AM_MS-01


Serial ARYA MANGGADA

Episode V: MATAHARI SENJA

JILID 1

kembali | lanjut

AMMS-01DI TIMUR matahari mulai membayangkan sinar paginya yang sejuk. Ketika Manggada dan Laksana keluar dari regol halaman, mereka melihat beberapa orang berjalan dengan tenang di jalan padukuhan. Diwajah mereka tidak lagi membayang kecemasan dan ketakutan. Dua orang perempuan yang nampaknya akan pergi ke pasar, sempat bergurau. Suara tertawa mereka yang renyah disahut oleh kicau burung kepodang yang hinggap di pelepah daun pisang.

Padukuhan Gemawang memang mulai tersenyum. Orang-orang yang pergi ke sawah pun tidak lagi nampak tergesa-gesa dengan wajah yang cemas.

Manggada dan Laksana pun kemudian melangkah menyusuri jalan padukuhan. Mereka memang akan pergi ke sawah untuk membuka pematang mengairi batang padi yang mulai berbunga.

Manggada dan Laksana sengaja berjalan lewat depan rumah Wira Sabet. Rumah yang sudah mulai dihuni lagi oleh pemiliknya setelah untuk beberapa lama ditinggalkan dan dibiarkan kosong dan kotor. Sampah berserakan dimana-mana. Kayu-kayu kering yang dibiarkan teronggok dibawah pepohonan.

Namun pohon duwet dan manggis dirumah Wira Sabet itu tetap berbuah.

Ketika keduanya berjalan didepan regol, tiba-tiba saja keduanya ingin singgah. Keduanya mendengar suara sapu lidi di halaman rumah yang pintu regolnya masih tertutup.

Perlahan-lahan Manggada mendorong pintu regol yang ternyata tidak diselarak itu.

Dari sela-sela pintu yang sedikit terbuka itu, Manggada melihat Pideksa yang sedang menyapu halaman, terkejut. Tetapi demikian Pideksa itu melihat Manggada dan Laksana yang kemudian melangkah masuk, maka anak muda itu pun tersenyum.

“Aku tidak sengaja mengejutkanmu” berkata Manggada.

“Aku tahu” jawab Pideksa yang berhenti menyapu, “tetapi jantungku yang menjadi rapuh sekarang membuat aku mudah sekali terkejut.”

“Lupakan” desis Manggada, “masih banyak yang harus kau lakukan. Bukankah umurmu tidak terpaut dengan umur kami berdua?”

“Kau tidak pernah terperosok kedalam kubangan yang mengotori tubuh dan jiwamu” berkata Pideksa.

“Tetapi yang penting sekarang, apa yang akan kita kerjakan kemudian.” jawab Manggada.

Pideksa mengangguk kecil, sementara Laksana pun berkata, “Bangkitlah. Anak-anak muda padukuhan ini ternyata dapat menerima kau kembali diantara mereka.”

Pideksa memandang Laksana sekilas. Tetapi kemudian pandangan matanya terlempar jauh kesudut halamannya. Suaranya yang parau terdengar ragu,, “Apakah mereka benar-benar memaafkan keluarga kami, atau sekedar meredam dendam didalam hati yang setiap saat akan meledak dan membakar keluarga kami.”

“Mungkin ada orang yang mendendammu. Mungkin keluarga dari korban yang jatuh ketika kami datang ke barakmu. Tetapi jika kau kembali memasuki kehidupan wajar dan membuktikari bahwa kau telah berubah, maka dendam itu akhirnya akan terkikis oleh kenyataan itu.”

Pideksa tersenyum, betapapun pahitnya. Katanya, “Aku berterima kasih kepada kalian berdua. Kalian telah memberi kesempatan kepada kami untuk menatap masa depan. Segala sesuatunya tentu tergantung kepada kami, apakah kami dapat mempergunakan kesempatan ini dengan baik atau tidak.”

“Tataplah hari depanmu dengan tegar” desis Manggada sambil menepuk bahu Pideksa.

Pideksa mengangguk.

“Ki Jagabaya dan Sampurna benar-benar telah memaafkan kau dan paman Wira Sabet. Bukankah kau rasakan itu?”

Pideksa mengangguk pula. Katanya, “Ya. Aku merasakannya. Ayah juga merasakannya. Tetapi sampai sekarang, ayah masih lebih senang mengurung diri didalam rumah dengan pintu yang tertutup.”

“Ajak paman Wira Sabet keluar. Aku yakin, kalian akan diterima dengan baik oleh seisi padukuhan.” desis Manggada.

Pideksa mangangguk-angguk.

“Sudahlah” berkata Manggada kemudian, “aku akan mengairi sawahku. Padi sedang berbunga. Jika terlambat, maka hasilnya tentu kurang baik.”

Pideksa memandang wajah Manggada dengan kerut didahi. Dengan ragu ia berkata, “Apakah Ki Bekel masih mengakui bahwa sawah ayah itu masih tetap menjadi milik ayah?”

“Ya, seharusnya demikian. Bukankah sampai sekarang sawah paman Wira Sabet masih kering dan tidak ditanami sejak paman Wira Sabet meninggalkan padukuhan ini?”

“Ya” jawab Pideksa.

“Sawah itu kini menjadi tempat anak-anak menggembala kambing. Tetapi sudah tentu bukan berarti bahwa kalian tidak boleh menanaminya lagi.” jawab Manggada.

Pideksa mengangguk-angguk. Tetapi ia masih tetap nampak ragu.

Manggada yang melihat keraguan di sorot mata Pideksa itu-pun berkata, “Baiklah. Aku akan menghubungi Ki Jagabaya untuk meyakinkan, apakah sawahmu itu dapat digarap lagi.”

Pideksa menarik nafas panjang. Dengan nada dalam ia berkata, “Terima kasih. Berapa kali lagi aku harus mengucapkan terima kasih kepada kalian.”

“Sudahlah. Jangan berlebihan. Kita akan bersama-sama hidup dalam suasana yang lebih baik di padukuhan ini.”

“Kami akan berusaha berbuat sebaik-baiknya. Kami benar-benar berharap bahwa kami dapat diterima oleh para penghuni padukuhan ini.”

“Penghuni padukuhan ini bukannya pendendam, Pideksa.”

“Kecuali ayah dan paman Sura Gentong.”

“Jangan sebut lagi.” potong Laksana. Lalu katanya, “Nah, marilah. Kami akan pergi ke sawah. Nanti dari sawah kami akan singgah. Pohon duwet itu seakan-akan tidak berdaun lagi. Kamilah yang selama ini memetik duwet dan manggis dari halaman ini. Tentu saja atas ijin paman Wira Sabet.”

Ketika kemudian Manggada dan Laksana meninggalkan halaman itu, maka Pideksa mengantar mereka sampai ke regol halaman. Demikian keduanya turun ke jalan, maka Pideksa melanjutkan kerjanya, menyapu halaman rumahnya yang terhitung cukup luas.

Dihari-hari berikutnya, Manggada dan Laksana memang berusaha untuk membawa Pideksa kembali kedalam pergaulan anak-anak muda. Sebagian dari anak-anak muda padukuhan itu, masih saja dibayangi oleh ketakutan, justru karena Pideksa anak Wira Sabet. Tetapi tingkah laku Pideksa memang meyakinkan anak-anak muda di Gemawang, bahwa Pideksa memang sudah berubah.

Seperti yang dijanjikan kepada Pideksa, maka Manggada dan Laksana telah menemui Ki Jagabaya. Mereka telah membicara-kan tentang sawah dan pategalan milik Wira Sabet dan Sura Gentong. Apakah Wira Sabet diperbolehkan menggarap sawahnya kembali.

Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Katanya, “Mereka perlu makan. Karena itu menurut pendapatku, biarlah mereka menggarap sawah mereka. Karena Sura Gentong sudah tidak ada lagi, maka miliknya memang akan diwarisi oleh kemanakannya, Pideksa.”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Ternyata Ki Jagabaya cukup bijaksana. Ia memang bukan pendendam sebagaimana diduganya. Bahkan sikap Sampurna pun tidak berbeda dengan sikap ayahnya. Ia menganggap bahwa Wira Sabet memerlukan bekal untuk dapat tetap hidup.

“Jika hidup paman Wira Sabet dan Pideksa mengalami kesulitan dan bahkan tidak dapat memenuhi kebutuhannya sehari-hari, maka mereka akan dapat terperosok kembali kedalam dunianya yang gelap. Karena disamping mendendam orang-orang Gemawang, maka mereka telah hidup diantara para perampok, penyamun dan penjahat-penjahat yang lain, bahkan bersama para pengikut Ki Sapa Aruh.” berkata Sampurna.

“Nah, biarlah aku menemuinya” berkata Ki Jagabaya, “tetapi sebaiknya aku berbicara dengan Ki Bekel.”

“Apa gunanya” desis Sampurna, “selama ini Ki Bekel tidak berbuat apa-apa. Ia selalu dibayangi oleh keragu-raguan. Bahkan menurut pendapatku bukan keragu-raguan karena ia membayangkan kerusakan, korban dan bencana yang dapat menimpa padukuhan ini. Tetapi ketakutan yang amat sangat.”

“Jangan begitu” berkata Ki Jagabaya, “apapun yang dilakukan, tetapi ia masih tetap Bekel padukuhan Gemawang. Bukankah bukan hanya Ki Bekel yang berlaku seperti itu? Apa yang telah dilakukan oleh Kademangan Kalegen? Justru Ki Demang Rejandani yang dengan serta-merta bersedia membantu kita tanpa perasaan takut sama sekali meskipun ia sadar siapakah yang bakal dihadapi.”

“Meskipun Ki Demang mempunyai alasan tersendiri. Bukankah ia juga berusaha untuk mendapatkan kembali benda-benda yang sangat berharga yang dirampok oleh Ki Sapa Aruh dan orang-orang dari barak itu?” sahut Sampurna.

“Bukan hanya itu. Aku melihat sikap jujur pada Ki Demang Rejandani., “ sahut Ki Jagabaya.

Sampurna tidak menjawab. Ia hanya mengangguk-angguk kecil.

Ketika kemudian Manggada dan Laksana meninggalkan rumah Ki Jagabaya, maka seperti yang dikatakannya, Ki Jagabaya pun telah pergi ke rumah Ki Bekel. Bagaimanapun juga sikap Ki Bekel sebelumnya, tetapi ia masih tetap diakui sebagai Bekel padukuhan Gemawang.

Kedatangan Ki Jagabaya telah diterima oleh Ki Bekel Gemawang di pringgitan. Dengan sikap seorang pemimpin Ki Bekel pun bertanya, “Apakah keperluan Ki Jagabaya menghadap aku sekarang ini?”

“Ki Bekel” jawab Ki Jagabaya yang kemudian telah menceriterakan keperluannya datang menemui Ki Bekel.

Ki Bekel mendengarkan keterangan Ki Jagabaya dengan dahi yang kadang-kadang berkerut.

“Dengan menggarap sawahnya kembali, maka Wira Sabet akan dapat hidup bersama keluarganya.”

”Huh” pikir Ki Bekel tiba-tiba telah mencibir, “apakah ia mengira bahwa ia dapat berbuat apa saja di padukuhan ini? Ia sudah berkhianat dan bahkan merusak tata kehidupan padukuhan ini. Sekarang dengan enaknya ia ingin minta sawah dan pategalan-nya kembali. Tidak. Sawah dan pategalannya bahkan rumah dan halamannya akan menjadi milik padukuhan. Aku bukan seorang penden-dam. Tetapi ia sudah terlalu lama membuat kepalaku menjadi pusing. Jika saja aku tidak mempunyai daya tahan yang tinggi, maka aku tentu sudah menjadi gila karena tingkah lakunya yang buruk itu.”

“Jadi maksud Ki Bekel” bertanya Ki Jagabaya.

“Sudah aku katakan. Sebagai hukuman atas pengkhianatan-nya, maka sawah, pategalan, rumah, halaman dan segala kekayaannya akan dirampas dan menjadi milik padukuhan.”

“Ki Bekel” berkata Ki Jagabaya, “ia sudah menyatakan diri untuk meninggalkan dunianya yang gelap itu. Ia sudah berjanji untuk hidup dengan baik sebagaimana orang lain penghuni padukuhan ini. Ia sudah menyesali segala perbuatannya. Sebenarnyalah bahwa yang sama sekali tidak terkendali adalah Sura Gentong. Bukan Wira Sabet.”

“Begitu mudahnya orang mendapatkan pengampunan?” bertanya Ki Bekel, “aku harus bersikap adil. Yang memberikan lebih bagi padukuhan ini akan mendapatkan lebih pula. Yang berkhianat tentu akan mendapatkan hukumannya. Wira Sabet bukannya baru sekarang melakukan dosa yang besar bagi padukuhan ini. Ketika ia melarikan diri, maka ia telah meninggalkan noda pula di padukuhan ini.”

“Ya” jawab Ki Jagabaya, “ketika itu, Wira Sabet telah melukai aku.”

Ki Bekel mengerutkan dahinya. Ia mengingat-ingat sebentar. Lalu katanya, “Ya. Ia sudah melukai Ki Jagabaya. Kemudian ia telah berkhianat. Dengan susah payah aku harus berusaha mengatasinya, sehingga akhirnya ketenangan dapat diperoleh kembali oleh padukuhan ini.”

“Siapakah yang menangkap Wira Sabet menurut pendapat Ki Bekel?” tiba-tiba saja Ki Jagabaya bertanya.

Ki Bekel menjadi gagap. Namun kemudian jawabnya, “Itu memang kewajiban Ki Jagabaya. Tetapi segala perbuatan, sikap dan tingkah laku bebahu padukuhan ini tentu dibawah tanggung jawabku.”

“Ki Bekel benar” jawab Ki Jagabaya, “karena itu maka aku harus datang menghadap dan mohon persetujuan Ki Bekel tentang sawah dan pategalan milik Wira Sabet.”

“Keputusanku tetap” berkata Ki Bekel.

“Baiklah. Aku akan menyampaikan keputusan Ki Bekel kepada Wira Sabet. Aku akan mengatakan bahwa Ki Bekel tidak sependapat untuk menyerahkan kembali sawah dan pategalan Wira Sabet ketangannya.”

“Tetapi keputusan ini aku dasarkan atas jabatanku. Bukan aku pribadi.”

“Ya, Ki Bekel” jawab Ki Jagabaya.

“Dengan demikian, maka kita semuanya harus mengamankan keputusan itu. Semua orang padukuhan ini. Terutama para bebahu. Apalagi Ki Jagabaya yang memang mempunyai tugas khusus untuk menjaga ketenangan dan ketertiban di padukuhan ini.”

“Baik Ki Bekel. Aku akan berusaha. Tetapi tentu saja kemampuan dan tenagaku terbatas. Sementara Wira Sabet dan saudara-saudara seperguruannya akan semakin mendendam.”

“Maksud Ki Jagabaya” bertanya Ki Bekel.

“Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya mengatakan bahwa dendam Wira Sabet akan membakar jantungnya kembali.” jawab Ki Jagabaya.

“Adalah tugas Ki Jagabaya untuk menangkapnya dan memenjarakannya.” berkata Ki Bekel dengan wajah yang tegang.

“Tentu Ki Bekel. Tetapi sudah aku katakan, bahwa kemampuan dan tenagaku terbatas. Apalagi Wira Sabet sudah mendendamku sampai ke ujung rambutnya. Jika besok atau lusa saudara-saudara seperguruannya datang membunuh aku, maka segala sesuatunya tentu terserah kepada Ki Bekel. Mungkin Ki Bekel dapat menunjuk orang lain yang lebih baik dari aku atau Ki Bekel akan menanganinya sendiri.”

“Tetapi bukankah Ki Jagabaya mampu melawan mereka?” suara Ki bekel mulai bergetar.

“Mungkin seorang melawan seorang aku mampu mengimbangi kemampuan Wira Sabet. Tetapi jika datang dua orang, tiga orang, ampat orang dengan beberapa orang pengikut? Atau mereka memakai cara yang lama dengan menakut-nakuti seisi padukuhan termasuk Ki Bekel?”

Wajah Ki Bekel menjadi tegang. Untuk beberapa saat ia berdiam diri. Namun kemudian suaranya menjadi semakin gagap, “Bukankah Ki Jagabaya pernah mengalahkan Wira Sabet dan bahkan membunuh Sura Gentong.”

“Satu kebetulan Ki Bekel. Ada beberapa orang datang membantu. Ki Pandi dengan kedua ekor harimau peliharaannya yang garang tetapi terkendali. Ki Carang Aking dengan dua orang muridnya. Ki Ciirabawa dengan anaknya dan Ki Demang Rejandani yang kebetulan mempunyai kepentingan yang sama. Tanpa mereka, maka padukuhan ini akan dihancurkan sampai lumat.”

“Bagaimana dengan Ki Kertasana? Anaknya dan anakmu?”

“Aku akan menyuruh isteri dan anak-anakku mengungsi. Jika Wira Sabet dan saudara-saudara seperguruannya datang mengamuk, biar aku sajalah yang dibunuhnya. Sementara Ki Kertasana, entahlah, apakah ia masih bersedia bertempur lagi atau tidak.”

Ki Bekel memang menjadi kebingungan. Dengan suara yang bergetar ia berkata, “Orang-orang itu harus tetap bersedia melawan Wira Sabet. Bahkan sekarang mereka aku perintahkan untuk menangkap Wira Sabet itu sebelum ia membuat keributan di padukuhan ini lagi.”

“Mereka tidak berkewajiban untuk mematuhi perintah Ki Bekel, karena mereka bukan penghuni padukuhan ini.”

“Tetapi mereka ada di sini sekarang” bentak Ki Bekel.

Ki Jagabaya yang sudah menahan diri itu mengerutkan dahinya. Ia tidak senang dibentak dengan kasar oleh Ki Bekel sekalipun. Karena itu, maka katanya, “Jika Ki Bekel ingin memberikan perintah itu kepada mereka, berikan langsung kepada mereka. Tetapi jika kemudian mereka justru berpihak kepada Wira Sabet, dan bahkan termasuk aku, itu terserah kepada Ki Bekel.”

