AM_SKH-06


Serial ARYA MANGGADA

Episode IV: SEJUKNYA KAMPUNG HALAMAN

JILID 6

kembali | lanjut

AMSKH-06BEBERAPA saat kemudian, maka Ki Sapa Aruh telah keluar pula lewat pintu pringgitan. Dengan wajah yang cerah ia telah memanggil Wira Sabet dan Sura Gentong.

Ketiga orang itu berbicara sejenak di pintu pringgitan. Kemudian Wira Sabet memberi isyarat kepada saudara-saudara seperguruannya untuk ikut masuk ke dalam rumah itu. Namun Sura Gentong sempat berteriak kepada orang-orangnya, “Jaga keempat orang itu agar mereka tidak melarikan diri”

Ki Pandi hanya dapat melihat segala yang terjadi itu dengan jantung yang bergejolak. Ia melihat kekerasan terjadi. Tetapi ia tidak dapat berbuat sesuatu.

Ki Sapa Aruh dan beberapa orang yang masuk ke dalam rumah itu segera telah keluar pula. Mereka membawa beberapa buah peti kecil yang isinya tentu barang dagangan yang nilainya sangat mahal. Tentu perhiasan emas dan berlian. Bahkan mungkin beberapa buah wesi aji. Mungkin keris dan mata tombak yang dianggap bertuah.

Anak Ki Demang dan ketiga orang kawannya yang telah terluka itu hanya dapat memandangi orang-orang yang telah membawa barang dagangan mereka tanpa dapat mencegahnya.

Demikianlah, maka beberapa saat kemudian, Ki Sapa Aruh itu pun berkata kepada anak Ki Demang dan ketiga orang kawannya, “Terima kasih anak-anak. Ternyata kalian adalah anak-anak yang bijaksana. Yang tahu apa yang sebaiknya kalian lakukan. Sekali lagi kami minta maaf, jika ada tingkah laku kami yang tidak berkenan di hati kalian”

Keempat orang itu hanya dapat menggeretakkan gigi tanpa dapat berbuat sesuatu.

Sejenak kemudian, maka terdengar isyarat. Seorang di antara mereka telah bersuit nyaring. Getar suaranya menyusup pepohonan dan menggetarkan udara Kademangan itu.

Isyarat itu ternyata telah disahut oleh pengikut-pengikut mereka yang berada di luar halaman rumah Ki Demang. Mereka yang berada di depan gardu, di simpang empat dan di tempat-tempat lain.

Dengan demikian, maka sejenak kemudian, maka Ki Sapa Aruh dan semua pengikutnya telah berderap di atas punggung kuda meninggalkan tempat itu. Bahkan mereka telah membawa beberapa ekor kuda yang ada di rumah Ki Demang. Empat di antaranya adalah kuda yang telah disiapkan oleh Ki Demang dan kawan-kawannya untuk dipergunakan di keesokan harinya.

Sejenak kemudian, maka halaman rumah Ki Demang itu menjadi sepi. Namun hanya sebentar, karena sebentar kemudian, beberapa orang anak muda yang berada di gardupun telah berdatangan. Bahkan anak-anak muda yang tidak sedang meronda tetapi telah terbangun oleh derap kaki kuda yang berlari-lari di jalan-jalan padukuhan.

Tetapi yang mereka temui adalah anak Ki Demang serta tiga orang kawannya yang lemah karena letih, sakit karena luka-luka di tubuhnya serta sakit di hatinya.

Anak-anak muda itu telah membantu mereka naik ke pendapa. Memang hanya itulah yang dapat mereka lakukan. Orang-orang yang datang merampok rumah itu sudah pergi jauh. Bahkan seandainya masih berada di halaman itu pun, anak-anak muda itu tentu tidak akan dapat mencegah mereka.

Anak Ki Demang yang masih kesakitan itu pun kemudian berkata kepada anak-anak muda itu, “Terima kasih atas perhatian kalian. Sekarang, pulanglah. Yang bertugas ronda, kembalilah ke gardu-gardu perondan”

“Bagaimana dengan kalian disini?” bertanya salah seorang di antara anak-anak muda itu.

“Tidak apa-apa. Kami dapal merawat diri kami sendiri”

Anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Seorang di antara mereka berkata, “Kami minta maaf, bahwa kami tidak dapat berbuat sesuatu pada saat yang gawat itu”

Anak Ki Demang itu mencoba tersenyum. Katanya, “Aku mengerti. Orang-orang itu benar-benar orang-orang yang keras dan kasar”

Demikianlah, anak-anak muda itu pun minta diri. Sebagian dari mereka kembali ke gardu-gardu perondaan. Yang lain pulang ke rumah masing-masing Sedang masih ada satu dua di antara mereka yang lelap berada di rumah Ki Demang.

Dalam pada itu. para pembantu rumah itu baru berani keluar ketika mereka yakin, bahwa para perampok telah tidak ada lagi di halaman rumah itu.

“Tolong, sediakan air panas buat kami” berkata anak Ki Demang kepada seorang laki-laki separuh baya, pembantunya, “kami harus mencuci luka-luka kami”

Orang itu mengangguk sambil berdesis, “Apa ada pesan yang lain?”

“Tidak” jawab anak Ki Demang itu.

Ketika pembantu rumah itu turun dari pendapa dan melangkah masuk lewat pintu seketeng, maka mereka yang ada di pendapa itu terkejut. Mereka melihat seorang yang bongkok berjalan dengan ragu-ragu ke arah mereka.

Anak-anak muda yang masih berada di pendapa rumah itu pun segera berloncatan bangkit untuk mempersiapkan diri.

Namun anak Ki Demang itupun berkata, “Biarlah orang itu naik”

Ki Pandi memang menjadi ragu-ragu. Namun seorang anak muda telah menyongsongnya dan mempersilahkannya naik.

Ki Pandi pun kemudian duduk bersama anak Ki Demang, kawan-kawannya yang letih dan kesakitan serta beberapa orang anak muda yang masih berada di rumah itu.

“Maaf, Ki Sanak” berkata Ki Pandi, “aku melihat apa yang terjadi. Tetapi aku tidak dapat berbuat apa-apa. Aku memanjat pohon di halaman sebelah, sehingga aku dapat mendengarkan sebagian dari pembicaraan kalian dengan orang-orang yang merampok Ki Sanak berempat itu”

Anak Ki Demang itu mengangguk-angguk kecil. Katanya, “Akulah yang harus minta maaf, bahwa aku tidak mendengarkan petunjuk Kiai. Akhirnya aku harus mengalami keadaan seperti ini”

“Ki Sanak” berkata Ki Pandi, “apakah ada niat kalian untuk melacak benda-benda yang mereka rampok itu?”

“Tentu saja niat itu ada, Kiai. Tetapi bagaimana kami dapat melakukannya. Kami tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa mereka terlalu kuat. Bahkan seandainya kami mengerahkan kekuatan se Kademangan, sulit bagi kami untuk dapat mengalahkan mereka. Korban pun akan berjatuhan” jawab anak Ki Demang. Lalu katanya pula, “Aku tidak dapat mengorbankan sedemikian banyaknya orang untuk kepentingan kami berempat. Bukan kepentingan Kademangan ini Kiai”

Ki Pandi menarik nafas panjang. Katanya, “Aku menghargai sikap Ki Sanak. Tetapi kita juga dibebani tugas untuk menghentikan perbuatan mereka, agar dihari mendatang tidak akan jatuh lagi korban perampokan dan mungkin kekerasan yang dapat menimbulkan kematian”

Salah seorang di antara saudagar perluasan itu berkata, “Tetapi apa yang dapat kami lakukan, Ki Sanak? Kematian akan berhamburan di antara anak-anak Kademangan Rejandani. Orang tua, saudara dan isteri yang kehilangan orang-orang yang dikasihi akan mengutuk kami berempat”

Ki Pandi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berkata, “Bagaimana pendapat kalian, jika kami, maksudku bukan hanya aku seorang diri, menawarkan kerja sama. Kami memang berniat untuk menghentikan perbuatan mereka. Kami memang tidak melihat kemungkinan lain kecuali dengan kekerasan. Jika hal ini harus dilakukan, bukan berarti bahwa kita adalah orang-orang yang tidak waras lagi, atau otak kita sudah dikotori dengan impian-impian tentang perang, pembunuhan dan kekerasan-kekerasan serupa. Tetapi justru kami inginkan ketenangan dan ketenteraman”

Anak Ki Demang itu mengangguk-angguk. Katanya, “Tetapi bagaimanakah caranya?”

“Jika Ki Sanak berniat, kita akan dapat membicarakan langkah-langkah yang dapat kita ambil”

“Kami memerlukan penjelasan, Kiai” sahut anak Ki Demang.

Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya beberapa orang anak muda yang ada di pendapa itu. Baru kemudian ia berkata, “Ki Sanak. Jika Ki sanak bersedia, kami akan menghubungi Ki Sanak kemudian. Tentu saja dalam waktu yang tidak terlalu lama”

“Baiklah, Kiai. Kami akan menunggu. Tetapi sekali lagi kami nyatakan, bahwa kami berempat tidak ingin mengorbankan banyak orang hanya untuk memperoleh barang-barang kami itu kembali. Betapapun tinggi nilai barang dagangan kami, tetapi tentu tidak akan setinggi nilai nyawa seseorang”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya, “Aku sangat menghormati sikap Ki Sanak. Tetapi baiklah, sekarang aku minta diri. Jika Ki Sanak bertiga bersedia untuk sementara tinggal bersama disini, pada saat lain aku akan dapat menghubungi kalian utuh berempat. Tentu saja jika tidak ada keberatan apapun”

“Baik Kiai” jawab salah semang kawan anak Ki Demang itu, “kami akan tinggal disini. Tetapi tentu saja tidak untuk waktu yang terlalu lama”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya, “Tentu. Aku akan segera kembali jika segala sesuatunya sudah menjadi jelas”

Ki Pandi yang bongkok itu pun kemudian telah minta diri. Keempat orang saudagar itu memandanginya dari pendapa. Ketika mereka akan bangkit berdiri, Ki Pandi berkata, “Sudahlah. Duduk sajalah. Kalian harus segera mengobati luka-luka kalian. Apakah kalian sudah mempunyai obatnya?”

“Sudah Kiai” jawab anak Ki Demang, “Ayah mempunyai persediaan beberapa jenis obat-obatan”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Namun orang bongkok itu pun segera melintasi halaman dan hilang di balik regol.

Di sisa malam menjelang fajar, Ki Carang Aking yang dipanggil Sampar di barak itu, Manggada dan Laksana menjadi sibuk. Mereka harus menerima dan merawat kuda-kuda yang semalam dipergunakan untuk merampok di Kademangan Rejandani. Dua orang penyabit rumput dan bahkan beberapa orang kawannya telah diminta untuk membantunya. Terutama kuda-kuda para pemimpin barak itu. Wira Sabet, Sura Gentong, Pideksa dan saudara-saudara seperguruan Wira Sabet yang ada di barak itu. Namun ternyata di-antara mereka tidak terdapat Ki Sapa Aruh. Ternyata disisa malam itu Ki Sapa Aruh tidak ikut memasuki barak itu.

Tetapi Ki Carang Aking, Manggada dan Laksana menjadi berdebar-debar ketika mereka melihat Wira Sabet, Sura Gentong dan Pideksa membawa beberapa peti kecil. Di antaranya agak panjang. Dengan demikian, maka mereka menduga, bahwa perampokan itu telah berhasil.

Ketika mereka sempat berbicara, Manggada berdesis, “Apakah Ki Pandi terlambat?”

Ki Carang Aking mengangguk kecil. Katanya, “Mungkin. Mungkin sekali Ki Pandi terlambat. Mudah-mudahan nanti malam Ki Pandi datang kemari. Kita akan mendapatkan keterangan tentang perampokan itu”

Betapa pun keinginan Manggada dan Laksana mendesak, tetapi mereka memang harus menunggu untuk mendengar keterangan Ki Pandi secepatnya malam nanti.

Tetapi mereka masih dapat mengharapkan ceritera dari pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong yang pernah dikalahkan oleh Laksana di padukuhan Gemawang.

Sampai fajar, Manggada, Laksana, Ki Carang Aking serta beberapa orang penyabit rumput masih sibuk di kandang kuda. Baru ketika langit menjadi terang, mereka sempal duduk beristirahat. Tetapi mereka sudah tidak mempunyai kesempatan untuk kembali ke pembaringan.

Namun yang mereka harapkan itu pun datang, bahwa lebih cepat dari dugaan mereka. Tiga orang pengikut Wira Sabet yang pernah dikalahkan oleh Laksana itupun datang ke kandang. Seorang dari mereka berkata, “Hari ini, dua orang di antara kami akan bertugas di Gemawang. Apakah kalian ada pesan untuk anak muda yang cengeng itu?”

Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Manggada menggeleng sambil menjawab, “Tidak. Tidak ada pesan khusus. Tetapi amati anak itu agar tidak berusaha menemui kawan-kawan kalian yang lain. Kalian harus selalu menakut-nakutinya agar anak itu benar-benar diam”

Keduanya mengangguk. Tetapi yang seorang kemudian bertanya, “Jika kami tidak menemuinya di jalan-jalan padukuhan?”

Manggada pun kemudian memberikan ancar-ancar rumah Wisesa. Katanya, “Jika perlu, cari anak itu di rumahnya”

“Baiklah” berkata orang itu sambil beranjak pergi. Tetapi Manggada sempat bertanya sambil lalu, “Bagaimana tugas kalian semalam?”

“Kami berhasil baik” jawab orang itu.

“Apakah kalian semalam pergi bersama Ki Sapa Aruh?” bertanya Manggada.

“Ya” jawab orang itu.

“Apakah Ki Sapa Aruh tidak kembali ke barak ini?” bertanya Laksana.

Orang itu menggeleng. Katanya, “Tidak. Ki Sapa Aruh langsung pergi ke tempat lain. Ia masih mempunyai tugas penting yang harus dilakukan”

“Kapan ia akan datang kemari?” bertanya Manggada pula.

“Aku tidak tahu. Tetapi di pekan mendatang, nampaknya Ki Sapa Aruh akan lebih lama berada di tempat ini. Agaknya persoalan padukuhan Gemawang sudah akan di tanganinya dengan sungguh-sungguh. Apalagi mengingat perkembangan di padukuhan itu pada saat terakhir, yang agaknya sudah dilaporkan oleh Ki Wira Sabet dan Sura Gentong kepada Ki Sapa Aruh”

“Jadi selama ini persoalannya masih belum di tangani dengan sungguh-sungguh?”

“Belum. Selama ini Ki Sapa Aruh masih mempunyai persoalan penting yang harus diselesaikan. Nampaknya persoalan itu sudah selesai sekarang, sehingga menurut pembicaraannya dengan Wira Sabet dan Sura Gentong yang sempal aku dengar, Gemawang dan Kademangan Kalegen baru akan di tangani dengan sungguh-sungguh”

Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Sementara orang itu berkata, “Bukankah selama ini kami baru berusaha menakut-nakuti dan mematangkan keadaan? Namun dalam suasana yang berkembang sebagaimana kami kehendaki, maka justru telah terjadi perubahan yang berlawanan dari kehendak kami. Sebelum keadaan itu berkembang lebih buruk, sementara Ki Sapa Aruh sudah mempunyai kesempatan, maka persoalan Gemawang dan Kalegen akan segera diselesaikan”

Manggada tidak bertanya lagi. Demikian pula Laksana. Sementara Sampar pura-pura tidak mendengarkan pembicaraan itu. Ia masih menyibukkan diri dengan kuda-kuda di kandang. Terutama kuda putih, justru karena pemiliknya orang yang sangat keras dan kasar.

Namun, sepeninggal orang-orang itu, maka Manggada dan Laksana telah duduk bersama Ki Carang Aking di belakang kuda. Ternyata mereka telah membicarakan keterangan ketiga, orang pengikut Wira Sabet itu.

“Kita harus berbicara dengan Ki Pandi secepatnya” berkata Ki Carang Aking, “mudah-mudahan nanti malam ia benar-benar datang. Persoalannya tidak dapat ditunda-tunda lagi”

“Kita hanya dapat menunggu” sahut Manggada. Namun kemudian katanya, “Tetapi menilik keberhasilan perampokan semalam, maka menurut pendapatku, Ki Pandi akan datang nanti malam. Ki Pandi tentu akan memberi penjelasan tentang usahanya yang gagal itu”

Ki Carang Aking mengangguk-angguk. Katanya, “Banyak yang dapat kita ketahui disini. Tetapi ternyata gerak kami sangat terbatas. Rasa-rasanya aku ingin mengikuti Ki Pandi untuk dapat lebih banyak bergerak”

“Ki Carang Aking akan keluar dari barak ini?” bertanya Laksana.

Ki Carang Aking mengerutkan dahinya. Namun kemudian sambil tersenyum ia berkata, “Tidak. Untuk sementara aku akan tetap bersama disini”

Dalam pada itu, Ki Pandi yang sudah berada di rumah Ki Kertasana menceriterakan apa yang telah dilakukannya semalam. Bahkan ia lelah gagal mencegah perampokan atas keempat orang saudagar perhiasan emas, berlian dan bahkan juga wesi aji.

“Tetapi aku telah menawarkan kerja sama dengan mereka jika mereka ingin melacak perhiasan dan wesi aji yang berhasil dirampok itu” berkata Ki Pandi

“Apakah mereka bersedia?” bertanya Ki Citrabawa.

