ISTANA YANG SURAM 03

ISTANA YANG SURAM

Jilid 3

Karya: SH Mintardja

kembali | lanjut

 Istana Yang Suram-03KARENA itulah, maka pertempuran di halaman istana itu semakin lama menjadi semakin seru. Jika Panji Sura Wilaga harus bertempur mati-matian untuk mempertahankan diri dari serangan kedua orang lawannya. Maka Raden Kuda Rupaka mengerahkan segenap kemampuannya untuk segera mengalah-kan Kumbara agar ia segera dapat membantu Panji Sura Wilaga, karena Raden Kuda Rupaka pun menyadari bahwa kawannya itu akan segera mengalami kesulitan.

Sebenarnyalah memang demikian yang terjadi, melawan kedua orang lawannya itu, Panji Sura Wilaga harus mengerahkan segenap kemampuan yang dapat dilakukan. Dengan demikian maka ia harus mengerahkan segenap tenaganya seakan-akan tanpa mendapat kesempatan untuk menarik nafas panjang sama sekali.

“Gila” geram Sura Wilaga di dalam hatinya, “Ternyata orang ini benar-benar ingin memaksaku menyerahkan leherku kepada mereka”

Sementara itu, didalam istana kecil itu, Raden Ayu Kuda Narpada duduk dengan gemetar, betapa ia berusaha menenang-kan hatinya, namun terasa degup jantungnya menjadi semakin kencang. Sedang di belakangnya, Inten Prawesti duduk di dalam pelukan pemomongnya yang seolah-olah bagaikan membeku.

Sekali-kali mereka tergetar oleh dentang senjata di halaman. Kemudian teriakan-teriakan nyaring dari orang-orang yang sedang berkelahi itu.

“Apakah Kamas Kuda Rupaka akan menang Nyai?” bertanya Inten Prawesti dengan suara gemetar. Ia tidak dapat menahan ketegangan yang semakin memuncak di dadanya. Nyai Upih bergeser sedikit, dengan suara lirih ia menjawab, “Kita berdoa puteri. Yang Maha Kuasa akan memberi kekuatan kepada setiap orang yang memuji namanya”

Inten Prawesti mengerutkan keningnya, katanya, “Ya, semoga Allah Yang Maha Besar akan memberikan pertolongannya”

Inten Prawesti termangu-mangu, meskipun hatinya sedang dicengkam oleh kebingungan, namun ia masih sempat menimbang-nimbang kata pemomongnya. Tetapi ia tidak bertanya lagi kepadanya, diluar agaknya perkelahian manjadi semakin seru.

Sebenarnyalah bahwa pertempuran di halaman menjadi semakin seru, namun ternyata bahwa Panji Sura Wilaga semakin mengalami kesulitan untuk mempertahankan dirinya melawan dua orang yang memiliki kekuatan hampir seimbang, yang dapat dilakukannya kemudian adalah sekedar membela diri dengan harapan bahwa Raden Kuda Rupaka akan segera dapat mengakhiri perkelahian.

Tetapi lawan Raden Kuda Rupaka pun adalah orang yang sangat tangguh. Ia adalah orang yang paling kuat diantara tiga orang murid perguruan Guntur Geni yang ditugaskan ke padukuhan Karangmaja itu. Sehingga dengan demikian maka Raden Kuda Rupaka pun tidak segera dapat menguasainya. Apalagi Panji Sura Wilaga yang harus bertempur melawan dua orang berpasangan, dua orang yang garang dan ganas dengan senjata mereka masing-masing. Senjata yang mengerikan.

Pada setiap ayunan senjata Naga Pasa yang sepasang itu, bagaikan lambaian maut, sedang Gagak Wereng yang membawa sebuah limpung berujung rangkap, merupakan ancaman yang mendebarkan jantung, kearah manapun senjata itu bergerak, rasa-rasanya dada Panji Sura Wilaga akan tergores karenanya.

Namun ternyata bahwa semakin lama Panji Sura Wilaga menjadi semakin lemah, kekuatannya berangsur menjadi surut, sedang serangan kedua lawannya masih tetap saja membadai.

“Kau tidak akan dapat luput dari pelukan maut kali ini Panji” desis Naga Pasa.

Panji Sura Wilaga mengeram, bagaimanapun juga ia masih manjawab, “Jangan berbangga, pertempuran ini belum selesai”.

“Tetapi akhir dari pertempuran ini sudah membayang, nah apa yang akan kau katakan sebelum ajalmu sampai?”

Panji Sura Wilaga menggeram, tetapi ia tidak menjawab lagi, Ia mencoba mengerahkan kekuatan yang ada padanya untuk memperlonggar serangan-serangan kedua lawannya.

Tetapi usaha itu tidak memberikan kesempatan kepadanya, sehingga ia mengumpat di dalam hati, “Setan alas, aku tidak mengira bahwa pertumbuhan perguruan Guntur Geni menjadi demikian pesatnya, sehingga aku mendapat kesulitan melawan kedua orang ini, bahkan Raden Kuda Rupaka tidak segera dapat menyelesaikan yang seorang itu”

Ternyata Raden Kuda Rupaka dapat melihat kesulitan yang dialami oleh Panji Sura Wilaga. Karena itu, ia mencoba mengerahkan segenap kemampuannya untuk menyelesaikan lawannya. Tetapi lawannya berbuat serupa pula, mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya, sehingga dengan demikian, perkelahian itu justru menjadi semakin seru. Keduanya ternyata adalah orang-orang yang memiliki kemampuan melampaui kemampuan sesamanya, senjata keduanya berputaran saling melibat dan berbenturan. Percikan bunga api berloncatan di udara.

Melihat kemampuan antara Kuda Rupaka dan Kumbara, Panji Sura Wilaga tidak dapat lagi mengharap bantuannya. Ia harus dapat berusaha menolong dirinya sendiri, apapun caranya. Jika tidak, maka ia akan segera tergolek di tanah tanpa nyawanya lagi.

“Tetapi tidak ada jalan yang dapat aku tempuh” desis Panji Sura Wilaga didalam hatinya, namun demikian, ia masih bertempur terus, apapun yang akan terjadi.

Dalam pada itu. Panji Sura Wilaga selalu terdesak itu pun semakin lama menjadi semakin terpisah dari Kuda Rupaka, tanpa sadarnya, Panji Sura Wilaga terdesak ke dinding halaman, sehingga pada suatu saat, terasa punggungnya menyentuh dinding batu itu.

“Ha ha ha….!!” Tiba-tiba Naga Pasa tertawa, “Sekarang, kau tidak akan dapat menghindar lagi, sebentar lagi, nyawamu akan terpisah dari tubuhmu, sekali lagi, aku bertanya kepadamu, pesan apakah yang akan kau sampaikan sebelum kau mati?”

Panji Sura Wilaga mengeram, tetapi ia tidak menjawab sama sekali, ia harus berpikir bagaimana dapat melepaskan diri dari bencana yang sudah membayang di pelupuk matanya itu. Jika serangan dari kedua orang itu dating bersama-sama, maka ia tidak akan dapat berbuat banyak, karena punggungnya sudah terasa menyentuh dinding batu.

“Kenapa kau diam saja” bertanya Naga Pasa, “Ini adalah kesempatanmu yang terakhir”

Panji Sura Wilaga masih tetap membisu, tetapi ia benar-benar tidak melihat lagi jalan untuk keluar dari kesulitan itu. Namun emikian, Panji Sura Wilaga bukan seorang pengecut, ia tidak akan merengek minta belas kasihan kepada lawan-lawannya. Apapun yang akan terjadi atas dirinya, ia akan menggenggam senjatanya, mati dengan senjata ditangan baginya adalah kematian yang paling terhormat bagi seorang laki-laki.

Naga Pasa dan Gagak Wereng telah mempersiapkan dirinya untuk menyerang bersama. Serangan yang terakhir kalinya dan yang akan menentukan kematian lawannya. Sepasang senjata dan sebuah senjata berujung rangkap, telah siap terayun dan mematuk pada tubuh yang sudah melekat pada dinding batu itu.

Tetapi pada saat yang paling tegang bagi Panji Sura Wilaga itu, tiba-tiba halaman istana kecil itu telah digetarkan oleh suara tertawa yang berkepanjangan. Suara tertawa yang terlontar dari atas dinding batu tepat diatas Panji Sura Wilaga berdiri.

Semua orang berpaling kearah suara itu. Dalam kegelapan, yang nampak hanyalah sebuah bayangan hitam. Bayangan seseorang yang berdiri tegak diatas dinding batu dengan kepala tengadah dan tangan bertolak pinggang.

Dengan demikian maka perkelahian yang terjadi di halaman itu seakan-akan telah terhenti. Masing-masing dengan heran bertanya-tanya di dalam hati, siapakah orang yang berdiri diatas dinding batu itu.

Kumbara yang sedang bertempur dengan Kuda Rupaka dengan marah menggeram, “He, siapakah kau?, dan apakah maksudmu mengganggu permainan kami?”

Orang itu tidak segera menjawab, tetapi suara tertawanya masih saja menggema. Panji Sura Wilaga pun telah dicengkam oleh keragu-raguan. Ia tidak tahu pasti, siapakah orang yang berdiri diatas dinding batu itu, dan apakah maksudnya. Jika orang itu kawan kedua lawannya, maka ia akan dengan mudah sekali meloncat dan menikam tengkuknya, sementara ia berusaha menangkis dan menghindari serangan kedua lawannya.

Karena itu, maka dengan ragu-ragu ia pun bertanya, “Siapakah Kau?”

“Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga, aku bukan sanak dan kadangmu, tetapi aku tidak ingin melihat kalian mati di halaman rumah ini” Jawab orang itu.

“He…!!, siapakah kau” teriak Naga Pasa.

“Mungkin niatku untuk menyelamatkan Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga bukannya niat yang jujur pula, tetapi bagiku, lebih baik aku membantu kalian saat ini dan membinasakan ketiga iblis itu, baru kemudian, mungkin akan timbul persoalan antara kita masing-masing”

“Gila..!!” geram Kumbara, “Siapa kau he..!!”

“Mungkin aku mempunyai maksud yang sama dengan iblis-iblis ini, mungkin pula dengan Raden, tetapi itu tidak penting, yang penting ketiga iblis ini harus dibinasakan”

“Persetan..!!” geram Naga Pasa, “Turunlah, jika kau ingin dicincang pula disini”

“Tentu tidak, aku melihat perkelahian ini dari sela-sela pintu regol, aku melihat Raden Kuda Rupaka memiliki kemungkinan lebih baik dari iblis itu, sedang Panji Sura Wilaga tentu akan dapat menyelamatkan dirinya, jika ia berkelahi seorang lawan seorang, dengan demikian, maka aku akan mengambil salah seorang dari kedua lawan Panji Sura Wilaga agar Panji Sura Wilaga tidak terbunuh di halaman rumah ini”

“Gila..!!” Panji Sura Wilaga pun menggeram, “Siapa kau He..!!”

Orang itu tertawa lagi, katanya disela-sela suara tertawanya, “Maaf Raden Kuda Rupaka, mungkin aku telah menyinggung sifat kesatriamu, tetapi aku tidak dapat mengingkari kenyataan ini. Panji Sura Wilaga tidak akan mampu melawan dua orang sekaligus, bukan karena Panji Sura Wilaga ilmu kanuragannya lemah, tetapi ia sedang melawan dua orang yang dengan licik mengeroyoknya, itu tidak adil. Aku akan mencoba membuat perkelahian menjadi adil, jika Raden Kuda Rupaka atau Panji Sura Wilaga sudah berhasil membunuh lawannya, maka aku akan meninggalkan gelanggang dan menyerahkan lawanku kepada salah seorang dari kalian yang bebas dari lawan”

“Bagaimana jika kau terbunuh?” geram Raden Kuda Rupaka.

“Itu adalah nasibku, aku akan mati disini, tetapi namaku akan tetap kau kenang sepanjang umurmu”

“Siapa namamu?” tiba-tiba Kuda Rupaka bertanya.

Orang itu tertegun sejenak, namun ia pun tertawa,

katanya, “Aku tidak punya nama”

“Persetan” desis Naga Pasa, “Marilah, kau akan paling cepat mati, setidak-tidaknya, kau akan menjadi cacat”

Orang itu tertawa, jawabnya, “Maksudmu seperti Kasdu anak Karangmaja itu? Aku bukan anak Karangmaja, aku memiliki penawar racun yang bagaimanapun juga tajamnya, kau tidak percaya?”

“Jadi kau yang mengobati anak Karangmaja itu?” dengan serta merta Raden Kuda Rupaka berteriak.

“Bukan, bukan aku” jawab orang itu sambil tertawa.

“Gila..!!” geram Kumbara, “Jadi anak Karangmaja itu sudah diobati…”

“Ya…., tetapi bukan aku, meskipun aku mempunyai cula kumbang kuning bermata berlian”

“Gila… !!” hampir bersamaan orang-orang yang ada di halaman itu menggeram, “Kau datang dari kaki gunung Semeru?”.

Orang yang berdiri diatas dinding itu tertawa lagi, katanya, “Apakah hanya di kaki gunung Semeru saja yang terdapat kumbang kuning bermata berlian”

“Ya…” sahut Kumbara, “Kami tahu, bahwa yang kau maksud bukan sebenarnya kumbang. Tetapi kuning bermata berlian adalah lambang perguruan Kumbang Kuning pimpinan Ajar Sokanti”

“Ooo… kau mengenal nama Ajar Sokanti yang hidup seratus lima puluh tahun yang lalu seperti nama pemimpin perguruan Guntur Geni yang diabadikan sampai sekarang?, bukankah yang disebut Kiai Sekar Pucang sekarang ini sama sekali bukan Kiai Sekar Pucang pendiri perguruan Guntur Geni? Ternyata dari arah perkembangan perguruan Guntur Geni itu sendiri. Nah, aku ingin bertanya, apakah kira-kira Kiai Sekar Pucang akan dapat tertawa melihat kalian pada malam hari seperti ini dengan bengis menakut-nakuti seorang perempuan di istana kecil ini?. Tentu tidak, Kiai Sekar Pucang yang sebenarnya tentu akan sangat berprihatin, bahkan mungkin akan membunuh diri”

“Tutup mulutmu” teriak Kumbara, “Kau sama sekali tidak mengenal kami, kau tidak mengenal tugas kemanusiaan yang sedang kami lakukan sekarang ini”

Orang diatas dinding itu tertawa semakin keras, katanya, “Tugas kemanusiaan yang mana yang akan kau lakukan disini, sudahlah anak-anak Guntur geni, marilah kita bermain-main, jika kalian menyangka aku datang dari perguruan Kumbang Kuning di kaki gunung Semeru, nah, kita disini telah berkumpul bersama-sama Perguruan Guntur Geni, Perguruan Cengkir Pitu yang mengalir dari sumber yang sama. Kemudian perguruan yang kau sebut Kumbang Kuning, tetapi ketahuilah, bahwa sebenarnya aku tidak datang dari perguruan Kumbang Kuning yang dipimpin oleh Ajar Sokanti, meskipun aku berhubungan erat dengan perguruan itu”

“Persetan, aku tidak peduli dari mana kau datang, yang penting, kau pun harus dibinasakan sekarang ini” teriak Naga Pasa.

“Baiklah” berkata orang yang berada diatas dinding batu itu, “Aku pun sudah jemu berbicara” Ia berhenti sejenak lalu, “Panji Sura Wilaga, jangan tersinggung jika aku akan berada di sebelahmu”

Panji Sura Wilaga tidak menyahut, ia pun kemudian bergeser setapak. Tetapi geraknya itu seolah-olah telah merupakan aba-aba bagi kedua lawannya yang tiba-tiba saja telah mempersiapkan ujung senjata untuk menerkam.

Agaknya Naga Pasa dan Gagak Wereng tidak menyia-nyiakan setiap kesempatan, dengan sebuah teriakan nyaring, Naga Pasa meloncat menyerang Panji Sura Wilaga yang berdiri termangu-mangu, sementara bayangan orang yang tidak dikenal itu masih berada diatas dinding.

Panji Sura Wilaga berdesir melihat serangan itu, namun ia tidak dapat tinggal diam, dengan sigapnya ia bergeser sambil menangkis serangan Naga Pasa yang dahsyat itu. Tetapi dengan demikian ia kehilangan pengamatannya atas Gagak Wereng, jika pada saat yang bersamaan Gagak Wereng meloncat menyerang pula, ia akan kehilangan semua kesempatan untuk bertempur lebih lama lagi.

Dalam pada itu, sekilas ia melihat Gagak Wereng sudah mulai bergerak, tetapi ia tidak melihatnya apa yang dilakukan kemudian. Karena ia harus memusatkan perhatiannya kepada serangan Naga Pasa.

Barulah kemudian Panji Sura Wilaga menyadari, bahwa serangan Gagak Wereng, yang seharusnya telah mengakhiri perlawanannya itu pun telah dipotong oleh orang yang berdiri diatas dinding batu itu. Sambil meloncat ia menangkis serangan senjata yang berujung rangkap di tangan Gagak Wereng, sehingga Gagak Wereng tidak berhasil menyentuh tubuh Panji Sura Wilaga, dan bahkan kemudian meloncat surut.

“Gila…” geram Gagak Wereng, “Jadi kau benar-benar ikut mencampuri persoalan ini”

Orang itu tidak menjawab, tetapi dialah yang kemudian yang menyerang dengan sengitnya. Gagak Wereng terpaksa meloncat surut, baru kemudian ia dapat menempatkan dirinya dalam perlawanan yang mapan. Sementara itu, Naga Pasa masih bertempur dengan serunya melawan Panji Sura Wilaga, namun karena kemudian ia harus bertempur sendiri, maka keseimbangannya pun segera berubah. Panji Sura Wilaga mendapat kesempatan untuk menarik nafas. Ia tidak lagi merasa terus menerus didesak ke sudut halaman, sehingga disaat terakhir ia harus melekat dinding batu dan hampir saja kehilangan kesempatan untuk tetap hidup.

Dalam pada itu, Kumbara pun menjadi semakin marah, dengan demikian berarti tugasnya akan menjadi semakin panjang, Naga Pasa dan Gagak Wereng tidak lagi dapat bertempur bersama-sama untuk dalam waktu yang lebih singkat, membunuh Panji Sura Wilaga. Karena itu, maka ia pun kemudian memusatkan perkelahian itu pada diri sendiri, ia harus dapat membunuh lawannya dengan cepat. Sehingga ia akan dapat embantu salah seorang kawannya membunuh lawannya.

Sambil berteriak nyaring, Kumbara pun segera mengulangi perkelahiannya melawan Kuda Rupaka, namun Kuda Rupaka telah menjadi semakin tenang. Meskipun kehadiran orang yang tidak dikenal itu dapat menimbulkan persoalan-persoalan baru, tetapi persoalan itu akan dapat diselesaikannya kemudian.

“Jika perlu, setelah ketiga iblis itu mati, maka orang itu pun harus disingkirkan pula” desis Kuda Rupaka, “Jika tidak, maka ia akan menjadi pengganggu istana ini, untuk selanjutnya. Mungkin ia akan memeras atau seolah-olah ia adalah pahlawan yang menuntut imbalan”

Tiba-tiba saja Kuda Rupaka telah mengenang meskipun hanya sekilas, Inten Prawesti.

“Apakah orang itu mempunyai maksud-maksud tertentu terhadap diajeng Intan Prawesti?” tetapi ia tidak sempat bertanya-tanya lebih jauh, ia harus memusatkan diri pada perkelahian yang menjadi semakin seru itu.