“Gila. Apakah kau sudah gila?” bertanya Ki Bekel.

“Mungkin aku sudah gila. Tetapi aku ingin menyelamatkan diri dan keluargaku.” jawab Ki Jagabaya.

Wajah Ki Bekel menjadi pucat. Sementara Ki Jagabaya berkata, “Jika Ki Bekel tidak senang dengan sikapku, aku minta Ki Bekel memberhentikan aku dan menggantinya dengan orang lain yang memiliki kemampuan yang tinggi untuk melawan Wira Sabet.”

“Tetapi itu tidak mudah” jawab Ki Bekel.

“Aku minta diri. Aku datang untuk minta agar Ki Bekel menyetujui menyerahkan kembali tanah dan pategalan Wira Sabet kepadanya. Hanya itu, Jika Ki Bekel tidak setuju, itu terserah. Tetapi akibatnya terserah pula kepada Ki Bekel. Aku memilih dipecat saja karena aku tidak ingin mengorbankan keluargaku.”

Ki Bekel menjadi bingung. Ketika Ki Jagabaya beringsut, maka Ki Bekel itupun berkata, “Tunggu Ki Jagabaya.”

“Apalagi yang ditunggu? Bukankah keputusan Ki Bekel tetap? Sebaiknya aku pulang saja mempersiapkan pengungsian isteri dan anak-anakku. Aku mohon Ki Bekel menghubungi langsung orang-orang yang telah membantu membebaskan padukuhan ini dari tekanan ketakutan dan kecemasan. Itu jika mereka masih ada di padukuhan ini serta bersedia. Pokoknya terserah kepada Ki Bekel.”

“Tetapi itu kewajibanmu” teriak Ki Bekel.

“Bukankah aku katakan, pecat saja aku.”

“Aku tidak memecatmu. Tetapi aku memerintahkan kau berbuat sesuatu.”

“Kalau Ki Bekel tidak memecatku, aku meletakkan jabatan”

“Tunggu. Tunggu.” minta Ki Bekel.

“Apalagi yang harus kita bicarakan?” bertanya Ki Jagabaya.

“Tetapi jangan pergi dahulu. Kita belum selesai” Ki Bekel menjadi gagap.

“Sebenarnya tidak banyak persoalan yang harus kita putuskan hari ini. Mengijinkan Wira Sabet menggarap sawah dan pategalannya lagi. Itu saja. Jika Ki Bekel memutuskan setuju, maka tidak ada persoalan lagi. Tetapi jika tidak, maka padukuhan ini akan memasuki kembali suasana sebagaimana pernah kita alami.”

Ki Bekel menjadi berdebar-debar. Suasana yang baru saja dialami oleh padukuhan itu benar-benar sangat menakutkan baginya. Bahkan ia tidak dapat berbohong kepada dirinya sendiri, bahwa segala sesuatunya Ki Jagabaya lah yang telah mengatasinya. Karena itu, maka dengan nada berat Ki Bekel itupun berkata, “Baiklah. Terserah kepada Ki Jagabaya. Jika Ki Jagabaya menganggap bahwa Wira Sabet pantas untuk menggarap sawah dan pategalannya kembali, maka aku pun tidak berkeberatan pula.”

Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Terima kasih Ki Bekel. Hanya itulah yang aku butuhkan. Aku mohon diri. Aku akan menyampaikannya kepada Wira Sabet dan anak laki-lakinya. Mereka tentu akan merasa senang dan tidak akan membuat keributan lagi di padukuhan ini.”

Berita bahwa Wira Sabet dan Pideksa diperkenankan menggarap sawahnya lagi, telah diterima dengan suka cita. Ketika Ki Jajabaya dengan mengajak Sampurna, Manggada dan Laksana datang kerumah Wira Sabet untuk menyampaikan ijin untuk menggarap sawah dan pategalannya lagi, maka Wira Sabet menjadi sangat terharu. Kegarangannya seakan-akan telah luluh oleh kebesaran jiwa orang-orang padukuhannya.

Ijin untuk menggarap sawah dan pategalannya kembali itu membuat penyesalan yang semakin mendalam di hatinya.

Dihari-hari mendatang, maka Wira Sabet tidak lagi menjadi orang yang terasing di padukuhannya sendiri, ia mulai keluar dari dinding rumahnya untuk pergi ke sawah. Di sepanjang jalan ia bertemu dengan tetangga-tetangganya. Mula-mula mereka hanya saling mengangguk. Namun kemudian mereka mulai berbicara yang satu dengan yang lain. Bahkan kemudian mereka mulai terbuka dan berbicara tentang banyak hal mengenai padukuhan mereka.

Demikian pula yang dilakukan oleh Pideksa diantara anak-anak muda Gemawang.

Di hari-hari mendatang, maka Gemawang benar-benar telah menjadi tenang. Tatanan kehidupan telah pulih kembali. Tidak ada lagi ketakutan dan kecemasan. Tidak pula ada perasaan saling curiga dan permusuhan.

Bagi orang-orang Gemawang, maka padukuhan mereka telah menjadi padukuhan yang dapat memberikan kesejukan. Gemawang bukan sekedar tempat tinggal, tetapi Gemawang merupakan kampung halaman yang teduh.

Ketika kehidupan di Gemawang menjadi mapan, maka Ki Citrabawa justru mulai teringat kepada kampung halamannya sendiri. Karena itu, maka kepada Ki Kertasana, ia telah menyampaikan niatnya untuk pulang.

“Aku sudah cukup lama berada disini kakang” berkata Ki Citrabawa.

Ki Kertasana tersenyum. Katanya, “Kalian berdua telah ikut mengalami satu peristiwa yang mendebarkan di padukuhan ini.”

“Sekarang, semuanya telah lewat.” desis Ki Citrabawa. Dengan demikian, maka Ki Kertasana tidak dapat menahan adiknya lebih lama lagi. Karena itu, maka ketika kemudian adiknya benar-benar minta diri, maka Ki Kertasana itu pun telah melepaskannya.

Namun Ki Kertasana masih minta Ki Citrabawa untuk minta diri kepada Ki Jagabaya.

Ki Jagabaya melepaskan Ki Citrabawa dengan berat hati. Ki Citrabawa telah ikut menentukan hari depan padukuhan Gemawang bersama Laksana.

Namun ternyata bukan hanya Ki Citrabawa sajalah yang akan meninggalkan Gemawang. Ki Kertasana telah minta agar Manggada dan Laksana mengantarkan Ki Citrabawa pulang.

“Lebih banyak kawan di perjalanan, tentu perjalanan akan dirasakan semakin pendek.” berkata Ki Kertasana.

Ki Citrabawa tidak menolak. Apalagi setelah ia mengetahui bahwa anak dan kemanakannya itu sudah menjadi semakin matang. Bukan saja kemampuan ilmunya, tetapi juga cara mereka berpikir dan mengambil sikap.

Tetapi baik Ki Citrabawa maupun Ki Kertasana tidak menentukan, apakah Manggada dan Laksana akan tinggal dirumah orang tua mereka masing-masing, atau mereka akan selalu bersama-sama sebelum mereka masing-masing berkeluarga.

Tetapi justru karena itu, maka Ki Pandi pun telah minta diri pula. Katanya, “Aku berada disini karena Manggada dan Laksana ada disini. Jika mereka pergi, maka aku pun akan pergi juga.”

“Ki Pandi akan pergi ke mana?” bertanya Manggada, “seandainya Ki Pandi tidak mempunyai kepentingan tertentu, marilah, kita berjalan bersama-sama.”

Ki Pandi mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian berdesis, “Sebenarnya aku masih mempunyai tugas. Panembahan berilmu hitam itu masih belum dapat ditundukkan. Tetapi baiklah, sambil mencarinya, aku bersedia ikut berjalan bersama-sama Manggada dan Laksana. Bukankah itu berarti bahwa aku akan berjalan bersama Ki Citrabawa dan Nyi Citrabawa? Agaknya akan menjadi perjalanan yang menyenangkan.”

“Aku akan berterima kasih sekali jika Ki Pandi dapat berjalan bersama kami.” berkata Ki Citrabawa.

“Meskipun aku akan berjalan bersama Ki Citrabawa, tetapi jalan yang akan kita lalui akan berbeda.” sahut Ki Pandi kemudian. Lalu katanya pula, “Aku membawa momongan. Dua ekor harimau. Karena itu, aku harus memilih jalan terbaik yang dapat kami lalui tanpa mengganggu orang lain.”

Manggada tertawa. Katanya, “Apakah kedua momongan Ki Pandi itu pada suatu saat tidak dapat ditinggalkan disatu tempat?”

“Tentu. Tetapi disatu tempat yang terdekat. Setiap saat aku memerlukan keduanya atau keduanya memerlukan aku” berkata Ki Pandi kemudian.

“Jika demikian, biarlah kami yang menyesuaikan diri” berkata Ki Citrabawa.

Ki Pandi menggeleng. Katanya, “Jangan. Jika Ki Citrabawa tidak berjalan bersama Nyi Citrabawa, maka aku tidak berkeberatan, karena aku yakin, dimasa muda Ki Citrabawa tentu telah sering menempuh perjalanan pula.”

Ki Citrabawa pun tertawa. Katanya, “Itu sudah lama sekali terjadi. Tetapi baiklah. Meskipun Ki Pandi akan mengambil jalan sendiri, tetapi akhirnya Ki Pandi akan sampai kerumahku juga.”

Demikianlah, ketika sampai saat yang direncanakan, maka Ki Citrabawa dan Nyi Citrabawa telah meninggalkan padukuhan Gemawang diantar oleh Manggada dan Laksana. Bersama mereka adalah Ki Pandi. Namun Ki Pandi telah mengambil jalan yang lain, karena jika Ki Pandi menempuh jalan sebagaimana dilalui oleh Ki Citrabawa dan Nyi Citrabawa, maka kedua ekor harimaunya akan menakut-nakuti orang.

Perjalanan yang mereka tempuh memang merupakan perjalanan panjang. Tetapi ternyata bahwa mereka tidak mengalami hambatan di sepanjang perjalanan mereka, sehingga akhirnya mereka telah berada dirumah Ki Citrabawa.

Sebagaimana dikatakan sebelumnya, maka Ki Pandi yang menyertai mereka tetapi mengambil jalan yang berbeda, telah sampai pula dirumah Ki Citrabawa. Ki Pandi sudah berjanji untuk tinggal di rumah itu beberapa lama sebagaimana Manggada.

“Jika pada suatu saat kau akan pulang, maka biarlah aku bersamamu” berkata Ki Pandi kepada Manggada.

”Terima kasih Ki Pandi” sahut Manggada, “tetapi aku tidak tahu, apakah Laksana akan tinggal bersama paman dan bibi atau masih ada niatnya untuk menempuh perjalanan pengembaraan.”

“Kau kira aku akan tinggal dirumah sebagai gadis pingit-an” sahut Laksana.

Ki Pandi tertawa. Katanya, “Tetapi bukan aku yang mengajakmu. Jangan-jangan Ki Citrabawa dan Nyi Citra-bawa salah mengerti.”

Manggada dan Laksana tertawa pula. Dengan nada tinggi Laksana berkata, “Aku akan mengatakan kepada ayah dan ibu, bahwa Ki Pandi telah memaksaku dan bahkan mengancamku jika aku tidak mau pergi bersamanya.”

Ki Pandi sendiri masih saja tertawa. Namun kemudian, ketika suara tertawa mereka mereda, Ki Pandi pun berkata, “Tetapi kalian harus mengetahui sebelumnya, bahwa jika kalian akan melakukan pengembaraan, kalian harus menjadi lebih berhati-hati.”

“Kenapa?” bertanya Manggada.

Dahi Ki Pandi menjadi berkerut. Ia menjadi lebih bersungguh-sungguh, “Perjalanan kalian selalu diamati oleh seseorang.”

“Siapa?” bertanya Laksana.

Ki Pandi menggeleng. Katanya, “Aku tidak mengenal. Aku ketahui justru karena di perjalanan kalian bersama Ki Citrabawa dan Nyi Citrabawa aku telah memisahkan diri. Tetapi aku dapat mengenali orang itu jika aku bertemu kembali dengan orang itu.”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Dengan nada dalam Manggada berkata, “Jika demikian, maka pada suatu saat, kita akan dapat menemukan orang itu.”

“Mudah-mudahan” jawab Ki Pandi, “tetapi karena untuk sementara kita akan berada disini, maka orang itu dapat kita lupakan saja. Kecuali jika pada suatu hari kita temui orang itu lagi dimanapun.”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk pula. Namun mereka benar-benar telah melupakan orang itu, setidak-tidaknya untuk beberapa lama.

Ternyata Ki Pandi memang melihat orang itu. Bahkan ketika Ki Pandi berjalan-jalan seorang diri di luar halaman rumah Ki Citrabawa, ia melihat orang itu lagi. Tetapi Ki Pandi seakan-akan tidak menghiraukannya sama sekali. Untunglah bahwa orang itu juga tidak menghiraukan Ki Pandi.

Tetapi dihari-hari mendatang, Ki Pandi tidak pernah melihat orang itu lagi disekitar rumah Ki Citrabawa.

Dalam pada itu, Manggada dan Laksana ternyata tidak dapat bertahan lebih lama lagi untuk tinggal dirumah saja. Karena itu, maka keduanya pun telah minta diri untuk menempuh satu perjalanan agar pengalaman mereka dapat bertambah.

“Tidak akan terlalu lama, paman” berkata Manggada.

“Tidak terlalu lama itu menurut ukuranmu berapa hari?” bertanya Ki Citrabawa.

“Jangan dihitung hari, ayah” sahut Laksana.

“Jadi?”

“Pertanyaan ayah seharusnya berdasarkan bulan. Berapa bulan atau bahkan tahun.” berkata Laksana.

Ki Citrabawa menarik nafas dalam-dalam. Ia dapat merasakan gejolak perasaan anak-anak muda yang ingin mendapatkan pengalaman yang lebih luas serta melihat lebih banyak dari warna bumi ini. Berbeda dengan anak-anak muda yang merasa hidupnya sudah berada diatas kemapanan tertentu, maka Manggada dan Laksana ingin menjangkau kesempatan yang lebih banyak lagi.

Seperti saat-saat Manggada dan Laksana minta diri meninggalkan rumah itu untuk pergi ke Gemawang beberapa saat yang lewat, maka Nyi Citrabawa merasa sangat berat untuk melepas mereka. Tetapi nampaknya keinginan Manggada dan Laksana sulit untuk dicegah lagi.

“Ngger” berkata Nyi Citrabawa, “kau lihat anak-anak sebayamu di padukuhan ini, atau di padukuhan Gemawang, dapat bekerja dengan tenang di rumah, di sawah dan pategalan. Mereka merupakan tiang-tiang penyangga kehidupan keluarga dan padukuhannya. Tetapi kenapa kalian berdua menjadi gelisah dan ingin menempuh satu pengembaraan yang panjang?”

“Ibu” jawab Laksana, “pada suatu saat aku juga akan kembali ke padukuhan ini. Demikian juga kakang Manggada akan kembali ke Gemawang. Namun sebelum kami menetap tinggal dan bekerja bagi lingkungan kami, sebenarnyalah kami ingin melihat betapa luasnya tanah ini, meskipun aku sadar, bahwa yang dapat aku lihat itu tentu hanya selebar daun kelor dibanding dengan luasnya bumi.”.

Nyi Citrabawa itupun kemudian berpaling kepada Ki Pandi yang menunduk. Perasaan Ki Pandi memang agak tergelitik oleh sikap Nyi Citrabawa. Seperti yang dicemaskannya, akan dapat terjadi salah paham, seolah-olah Ki Pandi lah yang mengajak kedua orang anak muda itu untuk mengembara.

Tetapi Ki Citrabawa itupun justru berkata, “Baiklah. Jika kalian ingin melihat-lihat sebagaimana pernah kalian lakukan sebelumnya. ”Namun kemudian katanya kepada Ki Pandi, “Aku titipkan anak-anak ini kepada Ki Pandi. Mudah-mudahan pengembaraan mereka mendapat arti bagi hidupnya mendatang serta bagi sesamanya. Kami akan selalu berdoa, semoga Yang Maha Agung akan tetap melindungi mereka.”

Nyi Citrabawa memang tidak menahan mereka lagi. Sementara Ki Pandi berkata, “Aku akan berusaha sebaik-baiknya dalam keterbatasanku Ki Citrabawa. Sebenarnya aku juga sudah mencoba untuk menahan mereka untuk tetap tinggal dirumah sementara aku akan minta diri, karena aku masih mempunyai tugas yang belum terselesaikan. Tetapi ternyata keduanya berkeras hati untuk tetap pergi untuk melihat lingkungan yang lebih luas.”

“Aku justru merasa beruntung, bahwa ketika keduanya ingin pergi, Ki Pandi justru bersama mereka. Itu akan jauh lebih baik daripada mereka pergi hanya berdua saja. Kemudian mereka kadang-kadang dapat membuat mereka kurang dapat mengekang diri.”

Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi didalam hati ia berkata, “Justru kepercayaan ini merupakan beban yang berat bagiku, Untunglah kedua anak muda itu termasuk anak-anak muda yang tidak terlalu sulit dikendalikan.”

Demikianlah, maka Ki Citrabawa dan Nyi Citrabawa harus melepaskan anak dan kemanakannya itu pergi. Yang membuat mereka cemas adalah justru karena mereka mengetahui, bahwa kedua-nya tidak sekedar mengembara menyusuri jalan-jalan dan menghindari kesulitan yang dapaf timbul diperjalanan. Tetapi sebagaimana yang pernah terjadi atas mereka, adalah justru peristiwa yang dapat membahayakan jiwa mereka.

Ketika mereka meninggalkan rumah Ki Citrabawa, maka bertiga mereka telah pergi ke sebuah hutan yang tidak terlalu jauh. Di-hutan itu dahulu Manggada dan Laksana sering berburu harimau untuk mendapatkan kulitnya. Kulit harimau itu biasanya dibeli oleh para pedagang dengan harga yang cukup tinggi.