“Nampaknya mereka mempertimbangkannya. Yang tidak mereka inginkan adalah jika mereka harus mengorbankan orang lain untuk mengambil kembali barang dagangan mereka itu”

Ki Kertasana dan Ki Citrabawa mengangguk-angguk. Dengan dahi yang berkerut Ki Kertasana bertanya, “Apakah mereka bersedia melakukannya bersama kita. Kita bukan sekedar bersedia berkorban untuk mengambil perhiasan yang dirampas itu. Tetapi kita mempunyai kepentingan sendiri”

“Itulah yang ingin aku tawarkan kepada mereka” jawab Ki Pandi.

“Apakah mereka berempat memiliki bekal yang cukup untuk melakukannya?” bertanya Ki Citrabawa.

“Menurut pengamatanku, mereka mempunyai ilmu yang tinggi. Tetapi malam itu mereka menghadapi terlalu banyak lawan, sehingga mereka tidak dapat mempertahankan diri”

“Jika demikian, sebaiknya kita segera menghubungi mereka untuk menyusun rencana selanjutnya” berkata Ki Citrabawa pula.

“Kita hubungi Ki Jagabaya” berkata Ki Kertasana.

Orang-orang padukuhan Gemawang itu pun harus berpacu dengan waktu. Karena itu, maka Ki Kertasana pun segera menghubungi Ki Jagabaya untuk membuat rencana lebih jauh.

“Baiklah Ki Kertasana” berkata Ki Jagabaya, “kita memang harus segera berbuat sesuatu. Sementara kita sudah berhasil menghimpun beberapa orang anak muda. Memberikan sedikit bekal bagi mereka, jika mereka benar-benar akan memasuki barak Wira Sabet dan Sura Gentong”

Sampurna yang ikut menemui Ki Kertasana itupun berkata, “Kami sudah siap, Ki Kertasana. Sementara Manggada dan Laksana sudah berada di dalam barak itu. Jika kita terlalu lama menunggu, maka aku mencemaskan keadaan Manggada dan Laksana. Jika orang-orang di barak itu tahu, bahwa Manggada dan Laksana sengaja memasuki barak itu, maka keselamatan keduanya akan terancam”

“Baiklah” berkata Ki Kertsana, “jika kita menganggap bahwa keadaan sudah memungkinkan, maka kita akan dapat segera bergerak. Kita tidak akan menunggu mereka datang ke padukuhan ini karena dengan demikian keadaan padukuhan ini akan menjadi ajang pertempuran. Orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong itu mungkin akan menimbulkan kerusakan yang besar. Bukan saja atas bangunan-bangunan, tetapi mungkin juga atas para penghuni padukuhan ini. Apalagi jika mereka terdesak”

Ki Jagabaya pun mengangguk-angguk. Sementara itu, Ki Kertasana telah menceriterakan pula tentang keempat orang saudagar yang nampaknya akan bersedia bergabung dengan mereka.

Demikianlah, maka mereka sependapat, bahwa mereka harus segera bertindak agar keadaan padukuhan mereka dan bahkan Kademangan mereka tidak menjadi semakin muram sehingga tata kehidupan tidak dapat dikendalikan dengan sewajarnya.

Dalam pada itu, pada hari itu juga, dua orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong telah dalang ke padukuhan. Kedatangan mereka seperti biasa menimbulkan kecemasan dan ketakutan. Beberapa orang yang berada di luar halaman, segera masuk dan menutup pintu regol halaman rumah mereka. Namun tidak diselarak sebagaimana selalu mereka lakukan.

Kedua orang itu selain menyusuri jalan padukuhan, ternyata mereka sempat singgah pula di rumah Wisesa. Seperti pesan Manggada dan Laksana, maka keduanya berusaha untuk menakut-nakuti Wisesa, agar ia tidak lagi berusaha untuk mempersoalkan keberadaan Manggada dan Laksana di barak Wira Sabet dan Sura Gentong.

Ternyata Wisesa benar-benar menjadi ketakutan, sehingga anak muda itu agaknya tidak akan mengucapkannya lagi kepada siapapun juga. Karena jika alasan keberadaan Manggada dan Laksana yang sebenarnya diketahui, yang akan mengalami bencana bukan saja Manggada dan Laksana, tetapi juga ketiga orang yang telah membawanya masuk.

Sementara itu Ki Jagabaya dan Sampurna benar-benar telah mempersiapkan rencana untuk justru datang ke barak Wira Sabet dan Sura Gentong. Sampurna hari itu juga telah menghubungi anak-anak muda yang telah menyatakan kesediaannya untuk membantunya membebaskan padukuhan mereka dari bayangan kegarangan Wira Sabet dan Sura Gentong.

Ketika kemudian malam turun, maka seperti yang diharapkan, maka Ki Pandi telah mengunjungi Manggada dan Laksana. Ki Carang Aking pun telah ikut terlibat pula dalam pembicaraan yang sungguh-sungguh tentang berbagai hal yang menyangkut rencana Ki Jagabaya untuk justru menyerang barak itu lebih dahulu.

“Empat orang saudagar itu akan aku hubungi pula. Jika mereka menyatakan kesediaan mereka, maka kita akan segera mulai”

“Nampaknya perhiasan dan wesi aji yang dirampas itu memang dibawa kemari” berkata Ki Carang Aking, “dengan demikian, maka jika kita berhasil, maka keempat orang saudagar itu akan mendapatkan barang-barang mereka yang harganya sangat tinggi itu kembali”

Namun dalam pada itu, Manggada pun telah mengatakannya pula, bahwa agaknya Ki Sapa Aruh telah berniat untuk dengan bersungguh-sungguh menangani persoalan padukuhan Gemawang dan Kademangan Kalegen.

Nampaknya tugas-tugas yang lain akan dikesampingkan. Perkembangan terakhir di padukuhan Gemawang agaknya tidak sejalan dengan rencana Wira Sabet dan Sura Gentong.

“Baiklah, Ki Pandi” berkata Ki Carang Aking, “Ki Pandi agaknya harus semakin sering mengunjungi kami disini”

“Bukankah hampir setiap malam aku datang kemari?

“Lebih dari setiap malam” desis Ki Carang Aking.

“Jadi maksudmu juga di siang hari?” bertanya Ki Pandi pula.

“Tidak. Itu akan sulit dilakukan. Maksudku, jika perlu satu malam dua kali. Mungkin tentang hasil sebuah pembicaraan harus segera kami dengar atau sebaliknya” berkata Ki Carang Aking.

Ki Pandi termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Jika saja aku masih semuda Manggada dan Laksana”

Ki Carang Aking tersenyum. Katanya, “Kenapa bukan aku yang mencoba membantu Ki Pandi keluar masuk barak ini”

“Itu lebih berbahaya“ Manggadalah yang menyahut, “setiap saat orang-orang di barak ini memerlukan kita. Pagi, siang, malam dan kapan saja mereka kehendaki tanpa mengenal waktu. Saat mereka akan pergi dan saat mereka kembali”

Ki Carang Aking mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berdesis, “Aku tidak terbiasa mengungkung diri seperti ini. Aku terbiasa terbang kesana kemari menuruti keinginan sepasang kakiku ini”

Tetapi Ki Pandi segera menyahut, “Siapa yang mengikatmu disini? Ki Sapa Aruh?”

Ki Carang Aking tersenyum. Katanya, “Ya. Ki Sapa Aruh”

“Kau mengeluh karena kau telah membawa beban yang kau letakkan sendiri dipundakmu” berkata Ki Pandi.

Ki Carang Aking bahkan tertawa. Katanya, “Aku tidak mengira bahwa keterkaitanku akan menjadi berlama-lama seperti ini. Tetapi aku agaknya dapat mengharap, bahwa aku akan segera dapat meninggalkan penjara ini, setelah kalian datang”

“Ki Pandi pun tersenyum keluar dari penjara ini ”

Demikianlah, maka sejak hari itu, Ki Jagabaya di Gemawang telah meningkatkan segala persiapan meskipun dengan diam-diam. Sementara Ki Pandi lelah menghubungi lagi anak Ki Demang Rejandani yang telah dirampok habis-habisan oleh Ki Sapa Aruh dan para pengikutnya.

“Tidak akan ada korban yang sia-sia” berkata Ki Pandi, “jika orang-orang Gemawang terlibat dalam hal ini, sama sekali tidak ada hubungannya dengan perhiasan dan wesi aji yang dirampok itu. Tetapi karena orang-orang Gemawang mempunyai kepentingan sendiri. Selama ini mereka berada dalam bayangan kekuatan orang-orang yang telah merampok kalian disini”

Bukan saja anak Ki Demang Rejandani yang menemui Ki Pandi. Tetapi Ki Demang sendiri ikut menemuinya dan bahkan Ki Demang itulah yang menjawab, “Ki Sanak. Kami akan bekerja sama dengan Ki Sanak. Persoalannya bukan sekedar mereka merampok anakku. Tetapi perampokan itu telah melanggar hak atas orang-orang Kademangan Rejandani. Karena itu, bukan saja anakku dan ketiga orang saudagar kawan-kawannya itu yang akan melibatkan diri. Tetapi aku dan beberapa orang terpilih dari Kademangan ini. Menurut keterangan anakku, kelompok perampok itu adalah kelompok yang sangat kuat. Karena itu, maka tanpa kerja sama dengan pihak lain, Kademangan ini agaknya juga akan mengalami kesulitan”

Namun Ki Pandi pun telah berterus terang, bahwa orang-orang padukuhan Gemawang dan bahkan Kademangan Kalegen dibayangi oleh ketakutan. Nampaknya terhadap orang-orang Gemawang dan Kalegen yang lebih berbicara adalah justru dendam di hati Wira Sabet dan Sura Gentong.

“Kami sedang mencari sisa-sisa keberanian di hati anak-anak mudanya” berkata Ki Pandi.

Ki Demang Rejandani itu mengangguk-angguk. Katanya, “Kami dapat mengerti, Ki Sanak. Jika setiap hari mereka selalu ditakuti dengan segala macam cara, maka lambat laun, mereka benar-benar kehilangan keberanian”

“Beruntunglah bahwa kami masih menemukan kekuatan yang tersimpan di padukuhan Gemawang sehingga kami masih dapat merencanakan satu langkah yang mungkin sangat berbahaya” berkata Ki Pandi. Namun kemudian katanya pula, “Apalagi yang dihadapi adalah Ki Sapa Aruh”

Ki Demang mengerutkan dahinya. Kalanya, “Nama itu memang dapat menggelutkan jantung. Tidak ada orang yang dapat melawannya. Karena itu untuk membatasi kemampuannya, harus disiapkan beberapa orang yang khusus akan menghadapinya”

“Ya“ Ki Pandi mengangguk-angguk, “kita akan membicarakannya dengan matang sebelum kita melangkah. Tetapi kesediaan Ki Demang telah membesarkan hati kami. Ki Jagabaya padukuhan Gemawang akan mengatur segalagalanya”

“Baiklah” berkata Ki Demang Rejandani, “bahwa mereka telah merampok di daerah kami, tentu menjadi kewajiban kami untuk mencegah hal itu terulang lagi. Adalah juga tugas kami untuk menemukan kembali barang-barang yang telah dirampok itu. Bukan karena sebagian daripadanya adalah milik anakku, tetapi siapapun yang mengalami, maka kami semuanya mempunyai tugas untuk mengambilnya kembali. Karena itu, sebelum penghuni Kademangan ini mengalami nasib seperti orang-orang Gemawang yang telah dicengkam oleh ketakutan karena keberhasilan para pengikut Sapa Aruh untuk menciptakan suasana seperti itu, maka kami harus bertindak lebih cepat”

“Ya Ki Demang” berkata Ki Pandi, “jika keadaan ini berlangsung terlalu lama, maka Gemawang dan bahkan Kademangan Kalegen benar-benar tidak akan mampu berbuat apa-apa lagi. Dengan demikian maka Gemawang tidak akan pernah dapat bangkit lagi, karena pimpinan padukuhan itu akan berada di tangan Ki Sapa Aruh, yang perlahan-lahan tetapi pasti juga akan menguasai Kademangan Kalegen seluruhnya.

“Baiklah Ki Pandi” berkata Ki Demang Rejandani, “kami menunggu saat untuk bertindak. Kapanpun, kami sudah siap. Tidak hanya keempat orang yang sudah dirampok itu. Aku sendiri dan beberapa orang terkuat di Kademangan ini akan ikut serta”

Kesediaan Ki Demang itu membesarkan hati Ki Pandi. Kesediaan ini kemudian telah diteruskan kepada Ki Kertasana yang kemudian menyampaikannya kepada Ki Jagabaya.

“Baiklah” berkata Ki Jagabaya, “kita akan segera mulai. Tetapi sebaiknya kita bertemu langsung dan membuat rencana-rencana yang matang dengan Ki Demang, agar kita tidak terperosok ke dalam kesulitan karena salah paham”

Sebenarnyalah Ki Jagabaya dan Ki Kertasana serta Ki Pandi telah pergi ke Kademangan Rejandani untuk menemui Ki Demang dan keempat saudagar perhiasan dan wesi aji itu.

Akhirnya mereka menentukan, bahwa mereka dalam waktu dekat akan menyerang barak Wira Sabet dan Sura Gentong di sekitar pekan mendatang.

“Kita mengalami kesulitan untuk menentukan, apakah kita akan menunggu kedatangan Ki Sapa Aruh atau tidak?” berkata Ki Pandi, “jika kita menunggu, maka dapat terjadi kesulitan yang sulit di atasi oleh Manggada dan Laksana, karena sulit untuk mengetahui Ki Sapa Aruh. Tetapi jika tidak menunggu kehadirannya, maka ia akan tetap merupakan duri yang ada di dalam daging bagi ketenangan hidup khususnya di Gemawang”

“Ki Pandi benar” berkata Ki Kertasana. Untuk hal itu, maka sebaiknya Ki Pandi berbicara langsung dengan anak-anak itu. Bukankah Ki Pandi dapat memasuki barak itu kapan saja?”

“Hanya di waktu malam” jawab Ki Pandi.

“Nah, jika demikian, maka nanti malam Ki Pandi dapat membicarakannya dengan Manggada dan Laksana” berkata Ki Kertasana yang selalu dibayangi kecemasan tentang anak dan kemanakannya itu.

Ki Pandi mengangguk mengiakan. Katanya kemudian, “Besok kita akan berbicara lagi”

Demikianlah, maka Ki Jagabaya, Ki Kertasana dan Ki Pandi pun telah minta diri untuk kembali ke Gemawang.

Malam itu, seperti biasanya, Ki Pandi mengunjungi Manggada dan Laksana. Ki Pandi pun kemudian menceriterakan pertemuannya dengan Ki Jagabaya, Ki Kertasana dan Ki Demang Rejandani.

“Aku sanggup menemui mereka esok dengan membawa laporan, bagaimana menurut pendapat kalian dan Ki Carang Aking?”

“Memang rumit Ki Pandi. Kedua-duanya mengandung kemungkinan baik tetapi juga kemungkinan buruk” jawab Ki Carang Aking. Namun katanya kemudian, “Tetapi aku condong untuk menunggu kedatangan Ki Sapa Aruh. Orang itu harus kita hancurkan sampai tuntas. Agaknya tidak akan terlalu lama lagi. Selebihnya, Ki Sapa Aruh tidak begitu memperhatikan keadaan budak-budaknya, sehingga ia tidak dapat mengenali budak-budak itu dengan baik. Karena itu maka kelebihan satu dua orang di barak itu tidak akan menarik perhatiannya”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Namun agaknya ia masih mencemaskan nasib Manggadadan Laksana. Karena itu, maka ia pun kemudian bertanya, “Seandainya sengaja atau tidak sengaja Ki Sapa Aruh menemukan kalian disini?”

“Jika hal itu terjadi, maka apaboleh buat. Jika hidupku harus berakhir disini. Tetapi jika aku mati, maka Ki Sapa Aruh tentu akan mati juga” jawab Ki Carang Aking.

Ki Pandi masih mengangguk-angguk. Tetapi seandainya terjadi demikian, maka Manggada dan Laksana masih tetap berada dalam bahaya.

Ki Carang Aking yang melihat keragu-raguan itu berkata, “Untuk mengatasi kemungkinan itu, maka sebaiknya Ki Pandi segera mempersiapkan orang-orang yang bersedia melibatkan diri untuk melawan para penghuni barak itu. Ki Pandi akan membawa mereka secepat mungkin demikian diketahui Ki Sapa Aruh itu datang”

“Baiklah. Meskipun tetap mengandung bahaya, tetapi aku akan menempuh jalan ini. Besok aku akan minta Ki Jagabaya mempersiapkan segala-galanya” berkata Ki Pandi.

“Kami akan memberikan isyarat Ki Pandi” berkata Manggada kemudian, “jika kami ketahui ia berada disini di siang hari, maka kami akan menaruh sebuah cemeti kuda di ujung senggol timba itu. Bukankah ujung senggot itu akan nampak dari luar dinding?”

Sambil tersenyum Ki Pandi menjawab, “Dari jarak berapa puluh langkah aku dapat berdiri paling dekat dengan barak ini? Apakah kira-kira mata tuaku masih dapat melihat ujung cemeti itu? Kecuali itu, apakah berarti siang dan malam aku harus menunggui barak ini?”

