti Kidang Alit”

Panji Sura Wilaga memandang wajah Kuda Rupaka sejenak, namun kemudian ia pun ikut tersenyum pula. Semakin lama semakin lebar, sehingga akhirnya keduanya tertawa terbahak-bahak.

Suara tertawa itu terdengar dari serambi belakang, sekali lagi nampak wajah Raden Ayu Kuda Narpada yang masih berada di serambi itu menjadi kecut. Namun ia sama sekali tidak mengatakan apapun juga.

Panon masih menyulami atap serambi belakang, ia pun tertegun pula mendengar suara tertawa itu. Tetapi ia pun sama sekali tidak menunjukkan sikap yang dapat menarik perhatian.

Pinten lah yang kemudian menggamit Sangkan, di telinga kakaknya gadis itu berbisik, “Mereka sudah mulai lagi, bahkan mereka berdua”

Sangkan mengangguk-angguk, katanya, “Apakah keduanya benar-benar berubah?”

Tetapi pembicaraan itu terputus karena Nyi Upih mendekati mereka sambil berkata, “He, apakah kalian berdua tidak berbuat sesuatu selain berdiri termangu-mangu disitu?”

“O, aku sedang membantu Panon biyung”

“Apa yang kau lakukan?”

“Jika ia memerlukan sesuatu, aku akan mengambilnya, mungkin julup batang melinjo yang sudah aku keringkan di belakang, mungkin tali serat atau yang lain”

“Siapa yang mengeringkan julup batang melinjo di belakang?” bertanya Pinten tiba-tiba.

“O, maksudku, maksudku………” namun Sangkan tidak melanjutkan kata-katanya, bahkan sambil tertawa ia menuding adiknya sambil bertanya, “Ayo, katakan, siapa yang mengeringkan julup itu, siapa?, sebut namanya”

Wajah Pinten menjadi merah, tiba-tiba tangannya terjulur ketangan Sangkan, tanpa dapat mengelak lagi, maka tangan Sangkan bagaikan disengat lebah.

“Aduh” Sangkan bertertiak sehingga semua orang berpaling kepadanya.

Pinten yang wajahnya merah menjadi semakin merah, tetapi ketika ia ingin mencubit lebih keras lagi, biyungnya mencegahnya.

“He, kalian jangan bergurau disini. Lihat, Panon sedang bekerja memperbaiki atap serambi. Raden Ayu dan puteripun menunggunya, sementara kalian hanya bergurau tidak ada artinya sama sekali”

Pinten menundukkan kepalanya dalam-dalam, Sangkan pun kemudian bergeser mendekati Panon, sementara Inten Prawesti justru tersenyum. Bahkan ia pun mendekati Pinten sambil bertanya, “Kenapa Pinten?”

“Kakang Sangkan, puteri, dia nakal sekali”

“Kenapa?”

Namun kemudian, Sangkan lah yang menjawab, “Tidak apa-apa puteri, aku hanya bertanya siapakah yang mengeringkan julup itu di belakang, Pinten tiba-tiba menjadi marah”

Wajah Pinten menjadi semakin panas, apalagi ketika tanpa sengaja ia memandang wajah Panon yang juga menjadi merah.

“Awas kau kakang” geram Pinten, “Sebenarnya aku dapat membalas, tetapi sekarang aku tidak berani”

“Kenapa kau tidak berani?” bertanya Sangkan.

Pertanyaan itu justru membuat Pinten semakin bingung, sehingga kepalanya pun menunduk dalam-dalam. Dalam sekali, jari-jarinya tampa disadarinya telah bermain pada seret kainnya yang telah kumal meskipun masih tampak bersih.

Tetapi justru Sangkan tiba-tiba yang bertanya, “Kenapa kau tidak berani?”

Pinten mengangkat wajahnya, dengan geram ia menjawab, “Tidak, aku tidak mengatakan, kau tentu akan kesenangan mendengarnya, dan kau telah melakukannya dengan sengaja”

Inten Prawesti menjadi heran, sehingga hampir diluar sadarnya ia bertanya, “Aku tidak mengerti Pinten, katanya kau tidak berani membalas, tetapi kemudian kau tidak mau melakukanya, karena kakakmu akan kesenangan”

Sangkan tertawa, tetapi suata tertawanya terputus ketika ibunya menarik telinganya sambil bergumam, “Kau memang nakal sekali, sudahlah, jangan mengganggu adikmu, pergilah mengambil beberapa helai julup kering”

Raden Ayu Kuda Narpada tersenyum meskipun di hatinya masih bergejolak kegelisahan yang tidak ada taranya. Kedua anak Nyi Upih itu seolah-olah tidak mengerti, apakah yang sebenarnya yang sedang terjadi, namun demikian tingkah laku mereka dapat memberikan sedikit selingan di dalam kegelisahan yang semakin memuncak.

Sementara itu, Panon masih sibuk memperbaiki atap yang rusak itu, sedangkan Ki Mina berdiri di dekatnya untuk membantunya. Beberapa saat kemudian Sangkan telah datang pula sambil membawa beberapa helai julup yang sudah kering.

Tetapi ia menjadi kecewa ketika ternyata Panon kemudian berkata, “Julupnya sudah cukup banyak, yang aku perlukan adalah tali ijuk”

“Ah, kau” gumam Sangkan, “Kenapa tidak tadi kau katakan?”

“Ketika aku mau mengatakan, kau sudah berlari ke belakang”

“Jadi aku harus mengembalikan julup ini dan mengambil tali ijuk?”

“Ya, agaknya begitu”

Sangkan menghela nafas, ketika ia memandang wajah adiknya, sekilas ia melihat adiknya mencibirkan bibirnya sambil sambil melekatkan telunjuknya pada hidungnya, tetapi ia segera memalingkan wajahnya ketika Inten Prawesti menoleh kepadanya.

Sejanak kemudian Sangkan pun telah berlari lagi ke belakang untuk mengambil tali ijuk yang kemarin telah dibuat oleh Panon dan Ki Mina.

Sementara itu, Kuda Rupaka telah menyiapkan suatu rencana yang terakhir. Ia tidak melihat kemungkinan lagi untuk menguasai pusaka di istana itu selain dengan kekerasan, bahkan jika perlu, maka ia pun dapat berbuat licik seperti Kidang Alit.

“Kau cari Kidang Alit” berkata Kuda Rupaka.

“Itu berbahaya Raden” jawab Panji Sura Wilaga

“Bukan aku takut kepadanya, tetapi ia memang dapat berbuat licik seperti demit. Ia dapat menggerakkan orang-orangnya untuk membunuhku, dengan demikian maka, ia akan memegang peranan di dalam permainan selanjutnya”

Kuda Rupala mengangguk-angguk, ia menyadari kebenaran pendapat Panji Sura Wilaga itu. Kidang Alit memang dapat berbuat licik sekali. Tentu tanpa malu-malu Kidang Alit memanggil orang-orangnya untuk membunuh Panji Sura Wilaga. Dan akibatnya akan sangat pahit bagi rencananya menguasai pusaka di istana yang suram ini.

Karena itu, maka Kuda Rupaka pun kemudian berkata “Baiklah, kita akan pergi bersama-sama paman, tetapi sudah tentu bahwa seolah-olah kita tidak dengan sengaja mencarinya”

“Aku sependapat Raden, tetapi dengan demikian kitapun harus mempersiapkan diri untuk bertempur di manapun. Mungkin akan terjadi salah paham, atau Kidang Alit menemukan perhitungan tersendiri dalam hal ini”

“Aku mengerti paman, dan karena itu, kita memang harus mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan”

Sejenak kemudian keduanya mengambil kuda mereka di kandang. Sangkan yang melihat keduanya, mengerutkan keningnya, tetapi ia tidak berani bertanya.

Sementara itu Raden Ayu Kuda Narpada dan puterinya Inten Prawesti sudah berada di biliknya, kembali Pinten dan biyungnya berada di dapur, sedang Panon dan Ki Mina yang telah selesai memperbaiki atap yang rusak berada di dalam biliknya pula.

Tetapi mereka masih mendengar kaki kuda berderap, karena itulah merekapun kemudian melangkah keluar pintu biliknya.

Diluar pintu mereka tertegun ketika mereka melihat Sangkan berjalan tergesa-gesa mendekati mereka, katanya dengan nafas yang terengah-engah, “Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga pergi berkuda ke luar halaman”

Panon menarik nafas sejenak, dipandanginya wajah Ki Mina yang tegang. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apakah yang kira-kira dilakukannya, paman?”

Ki Mina menggeleng, jawabnya, “Tidak dapat kita duga, tetapi sebaiknya kita mengikuti perkembangan keadaan dengan hati-hati”

Panon mengangguk-angguk. Ia pun kemudian kembali masuk ke dalam biliknya bersama dengan Ki Mina dan Sangkan.

Ternyata yang mendengar derap kaki kuda itu bukan saja Panon, Ki Mina dan Sangkan, Pinten dan Nyi Upih pun mendengarnya pula. Demikian juga Raden Ayu Kuda Narpada dan Inten di dalam biliknya.

Kepergian Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga mungkin menimbulkan berbagai pertanyaan di dalam hati. Tetapi mereka berdua hanya dapat saling berpandangan tanpa dapat mengambil kesimpulan apapun juga, justru pada saat yang gawat. Baru saja Kuda Rupaka dikecewakan oleh Raden Ayu Kuda Narpada.

“Apakah Kamas Kuda Rupaka marah dan meninggalkan tempat ini ibunda?”

Ibundanya menggelengkan kepalanya sambil menjawab lirih, “Aku tidak tahu Inten. Tetapi aku kira mereka tidak akan dapat berbuat demikian, jika seandainya mereka benar-benar akan perpgi, mereka tentu akan minta diri”

Inten mengangguk-angguk. Tetapi kecemasan yang sangat nampak di wajahnya. Bahkan di luar sadarnya gadis itu pun kemudian bertanya, “Ibunda, apakah ibunda benar-benar tidak mengetahui pusaka ayahanda yang sekarang dicari-cari oleh banyak orang itu?”

Ibundanya memandang wajah Inten sejenak, kemudian gadis itu dipeluknya sambil menjawab terbata-bata “Tentu tidak Inten, aku tahu, kau sangat cemas karenanya. Apalagi setelah kakangmasmu Kuda Rupaka mengatakan, bahwa bencana yang sangat buruk akan mengenai dirimu. Dan ibu pun sangat berprihatin karenanya, Tetapi apa yang dapat aku lakukan Inten. Ibunda sama sekali tidak mengerti apa yang mereka cari.

Dan sepengetahuanku, ayahandapun tidak membawa sebilah keris selain pusakanya sendiri yang ternyata bukanlah itu yang mereka cari”

Inten pun memeluk ibundanya pula sambil berkata, “Maaf Ibunda, bukan maksudku menyalahkan ibunda, aku percaya bahwa ibunda benar-benar tidak mengetahuinya”

Dalam pada itu, di dapur, Pinten duduk diatas sebuah dingkrik rendah sambil memeluk ibunya. Dipandanginya api yang menyala dibawah sebuah periuk yang sedang merebus ketela pohon, dengan wajah yang muram dipandanginya asap yang mengepul lewat sela-sela tutup periuk itu. Disaat terakhir ini, beras dan jagung tinggal sedikit sekali. Raden Kuda Rupaka tidak lagi membeli beras dan jagung yang cukup, apalagi setelah ia dikecewakan beberapa kali, terlebih-lebih lagi, dengan kehadiran kedua orang pengembara yang bagi Kuda Rupaka merupakan orang-orang yang dapat menganggu usahanya.

Ketela yang direbus itu adalah ketela pohon yang ditanam oleh Sangkan di halaman belakang istana kecil yang semakin suram itu. Setiap kali Sangkan mencabutnya satu atau dua batang itu dapat dipergunakan untuk sekedar mengisi kekosongan perut mereka. Bahkan Raden Ayu Kuda Narpada dan puteri Inten Prawesti tidak menolak jika Pinten menghidangkannya di dalam biliknya.

Nyi Upih yang duduk di amben bambu memandangi gadis itu dari arah punggungnya, setiap kali ia hanya dapat menarik nafas dalam-dalam sambil menggeleng kepalanya. Apalagi jika teringat olehnya, bahwa yang ada di dalam periuk itu hanyalah beberapa potong ketela pohon, bukan beras dan bukan jagung.

Tetapi Nyi Upih tidak menegurnya, dibiarkannya saja Pinten duduk sambil memeluk lututnya tanpa terganggu. Agaknya sambil memandang api di bawah periuk itu, Pinten sedang berangan-angan.

Sementara itu, Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga berpacu menuju rumah Ki Buyut di Karangmaja. Tetapi bukan ki Buyut lah yang sebenarnya mereka cari. Mereka menduga bahwa Kidang Alit sering berada di rumah Ki Buyut itu, atau berkeliaran di sekitar istana kecil itu untuk mengawasi perkembangan keadaan.

Dalam pada itu, seorang anak muda berdiri tegak diatas sebongkah batu karang, ketika terdengar olehnya derap kaki kuda mendekat, pada jalan kecil yang menghubungkan istana kecil itu dengan padukuhan, ia melihat dua ekor kuda berderap laju.

Sejenak ia ragu-ragu, bahkan ia sudah bersiap-siap untuk bersembunyi di balik batu padas. Naum niat itu pun diurungkannya. Jika ia sudah melihat kedua ekor kuda yang berpacu itu, maka penunggangnya pun tentu sudah melihatnya pula. Setidak-tidaknya ada kemungkinan yang demikian, karena itu, maka anak muda itu pun mengurungkan niatnya dan justru bertolak pinggang menunggu kedua ekor kuda yang pasti akan lewat di jalan sempit di sebelah batu karang tempat ia berdiri.

Ternyata kedua penunggang kuda itu pun benar-benar melihatnya, sekilas mereka melihat seorang berdiri di kejauhan, diatas sebongkah batu, namun kemudian orang itu telah bergeser kesamping sehingga tubuhnya terlindung oleh tikungan di sebelah batu karang itu.

Namu ketika kuda itu muncul dari balik tikungan, penunggangnya masih melihat anak muda itu berdiri sambil bertolak pinggang, bahkan kemudian nampak sebuah senyuman di bibirnya.

“Nah, ia benar-benar berkeliaran disini, paman”

“Nampaknya ia hanya seorang diri, Raden”

“Ya, tetapi siapa tahu, karena itulah kita harus berhati-hati”

Demikian keduanya mendekati anak muda yang berdiri diatas batu karang itu, Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga menarik kekang kudanya, sehingga kedua ekor kuda itu pun segera berhenti.

“Siapa yang kau tunggu disini?” bertanya Kuda Rupaka

Anak muda itu tersenyum, katanya, “Kalian tentu sedang membicarakan aku, begitu kalian muncul di tikungan”

“Darimana kau tahu?”

“Sudah tentu aku tahu, karena aku mempunyai Aji Sapta Pangrungu”

Kuda Rupaka mengerutkan keningnya, namun ia pun kemudian tertawa berkepanjangan, katanya disela-sela suara tertawanya, “Jangan menakut-nakuti aku seperti menakut-nakuti anak kecil, kau sangka Aji Sapta Pangrungu itu mudah disadap? jika kau benar-benar mempunyai aji itu, maka kau tentu mengetahui apa yang aku katakan kalimat demi kalimat dan kata demi kata”

Kidang Alit tersenyum, katanya, “Apakah perlu demikian?”