Tetapi Ki Citrabawa pun kemudian melarang mereka untuk setiap kali memburu harimau, sehingga keduanyapun telah menghentikan kegiatan mereka.

Di perjalanan itulah Ki Pandi telah memperingatkan mereka sekali lagi, bahwa mereka berdua agaknya sedang dalam pengawasan seseorang.

“Kita belum dapat memastikan, apakah ada hubungannya antara orang itu dengan peristiwa yang terjadi di barak Wira Sabet dan Sura Gentong. Terbunuhnya beberapa orang berilmu tinggi kadang-kadang membuat persoalan berlarut-larut. Mungkin ada orang yang tersinggung karenanya, sehingga memahatkan dendam didalam hatinya. Dendam itulah yang membuat tanah ini selalu dibayangi oleh kekerasan, disamping sifat-sifat bujuk yang lain yang dapat hinggap dihati seseorang.”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk kecil. Tetapi pesan Ki Pandi itu mereka perhatikan dengan sungguh-sungguh. Benih itu akan dapat tumbuh dan berkembang di hati yang pada da-sarnya memang merupakan ladang yang subur.

Demikianlah, di hutan itu Ki Pandi sempat menemui kedua ekor harimaunya. Berbicara dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh Manggada dan Laksana.

Namun kemudian Ki Pandipun berkata, “Aku berharap bahwa keduanya bersedia tinggal dihutan ini untuk beberapa lama.

“Di hutan ini banyak terdapat binatang buas Ki Pandi.” berkata Manggada.”

“Kedua ekor harimauku ini memiliki sedikit kelebihan. Mereka dapat menghindari perkelahian. Tetapi jika hal itu harus terjadi, maka keduanya dapat melakukan yang tidak dapat dilakukan oleh jenis-jenis binatang buas yang lain.”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Namun mereka meyakini kata-kata Ki Pandi yang sudah bergaul dengan kedua ekor harimaunya untuk waktu yang lama.

Ketiga orang itu bermalam di hutan itu. Manggada dan Laksana yang pernah tinggal dihutan sebulan penuh sama sekali tidak merasa canggung tidur di atas pepohonan. Merekapun tidak canggung pula berburu untuk mendapatkan makan malam mereka.

“Baru dihari berikutnya, menjelang matahari terbit, setelah mereka mandi di sebuah mata air, maka merekapun meninggal-kan hutan itu.

Demikian keduanya keluar dari hutan itu, maka dilihatnya cahaya matahari yang membayangi di langit. Kemerah-merahan. Semakin lama semakin cerah.

Ki Pandi yang sudah berpengalaman telah mengajak mereka untuk menentukan arah perjalanan. Meskipun mereka tidak mempunyai rencana tertentu, namun sebaiknya mereka tidak berjalan asal melangkahkan kaki mereka.

“Bagaimana pendapat Ki Pandi jika kita melihat keadaan di-seberang hutan Jatimalang sepeninggal Panembahan Lebdagati?”

Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi iapun kemudian bertanya kepada diri sendiri, “Sepeninggal Panembahan Lebdagati yang berilmu hitam itu?”

Manggada yang mendengar kata-kata itu justru menyahut, “Ya. Apakah Ki Ajar Pangukan masih berada ditempatnya?”

Ki Pandi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Dapat saja jika kita memang ingin singgah.”

“Ya, sekedar singgah. Agaknya kita memang tidak akan? Menjumpai apa-apa lagi disana. Panembahan Lebdagati sudah meninggalkan padepokannya dan mengembara dari satu tempat ke tempat yang lain.”

“Panembahan itu sudah kehilangan kesempatan yang telah dirintisnya sejak lama dengan mengorbankan gadis-gadis. Satu kali purnama lepas dari padanya, maka ia harus mengulanginya lagi dari awal. Agaknya Panembahan itu sudah tidak mungkin lagi untuk memulainya, sehingga ia telah mencari jalan lain yang dianggapnya lebih pendek daripada mengorbankan gadis-gadis disetiap bulan purnama. Karena ia sudah kehilangan waktu yang panjang, sejak kita menggagalkannya dan merebut anak Ki Wiradadi itu.”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Namun rencana untuk singgah di lingkungan seberang hutan Jatimalang sangat menarik bagi mereka. Mungkin perubahan-perubahan sudah dan sedang berlangsung disana.

Dengan demikian, maka mereka telah mengarahkan arah perjalanan mereka. Mereka akan melihat, apakah kehidupan di kaki Gunung Lawu itu sudah banyak mengalami perubahan atau belum.

Namun mereka tidak tergesa-gesa. Mereka tidak mempunyai satu kepentingan tertentu di seberang hutan Jati, selain sekedar ingin melihat kembali lingkungan itu.

Karena itu, maka mereka berjalan sambil melihat-lihat. Padukuhan, sawah, pategalan, sungai dan hijaunya pepohonan.

Ketika mereka melewati sebuah pasar, maka Laksana pun berniat untuk singgah sebentar di sebuah kedai di pinggir pasar itu.

“Aku ingin minum dan makanan hangat” desis anak muda itu.

Manggada tersenyum. Ketika ia berpaling kepada Ki Pandi, sebelum Manggada bertanya kepadanya, maka Ki Pandi itu sudah mengangguk sambil berkata, “Bukankah aku hanya mengikuti kalian?”

Manggada tersenyum. Kata-nya, “Baiklah. Kita singgah sebentar.”

Demikianlah, maka mereka bertiga telah singgah di sebuah kedai yang tidak terlalu besar. Meskipun demikian, agaknya kedai itu menyediakan makanan dan minuman yang baik, sehingga karena itu, maka kedai itu menjadi cukup ramai.

Dalam kesibukan menghirup minuman dan mengunyah makanan, tiba-tiba wajah Ki Pandi berkerut. Ia melihat lagi orang yang dilihatnya mengikuti perjalanan Manggada dan Laksana ketika mereka mengantar Ki Citrabawa dan isterinya. Orang yang juga pernah dilihatnya di dekat rumah Ki Citrabawa.

Tetapi Ki Pandi tidak sempat menunjukkannya kepada Manggada dan Laksana karena orang itu hanya lewat dan berhenti sejenak di depan kedai itu.

Namun nampaknya orang itu tidak seorang diri.

Meskipun orang itu sudah tidak nampak lagi, namun Ki Pandi telah memberitahukan juga kepada Manggada dan Laksana, bahwa orang yang pernah dikatakannya mengamati perjalanan mereka itu baru saja lewat didepan kedai itu.

“Kenapa Ki Pandi tidak menunjukkan kepada kami?”

“Orang itu hanya lewat. Ketika aku berniat untuk mengatakan kepada kalian, orang itu sudah tidak nampak lagi.”

“Kita akan mencarinya. Mungkin ia masih berada di sekitar tempat ini” berkata Laksana.

Tetapi Ki Pandi itu menggeleng. Katanya, “Kita tidak perlu bersusah payah mencarinya.”

“Tetapi menurut Ki Pandi, orang itu berbahaya bagi kita” sahut Laksana.

“Ya. Tetapi tanpa mencarinya, orang itu tentu akan datang lagi kepada kita. Nanti, esok atau lusa. Mereka tentu akan selalu mengikuti kalian berdua. Namun setelah mereka mengetahui bahwa aku selalu bersama kalian, maka aku pun akan ikut mereka awasi.”

“Apakah Ki Pandi tidak keliru? Justru Ki Pandi lah yang diikutinya.” desis Manggada.

“Agaknya memang suatu kemungkinan. Tetapi yang sempat mereka temukan dahulu adalah kalian berdua. Orang itu memperhitungkan, bahwa dengan mengikuti kalian berdua, maka kalian akan membawanya kepadaku.”

“Ternyata perhitungannya benar” desis Laksana.

Ki Pandi mengangguk-angguk. Setelah merenung sejenak, maka Ki Pandi itupun berdesis, “Memang masuk akal. Tetapi semua itu baru merupakan dugaan-dugaan. Meskipun demikian aku kira pada suatu saat, kita akan mengetahui, apakah sebenarnya yang dikehendakinya.”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Mereka masih menghirup minuman dan mereka bahkan mulut mereka masih juga mengunyah makanan.

Sementara itu Ki Pandi mulai membayangkan kembali orang yang pernah dilihatnya. Ketika ia melihat orang itu didekat rumah Ki Citrabawa, maka orang itu seakan-akan tidak memperhatikan.

Tetapi Ki Pandi tidak ingin pening memikirkan orang itu. Ia berharap bahwa suatu ketika ia mendapat kejelasan.

Dalam pada itu, setelah Manggada membayar harga makanan dan minuman, mereka bertigapun keluar dari kedai itu dan berjalan searah dengan orang yang telah dikenali Ki Pandi. Namun mereka sudah tidak melihat lagi orang itu.

“Mungkin orang itu salah seorang saudara seperguruan Sura Gentong atau saudara-saudara seperguruannya.” berkata Manggada.

“Jika demikin, kenapa mereka tidak mencari ayah?” bertanya Laksana. Namun nada pertanyaannya memang mengandung kecemasan. Laksana benar-benar memikirkan keadaan ayahnya.

“Sudahlah” berkata Ki Pandi. “Kita tidak dapat memecahkan teka-teki itu.”

Dengan demikian, maka perjalanan mereka bertiga sama sekali tidak terpengaruh oleh kehadiran orang yang tak dikenal itu. Siapapun mereka, maka ketiga orang itu melanjutkan perjalanan ke arah hutan Jatimalang.

Perjalanan mereka memang perjalanan yang panjang. Meskipun Manggada dan Laksana teringat juga kepada Ki Wiradadi, namun mereka tidak ingin singgah kerumah itu.

“Jika kita harus singgah dimana-mana, maka kita tidak akan sampai dihutan Jatimalang.” berkata Manggada.

Laksana mengerutkan dahinya. Tetapi sebelum ia mengucapkan sesuatu, Manggada telah mendahuluinya, “Anak gadis Ki Wiradadi itu?”

“Ah, tidak.” jawab Laksana.

Manggada tertawa. Sementara Laksana melemparkan pandangan matanya jauh-jauh.

Ki Pandi sempat tersenyum juga mendengar pembicaraan kedua orang anak muda itu. Namun ia tidak berkata sesuatu.

Demikianlah, maka mereka pun berjalan semakin jauh. Matahari yang kemudian melewati puncak langit, panasnya bagaikan membakar kulit.

Namun perjalanan mereka selanjutnya sama sekali tidak terganggu. Juga ketika mereka berhenti untuk minum dan makan di sebuah kedai.

Menjelang malam, ketiga orang itu memasuki sebuah padukuhan. Bertiga mereka berniat untuk menumpang bermalam di banjar padukuhan itu.

Tetapi ketiga orang itu merasa aneh. Padukuhan itu nampak sepi. Pintu-pintu rumah sudah tertutup dan gardu-gardu pun tidak terisi.

“Mungkin masih terlalu sore untuk berada di gardu” berkata Manggada.

“Mungkin” sahut Ki Pandi, “tetapi regol-regol halaman dan bahkan pintu-pintu rumah sudah tertutup rapat.”

“Seperti padukuhan Gemawang sebelum barak Wira Sabet dan Sura Gentong di kuasai.” berkata Laksana.

“Ya” sahut Manggada, “apapun yang terjadi ditempat ini, tentu ada yang tidak wajar.”

Ki Pandi mengangguk-angguk mengiakan. Namun ia tidak berkata sesuatu. Ia berjalan saja menelusuri jalan padukuhan.

Beberapa saat kemudian, ternyata mereka telah berada di-depan banjar padukuhan. Namun nampaknya banjar padukuhan itu juga nampak sepi.

Dengan agak ragu ketiga orang itu melangkah memasuki banjar padukuhan. Mungkin mereka dapat bertemu dengan penunggu banjar itu.

Seperti yang mereka duga, maka di belakang banjar itu tinggal sebuah keluarga kecil. Ia bertugas untuk menunggu dan memelihara banjar milik padukuhan itu.

Meskipun nampak ragu-ragu, namun ketiga orang itu dipersilahkan masuk kerumahnya yang tidak begitu besar.

Ki Pandi lah yang minta kepada penunggu banjar itu untuk diijinkan bermalam barang semalam saja dibanjar itu.

Penunggu banjar itu termangu-mangu sejenak. Nampak keraguan semakin bergejolak didadanya. Namun agaknya penunggu banjar itu tidak sampai hati untuk menolak permintaan ketiga orang yang minta ijin untuk menginap itu.

“Siapakah sebenarnya ki sanak bertiga ini?” bertanya penunggu banjar itu.

“Kami adalah pengembara yang menyusuri jalan-jalan yang panjang” jawab Ki Pandi.

“Untuk apa? Jika kalian melakukan sesuatu, kalian tentu mempunyai maksud tertentu” bertanya penunggu banjar itu.

“Benar Ki sanak” jawab Ki Pandi, “kedua kemenakanku ini ingin memperluas pengalaman hidupnya. Mereka ingin melihat tempat-tempat yang jauh yang belum pernah dilihatnya. Mereka ingin melihat tatanan kehidupan yang beraneka di tanah ini.”

Penunggu banjar itu mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata, “sebenarnya kami tidak berkeberatan. Para pejalan dan barangkali juga pengembara, bermalam di banjar ini. Tetapi kalian datang pada saat yang kurang baik.”

Ki Pandi termangu-mangu sejenak. Namun rasa-rasnya ia mendapat jalan justru untuk menanyakan, apa yang sedang terjadi di padukuhan itu.

Karena itu, maka Ki Pandi itupun bertanya, “Apa yang sebenarnya terjadi disini?”

Penunggu banjar itu memandang Ki Pandi dan kedua orang anak muda yang menyertainya itu dengan tajamnya. Namun orang itupun berkata, “Siapakah nama kalian?”

“Orang memanggilku Ki Pandi. Kedua kemenakanku ini adalah Manggada dan Laksana.”

Penunggu banjar itu mengangguk-angguk. Sementara itu Ki Pandi lah yang bertanya, “Apakah aku diperkenankan mengenal nama Ki sanak?”

Orang itu menarik nafas panjang. Jawabnya, “Namaku Kerta. Orang memanggilku Kerta Banjar, karena dipadukuhan ini ada tiga orang yang bernama Kerta.”

Ki Pandi pun mengangguk-angguk. Namun ia masih juga bertanya, “Tetapi tadi Ki Kerta mengatakan bahwa kami datang pada waktu yang kurang baik.”

“Ya, Ki Pandi” jawab penunggu banjar itu, “dalam waktu terakhir ini, padukuhan kami sedang dibayangi oleh ancaman yang mencemaskan seisi padukuhan.”

“Apa yang telah terjadi?”

“Dipadukuhan ini tinggal seorang yang sangat disegani oleh para penghuni padukuhan ini. Ia seorang yang sangat baik. Ia suka menolong sesama dan memberikan bantuan apa saja yang dibutuhkan oleh orang banyak dalam batas kemampuannya.”

Ki Pandi mengangguk-angguk pula.

“Namun pada hari-hari terakhir ini, seorang berkuda telah mencarinya. Seorang yang tidak dikenal.” orang itu melanjutkan.

“Ia bertanya kepada orang-orang padukuhan ini dimana orang yang baik itu tinggal. Orang-orang padukuhan ini yang tidak tahu maksudnya telah menunjukkan tempat tinggal orang yang dicarinya. Tetapi akhirnya kami mengetahui bahwa orang yang mencarinya itu tidak berniat baik.”

“Apa yang akan dilakukannya?” bertanya Ki Pandi.

“Orang berkuda itu menantang untuk berperang tanding.” jawab Ki Kerta Banjar.

“Apa yang ia kehendaki?” bertanya Ki Pandi.

“Kami tidak mengetahuinya. Orang yang kami anggap orang baik dan disegani seisi padukuhan inipun tidak mau mengatakan-nya, persoalan apakah yang membuat orang berkuda itu menantangnya untuk berperang tanding.”

“Apakah keduanya masih terhitung muda, separo baya atau justru sudah memasuki usia tua?” bertanya Ki Pandi kemudian.

“Mereka sudah menjelang masa-masa tua. Orang yang dihormati di padukuhan inipun sudah memasuki hari tuanya. Rambutnya sudah mulai memutih. Demikian pula janggut dan kumisnya.”

“Tetapi apakah orang berkuda itu mengganggu seisi padukuhan ini?” bertanya Ki Pandi.

“Tidak. Orang itu tidak mengganggu seisi padukuhan ini. Tetapi tantangamitu membuat seisi padukuhan ini gelisah. Kami sudah menyatakan keinginan kami untuk membantu. Tetapi orang yang kami segani itu tidak menghendakinya. Ia menganggap bahwa persoalan itu adalah persoalan pribadinya. Karena itu tidak sepantasnya, orang-orang padukuhan ini melibatkan diri.”

“Jika demikian, kenapa seisi padukuhan ini menjadi ketakutan? Bukankah tantangan itu semata-mata ditujukan kepada seseorang?” bertanya Ki Pandi.

“Tetapi seakan-akan orang itu telah menjadi bagian dari kami, seisi padukuhan ini.” jawab Ki Kerta Banjar.

“Siapakah nama orang yang disegani itu?” tiba-tiba saja Ki Pandi bertanya.

Penunggu banjar itu menjadi ragu-ragu pula. Namun kemudian ia menjawab, “Kami, seisi padukuhan ini memanggilnya Ki Sambi Pitu.”

“Sambi Pitu” Ki Pandi mengulang. Wajahnya nampak berkerut. Tetapi kemudian ia menarik nafas dalam-dalam.

Hampir diluar sadarnya, Laksana bertanya, “Ki Pandi mengenal nama itu?”.

Ki Pandi menggeleng sambil menjawab, “Tentu tidak. Yang aku kenali tidak lebih dari tetangga-tetanggaku dan sanak-kadangku.”

Laksana menarik nafas panjang. Tetapi ia tidak bertanya lagi.

Ki Pandi lah yang kemudian berkata, “Ki Kerta. Menurut pendapatku, orang-orang padukuhan ini tidak usah merasa ketakutan. Agaknya ancaman itu semata-mata hanya ditujukan kepada Ki Sambi Pitu saja.”