Dalam pada itu, setelah bertempur beberapa saat, Gagak Wereng pun merasa, bahwa lawannya ternyata memiliki kemampuan yang lebih tinggi dari padanya, dalam waktu yang pendek ia pun segera terdesak. Senjatanya yang garang itu tidak banyak dapat menyerang apalagi menembus pertahanan senjata lawannya. Senjata yang tidak lebih dari sepotong rantai yang tidak begitu panjang.

“Gila..” desis Gagak Wereng didalam hati, “Rantai yang berputar itu seolah-olah menjadi perisai baja yang tidak dapat disusupi oleh ujung duri yang paling runcing sekalipun”

Baik Kumbara maupun Naga Pasa melihat, bahwa Gagak Wereng segera terdesak surut. Bahkan sekali-kali ternyata senjata lawannya telah hampir berhasil menyentuh tubuhnya.

“Aku tidak biasa membunuh orang” berkata orang yang telah ikut dalam pertempuran itu, “Tetapi dalam keadaan seperti ini, aku kira membunuh bukannya suatu kesalahan”

“Persetan…!!” geram Gagak Wereng yang mencoba mengerahkan segenap kemampuan yang ada pada dirinya.

“Ki Sanak” berkata orang itu, “Apa boleh buat, jika aku tidak membunuhmu, maka akibatnya tentu akan berkepanjangan. Jika kemudian ada kawanmu yang dapat lolos dalam keadaan hidup, biarlah ia mengatakan bahwa salah seorang kawannya telah mati terbunuh di Karangmaja oleh orang yang memiliki ciri perguruan Kumbang Kuning. Tetapi aku bukan murid perguruan Sokanti itu”

Gagak Wereng tidak menjawab, serangannya bertambah dahsyat. Tetapi perlawanan orang yang tidak dikenal itu pun menjadi semakin sengit. Bahkan rasa-rasanya, bagaikan banjir yang sudah mulai menggoyahkan tanggul. Dan kemudian ternyata, kemampuan orang itu tidak terlawan lagi oleh Gagak Wereng, ujung rantainya rasa-rasanya semakin lama semakin dekat dengan tubuhnya, bahkan pada suatu saat, terasa ujung rantai itu bagaikan lalat yang mulai hinggap di tubuhnya.

“Gila” geram Gagak Wereng, “Orang ini benar-benar memiliki kemampuan perguruan Kumbang Kuning”

Namun Gagak Wereng tidak sempat memujinya lebih banyak lagi, karena terasa ujung rantai itu menyengatnya lagi, maka bukanlah sekedar suatu sentuhan saja, kulitnya mulai terasa pedih karena tergores luka yang mulai menganga.

Terdengar orang itu tertawa, “Kau tidak akan mampu berbuat banyak. Sebaiknya kau menghentikan perlawananmu. Aku tidak akan membunuhmu”

“Persetan..!!” geram Gagak Wereng, kemarahannya bagai akan membakar jantungnya, namun sejalan dengan itu, ia pun merasa bahwa umurnya sudah berada di ujung rambutnya.

Sementara itu, pertempuran antara kedua kawannya menjadi semakin sengit. Agaknya semakin lama menjadi nyata, bahwa murid perguruan Cengkir Pitu masih memiliki kelebihan dari anak Guntur Geni, ternyata bahwa Panji Sura Wilaga dan Raden Kuda Rupaka sudah berhasil menguasai lawannya sebaik-baiknya. Naga Pasa yang garang itu pun sudah hampir kehilangan akal melawan Panji Sura Wilaga yang cepat dan cekatan. Apalagi setelah ia kehilangan seorang lawannya yang kemudian bertempur dengan orang yang tidak dikenalnya.

Yang paling mengalami kesulitan sebenarnya adalah Gagak Wereng, ia sadar lawannya mempunyai banyak kelebihan dari padanya. Tetapi ia sendiri merasa heran, bahwa ia tidak segera kehilangan nyawanya. Namun tubuhnya semakin lama semakin lemah. Bahkan kemudian ia sama sekali tidak mampu lagi untuk melakukan perlawanan apapun juga. Darahnya semakin banyak mengalir dari luka-lukanya dan nafasnya serasa telah menyumbat kerongkongan.

Meskipun demikian, ia merasa bahwa ia masih tetap hidup. Orang yang tidak dikenalnya itu justru tidak lagi memusatkan serangannya pada bagian tubuhnya yang berbahaya. Bahkan ketika ia sudah tidak mampu berbuat sesuatu, maka lawannya berhenti pula sambil menggeram, “Apakah kau menyerah”

“Gila..!!, aku tidak akan menyerah kepada siapapun juga” sahut Gagak Wereng. Yang terdengar adalah suara tertawa orang yang tidak dikenal itu mendekati lawannya sambil berkata, “Mengangkat senjatamu yang mengerikan itu pun kau sudah tidak mampu lagi, bagaimana kau akan melawanku”

Gagak Wereng menggeretakkan giginya, ia masih menghentakkan kekuatannya untuk mengangkat senjatanya. Namun ketika ia mengayunkannya dan tidak mengenai sasarannya, justru ia terdorong selangkah maju dan jatuh telungkup.

“Beristirahatlah, aku merasa bahwa tugasku sudah selesai. Kau akan tetap hidup dan akan ditangkap oleh kedua bangsawan itu. Mungkin kau akan dibawa ke Demak atau ke tempat lain atau keputusan apapun yang akan mereka ambil”

Gagak Wereng masih akan menjawab, namun tiba-tiba saja lawannya telah meloncat mundur. Beberapa saat ia mengamati pertempuran itu, kemudian dengan lincahnya ia meloncat naik keatas dinding batu itu sambil berkata, “Aku minta diri. He..!! Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga. Silahkan menyelesaikan tugas kalian, aku sudah mencoba membantu kalian”

“Kau akan kemana?”. bertanya Raden Kuda Rupaka.

“Aku akan kembali ke sarangku, aku adalah hantu malam yang berkeliaran didalam gelap. Jika ayam mulai berkokok, aku harus sudah berada kembali ke sarangku yang tersembunyi, diatas pepohonan yang rimbun”

“Gila…” geram Kumbara yang tidak memburu Kuda Rupaka, “Kau licik, jika kau jantan, tunggulah setelah aku membunuh bangsawan kerdil ini”

Tetapi orang yang berdiri diatas dinding itu tertawa, “Jangan berharap kau dapat memenangkan pertempuran itu. Semuanya sudah nampak padaku, bahwa kau hanya akan dapat menyebut nama orang tuamu sebelum ajalmu sampai. Kecuali jika Raden berhati putih, dan memberi kesempatan hidup kepadamu, meskipun kau harus diserahkan kepada para prajurit”

“Tidak ada bedanya” geram Kuda Rupaka, “Ditangan prajurit ia akan dibunuh”

“Itu bukan persoalanku. Sekarang aku akan pergi. Hantu-hantu sudah memiliki jalan pintu gerbang. Aku lebih senang meloncati pagar. Dan selamat menyabung nyawa”

Bayangan itu tidak menunggu lagi, ia pun segera meloncat dan hilang dibalik dinding batu. Kumbara menggeretakkan giginya, namun ketika ia sadar akan keadaannya, maka tiba-tiba ia pun segera meloncat menyerang dengan garangnya. Tetapi Raden Kuda Rupaka telah siap menghadapinya, ia pun segera bergeser dan bahkan serangannya pun kemudian menyapu lawannya seperti angin prahara menyapu pepohonan perdu dipadang yang luas.

Naga Pasa pun mengalami tekanan yang dahsyat sekali. Panji Sura Wilaga ternyata memiliki tenaga raksasa yang tidak terlawan olehnya, sehingga dengan demikian, Naga Pasa mencoba melawan dengan kecepatannya bergerak. Tetapi rasa-rasanya darimanapun ia menyerang, Panji Sura Wilaga yang tidak banyak bergerak itu sudah siap menghadapinya.

Dalam pada itu, Gagak Wereng yang terluka masih sempat memperhatikan pertempuran disekitarnya, meskipun dalam keremangan malam, namun ia dapat melihat, bahwa kedua kawannya agaknya telah terdesak oleh anak-anak perguruan Cengkir Pitu, sedangkan ia sendiri sudah tidak mampu sama sekali untuk ikut dalam pertempuran itu.

Meskipun demikian Gagak Wereng tidak menyerah, dalam ketegangan yang memuncak, ia masih dapat mengerahkan segenap tenaganya yang tersisa untuk merangkak menepi. Bahkan kemudian ia berhasil bergeser sampai ke pintu gerbang.

“Aku akan melarikan diri, jika aku dapat hidup, maka aku akan dapat melaporkan apa yang telah terjadi disini kepada perguruanku” katanya kepada diri sendiri.

Agaknya Panji Sura Wilaga dan Raden Kuda Rupaka tidak sempat berbuat sesuatu atas Gagak Wereng, keduanya terikat dalam satu perkelahian yang akan menentukan hidup dan mati. Karena itulah, akhirnya dengan susah payah, Gagak Wereng ternyata masih sempat mencapai kudanya yang masih tetap terikat ditempatnya.

Sejenak kemudian terdengar derap kaki kuda itu. Seorang yang terluka duduk diatas punggungnya, namun kemudian oleh perasaan sakit dan letih, Gagak Wereng telah menelungkup sambil memeluk leher kudanya. Hanya sekali-kali ia mencoba melihat arah dan kemudian ia meletakkan tubuhnya kembali dengan lemahnya.

Derap kaki kuda itu ternyata telah mengejutkan mereka yang sedang bertempur di halaman. Terlebih-lebih adalah Raden Kuda Rupaka, tetapi ia tidak dapat berbuat apapun, ketika tatapan matanya tidak lagi dapat menemukan Gagak Wereng, maka ia pun segera melompat sambil bertempur, “Licik…!!!, inilah ciri dari perguruan Guntur Geni yang terkenal itu..??”

Kumbara tidak segera menjawab, mula-mula ia merasa tersinggung atas sikap Gagak Wereng yang sama sekali tidak menunjukkan kesetia-kawanan, tetapi akhirnya ia memahami keadaan, Gagak Wereng tentu sudah terluka parah dan tidak dapat berbuat apapun juga. Karena itu, usahanya untuk menyelamatkan diri adalah usaha yang akan dapat berguna. Meskipun tidak berguna bagi Kumbara sendiri dan Naga Pasa, tetapi tentu akan berguna sekali bagi perguruannya. Saudara-saudara perguruannya akan mengetahui, bahwa Kumbara dan Naga Pasa telah terlibat dalam satu pertempuran yang tidak teratasi di istana kecil yang terpencil diluar padukuhan Karangmaja.

Dengan demikian akhirnya perasaan Kumbara menjadi semakin mapan. Ia melihat akibat yang dapat terjadi atasnya dengan dada tengadah. Sejak ia berangkat, ia pun sudah mempersiapkan dirinya menghadapi segala kesulitan. Dan salah satu kemungkinan adalah kesulitan yang tidak teratasi, meskipun semula ia menganggap bahwa tugas pokoknya kali ini adalah tugas yang tidak berbahaya karena itu tidak berpenghuni selain tiga orang perempuan, namun akibat-akibat yang dapat timbul telah dipertimbangkan pula. Diantaranya adalah akibat seperti yang sedang dihadapinya itu.

Demikianlah maka pertempuran itu pun semakin lama menjadi semakin nyata. Serangan demi serangan yang dilancarkan oleh kedua murid dari perguruan Cengkir Pitu itu pun telah menggiring pertempuran itu untuk segera mencapai akhirnya. Kumbara dan Naga Pasa tidak dapat ingkar lagi, kali ini tugas perguruannya harus ditunaikan dengan mempertaruhkan nyawanya.

Namun agaknya keduanya benar-benar telah ditempa dalam perguruannya. Mereka sama sekali tidak mengeluh, jika memang harus mati dalam pelukan kewajiban, maka mati itu pun bukan apa-apa bagi Kumbara dan Naga Pasa.

Sebenarnyalah bahwa akhirnya Kumbara tidak dapat bertahan lagi. Lawannya adalah seorang anak muda yang umurnya jauh dibawah umurnya sendiri. Tetapi ternyata anak muda dari perguruan Cengkir Pitu itu memiliki kemampuan yang tidak terlawan, dan yang bahkan telah menyeretnya kedalam maut.

Segores demi segores luka, telah menyengat tubuh Kumbara. Demikian juga agaknya Naga Pasa, betapapun ia bertempur dengan gigihnya, tetapi akhirnya, sebuah tusukan langsung menghunjam ke jantungnya, telah melemparkannya dan membantingnya ke tanah. Untuk seterusnya Naga Pasa pun tidak akan pernah bangkit lagi.

Kumbara yang sudah terluka parah masih sempat melihat betapapun buramnya, kawannya terlempar dan terbanting untuk tidak bangkit lagi. Ia tidak sempat berbuat apa-apa karena matanya pun manjadi berkunang-kunang. Darahnya sudah terlampau banyak mengalir, sehingga akhirnya ia harus mengakhiri pertempuran itu dengan menyerahkan nyawanya.

Raden Kuda Rupaka menarik nafas dalam-dalam, sekali-kali ia mengusap tangannya yang ternyata juga terluka. Tetapi seperti yang dikatakannya, ia memang mempunyai obat penawar racun, selain batu akik yang dianggapnya dapat berpengaruh pula atas racun yang mengenai tubuhnya.

Sambil tersenyum Raden Kuda Rupaka berjalan mendekati Panji Sura Wilaga yang berdiri bersandar dinding batu, nafasnya terengah-engah dan tubuhnya serasa telah kehilangan tenaga.

“Kau kenapa paman..??” bertanya Raden Kuda Rupaka

“Aku hampir kehabisan nafas Raden, orang ini benar-benar memiliki kemampuan jauh diatas dugaan kita semula”

“Ya…, Aku juga tidak mengira, bahwa orang itu mampu melukai tanganku, untunglah aku benar-benar telah menyiapkan obat penawar racun itu. Aku yakin, senjata orang Guntur Geni tentu mengandung racun”

“Jika Raden hanya terluka di tangan, maka aku terluka di beberapa tempat meskipun tidak dalam, senjatanya yang sepasang itu benar-benar mampu bergerak cepat sekali”

Raden Kuda Rupaka mengangguk-angguk, namun ternyata bahwa ia pun masih harus mengatur pernafasannya.

“Marilah kita singkirkan mayat-mayat ini, kita akan menghadap bibi dan melaporkan apa yang terjadi. Besok kita minta bantuan orang-orang Karangmaja untuk menguburkan mayat-mayat ini”

“Tetapi hal ini tentu akan sangat mengejutkannya” berkata Panji Sura Wilaga.

“Apaboleh buat, bukankah kita harus mengatakannya juga?”

“Panji Sura Wilaga menarik nafas dalam-dalam. Lalu, katanya, “Tetapi sebaliknya kita memang harus segera saja menghadap. Agar hati Raden Ayu segera menjadi tenang”

Keduanya kemudian membenahi pakaiannya, mereka mengelap darah yang menetes dari luka mereka. Setelah mereka menyingkirkan kedua mayat itu, maka mereka pun segera naik ke pendapa dan dengan perlahan-lahan mendorong pintu.

“Oh…” Inten Prawesti hampir menjerit. Ia menjadi sangat cemas, bahwa yang akan masuk ke rumahnya adalah orang-orang yang mendatangi istananya itu.

Tetapi ternyata kemudian terdengar suara Raden Kuda Rupaka, “Aku bibi”

“Anakmas Kuda Rupaka?” bibinya hampir terpekik.

“Ya, bibi”

Raden Ayu Kuda Narpada tiba-tiba saja meloncat berdiri diikuti oleh Inten Prawesti. Demikian Raden Kuda Rupaka muncul dari balik pintu, maka bibinya pun segera berlari ke arahnya. Tetapi langkahnya terhenti ketika ia melihat darah yang menodai pakaian Raden Kuda Rupaka itu.

“Darah bibi” desis Raden Kuda Rupaka yang seolah-olah mengerti apa yang tersirat di hati bibinya.

“Kau terluka?”

“Sedikit, tetapi tidak berbahaya”

“Dimana pamanmu Panji Sura Wilaga?”

Raden Kuda Rupaka berpaling, kemudian masuklah Panji Sura Wilaga yang terengah-engah.

“Oh, Kau juga terluka?”

“Sedikit Raden Ayu, tidak parah”

“Tetapi bagaimanakah dengan jika luka ini akan menjadi semakin besar kelak?”

Raden Kuda Rupaka tersenyum, katanya, “Aku sudah membawa bekal obat yang dapat dipercaya, sudahlah bibi, aku akan membersihkan diriku dan mengobati lukaku dan luka paman Panji Sura Wilaga”

Raden Ayu Kuda Narpada, memandang keduanya dengan tatapan mata yang penuh perasaan terima kasih. Sementara Inten Prawesti yang berdiri di belakang ibundanya pun bertanya, “Bukankah kau tidak apa-apa kamas?”

“Tidak, tidak diajeng, jangan khawatirkan aku, aku tidak apa-apa”

“Tetapi apakah kamas memerlukan apa-apa untuk membersihkan luka itu?, air panas misalnya?”

Raden Kuda Rupaka termenung sejenak, sementara itu Nyi Upih telah berdiri dan berkata, “Biarlah aku merebus air. He… anak-anakku harus aku beritahu dulu bahwa pertempuran sudah selesai”

“Dimana anak-anakmu?” bertanya Raden Kuda Rupaka.

“Sangkan sembunyi di kolong pembaringan adiknya. Pinten menjadi kaku di pembaringan itu” Nyi Upih berhenti sejenak, lalu, “Tetapi bagaimana dengan orang-orang itu?”

Raden Kuda Rupaka menjadi ragu-ragu, namun kemudian ia berkata, “Keduanya terpaksa kami bunuh”

“Oh..!!” Raden Ayu Kuda Narpada dan Inten Prawesti hampir bersamaan berdesah.

“Beberapa orang kah yang telah datang ke istana ini Raden?” bertanya Nyi Upih pula.

“Tiga, hanya tiga orang, tetapi yang seorang berhasil meloloskan diri”

Nyi Upih menjadi tegang, katanya, “Kenapa tidak semuanya saja dibunuh Raden, yang seorang itu tentu akan sangat berbahaya bagi kita”

Raden Kuda Rupaka tersenyum, katanya, “Memang ada beberapa kemungkinan yang dapat terjadi Nyai. Mungkin ia akan datang lagi dengan beberapa orang kawan. Mungkin ia justru menjadi jera, tetapi mungkin juga perguruannya akan langsung berurusan dengan perguruan Cengkir Pitu”

“Oo…” Nyi Upih mengangguk-angguk, dan seperti bukan atas kehendaknya ia berkata, “Tentu perguruan orang-orang jahat itu tidak akan berani berurusan dengan perguruan Raden, mudah-mudahan dengan demikian mereka akan benar-benar menjadi jera”

“Sudahlah” berkata Raden Kuda Rupaka, “Setidak-tidaknya malam ini seluruh isi istana dapat tidur nyenyak, tidak akan ada lagi yang berani mengganggunya, mayat itu sudah aku singkirkan. Biarlah besok aku minta bantuan orang-orang Karangmaja untuk menguburnya”

Raden Ayu Kuda Narpada mengangguk-angguk

“Silahkan bibi beristirahat”

Raden Ayu Kuda Narpada pun kemudian mengajak Inten Prawesti masuk kedalam biliknya, setelah mereka berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada Raden Kuda Rupaka.