Ki Carang Akingpun tertawa. Katanya, “Tetapi aku sependapat bahwa isyarat itu akan ditaruh di ujung senggot timba itu. Jika cemeti itu terlalu kecil, maka kami akan menaruh apa saja di ujung senggot itu”

“Bukankah ilu tidak perlu. Setiap malam aku datang kemari” berkata Ki Pandi.

“Maksudku, jika Ki Sapa Aruh datang di pagi hari. Maka waktu yang sehari menunggu kedatangan Ki Pandi di malam hari, tentu terlalu lama. Mungkin Ki Sapa Aruh itu sudah sempat melakukan sesuatu disini. Sementara itu, Ki Pandi kami mohon untuk melihat-lihat meskipun dari kejauhan di siang hari.”

Ki Pandi tertawa. Katanya, “Baiklah. Aku terima beban ini, karena agaknya memang hanya aku yang dapat melakukannya”

Demikianlah, maka di tengah malam dengan hati-hati Ki Pandi pun telah keluar dari barak itu dengan meloncati dinding sebagaimana sering dilakukannya.

Ternyata Ki Pandi yang meskipun sudah terhitung tua itu, adalah seorang penghubung yang baik, lagi-pagi ia sudah berbicara dengan Ki Kertasana dan Ki Citrabawa. Ki Kertasana kemudian berbicara dengan Ki Jagabaya dan bersama-sama pergi ke rumah Ki Demang Rejandani dengan Ki Pandi pula.

Merekapun kemudian telah mendapatkan kesempatan, bahwa menjelang pekan mendatang, Ki Demang, anaknya bersama tiga orang kawannya dan beberapa orang terkuat dari Kademangan Rejandani akan berada di hutan dekat barak Wira Sabet dan Sura Gentong. Ki Pandi yang sudah terbiasa berada di hutan itu akan mengatur tempat bagi mereka. Demikian pula orang-orang padukuhan Gemawang. Mereka juga akan berkemah di hutan itu pula.

Namun dalam pada itu. Manggada dan Laksana pun berusaha untuk mengetahui kapan Ki Sapa Aruh akan datang ke barak itu.

Justru sehari sebelum hitungan pekan itu sampai, Ki Sapa Aruh memang sudah berada di barak itu. Tetapi tidak sampai setengah hari. Nampaknya ia masih sangat sibuk sehingga sebelum matahari turun, ia sudah tidak ada lagi di barak.

Tetapi pada hari itu juga Manggada dan Laksana mendengar dari orang-orang yang pernah dikalahkan oleh Laksana itu, bahwa Ki Sapa Aruh akan kembali lagi dalam dua hari mendatang. Mereka mengatakan bahwa segala sesuatu sudah dipersiapkan untuk menyelesaikan persoalan padukuhan Gemawang.

“Dendam Ki Sura Gentong sudah sampai ke ubun-ubun“ berkata salah seorang dari mereka.

“Apakah ia juga mengatakan kepada para pengikutnya tentang dendam itu?” bertanya Laksana.

“Ya” jawab orang itu, “isterinya telah dibunuh oleh Ki Jagabaya. Karena itu, maka sebagai gantinya, maka ia akan mengambil anak Ki Jagabaya itu sebagai isterinya meskipun anak Ki Jagabaya itu masih terlalu muda”

“Itu tidak boleh terjadi” desis Laksana.

Tetapi sambil tersenyum Manggada bertanya, “Yang mana yang tidak boleh terjadi? Pembalasan dendam itu atau rencana Sura Gentong untuk mengambil anak Ki Jagabaya?”

“Kedua-duanya” jawab Laksana.

Tetapi Laksana itu pun tertawa pula.

Demikianlah, maka keterangan itu pun lelah disampaikan pula kepada Ki Pandi. Keterangan itulah yang dipergunakan sebagai ancar-ancar kehadiran Ki Sapa Aruh di barak itu.

Dengan demikian, maka Ki Pandi pun segera mempersiapkan kekuatan yang akan menyerang barak itu. Ki Jagabaya, Ki Kertasana, Ki Citrabawa bersama beberapa orang anak muda yang dipimpin Sampurna telah berkemah di dalam hutan bersama Ki Demang Rejandani, anaknya dan ketiga orang kawannya, bersama beberapa orang yang dianggap memiliki kelebihan dan keberanian di Kademangan Rejandani.

Seperti yang dikatakan oleh orang-orang yang pernah dikalahkan oleh Laksana, maka dua hari kemudian, Ki Sapa Aruh benar-benar telah berada di barak itu. Tetapi Ki Sapa Aruh tidak sendiri. Ia datang bersama seorang kawannya dan beberapa orang pengikutnya.

Ki Carang Aking pun menjadi semakin berhati-hati. Ia telah memberitahukan kepada kedua orang muridnya yang juga berada di barak itu sebagai dua orang penyabit rumput.

Sambil membersihkan kuda di kandang, maka Ki Carang Aking telah memberikan petunjuk-petunjuk kepada Manggada, Laksana dan dua orang muridnya yang sedang memotong-motong rumput bagi kuda-kuda yang sudah dibersihkan itu.

Untunglah, bahwa sebentar kemudian matahari turun. Ki Sapa Aruh yang memang tidak banyak menaruh perhatian kepada budak-budak itu tidak sempat melihat kekuatan-kekuatan yang tersembunyi di sekitar kandang kuda itu.

Malam itu, Ki Pandi telah datang pula ke kandang. Namun Ki Carang Aking telah memperingatkannya, bahwa malam itu Ki Sapa Aruh telah berada di barak.

“Ia bukan saja mempunyai penglihatan dan pendengaran yang tajam, tetapi penggraitanya melampaui panggraita seekor kuda”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan segera keluar dari barak ini. Tetapi kita harus membuat persetujuan. Kapan sebaiknya, kami akan menyerang barak ini”

“Jangan tertunda-tunda” jawab Ki Carang Aking, “jika kalian memang sudah siap, maka sebaiknya kalian melakukan serangan itu”

“Besok, saat fajar menyingsing, kami akan memasuki barak ini. Kami sudah mendapat keterangan dari kalian tentang kekuatan yang ada, sehingga kami dapat memperhitungkan kekuatan yang kami miliki”

“Tetapi perlu diperhitungkan. Ki Sapa Aruh tidak datang sendiri. Ia datang dengan seorang kawannya yang mungkin juga berilmu tinggi serta empat orang pengikutnya. Agaknya mereka termasuk kepercayaan Ki Sapa Aruh untuk memperkuat kedudukannya disini jika pada saatnya ia akan memasuki padukuhan dan tentu selanjutnya Kademangan Kelegen” berkata Ki Carang Aking selanjutnya.

Ki Pandi menganggukangguk. Katanya, “Baiklah. Kami akan memperhitungkan kembali kekuatan yang ada pada kami”

“Hati-hatilah Ki Pandi” berkata Ki Carang Aking kemudian.

Demikianlah, dengan sangat berhati-hati Ki Pandi keluar dari dinding barak itu. Ia sudah terbiasa melakukannya. Tetapi justru karena Ki Sapa Aruh ada di barak itu, maka Ki Pandi harus menjadi lebih berhati-hati.

Ketika Ki Pandi berada diperkemahan di hutan sebelah barak itu, maka ia pun telah memberitahukan kehadiran Ki Sapa Aruh.

“Manggada dan Laksana tidak perlu memasang isyarat di ujung senggot timba. Sebenarnya akupun cemas, bahwa isyarat itu akan dapat memanggil kecurigaan kepada orang-orang yang ada di dalam barak itu” berkata Ki Pandi pula.

Malam itu juga Ki Jagabaya dan Ki Demang Rejandani memutuskan untuk menyerang perkemahan itu esok saat fajar menyingsing. Karena itu, maka merekapun segera mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Mereka harus benar-benar siap untuk berperang sebagaimana sekelompok prajurit yang turun ke medan.

Menurut perhitungan Ki Pandi, maka kekuatan yang ada di perkemahan itu akan dapat mengatasi kekuatan yang ada di dalam barak. Meskipun demikian Ki Pandi itu pun memperingatkan, “Namun bagaimanapun juga kita harus menganggap bahwa kita akan berhadapan dengan lawan yang sangat tangguh. Di dalam barak itu tinggal orang-orang yang sudah terbiasa melakukan kekerasan. Bahkan hidup mereka sehari-hari memang diwarnai oleh kekerasan. Suasana yang sangat berbeda dengan suasana hidup kita sehari-hari. Apalagi Ki Sapa Aruh dan kepercayaannya. Mereka nampaknya memiliki kelebihan dari kebanyakan penghuni barak itu. Selain mereka masih ada saudara-saudara seperguruan Wira Sabet dan Sura Gentong”

“Baik Ki Pandi” berkata Ki Jagabaya, “kita sudah sepakat untuk bertempur dalam satu kekuatan. Mungkin ada di antara kita yang mempercayakan segala kemampuan kita secara pribadi. Tetapi pada dasarnya kita akan bertempur bersama-sama. Karena itu, maka jika perlu kita akan bertempur dalam kelompok-kelompok kecil tergantung pada lawan yang akan kita hadapi, karena agaknya sulit bagi kita untuk dapat memilih lawan”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya, “Aku sependapat. Kita akan bertempur dalam satu kebulatan kekuatan”

“Di dalam barak itu ada Manggada dan Laksana” berkata Ki Kertasana.

“Ya” sahut Ki Pandi, “selain mereka masih ada tiga orang yang dapat membantu kita. Seorang tua yang berilmu tinggi bersama dua orang muridnya”

“Bagaimana mereka dapat berada disana? Apakah mereka dapat dipercaya?” bertanya Ki Jagabaya.

“Mereka sengaja menyusup sebagaimana Manggada dan Laksana. Tetapi tentu dengan cara yang berbeda. Agaknya Ki Carang Aking memang membayangi Ki Sapa Aruh” jawab Ki Pandi.

“Tetapi bagaimana kita mengisyaratkan kepada mereka yang ada di dalam barak itu, bahwa kita akan menyerang mereka esok saat fajar menyingsing?” bertanya Ki Demang Rejandani.

“Bukankah aku baru saja dari barak itu? Meskipun belum pasti, tetapi aku sudah mengisyaratkan bahwa besok saat fajar menyingsing kita akan menyerang perkemahan itu. Meskipun demikian, biarlah nanti aku memberitahu isyarat lagi kepada mereka”

“Ki Pandi akan memasuki barak itu lagi?” bertanya Ki Demang.

“Tidak. Itu tidak perlu. Biarlah kedua ekor harimauku memberitahu isyarat itu esok menjelang lajar”

“Harimau?” bertanya Ki Demang dan Ki Jagabaya hampir berbareng.

Ki Pandi mengerutkan keningnya. Ia tidak sengaja ingin menyebut kedua ekor harimaunya. Namun di luar sadarnya, ia sudah mengatakannya. Karena itu, maka iapun menjawab, “Ya. aku memelihara dua ekor harimau yang dapat membantuku dalam keadaan yang khusus. Besok, aku juga akan membawanya. Tetapi mereka tidak akan melibatkan diri jika aku tidak memberikan perintah”

Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Tetapi ia masih juga bertanya, “Apakah kedua ekor harimau itu tidak dapat salah menyerang kawan sendiri?”

“Aku sendiri harus mengendalikannya” jawab Ki Pandi.

Demikianlah, maka keputusan itu telah disampaikan kepada semua orang yang berada di perkemahan itu. Mereka pun telah mendapat penjelasan, siapakah yang akan mereka hadapi. Cara yang akan mereka pergunakan dalam pertempuran itu, sehingga karena itu, maka Ki Jagabaya pun berkata, “Seperti yang sudah aku katakan kita tidak akan berpencaran. Seandainya kita memecah kelompok ini, maka kita harus masih tetap berada di dalam kelompok-kelompok meskipun lebih kecil. Kita harus menyadari, bahwa orang-orang yang ada di barak itu secara pribadi memiliki kemampuan dan bahkan kebiasaan untuk melakukan kekerasan. Namun dalam pada itu, kita berbekal tekad untuk memberantas kejahatan sebagaimana sering mereka lakukan. Dengan menghancurkan mereka, maka kita akan menghentikan kejahatan-kejahatan yang akan mereka lakukan kemudian”

Demikianlah, maka Ki Jagabaya pun telah menasehatkan kepada orang-orang yang berada di perkemahan itu untuk beristirahat. Besok pagi-pagi mereka harus sudah bergerak ke barak itu.

Sementara itu, Ki Jagabaya telah menunjuk orang-orang yang khusus untuk menyiapkan perbekalan bagi mereka. Termasuk persediaan makan. Beberapa orang ditugaskan untuk mengambil makanan yang dipersiapkan di padukuhan. Meskipun jaraknya cukup jauh, tetapi itu adalah cara yang paling baik untuk tidak menarik perhatian, karena mereka tidak dapat menyiapkannya di perkemahan.

Tugas mereka yang mempersiapkan makan dan minum itu tidak kalah beratnya dari tugas yang dibebankan kepada mereka yang akan memasuki barak Wira Sabet dan Sura Gentong itu.

Malam itu, mereka yang akan turun ke medan masih sempat beristirahat meskipun tidak terlalu lama. Karena di dini hari, mereka harus sudah bangun dan mempersiapkan diri sebaik-baiknya.

Karena tugas-tugas kekerasan seperti itu bukannya kebiasaan mereka, maka beberapa orang memang menjadi tegang. Di dinginnya dini hari, keringat mereka sudah mulai membasahi pakaian mereka.

Tetapi sikap Ki Jagabaya, Ki Demang Rejandani, Ki Kertasana, Ki Citrabawa dan beberapa orang yang lain cukup meyakinkan, sehingga ketegangan beberapa orang itu pun menjadi agak mengendor.

Menjelang fajar, maka Ki Jagabaya masih sempat memperingatkan orang-orang yang siap bergerak itu, untuk memeriksa senjata mereka. Di pertempuran yang akan terjadi, senjata-senjata itu jangan mengecewakan. Bahkan beberapa orang telah membawa senjata rangkap. Disamping sebilah pedang, ada yang masih membawa keris atau pisau belati yang panjang.

Anak-anak muda Gemawang, yang belum berpengalaman telah mendapat petunjuk bahwa lawan mereka mungkin akan mempergunakan senjata yang tidak biasa mereka jumpai. Mungkin tongkat besi, kapak, rantai baja dan bahkan mungkin senjata lontar seperti paser dan cakram.

Karena itu, maka Ki Jagabaya pun telah memperingatkan mereka agar mereka tidak mencoba untuk bertempur seorang-seorang.

Namun Ki Kertasana pun kemudian berkata, “Meskipun kalian harus berhati-hati, tetapi tidak semua orang yang berada di barak itu memiliki kemampuan bertempur. Mungkin mereka nampak garang, tetapi mereka tidak mempunyai otak yang cukup baik untuk membuat perhitungan-perhitungan yang mapan di pertempuran. Karena itu, maka kalian pun jangan sampai kehilangan perhitungan. Jika perlu jangan segan-segan menjauhi lawan yang memang tidak terlawan. Kalian tidak sendiri dalam pertempuran itu”

Ketika langit menjadi kemerah-merahan, maka Ki Pandi meninggalkan perkemahan itu untuk memanggil kedua ekor harimaunya. Kemudian diperintahkannya kedua ekor harimau itu mendekati barak dan memberikan isyarat dengan auman mereka yang memang agak berbeda dengan aum harimau kebanyakan. Namun hanya orang-orang tertentu sajalah yang dapat membedakannya.

Sementara itu, seperti biasa Ki Carang Aking, Manggada dan Laksana telah berada di kandang saat warna fajar mulai nampak di langit. Sementara kedua murid Ki Carang Aking telah menyiapkan keranjang mereka yang biasa mereka pergunakan untuk menyabit rumput. Namun mereka tidak segera meninggalkan kandang. Mereka sudah mendapat penjelasan dari Ki Carang Aking, bahwa pagi itu akan terjadi sesuatu yang mungkin akan menentukan keberadaan barak itu.

“Kita menunggu isyarat” berkata Ki Carang Aking.

“Isyarat apa yang akan diberikan oleh Ki Pandi?” desis Manggada.

“Mungkin mereka langsung datang menyerang” jawab Ki Carang Aking.

Namun dalam pada itu, maka tiba-tiba saja mereka mendengar aum harimau tidak terlalu jauh dari barak itu. Aum harimau yang berbeda dengan aum harimau liar yang berada di hutan itu.

Ki Carang Aking yang mengenal suara harimau itu pun berdesis, “Aum harimau itu. Nampaknya Ki Pandi benar-benar akan datang”

Namun yang mendengar suara itu bukannya hanya Ki Carang Aking, kedua muridnya, Manggada dan Laksana saja. Tetapi aum harimau yang mempunyai ciri tersendiri itu juga didengar oleh Ki Sapa Aruh.

Ki Sapa Aruh pun kemudian memanggil seorang kawannya yang datang bersamanya serta Wira Sabet dan Sura Gentong.

Demikian mereka datang, maka Ki Sapa Aruh itu pun segera bertanya, “Kalian dengar aum harimau itu?”

Wira Sabet dan Sura Gentong termangu-mangu sejenak. Mereka memang tidak begitu menghiraukannya. Namun kawan Ki Sapa Aruh yang datang bersamanya itu langsung berkata, “Apakah orang bongkok itu ada disini?”

“Maksudmu?” bertanya Sura Gentong.

“Apakah di antara orang-orang yang bekerja untukmu disini terdapat orang bongkok?” bertanya Ki Sapa Aruh.