“Tidak, aku tahu, kau berbohong, dan kau memang sering sekali berbohong meskipun aku percaya kau memiliki ilmu yang tinggi. Selain ilmu kanuragan, kau juga mempunyai ilmu gendam, ilmu sirep dan barangkali bermacam-macam ilmu yang lain, tetapi tidak Aji Sapta Pangrungu, Sapta Peningal dan Sapta Pangrasa”

Kidang Alit mengerutkan keningnya, namun ia pun tertawa, katanya, “Aku sudah mempelajari, tetapi memang tidak semudah yang aku duga semula. Apalagi kini terhenti untuk beberapa saat karena aku harus menunggui istana kecil itu dan menunggu kalian berdua”

Kuda Rupaka mengerutkan keningnya, lalu katanya, “Jika kau sekarang baru mulai, maka ilmu itu akan kau kuasai lima tahun yang akan datang, dan itu berarti bahwa semuanya sudah terlambat”

Kidang Alit tertawa, jawabnya, “Aku tidak pernah merasa terlambat”

Panji Sura Wilaga yang termangu-mangu itu pun kemudian berkata, “Kita tidak ada gunanya berbicara terlalu banyak”

Kidang Alit mengerutkan dahinya, dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apa maksudmu?”

Kuda Rupaka lah yang menjawab, “Aku akan pergi ke rumah Ki Buyut, aku akan mencari tempat untuk menyingkirkan kedua pengemis itu dari istana itu”

“Kenapa?”

“Mereka merupakan orang yang paling aku benci, aku muak melihat mereka bermalas-malas tetapi makan tampa henti-hentinya”

“Tetapi mereka adalah orang-orang yang memiliki kemampuan yang tangguh sehingga mereka dapat kau ajak untuk mempertahankan istana kecil itu. Mungkin dari orang-orang Guntur Geni, tetapi mungkin pula orang-orangku”

“Mereka adalah orang-orang yang berbahaya, aku tidak percaya kepada mereka seperti aku tidak akan dapat mempercayaimu. Apalagi kehadiran mereka sangat membahayakan keselamatan bibi dan pusaka yang tersembunyi itu, apalagi bibi sama sekali tidak tahu, bahwa keduannya adalah orang-orang yang sangat berbahaya”

“Kenapa keduanya diijinkan masuk?”

“Bibi senang mendengar salah seorang dari keduanya berdendang kidung yang dibawakan memang memiliki kekuatan khusus untuk mencengkam perasaan”

“Kidang Alit tertawa pendek, katanya, “Kau mempunyai kemampuan melawan ilmu gendam, kenapa kau tidak melawan ilmu pemilut itu dengan ilmumu pula?”

“Tidak, ia sama sekali tidak mempergunakan ilmu apapun, tetapi lagu yang selalu dinyanyikan memang menarik, akupun senang mendengarnya, dan bibi adalah seorang perempuan yang terlalu baik dan pengiba. Itulah kesalahannya”

“Kenapa tidak kau bunuh saja keduanya?”

Kuda Rupaka nampak ragu-ragu, namun kemudian katanya, “Aku ragu-ragu, keduanya memiliki ilmu yang cukup tangguh, sehingga aku tidak yakin bahwa aku dapat melakukannya tanpa diketahui oleh bibi. Apalagi nampaknya bibi sangat terpengaruh oleh keduanya, sekarang mereka lebih dekat dengan bibi dari pada aku dan paman Panji”

Suara tertawa Kidang Alit meledak tanpa tertahankan lagi, sambil tertawa terbahak-bahak ia berkata yang justru tidak begitu jelas, “Kenapa kau merajuk?, aku tidak menyangka bahwa seorang anak jantan seperti Raden Kuda Rupaka masih sempat merajuk seperti gadis menjelang kawin”

Kuda Rupaka menjadi tegang, bahkan Panji Sura Wilaga kemudian membentaknya, “Jangan gila, kau dengar penjelasannya?”

Kidang Alit mencoba menahan suata tertawanya itu, sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Baiklah Aku akan mendengarkannya”

“Kidang Alit” berkata Kuda Rupaka, “Aku tidak dapat melukai hati bibi dengan membunuh keduanya di hadapan bibi, atau katakanlah bahwa bibi sempat melihat kami bertengkar, aku memang mengakui bahwa untuk membunuhnya diperlukan waktu yang agak panjang”

Kidang Alit memandang Kuda Rupaka dengan pandangan mata yang khusus, bahkan dengan senyum yang yang kecut ia berkata, “Aku tahu maksudmu, kau ingin aku membunuhnya diluar halaman istana”

Kuda Rupaka memandang Kidang Alit sejenak, lalu, “Belum tentu hal itu dapat dilakukan, jika ia menolak untuk tinggal di padukuhan, maka ia akan tetap tinggal di istana”

“O, kau ingin aku membantumu membunuhnya dalam waktu yang singkat, sehingga Raden Ayu Kuda Narpada tidak sempat melihat perkelahian itu” ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi bagaimanapun juga, Raden Ayu akan tahu, bahwa Panon dan Ki Mina telah hilang dari halaman istananya”

“Jika kemudian hal itu diketahuinya pula, apaboleh buat”

Kidang Alit termenung sejenak, lalu katanya, “Kau tentu mempunyai perhitungan, bahwa melawan mereka adalah lebih berat dari melawan aku dan kawan-kawanku”

“Bukan maksudku, tetapi jika keadaan yang sebenarnya demikian, apa boleh buat. Yang penting bagiku kedua pengemis itu lenyap dari istana, karena mereka adalah orang-orang yang paling mungkin menerima titipan dari bibi”

Kidang Alit mengangguk-angguk, namun katanya, “Biar sajalah mereka menerima puska itu, aku akan mengambilnya dari kedua pengemis itu, aku sama sekali tidak mempunyai perasaan segan atau semacam itu seandainya aku membunuh mereka di hadapan Raden Ayu, karena aku tidak terikat hubungan keluarga atau semacam itu”

Panji Sura Wilaga menggeretakkan giginya, tetapi Kuda Rupaka menyahut, “Terserah kepadamu, aku akan pergi ke padukuhan dan tetap mencari tempat bagi kedua pengemis itu, mau tidak mau. Eh, tunggu dulu, Kidang Alit, tiba-tiba saja timbul pikiran baru di benakku, kenapa aku tidak memperalatnya saja lebih dahulu untuk membinasakanmu dan kawan-kawanmu”

“Kidang Alit menegang sejenak, lalu, “Kau boleh mencobanya, tetapi kau akan tetap terikat oleh hubungan keluarga antara kau dan bibimu itu. Seandainya kau berhasil membunuh aku, maka kau tidak akan dapat membunuh pengemis-pengemis itu di hadapan bibimu tanpa diketahuinya”

Kuda Rupaka nempak berpikir sejenak.

“Lalu, menurut pikiranmu, yang manakah yang sebaiknya aku lakukan? Membunuhmu dibantu pengemis-pengemis itu atau membunuh pengemis-pengemis itu dengan bantuanmu agar yang kita lakukan tidak diketahui oleh bibi. Seandainya diketahuinya pula, maka kesalahan itu sebagian besar akan dibebankan kepadamu”

“Kenapa aku?”

Kuda Rupaka tertawa, wajahnya bagaikan tenggelam dalam derai tertawanya yang berkepanjangan.

“Kenapa Aku?” Kidang Alit mengulang.

“Tidak, tentu tidak” Kuda Rupaka menjawab disela-sela tertawanya, “Tentu bibi akan menyalahkan kita sama-sama, tetapi itu tidak penting. Yang penting, aku ingin mengurangi lawan, siapapun mereka. Kau dengan anak muahmu atau pengemis-pengemis itu”

Kidang Alit termenung sejenak, dipandanginya wajah Panji Sura Wilaga yang tegang, namun kemudian ia pun tersenyum, katanya, “Sebenarnya kau tidak usah berbelit-belit Raden, Aku tahu maksudmu yang sebenarnya, kau ingin mengajak aku dan kawan-kawanku membunuh kedua pengemis itu sebelum kita sendiri pada suatu saat akan saling berbunuhan. Aku pun tahu bahwa sebenarnya kau sudah tidak memperdulikan lagi bibimu itu. Tahu atau tidak tahu, cemas atau tidak cemas, pokoknya kau sekarang sudah mulai menunjukkan warnamu yang sebenarnya, yang sebetulnya akupun sudah menduganya sejak semula. Kau sama sekali tidak datang ke istana itu karena kau merindukan bibimu, atau karena kau tahu bahwa bibimu hidup dalam kesepian dan kesulitan, tetapi semata-mata karena kau menginginkan pusaka itu”

“Apapun yang kau katakan, aku sekarang tidak akan membantah. Tetapi bahwa kita harus berterus-terang, kita akan menjadi sama-sama licik tetapi juga sama-sama jantan”

Kidang Alit termenung sejenak, lalu katanya, “Rencanamu untuk membunuh pengemis-pengemis itu agaknya baik juga. Memang jika masih ada sedikit perasaan iba kepada isteri Pangeran Kuda Narpada yang malang itu, pembunuhan itu harus dilakukan secepat-cepatnya sehingga Raden Ayu tidak sempat melihat, bagaimana kita menghujamkan pedang di dadanya, atau memenggal lehernya”

“Dan bibi tidak sempat pula melihat bagaimana aku membunuhmu”

Kidang Alit tertawa, jawabnya, “Tentu tidak, kita baru saling membunuh jika kita sudah pasti akan pusaka itu”

Panji Sura Wilaga menggeram, tetapi ia tidak mengatakan sesuatu.

“Raden Kuda Rupaka” tiba-tiba suara Kidang Alit menjadi bersungguh-sungguh, “Aku akan datang malam nanti, setelah bintang silang tegak di selatan”

Kuda Rupaka mengerutkan keningnya, dengan bersungguh-sungguh pula ia menyahut, “Bintang Gubuk Penceng yang tegak di ujung selatan yang menunjukkan waktu tengah malam”

“Aku datang tengah malam bersama dua orang kawanku. Bukan berarti bahwa aku menganggap kedua pengemis itu terlampau kuat, tetapi aku sebenarnya tidak percaya sepenuhnya kepadamu. Aku masih mempunyai dugaan bahwa kau sedang menjebak aku”

“Aku mengerti, tetapi itu terserah kepadamu. Aku akan menunggu sampai tengah malam dan kita akan bersama-sama membunuh kedua orang pengemis itu”

“Juga anak Nyi Upih yang gila itu” geram Panji Sura Wilaga.

Kuda Rupaka berpaling, namun ia tidak menyahut.

Kidang Alit pun kemudian meninggalkan tempatnya sambil berkata, “Mudah-mudahan kali ini kita bersikap jujur dan jantan, meskipun kelak kita akan menjadi licik dan curang lagi”

Kuda Rupaka tidak menyahut, dipandanginya saja Kidang Alit yang melangkah pergi meninggalkan tepi lorong tu, semakin lama semakin jauh, sehingga akhirnya hilang di balik batu-batuan padas pebukitan.

“Kita kembali ke istana” desis Kuda Rupaka.

“Kita tidak ke padukuhan?”

“Tidak, tidak ada gunanya, malam ini kita benar-benar harus bersiaga. Kita masih belum tahu, siapakah sebenarnya yang akan kita hadapi. Mungkin Kidang Alit akan menepati janjinya, tetapi mungkin sebaliknya, ia justru akan bekerja bersama kedua pengemis itu untuk membunuh kita”

Panji Sura Wilaga menggeleng, jawabnya, “Tentu tidak, pengemis itu tentu tidak akan mempercayainya, mereka tentu masih lebih percaya kepada kita dari pada kepada Kidang Alit”

Kuda Rupaka mengangguk-angguk, sambil menggerakkan kendali kudanya ia berkata, “Marilah, aku akan beristirahat dan memusatkan kemampuan menghadapi peristiwa yang barangkali jauh berbeda dari yang kita duga”

“Dan apakah Raden masih sempat memikirkan, apakah Raden Ayu berkenan atau tidak dengan semua keputusan kita ini?”

Kuda Rupaka ragu-ragu sejenak, kemudian ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berkata, “Tidak, aku harus berketetapan hati untuk tidak memikirkan bibi lagi”

“Bahkan, jika perlu Raden dapat memaksa Raden Ayu untuk menunjukkan pusaka itu, jika Kidang Alit tidak ingkar. Maka kedua pengemis itu tidak akan dapat menghalangi lagi apapun yang akan Raden lakukan di dalam istana itu. Yang harus kita pikirkan kemudian bagaimana kita dapat meninggalkan istana itu, tanpa diketahui oleh Kidang Alit, atau bagaimana kita harus melawan dan membunhnya”

Kuda Rupaka tidak segera menjawab, dipandanginya jalur jalan sempit di hadapannya, sementara kudanya berlari tidak terlalu cepat.

Sebentar kemudian, maka mereka telah melihat pintu gerbang istana kecil itu. Pintu itu seolah-olah memberikan kesan yang aneh di dalam hatinya. Rasa-rasanya ia akan segera memasuki daerah yang gelap dan penuh bahaya.

Sebenarnyalah Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga pun dengan gelisah menunggu gelapnya malam. Ketika mereka telah berada di dalam bilik mereka, mereka pun membaringkan diri. Untuk melupakan waktu, yang rasa-rasanya menjadi sangat panjang, kuda Rupaka yang ingin tidur barang sejenak, agar ia mendapatkan kesegaran, sebelum ia melakukan tugas yang mungkin jauh lebih berat dari yang diduganya.

Tetapi matanya sama sekali tidak mau dipejamkannya, sekali-sekali ia bangkit dan berjalan hilir mudik di dalam biliknya. Dibenaknya terbayang berbagai kemungkinan yang paling baik sampai kemungkinan yang paling pahit.

Namun demikian, rasa-rasanya waktu memang berhenti, masih nampak cahaya matahari di dinding yang menyusup dari lubang yang terdapat pada atap yang mulai rusak meskipun sudah menjadi kemerah-merahan.

“Sebentar lagi senja akan datang” gumamnya, “Kita benar-benar harus bersiap paman, mungkin Kidang Alit akan datang didahului dengan ilmu sirep atau ilmu yang lain.

Panji Sura Wilaga mengangguk, ia pun kemudian bangkit dan duduk di bibir ambennya. Wajahnya nampak bersungguh-sungguh, karena ia pun sedang memikirkan pada kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi seperti Kuda Rupaka.

Dalam pada itu, rasa-rasanya istana kecil itu telah dicengkam oleh suasana yang lain. Panon dan Ki Mina yang duduk di halaman belakangpun agaknya sedang berbincang tentang kepergian Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga yang tiba-tiba saja ke padukuhan, tetapi hanya dalam waktu yang terhitung terlalu pendek.

“Aku menjadi curiga” berkata Panon.

“Memang mencurigakan sekali, tetapi aku tidak tahu, apakah kira-kira yang akan terjadi, jika Raden Kuda Rupaka bukan kemanakan Raden Ayu Kuda Narpada, aku segera dapat menebak bahwa ia agaknya telah bersepakat menyingkirkan kita”

“Itulah yang membingungkan, aku tidak mengerti apakah ia lebih mencintai bibinya atau pusaka yang dianggapnya berada di istana ini?”