Ketika Raden Ayu Kuda Narpada telah hilang dibalik pintu biliknya maka Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga yang masih sangat letih itu pun pergi kebelakang diikuti oleh Nyi Upih, mereka akan membersihkan diri dari luka-luka mereka.

“Aku akan merebus air, Raden” berkata Nyi Upih

“Terima kasih Nyai” sahut Raden Kuda Rupaka, “Dimanakah anak-anakmu Nyai”

“”Mereka didalam biliknya Raden”

Raden Kuda Rupaka sempat menjengukkan kepalanya ke dalam bilik Pinten, dilihatnya Pinten tidur menelungkup sambil menyembunyikan wajahnya diantara kedua tangannya, sementara di kolong pembaringan, nampak kaki Sangkan yang ketakutan dan bersembunyi.

Raden Kuda Rupaka tersenyum, perlahan-lahan ia mendekati kedua anak itu, sambil berjingkat. Kemudian tiba-tiba saja ia menepuk kaki Sangkan sambil membentak, “Ayo tertangkap kau..!!”

Sangkan terkejut bukan buatan, sehingga ia pun terlonjak, karena ia berada ia berada di kolong pembaringan adiknya, maka amben itu pun tersentak pula oleh hentakan tubuh Sangkan. Pinten yang ada dipembaringan itu tidak kalah terkejutnya. Ia pun kemudian meloncat dan berlari ke sudut ruangan, sedemikian kecil hatinya, sehingga meskipun mulutnya terbuka tetapi suaranya sama sekali tidak terdengar.

Sangkan yang gemetar akhirnya berhasil keluar dari kolong pembaringan, dengan wajah yang pucat dan mata yang terbelalak ia memandang kepada Raden Kuda Rupaka. Terdengar suara tertawa Raden Kuda Rupaka.

Panji Sura Wilaga yang menyaksikannya dari pintu bilik itu pun tertawa pula.

“Raden…., oh, jadi Raden Kuda Rupaka” Suara Sangkan terputus-putus.

“Kau memang pengecut” Raden Kuda Rupaka masih saja tertawa, “Belum lagi kau disentuh oleh tangan penjahat itu, kau sudah mati membeku di sini”

“Tetapi, tetapi……” Ia tidak dapat melanjutkan kata-katanya.

Sementara itu Nyi Upih telah berada di belakang Panji Sura Wilaga, katanya, “Jika Raden menakuti-nakuti anak-anakku, aku tidak mau merebus air”

Raden Kuda Rupaka tertawa berkepanjangan, meskipun ia mencoba menahannya agar tidak mengejutkan bibinya di dalam.

“Anakmu memang keterlaluan Nyai, aku mengerti bahwa Pinten menjadi ketakutan, tetapi Sangkan tidak boleh menjadi pengecut begitu”

“Jika aku dapat berkelahi seperti prajurit, aku tidak akan ketakutan” sahut Sangkan.

“Kalau begitu, kau harus belajar, Kau sanggup?”

“Siapakah yang akan mengajari?”

“Biarlah paman Panji, jika kelak aku dan paman Panji pergi, kau dapat menjaga diri, atau kau dapat menjaga bibi, atau setidak-tidaknya menjaga biyungmu”

“Aku tidak perlu dijaga lagi Raden, jika ada orang yang mau mengambil aku, biarlah, aku memang menunggu orang yang mau berbuat demikian”

“O…, kau ini” desis Raden Kuda Rupaka, “Agaknya kau dan anak-anakmu memang mempunyai sifat yang turun temurun, bodoh dan agak malas”

“Aku tidak mau merebus air”

“Baiklah, baiklah Nyai, aku tidak akan mengganggu anak-anakmu lagi” namun kemudian ia berpaling, “Sangkan, jika kau mau, paman kan benar-benar memberimu serba sedikit tuntunan oleh kanuragan, kau mau?”

“Tentu Raden, aku akan senang hati sekali”

Raden Kuda Rupaka mengangguk-angguk. Katanya, “Nah, dengan demikian kau akan benar-benar menjadi seorang laki-laki, sampai sekarang kau sama sekali tidak ada harganya, jika kau memiliki sedikit pengetahuan dan ilmu oleh kanuragan, maka kau akan mulai merasakan tanggung jawab bahwa kau adalah seorang laki-laki”

“Terima kasih Raden” jawab Sangkan, “Tetapi, tetapi berapa tahun aku harus belajar?”

“Aku hanya akan tinggal disini beberapa hari lagi, jika tidak ada ketiga penjahat itu, sebenarnya aku sudah akan mohon diri, tetapi karena itulah maka aku harus tinggal disini beberapa lama lagi”

Sangkan mengangguk-angguk, tetapi nampaknya wajahnya membayang keragu-raguan hatinya.

“Kenapa kau nampak ragu-ragu?” bertanya Raden Kuda Rupaka.

“Dahulu, aku pernah mendengar seorang prajurit Majapahit mengatakan bahwa, mempelajari ilmu kanuragan diperlukan waktu bertahun-tahun”

“Tidak hanya bertahun-tahun, tetapi tidak akan berkeputusan, maksudku tidak akan ada henti-hentinya sampai akhir hayat. Karena ilmu adalah semisal lautan yang tidak akan pernah kering, meskipun setiap hari disengat oleh panasnya matahari”

“Lalu, apakah artinya ilmu yang akan aku pelajari dalam beberapa hari saja?”

“He.. otakmu cerdas juga, tetapi kau harus ingat, lebih baik yang sedikit dari pada tidak sama sekali”

“Baik Raden, terima kasih”

“Tidur sajalah, aku akan membersihkan luka-lukaku”

Raden Kuda Rupaka pun kemudian meninggalkan bilik itu setelah untuk beberapa saat ia berdiri di muka Pinten yang bagaikan membeku, sambil menepuk bahu gadis yang ketakutan itu ia berkata, “Minumlah, agar kau menjadi tenang”

Pinten menarik nafas dalam-dalam, ketika Raden Kuda Rupaka sudah melintasi pintu, gadis itu tertatih-tatih berdiri.

“Aku hampir pingsan” desisnya

“Tidur sajalah, tidak akan ada apa-apa lagi malam ini”

“Uh, macam kau”

“Minumlah, agar hatimu menjadi tenang”

“”Lagakmu, tidur sajalah di kolong amben itu lagi”

Sangkan tersenyum. Dilihatnya adiknya pergi keluar bilik untuk mengambil minum di dapur, agaknya ia benar-benar ingin minum agar hatinya menjadi tenang.

Sementara itu, selagi Raden Kuda Rupaka sibuk membersihkan lukanya, seseorang berjalan dengan tergesa-gesa ke istana kecil yang terpencil itu, jauh diluar padukuhan ia melihat seekor kuda yang berlari didalam kegelapan dan hilang dikejauhan. Sesaat orang itu termangu-mangu, namun ia pun kemudian ia meloncat keatas dinding didalam kegelapan bayangan dedaunan.

Beberapa saat lamanya, orang itu memperhatikan keadaan di sekitarnya, halaman itu telah sepi, tidak seorang pun yang berada di halaman itu. Dengan telinganya yang tajam ia mencoba untuk memperhatikan, dengan setiap desir yang didengarnya, namun akhirnya ia yakin bahwa tidak ada suara nafas seseorang. Dengan hati-hati sosok tubuh itu pun meloncat turun, dengan seksama ia memperhatikan bekas-bekas pertempuran di halaman itu. Sambil menarik nafas ia berkata, “Pertempuran yang dahsyat”

Akhirnya ia menemukan dua sosok tubuh yang terbaring diam. Dua sosok tubuh yang telah menjadi mayat. Perlahan-lahan ia mendekatinya, ketika ia menyentuh mayat itu, terasa betapa dinginnya. Sejenak ia berada ditempatnya sambil memandangi istana yang nampak semakin suram itu, tetapi istana itu pun sepi, namun telinganya yang tajam, masih menangkap suara seseorang di bagian belakang. Suara percakapan Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga dengan Sangkan dan Nyi Upih.

Namun percakapan itu pun tidak berlangsung lama, sejenak kemudian istana itu telah benar-benar menjadi sepi. Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga pun segera masuk kedalam biliknya pula. Apalagi terasa badan mereka yang letih oleh perkelahian yang dahsyat di halaman, sehingga dengan demikian mereka pun segera tertidur nyenyak. Namun demikian mereka sama sekali tidak lengah, di pembaringan mereka, tergolek senjata-senjata mereka.

Betapapun nyenyaknya mereka tidur, tetapi ketika matahari siap untuk menjenguk di pagi harinya dari balik perbukitan, keduanya telah terbangun. Mereka pun kemudian membenahi diri masing-masing. Dengan tergesa-gesa mereka pun kemudian keluar dari bilik mereka dan menghadap Raden Ayu Kuda Narpada yang juga sudah bangun dan duduk dengan wajah tegang di ruang dalam.

“Maaf bibi” berkata Raden Kuda Rupaka, “Aku tidur terlampau nyenyak, sehingga aku agak terlambat bangun”

“Hari masih sangat pagi anakmas”

“Bibi, kami berdua akan menemui Ki Buyut dan melaporkan apa yang telah terjadi. Kami akan minta bantuan, tiga atau empat orang untuk mengubur dua sosok mayat yang masih ada di halaman, meskipun sudah aku singkirkan”

“Silahkan anakmas” Jawab Raden Ayu Kuda Narpada, namun kemudian, “Atau untuk itu, apakah tidak lebih baik Sangkan sajalah yang pergi ke padukuhan?”

“Biarlah kami berdua saja bibi, kami akan dapat menjelaskan apakah yang sebenarnya sudah terjadi”

Raden Ayu Kuda Narpada mengangguk-angguk, lalu “Jika demikian terserahlah kepada anakmas berdua”

Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga pun kemudian mempersiapkan dirinya setelah mandi di pakiwan. Tetapi ketika mereka siap untuk berangkat, rasa-rasanya ada sesuatu yang membuat mereka ragu-ragu. Karena itu, maka Raden Kuda Rupaka berkata, “Aku akan menengok kedua sosok mayat itu dahulu paman”

Panji Sura Wilaga tidak mencegahnya, bahkan ia pun kemudian berjalan di belakang Raden Kuda Rupaka. Betapa terkejutnya kedua orang itu, ketika ternyata bahwa kedua mayat itu sudah tidak ada di tempatnya, keduanya bagaikan lenyap saja tanpa meninggalkan bekas.

“Gila” geram Raden Kuda Rupaka, “Siapakah yang bermain-main lagi dengan Kuda Rupaka” Ia berhenti sejenak, lalu, “Paman apakah kau melihat sesuatu?”

Panji Sura Wilaga kemudian melangkah ke tepi dinding batu. Ia melihat beberapa gores warna merah, ternyata warna-warna merah dalam goresan itu adalah susunan huruf-huruf.

“Raden” katanya, “Cobalah baca tulisan pada dinding batu ini”

Dengan dada yang berdebar-debar keduanya pun mendekat, dengan suara yang berat Raden Kuda Rupaka berkata, “Darah”

Tetapi Panji Sura Wilaga menggeleng, “Bukan Raden, tetapi soga”

Keduanya pun kemudian membaca tulisan yang tidak begitu jelas tergores di dinding itu.

= SUNGGUH MENGAGUMKAN, TETAPI TUGAS KALIAN

BELUM SELESAI =

“Gila” Raden Kuda Rupaka menjadi marah. Dihentakkannya kakinya sambil mengepalkan tangannya, “Siapakah yang akan mencoba kemampuan Raden Kuda Rupaka lagi?”

Sejenak mereka teringat orang yang semalam telah membantunya, tentu orang itu tidak hanya sekedar membantunya tanpa pamrih, tentu ada perhitungan tertentu yang memaksanya untuk berniat demikian.

“Apakah benar ia dari perguruan Kumbang Kuning” bertanya Raden Kuda Rupaka

“Aku tidak dapat memastikannya, tetapi ia adalah seseorang yang memiliki kemampuan yang tinggi, ternyata bahwa salah seorang dari ketiga murid Guntur Geni ini dengan cepat dapat dikuasainya”

Raden Kuda Rupaka menarik nafas dalam-dalam, dilontarkannya tatapan matanya ke sekelilingnya, seolah-olah ia sedang mencari sesuatu, bahkan kemudian ia pun melangkah perlahan-lahan menyusuri dinding batu itu.

Namun tiba-tiba saja langkahnya terhenti, ia tertegun ketika ia melihat sesuatu dibalik semak-semak.

“Gila” desis Raden Kuda Rupaka, “Paman…, mayat itu disembunyikan disini, kedua-duanya”

“Hem, agaknya ini sekedar sebuah tantangan Raden”

Raden Kuda Rupaka menggeretakkan giginya, dipandangnya keadaan di sekeliling halaman itu, tetapi halaman itu sepi, dibelakang terdengar suara sapu lidi, sedang di perigi terdengar derit senggot timba.

“Tentu anak muda yang telah mengobati anak Karangmaja yang terluka itu paman”

“Ya, yang duduk di pinggir jalan saat Raden berjalan-jalan dengan puteri Inten”

“Ya, namanya Kidang Alit”

“Apakah benar ia dari perguruan Kumbang Kuning?, jika benar, maka adalah tidak mustahil bahwa ia dapat menyembuhkan anak yang dilukai oleh orang-orang terbunuh itu”

“Jika benar ia datang dari perguruan Kumbang Kuning, kita memang harus berhati-hati, mungkin ia tidak seorang diri di padukuhan ini”

“Aku kira ia mempunyai kawan, mungkin kawannya masih tersembunyi”

“Dan mungkin lebih dari seorang, tetapi sekelompok”

Kedua-duanya mengangguk-angguk, seolah-olah keduanya bersepakat bahwa Kidang Alit dating ke padukuhan Karangmaja tidak hanya seorang diri, tetapi dalam sekelompok kecil.

“Sudahlah paman, kita akan memikirkannya kemudian, sekarang kita pergi ke rumah Ki Buyut di Karangmaja”

Keduanya pun kemudian meninggalkan kedua mayat yang masih tersembunyi dibalik gerumbul. Mereka kemudian menganggap bahwa justru tempat itu agaknya lebih baik agar tidak menakut-nakuti penghuni istana kecil itu. Dalam pada itu Nyi Upih dan anak-anaknya yang sudah mengetahui bahwa di halaman depan ada dua sosok mayat, sama sekali tidak berani membersihkannya. Mereka menunggu saja sampai ada orang yang mengambil untuk menguburkan mayat-mayat itu.

“Apakah kau juga takut Sangkan?” bertanya Inten Prawesti.

“Ampun puteri, lebih baik aku menyapu jalan-jalan di seluruh padukuhan dari pada harus membersihkan halaman depan pagi ini. Nanti jika orang-orang Karangmaja sudah datang, aku akan menyapunya sampai bersih, tanpa bekas telapak kaki satu pun yang tersisa”

“Telapak kakimu sendiri?”

“Tentu tidak puteri, aku menyapu melangkah mundur, sehingga telapak kakiku sendiri akan terhapus oleh goresan lidi”

“Inten mengerutkan keningnya, namun kemudian ia pun tersenyum, “Kau memang pintar”

Sementara itu, Pangeran Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga telah berada di regol rumah Ki Buyut Karangmaja, perlahan-lahan Pangeran kuda Rupaka mereka melangkah maju memasuki halaman yang luas itu. Namun wajah Pangeran Kuda Rupaka tiba-tiba menjadi tegang, dilihatnya Kidang Alit telah berada di halaman itu dan dengan acuh tak acuh melihat kehadiran kedua bangsawan itu sambil duduk saja di tangga.

“Setan itu ada disini” desis Pangeran Kuda Rupaka

“Biar saja Raden, jika ia acuh tidak acuh terhadap kedatangan kita, maka biarlah kita juga tidak menghiraukan kehadirannya disini”

Pangeran Kuda Rupaka mengangguk, dan seperti yang dikatakan oleh Panji Sura Wilaga, ia sama sekali tidak menghiraukan kehadiran Kidang Alit. Ternyata Ki Buyut telah melihat kedatangan keduanya, sehingga kemudian dengan tergesa-gesa ia pergi menyambut kedatangannya.

“Silahkan Raden, marilah”

Pangeran Kuda Rupaka mengangguk sambil menjawab, “Terima kasih Ki Buyut”

“Silahkan Raden berdua naik ke pendapa”

Pangeran Kuda Rupaka menyerahkan kudanya kepada seorang anak muda yang dengan tergesa-gesa mendekatinya, sedang seorang yang lain telah menghampiri Panji Sura Wilaga pula. Ketika Pangeran Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga naik ke pendapa, mereka masih sempat melihat Kidang Alit berdiri dan masih dalam sikapnya acuh tidak acuh, ia melangkah meninggalkan halaman itu.

Wajah Pangeran Kuda Rupaka menegang, namun kemudian Panji Sura Wilaga berbisik, “Sudahlah, jangan hiraukan lagi”

“Apakah ia akan ke istana kecil itu?”

“Tentu tidak, ia tahu, bahwa kita akan berada disini untuk waktu yang pendek”

Pangeran Kuda Rupaka menarik nafas, tetapi ia tidak menyahut lagi. Sejenak kemudian maka mereka pun telah duduk di pendapa, dihadapan Ki Buyut beserta beberapa orang bebahu padukuhan itu.

“Apakah ada sesuatu yang terjadi Raden?” bertanya Ki Buyut.

Kedua tamunya mengerutkan keningnya, dan Pangeran Kuda Rupaka pun kemudian bertanya, “Apakah Ki Buyut mendengar sesuatu tentang istana itu?”

“Tidak, tetapi Kidang Alit mengatakan, bahwa kemungkinan sekali Raden berdua akan datang pagi ini”

“Apakah ada hal lain yang dikatakan?”

“Tidak” Ki Buyut terhenti sejenak, lalu, “Tetapi ia mengatakan pula bahwa orang-orang yang berada di banjar itu tidak akan dapat mengganggu kita lagi, apakah ada hubungannya kedatangan Raden berdua dengan orang-orang yang tinggal di banjar itu?”

“Apakah Kidang Alit tidak mengatakannya?”

“Ki Buyut menggeleng sambil menyahut, “Tidak Raden, hanya itulah yang dikatakannya”

Pangeran Kuda Rupaka memandang wajah Panji Sura Wilaga yang menegang, namun ia pun kemudian menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Kidang Alit benar, orang-orang yang barangkali dimaksud tinggal di banjar itu tidak akan mengganggu kalian lagi, bukankah orang-orang itu pula yang telah melukai seorang anak muda Karangmaja?, dan agaknya Kidang Alit pula yang telah menyembuhkannya?”

“Kasdu maksud Raden?”

Pangeran Kuda Rupaka mengerutkan keningnya.

“Ya Raden, Orang-orang itulah yang telah meracuni tubuh Kasdu dan yang kemudian diobati oleh Kidang Alit. Kasdu kini sudah mampu berdiri dan berjalan setapak-setapak, nampaknya ia akan segera pulih kembali, mungkin lebih singkat dari dugaan Kidang Alit sendiri”

“Sukurlah”

Pangeran Kuda Rupaka mengangguk-angguk. Lalu, “Ki Buyut, sebenarnyalah kedatanganku memang ada hubungannya dengan orang-orang kasar itu”

“Apakah orang-orang itu sudah mengganggu istana itu?”