“Maksud Ki Sapa Aruh, budak-budak itu?” bertanya Sura Gentong.

“Ya” jawab Ki Sapa Aruh.

Sura Gentong pun kemudian bertanya kepada Pideksa yang juga telah hadir pula disitu, “He, apakah di antara budak-budak itu terdapat orang bongkok?”

Pideksa menggeleng sambil berdesis, “Tidak paman. Tidak ada orang bongkok di barak ini”

Tetapi Ki Sapa Aruh yang tertarik oleh aum harimau itu berkata, “Aku ingin melihat orang-orangmu yang ada di barak ini”

“Maksud Ki Sapa Aruh?” bertanya Pideksa.

“Kumpulkan semua orang. Aku ingin melihat mereka seorang demi seorang” jawab Ki Sapa Aruh.

Pideksa tidak segera mengerti maksud Ki Sapa Aruh. Karena itu Ki Sapa Aruh itu pun menjelaskan, “Semua orang yang kau sebut budak-budak itu harus dikumpulkan sekarang. Mereka semua tentu sudah bangun dan mulai melakukan tugas mereka sendiri-sendiri”

“Lakukan Pideksa” berkata Wira Sabet, “perintahkan satu dua orang untuk memanggil kawan-kawannya. Jangan ada yang terlampaui seorangpun”

“Baik ayah” jawab Pideksa yang kemudian turun ke halaman.

Dipanggilnya seorang yang disebutnya budak yang sudah mulai menyapu halaman.

Dengan ketakutan budak yang sedang menyapu halaman itu melangkah mendekat sambil merunduk-runduk.

“Panggil semua kawan-kawanmu. Ingat, semua budak-budak yang ada di barak ini. Dari mereka yang setiap hari mengisi jambangan pakiwan, mereka yang menumbuk padi, mereka yang menyabit rumput, mereka yang memelihara dan merawat kuda dan semua orang yang lain”

“Baik, baik anak muda” jawab orang itu.

“Lakukan beranting supaya lebih cepat. Dengar, perintah ini datang dari Ki Sapa Aruh. Karena itu, maka harus kau lakukan dengan sebaik-baiknya”

Orang yang menyapu halaman itupun segera berlari-lari memanggil semua orang yang dianggap budak-budak di barak itu. Yang seorang meneruskan panggilan itu kepada yang lain tanpa ada yang terlampaui.

Di kandang kuda, Ki Carang Aking menjadi berdebar-debar. Ia sadar, bahwa Ki Sapa Aruh tentu menaruh kecurigaan terhadap sesuatu.

“Tentu aum harimau itu” desis Ki Carang Aking.

“Apakah Ki Sapa Aruh dapat mengenali suara harimau itu?” bertanya Manggada.

“Ki Sapa Aruh adalah orang yang memiliki pengalaman dan pengenalan di dunia olah kanuragan secara luas. Ia tentu sudah mendengar tentang seorang bongkok yang dapat mengendalikan sepasang harimau meskipun mungkin Ki Pandi sendiri belum mengenal Ki Sapa Aruh selain isyarat tentang pribadinya” sahut Ki Carang Aking yang nampak lebih bersungguh-sungguh.

“Ki Pandi memang pernah menyebut Ki Sapa Aruh sebagai seorang yang berilmu sangat tinggi” sahut Manggada.

“Nah, agaknya Ki Pandi tidak memperhitungkan bahwa isyaratnya itu dapat memanggil perhatian Ki Sapa Aruh” desis Ki Carang Aking. Namun katanya kemudian, “tetapi kita tidak usah cemas. Sebentar lagi Ki Pandi dan orang-orang yang menyertainya itu akan datang. Sekarang, marilah kita ikut terkumpul dengan orang-orang yang disebutnya budak-budak itu”

Demikianlah, maka beberapa saat kemudian, di halaman depan barak itu, orang-orang yang disebutnya budak-budak itu telah berkumpul. Di antara mereka memang terdapat Manggada, Laksana, Ki Carang Aking dan kedua orang muridnya.

Yang ikut menjadi berdebardebar adalah ketiga orang pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong yang telah membawa Manggada dan Laksana memasuki barak itu. Jika akhirnya Manggada dan Laksana dapat dikenali kemampuannya oleh Ki Sapa Aruh, maka ketiga orang itu tentu akan mengalami kesulitan pula.

Tetapi untuk mengenal orang-orang yang disebut budak itu, Ki Sapa Aruh memerlukan waktu. Ketika ia mulai menuruni tangga bangunan induk barak itu, maka Ki Jagabaya lelah mulai bergerak. Sekali lagi Ki Jagabaya memperingatkan anak-anak muda Gemawang yang berhasil di gelitik untuk bangkit itu, agar mereka bertempur dalam kelompokkelompok kecil sehingga mereka akan dapat saling membantu.

Ki Carang Aking yang tua itu berdiri di deret paling belakang dari antara orang-orang yang disebut budak-budak itu. Sementara Ki Sapa Aruh mulai mengenali orang-orang yang disebut budak-budak itu seorang demi seorang.

Ki Carang Aking memang menjadi tegang. Jika Ki Pandi datang terlambat, maka mungkin sekali ia harus mengambil sikap tersendiri. Ki Sapa Aruh termasuk orang yang tidak dapat ditawar lagi sikapnya. Ia akan dapat bertindak tanpa menunggu otaknya sempat membuat pertimbangan-pertimbangan lain.

Dalam pada itu, langit pun menjadi semakin merah. Di halaman barak itu, Ki Sapa Aruh memanggil orang-orang yang telah berkumpul itu seorang demi seorang.

Para penghuni barak itu memperhatikan sikap Ki Sapa Aruh dengan tegang. Mereka menyaksikan, bagaimana Ki Sapa Aruh menyentuh, menekan dada dan punggung seseorang, kemudian mengguncang bahu dan pundaknya.

Dua tiga orang sudah lewat. Tetapi tidak ada orang yang mencurigakan. Sementara itu, yang disebut orang bongkok itu pun tidak ada pula di antara mereka.

Tetapi Ki Sapa Aruh ingin melihat semua orang yang dikumpulkan itu sampai orang yang terakhir.

“Jika orang bongkok itu tidak ada di antara mereka, tentu orang lain yang sengaja disusupkan di antara para budak itu” berkata Ki Sapa Aruh kepada kawannya yang berdiri disampingnya ikut melihat kemungkinan-kemungkinan yang tersembunyi pada budak-budak itu.

Sementara itu Wira Sabet dan Sura Gentong serta saudara-saudara seperguruannya memperhatikan pengamatan Ki Sapa Aruh itu dengan saksama.

Lima, enam dan sepuluh orang telah dilampaui. Sementara itu, langit pun menjadi semakin terang. Bayangan sinar matahari mulai menyeruak keremangan fajar.

Dalam pada itu, Ki Jagabaya dan kawan-kawannya telah merayap semakin dekat. Mereka mendekati barak tidak dari arah depan. Tetapi mereka berusaha mendekati pintu butulan. Ki Pandi yang paling mengenal barak itu, berada di paling depan bersama Ki Jagabaya. Mereka berusaha untuk menghindari penglihatan para penghuni barak yang bertugas berjaga-jaga untuk mencapai jarak yang sependek-pendeknya.

Para penghuni barak itu memang agak lengah. Mereka merasa tempat mereka itu tidak diketahui oleh siapapun kecuali penghuni barak itu sendiri. Setiap orang yang sudah berada di dalam barak itu tidak akan pernah dapat keluar lagi.

Dengan demikian, maka Ki Pandi dan Ki Jagabaya berhasil mendekati pintu butulan pada dinding di sisi sebelah kiri dari lingkungan barak yang tertutup itu.

Namun ketika keduanya memberikan isyarat bagi kawan-kawannya yang kemudian mendekati sambil berlari-lari, maka kehadiran mereka telah menarik perhatian seorang penghuni barak itu yang sedang bertugas mengawasi pintu butulan itu. Meskipun pengawasan mereka lebih banyak ditujukan untuk menjaga agar tidak ada budak yang melarikan diri, namun hiruk-pikuk di luar dinding telah memaksanya untuk dengan segera memanjat tangga panggungan di sebelah pintu butulan itu.

Orang itu pun terkejut ketika ia melihat sekelompok orang telah berada di depan pintu butulan. Dengan serta-merta, orang itu pun berteriak memberitahukan bahwa barak mereka telah diserang.

“Sekelompok orang berusaha memecahkan pintu butulan dari luar“ teriak orang itu.

Teriakan itu didengar oleh penghuni barak yang lain, yang ikut pula berteriak memberitahukan serangan itu.

Sementara itu, langit sudah menjadi terang. Cahaya matahari mulai nampak di bibir awan yang tipis yang dihanyutkan angin pagi.

Teriakan itu benar-benar mengejutkan seisi barak. Ki Sapa Aruh yang sedang sibuk itu pun terkejut pula. Kepada kawannya ia berkata, “Tentu orang bongkok itu”

“Ya” jawab kawannya, “Agaknya ia ingin membunuh dirinya.”

“Lanjutkan pekerjaan yang menjemukan ini. Aku akan melihat, apakah benar orang bongkok itu datang. Jika ia benar-benar mencampuri persoalanku, maka aku akan menyelesaikannya sekarang. Hati-hati, tentu ada orang-orangnya yang disusupkan di antara budak-budak ini”

Kawan Ki Sapa Aruh itu mengangguk. Sementara itu, Ki Sapa Aruh pun telah mengajak Wira Sabet dan Sura Gentong untuk pergi ke pintu butulan.

“Biar Pideksa membantumu disini. Yang lain akan pergi bersamaku” berkata Ki Sapa Aruh.

Ki Sapa Aruh pun segera meninggalkan tempat itu bersama Wira Sabet dan Sura Gentong. Dua orang saudara seperguruan merekapun ikut pula bersama mereka, sedangkan yang lain menunggui kawan Ki Sapa Aruh yang sedang melihat budak-budak yang ada di halaman itu seorang demi seorang.

Ki Carang Aking yang berdiri di deret paling belakang bersama dua orang muridnya serta Manggada dan laksana menarik nafas panjang. Meskipun demikian, mereka masih harus memper-hitungkan kawan Ki Sapa Aruh yang tentu terhitung orang berilmu tinggi pula.

Seorang demi seorang yang diamatinya telah lepas tanpa menimbulkan kecurigaan. Sentuhan tangannya pada pusat dan simpul-simpul syaraf sama sekali tidak menimbulkan getar yang menarik perhatiannya.

Namun menjelang orang-orang yang terakhir membuat Ki Carang Aking menjadi semakin berdebar-debar. Ia harus mengambil satu sikap, jika ternyata orang itu dapat menyentuh dengan kesadaran perabanya, kemampuan Ki Carang Aking itu.

Menjelang orang terakhir sebelum kawan Ki Sapa Aruh itu memanggil Ki Carang Aking, maka Ki Carang Aking menggamit Manggada dan Laksana serta memberi isyarat kepada kedua orang muridnya.

Dalam pada itu, Ki Jagabaya dan kawan-kawannya ternyata telah mampu memecahkan pintu butulan. Dengan sepotong kayu yang cukup besar, mereka beramai-ramai menghantam pintu itu dari luar. Ketika mereka menghantamkan sepotong kayu itu untuk yang ketiga kalinya, maka pintu itu pun pecah dan butulan itu pun menganga lebar-lebar.

Ki Jagabaya dan kawan-kawannya itu pun kemudian telah menyusup memasuki pintu butulan itu. Namun demikian mereka berada di dalam, maka merekapun terhenti. Ki Sapa Aruh, Wira Sabet, Sura Gentong dan saudara-saudara seperguruannya yang menyertainya, telah berdiri menghadang bersama para pengikutnya. Orang-orang yang nampaknya kasar dan keras dengan senjata di tangan mereka masing-masing.

Anak-anak muda Gemawang yang datang bersama Ki Jagabaya itu memang menjadi berdebar-debar. Mereka mulai memperhatikan senjata-senjata yang ada di tangan para penghuni barak itu. Seperti telah diberitahukan kepada mereka, bahwa penghuni barak itu mempergunakan berbagai macam senjata yang tidak terbiasa dipergunakan kebanyakan orang. Sebenarnyalah bahwa ada di antara mereka yang membawa tongkat besi, kapak, bindi dan bahkan canggah yang nampak mengerikan. Seorang yang bertubuh gemuk meskipun tidak terlalu tinggi, membawa pedang yang bergerigi di punggungnya. Sedangkan yang lain membawa tombak pendek dengan mata tombak berkait.

Senjata-senjata itu memang mengerikan. Tetapi mereka selalu ingat pada pesan Ki Jagabaya, bahwa mereka tidak akan bertempur seorang-seorang, mereka akan bertempur dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari tiga atau empat orang.

“Aku sudah mengira” berkata Ki Sapa Aruh, “orang bongkok itu menjadi biang keladi yang mengganggu ketenangan padepokan kami ini”

“Padepokan? Adakah ini sebuah padepokan yang mengajarkan budi pekerti, unggah-ungguh dan mengajarkan ketakwaan terhadap Yang Maha Esa?” bertanya Ki Pandi.

“Kau kira padepokan ini tempat apa?” Ki Sapa Aruh itu ganti bertanya.

Namun Ki Jagabaya Gemawang itulah yang menyahut, “Bertanyalah kepada Wira Sabet dan Sura Gentong. Ia tahu pasti, tempat ini tempat apa. He, siapakah kau?”

“O, jadi kau belum mengenal aku?” Ki Sapa Aruh itu pun kemudian berpaling kepada Wira Sabet dan Sura Gentong, “Siapakah orang yang sombong ini?”

“Orang inilah yang sampai sekarang masih mengaku Jagabaya padukuhan Gemawang. Orang itulah yang telah membunuh isteriku” jawab Sura Gentong.

Ki Sapa Aruh mengangguk-angguk. Katanya, “Sebaiknya kau mengenal aku, meskipun barangkali kau sudah mengenal namaku. Akulah yang dipanggil Ki Sapa Aruh”

Ki Jagabaya mengangguk-angguk di luar sadarnya. Namun ia memang menjadi berdebar-debar, Ia sudah mendengar betapa orang yang bernama Sapa Aruh itu memiliki ilmu yang sangat tinggi.

Namun Ki Pandi yang dapat melihat betapa pengaruh nama itu dapat menggetarkan jantung Ki Jagabaya dan barangkali beberapa orang yang lain itupun berkata, “Ki Jagabaya. Orang inilah yang namanya selalu disebut-sebut orang. Mungkin bayangan kita tentang Ki Sapa Aruh agak berbeda dengan apa yang kita temui sekarang ini”

“Setan bongkok, apa maksudmu?” bertanya Ki Sapa Aruh.

“Aku hanya ingin menempatkan kau di tempat yang sewajarnya. Sampai sekarang, orang yang mendengar namamu menjadi berdebar-debar, sementara kau sendiri tidak mempunyai kelebihan apa-apa” jawab Ki Pandi.

Ki Sapa Aruh menggeram. Sementara Ki Jagabaya menjadi semakin berdebar-debar. Ia menganggap Ki Sapa Aruh orang yang berilmu sangat tinggi, sehingga untuk menahannya, maka sekelompok orang yang berilmu harus bersama-sama melawannya. Tetapi Ki Pandi nampaknya tidak begitu silau terhadap orang itu.

“Kau jangan mencoba menyembunyikan kecemasanmu. Bersiaplah. Aku akan membuktikan, bahwa kau akan menyesali kata-katamu itu” geram Ki Sapa Aruh.

Tetapi Ki Pandi menyahut, “Jika aku datang kemari, Ki Sapa Aruh, aku memang merencanakan sebuah pertemuan. Biarlah kawan-kawanku yang datang bersamaku berusaha untuk mencegah orang-orangmu yang akan mengganggu permainan kita”

Ki Sapa Aruh itu pun kemudian memberi isyarat kepada Wira Sabet dan Sura Gentong serta dua orang saudara seperguruannya untuk segera melibatkan dirinya. Sementara itu, langit pun menjadi semakin terang.

Ketika Sura Gentong bersiap untuk bertempur, maka ia pun berkata, “Satu kesempatan yang bagus. Ki Jagabaya, kita membuat perhitungan sekarang”

Tetapi Ki Kertasana dengan cepat menyahut, “Tidak Ki Sura Gentong. Ki Jagabaya mempunyai tugas tersendiri. Ia memegang pimpinan dalam tugas ini, sehingga ia tidak boleh terikat dalam pertempuran melawan siapapun”

“Ki Kertasana. Apa maksudmu?” bertanya Wira Sabet.

“Biarlah aku mewakilinya” jawab Ki Kertasana.

“Setan kau. Apakah kau tahu apa yang sedang kau lakukan?” bertanya Wira Sabet.

“Aku menyadari sepenuhnya, Ki Wira Sabet.”

Wajah Wira Sabet menjadi merah. Ia mengenal Ki Kertasana sebagai seorang pendiam yang tidak terlalu banyak melibatkan diri dalam persoalan-persoalan yang terjadi di padukuhan Gemawang. Ia bukan pula termasuk orang-orang yang beramai-ramai mengusirnya dan bahkan rasa-rasanya dengan penuh kebencian orang-orang padukuhan itu akan membunuhnya waktu itu.

Tetapi Wira Sabet tidak mempunyai banyak waktu. Sementara itu, beberapa orang benar-benar sudah terlibat dalam pertempuran yang segera menyala.