Ki Mina mengangguh-angguk, katanya, “Memang membingungkan, tetapi nampaknya Raden Kuda Rupaka sudah berani memaksa bibinya untuk menunjukkan pusaka yang dicarinya, bahkan dengan mengancam pula, meskipun alasannya dapat dimengerti”

Panon menarik nafas dalam-dalam, dengan nada datar ia bergumam, “Hal serupa inilah yang tidak diketahui dan sama sekali tidak disebut-sebut oleh guru, sehingga ternyata aku telah menghadapi persoalan yang menyimpang sama sekali dari gambaran yang diberikan guru kepadaku. Ternyata bahwa guru benar-benar sudah terlalu lama tidak berada di daerah ini” Panon berhenti sejenak, lalu, “Karena itu aku berterima kasih sekali kepada paman yang telah dengan sukarela ikut menjerumuskan diri ke dalam kesulitan yang bahkan dapat membahayakan jiwa paman ini”

“Ah, kau. Memang pandai berkelakar” Ki Mina tersenyum, “Jangan kau sebut-sebut lagi, aku menyadari sepenuhnya apa yang aku lakukan sekarang. Bukan saja karena aku tertarik kepada sikap dan usahamu berdasarkan atas perintah gurumu, tetapi adalah menjadi kewajibanku untuk melakukan hal itu”

“Namun menghadapi Raden Kuda Rupaka, kita memang menjadi bingung”

Ki Mina mengangguk-angguk, katanya, “Jika pada suatu saat, Raden Kuda Rupaka benar-benar mendesak bibinya untuk menunjukkan pusaka yang barangkali memang tidak diketahuinya itu, kita akan berdiri pada suatu sikap yang sulit, jika kita benar-benar melindunginya. Bahkan jika terpaksa dengan kekerasan, maka kitapun akan melakukan kesalahan. Apalagi jika Raden Kuda Rupaka atau Panji Sura Wilaga mengalami cidera, maka Raden Ayu tentu akan menyalahkan kita pula, karena anak muda itu adalah kemanakannya”

“Tetapi itu bukan berarti bahwa kita harus membiarkan apa saja yang terjadi paman. Aku masih terikat oleh perintah guru”

“Aku mengerti, aku mengerti, Panon”

Panon menarik nafas dalam-dalam, ada sesuatu yang menyentuh perasaannya, setiap kali ia teringat kepada gurunya, rasa-rasanya ia ingin berlari ketempat yang telah ditentukan. Tetapi keadaan istana kecil itu rasanya telah mengikatnya sehingga ia tidak dapat beranjak sama sekali.

Sekilas terbayang wajah seorang gadis yang bernama Pinten, gadis yang sederhana, tetapi nampaknya memiliki sesuatu yang lain dari gadis kebanyakan. Gadis yang cerdik dan kemanja-manjaan meskipun ia hanya anak seorang pelayan.

“Gila” Panon menggeram di dalam hatinya, “Aku datang untuk melakukan tugas yang dibebankan guru kepadaku, tidak untuk hal-hal yang lain yang tidak masuk akal”

Dalam pada itu, Pinten dan Sangkan duduk di serambi samping menghadap ke longkangan, nampaknya mereka berdua sedang asyik berbincang sehingga keduanya tidak merasa bahwa biyungnya memandangi dari kejauhan.

Nyi Upih menarik nafas, dipandanginya kedua anaknya yang duduk di serambi itu, nampaknya mereka sedang berbicara dengan sungguh-sungguh, tidak seperti biasanya, mereka bergurau tidak henti-hentinya, kemudian bertengkar dan bahkan berkelahi.

Nyi Upih merasakan sesuatu yang lain dalam hatinya, bahkan diluar sadarnya tangannya telah mengusap setitik air yang mengembun di pelupuknya.

“Kasihan anak-anak itu” desisnya, “Hanya karena kematangan jiwanya saja mereka telah bersedia berada di tempat ini”

Sejenak kedua anak-anak muda itu masih saja berbincang, Pinten bersikap tidak seperti biasanya, sehari-hari merajuk, marah dan kemudian mengadu. Tetapi nampaknya ia pun sedang berbicara dengan sungguh-sungguh seperti juga Sangkan.

Tetapi agaknya mereka terkejut ketika mereka mendengar Nyi Upih menyentuh daun pintu dapur. Serentak mereka berpaling, dilihatnya Nyi Upih berdiri termangu-mangu memandang mereka.

“O, marilah biyung” berkata Sangkan, “Kami sedang membicarakan sesuatu yang penting”

“Apa yang kalian bicarakan?”

“Pinten mulai merasa dirinya menjelang dewasa”

“He..!!” tiba-tiba saja mata Pinten melotot dan Sangkan meloncat berdiri.

“Kau sudah mulai lagi kakang” Pinten pun kemudian bangkit berdiri pula, maju selangkah demi selangkah.

“Jangan, jangan” Sangkan pun mundur sambil menyeringai, bahkan kemudian ia pun berputar dibelakang biyungnya.

“Ah” desah Nyi Upih, “Aku senang kalian berbicara dengan bersungguh-sungguh. Aku kira kalian memang benar-benar menjelang dewasa. Duduklah, marilah kita berbicara lagi. Lihatlah, langit menjadi buram dan sebentar lagi malam akan datang”

“Kalau begitu, aku akan menyalakan lampu” desis Sangkan

“Ya, nyalakanlah, biarlah Pinten tinggal disini bersama aku”

Sangkan pun kemudian meninggalkan Pinten dan Nyi Upih untuk mengambil dan menyalakan lampu di seluruh ruangan istana kecil itu. Tetapi nampaknya jumlah lampu minyak itu pun semakin lama menjadi semakin berkurang, karena minyak kelapa menjadi semakin sedikit di persediaan.

“Apa saja yang kalian perbincangkan Pinten?”

Pinten memandang Nyi Upih sejenak, lalu katanya, “Kakang Sangkan mengatakan bahwa keadaan menjadi semakin gawat, apakah benar biyung?”

Nyi Upih menarik nafas dalam-dalam.

“Kakang menjadi semakin takut tinggal di istana ini”

“Aaah”

Pinten memandang Nyi Upih, tiba-tiba saja ia memeluknya sambil berkata, “Kami akan tinggal bersamamu biyung, apapun yang akan terjadi, kami tidak akan lari dari mereka ini, juga kakang Sangkan tidak”

Titik air mata mulai mengembun lagi di mata Nyi Upih, namun kemudian ia tersenyum sambil berkata, “Terima kasih, aku sudah mengira bahwa kalian akan berbuat demikian”

“Sudahlah biyung, kita akan segera merapikan peralatan dapur, rasa-rasanya malam hari ini agak lain dari malam-malam sebelumnya, kita akan segera masuk dan mengawani Raden Ayu dan puteri di dalam biliknya”

Nyi Upih mengangguk-angguk, tetapi kemudian ia berkata, “Tetapi kawani aku dulu di pakiwan”

Pinten tersenyum, ketika ia memandang longkangan yang mulai gelap, rasa-rasanya sesuatu telah menyentuh perasaannya.

“Marilah biyung”

Nyi Upih mengusap matanya, ia pun kemudian pergi ke dapur merapikan barang-barang yang ada dan kemudian menutup pintunya setelah memadamkan lampu minyak kelapa yang berkeredipan seperti mata seorang gadis yang habis menangis.

Di dalam bilik di ruang dalampun rasanya keadaan menjadi sangat lengang, meskipun Raden Ayu dan Inten masih belum tidur, tetapi mereka hanya duduk saja di dalam biliknya hampir tanpa senuah pembicaraan apapun. Baru ketika Pinten masuk bersama biyungnya, maka Pinten dan Prawesti mulai bermain-main, yang dimainkan oleh mereka adalah permainan dakon.

Raden Ayu memandang puterinya yang sedang bermain dengan tatapan mata yang suram. Perasaan iba dan haru telah mencengkam hatinya, puterinya adalah seorang gadis yang sedang tumbuh, yang memerlukan suatu lingkungan yang jauh kebih baik dari lingkungannya sekarang.

Ada sepercik penyesalan, bahwa suaminya dahulu tidak memilih tinggal di Demak atau di kota-kota yang lebih baik daripada sebuah padukuhan di pegunungan sewu ini. Namun, ia pun mencoba untuk menekan penyesalan itu, karena ia tidak mau menimpakan kesalahan itu kepada suaminya yang malang itu.

Inten dan Pinten duduk di sudut ruangan, mereka mulai menghitung kelungsu yang dipergunakan sebagai biji-biji dalam permainan mereka.

Yang terdengar kemudian adalah gemelitiknya kelungsu-kelungsu itu di dalam lubang-lubang dakon. Namun agaknya permainan itu memang menarik, Nyi Upih pun kemudian dengan asyiknya melihat permainan ini, ia pun berkata, “Ternyata puteri lebih pandai daripadamu, kau tidak dapat memilih dan memperhitungkan biji-biji permainanmu, sehingga biji terakhirmu sering sekali jatuh pada lubang-lubang yang kosong”

“Tetapi aku beruntung biyung, aku dapat menunggu biji-biji di lubang yang berhadapan dengan lubang kosong itu atau justru biji-biji lawan yang disebelah menyebelah”

“Itu suatu kebetulan bukan perhitungan”

Pinten mengerutkan keningnya, tetapi ia tersenyum ketika inten salah hitung, sehingga biji-biji dakonnya sama sekali tidak menghasilkan.

“Tetapi puteri masih menang” berkata Pinten, “Biji-biji puteri di dalam lumbung masih lebih banyak, tetapi perbedaan yang sedikit justru akan menguntungkan aku, karena aku akan mendapatkan dua lumbung. Lumbung kacangan tanpa bera sama sekali.”

Nyi Upih termenung memandang tangan anak gadisnya menaburkan kelungsu disetiap lubang dakon dengan cekatan.

“Tangan itu” tiba-tiba saja Nyi Upih berkata kepada diri sendiri, “Terlampau halus untuk memegang kayu bakar dan senggot timba”

Tetapi Nyi Upih tidak mengatakan sesuatu, ia rasa-rasanya tidak puas-puasnya memandang jari-jari Pinten yang lentik seperti jari-jari Inten Prawesti.

Demikianlah mereka asyik tenggelam dalam permianan dakon, seperti biasanya, mereka kemudian lupa akan waktu. Seolah-olah mereka tidak merasa kantuk sama sekali. Bahkan Nyi Upih yang hanya sekedar menontonpun tidak menjadi kantuk pula.

Tetapi Raden Ayulah yang kemudian berkata, “Inten, apakah kau masih akan bermain-main?”

“Ya, ibunda”

“Bermainlah, tetapi jangan keluar dari bilik ini, rasa-rasanya malam menjadi lengang”

“Baik Ibunda”

“Aku akan beristirahat”

“Silahkan ibunda tidur. Aku akan segera menyusul”

Raden Ayupun kemudian membaringkan dirinya di pembaringan. Meskipun rasa-rasanya matanya menjadi kantuk. Tetapi ketika ia berbaring, justru angan-angannya mulai menerawang menjelajahi segala masa. Masa lampau, masa kini dan harapan yang buram di masa datang.

Di belakang, Panon dan Ki Minapun rasa-rasanya tidak dapat memejamkan matanya. Ketika mereka melihat di sebelah yang lain Sangkan sudah tidak dapat mengetahui apa-apa lagi, karena ia sudah tidur nyenyak sejak malam menjadi gelap.

“Anak itu rasa-rasanya sama sekali tidak terganggu oleh keadaan apapun. Dalam ketakutan dan cemas, ia masih juga dapat tidur mendengkur” desis Ki Mina.

“Itu lebih baik baginya paman, jika ia mengetahui peristiwa yang terjadi, apalagi melihat dengan mata kepala sendiri, mungkin jiwanya akan sangat terguncang.” Jawan Panon.

Ki Mina mengangguk-angguk, namun rasa-rasanya hatinya sama sekali tidak tenang. Karena kepergian Kuda Rupaka bersama dengan Panji Sura Wilaga yang hanya memakan waktu sebentar itu, itu yang membuat hati mereka manjadi galau.

“Aku mendapat firasat buruk” desis Ki Mina.

“Aku pun merasa berdebar-debar” jawab Panon, “Aku terpengaruh sekali oleh sikap Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga yang agak lain. Kekecewaan mereka karena Raden Ayu tidak dapat menunjukkan pusaka yang mereka inginkan, lalu kepergian mereka keluar memberikan kesan yang aneh padaku”

Ki Mina mengangguk-angguk, dengan hati-hati dan hampir berbisik ia berkata, “Bersiaplah menghadapi setiap kemungkinan”

Panon menyibakkan ujung bajunya, nampaklah berjajar di ikat pinggangnya yang lebar, pisau-pisau belati kecil.

Ki Mina menarik nafas dalam-dalam, katanya, “Gurumu mengajarimu dengan cara yang aneh, apakah kau sama sekali mempelajari bagaimana mempergunakan senjata panjang?”

“Ya, tetapi dengan senjata-senjata kecil semacam ini, aku dapat bersikap lain, karena tidak ada orang yang langsung mengetahui bahwa aku bersenjata. Tetapi mungkin juga terpengaruh oleh keadaan jasmaniah gurumu yang cacat kaki. Ia lebih senang melontarkan senjatanya daripada bertempur dengan mempergunakan senjata di dalam genggaman, meskipun guru mampu melakukannya”

Ki Mina mengangguk-angguk, katanya, “Tetapi kau memerlukannya. Dengan senjata panjang kau dapat menundukkan lawanmu tanpa melukainya dan memaksanya menyerah. Tetapi dengan senjatamu, kau harus melukainya dan bahkan dan bahkan mungkin membunuhnya”

Panon mengangguk-angguk, jawabnya, “Guru telah menunjukkan kepadaku dengan pasti bagian tubuh yang manakah yang sekedar melumpuhkan, dan bagian yang manakah yang akan membuat seseorang terbenuh segera”

“Tetapi seorang yang sedang bertempur tidak dapat diperhitungkan tata geraknya dengan tepat. Mungkin seseorang yang mencoba menghindar lontaran senjatamu, justru telah mengumpankan bagian tubuhnya yang paling berbahaya. Tetapi aku sadar bahwa tentu memiliki kecepatan dan ketajaman bidik yang luar biasa”

“Ah….” Desis Panon, “Tetapi aku akan mencoba untuk mempergunakan senjata di dalam genggaman, mungkin akan berguna”

“Apakah yang dapat kau jika keadaan sekarang ini memaksa kita untuk melakukan perlawanan?”

“Di dapur ada parang”

“Aku juga melihat kapak kecil pembelah kayu, mungkin aku dapat mempergunakannya, karena dalam pertempuran yang seru dan melawan ilmu yang tinggi kerisku agak terlampau ringkih, meskipun setiap goresan betapapun kecilnya berarti maut”

Keduanya termenung sejenak, dan tiba-tiba saja berkata, “Aku akan mengambil parang dan kapak kecil itu, mungkin akan berguna”

“Tetapi ingat Panon, senjata yang dibuat dengan sengaja dan merupakan pusaka andalan, bahannya tentu bukan besi kebanyakan seperti parang pembelah kayu dan kapak kecil itu. Karena itu, jangan terkejut jika pada benturan senjata parangmu akan patah”

“Tentu, aku akan berusaha menghindarkan benturan langsung paman”

Ki Mina tersenyum, katanya, “Ambillah, tetapi hati-hatilah”

Panon pun kemudian pergi ke dapur yang sudah gelap, karena lampunya sudah dimatikan. Meskipun demikian, Panon menemukan sebuah parang yang besar dan sebuah kapak penebang pembelah kayu.