“Kami tidak dapat memisahkan diri kami dari orang tua itu.” jawab Ki Kerta Banjar.

“Seandainya orang-orang padukuhan ini sudah siap membantu, kenapa mereka menjadi ketakutan?” bertanya Ki Pandi.

“Ki Sanak” berkata Ki Kerta Banjar, “bukankah wajar, jika terjadi benturan kekerasan, maka akan timbul ketakutan? Bahkan orang-orang padukuhan ini terutama perempuan dan anak-anak sudah menjadi ketakutan sejak beberapa hari yang lalu.”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya, “Tetapi bukankah kehadiran kami tidak menambah kegelisahan yang terjadi di padukuhan ini?”

“Tidak. Tidak Ki Pandi” jawab Ki Kerta Banjar, “jika kalian hanya ingin bermalam disini, silahkan. Tetapi jika kalian mendengar derap kaki kuda itu, kalian jangan. terkejut.”

“Apakah orang berkuda itu sering kali datang?” bertanya Ki Pandi.

“Ya. Tiba-tiba saja kami mendengar derap kaki kuda menjelang tengah malam. Kuda itu berputar-putar di jalan-jalan padukuhan. Namun kemudian derap kaki kuda itu pun menghilang.”

“Setiap malam?” bertanya Manggada.

“Tidak” jawab Ki Kerta, “tetapi sering kali.”

Manggada mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lagi.

Dalam pada itu, maka Ki Kerta pun kemudian telah mempersilahkan tamunya untuk mengikutinya ke banjar. Ki Kerta telah menunjukkan tempat bagi ketiganya untuk bermalam.

“Serambi ini memang kami sediakan bagi mereka yang singgah dan bermalam di banjar ini” berkata Ki Kerta. Lalu katanya pula, “Di halaman samping terdapat pakiwan. Bawa lampu minyak di sudut itu jika kalian ingin pergi ke pakiwan.”

“Terima kasih Ki Kerta” jawab Ki Pandi.

Namun Laksana sempat bertanya, “Apakah tidak ada anak-anak muda yang bertugas ronda di banjar setiap malam?”

“Sejak orang berkuda itu berkeliaran di padukuhan, maka anak-anak muda tidak meronda di banjar. Tetapi mereka berkumpul di rumah Ki Bekel. Mereka merasa cemas bahwa orang berkuda itu juga memusuhi Ki Bekel.”

Ki Pandi hanya mengangguk-angguk saja. Sementara Ki Kerta kemudian berkata, “Silahkan beristirahat Ki Sanak. Mudah-mudahan kalian tidak merasa terganggu disini.”

“Terima kasih Ki Kerta” jawab Ki Pandi.

Ki Kertapun kemudian meninggalkan ketiga orang itu dise-rambi banjar yang disekat dengan dinding bambu. Diserambi itu terdapat sebuah amben yang agak besar, diterangi sebuah lampu minyak yang berkeredipan.

Sepeninggal Ki Kerta, maka mereka bertiga pun bergantian pergi ke pakiwan. Baru kemudian mereka duduk berbincang-bincang sebelum mereka membaringkan tubuh mereka di amben yang agak besar itu.

Tetapi sebelum mereka sempat berbaring, Ki Kerta telah datang lagi sambil membawa minuman hangat serta nasi beras gaga yang kemerah-merahan.

“Marilah Ki Sanak. Nasinya sudah dingin, tetapi sayurnya sudah dipanasi. Silahkan minum dan makan seadanya.”

“Kami sangat berterima kasih, Ki Kerta. Kami telah membuat Ki Kerta dan keluarga Ki Kerta menjadi sibuk.”

“Bukankah itu sudah merupakan tugas kami?” sahut Ki Kerta.

Ki Pandi, Manggada dan Laksana tidak ingin mengecewakan kebaikan hati Ki Kerta. Karena itu maka mereka pun telah minum dan makan hidangan itu.

“Bukan sekedar agar tidak mengecewakan mereka” desis Laksana, “tetapi aku memang merasa lapar.”

Manggada tersenyum. Katanya, “Aku sudah menduga melihat caramu makan.”

“Apakah kau tidak lapar?” bertanya Laksana. Menggada tertawa sambil berpaling kepada Ki Pandi.

Demikian mereka selesai makan, serta membenahinya dan membawa mangkuk yang kotor ke rumah Ki Kerta, maka mereka telah duduk di tangga banjar padukuhan itu.

Udara memang terasa lebih sejuk di luar daripada di serambi yang disekat dengan dinding bambu itu.

Sementara itu, Ki Pandi pun kemudian berkala, “Aku tidak dapat menjawab pertanyaan kalian dihadapan Ki Kerta, apakah aku mengenal Ki Sambi Pitu. Sebenarnya aku sudah mengenalnya meskipun tidak begitu akrab. Ia memang orang yang baik. Bahkan aku ingin menemuinya dan menanyakan siapakah yang dimaksud dengan orang berkuda oleh Ki Kerta itu.

“Apakah besok kita akan singgah?” bertanya Manggada.

“Ya. Jika kalian tidak berkeberatan, maka kita akan singgah dirumah orang itu. Seharusnya orang seperti Ki Sambi Pitu itu tidak mempunyai musuh. Jika ada orang yang mendendamnya dan bahkan menantangnya untuk berperang tanding, maka persoalannya agaknya sulit dimengerti.”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Tetapi mereka tidak bertanya lagi.

Ketika mereka sudah merasa lebih segar oleh sejuknya udara malam, maka mereka bertigapun telah kembali kedalam bilik mereka yang panas. Namun mereka pun segera berbaring. Tetapi mereka sudah berjanji, bahwa seorang diantara mereka tidak boleh tidur, bergantian untuk sekedar berjaga-jaga karena mereka berada di tempat yang asing.

Menurut persetujuan mereka, maka yang pertama-tama berjaga-jaga adalah Laksana. Ia akan membangunkan Manggada jika ia sudah menjadi sangat mengantuk lewat tengah malam.

Tetapi ketika Ki Pandi dan Manggada mulai memejamkan mata mereka, maka tiba-tiba saja mereka mendengar derap kaki kuda berlari kencang lewat jalan induk padukuhan itu. Derap kaki kuda itu terasa bagaikan mengguncang tiang-tiang banjar yang berdiri dipinggir jalan induk itu.

“Itulah yang dikatakan oleh Ki Kerta” desis Ki Pandi yang kemudian bangkit dan duduk bersandar dinding.

“Mudah-mudahan perang tanding itu tidak terjadi malam ini,“ berkata Manggada.

“Ya” sahut Laksana, “sehingga kita besok masih mempunyai kesempatan untuk berbincang dan mengetahui, siapakah yang telah menantangnya untuk berperang tanding.”

“Tetapi orang yang menantangnya itu sudah sering memacu kudanya berputar-putar di padukuhan ini. Namun perang tanding itu masih juga belum terjadi.” desis Manggada.

Ki Pandi mengangguk-angguk. Tetapi ia justru menjadi gelisah.

Tiba-tiba saja ia berkata, “Biarlah kalian tinggal disini. Aku akan melihat, apa yang terjadi.”

“Apakah Ki Pandi akan pergi kerumah orang itu?” bertanya Manggada.

“Ya” jawab Ki Pandi, “tetapi aku tidak akan menemuinya sekarang.”

“Apakah Ki Pandi sudah mengetahui letak rumahnya?” bertanya Laksana.

“Belum” jawab Ki Pandi, “tetapi biarlah aku mencarinya. Kita tahu arah derap kaki kuda yang lewat tadi. Jika kuda itu berderap lagi lewat jalan ini, maka suara derap kakinya akan dapat aku pergunakan sebagai ancar-ancar untuk menemukan rumahnya yang agaknya juga berada ditempat yang mudah diketemukan.”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk mengiakan. Mereka menyadari, bahwa sebaiknya mereka memang tinggal di banjar karena jika terjadi sesuatu mereka tidak justru menjadi beban Ki Pandi.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, Ki Pandi telah meninggalkan banjar itu dengan diam-diam. Ia menyelinap keluar dari halaman dan berjalan di kegelapan.

Ki Pandi tahu bahwa seperti di banjar, maka gardu-gardu perondan pun menjadi sepi.

Tetapi justru karena itu, tidak seorang pun yang dapat ditanya, dimana rumah Ki Sambi Pitu. Bahkan seandainya ada beberapa orang digardu, pertanyaan tentang letak rumah Ki Sambi Pitu akan dapat menimbulkan persoalan.

Ki Pandi tertarik ketika ia mendengar lagi derap kaki kuda. Ternyata sejenak kemudian maka derap kaki kuda di malam yang sepi itu justru melingkar sehingga kuda itu seakan-akan ingin menyusul perjalanan Ki Pandi.

Dengan cepat Ki Pandi berusaha untuk meloncati dinding halaman yang tidak terlalu tinggi, sehingga demikian kuda itu lewat, maka Ki Pandi sudah berada di balik dinding.

Namun demikian kuda itu berderap, maka Ki Pandi pun dengan cepat telah meloncat turun kembali di jalan dan berlari menyusul derap kaki kuda itu.

Tetapi Ki Pandi tidak perlu berlari terlalu jauh. Ia memperlambat larinya ketika ia menyadari bahwa kuda itu sudah berhenti beberapa puluh langkah saja dihadapannya.

Ki Pandi menyadari, bahwa ia harus sangat berhati-hati. Orang berkuda yang sudah berani menantang Ki Sambi Pitu itu tentu orang yang berilmu sangat tinggi.

Karena itu, maka Ki Pandi pun kemudian telah meloncat pula ke halaman samping. Ia merasa lebih aman untuk mendekati orang berkuda itu lewat halaman, menyusup diantara beberapa batang pepohonan daripada lewat jalan yang terbuka.

Ki Pandi berhenti dihalaman sebelah. Dengan sangat berhati-hati ia memperhatikan seseorang yang berdiri di sebuah halaman yang tidak begitu luas, yang ditanami beberapa batang pohon bunga ceplok piring dan bunga soka. Baunya semerbak di malam hari.

Dari tempatnya bersembunyi Ki Pandi mendengar orang yang berdiri di halaman itu berkata keras-keras tanpa ragu, bahwa suaranya itu dapat didengar oleh tetangga Ki Sambi Pitu, “He, dengar Ki Sambi Pitu. Aku memperingatkanmu. Dua malam lagi, aku menunggumu di bulak Parapat. Kita akan membuat perhitungan sampai tuntas. Hutangmu harus kau bayar bersama bunganya sekali.”

Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Agaknya dendam membara dihati orang yang menantang Ki Sambi Pitu itu.

Dengan jantung yang berdebaran Ki Pandi melihat dari halaman sebelah, pintu rumah itu terbuka. Sesosok tubuh melangkah keluar dan berdiri di tangga sambil menjawab, “Kau selalu menggangguku Ki Lemah Teles. Sudah aku katakan, bahwa dua malam lagi aku akan pergi ke bulak Parapat. Aku terima tantanganmu meskipun aku tidak pernah mengakui mempunyai hutang apapun kepadamu.”

“Jangan mengigau. Banyak orang yang tidak mengakui hutangnya kepada orang lain atau sengaja melupakannya. Tetapi orang yang mempunyai piutang tentu bersikap lain.”

”Terserah apa saja alasan-mu. Aku tahu semuanya itu sekedar kau pergunakan untuk memancing perang tanding. Sudah aku katakan bahwa kau tidak perlu memakai alasan apapun juga. Kita akan berperang-tanding di bulak Parapat dua malam mendatang. Sekarang pergi-lah, biar aku dapat tidur nyenyak. Derap kaki kudamu telah mengganggu dan membangunkan anak-anak yang tidur di pelukan ibunya. Sementara mereka tidak tahu menahu tentang persoalan kita.”

Orang yang disebut Ki Lemah Teles itu tidak menjawab. Ia-pun melangkah keluar dari halaman dan langsung meloncat ke punggung kudanya.

Ketika kemudian sosok yang berdiri di tangga itu masuk kembali kedalam rumahnya, maka Ki Pandi pun telah merenungi peristiwa yang dilihatnya itu

Ternyata Ki Pandi telah mengenal kedua orang yang bermusuhan itu. Ia mengenal Ki Sambi Pitu. Iapun mengenal Ki Lemah Teles pula. Dua orang yang berilmu sangat tinggi.

Namun yang tidak diketahuinya adalah sebab dari pertengkar-an di antara mereka berdua.

Tetapi Ki Pandi itu pun segera menyadari dirinya, bahwa ia berada di halaman orang. Karena itu maka iapun segera beringsut meninggalkan tempat itu.

Ki Pandi itu menarik nafas dalam-dalam ketika ia mendengar derap kaki kuda itu lagi. Ternyata Ki Lemah Teles tidak segera pergi dari padukuhan itu. Tetapi kudanya masih saja berlari-larian berputar-putar di jalan-jalan padukuhan.

“Orang aneh” desis Ki Pandi.

Karena itu, maka Ki Pandi itu pun berjalan dengan hati-hati. Ia harus memasang telinganya, agar ia tidak dengan tiba-tiba saja bertemu, berpapasan di simpang tiga atau simpang ampat atau didahului oleh orang berkuda itu.

Ketika Ki Pandi kemudian telah berada di banjar lagi dan duduk diamben yang agak besar itu bersama Manggada dan Laksana, maka ia pun telah menceriterakan apa yang lelah dilihatnya.

“Bagaimana menurut pendapat Ki Pandi?” bertanya Manggada, “apa yang dimaksud dengan hutang Ki Sambi Pitu kepada Ki Lemah Teles itu?”

Ki Pandi menggeleng. Katanya, “Aku tidak tahu. Tetapi menurut Ki Sambi Pitu, agaknya Ki Lemah Teles sekedar mencari persoalan untuk menantangnya berperang tanding.”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk kecil. Namun Laksana pun kemudian bertanya pula, “Apakah Ki Lemah Teles menurut pengenalan Ki Pandi seorang yang jahat?”

Ki Pandi menggeleng. Katanya, “Tidak. Ki Lemah Teles juga bukan seorang yang jahat. Tetapi dua orang yang baik hati sekalipun pada suatu saat akan dapat berselisih pendapat, bertentangan kepentingannya atau justru mempunyai kepentingan yang sama terhadap sesuatu hal atau persoalan-persoalan yang lain.”

“Tetapi jika bukan persoalan yang mendasar, keduanya tentu tidak akan memasuki perang tanding” berkata Manggada.

Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Tentu ada persoalan yang mendasar. Karena itu, biarlah besok kita singgah sebentar dirumah Ki Sambi Pitu.”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Keduanya memang menjadi tertarik oleh persoalan yang timbul diantara orang-orang yang berilmu tinggi itu.

Namun kemudian Ki Pandi pun berkata, “Tidurlah, hari sudah larut. Biarlah aku yang berjaga-jaga.”

“Ki Pandi tentu letih. Biarlah kami berdua bergantian” jawab Manggada.

“Aku dapat tidak memejamkan mata selama sepekan terus-menerus siang dan malam. Bahkan lebih.” jawab Ki Pandi sambil tersenyum.

Manggada dan Laksana menarik nafas dalam-dalam. Tetapi mereka percaya kata-kata Ki Pandi itu.

Karena itu, maka Manggada dan Laksana pun kemudian telah berbaring di amben itu. Mereka masih sempat berangan-angan sejenak. Namun kemudian keduanya pun telah tertidur nyenyak.

Pagi-pagi sekali ketiga orang itu sudah bangun. Mereka segera mengisi jambangan untuk mandi bergantian. Sebelum matahari terbit, ketiganya sudah siap untuk melanjutkan perjalanan.

Tetapi ketika mereka minta diri, Ki Kerta Banjar telah mempersilahkan mereka minum minuman hangat. Rebus ketela yang masih mengepulkan asap, baunya menyentuh hidung Manggada dan Laksana.

Keduanya sempat berpandangan dan menahan senyum dibibir mereka.

Baru setelah mereka bertiga minum dan makan ketela rebus itu, maka mereka telah dilepas oleh Ki Kerta Banjar untuk melanjutkan perjalanan. Tetapi ketiga orang itu sama sekali tidak mengatakan bahwa mereka ingin singgah dirumah Ki Sambi Pitu.

Ketiga orang itu pun kemudian melangkah meninggalkan banjar padukuhan. Matahari yang terbit, memancarkan sinarnya yang cerah. Satu dua titik embun masih bergayutan di ujung dedaunan yang merunduk.

Manggada dan Laksana berjalan dibelakang Ki Pandi yang melangkah berbongkok-bongkok. Burung-burung yang berkicau membuat suasana pagi menjadi gembira.

Orang-orang padukuhan itu yang sudah mulai turun ke jalan-jalan, melihat ketiga orang itu dengan dahi berkerut. Mereka yang akan pergi ke pasar atau pergi ke sawah, menganggap Ki Pandi, Manggada dan Laksana sebagai orang-orang asing. Namun ada di-antara mereka yang memang menduga, bahwa ketiganya adalah pejalan yang telah menginap di banjar padukuhan mereka.

“Tentu bukan orang berkuda itu” desis seseorang kepada kawannya yang berjalan disampingnya sambil membawa cangkul, karena keduanya memang akan pergi ke sawah.

Ki Pandi dan kedua anak muda itu berjalan termangu-mangu. Sekali-sekali jika tatapan mata mereka bertemu dengan orang-orang padukuhan itu yang menandangi mereka, maka merekapun telah menganggukkan kepala.

Seperti yang mereka rencanakan, maka mereka pun telah menyusuri jalan padukuhan menuju ke rumah Ki Sambi Pitu. Kedatangan mereka di hari yang masih terhitung pagi itu memang mengejutkan.

Seorang yang rambutnya sudah ditumbuhi uban yang keputih-putihan itu termangu-mangu sejenak ketika ia melihat seorang yang berjalan terbongkok-bongkok memasuki halaman rumah-nya.

“Ki Bongkok” desis orang itu.

“Apakah kau masih dapat mengenali aku, Ki Sambi Pitu?”

“Tentu, tentu Ki Bongkok. Marilah, naiklah” berkata Ki Sambi Pitu.