“Jika demikian, bersiaplah untuk mati” geram Wira Sabet, “aku tidak peduli siapa kau, karena kau sudah melibatkan diri dalam perbuatan gila ini”

Ki Kertasana pun telah bersiap sepenuhnya. Namun ia masih berkata, “Ki Wira Sabet, jika aku ikut datang kemari, karena aku ingin mengambil anakku, Manggada yang kau perlakukan dengan kasar disini bersama adik sepupunya, Laksana”

Sura Gentong itu memang teringat kepada Manggada yang ada di dalam barak itu bersama sepupunya Laksana. Dengan geram Wira Sabet, itu menyahut, “anakmu berusaha merusak rencanaku”

Ki Kertasaha tidak berbicara lebih banyak lagi. Ia pun kemudian telah bergeser sambil memperpsiapkan diri menghadapi orang yang mendendam seisi padukuhan Gemawang, terutama Ki Jagabaya.

Dalam pada itu, maka Sura Gentong pun telah melibat ke dalam pertempuran pula. Namun ia harus berhadapan dengan Ki Citrabawa yang belum dikenalnya.

“Aku ayah Laksana. Anak yang telah diambil dan di perlakukan sebagai budak disini” berkata Ki Citrabawa.

“Darimana kau tahu bahwa anakmu diperlakukan sebagai budak disini?” bertanya Sura Gentong.

Citrabawa tersenyum. Katanya, “Kau tentu mencurigai bahwa ada di antara orang-orangmu yang berkhianat”

“Ya” jawab Sura Gentong, “setelah kami menghancurkan kalian, kami akan dapat menemukannya”

Citrabawa tidak sempat menyahut karena Sura Gentong telah mulai menyerangnya.

Dengan demikian, maka pertempuran pun segera berkobar. Sementara Ki Sapa Aruh bersiap menghadapi Ki Pandi, maka orang-orang Gemawang dan Rejandani telah terlibat dalam pertempuran.

Namun sebelum Ki Sapa Aruh sendiri mulai bertempur, ia sempat melihat anak Demang Rejandani yang pernah dirampoknya. Karena itu, maka ia pun berteriak hampir di luar sadarnya, “He saudagar perhiasan dan wesi aji anak Demang Rejandani. Kenapa tiba-tiba saja kau ikut dalam rombongan tikus-tikus Gemawang ini?”

“Aku akan mengambil milikku itu kembali” jawab anak Ki Demang Rejandani.

Tetapi Ki Sapa Aruh itu menjawab, “Kau tidak akan mendapatkan perhiasan dan wesi aji itu kembali. Tetapi kau justru akan menyerahkan nyawamu sebagaimana tikus-tikus dari Gemawang ini.”

Tetapi Ki Demang yang mendengar pembicaraan itu pun berkata, “Barak ini akan dihancurkan hari ini. Kami tidak akan memberi kesempatan lagi kepada kalian. Beruntunglah kami, tikus-tikus kecil yang hari ini mendapat perlindungan dari orang-orang berilmu yang akan dapat mematahkan kegiatan kalian untuk selanjutnya”

“Setan, siapa kau?” bertanya Ki Sapa Aruh.

“Aku Demang Rejandani” jawab Ki Demang.

“O, jadi kau bawa anakmu untuk membunuh diri disini” geram Ki Sapa Aruh.

Ki Demang tidak menjawab. Ia pun segera terlibat dalam pertempuran. Ternyata para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong cukup banyak. Dua orang saudara seperguruan Wira Sabet dan Sura Gentong yang ikut merampok dirumah Ki Demang Rejandani telah bertempur pula melawan saudagar-saudagar perhiasan yang telah diperlakukan dengan kasar itu.

Sementara itu, Ki Pandi yang masih berdiri termangu-mangu itu pun kemudian bertanya, “Apakah kau sudah selesai dengan sesorahmu. Aku datang untuk mencari kawan bermain. Karena itu, aku jangan kau tinggal berbicara saja dengan setiap orang yang datang memasuki barakmu itu”

“Iblis bongkok. Kau akan menyesal dengan kesombonganmu. Kau sudah mengajak orang-orang itu datang kemari. Kematian demi kematian akan membebani saat terakhirmu. Seharusnya jika kau ingin membunuh dirimu, datanglah seorang diri. Jangan mengajak orang lain ikut membunuh diri bersamamu”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun bertanya, “Apakah kau sudah selesai? Jika kau masih akan berbicara, berbicaralah. Apa saja, sebelum kau akan terdiam untuk selama-lamanya. Aku masih akan memberimu waktu”

Ki Sapa Aruh menjadi sangat marah. Ia tidak berbicara lagi. Tetapi ia pun dengan serta-merta telah meloncat menyerang Ki Pandi. Tetapi Ki Pandi sudah menyiapkan diri sebaik-baiknya. Karena itu serangan Ki Sapa Aruh itupun mampu dielakkannya.

Pertempuran pun kemudian telah menebar. Anak-anak muda Gemawang yang belum berpengalaman tidak melupakan pesan dari Ki Jagabaya. Sementara Sampurna berada di antara mereka sambil memberikan petunjukpetunjuk.

Selain anak-anak muda Gemawang, maka orang-orang Kademangan Rejandani pun telah terlibat pula dalam pertempuran yang menjadi semakin sengit. Ki Demang berusaha untuk membangkitkan tekad yang terguncang oleh kenyataan yang mereka hadapi.

Namun orang-orang Rejandani itu menjadi berbesar hati ketika mereka sempat melihat anak Ki Demang itu bertempur dengan garang bersama-sama dengan ketiga orang kawannya, sementara rasa-rasanya Ki Demang selalu ada disamping mereka.

Ketika pertempuran itu berlangsung semakin sengit, maka di halaman barak itu, Ki Srayatapa, kawan Ki Sapa Aruh yang mengambil alih tugasnya meneliti orang-orang yang dianggap budak di barak itu, sudah sampai pada orang-orang terakhir.

Orang yang kemudian dipanggilnya adalah orang tua yang ditugaskan untuk merawat kuda-kuda di kandang.

Ketika namanya dipanggil, maka ia pun berbisik kepada Manggada, “Lindungi aku. Ia akan mengetahui siapa aku dan kami akan bertempur disini”

Manggada mengangguk kecil. Ia sadar, bahwa di tempat itu masih ada Pideksa dan dua orang saudara seperguruan Wira Sabet dan Sura Gentong.

Tetapi baik Manggada, maupun Laksana, agaknya merasa segan untuk berhadapan dengan Pideksa. Anak muda itu, secara tidak langsung berusaha untuk meringankan tekanan-tekanan atas diri mereka berdua. Bagaimanapun juga Pideksa adalah kawan bermain Manggada di masa kecilnya. Sisa-sisa persahabatan di masa kecil itu masih saja membekas di dalam dada mereka.

Jika pertempuran harus terjadi di tempat itu, maka Manggada dan Laksana akan berusaha berhadapan dengan kedua orang saudara seperguruan Wira Sabet dan Sura Gentong. Meskipun keduanya adalah orang-orang yang berpengalaman, namun Manggada dan Laksanapun selain memiliki pengalaman yang cukup, juga telah menempa diri dalam tataran-tataran yang semakin tinggi.

Ketika Manggada memandang wajah tampan salah seorang saudara seperguruan Wira Sabet, maka dadanya menjadi berdebar-debar. Orang yang nampaknya bersih dan ramah itu, justru pernah merendahkannya dan bahkan menghinanya. Orang itu pernah menginjak punggungnya, menganggapnya landasan untuk naik ke punggung kuda dan sikap-sikap yang menyakitkan hati hatinya.

Sementara itu, Ki Carang Aking telah melangkah dengan ragu-ragu mendekati Ki Srayatapa, kawan dekat Ki Sapa Aruh. Sejenak kemudian, maka orang tua itu sudah berdiri terbungkuk-bungkuk di hadapan orang yang sedang meneliti orang-orang yang dianggap budak itu untuk menemukan seorang yang dicurigai menyusup ke dalam barak itu.

Orang tua itu memang telah merasa bahwa ia tidak akan dapat melepaskan diri. Karena itu, justru bersiaga menghadapi segala kemungkinan.

Ketika Ki Srayatapa meletakkan tangannya di pundak orang tua itu, ia terkejut. Tetapi ia masih tetap menahan diri. Perlahan-lahan ia menyentuh punggung Ki Carang Aking di sebelah-menyebelah tulang belakang.

Terasa getaran ilmu yang tinggi menyentuh ujung jari Ki Srayatapa yang sangat peka. Dengan segera ia mengetahui bahwa orang tua itu adalah orang yang berilmu. Karena itu, maka ia tidak akan memberinya kesempatan. Ia ingin langsung menghancurkan simpul-simpul syaraf di punggungnya.

Tetapi Ki Carang Aking yang berilmu tinggi itu pun merasakan getar syaraf di ujung-ujung jari Ki Srayatapa. Terasa di ujung jari itu denyut jantungnya yang menjadi semakin cepat sejalan dengan gejolak di dadanya.

Karena itu, sebelum ujung-ujung jari itu menekan dan menghancurkan simpul-simpul syarafnya, maka Ki Carang Aking itupun segera meloncat menjauh.

Ki Srayatapa terkejut. Ia kehilangan kesempatan yang sangat baik. Tetapi orang tua itu memang sudah terlepas dari tangannya.

“Kenapa kau menghindar, kek?” bertanya Ki Srayatapa.

“Sakit sekali. Punggung tua ini sama sekali tidak tahan atas tekanan yang sangat lemah sekalipun” jawab Ki Carang Aking.

Tetapi Ki Srayatapa itu tertawa. Katanya, “Bukankah aku belum mulai menekan punggungmu?”

Ki Carang Akingpun tertawa pula. Katanya, “Jari-jarimu ternyata sangat kasar, sehingga sentuhan lembut sekalipun telah menyakiti kulitku.”

Orang-orang yang disebut budak-budak di barak itu menjadi heran dan bahkan kemudian tegang melihat sikap orang tua perawat kuda itu.

“Apa yang dilakukan?” mereka saling bertanya di antara para budak itu.

Tidak seorang pun yang dapat memberi jawaban. Namun mereka menjadi heran dan bahkan menjadi sangat tegang.

Kedua orang saudara seperguruan Wira Sabet dan Sura Gentong itupun bergeser mendekat pula. Hampir berbareng mereka bertanya, “Kenapa dengan orang tua itu?”

“Sudah berapa lama ia berada disini?” bertanya Ki Srayatapa kepada orang yang berwajah tampan itu.

“Sudah lama” jawabnya.

“Dan kalian tidak tahu tentang orang tua itu?” bertanya Ki Srayatapa pula.

“Kenapa dengan orang itu?” bertanya saudara seperguruannya yang seorang lagi.

Ki Srayatapa tersenyum. Katanya, “Kalian tidak memperhati-kan orang-orang yang kalian jadikan budak-budak kalian itu. Ki Sapa Aruhpun tidak. Ternyata orang ini adalah orang yang sedang dicari oleh Ki Sapa Aruh”

“Orang itu tidak bongkok” berkata saudara seperguruan Wira Sabet yang berwajah tampan itu.

“Memang bukan orang ini yang disebutnya orang bongkok itu. Tetapi orang ini tidak kalah berbahayanya dengan orang bongkok itu. Isyarat aum harimau peliharaan orang bongkok itu tentu ditujukan kepada orang ini”

“Jika demikian, serahkan orang tua itu kepadaku” berkata orang yang berwajah tampan itu.

Tetapi Ki Srayatapa itu tertawa. Katanya, “Orang ini bukan lawanmu”

“Maksud Ki Srayatapa? Apakah anak-anak dapat menyelesaikan jika terhitung orang berilmu tinggi?”

“Maksudku bukan anak-anak. Bahkan kaupun tidak akan dapat menyelesaikannya” berkata Ki Srayatapa.

“Jadi?” bertanya orang berwajah tampan itu.

“Yang dapat menyelesaikan adalah aku atau Ki Sapa Aruh sendiri” jawab Ki Srayatapa.

“Jadi?” bertanya saudara seperguruan Wira Sabet yang seorang lagi.

“Ia adalah seorang yang berilmu sangat tinggi, sehingga kalian justru tidak melihat kelebihannya. Tetapi perannya di barak ini akan berakhir hari ini”

“Kepung orang ini. Ia tidak boleh lepas. Aku sendiri akan menyelesaikannya”

Namun ketika orang-orang itu bergeser untuk mengepung Ki Carang Aking, maka hiruk-pikuk pertempuran terdengar semakin mendekat.

“Setan” geram Ki Srayatapa, “orang-orang ilu tentu telah mendapat isyarat dari dalam. Dan orang yang memberikan isyarat itu adalah orang ini”

“Jika demikian, kita akan meremukkan kepalanya” geram saudara seperguruan Wira Sabet yang berwajah tampan itu.

Ki Carang Aking sendiri justru tertawa sambil berkata, “Kita jangan disibukkan oleh persoalan kecil ini. Kalian harus tahu, bahwa barak ini sudah jatuh ketangan orang yang kau sebut orang bongkok itu. Bersama orang bongkok itu datang pula Ki Jagabaya Gemawang yang selama ini kalian takut-takuti. Kalian mengira bahwa Gemawang benar-benar sudah menjadi pingsan. Namun hari ini mereka datang untuk menunjukkan bahwa darah anak-anak muda Gemawang masih tetap menghangat di tubuhnya. Bahkan bersama mereka telah datang pula anak Demang Rejandani yang telah kalian rampok habis-habisan. Mereka datang untuk mengambil kembali perhiasan dan wesi aji yang telah kalian rampok itu”

“Sudahlah” sahut Ki Srayatapa, “kau tidak usah mengigau. Sekarang bersiaplah. Kau akan segera diakhiri disini. Baru kemudian aku dan Ki Sapa Aruh akan mengurusi orang bongkok itu”

Kedua saudara seperguruan Wira Sabet dan Sura Gentong itu pun segera mempersiapkan diri. Demikian pula Pideksa dan beberapa orang pengikut yang lain.

Namun saudara seperguruan Wira Sabet yang tampan itu terkejut ketika Manggada tiba-tiba saja melangkah mendekatinya sambil berkata, “Ki Sanak. Aku ingin kau membungkuk dihadapanku. Aku ingin menginjak punggungmu sebagai landasan. Aku tidak ingin naik kuda sekarang ini. Tetapi aku ingin melihat kau dihinakan sebagaimana pernah kau lakukan atasku”

Wajah orang itu menjadi merah seperti bara. Untuk sesaat orang itu justru bagaikan membeku. Kemarahan yang membakar jantungnya membuai mulutnya bagaikan tersumbat.

Yang kemudian tertawa pula adalah Laksana. Dengan nada tinggi ia berkata, “Kenapa kalian menjadi bingung? He, aku masih mempunyai seseorang untuk diajak bermain. Marilah. Bukankah kau saudara seperguruan paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong?”

Saudara seperguruan Wira Sabet yang berwajah bengis itu juga menjadi bingung. Tetapi anak muda yang untuk beberapa lama dijadikan budak untuk merawat kuda itu meskipun seperti seseorang yang sedang bermain-main, namun cukup mengandung kesungguhan.

Dalam pada itu, Pideksapun berteriak, “He, Manggada dan Laksana, apa yang akan kalian lakukan?”

“Pideksa” jawab Manggada, “aku memang telah memilih lawan. Aku tidak dapat melawanmu dalam pertempuran yang bakal terjadi. Kita pernah bersahabat di masa kanak-kanak. Sikapmu pun masih aku hargai. Aku masih merasakan sisa-sisa persahabatan kita selama kami berada di barak ini”

“Tetapi kau harus menyadari, siapakah orang yang kau tantang itu?” Pideksa justru menjadi cemas.

“Aku akan mencobanya” jawab Manggada.

Kecemasan memang membayang di wajah Pideksa. Namun saudara seperguruan Wira Sabet yang berwajah tampan itu justru mulai tersenyum. Wajahnya mulai nampak cerah lagi.

Katanya, “Aku kagum kepadamu anak muda. Sejak semula aku memang sudah mengaguminya, bahwa kalian masih berani berkuda berkeliaran di padukuhan Gemawang di saat-saat yang paling gawat. Meskipun akhirnya kalian berhasil ditangkap dan dibawa masuk ke dalam barak ini. Sekarang aku menjadi semakin kagum bahwa kalian berdua berani menantang kami berdua”

Manggada dan Laksana tidak menjawab lagi. Namun keduanya pun segera mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan”

Ki Srayatapa pun kemudian berkata pula, “Anak-anak memang tidak tahu bahwa seharusnya mereka tidak menggenggam bara. Itu bukan satu keberanian. Tetapi satu kebodohan”

Tetapi Ki Carang Akinglah yang menyahut, “Tidak. Mereka tidak dapat disamakan dengan seorang anak kecil yang tiba-tiba saja memungut bara. Tetapi keduanya sadar, bagaimana cara memukul seekor serigala. Meskipun serigala itu setampan wajah domba yang manis sekalipun”

Ki Srayatapa tidak mengumpatinya. Tetapi ia justru tertawa. Katanya, “Jangan terlalu yakin Ki Sanak. Kau sendiri akan mati hari ini”

Kedua orang itu pun telah bergeser pula. Seakan-akan mereka telah mencari tempat yang terbaik untuk bertempur.