Ketika ia menyerahkan kedua senjata itu kepada Ki Mina orang tua itu pun tersenyum, katanya, “Keduanya cukup memadai, tetapi ingat Panon, jika jiwamu terancam maka ilmu yang paling kau andalkan yang harus kau pergunakan. Jangan terikat oleh parang ini, karena pisau-pisaumu itulah sebenarnya senjatamu yang paling baik”

Panon mengangguk-angguk, dengan demikian ia dapat menangkap apa yang tersirat di hati Ki Mina, seolah-olah sudah memastikan bahwa yang akan terjadi di malam ini adalah pertempuran, entah siapa yang harus dilawannya.

“Rasa-rasanya kita saling melakukan sesuatu yang aneh Paman”

“Apa…?”

“Kita telah mempersiapkan diri untuk bertempur, tetapi kita tidak tahu pasti, siapakah lawan kita, mungkin aku masih mencoba ingkar dihati, bahwa pada suatu saat kita memang akan berbenturan dengan Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga, karena mereka adalah keluarga Pangeran Kuda Narpada”

Ki Mina mengangguk-angguk, katanya, “Kau benar Panon, tetapi yang kita lakukan sebenarnya adalah sekedar sikap berhati-hati atau barangkali hati kita terlampau kecut saja melihat perkembangan keadaan, namun, mungkin tidak akan terjadi apapun juga”

Panon tidak menyahut, namun pada wajahnya, keragu-raguan yang sangat, seolah-olah ia telah dihadapkan pada pilihan yang serba salah.

“Jangan menyalahkan gurumu, panon. Mungkin gurumu benar-benar tidak mengetahui apa yang telah terjadi sekarang disini, karena ia berada di tempat yang jauh. Tetapi jika benar ia akan menyusulmu, maka ia sekarang tentu sudah mendengar apa yang telah terjadi diatas bukit seribu yang membujur disisi selatan pulau ini”

Panon menangguk-angguk.

“Sudahlah” berkata Ki Mina kemudian, “Selaraklah pintu, kita akan beristirahat karena keadaan yang nampaknya sebagai suatu teka-teki yang tidak terpecahkan, maka akupun ingin berhati-hati pula, kita akan tidur bergantian”

Panon mengangguk-angguk pula, jawabnya, “Baik paman, siapakah yang harus lebih dahulu?, paman atau aku?”

“Tidurlah, aku memang belum mengantuk, barangkali kau akan dapat beristirahat meskipun hanya sejenak, jika aku ingin tidur, nanti aku akan membangunkanmu”

Panon pun kemudian membaringkan dirinya di amben bambu, terdengar amben itu berderik. Naum kemudian bilik itu menjadi sepi. Yang terdengar di dalam sepinya malam adalah suara jengkerik dan angkup yang seolah-olah mengeluh. Dikejauhan terdengar suara burung malam yang sedang mencari makan, sedang kelepak kelelawar berputaran sahut menyahut.

Sementara itu, Kuda Rupaka duduk di dalam biliknya dengan tegang, ia masih diragukan oleh kesanggupan Kidang Alit, tetapi baginya apapun yang terjadi, agaknya akan merupakan penyelesaian yang menentukan. Ia sudah jemu dioambang-ambingkan oleh keadaan yang tidak menentu selama ini, sehingga rasa-rasanya ia tidak dapat menahan diri lagi.

Panji Sura Wilaga masih berbaring dengan mata yang terpejam. Ia masih tidur nenyak sejak Kuda Rupaka terbangun dari tidurnya setelah senja, maka Panji Sura Wilaga lah yang kemudian mencoba untuk menyegarkan badannya sejenak.

Kuda Rupaka tidak membangunkannya, ia sendiri merasa seakan-akan kekuatannya telah berkumpul sepenuhnya setelah ia dapat tidur meskipun hanya sesaat.

Dengan hati yang berdebar-debar, Kuda Rupaka menimang-nimang pedangnya, seakan-akan ia ingin mendapat kepastian, apakah senjatanya itu sanggup membantunya, membinasakan kedua orang pengemis yang memuakkan itu. Namun tidak mustahil bahwa ia pun kemudian harus bertempur melawan Kidang Alit dan dua orang kawannya, bahkan mungkin lebih.

“Sekali lalgi Kuda Rupaka menghitung-hitung untung dan ruginya, apakah ia harus membunuh Kidang Alit lebih dahulu atau kedua pengemis itu.

Kuda Rupaka masih mempunyai waktu untuk mempertimbangkan semasak-masaknya, jika ia berubah pendirian dan ingin membinasakan Kidang Alit lebih dahulu, maka ia akan dapat bekerja bersama Panon dan Ki Mina.

“Tetapi bagiku kedua pengemis itu tentu lebih berbahaya, mereka berada di dalam istana ini, dan mereka akan dapat berbuat jauh lebih banyak dari yang dapat dilakukan oleh Kidang Alit, juga keduanya mungkin sekali tidak hanya berdua. Mungkin, keduanya justru orang-orang yang memiliki perguruan seperti Guntur Geni, “ berkata Kuda Rupaka di dalam hatinya.

Ia mengerutkan keningnya, bahkan terbersit suatu pikiran yang jauh, “Jika mereka ternyata melibatkan perguruan mereka masing-masing, maka seharusnya akupun melibatkannya pula perguruanku secara langsung. Dan orang-orang perguruanku yang aku tunggu sampai saat ini masih belum hadir di pegunungan yang gersang ini. Tetapi aku harus dapat melakukannya sendiri agar orang-orang diperguruanku yakin, bahwa aku adalah orang yang pertama diantara mereka dan yang kelak berhak mewarisi segala kedudukan yang ada”

Karena itulah, maka Kuda Rupaka pun memutuskan, “Aku akan membinasakan kedua pengemis itu lebih dahulu, dengan demikian halaman ini akan menjadi bersih, dan aku akan mendapat keleluasaan mencari pusaka itu, jika pusaka itu sudah ada padaku, maka tidak sulit untuk menghindarkan diri dari pengamatan Kidang Alit.”

Demikianlah maka hatinyapun telah menjadi tetap, sekilas dipandangnya wajah Panji Sura Wilaga yang sedang tidur, nampaknya hati orang itu sudah tetap pula.

“Kau adalah orang yang paling setia” berkata Kuda Rupaka dalam hatinya, “Aku tidak akan melupakanmu”

Ia pun kemudian bangkit dan berjalan hilir mudik, malam rasa-rasanya menjadi semakin sepi. Tetapi ketegangan yang semakin memuncak tetap mencengkam hatinya.

Perlahan-lahan ia membuka pintu biliknya, agar tidak mengejutkan orang-orang di dalam istana itu, ia pun berjingkat turun ke halaman, ketika wajahnya ditengadahkan, ia pun mengumpat dengan geramnya, bintang Gubug Penceng masih condong di ujung selatan.

“Rasa-rasanya aku tidak tahan lagi menunggu, kenapa Kidang Alit mengambil waktu yang terlampau malam?, agaknya tidak ada bedanya apakah ia akan datang tengah malam atau sebelumnya. Tidak akan ada orang lain yang mencampuri persoalan yang terjadi di halaman ini, Panon dan Ki Mina akan terbunuh dan besok mayatnya akan dikubur oleh orang-orang padukuhan Karangmaja. Lalu, entahlah yang akan terjadi kemudian, apakah orang-orang padukuhan Karangmaja akan mengubur mayatku atau mayat Kidang Alit” Kuda Rupaka gergumam di dalam hatinya, lalu, “Tetapi Panji Sura Wilaga tentu akan memerlukan membuang waktu untuk membunuh anak pelayan yang lebih gila dari kedua pengemis itu. Dan agaknya Sangkan memang tidak diperlukan lagi, kegilaannya akan dapat mengganggu usaha kami menemukan pusaka yang tiada taranya itu”

Kuda Rupaka pun kemudian naik lagi ke dengan hatihati. Namun langkahnya terhenti ketika ia melihat Panji Sura Wilaga sudah berdiri di depan pintu.

“Kau sudah bangun?”

“Aku mendengar Raden keluar dari bilik, aku kira kita sudah berada ditengah malam”

“Bintang itu menjadi terlalu malas, masih ada beberapa saat lagi menjelang tengah malam”

“Apakah Raden akan beristirahat lagi?”

“Waktunya terlalu pendek, marilah, kita mengnelilingi istana ini, kita lihat, apakah ada sesuatu yang mencurigakan”

Keduanya pun kemudian turun lagi ke halaman, masing-masing telah membawa senjata di lambung.

Setiap saat keduanya dapat melakukan apa saja yang mereka anggap perlu.

Keduanya berjalan perlahan-lahan melintasi halaman yang sepi, kemudian mereka memasuki lingkungan belakang. Bilik kedua perantau dan Sangkan itu sudah sepi bahkan lampu minyakpun sudah menjadi sangat redup.

“Agaknya mereka sudah tidur” desis Panji Sura Wilaga.

Kuda Rupaka mengangguk-angguk, tetapi mereka tidak mendekat. Mereka hanya berjalan terus ke kebun belakang, kemudian mengelilingi istana itu lewat sisi yang lain.

Tetapi langkah mereka tertegun ketika mereka mendengar suara gemelitik di dalam bilik Raden Ayu Kuda Narpada, karena itu, maka merekapun mendekat dengan sangat hati-hati.

“Siapakah yang masih bermain dakon di malam begini?” desis Kuda Rupaka.

Panji Sura Wilaga tidak menjawab, tetapi keduanya pun kemudian mencari lubang pada dinding kayu bilik itu.

Hampir bersamaan keduanya berhasil melihat meskipun hanya lamat-lamat. Yang masih bermain dakon adalah Pinten dan ibunya Nyi Upih, sedang puteri Inten yang merasa sangat mengantuk telah meletakkan kepalanya di pangkuan pelayannya yang setia itu.

Sambil bergeser surut Kuda Rupaka menarik nafas dalam-dalam, tetapi Panji Sura Wilaga berkata, “Biar sajalah, mereka tidak akan memperngaruhi apapun juga. Bahkan jika perlu kitapun akan memaksa mereka untuk melakukan apa saja, termasuk menunjukkan pusaka itu jika perlu dengan kekerasan”

Kuda Rupaka menarik nafas dalam-dalam, desisnya, “kasihan bibi, tetapi aku memang tidak mempunyai pilihan lain”

Panji Sura Wilaga memandang wajah Kuda Rupaka sejenak, katanya, “Raden Ayu telah menikmati kebesarannya pada masa Majapahit masih berdiri. Pada saatnya, air pasang akan menjadi surut, jika dalam perubahan keadaan seseorang harus menjadi korban, maka hal itu tidak dapat diingkari. Dalam pertentangan seperti yang telah terjadi, maka yang menang adalah yang benar”

Kuda Rupaka mengangguk-angguk, katanya, “Kitapun harus menyadari bahwa kebenaran yang kita jadikan pegangan adalah kekuasaan yang berlandaskan kemenangan dari setiap benturan”

Ternyata Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga tidak dapat lagi menyelubungi diri dengan laku yang baik dan sopan terhadap bibinya, yang dianggapnya sama sekali tidak membantunya. Bahkan Kuda Rupakapun kemudian berkata, “Paman, akhirnya aku menyadari, bahwa tidak ada gunanya aku berbuat baik selama ini terhadap bibi. Kepercayaan bibi nampaknya lebih banyak diberikan kepada perantau yang harus kita bunuh malam ini”

“Mungkin bibi Raden tidak menyadari bahwa yang sebenarnya dibawa oleh kedua perantau itu, jika datang saatnya, keduanya mungkin akan sampai hati membunuh bibi dan puteri Inten Prawesti untuk mendapatkan pusaka itu”

“Memang mungkin sekali”

“Tetapi jika cara itu memang cara yang terbaik, apaboleh buat”

“Maksud paman?”

Panji Sura Wilaga tidak menjawab, tetapi nampak dalam keremangan wajahnya menjadi tegang.

Tetapi agaknya dalam kebisuan masing-masing, keduanya telah dapat saling meraba maksudnya, mereka ternyata telah menilai pusaka yang mereka cari itu lebih dari segalanya. Lebih dari jiwa seseorang, bahkan juga jika seseorang itu adalah keluarga sendiri.

“Pusaka itu adalah sumber kekuasaan dan kemukten” Desis Kuda Rupaka dengan wajah yang mengeras, wajah yang seolah-olah telah berubah menjadi batu padas di pegunungan.

“Aku tidak mau tenggelam dalam sikap seorang yang baik hati, yang merelakan apapun juga untuk kepentingan orang lain. Memelihara dengan makan dan minum, tetapi sama sekali tidak mengerti berterima kasih” Kuda Rupaka melanjutkan.

Panji Sura Wilaga menarik nafas dalam-dalam, perlahan-lahan mereka bergeser menjauh. Ternyata bahwa keduanya telah menemukan sikap yang matang sebagai landasan tingkah laku mereka kemudian.

Di halaman depan mereka masih harus menunggu sampai Lintang Gubug Penceng tepat tegak berdiri di ujung selatan. Pada saat yang dijanjikan Kidang Alit akan datang untuk bersama-sama membunuh kedua pengemis itu. Jika mereka dapat melakukannya, sebaiknya tanpa diketahui oleh Raden Ayu Kuda Narpada dan kemudian mengubur mayat mereka dengan diam-diam di halaman belakang, bahkan bersama mayat Sangkan sekaligus. Tetapi jika terpaksa Raden Ayu dan seisi istana itu mengetahuinya, apaboleh buat.

Keduanya menjadi berdebar-debar, ketika mereka merasakan tiupan angin yang aneh. Rasa-rasanya angin itu begitu sejuk mengusap tubuh, tetapi keduanya mengerutkan kening ketika mereka sama sekali tidak melihat dedaunan bergerak betapapun lembutnya.

Kuda Rupaka menggamit Panji Sura Wilaga, agaknya Panji Sura Wilaga pun mengetahuinya, sambil mengangguk kecil ia pun memberika isyarat kepada Kuda Rupaka untuk mengyingkir ke tempat yanga terlindung.

Ketika keduanya bangkit, Panji Sura Wilaga berbisik, “Kita belum mengetahui dengan pasti orang yang akan datang bersama dengan Kidang Alit”

Kuda Rupaka segera menangkap maksud Panji Sura Wilaga, karena itulah maka ia pun kemudian bergeser dan berlindung di tempat yang gelap.

Arus udara yang aneh itu terasa semakin lama menjadi semakin kuat. Tetapi dedaunan masih saja seolah-olah membeku.

“Kidang Alit cukup berhati-hati” berkata Panji Sura Wilaga perlahan-lahan ditelinga Kuda Rupaka.

Kuda Rupaka mengangguk, katanya, “Sirep ini terlampau tajam, jauh lebih tajam dari sirep yang pernah dilontarkan oleh orang Guntur Geni”.