“Bukan saja mengganggu, mereka telah mencoba untuk memasuki istana itu dengan menakut-nakuti bibi Kuda Narpada”

“Oo…”

“Untunglah bahwa kami berdua masih berada di istana itu Ki Buyut, sehingga aku masih sempat mencoba melindungi bibi menurut kemampuanku”

“Jadi…?”

“Dua diantara ketiga orang itu terbunuh” berkata Pangeran Kuda Rupaka, “Tetapi yang seorang berhasil melarikan diri”

“Oo…”

Pangeran Kuda Rupaka kemudian menceritakan serba singkat apa yang telah terjadi di halaman itu, bahkan ia menceritakannya juga kehadiran seorang yang tidak dikenal, menyamar wajahnya didalam malam yang kelam.

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam kemudian ia pun berdesis, “Apakah mungkin orang ketiga itu Kidang Alit?”

“Aku tidak dapat memastikannya Ki Buyut, tetapi memang mungkin, apalagi ketika pagi ini aku menjumpai sebuah tantangan setelah kedua mayat itu disingkirkan dari tempatnya”

Ki Buyut mengerutkan keningnya, meskipun orang-orang yang ada di banjar itu sudah tidak ada lagi, tetapi ternyata bahwa Karangmaja belum akan menjadi tenang. Persoalannya masih akan berkembang terus, berkisar dari pihak yang satu ke pihak yang lain, agaknya persoalan akan timbul antara Pangeran Kuda Rupaka dengan Kidang Alit.

“Aku tidak mengerti siapakah sebenarnya Kidang Alit itu” berkata Ki Buyut di dalam hatinya, “Ia menolong Kasdu, tetapi ia telah menodai dua orang gadis, orang-orang kasar itu telah melukai Kasdu dengan kejamnya, tetapi setelah itu mereka tidak pernah berbuat apa-apa, kini agaknya Kidang Alit telah mulai dengan persoalan barunya dengan bangsawan-bangsawan itu, apakah salahnya jika hubungan antara mereka itu dilakukan dengan baik?.

Tetapi gambaran didalam angan-angan Ki Buyut segera merayap kepada gadis cantik yang ada di istana itu.

“Tentu Kidang Alit telah menjadi gila karena puteri Inten Prawesti itu” berkata Ki Buyut selanjutnya kepada diri sendiri.

Dalam pada itu, Ki Buyut bagaikan terbangun dari mimpinya ketika Pangeran Kuda Rupaka berkata, “Ki Buyut, kedatangan sebenarnya ada hubungan juga dengan kematian kedua orang itu, mayat itu sampai sekarang masih ada di halaman, aku ingin minta bantuan tiga atau empat orang untuk menguburkan mayat-mayat itu.”

“O..” Ki Buyut mengangguk-angguk, “Tentu Raden, kami tentu akan membantu”

“Terima kasih Ki Buyut, aku harap bahwa mereka akan dapat mengambil mayat itu sekarang”

“Tentu, tentu Raden, aku persilahkan Raden menunggu sebentar”

“Ki Buyut, sebaiknya kami mendahului saja, kami menunggu mereka di regol halaman”

“Baiklah Raden, silahkan, aku akan segera mengirim beberapa orang untuk menguburkan mayat itu”

Demikianlah Pangeran Kuda Rupaka dengan tergesa-gesa meninggalkan rumah Ki Buyut, sikap Kidang Alit menimbulkan kecurigaannya, sehingga rasa-rasanya ia tidak sampai hati meninggalkan istana kecil itu terlampau lama. Dalam pada itu, selagi Pangeran Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga tidak berada di istana, penghuni istana itu sama sekali tidak ada yang berani turun ke halaman itu, mereka tahu bahwa di halaman itu ada dua sosok mayat, karena itu, maka mereka seolah-olah berkumpul di belakang, di dapur dan di bilik Nyi Upih.

“Silahkan Gusti duduk saja di serambi” minta Nyi Upih kepada Raden Ayu Kuda Narpada yang membantunya di dapur.

“Tidak Nyai, aku senang berada disini, sebenarnyalah aku agak takut tinggal diluar sendiri, meskipun di serambi belakang rasa-rasanya ada sesuatu yang lain”

“Tentu tidak akan ada apa-apa gusti”

“Nyai, aku adalah orang tua, rasa-rasanya ada firasat padaku bahwa persoalan ini masih akan ada kelanjutannya”

“Tetapi Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga akan selalu melindungi Gusti”

“Nyai, aku tidak akan dapat menahan mereka untuk waktu yang tidak tertentu, pada suatu saat mereka akan kembali ke Demak atau kemanapun, mungkin ke perguruannya atau berkelana lebih jauh”

Nyi Upih mengangguk-angguk, ia pun mengerti bahwa tidak untuk selamanya kedua orang itu akan tetap berada di istana terpencil itu. Tetapi ia tidak dapat mengatakan apapun juga selain menundukkan kepalanya.

“Tetapi baiklah kita tidak perlu memikirkannya sekarang Nyai,“ Berkata Raden Ayu Kuda Narpada, “Kita pasrahkan saja kepada Yang Maha Agung”

Sementara itu di dalam biliknya, Sangkan dan Pinten duduk di lantai sambil menghadap Inten Prawesti yang duduk di pembaringan Pinten, dengan wajah yang tegang Inten masih mempercakapkan perkembangan yang terjadi dimalam yang baru lampau.

“Untunglah kamas Raden Kuda Rupaka ada disini” berkata Inten Prawesti.

“Ya, Puteri, jika tidak, aku akan mengalami nasib yang sangat buruk” sahut Pinten.

“Kenapa kau?” bertanya Sangkan

“Mereka tentu akan membawa aku, tetapi aku tidak mau”

“Ooo… Sebutlah nama Biyung Pinten, jika sekali-sekali kau bermain di tepi kolam, lihatlah wajahmu kedalamnya, kau akan tahu bahwa tidak akan ada seorang laki-laki pun yang menaruh perhatian kepadamu”

“Ah..” wajah Pinten seolah-olah menjadi pudar.

“Jangan berkata begitu Sangkan“ potong Inten Prawesti, “Jangan berkata begitu kepada seorang gadis, Pinten adalah gadis yang manis, ia memiliki kelebihan dari seorang gadis kebanyakan”

Pinten menundukkan kepalanya, wajahnya nampak sedih, katanya, “Kakang Sangkan selalu berkata begitu puteri, apakah aku memang terlampau jelek?”

“Tidak, tidak Pinten, kau tidak jelek, kau cantik, muda dan lincah, apalagi yang kurang?”

“Tetapi kakang selalu mengatakan, bahwa tidak akan ada laki-laki yang tertarik kepadaku”

“Ia hanya bergurau, bukankah begitu Sangkan?”

“Maksudku tidak puteri, tetapi jika itu menyakiti hatinya, baiklah, aku memang hanya sekedar bergurau”

“Coba dengar puteri, maksudnya sama sekali tidak bergurau, Jika puteri tidak ada, ia tidak akan mencabut kata-katanya seperti itu”

“Sudahlah jangan bertengkar” Inten berhenti sejenak, lalu, “Sangkan, bagaimanapun juga, ia adalah adikmu, bukankah kau sudah membawanya jauh dari Majapahit sampai ke tempat ini tidak sekedar untuk kau perolok-olokkan?”

“Tidak puteri, tentu tidak, aku benar-benar hanya bergurau saja, seperti yang puteri katakan”

“Nah, bukankah kau sudah mendengarnya Pinten?”

Wajah Pinten masih nampak gelap, sambil bersungut-sungut ia berkata, “Ia berkata begitu karena puteri ada disini”

“Tentu tidak, sudahlah, jangan kau hiraukan kakakmu, percayalah kepadaku, bahwa kau memang cantik”

Pinten masih menunduk, sedang Sangkan memandanginya dengan bibir yang bergerak-gerak, untunglah Pinten tidak sedang memandangnya. Namun dalam pada itu, selagi mereka sedang berbicara dengan asyik, tiba-tiba saja mereka terkejut oleh suara seruling yang terdengar melengking, seperti sesambat prajurit yang terluka di peperangan.

Bab 8

Inten Prawesti terkejut mendengar suara seruling itu, sudah lama ia tidak mendengarnya, dan tiba-tiba saja suara seruling itu bagaikan menyentuh jantungnya. Sangkan dan Pinten menjadi terheran-heran melihat sikap Inten Prawesti. Suara seruling itu agaknya sangat menarik hatinya, sehingga hatinya rasa-rasanya semua perhatiannya terampas oleh suara seruling itu.

Inten Prawesti benar-benar telah dicengkam oleh pesona yang seolah-olah tidak terlawan. Suara seruling yang didengarnya itu adalah suara seruling yang memang pernah didengarnya. Tetapi rasa-rasanya kali ini suara itu benar-benar menjadi menghiba-hiba seperti tangis bayi yang merindukan ibunya.

“Suara itu” desis Inten Prawesti.

“Suara seruling” sahut Sangkan

“Ya…suara seruling itu….”

“Kenapa dengan suara seruling itu puteri?”

Inten Prawesti tidak menyahut, tetapi seperti tidak atas kehendaknya sendiri, maka ia pun berdiri sambil menengadahkan kepalanya, “Alangkah syahdunya, tetapi alangkah pilunya suara itu, anak muda itu, merintih oleh penderitaan yang tiada akhirnya”

“Siapa puteri?”

“Tidak ada seorang pun yang sudi menolongnya, dan gadis yang dicintainya telah pergi meninggalkannya tanpa mengatakan sesuatu kepadanya”

“Siapa?, Siapa puteri?” Sangkan menjadi heran.

Suara seruling itu rasa-rasanya mencengkam hati Inten Prawesti semakin dalam.

Di dapur Nyi Upih pun mendengar suara itu, dahinya nampak berkerut merut, ketika memandang Raden Ayu Kuda Narpada, ia termangu-mangu, agaknya Raden Ayu Kuda Narpada itu pun tertarik pula oleh suara seruling itu.

“Aku mendengar suara seruling Nyai” berkata Raden Ayu Kuda Narpada, “Tetapi tidak seperti suara yang kita dengar sekarang, alangkah dalamnya, suara itu tentu benar-benar meloncat dari dasar hati”

“Gembala-gembala dari Karangmaja memang pandai meniup seruling Gusti, mungkin itu suara hati seorang gembala yang memang hidup berprihatin sejak kanak-kanaknya”

Raden Ayu Kuda Narpada mengangguk-angguk, tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut.

Berbeda dengan ibunya, maka Inten Prawesti benar-benar telah dicengkam oleh suara itu, bahkan kemudian ia berkata kepada kedua anak Nyi Upih itu, “Aku ingin sekali melihat, kenapa suara serulingnya kini sangat ngelangut”

“Kemana puteri akan bertanya?”

“Aku tahu, ia tentu duduk dibawah pohon kemuning diluar regol halaman rumah ini”

Sangkan menjadi semakin bingung, namun kemudian ia berkata, “Puteri, suara seruling itu datang dari tempat yang agak jauh, mungkin seorang gembala di padang rumput di belakang istana ini, tetapi tentu tidak di bawah pohon kemuning di muka regol istana”

Inten Prawesti mencoba memperhatikan suara itu lebih seksama lagi, katanya kemudian, “Tidak Sangkan, suara itu tidak datang dari belakang istana, memang tidak dari bawah pohon kemuning tetapi juga tidak dari belakang”

Sangkan memandang adiknya dengan termangu-mangu, sedang Pinten pun nampak menjadi gelisah, “Puteri, biar sajalah suara seruling itu, tentu seorang gembala telah meniupnya”

“Bukan Pinten, bukan seorang gembala, tetapi anak muda yang nakal itu”

“Siapa?”

“Kidang Alit, apakah kau mengenalnya?”

Sangkan menarik nafas dalam-dalam, dengan ragu-ragu ia berbisik di telinga adiknya, “Pesona apakah yang membuat puteri menjadi bingung”

“Gendam” bisik adiknya

“Apakah kau percaya, bahwa ada ilmu yang disebut gendam dan dapat mempengaruhi hati seorang gadis untuk mencintai orang yang melepaskan ilmu itu?”

“Kenapa tidak?!, tetapi sebenarnya gadis itu bukan mencintainya, ia hanya sekedar terbius oleh ilmu itu”

“Siapakah yang terbius, Pinten?” tiba-tiba saja Inten Prawesti bertanya, agaknya ia mendengar percakapan kedua anak Nyi Upih itu.

“Puteri, maksud kami, apakah puteri sudah kena ilmu gendam itu?”

Inten Prawesti termangu-mangu, kemudian ia pun bertanya, “Apakah artinya?”

“Ilmu yang dapat membius seseorang sehingga ia melupakan segala-galanya karena hatinya dirampas oleh kekuatan ilmu itu, yang kemudian bersarang di hati hanyalah bayangan-bayangan orang yang melepaskan ilmu itu”

“Apakah kau menganggap suara seruling itu adalah ilmu semacam itu?”

“Mungkin puteri” sahut Pinten.

“Kenapa ia harus melepaskan ilmu itu?”

“Mungkin akulah yang dituju oleh anak muda itu, sekali ia melihat aku, maka ia pun segera tertarik, tetapi ia tidak berani mengatakannya kepadaku secara langsung”

“Uh !!“ potong Sangkan, “Kau memang tidak dapat menyadari keadaan dirimu sendiri Pinten, jika aku mengatakan bahwa tidak ada laki-laki yang tertarik kepadamu, kau menjadi sakit hati, tetapi kau selalu bermimpi seolah-olah kau seorang bidadari yang sangat cantik”

Inten Prawesti tersenyum katanya, “Setiap gadis akan merasa dirinya cantik, dan setiap gadis akan merasa tersinggung bahwa orang lain menganggap sebaliknya, tetapi seorang gadis juga tidak senang melihat gadis lain lebih cantik dari pada dirinya”

“Apakah begitu puteri?”

Inten Prawesti mengangguk, lalu katanya, “Jangan percaya kepada gendam, jika suara seruling itu sangat menarik hati, karena suara itu memang menyentuh hatiku, aku pernah mengenal anak muda yang menyuarakan seruling itu, kau jangan menuduhnya dengan tuduhan yang menyakitkan hati, seolah-olah ia mempergunakan ilmu gendam, anak muda dan suara serulingnya itu memang memikat”

Sangkan menjadi semakin bingung, apalagi ketika Inten Prawesti berkata, “Aku akan mencari suara itu”

“Puteri, itu tidak baik” cegah Sangkan.

“Kenapa?”

“Puteri, mungkin sebentar lagi orang-orang Karangmaja akan datang , mereka akan membantu Raden kuda Rupaka untuk mengubur mayat-mayat itu, Apakah kata Raden Kuda Rupaka nanti, jika puteri tidak ada, justru dalam keadaan yang gawat seperti sekarang ini?”

“Biarlah mereka menguburkan mayat itu, aku tidak berkepentingan sama sekali”

“Puteri…” Pinten mulai memegangi ujung kain Inten Prawesti, lalu, “Jangan puteri, Ibunda tentu akan marah”

“Ibunda akan mengijinkannya, aku akan mohon diri”

“Tetapi sikap puteri akan membuat ibunda menjadi sedih”

Inten Prawesti tersenyum, sambil menggelengkan kepalanya ia berkata, “Tidak Pinten, tidak ada yang bersedih”

“Aku puteri” potong Sangkan tiba-tiba, namun kemudian dengan tergesa-gesa ia melanjutkan, “Maksudku, aku menjadi sedih karena puteri akan pergi justru selagi kakanda puteri Raden Kuda Rupaka tidak ada”

“Katakan kepada kamas Kuda Rupaka, bahwa aku hanya akan pergi sebentar, bukankah tidak akan terjadi sesuatu jika aku hanya melihat dimana anak itu meniup seruling?”

Sangkan dan Pinten menjadi semakin bingung, Pinten yang sudah memegangi ujung kain Inten Prawesti, memohonnya dengan sangat, “Ampun Puteri, aku mohon, janganlah puteri pergi sebelum Raden Kuda Rupaka datang puteri, puteri harus selalu ingat, apa yang pernah dilakukan oleh anak muda yang bernama Kidang Alit yang memang memiliki kepandaian meniup seruling, menurut keterangan yang aku dapat, dia telah mencemarkan dua orang gadis dari Karangmaja”

Inten mengerutkan keningnya, nampak sesuatu menyentuh hatinya, namun ketika suara seruling itu memanjat semakin tinggi, Inten Prawesti tersenyum, “Adalah salah gadis-gadis itu sendiri, mereka menyerahkan diri tanpa kepastian, aku tidak akan melakukannya Pinten, aku adalah puteri Pangeran Kuda Narpada, sehingga kedudukanku harus jelas dalam setiap hubungan dengan siapapun dan dalam hal apapun”

“Puteri” Sangkan tersentak mendengar jawaban itu, bahkan kemudian ia bergumam, “Pinten, agaknya kau benar, puteri telah disentuh ilmu gendam”

Inten Prawesti menggelengkan kepalanya, bahkan dengan wajah yang berkerut merut ia berkata, “Sangkan, aku peringatkan kau sekali lagi, jangan menuduh demikian buruknya kepada Kidang Alit !!”

Sangkan menarik nafas dalam-dalam, bahkan kemudian ia berkata kepada Pinten, “Jagalah puteri sejenak, aku akan menghadap Gusti”

“Tidak perlu Sangkan” berkata Inten Prawesti, “Seharusnya kau tidak mencampuri urusanku, jika kau dan adikmu selalu menghalang-halangi kesenanganku, aku akan mohon kepada ibunda, agar kau berdua dijauhkan saja dari istana ini”

“Puteri” Pinten memeluk kaki Inten, tetapi gadis dikibaskannya, bahkan betapapun juga, Pinten mencoba menahannya, namun Inten Prawesti tetap pada pendiriannya untuk pergi ke sumber suara seruling itu.

Namun dalam pada itu, dalam ketegangan yang hampir tidak teratasi, Sangkan berkata sambil meloncat kedepan pintu biliknya pada saat Inten Prawesti akan berlari keluar, “Puteri, aku sudah barang tentu tidak dapat menahan puteri, karena aku adalah seseorang yang hanya menumpang hidup disini, seperti selembar daun kering yang terbang dihanyutkan angin dan jatuh diatas pangkuan seorang gadis, ia dapat mengibaskan daun kering itu dan membuangnya di tempat sampah, tetapi ia dapat membiarkannya atau memberikan tempat yang agak lebih baik dari tempat sampah itu. Namun ia tetap daun kering yang tidak berharga sama sekali, yang sampai saatnya akan dibuang, tetapi puteri, aku juga pernah menjadi seorang gembala, dan karena itu, aku pun pernah bermain-main dengan seruling, bahkan saat ini pun aku memiliki sebuah seruling seperti yang dibunyikan oleh Kidang Alit itu, jika puteri hanya sekedar ingin mendengarkan suara seruling, puteri tidak usah pergi kemanapun juga, aku juga dapat membunyikan seruling”

“Ah !!, jangan ganggu aku Sangkan, aku dapat mengusirmu dari tempat ini”

“Ampun puteri, tetapi jangan pergi, hamba mohon, seandainya karena itu, aku harus diusir pergi, aku rela, tetapi jangan pergi dalam keadaan seperti ini”

Inten Prawesti menjadi sangat marah, tetapi sebelum ia berteriak mengusir Sangkan, ibundanya dan Nyi Upih yang mendengar suara ribut itu pun dengan tergesa-gesa dating ke ruangan itu.