Sementara itu Pideksa sendiri menjadi bingung. Namun penyabit rumput yang sehari-hari dianggap kurang waras itu pun telah mendekatinya sambil berkata, “Kita juga berkesempatan untuk bermain-main”

Pideksa menarik nafas panjang. Katanya, “Ternyata kalian telah mengelabui kami selama ini”

“Ya” jawab murid Ki Carang Aking itu, “sebelum kau bertanya, biarlah aku lebih dahulu menjawab. Namaku Sirat. Aku murid perawat kuda yang tua itu”

Pideksa mengangguk-angguk. Kalanya, “Baiklah. Kita akan berhadapan dalam kedudukan yang berbeda sekarang”

Sementara itu, pertempuran yang sengit telah terjadi di dalam lingkungan dinding barak itu. Ki Pandi masih bertempur melawan Ki Sapa Aruh. Keduanya adalah orang-orang berilmu sangat tinggi, sehingga beberapa orang yang menyaksikan menjadi bingung, apakah yang sebenarnya telah terjadi dengan kedua orang itu.

Di halaman depan barak itu, Ki Srayatapa pun telah bertempur pula melawan Ki Carang Aking, sementara Manggada dan Laksana telah terlibat dalam pertempuran yang garang melawan saudara-saudara seperguruan Wira Sabet dan Sura Gentong.

Saudara seperguruan Wira Sabet yang berwajah tampan itu ternyata memang seorang yang sangat bengis. Watak orang itu sangat jauh berbeda dengan ujudnya yang tampan, senyumnya yang banyak nampak tersungging di bibirnya. Bahkan kata-katanya yang kadang-kadang lembut dan ramah.

Demikian pertempuran mulai, maka orang itu telah menyerang dengan garang dan bahkan kasar. Seakan-akan orang itu ingin membunuh lawannya pada ayunan serangannya yang pertama.

Tetapi orang itu sempat terkejut. Ternyata anak muda yang bernama Manggada dan yang telah menjadi budak beberapa lama di barak itu, tidak dapat langsung dilumatkannya. Bahkan Manggada masih sempat membalas serangan-serangannya dengan serangan pula.

“Anak iblis kau” geram orang itu, “jika kau tidak segera mati, maka kau akan mengalami kematian yang paling menyengsara-kan bagimu”

Manggada tidak menjawab. Tetapi ia melihat saat kelengahan lawannya justru pada saat ia berbicara.

Karena itu, maka Manggada telah memanfaatkan kesempatan itu, ia tidak menyerang kearah dada atau lambung lawannya, yang tentu akan dapat ditangkis atau dihindarinya. Tetapi tiba-tiba saja Manggada menjatuhkan diri. Kakinya dengan cepat menyapu kaki lawannya. Manggada memang tidak berniat untuk dengan cepat menghentikan perlawanan saudara seperguruan Wira Sabat dengan serangannya itu. Tetapi ia justru ingin menghentak lawannya untuk mempengaruhi ketahanan jiwaninya.

Serangan dengan sapuan kaki itu memang tidak diduga-duga. Karena itulah, maka sapuan kaki itu benar-benar telah menebas kedua kakinya yang berdiri tegak disaat ia berbicara.

Keseimbangan orang itu telah terguncang. Bahkan demikian derasnya sapuan kaki Manggada, maka orang itu telah kehilangan keseimbangannya.

Tubuh orang berwajah tampan dan berpakaian rapi itu terbanting jatuh di tanah. Namun dengan sigapnya ia berguling dan kemudian melenting berdiri lagi.

Ketika orang itu tegak, ia melihat Manggada berdiri sambil tersenyum memandanginya. Bahkan anak muda itu pun kemudian berkata, “Kenapa kau kotori pakaianmu yang tentu berharga mahal itu? Aku sendiri tidak peduli bahwa pakaianku akan menjadi kotor, karena setiap hari pakaian ini pula yang aku pakai bahkan tidur di kandang kuda sekalipun”

Orang berwajah tampan itu menggeram. Dengan mengerah-kan tenaga dan kekuatannya orang itu meloncat menyerang dengan menjulurkan kakinya.

Manggada yang mengetahui bahwa serangan itu dilandasi dengan kekuatan yang sangat besar, tidak berniat untuk membenturnya. Dengan tangkasnya ia mengelak, sehingga serangan itu tidak mengenainya sama sekali.

Namun dengan demikian, kemarahan pun telah meledak di kepalanya. Anak muda itu benar-benar telah menghinanya dengan cara yang sangat menyakitkan hati.

Dalam pada itu, Laksana pun telah bertempur pula melawan saudara seperguruan Wira Sabet yang lain. Saudara seperguruan Wira Sabet yang berwajah garang. Orang itu tidak banyak berbicara. Tetapi ketika pertempuran terjadi, maka orang itu mulai dengan hati-hati.

Laksana menanggapi sikap lawannya dengan sikap berhati-hati pula. Untuk beberapa saat mereka masih saling menjajagi. Bahkan orang yang pendiam itu sempat memperingatkan dirinya sendiri, “Jika anak ini tidak mempunyai bekal yang cukup, ia tidak akan berani melakukan sebagaimana dilakukannya sekarang ini.”

Sementara itu Pideksa yang bertempur melawan salah seorang murid Ki Carang Aking sempat melihat bagaimana Manggada menjatuhkan saudara seperguruan ayahnya yang berwajah tampan itu.

“Tidak masuk akal” desis Pideksa. Manggada adalah anak muda yang umurnya tidak terpaut banyak dengan dirinya. Tetapi Manggada ternyata telah memiliki ilmu yang tinggi. Yang luput dari penglihatan ayahnya dan orang-orang berilmu tinggi lainnya di barak itu.

Dengan demikian Pideksa pun menyadari, bahwa kehadiran Manggadadan Laksana di barak itu tentu telah disengaja dan diperhitungkannnya dengan sebaik-baiknya, sebagaimana kehadiran Ki Carang Aking yang secara kebetulan mereka bersama-sama di tempatkan di kandang kuda.

Dalam pada itu, para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong memang menjadi heran, bahwa budak-budak itu ternyata memiliki ilmu yang tinggi. Bahkan dua orang penyabit rumput yang dianggap tidak waras itu pun telah bertempur pula bersama Manggada dan Laksana. Namun dalam pada itu, para pengikut yang lain tidak sempat turun kemedan melawan orang-orang yang selama dalam perbudakan bekerja untuk merawat kuda itu. Arus serangan yang memasuki barak dari pintu butulan itu telah sampai ke halaman depan barak itu.

Dengan demikian, maka pertempuran itu pun telah menyala di beberapa sudut barak. Betapapun garangnya para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong, bahkan orang-orang yang dibawa Ki Sapa Aruh, namun kehadiran orang-orang Gemawang yang tidak diduganya itu benar-benar telah mengguncang seisi barak itu.

Wira Sabet dan Sura Gentong yang telah yakin akan mampu menguasai padukuhan Gemawang dan bahkan kemudian Kademangan Kleringan bersama Ki Sapa Aruh, benar-benar menjadi sangat marah karena serangan yang tiba-tiba dan sama sekali tidak diduga. Keduanya merasa bahwa keberanian orang-orang Gemawang telah benar-benar dihancurkan. Anak-anak muda yang mencoba untuk mengganggu rencananya telah tertangkap dan dibawa ke barak itu.

Sura Gentong lah yang sangat menyesal, kenapa ia tidak membunuh saja Ki Jagabaya dan sebelumnya.

Dalam pada itu, Ki Sapa Aruh bertempur dengan sengitnya melawan Ki Pandi, orang bongkok namun berilmu tinggi. Keduanya justru telah memisahkan diri dari hiruk pikuk pertempuran. Keduanya seakan-akan telah memilih tempat yang tidak akan terganggu oleh orang lain.

Ternyata di halaman barak itu, Ki Srayatapa yang berhadapan dengan perawat kuda tua itu pun telah bertempur tanpa terganggu oleh pertempuran di sekitarnya. Agaknya masing-masing telah terikat dan berhadapan dengan lawan mereka.

Manggada yang bertempur melawan saudara seperguruan Wira Sabet yang berwajah tampan itu telah mulai meningkatkan ilmu dari tataran ke tataran. Ia sadar, bahwa lawannya itu tentu memiliki kelebihan dari kebanyakan orang. Namun Manggada juga bukan orang kebanyakan.

Lawan Manggada memang merasa aneh menghadapi anak muda itu. Anak muda yang dianggapnya budak itu tiba-tiba saja bertempur melawannya.

Lawan Manggada menggeram ketika ia benar-benar tidak mampu menghancurkan lawannya dalam waktu singkat. Bahkan ketika ia berusaha dengan mengerahkan kemampuannya, budak yang masih muda itu masih saja mampu mengimbanginya.

Sementara itu, lawan Laksana yang berwajah garang itu justru lebih berhati-hati menghadapi lawan yang masih muda. Orang itu meningkatkan ilmunya selapis demi selapis. Ia sadar sepenuhnya, bahwa ia tidak akan dapat dengan cepat mengalahkan lawannya yang muda itu.

Bahkan orang itu sempat mengaguminya. Katanya, “Jika kau memilik ilmu sedemikian baiknya, demikian pula saudaramu itu, maka aku yakin bahwa kalian memasuki barak ini tentu dengan sengaja. Orang-orangku tidak akan mampu menangkap kalian berdua meskipun orang-orangku itu bertiga”

“Kami memang ingin melihat rumah tangga paman Wira Sabet dan paman Sura Gentong” jawab Laksana.

“Aku percaya bahwa kau memang sengaja melakukannya” jawab orang itu.

Laksana tidak menjawab. Tetapi sikap lawannya itu justru membuatnya lebih berhati-hati. Ia sadar bahwa lawannya itu menghadapinya dengan bersungguh-sungguh. Tidak sekedar dihanyutkan oleh perasaan marahnya.

Di arena pertempuran yang lain, Sampurna dan anak-anak muda Gemawang bertempur melawan para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong. Ternyata anak-anak muda itu tidak mengecewakan. Apalagi di antara mereka terdapat orang-orang Rejandani yang dipimpin langsung oleh Ki Demang yang berpengalaman.

Sementara pertempuran di barak itu berkobar semakin panas, maka di Gemawang, jalan-jalan masih saja nampak sepi. Orang-orang Gemawang tidak tahu apa yang sudah dilakukan oleh Ki Jagabaya dan beberapa orang anak muda yang ternyata telah berhasil dibangunkan oleh Sampurna. Namun yang mereka ketahui, bahwa mereka tidak melihat Ki Jagabaya dan Sampurna lewat di jalan-jalan padukuhan.

Tetapi tidak banyak perubahan sikap terjadi di Gemawang. Sejak semula orang-orang Gemawang memang lebih banyak berada di dalam lingkungan rumah dan halamannya saja. Demikian Manggada dan Laksana dibawa oleh para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong, maka jalan-jalan di Gemawang menjadi semakin sepi.

Namun dalam pada itu, Wisesa telah menyempatkan diri pergi ke rumah Ki Jagabaya. Ketika ia mengetuk pintu, maka yang terdengar bukan suara Sampurna, tetapi suara Tantri di belakang pintu seketeng.

“Kau siapa?” bertanya Tantri meskipun ia juga sudah terbiasa mendengar irama ketukan pintu Wisesa.

“Aku, Tantri” jawab Wisesa.

“Untuk apa kau kemari?” bertanya Tantri, “sebaiknya kau pulang saja. Bukankah aku pernah mengatakan, bahwa dalam keadaan seperti ini, kita tidak usah bertemu dan berbicara tentang apapun karena akhirnya pembicaraan kita akan berselisih semakin lama semakin jauh”

“Tetapi, beri kesempatan aku kali ini saja untuk menemuimu Tantri. Aku hanya sebentar. Tidak lebih” Wisesa justru mulai merengek seperti anak-anak yang kehilangan mainan.

Akhirnya hati Tantri menjadi lunak juga. Bagaimanapun juga, Wisesa sudah terlalu sering datang ke rumahnya.

Karena itu, maka Tantri itu pun mulai mengangkat selarak pintu seketengnya sambil berkata, “Baiklah. Aku mempunyai waktu sebentar. Tetapi hanya sebentar”

“Aku juga hanya sebentar Tantri” jawab Wisesa. Demikian pintu terbuka, maka Wisesa itu pun segera melangkah masuk sambil berkata, “Selarak pintunya lagi Tantri”

“Tidak. Bukankah kau hanya sebentar?” sahut Tantri,

“Meskipun demikian, orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong selalu berkeliaran” jawab Wisesa.

“Tetapi tidak hari-hari ini. Wira Sabet dan Sura Gentong serta para pengikutnya tidak akan datang” jawab Tantri.

“Kenapa? Setiap saat mereka dapat saja datang kemari” jawab Wisesa.

“Hari ini justru ayah pergi ke baraknya bersama anak-anak muda pedukuhan Gemawang yang masih sisa-sisa keberaniannya untuk melakukan apa yang kau takutkan itu Wisesa”

“Maksudmu menyerang barak Wira Sabet dan Sura Gentong?” wajah Wisesa menjadi tegang.

“Ya” jawab Tantri, “ayah tidak mempunyai pilihan lain, sementara Ki Bekel masih saja tetap ragu-ragu”

“Tantri, ayahmu dan Sampurna telah menyurukkan kepala anak-anak muda kemulut buaya”

“Apa yang sebenarnya kau maui?” bertanya Tantri.

“Tetapi kenapa aku tidak kau persilahkan duduk?” bertanya Wisesa.

“Kau hanya sebentar disini” jawab Tantri.

“Tantri, aku sudah memperingatkan beberapa kali, cara yang ditempuh Ki Jagabaya dan Sampurna itu salah. Sebaiknya mereka tidak mempergunakan kekerasan. Aku sedang memikirkan gagasan-gagasan baru yang dapat menyelesaikan persoalan kita disini dengan Wira Sabet dan Sura Gentong itu”

“Telan kembali gagasan-gagasanmu itu” berkata Tantri dengan serta merta, “semua orang akan jemu mendengar gagasan-gagasanmu yang tidak pernah sesuai dengan pendapat orang lain”

”Tantri, kenapa kau tiba-tiba menjadi kasar begitu?” bertanya Wisesa.

“Sudahlah. Pulanglah” berkata Tantri.

“Kau mengusir aku?”

“Bukankah kau sendiri mengatakan bahwa kau hanya sebentar?”

Wajah Wisesa menjadi merah. Dipandanginya Tantri dengan tajamnya. Sudah lama ia sering mengunjungi gadis itu. Tantri tentu tahu, bahwa kedatangan Wisesa tentu bukannya tanpa maksud.

Sebelum Manggada dan Laksana datang ke pedukuhan itu, sikap Tantri dinilainya baik kepadanya. Bahkan Tantri telah memberinya harapan-harapan. Namun tiba-tiba Tantri berubah menjadi keras dan bahkan kasar.

Tiba-tiba iblis telah mengembuskan pikiran buruk ke dalam otak anak muda itu. Dengan nada berat Wisesa itu bertanya, “Jadi, ayah dan kakakmu sekarang pergi ke barak Wira Sabet dan Sura Gentong?”

“Ya” jawab Tantri berperasangka buruk.

Tiba-tiba mata Wisesa itu menjadi liar. Ia memandang keliling. Namun ia tidak melihat scorang pun.

Tantri mengerutkan dahinya. Ia melihat perubahan sikap dan sorot yang memancar di mata Wisesa.

Dengan suara yang bagaikan ditelan di tenggorokan Wisesa berkata, “Aku akan bertemu dengan ibumu”

“Ibu sedang sibuk di dapur” jawab Tantri.

“Siapa saja yang dapat aku ajak bicara di rumah ini?”

“Tidak ada” jawab Tantri, “dua orang pembantu ayah telah ikut bersama ayah. Pembantu perempuan ibu sedang pergi membeli kebutuhan ibu di dapur.”

“Kau bohong” geram Wisesa.

“Buat apa aku membohongimu” jawab Tantri, “sekarang sebaiknya kau pergi”

“Tantri” berkata Wisesa yang menjadi semakin liar, “aku memang akan segera pergi. Aku akan pergi bersamamu”

“Bersama aku?” bertanya Tantri.

“Ya. Aku sangat mencintaimu. Kita akan dapat hidup bersama di luar pedukuhan ini. Aku yakin, bahwa Ki Jagabaya akan gagal dan Wira sabet serta Sura Gentong akan menjadi semakin garang. Kau tentu benar-benar akan diambil menjadi isterinya”

“Ayah tidak akan gagal” jawab Tantri.

“Kau salah menilai usaha yang dilakukan oleh ayahmu, Tantri” berkata Wisesa itu selanjutnya.

“Tidak” jawab Tantri, “aku yakin”

“Apapun yang terjadi, aku akan membawamu pergi dari rumah ini. Kau dapat berada di rumah nenekku di kademangan lain. Kau akan lepas dari buruan Sura Gentong”

“Tidak. Aku tidak akan pergi” jawab Tantri.

“Aku akan membawamu” berkata Wisesa kemudian.

Tantri melangkah surut ketika Wisesa bergeser mendekatinya. Dengan nada tinggi Tantri berkata, “Jadi kau tanyakan ibuku, pembantu-pembantu di rumah ini sekedar untuk meyakinkan bahwa rumah ini kosong, sehingga kau dapat memaksa aku pergi bersamamu kerumah nenekmu?”

“Ya. Kau tidak mempunyai pilihan lain” berkata Wisesa dengan mata yang semakin liar.