“Kidang Alit mempunyai kelebihan” sahut Panji Sura Wilaga, “Ia mempunyai beberapa jenis ilmu yang dilontarkan dengan kekuatan getar pemusatan inderanya, karena itu ia mempunyai ilmu gendam dan mungkin juga pamilut”

Kuda Rupaka mengangguk-angguk, katanya, “Dengan demikian bibi dan perempuan-perempuan yang lain akan tertidur, Sangkan pun akan tertidur bagaikan pingsan, jika kau membunuhnya, bunuhlah selagi ia tidak menyadari keadaanya”

“Raden masih mempunyai perasaan belas kasihan?”

“Mungkin, tetapi itu akan lebih baik bagi anak gila itu. Ketakutan di saat-saat kematian adalah suatu siksaan, karena anak itu sekedar berbuat gila tanpa maksud, ada juga baiknya kau menghindari siksaan itu”

Panji Sura Wilaga tidak menjawab, tetapi kepalanya sajalah yang mengangguk kecil.

Panji Sura Wilaga tidak menjawab, tetapi kepalanya sajalah yang mengangguk kecil.

Sesaat mereka masih harus menunggu. Mereka mengerti, bahwa Kidang Alit masih sedang menunggu kekuatan sirepnya sehingga ia yakin bahwa orang-orang yang tidak mampu menghindar akan tertidur dengan nyenyaknya.

“Pelayan dan anak perempuannya tentu sudah tertidur sekarang ini” desis Kuda Rupaka.

”Tetapi jika kedua perantau itu menyadari, mereka tentu akan dapat melawannya. Kecuali jika mereka sama sekali tidak menduga bahwa hal ini akan terjadi, atau bahkan jika mereka benar-benar sedang tidur, maka mereka akan menjadi semakin nyenyak, karena mereka tidak mempunyai usaha perlawanan sama sekali”

“Bukankah mereka sudah tidur?”

“Jika demikian, mereka tidak terbangun untuk selama-lamanya, kita akan membunuh mereka dan menyeret mayatnya ke kebun belakang”

“Jika kita sempat melakukannya”

“Maksudmu?”

“Mungkin kita akan langsung bertempur melawan Kidang Alit”

Keduanya tersenyum, tetapi keduanya benar-benar sudah siap untuk menghadapi segala kemungkinan yang bakal terjadi, bahkan mungkin menghadapi kematian.

Untuk beberapa saat kemudian keduanya berdiam diri, mereka mencoba untuk mengetahui, berapa jauh kekuatan sirep yang dilontarkan oleh Kidang Alit yang kemudian menyelubungi istana kecil itu dengan segala isinya.

“Kekuatan sirep ini agaknya sudah sampai di puncaknya” desis Panji Sura Wilaga ditelinga Raden Kuda Rupaka.

Kuda Rupaka tidak menjawab, tetapi ia mengangguk saja.

Sementara itu keduanya telah memperhitungkan, meskipun tidak saling bersepakat, bahwa saatnya sudah tiba bagi Kidang Alit untuk memasuki halaman istana.

Ternyata dugaan mereka itu tepat. Tetapi Kidang Alit tidak tergesa-gesa dan terjebak oleh Kuda Rupaka. Seperti Kuda Rupaka pula, maka ia sangat berhati-hati.

Kidang Alit tidak memasuki halaman dengan meloncat dinding seperti biasa dilakukannya, karena itulah, maka dugaan Kuda Rupaka keliru. Kidang Alit berusaha membuka selarak regol dari luar melali celah-celah katu gerbang yang sudah tua.

Kuda Rupaka mengagamit Panji Sura Wilaga ketika didengarnya derak selarak pintu regol. Panji Sura Wilaga pun mengangguk sambil menatap gerbang regol itu dengan seksama.

Namun sebelum ia melihat regol itu terbuka dan seseorang melangkah masuk, tiba-tiba saja keduanya telah melihat di dalam keremangan cahaya obor yang redup di kejauhan seseorang yang duduk diatas dinding.

Tetapi orang itu ternyata bukan Kidang Alit. Dengan tangannya orang itu, memberikan isyarat kepada kawannya yang berada diluar regol. Baru sejenak kemudian, gerbong regol itu terbuka. Seseorang yang sudah dikenal baik oleh Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga muncul sambil menengadahkan dadanya.

Disebelahnya berjalan seorang yang nampaknya cukup meyakinkan pula.

Kuda Rupaka menggamit Panji Sura Wilaga sekali lagi, ketika keduanya berpandangan, maka Kuda Rupaka pun menganggukkan kepalanya.

Sejenak mereka masih menunggu, dengan hati-hati Kidang Alit melangkah ketengah-tengah halaman yang tidak terlalu luas itu. Dengan tajamnya ia menatap pendapa yang kosong dan sepi.

Pada saat itulah, maka Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga bangkit dan melangkah dari lindungan bayangan dedaunan.

Mendengar langkah itu, Kidang Alit segera meloncat mempersiapkan diri, demikian juga kedua kawannya yang segera berpencar, namun Kidang Alit menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat bahwa yang datang adalah Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga.

“Apakah kau sudah siap?” bertanya Kidang Alit perlahan-lahan

Kuda Rupaka mengangguk, jawabnya, “Saatnya memang sudah tiba”

“Apakah kedua perantau itu sedang tidur?”

Kuda Rupaka termangu-mangu sejenak, namun kemudian-jawabnya, “Mungkin sekali, tetapi mungkin juga tidak”

Kidang Alit mengangguk-angguk, katanya, “Jika ia sedang tidur saat aku melepaskan sirep, maka ia tidak akan bangun untuk selama-lamanya, kita akan memasuki biliknya dan menusuk dadanya sekali saja langsung tembus ke jantungnya”.

“Dan kita akan menyeretnya ke liang kuburnya di halaman belakang” desis Panji Sura Wilaga, “Raden Ayu tidak akan pernah tahu, kemana kedua pengemis itu pergi disertai oleh Sangkan, karena Raden Ayu tidak akan pernah menemukan mayatnya atau kabar beritanya lagi”

“Tetapi jika keduanya tidak sedang tidur?” desis Kuda Rupaka, “Apakah itu bukan berarti suatu berita bagi mereka, bahwa sesuatu akan terjadi?”

“Memang mungkin, tetapi aku sudah memperhitungkan segala akibatnya”

“Nah, jika demikian, apakah yang akan kita lakukan pertama-tama sekarang ini?” bertanya Kuda Rupaka.

“Tentu membunuh mereka” jawab Kidang Alit, ”Kau berdua membunuh seorang dari mereka, dan kami bertiga membunuh yang satunya. Dengan demikian maka pekerjaan ini akan cepat selesai” Kidang Alit berhenti sejenak, lalu, “Tetapi dengan satu peringatan, bahwa kedatanganku hanya untuk membunuh kedua perantau itu”

“Maksudmu?”

“Aku tidak siap membunuhmu sekarang”

“Gila” geram Sura Wilaga, “Bagaimana jika kita berjanji bahwa setelah kedua pengemis dan Sangkan terkubur, kita menyelesaikan masalah kita sekaligus”

“Hanya orang dungu sajalah yang akan berbuat demikian” jawab Kidang Alit, “Karena dengan demikian maka Raden Ayu akan semakin bungkam tentang pusaka itu”

“Maksudku, biarlah rahasia tentang pusaka itu terlepas dahulu dari mulutnya. Barulah kita akan menentukan, siapakah yang berhak memilikinya, daripada sekarang kita berkelahi tanpa mendapatkan apapun juga”

Kuda Rupaka tersenyum, katanya, “Kau memang pintar, aku tidak dapat membedakan lagi antara kepintaran dan kelicikan, tetapi aku setuju dengan rencanamu itu”

Panji Sura Wilaga mengangkakt keningnya, namun ia tidak mengatakan apapun juga, “Marilah” ajak Kuda Rupaka, “Kita pergi kebiliknya, aku berdua dengan Paman Panji akan membunuh Panon dan kau bertiga membunuh orang tua itu”

“Kami tidak berkeberatan”

Kuda Rupaka mengangguk-angguk, namun sekilas nampak tatapan matanya menyambar kedua orang kawan Kidang Alit.

“Kedua orang ini ternyata adalah orang-orang yang tinggal di banjar” desis Kidang Alit.

“Ya, aku sudah menduga”

“Kenapa? Kau tidak melihat mereka ketika keduanya datang saat orang-orang Guntur Geni menyerang kalian disini”

“Keduanya mula-mula aku kira orang Guntur Geni.Tetapi kemudian aku memastikan bahwa dugaan itu salah. Apalagi ketika keduanya tinggal terlalu lama di banjar tanpa berbuat apa-apa”

Kidang Alit tertawa pendek, katanya, “Yang seorang adalah paman Bramadara, yang lain adalah paman Sambi Timur. Tetapi marilah, kita pergi ke bilik itu”

Mereka berlimapun kemudian berjalan dengan hati-hati melingkari istana kecil itu.

Namun mereka tidak langsung menuju ke bilik itu, mereka sadar, bahwa Panon dan Ki Mina bukannya orang kebanyakan, keduanya memiliki ilmu yang dapat mereka andalkan, sehingga keduanya berani melibatkan diri dalam pertentangan diantara mereka yang memperebutkan pusaka yang masih tersembunyi itu.

Yang mendekati dinding bilik itu adalah Kidang Alit dan Kuda Rupaka, sejenak mreka mencoba untuk menangkap suara dari dalam bilik itu, namun sama sekali tidak terdengar sesuatu. Bahkan desah nafaspun tidak.

Dengan hati-hati keduanya mencari lubang pada dinding bilik itu, untuk mengintip kedalam bilik untuk mengetahui keadaan orang-orang yang didalam bilik.

Tetapi ternyata bahwa di dalam bilik itu nampaknya hanyalah hitam pekat, karena lampu tidak menyala lagi.

Baik Kuda Rupaka dan Kidang Alit merasa aneh, bahwa mereka sama sekali tidak mendengar suara nafas, di dalam bilik itu, ada tiga orang, sehingga suara nafasnya tentu terdengar dari dinding.

Ketika keduanya berpandangan, maka keduanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

Kidang Alit menjadi tegang, tiba-tiba saja ia menunjuk kearah pintu bilik itu.

Kuda Rupaka mengetahui isyarat itu, Kidang Alit membuka pintu, ketika keduanya telah berdiri dimuka pintu yang tertutup itu, maka dengan hati-hati mereka mencoba mendorongnya.

Ternyata daun pintu itu dengan mudah bergerak.

Hampir saja Kuda Rupaka berdesis, bahwa pintu itu tidak diselarak, tetapi ia menyadari, bahwa suaranya akan mungkin sekali menarik perhatian orang-orang yang ada didalamnya. Perlahan-lahan ia mendorong pintu itu sehingga sedikit demi sedikit terbuka karenanya.

Di dalam bilik memeng gelap sekali, tetapi tatapan mata Kuda Rupaka dan Kidang Alit cukup tajam, mereka melihat tiga sosok tubuh berada diatas pembaringan itu.

Kuda Rupaka memberi isyarat kepada Sura Wilaga, juga Kidang Alit memanggil kedua orang kawannya.

Dengan hati-hati mereka memasuki bilik itu, bahkan tangan mereka melekat dihulu senjata mereka masing-masing.

Tetapi Kuda Rupaka tiba-tiba saja tersentak ketika Kidang Alit berdesis, “Raden, Apakah kita termasuk golongan orang yang pengecut?, aku tidak mau membunuh orang-orang yang sedang tidur, kita sudah datang dalam jumlah yang banyak, karena itu, biarlah kita mengurangi kelicikan kita”

“Maksudmu?”

“Aku akan membangunkan mereka, jika kita bertempur, Raden Ayu tidak akan mengetahuinya, karena ia masih terpengaruh oleh sirepku”

Kuda Rupaka tidak segera menjawab, namun Sura Wilaga lah yang menggeram, “Bagiku tidak ada bedanya, apakah mereka dibangunkan dahulu atau kita akan membunuh mereka selagi tidur”

“Aku memang orang yang licik, tetapi aku ingin melihat kemampuan anak muda yang bernama Panon itu dengan kawannya yang memiliki ilmu yang tinggi”

Kuda Rupaka termangu-mangu sejenak, ia tersentuh oleh perasaan heran, bahwa pembicaraan itu sama sekali tidak membangunkan ketiga orang yang sedang tidur itu”

“Kekuatan sirep Kidang Alit benar-benar tidak terlawan” katanya dalam hati, “Apalagi mereka yang sedang tidur”

Namun dalam pada itu Kidang Alit berkata, “Bersiaplah, aku akan mambangunkan mereka, kita akan bertempur di luar, karena itu, bersiaplah diluar pintu”

Kidang Alit pun kemudian mengambil titikan dari kantong ikat pinggangnya, kemudian dengan empul ia membuat api.

“Aku akan mengejutkan mereka dengan api, karena dengan sentuhan tangan biasa agaknya mereka tidak akan dapat terbangun”

Sejenak kemudian maka Kidang Alit pun mendekati kedua sosok yang tidur di pembaringan berselimut kain panjang sampai keujung kepalanya. Dengan hati-hati Kidang Alit pun kemudian melemparkan empul yang sudah membara kearah kedua sosok tubuh yang sedang tidur itu.

Kidang Alit melangkah surut dan berdiri di pintu bersama Kuda Rupaka dan orang-orang lain sambil menunggu.

Empul yang segenggam itu membara semakin besar, bahkan kemudian selimut kedua sosok tubuh itu mulai mengepulkan asap. Namun keduanya masih belum terbangun.

“Gila” desis Kidang Alit, “Apakah sirepku telah membunuh mereka tanpa disentuh tangan”

Namun kedua sosok tubuh itu masih tidak terbangun.

Sura Wilaga tidak dapat menahan kesabarannya lagi, tiba-tiba saja ia meloncat masuk memasuki bilik mitu. Dengan serta merta ia menarik selimut-selimut itu.

Namun betapa dadanya bagaikan pecah melihat apa yang tergolek di pembaringan itu. Sama sekali bukan kedua sosok tubuh perantau itu, tetapi dua ikat julup melinjo yang dibaringkan dan diselimuti oleh kain panjang. Betapa gelapnya bilik itu, namun Sura Wilaga masih dapat membedakan bahwa yang dihadapannya sama sekali bukan Panon dan Ki Mina.

Dengan kemarahan yang meledak di dadanya ia mengambil kedua ikat julup itu dan melemparkannya ke pintu sambil mencancam, “Anak setan. Kidang Alit bukalah matamu, apa yang kau lihat?”

Kidang Alit gemetar oleh kemarahan yang tidak tertahankan, dengan menggeram ia pun berkata, “Aku akan mencincang mereka sampai lumat. Kita akan mencarinya. Aku yakin mereka masih berada di sekitar halaman istana ini”

Sura Wilaga menggeretakkan giginya, tiba-tiba saja ia menarik selimut yang tersisa, tetapi Sangkan pun sudah tidak ada di pembaringannya.