Ketika Raden Ayu Kuda Narpada melihat Sangkan berdiri di tengah-tengah pintu menghalang-halangi Inten, terbersitlah perasaan aneh dalam dirinya, sehingga dengan serta merta ia berkata lantang, “Nyai, apakah anakmu sudah gila?”

Sangkan mendengar suara Raden Ayu Narpada, sehingga ia pun kemudian bergeser sambil berlutut di hadapan Raden Ayu Kuda Narpada itu. “Ampun Gusti, biarlah aku dikutuk oleh hantu-hantu jika aku berniat buruk, biarlah Pinten mengatakannya kepada Gusti apakah yang telah terjadi”

Dalam pada itu, Inten Prawesti pun segera berlari kepada ibunya sambil menangis, katanya bertahan-tahan, “Usir saja anak-anak itu ibunda, mereka berniat buruk terhadapku”

“Apakah yang sudah terjadi anakku” bertanya Raden Ayu Kuda Narpada. “Mereka mengurungmu di dalam bilik ini”

“O Gusti” desis Nyi Upih, “He..!! anak-anak tidak tahu malu, apakah kalian berbuat demikian?”

“Gusti” berkata Pinten kemudian, “Kami hanya mencoba menghalangi puteri, karena puteri akan pergi ke suara seruling itu”

“He..??” Raden Ayu Kuda Narpada terkejut, “Apakah begitu?”

Inten menjadi ragu-ragu, tetapi ketika suara seruling itu melengking lagi, bagaikan jerit suara gadis yang ditinggalkan kekasih, maka Inten pun berkata, “Ya ibunda, aku ingin pergi ke tempat anak muda itu meniup seruling, tetapi kedua anak itu menahan aku”

“Ooo…” Raden Ayu Kuda Narpada mengelus rambut anaknya yang berada di dalam pelukannya, “Kenapa kau akan pergi Inten?, dan siapakah yang meniup seruling itu?”

“Kidang Alit ibunda, tentu Kidang Alit”

“Ooo…” Raden Ayu Kuda Narpada menjadi semakin terkejut, “Kidang Alit, bukankah Kidang Alit itu anak muda yang sering dipercakapkan oleh orang-orang Karangmaja?”

“Aku tidak perduli, apa yang mereka katakan, aku hanya ingin mendengar suara seruling itu”

“Inten, Inten” ibundanya memeluknya semakin erat, lalu, “Bagaimana mungkin kau dapat berbuat demikian?”

“Ibunda” Inten mulai menangis, “Apakah ibunda akan melarangku?”

“Tentu tidak Inten, tetapi kau harus mencegah dirimu sendiri”

“Aku hanya ingin melihat ibunda”

“Ooo…” Nyi Upih mendesah, “Kenapa puteri seolah-olah dicengkam oleh ketidak-sadaran? bukankah puteri mengetahui apa yang sudah diperbuat oleh anak muda yang bermain seruling itu, jika benar ia Kidang Alit?”

Inten masih tetap menangis, bahkan ia berusaha untuk memaksa melepaskan pelukan ibundanya.

“Gendam biyung, ini adalah pengaruh Gendam” berkata Pinten.

“Tidak, tidak” Inten tiba-tiba saja berteriak seperti bukan atas kehendaknya sendiri.

Namun dalam pada itu, selagi mereka sedang diributkan oleh sikap aneh dari Inten Prawesti, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda memasuki halaman, ketika kuda di halaman depan meringkik, maka Sangkan pun berkata, “Raden Kuda Rupaka sudah datang”

Anak itu tidak menunggu apapun lagi, tiba-tiba saja ia berlari kedepan menyongsong Raden Kuda Rupaka. Dengan terbata-bata ia menceritakan keadaan Inten Prawesti yang hampir tidak dapat dicegah lagi.

“Paman” desis Kuda Rupaka, “Agaknya memang anak muda itulah yang telah menantangku. Kini dengan sengaja ia menjajagi ilmuku. Ia mempergunakan pengaruh kekuatan bunyi untuk mengganggu keseimbangan perasaan diajeng Inten Prawesti”

“Gendam Raden” desis Sangkan

“Ya, semacam itu”

“Jadi, bagaimanakah maksud Raden?” bertanya Panji Sura Wilaga.

“Aku harus membebaskannya dari pengaruh bunyi itu”

“Silahkan Raden, mungkin Raden dapat melakukannya”

Kuda Rupaka pun kemudian berkata kepada Sangkan, “Kembalilah kepada diajeng Inten Prawesti, aku akan masuk ke dalam istana dan mencoba memecahkan pengaruh bunyi seruling yang mengandung pesona bagi diajeng Inten Prawesti itu”

Ketika Sangkan mulai bergerak, Kuda Rupaka berkata kepada Panji Sura Wilaga, “Tinggalah disini, jika orang-orang Karangmaja itu datang ajaklah mereka mengubur kedua sosok mayat itu, kini, agaknya perang melawan Kidang Alit harus sudah dimulai”

Panji Sura Wilaga mengangguk sambil menjawab, “Baik Raden, silahkan mencoba untuk memerangi bunyi seruling itu”

Kuda Rupaka pun kemudian masuk ke dalam istana, sejenak ia termangu-mangu, namun kemudian ia masuk ke dalam biliknya dan menutup pintu itu rapat-rapat.

Dalam pada itu, Inten Prawesti masih sibuk berusaha melepaskan diri dari pelukan ibundanya dan bahkan Nyi Upih pula, seakan-akan ia sudah menyadari lagi, apa yang sedang dilakukannya.

Sementara itu, suara seruling dikejauhan menjadi semakin ngelangut, nadanya kadang-kadang meninggi, kadang-kadang cepat menukik merendah, lepas dari ikatan gending yang ada, namun langsung menusuk hati Inten Prawesti, gadis cantik puteri Pangeran Kuda Narpada.

Ibundanya dan Nyi Upih yang memeluknya manjadi semakin bingung, bahkan kemudian sambil menangis Nyi Upih kepada Pinten yang berdiri kebingungan, “Kenapa kakakmu begitu lama?, cepat, mohon Raden Kuda Rupaka datang kemari”

Pinten termangu-mangu sejenak, namun sebelum ia meloncat berlari sambil menyingsingkan kain panjangnya, langkahnya pun tertegun. Dari dalam istana ia mendengar suara tembang yang mengalun tinggi, bagaikan angin yang silir bertiup di panasnya udara yang kering.

Suara itu hanya terdengar lamat-lamat, tidak sekeras suara seruling yang masih melengking.

Namun ternyata suara tembang yang lamat-lamat, yang mengalunkan kidung kasmaran seorang jejaka itu, berhasil menyentuh perasaan Inten Prawesti, perlahan-lahan Inten bagaikan menyadari dirinya, bahkan kemudian dengan wajah yang terheran-heran ia berdesis, “Apakah aku mendengar suara tembang?”

“Ya, puteri” sahut Nyi Upih tiba-tiba

“Siapakah yang disaat begini sampai sempat berdendang?”

“Kakanda puteri, Raden Kuda Rupaka” jawab Nyi Upih yang kemudian berbisik kepada Raden Ayu Kuda Narpada, “Suara tembang itu agaknya telah berhasil memecahkan ilmu gendam itu”

“Apa yang Nyai maksud?” bertanya Inten Prawesti.

“Tidak apa-apa puteri”

Inten Prawesti mengerutkan keningnya, agaknya suara seruling dikejauhan masih sedikit mempengaruhinya, sehingga dengan demikian di dalam dirinya telah terjadi benturan pengaruh bunyi yang mengandung kekuatan ilmu yang langsung menusuk perasaannya.

Namun akhirnya ia berkata, “Apakah kakangmas Kuda Rupaka sudah datang?”

“Ya puteri” jawab Sangkan yang sudah ada di dekatnya pula, “Agaknya untuk melepaskan lelahnya, Raden Kuda Rupaka berbaring di dalam biliknya sambil menyanyikan sebuah kidung yang syahdu, aku benar-benar terpesona mendengar suaranya, tidak terlampau keras, tetapi sangat dalam dan betapa lembutnya”

Inten Prawesti mengangguk-angguk, tetapi suara tembang itu tidak memukaunya seperti suara seruling Kidang Alit, karena tujuan Kuda Rupaka hanyalah sekedar memecahkan pengaruh kekuatan bunyi yang dilontarkan oleh suara seruling Kidang Alit, sehingga apabila dengan demikian Inten Prawesti menjadi sadar akan dirinya, maka usahanya itu pun sudah berhasil.

Dan ternyata Inten Prawesti telah benar-benar menjadi sadar atas apa yang sedang dihadapinya. Meskipun ia masih mendengar suara seruling itu, tetapi ia tidak lagi dipukau oleh suatu keinginan untuk datang ke padang rumput atau kemana saja untuk mendengarkan suara seruling itu lebih dekat dan menemukan peniupnya.

Bahkan ia menjadi malu sekali, jika antara ingat dan tidak, seolah-olah ia tanpa dapat dikendalikan lagi berusaha untuk mencari Kidang Alit.

Bulu-bulu tengkuknya merinding, jika ia menyadari, siapakah anak muda yang bernama Kidang Alit itu, dua orang gadis Karangmaja telah menjadi korbannya.

“Ternyata bahwa dugaan kami salah” berkata Inten Prawesti dalam hatinya, “Bukan gadis-gadis itulah yang lengah dan menyerahkan dirinya kepada nafsu yang tidak terkendali, tetapi tentu ada semacam ilmu yang dapat membuat mereka kehilangan diri masing-masing, alangkah ngerinya”

Sementara itu, Kidang Alit yang memang dengan sengaja melepaskan suara serulingnya dengan kekuatan ilmu pengaruh bunyi, merasakan sesuatu yang lain pada suara serulingnya, jika semula rasa-rasanya suaranya menyentuh sasarannya, tiba-tiba ia menyadari, bahwa ada sesuatu yang telah mengganggunya.

Kidang Alit masih mencoba memperdalam pengaruh ilmunya atas sasarannya, tetapi perlawanan yang dirasakannya menjadi semakin berat, sehingga pada suatu saat, ia telah kehilangan sentuhan sama sekali.

“Memang berat untuk melawannya” berkata Kidang Alit kepada diri sendiri, ia tahu benar, bahwa Kuda Rupaka tentu sudah kembali ke istana itu, dan melawan ilmunya sehingga usahanya untuk menunjukan kelebihannya atas Kuda Rupaka telah gagal.

Sesungguhnya Kidang alit sedang mencoba untuk menjajagi ilmu Kuda Rupaka, jika ia berhasil menarik Inten Prawesti keluar dengan kemampuan ilmu pengaruh kekuatan bunyi, ia ingin melihat, apa yang akan dilakukan oleh Kuda Rupaka.

Namun ternyata, sebelum Inten Prawesti keluar dari istananya Kuda Rupaka telah datang dan berhasil memecahkan ilmunya.

Kidang Alit pun akhirnya menghentikan perlawanannya, jarak antara sumber ilmu dan sasaran memang ikut menentukan, karena kekuatan pengaruh bunyi itu seolah-olah telah susut sejalan dengan susutnya getaran suaranya.

Sejenak Kidang Alit termangu-mangu, dipandangnya Istana kecil itu dari kejauhan, seolah-olah ia sedang memandang sesuatu yang menyimpan seribu macam untuk dipecahkannya.

“Iblis-iblis itu telah mati di halaman istana itu, sedang yang seorang berhasil melarikan diri, mungkin sekali yang seorang itu akan kembali dengan kekuatan yang lebih besar, sedang aku masih saja duduk tepekur tanpa berbuat sesuatu”

Kidang Alit menarik nafas dalam-dalam, sekali lagi ia memandang istana terpencil itu, ternyata kehadiran Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga telah menimbulkan persoalan baru padanya, persoalan yang tidak diperhitungkan sebelumnya.

Dengan langkah yang lamban Kidang Alit meninggalkan tempatnya, kepalanya yang menunduk membayangkan betapa ia sedang merenungkan persoalan yang sedang dihadapinya”

“Tetapi Inten Prawesti itu sangat cantik dan ternyata gadis pelayan itu pun cantik sekali” katanya di dalam hati, lalu, “Jika aku tidak sedang mengemban tugas yang penting, aku kira aku hanya memerlukan kedua gadis itu saja”

Tetapi Kidang Alit menggelengkan kepalanya, katanya kemudian, “Aku tidak boleh terganggu oleh kecantikan keduanya sebelum tugasku selesai, untuk sementara aku dapat mengambil gadis Karangmaja yang manapun yang aku sukai”

Langkah Kidang Alit tiba-tiba semakin cepat, tetapi ia tidak kembali ke Karangmaja, ia dengan tergesa-gesa menuruni lereng bukit kecil, kemudian menyelinap di lembah yang jarang sekali dikunjungi oleh seseorang.

Sejenak Kidang Alit termangu-mangu, dipandangnya sebuah puncak bukit kecil diantara beberapa puncak yang lain.

“Nanti sore sajalah” katanya kepada diri sendiri.

Dengan demikian maka ia pun duduk di bawah sebatang pohon yang rindang, dipandanginya alam sekitarnya uang sudah menjadi hijau, meskipun masih belum merata sama sekali, sekali-sekali ia menengadahkan wajahnya memandang burung-burung kecil yang berlompatan diatas daun, dan sekali-sekali burung-burung itu berhenti untuk bersiul. Ketika ia melihat dua ekor gelatik hinggap di ranting kecil, Kidang Alit menarik nafas dalam-dalam.

Beberapa saat lamanya Kidang Alit duduk ditempatnya, ia mengerutkan keningnya, ketika ia melihat sesuatu bergerak-gerak di semak-semak beberapa langkah agak kebawah tempatnya berteduh.

Ternyata seekor harimau yang haus telah melintasi lembah untuk mencari air di mata air kecil di ujung lembah, di bawah titik-titik air yang menetes pada gumpalan-gumpalan batu padas.

Tetapi harimau itu sama sekali tidak menggetarkan hatinya, bahkan ia sama sekali tidak menghiraukan lagi, Kidang Alit sama sekali tidak menjadi gemetar, seandainya harimau itu dengan perlahan-lahan merunduknya.

Namun demikian Kidang Alit meraba lambungnya, ketika tersentuh olehnya hulu sebuah pisau belati, maka ia pun kembali duduk menikmati silirnya angin yang bertiup dari lembah yang basah.

Dalam pada itu, di istana kecil di luar padukuhan Karangmaja, Inten Prawesti bersembunyi saja di dalam pembaringannya. Tiba-tiba saja perasaan malu telah semakin dalam mencengkam jantungnya.

Ia tidak mengerti, kenapa ia telah terpukau oleh suara seruling itu, beberapa kali ia pernah mendengar suara seruling, tetapi ia tidak pernah dicengkam oleh dorongan yang seolah-olah tidak terlawan untuk datang mendekat, bahkan ia telah berhasil untuk tidak menghiraukan lagi suara seruling yang sebelumnya memang telah menarik hatinya.

Tetapi agaknya orang-orang diluar bilik ini sama sekali tidak menghiraukan peristiwa itu lagi, mereka berbuat seperti kebiasaan mereka, sehingga lambat laun, Inten pun berhasil mengatur perasaannya. Ketika ia keluar dari biliknya, ternyata orang-orang itu telah melupakan apa yang sudah terjadi dan tidak menyinggungnya lagi, Inten pun tidak lagi menjadi canggung karenanya, Sangkan yang biasa bergurau dengan adiknya sama sekali tidak menyebut lagi suara seruling yang bagaikan bius yang sangat kuat bagi Inten Prawesti.

Namun dalam pada itu, diluar pengetahuan Inten, Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga duduk di bawah pohon yang rindang di halaman depan istana kecil itu, dengan sungguh-sungguh mereka membicarakan suara seruling yang ternyata telah mempengaruhi bukan saja perasaan tetapi nalar Inten Prawesti.

“Untunglah Raden berhasil memecahkan ilmu gendam itu” berkata Panji Sura Wilaga.

“Ya… untunglah, bahwa aku sudah dibekali ilmu untuk melawan ilmu semacam itu, paman, ilmu semacam itu bukan saja dapat mempengaruhi perasaan seorang gadis terhadap seorang anak muda, tetapi ada juga ilmu semacam itu yang dapat mempengaruhi siapa saja untuk tujuan apapun”

“Maksud Raden?”

“Orang dapat kehilangan perasaan dan nalarnya, apakah ia sedang berjaga-jaga, apakah ia sedang berperang”

“Ooo…, “ Panji Sura Wilaga mengangguk-angguk, katanya kemudian, “Ya… semacam ilmu sirep yang dapat membius seseorang sehingga ia tertidur nyenyak”

“Benar”

“Tetapi jika kita berhasil memusatkan kekuatan yang ada di dalam diri kita, maka kita akan terbebas dari kekuatan semacam itu, yang sulit adalah seperti yang baru saja Raden lakukan, membebaskan orang lain dari pengaruh semacam itu”

Raden Kuda Rupaka mengangguk-angguk, lalu katanya, “Tetapi dalam hal ini, Kidang Alit adalah orang yang sangat berbahaya, aku tidak tahu, apakah tujuannya yang sebenarnya, mungkin ia menghendaki diajeng Inten Prawesti, menilik kelakuannya di padukuhan Karangmaja, dua orang gadis telah menjadi korbannya, bahkan mungkin masih akan bertambah” ia berhenti sejenak lalu, “Tetapi dapat juga pamrih yang lebih jauh dari pada itu”

Panji Sura Wilaga mengangguk-angguk pula, katanya, “Kita memang harus siap menghadapi setiap kemungkinan Raden”

“Paman” berkata Raden Kuda Rupaka kemudian, “Apakah menurut pikiran paman kita akan menunggu saja disini sampai Kidang Alit berbuat sesuatu, atau kawan-kawan kedua iblis yang terbunuh itu datang?”

“Tidak Raden, tentu tidak, kita harus bertindak setelah kita mendapatkan kepastian”

Raden Kuda Rupaka mengangguk-angguk, tetapi untuk sesaat ia tidak mengatakan sesuatu, ketika ia menengadahkan wajahnya, nampak langit telah menjadi suram, warna-warna merah di tepi gumpalan awan pun menjadi semakin gelap.

Tetapi tiba-tiba saja Raden Kuda Rupaka terkejut, tanpa disadarinya terpandang olehnya segumpal asap kehitam-hitaman yang membubung tinggi ke langit yang sudah mulai diwarnai oleh kegelapan.

“Paman” desisnya, “Kau lihat asap itu?”

Panji Sura Wilaga mengerutkan keningnya, sambil mengangguk kecil ia menjawab, “Ya Raden, asap yang mencurigakan”

Panji Sura Wilaga kemudian berdiri tegak, setelah memperlihatkan keadaan sekelilingnya, tiba-tiba saja ia melompat naik memanjat pohon itu dengan tangkasnya, seperti seekor tupai yang berkejaran, dalam waktu sekejap ia sudah berada diatas dahan yang tinggi.

Hanya beberapa saat ia berada diatas dahan itu, karena ia pun segera meluncur turun, lebih cepat dari saat ia memanjat naik.

“Apa yang kau lihat paman?” bertanya Raden Kuda Rupaka.