Tantri menjadi semakin ngeri melihat mata Wisesa. Tetapi ia masih menjawab, “Wisesa. Kau kira kau dapat membawaku keluar dari halaman ini? Seandainya hal itu dapat kau lakukan, apakah kau akan menyeret aku di sepanjang jalan padukuhan? Aku punya mulut yang dapat berteriak-teriak Wisesa”

“Jari-jariku terlalu kuat Tantri. Aku dapat mencekikmu sehingga suaramu tidak akan sempat melintasi kerongkonganmu”

“Tetapi aku dapat mati karenanya. Apa gunanya membawa mayatku ke rumah nenekmu? Kau tentu akan mendapat kesulitan jika hal itu kau lakukan. Nah, kau sadari itu?”

Wisesa menjadi termangu-mangu. Namun kemudian ia berkata, “Tantri, apapun yang akan terjadi, aku akan membawamu pergi dari rumah ini. Kau akan menjadi isteriku. Aku harap kau tidak akan mempersulit perjalanan kita. Kita akan berjalan sebagai sepasang pengantin baru. Aku akan menggandeng tanganmu atau kau akan berpegangan lenganku. Aku minta kau tidak akan berteriak-teriak di sepanjang jalan, karena hal itu hanya, akan membuatmu sengsara. Aku dapat memperlakukan dirimu sekehendakku, bahkan aku akan meyiksamu dengan cara apapun juga. Nah, marilah Tantri. Bukankah kita saling mencintai”

“Wisesa. Apakah kau sudah gila? Jika kau paksa aku dengan cara apapun, maka besok ayah akan mencarimu dan membunuhmu”

“Ayahmu akan mati di barak Wira Sabet dan Sura Gentong. Orang yang datang kepadanya, tidak akan dapat pulang kembali”

“Jika bukan ayah, tentu kakang Sampurna akan melakukannya”

“Kakangmu itu juga akan mati”

“Jika bukan mereka, tentu Manggada dan Laksana”

Mendengar nama itu disebut, Wisesa benar-benar menjadi sangat marah. Katanya, “Jangan memaksaku membunuhmu”

“Apakah itu pertanda cintamu padaku?” bertanya Tantri.

“Jarak antara cinta dan kebencian itu hanya selangkah. Jarak antara mencumbu dan membunuh tidak lebih dari satu lambaian tangan” jawab Wisesa yang matanya sudah menjadi merah.

Wajah Tantri memang tegang. Sementara Wisesa bergeser lagi selangkah maju, “Tidak ada gunanya kau menolak aku Tantri. Aku dapat berbuat lembut, tetapi aku juga dapat berbuat kasar”

“Kau sudah menjadi gila Wisesa” desis Tantri.

“Bukan baru sekarang. Sudah lama aku tergila-gila kepadamu. Karena itu, kau jangan membuat aku semakin gila, karena dengan demikian, aku akan dapat lupa diri”

Namun jawaban Tantri mengejutkan Wisesa. Ia tersentak sehingga matanya terbelalak.

“Wisesa” berkata Tantri, “Jika kau akan memaksaku, maka sudah tentu aku akan mempertahankan diri. He, kau ingat masa kanak-kanak kita. Jika kita berkelahi, maka kaulah yang menangis meskipun kau laki-laki. Bukan aku”

Sejenak Wisesa tercenung. Namun kemudian ia menggeram “Tetapi aku sekarang bukan anak kecil lagi Tantri. Aku sekarang tumbuh dan menjadi kuat. Kau tidak akan mampu melawan kehendakku”

Tetapi Tantri masih menjawab, “Aku juga bukan kanak-kanak yang hanya dapat mencakar mukamu atau menarik rambutmu jika kita berkelahi. Tetapi sekarang aku mempunyai kemampuan lebih banyak, karena seperti kau, aku sekarang tumbuh menjadi dewasa.

“Tantri, apa yang akan kau lakukan?” bertanya Wisesa.

“Aku akan melawan jika kau melakukan tindak kekerasan”

“Kau masih bermimpi dengan masa kanak-kanakmu itu. Itu sudah lama lampau Tantri”

“Ya. Itu sudah lama lampau. Dan dalam waktu yang lama itu, aku menjadi matang menghadapi persoalan-persoalan. Juga menghadapi sikapmu karena kau sudah kehabisan akal. Kau tidak berani melakukan sebagaimana yang telah dilakukan oleh Manggada, Laksana dan kakang Sampurna. Kemudian kau mencoba menutupi harga dirimu itu, kau telah membuat gagasan-gagasan gila yang tidak masuk akal itu”

Wisesa menggeram. Ia menjadi marah sekali. Sebagai seorang laki-laki ia benar-benar merasa terhina. Karena itu, maka katanya, “Apapun yang akan terjadi, aku akan membawamu. Tubuhmu, hidup atau mati akan aku seret sepanjang jalan sampai ke rumah nenekku”

“Apakah kau sudah memikirkan kemungkinan untuk bertemu dengan orang-orang Wira Sabet dan Sura Gentong?”

“Mereka tidak akan berkeliaran hari ini. Ayahmu dan orang-orang itu sedang pergi ke tempat tinggal mereka”

“Mungkin ayah dan kakang Sampurna sudah dikalahkannya. Mereka sedang berkeliaran untuk mencari anak-anak muda di padukuhan ini. Sementara itu mereka menemukan kau dan aku di jalan. Apakah kau sedang menggandeng tanganku, atau aku sedang berpegangan lenganmu atau kau sedang menyeret mayatku”

Wajah Wisesa menjadi tegang. Matanya bertambah liar dan bertambah merah pula. Hembusan suara iblis semakin mencengkamnya, sehingga iapun kemudian berkata, “Aku tidak perduli. Aku tidak perduli. Aku memerlukanmu”

Tangan Wisesa memang terjulur untuk menggapai tangan Tantri. Tetapi Tantri justru telah menangkapnya. Menarik dengan kerasnya, sehingga tubuh Wisesa itu seakan-akan melekat ketubuh Tantri. Namun tiba-tiba saja terdengar Wisesa itu berteriak kesakitan. Tangan Tantri yang lain dengan kerasnya telah memukul perut Wisesa.

Ketika kemudian Tantri mendorongnya, maka Wisesa itu pun jatuh terlentang sambil menyeringai kesakitan.

Tertatih-tatih Wisesa bangkit. Kemarahannya benar-benar telah membakar ubun-ubunya. Dengan geram ia berkata, “Tantri. Kau seorang perempuan. Aku seorang laki-laki. Apapun yang dapat kau lakukan, kau tidak akan dapat melawan aku”

Namun belum lagi Wisesa terkatub rapat, tangan Tantri telah menyambar mulutnya, sehingga Wisesa mengaduh kesakitan. Ketika ia merasakan cairan yang hangat di mulutnya, maka dengan berdebar-debar Wisesa mengusapnya. Ternyata jari-jarinya menjadi merah oleh darah.

Wisesa benar-benar tidak dapat mengekang dirinya. Tantri bukan hanya menyakitinya. Tetapi ia sudah menitikan darah dari sela-sela bibirnya.

Karena itu, maka Wisesa pun kemudian telah menjulurkan tangannya kearah leher Tantri.

Namun yang terjadi benar-benar di luar dugaan. Tantri justru menyambut tangan itu, ditangkapnya pergelangan tangan Wisesa, kemudian Tantri memutar tubuhnya membelakangi anak muda itu. Dengan pundaknya, ia mengangkat tubuh Wisesa dipangkal lengannya, sementara sambil merendah Tantri menarik tangan Wisesa itu kuat-kuat.

Wisesa sama sekali tidak menduga, bahwa hal itu akan dilakukan oleh Tantri. Karena itu, maka ia pun terlempar, berputar sekali dan kemudian jatuh terbanting di tanah.

Wisesa benar-benar berteriak bukan saja karena kesakitan, tetapi putaran tubuhnya itu benar-benar membuat ketakutan.

Untuk beberapa saat Wisesa terbaring di tanah. Pungungnya serasa akan patah. Sementara itu Tantri berdiri di sebelahnya sambil bertolak pinggang.

“Bangkitlah” desis Tantri. Dengan kakinya ia mengguncang tubuh Wisesa yang masih mengaduh sambil menggeliat.

“Bangkitlah” teriak Tantri. ”Kita akan menyelesaikan persoalan kita sampai tuntas. Kau atau aku yang tubuhnya akan diseret sepanjang jalan padukuhan”

“Ampun Tantri“ Wisesa merintih, sementara Tantri justru berkata lantang, “bangkitlah, bangkit atau aku bunuh kau tanpa perlawanan”

“Ampun Tantri, ampun“ Wisesa memang berusaha bangkit meskipun punggungnya bagaikan patah.

“Kita selesaikan persoalan kita” geram Tantri.

“Ampun, aku mohon ampun Tantri” Wisesa hampir menangis.

“Kau masih saja anak cengeng. Kau bukan anak muda yang seperti katamu tumbuh menjadi kuat”

“Ampun, aku minta ampun” tangis Wisesa tanpa malu-malu.

Sementara itu, terdengar suara pintu serambi, “Apa yang terjadi?”

Tantri berpaling, dilihatnya ibunya melangkah mendekati anaknya yang masih berdiri tegak sambil bertolak pinggang, “Apa yang kau perbuat Tantri”

“Ia sudah menghina aku ibu” jawab Tantri.

Ibunya menarik nafas dalam-dalam. Ia pun kemudian berdiri di sebelah anak perempuannya sambil berkata, “sudahlah. Jangan berkelahi lagi. Biarlah Wisesa bangkit”

“Aku sudah menyuruhnya bangkit atau aku cekik lehernya sampai mati” jawab Tantri.

“Aku sudah minta ampun“ tangis Wisesa.

“Sudahlah. Bangkitlah dan pulang” berkata Nyi Jagabaya.

Wisesa berusaha untuk bangkit. Batapapun punggung terasa nyeri. Tapi selagi Nyi Jagabaya menyuruhnya pergi, maka ia akan pergi.

Tertatih-tatih Wisesa bangkit dan melangkah pergi setelah ia minta diri kepada Nyi Jagabaya.

“Anak itu gila” berkata Tantri, “Selagi kami menjadi tegang menunggu ayah dan kakang Sampurna kembali, anak itu mulai berbuat kasar”

“Sudahlah. Selarakkan pintu seketeng itu”

Sementara itu di barak Wira Sabet dan Sura Gentong, pertempuran masih berlangsung sengit. Ketika keringat mulai membasah di telapak tangan, maka para penghuni barak itu menjadi semakin garang. Namun lawan-lawan mereka menjadi semakin garang pula.

Wira Sabet yang bertempur melawan Ki Kertasana menjadi heran. Ia tidak melihat kemampuan orang yang lebih banyak diam itu. Namun tiba-tiba ia kini turun ke gelanggang pertempuran dengan ilmunya yang tinggi.

Sementara itu, Ki Citrabawa bertempur dengan sengitnya melawan Sura Gentong. Ternyata Sura Gentong memang jauh lebih kasar dari Wira Sabet sendiri. Apalagi ia sama sekali belum mengenal lawannya sebelumnya.

Sementara itu, empat orang saudagar perhiasan itu masih bertempur melawan dua orang saudara seperguruan Wira Sabet dan Sura Gentong. Ternyata bahwa mereka perlahan-lahan mulai mendesak kedua orang lawan mereka.

Dalam pada itu, budak-budak yang ada di barak itu pun menjadi kebingungan. Ada diantara mereka yang justru menjadi gemetar dan terduduk tanpa dapat berbuat apa-apa. Ketakutan yang sangat telah melanda jantungnya.

Namun beberapa orang yang tubuhnya kuat masih sempat berbisik yang satu dengan yang lain. Beberapa orang bahkan telah bangkit. Di hatinya tumbuh keberaniannya untuk melibatkan diri dalam pertempuran itu. Jika orang-orang yang menyerang barak itu menang, maka mereka akan mendapat kesempatan untuk bebas dari perbudakan.

Karena itu, maka beberapa orang pun telah menyelinap mencari apa saja yang dapat mereka pergunakan sebagai senjata. Ada yang menemukan parang di dapur, ada yang mendapatkan kapak pembelah kayu, linggis pengelupas sabut kelapa atau apa saja. Bahkan potongan-potongan kayu dan selarak-selarak pintu.

Dengan demikian, maka pertempuran pun menjadi semakin menebar di seluruh sudut-sudut barak. Budak-budak yang ingin lepas itu juga dibekali dengan dendam kepada isi barak yang bertindak semena-mena terhadap mereka.

Para pengikut Wira Sabet dan Sura Gentong menjadi semakin gelisah menghadapi tekanan yang semakin berat. Sementara itu para pemimpin mereka telah terikat pula dalam pertempuran yang rumit.

Saudara seperguruan Wira Sabet yang berwajah tampan dan selalu berpakaian rapi itu mengumpat dengan kasarnya, ketika serangan Manggada mulai menyentuh tubuhnya. Ia tidak lagi dapat merendahkan anak muda yang telah menempa dirinya dengan sungguh-sungguh itu. Bahkan dengan laku tapa ngidang di hutan sebelum mereka menginjakkan kakinya di halaman rumahnya.

Orang berwajah tampan itu sama sekali tidak menduga bahwa anak muda yang pernah dihinakannya itu pada suatu saat siap membalas sakit hatinya dengan cara yang lebih jantan.

Namun orang itu tidak membiarkan dirinya dihinakan. Karena itu, maka ia pun mengerahkan segenap kemampuannya untuk menghentikan perlawanan Manggada.

Tetapi Manggada pun telah meningkatkan kemampuannya pula. Bahkan bukan orang yang berwajah tampan itulah yang mendesak Manggada, tetapi perlahan-lahan Manggada lah yang telah mendesaknya. Serangan-serangannya yang cepat dan dilandasi dengan kemampuan yang tinggi telah membuat lawannya selalu terdesak.

Di bagian lain dari pertempuran itu, Ki Sapa Aruh telah mempertaruhkan segala-galanya untuk mengalahkan orang bongkok itu. Jika ia tidak dapat menghancurkan orang bongkok itu, maka bukan saja dirinya sendiri, namanya yang untuk waktu yang lama ditakuti, tetapi juga barak itu dengan segala isinya

Tetapi setiap kali ia meningkatkan tataran ilmunya, maka lawannya yang bongkok itu pun mampu melakukannya pula, sehingga dengan demikian, maka pertempuran pun semakin lama menjadi semakin sengit. Orang-orang yang bertempur di sekitarnya yang sempat melihat sekilas pertempuran antara Ki Sapa Aruh dan Ki Pandi itu hanya dapat berdecak kagum, bahwa kedua orang itu memiliki ilmu yang sulit untuk dimengerti.

Di halaman barak, Ki Carang Aking masih juga bertempur melawan Ki Srayatapa, yang sama sekali tidak mengira bahwa di barak itu ia akan bertemu dengan orang yang berilmu tinggi, bahkan mampu mengimbangi tingkat ilmunya.

Tetapi ia tidak dapat mengingkari kenyataan itu. Yang harus dilakukannya adalah berusaha menghancurkan lawannya yang tua itu.

Dalam pada itu, Ki Kertasana yang berhadapan dengan Wira Sabet telah terlibat dalam pertempuran yang sengit pula. Wira Sabet yang tidak mengira bahwa Kertasana yang sudah dikenalnya sejak lama itu ternyata memiliki ilmu yang tinggi.

“Kenapa baru sekarang kau tunjukkan kemampuanmu Ki Kertasana?” bertanya Wira Sabet ketika ia harus meloncat mengambil jarak ketika serangan Ki Kertasana menyulitkannya.

“Baru sekarang aku merasa perlu mempergunakannya, Ki Wira Sabet. Ternyata kau dan Sura Gentong telah memancing aku dan adikku untuk dengan terpaksa melakukan kekerasan ini karena kami tidak mempunyai pilihan lain”

Wira Sabet tidak bertanya lebih jauh. Tetapi dikerahkannya ilmunya yang diterimanya selama ia berguru. Namun ternyata Ki Kertasana memiliki kematangan yang lebih tinggi.

Di sisi lain, Sura Gentong dengan garangnya berusaha untuk segera menghabisi Ki Citrabawa. Namun Sura Gentong telah membentur kekuatan ilmu lawannya. Citrabawa yang bukan orang Gemawang itu justru telah mendesak Sura Gentong. Ayah Laksana yang juga sekaligus menjadi gurunya dan guru Manggada itu, memiliki kelebihan dari Sura Gentong meskipun Sura Gentong lelah berguru cukup lama.

Namun Sura Gentong yang marah sekali itu tidak mau melihat kenyataan itu. Ia bertempur semakin keras dan bahkan menjadi kasar sebagaimana tingkah lakunya.

Kekasarannya itu kadang-kadang memang sempat mendesak Ki Citrabawa. Namun hanya sekedar hentakan-hentakan saja. Selanjutnya, maka Ki Citrabawa kembali menguasai medan.

Kekalahan-kekalahan yang terjadi kemudian, telah membuat Sura Gentong justru kehilangan akal. Ia menjadi semakin garang, kasar dan bahkan liar. Namun dengan demikian maka ia kehilangan kendali dan pengamalan diri.

Kekasaran dan keliaran itulah yang membuat Ki Citrabawa harus meningkatkan ilmunya sampai ketataran tertinggi. Benturan-benturan yang keras tidak dapat dielakkannya lagi.

Berkali-kali Sura Gentong harus terlempar jatuh di setiap benturan. Namun demikian ia bangkit, maka seperti seekor badak ia menyerang lawannya.