“Jangan membuang waktu” Sura Wilaga berteriak, “Cari mereka sampai dapat”

Mereka meninggalkan longkangan dan menuju halaman, wajah Kuda Rupaka bagaikan terbakar oleh kemarahan yang meluap-luap, kemudian ia berkata kepada Sura Wilaga, “Aku akan memusnahkan istana ini, jika aku tidak berhasil menemukan pusaka itu”

“Raden sudah menemukan kembali jati diri Raden kembali dalam tugas yang gawat ini”

Demikianlah, maka kelima orang itu pun segera berpencar mencari ketiga orang yang ternyata telah mengetahui mereka dengan permainan yang berbahaya itu.

Sementara itu.

“Sst jangan bersuara” desis Panon ke telinga Sangkan.

“Aku takut, Panon”

“Kau bersembunyi saja disini dahulu. Jika mereka mencari kita dan pergi ke tempat ini, aku dan paman Mina lah yang akan melawan mereka, kau diam saja disini”

“Tetapi merela tidak hanya berdua, Panon. Mereka ada lima orang”

“Aku sudah menduga” desis Ki Mina, “Pada suatu saat Kidang Alit dan Raden Kuda Rupaka akan besama-sama berusaha membunuh kita, tetapi jika terpaksa, kita harus bertempur melawan lima orang sekaligus, apaboleh buat”

“Apakah kalian berdua berani melawan lima orang sekaligus?”

“Dalam keadaan seperti sekarang ini, bukan saatnya berani atau tidak berani, tetapi kami sudah tidak mempunyai pilihan lain”

“Aku akan lari saja keluar”

“Jangan, pasti mereka akan mengejarmu dan membunuhmu”

Sangkan termangu-mangu sejenak, namun yang terdengar adalah tarikan nafasnya yang panjang.

Sejenak kemudian Panon berbisik, “Mereka menuju kemari, tiga orang. Ternyata mereka mencari kita dengan berpencar”

“Kita juga betiga” desis Ki Mina, “Sangkan, kau bersembunyi saja disini, sebelum dua orang lain lagi datang, aku dan Panon akan mencoba melawan yang tiga orang ini”

Sangkan tidak menjawab, tetapi ia pun dengan tegang memandang ketiga orang yang semakin lama menjadi semakin dekat, ternyata ketiga orang itu adalah, Kuda Rupaka, Kidang Alit dan seorang kawannya.

“Panji Sura Wilaga dan seorang yang lain agaknya mencari ke halaman depan” desis Panon.

Sangkan bagaikan membeku di tempatnya, yang terdengar hanyalah nafasnya yang seolah-olah berkejaran, sehingga dengan demikian maka Panon dan Ki Mina tidak akan dapat berbuat lain dari pada bertempur melawan tiga orang itu. Karena nafas Sangkan itu tentu didengar oleh ketiga orang yang memiliki ilmu yang tinggi itu.

Sejenak Panon dan Ki Mina saling berpandangan, namun demikian, selagi ketiga orang itu belum dekat benar, Panon berkata di telinga Sangkan, “Tenanglah, bersembunyilah saaat aku bertempur. Jika ada kesempatan, berusahalah untuk memasuki istana itu dan bersembunyi di ruang Raden Ayu Kuda Narpada.

Sangkan tidak menjawab, tiba-tiba saja tangan Ki Mina mendekap mulutnya, ketika orang-orang itu semakin dekat.

Tetapi seperti yang mereka duga, Sangkan tidak dapat menahan nafasnya, justru karena hidungnya terganggu oleh tangan Ki Mina, tiba-tiba saja ia mengibaskan tangan ke wajahnya.

Suara yang lembutpun tentu telah terdengar oleh orang-orang yang pendengarannya sangat tajam itu. Apalagi suara desah nafas Sangkan. Sehingga karena itulah, maka ketiga orang itu telah meloncat surut sambil mempersiapkan diri.

Sebelum ketiga orang itu melihat dengan jelas, siapa saja yang berada di balik gerumbul, maka Ki Mina dan Panon telah meloncat keluar dari kegelapan, mereka langsung melangkah mendekat, untuk memancing perhatian ketiga orang yang sedang mendekat, agar mereka tidak sempat melihat Sangkan yang bersembunyi.

Sejenak suasana dicengkam oleh ketegangan, namun kemudian terdengar suara Kidang Alit menggeram, “Nah, akhirnya aku dapat menemukanmu Panon”

“Ya, akupun menyadari bahwa kau pada suatu saat tentu mencari aku bersama dengan Raden Kuda Rupaka”

“Pintar juga kau, tetapi dalam persoalan pusaka yang sama-sama kita cari itu, agaknya tidak ada lagi pertimbangan persahabatan dan belas kasihan. Sekarang aku dan Raden Kuda Rupaka memang datang untuk membunuh kalian berdua, tanpa menimbulkan banyak keributan”

Ki Mina yang menyahut, “Tentu kami tidak keberatan, tetapi sebenarnya kami ingin menawarkan diri untuk melakukan hal yang serupa. Jika sekiranya sekarang dapat dibicarakan, kepada siapapun kami harus berpihak, maka kami dengan senang hati melakukan.

“Gila” teriak Kidang Alit, “Apa maksudmu sebenarnya?”

“Kami menyadari, ada tiga pihak sekarang ini yang saling berebut pusaka, Raden Kuda Rupaka, Kidang Alit dan kami berdua. Dua pihak harus bergabung sebelum pihak-pihak itu akan menentukan pemenang terakhir. Sekarang Raden Kuda Rupaka dan Kidang Alit berusaha melenyapkan kami. Tetapi kenapa tidak ada persetujuan lain. Misalnya kami bergabung dengan Raden Kuda Rupaka untuk membunuh Kidang Alit dan kawan-kawannya atau Kidang Alit minta kepada kami untuk bersama-sama membunuh Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga”.

“Gila” geram Kuda Rupaka, “Kau jangan mencoba mempengaruhi kami”

“Tidak harus selalu kami bersama Kidang Alit membunuh Raden, jika Raden kehendaki, kami akan bergabung dengan Raden untuk membunuh Kidang Alit dan kawan-kawannya”

“Diam. Bentak Kidang Alit, “Kau telah mencoba meracuni kami, kau tidak akan dapat berbuat demikian”

“Jangan kau takut Kidang Alit, mungkin lebih baik bagi Raden Kuda Rupaka sekarang ini untuk membunuhmu lebih dahulu dari pada membunuh kami berdua”

“Kidang Alit menjadi tegang, naum tiba-tiba, ia pun tertawa sambil berpaling kepada Kuda Rupaka, “Ternyata kita semuanya adalah orang-orang yang licik seperti yang aku duga. Orang tua ini bagiku jauh lebih licik dari Raden Kuda Rupaka dan aku sendiri”

“Itu pun suatu kelicikan Kidang Alit” sahut Ki Mina, “Tetapi terserah keapda kalian, apa yang akan kalian lakukan”

 

Kidang Alit termangu-mangu, namun kemudian terdengar ia bersuit nyaring.

“O” berkata Ki Mina, “Kau memanggil kawan-kawanmu”

Kidang Alit tidak menjawab, tetapi ia berpaling ke sudut istana yang suram itu.

Dua sosok tubuh telah muncul dari dalam kegelapan, mereka adalah Sura Wilaga dan seorang yang segera dikenali oleh Ki Mina.

“Sekarang aku ingat, orang yang datang bersana Panji Sura Wilaga itu, dia adalah orang yang menyerang istana ini dari belakang tempo hari, dan akupun ingat pula yang seorang itu pula”

Orang yang datang bersama Kidang Alit ternyata tidak dapat melindungi wajahnya dalam kegelapan, ternyata ingatan Ki Mina cukup tajam untuk menjangkau peristiwa yang pernah terjadi dihalaman ini saat-saat orang Guntur Geni menyerang.

“Jangan ingkar” berkata Kidang Alit kepada kedua pengikutnya, “sekarang kita datang lagi untuk membunuh kedua perantau gila ini”

Kedua kawan Kidang Alit menjadi tegang, namun keduanya sama sekali tidak menyahut. namun agaknya mereka telah siap untuk melakukan apa saja yang diperintahkan Kidang Alit.

Dalam pada itu, maka Kidang Alit pun kemudian berkata, “Panon, aku hormati kau karena sikapmu, agaknya kau lebih jantan dari orang tua itu, meskipun demikian, aku tidak mempunyai pilihan lain dari pada membunuhmu”

“Lakukanlah jika kau mampu, bagiku, siapapun juga yang harus aku hadapi, tidak akan ada bedanya, kau atau Raden Kuda Rupaka, atau kedua-duanya”

“Aku sudah mengira bahwa kau akan teguh, kau sama sekali tidak merengek untuk bergabung dengan salah satu dari pihak kami, itulah bedanya antara kau dan Ki Mina”

“Ki Mina hanya ingin menjajagi, ternyata bahwa kalian benar-benar licik dan pengecut. Sekarang cepatlah, apa yang akan kau lakukan. Aku tahu bahwa Raden Kuda Rupaka mempunyai kedudukam khusus disini. Tetapi bagiku kedudukan itu tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan keselamatan sendiri”

“Persetan, aku sudah mengira bahwa pada suatu saat kau akan menjadi lawan yang harus dimusnahkan”

“Bukan salah kami, Raden. Tetapi jika Raden menghendaki, maka kamipun akan berbuat tanpa ragu-ragu dan tanpa terlampau banyak pertimbangan perasaan”

“Gila, cepat bunuh mereka” teriak Kidang Alit.

Ternyata bahwa kedua pengikut Kidang Alit itu sama sekali tidak menunggu lagi, dengan serta merta mereka pun maju beberapa langkah mendekati Ki Mina.

“Kita akan membunuh orang tua ini, Raden dan Panji Sura Wilaga akan membunuh Panon, kita akan berlomba, siapakah yang akan menyelesaikan tugasnya lebih dahulu.

“Itu tidak Adil” tiba-tiba saja Ki Mina menyahut, “Jika kalian ingin bertanding, beradu kecakapan bermain senjata, seharusnya masing-masing satu lawan satu”

“Persetan” geram Kidang Alit, “Yang penting kali ini kalian matu terbunuh”

Tiba-tiba saja Ki Mina Tertawa, “Disaat-saat terakhir, aku masih sempat menyaksikan lelucon yang bagus sekali. Baiklah, sekarang bunuhlah kami, karena kami telah puas menikmati keyakinan kami, bahwa yang bernama Kidang Alit, Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga sama sekali bukan kesatria-kesatria yang seperti namanya. Tetapi itu tidak perlu kalian hiraukan, itu sekedar usaha kami untuk mati sambil tersenyum melihat kelucuan ini”

“Tutup mulutmu” bentak Kuda Rupaka.

“Tidak ada artinya lagi kau membentak-bentak seperti itu, karena kita sudah berhadapan sebagai lawan” jawab Panon, “Jika hubungan kita tidak seperti sekarang, mungkin aku akan mengerutkan leherku dan merengek minta ampun”

 

“Paman Panji, cepatlah. Marilah kita selesaikan anak gila ini”

Sura Wilaga kemudian mempersiapkan diri. Berpasangan dengan Kuda Rupaka ia bersiap menyerang Panon yang bergeser menjauhi Ki Mina, sementara itu, Ki Minapun telah siap melawan Kidang Alit dan kedua kawannya.

Panji Sura Wilaga bergeser setapak maju, sementara Raden Kuda Rupaka pun telah bersiap pula untuk meloncat dengan serangan mautnya meskipun nampaknya ia belum menarik pedangnya pula.

“Kau gila” geram Sura Wilaga, “Jangankan parang pemotong kayu, sedang pedang yang paling keramatpun tidak akan mampu berbenturan dengan pedangku”

“Jika demikian, sudah benarlah aku, mempergunakan parang ini, karena akibatnya akan sama saja jika aku mempergunakan senjata, yang lebih baik”

“Gila” Sura Wilaga benar-benar telah terhina. Karena itu maka tiba-tiba saja ia pun meloncat menyerang dengan garangnya.

Namun Panon masih sempat mengelak, meskipun kemudian ia harus meloncat mundur dengan cepat, karena Kuda Rupakapun telah menyerangnya pula.

Panon menjadi berdebar-debar, jika ia harus bertempur melawan salah seorang dari keduanya, mungkin ia tidak akan cemas. Tetapi melawan kedua orang yang memiliki ilmu yang tinggi itu. Bukan sekedar takut mati. Namun itu akan berarti bahwa ia hanya dapat melakukan tugas yang dibebankan oleh gurunya sampai saat kematian menerkamnya. Apalagi jika ia mengingat Ki Mina yang kehadirannya semata-mata karena mengikutinya. Jika orang tua itu pun harus menjadi korban, maka ia adalah penyebabnya.

Tetapi Panon tidak dapat berangan-angan lebih lama, dengan segenap kemampuannya ia pun melakukan perlawanan kecepatannya bergerak telah menolongnya, melepaskan diri dari serangan-serangan yang datang beruntun.

Demikian pula, sesaat kemudian Kidang Alit pun telah menyerang Ki Mina bersama seorang kawannya, sementara kawan yang lain nampak ragu-ragu untuk terjun ke dalam gelanggang pertempuran.

“Jangan kau ikut menyerang” teriak Kidang Alit, “Pergilah, kami berdua akan dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik. Dengan demikian maka yang terjadi akan cukup adil untuk berlomba”

Dalam pada itu perkelahian di kedua lingkaran itu pun semakin lama semakin sengit. Masing-masing memiliki ilmu yang meyakinkan, ternyata bahwa Panon yang muda dan belum berpengalaman itu sama sekali tidak mengecawakan. Meskipun serangan datang beruntun seperti mengalirnya air di sungai yang sedang banjir, namun Panon massih sempat mengelakkan diri dari ujung senjata.

Latihan-latihan berat yang pernah dilakukannya, ternyata harus diperasnya. Kini ia tidak sekedar menghadapi semburan air yang dilontarkan oleh gurunya agar tidak terpercik dan menjadi basah. Tetapi kini yang dihadapi adalah ujung-ujung senjata yang dapat melubangi dadanya.

Panon tidak dapat berbuat lain, kecuali mempergunakan senjata yang paling dikuasainya, pisau-pisau kecilnya. Meskipun dengan agak ragu-ragu namun setiap kali ia terdesak dan seolah-olah kehilangan kesempatan, maka ia masih dapat membebaskan dirinya dari kepungan kedua orang lawannya dengan lontaran pisaunya.

Namun ia sadar sepenuhnya, bahwa lawannya pun tidak terlampau mudah untuk di kenainya. Lontaran-lontaran pisaunya sama sekali tidak dapat langsung mengenai lawannya yang dapat menghindar selincah burung sikatan. Sehingga karena itu, ia pun justru menghemat pisau-pisunya agar ia tidak kehabisan dan tidak sempat mempergunakannya lagi untuk membebaskan diri pada saat-saat yang paling gawat.

Dalam pada itu, selagi keempat orang itu bertempur dengan serunya melawan dua orang perantau yang ternyata masih mampu bertahan itu, salah satu kawan Kidang Alit pun dengan diam-diam meninggalkan arena. Seperti yang dipesankan oleh Kidang Alit sebenarnyalah bahwa ia mempunyai tugas tersendiri.