Ki Pandi pun kemudian telah naik kependapa rumah Ki Sambi Pitu yang tidak terlalu besar. Berbeda dengan pendapa rumah pada umumnya yang berbentuk joglo, maka pendapa rumah Ki Sambi Pitu yang tidak begitu besar itu dibuat dalam bentuk limasan, sehingga kesannya menjadi lebih sederhana.

“Setelah mereka saling mempertanyakan keselamatan masing-masing, maka Ki Sambi Pitu itupun bertanya, “Ki Bongkok. Aku merasa aneh bahwa tiba-tiba saja Ki Bongkok telah mengunjungi aku. Apalagi hari masih sepagi ini.”

Ki Pandi mengangguk-angguk kecil. Katanya, “Aku minta maaf, Ki Sambi Pitu, bahwa di hari yang masih pagi ini aku sudah mengganggu ketenangan Ki Sambi Pitu.”

“Tidak, Ki Bongkok. Aku sama sekali tidak merasa terganggu. Aku senang mendapat kunjungan seseorang di hari tuaku. Rasa-rasanya hidup menjadi semakin sepi. Tetapi kedatangan Ki Bongkok membuat aku merasa bahwa aku tidak hidup sendiri dan terasing disini.”

“Bukankah sikap orang-orang padukuhan ini baik terhadap Ki Sambi Pitu?”

“Baik. Baik sekali. Aku merasa berada diantara keluarga sendiri.” Ki Sambi Pitu berhenti sejenak. Namun kemudian katanya, “Tetapi kunjungan Ki Bongkok yang datang dari dunia yang pernah kami huni bersama, rasa-rasanya hidup ini masih tersisa.”

“Bukankah bukan aku satu-satunya orang yang sering berkunjung kerumah Ki Sambi Pitu?”

“Tidak ada, Ki Bongkok. Justru itu aku merasa bahwa segala sesuatunya sudah lewat.”

“Tentu tidak Ki Sambi Pitu. Aku yang kurang-lebih sebaya dengan Ki Sambi Pitu merasa bahwa hidupku masih berarti. He, bukankah itu tergantung kepada kita sendiri?”

“Ya. Ya. Aku juga mencoba memberi arti dari sisa hidupku ini bagi tetangga-tetanggaku yang baik di padukuhan ini. Tetapi karena rasa-rasanya kami datang dari dunia yang berbeda, maka kehadiran seseorang dari dunia kita, membuat aku sangat bergembira hari ini.”

“Ki Sambi Pitu. Bukankah Ki Lemah Teles juga sering berkunjung kemari?”

“O” Ki Sambi Pitu mengangguk-angguk, “Ya. Ki Lemah Teles memang sering datang kemari. Tetapi ia lebih banyak mengganggu daripada satu kunjungan seorang sahabat.”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun berkata, “Maaf, Ki Sambi Pitu. Apakah Ki Lemah Teles sering datang mengganggu Ki Sambi Pitu?”

“Ya. Tetapi aku senang. Meskipun ia datang mengganggu, tetapi justru karena itu, maka aku menganggap bahwa ia masih menghargai aku yang pernah hidup di dunia pada tataran yang sama dengan Ki Lemah Teles itu sendiri.”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun berkata, “Apa saja yang dilakukan oleh Ki Lemah Teles sehingga Ki Sambi Pitu merasa terganggu karenanya?”

Ki Sambi Pitu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun tersenyum sambil berkata, “Ki Lemah Teles masih selalu mengajak bergurau dihari-hari tua.”

Ki Pandi masih ingin bertanya lebih jauh. Tetapi Ki Sambi Pitu telah lebih dahulu bertanya, “Ki Bongkok, siapakah nama kedua orang anak muda itu?”

“Mereka adalah kemanakanku, Ki Sambi Pitu” jawab Ki Pandi.

“Kau tidak usah berbohong kepadaku” desis Ki Sambi Pitu, “keduanya tentu bukan kemanakanmu.”

Ki Pandi tertawa. Katanya, “Siapapun mereka, tetapi mereka sekarang bersamaku. Namanya Manggada dan Laksana.”

Ki Sambi Pitu mengangguk-angguk sambil tersenyum. Katanya, “Anak-anak yang kokoh.”

“Mereka ingin melihat-lihat tempat yang jauh yang belum pernah dilihatnya. Semalam kami sampai di padukuhan ini. Kami minta belas kasihan kepada Ki Kerta Banjar untuk bermalam di banjar padukuhan.”

“Itu sebabnya, maka kalian sepagi ini sudah berada disini. Tetapi siapakah yang memberitahukan kepada kalian bahwa aku tinggal disini?”

“Suara kuda yang berderap mengelilingi padukuhan inilah yang menuntun aku sampai ke rumah ini.”

“Jadi kau tentu tahu apa yang telah terjadi.”

Ki Pandi tidak ingkar. Karena itu, maka iapun mengangguk sambil menjawab, “Ya. Aku mendengar pembicaraan kalian. Aku minta maaf atas keinginan tahuku itu.”

“Tidak apa-apa. Setiap orang berhak mengetahuinya, karena Ki Lemah Teles dengan sengaja berteriak-teriak.”

“Karena persoalan yang kurang aku mengerti itulah, maka aku memerlukan datang kepadamu pagi ini.” berkata Ki Pandi kemudian.

Ki Sambi Pitu mengangguk-angguk. Katanya dengan nada rendah, “Apakah kau ingin tahu kenapa Ki Lemah Teles menantang aku berperang tanding?”

Ki Pandi mengangguk kecil. Katanya, “Ya. Menurut pendapatku, kau dan Ki Lemah Teles tidak akan berbenturan kepentingan. Kalian saling mengenal sejak lama. Seandainya ada persoalan, tentu sudah kalian selesaikan sebelum rambut kalian mulai ditumbuhi uban seperti sekarang ini.”

Ki Sambi Pitu menarik nafas dalam-dalam. Wajahnya yang semula nampak cerah, telah berkerut dan nampak bersungguh-sungguh.

“Ia menganggap aku berhutang kepadanya.” berkata Ki Sambi Pitu, “sebelumnya ia memang tidak pernah menyebut-nyebutnya. Namun tiba-tiba ia datang minta aku melunasi hutangku dengan menantang untuk berperang tanding.”

“Apakah yang dimaksud dengan hutang itu?” bertanya Ki Pandi.

“Itulah yang membuat aku bingung” jawab Ki Sambi Pitu.

“Ternyata kau terima tantangannya” desis Ki Pandi.

“Ya. Aku menganggapnya satu kehormatan bahwa ia masih menghargai kemampuanku sama dengan dirinya.” jawab Ki Sambi Pitu.

“Tetapi bukankah itu tidak bijaksana?” bertanya Ki Pandi.

“Justru aku merasa bahwa sisa hidupku masih berarti. Kalah atau menang, hidup atau mati, tidak penting bagiku. Tetapi aku masih sempat untuk menerima penilaian yang tinggi dari Ki Lemah Teles., “jawab Ki Sambi Pitu.

Ki Pandi mengerutkan dahinya. Ternyata jalan pikiran Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles hampir bersamaan justru di hari tua mereka. Agaknya justru karena keduanya adalah orang-orang penting dan dihormati, sehingga mereka merasa, bahwa akhirnya mereka tercampak dan tidak berarti apa-apa lagi bagi dunia yang pernah menjadi lingkungan .hidupnya sebagai orang-orang berilmu tinggi.

Dalam pada itu, maka pembicaraan mereka pun terputus. Seorang pembantu dirumah Ki Sambi Pitu telah menghidangkan minuman panas bagi tamu-tamunya.

Untuk selanjutnya, Ki Sambi Pitu justru mencoba untuk menghindari pembicaraan tentang tantangan Ki Lemah Teles itu. Dipersilahkannya ketiga orang tamunya untuk minum. Sementara itu, Ki Sambi Pitu mulai berceritera tentang masa mudanya yang panjang serta masa muda Ki Pandi yang bongkok itu menurut pengenalannya.

Namun tiba-tiba saja Ki Sambi Pitu bertanya, “Dimana binatang peliharaanmu itu? Kau sembelih ketika kau kelaparan?”

“Tentu tidak” jawab Ki Pandi, “aku tinggalkan keduanya disebuah hutan yang aku anggap aman bagi keduanya.”

Ki Sambi Pitu tertawa. Katanya, “Seharusnya kau mencari lagi anak harimau, atau anak orang hutan atau bahkan anak gajah, kau ajari binatang-binatang itu menurut segala perintahmu”

“Kau..” Ki Pandi tertawa, sementara Ki Sambi Pitu berkata selanjutnya, “Kau akan menjadi seorang raja di hutan, karena kau akan dapat menguasai segala-galanya jika binatang-binatang terkuat menjadi pendukungmu. Kau dapat memaksakan kehendakmu terhadap seisi hutan karena binatang-binatang yang lebih kecil dan lemah tidak akan berani melawanmu.”

Ki Pandi tertawa semakin keras. Manggada dan Laksana pun tertawa pula.

Namun dengan demikian, maka Ki Pandi menjadi sulit untuk mencari jalan kembali pada pembicaraan mereka tentang Ki Lemah Teles. Apalagi Ki Sambi Pitu selalu berusaha menghindari pembicaraan itu.

Karena itu, maka akhirnya Ki Pandi justru minta diri untuk melanjutkan perjalanan mereka.

“Terima kasih akan kunjungan kalian” berkata Ki Sambi Pitu, “aku masih berharap bahwa kalian masih sudi singgah dirumahku ini. Dengan kehadiran mereka yang sebaya dengan aku, maka rasa-rasanya aku tidak terlalu terpisah dari duniaku.”

“Kau sudah mendapatkan dunia yang baru, Ki Sambi Pitu” berkata Ki Pandi, “dunia yang lebih baik. Lebih sejuk dan tentu te-rasadamai. Ternyata yang mengguncang kedamaian hidupmu diduniamu yang baru itu adalah orang-orang yang datang dari duniamu yang kau anggap sudah meninggalkanmu itu.”

Ki Sambi Pitu mengerutkan dahinya. Ia nampak merenung. Namun kemudian sambil menarik nafas ia berkata, “Mungkin kau benar Ki Bongkok. Tetapi kadang-kadang sulit bagi kita untuk berbicara sekedar berpijak pada nalar.”

Ki Pandi mengangguk. Katanya, “Ya. Kau juga benar.” Demikianlah maka Ki Pandipun telah meninggalkan Ki Sambi Pitu. Bertiga mereka menyusuri jalan keluar dari padukuhan itu, memasuki bulak persawahan yang luas.

Matahari sudah menjadi semakin tinggi. Orang-orang yang bekerja di sawah mulai berkeringat.

Dari ujung padukuhan terdengar suara orang menumbuk padi. Lenguh anak lembu berbaur dengan tangis bayi yang minta minum susu ibunya.

Ki Pandi, Manggada dan Laksana berjalan menyusuri jalan ditengah-tengah kotak-kotak sawah yang terbentang luas. Seorang petani berdiri sambil meneguk air sejuk dari sebuah gendi yang terbuat dari tanah liat.

Ternyata Ki Pandi sambil lalu sempat bertanya kepada seseorang, “Apakah Ki Sanak mengetahui, dimanakah letak Bulak Parapat?”

“Apakah Ki Sanak akan pergi ke sana?” bertanya orang itu.

“Ya” jawab ki Pandi.

“Untuk apa?” orang itu nampak keheranan.

“Tidak apa-apa. Sekedar melihat-lihat.” jawab Ki Pandi.

Kening orang itu berkerut. Dengan nada tinggi ia berkata, “Bulak Parapat adalah nama sebuah hutan perdu yang membentang dibawah bukit kecil itu.”

Ki Pandi termangu-mangu sejenak. Seperti juga Manggada dan Laksana ia mengira bahwa Bulak Parapat adalah sebuah bulak persawahan sebagaimana sedang dilaluinya itu. Namun ternyata Bulak Parapat adalah nama sebuah hutan perdu di lereng bukit kecil,

Namun Ki Pandi yang cepat berpikir itu segera menyahut, “Terima kasih Ki Sanak.”

“Tetapi apa kepentingan kalian dengan Bulak Parapat?” orang itu masih mendesak.

“Kami adalah pembuat gerabah dari tanah liat. Kami ingin membuktikan, apakah benar kata orang, bahwa tanah liat di Bulak Parapat lebih baik dari tanah liat dari tempat yang lain.”

Ternyata jawab orang itu tidak disangka-sangka, “Mungkin keterangan itu benar. Bukit kecil itu seluruhnya terdiri dari tanah liat yang warnanya merah agak keputih-putihan. Aku tidak tahu, apakah itu termasuk tanah liat yang baik atau bukan.”

“Dengan jari-jari kita dapat mengetahui, apakah tanah liat itu baik atau tidak, lembut atau kasar, keras atau lentur.” sahut Ki Pandi.

Orang itu mengangguk-angguk. Katanya, “Jika ternyata tanah liat di bukit itu baik, maka tempat itu tentu akan menjadi ramai.”

“Terima kasih Ki Sanak” berkata Ki Pandi kemudian, “aku akan pergi ke bukit kecil itu untuk melihat, apakah tanah liat disana cukup baik.”

Ki Pandi pun kemudian mengajak Manggada dan Laksana untuk meneruskan perjalanan. Namun orang yang telah menunjukkan letak Bulak Parapat itu berkata, “Jalan ini yang harus kalian tempuh. Bukan kesana.”

“Terima kasih Ki Sanak. Nanti kami akan pergi ke bukit itu. Tetapi kami masih mempunyai sedikit kepentingan yang lain.” sahut Ki Pandi.

Orang itu mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lagi.

Ki Pandi, Manggada dan Laksana kemudian telah meneruskan langkah mereka. Namun kemudian Ki Pandi pun telah membuat rencana. Pada saat perang tanding itu dilaksanakan dua malam lagi, mereka bertiga akan berada di Bulak Parapat itu.

“Lalu kita sekarang akan pergi kemana? Tentunya kita masih belum langsung menuju ke Jatimalang.”

“Belum” jawab Ki Pandi. Lalu katanya kemudian, “Bukankah kita terbiasa tidur dimana pun juga. Jika kita ingin sedikit bermanja-manja, kita dapat menginap di banjar padukuhan. Tetapi, jika tidak, maka kita dapat saja tidur di pinggir hutan, di pategalan atau bahwa di Bulak Parapat itu sekali.”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sebenarnya mereka memang ingin segera melihat kembali hutan Jatimalang, dan terutama lereng kaki Gunung Lawu dibelakang hutan Jatimalang itu. Tetapi mereka sadar, jika mereka memaksa juga untuk berangkat, Ki Pandi tentu akan menjadi sangat kecewa.

Karena itu, maka Manggada dan Laksanapun tinggal menurut saja, kemana Ki Pandi akan pergi.

“Kita masih mempunyai waktu” berkata Ki Pandi tiba-tiba, “untuk memanfaatkan waktu itu sebaik-baiknya, maka kita tidak usah berada terlalu jauh dari hutan Bulak Parapat itu.”

Demikianlah, sambil menunggu, Ki Pandi telah mengajak Manggada dan Laksana menuju ke hutan kecil tidak begitu jauh dari Bulak Parapat. Di hutan itu Ki Pandi telah mempergunakan waktunya yang dua hari itu untuk membimbing Manggada dan Laksana memperdalam ilmu yang mereka miliki. Ternyata bahwa keduanya telah meningkat semakin jauh dari dasar ilmu yang mereka warisi dari Ki Citrabawa. Meskipun demikian, bagi Manggada dan Laksana, ilmu yang mereka terima dari Ki Citrabawa merupakan alas ilmu mereka yang kemudian berkembang semakin tinggi.

Selama dua hari ketiga orang itu keluar dari hutan. Mereka memburu binatang dan membuat perapian. Meskipun mereka tidak lagi melakukan Tapa Ngidang, namun ternyata yang dua hari itu dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh Manggada dan Laksana.

Meskipun ketiga orang itu tidak berkepentingan langsung dengan perang tanding yang bakal terjadi antara Ki Sambi Pitu dengan Ki Lemah Teles, namun ternyata mereka ikut menjadi tegang ketika saat-saat yang ditentukan itu tiba.

Ki Pandi yang sudah melihat-lihat hutan perdu yang disebut Bulak Parapat itu dapat menduga, dimana perang tanding itu akan dilakukan. Didalam lingkungan hutan perdu itu terdapat sepetak tanah yang lebih lapang dari yang lain tidak ditumbuhi pohon-pohon perdu dan bahkan semak-semak berduri.

Sejak senja turun, maka Ki Pandi telah menempatkan Manggada dan Laksana di antara pohon-pohon perdu yang rapat, yang dapat melindungi mereka, sehingga tidak mudah dilihat oleh orang yang lewat dekat mereka sekalipun.

Ki Pandi juga sudah mengajari, bagaimana mereka harus mengatur pernafasan mereka, agar dapat menyerap bunyi tarikan nafas mereka sedalam-dalamnya sehingga suaranya tidak lebih dari gesekan daun-daun yang paling lembut.

Malam itu ternyata langit jernih. Yang nampak hanyalah bintang-bintang yang berhamburan. Selembar awan tipis terbang melintas dan lenyap di cakrawala.

Ketika malam menjadi semakin dalam, Manggada dan Laksana mulai menjadi gelisah. Kulit mereka mulai terasa gatal digigit nyamuk yang buas di hutan perdu itu.

Ki Pandi yang melihat gelagat itupun berkata, “Belum tengah malam. Kita harus sabar menunggu. Kesabaran merupakan salah satu syarat bagi keberhasilan.”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sebenarnyalah menjelang tengah malam, maka mereka telah mendengar derap kaki kuda memasuki hutan perdu itu. Seperti yang diperhitung-kan oleh Ki Pandi, maka orang berkuda itu melintasi semak-semak dan gerumbul-gerumbul perdu disela-sela batang ilalang, menuju ketempat yang lebih lapang dari lingkungan disekitarnya. Beberapa saat kudanya berputar-putar. Namun kemudian orang itu telah meloncat turun dan mengikat kudanya pada pohon batang perdu dipinggir tempat yang lapang itu.