Akhirnya Ki Citrabawa tidak mempunyai pilihan lain. Ia hanya dapat menghentikan perlawanan Sura Gentong itu jika Sura Gentong sudah tidak berdaya sama sekali.

Karena itu, maka Ki Citrabawa itu pun segera meningkatkan ilmu sampai ketataran tertinggi. Dari Manggada dan Laksana ia telah mendengar sikap Sura Gentong. Apalagi Ki Citrabawa sebelumnya memang belum pernah mengenalnya. Karena itu, maka tanggapannya atas Sura Gentong pun baru terbentuk sejak ia berada di Gemawang.

Dengan hentakan puncak kemampuannya, maka Ki Citrabawa menjadi semakin berbahaya. Bahkan kemudian serangan-serangannya seakan-akan telah menggulung semua kemampuan Sura Gentong.

Pada saat-saat terakhir dari pertempuran itu, Sura Gentong justru telah bertempur tanpa perhitungan lagi. Senjatanya, sebatang tongkat besi yang berkepala bulatan bergigi lembut, terayun-ayun mengerikan. Namun Ki Citrabawa yang menggenggam pedang di tangannya, memiliki kecepatan gerak yang lebih tinggi. Pedang Ki Citrabawa yang besar itu mampu mengimbangi ayunan tongkat besi lawannya dalam benturan-benturan yang keras.

Namun Citrabawa yang mengerahkan tingkat kemampuannya yang tertinggi itu telah berhasil dengan kecepatan melampaui kecepatan ayunan tongkat besi Sura Gentong menembus pertahanannya. Ujung pedang Ki Citrabawa sempat menggores lengan Sura Gentong.

Sura Gentong terkejut. Ketika ia bergeser surut, maka ujung pedang Ki Citrabawa sempat membentur tongkat besi Sura Gentong, sehingga tongkat itu terlepas dari tangannya.

“Menyerahlah” desis Ki Citrabawa.

Tetapi yang dilakukan oleh Sura Gentong adalah justru menarik sebilah luwuk dari sarungnya. Luwuk yang tidak terlalu besar, tetapi tentu berbahaya di tangan Sura Gentong yang kehilangan pengamatan diri itu.

Karena itu, maka Ki Citrabawa pun dengan cepat sekali menghantam luwuk itu dengan pedangnya. Demikian tiba-tiba sehingga luwuk itu terlepas dari tangan Sura Gentong.

Sekali lagi Ki Citrabawa mengacukan pedangnya sambil berkata, “Menyerahlah”

Tetapi yang terjadi, membuat Ki Citrabawa kehilangan kesabaran. Tiba-tiba saja Sura Gentong telah melemparkan pisau-pisau kecil ke arah lawannya.

Ki Citrabawa terkejut. Dengan serta-merta ia berloncatan mengelak. Tetapi sebilah pisau telah tersangkut di lengannya.

Kemarahan Ki Citrabawa tidak terbendung lagi. Ujung pedangnya pun kemudian telah memburu lawannya. Satu tusukan yang tepat menukik menembus dada Sura Gentong sampai ke jantung.

Sura Gentong tidak sempat mengeluh. Tubuhnya rebah ketika Ki Citrabawa menarik ujung pedangnya. Ia kehilangan nyawanya bersama dengan hilangnya semua angan-angan gilanya.

Ki Citrabawa termangu-mangu sejenak. Dipandanginya tubuh yang terbaring diam itu. Sementara di sekitarnya, pertempuran masih berlangsung dengan sengitnya.

Namun kematian Sura Gentong adalah isyarat yang paling jelas, bahwa Gemawang akan dapat lepas dari impian-impian gila Sura Gentong yang dilambari oleh dendam yang membara di hatinya. Tetapi kegilaan Sura Gentong bukan sekedar baru mulai sejak ia ingin menguasai Gemawang. Tetapi sejak ia hampir saja dihancurkan oleh orang-orang Gemawang oleh pokalnya sendiri, sehingga Sura Gentong itu harus melarikan diri.

Ki Jagabaya yang melihat Sura Gentong terbujur diam telah mendekatinya. Kerut di keningnya menunjukkan gejolak di hatinya.

Sementara itu, Ki Pandi yang berilmu sangat tinggi itu masih bertempur melawan Ki Sapa Aruh. Betapapun ditakutinya nama Ki Sapa Aruh, tetapi berhadapan dengan Ki Pandi, ternyata ia tidak mampu berbuat lebih banyak dari sekedar bertahan. Serangan-serangan Ki Pandi semakin lama semakin garang. Benturan-benturan telah terjadi. Beberapa kali Ki Sapa Aruh menerima kerataan, bahwa ia menjadi semakin terdesak.

Namun pada saat-saat terakhir, Ki Sapa Aruh telah bertekad untuk mempertaruhkan ilmu puncaknya, ia sadar, bahwa Ki Pandi pun tentu akan membentur ilmu puncaknya dengan ilmu andalannya pula. Tetapi Ki Sapa Aruh tidak mempunyai pilihan lain. Ia harus dengan cepat memenangkan pertempuran, atau hancur sama sekali.

Sementara pertempuran di barak itu mencapai puncaknya, maka Ki Sapa Aruh lelah mengerahkan segenap kemampuan ilmunya. Ketika ia menyilangkan tangannya di dadanya, maka Ki Pandi segera mengetahui apa yang akan terjadi. Karena itu, maka Ki Pandi pun telah mengetrapkan ilmu pamungkasnya pula.

Ki Citrabawa yang lelah kehilangan lawannya sempat melihat apa yang terjadi. Demikian pula Ki Jagabaya. Mereka melihat dua sosok tubuh yang meluncur bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya.

Benturan yang dahsyatpun telah terjadi. Benturan dua sosok tubuh yang dilambari dengan kemampuan ilmu mereka masing-masing yang sangat tinggi.

Keduanya pun terlempar beberapa langkah surut. Keduanya jatuh terbanting di tanah.

Pertempuran di sekitar peristiwa itu terjadi seakan-akan justru telah terhenti. Mereka menyempatkan diri melihat apa yang telah terjadi Perlahan-lahan Ki Pandi mulai menggeliat. Sambil berdesah menahan nyeri di dadanya, Ki Pandi itu bangkit. Ki Citrabawa dan Ki Jagabaya pun telah mendekatinya dengan tergesa-gesa untuk membantu orang bongkok itu duduk.

Dengan suara yang lemah dan gemetar, Ki Pandi itu pun bertanya, “Bagaimana dengan Ki Sapa Aruh?

Mereka yang seakan-akan telah melupakan Ki Sapa Aruh itu serentak berpaling. Yang mereka lihat adalah sesosok tubuh yang terbaring diam.

“Tolong bantu aku melihatnya” desis Ki Pandi.

Ki Citrabawa dan Ki Jagabaya telah membantu Ki Pandi melangkah perlahan-lahan mendekati sosok tubuh Ki Sapa Aruh yang terbaring diam.

Ketika Ki Pandi berjongkok disampingnya, dan berdesis memanggil namanya, maka Ki Sapa Aruh itu membuka matanya. Namun mata itu sudah menjadi redup dan bahkan hampir padam sama sekali.

Namun dari bibirnya masih terdengar desisnya perlahan, “Kau orang yang luar biasa Bongkok”

Ki Pandi menarik nafas dalam. Namun kemudian Ki Sapa Aruh pun telah memejamkan matanya untuk selama-lamanya.

Ki Pandi itupun kemudian bangkit berdiri dibantu oleh Citrabawa dan Ki Jagabaya. Kepada orang-orang yang berdiri mematung di sekitarnya ia berkata, “Apakah pertempuran masih akan diteruskan. Ki Sapa Aruh sudah terbunuh. Sura Gentong juga sudah tidak ada lagi. Segala-galanya kini tergantung kepada Ki Wira Sabet”

Wira Sabet termangu-mangu sejenak. Pertempuran di sekitarnya memang tiba-tiba saja telah berhenti. Ternyata seorang saudara seperguruan Wira Sabet telah terbunuh juga dipertempuran itu oleh anak Ki Demang Rejandani dan seorang kawannya. Sementara saudaranya yang lain telah terluka pula.

“Tidak ada gunanya kau bertahan Wira Sabet” berkata Ki Pandi kemudian.

“Sudahlah Ki Wira Sabet” berkata Ki Kertasana, “kita dapat melupakan permusuhan ini. Bukankah kita masih tetap merindukan padukuhan Gemawang yang sejuk, tenang dan damai?”

Wira Sabet menundukkan kepalanya. Katanya kemudian “Aku menyerah”

“Jika demikian, perintahkan pengikut-pengikutmu menyerah” berkata Ki Kertasana.

Wira Sabet memang memerintahkan pengikut-pengikutnya menyerah. Tidak ada lagi gunanya bertempur terus. Wira Sabet dan pengikutnya tentu tidak akan mampu berbuat banyak.

Namun demikian, Ki Srayatapa ternyata tidak mau mengakui kekalahan itu. Dengan lantang ia berkata, “Kau pengecut Wira Sabet. Setelah saudaramu terbunuh dan kemudian Ki Sapa Aruh yang telah banyak sekali berjasa kepadamu, kau telah menyerah”

“Kematian-kematian berikutnya tidak akan ada artinya lagi Ki Srayatapa”

Namun yang menyahut adalah saudara seperguruan Wira Sabet yang berwajah tampan, “Aku akan berhenti bertempur setelah mematahkan leher anak yang sombong ini”

Tetapi Manggada tidak memberikan banyak waktu. Ia pun kemudian berkata, “Bersiaplah. Kita selesaikan persoalan kita. Lepas dari persoalan yang terjadi antara barak ini dengan padukuhan Gemawang”

Berbeda dengan orang itu, maka lawan Laksana justru telah menghentikan pertempuran itu. Ia menyadari sepenuhnya, bahwa kemampuannya yang dianggapnya sudah cukup tinggi itu, ternyata tidak mampu mengimbangi kemampuan anak yang masih dianggapnya sangat muda itu.

Pertempuran di barak itu sebagian besar sudah berhenti Namun Ki Srayatapa sama sekali tidak menghiraukannya. Sementara itu, Ki Carang Aking tidak ingin dianggap licik dengan melibatkan orang lain dalam pertempuran itu.

Namun Ki Carang Aking itulah yang kemudian tidak ingin bertempur terlalu lama. Jika yang lain telah berhenti, maka iapun ingin segera berhenti, apapun yang terjadi.

Dengan mengerahkan segenap kemampuan ilmu puncaknya, maka Ki Carang Aking telah meloncat menyerang lawannya, Ki Srayatapa.

Sementara Ki Srayatapa yang melihat sikap lawannya itu pun segera mempersiapkan diri untuk membentur ilmu orang tua perawat kuda itu.

Benturan yang keraspun telah terjadi pula. Namun ternyata bahwa tataran ilmu Ki Srayatapa masih selapis dibawah tataran ilmu Ki Carang Aking. Dengan demikian, maka Ki Srayatapa itu telah terlempar beberapa langkah. Ia pun kemudian jatuh terguling dengan derasnya. Ia tidak dapat mengelak sama sekali ketika kepalanya kemudian membentur batu bebatur bangunan induk barak itu.

Sementara itu, Ki Carang Aking tergetar dan terdorong surut. Tetapi ia masih tetap tegak meskipun ia harus mengatasi perasaan sakit yang menyengat dadanya.

Ki Srayatapa tidak sempat mengaduh. Bukan saja karena hentakan ilmu lawannya. Tetapi kepalanya yang membentur batu di bebatur rumahnya itu telah mengalirkan darah.

Dalam pada itu, Manggada yang masih bertempur melawan saudara seperguruan Wira Sabet yang berwajah tampan itu berkata, “Nah, apakah kau masih belum akan menyerah?”

“Persetan” geramnya, “aku tidak peduli apakah mereka nanti akan membunuhku. Tetapi kau juga harus mati”

Dengan ganasnya orang itu pun kemudian telah menyerang Manggada. Namun Manggada yang telah sampai pada tingkat tertinggi ilmunya itu menjadi sangat liat. Tubuhnya menjadi lentur dan geraknya menjadi semakin cepat. Orang berwajah tampan itu sama sekali tidak sempat menyentuh tubuh Manggada.

Namun tiba-tiba orang itupun berkata, “He anak sombong. Cari senjata, kita akan bertempur dengan senjata”

Manggada termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Ki Kertasana telah melemparkan pedangnya kepada anaknya, sementara orang berwajah tampan itu telah menggenggam pedang pula.

Namun justru karena itu, maka pertempuran itu menjadi semakin cepat berakhir. Kemampuan dan kecepatan gerak Manggada ternyata tidak dapat diimbangi oleh lawannya. Karena itu, maka ujung pedang Manggada pun segores-segores telah mengoyak tubuh orang berwajah tampan itu.

Tetapi tidak ada tanda-tanda bahwa lawannya itu akan menyerah. Bahkan sambil mengumpat-umpat orang itu bertempur semakin liar meskipun darah telah mengalir membasahi pakaiannya.

Manggada yang muda itu ternyata tidak dapat mengekang dirinya lagi. Ia menjadi semakin benci kepada lawannya yang tidak tahu diri itu. Karena itu, maka sebuah loncatan panjang dengan pedang yang lurus terjulur kearah dada telah mengakhiri pertempuran itu. Demikian orang itu roboh di tanah, maka pertempuran di barak itu benar-benar telah berhenti.

Laksana yang berdiri termangu-mangu melihat ketiga orang yang pernah menangkapnya dan membawanya masuk ke dalam barak itu bersama dengan Manggada. Dua orang di antaranya telah terluka, meskipun tidak terlalu parah. Namun seorang murid Ki Carang Akingpun telah terluka pula.

Disamping mereka itu, pertempuran itu memang tidak dapat menghindari korban. Seorang anak muda Gemawang telah gugur, disamping beberapa orang yang terluka. Dua di antaranya terhitung parah. Sementara itu, seorang anak muda Rejandani juga gugur. Tiga orang terluka cukup parah, termasuk seorang saudagar, kawan anak Ki Demang.

Meskipun pertempuran itu telah selesai, tetapi masih ada persoalan lain yang harus diselesaikan. Orang-orang yang menyerah itu akan menjadi persoalan pula bagi Gemawang dan Rejandani.

Namun demikian, maka ancaman-ancaman dan ketakutan tidak akan melanda padukuhan gemawang lagi. Orang-orang Gemawang akan menikmati lagi sejuknya kampung halaman mereka.

Sementara itu Wira Sabet telah menunjukkan dimana disimpan perhiasan-perhiasan bukan saja yang telah mereka rampok dari anak Ki Demang Rejandani dan kawan-kawannya. Tetapi juga yang pernah mereka rampok dari banyak orang.

Pembicaraan antara Ki Jagabaya Gemawang dan Ki Demang Rejandani menimbulkan kesepakatan bahwa orang-orang yang tertawan itu untuk sementara akan dibawa ke Rejandani, justru karena Rejandani tidak mengalami goncangan-goncangan sebagaimana dialami oleh Gemawang dan bahkan Kademangan Kleringan. Namun Ki Demang Rejandani minta agar khususnya Wira Sabet dan saudara seperguruannya yang masih ada, dibawa ke Gemawang.

“Di Gemawang ada orang-orang berilmu tinggi” berkata Ki Demang.

“Bukankah Rejandani dapat minta bantuan Ki Carang Aking?” bertanya Ki Pandi.

Tetapi Ki Carang Aking tersenyum sambil menjawab, “Seperti burung yang terlepas dari sangkarnya. Aku akan terbang jauh menembus mega-mega pulih. Sayapku sudah terlalu lama terkekang di barak buruk itu”

Tidak seorang pun dapat mengekangnya. Ki Carang Aking memang tidak akan dapat bertahan terlalu lama di satu tempat.

Di hari-hari berikutnya, maka Gemawang lelah mulai dengan menata diri kembali. Bayangan ketakutan telah hilang seperti embun yang disengat oleh panasnya sinar matahari.

Di padukuhan, Ki Jagabaya telah mengijinkan Wira Sabet untuk menempati rumahnya kembali bersama anaknya, Pideksa, bersama tiga orang pengikutnya yang telah dikalahkan oleh Laksana. Baru kemudian hal itu diketahui oleh Wira Sabet dan Pideksa. Tetapi mereka tidak menjadi heran, karena Laksana mampu mengalahkan saudara seperguruan Wira Sabet.

Namun Sampurna, Manggada dan Laksana sempat tertawa ketika mereka mendengar ceritera Tantri tentang Wisesa yang mencoba untuk memaksanya mengikutinya ke rumah neneknya.

“Sejak saat itu, Wisesa tidak pernah datang lagi” berkata Tantri.

Laksana mengangguk-angguk. Tiba-tiba wajahnya nampak bersungguh-sungguh. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu.

Namun ternyata untuk mendapatkan kembali kampung halaman yang sejuk, tenteram dan damai serta sejahtera, masih banyak sekali yang harus dikerjakan.

 

T A M A T

Karya SH Mintardja

Seri Arya Manggada 4 – Sejuknya Kampung Halaman

Sumber djvu : Ismoyo

Convert, editor & ebook oleh : Dewi KZ

Tiraikasih Website

http://kangzusi.com/ http://kang-zusi.info/

http://cerita-silat.co.cc/ http://dewi-kz.com/

Selanjutnya

ikuti episode ke 5: MATAHARI SENJA

kembali | lanjut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s