Sesaat Bramadara termangu-mangu, dari kejauhan ia melihat arena perkelahian yang seru. Namun sebagai seorang yang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang luas, ia pun tersenyum sambil berkata kepada diri sendiri, “Tidak sampai fajar, maka kedua perantau itu akan terkapar, dan aku harus segera menyelesaikan tugasku sebaik-baiknya”

Ia pun kemudian berlari memasuki ruang dalam istana, ia mendapat tugas untuk membangunkan Raden Ayu dan memaksanya untuk mengatakan, dimanakah pusaka yang sedang diperebutkan itu disimpan.

Terngiang di telinganya pesan Kidang Alit, “Kau harus dapat memeras pengakuan itu. Terserah cara yang kau akan pilih, kau dapat berbuat lebih banyak lagi dari Raden Ayu. Karena Raden Kuda Rupaka justru masih terikat oleh hubungan keluarga yang ada diantara mereka, sehingga perasaan hormat dan segan masih menahannya untuk melakukan tindakan yang lebih keras”

Bramadara tersenyum, kepada diri sendiri ia berkata, “Apapun yang aku kehendaki dapat aku lakukan, jika dengan segala cara Raden Ayu masih juga tidak mau mengatakan, aku akan dapat memperalat puteri Inten Prawesti yanga cantik itu, Kidang Alit sudah mengatakan kepadaku segala cara dapat aku tempuh. Aku dapat juga merampas gadis itu. Raden Ayu tetap berkeras kepala?”

Bramadara kemudian dengan tergesa-gesa memasuki bagian tengan yang menghadap bilik Raden Ayu Kuda Narpada.”Semua berkumpul di dalam bilik itu” desis Bramadara sambil tersenyum. Bahkan ia berharap, agar Raden Ayu tetap tidak mau mengatakan sesuatu tentang pusaka itu meskipun ua menyakitinya, agar ia mempunyai alasan untuk mempergunakan Inten Prawesti sebagai alat memeras keterangan Raden Ayu.

“Hanya orang gila yang mengorbankan anaknya untuk sesuatu betapapun tinggi nilainya”

Beberapa saat ia termangu-mangu di depan pintu bilik. Ia yakin bahwa semua orang yang ada di dalam bilik itu tentu sudah tertidur, karena kekuatan sirep Kidang Alit yang kuat.

Ia mencoba mendorong pintu, ternyata pintu itu diselarak dari dalam.

“Apaboleh buat” katanya, “Meskipun mungkin suaranya memang dapat membangunkannya. Tetapi selagi kekuatan sirep masih kuat mereka tidak akan segera sadar sepenuhnya apa yang sedang terjadi”

Bramadara membuat pertimbangan lain. Dengan pundaknya ia mendorong pintu itu. Ia tersenyum ketika ia mendengar selarak pintu itu mulai retak dan bahkan kemudian patah.

Terdengar selarak pintu berderak patah dan jatuh di lantai, untuk beberapa saat. Bramadara menunggu. Ternyata tidak ada seorangpun yang terbangun, ruangan itu masih tetap sepi, yang terdengar hanyalah tarikan nafas yang teratur.

Terdengar selarak pintu berderak patah dan jatuh di lantai, untuk beberapa saat. Bramadara menunggu. Ternyata tidak ada seorang pun yang terbangun, ruangan itu masih tetap sepi, yang terdengar hanyalah tarikan nafas yang teratur.

“Sirep itu memang sangat kuat, namun dengan demikian akan sangat sulit bagiku untuk membangunkan Raden Ayu dan Puteri Inten Prawesti” gumam Bramadara. Namun demikian, ia pun mempunyai kekuatan yang akan dapat dipergunakan untuk mengembalikan kesadaran Raden Ayu yang masih dipengaruhi sirep yang kuat itu.

Ketika pintu kemudian terbuka, Bramadara melihat Raden Ayu masih terbaring di pembaringannya. Disebelahnya terbujur puteri Inten Prawesti, sedangkan di bawah yang beralaskan tikar pandan terbaring seorang pelayan dan anaknya yang bernama Pinten.

“Aku harus membangunkannya” desis Bramadara.

Perlahan-lahan ia melangkah memasuki bilik itu. Tiba-tiba saja menjadi kagum memandang wajah puteri Inten yang sedang tidur lelap itu, jantungnya menjadi berdebar-debar pula ketika ia melihat wajah yang lain lagi, wajah yang cerah meskipun ia hanya anak seorang pelayan.

“Wajahnya bening seperti air yang memancar dari sumbernya yang jernih” berkata Bramadara, hampir di luar sadarnya ia melangkah mendekati Pinten yang tidur menelentang. Nafasnya yang teratur telah mengerakkan dadanya dengan teratur pula.

Bramadara menarik nafas dalam-dalam, tetapi ia tetap sadar akan tugasnya, sehingga karena itulah, maka, ia pun kemudian membangunkan Raden Ayu yang masih terpengaruh oleh sirep.

Bramadara kemudian memegang pergelangan perempuan itu sejenak. perlahan-lahan terasa sesuatu mengalir pada pergelangan itu, sehingga akhirnya Raden Ayu mulai bergerak.

Sebelum perempuan itu terbangun dan sadar sepenuhnya, maka Bramadara pun berbuat serupa atas Inten Prawesti. Namun ketika Bramadara menggenggam pergelangan tangan gadis itu, terasa tangannya sendiri memang agak gemetar.

Sejenak kemudian kedua perempuan itu mulai bergerak. Perlahan-lahan Bramadara mengguncang tubuh keduanya, sehingga akhirnya Raden Ayu dan Inten tersadar.

Keduanya terkejut bukan kepalang ketika keduanya melihat seorang laki-laki telah berada di bilik itu dan berdiri disisi pembaringannya.

“Siapa kau?” bertanya Raden Ayu yang serta merta meloncat bangkit.

“Maaf Raden Ayu” jawab Bramadara, “Aku adalah seseorang yang kurang trapasila dan sopan santun, tetapi aku terpaksa harus melakukannya pada saat yang gawat ini”

Raden Ayu menjadi semakin bingung dan cemas, apalagi sikap orang itu nampaknya benar-benar mencurigakan.

“Raden Ayu” berkata Bramadara, “Sebenarnya keadaan sudah tidak akan dapat teratasi lagi jika kita tidak segera mengambil sikap”

“Apa yang terjadi?” bertanya Raden Ayu.

“Diluar telah terjadi pertempuran, Raden Kuda Rupaka dan Kidang Alit sedang berusaha membunuh Panon dan Ki Mina”

“He..!!” wajah Raden Ayu dan Inten menjadi tegang, “Kenapa angger Kuda Rupaka dan Kidang Alit ingin membunuh Panon dan Ki Mina?, dan siapakah kau sebenarnya?”

“Disekitar istana ini benar-benar telah menjadi sarang orang-orang yang tidak dikenal dan tidak bertanggung jawab. Pembunuhan yang bakal terjadi itu pun sebenarnya didorong oleh nafsu untuk memiliki pusaka Pangeran Kuda Narpada yang tersimpan di istana ini”

“Siapa kau” desak Raden Ayu.

“Itu tidak penting, tetapi Raden Ayu harus segera menyelamatkan diri. Raden Kuda Rupaka dan Kidang Alit ingin membubuh Panon dan Ki Mina diluar sepengatahuan Raden Ayu, karena dengan demikian Raden Ayu tidak akan dapat menentukan sikap. Pada saatnya mereka tentu akan berbuat lebih jauh lagi atas Raden Ayu sendiri”

“Kau belum mengatakan, siapakah kau sebenarnya”

“Itu tidak perlu, sekarang marilah, aku ingin menyelamatkan Raden Ayu dan Puteri. justru saat perkelahian itu sedang berlangsung”

Raden Ayu termangu-mangu, sementara itu Inten Prawesti mendekap ibunya dengan cemas.

“Raden Ayu, marilah. Bukankah Raden Ayu mendengar suara hiruk pikuk perkelahian itu?”

Sejenak kedua puteri itu mencoba mendengarkan, dan merekapun ternyata dapat mendengar keributan di halaman belakang sehingga keduanyapun kemudian yakin, bahwa memang ada perkelahian disana.

“Nah, bukankah aku tidak berbohong?”

“Lalu apa maksudmu?”

“Kita pergi sekarang, Raden Ayu harus menyelamatkan pusaka itu, seharusnya Raden tidak terlampau percaya kepada Raden Kuda Rupaka dan Kidang Alit”

“Aku tidak mempercayainya, lebih-lebih Kidang Alit”

“Juga kepada pengemis yang lebih menjual belas kasihan itu untuk mendapat kesempatan berada di dalam istana ini”

Raden Ayu terdiam.

“Sekarang. Cepatlah puteri, tidak ada waktu lagi, sebentar lagi Panon dan Ki Mina akan terbunuh dan pertempuran berikutnya akan terjadi antara Raden Kuda Rupaka dan Kidang Alit, sementara itu, Raden Ayu harus menyelamatkan pusaka itu”

Raden Ayu termangu-mangu sejenak, sementara Inten menjadi semakin ketakutan, katanya kemudian dengan suara gemetar, “Ibunda, apakah tidak sebaiknya kita menyingkirkan diri dari kekalutan ini?”

“Kemana kita akan menyingkir, Inten?, dimanapun juga, kita akan mengalami hal yang sama”

“Tidak Raden Ayu” sahut Bramadara, “Masih ada kesempatan, aku akan berusaha melindungi Raden Ayu”

“Marilah Ibunda” ajak Inten.

“Tetapi” berkata Raden Ayu, “Aku sama sekali tidak mempunyai pusaka apapun yang harus diselamatkan”

“Ah, aku berbangga atas kesetiaan Raden Ayu terhadap pesan Pangeran Kuda Narpada. Tetapi Raden Ayu pun harus bijaksana, jusutru karena keselamatan pusaka itulah, maka Raden Ayu sekarang harus bertindak cepat, menyingkirkan pusaka itu dari istana ini. Mungkin ke tempat yang tersembunyi”

Tetapi Raden Ayu menggeleng, katanya, “Memang ingin menyelamatkan diri, tetapi aku tidak dapat membawa apapun juga, apalagi pusaka seperti yang kau katakan”

“Ah, Raden Ayu harus mempergunakan nalar dan pikiran yang sehat, bukan sekedar perasaan semata”

“Aku sudah mencoba, tetapi apa yang dapat aku lakukan jika aku benar-benar tidak mengetahui apapun juga tentang pusaka itu?”

“Ibunda?” desis Inten Prawesti.

Ibundanya membelai rambut anak gadisnya yang sedang ketakutan. Apa lagi ketika ia melihat Bramadara melangkah setapak mendekati sambil menggeram, “Raden Ayu, kesabaran seseorang ada batasnya, aku sudah mencoba menyabarkan diri. Tetapi pada dasarnya aku bukan orang yang dapat bersabar hati terus menerus. Karena itu cepatlah, lakukanlah perintahku. Apakah itu termasuk suatu kebijaksanaan atau tidak, aku tidak peduli, karena jika Raden Ayu tidak mau menunjukkan pusaka-pusaka itu, maka puteri Inten Prawesti akan menjadi korban”

“Ibunda”

“Aku tidak akan membunuhnya Raden Ayu” berkata Bramadara seterusnya, “Tetapi aku dapat melekatkan noda kepadanya untuk sepanjang hidupnya”

“Ah” desis Raden Ayu, “Kau jangan mengikut sertakan anakku dalam hal ini”

“Tentu, ia seorang gadis yang cantik, lembut dan menarik” tiba-tiba saja Bramadara tertawa berkepanjangan, memenuhi bilik itu.

Terasa tengkuk kedua orang wanita itu meremang. Terlebih-lebih lagi Inten, ia semakin memeluk erat ibundanya.

“Nah Raden Ayu, waktuku hanya sedikit. Terserah kepada Raden Ayu, apakah aku akan mendapatkan pusaka itu, atau puteri Inten Prawesti”

“Ki Sanak” berkata Raden Ayu, “Sejak semula aku sudah tidak percaya bahwa kau datang untuk menolong kami menyelamatkan pusaka yang kau sebut-sebut. Ternyata bahwa kau benar tidak ingin menyelamatkan kami, selain untuk memaksaku menunjukkan pusaka itu kepadamu. Sebenarnyalah bahwa tanpa paksaan apapun juga, aku tentu akan memberikannya kepada orang yang pertama kali datang memintanya, seandainya aku mengetahui tentang pusaka-pusaka tersebut. Aku juga tidak mau mengalami kesulitan seperti ini. Tetapi sebenarnyalah aku tidak mengetahuinya”

Wajah Bramadara menjadi tegang, lalu katanya, “Raden Ayu yang keras kepala, aku dapat menyakitimu.

Memperlakukan Raden Ayu seperti melakukan seekor kuda atau seekor lembu di depan sebuah pedati. Tetapi aku dapat memperlakukanmu dengan cara yang lain. Mungkin dengan merenggut kuntum bunga yang barangkali kau sayangi lebih dari jiwamu sendiri. Aku akan merenggutnya, mengambil madunya dan kemudian mencampakkannya seperti sampah”

“Tidak” teriak Inten.

Bramadara tertawa, katanya, “Ibundamu senang sekali melihat kau ketakutan dan menggigil. Tetapi jangan takut puteri, sudah masanya kau mengenal sentuhan seorang laki-laki”

“Tidak, tidak”

Wajah Raden Ayu menjadi tegang, jantungnya berdegup semakin keras, agaknya sesuatu sedang terjadi di dalam dirinya, pertentangan yang tidak akan dapat teratasi.

“Cepat, aku akan mengambil anak gadismu dan kemudian membunuhmu disini. Aku dapat melemparkan gadismu kedalam sarang kawan-kawanku yang garang dan buas. Kau dapat membayangkan akibatnya”

Nafas Raden Ayu menjadi pepat. Dipeluknya Inten dengan air mata yang menitik satu-satu.

“Jangan kau tangisi anakmu. Hanya ada dua pilihan. Menyerahkan pusaka itu, atau melepaskan anakmu jatuh di tanganku dan kawan-kawanku. Kau tidak dapat menahannya, sebab jika perlu aku akan membunuhmu setelah kau menyaksikan penderitaan yang dialami oleh anak gadismu”

“Tidak, tidak” suara Inten Prawesti gemetar.

Bramadara tertawa, katanya, “Aku tidak akan membunuhmu, entah kawanku setelah kau berada ditangan mereka”

Wajah Inten pucat pasi, tiba-tiba saja ditatapnya patrem kecil yang melekat pada dinding.

Sejenak Inten termangu-mangu, namun kengerian yang sangat telah melanda hatinya jika ia membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya dan patrem yang tergantung di dinding itu akan dapat membantunya mengakhiri segalanya.

Namun keragu-raguan masih membelit hatinya. Betapapun kecilnya, ia pun sebenarnya masih mengharap bahwa ibundanya akan mengatakan kepada orang itu sesuatu tentang pusaka yang mereka cari.

“Cepat” Bramadara membentak dengan garangnya, seolah-olah seperti kepada pelayannya yang malas, “Tunjukkan pusaka itu atau aku seret anakmu sekarang”

Raden Ayu Kuda Narpada menjadi tegang dan dipeluknya puterinya semakin erat.

Tetapi dalam pada itu, tiba-tiba saja Inten meronta, ketika tangan ibunya terlepas, maka ia pun segera bangkit dan berlari ke dinding. Ia sudah dapat mengambil keputusan, bahwa jalan yang paling baik baginya untuk melepaskan diri adalah kematian. Dan patrem kecil itu akan dapat dipergunakannya untuk menusuk dadanya.