Untuk beberapa saat, orang itu menunggu. Ketika ia mulai gelisah, maka didengarnya suara tembang yang ngelangut. Suara tembang itu seakan-akan menyelusuri hutan perdu yang tidak terlalu luas yang membentang didekat sebuah bukit kecil.

Orang berkuda yang berdiri termangu-mangu itupun tiba-tiba saja telah berteriak, “He, kau orang yang licik. Aku hampir jemu menunggumu. Cepat, kemarilah. Aku tidak mempunyai banyak waktu.”

Suara tembang itu masih terdengar. Semakin lama nadanya seakan-akan menjadi semakin tinggi, melengking di sepinya malam. Menggetarkan udara membentur lereng bukit.

Orang berkuda itu berteriak sekali lagi, “Cepat, aku sudah jemu menunggumu. Jika kau merasa ketakutan untuk menerima tantanganku, maka datanglah berlutut dan mohon ampun atas segala kesalahanmu. Maka hutangmu pun akan aku anggap lunas.”

Suara tembang itu menjadi semakin perlahan. Akhirnya suara itupun berhenti sama sekali.

Ternyata beberapa saat kemudian, seseorang melangkah mendekati orang yang datang berkuda itu. Manggada dan Laksana yang melihat semuanya dari jarak yang tidak terlalu dekat, segera dapat membedakan. Orang yang datang berkuda itu tentu Ki Lemah Teles. Sedangkan orang yang sempat melontarkan tembang itu tentu Ki Sambi Pitu.

Meskipun tidak ada bulan dilangit, namun keredipan bintang dapat membantu Manggada dan Laksana melihat kedua orang yang berdiri ditempat terbuka itu. Ternyata bahwa Ki Lemah Teles adalah seorang yang bertubuh kecil, dapat disebut pendek menurut ukuran yang wajar. Sementara Ki Sambi Pitu adalah seorang yang ukuran tubuhnya sedang-sedang saja sebagaimana orang kebanyakan.

“Nah” berkata Ki Lemah Teles, “sekarang katakan, apakah kau akan membayar hutangmu, atau kau akan mohon ampun atau kita akan berperang tanding.”

”Ki Lemah Teles” jawab Ki Sambi Pitu, “sudah aku katakan, bahwa tanpa alasan apapun kau dapat menantang aku untuk berperang tanding. Karena itu, kau tidak usah menyebut-nyebut tentang hutang itu, karena sebenarnya aku tidak mengerti sama sekali, apa yang kau maksud dengan hutangku dan yang sudah kau sebut lebih dari seribu kali itu.”

“Sudah aku katakan, orang yang mempunyai hutang kadang-kadang dengan sengaja melupakannya atau berpura-pura lupa.”

“Lupa atau berpura-pura lupa atau apapun yang kau katakan, sekarang aku minta kau sebut, berapa hutangku kepadamu dan atas dasar apa kau nilai apa yang kau sebut dengan hutang itu.” berkata Ki Sambi Pitu.

Ki Pandi, Manggada dan Laksana masih harus menahan diri serta mengatur pernafasan mereka, ahar kehadiran mereka tidak diketahui oleh kedua orang yang akan berperang tanding itu.

Dalam pada itu, Ki Lemah Teles pun kemudian berkata, “Baiklah. Jika kau ingin aku menyebut hutangmu.” Ki Lemah Teles berhenti sejenak. Lalu katanya pula, “Kau ingat, ketika kita sama-sama muda, maka diantara kita berdiri seorang gadis cantik, anak perempuan seseorang yang sama-sama kita hormati, karena sikap lahir dan batinnya.”

“Setan kau Lemah Teles. Kau masih mengungkit persoalan itu? Persoalan yang sudah terjadi puluhan tahun yang lalu. Sekarang rambut kita sudah memutih dan umur kita tinggal sepanjang umur jagung, kau sebut lagi persoalan yang sudah kita lupakan itu.”

“Jangan berkata seperti itu. Baru sekarang kau merasa betapa getirnya akibat dari persoalan yang terjadi puluhan tahun yang lalu itu.”

“Peristiwa getir yang mana yang kau maksudkan?”

“Ternyata karena gadis itu kau curi dari sisiku, maka aku harus menikmati perempuan lain.”

“Siapa yang mencuri gadis itu? Gadis itu mencintai aku. Tidak mencintaimu.” Namun suara Ki Sambi Pitu merendah, “alangkah memalukan untuk berbicara tentang seorang gadis pada saat rambut kita mulai beruban.”

“Tetapi akibatnya terasa amat pahit. Karena aku harus menikahi perempuan lain, yang baru kemudian aku ketahui, bahwa menurut perhitungan hari kelahirannya dan hari kelahiranku tidak sesuai, maka meskipun aku mempunyai tiga orang anak, tetapi tidak seorang pun yang tinggal hidup. Ketiga anakku meninggal pada umur yang berbeda-beda. Seorang diantara mereka meninggal saat dilahirkan. Seorang meninggal ketika berumur ampat belas tahun. Hanyut disebuah sungai yang banjir. Sedangkan anakku yang satu lagi, meninggal beberapa tahun yang lalu. ia terbunuh saat anakku itu justru melindungi seorang pedagang yang sedang dirampok. Anakku berdua dengan pedagang itu harus bertempur melawan lebih dari tujuh orang perampok yang garang.” suara Ki Lemah Teles merendah, “sekarang aku hidup sendiri.”

“Bukankah kau mempunyai cucu dari anakmu yang baru saja meninggal itu?” bertanya Ki Sambi Pitu.

“Aku mempunyai dua orang cucu.” jawab Ki Lemah Teles.

“Jika demikian, bukankah kau tidak sendiri? Kau dapat hidup dengan kedua orang cucumu yang dapat kau anggap sebagai anakmu.”

“Aku tidak dapat memiliki kedua cucuku itu.” berkata Ki Lemah Teles.

“Kenapa?” bertanya Ki Sambi Pitu.

“Keduanya berada dirumah kakek dan nenek mereka. Maksudku ayah dan ibu menantuku. Mereka orang-orang kaya yang akan dapat menghidupi kedua cucuku itu jauh lebih baik daripada keduanya hidup bersamaku.”

“Bagaimana dengan isterimu?”

“Jika saja ia masih hidup, meskipun hari kelahirannya tidak sesuai dengan hari kelahiranku, namun aku tentu tidak akan menjadi kesepian seperti ini.”

“Jadi kau mencari kesalahan atas kematian anak-anakmu itu pada hari, kelahiranmu dan hari kelahiran isterimu?”

“Ya. Tetapi letak kesalahan sebenarnya adalah padamu. Seandainya tidak kau rampas gadis itu. Ia akan menjadi isteriku. Anak-anakku tidak akan mati dan cucu-cucuku tidak akan diambil oleh keluarga menantuku.”

“Kau sudah gila” geram Ki Sambi Pitu, “aku juga kehilangan segala-galanya. Aku justru menganggap nasibmu lebih baik dari nasibku. Aku dan isteriku, gadis yang pernah kau cintai itu, tidak pernah mempunyai seorang anakpun. Kami belum pernah merasakan kebahagiaan seorang ayah dan ibu yang menimang anaknya. Apalagi kemudian isteriku itu mati muda oleh penyakit yang tidak pernah aku ketahui sampai sekarang. Nah, apakah kau masih akan menyebut aku mempunyai hutang kepadamu?”

“Jika kau tidak mempunyai anak itu karena salahmu. Kaulah yang mandul. Dan perempuan itu mati karena hatinya tersiksa oleh kesepiannya, sementara hidupmu kau habiskan merayapi lereng gunung dan menyusuri sungai-sungai yang panjang. Kau kira dengan caramu kau akan menjadi orang yang tidak terkalahkan di-muka bumi ini.”

“Kau kira aku meninggalkan isteriku untuk sekedar mencari kesenangan, membiarkan ketamakan tumbuh subur didalam hati atau keserakahan yang tidak terkendali? Aku pergi kesegala sudut bumi untuk mencari seorang tabib yang mampu menyisihkan kemandulan kami. Aku atau isteriku. Tetapi semuanya sia-sia.”

“Kau kira keluhanmu itu dapat meruntuhkan belas kasihanku? Aku justru menganggap hutangmu semakin besar karena kau telah menyia-nyiakan gadis yang kau rebut dari sisiku ini.”

“Cukup, cukup” Ki Sambi Pitu tiba-tiba saja berteriak, “sekarang kau mau apa? Kau tidak usah mengungkit apapun untuk menantang aku bertempur. Marilah, aku sudah siap. Apakah kau ingin kita bertempur dengan senjata atau tidak atau kita akan saling menggigit.”

“Setan kau Sambi Pitu. Bersiaplah. Kita akan berperang tanding dengan cara apapun sekehendak kita masing-masing. Apakah kita akan bersenjata atau tidak atau dengan menaburkan tanah berpasir ke mata atau apapun caranya.” geram Ki Lemah Teles.

Ki Sambi Pitu tidak menjawab lagi. Tetapi ia pun segera bersiap untuk bertempur.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, keduanya telah saling berhadapan. Tidak seorang pun di antara mereka yang bersenjata. Agaknya senjata juga bukan merupakan alat yang paling penting bagi keduanya.

Ketika Ki Lemah Teles mulai bergeser sambil mengayunkan tangannya, maka perang tanding itupun segera mulai. Keduanya mulai dengan gerakan-gerakan lamban. Namun pada setiap gerak, maka terasa seakan-akan getarannya mengguncang udara Bulak Parapat.

Namun semakin lama gerak mereka pun mulai menjadi semakin cepat, meskipun getar ayunan serangan mereka masih tetap mengguncang udara.

Beberapa saat kemudian, keduanya berloncatan saling menyerang, menghindar dan berkisar. Keduanya memiliki ketangkasan dan ketrampilan yang seimbang.

Untuk beberapa saat lamanya, Manggada dan Laksana memperhatikan pertempuran itu. Tidak lebih dari dua orang yang berkelahi dengan mengandalkan tenaga kewadagan mereka semata-mata.

“Ternyata mereka hanya bermain-main” berkata Manggada dan Laksana didalam hatinya.

Tetapi pertempuran itu semakin lama menjadi semakin sengit. Kedua-duanya mulai meningkatkan kemampuan mereka. Selapis demi selapis.

Manggada dan Laksana lah yang menjadi tidak telaten. Kenapa semuanya itu berjalan sangat lamban? Bukankah mereka sudan saling mengetahui tataran kemampuan masing-masing, sehingga jika mereka langsung melepaskan kemampuan puncak mereka, maka sentuhan tangan mereka tidak akan dengan serta-merta membunuh lawannya karena lawannya juga berilmu tinggi.

Tetapi Manggada dan Laksana tidak dapat mengatur kedua orang yang sedang bertempur itu. Keduanya agaknya ingin menja-jagi kemampuan mereka sendiri serta menilai kembali tataran-tataran kemampuan yang agaknya sudah agak lama tidak mereka pergunakan.

Namun ketika darah didalam tubuh mereka mulai memanas, maka pertempuran itu mulai berubah. Yang dilihat Manggada dan Laksana tidak lagi sekedar dua orang yang berloncatan dengan cepat serta ayunan-ayunan serangan yang kuat dengan tenaga yang besar, tetapi mereka mulai merasa sentuhan ilmu yang tinggi dari keduanya. Hentakan-hentakan yang mengejut serta gerak yang tidak terduga, bahkan menjadi semakin rumit, menunjukkan bahwa keduanya memang berilmu tinggi.

Ketika kemudian mulai terjadi benturan-benturan, Manggada dan Laksana mulai menahan nafasnya. Ternyata keduanya mulai merambah kedalam ilmu mereka masing-masing.

Manggada dan Laksana kadang-kadang terkejut bahwa sesuatu telah terjadi. Keduanya kadang-kadang terlambat menyadari, apa yang sebenarnya telah terjadi itu.

Bergantian Ki Lemah Teles dan Ki Sambi Pitu terdorong beberapa langkah surut. Bahkan kemudian salah seorang dari mereka terlempar beberapa langkah. Tetapi dalam sekejap orang itu telah berdiri tegak menunggu serangan berikutnya.

Kecepatan gerak kedua orang itu sulit untuk diikuti oleh Manggada dan Laksana. Bahkan tiba-tiba saja tangan Ki Lemah Teles telah mengguncang pertahanan Ki Sambi Pitu. Tetapi dengan cepat Ki Sambi Pitu telah memperbaiki keadaannya, justru dengan kecepatan yang tidak dapat diikuti oleh tatapan mata Manggada dan Laksana, Ki Sambi Pitu telah membalas serangan itu dengan serangan-serangan beruntun, sehingga Ki Lemah Teles harus berloncatan mengambil jarak.

Tetapi pertempuran itupun kemudian telah berubah pula. Ketika kedua belah pihak telah semakin sering disentuh oleh serangan-serangan lawan, maka pertempuran itu justru mulai menjadi lamban kembali. Keduanya tidak lagi berloncatan seakan-akan tidak menyentuh tanah. Tetapi keduanya mulai saling menyerang dengan kekuatan ilmu mereka yang memancar meloncat dari dalam diri mereka masing-masing ke arah lawan.

Manggada dan Laksana menjadi semakin berdebar-debar. Ia mulai melihat kebesaran nama kedua orang yang sedang bertempur itu, justru ketika mulai bergerak dengan lamban.

Namun akhirnya, Ki Pandi lah yang menjadi berdebar-debar ketika ia melihat kedua orang itu justru seakan-akan berhenti bertempur. Tetapi keduanya justru mulai duduk dengan kaki dan tangan bersilang saling berhadapan.

“Apa yang terjadi?” bertanya Manggada dan Laksana dida-lam hatinya.

Tetapi detak jantung mereka menjadi semakin cepat. Bahkan kemudian seperti memukul-mukul dada mereka.

Dari kedua orang yang duduk berhadapan itu, Manggada dan Laksana melihat seakan-akan telah berloncatan kunang-kunang kecil dari yang seorang hinggap kepada yang lain.

Tetapi semakin lama keduanya nampak menjadi letih. Keduanya mulai goyah ketika dari kepala mereka nampak seakan-akan mengepul asap putih tipis.

Tiba-tiba saja Ki Pandi berdesis, “Keduanya mulai bersungguh-sungguh. Itu sangat membahayakan mereka masing-masing.”

“Apa yang akan Ki Pandi lakukan?” Ki Pandi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia berbisik, “Pertempuran yang gila itu harus dihentikan, meskipun mungkin akibatnya akan buruk bagiku.”

Manggada dan Laksana tidak segera mengerti maksud Ki Pandi. Namun kemudian ternyata Ki Pandi telah mengambil serulingnya. Ia pun mulai duduk dengan menyilangkan kakinya, mengangkat serulingnya dan meletakkannya dibibirnya.

Sejenak kemudian terdengar alunan getar suara seruling Ki Pandi. Nada-nada yang mengalir adalah nada-nada yang geram, keras dan menghentak-hentak. Namun semakin lama nada suara seruling itu pun berubah. Iramanya juga berubah. Semakin lama menjadi semakin lembut. Namun nadanya meninggi menggeliat menggapai mega-mega yang mengalir diwajah langit yang digayuti beribu bintang.

Manggada dan Laksana menjadi tegang. Mereka pun tahu, bahwa Ki Pandi adalah seorang yang berilmu sangat tinggi. Ilmunya setatar dengan ilmu seorang Panembahan yang ditakuti karena ilmunya yang tinggi, namun yang dibumbuinya dengan ilmu hitam. Panembahan Lebdagati.

Ternyata suara seruling itu berpengaruh atas kedua orang yang sedang bertempur. Pemusatan nalar budi mereka ternyata telah mulai terganggu oleh nada-nada dan irama seruling yang ditiup oleh Ki Pandi itu.

Karena itu, maka Manggada dan Laksana justru tidak melihat lagi kepulan asap putih yang tipis itu. Bahkan kemudian loncatan-loncatan cahaya seperti kunang-kunang kecil itu pun semakin jarang dan memudar.

“Apa yang terjadi?” bertanya Manggada dan Laksana didalam hati.

Sebenarnyalah suara seruling Ki Pandi telah mengoyak pemusatan nalar budi kedua orang yang sedang bertempur itu. Dengan demikian, maka kemampuan mereka melontarkan ilmupun menjadi semakin menyusut.

Karena itu, maka kedua orang yang sedang bertempur itu menjadi marah oleh gangguan suara seruling itu.

Seperti berjanji, maka kedua orang itu pun telah saling memberikan isyarat, menghentikan pertempuran. Kunang-kunang kecil itu pun kemudian berhenti sama sekali, sedangkan asap tipis yang keputih-putihan itupun sudah tidak nampak lagi diseputar kepala kedua orang yang sedang berperang tanding itu.

Hampir berbareng, keduanya telah bangkit berdiri. Sejenak mereka termangu-mangu. Namun kemudian Ki Sambi Pitu pun berteriak lantang, “ki Bongkok. Kenapa kau mengganggu kami? Aku sudah mengira bahwa kau akan hadir disini. Tetapi aku tidak mengira bahwa kau telah mencampuri persoalan kami.”

Ki Pandi masih saja meniup serulingnya. Sementara itu Ki Lemah Teles itupun berteriak pula, “He, bongkok buruk. Kenapa kau datang juga ke tempat ini?”

Suara seruling Ki Pandi pun semakin perlahan. Akhirnya berhenti sama sekali.

“Marilah, kita mendekat” berkata Ki Pandi kepada Manggada dan Laksana.

Manggada dan Laksana tidak menyahut. Tetapi dengan jantung yang berdebaran mereka bangkit dan melangkah mengikuti langkah Ki Pandi mendekati kedua orang yang merasa terganggu itu.

“Bongkok buruk. Jika kau masih suka mengganggu orang, maka aku akan membunuhmu disini.” geram Ki Lemah Teles.

Tetapi Ki Pandi tertawa pendek. Katanya, “Kau tidak akan dapat melakukannya Ki Lemah Teles. Kau sudah menjadi lemah. Tenaga dalammu sudah terhisap habis dalam benturan ilmu dengan Ki Sambi Pitu. Sebagai seorang yang berilmu tinggi kau tentu dapat mengukur betapa tinggi ilmuku. Karena itu, jika kita saling membunuh sekarang, aku tentu akan dapat membunuhmu dengan mudah. Bahkan sambil meniup serulingku, aku akan dapat membunuhmu. Melawan atau tidak melawan.”