“Asap itu mengepul dari atas bukit, Raden”

“Apakah telah terjadi kebakaran?, mungkin semak-semak atau padang ilalang?, jika demikian, maka orang-orang Karangmaja harus mencegah menjalarnya api, sebab hutan yang baru mulai hijau itu akan lenyap, akibatnya, tanah itu akan menjadi kering lagi, orang-orang Karangmaja memerlukan waktu yang lama untuk memulai lagi dari permulaan sekali”

Panji Sura Wilaga mengerutkan keningnya, namun kemudian katanya, “Aku kira bukan kebakaran, tetapi ada kesengajaan untuk menyalakan api di puncak bukit kecil itu, justru di puncak yang gundul”

Raden Kuda Rupaka menarik nafas dalam-dalam, katanya, “Kidang Alit, tentu Kidang Alit sedang memberikan isyarat kepada seseorang”

“Ternyata yang kita jumpai di daerah ini berbeda sekali dengan dugaan kita semula, Raden. Disini bukannya suatu tempat yang aman, tenteram dan damai, yang dapat dipergunakan untuk beristirahat sepekan dua pekan, tetapi daerah ini justru akan menjadi pusat pertarungan yang dahsyat” ia berhenti sejenak, lalu, “Apakah kita akan terlibat didalamnya?”

“Jadi maksud paman, kita akan pergi begitu saja dari istana ini?”

“Tentu tidak Raden”

Raden Kuda Rupaka menarik nafas dalam-dalam, setelah merenung sejenak, maka katanya, “Aku mengerti, dan kita sudah terlanjur terlibat terlampau jauh dalam persoalan-persoalan yang semula tidak pernah kita bayangkan”

Panji Sura Wilaga tidak menjawab, tetapi ia menatap asap yang masih saja mengepul tinggi itu sambil berkata, “Jika orang yang mendapat isyarat itu dapat menangkapnya, mungkin besok atau lusa daerah ini akan dikepung oleh beberapa orang yang mungkin datang dari perguruan Kumbang Kuning”

“Apakah perguruan Cengkir Pitu akan tetap diam menghadapi perguruan Kumbang Kuning yang mulai dengan geramnya?”

Panji Sura Wilaga tersenyum, katanya, “Tentu tidak Raden, dan kita tidak perlu memberikan isyarat apapun juga, jika benar-benar ada gerakan dalam jumlah yang cukup kuat dari perguruan Kumbang Kuning atau Guntur Geni, maka Cengkir Pitu akan segera dapat mengetahuinya, sehingga persoalannya akan berganti menjadi besar, pertentangan antar perguruan yang berpengaruh di daerah Majapahit lama”

“Sebenarnya pertentangan itu memang sudah dimulai paman, tetapi masing-masing masih mencoba mengatasinya dan mencegah pergulatan yang tidak perlu diantara mereka, tetapi agaknya kini keadaannya sudah lain”

“Ya, aku memperhitungkan bahwa lima atau enam orang murid dari perguruan Kumbang Kuning memang sudah ada di sekitar daerah ini, tetapi hanya Kidang Alit sajalah yang masuk ke padukuhan Karangmaja, isyarat itu agaknya sudah pasti, bahwa ia memanggil saudara-saudaranya untuk mendekat”

“Jika benar lima atau enam orang yang datang maka separuh dari mereka adalah anak-anak ingusan”

“Mungkin malahan gurunya”

Raden Kuda Rupaka menarik dalam-dalam, dan Panji Sura Wilaga berkata seterusnya, “Bukankah kita sudah mengadakan pengamatan yang ketat pula?”

Raden Kuda Rupaka mengangguk-angguk, lalu “Baiklah paman, meskipun kita tetap percaya kepada saudara-saudara seperguruan kita, namun kita disini harus tetap berhati-hati, mungkin ada sesuatu yang tiba-tiba saja terjadi diluar dugaan kita”

“Yang penting Raden, bibi dan adik sepupu Raden itu harus tetap tenang, mereka tidak boleh digelisahkan oleh kegelisahan kita, jika ada tindakan kasar di istana, ini adalah tanggung jawab kita, mereka sama sekali tidak boleh tersentuh, meskipun hanya ujung kain bibi dan adik sepupu Raden”

Raden Kuda Rupaka mengerutkan keningnya, namun ia pun kemudian tersenyum, senyum yang membayangkan seribu macam arti, namun juga membayangkan seribu macam rahasia yang tersimpan di dalam hati anak muda yang perkasa itu.

Sementara di puncak sebuah bukit yang gundul, Kidang Alit memang sedang membakar seonggok sampah dan ranting-ranting, mula-mula ia membakar ranting-ranting kering, ketika api sudah mulai menyala, maka ditaburkannya dedaunan yang basah kedalam api itu, sehingga asap pun kemudian mengepul tinggi kehitam-hitaman.

Seperti yang diduga oleh Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga, Kidang Alit memang sedang memberikan isyarat kepada seseorang yang berada agak jauh dari padukuhan Karangmaja.

Ternyata bahwa isyaratnya itu dapat ditangkap oleh orang-orang yang dimaksudkan, seorang yang bertubuh sedang dan berwajah tenang meyakinkan.

Isyarat yang memang sudah disepakati bersama itu, telah mendorong orang yang bertubuh sedang dan berwajah tenang itu, untuk pergi menemui seorang saudara seperguruannya yang lain.

“Kadang Sambi Timur, aku sudah melihat isyarat yang diberikan oleh anak muda yang menyebut dirinya Kidang Alit”

Saudara seperguruannya yang disebut Kadang Sambi Timur itu, mengerutkan keningnya, namun kemudian ia bertanya, “Raden Waruju maksudmu?”

“Ya, ia menyebut dirinya Kidang Alit”

Sambi Timur menarik nafas dalam-dalam, katanya, “Aku pun sudah melihatnya, apa katamu Bramadara”

Orang yang berwajah tenang itu menarik nafas dalam-dalam, katanya kemudian, “Isyarat itu telah jelas bagi kita, Waruju mengharap kita mendekat”

“Tentu kau yang dimaksudkan, karena ia tidak tahu bahwa aku pun sudah berada disini”

“Ya, aku, apalagi setelah aku mendengar berita yang kau bawa, bahwa Raden Kuda Rupaka tidak ada di istananya”

“Sudah beberapa lamanya ia menghilang, mungkin ia berada di istana bibinya di Karangmaja”

“Ya, dan itu berarti kesulitan bagi Kidang Alit”

“Sudah tentu, Raden Kuda Rupaka adalah seorang anak muda yang memiliki banyak kelebihan” desis Sambi Timur.

Bramadara menarik nafas dalam-dalam, hampir kepada dirinya sendiri ia berkata, “Kidang Alit belum pernah mengenal anak muda yang bernama Raden Kuda Rupaka, aku pun belum”

“Aku pernah berpapasan, tetapi aku pun belum jelas apakah aku masih dapat mengenalnya, ketika aku mendengar pemberitahuan itu, aku menjadi bimbang, tetapi perintah itu menyebut bahwa aku harus mendekati Kidang Alit, bukankah ia menyebut dirinya Kidang Alit?”

“Ya..”

“Aku harus berusaha membantunya, dan membantumu jika ia menemui kesulitan karena Raden Kuda Rupaka”

Bramadara mengangguk-angguk, namun kemudian katanya, “Tetapi Raden Waruju masih saja tidak dapat membebaskan diri dari kelemahannya”

“Kelemahan yang mana?”

“Setiap orang Karangmaja mengetahui, dan demikianlah semilirnya angin yang aku dengar, bahwa Raden Waruju sudah berhubungan dengan gadis-gadis Karangmaja, dua orang diantara mereka sudah kawin dengan anak muda Karangmaja, setelah Raden Waruju memberikan bekal sepasang lembu bagi mereka”

Sambi Timur tersenyum, katanya, “Aku kira sampai mati Raden Waruju tidak akan dapat meninggalkan kebiasaan itu”

“Namun dengan demikian, kedudukannya di Karangmaja menjadi lemah, ia tidak lagi menjadi seorang yang berwibawa dan mempunyai pengaruhi uang besar. Apalagi jika Raden Kuda Rupaka yang tidak ada di istananya itu benar-benar berada di istana kecil itu”

“Aku kurang mengerti, kenapa ia harus menyebut dirinya Kidang Alit, kenapa ia tidak datang dengan menengadahkan dadanya, dan menyebut dirinya -INILAH RADEN WARUJU”

“Dengan ujud seorang pengembara, ia akan dapat bergerak lebih leluasa, dan yang penting, ia akan dapat bergaul lebih dekat dengan anak-anak muda dan terutama dengan gadis-gadis Karangmaja”

Sambi Timur menarik nafas dalam-dalam, lalu katanya, “Sekarang ia memberikan isyarat, kita memang harus datang, agaknya Raden Kuda Rupaka memang berada di istana kecil itu”

“Jika benar demikian?”

“Jika perlu, kita akan mempergunakan kekerasan”

“Apakah kita cukup kuat?”

“Kita tidak tahu, apakah Raden Kuda Rupaka hanya seorang diri atau membawa sekelompok pengawal”

“Kita akan melihatnya nanti”

Keduanya pun kemudian mempersiapkan diri, mereka membawa senjata masing-masing dan menyediakan diri sepenuhnya jika mereka akan terlibat dalam kekerasan senjata dengan seseorang yang memiliki banyak kelebihan dari sesuatunya, Raden Kuda Rupaka.

Ketika kemudian gelap malam turun perlahan-lahan, Kidang Alit telah melontarkan sebongkok kayu kering kedalam apinya, sehingga ketika api itu menyala, nampaklah warna merah yang membayang di ujung bukit kecil itu”

“Bramadara harus melihat isyarat ini, ia harus segera datang dan menyelesaikan persoalanku dengan Raden Kuda Rupaka, semakin lama, tugasku akan menjadi semakin berat dan berlarut-larut” desisnya sambil di sebelah api yang menjadi semakin besar.

Tiba-Tiba saja Kidang Alit meloncat berdiri dan bersiap menghadapi setiap kemungkinan, ketika ia mendengar gemerisik langkah kaki mendekatinya.

“Aku Raden” terdengar suara dari kegelapan.

“Kau kakang Bramadara?” bertanya Kidang Alit.

“Ya, aku datang tidak seorang diri”

Dalam cahaya api yang kemerah-merahan, Kidang Alit melihat dua orang datang mendekatinya, yang seorang adalah Bramadara sedang yang lain adalah orang yang tidak disangka datang bersamanya.

“Kakang Sambi Timur?” desis Kidang Alit.

“Ya Raden”

Kidang Alit menarik nafas dalam-dalam, katanya kemudian, “Tentu ada persoalan yang penting yang kau bawa kemari”

Sambi Timur dan Bramadara pun kemudian melangkah semakin dekat, dan ketiganya pun duduk di tepi perapian yang masih menyala meskipun apinya menjadi semakin redup.

“Berita apakah yang kau bawa, kakang Sambi Timur?” bertanya Kidang Alit

“Yang penting, aku mendapat perintah untuk mendekati Raden, jika pada suatu saat Raden memerlukannya”

“Ya, dan kau sekarang sudah berada disini”

“Yang kedua, aku membawa berita bagi Raden”

“Aku memang sudah menduga, katakan”

“Raden Kuda Rupaka telah meninggalkan istananya”

Kidang Alit tertawa kecil, katanya, “Baru sekarang kau memberitahukan hal itu kepadaku, Ia sudah berada disini sekarang, bahkan aku sudah menjajagi kemampuannya”

“Jadi Raden sudah bertempur melawan Kuda Rupaka?”

“Tidak, aku mempergunakan pengaruh bunyi, aku mencoba membius diajeng, eh maksudku puteri Pangeran Kuda Narpada, Inten Prawesti dengan suara seruling, namun ternyata bahwa Raden Kuda Narpada berhasil memecahkan pengaruh kekuatan bunyi itu”

Sambi Timur mengangguk-angguk, katanya, “Aku memang mendapat pesan agar Raden menjadi semakin berhati-hati karenanya, menurut perhitungan kami, Raden Kuda Rupaka memang akan pergi ke istana kecil itu, ternyata perhitungan itu benar”

“Ia tidak seorang diri, ia datang bersama seseorang yang bernama Panji Sura Wilaga”

“Sura Wilaga” desis Panji Timur, “Aku belum pernah mendengarnya, mungkin seorang murid baru, atau pengawal ayahandanya yang paling dapat dipercaya”

“Mungkin, ternyata keduanya merupakan orang yang harus diperhitungkan”

“Tentu Raden, dan kita tidak akan dapat bertindak dengan tergesa-gesa”

“Agaknya bukan saja Raden Kuda Rupaka yang harus kita perhitungkan disini”

“Siapa lagi Raden?”

“Anak-anak ingusan dari perguruan Sekar Pucang”

“Guntur Geni maksud Raden”

“Murid-murid Kiai Sekar Pucang”

“Ya, Kiai Sekar Pucang dari perguruan Guntur Geni”

Kidang Alit mengangguk-angguk dan Sambi Timur berkata seterusnya, “Mereka tentu orang-orang yang sangat berbahaya Raden, apakah mereka masih juga berada di padukuhan ini?”

“Mereka sudah mati dibunuh”

“Raden membunuhnya?”

“Tidak, Kuda Rupaka, dua diantara mereka sudah terbunuh, yang seorang lagi melarikan diri”

Sambi Timur menarik nafas dalam-dalam, sambil memandang kepada Bramadara ia bergumam, “Bahaya yang setiap saat dapat meledak”

“Ya, kita harus benar-benar berhati-hati”

“Karena itu kakang Samba Timur dan kakang Bramadara, persoalannya semakin mendesak” Kidang Alit berhenti sejenak, lalu katanya, “Karena itu, kalian jangan menjauh lagi, biarlah kalian berada disini”

“Di Karangmaja?”

“Ya, datanglah dengan sikap yang kasar, seperti sikap orang Guntur Geni”

“Maksud Raden?”

“Kalian akan ditempatkan di banjar padukuhan, tetapi kalian harus menunjukkan bahwa kalian memiliki sesuatu yang mirip atau serupa dengan ilmu orang-orang Guntur Geni” Kidang Alit berhenti sejenak lalu, “Salah seorang dari kalian berdua harus memukul salah seorang anak muda di hadapan Ki Buyut, sehingga anak itu pingsan”

“Dengan racun yang melumpuhkan?”

“Tidak perlu, asal saja ia pingsan, aku akan mengobatinya, aku akan mengatakan bahwa ilmumu lebih dari anak-anak Guntur Geni, dan aku akan mengobatinya dengan obat yang lebih baik dari yang pernah aku pergunakan untuk mengobati Kasdu, akulah yang membuatnya tetap lemah selama kira-kira sebulan”

Kidang Alit kemudian memberitahukan apa yang harus mereka lakukan seperti yang pernah dilakukan oleh orang-orang dari Guntur Geni.

“Kalian akan menjadi pusat perhatian Raden Kuda Rupaka, seperti saat Raden Kuda Rupaka memperhatikan orang-orang dari Guntur Geni, jika datang saatnya, Raden Kuda Rupaka memang harus dibunuh, kita harus menyelesaikan tugas kita”

“Semakin cepat semakin baik Raden”

“Ya, tetapi hadirnya Raden Kuda Rupaka merusak semua rencana kita, juga karena aku menginginkan kedua gadis itu”

“Dua orang gadis?”

“Inten Prawesti dan Pinten, anak pelayan istana kecil itu”

Bramadara dan Sambi Timur, menarik nafas dalam-dalam, tetapi mereka tidak mencoba mencegahnya, karena itu sudah menjadi sifat dan wataknya Raden Waruju.

Untuk beberapa saat lamanya, mereka masih berbicara tenang rencana, jika rencana mereka itu berhasil, maka mereka akan berada dalam jarak yang pendek tanpa diketahui oleh Raden Kuda Rupaka. Mungkin Raden Kuda Rupaka akan menjadi lengah, atau tidak memperhitungkan, bahwa ketiga orang yang berada di Karangmaja itu pada suatu saat bekerja bersama untuk, membunuhnya.

Namun dalam pada itu, Kidang Alit kemudian bertanya, “Kakang Sambi Timur, apakah pentingnya Raden Kuda Rupaka, maka kau harus datang khusus untuk memberitahukan bahwa ia sudah tidak di istananya lagi?”

“Selama ini bagi beberapa orang di Demak, Raden Kuda Rupaka merupakan seorang anak muda yang menjadi buah bibir, ia memiliki ilmu yang tinggi, namun ia juga seorang yang baik dan rendah hati, ia menolong hampir setiap orang yang diketahuinya mendapat kesulitan”

“Tetapi apakah ia memerlukan datang ke tempat yang jauh?”

“Raden harus ingat, bahwa Raden Kuda Rupaka adalah seorang bangsawan yang masih sangat dekat hubungannya dengan Pangeran Kuda Narpada, keduanya datang dari Majapahit saat Majapahit mengalami kemunduran”

“Bagi Demak, mereka adalah orang-orang baru”

“Ya, apalagi bagi Raden yang jarang sekali hadir ke kota Raja itu, meskipun dengan Raden Waruju masih ada gegayutan, tetapi tentu sudah agak jauh”

“Aku lebih suka bernama Kidang Alit, di sini aku dapat hidup diantara anak-anak muda Karangmaja tanpa jarak, jika aku menyebut diriku dengan nama dan kedudukan yang sebenarnya, aku akan menjadi jauh dari mereka”

“Terserahlah kepada Raden, namun dengan demikian Raden sudah mendapat gambaran serba sedikit tentang Raden Kuda Rupaka dan kedudukannya diantara para bangsawan, meskipun ia orang baru, namun pengaruhnya di kalangan anak-anak muda bangsawan, nampaknya sudah semakin berakar”

“Aku mengerti, tetapi pada suatu saat mereka akan kehilangan Raden Kuda Rupaka, yang datang kemudian adalah Raden Waruju dengan kekuatan dan wibawa yang baru setelah aku menyelesaikan tugasku disini” namun dahinya tiba-tiba saja berkerut, “Tetapi apakah dengan demikian berarti Raden Ayu Kuda Narpada dan Inten Prawesti itu masih kadangku juga?”

“Ya, tetapi seperti Raden Kuda Rupaka, hubungan itu sudah amat jauh, hampir setiap keluarga Adipati di seluruh negeri masih mempunyai gegayutan, meskipun sekedar bersangkut paut karena perkawinan”

Kidang Alit mengangguk-angguk, namun kemudian katanya, “Persetan, aku harus mendapatkan semua yang aku inginkan di sini, Nah, sekarang pergilah, dan datanglah besok berkuda ke Karangmaja, seperti yang aku pesankan, datanglah ke rumah Ki Buyut dan hati-hatilah, semua harus berjalan seperti yang aku kehendaki”

“Baiklah Raden”

“Panggil aku Kidang Alit”

“Baiklah, tetapi kemana kami harus pergi sekarang? apakah aku harus kembali lagi ke persembunyianku?”

“Tidak perlu, tinggal sajalah di sini, dan datanglah besok ke Karangmaja”

Bab 9

Kidang Alit pun kemudian berdiri dan melangkah meninggal-kan kedua orang kawan-kawannya dengan pesan, “Aku akan kembali ke pondokku, ingat semua yang harus kau lakukan”

Kedua kawannya tidak menjawab, mereka memandang langkah Kidang Alit yang semakin lama menjadi semakin jauh, dan hilang didalam kegelapan malam.

Sambi Timur dan Bramadara masih termangu-mangu disamping perapian yang sudah hampir padam. Sejenak mereka merenungi bara api yang tertinggal diantara abu yang hitam. Namun kemudian terdengar Bramadara berkata, “Semalam suntuk kita harus menunggu perapian ini”

“Kita dapat tidur saja disini, apa bedanya tidur ditempat lalu?”