Yang dilakukan oleh Inten benar-benar telah mengejutkan ibunya dan juga Bramadara. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa Inten akan melakukan hal itu. Bahkan mereka untuk beberapa saat tidak menyadari apa yang dilakukan oleh Inten. Baru ketika mereka melihat patrem itu, merekapun sadar, bahwa Inten telah bertekad untuk melakukan bunuh diri.

“Inten” Ibundanya berteriak

Bramadara dengan tangkas mencoba untuk mendahului menuju patrem itu, namun ia masih tertinggal beberapa langkah.

Meskipun demikian, Bramadara mengejar Inten juga, ia tidak akan membiarkan gadis itu membunuh diri, karena ia akan mempergunakannya untuk memeras Raden Ayu.

Namun dalam pada itu, diluar sadarnya, kaki Bramadara telah terantuk dengan kaki kaki Pinten yang sedang menggeliat, sehingga Bramadara menjadi terhuyung-huyung karenanya. Hampir saja ia jatuh terlungkup, namun ia sempat memperbaiki keseimbangannya, sehingga ia pun kemudian mampu berdiri tegak.

Tetapi pada saat itu Inten telah menggenggam hulu patrem itu sambil berkata, “Laki-laki yang tidak tahu adat, jika kau maju selangkah, aku akan membunuh diri, ibundaku tidak mengetahui pusaka yang kau cari, tetapi kau akan memakai dalih untuk melakukan perbuatan terkutuk itu atasku”

Sejanak Bramadara termangu-mangu, namun kemudian ia tertawa sambil berkata, “Puteri, alangkah buruknya mati dengan membunuh diri, ternyata puteri pun sudah disentuh oleh perasaan ragu-ragu, jika puteri ingin membunuh diri, puteri tidak akan mempertimbangkan dan menunggu sampai aku datang mangganggu puteri. sebenarnyalah mati dengan membunuh diri adalah kematian yang paling hina atas diri seseorang. Dan membunuh orang lain adalah perbuatan yang terkutuk jika tidak berlandaskan alasan yang mapan. Apalagi membunuh diri hanya karena putus asa, “

Inten menjadi semakin tegang.

Bramadara masih tertawa, sambil melangkah maju ia berkata, “Puteri, berikanlah patrem itu kepadaku, aku akan memperlaku-kan kau lain dari yang aku katakan. Sebenarnyalah bahwa aku hanya sekedar menakut-nakuti ibundamu, agar ibundamu sudi mengatakan pusaka itu. Aku terpaksa mengambil cara itu sekedar untuk membantu Demak, menyelamatkan pusaka itu, apabila jatuh ke tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab, akibatnya akan pahit sekali”.

Inten berdiri membeku, namun ketika Bramadara maju selangkah lagi, Intenpun surut selangkah, bahkan kemudian ia pun melingkari Nyi Upih dan Pinten yang masih berbaring.

“Puteri, jangan menuruti kata hati. Aku tidak berkata bersungguh-sungguh” lalu ia pun berpaling kepada Raden Ayu, “Aku mohon ampun, aku tidak mempunyai cara lain yang lebih baik untuk menyelamatkan Raden Ayu dan pusaka itu dari pada dengan menakut-nakuti meskipun aku sadar bahwa dengan demikian namaku akan cemar, mungkin aku akan disejajarkan dengan Raden Kuda Rupaka, Kidang Alit, Panon dan siapa lagi yang diselubungi nafsu. Namun aku benar-benar tidak mempunyai cara lain, jika aku sekedar harus mengorbankan namaku bagi keselamatan pusaka itu dan Raden Ayu beserta puteri, maka hal itu bukanlah pengorbanan yang berarti dibandingkan dengan nilai penyelamatannya.”

Raden Ayu termangu-mangu sejenak, dipandanginya Inten yang tegang, bahkan tangannya masih tetap berpegangan pada hulu patrem.

“Puteri, berikan patrem itu kepadaku, sebenarnya aku tidak ingin berbuat apa-apa, hanya menakut-nakuti saja, jika tanpa menakut-nakuti aku berhasil menyelamatkan pusaka itu, maka akupun tidak akan melakukannya.

Yang menjadi bingung adalah Raden Ayu, ia sadar sepenuhnya, bahwa orang itu sama sekali tidak dapat dipercayainya, jika Inten benar-benar menyerahkan patremnya, maka itu berarti bahwa Inten akan jatuh ditangan laki-laki yang licik itu. Tetapi jika ia mencegahnya, maka Inten akan salah mengerti dan menganggap bahwa ia menyetujui niat Inten untuk membunuh diri.

Dalam keragu-raguan itu terdengar suara Bramadara, “Cepatlah puteri, cobalah menyadari bahwa keadaan menjadi semakin gawat. Kita tidak boleh sekedar bermain-main dengan perasaan kita saja sekarang ini, tetapi kita harus mempergunakan nalar kita sepenuhnya”

Karena Inten masih tetap tidak menyerahkan patremnya, Bramadara pun menarik nafas sambil berkata, “Terserahlah puteri, apalagi jika memang Raden Ayu sependapat pula”

“Tidak” pekik Raden Ayu, “Aku tidak akan membiarkan anak gadisku membunuh diri, tetapi akupun tidak dapat membiarkannya jatuh ketanganmu”

Bramadara seolah-olah kehabisan kesabaran, pertempuran diluar terdengar semakin seru meskipun Bramadara hanya mengetahui dari suara desir kaki mereka. Tetapi telinganya memang cukup tajam untuk dapat menangkap dan kemudian membayangkan apa yang sedang terjadi.

Tetapi tiba-tiba saja, Bramadara mengerutkan keningnya, ia mendengar sesuatu yang agak aneh pada pertempuran itu. Rasa-rasanya menurut keadaan saat ia meninggalkan mereka, hanya ada dua lingkaran perkelahian. Panon dan Ki Mina masing-masing harus melawan dua orang sekaligus. Tetapi kini agaknya ia mendengar tiga lingkaran pertempuran yang terpisah.

“Apakah telingaku tidak mampu lagi menangkap kejadian diluar dinding istana ini?” ia bertanya kepada diri sendiri.

Namun dalam pada itu, pertempuran diluar agaknya memang sudah berkembang.

“Tidak mungkin” katanya kepada diri sendiri, “Apakah telah hadir orang-orang Guntur Geni atau orang lain yang tidak aku ketahui sama sekali”

Dalam kebimbangan itu, maka tiba-tiba saja tingkah lakunya menjadi semakin berbeda. Dengan wajah yang garang ia berkata, “Aku tidak mempunyai banyak waktu, perkelahian diluar nampaknya berkembang tanpa aku ketahui. Sekarang, cepat katakan. Dimana pusaka itu, aku tidak sempat menghiraukan tingkah laku puteri yang menjadi gila itu. Ingat, aku dapat berbuat apapun juga atas Raden Ayu yang juga seorang perempuan”

Ruangan itu benar-benar menjadi tegang, baik Raden Ayu maupun Inten menyadari sepenuhnya bahwa laki-laki itu benar-benar telah diamuk oleh kegelisahan sehingga ia benar-benar akan segera melakukan tindakan-tindakan yang kasar.

Dalam pada itu sejenak setiap perhatian tertuju kepada Raden Ayu, bahkan Inten memandang ibundanya dengan cemas.

Namun agaknya Bramadara berusaha untuk memanfaatkan keadaan itu, ia melihat sekilas betapa Inten berdiri tegang memandang ibundanya, sehingga ia menjadi lengah tentang diri sendiri.

Bramadara adalah seorang laki-laki yang memiliki ilmu yang tinggi, karena itu meskipun Inten berada disebelah Pinten dan Nyi Upih yang tidur di lantai. Ia yakin bahwa dengan satu lompatan ia akan berhasil menguasai patrem di tangan gadis itu, sekaligus menangkapnya.

Sejenak Bramadara mempersiapkan diri, meskipun nampaknya bagi mata kebanyakan orang perhatiannya tertuju kepada Raden Ayu, naun ia benar-benar sudah siap untuk meloncati dua sosok tubuh yang terbaring itu dan langsung menangkap Inten.

Suasana bilik itu menjadi kian tegang, dan dengan tiba-tiba saja Bramadara melaksanakan rencananya itu. Seolah-olah tanpa ancang-ancang sama sekali, kakinya telah melontarkan tubuhnya kearah puteri Inten Prawesti.

Tetapi terjadi pula sesuatu yang tidak disangka-sangka, tiba-tiba saja Pinten bergerak, kakinya terangkat pada lututnya sambil mengeliat.

Bramadara yang tegang, sama sekali tidak memperhitungkan hal yang terjadi itu. Itulah sebabnya, sekali lagi kakinya terantuk kaki Pinten. Sehingga ia pun benar-benar telah kehilangan keseimbangan karena dorongan kekuatannya sendiri dan ketergesa-gesaannya.

Untunglah bahwa dengan tangannya yang bertahan pada dinding yang dilanggarnya, laki-laki itu tidak jatuh terlungkup, meskipun ia tidak berhasil langsung menangkap tangan Inten yang masih mendapat kesempatan untuk berlari kepada ibundanya.

“Gila” teriak Bramadara yang menjadi marah bukan buatan. Sambil memandang kedua perempuan yang sedang berpelukan. “Tidak ada jalan lain, setiap orang di dalam bilik ini akan aku binasakan dengan caraku. Aku akan membawa kalian ke sarangku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas kalian. Yang muda-muda dan yang tua-tua”

Raden Ayu dan Inten benar telah kehilangan kesempatan selain ujung patrem itu. Tidak ada jalan lain yang lebih baik dari kematian untuk menghidarkan diri dari keganasan dan kebuasan laki-laki yang tidak mereka kenal itu.

Meksipun kedua perempuan yang sedang berpelukan itu tidak saling berjanji, namun tekad mereka sudah sama. Mereka akan membunuh diri jika laki-laki itu memaksa mereka untuk menunjukkan pusaka yang dicarinya atau menangkap mereka untuk dibawa ke sarangnya.

Namun dalam pada itu, dalam ketegangan yang memuncak, tiba-tiba saja Pinten menggeliat sambil menguap. Telapak tangannya menutup mulutnya yang terbuka, sedang matanya pun mulai berkeredip.

Tetapi tiba-tiba saja ia bangkit ketika ia melihat ada seorang laki-laki asing di bilik itu.

Bramadara mengerutkan keningnya, wajah gadis itu memang cantik meskipun dengan sifat dan watak yang berbeda dengan kecantikan Inten Prawesti.

Tetapi kemarahan, kecemasan dan juga ketergesagesaan, telah membuatnya tidak sempat berbuat sesuatu selain membentak sekali lagi, “Aku tidak punya waktu lagi. Jika kalian tetap berkeras kepala, aku tidak punya pilihan lain”

Raden Ayu dan Inten sadar, bahwa laki-laki itu benar-benar sudah kehilangan kesabaran. Karena itulah maka rasa-rasanya tangan Inten yang memegang patrem sudah siap untuk diayunkan kedadanya sendiri.

Tetapi sekali lagi perhatian mereka terampas oleh sikap Pinten yang seolah-olah tidak mengerti apa yang telah terjadi. Dengan ragu-ragu ia bertanya kepada Raden Ayu, “Ampun Raden Ayu, siapakah laki-laki itu, apakah Raden Ayu mengenalnya?”

Pertanyaan itu membuat Bramadara semakin marah, dengan suara yang gemetar ia menjawab, “Tidak patut kau bertanya lagi, tunggulah apa yang akan terjadi atas dirimu”

Bramadara sudah siap meloncat dan menerkam Raden Ayu dan Inten sambil memperhitungkan patrem di tangan gadis itu, namun tubuhnya tertahan ketika ia mendengar Pinten tertawa kecil sambil berkata, “Lucu sekali, He…! Kenapa kau memasuki bilik ini?. Nampaknya Raden Ayu dan Puteri juga tidak menengalmu. Tetapi entahlah jika biyung kalau sudah terbangun”

Bramadara tidak dapat menahan kemarahannya lagi, tiba-tiba saja tangannya terayun kewajah Pinten. Tetapi saat yang bersamaan, Pinten berjongkok sambil berkata, “Aku akan membangunkan biyung”

Benar-benar diluar dugaan, tangan Bramadara tidak menyentuh wajah gadis itu sama sekali. Bahkan seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu Pinten mengguncang Nyi Upih sambil berkata, “Biyung, bangunlah, apakah kau mengenal laki-laki ini?”

Bramadara mengayunkan tangannya ke kepala gadis itu yang sedang berjongkok. Tetapi sekali lagi tangannya tidak menyentuhnya, karena Pinten dengan cepatnya bergeser kesamping sambil berkata, “Jangan terlampau kasar Ki Sanak, sentuhan tanganmu dapat membuat kepala menjadi pusing”

Bramadara terkejut bukan kepalang, kali ini tentu bukan suatu kebetulan, karena itu, maka untuk sesaat Bramadara justru bagaikan membeku di tempatnya memandang Pinten yang kemudian bangkit berdiri.

“Ki Sanak” berkata Pinten, “Apakah yang sebenarnya kau lakukan disini?, apakah kau ingin mencuri atau ingin memaksakan sesuatu kepada Raden Ayu seperti orang-orang lain yang menjadi gila karena bayangan mereka terhadap pusaka yang mereka sangka ada disini?”

“Cukup” bentak Bramadara, “Jangan membikin aku menjadi semakin marah, aku dapat membunuhmu paling awal jika kau berkeras kepala”

Benar-benar tidak disangka bahwa, Pinten justru tertawa, katanya, “Kau tidak pantas berbuat seperti yang kau lakukan seperti sekarang ini”

“Gila, apakah kau sudah kepanjingan iblis, He..!!, perempuan dungu. Apakah kau sangka aku sedang bergurau sekarang ini?”

“Tidak, aku melihat kesungguhan pada wajahmu yang bagaikan membara”

“Apakah kau tidak sadar, bahwa dengan sekali ayunan tangan kau dapat terbunuh”

“Aku sadar, tetapi kau tidak akan mampu melakukannya”

Hati Bramadara benar-benar bagaikan menyala. Sekali lagi hampir diluar sadarnya tangannya terayun ke wajah Pinten. Tetapi sekali lagi gadis itu dapat mengelak, sehingga tangan Bramadara sama sekali tidak menyentuhnya.

Peristiwa itu benar-benar mencengkam hati Raden Ayu dan Inten, keduanya seolah-olah menghadapi suatu peristiwa yang tidak dapat mengerti. Pinten anak Nyi Upih yang nakal dan kemanja-manjaan itu, tiba-tiba saja telah melakukan sesuatu yang tidak masuk akal. Gadis itu nampaknya dengan tabah menghadapi laki-laki yang sedang marah itu.

Bahkan hampir diluar sadarnya Inten berdesis, “Pinten, berhati-hatilah”

-oo0 dw-arema 0oo-

Bersambung ke jilid 9

Sumber djvu : Koleksi Ismoyo

http://cersilindonesia.wordpress.com

Ebook : Dewi KZ

http://kangzusi.com/ atau http://ebook-dewikz.com/

http://kang-zusi.info http://dewikz.byethost22.com/

diedit ulang oleh Ki Arema

kembali | lanjut