“Iblis kau, “ geram Ki Lemah Teles.

Namun Ki Pandi berkata, “Tetapi bukankah kita tidak saling membunuh?”

“Ki Pandi” berkata Ki Sambi Pitu, “aku tahu bahwa kau tentu akan datang kemari. Tetapi sebaiknya kau tidak mencampuri urusanku dengan Ki Lemah Teles.”

“Kalau yang kalian persoalkan itu benar-benar persoalan yang mendasar, maka aku tidak akan mencampuri persoalan kalian berdua. Tetapi setelah aku mendengar dari mulut kalian, bahwa ternyata persoalan yang mendorong kalian untuk membunuh diri bersama-sama itu bukan persoalan yang berarti, maka aku berusaha untuk mencegahnya. Sebaiknya Ki Lemah Teles pulang saja dan mencoba menyusun alasan-alasan yang lebih masuk akal untuk menantang seseorang untuk berperang tanding. Atau dalam kenyataan yang hampir saja terjadi, kalian berdua akan mati bersama-sama. Dengar, mati tanpa arti sama sekali.”

“Omong kosong” bentak Ki Lemah Teles, “aku bertempur untuk mempertahankan harga diriku sebagai laki-laki.”

“Kau sudah terlambat puluhan tahun, Ki Lemah Teles. Yang mendorong kau sekarang datang menantang Ki Sambi Pitu sama sekali bukan harga dirimu sebagai seorang laki-laki. Tetapi hari-hari tuamu yang sepi. Kau merasa bahwa di hari tuamu kau sudah tidak berarti lagi, sehingga kau telah berusaha menunjuk-kan, bahwa kau masih Ki Lemah Teles yang dahulu.”

“Setan kau Bongkok. Sekarang aku tantang kau” geram Ki Lemah Teles.

Tetapi Ki Pandi menjawab dengan keras pula, “Dengar. Jika aku menerima tantanganmu, maka kau akan mati. Sementara itu tidak akan ada orang yang menyalahkan aku, karena aku membunuhmu dalam perang tanding. Karena itu, maka jika kau masih ingin melawan hari tuamu dengan cara yang aneh-aneh dan tidak masuk akal, datanglah kepadaku. Aku akan menerima tantanganmu.”

“Sudahlah” berkata Ki Sambi Pitu, “aku dapat mengerti niat baik Ki Pandi. Aku pun sebenarnya menyadari, untuk apa aku berperang tanding.”

Ki Lemah Teles termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Kata-katamu membuat jiwaku menjadi lemah.”

“Kau masih punya kesempatan untuk merenunginya” berkata Ki Pandi., “Mudah-mudahan nalarmu bertambah bening di-hari tuamu.”

Ki Lemah Teles tidak menjawab. Dengan kaki yang terasa berat, ia berjalan menuju ke kudanya. Namun Ki Lemah Teles harus mengakui, bahwa ia sudah terlalu banyak memeras tenaganya, sehingga tubuhnya memang terasa menjadi sangat lemah.

Sejenak kemudian terdengar derap kaki kudanya mengumandang menggetarkan udara Bulak Parapatan yang-membentang dikaki sebuah bukit kecil itu.

“Terima kasih, Ki Bongkok” desis Ki Sambi Pitu kemudian, “kau telah membebaskan aku dari persoalan yang tidak lebih dari kegilaan yang mencengkam jantung Ki Lemah Teles. Jiwanya yang sakit telah menyeret aku kedalam keadaan yang serupa. Untunglah bahwa aku segera menyadari hal ini karena kehadiranmu Ki Bongkok.”

“Aku sekedar mengingatkanmu. Sementara kau sudah menemukan pijakan baru di padukuhan yang ramah itu. Kau dianggap orang tua yang menjadi panutan. Jika saja orang-orang padukuhan mengetahui apa yang kau lakukan malam ini, maka mereka tentu akan ikut melibatkan dirinya dan berdatangan kemari tanpa mengetahui bahaya sebenarnya ada disini. Bukankah untuk beberapa lama padukuhan itu dicengkam oleh ketegangan dan bahkan ketakutan karena pokal Ki Lemah Teles yang setiap kali berkeliaran dengan kudanya di padukuhan? Ketakutan yang amat sangat dapat meledak menjadi tenaga yang luar biasa ibetsarnya.”

“Aku mengerti Ki Bongkok” Ki Sambi Pitu mengangguk-angguk.

“Tetapi apa pula kata orang-orang padukuhan jika mereka juga tahu, bahwa yang terjadi adalah sekedar gejolak perasaan orang yang kehilangan pegangan menjelang hari-hari tuanya.”

Ki Sambi Pitu tersenyum. Katanya, “Aku memang harus menatap wajahku di permukaan air tenang.”

“Kau dapat melihat bahwa orang-orang tua padukuhan, yang tidak pernah hidup dalam gejolak dunia yang lain, tidak merasa kehilangan apa-apa.”

Ki Sambi Pitu mengangguk-angguk pula. Katanya kemudian, “Baiklah. Aku akan berusaha meyakinkan diri pada pijakanku sekarang ini. Meskipun demikian, aku minta Ki Pandi sekali-sekali datang melihatku.”

“Tentu” jawab Ki Pandi, “aku yang masih saja berkeliaran ini mempunyai kesempatan lebih banyak untuk berkunjung. Tetapi aku masih mengemban beban yang tidak dapat aku letakkan, meskipun aku sendiri yang memungut beban itu dan membawa dialas bongkokku ini kemana aku pergi.”

“Apakah aku boleh mengetahuinya?” bertanya Ki Sambi Pitu.

“Setan yang menyebut dirinya Panembahan Lebdagati itu masih berkeliaran.” jawab Ki Pandi.

Ki Sambi menarik nafas dalam-dalam. Dengan suara serak ia bertanya, “Dengan burung-burung Elangnya?”

“Ya.” jawab Ki Pandi.

“Baiklah Ki Pandi” berkata Ki Sambi Pitu, “jika saja aku mendapat kesempatan untuk mengetahui, sengaja atau tidak sengaja, aku akan memberitahukan kepadamu. Tetapi dimana aku dapat menemuimu?”

Ki Pandi tertawa. Katanya, “Rumahku terbentang seluas atapnya. Langit.”

“Aku mengerti” desis Ki Sambi.

“Akulah yang akan singgah dirumahmu setiap kali.” berkata Ki Pandi.

Demikianlah, maka Ki Pandi pun telah minta diri. Ia akan melanjutkan perjalanannya. Tanpa menyembunyikan arah perjalanannya ia berkata, “Dibelakang hutan Jatimalang itulah aku pernah menemukan sebuah padepokan yang dibangun oleh Panembahan Lebdagati. Tetapi setelah padepokan itu hancur, Ki Lebdagati justru berkeliaran kemana-mana.”

“Hubungi aku jika kau memerlukan. Setiap saat aku bersedia membantumu. Justru kesempatan untuk tetap merasa diriku berarti.” berkata Ki Sambi Pitu.

Dalam pada itu, Manggada dan Laksana pun telah minta diri pula kepada Ki Sambi Pitu. Sambil menepuk kedua orang anak muda itu, Ki Sambi Pitu berkata, “Kalian merupakan harapan masa depan bagi Ki Bongkok. Tetapi beruntunglah Ki Bongkok yang menemukan kalian berdua” Ki Sambi Pitu berhenti sejenak. Dengan ujung kelima jari tangan kanannya Ki Sambi menyentuh punggung kedua orang anak muda itu berganti-ganti. Kemudian memijit-mijit pundak mereka dan menyentuh lambung. Kemudian katanya, “Jika Ki Bongkok datang kemari, aku harap kalian juga ikut bersamanya.”

“Baik Ki Sambi Pitu” jawab Manggada dan Laksana hampir berbareng.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, Ki Pandi dan kedua anak muda yang menyertainya itu telah melangkah meninggalkan Ki Sambi Pitu yang berdiri termangu-mangu seorang diri. Namun Ki Sambi Pitu itupun segera melangkah pergi, kembali pulang ke-rumahnya.

“Nampaknya orang bongkok itu masih saja tidak membuat tempat tinggal yang tetap menjelang hari-hari tuanya.” berkata Ki Sambi Pitu kepada dirinya sendiri. Tetapi kemudian ia berkata pula

“Meskipun demikian, ia dapat meletakkan masa depannya pada kedua anak muda yang dibawanya. Nampaknya keduanya adalah anak-anak baik, kokoh dan cerdas. Tetapi aku tidak dapat merasa iri akan keberuntungannya itu.”

Sambil menundukkan kepalanya, Ki Sambi Pitu itu pun melangkah menyusuri Bulak Parapat kembali ke padukuhan.

Dalam perjalanan itu ia merasakan bahwa tubuhnya menjadi sangat letih. Kekuatan dan tenaganya memang serasa terkuras dalam perang tanding melawan Ki Lemah Teles. Perang tanding yang tidak ada artinya sama sekali. Baik bagi dirinya sendiri, apalagi bagi orang banyak.

“Seperti dikatakan Ki Bongkok” desis Ki Sambi Pitu, “jika perang tanding itu diteruskan, dan kami berdua atau salah seorang diantara kami mati, maka kematian itu adalah sia-sia.”

Sementara itu, Ki Pandi, Manggada dan Laksana telah berjalan meninggalkan Bulak Parapat. Tetapi merekapun kemudian telah berhenti ditepi hutan perdu itu untuk beristirahat. Meskipun mereka tidak terlibat sama sekali dalam perang tanding itu, tetapi ketegangan selama mereka mengikuti peristiwa di Bulak Parapat itu membuat mereka menjadi letih.

Dengan nada berat Ki Pandipun berkata, “Besok kita melanjutkan perjalanan menuju ke hutan Jatimalang untuk melihat perkembangan lingkungan di kaki Gunung Lawu, dibelakang hutan itu.”

“Apakah kita akan singgah dirumah Ki Ajar Pangukan?” bertanya Laksana.

“Ya.” jawab Ki Pandi dengan serta-merta, “aku pernah tinggal bersamanya untuk ikut membayangi padepokan Panembahan Lebdagati itu.”

“Tetapi apakah Ki Ajar masih berada ditempat yang dahulu?” bertanya Laksana pula.

“Mudah-mudahan Ki Ajar Pangukan masih tinggal di gubug-nya itu. Nampaknya ia sudah kerasan tinggal disana.” jawab Ki Pandi.

Di dini hari ketiga orang itu sudah bersiap. Mereka mencuci muka di sebuah sungai kecil yang mengalir dipinggir hutan perdu itu.

Agaknya Laksana merasa malas untuk berburu binatang. Dengan nada berat ia berkata, “Kita cari makan di kedai saja nanti.”

Ki Pandi tertawa.-Katanya, “Berburu dikedai agaknya lebih mudah dari berburu dipadang perdu ini.”

“Bukankah kita mempunyai senjata yang baik untuk berburu di kedai.”

Manggada pun tertawa pula. Tetapi iapun berkata, “Baiklah. Kami akan mengikuti saja apa yang kau inginkan.”

Laksana ternyata tertawa paling keras. Namun di hutan perdu itu tidak seorang pun akan mendengarnya.

Sebelum Matahari terbit, mereka sudah melanjutkan perjalanan mereka ke hutan Jatimalang. Mereka menyusuri jalan yang langsung menuju kehutan itu.

Ketika Matahari terbit, mereka sudah semakin jauh dari Bulak Parapat. Mereka melintasi padukuhan dan bulak-bulak persawahan. Langit nampak bersih kebiru-biruan.

Jalan-jalan mulai ramai dilalui orang yang akan pergi ke pasar dan yang akan pergi ke sawah.

Ki Pandi, Manggada dan Laksana yang berjalan diantara orang yang mengalir itu menduga, bahwa mereka akan segera sampai ke pasar.

Ternyata dugaan mereka benar. Beberapa saat kemudian, mereka memasuki lingkungan yang terasa semakin ramai.

Manggada dan Laksana mencoba mengingat-ingat, apakah mereka pernah melewati pasar itu sebelumnya.

“Belum” desis Manggada, “kita belum pernah melewati jalan ini.”

Laksana mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Agaknya memang belum.”

Namun ketika mereka sampai didepan pasar itu, tiba-tiba saja Laksana bertanya kepada Ki Pandi, “Bagaimana dengan orang yang mengikuti kita itu? Apakah Ki Pandi tidak melihatnya lagi?”

Ki Pandi menggeleng. Katanya, “Ya. Agaknya orang itu kehilangan jejak kita. Mungkin ketika kita berada di hutan perdu itu.”

“Mudah-mudahan kita tidak bertemu dengan orang itu lagi” geram Laksana.

“Biar sajalah. Apakah kita akan bertemu lagi atau tidak” desis Manggada.

“Jika kita bertemu lagi dengan orang itu, aku ragu-ragu apakah aku dapat mengekang diriku untuk tidak membunuhnya.” berkata Laksana.

“Jangan begitu” berkata Manggada, “kau akan menyesal jika ternyata orang itu bermaksud baik.”

“Apakah mungkin orang itu bermaksud baik?”

“Kenapa tidak?”

Laksana mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak berkata apa-apa lagi.

Demikianlah mereka berjalan terus. Pasar yang berada di tempat yang cukup luas dipinggir jalan itu adalah pasar yang cukup ramai. Disebelah pasar itu terdapat pemberhentian pedati dan disebelahnya lagi sebuah tempat yang terbiasa untuk menginap para pedagang dan sais pedati yang datang dari tempat yang agak jauh.

Ternyata Manggada dan Laksana tertarik untuk melihat-lihat isi pasar itu, sementara Ki Pandi pun tidak berkeberatan.

Tetapi mereka tidak terlalu lama berada dipasar itu. Tidak ada benda-benda yang khusus yang tidak terdapat ditempat lain.

Karena itu, maka ketiga orang itu pun segera keluar lagi dari pasar itu untuk melanjutkan perjalanan.

Jalan yang kemudian mereka lalui, adalah jalan yang lurus menuju ke lereng Gunung Lawu. Tetapi Ki Pandi berkata, “Jika kita menempuh jalan ini, maka kita tidak akan mendekati lereng Gunung Lawu lewat hutan Jatimalang.”

“Jadi?” bertanya Laksana, “apakah kita akan menempuh jalan lain?”

“Sementara kita dapat mengikuti jalan lain. Tetapi kita akan berbelok ke kiri dan menyusuri jalan yang lebih kecil yang menuju ke Jatimalang, meskipun kita masih harus beberapa kali berbelok untuk sampai ke jalan yang pernah kalian lalui.”

Manggada dan Lakasana mengangguk-angguk. Ki Pandi tentu mengenal jalan di sekitar hutan Jatimalang dengan baik.

Demikianlah, maka ketiga orang itu berjalan menyusuri jalan yang panjang. Mereka melangkah semakin jauh dari pasar yang bertambah-tambah ramai ketika Matahari menjadi semakin tinggi.

Ketika Matahari naik semakin tinggi, maka ternyata Laksana berdesis, “Marilah, kita mulai berburu.”

Manggada tertawa menghentak, sementara Ki Pandi tersenyum pula.

“Kenapa kau tidak berburu dipasar saja?” bertanya Manggada. dengan wajah yang bersungguh-sungguh.

Laksanalah yang tertawa berderai. Tetapi ia tidak menjawab.

Setelah mereka berhenti di sebuah kedai, maka mereka pun berjalan langsung menuju ke Jatimalang. Di sepanjang jalan mereka mecoba mengenali kembali, jalan mereka lalui sebelumnya.

“Memang sudah berubah” berkata Ki Pandi ketika melihat Manggada dan Laksana sekali-sekali menjadi bingung.

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Nampaknya Pajang telah memerintahkan untuk membuka jalan menuju ke seberang hutan Jatimalang, agar daerah itu tidak menjadi daerah yang seakan-akan terpisah.

Namun Ki Pandi tidak kehilangan pengenalannya atas lingkungan yang dikenalnya dengan baik. Karena itu, maka dengan pasti Ki Pandi membawa Manggada dan Laksana menuju kerumah Ki Ajar Pangukan yang terletak di daerah terpencil.

Ternyata meskipun Pajang telah mengusahakan agar lingkungan diseberang hutan Jatimalang tidak terpisah oleh hutan yang padat, namun tempat tinggal Ki Ajar Pangukan masih tetap rumit untuk dijangkau.

Perjalanan yang melelahkan itu akhirnya berakhir. Menjelang senja mereka telah mendekati tujuan. Manggada dan Laksana ingat benar gerojogan air yang meluncur dari tebing. Beberapa kali mereka harus memanjat lereng yang terjal. Baru kemudian mereka sampai ke sebuah dataran dengan bangunan kecil beratap ilalang.

Dalam keremangan senja mereka melihat rumah itu masih berdiri ditempatnya. Pintu sudah tertutup. Namun ketiganya menarik nafas panjang ketika mereka melihat sinar lampu minyak yang memancar dari ruang dalam rumah kecil itu.

“Ki Ajar Pangukan masih tinggal dirumah itu?” desis Manggada meskipun agak ragu.

“Siapa tahu kalau orang lain yang menempatinya sekarang” sahut Laksana.

“Tentu tidak. Tempat ini sangat terpencil.”

Keduanya terdiam ketika mereka menjadi semakin dekat. Bahkan Ki Pandipun nampak sedikit ragu untuk dengan serta merta mengetuk pintu.

Namun Ki Pandi pun kemudian melangkah mendekat. Perlahan-lahan Ki Pandi mengetuk pintu yang sudah tertutup itu.

Tidak segera terdengar jawaban. Ki Pandi, Manggada dan Laksana menyadari, bahwa penghuni rumah itu harus sangat berhati-hati. Jarang orang yang mengetahui, bahwa ditempat itu terdapat sebuah rumah yang dihuni orang.