“Dan kita akan diterkam harimau tanpa melawan?, sebaiknya kita tidur bergantian”

“Tidak ada harimau disini, yang ada hanyalah kucing-kucing hutan yang agak besar”

“Aku sudah berada ditempat ini lebih lama dari kau, disini ada harimau, sebenarnya harimau bukan sekedar seekor blacan, bahkan disini ada harimau kumbang”

“Kau takut harimau kumbang?”

“Bukan takut, tetapi jika kita tidur, maka kita tidak akan sempat bangun”

“Baiklah, kita akan tidur bergantian”

Keduanya pun kemudian membagi saat pergantian lewat tengah malam, kapan yang seorang akan dibangunkan oleh yang berjaga-jaga terlebih dahulu.

Menjelang pagi hari, maka keduanya pun mempersiapkan diri, mereka bersepakat untuk tidak untuk tidak berbenah, bahkan mereka membuat pakaian mereka menjadi lusuh dan membuat diri mereka nampak sebagai orang-orang kasar, ikat kepala mereka pun tidak lagi mereka atur sebaik sebaik-baiknya, nampaknya asal saja membelit kepala, beberapa lembar rambut mereka yang panjang, mereka biarkan mencuat keluar.

“Jika kau berbicara, kau harus membelalakkan matamu” berkata Sambi Timur sambil tersenyum.

“Sebenarnya aku segan berbuat seperti ini, Tetapi apaboleh buat, Raden Waruju memang senang berbuat aneh-aneh. Seperti dirinya sendiri yang menyamar seperti anak padesan kebanyakan dan bernama Kidang Alit”

“Tetapi penyamaran itu sangat bermanfaat baginya” desis Sambi Timur.

Bramadara tertawa, tetapi ia tidak menjawab lagi. Demikianlah keduanya dengan cara yang aneh, mendekati padukuhan Karangmaja seperti petunjuk Kidang Alit, dengan wajah yang garang dan sikap yang kasar dibuat-buat, mereka memasuki padukuhan itu.

Beberapa orang yang melihat kehadiran mereka menjadi ketakutan, mereka belum melupakan hilangnya tiga orang dari banjar, yang menurut pendengaran mereka, telah dibunuh oleh Raden Kuda Rupaka, tetapi seorang dari mereka sempat melarikan diri dan sudah barang tentu ia akan kembali dengan dendam yang membara di hati.

Kini, tiba-tiba saja hadir dua orang kasar di padukuhan mereka, yang tidak mustahil ada sangkut pautnya dengan orang-orang yang telah dibunuh itu.

Kedua orang berkuda itu sama sekali tidak menghiraukan orang-orang yang dengan tergesa-gesa masuk kedalam rumah masing-masing dan menutup pintu, yang tidak sempat, segera berlindung dibalik dinding atau pepohonan atau pepohonan yang rimbun.

Namun keduanya tidak menghiraukan mereka, keduanya langsung menuju ke rumah Ki Buyut di Karangmaja.

Kedatangan kedua orang itu benar-benar telah mengejutkan Ki Buyut, belum lagi orang-orang yang mengubur kedua mayat orang-orang asing yang berada di banjar itu melupakan kengeriannya atas mayat-mayat yang penuh noda-noda darah itu, telah datangnya dua yang tidak mereka kenal dengan sikap yang kasar pula.

“He, siapakah Buyut di Karangmaja” Sambi Timur menggeram.

Ki Buyut melangkah mendekatinya sambil menjawab, “Aku Ki Sanak, aku adalah Buyut di Karangmaja”

Ki Sambi Timur membelalakkan matanya, dan berkata lantang, “Aku akan berada di Padukuhan ini untuk waktu yang tidak tertentu”

“Ki Sanak” berkata Ki Buyut, “marilah, silahkan duduk, barangkali kita dapat berbicara sebaik-baiknya”

“Aku tidak mempunyai waktu, beri aku tempat, beri aku makan dan beri aku semua kebutuhan yang aku inginkan”

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam, beberapa orang anak muda ragu-ragu untuk mendekatinya, mereka masih belum melupakan, apa yang pernah terjadi atas Kasdu.

Namun dengan demikian Sambi Timur dan Bramadara menjadi agak kebingungan, menurut pesan Kidang Alit, salah seorang dari mereka harus memukul salah seorang anak muda itu sehingga pingsan, tetapi tidak ada seorang anak muda pun yang mendekat.

“Cepat Ki Buyut” Bramadara berteriak, justru karena ia ingin membuat dirinya menjadi kasar, maka ia telah bertingkah laku dengan sikap yang berlebih-lebihan.

Berteriak dan sekali-sekali mengumpat dengan kata-kata yang tidak dimengerti.

Ki Buyut menjadi bingung, namun ia tidak dapat berbuat lain, dari pada memenuhi tuntutan orang-orang itu.

“He !!, kenapa kau justru mematung..!!” bentak Sambi Timur.

“Ya…ya… Ki Sanak, kami dapat menempatkan Ki Sanak di Banjar padukuhan ini”

“Baik, aku akan berada di banjar padukuhan, aku ingin disediakan makan dan minum secukupnya, dan kebutuhan-kebutuhan yang aku minta, jika kalian tidak sanggup menyediakan, maka padukuhan ini akan aku jadikan karang abang, He…!!! kalian mendengar…?”

“Ya.. ya.. Ki Sanak”

“Kalian mendengar…!!?” teriak Sambi Timur kepada anak-anak muda yang kebetulan berada di halaman. Ia mencari alas an, untuk dapat memenuhi pesan Kidang Alit, memukul salah seorang dari mereka.

Tetapi anak-anak muda itu menjadi ketakutan dan bergeser mundur.

“Gila..!” geram Bramadara, tiba-tiba saja ia meloncat turun dari kudanya dan memanggil seorang anak muda, yang bertubuh tinggi besar dan berdada bidang. “Kemari, kau kemari”

Anak muda itu termangu-mangu sejenak, “Siapa namamu He..!”

“Sambi, tuan”

“He..!!” tiba-tiba Bramadara terbelalak lebar sekali “Kau jangan menghina kami”

Anak muda itu menjadi bingung

“Sebut namamu sekali lagi”

“Sambi, Sambi Tuan” anak muda itu menjadi gemetar.

“He, kakang Sambi Timur, anak muda ini berani menyebut namamu, ia menyebut namanya dengan namamu”

“Mata Sambi Timur menjadi memerah, dicobanya untuk menunjukkan kemarahan yang meluap-luap, katanya, “Anak gila..!, kau telah menghina aku”

Sambi Timur pun kemudian meloncat turun, ia tidak membuat alasan lain yang dapat dipergunakan memenuhi pesan Kidang Alit, adalah kebetulan sekali bahwa nama anak itu sama dengan namanya.

“Satu-satunya alasan” berkata Sambi Timur didalam hatinya, dan agaknya Bramadara pun memperhitungkan demikian pula.

Maka tiba-tiba saja Sambi Timur menyambar ikat kepala anak muda itu dan membantingnya ke tanah, “Kau berani menyebut namaku He..!, Kau harus tahu, siapa yang menyebut namaku, maka ia harus berurusan denganku”

“Tetapi namaku, namaku memang dengan demikian Tuan” anak itu menjadi semakin gemetar.

“Persetan..!!, jika demikian, maka kau berani menyebut namaku, karena itu, kita harus berperang tanding, di dunia ini, hanya ada satu nama Sambi, Sambi Timur”

Anak muda itu menjadi semakin ketakutan, katanya dengan suara terputus-putus, “Tetapi namaku tidak memakai Timur”

“Itu tidak penting, cepat, bersiaplah, kita akan berperang tanding”

“Tidak, tidak” anak muda itu menjadi semakin ketakutan”

“Pengecut” tiba-tiba Sambi Timur membentak, tangannya terayun deras sekali mengenai wajah anak muda yang bernama Sambi itu, sehingga anak muda itu pun terpelanting jatuh.

Semua mata terbelalak melihat peristiwa yang terjadi itu, tidak seorang pun dapat mencegahnya, apalagi ketika Sambi Timur kemudian berkata, “Anak itu harus mengerti bahwa tidak ada orang lain bernama Sambi di dunia ini, sekarang ia tidak akan dapat menyebut namanya lagi”

“Tuan sudah membunuhnya?” bertanya Ki Buyut.

Sambil tertawa, dicobanya tertawa keras-keras, namun kadang-kadang tertawanya justru menjadi sumbang.

Katanya, “Ia tidak mati, tetapi akan menjadi lumpuh, buta, bisu dan tuli”

“Ooo” Ki Buyut menebah dadanya, katanya, “Kasihan anak itu, ia anak baik tuan, apakah tuan tidak dapat menyuruhnya saja berganti nama?”

“Aku tidak perduli, tidak ada orang yang akan dapat mengobatinya, ia akan mengalaminya sampai tua”

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam, sekilas teringat olehnya dengan seorang anak muda yang bernama Kidang Alit, anak muda yang telah berhasil mengobati Kasdu sehingga kini anak muda itu sudah dapat dikatakan sembuh, meskipun belum pulih, apalagi di istana kecil itu ada seorang bangsawan muda bernama Kuda Rupaka yang juga sanggup pula mengobati seseorang yang mengalami peristiwa seperti itu.

Tetapi Ki Buyut sama sekali tidak menyebutkannya, bahkan kemudian ia berkata, “Ki Sanak, aku minta maaf jika ada sesuatu yang tidak menyenangkan bagi Ki Sanak, sekarang aku persilahkan Ki Sanak pergi ke banjar, di banjar Ki Sanak akan dapat tinggal dengan tenang tanpa gangguan apapun juga”

Sambi Timur memandang Ki Buyut dengan tajamnya, lalu katanya, “Baiklah, aku akan pergi ke banjar”

“Biarlah seseorang mengantarkan Ki Sanak”

“Aku sudah tahu dimana letak banjar itu, aku akan pergi ke banjar”

Sambi Timur dan Bramadara tidak menunggu lebih lama lagi, mereka pun kemudian meloncat ke punggung kudanya dan segera meninggalkan halaman rumah Ki Buyut.

Demikian kedua orang itu hilang, maka regol halaman itu telah berdiri termangu-mangu seorang anak muda yang lain, Kidang Alit.

Semua mata pun kemudian terpancang kepada Kidang Alit, perlahan-lahan anak muda itu melangkah maju, ketika matanya menyentuh tubuh Sambi yang berbaring diam, maka ia pun dengan tergesa-gesa berlari mendekatinya, sambil berjongkok disisinya ia bertanya, “Kenapa dengan Sambi?”

Ki Buyut mendekatinya dengan pandangan sedih, sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Agaknya padukuhan ini memang sedang ditimpa oleh malapetaka, aku tidak tahu, apakah kesalahan yang pernah kami perbuat disini, sehingga rasa-rasanya sebuah kutukan yang mengerikan kini sedang berlaku”

Kidang Alit meraba tubuh Sambi, dengan wajah tegang ia berkata, “Luar biasa, suatu ilmu yang hampir tidak ada duanya dimuka bumi.”

“Ia mengalami nasib seperti Kasdu” desis Ki Buyut yang kemudian menceritakan apa yang telah terjadi atas Sambi”

“Gila” desis Kidang Alit, “Apakah persamaan nama saja sudah cukup alas an baginya untuk menyiksa anak ini seumur hidupnya, Kasdu kini nampaknya sudah mulai dapat menggerakkan segenap tubuhnya, bahkan beberapa langkah ia sudah dapat berjalan, tiba-tiba kini malapetaka yang lebih besar telah menimpa Sambi”

“Lebih besar?” bertanya Ki Buyut.

“Ya, Sambi nampaknya lebih parah dari Kasdu”

“Jadi..?”

Kidang Alit menarik nafas dalam sekali, katanya, “Bawalah kedalam, aku mencoba mengobatinya”

Anak-anak muda yang ada di halaman itu pun kemudian mengangkat tubuh yang seolah-olah menjadi kejang itu masuk kedalam dan dibaringkannya di sebelah Kasdu yang sudah dapat bangkit berdiri meskipun masih tertatih-tatih dan harus mencari pegangan. Bahkan dengan dilayani oleh seseorang, ia sudah dapat berjalan beberapa langkah, sedangkan penglihatan dan pendengarannya seolah-olah telah pulih sama sekali.

Untuk beberapa saat lamanya, Kidang Alit meraba segenap tubuh Sambi, setiap kali ia seolah-olah menemukan sesuatu dibawah kulit anak muda yang pingsan itu.

Baru beberapa saat kemudian, Kidang Alit mengambil semacam serbuk dari dalam bumbung kecil yang disimpan di kantong ikat pinggangnya, dengan beberapa tetes air, serbuk itu dicairkan, dan dituangkannya kedalam mulut Sambi”

Setelah ditunggu beberapa lama kemudian, maka Sambi pun mulai sadar, matanya terbuka dan bibirnya pun mulai bergerak-gerak.

“Air” Desisnya

Kidang Alit tersenyum, demikian juga Ki Buyut yang menungguinya dengan tegang.

“Aku berhasil Ki Buyut, ia dapat membuka matanya dan melihat kita yang berada di sekitarnya, mulutnya dapat bergerak dan menyebut sesuatu yang di kehendakinya, mudah-mudahan ia dapat segera pulih seperti Kasdu meskipun akan membutuhkan waktu yang agak lama.

“Lebih lama..?” bertanya Ki Buyut.

“Ya…, orang-orang yang datang kemudian ini memiliki kemampuan yang lebih tinggi dari orang-orang yang yang telah datang lebih dahulu, orang-orang yang telah dibunuh di istana kecil itu.”

Ki Buyut termangu-mangu sejenak, lalu tiba-tiba saja ia bertanya, “Kidang Alit, apakah kau tahu serba sedikit tentang peristiwa di halaman istana kecil itu?”

“Maksud Ki Buyut?”

“Apakah kau ikut campur didalam pertempuran yang telah terjadi?”

Kidang Alit mengerutkan keningnya, namun kemudian ia tertawa, “Janganlah dirisaukan, aku tidak ikut campur sama sekali, aku tidak tahu menahu”

Ki Buyut tidak mendesaknya lagi, meskipun demikian, ia masih bertanya, “Kidang Alit, apakah kau berhubungan dengan Raden Kuda Rupaka?”

“Ooo…” Kidang Alit mengangkat keningnya, “Aku tidak ada hubungan dengan bangsawan-bangsawan yang hanya dapat menyombongkan dirinya, yang menganggap kita orang-orang kecil, ini hanyalah sekedar sasaran pelepasan kekuasaannya, Ki Buyut aku memang tidak ingin berhubungan dengan bangsawan-bangsawan itu”

“Tetapi mereka bukan orang-orang yang sombong”

“Ki Buyut, sejak aku kanak-kanak, aku tidak dibiasakan untuk mengangguk hormat dalam sekali, menundukkan kepala jika berbicara, atau dengan tata cara yang menjemukan sekali”

“Tidak, tidak Kidang Alit, aku tidak pernah tidak pernah mempergunakan tata cara yang demikian terhadap Raden Rupaka, bahkan terhadap Pangeran Kuda Narpada pun tidak, atas kehendak Pangeran Kuda Narpada sendiri”

“Tetapi kita masih harus memanggilnya Raden, dan dalam terhadap perempuan yang ada di istana itu, kita harus menyebutnya Gusti dan puteri. Ah, sudahlah Ki Buyut, biarlah aku hidup dengan caraku dan Raden Kuda Rupaka hidup dengan caranya”

“Baiklah Kidang Alit, tetapi sebagai orang tua, aku lebih senang melihat anak-anak muda dapat hidup rukun, apalagi anak-anak muda seperti kau dan Raden Kuda Rupaka, yang memiliki kelebihan dari sesama” Ki Buyut berhenti sejenak, lalu, “Jika kalian dapat hidup rukun, maka kami sepadukuhan ini, akan dapat menggantungkan nasih kami kepada kalian, apalagi jika setiap kali padukuhan ini didatangi oleh orang-orang yang mengerikan seperti yang berada di banjar itu”

“Mereka tidak akan berbuat apa-apa, seperti tiga orang yang terdahulu Ki Buyut, persoalan mereka tentu ada hubungannya dengan kematian kedua orang yang baru saja dikuburkan itu, meskipun agaknya mereka bukan saudara seperguruan”

Ki Buyut termangu-mangu sejenak, namun kemudian “Darimana kau tahu bahwa mereka bukannya seperguruan dengan orang-orang yang telah terbunuh itu?”

“Aku dapat melihat akibat dari tangan mereka, memang ada persamaan, tetapi ada juga bedanya”

Ki Buyut tidak mendesaknya lagi, karena ia merasa bahwa ia tidak akan dapat mengerti, apapun yang dikatakan Kidang Alit, namun yang ditanyakan justru, “Kidang Alit, jika orang itu tidak dapat berbuat apa-apa, kenapa keduanya terbunuh justru di halaman istana itu”

“Maksudku, mereka tidak berbuat apa-apa atas kita disini, persoalan mereka dengan istana itu, sama sekali bukan persoalan kita Ki Buyut”

“Ki Buyut mengangguk-angguk, ia mengerutkan keningnya, ketika ia melihat seorang yang melayani Sambi yang merasa sangat haus, setitik demi setitik air diteteskan di mulutnya, dengan susah payah ia mencoba menelan air itu.

Sambi menarik nafas dalam-dalam, ia pun kemudian menggeleng lemah, “Cukup” desisnya lambat sekali.

“Ki Buyut” berkata Kidang Alit kemudian, “Aku minta diri, biarlah anak-anak menjaga Sambi sebaik-baiknya, jika ada orang lain yang datang, biarlah keduanya masih tetap berpura-pura lumpuh, bisu dan tuli”

“Tetapi orang-orang yang menyakiti Kasdu sudah tidak ada lagi?”

“Siapa tahu, bahwa aku keliru, jika kedua orang itu adalah kawan-kawan mereka yang sudah terbunuh, maka mereka pun tentu akan membunuhnya pula”

Ki Buyut mengangguk-angguk, Ia pun kemudian berpesan seperti yang dikatakan oleh Kidang Alit itu untuk keselamatan mereka sendiri”

“Kecuali terhadap Raden Kuda Rupaka” berkata Ki Buyut” Ia tidak dapat dibohongi, ia mengerti semuanya tentang Kasdu yang barangkali juga Sambi”

Kidang Alit tersenyum, katanya, “Biar sajalah, aku kira mereka tidak akan membahayakan Kasdu, bagaimana juga aku kira bangsawan-bangsawan itu masih juga mengenal peri-kemanusiaan”

Ki Buyut mengerutkan keningnya, tetapi ia tidak menjawab, “Sudahlah Ki Buyut, aku akan pergi ke sungai, sudah dua hari aku tidak mencuci pakaian”

Kidang Alit pun kemudian meninggalkan rumah Ki Buyut, dimuka regol langkahnya terhenti sejenak, namun kemudian ia pun berkata kepada diri sendiri, “Persetan jika Kuda Rupaka mengetahui permainan ini, aku tidak akan memberi kesempatan kepadanya lebih lama lagi, tetapi semuanya memang tidak dapat dilakukan dengan tergesa-gesa agar justru tidak gagal karenanya”

Ia pun kemudian melanjutkan langkahnya, kembali ke pondoknya, mengambil beberapa helai pakaiannya, dan langsung pergi ke sungai.

Kidang Alit mempunyai kesenangan mencuci pakaiannya di sungai disaat-saat gadis-gadis Karangmaja mencuci pakaian pula.

Namun gadis-gadis itu sama sekali tidak merasa terganggu oleh kehadirannya, meskipun tidak biasa laki-laki mencuci pakaian bersama dengan mereka. Biasanya laki-laki lebih suka mandi dan mencuci di gerojogan di bawah bendungan, di siang atau di sore hari setelah mereka pulang ke sawah.

Bahkan kehadiran Kidang Alit dapat memberikan kesegaran dan kegairahan pada gadis-gadis itu. Mereka tidak segan-segannya bergurau bahkan kadang-kadang berkejar-kejaran bersama Kidang Alit, sehingga dengan demikian, mereka sering terlambat pulang.

Tidak banyak yang mengetahui perbuatan Kidang Alit itu, gadis-gadis Karangmaja tidak pernah memperbincangkan dengan orang tua mereka tentang tingkah laku anak muda itu, tetapi mereka setiap saat memperbincangkannya dengan kawan-kawan mereka. Bahkan siapa yang paling dekat dengan anak muda itu, merasa sangat bangga, seolah-olah ia adalah gadis yang paling terkemuka di Karangmaja.

Meskipun dua orang dari mereka telah kehilangan pengekangan diri, namun seolah-olah hal itu tidak pernah diingatnya lagi oleh kawan-kawannya, apalagi keduanya kemudian telah kawin seperti kebanyakan gadis-gadis dewasa dengan laki-laki yang menganggap mereka sebagai isteri yang baik tanpa cela.

Tetapi bagaimanapun juga, tingkah laku Kidang Alit itu telah membuat Ki Buyut menjadi sangat berprihatin. Tidak kurang dari kehadiran dua orang yang tinggal di banjar, seolah-olah menggantikan tiga orang yang sebelumnya berada di banjar itu pula, dan yang dua diantaranya mereka telah terbunuh sedang yang seorang berhasil melarikan diri.

Namun keprihatinan itu harus ditekannya didalam dadanya, yang semakin lama menjadi semakin penuh dengan persoalan-persoalan yang datang berurutan.

“Kapan ada cahaya terang pada padukuhan kecil ini” Setiap kali Ki Buyut berdesah, jika ia mulai berbaring di malam hari, terasa betapa kecut hatinya menghadapi masa depan padukuhannya.

Memang sekali lagi timbul dugaannya, bahwa istana kecil itulah yang agaknya telah mengundang kesulitan bagi padukuhan Karangmaja, tetapi ia mengenang kebaikan hati Pangeran Kuda Narpada dan segala macam jasa yang telah diberikan maka, ia selalu mencoba mengusir dugaan-dugaan semacam itu.

Tetapi sebenarnyalah bahwa persoalan memang berkisar pada istana kecil yang terpencil itu, kegagalan-kegagalan orang dari perguruan Guntur Geni, bukan mengurangi kekalutan bagi Karangmaja. Karena salah seorang dari mereka yang tidak terbunuh mati, berhasil menghubungi kawan-kawannya dari perguruan Guntur Geni dan menceritakan apa yang telah terjadi di istana kecil itu.

“Gila” desis salah seorang yang bertubuh jangkung, berambut putih dan berjanggut panjang dan berwarna putih pula, “Jadi di Karangmaja telah hadir murid-murid dari perguruan Cengkir Pitu dan Kumbang Kuning?”

Gagak Wereng yang hampir kehabisan darah selama di perjalanan, hampir tidak mampu lagi bergerak, hanya karena ketahanan tubuhnya yang luar biasa sajalah, maka ia masih dapat berbicara beberapa kalimat, untuk menceritakan segala peristiwa pahit yang dialaminya. Ketika ia merasa bahwa semuanya sudah diucapkannya, betapapun sulitnya untuk menggerakkan bibir, tidak dapat lagi mengucapkan kata-kata.

Gagak Wereng masih sadar, bahwa oleh dua orang saudara seperguruannya, ia diangkat mendaki sebuah bukit kecil di ujung Pegunungan Sewu, beberapa tonggak lagi, terhampar ngarai yang luas, yang sebagian masih diselimuti oleh hutan yang sangat lebat.

Orang berjanggut dan berambut putih tidak memaksanya lagi untuk berbicara, tetapi ia memberikan beberapa tetes cairan, ramuan dari air dan serbuk obat untuk menenangkan dan memberi kekuatan kepada Gagak Wereng, tanpa obat ini maka Gagak Wereng tentu sudah jatuh pingsan, dan bahkan mungkin ia akan kehilangan kemungkinan untuk dapat hidup lebih lama lagi.

Namun agaknya Gagak Wereng memang belum saatnya mati, perlahan-lahan tubuhnya merasa menjadi segar, sehingga ia mulai dapat menggerakkan seluruh tubuhnya dan bibirnya mulai dapat menyebut beberapa kata.

Ketika ia merasa sudah menjadi semakin kuat, maka ia pun mulai mencoba untuk duduk bersandar pada sebongkah batu besar di pinggir jalan setapak.

“Wereng” salah seorang temannya mulai bertanya lagi ketika ia melihat keadaan Gagak Wereng semakin baik, “Jadi jelasnya, kau dan kedua saudara seperguruanmu itu telah gagal”

“Ya, ya Kiai, kami sudah gagal, gagal sama sekali, aku tidak melihat akhir dari pertempuran di halaman itu, namun menurut perhitunganku saudara-saudaraku tidak ada harapan lagi untuk melepaskan diri dari tangan Raden Kuda Rupaka dan Panji Sura Wilaga”

“Raden Kuda Rupaka” desis orang berjanggut dan berambut putih itu. “Aku mendengar namanya belum lama berselang, ia adalah seorang kesatria dari Majapahit yang memiliki beberapa kelebihan, namanya cepat dikenal di Demak oleh segala golongan, karena ia mempunyai jiwa pengabdian yang tinggi, ia banyak menolong orang-orang yang memang memerlukan pertolongannya, ia tidak segan-segan berbuat apa saja untuk kepentingan orang banyak yang lemah dan tersinggung oleh rasa keadilannya”

“Agaknya benar orang itu” desis Gagak Wereng dengan suara yang lemah, “Ia adalah seorang bangsawan yang memang pilih tanding”

“Tetapi disamping Kuda Rupaka, kau harus memperhatikan pula orang yang menyebut dirinya dari perguruan Kumbang Kuning” sahut orang yang berjanggut dan berambut putih itu. “Perguruan Kuning adalah perguruan yang pernah menggetarkan tanah ini”

Gagak Wereng mengangguk-angguk, namun kemudian ia berdesis, “Tetapi kenapa mereka itu kini berkumpul di Karangmaja?” bukankah itu berarti bahwa rahasia yang tersimpan di dalamnya telah banyak diketahui oleh beberapa pihak?”

“Mungkin demikian, tetapi yang menggelisahkan kita adalah Kuda Rupaka, ia adalah keluarga Raden Kuda Narpada, sehingga ia merupakan pelindung yang paling baik” orang yang berjanggut putih itu menggeram, “Kenapa Kuda Rupaka itu hadir juga di tempat yang demikian jauhnya?”

“Kita juga datang dari jauh, kini kiai berada disini beberapa lamanya, dan meninggalkan padepokan juga karena rahasia yang tersimpan di istana itu” Sahut Gagak Wereng, “Tentu Kuda Rupaka mengetahui juga rahasia itu, dan merasa wajib untuk melindunginya”

“Apakah bukan karena Kuda Rupaka sendiri mempunyai pamrih seperti kita dan murid-murid dari perguruan Kumbang Kuning itu?”

“Kita tidak tahu dengan pasti, tetapi yang jelas, bahwa Kuda Rupaka merupakan penghalang yang paling berat, kita dapat mengesampingkan yang lain dengan kekerasan atau dengan diam-diam mendahului memasuki istana itu, tetapi Raden Kuda Rupaka ada di istana itu”

Orang berjanggut itu menarik nafas dalam-dalam, katanya kemudian, “Baiklah Wereng, sementara kita akan mengawasi saja jalan menuju ke istana kecil itu, bukan hanya kita yang mengalami kesulitan memasuki istana itu, tetapi juga murid-murid dari Kumbang Kuning akan menghadapi kekuatan yang mungkin tidak tertembus”

Orang itu berhenti sejenak, lalu, “Tetapi Cengkir Pitu adalah perguruan yang tidak banyak berhubungan dengan para bangsawan di Majapahit, adalah agak aneh jika kau mengatakan bahwa Kuda Rupaka mempunyai ilmu dari perguruan Cengkir Pitu”

“Bukan saja ilmu dari perguruan Cengkir Pitu, tetapi menurut pengakuan mereka, Raden Kuda Rupaka mempunyai batu akik Jumerut Sisik Waja, dan kawannya yang bernama Panji Sura Wilaga mempunyai akik Naga Keling”

Orang berjanggut dan berambut putih itu berkata, “Kedua akik itu memang menunjukkan ciri dari perguruan Cengkir Pitu, hanya orang-orang terpercaya saja dari perguruan itu yang dapat benda-benda yang mendapat benda-benda yang memiliki pengaruh atas orang yang memakainya”

“Dan selebihnya Kiai, orang yang mengaku memiliki cula Kumbang Kuning bermata berlian itu mengetahui dengan pasti bahwa Kiai Sekar Pucang yang sekarang ini sama sekali bukan Kiai Sekar Pucang pendiri perguruan Guntur Geni”

“Gila, tetapi itu dapat dimengerti, menurut gelar lahiriah sebagai seorang manusia tidak akan dapat hidup sampai ratusan tahun”

“Gagak Wereng termangu-mangu sejenak, Namun ia pun bertanya dengan ragu-ragu, “Kiai, sebenarnyalah bagiku murid dari perguruan Guntur Geni sendiri, merasa selalu dihadapkan pada sebuah teka-teki, kami tidak pernah dapat mengatakan dengan pasti apakah Kiai Sekar Pucang itu masih ada atau Guntur Geni mempunyai guru yang nunggak semi bernama Sekar Pucang pula”

“Gila” desis orang yang dipanggil kiai itu, “seharusnya kau tidak bertanya demikian, kiai Sekar Pucang adalah orang yang tidak berhubungan dengan waktu, ia telah berhasil melepaskan dari peredaran masa, sehingga ia tidak terikat lagi geseran hari, bulan dan tahun.”

“Maksud Kiai”

“Kau memang dungu, Kiai Sekar Pucang tidak akan pernah mengalami masa akhir dari hidupnya karena umur, berapa ribu tahun sekalipun tidak akan merenggut nyawanya, ia akan hidup sepanjang jaman, seandainya ia hanya berhadapan dengan tahun-tahun dan bahkan abad”

“Aku tidak mengerti Kiai”

“Wereng, aku adalah murid yang terdekat saat ini, aku tidak dapat mengatakan siapakah muridnya yang terdekat seratus tahun yang lalu, karena umurku belum seratus, karena itulah maka, aku adalah orang yang paling banyak mengetahui mengenai dirinya, bukankah aku sudah pernah, dan berkali-kali memberitahukan kepadamu bahwa Kiai Sekar Pucang harus mengurung diri dalam tempat terasing dan dirahasiakan”

“Ya, ya Kiai, namun karena itulah, maka timbullah pertanyaan di hati ketika aku mendengar kata-kata orang yang menyebut dirinya murid dari perguruan Kumbang Kuning itu”

“Kau sudah terpengaruh olehnya, memang ajar Sokaniti tidak mampu melepaskan dirinya dari sentuhan waktu, sehingga pada umur delapan puluh tahun lebih sedikit, ia sudah meninggal karena sakit, He… Gagak Wereng, ternyata betapa tinggi ilmu Ajar Sokaniti, namun ia harus mengalah melawan umurnya, dan hal ini tidak akan terjadi atas Kiai Sekar Pucang.”

“Tetapi kenapa justru Kiai Sekar Pucang harus berada di tempat yang tertutup dan rahasia?”

“Gagak Wereng, setiap orang memiliki kelemahannya masing-masing, karena kau murid Guntur Geni yang sedang dicengkam oleh keragu-raguan, maka kau boleh mengerti serba sedikit, juga sebagai imbalan kesetiaanmu, meskipun hampir saja orang dari Kumbang Kuning itu merenggut nyawamu” Orang tua itu berhenti sejenak, lalu, “Dengarlah, Kiai Sekar Pucang bukannya orang yang tidak dapat mati, ia hanya dapat membebaskan diri dari perjalanan waktu, karena itu agar ia tidak terbunuh karena suatu yang terjadi pada tubuhnya, maka ia selalu mengasingkan diri, jelasnya Kiai Sekar Pucang belum berhasil memecahkan ilmu kekebalan yang sempurna, karena itu, maka bagaimanapun juga, masih ada kemungkinan untuk membunuhnya. Itulah sebabnya ia harus mengasingkan dirinya, waktunya sepenuhnya dipergunakannya antuk memecahkan ilmu kebal dengan sempurna.”

“Sudah berapa tahun Kiai Sekar Pucang itu mengasingkan diri Kiai?”

“Aku tidak ingat lagi waktu itu aku berguru pertama kali, aku asih sempat mendapat tuntunan langsung dari beliau, kemudian, perlahan-lahan ia membiarkan aku menyempurnakan ilmuku sampai pada satu tingkatan, bahwa aku berhak untuk menggantikannya, memberikan ilmu kepada adik-adik seperguruanku, kepadamu, kepada yang lain-lain, murid-murid Kiai Sekar Pucang yang belum pernah melihat wajah gurunya” Orang itu termenung sejenak, lalu, “Namun pada suatu saat, jika ilmu itu sudah dipecahkannya, kita semua akan menjadi orang-orang yang kebal, perguruan kita tentu akan menguasai seluruh tanah Majapahit yang telah jatuh itu, bahkan dengan kekuatan yang tidak terkalahkan kita akan bergerak terus ke ujung bumi”

Gagak Wereng mengangguk-angguk, meskipun masih ada berbagai keragu-raguan didalam hatinya, namun ia tidak bertanya lagi, Ia menganggap bahwa untuk sementara keterangan itulah yang paling naik baginya, dengan demikian ia masih mempunyai kiblat arah berguru, jika ia sudah kehilangan kepercayaan tentang Kiai Sekar Pucang yang belum pernah dilihatnya itu, maka ia akan kehilangan ikatan dan merasa dirinya terlepas dari sarangnya Perguruan Guntur Geni.

“Nah, kau beristirahatlah baik-baik, kita harus segera kembali ke Karangmaja. Rahasia Istana itu memang sudah diketahui oleh perguruan Kumbang Kuning, dan mungkin juga Cengkir Pitu, sehingga kedatangan Kuda Rupaka memang harus dicurigai”

“Apakah aku harus ikut kembali?”

“Kau sudah banyak mengetahui tentang Karangmaja, meskipun tubuhmu belum pulih kembali, kau harus ikut, jika kita menemui kesulitan diperjalanan, kau tidak usah ikut campur, kau akan dilindungi oleh saudara seperguruanmu”

“Baiklah Kiai, tetapi kapan kita akan berangkat ke Karangmaja?”

“Segera, yang penting adalah pengawasan itu terlebih dahulu, kita tidak langsung berada di padukuhan itu sendiri, kita akan berada beberapa ratus tonggak dari istana itu, diatas bukit kecil yang banyak terdapat di sekitar Karangmaja, tentu tanpa diketahui baik oleh Kuda Rupaka ataupun oleh orang-orang dari Kumbang Kuning”

“Kita akan tinggal di bukit itu?”

“Kita melihat perkembangan keadaan”

Gagak Wereng tidak bertanya lagi, rasa-rasanya malas sekali untuk kembali lagi ke Karangmaja, di padukuhan itu ternyata terdapat beberapa pihak yang akan saling berbenturan”

Namun Gagak Wereng tidak akan dapat ingkar, orang-orang berjanggut dan berambut putih yang bernama Kiai Paran Sanggit itu adalah wakil dari gurunya yang belum pernah dilihatnya.

Karena itu, maka ia pun mempersiapkan dirinya pula, untuk kembali ke daerah yang nampaknya sedang menjadi pusat perhatian beberapa pihak dengan maksud dan tujuan yang sama.

“Gagak Wereng, jika orang dari perguruan Kumbang Kuning berbenturan lebih dahulu dengan orang-orang dari Cengkir Pitu, maka keduanya akan menjadi lemah, kita akan datang kemudian membinasakan keduanya sama sekali, agaknya yang telah terjadi adalah suatu kesalahan, bahwa kitalah yang telah berbenturan lebih dahulu, sehingga orang Kumbang Kuning itu ingin memanfaatkan keadaan, meskipun pada mulanya, ia membantu orang-orang Cengkir Pitu”

“Agaknya memang demikian Kiai, tetapi saat itu, kami tidak mengetahui bahwa ada orang-orang dari Kumbang Kuning yang hadir di padukuhan Karangmaja dan kami pun tidak tahu bahwa kedua bangsawan itu adalah murid-murid dari Cengkir Pitu”

“Baiklah, kita harus memanfaatkan pengalaman itu, dan kita akan datang tidak hanya dengan tiga orang, tetapi enam orang seluruhnya yang berada disini harus mendekati Karangmaja, kita akan bergerak di malam hari dan memilih tempat yang jarang sekali didatangi oleh gembala-gembala dari Karangmaja dan sekitarnya. Semua bekal makanan akan kita bawa”

“Baiklah Kiai, mudah-mudahan tubuhku pun segera pulih, sehingga aku tidak hanya sekedar beban saja, tetapi setidak-tidaknya aku akan dapat melindungi diriku sendiri”

Ternyata orang-orang dari Perguruan Guntur Geni yang dipimpin langsung oleh Kiai Parang Sanggit itu tidak menyia-nyiakan waktu, yang mereka lakukan adalah tugas yang berat dan besar, karena itu, maka semua harus dilakukan dengan taruhan yang paling besar, yaitu kehadiran Kiai Paran Sanggit, yang merupakan murid terpercaya dari perguruan Guntur Geni, sedang pimpinan tertinggi yang mereka sebut dengan Kiai Sekar Pucang, sama sekali tidak pernah menampakkan diri, bahkan juga kepada murid-murid yang terpercaya.

Selagi orang-orang dari Guntur Geni mulai dengan persiapan perjalanannya menuju ke sebelah bukit di dekat istana kecil di luar padukuhan Karangmaja itu, maka jauh dari daerah pegunungan seribu, seorang pertapa sedang duduk menghadapi satu-satunya muridnya, seorang pertapa yang cacat kaki dan tangannya, sehingga secara badaniah, ia mengalami banyak kesulitan, untuk bergerak ia harus berjalan dengan tongkat, setapak demi setapak, tangan kirinya mengalami cidera, dan hampir tidak mempunyai kekuatan lagi untuk melakukan kegiatan sehari-hari.

Namun demikian, dari wajahnya masih tetap memancar cahaya kebesaran jiwa dan kepribadiannya, sepasang matanya yang tajam menyimpan pertanda, bahwa banyak ilmu yang dikuasainya, ilmu kanuragan, kejiwaan bahkan ilmu kesusasteraan.

 -oo0 dw-arema 0oo-

Bersambung ke jilid 4

Sumber djvu : Koleksi Ismoyo

http://cersilindonesia.wordpress.com

Ebook : Dewi KZ

http://kangzusi.com/ atau http://ebook-dewikz.com/

http://kang-zusi.info http://dewikz.byethost22.com/

diedit ulang oleh Ki Arema

kembali | lanjut