Sejenak ketika orang menunggu. Tetapi tidak terdengar jawaban atau langkah kaki atau tanda-tanda bahwa rumah itu dihuni kecuali nyala lampu minyak didalam.

Ki Pandi pun kemudian telah mengetuk pintu itu sekali lagi. Tetapi Ki Pandi itu tiba-tiba telah berbalik. Ia mendengar langkah lembut. Tetapi tidak didalam rumah.

Manggada dan Laksana terkejut melihat sikap Ki Pandi, karena mereka tidak mendengar desir kaki justru disebelah rumah, dibayangan kegelapan.

Sejenak suasana menjadi hening. Namun tiba-tiba saja terdengar suara dari sebelah rumah, “Kau itu Bongkok.”

“Ya Ki Ajar. Ini aku” sahut Ki Pandi yang bongkok itu sambil melangkah mendekat.

Ki Ajar nampak sangat gembira sekali melihat kedatangan Ki Pandi. Apalagi bersama Manggada dan Laksana.

“Marilah. Silahkan. Aku akan membuka pintu.”

Ki Ajar itu pun kemudian masuk kembali kedalam rumahnya lewat pintu butulan. Langkah kakinya terdengar cepat mendekati pintu disusul suara selarak diangkat.

Sejenak kemudian pintu itu pun terbuka. Ki Ajar Pangukan mempersilahkan Ki Pandi, Manggada dan Laksana untuk masuk keruang dalam.

Setelah duduk di sebuah amben bambu yang agak besar, yang hampir memenuhi sebagian ruang dalam itu, maka Ki Ajar pun telah menanyakan keselamatan perjalanan Ki Pandi serta kedua orang anak muda itu.

Demikian pula Ki Pandi. Namun dalam pada itu, Ki Pandi nampak agak gelisah. Ia telah mendengar tarikan nafas seseorang di rumah itu.

Tetapi Ki Pandi tidak segera menanyakannya.

Namun agaknya Ki Ajar Pangukan dapat membaca perasaan Ki Pandi. Karena itu, maka katanya, “Aku memang tidak sendirian dirumah ini.”

Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada berat ia bertanya, “siapakah orang itu, Ki Ajar?”

“Aku mengenalnya dengan sebutan Ki Jagaprana.” jawab Ki Ajar Pangukan, “agaknya kau sudah mengenalnya.”

Ki Pandi mengangguk kecil. Katanya, “Nama itu sudah pernah aku dengar Ki Ajar. Apakah ia sekarang tinggal bersama Ki Ajar disini?”

“Untuk sementara. Ia terluka meskipun tidak terlalu parah. Lukanya sudah berangsur baik. Mudah-mudahan dalam beberapa hari lagi, ia sudah benar-benar sembuh.”

“Kenapa orang itu terluka, Ki Ajar?” bertanya Ki Pandi.

Ki Ajar menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya kemudian, “Duduklah disini sebentar. Aku akan membuat minuman panas bagi tamu-tamuku.”

“Tidak usah” berkata Ki Pandi, “biarlah kami merebus sendiri minuman kami. Bukankah sudah terbiasa bagiku untuk membuat minuman?”

“Tetapi sekarang kau dan kedua anak muda itu adalah tamu-tamuku., “ berkata Ki Ajar kemudian.

Namun Ki Pandi berkata, “Sudahlah Ki Ajar. Ki Ajar jangan menjadi terganggu oleh kehadiranku sekarang.”

Ki Ajar Pangaukan tidak memaksa. Katanya kemudian, “Baiklah jika itu yang kalian kehendaki. Bukan aku yang tidak ingin menghargai tamu-tamuku.”

“Kami sama sekali bukan tamu disini, “ sahut Ki Pandi.

Ki Ajar tersenyum. Kepada kedua orang anak muda yang datang bersama Ki Pandi, Ki Ajar Pangukan bertanya, “Bagaimana awalnya, sehingga kalian datang bersama dengan Ki Bongkok itu?”

Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Manggada itu pun bertanya, “Kisahnya cukup panjang Ki Ajar.”

“Tentu dalam rangka perjalanan Ki Bongkok memburu Panembahan Lebdagati.”

“Mulanya memang begitu Ki Ajar” desis Ki Pandi, “namun kemudian keduanya ingin menyertai pengembaraanku untuk menambah pengalamannya yang masih terlalu sempit menurut pengakuan mereka berdua.’“

Ki Ajar tertawa. Katanya, “Agaknya tersimpan jiwa pengembara dihati kalian berdua. Tetapi aku ingin menasehatkan, kalian harus dapat mengendalikan jiwa pengembaraan kalian itu, sehingga pada suatu saat kalian tidak akan menjadi orang-orang yang hidup tidak sewajarnya seperti kami. Maksudku, aku, Ki Bongkok dan barangkali ada orang-orang yang lain.”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Dengan nada rendah Manggada menjawab, “Kami akan berusaha, Ki Ajar.”

“Bagus” jawab Ki Ajar, “jika usiamu bertambah, maka kau harus menetap, berumah tangga, mempunyai keturunan dan menumbuhkan keturunan dengan baik sesuai dengan tuntunan Yang Maha Agung. Kalian jangan hidup di tempat terpencil atau pengembara tanpa akhir seperti Ki Bongkok, apapun alasannya. Kalian tidak usah menambah jumlah orang-orang aneh seperti kami.”

Manggada dan Laksana masih mengangguk-angguk. Namun yang terbayang di angan-angan justru orang-orang yang hidup tidak sewajarnya itu tentu mengikuti panggilan hatinya untuk melakukan pengabdian. Namun kepada siapa mereka mengabdi, itulah yang penting diketahui. Panggilan untuk mengabdikan diri bagi Ki Pandi tentu berbeda dengan panggilan untuk mengabdi bagi Panembahan Lebdagati, yang mengabdikan diri pada dunia yang hitam.

Namun dalam pada itu, nampaknya perhatian Ki Pandi masih tertuju kepada orang yang disebut bernama Ki Jagaprana itu. Sekali-sekali bahkan ia berpaling ke sentong sebelah kiri yang pintu leregnya tertutup hampir rapat.

Ki Ajar Pangukan itupun kemudian berkata, “Ki Jagaprana itu sudah berada dirumah ini selama lebih dari sepekan.”

“Bukankah Ki Jagaprana termasuk orang berilmu tinggi?” bertanya Ki Pandi.

“Ya. Tetapi lawan bertandingnya memiliki kelebihan dari Ki Jagaprana.”

Ki Pandi memang ingin mengetahuinya. Tetapi pertanyaannya yang sudah diucapkannya tidak langsung dijawab oleh Ki Ajar Pangukan sehingga Ki Pandi merasa kurang pantas untuk mengulangi pertanyaannya. Mungkin Ki Ajar memang mempunyai keberatan untuk menyebut siapakah yang telah melukai Ki Jagaprana.

Namun ternyata bahwa Ki Ajar itu sendirilah yang berkata, “Ki Bongkok. Seandainya aku tidak mengatakannya sekarang, kau tentu akhirnya juga mengetahuinya.”

Ki Pandi menarik nafas panjang. Sementara Ki Ajar Pangukan itu berkata, “Ki Jagaprana itu telah dilukai oleh seorang pengembara berkuda yang bernama Ki Lemah Teles.”

Ki Pandi terkejut. Manggada dan Laksanapun terkejut pula. Bahkan hampir diluar sadarnya. Laksana bertanya, “Jadi Ki Lemah Teles itu sampai ke tempat ini pula?”

Ki Ajar Pangukanlah yang terkejut. Dengan dahi yang berkerut ia bertanya, “Kau mengenal Ki Lemah Teles?”

Ki Pandi lah yang menyahut, “Secara kebetulan keduanya mengenal Ki Lemah Teles dan Ki Sambi Pitu, Ki Ajar.”

“Kau yang memperkenalkan kedua anak muda ini kepada mereka?“ bertanya Ki Ajar Pangukan.

“Dengan tidak sengaja” jawab Ki Pandi yang kemudian menceriterakan apa yang pernah mereka lihat di Bulak Parapat.

Ki Ajar Pangukan mengangguk-angguk. Katanya, “Jika demikian, Ki Lemah Teles itu sudah dihinggapi penyakit yang sangat berbahaya. Bukan saja buat dirinya sendiri, tetapi juga bagi orang lain yang pernah mempunyai persoalan dengan dirinya.”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apakah Ki Lemah Teles juga mengungkit persoalan yang sudah lama lalu sehingga ia harus bertanding dengan Ki Jagaprana.”

“Ya. Persoalan yang sebenarnya tidak perlu diungkit lagi sekarang ini, setelah cukup lama berlalu. Apalagi persoalannya bukan persoalan yang pantas untuk diselesaikan dengan perang tanding.”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Ki Sambi Pitu memiliki ilmu yang setidak-tidaknya seimbang dengan Ki Lemah Teles. Tetapi justru karena itu, hampir saja kedua-duanya mengalami kesulitan, sedangkan persoalannya juga bukan persoalan yang mendasar yang pantas diselesaikan dengan perang tanding sebagaimana aku ceriterakan.”

Ki Ajar Pangukan mengangguk-angguk. Katanya, “Nampaknya Ki Lemah Teles memerlukan perhatian khusus dari orang-orang sebaya kita. Agaknya ia melihat hari-hari tuanya dengan tatapan mata yang buram.”

“Persoalan apakah yang dipergunakan Ki Lemah Teles untuk memancing pertengkaran dengan Ki Jagaprana?” bertanya Ki Pandi.

“Ki Jagaprana justru orang yang terhitung dekat dengan Ki Lemah Teles. Ketika anak laki-laki yang tinggal satu-satunya meninggal, justru ketika ia sedang berusaha menyelamatkan seseorang, Ki Jagaprana berusaha untuk melerai pertengkaran-nya dengan keluarga menantunya. Agaknya mereka memperebutkan dua orang cucu. Saat itu, Ki Lemah Teles mau mendengarkan pendapat Ki Jagaprana untuk melepaskan cucunya dan menyerahkan kepada keluarga menantunya. Namun ternyata kemudian ia menyesal. Ia merasa kehilangan segala-galanya. Pada usia yang semakin tua, Ki Lemah Teles menyesali keputusan itu, dan menganggap Ki Jagaprana lah yang bersalah. Ia menantang sahabatnya itu untuk berperang tanding, sehingga Ki Jagaprana mengalami luka-luka parah.”

Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Ia sependapat dengan Ki Ajar, bahwa Ki Lemah Teles telah dihinggapi sejenis penyakit aneh yang dapat berbahaya bagi orang lain.

“Tetapi keadaannya sekarang sudah berangsur baik” berkata Ki Ajar Pangukan.” Setelah makan, Ki Jagaprana telah tertidur nyenyak. Biasanya ia akan terbangun menjelang tengah malam. Setelah itu, Ki Jagaprana jarang sekali tidur lagi.”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Namun agaknya malam itu Ki Jagaprana tidak dapat tidur nyenyak sampai menjelang tengah malam. Pembicaraan di dalam rumah itu telah membangunkan-nya.

Untuk beberapa saat Ki Jagaprana mencoba mendengarkan pembicaraan diruang dalam. Ki Jagaprana itu mendengar namanya beberapa kali disebut. Bahkan kemudian ceritera Ki Ajar tentang dirinya. Perang tanding yang dilakukannya dan keadaannya saat itu.

Karena itu, maka Ki Jagaprana itupun segera bangkit dan melangkah keluar dari biliknya.

“O” Ki Ajar beringsut, “marilah. Nampaknya kau telah terbangun.”

Sejenak Ki Jagaprana memandang Ki Pandi dengan tajamnya. Kemudian beralih kepada kedua orang anak muda yang menyertai Ki Pandi itu.

Ki Jagaprana memang sudah mengenal orang bongkok yang juga pernah disebut-sebut oleh Ki Ajar Pangukan itu. Tetapi pengenalannya memang tidak cukup akrab.

Meskipun demikian, maka sejenak kemudian Ki Jagaprana itu tersenyum. Sambil duduk diamben itu pula ia berdesis, “Selamat datang ketempat yang terpencil ini Ki Sanak bertiga.”

“Terima kasih, Ki Jagaprana.” jawab Ki Pandi sambil membungkuk hormat.

“Bukankah kalian sudah saling mengenal?” bertanya Ki Ajar Pangukan.

“Ya” jawab Ki Jagaprana, “setidak-tidaknya mengenal kehadirannya didunia olah kanuragan.”

Ki Pandi pun tersenyum. Katanya, “Aku lebih banyak dikenal bukan karena kemampuanku dalam olah kanuragan, tetapi karena kekhususan ujudku.”

“Ah, jangan begitu” Ki Ajar tersenyum, “jika kau saudara seperguruan Panembahan Lebdagati dan yang membebani dirimu dengan janji untuk membayangi dan bahkan melenyapkan wajah hitam yang melekat pada Panembahan itu, maka orang-orang setua kita akan dapat menilai tataran kemampuanmu. Meskipun aku sendiri pernah merasa penglihatanku kabur sehingga penilaianku atasmu keliru.”

“Ki Ajar sejak dahulu masih saja suka memuji” desis Ki Pandi.

Demikianlah, maka mereka bertiga serta kedua orang anak muda yang menyertai Ki Pandi itu pun mulai duduk berbincang tentang Ki Lemah Teles. Ki Jagaprana telah menceriterakan apa yang dialaminya saat ia harus berperang tanding melawan Ki Lemah Teles.

“Aku, yang merasa mengenalnya dengan akrab, tidak menduga, bahwa ia memang bersungguh-sungguh. Itulah sebabnya, maka aku terlambat untuk mengimbangi kemampuannya, sehingga aku telah terluka didalam. Bahkan terhitung parah.” berkata Ki Jagaprana sambil mengingat apa yang telah terjadi. Namun katanya kemudian, “Tetapi ternyata masih juga tersisa nilai-nilai persahabatan kami. Ketika aku menjadi semakin tidak berdaya, maka ia telah meninggalkan aku begitu saja. Ia tidak membunuh aku sebagaimana tantangannya. Berperang tanding sampai tuntas.”

Ki Pandi mendengarkan ceritera itu dengan dahi yang berkerut, sementara Ki Jagaprana melanjutkan, “Tetapi aku tidak merasa terhina karenanya. Aku menerima kekalahan serta pengampunannya dengan iklas. Karena itu, aku tidak membunuh diri.”

Ki Pandi termangu-mangu sejenak. Namun ketika ia melihat Ki Ajar dan Ki Jagaprana sendiri tertawa, iapun ikut tertawa pula.

“Sikapnya sangat menarik perhatian” berkata Ki Pandi yang mempunyai penilaian yang sama dengan Ki Ajar Pangaukan.

Dalam pembicaraan yang berkepanjangan kemudian. Laksana yang lebih terbuka itu tiba-tiba saja bertanya, “Ki Ajar. Apakah untuk seterusnya Ki Ajar akan tetap tinggal disini? Apakah sepeninggal Panembahan Lebdagati, Ki Ajar tidak ingin tinggal ditempat yang lebih dekat dengan lingkungan kehidupan yang wajar sebagaimana Ki Sambi Pitu?”

Ki Ajar Pangukan tersenyum. Katanya, “Tentu aku ingin anak muda. Tetapi banyak hal yang mempengaruhi keputusan yang akan aku ambil. Aku kira tidak ada salahnya jika aku memberitahukan kepada kalian, termasuk Ki Jagaprana, bahwa tempat yang telah dibuka dilereng Gunung Lawu itu belum sepenuhnya tenang dan bersih dari kepercayaan hitam. Hal ini merupakan salah satu sebab, kenapa aku masih tetap ingin tinggal disini.”

“Tetapi bukankah kehidupan di lereng Gunung Lawu itu sudah dialiri arus kehidupan sebagaimana nampak di lingkungan yang lain? Hutan yang sudah ditembus dengan jalan yang cukup baik itu, telah memungkinkan para pedagang keluar masuk lingkungan di belakang Gunung Lawu ini.” berkata Laksana kemudian.

“Ya, anak muda. Tetapi ketahuilah, bahwa di tempat yang sedikit lebih tinggi, pada arah yang lain, masih terdapat sebuah perguruan yang menyadap ilmu hitam. Perguruan itu timbul setelah Panembahan Lebdagati meninggalkan lereng Gunung Lawu. Aku masih belum tahu pasti, apakah di perguruan itu tinggal bekas pengikut Panembahan Lebdagati atau orang lain yang juga berpijak pada ilmu hitam.”

“Jika demikian, tempat itu tentu agak jauh dari tempat tinggal Ki Ajar ini.” desis Laksana pula.

“Ya. Tetapi juga tidak terlalu jauh. Aku mencoba mengamati perguruan itu. Perguruan yang tinggal di-sebuah padepokan yang termasuk baru dibangun.”

“Mungkin beberapa pengikut Panembahan Lebdagati yang lepas dari ikatan ada yang memasuki perguruan itu, karena perguruan yang baru itu mempunyai pijakan yang sama dengan ajaran Panembahan Lebdagati,” desis Ki Pandi.

“Memang mungkin sekali” jawab Ki Ajar.

“Menarik sekali” desis Laksana.

“Apa yang menarik?” Ki Pandipun tiba-tiba bertanya.

“Maksudku, perguruan itu memang menarik perhatian. Karena itu, maka Ki Ajar Pangukan tidak ingin pindah dari tempat ini. Setidak-tidaknya untuk sementara.” jawab Laksana.

Ki Pandi tersenyum. Katanya, “Apakah kau juga tertarik?”

Laksanapun tersenyum pula. Katanya, “Memang sangat menarik.”

Ki Ajar Pangukan mengetahui arah bicara Laksana. Karena itu maka katanya, “Jika kau memang tertarik, aku tidak berkeberatan jika kau ikut bersamaku mengamati nya.”

 

-oo00odwo00oo-

Bersambung ke Jilid 2

Karya SH Mintardja

Seri Arya Manggada 5 – Matahari Senja

Sumber djvu : Ismoyo

Convert, editor & ebook oleh : Dewi KZ

Tiraikasih Website

http://kangzusi.com/ http://kang-zusi.info/

http://cerita-silat.co.cc/ http://dewi-kz.com/

kembali | lanjut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s